TARUNG SARUNG Review

“Prayer is the time you spend one-on-one with God”
 

 
 
Petinju punya ring sebagai medan berlaga. Petarung MMA punya octagon. Pesumo berantem dalam lingkaran dohyo. Cabang bela diri punya ‘sajadah’ sendiri, punya keunikan sendiri, tapi sebenarnya punya prinsip yang sama; Konfrontasi satu-lawan-satu, dengan skill dan teknik seni tersendiri. Sebelum menjadi sebuah kompetisi, ini adalah bentuk komunikasi – penyelesaian masalah – dari manusia satu ke manusia lainnya, yang telah mengadat budaya sesuai daerah masing-masing. Dan tak banyak dari kita yang sebelumnya tahu, daerah Makassar punya beladiri yang unik. Yang mempertemukan petarungnya bukan di atas ring ataupun di dalam kerangkeng. Melainkan di dalam sarung.
Budaya Tarung Sarung dari Makassar itulah yang diangkat oleh Archie Hekagery dalam drama aksi terbarunya. Hekagery menyusun narasinya ini ke dalam kerangka cerita kompetisi. Tokoh jagoan kita di sini adalah Deni, remaja anak orang kaya yang dikirim pulang kampung. Deni disuruh mengurus perusahaan keluarga di sana, sebagai bukti dia bisa berguna bagi keluarga. Tapi tentu saja, layaknya anak muda, Deni malah terlibat urusan asmara. Deni berseteru dengan jagoan di sana – jagoan yang telah berturut-turut menjuarai kompetisi Tarung Sarung. Demi membantu dan membela kehormatan teman-teman yang ia kenal di sana, Deni menyanggupi tantangan untuk ikut dalam kejuaraan Tarung Sarung nasional yang akan diselenggarakan satu bulan lagi. Dalam waktu yang singkat itu Deni harus berguru, tapi dengan syarat yang tentu saja tidak mudah bagi dirinya. Sama tak mudahnya dengan latihan yang harus anak kota itu jalani. Turns out, Deni belajar lebih banyak daripada sekadar ilmu beladiri.

Dia juga belajar bahwa masakan ikan di Makassar itu rasanya enak sekali

 
 
Ya, ini adalah bentukan cerita yang sudah familiar sekali bagi kita. Kisah kompetisi yang tokohnya underdog alias terlihat gak ada harapan untuk menang. Musuhnya jauh lebih berpengalaman. Dianya sendiri ‘lembek’. Serta ada elemen hubungan si protagonis dengan guru yang awalnya ogah untuk melatih. Film Tarung Sarung ngikutin persis beat-per-beat formula cerita ‘underdog dalam kompetisi’. Namun, yang membuat film ini sedikit berbeda adalah karakter si protagonis underdog-nya itu sendiri.
Si Deni itu bukanlah tipe karakter yang mengundang simpati kita. Dia bukan anak baek-baek, yang terlalu sombong atau terlalu naif. ‘Dosa’ Deni ini udah terlampau banyak sedari awal. He’s a spoiled rich kid, yang hal baik dalam dirinya cuma dia ringan tangan untuk berbagi. Deni percaya uang membuat semua orang bahagia, jadi dia yang punya banyak uang itu enggak pelit dan selow aja bagi-bagiin harta untuk membuat orang senang. Untuk membereskan masalahnya. Deni punya banyak anak buah yang siap disuruh-suruhnya untuk mengeroyok mukulin orang. Deni juga tidak percaya Tuhan, dia ogah beribadah, dia gak mengaku beragama. Panji Zoni juga mengapproach karakternya ini dengan akting yang membuatnya mirip tokoh jahat ala cerita gangster Jepang.
Film Tarung Sarung mengambil resiko besar membuat protagonis ceritanya orang yang begitu unlikeable seperti ini. Dia ini dibikin kayak antihero or something. Sehingga pada awal-awal cerita, memang susah bagi kita untuk ngikutin cerita ini. Aku gak merasa benar-benar peduli sama Deni. Apalagi karena dia dikelilingi oleh karakter-karakter konyol yang difungsikan untuk membalancekan tone. Menjadikannya lebih pop. Supaya kita merasa senang karena mereka lucu. Padahal malah semakin annoying. Aku awalnya malah ragu bagaimana elemen underdog bisa worked jika karakternya dibuat unlikeable. Tapi seiring berjalannya cerita, seiring kita semakin mengerti kemana arahan progres cerita, karakter Deni terasa semakin membaik. Development karakternya dalam durasi nyari dua jam ini begitu gede. Deni bukan semata berhasil membuat kita bersimpati, melainkan, he really earns it.
Kultur kedaerahan seperti tarung sarung itu sendiri, dan juga agama, dimainkan ke dalam formula cerita underdog tadi. Dengan satu lapisan lagi yakni lapisan fish-out-water. Inilah yang jadi pembentuk karakter Deni. Anak kota, yang percaya uang sebagai jalan keluar, yang jauh dari agama, yang main keroyokan, dibentrokkan ke dalam lingkungan yang lebih kekeluargaan, yang erat dalam keagamaan, yang menjunjung tinggi spiriatualis one-on-one. That’s the grand design dari karakterisasi Deni. Karakternya dibuat seperti demikian supaya bisa memuat makna kultur tarung sarung yang selaras dengan agama, dengan harapan supaya kita bisa ikut belajar bersama Deni. Buatku aspek yang menarik dari konteks ini adalah soal satu-lawan-satu dan pencerahan Deni terhadap agamanya. Dalam beladiri tarung sarung, mau tak mau Deni memang harus satu lawan satu dengan lawan di dalam sarung. Dan bagaimana sarung juga merupakan atribut ibadah, yang dipakai saat Deni berkomunikasi one-on-one dengan sang Pencipta. Ada koneksi di sini. Yang dapat kita lihat dijadikan solusi oleh Deni pada adegan final fight yang cukup nyeremin itu.

Satu-lawan-satu dalam berantem actually lebih terhormat dibandingkan keroyokan. Karena benar-benar mengetes keberanian saat kita menatap langsung mata musuh. Apalagi jika berada dalam satu tempat yang dekat, seperti dalam ring atau malah rentang satu sarung. Keberanian inilah yang harus dipelajari oleh Deni; keberanian yang akan mengantarkannya kepada keikhlasan. Dan cara terjitu membuktikanny adalah dengan belajar sholat. Karena saat beribadah, Deni akan di dalam sarung sendirian, mata-ke-mata dengan Allah.

 
To address the elephant in the room; ya film ini jelas sekali terinspirasi oleh The Karate Kid (1984). Nama lengkap Deni aja Deni Russo, throwback ke protagonis The Karate Kid yang bernama Daniel LaRusso. Tahap-tahap latihan beladirinya juga mirip, Yayan Ruhian jadi ‘Mr.Miyagi’nya di sini. Nyuruh Deni nepok nyamuk dan beresin sendal mesjid pakai kaki sebagai bentuk latihan yang tak Deni sadari. In fact, film Tarung Sarung ini menjadi meta tatkala Deni dan Tenri (love interestnya) melihat poster film The Karater Kid. Mereka berdua mengenali film tersebut, bicara tentangnya, Deni malah menyebut dirinya taunya cuma Karate Kid versi remake dan suka sama film tersebut. Dengan begitu, gak masalah bagiku film ini punya elemen cerita dan beat yang The Karate Kid, toh filmnya sendiri embrace it.  Hanya saja, menurutku film ini melewatkan kesempatan untuk bermain lebih jauh dalam ranah meta tersebut. Karena kan aneh, karakternya tahu film Karate Kid, tapi gak nyebutin apa-apa soal kejadian yang ia lalui persis sama dengan film itu. Menurutku film ini mestinya bisa have fun lagi, totally bermain di ranah meta alias bikin self-aware aja. Daripada menyebutkan/menampilkan sekilas yang malah jadi kayak sebagai alasan aja.

Like, “tuh lihat kami nampilin poster Karate Kid, jadi ya kami memang sengaja kok nyamain ama film ini”

 
 
Memang, ada beberapa titik dalam film ini yang masih bisa diperbaiki penuturannya, atau ditambah eksplorasi penulisannya. Misalnya adegan opening di bar yang sempat kusinggung sekilas. Di opening ini tidak langsung kelihatan bahwa tokoh utama cerita adalah cowok yang ngeroyok orang yang udah minta maaf. Deni malah tampak seperti penjahat. Apalagi karena momen pembuka film ini exactly adalah nampilin karakter yang ternyata bukan siapa-siapa di cerita sedang nonton liputan kompetisi tarung sarung di handphonenya. Adegan nonton itu tidak perlu, karena pertama bukan tokoh utama cerita yang nonton. Kedua karena penjelasan tentang tarung sarung toh akan diulangi kembali saat Deni baru tau dan ingin berlatih. Jadi, adegan penjelasan di opening itu redundant. Untuk memperkenalkan tarung sarung early (within 10 minutes) kepada kita sebenarnya bisa dilakukan saat adegan Deni nonton televisi di rumahnya sebelum berangkat ke Makassar. Tinggal bikin saja Deni menonton tayangan liputan tersebut.
Penulisan film ini bisa di-improve lagi berikutnya pada berbagai adegan Deni diajarin prinsip dalam agama Islam. Meskipun memang setiap percakapan itu dibuat menggantung untuk Deni mempertimbangkannya di dalam hati, tapi tetap film terdengar ‘terlalu frontal berceramah’. Pengadeganan mestinya bisa dibuat lebih smooth lagi. Sebagai perbandingan, kita bisa lihat bagaimana film Ma Rainey’s Black Bottom (2021) menghandle tokoh utamanya yang juga jauh, tak percaya, dan bisa dibilang mengantagoniskan agama. Pencerahan yang datang kepada karakter dilakukan oleh film itu lewat lebih banyak gerakan kamera ketimbang dialog-dialog nasehat dari karakter lain. Sehingga film tersebut jadi lebih smooth dan less-menceramahi.
Dan terakhir, satu hal lagi yang mestinya bisa dikembangkan oleh film ini adalah penulisan terhadap karakter lawan utama si Deni. Yang kita tonton ini, karakter jahatnya, ya just that; jahat. Ambisius, nekat. Dan kasar. Dengan kata lain, masih satu dimensi. Padahal sudah ditetapkan bahwa tarung sarung itu kuat menyangkut soal harga diri. Si Sanrego jahat yang suka manggil Deni ‘Calabai’ itu tidak pernah benar-benar dibahas dorongan personalnya. Dia hanya ingin memperistri Tenri dan Deni jadi penghalang baginya – ini gak digali oleh film, melainkan Sanrego dibuat jahat aja. Makanya ketika konflik semakin memuncak; Sanrego menantang Deni melakukan Sigajang Laleng Lipa (tarung sarung versi hidup/mati pake badik), kita hanya melihatnya sebagai tindakan seorang loser. Padahal ada secercah emosional yang bisa digali karena Sanrego harga dirinya terluka.
 
 
With all being said, menurutku film ini cukup lumayan. Terutama sebagai drama. Karena perjalanan tokoh utamanya terasa sangat fulfilling, dan Deni benar-benar earned our respect dan simpati. Ada banyak layer pada cerita karakter ini. Keluarga, budaya, agama, bahkan lingkungan hidup. Padet banget. Dan semuanya berhasil diikat terarah oleh naskah. Karakter-karakter pendukung pun mendapat pengembangan, walaupuh beberapa difungsikan sebagai easy-fodder untuk dramatisasi. Tapi sebagian besar film ini terasa padat dan cukup berbobot. Dengan ‘hanya’ meninggalkan beberapa aspek yang mestinya bisa ditulis dengan lebih baik lagi. Dari segi aksi, yang kurang adalah kamera worknya; kurang bisa menonjolkan keunikan dari bertarung dalam sarung karena treatmentnya masih serupa sama adegan berantem biasa. Soal kemiripan dengan The Karate Kid, yah film sudah ‘ngaku’, dan memang formula cerita kompetisi begini sudah sering diulang-ulang karena formula ini sudah terbukti berhasil. Jadi aku cukup maklum. Lagipula latar film ini sudah cukup kuat sebagai identitas yang unik. Aku sedikit sayang aja film ini nyerah tayang di Netflix alih-alih bertahan nunggu tayang di bioskop.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for TARUNG SARUNG
 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa formula underdog dalam cerita/film tentang kompetisi selalu berhasil dan disukai penonton?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SHADOW IN THE CLOUD Review

“War is to man what maternity is to a woman.”
 

 
 
Udah lama gak ngeliat Chloe Grace Moretz dalam peran cewek badass, sehingga Shadow in the Cloud garapan Rosanne Liang ini terasa jadi pengobat rindu. Moretz bukan hanya beraksi di atas pesawat yang sedang mengudara, dalam aksi fantasi perang dunia ini, karakter yang ia perankan akan menghajar bokong monster-monster maskulinitas!
Moretz berperan sebagai Maude Garrett yang menyatakan dirinya mendapat surat perintah untuk ikut dalam misi pesawat The Fool’s Errand. Pesawat yang isinya cowok semua itu tidak begitu saja percaya kepadanya. Mereka meremehkan Garrett, semua. Well, kecuali Quaid yang tampak respek dan bersedia menjaga tas bawaan Garrett di dock atas sementara Garrett sendiri ditempatkan di stasiun senjata bagian bawah pesawat oleh Kapten. Dari situlah masalah muncul. Di bawah sana, Garrett melihat sesuatu di badan pesawat – dan juga di balik awan. Pesawat mereka terancam bahaya diserang oleh dua hal berbeda. Dan tak satu orang pun yang percaya pada Garrett. Stake semakin tinggi bagi protagonis kita, sebab tas yang sedang dijaga oleh Quaid di atas tadi ternyata adalah berisi sesuatu paling berharga yang harus dijaga Garrett dengan nyawanya sendiri!

Dengarkanlah kata-kata perempuan, walau kadang ribet

 
Now, the movie itself is actually pretty bizzare. Ada perbedaan tone cerita yang benar-benar drastis. Film ini banyak menggunakan musik-musik techno/elektronik yang kekinian, yang mentok banget dengan setting dunia 1940an yang kita lihat. Belum lagi, film sering menampilkan visual dengan warna-warna neon, yang juga kontras dengan environment pesawat yang tampak kuno, dan ringkih. Benturan-benturan ini menciptakan kesan ‘dreamlike’, seperti sebuah fantasi. Sementara itu, melalui kontras modern dengan jadoel itu, bawah sadar kita juga dibuat mengerti kalo ini adalah kisah fantasi yang menyuarakan hal kekinian. Ini adalah soal perempuan dalam dunia pria.

Film bermaksud untuk memperlihatkan kepada kita hal-hal seperti bagaimana perempuan diperlakukan, prejudice apa yang seringkali menimpa, dan betapa merawat anak saja dapat menjadi begitu perjuangan bagi perempuan. Dalam kata lain: film ingin memperlihatkan perang seperti apa dialami oleh perempuan masa kini, dan betapa kadaluarsa sesungguhnya ‘perang’ tersebut. 

 
Paruh pertama film ini dengan paruh keduanya udah kayak dua film yang berbeda. Aku biasanya suka banget dengan film-film yang bahkan si film itu sendiri mengalami perubahan. Kriteria film yang kukasih skor 9 biasanya seperti demikian. Misalnya Jojo Rabbit (2020) yang awalnya cerita di camp terus berubah jadi cerita semacam ‘stranger on attic’ lalu berubah lagi jadi cerita perang. Atau Inside Out (2015) yang berubah dari cerita di ruang kendali menjadi cerita petualangan. Shadow in the Cloud pada paruh pertama adalah cerita yang sangat contained. Hanya berisi dialog-dialog, dengan situasi yang menarik. Garrett sendirian di turret bawah. Terkunci. Terpisah dengan lawan ngobrolnya; para kru pria yang berada di bagian atas pesawat. Mereka ngobrol lewat radio internal pesawat. Aku genuinely suka bagian ini. Aku suka setnya; yang menggambarkan betapa terkucil, terkurung, dan rendahnya perempuan ditempatkan oleh pria-pria toksik. Aku juga suka sama dialog mereka, dan cara dialog tersebut dimainkan. Dimulai dari Garrett yang mencuri dengar para kru ngelecehin dia, hingga ke akhirnya mereka berdebat dan Garrett put them in their place saat mengungkap kepandaian dan pengalaman mereka ternyata tak jauh berbeda – bahkan Garrett lebih superior. Akting Moretz pun ternyata lebih ‘cakep’ di bagian drama berdialog-dialog ini.
Tapi kemudian, sembari Garrett melakukan lompatan ke luar pesawat, film juga melakukan lompatan yang tak kalah jauhnya. Sekarang ceritanya berubah menjadi action thriller/horor yang luar biasa impossible. Dan bagiku, film ini langsung terjung bebas. Menubruk permukaan bumi, terbakar, dan meledak hingga tak bersisa. Ketika elemen Gremlin dimunculkan, film ini masih bisa ditolerir.  Tonenya sedari awal sudah diset sebagai sebuah fantasi, sehingga tak masalah jika ternyata monster kayak Gremlin ternyata beneran ada. Gremlin itu pun masih cocok jika dimasukkan ke konteks maskulinitas karena makhluk antagonis itu bisa dilihat sebagai perwujudan dari sifat-sifat jelek para lelaki. Karena mitos Gremlin aslinya memang muncul sebagai kambing-hitam keteledoran manusia merawat kendaraan seperti pesawat, you know, ‘kendaraan pria-pria’. Gremlin disebutkan sebagai makhluk seperti goblin yang merusak peralatan, sehingga menyebabkan kecelakaan, padahal aslinya ya karena memang kendaraannya gak terawat aja. Seperti pesawat yang dinaiki Garrett. Jadi, Gremlin ini bukan masalah, adegan Garrett menghajar Gremlin di babak akhir juga cukup memuaskan walaupun pengadeganannya bego. Yang bikin malesin itu adalah aksi-aksi lain yang dibuat begitu heboh sehingga tak masuk akal. Aksi-aksi seperti Garrett yang jatuh, keluar dari pesawat, terlontar masuk kembali karena imbas ledakan pesawat musuh yang hancur. Konyol!
Aksi-aksi seperti begitu malah membuat kita jadi menertawakannya. Garrett bergelantungan, merayap di luar pesawat sembari membawa tas kulit yang ia jaga biar gak jatuh. Pesawat-pesawat musuh yang gak pernah menembakinya, tapi selalu sukses menembak kru cowok di dalam pesawat – tepat pada saat punchline dialog mereka yang terkesima melihat aksi Garrett. Gremlin yang muncul ngajak berantem, tapi luar biasa mematikan terhadap kru laki-laki lain. Aksi-aksi konyol itu dengan cepat menjadi annoying, karena kita sadar bahwa satu-satunya alasan adegan itu terjadi adalah karena ingin menunjukkan kehebatan Garrett sebagai seorang perempuan. Agenda feminis salah kaprah yang ditunjukkan oleh film ini. Garrett yang di awal sudah benar ditampilkan sebagai seorang yang bercela dengan motivasi dan muslihatnya sendiri, kini berubah ditampilkan sebagai seorang yang lebih baik daripada siapapun di sekitarnya. Garrett ini bisa semua, mulai dari mekanis pesawat, pilot, penembak, dan petarung. Tentara beneran aja jarang yang bisa semua skill kayak gitu. Semua elemen di luar dirinya pun lantas diperlemah demi menguatkan tokoh ini. Ledakan yang tak membunuh, malah menjadi pegas penyelamat. Peluru-peluru yang senantiasa meleset.. Garrett bahkan bisa ‘berteleport’ mengejar Gremlin. Semua ke-lebay-an ‘perempuan-hebat’ itu membuat film ini jadi tak pantas lagi menyandang narasi pemberdayaan yang jadi gagasan utamanya.

This is the close we can get to an action-feminazi!

 
Padahal kalo memang mau bikin cerita yang menghormati perjuangan perempuan di medan perang, kenapa tidak bikin cerita yang lebih real aja misalnya tentang salah satu pilot cewek Perang Dunia II yang fotonya dipajang oleh film ini di kredit penutup. Kenapa harus memilih cerita yang berujung menjadi aksi tak masuk akal yang hanya seperti menuding dan mengecilkan nilai perjuangan.
Sebenarnya film ini sudah mengeset ‘nada dasar’ ceritanya supaya kita enggak kaget dengan perubahan drastis di tengah-tengah. Tapi, film ini melakukan itu dengan demikian aneh. Klip video kartun perang ditampilkan di layar, memperlihatkan soal Gremlin dan pesawat, dengan adegan over-the-top khas kartun. Sebenarnya ini cukup, kalo ditempatkan dengan benar. Film ini anehnya, membuat opening itu seperti terpisah dari cerita utama. Kita tidak melihat karakter menonton klip tersebut atau apa. Karena setelah klip itu, kita lantas disambut oleh kredit studio dan logo-logo yang terlibat produksi film ini. So, bahkan sedari mau mulai aja film ini udah gak make sense. Penulisannya janggal. Garrett sendiri pun tak mendapatkan plot yang benar. Tidak ada pengembangan pada karakternya, melainkan hanya pengungkapan demi pengungkapan; revealing demi revealing. Garrett dibikin sudah benar dan kuat sedari awal. Tidak ada pembelajaran pada karakternya. Tentu saja, sekali lagi karena film berkutat pada agenda tokoh feminis yang salah kaprah.
 
 
Aku menonton ini malam hari tanggal satu Januari. Dan belum genap 24 jam, tapi 2021 udah ngasih kekonyolan dan agenda yang makin annoying. Film ini bukan tontonan yang tepat untuk mengawali tahun yang semestinya penuh harap dan penyembuhan. Karena film ini memperlihatkan perjuangan dalam sebuah fantasi yang semu. Bukannya empowering, malah menggelikan. Tadinya kupikir film ini unik, pemainnya pun berjuang akting dengan sepenuh hati, tapi naskahnya ternyata asik sendiri. Sebenarnya gak masalah jika film tampil sebagai aksi thriller/horor yang konyol, but not like this. Tidak dengan karakter dangkal dan adegan yang menyangkal logika hanya untuk membuat karakternya terlihat kuat.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SHADOW IN THE CLOUD.
 
 

 

That’s all we have for now.
Bicara soal perang dan perempuan, apakah menurut kalian etis bagi suatu negara untuk mengirimkan perempuan-perempuannya berperang? Bagaimana dengan perempuan-perempuan pahlawan di jaman dahulu?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2020


 
Kita sudah pernah survive hidup di masa film-film impor telat bahkan dilarang masuk ke bioskop. Malah, abang atau kakak atau orangtua kita pernah ngalamin zaman bioskop yang film-filmnya gak ada yang terpuji. Dan siapa sangka, tahun 2020 ternyata datang beserta ancaman baru bagi para pecinta film; bioskop seluruh dunia harus ditutup demi memutus rantai pandemi! Bukan hanya film impor, film Indonesia pun tak ada yang bisa tayang di bioskop. Bukan hanya film-film bagus, film-film jelek juga harus terpisah dari penggemarnya.
Gak ada lagi yang namanya premier-premier. Gak ada lagi yang bisa nonton bareng. Tempat pemutaran alternatif juga perlahan tutup. Tapi untungnya kita hidup di masa internet yang terbilang cukup jaya. Masa di mana televisi sudah tergantikan oleh platform-platform streaming. Di era bioskop-tutup ini, streaming mencuat sebagai jawaban bagi dunia perfilman. Sebelum pandemi, kehadiran streaming memang sudah banyak, namun Studio/PH masih menomorsatukan bioskop. Karena di situlah pengalaman sinematik yang sebenarnya bisa terasa. Hanya saja, keadaan di 2020 membawa mereka terpaksa harus ‘menyerah’. Daripada film mereka mundur dan tak-tahu kapan bisa rilis karena kondisi pandemi yang tak kunjung menentu, kan. Film Trolls World Tour-lah yang pertama kali  alih-alih memundurkan tanggal tayang, memilih untuk tayang di platform. Dan praktisnya, memulai ‘new normal’ kebiasaan menonton.
Blog ini tentu saja merasakan pengaruh cukup drastis dari perubahaan ini. Pertama, tahun ini aku tidak mengeluarkan daftar ‘Kekecewaan Bioskop’; karena hanya caturwulan pertama yang film-filmnya masih di bioskop. Film-film yang tayang di platform juga banyak yang mengecewakan, sebenarnya, but I don’t feel right menyebut mereka sebuah kekecewaan – karena at least, mereka membuat industri film bisa bertahan, dan karena nonton di platform tidak terasa se-wah dan se-berjuang nonton di bioskop. Kedua, karena nonton di platform, aku jadi kebawa santai. Nonton jadi gak seurgen saat tayang di bioskop, yang perlu ngejar-ngejar sebelum filmnya turun, atau buru-buru beli tiket sebelum kehabisan atau simply sebelum spot kursi favorit diambil orang. Makanya reviewku mulai dari caturwulan kedua kemaren mulai telat-telat. Gak lagi se-on time biasanya. Malah saking banyak dan beragamnya tontonan yang bisa ditonton kapan saja, beberapa film jadi tak terulas. Tahun ini aku hanya mereview 119 film.
On the bright side, waktu nonton yang lebih senggang itu bisa kuisi dengan membuat review video. Ya, mulai tahun ini, youtube My Dirt Sheet sudah aktif ngereview film – dengan konsep sambil main video game! Ahahaha biar gak usah ribet ngurusin copyright tampilan trailer. Jadi yang belum subscribe, silakan lakukan hihihi…
Sisi positif lain dari new-normal nonton ini adalah kualitas yang kureview relatif meningkat. Karena filmnya sedikit, maka tak lagi rame oleh film-film medioker. List tahun ini sangat ketat!
 

HONORABLE MENTIONS

  • 1917 (jika film adalah sebuah experience, maka film ini nawarin experience perang terbaik di tahun ini)
  • Borat Subsequent Moviefilm (Borat kembali menyentil lewat komedi ‘pura-pura udik’, yang benar-benar sebagai reality check buat kita semua. Plus narasinya kini lebih berdrama. Very nice!!)
  • His House (persoalan hidup imigran dijadikan horor nyeni yang luar biasa manusiawi!)
  • Little Women (begini nih bikin film feminis yang gak agenda-ish; cantik dan respek!!)
  • Mank (penggemar sinema bisa belajar banyak dari film ini)
  • Nocturne (horor yang ngasih audio secreepy visual, menguatkan konflik psikologisnya)
  • Soul (film Pixar paling dewasa yang membahas filosofi keberadaan dengan ringan, lewat world-building yang kreatif!)
  • Sound of Metal (sound design luar biasa, cerita dan karakter manusiawi, akting juara, ending powerful — film ini punya semua!!)
  • Swallow (cara bertutur yang deep creep membuat cerita wanita memperjuangkan otonominya ini menjadi berkali lipat lebih thoughtful, naas, dan mengerikan)
  • The Assistant (pendekatan berceritanya realistis sekali sehingga film ini jadi luar biasa efektif menyampaikan gagasannya)
  • The Invisible Man (fenomenal opening dan fenomenal akting bikin thriller ini menjuarai caturwulan pertama film 2020)
  • The King of Staten Island (Kuat oleh sense of realism, film ini berhasil sebagai drama-komedi semi-otobiografi tanpa terpeleset menjadi sebuah parodi)
  • The Science of Fictions (film ini harusnya dikirim ke Oscar, harusnya menang Citra. Yang banyak!)
  • The Vast of Night (horor fenomena UFO dengan arahan yang sangat menarik dan menginspirasi buat filmmaker muda)
  • The Willoughbys (animasi dengan cerita yang unik, aku suka film ini mainly karena ada Alessia Cara ngisi suara karakter sentralnya!)

Tak lupa pula, Special Mention dihaturkan kepada film Vivarium yang ulasannya paling banyak dibaca tahun 2020 di blog ini.
 
Bersama dengan spoiler warning buat film-film yang masuk delapan-besar ini, aku juga ngingetin kalo daftar ini completely subjective. Ini not-exactly daftar film terbaik. Ini adalah delapan-besar film 2020 versi ku. Kesukaan-ku. Jadi isinya bisa berbeda dengan daftar versi kalian. Akan berbeda dengan daftar terbaik di web atau blog lain. Malah, daftar ini akan berbeda dengan Rapor Film My Dirt Sheet – karena penilaian rapor tersebut berusaha kubikin seobjektif mungkin.
So yea, inilah TOP-EIGHT MOVIES ANGKATAN CORONA!!
 
 

8. EUROVISION SONG CONTEST: THE STORY OF FIRE SAGA

Director: David Dobkin
Stars: Will Ferrell, Rachel McAdams, Dan Stevens, Pierce Brosnan
MPAA: PG-13 for crude sexual material including full nude sculptures, some comic violent images, and language
IMDB Ratings: 6.5/10
“IT WILL NEVER BE ENOUGH! I ONLY WANT TO HEAR JA JA DING DONG!”
Totally hiburan di tengah pandemi!
Ketika baru nonton ini, aku tahu ini bakal jadi cerita underdog dalam sebuah kompetisi. Seperti film-film serupa; ia ringan, formulaic, tapi bisa sedikit menginspirasi. Yang aku tidak tahu adalah… bahwa film ini ternyata luar biasa asik dan menghibur!
Ini film yang paling banyak aku tonton sepanjang. Bengong mau nulis apa lagi saat ngulas film? Aku berhenti dan setel film ini. Lagi pengen ngemil? Aku putar film ini sebagai teman ngunyah. Boring nunggu render-an video? Aku mainkan film ini dan dijamin tak akan bosan lagi. Well, sebenarnya filmnya sendiri banyak kekurangan. Ada bagian gajelas banget, yang gak aku suka di tengah, yakni adegan nyanyi bareng para juara eurovision beneran. Tapi bisa diskip dan nonton yang ada Lars dan Sigritnya aja. Karena memang keasikan film ini datang dari dua karakter sentral tersebut. Mereka lucu, mereka awkward, penampilan akting Rachel McAdams dan Will Ferrell kocak banget – and they sure can perform!
My Favorite Scene:
Adegan nyanyinya keren dan kocak semua. Aku suka Double Trouble, aku suka Ja Ja Ding Dong, aku bahkan suka lagu Running with the Wolves. Namun sebagai puncak, I’ll give the cake to Husavik.

“Gra-med-DIAAAA!!!”
 
 
 
 

7. THE TRIAL OF THE CHICAGO 7

Director: Aaron Sorkin
Stars: Eddie Redmayne, Joseph Gordon-Levitt, Sacha Baron Cohen, Michael Keaton
MPAA: R for language throughout, some violence, bloody images and drug use
IMDB Ratings: 7.8/10
“Let us make sure that if blood is going to flow, let it flow all over this city.”
Makjaaaaaangg!! Adegan persidangan di film ini adalah sidang terheboh yang pernah aku lihat di dalam film. Bahkan lebih bikin geram dibandingkan sidang yang pernah kutonton di televisi – dan aku udah lihat sidang kopi sianida dan sidangnya Steven Avery!
Film ini memang sukses mengaduk-aduk emosi. Debat sidang yang ada di film ini begitu sensasional. Dan begitu kita sadar bahwa adegan-adegan dalam sidang ini tuh beneran kejadian di dunia nyata karena film ini diangkat berdasarkan peristiwa beneran. Yah, meskipun yang namanya film, ada beberapa hal yang diubah alias didramatisasi. Namun demikian, film ini berhasil tampil tidak seperti parodi ataupun lebay. Malahan powerful dan mampu membuat kita berefleksi terhadap masa kini.
Aaron Sorkin berhasil membuat film ini sebagai tontonan yang seru, meskipun sebagian besar isinya adalah orang ngomong aja.
My Favorite Scene:
Punchline film ini di ending itu kuat banget. Tapi paling terbayang-bayang itu, yang paling bikin geregetan bahkan ketika filmnya udah beres, adalah kelakukan hakimnya.

 
 
 
 

6. BLACK BEAR

Director: Lawrence Michael Levine
Stars: Aubrey Plaza, Christopher Abbott, Sarah Gadon 
MPAA: R for language throughout, sexual content, drug use and some nudity
IMDB Ratings: 6.5/10
“Hey, I think feminism is fucked up.”
Aku suka nonton film. Aku suka nulis. Aku selalu ingin tahu bagaimana satu film itu ditulis – bagaimana film itu dibuat. Black Bear memuat hal tersebut. Karena film ini memvisualkan proses penulisan sebuah film – bagaimana ide-ide personal bisa ditarik untuk menjadi sebuah cerita, yang menghormati penonton dan penulisnya sendiri.
Film ini punya banyak kesamaan dengan film terfavoritku sepanjang masa, Mulholland Drive. Sama-sama aneh. Sama-sama nunjukin adegan syuting film (this is my soft spot for movies), sama-sama dihidupi oleh karakter yang nanti direveal sebagai orang yang bukan kita kenal sebelumnya. Sama-sama bikin bingung, tapi bingung yang membuat kita peduli karena ceritanya berakar pada konflik personal. Bedanya, Black Bear actually adalah berakhir dengan nada yang positif. Karena karakternya adalah penulis, dia menulis, maka yang ia lakukan sebenarnya adalah sebuah proses healing.
Black Bear disangga oleh penampilan akting yang luar biasa natural dari tiga aktor sentralnya. Kalo kalian belum ngefans sama Aubrey Plaza, kalian bakal jadi ngefans sama aktor ini. She’s weird, she’s funny. Dia nunjukin range emosi yang menakjubkan. Kalian perlu melihat Aubrey pada adegan ketika dia disuruh berakting pada bagian kedua cerita film ini. Tapi, untukku,
My Favorite Scene adalah:
Pas dialog debat soal feminis di cerita bagian pertama. Dialog film ini memang berisi banyak argumen yang menantang kita untuk diskusi, dan salah satunya – dialog dengan argumen paling menarik dan relevan – adalah ketika Aubrey harus memilih sikap di antara seorang suami yang berpikiran lebih tradisional dengan istri yang lebih ‘woke’, namun kedua orang ini sama-sama annoying.
 
 
 
 
 

5. RELIC

Director: Natalie Erika James
Stars: Robyn Nevin, Emily Mortimer, Bella Heathcote
MPAA: R for some horror violence/disturbing images, and language
IMDB Ratings: 5.9/10
“Do you ever get lonely out here by yourself?”
Dari sekian banyak horor bagus yang tayang di tahun 2020, aku memilih Relic sebagai favorit. Relic bukan hanya superseram, tapi juga sarat oleh makna. Dan ceritanya gampang untuk relate kepada siapa saja, karena kita semua punya orangtua – dan sendirinya akan menjadi orang tua.
Seluruh kejadian dalam film ini dirancang sebagai perumpamaan dari dampak demensia kepada si pasien, sekaligus juga kepada keluarganya. Nonton film ini akan bikin kita takut tua dan tinggal sendirian, sebegitu berhasilnya metafora itu diwujudkan oleh film. Perasaan mengerikan seperti ketika orang yang kita kenal berubah menjadi orang lain karena tidak lagi mengingat siapa kita, ataupun ketika kita mulai kehilangan ingatan itu satu persatu, inilah yang jadi bahan bakar horor cerita.
Dan semua itu berhasil berkat arahan yang visioner dari sutradara yang baru sekali ini bikin film. Cerita ini seperti personal baginya. Ending film ini juga jadi salah satu ending paling powerful yang bisa kita tonton di 2020. Tepuk tangan untuk Australia sekali lagi menelurkan sutradara horor yang hebat. I can’t wait to see Natalie Erika James’s next projects.
My Favorite Scene:
Ketika karakter dalam film ini mulai tersesat di dalam rumah mereka sendiri! Gila ini adegannya serem karena terasa banget panik dan mengukungnya rumah yang dibikin ‘bertambah ruangan’ itu.

 
 
 
 
 

4. THE PLATFORM

Director: Galder Gaztelu-Urrutia
Stars: Ivan Massague, Zorion Eguileor, Antonia San Juan
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 7.0/10
“There are 3 kinds of people; the ones above, the ones below, and the ones who fall.”
Perfect banget ditonton saat awal pandemi kemaren. Nonton ini tuh jadi kejawab kenapa orang-orang pada sibuk menimbun masker (atau menimbun tisu toilet di luar negeri sana). Lebih universal lagi, menjawab kenapa yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat.
Film ini berhasil menjelaskan itu lewat konsep dunia-cerita yang diciptakan dengan baik. Perlambangan di balik mekanisme platform dan lantai-lantainya itu benar-benar terasa mewakili keadaan di dunia kita. Ini adalah film yang penting bagi kemanusiaan, tapi sekaligus menjadikan film ini sangat susah untuk ditonton.
Darah, muntah, kotoran, kerakusan dan moral bobrok; itulah lima elemen dasar film ini. Secara simbolik maupun literal, film ini sungguh akan membuat kita mual.
My Favorite Scene:
Adegan yang menabrakkan persiapan masak sebegitu banyak dan enak makanan, dengan bagaimana makanan tersebut akhirnya dimakan

 
 
 
 
 
 

3. I’M THINKING OF ENDING THINGS

Director: Charlie Kaufman
Stars: Jesse Plemons, Jessie Buckley, Toni Collette, David Thewlis, Guy Boyd
MPAA: R for language including some sexual references 
IMDB Ratings: 6.6/10
“Other animals live in the present. Humans cannot, so they invented hope.”
Satu lagi film 2020 yang ngingetin sama Mulholland Drive, dan bahkan punya general-idea yang mirip. Film ini secara konflik juga mirip dengan Black Bear – tentang orang yang memutar ulang cerita hidup di dalam kepalanya. Tapi film ini menohok karena memperlihatkan kegagalan.
Aku lebih suka film ini karena lebih aneh, pengadeganannya lebih menekankan kepada hal sureal. Film ini juga banyak dialog, tapi gak akan bikin bosan karena surrounding dialognya itu yang menarik. Kita melihat tokoh-tokoh yang berubah namanya, bajunya — begitu unsettling, random, dan sedikit mengerikan.
Awalnya memang film ini terasa distant. Kita gak yakin tentang apa sebenarnya. Di sinilah letak pesona film. Kaufman merangkai dialog, karakter, adegan, dan penyimbolan dengan luar biasa detil sehingga tanpa disadari film ini akan berakhir dengan terasa begitu dekat. Begitu nyata. Kenapa jadi kayak iklan provider…
My Favorite Scene: Adegan balet di menjelang akhir itu sampai sekarang bikin aku kepikiran. Apakah ini kejadian yang sebenarnya? Apakah ini harapan si tokoh? Yang jelas begitu weird dan beautiful

 
 
 
 
 

2. JOJO RABBIT

Director: Taika Waititi
Stars: Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Scarlett Johansson, Taika Waititi
MPAA: PG-13 for mature thematic content, some disturbing images, violence, and language
IMDB Ratings: 7.9/10
“Not everyone is lucky enough to look stupid.”
Film yang berada di posisi limbo sebenarnya; keluar tahun 2019, tapi berkat Indonesia yang gak mau masukin film ini ke bioskop, aku baru bisa nontonnya di tahun 2020. Sering sih kondisi gini terjadi. Biasanya film-film limbo palingan hanya kumasukin ke ‘honorable mentions’. Namun Jojo Rabbit ini begitu bagus, sehingga sayang rasanya untuk tidak mencatatkan namanya di daftar top-eightku.
Bahkan, objectively, film ini tetap dengan nilai tertinggi di antara film-film 2020. Naskahnya keren banget. Mengadaptasi cerita ‘muram’ menjadi komedi satir, yang enggak pretentious. Film ini tetap terasa sangat penting, bicara tentang ‘sebarkan cinta, bukan kebencian’ di balik nada konyolnya itu. Ini menunjukkan permainan hati dan komedi yang sangat presisi dari pembuatnya.
Progresi ceritanya benar-benar menyenangkan untuk diikuti. Membuat film terasa padat, dan membuat kita merasa sayang ketika film berakhir karena gak mau berpisah dengan karakter-karakternya.
My Favorite Scene:
Film ini punya banyak adegan top. Kita minta sedih, ada. Lucu, ada (Yorki paling bikin ngakak!). Sweet pun ada. Weird, apalagi! Tapi seperti biasa, the best part adalah ending. Dan adegan di ending Jojo Rabbit seperti mewakili semua perasaan yang sudah memuncak dari filmnya.

 
 
 
 

Pandemi memang telah sukses mengubah skena nonton kita. Beda dengan bioskop, nonton streaming-an di hp atau laptop atau tv masing-masing membuat nonton terasa lebih spiritualis lagi.  Film-film pun ternyata banyak yang menggali eksistensi, merefleksi diri, dan sebagian lagi mengajak kita untuk menikmati hidup walau dalam keadaan tak-biasa.
Perubahan yang tampak jelas di daftar ini adalah, sudah sejauh ini tapi belum ada film superhero. Padahal biasanya, film superhero pasti nongol – setidaknya mengisi di ‘honorable mentions’. Dalam kondisi dunia di mana kita butuh pahlawan, apakah superhero malah absen dalam daftar tahun ini?

Siapkan terompet tahun baru kalian – karena inilah, FILM NOMOR SATU PILIHANKU DI TAHUN 2020!
*tiup terompet: “teteteret-teret-tenettereneett!!”
 
 
 
 
 

1. DA 5 BLOODS

Director: Spike Lee
Stars: Delroy Lindo, Jonathan Majors, Melanie Thierry, Chadwick Boseman
MPAA: R for strong violence, grisly images and pervasive language
IMDB Ratings: 6.5/10
“We fought in an immoral war that wasn’t ours for rights we didn’t have.”
In the wake of #BlackLivesMatter, Spike Lee menghadirkan film ini ke tengah-tengah kita.
Da 5 Bloods menggambarkan bagaimana persisnya menjadi serdadu kulit hitam yang disuruh berperang di Vietnam. Horor perang yang seumur idup gak ilang itu dipotret oleh Lee, disebar ke lima perspektif karakter, dan kita melihat seperti apa perang membekas ke dalam hidup mereka. Selipan flashback adegan perang, ditambah cuplikan klip perang yang nyata, membuat film ini dapat jadi disturbing untuk ditonton. Aku merinding sendiri nonton ini, bahkan lebih merinding daripada nonton film-film horor yang bagus-bagus itu.
Tapi jangan bayangkan arahan Lee kaku dan one-tone seperti film-film agenda-ish. Film ini tidak tampil murni mengerikan. Juga tidak murni menuding siapa-siapa. Ada hati yang begitu menguar soal persahabatan dan keluarga. Ada kelucuan yang dihadirkan. Film ini punya segalanya. Ia bermula dari petualangan dan berakhir ke action menegangkan.
Di film ini kita bisa melihat salah satu penampilan terakhir dari Chadwick Boseman (rip) – nonton film ini sekarang akan membuat Boseman semakin fenomenal lagi karena karakternya di sini begitu kharismatik, perfectly mirroring him in real life.
My Favorite Scene:
Monolog Delroy Lindo. That’s it. Aku angkat kupluk banget. Beautiful, daunting, kita takut dan kasihan melihatnya saat bersamaan. Jika aku yang punya, aku akan ngasih Oscar untuk Delroy di adegan ini.

 
 
 
 
 
So, that’s all we have for now.
Akhir 2020, bioskop mulai menggeliat bangun. Semoga pandemi segera berakhir. Semoga perfilman segera pulih. Semoga Indonesia gak terjebak dan ikut-ikutan dalam perang platform, karena pada titik ini perfilman kita belum sanggup untuk bersaing di sana – platform tidak banyak membantu perfilman kita dalam jangka panjang, melainkan hanya membuat film-film jadi cenderung seperti ftv. Semoga tahun 2021, kita sudah bisa menikmati ngejar-ngejar film di bioskop kembali!
Apa film favorit kalian di tahun 2020? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2021?
Share with us in the comments 
 
Remember, in life there are winners.
And there are…
… karena tahun 2020 ini gak ada Kekecewaan Bioskop, maka aku mau paradein losers lain. Ya kalian; Mulan, Tenet, Milea, dan…

We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

ANOTHER ROUND Review

“Drink to enjoy life”
 

 
 
Coba tebak apa persamaan antara Ernest Hemingway, General Grant, dengan Winston Churchill? Ya mereka adalah tokoh-tokoh hebat, but also, mereka bertiga adalah peminum berat. Sama seperti kalian; well, at least itulah yang dikatakan Martin kepada kelasnya dalam salah satu adegan belajar-mengajar paling gokil yang kita tonton di tahun ini. Adegan tersebut dapat kita jumpai dalam film Another Round garapan Thomas Vinterberg.
Drama komedi yang menilik kebiasaan minum di Denmark ini punya premis yang menarik. Ceritanya berangkat dari teori seorang penulis dan psikiatris beneran bernama Finn Skarderud. Penelitian yang kontroversial itu menyebutkan kandungan alkohol dalam gula darah manusia 0.05 persen itu masih terlalu rendah; dan argumennya adalah jika ditingkatkan menjadi 0.10 persen, akan membuat manusia menjadi lebih energik, lebih berpikiran tajam, lebih fokus dan terbuka. Basically, penelitian itu menyebut kandungan alkohol yang lebih tinggi akan meningkatkan performa manusia.
Empat guru SMU dalam film Another Round tertarik untuk membuktikan teori tersebut. Terutama Martin (diperankan luar biasa oleh Mads Mikkelsen), yang ngerasa dia kini menjadi membosankan. Semembosankan pelajaran sejarah yang ia ajarkan. Hubungan dengan istri dan keluarganya kian hambar. Murid-murid pun tak lagi memperhatikan kelasnya. Bahkan para murid menyalahkan Martin gagal mengajar sehingga nilai mereka jeblok. Jadi, Martin dan ketiga guru sobatnya itu mulai menerapkan minum-sebelum-bekerja. Hasilnya memang positif. Martin kembali jadi guru dan ayah dan suami yang keren. Murid-murid kini memperhatikan pelajaran karena kelas Martin sekarang jadi fun. Sesuatu yang lebih muda seperti menyeruak keluar dari Martin. Ini membuat Martin pengen lebih lagi. Dia dan teman-teman ngepush penelitian mereka lebih jauh lagi. Hingga mereka minum sampai mabuk. Dan tentu saja, mabuk dalam budaya manapun jarang sekali adalah salah satu pertanda yang bagus.

Ini baru namanya guru-guru gokil!

 
 
Maka film ini mengambil tempat sebagai studi perilaku manusia. Bukan hanya Martin yang disorot, ketiga temannya punya masalah masing-masing, dan kita akan melihat seperti apa pengaruh eksperimen dan penelitian mereka terhadap para guru ini satu persatu. Inilah yang membuat film ini menarik. Kita melihat mereka semua mulai dari fase stagnan – memboring dalam mid-life crisis – ke fase ‘terlahir-kembali’ sebagai guru yang cerdas dan menyenangkan – dan akhirnya tiba di fase paling rendah dalam hidup mereka.
Dalam mengarungi tiga fase yang dilewati karakter-karakternya tersebut, Vinterberg tampak menyetir perhatian kita keluar dari hal-hal klise. Seperti dia menyadari bahwa cerita seperti ini akan selalu ngikutin fase yang demikian, sehingga Vinterberg memusatkan perhatian kita bukan kepada fasenya melainkan dari bagaimana para karakter beraksi di dalamnya. Vinterberg juga memastikan semua itu direkam dengan treatment yang spesifik sehingga eksperiens yang dialami oleh karakter tersampaikan kepada kita. Lihat saja bagaimana kamera diperintahkannya bergerak ketika mengambil gambar Martin yang dalam pengaruh minuman, mengajar dengan cerdas di depan kelas. Martin memang masih tampak bugar, dia gak mabok atau keleyengan. Namun kamera bergerak dengan sedikit unsteady. Berayun-ayun dari close-up ke medium. Memberikan ruang tapi gak pernah lepas dari Martin. Aku gak pernah mabok. Aku bahkan gak suka (gak bisa) minum. Aku tim minum air putih karena bahkan teh dan kopi saja akan bisa membuatku tak-bisa jauh dari kamar mandi untuk beberapa jam. Tapi aku tahu bahwa efek seperti keleyengan itulah yang ingin dicapai oleh Vinterberg ketika membuat kameranya menangkap dengan gerakan seperti itu. Supaya kita dapat merasakan dengan subtil apa yang sedang terjadi pada karakternya.
Puncaknya tentu saja adalah pada adegan menari di ending. Wuih! Buatku ini adalah salah satu ending yang berhasil mencampurkan rasa/emosi dengan gelora visual, dan enggak muluk-muluk. Powerfulnya itu mirip seperti pada ending Sound of Metal (2020). Karena kedua film ini berhasil mentransfer emosi karakter sepanjang cerita kepada kita yang udah ngikutin tanpa pernah dibuat terputus sekalipun. Ending ini juga sekaligus memperlihatkan betapa menuntutnya permainan peran yang diberikan kepada Mads Mikkelsen. Dia harus mendeliver both secara emosional dan secara fisik – dilaporkan Mikkelsen beneran melakukan adegan menari itu sendiri tanpa stuntmen – dan keduanya tersebut sukses berat ia lakukan. Yang istimewa dari adegan ini adalah journey karakter Martin sudah demikian kuat tertutup – film menghantarkan kita melihat itu dalam cara yang sungguh unik. Di situ, walaupun dia memang terlihat minum tapi kita tahu bahwa Martin tak menari karena mabok, seperti pada adegan mereka ‘party’ di pertengahan cerita. Di akhir ini kita mengerti bahwa Martin menari sebagai dirinya sendiri. Bahwa saat itu dia yang menyadari hidup dan dirinya sendiri tidak akan bisa kembali ke ‘kejayaan masa muda’, namun toh dia tetap merayakan hidupnya.

Bahwa minum bukan untuk mengobati keadaan susah dan jadi jalan keluar untuk lebih baik dengan menjadi mabok. Minum adalah bentuk dari merayakan kehidupan. Sebuah tos yang dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri, karena hidup tak akan menjadi baik kecuali kita sendiri yang mengubah pandang dan mengusahakannya.

 

Tapi bagaimana cara agar minum tak menjadi candu?

 
 
Tidak seperti film komedi Indonesia tahun ini yang tentang guru itu, Another Round memang memperlihatkan karakternya bekerja sebagai guru. Karena film ini gak lupa bahwa itulah kontras yang ‘dijual’ sejak awal. Lebih lanjut lagi, Another Round memang memiliki penulisan yang secara teori benar. Tiga aspek kehidupan tokohnya diperlihatkan semua. Kehidupan personal, kehidupan profesional, dan kehidupan privat Martin benar-benar ditampilkan supaya kita lebih memahami akar dari konfliknya. Kita mengerti kenapa Martin yang seorang guru nekat untuk minum alkohol justru pada hari-hari dia mengajar. Kita mengerti motivasi dari karakter ini. Karena sekali lagi, ini bukanlah semata tentang perbuatan minum atau maboknya. Another Round tetap adalah perjalanan personal karakter.
Semua orang di kota Martin minum alkohol, bahkan remaja sudah diperbolehkan mengonsumsi dengan batasan tertentu. Semua orang di sana pernah mabok. Nah, di sinilah letak kegoyahan film ini. Ada titik ketika film seperti bingung mengambil sikap terhadap mabuk – terhadap kebiasaan minum alkohol – itu sendiri. Istri Martin dalam satu adegan menyatakan mereka renggang bukan karena Martin yang kini jadi suka minum, karena semua orang minum. Melainkan karena Martin itu sendirilah, jadi Martin harus menengok ke dalam dirinya. Tapinya lagi, film tampak kesusahan melepaskan kesalahan Martin dengan alkohol. Menjelang babak penyelesaian film ini, narasi justru semakin memperlihatkan hal-hal buruk itu dari kecanduan alkohol. Minum yang tak-terkendalikan. Sehingga pandangan film ini terhadap alkohol jadi mencuat kembali, menutup soal personal karakter, dan pandangan tersebut blur. Film tak mengambil sikap tegas terhadap tradisi minum-minum yang mereka potret.
Pengembangan karakter di babak ketiga itu jadinya terasa terlalu cepat. Setelah satu peristiwa kematian, on top of peristiwa ‘tragis’ lain, Martin jadi berubah. Film terasa seperti nge-skip eksplorasi penting. Aku mengerti ini soal karakter Martin, tapi aku juga ingin melihat posisi film lebih tegas. Begini; sedari awal, minum-minum itu sudah diset layaknya jawaban yang benar, tapi lalu diperlihatkan sebagai yang salah, tapi karakter menyebut bukan soal mabuknya, dan kemudian Martin arc complete. See, seperti ada yang hilang. Film seperti berkelit dan cerita beres. Aku ingin eksplorasi yang lebih banyak supaya hubungan ke karakternya lebih erat.
 
 
 
Buatku hanya dengan begini, cerita film ini cukup terlihat sebagai anekdot saja. Seperti anekdot Hitler dengan dua tokoh politik yang diajarkan oleh Martin di dalam kelas. Amusing untuk didengar, tapi anekdot itu mengundang pemikiran yang lebih mendalam; kenapa yang gak peminum seperti Hitler pada akhirnya tetap menjadi the worse person. Film ini sendiri pun meng-gloss over pemikiran seperti itu. Fokusnya tetap pada karakter. Yang dimainkan luar biasa, dengan arahan dan treatment penceritaan yang baik. Membuat film ini lucu, dan maka menjadikannya cukup tragis. Penulisannya-lah yang sedikit kurang bagiku. Tapi tetep, film ini bakal jadi pesaing kuat buat kategori Film Internasional Terbaik di Oscar tahun depan.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ANOTHER ROUND.
 
 

 

That’s all we have for now.
Orang bilang mabuk membuat seseorang bisa jadi lebih jujur, film ini memperlihatkan alkohol membuat Martin jadi lebih keren. Bagaimana pendapat kalian tentang itu? Kenapa mabuk bisa membuat orang menjadi lebih jujur, lebih berani, dan lebih terbuka?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SOUL Review

“Life starts now.”
.

 
 
Bertahun-tahun pengen jadi bintang jazz, Joe (diisi suaranya oleh Jamie Foxx) yang bekerja jadi guru musik honorer akhirnya diterima untuk nampil bermain musik di klab bersama idolanya. Tentu saja Joe langsung memilih gig ini ketimbang tawaran untuk jadi guru tetap di sekolah dasar. Dalam perjalanan pulang, Joe yang begitu girang sibuk menelpon sehingga tak lagi memperhatikan jalan (itupun kalo dia pernah memperhatikan jalan sebelumnya). Joe mengalami kecelakaan. Dia jatuh tewas. Hidupnya berakhir tepat pada saat dia mengira hidupnya baru saja dimulai.
EIIIIITTSS, jangan keburu sedih dan depresi dulu. Karena Joe adalah tokoh utama dalam film Soul; film buatan Pixar. Dan jika ada satu hal yang kita ketahui tentang Pixar, maka itu adalah Pixar selalu merancang cerita dengan muatan perasaan yang real, yang nge-tackle masalah yang manusiawi seperti kematian, perpisahan, dibalut dengan konsep yang menyenangkan. Selalu ada lapisan kreatif yang menjadikan ceritanya menarik.
Kecelakaan tadi ternyata belumlah akhir dari semua bagi Joe. Karena dia mendapati dirinya – jiwanya – berada di sebuah tempat yang bisa membawanya hidup kembali. Joe kabur dari jembatan lorong ‘siratal mustaqim’, dan sampai di The Great Before. Tempat pelatihan dan seminar bagi jiwa-jiwa sebelum dilahirkan ke dunia. Joe yang menyamar menjadi salah satu mentor, ditugaskan untuk mengajari unborn soul bernama 22 (disuarakan oleh Tina Fey dengan suara yang menurut si karakter “annoys people”) tentang kehidupan duniawi. Si 22 ini sudah beribu-ribu tahun gagal terus lulus pelatihan, padahal mentor-mentornya adalah orang terkenal semua. Joe dan 22 yang bertualang bersama mencari spark untuk 22, akhirnya saling mengajari soal apa yang sebenarnya paling berharga dari kehidupan.
Film Soul ini digarap oleh Pete Docter yang sebelum ini menggarap Inside Out (2015). Jadi kita bisa mengharapkan eksplorasi dan world-building yang sama imajinatifnya di Soul ini. Dibandingkan dengan Inside Out, memang Soul terasa bahkan lebih ‘dalem’ lagi. Karena alih-alih soal emosi dan kepribadian bekerja, Soul adalah eksplorasi soal eksistensi dan jiwa itu sendiri. Docter dan co-director Kemp Powers menerjemahkan filosofi mengenai kehidupan, afterlife, dan apa yang membuat kita, kita ke dalam dunia ‘kartun’ versi mereka sendiri.

Dan tak lupa juga menampilkan ‘soul music’ alias musik Jazz

 
 
Menjelaskan soal filosofis seperti eksistensi ke dalam presentasi atau bentuk yang ringan, jelas adalah sebuah tantangan besar. Bahkan bagi sekelas Pixar. Kita tahu anak kecil memang ada kalanya nanyain hal-hal ‘sulit’; hal-hal yang enggan untuk kita bahas kepada usia mereka. Namun begitu, rasanya jarang sekali ada anak kecil yang nanyain ‘kenapa kita suka mengejar hobi yang dilarang oleh orangtua’. I’m not saying film Soul ini gak cocok untuk selera anak. Karena memang filmnya sendiri didesain untuk bisa ditonton oleh anak kecil. Desain visualnya mengundang. Karakter jiwa-jiwa itu berbentuk lucu, mereka tampak seperti gabungan awan dengan roh. Fluffy sembari garis tubuhnya agak-agak berpendar transparan. Masing-masing jiwa ini punya bentuk yang distinctive, yang sesuai dengan penampakan atau fisik tubuh manusia mereka. Sehingga menyenangkan untuk menebak-nebak atau membandingkan wujud asli dengan wujud jiwa beberapa karakter yang disebutkan. Selain itu ada juga karakter lain yang bentuknya tak kalah unik. Film ini juga punya antagonis, walaupun di sini tokoh antagonis itu tidak benar-benar punya niat jahat, melainkan hanya terlihat sebagai penghalang bagi Joe yang literally kabur dan pengen mengubah nasibnya. So yeah, film ini masih punya pesona khas animasi Pixar yang digemari anak-anak. Dialognya juga masih sempat untuk terdengar lucu dalam sebagian besar porsi adegan.
Hanya saja menu yang disajikan Pixar kali ini memang lebih cocok untuk konsumsi orang dewasa. Pixar mengambil langkah yang berani di sini; membuat tokoh utama yang bukan anak-anak, malah pria dewasa yang bahkan belum punya keluarga/anaknya sendiri. Segala konteks yang berusaha disederhanakan tadi itu juga pada akhirnya akan tetap jauh bagi anak kecil. Menonton film ini bagi anak-anak sekiranya bakal sama seperti ketika kita yang sudah dewasa menyaksikan Tenet (2020). Film Soul ini pun kadang terseok juga oleh kebutuhan untuk menjelaskan konteks dan pembangunan dunianya; itulah terutama yang memberatkan bagi anak yang belum dapat menangkap dengan baik gambaran besar ataupun maksud dari narasi yang diceritakan. Bagi kita orang dewasa, atau bagi penonton yang sudah mengerti permasalahan yang menimpa karakternya, film Soul ini akan jauh lebih emosional. Tidak akan terasa hampa seperti saat nonton Tenet. Karena tokoh utamanya, permasalahan dirinya, begitu universal dan terceritakan dengan baik oleh film. Penyederhanaan konteks filosofis, konsep dunia afterlife yang dijadikan ceria seperti camp pelatihan, tidak mengurangi penekanan kepada konflik emosional dan psikologi yang dirasakan oleh karakter Joe – dan bahkan juga si 22. Film ini pun semakin fleksibel dengan tone-nya, sebab di pertengahan akan ada bagian cerita jiwa yang tertukar tubuh, dan film berhasil untuk tidak tersesat menjadi komedi konyol. Melainkan malah semakin terasa penting sebagai suatu bagian dari perkembangan karakter.
Penulisan film ini luar biasa. Aku suka cara film menyelipkan hal-hal seperti kematian, keputusasaan ke dalam cerita. Hal-hal tersebut penting dan tidak-bisa tidak disebutkan ketika kita bicara tentang persoalan tujuan hidup, eksistensi, dan kebahagiaan seperti ini. Ada banyak aspek dalam film ini yang kalo kita pikirkan lagi ternyata sebenarnya sangat suram. Misalnya soal jiwa-jiwa yang segitu banyaknya muncul di dekat Joe di jembatan ke cahaya itu, menunjukkan segitu banyaknya manusia yang mati setiap hari. Ada yang muncul bertiga pula, mereka mati kecelakaan apa gimana. Dan Joe sendiri, dia gak sadar dirinya tewas karena dia begitu sibuk mengejar passionnya sebagai pemusik Jazz. Kalimat ‘Hidupnya berakhir tepat pada saat dia mengira hidupnya baru saja dimulai’ sesungguhnya sangat naas dan inilah yang jadi gagasan utama penulisan karakter Joe.
Berarti menurut film ini, semua manusia terlahir tanpa jiwa

 
 
Joe adalah seorang yang sangat passionate. Dia mengejar karir, and do what he loves. ‘Kesalahan’ yang harus Joe sadari adalah menyangka bahwa hidupnya baru akan dimulai – baru benar-benar berarti jika passion atau karir impiannya itu sudah tercapai. Film langsung membenturkan ini dengan membuat Joe celaka. Namun Joe gak mau nerima, dia kabur membawa jiwanya keluar dari kematian. Jiwanya berontak, bagaimana mungkin dia mati pada saat hidupnya justru baru dimulai – pada saat karirnya mulai mencapai titik terang. Joe tidak pernah benar-benar peduli pada hidupnya, selain untuk berhasil menjadi pianis jazz. Inilah yang membedakan Joe dengan 22 pada saat si unborn soul itu mencicipi seperti apa hidup untuk pertama kalinya. Joe tidak pernah duduk dan menangkap daun yang jatuh. Joe selalu mengejar karirnya sehingga lupa untuk melihat hidup. Tidak seperti 22 yang berhenti dan menikmati apapun yang ditawarkan kehidupan kepadanya. Ada momen yang sangat menyentuh ditampilkan oleh film ini yaitu ketika Joe melihat visual kehidupannya, yang ternyata sangat hampa. Dia tidak melakukan apa-apa padahal sudah hidup selama itu. Momen ini menunjukkan bahwa mengejar impian meskipun adalah suatu perjuangan hidup, tapi bukan berarti hidup jadi harus tentang itu.
Lebih lanjut film memperlihatkan Joe yang tetap tidak bahagia setelah berhasil menjadi anggota band jazz bareng idolanya. Karena dia ketinggalan semua hal lain kehidupannya. Dalam film ini ada makhluk yang disebut lost-soul. Para jiwa akan berubah menjadi makhluk ini jika tidak lagi senang dalam hidup. Meskipun dalam film ini tidak ditunjukkan, tapi aku yakin jika Joe tetap memilih ngeband dan melupakan 22 dan semua yang ia lalui tadi, maka Joe akan perlahan berubah menjadi lost-soul. Dan ultimately menjadi lost-soul adalah hal yang paling mengerikan yang bisa terjadi kepada sebuah jiwa. Karena yang terpenting adalah untuk menghidupi hidup.

Kita bisa mati kapan pun. Inilah yang diingatkan oleh film. Hidup tidak dimulai ketika kita lulus kuliah, atau ketika kita dapat kerja, atau ketika impian kita tercapai. Hidup sedang berlangsung. Sekarang juga! Maka tunggu apa lagi? Kejarlah yang dicita-citakan, tapi jangan lupa untuk membina hidup. Karena purpose of life is to live the life

 
Sehingga masuk akal jika film ini memberikan kesempatan kedua bagi Joe. Karena perkembangan karakternya diset sebagai orang yang kini mulai belajar untuk dengan benar-benar melihat hidup. Bukan hanya tentang musiknya, tapi juga tentang keluarganya, tentang teman-temannya. Dan kupikir cerita Soul yang dibikin seperti ini justru lebih indah dan mengena sebagai inspirasi ketimbang membuat cerita yang ‘kelam’ dengan membuat Joe benar-benar memutuskan untuk ‘terus’. Nah kembali lagi ke penulisan yang hebat, Soul tidak lantas memberikan kesempatan kedua itu saja dengan cuma-cuma kepada Joe. Dia dibuat pantas untuk mendapatkanya dengan membantu 22. Dia dibuat pantas untuk mendapatkannya dengan diperlihatkan telah menyadari apa ‘kesalahannya’ dalam memandang hidup. Dia dibuat pantas untuk mendapatkannya dengan diperlihatkan sudah menerima dan merelakan nasibnya.
Semua aspek sudah dipertimbangkan oleh film ini. Semua yang ditampilkan terasa masuk ke dalam suatu tujuan. Suatu makna. Sehingga membuat film ini semakin berbobot. Satu lagi yang paling aku suka dari cara film ini menangani karakternya adalah dengan bersikap open terhadap ‘ending’ karakter 22. Tokoh ini sangat menarik, awalnya dia gak suka untuk pergi ke bumi, dia menganggap semua kehidupan itu yang sama aja. Not worth, enakan di Great Before. Tapi hidup sesungguhnya benar seperti paradoks Cliche-22 (mungkin dari sini nama 22 itu); kita gak bakal tau seberapa enaknya hidup, tanpa pernah menjalani hidup itu sendiri. Si 22 memang akhirnya terjun untuk dilahirkan ke bumi, dan yang aku suka adalah kita tidak diperlihatkan terlahir atau menjadi siapa si 22 di Bumi. Film tidak memberikan kita adegan Joe bertemu dengan 22 versi manusia, dan menurutku ini sungguh langkah yang bijak. Karena menunjukkan hidup tidak bergantung kepada kita terlahir sebagai apa, bisanya apa, sukanya apa. Itu semua tidak berarti bagi 22, karena dia hanya ingin sekali untuk hidup.
 
 
 
Ini adalah karya Pixar yang paling berbeda. Mulai dari tokoh utamanya yang dibuat dewasa (not to mention merepresentasikan African-American yang belum pernah dijadikan tokoh utama oleh Pixar) hingga ke permasalahan yang berjarak dengan anak-anak. Konteksnya adalah tentang eksistensi yang berusaha diceritakan dengan sederhana. Dan ini memang tidak membuat Pixar keluar dari identitasnya. Yang kita lihat tetaplah sebuah journey yang imajinatif, penuh warna, dengan karakter yang adorable. sehingga nilai hiburannya tetap dipertahankan di balik bobot yang luar biasa. Sungguh sebuah tantangan yang gak ringan. Namun film ini berhasil. Ceritanya menyentuh dan terasa penting. Para karakter pada akhirnya tampil realistis karena bergelut dengan masalah yang sangat relatable. Kebingungan yang mungkin terjadi saat mempelajari konsep dunianya akan tertutupi oleh keunggulan penulisan karakter. Minus poin bagiku cuma minor, yaitu menurutku harusnya film sedikit lebih konklusif terhadap karakter Joe yang mendapat kesempatan kedua. Buatku alih-alih membuatnya hanya terlihat bersyukur dan menikmati hidup, mungkin bisa juga ditambah dia akhirnya mengambil tawaran sebagai guru; just to circle back ke pilihan yang dia dapatkan di awal cerita. Selebihnya buatku film ini beautiful dan penting, if you care about life and your existence. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SOUL.
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian sudah menemukan ‘spark’ di dalam hidup?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ASIH 2 Review

 

“A real parent is someone who puts their kids above their own selfish wants and needs.”

Cerita Asih 2 menyorot keluarga pasangan dokter Sylvia dan suaminya yang pembuat komik/cerita bergambar. Sylvia yang kehilangan putri cilik mereka yang meninggal dunia empat tahun yang lalu, merasakan emotional attachment kepada seorang gadis kecil misterius yang jadi pasiennya di rumah sakit. Anak itu tertabrak mobil di tengah hutan. Tak ada keluarga yang menjemput. Tak ada siapapun yang tahu siapa orangtua ataupun dari mana asal si anak ini. Maka Sylvia pun membawanya pulang, mengadopsi anak itu. Memberinya nama Ana. Such a close call, sebab Ana ternyata adalah anak pasangan pada film Asih pertama (2018). Tujuh tahun ini, Ana hidup dibesarkan oleh hantu mirip kuntil-ana-k bernama Asih. Tindakan Sylvia mengambil Ana dari dekapan Asih, jelas tindakan yang mengundang malapetaka bagi dirinya dan keluarga.

Jadi, ini adalah konflik antara dua orang perempuan, dua orang ibu yang ingin melindungi anaknya. Sylvia yang bertanggungjawab menyembuhkan Ana, dan Asih yang actually benar-benar merawat Ana sedari bayi. Menariknya adalah bahwa tidak satupun dari mereka berdua yang ibu kandung dari Ana. Bahwa mereka berdua justru adalah ibu yang melihat Ana sebagai kesempatan kedua; kesempatan untuk menebus kesalahannya pada anak kandungnya. Bedanya cuma Sylvia manusia, dan Asih hantu. Tindakan Asih akan naturally lebih mengerikan daripada perbuatan Sylvia. Padahal inilah sebenarnya kontras yang menarik yang ada pada film. Seperti ada komentar mengenai makna sebenarnya dari menjadi orangtua bagi seseorang. Apa yang membuat kita pantas dipanggil ‘ibu’. Penggalian gagasan tersebut bisa membawa film ke level dramatis, ke cerita yang manusiawi sekaligus menginspirasi dan empowering – khususnya karena film ini tayang berdekatan dengan Hari Ibu.

Seorang Ibu tak pelak memang adalah orang yang telah melahirkan anak. Namun melahirkan, atau simply mengadopsi anak tidak serta merta membuat kita pantas disebut sebagai orangtua yang baik. Karena orangtua berarti adalah harus mampu mementingkan anak di atas kepentingan sendiri. Bukan saja harus mampu mengasuh dengan penuh kasih, tapi juga mampu bertindak yang terbaik bagi anak, walaupun itu berarti harus mengikhlaskan mereka.

Namun, sutradara Rizal Mantovani tidak melihat ceritanya seperti itu. Film tidak difokuskannya ke sana. Atau tepatnya, film diarahkannya berjalan lewat aspek yang paling konyol dan paling dangkal, untuk kemudian menjadikan bahasan soal ibu tadi hanya sebagai konklusi yang ditampilkan ujug-ujug di akhir.

Siapa sih yang gak mau jadi anak dokter?

Jika Christopher Landon punya konsep membangun narasi horor dari komedi jadul, maka para filmmaker horor di Indonesia gak mau kalah. Mereka bikin horor dari lagu anak-anak jaman dulu! Mulai dari lagu Boneka Abdi, hingga lagu sepolos ngajak orang naik Kereta Api pun sudah ada film horornya. Tren yang menarik, tapi kasihan juga sih anak-anak Indonesia. Lagu untuk mereka udah punah, udah gak ada yang bikin lagi, eh lagu jadulnya pun diubah jadi materi horor kacangan. Tapinya lagi, memang beberapa lagu anak itu serem kok. Contohnya ya Indung-Indung yang jadi (un)official soundtrack sekaligus plot device dalam Asih 2 ini.
Well, at least, seram buatku waktu kecil.

Waktu kecil, sekitaran umur 6-7 tahun, aku takut banget sama lagu ini. Kalian pasti tau dong lirik lagu Indung-Indung itu ada kelanjutannya (gak kayak karakter-karakter dalam film ini yang nyanyiinnya muter-muter di situ melulu). Soal perempuan bernama Siti Aisyah yang mandi di kali rambutnya basah. Nah, dulu waktu kecil kalo di rumah nenek, aku selalu ditidursiangkan ortu di kamar Om. Seluruh tembok kamar itu dicat oleh beliau sendiri, digambarin aneka rupa. Mulai dari tokoh kartun Donal Bebek hingga tokoh zodiak. Salah satu gambarnya itu berupa perempuan yang mengenakan handuk merah, dengan rambut yang seperti…basah!! Satu kali, pas lagi dininaboboin pake lagu Indung-Indung, mataku natap si gambar cewek itu. Dan aku mimpi buruk si cewek itu hidup, dia lah Siti Aisyah dalam lagu, dan rambutnya basah ternyata oleh darah sampe ke anduk!!! Sejak saat itu aku trauma sama lagu Indung-Indung.
Sehingga nonton Asih 2 di kala bioskop sepi masih pandemi benar-benar pengalaman menantang buatku. Aku bisa ngerasain keseraman masa kecil itu menguar setiap kali lagu tersebut muncul di film. Dan buatku yang punya kisah personal, hanya lagu itu sajalah yang jadi titik kedekatan dalam film ini. Selebihnya film ini sama sekali enggak menakutkan. Tokoh hantunya, si Asih; aku malah berempati dan kasihan padanya. Aku justru rooting for her. Itu karena memang Cerita Asih 2 punya potensi drama horor untuk digali. Film ini bisa jauh lebih bagus daripada sodara-sodaranya di Danur Universe JIKASAJA pembuatnya enggak obses ke lagu yang cuma serem untuk dipake nakutin anak kecil.

Alih-alih fokus kepada penggalian drama dan trauma orangtua yang bergulat dengan kematian anak mereka – lewat sudut pandang perempuan yang mengadopsi, film malah menitikberatkan kepada misteri asal muasal dan lirik lagu. Adegan seram di Asih 2 sebagian besar berupa seseorang mendengar lantunan lirih “Indung indung kepala lindung” dan kemudian mereka melihat sosok mengerikan somewhere di latar belakang.

Pernah gak ngalamin kejadian mendengar satu lagu, lalu kemudian lagu tersebut mendadak muncul di mana-mana; ke mana pergi, ada lagunya. Kurang lebih kayak gitulah film ini; mendadak semua tokoh dalam cerita nyanyiin dan ketemu sama lagu ini. Film kemudian lanjut mempersoalkan itu lagu apa. Ada misteri yang kuncinya ada pada lagu tersebut. Film mengerahkan semua kepada lagu ini. Bahkan bonding ibu dan anak dilakukan dengan memperlihatkan Sylvia belajar nyanyiin lagu tersebut karena lagu itu merupakan lagu favorit Ana. Yang paling konyol adalah adegan ‘fight’ Sylvia dengan Asih. Mereka rebutan Ana “Ini anakku!” pake tarik-tarikan, daaann mereka lantas ‘lomba nyanyi’. Gantian nyanyiin Indung Indung demi menarik perhatian dan kasih sayang Ana.
Kasihan sekali melihat Marsha Timothy dan Ario Bayu yang jadi pasangan suami istri di film ini. Mereka adalah aktor yang pernah mengantongi piala penghargaan. Aktor yang mumpuni, dengan range drama yang luas. Dan cerita film ini actually terbuka untuk ruang drama tersebut. Sebagai suami istri yang pengen punya anak lagi, move on dari trauma-lah yang harusnya digali dalam film ini. Bikin mereka benar-benar butuh Ana. Buat kita yakin mereka beneran peduli sama anak sebagai person, bukan sebagai penebus dosa. Hanya ada satu adegan yang mengarah ke pembahasan ini, padahal narasi harusnya dibangun di sekitar persoalan ini. Bukannya malah memfokuskan kepada ‘lagu seram’. Akibatnya drama dan karakter itu gak kena. Kita gak ngerasa apa-apa, kita gak ngerasain urgensi Sylvia harus dapatin Ana. Atau bahkan kita gak sedih ketika Ana hilang dari Sylvia. Karena film gagal melandaskan kepentingan Ana secara nyata dan emosional buat Sylvia dan suaminya. Kita gak melihat mereka ‘rugi’ apapun jika Asih mengambil Ana. Karena memang si Asih toh did a pretty great job gedein Ana. Anak itu sehat, dia celaka karena ditabrak mobil di hutan. Mobil. Di hutan. Come on! itu odd-nya kecil banget hahaha… Dan di luar kebiasannya saat makan yang aneh, anak itu toh gak tumbuh jadi psikopat. Dalam pandangan kita, film malah seperti memperlihatkan Sylvia-lah yang menculik Ana dari Asih.

“Lu ambil anak gue! Lu ambil lagu gue!!”

 

Shareefa Daanish sekali lagi hanya dipakai untuk jadi hantu yang teriak-teriak ngejumpscare orang. Padahal potensi drama dan permainan karakter bisa ia lakukan di sini. Too bad pembuat film cuek dengan ini. Justru Asih-lah di sini yang cocok sebagai protagonis. Dialah yang kehilangan sesuatu – meskipun awalnya juga curian. Dialah yang pada akhirnya berbesar hati. Yang menunjukkan bahwa Asih-lah yang mengalami perkembangan karakter – yang actually punya plot dalam cerita ini. Cerita bahkan menyimpan satu kejutan menarik lagi berupa kehadiran seseorang dari masa lalu Asih; orang yang mengenal Asih saat masih seorang manusia. Jika memang begitu, toh kerja film sangat buruk dalam memperlihatkan Asih sebagai tokoh utama. Karena porsi paling gede ya ada pada Sylvia dan keluarga. Sylvia, yang tak ngalamin perkembangan apa-apa. Yang gak ada stake. Yang bahkan tidak membuktikan kepada kita dia bisa jadi orangtua yang baik; karena yang film perlihatkan hanyalah dia yang selalu pulang malam hanya dekat dengan Ana saat mandi dan saat belajar lagu.

Dan si Ana itu sendiri… Memanglah, film horor Indonesia hanya melihat anak kecil sebagai objek. Setelah lagu mereka diambil jadi materi horor, tokoh yang mewakili mereka pun di sini hanya jadi objek rebutan. Ana dihidupkan sebagai trope ‘anak setan’, alias anak berkelakuan aneh yang suka ngobrol sama sesuatu yang tak terlihat. Film ini tak memberikan Ana kesempatan untuk bersuara, untuk punya pendapat dan pandangan sendiri. Literally, Ana ditulis sebagai karakter yang gak bisa bicara. For no reasons at all, kecuali ya dengan alasan untuk memudahkan penulis naskah bermalas-malasan. Ana yang tak bisa bicara berarti tidak perlu digali sudut pandang dan sisi dramatisnya. Ana hanya dijadikan jalan keluar ala deus ex machina saja. Di akhir tiba-tiba dia sadar dan ngasih pandangan ke ibunya. Karakter Ana yang dibikin seperti inilah yang menjadi penanda keras betapa film ini males dan memang menghindari penggalian karakter. Arahannya dibuat khusus untuk memfasilitasi jumpscare-jumpscarean saja. Menyia-nyiakan potensi karakter yang ada.




Kalo ada yang nanya film apa yang bisa narik penonton ke bioskop, dalam situasi pandemi kayak sekarang ini, maka aku percaya jawabannya adalah film horor. Dan film ini, aku juga sama yakinnya, mampu untuk melakukan hal tersebut. Karena memang didesain untuk memfasilitasi ‘hiburan’ netijen. Penuh jumpscare, ada yang kesurupan, dan flashback backstory. Peningkatannya sedikit di visual kemunculan penampakan, seru juga melihat hantu yang perlahan nampak dari transparan ke memadat. Dengan durasi yang lebih panjang tiga-puluh menit dari film pertamanya, kupikir film ini bakal lebih berisi. Cerita dan karakter penyusunnya akan benar-benar memiliki sesuatu. Tidak dangkal seperti film pertama. Tapi ternyata film ini tidak tertarik menggarap semua itu. Melainkan hanya berkutat pada menghantu-hantukan lagu. Sehingga akhirnya ya jadi sama saja dangkalnya. Such a waste potential.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for ASIH 2.




That’s all we have for now.
Apakah kalian juga punya pengalaman seram dengan lagu anak-anak?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



WONDER WOMAN 1984 Review

“Wishes are free, but you have to pay for everything else.”
 

 
 
Harga dan impian punya kesamaan. Semua orang punya. Setiap orang pasti memiliki keinginan, dan setiap orang tentulah rela untuk membayar sejumlah ‘harga’ demi keinginan dan impian mereka bisa terpenuhi. Sekuel Wonder Woman yang kembali digarap dengan sangat cakep oleh Patty Jenkins akan ngasih tau kita sedikit banyak tentang ‘keinginan’ dan ‘harga’ tersebut. Bahwa seringkali harga yang kita bayar terlalu tinggi, padahal sesungguhnya yang kita miliki dalam hidup sudah cukup.
Film ini dibuka dengan adegan di Pulau Amazon, saat Diana kecil ikut kompetisi obstacle-course ala Benteng Takeshi  Ninja Warrior. Opening ini penting untuk dua hal; menyambut kita dengan aksi menghibur yang seru, serta melandaskan karakter Diana yang naif. Membuild up konflik personal yang nantinya memegang peranan penting dalam keseluruhan arc Wonder Woman dalam film ini. Karena reaksi Diana Kecil terhadap kegagalan dan kekalahannya di kompetisi ini akan terefleksi dan jadi ‘sin’ utama karakternya.

Seringkali kita mengarang kebohongan, karena kita tidak menerima kenyataan. Kita ingin lebih dan merasa tidak cukup dengan yang kita dapatkan sekarang. Kita mengambil jalan pintas, demi memenuhi keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik. Keinginan yang tak akan pernah terpuaskan. Satu jalan pintas akan berkembang menjadi lebih banyak jalan pintas. Sampai akhirnya kita tersesat di sana. Melupakan siapa sebenarnya diri kita. Dan itulah harga tertinggi yang akan kita bayar.

 
Wonder Woman 1984 memang lebih banyak bermuatan drama ketimbang aksi. Namun film ini tidak gagal dalam menampilkan babak kehidupan Diana Prince sebagai superhero. Ceritanya justru semakin menarik karena berani memperlihatkan seorang pahlawan super yang vulnerable. Yang gak semena-mena kuat. Sosok Wonder Woman di sini terasa semakin manusiawi, karena kita dibimbing untuk mengenali karakternya, memahami keinginannya, dan melihat kelemahan. Bagaimana pun juga cerita superhero tetep saja adalah cerita tentang seorang person. Penggalian person inilah yang berhasil dilakukan maksimal oleh Jenkins. Jadi film ini enggak sekadar bak-bik-buk menghajar musuh, melainkan juga bahkan tokoh musuhnya diberikan kesempatan untuk tampil relatable dan manusiawi.

Tentara Arab kalah karena mereka be like ‘Astaghfirullah haram-haram’ sambil tutup mata

 
 
Fokus cerita adalah di tahun 80an saat fanny pack masih jadi hot fashion item. Diana Prince hidup di tengah-tengah khalayak Washington D.C. Di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai peneliti benda-benda bersejarah dan menjadi pahlawan pembasmi keributan di kota, Diana diperlihatkan sebagai seorang yang kemana-mana sendirian. Diana kurang membuka diri, karena ternyata dia masih belum bisa move on dari Steve yang gugur di film pertama. Saat Dreamstone – kristal pengabul permintaan yang jadi sumber masalah film ini – ditemukan, Diana tak pelak langsung secretly make-a-wish Steve hidup kembali. Permintaan Diana ini terkabul, tapi dengan ‘bayaran’ kekuatan supernya perlahan memudar.
Sementara itu, ada dua karakter lagi yang meminta kepada Dreamstone. Dua karakter yang bakal jadi musuh utama Wonder Woman di sini. Pertama adalah rekan kerja Diana, perempuan kikuk dan cupu bernama Barbara Minerva (Kristen Wiig charming dalam peran-peran kayak gini). Minerva meminta untuk menjadi keren seperti Diana. Permintaan yang terdengar inosen, sayangnya Minerva gak tau kalo Diana itu pahlawan superpower. With great power, comes great responsibilities. Minerva mana siap. Minerva jadi orang yang angkuh dengan kekuatan barunya, dia tidak lagi ceria dan bersahabat. Penjahat kedua adalah seorang bintang televisi sekaligus pengusaha minyak, Max Lord (Pedro Pascal memainkan seorang con-man yang licin). Diremehkan seumur hidup, membuat pria ini pengen jadi yang terbaik; bagi dirinya dan bagi putranya. Jadi dia mengubah dirinya menjadi Dreamstone. Membuatnya bisa mengabulkan permintaan semua orang, sekaligus menagih bayaran apapun yang ia mau untuk memuaskan keinginannya atas kuasa. Di bawah kekuatan Max Lord, dunia kacau terancam WW84 (World War 84! hihi), sedangkan Diana terus melemah karena gak rela kehilangan sang pacar untuk kedua kalinya.
Aku bisa melihat SJW-SJW di seluruh dunia bakal sinis sama film ini. Kayaknya Wonder Woman 1984 ini bakal bernasib sama dengan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), dalam hal filmnya bagus tapi gak banyak yang berani terang-terangan memuji. You know, karena gak sejalan dengan agenda feminis kekinian. Suzzanna Luna Maya adalah drama horor yang manusiawi tapi gak banyak yang bicarain karena protagonisnya adalah seorang wanita perempuan yang rela hidup sebagai hantu untuk bisa terus bersama suami. Sedangkan Wonder Woman 1984 ini, Diana Prince-nya dibuat sebagai seorang perempuan yang gak bisa move on dari cowok; perempuan adidaya yang sempat rela menukar kekuatannya demi cinta. People will certainly quick to criticize that. Padahal mestinya dipahami dulu konteks journey Diana pada film ini. Sikapnya itu sebenarnya justru adalah ‘dosa’nya. Sesuatu yang harus Diana perbaiki sebagai bagian dari resolusi cerita mengenai kebenaran yang harus dihadapi.
Jalan keluar segala kekacauan dalam cerita ini adalah dengan membatalkan permintaan. Terdengar memang simpel dan gampang. But is it tho? Apakah segampang itu bagi Diana untuk membatalkan permintaannya; membuat Steve pergi lagi dari dirinya? Apakah semudah itu bagi Minerva untuk berhenti kuat dan keren sebagai Cheetah dan kembali menjadi dirinya yang cupu? Apakah seenteng itu bagi Max Lord membatalkan semua yang ia dapat, setelah semua kekuasaan itu? Cerita film ini adalah soal menghadapi kebenaran. Untuk mengenali bahwa bukan hanya kita yang menderita. Semua orang punya derita dan kesusahan masing-masing. Jadi cukuplah minta lebih banyak daripada orang lain. Menyadari itu sungguh bukanlah hal yang mudah bagi siapapun. Inilah tantangan bagi film ini. Harus membuat bagaimana membatalkan permintaan itu jadi sesuatu yang benar-benar tampak sulit dan berat bagi karakter. Makanya film ini butuh dua jam lebih. Ketiga karakter sentral yang sebenarnya sama-sama gak mau menatap kebenaran dibahas pelan-pelan, diberikan ruang untuk kita mengerti mereka. Dan pada beberapa memang efektif. Kita dapat merasakan emosi pada Wonder Woman dengan pengadeganan dia lari lalu terbang (adegan Wonder Woman belajar terbang sendiri on-the-moment itu beautiful sekali), kita juga dapat gejolak emosi ekstra ketika film membahas backstory Max Lord. Kita merasakan beratnya kembali itu bagi para penjahat yang selama ini sudah menderita.
Cerita begini menuntut range yang luas dari para pemerannya. Bagi Gal Gadot, memang ini kesempatan emas yang tak ia lewatkan. Wonder Woman udah kayak mendarah daging baginya. Gadot exceptionally excellent pada akting yang menuntut permainan fisik; dia udah buktiin ini di film pertama, dan menunjukkannya sekali lagi pada sekuel ini. Tantangan baru di sini baginya adalah menampilkan Wonder Woman yang menangis, yang merasa kalah. Dan akting emosional itu pun berhasil dimanuveri olehnya. Saat bercanda pun, karakternya come off sebagai natural, timingnya kayak mengalir aja. On top of that, karakter Gadot ini menguar kharisma. Detil-detil kecil bagaimana dia membawa diri, bagaimana orang-orang memperhatikannya, turut membangun karakternya. Like, beginilah seharusnya seorang tokoh superhero, gitu.
Lassonya bukan hanya untuk kebenaran, tapi juga untuk eksposisi

 
 
Sedari film pertama memang Jenkins mengarahkan ini dengan perhatian khusus terhadap detil-detil kecil.  Momen-momen kecil itulah yang justru membuat film ini terasa hidup. Seperti misalnya menggunakan pakaian sebagai hook untuk elemen drama. Lihat secara subtil film letakkin cheetah pattern di mana-mana, diam-diam membangun sosok si Cheetah. Ataupun misalnya pengadeganan seperti Diana dan Steve yang berjalan-jalan di kota, dengan kondisi ‘terbalik’ dari film yang pertama, karena sekarang Steve yang seperti fish-out-of-water; terkaget-kaget melihat seni, lifestyle, dan teknologi tahun 1984. Lalu sepertiga akhir, adegan ini circle-back lagi, kali ini mereka jalan dengan kota yang chaos. Jadi, Jenkins mengembangkan bukan hanya karakter tapi setting dalam detil-detil kecil tersebut. Adegan aksi atau berantemnya pun terasa berbeda satu sama lain, berkat detil-detil. Adegan berantem pertama di Gedung Putih, akan berbeda banget dengan adegan berantem kedua beberapa menit berikutnya, karena detil dan cerita karakter yang membedakan.
Ngomong-ngomong soal berantem, meskipun aku kurang puas karena terlalu singkat, tapi aku suka adegan big fight antara Wonder Woman dengan Cheetah. Environmentnya memang gelap untuk nyamarin CGI, tapi juga dimanfaatkan oleh film untuk menciptakan detil visual yang tampak wah. Aku suka lasso dan kabel listrik yang dikontraskan. Jubah emas Wonder Woman keren, kita melihat pov shot saat berantem dengan kostum ini, but mainly kostum ini dimanfaatkan untuk ‘teaser’ aja, karena there’s no way fungsi kostumnya gak diperlihatkan semua.
Approach Jenkins buat film ini kayaknya memang supaya tampak seperti cerita film kartun. Resolusi yang simpel, begitu pula awal masalahnya. ‘Cuma’ kristal ajaib entah darimana. Memang konyol, tapinya lagi, memang begitulah cerita superhero di kartun-kartun. Selalu ada ‘benda asing’ atau hal kecil lain yang jadi pemicu kehancuran dunia. Tapinya lagi, di film kedua ini, approach yang dipake itu sering juga menimbulkan adegan-adegan yang kontras dengan ‘manusiawi’ yang diincar oleh film. Alias ada beberapa adegan yang tampak dipaksakan masuk, karena cheesy ataupun karena hanya disinggung sekali itu saja. Misalnya seperti adegan di pesawat tak-kelihatan. Ya, ini disamain dengan komik karena aslinya Wonder Woman memang punya invisible jet sebagai kendaraan. Namun cara film ini memperkenalkan kendaraan itu kurang memuaskan. Tiba-tiba saja Diana punya kemampuan menghilangkan itu, dan tidak pernah dipakai lagi dalam adegan-adegan lain.
 
 
 
 
Kalo mau dibandingin, film ini memang tidak sesolid Wonder Woman yang pertama (2017) Ada beberapa bagian yang terasa dihadirkan gitu aja, yang kesimpelannya membuat film terasa lebih ringan dan kecil dari yang diharapkan. Jenkins masih mempertahankan keunggulan penceritaannya seperti memanfaatkan detil-detil kecil untuk karakter, adegan aksi yang fun dan memikat, serta tentu saja penampilan Gal Gadot yang kali ini dituntut untuk semakin ‘lincah’. Satu lagi yang menurutku nilai plusnya adalah, Jenkins sedari film awal tidak pernah terjebak untuk menjadikan superhero cewek ini sebagai agen feminis yang lebay. Tidak terasa film yang agenda-ish atau film dengan kepentingan tertentu. Melainkan fokus ke cerita yang memanusiakan tokoh-tokohnya. Cerita ini malah jadi relatable karena tentang cinta dan menerima kehilangan, yang tak pelak relevan untuk ditonton di tahun 2020 yang penuh musibah ini. Bisa membantu kita untuk tetap kuat, mau itu cewek ataupun cowok.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for WONDER WOMAN 1984.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Dreamstone mengabulkan permintaan, tapi dengan biaya berupa mengambil hal terpenting pada hidup kita. Jika kalian menggunakan Dreamstone, apakah kalian bisa menerka kira-kira apakah yang diambilnya dari hidup kalian? Kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TLC: Tables, Ladders, and Chairs 2020 Review


 
 
Akhir tahun dan Natal identik dengan semangat keluarga. Sehubungan dengan itu, maka WWE memberikan kita kisah dua kepala keluarga. Yang satu, kepala keluarga yang bekerja keras demi keluarga. Yang benar-benar berjuang menyediakan keluarganya tangga, kursi, dan meja.. eh salah, sandang, pangan, dan papan. Sementara satunya lagi, adalah kepala keluarga yang menunjuk dirinya sendiri. Menggunakan muslihat dan gertakan supaya ditakuti, supaya anggota keluarga tunduk kepadanya, dan kemudian menggunakan mereka untuk kepentingan pribadinya. Dua kepala keluarga yang menganut paham berbeda soal honor dan perjuangan. Dua kepala keluarga itulah, Kevin Owens dan Roman Reigns, yang dibenturkan oleh WWE sebagai partai puncak. Seharusnya.
Sejak berubah haluan menjadi antagonis, Roman Reigns tak pelak menjadi atraksi utama dalam siaran WWE. Membuat brand Smackdown – tempat Roman Reigns bernaung – solid dalam capaian penonton. Mengalahkan brand Raw yang ratingnya anjlok banget-bangetan. Sampai network/pihak penyiar brand merah itu ngamuk-ngamuk. Tahun 2020 ini memang tahun yang berat bagi show semacam WWE; show yang mengandalkan reaksi live dari penonton. Kalian yang masih getol ngikutin Raw dan Smackdown setiap minggu, pasti ngerasa kalo memang yang paling santer dibicarain adalah soal Roman Reigns. Dan ini bukan hanya karena karakter itu akhirnya berubah jadi jahat (sesuatu yang tadinya dianggap impossible bagi banyak fans, mengingat Roman Reigns adalah golden boy WWE era kekinian), melainkan karena WWE memainkan perubahan karakter tersebut dalam cerita yang tepat.
Settingnya adalah keluarga besar. Sesuatu yang bisa mudah untuk direlasikan. Apalagi WWE kan memang ibaratnya udah kayak sinetron buat cowok; menggodok cerita tentang pria yang ingin jadi kepala keluarga yang hebat jelas beresonansi sekali dengan demographic penontonnya. ‘Drama’ Reigns menjadi semakin seru setelah dibentrokkan dengan Kevin Owens. Their storyline’s just come off natural. Klasik benturan sudut pandang. Dan WWE meng-capitalize story tersebut dengan membiarkan keduanya untuk ‘berperang’ di TLC. Yea, the match is war! Kerasnya pertarungan mereka sangat terasa, dan itu bukan saja karena mereka dibanting-banting ke kursi, tangga, dan meja. WWE gak menahan-nahan, dan benar-benar memanfaatkan peraturan no-dq untuk memperpanas suasana. Owens, the clearly better man in the story – hero yang orang ingin untuk berhasil, dibuat berjuang sangat keras karena baginya ini adalah handicap satu-melawan-dua. Roman Reigns dibantu oleh sepupunya, sesuai dengan karakternya sebagai kepala keluarga yang ngeabuse. Dan Owens, being kepala keluarga yang gak mau menyerah, benar-benar bangkit terus walau apapun yang menghalanginya. Bagusnya, WWE tidak membuat Owens layaknya manusia super. Tidak seperti Roman Reigns kalo dia dikeroyok pas masa-masa dia babyface dulu. Kedua pihak yang berseteru sama-sama desperate dan mati-matian, dalam spektrum berbeda. Dan itulah yang membuat match mereka sangat seru.

Carmella cosplay jadi Cheetah?

 
 
Smackdown is clearly on a roll dengan cerita dan karakter-karakter yang sangat fresh. Match brand biru satu lagi di PPV ini adalah Sasha Banks melawan Carmella. Yang ternyata jauh lebih solid daripada yang aku bayangkan. Build up match ini juga bagus, leading up ke pertandingan dengan elemen dramatis yang gak dimainkan dengan lebay. Carmella tampak meyakinkan sebagai heel dengan karakternya yang baru. Yang smart tapi vicious. Dan aku suka dia punya asisten yang seperti reference dari peran Carmella yang dulu sebagai sidekick R-Truth. Sasha Banks juga tampak begitu berapi-api di match ini. Move tribute buat Eddie Guerrero akan selalu bikin kita bersorak, dan Sasha berhasil pull it off dengan tanpa-cela. Sorotan mainstream yang didapat Sasha karena muncul di season 2 serial The Mandalorian bakal memperlama sabuk juara melingkar di pinggangnya, dan Sasha sudah lebih dari siap untuk menghandle semua ‘tanggungjawab’ dan bertindak sebagai juara.

Survivor Series memang sudah berlalu, tapi persaingan kualitas itu akan terus ada. Puncak tangga sementara ini ditempati oleh Smackdown yang punya cerita lebih seru dan karakter-karakter yang lebih fresh. Sedangkan Raw, meskipun menghidangkan lebih banyak ke atas meja, tapi terasa stale. Butuh api, atau mungkin ledakan, untuk membuat kita bisa lebih betah duduk di kursi menontonnya.

 
Jawaban dari Raw untuk tuntutan dari USA Network perihal rating mereka yang rendah adalah menghadirkan kembali Charlotte Flair. Sebagai rekan tag team Asuka. Sebagai protagonis. Ugh…
Berbeda sekali dengan approach yang diambil oleh Smackdown yang mengangkat elemen fresh. Raw justru tetap tak mengambil resiko. Charlotte instantly didorong ke title picture. Dan bahkan menang, tanpa ada kesusahan. Padahal lawan yang ia hadapi adalah tim yang selama ini meneror divisi wanita di Raw. Ini taktik lama; superstar populer didorong untuk menang terus. Padahal sebenarnya match ini masih bisa dibuat menarik. Bikin Charlotte kesusahan, bikin Nia Jax dan Shayna Baszler tetap mendominasi. Bikin Asuka dan Charlotte dalam bahaya. Tapi enggak. Tidak ada yang spesial di match yang didesain untuk ngehype si Charlotte. Enggak ada intensitas, enggak ada ketegangan, karena dalam hati kita udah was-was kalo resultnya bakal so obvious. Match ini standar aja, dia di-hot tag oleh Asuka dan menggempur habis-habisan. Ini gak baru, ini basi. Heck, bahkan move Charlotte pun gak ada yang baru. Moonsaultnya aja botch kok; keliatan banget gak kena.
Padahal tadinya aku sempat senang. Kejuaraan Tag Team Raw berakhir dengan cukup fresh. Aku lega akhirnya New Day yang tingkahnya udah usang itu kalah, dan pertandingan dimenangkan oleh Hurt Bussiness dengan bibit-bibit seteru baru; Shelton yang ditag-tanpa-consent oleh rekannya sendiri. Nah, hal-hal kayak gini yang bikin kita penasaran untuk menonton kelanjutannya. Untuk meminta apa lagi yang bakal terjadi pada karakter stable Hurt Bussiness itu sendiri.
TLC match versi Raw juga mestinya belajar banyak dari Smackdown. Karena while greatly ngepush Drew McIntryre sebagai pejuang tangguh, superstar yang lain tidak diberikan sesuatu. AJ Styles di-match tersebut merupakan AJ Styles hebat yang biasa. Gak banyak bedanya Styles yang berbodyguard, dengan yang enggak, bahkan di environment no-dq kayak TLC ini. Namun karena both Styles dan McIntyre adalah great wrestlers, maka paruh awal match ini masih seru untuk diikuti. Gak banyak superstar yang mampu menyuguhkan pertandingan TLC yang seru, tanpa bergantung kepada spot-spot gede. Styles dan McIntyre adalah contoh yang ‘gak banyak’ itu. Mereka berdua lebih mengandalkan aplikasi gerakan yang cerdas ketimbang terbang-terbangan atau hancur-hancuran. Bagian paling mengecewakan dari match ini jelas adalah saat Miz datang ngecash-in koper MITB, membuat pertandingan menjadi Triple Threat TLC. Miz di-book bego banget malah nge-cash di tengah match. Dan ujug-ujug gagal. Ini semua menunjukkan WWE udah nyerah dengan koper MITB mereka tahun ini. Mereka benar-benar gak tahu koper itu harus diapain sejak diberikan kepada Otis sebagai pemenangnya yang sah. Mungkin sebaiknya, konsep MITB juga harus diperbarui, atau paling tidak, diistirahatkan dulu beberapa tahun sebelum dimunculkan kembali supaya fresh.

Bakar dulu biar bisa bangkit dari abu

 
 
Ternyata Raw punya jawaban kedua untuk tuntutan pihak network. Dan jawaban kedua ini membawa harapan untuk menjadi lebih baik. Untuk memperbaiki rating, Raw sepertinya ingin diarahkan untuk sedikit lebih ‘ganas’ lagi. Match Firely Inferno antara Randy Orton dan The Fiend sepertinya adalah pemanasan untuk ke arah. Karena match ini ternyata ‘less of a match dan more of a trick yang ngeri’. Dan ini fresh. Konsep Inferno Match yang sudah ada sejak tahun 90an, diubah sehingga bukan hanya tampilannya lebih wah, tapi juga lebih memudahkan buat superstar yang terlibat. Tak lagi berupa ring yang dikelilingi oleh api, melainkan api tersebut ada mengelilingi barikade pembatas ring. Sehingga superstar bisa lebih leluasa bergerak dan beraksi. Konsep ini juga pas dengan karakter The Fiend, yang sama seperti Kane dan Undertaker (penggagas Inferno match original); yakni sama-sama monster supernatural.
Untuk aksinya sendiri, meskipun sebenarnya gak banyak gerakan wrestling, tapi WWE membuatnya tetap seru dengan teknik editing ala cinematic match. Dalam match Inferno, pemenang ditentukan oleh siapa yang lebih dulu membakar anggota tubuh lawannya. Elemen inilah yang dimainkan menjadi maksimal oleh WWE, karena keleluasaan mereka menggunakan teknik editing. Kita bisa melihat adegan-adegan intens seperti The Fiend membakar kursi yang sedang diduduki oleh Orton. Atau Orton membakar The Fiend yang tepar di atas ring. Terlihat brutal jika dieksekusi dengan editing yang baik, padahal match ini justru paling aman. Dan bagi kita, ini udah kayak hiburan nonton film. Dan kupikir, jika memang ini adalah jawaban yang tepat untuk USA Network, aku gak akan masalah menonton Raw dengan sisipan match cinematic seperti ini. Asalkan waktu dan kondisinya tepat.
 
 
So yeah, WWE TLC 2020 masih dapat digolongkan sebagai PPV yang harus-ditonton. Karena cukup banyak elemen fresh dan unik untuk disimak. Khususnya dua pertandingan dari Smackdown. Aku berikan MATCH OF THE NIGHT kepada Roman Reigns melawan Kevin Owens. Pertandingan-pertandingan dari Raw juga sebenarnya masih layak ditonton, meskipun banyak berisi aspek yang mengecewakan dan tidak maksimal dari segi bookingan. Jika kalian suka cinematic match (alias pertandingan yang udah diedit), FireFly Inferno jelas bisa jadi penghibur yang superseru. WWE mulai ‘bermain dengan api’, semoga ini jadi awal perubahan yang baik.
 
 
Full Results:
1. WWE CHAMPIONSHIP TLC Drew McIntyre bertahan dari AJ Styles, dan The Miz yang join di tengah pertandingan
2. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Sasha Banks mempertahankan sabuk dari Carmella
3. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Hurt Bussiness’ Cedric Alexander dan Shelton Benjamin jadi juara baru ngalain The New Day
4. WOMEN’S TAG TEAM CHAMPIONSHIP Asuka dan partner-misterinya, Charlotte Flair merebut sabuk dari Nia Jax dan Shayna Baszler
5. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP TLC juara bertahan Roman Reigns mengalahkan Kevin Owens
6. FIREFLY INFERNO Randy Orton membakar The Fiend Bray Wyatt!!
 
 
 
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 
 

SOUND OF METAL Review

“Hearing loss is less about hearing and more about understanding”
 
 

 
 
Bayangkan kalian mendedikasikan diri untuk menggeluti satu bidang, dan kemudian berhasil di sana, lalu tiba-tiba semua itu direnggut dari kalian. Tentunya sangat devastating. Tapi ternyata ada yang lebih mengenaskan daripada itu. Bayangkan, hal yang kalian geluti tadi itu, adalah satu-satunya hal yang bisa kalian jadikan pelarian. Bayangkan jika hal tersebut actually adalah sesuatu yang kalian butuhkan dalam perjuangan personal untuk menjadi lebih baik. Dan lalu kalian dirampas dari ‘pegangan’ tersebut.
Kehilangan seperti demikianlah yang persisnya menimpa Ruben dalam film Sound of Metal. Ruben yang seorang drummer band rock menemukan zona nyamannya di atas panggung. Ketika dia nampil bersama pacarnya, Lou. Mereka tinggal dalam minibus, sembari tur keliling kota. Heavy metal dan drum itu bagi Ruben bukan sekadar hobi. Melainkan caranya berjuang melawan kecanduan obat-obatan. Musik keras dan hingar bingar kehidupan di jalan adalah kehidupan baru Ruben sebagai seorang yang clean. Namun ‘pajak’ yang harus ia tanggung dari kehidupan semacam itu, dari eksposur terhadap suara-suara lantang setiap hari, sungguhlah berharga tinggi bagi Ruben. Pendengarannya, berangsur-angsur hilang. Memutuskan Ruben dari kehidupan lebih baik yang sedang coba ia bangun. Di dunia tanpa-suaranya kini, Ruben bagaikan anak kecil yang telanjang di tengah rimba. Helpless. Defenseless. Obat-obatan dapat dengan gampang menculiknya kembali.
Sound of Metal, meskipun bicara tentang tokoh yang kehilangan pendengaran, bijak sekali untuk tahu bahwa cerita seperti ini bukan semata soal bagaimana menyembuhkan pendengaran itu sendiri. Melainkan adalah soal membuka telinga untuk sebuah pemahaman yang lebih besar. Pemahaman untuk menerima sebuah kehilangan. Dan nyatanya, itulah yang membuat drama garapan Darius Marder ini begitu manusiawi.

‘New normal’ bagi Ruben

 
Film yang menyoal seseorang yang hidupnya dipaksa untuk berubah, seseorang yang harus kehilangan semua yang ia butuhkan dalam waktu singkat, akan gampang sekali untuk jadi sangat overdramatis. I mean, cerita begini tuh udah kayak taman-bermainnya drama tragis. Yang diset untuk membuat penonton lomba mewek dan mendorong lajunya penjualan sekotak tisu di pasaran. Di sinetron aja udah sering kan, cerita yang tokohnya tiba-tiba buta, atau tiba-tiba bisu. Ruben bisa saja jadi ‘sinetron’ dengan tokoh yang tiba-tiba tuli. Serius, sepanjang nonton ini aku udah bersiap-sipa nyumpahin kalo-kalo film belok ke arah ‘sinetron’. Kalo-kalo ada satu saja elemen cringe atau lebay. Tapi ternyata tidak ada. Dari awal hingga akhir tak ada. Dan aku senang sekali. Karena; amit-amit. Serius. Amit-amit kalo sampai begitu. Karena cerita dengan arahan seperti begitu tidak akan bisa menggapai dan berlaku hormat kepada karakternya. ‘Misi’ film seperti begini harusnya bukan untuk mempermainkan emosi penonton, melainkan justru memperlihatkan gambaran emosi yang manusiawi terkait persoalan yang terjadi kepada karakter. Gol minimum yang harus dicapai film ini, paling enggak, adalah untuk membuat kita bisa merasakan langsung seperti apa rasanya kehilangan pendengaran.
Marder achieves lebih banyak melampaui gol minimum tersebut. Sound of Metal di tangannya menjelma menjadi cerita yang benar-benar respek dan memanusiakan Ruben. Gak menye-menye maupun overdramatis. Marder telah membuat ini sebagai sebuah perjalanan karakter; sudut pandang yang menarik kita masuk. Membawa kita untuk berempati terhadap karakternya. Ya, lewat permainan sound design, kita jadi tahu langsung apa yang dirasakan oleh Ruben. Ketika Ruben kesulitan untuk mendengar, maka kita pun akan dibuat mendengar kehampaan yang sama. Dan ini bukan hanya soal suara berdering atau hanya ngemute menjadikan adegannya tanpa-suara. Marder enggak memanipulasi emosi lewat absennya suara. Melainkan bercerita dengan absen suara. Ada ritme. Marder membangun kontras sedari awal. Musik rock yang memenuhi setiap adegan, belakangan akan tergantikan oleh dialog-dialog yang teredam. Menimbulkan sensasi ‘kita ingin dengar lebih banyak, tapi tak bisa’. Persis inilah yang dirasakan oleh Ruben. Ketika intensitas naik bagi Ruben, film akan mulai menarik semua suara. Ketika Ruben seperti mulai menyerah, atau saat ia akan mengambil keputusan penting, film akan menampilkan kembali suara-suara percakapan. Membuat Ruben dapat mendengar lewat alat atau membuat lawan bicara Ruben bisa bicara dengan alat. Alias, sebenarnya saat itu Ruben ‘dipertemukan’ kembali dengan cara untuk mengembalikan pendengarannya. This fuels Ruben. Ini menguatkan konflik yang ada pada pertengahan cerita. Konflik saat Ruben masih memandang tuli itu sebagai sesuatu yang harus disembuhkan.
Actually, ini jadi salah satu poin penting yang dibicarakan oleh film. Babak kedua diisi oleh cerita Ruben yang tinggal di sebuah komunitas tuna-rungu. Bagi Ruben, ini adalah tempat untuk menyembuhkan dirinya. Padahal justru merupakan tempat untuk membiasakan dirinya dengan kehidupan tanpa-suara. Kita akan melihat adegan-adegan Ruben diajarin ini itu. Menjalin relasi dengan para anggota; ada yang seperti Ruben kehilangan kemampuan mendengar secara tiba-tiba, ada yang sedari lahir. Kita melihat Ruben melihat anak-anak tuna rungu belajar berkomunikasi, lalu lantas dia sendiri juga belajar bahasa-isyarat. Tempat rehab ini terlihat ramah dan menenangkan, tapi kita bisa melihat Ruben justru tidak melihatnya seperti itu. Di titik ini, Ruben masih belum berdamai dengan keadaannya. Dia percaya bisa sembuh dari yang ia anggap penyakit, sebagaimana dia bisa sembuh dari candunya. Menarik cara film mengomunikasikan argumen bahwa sebenarnya tuli itu sendiri tidak pernah dianggap sebagai penyakit yang harus disembuhkan bagi para pengidapnya. Melainkan tak lebih sebagai ‘cara lain dalam menempuh hidup’. Inilah yang ultimately harus dipelajari oleh Ruben.

Bahwa dengan kehilangan pendengaran, tidak berarti seseorang kehilangan hidup. Melainkan hanya hidup di dunia dan gaya yang baru. Kepositifan orang-orang di komunitas itulah yang dijadikan poin vokal oleh film ini. Gak semua masalah selesai dengan uang, karena dua hal. Uang tidak menjamin, ataupun memang tidak ada masalah. ‘Hanyalah’ soal pemahaman dan penerimaan kita terhadap kondisi.

 
Saat belajar skenario, biasanya kita dikasih tahu untuk merancang kehidupan tokoh utama. Mulai dari ia kecil, hingga ke momen yang akan jadi periode cerita pada film. Rancangan atau karangan kehidupan karakter inilah yang jadi backstory, yang semakin memperkuat karakterisasi tokoh utama yang kita tulis. Backstory tersebut tidak mesti terpampang pada film, tapi harus tersampaikan garis besarnya, supaya penonton bisa mengenali karakter dan bersimpati kepadanya. Backstory Ruben dalam cerita Sound of Metal berperan besar terhadap konflik yang harus ia lalui. Penceritaan yang dilakukan oleh Marder sungguh berhasil menuturkan backstory itu semua tanpa membuat film menjadi bertempo lambat ataupun membuat ceritanya jadi melanglang buana. Marder dengan efektif membuat kita mengerti. Semua hal yang perlu kita ketahui sebagai elemen emosional bagi Ruben dengan sukses tersampaikan. Misalnya, film masih ingat (dan sempat) untuk membahas kenapa pekerjaan sebagai drummer rock itu penting bagi Ruben. Begitupun soal makna dari hubungannya dengan Lou; apa peran Lou sang kekasih itu di hidup Ruben. Semua itu terbahas, menyatu dalam plot-plot poin cerita sehingga keseluruhan narasi film ini terasa sangat padat. Dan somewhat feels real.

“Plok! Plok! Plok!” adalah bunyi metal yang baru

 
Porsi terakhir dari ulasan ini khusus kudedikasikan untuk penampilan akting Riz Ahmed, yang luar biasa emosional – tanpa perlu berteriak-teriak – sebagai Ruben. Supaya cerita yang memfokuskan kepada personal dan kepribadian Ruben ini bisa berhasil, tentu beban itu tersandarkan kepada pemerannya. Tantangan bagi Ahmed di sini adalah menemukan titik-seimbang untuk penonton dapat merasakan emosi karakternya. Titik-seimbang di antara drama soal kehilangan pendengaran yang gak semua orang bisa langsung terkonek, dengan drama tentang manusia yang berusaha menerima kenyataan. Ahmed berhasil, buktinya kita mengerti dan berempati pada setiap keputusan yang diambil oleh Ruben, entah itu soal dia bersikukuh mencari uang untuk operasi, atau ketika dia memilih keluar dari komunitas dan kembali kepada Lou.
Ahmed mengerti bahwa yang diincar sutradara adalah untuk tidak membuat tokohnya ini tampil seperti minta dikasihani, atau mengasihani diri sendiri. Dan sebaliknya, juga tidak ingin tampak seperti sosok yang sempurna bagi kita. Jadi apa yang dilakukan Ahmed untuk mewujudkan semua itu? Permainan emosi. Ahmed membawa kita menyelami reaksi Ruben saat berjuang menerima kenyataan pendengarannya tak akan pernah kembali. Karakter ini tidak dimainkannya sebagai tokoh yang bersikap kasar, ataupun suka berteriak, tapi kita masih tetap merasakan gejolak emosi dan marah dan gak-terima itu di balik dirinya. Ia menggunakan bahasa tubuh dan gerakan mata, terutama saat adegan-adegan dia mengobservasi lingkungan komunitas, sehingga arc Ruben dapat tersampaikan dengan utuh. This is one top level performance. Yang aku dengan sangat senang hati melihatnya mendapat ganjaran piala. Lihat saja adegan fenomenal di ending. Kalo itu tidak memberikan dorongan semangat dan menginspirasi kita untuk berdamai dengan kenyataan, untuk mensyukuri yang terjadi sebagai lanjutan kehidupan; maka aku gak tau lagi yang menginspirasi itu seperti apa.
 
 
 
Dengan penggunaan sound-design, penampilan akting, dan arahan yang benar-benar respek menempatkan karakter sebagai identitas dan subjek – bukannya objek penderita – film ini berhasil menjadikan ini lebih dari cerita tentang orang yang kehilangan indera pendengar. Malahan membawa kita lebih dalam ke persoalan yang lebih relatable dan manusiawi. Menggambarkan dengan penuh hormat bagaimana susah dan perlunya sebuah acceptance terhadap situasi. Beberapa penonton mungkin akan menganggap film ini berat – inner journey Ruben memang demikian kompleks – tapi film ini gak akan bikin bingung. At the end of the movie, kita gak akan dibuat bertanya balik “apa itu tadi?” Percayalah, saat menonton film ini, berat itu ada tapi berat karena konflik karakter, tidak menghambat sama sekali bagi pengalaman menonton. Dan di akhir itu, oh percayalah, kita semua akan merasakan beban itu terangkat sudah dengan perasaan yang sangat melapangkan.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for SOUND OF METAL.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Aku pernah membaca bahwa ternyata penyandang disabilitas pendengaran malah lebih suka disebut tuli ketimbang dengan sebutan tuna rungu. Menurut kalian, kenapa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MANK Review

“Your job is to tell your story”
 

 
 
Diberikan kendali penuh atas semua keputusan kreatif cerita dalam sebuah pembuatan film sudah barang tentu merupakan mimpi basah setiap penulis naskah. Herman Mankiewicz, penulis naskah veteran di Hollywood tahun 40-an, kecipratan hak istimewa itu saat ditunjuk untuk berkolaborasi oleh produser muda Orson Welles. Di tengah-tengah Studio yang lagi struggling, Welles diberikan otonomi khusus untuk membuat film, dan Mank – panggilan Mankiewicz – yang terkenal karena talentanya, oleh Welles, diperbolehkan menulis apapun. Cerita apapun yang menarik. Dalam batasan waktu dua bulan. Asalkan, Mank setuju namanya tidak dicantumkan pada kredit. Sebagai seorang yang vokal terhadap kritik sosial, Mank setuju karena dia punya banyak observasi terhadap keadaan khususnya Hollywood saat itu. Namun keadaan memperlihatkan cerita yang sedang ditulis ternyata personal bagi Mank. Terlalu personal malah. Dan kejadian hasilnya, adalah sejarah dalam dunia perfilman.
Bagi penonton yang baru melek ke dunia, skenario cerita yang dimaksud oleh film ini adalah skenario Citizen Kane (1941). Film yang dipertimbangkan banyak kritikus dan penikmat sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Yang pernah ditulis. Film yang benar menggambarkan resesi setelah Great Depression yang melanda seantero Amerika. Mankiewicz dan Welles diganjar Oscar untuk film ini. Makanya film Mank yang dibuat oleh David Fincher ini enggak bisa lebih menarik lagi. Setidaknya sangat menarik bagi para penggemar dan pemerhati sinema. Karena Fincher menawarkan kita tempat duduk paling depan pada rangkaian peristiwa yang mendasari bagaimana film Citizen Kane itu bisa tercipta. Kita akan melihat insipirasi penciptaannya, langsung dari sudut pandang Herman Mankiewicz sendiri. Langsung, dari sosok yang terkenal bukan hanya lewat talenta tapi dari pemikiran dan aksinya yang kontroversial, bahkan untuk standar Hollywood itu sendiri.

Also it’s all very weird to me, karena selama ini ‘Meng’ buatku konotasinya adalah ‘pegulat dengan reputasi paling ditakuti bahkan oleh sejawatnya’

 
 
Tadinya kupikir, cerita film ini akan menarik karena berhubungan dengan batasan waktu. Dua bulan yang diberikan untuk Mankiewicz menulis, ditambah dengan kondisinya yang udah tua tapi tetep ngebut minum – dan rintangan tambahan berupa kaki Mankiewicz yang digips karena kecelakaan mobil, effectively membuat dia ‘terikat’ di tempat tidur, kukira akan dijadikan sebagai rintangan utama dalam proses kreatif menulisnya. Aku salah telah meragukan kehebatan sosok legenda Hollywood tersebut. Bagi Mankiewicz dalam film ini, itu semua bukan halangan untuk menulis. Namun lantas jika begitu, di mana letak konflik film Mank ini? Mankiewicz itu sendirilah yang membuat film ini jadi punya konflik yang menarik.
Mank juga bukan cerita tentang kejatuhan seorang penulis. Sedari awal film ini dimulai, kita sudah melihat karakter ini yang ‘bermasalah’. Toh dia sendiri sadar masa jayanya sudah hampir lewat. Kita bisa melihat meskipun orang-orang film di sekitar Mankiewicz menghormati dia karena ilmu dan kepandaiannya menulis, tapi orang-orang itu juga melihat Mankiewicz sebagai semacam bom waktu yang tau-tau bisa meledak. Dan tak ada yang sudi meledak bersamanya. ‘Penyakit’ candu alkohol dan lidah tajam Mankiewicz-lah yang jadi konflik dan hambatan dalam cerita ini. Citizen Kane yang ia bikin nantinya juga bukan tanpa kontroversi, sebab tokoh-tokoh di dalam film tersebut seperti tampak ditulis berdasarkan pada komentar atau pandangan Mankiewicz terhadap karakter-karakter yang berhubungan dengannya. Yang tidak semua dari mereka suka untuk terseret dalam pandangan Mankiewicz yang berani menyulut kontroversi.
Lewat naskah yang ditulis oleh mendiang ayahnya, David Fincher dengan berani memuat itu semua. Jika film-film biopik biasanya akan bersikeras untuk memperlihatkan sisi terbaik dari tokoh nyata yang sedang dibicarakan tersebut, maka Mank justru dengan bangga memperlihakan semua hal, termasuk saat-saat dia yang paling bobrok. Dalam film ini kita justru diminta untuk memahami seorang penulis tua yang seharian di tempat tidur, diam-diam minum alkohol, di lain waktu dia flirting dengan perempuan walaupun dia sudah menikah. Dia bahkan enggak sedewa itu dalam urusan perfilman; aku ngakak ketika dia menyumpahi The Wizard of Oz. And oh btw, dia menyebut istrinya dengan panggilan ‘Poor Sara’ haha bayangin. Fincher sepertinya ingin menubrukkan itu dengan latar Hollywood yang sebenarnya jadi komentar khusus. Bukan untuk memilih ‘the lesser devil’, melainkan karena justru si Mankiewicz yang dipandang sinis karena komentar dan tabiatnya itulah yang berani mengkritisi dan vokal terhadap arahan dunia kerjanya saat itu.
Film ini bertutur secara bolak-balik. Antara Mankiewicz di tempat tidur, yang dikejar deadline naskah, dengan Mankiewicz muda yang mengarungi studio-studio hitam putih Hollywood – berinteraksi dengan rekan kerja dan orang-orang film sekalian. Gips di kakinya itu yang bisa dijadikan pegangan jika kalian menemukan kesulitan untuk memahami mana Mankiewicz yang mana. Karena transisi yang dilakukan film ke dua periode tersebut sangat mulus. Konteks sebenarnya jelas. Mank bakal terflashback setiap kali akan menulis, karena dari pengalamannya itulah dia menarik cerita. Dan kita pun gak perlu menonton Citizen Kane terlebih dahulu sebelum bisa mengerti apa yang ia tulis. Sebab film benar-benar memanfaatkan sekuen-sekuen flashback itu untuk menghidupkan gambaran, memusatkan perhatian kita pada apa yang diperhatikan oleh Mankewicz. Sejarah dunia sinema terpapar gamblang di sini. Fincher bicara banyak soal politik di balik tembok-tembok studio. Bagaimana film dijadikan agenda kampanye. Dijadikan propaganda. Bagaimana studio-studio gede seperti MGM terpengaruh keuangannya oleh Great Depression. Ultimately, bagaimana itu semua membentuk iklim perfilman saat itu.

Mankiewicz punya concern terhadap itu semua. Seperti juga halnya dengan Fincher yang tampak punya peduli terhadap perfilman saat ini. Kini otonomi, atau kendali-kreatif itu sudah jadi bahkan lebih langka lagi bagi para pembuatnya. Karena studio atau PH sudah benar-benar ingin mengatur ‘produk’ yang mereka jual. Film sekarang dijaga ketat agendanya, tampilannya, bahkan jadwal penayangannya. Mank sendiri ‘terpaksa’ harus tayang di Netflix setelah cukup lama luntang-lantung mencari tempat yang mau menayangkan. Padahal setiap film mestinya adalah kisah personal. Dan pekerjaan film mestinya menceritakan kisah-kisah tersebut.

 
Menonton film ini mengingatkanku kepada dua film yang kutonton baru-baru ini; Black Bear (2020) karena sama-sama memperlihatkan proses kreatif menulis, dan Tenet (2020) karena kedua film ini sama-sama menakjubkan secara teknis. Hanya saja, sayangnya, Mank lebih mirip Tenet dalam pencapaian keseluruhan.

Magic film-film zaman sekarang adalah waktu beli tiket kayaknya penuh, tapi pas di dalam studio ternyata sepi

 
 
Penonton yang benar-benar awam, I mean, orang yang jarang banget nonton film – yang gak tau – apalagi yang gak apal aktor-aktor, niscaya akan percaya film ini adalah film jadul beneran. David Fincher paling berhasil di aspek ini. Tampilan Mank didesain selayaknya film 30an. Hitam-putih, tapi bukan hitam-putih tegas melainkan dengan kualitas yang jernih sehingga adegan-adegan flashback terkesan kayak dreamy, atau benar-benar dari ingatan. Visual hitam-putih itu dihadirkan lengkap dengan efek seperti retakan sekilas pada frame, dan ‘cigarette burns’ yang memang hanya ada pada film-film jadoel yang masih menggunakan film reel.
Pengadeganan pun dibuat sama persis dengan film-film 30an seperti misalnya komposisi; background film dibuat kontras dengan foreground (terlihat saat adegan naik mobil), atau juga shot-shot yang mengontraskan cahaya kepada karakter, sehingga menimbulkan garis siluet. Film modern yang warnanya udah full hd mana ada lagi yang menggunakan teknik itu. Fincher juga kerap membiarkan sebuah adegan terdiam dahulu untuk beberapa detik, memberi waktu kepada kita untuk mencerna dialog-dialog panjang yang mengisi adegan, untuk kemudian ngezoom ke karakter dan perlahan fade out. ‘Ilusi’ ke era jadul itupun turut diperkuat dengan artistik yang meyakinkan. Yang bahkan semakin diperkuat lagi dengan permainan peran dari para aktor seperti Gary Oldman (menyaru sempurna banget ke dalam sosok Mank), Lily Collins dan Amanda Seyfried (suka lihat tampang klasik merekaaa), Tom Burke dan Charles Dance dan masih banyak lagi yang interaksinya dan mannerismnya meyakinkan.
Semua aspek teknis film ini, seperti Tenet, sungguh mencengangkan. Gak heran nanti kalo ada unsur-unsur film Mank yang nyangkut di Oscar. Namun seperti masalah yang ada pada Tenet, film ini pun tetap saja terasa hampa. Padahal penokohannya ditulis dengan lebih baik. Aku juga bisa mengerti konteks ceritanya. Situasi dan settingnya adalah informasi yang menarik mengenai sejarah dalam dunia perfilman. Dan itulah masalahnya. Film ini terasa lebih kayak rangkaian informasi-informasi ketimbang sebuah perjalanan karakter. Dialog-dialognya memang menarik tapi kita tidak terasa tersedot masuk. Kita hanya menyaksikan saja. Kita tidak terinvest kepada karakter, karena stake waktu tadi basically dibilang enggak susah bagi karakternya, dan hanya itulah yang dipunya cerita ini untuk membuat kita terikat secara emosional kepada karakternya. Di sepertigaan akhir, ada usaha dari film menampilkan adegan yang bertujuan untuk membuat kita merasa semakin simpati – inilah bagian paling rendah dalam karir dan kehidupan profesional Mankiewicz – hanya saja dengan absennya sesuatu yang nyata yang bisa terenggut darinya, kita gak bisa bertambah simpati. Malah yang ada, adegan tersebut tampak cringe.
Simpelnya, film tidak membangun pertaruhan bagi Mankieweiz. Kalo dia gagal, dia tidak kehilangan apapun. Stake harga diri juga tidak terbangun. Karir Mank tidak pernah diperlihatkan terancam, karena sedari awal tokohnya sendiri sudah menepis dengan percaya masa emasnya sudah lewat. Jadi ini adalah karakter yang nothing to lose. Susah untuk terinvest ke karakter seperti ini. Bahkan saat debatnya minta masukin nama di kredit Citizen Kane pun kita tidak pernah benar-benar merasa mendukung tuntutannya tersebut. Adegan yang berfungsi selayaknya ‘final fight’ itupun tak jadi begitu dramatis.
 
 
 
Alih-alih surat cinta kepada perfilman jadul, film ini lebih mirip seperti cermin yang diberikan sutradara karena cinta dan pedulinya terhadap perfilman modern. Karena dari film ini kita bisa belajar banyak. Entah itu peristiwa dan situasi perfilman era 30-40an. Ataupun juga belajar dari gambaran proses produksi film pada era tersebut. Penonton yang cinta dan ingin belajar lebih banyak tentang perfilman, perlu untuk menonton film ini. Toh memang tidak digarap main-main. Aspek teknis dan unsur-unsurnya juara. Masalahnya cuma, film ini meskipun karakternya menarik dan kadang cukup lucu, tidak benar-benar terasa seperti perjalanan karakter. Film ini lebih seperti buku pelajaran, yang gak gampang untuk dibaca berulang-ulang.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MANK.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Setelah menonton Mank, apa perbedaan dan persamaan antara perfilman sekarang dengan perfilman tahun 1930 menurut kalian?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA