SCARY STORIES TO TELL IN THE DARK Review

“The only thing worse than being abandoned is knowing that you’re not even worth an explanation”

 

 

Cerita seram yang paling seram itu biasanya adalah cerita-cerita yang kita dengar langsung dari teman (“tau enggak, kakakku punya teman, nah temannya itu punya tetangga, yang punya kakak yang ngeliat hantu di kamar mandi sekolah saat dia ngaca sambil nyebut nama Mary tiga kali”) atau dari keluarga (yang ini biasanya semacam nasehat terselubung). Cerita-cerita semacam itu dapat dengan cepat mendarah daging sehingga munculah urban-urban legend atau mitos lokal. Yang meskipun ceritanya gak make-sense, tapi kita tetap ‘percaya’ karena ada kesan familiar. Cerita-cerita demikian banyak yang lantas dijadikan ide untuk media seperti video game, buku, ataupun film. Tapi tidak banyak media yang mampu untuk menimbulkan kesan seram yang sama dari cerita seram yang kita dengar langsung. Karena media, khususnya film, cenderung untuk membuat cerita seram yang sebenarnya simpel menjadi rumit. Ingat bagian ‘kakakku punya teman blablabla’? itu adalah backstory needlesly rumit yang tak bisa terhindarkan bahkan jika cerita seram diceritakan secara langsung. Dalam media film, bagian tersebut dapat berkembang menjadi lebih rumit lagi.

Novel klasik Scary Stories to Tell in the Dark adalah salah satu yang berhasil bercerita horor. Sebagai kumpulan cerita pendek seram untuk anak-anak dan remaja,  buku tersebut tidak menyediakan ruang untuk berlama-lama mengarang backstory. Cerita seramnya langsung dihamparkan sehingga tepat sasaran. Misalnya, salah satu cerita yang paling kuingat adalah tentang wanita yang lagi ngendarain mobil di malam hari, yang terus diikuti oleh mobil misterius yang mengedip-ngedipkan lampu depannya. Si wanita kontan menjadi parno tapi ternyata si mobil misterius sebenarnya berusaha memberi tahu bahwa ada seseorang berpisau yang lagi ngumpet di jok belakang mobil si wanita. Berkat cerita itu sampai sekarang aku selalu lebih memilih untuk duduk di kursi paling belakang setiap kali naik mobil, biar langsung ketahuan kalo ada yang ngumpet di sono. Banyak cerita dalam Scary Stories to Tell in the Dark yang bahkan tidak repot-repot memberi nama pada tokohnya. Kita tidak benar-benar butuh untuk tahu siapa nama tokoh dalam cerita seram, yang kita butuhkan adalah lingkungan atau situasi yang akrab dengan kita. Dan kebanyakan cerita seram yang efektif memang seperti demikian, seperti cerita orang-orang tua kita.

Keberadaan film adaptasi buku Scary Stories merupakan fenomena mengerikan tersendiri buatku. Karena aku tahu aku pasti bakal nonton, terlebih karena diproduseri – juga turut ditulis – oleh Guillermo del Toro. Nama tersebut sudah seperti jaminan kita bakal melihat banyak makhluk-makhluk seram yang benar-benar memanjakan fantasi horor kita. Tapinya lagi, aku juga ragu untuk nonton karena sangsi mereka bisa keluar dari batasan ‘horor untuk anak-anak’ pada film komersil. Horor untuk anak-anak cenderung ditranslasikan sebagai horor jinak yang berat oleh eksposisi, yang dihidupi oleh tokoh-tokoh kodian alias sebatas trope-trope tokoh cerita remaja. Ketakutanku tersebut terkabul menjadi nyata.

silakan berfantasi

 

Menunggangi ombak kesuksesan Stranger Things dan hype IT Chapter 2, Scary Stories to Tell in the Dark bermain kuat di unsur nostalgia. Ketika mereka menghidupkan cerita pendek demi cerita pendek ke layar lebar, fantasi kita akan cerita-cerita tersebut seperti terpanggil keluar. Terwujudkan oleh sosok-sosok yang bikin kita berkeringat dingin. Remaja dalam cerita film ini adalah geng yang bisa saja seperti geng kalian di sekolah, di lingkungan rumah. Mereka suka cerita seram. Mereka pengen ngerjain tukang bully. Menit-menit awal film ini tampak menarik. Lingkungannya terasa hidup. It was America in 1968, presiden mereka masih Nixon, perang Vietnam baru dimulai, lagi suasana halloween dan seperti yang dikumandangkan oleh soundtrack – it was a season of the witch.

Setting seharusnya memang tidak hanya berfungsi layaknya backdrop dalam sebuah pagelaran, namun juga mesti mampu menyediakan konteks budaya dan sejarah yang menambah pemahaman penonton terhadap karakter di dalam cerita. Dalam kata lain, film yang baik akan berusaha membuat setting waktu dan tempat menjadi karakter tersendiri, yang hidup dan berkembang seiring tokoh-tokoh cerita. Waktu dan tempat itu menyimbolkan keadaan emosional yang memotivasi bahkan menghantui para tokoh. Scary Stories to Tell in the Dark, meskipun diniatkan untuk penonton muda, tidak lantas melupakan kepentingan setting waktu dan tempat. Tentu, anak kecil atau remaja yang menonton sebagian besar akan melewatkan hal ini, tapi film tidak punya niat untuk merendah demi para penonton tersebut. Settingnya tetap dibuat kuat dan penting sebagai ‘pembentuk’ tokoh kita.

Ada narasi soal child-abandonment yang dihamparkan untuk semua penonton – tua ataupun muda – di balik cerita tentang sekelompok remaja yang nekat memasuki rumah angker dan membawa pulang buku yang setiap malam menuliskan kisah kematian yang dengan segera menjadi nyata. Karena tokoh utama kita, Stella (tokoh Zoe Margaret Colletti ini bisa menjadi role-model yang bagus untuk remaja yang bercita-cita menjadi penulis), ditinggalkan oleh ibu kandungnya semenjak kecil. Begitupun dengan sosok hantu utama – yang menulis semua kisah horor tersebut – disekap oleh keluarga besarnya. Dan di dunia nyata seperti yang dilatarkan oleh film, anak-anak muda ‘dibuang’ begitu saja oleh negara ke Vietnam untuk berperang entah demi apa.

Hal yang paling mengerikan dari diabaikan oleh orang, oleh keluarga, tempat kita menggantungkan diri, adalah engkau dianggap tidak ada. Tidak ada yang menceritakan dirimu. Tapi semua orang butuh untuk didengar. Semua orang punya cerita untuk diceritakan. Film ini menunjukkan betapa pentingnya peranan suatu cerita. Pentingnya suatu kejadian untuk dikabarkan dengan benar. Kita akan lebih rendah dari hantu jika tidak ada catatan, jejak keberadaan kita, yang diketahui oleh orang lain.

 

Tangan sutradara Andre Ovredal tentu saja enggak cukup untuk mengakomodasi semua kepentingan film ini. Dia harus memasukkan banyak cerita-cerita pendek, mengikatnya dengan gagasan sehingga elemen cerita berjalan paralel, sekaligus harus memikirkan target penonton. Ketika di awal-awal film berjalan menyenangkan, masuk ke babak kedua, film yang memilih buku dan hantu yang menulis sebagai device untuk memasukkan banyak cerita pendek klasik, mengempis menjadi sajian horor standar yang meskipun berani menampilkan konsekuensi kematian tapi tidak lagi terasa segar. Alih-alih menjadi antologi berbenang merah setting seperti Trick ‘r Treat (2007), Ovredal menyetir film menjadi ke arah Goosebumps (2015). Semua monster dan kejadian ikonik pada cerita-pendek dimunculkan bergantian untuk mengeliminasi para tokoh, membangun stake tokoh utama karena berikutnya bisa saja giliran dia. Akibatnya untuk cerita-cerita itu adalah mereka hanya jadi ada di sana untuk diperkenalkan kepada penonton muda. Padahal materi horor ini mengerikan karena di setiap cerita kita diberi kesempatan untuk menyelami apa yang terjadi kepada tokoh. Seperti ketika seorang tokoh yang memukuli orang-orangan sawah yang diberi nama Harold, lalu kemudian Haroldnya hidup dan menyerang si tokoh tadi. Kita terinvest sama kejadian horor yang pertama ini karena kita melihat alasan dan koneksi cerita dengan kita. Tapi di cerita-cerita berikutnya, film seperti tergopoh-gopoh untuk menakuti lewat visual semata. Cerita jempol di dalam sop menjadi kehilangan kedekatan karena kita tahu sopnya muncul begitu saja. Cerita Red Spot tidak lagi berbobot psikologi karena kita tahu itu bukanlah jerawat. Cerita Pale Lady bahkan tidak terbangun properly karena hanya sekilas disebutkan tokohnya mimpi

Menonton mereka tidak lagi seperti mendengar cerita seram secara langsung – yang merupakan pesona dari materi aslinya. Kita hanya jadi takut melihat makhluk-makhluk seram. Padahal toh sudah gamblang tertulis. Scary Stories. Cerita. Seram. Yang seram seharusnya adalah ceritanya. Meskipun bertempat di setting yang sesuai dengan sejarah nyata, film menjadi petualangan investigasi misteri yang terlalu fantastis untuk terasa dekat dengan siapa saja.

seperti kata orangtuaku saat aku nanya jawaban PR; semua ada di buku

 

 

 

 

Berusaha untuk setia dengan materi aslinya, tapi cerita-cerita pendek itu sesungguhnya tidak butuh untuk diceritakan ulang lewat narasi berlatar belakang yang kompleks. Karena pada akhirnya – lantaran diniatkan untuk penonton muda – film ini mengambil wujud horor yang pasaran, yang penuh oleh trope dan stereotype. Dia malah tampak seperti tiruan versi lebih nekat dari film tentang buku horor yang semua ceritanya menjadi nyata. Film berusaha memberi gambaran soal keadaan mengerikan yang bisa menimpa anak-anak dan yang berusia remaja – dia bisa saja berdiri sendiri membahas ini. Tapi ada tuntutan sebagai adaptasi untuk mengakomodir banyak cerita dari tiga buku. Film ini seperti menggigit lebih banyak dari yang bisa ia kunyah.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SCARY STORIES TO TELL IN THE DARK

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Beberapa waktu lalu aku membaca majalah dari Lembaga Sensor Film soal horor bukan tontonan untuk anak-anak.

Apakah kalian setuju? Menurut kalian seperti apa sih sebaiknya film horor untuk anak-anak dibuat?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

DRAGGED ACROSS CONCRETE Review

“No human race is superior”

 

 

 

Seperti yang dijanjikan oleh judulnya, film garapan S. Craig Zahler ini memang benar-benar membuat kita merasa seperti diseret di sepanjang beton yang keras. Sakit. And the fun fact is, konkret di sini bukan sebatas merujuk kepada ‘beton’, melainkan juga kepada hal yang lebih konkrit; kenyataan.

Dengan telah mengatakan semua itu, aku tekankan bahwa Dragged Across Concrete adalah tipikal film laga yang brutal, yang sungguh susah untuk dinikmati. Bukan semata karena aksi-aksinya sadis dan ditangkap tanpa tedeng aling-aling. Film ini bagai pil yang pahit untuk ditelan lantaran benar-benar didesain untuk menjadi sedekat mungkin dengan realita yang ada. Kekerasan terjadi, bahkan mungkin di sebelah rumah kita. Praduga masih berlangsung di sekitar kita. Film ini akan menantang moral kita terhadap itu semua. Jika kalian tipe penonton yang lebih suka menyaksikan film yang ‘baik’, yang sesuai dengan nilai yang kalian percaya, maka film ini bukan untuk kalian. Tapi jika kalian percaya bahwa sebuah film tidak harus politically correct, dalam artian film sah-sah saja punya gagasan dan moral sendiri, Dragged Across Concrete dapat menjadi tontonan yang menarik.

Cerita akan menerjunkan kita ke tengah-tengah lingkungan sosial yang penuh prasangka. Yang kita ikuti adalah dua orang polisi – polisi kulit putih – yang diistirahatkan dari tugasnya karena mereka tertangkap basah oleh media saat sedang memperlakukan tersangka yang bukan warga Amerika dengan terlalu kasar dalam sebuah misi penyergapan. Ini bukan cerita buddy-cop biasa di mana Polisi Ridgeman dan Lurasetti bakal menembaki orang jahat demi membersihkan nama baik mereka dan membuktikan kepada dunia bahwa mereka bukanlah aparat rasis yang kejam. Film ingin mempersembahkan mereka sebagai aparat yang realis. Tentu kita sering mendengar berita semacam seorang guru dipersalahkan oleh orangtua karena menampar murid yang kurang ajar, bukan? Ridgeman (Mel Gibson ini pastilah diberkahi anugerah enggak bisa salah dalam berakting) frustasi seperti kita frustasi membaca berita seperti demikian. Dia bermain sesuai aturan – salah ya dihukum – tapi dunia tidak beroperasi seperti demikian. Banyak sekali pertimbangan, dan politik, dan semacamnya. Bagaimana bisa Ridgeman tidak menganggap orang kulit hitam berandal ketika putrinya dibully oleh anak-anak kulit hitam tetangga mereka sendiri? Dan fakta bahwa dengan penghasilannya, mereka tinggal di lingkungan tak-bersahabat, semakin mempersulit Ridgeman – atau let’s face it, siapapun – untuk tidak berprasangka terhadap orang-orang di sekitarnya. Film, pertama dan terutama sekali, ingin supaya kita bisa mengerti penyebab polisi seperti Ridgeman dan Lurasetti menjadi rasis. Dua tokoh ini tidak mau bersikap begitu, tapi mereka harus. Untuk dua setengah jam ke depan kita akan melihat mereka berdua – yang untuk sementara ini bukan polisi – mengambil tindakan dan keputusan yang bukan saja bertentangan dengan nurani kita, tapi juga bertentangan dengan nurani mereka sendiri.

Ditembak pistol kini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan ditembak oleh kamera media

 

Untuk alasan tersebutlah, film dengan tokoh menarik ini jadi sukar untuk ditonton. Mengikuti dua polisi bergerak layaknya gangster, mencoba merampok geng bandit lain setelah merampok bank, melewati adegan demi adegan brutal yang datang dan pergi begitu saja meski direkam dengan gaya yang begitu sinematik; kita akan mendapati kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah film ini sedang menggebah kita untuk percaya kekerasan adalah hal yang benar, atau sedang memberikan gambaran sejauh mana seseorang bisa berbuat jika merasa punya alasan untuk menganggap diri superior daripada orang lain.

Sebagai pembanding untuk membantu kita menemukan jawaban buat pertanyaan di atas, film memberikan sepasang tokoh yang paralel dengan perjalanan dua polisi tadi. Henry Johns dan sepupunya, Biscuit. Kita bertemu Johns yang diperankan gemilang oleh Tory Kittles pada adegan pembuka. Ia adalah seorang pemuda kulit hitam yang baru saja keluar dari penjara – alasan dia dipenjara penting dan berkaitan langsung dengan gagasan yang hendak film ini angkat, jadi alasan tersebut dipasang sebagai pengungkapan di menjelang akhir cerita – dan menemukan keluarganya berantakan, nyaris tanpa support ekonomi. Kali lain kita bertemu lagi dengan Johns dan Biscuit, mereka sudah bekerja menjadi supir untuk gerombolan bandit perampok bank yang sedang dibuntuti oleh Ridgeman dan Lurasetti. Johns dan Biscuit punya agenda yang sama dengan Ridgeman dan Lurasetti; merampok dari perampok. Mereka berdua juga terbebani oleh status ras dan keadaan sosial. Tidak jauh-jauh kita bisa menyimpulkan Johns dan Biscuit susah mendapatkan pekerjaan yang bener karena warna kulit mereka. Film malah dengan ironisnya menunjukkan untuk membantu kelancaran perampokan, Johns tidak cukup dengan hanya menyamar pakai seragam security, dia juga harus membedaki kulitnya hingga menjadi putih.

Dragged Across Concrete membuat kita melihat bahwa tidak ada benar-salah yang hitam-putih di dunia. Khususnya, hitam-putih tersebut tidak serta merta diwakili oleh orang kulit hitam dan orang kulit putih. Kedua pihak sama-sama melakukan, kedua pihak sama-sama dirugikan. Dan tidak membantu jika media malah membesar-besarkan ketakutan dengan menunjuk-nunjuk siapa yang mana.

 

Jika mencari pihak yang dipersalahkan, jelas sekali film mengacungkan telunjuknya ke hadapan media. Yang memping-pong isu rasisme ke sana kemari. Hanya untuk tujuan ‘cari cerita’ tanpa benar-benar berniat mencari pemecahan masalah. Gampang untuk membingkai kulit hitam sebagai korban, dan kulit putih sebagai pelaku. Mengaitkan semuanya dengan masalah minoritas dan mayoritas. Tapi eksplorasi terus-menerus terhadap hal tersebut justru memperbesar prasangka yang ada. Dalam film ini kita melihat pengaruh media terhadap Ridgeman; justru dialah ternyata yang paling takut. Padahal Ridgeman adalah mayoritas yang berjuang di ranah menegakkan keadilan bagi yang tertindas, yang selalu dipatri dari minoritas. Dan kalian harus melihat bagaimana film ini memperlakukan tokoh-tokoh wanita. Mereka semua punya pekerjaan. Namun film seperti ingin mengarikaturkan pandangan media tentang kelas sosial; putih – hitam – dan wanita. Satu kali mereka bisa sejajar dengan pria ternyata ada pada harapan tokoh Lurasetti yang punya pacar wanita kulit hitam.

Dan itu tak lebih dari sekedar fantasi yang batal terwujud.

 

Dengan durasi yang begitu panjang, sesungguhnya ada banyak bagian yang mestinya bisa dibuang karena tidak benar-benar menjalin narasi. Aku akan bilang begitu jika saja film ini dibuat sebagai film-laga normal. Banyak adegan-adegan yang tampak tak penting seperti menit-menit yang didekasikan untuk memperlihatkan Vince Vaughn makan sandwich, ataupun di sekitar pertengahan film beralih sudut pandang gitu aja ke seorang wanita pegawai bank yang berat hati kembali bekerja dan meninggalkan anaknya di rumah. Yang bisa dengan gampang dicut dan sama sekali tidak mengubah gagasan cerita atau merusak karakter tokohnya. Tapi kita tahu ini bukan film-laga yang biasa. Menit-menit ekstra itu adalah keputusan-kreatif beresiko yang diambil oleh film. Menonton ini membuatku teringat pada Pulp Fiction (1994)-nya Quentin Tarantino. Pulp Fiction juga banyak adegan-adegan ekstra, tapi lantaran diceritakan dengan struktur yang unik, justru menjadi gaya bercerita yang asik. Dragged Across Concrete bisa mencapai hal yang seperti itu jika strukturnya dipecah dan dibangun kembali. Sutradara Zahler tetap bercerita linear, sehingga semuanya menguatkan ilusi realis yang ingin dibangun. Ketidaknyamanan gabungan dari durasi, kekerasan, dan dialog, menjadi poin vokal yang tidak mungkin dihilangkan oleh film ini.

Tidak ada golongan yang lebih baik, semuanya punya cela. Itulah yang membuat manusia menjadi menarik dan berjuang ke arah yang lebih baik. Jangan berpaling dari semua itu. 

 

 

 

Dihidupkan oleh penampilan akting yang luar biasa. Namun sesungguhnya bagian terbaik film ini adalah ketika dia menjadi yang terburuk dari semua orang. Rasis, kasar, semena-mena, keputusan yang salah, film mengajak setiap manusia yang meluangkan waktu menontonnya untuk berani menghadapi realita. Film memang ingin membuat kita takut. Jijik. Kasihan. Karena sudah sepatutnya kita merasa persis seperti demikian terhadap kehidupan sosial kita sekarang. Berhenti merasa jadi pahlawan jika hanya melihat satu sisi dan berpaling dari sisi yang paling buruk. Sebagian besar yang dikatakan oleh film, oleh tokoh-tokohnya, aku pun tidak setuju. Tapi aku juga tidak bisa berpaling ke arah lain, dan melihat hal lain dan merasa lebih baik padahal yang kulihat sebenarnya adalah hal yang serupa. Jika realita yang ingin kalian lihat, maka setidaknya jadikan film ini sebagai latihan terlebih dahulu.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for DRAGGED ACROSS CONCRETE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi apakah yang sebenarnya rasis itu adalah media yang selalu memfokuskan kepada golongan ras pelaku dan golongan ras korban?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

STUBER Review

“Real men fight standing up”

 

 

Mana yang lebih jantan?

Vic, seorang polisi berbadan kekar yang jago berkelahi, yang menghantam pintu untuk masuk alih-alih mengetuk, yang memprioritaskan balas dendam kepada musuh ketimbang menghadiri pagelaran seni putrinya.

Atau Stu; perjaka bucin yang sebagai karyawan toko dibully oleh bosnya, untuk kemudian beramah tamah sebagai pengemudi Uber tapi tetap saja tak pernah mendapat bintang-lima, yang lebih suka membicarakan perasaannya daripada berkelahi, tapi tetap saja dia belum mampu menyatakan cinta kepada cewek yang sampai saat ini masih menganggapnya teman.

Vic dan Stu, oleh naskah Stuber, dipertemukan ketika Vic yang matanya lamur karena operasi lasik memesan Uber untuk melacak keberadaan gembong narkoba yang dulu membunuh partnernya. Stu yang tak-biasa terlibat baku tembak tentu lebih suka untuk ke tempat cewek taksirannya menonton DVD. Tapi dia begitu butuh bintang-lima yang dijanjikan oleh Vic. Jadi mau tak mau dua orang ini musti bekerja sama. Mengejar petunjuk dari satu tempat yang menantang persepsi mereka tentang maskulinitas satu ke tempat lainnya. Dan semua itu dilakukan film lewat nada komedi yang sangat histerikal dan balutan aksi berdarah yang over-the-top.

salaman adalah pelukan antara tangan dengan tangan

 

Disetir oleh dinamika dan chemistry dari Dave Bautista (I’m just gonna called him Batista, because you know; WWE) dan Kumail Nanjiani, komedi Stuber berjalan dengan relatif lancar. Formula bentrokan karakter mereka bekerja dengan baik. Satu kuat, satu lemah. Satu perkasa, satu perengek. Kita sudah sering melihat cerita buddy-cop seperti begini. Batista dan Nanjiani bertek-tok dengan kocak. Mereka diberikan ruang yang cukup luas untuk mengeksplorasi tokoh masing-masing. Untuk sebagian besar waktu, Batista tidak bisa melihat apapun, dia tidak bisa berkendara, apalagi menembak dengan benar (obvious metafor dari dia tidak dapat melihat apa yang sebenarnya perlu ia lakukan terhadap orang-orang di sekitarnya). Melihatnya menambrak benda-benda, sambil nyeletuk nyalahin benda itu, trying to be cool dengan kelemahannya – basically cara penulisan membuat cacat-karakter diamplify untuk tujuan komedi – sungguh menghibur. Bibit komedi Batista ini sudah mulai tampak ketika dia memainkan tokoh heel (bad-guy) di jaman-jaman dia masih pegulat di WWE. Batista seringkali memerankan karakter jahat yang merengek, dia sudah terbiasa memanfaatkan sisi lemah karakternya menjadi sesuatu tontonan yang menghibur. Di sisi lain, Nanjiani akan menyuplai kita dengan tawa yang datang dari cara dia uring-uringan disuruh melihat hal-hal yang membahayakan nyawanya. And he’s so good at keeping his face straight, dan kemudian meledak. Dia mencoba menormalkan semua itu, sehingga dia terpaksa mengambil tindakan – sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lakukan.

Yang membuat dua tokoh berlawanan ini menarik, yang membuat mereka sedikit berbeda dari trope-trope karakter yang film ini gambarkan, adalah Vic dan Stu sesungguhnya punya tujuan yang sama – sehubungan dengan ‘apa sih yang membuat pria itu jantan’ – namun memiliki jalan/kepercayaan yang berbeda dalam mewujudkannya. Walaupun divisualkan lewat interaksi yang receh dan lebay, Vic dan Stu merupakan contoh penulisan ‘konflik nilai karakter’ yang menarik.

Menurut buku Anatomy of Story karangan John Truby, tokoh utama dan lawannya mesti ditulis untuk punya tujuan yang sama, tapi dibuat berkonflik dengan mengeset mereka punya value yang berbeda. Dalam hal dua tokoh film ini – yea, Stu dan Vic menganggap masing-masing sebagai antagonis dari mereka sendiri. Makanya dalam film ini dengan kocaknya kita dibuat lebih percaya mereka lebih mungkin untuk saling bunuh daripada tewas di tangan gangster narkoba. Tedjo yang diburu oleh Vic bukanlah antagonis yang sebenarnya – we’ll talk about hubungan Tedjo dengan Vic belakangan. Karena film ini sebenarnya adalah pertarungan kejantanan antara Vic dengan Stu. Dan meskipun komedi yang stereotipe, Stuber tak jatuh ke dalam gambaran banal tentang maskulinitas seperti Pariban: Idola dari Tanah Jawa (2019) yang pada akhirnya hanya menjadi cerita gede-gedean ‘ucok’. Stu dan Vic punya value yang berbeda tentang kejantanan; kepercayaan mereka itulah yang menjadi konflik utama. Jadi mereka gak sekadar berantem karena beda sikap. First of all, Vic dan Stu harus dapat melihat bahwa meskipun beda ‘misi’ sebenarnya mereka ingin satu hal yang sama; to man up. Kemudian mereka terus didorong untuk mencapai tujuan yang sama tersebut. Stake selalu diangkat; Stu ditelpon demenannya, Vic ditelpon putrinya. Yang satu terjebak dalam perangkap maskulinitas yang toxic, sementara yang satu lagi seperti begitu lemah bahkan untuk menjadi seorang manusia. Mereka punya pandangan yang berbeda yang pada akhirnya menjadi konflik-langsung. Ada pertentangan nilai pada adegan berantem malam-malam superngakak di supermarket itu. Itu adalah klimaks dari konflik mereka. Bagian yang bakal menjawab pertanyaan yang menjadi topik utama film ini.

Jawabannya adalah, the real men – jantan sesungguhnya – adalah pria yang ‘berkelahi’. Untuk disebut cowok, ya kita harus berantem. Dalam artian, berani mengonfrontasi masalah dan perasaan dan segala macam yang menghadang di depannya. Yang tidak lari dari semua hal tersebut.

 

Film ini menulis karakternya dengan ‘rumus’ yang benar; sesuai dengan teori K.M. Weiland tentang desain konflik dan karakter arc. Vic punya ‘wound’ yang membuatnya menciptakan ‘kebohongan’ yang ia percayai sendiri karena dia begitu trauma terhadap ‘wound’ tersebut. Partner Vic yang tewas adalah seorang polisi wanita, yang digambarkan oleh film jauh lebih kompeten dan taktikal dibandingkan Vic yang gasrak-gusruk. Maka Vic merasa gagal, dia merasa enggak cukup jantan sehingga membuat partnernya tersebut meninggal. Tokoh Tedjo – antagonis utama yang diperankan oleh Iko Uwais – adalah perwujudan dari bagaimana Vic memandang dirinya sendiri. Kecil, bengis, dan yang membunuh si partner. Makanya Vic begitu personal ingin menangkap Tedjo. Baginya ini lebih dari sekedar balas dendam. Dia ingin membunuh bagian dari dirinya yang tidak jantan. Ini juga berpengaruh terhadap cara ia memandang Stu pada awalnya. Banyak penonton yang mengeluhkan kurangnya peran Uwais di film ini. Aku setuju, Uwais yang personalitynya berusaha diperkuat oleh dandanan rambut nyatanya tidak banyak diberikan sesuatu untuk dilakukan. Mungkin memang Uwais yang belum bisa luwes berakting, atau memang mungkin karena film ‘menyia-nyiakan’. Tapi aku juga bisa melihat bahwa karakter Tedjo di sini sudah benar-benar bekerja sesuai dengan fungsinya. Karena seperti yang sudah kusebutkan; bukan dia ‘real villain’ yang harus dikalahkan oleh Vic dan Stu. Tedjo literally hanyalah device, jadi tokoh ini masuk akal untuk tidak terlalu banyak bicara.

Batista pada dasarnya selalu “I walk alone”

 

Garapan komedi film ini dapat menjadi cringey ketika berusaha untuk tampil kontemporer. Film berusaha memasukkan banyak sindiran dan pandangan mengenai toxic masculinity yang diam-diam menjamur di kehidupan sosial masyarakat. Pukulan terbesar yang berusaha dilayangkan oleh Stuber adalah mengenai Amerika yang merasa lebih ‘jantan’ daripada minoritas seperti Stu. Kadang celetukan sosial tersebut tampak terlalu banal, it takes the fun out of our central characters. Kita bisa menyebut film ini sebagai iklan Uber terselubung, sama seperti kita bisa menyebut Keluarga Cemara (2019) sebagai iklan Gojek terselubung. Ada banyak lelucon seputar Uber, I mean, penggerak terbesar Stu salah satunya adalah ia pengen dikasih rating bintang-lima; ini seharusnya udah menjadi peringatan betapa lebay dan in-the-facenya film ini bakal menjadi. Juga berkaitan dengan cara hidup masyarakat jaman sekarang. Beberapa ada yang bisa kita relate – buatku, aku juga sebel kalo dapat driver ojol yang terlalu sok-akrab, beberapa ada yang terlalu komikal.

Yang membawa kita ke bagian krusial; yakni porsi aksi. Lelucon lebay dalam film ini semakin cringey lagi ketika dibawa ke ranah aksi. Film punya cara tersendiri untuk menunjukkan kekerasan dan bullying kini bisa berlangsung di sosial media, dan cara itu boleh saja lucu, tapi terlalu ‘maksa’. Film ingin menampilkan aksi jantan yang kocak. Adegan-adegannya memanfaatkan tembak-tembakan, balap-balapan, dan hukum fisika beneran yang dimainkan untuk efek komedi. Untuk urusan berantem pake tangan, aku pikir aku gak bisa minta lebih banyak kepada film ini selain melihat Batista nge-Spear Iko Uwais. Dua orang ini mendeliver cerita dengan baik lewat baku-hantam, dan memang keduanya terlihat lebih nyaman ‘ngobrol’ lewat adegan berantem. Sayangnya, kamera tidak mengerti keunggulan dua orang ini. Karena kamera justru memilih merekam dengan handheld, dan banyak bergoyang, yang sama sekali tidak menunjang pertunjukan aksi yang mereka suguhkan.

 

 

 

Lewat perjalanan dua tokohnya yang amat berseberangan, film ini menjelma menjadi perjalanan maskulinitas genre aksi yang dibuat dengan penuh kekonyolan. Film ini enggak mikir dua kali untuk menjadi stereotipikal, juga enggak ragu untuk menjadi lebay. Film ini meledak-ledak, tapi bukan ledakan api beneran. Yang membuatnya justru malah dapat menjadi turn-off buat sebagian penonton. Punya tujuan untuk mencapai banyak, lewat dialog dan latar yang kontemporer; tapi karena memilih untuk menjadi yang actually ia sindir, film terasa seperti going nowhere antara gagasan yang ia angkat dengan konsep aksi yang ia hadirkan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for STUBER.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian ada gak sih hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh cowok?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

KOBOY KAMPUS Review

“I certainly can’t change it by sitting on my couch..”

 

 

 

Bikin dan ngurusin sebuah negara itu enggak gampang, terutama ketika kita enggak melakukan apa-apa terhadapnya. Tapi, lucunya, justru itulah yang dilakukan oleh para koboy kampus – sebutan lawas untuk mahasiswa yang lebih senang untuk tidak langsung menembak target lulus kuliah secepatnya – di ITB era pemerintahan Soeharto.

Para ‘koboy’ ini dipimpin oleh Pidi, mahasiswa seni rupa yang berpotongan gondrong. Melihat teman angkatannya berkoar-koar orasi mengkritisi presiden, Pidi terilham suatu cara lain untuk memprotes negara. Yakni membuat negara sendiri. Terciptalah Negara Kesatuan Republik The Panasdalam, nama yang sungguh merangkul perbedaan lantaran merupakan singkatan dari Atheis, Paganisme, Nasrani, Hindu-Buddha, dan Islam. Awalnya negara yang cuma seluas ruang lukis itu – actually ruang lukis itu memang jadi lokasi negaranya – hanya memiliki penduduk sebanyak lima orang. Tapi berkat ajaran Pidi sang Imam Besar, berkat alunan lagu-lagu ciptaannya yang kocak,  berkat kehidupan kampus sebagai alternatif dari berpanas-panas di luar turun ke jalan, negara The Panasdalam dengan cepat berkembang dan menarik minat mahasiswa Indonesia untuk berpindah warga negara masuk ke sana.

Negara yang penduduknya setiap kali makan dan buang air ke luarnegeri

 

Mengenai The Panasdalam dan Pidi Baiq sendiri, aku yang lahir di luar zaman dan daerah mereka, memang tidak begitu familiar dengan mereka. Aku tahu beberapa lagunya yang lucu-lucu kayak “Jane”, “Rintihan Kuntilanak”, dan “Tragedi Segitiga Merah Maroon”, aku juga tau Pidi yang menulis Dilan. Dan cuma itulah yang aku tahu. Tapi aku bisa relate dengan kehidupan koboy kampus yang ditampilkan oleh film ini. Kalo di kampusku dulu mahasiswa-mahasiswa golongan telat lulus alias terdistraksi melulu oleh maen, pacaran, atau hal-hal absurd tak-penting tapi diyakini bisa menyelamatkan dunia ini istilahnya adalah “king of injury time specialists”, dan aku salah satu anggotanya haha.. Makanya nonton ini aku jadi seperti menertawakan diri sendiri. Kehidupan kampus tergambar terang dengan rasa nostalgia. Dialognya mengalir jujur, sejujur jailnya mahasiswa dengan segala gagasan gila dan nilai ‘liar’ mereka. Dan memang dua hal itulah yang menjadi appeal utama dari film Koboy Kampus. —oh, bagi beberapa penonton mungkin ada satu lagi; anggota JKT48.

Selain itu, aku tidak merasa peduli dengan kejadian yang muncul silih berganti sepanjang durasi. Karena subplot-subplot yang dihadirkan tidak dilandasi oleh satu gagasan yang paralel. Mereka hanya ada untuk lapangan bermain komedi. Kita tidak pernah tahu dan mengerti siapa Pidi karena film tidak mengajak kita untuk menyelami dan mengeksplorasi motivasi dan sudut pandangnya. Malahan, film seperti takut untuk memperlihatkan cela tokoh ini. Untuk memperlihatkannya sebagai manusia yang setara dengan teman-temannya. Kita diminta untuk memandangnya seperti tokoh teman-teman memandangi dirinya; penuh kagum karena Pidi begitu lucu, bijaksana, cemerlang dengan ide-ide unik. Yang bahkan tidak benar-benar menambah banyak untuk elemen negara The Panasdalam yang ia dirikan.

Film sangat mengultuskan sosok Pidi. Dia tergambarkan sebagai ‘juru selamat’ lewat fatwa-fatwa yang dicetuskannya dalam The Panasdalam. Negara tersebut didirikan sebagai bentuk perlawanan Pidi. Jika ada hadist yang menyebut untuk mengubah kemungkaran, gunakanlah tangan – jika tidak mampu maka gunakanlah lisan, dan jika tetap tak mampu gunakan hati, maka negara buatan Pidi digambarkan berada bahkan di atas hadist tersebut. Perlawanan mereka adalah perlawanan cinta damai lewat lagu. Di kampus, di rumah, di kampus lagi, dia menyanyi sepanjang waktu. Disambut oleh anggukan kepala tanda setuju dan gelak tawa ‘rakyat-rakyatnya’. Jika ditambah dengan perawakannya, Pidi tampak seperti Yesus bergitar versi hippie. Yang hanya duduk sepanjang waktu menyanyikan protes, sementara dunia tampak membaik dan tambah menyenangkan karena semakin banyak orang yang terkagum sehingga menerapkan ‘ajarannya’. Untuk menekankan hal ini, film memasang satu adegan nyanyi yang menampilkan Pidi bersinar dalam latar yang seperti awan-awan. Haleluya!

Pidi tidak menciptakan negara. Dia menciptakan agama.

 

Dan apa sih skenario? Pidi jelas jauh berada di luar – di atas – semua aturan-aturan itu. Tokoh utama film punya kaidah untuk ditulis banyak melakukan sesuatu, dalam perjalanannya harus mengorbankan sesuatu yang penting bagi dirinya, secara konstan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menentang pemikirannya, tapi tidak demikian halnya dengan Pidi. Inilah yang menyebabkan susah untuk peduli kepada tokoh ini. Karena dia hanya duduk dan bernyanyi, tak tersentuh oleh permasalahan negara dan permasalahan sosial – perkuliahan yang dihadapi oleh teman-temannya. Tentu sah-sah saja jika tokoh utama ceritamu punya dan jago dalam satu kepandaian. Bernyanyi dan bermain gitar adalah kekhususan tokoh ini – kita tidak bisa mengharapkan dia ikutan melukis. Akan tetapi tokoh utama juga harus ditulis sebagai karakter yang aktif berbuat dan ditantang oleh sesuatu. Paterson dalam film Paterson (2017), misalnya. Dia pembuat puisi – that’s what he does as a character. Namun kita tidak mati kebosanan mengikuti kisahnya karena serutin apapun hidupnya yang bekerja sebagai pengendara bus kota, Paterson secara rutin ‘ditantang’ oleh sekitar. Dia aktif bergerak, mengajak anjingnya jalan-jalan, bertemu anak kembar, busnya pecah ban. Ada perjalanan inner melingkar – yang koheren dengan outer journey – yang ia hadapi, ada pembelajaran yang berlangsung dari Paterson yang berusaha untuk membuat rutinitasnya menjadi hal-hal luar biasa yang indah ia puisikan. Journey seperti demikian absen pada Pidi. Dia tidak setuju dengan keadaan negara, dia tidak setuju dengan perlawanan dari sebagian temannya, dia membuat negara baru untuk menunjukkan beginilah seharusnya – bentuk kritisi yang ia sampaikan, tapi ia tidak melakukan apa-apa dengan negara tersebut.

Dia memperlakukan Panasdalam sebagai eskapis dari masalah karena baginya keadaan politik atau masalah kuliah itu adalah masalah luar negeri. Sementara negara yang ia bangun sudah keren. Ada masalah kecil, dia tinggal bernyanyi. Padahal kita tidak bisa mengubah dunia hanya dengan duduk saja

 

Oh boy, betapa The Panasdalam adalah negara idaman. Tidak ada konsekuensi diperlihatkan di sini. Ini semester terakhir, sementara nilai kuliahmu amburadul? Well, di tahun itu mahasiswa bisa kuliah hingga empat-belas tahun. Cerita film ini mengambil kurun dari 1995 hingga lengsernya Soeharto di 1998, dan untuk sebagian besar cerita tokoh kita sudah disebutkan dalam “semester terakhir”nya. Soal biaya? Ah, tak sekalipun tokoh kita diperlihatkan susah uang. Keluarga? Apalagi. Keluarga Pidi mendukung anaknya. Jika ada teman yang keluarganya nyuruh lulus, bagi Pidi tak jadi soal. Pacar? Patah hati hal biasa karena kita toh masih mahasiswa untuk waktu yang lama. Pidi tak tersentuh sama semua itu.

kayaknya seru ya kalo diospek sama Candil, serius!

 

Memang, film ini membangkitkan pertanyaan demi pertanyaan yang tokoh kita tak peduli untuk menjawabnya. Kenapa si Inggris nelfon ayahnya cuma untuk ngabarin dirinya diangkat jadi Duta Besar Inggris The Panasdalam. Kenapa bibir Stefhani Zamora item. Kenapa Boris bisa sampe gak pernah ketemu sama Pidi. Tapi bisa jadi memang itulah sasaran film ini. Karena mereka mempersembahkan diri sebagai komedi yang absurd. Dan sebagai komedi, dia efektif membuat penonton di dalam studioku tertawa. Tapi sesungguhnya narasi yang dihadirkan, cara berceritanya, film ini lebih cocok sebagai sebuah buku novel – atau mungkin komik, yang tidak perlu (mau) terkait oleh kaidah-kaidah penceritaan.

 

 

 

Menonton negara fiksi dalam film ini seperti menyaksikan sebuah cult/sekte cinta damai yang berkembang menjadi sesuatu yang absurd. Harmless, tapi juga pointless. Seperti ceritanya yang berkembang tak jelas arah. Jika kalian berharap akan tahu siapa Pidi dengan menonton ini, kita tidak akan mendapat banyak selain dia adalah sosok pemimpin paling ideal yang bisa diimpikan seseorang yang pengen negaranya maju. Generasi tua bisa nyaksikan ini untuk unsur nostalgia. Generasi yang lebih muda bisa hadir untuk lebih banyak dialog ringan namun gemes seperti yang dijumpai pada dua film Dilan. Tapi jika kalian pengen film yang beneran kayak film, maka aku gambarin kalo aku sendiri merasa menyesal enggak titip absen aja pas acara nonton bareng film ini tadi.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KOBOY KAMPUS.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Mahasiswa seperti apakah kalian dulu?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

CHILD’S PLAY Review

“And this is a friendship that will never ever end”

 

 

Lewat beragam poster teaser yang cerdas, meski sedikit terlampu nekat, digambarkan secara eksplisit Chucky membantai tokoh-tokoh mainan Toy Story. Reboot Child’s Play di negara asalnya memang tayang berbarengan dengan Toy Story 4 (2019). Dan ternyata, untuk menambah kesan ‘mengerikan’, kesamaan film ini dengan animasi Pixar tersebut tidak berakhir sampai di sana.

Pertama-tama, pemilik Chucky juga bernama Andy. Tapi tentu saja tidak semua film yang memajang tokoh anak kecil dimaksudkan sebagai tontonan untuk anak-anak. Terutama jika tokoh anak tadi punya mainan yang mengucapkan sumpah serapah dan bisa belajar untuk berbuat kekerasan. Chucky dalam Child’s Play adalah gambaran gelap dari keinginan Woody dan teman-teman dalam Toy Story. Film ini juga memiliki filosofi yang sama; semua mainan ingin dimainkan. Seperti Woody kepada Andy, Chucky kepada Andy-nya (as in, Andy miliknya satu-satunya) juga punya masalah ketergantungan. Hanya saja, ketergantungan Chucky – ‘kepolosan Chucky’ – enggak ada imut-imutnya sama sekali.

Dalam adegan pembuka kita melihat Chucky merupakan produk boneka modern merek Buddi yang diprogram untuk berteman selamanya dengan anak yang membeli. Tapi Chucky diprogram untuk bisa berbuat jahat, berkat salah satu pekerja yang sakit hati diperlakukan semena-mena oleh mandor pabrik mainan. Chucky yang matanya menyala merah alih-alih biru itu pun sampai di tangan Karen (peran ibu muda yang cool yang cocok banget dibawakan oleh Aubrey Plaza), seorang single-parent berjuang sebagai karyawan supermarket, yang menghadiahi Chucky kepada anaknya. Andy (Gabriel Bateman memainkan anak menjelang ABG yang edgy) yang tak punya teman di lingkungan baru mereka pada awalnya memang senang bermain dengan boneka Buddi yang canggih. Dengan ‘safe protocol’ tak pernah terinstall, Chucky punya keistimewaan yang membuat dirinya tidak semembosankan boneka-boneka yang lain. Tapi yang diperbuat oleh Chucky semakin lama tampak semakin berbahaya. Boneka ini hanya mau membuat Andy senang, namun dia tidak punya batasan. Andy yang merasa ngeri mulai menjauh, tapi itu hanya membuat Chucky semakin bernapsu untuk terus bermain bersama. Mayat-mayat pun mulai menumpuk di sekitar Andy, yang berjuang untuk membuktikan semua kejadian tersebut merupakan ulah dari sebuah boneka.

ide judul film horor: Hutang Buddi Dibawa Mati.. ayo, Produser-Produser, ditunggu teleponnya

 

Sejak 1988, Chucky susah untuk dibunuh. Literally. Bahkan pembuatnya saja, Don Mancini, gak sanggup untuk menghentikan lajunya bibit-bibit sekuel yang terus bermunculan. Child’s Play versi baru ini lucu lantaran lahir di saat sekuel orisinalnya masih berlanjut. Bahkan bakalan ada series yang menyambung timeline di cerita aslinya.  Sutradara asal Norwegia, Lars Klevberg, jelas punya visi yang begitu kuat sehingga dengan pedenya dia tetap membuat Child’s Play. Paling tidak, dia paham untuk membuat suatu reboot atau remake dibutuhkan perubahan dan alterasi yang benar-benar matang, perlu gagasan yang membuat cerita tadi terasa segar. Jadi, ya, kita akan melihat banyak perbedaan signifikan antara Child’s Play versi ini dengan versi orisinal-dan-peranakannya. Terutama dari si Chucky itu sendiri.

Untuk meremajakan kisah ini, Klevberg membuang elemen supernatural. Chucky tidak lagi dirasuki oleh jiwa Charles Lee Ray, seorang kriminal penyembah setan. Chucky di film ini adalah sebuah gadget sangat canggih. Dia boneka yang dibuat oleh perusahaan elektronik besar – bayangkan Apple yang tidak membuat telepon pintar melainkan boneka pintar. Chucky dan boneka-boneka Buddi punya sistem online yang membuat mereka terhubung dengan aplikasi-aplikasi seperti saluran televisi, layanan transportasi, dan mainan-mainan elektronik. Jadi begitu Chucky mengamuk di paruh akhir cerita dengan menggerakkan berbagai macam barang-barang, kita merasa lebih ngeri karena lebih mudah membayangkan teknologi yang kita miliki tiba-tiba malfungsi alih-alih membayangkan ada makhluk poltergeist mengendalikan mereka. Mungkin kita bakal merasa sedikit ditegur, karena film ini menunjukkan malapetaka bernama Chucky itu justru datang dari kelalaian manusia dalam menangani teknologi. Melihat Chucky, berarti kita melihat perjalanan sesuatu yang tadinya netral menjadi berbahaya karena manusia di sekitar Chucky memutuskan untuk menggunakannya untuk sesuatu yang buruk ataupun tak berfaedah. Chucky belajar membunuh lewat televisi; dia menyaksikan Andy dan teman-temannya terhibur oleh adegan sadis. Sebaliknya, melihat Andy, berarti kita melihat pembelajaran tentang betapa kita kadang tidak menyadari kita tidak memerlukan hal yang kita pinta, sebab film ini menunjukkan harapan-harapan Andy diwujudkan oleh Chucky secara mengerikan.

Persahabatan hingga-akhir yang disebut oleh film ini boleh jadi merujuk kepada hubungan saling ketergantungan antara manusia dengan teknologi. Manusia menciptakan sesuatu berkenaan dengan kebutuhannya akan penghiburan. Sebaliknya, hiburan yang diciptakan justru berbalik menjadi mempengaruhi manusia. Dalam film ini kita melihat pengaruh kekuatan Chucky bisa begitu luas lantaran manusia sudah sedemikian konsumtifnya terhadap penggunaan teknologi, sehingga manusia menjadi lepas kontrol.

 

Klevberg, untungnya tidak seperti Chucky yang galau gak diajak main sehingga melakukan hal-hal di luar norma. Klevberg tahu batasan dalam ‘bermain-main’. Child’s Play yang dibuatnya punya perbedaan signifikan tetap mempertahankan sisi-sisi yang membuat film aslinya menjadi sensasi horor-cult. Film ini, sukur alhamdulillah, tidak dibuatnya ekstra kelam dengan backstory yang serius. Film-film Chucky selalu merupakan film horor hiburan yang konyol. Sadis tapi menggelikan. Kita dimanjakannya dengan adegan-adegan kematian yang over-the-top. Banyak hal-hal horor yang hilarious bertebaran di sepanjang film. Rating R membuat film ini lebih leluasa dalam bercanda dan berslasher ria. Aku tantang kalian untuk tidak tertawa miris melihat semangka yang dihadiahkan Chucky kepada Andy. Film ini tahu cara menjadi horor 80-an yang baik. Kita punya keluarga  dengan dinamika yang khas – aku suka cara film menghubungkan Andy dengan ibunya dengan seorang polisi yang juga punya ibu. Kita punya geng anak-anak yang berusaha merahasiakan sesuatu, yang di luar nalar dan kemampuan mereka. Kita punya adegan ‘one last scare’ dan satu dialog pamungkas dari seorang ‘final girl’. Film ini sudah memenuhi kriteria horor yang ikonik – ia akan menjadi modern-klasik. Pembuat film tampak banyak bersenang-senang. Ada banyak adegan easter egg dan foreshadowing, seperti ketika di awal-awal kita melihat ibu Andy melakukan gestur gantung diri sebagai tanggapannya terhadap reaksi Andy ketika dihadiahi Chucky. Mark Hamill, terutama, terdengar sangat asik menyuarakan Chucky. Hamill memberikan ciri tersendiri yang membuatnya berbeda, sekaligus tak dipandang sebelah mata.

Andy tadinya mau ngasih nama Han Solo kepada boneka Buddinya hhihi

 

Dan sebagaimana pada horor-horor jadul, tokoh pada film ini pun tak banyak diberikan karakteristik. Beberapa di antara mereka sangat klise. Dalam teman segeng ada yang gendut, ada yang aneh, ada yang jahat. Ibunya Andy punya pacar dan si pacar itu brengsek satu-dimensi yang punya masalah dengan Andy. Semua trope karakter itu mungkin bisa dioverlook, karena kita lebih peduli sama cara mereka dibuat mati nantinya. Tapi tetep saja kita berpikir, kalo saja mereka ditulis dengan lebih baik.  Kita tidak harus menunggu mereka mati, tertawa ngeri, dan kemudian tak peduli. Inilah yang membuat film-film horor barat itu yang terkenalnya malah sosok pembunuhnya. Mereka malah menjadi ‘hero’ yang kita cheer. Kita tidak merasa kasihan sama manusia-manusia yang menjadi korban. Padahal mestinya paling enggak kita peduli sama mereka. Salah satu hubungan yang menurutku bakal bikin film semakin asik ditonton adalah antara ibu Andy dengan polisi tetangga mereka. Aku ngarep mereka lebih banyak ditonjolkan lagi.

Perbedaan yang dibuat oleh sutradara, selain memberikan rasa segar, juga menjadi salah satu kekurangan. Chucky dalam film ini kehilangan jiwa. Karena dia tak pernah seorang manusia seperti Chucky jaman dulu. Chucky kini hanya A.I. Film berusaha membuat dia tampak polos – seperti E.T. malah, dia belajar dari sekitar. Tapi bahkan E.T. adalah makhluk hidup. Sedangkan di sini kita sudah tahu bahwa Chucky hanya diprogram. Kita tahu perasaan ingin berteman dan membahagiakan Andy itu artifisial sedari awal. Kemudian kita tahu dia dibuat bisa melakukan kekerasan yang malah membuat kita mempertanyakan aturan main dari kejahatan di dalam ciri Chucky. Kenapa dia tidak langsung berkembang sedari awal. Pada titik mana tepatnya Chucky meninggalkan kebaikan. Film ini lumayan mengeksplorasi lingkungan sekitar, yang berkaitan dengan perkembangan Chucky – soal Andy yang juga termasuk ‘kasar’ karena Ibunya sedikit terlalu bebas dalam hal parenting. Tapi tetap saja, Chucky yang sekarang punya karakter yang lebih tipis ketimbang yang dulu. Salah satu cara film untuk memperlihatkan seolah Chucky punya karakter adalah dengan adegan dia ‘bercandar’ dengan Andy saat mengubah wajahnya. But it’s more silly karena memusatkan perhatian kita semua kepada betapa anehnya desain Chucky yang sekarang. Cukup susah untuk mempercayai desain creepy seperti itu dipilih sebagai mainan sahabat manusia.

 

 

 

Pada dasarnya ini adalah salah satu dari sedikit sekali remake/reboot yang bener; yang dibuat dengan bener-bener ada perubahan positif dan visi baru yang membuatnya tampak serupa tapi tak sama. Film ini juga berhasil tampil seru, menyenangkan, menghibur, sekaligus berdarah – khas horor klasik jaman dulu. Aku bener-bener senang di bulan Juli ini dapet dua horor yang tau persis cara membuat horor yang menghibur. Jika kalian bisa tahan sedikit jumpscare dan enggak masalah soal desain baru Chucky yang hanya sedikit lebih rupawan daripada Annabelle, film ini hiburan yang cocok ditonton berkali-kali. Karena pengkarakteran yang tipis itu tak-pernah menadi sandungan besar untuk film-film seperti ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CHILD’S PLAY.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Child’s Play, tampaknya, adalah seri pertama dan satu-satunya yang diciptakan saat originalnya masih berlangsung. Kayak gak mau kalah ama Annabelle. Menurut kalian kenapa orang suka menjadikan benda-benda polos seperti boneka sebagai simbol horor?

Kenapa, seperti Andy dan teman-teman, kita begitu excited melihat benda-benda lucu melakukan hal-hal kasar/keji/tak-senonoh?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

PINTU MERAH Review

“People may spend their whole lives climbing the ladder of success..”

 

 

Jika pintu bisa dianggap sebagai simbol kesempatan, maka Pintu Merah sudah punya kesempatan untuk menjadi sajian horor yang berbeda dari kebanyakan. Karena debut film panjang dari sutradara Noviandra Santosa ini akan membawa kita semakin dalam ke ranah misteri melalui perjalanan mengerikan yang nyaris tiada akhir. The problem is, perjalanan tersebut toh pada akhirnya harus berakhir, dan kita malah menemukan diri kita berada di ranah horor yang biasa-biasa saja.

Pintu kesempatan, bagi Aya (Aura Kasih menunjukkan kemampuan deduksi dan investigasi), adalah kasus kematian misterius di hutan pinus. Dia ‘memaksa’ untuk menulis berita tentang ini karena baginya ini adalah pembuktian dirinya sebagai jurnalis. Penyelidikan membawa Aya ke bangunan terbengkalai. Tempat dia menemukan sebuah pintu merah. Yang ketika dimasuki ternyata bukan membawa Aya ke Narnia. Melainkan ke lorong lantai tiga rumah sakit. Dan hanya lorong lantai tiga tersebut. Aya terjebak, bersama seorang pria yang dulu pernah bekerja sebagai perawat di sana. Gak peduli mau naik lift atau tangga darurat, Aya terus mendapati dirinya di tempat yang sama. Jikapun ada yang berbeda, maka itu adalah lorong tersebut – setiap kali Aya berusaha keluar lewat pintu exit – menjelma menjadi semakin mengerikan. Aya tak bisa keluar sebelum memecahkan misteri dan membongkar apa yang sebenarnya terjadi pada rumah sakit dan kasus kematian di hutan. Dia harus melakukannya dengan segera, sebab bukan saja deadline tulisan dua hari lagi, melainkan juga lantaran makhluk berkuku panjang di dalam sana bakal membawa Aya ke deadline umurnya

Dari judulnya kirain ini tentang hotel, ternyata tentang rumahsakit

 

Pengalaman Aya terjebak di lorong rumah sakit dengan anak tangga yang terus nge-loop tidak membawanya ke atas maupun ke bawah actually adalah gambaran mengerikan dari keadaan Aya di tempat kerja. Pada babak awal, film mengambil waktu untuk melandaskan posisi Aya di kehidupan profesionalnya. Kita tahu bahwa karir Aya mentok, gak bisa naik, gak sudi turun. Kita melihat dia mengeluhkan laporannya selalu dipotong karena kolom yang disediakan untuknya semakin sedikit. Bayangkan Tangga Penrose; tangga-mustahil hasil ilusi optik dua dimensi ciptaan Lionel Penrose dan putranya, Roger Penrose. Karir Aya persis seperti demikian, dan kemudian Aya beneran menaiki tangga itu saat terjebak di rumah sakit. Jadi memecahkan kasus misteri di sana menjadi lebih personal baginya. Aspek inilah yang membuat Pintu Merah tampak berbeda dan punya pesona untuk ditonton. Melihat dia dan pria yang ditemuinya di sana bekerja sama mencari petunjuk, melakukan percobaan untuk mengetahui detil apa yang berubah pada lorong yang sekarang dari lorong yang sama yang baru saja mereka tinggalkan. Film punya modal untuk mengeksplorasi kefrustasian dan kengerian, horor di sini semestinya bisa bersumber kuat dari psikologi Aya karena semua kejadian tersebut benar-benar mencerminkan posisi kerja yang ia ingin keluar dari sana.

Sebuah pekerjaan disebut sebagai dead-end job jika: kau tidak bisa melihat bagaimana pekerjaan tersebut bisa menghantarkanmu kepada tujuan karirmu; jika pekerjaan tersebut tidak memberikan ruang untukmu berkembang, tidak menantangmu, dan beneran membuatmu tidak puas terhadap diri sendiri; jika kau merasa atasanmu memperlakukanmu dengan tidak adil. Setiap orang berusaha menaiki jenjang kesuksesan, tapi tak jarang terjebak dalam jenjang karir tak-berujung seperti begini. Toh, sebagian orang memilih untuk tetap dalam posisi itu, mempertahankan apa yang sudah didapat. Dan sebagian lagi, orang-orang seperti Aya, memilih untuk sesuatu yang lebih – maka mereka mengambil resiko demi pembuktian diri dan keluar dari dead-end job mereka.

 

Tapi tentu saja, penggemar video game seperti aku langsung bisa menarik kesamaan konsep terjebak di lorong nge-loop pada film ini dengan konsep loop pada teaser game Silent Hill: P.T. (contoh gameplaynya bisa ditonton di sini). Video game psychological horor keluaran Konami yang menggunakan sudut pandang orang-pertama ini tadinya dicanangkan sebagai proyek kolaborasi antara pembuat game Hideo Kojima dengan sutradara film Guillermo del Toro. Duet maut! P.T. yang judul aslinya Silent Hills itu menjanjikan eksplorasi misteri dan kedalaman cerita karena di teaser tersebut player akan bermain sebagai seorang pria yang terbangun di basement sebuah rumah dalam keadaan amnesia. Player lalu mengendalikan si pria mencari berbagai petunjuk di sepanjang lorong, sebelum akhirnya bertemu dengan pintu yang jika dibuka akan membawa pemain ke tempat tokoh ini muncul semula – tentu saja dengan kondisi lorong yang berbeda berikutnya. Persis seperti Aya dan pria misterius pada Pintu Merah. Hanya, tempatnya berbeda. Pada P.T. stake datang dari hantu yang bisa muncul tiba-tiba dan mengakibatkan game over, kurang lebih sama seperti makhluk seperti hantu begu ganjang yang muncul membuat Aya jejeritan pada Pintu Merah. Sayangnya, proyek full game P.T. yang sudah dinanti-nanti itu dicancel oleh pihak Konami. Sayang memang. Karena kita malah dapat versi reinkarnasinya (reinkarnasi tak-resmi) dalam wujud film horor, yang gak mampu mengimbangi sisi menarik dari konsepnya sendiri.

Film ini berusaha menghadirkan cerita yang linear. Cerita dimulai dari sebelum kejadian terjebak. Kita diperkenalkan dari awal siapa tokoh utama, apa pekerjaan, apa motivasinya, apa kasusnya. Kita belajar misteri berbarengan dengan tokoh utama. Hanya saja misteri yang dihadirkan tidak cukup menarik. Tidak ada kaitannya dengan tokoh utama, kecuali soal keadaan yang dicerminkan yang kutulis di atas. Aya adalah outsider yang berusaha memecahkan misteri untuk kepentingan karirnya. Kita tidak dibuat peduli apa dia bisa memecahkan misteri ini. Kita hanya tertarik sama lingkungan dan keadaan loop yang menjebak Aya. Mungkin jika kasusnya dibuat berkaitan dengan pribadi Aya – somehow it’s connected to who she is – maka film bisa menjadi lebih menarik.

Tidak membantu juga gimana film memperlakukan aspek-aspek investigasi dan pengungkapan misteri supernaturalnya. Dialog saat mereka terjebak ditulis standar, kayak percakapan dua orang pengunjung wahana rumah hantu yang masuk sambil main detektif-detektif. “Ayo kita selidiki”. Misterinya menarik tapi tidak banyak hal-hal yang memancing kita untuk ikutan berpikir. Kita hanya menonton mereka ngobrol ala kadar dan tau-tau misterinya selesai. Investigasi di babak awal melingkupi menanyai orang yang sok-sok misterius dan melarang – mengakibatkan percakapan mereka membosankan – dan juga shot demi shot layar komputer ketika tokoh utama ngegoogle berita-berita terkait. Biasa banget, effort untuk membangun misterinya sangat minim. Di awal-awal itu film malah mendedikasikan dialog untuk membuat kita ingat bahwa kasus kematian itu adanya di hutan. Aku ketawa setiap kali tokoh film ini menyebut “kasus mayat di hutan”. Udah kayak, karena sebagian besar nanti adegan di lorong rumah sakit maka film akan takut kita lupa bahwa mayat-mayat ditemukan di hutan. Jadi semua tokoh terus menerus menyebut mayat di hutan. I mean, kasus itu kan kasus misterius yang melegenda, mereka mestinya ngebuild legitnya misteri dengan menamakannya dengan istilah; Kasus Pinus misalnya, atau Kasus Pohon Bertopeng (aku suka pemandangan pohon-pohon pake topeng yang diperlihatkan pada intro kedua film ini), atau apa kek yang lebih kreatif. Tapi tentu saja mencari nama adalah proses ekstra, jadi film lebih memilih yang gampang dengan “kasus mayat di hutan”.

Huy Penonton! Mayatnya ada di manaaaaaa *sodorin mic*

 

 

Maka film ini tidak pernah tampil menyeramkan. Desain hantunya sendiri keren, tapi gak membuat bulu kuduk kita meremang. Kayak Slenderman dengan kuku panjang. Aku nyebutnya mirip begu ganjang karena aku pengen hantunya bisa dilokalin. Karena hantu film ini tidak berciri khas. It’s just a computer animation. Enggak seram. Aku nonton ini literally sendirian di studio, enggak ada penonton lain, dan tidak sekalipun aku merasa takut dan merinding menonton ini. Sebelum film mulai aku sempat ngeri juga, kalo hantunya sebangsa kunti atau hantu-hantu cewek lain, aku mungkin bakal melambaikan tangan. Tapi ternyata enggak. Hantunya sama sekali tidak menakutkan. Film berusaha untuk tidak terlalu ngandelin jumpscare, ini nilai plus kuberikan buat film ini, tapi mereka juga tidak punya kemampuan untuk membangun kengerian. Musiknya memberi spoiler terlalu banyak. Kita tahu bakal ada yang muncul ketika musik film ini berhenti.

Mungkin jika film ini setia pada Aya, membangun cerita psikologis yang fokus pada dirinya, memberikan koneksi langsung antara Aya dengan kasus misteri – membuat film ini beneran mirip game P.T. – maka semuanya akan lebih menarik. Tapi jika del Toro dan Kojima saja ternyata enggak sanggup melanjutkan bikin, maka apa harapannya buat tim penulis yang bahkan males mencari nama yang legit untuk kasus di film ini bisa membuat yang sama atau lebih menantang. Maka film menggali ke luar. Diberikan banyak tokoh-tokoh pendukung yang semuanya satu-dimensi yang tak banyak memberikan kontribusi selain penampilan akting yang biasa banget. Setelah menutup plot dengan susah payah, film bermaksud undur diri dengan heboh. Maka mereka menampilkan adegan tambahan yang sukur-sukur bisa bikin penonton penasaran sehingga punya pintu kesempatan untuk dibuat sekuel. But at that point, penonton-penonton seperti ku sudah melirik-lirik pintu exit supaya bisa ngibrit pas kredit.

 

 

 

Punya konsep yang berbeda dari kebanyakan horor lokal yang beredar sekarang. Tapi dari cara film menceritakan dan mengembangkan konsepnya, kita jadi meragukan apakah konsep tersebut benar-benar dicomot dari konsep video game yang batal dirilis. Bahkan beberapa kali film berpindah menggunakan kamera sudut pandang orang-pertama seperti pada game. Cerita film ini tidak bisa mengimbangi keunikan konsepnya. Elemen investigasi dan misteri yang dihadirkan tidak betul-betul menarik. Film ini bahkan enggak seram.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for PINTU MERAH.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Where do you see yourself in five years? Apakah kalian akan membiarkan diri terjebak oleh dead-end jobs? 

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE LION KING Review

“The worst form of inequality is to try to make unequal things equal.”

 

 

Dalam cerita The Lion King, Simba digebah oleh pamannya yang licik untuk meninggalkan Pride Lands. Scar, sang paman, membuat Simba percaya bahwa singa kecil yang enggak bisa mengaum tak pantas untuk menjadi raja. Apalagi – hasutan Scar semakin menjadi-jadi – Simba sudah membuat ayahnya celaka. Sehingga Simba kabur ketakutan. Dia kemudian akan melupakan dirinya sendiri, menjadikan filosofi “do nothing dan tak-perlu khawatir” sebagai eskapis.

Kita semua sudah tahu cerita ini kan, Lion King (1994) adalah salah satu animasi Disney paling ikonik. Versi live-action garapan Jon Favreau ini mengambil cerita yang persis sama. Scar adalah penjahat utama dalam cerita. Dia yang adik dari raja, menyusun rencana jahat menyingkirkan both raja dan putra mahkota sehingga dirinya bisa naik tahta. Tapi benarkah Scar jahat? Bukankah yang ia kampanyekan kepada kawanan hyena adalah seruan persamaan – semua binatang mendapat jaminan equality. Hyena tidak perlu lagi hidup di wilayah bayang-bayang; tidak seperti ketika era pemerintahan Mufasa di mana hanya singa yang mendapat wilayah berburu paling banyak. Tapinya lagi, jika Scar memang mengutamakan equality, kenapa pada masa pemerintahannya Pride Lands justru kering kerontang dan sumber makanan menipis? Apakah karena Scar-nya saja yang enggak kompeten, atau memang sebenarnya inequality itu diperlukan untuk mengatur keseimbangan?

See, ketika aku menonton Lion King animasi sewaktu kecil aku tidak memperhatikan kandungan ideologi politik yang mengapit kisah hidup Simba. Jadi ketika menonton film yang baru ini, aku juga mendapat pengalaman baru di atas nostalgia. Karena memang film ini hampir sama persis dengan versi orisinilnya. Mulai dari pengadeganan hingga gerakan kamera semuanya dibuat serupa. Jikapun ada yang berbeda, maka itu hanyalah pemendekan adegan, atau pemanjangan, dan beberapa penambahan  untuk membuat durasinya berbeda. Dan tentu saja, visualnya. Pencapaian teknis yang disuguhkan oleh film ini memang sungguh luar biasa. Semua yang ada di layar itu, terlihat seperti asli. Seperti foto. Padahal kita juga tahu, kita juga mungkin meledek, enggak cocok disebut live-action karena toh semua yang kita lihat itu masih tergolong animasi. Pohon-pohon, serangga, bulu singa, semuanya tampak meyakinkan. Film berusaha menampilkan hewan-hewan tersebut senatural mungkin. Ditambah dengan pesan politik yang sebenarnya masih dan cukup relevan dengan keadaan sekarang, aku bisa mengerti studio dan pembuat film ini benar-benar ingin membuat sesuatu yang epik dari Lion King yang sudah kita kenal dan cintai.

Dengan latar cerita yang kuat, bahkan pertarungan singa beneran ala channel satwa pun bisa tetep menarik untuk disaksikan

 

 

Sedari awal, cerita sudah berusaha memfokuskan perhatian kita kepada ideologi Mufasa dan Scar. Saat lagu pembuka Circle of Life kita melihat semua binatang tunduk kepada raja, semuanya hadir saat upacara pengenalan putra mahkota. Bahkan hewan-hewan yang di kemudian hari bakal menjadi santapan perburuan si bayi singa lucu itu. Hanya satu yang tidak ikut; Scar. Alih-alih, dia menyuarakan ketidaksetujuannya dengan paham Circle of Life lewat monolognya tentang dunia adalah tempat yang tidak adil. Film hanya akan sebagus tokoh antagonisnya, dan Scar tak pelak adalah salah satu antagonis film yang paling menarik. Karena dia percaya dia adalah raja yang lebih baik.  Dalam film ini, Scar lebih sedikit ‘galak’ daripada versi orisinilnya yang tampak agak pengecut. Scar yang baru ini, terlihat lebih dari sekadar iri sama Simba yang kelahirannya menendang Scar keluar dari jalur tahta. Scar tampak actually percaya bahwa dia bisa memimpin dengan lebih baik. Dengan ideologi yang lebih benar. Makanya dia ngamuk saat nama Mufasa disebut-sebut. Saat menjadi raja, Scar mengajak para hyena untuk hidup berdampingan dengan singa, dan dengan hal tersebut Scar menciptakan struktur sosial yang berpaham seperti komunis, di mana semua orang hidup sebagai ekual. Tapi dia juga berpikir seperti seorang fasis saat ia sebenarnya mengakui hyena adalah kelas-bawah, dan fakta bahwa sebenarnya dia menggunakan mereka sebagai tentara untuk menjamin keuntungan bagi dirinya sendiri.

Penyamarataan seperti demikian justru membuat keadaan menjadi semakin tidak berimbang. Mufasa dengan teorinya, sebagaimana terus diingatkan oleh film ini lewat pembelajaran tentang rantai-makanan, mengingatkan kepada kita bahwa setiap makhluk punya tugasnya di dunia. Ada yang perlu lebih dulu makan, ada yang nantinya bakal dimakan. Semuanya akan menunaikan tugas pada waktunya. Keseimbangan itulah yang seharusnya dijaga karena itulah yang melambangkan keadilan yang sesungguhnya. Keberagaman yang membentuk satu lingkaran kehidupan dengan tugas, kewajiban, dan hak masing-masing.

 

Bahkan cerita dalam film pun bergerak melingkar, tak terkecuali film ini. Kita melihat Simba yang sudah belajar mengingat kembali siapa dirinya, di mana posisinya di dalam Lingkaran tersebut, memahami apa purpose dirinya, akhirnya kembali pulang dan mengembalikan keseimbangan. Kita melihat Pride Lands subur kembali dan hewan-hewan kembali membungkukkan badan. Kali ini kepada anak Simba. Lingkaran itu terus berlanjut ketika semua orang berada pada posisinya masing-masing. Ada yang di atas, ada yang di bawah.

However, dalam industri film sendiri ada juga Lingkaran Kehidupan. Buat – Dapet duit – Buat lagi. Beberapa mengambil langkah ekstrim; terus membuat ulang film-film yang bagus. Seperti The Lion King ini. Ceritanya boleh senantiasa bagus dan masih relevan, tapi kita tidak bisa tidak melihat kepentingan duit adalah nomor satu di sini. Karena selain visual yang mind-blowing dan beberapa pendekatan berbeda yang dilakukan oleh pengisi suara terhadap karakter mereka – paling kuacungi jempol adalah Seth Rogen yang tawanya memberi nafas baru buat Pumbaa baru – film ini tampak tidak peduli banyak untuk berubah. Mereka bergantung pada nostalgia. Tentu, penonton bakal tetap nonton dan suka karena sudah kadung cinta sama originalnya. Tapi sebagai sebuah film, The Lion King melewatkan banyak kesempatan untuk menjadi lebih. Mereka bahkan tidak terlalu peduli ketika ada beberapa hal tidak bekerja dengan baik.

“Can you feel the love this afternoon~”

 

Pertama adalah soal Scar tadi. Film seperti hanya mengopi-paste versi animasi orisinil tanpa melakukan perubahan yang benar-benar dipikirkan. Untuk alasan yang gak jelas, mereka menambahkan subplot saingan cinta antara Scar dan Mufasa dalam mendapatkan Sarabi. Dibangun sedari awal, Scar punya ketertarikan sama Sarabi, dan dimainkan ke dalam elemen Scar berusaha membuktikan dia lebih baik dari Mufasa di mana Sarabi menjadi semacam bukti legalitasnya. Penambahan ini terasa seperti dimasukkan sekenanya, dan gak cocok untuk menambah pengaruh apa-apa. In restropect malah membuat film akan bisa semakin efektif jika adegan soal ini dibuang, yang mana bakal mengembalikan film seperti keadaan orisinal. Penambahan ala kadar seperti begini juga dilakukan pada Dumbo (2019) pada bagian aspek tokoh manusia dan juga pada Aladdin (2019) yakni bagian Jasmine dan lagu ‘Speechless’. Ini mengukuhkan kesan bahwa proyek remake live-action Disney sebenarnya mentok. Mereka gak benar-benar menambah banyak pikiran ke dalamnya. Mereka hanya menambahkan alih-alih menggali sesuatu yang baru.

Lalu, we circle back to the visual. Aku pikir mereka sendiri sebenarnya melupakan alasan kenapa Lion King dibuat sebagai animasi pada awalnya. Mustahil membuat binatang bergerak, bernyanyi, berekspresi seperti manusia. Jadi animasi adalah media yang tepat. Mereka bisa colorful, fun, dan mengundang simpati sembari berenergi. Keputusan menjadikannya seperti binatang asli membuat film menemui banyak kekurangan seputar ekspresi dan jiwa tokoh-tokohnya. Tak banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat binatang bernyanyi terlihat realistis, toh. Banyak ekspresi wajah yang tak mampu tergambarkan, sementara filmnya bersikeras untuk meniru shot demi shot film animasi; shot animasi yang terang-terangan menunjukkan ekspresi manusia pada gambar hewan. Akibatnya ketika kita melihat hal emosional seperti Simba melihat ayahnya jatuh, maka yang tertranslasikan oleh film live-action ini hanyalah singa yang membuka mulutnya. Tidak ada rasa yang tersampaikan. Para pengisi suara pastilah kesusahan menghidupkan tokoh-tokoh film ini. Jadinya emosi mereka enggak nyampe. Ketika Nala kecil bilang Simba sungguh pemberani, kita enggak tahu dia bercanda, ngeledek, atau beneran tulus. Liciknya Scar juga tidak tampak, yang membuat dia tampak lebih jahat sekarang, dia tidak lagi terdengar bersenang-senang dengan rencananya.

 

 

Untuk penonton yang hanya mengincar nostalgia, pengen nonton yang udah cerita yang udah khatam awal hingga akhir – kali ini dengan visual level dewa, film ini masih akan enjoyable untuk disaksikan. Mendengarkan suara Mufasa yang menggetarkan hati, bernyanyi I Just Can’t Wait to be King, melihat tingkah kocak Timon dan Pumbaa. Semua hal tersebut masih dapat dijumpai, dan nyaris serupa dengan film aslinya. Tapi penonton yang ingin mendapatkan penggalian baru, ingin dikejutkan oleh elemen-elemen segar, yang mau menyimak gagasan dan visi yang berbeda, bakal mendapati sedikit kekecawaan. Aku pribadi jika kemudian hari dihadapkan pada pilihan di antara dua, pasti akan lebih memilih nonton animasi yang lama lagi saja karena lebih fun dan ceritanya lebih tight dibandingkan versi live-action ini yang lebih sok-serius dan cerita yang lebih meluas padahal tak banyak memberikan perubahan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE LION KING.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Ngomong-ngomong soal keluarga singa dalam film ini; jika satu kawanan singa terdiri dari satu alpha male dan selebihnya betina, apakah itu berarti Simba dan Nala bisa jadi adalah saudara sebapak? Atau mungkin mereka sepupuan?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

CRAWL Review

“Just keep swimming”

 

 

Di tengah horor dan thriller yang membanjiri lanskap perfilman, Crawl memang bukan ‘monster’ yang besar. Dia bahkan tidak ambisius. Tapi siapa sangka, film garapan Alexandre Aja ini, yang nyempil ‘malu-malu’ di antara film-film box office, ternyata dalam diamnya mampu memberikan pengalaman menakutkan paling murni yang bisa kita dapatkan. Dan ya, memang begitulah makhluk horor seharusnya; menyergap diam-diam dan mematikan. Crawl melakukannya dengan gemilang. It was a straight-up horror adventure. I have a blast watching this movie. Tidak pake hal-hal goib. Tidak pake perjanjian dengan klub-klub sesat. Tidak pake teori-teori sains rekaan yang ujung-ujungnya bikin cerita gak masuk akal. Tidak pake twist yang berusaha tampak pintar dengan mengecoh penonton. Delapan-puluh-tujuh menit benar-benar murni pembangunan suspens. Dan meskipun bergantung berat pada CGI, semua elemen horor pada dunia film ini berakar pada hal yang natural. Hewan dan manusia. Dan bencana alam.

Sebelum membahas dua yang kusebutkan duluan, aku ingin menekankan kepada pentingnya bagi kita untuk tidak melupakan si badai kategori 5 yang jadi latar pada film ini. Karena actually badai ini bukan sekedar latar. Melainkan ia sudah menjelma menjadi karakter tersendiri. Sedemikian kuatnya film ini ngelay-out sang badai tersebut. Badai itu tampak sangat realistis. Budget jelas sekali dimanfaatkan dengan efisien. Badai itu seperti sedang beneran terjadi. Atmosfernya menjejak kuat ke dalam cerita. Bukan sekadar siraman hujan lebat, langit gelap, dan hembusan angin dimainkan dengan efektif sebagai bagian dari alur cerita. Kadang badai ini membantu menyelamatkan tokoh-tokoh. Kadang juga membuat usaha survive mereka menjadi semakin susah. Cerita film ini menggunakan air untuk menaikkan intensitas kengerian; di mana air yang menjadi jalan masuk bagi para buaya (atau aligator) dimainkan secara bertahap.

Dalam usahanya mencari sang Ayah yang secara misterius tak-bisa dihubungi, Haley (Kaya Scodelario melakukan begitu banyak, ia kuyup oleh air dan darah) menerjang badai tersebut kembali ke rumah masa kecilnya di Florida. Untung saja ia melakukan hal tersebut, sebab ayahnya (Barry Pepper bermain gemilang sebagai motivator utama dalam hidup si Haley) ternyata membutuhkan pertolongan medis dengan segera. Sesuatu menyerang si ayah di dalam basement/crawl space rumah mereka, dan si penyerang – tak diketahui oleh Haley pada awalnya – ternyata masih di sana. Haley dan ayahnya terjebak, bersama si penyerang; buaya, yang setia menanti. Saat itulah badai ikut turun untuk meramaikan ‘pesta’. Air hujan di luar menjadi detik-detik bom waktu, karena sesegera air memenuhi ruangan, ruang gerak buaya semakin luas. Sementara posisi Haley dan ayahnya semakin kegencet. Ke mana pun mereka bergerak, air yang semakin naik, membawa buaya senantiasa mengekor mereka.

hayo ada yang tau bedanya buaya atau aligator?

 

Cerita yang dihadirkan memang sangat simpel. Tetapi semua elemen yang ada didesain sedemikian rupa sehingga bekerja berurut membangun kengerian yang maksimal. Menonton ini akan membuat kita duduk merengket, terpekik-pekik kecil, saat menyadari perlahan bahaya terus terbendung. Haley dan ayahnya nyaris tidak punya ruang untuk bernapas. Kita bahkan dibuat bertanya-tanya ngeri di dalam hati mengenai keselamatan anjing peliharaan yang senantiasa menggogok dari lantai atas memanggil tuannya. Setiap kali air naik, kita akan dibuat ikutan jantungan mikirin berapa banyak lagi buaya yang masuk. Kita akan dibuat melototin permukaan air karena kita pengen tau buayanya bakal muncul dari mana. Sungguh usaha yang sia-sia sebenarnya, karena film berhasil mengeksekusi jumpscare demi jumpscare dengan timing tak-terduga.

Horor yang terpusat di basement rumah – yang kemudian bakal naik ke lanta-lantai lain – seperti tak pernah kehilangan nada seramnya. Aksi-aksi survival yang kerap dilakukan oleh Haley, pilihan-pilihan nekat yang ia paksakan dirinya untuk lakukan, bakal membuat kita menahan napas. Tidak pernah sekalipun tindakan tokoh dalam film ini tampak bego, kayak di horor-horor atau thriller pada umumnya. Alexandre Aja yang dulu pernah menggarap Piranha 3D (2010) dengan lumayan sukses; horor tentang hewan buas juga, hanya saja lebih ‘receh’, pada film Crawl ini ingin membuktikan bahwa dia sanggup membuat yang serupa menghibur, tapi dengan nuansa yang lebih serius. Dan menurutku, dia memang berhasil melakukan hal tersebut. Buaya-buaya dalam film ini, kendati secara teknis memang adalah ‘makhluk monster pemakan manusia’ tapi tidak semata diperlihatkan hanya ingin memangsa manusia. Terkecuali pada satu-dua adegan para buaya tampak ‘bekerja sama’, mereka tidak dibuat melakukan sesuatu di luar kebiasaan buaya pada umumnya. Film ingin mempersembahkan mereka sebagai binatang normal. Kita diperkenalkan asal usul mereka lewat papan jalan penangkaran buaya yang dilewati Haley di adegan awal. Jadi film menanamkan kepada kita bahwa ini adalah buaya-buaya normal, ini adalah bencana alam normal, dan orang-orang yang terjebak di sana – baek ataupun tukang ngejarah supermarket – adalah orang-orang normal

Bahwa ini sesungguhnya adalah cerita yang grounded. Yang berinti pada keluarga. Hati cerita ini terletak pada hubungan Haley dengan ayahnya. Film sungguh memperhitungkan segala kejadian mengerikan yang terjadi pada Haley sebenarnya memiliki akar atau menjadi simbol dari apa yang seharusnya ia lakukan terhadap masalahnya dengan dirinya sendiri, yang berkaitan dengan sang ayah. Rumah masa lalu itu misalnya; tentu saja bukan tanpa sebab cerita memilih fokus di rumah itu padahal akan lebih seru kalo cerita meluas ke lingkungan di luar rumah, di mana ada lebih banyak buaya dan medan yang lebih menantang. Haley dan ayahnya memang mulai berjarak, padahal dulunya mereka akrab sebagai pelatih dan atlet renang. Haley yang selalu nomor-dua seringkali merasa tak percaya diri. Ayahnya lah yang terus menyemangati. “You’re an apex predator” gebah ayahnya bertahun-tahun yang lalu, yang jika dilihat sekarang kala mereka dikelilingi buaya, kata-kata tersebut dapat menjadi sangat ironi. Masalah pada Haley adalah bukan karena dia payah sebagai atlet renang, hanya saja ia merasa dirinya berenang karena ayah. Bakat yang ia miliki menjadi beban tatkala menjadikannya tidak percaya kepada dirinya sendiri. So it’s perfectly make sense Haley harus berenang secepat yang sebenarnya ia bisa demi menyelamatkan dirinya dan ayahnya. Buaya-buaya itu tepatnya adalah simbol ‘apex predator’ yang harus ia kalahkan.

Sama seperti sebagian dari kita, Haley tidak bisa terdorong jika tidak diberikan motivasi. Dia butuh sosok lawan untuk dikalahkan. Hanya saja untuk waktu yang lama, ia salah kaprah. Bukan tuntuan ayah, bukan pesaing renang, yang harus ia kalahkan. Lawan itu adalah dirinya sendiri. Buaya-buaya itu adalah dia menurut sang ayah; cepat – predator. Ketika dia ingin mengalahkan buaya berenang demi nyawanya, ia sadar yang ia butuhkan hanyalah berenang, berenang, terus berenang, tanpa menyerah kepada keinginan berhenti. Haley mengalahkan ‘lawan’ yakni dirinya sendiri. Maka kita lihat akhirnya dia mengangkatkan tangan penuh kemenangan.

 

Kenapa basement rumahnya bolong-bolong ya, sengaja banget ngundang air masuk?

 

Antara aksi survival dan pembangunan karakter, film memang bisa tampak agak ‘lucu’ juga. Percakapan ayah dan Haley kadang membuat kita merasa harus banget gitu ngajak ngobrol mendalam soal keluarga sekarang. Beberapa percakapan terdengar terlalu ‘dipaksa’ padahal mestinya lebih tepat dibicarakan dalam sikon yang lebih aman. Dan ini dapat membuat film yang berusaha grounded ini tampak tidak-realistis. Masa lagi dikepung buaya, bapaknya ngajak bernostalgia ke masa kecil. Tapi percakapan itu dibutuhkan karena karakter kedua tokoh ini perlu untuk dilandaskan. Sehingga kita peduli akan keselamatan mereka. Sehingga Haley dan ayahnya tidak jatoh seperti beberapa tokoh lain yang saat mereka dimakan buaya, kita tidak merasa peduli sama sekali. Film butuh menetapkan sesuatu terhadap karakternya sehingga kita ingin mereka selamat. Kita mengkhawatirkan kebersamaan mereka. Bukan sekedar kasihan kalo mereka dimakan, karena tentu saja kita kasihan dan ngeri melihat manusia dimakan buaya.

Tapi melihat ke belakang, semua drama itu tampak dengan mudah teroverlook karena penggambaran aksi survival yang begitu kuat. Film ingin tampil serius, dia tahu apa yang harus dilakukan untuk itu, dia juga ingin punya cerita yang berbobot. Hanya saja ketika kau menggarap film seperti ini, selalu ada resiko adegan-adeganmu tampak ‘maksa’ dan tidak berfungsi sesuai dengan yang dikehendaki. Menurutku film bisa lebih baik jika diberikan ruang cerita yang sedikit lebih luas sehingga pengembangannya bisa dilakukan dengan lebih natural.

 

 

Selain masalah minor tersebut, aku suka sekali film ini. Untuk urusan horor dan thriller, buatku selalu ada jeda yang cukup jauh antara film yang bagus di bioskop. Untuk waktu yang cukup lama sejak Us, aku belum lagi ngerasa puas dan genuine terhibur. Horor-survival bertema hewan buas dari Alexandre Aja ini menyambung estafetnya. Desain produksnya enggak ngasal. Badai dan buaya CGI itu tampak meyakinkan. Aksi bikin kita beneran mencicit di tempat duduk. Jumpscarenya efektif sehingga aku tidak merasa kesal dikagetin. Simpel, gak butuh twist, dan jauh dari keinginan bangun universe ribet. Nonton ini akan memuaskan sekali buat kita-kita yang ingin kabur sejenak dari rahang mengerikan dunia nyata. But mind you, kengerian dalam film ini berpotensi untuk balik menghantui kita dalam dunia mimpi
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CRAWL.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Film ini sebenarnya berpesan soal mengubah kekalahan menjadi motivasi. Pernahkah kalian merasa begitu kalah sehingga memutuskan untuk berhenti mencoba?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

Extreme Rules 2019 Review

 

Dalam pertandingan extreme rules, semua bisa terjadi. Kecuali, kata Becky Lynch kepada Seth Rollins sang pacar sekaligus partner tag teamnya, menyebabkan pasanganmu kehilangan sabuk kejuaraannya. Dengan menjadwalkan pertandingan ‘ganda campuran’ di mana dua sabuk tertinggi brand Raw dipertaruhkan bersamaan – tim yang menang, lantas berhak mengangkat sabuk kejuaraan tinggi-tinggi penuh jumawa – WWE tampak menge-push makna ekstrim yang menjadi judul acara ini lebih jauh lagi. Di kubu juara bertahan kita punya pasangan real-life Lynch dan Rollins, memainkan dinamika gender dengan ayunan yang menarik; kedua superstar ini sama-sama ‘jantan’. Rollins cowok beneran, sedangkan Lynch di-dub sebagai “The Man”. Sedangkan pada kubu penantang bersanding Lacey Evans dengan jurus maut tinjuan tangan kanan yang diberi nama “The Women’s Right” dan Baron Corbin, si putra favorit semua kota yang enggak ragu untuk melakukan apa saja.

Melalui pasangan-pasangan ini, WWE seperti menyimbolkan perjuangan yang relevan tentang kesetaraan gender. Ada gagasan yang dinarasikan yaitu pria dan wanita punya status dan ‘kekuatan’ yang sama. Mereka saling bertanggungjawab terhadap pasangannya dalam suatu hubungan. Tidak mesti harus selalu pria yang menyelamatkan wanita. Dan tidaklah memalukan untuk mengakui wanita kadang lebih nasty dari pria.

 

Di samping itu, dapat kita temukan banyak indikasi WWE berusaha tampil lebih edgy, lebih ‘kasar’ daripada produk-produk mereka belakangan ini. Mulai dari kamera yang secara sengaja ngezoom close up pantat Evans yang merungkuk masuk ke dalam ring, hingga menuju penutup pertandingan, WWE terus saja ‘menggoda’ penonton. Puncaknya tentu saja adalah ketika Corbin menyarangkan jurus pamungkasnya kepada Becky Lynch. Aku gak bohong, buatku momen itu terasa magical. Unworldly. Terutama melihat reaksi Rollins. Rasanya seperti melegakan, ada beban yang lepas. Karena, thing is, walaupun berjudul ‘mixed tag team extreme rules’, pertandingan main event ini masih terkungkung oleh banyak peraturan. Pertama ada peraturan tradisional tag team; kau tidak bisa masuk sebelum ‘disembar’, itu berarti sebagian besar waktu kau atau pasangan tag teammu harus menunggu di pojok luar tali ring. Kedua, superstar cowok harus bertarung dengan cowok, dan cewek harus dengan cewek. Tidak boleh cowok memukul cewek. Ini membuat pertandingan ini terlihat kurang menarik, karena setengah-setengah. Kenapa mereka tidak langsung saja diadu di dalam ring, empat-empatnya sekaligus. WWE dengan sengaja membuat seperti demikian, demi alasan storytelling. WWE ingin membangun antisipasi penonton. Mindsetnya adalah menahan-nahan memberikan yang penonton mau, dan ketika waktunya tiba, berikan sebagian kecil saja dan penonton akan puas. Malah meminta lebih dan penasaran pengen tau kelanjutan. Dan kupikir taktik yang mereka lakukan ini berhasil. Tentu saja dengan harga mahal berupa pertandingannya sendiri menjadi tidak seberapa menarik.

“Don’t be jealous cause they like what they see”

 

Tapi untuk menutupi itu, WWE menyiapkan banyak momen-momen menghibur di awal-awal. Beneran deh, in fact, the worst dari acara kali ini memang cuma dua match terakhir. Meskipun memang bummer sih, karena dua pertandingan besar itu adalah kejuaraan utama. Kofi Kingston melawan Samoa Joe benar-benar standar, dengan hasil pertandingan sangat melukai citra Joe sebagai kontender seram yang serius. Sisa partai dalam acara yang berlangsung di kampung halaman ECW ini (Philadelphia) bisa dikategorikan ke dalam bintang-tiga, jika kalian mau memberi skor masing-masingnya.

Lashley dan Braun Strowman menyuguhkan perang-monster yang cukup heboh. Hasil akhir dari Last Man Standing mereka dilakukan dengan teatrikal; Strowman menyeruak keluar dari kotak kayu, yang membuat pertandingan yang mestinya bisa lebih baik jika waktunya sedikit dipersingkat tersebut menjadi terasa baru dan menyegarkan. Handicap antara Bayley melawan Alexa Bliss dan Nikki Cross berfungsi untuk menguatkan tiga karakter ini secara bersamaan, dan untuk hal tersebut, pertandingan ini berhasil menjalankan fungsi. Alur dan aksinya sendiri tidak spesial-spesial amat – personally, aku kesel Bliss gak menang – but it makes so much sense. Belum jelas apakah ketiganya masih akan bareng dalam satu program lagi untuk berikutnya, tapi yang dapat kita simpulkan dari pertandingan ini baik Bayles, maupun tandem Bliss dan Cross, sama-sama masih jauh dari akhir babak saga mereka. Hal yang sama bisa kita simpulkan dari pertarungan AJ Styles melawan Ricochet dan pertarungan tagteam Revival melawan Kembar Uso. Mereka semua menghadirkan laga yang bikin kita menggigit kepalan tangan, namun masih terkesan ditahan-tahan. Surely, program mereka masing-masing masih akan terus berlanjut, karena masih  banyak potensial cerita dan karakter yang belum dikeluarkan.

Jika disuruh memilih superstar mana yang menjadi MVP pada malam ekstrim itu, maka jawabanku akan berputar di antara tiga superstar. Aleister Black. Otis dari tagteam Heavy Machinery. Dan, meskipun kedengarannya ‘aneh’ karena ketinggalan jaman; The Undertaker.

Debut-ulang Black dilakukan dengan sangat tepat. ‘Mengumpankannya’ kepada Cesaro jelas pilihan yang berbuah manis. Semua berakhir win-win dalam skenario ini. Cesaro yang punya teknik super secara natural menjadi lawan yang menarik untuk Black dengan serangan strike. Melihat Black dilempar ke sana sini sebelum akhirnya menyerang telak sungguh sebuah pengalaman yang memuaskan. Otis, on the other hand, adalah idola in the making. Aksi-aksi si superstar ini begitu menghibur untuk disaksikan. Dan tentu saja tidak ada ruginya memasangkan Heavy Machinery di antara tim-tim solid seperti New Day dan Daniel Bryan dan Erick Rowan. Semua superstar dalam triple threat tag team tersebut tampak kuat dan menarik. Untuk beberapa waktu aku sempat yakin Heavy Machinery yang bakal menang. Karena begitu asyiknya mereka terkonek kepada penonton.

Apakah singlet Undertaker kebalik?

 

Kemunculan Undertaker menolong Roman Reigns dalam perseteruan melawan geng Shane McMahon tak pelak memang mengangkat alis banyak orang. Terlebih Undertaker baru saja terlibat salah satu pertandingan terburuk di sepanjang karirnya; menonton matchnya melawan Goldberg di Saudi Arabia musim lebaran lalu seperti menonton kakek-kakek yang sedang rebutan remote tv. Penonton juga sebel melihat Shane yang terus-terusan mendapat spot, sementara Reigns berada di zona netral. Penonton pengen melihat benefit untuk Drew McIntyre, dan Elias, dengan keterlibatan mereka di storyline ini. Sepanjang match aku juga berharap fokus ada pada MyIntyre. Tapi Undertaker tampaknya adalah superstar yang paling overgiver yang pernah berjalan dalam ring WWE. Dengan cepat dia mencuri perhatian. Penampilannya begitu prima dalam pertandingan pembuka ini. Aksi pertandingan ini cukup keras, dan Undertaker tak tampak kepayahan. Interaksinya dengan McIntyre, juga dengan Shane, ternyata sangat menghibur. Sejurus kemudian akan menjadi jelas untuk kita bahwa pertandingan ini sebenarnya lebih berfungsi sebagai ‘pemulihan’ nama Undertaker. Dan mereka melakukannya dengan cukup baik.

Ketika pembicaraan beralih kepada momen paling keren, ada banyak kandidat yang bisa dipilih, range dari komentator Renee Young menyebut kata “fucked” hingga kemunculan Brock Lesnar ‘menguangkan’ kopernya. Namun yang paling mencuat tentu saja adalah momen speech dari Kevin Owens. Yang serta merta membuatnya menjadi MVP kejutan, orang keempat yang paling menarik sepanjang acara. Aku benar-benar suka pada arahan yang diberikan kepada Owens. Dia menyuarakan kejelekan-kejelekan yang ada pada WWE; gimana Shane selalu mendapat spot, gimana superstar-superstar yang lebih membutuhkan ditelantarkan begitu saja oleh WWE. Karakter Owens ini jika dilakukan dengan benar, bukan tidak mungkin akan menjadi Stone Cold versi kekinian. Yang punya attitude kritis, berani, penuh api, dan dibacking oleh jurus Stunner yang sungguh devastating. Penulisan cerita dan karakter yang meta seperti ini boleh jadi datang dari Eric Bischoff yang baru-baru ini diberitakan menjadi executive director untuk Smackdown, barengan dengan Heyman untuk brand Raw.

 

 

 

The change is coming. Perlahan-lahan WWE menunjukkan keterbukaan untuk menjadi lebih cadas. Lebih menggigit dengan konten-konten yang tidak melulu kekanakan dan bermain aman. Extreme Rules, adalah bagian dari proses perubahan tersebut. Pertandingan-pertandingan dalam acara ini sebagian besar seru, namun tidak terasa kosehif satu sama lain selain sama-sama berfungsi untuk menginvest kita kepada momen gede involving interaksi cowok-cewek di penghujung acara. The Palace of Wisdom memilih kejuaraan tag team Smackdown antara tim Daniel Bryan dan Rowan melawan Heavy Machinery melawan The New Day sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

Full Results:
1. NO HOLDS BARRED Undertaker dan Roman Reigns mengalahkan Shane McMahon dan Drew McIntyre
2. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Revival bertahan atas The Usos
3. SINGLE Aleister Black ngalahin Cesaro
4. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP HANDICAP Bayley tetep juara ngalahin Nikki Cross dan Alexa Bliss
5. LAST MAN STANDING Braun Strowman menghancurkan Lashley
6. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT The New Day jadi juara baru mengalahkan Daniel Bryan & Rowan serta Heavy Machinery 
7. UNITED STATES CHAMPIONSHIP AJ Styles merebut sabuk dari Ricochet
8. SINGLE Kevin Owens KOin Dolph Ziggler
9. WWE CHAMPIONSHIP Kofi Kingston retains over Samoa Joe
10. RAW WOMEN’S & UNIVERSAL CHAMPIONSHIP MIXED TAG TEAM EXTREME RULES Becky Lynch dan Seth Rollins menang dari Baron Corbin dan Lacey Evans
11. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP MITB CASH-IN Brock Lesnar jadi juara baru ngalahin Seth Rollins

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

ROCKETMAN Review

“Worry about loving yourself instead of loving the idea of other people loving you”

 

 

Tidak semua orang tahu nama asli Elton John adalah Reginal Kenneth Dwigth, karena musisi ini memang mengganti namanya secara legal karena kecintaannya terhadap musik blues. Biopic musikal Rocketman garapan Dexter Fletcher bahkan menjadikan soal nama tersebut sebagai poin vokal. Disebutkan dalam film ini, bahkan Elton John sendiri berusaha untuk ‘melupakan’ nama kecilnya. Karena, seperti yang ia ceritakan kepada kita dan lingkaran grup sharing  – film dimulai dengan sangat menarik kita melihat John datang sempoyongan lengkap dengan kostum setan dalam balutan gaya pop – bahwa hubungan dirinya sedari kecil tidak begitu baik dengan kedua orangtuanya. Terutama kepada ayah. Padahal bakat jenius dalam bermusik yang ia miliki merupakan turunan dari sang ayah. Dia seringkali dicuekin. Hingga dia tumbuh gede menjadi musisi sukses dan mengganti namanya. Orang-orang suka Elton John, yang ironisnya membuat dia sendiri semakin ‘benci’ dengan dirinya yang asli – si Reggie Dwight, anak kecil malang. Sungguh sebuah harga yang mahal untuk sebuah pengakuan!

Elton John is a larger than life persona. Tetapi Rocketman mendaratkan tokoh ini sehingga John kita rasakan tak ubahnya sama dengan kita semua. Tak-kalah menyedihkannya. Setiap hari kita melihat orang-orang di sekitar, dan juga kita sendiri, berusaha mengerjakan sesuatu supaya sukses dalam bidang masing-masing. Ada yang pepatah luar yang bilang “bekerja keraslah hingga suatu hari kau tidak perlu lagi memperkenalkan namamu kepada semua orang”. Film ini memperlihatkan kepada kita, melalui sudut pandang Elton John seorang musisi besar, sejauh mana seseorang mampu bertindak demi diakui oleh orang. John begitu putus asa pengen dilirik oleh ayahnya. John terkenal, tapi itu hanya ‘persona’nya. Dirinya yang di dalam, the real him, menjadi sangat tak-penting sampai-sampai John sendiri tak mau mengenali. Ketika dia membicarakan kemunduran dan masalah di pertemuan sharing pada adegan pembuka itu, barulah John memanggil kembali dirinya. Untuk melihat keindahan cerita film ini, aku sarankan kalian mendengarkan dengan seksama cara John menyebut dirinya dari awal cerita hingga akhir. Rasakan perubahan tone yang bergerak berlawanan dengan kejadian demi kejadian di mana dirinya semakin ‘hancur’ yang mengisyaratkan penyadaran yang perlahan terbit di dalam diri tokoh ini.

Jangan meroket ketinggian oleh puja-pujaan sementara kita lupa mencintai diri sendiri. Lupa sama diri sendiri. Jangan korbankan diri untuk mencari cinta dan pengakuan dari orang lain. Jadikanlah Elton John dalam Rocketman sebagai contoh kasus; kita akan berakhir tak bahagi dan semakin membenci diri sendiri. Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia, demi dirimu sendiri.

 

Kita akan melihat dari kacamata Elton John, dan kalian semua tahu betapa fabulous-nya kacamata Elton John

 

Sehubungan dengan itu; penampilan Taron Egerton sangat memukau. Dia tidak sekadar menjadi Elton John. Quick fact: tidak akan ada seorang pun yang bisa menjadi Elton John like Elton John did. Egerton menyeruak ke dalam perannya ini dengan ‘keanggunan’ khusus ciptaannya sendiri. Seperti beginilah akting yang sebenarnya akting. Bukan masalah gigi palsu, atau wig, atau dandanan rambut yang disama-samain. Ketika kau memerankan karakter, kau menghidupi jiwa karakter tersebut dengan pendekatan personalmu sendiri. Seperti yang dilakukan Taron Egerton di sini. Egerton menyanyikan semua adegan musikal. Meskipun suaranya memang terdengar berbeda dari Elton John yang asli, tapi kita melihat dan mendengar jauh beyond semua itu. Kita tidak mendengar ada yang nyinyir mengatakan Taron Egerton merusak lagu legenda. Karena penampilan akting yang ia suguhkan membuat kita semua konek dengan jiwa tokohnya.

Dexter Fletcher sepertinya belajar dari kekurangan pada Bohemian Rhapsody (2018), sama-sama film tentang biografi musik legendaris, yang ia ambil alih setelah sutradara asli film tersebut keluar. Di Rocketman, dia tak lagi ragu untuk membahas hal-hal personal. Beserta isu-isu sosial yang menyertainya. Tak pernah film ini terasa terlalu mengkultuskan tokoh yang ia ceritakan. Elton John tergambarkan dengan lebih bebas ketimbang Freddie Mercury dalam Bohemian Rhapsody. Ketika disorot dari cahaya ‘lampu yang buruk’, tidak ada usaha overprotektif terhadap tokohnya, cerita malahan dengan berani menerjunkan kita ke dalam kepala sang tokoh. Dan ini membuat kita secara natural semakin peduli dan tertarik kepadanya. Mereka tidak menirukan seorang tokoh, melainkan memfantasikan seluk beluk sang tokoh. Makanya film ini terasa benar-benar hidup.

Cara bercerita mengemas semua arahan dan penampilan sedemikian rupa sehingga membuat Rocketman amat sangat menarik dan menyenangkan untuk diikuti. Visual yang dihadirkan benar-benar mengikat fantasi ke dalam realita. Atau, realita ke dalam fantasi? Aku gak tahu karena film benar-benar mengaburkan batas, membuatnya mengasyikkan untuk diikuti. Musik-musik yang diperdengarkan di sini benar-benar dimainkan, dinyanyikan, sebagai bagian dari sebuah penceritaan. Adegan bernyanyi bukan sekadar muncul ketika Elton John nampil di depan penggemar. Melainkan menyatu dengan kebutuhan emosional cerita. Seperti misalnya ketika John Kecil merasa sedih, kemudian dia lantas bernyanyi. Dan dia memandangi ayahnya. Kemudian kita mendengar ayahnya ikutan bernyanyi, menyuarakan apa yang ia rasakan. Semua orang di film ini bernyanyi. Menari dengan koreografi, sebagai bagian dari fantasi yang dirasakan jauh di dalam hati John. Membuat setiap poin-poin cerita film ini terasa segar, asik untuk disimak.

setelah nonton Rocketman, kita perlu menanyakan kepada diri kita sendiri: “Rami Malek who?”

 

Cerita seorang tokoh, dalam kasus ini musisi, memang perlu untuk mengambil langkah berbeda seperti yang dilakukan oleh film ini. Lantaran sebagian besar contoh film-film genre ini kita dapati selalu memilih untuk jadi biografi. Sehingga punya format yang sama. Format yang ‘membosankan’ kalo boleh kutambahkan. Film biopik seringkali akan dimulai sedari tokoh masih kecil, dan berlanjut remaja, dewasa, memasukkan semua fakta-fakta tentang si tokoh (apa-apa saja yang terkenal dari si tokoh). Yang pada kelanjutannya membuat ceritanya membosankan karena terlalu melebar sehingga terasa episodik, dan gak benar-benar kohesif dengan gagasan yang ingin disampaikan. Itu juga kalo gagasannya ada, sebab sering juga biografi atau cerita tentang seorang tokoh dipenuhi oleh kepentingan untuk pencitraan semata. Untuk kasus cerita tentang musisi, konflik yang ada pun sebenarnya kurang lebih sama. Mereka terkenal dan jauh dari orang yang dicintai. Mereka depresi. Party, mabok-mabokan. Terlibat narkoba. Penyimpangan seksual. Terjangkit penyakit mematikan. Semua itu adalah trope-trope biasa yang sering kita temukan pada biopik musisi apa saja. Pada Rocketman pun seperti demikian. Rentetan kejadiannya sangat seusai dengan formula tradisional. Akar masalah sedari kecil – montase sukses – terpuruk – sakit – bertengkar dengan orang yang paling dekat dengannya – kemudian menyesal dan berusaha bangkit sendiri.

 

 

Jika diceritakan dengan ‘lurus-lurus’ saja, film ini pastilah akan membosankan. Pacing ceritanya tak pelak memang bermasalah. Tapi film ini tetap hadir menyenangkan dan menarik lantaran dia diarahkan dengan cara yang berbeda. Biopik ini tidak bermaksud menjadikan dirinya sebatas meniru kejadian yang asli. Melainkan sebagai sebuah fantasi tentang sesuatu pada seseorang yang pernah terjadi. Inilah yang membuatnya hebat. Penampilan akting yang berkharisma dan penuh emosi. Adegan musikal yang menghipnotis. Tak ketinggalan pula gagasan, pesan yang berakar pada hubungan antaranggota keluarga. Semua hal tersebut sukses memopang sudut pandang seseorang tokoh yang begitu lain daripada yang lain. Sehingga semua orang bisa mudah terkonek dengannya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for ROCKETMAN.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Kenapa ya banyak musisi terjatuh di lubang depresi yang sama?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.