GHOST WRITER 2 Review

 

“People find meaning and redemption in the most unusual human connections”

 

 

“Kalo saya cuma dianggap dukun, buat apa saya nulis?” Aku suka banget kalimat yang diucapkan Tatjana Saphira dalam Ghost Writer 2. Karakter yang ia perankan, si Naya, sekarang tenar berkat novel yang ia tulis bersama hantu. Nah itulah masalahnya, tenarnya itu bukan oleh sebab yang ia harapkan. Orang-orang hanya melihat dirinya sebagai paranormal. Sebagai dukun. Sebagai orang yang bisa bicara dengan hantu. Bukan sebagai penulis yang mampu membuat cerita yang bagus. Di jaman branding dan popularitas seperti sekarang, enggak susah untuk menerka bahwa yang dialami Naya beresonansi kepada banyak orang. Sekarang mau bikin Youtube aja harus ada gimmicknya, dan kalo satu gimmick atau satu ciri khas kena, maka ya gak boleh pindah. Harus bikin sesuai dengan itu terus-terusan.  Like, beneran ada loh di kita penulis ataupun kreator yang ‘bertahan’ pake gimmick-gimmick cenayang karena memang lakunya harus seperti itu. Dalam perfilman, kita juga lihat gimana seringkali seorang aktor memainkan tipe peran yang sama melulu di setiap film yang ia mainkan.  Gatau apakah mereka menjerit juga dalam hati seperti Naya atau tidak. Makanya, pembahasan ini terasa lebih ‘rich’ lagi karena muncul dari film horor komedi, yang actually mempertahankan komika untuk terus bermain sebagai karakter lucu. Menarik untuk menyimak gagasan seperti apa yang disuarakan Muhadkly Acho, yang gantiin Bene Dion Rajagukguk sebagai sutradara. Karena Ghost Writer 2 ternyata bahkan lebih ‘rich’ lagi, dengan turut membahas drama hubungan keluarga antara anak dengan ibu!

Naya ceritanya memang mau nikah sama Vino, yang sekarang sudah merambah jadi bintang film. Bukan aktor FTV lagi. Hanya saja, ibunya Vino tampak ada kurang sreg sama relationship anaknya. Karena banyak masalah itulah, Vino jadi banyak pikiran, gak konsen saat take adegan action yang mengharuskannya melompati atap gedung. Vino kepleset, dan hidupnya game over. Naya langsung hancur, apalagi mereka abis berantem sebelum kejadian naas itu. Tapi sedihnya Naya gak lama, karena Vino balik dalam wujud hantu. Dan kini mereka mencari cara untuk menenangkan Vino supaya bisa terus dengan damai ke alam baka. Jadi mereka salin bantu. Selain bantuin Naya membereskan tulisan seriusnya, Vino percaya satu lagi caranya untuk ‘terus’ adalah dengan membantu satu sosok hantu mengerikan yang kerap meneror Naya dan adiknya!

Kolab dengan iblis

 

See, this is what I’m talking about. Horor bukan hanya soal penampakan genjreng-genjreng. Bukan hanya soal bunuh-bunuhan brutal. Harus ada journey paralel di dalam diri karakternya, sebagai bentuk menghadapi horor tersebut. Ghost Writer 2 boleh jadi bakal ‘dituduh’ sebagai gak-pure. Lebih sebagai drama yang ada hantunya. Tapi eksistensi film seperti ini membuktikan bahwa genre horor gak selamanya jadi kasta terendah yang laku bukan karena bagus, yang bahkan pembuatnya sendiri malu diasosiasikan sebagai pembuat horor seperti yang dirasakan Naya. Film ini ngasih lihat bahwa dalam horor pun karakterisasi dan journey  mereka (baca: NASKAH!) itu penting, dan itu udah jadi urusan dan tanggungjawab pembuat film untuk berkreasi semaksimal mungkin menjalin cerita seram, gimmick, dan gagasan sehingga bisa enak dan bergizi untuk ditonton. Naya, Vino, adik Naya, teman adiknya, sedari film pertama karakter-karakter ini sudah merebut perhatian kita karena mereka ditulis dengan kedalaman, mereka punya range, naskah mengeksplorasi ketakutan mereka lebih dari sekadar takut ngeliat setan (reaksi takut mereka actually diarahkan untuk komedi).

Aspek horor dimainkan dengan kreatif. Mulai dari aturan koneksi hantu dengan manusia, hingga ke kemampuan dan batasan hantu dimainkan dengan variasi yang membuat film semakin bikin penasaran untuk disimak. Sekaligus juga menjadikannya menghibur. Ini bukan cerita horor biasa yang ada hantu jahat, ada adegan-adegan menakutkan dari kemunculan hantu mengganggu manusia,  terus para karakter harus menguak misteri dan cari cara untuk membuatnya pergi. Aspek terkuat film ini justru adalah drama, dan wisely film menjadikan itu sebagai pondasi.  Adegan-adegan terbaik film ini datang bukan dari penampakan hantu yang ngagetin. Melainkan dari karakter yang menumpahkan isi hatinya dengan sangat emosional kepada karakter lain. Scene di akhir yang ,melibatkan Ibu Vino dan Naya (and later, Vino) totally bikin satu studio saat aku menonton terdiam. Kayaknya semua menghayati, semua merasa kena ledakan emosi yang merenyuhkan dari Widyawati yang aktingnya satu tingkat di atas yang lain. Selain adegan tersebut, aku juga suka sama montase yang dilakukan film di awal-awal saat memperlihatkan Naya ‘hancur’ karena kematian Vino, ada satu momen ketika Naya duduk di depan TV, enggak nonton apa-apa melainkan hanya layar yang penuh ‘semut’. Kemelut perasaannya terasa banget.

Aku suka karakter Naya di sini, karena lingkupnya benar-benar digali. Film memperlihatkan masalah di dunia profesionalnya, di kehidupan romantisnya, hingga ke kehidupan keluarga saat Naya harus dealing with adik yang justru pengen membuat konten-konten Youtube bergimmick horor. Belief Naya digali, tantangan untuknya terus dinaikkan. Karakter ini ‘sibuk’, sampai hampir seperti tak ada waktu baginya untuk ngurusin soal hantu, sampai Vino datang membuatnya jadi lebih personal bagi Naya. Vino bahkan ditulis lebih dalam lagi dibandingkan dengan karakternya di film pertama. Kita bakal melihat apa yang dilakukannya di masa lalu, hubungannya dengan ibu. Deva Mahenra di sini gak lagi mainin karakter yang hanya tampak awkward. Persona dari karakternya digali, bahkan aku merasa cerita kali ini lebih cocok sebagai cerita dirinya. Like, harusnya dia yang tokoh utama. Seiring durasi berjalan, film memang terasa kayak ‘pindah’ dari Naya ke Vino. Soal idealisme menulis jadi terpinggirkan, karena memang Naya harus berurusan dengan hantu, yang juga mendadak diungkap punya konflik yang lebih gede. Resolusi kisah Vino actually lebih terasa earned. Lebih kuat ketimbang persoalan menulis Naya, yang terasa kayak dikasih reward dengan cara yang dibikin kayak kebetulan. Also, sisi Naya membuat usaha-usaha yang mereka ambil jadi konyol. Misalnya, pas mereka sepakat membantu si hantu seram dengan bikin konten di Youtube, usaha yang mereka lakukan untuk mencari satu tempat tertentu cuma merefresh komen. Mungkin relevan dengan jaman sekarang, tapi merefresh kolom komen enggak tertranslasikan sebagai usaha yang greget dalam sebuah pengalaman sinema.

Yang kayak gini nih yang bikin aku merasa era kekinian kita enggak asik untuk dijadikan periode cerita film

 

In the end, keseluruhan permasalahan Vino yang seputar keluarga tampak lebih urgen, lebih paralel dengan sosok hantu mengerikan. Walaupun memang tanpa Naya, hantu-hantu itu gak bakal bisa menyelesaikan urusan mereka.

Untuk menjawab galau kreatifnya Naya, film menyediakan jawaban/gagasan yang dikaitkan dengan kebutuhan manusia untuk terkoneksi. Permasalahan koneksi ini ditonjolkan film lewat bagaimana para hantu seperti Vino bisa dilihat manusia yang memegang benda-benda yang punya makna bagi si hantu. Bahwa mereka masih terkoneksi dengan hidup, dengan manusia, dan mereka butuh untuk deal with that connection. Jadi seaneh apapun cara kita konek dengan orang, yang terpenting adalah bagaimana koneksi itu bisa ada karena itulah yang membuat keberadaan kita bermakna. Naya berdamai dengan tipe tulisan yang ia kerjakan karena dia belajar yang terpenting adalah dia bisa konek dengan pembaca.

 

Dari tiga kepaduan; drama, horor, dan komedi, memang jadinya aspek komedi film ini yang tampak paling lemah. Atau seenggaknya, yang mengganggu tempo cerita. Dari segi kreasi, memang juga kreatif. Komedi diangkat lewat beberapa cara. Ada yang dari sketsa yang difungsikan sebagai jembatan dari adegan satu ke adegan lain.  Ada yang berupa celetukan yang mengomentari posisi karakter di titik cerita sekarang (cara yang juga sudah dilakukan sejak film pertamanya), lalu komedi yang benar-benar nyatu ke cerita – entah itu dari reaksi karakter, ataupun dari opini dan sikap mereka yang kocak. Itu semuanya fine dan memang menghadirkan ciri khas tersendiri buat film ini. Tapi kalo itu dilakukan dengan ‘mengorbankan’ pengembangan yang lain, membuat tempo cerita jadi sedikit terhambat, maka certainly I will have problem with that.

Daripada ngasih waktu untuk sketsa, kan lebih mending dipakai untuk benar-benar liatin backstory Vino dengan ibunya. Linear, gak usah lagi pakai flashback seperti yang dilakukan film ini. Flashback yang kumaksud di sini adalah soal Vino dan ibunya, yang tidak dilakukan linear oleh film melainkan lewat ujug-ujug revealing. Kalo flashback soal backstory si ‘hantu jahat’ sih, mungkin memang tidak bisa tidak (problemku untuk ini cuma.. c’mon, tau-tau ada sindikat jual organ, kayak di luar dunia cerita banget – permasalahannya gede sendiri) Anyway, yang jelas, penceritaan bisa lebih rapi kalo enggak kebanyakan komedi yang sebenarnya gak benar-benar menambah untuk cerita. Lagipula sebenarnya komedi sudah cukup terwakili dari aksi dan reaksi karakter. Tokoh sentral kayak Naya dan Vino (apalagi adik Naya dan temannya) dapat porsi ngelawak yang sudah efektif masuk ke dalam cerita. Karenanya, komedi mereka lantas jadi natural. Deva Mahenra punya comedic timing dan delivery dan persona yang bikin ngakak tanpa harus jadi lebay. Yang klop tektokan dengan Naya-nya Tatjana yang harus put up with situation. Sehingga sebenarnya gak perlu lagi sering-sering balik ke sketsa-sketsa yang kepanjangan.

 

 

 

 

Pembahasan ceritanya banyak, genrenya aja ada tiga; drama horor komedi, certainly ini bukan film yang gak punya tantangan untuk dibuat. Makanya ini perlu banget kita apresiasi, lantaran sudah cukup berhasil memadupadankan semua menjadi satu petualangan misteri yang menghibur dengan gaya dan karakter-karakternya yang nyantol. Kali ini protagonis utama agak sedikit kalah urgen ketimbang pasangannya, tapi film berjuang untuk tetap membuat protagonis sebagai sentral. Overall aku lebih suka film keduanya ini dibandingkan yang pertama. Formulanya sebenarnya hampir sama, tapi di film kali ini karakter dan bahasannya lebih dalam dan personal. Satu lagi hal yang dipertahankan film, hanya kalo yang ini menurutku harusnya dikurangi sedikit, yaitu porsi komedi sketsa dan komedi celetukannya. Mengganggu tempo dan membuat film jadi harus pakai flashback untuk adegan yang mestinya bisa runut.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for GHOST WRITER 2

 

 



That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang gimmick, seperti Naya yang nulis tapi harus nulis horor dan berlagak dukun terus? Apakah menurut kalian tidak mengapa seorang seniman (aktor atau penulis dsb) terus mengerjakan yang populer saja?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 


IVANNA Review

 

“Losing your head in a crisis is a good way to become the crisis.”

 

 

Horor adalah salah satu genre film paling populer di Indonesia (jaminan laku, untuk sebagian besar waktu!) but here’s one thing about horror in Indonesian mainstream cinema: Kita punya banyak sutradara horor yang kreatif, keren, dan could legitimately scare the shit out of us, akan tetapi jumlah penulis naskah yang benar-benar paham dan mengembangkan cerita horor tidak banyak. Kondisinya memang setimpang itu. Bahkan dalam film-film Joko Anwar yang disepakati secara umum sebagai top tier horor di perfilman kita, ketimpangan itu terasa. While the scare was great, atmosfernya mencekam total, tapi ceritanya either karakterisasinya lemah, punya fantasi yang terlalu ribet, atau berakhir dengan ending yang gak ngeresolve apapun. Kebanyakan film horor kita masih dipandang sebagai wahana seru-seruan untuk penonton (khususnya remaja). Padahal cerita horor, dalam bentuk terbaik, bisa menjadi perjalanan personal yang membekas karena horor pada dasarnya menggali ketakutan yang bersumber dari perasaan-perasaan terburuk, terkelam, yang bisa dialami oleh manusia. Kan, sayang sekali kalo horor hanya digunakan untuk jerit-jeritan.  Nah, bicara tentang sutradara horor yang keren, Kimo Stamboel juga adalah salah satu yang sudah dikenal berkat konsistensi menghadirkan warna dan gaya filmnya sendiri. Film sadis-sadis. Makanya kiprah Kimo untuk menggabungkan darah dengan supranatural selalu dinanti. Dengan Ivanna, tentu saja Kimo diharapkan memberikan dobrakan dahsyat buat seantero franchise Danur. But then again, horor hantu tanpa-kepala yang ia hadirkan di sini hadir tanpa tulang-punggung alias tanpa naskah yang kuat.

Ivanna versi Kimo sedikit berbeda dengan Ivanna yang pernah bikin kita jantungan di Danur 2: Maddah (2018) dulu, meski diperlihatkan lewat backstory dari foto dan buku diari bahwa keduanya adalah karakter yang sama.  Ivanna adalah gadis Belanda yang hidup di tahun 1943, ia dan keluarganya menumbuhkan rasa cinta kepada Indonesia, sampai-sampai adik Ivanna dinamai dengan nama orang Indonesia. Tapi ada perbedaan yang mencolok, yaitu kepalanya. Ivanna di film ini berkepala buntung.  Kalopun ada kepalanya, Ivanna di sini bukan diperankan oleh pemain sebelumnya, melainkan oleh Sonia Alyssa (Gadsam lain setelah Aulia Sarah di KKN yang mencuri perhatian lewat peran hantu!) Ivanna versi Kimo lebih violent. Dia balik menaruh dendam kepada orang-orang pribumi yang tadinya mulai perlahan ia kasih simpati, lantaran kebencian pribumi membuatnya tertangkap oleh prajurit Jepang yang lantas memenggal kepalanya. Backstory ini dilakukan Kimo lewat pengadeganan yang brutal dan naas (mind you, this is a 17+ movie) Kisah hidup Ivanna tak pelak jadi pengisi yang paling menarik yang dipunya film ini. Walaupun penempatannya dilakukan sebagai flashback eksposisi, tapi inilah bagian yang paling rich dan emosional yang dipunya oleh film. Pengennya sih mereka menggarap Ivanna lebih dalam, porsinya diperbanyak, tapi karena Ivanna adalah hantu yang jadi antagonis utama, it is kinda hard to do. Jadi, in a way, film ini masalahnya mirip ama film-film Marvel belakangan ini. Tokoh jahatnya jauh lebih menarik dan lebih berlapis karakterisasinya ketimbang protagonis utamanya.

Aku masih bingung kenapa di Maddah kepala Ivanna bisa normal lagi, tapi mari abaikan saja for the sake of the story.

 

Yang aku suka dari arahan film ini adalah Kimo took the time. Dia gak terburu-buru untuk langsung ke hantu-hantuan. Sutradara mengambil waktu untuk melandaskan semuanya, sambil bermain-main dengan aspek-aspek horor lain. Adegan openingnya saja kita udah lihat orang kena tembak tepat di wajah! Film berusaha mengeksplorasi dulu adegan penyerbuan rumah, bikin adegan-adegan seram dari atmosfer dan lingkungan. Selain juga tentunya memperkenalkan para karakter manusia, dan menghubungkan mereka dengan persoalan yang dialami oleh Ivanna.  Di sinilah letak ‘sayangnya’. Sayang naskah film ini tidaklah mendalam. Rating dewasa yang dipunya film hanya merujuk ke adegan pembunuhan yang sadis, bukan kepada kematangan film pada tema ataupun dialog. Tidak ada esensi di balik pengenalan karakter lain. Mereka hanya orang yang berada di rumah tempat mayat Ivanna bersemayam (mayat yang telah dijadikan patung)

Protagonis utama cerita ini adalah Ambar (dimainkan oleh Caitlin Halderman, dengan tantangan bahwa karakternya bermata nyaris buta) yang baru tiba di panti jompo bersama adiknya. Tentu saja tempat itu normal pada awalnya. Ambar kenalan dengan para penghuni; dua penjaga panti, tiga elderly, satu remaja keluarga nenek di sana. Mereka bersiap-siap untuk lebaran esok hari. Namun malamnya, Ambar gak sengaja menemukan basement rahasia. Di situlah mereka pertama kali melihat peti berisi barang-barang peninggalan orang Belanda, dan patung alias mayat Ivanna. Malamnya teror pertama dimulai. Suara gramofon, suara orang-orang ngobrol, dan ada pembunuhan. Praktisnya, lebaran mereka semua jadi horor saat mayat seorang penghuni ditemukan dalam keadaan tanpa kepala. See, sebenarnya ada lapisan di ‘panggung’ ini. Ada setting lebaran, lalu penglihatan yang terbatas, semuanya diintegrasikan ke dalam narasi. Cukup untuk membuat film ini enggak standar misteri di bangunan berhantu. Malah sempat ada elemen whodunit saat penghuni saling curiga siapa yang membunuh (walau enggak lama, well ya karena Ivanna basically duduk di ruang tengah mereka). Tapi karena gak ada paralelnya antara Ambar dan Ivanna; Kenapa Ambar harus rabun juga gak benar-benar ditegaskan selain untuk kepentingan ‘membuat lapangan horor jadi menarik’. Film begitu supaya Ambar ada alasan bisa melihat flashback dan dia jadi bisa nyeritain apa yang terjadi kepada karakter lain. Dialog-dialog mereka memang jadi lebih mirip kayak ngasih informasi misteri ketimbang interaksi kayak pergaulan orang beneran. Maka film ini malah bisa jadi tampak agak lambat di awal. Karena segala set up jadinya pointless.  Tanpa ada makna atau sekadar ikatan di baliknya, semuanya jadi kayak buang-buang waktu aja. Mending full bunuh-bunuhan aja, gak usah kenalin karakter-karakter.

Tadinya kupikir, cerita bertempat di panti jompo, dengan orang-orang tua dipertemukan dengan karakter remaja (bahkan ada anak kecil), bakal ngasih sesuatu komentar tentang gap generasi atau semacamnya – kayak di film X(2021), tapi ternyata enggak ada bahasan yang lebih mendalam di lingkup itu. Mati di sini memang seram dan menggemparkan, tapi ya hanya mati. Film sendiri bahkan tidak peduli amat sama karakter yang mati selain untuk showcase teknik gruesome. Kepentingannya hanya untuk melihat adegan mati. Benar-benar tidak ada development karakter di sini. Ambar di awal dan akhir cerita, adalah pribadi yang sama. Tidak ada belief ataupun sudut pandang yang ditantang. Heck, bahkan kupikir cast yang blasteran bakal berpengaruh ke persoalan Ivanna yang bule Belanda dengan pribumi. Enggak ada ternyata. Kasiannya, tanpa karakterisasi mumpuni, Ambar hanya jadi kayak perpanjangan gimmick penceritaan saja. Sebagai media flashback, sebagai mouthpiece eksposisi, sebagai pengasih solusi.

Untuk ngisi paragraf blok ini aja aku bingung. Biasanya kan ini tempat aku menguraikan pesan atau tema filmnya. What’s the movie really about. Aku gak tau apa yang didapat Ambar dari pengalamannya diteror Ivanna, atau juga apa yang ‘dipesankan’ Ivanna kepada kita. Yang bisa aku dapat dengan reaching adalah Ivanna jadi tragedi karena dia lose her head, secara simbolik ataupun beneran.  Dia dipenggal, setelah sebelumnya sempat mengutuk sebagai respon kebencian yang ia dapat. Apakah Ivanna salah di sini karena mengutuk balik? Apparently so, karena antitesisnya di sini – yaitu si Ambar – menggunakan kepala yang lebih dingin ketika krisis hantu di panti. Ambar lebih resourceful, dan dia bisa menemukan cara untuk mengalahkan Ivanna.

 

Kasian Ambar adegan jatuh ampe tiga kali

 

Sutradara seperti Kimo mau ngambil proyek Danur Universe jadi big deal karena perbedaan gaya yang memang drastis. Ini sebenarnya mirip ama Thor yang diambil oleh Taika Waititi. Mengubahnya dari serius, ke kini jadi konyol. Kimo mengambil dari franchise yang biasanya gak sadis, dan membuat film yang penuh darah. Membuat film yang lebih dekat ke franchise The Doll, yakni horor slasher. Tapi tentu saja horor tidak terbagi menjadi film horor jelek dan film horor sadis. Sebagaimana superhero tidak terbagi menjadi film superhero jelek dan film superhero serius. Semuanya dalam kelas masing-masing. Ada film konyol yang jelek, ada yang bagus. Ada horor sadis yang jelek, ada horor sadis yang bagus. Menilai film ini juga mestinya seperti itu. Tidak dari sejauh mana ia berbeda dari akar franchisenya, tapi dari pencapaiannya di kotak dia berada sekarang. Jadi di mana kita menempatkan Ivanna sekarang?

Harusnya sih di kotak horor slasher, ya. Sesuai dengan spesialisasi sutradaranya. Tadinya kupikir Kimo bakal dapat kebebasan penuh menggarap ini sesuai visi dan gayanya. Dan memang kita bisa melihat perbedaan tersebut. Film Ivanna jauh lebih kelam dan berdarah dibandingkan film-film lain di franchise Danur. Namun entah mengapa, aku masih merasa film ini masih belum terbebas sepenuhnya. Ada banyak pilihan gimmick horor mainstream. Terutama jumpscare. Here we have horor dengan pembuat yang jago bikin adegan berdarah-darah, tapi sebagian besar adegan seram masih bergantung kepada fake jumpscare (jumpscare yang bukan terjadi karena ada hantu) bersuara keras. This film is just loud. Kalo bukan oleh suara-suara, ‘berisiknya’ film ini bakal datang dari penjabaran atau eksposisi mitologi Ivanna (padahal udah ada adegan flashback juga). Bukti berikutnya horor Ivanna kurang maksimal kudapat di ‘final battle’ Ambar dengan Ivanna. Mereka nyemplung ke sumur tua, dan… adegannya kering banget. Like, literally. Air padahal elemen dan estetik yang hebat untuk cerita horor. Bandingkan saja dengan ‘final battle’ di dalam sumur pada film Ring. Heran juga kenapa Kimo gak jor-joran di sini. Padahal biasanya adegan akhir horor, apalagi slasher, pasti bakal gila-gilaan. Pemain utama bakal didorong fisiknya di sini, dan air bisa jadi medium yang hebat untuk nunjukin perjuangan yang ditempuh. Gak mesti full underwater, yang penting bikin supaya perlawanan terakhir itu tervisualkan. Di Ivanna ini, Ambar bahkan lukanya lebih merah saat jatuh ke basement ketimbang ke dalam sumur.

 

 

Ini certainly film yang lebih fun di antara franchise Danur lainnya. Paling beda. Paling sadis. Paling kelam. Arahannya juga paling menonjol. Terasa punya gaya tersendiri. Dari pengadeganan yang ngasih depth, kejadian film gak hanya berlangsung kiri ke kanan atau sebaliknya tapi juga masuk ke depan layar; membuat panggung yang imersif, sampai ke gimmick penceritaan horor yang lebih beragam. Film mau mengambil waktu untuk memperkenalkan karakter dan membahas backstory. Jika saja naskahnya diberikan kedalaman yang serupa, jika skenarionya lebih mengeksplorasi karakter ketimbang memikirkan jumpscare dan pembunuhan berikutnya, tentulah film ini bisa jadi horor slasher – gabungan bunuh-bunuhan dan supranatural – yang cemerlang. Tapi melihatnya secara objektif sekarang, film ini  style over substance, dengan beberapa gaya bahkan tidak tampil sebebas yang seharusnya bisa dilakukan.
The Palace of Wisdom gives 5  out of 10 gold stars for IVANNA

 

 



That’s all we have for now.

Ivanna adalah gadis Belanda yang bersimpati kepada rakyat pribumi, tapi karena bangsanya penjajah, dia tetap dibenci. Bagaimana pandangan kalian soal ini, apakah pribumi-pribumi itu berhak membenci Ivanna yang bagaimana pun juga ada di sana sebagai bagian dari agenda penjajahan?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 


MINI REVIEW VOLUME 4 (RANAH 3 WARNA, INCANTATION, DUAL, PERJALANAN PERTAMA, METAL LORDS, THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT, HUSTLE, CHIP ‘N DALE RESCUE RANGERS)

 

 

So, banyak yang nanya ‘Mini Review ini buat film-film yang kurang penting, ya?’ Nope, Enggak. Bukan. Wrong. Sama sekali tidak. If anything, justru buatku ini adalah tempat film-film yang lebih ‘susah’ untuk diulas. Karena seringnya, aku masukin film ke segmen ini karena aku gak bisa langsung merampungkan ulasan setelah nonton. Masih ada bagian yang harus dipertimbangkan. Masih ada bias yang masih harus diademkan. Atau masih merasa perlu untuk nonton filmnya lagi. Dan karena didiamkan dahulu itulah, filmnya jadi ‘tergilas’ film baru yang tayang berikutnya.  Jadi simpelnya, Mini Review ini gak ada hubungannya ama kelas kepentingan film, melainkan hanya soal aku telat menyelesaikan proses nulis atau nontonnya saja.

Buktinya? Nih lihat aja judul-judul yang terangkum di Volume 4 ini!

 

 

CHIP ‘N DALE: RESCUE RANGERS Review

Sebagai anak 90an, mengatakan aku cukup akrab dengan Chip ‘N Dale sungguhlah basa-basi. Dua tupai ini muncul di setiap komik dan majalah Donal Bebek yang kubaca (di kita nama mereka ‘diterjemahkan’ jadi Koko dan Kiki). Dan game petualangan mereka di Nintendo, jadi favoritku waktu kecil. The game was like monopoly, bisa merusak persahabatan. Aku actually bertengkar dengan teman, karena di situ kita bisa salah angkat teman sendiri, dan ‘gak sengaja’ melempar mereka ke jurang. Yea, ‘gak sengaja’ hihihi

Anyway, aku berasa seperti anak kecil lagi saat nonton film ini. Demi ngeliat karakter-karakter kartun dari masa lalu tersebut. But also, conflicted, karena ya tahulah gimana film-film dari nostalgia masa kecil dimanfaatkan sebagai parade IP semata.  Chip ‘N Dale ini juga sebenarnya dibuat dengan niat seperti itu. Namun sutradara Akiva Schaffer mendorong konsep ‘hey, here are your favorite childhood characters‘ lebih jauh lagi. Yang menyenangkan dari film ini adalah mereka memang memperlihatkan perkembangan. Mereka semacam membangun dunia-cerita yang meta, dan mengeksplor cerita dari sana. Dale (disuarakan dengan pas oleh Andy Sandberg) capek jadi sidekick Chip di serial kartun mereka, sehingga memutuskan untuk nyari proyek solo, dan begitulah akhirnya duo ini pisah. Hingga sekarang. Dale operasi dirinya jadi animasi 3D untuk stay relevant dan Chip kerja di balik meja. Dengan setting yang menarik tersebut, film seperti berusaha ngasih lihat perkembangan animasi di balik nostalgia. Mencoba membayangkan gimana para tokoh kartun ini sebagai aktor beneran. Dan hasilnya memang lucu dan supermenarik. Banyak karakter dari berbagai kartun dihadirkan, dan permasalahan mereka disangkutkan dengan soal kartun-kartun bajakan.

Tapi ya itu tadi, film ini tidak pernah diniatkan untuk dibuat mendalam. Hey, ini ada masalah bootleg, ini ada issue soal trend animasi, mari kita bikin cerita yang actually memberikan gagasan tentang semua itu. Tidak. Chip ‘N Dale bukan great film karena memilih untuk membangun penceritaan berdasarkan surprise dan nostalgia value, sehingga banyak menomorduakan kaidah-kaidah film beneran. In the end, ini masih kayak kartun mereka dulu, tapi dengan setting berbeda. Kuharap film ini dibuatkan juga versi gamenya.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for CHIP ‘N DALE: RESCUE RANGERS.

.

 

 

DUAL Review

Kita biasanya gak peduli sama apa yang kita punya, sampai sesuatu yang dipunya itu hendak direbut oleh orang lain. Kadang nilai sesuatu baru kita hargai, baru terasa, saat kita sudah kehilangan. Kupikir bahasan tentang hal tersebut bakal selalu jadi bahasan yang tragis. Tapi sutradara Riley Stearns somehow berhasil mengarahkannya ke dalam cerita dark comedy. Aku merasa bersalah juga, banyak ketawa miris melihat Karen Gillan yang di sini jadi Sarah yang hidupnya dicolong oleh kloningannya sendiri.

Sarah orangnya pendiam, gak asik, dia bosan ama hidupnya. Gak ada passion lagi ke pasangannya, juga selalu menghindar saat ditelpon ibunya. Momen pertama karakter ini kocak-tapi-sedih banget adalah ketika dia biasa aja saat dikasih tahu dokter hidupnya tinggal beberapa waktu lagi. Sarah justru kayak senang ketika dia sadar masalah hidupnya bakal jadi masalah kloningan. Ya. di dunia antah-berantah tempat tinggal Sarah, ada teknologi klone yang disediakan khusus untuk keluarga pasien yang hendak meninggal. Supaya gak sedih-sedih amat lah. Masalah baru muncul ketika Sarah gak jadi mati, jadi kloningannya sesuai hukum harus ‘dimatikan’ tapi si kloning menjalani hidupnya lebih baik daripada yang Sarah lakukan. Bahkan orang-orang terdekat Sarah lebih suka si kloningan ketimbang Sarah yang asli. Di titik cerita ini, aku benar-benar merasa gak enak udah ketawa.

Kupikir itulah kekuatan sekaligus juga kelemahan film Dual. Berhasil menemukan titik tengah tempat penonton bisa mengobservasi sekaligus berefleksi juga. Medan yang ditempuh film sebenarnya sulit. Sarah, misalnya, harus tampil ‘jauh’, terlepas dari penonton. Dan memang susah ngikutin karakter yang gak ada semangat sama sekali seperti ini. Tapi ketika waktunya tiba, Sarah harus bisa mendapat simpati, dan itu hanya bisa dilakukan dari seberapa kuatnya film menjalin kita lewat situasi metafora. Dual meminta banyak kepada kita.  Tapi memang ketika konek, film ini jadi seru. Paruh akhirnya buatku bisa jadi celah untuk film mulai menggali lebih dalam perihal hidup dan eksistensi. Sayangnya, film ini memilih untuk membungkus cerita dengan cara yang seperti mengelak dari bahasan tersebut. Dan itu membuat journey Sarah jadi mentah, karena ternyata film hanya menjadikan semuanya sebagai ‘hukuman’. Bukan pembelajaran baginya.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for DUAL

 

 

 

HUSTLE Review

Meskipun setting ceritanya memang di lingkungan basket, tapi sutradara Jeremiah Zagar tidak semata membuat film tentang olahraga basket, melainkan lebih sebagai drama tentang keluarga dan ambisi. Sehingga kita gak perlu untuk jadi penggemar basket dulu untuk menonton Hustle. Malah, dijamin, Hustle akan menyentuh setiap penonton yang menyaksikan ceritanya.

Adam Sandler sekali lagi membuktikan kematangan aktingnya. Dengan ini namanya tidak lagi disinonimkan dengan komedi-komedi receh. Sandler justru memperlihatkan taringnya sebagai aktor drama keluarga yang punya range natural sehingga karakter yang ia mainkan terasa hidup. Di sini dia adalah mantan pebasket yang kini jadi pencari talent karena cintanya dia terhadap olahraga ini. Dan memang penampilan akting Adam Sandler-lah yang membuat film ini menyenangkan untuk diikuti. Yang membuat naik turun dramanya  tidak seperti bola basket yang didrible keras. Melainkan melantun dengan emosional. Center film ini adalah hubungan antara Sandler dengan pria yang ia temukan jago bermain basket, tapi pria ini not yet ready. Jadi dia harus digembleng, dengan segala permasalahan seputar tim Sandler tidak percaya, dan Sandler melatih orang ini menggunakan biaya dari kantongnya sendiri.

See, Sandler sendiri di sini harus bekerja sebagai tim. Apalagi lawan mainnya kebanyakan adalah pemain basket beneran yang baru sekali ini berakting. Mungkin karena permainan Sandler tinggi di atas yang lain itulah, aku merasa agak kurang konek dengan aktor lain. Terutama lawan mainnya. Aku tidak benar-benar merasa si pria bernama Bo ini pengen banget jadi pemain basket. The reason he played juga gak ditonjolin kuat, hingga ke paruh akhir saat permasalahan baru personal bagi dirinya. Inilah yang membuatku agak sedikit kurang berada di belakang perjuangan mereka saat awal hingga pertengahan cerita. Untuk sebagian besar waktu aku merasa duduk di sana untuk melihat the magic of basketball cinema saja, karakternya kurang. Hanya Sandler yang menonjol.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HUSTLE

 

 

 

INCANTATION Review

Yup, there’s no doubt film ini menunggangi kepopuleran The Medium tahun lalu. Hadir dengan tema horor supernatural, kepercayaan dewa-dewa, dan bercerita dengan teknik found footage.

Dalam beberapa hal, sutradara Taiwan Kevin Ko sebenarnya melakukan lebih baik daripada The Medium. Dia bercerita dengan konsep found footage yang lebih solid ketimbang The Medium yang di awal malah tampak seperti mockumentary lalu lantas ngescrap konsep itu dan beralih jadi full cuplikan kamera. Karakter utamanya juga lebih kuat. Incantation ini adalah cerita tentang seorang perempuan yang di masa lalu pernah melanggar suatu ritual, dan sekarang dampak dari perbuatannya berhasil catching up, dan nyawa putri ciliknya jadi taruhan. Gak kayak Medium, perspektif tokoh utama film Incantation ini lebih fokus dan gak pindah-pindah. Dari aspek horor, selain gimmick pov langsung dari kamera, Incantation juga punya elemen body horror yang langsung menyerang fobia penonton. Diperkuat juga dengan bahasan soal persepsi; gimana kutukan dan berkah sebenarnya tergantung cara orang memandangnya.

Hanya saja film ini gak pede. Atau mungkin, film ini terlalu mengincar seru-seruan ketimbang bercerita dengan benar. Karena film ini actually ngebutcher kejadian atau runtutan peristiwanya. Lalu disusun dengan alur bolak-balik, yang seperti tanpa bendungan tensi. Kita akan bolak-balik antara rekaman video karakter di masa lalu dengan di masa sekarang, yang seringkali setiap perpindahan bikin kita lepas dari kejadian sebelumnya. Sehingga nonton ini jadi kerasa capeknya aja. Keseraman, apalagi journey karakternya, jadi nyaris tidak terasa karena sibuk pindah-pindah.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for INCANTATION.

 

 

 

METAL LORDS Review

Sebelum Eddie Munson yang bikin semua orang bersimpati, sebenarnya Netflix sudah punya kisah rocker baik hati. Metal Lords garapan sutradara Peter Sollett berkisah tentang dua remaja sekolahan misfit yang mencoba naik-kelas popularitas dengan membentuk grup metal supaya bisa menangin Battle of the Bands.

Selain sebagai cerita coming of age dan persahabatan dua remaja cowok (yang akan involving salah satunya deket ama cewek sehingag mereka jadi renggang), film ini punya ruh metal yang kental. Sehingga tampak seperti sebuah surat cinta terhadap genre musik tersebut. Film membahas tentang bagaimana genre ini di kalangan anak jaman sekarang. Yang lantas semakin berdampak kurang bagus bagi keinginan dua karakter sentralnya untuk populer. Pembahasannya sebenarnya cukup formulaik, alias gak banyak ngasih sesuatu yang baru. Tapi hubungan antarkarakter yang menghidupi ceritanya feels real. Seperti saat melihat Eddie di serial Stranger Things yang membuka mata bahwa, yah, rocker juga manusia, film ini juga memberikan kita insight di balik apa yang dianggap banyak orang sebagai stereotipe seorang anak penyuka musik keras.

Ngomong-ngomong soal keras, I do feel like film ini masih sedikit terlalu berhati-hati, like, masih terlalu ngincar feel good moment. Sedikit pull out punches. Tidak banyak adegan memorable terkait drama. Enggak menjadi sedalam Sing Street. Tapi untuk urusan musik metal, well, film ini memang cukup cadas.  Di adegan battle of the bands, kita akan dapat satu performance musikal yang keren. Bersama satu transformasi karakter yang sama kerennya!

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for METAL LORDS.

 

 

 

PERJALANAN PERTAMA Review

Ini film paling baru yang masuk daftar Mini Review. Artikel ini kurampungkan Jumat, sedangkan Kamisnya aku baru saja menonton film ini. Aku sebenarnya punya waktu untuk nulis ini ke dalam review panjang. Namun pas nulis kemaren, aku merasa perlu lebih banyak waktu. Sebelum akhirnya aku sampai pada kesimpulan, bahwa karya Arief Malinmudo ini sebenarnya memang mengandung nilai-nilai baik. Bukan hanya kepada anak, ini bisa dijadikan pelajaran buat kita semua untuk tidak memandang sesuatu dengan mengedepankan kebencian. Tapi dalam penceritaannya, masih clunky. Cerita ini punya dua sudut pandang, dan film tidak mulus – tidak benar-benar paralel dalam membahas keduanya.

Jadi ini adalah kisah tentang anak kecil yang dibesarkan oleh kakeknya. Dia tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya, kakeknya masih menyimpan rahasia. Sehingga si anak kesel. Ketika si Kakek pergi mengantarkan lukisan pesenan orang, si anak yang tadinya ogah-ogahan akhirnya mau ikut menemani. Di tengah perjalanan, lukisannya dicari orang, sehingga mereka harus menemukan. Tapi masalahnya, si anak gak tahu lukisan kakek seperti apa. Dan si kakek gak mau cerita. Film benar-benar ingin menyampaikan perasaan kesal si anak kepada kita sehingga di paruh awal cerita banyak sekali bagian-bagian narasi yang bikin kesel dan konyol. Ini adalah jenis film yang gets better di akhir, saat semuanya sudah diungkap. Tapi untuk film ini, bagian tersebut agak sedikit terlalu lambat datangnya. Membuat kita berlama-lama di bagian yang gajelas  di awal.

Dialog film ini sebenarnya cukup kaya oleh lapisan. Kayak kalimat ‘orangnya sudah ketemu’ di akhir film yang bermakna dua karena diucapkan oleh karakter yang di awal deny bahwa perempuan harus dicari, bukan mencari. Aku gede di Sumatera, jadi aku tahu Melayu dan Sumatera Barat yang jadi latar film ini memang sangat kuat dalam perumpamaan, dan nilai-nilai budi yang baik. Film ini berusaha menjadi sesuai latarnya itu, tapi tidak benar-benar mulus melakukan. Sehingga di awal-awal banyak muatan adegan-adegan yang seperti pesan-pesan random, kurang integral dengan permasalahan inner karakter. Beberapa malah konyol. Kayak ada adegan mereka ngejar bis, nganterin seorang penumpang anak kecil yang tertinggal. Dan lalu ada suara ibunya yang ngomen dari atas bus, lalu lantas si ibu ngajak anaknya selfie. Konyol sekali.

The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for PERJALANAN PERTAMA.

 

 

 

RANAH 3 WARNA Review

Satu lagi cerita dari tanah Minang, yang juga menjunjung nilai-nilai kebaikan dan berakar kuat kepada adat. Bedanya, Ranah 3 Warna diadaptasi dari novel, dan merupakan cerita sekuel. Sehingga punya advantage dari sisi dunia-cerita dan karakter-karakter yang sudah lebih established. Tapi itu tidak lantas berarti lebih baik dalam penceritaan.

Ranah 3 Warna memang lebih imersif. Di sini karakternya akan berdialog minang dan hanya berbahasa Indonesia kepada karakter yang gak bisa bahasa daerah. Persoalan bahasa benar-benar dikuatkan, karena setting tempat benar-benar masuk ke dalam narasi. Sesuai judulnya, akan ada 3 daerah, banyak budaya, banyak bahasa yang jadi panggung dan mempengaruhi karakter sentral. Tapi ini juga lantas membuat film jadi episodik, karena Ranah 3 Warna diarahkan Guntur Soeharjanto lebih seperti novel, ketimbang seperti film. Dalam film biasanya, konflik karakter akan dibuild up, stake naik, dan solusi baru ketemu di babak akhir cerita, sehingga segala usaha dan pay offnya jadi terasa gede sebagai akhir perjalanan. Ranah 3 Warna ini, konflik itu hadir sebagai permasalahan yang sama dihadapi oleh karakter di setiap tempat yang berbeda. Mereka tidak mengembangkan untuk satu film, tapi satu tempat. Lalu mengulang permasalahan itu ketika karakter kita pindah ke tempat yang baru. Jadinya terasa sangat repetitif.

Apa permasalahannya? soal kesabaran. Jadi ketika di Bandung, karakter kita dihadapkan kepada situasi yang menguji kesabarannya, lalu dia belajar dari nasihat orang, dan lalu ketemu solusi. Adegan berikutnya, pindah tinggal di negara lain. Dan formula konfliknya berulang kembali, walaupun seharusnya karakter utama sudah belajar tentang kesabaran itu di problem sebelumnya. Penonton awam mungkin gak akan masalah, apalagi karena film ini dihidupi oleh karakter-karakter menyenangkan, dengan pesan-pesan yang baik. Film ini bakal menang award cerita berbudi luhur (kalo ada). Tapi sebagai film, ini masih berupa pesan yang disampaikan berulang kali. Nonton ini, aku yang merasa harus belajar sabar.

The Palace of Wisdom gives 5 gold star out of 10 for RANAH 3 WARNA

 

 

 

THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT Review

Dibuka oleh film meta, ditutup oleh film meta. Yup, sama seperti Chip ‘N Dale yang mengangkat kisah petualangan beneran dari aktor film kartun, film Unbearable ini juga begitu. Mengangkat kisah aktor yang harus ngalamin petualangan beneran. Aktor yang dimaksud adalah Nicolas Cage, yang di sini memainkan versi aktor dari dirinya sendiri. Karakter Nick Cage yang ia perankan dibentuk dari meme, gosip, isu, dan perjalanan karir ikonik yang ditempuhnya dalam real life. So yea, ini adalah film yang sangat lucu, bermain-main dengan karir aktor pemerannya.

Sutradara Tom Gormican tidak lantas membuatnya sebagai perjalanan nostalgia. Melainkan benar-benar mengolah cerita dari sudut pandang aktor Nick Cage. Bagaimana jika persona tersebut dijadikan karakter. Dimainkan langsung oleh Nicolas Cage hanya menambah lapisan di dalam karakter ini. Jika film harus bisa memblurkan antara fiksi dan realita, maka film ini garis tersebut tidak bisa lebih blur lagi. Penceritaannya dibuat ringan, sehingga tidak lantas ujug-ujug jadi  Birdman versi real. Lucunya, film ini membuat hal menjadi lebih besar lagi dengan membenturkan yang namanya film character driven, dengan film action. Dua tone ini meluncur mulus, dan ini membuktikan betapa Nicolas Cage benar-benar fluid dan versatile, di atas punya selera humor yang juga juara.

Tentu saja film bukan hanya tentang satu orang, walaupun basically build around ‘myth’ tentang dirinya. Film juga punya karakter-karakter lain. Dan di sini, semua karakter berhasil mencuri perhatian. At heart, film ini juga adalah tentang persahabatan. Nick Cage akan berteman dengan seorang yang ternyata berkaitan dengan kelompok mafia. Dan persahabatan mereka, yang involving mereka menggarap naskah film bersama-sama menjadi highlight yang bikin ini semakin menyenangkan untuk diikuti.  Jika kalian snob film, film ini akan menghibur tanpa ‘memangsa’ sel otakmu. Jika kalian suka film action heboh, film ini akan membuatmu lebih dari sekadar puas. Jika kalian suka Nicolas Cage, kalian akan treasure this movie forever.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT.

 

 

 

That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 


MEN Review

 

“No one can send you on a guilt trip without your permission”

 

 

Sebagai cowok, tak bisa kupungkiri, tuntutan untuk tampil ‘kuat’ itu seringkali memang ada. Bahkan dalam bentuk terkecil, lingkup sehari-sehari sekalipun, cowok sedapat mungkin diharapkan untuk tidak menunjukkan kelemahan. Tidak memperlihatkan sisi ke-vulnerable-an. Mau itu kenalan atau berdebat, cowok harus memulai duluan, dan harus dapet the last word. Kalo dibales, lawan terus. Cowok juga pantang nunggu disuruh, harus langsung take action. Permisi? Gak perlu izin-izinan. Cowok harus bisa ambil inisiatif duluan. Tuntutan-tuntutan sosial seperti itu memupuk ego para cowok. Hingga ke titik gak sehat cowok harus terus menunjukkan dominasinya. Walaupun mereka tahu mereka yang salah, walaupun mereka tahu mereka yang ngarep, mereka yang butuh, cowok akan melakukan apapun untuk assert the dominance.  Akar konflik utama dalam Men, horor simbolik terbaru Alex Garland basically adalah cowok yang mengemis untuk dimengerti oleh ceweknya, tapi karena dia cowok, maka ia menunjukkan itu dengan membuat semuanya jadi toxic, menyengsarakan, dan mengerikan bagi semua orang. Terutama bagi ceweknya.

Cewek yang dimaksud bernama Harper (diperankan oleh Jessie Buckley yang benar-benar ngasih gambaran seseorang yang terluka dalam secara emosional). Harper menyewa rumah untuk beberapa hari di pedesaan di Inggris.  Niatnya sih dia mau healing, karena baru saja mengalami ‘perceraian’ yang dahsyat dengan suami. Mereka bertengkar, Harper ngancem pergi, dan si suami ngancem akan bunuh diri kalo Harper pergi. And he did it. Harper menyaksikan raut hopeless suaminya saat pria itu terjun dari atap apartemen. Adegan peristiwa itu yang terus terbayang di benak Harper sehingga dia berlibur ke desa untuk menghilangkan semua itu. Namun orang-orang di desa itu tampak gak beres. Semua pria yang Harper temui di sana, mulai dari empunya rumah, polisi, anak remaja, hingga pendeta (kesemuanya diperankan oleh aktor yang sama, Rory Kinnear) cenderung mempersalahkan dirinya. Mengjudge dia atas hal-hal yang ia lakukan, termasuk perihal kematian suami. Keadaan menjadi semakin menakutkan bagi Harper tatkala seorang pria misterius tanpa-busana muncul di halaman rumah sewaannya.

Seolah dia adalah Adam, yang ingin menuntut tanggung jawab dari Harper yang jadi Hawa

 

Rural atau Folk Horror yang efektif selalu menggali lebih dalam daripada sekadar orang kota berkunjung ke desa yang ternyata mengerikan. Walaupun memang tak sedikit juga horor yang bekerja cuma sampai pada level desa dipandang sebagai tempat yang angker, atau kuno, dan sebagainya, tetapi sesungguhnya yang namanya horor selalu berasal dari dalam. Untungnya, Alex Garland paham hal tersebut. Dalam Men ini, Garland tidak membuat film dangkal yang horornya berasal dari luar. Ya, orang di desa yang dijumpai oleh Harper bertingkah aneh, kurang ajar, dan menyeramkan. Tapi benarkah demikian? Garland mengangkat pertanyaan tentang itu dengan membuat pria-pria tersebut diperankan oleh aktor yang sama. Apakah ceritanya mereka semua kembar? Tentu tidak. See, yang namanya film selalu adalah soal perspektif. Maka, Garland mengarahkan kita untuk melihat orang yang melihat mereka semua sebagai orang yang sama. Kita difokuskan kepada Harper. Perempuan yang berkunjung demi melupakan traumanya. Trauma inilah yang sebenarnya jadi sumber horor yang dirinya alami selama di sana. Trauma inilah yang harus dia resolve, yang harus ia konfrontasi supaya benar-benar bisa ‘sembuh’. Dengan itulah, Men menjelma menjadi rural horor yang efektif karena dia menggali horor bersumber dari emosional karakter utamanya.

Garland menggunakan kontras untuk menguarkan perasaan terasing. Desa yang hijau dan tampak sungguh hidup kayak lokasi negeri dongeng dapat jadi tempat yang begitu terpencil rasanya bagi Harper. Rumah nyaman dapat jadi creepy dan berbahaya saat dirinya sendirian, Selain itu, banyak simbol-simbol, metafora, yang digunakan Garland untuk menggambarkan keadaan horor yang menghantui Harper. Salah satu simbol yang ia gunakan adalah simbol agama. Begitu Harper sampai di rumah sewaan di desa di menit-menit awal cerita, Garland sudah langsung menanamkan pohon dan buah apel di layar. Dengan segera menekankan antara persamaan antara Harper yang memetik apel tanpa ijin dengan Hawa. Poin Garlan di sini adalah bahwa perempuan dipersalahkan. Poin yang jadi Harper’s belief sebagian besar durasi.

Memahami film ini memang agak tricky. Apalagi membuatnya, aku yakin. Kenapa? Karena ini adalah cerita yang mencoba membahas relasi antara laki-laki dan perempuan, antara maskulin dan feminim, yang ceritanya dibuat oleh laki-laki, tapi mengambil sudut pandang perempuan. Bahkan, aku mereview ini saja ngeri. Takut terdengar seperti mansplaining perasaan yang dialami oleh perempuan dalam posisi Harper. Perempuan yang merasa dipersalahkan. Yang dituduh telah menyebabkan suaminya bunuh diri. Dia percaya dia gak salah, bahwa suaminya mati karena pilihan sendiri. Bahwa mereka bertengkar karena suaminya semakin toxic. Begitu banyak film yang membahas mengenai perempuan di dunia yang didominasi oleh racun maskulinitas pria, yang mencoba mengangkat sudut pandang perempuan sebagai korban dan membuat semua karakter pria sebagai misoginis brengsek. Film-film itu biasanya membuat protagonis perempuan yang gak-punya salah dan keseluruhan film menunjukkan bagaimana dunia terbentuk menjadi tempat berbahaya bagi perempuan. Film Men ini tidak seperti itu. Di sini letak tricky-nya. Tentu, film ini tidak meleng dari perangai pria yang lebih suka menyalahkan perempuan daripada ngakuin ke-vulnerable-an sendiri, tapi Men juga berani mengangkat bagaimana perempuan juga tidak sepenuhnya benar. Karenanya, salah-salah film ini bisa terlihat sebagai kelitan pria bahwa sebenarnya mereka gak bersalah.  Harper memang punya salah. Dia merasa dihantui seperti itu (mendengar gema suaranya aja dia jadi takut sendiri) tentu karena dia merasa bersalah terhadap sesuatu. Nah, penggalian terhadap itulah – realisasi Harper terhadap salahnya apa – itulah yang berusaha dihadirkan film yang have no choices menceritakannya dengan simbol-simbol dan penggambaran membingungkan. Semata karena film ingin respek terhadap sudut pandang yang berusaha digambarkan.

‘Kesalahan’ Harper cuma dia membiarkan dirinya kena guilt trip dari suami, dan kemudian dari para pria di desa, dengan terus avoiding confrontation. Hanya setelah dia mau duduk membicarakan masalah dengan para horor di akhir cerita itulah, Harper akhirnya menemukan kedamaian. Bahwa dia kini yakin dirinya sepenuhnya tidak-bersalah, tidak ada lagi ruang keraguan. Yea, Harper mungkin mematahkan hati suaminya (digambarkan lewat para pria di desa yang patah kaki dan tangan terbelah karena ‘ulah’ Harper membela diri) tapi bukan dirinya yang membuat suaminya bunuh diri. Dengan menunjukkan ‘kesalahan’ Harper, film ingin memperlihatkan bahwa most of the time perempuan bisa terus dipersalahkan hanya karena sikap pria yang tak terkonfrontasi.

 

Adegan hamil paling disturbing!!

 

Jika penampilan eerie Kinnear yang begitu luas rangenya itu belum berhasil bikin kalian takut, jika segala kilasan imaji-imaji patung nan surealis belum bikin kalian merinding, jika gema suara Harper belum bisa bikin kalian merapatkan kepala ke dalam selimut, well, Men masih punya satu senjata-horor lagi.  ‘Senjata’ yang berhasil bikin film ini jadi salah satu horor tergila. Garland juga menyiapkan elemen body-horor ke dalam cerita. Menjelang akhir kita akan disuguhkan pemandangan disturbing ketika si pria telanjang misterius melahirkan seorang pria, dan pria itu melahirkan pria lain yang dijumpai Harper di desa. Siklus melahirkan yang terus berulang. Membayangkan adegan cowok melahirkan aja udah bikin makan malam serasa mau melompat keluar. Film ini punya berkali-kali melahirkan bukan bayi tapi manusia dewasa, lengkap dengan darah dan cairan ketuban, dan ditambah ngeri pula dengan ‘lubang’ lahir yang berbeda-beda. Ada yang menyeruak dari punggung, ada yang dari mulut, ugh! Benar-benar horrifying! Semengerikan makna yang dikandungnya. Bahwa cowok di mana-mana sama, dan mereka seperti itu karena turun-temurun dibesarkan dengan pandangan – atau juga tuntutan – untuk menjadi toxic seperti yang sudah kujelaskan di pembuka ulasan.

Ngomong-ngomong soal makna, film Men yang sedari awal enak untuk dikulik dan dipikirkan mendadak terasa kayak cuek di akhir. Simbol dan kejadian-kejadian sureal diarahkan untuk menjadi ambigu dalam usaha film untuk tak terlihat menyalahkan karakter perempuannya. Ambigu, sampai-sampai di akhir cerita penonton malah jadi tidak yakin apakah semuanya nyata atau tidak. Jika ini tidak nyata, tapi toh film memperlihatkan bekas-bekas kejadian. Tapinya lagi jika nyata, film memperlihatkan banyak hal yang mengundang pertanyaan bagaimana bisa itu semua beneran terjadi tanpa ngasih jawabannya. Semuanya tampak seperti dilempar sebagai open interpretation, walaupun di titik akhir itu kita bisa menyimpulkan makna dan gagasan cerita. Menurutku pilihan ini dapat membuat penonton jadi bingung dan merasa tidak ada pay-off. Dan aku gak yakin ini film membuat pilihan yang benar dalam mengakhiri ceritanya.

 

 

Dari rural horor ke body horor, sesungguhnya film ini adalah gambaran horor yang surealis dari tantangan /kesulitan yang harus dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Makanya film ini terasa disturbing luar dalam. Luarnya penuh imaji yang aneh dan benar-benar bikin gak nyaman. Dimainkan dengan luar biasa sehingga nuansa creepy itu benar-benar terdeliver. Sementara dalamnya sukses bikin kita tercenung, merenungkan relasi perempuan dan laki-laki yang kian gak-sehat. Film berusaha respek dan tidak ikut menyalahkan satu pihak, sehingga pada akhirnya memilih untuk menjadi ambigu. Dan dengan menjadi itu, film sedikit kehilangan powernya. But in the end, film ini tetap salah satu penceritaan horor yang menohok. Terasa beneran seram karena mengangkat hal dari dalam. Hal yang memang beresonansi dengan permasalahan mendasar manusia. Women and men.
The Palace of Wisdom gives 7.5  out of 10 gold stars for MEN

 

 

That’s all we have for now.

Menonton film di atas, apakah ada terbersit dalam hati untuk merasa kasian kepada laki-laki tokoh ceritanya? Bagaimana pendapat kalian tentang si pria-hijau-telanjang?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THOR: LOVE AND THUNDER Review

 

“The saddest thing about betrayal is it never comes from your enemies”

 

 

Dikhianati itu memang gak enak. Rasanya nyelekit banget. Bayangkan kita sudah menaruh harapan kepada orang,  kita sudah begitu percaya mereka akan either memegang rahasia, menepati janji, atau selalu ada saat dibutuhkan, tapi ternyata mereka tidak menganggap harapan dan kepercayaan kita kepada mereka sebagai sesuatu yang berharga. Di situlah letak sakitnya; yang disebut berkhianat itu pelakunya bukan musuh yang kita benci. Tapi justru orang yang kita sayang, Yang kita percaya. Penguasa, misalnya. I hate to get political saat ngomongin superhero yang harusnya fun, tapi sepertinya memang itulah yang sedikit disentil oleh Taika Waititi dalam projek Thor kedua yang ia tangani; Thor keempat – Love and Thunder. Origin karakter penjahat utama di film ini ia hadirkan sebagai seseorang yang merasa dikhianati oleh dewa yang ia puja. Bahwa dewanya tidak menolong saat sedang kesusahan. Bahwa dewa hanya mau dipuja. Sehingga si karakter bersumpah untuk membasmi semua dewa di dunia. Tentu saja ini jadi cikal konflik yang menarik, karena protagonis yang kita semua sudah kenal di cerita ini adalah Thor, yang juga seorang dewa.

Namun Thor bukan dewa sembarang dewa. Thor telah melalui begitu banyak. Seperti yang dinarasikan oleh si monster batu Korg (disuarakan langsung oleh pak sutradara) lewat adegan eksposisi yang merangkum perjalanan karakter Thor dari tiga film sebelumnya, Thor adalah dewa yang ngalamin naik-turunnya kehidupan. Dia bukan dewa agung yang duduk di singgasana emas sambil makan anggur. Thor adalah dewa superhero yang berjuang menyelamatkan dunia. Thor pernah terpuruk hingga badannya gemuk. Thor pernah kehilangan sahabat, saudara, keluarga, dan bahkan pacar. Jika ada dewa yang bisa menaruh simpati kepada Gorr (nama karakter yang  dendam kepada para dewa itu) maka Thor-lah dewanya.

Setting dan latar cerita film ini sebenarnya sudah perfect. Lupakan dulu multiverse dan karakter Marvel lain (tim Guardians of the Galaxy yang sempat muncul sebagai penyambung film ini dengan sebelumnya pun akan segera menyingkir), Thor Empat ini kembali kepada sebuah cerita yang berdiri di dalam franchisenya sendiri. Film ini hadir dengan stake gede yang personal, yaitu pemusnahan para dewa (termasuk Thor) sekaligus mengangkat pertanyaan bukankah sebaiknya memang para dewa penguasa lalim itu musnah saja? Sebelum membahas itu lebih lanjut, film menghadirkan satu aspek menarik lagi buat Thor. Supaya Thor (Chris Hemsworth tampak makin prima – physically and mentally – mainin karakter ini) semakin tergali tidak cuma sebatas bereaksi terhadap tindakan Gorr, dia dibuat berkonfrontasi dengan Jane Foster (Natalie Portman, welcome baaacccckkk!) yang kini punya kekuatan dan atribut serupa si Dewa Guntur, lengkap dengan senjata lama milik Thor yakni Palu Mjolnir. So in a way, film dengan gaya tuturnya yang kocak ini turut menggali gimana Thor merasa ‘dikhinati’ oleh senjata lamanya yang kini memihak mantannya.

Need more Darcy. Darcy is the GOAT!

 

Meski berusaha untuk hadir sebagai kisah sendiri (another classic adventure of Thor!) tapi memang terasa film ini sedikit kerepotan dengan karakter-karakternya. Dalam pengembangannya, Thor terasa jadi kurang sepadan dengan Gorr, dalam artian journeynya tidak benar-benar paralel. Pun sedari awal, alur film ini bergerak lewat keputusan dan aksi dari Gorr, yang posisinya adalah penjahat. Film ini mirip sama Avengers Infinity War (2018), yang Thanos, penjahatnya lebih cocok sebagai karakter utama sementara para karakter superhero bereaksi terhadap tindakan yang ia lakukan.  Di sisi lain, aspek ini mengindikasikan satu hal positif. Yaitu film ini – seperti halnya Infinity War – punya karakter villain yang ditulis dengan solid. Aspek yang langka dalam genre superhero secara keseluruhan. Penjahatnya gak sekadar pengen nguasain atau bikin hancur dunia. Melainkan, ngasih sesuatu untuk kita pikirkan. Dalam hal ini adalah soal penguasa.  Secara karakterisasi, Thor memang kalah ‘kuat’. Selain hanya lebih berupa bereaksi, pembelajaran yang ia alami pun kurang nendang dan kurang sejalan. Bagi Thor yang aware sama konflik yang mendera Gorr, perkembangan karakter cuma di awal dia show off sendiri dan nanti di akhir cerita dia jadi lebih luwer berteam work. Termasuk di antaranya membagi kekuatan dengan anak-anak – yang kuakui ini jadi aspek yang seru dan memuaskan karena aku sudah lama minta ini kepada film-film superhero hiburan. Libatkan anak-anak. Bikin mereka ngerasain jadi superhero itu seperti apa. Anyway, pembelajaran Thor intinya adalah learn to trust, dia juga gak insecure lagi sama Jane dan Mjolnir yang jadi superhero, yang fungsinya kayak cuma ngasih lihat bahwa ada Dewa yang ‘bener’.

Makanya Thor justru lebih cocok dengan penjahat sampingan yang muncul di film ini. Dewa Zeus (portrayal yang kocak dari Russel Crowe hihihi)  Pemimpin para dewa seluruh mitologi itu ternyata seorang yang pengecut dan memikirkan keselamatan golongannya sendiri. Permasalahan Thor dengan Zeus justru seperti disimpan untuk film berikutnya. Interaksi mereka masih dibiarkan terbatas, Zeus hanya muncul di satu sekuen. Setelah itu, Thor kembali fokus ke permasalahan dengan Gorr si God Butcher. Nah, justru Jane Foster yang jadi Mighty Thor yang ternyata lebih paralel dengan permasalahan Gorr; mereka sama-sama mortal yang dapat kekuatan. Tapi menggunakannya dengan berbeda. Jane yang mengidap kanker, beralih kepada kekuatan dewa untuk jadi obat. Penyakitnya tidak sembuh, melainkan jadi makin parah, tapi dia tetap berusaha kuat dan memilih untuk menggunakan sisa waktunya menjadi superhero. Bertarung bahu-membahu dengan Thor. Beda dengan Gorr yang seketika kecewa dengan dewa, dan menggunakan kutukan yang mengonsumsi dirinya dengan kekuatan bayangan itu untuk membunuh dan balas dendam. Walau motivasinya kayak Kratos di game God of War original, karakter Gorr sebenarnya deep. Christian Bale tahu ini dan memainkan karakternya yang perlahan semakin meng-zombie itu (bentukannya jadi mirip Marylin Manson!) dengan tone menyeramkan sekaligus menyedihkan.

Adegan Thor ke tempat jamuan para dewa, menjelaskan duduk perkara Gorr dan meminta bantuan, tapi malah dilepehin dan disuruh duduk tenang aja di situ seperti menyentil penguasa yang gak peduli sama rakyat. Yang ternyata hanya menjadikan rakyat sebagai sacrifice, yang bukan saja membiarkan tapi justru balik menyalahkan rakyat. Yang taunya cuma minta dilayanin dan dipuja. yang antikritik. Yang gak bertanggungjawab sama sekali terhadap kekuasaan yang dimiliki. Kalau diliat-liat kondisinya  mirip terjadi kepada rakyat Indonesia waktu pas harga minyak naik, dan rakyat malah disuruh jangan sering-sering pakai minyak goreng. 

 

Memang at the heart, permasalahan yang disentil Taika di film ini bukan permasalahan sepele. Ada orang yang marah sama Dewa (yang dalam konteks karakter tersebut adalah Tuhan) sehingga berontak dan memburu dewa. Menggunakan anak-anak dalam prosesnya. Yang juga kalo ditarik relasinya ke kita, dewa di sini bisa berarti penguasa. Pemerintah yang tak bertanggungjawab kepada rakyat meskipun janji duduk di atas sana sebagai pemimpin dan wakil rakyat. Lalu ada juga soal relasi asmara yang complicated antara Thor dengan Jane. Kalo film ini digarap Indonesia aku yakin jadinya bakal superhero yang muram dan dark lagi. Itulah hebatnya Taika Waititi, dan Marvel Studios for the matter. Karena mereka selalu bisa membuatnya ke dalam penceritaan yang ringan. Tanpa mengurangi bobot gagasan atau temanya sendiri. Thor: Love and Thunder tetap hadir dengan humor receh yang timbul dari karakter bertingkah norak (supaya mereka tetap grounded) kayak waktu di Thor: Ragnarok (2017). Tentu ini tantangan yang gak gampang. Taika Waititi toh tidak sepenuhnya berhasil meleburkan dua tone kontras. Film ini sedikit tertatih ketika berusaha menyampaikan hal yang serius dengan nada konyol.  But in the end, film ini masih termasuk golongan film yang menghibur. Yang ringan. Yang masih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak lewat bimbingan orang tua.

Bayangkan pekikan kedua kambing raksasa Thor kalo mereka tahu beberapa hari lagi Idul Adha

 

Taika bukannya gak aware, sutradara yang gaya humornya unik ini bijak untuk tidak terus-terusan ngepush tingkah norak dan receh karakter. Porsinya memang sedikit dikurangi ketimbang Ragnarok. Taika mengalihkan komedinya kepada cara menuturkan. Sebenarnya film ini banyak bagian eksposisi. Nah, Taika menghandle itu dengan dijadikan gimmick komedi. Kadang dia membuatnya sebagai tontonan pertunjukan, kadang dia juga membuatnya sebagai cerita api-unggun, you know, bergaya narasi paparan oleh Korg, ataupun dia memainkan eksposisi ke dalam montase genre. Kayak ketika menjelaskan hubungan masa lalu antara Thor dan Jane, film membuatnya ke dalam narasi situasi dalam rom-com. Sentuhan-sentuhan ini jadi memperkaya range komedi yang bisa dilakukan oleh film Thor. Membuat filmnya sendiri jadi terus menarik. Sehingga walaupun kadang tonenya timpang, atau recehnya just not work, film ini masih terus mengalir dalam bercerita.

 

 

 

 

Ini merupakan film stand-alone MCU pertama yang mencapai film keempat, dan berhasil terasa tetap fresh. Progres tokoh utamanya terasa. Eksplorasi ceritanya terus berkembang dan berhasil terjaga dalam konteks dunia itu saja. Yang adalah permasalahan dunia dewa-dewa.  Sekali lagi Taika Waititi berhasil membuat mereka grounded dengan permasalahan yang relevan. Gaya komedi, arahan colorful, musik rock, dan karakter-karakternya masih tetap ajaib, membuat film semakin menghibur. Personal favoritku adalah film ini melibatkan anak-anak dalam cerita dan aksinya. Sedikit issue pada tone karena cerita bermuatan cukup serius, tapi tidak benar-benar mengganggu. Struggle sebenarnya film ini ada pada membuat bagaimana Thor bisa tetap relevan di cerita ini. Karakterisasinya kalah kuat, tapi film berhasil ngasih sedikit perkembangan pada Thor sekaligus menjadikannya hook ke petualangan classic berikutnya!
The Palace of Wisdom gives 7.5  out of 10 gold stars for THOR: LOVE AND THUNDER

 

 

That’s all we have for now.

Setujukah kalian penguasa di negeri kita udah kayak dewa?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

WWE Money in the Bank 2022 Review

 

 

Money in the Bank sudah dikiaskan dalam berbagai cara. You know, namanya berasal dari gimmick pertandingan yang pemenangnya bakal mendapat jaminan kontrak pertandingan kejuaraan. kapanpun di manapun si pemenang mau. WWE menyebut ‘pencairan’ kontrak tersebut sebagai ‘perampokan’. Pertandingannya sendiri  sering kita anggap sebagai lomba panjat pinang ala gulat. Tahun kemaren WWE menyebut pertandingan ini sebagai investasi, karena punya risk dan reward yang gede. Dan tahun ini, mumpung mereka mengadakannya di Las Vegas, WWE menyebut Money in the Bank sebagai sebuah gamble. Judi. Mereka gak tau aja ya, belakangan nonton WWE memang berasa untung-untungan. Kadang bagus, kadang meh banget. Nonton MITB 2022, however,  memang berasa nyaris seperti dapat sebuah jackpot. Karena di acara ini, WWE memberikan banyak hal yang diminta oleh para fans.

WWE akhirnya memberikan kemenangan kepada superstar yang benar-benar memerlukan sebuah kemenangan. Superstar seperti Liv Morgan.  Liv sudah lama jadi fan favorite tapi belum pernah diberikan push yang total. Untuk periode waktu yang lama sekali, Liv cuma jadi penggembira. Ternyata WWE mendengarkan juga permintaan penggemar. Liv yang tiap hari semakin over, ditambah dengan rumor akan muncul berakting di film The Kill Room, sekarang jadi bintang tersembunyi dalam pertandingan Money in the Bank. Kenapa aku bilang bintang tersembunyi? Karena begitulah WWE membangun match ini buat Liv.  Pertandingan Money in the Bank partai cewek yang dijadikan pembuka itu dipenuhi oleh superstar yang sedang hot-hotnya dipush, dan difavoritkan menang. WWE justru membangun ini dari feud antara Becky Lynch dengan Asuka, dua langganan juara.  This come out as a swerve, pertandingan ini dibuat dengan format ala car-crash seperti biasa, masing-masing peserta akan dapat spot berbahaya, tapi fokus seperti terus kembali kepada Becky yang ingin mengubah nasib buruknya ataupun kepada Asuka yang returnnya belum memberikan ledakan besar. Singkatnya, Liv sama sekali tidak ditonjolkan. Match yang sebenarnya standar itu lantas pecah begitu penonton mulai melihat jalan kemenangan Liv Morgan. Dan mengingat ini baru partai pertama, kemenangan Liv jadi mengeset mood yang bagus bagi penonton, dan WWE menangkap ini dan terus mengolahnya menjadi drama.

Mari berharap Liv Morgan tidak jadi seperti push Nikki A.S.H. tahun kemaren

 

Gimana gak drama? Kupikir pertandingan pembuka itu jadi terakhir kalinya kita melihat Liv malam ini. Twitter sudah berisik ngasih congrats kepada Liv, tapi perayaan terbesar ternyata baru akan terjadi di paruh akhir acara. Setelah pertandingan bergaya submission yang berlangsung cukup cepat antara Ronda Rousey mempertahankan sabuknya melawan Natalya – match yang gak benar-benar punya interest, selain untuk melihat Ronda ‘disekolahin’ ama veteran kayak Natalya – musik Liv terdengar dan dia muncul mau ngecash in kopernya kepada Ronda. Aku sempat melompat dan ngumpat WWE mau ngetroll kita dengan bikin Liv kalah, like, seems there’s no way Ronda yang dipush sebagai superstar MMA kuat – Lesnar versi divisi cewek – bakal kalah seperti itu. Yang kondisinya bahkan gak parah-parah amat. Liv yang baru saja ikut pertandingan tangga kayaknya lebih babak belur dibanding Ronda. Apalagi pas melihat Liv langsung kena Ankle Lock, salah satu submission ‘terkuat’ dalam ring WWE – dipakai sebagai finisher oleh legends technical semacam Ken Shamrock dan Kurt Angle – I was like DAMN!! Di sini, aku minta maaf kepada WWE karena udah suudzon kayak gitu, karena ternyata mereka cuma memainkan itu untuk drama. Liv pulled through and win her first Women’s Championship! Dan dia melakukannya pakai pin ala Rhea Ripley for extra cheers!!

Ya, bukan saja memberikan apa yang fans inginkan, tapi WWE melakukannya dengan dramatis. Melalui build up yang unik, karena justru menurunkan ekspektasi kita. Ah, ini kayak match biasa. Tapi lalu kemudian the power of doing-what-fans-wants menunjukkan keampuhannya. Tentu, apa yang dimau fans gak bisa dituruti begitu saja. Kayak film aja, kebanyakan ngikut maunya penonton malah akan membuat filmnya jadi ‘ketebak’ alias gak surprise atau yang paling parah, film jadi gak punya tone dan visi yang jelas. Terlalu catering penonton justru jangka panjang akan membuat stuk karena penonton akan cepat jadi bosan. WWE sedari dulu bergulat dengan ini. Mereka gak mau ngasih gitu aja. Kita udah sering dengar gimana WWE membatasi gerakan-gerakan heboh yang dilakukan oleh superstar untuk alasan sepele seperti gerakan tersebut sudah dilakukan di awal. WWE percaya kepada build up yang proper dan generate reaction yang terukur. Money in the Bank kali ini hanyalah satu dari momen langka ketika keinginan fans sudah memuncak dan semuanya harus dilakukan sekarang. Jadi,  WWE mencoba melakukannya dengan dramatis. Mengubah ekspektasi menjadi sesuatu yang lebih heboh. Mereka ngasih kita kemenangan Lashley, feud antara Sheamus dengan Drew yang dibangun tampak menyenangkan selama MITB cowok berlangsung, aksi-aksi Riddle, dan bahkan vignette misterius yang langsung membuat fans seantero dunia berspekulasi bahwa Bray Wyatt is coming back!! 

Dramatisasi yang heboh bukan hanya dilakukan untuk nurutin fans. Lihat aja Theory di MITB cowok. Loh kok ada Theory? Tuh, kan! In a classic GM-interruption fashion, sebelum MITB cowok dimulai, kita melihat Adam Pearce nongol dan ngasih tau bahwa ada seorang peserta tambahan. Ini kan ‘akal-akalan’ WWE biar fans langsung histeris. Ada yang bilang Cody jadi surprise. Ada juga yang ngaitkan dengan berita Logan Paul udah teken kontrak, sehingga ngarep si Youtuber itu yang jadi peserta kejutan. Taunya si Theory bangsat! Kemarahan dan kekeselan penonton di arena langsung terasa loh. Tapi inilah yang diincar WWE. Heat yang membuat pertandingan ujungnya menjadi lebih dramatis. Sama seperti Liv, Theory juga dibuat gak menonjol. Saat enam superstar lain bekerja sama melempar Omos ke meja komentator, Theory gak ada. Dia disimpan untuk bikin penonton marah. Itulah bedanya dia dengan Liv di MITB cewek. WWE tidak lagi mengincar kejutan yang menyenangkan, melainkan ingin membuat Theory sebagai heel nomer wahid. Yang bahkan lebih dibenci daripada Seth Rollins (yang sama seperti istrinya, Becky Lynch, perlahan mulai mendapat simpati meski masih berperan sebagai heel). Acara ini bagai kita yang naik tangga emosional. Namun semuanya terdeliver perfectly menghibur, meskipun matchnya masih standar.

MITB tidak punya satu match spesial, aku kesulitan mencari MOTN di sini. Karena di sini semuanya adalah tentang deliver ekspektasi dan dramatisasi. Match yang paling garing mungkin Bianca lawan Carmella, Kita semua tahu itu filler, dan WWE gak menaikkan status match itu dengan mengharuskan superstarnya ngelakuin spot dahsyat. Melainkan, WWE terus menarik drama. Carmella dibikin masih dendam, for some reason. Dan kekalahan tragis Street Profits di kejuaraan Tag Team dibikin problematik.

Jika Liv plausible buat ngalahin Ronda, apakah Theory bisa juga dibuat ngalahin Lesnar atau Roman Reigns?

 

 

I’m seriously mempertimbangkan kejuaraan tag team antara Uso melawan Street Profits sebagai MOTN karena sebegitu dramatisnya WWE mendesign alur match mereka. Di awal memang agak boring, tapi Street Profits yang dibuild kuat (mereka bilang semacam prophecy atau semacamnya) dan kita yang dibuild untuk menginginkan ada juara baru, membuat match escalate very quickly. Semangat di atas ring meledak saat Dawkins dan Ford terus menerus ngasih ofensif yang gede, tapi WWE kayak main tarik ulur dengan membuat Jimmy dan Jey terus saja kick out. Ini match yang awalnya aku biasa saja namun membuatku jadi paling terinvest ke dalam emosinya. Penonton di arena pada teriak-teriak “Fight forever!” Sentuhan problematik di akhir juga membuat feud mereka semakin seru, dan kupikir WWE sengaja merancang seperti itu untuk menanamkan build ke SummerSlam. Di satu sisi memang MITB kali ini kayak hanya gimmick. WWE gak benar-benar melakukan hal baru dengan konsep MITB, spotnya pun semuanya sudah kita lihat sebelumnya. Ini adalah everyday show, yang worked great simply karena WWE ngegas di bagian dramatisasi. WWE tahu keinginan fans sudah long overdue, mereka juga tahu exactly apa yang bikin fans ngamuk, dan semua itu akhirnya dimainkan sebagai vokal utama acara ini. Hasilnya ya seru. Bintang baru mulai dapat sorotan, khususnya si Liv dan Theory. Secara teori, ini adalah show yang sukses karena mendeliver suguhannya dengan gemilang. Akan ada banyak yang dijadikan pembicaraan oleh fans dari sini. Sedangkan untuk MOTN, akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan Street Profits lawan Usos sebagai MATCH OF THE NIGHT.

MOTN

 

 

Full Results:

1. WOMEN’S MONEY IN THE BANK LADDER MATCH Liv Morgan mengungguli Alexa Bliss, Asuka, Becky Lynch, Lacey Evans, Raquel Rodriguez, dan Shotzi
2. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Bobby Lashley jadi juara baru ngalahin Theory
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bianca Belair retains atas Carmella
4. UNDISPUTED TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Usos bertahan dari Street Profits
5. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Juara bertahan Ronda Rousey mengalahkan Natalya
6. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP MONEY IN THE BANK CASH-IN Liv Morgan merebut sabuk dari Ronda Rousey
7. MEN’S MONEY IN THE BANK LADDER MATCH Theory jadi surprise entrant dan mengalahkan Drew McIntyre, Madcap Moss, Omos, Riddle, Sami Zayn, Seth Rollins, Sheamus

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

MADU MURNI Review

 

“What makes a man”

 

 

Apakah poligami itu sebenarnya cuma urusan laki-laki dengan ego dan harga dirinya saja? Wah agak berat memang bahasan soal ini. Taroklah memang boleh, tapi apakah semua yang diperbolehkan harus kita lakukan. Kenapa kita memilih untuk melakukannya. Jujur aku gak paham soal beginian, Boro-boro mikirin dua, perihal satu yang lama yang kandas dengan sukses aja aku masih belum completely move on. Namun Monty Tiwa menemukan cara manis untuk membahas permasalahan poligami yang terkandung dalam skenario yang ditulis Musfar Yasin. Cara yang tidak ngejudge ataupun mencoba mendekonstruksi keyakinan pihak manapun. Melainkan pure dari sudut pandang karakter yang ditempatkannya dalam sebuah dunia drama komedi yang grounded. Sehingga menonton Madu Murni terasa seperti gurauan, tapi juga sekaligus accomplish so much dalam term karakter-karakternya yang boleh jadi ada perwujudannya di sekitar kita.

Cerita tentang pelakor memang lagi in di kita. Begitu juga dengan poligami, yang jadi polemik hangat di masyarakat. Sebagian ada yang mendukung (setengahnya beneran dukung dan setengahnya lagi cuma bisa pasrah), sebagian ada yang menentang. Karena isunya berada di tengah-tengah masyarakat itulah, Madu Murni juga menempatkan diri gak jauh-jauh dari lingkungan masyarakat umum. Karakternya tidak dipotret dari kalangan menengah ke atas, yang akar poligaminya lebih ke persoalan gaya hidup bebas yang bablas, atau ke yang bisa karena duitnya ada. Madu Murni pengen memperlihatkan apa yang menurut mereka jadi sumber utama. Ingin memperlihatkan bahwa keinginan poligami bisa dirasakan oleh lapisan manapun, asalkan di situ ada pria yang merasa insecure dengan posisinya sebagai seorang pria.

Meet Badrun.  Simbol keperkasaan seorang mantan guru ngaji yang kini jadi tukang pukul kekar bernama Mustaqim. Badrun juga adalah antagonis bagi Mustaqim, karena Badrun benar-benar menghalangi apa yang diinginkan oleh Mustaqim. Pria itu katanya pengen punya keturunan, jadi dia menikah lagi dengan seorang janda tiktok di kampung. Padahal sebenarnya Mustaqim menikah lagi karena istrinya, Murni, ogah menerima duit hasil dari kerjaan preman yang ia lakukan. Murni bisa nyari pegangan duit sendiri dari usaha warung. Ini adalah cakaran pertama bagi honor Mustaqim sebagai seorang kepala keluarga. Makanya dia cari tuh, keluarga baru yang bisa ia take care. Di sinilah si Badrun berulahAtau mungkin tepatnya, tidak-berulah. Badrun gak mau berdiri. Istri muda Mustaqim, si Yati, ampe uring-uringan terus setiap malam. Sedangkan si Mustaqim sendiri, so pasti makin nelangsa. Dia makin merasa helpless, gak jantan. Mau taroh di mana mukanya sebagai seorang pria? Mustaqim terus berusaha membangunkan Badrun, tanpa benar-benar menyadari apa yang sebenarnya membuat pria itu pria.

Seperti dendam, malam pertama harus dibayar tuntas

 

Bagaimana mungkin pria dewasa berbadan kekar bisa mendadak loyo? Ya, obat masalah Mustaqim bukanlah sate kambing, sop torpedo, atau segala macam ritual dukun-dukun. Inilah yang menarik dari film Madu Murni. Di balik raunchy humor seputar usaha pasangan suami-istri menggolkan Badrun, film mengajak kita untuk menyelam ke dalam permasalahan psikologis Mustaqim. Karena tentu saja ketidakkompakan si Badrun itu adalah masalah mental. Namun belum jelas, apakah rasa penyesalan, apakah rasa kegagalan, atau apakah ada hal lain yang dirasakan oleh Mustaqim sehingga mengganggu performanya. Penggalian terhadap itu yang membuat film ini menarik. Dan ketika tiba saatnya menggeledah kerapuhan sisi emosional Mustaqim, film dengan mulus menyublim dari komedi menjadi bahasan drama yang dewasa. Konfrontasi Murni istri pertama dengan dirinya, ataupun dengan istri mudanya. Konfrontasi Mustaqim dengan Badrun di saat personal dirinya. I think this film did a great job memasukkan adegan-adegan emosional itu ke dalam tone komedi yang merakyat nan sederhana. Tidak sekalipun film ini jatuh ke ranah lebay ataupun receh. Walaupun dunia panggung ceritanya dapat terasa sangat ajaib, tapi film tetap berpegang kepada how real perasaan yang dialami oleh karakternya. Kepada perspektif geunine dari karakternya.

Bukan fisik gede yang membuat cowok disebut perkasa. Bukan seberapa jago dia berantem, atau seberapa kuat dia berkuasa. Harga diri cowok sebagai pria – katakanlah kejantanannya – justru terletak dari bagaimana dia memperlakukan orang-orang terdekat, istrinya – keluarganya – sahabatnya. Bagaimana dia menjaga janjinya. Bagaimana dia melindungi yang lebih lemah. Dan pada gilirannya, bagaimana cara dia menghandle kelemahan yang dipunya. Hal inilah yang harusnya dijaga oleh lelaki, ketimbang gagah-gagahan.

 

Inner aspect tersebut tertampil lebih menarik lagi karena mencuat dari karakter-karakter yang ajaib. Mereka itulah yang menyebabkan film ini pantas menyandang genre komedi. Madu Murni dihidupi oleh karakter-karakter yang lain dari yang lain. Ada tukang pukul yang badannya kecil, suaranya nyaring, tapi sangarnya minta ampun (bayangkan Komeng kalo jadi tukang pukul). Bahkan luka codetnya punya ‘cerita’ tersendiri. Ada karakter bos preman yang bicara pake boneka, yang bangun markas penuh performance arts jalanan. Ada bapak-bapak yang tampak lemah tapi punya backingan anak-anak jagoan. Mereka-mereka ini membuat perjalanan Mustaqim menjadi berwarna, tapi juga tidak sampai mendistract kita dari karakter sentral tempat film menuliskan pesan dan gagasan. Tiga karakter sentral benar-benar ditulis oleh film dengan lapisan yang cukup berlapis. Karakter Yati, si bini muda, misalnya. Gampang membuat karakter ini jadi pelakor jahat yang gak benar-benar punya cinta, ataupun membuatnya jadi komedi atau bahan selorohan saja. Yang dibangun tipikal berbodi seksi dan sebagainya. Lapisan tersebut memang ada pada Yati. Adegan yang bikin penonton di studioku ngakak paling keras kan pas Yati marah-marah dan ngambek ngomong langsung ke si Badrun. Tapi beberapa adegan kemudian, penonton terdiam terhanyut di dalam emosi saat Yati meledak menumpahkan isi hatinya kepada Mustaqim di jalanan. Ya, Madu Murni ternyata juga memberi ruang kepada karakter seperti Yati untuk menggali perspektifnya; pelakor yang dianggap semua orang jahat, ternyata tetap manusia di dalamnya. Aulia Sarah kini benar-benar dapat waktu untuk menggali permainan peran dan emosi, gak sekadar menampilkan presence saja.

Mustaqim dan istrinya, Murni, diperankan oleh real-life couple, Ammar Zoni dan Irish Bella. Sehingga chemistry jadi gak begitu masalah buat mereka. Lihat saja dialog di menit-menit awal, yang direkam gak-putus. Perbincangan mereka tentang duit hasil kerjaan tampak natural, ini jadi pondasi cerita yang cukup kokoh. Naik-turun, hingga emosi tertahan dapat kita rasakan di sini. Tadinya kupikir Mustaqim bakalan urakan, kayak Ajo Kawir di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). You know, like, kupikir dia juga jadi tukang pukul demi melampiaskan ego maskulin, kompensasi dari ‘penyakit’ Badrun. Ternyata tidak, Mustaqim sedari awal sudah seorang pribadi yang pikirannya bisa dibilang lurus. Dia kerja jadi tukang pukul, tapi enggak membuatnya suka berkelahi. ‘Penyakit’ Mustaqim bisa dibilang lebih unik, karena tergambarkan sebagai sesuatu yang  lebih ke arah psikologis. Gak setiap hari kita dapat film yang berani ngasih lihat karakter dengan bentukan jagoan terlihat begitu vulnerable. It’s not easy nunjukin sisi vulnerable dari situasi yang sangat kontras, dan Ammar Zoni berhasil memainkannya dengan solid, berani mengeksplor karakter itu.

Semasa hidupnya pun Badarawuhi sudah gangguin hubungan orang

 

Perspektif semakin berusaha diseimbangkan lagi oleh naskah dengan turut membahas sisi Murni. Film bahkan menjadikan ‘keadaan’ Murni sebagai judul, demi menunjukkan concern terhadap sudut perempuan yang diduakan dalam problematika poligami. Peran Murni memang memberikan banyak suntikan dramatis, tapi untuk fungsinya itu, Murni jadi agak satu-dimensi. Perempuan lembut yang terluka. Cinta yang harusnya dikenali sekali lagi oleh Mustaqim. Fungsi itu membuat Murni tertampil bersedih-sedih. Dan ketika film membuat solusi yang ia tawarkan jadi pertaruhan berikutnya bagi harga diri Mustaqim, karakter Murni bisa berbalik tampak annoying. Meskipun sebenarnya hadir sebagai pemantik simpati, Murni bisa tampak membosankan. Menurutku, karakter Murni harusnya bisa lebih dikembangkan lagi. Taruh dia di situasi yang lebih bervariasi. Memang, film mencoba menempatkannya di situasi komedi. Ada adegan dia berkonsultasi ke dokter, hanya saja keseluruhan sekuen ke dokter tersebut tidak kuat dikarenakan mereka pergi ke dokter yang ‘salah’ Sehingga tidak benar-benar berarti banyak selain untuk cameo komedi.

Ngomong-ngomong soal komedi, I do think ada porsi-porsi komedi yang terlalu dipanjang-panjangin. Tone film sebenarnya cukup imbang, dan ada transisi yang mulus ketika film berpindah ke bahasan yang lebih serius. Hanya saja tempo atau pace film yang kurang balance berkat terlalu lama menertawakan suatu hal. Misalnya, bagian Mustaqim dan Yati nyoba berbagai obat dan cara setiap malam. Sebenarnya ini bisa saja dilakukan dengan montase, karena poinnya kan ingin nunjukin segala macam cara dicoba tapi Badrun gak bisa bangun. Kalo poin tersebut sudah terestablish, ya langsung lanjut ke poin lain aja. Tapi film melakukan cara-cara itu dengan benar-benar elaborate. Sehingga terasa jadi repetitif, dan membuat film untuk beberapa menit stuk di tempat yang itu-itu saja. Siang nagih hutang, malam trouble in paradise. Esensi narasi sebenarnya kan untuk nunjukin bagaimana Mustaqim memaknai dan belajar dari kegagalan berdiri itu. Bagaimana itu mempengaruhi kehidupannya, mempengaruhi hubungannya dengan Murni dan lain-lain. Bagian yang penting itu jadi datang sedikit terlambat, karena film terlalu lama nunjukin komedi yang timbul dari Badrun gak bisa bangun.

 

 

Film ini berhasil menyuarakan gagasannya dengan harmless. Mengulik isu poligami yang sedang trend dibicarakan dengan berimbang dan mengembalikannya kepada karakter. Inilah kunci keberhasilannya. Naskah, yang berhasil mengeksplor karakter dan membuat mereka genuine. Dekat. Sehingga problem mereka bisa terproyeksikan dengan mulus. Menghadirkan kisahnya sebagai komedi juga membuat film ini semakin mudah akrab dengan penonton. Vibe film ini sersan banget, serius tapi santai. Tone-nya imbang. Temponya saja yang sedikit kurang lancar.  Lama mencapai klimaks adalah hal yang bagus di ranjang, tapi buat penceritaan film, hal itu bisa menjadi masalah. Karena harusnya penceritaan bisa dilakukan dengan lebih baik lagi.
The Palace of Wisdom gives 6  out of 10 gold stars for MADU MURNI

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi, apakah poligami itu sebenarnya memang cuma urusan laki-laki dengan ego dan harga dirinya saja?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

KELUARGA CEMARA 2 Review

 

“I ask them why is it so hard to keep a promise”

 

 

Di tengah maraknya film horor yang menjual kesadisan, superhero yang berwarna kekerasan, dan drama yang mengutamakan keganjenan, film Indonesia memang agaknya cukup kekeringan cerita untuk anak-anak. Film yang totally aman dan berguna untuk ditonton anak-anak. Film yang benar-benar berangkat dari sudut pandang anak-anak. Film yang berani menunjukkan permasalahan yang bisa dialami oleh anak-anak. Film  yang karakter anaknya beneran ditulis seperti anak-anak. Awal tahun ini, ada sih satu, cuma terlewat olehku karena at that time aku masih belum boleh ke bioskop. Untungnya, Visinema sekali lagi mengangkat cerita anak-anak. Keluarga Cemara 2 – kali ini ditangani oleh Ismail Basbeth – dijadikan drama yang lebih berfokus kepada suka duka petualangan Ara dalam menagih sekaligus mempertahankan janji.

Oh man, ngomongin soal dijanjiin hal-hal saat masih kecil…  Kalo semua janji orangtua dan oom-tante kepadaku waktu masih kecil dulu beneran mereka pegang, aku sekarang bakal punya snack kentang sekontener, mainan serta buku komik satu truk, serta permen segudang uang Gober Bebek, dan banyak lagi! I’ve lost count karena sudah capek menghitung janji. Lebih banyak yang gak ditepatinnya ketimbang yang beneran diwujudkan. Janji-janji tersebut di mata orangtua mungkin sekadar supaya anak mau mengerjakan tugas atau mau menjaga sikap. You know, supaya anak melakukan sesuatu untuk kebaikan sendiri. Tapi bagi si anak, janji itu berarti demikian besar. Buat orangtua yang gak percaya; tonton saja Keluarga Cemara 2. Di film ini Ara merasa jauh dari keluarganya yang mulai sibuk hingga melupakan janji mereka.  Emak sibuk ngurus Agil, sedangkan Abah sibuk sama kerjaan baru di peternakan sehingga janji benerin kamar Ara masih ditangguhkan. Kamar? Ya, Ara kini tidur sendiri karena kakaknya, Euis butuh privasi sebagai remaja SMA yang mulai pacar-pacaran. Untuk alasan itu jualah Euis tidak bisa lagi memenuhi janjinya kepada Ara untuk pulang sekolah bersama-sama. Ara jadi sedih. Yang Ara punya sekarang cuma anak ayam yang ia pungut di jalan. Dan Ara bersama teman sekelasnya nekat berjalan ke kampung sebelah yang jauh, demi mencari keluarga si anak ayam yang tersesat. Yang jelas saja bikin panik keluarga Ara di rumah!

Secretly, ini juga journey Ara menjadi seorang vegetarian hihihi

 

Motivasi Ara memang terlihat sepele. Ingin nganterin si anak ayam ke keluarganya yang hilang. Dan memang seperti itulah kebanyakan orangtua memandang perbuatan atau sikap anaknya. Sebagai hal yang sepele. Makanya mudah mengobral janji. Menganggap pada anak semua adalah main-main. Lihat betapa kekinya Abah ketika Ara bilang dirinya bisa bicara sama ayam, dan ayam itu bilang rindu pada keluarga. Abah menganggap imajinasi Ara sudah keterlaluan. Ayam mana bisa ngomong? Tapi ayam si Ara bisa. Buktinya bukan karena Mang Romli waktu kecil bisa bicara dengan kodok, ataupun bukan karena kita actually dibuat oleh film mendengar suara ayam-ayam memanggil nama Ara (yang awalnya dikira hantu oleh Ara) Melainkan karena ayam Ara punya makna di baliknya.

Ayam itu bagi Ara adalah pengganti sosok sahabat yang selama ini dia lihat pada kakaknya. Semenjak kakaknya sibuk pacaran dan mereka tidur di kamar yang berbeda, Ara jadi kesepian. Also, anak ayam ini juga jadi bentuk sikap dari Ara. Anak perempuan ini tau gak enaknya diingkari janji, maka ia bertekad untuk benar-benar menemukan keluarga si anak ayam, seperti yang ia janjikan. Setelah sebelumnya ia sempat gak mau berjanji kepada abah dan kakaknya, karena dia enggak mau jadi seperti mereka yang ingkar janji. Ketika kita mensejajarkan pandangan kepada level Ara, semua tidak lagi terasa sepele. Yang karakter ini lalui sepanjang durasi merupakan problematika trust yang cukup merenyuhkan hati. Kita bisa merasakan begitu pentingnya bagi seorang anak seusia Ara untuk dipercaya oleh orang lain (khususnya orang dewasa) dan in turn bisa menaruh kepercayaan kepada orang dewasa. Apalagi Ara ini anak tengah, yang biasanya paling butuh untuk dinotice sebab posisinya di antara sodara pertama yang punya banyak masalah dan sodara bungsunya yang ‘mencuri’ perhatian dari dirinya. Ara butuh banyak atensi, tapi justru itu yang tidak ia dapatkan.  Memerankan karakter seperti demikian, aku takjub Widuri Sasono tidak kehilangan aura anak kecilnya. Kita harus berterima kasih juga kepada naskah yang benar-benar mencoba menggali perspektif Ara sehingga karakter ini tidak nestapa semata. Widuri memperlihatkan passion dan semangat pada karakternya ini, while also memberikan emotional journey. Menurutku amazing sekali di tengah jejeran cast seperti Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, dan bintang muda yang hits Adhisty Zara, film mempercayakan peran utama kepada karakter anak kecil, dan Widuri membuktikan dirinya bisa membawa cerita.

Tapi tau gak kenapa aku gak pernah menagih janji-janji masa kecil kepada orangtua dan oom-tante? Karena seiring bertumbuh aku sadar bahwa janji-janji itu bukannya tidak mau ditepati, tapi karena situasi tertentu, beberapa janji memang tidak mungkin untuk ditepati. Momen penyadaran seperti itu tidak aku temui pada cerita Ara di Keluarga Cemara 2.

 

Tiba di bagian akhir, film seperti jadi ragu dan kembali seperti kebanyakan film untuk anak-anak; sugarcoating things. Di akhir cerita, tidak banyak pembelajaran yang dialami Ara, dia ‘cuma’ memaafkan Euis dan Abah. Dia ‘hanya’ mencoba mengerti kenapa mereka gak menuhin janji tanpa belajar tentang ‘janji’ itu sendiri. Kenapa aku menyimpulkan begini? Karena film membuat Ara berhasil memenuhi janjinya kepada si anak ayam. Sesuatu yang bahkan dalam konteks imajinasi/fantasi pun merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan. Menurutku, pembelajaran mestinya bisa lebih kuat jika Ara dibikin gagal saja. Dengan begitu, Ara akan natural mengerti bahwa janji bisa tidak terwujud karena situasi. Yang tentu saja mencerminkan masalah janji Abah yang sibuk atau janji Euis yang memang sudah pada masa butuh privasi. Pembelajaran Ara untuk bisa sampai di titik yang diperlihatkan akhir cerita bisa lebih tegas. Ara bisa sekaligus belajar tentang kehilangan, tanggungjawab, dan lain-lain yang menyertainya.

Keluarga Cemana

 

Aku punya dua adik sepupu cewek yang jarak umur mereka sama seperti Euis dan Ara, dan yang terjadi pada Euis dan Ara pada film ini persis terjadi juga kepada mereka. Adik yang secretly ngefans ama kakaknya, sehingga terus berusaha nyari perhatian sang kakak, dan ujung-ujungnya kena marah karena si kakak lagi pengen sendiri. Atau karena adiknya simply bertingkah annoying kayak si Ara yang mainin lagu atau merebut sisir. Jadi aku bisa bilang penggambaran relasi kakak-adik usia segitu dilakukan oleh film ini dengan otentik. Aku juga nonton film Ramona and Beezus (2010), adaptasi novel anak dibintangi Joey King dan Selena Gomez. Ramona juga harus pisah kamar ama kakaknya, karena si Beezus udah beranjak gede dan butuh privasi. Kalo Keluarga Cemara 2 dibandingkan dengan film itu, Keluarga Cemara 2 cenderung lebih muram. Kalah ceria. Hanya Ara yang menghidupkan suasana. Euis di sini bener-bener gak asik.  Beezus juga punya masalah cinta sama cowok di sekolah, tapi aku masih melihat dia menggoda adiknya, ngejailin adiknya, bersikap enggak satu note-lah pokoknya. Euis di Keluarga Cemara 2 adalah gadis yang impossible diajak ngobrol. Cemberut dan dingin selalu, bahkan sama teman gengnya dia gak tampak asyik.

Abah dan Emak juga begitu. Sekali lagi, dibandingkan dengan Ramona and Beezus yang masalah keluarganya juga soal duit dan kerjaan, Abah dan Emak lebih depresif. Kurang momen ceria. Padahal kalo dilihat-lihat dari cerita, enggak mesti juga dikasih stake ekonomi, apalagi di akhir juga tidak terlalu dikembangkan. Cerita harusnya stick aja kepada Ara, stakenya bisa diambil dari Ara yang hilang dan semacamnya. I mean, cerita keluarga yang hidup di desa toh gak harus bersusah-susah, yang penting kan kesederhanaan dan kehidupan di sananya terpotret. Menilik dari peran-peran yang lain, akar masalah film ini sebenarnya sama juga dengan kebanyakan film Indonesia lain. Mengotak-ngotakkan fungsi peran. They did free it up buat Ringgo sebagai Abah, yang harus bermain dengan nada dramatis alih-alih komedi. Tapi karakternya tetap terasa terbatas karena yang lain masih ada di kotak. Euis, Abah, Emak ‘dilarang’ ceria karena porsi ceria dan jenaka sudah diberikan kepada Romli dan Ceu Salma. Porsi Asri Welas di sini lebih banyak daripada di film pertama (mungkin karena masuk nominasi FFI hihi) meskipun karakternya tidak berperan banyak selain untuk memantik kelucuan, juga tidak berbeda banyak dengan tipikal peran komedi yang diperankan Welas biasanya. Mengingat baru-baru ini kita mendapat dua film yang berani mendobrak pengotakan fungsi peran seperti demikian (Ngeri-Ngeri Sedap dan Srimulat) maka film Keluarga Cemara 2 ini jadi terasa sedikit ketinggalan zaman.

 

 

 

Janji untuk memberikan film Indonesia yang bermutu mestinya tidak sesusah janji Euis untuk diwujudkan oleh filmmaker tanah air. Buktinya, film yang kita bahas kali ini sebenarnya sudah hampir bisa mewujudkannya. Film ini tampil dengan hati. Menyuguhkan kisah keluarga dari perspektif anak kecil yang relate dan genuine. Ini masih jauh lebih baik dibandingkan film-film lain yang katanya untuk anak-anak. Hanya, pembelajaran karakternya mestinya bisa dilakukan dengan lebih baik lagi. Lebih nendang lagi.  Karakter-karakter lainnya pun mestinya bisa lebih dihidupkan lagi ketimbang sekadar fungsi-fungsi. Sebagai franchise reboot-an – aku  gak tau mereka merencanakan apakah ini untuk trilogi atau untuk berapa film lagi – kupikir franchise ini cukup solid, walaupun yang film kedua ini terasa lebih kecil dan gak lebih wow dibanding film pertamanya. Tapi aku suka mereka mempersembahkan ini dengan perspektif karakter yang berbeda. Pergantian sutradara yang tadinya kupikir cukup aneh (jarang ada film pertama yang sukses secara jumlah penonton, mengganti sutradara untuk sekuel) tapi setelah melihat filmnya yang angkat sudut pandang berbeda, jadi agak make sense. Mungkin film ketiga nanti bisa dari sisi Agil? Please…? Tingkah baby Agil udah scene stealer banget di sini hihihi
The Palace of Wisdom gives 6  out of 10 gold stars for KELUARGA CEMARA 2

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian anak-anak lebih menghargai janji daripada orang dewasa?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THE BLACK PHONE Review

 

“A name pronounced is the recognition of the individual to whom it belongs.”

 

 

Waktu ku kecil, kami yang masih anak-anak punya jam batasan bermain. Terus, gak boleh main sendirian ke tempat sepi. Karena, kata orangtua, banyak penculik anak kecil yang berkeliaran, Isunya, penculik anak itu lagi nyari tumbal untuk bikin jembatan! Jadi anak-anak bandel yang suka main ampe malam, ataupun yang berkeliaran gak jelas, bakal diculik dan dipotong kepalanya untuk dijadikan pondasi jembatan. Ngeri ya hahaha. Masa kecilku itu padahal pertengahan tahun 90an loh. Bergidik juga sih begitu memikirkan kalo di 90an aja ‘ancaman’nya begitu, gimana dengan keadaan di tahun-tahun di atas itu. Tahun 70an misalnya. Saat lebih banyak lagi jembatan yang belum dibangun. Apa itu berarti penculik juga lebih banyak? Yang jelas, tahun segitu serial killer masih banyak. Mereka jadi urban legend, jadi momok bagi semua orang, khususnya anak-anak. Fenomena ini yang diangkat kembali oleh Scott Derrickson, yang juga kembali ke genre horor yang jadi akar karir filmnya. Lewat film The Black Phone, Derrickson membawa kita merasakan seperti apa hidup jadi anak 70an di mana anak-anak bisa diculik siang hari bolong di tengah jalan, dan dipukuli oleh orangtua yang mabok di rumah.

Bicara soal horor dan anak-anak, memang harusnya ada batasan jelas. Mana yang ‘untuk’ mana yang ‘tentang’. Anak-anak sendiri perlu untuk diperkenalkan, dikasih lihat, hal-hal gelap seperti kematian, kehilangan, kekerasan yang memang bisa menimpa ataupun yang memang bakal mereka lalui di dalam kehidupan. Maka menghandle horor dan anak-anak ini haruslah hati-hati. Ada satu batasan lagi yang wajib diperhatikan. Yakni batas eksploitasi anak di dalam genre itu sendiri. Ada banyak film yang membuat horor anak-anak tapi tidak jelas peruntukannya, kayak The Doll 3 baru-baru ini. Film tersebut mengandung tema kehilangan, kecemburuan, hingga bunuh diri pada anak-anak. Materi yang dewasa, diberikan rating yang dewasa pula karena mengandung kekerasan berkaitan dengan karakter anak yang diportray, tapi penulisannya sangat sederhana. Seperti menjadikan anak-anak sebagai objek derita, di dalam sebuah cerita yang didesain untuk bisa ditonton oleh anak-anak itu sendiri (walau bahasannya sebenarnya dewasa). Sebenarnya buat orang kita, it’s not exactly news, sih, Anak-anak jaman dahulu malah dipaksa nonton film PKI alias salah satu film thriller terseram yang pernah dibikin oleh filmmaker kita. Jadi mungkin, menakut-nakuti anak-anak sudah mendarah daging. Film superhero Indonesia aja dibikin kelam dan sadis kok. Makanya, film The Black Phone ini mesti kita jadikan pembanding, bagaimana membuat cerita horor dengan karakter anak-anak, yang membahas peristiwa kekerasan yang bisa dialami anak-anak di dunia nyata, tanpa terasa eksploitatif.

Pelajaran yang langsung bisa kita petik sehubungan itu adalah bahwa The Black Phone tidak pernah ditujukan untuk anak-anak. Film ini komit dengan rating dewasa, dan menunjukkannya ke dalam desain penceritaan yang dewasa juga. Kita di sini akan melihat anak-anak berantem, tonjok-tonjokan hingga berdarah-darah, karakter anak yang dibully mulai dari oleh teman sekolah hingga oleh ayahnya sendiri, anak-anak yang tewas dibunuh. Kita melihat karakter anak yang terus dipush untuk berhadapan dengan hal mengerikan seorang diri. Eh enggak sendirian, ding, karena kita menghadapi bersama dirinya! Ya, tak sekalipun anak-anak dalam The Black Phone kelihatan sebagai objek. Kita tidak ‘menyaksikan’ mereka diculik, dibunuh, ketakutan. Kita ikut merasakan horor yang mereka alami. Feeling teror yang konstan itulah yang menandakan film ini kuat sekali menampilkan perspektif karakter anak yang genuine.

Untung mereka gak tinggal di kota masa kecilku, terornya bisa nambah. Teror mati lampu!

 

Gak usah nunggu lama, transisi tone di prolog alias menit-menit awal sebelum kredit pembuka muncul aja udah gila banget rasanya! Sehabis sorak sorai kompetisi di lapangan baseball, lalu set up relasi karakter utama, semuanya beralih muram saat van hitam itu muncul di tikungan. Best part dari film ini memang adalah babak set upnya. Tiga puluh menit pertama saat kita diperkenalkan kepada lakon cerita dan panggungnya. Kota Colorado itu terasa gak aman. Sudah banyak anak-anak sekolah yang diculik. Beberapa di antaranya, dikenal baik oleh Finney (Mason Thames jadi anak yang pemalu, tapi punya lengan yang kuat!) Babak awal film ini melakukan banyak sekaligus, tapi sukses berat dalam tugasnya, Karakterisasi Finney dan relasinya dengan beberapa karakter kunci berhasil dimantapkan. Finney suka roket, Finney naksir cewek tapi gak berani bilang, Finney tipe anak yang sering dibully, dia butuh bantuan dari teman-teman, bahkan dari adiknya, Gwen. Yang btw diperankan dengan natural dan kocak oleh Madeleine McGraw. Hubungan kedua kakak adik ini dengan ayahnya juga dilandaskan. Tentu saja, Finney jadi korban penculikan berikutnya. Dia toh harus belajar stand up for himself. Nah, di ruang bawah tanah tempat dirinya disekap penculik itulah Finney harus mulai belajar. Also, sesuatu hal mistis terjadi. Telepon dinding yang sudah rusak yang kabelnya gak nyambung itu berdering. Finney mengangkat, dan dia mendengar ruh para korban bicara kepadanya. Mencoba membimbing Finney untuk take action berusaha keluar dari sana.

The Black Phone diangkat dari cerita pendek karangan Joe Hill, putra dari novelist horor kawakan Stephen King. Sedikit banyak, pengaruh bokapnya dapat kita rasakan di balik cerita Hill ini. Terutama dari unsur mistis dan psychic yang dikandung cerita. The Shining, misalnya, ada yang namanya ‘shine’. Kekuatan yang membuat Danny Torrance bisa telepati, punya penglihatan, dan bisa baca pikiran, yang digunakan sebagai fasilitas tak-terjelaskan untuk bantu memajukan plot. Hantu-hantu yang datang untuk membantu Finney juga mengingatkanku kepada hantu penolong di Pet Sematary. Aku gak tahu materi asli Black Phone ini memperlakukan unsur-unsur tersebut seperti apa, aku belum baca cerita pendeknya. Namun dari yang kulihat tertampil di sepanjang durasi, The Black Phone tidak membuat mistis tersebut jadi terlalu menggampangkan. Cerita lain akan settle dengan menjadikan hantu dan kekuatan psychic itu sebagai kemudahan. Alih-alih itu, The Black Phone berusaha mengangkat ‘fasilitas’ ini menjadi sesuatu. Adik Finney yang punya kekuatan penglihatan lewat mimpi diberikan konflik dengan ayahnya, sekaligus juga menyenggol urusan reliji. Meskipun sedikit aspek reliji ini dimainkan lebih sebagai komedi, tapi setidaknya lapisan karakternya bertambah. Dan bantuan dari hantu-hantu enggak lantas membuat aksi dan pilihan Finney jadi selesai. Bayangkanlah seperti petunjuk kasar. Masih banyak yang harus dipelajari, masih banyak yang harus diperjuangkan oleh Finney dengan tangannya sendiri.

Seperti halnya genre lain, dalam horor pun ada klise. Tapinya lagi tidak semua klise harus diberantas, ada juga klise yang masih worked, misalnya dalam horor adalah soal bahwa yang paling mengerikan justru adalah manusia. The Black Phone punya klise ini. Yang horor adalah penculiknya. The Grabber (kayaknya ini peran paling deranged yang pernah dibawakan oleh Ethan Hawke) jauh lebih berbahaya daripada hantu-hantu, karena dia penjahat. Hantu-hantu berdarah itu korban. Persoalan hantu jadi tantangan bagi The Black Phone sebagai horor. Bagaimana membuat makhluk halus berpenampilan mengerikan tetap seram tapi kalah menakutkan dari manusia yang bahkan tidak diperlihatkan secara langsung membunuh karakter anak-anak (kalo di film kita pasti ada adegan yang memperlihatkan The Grabber bunuhin anak kecil dengan sadis). Perhatikan jumpscare yang dilakukan oleh film ini setiap kali kemunculan hantu. Film tidak membuatnya over. Melainkan seadanya, tidak pake suara mengagetkan. Cukup membuat kita ketakutan dari build up kemunculan tapi tidak sampai merampas kita dari simpati ataupun apa yang harusnya kita rasakan kepada mereka yang cuma korban. Segala ‘teatrikal’ justru diberikan kepada The Grabber. Yang gak langsung membunuh, melainkan main mindgame dulu dengan korban. Menikmati jebakan mental yang dia buat sendiri. Yang pake topeng yang berbeda-beda setiap kali kemunculannya.

Topengnya didesain oleh Tom Savini, makanya tampak familiar mirip ama topeng The Fiend di WWE!

 

In many ways, The Grabber yang merasa Finney spesial ini adalah paralel dari kehidupan si karakter utama. The Grabber bisa simbol dari bully yang ia terima. The Grabber yang punya adik ini juga bisa dilihat sebagai lawan dari hubungan Finney dengan Gwen, adiknya. Dan yang paling utama adalah soal banyaknya jenis topeng The Grabber, bersisian dengan Finney yang enggak populer dan bahkan bisa dibilang ‘tidak kelihatan’ di sekolah oleh teman-temannya. Dicuekin. Jadi walaupun karakter The Grabber tidak dikembangkan mendalam, tapi dari desain karakternya dia sudah jadi antagonis yang efektif untuk protagonis kita. Afterall, ini adalah cerita tentang anak yang harus belajar stand up for himself.

Satu yang menarik dicuatkan oleh film dengan subtil ini adalah soal kepentingan dari sebuah nama. Hantu-hantu tidak bisa lagi mengingat nama mereka, Finney yang berbohong soal namanya, dan ending film berupa cewek yang ditaksir Finney menyebut namanya. Nama, seperti wajah di balik topeng, adalah identitas. Hal yang tidak ‘dipunya’ oleh anak-anak korban bully dan korban KDRT seperti Finney. Karena mereka merasa kecil. Film menyebut nama Finney baru dikenal saat dia hilang diculik, The Black Phone menunjukkan bahwa konfirmasi nama oleh orang lain dapat memberikan kekuatan seperti yang kita lihat ketika para hantu jadi merasa damai setelah diberitahu namanya. Perjuangan Finney pun akhirnya menutup ketika dirinya sudah direcognize dengan nama di akhir cerita.

 

Sebagai adaptasi dari cerita pendek, kesan agak dipanjang-panjangin masih sedikit menghantui film ini. Babak kedua yang memperlihatkan proses Finney berusaha melarikan diri, bisa terasa repetitif. Walaupun film memang berusaha menaikkan tantangan, mulai dari Finney harus menggali dengan tangan kosong, ke harus memanjat dengan kabel, hingga ke membuat jebakan dan perkakas. Persoalan mistis dan kekuatan vision adiknya yang tak-terjelaskan pun dapat membuat penonton yang mengharapkan penjelasan pun sedikit kurang puas. Beberapa orang mungkin juga bakal mengeluhkan film ini lambat, tapi aku bisa lihat itu hanya karena horor dalam film ini tidak mencapai ketinggian yang mereka harapkan. Bahwa film ini ternyata hantunya baik, sehingga momen-momen jumpscare yang ditunggu untuk seru-seruan itu gak benar-benar terbayar. Buatku sendiri, film ini amat memuaskan. Aktingnya really good semua. Arahan horor dan dramanya selaras. Babak satunya justru yang paling enak untuk disimak. Aku suka lihat relasi Finney dengan adiknya, dengan temannya. Rasanya sudah lama sekali gak nonton film horor tentang anak-anak yang benar-benar mencekam dan gak sekadar membuat mereka jadi objek. Dan lebih lama lagi rasanya kita gak mendapat karakter horor edan yang pakai topeng keren.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE BLACK PHONE

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian anak-anak jaman dulu mengalami tantangan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak jaman sekarang?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 


NAGA NAGA NAGA Review

 

“Listen to what your kids are saying, and let them be themselves”

 

 

Kadang kalo terlampau banyak yang pengen kita obrolin, terlalu banyak yang mau dibahas, pengen kritik sana-sini, di dalam satu waktu, kita justru bisa kelihatan gak punya arah dan asal bicara tanpa benar-benar ada point yang mau dibicarakan. Bener loh, kalo gak percaya tonton aja Naga Naga Naga. Film ketiga dari tokoh ikonik Deddy Mizwar, si Jenderal Naga Bonar ini memang tampak dibuat dengan niat yang baik. Mau menasehati dan ngingetin kita lewat celetukan-celetukan yang menyentil politik dan sosial, sekaligus juga pengen ngasih wejangan terhadap dunia pendidikan anak kepada orangtua. Tapi yang disampaikannya ini terlalu bloated, bahkan tidak benar-benar terstruktur dalam penceritaannya. Meskipun begitu, penggemar yang sudah setia ngikutin dari film pertamanya akan masih bisa merasa terhibur karena film ini memang dibuat untuk melanjutkan legacy karakternya yang unik.

Nagabonar,  pencopet yang jadi jenderal itu, kini telah menjadi opung-opung. Cucunya gak kalah nyentrik. Hobi bermain sepakbola, sering berantem (dia nampar temannya, pake kaki!) dan gak mau sekolah, padahal cucunya ini anak perempuan loh. Monaga namanya (Cut Beby Tshabina pemerannya). Sikap Monaga terang saja membuat khawatir ayah dan ibu. Bayangkan kalian pasangan yang sukses dan tajir mampus, tapi anak kalian dikeluarkan berkali-kali dari sekolah. Bonaga berusaha mencarikan jalan keluar yang terbaik bagi pendidikan sang putri tunggal, sesuai dengan yang diminta oleh istrinya. Tapi Naga senior terbukti sangat berpengaruh dalam keluarga ini. Si Monaga ternyata lebih suka sekolah di  literally sekolah kandang kambing bersama anak-anak jalanan, dengan dukungan penuh dari opungnya.

Awas diamuk Wanda, lohhh!

 

Sini kuberitahu sedikit tentang cara mengetahui film yang kita tonton itu bagus atau tidak seperti apa. Coba tuliskan sinopsisnya. Jika sinopsis itu bisa clear terjabarkan dari satu perspektif karakter sebagai subjeknya, maka film itu termasuk bagus karena berarti sudut pandang utamanya kuat dan cerita tersusun padu dari karakter tersebut. Now, aku sendiri kebingungan mau menuliskan sinopsis dari Naga Naga Naga ini. Ya, seperti judulnya itu; ‘Naga-nya terlalu banyak!’ Seems like, film ingin bercerita tentang hubungan para karakter. Tentang ayah dengan anaknya, kakek dengan cucunya, lalu juga tentang si ayah dengan si kakek, suami dengan istri, ibu dengan putrinya. Jejaring relasi ini memang membuat sebuah drama yang kompleks, hanya saja film tidak pernah benar-benar menapakkan cerita ini punya siapa. Naturally, cerita sepertinya berkembang dari sudut pandang orangtua. Dan memang pada film ini, yang mengalami pembelajaran, yang mengalami pengubahan cara berpikir, adalah Bonaga dan istrinya. Mereka jadi tahu lebih baik daripada memaksakan putri mereka harus sekolah di mana. Di awalpun film memang seperti sudah menempatkan Bonaga yang diperankan Tora Sudiro sebagai tokoh utama, karena dia ada di pusat cerita. Tapi sepanjang durasi, Bonaga jarang sekali melakukan aksi atau pilihan yang berarti. Dia bahkan gak benar-benar tampak mengkhawatirkan pendidikan putrinya, setidaknya gak tampak sekhawatir istrinya. Pada perjalanannya, cerita terus kembali kepada si opung. Naga Bonar Deddy Mizwar. Keputusan dan tindakan beliaulah yang membuat cerita bergulir.

Masalahnya, dari sudut pandang si Opung ini, tidak ada yang namanya masalah. Opung Naga Bonar dibentuk sebagai karakter dengan pola pikir yang beda, yang dijadikan pemecah masalah. Dia begitu perfect, sampai-sampai dia salah pun, dia benar. I mean, mungkin kita bisa bandingkan karakter Naga Bonar di sini dengan karakter Aamir Khan di 3 Idiots (2009), si Ranchoddas Chanchad. Karakter Rancho dihadirkan sebagai kritikan terhadap sistem pendidikan India yang kaku dan bikin stress banyak murid, film 3 Idiots membuat Rancho sebagai ‘jawaban’ dan pendidikan kaku tersebut sebagai ‘lawan’. Dia tampak seperti si nyentrik nekat, yang membuka pandangan teman-temannya dan eventually membuat mereka lebih berani menjadi diri sendiri. Fungsi dan bentukan karakter Rancho dan Naga Bonar di Naga Naga Naga sama. Sama-sama lain dari yang lain. Opung Naga juga jadi pembuka mata bagi karakter lain, sehubungan dengan mendidik anak (termasuk sekolah mereka dan sebagainya). Tapi ada perbedaan yang signifikan. Opung Naga  gak punya stake di dalam cerita ini. Ketika Rancho masih harus membuktikan dia memang beneran pintar, dia ikut merasa bersalah saat sesuatu menimpa temannya, dia tampak vulnerable saat membantu proses melahirkan – sesuatu yang ia tidak pernah lakukan, Opung Naga dalam cerita garapan Deddy Mizwar ini selalu benar. Tidak punya stake. Tidak ada yang menantang sudut pandangnya. Karakter ini difungsikan sebagai penyampai kritik tapi yang dikritiknya begitu luas sehingga jadi mengambang, tidak fokus di satu titik seperti Rancho yang ‘berhadapan’ dengan dosennya.

Hampir dua-puluh menit aku masuk ke dalam film, tapi tidak benar-benar terasa ada masalah. Padahal permasalahan dan isu sosial, politik, bahkan parenting dan rumah tangga sudah ada disebutkan. Mulai dari kesetaraan gender (cewek kok main bola) hingga ke soal keadilan juga berarti harus beradab, bahkan soal orang Batak pengen punya keturunan laki-laki semuanya dilibas oleh film ini.  Akan tetapi Naga Naga Naga ini adalah tipe film yang mengangkat satu masalah, lalu kemudian menyelesaikannya lewat nasehat atau penjelasan Opung (berupa celetukan kritik sosial dan politik), gitu terus berulang. Satu masalah-langsung-beres, lanjut ke masalah baru. Tidak ada ritme dan struktur. Semuanya hanya tampak seperti sketsa-sketsa kritik yang dipaksakan masuk ke dalam narasi anak-yang-ingin-memilih sendiri bentuk pendidikannya. Yang terburuk yang bisa muncul dari ‘struktur’ non dramatis seperti ini adalah kejadian-kejadian atau masalah-masalah dalam film inin selesai dengan cara yang tidak realistis. Sering juga permasalahan jadi tampak perfect, ideal, dan berakhir manis tanpa benar-benar menyinggung pusat masalahnya. Film ini, beserta karakter-karakternya, jadi tidak lagi genuine. Misalnya, untuk menasehati kita perihal adil itu bukan berarti harus sama rata, maka film membuat Opung dan teman-teman sekolah Monaga makan di restoran Padang (halal of course, ngok!) yang mau tutup sehingga nasinya cuma tiga piring sedangkan mereka berenam orang. Film ‘memaksa’ karakter-karakter itu untuk makan di sana, alih-alih pindah nyari yang lain, hanya supaya bisa ada adegan mereka membagikan porsi nasi dengan lebih beradab.

Kalo si Monaga, aku lihat-lihat miripnya sama Nikki A.S.H di WWE haha

 

Tadinya kupikir film ini bakal ngasih banyak pembahasan menarik, khususnya terkait Monaga sebagai anak dan cucu perempuan dari duo Naga yang sudah dikenal luas oleh penonton. Tapi ternyata keberhasilan film ini justru membuat set up Monaga yang menarik menjadi karakter paling boring. Dia basically versi perpanjangan dari opungnya. Kenyataan bahwa karakternya ini perempuan, malah membuat film semakin ‘napsu’ untuk membuat karakter ini sebagai teramat mulia. Literally no flaw. Kalimat sindiran favoritnya “daripada jadi koruptor”. Film tidak membahas kenapa dia lebih dekat ke opung, soal borderline dia jadi kayak terlalu dimanjakan, atau bahkan soal sepertinya dia gak ngeh dirinya bisa nolak sekolah dan semua itu karena orangtuanya tajir. This kid compares herself dengan Mark Zuckerberg, Thomas Alpha Edison, dan bahkan nabi – itu argumennya perihal sekolah. Ada adegan Monaga memandangi teman-temannya makan di halaman dari balik kaca jendela, tersenyum bangga, seolah pahlawan yang menatap kebaikan yang ia lakukan. Buatku ini bukannya menginspirasi, tapi malah terasa kayak orang kaya yang kena savior complex. Real hero harusnya punya pengorbanan dan perjuangan. Monaga gak punya ini, semua masalahnya dibereskan dengan gampang oleh opung dan uang. Dan film gak mempertegas apakah Monaga tahu semua itu atau tidak. Buatku, film ini persis kayak si Monaga. Hanya melihat dari jendela. Nice, tapi gak realistis. Problem dan penyelesaian yang dihadirkan tidak terasa real. Melainkan hanya satu sisi kritikan tanpa mengangkat diskusi dari sisi lain.

Pesan paling grounded yang dimiliki oleh film ini di balik banyak celetukan-celetukan kritik ke sana kemari adalah soal orangtua harusnya mendengarkan anak. Yang sangat respek dilakukan oleh film ini adalah memperlihatkan bahwa pendapat anak juga penting untuk didengarkan. Dalam adegan-adegan film ini, opini dan kata-kata Monaga selalu dijadikan penentu oleh Opung dan ayahnya. Dan di akhir, ibunya diperlihatkan mau membuka diri untuk mendengar pendapat anaknya sebelum mengambil keputusan sepihak. Sungguh tindakan dan keterbukaan kekeluargaan yang patut ditiru.

 

Padahal dari segi karakterisasi sebenarnya menarik. Penyampaian dialog, tek-tokan build up pengadeganan, hingga kata-kata dialognya terasa keren kayak gaya sastra lama. Dan pintar juga, I give that. Aku suka ketika film seperti membandingkan ‘Apa kata dunia?’ bagi Opung dengan bagi ibunya Monaga (walau ibunya tidak mengucapkan ini dengan gamblang). Karena dua karakter ini punya prinsip yang berbeda, yang satu merasa malu kalo diledek orang lain, malu kalo berbeda dengan orang lain, sementara yang satu percaya cara dia-lah yang benar walaupun menurut orang lain salah. Sehingga mereka menggunakan kalimat tersebut sebagai katakanlah pembuat keputusan, pondasi value mereka. Aku pengen melihat kalimat tersebut digunakan lebih tegas lagi sebagai penanda pembelajaran karakter, terutama pada Opung. Film memang melakukannya, tapi tidak sekuat dan setegas yang harusnya bisa dilakukan. Sehingga lebih mirip sebagai gimmick semata. Yea, gimmick. Pada akhirnya Naga Naga Naga tampak seperti gimmick saja. Mulai dari elemen karakter Bataknya hingga ke semangat nasionalisme itu sendiri, semuanya seperti gimmick untuk menyampaikan kritik serabutan alih-alih fokus pada hal urgen yang jadi pondasi ceritanya.

 

 

 

Tayang saat ada cerita keluarga berlatar Batak yang lebih genuine masih bercokol gagah di bioskop, jelas tidak membantu untuk film ini. Yang ada malah penonton akan lebih mudah membandingkan keduanya. Dan penonton akan menemukan bahwa film ini memang tampak sebagai gimmick yang preachy saja jika dibandingkan dengan Ngeri-Ngeri Sedap tersebut. Film Deddy Mizwar ini padahal punya kekuatan di karakter, dengan akting yang boleh diadu. Permasalahan yang diangkat juga gak kalah penting dan grounded, hanya saja film ini memuat terlalu banyak. Tidak hadir dengan struktur dan pokok bahasan yang jelas. Semua mau disenggol. Coba di mana masuknya cerita tentang anak yang hanya mau sekolah demi anak-anak jalanan bisa ikut sekolah dengan mengembalikan dompet bukan ke polisi tapi langsung ke empunya. Cerita film ini tampak lebih works out ke dalam bentuk serial atau video-video pendek, menurutku.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for NAGA NAGA NAGA

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana menurut kalian tentang nasionalisme yang diangkat oleh film ini?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA