BEFORE, NOW & THEN (NANA) Review

 

“When women are oppressed, it’s tradition.”

 

 

Keabadian memang milik Tuhan, tapi toh ada juga beberapa hal di dunia yang begitu mendarah daging, gak lekang, sehingga jadi sesuatu yang bersifat nyaris seperti kekal selamanya. Represi perempuan dalam sosial masyarakat Indonesia, misalnya. Dalam film terbarunya, Before, Now & Then (Nana), sutradara Kamila Andini menggambarkan bagaimana hal tersebut bertumbuh seperti jadi tradisi – bahwa perempuan dulu, kini, hingga nanti harus menyimpan siapa diri mereka, luka-luka hati mereka, di balik tuntutan untuk tampil lemah lembut dan patuh sesuai fitrah sebagai seorang ibu dan istri. Persoalan ini dituturkan oleh Kamila bukan dalam ledakan emosi, melainkan dengan sama ter-restrained-nya. Film ini, seperti perempuan Indonesia, tampil elok dan menghanyutkan, tapi dengan suatu perasaan tragis di baliknya.  Kesan yang ketika ditranslasikan ke dalam bahasa sinema, menjelma menjadi satu lagi hal di dunia yang bakal hidup selamanya; sebuah excellency.

The excellence of execution film ini bukan hanya tertampil lewat visual, melainkan juga dari bagaimana ceritanya terstruktur. Just like any great film should, Before, Now & Then mengerti pentingnya  awal, tengah, dan akhir cerita. Kehidupan protagonisnya, terhampar menyeluruh untuk kita simak. Nana boleh jadi menyembunyikan banyak hal pada dirinya kepada orang lain, tapi bagi kita, Nana seperti air – yang tampak tenang meski kelam – untuk diselami. Semua yang kita lalui di masa lalu akan membentuk siapa kita di masa sekarang, dan siapa kita nanti di masa yang akan datang bergantung dari bagaimana kita menyingkapi masa lalu di masa sekarang, apakah kita belajar darinya atau terus tenggelam bersamanya.  Tahap fundamental seperti demikianlah yang jadi jalur pergerakan film ini; Nana will go through life,  dengan konteks bahwa keadaan di sekitar Nana gak berubah – merupakan sistem mengurung yang sama, sehingga terciptalah konflik personal yang berlayer itu dari sana.

Untuk membuat kita mengerti apa yang bakal bersarang di hati Nana sehari-hari, film membawa kita melihat ke masa ‘before’ Nana. Yakni saat dia dalam pelarian di dalam hutan. Nana yang saat itu menggendong bayi, menerobos hutan bersama saudaranya, Ningsih. Mereka diburu, bukan oleh Belanda, bukan oleh Jepang, melainkan oleh ‘gerombolan’. Gerombolan itu juga yang telah membawa suami Nana, dan yang diyakini Ningsih telah membunuh bapak mereka. Eksposisi ‘before’ yang dilakukan film ini di awal cerita serta merta menjadi opening yang efektif karena bukan saja melandaskan setting serta konflik yang membuat karakter keluar dari zona amannya, tapi juga langsung memperkenalkan kita kepada penceritaan audio visual level tinggi yang dilakukan. Lihat bagaimana film menggambarkan Nana saking rindunya dia sampai gak ingat wajah suaminya. Film menggambarkan ini dengan actually meletakkan sosok suami di kejauhan, like, waaay di belakang layar sosoknya hanya blur saja. Batas realita dengan hal di benak Nana saat itu dikaburkan, sehingga hutan itu jadi sureal, dan dengan konteks mereka lagi diuber-uber (diperkuat oleh musik mengiris di latar), sense ketakutan, sense pengalaman traumatik bisa langsung tersampaikan kepada kita.

Jadi, apakah sebenarnya judul film ini dibacanya: “Selamanya Nana di dalam kurung”?

 

‘Now’ dalam cerita Nana adalah lima-belas tahun kemudian. Nana hidupnya tampak nyaman sebagai istri Kang Lurah. Statusnya terpandang di masyarakat. Anaknya sekarang bukan cuma satu, tapi ada empat orang, dan yang paling dekat dengan Nana adalah gadis cilik bernama Dais. Tapi gak satupun dari Kang Lurah ataupun Dais tahu bahwa perempuan yang melayani dan mengasihi mereka itu masih terus dibayangi oleh kejadian di masa lalunya. Tidak, dengan hanya melihat wajah Nana yang ekspresinya sekilas tampak teduh dan tenang. Briliannya film ini memang terutama datang dari bagaimana Nana dimainkan oleh Happy Salma (kalo dari perannya ini cocoknya namanya Sadie Salma) Happy Salma tampak benar-benar mengerti karakter ini, benar-benar paham tugas yang harus ia lakukan dalam memerankan karakter ini. Dia memainkan Nana dengan sangat contained. Dari ekspresinya, dari bagaimana Nana bergerak, dan bahkan dari bahasa. Bukannya mau membandingkan (karena memang bukan apple to apple), tapi film pertama yang membuatku tertarik lebih jauh dengan sinema; tertarik bagaimana film dibuat, bagaimana cerita dirancang, bagaimana menonton itu dapat menjadi sebuah pengalaman adalah Mulholland Drive-nya David Lynch. Karena semua aspek di film itu ‘diatur’ oleh treatment sutradara, dan itu mindblowing buatku. Aku menemukan bahwa Before, Now & Then juga adalah film seperti itu, jadi aku semakin excited. Semua aspek Nana adalah treatment khusus yang dilakukan untuk menguatkan gambaran keterkurungan jiwa yang dirasakan Nana. Judulnya memang gak bohong, keseluruhan Before, Now & Then adalah Nana. Adalah bagaimana Nana berurusan dengan kehilangan, ketakutan, dan keterbatasan yang bakal terus bersama dia selamanya.

Sesuai dengan latar tempatnya, film ini menggunakan dialog full bahasa Sunda. Aku memang bukan ahlinya, ngerti juga gak banyak (aku sebagian besar menyimak obrolan karakter dari baca subtitle), yang kutahu cuma bahasa Sunda ada tingkatan intensitasnya, dan film menggunakan itu untuk memperkuat gejolak perasaan yang dialami oleh karakter. Sehingga percakapan jadi hidup. Anak-anak terdengar seperti anak-anak, perempuan yang ngobrol dengan suami akan terdengar berbeda dengan saat dia ngobrol di malam hari dengan dirinya sendiri, dan sebagainya. Bahasa lantas diperkuat oleh ekspresi. Di aspek ini film sedikit mengambil resiko. Lantaran Nana yang di separuh awal masih berkubang di perasaan terkukung (even tho it’s not her fault) memang bakal tampak melelahkan bagi penonton yang capek bermuram dan berhening terus. Penawar dari Nana akan hadir di pertengahan dalam wujud karakter Mak Ino yang diperankan oleh Laura Basuki. Totally berkebalikan dari Nana. Blak-blakan, berani, lebih cheerful-lah. Momen-momen ringan juga bakal banyak datang dari Ino, yang bakal menularkan vibe ini ke Nana. Hubungan antara Nana dan Ino jadi salah satu relationship penting dalam cerita, karena dari Ino yang awalnya dia anggap sebagai trigger ketakutannya-lah Nana belajar bagaimana ‘membebaskan’ diri. Well, at least dalam perasaannya sendiri.

Tentu ada alasannya kenapa Laura Basuki yang dicast sebagai Ino. Karakter itu bagi Nana awalnya adalah seperti manifestasi dari kehilangannya dulu. Nana yang masih belum melupakan bayang-bayang suami terkait PKI dan antikomunis, melihat Ino yang bermata sipit dan menjual daging lebih dari seorang suspect mistress dari Kang Lurah. Di iklim yang lagi trend pelakor seperti sekarang memang mudah melihat persoalan mereka sebagai perselingkuhan, tapi sungguh film ini lebih dari itu. Ketakutan Nana bahkan bukan benar-benar soal diselingkuhin. Melainkan lebih kepada kehilangan keluarga lagi, kehilangan anak lagi. See, relationship yang lebih penting di film ini dari Nana dan Ino yang akhirnya jadi temenan begitu Nana sadar betapa ‘kuatnya’ Ino sebagai perempuan cina di masa hidup mereka itu, adalah antara Nana dengan Dais. Yang membawa penyadaran bahwa konflik Nana adalah generational, bahwa masalah itu akan turun temurun. Bahwa perempuan akan selalu ditindas mau itu di jaman Belanda, jaman Jepang, ataupun jaman-jaman lain. Salah satu adegan favoritku adalah setelah Nana menyisiri rambut Kang Lurah yang feelnya so serene, film lantas menarik perbandingan dengan memperlihatkan adegan Nana bersama Dais menyisir rambut. Dais menanyakan kenapa perempuan rambutnya panjang tapi malah disanggul, dan Nana menjawab sanggul adalah simbol rahasia yang disimpan oleh perempuan. Ibu anak itu lantas berbagi rahasia. Lalu sepeninggal Dais, Nana mengenang masa lalunya sambil menatap konde, dan lantas dia mengenakan konde itu sebagai simbol menguatkan diri. Gestur Nana nguat-nguatin diri  di depan cermin setelah konde terpasang really gets me. Pemandangan bahwa untuk keluar rumah perempuan seperti Nana harus membebat perut, berdandan, menyanggul rambut, itulah bentuk represi diri dalam hal terkecil. Makanya adegan-adegan Nana dengan Ino terjun ke sungai, merokok dengan pakaian dalam, jadi menyentuh sekali bagi penonton. Itulah momen ketika karakter perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri. Gak ada rahasia.

Belum setahun, tapi kita udah dapat dua karya menakjubkan dari Kamila Andini, nikmat mana lagi yang mau sinefil dustakan?

 

Kamila lebih menonjolkan cerita lewat simbol visual dan gerak, dalam usaha membuatnya lebih dalam secara personal. Daripada mengatakan kuat referensi film karya orang luar, aku lebih suka menyebut ini film Kamila yang paling mirip dengan film-film bapaknya. Aku merasa film ini adalah companion dari Kucumbu Tubuh Indahku (2019) karya Garin Nugroho. Karena di situ Garin juga bercerita tentang trauma masa lalu tergambar dalam gerak tubuh, terpetakan dalam tubuh pria yang menjadi feminim. Kisah Nana ini menilik permasalahan itu dari sudut perempuan. Bagaimana pembatasan diri perempuan – saat mereka bahkan tidak bisa bebas mengekspresikan trauma – juga membatasi gerak pada akhirnya.  Dalam film Before, Now & Then, Kamila membatasi gerak-gerak aktornya untuk menguatkan kesan ini. Akan ada banyak adegan yang terasa kayak terlalu frame-in, yang terasa kayak teatrikal, demi menyampaikan karakter yang secara inner terbelenggu tersebut. Perbandingan yang menarik perhatianku adalah gerak slow motion yang dilakukan film ketika Nana mengikuti Ino – menatap punggung Ino – saat pertama kali ke ruang potong daging, saat mereka belum kenal, dengan gerak cepat ketika tatapan Nana mengikuti punggung Ino yang meloncat dari tebing ke sungai.

Film tampil balance dengan gak lantas menjadi karakter laki sebagai antagonis. Justru ‘penjahat’nya di sini adalah sistem, yang tak terlawan. Bagaimana masyarakat akan selalu nganggap PKI jahat, bagaimana perempuan bakal terus harus nurut, dan sebagainya. Yang dihadirkan film ini adalah perbandingan. Pada laki-laki represi tentu juga ada, tapi itu jadi problem yang harus segera diluruskan. Bagi perempuan, represi dan opresi adalah tradisi, yang bakal terus berlanjut.

 

Tentunya aspek surealis gak ketinggalan. Film ini punya adegan-adegan mimpi, punya musik biola yang bisa ngasilin perasaan berbeda setiap kali muncul, dan bahkan ada karakter misterius. Di film ini Nana akan berjumpa dengan perempuan muda yang diperankan oleh Arawinda Kirana, yang muncul setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak. Aku pikir karakter ini adalah manifesti ingatan Nana akan anaknya yang tewas, dan nanti setelah dia juga kehilangan Dais, baru si karakter misterius hadir sebagai Dais. Yang berbisik-bisik kepada Nana. Seperti Dais kecil bisik-bisik kepada Nana. Seperti Ino berbisik-bisik kepada Nana. Inilah yang menghantarkan kita kepada ‘then’. Nana posisinya gak banyak perbaikan di akhir, tapi sekarang dia tidak lagi senelangsa di awal cerita. ‘Then’ juga menanyakan balik kepada kita, gimana ‘sekarang’? Jadi, pesan / statement film ini mirip dengan yang disampaikan Kamila di film Yuni (2021), bahwa perempuan hanya punya perempuan lain sebagai penawar rasa terkukung bahwa sistem yang mendikte posisi perempuan sudah terlanjur mendarah daging. Bedanya, di film kali ini, Kamila menumpahkan uneg-uneg itu ke dalam presentasi yang lebih ‘teknis’, kalo gak mau disebut lebih artsy.




Sungguh kejutan menyenangkan di bulan Agustus, walau agak sedih juga sih tidak menonton ini bioskop melainkan di platform. Tapi film sepersonal ini memang lebih cocok ditonton secara personal pula, jauh dari hingar bingar. Mungkin sekilas tampak berat, tapi ini adalah cerita yang pengen kita tonton berulang-ulang. Bukan sekadar untuk menebak maksud simbol-simbolnya, melainkan juga karena cerita ini dihadirkan sebagai perjalanan personal karakter sehingga mudah terkoneksi. Karena kita mengerti problem karakternya real dan tidak dibuat-buat. Meskipun bisa dibilang film ini terlalu mengatur dengan treatment melingkupi banyak hal mulai dari ekspresi, gerak, hingga bahasa. Kesan yang dihasilkan bukan membuat film jadi kaku, melainkan jadi magis. Dan itu juga sesuai konteks dan bahasan yang coba diangkat film. Yang pada akhirnya jadi buah pikiran lain untuk direnungkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BEFORE, NOW & THEN (NANA)

 




That’s all we have for now.

Lucunya, banyak penonton yang jadi ngeship Nana dengan Ino. Menurut kalian kenapa itu bisa terjadi?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 4 (RANAH 3 WARNA, INCANTATION, DUAL, PERJALANAN PERTAMA, METAL LORDS, THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT, HUSTLE, CHIP ‘N DALE RESCUE RANGERS)

 

 

So, banyak yang nanya ‘Mini Review ini buat film-film yang kurang penting, ya?’ Nope, Enggak. Bukan. Wrong. Sama sekali tidak. If anything, justru buatku ini adalah tempat film-film yang lebih ‘susah’ untuk diulas. Karena seringnya, aku masukin film ke segmen ini karena aku gak bisa langsung merampungkan ulasan setelah nonton. Masih ada bagian yang harus dipertimbangkan. Masih ada bias yang masih harus diademkan. Atau masih merasa perlu untuk nonton filmnya lagi. Dan karena didiamkan dahulu itulah, filmnya jadi ‘tergilas’ film baru yang tayang berikutnya.  Jadi simpelnya, Mini Review ini gak ada hubungannya ama kelas kepentingan film, melainkan hanya soal aku telat menyelesaikan proses nulis atau nontonnya saja.

Buktinya? Nih lihat aja judul-judul yang terangkum di Volume 4 ini!

 

 

CHIP ‘N DALE: RESCUE RANGERS Review

Sebagai anak 90an, mengatakan aku cukup akrab dengan Chip ‘N Dale sungguhlah basa-basi. Dua tupai ini muncul di setiap komik dan majalah Donal Bebek yang kubaca (di kita nama mereka ‘diterjemahkan’ jadi Koko dan Kiki). Dan game petualangan mereka di Nintendo, jadi favoritku waktu kecil. The game was like monopoly, bisa merusak persahabatan. Aku actually bertengkar dengan teman, karena di situ kita bisa salah angkat teman sendiri, dan ‘gak sengaja’ melempar mereka ke jurang. Yea, ‘gak sengaja’ hihihi

Anyway, aku berasa seperti anak kecil lagi saat nonton film ini. Demi ngeliat karakter-karakter kartun dari masa lalu tersebut. But also, conflicted, karena ya tahulah gimana film-film dari nostalgia masa kecil dimanfaatkan sebagai parade IP semata.  Chip ‘N Dale ini juga sebenarnya dibuat dengan niat seperti itu. Namun sutradara Akiva Schaffer mendorong konsep ‘hey, here are your favorite childhood characters‘ lebih jauh lagi. Yang menyenangkan dari film ini adalah mereka memang memperlihatkan perkembangan. Mereka semacam membangun dunia-cerita yang meta, dan mengeksplor cerita dari sana. Dale (disuarakan dengan pas oleh Andy Sandberg) capek jadi sidekick Chip di serial kartun mereka, sehingga memutuskan untuk nyari proyek solo, dan begitulah akhirnya duo ini pisah. Hingga sekarang. Dale operasi dirinya jadi animasi 3D untuk stay relevant dan Chip kerja di balik meja. Dengan setting yang menarik tersebut, film seperti berusaha ngasih lihat perkembangan animasi di balik nostalgia. Mencoba membayangkan gimana para tokoh kartun ini sebagai aktor beneran. Dan hasilnya memang lucu dan supermenarik. Banyak karakter dari berbagai kartun dihadirkan, dan permasalahan mereka disangkutkan dengan soal kartun-kartun bajakan.

Tapi ya itu tadi, film ini tidak pernah diniatkan untuk dibuat mendalam. Hey, ini ada masalah bootleg, ini ada issue soal trend animasi, mari kita bikin cerita yang actually memberikan gagasan tentang semua itu. Tidak. Chip ‘N Dale bukan great film karena memilih untuk membangun penceritaan berdasarkan surprise dan nostalgia value, sehingga banyak menomorduakan kaidah-kaidah film beneran. In the end, ini masih kayak kartun mereka dulu, tapi dengan setting berbeda. Kuharap film ini dibuatkan juga versi gamenya.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for CHIP ‘N DALE: RESCUE RANGERS.

.

 

 

DUAL Review

Kita biasanya gak peduli sama apa yang kita punya, sampai sesuatu yang dipunya itu hendak direbut oleh orang lain. Kadang nilai sesuatu baru kita hargai, baru terasa, saat kita sudah kehilangan. Kupikir bahasan tentang hal tersebut bakal selalu jadi bahasan yang tragis. Tapi sutradara Riley Stearns somehow berhasil mengarahkannya ke dalam cerita dark comedy. Aku merasa bersalah juga, banyak ketawa miris melihat Karen Gillan yang di sini jadi Sarah yang hidupnya dicolong oleh kloningannya sendiri.

Sarah orangnya pendiam, gak asik, dia bosan ama hidupnya. Gak ada passion lagi ke pasangannya, juga selalu menghindar saat ditelpon ibunya. Momen pertama karakter ini kocak-tapi-sedih banget adalah ketika dia biasa aja saat dikasih tahu dokter hidupnya tinggal beberapa waktu lagi. Sarah justru kayak senang ketika dia sadar masalah hidupnya bakal jadi masalah kloningan. Ya. di dunia antah-berantah tempat tinggal Sarah, ada teknologi klone yang disediakan khusus untuk keluarga pasien yang hendak meninggal. Supaya gak sedih-sedih amat lah. Masalah baru muncul ketika Sarah gak jadi mati, jadi kloningannya sesuai hukum harus ‘dimatikan’ tapi si kloning menjalani hidupnya lebih baik daripada yang Sarah lakukan. Bahkan orang-orang terdekat Sarah lebih suka si kloningan ketimbang Sarah yang asli. Di titik cerita ini, aku benar-benar merasa gak enak udah ketawa.

Kupikir itulah kekuatan sekaligus juga kelemahan film Dual. Berhasil menemukan titik tengah tempat penonton bisa mengobservasi sekaligus berefleksi juga. Medan yang ditempuh film sebenarnya sulit. Sarah, misalnya, harus tampil ‘jauh’, terlepas dari penonton. Dan memang susah ngikutin karakter yang gak ada semangat sama sekali seperti ini. Tapi ketika waktunya tiba, Sarah harus bisa mendapat simpati, dan itu hanya bisa dilakukan dari seberapa kuatnya film menjalin kita lewat situasi metafora. Dual meminta banyak kepada kita.  Tapi memang ketika konek, film ini jadi seru. Paruh akhirnya buatku bisa jadi celah untuk film mulai menggali lebih dalam perihal hidup dan eksistensi. Sayangnya, film ini memilih untuk membungkus cerita dengan cara yang seperti mengelak dari bahasan tersebut. Dan itu membuat journey Sarah jadi mentah, karena ternyata film hanya menjadikan semuanya sebagai ‘hukuman’. Bukan pembelajaran baginya.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for DUAL

 

 

 

HUSTLE Review

Meskipun setting ceritanya memang di lingkungan basket, tapi sutradara Jeremiah Zagar tidak semata membuat film tentang olahraga basket, melainkan lebih sebagai drama tentang keluarga dan ambisi. Sehingga kita gak perlu untuk jadi penggemar basket dulu untuk menonton Hustle. Malah, dijamin, Hustle akan menyentuh setiap penonton yang menyaksikan ceritanya.

Adam Sandler sekali lagi membuktikan kematangan aktingnya. Dengan ini namanya tidak lagi disinonimkan dengan komedi-komedi receh. Sandler justru memperlihatkan taringnya sebagai aktor drama keluarga yang punya range natural sehingga karakter yang ia mainkan terasa hidup. Di sini dia adalah mantan pebasket yang kini jadi pencari talent karena cintanya dia terhadap olahraga ini. Dan memang penampilan akting Adam Sandler-lah yang membuat film ini menyenangkan untuk diikuti. Yang membuat naik turun dramanya  tidak seperti bola basket yang didrible keras. Melainkan melantun dengan emosional. Center film ini adalah hubungan antara Sandler dengan pria yang ia temukan jago bermain basket, tapi pria ini not yet ready. Jadi dia harus digembleng, dengan segala permasalahan seputar tim Sandler tidak percaya, dan Sandler melatih orang ini menggunakan biaya dari kantongnya sendiri.

See, Sandler sendiri di sini harus bekerja sebagai tim. Apalagi lawan mainnya kebanyakan adalah pemain basket beneran yang baru sekali ini berakting. Mungkin karena permainan Sandler tinggi di atas yang lain itulah, aku merasa agak kurang konek dengan aktor lain. Terutama lawan mainnya. Aku tidak benar-benar merasa si pria bernama Bo ini pengen banget jadi pemain basket. The reason he played juga gak ditonjolin kuat, hingga ke paruh akhir saat permasalahan baru personal bagi dirinya. Inilah yang membuatku agak sedikit kurang berada di belakang perjuangan mereka saat awal hingga pertengahan cerita. Untuk sebagian besar waktu aku merasa duduk di sana untuk melihat the magic of basketball cinema saja, karakternya kurang. Hanya Sandler yang menonjol.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HUSTLE

 

 

 

INCANTATION Review

Yup, there’s no doubt film ini menunggangi kepopuleran The Medium tahun lalu. Hadir dengan tema horor supernatural, kepercayaan dewa-dewa, dan bercerita dengan teknik found footage.

Dalam beberapa hal, sutradara Taiwan Kevin Ko sebenarnya melakukan lebih baik daripada The Medium. Dia bercerita dengan konsep found footage yang lebih solid ketimbang The Medium yang di awal malah tampak seperti mockumentary lalu lantas ngescrap konsep itu dan beralih jadi full cuplikan kamera. Karakter utamanya juga lebih kuat. Incantation ini adalah cerita tentang seorang perempuan yang di masa lalu pernah melanggar suatu ritual, dan sekarang dampak dari perbuatannya berhasil catching up, dan nyawa putri ciliknya jadi taruhan. Gak kayak Medium, perspektif tokoh utama film Incantation ini lebih fokus dan gak pindah-pindah. Dari aspek horor, selain gimmick pov langsung dari kamera, Incantation juga punya elemen body horror yang langsung menyerang fobia penonton. Diperkuat juga dengan bahasan soal persepsi; gimana kutukan dan berkah sebenarnya tergantung cara orang memandangnya.

Hanya saja film ini gak pede. Atau mungkin, film ini terlalu mengincar seru-seruan ketimbang bercerita dengan benar. Karena film ini actually ngebutcher kejadian atau runtutan peristiwanya. Lalu disusun dengan alur bolak-balik, yang seperti tanpa bendungan tensi. Kita akan bolak-balik antara rekaman video karakter di masa lalu dengan di masa sekarang, yang seringkali setiap perpindahan bikin kita lepas dari kejadian sebelumnya. Sehingga nonton ini jadi kerasa capeknya aja. Keseraman, apalagi journey karakternya, jadi nyaris tidak terasa karena sibuk pindah-pindah.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for INCANTATION.

 

 

 

METAL LORDS Review

Sebelum Eddie Munson yang bikin semua orang bersimpati, sebenarnya Netflix sudah punya kisah rocker baik hati. Metal Lords garapan sutradara Peter Sollett berkisah tentang dua remaja sekolahan misfit yang mencoba naik-kelas popularitas dengan membentuk grup metal supaya bisa menangin Battle of the Bands.

Selain sebagai cerita coming of age dan persahabatan dua remaja cowok (yang akan involving salah satunya deket ama cewek sehingag mereka jadi renggang), film ini punya ruh metal yang kental. Sehingga tampak seperti sebuah surat cinta terhadap genre musik tersebut. Film membahas tentang bagaimana genre ini di kalangan anak jaman sekarang. Yang lantas semakin berdampak kurang bagus bagi keinginan dua karakter sentralnya untuk populer. Pembahasannya sebenarnya cukup formulaik, alias gak banyak ngasih sesuatu yang baru. Tapi hubungan antarkarakter yang menghidupi ceritanya feels real. Seperti saat melihat Eddie di serial Stranger Things yang membuka mata bahwa, yah, rocker juga manusia, film ini juga memberikan kita insight di balik apa yang dianggap banyak orang sebagai stereotipe seorang anak penyuka musik keras.

Ngomong-ngomong soal keras, I do feel like film ini masih sedikit terlalu berhati-hati, like, masih terlalu ngincar feel good moment. Sedikit pull out punches. Tidak banyak adegan memorable terkait drama. Enggak menjadi sedalam Sing Street. Tapi untuk urusan musik metal, well, film ini memang cukup cadas.  Di adegan battle of the bands, kita akan dapat satu performance musikal yang keren. Bersama satu transformasi karakter yang sama kerennya!

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for METAL LORDS.

 

 

 

PERJALANAN PERTAMA Review

Ini film paling baru yang masuk daftar Mini Review. Artikel ini kurampungkan Jumat, sedangkan Kamisnya aku baru saja menonton film ini. Aku sebenarnya punya waktu untuk nulis ini ke dalam review panjang. Namun pas nulis kemaren, aku merasa perlu lebih banyak waktu. Sebelum akhirnya aku sampai pada kesimpulan, bahwa karya Arief Malinmudo ini sebenarnya memang mengandung nilai-nilai baik. Bukan hanya kepada anak, ini bisa dijadikan pelajaran buat kita semua untuk tidak memandang sesuatu dengan mengedepankan kebencian. Tapi dalam penceritaannya, masih clunky. Cerita ini punya dua sudut pandang, dan film tidak mulus – tidak benar-benar paralel dalam membahas keduanya.

Jadi ini adalah kisah tentang anak kecil yang dibesarkan oleh kakeknya. Dia tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya, kakeknya masih menyimpan rahasia. Sehingga si anak kesel. Ketika si Kakek pergi mengantarkan lukisan pesenan orang, si anak yang tadinya ogah-ogahan akhirnya mau ikut menemani. Di tengah perjalanan, lukisannya dicari orang, sehingga mereka harus menemukan. Tapi masalahnya, si anak gak tahu lukisan kakek seperti apa. Dan si kakek gak mau cerita. Film benar-benar ingin menyampaikan perasaan kesal si anak kepada kita sehingga di paruh awal cerita banyak sekali bagian-bagian narasi yang bikin kesel dan konyol. Ini adalah jenis film yang gets better di akhir, saat semuanya sudah diungkap. Tapi untuk film ini, bagian tersebut agak sedikit terlalu lambat datangnya. Membuat kita berlama-lama di bagian yang gajelas  di awal.

Dialog film ini sebenarnya cukup kaya oleh lapisan. Kayak kalimat ‘orangnya sudah ketemu’ di akhir film yang bermakna dua karena diucapkan oleh karakter yang di awal deny bahwa perempuan harus dicari, bukan mencari. Aku gede di Sumatera, jadi aku tahu Melayu dan Sumatera Barat yang jadi latar film ini memang sangat kuat dalam perumpamaan, dan nilai-nilai budi yang baik. Film ini berusaha menjadi sesuai latarnya itu, tapi tidak benar-benar mulus melakukan. Sehingga di awal-awal banyak muatan adegan-adegan yang seperti pesan-pesan random, kurang integral dengan permasalahan inner karakter. Beberapa malah konyol. Kayak ada adegan mereka ngejar bis, nganterin seorang penumpang anak kecil yang tertinggal. Dan lalu ada suara ibunya yang ngomen dari atas bus, lalu lantas si ibu ngajak anaknya selfie. Konyol sekali.

The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for PERJALANAN PERTAMA.

 

 

 

RANAH 3 WARNA Review

Satu lagi cerita dari tanah Minang, yang juga menjunjung nilai-nilai kebaikan dan berakar kuat kepada adat. Bedanya, Ranah 3 Warna diadaptasi dari novel, dan merupakan cerita sekuel. Sehingga punya advantage dari sisi dunia-cerita dan karakter-karakter yang sudah lebih established. Tapi itu tidak lantas berarti lebih baik dalam penceritaan.

Ranah 3 Warna memang lebih imersif. Di sini karakternya akan berdialog minang dan hanya berbahasa Indonesia kepada karakter yang gak bisa bahasa daerah. Persoalan bahasa benar-benar dikuatkan, karena setting tempat benar-benar masuk ke dalam narasi. Sesuai judulnya, akan ada 3 daerah, banyak budaya, banyak bahasa yang jadi panggung dan mempengaruhi karakter sentral. Tapi ini juga lantas membuat film jadi episodik, karena Ranah 3 Warna diarahkan Guntur Soeharjanto lebih seperti novel, ketimbang seperti film. Dalam film biasanya, konflik karakter akan dibuild up, stake naik, dan solusi baru ketemu di babak akhir cerita, sehingga segala usaha dan pay offnya jadi terasa gede sebagai akhir perjalanan. Ranah 3 Warna ini, konflik itu hadir sebagai permasalahan yang sama dihadapi oleh karakter di setiap tempat yang berbeda. Mereka tidak mengembangkan untuk satu film, tapi satu tempat. Lalu mengulang permasalahan itu ketika karakter kita pindah ke tempat yang baru. Jadinya terasa sangat repetitif.

Apa permasalahannya? soal kesabaran. Jadi ketika di Bandung, karakter kita dihadapkan kepada situasi yang menguji kesabarannya, lalu dia belajar dari nasihat orang, dan lalu ketemu solusi. Adegan berikutnya, pindah tinggal di negara lain. Dan formula konfliknya berulang kembali, walaupun seharusnya karakter utama sudah belajar tentang kesabaran itu di problem sebelumnya. Penonton awam mungkin gak akan masalah, apalagi karena film ini dihidupi oleh karakter-karakter menyenangkan, dengan pesan-pesan yang baik. Film ini bakal menang award cerita berbudi luhur (kalo ada). Tapi sebagai film, ini masih berupa pesan yang disampaikan berulang kali. Nonton ini, aku yang merasa harus belajar sabar.

The Palace of Wisdom gives 5 gold star out of 10 for RANAH 3 WARNA

 

 

 

THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT Review

Dibuka oleh film meta, ditutup oleh film meta. Yup, sama seperti Chip ‘N Dale yang mengangkat kisah petualangan beneran dari aktor film kartun, film Unbearable ini juga begitu. Mengangkat kisah aktor yang harus ngalamin petualangan beneran. Aktor yang dimaksud adalah Nicolas Cage, yang di sini memainkan versi aktor dari dirinya sendiri. Karakter Nick Cage yang ia perankan dibentuk dari meme, gosip, isu, dan perjalanan karir ikonik yang ditempuhnya dalam real life. So yea, ini adalah film yang sangat lucu, bermain-main dengan karir aktor pemerannya.

Sutradara Tom Gormican tidak lantas membuatnya sebagai perjalanan nostalgia. Melainkan benar-benar mengolah cerita dari sudut pandang aktor Nick Cage. Bagaimana jika persona tersebut dijadikan karakter. Dimainkan langsung oleh Nicolas Cage hanya menambah lapisan di dalam karakter ini. Jika film harus bisa memblurkan antara fiksi dan realita, maka film ini garis tersebut tidak bisa lebih blur lagi. Penceritaannya dibuat ringan, sehingga tidak lantas ujug-ujug jadi  Birdman versi real. Lucunya, film ini membuat hal menjadi lebih besar lagi dengan membenturkan yang namanya film character driven, dengan film action. Dua tone ini meluncur mulus, dan ini membuktikan betapa Nicolas Cage benar-benar fluid dan versatile, di atas punya selera humor yang juga juara.

Tentu saja film bukan hanya tentang satu orang, walaupun basically build around ‘myth’ tentang dirinya. Film juga punya karakter-karakter lain. Dan di sini, semua karakter berhasil mencuri perhatian. At heart, film ini juga adalah tentang persahabatan. Nick Cage akan berteman dengan seorang yang ternyata berkaitan dengan kelompok mafia. Dan persahabatan mereka, yang involving mereka menggarap naskah film bersama-sama menjadi highlight yang bikin ini semakin menyenangkan untuk diikuti.  Jika kalian snob film, film ini akan menghibur tanpa ‘memangsa’ sel otakmu. Jika kalian suka film action heboh, film ini akan membuatmu lebih dari sekadar puas. Jika kalian suka Nicolas Cage, kalian akan treasure this movie forever.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT.

 

 

 

That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 


THE BAD GUYS Review

 

“Gives everyone a chance to show you who they are”

 

 

Bayi terlahir ke dunia dalam keadaan suci. Katanya sih, bagaikan kertas putih yang belum bertuliskan apa-apa. Masih kinclong banget. Namun dalam kurun hidupnya nanti, kertas tersebut akan cepat sekali ternoda. Penuh oleh catatan-catatan jelek yang ditulisnya sendiri. Si bayi gak bakal betah jadi orang suci. Dia akan mudah tergoda ke dark side. Orang jahat lebih keren daripada orang baik. Bandingkan saja karakter jahat di dalam film, yang biasanya lebih kompleks dibandingkan karakter baik yang cenderung annoying. Film yang karakter utamanya benar melulu terasa membosankan. Kita suka karakter yang bercela. Anak-anak cewek juga lebih suka pacaran ama bad boy ketimbang anak yang kalem. Jadi orang jahat dipandang lebih menarik, dan menguntungkan (kalo salah dan lantas viral – tinggal minta maaf!). Jadi mempertahankan ‘kertas’ bawaan lahir tetap putih itu susah, lantaran memang berbuat kebaikan lebih berat dan sulit untuk dilakukan. Kita actually harus belajar untuk menjadi orang yang baik. Kita harus belajar moral, agama, PPKn, Animasi-panjang debut sutradara Pierre Perifel memotret soal tersebut. The Bad Guys mengajak kita  merampok bank bersama hewan-hewan jahat, bertualang seru di dunia animasi sembari memperlihatkan struggle untuk menjadi orang baik itu begitu real.

Sebagai film heist, The Bad Guys actually banyak ‘mencuri’ dari film-film lain. Selain memuat banyak referensi dan trope-trope khas dari genre heist itu sendiri, nonton film ini terutama membuatku keingetan sama Despicable Me (2010) dan Zootopia (2016). Karena bermain di tema yang sama. Yakni tentang prasangka dan soal orang jahat yang harus berbuat baik. Geng Bad Guys terdiri dari Wolf, Snake, Shark, Tarantula, dan Piranha yang sudah bersahabat – merampok bank bersama-sama – sejak lama. Kiprah mereka sudah jadi legenda di kota. Semua orang takut kepada mereka. Untuk aksi puncak mereka, hewan-hewan antropomorfik ini berencana merebut Golden Dolphin, piala emas untuk orang paling dermawan di kota. Dalam aksi mereka, Wolf terpaksa harus menolong seorang ibu tua, membuat dirinya merasakan untuk pertama kalinya dipuji sebagai orang baik. Rencana mereka malam itu memang gagal, tapi Wolf yang tertangkap punya rencana lain. Wolf dan teman-temannya mengaku insaf, dan belajar jadi warga yang baik, padahal mereka masih berniat mencuri piala. Selama periode berpura-pura itulah, Wolf mulai mempertanyakan diri sendiri. Dia orang jahat atau orang baik. See, untungnya, pak sutradara Perifel tetap mengolah elemen-elemen ‘curian’ dari film lain tadi dengan baik. sehingga dia sukses mencuatkannya sebagai warna unik film The Bad Guys tersendiri.

Also, aku ingin mempersembahkan ulasan ini kepada the original Bad Guy, Razor Ramon (Scott Hall) yang telah berpulang beberapa bulan yang lalu

 

 

Punya karakter berupa hewan buas, yang ternyata baik, dan real antagonis yang berupa hewan yang biasanya dimangsa, The Bad Guys memang paling gampang untuk dikatain mirip Zootopia. Kedua film sama-sama membahas wujud fisik seseorang seringkali membuat mereka terlalu cepat di-judge oleh masyarakat. Dalam The Bad Guys, Wolf diceritakan sudah turun temurun dianggap sebagai orang jahat berkat kemunculannya di cerita-cerita klasik seperti pada cerita 3 Babi Kecil ataupun Little Red Riding Hood. Begitu pula dengan teman-temannya yang basically adalah hewan-hewan predator yang menakutkan. Soal prasangka atau prejudice film ini pada perkembangannya, mulai menggali ke tempat yang berbeda dari Zootopia. Para karakter hewan itu, mereka semua diceritakan jadi perampok karena mereka percaya itulah role mereka di masyarakat. Orang-orang enggak pernah ngasih mereka kesempatan jadi yang lain, maka jadi orang-jahat itulah yang mereka lakukan. Perbedaan pengolahan lantas semakin ditunjukkan film ini lewat treatment world-building ceritanya.

Jika dalam dunia Zootopia semua penghuninya adalah hewan yang bertingkah seperti manusia, maka dalam The Bad Guys ini, hanya karakter-karakter sentral yang berspesies hewan-antropomorfik. Mereka hidup bertetangga dengan manusia. Dan bahkan hewan-hewan lain seperti kucing dan guinea pig masih bertingkah seperti binatang kayak di dunia kita. Film tidak memberikan penjelasan terhadap hal tersebut secara blak-blakan.  Awalnya kupikir ini cukup aneh. Kenapa setengah-setengah. Ternyata ini bukanlah kealpaan film dalam menjelaskan. Tidak, dunia cerita ini tidak ada sejarah sci-fi yang menyebabkan sebagian hewan-hewan itu bisa pakai baju dan berbicara. Melainkan penyimbolan yang digunakan film untuk semakin mencuatkan perihal prasangka yang jadi tema cerita.  Karakter sentral perampok yang hewan buas – Wolf yang bicara penuh tipuan, Shark yang ahli nyamar, Piranha dengan aksen dan suka nyari ribut, Snake yang egois, hingga Tarantula yang jago ngehack – mereka semua digambarkan sesuai dengan stereotipe tertentu. Jadi bukan sekadar cocok dengan ‘sikap’ hewannya, melainkan juga mewakili karakter manusia yang sudah jadi stereotipe. Akan lebih aman dan more accessible untuk membuat karakter-karakter seperti demikian sebagai hewan ketimbang membuat mereka jadi manusia. Karena pasti bakal menimbulkan “wah, filmnya rasis nih” Bayangkan kalo Piranha digambarkan sebagai manusia yang berkebangsaan sesuai dengan aksen bicaranya. Dengan menampilkan mereka sebagai karakter hewan di antara manusia, film sebenarnya ingin menunjukkan secara halus kepada kita bahwa seringkali kita juga memandang sesama dengan penuh kecurigaan. Kita melihat fisik (yang biasanya memang dikaitkan dengan ras)

Maka bisa dibilang, Perifel memanfaatkan medium animasi untuk mengkorporasikan visinya menyampaikan tema dengan maksimal. Bukan sekadar lucu-lucuan hewan bisa ngebut-ngebutan dan mencuri. Film ini mengandung layer bahkan sejak karakterisasinya. The Bad Guys toh memang seketika memancing perhatian kita ke animasinya. Karakter-karakter yang disuarakan oleh jejeran bintang top seperti Sam Rockwell, Awkwafina, Craig Robinson, Marc Maron, Anthony Ramos juga tampak hidup dan sangat lincah oleh animasi bergaya ala komik; dengan shade pinggiran yang tebal sehingga literally mencuat. Tampilannya ini jadi sangat fresh, karena berbeda dari animasi tradisional. Hampir seperti campuran supermulus antara animasi 2D dengan 3D. Humor juga ditampilkan lewat visual, sebagai penyeimbang dari dialog-dialog yang konyol. Bagian aksi heist mungkin sedikit repetitif, tapi karena disuguhkan dengan gaya yang berbeda, sama sekali tidak terasa membosankan.

Film ini bahkan tidak butuh lagu Billie Eilish  untuk membuat persembahannya terkesan seru

 

 

Yang paling aku suka dari film ini adalah cara mereka menghandle tema yang kupikir bakal sama persis dengan Despicable Me. Yaitu soal cara ‘mengubah’ karakter protagonis yang perampok ini menjadi hero dalam cerita. Dalam cerita yang ditargetkan untuk penonton muda (khususnya anak-anak) biasanya ya tinggal ngasih karakter penjahat sebagai lawan dari karakter baik. Kalo karakter baiknya orang jahat, ya tinggal kasih karakter yang lebih jahat dan culas dan curang untuk jadi lawannya. Cara seperti ini cenderung untuk melemahkan kompleksitas yang menyusun karakter-karakter. Membuat narasi mereka jadi simpel. Dan memang dalam The Bad Guys ada karakter yang lebih jahat. In fact, ada beberapa pengungkapan yang terbuild up dan jatoh cukup ngetwist perihal karakter mana sebenarnya siapa, mereka baik atau tidak. Tapi naskah enggak melupakan saga atau plot karakter sentralnya. Keberadaan penjahat tidak lantas membuat geng protagonis kita jadi hero, jadi baik. Film ini terus menggali karakter mereka. Film benar-benar membuat mereka merasakan sendiri proses menjadi baik. Film benar-benar memberi ruang bagi karakter-karakter itu untuk memilih mereka mau jadi baik atau jadi jahat. Dengan kata lain, perkembangan karakter itu ada di sini.

Konflik antarmereka; persahabatan mereka yang dijadikan stake, ultimately dimanfaatkan film untuk mengenhance karakterisasi. Memperdalam bahasan di balik kejar-kejaran, rampok-rampokan, dan kekocakan belajar bertingkah baik. Tengok bagaimana film menghandle plot si Snake. Mungkin karakter sobat si Wolf ini yang paling ngena buat kita karena naskah benar-benar membangunnya dengan seksama. Di akhir cerita, Snake jadi baik dan gak egois itu kerasa earned banget karena progresnya itu kita rasakan, terbangun plot poin demi plot poin. Tema ngasih kesempatan kepada orang itupun tercerminkan dengan sempurna bukan hanya kepada Wolf, tapi juga pada banyak karakter lain.

Dulu Bang Napi di televisi bilang kejahatan ada karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah. Film The Bad Guys menunjukkan, ternyata kebaikan juga seperti itu. Tercipta dari kesempatan. Berikan seseorang kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya, dan most of the time, seseorang itu akan menunjukkan yang terbaik dari dirinya. Jangan berprasangka dulu. Ya, berbuat baik itu sulit dan butuh kerja ekstra, maka sebaiknya jangan dipersulit lagi dengan menuduh hanya dari fisik atau dari kecurigaan semata.

 

 

Pepatah ‘Don’t judge a book by it’s cover’ sekali lagi terbuktikan oleh film ini. Bukan saja dari ceritanya, tapi juga dari eksistensinya. Pertama kali melihat trailer film ini di bioskop, kupikir bakal kayak animasi hura-hura yang biasa. Kekonyolan aksi perampokan saja. Catering untuk audience dengan berlebay-lebay. Tapi ternyata enggak. Selain satu-dua momen karakternya unnecessarily break the 4th wall, film ini ternyata terdesain sangat sempurna. Baik itu dari penceritaan, maupun tampilan visualnya. Animasinya hidup, sangat berlayer, persis seperti karakterisasi karakter-karakternya. Berlapis. Mereka semua actually punya plot dan perkembangan di balik aksi seru-seruan yang kocak. Sutradara Pierre Perifel tampak benar-benar memanfaatkan medium animasi sebagai media penyampai visinya. Dan dia gak segan-segan ngambil dari elemen film-film lain, untuk kemudian berusaha menggubahnya menjadi warna tersendiri.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE BAD GUYS.

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian percaya orang-orang bakal melakukan yang terbaik jika diberikan kesempatan? Atau apakah manusia memang sudah hopeless gak bisa diharapkan untuk jadi baik?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

KKN DI DESA PENARI Review

 

“We need to remember across generations that there is as much to learn as there is to teach.”

 

 

 

Semua hal yang populer, perlu untuk dibuatkan menjadi film. Kalimat itu benar mutlak, kalo kalian punya pemikiran seperti studio/PH gede. Maka dari itulah film-film yang kita dapati sekarang, semakin banyak yang dibuat dari cerita yang entah itu remake dari film lain, adaptasi dari novel atau sastra, adaptasi komik – atau game – atau lagu – atau bahkan ‘adaptasi’ dari apapun.  It is just easier (dan less riskier) menjual sesuatu yang udah ketahuan ada pembelinya. Cerita original bukannya gak ada peminat ataupun gak ada yang mau bikin. Hanya memang munculnya agak jarang karena ‘perjuangannya’ lebih panjang untuk bisa lolos difilmkan. Harus dipopulerkan dahulu. Caranya? Ya beragam; bisa digimmick-kan, bisa dengan ambil aktor atau pembuat yang lagi hits, atau yang lucunya – ‘terpaksa’ dijadiin buku dulu. Sehingga jadi gak dianggap original lagi.

Di detik ini, udah susah untuk  mastiin apakah cerita KKN di Desa Penari adalah cerita original yang didesain untuk viral dulu sebelum digarap jadi film, atau memang karena viral maka difilmkan. Wallahualam. Yang jelas, thread Twitter yang muncul di 2019 itu memang sensasional. Semua orang yang kukenal, bilang sudah membacanya. Kalo sudah serame itu, kehadiran filmnya memang tinggal menunggu waktu (dan damn Covid memastikan kita menunggu untuk waktu yang bertambah-tambah). Hanya saja, here’s the thing about adaptation. Ekspektasi bakalan tinggi. Menyadur alih-medium itu gak gampang. Tantangan sutradara Awi Suryadi di proyek KKN ini berat. Karena jika ternyata film ini kalah seram ama threadnya yang berhasil viral itu, maka ya berarti storytelling-nya kalah telak dan juga berarti studio filmnya gak mampu ngehandle cerita seram yang bagus.

Seenggaknya buatku nonton film ini terasa original, karena aku gak baca thread-nya sebelum ini

 

Genre Horor, sejak meledak oleh Hollywood di 70-90an, suka mengangkat kisah remaja yang terdampar di hutan atau tempat asing, dengan pembunuh atau makhluk menyeramkan mengincar. Sekelompok remaja yang modern dan bebas akan dikontraskan hal-hal yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Biasanya awal masalah dimulai ketika ada satu orang yang melanggar ‘aturan’ di tempat tersebut. Horor itu sendiri adalah simbol dari nilai-nilai yang diantagoniskan oleh sosok remaja. Aturan, orang tua, tanggung jawab, dan sebagainya. Cerita KKN di Desa Penari fits that mold perfectly. Enam orang mahasiswa harus KKN supaya bisa lulus, tapi sialnya desa yang mereka pilih adalah desa yang sungguh misterius. Lokasinya jauh di dalam hutan, penghuninya orang tua semua, banyak sesajen di mana-mana, dan sesekali terdengar suara gamelan entah dari mana. Tadinya kupikir bakal keren sekali, film horor lokal yang gak sekadar niru formula horor barat melainkan punya identitas lokal. Para mahasiswa bener-bener ada alasan kuat untuk berada di TKP. Bukan alasan sepele kayak liburan, ngevlog, atau semacamnya. Dan sebagai yang pernah ngerasain KKN, ya cerita ini relate. Anak KKN mana sih yang gak punya pengalaman horor sepulang dari desa yang ditugaskan.

Pengalaman horor tersebut erat kaitannya dengan cueknya remaja dengan aturan desa yang aneh dan gak logis, atau juga dengan kebiasaan di sana yang berbeda sekali dengan di tempat asal. Singkatnya, only natural bagi cerita seperti ini untuk memakai formula fish-out-of-water. Dalam KKN di Desa Penari, ‘fish’nya adalah Nur dan lima orang teman. Mereka gak boleh sompral. Gak dianjurkan pake pakaian terbuka. Terutama gak boleh masuk ke wilayah hutan yang disebut penduduk desa Tapak Tilas. Tentu saja aturan-aturan tersebut tetap terlanggar juga oleh teman-teman Nur. Keberadaan mereka jadi ternotice oleh lelembut penguasa di situ, Badarawuhi, yang langsung menempel ke teman yang cewek, merayu teman yang cowok, dan bikin perjanjian sama teman yang satu lagi. Sebelum mereka semua diambil, Nur yang punya ‘pelindung’ berusaha mengarahkan teman-temannya kembali ke ‘jalan yang benar’.

“Sebagai yang waktu kuliah dulu sering harus tinggal di daerah pelosok (bukan hanya saat KKN), aku memang sependapat sama film ini. Bahwa semuanya adalah soal respect. Betapapun gak logisnya aturan dan tahayul di hutan, ikutin aja. Bukan soal percaya atau gak percaya. Melainkan soal menghormati yang punya tempat, alias penduduk lokal. Dialog di ending saat orang desa merasa bersalah atas tragedi yang menimpa Nur dkk, sementara Nur juga merasa bersalah karena lalai menjaga kepercayaan benar-benar menunjukkan bahwa di mana pun, kapan pun, siapapun, sebenarnya sama-sama ingin saling menjaga.”

 

Cukup banyak sebenarnya poin-poin kejadian menarik yang dikandung oleh film ini. Aku suka bagian ketika para mahasiswa dihidangkan kopi hitam oleh tetua desa. Adegan tersebut digunakan sebagai set up untuk menghantarkan ke bagaimana para karakter nanti tahu siapa di antara mereka yang sedang ketempelan makhluk halus. Soal makhluk halus, film ini punya cukup banyak (emangnya film superhero doang yang bisa punya villain lebih dari satu!) Yang paling berkesan memang si Badarawuhi yang tampil magis dan merinding sekali dibawakan oleh Aulia Sarah berbusana penari tradisional. Setidaknya film ini got it right dengan membuat karakter-karakter hantunya terasa berada di level yang berbeda dengan karakter manusia. Sekuen di ‘hajatan’ juga aku suka, meskipun agak klise, tapi kejadian seperti itu paling relate buat cerita-cerita nyasar di hutan. Dan adegan di sana digambarkan dalam ‘nada’ yang paling berbeda dibandingkan dengan rest of the movie, sehingga jadi terasa sangat fresh.

Nada atau tone sebagian besar durasi itulah masalah yang pertama kali kurasakan saat masuk ke film ini. Terasa begitu monoton. Film tidak menampilkan banyak emosi atau suasana lain selain mood yang seram nan angker melulu. Para karakter mahasiswa tampak cemas, bingung, takut sepanjang waktu. Mereka udah kayak kurcaci di cerita Snow White, karakterisasinya hanya terdefinisikan oleh satu emosi. Si Jutek, Si Alim, Si Misterius, Si Pelawak. Nur, misalnya, dia kayak gak boleh bersuka ria atau bercanda oleh naskah. Kerjaannya cuma mencemaskan yang lain, dan ngingetin ibadah. Kita pengen melihat lebih banyak interaksi mereka, entah itu sesama mahasiswa ataupun dengan penduduk – you know, sekadar untuk ngingetin kalo mereka itu ada di desa untuk KKN. Ada tugas, ada goal. Poin-poin menarik yang kusebut di atas tadi mestinya bisa disebar dengan natural, bikin cerita benar-benar ada flow. Toh KKN beneran kan gak serem-sereman sepanjang waktu. Kita butuh untuk melihat para karakter sebagai manusia normal, mereka harusnya  ngalamin banyak hal di tempat itu. Cerita ini punya banyak elemen dan lingkungan yang bisa digali, tapi sutradara Awi Suryadi terpaku pada keadaan film yang sekarang sudah jadi sebuah adaptasi thread viral.

Keviralan tersebut malah jadi beban, ketimbang sesuatu yang membebaskan kreativitas. Alih-allih menjawab tantangan dia bisa bercerita lebih hebat daripada thread Twitter bercerita, Pak Sutradara lebih memilih untuk ngikutin apa yang sudah tertulis. Dan dia tidak melakukan hal selain itu. Makanya film ini nadanya jadi monoton. Karena ‘adaptasi’ dalam konteks KKN di Desa Penari ini bagi pembuatnya adalah tentang mewujudkan semua bagian-bagian mengerikan yang bikin ceritanya viral. Bukan adaptasi yang menafsirkan ke dalam bahasa film. Film ini hanya berisi scare demi scare. Struktur naskahnya tidak dipedulikan lagi. Di paruh akhir, baru para karakternya mengerti konflik dan apa yang harus mereka lakukan (mencari bangle Badarawuhi) Menit-menit awal aja aku udah ngakak karena film ini actually punya dua adegan opening, dan dua kredit pembuka. Dua kali kita ngeliat adegan baru-tiba-di-desa, naik motor masuk ke hutan – pembukaan pertama ceritanya masih survei desa, yang kedua baru beneran datang KKN dengan formasi lengkap. Dan di dua adegan pembuka yang mirip itu gak ada informasi yang berbeda. Benar-benar gak perlu – dan bisa saja dibikin jadi satu. Gak usah ngikut cerita di Twitter. Ketika jadi film, mestinya cerita bisa ditambah, misalnya, adegan mereka di kampus  ditunjuk KKN bareng. Dikasih tahu kalo ini kesempatan terakhir mereka untuk lulus sebelum di DO, misalnya. Menurutku adegan seperti itu harusnya ada supaya siapa para mahasiswa dan situasi mereka bisa benar-benar terbuild up dan kita jadi peduli.

Gabut amat KKN tapi kerjaannya kesurupan melulu

 

Ketawaku malah jadi lebih gede lagi ketika sampai di menjelang akhir. Tau-tau film ini membuat seolah Nur dan yang lain adalah tokoh asli, dengan ada adegan yang membuat film jadi kayak sebuah mockumentary. Gimmick ‘kejadian dari kisah nyata’ yang dipakai oleh thread Twitter-nya turut diadaptasi mentah-mentah oleh film ini, menghasilkan konsep tontonan yang benar-benar gak konsisten. Jika memang mau membuat ini jadi semacam mockumentary, menjual ini sebagai seolah kisah nyata, kenapa bangunan bercerita filmnya tidak dibentuk seperti itu sedari awal. Bisa dibilang, tidak ada tindak adaptasi yang dilakukan di sini, karena hanya tumplek plek kayak memvisualkan setiap kejadian seram. Tanpa dikomandoi ritme dan alunan alur cerita. Pun dalam memvisualkan juga gak bisa dibilang istimewa.  Kalo para bocil yang baca thread KKN dikasih kamera dan disuruh mengadegankan yang mereka baca, aku yakin hasilnya gak akan jauh dari adegan yang kita saksikan di film ini.  Sebegitu standarnya yang dilakukan pembuat film untuk menghidupkan ceritanya. Gak ada yang spesial. Pan kanan – pan kiri. Jumpscare. Kamera miring dikit. Drone. Menari. Jika MCU punya machination alias template pada arahan actionnya, maka film ini nujukin film horor kita punya template khusus adegan horor, dan  KKN ini ngikutin semuanya.

Konfrontasi terakhir dengan si ratu jin ular penari? Beuh, jangan ditanya! Konklusi Nur dengan ‘pelindung’nya? Jangan disebut! Karena memang film gak ngasih development apa-apa untuk protagonis utama kita. Tissa Biani pastilah ngerasa gabut banget meranin Nur. Dia cuma meringis karena bahunya berat. Gak ada aksi, gak ada pilihan, nyawaya pun tak pernah terancam bahaya. Cara dia menemukan bangle Badarawuhi pun cuma ‘kebetulan’ sekali. Nemunya gak susah. Nur cuma karakter moral, yang kadang tampak segala tahu. Siapa dia, backstorynya gak pernah digali. Di babak akhir dia cuma nangis merasa bersalah. Yang save the day justru karakter lain, yang namanya bahkan bisa tidak kusebutkan di sini tanpa banyak pengaruh apa-apa.

Dengan sering mundur tayang, film ini padahal punya banyak waktu untuk revisi. Jika gak bisa suting ulang, paling enggak editingnyalah diberdayakan. Tapi sekali lagi mereka membuktikan bahwa mereka tak peduli sama film ini selain untuk jualan. Karena yang actually mereka lakukan cuma merilis dua versi; reguler dan uncut. Aku tahu sex sells, tapi maan mereka membuatnya sangat obvious cuma mau menjual filmnya dengan adegan dewasa. Di bulan puasa! Padahal bisa aja rilis bersamaan dengan dua ending; taktik ini padahal di luar juga cukup langka. Yang benar-benar melakukannya pada rilis teater bersamaan (bukan di platform lain setelah filmnya turun) paling bisa diitung jari, misalnya Clue (1985) dan Unfriended: Dark Web (2018) Atau si KKN ini, since kayak pengen banget ngikutin threadnya, kenapa gak rilis dua sudut pandang yang berbeda (bersi Nur dan versi Widya)? Samar-samar terdengar tembang berisi jawaban: ya karena butuh kerja keras, bego!

 

 

 

Yea, this is bad. Namun bukan jelek dari materinya. Kita masih bisa merasakan potensi dan hal-hal menarik terkait horor remaja di desa di dalam sana. Afterall, threadnya bisa sukses tentu salah satunya berkat cerita yang bisa relate sekaligus bikin penasaran. Film ini terasa bad karena yang sekarang ini terasa kayak produk  jualan komplementer, pelengkap dari keviralannya. Pembuatnya enggak melakukan banyak untuk menghidupkan dan mengangkatnya ke dalam film. Karakter gak ada plot. Pengadeganan super standar. Bercerita dengan nada monoton, cuma wahana scare. Aku harap beberapa tahun ke depan, cerita ini diadaptasi oleh pembuat yang benar-benar peduli.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KKN DI DESA PENARI.

 

 

That’s all we have for now.

My Dirt Sheet dan CineCrib sempat ngobrolin soal pengalaman seram selama KKN, di Episode Talks Youtube

Apakah kalian punya atau pernah mendengar pengalaman horor saat sedang KKN?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

SONIC THE HEDGEHOG 2 Review

“Be a hero, and they will notice your bad”

 

 

Jadi pahlawan itu enggak gampang. Kita gak bisa seenaknya ke sana kemari nolongin orang. Tanggung jawabnya berat. Dokter aja nih ya, gak bisa menyuntik orang gitu aja; mereka harus dapat consent dulu dari calon pasien. Kalo calon pasien keberatan dan menolak suntik atau minum obat, gak bisa dipaksakan walau si dokter tahu semuanya hanya demi kesehatan si orang itu sendiri. Dokter yang memaksa, justru akan ditanggap enggak etis. Sonic memang bukan dokter. Sonic adalah landak biru, yang di film keduanya ini kebetulan lagi punya permasalahan yang sama ama dokter-dokter yang lagi kebingungan gimana caranya menolong orang yang keberatan divaksinasi.

Sonic pengen jadi pahlawan di kota Green Hills. Dia ingin menggunakan kekuatannya untuk menolong orang-orang yang telah menerima dirinya tinggal di sana, sebagai bagian dari keluarga. Tapi Sonic ini so bad at being good hero. Tengok apa yang terjadi ketika dia berusaha menangkap perampok bank. Jalanan porak poranda. Gak ada yang bilang terima kasih padanya. Malahan, di rumah, Sonic dinasehati oleh Sheriff Tom yang udah jadi bapak angkatnya. Makanya Sonic bingung, niatnya kan cuma ingin menolong. Dalam sekuel ini, sutradara Jeff Fowler membuat Sonic seperti seorang anak muda yang penuh semangat, optimis, dan enerjik, tapi masih harus belajar untuk lebih ‘dewasa’ dalam bersikap. Fowler membuat Sonic relatable bagi target baru penontonnya. Anak muda toh sering merasa dirinya gak nakal, tapi tetap aja yang dilakukannya tampak selalu salah. Film enggak mau hanya membuat Sonic untuk penggemar lama yang tentu saja sekarang sudah tua-tua, mengingat Sonic ‘terlahir’ ke dunia dalam bentuk game di tahun 1991. Cara Fowler berhasil. Karakter Sonic di film ini jadi gak hanya fun untuk ditonton, gak hanya seru untuk ajang nostalgia para gamer, tapi juga berisi oleh permasalahan yang membuat penontonnya serasa sama ama Sonic.

With that being said, film juga berhasil membuat Sonic yang beberapa detik setelah Tom pergi ke Hawaii langsung berpesta berantakin rumah – ampe mandi gelembung di ruang tengah segala! tidak jatoh sebagai makhluk yang menjengkelkan. Sonic justru jadi karakter yang lucu berkat flaw-pandangan yang ia miliki.  Terlebih karena Sonic memang dibentuk  sebagai karakter dengan celetukan-celetukan dan sikap yang kocak. Attitude seperti Sonic memang sudah banyak kita temui, apalagi di era superhero harus punya snarky comment belakangan ini. Tapi setidaknya suara Ben Schwartz terdengar menyegarkan setelah melulu mendengar karakter seperti itu dengan suara Deadpool.

sonicimage
Sonic and the legend of the ten rings.

 

Cerita Sonic 2 menawarkan konflik dan petualangan yang lebih besar – dan lebih meriah – dibandingkan film pertamanya yang tayang tahun 2020 lalu. Kalo diliat-liat, cerita kali ini diadaptasi dari game kedua dan ketiga. Karakter sidekick dan rival Sonic – Tails yang bisa terbang dengan ekornya dan Knuckles si pejuang Echidna – dimunculkan di sini lewat situasi yang tak tampak dipaksakan. Tails nyusul ke Bumi untuk memperingatkan Sonic tentang bahaya, sementara Knuckles datang karena berkaitan dengan aksi yang dilakukan oleh penjahat utama, Dr. Robotnik, yang masih dendam ama Sonic karena telah mengasingkan dirinya ke planet ‘piece of shittake’. Robotnik memang punya peranan besar di dalam narasi, hampir seperti dialah yang tokoh utama. Semua kejadian karena ulah dirinya. Jadi ketika Sonic di rumah seorang diri, Robotnik yang telah menciptakan alat di planet jamur, berhasil memanggil orang yang bisa membantunya keluar dari sana. Orang itu adalah Knuckles, yang memang lagi mencari Sonic terkait legenda Zamrud yang menimpa klan Echidna. Robotnik dan Knuckles bekerja sama, sementara Sonic dan Tails mulai bergerak mencari Zamrud legenda karena gak mau batu permata sakti itu jatuh ke tangan penjahat. Petualangan video game mereka pun dimulai!

Kontras protagonis dan antagonis langsung terlihat. Sonic, pengen jadi pahlawan, tapi dianggap mengacau. Robotnik, punya niat jahat, tapi dapat teman yang salah mengira intensi dirinya baik. Ini semua terjadi exactly karena Sonic ‘baru’ sebatas pengen jadi – pengen dianggap – pahlawan. Robotnik ‘sukses’ karena dia yang pure jahat, bertingkah seperti penjahat. Menipu, memanipulasi. Sonic perlu seperti itu. Belajar untuk bertingkah seperti pahlawan, alih-alih pengen disebut pahlawan. Untuk itulah Sonic perlu tahu dulu seperti apa sih pahlawan itu. Perlu tahu bahwa pahlawan mengutamakan dan bertindak demi orang lain.

 

Film ini super fun memperlihatkan petualangan tersebut. Aksi-aksinya disisipin banyak elemen video game, mulai dari snowboarding hingga ke setting labirin yang memang salah satu setting stage ikonik dalam video game. Dengan karakter yang lebih banyak, film ini juga mulai semakin mengembrace sisi cartoonish yang dipunya. Setiap keunikan karakter ditonjolkan, seheboh mungkin, film gak lagi ngerem-ngerem untuk membuat aksinya grounded atau apa. Menonton ini buatku memang terasa lebih dekat dengan Sonic versi serial kartun. Suara Colleen O’Shaughnessey yang jadi si Tails aja vibe-nya udah kartun banget. Idris Elba yang nyuarain Knuckles juga punya sisi kartun tersendiri dari sikap dan reaksi karakternya yang baru pertama kali ada di Bumi. Fish-out-of-waternya kocak, dan sendirinya juga kontras yang klop dengan karakter Sonic yang lebih ‘ringan-mulut’.

Vibe kartun semakin diperkuat oleh penampilan the one and only Jim Carrey yang luar biasa over-the-top dengan permainan intonasi dan mimik ekspresi. Kali ini porsi Robotnik lebih banyak. Dia muncul duluan sebagai prolog, dia punya banyak momen-momen menyusun rencana, dia punya transformasi. Penampilannya yang lebay mode bakal annoying jika kita melihatnya dalam tone dunia yang lebih serius ataupun lebih grounded. Aku merasa ada simbiosis mutualisme antara Jim Carrey dengan film ini, like, Carrey bisa sepuas-puasnya ‘menggila’, dan film bisa fully embrace super fun yang ada pada game maupun kartun Sonic. Mau itu aksi sendiri maupun interaksi dia dengan karakter-karakter video game, dia bikin kita gak bosan duduk selama dua jam. Makanya juga, Jim Carrey jugalah satu-satunya karakter manusia yang bener-bener worked out di sini. Cuma dia karakter manusia yang terlihat berada di dunia yang sama dengan karakter-karakter video game.

Karakter manusia lain, termasuk Tom, kayak dipaksakan. Ketika mereka melucu dan berlebay ria, enggak klik. Film memang bukan hanya menyorot petualangan si Sonic. Tadinya, pas di awal Tom dan istrinya pergi, aku udah lega. Kupikir itu cara film nge-ditch karakter mereka. Kupikir film akan fokus ke Sonic aja, dan 48 jam mereka di Hawaii itu jadi batas waktu (sebagai penambah intensitas) petualangan Sonic. Tapi ternyata enggak. Sering film membuat kita melihat ke suasana Tom di Hawaii, di tempat pernikahan sahabat istrinya. Pernikahan tersebut ternyata tidak seperti kelihatannya, ada major plot point juga di sini. Film yang tadinya mengasyikkan jadi membosankan ketika pindah ke bagian manusia-manusia ini. Mentok banget rasanya ketika setelah seru-seruan berseluncur di gunung salju, kita dibawa pindah melihat petualangan dua perempuan berusaha menyusup ke dalam hotel, mencoba lucu dengan reaksi terhadap alat-alat canggih. Sonic dan yang lain – yang beneran seru tadi – totally absen. Film harusnya membuang semua di pernikahan tersebut, membuang semua manusia yang tidak bernama Robotnik, supaya cerita makin seru dan gak perlu jadi dua jam. I mean, kita beli tiket Sonic yang pengen lihat Sonic. Mana ada pembeli tiket film ini yang peduli sama acara pernikahan itu asli atau bukan, mana peduli penonton sama apakah mempelainya beneran cinta atau enggak.

Sonic-2-header
Operation Wedding itu kayaknya judul film yang lain deh

 

Kita mengerti Tom ada di cerita untuk mendaratkan Sonic, dia sebagai sumber pembelajaran. Juga untuk membuat film beresonansi sebagai cerita keluarga – karena Sonic dan Tom serta istrinya memang benar adalah keluarga unik, yang jadi fondasi cerita sedari film pertama. Hanya saja pembelajaran dari Tom sudah dimunculkan di awal. Narasi film kedua ini berjalan dengan formula Sonic bakal berkembang karena belajar dari masing-masing karakter lain. Dia melihat nasehat Tom di awal itu benar dari apa yang ia alami bersama Tails, Knuckles, dan juga Robotnik. Tidak perlu lagi sering kembali ke Tom, ke pesta pernikahan, apalagi ke memperlihatkan Tom diterima oleh mempelai pria di sana. Film masih kesusahan untuk melepaskan karakter manusia, sehingga pada akhirnya memberikan mereka tempat yang sebenarnya merusak tempo dan menghambat jalannya narasi. Menjelang babak ketiga, jadi ada banyak kejadian, ada banyak pihak yang terlibat, terasa kacau.

Daripada memperlihatkan itu, lebih baik membuild up sisi vulnerable Sonic. Karena memang itulah yang kurang. Sonic hanya sebatas kalah kuat ama Knuckles. Tapi selebihnya, Sonic bisa dengan gampang menjalani petualangannya. Dia dengan gampang melewati jebakan. Dia dengan gampang kabur dari kejaran. Dia bahkan dengan gampang menang kontes menari di bar. Yang sempat diperlihatkan oleh film adalah soal Sonic gak bisa berenang (kontinu dari film pertama), tapi rintangan ini pun enggak pernah benar-benar jadi soal, karena Sonic akhirnya bisa melewatinya dengan tak banyak usaha atau kesulitan.

 

 

 

Rasa-rasanya gak banyak perbedaan review kali ini dengan review film pertamanya. Karena memang enggak begitu banyak perbedaan yang dihadirkan dalam sekuel ini selain penambahan karakter (dan kumis Robotnik!) Tapi dengan begitu, feelsnya memang gedean yang sekarang ini. Film ini super menghibur sampai bagian yang membahas para manusia di pesta pernikahan itu datang. It’s just lebay yang boring karena aktor yang lain gak bisa mengejar tone kartun over-the-top yang sudah dilandaskan oleh Jim Carrey. Kehadiran mereka jadi memperlambat dan mengusik tone. Film ini baik-baik saja dengan embrace sisi cartoonish. Yang berarti film ini sebenarnya hanya perlu Robotnik, Knuckles, Tails, dan Sonic saja. You know, karakter-karakter yang memang ada di video gamenya. Tapi jika melihat bigger picture, franchise Sonic memanglah berita yang cukup baik untuk kiprah film-film adaptasi video game dalam sejarah perfilman.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SONIC THE HEDGEHOG 2.

 

 

 

That’s all we have for now.

Katanya, ini bakal jadi film terakhir Jim Carrey. Bagaimana pendapat kalian tentang karir Jim Carrey dalam film-film komedi? What did he bring to that table? Apa film Jim Carrey favorit kalian?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DRIVE MY CAR Review

“Silence is a universal language”

 

 

Utangku mengulas nominasi Best Picture Oscar 2022 tinggal satu ini, yakni film Drive My Car. Dari urutan, sebenarnya film ini bukan yang terakhir aku tonton dari sepuluh nominasi tersebut. Aku hanya, agak kesulitan menuntaskan tontonan drama berdurasi tiga-jam-kurang-semenit ini. Yea, durasi tersebut benar-benar kerasa di film ini. Ceritanya berjalan kaku, karakternya menjaga jarak bukan hanya kepada karakter lain, tapi juga kepada kita yang nonton. Meskipun kita udah tahu momok yang menghantui perasaannya, namun perasaan diskonek itu tetap ada. Baru kemudian aku menyadari, storytelling demikian ternyata memang disengaja, karena itulah ‘bahasa’ film ini. Dan bahasa actually jadi salah satu tema mencuat di dalam narasi. Sekarang setelah aku sudah bicara dengan ‘bahasa’ yang sama dengan film karya Ryusuke Hamaguchi ini, aku bisa bilang tepat film kuulas paling belakangan, karena objectively, sebagai bahasan karakter, this is indeed the best for the last.

Walau gak punya ketertarikan sama kendaraan apapun, I know for a fact bahwa ada cowok yang benar-benar sayang ama mobilnya. Sayang dalam artian menganggap mobil itu sebagai sesuatu yang sangat personal. Ayahku adalah salah satunya; beliau protektif banget sama mobil. Gak mau sembarangan ngasih ijin kepada orang-orang, bahkan kepada saudara, untuk mengendarai mobilnya. Di dalam kendaraan itu, ayah punya aturan sendiri. My dad is already a strict person, tapi di dalam mobil, dia bisa lebih keras lagi. Dari ngidupin mesin hingga buka jendela aja ada ‘tata kramanya’. Belajar nyetir pakai mobil itu udah jadi siksaan mental tersendiri bagiku. Jadi aku tahu, sebuah mobil bisa berarti sedemikian personal bagi pemiliknya.

Dari ‘fenomena’ semacam itulah, karakter dan cerita Drive My Car berangkat. Seorang aktor dan sutradara teater bernama Yusuke punya kebiasaan berlatih dialog di dalam mobil merahnya, selama perjalanan ke tempat bekerja. Namun Yusuke hidupnya semakin banyak masalah. Anaknya meninggal, istri yang selingkuh tapi belum sempat (baca: tega) ia konfrontasi meninggal, kini sebelah matanya pun punya masalah pandangan. Kontrak proyek teater terbaru yang ia terima, mengharuskan Yusuke untuk ke luar kota dengan diantar oleh sopir. Yusuke harus diantar ke mana-mana. Kebayang dong, perasaan Yusuke saat harus menyerahkan kuncinya kepada seorang wanita muda tak-dikenal bernama Misaki. Ternyata itu justru jadi healing yang mujarab. Bagi kedua pihak! Karena Misaki ternyata sama ‘pendiam’nya, sama-sama memendam kecamuk duka dan kehilangan dan rasa bersalah, seperti Yusuke.

carDrive-My-Car-1
Untung mobil merahnya bukan si jago mogok

 

Mobil dalam cerita ini tersimbolkan sebagai personal space. Di dalam mobilnya Yusuke punya ‘ritual’. Dia latihan dialog dengan suara rekaman istrinya. Dialog dari teater yang ia pilih merepresentasikan permasalahannya dengan sang istri. Secara fisik, gambaran mobil itu pun merepresentasikan kekhususan bagi Yusuke. Di jalanan dia tampak distinctive dengan warna merah, dan setir kiri (as opposed to setir kanan kayak di Indonesia). Yusuke kan juga ‘berbeda’ seperti itu. Dia lebih kalem dibandingkan orang-orang lain.

Film ini punya lapisan yang begitu banyak dari penyimbolan terkuat sehingga adegan-adegan terkuat dalam film justru adalah momen-momen Yusuke di dalam mobil. Khususnya saat dia berdiam diri di kursi belakang, dengan Misaki di kursi pengemudi menyetir dengan sama diamnya, suara yang kita dengar cuma suara istri Yusuke dari rekaman kaset yang terus diputar. Momen-momen ketika kedua karakter sentral terhanyut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Tapi dari situ jualah mereka terkoneksi. Bukan sebagai pasangan, tidak sesederhana orang tua dengan anak muda, lebih dari semacam ayah-anak. Melainkan manusia terluka dengan manusia terluka. Alasan Yusuke menerima Misaki sebagai supir – meskipun awalnya menolak – bukan saja semata karena cara nyetir Misaki cocok sama dirinya, atau Misaki bisa merawat mobil. Melainkan karena mereka bicara ‘bahasa’ yang sama. Mereka share personal space yang sama karenanya. Deepernya hubungan seperti ini yang membuat film ini menjadi menarik.

Relasi Yusuke dengan karakter lain, serta peran mobil di cerita ini menunjukkan seberapa pentingnya personal space bagi hubungan antarmanusia. Space tersebut tidak bisa begitu saja dimasuki. Enggak gampang bagi kita untuk mengizinkan orang masuk, kecuali ketika kita sudah menemukan bahasa yang sama. Dalam film ini, silence jadi bahasa universal, Yusuke dan Misaki jadi terkoneksi olehnya. Yang juga membuat Yusuke selanjutnya lebih mudah berkoneksi dengan orang lain. Sebagaimana yang kita lihat di adegan paruh akhir, saat Yusuke berdialog dengan ‘antagonis’ di dalam mobilnya, yang berujung membuat dia balik melihat sesuatu yang lebih daripada yang ia kira dari si ‘antagonis’

 

Adegan-adegan latihan teater lebih lanjut menekankan persoalan ‘bahasa’ yang jadi topik penting dalam relasi karakter film ini. Yusuke diceritakan sebagai sutradara yang unik, ciri khasnya adalah menggunakan dialog multi-bahasa untuk karakter-karakter dalam pertunjukan teaternya. Ada yang berbahasa Inggris, Korea, Malaysia, dan termasuk Indonesia. Karakter-karakter tersebut berbahasa masing-masing, tapi mereka saling mengerti. Para aktor teater yang memerankannya pun dicasting oleh Yusuke, aktor yang memiliki bahasa ibu berbeda-beda. Jenius banget sebenarnya Yusuke, pertunjukan teaternya jadi semakin menarik. Orang-orang berbeda bahasa tapi bisa saling mengerti, karena mengalami emosi yang sama. Film menarik kontras dari kreatif Yusuke di panggung tersebut dengan gimana dia aslinya. Bahwa Yusuke di luar seorang sutradara teater, ternyata justru bicara dengan bahasa ‘diam’. Kita lihat dia gak pernah marah. Melihat istrinya selingkuh aja, dia gak langsung meledak. Tapi awalnya diam Yusuke memang dia tidak terkoneksi dengan orang lain. Salah satu faktor yang menjadi pembelajaran bagi karakter ini selain Misaki adalah produsernya yang orang Jepang, yang benar-benar bisa multi-language, yang mau belajar bahasa isyarat untuk bisa berkomunikasi dengan perempuan terkasihnya.

carDRIVE_MY_CAR_banner_660x320b
Judul film ini sebenarnya bisa berarti ‘Speak My Language’

 

Jadi jika bahasa dan komunikasi perasaan begitu penting bagi film ini, bagaimana dengan bahasa penyampaian film ini sendiri sebagai media komunikasi pembuatnya dengan kita para penonton? Well, now that’s a great question.

Durasi tiga jam memang melelahkan, kebanyakan film akan berusaha meminimalisir ‘damage’ dari durasi tersebut dengan mempercepat tempo, menggunakan banyak cut, dan ada juga yang memasukkan banyak aksi atau komedi atau apapun yang bikin cerita bernada ringan. Drive My Car guoblok kalo memasukkan hal-hal tersebut. Which is why film ini cerdas. Film ini tahu apa yang ia buat. Bahasa yang digunakan film ini adalah bahasa yang sama dengan yang digunakan oleh karakternya. Distant secara emosional. Cerdas memang berarti tidak mau mengambil resiko. Film mempertaruhkan penonton kasual bakal bosan, demi menghantarkan cerita yang benar-benar true mewakili emosi karakternya. Obat dari momen-momen ‘berat untuk ditonton’ film ini adalah sinematografi yang kece. Adegan-adegan yang disyut dengan menawan. Mulai dari set panggung teater hingga ke tempat-tempat yang dikunjungi, semuanya dibikin menarik di mata. Bahkan adegan reading teater ataupun di dalam mobil, adegan yang lokasinya sempit dan monoton dibuat bergeliat oleh kreasi subtil.

Resiko terbesar tentu saja adalah menjadikan ini cerita sepanjang itu. Karena film ini kan adaptasi dari cerita pendek. Cerita aslinya sebenarnya lebih pendek daripada ini. Pak Sutradara ngestretch materinya. Ini yang aku kagum. Sutradara menolak menggunakan flashback! Sutradara-sutradara lain mungkin akan stick to the original (apalagi kalo ini dibikin oleh Hollywood!). Cerita dimulai ketika Yusuke disuruh pake supir, dan kemudian baru akan sesekali terflashback ke masa lalu untuk melihat kenapa dia begitu muram, untuk melihat suara siapa sebenarnya yang ada di rekaman. Drive My Car buatan Hamaguchi ini tidak begitu, dia malah memulai dari masa-masa Yusuke bersama istrinya. Relationship unik mereka yang saling berbagi cerita di manapun (atau abis ngelakuin hal apapun). Cukup lama film berkutat di sini, ‘the real’ story baru dimulai di babak kedua. 

Downsidenya, Drive My Car jadi tampak tidak memenuhi yang diperlihatkan di babak awalnya. Penonton bisa merasa kecele karena dari babak awal itu mengira Drive My Car adalah cerita rumah tangga. Mengira ini adalah kisah perselingkuhan (yang lagi naik daun lagi di jagat tontonan negara kita). Menantikan adegan suami mengonfrontasi istrinya yang selingkuh, yang berkaitan dengan grief mereka terhadap putri yang telah tiada. Tentu penonton tidak salah mengharapkan itu karena film dimulai dengan memperlihatkan rumah tangga mereka, yang tampak baik-baik saja. Ketika bahasan sebenarnya tiba, film jadi kayak berbeda, dan inilah yang bikin film beneran tampak panjang buat beberapa penonton. Tapi dengan penceritaan linear seperti demikian, film nunjukin efek yang lebih kuat secara emosional. Karena dengan begini, kita mengerti siapa dan apa masalah yang menghantui protagonisnya. Penonton bisa langsung tenggelam di sana, membuat film ini jadi lebih powerful. Panjang, memang, tapi aku gak yakin Drive My Car bakal jadi semenohok ini jika bagian awal tersebut ditrim. Kita malah akan sibuk bolak-balik flashback aja nanti.

 

 

 

Apparently, film ini adalah salah satu favorit untuk memenangkan Best Picture Oscar. Aku bisa memahami kenapa banyak penonton film alias sinefil yang suka. Karena di atas gambar-gambar yang cakep, memang film ini bercerita dengan bahasa seni. Menilik perasaan manusia dengan sentimentil serta mendetil. Ada banyak lapisan dalam bangunan ceritanya. Sementara bagiku, aku merasa film ini terlalu personal untuk agenda Academy tahun ini. Aku respect film ini mengambil resiko besar dengan penceritaan panjang. Berani memilih untuk tidak pakai flashback dan linear saja. Meskipun itu membuat filmnya yang didesain distant dan kaku jadi semakin susah untuk konek secara emosi.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for DRIVE MY CAR.

 

 

 

That’s all we have for now.

Diam dan mobil yang love language si Yusuke kepada sesama manusia. Apa love language kalian?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

UNCHARTED Review

“Trust is always earned, never given”

 

 

Tiga-puluh menit ke dalam film, Tom Holland sudah terlempar terjun bebas dari ketinggian sebanyak tiga kali. Dan kali ini dia gak pakai topeng superhero laba-laba untuk membantunya mengatasi suasana. Holland di sini adalah remaja cowok biasa – dengan tangan sedikit lebih lihai untuk mencopet barang-barang orang, dunianyalah yang kali ini agak sedikit tak biasa. Dunia berisi teka-teki harta karun untuk dipecahkan, petualangan yang seringkali mengacuhkan hukum fisika. Plus berisi begitu banyak twists and turns karena membahas soal rasa percaya di antara para karakter cerita. Sutradara Ruben Fleischer memang seperti memastikan kepada kita bahwa Holland beraksi di dunia yang superseru, bahwa Uncharted memang bakal semengasyikkan video game sumber adaptasinya. Hanya saja, tantangan film ini berat. Mengingat track-recordnya, film-film adaptasi video game itu sendiri susah untuk kita kasih kepercayaan.

Uncharted merupakan film pertama dari PlayStation Productions, studio dari Sony yang bakal bikin film-adaptasi dari konten-konten video game PS populer. Ini sepertinya bisa naikin sedikit rasa percaya kita. Sebab ya, game-game modern memang sudah jauh lebih sinematik ketimbang game di era 90an. Video game sudah benar-benar dikembangkan mitologi dan cerita dunianya sendiri. Ditambah dengan studio yang kini meniatkan konten game tersebut bisa dijadikan film, maka mungkin ke depan adaptasi ke layar lebar ini bukan hanya bisa lebih ‘mirip’ tapi juga game dan filmnya bisa saling melengkapi sebagai satu franchise judul. Seperti film Uncharted ini, ceritanya diset sebagai prekuel dari game pertamanya yang keluar tahun 2007. Nathan Drake (dipanggil Nate) belum lagi seorang pemburu hartakarun, dia masih ‘bocah’ yang masih dalam tahap baru masuk alias baru belajar dunia yang ternyata penuh tipu daya tersebut.

Tadinya Nate bekerja di bar, memesona para pembeli dengan atraksi menuang minum dan attitude yang cute lalu mencopet mereka. Sampai ketika Victor Sullivan datang. Mengekspos aksi nyopet Nate, lalu mengajak cowok ini bergabung mencari kapal harta karun. Seperti yang dulu dilakukan abang Nate yang kini udah gak ada. Sully yang mengenal abang Nate pun jadi semacam mentor bagi Nate. Interaksi dua karakter ini jadi sentral, yang kerap bicara soal mempercayai ataupun soal ngasih kepercayaan sama orang lain. Dalam pencarian, mereka bertemu karakter-karakter lain, dan cepat saja garis antara lawan dan kawan semakin mengabur.

Also, featuring Antonio Banderas yang karakternya deserves more good writing

 

Penampilan akting para pemain mendaratkan film aksi petualangan ini. Duo Tom Holland dan Mark Wahlberg sebagai front center yang cukup memainkan emosi. Dalam cerita yang lain, Nate akan mudah saja untuk menganggap Sully sebagai pengganti kakaknya, dan team up mereka akan berjalan mulus. Tapi Uncharted mengusung tema trust, dan itu membuat relationship kedua karakter ini jadi semakin dramatis. Film gak memberikan kepada kita sebuah tim yang solid dengan cuma-cuma. Nate bakal ngelewatin banyak kejadian yang membuat dia tidak segampang itu menaruh kepercayaan, walaupun sebenarnya ia pengen bekerja sama. Konflik mereka berdua digali dari tujuan yang berbeda. Nate pengen nemuin harta itu demi kakaknya, sedangkan Sully ya cuma pengen emasnya saja. Timing komedi Wahlberg membantu film ini mencapai nada ringan yang diinginkan, jadi umpan yang bagus untuk character-work si Holland. Karakter Sully yang sengaja dibikin sering ‘berjarak’ juga membantu mendorong tema tersebut semakin mencuat di dalam narasi. Karakter pendukung yang lain, seperti Chloe yang diperankan Sophia Ali, juga diberikan inkonsistensi yang sama seperti Sully. Mereka membantu, tapi terlihat setengah-setengah. Momen bekerja sama selalu elemen yang membuat seorang karakter punya peran yang lebih kecil. Semua itu dilakukan supaya kita mempertanyakan apakah mereka bisa dipercaya atau tidak.

Tapi begitu kita menoleh kepada Nate, tokoh utama yang harusnya juga merasakan keraguan, si Nate ini juga dimainkan dengan inkonsistensi. Sure, Holland memainkannya dengan simpatik, very likeable, tapi dia gak clear. Like, ngeliat Tom Holland memainkan karakternya ini, enggak jelas perasaan dia terhadap satu karakter seperti apa. Setelah jelas-jelas dikhianati satu karakter, Nate di adegan berikutnya masih tampak kalem aja. Atau bahkan ketika Sully menyebut Nate suka sama Chloe, Holland gak benar-benar nunjukin gimana sih sukanya Nate ama si Chloe itu. Jadi film ini mengatakan kepada kita sesuatu, tapi gak diikuti oleh ‘pembuktiannya’. Sehingga ngikutin plot si Nate ini jadi membingungkan. Apa yang ia pelajari di sini? Apakah ini tentang dirinya belajar untuk tidak mempercayai orang, atau dirinya belajar supaya bisa jadi dipercaya orang. Film seperti ingin menunjukkan bahwa Nate akhirnya belajar ‘aturan dan cara main’ di dunia para pemburu harta, dia seperti akhirnya bisa nipu juga. Tapi bukankah sedari awal Nate ini sudah tukang tipu kecil-kecilan juga? Maka Plot si Sully malah lebih jelas. Karakter Sully malah lebih kelihatan ada perkembangan dibandingkan Nate. Film gak berhasil membuat Nate sebagai karakter yang urgen di sini, dia masih di bawah bayang-bayang abangnya, dia gak punya perkembangan yang jelas.

Seperti halnya respek, trust juga gak diberikan cuma-cuma. Untuk bisa percaya ama orang, dan juga sebaliknya untuk bisa dipercaya orang, kita butuh mendapatkan rasa itu terlebih dahulu. Itulah sebabnya kenapa trust lebih berharga daripada harta karun manapun di dunia.

 

Kenapa sih film-film aksi petualangan belakangan ini banyak yang pake banyak twist dan turn? Yang aku tonton setahun ini ada Jungle Cruise, Red Notice, dan sekarang Uncharted – yang benar-benar menggunakan trust sebagai tema supaya jadi punya alasan untuk memainkan banyak twist mengejutkan serta character turn dari baik ke jahat ke baik lagi (emangnya si Big Show di WWE!). Seolah itulah yang bikin film ini jadi menarik. Padahal twistsnya juga don’t even make sense!! Like, hellooo.. action adventure mestinya sajian utamanya ya di aksi atau laga petualangannya. Apalagi Uncharted ini dari video game. Ditargetkan untuk pemain game yang pengen menonton versi filmnya. Serunya sebuah game itu datang dari memainkannya. Player seperti beraksi langsung, mereka adalah karakter itu. Maka versi filmnya harusnya menguatkan sense penonton ikut beraksi seperti saat mereka memainkan game. Aspek player dan aksi inilah yang susah tersadur ketika sebuah game dijadikan film. Susah bukan berarti seimpossible itu. They just have to make action sequences yang lebih menarik penonton masuk. Menyandarkan kepada twist dan turn hanya membuat penonton ‘menonton’. Filmlah yang jadi bermain-main dengan penonton. Ini udah jadi sedemikian berbeda dengan game, yang pemainlah yang memainkan cerita.

Ada yang mau ikut naik kapal pinisi sasongong?

 

Padahal film ini punya set action pieces yang gak tanggung-tanggung. Aksi babak final yang melibatkan ‘kapal terbang’ juga gak kalah uniknya. Tetapi sekuennya sendiri dilakukan dengan generik. Bagaimana aksinya dimainkan, masih terasa kayak sesuatu yang sudah sering kita lihat dalam film action sebelumnya. Mereka tidak melakukan banyak hal segar selain bergantung kepada CGI. Again, kita hanya menonton. Makanya aksi paling asik di film ini buatku adalah di tengah-tengah. Yakni saat Nate dan kelompoknya memecahkan teka-teki kunci salib menyusur bawah tanah kota. Nah di aksi seperti inilah, penonton yang gamer yang jadi target utama film ini bisa benar-benar terlibat. At least, bisa ikut berusaha memecahkan sandi atau petunjuk, bisa terinvest secara emosional setiap kali jebakan/perangkap tak sengaja teraktifkan. Seharusnya ada lebih banyak adegan seperti ini. Seharusnya adegan teka-teki yang actually dilakukan film ini dilakukan dengan lebih elaborate lagi, gak hanya cuma bingung sebentar lalu tinggal masukkan ke lubang kunci.

Kurang eksplorasi. Inilah sumber kejatuhan utama film ini. Punya konflik karakter yang sebenarnya bisa dramatis, tapi dilakukan dengan generik. Begitu pula dengan sekuen aksi-aksinya. Bahkan bangunan narasinya pun dilakukan dengan menjemukan. Standar dimulai dari adegan aksi yang wah, kemudian flashback ke beberapa waktu sebelumnya. Cerita berjalan dari flahsback waktu tersebut sampai nanti akhirnya kita ketemu kembali dengan adegan opening tadi. Sesungguhnya ini adalah upaya supaya film jadi tontonan yang menarik. Mereka kayak aware kalo materi ceritanya masih datar. Jadi mereka berusaha mengimprove penceritaan dengan susunan cerita dan sebagainya. Sama juga seperti ketika film memasukkan banyak twist dan character turn. Mereka menyangka itulah yang bikin filmnya seru. Mereka nyangka cukup masukin soal pemantik api yang susah menyala untuk meningkatkan ketegangan. Mereka lupa, film ini dari video game. Mereka harusnya ngajak penonton ikut bermain-bermain juga di sini, yang berarti aksi-aksilah yang seharusnya dibikin lebih menarik. Petualangannya. Teka-tekinya. Karakterlah yang juga harusnya dibikin lebih clear agar konek dengan penonton sebagai ganti gamer memainkan karakternya.

 

 

Buatku film ini bakal jadi total boring jika bukan karena penampilan akting, khususnya dua aktor sentralnya. Kayak karakter ceritanya yang masih setengah-setengah dalam mempercayai orang, film ini pun masih tampil setengah-setengah. Mau serius ke karakter, takut gak laku. Mau full over-the-top, juga kayaknya takut. Bahkan mau jadi full seperti gamenya, seperti ragu-ragu. Masih banyak poin dari apa yang membuat game itu seru yang miss dilakukan oleh film. Yang mereka ikuti hanya simpelnya plot poin game. Yang tentu saja tidak tertranslasikan bagus ke dalam sinema. Cerita film ini maju dengan simpel. Oh karakter dipukul dari belakang, pingsan, lalu dia bangun dan ada karakter lain siap menjelaskan hal-hal untuk ‘misi’ selanjutnya. Udah kayak poin-poin objektif game, enggak seperti eksplorasi untuk memajukan narasi. Sehingga film ini masih belum mendapat kepercayaan kita sepenuhnya soal game bisa diadaptasi menjadi film yang bagus.  
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for UNCHARTED

 

 

 

That’s all we have for now

What’s your favorite Uncharted game? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DEATH ON THE NILE Review

“Loving someone means you will do anything for them”

 

Istri raja-raja Fir’aun di Mesir Kuno dikubur hidup-hidup di dalam piramid bersama jasad suami mereka. Pastilah mereka berteriak ketakutan di dalam sana. Namun hal paling seram dari itu adalah beberapa dari istri tersebut ada yang rela melakukan hal tersebut. Demi cintanya kepada suami. Salah satu karakter dalam sekuel film detektif dari buku Agatha Christie, Death on the Nile, menceritakan legenda sejarah tersebut Hercule Poirot. Detektif yang mendengarkan dengan alis mengernyit di atas kumis spektakuler miliknya. Kasus yang ia tangani di atas kapal mewah di sungai Nil ternyata membawa tantangan tersendiri, karena kasus tersebut paralel dengan istri-istri Fir’aun. Kasus yang berhubungan dengan hal yang tidak dimengerti oleh Poirot. Cinta.

Sosok detektif ini memang dikenal sebagai pribadi yang dingin, tajam-logika, suka menyombongkan kepintaran dan kemampuan analisisnya. “Aku gak pernah salah” katanya mantap dalam salah satu adegan. Kita semua sudah melihat sisi unggul detektif tersebut di film pertamanya, Murder on the Orient Express (2017). Pada film kedua ini, Kenneth Branagh, yang jadi sutradara sekaligus pemeran Hercule Poirot, berusaha menggali sisi yang lebih manusiawi dari karakter. Poirot sekarang jadi punya layer. Perasaan kesepiannya dieksplorasi. Masa lalunya digali. Adegan opening film ini bukan hanya berfungsi untuk ‘lucu-lucuan’ soal origin kumisnya yang ikonik. Melainkan juga ngeset kenapa Poirot menjadi seperti sekarang. Poirot diceritakan punya relationship yang kandas, sehingga dia tidak bisa mengerti ketika menjumpai perbuatan yang seperti rela melakukan apapun demi cinta. Perbuatan yang menjadi kunci kasus pembunuhan yang harus ia pecahkan.

Mengenai kasus pembunuhan itupun, kini dilakukan oleh film dengan lebih banyak pembangunan. Durasi dua jam film ini enggak habis di misteri pemecahan kasus saja. Film mengambil waktu untuk mendevelop setting dan latar di belakang kasus tersebut. Diceritakan saat Poirot menikmati liburan di Mesir, dia bertemu sahabatnya dari film pertama, Bouc. Bouc yang diundang ke pesta perayaan pernikahan temannya yang ‘horang kayah’ mengajak Poirot serta. Ternyata Poirot pernah bertemu dengan dua mempelai beberapa minggu sebelumnya. Dan dalam pertemuan itu Poirot tahu bahwa Simon, si pengantin cowok seharusnya bertunangan dengan perempuan lain. Di situlah letak awal masalahnya. Mantan pacar Simon ternyata beneran ngekor mereka. Menyebabkan istri Simon, Linnet, terusik sehingga meminta sang detektif untuk ikut ke acara mereka di kapal yang berlayar di sungai Nil. Linnet merasa gak aman, karena selain mantan pacar suaminya, Linnet merasa semua tamu pesta yang adalah kerabat dan sahabatnya itu mengincar harta dirinya. Pembunuhan itu baru terjadi di midpoint cerita, sekitar satu jam setelah opening. Poirot harus memeriksa satu persatu hubungan para karakter, harus menganalisa hal yang bertentangan dengan pengalaman cintanya sendiri yang minim. Intensitas makin tinggi ketika jumlah korban terus bertambah. Death on the Nile bukan saja soal kasus, tapi juga soal pembelajaran bagi detektif jagoan ini.

nilegal-gadot-starrer-death-on-the-nile-banned-in-kuwait-001-1068x561
Ooo dari film ini ternyata muasal meme ‘fill the nile with champagne’ si Gal Gadot

 

Buatku, Death on the Nile jadi lebih fun. Poirot yang sekarang ini tidak lagi kubandingkan dengan Poirot versi film jadul, karena dengan tambahan layer alias galian, Branagh seperti sudah ‘sah’ menciptakan Poirot versi dirinya sendiri. Poirot Branagh punya sisi dramatis yang menyenangkan untuk disimak, entah itu keangkuhannya sebagai detektif paling hebat atau kevulnerable-an sebagai manusia yang paling kurang pengalaman dalam hal relationship. Poirot di film ini selain penuh ego, juga kadang terlihat canggung. Dia bahkan enggak senyaman itu berada di atas kapal. Panggung tertutup kali ini menjadi salah satu ‘kelemahan’ bagi Poirot yang menyebut kapal bukan salah satu cara bepergian favoritnya. Dan itu semua membuat karakternya manusiawi. Film tidak lagi seperti mendewakan Poirot. Dua belas karakter suspect pun tak lagi seperti karakter latar yang ada hanya untuk ngasih atau sebagai petunjuk misteri. Mereka kini punya backstory dan relationship, yang semuanya harus ditelusuri oleh Poirot. Bahkan sebelum kasus pembunuhan terjadi. 

Sebanyak itu karakter, eksposisi memang tak terhindarkan. Sekuen pengenalan karakter tetap penuh dialog, kita dilihatin satu orang, yang apa-apa tentangnya dijelaskan lewat dialog yang ngasih tahu siapa mereka ke Poirot. Kalikan itu hingga dua belas. Film ini bisa sangat terbebani jika hanya bergantung kepada eksposisi tersebut. Untungnya, film ini sedikit lebih luwes. Melihat para karakter dari mata elang Poirot, berarti kita juga melihat mereka lewat sesuatu yang tersirat. Yang hanya ditunjukkan oleh kamera. Kebiasaan mereka, apa yang mereka bawa, inilah cara film membuat kita ikut curiga dan berpikir bersama Poirot. Sehingga ngikutin cerita yang cukup padat ini jadi selalu menyenangkan. Adegan interogasi, misalnya, di film ini diperlihatkan Poirot menginterogasi masing-masing tersangka pembunuhan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang langsung dikonfrontasi, ada yang diajak duduk makan kue, ada yang ditanyai kayak interogasi resmi polisi. Dari adegan interogasi saja, film sudah membangun karakter Poirot dan karakter yang sedang ditanya sekaligus. Menunjukkan kepahaman Poirot dalam dealing with karakter mereka, serta membuka sedikit lebih banyak lagi tentang karakter yang lain.

Karena lebih berlayer itu, maka penampilan akting para pemain turut serta jadi lebih asyik untuk diikuti. Film ngasih role yang tepat kepada aktor, dan mereka bermain untuk efek yang maksimal. Gal Gadot bermain sebagai karakter penuh kharisma seperti Cleopatra, tapi dia di sini gak dibikin sesempurna Wonder Woman. Dia gak cuma melakukan hal yang biasa Gal Gadot lakukan. Film ini literally ngambil waktu satu jam untuk bikin kita naik-turun mengamati para karakter itu sikap mereka seperti apa. Menanamkan relationship yang harus disibak oleh Poirot. Untuk melakukan itu, setiap aktor harus bermain sama berlayernya. Favoritku di antara semua adalah karakter Jacqueline yang diperankan oleh Emma Mackey (aku gak akan bohong – aku sempat ngira dia adalah Margot Robbie lol) Mantan tunangan Simon yang terus muncul gangguin orang pesta. Banyak banget percikan emosi datang dari karakter ini. Poirot aja bahkan bisa dibilang banyak belajar dari dia.

Mantan mau-maunya datang karena diundang. Mantan terus datang tanpa diundang. Siapa pun yang pernah jatuh cinta pasti setuju manusia bisa jadi senekat dan segakmikirin diri sendiri itu kalo udah menyangkut perasaan cinta sama seseorang. Tentunya itu seperti yang ditunjukkan oleh film ini, dapat menjadi hal yang positif maupun negatif. Poirot pengen kekasihnya mau stay demi dirinya apa adanya, tapi di sisi lain dia juga melihat ada orang yang ngotot stay dan itu tidak berujung kepada hal yang baik. Cinta memang pengorbanan dan kompromi, tapi seharusnya ada batas untuk itu semua.

nileFilmReview-DeathontheNile-WBOX-021122-01
Aku cinta makanan, but small food scares me

 

Tapi bagai pedang bermata dua, padatnya cerita dan kasus yang gak langsung muncul itu dapat juga dianggap oleh penonton sebagai cerita film yang lambat. The worst casenya film ini dianggap membosankan di paruh awal karena penonton pengen langsung ke kasus, dan mereka gak benar-benar peduli sama drama karakter. Afterall, motif cinta memang sudah terlalu sering digunakan. Untuk kritikan soal ini, aku setuju pada beberapa bagian. Cerita latar atau cerita personal karakter memang perlu dikembangkan tapi mungkin tidak sepanjang itu. Mestinya bisa lebih diperketat lagi. Supaya enggak kemana-mana. Kayak, opening yang nunjukin Poirot muda di medan perang. Aku tidak merasa harus banget cerita awal itu di medan perang. Tema konsekuensi tak-terduga, tema kekasih yang pergi karena tidak menerima diri apa adanya, bisa saja diceritakan dengan setting yang lain. Bukan apa-apa, setting perang di awal malah seolah misleading, karena film ini nantinya kan gak bakal balik ke persoalan perang. Jadi enggak harus sedetil itu di awal. Cukup ngeliatin sesuatu terjadi pada fisik Poirot tanpa menimbulkan dua seting/tone yang berbeda di dalam cerita. 

Dan ngomong-ngomong soal tone, aku suka sekuel ini mempertahankan tone ringan, quirky, dengan sprinkle-sprinkle komedi. Visualnya juga dibuat tetap megah. Film kedua ini menampilkan pemandangan Mesir yang menakjubkan, kebanyakan digunakan sebagai transisi adegan. Lingkungan cerita menjadi hidup. Kita gak pernah lupa ini cerita ada di mana. Kepentingan kenapa harus Mesir itu juga diestablish lewat keparalelan yang kusebut di awal review. Cuma, ada beberapa kali film ini bablas. Menampilkan hal yang tidak perlu terkait, katakanlah, ‘stereotipe’ Mesir. Yang tidak benar-benar ngaruh ke cerita. Kayak misalnya, adegan Gal Gadot kena jumpscare sama ular. Easily adegan tersebut bisa dipotong. Atau paling tidak, waktunya digunakan untuk melihat lebih banyak ke dalam Poirot. Karena di film ini masih ada beberapa hal yang dilakukan oleh Poirot yang kita gak tahu. Yang berarti film masih melepas-pasang kita kepada si tokoh utama.

 

 

 

Dibandingkan film pertamanya, aku lebih suka sekuel ini. Menurutku ini lebih fun, lebih banyak bermain dengan karakter. Tidak hanya menganggap mereka sebagai kepingan puzzle dalam misteri whodunit. Malahan, film ini memang baru menjadi whodunit di pertengahan akhir. Awalnya padat oleh backstory dan drama karakter. Yang diniatkan untuk menarik kita semakin masuk. Aku suka perkembangan karakter Poirot, dan kurasa Branagh sudah sah mengembangkan karakter ini sebagai visinya, sebagai versinya. Aku certainly gak sabar pengen lihat petualangan Poirot berikutnya. Namun aku sadar yang biasanya aku sebut fun itu boring untuk sebagian penonton. Karena fun di sini adalah banyak obrolan karakter. Maka film ini masih terasa bisa diperbaiki sedikit lagi. Masih banyak yang bisa ‘ditrim’ untuk menjadi lebih efektif. Setidaknya untuk membuat ceritanya lebih cepat menjelma kepada yang menjadi alasan penonton membeli tiketnya sedari awal.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for DEATH ON THE NILE

 

 

 

That’s all we have for now

Seberapa jauh kalian rela bertindak demi sesuatu yang dicinta? Di mana kalian meletakkan garis antara cinta dengan obsesi tak-sehat?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

NIGHTMARE ALLEY Review

“Man is not what he thinks he is, he is what he hides.”

 

Dongeng. Film-film Guillermo del Toro, mau itu horor, romans, ataupun sci-fi, selalu terasa seperti fantasi ajaib yang penuh makna. Bukan karena filmnya sukses menghantarkan tidur. Film del Toro terasa seperti lantunan dongeng karena begitu crafty-nya dia bercerita. Dari cara dia menampilkan visual, membangun atmosfer, hingga ke desain dan karakterisasi yang seperti ditarik dari ruang imajinasi terdalam benak manusia. Film Guillermo del Toro adalah dongeng yang justru rugi jika kita sampai tertidur menontonnya. Nightmare Alley yang ia adaptasi dari novel 1947an pun hadir seperti demikian. Dengan setting di dunia sirkus dan karnival yang penuh muslihat, del Toro berkisah tentang pria yang terbuai oleh tipudaya sendiri. Di balik thriller-noir yang mencekam dan bikin penasaran, ini sesungguhnya adalah dongeng tragis manusia yang mendambakan seluruh isi dunia, tapi malang, ia menemukan dirinya terperosok ke dalam gang suram tanpa jalan keluar.

Pertama kali berjumpa dengannya, kita tidak diberitahu apa-apa tentang pria ini sama sekali. Film tidak memberikannya dialog. Kita tidak mendengar orang memanggil atau mengucapkan namanya. Kita hanya melihat dirinya menyeret mayat ke dalam lubang di sebuah rumah, lalu membakar rumah tersebut. Pria itu lantas pergi meninggalkan semuanya. Tidak banyak film yang bisa ‘lolos’ dengan menampilkan sedikit sekali identitas sang protagonis cerita. Biasanya, film dituntut harus segera mengestablish hal-hal penting berkenaan dengan protagonis; siapa dia, keinginannya, namanya – supaya penonton bisa langsung menempelkan diri untuk mengikuti cerita/journey si karakter. Di sinilah letak bukti bahwa Guillermo del Toro adalah pendongeng sejati. Menit-menit krusial miliknya, diisi oleh karakter ‘misterius’, tapi lewat penceritaan visual yang mengalun tegas dalam balutan gambar-gambar malam di pinggiran yang menakjubkan, bibit-bibit tentang karakter ini telah disemai. Dan dengan melihat itu semuanya, kita ternyata bisa mengerti. This poor man has done something terrible, bahwa dia desperate meninggalkan masa lalunya, dan dia butuh duit. Sekarang, kita telah dibuat mau mengikutinya, karena kita ingin mendengar dari si karakter sendiri; siapa dirinya dan apa yang telah ia lakukan.

See, bukan saja film ini berhasil melandaskan karakter utama tanpa banyak berkata-kata. Film ini juga berhasil melandaskan konteks gagasannya. Bagaimana seseorang mengatakan siapa dirinya. Bagaimana seseorang mempersembahkan dirinya kepada orang lain. Bagaimana seseorang berpikir siapa sih dirinya. Setelah itu terlandaskan, barulah film menyebut siapa nama si Pria. Stan. But honestly, nama tidak akan jadi soal. Karena hanya nama baik yang akan diingat, dan Stan bukanlah pria yang benar-benar baik.

Perjalanannya membuat Stan sampai di tenda-tenda karnaval. Gagah dan masih muda, Stan mendapat pekerjaan di sana. Dunia belakang panggung karnaval tersebut jadi panggung cerita yang menarik. Khususnya bagi Stan. Karena karnaval bukanlah tempat paling jujur di dunia. Segala macam bentuk tipuan, mulai dari trik alat, trik merayu pengunjung, trik membualkan cerita, hingga trik sulap berkumpul di sana. Secara khusus, Stan tertarik sama pertunjukan mentalis. Maka belajarlah dia. Setelah merasa cukup menimba ilmu, Stan bersama perempuan yang dicintainya, pergi meninggalkan karnaval. Membuka pertunjukan mentalis sendiri, di tempat-tempat yang jauh lebih bonafid. Sampai akhirnya trik Stan ditantang oleh seorang psikiater wanita. Dan Stan, yang terus bertekad untuk menunjukkan siapa dirinya, mulai melanggar aturan yang bahkan ditaati oleh penipu-penipu di bisnis karnaval. Aturan untuk tidak bikin pertunjukan yang melibatkan hantu-hantuan.

alleynightmare-alley-guillermo-del-toro-trailer
Bukan horor, tapi bisa lebih seram daripada American Horror Story Freak Show

 

Magic sesungguhnya justru adalah penceritaan film ini. Del Toro berhasil mengangkat keajaiban dari sudut-sudut karnaval yang gelap dan kumuh. Kameranya berhasil membuat orang bongkar tenda aja tampak jadi sebuah pengalaman sinematik yang legit. Beberapa kali sutradara yang paling populer lewat kiprah horornya ini seperti menggoda kita dengan hal-hal berbau horor. Ada adegan pencarian seseorang ‘freak’ yang kabur masuk ke dalam wahana rumah hantu. Ada penampakan makhluk bayi yang diawetkan, yang katakanlah, kayak Dajjal dengan mata besar di dahi. Del Toro memainkan tone seram ke dalam simbol-simbol cerita yang lebih humanis, hanya untuk membuat kita menyadari bahwa tidak ada yang lebih horor daripada manusia yang terjerumus ke dalam downward spiral, seperti yang sudah kita antisipasi bakal terjadi kepada Stan.

Does Stan think he’s better than the place, than anyone else? He sure thinks so. Interaksi Stan dengan komunitas karnaval memang tampak berjarak. Film membuatnya kontras dengan interaksi dalam komunitas itu sendiri. Para pelakunya menghormati pekerjaan mereka, menganggap keluarga satu sama lain. Tak ragu berbagi ilmu. Jika kalian belum puas melihat akting Willem Dafoe di Spider-Man kemaren, well, di Nightmare Alley dia menyuguhkan permainan karakter yang enggak kurang dari luar biasa. In fact, film ini penuh oleh banyak lagi penampilan akting level Oscar yang semuanya tampil prima. Membawakan cerita yang telah diarahkan, dengan sangat baik. Jika simpati kita buat Stan sukar tumbuh, karakter-karakter pendukung inilah yang akan memastikan kita merasakan sesuatu. Ada cukup banyak drama di sini. Kita melihat mereka dari sudut pandang Stan. Selalu dari sudut pandang Stan. Dia memandang mereka seperti murid yang haus ilmu. Paling banter, seperti anak memandang ayah. Relationship yang tampaknya jadi sumber konflik – sumber masalah dalam kehidupan Stan.

Banyak sebenarnya yang bisa dibicarakan mengenai drama dan karakter-karakter di porsi karnaval. Aku certainly lebih suka ketika cerita masih bertempat di sini. Nada tragis memang konstan terasa sepanjang durasi film, tapi di bagian awal ini – dengan begitu banyak karakter menarik, setting yang juga unik – film terasa lebih hidup. Dan untuk sesaat kita pun jadi lupa sama masalah yang merayap di balik karakter Stan. Kita akan ikut tertarik melihat dia bertumbuh jadi lebih akrab, lebih jago trik, dan ultimately katakanlah menyelamatkan karnaval dari razia. Porsi kedua cerita adalah tentang Stan yang sudah mandiri sebagai mentalist di hotel mewah dengan seteru – lalu kerja samanya – dengan karakter psikiater yang diperankan begitu intimidating oleh Cate Blanchett. Fun sebenarnya melihat Stan menebak orang-orang, udah kayak detektif. Tapi Stan juga mulai kelihatan belang yang sesungguhnya. Cerita pun menjadi lebih gelap. Miris semakin tak terbendung melihat klien-klien Stan termakan oleh ‘trik mentalist hantu’, bahwa mereka ditipu pakai harapan mereka sendiri untuk berkomunikasi dengan terkasih yang sudah tiada. Pokoknya ada deh satu adegan pasangan tua yang bakal bikin hati kita hancur saking kasiannya.

alleyNightmare-Alley-Traile
Kacaunya, orang jaman sekarang tetap masih ada aja yang percaya padahal sejak jaman baheula komunikasi sama arwah itu telah terbukti cuma scam nyari cuan

 

Permasalahan sebenarnya tetap sama-sama menarik. Namun pada paruh kedua film ini (at least sampai sebelum babak ketiganya muncul) pace lambat dan durasi panjang film ini makin kentara terasa adalah karena ada romansa juga yang sepertinya mau diceritakan. Ini yang mengalihkan perhatian kita. Stan dan Molly (diperankan dengan manis oleh Rooney Mara) hampir seperti mendadak jatuh cinta, dan ketika kita peduli sama hubungan mereka, relationship mereka itu tidak benar-benar dicuatkan seutuhnya. Molly tidak pernah digali. Bagaimana perasaannya yang dijanjikan seisi dunia padahal nyatanya cuma jadi asisten sulap mentalist, bagaimana Stan mulai bikin show yang dia tahu itu ‘salah’. Karakter Molly dalam cerita praktisnya memang cuma jadi ‘asisten’ bagi karakter Stan, yang tidak pernah benar-benar melihat cinta sebagai tujuan utama. Di garapan romansa inilah, kita dan Stan – yang memang gak pernah diniatkan untuk benar-benar segarispandang – menjadi total berjarak. Sehingga kita terlepas dari cerita. Di titik ini, kita hanya ikut cerita, karena kita lebih peduli pada Molly, sementara film tetap pada perspektif Stan. Film melakukan ini bukan tanpa alasan. Film ingin kita untuk benar-benar melihat bagaimana tragisnya ‘faustian bargain’ itu bisa terjadi kepada manusia. Karena Stan sesungguhnya adalah contoh klasik seseorang yang menukarkan value kemanusiaannya demi glory, uang, kuasa – yang selama ini tidak pernah ia dapatkan, karena ia merasa selalu menjadi subordinat dari ayah yang ia benci.

Sebagai orang yang merasa dirinya lebih baik dari semua penipu. Yang merasa dia lebih baik daripada ayahnya. Yang merasa dirinya berhak mendapat seisi dunia sehingga dia tidak masalah untuk menjadi orang jahat demi hak tersebut. Yang telah terbutakan oleh tipuannya sendiri, Bradley Cooper telah memberikan penampilan akting terbaik dalam karirnya sejauh ini kepada kita. Stan ini menurutku adalah salah satu karakter yang memang harus didukung oleh fisik pemainnya. Cooper punya fisik dan kharisma yang benar-benar kontras dengan sekecil apa Stan deep inside, dan Cooper sadar ini. Dia tahu bagaimana psikologis karakternya, dengan trauma-trauma dan masa lalu kelam itu, bekerja. Dan dia membuat karakter ini benar-benar seperti ekslusif untuk dia mainkan. Dedikasi dan kepahaman Cooper memainkan Stan dapat kita lihat di adegan terakhir film ini. Ending Nightmare Alley adalah salah satu ending terkuat, yang benar-benar poetic – circle back ke kejadian di awal (bukan hanya ke certain dialog tentang cara mencari orang untuk pertunjukan tertentu, tapi bahkan hingga ke pertama kali karakter ini membuka suara) Dan di situ akting Cooper benar-benar juara. Begitu banyak emosi ditampilkannya.

Salah satu dialog kunci film ini mengatakan bahwa manusia itu begitu desperate untuk dilihat orang. Itulah yang jadi tema dongeng tragis ini. Jadi, manusia berusaha menjadi yang terbaik. Tapi sering juga kita merasa diri kita lebih baik dari yang sebenarnya. Kita bablas. Alih-alih berjuang, kita menutupi kekurangan. Kita menipu diri sendiri. Film ini adalah dongeng tragis apa yang terjadi ketika manusia terhanyut dalam menipu dirinya sendiri.

 

 

Aku akan mendukung kalo film ini berlaga di Oscar. Karena film ini begitu tragis, endingnya adalah salah satu yang terbaik, dan aku ingin melihat dia berkompetisi dengan The Lost Daughter (2022), yang juga punya ending poetic nan tragis – and it’s like versi anak cewek dari cerita tentang anak cowok ini. Dan tentu saja Bradley Cooper juga harusnya dilirik berkat penampilan yang gak kalah tragisnya dengan Olivia Colman. Tentu, ini bukan terbaik dari Guillermo, design ceritanya agak sedikit jadi bumerang di pertengahan, tapi for sure design produksi film ini adalah kelas juara. Ada begitu banyak yang bisa dinikmati sepanjang durasi. Mulai dari karakter, simbol-simbol, belakang panggung bisnis karnaval, mentalist lawan ilmu psikiater, serta visual dan hasil tangkapan kameranya itu sendiri. Penceritaannya juga terasa khas.  Sehingga aku kasihan sama orang yang tertidur dan walk out pas nonton ini. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for NIGHTMARE ALLEY

 

 

 

That’s all we have for now

Salah satu simbol yang berulang kali muncul di film ini adalah mata/gambar mata. Apa menurut kalian makna dari mata di dalam gagasan cerita ini?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ETERNALS Review

“Love is the capacity to take care, to protect, to nourish.”

 

Bayangkan awal tahun bikin film yang menang Oscar, lalu di penghujung tahun yang sama bikin superhero yang paling membosankan se-cosmic raya, lol that’s some range. Eternals adalah jawaban kenapa Taika Waititi bisa demikian sukses saat menggarap superhero dewa dalam balutan full-komedi receh. Karena cerita tentang ultimate being yang mendalami makna menjadi manusia memang harus mendaratkan karakter-karakternya menjadi pada level yang sama dengan penonton. Membuat mereka berlaku komedi adalah salah satu caranya. Dengan begitu kita akan lebih mudah melihat mereka sebagai bagian dari kita. Sehingga kita jadi peduli menyelami kompleksnya konflik dan karakter mereka. Eternals yang menunjuk Chloe Zhao sebagai sutradaranya, however, pengen tampil sebagai cerita pahlawan dengan muatan filosofis. Eksistensi dan kemanusiaan. Dengan bahasan yang ‘berat’ dan karakter yang ditampilkan sebagai dewa di atas kita, Zhao berusaha mendaratkan Eternals dengan tema cinta. Tapinya lagi menonjolkan cinta-cinta sementara pada sepuluh karakter kompleks itu ada bahasan menarik yang dibahas harus sekilas karena bakal ‘ketinggian’, hanya berujung membuat film ini jatuh sebagai drama bucin antara karakter-karakter kaku yang ingin mencegah kiamat terjadi di dunia.

Jadi jauh sebelum Avengers terbentuk, jauuuh sebelum peradaban manusia terbentuk, bumi kedatangan sepuluh makhluk abadi buatan Celestial. Makhluk-makhluk ini dikirim untuk melindungi bumi dari makhluk monster bernama Deviant yang memangsa manusia. Sersi adalah salah satu dari makhluk pelindung bumi itu, dan dialah karakter utama kita. Sersi instantly jatuh cinta sama planet dan kehidupan di dalamnya. Dan setelah sekian lama hidup di bumi, Sersi dan teman-teman memang ngajarin manusia dan punya pengaruh besar dalam peradaban (sebagian mereka kayfabe-nya jadi origin kisah dewa-dewi), meskipun mereka punya aturan enggak boleh mencampuri urusan ‘pribadi’ makhluk bumi. Mereka hidup bersama di antara manusia, sehingga jadi tumbuh rasa peduli. Kepedulian ini lantas jadi konflik personal, berbenturan dengan purpose yang dirancangkan buat mereka. Maka perpecahan pun terjadi. Sersi dan teman-teman berpisah dan hidup masing-masing. Namun sekarang, Deviant yang lebih kuat dan mampu menyerap kemampuan Eternals. Membunuh pemimpin Sersi. Para Eternals harus berkumpul kembali untuk melenyapkan ancaman ini, hanya untuk mengetahui bahwa ancaman sebenarnya justru adalah diri mereka sendiri. Karena kenyataan pahit terkuak untuk Sersi; Eternals sebenarnya dikirim ke Bumi untuk memastikan kehancuran planet tersebut sesuai pada waktunya.

eternals1593996-9-fakta-tentang-sosok-sersi-di-eternals
Sersi sampai di kita jadinya Dewi Padi

 

Yea, sepuluh karakter diperkenalkan sekaligus dalam satu movie memang udah red flag. Sudah begitu banyak contoh cerita ‘team’ yang gugur dan berakhir sebagai nilai merah karena gagal mengeksplorasi karakter tersebut dengan berimbang. Baru-baru ini ada satu yang berhasil, James Gunn, tapi itupun lagi-lagi karena penggunaan komedi untuk mendaratkan. But hey, Eternals hadir dengan durasi yang jauh lebih panjang dari cerita ‘team’ sebelum ini. Dua jam setengah durasi seharusnya bisa menghimpun perspektif, development, dan range masing-masing karakter. Seharusnya…

Buatku yang menarik adalah karakter Kingo, Phastos, dan Druig. Kingo ‘menyamar’ hidup sebagai legenda Bollywood, dia punya kecintaan sama film, dan for some reason Kingo sepertinya adalah superhero pertama yang menolak muncul dalam final battle. Kumail Nanjiani udah jadi berotot gitu tapi karakternya malah gak mau bertarung di akhir, it is really weird. Phastos really conflicted saat manusia mulai berperang antarsesama, karena dia merasa bertanggungjawab; dialah yang membantu manusia menciptakan alat-alat sederhana. Sementara Druig, benar-benar benci melihat manusia berperang. Druig yang bisa mengendalikan pikiran straight up melanggar aturan, membentuk komunitas masyarakat sendiri sesuai kehendaknya. Tiga karakter menarik ini nyatanya dipinggirkan karena tokoh utama kita adalah Sersi. Yang konflik utamanya adalah cinta. Sersi jatuh cinta sama manusia. Sersi dicintai sama Ikarus, Eternal yang bisa terbang. Sementara Ikarus dicintai sama Sprite, Eternal yang gak bisa gede. Mereka juga punya teman Eternal yang sering menggila, dan Eternal yang bersedia selalu melindunginya karena cinta. Film Eternals menonjolkan segala drama kebucinan ini, sebagai usaha untuk membuat para karakternya ‘manusia’

Chloe Zhao ingin mengeksplorasi gagasan soal melindungi hal yang kita cinta. To protect; itulah yang membuat manusia, manusia. Para karakter Eternal menyadari mereka ingin melindungi karena mereka punya rasa cinta, dan itu membuat mereka menjadi manusia yang sama dengan yang mereka lindungi. Itu memberikan tujuan yang sebenarnya bagi eksistensi mereka yang menyedihkan. Furthermore, Chloe memastikan para karakter benar-benar diverse. Sehingga aksi saling melindungi, saling cinta itu semakin bermakna karena melalui berbagai perbedaan dan menyatukannya.

 

Dengan pesan kemanusiaan di balik narasi klise kehancuran bumi, Eternals sesungguhnya cerita yang punya bobot dan penting untuk kita tonton. Bukan sekadar aksi-aksi flashy superhero. Hanya saja Zhao tidak benar-benar memanfaatkan karakternya selain sebagai boneka penyambung pesan. Dia tidak berhasil membuat karakter tersebut hidup. Harusnya Zhao menonton serial kartun Steven Universe. Serius. Eternals ini sama persis plotnya dengan kartun anak-anak tersebut. Baru tahun kemaren aku melahap kelima season Steven Universe, aku juga bikin playthrough lengkap video gamenya di channel Youtube. Sehingga plotnya masih segar teringat, dan saat nonton Eternals, aku merasakan deja vu. Para Eternal adalah Crystal Gem di kartun Steven. Pasukan yang dikirim ke bumi untuk mengalahkan monster, tapi kemudian merasa betah dan tertarik hidup bersama manusia bumi. Celestial adalah Diamond, higher entity yang mengirim mereka. Bahkan senjata/kekuatan mereka pun mirip sama Crystal Gem. Long story short, Crystal Gem ini juga akhirnya mengetahui rencana penghancuran bumi, dan seperti Eternal mereka juga harus melawan sesuatu yang bakal bangkit dari dalam inti bumi. Druig adalah Steven, yang punya kemampuan pikiran untuk melakukan sesuatu terhadap makhluk yang bakal bangkit tersebut. Tema di balik plot itupun sama. Tentang cinta yang dirasakan. Eksplorasi eksistensi diri, melindungi yang dicintai, kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Steven Universe bahkan memuat tema LGBT dengan lebih mendalam daripada Eternal yang hanya sekadar menyebut dan nunjukin ciuman. Kartun tersebut menyimbolkannya sebagai kekuatan (fusion).

Inilah yang kumaksud ketika Zhao harusnya nonton serial ini terlebih dahulu. Karakterisasi dan penyampaian tema dilakukan oleh serial tersebut lebih mendetil dan dalam dan menyentuh ketimbang yang ia lakukan pada Eternal. Karakter-karakter seharusnya tidak didefinisikan oleh aksi bucin mereka saja. Mereka harus hidup. Sersi menjadi boring karena teman-temannya yang lain memasak, main film, jadi orangtua. Sersi sibuk tenggelam sendiri. Film fokusnya malah ke karakter-karakter seperti Sersi ini. Namun bahkan karakter yang menarik pun kalo udah ngumpul bareng mereka cuma berbaris, menatap sok keren ke satu titik. Dalam cerita soal merayakan emosi dan vulnerability manusia, para karakternya gak pernah sepenuhnya tergambar seperti manusia.

eternals-richard-madden-gemma-chan-2
To be fair, Steven Universe punya lima season untuk ngembangin karakter. Maka film Eternals ini cocoknya jadi serial juga.

 

Walau durasi sudah ekstrapanjangpun, film ini tetap terasa sesak dan penuh berjejelan oleh informasi dan eksposisi. Timeline dalam narasi actually melintang sepanjang sejak awal waktu. Kejadian mereka tersebar dalam periode-periode peradaban manusia. Film ini menggunakan alur bolak-balik antara kejadian di masa sekarang untuk memajukan plot, dengan kejadian di masa lalu untuk mendalami backstory kejadian (mereka pisahnya gimana, mereka ada masalah apa, dsb) Dengan cara memuat seperti begitu, praktisnya tidak ada lagi tempat untuk benar-benar mengembangkan kehidupan karakter. Akibatnya lagi, karakter ‘setua’ itu kayak sama aja mau itu kita melihat mereka di periode tahun berapapun. Yang paling gak bertumbuh itu adalah karakter Makari. Ini sayang sekali. Superhero deaf pertama MCU, berkekuatan bisa lari secepat kilat, tidak diberikan apa-apa oleh film. Dia hanya nunggu di ‘pesawat’. Hanya dimunculkan di menjelang akhir. Dia di masa lalu ama yang sekarang benar-benar gak ada bedanya. Kalo anak sekarang bilangnya ‘nolep banget’

Film ini tenggelam dalam filosofis dan pembicaraannya sendiri sehingga gagal melihat hal-hal menarik yang bisa diangkat dari karakter. Mereka punya Angelina Jolie sebagai Goddess of War – Angelina-frickin’-Jolie!! Dan hal menarik bagi film ini buat karakternya cuma namanya Thena, bukan Athena. Nama itu terus diulang-ulang. Film tidak tertarik menggali personal karakter ini – fungsi dia sebagai wakil karakter mental illness sudah dipenuhi dengan just exist there. Film tidak tertarik ngasih adegan aksi yang memfokuskan Jolie kembali beraksi. Film tidak tertarik ngasih adegan aksi. Period. Kenapa aku bilang begitu? Karena adegan-adegan berantem film ini basic banget. Gak ada yang wah. Sepuluh kekuatan special itu gak pernah jadi terasa seperti experience berantem yang out-of-the-world, yang seru. Zhao kayak sebodo amat ama template aksi superhero yang udah disiapkan studio. Hanya ada satu kayaknya, satu adegan berantem yang memperlihatkan kerja sama efektif, like, combo kekuatan super karakter mengalahkan lawan. Padahal mereka ini digambarkan gak benar-benar kuat on their own. Mereka harus bekerja sama. Ini seharusnya kesempatan ngerancang kombo-kombo spektakuler. Tapi film ini cuma kayak ‘hmm meh..!”

Satu-satunya hal menarik di film ini adalah bagaimana sepertinya Marvel telah membuka ‘pintu terlarang’. Seperti WWE yang tau-tau ngajak superstar dari perusahaan gulat sebelah (Impact) untuk tanding di acara mereka, Eternals tau-tau menyebut Batman dan Superman – dua karakter superhero dari studio sebelah – di dalam narasi. Nyebut nama-nama Avengers kan udah biasa tuh, film-film Marvel selalu ‘ngiklanin’ mereka, terutama kalo si film ini gak langsung bersangkut paut banget dengan kejadian Avengers. Nah menariknya kali ini, Batman dan Superman juga disebut dengan gamblang. Marvel mengacknowledge keberadaan superhero lain di dunia mereka. Apakah ini mengisyaratkan Marvel sudah open untuk crossover yang lebih menggemparkan? Bagaimana menurut kalian? Share pendapat kalian di komen yaa

 

 

Seharusnya dengan adanya sepuluh karakter superhero dewa berarti ada sepuluh kali kesempatan lebih banyak bagi film ini untuk menghasilkan sajian yang sepuluh kali lebih dahsyat daripada biasanya. Tapi nyatanya, film ini jadi kayak sepuluh kali lebih membosankan. Karakter-karakternya cuma baris berpose sok keren. Karakter utamanya bucin, maka melodrama cinta-cintaan itulah yang jadi fokus utama.Total bleergh buatku adalah adegan Ikarus dibikin memenuhi takdir namanya, dengan konteks dia malu udah berbuat jahat dan gak dicintai lagi sama kekasihnya. Hal-hal semacam ini yang mengesampingkan hal-hal menarik yang actually dipunya oleh beberapa karakter lain. Udah dikasih durasi panjang, tapi tetap saja film ini tidak terisi dengan efektif. Film bahkan lupa punya monster antagonis yang bisa meniru kemampuan dan berkembang jadi lebih kuat dan manusiawi. Karakter itu lenyapnya dengan gampang aja. Dikembangkan dengan tidak imbang. Ini superhero yang gak tertarik sama aksi, melainkan lebih kepada filosofi eksistensi. Mending nonton kartun Steven Universe aja deh. 
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for ETERNALS

 

 

 

 

That’s all we have for now

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA