INFINITE Review

“Life is about reinventing yourself”

 

Apakah ada hal di dunia ini yang bisa kalian kerjakan, tanpa kalian yakin kenapa kalian bisa melakukannya? Misalnya seperti kalian ternyata bisa mencetak gol walaupun selama ini kalian belum pernah memegang bola. Atau kalian bisa langsung jago ngendarai sepeda walaupun baru satu kali latihan. Well, film Infinite buatan Antoine Fuqua bilang itu bukan karena bakat. Melainkan karena itu adalah keahlian yang kita bawa dari kehidupan sebelumnya. Infinite memang bicara tentang reinkarnasi. Konsep dasar yang jadi tulang punggung ceritanya adalah bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang terus-menerus lahir-kembali ke dunia, dan mereka membawa bukan hanya kemampuan yang telah dipelajar di sepanjang garis kehidupan mereka, melainkan juga beban atas hidup yang basically tak-terputus.

Konsep yang sebenarnya menarik banget untuk dijadikan cerita action sci-fi yang manusiawi. Namun sayangnya, film ini sendiri ternyata tak lebih dari sekadar reinkarnasi puluhan film-film action sci-fi; tanpa punya kemampuan spesialnya tersendiri.

Aku gak tahu apakah novel source-materi film ini memang bahasannya simpel, tapi yang jelas – yang kita lihat di film ini – memang Fuqua sepertinya lebih tertarik mendesain action pieces ketimbang berkutat dengan persoalan reinkarnasi dan permasalahan manusiawi yang dibawa olehnya. Ketika kita bertemu dengan Mark Wahlberg yang jadi Evan si tokoh utama, film seperti telah mencukupkan dirinya dengan narasi voice-over berisi eksposisi (bahwa di dunia cerita ini ada dua golongan orang yang bereinkarnasi; golongan jahat yang mencoba mengakhiri dunia supaya reinkarnasi juga berakhir, dan golongan baik yang mencoba menyetop golongan jahat) Yang dijanjikan film ini kepada kita lewat adegan pembukanya adalah aksi-aksi laga yang mustahil tapi fun. 

infiniteTrailer-infinite-2
Kapan lagi ngeliat Marky Mark nusuk pesawat pake pedang, kan?

 

 

Sisi baiknya memang adalah bahwa film ini enggak inkar janji. Penonton yang suka dengan sekuen-sekuen aksi heboh – yang nyerempet garis antara impossible dan dumb – bakal terhibur habis-habisan dengan yang ditawarkan Fuqua pada film ini. Evan ternyata adalah reinkarnasi dari seorang jagoan yang punya kepandaian cukup banyak, salah satunya adalah keahlian membuat pedang. Malahan di kehidupan terakhir sebelum Evan, si jagoan sedang dalam tahap mengembangkan kekuatan super ala superhero. Jadi, film ini punya begitu banyak taman bermain, mulai dari kejar-kejaran mobil, tembak-tembakan, bertempur pake pedang – either di atas jembatan atau di dalam pesawat yang berputar-putar, and I haven’t reach the punchline yet; melawan musuh berpistol ajaib! Aku langsung teringat sama adegan Cloud berantem lawan tiga clone Sephiroth di Final Fantasy VII Advent Children. Karena memang aksi di Infinite ini seru seperti itu.

Tapi begitu mengingat cerita yang dikesampingkan oleh sekuen-sekuen aksi tersebut, ya rasanya nonton film ini jadi kecewa juga. Evan selama ini tumbuh dewasa dengan mengira dirinya schizophrenia. Dia melihat mimpi-mimpi dan halusinasi tentang kejadian dan orang-orang yang tak ia kenal. Dia discover dirinya bisa melakukan hal-hal yang tak pernah ia pelajari. Film ini menyederhanakan konflik pelik itu dengan jawaban bahwa semua itu adalah memori dari kehidupan terdahulunya. Sehingga Evan yang sekarang ini hanyalah empty shell tempat si karakter jagoan bersemayam. Kepribadian atau karakter yang ia punya sebelum dia sadar dirinya adalah Treadway si jagoan, seperti menyatu begitu saja dengan kepribadian Treadway yang kita lihat di beberapa flashback; kalo gak mau dibilang kepribadian Evan itu menghilang. Film tidak menyelami persoalan kepribadian dan reinkarnasi lebih lanjut. 

Walaupun mengambil referensi kepada ajaran agama, tapi konsep reinkarnasi yang ada di sini dibikin simpel-simpel aja. Evan, maupun rekan-rekannya yang berjiwa imortal, tak pernah terlahir kembali sebagai tubuh yang bukan mereka. I mean, Treadway tidak pernah terlahir jadi cewek, atau temen cewek Treadway tidak pernah terlahir sebagai cowok sehingga dia dan pasangannya selalu jadi couple hetero. Melihatnya dari sini saja sudah cukup kelihatan betapa boringnya cerita film ini. Penggaliannya yang mentok variasi itu pun sebenarnya masih bisa jadi cerita menarik kalo karakter-karakter itu benar-benar digali. Tapi ternyata juga tidak. Film menghabiskan waktunya dalam menyadarkan ingatan Treadway yang bersemayam sebagai Evan alih-alih menjalin hubungan antara karakter-karakter yang terus berjuang bersama tersebut.

Melihat karakter yang berusaha menyadari apa yang bisa jago dia lakukan (not really berusaha malah, melainkan lewat alat canggih) tentu saja terasa hampa dibandingkan jika melihat karakter yang berjuang memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Dan memang begitulah semestinya makna dari reinkarnasi. Hidup berkali-kali, berarti mati berkali-kali. Berarti karakter kita sudah melakukan banyak kesalahan berkali-kali. Mengalami kehidupan seperti itu harusnya jadi pembelajaran. Namun tidak ada hal tersebut kita lihat terjadi pada karakter-karakter film ini, yang terus saja dibuat mengalami nasib yang itu-itu melulu

 

Antagonis di cerita ini, misalnya, adalah mantan teman seperjuangan Treadway. Pandangannya terhadap kehidupan terus-menerus mereka menjadi berbeda karena somehow si antagonis tidak pernah mengalami fase ‘lupa’ saat dia terlahir. Dia langsung ingat akan semua masalah. Dan ini membuatnya sama manusia, dan sama kehidupan. Jika film ini menggali dan membawa kita menyelam bersama karakter ini – melihat bagaimana dia dan Treadway dan rekan-rekan lain feel tentang reinkarnasi untuk pertama kali, maka hubungan mereka akan lebih genuine. Tapi film malah tetap sibuk berkutat pada hal-hal gak make sense, supaya ceritanya tetap simpel. Alih-alih membahas kenapa si antagonis kemampuan reinkarnasinya berbeda, film malah memperlihatkan hal lain yang malah membuatnya jadi penjahat komikal. Kaya, punya banyak pasukan, dan segala macam. Motivasinya yang mestinya mendalam, dalam film ini malah terlihat seperti sesepele mencari ‘telur penghancur’.

infinitemark-wahlberg-infinite-01-700x400-1
He owns an awesome soul capturing weapon tho

 

Tentu saja aku bukannya mau bilang aku bisa bikin cerita yang lebih bagus atau apa. Menilai film tentu saja tetap melihat dari jadi apa film tersebut pada akhirnya. Dan itulah yang sedang berusaha aku sampaikan. Bahwa dengan menjadikan film ini simpel, dengan tidak mengacknowledge – apalagi membahas – hal-hal rumit dan menarik yang sebenarnya ada menempel pada cerita, maka film ini pada akhirnya hanya menjadi laga sci-fi generik yang gak ada bedanya dengan film-film sejenis. Identitas film ini adalah soal reinkarnasi, tetapi dari yang kita tonton sepanjang seratus menit durasi, film ini terasa sama aja dengan cerita orang yang hidup lama tapi lupa sama kekuatannya. Yang udah lumrah banget. The Old Guard-nya Charlize Theron yang tayang belum lama ini juga mirip-mirip kayak ini; sekelompok orang yang hidup ratusan tahun berjuang di dunia modern. Evan dan kawan-kawan basically immortal seperti karakter Theron di film tersebut. Dan persis di ‘basically‘ itulah film Infinite ini menempatkan dirinya.

Jadi, flaw film ini terutama adalah pada kegagalan menguarkan identitasnya. Cerita Evan ini bahkan mirip ama cerita Cole di Mortal Kombat kemaren. Evan bisa dengan gampang ‘diganti’ sebagai keturunan dari si pembuat pedang di Jepang, atau si Treadway, dan dia harus berlatih menemukan panggilan originnya, melawan kenalan di masa lalu yang terus abadi memburunya. Infinite perlu banget untuk memperkuat soal reinkarnasi yang dia punya. Karena tanpa itu, filmnya jadi gak spesial.

Aksi-aksi sensasional hanyalah bumbu yang juga dipunya oleh film-film sejenis, yang malah memang fokus ke arah sana. I mean, kenapa kita mau nonton kejar-kejaran mobil di sini jika di bioskop sedang tayang film franchise yang namanya udah segede gaban, kan. Gak ada lagi excitement kita saat mengikuti Infinite ini. Apa lagi yang dipunya film ini? Nama-nama gede? Well, bahkan Mark Wahlberg aja di sini tidak tampak antusias. Dialog karakternya datar dan minim excitement. Evan baru saja mengalami halusinasi paling menyirap darah seumur hidupnya, tapi reaksinya cuma, “Wow, that felt real”

Aku bilang, “Wow, this feels like a waste of time!”

 

 

 

Maaan, Juni ini kita dapat film jelek melulu. Film ini terlalu generik bahkan jika tujuannya memang hanya untuk menghibur. Kesempatan menang film ini hanya ada pada sekuen-sekuen aksi, itupun juga lombanya adalah heboh-hebohan aksi. Di baliknya benar-benar tidak ada apa-apa. Karena film telah memilih untuk mengesampingkan identitas, demi membuat dirinya tampil simpel. Tampil tidak berat. Kemungkinan pembahasan film ini sebenarnya bisa cukup dalam, dan katakanlah – endless. Tapi ironisnya, justru film ini membatasi dirinya sendiri. Dan sebagai salt to our wound, bagian akhir film akan memperlihatkan sebuah representasi yang ngasal dan apa adanya hahaha..
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for INFINITE.

 

 

That’s all we have for now.

Jika bisa memilih, kalian pengen bereinkarnasi menjadi apa?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE WOMAN IN THE WINDOW Review

“Trapped by reality, freed by imagination”

 

“Ada perempuan, ngintip di jendela
Anna sudah gila, gak tau realita”

Amy Adams bermain sebagai Anna Fox, seorang psikolog anak – yang sendirinya lagi butuh banget terapi dari psikolog. Karena protagonis The Woman in the Window ini sudah sepuluh bulan tidak keluar dari rumah rumah. Anna tidak bisa keluar rumah. Dia akan langsung diserang kepanikan luar biasa bahkan jika hanya berada di dekat pintu depan. Jadi Anna – dan cerita ini – menghabiskan waktunya di dalam rumah. Seorang diri (well, except pria yang tinggal di basement). Minum-minum sambil menonton film thriller klasik jadi hiburan sehari-harinya jika tidak sedang ngobrol sama anak dan suaminya lewat telefon. Oh, betapa Anna ini hobi nonton. Salah satu tontonan favoritnya, however, adalah pemandangan di luar jendela. Ketika apartemen di seberangnya terisi oleh keluarga Russell yang baru pindah, Anna dapat tontonan baru. Dia sudah kenalan ama mereka satu persatu. Dan malam itu, Anna menyaksikan kekerasan rumah tangga dari balik jendela mereka. Yang dengan cepat berubah menjadi misteri, karena Jane Russell yang kenalan dengannya berubah menjadi orang lain. Anna percaya ada sesuatu yang mengerikan terjadi di keluar itu, dan percaya bahwa Jane Russell yang asli sudah tewas dibunuh.

windowAmy_Adams_The_Window_In_The_Window_Netflix
“Lek jum – lek jum tralalalaaaaa, Anna sudah gilaa~”

 

Dulu waktu Rear Window (1954) – film yang menginspirasi novel materi film adaptasi ini – buatan Alfred Hitchcock baru tayang, sebagian penonton mungkin sebatas membayangkan ketidakberdayaan terkurung di dalam rumah. Sekarang, di era pandemi, kita semua sudah menghidupi horor tersebut. Harus berkurung di rumah yang membuat kita mencari sendiri sumber hiburan supaya gak bosan. Dan bahkan kita bisa dengan gampang relate sama perasaan takut untuk keluar rumah. The Woman in the Window garapan Joe Wright memang punya advantage dalam soal kerelevanan ini. Dengan kesuksesan novelnya, ditambah Rear Window sebagai inspirasi, Wright sudah punya lebih dari yang ia butuhkan untuk membuat thriller psikologis yang benar-benar merayap ke dalam kepala setiap penonton. Wright ‘hanya’ perlu menonjolkan craftnya.

And that he did well. Kamera diarahkan Wright untuk benar-benar menyajikan pengalaman yang klaustrofobik. Diberikannya sentuhan warna biru dan merah jambu yang sendu untuk menguatkan kesan kesendirian Anna. Wright juga bermain-main dengan shot-shot yang ngingetin kita sama gambar-gambar tipikal horor/thriller psikologi hitam-putih dulu. Gambar Anna yang lagi terlelap, digabungkan dengan cuplikan adegan film yang menyala di televisinya, misalnya. Atau shot Anna mengintip dengan tirai jendela jadi bingkai gambarnya. Shot-shot seperti itu ternyata efektif pula memperkuat kesan ‘bingung’ yang melanda mental Anna. Dan dengan didukung oleh permainan peran dari Amy Adams yang udah gak asing dalam peran-peran yang terluka oleh trauma, film ini bekerja terbaik saat memvisualkan keadaan psikologis karakter utamanya tersebut.

Lihat saja gimana eerie-nya effort dan suasana yang tertampilkan saat Anna berusaha menguatkan diri untuk melangkah keluar dari rumahnya. Kita jadi percaya bahwa hal sesimpel keluar rumah itu luar biasa sulit dan menekan bagi Anna. Kita jadi percaya bahwa limitation karakternya tersebut tidaklah dibuat-buat. Buat perbandingan simpel; coba bandingkan dengan film Indonesia baru-baru ini yang juga bahas karakter yang gak mampu keluar rumah karena trauma (judulnya ada nyebut jendela juga – dan piano di baliknya). Film tersebut hanya menampilkan lewat kata-kata, sedangkan film Wright ini benar-benar memperlihatkan kesulitan dan trauma tersebut bekerja.

Menariknya, Anna enggak berani keluar rumah itu sebenarnya bukan karena dia takut dengan yang ada di luar. Melainkan lebih karena dia takut kehilangan yang ia miliki di dalam rumah. Karena rumah itulah satu-satunya koneksi dia dengan suami dan anaknya. Dia berpegang teguh pada koneksi tersebut, kehilangan itu berarti dia akan benar-benar kehilangan suami dan anaknya. Jadi, berbeda dengan kasus ‘terjebak’ yang biasa, di film ini, Anna bukan terjebak oleh realita. Melainkan dia menggunakan ketakutannya menghadapi realita sebagai dinding keamanan. Dia menjebak dirinya sendiri ke dalam, supaya bisa terus menikmati imajinasi yang ia ciptakan sebagai gantinya. Persis seperti ketika dia menciptakan imajinasi saat mengintip lewat jendela.

 

Jendela dalam sinema biasanya memang identik sebagai simbol gaze atau cara tatapan. Karena jendela itu biasanya adalah media tempat karakter mengintip, memergoki, atau melihat diam-diam sesuatu yang cukup jauh. Bidang permukaan jendela yang luas, tapi dengan bingkai, membuatnya tampak seperti sebuah televisi, dengan kejadian nyata yang ditonton alih-alih ‘drama’. Alfred Hitchcock dengan Rear Window-nya telah mencontohkan betapa cerita seorang pria yang melihat tetangganya lewat jendela sebenarnya menguar oleh pemaknaan simbolis soal framing atau bagaimana cara pria menilai yang sedang ia pandang. Bagaimana ia melihat masalah yang ingin ia lihat. Film Hitchcock tersebut simpel, tapi sangat powerful karena berhasil mengantarkan tatapan tersebut kepada kita. Membuat kita memahami proses cara pandang karakter itu terbentuk. The Woman in the Window membalikkan gaze tersebut. Sekarang karakter perempuanlah yang mengintip. Ketika dia melihat keluarga tetangganya lewat jendela, yang ia simpulkan dari tontonan tersebut terbentuk dari bagaimana cara perempuan memandang sesuatu. Wright berusaha mengeksplor ini. Tatapan Anna adalah tatapan yang berdasarkan emosi, dan kecemasan yang berasal dari pengalamannya sendiri sebagai perempuan dan ibu. Ini sesungguhnya adalah konsep yang bagus. Setidaknya, jelas akan membuat film ini punya langkah menciptakan identitas sendiri dari film yang menjadi inspirasinya.

Sayangnya, persoalan gaze ini ditambah dengan elemen pendukung untuk menciptakan psikologis karakter yang trauma, membuat film jadi tersandung. Film malah membuat Anna menjadi protagonis yang tak-bisa dipercaya. Yang unreliable. Kita ikut membangun teori misteri bersama protagonis Rear Window. Sebaliknya, pada The Woman in the Window, kita perlahan jadi sama seperti karakter polisi di dalam cerita ini; kita jadi mempertanyakan karakter utama yang seharusnya kita dukung tersebut. 

windowTHE-WOMAN-IN-THE-WINDOW-NETFLIX-REVIEW
That’s never a good thing, in every movie, if we don’t believe in the main character.

 

Entah karena kurang cukup riset, atau karena proses rewrite yang berulang-ulang, naskah film ini jadi seperti belum siap untuk terjun membahas masalah Anna, yang sebenarnya memang lebih kompleks dibanding Rear Window. Pada film tersebut, rintangannya fisik. Kaki yang cedera. Sedangkan pada film ini adalah persoalan trauma itu tadi. Serta persoalan gaze. Semua masalah itu benar-benar abstrak di The Woman in the Window. Naskah keteteran di sini. Alih-alih menggali horor dan suspens dari bagaimana rasanya jadi orang yang tidak dipercaya oleh orang lain, film ini malah berpaling dan menggali dari sudut yang lain. Lucunya, salah satu tempat film ini mencari ketegangan adalah pada sudut jumpscare. Misteri pada psikologikal horor/thriller sama sekali tidak butuh elemen kaget-kagetan. Tapi film ini membawa kita turun ke basement, untuk kemudian menarik banyak teror dari orang yang tau-tau muncul. Seolah ini adalah film rumah hantu murahan.

Seiring semakin banyak pengungkapan yang terjadi (mulai dari tentang keluarga Anna, ke keluarga Russell, ke siapa yang Jane Russell sebenarnya, dan seterusnya) film semakin terperosok ke dalam lubang jebakan horor. Tone film udah kabur sama sekali. Enggak jelas lagi. Dia yang tadinya sudah dibangun sebagai drama misteri psikologikal yang serius, semakin akhir jadi malah semakin mirip sama film bunuh-bunuhan yang over-the-top. Dari cara film ini terbendung di menit-menit awal, aku sama sekali gak menyangka bakal dapat adegan pemecahan misteri lewat foto kucing, atau bahkan gak menyangka bakal ada adegan wajah tertembus garu kebun (emangnya senjata Pat Kai!). Ini mungkin masih bisa tergolong sebagai kejutan yang menyenangkan, tapi tetap saja bukanlah langkah yang benar, karena membuat film menyimpang dan mendua dari apa yang disajikan sedari awal.

 

 

Ini hampir seperti filmnya sendiri gak pede untuk tampil sebagai drama psikologikal yang serius. Takut penonton bosan atau apalah. Sehingga mereka menulis ulang banyak elemen, menambahkan elemen-elemen cerita horor yang lebih menjual, dan berusaha menerapkan dan mencampurnya ke dalam cerita. Hasilnya? It damages the tone greatly, dan tentu saja mengurangi banyak nilai film ini. Padahal cerita ini bekerja terbaik saat memvisualkan efek trauma. Saat memperlihatkan lapisan soal gaze itu juga film sebenarnya cukup baik. Tapi kemudian semua itu dihembus keluar jendela begitu saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE WOMAN IN THE WINDOW.

 

 

That’s all we have for now.

Sebenarnya wajar sih kita merasa lebih aman di rumah sendiri. Tapi pernahkah kalian juga mengalami takut yang luar biasa untuk pergi ke luar, like you just want to spend your entire day at home? Bagaimana kalian mengatasi itu?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

.

THOSE WHO WISH ME DEAD Review

“No time to grieve for roses when the forests are burning”

 

Membahas sebuah film memang tak bisa dilakukan tanpa sedikit-banyak menceritakan tentang alur film tersebut. Namun, menceritakan tentang Those Who Wish Me Dead ini terasa mirip sekali dengan memantik api yang bakal menjalar membakar habis hutan. ‘Api’ di sini adalah spoiler, dan hutannya adalah the entire review. Karena film ini memang terdiri dari kejadian-kejadian kecil, yang kemudian membesar, menjalar, saling berhubungan membentuk konflik besar film. Ada perempuan yang trauma oleh kegagalannya sendiri, ada anak kecil yang dikejar pembunuh. Ini adalah thriller kejar-kejaran, sekaligus juga merupakan kisah bencana alam. Film ini begitu all over the place. Tapi juga so little – setelah api itu padam, tidak ada banyak hal tersisa selain abu untuk kita bicarakan. Yang jelas, ya, akan ada api besar, jadi kalian yang suka nontonin kebakaran masih akan bisa terhibur olehnya.

Tapi aku akan tetap mencoba. Ngasih tahu gambaran besar kisah film yang diangkat dari novel ini, dengan sesedikit mungkin membeberkan detil-detil di dalamnya. Cerita ini dimulai dari ayah dan anak yang sedang dikejar oleh dua pembunuh yang gak segan-segan melenyapkan siapapun yang menghalangi mereka. Dalam pelarian, ayah dan anak itu mengalami nasib naas sehingga kini tinggal si anak yang jadi buronan. Si anak kabur ke belantara hutan Montana. Di sana, dia ditolong oleh seorang pemadam kebakaran. Mereka berdua harus berjuang keluar dari hutan – segera menuju tempat yang bisa melindungi sang anak. Dengan dikejar oleh dua pihak yang memburu berapi-api; tim pembunuh, dan api beneran yang tengah berkobar melalap hutan tempat mereka bersembunyi.

dead013325_1142x642_637534307234461060
Some people just wanna watch the world burn.

 

Aku suka sama naskah tulisan Taylor Sheridan, khususnya Sicario (2015) dan Hell or High Water (2016). Naskahnya selalu berhasil memuat studi karakter yang kompleks ke dalam thriller yang menegangkan. Sheridan sepertinya juga cukup beruntung dapat sutradara yang sevisi, yang mampu menggambarkan apa yang ia niatkan. Dalam Those Who Wish Me Dead ini, sebenarnya naskah Sheridan juga lumayan kompleks. Setidaknya, sesuai dengan zona nyaman dia selama ini. Perempuan pemadam kebakaran dalam cerita ini adalah Hannah yang suka ngelakuin hal nekat (dan bodoh ala jackass) karena nurani dan perasaannya terbebani oleh kesalahan yang ia lakukan dalam tugas beberapa waktu yang lalu. Hannah trauma tidak bisa menyelamatkan tiga cowok remaja dari kebakaran. Pasal ini dibentrokkan oleh Sheridan dengan Connor, si anak kecil yang dikejar-kejar pembunuh. Naskah Sheridan berhasil mencuatkan bahwa Connor adalah kesempatan bagi Hannah menebus diri, sekaligus juga bahwa ada kesamaan pada keduanya. Yakni dua pribadi yang sama-sama mengalami trauma. Naskah film ini akanlah bersinar jika benar-benar mendalam membahas hubungan antara karakter Connor dengan Hannah.

Kali ini memang sepertinya Sheridan kurang mendapat kebebasan kreatif, walaupun dia juga merangkap sebagai sutradara. Karena film ini diadaptasi dari novel, yang juga melibatkan penulis novel aslinya. Jadi ada kebutuhan untuk membuat semirip mungkin dengan cerita novelnya. Dan di sinilah kejatuhan dari film Those Who Wish Me Dead (dan juga kejatuhan dari banyak film adaptasi novel yang penulis novelnya juga mendapat kredit nulis naskah). Film ini masih enggan lepas dari bentuk novelnya. Sudut pandang cerita ini tidak fokus, melainkan sering berpindah-pindah. Juggling dari Hannah-Connor ke pasangan lain yang ada di dalam kisah. Ada pasangan polisi lokal dengan istrinya yang tengah mengandung. Dan tentu saja duo pembunuh yang mengejar Connor. Dua pasangan itu juga punya cerita sendiri, tapi karena porsi mereka dibagi-bagi bersama porsi Hannah dan Connor, tidak ada pasangan ataupun satu karakter yang benar-benar mencuat sebagai tokoh utama. Mereka semua sama-sama kurang tergali. Sama-sama satu dimensi.

Kita harusnya peduli sama Connor dan Hannah, karena merekalah yang sebenarnya diniatkan sebagai center piece. Merekalah yang paling bertragedi. Namun film ini tidak berhasil membangun center itu sendiri. Dan malangnya, baik Connor dan Hannah kalah menarik dibandingkan dengan polisi-dan-istri dan dua pembunuh itu. Polisi dan istrinya basically adalah cool couple, terutama sang istri yang ternyata jago survival (including naik kuda sambil menembak senapan). Mereka punya stake yang tak kalah berharga – yakni bayi di kandungan. Dinamika keduanya asyik untuk diikuti, mereka dengan gampang bisa jadi tokoh utama film ini karena punya petualangan pribadi yang lebih seru. Terus, kedua pembunuh; mereka boleh jadi penjahat yang ‘hanya jahat tanpa karakter’, tapi sudut pandang jahat mereka ini menarik. Salah satu dari mereka ada yang bilang gak mau menyakiti wanita hamil, tapi di adegan pembuka film kita melihat baju mereka bebercak darah sehabis masuk rumah yang ada penghuni perempuan dan suara anak balita (and yes, they blow up the house after that). Atau ketika salah satu mereka bilang benci sekali sama kota ini. Aku lebih penasaran sama kenapa sikap mereka begitu ketimbang harus melihat lagi Hannah terkenang kejadian kebakaran hutan yang naas, ataupun Connor yang berperilaku sedikit lebih dewasa ketimbang usianya.

Sepertinya itu karena memang kekuatan naskah Sheridan masih kentara di balik keputusan kreatif lainnya. Kesubtilan naskah itu masih dapat kita rasakan, terutama ya pada kedua penjahat itu. Pada pihak yang jadi judul film ini; “Mereka yang ingin aku mati”. Mereka itu siapa? Tentunya ada kelompok yang lebih besar di balik dua pembunuh suruhan tersebut. Nah, naskah bermain cantik dengan hanya memberi tahu kita secara tersirat. Menggoda kita. Film menampakkan sedikit siapa dalangnya (diperankan oleh cameo Tyler Perry), tapi dengan bijak meninggalkan lebih banyak di dalam bayang-bayang. Ada serangkaian orang-orang berkuasa yang gak senang dengan kerjaan ayah Connor, dan itulah yang menyebar jadi masalah seperti api membakar hutan.

Sepercik kecil api mampu menghanguskan berhektar hutan. Ayah Connor sebagai forensic auditor mungkin dianggap memantik api tersebut, mengungkap banyak kasus, mungkin seperti korupsi, oleh orang-orang besar. Tapi sebenarnya yang dilakukan ayah Connor justru menyibak, mengingatkan bahwa ‘hutan’ itu memang sedang terbakar. Bahwa sedang ada masalah besar yang harus dihadapi. Ayah Connor melawan api dengan api.

 

dead41454350-9445619-image-m-36_1617806590435
Oke, api dan kebakaran memang cool untuk ditonton!

 

Kesubtilan problem dalam dunia cerita ini diseimbangkan dengan menampilkan visual yang benar-benar red hot sebagai puncaknya. Itulah saat ketika percikan-percikan kejadian akhirnya terhubung. Sheridan benar-benar menaruh kita dan karakternya di tengah kobaran api. Di momen inilah film mencapai titik tertingginya. Kebakarannya tampak beneran mengukung dan terkesan berbahaya. Adegan-adegan aksi seperti berantem di situ atau berlari dikejar api berhasil bikin kita menggigit jari dengan tegang. Angelina Jolie sebagai Hannah tampak nyaman sekali kembali ke ranah aksi, malah penampilannya di sini yang kerap menyadarkanku bahwa film ini sejatinya juga adalah sebuah laga survival.

Bahkan spektakel itupun terlambat untuk benar-benar menyelamatkan film. Tidak benar-benar ada sesuatu yang berisi di baliknya. Anak kecil yang nyawanya terancam, itu stake yang gampang sekali untuk dramatisasi. Film ini tidak berbuat banyak dalam menggali itu. Kejar-kejarannya jadi datar karena selain soal keselamatan nyawa, dan hubungan yang jadi makin akrab, tidak banyak perkembangan karakter yang diperlihatkan. Tidak banyak pertumbuhan yang personal. Dan lagi karena kita tidak benar-benar difokuskan kepada harus peduli ke siapa. Aku tidak berniat terdengar kasar atau terlihat terlalu menghina, tapi ya, pemandangan hutan yang terbakar lebih punya kedalaman ketimbang film ini secara keseluruhan.

 

 

Film ini bukan burung phoenix yang makin cantik setelah apinya padam. Film ini justru paling bagus saat kebakaran hutan dan konflik-konflik dari tiga pasang karakter itu bertemu dan ‘terbakar’ bersama. Setelahnya, film jadi datar karena kita tidak berhasil dibuat untuk peduli. Sepanjang perjalanan, cerita sibuk menjuggling kita dari satu pasangan karakter ke pasangan lainnya. Tidak tersisa banyak ruang dan waktu untuk pengembangan dan penggalian masing-masing. Melainkan hanya episode kejar-kejaran yang terlalu gampang untuk dituliskan. Karakter yang seharusnya jadi pusat cerita juga justru jadi kalah menarik. Ini definitely bukan karya terbaik dari Taylor Sheridan. Terasa subpar, malah jika dibandingkan dengan Sicario ataupun Hell or High Water. Naskah dan struktur bercerita perlu lebih banyak ditempa lagi supaya bisa benar-benar membentuk cetakan sebuah film.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for THOSE WHO WISH ME DEAD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian siapa sebenarnya yang sudah terusik oleh ayah Connor? Bagaimana sekiranya laporan Connor ke media dapat menghentikan kasus tersebut?

Share  with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THINGS HEARD & SEEN Review

“Ghost can be very real and very dangerous, within a marriage”

 

Rumah baru Amanda Seyfried, di film Things Heard & Seen, berhantu. Bau gas kerap tercium memenuhi kamarnya setiap malam tiba. Lampu dan perabotan listrik pun ikutan bertingkah. Malam demi malam Catherine – nama karakter yang ia perankan – biasanya berakhir dengan putri ciliknya yang berlari masuk ke kamar. Ketakutan karena melihat sesosok perempuan. Tentu saja tak lama bagi Catherine untuk menyaksikan sendiri penampakan tersebut. Semakin sering malah. Bukan hanya kelebatan cahaya, tapi benda-benda kuno seperti cincin juga mulai ‘menampakkan’ diri kepadanya. Tapi yang paling bikin Catherine takut tinggal di sana ternyata bukanlah penampakan-penampakan yang ia lihat tersebut. Catherine bahkan punya perasaan bahwa hantu-hantu itu bermaksud membantu atau sekadar memperingatinya akan sesuatu. Tidak. Yang bikin Catherine takut bukan yang ia lihat, melainkan justru adalah hal-hal yang ia dengar dari teman-teman dan penduduk sekitar. Hal-hal tentang kehidupan George. Suaminya.

Seperti yang dilakukan oleh Elizabeth Brundage dalam menulis novel All Things Cease to Appear – novel yang menjadi materi asli film adaptasi ini – duo sutradara dan penulis Shari Springer Berman dan Robert Pulcini juga mengawinkan drama pernikahan yang grounded dengan elemen horor supranatural sebagai fondasi atau konteks cerita. Ada hantu beneran di rumah Catherine – di cerita ini – beserta berbagai macam keanehan gaib lain, yang nantinya bahkan berfungsi lebih signifikan lagi sebagai penyelesaian dalam cerita. Secara tematik memang film ini kaya sekali. Selain soal supranatural, film ini juga nyerempet masalah seni. Kedua karakter inti – Catherine dan George suaminya – berkecimpung dalam dunia seni, sebagai bahasan-profesional mereka. Supranatural dan seni inilah yang jadi bumbu utama racikan Berman dan Pulcini dalam memotret masalah rumah tangga yang diwakilkan oleh pasangan muda tersebut. Masalah yang sebenarnya juga berakar pada dominasi pria terhadap perempuan.

thingsTHAS_20191021_00945r-838f6c7
Rumah baru tapi lama

 

Jadi secara tone, film ini gak dalam kotak ‘seram’ horor-horor biasa. Alias gak total ke hantu-hantuan. Gak ada hantu-hantu bertampang seram. Meskipun beberapa kemunculan bisa ngagetin karena editing yang menggunakan gaya horor mainstream. Ceritanya lebih pas disebut sebagai drama pernikahan yang ada hantunya. Kengerian datang dari aksi dan reaksi karakter seiring development masalah yang perlahan membuka. Dan membukanya itu cukup perlahan, karena dengan durasi yang mencapai dua jam, film benar-benar memberi ruang bagi konflik antarkarakter berkembang. Gaya film ini kurang lebih mirip serial Haunting di Netflix, terutama yang season 2 The Haunting of Bly Manor. Drama-nya yang bikin kita bergidik. Bergidik bukan exactly karena seram, melainkan yang lebih ke menyayat dan pilu. Elemen seni yang dikandung sepertinya dilakukan demi mengincar film ini bisa terasa lebih poetic lagi seramnya.

Dan sepertinya memang, film ini seharusnya dibikin jadi serial aja. Like, buatku pribadi, ini udah cocok kok jadi season ketiga serial Haunting. Ada rumah besar yang berhantu sebagai pusat cerita. Drama keluarga dan cintanya kuat. Banyaknya elemen yang dikandung oleh cerita tidak tertampung dengan baik semua oleh struktur film-panjang seperti ini. Berman dan Pulcini aku yakin sudah mencoba, tapi mereka tidak bisa merangkum semuanya ke dalam cetakan film-panjang. Things Heard & Seen ini masih terlalu besar, dan masih mirip kayak struktur penceritaan sebuah novel.

Yang pertama kerasa itu adalah sudut pandangnya. Film ini berusaha tampil sinematik dengan konsep ‘menyuplik adegan di tengah sebagai pembuka’. Namun ini malah membuat tokoh utama cerita semakin tidak jelas. Film ini dibuka dengan adegan George pulang ke rumah dan menyadari ada sesuatu yang aneh. Kemudian kita dipindah, dibawa mundur ke beberapa bulan sebelumnya. Dan kita ngikutin perspektif si Catherine sekarang – dan sebagian besar durasi. Kita discover things bareng Catherine. Dan hanya itu. Catherine juga gak benar-benar punya pengembangan selain dia berubah jadi mengetahui sesuatu yang sebenarnya. Lalu ketika sudah sampai ke sekuen yang harusnya adalah action untuk penyelesaian, kita dipindah ke ngikutin karakter lain. Di sinilah film menjadi paling lemah, serta tak memuaskan bagi penonton kebanyakan. Di bagian akhir itu, ada adegan supranatural yang seram, tapi yang ditakut-takuti itu adalah karakter jahat. Sehingga kita tidak ikut merasa seram. We don’t feel for him. Kita ingin dia diganggu, malah. Namun ketika justice itu beneran ditegakkan, film melakukannya secara puitis. Di film hantu lain biasanya si jahat mati dibunuh oleh hantu si teraniaya, di film ini tidak ada ‘pemuas’ seperti demikian. Dilakukannya dalam konteks nyeni. Bukannya harus berdarah atau gimana sih, maksudku adalah kita tidak diperlihatkan dengan jelas dampak kejadian terakhir tersebut bagi dua karakter ini.

Film ini memparalelkan antara hantu dari masa lalu dengan baggage yang dibawa oleh pasangan ke dalam rumah tangga. Keduanya memang sama-sama bisa menghantui. Catherine benar-benar jadi terganggu oleh kenyataan yang ia dengar tentang yang mungkin telah dilakukan oleh suaminya di masa lalu. Dan ini merupakan bentuk dari kekerasan atau abuse dalam rumah tangga. Dikibulin, di-gaslight. Diserang mentalnya. Hal paling mengerikan yang diperlihatkan film ini adalah bahwa abuse seperti demikian susah terdeteksi. Bahkan ditunjukkan abuse semacam itu jadi siklus turun temurun. Perempuan jadi korban dan menderita. Mereka saling bantu pun, tidak bisa menyelamatkan. Hanya bantu membawa pria pelakunya ke keadilan. Tapi keadilan apa? Ketika pria menemukan kematian, mereka jadi lukisan.

 

thingsamanda-seyfried-1-1-1140x600
Mungkin itukah yang namanya ‘poetic justice’?

 

 

Karakter Catherine dan George diberikan lapisan. Film berusaha menggali kedalaman pada karakter intinya. Supaya kita bisa lebih peduli sama drama cerita. Namun, lapisan-lapisan tersebut tidak berhasil dikembangkan sebagai sesuatu yang benar-benar berarti. Catherine, misalnya, dia diceritakan punya eating disorder. Dia gak mau makan banyak. Sekalipun termaksa harus makan, dia akan menggigit sesedikit mungkin yang ia bisa, dan kemudian diam-diam kabur ke wc untuk memuntahkan makanan tadi. Awalnya memang film seperti menggunakan perilaku anoreksianya; membuat kita bertanya-tanya apakah hantu yang dilihatnya bener hantu atau karena dia keleyengan kurang makan saja. Tapi itu dengan cepat terjawab. Dan anoreksia tadi seperti disingkirkan gitu aja. Tidak menjadi penghalang memecahkan misteri atau apa kek yang bikin cerita benar-benar jadi punya kedalaman. Hanya di akhir saja dimunculkan kembali dengan ala kadarnya.

Atau juga soal si George. Yang seorang dosen jurusan seni diceritakan senang jadi pusat perhatian murid-muridnya, khususnya yang cewek. George pun selingkuh dengan perempuan muda yang sepantaran usia dengan muridnya. Di lain pihak, Catherine pun mulai tampak jatuh hati sama pemuda yang bekerja di rumah mereka. Pemuda yang ternyata adalah pacar dari selingkuhan George. Permasalahan selingkuh yang melibatkan pemain sentral ini juga enggak kemana-mana. Tidak ada interaksi, tidak ada konfrontasi. Hanya disisir permukaannya. Ditampilkan saja.

Ini sejalan dengan permasalahan pada karakter-karakter yang lain. Panggung film ini sebenarnya luas sekali. Bukan hanya rumah tua dengan sejarah kelamnya, tapi seluruh kota benar-benar dihidupkan. Selain Amanda Syeifried dan James Norton, film meng-casting pemain-pemain yang bukan abal-abal kualitas aktingnya. Karena memang karakter mereka juga sebenarnya punya alasan kuat untuk berada di sana mengisi cerita. Beberapa karakter itu di antaranya ada dua pemuda kakak-beradik anak dari pemilik rumah Catherine sebelumnya – dua pemuda yang merupakan penyintas dari kejadian berdarah yang menimpa keluarga mereka. Dua pemuda yang akhirnya bekerja untuk keluarga Catherine, yang salah satunya adalah pemuda yang tadi ditaksir oleh Catherine. Mereka cuma ada di sana, dengan identitas demikian. Tanpa pernah diberikan bobot kepada cerita itu sendiri. Lalu ada pria tua sejawat George di kampus, yang juga merupakan anggota kelompok yang percaya supranatural sebagai bagian dari seni. Karakter penting yang ternyata hanya jadi another victim. Ada juga dosen perempuan sahabat George, yang akhirnya menjadi kunci kasus. Menjelang akhir itu ada momen film berkembang dengan aneh seolah mau mengubah si dosen ini jadi tokoh utama. Tapi kemudian, clearly enggak, karena perannya langsung mengurucut sebelum pernah benar-benar besar. 

Bagaimana dengan hantu dan anak Catherine? Tentu saja mereka pun cuma ‘pajangan’. Anak Catherine sendiri persis tipikal horor-horor sederhana di bioskop kita. Hanya untuk jadi objek yang ditakut-takuti. Orangtuanya perang pun dia absen dari sana.

 

 

 

Walaupun belum pernah baca novelnya, tapi kayaknya kita semua bisa membayangkan bahwasanya di novel tentulah karakter-karakter tadi punya lebih banyak fungsi. Film ini terlihat seperti hanya mengambil beberapa bagian penting dari masing-masing mereka, dan memasukkannnya ke dalam cerita. Film ini punya waktu cukup banyak, tapi tidak benar-benar mampu untuk mengolah sumber aslinya itu ke dalam bangunan film-panjang. Dua jam itu terbang begitu saja tanpa terasa spesial. Padahal secara isi cerita, sebenarnya menarik, dan punya gaya yang puitis pula. Secara garapan teknis, kualitas film ini bisa diacungkan jempol. Kekuatan terbesar ada pada kamera dan akting. Pondasi ceritanya pun sebenarnya cukup kuat. At least, sudah mengerti bahwa horor yang bagus adalah horor yang mengawinkan drama relatable dengan elemen seperti supranatural. Hanya saja, struktur bercerita dan penulisannya lah yang butuh banyak perbaikan. Gak cukup hanya dengan memantapkan sudut pandang saja. Butuh perombakan dan penggalian yang lebih dalam.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THINGS HEARD & SEEN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang hantu dalam film ini yang menyelamatkan tapi actually dengan membiarkan Catherine menjadi korban berikutnya? Benarkah itu satu-satunya cara untuk keluar dari abuse? 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

 

 

 

 

 

MORTAL KOMBAT Review

“If you have the fear of losing the game even before starting it, then you will never be able to win the game.”

 

Video game dianggap sebagai mainan untuk anak-anak. Sampai game Mortal Kombat hadir di tahun 1992. Game bergenre fighting ini beda ama yang lain. Setiap serangan yang mengenai karakter-karakternya yang bermodel manusia beneran (plus beberapa monster) dimeriahkan oleh tumpahan darah merah yang kental. Game ini bahkan menggebah pemain untuk benar-benar menghabisi lawan mereka. Dan menyediakan banyak pilihan sadis untuk melakukan hal tersebut. Sebut saja Brutality; yakni menghajar lawan yang sudah tak berdaya bertubi-tubi sampai tubuh mereka meledak dan kita dihujani tulang belulang mereka. Animality; karakter jagoan pemain bisa berubah menjadi hewan dan memangsa musuh mereka. Yang paling digemari tentu saja adalah Fatality. Beragam kesadisan yang dijual sebagai ‘keren!’ bisa kita perintahkan untuk dilakukan oleh karakter di dalam video game. Mulai dari menarik lepas kepala (atau jantung) lawan, hingga membelah tubuh mereka bagai buah duren. Gemparlah orangtua. Game yang mereka sangka inosen di ruang main anak mereka ternyata menampilkan pembunuhan yang dramatis! Mortal Kombat adalah alasan dari terbentuknya sistem sensor dalam dunia pervideogamean. Sensor berupa rating ESRB (pengelompokan berdasarkan umur dengan penjelasan seperti berisi kekerasan, darah, dan sebagainya) harus diberikan untuk setiap video game yang dirilis. Sebegitulah populernya game yang ‘menjual’ kesadisan ini. Hingga sekarang, Mortal Kombat sudah berkembang biak menjadi delapan-belas judul berbeda, yang bahkan merambah genre di luar fighting.

Formula kesuksesan game Mortal Kombat sudah jelas. Orang-orang sudah tahu apa yang mereka ‘beli’ ketika mereka ngeluarin duit untuk benda berjudul Mortal Kombat. Mereka maunya itu. Lagi dan lagi. Bego kalo ada yang bikin Mortal Kombat, tapi memisahkannya dengan Fatality dan darah dan segala kekerasan fantasi lainnya.  Sutradara Simon McQuoid jelas bukan orang bego. Dia justru jelas seorang penggemar berat Mortal Kombat, yang respek dengan Mortal Kombat. Dan dia juga adalah seorang kreator yang tahu persis apa yang sedang ia jual. Lah, darimana kita tahu Simon McQuoid adalah semua itu? Tentu saja dari film reboot Mortal Kombat yang ia hasilkan!

Kalian tahu kan, gimana biasanya film dari adaptasi video game selalu menambah atau malah menghilangkan elemen dari game (seringkali justru elemen yang bikin gamenya menarik) sehingga jadi jauh banget dari ‘rasa’ game yang jadi materialnya. Gimana biasanya film tersebut terlalu ‘dimanusiakan’ sehingga jadi kebanyakan ngarang. Well, McQuoid di film Mortal Kombat ini tetap setia dan menampilkan elemen cerita dengan benar-benar sesuai sama lore dalam video game. Ini jelas merupakan fans-service yang luar biasa gede dan memanjakan bagi para penonton yang menggemari Mortal Kombat. Karakter-karakter yang ia munculkan dalam film ini, tampilan, bicaranya, dan berkelahinya dibuat semirip mungkin dengan video game.

mortalmk1200x
Yang paling sadis adalah fatality dari lembaga sensor Indonesia

 

Bola api Liu Kang? Ada. Tendangan sepedanya? Check! “Your soul is mine”-nya Shang Tsung? You bet! Hampir semua istilah dan gerakan yang bikin kita bernostalgia sama gamenya, ada semua. Brutality dan Fatality yang ikonik, semuanya ada, memuaskan haus darah penggemarnya. Di film ini kadang beberapa karakter malah seperti mengomentari pertarungan mereka sendiri dengan jargon-jargon khas seperti ‘finish him’ ataupun ‘flawless victory’. Budget film ini enggak gede, tapi dimainkan dengan maksimal untuk mewujudkan looks yang otentik dengan perpaduan yang pernah kita lihat di video game. Yang paling memukau tentu saja efek jurus es milik Sub-Zero. Film sepertinya memang menginvest lebih banyak untuk Sub-Zero, dan itu adalah investasi sangat memuaskan. Film ini tidak sekalipun tampak ‘murahan’. Kalopun sesekali ada efek dari jurus ataupun efek makhluk CGI yang terlihat masih kasar, tidak sampai mengganggu dan terlihat masih klop dengan tone film secara keseluruhan. Tidak pernah sekonyol efek dalam Mortal Kombat: Annihilation (sekuel dari film Mortal Kombat original)

Sebelum film ini, memang Mortal Kombat sudah pernah diadaptasi. Melahirkan dua film. Film keduanya – si Annihilation yang kusebut barusan – gatot alias gagal total. Film itu cheesy abis, aktingnya over-the-top, dengan efek yang banyak disebut orang kayak dibikin pake efek microsoft seadanya. Film originalnya – Mortal Kombat (1995), however, cukup bagus. Mendapat sambutan hangat dari fans. Karakter-karakter yang ditampilkan, walaupun aktingnya gak bagus-bagus amat, berhasil jadi ikonik (terutama si Shang Tsung!). Itu berkat penulisan yang berusaha keras membangkitkan semangat video gamenya. Film tersebut populer salah satunya juga karena musiknya. Mortal Kombat abis!! Jadi, film itulah yang jadi tolak ukur bagi Mortal Kombat buatan McQuoid. Dan memang, di film terbaru ini McQuoid memfokuskan kepada hal yang kurang dieksplorasi oleh film tersebut. Karakterisasi.  McQuoid memberikan banyak waktu untuk menampilkan relasi antarkarakter, yang berarti McQuoid memperhatikan development karakternya. Mortal Kombat sebagai game fighting yang sudah dua-puluh-sembilan tahun aral melintang melintas konsol dan arcade, tentulah punya karakter yang banyak. Di sinilah tantangan bagi McQuoid. Dia harus menyelam dalam-dalam sebagai fans untuk mengetahui mana yang benar-benar perlu untuk digali, dan memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menyusun kepingan-kepingan karakter itu ke dalam narasi film yang utuh.

Dan dia berhasil. Meskipun dari segi penampilan akting, masih bisa lebih baik lagi, tapi karakter-karakter tersebut langsung konek ke fans. Liu Kang dan Kung Lao misalnya. Film mampu mencuatkan mereka, sehingga walaupun di sini peran mereka bukanlah utama seperti pada gamenya, tapi kesan yang ditampilkan berhasil menguatkan kedua sepupu ini. Relasi yang mencuri perhatian berikutnya adalah antara Sonya dan Kano. Hiburan ringan banyaknya datang dari sini, aku pribadi suka lihat betapa miripnya Jessica McNamee dengan Sonya Blade di game jadul. Tapi terutama yang terutama jadi hiburan itu adalah Kano yang dimainkan oleh Josh Lawson dengan aura yang ngingetin aku sama karakter Mick Taylor di franchise thriller Australia, Wolf Creek. Film memainkan Sonya dan Kano dengan irama ‘teman-atau-lawan’ yang sangat menarik. Fans Mortal Kombat mungkin bisa menebak ke mana arah Kano nanti, tapi ternyata temanku yang bukan gamer, yang awam sama mitologi dan lore Mortal Kombat, mengaku surprise juga dengan perkembangan Kano di sini. Ini membuktikan build up dan swerve yang dilakukan oleh film ini berhasil membuat penonton peduli. Jadi, film ini ternyata mampu bekerja dengan baik untuk penonton yang awam. Gak harus tau gamenya untuk menikmati ini.

Relasi yang mencuri perhatian tentu saja adalah antara Scorpion dengan Sub-Zero. Di penggalian mereka inilah film terbaru ini menang telak dari film original. Di situ dua ninja ini ditampilkan sebagai anak buah yang bahkan gak ada dialog yang berarti. Di film ini, mereka benar-benar difungsikan sebagai ikon – persis seperti pada gamenya. Dua karakter yang paling banyak digemari ini diberikan porsi yang lebih gede di antara karakter lain. Sub-Zero digambarkan sangat kuat – membunuh Hanzo dan keluarga, menghancurkan dua lengan Jax, menyerang kota dengan hujan salju tajam – seolah dialah musuh utama di film ini. Scorpion juga tak kalah kuat, dia ditampilkan seperti tokoh utama di sini. Keputusan film untuk meng-cast Hiroyuki Sanada sebagai Scorpion dan Joe Taslim kita (kitaaa??) sebagai Sub-Zero adalah keputusan yang tepat, sebab keduanya sama-sama mencuatkan penampilan mereka. Dua aktor yang bisa beladiri, ditaruh di tengah, dan mereka memikul film ini lewat akting dan aksi berantem sama kuatnya. Untuk Joe Taslim, aku harap film ini bakal mengukuhkan namanya. By the looks of it, franchise reboot ini bakal setia dengan game, jadi sedikit spoiler untuk penggemar Taslim; Meskipun Sub-Zero memang bakal berganti, tapi Taslim masih mungkin akan kembali di sekuel, karena karakter yang ia perankan ini bakal hidup kembali dengan kekuatan dan nama baru. Kita hanya bisa berharap film ini tetap memakai Taslim dan tidak menggunakan CGI untuk karakter barunya tersebut.

mortalmaxresdefault
Apa kata Scorpion kepada Sub-Zero yang galau keingetan mantan? “GET OVER HER!”

 

Jadi, jika semua karakter dan jurus dan lorenya persis dengan game, lantas tindak adaptasi yang dilakukan film ini apa dong? Jawabannya adalah protagonis baru. Protagonis original yang khusus ada di film ini. Cole Young (diperankan oleh Lewis Tan) dijadikan sebagai sudut pandang utama yang kita ikuti, nyaris sepanjang durasi. Setelah adegan opening yang memperlihatkan pertarungan dua karakter ikonik di jaman dahulu, cerita akan membawa kita melompat ke masa kini. Melihat kehidupan profesional Cole Young yang mantan petarung MMA. Dia kini menafkahi keluarga dengan bertarung di arena underground. Tapi dia selalu kalah. Kita melihat Cole ternyata Juara Terpilih untuk Bumi dalam turnament Mortal Kombat berikutnya. Cole yang masih belum ngeh apa-apa dan bahkan belum punya kekuatan super, bergabung dengan pasukan Bumi, dan memulai pelatihannya di Kuil Raiden. Masalahnya adalah, pasukan Otherworld ShangTsung tidak mau ramalan soal Bumi akan memenangkan turnamen ke sepuluh ini jadi kenyataan. Sehingga Jadi, Otherworld main curang dan menyerang para Terpilih sebelum turnamen dimulai. Termasuk Cole dan keluarganya.

Cole selalu kalah karena dia menerima saja serangan yang diberikan. Pelatih meledeknya sebagai ‘human punching bag’. Anaknya kerap mengingatkannya ‘kalo pake uppecut pasti menang’ (reference kocak ke game Mortal Kombat; pukulan uppercut punya damage yang paling gede). Dia terlalu khawatir untuk bertahan demi keluarganya, dia jadi kalah sebelum bertanding. In a way, Cole serupa dengan Shang Tsung di cerita ini, yang menyerang di luar aturan hanya karena takut pasukannya kalah di turnamen nanti. Tapi, tidak seperti Shang Tsung, Cole akhirnya sadar apa makna mempertahankan yang sebenarnya, dan itulah yang jadi sumber Arkana bagi dirinya.

Menempatkan penonton di sudut pandang Cole ternyata efektif. Semua lore Mortal Kombal bisa dijelaskan tanpa membuang banyak waktu untuk introduksi dan origin story yang kepanjangan. Kita tidak perlu lagi melihat gimana Liu Kang jadi kuat atau semacamnya. Karakter-karakter video game yang sudah kita kenal itu sudah menempati posisi mereka masing-masing. Fokus growthnya tetap pada Cole, yang bersama kita berusaha memahami apa yang terjadi. Cole tidak digambarkan semata sebagai outsider. Ada backstory yang menghubungkan dia dengan semua lore tersebut, sehingga dia jadi punya alasan untuk berada dan berlaga bersama jagoan-jagoan favorit kita sejak lama. Hanya saja memang dari segi karakterisasi, Cole ini masih kurang terflesh out. Menarik menunggu kekuatan Arcananya muncul, kita penasaran apa kekuatan yang dipunya oleh Cole. Tapi selama menunggu tersebut, Cole ini mulai kehilangan keunikan. I mean, it’s so easy lupa kalo dia bukan Johnny Cage (karakter original Mortal Kombat yang tidak dimunculkan di film ini). I mean, perannya di cerita itu kayak gak ada beda kalo dia dikasih nama Johnny Cage, bahkan beberapa karakter menjuluki Cole sebagai ‘pretty boy’. Mirip ama gimmick Cage yang seorang bintang film tampan. Stake Cole dan keluarganya juga masih standar. Film actually terlalu sibuk menempatkan dia sebagai fish-out-of-water ketika berlatih bersama petarung lain, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk mengembangkan keluarga dan bahkan misteri siapa Cole sebenarnya tidak banyak mendapat build up. Hanya sesekali saja sekelebat bayangan muncul di benak Cole, mengingatkan kita kepada tie in antara Cole dengan karakter lain. 

Film ini juga masih kurang rapi dalam memanfaatkan ruang dan pembangunan adegan. Masih ada yang tampil awkward dan seperti berseliweran. Misalnya seperti ketika masing-masing jagoan berantem dengan musuh, lalu tiba-tiba jagoan yang satu kalah dan berteriak memanggil jagoan lain. Si jagoan lain lagi berantem juga, dan kemudian beres cepet-cepet dan berlari ke tempat yang butuh pertolongan. Ini rangkaiannya terlalu kaku sehingga kurang enak dari segi pengalaman sinematik. Urutan dan rangkaian kejadian seperti ini mestinya bisa lebih diperhalus lagi. Ini ibaratnya seperti menggunting pinggiran, film ini melakukannya dengan terlalu menyudut sehingga jadi tampak kaku secara keseluruhan.

 

 

Sebenarnya ini termasuk adaptasi video game yang berhasil. Benar-benar setia dengan sumber materinya. Identitas dan role itu tetap dijaga. Berusaha untuk punya cerita yang grounded, enggak sekadar menyuguhkan aksi yang seru. Dan film ini memang punya aksi seru dan menghibur. Sadis, tapi menghibur. Penggemar gamenya pasti puas. Yang belum pernah main gamenya, bisa-bisa jadi kepengen nyobain main, kayak temenku. Satu-satunya film ini bisa disebut sebagai adaptasi yang jelek, adalah jika kita menyaksikannya sebagai penonton bioskop Indonesia. Karena apparently lembaga sensor di sini tidak mengerti konteks, dan malah memotong adegan kekerasan/fatality pada film yang diadaptasi dari video game yang populer dan beridentitas pada kekerasan/fatality tersebut. Aku bilang, film ini belum ‘flawless victory’. Jika sutradaranya sudah punya pengalaman lebih banyak (khususnya pada laga), pastilah bisa jadi lebih bagus dengan penulisan dan pengadeganan yang lebih rapi. For now, sudah cukup bagus dan menghibur. Yang jelas, aku menantikan sekuelnya. And I know you do too.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MORTAL KOMBAT.

 

 

That’s all we have for now.

Kenapa menurut kalian Fatality dan jurus-jurus sadis Mortal Kombat begitu digemari?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

[Reader’s Neatpick] – FLIPPED (2010) Review

“Film favorit sepanjang masa saya itu ya ini. Selera saya emang sebocah itu.” – Anggraita Suasana, silent reader My Dirt Sheet

Sutradara: Rob Reiner
Penulis Naskah: Rob Reiner, Andrew Scheinman
Durasi: 1jam 30menit

 

Flipped diadaptasi dari novel karangan Wendelin van Draanen, bercerita tentang kisah ‘cinta-monyet’ dua anak SMP. Cinta ini berawal dari pandangan pertama, yang terjadi pada masa kecil mereka. Bryce sekeluarga baru saja sampai di rumah baru mereka. Tapi Bryce langsung dapat ‘penggemar’. Gadis cilik tetangganya, Juli, langsung naksir sama Bryce. Untuk bertahun-tahun, Bryce mendiamkan Juli yang mengejar-ngejarnya. Bryce malah cenderung menghindar. Namun kini. setelah mereka SMP, setelah keduanya menempuh banyak kejadian yang membuat mereka lebih mengenal satu sama lain, keadaan itu menjadi kebalik. Bryce mulai merasa suka kepada Juli, sementara Juli sendiri mulai meragukan perasaan sukanya terhadap Bryce.

 

“Saya nonton film ini pertama kali di Global TV pas SMP. Saya suka–banget–sekali! Sudah diputar ratusan kali di mata saya, tapi saya tetap enggak pernah muak untuk nontonin sampai habis. Lagi, dan lagi.”

“Aku malah baru tau ada film ini. Kalo bukan karena direkomendasikan oleh Mas Anggraita, pasti lewat deh. Dan beruntungnya, film ini baru masuk ke Netflix! Ini tuh ceritanya simpel, tapi bakal membekas kuat melekat. Walaupun soal ‘cinta monyet’ tapi gak receh, ataupun menye-menye. Malah terasa dewasa sekali.”

“Ceritanya yang sederhana, enggak berlebihan dengan klimaks terasik. Entah mengapa, saya merasa ada hubungan batin sama tokoh Bryce. Terlalu relate sama diri saya sendiri, meski (mata) saya enggak seindah mata Bryce yang berkilauan. Mungkin karena hidup saya yang sudah terlampau berat waktu itu. Film ini terasa relate di saya, karena sepertinya saya juga punya hubungan seperti ini. Anak SMP itu (kan) dengan mudahnya jatuh cinta.”. 

“Kalo aku, suka banget ama Juli. Selalu suka sama karakter cewek yang punya personality sendiri. Unik. Yang mandiri, yang tau apa yang dia mau, tapi juga ada sisi vulnerable. Ah, kenapa aku jadi relatenya ke Kakek si Bryce ahahaha.. Yang jelas, memang film ini kuat banget di personality dan karakter. Juli dan Bryce, keduanya sama-sama terdevelop dengan manis. Dan ini berhasil dilakukan lewat konsep storytelling unik yang digunakan oleh sutradara. Flipped di judul film ini, bukan cuma mengacu kepada terjungkirbaliknya perasaan yang dialami oleh kedua karakter. Tapi juga mengacu kepada sudut pandang. Setiap satu peristiwa, akan ditilik lewat sudut pandang Bryce dan Juli secara bergantian.”

“Saya malah suka tipe bercerita seperti ini, jadi kita bisa tahu apa isi hati tokoh-tokoh utama kita. Mungkin karena ini juga saya jadi suka film ini”

“Setuju. Walaupun memang membuat majunya narasi dari plot poin ke plot poin berikutnya jadi dua kali lebih lama – karena dibahas berulang, tapi konsep sudut pandang yang nge-flip ini sama sekali tidak terasa mengganggu. Bukan ‘gimmick’ semata. Ketika menunjukkan dua sudut pandang itu, kita benar-benar melihat bedanya. Ya beda angle, ya beda perspektif. Enggak kayak franchise-nya Dilan; film Milea katanya ceritanya sama dengan cerita film Dilan, hanya sudut pandang karakternya yang berbeda, tapi toh tidak tampak seperti itu. Franchise Dilan hanya mengopi adegan film pertama, dan mempaste-nya untuk film ketiga. Pertukaran sudut pandang yang dilakukan Flipped ini sama sekali tidak semalas itu. Dan dilakukan dengan jauh lebih efektif pula. Dilan butuh tiga film – dengan hasil: people barely remember the story, dan yang diingat penonton dari karakternya cuma gombalan. Sementara Flipped hanya butuh satu setengah jam, dengan cerita berhasil membekas, dan kita semua jatuh cinta sama karakter-karakternya.:

“Dari Juli kecil yang lari-lari ngejar Bryce kecil sampai dinyanyiin sama teman-temannya, saat Juli enggak mau pohon yang dia sayang ditebang, sampai Bryce remaja mau nyium Juli remaja–ciuman pertama; Semua adegan di sini jelas dong jadi yang terfavorit. Menurutku ini “Cinta Monyet” nya anak baik-baik. Manis dan hangat, itu yang bikin “Cinta Monyet” di sini seperti terasa di kehidupan kita.”

“Gak sekalipun, kan, Juli yang ngejar-ngejar Bryce itu tampak menjengkelkan. Ataupun norak. Itu karena si karakter diberikan banyak waktu untuk menceritakan perspektifnya. Kita mengerti alasan kenapa Juli merasa dirinya naksir ama Bryce, dan sebaliknya kita mengerti juga kenapa Bryce gak nganggep Juli. Dan kita gak jadi berpihak pada satu. Kita malah jadi peduli kepada dua-duanya.”

“Ganggu sih sepertinya tidak ya, karena Juli sendiri tokoh yang mandiri. Dia cuman mau diperhatikan saja sepertinya. Dan itu, kejadiannya saat-saat kecil, bukan?”

“Nah iya. Nah ini hahaha… Karakter Juli make sense ngejar-ngejar kayak gitu karena identitasnya jelas. Karena dia masih anak-anak. Masih SMP. Kita juga bisa relate karena kita tahu, it’s true. Anak SMP sikapnya ya seperti itu. Naksir-naksiran. Film Flipped ini turut kuat di latar. Bandingkan lagi dengan film remaja kita. Mariposa, misalnya. Acha ngejar-ngejar Iqbal. Itu annoying, karena mereka udah SMA. Kita tahu udah lewat masanya untuk naksir sekadar naksir. Kita butuh perspektif kenapa Acha naksir berat sama Iqbal. Ini yang harusnya digali. Tapi film itu gak melakukannya. Mindset dan perspektifnya gak kuat. Gak kerasa kayak SMA. Beda sekali ama film Flipped yang benar-benar kerasa nyata. Dan malah membuktikan bahwa kisah cinta anak SMP toh justru bisa jadi pembelajaran yang mendewasakan. Serius. Ending Flipped ini bagus banget. Ketika kebanyakan film cinta remaja memberikan just happy ending. Film ini punya happy ending yang benar-benar bermakna bagi pertumbuhan karakter (selagi mereka nanem dan numbuhin pohon!)”

“Paling favorit jelas adegan penutupnya. Yang bikin hati hangat dengan tetesan air mata kecil di mata. Bikin senyum-senyum sambil menyeka air mata seharian. Mau seberapa seringpun ditonton, rasanya seperti itu. Entah emang saya sendiri yang punya selera aneh, atau saya punya kelainan yang tidak diketahui. Saya rasa film ini lebih heartwarming, lebih ke pencarian jati diri, tentang keluarga, teman, dan cinta itu sendiri. Sedangkan film remaja Indonesia, mayoritas lebih menjorok ke cinta masa sekolah.”

“Film ini benar-benar nunjukin proses sih. Beda ama film remaja Indonesia yang banyaknya memang menjual kemesraan, atau kebaperan. Proses perjalanan itu digambarkan/diceritakan dengan jelas. Kali pertama Juli naksir, memang cuma asal-suka. Kemudian cerita memberikannya waktu untuk mengenali apa yang ia cintai dari seorang cowok. Begitu pula dengan Bryce. Sama-sama proses menumbuhkan cinta. Lewat apa? Ya seperti yang mas bilang tadi. Cinta mereka tumbuh seiring dengan perjalanan mereka mencari jati diri, yang semuanya tentu saja berhubungan dengan keluarga. Dan memang film ini meluangkan waktu untuk membuat kita mengenali keluarga masing-masing kan. Ada keluarga Bryce, dan ada keluarga Juli. Ada relasi antara Bryce dengan kakeknya, Bryce dengan ayahnya, Juli dengan kakek Bryce, Juli dengan ayahnya, Juli dengan ibunya, dan banyak lagi. Lingkungan mereka tumbuh itu turut diceritakan, menambah bobot narasi film ini”

“Lingkungan emang faktor krusial dalam pembentukan karakter, betul, bukan? Bryce sosok laki-laki bertipe pengecut ya karena keluarganya cuman bisa bicara di belakang, sedangkan Juli adalah anak perempuan yang enggak peduli sama omongan orang lain, karena ya lingkungannya sendiri cendurung enggak mau mendengarkan orang lain. Konflik keluarga di sini emang enggak sedahsyat dan semeledak-ledak itu, tapi emang dibuat senyata mungkin. Dan saya suka. Untuk keluarga Juli saya rasa sudah cukup dekat dengan mereka, tetapi untuk keluarga Bryce sendiri sepertinya memang kurang dekat dengan kita, tetapi entah kenapa keluarga Bryce lebih mewakili seluruh keluarga di dunia nyata? Tapi bukan berarti keluarga Juli enggak merefleksikan bagaimana seharusnya keluarga.”

“Haha iya, aku mengerti maksud, Mas. Keluarga jaman sekarang kayaknya memang lebih condong seperti keluarga Bryce. Suka ngomongin, jarang bergaul – itu kan keluarga Bryce udah bertahun-tahun di sana tapi baru satu kali nanti itu ngundang keluarga Juli yang tetanggaan untuk makan malam, tapi kalo ketemu di jalan ya senyum-senyum aja”

“SAMA, JELAS SAMA. Astaga, hidup bertetangga memang seperti itu, bukan? Hahaha. Saling peduli, saling bantu, saling ngomongin di belakang. Apapun itu, bertetangga memang seperti itu.”

“Yoi, mungkin itu juga sebabnya kenapa sutradara Rob Reiner mengadaptasi film ini dengan perubahan setting waktu. Dari materi yang bersetting tahun 2000an diubahnya ke tahun 60an. Karena tetangga kayak keluarga Juli udah jarang. Seringnya ya, tetangga kayak keluarga Bryce. Jadi kalo tetap di masa kini, ceritanya mungkin terasa beda gimana gitu.. “

“Pasti om Reiner punya pemikiran sendiri sih hahaha. Tapi walaupun tetap di era 2000an, aku rasa masih bisa sebagus itu!”

“Iya, apalagi pergaulan remajanya kan. Anak-anak SMP masa kini kayaknya udah gak sepolos Bryce, Juli, dan teman-teman mereka, deh. Yang pasti bakal ada involvement sosial media, kan?”

“Dengan perkembangan teknologi yang lebih maju, jelas anak sekarang enggak sepolos anak dulu karena mudahnya mengakses media.”

“Berarti langkah Om Reiner mengubah waktunya ke belakang sepertinya tepat. Life is easier back then. Pun lebih humanis. Mungkin itu sebabnya kenapa film ini ngena banget. Kita langsung telak ke perasaan dan journey karakter-karakternya sebagai manusia. Tidak terdistraksi oleh hal-hal lain. Mas ngasih berapa nih untuk film ini, dari skala satu sampai sepuluh?”

“Sembilan. Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan”

“Mantaapp. Kalo aku, aku suka banget juga sama film ini, but I do melihat konsep flipped perspektif sebagai resiko-kreatif yang harus diambil, jadi aku kasih 7.5 dari 10 bintang emas untuk FLIPPED!”

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat mas Anggraita Suasana udah berpartisipasi (alias mau diajak mikir hihihi) untuk mengulas film ini. Dan tentu saja terima kasih karena udah ngenalin kita-kita semua sama salah satu film remaja yang paling hangat dan paling genuine ini

 

 

Buat para Pembaca yang punya film yang ingin dibicarakan, yang ingin direview bareng – entah itu film terfavoritnya atau malah film yang paling tak disenangi – silahkan sampaikan saja di komen. Usulan film yang masuk nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

CHAOS WALKING Review

“Women are hard to read”

 

Planet itu bukan Bumi. Lingkungannya boleh saja mirip, tapi dengan satu perbedaan besar. Tidak ada perempuan yang kelihatan di sana. Kota kecil tempat Todd tinggal, semua penghuninya adalah lelaki. Dari cerita yang Todd dengar Pak Walikota, perempuan di kota mereka – termasuk ibu Todd – dibantai oleh penduduk asli planet ini. Itu karena para perempuan tidak memiliki Noise. Ya, inilah satu lagi perbedaan mencolok antara planet ini dengan Bumi; di planet ini, pikiran dan kata hati para lelaki bisa didengar oleh semua orang. Terwujud dalam gelembung suara, yang juga mirip kabut, di sekitar kepala masing-masing individu, yang disebut sebagai Noise. Todd dan masyarakat kota terbiasa hidup dengan Noise, kesatuan mereka terbentuk atas dasar saling percaya. Sampai kemudian, sebuah pesawat ruang angkasa jatuh ke hutan. Viola, anak perempuan seusia Todd jadi satu-satunya penyintas. Todd sekarang memegang kunci keselamatan bagi Viola, sebab gadis itu tentu saja diburu seketika. Dan dalam pelarian mereka itulah sejarah/rahasia kelam komunitas koloni ini sedikit demi sedikit menjadi terbuka.

Setting dunia yang seluruhnya dihuni laki-laki milik film ini memang mengingatkan kita pada Maze Runner. Heck, bahkan Wonder Woman aja sudah menggunakan setting closed world seperti demikian. So yea, setting yang dimilikinya memang boleh jadi tidak menambah banyak untuk identitas film ini. Which we must turn our head to the other ‘gimmick’. Konsep Noise.

Konsep itulah yang membuat film adaptasi novel Young Adult berjudul The Knife of Never Letting Go berbeda dari yang lain. Sutradara Doug Liman banyak melakukan eksplorasi di sini. Kita melihat bagaimana Noise menjadi bagian wajib dalam fondasi masyarakat dalam cerita. Tapi juga sekaligus jadi semacam restriksi bagi protagonis, yakni si Todd. Dibandingkan dengan karakter lain, memang Todd ini yang terasa paling ‘normal’. Dia gak nyaman pikiran dan kata hatinya didengar oleh semua orang, jadi dia menciptakan teknik pertahanan sendiri. Dia berusaha untuk menyembunyikan pikirannya dengan mengulang-ngulang kalimat dalam kepalanya sendiri. Liman membuat Noise ini bisa dikendalikan jika seseorang cukup kuat. Bisa disembunyikan, atau malah bisa juga diperkuat sehingga muncul dalam bentuk visual. Liman juga membuat Noise ini sebagai bagian dari komedi, dan integral dalam build up cinta-cintaan antara Todd dengan Viola. Kita akan melihat banyak adegan Todd dengan kikuk berusaha menutupi imajinasi-ngarep Viola naksir kepadanya.

Meskipun aneh juga cowok yang selama ini gak pernah lihat cewek bisa ngerti dan membayangkan pacaran itu ngapain aja.

 

Sayangnya, konsep yang dimiliki Chaos Walking ini hanya terasa asyik saat dibicarakan di atas kertas. Tampak seru ketika kita membacanya, kemudian membayangkan seperti apa kejadiannya secara nyata. Karena, saat kita menonton film ini, sesungguhnya hanya terasa setengah asik. Malahan, aku butuh waktu cukup lama untuk membiasakan diri sama adegan-adegan yang penuh oleh reaksi dan perlakuan karakter terhadap Noise-Noise di sekitarnya. Dan ketika sudah terbiasapun, cerita tak lantas jadi fun dan menarik simpati. Masih ada kekosongan yang menjemukan di tengah kebisingan Noise tersebut. Karakter-karakternya tidak pernah berhasil tampil semenarik konsepnya itu sendiri. Certainly, ini bukan permainan akting yang jelek. Ada Tom Holland di sini, sebagai Todd. Ada Daisy Ridley, sebagai Viola. Mereka berusaha menghidupkan karakternya. Mereka tampil baik jika sendiri-sendiri. Namun simply, tidak banyak chemistry di antara mereka berdua.

Masalah ini tentu saja datang dari penulisan. Relasi dua karakter ini, secara design, punya perkembangan. Yakni keduanya tadinya saling tidak percaya, tapi mereka harus bekerja sama, dan kemudian perlahan tumbuh cinta yang genuine di antara mereka berdua.  Perkembangan tersebut tidak pernah tersampaikan dengan benar kepada kita. Karena karakterisasi mereka dituliskan sedikit sekali. Todd dapat porsi lebih banyak, karena dia tokoh utama, tapi sebagian besar waktu (saat sebelum ketemu Viola) dihabiskannya untuk menutupi pikiran dari orang-orang sekitar. Kita tidak diperlihatkan apa motivasi personal dirinya. Di sisi lain, karakterisasi si Viola bahkan nyaris tidak ada. Karakter ini malah sebagian besar screen time-nya dihabiskan dengan tanpa-dialog; sesuai dengan gagasan yang diincar oleh film, yakni perempuan itu tidak bisa ditebak. Hasilnya adalah kita kayak melihat partner petualangan yang aneh. Gadis serbabisa dan mandiri, yang diantarkan menuju keselamatan oleh cowok yang berusaha untuk tidak mati; ada potensi di sini. Terutama karena Todd sebenarnya lebih suka cewek ini tetap tinggal bersamanya alih-alih diantarkan menuju tempat keselamatan. Hanya saja film tidak meluangkan banyak waktu untuk relasi. Melainkan terus berkutat pada aksi kejar-kejaran, seperti kesetanan mengejar durasi waktu.

Pikiran cowok gampang ketebak, sementara sangat susah untuk menerka apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan. Konsep Noise film ini, serta sejarah pertikaian kelompok penghuni planetnya, menyimbolkan hal tersebut. Ini sebenarnya menunjukkan pria yang takut tidak punya kendali atas perempuan yang bisa berpikir sendiri, jadi mereka memusuhinya. Memusnahkannya. Perjalanan Todd bisa kita paralelkan sebagai perjalanan seseorang untuk menerima dan mengakui keberadaan dan keberdayaan perempuan. Bisa dibilang, ini adalah perjalanan Todd menjadi seorang feminis.

 

Sama seperti kebanyakan novel Young Adult yang dikasih lampu ijo untuk diubah menjadi film, cerita Chaos Walking juga punya elemen kekinian yang lagi seksi untuk dibahas. Yaitu masalah ‘cowok melawan cewek’. Feminisme melawan maskulinitas-yang-toxic. Elemen tersebut dengan sangat gamblang tersurat. Kelompok pria yang memusuhi perempuan karena perempuan itu tak tertebak dan serba berahasia. Perempuan yang menjadi pemimpin yang lebih adil. Cowok yang dianggap sama kayak cewek ketika mereka berusaha menjaga privasi. Film ini gak punya masalah dalam memainkan elemen-elemen tersebut bahkan hingga ke settingan paling ‘over’. Menjadikan cerita film ini basic dan tidak ada tantangan. Aku malah lebih tertarik sama elemen subtil yang dihadirkan cerita, yaitu soal masalah antara manusia pendatang dari Bumi dengan penduduk asli planet ini. Di sini, elemen tersebut melingkupi apa yang sepertinya tampak sebagai penindasan, dan penyebaran hoax. Aku ingin melihat lebih banyak tentang apa yang terjadi sebenarnya. Namun bahkan penduduk asli itu hanya dimunculkan random dalam satu adegan.

Yang pikirannya ngeres melulu, dijamin gawat tinggal di planet ini

 

Chaos-nya penulisan dan arahan Chaos Walking ini datang sebagai dampak dari reshoot dan rewrite yang dilakukan. Secercah hal manis dan keseruan masih sesekali bisa kita temukan, tapi selebihnya film ini terasa sambung-menyambung menjadi cerita yang gak-jelas bangunan narasinya. Aksi dalam film ini semuanya hanya berupa kejar-kejaran. Yang gak seru karena stake-nya gak pernah bisa kita mengerti. Ini berhubungan dengan motivasi antagonis yang juga aneh. Kenapa begitu penting bagi karakter jahat itu untuk mencegah Viola memanggil pesawat lain. Film ini kelupaan membahas backstory kenapa mereka semua memilih tinggal di planet itu. Lebih tepat mungkin bukan ‘kelupaan’. Melainkan sengaja. Kok sengaja? Ya apalagi kalo bukan karena meniatkan untuk sekuel. Film ini sengaja gak membahas dalam mengenai dunia cerita, karena bakal ditempakan sebagai bahasan dalam cerita film kedua. Tapi sejujurnya, melihat performa terlalu minim yang diberikan oleh film ini, aku ragu ada penonton yang menginginkan sekuel ini. Kayaknya lebih pasti, para penonton meminta uang mereka kembali.

 

 

Ini adalah salah satu kekecewaan buatku karena film ini sebenarnya mengusung konsep menarik seputar pikiran manusia. Namun penulisannya terasa kacau, seperti melupakan apa yang sedang dibahas di tengah-tengah, dan terus mengganti menjadi bahasan baru. Kita tidak pernah tahu konteks besar dari narasi film. Sehingga akhirnya memang bagi kita, film ini hanya berupa rusuh yang tidak jelas, dengan karakter yang bland, yang tidak bisa kita pedulikan. Yang tidak terasa chemistrynya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for CHAOS WALKING.

 

 

That’s all we have for now.

Apakah bagi kalian yang cewek, cowok memang semudah itu untuk dibaca? Dan apakah bagi kalian yang cowok, cewek memang susah untuk ditebak? Film ini mengatakan hal seperti itu tidaklah adil. Bagaimana pendapat kalian, apakah memang lebih baik untuk kita mengetahui semua hal yang dipikirkan oleh pasangan kita?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TERSANJUNG: THE MOVIE Review

“No man flatters the woman he truly loves”

Tersanjung: The Movie dan review-review positif yang dituainya – dengan asumsi review-review tersebut bukan dari golongan buzzer – adalah bukti bahwa sinetron masih akan terus laku di Indonesia. Karena, film Tersanjung ini adalah film paling nyinetron yang kutonton sejauh tahun ini berlalu. Kalimatku tadi itu bisa make sense dimaklumkan hanya karena Tersanjung: The Movie memanglah adaptasi bebas dari sinetron Tersanjung yang fenomenal di Indonesia tahun 90an. Maka, sutradara Hanung Bramantyo dan Pandu Adjisurya tentu saja berkewajiban untuk membuat film ini punya rasa yang menyerupai sinetron tersebut. And in that sense, mereka berhasil.

Elemen-elemen cerita dari ratusan episode sinetronnya yang dulu itu, dikutip, dikumpulkan, lalu disulap menjadi cerita yang lumayan baru. Generasi yang belum lahir saat sinetronnya booming masih akan bisa mengikuti film ini. Karena film ini seperti sudah disiapkan untuk menjadi cabang franchise Tersanjung yang baru. Film ini mengisahkan tentang Yura, perempuan muda yang sedang dalam proses perjodohan oleh keluarganya. Perjodohan Yura tersebut terjadi dalam rangka menyelamatkan karir bapaknya, Dalam artian, menyelamatkan ekonomi keluarga mereka. Tentu saja sebenarnya Yura-lah yang paling butuh untuk diselamatkan di sini. Terlebih ketika perjodohan tersebut hampir berubah menjadi suatu trauma mimpi buruk. Dua cowok sahabat Yura-lah yang datang membantu. Persahabatan Christian dan Oka menguatkan Yura. Bahkan secara finansial Yura pun mulai terbantu karena mereka bertiga kini membangun bisnis kuliner bersama. Tapi situasi pelik tampaknya belum reda bagi Yura, karena salah satu dari sahabatnya itu menyatakan cinta, membuka siapa dirinya sebenarnya, untuk kemudian menghilang selamanya.

See, sekarang mungkin kalian sudah mulai sedikit mengerti kenapa aku menyebut ini film ini me-nyinetron. Aku bahkan tidak bisa menuliskan sinopsis tanpa membeberkan hingga ke kejadian-kejadian di akhir film. Itu karena film ini tidak memberikan arc yang clear kepada karakter utamanya, yakni si Yura, melainkan memberikan arc singkat yang terus diulang sehingga seperti jadi episode-episode. Dia nemuin cinta, terus terluka, begitu terus sampai kemudian jadi happy karena durasi sudah terpenuhi. Tapi tetap di akhir itu tidak terasa seperti ending, melainkan lebih mirip berupa cliffhanger ala sinetron. Percaya deh, kita seakan nyaris bisa melihat ada tulisan “bersambung” pada shot terakhir film ini. Hanya seperti masalah yang udah kelar, lalu lantas disambung kembali oleh masalah baru.

“Ooooooo… kubersambung~

Secara kualitas design produksi sih, film ini jauh di atas film-film ala sinetron. The film certainly looks good. Cantik banget malah. Aku maklum sekali kalo pujian-pujian berdatangan dari sini. Banyak shot-shot cakep. Misalnya, shot dari langit adegan Yura nangis di pusara ibu kandungnya, memperlihatkan barisan kotak-kotak kuburan. Sepi. Hening. Benar-benar sesuai dengan perasaan yang sedang dialamatkan kepada kita. Sutradara Hanung memastikan adegan-adegan tetap hidup dengan depth. Setiap kali memungkinkan, dia akan memasukkan banyak kegiatan yang berlangsung di belakang kejadian utama pada setiap framenya. Seperti pada saat di perkampungan, Hanung membuat kampung itu hidup oleh suasana warga sekitar. Ngomong-ngomong soal suasana, cerita film ini mengambil tempat di tahun 90an. Dan nyaris setiap shot menguar banget suasana 90an tersebut. Kerasa banget suasananya. Bukan hanya pada kostum dan properti, tapi juga dari ‘napas’ yang dihembuskan oleh ceritanya. 90an akhir adalah masa-masa chaos di Indonesia, dan film ini menyangkutkan permasalahan kerusuhan tersebut ke dalam cerita. Topik-topik khas sinetron 90an seperti perjodohan dan ketimpangan kelas menghiasi film ini. Beberapa kelebayan khas sinetron tahun segitu juga ditampilkan, seperti ibu tiri yang ngeselin, ibu mertua yang jahat. Semua itu digunakan untuk nostalgia sekaligus identitas. Gaya sinetronnya kuat. Namun gaya visual yang dilakukan Hanung tadi-lah yang mengelevasi film ini. Seperti dibuat dan disyut tahun 90an, tapi dengan peralatan kekinian.

Bagi para pemain pun, Hanung memberikan pengadeganan, banyak ruang untuk melakukan lebih dari yang diminta naskah sehingga aktor-aktor muda seperti Clara Bernadeth, Giorgino Abraham, Kevin Ardillova, dan Marthino Lio enggak hanya ada di sana sebagai penambah cantik visual semata. Bahkan pemenang Gadis Sampul 2018 Allya Syakila yang jadi adik Yura juga diberikan porsi yang lumayan gede; ya kalian tahu dong, aku senang sekali kalo ada anak Gadsam yang dapat peran di film. Para cast utama diberikan lahan bermain salah satunya berupa dialog-dialog yang quoteable, dan mereka berhasil mendelivernya tanpa terdengar kikuk ataupun cheesy.  Ketika tidak sedang sibuk menjadikan adegannya terasa sinetron, Hanung mendaratkan film ini lewat celetukan-celetukan khasnya yang lumayan nyeleneh alias menantang. Misalnya, di film ini diperlihatkan orangtua suka menyebut anak mereka dengan panggilan sayang berupa ‘monyet’. Ataupun soal bagaimana orang Indonesia yang kebule-bulean ternyata kalah manusiawi daripada bule yang nge-indonesia. Aku pikir there must be deeper something in this, tapi untuk sekarang elemen-elemen demikianlah yang membuatku terhibur dan lupa sama panjangnya durasi ‘film-sinetron’ ini.

Jadi sebenarnya yang bagaimana lagi sih film yang menyerupai sinetron itu?

Tentu saja melihatnya dari cerita yang terlalu convenient. Alias cerita yang terlalu digampangkan. Sinetron kan biasanya penuh oleh elemen kebetulan, berpindah cepat antara satu konflik/drama ke konflik lain tanpa mengeksplorasi perjuangan atau struggle dalam cerita. Film Tersanjung ini persis seperti begitu. Ada beberapa kali ketika muncul bahasan yang sepertinya menarik jika diceritakan. Seperti bisnis kuliner yang dibangun Yura. Tadinya kupikir film ini bakal membahas struggle tiga sahabat yang diam-diam tumbuh cinta ini dalam membangun bisnis tersebut. Tapi ternyata tidak. Bisnis mereka berjalan dengan gampang. Tau-tau udah laku aja. Atau juga misalnya lagi, ketika cerita film ini sampai pada situasi seperti Crazy Rich Asians (2018).. Tadinya kupikir cerita benar-benar berubah haluan menjadi ke arah sana; ada sejumlah karakter baru yang muncul (dan di-mention) sehingga seolah bakal penting untuk ke depannya. Tapi ternyata juga enggak. Film glossed over this part. Either berfungsi sebagai penempatan kameo, atau memang ditahan untuk sekuel. Padahal kan bisa jadi cerita yang menarik.  Bayangkan kalian mengetahui sahabat kalian ternyata seorang sultan, dan dia mencintai kalian. I’m pretty sure that is a lot to take, tapi Yura kelihatan biasa-biasa saja. Dan bagaimana denagn Yura yang trauma nyaris diperkosa? Nope, tak ada waktu untuk membahas ini. Perihal Yura membantu orangtuanya juga gak problematis amat. Bakat nyanyi ayahnya ternyata nurun ke dia, Yura cakap bernyanyi, sehingga heran juga kenapa keluarga mereka masih bergantung kepada kontrak ayahnya in the first place. Seharusnya ada yang bisa digali di sini. Relasi ayah dan anak itu mestinya bisa dieskplorasi. Tapi, sekali lagi, tidak. Semuanya harus digampangkan, gak perlu repot-repot yang membahas yang seperti itu di sini.

Ketika pengen nembak tapi belum siap

Sinetron biasanya hobi banget pake soundtrack, ngulang-ngulang lagu sebagai cue adegan sedih, misalnya. Film ini, meskipun enggak separah itu, tapi tetep aja sangat bergantung kepada lagu soundtrack di latar untuk mengeja perasaan apa yang sedang disampaikan. Lucunya lagi, seringkali lagu latar tersebut enggak klop sama adegan yang sedang ditampilkan. Contohnya ketika berkumandang lirik “..kau penuhi janjimu itu…”, tapi adegan yang kita lihat sama sekali tidak ada orang yang sedang memenuhi janji. Adanya malah karakter yang disuruh berpura-pura menjadi suami Yura sedang dipaksa jadi partner senam hamil. Sejujurnya buatku bagian si karakter ini ‘dipaksa’ inilah yang membuat film ini jadi punya nilai minus. Ceritanya jadi sungguh canggung, dan juga sangat convenient. Inilah yang benar-benar memberikan cap film ini menjadi seperti sinetron. Aku gak bisa bilang banyak karena bakal spoiler berat. Aku paham yang diincar oleh film, yakni untuk menunjukkan bahwa feeling mereka memang mutual dan ada consent and everything. Hanya saja, film menunjukkannya dengan menyembunyikan di awal lalu kemudian melakukan pengungkapan kilas-balik. Ini menimbulkan banyak kekonyolan, seperti ibu tiri Yura jadi terlihat seperti mastermind dari semua hubungan tersebut. Cerita akan lebih bagus dan sama sekali tidak perlu flashback jika feeling karakter tersebut sudah diperlihatkan dan dibangun sedari awal. I mean, penonton toh sudah tahu (dari poster dan dari sinetronnya) bahwa Tersanjung adalah cinta segitiga, jadi kenapa masih pakai penceritaan dengan formula ‘ternyata’. 

Yura dua kali terkecewakan oleh pria yang menyanjungnya. Dengan harta. Dengan kesempatan. Dengan janji. Perempuan itu kemudian menyadari cinta sejati tidak perlu sanjung-menyanjung. Cinta sejati langsung membuktikan dengan perbuatan. Dan sekarang, kepadanyalah Yura berpaling.

Sebenarnya sedari awal, film telah melakukan hal yang gak klop. Narasi voice-over Yura yang membimbing kita melewati adegan demi adegan, di bagian pembuka mengatakan bahwa cinta itu berawal manis. Tapi yang kita lihat saat itu justru tensi yang menguar dari adegan perjodohan. Ketidakterimaan yang menguar dari ekspresi ayah Yura, dan keengganan yang terpancar dari Yura sendiri. Mungkin memang inilah yang sedang diset oleh film. Bahwa keenggak klop-an akan konsisten hingga di akhir. Karena tahu tidak, lagu 90an apa yang diputar sebagai latar di adegan menjelang terakhir yang ceria di pernikahan? “Saat bulan purnama bersinar…” Ska dong! Tone-nya jadi drastis banget. It’s not even a 90’s song!  

 

 

Apa lagi yang bisa kubilang? Film ini tahu persis dia mau jadi seperti apa. Mungkin memang ada tantangan tersendiri membuat film yang berasa sinetron. Siapa yang tahu? Yang jelas film ini berhasil menghidupkan kembali ruh sinetronnya. Dan tampil sangat cantik dalam melakukan itu semua. Konflik perasaan yang tak abis-abisnya. Penggambaran si kaya dan si miskin yang too good to be true. Dialog-dialog manis yang enak dipajang jadi caption instagram. Banyak hal dalam film ini yang bisa disukai oleh penonton kita. Tapi apakah ini termasuk film bagus? Aku pikir tidak. Cocoklah tayangnya di Netflix saja. 
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for TERSANJUNG: THE MOVIE.

 

 

That’s all we have for now.

Berhubung filmnya kayak end-credit film superhero, sepertinya film ini pantas untuk diteori-teori-in, don’t you think? Nah, bagaimana, apakah kalian punya teori tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Christian?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE FATHER Review

“Why not try to enter their reality?”
 

 
Nominasi yang bakal bertanding memperebutkan Best Picture Academy Awards 2021 telah diumumkan. Dari delapan film tersebut, sebagian besarnya memang powerhouse, yang difavoritkan banyak penonton – kritikus atau bukan. Orang-orang akan menjagokan Nomadland dan Sound of Metal karena kemegahan teknis dan arahannya. Minari karena kehangatan dan karakternya. Promising Young Woman karena keberanian dan keedgyan gagasannya. Mank for the love of Cinema. The Trial of the Chicago 7 beserta Judas and the Black Messiah yang bicara seputar isu penting kemanusiaan. Tidak banyak yang sampai ke telingaku, berbicara soal The Father. Drama relasi ayah dan anak yang disadur oleh sutradara Florian Zeller dari naskah teater garapannya sendiri ini seperti sedikit terlupakan. Padahal, setelah kutonton, film ini ternyata memberikan kita pengalaman yang sekiranya sulit terlupakan. Dan ini ‘lucu’, mengingat filmnya sendiri bicara tentang orang yang perlahan (tapi pasti) kehilangan ingatannya.
To be honest, aku pun sendirinya berpikir ini bakal jadi tontonan yang cukup boring. Sudah kebayang film ini akan berisi percakapan antara ayah dan anaknya. Dan tentu saja, film ini memang berisi dialog demi dialog antara ayah yang berusaha memahami keadaan anaknya sekaligus juga tentang anak yang mencoba melanjutkan hidup sementara orangtuanya tersebut dalam keadaan yang tidak segampang itu untuk ditinggalkan. Kondisi ayahnya itulah yang membuat film ini tidak pernah menjadi semembosankan apa yang ku bayangkan. The Father adalah drama hubungan ayah dengan anak, sementara sang ayah ini mengidap Alzheimer. Dementia mulai menggerogotinya. Sehingga setiap kali percakapan mereka tampil di layar, selalu ada something interesting (dan mengkhawatirkan) yang terjadi di baliknya.

Mengalami langsung bingungnya dementia.

 
Banyak film yang membahas tentang dementia yang dialami oleh pengidap Alzheimer. Tahun lalu misalnya, ada Relic. Lalu belum lama ini, ada film horor Indonesia yang memejeng (iya memejeng doang!) karakter dementia yakni Affliction. kebanyakan film yang membahas tentang kengerian dementia memang membahas dari ketakutan dari menghadapi penderita dementia itu sendiri. Dealing with them dapat menjadi pengalaman yang mengerikan, terutama karena kita tahu penderita gak bakal bisa disembuhkan. Kenyataan bahwa mereka kian hari semakin melupakan kita itulah yang biasanya disimbolkan menjadi cerita horor atau jadi kaitan drama yang merenyuhkan hati. Di sinilah letak keunikan dari The Father. Film ini mengambil langkah yang ekstra dengan menempatkan kita langsung pada sudut pandang si penderita dementia.
Sebagian besar durasi, kita akan mengalami kebingungan itu bersama Anthony. Pria tua ini, diceritakan, menolak untuk dibantu. Setiap kali putrinya mendatangkan juru-rawat, Anthony selalu ngejutekin. Anthony gak suka dianggap tak berdaya. Terutama, dia curiga kalo mereka-mereka itu datang untuk mencuri jam tangannya. Padahal Anthony-lah yang selalu lupa menaruh jam tersebut di mana. Seiring film berjalan, semakin banyak hal yang membuat Anthony mengerutkan kening. Percakapan dia dengan putrinya, Anne, selalu berubah-ubah. Anthony yakin putrinya itu ingin ke Perancis, dan bahwa putrinya belum menikah. Tapi kenapa sering juga ada pria lain muncul di rumahnya. Mengaku sebagai suami Anne. Dan Anne bilang dia tidak pernah mau ke Perancis. DAN, ngomong-ngomong soal Anne, kenapa pula wajah putrinya ini berubah-ubah. Anthony tak abis pikir. Rumahnya ternyata bisa jadi bukan rumahnya. Pagi ternyata malam. Kenyataan mulai terpecah-pecah di dalam kepala Anthony, sampai dia sadar dia tidak mampu lagi menyatukan semuanya.

Yang paling mengerikan dari dementia adalah kenyataan bahwa penyakit itu tidak bisa dihentikan. Usaha menyembuhkan penderita dengan membawa mereka kembali mengingat realita adalah usaha yang sulit dan dibilang mustahil. Florian Zeller tampaknya mengerti akan hal tersebut. Makanya, film The Father ini dia susun sebagai pengalaman menonton yang menempatkan kita ke dalam benak atau realita yang dialami oleh si penderita. Itu dilakukan karena mungkin, itulah cara yang paling dekat dengan usaha menyembuhkan penderita dementia.

Nonton ini tuh kita seperti ikutan ‘sinting’. Untuk memberikan kesan confusing yang dialami oleh Anthony, sutradara benar-benar detil membangun set dan menggunakan latar. Kemudian menyempurnakannya dengan editing. Ngedip dikit, dan kita akan ikutan bengong melihat kenapa kantong plastik belanjaan itu berubah warna dari putih ke biru. Perubahan-perubahan kecil seperti demikian itu kerap terjadi di layar. Isi ruangan tempat tidur yang berpindah susunan. Keramik wastafel dapur yang berganti. Dan tentu saja, orang-orang yang muncul di sekitar Anthony. Semuanya kerap berubah. Anne yang di adegan sebelumnya, berwajah berbeda dengan Anne yang ternyata baru pulang dan muncul di pintu depan. Keganjilan-keganjilan ini semakin intens seiring durasi. Bagian favoritku adalah adegan makan malam yang percakapan mereka tampak ngeloop. Anthony datang, menguping Anne dengan suami mendebatkan soal mengirim dirinya ke institusi, kemudian mereka makan ayam, kemudian Anthony ke dapur ngambil ayam lagi, dan kemudian dia menguping Anne dan suaminya kembali. It’s weird, dan terutama menyeramkan karena kita juga berusaha merasionalkan yang terjadi – persis seperti yang dirasakan oleh Anthony.
Treatment begitu mengingatkan kita pada I’m Thinking of Ending Things (2020); thriller melankolis yang juga bermain dengan memori, yang terwujudkan oleh karakter dan objek yang berubah-ubah. Bedanya, The Father tidak menggunakan treatment tersebut untuk menghasilkan suasana sureal. Melainkan justru menguatkan feeling kebingungan yang grounded. Film ini berhasil membawa kita mengalami yang dirasakan Anthony. Mengalami bagaimana dementia itu bekerja, dengan mendekati asli. Karena memang, satu-satunya alasan kenapa film-film yang mengusung Alzheimer dan dementia lebih banyak mengeksplorasi dari sudut keluarga atau dari pengasuh terdampak, adalah sulit merepresentasikan dementia yang sebenar-benarnya itu seperti apa. Sulit untuk mendapatkan perspektif yang total akurat. Tentunya kita tidak bisa menanyakan kepada penderita. Sehingga, yang bisa dilakukan hanyalah dengan menginterpretasi. The Father really did a great job dalam interpretasi tersebut. Treatmentnya tadi sanggup mewakili perasaan bingung dan sensasi kehilangan sense of realita diri sendiri. Dan tentunya, treatment tersebut hanya bersifat sebagai pendukung. Apa yang didukung? tentu saja adalah karakter. Dan The Father punya karakter yang ditulis dengan sama detilnya.
Dari segi alur memang tidak banyak yang terjadi pada film ini. Percakapannya pun cenderung diulang-ulang, tapi tetap menarik karena situasi dan pelakon yang berubah-ubah. Kekuatan film ini ada pada bangunan karakter. Anthony dan Anne punya banyak lapisan masalah. Inilah yang terus digali dan dijabarkan dengan hati-hati oleh film. Lapisan permasalah itulah yang bakal mendorong kita untuk peduli kepada mereka. Hubungan mereka berdua diwarnai oleh masalah mulai dari Anthony yang tampaknya lebih sayang kepada adik Anne, dan lalu adik tersebut meninggal, yang kemudian jadi berkembang hingga ke rumah yang ditempati sekarang apakah punya Anthony atau punya Anne. Anthony sendiri bukan orang yang gampang untuk diajak berdialog, bahkan sepertinya sebelum dia dementia dia sudah ‘sulit’ berurusan ama orang seperti begitu. Dalam artian, Anthony adalah orang yang ‘punya caranya sendiri’. Begitu kata Anne yang berusaha memaklumi sifat ayahnya. Memainkan karakter sekompleks Anthony itulah saat bagi Anthony Hopkins menunjukkan kemampuan aktingnya (yang ternyata masih tajam!) Menjelang akhir, Anthony semakin tidak bisa menempatkan apa yang sedang terjadi. “I don’t know what’s happening anymore” katanya, tapi ia mengucapkannya tetap dengan nada menguatkan diri. Sudah bukan rahasia kalo Hopkins adalah aktor yang piawai, tapi tetap saja aku pribadi salut karena di sini tentulah perannya terasa really close to home for him. Kevulnerablean yang ditampilkannya di sini mungkin adalah cerminan dari bagaimana dia yang udah umur segitu disambangi langsung oleh dementia.

somehow di sini Anthony Hopkins gaya dan cara ngomongnya menurutku mirip sama Slamet Rahardjo

 
 
Olivia Colman sebagai Anne pun bermain sama vulnerable dan meyakinkannya. The Father tidak hanya menyajikan perspektif Anthony si penderita, tapi sesekali juga membawa kita menyelami kesulitan dan keresahan yang menimpa keluarga yang merawat penderita. Film melakukan ini supaya kita bisa lebih mengerti dampak mengerikan dari dementia yang ‘kejam’ tersebut. Semua itu untuk meng-enchance drama. Untuk menambah kedalaman lewat lapisan dari sudut pandang yang berbeda. Sekaligus diperlukan supaya film tidak melaju ke arah misteri, atau setidaknya supaya film tidak berbelok menjadi semakin mirip dengan apa yang dihasilkan oleh I’m Thinking of Ending Things. Karena jika hanya dari sudut pandang Anthony, besar kemungkinan kita bakal melihat Anne sebagai this impossible being, bahkan bisa jadi Anne tampak seperti antagonis.
Namun memasukkan sudut pandang Anne juga membawa sedikit minus bagi penceritaan, karena sudut pandangnya ini cukup messed up dengan treatment dan gaya bercerita yang sudah mantap pada Anthony. Misalnya, ada bagian ketika kita malah melihat hal dari dalam benak Anne. Film menjadi terlalu surealis dengan adegan ‘percobaan pembunuhan’, yang tentu saja berlawanan dengan niat di awal yakni untuk tidak menjadi terlalu surealis dan tidak menjadi slightly over-the-top. Jadi ya, menurutku memasukkan sudut pandang Anne di sini menjadi sesuatu yang dibutuhkan, meskipun memang membuat sudut pandang dan penceritaan menjadi sedikit terganggu. It is a risk, dan film berusaha sebaik mungkin dalam menampilkannya.
 
 
 
Berkat kebanalan dari sudut pandang penderita, film ini diakui banyak orang sebagai gambaran yang akurat, sekaligus dramatis, dari penyakit mengerikan yang bisa menimpa siapa saja di masa tua. Film ini membuat kita merasakan pengalaman dan keadaan jiwa yang bikin gak enak tersebut. Semua itu dilakukan dengan treatment dan editing yang cermat, dan terutama ditambah menjadi maksimal oleh permainan akting kelas legenda. I don’t know about you guys, tapi kupikir jika agenda dan ke-happening-an bisa disingkirkan sementara, maka film ini adalah kuda hitam dalam Oscar nanti. Film ini harusnya bisa dibicarakan lebih sering dan oleh lebih banyak orang lagi. Karena dia benar-benar menawarkan pengalaman menggugah, seperti yang dijanjikan oleh sinema.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE FATHER.
 
 
 
 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya pengalaman dengan keluarga yang direnggut oleh dementia?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ZACK SNYDER’S JUSTICE LEAGUE Review

“Acceptance is the first step to unity”
 

 
Dalam Justice League diceritakan para pahlawan super bersatu untuk menghidupkan kembali Superman. Siapa sangka keadaan di dunia nyata seputar film Justice League itu sendiri ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang diceritakan. Visi sutradara Zack Snyder-lah pahlawan yang gugur itu. Para penggemar DC bersatu, mengampanyekan supaya visi tersebut hidup kembali. Meminta supaya film Justice League yang sebenarnya; yang tidak dicampuri oleh Studio – dan tidak diwarna-warni oleh Joss Whedon, film yang seutuhnya dari kreasi Zack Snyder bisa dibuat dan ditayangkan. Sekarang, empat tahun setelah film Justice League (2017) tayang di bioskop, perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Zack Snyder’s Justice League yang berdurasi empat-jam lebih akhirnya mendarat dengan dramatis di internet!
Ini adalah fenomena yang menarik. Karena kita semua tahu, term ‘Director’s Cut’ sendiri sebenarnya sudah mulai mengalami peyorasi berkat iklim industri film. Director’s Cut pertama kali dipopulerkan oleh Ridley Scott, yang mengeluarkan Blade Runner (1982) versi orisinil kreasinya. Misi mulia merestorasi visi seniman itu tentu saja langsung disambut oleh industri sebagai langkah untuk menjual-ulang kepada penonton film yang udah pernah mereka tonton. Director’s Cut lantas menjadi gimmick sales semata. Director’s Cut The Warriors ternyata hanya berisi tambahan satu menit ekstra, plus transisi dengan gaya visual ala komik. The Exorcist hanya memasukkan kembali adegan-adegan yang udah dicut, plus perbaikan visual efek, namun menjual-ulangnya sebagai versi never-before-seen di tahun 2000. Jangan tanya soal contoh di Indonesia. Aku belum punya rasa percaya yang cukup besar terhadap industri film di sini sehingga mau menonton versi director’s cut dari film-film Indonesia. I mean, film yang disebut sekuel aja, di perfilman kita yang konon udah maju ini, ternyata tak lebih dari potongan shot dan cut film sebelumnya yang digodok jadi satu (tunjuk idung Milea: Suara dari Dilan). Langka sekali ada Director’s Cut yang benar-benar terbukti memberikan pengalaman baru dan menambah banyak bagi film itu sendiri. Maka, melihat begitu hangatnya respon, dan mengingat actually memang cut ini sangat diinginkan oleh penonton, Snyder Cut Justice League kali ini boleh jadi merupakan titik balik yang mengembalikan Director’s Cut kepada tujuan mulianya semula.

Film revisi sebagai pemuas hati

 
 
Cerita film ini secara keseluruhan masih sama dengan versi Whedon 2017 yang lalu. Superman telah meninggal. Pasukan demon yang dipimpin Steppenwolf jadi berani datang ke Bumi, mencari tiga Mother Box yang kalo digabungkan bisa membuat Bumi jadi di bawah kendali Steppenwolf. Maka Batman berusaha mengumpulkan para manusia berkekuatan super; Wonder Woman, Aquaman, The Flash, dan Cyborg untuk bekerja sama membela Bumi. Tapi mereka tetep kalah tenaga. Jadi mereka bermaksud untuk menghidupkan kembali Superman. Aku gak akan bahas banyak dari segi cerita. Yang ingin kufokuskan di review Justice League kali ini adalah soal perbedaan-perbedaan signifikan di antara versi Snyder dengan versi Whedon. Dan yang kumaksud dengan ‘signifikan’ adalah bagaimana perbedaan tersebut berpengaruh; membuat film versi Snyder ini lebih baik (atau bahkan bisa jadi lebih buruk) ketimbang versi Whedon.
Aku mau pointed out dulu bahwa ternyata yang kukira di review Justice League 2017 itu salah. Kukira elemen kematian Superman dan konflik moral para superhero terkait menghidupkannya kembali itu adalah kreasi dari Snyder. Setelah nonton film yang empat jam ini, aku baru tahu kalo elemen tersebut justru adalah kreasi Whedon. Justice League 2017 menempatkan soal moral dan etik menghidupkan Superman sebagai tindak terakhir itu sebagai gagasan utama cerita. Persatuan yang dibicarakan oleh film tersebut adalah persatuan yang bersumber dari harapan yang dipicu oleh tekanan ketakutan. Superhero Justice League di sana menunjukkan kekuatan dari harapan, sementara lawan mereka kalah karena menggunakan ketakutan untuk mengendalikan persatuan. Harus kuakui, bahasan Whedon tersebut menarik. Sayangnya, si sutradara itu sendiri tidak punya pijakan dan posisi yang kuat. Gagasan itu timbul bukan karena dia purely ingin bercerita soal itu, melainkan dari pemikiran bahwa dia harus menyatukan materi cerita superhero yang padat ke dalam durasi yang berbatas. Aku tetap mengapreasiasi Whedon yang berhasil pulled off this theme, dia berusaha menyatukan banyak elemen ke dalam narasi sekonsisten mungkin, walaupun penceritaannya sendiri sloppy, terburu-buru, dan enggak ‘do justice’ terhadap karakter-karakter superhero yang terkandung di dalamnya.
Sementara Snyder, ternyata memang tidak berniat menceritakan soal moral sebuah resurrection. Snyder tetap berkutat pada soal yang lebih fundamental. Yakni soal keluarga. Justice League yang kita tonton selama empat jam ini adalah tentang karakter yang terpisah dari keluarga, dan kemudian menemukan tempat di kelompok, tapi sebelum itu mereka harus berjuang untuk acceptance, baik itu dari kelompoknya maupun acceptance dari diri mereka sendiri. Dengan durasi yang dua kali lebih panjang, Snyder punya ruang yang lebih banyak untuk mengeksplorasi setiap karakter, dan dia memainkan masing-masing mereka dengan konsisten pada tema tersebut. Batman yang yatim piatu, dialah yang jadi pencetus persatuan para superhero, dan di akhir cerita dia dapat nice closure berupa mendapat pujian tindakannya akan membuat orangtuanya bangga. The Flash kali ini mendapat backstory yang lebih solid perihal hubungannya dengan ayah yang berada di dalam penjara. Wonder Woman mendapat penggalian soal keluarga karena actually keluarga Amazonnya yang bersentuhan langsung dengan bahaya sebagai salah satu klan penjaga Mother Box.
“Cyborg mestinya dikasih kerjaan lebih banyak selain baca petunjuk dan menyatu dengan teknologi. Steppenwolf mestinya bisa dibuat lebih meyakinkan. Mestinya film bisa memberikan kedalaman yang lebih pada hubungan antartokoh, memberikan stake yang lebih mengena, memberikan ketakutan dan bahaya yang lebih kuat.” Itulah tiga kalimat terakhir yang aku tulis pada review Justice League 2017. Dan apparently, Snyder setuju bahwa tiga itulah aspek yang paling butuh untuk dikembalikan dan diperbaikin dalam film kali ini. Cyborg yang awkward dan tampak paling sepele itu kini jadi hati bagi film ini. Dia yang arc superhero-nya paling ngelingker di antara semua. Dia berkembang dari yang tadinya cowok setengah-robot angsty yang boring menjadi pahlawan super yang benar-benar menguar oleh konflik keluarga dan acceptance. Kalau tidak dipersembahkan sebagai sebuah ensemble story, maka Cyborg inilah yang paling pantas jadi tokoh utama. Aku bukannya mau memantik api ataupun bukannya mau memancing di air butek, tapi, menurutku Cyborg di sini sukses menjadi karakter yang lebih menarik daripada Iron Man di cerita akhir hayatnya. Steppenwolf di sini pun dibuat lebih besar. Bukan hanya dari desainnya, melainkan juga dari karakter. Di Snyder Cut ini, motivasi Steppenwolf lebih dieksplor. Di balik perburuan Mother Box, antagonis ini sedang dalam journey ngeredeem dirinya sendiri di mata Darkseid. Journey-nya tersebut dikontraskan dengan geng superhero Justice League; Steppenwolf juga mencari acceptance tapi sayangnya keluarga yang ia pilih tidak seperti ‘keluarga’ protagonis kita.

Bersatu berarti kita harus menerima kekurangan masing-masing. Dan untuk dapat saling menerima itu, kita tidak mesti berangkat dari satu keluarga. Banyak cerita yang mengobarkan semangat persatuan, memperlihatkan kubu yang berbeda mengesampingkan perbedaan untuk menjadi keluarga. Tapi Justice League dan Cyborg menunjukkan semua itu dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

 
Dengan karakter yang lebih ter-flesh out, maka final battle pun otomatis menjadi lebih seru. Kalian tentu masih ingat satu keluarga rusia yang diselamatkan oleh The Flash di Justice League Whedon? Tidak ingat? Bagus, karena itulah the worst part dari film tersebut. Keluarga rusia random itu adalah tambahan supaya final battle dramatis. Snyder tidak perlu dan sama sekali tidak pernah meniatkan mereka ada. Final battle Snyder berisi aksi brutal (earning them that R-rating) dan konflik cerita yang menutup arc para tokoh. Singkat kata, final battle Snyder lebih garang dan lebih padat. It is the best part of this movie. Semua karakter dapat kesempatan bersinar; unjuk kekuatan dan unjuk drama personal. Semuanya memenuhi fungsi.
Perbedaan-perbedaan lain yang dilakukan oleh film ini tidak termasuk ke dalam kategori ‘signifikan’ tapi bukan berarti tidak penting. Setidaknya bagi para penggemar, dan bagi penonton yang benar-benar menunggu kelanjutan film ini, hal yang dilakukan oleh Zack Snyder di sini akan bisa bikin ‘terwoah-woah!’ Snyder caters to the fans. Dia membuat Superman yang baru saja dihidupkan itu berkostum hitam, sama dengan di komik. Dia memasukkan karakter baru seperti Darkseid, dan juga Martian Manhunter. Keduanya tentu saja berperan penting dalam Justice League saga. Kemunculan pertama keduanya dalam medium film-panjang live-action ini tentulah surprise yang menyenangkan. Tak sampai di sana, Snyder juga memanfaatkan sisa durasi untuk menampilkan lebih banyak lagi fans-service berupa penampilan singkat-tapi-berkesan dari karakter favorit semacam Deathstroke ataupun Joker.

Parademon. Parade demon. Get it?

 
Selesai nonton, kita semua kompak kalo harusnya film ini aja yang ditayangkan di bioskop kemaren. Durasi empat jam film ini toh tidak terasa. Kalopun terasa, filmnya bisa dibagi menjadi dua. Tapi benarkah sesimpel itu? ‘Kasus’ dua Justice League ini tentu saja tidak sesimpel soal durasi. Melainkan soal bagaimana memanfaatkan durasi tersebut. Snyder Cut punya ruang yang lebih gede untuk eksplorasi dan development ketimbang versi Whedon. Pertanyaannya adalah apakah dia benar-benar memanfaatkannya dengan efektif? Versi Whedon serba terburu-buru, kurang development, cringe oleh dialog dan adegan yang abrupt, karena dia berusaha meringkas materi ke dalam dua jam. Belum lagi tuntutan untuk tampil ringan/menghibur. Usaha Whedon jelas bukan terbaik, tapi sesungguhnya begitu juga dengan Snyder di film ini. Tentu, ceritanya jauh lebih berbobot, tapi terasa tidak benar-benar perlu untuk menjadi empat jam. Snyder Cut ini mestinya bisa lebih dipadetin lagi. Struktur narasinya bisa lebih padu lagi. Fans service dan adegan extend di beberapa puluh menit setelah konflik film beres itu sebenarnya tidak perlu karena practically berfungsi sebagai adegan teaser untuk next film yang panjang sekali.
Film ini menggunakan chapter-chapter yang terasa seperti episode-episode. Setiap kali pindah chapter, atau malah setiap kali pindah fokus dari bahasan karakter satu ke karakter lain, film ini terasa terputus. Narasinya bersambung tidak mulus, tidak lebih baik dari yang alur penceritaan yang dilakukan oleh Whedon. Aku mengharap sesuatu yang lebih baik, tapi Snyder ternyata juga mempersembahkan urutan kejadian terlompat-lompat, seperti dari teroris pemboman ke penyerangan Amazon ke The Flash menyelamatkan cewek dari kecelakaan lalu lintas. Aku mengharapkan narasi yang lebih kohesif dari ini. Tapi Snyder memang lebih fokus ke nampilin aksi sebagai bentuk bercerita. Dan bicara tentang aksi, setiap chapter punya aksi-aksi seru. Yang kita dapatkan di Whedon, hanya sepersekian dari aksi sebenarnya di film ini. Tapi sekali lagi; episodik. Semuanya punya tempo dan treatment yang sama. Sehingga jadi monoton. Salah satu treatment favorit Snyder dalam nampilin aksi adalah menggunakan slow-motion. Bayangkan melihat slow-motion setiap kali adegan bertempur. Setiap kali Wonder Woman mau beraksi selalu ada musik dewa-dewi yang pelaaaann. Jadinya ya bosan dan terasa unnecessary. Slow-motion ini bahkan dilakukan pada karakter yang bukan The Flash. Jadi akibatnya, jika setiap karakter ternyata bisa bergerak cepat, maka kecepatan The Flash itu jadi tidak spesial lagi. Slow motion bisa jadi efek yang bagus pada adegan aksi, memberikan ketegangan atau semacamnya, tapi ketika dilakukan konstan, jadinya ya tidak spesial lagi. Dialog cheesy ala Whedon boleh saja sudah disingkirkan jauh-jauh oleh Snyder yang prefer tone dan warna gelap. Namun kecheesy-an itu kali ini terisikan perannya oleh slow-motion yang berlebihan.
 
 
Dengan senang hati sekali aku menunggu kalo ada filmmaker lain yang pengen membuat Cut versi dirinya; cut yang merangkum empat-jam film ini menjadi narasi yang lebih mulus dan tidak terasa terfragmen seperti ini. Dalam urusan memanfaatkan durasi, sebenarnya Snyder tidak melakukannya lebih baik daripada Whedon. Namun memang tak bisa dipungkiri, versi Snyder ini punya cerita yang lebih berbobot, punya final battle yang lebih seru, punya karakter yang lebih manusiawi. Director’s Cut yang dilakukan Snyder benar-benar bertindak sebagai pemuas hati. Sutradara senang karena filmnya sudah terestorasi sesuai visi. Kita senang karena akhirnya dapat film superhero yang antisipasi dan hypenya sesuai dengan yang disuguhkan. Mungkin inilah Justice yang disebut pada film ini. Keadilan bagi pembuat dan penikmat. It’s a win-win!
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ZACK SNYDER’S JUSTICE LEAGUE
 
 
 
 

That’s all we have for now.
Jadi bagaimana? Apakah menurut kalian film ini berhasil membuat penonton bakal kembali peduli sama yang namanya Director’s Cut?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA