CAPONE Review

“… and guilt eats away at your sanity”
 

 
 
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Seberkuasanya -sepowerful apapun – bos mafia, suatu saat ia pasti akan menua dan ringkih dan jadi tak-berdaya jua. Al Capone, salah satu kriminal paling terkenal dalam sejarah, adalah salah satu bukti bahwa manusia tidak bakal ‘kuat’ selamanya. Drama biografi Capone, arahan sutradara Josh Trank, jadi rekaman seperti apa hari-hari terakhir sang kepala gangster selepas keluar dari penjara. Hari-hari terburuk, bahkan dalam seumur hidupnya yang penuh darah dan sengketa. Film ini akan memperlihatkan perjuangan Al Capone melawan dementia; perjuangan yang tak bisa ia menangkan.
Sungguh sebuah konsep yang menarik. Bukan sekadar tentang pensiunan yang berusaha menangkap kembali sisa-sisa glory. Bukan sekadar tentang orang tua yang mencicipi petualangan-muda untuk terakhir kali. Capone menawarkan kolam-baru untuk kita selami. Kita dibawa melihat sosok Al Capone dalam kondisinya yang paling rendah. Tinggal bersama keluarganya di rumah besar di Florida, Capone – yang dipanggil Fonse  – mulai kesusahan untuk mengingat berbagai hal, bahkan orang-orang di sekitarnya. Umur Fonse belum lagi lima-puluh, tapi dampak penyakit neurosyphillis yang bertahun-tahun ia derita membuat orang ini tampak sangat renta. Istrinya aja jadi kelihatan jauh lebih muda. Fonse bergerak tertatih, berbicara kayak zombie lagi menggerutu, dalam berdiam diripun ia menemukan masalah karena tidak lagi bisa mengendalikan pengeluaran; alias dia bisa muntah, ngompol, atau malah ngebom kapan dan di mana saja. Yang paling mengkhawatirkan adalah, Fonse mulai melihat halusinasi. Realita dan kenangannya melebur menjadi satu. Dia mulai melihat yang tidak orang lain lihat, dia mulai percaya pada hal yang nonexistent. Ini membawa bahaya bagi dia dan keluarga sebab Fonse menyebut dia menyimpan uang jutaan dolar di tempat yang tak mampu ia ingat, dan beberapa orang – termasuk polisi yang diam-diam mengawasinya – tidak ingin melewatkan kesempatan jika ternyata omongan Fonse tersebut benar adanya.

Dibacanya bukan “Fon-se'” loh ya

 
Jadi, ya, ini bukan tipikal film mafioso. Capone didesain supaya lebih humanis, maka itu berarti film ini dapat menjadi lebih kelam, depress, dan… menjijikkan. Film ini cukup bernyali, doesn’t want to be easy. Bagi Trank yang udah ‘sukses’ nge-tank Fantastic Four (2015), film ini boleh jadi proyek come-back atau penebusan diri. You know, Capone sejatinya ia jadikan pembuktian ia sedang kembali ke jalan yang benar. Film-film padet seperti ini, however, butuh untuk kuat dalam tiga hal supaya bener-bener jadi tontonan bergizi dan nikmat untuk dicerna. Pertama, segi ceritanya itu sendiri. Kedua, penampilan akting. Dan ketiga, cara penyampaian alias cara bercerita alias storytelling-nya. Tidak satupun dari ketiga aspek itu yang berhasil dimaksimalkan oleh Trank. Sehingga Capone pada akhirnya berakhir menjadi sebuah kekecewaan, karena buatku film ini sudah punya modal gede yakni konsepnya yang menarik.
Membahas ketiga aspek itu satu persatu, aku akan mulai dengan aspek cerita. Actually, di sini pencapaian Capone yang paling lumayan. Film mengestablish setidaknya dua hal penting yang berhubungan langsung dengan apa yang dirasakan oleh Fonse. Soal uang dan keluarga. Plot sampingan soal sekelompok orang yang mengincar uang yang ia simpan dan soal anak yang ia rahasiakan mengikat menjadi satu sebagai motivasi Fonse; ia tidak mau dua-duanya ketahuan karena ia tidak percaya siapapun. Terlebih sekarang, parnonya membesar karena efek dementia. Namun dementia itu bukan pelaku-utama, melainkan hanya berperan sebagai membesarkan. Journey Fonse sepanjang film sebenarnya adalah soal dia mencari akar dari parno alias ketakutannya yang berlebihan. Sebagai penonton, kita akan melihat ke dalam Fonse. Seringkali kita akan ditempatkan sebagai dirinya, ikut mengalami halusinasi dan mimpi-mimpinya.
Dan di dalam situlah kita akan mendapati si guilt ini, si Perasaan Bersalah. Semua halusinasi Fonse penting karena masing-masingnya merupakan episode dari beban seorang manusia yang berprofesi sebagai bos kriminal. Dia harus membunuh sahabat sendiri. Dia harus melakukan berbagai kejahatan. Di menjelang babak ketiga ada sekuen panjang Fonse balik ke masa lalu. Kita memasuki ini bukan sebagai Fonse yang gagah, melainkan sebagai Fonse yang tidak ingat pernah melakukan, sehingga ia melihat perbuatannya dari cahaya yang baru; cahaya yang lebih mudah bagi kita untuk merelasikan diri kepadanya. Kalian yang pernah nonton dokumenter Jagal atau The Act of Killing (2012), kalian akan menemukan kemiripan antara inner-journey Fonse dengan Anwar Congo yang jadi sudut pandang utama dalam dokumenter tersebut. Pembeda yang paling utama di antara keduanya adalah tanda-tanda penyesalan. Yang menjadi penting karena menentukan apakah penonton bakal bersimpati atau tidak kepada si tokoh utama, seberapapun horrible perbuatan mereka terdahulu. Fonse dalam Capone tidak punya luxury untuk merasakan hal tersebut, karena keadaan fisik dan terutama mentalnya yang tidak lagi memungkinkan.

Rasa bersalah mengerus pikiran dan akal sehat sedikit demi sedikit. Ketika melakukan perbuatan mengerikan di masa lalu, seseorang akan terus kepikiran, dan secara tidak sadar mengambil tindakan preventif untuk mencegah kejadian tersebut terulang lagi. Dan proses ‘pencegahan’ ini bergantung kepada pribadi masing-masing. Jika kita seperti Al Capone, yang hidup dari bisnis ilegal, yang dikelilingi sama seringnya oleh keluarga, anak buah, musuh, realita yang kita ciptakan untuk berlindung akan menjadi sama berbahayanya dengan yang mestinya kita cegah. Bahkan lebih.

 
Kita susah merasakan simpati kepada Fonse, meskipun tokoh ini ngompol, stroke, ngisep wortel alih-alih cerutu, ketakutan dan kebingungan sepanjang waktu, karena film membuatnya vulnerable seperti itu hanya karena dia sakit. Kita tidak sekalipun diperlihatkan perasaan genuine menyadari kesalahan. Drama film ini hanya datang dari Fonse yang sakit dan orang-orang tersayang yang setia padanya berusaha dealing with this, sementara Fonse makin curigaan dan liar kepada mereka. Sebuah film memang seharusnya tidak membuat tokohnya memohon untuk simpati kita, tetapi menjadikan si tokoh tersebut tidak pernah tampak sebagai manusia utuh – just this walking disease yang harus kita pedulikan karena banyak orang yang sayang ama dia – malah jadi kayak nyalahin penyakitnya ketimbang kontemplasi. Semua itu menjadi bertentangan dengan gagasan film mengenai kesalahan masalalu terus menghantui, karena karakternya bergerak karena penyakit. Membahas Fonse sekiranya bisa lebih baik jika dialihkan melalui sudut pandang tokoh lain, seperti istrinya yang mendapat porsi yang lumayan gede, tapi film ini pun gagal memberikan tokoh-tokoh seperti sang istri ini plot yang lebih berarti. Storyline mereka diperkenalkan, untuk kemudian diantepin gitu aja.

Hey, what’s up, Doc?

 
Perihal penampilan akting, akan berhubungan erat dengan aspek storytelling. Karena aktinglah subjek vokal yang menyampaikan cerita. Dalam cerita yang dalem membahas kejiwaan manusia, anehnya film di awal-awal memperlihatkan Fonse nyaris seperti parodi. Adegan openingnya malah kayak komedi kakek dan anak yang punya atmosfer kelam. Dan pembawaan Tom Hardy memainkan Fonse sama sekali tidak membantu. He was so over-the-top. Hardy memberikan suara yang komikal kepada Fonse. Jika tidak sedang bengong mengisap cerutu (dengan liur menetes ke dagu!) atau bergumam gak-jelas, Fonse akan ‘menyalak’ dengan suara yang seperti Moe Szyslak sedang audisi menjadi Goblin di bank Harry Potter. Dengan make up ‘penuaan’ yang terlihat kasar dan ‘Scarface’ yang gak-konsisten (make-up Johnny Knoxville jadi kakek-bangsat di Jackass tampak lebih meyakinkan), banyak tindakan yang dilakukan oleh Fonse yang jatohnya konyol alih-alih mengundang cemas dan menarik simpati kita kepadanya. Misalnya seperti ia tiba-tiba mengenakan pakaian wanita saat diam-diam berangkat pergi memancing. Dalam sekuen laga terakhir, Hardy mencoba sebaik yang ia bisa untuk menghasilkan sesuatu yang bukan cengiran dari penampilannya sebagai Fonse yang mengamuk dengan senapan mafia yang terbuat dari emas, menembaki orang sambil mengenakan piyama dan popok.
Hasil yang ditimbulkan selalu jauh dari harapan. Film seperti tidak benar-benar paham bagaimana menghormati penyakit yang mereka angkat. Ketika alur mulai memasuki ranah halusinasi mendominasi Fonse, treatment yang diambil film untuk membuat kita dapat membedakan mana yang nyata mana yang bukan adalah dengan memperlihatkan kekonyolan atau sesuatu yang dilebih-lebihkan. Sehingga penyakit itu tidak terasa mencengkeram lagi. Namun tentu saja dementia bukanlah penyakit yang hilarious. Melainkan menakutkan. Memiliki kerabat yang perlahan melupakan kenyataan, melihat atau percaya sesuatu yang mengerikan yang sebenarnya tidak ada, mestinya adalah pengalaman yang disturbing, mencemaskan. Masa-masa sebelum kakek tutup usia, beliau sering nunjuk-nunjuk dan bicara pada sosok tak-terlihat dan memperkenalkannya kepada kami sebagai kerabat yang sudah tiada, buatku adalah masa yang mengerikan, hanya dengan mengingatnya saja. Seorang tua yang halu dan membahayakan orang, dementia dalam film Capone beberapa kali terasa seperti memancing kelucuan, yang mungkin saja tidak disengaja, but it did feel that way – bahwa kadang film kayak lupa penyakit tersebut adalah masalah serius.
Adegan halusinasi dalam film ini memang diniatkan sekontras yang kita lihat. Kadang film terasa kayak dalam dunia yang dibangun David Lynch. Lengkap dengan adegan musikal yang creepy. Tapi kita tahu, Lynch tidak menjahit adegan dengan abrupt. Whereas in Capone, demi menguatkan sensasi linglung dan kebingungan seperti yang dirasakan Fonse, editing yang digunakan dengan sengaja cepat. Konstruksi adegan dengan sengaja dibuat saling tindih, dalam sense waktu. Sehingga perspektif menjadi gak jelas. Akan sering kita temui sekuen yang ternyata cuma ada di kepala Fonse. Namun sekuen tersebut ditampilkan begitu elaborate, dalam artian, kita melihat adegan seorang tokoh di suatu tempat, melakukan hal privet, tanpa ada Fonse di sana. Yang berarti gak masuk-akal adegan tersebut bisa terpikirkan oleh Fonse. Itu bukan kenangannya. Dan aneh sekali kalo dia membayangkan adegan tersebut di dalam kepalanya karena enggak ada sangkut paut langsung dengan dia. Jadi gak-jelas apakah adegan tersebut adalah real ‘kayfabe’ dari runutan cerita yang ditarik ke masa kini, atau cuma imajinasi. Film dapat jadi membingungkan seperti demikian.
 
 
 
Film ini menjadi susah untuk ditonton. Namun bukan karena dia berhasil menggambarkan dementia atapun karena membuat kita peduli terhadap tokoh kriminal sehingga melihatnya dalam cahaya simpati. Film ini sukar karena tidak tepat dalam banyak hal. Penceritaannya sering menyimpang jadi unintentionally hilarious. Tokoh utamanya dibawakan ke arah yang membuatnya nyaris jadi seperti parodi. Alur pun tidak membahas dalam, cenderung melewatkan dan tidak sampai tuntas menggali sudut yang sebenarnya menarik. The whole concept of this movie is intriguing. Jika tayang di bioskop, tentu film ini bakal jadi kandidat kuat masuk daftar kekecewaan terbesarku tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for CAPONE.

 

 
 
That’s all we have for now.
Masalah ‘harta karun’ Al Capone yang sampai sekarang masih belum ditemukan, apa kalian punya mengenai hal tersebut? Apakah itu hanya legenda? Jika tidak, kenapa kira-kira hingga kini uang berjuta-juta itu belum berhasil ditemukan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

#TEMANTAPIMENIKAH2 Review

“Unplanned moments are always better than planned ones.”
 

 
 
Namanya udah nikah, urusannya sudah bukan lagi siap atau tidak siap. Melainkan ‘harus siap’. Siap dalam mengubah kebiasaan. Siap dalam berhadapan dengan yang ‘terburuk’ dari teman hidup yang sudah dipilih. Terutama, siap untuk mengurungkan rencana hidup yang sudah disusun. Menjadi pasangan berarti kudu siap menerima kejutan-kejutan rumahtangga. Toh, lagipula hidup tidak akan pernah berjalan sesuai rencana, dan di situlah letak indah dan berharganya kehidupan.
Ayu dan Ditto belum benar-benar siap dalam menghadapi kehidupan baru mereka. Sekian lama menjadi sahabat akrab, hal menjadi sedikit kikuk pada awal-awal pernikahan mereka. Tapi kurang lebih, Ayu bahagia, karena hidup mereka tidak banyak berubah. Berkarir, jalan-jalan. Sampai datanglah karunia tak terduga itu. Ayu hamil. Kehidupan ia yang dulu, rencana-rencananya, jadi harus ditunda. Kalo enggak mau dibilang harus dikesampingkan begitu saja. Ayu stress. Terutama ia takut kehamilan ini akan mengubah total dirinya. Namun dengan berpikir demikian, ia sudah berubah. Kalo kata Ditto, Ayu sekarang berasa serigala. Keseluruhan durasi Teman tapi Menikah 2 ini akan membawa kita mengarungi hari-hari kehamilan Ayu yang dihiasi oleh pertengkarannya dengan Ditto, kecemasannya melahirkan sesar, dan manis yang nanti ia rasakan saat bingkisan karunia dari Pencipta itu hadir ke dunia.

Teman tapi Menyiksa

 
Hal terbaik dari film ini adalah penampilan akting Mawar Eva de Jongh yang memerankan Ayudia Bing Slamet. Dan ini ‘harga’nya mungkin cukup tinggi, karena film actually mengganti pemeran dari film pertamanya yang meraih lebih dari satu-juta-lima-ratus orang penonton. Film sampai melakukan reka ulang beberapa adegan di film pertama sebagai montase pembuka. Langkah ini menimbulkan tandatanya cukup besar karena biasanya jika sebuah film tergolong laku sampai mendorong hadirnya sebuah sekuel, maka pemain terutama pemain utama akan dipertahankan sebab penonton asumsinya sudah klop dengan mereka. Kalopun ada penggantian, maka akan lebih mudah mengganti semuanya misalnya dengan membuat cerita yang periodenya berjarak jauh, sehingga pergantian tersebut menjadi beralasan. Dalam kasus Mawar menggantikan Vanesha Prescilla di film kedua ini, kita tidak melihat alasan yang jelas selain pernyataan sebagian penonton yang beranggapan Vanesha masih belum matang untuk memainkan karakter Ayu di film ini. Kalo memang itu alasannya, maka menurutku Falcon ‘jahat’ juga karena film ini seharusnya jadi kesempatan Vanesha membuktikan dirinya sebagai aktor karena maaaan, Ayu di film ini punya range yang luar biasa. Dan Mawar, untungnya, berhasil capitalized this chance dengan menunjukkan permainan akting yang terasa seperti ia benar-benar melalui semua kecamuk, kegelisahan, bahkan kesenangannya menjadi seorang ibu di usia muda.
Interaksi Mawar dengan Ditto yang masih diperankan oleh Adipati Dolken juga terlihat natural, maupun saat berantem ataupun saat mode pacaran. Malah Adipati yang terlihat lebih ‘lemah’ aktingnya di sini karena dia gak ada peningkatan dari film pertama. Jika dulu Adipati dan Vanesha sama-sama lemah dalam adegan emosional seperti menangis, atau berantem, maka film itu bisa menutupi dengan lebih banyak menonjolkan interaksi unyu hubungan tanpa-status mereka. Namun kali ini, film punya cerita yang lebih menguras emosi. Dengan Mawar bermain luar biasa, momen-momen emosional sering jadi timpang. Ngeliat Ditto di film ini nangis, kita gak pernah yakin dia beneran nangis atau lagi ngelucu.
Kehamilan yang tak direncanakan merupakan sebuah situasi yang tumpah meruah oleh begitu banyak emosi. Takut, panik, bingung, excitement, dan kebahagiaan. Mawar, sebagai Ayu, akan mengalami itu semua satu persatu. Soal kehamilan yang tiba-tiba ini adalah inti dari cerita Teman tapi Menikah 2, yang harusnya bisa menjadi pembahasan yang lebih padat, lebih berisi, dan menginspirasi pasangan suami istri muda seperti Ayu dan Ditto. Film ini bersinar saat mengangkat pembahasan pentingnya suami dan istri untuk saling support, dan bagaimana mereka juga butuh space. Salah satu poin perkembangan karakter Ayu adalah awalnya dia merasa harus selalu dekat dengan Ditto sebagai usaha menunjukkan support. Namun dia akhirnya untuk tidak harus memaksakan, karena dirinya sendiri butuh penyesuaian, ada batasan yang hadir dengan kehamilan. Dan seperti halnya melahirkan; tidak bisa dengan asal ngepush.
Film mencoba mengangkat konflik dramatis dari pasangan muda yang masih punya ego masing-masing, serta bagaimana mereka masing-masing berjuang untuk damai dengan kenyataan bakal punya anak; bahwa mereka kini hanya punya waktu sembilan bulan untuk puas-puasin mengejar mimpi/cita-cita. Baik Ditto maupun Ayu pada awalnya menghitung bulan ini, untuk alasan yang berbeda. Ditto menghitung waktu kebebasan bagai orang yang lagi di penjara, sedangkan Ayu seolah menghitung mundur hari penghabisan bagi dirinya. Tidak keduanya berkesan positif bagi kelangsungan rumah tangga. Namun sembilan bulan itulah durasi pembelajaran bagi keduanya. Dua-ratus-tujuh-puluh hari adalah waktu yang cukup bagi kebanyakan orang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, dan mengarahkan diri ke mindset yang lebih positif. Kita akan melihat Ayu semakin menumbuhkan cinta kepada bayi yang bertumbuh di dalam tubuhnya. Dia membuat banyak perubahan positif, dia berolahraga dengan benar, berusaha mencari cara kehamilan yang lebih sesuai. Begitu juga dengan Ditto yang mulai seperti mengeset ulang prioritas hidupnya. Setengah paruh akhir, sekitar babak ketiga film, adalah bagian yang paling ingin kita lihat dari cerita semacam ini. Di bagian ini lebih mudah untuk peduli kepada tokoh-tokohnya, karena saat ini kita melihat mereka memilih langkah yang, ditambah pula dengan penulisan yang lebih ketat dan lebih ekslusif kepada pekerjaan mereka sebagai publik figur alias bintang televisi. Layer inilah yang seharusnya ditonjolkan film sedari awal.

Terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa beberapa hal tidak akan pernah kembali ke sedia kala. Things do change. Plans got scrapped, dan musti dipikirin lagi dari awal. Hanya ada satu yang konstan, dan itu adalah cinta. Si cinta ini bekerja secara misterius. Momen-momen yang terjadi atas nama cinta tidak bisa diprediksi. Sama seperti ketika Ayu yang tidak menyangka bakal nikah sama sahabatnya sendiri. Setiap bumil – direncanakan atau tidak – bakal merasakan kebahagiaan. Sehingga alih-alih berkubang pada hal yang harus digugurkan, nantikanlah cinta dan kedamaian yang hendak didapat sebagai gantinya.

 
Akan tetapi skenario seperti mengulur-ngulur dengan memasukkan banyak hal yang less-signifikan. Paruh awal, mungkin malah sekitar 60-70%nya diisi dengan konflik yang ngeselin. Film ini kasusnya seperti Dilan 1990 (2018) – bukan kesamaan dari cerita, melainkan sama-sama mengandung konflik, hanya saja sebagian besar konfliknya itu gak penting dan kayak diada-adain.

Teman tapi Memaksa

 
“Gak mungkinlah, kita kan baru nikah masa udah hamil” ucapan Ditto merefleksikan kualitas naskah film ini. Atau paling enggak, begitulah naskah nge-depict sifat kekanakan Ditto. Dengan narasi demikian, film seolah membuat kehamilan Ayu sebagai hal yang gak lumrah; ia berusaha membuat kehamilan ini lebih sebagai ‘kecelakaan’ ketimbang hal yang tidak direncanakan. Padahal mereka melakukan, lalu hamil, ya wajar, tapi film membuat mereka kaget karena mereka baru saja menikah. Reaksi ini terlalu dibuat-buat, bahkan untuk mereka berdua yang pasangan muda. I mean, mereka bukan di film Dua Garis Biru. Mereka menikah, komit, tahu cara kerja dan konsep kehamilan. Namun di awal-awal, oleh naskah kedua tokoh ini tampak seperti sedang main rumah-rumahan. Ini mungkin salah satunya disebabkan oleh film ingin tampil untuk penonton dengan rentang usia tiga-belas tahun ke atas, jadi pembahasannya gak boleh mature-mature amat.
Masalah yang membuat mereka berantem hanyalah masalah kecil seperti beda kebiasaan, sehingga setiap kali mereka ribut rasanya gak penting dan buang-buang waktu. Kita bisa melihat keduanya sama-sama salah. Dan ini terus berulang – formulanya selalu ribut, kemudian sadar udah emosi, kemudian maafan – dengan berbagai versi kejadian. Yang semakin mengada-ada. Di satu titik mereka berantem karena Ditti cemburu Ayu lebih perhatian kepada janinnya. See what I mean?
Dengan kejadian selemah itu, tidak pernah sekalipun mereka berantem terasa seperti hal yang mengancam. Kita tidak mengkhawatirkan mereka bakal pisah, kita tidak mencemaskan keadaan bayinya; tidak ada stake yang kuat. Film semestinya segera bermain dengan lapisan-lapisan supaya mereka berantem dengan masalah yang lebih natural dan gak repetitif. Soal kerjaan, soal posisi sebagai artis, soal duit, normal bagi film tentang pasangan muda membahas ini, dan normal juga untuk memantik sedikit dramatisasi demi film berjalan lebih menarik. Daging sesungguhnya ada di paruh akhir, namun pada poin itu sudah terlambat karena menjelang penghabisan film terasa nge-drag luar biasa.
 
 
 
It still has its charms. Ayu dan Ditto begitu lovable, kita suka melihat interaksi mereka. Dimainkan dengan sangat baik pula, terutama di bagian-bagian mereka berbagi suka. Secara narasi, film ini tidak terasa lebih besar dan signifikan dibanding film yang pertama. Padahal ceritanya sekarang mereka sudah menikah dan punya masalah dari kehadiran bayi yang tak-disangka. Masalah yang notabene lebih menguras emosi ketimbang persoalan ngungkapin cinta kepada sahabat. Mestinya ada banyak yang bisa digali, tapi film mengulur dengan menghadirkan konflik-konflik yang kurang menggigit sebagai penghantar.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for #TEMANTAPIMENIKAH2.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kenapa sih menurut kalian menjadi ibu atau orangtua itu begitu membahagiakan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2019


 
Selamat tahun baru, semuanya!
Sebelum kita digempur oleh reboot-reboot yang bakal bikin ribet saat menyebutkan nama judul karena harus menyertainya dengan angka tahun pembuatan (“Film A yang mana, yang jadul apa yang 90an?” / “Bukan, A yang 2020”), dihebohkan oleh superhero-superhero lokal, dan dikecewakan oleh lebih sering lagi animasi-animasi yang di-live action-kan tahun ini, aku ingin ngasih tahu bahwa sebenarnya 2019 adalah tahun yang cukup mengesankan dalam bahasan film.
Bagai mesin yang panasnya lama, 2019 dimulai dengan relatif adem ayem. Rapor film cawu I My Dirt Sheet aja boringnya luar biasa. Enggak ada yang spesial. Menjelang pertengahan tahun, baru mulai kelihatan riak-riaknya. Akhir tahun buatku yang paling mengejutkan. Emosi benar-benar diaduk oleh banyaknya film-film bagus, dengan film-film jelek dan film produk gak mau kalah. Genre-genre film mainstream hadir dengan berisi. Film-film art tampil dengan merakyat. Secara objektif, sebaran yang bagus enggak banyak peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Film-film yang dapat skor 8 masih sedikit, meski 7 lumayan banyak. Namun ada lebih banyak film yang menyenangkan, menghibur; ada lebih banyak film yang dapat .5 yang berarti aku dapat begitu banyak favorit untuk bisa dimasukkan ke daftar yang bias dan subjektif kali ini.
Untuk membuat semakin menggelinjang, tahun ini aku mengupdate rule dalam menyusun daftar top-8. Bukan hanya sudah ditonton (bioskop atau bukan), sekarang aku hanya akan memasukkan film-film yang sudah kureview saja – hanya film-film yang masuk di rapor film cawu I,II,III (rapor ini kupos empat bulan sekali, look out for these). Tahun 2019 aku telah mereview 136 film. Aku gak nonton semua film yang beredar, tentu saja, aku bukan manusia super haha. Dan itu bukan jumlah yang banyak – apalagi 15 di antaranya sudah masuk daftar Kekecewaan Bioskop 2019. Jadi untuk top list kali ini, aku harus membatasi honorable mentions supaya persaingan semakin ketat dan daftarnya bisa lebih seru lagi.
 

HONORABLE MENTIONS

  • 27 Steps of May (film Indonesia terbaik; salah satu yang terpenting sepanjang tahun 2019)
  • Crawl (horor efektif manusia melawan buaya, tanpa ada twist dan political agenda ribet di antara mereka)
  • Dolemite is My Name (biografi komedi panutan buat yang mau nekat bikin film sendiri)
  • Imperfect (semua cewek harus nonton ini!)
  • Instant Family (drama keluarga menyenangkan yang mengingatkan cinta tak melulu datang dari rantai DNA)
  • Knives Out (misteri pembunuhan dengan twist unik dan bobot keren soal masalah ketakutan terhadap imigran)
  • Marriage Story (observasi proses perceraian yang sebenar-benarnya, dan ini melibatkan proses hukum dan perasaan yang sama getirnya)
  • My Dad is a Heel Wrestler (dengan indah dan penuh hati mengajarkan kepada anak-anak semua pekerjaan sama pentingnya)
  • Pretty Boys (kalo film ini mengajarkan semua pekerjaan sama pentingnya kepada orang dewasa; personal look pria terhadap dunia televisi)
  • The Farewell (terenyuh sekali nonton drama komedi yang berurusan dengan cara mengucapkan selamat tinggal ini)
  • The Irishman (kita tahu ini salah satu terbaik Scorsese saat begitu terinvest kepada tokoh utama yang kriminal)
  • The Peanut Butter Falcon (tontonan yang menghangatkan jiwa membuat mikir dua kali sebelum meremehkan mimpi orang lain)
  • Toy Story 4 (mainan-mainan ini sekali lagi akan bermain dengan perasaan kita)
  • Us (Jordan Peele kembali menakuti kita dengan komentar sosial, kali ini tentang privilege)
  • Weathering with You (salah satu pencapaian visual terindah di 2019; cara terbaik ketika bicara tentang cuaca!)

Special shout out buat Avengers: Endgame yang ulasan filmnya mendapat jumlah view terbanyak di My Dirt Sheet tahun 2019.
 
 
Top-8 yang bakalan kalian baca di bawah, aku menganggap semua sudah menonton filmnya, jadi spoiler, beware. Penjelasannya pun bisa jadi bakal sangat subjektif, jadi jangan tanya lagi kenapa jika ada satu film enggak ada, atau soal urutan yang ‘bagusan yang nomor 6 deh dibanding yang nomor 2’. Bagi yang pengen membaca penilaian lengkap filmnya yang lebih objektif, kalian bisa klik masing-masing judul film untuk membuka halaman ulasan film tersebut.
 
 

8. JOKER

Director: Todd Phillips
Stars: Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy
MPAA: R for strong bloody violence, disturbing behavior, language and brief sexual images
IMDB Ratings: 8.7/10
“I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it’s a fucking comedy.”
Saking manusiawi dan mengenanya emosi yang dikeluarkan, Joker menjadi film yang paling polarizing di tahun 2019. Beberapa penonton menyukainya, beberapa lagi takut akan kenyataan film ini banyak yang suka.
Joker adalah orang jahat. Dia membunuhi orang. Dia menginginkan dunia kacau. Film ini dengan hebatnya menempatkan kita di sepatu Joker, sampai kita merasa kasihan kepadanya. Inilah yang membedakan Joker dengan Taxi Drivernya Scorsese. Joker actually memang meminta kita melihat dari sudut pandang si jahat. Ada satu adegan Joker membunuh teman yang mengonfrontasi dirinya perihal pistol, dan kita malah bersimpati pada Joker karena segaris dengan sudut pandangnya bahwa ia dijebak oleh si teman. Padahal tidak. Joker adalah orang sakit di dunia yang sakit.
Buatku ini adalah tanda dari film yang bagus. Berbahaya, ya, tapi hanya bagi penonton yang tidak cakap dan salah mengenali. Selain sudut pandang, film ini juga punya banyak adegan bernada sureal yang semakin menguatkan humanisasi gelap dari manusia yang seluruh hidupnya adalah tragedi.
My Favorite Scene:
Setiap kali Joker menari, di momen-momen emosi yang sebenarnya enggak cocok untuk dipakai berjoged.

 
 
 
 
 

7. READY OR NOT

Director: Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
Stars: Samara Weaving, Adam Brody, Mark O’Brien, Henry Czerny
MPAA: R for violence, bloody images, language throughout, and some drug use
IMDB Ratings: 6.9/10
“Maybe we deserve to burn.”
This is a pure blast! Ingat sejak dua tahun belakangan narasi wanita kuat dan pemberdayaan wanita atas tradisi jadi tren? Yah, film ini menceritakan itu dengan lebih simpel tapi tetap dramatis dan penuh gaya.
Grace bukan hanya melawan orang-orang yang memburunya. Grace melawan tradisi. Berusaha survive dari gagasan dirinya harus sesuai – memenuhi syarat – masuk ke satu ‘keluarga’. Sebagai horor film ini bekerja dengan baik karena punya aksi-aksi berdarah sebagai wujud dari simbol betapa mengerikannya pengaruh sebuah tradisi atau kepercayaan. Sebagai komedi, film ini bekerja terbaik, karena sajiannya yang menghibur penuh oleh kelucuan. Bahkan adegan orang terbunuh saja dibuat lucu.
Samara Weaving benar-benar jagoan di sini. Aku benar-benar suka pada penampilannya, dan itu mungkin karena bibirnya mengingatkanku kepada… ah sudahlah.
My Favorite Scene:
Gaun pengantin yang dikenakan Grace actually adalah karakter tersembunyi. Gaun itu menyimbolkan sesuatu yang tadinya harus ia kenakan, menjadi sesuatu yang ia kendalikan. Adegan favoritku adalah ketika Grace merobek gaunnya, menggunakannya sebagai bagian dari survival.
http://www.youtube.com/watch?v=6JDugxhF_cg
 
 
 
 

6. THE NIGHTINGALE

Director: Jennifer Kent
Stars: Aisling Franciosi, Baykali Ganambarr, Sam Claflin 
MPAA: R for strong violent and disturbing content including rape, language throughout, and brief sexuality
IMDB Ratings: 7.3/10
“”It’s the law”, cried the thief.”
Jennifer Kent baru membuat dua film. Yang pertama adalah The Babadook yang jadi film juara satu-ku di tahun 2014. Dan yang satunya lagi adalah thriller sejarah Australia ini. Film ini kayak Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, tapi lebih ganas, menakutkan, dan bikin kita lebih geram kepada kemanusiaan. Ada begitu banyak adegan kekerasan disturbing karena melibatkan anak kecil dan wanita, sampai-sampai tokoh-tokoh film ini – penampilan mereka seperti udah bukan akting – semuanya diberikan konseling kejiwaan.
Gagasan yang ingin diangkat oleh sutradara Jennifer Kent tidak sesederhana kejahatan akan mendapat balasan. Tidak, karena kekerasan yang akan berbuntut pada kekerasan hanya akan membentuk lingkaran setan kehancuran manusia yang akan terus bergulir. Kent justru mengangkat pertanyaan ‘bagaimana jika ada cara lain di luar balas dendam’. Dan terutama, ‘masihkah kemanusiaan itu akan ada di dunia yang penuh dengan kekerasan’.
Film ini keras, susah untuk disaksikan karena kontennya yang no holds barred, namun merupakan salah satu film terpenting bagi siapapun yang ingin merasakan kemanusiaan.
My Favorite Scene:
Revenge story semacam ini biasanya selalu menampilkan adegan pembunuhan pertama oleh tokoh utama sebagai sesuatu yang amat pahit, berkesan, menyayat, powerful. Dalam film ini, first kill tokohnya sangat luar biasa. Sayang, aku gak nemu potongan klipnya – sepertinya karena terlalu graphic.
 
 
 
 
 

5. FORD V FERRARI

Director: James Mangold
Stars: Matt Damon, Christian Bale, Josh Lucas, Noah Jupe
MPAA: PG-13 for some language and peril
IMDB Ratings: 8.3/10
“We’re lighter, we’re faster, and if that don’t work, we’re nastier.”
Kita gak suka balap? Who cares! Film adalah soal manusia-manusianya dan Ford v Ferrari menghadirkan dua tokoh yang begitu dekat. Bukan karena mereka tokoh asli yang pernah hidup di bawah mentari yang sama dengan kita. Melainkan karena mereka juga berjuang supaya bisa mengerjakan hal yang mereka cintai. Sama ,kan, kayak kita.
Kalian gak suka biografi karena berat dan lambat? Who CARES! Film ini akan membuktikan bahwa biografi enggak melulu berkaitan dengan cerita berat. Malahan film ini akan sangat crowd-pleaser. Percakapannya enggak pernah membosankan, karena penampilan yang total dari para pemain. Humornya juga lucu dan gak receh. Dramanya gak lebay melainkan penuh emosi yang terasa fully-earned, gak dibuat-buat.
Dan balap mobilnya? Man, gak suka balap juga pasti akan duduk sambil jingkrak-jingkrak deh melihat serunya balapan dan konflik yang melatarbelakanginya.
My Favorite Scene:
Sepanjang film aku mencubit-cubit lenganku karena geram melihat si tokoh korporat penjilat. Aku kasian sama si Miles yang disuruh mengalah tapi kemudian malah ditipu oleh timnya sendiri. Tapi film memasukkan sekilas, hanya beberapa detik adegan Miles kontak mata dengan bos Ferrari, lawan tandingnya. Dan ini buatku adalah adegan yang sangat powerful.
http://www.youtube.com/watch?v=E1Uvet8wbmA
 
 
 
 
 

4. ONCE UPON A TIME… IN HOLLYWOOD 

Director: Quentin Tarantino
Stars: Leonardo DiCaprio, Brad Pitt, Margot Robbie, Al Pacino
MPAA: R for language, some strong graphic violence, drug use, and sexual references
IMDB Ratings: 7.8/10
“It’s the actor’s job to strive for one hundred percent effectiveness. Naturally, we never succeed, but it’s the pursuit..that’s meaningful.”
Aku selalu ‘lemah’ sama film-film yang menunjukkan tentang pembuatan dan bisnis film, dan karya ke-9 dari Quentin Tarantino ini buatku too much to handle. Aku menonton ini hampir-hampir pingsan kelelahan karena menahan diri begitu kuat untuk enggak loncat-loncat menahan girang. That’s how good this movie is for me.
Kata orang, ini adalah surat cinta Tarantino buat cinema. Dan memang sedemikian kuat passion sang sutradara terasa. Ia mereka ulang salah satu hari gelap dalam sejarah Hollywood, dan memasukkan fantasi sendiri. Lewat dua tokoh – bintang film dan stuntman-nya – kita meliha cerita pahlawan di tanah rekayasa yang begitu menyentuh dan lumayan pahit. Meskipun overall film ini amat sangat kocak.
Film ini nyaris tiga jam, tapi aku gak masalah menyaksikannya berulang kali. Malahan katanya tahun ini bakal rilis versi uncut empat jam; AAAAA, I CAN’T WAIT!
My Favorite Scene:
Adegan dengan flamethrower di akhir adalah yang langsung terpikir kalo mengingat film ini. Tapi actually ada banyaaak adegan keren sepanjang durasi. Dan kalo dipikir-pikir lagi, buatku adegan Rick Dalton berusaha tampil prima berakting saat hatinya ragu dan insecure-lah yang mencuri piala sebagai adegan paling favoritku di film ini
http://www.youtube.com/watch?v=E6nGlUGnfQ4
 
 
 
 
 

3. PARASITE

Director: Bong Joon Ho
Stars: Kang-ho Song, Sun-kyun Lee, Yeo-jeong Jo, So-dam Park
MPAA: R for language, some violence and sexual content
IMDB Ratings: 8.6/10
“If I had all this I would be kinder.”
Dalam Parasite ada adegan hujan deras, di rumah orang kaya yang letaknya agak tinggi di atas hujan itu tampak begitu indah, romantis, sejuk. Namun di rumah orang miskin yang letaknya nyaris di bawah tanah, hujan itu menenggelamkan, ganas. Dingin.
Kejeniusan dari Parasite adalah mengontraskan dunia kaya dan dunia miskin, membuat tokoh-tokohnya berjuang merebut kekayaan dengan cara yang hanya Bong Joon-Ho yang bisa. Tone yang kontras dihandle dengan baik sebagai perbandingan yang satir. Tidak satupun tokohnya yang satu-dimensi berkat dialog-dialog yang ditulis dengan cerdas. Film juga berani dengan visualnya. Menangani segala macam kaya-dan-miskin dalam lingkupan semua indera kita, termasuk bau – sesuatu yang jarang sekali dilakukan dengan berhasil oleh film-film lain.
My Favorite Scene: Semakin ke belakang, Parasite menjadi semakin fantastical. Ada satu adegan yang sekilas kayak konyol, namun sarat oleh pesan dan komentar sosial yang subtil. Yakni saat dua keluarga miskin berkelahi mati-matian berebut tempat di rumah orang kaya, aku suka sekali ini.
http://www.youtube.com/watch?v=jI_Gx5B46UE
 
 
 
 
 

2. THE LIGHTHOUSE

Director: Robert Eggers
Stars: Robert Pattinson, Willem Dafoe, Valeriia Karaman
MPAA: R for sexual content, nudity, violence, disturbing images, and some language
IMDB Ratings: 8.0/10
“He believed that there was some enchantment in the light. Went mad, he did.”
Film terbaik yang kutonton sepanjang 2019. Pencapaian teknisnya luar biasa. Penggunaan warna serta rasio layarnya amat mendukung rasa terkukung yang ingin disampaikan. Editingnya sangat precise, sampai-sampai kita seolah merasakan langsung kegilaan ikutan merayap ke dalam diri kita. Ini adalah film tentang dua orang yang perlahan menjadi gila berada di pulau terpencil berdua saja untuk waktu yang lama. Dan semakin mereka tumbuh rasa curiga, rasa takut, merasa semuanya enggak beres, kita juga turut merasa begitu. Pada satu titik kita enggak tahu lagi mana yang benar.
Meskipun dialognya aneh dan ‘kuno’, namun tidak sekalipun film ini terdengar kaku. Yang menjadi bukti film ini punya arahan dan penampilan akting yang meyakinkan dan sangat kuat. Horor yang dihadirkan di sini adalah horor psikologis. Ada misteri yang berjalan di dalam dunia film, tapi kita bahkan enggak yakin dari mana kengerian dan misteri itu berasal.
Ini adalah jenis film yang jika ditonton lima orang, maka lima-limanya akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Ada begitu banyak adegan simbol dan kiasan yang memiliki makna berbeda tergantung masing-masing yang menonton. Di atas semua itu, film juga gak sok penting dan sok ribet, dia masih bisa bercanda dengan fart jokes di sana-sini. Aku menunggu-nunggu karya Robert Eggers berikutnya setelah The Witch yang jadi runner-up Top-8 ku di 2016, dan tahun ini dia kembali dengan tak mengecewakan.
My Favorite Scene:
Serius, aku tanya. Kapan lagi. Kita melihat adegan. Robert Pattinson dimarahi Willem Dafoe. Karena gak suka lobster yang ia masak?
http://www.youtube.com/watch?v=WBZwUdJFnhw
 
 
 
 
 
Kita beruntung masih bisa menyaksikan film dari master-master kayak Tarantino, Joon-Ho, bahkan Scorsese. Kita juga dapat comeback dari director-director muda yang ‘baru’ menghasilkan karya kedua, and it’s amazing! Seperti Jordan Peele yang debut Get Out dan sekarang Us – walaupun keduanya masih berkutat di ‘honorable mentions’/. Ada Jennifer Kent yang pernah jadi juaraku, dan sekarang muncul kembali masuk di Top-8 posisi 6. Ada Robert Eggers yang kembali menempati runner up. Sebenarnya tahun ini ada lagi yang comeback, yakni Ari Aster, yang tahun kemarin di posisi puncak dengan film debutnya; Hereditary. Bisakah Ari Aster dapat juara berturut-turut?
Atau mungkin tahun ini giliran film Indonesia? Dua sutradara master kita juga bersaing dengan film masing-masing. 2019 juga diisi oleh banyak film dari sutradara-sutradara debutan, apakah salah satu dari mereka yang bakal menempati posisi pertama dan mengukir sejarah My Dirt Sheet?
Jawabannya setelah iklan meme Joker dengan lagu WWE dariku berikut ini!
 


 
 
 
Oke, film nomor satuku di 2019 adalah:
 

1. FIGHTING WITH MY FAMILY

Director: Stephen Merchant
Stars: Florence Pugh, Vince Vaughn, Nick Frost, Dwayne Johnson
MPAA: PG-13 for crude and sexual material, language throughout, some violence and drug content
IMDB Ratings: 7.1/10
“Dick me dead, and bury me pregnant”
Jika kalian bisa nonton dan suka film balap, padahal gak suka balap, maka you’d definitely watch and like this movie too.
Dan aku bukan sekadar bias hanya karena suka gulat dan actually memfavoritkan Paige sebagai pegulat wanita revolusioner yang jadi tokoh utama cerita ini. Film bertema gulat secara mengejutkan ada tiga di tahun 2019. Tiga-tiganya bagus. Dua di antaranya nongkrong di Honorable Mentions. Fighting with My Family adalah yang paling grounded dan ringan dan menyentuh. Film ini digarap oleh Stephen Merchant, yang juga baru dua kali nyutradarain film panjang, dan dia bukan penggemar gulat. Namun dia berhasil menangkap esensi cerita dan punya gagasan sendiri yang sangat beresonansi dengan penonton.
ini adalah film crowdpleaser dengan formula yang sama kayak film-film tinju ataupun film tentang kompetisi. Tapi penampilan dan naskahnya tergarap dengan luar biasa baik. It is really inspiring. Drama keluarga dan konflik-konfliknya akan sangat menyentuh. Bayangkan kita dan saudara kita punya mimpi yang sama, tapi hanya satu dari kita yang dapat kesempatan – dan kita menyadari kita justru dapat kesempatan itu dari saudara yang kita ‘kalahkan’ tadi. Inilah yang dibicarakan oleh film ini. Bukan glorifikasi dunia gulat, melainkan fokus pada hubungan manusia yang semuanya punya keinginan untuk menang namun dunia simpelnya tidak butuh setiap orang untuk jadi pemenang.
Aku nonton ini sudah berulang kali. Tapi aku gak sanggup untuk melihat adegan Paige ‘diabaikan’ oleh abangnya karena cemburu saat mereka bertanding di arena keluarga. Sebegitu mengenanya emosi di adegan tersebut. Aku benar-benar gak nyangka film yang bahkan gak masuk di bioskop Indonesia ini, yang bersetting gulat yang sering diremehin orang, bisa mengandung cerita keluarga yang semenyentuh dan sehangat ini.
My Favorite Scene:
Film ini juga sangat lucu. Meskipun kadang lucunya awkward dan gak untuk semua orang. Favoritku adalah adegan The Rock menelfon keluarga Paige untuk memberikan suatu kabar. Reaski Nick Frost sangat kocak. Dan lihatlah ekspresi Florence Pugh saat menatap The Rock, seperti menatap idola sungguhan!

 
 
 
 
 
That’s all we have for now.
2019 tidak berlanjut sebagaimana yang kuharapkan di akhir 2018. Tapi ternyata masih menyiapkan kejutan menyenangkan. Aku pun masih optimis perfilman akan semakin mendekati nilai keseimbangan antara industri mainstream dengan ideal dan ala arthouse. Yang jelas, semoga cerita-cerita bersambung yang sengaja dipotong segera enyah dari dunia sinema.
Bagaimana dengan kalian, film 2019 apa yang menjadi favorit kalian? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2020?
Share with us in the comments 
 
Oh ya, untuk merayakan satu dekade My Dirt Sheet; nantikan artikel khusus Champion of Champions: My Dirt Sheet Top Movie of a Decade (2010-2019) segera!!
Remember, in life there are winners.
And there are…

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

DOLEMITE IS MY NAME Review

“Just do it”
 

 
 
Kalian yang pernah atau mungkin sering dikasih saran bikin film gak usah pake nunggu, kelarin naskahmu, kumpulkan teman-teman buat jadi kru, dan langsung rekam gambarmu; film Dolemite is My Name bisa dijadikan inspirasi untuk mewujudkan karyamu.
Film yang edar di Netflix ini adalah drama biografi komedian, penyanyi rap yang jadi sensasi di Amerika 70n karena ia dengan ‘seenak udel’ mengubah diri menjadi bintang dan produser film – yang semuanya ia kerjakan sendiri. Rudy Ray Moore bukan seniman, tapi ia bisa menjadi begitu banyak karena kemauan dan kegigihan untuk mewujudkan. Rudy mencoba semuanya. Di awal film kita melihat dia memohon kepada penyiar radio supaya album R&B yang ia rekam sendiri di ruang tamu tantenya diputarkan untuk didengar banyak orang. Permintannya ditolak. Kemudian kita melihat dia ngebanyol sebagai stand up komedi. Enggak ada yang ketawa. Ketika Rudy mendengar cerita tentang “little bad motherfucker called Dolemite” dari gelandangan yang sedang ia usir dari toko, seketika dia terinspirasi. Oleh cerita dan gaya bercerita si gelandangan. Jadi Rudy mengambil jas ngejreng, bergaya ala Goodfather WWE, dan hidup dalam persona Dolemite. Gaya Rudy cukup ampuh. Dari stand up, ia lantas menjual ribuan kopi album ngerap/bercerita. Rudy ingin menjadi bintang sebagai tanda bahwa ia eksis. Goal berikutnya adalah membuat film, tampil sebagai bintang film. Supaya lebih banyak lagi orang yang menonton dan terhibur olehnya. Selanjutnya adalah sejarah, film Dolemite yang ia buat sukses menjadi salah satu cult classic, fenomena dalam skena Blaxpoitation perfilman Amerika 70an.

His name is Dolemite, and selling is his game.

 
Sebagai kulit-hitam yang sebenarnya bukan gak punya talent, Rudy adalah jack-of-all-trades; dia bisa banyak hal tapi yang ia bisa itu gak ada yang menonjol. Dia seperti Anna di awal-awal Frozen yang sepanjang hidupnya melihat ‘pintu’ di depan wajahnya. Alias selalu ditolak. Jadi Rudy menciptaka… enggak, dia mendobrak sendiri pintu untuknya. Setelah terkenal sebagai Dolemite, Rudy masih menemui kesulitan mencari investor yang mau membiayai ceritanya. Setelah filmnya jadi pun, dia susah payah mencari bioskop yang mau memutarkan filmnya. Ini relatable banget. Aku paham dan merasakan sendiri sukarnya mewujudkan karya karena kita bukan siapa-siapa. Perjuangan Rudy memang terdengar cukup heroik. Namun ada komplikasi; film yang ia usahakan tersebut bukan film baek-baek. Karya-karya Rudy sebagai Dolemite bukanlah karya yang innocent, melainkan penuh kevulgaran, kata-kata kasar. Bentuk terendah dari sebuah hiburan. Oleh karena perjuangan dan yang diperjuangkan mentok banget inilah, film Dolemite is My Name terasa sangat menarik dan menghibur.
Proses Rudy dan teman-temannya mengerjakan film dengan profesionalisme yang terbatas jadi main-course buat komedi. Mereka mengubah hotel terbengkalai menjadi studio film, tempat suting, dan segalanya. Mereka bahkan gak punya listrik dan mencuri dari bangunan sebelah. Segala source mereka sangat terbatas, tapi Rudy ini nembaknya tinggi. Ada sekuen ngumpulin orang semacam sekuen yang biasa kita lihat dalam film-film heist. Banyak kelucuan datang dari dia berusaha meyakinkan artis beneran yang ia jumpai di klub untuk menjadi sutradara. Membawa anak muda pembuat film pendek untuk jadi DOP – karena gak ada satupun gengnya Rudy yang ngerti kamera, apalagi teknik-teknik mengambil gambar. Dia juga membujuk penulis teater untuk jadi penulis naskah; yang mengantarkan kita pada adegan brainstorming kocak. Film yang mereka kerjakan secara objektif memang sangat jelek, tapi Rudy paham pada menjual apa yang ingin ia jual. Sehingga tawa kita yang tadinya mengarah kepada Rudy dan para kru, perubahan berubah menjadi tertawa bersama mereka. Kita ikut merasa puas bareng mereka.

Jika mau sesuatu, ambil. Jika bisa sesuatu, lakukan. Jangan tunggu ‘waktu yang tepat’. Jangan tunggu persetujuan dari orang, selama itu tidak berkaitan dengan mereka. Jangan takut gagal, ditolak, dan diledek; karena tentu kita akan gagal, ditolak, dan diledek habis-habis. Tapi kita belajar dengan mencoba. Dengan melakukan apa yang ingin kita lakukan. Kita yang mengejar kesempatan, mencari jalan masuk. Jadi, ya, biarlah kayak iklan sepatu: just do it!

 
Nonton kisah Dolemite ini kayak nonton The Disaster Artist (2017). Bedanya, tokoh kita diberikan backstory yang lebih dalam. Dalam Disaster Artist, ‘kemistisan’ Tommy Wisaeu dipertahankan, kita tidak pasti dia dapat duit produksi darimana, kita enggak yakin siapa dia sebenarnya – bahkan umurnya saja misterius ada di kepala berapa. Itu jadi pesona pada film; sebagai bagian dari gimmick Wiseau sebagai seniman, sebagai brand yang dijual. Sedangkan dalam Dolemite is My Name, kita actually akan mengeksplorasi Rudy sebagai seorang manusia. Kita diberi ruang supaya mengerti cara berpikirnya, apa keinginannya. Hubungan Rudy dengan salah satu ‘artis’nya akan memperlihatkan kepada kita semua hal tersebut; ketakutan, passion, dan semangat Rudy. Jadi, film ini enggak sebatas pada tentang pembuatan film jelek-yang-jadi-ngehits. Melainkan juga lebih memfokuskan kepada manusia di baliknya.

Dolemite udah nyarutin orang sebelum Samuel L. Jackson

 
Makanya penggemar Eddy Murphy niscaya akan bersorak girang. Perannya sebagai Rudy si Dolemite yang bergaya crude namun tampak sedikit flamboyan ini enggak sembarang receh. Melainkan juga bisa dramatis dan penuh kemanusiaan. Sudah lama sekali Murphy gak meranin tokoh yang komplit sepertinya. Terakhir kali aku melihatnya bermain bagus di Mr. Church (2017), tapi di sana dia agak sangat serius. Murphy yang sudah lama ‘terjebak’ mainin komedi keluarga yang receh, akhirnya dapat pelampiasan dalam film ini. Rudy cheap, ego tinggi, ngomong jorok berirama (rapnya mirip kayak pantun), tapi memiliki makna dan kepentingan. Kita bisa merasakan passion Rudy bukan ke bersikap demikian, tapi ke pekerjaan menghibur orang. Di atas senyuman personanya, kita melihat mata yang penuh rasa lapar. Selain kesuksesan, Rudy seperti pengen menelan semua kesempatan yang bisa ia dapatkan. Ya, kita bisa bilang Rudy adalah loser, tak-bertalenta, yang oportunis. Namun dia punya modal tersembunyi; dia mengerti pada apa yang ia bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan. He works on both things, tanpa mengunyah lebih banyak dari yang ia bisa telan. And oh boy, how he has a ‘big mouth’

Pelajaran lanjutan yang bisa kita ambil dari Rudy Ray Moore adalah kendati kita bergerak demi passion dan mimpi, kita mengambil tindakan tanpa perlu dengar kata dan persetujuan orang lain, kita masih tetap perlu untuk mengisi diri untuk terus melakukan perbaikan jika ingin maju. Rudy membuat film hiburan untuk kaumnya, tapi dinilai rendah kritikus – he owns every words of them, dia bahkan senang melihat filmnya dikatain kasar dan receh. Rudy gak mau bikin film yang bagus, dia hanya bikin film yang menghibur teman-temannya.

 
Durasi panjang film ini pada beberapa bagian cukup terasa. Mainly karena sikap Rudy yang berfokus kepada mengembangkan apa yang bisa ia lakukan secara eksternal. Rudy kian terasa kayak pembuat film yang kita remehkan; yang mau lebih banyak ledakan, lebih vulgar, lebih banyak hal nonsense, sementara pengembangan dan innernya tidak banyak perubahan karena Rudy sudah paham betul kemampuannya. Ada satu dua adegan ia bimbang filmnya gak laku, tapi itu semua terlihat seperti cara film memancing drama saja. Tadinya kupikir film ini lewatin kesempatan gak bahas stake lebih banyak; soal Rudy ngambil ide dari gelandangan kurasa bisa jadi konflik yang pas untuk internal Rudy – mungkin dia bisa dibuat dituntut karena mencuri ide, atau malah dia mempekerjakan gelandangan supaya bisa mengambil lebih banyak ide komedi. Namun memang elemen itu jika dimasukkan hanya akan membuat  cerita semakin terlalu Hollywood. Dan aku yakin sutradara Craig Brewer mengarah pada tone yang lebih realistis karena bagaimanapun, sefantastis apapun perjalanan Rudy, ini adalah biografi. Dan di dunia nyata, memang gelandangan gak bisa gitu aja punya suara, ataupun gelandangan gak bisa gitu aja diajak kerja. Karena sekalipun mereka jago bercerita, belum tentu mereka bisa jadi kru atau penulis naskah. Emangnya Rey Palp,..Skywalker yang scavanger tapi ternyata bisa betulin Milennium Falcon – Han Solo yang punya pesawatnya aja gak bisa.
 
 
Jadi aku menghormati pilihan yang dilakukan oleh film ini. Walaupun di pertengahan film menjadi agak lambat. Stakenya kurang nendang, melainkan menjadi agak komikal karena Rudy-nya sendiri pengen begitu. In sense, film komedi ini sangat grounded – ia juga membahas manusianya dan tidak satupun mereka tampak eksentrik. Kita mengerti kebutuhan mereka terkait persona dan jualan. Meskipun begitu, fenomena film yang dibuat oleh para tokoh kurang terasa menguar buat kita terutama yang awam sama sejarah film Blaxploitation dan baru mendengar Dolemite untuk pertama kalinya di sini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DOLEMITE IS MY NAME.

FORD V FERRARI Review

“I’d rather have an enemy I can respect than a friend I can’t trust.”
 

 
Meskipun judulnya mengusung persaingan antara dua perusahaan mobil balap, Ford v Ferrari garapan James Mangold sebenarnya bercerita tentang dua orang yang tadinya sering beradu argumen menjadi sahabat karena sama-sama cinta mobil dan balapan, berjuang melawan politik citra perusahaan – dan masalah pribadi masing-masing – dalam usaha mereka menciptakan keajaiban yakni mobil balap tercepat dan tertangguh.
Walaupun kurang tertarik sama mobil, sama balapan, aku bahkan enggak hapal nama-nama mobil biasa – apalagi mobil balap. Tapi aku tahu bahwa balap mobil seperti Formula 1 bukan semata soal ‘privilege‘ punya mobil canggih atau teknologi yang mahal. Bukan pula sekadar kehebatan orang di balik kemudinya. Melainkan sebuah strategi. Yang melibatkan kerja sama tim yang melibatkan banyak orang. Memenangkan sebuah balapan berarti kalkulasi taktis kapan harus ngegas, kapan harus masuk pit stop untuk pengisian bahan bakar atau perbaikan teknis, sampai ke kapan harus ‘menunggu’ rekan satu tim yang juga jadi lawan karena dalam balapan biasanya satu perusahaan mobil memasang dua pembalap. ‘Lingkungan’ inilah yang dibahas dalam Ford v Ferrari. Ceritanya menekankan kepada pentingnya tokoh-tokoh untuk bekerja dalam tim, dan bagaimana dalam sebuah persaingan bukan musuh atau rival dari luar saja yang perlu diperhatikan – melainkan juga lawan dari dalam. And as far as the racing goes, film ini membelalakkan mataku lantaran balapan yang mereka ikuti lebih besar daripada balap-balap yang aku tahu pake hitungan lap sebagai finish. Le Mans yang jadi panggung kompetisi cerita ini adalah balapan selama dua-puluh-empat jam nonstop!

bapak gak kebelet? / gak udah keluar kok

 
Keajaiban yang terkandung dalam Ford v Ferrari tercatat dalam sejarah, karena cerita film ini memang diangkat dari peristiwa dan orang-orang nyata. Pertengahan 1960an bukan periode gemilang untuk perusahaan mobil Amerika, Ford. Penjualan turun karena generasi muda pengen produk yang lebih menantang. Jadi mereka punya ide untuk berpartner dengan mobil balap terkemuka dari Itali, Ferrari. Penawaran kerjasama mereka dianggap merendahkan oleh Ferrari, sehingga mereka ditolak mentah-mentah. Demi harga diri, Ford mengerahkan kepercayaan kepada produk asli Amerika untuk mengalahkan Ferrari dalam permainan mereka sendiri; balapan. Enter Carroll Shelby, mantap pembalap yang actually pernah mengalahkan Ferrari di Le Mans beberapa tahun sebelumnya, kini bekerja sebagai manufacturer mobil balap lokal. Shelby yang ditugaskan membuat Ford menang atas Ferrari, memilih untuk mempercayakan kemudi kepada Ken Miles, veteran Perang Dunia 2 yang merupakan seorang jenius mobil dan mesin yang eksentrik. Shelby rela mengesampingkan perbedaannya dengan Miles karena dia tahu Miles adalah orang yang tepat. Jadi mereka berdua mulai mengerjakan proyek ini dengan segenap hati. Namun bagi Ford, ini bukan sebatas siapa yang tercepat. Melainkan tetap soal citra perusahaan. Ford bukan hanya ingin menang. Mereka menginginkan menang dengan kondisi-kondisi tertentu; kondisi yang enggak exactly segaris lurus dengan kepentingan dan kepercayaan Shelby dan Miles.
Shelby dan Miles adalah pahlawan bagi dunia otomotif. Dan setelah menyimak cerita film ini kita akan paham mengapa. Sangat mudah merelasikan diri kepada kedua tokoh ini, walaupun kita gak ngerti apa-apa tentang mobil ataupun balapan. Passion mereka terhadap dua hal tersebutlah yang begitu mengena. Ketika kita cinta mengerjakan satu hal, we’re doing good at it, tapi kita merasa terhalang untuk melakukan yang kita cintai dengan cara kita sendiri. Shelby dan, terutama Miles, mereka sungguh-sungguh berskill dewa, tapi mereka tetap kesusahan mendapat sponsor – berjuang mencari uang. Miles bahkan bersusah payah untuk menjadi pengemudi mobil balap yang ia bantu rancang untuk Ford, hanya karena menurut Ford dia bukan sosok ideal bagi ‘poster’ produk mereka. Bayangkan itu, mobil dan balapan adalah satu-satunya yang mereka enjoy kerjakan, namun mereka harus dapat ‘izin’ dulu untuk berbuat.
Ini bakal terasa dekat, karena hampir setiap bidang – setiap industri – punya ‘batasan’ seperti demikian. Misalnya, filmmaker yang merasa paling bahagia sedunia akhirat saat menggarap film, akan tetapi dia tidak bisa membuat film yang benar-benar sesuai dengan keinginan karena campur tangan studio atau ph yang menginginkan film tersebut laku, atau menang festival, atau ‘ramah’ buat banyak lingkupan penonton. Dan tidak bisa benar-benar melawan karena semua ini adalah teamwork, dan aksi yang diambil akan selalu terefleksi pada rekam jejak di industri itu sendiri. Ini menjadi pertarungan antara – bukan lagi antara kau dengan saingan dari ph sebelah – melainkan antara egomu dengan passionmu dengan tuntutan ‘bos’. Aku geram sendiri, setengah mati, melihat perlakuan eksekutif Ford kepada Miles, he deserved much more than what he actually got, dan satu-satunya alasan kenapa dia masih mau di sana karena dia begitu cinta sama mobil dan apa yang ia lakukan. Dan satu-satunya yang menahanku dari tidak manjat kursi dan menghujani wajah si Beebe di layar dengan permen karet adalah momen kecil yang terjadi di antara Miles dengan bos Ferrari.

Penghormatan dari musuh ketika kita kalah lebih berharga ketimbang jabat tangan dari teman ketika kita menang. Karena ketika orang yang secara terbuka ‘melawan’mu memberikan hormat, kita tahu itu tulus dan kita telah put up the good fight – sekalipun kalah, kita akan merasa menang. Namun ketulusan yang sama tidak bisa langsung terasa ketika mendapat selamat dari seorang teman. Karena dalam sebuah kompetisi, persaingan seringkali berasal dari dalam – the real struggle adalah mengendalikan ego dan kepentingan masing-masing untuk kemajuan bersama.

 
Mesin yang membuat film ini bekerja sesungguhnya adalah hubungan antara Shelby dan Miles. Mereka pada awalnya gak bener-bener temenan, lebih ke musuhan malah. Namun mereka berkembang menjadi lebih dari sekadar rekan kerja karena punya mutual respek. Mereka saling menghormati kemampuan masing-masing. Salah satu adegan paling menyenangkan untuk disaksikan dalam film ini adalah ketika Shelby dan Miles berantem di halaman seberang rumah Miles. Tentu saja penampilan akting menambah banyak bobot dalam menghidupkan dua karakter ini. Matt Damon benar-benar hebat memerankan Shelby sebagai protagonis yang bijaksana – tokohnya ini seperti tempat pengaduan yang menenangkan jika kita punya masalah – meskipun dia sendiri berjuang dengan keputusan yang ia ambil sebagai kerjaannya yang sekarang. Christian Bale? maaan, orang ini bunglon atau apa sih.. apa badannya terbuat dari karet sebenarnya..? Baru tahun lalu dia gendut di Vice (2018) dan sekarang dia hampir tak dapat dikenali – badannya jauh lebih kecil – sebagai Ken Miles yang beraksen Inggris. Bale sungguh menyelam ke dalam perannya. Total melebur ke dalam karakternya. Bale di sini memainkan tokoh yang meledak-ledak, tapi mau mengalah demi keluarga, apapun supaya dapat nafkah. Melihat dia harus menelan kebanggaan dan idealisme yang dulu (bahkan masih berusaha) ia pertahankan, sebenarnya cukup nyelekit. Kita peduli pada tokoh ini. Relasi Miles dengan putranya juga cukup digali untuk menambah lapisan pada karakter dan bobo emosi pada cerita. Miles adalah hero yang kita semua ingin dia mendapat keberhasilan.
Ketika kita sudah dapat protagonis dan hero yang memuaskan, film ini terasa kurang nendang jika kita merujuk pada Dramatica Theory; main character film ini mendua dan gak begitu masalah lagi di akhir. Ford, sesuai judul, adalah topik utama, cerita bergerak dalam frame kebijakan-kebijakan Ford. Di awal, perusahaan ini seperti underdog – dibandingkan dengan Ferrari. Sepertinya mustahil Ford yang biasa membuat mobil ‘rumahan’ mengalahkan Ferrari dalam balapan. Miles sempat berkelakar butuh dua ratus tahun untuk mencapai hal tersebut. Kemudian, film membuka, dan kita melihat Ford sebagai si jahat dan Miles sebagai underdog yang harus berjuang melawan korporat seraksasa Ford. Dan terus komit pada Ford sebagai evil korporat yang tak peduli pada kru, pembalap, dan pekerjanya. Cerita memang tetap bekerja sesuai konteks, tapi juga menurutku Ford di film ini jadi sedikit cartoonish.

Lagi balapan, dan bosnya pergi makan naik helikopter

 
Begitulah salah satu cara sutradara Mangold membuat cerita tetap intens. Dia mengarahkan biografi ini hampir seperti pure crowd-pleaser. Dan ini bentrokan yang seru; jarang-jarang ada kisah nyata yang berjalan seperti direka untuk kesenangan penonton. Mangold banyak menggunakan wide shot untuk memastikan kita bisa mengikuti semua yang terjadi di layar. Bahkan saat adegan balapan, dengan seringnya cut ke wajah Bale yang udah mengemudi kayak pembalap kesetanan beneran, kita masih mudah mengerti mobil mana di posisi berapa, dan tingkungan mana yang membawa ancaman bahaya. In fact, begitu mobil dan pembuatannya, hingga nanti adegan balapan, film ini melaju dengan ngebut sehingga durasinya yang dua setengah jam tidak terasa. Hanya di awal-awal saja, sepertiga film; ketika cerita masih dibebani oleh set up seputar perusahaan, film terasa lambat.
 
 
 
Kalo film ini mobil, maka akselerasinya sedikit lambat, kurang sempurna. Namun begitu film sudah mencapai titik steady, cerita persahabatan dua orang yang berjuang di dalam perusahaan yang sedang berkompetisi ini menjadi mengalir dengan lancar. Gak ada berhenti masuk pit stop. Pengemudi-pengemudi cerita, alias para pemainnya, berakting dengan luar biasa. Adegan balapannya seru dan terasa sangat berbobot lantaran drama dan karakter tergarap dengan maksimal. Salah satu biografi olahraga terbaik tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for FORD V FERRARI.

THE IRISHMAN Review

“When you get to political machines that can control a state, then you’re really into organized crime – almost.”
 

 
Untuk mendukung pernyataan bahwa film semestinya adalah sebuah cerita yang ‘intim’ alih-alih heboh dengan franchise, Martin Scorsese mempersembahkan The Irishman; film yang mengintimidasi sejagad (sinematik) raya dengan durasinya yang tiga-jam-setengah dan diisi oleh karakter-karakter yang lebih banyak berdialog ketimbang meledakkan benda.
The Irishman boleh jadi merekonstruksi mitos sejarah seperti yang dilakukan oleh Quentin Tarantino dalam Once Upon A Time in Hollywood (2019) belum lama ini. Atau mungkin saja tidak, dan dia bicara fakta. Karena yang diangkat oleh Scorsese dalam film ini adalah kejadian dalam lembar sejarah politik garismiring crime Amerika yang masih simpang siur kebenarannya. Tentang menghilangnya Jimmy Hoffa, salah satu sosok pemimpin bisnis dalam percaturan politik Amerika, yang kemudian dilaporkan dibunuh. Dalam The Irishman, peristiwa tersebut diceritakan dari sudut pandang Frank Sheeran, pensiunan perang pengantar daging steak yang berkat keahliannya dipekerjakan sebagai tukang cat rumah. Hanya saja dia tidak menggunakan cat aaupun kuas. Pengecat rumah hanyalah bahasa kode untuk pembunuh bayaran geng mafia. Sheeran dengan cepat mendapat kepercayaan, dia berteman dengan orang-orang penting di dunia mafia. Termasuk dengan Hoffa. Dan ada kemungkinan dialah yang menghabisi Hoffa yang sudah kayak kakak penjaganya dalam sebuah tugas.

darah lebih pekat daripada cat

 
Narasi berlangsung dalam periode 60 tahun, atau mungkin lebih. Kisah mengalir dari masa kini membuka ke masa lalu, sesuai penuturan Frank Sheeran. Dari Sheeran yang tua renta ke Sheeran muda – sekilas juga diperlihatkan saat dia masih di medan perang – hingga ke versi dia yang lebih dewasa. Kita akan menyaksikan berbagai versi Robert De Niro, dari yang dimudakan pakai efek komputer sampai aktor senior ini — aku tidak tahu lagi mana penampilan wujud asli si aktor mana yang efek saking mulusnya visual film ini. Dalam rentang waktu yang begitu panjang tersebut, kita diperlihatkan keparalelan antara dunia politik dengan dunia gangster alias mafia. Apakah semua ini hanya rekayasa alias cuma terjadi di dunia film atau memang begitulah nyatanya di dunia nyata Amerika, atau mungkin malah seluruh dunia – termasuk Indonesia, membuat film semakin menarik untuk disimak. Terutama oleh penyuka konspirasi. Dalam film ini, kita melihat misi Sheeran bukan sekadar melenyapkan ‘rekan’ yang mengacau maupun yang sudah tak berguna. Melainkan juga menyelundupkan senjata api yang ternyata adalah untuk memadamkan Revolusi Cuba. Pembunuhan JFK turut diperlihatkan sebagai campur-tangan dari geng mafia. Hal yang paling bikin seru lagi adalah, periode panjang narasi ini mengimplikasikan peran mafia dalam politik ini masih berlangsung hingga sekarang.

Istilah mafia merujuk kepada kelompok teroganisir yang berketerkaitan dengan pihak berwenang, dengan aktivitas apapun – termasuk yang melawan hukum – demi kepentingan pribadi dan golongan. Benar-benar mirip dengan cara kerja dunia politik, bahkan pelakunya sama-sama berjas dan berdasi. Politik dan mafia bagaikan berasal dari satu geng yang sama. Geng kejahatan berencana.

 
Dunia sindikat penuh orang ditembak di tempat, oleh film ini tidak pernah diglamorisasi. Meskipun memang cara kerja mereka didramatisasi. Karena film ingin mempersembahkan kejahatan mafia itu dalam cahaya bisnis – yang berkaitan dengan mempertegas ‘kebutuhan’ para tokoh. Mereka-mereka yang bekerja dalam dunia tersebut bergerak demi kepentingan golongan yang menjadi penguasa. Konflik datang dari tokoh-tokoh yang punya kepentingan pribadi. Sheeran, dalam hal ini, punya keluarga. Secara spesifik, hubungan Sheeran dengan putrinya ditonjolkan. Film memilih untuk lebih fokus menggali perenungan karakter ketimbang aksi. Kita memang masih akan melihat beberapa adegan aksi dan kejahatan, tapi sebagian besar waktu didedikasikan oleh film untuk karakter duduk diam di antara dialog. Mereka diberikan ruang untuk berpikir, mempertimbangkan matang-matang opsi sebelum memilih tindakan. Sehingga meskipun tempo cerita memang lambat, kita akan menemukan banyak sekali momen-momen intens. Yang datang enggak muluk-muluk, sesimpel dari diamnya mereka menemukan cara mengungguli lawan bicara. Sampai ke kita emosinya bisa berlipat ganda karena kita akan otomatis mengantisipasi pergumulan senjata.
Mengenai hal tersebut, tak bisa dipungkiri juga durasi panjang film ini benar-benar terasa panjang. Karena terkadang diisi dengan kurang maksimal. Sheeran dengan putrinya seharusnya mendapat penggalian lebih dalam dan dampak relasi mereka kepada cerita sebaiknya dibuat lebih gede lagi. Arc putri Sheeran dibuat lebih jelas dan berarti lagi. Sejujurnya, asalkan dimanfaatkan maksimal, sebenarnya durasi panjang bukan masalah. Apalagi melihat orang-orang yang bekerja di depan maupun belakang layar film ini – menghabiskan waktu seharian pun aku yakin kita semua rela. Scorsese memastikan adegan-adegan kekerasan yang ia munculkan terasa elegan, dan tidak menjatuhkan keseluruhan film menjadi crime receh yang menjual darah ataupun ledakan semata. Tidak ada koreografi kamera yang ‘istimewa’, tidak ada penggunaan cut yang berlebihan. Semuanya terasa sangat tenang, dan diarahkan dengan efisien dan tepat-guna. Dengan kata lain, kekerasan tipikal dunia mafia tidak ia jadikan jualan utama.
Final battle atau konfrontasi besar versi film ini bukanlah aksi tembak-tembakan. Bukan pula satu dialog panjang nan dramatis seputar pengakuan atau apa. Klimaks The Irishman adalah berupa sekuen pembunuhan Hoffa sepanjang nyaris setengah jam. Tidak banyak sutradara yang mampu menggabungkan banyak adegan – banyak cut – ke dalam satu sekuen panjang dengan menjaga ritme serta build-up suspens sehingga punchline atau akhir sekuen tersebut terasa sangat nendang. Perhatikan Scorsese bahkan tidak menggunakan musik latar sepanjang sekuen tersebut; membuat ketegangan semakin memuncak. Ending film ini merupakan salah satu ending terbaik tahun ini, menurutku, sebab memunculkan banyak pertanyaan dan memantik diskusi mengenai makna dan keputusan tokoh mengambil tindakan yang serupa dengan yang ia lihat di bagian pertengahan film.

bayangkan jadi putri Frank Sheeran dan harus menceritakan pekerjaan ayahnya di depan kelas saat Show & Tell.

 
Seperti ilmu padi; semakin tua semakin jadi. Scorsese menunjukkan kematangan luar biasa lewat penggarapannya. Film-film Scorsese selalu berenergi. Namun tak seperti Goodfellas (1990) – sama-sama biografi tokoh dunia mafia – yang menggebu, The Irishman tersaji lebih subtil. Film barunya ini lebih tertarik untuk membedah karakter-karakter. Scorsese seolah ingin membaca pikiran dari setiap tokoh yang diambil dari orang-orang nyata tersebut. Melihat sang sutradara bekerja sama dengan tiga aktor legenda dalam mencapai tujuan itu sungguh kesempatan yang berharga.
Mari mulai dengan Al Pacino. Ini adalah kali pertama Scorsese kerja bareng dirinya. Dan maaan, Scorsese memberikan Al Pacino peran yang sempurna sebagai Jimmy Hoffa yang meledak-ledak. Jadi keseruan tersendiri melihat Al Pacino teriak nunjuk-nunjuk muka orang. Berkebalikan dengan Joe Pesci yang juga klop banget memerankan Russel Bufalino. Pesci yang literally ditarik Scorsese dari bangku pensiun memainkan ekspresi yang begitu dingin dari seorang petinggi mafia yang terhormat, bersahabat, tapi sekaligus penuh taktik dan pertimbangan. Menatap tokoh ini aku sampai gak berani berkedip karena aku jadi begitu concern dengan pertimbangannya. Last but not least, De Niro yang penuh pengendalian diri memerankan Frank Sheeran yang beraksi dinamis. Setiap kali dia muncul di layar, duduk semeja dengan para mafia, perhatian kita akan otomatis mengarah padanya, karena suksesnya film menulis karakter ini sehingga kita pengen tahu bagaimana keadaan atau dialog itu mempengaruhinya. Kalimat-kalimat yang ia ucapkan terdengar bukan hanya seperti improvisasi aktor, melainkan juga seperti improvisasi si Sheeran itu sendiri karena banyak yang ia pertaruhkan setiap kali bersama teman-temannya yang mafia. Personally, adegan Sheeran makan roti bareng Russel di akhir, yang circled back ke mereka semeja makan pertama kali, cukup mengharukan buatku.
 
 
 
Menyaksikan film yang berusaha membuat kita terinvest kepada karakter-karakternya terasa sangat menyegarkan, dan sungguh berharga. Karena begitu banyak film yang menuntut kita memperhatikan easter eggs, koneksi kepada film terdahulu, menahan diri untuk bertanya karena penjelasan akan hadir di film berikutnya. Yang dihadirkan oleh Martin Scorsese ini akan mengingatkan kepada kita seperti apa sih sinema itu sebenarnya. Film ini diarahkan dan diedit dengan luar biasa cakap, dimainkan dengan masterfully meyakinkan, sehingga durasi yang panjangnya bisa dipakai untuk melancong dari Bandung ke Jakarta naik kereta tidak terasa membosankan. Seperti tokoh-tokohnya, drama crime ini terasa matang dan dewasa.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE IRISHMAN.

SUSI SUSANTI: LOVE ALL Review

“The battles that count aren’t the ones for gold medals.”
 

 
Ibarat pertandingan bulu tangkis, Susi Susanti: Love All dimulai dengan servis yang baik dan menghangatkan untuk kemudian meng-smash hati kita dengan momen-momen kecamuk yang menghantar kepada kebanggaan.
Film biografi biasanya mengangkat perjalanan hidup tokoh pahlawan, jadi kenapa tidak mengangkat cerita perjuangan atlet di medan pertandingan menghadapi ‘lawan’ demi tanah air. It’s about time. Indonesia lagi butuh-butuhnya cerita inspiratif yang mengusung kebanggaan tanah air di waktu yang penuh keraguan dan ketakutan seperti sekarang ini. Sebelumnya di tahun ini kita sudah dapat film 6,9 Detik tentang kisah hidup atlet panjat tebing yang dijululi Spider-Woman oleh negara luar. Sutradara Sim F melanjutkan estafet dengan menghadirkan kisah si Balerina Susi Susanti. Kejelian sang sutradara di debut film panjangnya ini adalah dia tidak hanya mempertontonkan kembali kekuatan wanita dalam sebuah kompetisi olahraga, melainkan juga menghidangkan kepada kita kekuatan wanita yang menyebut dirinya seorang Indonesia. Susi Susanti: Love All tidak menyempitkan diri sebagai biografi atlet olahraga, ia juga adalah drama kebangsaan di dalam denyut nadinya.
Kita akan diperlihatkan kehidupan remaja Susi di tahun 80an. Adegan pembuka film ini dengan sangat fantastis mengeset banyak hal penting sekaligus. Tentang latar keluarga Susi yang keturunan Cina (sekarang, disebut Tionghoa). Tentang ayah Susi yang mantan atlet bulu tangkis – yang menjadi akar kegemarannya terhadap olahraga raket ini. Tentang sifat Susi yang tidak suka kalah. Jika suka bermain bulu tangkis berarti Susi adalah wanita yang tomboi, maka film bahkan membangun sisi feminisme Susi dengan menunjukkan dia sebagai balerina; secara ‘rendah hati’ film membangun informasi kepada kita menuju split kemenangan Susi yang melegenda. Adegan pembuka itu ditutup dengan Susi yang berpakaian balerina memenangkan pertandingan bulu tangkis melawan juara; sungguh empowering!

The Badassminton Ballerina!

 
Menyaksikan lembar-lembar perjuangan Susi berlatih – dari zero menjadi hero – mengingatkan aku kepada film Fighting with My Family (2019) karena sama seperti tokoh Paige dalam film tersebut, Susi juga berasal dari keluarga pemain olahraga yang ia sukai (dalam kasus ini bulu tangkis) dan ia juga ‘melangkahi’ abangnya dalam proses menjadi atlet. Drama keluarga tidak dieksplorasi terlalu banyak di dalam Susi Susanti, tetapi formula perjalanan-dalam Susi terasa serupa. Bukan hanya dengan Fighting with My Family, melainkan juga dengan beberapa film olahraga lain. Dan ini bukanlah masalah. Tentu saja sah jika cerita mengikuti formula yang sudah terbukti bekerja efektif, dan Susi Susanti: Love All dalam kapasitasnya sebagai cerita olahraga, paham cara tampil sebagai drama olahraga yang dramatis. ia bukan sekadar mengikuti formula, ia menambahkan bumbu-bumbu manis yang membuat ceritanya unik.
Namun sebenarnya aspek paling hangat dan menarik pada film ini adalah hubungan antara Susi dengan ayahnya. Percakapan antara kedua tokoh ini patut diganjar medali emas. Film menunjukkan betapa ayahnya percaya kepada Susi dan betapa bagi Susi dukungan ayahnya begitu penting lewat dialog yang tidak menye-menye, melainkan lewat personifikasi beberapa sifat yang dimainkan dengan kontinu, dengan penambahan intensitas di setiap waktunya. Dari percakapan dengan ayahnya, Susi memahami makna filosofis ‘love all’ yang menjadi istilah skor kosong-kosong di dalam bulu tangkis. Semua itu akan sangat berarti bagi pertumbuhan karakter Susi yang tadinya merasa harus selalu memenangkan setiap pertandingan. Terlebih karena ada landasan rintangan bagi Susi. Orang hebat di sana bukan Susi seorang. Teman satu pelatihannya juga hebat-hebat. Mereka semua harus bermain baik demi mengharumkan nama bangsa, dan ini pada beberapa kesempatan menjadi beban bagi Susi. Pada awalnya Susi menganggap janji membawa medali adalah sebuah hutang, tetapi sepanjang durasi – setelah sekian banyak pertandingan dan lawan yang ia hadapi barulah akhirnya ia memahami maksud tagihan janji yang diminta ayahnya – yang semuanya kembali kepada makna ‘love all’.

Bukti kemenangan bukan hanya semata medali emas. Sesungguhnya ada yang lebih penting daripada berjuang demi mendapatkan piala ataupun penghargaan. Yakni berjuang dengan menunjukkan kebanggaan dan dedikasi. Karena yang terpenting bukanlah hal menangnya. Bukanlah soal sukses atau tidak mengalahkan musuh. Melainkan untuk siapa kita berjuang. Siapa yang berada bersama kita di akhir perjuangan – di akhir masa sulit

 
Film juga membahas hubungan antara Susi dengan Alan Budikusuma yang kita sudah tahu mereka bakal menjadi pasangan. Hubungan romansa ini sebagian besar difungsikan untuk menaikkan stake di paruh kedua (dan juga karena cerita butuh sekuens romansa) – prestasi mereka menurun. Namun tidak ada yang terasa istimewa pada bagian ini, selain mungkin fakta menarik bahwa sebelum ini Dion Wiyoko dan Laura Basuki pernah juga bermain sebagai pasangan di era kerusuhan pada Terbang: Menembus Langit (2018)

level rasisku adalah menganggap semua yang sipit pasti jago bermain bulu tangkis

 
Di bagian inilah naskah mulai kelihatan bingung menjalin dua elemen cerita. Kita sudah hampir di penghujung – ada pertandingan besar di Barcelona, dan cerita seolah membuatnya sebagai klimaks. Tapi ada yang kurang dari pertandingan tersebut. Tidak ada gunanya menunjukkan kepada kita pertandingan yang sudah kita tahu hasilnya, harus ada konflik personal yang tercermin dan diperlihatkan, lebih dari penggunaan narasi voice-over. Pertandingan bersejarah itu jadi terasa datar. Film tampaknya menyadari ini – atau mungkin kita yang baru tersadar – dan cerita pun masuk ke apa yang sepertinya adalah match point. Film butuh untuk mencetak angka emosi terakhir, dan ia menggunakan elemen cerita satu lagi yang tadi serasa sudah ditinggalkan.
Cerita perjuangan Susi Susanti dibayangi oleh situasi politik Indonesia sebelum era reformasi. Negara demokrasi yang masih trauma dengan insiden ‘PKI’, negara yang masih rawan bagi penduduk keturunan yang dianggap sebagai komunis. Warga keturunan harus punya surat untuk diakui sebagai warga Indonesia, masalahnya adalah mengurus surat tersebut ribetnya bukan main. Bahkan atlet yang berjuang membela negara, tetap susah untuk mendapat pengakuan. Film ini mengangkat masalah tersebut di dalam narasi, bahwa banyak warga Indonesia lebih memilih bersembunyi sebagai warga negara lain. Susi dan keluarga termasuk yang mendapat masalah ini. Kita melihat sikap film ini terhadap situasi tersebut ketika ada dialog yang menyebut Indonesia bukan komunis yang harus sama dengan latar adegan senam yang pesertanya mengenakan seragam. Kita juga akan melihat gagasan film ini terhadap keadaan tersebut. Film mengangkat masalah ini di awal cerita, untuk kemudian sempat absen di tengah ketika fokus pada elemen olahraga, dan barulah di akhir masalah ini diangkat kembali.
Struktur cerita seharusnya bisa diperbaiki lagi sehingga narasi tidak terasa seperti episode. Film tampaknya ingin runut sesuai timeline sejarah, padahal semestinya tidak berdosa amat jika – memakai istilah candaan Sarwendah kepada Susi; ‘dinakalin’ sedikit urutan kejadiannya. Masalah kewarganegaraan mestinya bisa ditambahkan di pertandingan besar Susi sehingga emosinya lebih terasa utuh. Elemen olahraga dan elemen kebangsaan dalam film ini seharusnya bisa lebih mulus dilebur ketimbang diceritakan bergantian.
 
 
Penampilan Laura Basuki benar-benar jago di sini. Gestur dan gaya main Susy Susanti ia mainkan dengan mirip. Dia tidak tampak canggung bermain bulu tangkis. Ada intensitas yang ia hadirkan ke dalam perannya. Terutama pada bagian-bagian yang lebih menuntutnya untuk bermain emosional. Lewat Basuki – lewat decit-decit sepatunya di lapangan, lewat keluhnya saat pergelangan cedera, lewat semu wajahnya ketika diajak jalan oleh Alan, film menunjukkan suka duka kehidupan seorang remaja yang menjadi atlet untuk negara yang bahkan belum memastikan posisi dirinya di sana. Susi Susanti: Love All adalah tontonan wajib di iklim negara saat ini untuk kalian yang mulai merasa bete, bosan, atau takut kepada negara.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SUSI SUSANTI: LOVE ALL

 

FIGHTING WITH MY FAMILY Review

“Everyone wants to win”

 

 

 

Enggak, aku bukannya bias karena aku penggemar gulat. Tapi Fighting with My Family yang diproduseri oleh Stephen Merchant bareng The Rock dan WWE Studios ini memang bagus karena nawarin drama keluarga yang beneran menyentuh, dari dunia yang tak semua orang tahu.

 

Pro-wrestling memang masih salah satu media entertainment yang sering diremehkan. Mungkin malah tabu di Indonesia, yang melarang penayangannya semenjak kasus anak kecil meninggal menirukan adegan-adegan smekdon. Maka aku maklum kenapa film tentang kehidupan keluarga pegulat kayak gini enggak ditayangin di bioskop kita. Siapa sih yang masih nonton gulat jaman sekarang? Film actually sangat self-aware. Pertanyaan tersebut beneran digambarkan oleh film ini dalam sebuah adegan kocak ketika keluarga pegulat makan malam bareng keluarga pacar anak mereka. Bahkan di antara sesama penggemar wrestling saja, Fighting with My Family awalnya sempat dinyinyirin. Kenapa malah Paige yang dibikinin biografinya, kenapa bukan Stone Cold, atau Undertaker, John Cena, atau The Rock sekalian?  Aku percaya setiap orang punya cerita, dan setiap cerita pantas untuk difilmkan. Asalkan ceritanya genuine loh ya, bukan cerita hidup dikarang-karang kayak orang yang titisan atau bisa melihat setan. Terlalu cepat? Rasanya tidak juga, karena pengaruh Paige di WWE sendiri cukup besar; dia juara cewek termuda dalam sejarah (umur 21 tahun), dia mencetuskan gerakan Women’s Revolution yang membuat posisi pegulat cewek lebih baik dan lebih signifikan, dia masuk nominasi Unyu op the Year My Dirt Sheet FOUR, dan unfortunately kini Paige sudah menggantung sepatu bootnya; dia tidak bisa bergulat lagi karena cedera yang ia koleksi sebagai efek samping dari bergulat sejak kecil. Itu sebabnya waktu sudah bukan masalah, cerita Paige beserta keluarganya kalo bukan golongan unik, maka aku gak tau lagi makna unik itu seperti apa.

Ketika Paige kecil berantem rebutan remote tv dengan abangnya, ayah mereka bukannya melerai tapi malah mengoreksi pitingan yang mereka lakukan. Keluarga Paige memang hidup dari bisnis gulat, ayahnya adalah legenda lokal di kota mereka di Norwich, Inggris. Begitu pula ibunya; nama asli Paige, Saraya, sebenarnya adalah nama-alias si ibu di dalam ring gulat. Orangtua macam apa hahaha… Keluarga ini mengelola promosi gulat independen, Paige sedari kecil sudah nyemplung ke dalam dunia ini, dan begitulah cintanya terhadap wrestling tumbuh. Paige berlatih gulat bersama abangnya, mereka melatih anak-anak di sekitar sana, mereka melakukan pertunjukan di aula. Paige dan abangnya, Zack, ingin mewujudkan mimpi mereka menjadi pegulat sehebat The Rock. Jadi mereka mendaftar untuk try-out di WWE, perusahaan yang udah kayak hollywood-nya dunia gulat-hiburan. Mereka berhasil terpanggil. Namun hanya Paige seorang yang beneran diterima untuk tampil di acara WWE.

I didn’t realize it back then, tapi sekarang, aku bangga pernah menyaksikan secara live Paige bertanding gulat

 

Hati dan jiwa film ini terletak pada hubungan antara Paige dengan abangnya tersebut. Motivasi mereka sama-sama besar. Film berhasil melandaskan betapa eratnya relasi antara kedua tokoh. Mereka hampir tak terpisahkan. Berlatih bersama. Bertanding bersama. Mereka adalah bebuyutan di dalam ring, namun di belakang panggung, mereka adalah the best of friends. Enggak gampang hidup dengan pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Bagi keluarga Paige, berjuang di atas ring itu sejatinya adalah perjuangan mereka di dunia nyata. Dan hubungan Paige dengan Zack si abang, merefleksikan bagaimana hubungan satu keluarga ini secara utuh. Set-up cerita benar-benar membuat kita terinvest. Keluarga akhirnya menjadi stake cerita; Zack harus menghidupi istri dan anaknya, sebagaimana Paige juga harus sukses untuk membantu keluarganya. Makanya, saat mimpi kedua tokoh ini tidak berjalan sesuai rencana, konflik yang menyusul terasa kuat merasuk ke dalam diri kita yang melihat mulai tercipta kerenggangan di antara mereka. Dan kerenggangan itu terasa lebih jauh dari jarak yang tercipta antara Paige harus pindah ke Amerika, tempat markas WWE, dengan abangnya di Inggris.

Cerita dengan bijaknya tidak sekadar membuat rasa cemburu sebagai api konflik. Malahan, cemburunya terasa sangat kompleks. Bayangkan dua orang yang saling dukung dan bantu karena sama besarnya menginginkan hal yang sama, tapi hanya satu yang bisa mendapatkan. Paige kehilangan semangat juang di pelatihan WWE yang sangat menempa fisik, sementara abangnya melawan kecemburuan tersebut dengan berusaha mempercayai dia tidak terpilih lantaran sang adik lebih baik dari dirinya. Bagi Zack, tentu saja itu sangat pahit. Naskah sukses berat memparalelkan kedua tokoh ini, kita melihat mereka menempuh turunan tajam dalam hidup. Penulisan Paige dan Zack ini adalah contoh yang brilian dari yang disebut KONFLIK NILAI KARAKTER. Menurut John Truby dalam bukunya, The Anatomy of Story, konflik yang menarik itu dapat terjadi dengan cara mengestablish tujuan yang sama untuk dicapai tokoh-tokohnya, tapi buat para tokoh tersebut punya cara atau pandangan yang berbeda untuk mencapainya. Paige dan Zack punya tujuan yang sama; sukses sebagai pro-wrestler, mereka terluka oleh wound yang sama saat mereka terpisah. yang menyebabkan mereka menciptakan ‘kebohongan’ yang berbeda. Menghasilkan konflik yang luar biasa terasa ke hati kita. Paige’s lie – kebenaran palsu yang ia percaya – adalah ia tidak bisa sukses tanpa abangnya. Sedangkan lie-nya Zack adalah dia bukan apa-apa karena tidak mampu keterima di WWE.

These two needs to work things out. Harus saling dibentrokkan supaya mereka melihat di luar kebohongan personal yang mereka ciptakan masing-masing. Dan momen ketika mereka berbenturan di akhir babak kedua itulah yang menjadi momen terhebat dalam film ini. Kita semua tahu gulat itu gak benar-benar memukul lawan. Film menggunakan ini untuk memulai momen benturan antara kedua tokoh. Paige dan Zack bertanding kembali dan apa yang dilakukan Zack akan membuat kita membenci dan sedih melihatnya di saat bersamaan. Permulaan yang sempurna dari penyelesaian yang menyusul kemudian. Aku sungguh-sungguh tak menyangka bakal disuguhin adegan keluarga, kakak-adik, yang begitu heartfelt dalam film tentang pegulat!

Siapapun yang merasa dirinya manusia, pasti pernah menginginkan sesuatu, so intense you think you’d die without it. Sekiranya inilah yang ingin disampaikan oleh sutradara Stephen Merchant. Bahwa semua orang menginginkan hal yang sama dengan kita. Ingin ‘menang’. Namun bukan berarti itu menjadikan dunia sebagai ring kompetisi. Karena seperti dalam gulat, ketika kau kalah, kau membuat orang lain tampak hebat, tidak berarti kau kurang penting. Kita semua adalah pemenang by default, tergantung kita yang menunjukkan seberapa menang kita, bahkan dalam kekalahan.

 

Hal unik lain yang bisa kita dapatkan dari film yang sebenarnya punya formula standar cerita tentang orang yang akhirnya menjadi ‘juara’ adalah kita bisa mendapat pengetahuan yang lebih dalam tentang bagaimana WWE bekerja. Mendengar alasan dari pihak WWE dalam cerita soal kenapa Zack tidak terpilih benar-benar membuat mataku terbuka. Bahwa setiap kita punya peran sesuai dengan siapa diri kita sebenarnya. Film juga berhasil membuat WWE tidak tampak munafik. Cerita tidak mangkir dari kenyataan dari company ini sudah tidak seperti dulu, bahwa mereka tentu saja mementingkan brand-image. Mereka meng-hire sebagian talent memang dari tampang dan lekuk tubuh semata. Namun itu semua punya alasan yang berkaitan dengan tema ‘semua orang ingin menang di perjuangan hidupnya masing-masing’. Dan untuk percaya bahwa perjuangan yang satu lebih tidak penting dari yang lain, adalah hal yang salah kaprah. Paige belajar pelajaran yang sangat berharga ini lewat rekan-rekan seperjuangan yang tadinya ia remehkan.

baru umur 26 dan sudah ada film tentang keberhasilan hidupnya, aku?

 

Dengan pengawasan ketat dari The Rock, skrip film ini berhasil berkembang dengan baik, tanpa mengurangi nilai penulisan dan strukturnya sendiri. Lumayan ada banyak alterasi yang dilakukan oleh naskah terhadap kejadian asli, yang bakal jadi makanan empuk buat nitpick-nitpick penggemar gulat. Tapi aku tidak punya waktu untuk nitpick saat sedang sibuk tertawa-tawa oleh dialog-dialog dan penampilan akting yang kocak sekali. Keluarga Paige lucunya udah keterlaluan. Nick Frost sangat hebat memainkan Ricky Knight, ayah Paige yang lumayan ‘bar-bar’ tapi fair dan sangat menyayangi keluarganya. Saat Frost mengucapkan dialog gulat adalah agama, penyelamat mereka, aku percaya. Sudah seperti Ricky beneran yang mengucapkan. Hampir semua adegan yang ada Ricky, kita akan tertawa. Vince Vaughn juga tampil dalam film ini, sebagai pelatih Paige di WWE. He also funny. Perannya akan sedikit mengingatkan kita saat dia jadi Sersan di Hacksaw Ridge (2016), meski di sini sedikit lebih ‘pg-13’. The Rock porsinya sedikit, tapi cukup mencuri perhatian. Meskipun dia tidak satu frame dengan banyak lawan mainnya, interaksinya dengan tokoh si Vaughn sangat minimal hingga malah tampak awkward, tapi tidak pernah jadi persoalan besar.

Pujianku terutama tertambat kepada Florence Pugh yang berperan sebagai Paige. Umm, ralat, tepatnya sebagai Saraya Knight, karena Paige adalah tokoh yang ‘dimainkan’ Saraya di atas ring WWE, dan film ini lebih tentang personal Saraya yang harus memainkan Paige. Ada banyak emosi yang harus Pugh kenai. Ada elemen fish out of water saat Saraya baru nyampe ke Amerika, dia harus menyesuaikan diri dengan disiplin kerja WWE, juga kehidupan sosial di sana. Pugh actually harus bergulat beneran, yang berarti ada usaha fisik juga. Film beneran merekaulang debut Paige di televisi sebagai final dari perjalanan Saraya. Bagi yang udah tahu sejarahnya, yang menonton pertandingan asli debut Paige melawan AJ Lee di tv, sekuen final film ini mungkin bisa terasa sedikit rush. Kepandaian Paige terasa tercut-cut, tidak begitu dominan. Adegan ini juga bisa tampak sebagai usaha sia-sia mendramatisir pertandingan WWE yang semua juga udah tahu hasilnya sudah ditentukan. Namun kupikir, semua itu adalah pilihan kreatif yang diambil oleh film. Karena sekuen tersebut bukan untuk menunjukkan cara Paige jadi juara mengalahkan AJ Lee, melainkan untuk memperlihatkan Saraya akhirnya berhasil mengalahkan kebohongan personal yang ia percaya, ia membanting demam panggungnya keras-keras, di momen tersebut Saraya sudah percaya dia terpilih untuk memegang sabuk bukan karena abang yang membuat ia jadi terlihat lebih baik.

 

 

Meminjam catchphrasenya The Rock; “It doesn’t matter” apakah kalian penggemar gulat atau tidak. Film ini dibuat untuk setiap orang. Karena kita adalah tokoh utama dalam cerita hidup masing-masing. Kita punya keinginan. Kita harus belajar memahami apa yang kita butuhkan untuk mencapai keinginan tersebut. Dan also, kita juga punya keluarga. Film yang berdasarkan dokumenter keluarga Knight The Wrestlers: Fighting with My Family (2012) ini memang tidak spesial dari segi arahan, ini adalah film crowdpleaser dengan formula yang sama kayak film-film tinju ataupun film tentang kompetisi. Tapi penampilan dan naskahnya tergarap dengan luar biasa baik. It is really inspiring. Drama keluarga dan konflik-konfliknya akan sangat menyentuh. Dan siapa tahu, kalian jadi tertarik sama dunia gulat setelah nonton film ini. Karena seperti yang selalu kubilang pada ulasan-ulasan kategori wrestling, gulat itu sama aja kayak film. Hanya pake spandeks.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for FIGHTING WITH MY FAMILY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pendapat kalian tentang gulat? Apakah kalian setuju dengan perkataan film ini bahwa manusia ada yang tercipta sebagai bintang, ada yang tidak, dan tidak seharusnya kita berjuang meninggalkan bagian kita?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

GREEN BOOK Review

“Get to know someone who doesn’t come from your social class; this is how you see the world”

 

 

Green Book, cerita berdasarkan kisah nyata, dihadirkan dengan gaya yang ringan rupanya bertindak seperti lampu hijau; membiarkan potret-potret intoleran tahun 60an itu masuk ke tengah-tengah masyarakat yang lebih luas. Supaya semakin banyak orang dapat berkaca, memperbaiki cara pandang diri terhadap sempitnya pandang dan pergaulan. Mungkin dirinya bukan pendekatan yang serius, namun kita bisa beragumen mungkin saja ini adalah salah satu cara yang efektif untuk mengobati kerasisan dan menyembuhkan prasangka.

Judul film ini merujuk kepada istilah brosur travel perjalanan yang dikeluarkan khusus untuk pelancong penduduk kulit hitam sehingga mereka bisa mencari tempat-tempat singgah yang ‘bersahabat’, yang mengizinkan mereka masuk dan mendapat pelayanan, selama bepergian jauh. Zaman dulu boleh jadi belum ada aplikasi yang menyajikan info hotel dan penginapan yang lengkap sampai ke harga-harganya seperti sekarang, jadi kita mungkin tak-begitu mengerti urgensi ataupun uniknya si brosur itu sendiri. Tapi kita tidak bisa mengatakan hal yang sama terhadap perilaku-perilaku dan prasangka yang ingin ditunjukkan sebagian besar orang kepada minoritas, zaman dulu ama zaman sekarang – masih relevan, walaupun dalam kadar terang-terangan yang berbeda. Green Book ingin memperlihatkan kembali masalah serius yang dihadapi oleh orang kulit hitam, dan untuk itu ia menjelma menjadi bentuk-bentuk penceritaan yang sudah acap kita lihat. Film ini adalah film road trip, film dua tokoh yang begitu kontras yang nantinya menyadari bahwa mereka sebenarnya ‘sama’, ini juga adalah film musik, sekaligus film natal.

Orang bilang, salah satu penyebab perjalanan menjadi menyenangkan adalah siapa yang menemani kita dalam perjalanan tersebut. Dan yang benar-benar bikin Green Book menjadi perjalanan yang menyenangkan ialah karena kita ditemani oleh dua penampilan yang sama-sama luar biasa.

 

Memutar balikkan peran kulit putih dengan kulit hitam pada era di mana si kulit hitam tidak sepantasnya memakai kamar kecil yang sama dengan kulit putih, Green Book sudah menjanjikan dinamika yang menarik. Tokoh utama kita adalah Tony “Lip” Vallelonga. Sekali lagi Viggo Mortensen membuktikan kepandaiannya melebur ke dalam tokoh yang ia perankan. Tiga-puluh pound bobot yang ia tambahkan ke tubuhnya itu belum apa-apa dibandingkan bagaimana dia membuat Tony yang orang italia itu menjadi seperti tokoh kartun berjalan. Dia melipat pizza satu loyang dan memakannya bulat-bulat begitu saja sebagai snack tengah malam, dia selalu ngobrol dengan ceplas-ceplos dengan aksen yang kental, dia mukulin orang-orang kalo diperlukan. Bukan sembarang saja dia dijuluki Tony Lip. Mulut adalah ‘senjata utama’ Tony. Sebagian besar adegannya adalah jika tidak sedang makan, dia pasti mengoceh. Dia membanggakan diri sebagai bullshitter ulung; bahkan dirinya sendiri percaya pada bualan yang ia lontarkan. Tony mencari nafkah dengan keunggulannya tersebut, “sebagai public-relation” katanya. Tony lantas mendapat kerjaan menyupiri seorang pemusik bernama Don Shirley. Seorang yang ternyata diperankan oleh Mahershala Ali, seorang yang ternyata ras kulit hitam; yang dipandang sebelah mata oleh Tony dan keluarganya. Beberapa adegan sebelum Tony bertemu Shirley, kita melihat Tony membuang gelas bekas air minum dua tukang reparasi westafel yang datang ke rumahnya. Dan sekarang, demi uang, Tony harus belajar menahan diri, dia harus meyakinkan dirinya sendiri untuk belajar menghormati Shirley sampai konser keliling si pemusik beres sebelum malam natal.

Seperti melihat Fat Tony, mafioso di The Simpsons, bagi-bagikan permen

 

Cerita yang disajikan memang gampang tertebak. Kita akan melihat gimana sikap Tony melihat perlakuan orang-orang kepada Shirley, mulai dari mereka yang mengundang Shirley untuk nampil – Shirley dipuja namun tetap didiskreditkan sebagai manusia di belakang panggung, hingga ke ‘orang-orang’ Shirley sendiri. Kita sudah bisa memastikan Tony dan Shirley yang kaku akan menjadi dekat satu sama lain. Namun interaksi antara kedua tokoh inilah yang membuat film begitu menyenangkan. Bagaimana mereka saling masuk ke dalam pikiran masing-masing. Bagaimana mereka saling mempengaruhi. Adegan paling kocak buatku adalah ketika Tony membujuk Shirley untuk memakan ayam KFC. Tony terkejut sekali mendengar Shirley enggak suka makan ayam goreng, “ini kan makanan kalian” herannya mengimplikasikan sudut pandang sempitnya terhadap ras. Kita melihat Shirley, yang sepanjang hidupnya terjebak di antara bangga-dengan-ras dan tidak-mau-distereotipekan, ‘malu-malu kucing’ untuk mencoba ayam yang diacungkan Tony tepat di bawah batang hidungnya. Seolah belum cukup dinamis, adegan itu berlangsung di jalanan, selagi Tony mengemudi. Sebagai komedi, adegan tersebut juga punya punchline yang sangat kocak. Aku tantang kalian untuk tidak tertawa menyaksikannya hhihi

Sekilas memang tampak seperti pilihan yang aneh. Kenapa film memilih karakter yang lebih komikal sebagai tokoh utama. Bukankah menjadikan Shirley (later, Tony lebih nyaman menyebut tokoh ini dengan “Doc” saja) yang punya konflik inner yang lebih dalem, yang mesti berhadapan dengan situasi yang mengecilkan sebagai minoritas, seketika akan membuat cerita menjadi lebih mengundang simpati? Karena film ingin langsung mendudukkan kita di posisi ‘pelaku’; supir, seperti Tony, as to speak. Bahwa kondisi penuh prejudice itu, kita yang menciptakan. Kritikus film NBC, Jenni Miller menuliskan bahwa film ini dibuat oleh white people untuk white people. Tulisan tersebut diniatkan sebagai kritikan olehnya, namun bagiku; aku setuju tapi bukan sebagai kritikan. Toh film cukup bijak memperlihatkan dua tokoh kita bergantian menyelamatkan ‘nyawa’ masing-masing. Melainkan sebagai pencapaian yang didapatkan oleh film lewat keputusan yang diambil.

Karena menurutku, salah satu tema besar yang diangkat oleh film ini adalah tentang bagaimana pandangan yang kita punya bisa muncul dari diri kita. Bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh Tony kepada Shirley yang menjadi kunci dalam permasalahan ini, “Ada terlalu banyak kesepian di dunia karena mereka enggak berani untuk memulai duluan” Kalimat tersebut dengan tepat menyimpulkan arc Shirley dan Tony, makanya bagian ending film ini terasa begitu menyentuh. Bahwa terkadang kita tidak berani untuk bergerak sendiri; perhatikan betapa gembira Shirley main musik bersama ‘orang-orang’nya di sebuah klub jazz, dan sebagai kontrasnya perhatikan betapa kosongnya yang dirasakan Tony di tengah-tengah perayaan natal bersama keluarga besarnya.  Kita akan segera sampai pada satu pemahaman bahwa sikap rasis yang dimiliki Tony tidak murni berasal dari kebencian. Dan mungkin, film ini ingin menyampaikan, begitu juga yang terjadi di luar sana. Perasaan kolektif kita sebagai bagian dari society yang membuat kita mengambil tindakan, mengambil sisi yang sebenarnya sama sekali tidak kita rasakan. Buat Shirley, ini berarti kesendirian – karena dia juga ikut ‘terwarna’ oleh pandangan putih-putih di sekitarnya, yang membuat dia enggan nyampur dengan warnanya sendiri.

Kadang memang cuma itulah yang kita perlukan. Meluaskan pergaulan. Berkumpul selalu dengan orang-orang yang sama, yang pandangannya itu-itu melulu, membatasi jarak pandang. Kita butuh untuk memperluasnya. Berinteraksi dengan pihak yang kita sangka berseberangan. Keputusan Tony mengambil pekerjaan dari Shirley tak pelak adalah keputusan paling penting yang pernah ia ambil selama hidupnya, sebab ia membuka jalan bagi dirinya untuk berhubungan langsung dengan yang selama ini ia sangka ia benci.

 

 

 

Dalam setiap kesempatan, film akan menghadiahi kita dengan kepuasan. Memberikan harapan bahwa kemanusiaan itu bukan fiksi – dua orang di mobil yang bersedia membuka hati dan saling menghormati akan membuat keindahan di dunia. Dan dua orang ini bener ada di dunia. Penampilan kedua aktornya sama-sama pantas untuk diganjar Oscar. Gaya komedi, bahkan penulisan yang kadang nyaris menyerempet garis ‘kartun’ sama sekali tidak mengurangi bobot dan nilai-nilai yang diusung oleh cerita. Kalo kekurangan, aku pribadi sebenarnya kurang setuju dengan banyaknya trope-trope yang dipakai, namun film memang menjadikan crowd-pleaser sebagai garis finishnya. Dan mereka berhasil. Jadi yang bisa kubilang cuma, resikonya terbayar lunas.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for GREEN BOOK.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Coba tengok lingkaran sosial kita masing-masing. Ada gak sih kita gaul ama yang bukan dari kalangan kita? Berapa banyak teman kita yang lebih tua dari kita?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

BOHEMIAN RHAPSODY Review

“I feel like an outsider when I’m with my family”

 

 

Is this the real life?

Is this just fantasy?

Bohemian Rhapsody menjanjikan biografi seorang, kalo enggak mau disebut sebuah band, legenda musik rock. Namun kita hanya akan mengapung di atas rangkaian demi rangkaian perjalanan karya dan karir mereka, alih-alih dibawa menyelami kisahnya.

 

Terlahir dengan gigi ekstra ke dalam keluarga Parsi India, Farrokh dalam film Bohemian Rhapsody, hanya bangga dengan bawaan lahir yang pertama kali disebut. Menurutnya, empat gigi tambahan itu membantu menambah range vokal, senjata rahasia di balik kemampuan bernyanyi yang tak bisa disamai oleh siapapun di dunia (termasuk oleh Rami Malek, pemerannya sendiri). Dia dengan cepat mengganti nama menjadi Freddie, dan kemudian menjelang hari-hari terkenalnya, melengkapinya dengan Mercury. Menyempurnakan personanya yang mercurial; one-of-a-kind nan tak bisa ditebak.

Bahkan sebelum jadi anak band saja, keflamboyanan Freddie sudah mulai terlihat. Ini menjadi poin kunci cerita. Film tidak menerangkan dengan jelas apakah sikap dan gaya narsistiknya itu natural atau sebagai bentuk perlawanan kepada keluarganya yang konservatif, tapi yang jelas dalam lingkaran keluarga biologisnya sendiri, Freddie tidak merasa berada di tempat yang benar. Dia menemukan teman-teman band sebagai pelipur kesendirian, di mana dia merasa dirinya dibutuhkan. Queen sebagai band luar biasa dengan lagu-lagu yang susah untuk dikategorikan genrenya merupakan cerminan dari perjuangan Freddie itu sendiri, yang didukung oleh rekan-rekan anggota lainnya; keluarganya, kata Freddie. Tapi, Freddie adalah outsider seumur hidup. Cerita banyak mengeksplorasi kehidupan seksual penyanyi ini; di mana relasi asmaranya dengan seorang sahabat cewek berakhir setelah dugaan Freddie seorang homoseksual terjawab. Menjadi susah bagi Freddie untuk keep up with his families ketika keluarga bandnya tersebut beneran punya keluarga masing-masing di balik panggung, sesuatu yang tak bisa ia punya. Tapi paling enggak, dalam dua-puluh-menit konser amal terbesar tahun 1985 itu, Freddie si outsider menjadi juara dunia.

He will rock you!

 

Definitely, kisah Freddie Mercury memang punya potensi untuk diangkat menjadi biopic lumayan tragis yang penuh oleh nilai-nilai kekeluargaan. Tapi anehnya, elemen tersebut justru kurang mendapat perhatian, karena film ingin melingkupi banyak hal sekaligus. Mereka ingin mengajak kita bernostalgia juga, bernyanyi bersama lagu-lagu Queen, melihat pembuatannya. Tidak akan cukup waktu untuk ini semua. Jadi, aku mengerti kenapa film ini mendapat skor yang lumayan rendah, meski setiap orang yang kutanyai mengaku sangat ingin menontonnya. Sebagai sebuah film, Bohemian Rhapsody hanya tampil setengah-setengah, tidak ada elemen yang digali dengan sempurna. Formula yang digunakan begitu standar, dan ini ironis mengingat ada adegan di mana Freddie memaksa produser musik untuk berani memasarkan lagu mereka, karena Queen begitu unik dan menolak diseragamkan dengan formula yang ada.

Tapi, tahu enggak sih, kita gak harus nyesuaiin selera sama objektifitas para kritikus. Kita boleh aja suka sama yang gak bagus. Maksudku, aku sendiri setuju Bohemian Rhapsody bukanlah sebuah film yang hebat. Tapi hal yang paling membuatku kecewa saat menonton ini adalah bahwa kita gak boleh ikutan bernyanyi di dalam bioskop. Aku menikmati perjalanan Queen dalam merekam lagu, bagaimana mereka actually memasarkan lagu Bohemian Rhapsody yang basically enam-menit campuran kata-kata aneh, dan sekuen penutup di konser Live Aid itu, aku harus mencengkeram lengan kursiku erat-erat dalam upaya menahan diri untuk enggak berdiri dan nyanyi di atas kursi. Bisa melihat sesuatu secara kritis, bukan berarti menghalangi kita untuk menikmati sesuatu tersebut secara subjekif.

Tidak ada cela dalam penampilan Rami Malek sebagai Freddie Mercury. Jika pada film ini, Freddie berkata dia merasa sudah memenuhi takdirnya sebagai penampil, penyanyi di hadapan jutaan orang. Maka, Malek dalam film ini seperti sudah garis tangannya untuk memainkan sosok Freddie Mercury. Dan dia telah memenuhi panggilan tersebut. Seperti, dia terlahir di dunia demi film ini. Biar kita-kita yang lahir setelah jaman Queen tahu, seperti apa sosok legendaris ini baik keseharian maupun gaya panggungnya. Segala gestur, pembawaan, sikap, kecuali dialog sih ya – soalnya kadang penulisannya terdengar cheesy – fantastis sekali, kita percaya dia adalah Freddie.

kalo kalian mencari tontonan untuk halloween, kalian salah orang – freddie nya bedaaaa

 

 

Jatuh dalam perangkap biopik yang merasa perlu menceritakan sesuatu sedari awal, penceritaan film ini gak lebih menarik daripada Chrisye (2017). Buat Bohemian, ini bikin geregetan karena kita tahu ada banyak dari Freddie Mercury yang menarik untuk diangkat dan dijelajahi. Kita penasaran dari mana ia mendapat inspirasi penampilannya di atas panggung. Kita penasaran bagaimana ilham menulis lagu datang. Tapi film tidak memberikan ini. Proses kreatif Queen dalam menghasilkan lagu-lagu unik hanya diperlihatkan sebatas montase. Pun hanya ada beberapa adegan Freddie mengulik lirik di atas kertas. Sedari awal bikin band, mereka sudah terdengar seperti Queen; udah jago. Tapi mungkin juga memang begitu hebatnya Queen; mungkin mereka bisa menciptakan koreo, aksi panggung, konsep dengan sekali duduk. Mungkin Freddie memang jenius sehingga ide lagu Bohemian Rhapsody bisa muncul begitu saja di dalam kepalanya.

Kita tidak melihat cukup banyak siapa dirinya sebelum nge-band. Status keluarganya sebagai imigran tidak dikaitkan ke dalam konteks outsider yang menjadi identitas Freddie. Kita juga tidak diperkenalkan dengan betul-betul kepada anggota band yang lain. Mereka hanya ada di sana, dan meskipun sering beradu argumen dengan Freddie – mereka kadang terlihat terganggu bahkan menyindir penampilan Freddie – kita tidak pernah dibawa masuk ke dalam kepala ataupun melihat ‘masalah’ mereka. Hubungan Freddie dengan ayah dan ibunya adalah elemen yang penting, pengaruh mereka terasa dalam pembentukan karakter Freddie. Tapi pembahasan tentang mereka sedikit sekali. Mereka cuma muncul ketika naskah membutuhkan suntikan drama. Kita tidak pernah melihat bagaimana keluarga mereka ‘bekerja’ sebenarnya.

Bahagialah bagi yang punya orangtua yang mau mengerti pilihan kita, tanpa membandingkan dengan apa yang menurut mereka lebih baik. Karena Freddie tidak. Jangankan pilihan pasangan, main musik saja sudah dianggap masa depan suram oleh ayahnya. Tapi terkadang, tak ada salahnya kita mendengar nasihat mereka. Like, jika dalam anjuran mereka tidak ada yang ‘salah’ kenapa tidak coba diikuti. Dengan cara kita sendiri sekalipun.

 

 

Melihat dari konteks yang sudah dilandaskan pada adegan pembuka, sebenarnya film bekerja dengan pas di dalam konteksnya. Dan nantinya akan maju sesuai dengan pembelajaran yang dialami oleh Freddie. Awalnya kita melihat cerita ini dari sudut pandang dirinya di mana dialah spotlightnya. Perbedaan pov antara saat dia menuju panggung di awal dengan menjelang akhir film menunjukkan perubahan karakter Freddie. Di awal, dia melihat dirinya sebagai satu orang, dia enggak perhatian penuh ama sekitar. Makanya kita enggak diperkenalkan benar-benar dengan anggota band yang lain, sebab Freddie hanya ‘melihat’ mereka. Segala proses rekaman, manggung, masalah percintaan, kita melihatnya dari mata Freddie sebagai ‘one-man person’. Barulah setelah dia menyadari apa itu keluarga, saat dia benar-benar melihat dirinya bagian dari keluarga, sudut pandang dia dalam cerita ini berubah, dan kita merasakannya.

 

 

 

 

Jadi, film ini bisa saja mengeksplorasi lebih banyak dan detil tentang dunia Freddie Mercury, tapi itu akan mengeluarkannya dari roda konteks. Karena ini adalah tentang Freddie si outsider yang tadinya memandang dirinya sebagai terpisah, menjadi bagian dari keluarga. Menurutku, film secara spesifik sengaja mengambil penceritaan seperti demikian. Sengaja meninggalkan banyak hal penting yang ingin kita ketahui – serius deh, kita tidak beli tiket buat ngeliat penampilan musik ‘boongan’, kita dateng buat pengen tahu cerita humanis seorang legenda di balik layar – karena mereka ingin menempatkan kita di dalam kepala Freddie Mercury. Mungkin tidak sesuai dengan tontonan yang kita harapkan, tapi ini sajian “easy come, easy go” yang enak dinikmati.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for BOHEMIAN RHAPSODY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa lagu Queen favorit kalian? Apakah menurut kalian film ini juara atau hanya “another one bites the dust”?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017