PATERSON Review

“Repeat daily: Today I’m thankful”

 

patersonposter_1200_1788_81_s

 

Tidak ada yang extraordinary dari kehidupan Paterson. Dia tinggal di rumah sederhana bersama istrinya yang cantik. Rutinitas hidupnya biasa saja. Paterson bangun pagi, sarapan, berjalan kaki ke tempat kerjanya, yaitu garase besar tempat bis kota sudah siap menunggu dikemudikan olehnya. Sorenya Paterson pulang, betulin kotak surat yang miring di depan rumah, ngobrol dengan istrinya. Malam hari dia membawa anjing piaraan mereka jalan-jalan. Paterson nyempetin minum di bar. Ngobrol dengan bartender. Dan pulang untuk tidur. Begitu terus setiap hari dengan kegiatan yang sama. Paterson adalah orang biasa dengan kerjaan yang biasa. Namun di samping kerjaan yang memang harus dilakukan for living, sesungguhnya orang-orang punya ‘kerjaan’ lain. Entah itu ikutan turnamen catur, belajar lagu country, atau dalam kasus Paterson; menulis puisi. Dalam perjalanan ke maupun dari tempat kerja, Paterson merangkai kata di dalam benaknya. Kata-kata yang untuk kemudian dia tuliskan ke dalam buku catatan, karena Paterson sesungguhnya juga adalah seorang penulis puisi.

Segala KE-‘BIASA’-AN tersebutlah yang justru membuat film ini jadi LUAR BIASA. Maksudku, it was really surprising gimana cerita kehidupan where there’s nothing to it seperti ini bisa lulus sebagai film. Aku enggak kebayang loh gimana susahnya penulis merangkap sutradara Jim Jarmusch memperjuangkan film ini. Aku sedari taun lalu ke mana-mana pitching cerita tentang kompor yang berbicara dan sampe sekarang masih ditanggepin dengan eye-rolling. I mean, cerita aneh aja gak ada jaminan bisa nemu jodoh. And now we have ordinary story with nothing happened. Gimana ngepitchnya coba?

Writer: “Oke ehem.. jadi, ini adalah film tentang seorang pengemudi bus yang menulis puisi..”
Studio: (tanpa mengangkat kepala, pura-pura baca sinopsis padahal lagi ngeliatin foto ibu guru si Amel di hp) “Terus? Terus? Ntar bomnya di mana?”
Writer: “anu.. enggak ada bom.. dia cuma nulis puisi.”
Studio: “Enggak ada bom? Teroris ada? Kebut-kebutan di jalan harus ada sih ya, biar seru.” (sinopsisnya sekarang dijadiin kipas, maklum gerah mau ujan)
Writer: “umm..bisnya ntar sempat rusak sih sekali.. electrical problem gitu..”
Studio: “Bisnya enggak bisa jalan-jalan ke luar negeri dong? Cinta segitiganya mana? Vampirnya?”
Writer: “e..e..enggak ada”
Studio: (ngobrol di telepon)
Writer: “gimana he, Pak?… Pak?”

 

We totally harus sangat berterima kasih kepada orang-orang yang berhasil mewujudkan film ini. I love this movie from the beginning to end. It is so relatable. Aku dulu suka nulis notes Pelit gitu di facebook, dan kemudian teman-teman mulai nulisin cerita mereka juga, fb akhirnya seru oleh kami yang saling tag cerita. Aku pengen blog ini juga bisa bikin orang-orang tertarik nulis, jadi aku buka kesempatan buat teman-teman yang mau berkontribusi buat majangin buah pikiran mereka. Sebagaimana film Paterson yang ceritanya sungguh-sungguh menginspirasi.

Film ini adalah PERAYAAN DARI HAL-HAL YANG LUMRAH. Hal-hal biasa, yang dilakukan orang sehari-hari. Memang, tidak ada adegan ‘gede’ di sini, beberapa penonton akan mati kebosanan karena pacing yang lambat dan practically enggak ada yang terjadi. Namun aku secara konstan terus tertarik by just how different this movie is. Strukturnya enggak terasa kayak yang biasa kita lihat di film-film. Elemen ceritanya dengan berani menyorot orang biasa. Pria yang ngendarai bis, dengerin obrolan penumpang, makan siang di taman sambil nulis puisi. Wanita yang punya banyak mimpi tapi dia rela tinggal seharian di rumah, dengan membuat cupcake, berkreasi dengan merias rumah, dan belajar main gitar. Film ini sungguh refreshing oleh kesan nyata, sehari-hari, sembari juga kocak-akrab lewat percakapan-percakapannya.

“no ideas but in things, no ideas but in things.”
“no ideas but in things, no ideas but in things.”

 

Ada banyak observasi mengenai kehidupan dan bagaimana kita memandangnya yang terus disuarakan oleh film ini lewat hal-hal yang diperhatikan oleh Paterson. Dan itulah yang menjauhkan kita dari kebosanan. How real everything felt sungguh sangat mengagumkan. Juga sebenarnya sedikit mengejutkan, karena aku gak expecting film tentang puisi, yang surely bakal penuh oleh simbolisasi kayak Istirahatlah Kata-Kata (2016), malah mempersembahkan dirinya dengan benar-benar ‘biasa’. Kalian tahu, bahkan dalam Personal Literature pun biasanya kentara antara bagian yang nyata dengan bagian yang dilebaykan sesuai kebutuhan.

Emosi dalam film ini mengalun tenang. Sesungguhnya ini adalah cerita yang sangat subtle, termasuk dalam humornya because sometimes aku ngerasa pasangan-pasangan yang sudah menikah tentunya bakal lebih ngena ke humor film yang seputar percakapan rumah tangga. Cek-cok dalam hubungan Paterson dengan istrinya juga dengan digambarkan dengan tersirat. Mereka enggak benar-benar ada masalah, sih. Malahan everything is okay, tapi dari kalemnya Paterson nanggepin passion sang istri yang kerap berubah, atau the way he look at the guitar, atau gimana dia enggak benar-benar looking forward bawa anjing mereka jalan-jalan, kita dapet sedikit hint yang memperkaya layer hubungan tokoh-tokoh tersebut.

Paterson meminta, ah bukan, mendorong kita untuk melihat kehidupan seperti si Paterson melihat hal-hal di sekelilingnya. Paterson membuat puisi dari sekotak korek api. Karena sesungguhnya kekuatan utama seorang penulis bukanlah merangkai kata, melainkan perhatiannya terhadap sekitar. Dia melihat sesuatu untuk dihargai pada setiap benda-benda, pada setiap apapun. In a way, film ini menginspirasi kita untuk memiliki observasi selayaknya para penulis puisi. Tapi enggak necessarily supaya kita bisa nulis puisi. It was more supaya kita bisa melihat keindahan dari keseharian, so we can make something out of it. Mengasah kepekaan supaya ‘puisi-puisi’; dalam hal ini adalah apapun yang kita kerjakan, menjadi lebih berarti.

 

Tidak pernah film ini terasa lead to nothing walaupun ceritanya terbentuk dari seputar kejadian sekitar Paterson yang disekat-sekat oleh pergantian hari. Ketertarikan terhadap apa lagi yang akan Paterson tulis sebagai puisi akan terus bikin kita tersedot. Penggambaran proses kreatif Paterson terasa begitu intim. Kita melihat teks muncul di layar, dengan latar belakang yang sangat menenangkan, dan sementara itu terjadi kita mendengar suara pikiran Paterson. Actually, Paterson sangat menjaga kerahasian puisinya dari orang lain. Bahkan kepada istrinya, dia rada enggan bacain sebelum benar-benar selesai. He’s so reclusive about his poems. Yang juga menarik adalah Paterson enggak mau punya hape karena “It would put me on a leash”, katanya. Penampilan Adam Driver memainkan Paterson akan membuat kita bersyukur orang ini bekerja sebagai aktor. Ini adalah penampilan terbaiknya so far. Adam relentlessly charming dan enggak sekalipun dia terasa out-of sync dengan karakternya. Menjelang akhir film ada adegan menakjubkan dengan seorang pria di kursi taman yang just change the whole movie for me.

Sejak istrinya menceritakan mimpi tentang punya anak kembar, Paterson jadi terus-terusan melihat orang kembar setiap hari. Duality lantas menjadi tema berulang yang jadi kunci pada film ini. There are so much ‘twins’ in this movie. Nama Paterson yang sama ama nama kota ia tinggal, sama ama nama puisi dari pengarang yang ia idolakan; William Carlos Williams, heck bahkan Adam Driver di sini diplot sebagai bus driver.

kalo di Indonesiain, Paterson ini jadi orang Sunda nih, namanya Paterson Mulpaterson
kalo di Indonesiain, Paterson jadi orang Sunda nih, namanya Paterson Supaterson

At one time, Paterson bertemu gadis cilik yang juga menulis puisi, punya ‘secret notebook’ seperti dirinya, and that little girl actually punya sodara kembar. Menilik dari keengganan Paterson untuk membuat salinan dari buku catatan puisinya, plot Paterson adalah dia akan belajar bahwa sesuatu yang kembar atau mirip, tidak mesti sama. Belum tentu selalu sama. Kayak bidak catur; ada hitam ada putih. Kayak lirik lagu rap yang juga punya wisdom, yang bersajak mirip-mirip syair. Kayak pistol mainan dan pistol beneran yang perbedaannya adalah nyawa seseorang. I think film ini menyuruh kita untuk embrace hidup, di mana kita ngelakuin hal yang sama setiap hari, karena kitalah yang membuat setiap hari menjadi pengalaman yang berbeda. Setiap hari adalah lembaran baru untuk kita ‘tulisin’.

Serupa tapi tak sama. Semua tergantung persepsi kita.

 

 

 

I love how real it all felt. Aku suka performancesnya. Aku suka arahan film yang berani. I just love the fact film kayak gini sukses dibuat. Sungguh berbeda dari apa yang kita tonton sebelumnya. Para penggemar puisi juga bakal suka sama film ini, bagiku juga apa yang disajakkan terasa unconventional. Menontonnya kita akan diajak berkontemplasi lewat naturenya yang filosofis. Wise and inspiring. Sukuri hal hal yang terjadi di hidupmu. Namun jika mencari adegan-adegan aksi heboh, louds and bang ala superhero, kita tidak akan menemukannya di sini. Meski begitu, kata siapa yang normal-normal enggak bisa dijadiin film yang menarik.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 for PATERSON.

 

 

 

That’s all we have for now.

Kami sekarang punya segmen khusus kategori Poems, loh. Bagi yang suka puisi-puisi ataupun bentuk sajak dan syair lain silahkan mampir baca-baca. Just search for the category di bagian atas halaman. New entry bakal turun cetak di hari Jumat #JumatPuisi 😀 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Row Row Row Your Boat -[Lyric Breakdown]


Row row row your boat
Gently down the stream ~
Merrily, merrily, merrily, merrily
Life is but the dream ~


 

Lagu anak-anak klasik ini terdengar simpel dan sangat mudah dinyanyikan, tetapi ternyata memiliki makna yang dalam (jika mau kita renungkan). Ayo kita coba (sedikit) renungkan bait per bait nya.

 

 

row-boat

 

Row row row your boat (dayung, dayung, dayung perahumu).

Diri kita dapat dianalogikan sebagai perahu, masuk akal jika kita menyadari bahwa 75% dari tubuh kita terdiri dari air. Maka diri kita adalah perahunya, jiwa kita yang menjadi nahkoda, kemana arah yang akan kita tuju. Menuju (melakukan) kebaikan ataukah menuju (melakukan) sebaliknya. You are a captain! Not a passenger. Take control of your life.

 

Gently down the stream (dengan lembut mengarungi arus).

Arus kehidupan memang deras, mampu menyeret kita hanyut kedalam arah yang tak tentu. Arus kehidupan perlu dijalani dengan ringan dan sabar tapi konsisten. Hidup yang penuh keterburu-buruan dan sikap mental yang perfeksionis bisa menyebabkan stress dan kelelahan mental yang berkepanjangan hingga akhirnya kehilangan kepekaan dan kemampuan untuk berpikir jernih dan jeli. Ikutilah arus kehidupan tanpa dihanyutkan olehnya. Janganlah bergerak ke atas melawan arus. Bisa dicoba bagaimana rasanya berenang melawan arus. Sudah bisa dipastikan tenaga yang harus dikeluarkan akan berlipat ganda dibanding dengan berenang yang mengikuti arus. Demikian juga dengan kehidupan.

 

Merrily, merrily, merrily, merrily (ceria, ceria, ceria, cerialah).

Kehidupan perlu dijalani dengan ringan dan ceria. Janganlah terlalu serius hingga menimbulkan stress dan depresi. Stress salah satu penyebab utama kematian. Bagaimana kita menyikapi atau menafsirkan apa yang terjadi pada diri kita. William Shakespeare pernah berkata bahwa tragedi adalah sebuah komedi yang tidak kita mengerti. Ini semua adalah tentang bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Seorang peneliti dari Harvard, Shawn Acre pernah mengatakan bahwa 75% dari pekerjaan dan keberhasilan akademik dapat diprediksi dari tingkat optimistik.Optimis tidak hanya untuk kesehatan secara fisik, tetapi juga dapat memulihkan lebih cepat dari penyakit dan hidup lebih lama. So be Happy!

 

Life is but dream (kehidupan hanyalah sebuah mimpi).

Nikmatilah perjalanan hidup yang singkat ini. Apakah kita menganggap hidup ini penuh kepahitan atau penuh keindahan tetap kita harus menjalankannya. Bedanya bila kita menganggap hidup ini penuh dengan keindahan maka kita akan bergembira dan bersemangat dalam menjalaninya. Karena hidup ini terlalu sebentar, bagaikan mimpi, hingga akhirnya kita akan bertemu kembali dengan Sang Pencipta, Life after the death, in heaven.

 

 

 

Sudahlah jangan terlalu serius, lagu ini pernah diparodikan oleh Rowan Atkinson dan Peter MacNicol pada film Bean The Movie yang dirilis tahun 1997….

Row, row, row your boat,
Gently down the stream.
If you see a crocodile,
Don’t forget to scream.

 

 

 

 

 

—“Cogito Ergo Sum, Uncogito Ergo Sumsum.” (Aku berpikir maka aku ada, aku tidak berpikir maka aku mengada-ngada)

RESIDENT EVIL: THE FINAL CHAPTER Review

“True identity is found when we start becoming who we were created to be.”

 

residentevilthefinalchapter-poster

 

Kita hidup di dunia di mana kita enggak bisa gitu aja bilang “Gue penggemar Resident Evil, loh”. Karena ada batasan jelas yang memisahkan antara “penggemar film-adaptasi-game terburuk” dengan “penggemar game-survival-horor-terbaik”. Sayang memang, I mean, kenapa mereka enggak lupakan saja soal franchise, just stop, dan ngulang lagi bikin film yang benar-benar mengerikan tentang zombie di rumah tua atau semacamnya?! One can hope film ini benar-benar akan menjadi babak terakhir. Babak final. Penghabisan. Mungkin film ini akan actually bisa menjelaskan lima-belas tahun continuity errors dari cerita yang sudah enggak make-sense lagi.

Ternyata, film ini hanyalah segerombongan adegan mindless action, seperti yang sudah kita kenal baik.

Perlakukan Resident Evil: The Final Chapter selayaknya zombie. Lari! Larilah dari dirinya, demi hidupmu, sejauh mungkin. For this one movie will eat your brain dead!

 

Oke, kalian tahu, aku paling males nulis film jelek karena aku enggak mau isi ulasanku kesannya negatif melulu. Aku selalu berusaha untuk mengangkat sisi baik dari semua film. Apalagi film-film kayak remake dari Poltergeist ataupun reboot dari Fantastic Four sebelum membanting mereka sebagaimana mestinya. I’ve done that in the past, and I’m gonna do it again today. Buat film Resident Evil; yang gamenya selalu aku mainkan dengan semangat meski baru dua seri yang bisa tamat tanpa pake cheat, film yang sengaja aku tunda-tunda menontonnya karena aku benci kalo nanti bakal membenci filmnya lagi, aku sungguh-sungguh mencoba, aku masuk dengan pikiran positif. Aku harap aku bisa ngesell film ini dengan enggak parah-parah amat.

Jika kalian enggak punya masalah sama lima film Resident Evil sebelum ini, jangan pedulikan apa kata kritik. Jangan dengarkan apa yang kutulis. Go watch it and have fun, karena film adalah pengalaman subjektif. Namun, buat sebagian besar penonton, ketahuilah bahwa ini adalah salah satu FILM YANG PALING ‘MENYIKSA’ yang bisa kita tonton di bioskop in a recent year.

Supposedly menyambung langsung cerita terdahulu, Alice mendapati dirinya terbangun sendirian di reruntuhan. Dia kemudian digreet oleh monster-monster bioweapon sebelum akhirnya disapa oleh Red Queen, si A.I. yang mengambil persona anak kecil. Mantan lawannya tersebut meminta Alice untuk kembali ke Raccoon City karena Alice adalah cewek perkasa badass abis yang enggak pernah mati meski ada banyak zombie, dan kali ini Umbrella Corporation ingin melenyapkan sisa-sisa manusia dengan T-Virus, so Alice harus menghentikan itu sambil harus nemuin anti dari T-Virus yang disimpan di markas Umbrella di Raccon City (alias lokasi film yang pertama). That’s the storyline, simpel, ala misi video game banget, namun membingungkan karena beberapa keadaan terlihat enggak begitu cocok dengan cerita-cerita sebelumnya.

Dazed and confused.
Dazed and confused.

 

Untuk membuat cerita lebih mudah dipahami, para pembuat film ini merakit penceritaan dengan FORMULA YANG SEDERHANA; eksposisi – big action – eksposisi – big action – eksposisi – big action – dan begitu seterusnya. Film dimulai dengan rangkuman apa yang sudah terjadi, just in case kita belum pernah nonton film-film sebelumnya. Kemudian ada adegan aksi di atas kendaraan. Setelah itu, karakter-karakter kita ngumpul berkeliling dan seseorang tells them a story. Disambung oleh adegan action lagi, tembak-tembakan. Wuih! That’s how the entire film plays out. Ada satu momen yang efektif; saat ada tiga zombie yang lagi tergantung, mendadak come to life dan menyambar ke arah truk yang sedang melaju. Pengambilan gambar yang really creepy.

Kalo ada yang lebih jelek daripada tampang para zombie, maka itu adalah sekuens aksi. Serius deh, adegan-adegan aksi film ini disyut dan choreographed horribly. Dalam film, ada yang dikenal dengan teknik Eye Tracing; di mana pergerakan kamera diperhitungkan sedemikian rupa sehingga aksinya membimbing fokus pandangan penonton. Dalam film ini, eye tracingnya parah sekali. Semuanya diedit dengan sangat cepat, kita tidak bisa melihat dan memahami apa yang sedang terjadi. Ada yang mati pun, kita enggak bisa langsung ngeh siapa yang jadi korban. Dalam adegan dengan kipas gede, misalnya, aku butuh beberapa scene bolak-balik untuk bisa recognized siapa yang isdet.

To make it worse, sutradara Paul W.S. Anderson menonton Mad Max Fury Road (2015) sebelum dia bikin storyboard film ini. Jadi, beliau dengan segala kehumbleannya sebagai seorang filmmaker mencoba ngerecreate keawesomean visual style yang sudah dibuat oleh George Miller. Dua-puluh-menit pertama jelas sekali Resident Evil ingin mengemulasikan gaya edit cepat, it is the biggest rip-off of Mad Max yang pernah kuliat, dan film ini come short – malah terlihat sebagai upaya amatir alih-alih membuat adegannya enak dan intense untuk ditonton. Resident Evil: The Final Chapter adalah film berbudget gede dengan EDITING TERBURUK yang pernah kutonton sejauh ini. Liat aja sendiri, medium shot lengthnya pastilah kurang dari satu detik. Satu contoh lagi yaitu pas di adegan Alice berhadapan dengan this huge bioweapon creature. Alice menembak monster itu dengan dua pistol as the monster berlari ke arahnya. Kamera ngecut bolak-balik dengan sangat cepat di momen ini sehingga aku bersyukur enggak punya migrain dan enggak nonton ini dalam format 3D.

Semua elemen dalam film ini dicut dan digabungkan dengan begitu manipulatif demi memancing keseruan. Supaya kita merasa sedang menonton sesuatu yang keren, untuk membuat kita berpikir sesuatu yang amazing baru saja terjadi. Bahkan musik dan sound-designnya bekerja keras untuk menipu kita. Sepanjang film kita akan dibombardir oleh jump scare yang datang susul menyusul. Alice berjalan di suatu tempat, suasana hening, dan beberapa zombie muncul lengkap dengan suara yang over-the-top. Film ini penuh oleh serangkaian momen yang berusaha untuk terkesan seram tapi nyatanya cuma annoyingly loud dan sangat absurd. Mencoba begitu keras untuk menekankan kesan urgensi dan finality, this film is FILLED WITH SO MANY TIRED MANIPULATIVE WAYS OF EDITING FILM TOGETHER.

Mengingat gimana ngasalnya cara mereka mengedit film ini menjadi satu kesatuan, sebenarnya adalah fakta yang sangat ofensif, that sekelompok orang datang menonton ini dan bilang filmnya bagus. Malahan film ini nomer satu di box office Indonesia! Dan lebih ofensif lagi mengingat gimana film ini bisa diluluskan sebagai sebuah film in the first place.

 

Ada sedikit cercah film ini membahas sesuatu yang lebih dalem, seperti apa yang sebenarnya ingin dikatakan dari Umbrella yang demen bikin clone. Harusnya ada talk yang mendalam soal Alice yang kini come in terms dengan identitasnya, bukan sebagai simbol – melainkan sebagai seorang individu. Aku suka mereka ngeemphasize “My name is Alice” di awal dan akhir film. Aku selalu membahas dan menekankan soal karakter setiap ngereview. Karena toh tidak akan ada film, tidak akan ada cerita jika tidak ada karakter. I love movies karena aku suka berpikir soal karakter manusia. Dan dalam film ini? HAH!!! Film ini lebih mengutamakan aksi ketimbang karakter.

Alice enggak ngapa-ngapain selain cuma wadah yang bisa nembak ribuan zombie. Alice doesn’t do anything untuk mendapatkan pengakuan sebagai badass action hero. Dia begitu ya karena ditulis begitu. Ada bagian cerita di mana Alice sampai di compound yang apparently dipimpin oleh orang lain, kemudian segerombol besar zombie muncul, dan Alice mengambil alih kepemimpinan gitu aja, no questions asked. Beginilah skrip film ini ditulis. Alice does things, dia nembak, dia ninju, dia akrobat, tapi tidak pernah dia ngelakuin sesuatu yang membuat orang ngeliat dia sebagai pemimpin. Dan aktingnya? Pffft tidak ada akting. Milla Jovovich did an easy job here, dia malah enggak perlu repot berakting kesakitan. Alice is such a worst character, sampai-sampai ada adegan di mana dia ngedetonate bom beberapa jengkal dari antivirus yang berusaha ia selametin, tanpa tedeng aling-aling, tanpa pikir-pikir dulu soal akibat dari tindakannya.

Alice got her “I’m your father” moment
Alice got her “I’m your father” moment

 

 

 

Jika ingin pengalaman yang luar biasa sehubungan dengan dunia zombie, atau mau nikmatin the feeling of survival horor, saranku; just play the game, seriously. Ada seri terbaru Resident Evil yang keluar buat PS4 and itu serem dan keren banget. Film ini fails to deliver apapun, not even the sense of finality. It doesn’t respect us as the general audience. Film ini bahkan gagal catering buat fans loyal mereka yang sudah lima-belas tahun ngikutin. Orang-orang yang udah sit through all of them. Karakter-karakter yang entah gimana. Twist terakhirnya sangat absurd dan pointless, completely dishonor tokoh utama cerita. Terutama memberikan dampak yang buruk buat film-film terdahulunya. Tidak ada yang make sense di sini. Endingnya, efeknya, editingnya, semuanya so awful. Turns out, film ini menghinaku lebih banyak ketimbang apa yang aku ucapkan dalam menilai jujur dirinya.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for RESIDENT EVIL: THE FINAL CHAPTER

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

HIDDEN FIGURES Review

“Mathematics is not about numbers, equations, computations, or algorithms; it’s about understanding.”

 

hidden-figures-poster

 

Quick questions!

Ayo sebutkan siapa manusia pertama yang terbang ke luar angkasa? “Yuri Gagarin!”

Siapa orang Amerika pertama yang mengelilingi orbit bumi?John Glenn!!”

Orang pertama yang menjejakkan kaki di bulan adalah?Neil Armstrong!!!”

 

Kita semua pasti tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kita semua pasti pernah baca mengenai tokoh-tokoh bersejarah itu. Everyone talks about them, pria-pria yang paling pertama menjelajah ruang angkasa. Mereka adalah bagian penting dalam sejarah umat manusia. Tapi tahukah kita siapa yang bekerja di belakang sana, ilmuwan-ilmuwan yang membuat segala perjalanan meninggalkan gravitasi itu menjadi mungkin? Fokus kita enggak pernah mengarah kepada scientists yang manjat-manjat tangga nulis di papan itu, padahal mereka juga tak kalah pentingnya, and yea some of them are women. Dan untuk bikin hal lebih mengejutkan lagi, terutama di tahun 1960an yang penuh diskriminasi, ‘komputer-komputer’ di meja NASA tersebut adalah wanita berkulit hitam.

I didn’t really know much about Katherin G. Johnson, Dorothy Vaughan, Mary Jackson, atau beberapa tokoh sejarah lain yang diceritakan dalam film ini. On the other hand, aku selalu tertarik sama astronomi dan luar angkasa, and I kind of like math, jadi space movie yang ada matemnya benar-benar memancing rasa ingin tahuku. Rasanya keren aja, melalui film ini kita bisa belajar lebih banyak tentang para ‘hidden-figure’ yang berjasa di balik peluncuran manusia ke luar angkasa. See, judul filmnya ada udah fun abis. Punya makna yang mendua. Ini adalah tentang angka-angka rumus yang berhasil ditemukan to make the said breakthrough. Dan dalam artian yang lebih dalam lagi, Hidden Figures juga adalah tentang wanita-wanita di balik suksesnya NASA, wanita-wanita yang tersembunyikan oleh status sosial mereka di masa yang masih kental oleh prejudice masalah warna kulit.

Aku actually recognized apa yang ditulisnya… so yea.. NERD! *sorakin rame-rame*
Aku kadang recognized apa yang ditulisnya… so yea.. NERD! *sorakin rame-rame*

 

Dalam film ini tergambarkan bagaimana ketiga wanita yang kerja di NASA tersebut meski termasuk pelopor dalam kerjaan mereka, mereka actually masih harus kerap dealing with prasangka-prasangka publik, yang mana adalah hal lumrah kala itu. Dalam bekerja mereka menemui banyak kesulitan; rekan-rekan kerja yang tidak mengizinkan mereka melakukan kerjaan yang harus mereka lakukan, mereka tidak dikasih izin buat mengakses file-file tertentu. Mereka juga tidak diperkenankan berada pada beberapa lokasi di kantor. Katherine, malahan, harus berlari menempuh jarak yang lumayan jauh cuma buat ke kamar kecil karena kulit hitam ditempatkan di restroom khusus yang terpisah dari pegawai kulit putih. Everything is difficult for them. Hidden Figures adalah tentang seputar karakter-karakter ini navigate lingkungan kerja NASA, memecahkan masalah prejudicenya sembari menemukan formula matematika yang bisa digunakan dalam ‘perlombaan tak-resmi’ antarnegara adi-daya soal pengiriman manusia terbang ke angkasa luar.

Hidup itu kayak matematika. Setelah menambah dan mengurangi, kita akan bisa mendapatkan hasil. Dan lebih penting lagi, hidup, sebagaimana menyelesaikan masalah matematika, membutuhkan pengertian dan pemahaman.

 

Setiap film yang membahas mengenai masalah rasisme selalu cenderung untuk menjadi serius. Kebanyakan akan digarap dengan arahan yang membuat filmnya hanya cocok untuk konsumsi penonton dewasa, you know, dengan kata-kata tak senonoh dan adegan yang overly intense. Padahal sangatlah penting bagi anak-anak muda untuk menonton film dengan pesan yang baik seperti ini. Hidden Figures, untungnya, berani tampil sebagai film yang bisa ditonton bahkan oleh anak kecil. Film ini memastikan pesannya mengenai kesetaraan manusia tanpa mengenal perbedaan ras dapat mencapai dan accessible kepada seluruh lapisan masyarakat. Film ini tidak takut dianggap terlalu jinak atau terlalu family-friendly sehingga jatoh di pasaran. And guess what? Film ini justru tampil really well di box office luar, actually termasuk yang dapat penjualan paling baik di antara nominasi Best Picture Oscar 2017 yang lain. Hidden Figures adalah FEEL GOOD-MOVIE YANG DILAKUKAN DENGAN CARA YANG TEPAT. What you see is what you get, pesannya terhampar jelas.

Terkadang memang film ini terasa sedikit teatrikal, elemen stick-it-to-the-man benar-benar ditonjolkan. Namun tidak pernah menjadi terlalu oversentimentil. Maksudnya, kita tidak dimanjakan, filmnya tidak sekonyong-konyong nyuruh kita puas dengan menyajikan adegan-adegan di mana orang ‘jahat’ mendapat balasan setimpal. This is a feel-good movie, akan tetapi film ini berhasil ngemanage sehingga dirinya doesn’t get too unrealistic. Ada beberapa adegan di mana kita bakal pengen melihat tokoh-tokoh tertentu eventually really get what’s coming to them, dalam batasan yang masih wajar dan enggak lebay. Ini adalah jenis film di mana kita akan melihat tokohnya mencoba menggapai tujuan mereka, dengan cara mereka menghadapi tantangan, tidak peduli rintangan or everything else around them, dan menggunakan kemampuan mereka — dalam hal ini kepintaran otak kiri dan kanan yang seimbang – semaksimal mungkin. Ada satu adegan hebat dan sangat emosional dalam film ini, di mana Katherine akhirnya ngerasa ‘sudah cukup’ dan dia menyuarakan semuanya harus disudahi. Adegan tersebut punya flow yang really well. Membuktikan bahwa semua teknis storytelling; arahan, akting, dan penulisan bekerja dengan sangat mulus.

“ABC is easy as 123” Well, it should be, right?
“ABC is easy as 123” Well, it should be. Right..?

 

Cukup langka melihat karakter-karakter seperti yang dimiliki oleh Hidden Figures dalam tayangan yang berdasarkan kisah nyata. Performances mereka pun teramat fantastis secara merata. Taraji P. Henson is very good memainkan Katherine, mathematician yang berpikir rasional di tengah keadaannya, she wants to get the job done because she loves what she does, dan dia menambah berkali lipat emosi pada karakternya. Sebagai Dorothy Vaughan ada Octavia Spencer yang selalu bermain amazing, perannya di film ngingetin aku sama perannya dalam film The Help (2011). Aku suka sekali reaksinya saat anak-anaknya diusir dari perpustakaan. Peran Mary Jackson oleh Janelle Monae juga punya obstacle sendiri dalam usahanya menjadi black female engineer pertama. Kita merasakan koneksi kepada orang-orang ini. Kita ngerasain struggle mereka, bahwa mereka bukan tokoh pasif. Kita ngecheer aksi ‘perlawanan’ mereka. Kita mulai menjadi begitu peduli sama mereka, sehingga kita jadi ingin nonjok muka tokohnya Jim Parsons.

Angin segar adalah kenyataan bahwa film ini tidak diarahkan menjadi cerita serius dengan some political agenda. In the end, ini adalah tentang gimana menghilangkan prejudice, gimana untuk tidak menjadi rasis, karena yang terpenting adalah mewujudkan keinginan bersama.

Karakter yang dimainkan oleh Kevin Costner bilang “Everybody in NASA pees the same color.” Itu adalah momen yang sangat keren menyaksikan orang yang punya mindset spesifik tentang gimana mereka memandang orang lain. Baginya it’s all about finishing the job dan semuanya harus work around prasangka rasis. Malahan ada tokoh seperti astronot John Glenn yang dimainkan asik oleh Glenn Powell, yang just don’t even recognized ada perbedaan di antara barisan mereka. Dia justru mempercayakan keberangkatannya kepada wanita-wanita ini.

Being a story yang mau memperkenalkan ketiga wanita berjasa tersebut, cerita Hidden Figures sayangnya tidak hanya mengambil tempat di kantor NASA (yang terdepict compelling dengan segala kesibukannya). Kenapa aku bilang ‘sayangnya’ karena actually film akan membawa kita pulang ke rumah tokoh masing-masing untuk melihat kehidupan mereka bersama keluarga. Di sinilah elemen romance film ini pasang-sabuk-dan-meluncur, namun I didn’t feel that. Romansa film ini tidak terflesh out dengan baik, tak lebih hanya sebagai subplot supaya membuat kita semakin terhanyut ke dalam the feel-good momen. Diniatkan, romansanya sweet banget. Harapnya, sih, ada spark antara Katherine dengan Kolonel Johnson yang diperankan dengan sangat charming oleh Mahershala Ali, namun enggak pernah aku terattach ke dalam hubungan mereka. Elemen drama cinta ini tidak menambah banyak bobot kepada keseluruhan cerita. Film ini menyadari itu, makanya dengan bijak kita dibawa sesegera mungkin kembali ke lingkungan NASA. Sisi dramatis film ini sesungguhnya memang terletak di perjuangan Katherine dan teman-temannya dalam menemukan terobosan dalam aerospace engineering.

 

 

 

Yang suka film-film historical science bakalan jatuh cinta sama film ini. Setelah membaca tentang sejarah mereka lebih lanjut, sepertinya memang film ini secara sejarah lumayan akurat untuk sebagian besar waktu. Dalam usahanya menyampaikan pesan kesetaraan dan tidak membeda-bedakan demi kepentingan yang lebih utama, film ini mengambil langkah berani, take-off dengan menjadi family friendly alih-alih film yang menunjukkan keseriusan dengan serentetan kata vulgar dan adegan ‘keras’. Tentu, drawbacknya adalah film ini jadi menjurus ke teatrikal, namun it holds on the tension dan intensitas very well.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for HIDDEN FIGURES.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Pesan Untuk Hati yang sedang Patah

img_9583-1

 

Kapan kau akan lupa?

Kapan kau akan siap menghapus air mata?

Kapan kau akan mampu menjalani hari seperti biasa?

Kapan kau percaya bahwa kau akan baik baik saja?

Kapan kau yakin kalau semua ada hikmahnya?

Kapan kau paham bahwa semua suka dan duka sifatnya sementara?

Karena bahagia tak selalu tentang dia.
Waktu tak akan pernah berhenti.

Hari akan selalu berganti.

Tinggal bagaimana caramu menghadapi, perasaanmu yang berduka sendiri.
Kau bisa memilih untuk kuat atau terkoyak,

atau bahkan mati sesak.

Tapi waktu tak pernah berhenti biarpun sejenak.

Tak akan menunggumu yang sedang retak.
Jadi, kapan kau akan yakin dan percaya bahwa bahagia tak selalu tentang dia?

Jakarta, 29 Januari – 2.48 dini hari (sedang berusaha menyadari, bahwa memang lebih baik sendiri)

 

 

 

As seen on https://thedeepeyes.wordpress.com/2017/01/29/pesan-untuk-hati-yang-sedang-patah/cropped-beautiful-girl-drawing-eyes1

Royal Rumble 2017 Review

royal15940767_1297941666910946_5843770289899557573_n

 

Bukan saja kita dateng ke Royal Rumble tidak bisa memprediksi apa yang bakal terjadi, sekarangpun saat salah satu dari Empat-Besar ppv WWE ini telah usai, kita masih tetap bingung dengan apa yang sudah terjadi. Malahan mungkin kalian ngerasa lebih bingung daripada sebelumnya. Yang pasti hanyalah kita-kita enggak mau melihat Orton melawan Cena (untuk kesekian kalinya) jadi pertandingan utama di Wrestlemania. Jengah!

Vince: Guys, aye punye ide nih. Aye tau caranye pegimane biar entar main event Wrestlemania bisa surak-surak. Pan kite maok nyaingin entu kumpeni gulat Jepang nyang lagi anget diobrolin orang.
Creative A: Kok jadi betawi sih, Bos?
Vince: Suka-suka dong, BACUOOTT! Pokoknye kite kudu bikin sesuatu yang baru. Sesuatu yang orisinil. Yang exciting banget-deh!!!
Creative B: Iye iye Bos, tapi apaan??
Vince: Let’s do something that’ll shake the very foundation of the WWE to its core!!!!
Creative A & B: OH MY GOD VINCE, WHAT IS IT!?!?!?
Vince: Cena vs Orton, Main Event, Wrestlemania!!!!!
Creative A: ….fuck.
Vince: *Ketawa jahat*. Oh yea, dan A, elu DIPECAT!!!!!

Mari berdoa supaya tim kreatif sono sukses membujuk Vince buat memakai skenario Orton melawan Bray Wyatt instead.

 

Pinggirkan sebentar pertandingan Royal Rumble and how it goes down, maka sesungguhnya ini adalah acara yang pretty decent. Setiap pertandingan kejuaraan really holds up dan berhasil mendeliver cerita yang ingin mereka sampaikan. Aku paling surprise sama pertandingan Kevin Owens melawan Roman Reigns. Biasanya pertemuan mereka terlihat gitu-gitu melulu, somewhat boring, lambat, dan lazy. Namun kali ini, kedua superstar benar-benar memanfaatkan environment Tanpa-Diskualifikasi dengan maksimal. Mereka bermain kreatif, Stunner dari Owens dan piramid kursi itu bikin penonton heboh banget. Tipu daya dan kecurangan adalah elemen wajib (aku suka skit Jericho dari kandangnya ngejatohin brass knuckle untuk dipake oleh Owens, and then Owens hit that Superman Punch lol), yang istimewa dari pertandingan ini adalah ada genuine feeling of hatred; baik Owens dan Reigns sama-sama nunjukin sisi violence yang compelling serasa mereka desperate banget buat menangin nih match. Meski memang bisa lebih baik jika berakhir bersih, aku enggak masalah buat mengenang tanggal 30 Januari sebagai BRAUN STROWMAN APPERCIATION DAY.

Thank you Strowman, Clap! Clap! Clap-Clap-Clap!!!
Thank you Strowman, Clap! Clap! Clap-Clap-Clap!!!

 

Dengan satu Super AA (I can’t believe Styles kicked that one out!) dan tiga standar AA, John Cena akhirnya menyamai rekor Ric Flair sebagai Pemegang Terbanyak Juara Dunia WWE, enam-belas kali! As much as I don’t like Cena, aku enggak bisa bilang benci sama pertandingannya. Kekalahan AJ Styles doesn’t hurt him at all. Kerja keras Styles tetap membuatnya kelihatan paling jagoan di atas ring. Dalam pertandingan kejuaaran ini, Styles selamat dari banyak jurus maut Cena, he kept coming menunjukkan resiliensi dan keinginan bertahan yang gede. Sama seperti Owens dan Reigns sebelumnya, Cena dan Styles juga nunjukin desperado yang sangat genuine. And they have a great chemistry. Ini adalah cerita tentang John Cena yang once again bangkit, namun kini ada sedikit twist; sepanjang pertandingan Cena menunjukkan some level of frustration, dia kerap terlihat kesel, hunting Styles down dengan taktik yang heelish. Dan karakternya ini menambah banyak excitement ke dalam pertandingan.

Kerja terbaik WWE memang terletak kepada kemampuan mereka ngebangun pertandingan around psychology karakter. Dalam pertandingan Neville melawan Rich Swann, sisi psikologis Neville lah satu-satunya yang buat kita jadi tertarik. I am happy to see the King of Cruiserweights finally got the crown. Charlotte lawan Bayley juga great dari sisi cerita. Ada sense mereka membangun Bayley sebagai penantang yang-nyaris-tapi-gagal lantaran Charlotte will always a step ahead. Sebagai babak pertama dari feud mereka, pertandingan dua cewek bagian dari Four Horsewomen ini cukup sukses nyedot perhatian. Penonton ngecheer setiap kali Bayley hit spot, terutama saat Bayley makek jurus Elbow Drop mirip Shawn Michaels, superstar legend yang berkampung halaman di tempat acara ini diadakan. Charlotte terlihat meyakinkan dengan gestur-gestur heel, she’s the best working heel di roster cewek today. Rekor Kemenangannya masih intact dengan anggun. But buatku pertandingan ini enggak terasa work-work amat, seems flat dan rada berakhir abrupt. Tapi mungkin saja aku lagi bitter lantaran match Alexa Bliss kena gusur ke pre-show.

eh, kena geser deng, bukan gusur xD
eh, kena geser deng, bukan gusur xD

 

The Rumble match sebenarnya bagus, Braun Strowman jadi bintang di paruh pertama, Ambrose dengan Ellsworth kocak banget, taktik Jericho selalu ngundang tawa, interaksi Lesnar dan Goldberg masih limited but great nonetheless, begitu juga dengan Undertaker dengan Goldberg. Aku suka saat Luke Harper dateng dan Wyatt dan Orton just look at him dengan tampang “ih, siapa deh”, menarik melihat gimana storyline Harper yang sepertinya jadi face ini berkembang setelah melihat result dari pertandingan Rumble.

Royal Rumble selalu adalah soal statistik. Soal angka. Dan di pagelarannya yang ketigapuluh ini, WWE memastikan kita akan mengingat gimana angka-angka tersebut memainkan peran yang cukup signifikan.

Banyak fun, trivial things yang dilakukan oleh WWE. Seperti saat mereka ngeintroduce Si Perfect Ten Tye Dilinger di entrance nomor, ehm, sepuluh. Ataupun saat Baron Corbin muncul di nomor 13, membawa the end of days ke atas ring. Randy Orton joins Triple H, Hulk Hogan, Shawn Michaels, Stone Cold, Batista and John Cena sebagai superstar yang pernah memenangkan Royal Rumble lebih dari sekali. Dan tak ketinggalan Jack Galagher datang dengan payungnya, Wiliam III, menyenangkan melihatnya berinteraksi di luar lingkaran cruiserweight yang bisa terasa begitu mengukung superstar. Match Royal Rumble memuncak oleh antisipasi karena setiap entrance, setiap detik yang muncul mundur di sudut layar, membuat kita menggelinjang. Slowly ring penuh oleh talent dan ternyata para top superstar muncul di nomor-nomor belakangan. Lesnar muncul di 26, disusul oleh Goldberg dua nomor sesudahnya. Undertaker nongol dengan goib di nomor 29. So, kita semua berpikir peserta nomor 30 pastilah superstar yang really truly surprising.

Ha!

WWE ngetroll kita dengan memberikan surprise yang tak-tertebak. I mean, no one would ever guess that karena enggak seorang pun yang ingin that surprise jadi kenyataan. There are NUMBERS OF STRANGE DECISION yang diambil oleh WWE dalam pertandingan Royal Rumble kali ini. For one, ramp menuju ke ring yang luar biasa panjang mengingat superstar butuh segera mungkin masuk ke dalam ring karena jeda antara peserta Rumble sangat singkat. Walaupun mereka menambahnya menjadi dua menit, it is still a long tiring walk, terutama buat superstar yang berbadan gede kayak Big Show, Big E, dan Big yang lain.

“Fight, Owens, Fight”? please, this is “Om, telolet, Om”
“Fight, Owens, Fight”? please, this is “Om, telolet, Om”

 

 

Superstars yang turun bertanding juga mengherankan. Mereka wasting so much spot, New Day bahkan Cesaro dan Sheamus terihat awkward gajelas di sana. Kane strangely enggak nampil, rekor tampil berturutturutnya padam gitu aja, dan “Wah kasihan Mark Henry tereliminasi, harusnya dia yang menang.” says no one ever.

Putting Roman Reigns sebagai penutup, however, adalah booking yang begitu-jelek-jadinya-bagus. Antisipasi sudah terbendung gede untuk kemudian dihempaskan gitu aja. Kita bisa dengar “bulshit!” diteriakin oleh penonton di arena ketika Reigns actually ngeluarin nama-nama gede. Di Warung Darurat, kertas-kertas beterbangan, tinju-tinju berayun di udara, ngiringin teriakan protes kami yang membahana. WWE really took the risk, mengecewakan harapan dan prediksi fans, demi ngepush pemenang match ini. I mean, jika bukan Roman yang muncul, jika yang muncul adalah Kurt Angle atau Samoa Joe atau Finn Balor and they didn’t win it, kemenangan Randy Orton akan dianggap mengecewakan. Because hey, it’s 2017, apakah kita perlu ngeliat Cena winning title dan Orton menang Rumble kayak di 2009 lagi? Reaksi kita sepertinya udah diset, we are hating Roman so much, mindset kita sudah jadi “apapun #AsalBukanRoman”.

The fact and the matter is, setelah penampilannya di Royal Rumble sepertinya tidak mungkin lagi bagi WWE untuk ngepush Roman Reigns sebagai face. Dan pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri masing-masing adalah:

Apakah kita akan menerima Roman Reigns sebagai orang yang menghentikan karir Undertaker, jika itu akan lead us kepada Roman Reigns’ heel turn?

 

 

 

 

PPV ini harusnya digunakan buat ngesetup Wrestlemania, the best thing come outta this adalah kita masih meraba apa yang bakalan terjadi. The lack of surprise-yang-diinginkan memang terasa menjatuhkan acara ini secara keseluruhan karena the hype just wasn’t there. Tapi kita nutup mata kalo enggak recognize dua match kejuaraan keren yang berlangsung di sini. Antara Universal Championship dengan WWE Championship, The Palace of Wisdom memilih AJ Styles melawan John Cena sebagai Match of the Night karena it feels more urgent, dan yea, lebih bersejarah.

 

 

Full Results:
1. RAW WOMENS CHAMPIONSHIP Charlotte mengalahkan Bayley.
2. WWE UNIVERSAL CHAMPIONSHIP NO-DQ MATCH Chris Jericho di atas kandang nyaksiin Kevin Owens retains over Roman Reigns berkat bantuan Braun Strowman.
3. WWE CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP Neville merebut sabuk dari Rich Swann.
4. WWE CHAMPIONSHIP John Cena beat AJ Styles.
5. 30-MAN ROYAL RUMBLE MATCH Randy Orton menang dengan mengeliminasi Roman Reigns

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Buat yang di Bandung, kami akan mengadakan nonton bareng pay-per-view WWE, so yea you are very welcome buat ikutan. Senantiasa cek facebook Clobberin’ Time buat info nobar selanjutnya.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 
We? We be the judge.

SILENCE Review

“… the sudden silence was the Voice of God.”

 

silencecx3zloiucaedlkj-jpg-large

 

Tidak ada yang bersuara ketika tiga penduduk desa yang tertuduh sebagai pemeluk katolik, disalib di atas karang yang digempur keras oleh ombak. Warga yang lain menatap dari balik ujung tombak pasukan Jepang yang berbaris, sama diamnya. Begitu juga Father Rodrigues dan Father Gorupe yang menyaksikan semua penyiksaan dari balik rimbunan semak. Bungkam oleh ketakutan, segala aksi dan rasa tersenyap. Kecuali satu yang berdering keras di dalam hati masing-masing, terutama di dalam jiwa yang dilatih putih suci Father Rodrigues; Keraguan. Benarkah Tuhan akan meringankan derita mereka, atau apakah siksaan mereka sia-sia belaka? Apakah mereka suffer atas nama Tuhan yang mereka yakini atau tiga orang Jepang Kristen itu sesungguhnya sedang mengorbankan diri mereka demi keselamatan dirinya dan Gorupe?

Silence, didirect oleh salah seorang sutradara terbaik yang hidupnya masih terus didedikasikan untuk membuat film klasik yang fantastis hingga sekarang, akan membawa kita on middle ground ke Jepang jaman feudal, tepat di tengah-tengah perang agama. Pengikut ajaran Kristen diburu. Para Father ditangkap, disiksa, hingga tidak ada lagi pilihan selain menanggalkan keimanan mereka. Father Rodrigues dan Father Gorupe datang dari Portugis karena mereka mendapat kabar tentang guru mereka, Father Ferreira, tertangkap penguasa di Nagasaki. Mereka mendengar simpang siur; apakah benar Ferreira sudah denounced his Christianity atau apakah dia masih hidup at all. Dalam film ini kita akan mengikuti kedua Jesuit muda tersebut mencari keberadaan guru mereka sembari berusaha menolong sebanyak mungkin penduduk Jepang yang menganut Kristen di bawah tekanan dan siksaan yang berat. This is a VERY STAGGERING FILM. Kita akan struggle banget menontonnya. It is so difficult. Bukan karena film ini cukup sadis secara fisik. Juga bukan karena film ini durasinya panjang banget. Tetapi karena film ini akan menyayat-nyayat hati kita secara emosional.

Menelaah dengan sangat kuat soal krisis keimanan yang dialami oleh seseorang. Apa yang orang lakukan ketika kepercayaan dan keimanannya mendapat cobaan yang mahadahsyat. Meskipun mungkin bukan pemeluk agama yang diceritakan, kita semua bisa put aside our personal belief selama dua jam setengah lebih untuk menikmati filmmakingnya. Kita semua bisa merelasikan diri kepada film ini dalam tingkatan bahwa ini adalah cerita tentang orang-orang yang mengimani apa yang yang mereka yakin, that mereka memeluknya dengan teguh, tidak akan membiarkan apapun yang menghalangi mereka dari yang mereka percaya tersebut.

Beneran deh, it’s emotionally gutting melihat orang-orang tercabik dari faithnya seperti yang digambarkan oleh film ini. Father Rodrigues, awalnya kita melihat dia sebagai seseorang yang sangat kuat-iman. He has the upmost faith you could possibly have in God. Dan begitu film berakhir, kita sudah menyaksikan tokoh ini terjun sampai ke dasar paling bawah secara emosi. Dihadapkan pada pernyataan agama yang ia bawa, kebenaran yang ia ajarkan, tidak cocok untuk diterapkan pada ranah ‘rawa’ Jepang. Namun Rodrigues tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena if he accepts that statement, itu berarti dia mengakui kebenaran yang ia bawa bukanlah kebenaran bagi semua orang seperti yang selama ini dia imani. Itu berarti dia meragukan agamanya sendiri.

Ini adalah CERITA YANG SANGAT KOMPLEKS bagi kedua belah pihak; Rodrigues dan Jepang. It’s not like Jepang tidak punya toleransi sama sekali, as in kekerasan dan siksa itu datang dari mereka. Mereka brutally violated penduduk agar mau meludahi salib dan menginjak gambar Tuhan mereka sebagai bentuk denouncing faith di muka publik. Adalah aksi converting yang dianggap berbahaya oleh pemerintah Jepang. They just want to show their pride and love kepada faith mereka. Bahwa gara-gara kepercayaan asinglah mereka sesama saudara tanah air menjadi terpecah belah.

talk about penistaan agama huh
talk about penistaan agama huh

 

Toleransi, ya, bisa jadi jawaban. Tapi sekarang kata tersebut sudah mengalami penurunan arti, digunain begitu saja agar sama-sama senang. Toleransi bukan berarti “apa salahnya ngikutin apa yang dilakukan orang lain”. Kita bisa ikut merayakan hari kebesaran agama lain as along as hati kita tetap beriman kepada agama sendiri, but that is a weakest form of faith. Mungkin tidak banyak yang suka film ini karena membuat diri kita merasa seperti Kichijiro, while tokoh ini easily come off sebagai pengecut yang cari aman. Open minded, bertoleransi, dan punya keyakinan adalah seperti Father Ferreira. Persisnya seperti apa? Go figure out yourself

 

Tidak seperti Sausage Party (2016) yang merupakan satir soal kepercayaan, Silence dengan a lot of respect kepada penonton, mengambil jarak secukupnya. It doesn’t judge, and tidak menggiring kita untuk melakukannya. Yang Silence lakukan adalah menghujani kita – yang terpatri oleh cerita – dengan batu-batu pertanyaan. Kita bakal mengalami sensasi krisis tanpa diberikan pencerahan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita akan melihat hamba Tuhan diuji. Kita akan melihat ia menderita for his belief, for things he treasured the most. Dan di titik inilah Silence berbicara banyak. Apakah iman kita tidak berarti apa-apa jika kita tidak diuji – apakah hidup kita meaningless jika kita tidak pernah menderita karena sesuatu yang kita percaya atau cintai? Dan tentu saja, arti mendalam tentang kata ‘silence’ itu sendiri; apakah absennya tindakan kita atau absennya Tuhan? Atau, diam karena kita sedang berdialog dengan Tuhan. Ada beberapa adegan yang menggambarkan Rodrigues dalam diamnya bicara dengan suara Tuhan. Yang membuat kita bertanya-tanya apakah diam hanya arogansi Rodrigues belaka? Secara konstan dia ‘membandingkan’ kondisinya dengan Tuhan, sementara orang-orang desa yang disiksa hingga mati tidak pernah meminta ‘dibandingkan’ dengan juru selamat.

Meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

 

Martin Scorsese mengarahkan film ini dengan sungguh luar biasa. Bekerja sama dengan sinematografer yang ngegarap The Wolf of Wall Street (2013), Scorsese memastikan apa yang ditangkap lensa semuanya gorgeous. Kalian akan suka mencermati film ini jika punya rasa penasaran gimana setiap adegan disyut. Yang paling remarkable dari pengambilan gambarnya adalah gimana mereka sebagian besar waktu bekerja pada environment yang tertutup. Adegan film ini kebanyakan berlokasi di pondok kecil yang gelap, di daerah hutan yang terpencil, atau di sel penahanan. Tidak pernah Scorsese salah langkah dalam menjalin cerita. Sudut pandang penceritaan benar-benar dihadirkan compelling dan sangat intens. Kita dibuatnya bereaksi dan merasakan yang dialami oleh seseorang yang dealing with an extreme crisis of faith.

This movie brought to life by many fantastic performances. Adam Driver sebagai Father Gorupe dan Andrew Garfield sebagai Father Rodrigues menyuguhkan penampilan yang amazing. Dalam tahun yang penuh oleh penampilan yang sangat baik, Andrew Garfield kembali bersinar dalam film ini, dan sekali lagi sebagai seorang yang taat beragama. Yea, walaupun dia enggak selalu taat sama aksen portugis yang supposedly dimiliki oleh tokohnya. Liam Neeson, yang bermain sebagai supporting role, was also very very good. Dan tokoh yang ia perankan teramat kompleks.

Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn
Spiderman dan Kylo Ren lagi nyari Qui-Gon Jinn

 

 

Staggering film yang menantang bukan hanya keimanan dan kepercayaan, tetapi juga menantang intelektualitas penonton. Bikin frustasi at times, gutting our emotion completely, it is a really complex movie. Tidak heran jika banyak orang yang ngerasa hard to come by apa yang disampaikan oleh film ini, thus membuatnya susah untuk disukai. Personally, aku heran juga kenapa film ini enggak masuk nominasi Best Picture Oscar 2017. Setelah menontonnya, aku jadi kebayang sedikit alasannya kenapa. Sesungguhnya, film yang luar bisa unconventional ini adalah jenis film yang mesti ditonton dan disupport oleh orang-orang yang benar menyintai film. Karena di atas itu semua, ini adalah filmmaking yang sangat remarkable; arahan luar biasa, akting fantastis, beautifully shot – salah satu film tercantik Scorsese, penulisan yang begitu cakap, editing yang perfect.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for SILENCE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

 

Aku Suka…..



Aku suka aroma kulitmu.

Dari pipi sampai kaki.

Aku suka aroma sehabis kau mandi.

Bahkan setelah kau lelah berlari.
Aku suka mencium rambutmu, pipi, mata, hidung, hingga bibirmu.

Aku suka mencium punggungmu, tengkuk lehermu, hingga bawah lenganmu.

Aku suka menciummu berkali kali, tak mau berhenti.

Menyesap dalam-dalam aroma kulitmu yang tak habis-habis.
Kau bilang, cara aku menciummu berbeda.

Tak berbunyi, tanpa suara.

Karena ciumku yang sunyi, adalah aku yang sedang menikmati aromamu yang bertahan disana.
Aku rindu aroma kulitmu yang selalu wangi.

Aku rindu menciummu berkali kali, tanpa henti.

Aku rindu menikmati kedua hal itu, malam ini.
Untuk kamu,

semesta kenyamanan bagi indera penciumanku.



 

 

As seen on https://thedeepeyes.wordpress.com/2017/01/26/aku-suka/cropped-beautiful-girl-drawing-eyes1

THE LAST BARONGSAI Review

“Tradition is not to preserve the ashes, but to pass on the flame.”

 

thelastbarongsai-poster

 

Tradisi enggak berarti banyak jika tidak ada lagi yang mengapresiasi, begini kiranya kemelut hati Kho Huan. Jadi buat apa disimpan?

 

Hari itu, tiga penghuni rumah-merangkap sanggar kesenian Kho Huan kedatangan tiga surat. Surat buat dirinya, ia biarkan begitu saja. Cuma undangan lomba barongsai, lagi. Kho Huan sudah lama jengah sama kesenian tradisional tersebut, beliau menyalahkan barongsai atas kepergian istrinya, dan tontonan musiman itu juga semakin hari semakin seret ngasilin duit, selain dengan dijual. Padahal Kho Huan – sekarang nekunin usaha bikin furnitur kayu – butuh banget duit, supaya putranya, Aguan, bisa menjawab surat dari Universitas di Singapura. Aguan lagi cengar-cengir melototin selembar jawaban mimpinya. Mereka berdua tidak ada yang peduli isi surat tunggakan spp dari sekolah untuk adek cewek Aguan yang masih SMA, karena Ai memang menyembunyikan suratnya.

The Last Barongsai adalah cerita tentang struggle satu keluarga keturunan Tionghoa hidup di Tangerang masa kini, yang mana terkadang cuma mimpi dan tradisi yang jadi harta berharga. Drama film ini mulai mengambil tempat sesegera mungkin setelah Aguan tahu dari adeknya – dalam sebuah adegan sparring kungfu ringan (atau tai chi?) yang so subdued namun somewhat intens – bahwa ayah mereka menolak undangan lomba barongsai dengan alasan kompetisi tersebut tidak bisa menerbangkan Aguan ke Singapura. Mengerti betapa besar arti barongsai bagi mereka, Aguan sets out ngumpulin kembali para pemain sanggar mereka buat ikutan lomba. Dan ini membuat Kho Huan marah. Ini adalah KONTES SENGIT ANTARA REALITA DAN TRADISI. Melihat keluarga ini worked out their problems lewat banyak teriak dan air mata bisa menjadi sangat menyentuh, terutama menjelang akhir. Drama keluarga ini sebenarnya capable to floored us berkat konfliknya yang grounded.

Jika kita ngestrip down kepada karakter-karakternya, The Last Barongsai adalah film berlapis dengan penokohan yang cukup kuat dan dihidupkan oleh performances para tokoh yang secara seragam bagus. Terutama Kho Huan yang cintanya dimakan barongsai dan Ai, the left-out daughter. Kita bisa lihat sebenarnya Kho Huan sangat menyayangi anaknya, kita bisa rasakan konflik perasaannya. He just can’t rely on barongsai anymore, dia benar-benar kerja keras bikin furniture kayu sambil sesekali ngesabotase latihan Aguan dan tim. Tyo Pakusadewo benar-benar mengangkat film ini dengan penampilannya yang berapi-api. I like how he just snap his heart out di meja makan. Di akhir cerita kita jadi ikutan tenang saat Kho menemukan cintanya yang hilang, berkat anak-anaknya.
Ai diperankan oleh Vinessa Inez dengan sama berapinya, but she’s like more contained. Dia begitu ingin buktikan diri bisa ngelebihin kakaknya, but even the thought of that membuatnya semakin merasa neglected. Dia kayak ingin menjerit tapi tidak tahu ke siapa. Sedangkan karakter Aguan, pertama-tama aku enggak bisa nangkep arahnya ke mana. Dion Wiyoko terasa bermain lebih datar di sini. Baru di pertengahanlah aku realized dia adalah karakter yang salah-dimengerti. His frustration connects with us, loud and clear.

Dalam film ini kita juga melihat beberapa penampilan spesial. Beberapa mereka muncul tidak hanya sebagai cameo namun adalah kehadiran yang actually important. Mereka memberikan pelajaran buat karakter-karakter lead, dan tentu saja kepada kita yang nonton. Penampilan komedik yang hadir pun tidak pernah terasa mengambil alih. Film ini ngehandle tone emosional drama dan komedi dengan sangat mulus, tidak terasa episodic. Meskipun ada juga penampilan spesial yang enggak benar-benar add something kepada cerita, it was just like “hey, aku yang main di drama remaja terkenal itu loh, I’m relevant so I’m gonna make this movie relevant too with my presence”

 itu oplet mandra?? Oh aku honestly seneng ngeliatnya masih bagus
itu oplet mandra?? Oh aku honestly seneng ngeliatnya masih bagus

 

Salah satu penampilan spesial tersebut adalah dari pemilik rumah produksi, Rano Karno. Bermain sebagai teman Kho Huan sesama battered-down seniman, Rano Karno adalah kontras dari tokohnya Tyo. Lewat tokohnya, film sedikit menyentil soal terkadang kita harus menyerah dan mulai mengerjakan apa yang orang-orang mau alih-alih keinginan kita, meskipun itu hal yang susah untuk dilakukan. Film ini juga mematrikan kepada kita bahwa kehidupan yang beragam penuh toleransi itu sangat mungkin untuk dilakukan, seperti hubungan antara Aguan dengan rekan barongsainya yang diperankan oleh Azis Gagap. Benar-benar sebuah hubungan akrab yang based-on mutual respect.

Isu yang relevan yang berusaha diangkat, bahwa tradisi – apapun itu – selalu adalah prioritas. Kita tidak menyimpan, kita justru harus terus mengobarkannya. Dan adalah diversity sebagai tradisi yang harus kita pertahankan, because that’s what make us strong in the first place.

 

Hanya saja, all-in-all aku kecewa sama The Last Barongsai. Menurutku film ini tidak mencapai kemampuan bercerita yang maksimal. Padahal kita bisa lihat, film ini ngerti dan tahu menyelaraskan tone. Cerita dari tokoh Rano Karno yang sekarang nyesal jadi montir sesungguhnya intriguing. Backstory tokoh Azis tentang kenapa dia awalnya menolak main barongsai lagi dibeberkan dengan build ups. Ketika pada akhirnya kita learned alasan tepatnya kenapa Kho Huan enggak mau ikutan lomba meski butuh uang, momen yang tercipta terasa powerful. Film ini punya kemampuan untuk bercerita dengan subtle. Tapii, untuk sebagian besar waktu kita mendengar dialog-dialog yang ‘CEREWET’ OLEH EKSPOSISI. Kualitas dialognya, tho, terlihat seperti fokus penulisannya antara ingin terdengar ‘gede’ oleh kata-kata emosional, dengan buat jelasin semua sedetil-detilnya. I mean, apakah perlu kita mendengar gimana Aguan bisa dapet balasan surat beasiswa?

Kupikir ini ada hubungannya dengan cara film memperkenalkan kita kepada tokoh-tokoh minor. Eventually itu tentu berhubungan dengan cara film ini ngenalin ke kita akar konfliknya. Kita ngikutin Aguan bertemu mereka, satu per satu. Dan semua orang just telling him something, memberikan piece of information kepada Aguan. Adeknya jelasin situasi sang ayah. Pacarnya jelasin backstory dan konflik yang terjadi antara Aguan dengan ayah. Hengky Solaiman jelasin apa yang sebenarnya dirasakan oleh sang ayah. Bahkan ibu Aguan datang di dalam mimpi, dan jelasin ke kita apa yang dirasakan oleh tokoh si Aguan!
And btw, mimpi Aguan tentang ibunya adalah TERMASUK SALAH SATU ADEGAN-MIMPI PALING JELEK yang pernah aku lihat. Enggak terasa emosional, enggak terasa surreal, enggak terasa apa-apa. Tujuannya murni eksposisi. Padahal bisa aja film ini membuat lampu di atas mereka duduk menyala sebagai simbol penanda Aguan sudah mengerti, bisa menjawab pertanyaannya sendiri, tanpa si ibu harus ngucapinnya dalam kalimat.

ubah tiangnya jadi deathschyte yang diayunkan oleh ibu Aguan or something!
ubah tiangnya jadi deathschyte yang diayunkan oleh ibu Aguan or something!

 

Film ini just doesn’t trust us bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Mereka memberitahu terlalu banyak, alih-alih menggambarkan apa yang terjadi. Ada satu adegan di mana Azis bilang ke Aguan bahwa tadi Koh Huan mendatangi dirinya; Kenapa kita tidak melihat adegan tersebut? Kenapa film ini memilih menyampaikan informasi itu lewat kata-kata tak langsung alih-alih menyuguhkan kita adegan yang prolly emosional antara Kho Huan dengan Azis? Juga adegan ketika Aguan duduk disemangati oleh ayahnya, beliau bilang bisa melihat Aguan melatih tim dengan hati. Why we never see that scene!? Adegan latihan di mana Aguan pouring his heart adalah adegan yang perlu kita lihat karena penting untuk showing us the character, namun film ini memutuskan cukup dengan kata-kata saja.

Elemen kompetisi dalam cerita memang mesti ngalah sama porsi drama, tapi tidak berarti juga harus kehilangan greget. Problem lain dari The Last Barongsai adalah dia terlalu meminta untuk kita terus merasa kasihan sama tokoh-tokoh. Or even the film takes itself too seriously, untung saja tidak menjadi terlalu depressing. Kita tidak lagi merasakan fun dan semangatnya mereka bermain barongsai. Montase saja tidak cukup. We need more hook. Kita perlu merasa terlibat sebagai bagian dari tim mereka. Tentu saja nggak jelek juga kalo Dion Wiyoko, Tyo Pakusadewo, dan Azis Gagap diliatin latihan gerakan barongsai yang susah beneran, daripada ngecut adegan dan cuma bilang “g-g-g-gerakannya susah, s-s-sih!”. Padahal film ini sempat nanamin sedikit obsctacle, seperti Azis yang mules sebelum final, namun ternyata poin tersebut tidak pernah dibahas lagi. Akibatnya memang elemen barongsai tersebut menjadi jadi gak greget dan mundur sebagai tak-lebih dari latar saja.

Editingnya kadang terasa off juga. I don’t know what happens sama warna di kamar Ai, sih, mungkin saja intentional. Akan tetapi, ada satu shot adegan yang aku suka banget; ketika Aguan dan pacarnya ngobrol di jembatan dan di bagian dengan pinggir atas layar, melintaslah pesawat. Momen yang sangat precise, klop dengan dialog yang mengudara saat itu.

 

 

 

 

Seharusnya bisa jadi selebrasi tradisi, akan tetapi film ini lebih memilih untuk gempita berkata-kata. Yang hanya menjadikannya eksposisi saja. Bukan berarti ini film yang jelek, it’s a watchable movie untuk ditonton bersama keluarga. Tidak tampil terlalu depressing, film ini adalah keseimbangan yang hangat antara drama emosional dengan komedi. It has the capability untuk bercerita dengan proper, yang kadang muncul malu-malu. Film ini enggak konsisten. Arahan sayangnya tidak membantu apa-apa bagi film ini supaya bisa tampil pe-de menjadi spesial.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE LAST BARONGSAI.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

MOONLIGHT Review

“Only through recognizing and accepting our inner wounds can we find true healing.”

 

moonlight-poster

 

We are all have been there before, right? Dikucilkan, dibully, enggak ada yang mengerti kita, ngerasa kita begitu berbeda sama yang lain, kayak makhluk asing, you know, kayak lagu dari Simple Plan. Aku sendiri waktu SD sering pulang sekolah dikejar-kejar. At first, teman-teman memang lagi nyari pemeran yang cocok untuk jadi atlet main smekdon-smekdonan; untuk peran babak-belur, of course. But then they just enjoyed chasing me around, even aku sendiri pun jadi suka. Aku memang enggak cepat, tapi aku lihai sembunyi di mana saja. Lama-lama itu jadi permainan yang mengakrabkan kami. Poinnya adalah, growing up jadi hal yang sulit karena kita naturally ingin mengidentifikasikan diri. Dan proses itu semua bergantung erat sama lingkungan kita bertumbuh. Beberapa anak mengalami masa-masa yang lebih berat ketimbang anak-anak lain.

Film Moonlight, however, bukan sekadar film ‘find-who-you-are’ yang biasa. It’s not cerita angst ga-jelas either. Ini adalah cerita yang sangat humane, dengan drama yang dead-fokus kepada karakter. MEMISAHKAN CERITA MENJADI TIGA BAGIAN, MOONLIGHT ADALAH PERJALANAN HIDUP Chiron dari dia kecil, kemudian saat dia remaja di sekolah, hingga menjadi dewasa. Dalam detil yang begitu excruciating, kita akan melihat gimana sulitnya Chiron hidup dan tumbuh di dalam lingkungan yang very harsh, gimana dia eventually menjadi dewasa dengan belajar mengerti siapa dirinya sementara dunia sekeliling tidak paham dan tidak menerima dirinya.

In regards to identifying the story, you know, I’m very pleased to discover tentang apa film ini sebenarnya. Maksudku, perjalanan yang sangat emosional yang ditempuh oleh Chiron itu diceritakannya dengan menggugah. Kita akan dibuat terenyuh melihat Chiron menyadari apa-apa mengenai dirinya. Film ini dengan perfect menangkap lingkungan keras tempat Chiron tinggal, urban Miami actually terasa in-the-moment karena di luar sana memang banyak anak kecil yang tumbuh di dalam lingkungan seperti demikian. Dan film ini menangkap segala momen dan emosi dengan tanpa menjadikan ceritanya klise. Aku belum pernah menonton film dengan denyut storytelling sespesifik ini; cowok kulit hitam yang tumbuh di lingkungan yang keras, dia menyaksikan sekitarnya sangat, katakanlah enggak-normal, dia harus belajar how to live with that, dan sementara itu dia juga menyadari something about himself, dia harus belajar gimana mengapresiasi sisi tersebut, namun a lot of people just don’t accept who he is.

 “no, you don’t know what is like. Welcome to my life!”
“No, you don’t know what is liiike. Welcome to my life!~”

 

 

Banyak yang membandingkan Moonlight dengan Boyhood (2014). Keduanya dengan menakjubkan sama-sama menelaah kehidupan, pertumbuhan seseorang dari kecil hingga dewasa. Namun bagiku, Boyhood terasa ada yang kurang, enggak tahu juga mungkin terlalu fokus ke gimmick apa gimana. Moonlight adalah apa yang sebenarnya aku harapkan ketika nonton Boyhood. Penceritaannya luar biasa. It is such an intimate movie yang mengeksplorasi dengan stunning gimana susahnya bagi seseorang tumbuh pada lingkungan yang tidak mengerti dirinya.

 

Tidak sepertiku, Chiron kecil dikejar-kejar bukan hanya karena dirinya bertubuh paling mini di sekolah. Dia noticeable paling happy di pelajaran nari. Temannya bilang dia negro yang ‘soft’. Ibunya sendiri menyindir cara Chiron berjalan. Little, begitu anak-anak di sekolah memanggilnya, mulai menyadari things about himself meskipun saat itu dia belum mengerti. Babak pertama cerita revolves around Little yang ‘diselamatkan’ oleh Juan (dimainkan singkat tapi sungguh berkesan oleh Mahershala Ali). Ini adalah babak penting dalam cerita karena kita melihat Chiron merasa lebih nyaman berbicara – dalam kapasitas anak pendiam – kepada Juan ketimbang kepada ibunya sendiri. Dalam hidupnya, Chiron tidak punya father figure dan dia enggak bisa benar-benar look up kepada ibunya yang seorang pecandu drugs. Chiron berusaha menemukan sosok orang di mana dia bisa merasa comfortable, tetapi semakin dia bertambah usia hal tersebut menjadi semakin susah baginya. Sebabnya ya lingkungan keras tadi itu; he just feels separated from everyone else around. Chiron learns semua orang ternyata ‘punya masalah’. Act kedua film menjadi babak yang paling psyhically intense, kita lihat Chiron muda resort ke kekerasan dalam upayanya merasa lebih baik or even to think violence as a way to fit in.

Sungguh susah bagi kita untuk melepaskan diri dari cerita Moonlight. It was filmed in such a raw way dengan kerja kamera yang amat fascinating. Tidak sekalipun adegan-adegannya terasa misplaced. Arahan tingkat dewa lah, pokoknya. Penampilan akting dalam film ini, oh boy, mereka semua almost too good to be true. Ketiga pemain yang jadi Chiron; Alex R. Hibbert, Ashton Sanders, Trevante Rhodes, mereka semuanya luar biasa excellent. Sebenarnya film dengan tiga bagian cerita seperti ini gampang untuk jadi terasa episodic. Bagi Moonlight, that was never the case. There is never a case! Setiap babak usia menambah layer kepada pribadi Chiron dengan sama realnya. Masing-masing pemeran berhasil memberikan perspektif yang sukses ngefek dalam membangun karakter Chiron. Apalagi di babak ketiga, ketika Chiron datang bertemu seorang teman lama, teman yang not expecting what Chiron turns out to be. Adegan di diner menjelang akhir film genuinely terasa kayak kejadian beneran yang unfolding di depan mata kita. It was STUNNING, MATURE, DAN SANGAT POWERFUL.

there’s nothing "sawft" about this movie
There’s nothing “sawft” about this movie

 

Sutradara Barry Jenkins sepertinya memang paham betul soal bahwa hubungan antarmanusialah yang ultimately membentuk siapa kita. Arahannya menyeimbangkan dialog-dialog penuh makna dengan visual yang lantang oleh emosi. Meskipun semua pemainnya black, ini bukan necessarily film dengan suara yang loud. Film ini tahu kapan saatnya ngomong dan kapan waktu yang tepat berekspresi dengan tanpa suara. Ada banyak adegan karakter saling tatap yang begitu deep-in-the-feel, seperti saat Little menangkap pandangan Juan yang baru saja memberitahunya soal kerjaan yang Juan lakukan, ataupun saat Chiron dan Kevin duduk di pasir pinggir pantai. Semua pemain beserta peran mereka bersinar di dalam cahaya film ini, bersinar biru so to speak.

Paralel nama Chiron tidak hanya pada nama centaurus yang berbeda dari kumpulannya di dalam mitologi. Dalam astrologi, Chiron adalah komet yang melambangkan luka terdalam; derita yang tak kunjung-pergi, dan usaha kita untuk menyembuhkan luka tersebut. Moonlight adalah cerita-tiga-bagian tentang Chiron yang tumbuh dengan penuh derita masa kecil, that he tries to explore that, yang meski membuatnya tampak ‘tangguh’ setelah dewasa; luka tersebut tidak pernah bisa sembuh sepenuhnya.

 

Kata orang, ngereview itu nyari-nyari kekurangan film. Well, benar demikian sih, reviewer kudu point out secara jujur flaws yang ditemukan. But keep in mind, movie adalah ide. Dalam gagasan tidak ada masalah benar atau salah – it’s about apa yang worked dan enggak worked di dalam penceritaannya. Supaya film, in general, bisa makin terus berkembang. Jadi itu jualah yang kulakukan saat nonton Moonlight. Aku terus membuka mata lebar-lebar untuk mencari hal yang menjatuhkan. Aku terus menunggu seseorang mengatakan hal yang bego. Aku terus melek mencari kemunculan subplot horrible atau elemen yang bosenin dari tiga bagian ceritanya. Dan aku tidak menemukan apa-apa. Biasanya kan kita sering, tuh, nonton film yang mestinya bisa bagus banget namun di tengah filmnya make a really stupid choice demi jadi mainstream atau apa. Tahun 2015 ada film Dope yang juga berpusat cowok kulit hitam yang not fit in dengan lingkungan yang keras, sayangnya film tersebut dengan cepat menjadi cerita kehidupan ‘hood’ yang biasa. Momen-momen jelek yang kutunggu tidak pernah muncul dalam Moonlight. Again, everything shines in this film.

 

 

 

So well-realized, visi ceritanya tergambar tanpa cela pada layar. Film ini benar-benar punya pesan tanpa terasa membombardir moral kita dengannya. Ini adalah penceritaan yang sangat dewasa. Easily, salah satu film terbaik di 2016. Menelaah dengan stunning gimana susahnya tumbuh dalam lingkungan yang tidak ada satupun yang mengerti diri kita. Tidak ada ada satu elemen pun yang terasa out-of-place dalam tiga bagian kisahnya. Penuh oleh penampilan yang genuinely feel so real. Arahan dan editing yang luar biasa dari mulai sampai habis. This is a masterwork!
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MOONLIGHT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 
We? We be the judge.