HAUNT Review

Being scared means you’re about to do something really, really brave.

 

 

Menjalin hubungan itu mengerikan. Kalian tau perasaan ketika kita merasa berbuat sesuatu yang bodoh di depan pasangan dan menyangka semua bakal kacau padahal kita mau sesuatu yang spesial dan tak ingin sendirian lagi? Perut seperti berjumpalitan jatuh, atau keringat dingin menerpa? Nah, perasaan seperti itu juga sama dirasakan saat mau masuk ke rumah hantu. Jika relationship normal saja bisa seseram itu, maka bayangkan rasa takut yang menjalar di dalam diri seorang Harper (cuma Katie Stevens yang beruntung dapat tokoh yang paling ‘berdaging’ di film ini). Yang terjebak dalam hubungan bersama pacar yang abusive. Enggak ada yang fun soal abuse. Harper sudah tidak asing dengan melarikan diri dari itu, lantaran si abuse ini memang cenderung mengejar, menghantui korban-korbannya. Malam Halloween sekarang, Harper memutuskan untuk ikut ‘ngacir’ bersama teman-temannya. Mereka mengunjungi sebuah wahana rumah hantu untuk bersenang-senang. Just like in relationship; kalian melangkah masuk ketakutan tapi begitu sudah di dalam, kalian akan bersenang-senang. Sayangnya, rumah hantu yang Harper dan teman-teman masuki persis kayak abusive relationship si Harper. Membuat mereka terjebak. Para kru rumah hantu tersebut menggunakan kekerasan yang teramat nyata.

Haunt yang digarap oleh Scott Beck dan Bryan Woods (baca: penulis A Quiet Place yang tayang tahun 2018) dimulai seperti horor remaja kebanyakan; dengan keputusan buruk yang dibuat oleh anak muda. Tapi cerita film ini punya fondasi yang kuat, yang membuatnya megah dibandingkan film bunuh-bunuhan serupa. Film ini tidak sekadar mengagetkan kita dengan petualangan di rumah hantu. Ada perkembangan tokoh di sini. Ada perjuangan seorang manusia dalam mengatasi ketakutan personalnya. Rumah hantu dijadikan simbol  dari sumber ketakutan yang harus diatasi oleh tokoh utama. Mirip seperti Crawl (2019) yang menjadikan buaya sebagai cambuk motivasi tokohnya. Haunt dan Crawl bisa dibilang adalah contoh horor efektif, yang sederhana, yang simpel dan tak berniat sok pintar dengan segala twist yang gak perlu.

satu-satunya yang ngetwist di sini adalah perut kita

 

Backstory Harper disulam dengan sangat rapih ke dalam petualangan survival di rumah hantu, sehingga tidak sedikitpun pace film ini tersendat. Masalah masalalu sang tokoh utama tidak lantas menjadikan film ini seperti berhenti, ataupun masalah tersebut tidak terasa seperti tambalan semata. Semua yang terjadi pada Harper paralel dengan masalah yang sedang ingin ia hindari. Yang untuk bercerita tentang itu saja, Harper tidak berani. Dengan fondasi backstory yang kuat ini, kita jadi peduli sama Harper. Kita berjinjit mendukungnya untuk bisa keluar hidup-hidup dari rumah hantu sinting tersebut. Film juga punya nyali untuk menuntaskan masalah yang jadi latar belakang Harper. Kita mendapat ending yang memuaskan. Tentu saja tak ketinggalan ‘kalimat pamungkas’ yang diucapkan oleh si tokoh sebagai penghabisan seperti pada horor-horor klasik. Sesuatu yang bisa kita cheer dengan penuh nada kemenangan.

Semua orang punya cerita seram. Karena setiap orang pernah mengalami suatu hal buruk yang ingin diitinggalkan. Tapi trauma akan selalu menemukan cara untuk menakutimu. Kita tidak bisa memakaikan topeng kepada trauma. Kita tidak bisa membuat sesuatu yang menakutkan menjadi menyenangkan, yang menyakitkan menjadi menyejukkan. Dalam Haunt, Harper belajar bahwa takut berarti kesempatan untuk menunjukkan keberanian. Dan memang itulah pelajaran berharga dari rumah hantu; mengajarkan untuk menjadi berani. 

 

Selain Harper, tidak ada lagi tokoh yang ditulis padet dan berisi. Tapi film sangat bijak untuk tidak membuat mereka annoying, ataupun membuat kita pengen mereka cepat-cepat mati. Teman-teman Harper misalnya, memang sih mereka ditulis sebagai trope horor saja – mereka seperti tidak punya motivasi sendiri. Kita tidak benar-benar merasa kasihan jika salah satu dari mereka mati. Jikapun kita ingin ada yang selamat, itu supaya mereka bisa terus membantu Harper. Tapi  mereka tidak bego. Mereka kerap membuat keputusan yang menunjukkan perlawanan terhadap rumah hantu. Mereka berpikir, cukup resourceful. Bahkan di paruh pertama, narasi maju bukan karena Harper seorang, melainkan karena keputusan yang mereka buat bersama. Aku suka cara film mengantarkan kita ke titik no return; yakni dengan memperlihatkan para tokoh beneran pengen balik melewati jalan yang sudah mereka lalui. Efek emosional ketika mengetahui mereka tidak bisa balik lagi benar-benar terasa kuat, intensitas langsung naik, seakan kita ikut berpartisipasi dalam ketakutan mereka. Hanya ada satu masalah yang cukup besar buatku mengenai majunya narasi terkait pilihan tokoh-tokoh ini. Ada satu keputusan bego (banget) yang dibuat oleh tokohnya – aku gak mau spoiler banget tapi ini cluenya: terkait urutan keluar dari lorong kecil. Aneh juga, dengan arahan yang tight seperti begini, masih ada juga adegan yang konyol. Mereka harusnya lebih berhati-hati menulis adegan tersebut.

Hanya satu itu yang menggangguku. Suwer. Selebihnya, film ini terasa sangat menghibur. Tegangnya dapet, karena film sangat cakap menguasi editing dan pemakaian suara. Perasaan terkurung di dalam lorong rumah hantu itu dapat kita rasakan berkat suara-suara yang tidak berlebihan dan timing yang pas. Film tahu kapan harus menggunakan suara latar yang sangat kecil seperti decitan kayu atau desau angin pada terpal dan kapan waktunya digunakan suara yang cukup keras. Kamera pun bijaksana merekam dan menge-cut adegan demi adegan dengan presisi sehingga kita tak pernah ketinggalan sekaligus tak tahu terlalu banyak. Dan ini menambah kesan misterius yang meningkatkan suspens cerita.

Cara yang sama juga film lakukan terhadap para kru rumah hantu. Kita cukup tahu mereka semua orang gila yang haus darah, yang membuat wahana supaya bisa menyiksa anak-anak muda yang hanya pengen merayakan halloween. Kita cukup tahu mereka semua memang lebih baik pakai topeng saja; film tampaknya bermain-main dengan candaan lama “lebih serem aslinya daripada topengnya”. Kita cukup tahu mereka semua semacam kelompok sesat. Dan bijaksananya film adalah kita hanya dicukupkan untuk tahu semua itu saja. Cerita tidak dibuat ribet dengan membahas kenapa lebih lanjut. Karena fokus narasi toh bukan pada mereka-mereka ini. Lagipula mengetahui dari mana mereka dapat duit membangun rumah hantu, misalnya, akan mengurangi kemisteriusan sehingga mungkin kita tak akan menjadi takut lagi kepada mereka.

seolah kita masih butuh diingatkan betapa seramnya seorang badut

 

Rumah hantu adalah wahana favoritku. Ada masa ketika aku rela pulang pergi Bandung-Jakarta hanya untuk nyobain rumah hantu. Sekarang sudah jarang, karena mulai tergantikan dengan ‘escape room’ semacam Pandora. Tema rumah hantu dan escape room menarik dan kreatif, hanya saja sering terlalu gelap sehingga membuatnya setnya enggak kelihatan. Nonton Haunt ini aku seakan mendapat moment “I told you so!” lantaran rumah hantu dalam film ini terang benderang. Dan tidak mengurangi keseramannya. Jadi, ya aku mau nyelipin kritik buat wahana rumah hantu dan semacamnya di Indonesia; cobalah sekali-kali jangan terlalu gelap. Tontonlah Haunt. Set film ini begitu menakjubkan, sehingga aku merasa pengen ikut masuk menjelajah rumah hantunya. Jenis-jenis trik yang diperlihatkan sangat beragam. Teka-teki sederhana yang dihadirkan dalam satu ruangan bisa membuat malu seantero film Escape Room yang tayang awal tahun 2019 ini. In fact, semua aspek film Haunt akan membuat malu film Escape Room. Haunt membuat semuanya tampak manusiawi, tampak plausible, tampak beralasan, sementara Escape Room terlihat sok kece dengan tokoh-tokoh standar yang nyebelin. Aku bahkan ilang selera untuk ngereview setelah nonton. Tidak seperti Haunt yang bikin semangat untuk menuliskannya.

 

 

Untuk sebuah horor tentang rumah hantu dengan tokoh-tokoh anak muda, film ini amat sangat menghibur, dengan fondasi cerita yang kuat. Jarang ada pembuat film yang seserius dan seniat ini, yang tidak menganggap remeh target penontonnya. Film ini tidak dibuat receh dan konyol. Melainkan punya isi. Membuatnya semakin bisa dinikmati. Menakutkan, menghibur. Setelah semua darah, kekerasan, senang sekali melihat sesuatu yang masih punya hati.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HAUNT.

 

CRAWL Review

“Just keep swimming”

 

 

Di tengah horor dan thriller yang membanjiri lanskap perfilman, Crawl memang bukan ‘monster’ yang besar. Dia bahkan tidak ambisius. Tapi siapa sangka, film garapan Alexandre Aja ini, yang nyempil ‘malu-malu’ di antara film-film box office, ternyata dalam diamnya mampu memberikan pengalaman menakutkan paling murni yang bisa kita dapatkan. Dan ya, memang begitulah makhluk horor seharusnya; menyergap diam-diam dan mematikan. Crawl melakukannya dengan gemilang. It was a straight-up horror adventure. I have a blast watching this movie. Tidak pake hal-hal goib. Tidak pake perjanjian dengan klub-klub sesat. Tidak pake teori-teori sains rekaan yang ujung-ujungnya bikin cerita gak masuk akal. Tidak pake twist yang berusaha tampak pintar dengan mengecoh penonton. Delapan-puluh-tujuh menit benar-benar murni pembangunan suspens. Dan meskipun bergantung berat pada CGI, semua elemen horor pada dunia film ini berakar pada hal yang natural. Hewan dan manusia. Dan bencana alam.

Sebelum membahas dua yang kusebutkan duluan, aku ingin menekankan kepada pentingnya bagi kita untuk tidak melupakan si badai kategori 5 yang jadi latar pada film ini. Karena actually badai ini bukan sekedar latar. Melainkan ia sudah menjelma menjadi karakter tersendiri. Sedemikian kuatnya film ini ngelay-out sang badai tersebut. Badai itu tampak sangat realistis. Budget jelas sekali dimanfaatkan dengan efisien. Badai itu seperti sedang beneran terjadi. Atmosfernya menjejak kuat ke dalam cerita. Bukan sekadar siraman hujan lebat, langit gelap, dan hembusan angin dimainkan dengan efektif sebagai bagian dari alur cerita. Kadang badai ini membantu menyelamatkan tokoh-tokoh. Kadang juga membuat usaha survive mereka menjadi semakin susah. Cerita film ini menggunakan air untuk menaikkan intensitas kengerian; di mana air yang menjadi jalan masuk bagi para buaya (atau aligator) dimainkan secara bertahap.

Dalam usahanya mencari sang Ayah yang secara misterius tak-bisa dihubungi, Haley (Kaya Scodelario melakukan begitu banyak, ia kuyup oleh air dan darah) menerjang badai tersebut kembali ke rumah masa kecilnya di Florida. Untung saja ia melakukan hal tersebut, sebab ayahnya (Barry Pepper bermain gemilang sebagai motivator utama dalam hidup si Haley) ternyata membutuhkan pertolongan medis dengan segera. Sesuatu menyerang si ayah di dalam basement/crawl space rumah mereka, dan si penyerang – tak diketahui oleh Haley pada awalnya – ternyata masih di sana. Haley dan ayahnya terjebak, bersama si penyerang; buaya, yang setia menanti. Saat itulah badai ikut turun untuk meramaikan ‘pesta’. Air hujan di luar menjadi detik-detik bom waktu, karena sesegera air memenuhi ruangan, ruang gerak buaya semakin luas. Sementara posisi Haley dan ayahnya semakin kegencet. Ke mana pun mereka bergerak, air yang semakin naik, membawa buaya senantiasa mengekor mereka.

hayo ada yang tau bedanya buaya atau aligator?

 

Cerita yang dihadirkan memang sangat simpel. Tetapi semua elemen yang ada didesain sedemikian rupa sehingga bekerja berurut membangun kengerian yang maksimal. Menonton ini akan membuat kita duduk merengket, terpekik-pekik kecil, saat menyadari perlahan bahaya terus terbendung. Haley dan ayahnya nyaris tidak punya ruang untuk bernapas. Kita bahkan dibuat bertanya-tanya ngeri di dalam hati mengenai keselamatan anjing peliharaan yang senantiasa menggogok dari lantai atas memanggil tuannya. Setiap kali air naik, kita akan dibuat ikutan jantungan mikirin berapa banyak lagi buaya yang masuk. Kita akan dibuat melototin permukaan air karena kita pengen tau buayanya bakal muncul dari mana. Sungguh usaha yang sia-sia sebenarnya, karena film berhasil mengeksekusi jumpscare demi jumpscare dengan timing tak-terduga.

Horor yang terpusat di basement rumah – yang kemudian bakal naik ke lanta-lantai lain – seperti tak pernah kehilangan nada seramnya. Aksi-aksi survival yang kerap dilakukan oleh Haley, pilihan-pilihan nekat yang ia paksakan dirinya untuk lakukan, bakal membuat kita menahan napas. Tidak pernah sekalipun tindakan tokoh dalam film ini tampak bego, kayak di horor-horor atau thriller pada umumnya. Alexandre Aja yang dulu pernah menggarap Piranha 3D (2010) dengan lumayan sukses; horor tentang hewan buas juga, hanya saja lebih ‘receh’, pada film Crawl ini ingin membuktikan bahwa dia sanggup membuat yang serupa menghibur, tapi dengan nuansa yang lebih serius. Dan menurutku, dia memang berhasil melakukan hal tersebut. Buaya-buaya dalam film ini, kendati secara teknis memang adalah ‘makhluk monster pemakan manusia’ tapi tidak semata diperlihatkan hanya ingin memangsa manusia. Terkecuali pada satu-dua adegan para buaya tampak ‘bekerja sama’, mereka tidak dibuat melakukan sesuatu di luar kebiasaan buaya pada umumnya. Film ingin mempersembahkan mereka sebagai binatang normal. Kita diperkenalkan asal usul mereka lewat papan jalan penangkaran buaya yang dilewati Haley di adegan awal. Jadi film menanamkan kepada kita bahwa ini adalah buaya-buaya normal, ini adalah bencana alam normal, dan orang-orang yang terjebak di sana – baek ataupun tukang ngejarah supermarket – adalah orang-orang normal

Bahwa ini sesungguhnya adalah cerita yang grounded. Yang berinti pada keluarga. Hati cerita ini terletak pada hubungan Haley dengan ayahnya. Film sungguh memperhitungkan segala kejadian mengerikan yang terjadi pada Haley sebenarnya memiliki akar atau menjadi simbol dari apa yang seharusnya ia lakukan terhadap masalahnya dengan dirinya sendiri, yang berkaitan dengan sang ayah. Rumah masa lalu itu misalnya; tentu saja bukan tanpa sebab cerita memilih fokus di rumah itu padahal akan lebih seru kalo cerita meluas ke lingkungan di luar rumah, di mana ada lebih banyak buaya dan medan yang lebih menantang. Haley dan ayahnya memang mulai berjarak, padahal dulunya mereka akrab sebagai pelatih dan atlet renang. Haley yang selalu nomor-dua seringkali merasa tak percaya diri. Ayahnya lah yang terus menyemangati. “You’re an apex predator” gebah ayahnya bertahun-tahun yang lalu, yang jika dilihat sekarang kala mereka dikelilingi buaya, kata-kata tersebut dapat menjadi sangat ironi. Masalah pada Haley adalah bukan karena dia payah sebagai atlet renang, hanya saja ia merasa dirinya berenang karena ayah. Bakat yang ia miliki menjadi beban tatkala menjadikannya tidak percaya kepada dirinya sendiri. So it’s perfectly make sense Haley harus berenang secepat yang sebenarnya ia bisa demi menyelamatkan dirinya dan ayahnya. Buaya-buaya itu tepatnya adalah simbol ‘apex predator’ yang harus ia kalahkan.

Sama seperti sebagian dari kita, Haley tidak bisa terdorong jika tidak diberikan motivasi. Dia butuh sosok lawan untuk dikalahkan. Hanya saja untuk waktu yang lama, ia salah kaprah. Bukan tuntuan ayah, bukan pesaing renang, yang harus ia kalahkan. Lawan itu adalah dirinya sendiri. Buaya-buaya itu adalah dia menurut sang ayah; cepat – predator. Ketika dia ingin mengalahkan buaya berenang demi nyawanya, ia sadar yang ia butuhkan hanyalah berenang, berenang, terus berenang, tanpa menyerah kepada keinginan berhenti. Haley mengalahkan ‘lawan’ yakni dirinya sendiri. Maka kita lihat akhirnya dia mengangkatkan tangan penuh kemenangan.

 

Kenapa basement rumahnya bolong-bolong ya, sengaja banget ngundang air masuk?

 

Antara aksi survival dan pembangunan karakter, film memang bisa tampak agak ‘lucu’ juga. Percakapan ayah dan Haley kadang membuat kita merasa harus banget gitu ngajak ngobrol mendalam soal keluarga sekarang. Beberapa percakapan terdengar terlalu ‘dipaksa’ padahal mestinya lebih tepat dibicarakan dalam sikon yang lebih aman. Dan ini dapat membuat film yang berusaha grounded ini tampak tidak-realistis. Masa lagi dikepung buaya, bapaknya ngajak bernostalgia ke masa kecil. Tapi percakapan itu dibutuhkan karena karakter kedua tokoh ini perlu untuk dilandaskan. Sehingga kita peduli akan keselamatan mereka. Sehingga Haley dan ayahnya tidak jatoh seperti beberapa tokoh lain yang saat mereka dimakan buaya, kita tidak merasa peduli sama sekali. Film butuh menetapkan sesuatu terhadap karakternya sehingga kita ingin mereka selamat. Kita mengkhawatirkan kebersamaan mereka. Bukan sekedar kasihan kalo mereka dimakan, karena tentu saja kita kasihan dan ngeri melihat manusia dimakan buaya.

Tapi melihat ke belakang, semua drama itu tampak dengan mudah teroverlook karena penggambaran aksi survival yang begitu kuat. Film ingin tampil serius, dia tahu apa yang harus dilakukan untuk itu, dia juga ingin punya cerita yang berbobot. Hanya saja ketika kau menggarap film seperti ini, selalu ada resiko adegan-adeganmu tampak ‘maksa’ dan tidak berfungsi sesuai dengan yang dikehendaki. Menurutku film bisa lebih baik jika diberikan ruang cerita yang sedikit lebih luas sehingga pengembangannya bisa dilakukan dengan lebih natural.

 

 

Selain masalah minor tersebut, aku suka sekali film ini. Untuk urusan horor dan thriller, buatku selalu ada jeda yang cukup jauh antara film yang bagus di bioskop. Untuk waktu yang cukup lama sejak Us, aku belum lagi ngerasa puas dan genuine terhibur. Horor-survival bertema hewan buas dari Alexandre Aja ini menyambung estafetnya. Desain produksnya enggak ngasal. Badai dan buaya CGI itu tampak meyakinkan. Aksi bikin kita beneran mencicit di tempat duduk. Jumpscarenya efektif sehingga aku tidak merasa kesal dikagetin. Simpel, gak butuh twist, dan jauh dari keinginan bangun universe ribet. Nonton ini akan memuaskan sekali buat kita-kita yang ingin kabur sejenak dari rahang mengerikan dunia nyata. But mind you, kengerian dalam film ini berpotensi untuk balik menghantui kita dalam dunia mimpi
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CRAWL.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Film ini sebenarnya berpesan soal mengubah kekalahan menjadi motivasi. Pernahkah kalian merasa begitu kalah sehingga memutuskan untuk berhenti mencoba?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

SUSPIRIA Review

“It’s not just men who wear the pants in the political realm”

 

 

Tarian, seperti halnya bentuk-bentuk seni yang lain, sejatinya adalah sebuah ilusi. Tidak cukup hanya dengan bergerak, kita disebut menari, melainkan juga harus melibatkan pikiran dan perasaan. Sebab pergerakan dalam tari-tarian meniru gerakan alam. Hewan, tumbuhan. Angin. Bahkan cahaya, semuanya bisa ditarikan ketika sang penari mengilusikan dirinya sebagai materi-materi tersebut. Menciptakan keindahan, keelokan, yang mampu menghanyutkan siapa pun yang mengapresiasinya. Ilusi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam seni menari. Akan butuh usaha, kekreatifan, dan keterampilan yang sama besarnya jika ada yang ingin memisahkan ilusi dengan tarian dengan cara yang membekas. Suspiria, horor remake yang ‘dikoreografi’ oleh sutradara Luca Guadagnino, berhasil melakukannya.

Suspiria vokal kepada keduanya, tari dan ilusi. Tapi tidak pernah tampak indah dan memukau. Bukan juga menyeramkan. Mereka seperti tidak berjalan beriringan. Melainkan meninggalkan perasaan diskoneksi, sesuatu yang terentaskan, yang bakal terus merundung kita. Mengambil banyak nama-nama dari film originalnya, Suspiria kali ini tanpa tedeng aling-aling bercerita tentang sebuah akamedi tari di Jerman Barat yang merupakan kedok dari kelompok penyihir wanita. Tarian sebenarnya adalah ritual pengorbanan gadis-gadis muda untuk diambil alih tubuhnya oleh Markos, Ibu dari semua penyihir di sana. Tokoh utama kita, Susie (Dakota Johnson membawa shades of red ke dalam cerita) datang jauh-jauh dari Amerika untuk belajar tari di sana, langsung diajar oleh sosok yang ia kagumi. Tidak mengetahui apa yang terjadi – teman seakademinya menghilang, ada ruangan rahasia, dan penyihir-penyihir di sekitarnya – Susie yang berdeterminasi langsung diangkat menjadi penari utama dalam pagelaran terhebat di sana. Setelah menempuh banyak liukan, putaran, loncatan, dan pelintiran – baik cerita maupun naskah, Susie akhirnya menemukan purpose hidupnya yang sebenar-benarnya.

dan sebagaimana yang sering terdengar di radio pada background film, ini juga adalah cerita tentang perang Jerman

 

Setiap adegan menari dalam film ini akan membuat kita mengernyit. Masing-masing tampak lebih buas dari sebelumnya. Walaupun kita tidak menikmatinya, kita masih ingin terus melihat ada apa berikutnya. Begitu pun dengan misteri alias ilusi yang disajikan oleh film ini. Cerita tidak pernah benar-benar menutupi, tapi tetap saja kita dibuat menggaruk kepala olehnya. Dan terus ingin menyelami. Kita ingin menghubungkan titik-titik itu, namun tidak pernah benar-benar berada di dalam garis penghubung yang lurus. Suspiria adalah berhak menggenggam piagam Film Aneh, dan kalopun memang ada, aku yakin film ini akan mengenakan piagam tersebut dengan bangga. Bahkan menari berkeliling dengannya.

Film ini sesungguhnya punya tiga sudut pandang yang penting. Yang satu-satunya penghubung di antara ketiganya adalah ilusi aneh yang diciptakan oleh si pembuat film; yakni fakta bahwa pemeran ketiga tokoh/sudut tersebut adalah pemain yang sama. Beneran deh, aku kaget banget begitu mengetahui kalo tokoh Josef si dokter tua yang berusaha menyelamatkan para gadis, tokoh Madame Blanc si ketua pelatih tari, dan tokoh Mother Markos si ’emak’ para penyihir alam diperankan oleh satu orang; aktris Tilda Swinton (atau mungkin lebih dikenal sebagai suhunya Doctor Strange). Make up dan prostetik yang digunakan luar biasa sehingga dia bisa menjadi bapak-bapak, bisa menjadi manusia-tak-utuh, dengan sangat mengecoh. Bagian menariknya adalah ketiga tokoh yang ia perankan tidak diungkap punya kesamaan, ataupun ternyata adalah orang yang sama. Swinton benar-benar memainkan tiga tokoh yang berbeda yang lantas membuat kita bertanya-tanya, kenapa film melakukan hal tersebut? Pasti ada maksudnya, tentu akan lucu sekali kalo dilakukan hanya karena mereka malas nge-casting orang lain, kan.

Untuk menafsirkan hubungan-hubungan  dan maksud yang tak kelihatan pada film-film, khususnya film membingungkan seperti ini (and by that I mean; film-film nge-art yang kadang terlalu sok-serius sehingga jatohnya malah pretentious), kita perlu menilik unsur yang tak hadir dalam dunia cerita. Ketiga tokoh yang diperankan Swinton tadi bertindak sebagai pedoman ke mana kita harus melihat. Cukup jelas film ini didominasi oleh tokoh wanita. Akademi tari yang jadi panggung utama cerita itu sendiri adalah tempat untuk para wanita. Tidak ada cowok di dalamnya. Cowok yang nekat masuk, ataupun dipaksa masuk, ke sana hanyalah makhluk yang dipersalahkan. Dan ditertawakan. Film ingin memperlihatkan kontras antara suasana di dalam tempat wanita tersebut dengan keadaan negara di luar – Jerman lagi perang, digerakkan oleh para lelaki, sedangkan wanita di akademi matriarki hidup penuh kekeluargaan.

Namun bukan berarti tidak ada ‘perang’ di balik tembok berlapis kaca sana. Kita disuruh melihat kepada pemungutan suara yang dilakukan terhadap Markos dengan Blanc. Tetap ada persaingan, ternyata. Ada permainan kekuasaan. Ada perbedaan pandang antara Blanc yang mengkhawatirkan para penari sebab dia actually peduli sama seni menari, dengan Markos yang sebenarnya menipu mereka semua. Dia bukanlah dia yang ia katakan kepada semua penyihir bawahannya. Bahkan tarian dijadikan alat untuk saling menyerang dan menyakiti dalam kelas akademi mereka. Dan ketika semua konflik sudah seperti berakhir di penghujung cerita, kita melihat the real Mother Suspirium bertemu dengan Dokter Josef, apa yang terjadi dalam interaksi mereka? Tetap saja ada penindihan – ada kuasa yang meniadakan satu pihak yang lain. Dinamika power itu terus berlanjut tidak peduli apakah ada cowok atau tidak. Tidak jadi soal apakah ada yang ingin menghapusnya atau tidak.

Begitulah cara film ini mengatakan bahwa politik bukan hanya panggung para lelaki. Bahkan dalam sistem matriarki pun ada permainan kekuasaan. Ketika sudah berurusan dengan kuasa, dengan power, sungguh akan mudah terjebak ke dalam bentuk penyalahgunaan. Bahkan ketika kita berusaha untuk memperbaiki penyalahgunaan tersebut.

“let’s dance together, let’s party and turn off the lights”

 

Dengan pesan yang serius, dengan tokoh-tokoh yang bergantian dalam ‘sorot lampu’ (perlu aku ingatkan, ulasan ini sama sekali belum menyentuh sudut tokoh yang diperankan oleh Chloe Grace Moretz dan oleh Mia Goth), dengan segala keanehan termasuk struktur bercerita yang-tak-biasa, sebenarnya aku sendiri pun tidak tahu pasti kenapa aku semacam terobses sama film ini. Aku tidak yakin kenapa aku seperti begitu menikmati, padahal tidak – aku suka film aneh tapi aku gak bisa bilang aku suka Suspiria. Aku tidak bisa berdiri di belakang film yang tidak mengizinkan kita berada di dalam kepala tokoh utamanya. Arc Susie tidak terasa seperti ia ‘dapatkan’, yang membuat kita pun terasa seperti outsider dalam cerita. Namun tetap saja, menjelang ulasan ini aku tulis, aku sudah menonton film ini tiga kali. Aku tidak tahu mantra apa yang digunakan sehingga aku terus saja kepengen menonton.

 

 

 

Jika kalian menginginkan remake yang dibuat benar-benar berbeda, film ini adalah contoh pilihan tontonan yang tepat. Akan tetapi besar kemungkinan kalian akan kesusahan mencerna apa yang terjadi, kalian mungkin tidak akan menyukai – lantaran film dengan sengaja membuat dirinya sendiri sukar untuk disukai. Dan sementara itu, kejadian-kejadian tersebut tidak akan segera menghilang dari dalam benak kita semua. Karena pengalaman menyaksikannya lah yang dihujam dalam-dalam. Mempengaruhi kita meskipun kita sudah menolaknya. Film ini bisa saja tampil total mengerikan, seperti yang diperlihatkan oleh beberapa adegan mimpi dan sihir yang disturbing. Namun sutradara Guadagnino lebih memilih untuk menjerat kita dengan cerita yang bahkan kita tidak tahu pasti.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SUSPIRIA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian tindakan yang dilakukan Mother Suspirium di adegan paling akhir ini adalah tindakan yang benar, atau tindakan yang salah? Apakah dia benar-benar melakukan suatu perbaikan, katakanlah terhadap, sistem? Apa makna tarian Volk itu menurut kalian?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE HOUSE THAT JACK BUILT Review

“…why the mad do mad things”

 

 

Sadis ya filmnya.

Enggak sih, itu kan seni.

Bunuhin orang kayak gitu kamu bilang seni?

…….

Motong kaki anak bebek sampai dia enggak bisa dansa empat kali. Berburu anak kecil dan ibunya dengan senapan seolah sedang santai sore berburu rusa. Menguliti payudara wanita setelah merendahkan orangnya. Begitu kamu bilang seni? Saya sih bersukur banget yang kita tonton versi yang udah disensor.

Film ya seni. Boleh dong nampilin pembunuh. Lagian memangnya pembunuh enggak boleh punya jiwa seni? Orang si Jack juga membunuh karena ia menganggap perbuatannya sebagai proyek seni rupa, kok. Dia menciptakan sesuatu dengan mayat-mayat itu. Si anak kecil bibirnya disulam supaya tersenyum selalu kayak patung malaikat. Kulit si cewek, dijadiin dompet. Lihat gak di menjelang akhir? Mayat-mayat dijadiin rumah. Itu kan namanya si Jack berkarya.

Tapi kan, yang dia lakukan ke orang-orang itu….. jahat!

Lah, manusia lain juga sama jahatnya. Toh tidak ada yang datang menolong, atau tampak peduli, meski dalam setiap tindakannya Jack practically kayak minta ditangkap, dia seperti sengaja kurang berhati-hati.

Cukup aneh sih, dia bisa sebegitu beruntungnya enggak pernah kepergok. Bahkan hujan turun membantu menghapus jejak darah yang ia tinggalkan. Seolah dunia memberi izin.

Ingat gak setelah itu, di ceritanya yang kedua, Jack hampir tertangkap polisi karena dia selalu balik ke rumah korbannya?

Hahaha oiya, yang dia OCD itu kan. Jack enggak tahan membayangkan gimana kalo ada darah yang lupa ia hapus di bawah kursi, atau di balik karpet. Dia gak bisa nahan diri. Dia nekat balik untuk mengecek. Berkali-kali.

Tapi toh dia tidak ketahuan. Polisi yang memergoki pun ternyata bego banget.

Jack berkembang menjadi semakin reckless ya, setelah menyadari orang lain sama tidak-baiknya dengan dirinya.

Baik dalam artian moral sih iya, kupikir. Jack mengisahkan dua-belas tahun kiprahnya sebagai serial-killer. Dan di film ini kita melihat episode pertama dia membunuh orang; dia justru membunuh karena ‘diledekin’ sama wanita cerewet yang minta tumpangan.

Jadi menurut Jack, semua orang pada dasarnya jahat?  

Lebih ke jahat dan baik tidak jadi soal, kali ya? Malahan poin si Jack kan memang setiap manusia dilahirkan dengan kejahatan binatang. Kita menciptakan agama dan peraturan untuk menekan nafsu jahat tersebut. Jack hanya mengembrace sisi jahatnya. Dia mengekspresikan diri lewat perbuatannya tersebut. Jack memikirkan apa yang ia kerjakanlah yang jadi soal. Seperti memeras anggur kan, ia mencontohkan, anggur harus dirusak – dibiarkan keriput; ada banyak cara untuk mengesktrak airnya.

Bukankah seharusnya Jack membangun rumah?

Bicaranya metafora, dooong. Ungkapan simbolik hahaha.

Lucu juga melihatnya sebagai mengekspresikan diri. Wong si Jack setiap aksinya selalu berpura-pura. Menurut saya sih tetap saja poinnya adalah Jack ini jahat. Dia mempelajari manusia supaya bisa dengan mudah memanipulasi korbannya. Dia mempelajari sejarah dan segala macam supaya bisa cari celah untuk pembenarannya perbuatannya. Dia bisa saja nyalahin orang lain; dia membunuh karena digebah, dia beraksi karena ada kesempatan. Terakhir dia masuk neraka kan, ya

Babak terakhir itu keren banget sih memang. Jack digambarkan masih berjuang hingga akhir hayatnya. Berjuang atas nama seni dan hal yang ia percayai.  Film ini pun dibuat atas dasar demikian. Pembuatnya ingin mengajak kita diskusi tentang apa yang selama ini ia lakukan.

Ini sutradaranya si Lars von Trier yang hobi cari ‘sensasi’ itu kan? Yang dulu di depan umum pernah nyebutin dirinya bersimpati dengan Hitler. Apa Jack di film ini adalah representasi pikirannya sendiri?

Bisa jadi. Mungkin nun jauh di dalam sana dia juga enggak mengerti di mana ‘salah’nya ucapan tentang Hitler yang ia bicarakan. Film enggak harus politically correct, kan. Yang jelas film bicara tentang gagasan dan bagaimana menceritakan gagasan tersebut. Jadi, ya film ini, apa yang dilakukan Jack sebagai tokohnya, buatku itu seni. Banyak orang yang ngeloyor keluar karena gak tahan melihat adegannya, banyak suara-suara protes, itu sesungguhnya tepuk tangan bagi telinga von Trier. Dia memang mengincar reaksi seperti itu.

Nah itu dia! ‘Mengincar reaksi’. Bukankah seni itu seharusnya adalah ajang ekspresi. Saya berasumsi kita masih memegang motto “To express, not to impress”. Membuat sesuatu demi impresi menurut saya sudah bukan murni seni lagi itu namanya.

Mungkin penikmat juga turut andil dalam menentukan? Sebab semua hal niscaya diciptakan dengan desain rasa dan pikiran sang pembuat. Seni pun sesungguhnya adalah bentuk komunikasi, kan? Justru menurutku, penonton yang walkout-lah yang menunjukkan sikap gak-respek

Meskipun filmnya tidak dimengerti, atau susah ditonton karena begitu ‘menyinggung’ dan disturbing?

Ya, karena mereka-lah yang memutuskan hubungan komunikasi yang sedang berusaha diciptakan. 

Persoalannya adalah; Apakah ada yang menikmati hasil kerja Jack selain orang yang sama haus darahnya?

Wah kau ngatain aku?! Aku jadi teringat pernah ikut pelatihan nulis kritik dan pembicaranya menyebutkan tulisan kritik film itu bukanlah sebuah seni. Lancang sekali!

Ini seperti mengatakan apakah rumah adalah sebuah karya seni.

Kalo begitu penentunya harus dari pembuatnya? Rumah yang dibangun oleh kuli hanyalah sebuah bangunan tanpa arti lebih. Tapinya lagi apakah tidak ada perbedaan pada hasilnya antara wartawan menulis kritik dengan, katakanlah, seniman yang menulis kritik?

Tetap tidak. Karena kritik pada akhirnya tetap berupa kepentingan untuk reportase. Kenapa pula musti repot membuat ribet hal yang tadinya diciptakan untuk menjabarkan karya seni-bercerita kepada pembaca yang menonton.

Kembali lagi ke titik awal dong, kita. Kalo yang dinilai adalah hasilnya, kenapa mayat-mayat hasil eksperimen Jack tidak kau anggap sebagai karya seni. Bodo amat dia membunuh atau bukan. Dia seniman. Dengan media mayat.

Sepertinya saya sudah menemukan jawabannya. Proses kreatif. Seni dinilai dari proses kreatif pembuatannya. Seni terutama, seperti kata ‘teman khayalan’ Jack si Verge, adalah proses yang melibatkan cinta.

Kurang kreatif apa coba, si Jack? Dia sama seperti pesawat penerjun Jerman itu, dia punya desain tersendiri. Dia bicara kepada Verge atas dasar kecintaannya terhadap seni itu sendiri.

Hahahaha… Jack ngobrol sama Verge – sama kepalanya sendiri, seperti kamu bicara kepada saya, proses kreatifkah itu namanya? Apakah kamu lantas mau memberi saya nama juga?

…   Iya dan tidak. Karena kau sesungguhnya tidak ada.

Maka, teman, kamu adalah orang gila!

 


Rumahnya beda banget ama yang “AJ Styles built!”

 

 

 

That’s all we have for now.
Film paling polarizing tahun ini. Sanggupkah kalian menyaksikannya hingga habis? Ada banyak imaji kekerasan di sini, yang diselingi oleh bincang-bincang cerdas tentang pembuatnya, tentang kejahatan manusia, tentang seni itu sendiri.  Bagaimana pendapat kalian tentang seni? tentang film ini? Buatku ini adalah salah satu film yang paling susah untuk direview, atau bahkan untuk ditonton lagi.
The Palace of Wisdom gives 9 gold stars out of 10 for THE HOUSE THAT JACK BUILT.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

BAD TIMES AT THE EL ROYALE Review

“Do the crime, do the time.”

 

 

 

Masa-masa sulit sesungguhnya tidak akan berlangsung selamanya. Bahkan kata Pak Ustadz di mesjid, orang-orang yang disiksa di neraka pun pada akhirnya akan masuk ke surga. Setelah semua dosa-dosa mereka tertebus. Tapi itupun jika masih ada iman di hatinya. Aku bukannya mau ceramah agama, melainkan poinku adalah akan selalu ada harapan untuk mengubah masa sulit menjadi masa yang senang jika seorang percaya hal baik dan mau mengusahakannya. Setiap perbuatan pasti ada balasannya.

Hotel El Royale dalam film Bad Times at the El Royale adalah metafora yang tepat untuk surga dan neraka. Berada tepat di garis perbatasan negara bagian California dan Nevada; kita bisa melihat hotel ini literally terbagi dua tepat di tengah oleh garis pembatas sehingga para pengunjung bisa memilih mau ditempatkan di kamar wilayah Nevada atau di kamar pada wilayah California yang harga sewanya satu dolar lebih mahal. Para tamu, sepanjang yang kita lihat dalam film ini, lebih memilih untuk menyewa kamar di bagian Nevada. Dan sesegera mungkin setelah mereka masuk kamar masing-masing, kita bisa melihat kelakuan ‘jahat’ mereka yang membuat mereka cocok – mungkin memilih dari alam bawah sadar – untuk ditempatkan di kelas ‘neraka’.

adegan favoritku adalah ketika salah satu tamu berjalan di garis pembatas seolah sedang menyebrangi jembatan Shiratal Mustaqim

 

 

Premis dasar cerita ini sebenarnya tak kalah simpel dari kisah-kisah drama kriminal yang paling biasa. Beberapa orang yang saling tidak kenal, yang tadinya ngerjain urusan kotornya sendiri-sendiri, jadi saling bentrok – dengan uang dan rahasia gelap hotel menjadi perekatnya. Mengambil latar waktu 60an, kisah film ini eksis pada masa kaum hippie lagi ngetren dan perang Vietnam baru usai berkobar. Waktu yang menjadi identitas sehingga film punya keterkaitan dengan peristiwa di dunia nyata. Namun film membiarkan segala konteks sosial bergerak dalam imajinasi kita. Ia malah bercerita dengan nada penuh misteri. Malahan ada satu benda, gulungan film yang katanya berisi skandal, yang tidak pernah diperlihatkan kepada penonton selain melalui komentar-komentar tokohnya. Penggunaan gaya ala Quentin Tarantino tidak berhenti sampai di sana. Film juga membagi sudut pandang para tokoh ke dalam beberapa chapter – sutradara dan penulis Drew Goddard menggunakan nama tempat seperti Kamar Empat, Kamar Tujuh, Maintenance Closet, dan interestingly enough satu nama tokoh karena kisahnya ada di dalam kepala tokoh tersebut – untuk mengenalkan backstory dan motivasi mereka. Kita akan sering balik mundur kembali untuk meninjau suatu peristiwa dari sudut pandang tokoh yang berbeda. Untuk kemudian semua benang itu akan terikat ketika semua pemain sudah berkumpul, saling menunjukkan ‘kartu’ dan rahasia masing-masing.

Dalam bercerita, film memang tampil terlalu genre-ish. Ada polisi, ada cult leader sinting, ada pastor, ada wanita kulit hitam yang gak setidakberdaya kelihatannya. Gaya film ini toh memang mampu membuat kita bertahan keasyikan mengarungi dua jam setengah malam berhujan badai. Dengan bijaknya, semua aspek dalam film ini ditahan untuk tidak terlalu over-the-top. Sehingga kita masih bisa menyimak underlying message tentang keyakinan dan penebusan dosa yang disusupkan sebagai tema.

Segala perbuatan yang kita kerjakan, akan mendapat balasannya. Kadang memang secara tidak langsung. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh film ini, hidup akan selalu menemukan cara menagih kita. Tindak kriminal akan mendapat hukuman. Rasa penyesalan akan meringankan hukuman tersebut, paling tidak mengurangi beban di hati. Adalah terserah kita untuk memanfaatkan kesempatan menebus dosa-dosa selagi kita masih di dunia.

 

Hal menarik yang diajukan oleh film ini, berkaitan dengan konteks dan tema yang diusungnya, adalah para tokoh yang merepresentasikan Tujuh Dosa Pokok manusia. Melihat siapa yang akhirnya selamat, memberikan harapan bahwa pengampunan itu masih ada bagi siapapun yang mau mengubah dirinya. Dan perubahan itu enggak gampang. Butuh pengorbanan yang besar. Untuk tidak lagi bersikap mementingkan diri sendiri. Tamu-tamu hotel ini tadinya datang sendiri-sendiri; mereka ingin memuaskan keinginan sendiri. Meruntuhkan ego ditampilkan oleh film ini sebagai jalan keluar dalam bentuk bekerja sama – feminis akan melihat pesannya sebagai kesetaraan peran wanita dan pria – sebab Tujuh Dosa itu pada dasarnya berakar kepada nafsu ke-selfish-an manusia.

Ada tujuh tokoh, tujuh sudut pandang yang jadi kunci perputaran cerita. Setelah paragraf ini akan sarat oleh spoiler karena aku ingin memaparkan siapa dan dosa masing-masing tokoh dan bagaimana mereka gagal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pada halaman trivia film ini di situs IMDB sebenarnya sudah ada yang menuliskan teori Seven Sins seperti ini, tetapi aku punya pandangan yang berbeda. Yang udah nonton sih, silahkan baca dan mungkin bisa membandingkan dengan teori kalian sendiri;


Pertama ada Billy Lee. Tokoh ini muncul paling belakangan – dia udah kayak ‘bos gede’ yang harus dikalahkan. Berkeliaran bertelanjang dada membunuhi orang-orang bersama pengikut setianya. Dia pemimpin kultus yang enggak percaya pada Tuhan. Dan inilah yang membuatnya melambangkan dosa Pride (Kebanggaan). Ia merasa yang paling hebat. Hidupnya berakhir setelah ia meremehkan salah satu tokoh.

Tokoh itu adalah Miles, pemuda yang jadi resepsionis, bartender, dan segala macam yang menyangkut urusan hotel. El Royale sendiri adalah hotel yang punya kedok, mereka melakukan bisnis-tak-tersebut di sini. Miles lah yang disuruh untuk melihat, merekam, dan melaporkan semua kriminal yang terjadi dari balik kaca dua-arah pada setiap kamar. Miles juga adalah seorang mantan tentara yang sudah membunuh banyak orang dan dia menyesali perbuatannya. Sebesar dia menyesali kerjaannya di hotel. Tapi Miles tidak berani berbuat apa-apa. Miles melambangkan dosa Sloth (Kemalasan). Eventually, Miles adalah salah satu tokoh yang berakhir ‘happy’ karena dia berhasil menebus dosanya dengan mengambil aksi. Plot Miles adalah yang paling emosional di antara tokoh yang lain. Film menggambarkan momen terakhir Miles bersama dua tokoh lain dengan sangat menawan.

Wrath (Kemarahan) dilambangkan oleh tokoh polisi bernama Dwight Broadbeck yang menyamar menjadi tukang sales penyedot debu. Ditugaskan menyelidiki apa yang terjadi di balik bisnis perhotelan, Dwight melanggar perintah dengan gegabah ikut campur menangani kasus-kasus yang tak-sengaja ia intip di El Royale. Dwight mendapat ganjaran atas perbuatannya tersebut.

Di kamar Nevada paling ujung ada Emily Summerspring, cewek yang dipergoki oleh Dwight menyelundupkan seorang cewek lain. Mengikatnya di kursi. Dwight menyangka Emily akan membunuh cewek tersebut. Tetapi ternyata masalah Emily adalah Envy (Kecemburuan), tokoh ini sebenarnya paling sedikit mendapat eksplorasi, walaupun dia termasuk yang paling banyak beraksi. Backstory sekilasnya memperlihatkan dia kemungkinan adalah korban kekerasan seksual sewaktu kecil, membuat dia menjadi begitu dekat dengan adiknya. Hingga sang adik memutuskan untuk ikut cult yang diketuai oleh Lee.

Adiknya lah, si Rose Summerspring, tamu-tak-terdaftar yang diikat oleh Emily di kursi. Ini adalah tokoh yang paling aneh. Ada satu adegan dia menyusun kursi dan meloncat untuk bergelantungan di lampu hias lobby hotel. Dia juga diimplikasikan gak segan untuk melakukan kekerasan kepada orang lain. Dia digambarkan rela berkelahi supaya bisa tidur bareng Lee, yang tampak sangat ia sukai. Mengukuhkan perlambangan dosa Lust (Hawa nafsu).

Dua tokoh terakhir, yang sebenarnya adalah dua tokoh utama – Flynn, seorang perampok bank yang menyamar menjadi pastor dan Darlene Sweet, penyanyi latar yang ingin karirnya berkembang – punya dosa yang tampak setali tiga uang. Yang satu melambangkan Greed (Ketamakan); karena mencuri dan begitu ingin memiliki semua hingga literally lupa diri dan satunya lagi Gluttony (Kerakusan) yang begitu mengejar keinginan menjadi terkenal. Dua tokoh ini pada akhirnya berhasil selamat setelah menunjukkan arc dan transformasi yang benar-benar bikin kita terpana.


abs Chris Hemsworth mengalihkan dunia para wanita

 

 

Mengikat banyak plot dengan satu tema yang kuat, sebenarnya tidak banyak ruang gerak dalam naskah film ini. Jadi ia tahu, ia harus punya gaya. Meskipun berceritanya mungkin tidak benar-benar adalah gaya yang inovatif, film masih punya satu lapisan lagi untuk membuatnya tampil beda; penampilan akting para pemain. Jeff Bridges, Chris Hemsworth, Lewis Pullman, Cynthia Erivo (yang beneran nyanyi), semuanya bermain prima. Mataku terutama pada Cailee Spaeny sejak dia di Pacific Rim: Uprising (2018) dan kembali dia mencuri perhatian di sini. Ensemble cast di film ini bermain dalam level yang tepat, mereka tidak terlalu lebay, melainkan masih tetap menghibur dan enggak satu-dimensi – mereka masih mampu untuk menghadirkan emosi. Dari yang tadinya sendirian memegang rahasia, terhadir hubungan menarik dan really grounded antara para tokoh, seperti pastor dengan si bellboy. Memang, masih banyak yang bisa diperbaiki, tetapi film ini tahu apa yang ia incar. Mengatakannya style-over-substance sungguh terlalu terburu nafsu. Dan menurut film ini, terburu nafsu tidak akan mendatangkan masa-masa baik bagimu.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for BAD TIMES AT THE EL ROYALE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana menurut kalian tentang Tujuh Dosa manusia? Dosa mana yang kira-kira lebih mudah untuk dimaafkan? Setuju gak kalo Pride adalah dosa yang paling ‘bos’ dari semua?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

ONE CUT OF THE DEAD Review

“The critic has to educate the public; The artist has to educate the critic.”

 

 

 

Tidak terima filmnya ‘dinilai’ dengan semena-mena, Lukman Sardi pernah sempat ‘ribut’ dengan netijen yang mengaku sudah menonton. “Woiiii pada2.. bikin film itu nggak segampang lo pada pikir… lo tau nggak proses shooting kayak apa? Lo tau nggak proses setelah shooting juga kayak apa?” begitu bunyi pertahanan yang ia amukkan di instastory, Agustus 2018 yang lalu. Film One Cut of the Dead benar-benar seperti gambaran dramatis, dan lucunya jadi sangat menghibur, dari pernyataan – jerit hati – seorang pembuat atau praktisi film seperti Lukman Sardi.

Ketika sudah terbiasa melihat film secara kritis, menonton tiga-puluh-tujuh menit pertama garapan sutradara Shinichiro Ueda ini bakal bikin kita geram. Begitu banyak ketidakkompetenan. Terlihat terlalu ‘murahan’. Perspektif kameranya juga membingungkan, mereka seperti meniatkan kita melihat dari kamera kru, tapi sebagian besar adegannya kamera lebih terasa seperti ‘mata Tuhan’ (zombie sama sekali tidak mengejar kameramen), dan semakin bingung saat sutradara bicara langsung ke kamera. Satu-satunya hook yang membuat kita tetap duduk di sana adalah teknik shot panjang, tak terputus, yang mereka gunakan. Menakjubkan dan mengundang penasaran, apa yang mereka lakukan dalam merekam film. Sementara itu, cerita yang kita lihat tampak seperti tentang seorang aktris yang mengalami kesulitan mendalami karakter dalam proses syuting film zombie. Kemudian, selagi mereka break syuting, duduk-duduk ngobrol membahas keangkeran lokasi, salah satu kru menjadi zombie beneran. Suasana menjadi kacau, mereka kocar-kacir pengen nyelametin diri. Namun sang sutradara tak peduli, dia tetap menyuruh pemain dan kru untuk terus merekam. Sampai di sini kita tidak tahu motif tokoh utamanya, apa paralelnya dengan cerita.

Tapi tentu saja ada desain dari kegilaan semacam ini. One Cut of the Dead adalah jenis film yang akan semakin berkali lipat bagusnya jika ditonton dengan memahami terlebih dahulu, mengetahui terlebih dahulu, konsep yang film ini gunakan. Karena film ini memakai struktur bercerita yang sama sekali berbeda. Meminta kita untuk bertahan, mungkin menggigit bibir sampe berdarah untuk enggak keceplosan menghina, dan semua itu akan terbayar tuntas ketika kita sampai di bagian akhir. Apa yang terjadi di bagian akhir akan membuat kita memandang keseluruhan film dalam cahaya yang berbeda. Tokoh utama yang di film awal tadi bukan tokoh utama cerita film ini sebenarnya. Technically, ini bahkan bukan cerita tentang invasi zombie! Bagian zombie-zombie yang kita saksikan dengan menyipitkan mata merendahkan di awal itu actually adalah presentasi film yang dibuat oleh tokoh film ini. Dan jika ingin bicara secara teori skenario, film ini sendiri barulah dimulai setelah kredit film di awal tadi bergulir. Dalam sense waktu, kita bisa menyebut film ini sebenarnya baru dimulai pada menit ke-empat puluh, atau sekitar babak kedua pada film-film normal yang kita tonton.

mendeskripsikan film ini; seperti menonton The Room nya Tommy Wiseau dan The Disaster Artist (2017) dalam sekali duduk sebagai satu film yang utuh

 

 

One Cut of the Dead menjadi pintar dan berfungsi efektif berkat pilihan struktur bercerita yang mereka gunakan. Mereka sebenarnya bisa saja memulai cerita dengan adegan yang menjelaskan pemutaran film di dalam film, menuturkan siapa tokoh utama yang jadi fokus cerita, tapi jadinya enggak bakalan seseru yang kita lihat. Karena, seperti yang bakal kita pelajari di pertengahan film, acara yang mereka syut actually adalah acara langsung. Aspek live-show inilah yang dijadikan stake/taruhan; sesuatu yang membuat proses syuting mereka harus berhasil no-matter-what. Lalu unbroken shot yang dilakukan itu bertindak sebagai tantangan yang harus dihadapi. Aku percaya deh, take panjang tanpa cut itu beneran susah untuk dilakukan; untuk film pendek keduaku yang cuma lima menitan, aku tadinya pengen shot yang tanpa cut, dan itu aja udah melelahkan sekali untuk pemain dan kru lantaran setiap ada yang salah mereka harus mengulang sedari awal. Setnya harus dibenerin ulang. Make up kudu dipasang lagi. Apa yang dicapai oleh film ini, mereka ngerekam adegan enggak pake cut selama tiga puluh menit – aku bisa bilang, sebuah kerja sama dan perjuangan yang keras.

Membuat penonton mengetahui stake dan tantangan belakangan memperkuat esensi drama dan komedi yang ingin dihadirkan. Lantaran kita sudah terbiasa ngejudge dulu baru mau mencoba untuk mengerti. Ketinggian emosional inilah yang sepertinya ingin dicapai oleh film sehingga kita diperlihatkan dulu ‘kegagalan’ mereka. Dan setelah itu, dengan kita mengerti rintangan dan apa yang sebenarnya terjadi, ‘kegagalan’ tadi berubah menjadi ‘keberhasilan yang menggetarkan hati’ di mata kita.

Namun apakah semua film harus dilihat seperti begini? Apakah kita akan memaafkan semua film jika semua film dikerjakan susah payah seperti film pada film ini? Benarkah seperti yang dikatakan oleh Lukman Sardi, penonton harus mengerti dulu seluk beluk pembuatan sebuah film sebelum berkomentar?

 

Menonton film ini, bagiku, benar-benar membantu mengingatkan kembali bahwa apa sebenarnya yang disebut dengan film; Sebagai sebuah kerja tim. One Cut of the Dead bisa saja dibuat sebagai surat cinta kepada para pembuat film, untuk menyampaikan pesan yang memberikan semangat di tengah-tengah perjuangan keras mewujudkan suatu karya yang bakal ditonton oleh banyak orang. Mengutip perkataan dari seorang mendiang pegulat dan promotor, Dusty Rhodes, bahwa jika 70% saja show yang kita kerjakan berjalan sama dengan yang tertuai di atas kertas (naskah), maka itu udah termasuk sukses berat. Karena memang pada kenyataannya, apa yang kita lakukan tidak akan berjalan mulus sesuai rencana. Terlebih dalam sebuah proyek yang melibatkan banyak orang seperti film ataupun acara pertunjukan dalam bisnis hiburan. Kadang pembuat film perlu melalukan penyesuaian besar-besaran. Penulisan ulang. Setiap kru harus sigap dan mampu beradaptasi dengan perubahan dadakan tersebut. Dalam film ini kita akan melihat ketika macet, kondisi kesehatan, dan attitude dari aktor dijadikan faktor luar yang mengguncang ‘zona nyaman’ yakni jadwal dan visi dari sutradara.

Menurutku, film ini penting untuk ditonton banyak orang, terutama oleh para pengulas dan kritikus film. Supaya kita bisa mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Tentu, sebagai penonton kita toh tidak perlu tahu susah-senang para kru film, karena bukan kerjaan penonton untuk mengetahui hal tersebut. Kita enggak bayar tiket mahal-mahal untuk melihat itu. Kita tidak perlu tahu dulu cara membuat film untuk dibolehin mengkritik film. Tapi kita, paling tidak, perlu untuk mengetahui apa yang sedang kita bicarakan, kita perlu mengintip sedikit jerih payah yang mereka lakukan. Bukan untuk membela dan mengasihani, melainkan supaya kita bisa menghimpun sesuatu yang lebih adil dalam mengkritik.

Lebih sering daripada enggak, sebenarnya kita hanya senang mengolok-olok film. Kadang kita bersembunyi di balik istilah ‘kritik-yang-membangun’ padahal yang sebenarnya kita lakukan hanyalah nge-bully sebuah film. Tidak ada yang namanya “kritik yang membangun.” Sebab, kritik dari asal katanya sendiri berarti suatu tindakan yang mengulas. Melibatkan memilah dan memilih. Jika film adalah komunikasi antara pembuat dengan penonton, maka kritik seharusnya adalah sesuatu yang menjembatani – yang memperkuat arus komunikasi di antara kedua pihak tersebut. Kritik haruslah netral, dalam artian ketika kita menulis keburukan maka kita kudu menyeimbangkannya dengan kebaikan, pesan, atau hal-hal yang sekiranya membuat orang masih tertarik untuk menontonnya.

Ngata-ngatain sebuah film “jelek”; itu baru sekadar ngebully bareng-bareng.

Mengatakan sebuah film “jelek”, seharusnya “begini”; itu saran yang membangun, tapi belum cukup untuk dikatakan kritik.

Menyebut kekurangan film, kemudian berusaha menggali alasan – dengan melihat konteks – kenapa film melakukan hal tersebut alih-alih melakukan hal yang “benar”; itulah yang harusnya terkandung di dalam tulisan-tulisan yang melabeli diri sebagai sebuah kritik film.

 

tapinya lagi, benar relevan gak sih keadaan yang dicerminkan film ini dengan pembuatan film di Indonesia, mengingat orang Jepang itu kan disiplin semua?

 

 

Tiga babak pada film ini bukanlah pengenalan, konflik, dan penyelesaian. Melainkan hasil, barulah kembali ke pengenalan dan konflik. Cara bertutur yang memang memancing drama, tapi tidak serta merta meminta dikasihani. Karena disuarakan dengan nada komedi yang tinggi. Film juga menyinggung soal kemungkinan paradoks yang terjadi kepada para pembuat film yang ingin menunjukkan kemampuan sekaligus juga dituntut berdedikasi dalam sebuah proyek yang mungkin enggak sesuai dengan mereka sendiri, tetapi tetap harus diambil karena semuanya dianggap sebagai tantangan. Menakjubkan apa yang dicapai oleh film yang sebenarnya simpel dan mengambil resiko besar ini. Actually, buatku ini adalah salah satu film yang paling susah untuk ditentuin rating angkanya, karena dia bagus dari pencapaian. Tapinya juga adalah film yang ‘jelek’; bukan dalam sense kita harus membencinya, melainkan bagaimana dia dibangun. Film ini baru akan bagus sekali, ratingnya bisa nyaris lipat ganda, jika ditonton untuk kedua kali, saat kita sudah tahu konsep yang mereka gunakan sehingga tidak lagi melihatnya sebagai film sebagaimana mestinya. Dan di situlah kekuatan film ini; tidak akan membosankan jika ditonton dua kali. Namun, sebagai first-viewing tanpa mengetahui apa-apa tentangnya;
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for ONE CUT OF THE DEAD.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian, seperti apa sih kritik film yang bagus? Seberapa besar kritik film berpengaruh buat kalian? Apakah kalian merasa perlu untuk mengetahui latar belakang film sebelum menonton filmnya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE NIGHT COMES FOR US Review

There are some things far more frightening than death

 

 

 

Malam sepertinya tidak akan pernah berkonotasi dengan kata sepi dalam kamus Timo Tjahjanto. Malam, bagi film-filmnya, adalah panggung pertunjukan segala kegilaan. Bayangkan pentas bakat di sekolah, hanya saja pesertanya bukan anak kecil mungil melainkan kebrutalan segala jenis. Langit malam Timo akan bergema oleh kata-kata serapah. Dan ya, malam dalam judul film ini pun, sejatinya begitu hitam pekat; oleh darah.

Kita mungkin hanya bisa membayangkan gimana menyenangkannya bagi para aktor diajak suting film laga oleh Timo. Karena kita tahu kita bisa mengharapkan adegan-adegan kekerasan yang esktrim, yang tidak biasa diminta untuk dilakukan. Timo really has a knack for these kind of actions. Bagaikan jari yang tidak semestinya dibengkokkan ke belakang, Timo akan mendorong tulang-tulang tersebut – dia akan mendorong para aktornya untuk melakukan berbagai hal yang berakibatnya pada ‘patah’nya image normal yang tadinya melekat. Kita sudah lihat apa yang ia lakukan terhadap Pevita Pearce dan Chelsea Islan di horor gore Sebelum Iblis Menjemput (2018). Dan itu belum seujung kukunya dengan apa yang ia tugaskan kepada Julie Estelle, Dian Sastro, Hannah Al Rashid, bahkan kepada pemain-pemain pria seperti Abimana Aryasatya, Dimas Anggara, dan banyak lagi cast yang aku yakin semuanya pasti having fun banget disuruh berdarah-darah.

Jangan mandi kembang, mending mandi darah

 

Kerja kamera begitu jor-joran membuat setiap sekuen aksi bikin kita ngotot untuk melotot, meski mungkin perut mulai melakukan penolakan-penolakan ringan. Tusuk-tusukan, patah-patahan, dan kemudian crott! darahnya keluar. Semua tampak begitu maknyuss. Film ini luar biasa aware dengan environmentnya, setiap jengkal bisa dijadikan sudut pandang yang menarik buat ngeliat orang berantem, setiap benda-benda yang paling lumrah sekalipun – seperti papan ‘awas lantai basah’ itu – dimanfaatkan sebagai senjata membela diri yang hanya bisa dituntaskan dengan membunuh lawannya. Hal inilah yang menjadi point menarik dari film ini. Semua aspek; benda, lokasi, tokoh, udah seperti bidak catur yang posisinya udah dipikirkan dengan seksama demi mengkreasikan adegan berantem yang bisa dinikmati. Dan pada prakteknya, kamera akan mondar-mandir ke sana kemari, memastikan setiap frame penuh oleh aksi. Di belakang, di depan. Pergerakan yang nonstop, beberapa adegan film ini akan membuat kita teringat apa yang dilakukan master Akira Kurosawa dalam Seven Samurai (1954); aksi yang berkedalaman. Di film inipun kita melihat orang bunuh-bunuhan di depan, sementara di belakangnya tokoh lain sedang berusaha berlindung dari massa dengan menggunakan meja sebagai tameng. Transisi dari apa yang tadinya background kemudian menjadi fokus, digarap dengan begitu mulus dan menyatu.

Namun sayangnya kita gak bisa memberikan pujian yang serupa untuk cerita film ini. I mean, it is so basic dan meninggalkan begitu banyak elemen, karakter, yang tidak dieksplorasi. Semua tokoh yang muncul di film ini, hanya ada di sana untuk memenuhi ‘takdir’ mereka sebagai petarung. Mereka, dengan gaya dan teknik keren masing-masing, ada untuk berantem sadis, dan mati. Kalopun enggak mati, mereka pergi keluar dari pandangan kita tanpa banyak penjelasan. Tokoh-tokoh di film ini, tentu mereka punya relasi. Kita bisa mengaitkan siapa temannya siapa, anggota geng mana, tapi mereka terlalu satu dimensi. Kita tidak pernah diminta untuk peduli kepada mereka dari cerita siapa mereka, apa motivasinya. Oke, kalo memang ngotot buat terus memuji, aku pikir aku sudah menemukan kalimat yang tepat untuk mengutarakan kelemahan besar The Night Comes for Us sehingga kedengarannya seperti kelebihan.

Ini dia:

Film The Night Comes for Us akan bisa kita anggap sedikit lebih baik jika kita menontonnya dengan berpura-pura bahwa ini adalah adaptasi dari video game pertarungan. Tokoh-tokohnya; mereka kelihatan seperti tokoh game fighting, kita menyukai mereka karena jurus dan penampilan, tapi kita tidak merasa apa-apa saat mereka mati karena toh kita bisa memilih tokoh yang lain, yang akan segera muncul. Siklus film ini kayak siklus berantem di game fighting. Kita hanya nekan-nekan tombol, kita gak peduli sama cerita tokohnya – bahkan di game kita biasanya juga ngeskip cerita in-game and straight to killing. Begitulah film ini terasa buatku. Menurutku akan menarik sekali jika Timo Tjahjanto suatu saat mau dan dapat kesempatan menggarap adaptasi video game berantem kayak King of Fighters, Tekken, atau bahkan Bloody Roar dan Mortal Kombat mengingat kekhususan talentanya dalam menggarap aksi gorefest yang mengalihkan penggemar dari pentingnya bangunan cerita.

Aku gak akan bisa lupa pemandangan Julie Estelle ngeRKO Taslim ke wastafel! ahahaha

Elena kayak versi sakit dan worn-out dari superstar WWE Rhea Ripley

 

Tokoh utama cerita ini adalah Joe Taslim. Ito yang ia perankan adalah salah seorang dari anggota pembunuh andalan mafia Triad, yang disebut Six Seas. Bisa kita bilang, Ito cari makan dengan membunuh-bunuh keluarga orang. Dalam adegan awal, kita melihat Ito mengalami pergulatan moral dalam salah satu misi mulianya. Alih-alih menghabisi anak cewek penduduk kampung yang sedang ia bantai, Ito turn heel kepada Triad. Hal ini membuat Ito dan si gadis cilik diburu. Ito meminta bantuan kepada geng ‘pasukan’ lamanya; geng yang sudah ia tinggalkan padahal mereka dulu bercita-cita masuk Six Seas bareng. Konflik Ito dengan Arian yang diperankan oleh Iko Uwais sebenarnya cukup menarik. Tidak ada kedamaian dalam malam orang seperti Ito. Keberadaannya tercium, dan bermacam-macam pembunuh, bahkan tak terkiranya jumlahnya bermunculan. Cerita film ini saja udah kayak fantasi liar dari trope film-film mafia; ada pengkhianatan, rasa iri dan gak-seneng, orang yang jadi sadar karena keinosenan anak kecil. Penceritaannya sangat mengganjal sehingga terasa sekali perbedaan mencolok antara ketika bagian aksi dengan bagian eksposisi. Film akan jatuh menjadi begitu membosankan ketika film berusaha bertutur selalu tentang kejadian yang terjadi sebenarnya. Mereka tidak membahas siapa dan kenapa, dua poin paling penting yang bisa membuat cerita menjadi menarik. Semakin film bergulir, semua yang diucapkan para tokoh jadi hanya seperti throw-away saja, ada kelompok Lotus lah, ada tokoh kayak The Operator yang punya misi tapi dari siapa gak pernah dibahaslah.

Ada banyak cara untuk membuat orang mati, dan meskipun kau tidak bisa membunuh apa yang sudah mati, pada kenyataannya banyak hal yang lebih mengerikan daripada kematian. Ito paham akan hal ini bahkan sebelum dia mulai bergabung dengan Six Seas. Bahwa manusia bukan hancur ketika dia mati, tetapi justru ketika hidupnya sudah tidak lagi sesuai apa yang ia yakini.

 

 

Menurutku lucu sekali gimana film ngebuild up soal keanoniman Six Seas di teks pembuka film, dan kemudian kita melihat semua orang yang dikenal Ito tahu dia anggota Six Seas. Dari cerita dan actually beberapa aspek yang aku temukan saat nonton ini, aku toh memang merasa film ini sebenarnya bisa berkiprah lebih oke lagi. Film ini memang bekerja dalam fantasi dan logika sadisnya sendiri, tapi aku menemukan beberapa keputusan yang buatku, sebenarnya bisa mereka hindari. Seperti pada menit 17:59 ke 18:00, adegan mobil yang menepi dan kemudian dua tokoh turun. Sangat terang sekali bahwa adegan yang mestinya kesinambungan tersebut digabung dari dua waktu yang berbeda; tadinya malam, eh detik berikutnya kayak udah mau pagi. Dan lokasinya bahkan jelas-jelas sudah bukan di tempat yang sama. Kenapa mereka tidak benar-benar menggunakan shot yang kontinu beneran aja untuk adegan ini? Padahal tidak ada narasi yang disembunyikan.

Kemudian pada saat adegan-adegan berantem. Film ini sering membuat kondisi tak-menguntungkan buat tokoh-tokoh baik, mereka dikeroyok banyak orang, mereka harus selamat dari kondisi puluhan lawan satu. Tapi kita tidak exactly melihat keroyokan tersebut. Aku enggak tahu, mungkin karena keterbatasan kemampuan aktor – dan mereka gak mau pake stuntman supaya bagus, tapi adegan berantem dalam film ini masih terlihat seperti bergiliran. Tidak benar-benar real time. Musuh akan menunggu sampe temannya koit, baru maju ke depan. Ini hanya membuat either penjahat-penjahatnya tampak bego atau berantemnya jadi gak make sense, bahkan dalam standar aksi gore fantasi seperti ini. Suspensnya jadi off, dan usaha film untuk membuat kita tegang kembali? Yup, you guessed it; dengan erangan dan teriakan kata-kata kasar.

Banyak adegan yang mencoba meraih ketinggian emosional, tapi enggak bekerja dengan efektif. Sebagian besar karena kita tidak peduli ama karakternya. Dan bagian endingnya, hah! film mencoba ngecreate apa yang The Devil’s Rejects (2005) sudah lakukan dengan musik lagu Free Bird yang sulit dikalahkan ke-awesome-annya.

 

 

 

Untuk tontonan yang seram-seram menghibur, apalagi buat suasana halloween kayak sekarang, film ini adalah pilihan yang tepat. Dia punya trik-trik yang diolah dengan sangat passionate, dengan gaya dan taste yang khas, sehingga menghasilkan sebuah treat yang asik untuk dinikmati. Jika sutradaranya diganti menjadi yang taste enggak sekuat ini, dengan cerita dan materi yang sama, film ini akan jatuh tertumpuk di dasar kenistaan, lantaran ceritanya tidak dikembangkan maksimal. Kita akan cepat gusar kalo menonton ini dengan mengharapkan cerita yang lebih koheren dan adegan yang enggak terlalu dibuat-dibuat.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE NIGHT COMES FOR US.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian, siapa saja anggota Six Seas dalam film ini? Apakah Morgan Oey salah satunya? Pertarungan siapa yang paling kalian sukai?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

THE FIRST PURGE Review

“Politics have no relation to morals.”

 

 

 

Untuk melepas penat kerja sepekan, kita perlu waktu libur satu hari. Liburan diciptakan supaya dinamika performa kita harmonis; agar stres yang menumpuk, mumet dan kebosanan yang terhimpun selama hari-hari rutinitas, dapat terlampiaskan. Sehingga kita merasa lega, dan siap untuk dihujani dengan tugas dan kerjaan berikutnya. Semua perlu liburan sebagaimana butuh kerja. Orang yang kurang piknik, akan gampang marah-marah, isi twitnya dijamin bakalan nyolot ga tentu arah hihi

Konsep melepas beban tersebut juga berlaku dalam praktek kehidupan sosial yang lebih luas. Kriminalitas yang terjadi di masyarakat mungkin salah satunya disebabkan oleh pelaku yang merasa terbebani oleh peraturan. Jadi, mereka melakukan kejahatan sebagai bentuk penyaluran. Supaya mereka bisa lega dan dapat melanjutkan menjadi orang yang baik hari berikutnya. Maka, sudah semestinyalah, perlu diberikan waktu khusus untuk semua orang supaya bisa melampiaskan nafsu bejat mereka, tanpa perlu takut kena hukuman. Kurang lebih kayak liburan, cuma yang ini adalah libur dari kebaikan. Dunia dijamin menjadi tempat yang lebih baik jika hal tersebut dilakukan. Benarkah demikian?

Sejak diluncurkan tahun 2013 yang lalu, The Purge sudah berusaha untuk membawa kita berdiskusi ke ranah yang menyeramkan soal apakah sebaiknya disediakan waktu khusus di mana semua orang bisa melanggar hukum semaunya. Aku sendiri sangat tertarik dengan tema moral dan hubungan sosial yang dibincangkan oleh film ini, makanya setiap ada sekuelnya yang keluar, aku selalu menonton dengan antusias. Mengerikan memang, membayangkan gimana cara kerja Malam Purge di dunia nyata. Kota yang dengan lantas berubah menjadi seperti wasteland di dunia Mad Max; dengan geng-geng haus darah berkuasa di setiap bloknya. Aku bergidik sendiri mengingat gimana jadinya kalo di Indonesia beneran ada yang kayak gini. Apa aku akan bikin gang sendiri, atau malah jadi duluan yang terbunuh haha

What’s your favorite Purge movie? / The first Purge / Oo yang baru / Bukaan, film yang pertamaaa

 

 

The First Purge membawa kita melihat reaksi masyarakat Staten Island ketika mereka mengetahui tempat tinggal mereka dijadikan tempat uji coba Purge oleh partai New Founding Fathers, yang mana membuat mereka semua adalah tikus percobaannya. Para warga bebas untuk memilih enggak ikutan dan mengungsi sebentar ke daerah lain. Atau; mereka bisa tinggal di rumah dengan dibayar, dan bahkan dibayar lebih gede lagi jika ikutan berpartisipasi melepas stres dalam 12 jam bebas hukum tersebut. Ini adalah elemen yang sudah banyak diperbincangkan orang saat film pertama Purge keluar. Benerkah orang-orang akan langsung bunuh-bunuhan jika membunuh dilegalkan. Tapi kita – apalagi kalo sudah menonton American Animals (2018) – tahu lebih baik. Berbuat jahat itu tak segampang dan semenarik yang kita bayangkan. Malahan, hanya ada satu orang yang diperlihatkan oleh The First Purge sebagai yang benar-benar menikmati Purge sebagai ajang pemuas nafsu bunuh-bunuhan. Penduduk yang lain, ya mereka menjarah, merampok, melakukan vandalisme, tapi setelah itu mereka lantas berpesta. Tidak ada darah yang diteteskan. Kondisi yang seperti ragu-ragu, reaksi pertama terhadap percobaan Purge, inilah yang membuat separuh awal The First Purge terasa segar.

Film ingin menunjukkan kemanusiaan belumlah sirna dari dunia, sesakit apapun keadaan sepertinya. Bahwa chaos sejatinya tidak terjadi begitu saja. Melainkan karena dirancang. Program Purge tidak akan berhasil jika tidak ada pihak yang menyetir, yang menyebarkan ketakutan, yang menggunakannya sebagai alat politik. Yang menyebabkan manusia begitu berbahaya bukan karena insting bertahan hidup, melainkan karena manusia adalah makhluk yang berpolitik. 

 

 

Film ini juga bermain-main dengan trope di dalam semestanya sendiri. Seperti kenapa peserta Purge selalu memakai topeng. Kenapa masih menutupi identitas padahal pada malam Purge semua tindak kejahatan dilegalkan. The First Purge mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengaitkannya dengan sisi psikologis. Bahwa mungkin rasa malu itu masih ada. Menyadari ikut serta karena punya dendam yang tak berani diselesaikan dengan baek-baek, mengakui bahwa mengikuti nafsu binatang adalah perbuatan tercela, bahwa membunuh, merampok, memperkosa, sekalipun legal masihlah tindakan yang tidak pantas dibanggakan. Maka orang-orang lebih suka memakai topeng. Untuk meyakinkan bahwa mereka pada malam Purge bukanlah mereka yang sebenarnya. Di samping masalah psikologis tersebut, The First Purge juga memperlihatkan alasan lain tentang mengapa topeng digunakan. Sayangnya, alasan kedua yang mereka angkat ini tidaklah semenarik yang pertama, dan lebih disayangkan lagi justru alasan kedua itulah yang benar-benar diangkat menjadi topik utama oleh film.

Hadir pertama kali berbungkus thriller home invasion, Purge kemudian menghadirkan sekuel yang menjawab permintaan penonton. Orang-orang ingin melihat lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi saat malam Purge. Jadi di film kedua kita melihat cakupan yang lebih luas, kita dibawa turun ke jalanan pada malam paling berbahaya di Amerika tersebut. Setelah film kedua itu, semesta Purge mandek. Mereka hanya memperlihatkan hal yang basically sama pada film sesudahnya. Tidak ada pandangan yang lebih jauh mengenai Purge itu sendiri. The First Purge menjanjikan sudut pandang ketika acara tersebut pertama kali dicetuskan, dan film ini gagal memenuhi janjinya tersebut. The First Purge is exactly kayak film yang sudah-sudah. Mereka tetap tidak mengangkat sudut yang lain. Formulanya masih sama, berupa orang-orang yang harus mempersiapkan diri beberapa menit menjelang sirene dibunyikan, dan kemudian mereka terjebak situasi Purge, dan mereka harus bertahan hidup. Elemen-elemen psikologis hanya jadi latar. Cerita aktual tentang bagaimana Purge bisa dicetuskan tetap berupa eksposisi sepintas lewat montase headline berita.

Purge adalah Halloween khusus dewasa

 

 

Sebenarnya di film ini kita akan beneran bertemu dengan pencipta konsep Purge sebagai bagian dari kampanye politik partainya. Tapi karakter yang mestinya punya beban konflik moral, punya dilema, yang menarik untuk digali ini pun hanya terasa seperti tempelan. Karena fokus jarang sekali jatuh padanya. Kehadiran tokoh ini lebih terasa seperti karena film butuh sesuatu untuk direveal; kalian tahu, kayak kebanyakan film yang merasa perlu untuk masukin unsur twist. Kita diperkenalkan kepadanya begitu saja, ‘undur diri’nya juga turut terasa abrupt sekali. Instead, cerita akan berfokus kepada seorang pemimpin gang. Bandar narkoba muda yang sudah meraja di kota tersebut. Moral konflik yang dipasangkan kepadanya sebagai kait cerita adalah bahwa gimana dia menolak Purge yang membunuh manusia dalam satu malam, sementara kerjaannya sendiri merusak manusia 364 hari non-stop. Susah untuk peduli sama si tokoh utama – walaupun Y’lan Noel mainnya lumayan berkharisma dan cukup meyakinkan. Maka, film membawa cerita mengarah kepada warna ‘melindungi rumah sendiri’ dalam usahanya menyinari tokoh utama dengan cahaya simpati; gimana lingkungan tempat tinggal mereka digugah oleh kepentingan, dan mereka harus bekerja sama melindungi kemanusiaan di dalamnya.

The First Purge tetap seperti home invasion skala besar, dengan bukan saja unsur kekerasan yang dikurangi (karena cerita ini seperti setengah psikologis, dan setengah ‘ah sudahlah bikin yang heboh seperti biasa aja’), secara teknis film ini juga tampak lebih ‘murah’ ketimbang film-filmnya sebelum ini. Penulisannya menjurus ke konyol pada beberapa poin. Ada indikasi mereka ingin memparalelkan kejadian film dengan keadaan di dunia nyata, seperti ketika seorang politisi literally bilang “kita harus bikin Amerika hebat lagi”. Tidak ada kesubtilan, mereka menyebutnya dengan gamblang. I mean, bahkan nyindir juga mestinya ada seninya kan. Efek-efek yang ada kerap terasa ketinggalan jaman, ada bagian ketika film bermaksud merekam adegan yang misterius dengan banyak asap dan percikan darah, namun jatuhnya malah over-the-top because it feels cheap.

Pada satu poin, aku sempat heran apakah ini berubah menjadi film Searching (2018) apa gimana karena tiba-tiba kita melihat seorang tokoh penting dieksekusi lewat layar monitor. Kita tidak tahu gimana, bahkan apakah itu benar-benar si tokoh karena kita enggak bisa melihat wajahnya. Hanya orang yang terlihat mirip dia. Kenapa film tidak memperlihatkan langsung saja. Apa adegan tersebut ditambahin belakangan, baru sadar ada yang kurang tapi kontrak pemainnya sudah habis? Setelah paruh pertama, cerita benar-benar meninggalkan pacing, dan segala macem. Yang membuatku tertawa adalah ketika pasukan tokoh utama kita diberondong oleh drone, Dmitri masuk ke kolong mobil, dia hanya bisa melihat kaki teman-temannya – mereka sedang dihujani peluru. Dan setelah dronenya pergi, Dmitri langsung keluar begitu saja. Like, darimana dia tahu dronenya sudah pergi atau keadaan sudah benar-benar aman? Film tidak lagi memperhatikan sudut pandang, dan pada titik ini, kita hanya menonton untuk melihat orang mati dengan cara sesadis yang bisa kita harapkan.

Purge adalah alegori budaya kekerasan, korupnya politik Amerika, dan sistem ekonomi neoliberalisme yang curang. Salah satu episode Rick and Morty say it’s best. Yang kaya semakin kaya. Yang miskin akan binasa. Purge pada akhirnya akan memutar roda ekonomi; penjualan senjata, sistem keamanan rumah. Kelas ekonomi bawah harus berjuang, sampai-sampai ada yang menjual hidup mereka demi keluarganya

 

 

 

 

Jika ini adalah Purge Night pertama kamu, mungkin aja sih, kamu-kamu bakal suka sama filmnya. Karena memang konsep dunia Purge ini selalu menarik. Makanya, para pembuat filmnya jadi susah move on. Installment barunya selalu terasa sama, dan enggak benar-benar menggali sudut yang baru. Mereka juga membuat serial TV The Purge, dan sejauh aku menonton (tiga episode) serial tersebut juga tak banyak berbeda dengan film ini. Jadinya ya enggak maju-maju. Tidak ada pencapaian pada setiap sekuelnya, tidak ada resiko yang diambil. Malahan, film ini tampak seperti yang paling males dibanding yang lain. Terhibur sih, tapi tetep aja kecewa karena aku pengen melihat Purge dibahas lebih dalam. Alasan kenapa ada Purge adalah hal yang dijanjikan oleh cerita, tapi kita tidak benar-benar mendapatkan hal tersebut.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for THE FIRST PURGE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Akankah kalian berpartisipasi jika Indonesia melakukan Purge? Berapa duit yang kalian minta? Benarkah kita butuh satu hari untuk melampiaskan diri akan membawa kita menjadi orang yang lebih baik? Perlukah kejahatan dan dendam itu disalurkan?

Dan pada akhirnya, di mana posisi kita – para penonton semesta Purge; apakah kita menonton untuk melihat bagaimana akhirnya, atau hanya memuaskan dahaga karena kekerasan memang melegakan?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

Hell in a Cell 2018 Review

 

“Dia sahabatku”, ujar Becky Lynch mengenai Charlotte Flair. “And she was holding me back.” 

Menurut Becky, Charlotte sudah merebut begitu saja kesempatan yang sudah susah payah ia usahakan. Seteru antara dua pegulat wanita dari brand Smackdown tersebut merupakan salah satu storyline paling menarik yang dipunya oleh WWE saat ini, karena cerita tersebut berakar dari dosa kita yang paling manusiawi; dengki. Teman makan teman. Sodara nusuk sodara. Itu semua karena kita kadang suka gak senang sama prestasi yang didapat oleh teman kita. Kita merasa kita lebih baik, sudah bekerja lebih keras; ini giliran kita. It’s in our natural instinct. Sebab afterall, manusia hanyalah binatang yang punya peradaban. Baik Becky maupun Charlotte, sebenarnya tidak ada tokoh baik di sini – yang ada hanya mana yang hipokrit dan mana yang sudah muak.

Kasarnya, ada sisi kebinatangan dalam diri kita yang hanya tahu makan atau dimakan. Dan tahu bahwa lebih baik untuk memakan duluan. Sisi binatang ini kadang memang meminta dan memang lebih baik untuk dilepaskan. Hell in a Cell lewat narasi noice-over pada video pembukanya percaya bahwa nafsu buas yang menyiksa batin manusia tersebut ada yang perlu untuk dibiarkan bebas dan ada yang musti dikandangkan. Masalahnya adalah; mana yang mana.

 

manusia itu kadang “Sepintar setan, dan dua kali lebih cantik”

 

 

Bicara soal pilihan, keputusan-keputusan yang diambil oleh Hell in a Cell soal bookingan match mereka toh terkadang sering terlihat sebagai keputusan yang meragukan. Yang salah. Seperti misalnya kita paham kenapa acara bertajuk Hell in a Cell ini enggak bisa semuanya berupa partai Hell in a Cell; it would be an overkill – yang berdampak kepada penonton kehabisan energi lantaran pace acara yang di luar kendali. Dari sudut penyusunan acara, tempo harus diperhatikan. Tapi pertandingan mana yang harus dikandangkan; di sinilah letak kesalahpilihan yang dilakukan oleh acara. Pertandingan yang dibook berakhir bersih dan punya akar cerita personal seperti Becky Lynch melawan Charlotte tadi misalnya, pertandingan mereka seharusnya berada dalam kerangkeng. Akan sangat ganjil dan tentu saja awkward terasa jika sebuah pertandingan yang punya peraturan berupa “tidak ada peraturan” selesai dengan keputusan yang mengambang seperti yang kita lihat pada main event acara ini. AJ Styles dan Samoa Joe tepat diadakan sebagai pertai single biasa, meski penulis tetap melakukan keputusan aneh; entah kenapa mereka gemar mengakhir pertandingan Styles dengan kontroversi yang dipaksakan. Dari dengan Owens, Nakamura, hingga kini dengan Joe, it’s not even interesting anymore.

Salah satu keputusan terbaik yang diterapkan oleh acara ini adalah mengubah kandang menjadi warna merah. Kesan sangar jadi menguar kuat. Merah itu cocok sekali dengan ‘neraka’, dengan ‘darah’, dua kata yang langsung terbayang ketika ada orang yang menyebutkan Hell in a Cell. Bahkan Mick Foley, pegulat yang menjadi legenda karena aksinya di salah satu pertandingan tersebut, berasosiasi dengan warna merah, as in mengenakan flanel merah sebagai kostum default.

 

Pertandingan pembuka yang digelar dalam kandang juga terasa sangat pas. Sangat brutal, apa yang dilakukan oleh Randy Orton, apa yang rela diemban oleh Jeff Hardy. Dengan tema acara, pertandingan mereka juga nyambung. Ini seperti throwback ke masa lalu di mana Hell in a Cell digunakan supaya sisi buas para superstar enggak keluar ke mana-mana. Mereka ditahan di kerangkeng, dan mereka bertarung mati-matian melepaskan semuanya. Fakta bahwa Jeff Hardy dan Orton dua-dua adalah pemain lama, menguatkan semua ini – Jeff Hardy malah memakai ring gear baju jaring-jaring khas dirinya sewaktu masih di Attitude Era. Ngelihat Orton dengan obeng tergigit di mulutnya, Jeff Hardy yang lubang kuping dipelintir oleh obeng tersebut, bulir-bulir darah di punggung Orton yang berbaris membentuk replika ikat pinggang Jeff Hardy, kulit pahanya yang terkelupas. Pertandingan tersebut sebrutal apa yang bisa kita minta kepada era kekinian. Orton yang memaksa wasit untuk menghitung pinnya terhadap Jeff Hardy yang pingsan – entah ini dia improvisasi atau memang skenario, memberikan bobot drama yang gede. By itself, pertandingan tersebut adalah pilihan yang tepat, it really sets up the mood.

Pengekornya, sayang tidak berhasil mempertahankan mood yang sudah terbangun tersebut. Hanya partai Tag Team antara Ambrose dan Rollins melawan Ziggler dan McIntyre yang berhasil menandingi – bahkan menyaingi pencapaian Orton dan Hardy pada pertandingan pertama, baik dari segi cerita dan segi aksi. Pertandingan-pertandingan yang lain memiliki cerita yang baik, psikologi karakter yang sesuai dengan konteks cerita, tapi kualitas aksinya tidak bisa mengimbangi standar yang sudah diset. Becky dan Charlotte tadi misalnya, ada beberapa gerakan yang enggak mulus. Joe dan Styles, ‘tight’ dari segi teknis, namun kehilangan urgensi demi kepentingan melanjutkan storyline.

Ada dua pertandingan yang kita sudah sama-sama tahu bakal tersuguhkan dengan less-action more-drama. WWE benar-benar mencoba menutupi kekurangan Maryse dan Brie dengan drama; dengan tipe match yang kusebut cutscene match pada ulasan pay-per-view yang lalu. Begitupun ketimpangan antara Rousey dan Bliss – both ways. Pertandingannya di sini adalah sebagai giliran Rousey untuk bermain sebagai seseorang yang ‘kurang diuntungkan; dia perlu belajar berbagai variasi angle cerita sebagai seorang bintang baru. Kedua match ini berhasil terdeliver dengan baik, dan tidak benar-benar punya kekurangan. Hanya saja, melihat gambaran besar pertunjukan, kehadiran kedua pertandingan memperlebar rentang hiburan yang diset dengan tinggi di awal tadi.

Lagu entrance Maryse lebih awesome dari punyanya The Miz

 

Main event acara ini bertindak sebagai twist. Jika diawal mereka sudah membawa kita melihat bahwa struktur sel itu digunakan supaya para superstar bisa mengeluarkan sisi terburuk mereka tanpa membahayakan siapapun, maka pertandingan dalam sel yang diwasiti oleh Mick Foley tersebut sesungguhnya ingin memperlihatkan bahwa kandang juga digunakan untuk melindungi dari kebuasaan yang datang dari luar. Keputusan yang menarik. Namun setelah dieksekusi, hasilnya malah aneh. Maksudku, kenapa kita jadi lebih peduli kepada Ambrose dan Rollins yang berantem dengan Ziggler dan McIntyre di luar di atas kandang sana, padahal semestinya kita gigit-gigit jari melihat pertarungan brutal antara Reigns melawan Strowman di neraka di dalam sel?

Ending match yang datang tak lama kemudian malah lebih aneh lagi. It’s awesome melihat Lesnar tiba-tiba datang dan menendang lepas pintu kandang. Interferensi semestinya akan selalu menyenangkan, dengan syarat pertandingan yang diganggu itu tetap selesai. Dalam kasus acara ini, pilihan untuk menjadikan match tersebut seolah cliffhanger dalam film sungguh keputusan yang masih terbuka untuk perdebatan. Dan lucunya, kontradiktif sekali dengan Mick Foley yang mereka pajang berada di sana. Gini loh; Foley jadi legenda dan dia membantu ngesell pertandingan Hell in a Cell ini dengan fakta bahwa dia pernah terjun dua kali dari atas kandang, dan tetap menyelesaikan pertandingan meski bukan-tak mungkin dia hampir mati. Dan kemudian kita melihat Strowman dan Reigns tepar begitu saja kena F5 dari Lesnar yang datang mengamuk, kedua kontestan tidak sanggup melanjutkan pertandingan. Ini mengurangi nilai kengerian Hell in a Cell sendiri. Di samping tentu saja membuat dua superstar teratas brand Raw itu tampak lemah. Amat sangat lemah.

 

 

 

Hell in a Cell kesepuluh yang diadakan oleh WWE ini sebenarnya punya potensi untuk menjadi salah satu acara terbaik tahun ini. Konteks cerita setiap matchnya berjalan dengan baik dan konsisten. Tapi ada beberapa pilihan yang seharusnya bisa dipikirkan ulang. Ada cara dan pilihan yang bisa membuat acara ini lebih menarik dan menghibur lagi. Satu yang menurutku seharusnya bisa diperbaiki, di luar performa dan pertandingan adalah, Michael Cole sebagai komentator. Ini sebenarnya sudah menjadi keluhan umum sih, tapi kupikir Cole sangat ‘bego’ di sini. Komentarnya terlihat seperti membaca cue card. Kata-katanya tidak terasa seperti datang dari ucapan orang yang menonton, lebih seperti menjelaskan apa yang di layar. Pada adegan Ambrose naik memanjat kandang di pertandingan akhir, kita bisa mendengar jelas Cole terdiam dan mengulangi dua kalimat terakhir yang ia ucapkan, karena dia ngucapinnya kecepetan. Bayangkan, dia udah ngomen Ambrose manjat padahal di layar belum kejadian. Kemudian entah dia sadar atau ditegur, dia mengulangi komentarnya, disesuaikan ama pemandangan di layar. It’s really silly, seriously.
The Palace of Wisdom menobatkan Ziggler dan McIntyre melawan Rollins dan Amrose sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

Full Results:
1. HELL IN A CELL Randy Orton beat the superhero out of Jeff Hardy
2. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Becky Lynch merebut apa yang pantas menjadi miliknya dari tangan Charlotte Flair
3. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Dolph Ziggler dan Drew McIntyre retain dalam sebuah sekuen yang menarik atas Dean Ambrose dan Seth Rollins
4. WWE CHAMPIONSHIP AJ Styles menang tapi kontroversi, membuat Samoa Joe mengamuk kepada Paige 
5. MIXED TAG TEAM Maryse dan The Miz mengalahkan pasangan Brie Bella dan Daniel Bryan
6. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Ronda Rousey ngalahin Alexa Bliss 
7. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP HELL IN A CELL Juara bertahan Roman Reigns dan penantang Braun Strowman sama-sama tepar 

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah ini bakal jadi pertandingan terakhir dari Jeff Hardy? Bagaimana pendapat kalian tentang Braun Strowman dengan koper kontraknya? What’s your favorite Hell in a Cell match of all time?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

THE PREDATOR Review

“Never capture what you can’t control.”

 

 

Monster pembunuh dari luar angkasa berkunjung lagi ke Bumi, siap untuk berburu manusia. Mereka hadir dengan kekuatan yang sudah berevolusi; lebih pintar, lebih ganas, lebih gede, dengan senjata dan teknologi yang lebih mematikan pula. Tapi jangan khawatir. Sekumpulan pria macho yang dapat memadamkan rokok dengan lidah sudah siap untuk menghadapi alien tersebut. Mereka akan menunjukkan bahwa makhluk seberbahaya itu tidaklah mengerikan. Melainkan lucu.

The Predator ternyata bukanlah sebuah reboot ataupun prekuel. Ceritanya adalah lanjutan, pengembangan dari semesta Predator (1987) di mana kita melihat salah satu penampilan terbaik dari Arnold Schwarzenegger. Film lanjutannya ini meng-acknowledge kejadian pada film-film sebelumnya, tidak ada yang elemen yang dihapus. Sutradara Shane Black yang actually juga ikutan main pada film yang pertama tahu persis trope-trope yang membuat franchise ini digemari, sebagai sebuah film monster 80an. Sampai di sini, penggemar Predator menghembuskan napas lega, Akan tetapi, ada sesuatu yang dilakukan oleh Shane Black terhadap arahan bercerita, sebagai bagian dari misinya mengembangkan mitos dan dunia Predator. Sesuatu yang mungkin mengecewakan bagi para penggemar. Seperti The Nun (2018) yang lebih mirip sebuah petualangan misteri ketimbang horor mencekam, The Predator digarap oleh Black dengan menjauh dari akar horornya. Hampir tidak ada jejak keseraman yang muncul pada film ini. The Predator tampil sebagai aksi petualangan melawan monster yang penuh oleh lelucon-lelucon. Yang mana paling tidak membuatnya lebih baik dari The Nun yang tampil setengah-setengah.

brb nyari lengan korban yang ngacungin jempol

 

 

Satu-satunya adegan paling mengerikan dalam film ini adalah ketika ahli biologi yang diperankan oleh Olivia Munn berusaha melarikan diri dari Predator yang mengamuk di lab. Dia berusaha bersembunyi tetapi pintu ruangan hanya terbuka setelah melewati proses dekontaminasi. Jadi, dia musti buka baju dulu, di-scan segala macem dahulu, sementara si Predator di ruangan kaca di sebelah sudah semakin mendekat. Kita tidak akan menemukan suspens selain pada adegan tersebut. Film benar-benar berkonsentrasi untuk komedi dan adegan-adegan aksi yang berujung dengan tubuh yang terpotong. Shane Black memang sengaja melakukan itu semua; menomor-duakan aspek horor. Sepertinya dia punya ide lain terhadap franchise Predator, sebagimana tokoh di film ini yang punya pendapat berbeda terhadap penyebutan istilah Predator. Ada running jokes tersemat dalam cerita soal selama ini kita salah menyebut para alien tersebut sebagai Predator. Karena Predator tersebut enggak exactly predator. Mereka pemburu. Mereka membunuh bukan untuk hidup, melainkan untuk bersenang-senang. Mereka tidak memangsa manusia. Dalam film ini dijelaskan alasan Predator membunuh yang ternyata lebih sophisticated dari sekedar insting bertahan hidup. Ini sebenarnya mencerminkan visi dan arahan Shane Black untuk ke depannya. Jika kita lihat ending film ini, bukan sekedar asal nembak jika kita sampai berteori manusialah yang akan menjadi predator bagi Predator.

Bukan tanpa alasan jika manusia disebut sebagai predator paling berbahaya. Enggak cukup dengan memakan apa saja yang bisa dimakan untuk bertahan hidup, membuat kita predator segala resipien; jumlah mangsa paling banyak. Kita terkadang suka ‘memangsa’ sesuatu di luar kemampuan kita. Manusia ingin menangkap semuanya, lihat betapa tamaknya teknologi dan alien diperebutkan oleh tokoh-tokoh film ini.

 

 

Dimulai dengan pesawat asing crashing down, yang mengingatkan kita kepada Predator pertama, dan tentu saja dengan The Nice Guys (2016); buddy-komedi garapan Black yang kocak abis. Sama seperti film tersebut, The Predator juga punya tokoh anak jenius yang memegang peranan penting. Tapi tidak seperti film tersebut, The Predator  punya plot yang sedikit terlalu ribet untuk dirangkai. Narasi film ini lebih terasa seperti rangkaian-rangkaian kejadian alih-alih sebuah kesatuan cerita yang kohesif. Tokoh utama kita adalah Quinn McKenna seorang sniper yang diperankan oleh Boyd Holbrook. Dialah yang pertama kali menemukan pesawat alien yang jatuh saat sedang bertugas di hutan. Pemerintah tentu saja berusaha menutupi kejadian tersebut, Quinn ditangkap dan dikirim ke penjara karena menolak untuk tutup mulut. On the way, Quinn bergabung dengan tentara-tentara ‘sinting’ yang lain, untuk mengalahkan alien yang Quinn tahu bakal datang mencari benda yang ia ambil dari rongsokan pesawat. Yang tak diketahui Quinn adalah benda tersebut justru dikirim pos ke depan pintu rumahnya. Dan jatuh ke tangan Rory, anaknya. See, Jacob Tremblay di sini adalah anak berkebutuhan khusus yang bisa menyusun bidak-bidak catur yang berserakan ke posisi sebelum permainan diganggu. Armor dan benda-benda berkilat itu dimainkan oleh Rory layaknya video game. Bahkan helm alien tersebut ia kenakan sebagai kostum Halloween. Tanpa menyadari bahwa dia baru saja mengirim sinyal memberitahu Predator langsung ke alamat rumahnya.

kalo gak mau dilihat orang, pake topeng astronot aja, dek

 

 

Film ini adalah rangkaian kejar dan kabur-kaburan yang melibatkan banyak talenta, dialog dan momen kocak, serta sosok Predator yang kostumnya keren. Keputusan memakai orang alih-alih komputer memang jarang sekali menjadi keputusan yang jelek untuk film monster seperti ini. Enggak semua yang kita lihat adalah CGI, walaupun memang efek menjadi penyedap utama buat film ini. Shot, cara mati, pertempurannya, seru untuk diikuti. Pemandangan Predator yang tak-terlihat terguyur oleh darah  membuatku bertepuk tangan. Selera komedi film ini sangat klasik, nuansa monster 80annya sangat kuat. Ada satu tokoh yang bilang “I will be back” yang langsung disamber ama temennya “No, you won’t”. Dan ini lucunya meta banget. Hanya saja, di luar segala referensi dan one-liner itu, enggak banyak yang bikin kita ter-attach sama tokoh-tokohnya. Sangat susah buat kita bersimpati pada apa yang mereka hadapi, lantaran mereka sendiri tidak pernah tampak ketakutan. Mereka bercanda saja sepanjang waktu. Malah ada satu tokoh yang karakternya literally disebutin suicidal. Dan dia menyebut itu dengan tampang bangga. Jadi ketika dia benar-benar memilih untuk mati, kita enggak ada sedih-sedihnya.

Sepertinya film berusaha melakukan apa yang dilakukan oleh Taika Waititi pada franchise Thor. Taika melihat potensi komedi pada Thor, dan menggadangkan aspek tersebut, tapi Taika tidak mengecilkan porsi yang lain. Thor dan para karakter tetap dibuat emosional, dan actually tema ceritanya adalah bahwa dewa juga manusia. The Predator mencoba untuk berevolusi, Black melihat potensi komedi pada franchisenya, dan benar-benar banting setir ke arah sana. Sisi kemanusiaan karakter lupa diperhatikan. Jangankan horor, emosi yang lain pun tidak dapat kita rasakan. Ada satu tokoh yang belum pernah menyakiti orang seumur hidupnya. At one point of the story, terbunuhlah orang olehnya. Tapi film tidak membawa kita untuk menyelami perasaannya; tidak ada penyesalan, sedih, tidak ada rasa bersalah, atau malah tidak ada rasa senang ataupun mungkin lega. Film ini berpindah begitu cepat seolah kejadian-kejadian yang mereka lewati sudah tidak penting lagi karena, hey, itu Predator yang harus mereka kalahkan sudah muncul kembali.

Ada perbincangan soal menjadi ‘alien’ di planet sendiri. Predator normal dan Quinn sebenarnya berbagi perjalanan yang serupa, bahwa mereka adalah orang asing. Mereka adalah pelarian. Karena mereka tidak setuju ataupun bertentangan dengan pemerintah, dengan sebuah kesepakatan. Jadi mereka memilih cara mereka sendiri, dengan harapan mengubah hal menjadi lebih baik karena mereka tahu that they know better. Makanya pertempuran terakhir dengan Super Predator yang pada dasarnya adalah ‘polisi’ para predator menjadi sangat personal bagi Quinn. Aspek ini terlihat digunakan sebagai alasan kenapa Black membawa The Predator menjadi full action dan less-horor. Karena dia ingin berevolusi. Bahwa dia tak segan untuk menjadi berbeda di dunianya sendiri. Babak ketiga film ini memang seperti sebuah tindakan yang berkelit dari potensi horor, terasa sekali gimana film yang sadis ini enggak mau tampil menyeramkan. Drawback dari keputusan kreatif ini adalah film tidak bisa bercerita dengan baik, narasinya tidak terasa berkembang dengan alami.

Alih-alih berevolusi, apa yang dilakukan oleh Shane Black terhadap film ini malah lebih seperti ilmuwan gila yang sedang menjahit makhluk Frankeinstein. Ya, film ini makhluk tersebut; penuh jahitan.

 

 

 

 

Dengan semua materi dan talenta yang ia punya, Shane Black menyuguhkan kepada kita petualangan aksi yang kocak dan sadis dengan sosok monster, tapi tidak pernah diniatkan untuk terasa menyeramkan. Keputusan yang aneh, memang. Tapi aku tidak bisa bilang aku kecewa, karena aku sebagai penonton yang tumbuh dengan monster-monster cheesy 80-90an, sangat menikmati lelucon film ini. Tapinya lagi, kesenangan pribadi kita terhadap suatu film tidak lantas menyematkan predikat bagus terhadap film tersebut. Ada banyak aspek yang lemah pada film ini, narasinya yang tidak padu, plot yang tipis, karakter yang tampak tidak tahu emosi lain selain ngelucu. Untuk menyederhakannya; film ini terasa artifisial. Dia seperti memakai banyak armor secara serabutan. Yang menunjukkan betapa lemah ia sesungguhnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE PREDATOR.

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa sih kekuatan dari franchise Predator menurut kalian? Apa film Predator favoritmu?Apakah dengan membuatnya jadi kehilangan unsur seram dan total komedi Shane Black sudah membunuh franchise ini?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017