MINI REVIEW VOLUME 16 (GODZILLA X KONG: THE NEW EMPIRE, ARGYLLE, IMAGINARY, MILLER’S GIRL, MEAN GIRLS, NOT FRIENDS, ROAD HOUSE, LISA FRANKENSTEIN)

 

 

Di bulan Film Nasional ini pun aku ternyata kembali gagal menonton film-film Indonesia. Instead, karena kesibukan mudik dan sebagainya, maka kompilasi Volume 16 ini berisi oleh satu film impor baru, dan film-film impor pilihan yang terlewatkan di bioskop beberapa bulan lalu – also film yang memang tidak tayang di bioskop kita – yang menurutku layak untuk kita bahas dan bicarakan.

 

 

ARGYLLE Review

Argylle, kalo aku gak salah itung, adalah film ketiga dalam beberapa bulan ini yang punya konsep memvisualkan aksi dari tulisan/karangan protagonis. Dan Argylle ini punya cara spesifik – yang sayangnya sering jatoh annoying – dalam melakukan konsep tersebut.

Jadi ceritanya, karakter yang diperankan oleh Bryce Dallas Howard adalah seorang penulis novel action spy populer. Namun, walau dia merasa tidak tahu sama sekali tentang dunia ataupun profesi yang ia tulis sebagai karangan, para penjahat dan spy beneran tertarik untuk mengetahui ceritanya lebih dalam, karena ternyata there are some truths pada karangannya tersebut. Alhasil, perempuan dan kucing peliharaannya itu terseret ke dalam petualangan seru seperti cerita karangannya, only it’s real. Yang bagi kita, sayangnya lagi, film ini semakin berjalan, semakin mengada-ada.

Berniat untuk bikin jadi fun, plot film ini dibuat dengan bersandar pada twist demi twist. Karakter-karakternya bakal bikin kita “oh ternyata dia jahat, eh, ternyata bukan! Eh, bener jahat, ding!! Eh, baik sih kayaknya.” hingga berakhir dengan “Eh… aduh, ini apa sih sebenarnyaaa” Konsep memvisualkan aksi dalam karangan pun tampak aneh dan chaos karena film memilih untuk melakukannya dengan membuat Bryce melihat seorang spy beneran – atau juga dirinya sendiri – sebagai karakter di dalam karangannya, dan switch visual itu dilakukan terusmenerus sepanjang sekuen action. Menurutku memang ini sayang sekali, selain karena film ini bertabur-bintang, tapi terutama karena sutradara Matthew Vaughn sebenarnya punya arahan aksi yang menarik. Ketika film tidak sibuk dengan konsep pengungkapan yang overstylish, film ini baru terasa benar-benar  fun. Misalnya pas sekuen aksi skating di tumpahan minyak. Itu konyol tapi juga memberikan karakternya aksi yang unik.

The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for ARGYLLE

 

 

GODZILLA X KONG: THE NEW EMPIRE Review

Godzilla dan Kong adalah tag team that we all deserved, tapi sebaliknya, we are all deserved a better Gozilla Kong movie than this. Karena meski yang ditawarkan Adam Wingard ini memanglah sungguh spectacle porsi titan, tapi spectacle tersebut terasa masih hampa. Masalahnya ada pada pilihan kreatif yang sama sekali tidak menguntungkan bagi spectacle ini.

Yang menarik dari Godzilla, ataupun Kong, adalah melihat mereka yang super size itu berinteraksi dengan manusia. Ya aksinya, ya ‘relationship’nya. ‘Movie magic’ dari film seperti ini adalah melihat mereka hidup di antara kita. Dampaknya apa, ancamannya apa, simbolismenya apa. Sama seperti menonton gulat, pertandingan baru akan menarik jika pihak-pihak yang terlibat dikembangkan, kontrasnya dicuatkan, diberikan cerita. Pada aspek itulah film terasa unbalanced. Cerita yang mengambil tempat di Hollow Earth – dunia yang memang dihuni oleh banyak makhluk raksasa dan menakjubkan lainnya – membuat Kong dan Godzilla kehilangan kontras mereka yang menakjubkan. Melihat mereka di film ini ya kayak ngeliat monster di hutan saja.

Cerita dengan pihak manusia pun terlalu basic. Plot the chosen one, lalu ada juga soal ibu angkat yang mungkin harus berpisah dengan anaknya, tema soal kembali kepada your own clan, tidak cukup kuat dan menarik sebagai fondasi final battle yang megah. Terasa seperti kita bisa langsung skip nonton final battle, tanpa melewatkan banyak hal baru – ataupun malah hal penting. Yang bikin aku makin jenuh adalah karakter manusianya yang template film-film spectacle hiburan. Sekelompok orang eksentrik yang suka nyeletuk lucu.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for GODZILLA X KONG: THE NEW EMPIRE

 

 

 

IMAGINARY Review

Ngomongin soal klise, well, horor karya Jeff Wadlow bersama Blumhouse ini akan terasa seperti bunch of other horrors dan yea, kemiripan itu bukanlah imajinasi kita semata. Film ini dikembangkan dari elemen-elemen horor populer lain seperti masuk ke dunia ‘gaib’ kayak Insidious, dan yea tentu saja trope anak yang berteman dengan hantu.

Teman khayalan umum dimiliki oleh anak kecil, apalagi yang sedang dalam masa kesulitan untuk bersosialisasi. Efek baik dari punya teman khayalan ini sekiranya dapat membantu anak dealing with their emotions karena ini basically bicara pada teman yang tak nyata itu adalah bicara dengan diri sendiri. Efek buruknya, ya tentu saja bicara dengan yang tak ada terlihat creepy sehingga dijadikan film horor. (Makin-makin kalo filmnya kurang tergarap baik seperti film ini). Pertama karena Imaginary membahas teman khayalan lewat sudut yang ribet. Perspektif utamanya adalah seorang ibu tiri yang dulu punya teman khayalan, nah si teman inilah yang ternyata beneran hantu dan kembali untuk meneror anak angkatnya. Tapi bahasannya itu tidak pernah dalem. Cuma ada satu bahasan psyche si karakter utama yang menarik (ketika there is no bear!). Film tampak lebih tertarik mention-mention Bing Bong dari Inside Out – mentone down bahasan ketimbang benar-benar mengolahnya. Hingga akhirnya film ini kena masalah yang kedua, yaitu klise tadi.

Tahun ini kita actually bakal dapat dua film tentang imaginary friend, dan setelah menonton film ini, ekspektasiku buat  film yang buatan John Krasinski jadi tinggi. Semoga pada genrenya dia tidak mengecewakan seperti film ini pada horor.

The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for IMAGINARY.

 

 

 

LISA FRANKENSTEIN Review

Lisa Frankenstein debut penyutradaraan film panjang Zelda Williams sebenarnya juga sama kayak Imaginary dalam hal ngejahit banyak elemen film lain ke dalam pengembangan ceritanya, like, ini literally based on Frankenstein, tapi film ini benar-benar mengembrace elemen-elemen tersebut, dan sama seperti si monster buatan itu, film wear those parts proudly sehingga jadi berjalan seperti diri sendir dan dengan menyenangkan pula.

Film enggak peduli sama moral, wokeness bahkan dijadikan salah satu running komedi. Ceritanya tentang Lisa, remaja yang trauma sepeninggal ibu, dia jadi suka ngadem di kuburan, dan dia tertarik sama satu nisan patung, dan dia make wish bisa bersama si mayat. Petir menyambar, mayatnya hidup, dan mereka berdua semacam went on killing spree untuk mengganti anggota tubuh si mayat hidup yang busuk dengan anggota tubuh orang lain. Mulai dari dialog, karakter, hingga kejadian, film ini gotik-gotik kocak. Arahan Zelda membuat film ini jadi punya awkwardness yang charming. Saking cueknya, film ini gak peduli bikin adegan main piano yang supposedly romantis, tapi Kathryn Newton yang jadi Lisa gak bener-bener bisa nyanyi tapi tetep disuruh nyanyi. Yang jelas, ini bakal jadi nomine yang paling unik di Best Musical Performance award blog ini tahun depan.

Mungkin karena nyeleneh itu juga film ini gak tayang di bioskop kita. Sayang, karena bisa jadi kita keskip kesempatan nonton di layar lebar apa yang sepertinya bakal jadi modern cult classic di masa depan.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for LISA FRANKENSTEIN




MEAN GIRLS Review

Oh, boy! Bicara soal modern cult classic, here comes remake musikal dari salah satu teenage movie terbaik, instant classic dari era 2000an…. kalo aku punya Burn Book, aku akan nulis film karya Samantha Jayne dan Arturo Perez Jr. ini ke dalam buku tersebut.

Mean Girls 2024 hanyalah remake plek-ketiplek dari film originalnya. Jadi bayangin aja, dialog-dialog ikonik film originalnya, adegan-adegan populer yang aku yakin banyak devoted fans yang apal luar kepala, dibawakan ulang dengan canggung dan lewat arahan komedi yang downgrade dari aslinya. Yang diubah pada film ini basically cuma dua, menambah diversity pada cast dan nambah adegan-adegan musikal. Sementara pada jejeran cast, film ini masih bisa terasa fresh, namun modernisasi dari karakter mereka malah membuat mereka tampak annoying.

Adegan musikalnya digunakan untuk menyuarakan perspektif karakter lain, bermaksud supaya kita lebih dalam mengenal mereka – lebih dari sekadar geng plastik – hanya saja, film originalnya udah melakukan itu tanpa perlu banyak mengejakan, tanpa lagu yang jadi eksposisi feeling mereka, kita udah dapat menangkap, misalnya gimana Regina George juga punya rasa insecure sendiri deep inside. Sehingga adegan musikal di film ini terasa redundant, dan membuat film ini tampak seperti ya itu tadi, mengejakan. Dan adegan-adegan musikal itu memperlambat tempo karena film tidak pernah benar-benar menggubah naskah sehingga sesuai dengan kebutuhan untuk musikal. Film ini berjalan kayak film yang original, dengan diselingi adegan-adegan nyanyi dari beberapa karakter pada saat momen-momen mereka. Kalo ada yang masih ingat di ending film original, ada 3 junior plastic yang dibayangkan oleh Cady ketabrak bus, nah film ini persis kayak tiga junior plastic itu.  Cuma pengen meniru-meniru melanjutkan legacy yang lebih populer.

The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MEAN GIRLS VERSI 2024.

 

 

 

MILLER’S GIRL Review

Jade Halley Bartlett setidaknya ‘berhasil’ membuat apa yang di dunia nyata jelas siapa yang harus bertanggungjawab menjadi cerita yang tampak kompleks dan berimbang dari dua sudut pandang. Membuatnya jadi kontroversial. Sehingga, mengulas film debutnya inipun jadi terasa sama ‘berbahaya’nya dengan terpikat masuk ke pikiran gadis remaja.

Dengan penampilan akting yang terukur all-around, dengan karakter yang dibuat abu-abu – kalo gak mau dibilang sama bercelanya – Miller’s Girl yang basically tentang guru dan murid saling tertarik dengan pikiran dan kehidupan masing-masing (sama-sama dalam state haus pengakuan) harusnya bisa jadi tontonan yang menantang. Yang mencegah film ini untuk mencapai potensi maksimalnya itu adalah ‘kehati-hatian’ arahan dan naskahnya itu sendiri. Film ini berdiri terlalu dekat dengan objeknya. Sehingga alih-alih membuat kita mengobservasi mereka, film ini lebih seperti mengajak kita untuk ‘supportive’ untuk lalu kemudian mematahkan dengan semua bahasan dan gagasan utama yang ingin diangkat. Sehingga pada akhirnya film ini sendiripun terasa seperti karangan yang dibuat oleh karakter si Jenna Ortega – karangan picisan yang ternyata jebakan.

The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for MILLER’S GIRL.

 

 

 

NOT FRIENDS Review

Not Friends dari Thailand terasa seperti nostalgia yang tak pernah kualami. Film ini kayak ngingetin kembali sama masa-masa dulu nyoba-nyoba bikin film ala kadar bareng teman, sekaligus juga ngingetin ke masa-masa sekolah, hanya saja bagi diriku dua masa itu sama sekali tidak berhubungan. Itulah yang bikin aku sadar sutradara Atta Hemwadee berhasil menggabungkan bahasan tentang pertemanan dengan passion membuat film menjadi sebuah penceritaan yang manis. Mengulik persoalan pergaulan di sekolah – yang bisa dilihat sebagai satir dari bagaimana kita menjadi teman, tapi juga bukan teman yang benar-benar kenal dengan bahkan teman sebangku – ke dalam bahasa yang pas buat anak sinefil kayak kita-kita (kita?)

Passionnya memang sangat kentara. Melihat mereka bergabung menjadi tim, berusaha membuat adegan dari cerita pendek, melakukan ‘movie magic’ alias treatment dan efek-efek praktikal untuk membuat seolah adegannya beneran astronot di pesawat luar angkasa, misalnya, tampak begitu menarik. Kita seperti diundang masuk ke dalam grup mereka. Hebatnya film gak pernah terlalu in the face dalam menggarap adegan-adegan bikin film ataupun celetukan teknikal lainnya. Film tetap berpegang kepada storytelling dari drama dari karakter.

Karenanya bahkan penonton yang gak share kecintaan yang sama dengan filmmaking pun bakal masih bisa mengikuti drama anak sekolah yang disajikan sebagai hidangan konflik utama. Film tidak membiarkan kisahnya menjadi overdramatis ataupun jadi lebih ‘besar’ daripada persoalan anak sekolah. Melainkan tetap renyah dan menapak. Jikapun narasinya mengandalkan kepada rangkaian ‘ternyata’, rangkaian itu tidak difungsikan untuk mengecoh ataupun mematahkan plot, melainkan sebagai tantangan berikutnya dari protagonis utama sehubungan dengan development pribadinya yang ingin membuat film tentang teman sebangku yang ia akui sebagai bestienya saat sang teman itu meninggal dunia, sebagai jalan pintas untuk keluar dari masalah masa depan pendidikannya.

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold star out of 10 for NOT FRIENDS.

 

 

 

ROAD HOUSE Review

Enggak seperti Mean Girls versi modern tadi, remake Road House karya Doug Liman mengambil resiko yang lebih  bijak dalam meremajakan kisahnya. Dia membawa cerita ini ke setting lebih modern, sehingga jadi ada kontras vibe yang menarik, dan langka, karena pada intinya Road House adalah cerita jadul yang kayaknya udah jarang dibuat. Karena ini bukan soal pria yang ternyata jago berantem dan dia terpaksa oleh untuk membalas dendam. Ruh tipikal modern itu memang masih terasa, tapi pada awalnya Road House tetap adalah cerita ala western, di mana seorang pria yang ternyata jagoan, datang ke suatu tempat, dan akhirnya menyelamatkan rakyat di tempat itu dari cengkeraman tuan tanah yang jahat. Hanya saja pada Road House, koboynya adalah seorang mantan petarung UFC, dan tempat yang ia lindungi adalah bar tempat dia disewa sebagai bouncer.

Kontras cerita jadul di dunia modern, serta penampilan akting dari Jake Gyllenhaal yang memang jarang sekali mengecewakan, membuat film ini jadi menarik. Komedi dari celetukan/smark juga masih ada, dan dijaga untuk tidak benar-benar membuat film ini jadi kayak over the top. Paruh pertama film ini terasa fresh dan everything just work fine. Aku tertarik melihat Dalton berinteraksi dan menjalin pertemanan dengan orang-orang di bar dan sekitarnya. Bagaimana dia perlahan membuka kepada mereka, juga berarti dia perlahan membuka kepada kita, mengetahui masa lalunya sebagai petarung UFC perlahan membuat kita semakin simpati.

Pada paruh kedualah film mulai agak goyah dalam mempertahankan kontras.  Penanda kegoyahan ini adalah kemunculan ‘algojo’ yang diperankan oleh Connor McGregor. Connor sendiri sebenarnya tampak have fun dan menghibur memainkan karakter ini. Karakternya yang brutal tampak menarik, dan benar-benar jadi hambatan yang sepadan untuk Dalton. Tetapi saat dia muncul dan cerita berlanjut, film ini seperti kebobolan pertahanan dan akhirnya menjadi over-the-top seperti film originalnya. Dan itu berarti film tidak lagi konsisten dengan vibe yang sedikit lebih dewasa yang dilandaskan di awal. Mereka membuat karakter Connor terlalu ‘dominan’ as in terlalu besar berpengaruh kepada arahan dan tone film keseluruhan.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ROAD HOUSE.

 




 

 

That’s all we have for now

Selamat Hari Film Nasional, dan have fun liburan menuju lebaraannn!

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



POOR THINGS Review

 

““God’ is whatever is the next obvious step towards wholeness in yourself and your life; ‘Ego’ is whatever within you stops you taking it.””

 

 

Bikin film adalah urusan menciptakan dunia. Ketika bikin karakter amnesia dirasa terlalu kacangan sementara bikin karakter alien sepertinya terlalu pasaran, maka sutradara Yorgos Lanthimos sekalian saja membuat dunia reka yang totally menantang akal sehat, supaya karakternya yang gak punya ingatan dan perjalanan yang ditempuhnya menuju aktualisasi-diri itu dapat terlaksana dengan spesial. Tapi meskipun dunia ceritanya kali ini aneh, dunia tersebut toh masih ada sama-samanya ama dunia kita. Karena di situ juga banyak makhluk-makhluk malang yang hidup di dalamnya. Dan sebagai drama komedi, yang paling lucu dari film ini adalah,  bahwa persepsi kita tentang siapa yang ‘makhluk malang’ – The Poor Things itu – akan berubah. Akan berbeda di akhir cerita.

Pernah dengar paradoks Kapal Theseus? Misalkan Kapal A, satu persatu secara bertahap bagiannya diganti dengan bagian yang baru, apakah kapal tersebut ketika semua bagiannya sudah baru, masih bisa disebut sebagai Kapal A? Lalu lantas jika bagian-bagian lamanya tadi dikumpulkan, dan dibangun kembali menjadi kapal dengan bentuk yang persis sama seperti sebelumnya, apakah hasil kapalnya itu bisa disebut kapal A? Mana yang kapal A sebenarnya di antara dua kapal ini? Paradoks tersebut mengulik soal makna identitas, dan mirip seperti itu jugalah cerita film Poor Things. Protagonis utamanya, yang diperankan dengan lugas dan berani oleh Emma Stone, adalah seorang perempuan yang  fisiknya dikenali oleh beberapa konglomerat sebagai Victoria, tapi dia sendiri tahunya dia bernama Bella Baxter. Gadis yang dibesarkan oleh seorang ilmuwan bernama Godwin, yang ia panggil dengan simply “God”. Dan memang persis seperti God – Tuhan-lah sosok Godwin bagi kehidupan Bella. Karena perempuan berambut hitam panjang itu actually diciptakan Dr. Godwin dari mayat Victoria yang otaknya diganti sama otak bayi dari dalam kandungan Victoria sendiri. Jadi Bella, tanpa maksud merendahkan, adalah freak of nature. Awalnya dia polos kayak anak-anak baru belajar bicara, Godwin-lah yang mengajari dia banyak pengetahuan. Tapi kelamaan, Bella mulai berani memilih jalan hidupnya sendiri. Selama ini gak boleh keluar rumah, dan dijodohkan sama asisten Godwin, Bella minta ijin untuk pergi bertualang melihat dunia luar. Walaupun orang-orang yang dia temui mencoba untuk – in some ways bisa disebut mengekang – Bella percaya dirinya adalah identitas utuh yang baru, yang punya pilihan dan keinginannya sendiri.

review poor things
Mereka yang aneh ini, anehnya, menurutku terasa seperti Kurotsuchi Mayuri dan Nemu versi yang lebih manusiawi

 

Bella hidup di London, dari kostumnya seperti di era Victorian, tapi teknologinya dunia Bella seperti bahkan lebih ‘canggih’ dari dunia kita. Canggih dalam artian absurd haha.. Like, jangan bayangkan ilmuwan Dr. Godwin seperti ilmuwan steril dan terpelajar. Godwin more like a mad scientist. Di rumahnya berkeliaran hewan-hewan ajaib seperti ayam berkepala babi, ataupun angsa berkaki empat. Kalo Godwin bersendawa, yang keluar bukan angin. Tapi gelembung kayak gelembung sabun. Dunia ini tentu saja difungsikan sebagai konteks yang memungkinkan cerita perempuan hasil transplant otak ini dapat bekerja, tanpa kita harus merisaukan perkara etika ataupun kelogisannya. Karena film selalu nomor satu adalah soal konteks. Terms seperti ‘retarded’ yang boleh saja secara moral kita terkesan degrading, akan terasa jadi ‘tak mengapa’ ketika kita sudah dilandaskan betul karakter yang menyebut term tersebut. Perspektif dan karakterisasi film ini mengalir kuat dari gimana tegas dan tanpa sungkannya ‘suara’ para karakter divokalkan. Ilmuwan yang dari luar tampak kurang etis, tapi ternyata punya sisi parenting yang humanis – eventho sisi itu ditempa dari kelamnya perbuatan yang ia terima di masa kecil. Dan Bella, dia dibuat seperti orang yang melihat dunia sebagai orang dewasa tapi dengan pandangan ‘polos’ anak kecil yang melihat dan ngalamin semua hal sebagai untuk pertama kali. Karakter Bella jadi ruang bagi film untuk menelisik sistem sosial yang cenderung patriarki, sehingga film bisa membenturkan banyak nilai feminis yang diharapkan membawa perbaikan dengan sistem yang mengukung. Lihat saja ketika film membuat solusi keuangan Bella di Paris adalah dengan bekerja di rumah bordil.

Dengan melandaskan dunia yang absurd, dan mindset ‘ilmuwan’ sebagai basic dari karakternya, film meminta kita untuk meninggalkan kacamata etika dan purely menyelam ke dalam pikiran Bella yang delevoping concern sesuai dengan yang ia lihat dari sekitar. Untuk experience tersebut, film gak segan mengganti lensa tanpa tedeng aling-aling sepanjang cerita. Kadang gambar yang kita lihat seperti melingkar, hampir kayak fish-eye. Kadang pemandangannya begitu wide. Kadang kita notice kamera ngezoom membuat sekeliling blur. Ini sebenarnya menyesuaikan dengan sense penasaran dan eksplorasi yang sedang dialami oleh Bella ketika dia melihat dunia. Pun, film menggunakan kode warna yang selaras dengan pandangan Bella. Di babak awal film, ketika Bella paling terasa kayak anak polos, yang gak boleh keluar rumah, yang cuma bisa tantrum ketika dilarang, layar film tergambar hitam putih. Tanpa warna. Namun begitu Bella mulai kenal sensasi kewanitaan, begitu dia keluar rumah menemukan segala sesuatu yang baru, begitu dia ngerasain yang namanya ‘furious jumping’, layar yang kita lihat meledak oleh warna. Teknik kamera dan coloring yang digunakan ini selain memvisualkan development karakter Bella, tentu juga bekerja sama efektifnya memperkuat kesan dunia absurd dan komedi pada cerita. Dengan setting dunia yang boleh saja terasa amat aneh, tapi Poor Things could not be any clearer dalam menyampaikan tema soal identitas dan self-actualization dari sudut pandang perempuan.

Menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus-terusan meminta kita untuk menjadi sesuatu yang lain, yang terus-terusan mendorong kita untuk mengikut keseragaman, yang terus-terusan mengingatkan kita untuk tahu diri – tidak melupakan dari mana kita berasal – jelas adalah suatu perjuangan yang berat. Bella Baxter memperlihatkan ini kepada kita. Dirinya  disuruh untuk realistis. Untuk berhenti berharap. Puncaknya, Bella disekap, akal dan nafsunya akan dirampas darinya. But they didn’t stop her.

 

Development Bella kerasa banget. Cara film bercerita pun dibuat ngikut dengan perkembangan itu. Ketika nalar Bella masih ‘bayi’, film ngambil resiko dengan seolah cerita ini dari sudut pandang Max, mahasiswa yang dimintai tolong jadi asisten di rumah mereka oleh Dr. Godwin. Cerita seolah dimiliki oleh Max dan Dr. Godwin, dua orang yang meneliti perilaku Bella. Perlahan, status mereka tersebut tergantikan. Dengan subtil – namun tegas – Bella mulai mengambil alih komando cerita. Dia mulai berani menyuarakan keinginan. Dia mulai berani mengambil aksi. Hingga di akhir babak satu, Bella membuat keputusan otonom. Ikut Mark Ruffalo ke luar negeri. Dari segi akting pun development Bella menguar, tadinya Bella dimainkan oleh Emma benar-benar limited. Ya dari kosa katanya, maupun dari geraknya. Tapi seiring identitasnya bertumbuh, raganya pun terisi dengan semakin matang. Bella using big words, sering mengutip bahasa-bahasa buku yang ia baca, gesturenya semakin percaya diri. Dominasi lelaki di sekitarnya pun, kita rasakan semakin mengendor. Dari sinilah film sebenarnya perlahan ngasih development sarkas yang ultimate. Bahwa yang dimaksud oleh judul sebagai Poor Things ternyata bukan Bella. Ternyata bukan perempuan yang hidupnya ditekan, diatur, diejakan oleh standar yang terbentuk dari kuasa laki-laki. Melainkan, ya, laki-laki itulah the real poor things.

Madame ngajarin Bella nasihat yang maknanya literally ‘Berani kotor itu baik’

 

Setiap manusia memang fight their own battle, dengan kondisi yang memaksa dan menantang mereka. Film dibuka dengan Emma Stone terjun dari jembatan, membuat kita membatin “kasihan sekali dia”. Kemudian adegan berikutnya kita melihat dia seperti orang yang cacat mental. Tapi di akhir cerita, Bella yang telah menyadari kekuatan dan tujuan dari eksistensinya menunjukkan kepada kita bahwa laki-laki seperti Duncan yang cengeng, Harry yang gak berani berharap, God yang bahkan gak bisa mengelak dari kematian dan lebih butuh dirinya ketimbang dia butuh Godwin, dan Alfie yang literally ditulis oleh naskah sebagai manifestasi traits terburuk dari lelaki; mereka-lah yang lebih malang. Bukan perempuan yang beraksi demi kebebasan menjadi dirinya sendiri itu yang kasihan. Adegan di akhir, ketika Bella ngajak Max nikah. Bukan hanya pembalikan dari momen di awal, tapi dari adegan tersebut terasa sekali ada shift. Max is the good one, ‘dosanya’ cuma dia tak pernah berani ‘nembak’ langsung. Kini justru Bella yang bukan saja sudah jadi ekual, tapi juga memegang kendali.

Di tangan naskah yang kurang cermat, karakter seperti Bella ini bisa terkesan sebagai terlalu ideal. Membuat cerita jadi pretentious, atau malah terlalu dibuat-buat. Terlalu muluk. Hal itu tidak pernah terasa ada pada Poor Things. Karena nyalinya tadi untuk menggali Bella sebagai orang dewasa yang melihat dunia dengan pemikiran seperti anak kecil. Semua dicoba. Pengen tahu apapun hal yang baru. Kemauannya harus dituruti. Ini oleh naskah dijadikan cela yang menambah layer karakternya itu sendiri. Yang akhirnya membentuk desain film seperti apa. Film jadi vulgar, lancang, bikin kita gak nyaman, sometimes degrading. Tapi lewat semua itulah pembelajaran Bella berlangsung. Enggak ada dunia yang sempurna. Bahkan dunia seabsurd ini pun tidak bisa sempurna. Bella tahu itu, dia akhirnya tahu salah dan benar, tapi juga dia tahu apa yang lebih penting dari itu. Yaitu untuk menjadi diri sendiri, dan terus berharap dan berusaha dirinya bisa mengubah dunia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada yang sempurna, tapi semua orang mestinya berjuang untuk menjadi lebih baik. Ah, ini pandangan ilmuwan sejati. Godwin pasti bangga pada Bella!

 

 




Akhirnya, semua film nominasi Best Picture Oscar 2024 sudah rampung semua direview di blog ini. Dan kurasa somehow tepat film ini jadi film penutup karena in some ways, film ini seperti gabungan dari film-film tersebut. Weird, hitam-putih, karakter yang dealing with siapa dirinya – apa yang ia kerjakan, sound desain dan dunia yang ajaib, dinamika relationship yang berpusat pada relasi kuasa perempuan dan laki-laki. Mungkinkah film ini yang bakal menang? Itu terserah Academy sepenuhnya.  Tapi yang jelas, drama komedi romance ini merupakan sebuah perjalanan dari karakter dengan sudut pandang dan suara yang kuat. Penulisannya pada development karakter juga kuat sekali. Film ini boleh saja aneh, tapi pesannya akan sangat tegas dan bisa kita cerna dengan relatif mudah. Dan film ini tak pernah jadi pretentious dalam melakukan hal tersebut. Also, film ini punya banyak penampilan akting yang menarik. Unik. Yang bikin kita gak nyangka aktornya berani melakukan itu. 
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for POOR THINGS.

 




 

 

That’s all we have for now.

Apa menurut kalian tindakan Bella nge-transplant otak kambing ke mantan suaminya hanyalah sebuah balas dendam, atau sebuah statement? Statement apa kira-kira? 

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



My Dirt Sheet Awards 12: TuWa

 

 

Kita sudah masuk bulan kedua di tahun yang baru, so how’s 2024 treating you so far? Adakah resolusi yang sudah beres? Atau masih banyak yang kangen sama tahun 2023? Well, untuk itulah award ini diadakan. Dua belas tahun yang lalu, aku pikir, gimana caranya menghimpun semua kejadian di tahun yang udah lewat dengan cara yang gak boring ya? Jadi, ya, pertama, My Dirt Sheet Awards bukan exactly kayak award film, tapi sebenarnya lebih seperti kaleidoskop tahunan yang merangkum apa-apa saja yang terjadi selama setahun. Kedua, award ini memang sudah setua itu. Dua belas tahun. Satu dua. Tu, Wa!

Dan demi benar seperti orang-orang tua berkata; yang penting semangatnya. Tahun baru berarti semangat baru. Semangat untuk terus menjadi lebih baik. Untuk itu, marilah kita meriahkan dulu award yang agak lain ini. Supaya kita ingat apa yang harusnya diperbaiki, dipertahankan, ditinggalkan, atau juga yang tidak divote saat Pemilu mendatang. Siap? Tu, Wa, ga, pat!!

 

 

TRENDING OF THE YEAR

2023 sama seperti tahun-tahun lain, akan dikenang baik itu dari baik maupun buruknya. Berikut nominasi dari hal-hal yang sukses ngetren ketika itu:
1. Barbenheimer
Ketika film Barbie dan Oppenheimer rilis di waktu berbarengan, terjadilah fenomena luar biasa. Bioskop meledak karena dua film ini bukannya saingan, tapi malah jadi perayaan sinefil sejagat raya!
2. Chipi Chipi Chapa Chapa
Mungkin inilah power TikTok. Lagu random dari tahun-tahun yang lalu, dari mana saja, bisa tiba-tiba populer dan seketika jadi meme viral. Seperti lagu anak 2000an yang penggalannya dipakai untuk bikin video kucing nari ini.
3. Grimace Shake
Untuk peringati ultah salah satu maskotnya, McDonald di Amerika bikin menu minuman khusus berwarna ungu (sesuai warna Grimace, si maskot). Dan remaja di sana dengan kreativitas mereka bikin tren video-video efek ‘mengerikan’ dari meminumnya
4. Iklan Indro “Don’t Know? Kasih No!”
Disebut-sebut sebagai iklan dengan copywriting terkreatif, iklan BCA yang nampilin Indro Warkop dan plesetan nama teman segrupnya jadi viral, karena selain fun iklan ini benar-benar lebih efektif ngasih edukasi tentang penipuan data-data digital
5. Joget Gemoy
Dari film Popstar: Never Stop Never Stopping (2015) kita belajar, orang yang gak punya substance, maka yang bisa ia jual cuma stage act. Dan sayangnya, gimmick-gimmick begitu cenderung berhasil. Lihat saja senjata andalan Prabowo untuk nyapres ini. Joget yang sukses viral!
6. Kasus Penganiayaan David
Memang bukan sekali ini kasus kriminal berhasil trending dan jadi bahasan masyarakat. Kayaknya hampir tiap tahun ada ya..ngeri… Kali ini kasusnya adalah pengeroyokan remaja, yang diduga dilakukan oleh anak-anak petinggi, atas hasutan perempuan yang juga bukan anak orang sembarangan, apparently.
7. Masbro Capybara
Capybara yang asli Amerika Selatan terkenal lantaran tampangnya yang nyante jadi poster buat meme lucu, masuk ke Indonesia namanya ditambah “masbro” saking nyantenya tampang makhluk lucu itu
8. Putri Ariani
Anak bangsa yang menggapai prestasi di ajang America’s Got Talent. Sukses jadi juara keempat. Dan video penampilannya itu telah ditonton lebih dari 50 juta kali

Kita semua berharap piala itu jatuh ke yang baik. Dan inilah pemenang The Dirtys pertama kali ini:Boom!! Sebagai penonton film, tentu fenomena Barbenheimer akan terus teringat olehku. Film-film ini menyatukan sinefil-sinefil yang suka berantem selera itu. Plus, Barbenheimer bikin orang kreatif dengan berbagai macam fan-art, poster editan, dan segala macam kaos dan asesoris.

 

 

 

Setelah penayangannya, film Barbie dan Oppenheimer tinggal mendulang kesuksesan masing-masing. Kayak di award ini, Barbie actually memecahkan rekor. Dua karakter ceritanya, Barbie dan Ken, actually berhasil menjadi pasangan pertama dalam sejarah dua belas tahun award ini, yang masuk nominasi Couple dan Feud – dua nominasi yang sangat berseberangan – dalam satu tahun yang sama! Berhasilkah mereka memenangkannya? Kita langsung lihat saja

COUPLE OF THE YEAR

Nominasinya adalah:
1. Bagus & Hana
Pasangan yang membuktikan romantis itu bukan milik anak muda saja
2. Barbie & Ken
Dua orang yang tercipta sebagai pasangan, akan terpatri untuk menjadi sahabat baik selamanya… iya kan?
3. Buya Hamka & Siti Raham
Lambang kesetiaan cinta yang kembali diangkat dan diabadikan lewat film Buya Hamka
4. Ember & Wade
Dalam hubungan yang penting adalah saling mengisi, dua elemen yang berbeda bisa menghasilkan chemistry luar biasa
5. Maddie & Percy
Mereka awalnya boleh awkward dan agak red flag, tapi disatukan karena mentally, mereka saling butuh satu sama lain
6. Scott & Ramona
Scott harus ngalahin tujuh mantan Ramona sebelum mereka bisa resmi pacaran!
7. Sherina & Sadam
Dua sahabat yang sepertinya ditakdirkan bersama, ah, pasti banyak banget yang nungguin mereka jadian
8. Suzume & Shouta
Jika kisah cinta itu magical, maka apalagi yang lebih magical dari petualangan Suzume dan Shota – yang sempat jadi kursi anak TK?

Memang dalam cinta, kedua pihak harus sama-sama memperjuangkannya. Maka The Dirty kategori sweet ini diberikan kepadaaa

Dalam serial Netflixnya, diceritakan Ramona juga ternyata berjuang mati-matian untuk berdamai dengan masa lalu sebelum bisa menerima Scott. Love is some fight! Congrats guys, sekarang, pergilah sana beli coklat…

 

 

FEUD OF THE YEAR

Kategori ini nominasinya agak beda dari biasanya yang memang antara dua pihak. Sekarang, karena makin hobinya orang nyari ribut, seteru itu bisa datang dari antara orang dengan ide. Bayangkan!
1. Childfree vs. Parents
Paham ‘banyak anak banyak rezeki” ditantang oleh paham kekinian yang katanya lebih baik tidak punya anak sama sekali 
2. Elon Musk vs. Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg bikin platform tandingan X (alias Twitter) yaitu Thread untuk pengguna Instagram. Digadangkan sebagai Pembunuh Twitter, Mark lalu terang-terangan menantang – dan disambut oleh Elon. Mau berantem fisik ala MMA, malah cage match juga katanya
3. Founding Titan Eren vs. Everyone
Akhir serial Attack on Titan mempertarungkan Eren yang udah jadi Titan ‘raksasa’ yang pengen meluluhlantakkan bumi, melawan semua orang yang berusaha menyetop gagasannya. Klasik protagonis jadi antagonis 
4. K-Popers vs. Fans Bola
Rebutan stadion bola. Fans bola gak terima ketika stadion dipake buat acara konser-konseran seperti K-Pop
5. Ken vs. Barbie
Merasa kurang diapreasiasi, Ken yang salah kaprah belajar soal maskulinitas berbalik jadi berusaha menguasai Barbie dengan sistem patriarki
6. Masjid vs. Transportasi Umum
Di ujung masa jabatan, Ridwan Kamil dituntut untuk mempertimbangkan pembangunan transportasi yang lebih layak, tapi dia malah memilih secara over the top membangun mesjid
7. Pemerintah Lampung vs. Kritik Bima
Bima hanyalah anak muda yang mengkritik pemerintah daerahnya, tapi pemerintah Lampung langsung bereaksi kelewat defensif
8. Pemilik Resto vs. Review Jujur
Pemilik resto gak diterima ketika seorang food blogger/vlogger menilai makanan dan tempatnya dengan sedikit agak terlalu jujur
9. Rachel Zegler vs. Snow White
Rachel Zegler didapuk jadi pemeran di film live action Snow White yang akan datang. Tapi dia langsung kena cancel netizen berkat komennya yang menjelek-jelekkan Snow White original.
10. SAG-AFTRA vs. AMPTP
Ribuan aktor dan pekerja film anggota SAG-AFTRA berdemo kepada asosiasi, meminta kondisi kerja yang lebih layak, serta memprotes kebijakan penggunaan artificial intelligence dalam pembuatan film yang merugikan mereka

Seteru dapat jadi bermakna, jika sampai pada konklusi yang konkrit, dan pihak yang benar yang menang. Maka The Dirty jatuh kepadaa Hampir empat bulan loh aktor dan pekerja film di Hollywood sono mogok. Mereka benar-benar menolak ‘bikin film’ lagi kalo tuntutan mereka tidak dijamin. Dan hasil dari kesepakatan mereka, tentunya bakal bikin pelaku film happy sehingga film-film diharakan bisa lebih baik lagi.

 

 

 

 

Salah satu concern terbesarnya memang berangkat dari penggunaan A.I. Perlu diakui, kalo digunakan dengan bijak, A.I. memang bisa menolong dalam bikin karya, tanpa mendegradasi seniman asli. Tapi di tangan orang kikir, pemalas, dan gak peduli sama kreasi, A.I. jadi alat gampang dan cepat menuju hasil yang padahal sebenarnya pun gak bagus-bagus amat. Tapi karena less cost, A.I. jadi sering dipilih. Pekerja kreatif beneran jadi gak kepake, padahal mereka bekerja dengan ilmu dan pake hati. Bukan hanya kumpulan data doang. Karena itulah, My Dirt Sheet Award kali ini khusus bikin satu kategori. Untuk mempermalukan yang memang udah bebal alias tidak tahu malu.

MOST SHAMELESS USE OF A.I.

Para nominee berikut ini bukannya enggak diprotes loh. Mereka cukup banyak diserang dalam berbagai rupa, ditegur, diingatkan soal A.I. tapi ya cuek aja. Maka kita kasih piala sekalian. Pilihlah di antara mereka
1. Poster promosi film; Film Pasutri Gaje
Poster promosi yang langsung dihujat. Pertama, karena pake A.I. sehingga banyak elemen gambarnya yang ngaco. Dan kedua, gak nyambung ama vibe film yang tentang pasangan PNS. Lah posternya malah cyber punk!
2. Cameo para Superman; Film The Flash
Gak satupun aktor pemeran Superman sebelumnya, baik yang masih hidup, maupun pihak dari yang sudah tiada, dihubungi dan mendapat persenan dari adegan yang ‘nostalgia’ di film The Flash ini. Mentang-mentang bisa tinggal pake data A.I.
3. Propaganda untuk playing victim; Israel
Orang bilang semua fair dalam cinta dan perang. Mungkin itu benar. Kecuali pakai A.I. untuk sebar berita bohong demi dapat simpati dari nunjukin pihak opresor sebagai victim teraniaya
4. “Art” Hidden Words; Netizen
Netizen juga ‘berdosa’. Seru-seruan main cari kata dari gambar A.I. generated, yang bahkan gak lucu. Mending main-main ama stereogram deh
5. Klip video musik; Melly Goeslaw
Meski sahabat, atau teman dekat, atau mungkin sudah dapat izin, tapi ‘menghidupkan’ kembali penyanyi yang sudah meninggal untuk menjual video klip musik seolah dia hidup dan turut bernyanyi tetap terasa kurang etika. Gak cukup hanya dengan foto aja?
6. Kampanye Pemilu; Prabowo dan Gibran
Mungkin karena joget itu capek, maka Prabowo dan calon wakilnya, Gibran punya senjata lain untuk menarik masa. Gambar-gambar imut buatan A.I.!!

Dan, yang paling gak tau malu, adalaahh Hampir semua materi kampanye mereka pakai gambar A.I. Lucunya, gambar-gambar ‘gemoy’ mereka itu jadi gak konsisten gaya animasinya hahaha… masa sejak nyalon aja udah tidak buka kesempatan untuk artis/pekerja manusia, tapi kampanyenya janji menyejahterakan rakyat

 

 

 

Daripada capek ngomongin penyalahgunaan A.I. baiknya kita beralih ngomongin karya yang benar-benar melibatkan banyak bidang ilmu dan orang-orang ahli. Kategori berikut merupakan salah satu kategori favorit, karena membahas film – dan beberapa tahun belakangan mulai melirik ke series.

BEST SCENE IN MOVIE/SERIES

Yang mana adegan favorit kalian dari jajaran nominee ini?
1. Dog Attack; film When Evil Lurks
Aku gak nyangka film ini tega bikin adegan anjing peliharaan seperti begini!!
2. Drone Scene; film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film
Adegan ikonik yang bakal diingat lama sekalii oleh sinefil tanah air, semoga bisa bikin orang makin jatuh cinta sama film
3. Grave Scene; film Saltburn
Satu lagi adegan tak terduga, Sutradara ama aktornya pasti sinting beneran for doing this hahaha 
4. Last Ritual; serial Servant season 4 
Adegan bunuh diri yang puitis sekaligus seram banget sebagai akhir dari serial ini
5. M3GAN Dance: film M3GAN
Tadinya sempat ragu, ini baiknya masuk Trending atau Best Scene, saking ngetrennya!
6. Ngomel di Kolam Lele; film Budi Pekerti
Aku sontak ngakak melihat Prilly tau-tau ngomel. Lele-lele itu salah apaaa 
7. Overhead Gun Fight; film John Wick Chapter 4
Adegan action ala video game terbaik yang muncul bukan dalam video game, tapi malahan dalam film
8. Victory Speech; film Oppenheimer
Kalo kalian ngantuk nonton Oppenheimer, shame on you, and also – kalian pasti melek di adegan ini!
9. What’s Going On; film Teenage Mutant Ninja Turtles Mutant Mayhem
Siapa sangka adegan kejar-kejaran di film KKN ini make soundtrack lagu What’s Going On, yang bukan hanya versi original lagunya, tapi juga pake versi meme-nya!!
10. Zombie Shark; film Zom 100 Bucket List of the Dead
Aku yakin kalo judul film ini Zombie Shark, film ini lebih populer. Karena exactly itulah hal paling luar biasa di film ini, kemunculan hiu berkaki yang jadi zombie!!!

And The Osca–eh salah, The Dirty goes to

Aku gak pernah nyangka Christopher Nolan juga piawai bikin adegan psikologis yang menghantui seperti ini.

 

 

Kategori Best Scene dan Feud of the Year menjadi dua kategori dengan nominasi paling banyak, Tapi sebenarnya kategori berikut ini juga punya kandidat nominasi yang gak kalah banyak. Aku sampai bengong, kalo yang paling banyak itu di antaranya adalah Feud dan Bego, berarti memang orang jaman sekarang udah terlalu banyak pake ngotot apa gimana hahaha

BEGO OF THE YEAR

Beruntung aku bisa mengkerucutkan menjadi delapan nominasi. Karena ya malu juga, kok bisa yang bego-bego bisa sebanyak itu. Soalnya, kategori ini balik ada lagi aja sebenarnya udah malu-maluin kan. Oke, inilah nominasinya
1. Asam sulfat untuk ibu hamil
Kebegoan ini perlu untuk kita selebrasi supaya jadi pelajaran, jangan suka pake istilah-istilah kalo gak benar-benar paham, dan betapa salah sebut itu bisa berdampak fatal hihihi
2. Bahasa Arab dikata lagi baca do’a
Al-Quran memang ditulis dalam bahasa Arab, Tapi tidak berarti semua bahasa Arab berarti bacaan ayat suci, Maliihhhh!!!
3. Bercanda bom di dalam pesawat
Anak kecil baru netes mestinya juga tau, gak boleh becanda soal bom di dalam pesawat. Penumpang yang satu ini totally deserved it karena udah sok keren dengan ngelucu tanpa tau aturan.
4. Freezer daging dan Iblis pada film Para Betina Pengikut Iblis
Film Para Betina Pengikut Iblis jadi satu-satunya film di 2023 yang kukasih rating F (alias bego), pertama karena penampilan konyol Adipati Dolken yang jadi iblis, dan kedua karena ada freezer daging di desa yang lampu aja susyeee 
5. Generasi TikTok gak ngerti cermin
Serius deh, anak sekolah sekarang belajarnya apa sih, masak cermin dikata ajaib???
6. Jokowi dkk salah tap kartu KRL
Sebagian besar waktu memang dokumentasi memang cuma berniat untuk pencitraan, tapi ya, gak bisa ngasal kayak gini jugaa
7. Prewed bakar Bromo
Gak tau deh ide dari mana konsep foto prewed di alam dengan vegetasi yang mudah terbakar, pakai kembang api.
8. Pride parade di depan anak-anak kecil
C’mon mereka masih kecil. Consent aja mereka belum ngerti, jangan dijejali dulu dengan pemandangan yang bisa banyak menimbulkan keruwetan. If anything, mereka harus tau dulu mereka bisa ada karena apa.

Mungkin memang intinya adalah edukasi. Zaman sekarang edukasi kayak agak terpinggirkan, karena sekarang tu, kayak, yang penting adalah perasaan. Akibatnya ya, kayak pemenang The Dirty inii

Tadinya kupikir cuma di luar sono. Tapi ternyata di sini juga mulai ramai video-video tiktok dari anak muda yang mempertanyakan cermin. Lalu di Twitter, ramai anak muda mempertanyakan bahasa kalimat soal cerita matematika. Mereka malah nyalahin bahasa pertanyaannya, yang dianggap ribet. Dan mengingat sekarang juga era konten, aku jadi ragu sendiri mereka memang beneran gak tau atau pura-pura demi konten. Tapi yang jelas, dua-duanya itu ya tindakan yang sama-sama bego

 

 

 

 

Generasi muda perlu banyak belajar. Gak usah dari yang tua-tua. Belajar dari sesama yang muda pun sebenarnya bisa, asal tau contoh yang benar. Ini bikin aku jadi kepikiran, anak-anak sekarang punya jagoan atau suri tauladan yang sesama anak-anak gak ya? Do they even watch film tentang anak-anak atau semacamnya, anymore? Mungkin ini salah yang tua-tua juga. Begitu disconnected dengan masa muda sehingga tak bisa menuliskan karakter anak yang menarik.

BEST CHILD CHARACTER

Kategori berikut ini, adalah untuk mengapresiasi penulisan karakter-karakter anak di berbagai media, yang berbobot tanpa melupakan kodrat mereka sebagai anak-anak. Something yang apparently susah tercapai oleh sebagian besar penulis cerita.
1. Cady, dalam film M3GAN
Melalui Cady yang kehilangan kedua orang tua, film M3GAN bicara tentang ketakutan terbesar anak-anak, kehilangan figur terdekat
2. Ellie, dalam serial The Last of Us
Ellie anaknya lucu, berani, dan yang paling penting dia mengembalikan naluri kebapakan dan memberikan kesempatan redemption kepada Joel  
3. Mahito, dalam film The Boy and the Heron
Bahkan orang dewasa perlu untuk belajar bagaimana menerima kehilangan. Mahito harus dealing with that lewat petualangan di dunia yang ajaib dan tidak bisa sepenuhnya ia mengerti
4. Margaret, dalam film Are You There God? It’s Me, Margaret.
Biarkan anak menemukan sendiri jalan hidupnya. Margaret yang polos, berusaha mencari cara yang benar untuk berkomunikasi dengan Tuhan, yang dia juga gak tau Tuhan mana yang benar itu
5. Nirmala, dalam game A Space for the Unbound
Karakter anak paling kompleks se2023 ternyata berasal dari game. Nirmala senang menulis, tapi dilarang ayahnya, dan dia juga kehilangan sahabat. Sehingga akhirnya dia ‘kabur’ ke dalam dunia karangan dalam kepalanya sendiri
6. Sophie, dalam film Aftersun
Man, ternyata nyaris semua karakter anak di sini berhubungan dengan kehilangan haha.. Bedanya Sophie ini adalah she’s all about memory

The Dirty dibawa pulang oleehhh I don’t think karakter seperti Margaret bisa ada di film atau cerita negara kita. Bahasan agama dan kepercayaan terlalu kontroversial, apalagi dengan sudut pandang anak kecil. Makanya, selain Margaret dapat award, aku juga menobatkan filmnya sebagai TOP MOVIES 2023, daftar lengkapnya bisa dibaca di sini.

 

 

 

 

Kalo dari kecil udah bener, dijamin gedenya bisa agak bener. At least, gedenya gak bakal bikin konten kayak gak tau cara kerja cermin itu lagi. Gak ngisi dunia dengan bunyi-bunyian gak penting. Speaking of it, berikut kategori untuk kuote-kuote ajaib yang paling bikin jengkel sepanjang tahun 2023. Quote yang sebenarnya cringe, gak jelas, kelihata banget gimmick/bo’ong, tapi sialnya sering banget kedengeran karena cukup populer.

MOST ANNOYING QUOTE

Nominasinya adalah:
1. “Berchandyaa” yang dipopulerkan oleh mbak-mbak UGM
2. “Chika Womp Womp” rap si Awkwafina sebagai Scuttlebutt di film The Little Mermaid
3. “Menyiapkan sebelum dunia terbangun” sesumbar XXI dalam video iklan company mereka
4. “Pelan-pelan Pak Sopir!” dari video TikTok ibu-ibu
5. “Pinjam dulu seratus” jadi meme di sosmed
6. “Semua manusia di bumi ini bingung. Nanti gak bingung kalo sudah di Surga” ngelesnya Aldi Taher

And The Dirty goes toSampe Coldplay aja keracun loh, bayangin! Ahahaha

 

 

 

Kategori yang satu ini, sebaliknya, merupakan suara-suara yang enak dan lucu sekali didengar karena juga diiringi dengan penampilan yang oke (yaiyalah soalnya sebagian besar juga adegan dari film xD)

BEST MUSICAL PERFORMANCE

 

1. Alexa Bliss nampil di acara Masked Singer “Can’t Fight the Moment”

 

2. Bowser “Peaches”

 

3. Ken “I’m Just Ken”

 

4. Sebastian & Ariel “Under the Sea”

 

5. Theater Camp Kids “Camp isn’t Home”

 

6. Virgo and The Sparklings “Salah”

 

The Dirty jatuh kepada: “Joan, still!!!!” duh ku masih bergolak haru dan triumph kalo liat adegan performance film Theater Camp itu

 

 

 

 

 

 

Sehubungan dengan anak-anak itu, aku jadi kepikiran untuk kategori khusus satu lagi. Yakni kategori kakak-adik. Atau lebih spesifik, kategori untuk kakak-adik laki dan perempuan. Kayaknya udah mulai langka cerita yang sentralnya dinamika sepasang kakak adik seperti Lupus dan Lulu. Dan kebetulan di 2023, dinamika itu seperti muncul lagi. Jadi, kukumpulkanlah mereka untuk nominasi di kategori spesial ini:

BROTHER-SISTER OF THE YEAR (LUPUS-LULU AWARD)

Yang seru dari kakak-adik cowok dan cewek ini adalah mereka gak saingan. Gak saling cemburu. Seperti Lupus dan Lulu ataupun dalam cerita Goosebumps, mereka suka saling mengganggu, saling menjahili, tapi when time gets though, mereka akan saling bantu.
1. Archie-Rose Sandford, dalam film Leave the World Behind
Mereka kayak classic Goosebumps siblings. Abang yang kinda lonely, harus jagain adiknya yang obses namatin serial Friends, saat sesuatu mengerikan terjadi di dunia tempat mereka tinggal
2. Boy-Ina, dalam film Catatan si Boy
Kakak beradik ini yang jadi pemicu kategori ini lahir, ngingetin aku bahwa dinamika siblings seperti mereka cukup jarang ditemui
3. Cate-Kentaro, dalam serial Monarch: Legacy of Monsters
Saudara tiri yang tadinya gak tau apa-apa tentang keberadaan masing-masing. Kerjaan ayah mereka yang misterius menyangkut Godzilla yang mempertemukan mereka berdua
4. Mike-Abby, dalam film Five Nights at Freddy’s
Kakak adik harus saling melindungi, dan dua bersaudara ini amat sangat melambangkan hal tersebut
5. Mindy-Chad, dalam film Scream VI
Siblings favorit fans kedua dari apa yang sepertinya bakal jadi Trilogi Scream modern. Udah keturunan, toh mereka adalah sanak dari Randy, fan favorit di OG Scream
6. Nina-Kyle Morgan, dalam film The Family Plan
Tadinya saling cuek, tapi begitu terlibat masa lalu ayah mereka yang ternyata superspy, Nina dan Kyle Morgan jadi dekat dan mereka jadi kompak
7. Roderick-Madeline Usher, dalam serial The Fall of the House of Usher
Gak ada yang gak bisa ditempuh oleh dua bersaudara ini. Kita melihat gimana mereka ini tumbuh hingga dewasa, basically menguasai dunia bisnis,  dengan melakukan hal kelam, sampai dealing with devil segala!
8. Sultan-Bilqis, dalam film Gampang Cuan
Karena sayang ibu-lah, dua anak rantau bersaudara ini nekat ‘menipu’ ibu mereka dengan berpura-pura sukses dan kaya raya. Nah loh??

Piala The Dirty ini jatuh kepadaaa Gampang Cuan suprisingly bikin karakter bersaudara yang terasa real, despite hal-hal nekat yang seringkali over the top hingga menyerempet kriminal yang mereka lakukan. Berantem, marah-marahan, kompak-kompakan, saling melindungi, semuanya mereka lakukan!

 

 

 

Sebagai anak cowok sulung yang punya adek cewek, dan adek cowok, aku bisa mastiin punya adek itu seru. Anak sulung itu punya kewajiban, terutama menjahili adik-adiknya. Dan anak sulung punya hak tak-terbantahkan untuk, selalu jadi Player 1 kalo lagi main video game hihihi… Tapi urusan main game itu, gak enaknya jadi abang adalah seringkali harus ngalah supaya adik masih mau main dan gak nangis. So yea, kalo ada adekku yang baca ini – anytime aku kalah main game, itu aku cuma pura-pura kalah aja ahahahaha!!

GAME OF THE YEAR

Oke, serius dikit. Video Game makin ke sini, tentu saja makin keren-keren. Industri Video Game juga punya award sendiri. Dan menurutku yang masih kurang ditonjolkan ketika orang bicara video game, adalah penulisannya. Buatku, kalo diurut yang penting dari game itu, pertama gameplay-nya, kedua tingkat kesulitan, ketiga penulisan, dan terakhir baru grafik, Hmm.. semoga pengantar itu enggak ngasih spoiler terlalu banyak soal siapa yang menang di antara nominasi berikut:
1. A Space for the Unbound
Pixel arts buatan Indonesia yang udah kayak slice of life fantasi ala Studio Ghibli, tapi game!
2. Blasphemous 2
Sekuel dari Blasphemous, game metroidvania yang menonjolkan estetik berdarah dari mitologi/role Christianity
3. Hogwarts’ Legacy
Game open world di mana kita jadi murid Hogwarts!! Siapa yang gak mau main ini?
4. Marvel Snap
Membawa kita makin kenal dengan karakter-karakter Marvel lewat permainan kartu, game untuk smartphone ini nyaris instantly populer
5. Marvel’s Spider-Man 2
Best video game dari segi teknis, betul-betul nunjukin seberapa maju teknologi video game masa kini, plus simply punya cerita dunia Spider-Man yang sangat keren
6. The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom
Kalo suka genre fantasi, game terbaru Zelda ini akan lebih bikin kita tercengang. Animasi dunianya yang luas itu sangat cakep, banyak yang berargumen game ini adalah game Zelda terbaik
7. WrestleQuest
Konsep industri pro-wrestling dijadiin cerita petualangan fantasi ala game RPG. Sebagai penggemar wrestling dan game RPG, jelas buatku ini adalah game impian!

 

Baiklah tanpa banyak loading-loadingan, inilah pemenangnyaaa

Di channel YouTube My Dirt Sheet aku upload playthrough game ini dari awal sampai tamat. Bagi yang udah nonton, kalian tahulah betapa tercengangnya aku sama cerita game ini. Gameplaynya standar, gambarnya pixel arts yang sederhana, retro, tapi hey siapa bilang pixel arts gak bisa cantik dan ciamik? Aku suka banget pixel arts malah, ketimbang grafik yang fotorealistik. Tapi toh memang karakter-karakternya, cerita mereka, wuih, itulah yang menonjol dari game ini. Aku benar-benar berharap ada produser film yang mengadaptasi ini jadi feature film. Tema yang dibahaspun urgent, tentang bullying, tentang persahabatan, konsep fantasinya certainly bakal jadi tantangan seru untuk filmmaker. Bener loh, jangan sampai keduluan produser film negara lain yang ngangkat game anak bangsa ini. Karena di luar sono pun, game ini populer sekali. Bangga!

 

 

 

Dari cantik dan berprestasi satu, ke cantik dan berprestasi yang lain, kita sampai ke kategori favoritku

UNYU OP THE YEAR

Berikut adalah nama-nama biggest crush-ku sepanjang 2023, artis-artis cewek cantik, keren, dan aku percaya bakal bersinar di kemudian hari.
1. Arla Ailani
Paling suka ngeliat Arla meranin karakter galak. Tapi di tahun 2023, dia expand aktingnya dengan mainin tipe karakter berbeda di Gita Cinta dari SMA, di Pamali 2: Dusun Pocong, juga di film pendek Kalau the Series season 2
2. Cailee Spaeny
Tahun 2018 lalu Cailee pernah masuk nominasi, dan dia comeback. Stronger than ever. Aku suka banget liat peningkatannya aktingnya pas main sebagai kekasih Elvis di Priscilla
3. Kaitlyn Dever
Salah satu penampilan horor terbaik di 2023, Kaitlyn Dever akting maksimal di No One Will Save You, fisik dan mental. Dan dia bahkan gak bersuara di film itu!
4. Kathryn Newton
Penampilannya sebagai Casey Lang, anak Ant-Man, memang gak berkesan buat penonton yang udah jenuh film superhero, tapi Kathryn termasuk langganan di nominasi ini. Kusuka karena dia ramah banget, salah satu dari sedikit sekali artis luas yang bales kalo kukirimin sketch haha
5. Melissa Barrera
Aku gak ngefans-ngefans amat, tapi respekku buat pemeran utama Scream VI ini naik berkali lipat karena sikap tegasnya berani bersuara mendukung Palestina, sampai-sampai dia dipecat dari Scream. And she didn’t even flinch. You rock, girl!
6. Nell Tiger Free
Nominasi Nell memang tinggal nunggu waktu. Sedari Servant season awal, aku sudah naksir, dan penampilannya di season akhir ini udah gak bisa enggak lagi. Harus masuk nominasi!
7. Zoe Colletti
Penampilannya di The Family Man benar-benar mencuri perhatian, aku bakal duduk nungguin kalo ada film barunya lagi nanti

 

Daaan, akhirnya The Dirty dibawa pulang oleeehhh

Arla mukanya mirip-mirip Alessia Cara gak sih? Kalo menurutku sih iyes, I guess I have a type, karena dua-duanya pernah menang kategori ini hihihi..

Dan oh how lucky I am, di 2023 pernah ketemu langsung sama Arla. ngeinterview. Orangnya ramah bangeeet, dan ini membawa kita ke kategori berikutnya, karena berkaitan.

 

 

 

 

MY MOMENT OF THE YEAR

Aku dapat tanda tangan dua pemenang Unyu op the Year dooongg. Waktu ketemu langsung sama Arla, dan waktu ikut kontes review/komen drakor terbaru Lee Eun Saem (pemenang Unyu My Dirt Sheet Awards 11) ulasan singkatku kepilih jadi 1 dari 10 fans di SE Asia yang dapat polaroid bertandatangan si Ms. Shibal bareng Yeri Red Velvet yang jadi lawan mainnya di serial BitchXRich itu. Dapatin polaroid itu perjuangan juga, karena fotonya sempat ilang di pos Bandung hahaha

Jadi walaupun ku gak lolos lomba kritik film beneran karena tulisanku memang banyak menilai filmnya ketimbang jadi laporan ilmiah pake abstrak, aku seneng-seneng aja. Toh yang jelas tahun 2023 semakin produktif. Tulisanku tentang film dimuat di Zine dari Bandung Film Commission, ada lima edisi. Konten di channel YouTube juga makin giat. Rampung 5 playthrough game, salah satunya A Space for the Unbound tadi. Trus 2023 ngapain lagi ya? Oh iya, aku bareng temen-temen di FFB juga ikut lagi Liga Komik setelah tahun sebelumnya absen, Alhamdulillah masih bisa jadi runner ups.  Dan akhirnya, aku mudik ke Riau setelah 3 tahun mendekam di Bandung karena gak bisa kemana-mana selama covid.

Tapi di balik kesenangan, juga ada kesedihan. I lost my cat. Si Ucil itu kirain musim kawin seperti biasa dua minggu sekali ada hilang 3 harian, tapi ternyata November itu Ucil memang sama sekali gak pulang. Sedih sih, kayak kehilangan anak. Karena Ucil yang adek Max itu juga dirawat dari baru lahir. Lima tahun digedein, dan dia ilang tanpa pamit (ya namanya juga ilang haha) Semoga hilang karena dapat rumah baru yang lebih baik ya, Cil!

 

 

 

Kehilangan yang kualami memang enggak seujung kuku bagi kehilangan yang dialami banyak orang lain di tahun 2023. Ada kapal selam karam, bencana alam, bahkan penembakan. Untuk korban gempa Syria, untuk korban riot di Perancis, untuk Emak, untuk Bray Wyatt yang pergi terlalu cepat, untuk Iron Sheik, untuk anak-anak dan orang tak bersalah korban genosida di Palestina. Untuk semua yang gugur, marilah kita panjatkan doa.

Mengheningkan cipta

MOMENT OF SILENCE

….
….
Mulai!
….
….
….
….
….
….
….
….
Selesai!

 

Harapan kita semua tentu saja semoga ada lebih banyak cinta di dunia. Semoga damai, apapun itu perbedaan pandang bahkan perbedaan pilihan politik kita semua.

 




 

 

 

Untuk menutup award ini, satu kategori lagi akan diberikan.

SHOCKER OF THE YEAR

Kategori untuk hal-hal mengejutkan yang terjadi di sepanjang 2023.  Mari kita simak runner-ups terlebih dahulu:
1. Arab jadi hijau!?
2. Ash dan Pikachu tamat!
3. Wajah Kenny South Park akhirnya di-reveal!!
4. Yugioh original (OGC) hadir untuk region Indonesia!
5. Twitter ganti nama jadi X!!!
6. Anak presiden bisa daftar cawapres dan aturan yang dibengkokkan!!!?!
7. Slank bikin lagu Polisi Baik..?! Iya, Slank yang itu!!
8. Mantan intelligence service Amerika bilang bahwa Alien beneran ada!?!!
9. Deck Exodia boomer memenangkan turnamen yugi modern!!
10. Naik bus, laptop bisa berganti jadi keramik?!!!
11. Rick and Morty justru bagus tanpa kreator originalnya!!

Semoga belum pada jantungan, sebab inilah yang paling mengejutkan

Kutak bisa ber-word-word begitu melihat judul berita itu di timeline. Kenapa gak sekalian juga ya yang gila boleh nyalon jadi presiden. Eh, apa udah juga ini?

Yang jelas, Pemilu 2024 sudah menyongsong di depan mata. Dari beberapa nominasi award ini bisa dilihat, ibarat lomba, ini adalah lomba yang sedari babak pendaftarannya jelas ada peserta yang curang, tapi lomba ini tetap dilanjutkan dan yang curang itu malah diturutin maunya. Kalo aku sih, lebih milih lombanya yang diprotes dan baru diteruskan setelah semuanya bener supaya pasti gak ada kecurangan-kecurangan susulan. But that’s just me

 




That’s all we have for now.
Semoga hingga akhir tahun 2024 kita semua masih menyala oleh energi positif. Atau paling enggak masih punya energi, untuk ikutan award ini tahun depan hihihi

Remember in life, there are winners.
And there are losers

 

 

 

 

 

We still the longest reigning BLOG KRITIK TERPILIH PIALA MAYA.



AMERICAN FICTION Review

 

“We live in a fantasy world.. the great task in life is to find reality”

 

 

Kita sekarang hidup di dunia fiksi. Memperdagangkan trauma dan kesedihan. Itulah realita yang digambarkan dalam American Fiction, debut penyutradaraan Cord Jefferson. Film adaptasi novel ini di tangannya menjadi komedi satir yang aku pikir bakal bikin gerah beberapa orang, seperti penulis buku/pembuat karya yang memang jadi subjek di dalamnya. Dan walaupun di judulnya ada kata Amerika, satir di film ini gak akan luput mengenai kita di Indonesia. Karena ironisnya, cerita di film ini relate juga dengan kondisi di ‘rumah’. I mean, lihatlah pekarangan sosmedmu. Berapa banyak yang bikin konten yang menuai cuan dari cerita-cerita sedih, cerita orang-orang berantem, atau bahkan cerita kebegoan. Konten yang menjual kalangan minor, ataupun yang sengaja menyasar kepada stereotipe-stereotipe lainnya. Kita sekarang hidup di dunia fiksi. Dunia di mana, sesuai dengan salah satu dialog film ini yang bikin aku ngakak; “The dumber I behave, the richer I get” Film ini begitu lucu karena yang diceritakan benar adanya!

Ya, jaman sekarang idealisme dianggap tidak bisa menghasilkan apa-apa selain stress dan kelaparan. Di cerita film ini, seorang dosen, punya pendidikan dokter, dan penulis novel, Thelonious Ellison yang akrab dipanggil Monk, hidupnya juga mulai menghimpit tatkala novel-novel yang ia tulis dengan serius dan sepenuh hati, katakanlah, tidak laku. Satir film ini langsung ngegas saat publishernya yang kulit putih itu meminta Monk untuk menulis cerita yang lebih ‘black’. Bayangkan disuruh untuk menjadi lebih lokal oleh orang yang sama sekali tidak punya kaitan apa-apa sama kelokalanmu. Lagipula, lanjut sang publisher, pasar cuma butuh dahaga mereka akan konfirmasi bahwa mereka adalah orang yang peduli sama isu terpuaskan. Maka Monk kepikiran menulis novel satir yang isinya penuh oleh stereotipe yang dikenal publik pada ras kulit hitam. Dia menulis buku itu sebagai olokan. Tapi justru buku itu laku keras di pasaran. Kritik dan penikmat kasual – yang hampir semuanya kulit putih – menyukai novel yang sengaja dibikin sebagai pembuktian sampah oleh Monk. Novel, yang ia kasih gimmick ditulis bukan oleh dirinya, melainkan oleh seorang tokoh rekaan. Seorang napi yang kabur dari penjara. Makin meledaklah penjualan novel tersebut saat ‘identitas’ penulis itu diungkap. Sampai-sampai ada produser yang ingin memfilmkan novelnya. Monk, demi keuangan keluarganya, lantas harus memilih; antara tetap menjadi dirinya yang tak bisa menjual apa-apa, atau terpaksa menjadi penulis dan kisah-nyata bohongan yang ia ciptakan sendiri.

reviewamericanfiction
Abis nonton ini, ngereview pun lantas jadi was-was, takut kemakan jebakan pembuat yang seperti Monk

 

American Fiction tayang di bioskop Amerika bulan Desember tahun lalu, hampir bertepatan dengan waktu Jatuh Cinta Seperti di Film-Film memeriahkan bioskop tanah air. Menarik, karena dua film ini basically menggunakan konsep meta yang serupa. Pun sama-sama punya komentar soal industri film/karya tulis negara masing-masing (sama-sama parodiin produser/publisher hahaha). Jatuh Cinta Seperti di Film-Film yang tentang seorang penulis skenario berusaha menulis dan memfilmkan kisah romans dari kehidupan cintanya, currently bertengger di posisi ke delapan dalam daftar Top-8 2023 Movies-ku, dan alasan film itu berada di posisi tersebut adalah karena ada yang mengganjal dari struktur meta yang digunakan terhadap journey karakter utamanya. Film American Fiction ini lantas memberikan kepada kita contoh cara yang benar dalam menghandle konsep tersebut, sehingga journey Monk sebagai karakter utama terasa tetap ‘real’.  Karena American Fiction tidak lantas give in kepada gimmick cerita metanya. Alih-alih menggunakan hitam putih sebagai pembeda, film menggunakan layer akting yang beneran dikaitkan kepada narasi. Monk pria terpelajar kelihatan dari gaya dan cara bicara dia, tapi kita benar-benar ditekankan kepada Monk harus mengubah cara dia bicara, gaya dia menulis, menjadi sesuatu yang stereotipe dan menurutnya degrading ketika dia menulis novel sesuai tuntutan publisher. Akting Jeffrey Wright main betul, dan memang pantas diganjar nominasi. Cara film ini dalam menampilkan sebuah adegan yang ternyata hanya karangan Monk dilakukan dengan sureal namun tetap terang sehingga apa yang sebenarnya terjadi kepadanya tidak pernah tersamarkan sebagai kejadian yang tidak pernah beneran terjadi. Dalam artian, journey yang dilalui Monk tetap jelas, growth yang ia alami tetap kita lihat terjadi kepadanya.

Adegan Monk menulis novel full of stereotypes itu dilakukan dengan menarik oleh film. Monk udah kayak sutradara yang mengawasi dua karakternya berdialog, lalu karakter-karakter tersebut akan balik bertanya “Gue ngomong apalagi nih bos?” atau malah mengkritiknya “Gue ngomongnya gak kayak gitu!” Menyangkut ke perihal satirnya, adegan tersebut dirancang dengan precise sehingga untuk kita – yang merupakan salah satu sasaran sindiran – adegan tersebut akan menghasilkan sedikit perasaan mendua. Adegan dialog itu supposedly nunjukin parody yang jelek, atau beneran bagus. Ketika kita merasakan itulah, pembuktian satir film bekerja dengan benar. Lewat adegan menulis cerita penuh stereotype dan menjual ‘ras’ padahal sebenarnya shallow itulah film membuktikan benar bahwasanya kita sebagai konsumer kadang dengan begonya kemakan konten orang. Kita melihat ‘oh film dari ras minoritas pastilah real, emosinya raw, dan mengusung bahasan sosial yang penting’ padahal itu bisa jadi cuma gimmick. Bisa jadi penulis ceritanya seperti Monk, just making stuff up, memasukkan sebanyak mungkin stereotype karena memang itulah yang lebih gampang laku. Bahwa sekarang kita tidak melihat berdasarkan isi yang sebenarnya, melainkan hanya ikut-ikut tren agenda.

Sebagai seorang terpelajar, Monk tentu saja melawan industri seperti ini.  Ketika ada pengarang kulit hitam lainnya, menulis novel setipe (alias sama-sama jualan stereotipe ras mereka semata), ditambah dari sudut pandang perempuan pula, Monk melihat novel tersebut sebagai gimmick semata. Tentu saja orang akan suka, toh itu cerita hidup perempuan dari ras minoritas. Malah bukan ‘akan suka’ lagi, melainkan ‘harus suka’. Karena kalo ada orang yang tidak suka cerita itu, apalagi si orang yang tidak suka ini adalah kulit putih, maka dia akan beramai-ramai dicap sebagai seorang rasis yang gak peka. Kalo dia pria, maka niscaya dia akan dicap anti feminis. Sebagai pengulas film, aku bisa mengerti yang dirasakan Monk, karena seringkali aku juga merasa ada film yang kayak cuma ngejual stereotype, atau cuma ngejual agenda, tapi dalam menyampaikannya aku agak susah karena takut diserang balik sebagai gak dukung perempuan atau tone deaf terhadap sosial.  Dan permasalahan ini dijadikan film sebagai inner journey dari Monk. Dia yang awalnya berusaha idealis dan blak-blakan menolak, dihadapkan kepada situasi yang membuat dia melihat kenapa ‘industrinya’ jadi begini, dan ultimately dia harus memilih. Pilihannya nantilah yang jadi puncak satir film ini. Ending yang bakal ninggalin kita topik untuk dipikirkan. Karena film yang dibuat sebagai gambaran ini, tidak menawarkan solusi. Melainkan tetap berpegang kepada pencerminan dunia nyata.

Kisah-nyata seperti di fiksi-fiksi

 

Sebenarnya persoalan ini sudah pernah disentuh oleh Jordan Peele dalam filmnya yang berjudul Nope (2022). Secara umum film yang bentukannya horor-creature sci fi itu membicarakan gimana manusia suka mengekspoitasi hal yang berbeda sebagai spektakel. Atau tontonan hiburan. Dan hal yang berbeda itu bisa meliputi ke ras mereka yang dalam cerita film seringkali hanya digunakan sebagai role-role stereotipe dan cukup hanya di role tersebut. Film American Fiction ini tidak lain dan tidak bukan membahas persoalan tersebut lebih dalam dan lebih personal lagi. Stakenya dibuat lebih grounded, supaya filmnya sendiri tidak menjadi hal yang ia kritik. Inilah yang membuat film ini meskipun tidak ada solusi, tapi tetap terasa powerful sebagai gambaran. Karena semuanya dikembalikan kepada karakter yang terpaksa harus memilih. Karena keadaan. Therefore, kepada kitalah sebenarnya cerita ini meminta penyadaran.

Karena pasar gimanapun juga terbentuk oleh permintaan konsumen. Dunia kita sekarang adalah dunia fiksi yang jualan yang laku bukan jualan yang berbobot, melainkan jualan ringan dan not necessarily harus asli, asalkan jualan tersebut bisa membuat orang konsumernya merasa lebih mulia. Sehingga muncullah penjual-penjual yang memperdagangkan kepalsuan. Stereotype, cerita sedih, kebegoan. Semuanya semu, yang dijual maupun yang dirasakan oleh yang beli.

 

 

 

Jadi gimana cara film ini mempertahankan ke-real-an journey karakter? Dengan actually memparalelkan soal kerjaan Monk nulis buku, dengan konflik di dalam keluarganya, yang semuanya dokter. Monk punya adik dua orang (yang satunya mungkin jadi penyebab kenapa film ini gak tayang di bioskop Indonesia), punya asisten rumah tangga yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, punya Ibu yang mulai digerogoti Azheimer. Dan ayah mereka telah lama jadi urban legend di kota kelahiran, lantaran dulu bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri (film pun sempat-sempatnya menebar dark jokes seputar peristiwa ini dari karakter yang innocently lupa Monk punya riwayat tragedi tersebut). Yang terjadi kepada ayah, kepada ibu, kepada keluarganya keseluruhan digunakan oleh film sebagai stake dan pendorong bagi Monk untuk menentukan keputusan. Serta jadi tempat hati cerita ini berada. Benar-benar terasa seperti kisah karakter yang berjuang. Monk bisa saja menulis tentang keluarganya sendiri, tapi itu tetap belum cukup. Karena seperti ironi yang acapkali dicuatkan oleh film, itu tidak akan terasa real enough bagi pembaca. Satir pamungkas dilakukan oleh film ketika memperlihatkan adegan diskusi Monk dan sejawat sesama juri award literatur, pendapat otentik Monk sama sekali tidak didengarkan oleh juri yang lain, dengan alasan ‘black voices has to be heard’.

 

 




Semakin jauh Monk menulis dari kenyataan, semakin liar dia menggunakan stereotype dan identitas, semakin shallow bahasa yang ia gunakan, semakin nyeleneh judul novel yang ia ajukan, bukunya justru semakin laku. Aku rasa ini adalah salah satu film in recent years yang paling jago dalam menggunakan sindiran ke dalam penceritaan. Kena dan telak semua! Mungkin judulnya aja yang kurang tepat. Dan itupun karena kisah di film ini tidak hanya sedang terjadi di Amerika. Sindiran film akan mengena bahkan kepada kita. I honestly think, kayaknya ini adalah masalah global dunia yang tersentuh sosial media. Bahwa orang-orang peduli sama isu, bukan karena mereka benar-benar peduli sama isunya, melainkan karena dengan merasa peduli mereka merasa jadi pribadi yang lebih baik. Jadilah isu tersebut soal unjuk agenda kosong semata. Makanya film ini terasa urgent. Di luar itu, melihatnya sebagai drama keluarga pun film ini terasa sama kuatnya. Menunjukkan film ini juga punya hati, selain punya otak dan nyali. 
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for AMERICAN FICTION.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah ada alasain lain kenapa sekarang kita seperti mudah kemakan sama konten-konten yang menjual gimmick ketimbang bobot?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



AGAK LAEN Review

 

“Making mistakes doesn’t mean you’re a failure”

 

 

Wahana rumah hantu di pasar malam. Kalo ditengok-tengok, memang, dari setting-nya aja drama komedi dengan unsur horor karya Muhadkly Acho ini udah agak laen. Kok sepertinya merakyat sekali. Melihatnya sebagai horor, ini bukan horor tentang kutukan-kutukan, bukan horor ritual-ritualan, bukan budaya mistis, lain sebagainya. Pun melihatnya sebagai drama orang yang struggle berbisnis, film ini juga bukan membahas persoalan bisnis yang muluk-muluk. Hanya empat sekawan yang pengen wahana rumah hantu mereka di pasar malam (not even rumah hantu canggih di taman hiburan gede) rame, supaya mereka bisa punya cukup uang untuk kebutuhan hidup masing-masing. Melihatnya sebagai komedi, well ya, film ini pecah oleh guyonan,  dan karena kedekatannya dengan jelata tersebut, maka jadi banyak juga yang membandingkan Agak Laen dengan film-film komedi Warkop DKI. Apalagi Agak Laen juga dipentoli oleh komedian (komika-komika stand up) yang punya acara cuap-cuap yang populer. Dan di film ini mereka juga menggunakan nama ‘panggung’ mereka yang asli. Menurutku pribadi, however, Agak Laen lebih sedikit berisi daripada komedi-komedi, bahkan Warkop. Jika di luar ada istilah elevated-horror, maka aku bilang film Agak Laen merupakan versi elevated dari gimana biasanya film-film kita menghandle komedi, apalagi dan horor bersamaan.

Yang bikin aku surprised terutama adalah pada penulisan karakternya. Aku gak nyangka film ini punya karakter utama. Karena biasanya kan komedi yang sentralnya adalah grup atau sekelompok-orang, akan membuat cerita yang seperti ensemble. Like, they will work as an unit of main characters. Kayak, di film Warkop misalnya. Penokohan Dono-Kasino-Indro bisa bertambah sesuai cerita filmnya, tapi pada setiap film tersebut fungsi mereka sama. Dono bisa jadi seorang anak orang kaya dari desa, tapi karakternya selalu yang polos sehingga sering dijahili, atau juga sial. Indro seringnya kebagian peran anak orang kaya, anak kota, yang sedikit  belagu, Kasino jadi wild card, usil iya, oportunis iya, ngasal iya.  Dan film-film mereka akan ultimately bekerja pada fungsi tersebut. Dalam film Agak Laen, drama-lah yang bekerja. Empat karakter sentral memang diberikan porsi masing-masing, tapi juga naskah dengan berani menunjuk satu orang sebagai perspektif utama. Sebagai sumber aksi, sumber drama, sebagai ‘pemimpin’ kalo boleh dibilang. Sementara karakter lainnya juga diberikan penokohan dan drama personal yang bukan sebatas gimmick pembeda.

Oki, di sini ceritanya adalah seorang mantan napi, melihat wahana rumah hantu pasar malam tempat Jegel, Bene, dan Boris bekerja sebagai peluang satu-satunya dia bisa mendapat uang untuk obat mamaknya yang sakit. Dialah tokoh utama cerita. Kita akan melihat dia sebagai flawed character – yang membuatnya jadi karakter utama yang menarik – melakukan aksi nekat supaya diterima menjadi bagian dari kru, dan gimana dia punya ide-ide untuk membuat wahana tersebut menjadi lebih seram lagi. Karena rumah hantu mereka itu sangat sepi. Pengunjung yang masuk lebih terhibur ngeledekin para hantu ketimbang oleh adrenalin rush ditakut-takuti. Ide si Oki bikin rumah hantu jadi semakin seram, sayangnya terlewat berhasil. Salah seorang pengunjung tewas ketakutan. Oki yang gak mau urusan ama polisi lagi, mengusulkan untuk menguburkan jenazah di bawah properti kuburan, dan teman-temannya yang juga butuh duit untuk urusan unik masing-masing setuju. Mereka akan berpura-pura tak tahu apa-apa. Sampai akhirnya hantu dari bapak yang tewas tersebut justru bikin rumah hantu mereka viral. Duit memang mengalir deras, tapi begitu juga rasa was-was mereka semua. Gimana kalo rahasia perusahaan mereka sampai ketahuan?

Aku dulu juga sempat kepikiran untuk buka usaha rumah hantu, karena ‘modal’ yang kupunya juga sama ama Oki dan kawan-kawan

 

Premisnya sebenarnya komedi sekali. Penulisannya pun sangat terukur dalam menempatkan pion-pion cerita, menanamkan poin-poin yang bakal mekar jadi punchline. Bene, Boris, Jegel juga diberikan permasalahan masing-masing yang situasinya kocak karena dekat juga dengan persoalan kita sehari-hari. Kepekaan mengembangkan situasi komedi memang tampak dimanfaatkan betul oleh para komika ini menjadi cerita yang liar tapi sangat koheren menuju akhir. Aku penasaran banget gimana mereka merancang cerita film ini, like, biasanya di stand up komedi kan ada tuh sesi yang mereka nyebut nama tempat random, nyebut nama kerjaan random, lalu bikin cerita lucu dari situ. Nah uniknya, film ini tuh kayak dibikin spontan seperti itu “Rumah hantu!” “Mantan napi!” tapi ujung-ujungnya bisa sangat koheren ngasilin tontonan yang menghibur, lagi punya kekuatan drama. Pengunjung yang meninggal itu seorang caleg, gimana dirinya yang mendadak menghilang bakal jadi berita, dia juga lagi selingkuh sehingga otomatis bakal ada yang nyari dia. Lalu tentu saja dalam setiap kasus bakal ada saksi mata, tapi alih-alih saksi yang secara kiasan sekaligus literal anak yang buta masalah orangtuanya seperti pada film serius Anatomy of a Fall (2024), film ini memenuhi janjinya sebagai komedi dengan menghadirkan saksi ‘bisu’.

Desain komedinya itu yang membuat Agak Laen menjadi sangat menghibur. Komedinya menyerempet ke mana-mana, mulai dari politik bahkan ke komedi meta bagi aktor-aktornya. Just like any good old comedy does, candaan di film ini berani menyerempet hal-hal yang mungkin sekarang dinilai sensitif. Leluconnya benar-benar outrageous. However, film ini juga ada beberapa kali nyelipin iklan sponsor, yang dilakukan dengan kocak meski memang ‘in-our-face’ sehingga honestly aku sempat ragu ini beneran iklan atau bukan. Tapi either way, ‘iklan’ itu  memang agak sedikit mengganggu karena tetap membuat kita sedikit terlepas dari cerita yang sebenarnya. Anyway, buatku secara personal, ada dua aspek yang bikin film ini secara khusus terasa relate sehingga menjadi nambah lucu. Yaitu bahasa canda dialek Sumatra – although film tidak membatasi range diversitynya di sini karena bahasa daerah lainnya juga – yang membuatku agak rindu kampung halaman (dan rindu kucingku yang hilang, karena kalo di Bandung ini aku pakek gaya ngomong gitu cuma kalo ngobrol sama kucing haha). Dan bisnis rumah hantu. Dulu selepas kuliah dan mutusin out dari jalur jurusan, aku sempat kepikiran mau buka rumah hantu dan lantasi suka datengin, nyobain, berbagai macam wahana rumah hantu. Film ini membuatku ngakak karena aku baru kepikiran suka duka kerjaan itu

Dan memang penulisan yang terukur itulah, ditambah quick with wit, peka, dan penggalian yang fresh yang akhirnya bisa menyulap premis komedi soal rumah hantu viral karena hantu beneran itu menjadi drama menyentuh soal pemuda yang merasa gagal membanggakan ibu atau keluarganya. Bobot drama tersebut hadir di balik momen-momen komedi tadi dengan subtil. Kita gak akan nyadar muatan cerita ini sampai tiba-tiba kita merasa sorry for the characters. Kita tidak lagi menertawai mereka. Kita sadar kita jadi ikut tertawa, sedih, dan kalut bareng mereka. Para pemain utama pun seperti sudah mempersiapkan diri untuk momen-momen yang lebih dramatis. Jegel, Boris, dan khususnya Oki dan Bene mendapat ruang untuk menampilkan range, karakter mereka tidak melulu konyol dan serampangan. Hati film ini justru datang dari gimana masing-masing menghadapi permasalahan sendiri. Dan kepada masing-masing. Sebuah tantangan yang berhasil di-tackle karena film sama sekali tidak goyah tone maupun pace-nya saat membahas masalah yang lebih ‘drama’.

Memang cumak iklan-iklannya aja yang bikin agak malas

 

Semua orang pernah melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Semua orang pernah mengucapkan hal yang harusnya tidak mereka ucapkan. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan kesalahan-kesalahan tersebut bukanlah penanda mana orang yang baik, mana orang yang jahat. Bikin kesalahan tidak lantas berarti kita jadi orang jahat. Melainkan hanya berarti kita belum tau yang lebih baik. Dan salah juga bukan berarti gagal. Yang menandai kita jahat atau bukan, gagal atau bukan, justru adalah apa yang kita lakukan setelah melakukan kesalahan. Menyesal atau tidak. Berjuang untuk berubah atau tidak.

 

Satu lagi yang dilakukan dengan benar oleh film ini adalah tidak meniadakan konsekuensi. Ini nilai plus yang mengangkat cerita lebih tinggi lagi, karena biasanya film-film akan dengan mudah melupakan konsekuensi demi menjaga status karakter utamanya. Menerima konsekuensi ini penting bagi karakter karena itulah yang menandakan mereka sudah melalui pengembangan. Ketika mereka rela mendapat hukuman atas tindakannya, di situlah arc karakter mereka komplit. Journey mereka tercapai. Menghadapi konsekuensi juga berarti karakter-karakter di film ini tidak diberikan jalan keluar yang mudah bagi permasalahan mereka. Film ini memberikan akhir yang tepat bagi para karakter tanpa mengurangi bobot journey mereka, meskipun ada beberapa poin cerita yang terasa agak terlalu cepat. Misalnya, ketika ‘rahasia’ mereka diketahui oleh satu karakter. Proses ‘tahu’nya si karakter itu kayak cepat, kok dia bisa nyimpulin, gitu. Jadi kayak ejaan naskah saja jadinya. Tapi, paling enggak, film tetap melakukan itu di dalam konteks karakter. Kelihatannya saat nonton mereka ketahuan itu karena mereka kurang jago ngeles, ketimbang karena naskahnya kurang detil menuliskan proses.

 




Kalo sineas lokal bisa bikin dan produksi cerita merakyat yang fresh seperti ini, buat apa lagi kita meremake materi komedi horor dari negara laen? Aku salut banget sama Imajinari, yang film-filmnya kayak konsisten mengangkat cerita original, dan dengan range yang berbeda. Drama keluarga dengan kultur Batak di Ngeri-Ngeri Sedap (2022), drama romance dengan konsep meta filmmaking di Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), dan sekarang drama komedi dengan unsur supernatural/horor. Bahkan perihal karakter utamanya aja Imajinari berani ambil resiko. Sepasang orang tua yang pengen anaknya pulang. Jatuh cinta di usia yang tak lagi muda. Gak peduli mereka sama penampilan ‘bintang’. Di film ini, protagonis dan gengnya adalah kru rumah hantu. Mereka cuek ngangkat cerita dari sudut pandang tak biasa, sehingga menghasilkan galian cerita yang terasa grounded pada level yang berbeda. Rancangan komedi menghantarkan penonton menuju hiburan non-stop, sementara muatan drama diam-diam mengangkat film ini menjadi tontonan yang bergizi. Tiga film, dan tiga-tiganya konstan di tier atas blog ini. Genre drama komedi, atau bahkan komedi horor kita punya standar yang baru. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for AGAK LAEN.

 




That’s all we have for now.

Apa pengalaman terseram kalian masuk wahana rumah hantu?

Silakan share ceritanya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL

 

 



MINI REVIEW VOLUME 14 (SOCIETY OF THE SNOW, SELF RELIANCE, NAPOLEON, WONKA, SOUND OF FREEDOM, EILEEN, NEXT GOAL WINS, MAESTRO)

 

 

Kompilasi pertama di tahun 2024 ini disusun sebagai semacam penebusan rasa bersalahku buat film-film Indonesia yang tahun lalu cukup sering dicuekin. Maka, bulan Januari ini, film-film Indonesia yang dapat review full, sementara film impornya dikumpulin untuk edisi iniii. Here they are!

 

 

EILEEN Review

Udah cukup lama gak nemu trope Manic Pixie Dream Girl, eh tau-tau muncul dalam film garapan William Oldroyd, dan ini bukan romance atau something yang fun. Melainkan sebuah thriller psikologis!

Gak banyak yang ngomongin soal film ini, padahal ceritanya lumayan intriguing, dengan ending yang dibikin open perihal akhir dari dua karakter sentralnya. Atau mungkin satu karakter? Di situlah menariknya. So it’s about perempuan muda bernama Eileen, yang gak pernah kemana-mana karena harus ngurus ayahnya; pensiunan sheriff yang kasar dan paranoid, perempuan yang meskipun kerja di penjara tapi hidupnya datar dan bosenin. Sampai penjara tempatnya bekerja kedatangan psikolog baru; Rebecca. Perempuan yang lebih dewasa, lebih berani, lebih luwes, ah betapa menariknya si pirang itu di mata Eileen. Rebecca clearly perwujudan dari hidup ‘impian’ Eileen, relasi mereka benar-benar digali namun dengan underline ambigu dan cukup dark. One thing right yang dilakukan oleh film dalam relasi mereka adalah dengan establish bahwa Eileen bukanlah sudut pandang yang reliable.

Banyak adegan yang caught me off guard, Eileen tiba-tiba menembak kepalanya sendiri, lalu aku baru nyadar adegan itu cuma yang dibayangkan oleh Eileen dan yang dia lakukan sebenarnya berbeda total. Hal-hal kayak gini yang bikin menarik karena kita seperti berjalan di dalam kepala Eileen. Kepala yang punya banyak dark dan deep thought. Tapi di sisi lain, aku bisa melihat kenapa film ini score audiens Rotten Tomatoes-nya rendah. Simply, tidak akan memuaskan jika cerita tidak ngasih kejelasan yang lebih clear dari karakter-karakternya.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for EILEEN

 

 

MAESTRO Review

Honestly ini satu film di akhir 2023 yang sengaja kulewat karena kelihatan tipe Oscar bait, biografi berat, method acting, dan banyak ngobrolnya. Tapi ternyata baitnya itu banyak juga yang kena masuk nominasi-nominasi penting di Oscar. Jadi sekarang aku punya PR berat harus nonton film karya Bradley Cooper ini.

Dan setelah nonton, aku rasa aku punya pendapat aneh soal film ini. I know ini adalah cerita tentang komposer legendaris Leonard Bernstein, tentang karir dan kehidupan cintanya. Tapi kok rasanya lebih menarik jika dibahas dari sudut pandang istrinya – yang diperankan oleh Carey Mulligan? Karena istrinya ini yang kayak lebih banyak menanggung drama perihal suaminya yang openly kepada kerabat juga suka lelaki. Konflik internal Leonard memang diselami, gimana dia merasakan efek hampa dari rumah tangganya terhadap performanya menggubah musik. Tapi karena juga dibangun dia seorang genius, dan dia gak pernah benar-benar memilih, cerita dari sudut pandangnya ini jadi lebih kerasa kayak momen-momen untuk showcase ‘bagaimana menjadi seorang Leonard Bernstein’ saja ketimbang beneran sebuah journey karakter.

Makanya film ini jadi terkesan pretentious. Dengan segala treatment hitam putih dan segala macam, film ini masih terasa bermain di area luaran dari kehidupan karakter titularnya.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MAESTRO

 

 

 

NAPOLEON Review

Satu lagi biografi yang masih bermain di luaran. Karya Ridley Scott ini supposed to be epic, tapi malah kayak skip-skip kisah perjuangan Napoleon Bonaparte tanpa banyak menyelami tokohnya sebagai karakter dengan segala kericuhan emosi manusiawi.

Napoleon yang di medan perang gagah naik kuda putih, di rumah tangga ‘galau’ karena pengen punya anak, tapi istrinya yang suka selingkuh, tidak bisa memberikannya anak. Yang diincar film ini sebenarnya kita bisa mengerti; film ingin mengontraskan gimana Napoleon di medan perang, dengan ketika dia di rumah. Dan tentunya juga gimana ketika dua itu bersatu. Apa yang bakal diprioritaskan oleh pejuang yang cinta tanah airnya tersebut. Namun permasalahan utama datang dari pijakan siapa Napoleon itu sendiri. Kita tidak pernah diajak mengenal dia terlebih dahulu. Kita hanya tahu dia orang ambisius, yang punya strategi dan also flawnya tersendiri. Kita tidak melihat ke dalam, kenapa dia bisa menjadi seambisius itu.

Aku gak pernah terlalu mempermasalahkan keakuratan sejarah, kostum, atau malah bahasa sekalian. Karena aku sendiri juga gak paham, dan kurang banyak baca. Hanya, ketika karakternya tidak bisa kita ikuti, ketika kita hanya disuruh lihat kehebatan dan kejatuhannya, film jadi masalah karena hanya kayak cerita kosong. Hiburan nonton film yang durasinya panjang banget ini cuma adegan-adegan perangnya saja. Adegan perang di salju buatku lumayan memorable.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for NAPOLEON.

 

 

 

NEXT GOAL WINS Review

Dari kisah nyata tim sepakbola American Samoa yang bukan hanya gak pernah nyetak gol, tapi juga terkenal lantaran pernah kalah dengan skor lebih dari 30 – kosong lawan Australia. Aku bahkan bukan penggemar sepakbola, tapi aku tetap nonton karena tau ini buatan Taika Waititi, jadi aku ngerti ngarepin humor yang seperti apa. Dan aku memang beneran terhibur menyaksikannya sampai habis.

Humor khas Waititi udah kayak acquired taste. Waititi mendaratkan karakter sebagai manusia dengan membuat mereka bertingkah konyol dan norak. Terkadang konsep ini susah diterima oleh penonton, terutama ketika manusia yang jadi subjek cerita diambil dari misalnya tokoh nyata, atau sesuatu yang dipandang lebih serius. Waititi pernah mencupukan drakula, menorakkan Dewa Asgard, pernah mengkonyolkan ideologi nazi, dan kali ini dia mengkarikaturkan perjuangan atlet sepakbola. Buatku ini gak masalah. Yang perlu diingat adalah dia tidak melakukan itu untuk semata meledek, tapi untuk membantu kita melihat karakternya di level yang menapak. Hati di balik ceritanya masih terasa serius. Kayak di film ini.

Secara plot, memang ini formula standar tim/karakter underdog yang bakal berjaya di pertandingan/kompetisi. Mereka menang sebagai bentuk menjadi diri yang lebih baik, yang ‘dipelajari’ selama latihan dan menjalani hubungan persahabatan bersama. Tapi dengan konsepnya, Taika Waititi bisa membuat ‘match puncak’ cerita ini punya penceritaan yang berbeda. Dan konsep penceritaan itu works, karena karakter-karakternya lebih mudah untuk kita dekati. Protagonis utama film ini adalah pelatih kulit putih yang dikirim untuk melatih tim samoa, awalnya sebagai hukuman. Bagi si pelatih, ini juga adalah journeynya menemukan peace terkait sepakbola dan hubungannya dengan putrinya. Taika Waititi juga ngasih pendekatan baru sehubungan dengan relasi putrinya tersebut. Jadi, kelihatan usaha untuk tidak membuat cerita ini kayak white savior story, dengan bahasan ke grup sepakbola dan protagonis sama-sama berjuang memperbaiki diri. Menurutku sebenarnya film ini bisa lebih banyak lagi bermain di arahan yang kuat, dan mestinya bisa benar-benar lepas dari formula bangunan cerita yang sudah seperti ada standarnya.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for NEXT GOAL WINS.

 




SELF RELIANCE Review

C’mon. Ada Anna Kendrik, ada Jake Peralta, dan ini film dibuat oleh Nick Miller! Of course, I’m gonna watch it and like it!!!

Bias aside, kupikir komedi-thriller debut penyutradaraan Jake Johnson ini dosanya cuma satu. Kurang aneh. Pembelajaran karakternya terlalu on the nose diakui oleh si tokoh utama. Sepanjang ngikutin cerita menguak itu, kayak, kita ngarepin kekonyolan yang lebih wah, tapi film seperti menahan diri. Hampir seperti agak sedikit terlalu mengasihani karakter utamanya. Atau mungkin, Jake gak mau terlalu absurd pada film pertamanya ini, jadi merasa kudu jaim dikit.

Padahal dari ceritanya aja udah gak biasa. Pria bernama Timmy kesepian yang bosan sama hidupnya (bukan bosan hidup loh) terpilih ikut game dark web aneh berhadiah uang yang banyak. Selama sebulan dia akan jadi buruan, orang-orang akan membunuhnya, jika dia tidak bersama orang lain. Jadi Timmy berusaha meyakinkan kerabat untuk terus bersamanya. Dia sampai membayar gelandangan untuk basically jadi bayangannya ke mana-mana. Premis yang menggelitik. Karakter-karakternya ajaib, mulai dari keluarga Timmy yang gak percaya, sampai pemburu-pemburu dengan ‘cosplay’ unik. Yang paling bikin ku ngakak adalah ‘ninja-ninja’ tim produksi dark web yang ngikutin Timmy tanpa disadari. Bahasan yang dikandung di balik itu semua sebenarnya juga sama menariknya, tema utamanya adalah soal hubungan kita dengan orang lain – kepercayaan, ketergantungan, dan sebagainya. Menurutku film ini berhasil ngehandle bahasan tersebut dengan baik di balik karakter dan situasi yang gak biasa.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SELF RELIANCE.

 

 

 

SOCIETY OF THE SNOW Review

Kita tahunya cerita tentang tim rugby Uruguay yang pesawatnya jatuh di pegunungan Andes 70an adalah cerita yang cukup sensasional. Horor, kalau boleh dibilang. Karena mereka survive berminggu-minggu itu dengan terpaksa jadi kanibal. Makan daging dari teman-teman mereka yang gugur lebih dulu. Sutradara Spanyol J.A. Bayona mengadaptasi buku yang menceritakan kisah survivor, menjadi film yang tidak menjual horor keadaan tersebut, melainkan film yang dengan respek menyelami keputusasan personal dari yang masing-masing para penyintas kejadian tersebut alami.

Lihat saja gimana film menceritakan soal makan mayat itu sendiri. Dilema moral yang dialami para karakter terasa bahkan lebih menusuk daripada angin salju mematikan yang harus mereka tahan. Dulu Hollywood pernah bikin film dari kisah ini. Film Spanyol ini melakukan banyak hal lebih baik dari yang dilakukan oleh film tersebut. Film ini benar-benar membangun para survivor sebagai satu tim. Kita melihat mereka sebelum, saat, sesudah kejadian naas tersebut. Karenanya, kita dibuat merasakan langsung naik turun dan penderitaan mereka. Cara film membalancekan porsi, serta juga tone cerita juga sangat apik. Jelas ini bukan cerita satu tim yang bisa diapproach dengan komedi seperti yang dilakukan Waititi di Next Goal Wins tadi, tapi film ini paham untuk tidak serta merta menjual tragedi dari tim ini. Hubungan erat mereka yang terjalin semakin erat dipotret benar seperti dari sudut pandang anak muda. Momen-momen kayak mereka menikmati secercah cahaya mentari terasa sama kuat dan menggetarkannya dengan momen mereka harus meringkuk saling menghangatkan badan di tengah dinginnya malam.

Yang dilakukan sedikit aneh oleh film ini menurutku cuma naratornya. Berbeda dengan film Alive buatan Hollywood tahun 1993 dulu, film ini gak punya karakter utama yang jelas. Narator yang ‘bicara’ kepada penonton actually adalah tokoh yang enggak survive, tewas di pertengahan cerita. Mungkin ini disadur langsung dari bukunya. Menurutku, paling baik jika kita menganggap karakter utama film ini adalah mereka semua sebagai satu tim. Bukan sebagai perseorangan. Walau, sangat jarang sekali ada naskah yang mengtreat sudut pandang utama seperti begitu.

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for SOCIETY OF THE SNOW.

 

 

 

SOUND OF FREEDOM Review

Film ini bukannya tanpa kontroversi. Meski maksudnya baik. Sutradara Alejandro Monteverde mengangkat isu perdagangan anak, crime serius yang berlangsung – ngerinya – di berbagai belahan dunia. Lewat film ini dia ingin supaya kepala-kepala kita lebih serius menoleh ke persoalan ini. Betapa mengerikannya bagi orangtua untuk kehilangan anak. Sindikat dan tindak kriminal ini harus segera diberantas hingga ke akar-akarnya. Dan ultimately jangan sampai ada anak lain yang jadi korban.

Masalahnya film ini easily fall ke jebakan cerita yang seperti diacknowledge Taika Waititi di Next Goal Wins tadi. Bahwa ceritanya bakal jadi kayak glorifikasi white savior belaka. Lubang jebakan inilah yang tidak diberhasil terhindari sepenuhnya oleh penceritaan Sound of Freedom. Alih-alih mencuatkan awareness kita terhadap kasus perdagangan anak, film yang diangkat dari penyelamatan nyata ini hanya seperti mengadegankan ulang dengan fokus cerita kepada keberhasilan si karakter utama, polisi kulit putih, memenuhi janjinya kepada ayah korban. Walaupun si protagonis ini reflect so hard soal dia juga sebagai ayah, dan bisa saja itu terjadi kepadanya, tapi film ini memang tampak seperti terlalu Hollywood dengan aksi penyelamatan heroik dan sebagainya. Seolah itulah jualan utamanya.

Belum lagi gambaran penculikan anak, dan keadaan anak-anak yang jadi korban itu divisualkan terlalu sering dan terlalu gamblang. Yang sebenarnya gak perlu. Seperti yang kusebut waktu review Like & Share (2023), kita tidak perlu ‘melihat’ langsung untuk bisa bersimpati.

The Palace of Wisdom gives 4 gold star out of 10 for SOUND OF FREEDOM

 

 

 

WONKA Review

“Oompa, Loompa, doompa-dee-doI’ve got another review for youOompa, Loompa, doompa-dee-deeIf you are wise, you’ll listen to me”

Hahaha enggak ding. Aku suka aja sama lagu Oompa Loompa, baik itu di versi film original maupun versi film Tim Burton. Such a classic characters, Willy Wonka dan Oompa Loompa. Ketika ada film barunya, digarap oleh Paul King yang udah sukses ngasih dua film Paddington yang penuh fantasi dan komedi, aku dilanda ekspektasi dan kebingungan sekaligus. Wonka versi mana yang bakal diikutin. Turns out, film ini seperti berhasil mengambil jalan tengah dalam mempersembahkan kisah Willy Wonka waktu masih muda. Dan film ini pun dengan gemilang mengadaptasi karakter-karakter unik – yang di film-film terdahulu bisa kita perdebatkan ‘sedikit usil atau memang secretly jahat’ – ke dalam sebuah penceritaan magical dan kini terasa lebih bersahabat. Lezat!

Seperti coklat, what’s not to like dari film ini? Paling mungkin si Wonka-nya sendiri, yang tampak agak terlalu optimis dan terlalu baik. Film ini ceritanya tentang Wonka yang tiba di kota, bermaksud membuka toko coklat sendiri. Tapi buka usaha itu gak gampang. It’s about rebutan pasar. Bisnis vs. idealis. Wonka ketipu dan kini dia malah harus menebus dirinya kerja di laundry, never to make chocolate again. Bersama teman-teman yang tersentuh oleh coklat dan keajaibannya, Wonka berjuang membangun tokonya sendiri. Karakter Wonka ini toh punya vulnerable dan misi personalnya sendiri. Dia pengen penuhin janji kepada ibu. Dan ini yang mendaratkan karakter yang punya segudang coklat ajaib itu. Kemudahannya membuat coklat, keajaiban-keajaiban sulapnya, itu bukan exactly yang ingin dibahas oleh film. Struggle seorang seperti Wonka-lah yang jadi menu utama.

Tone sebagai hiburan keluarga terasa kuat, adik-adik yang baru kenal akan terhibur karena di sini juga banyak musical numbers yang sama ajaibnya, sementara kakak-kakak yang pengen nostalgia akan seseruan melihat gimana awal Wonka bisa kerja sama ama Oompa Loompa

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for WONKA.

 




 

 

That’s all we have for now

Januari memang kerasa panjang banget. Dengan mini review ini, berarti ada total 14 film yang berhasil direview bulan ini. Awal yang bagus untuk 2024. Semoga bisa bertahan di sekitaran ini untuk ke depan yaa hahaha

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2023

 

Perfilman 2023 basically dibuka oleh kembang api dan ditutup dengan bom.  Dan di tengah-tengahnya kita mendapati diri dikepung dua film dengan vibe sungguh bertolak belakang tapi tayang barengan sehingga malah jadi tren; Barbenheimer. Such an explosive experience! Kita punya dua film tentang Elvis, dua film tentang alien, film-film tentang perilaku sosial media, setidaknya ada dua ‘surat cinta’. Tiga film yang bermain dengan konsep hitam putih. Dan banyak animasi groundbreaking lewat gaya visual mereka. Tahun 2023 rame oleh cerita bergulat dengan duka, cinta kasih yang toxic, while also saw a rise pada cerita-cerita tentang kepercayaan. Reliji, kalo boleh dibilang. Baik film luar, maupun film dalam negeri – ya tentu saja dengan pengarahan dan goal yang berbeda.

Kalo kita flashback sekilas, 2023 memang berasa seperti horor melulu. Tapi enggak juga. Horor memang banyak, menduduki jejeran peringkat atas perolehan penonton terbesar di bioskop kita. Dan yang begonya pun banyak, honestly aku sempat stop menonton semua horor lokal yang tayang pertengahan tahun setelah melihat ada freezer daging di desa yang masih struggle ama bola lampu. Ngikutin perkembangan film terbaru di bioskop pun terasa semakin menantang buatku terutama karena perilaku bioskopnya terhadap horor.  Jika filmnya bukan horor, maka  kemungkinannya cuma dua. Cepat turun layar, atau berkurang – dan bahkan – hanya tayang di bioskop yang jauh-jauh. In a way, pengaruh dominasi genre ini memang ada, namun tetap saja yang membekas kepada para penonton adalah warna-warni lain, film-film yang lebih menawarkan variasi. Film horor bisa jadi menarik jika punya sesuatu yang beda, entah itu sudut pandang cerita atau tema yang jadi latarnya. Like, cerita kehilangan gak mesti jadi horor hantu, kita udah lihat cerita begitu bisa diolah ke dalam tema soal A.I. Memang, sebaliknya, cerita berlatar politik ataupun cerita yang simply tentang hubungan ibu dan anak, juga bisa lebih seram daripada tawaran hantu-hantuan. Intinya, di saat ada genre yang mendominasi, industri harusnya tidak stuk dan latah membuat hal seragam. Harus tetap kreatif. Sebenarnya dari judul ketaker tuh kreativitas pembuatnya, kalo udah pake keyword-keyword template kayak content creator ngincer SEO, isi filmnya nanti paling cuma flashback ama twist ‘siapa sebenarnya yang jahat’.

Tahun ini jumlah film yang sukses tereview menurun dari sebelumnya. Hanya 115 film. Sebenarnya yang ditonton ada lebih banyak, hanya aku memutuskan beberapa film baiknya enggak usah diulas. Atau beberapa film ‘kalah bersaing’ untuk spot di mini review. Tapi jangan kuatir, meskipun jumlahnya gak lebih banyak daripada saat masa pandemi, ini ujungnya tetap menjadi sebuah list yang menarik. In fact, aku sendiri malah surprised sama hasilnya. Kok jadi seru juga nih?

 

 

HONORABLE MENTIONS

  • Asteroid City (very stoic and weird way untuk belajar tentang duka dan hal-hal abstrak yang tidak kita mengerti lainnya)
  • Babylon (surat cinta dengan full energi chaotic kepada industri film)
  • Barbie (eksplorasi eksistensi dan bahasan menantang soal dinamika gender, di balik sekadar jualan produk)
  • Beau is Afraid (cerita yang disturbing dan hard to watch tentang pria yang jadi penakut, gara-gara kasih sayang ibunya)
  • Budi Pekerti (menelanjangi perilaku bersosmed masyarakat kita yang semakin menjadi-jadi)
  • Concrete Utopia (bencana yang dipotret powerful oleh film ini bukan exactly runtuh tanah/gempa, tapi runtuhnya kemanusiaan)
  • Evil Dead Rise (rise above all horrors yang berusaha tetap campy namun berisi)
  • No One Will Save You (invasi alien dengan konsep tanpa dialog yang unik, dan konteks kehidupan sosial yang menohok)
  • Oppenheimer (biopik yang meledak oleh tsunami fakta, dan hebatnya Nolan kali ini, tidak void dari emosi)
  • Suzume (ketika duka penyintas disulap menjadi petualangan romance dan fantasi yang superkreatif)
  • Teenage Mutant Ninja Turtles: Mutant Mayhem (bukan cuma jualan style animasi yang unik, ini actually film KKN yang benar bagus)
  • Theater Camp (seperti Babylon kepada film, ini adalah bentuk tertinggi dari sebuah kecintaan kepada teater: mampu menertawakan tapi sekaligus menceritakan dengan penuh passion)
  • The Royal Hotel (thriller psikologis realis ketakutan perempuan, thanks to sikap cowok-cowok )

Special Shout Out buat film yang ulasannya paling banyak dibaca yaitu Sewu Dino, dan buat film yang video ulasannya di channel YouTube mydirtsheet paling banyak ditonton; yaitu Hati Suhita. Dua film ini benar-benar represent genre yang lagi populer di Indonesia tahun 2023.

Oke, sekarang inilah DELAPAN BESAR 2023!! 

–PS: seperti biasa, klik di judulnya untuk dibawa ke halaman full-review masing-masing

 

 

 

8. JATUH CINTA SEPERTI DI FILM-FILM

Director: Yandy Laurens
Stars: Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Alex Abbad, Sheila Dara Aisha
MPAA: 13+
IMDB Ratings: 8.7/10
“Hidup emang enggak bisa di-retake, tetapi masih bisa dibikin sekuel.”

 

Jujur, ini film yang paling lama pertimbanganku untuk dimasukin ke daftar Delapan-Besar. Konsep berduka dan hitam-putihnya dilakukan dengan lebih baik oleh Asteroid City, karya Yandy Laurens ini masih terasa terlalu khawatir ama urusan ‘ngasih surprise’ ke penonton. The big buts yang akhirnya meloloskan film ini adalah pertama karena ini tentang bikin film – favoritku banget. Dan ini kentara begitu personal. Konsep metanya berhasil selain bikin penonton konek sama karakter yang deep dan berlapis (dua manusia pada usia yang sudah terlalu ‘tua’ untuk cinta) tapi juga jadi peduli sama proses nulis atau bikin film. Drama dan hiburan datang lewat visual berlapis dari struggle penulis skenario berusaha naskah personal yang ia tulis mendapat green light untuk diproduksi. tanpa perubahan. Banyak celetukan lucu tentang industri perfilman terlontar dari sini.

Makanya film ini jadi unik dan urgent.  Sedikit too extra pada konsep, tapi ini tetap sebuah presentasi cerita yang menyenangkan, menghangatkan, bahkan membuat kita menertawakan sesuatu yang kita sayangi.  This movie feels like love itself. Nonton ini bikin aku pengen balik lanjutin menuntut ilmu nulis skenario lagi, dan aku senang film ini bikin orang aware sama teknis-teknis nulis skenario. Setidaknya, ini jadi assurance buatku kalo penulis film kita memang berilmu semua. Mereka cuma seringkali harus ‘mengalah’ sama produser/investor. Harapan lebih banyak film bagus dan berani ambil resiko masih terus menyala

My Favorite Scene:
Film ini punya segudang adegan-adegan memorable. Mulai dari adegan drone saat ngebut-ngebutan, scene Hana marahin Bagus, scene-scene kocak bersama produser. Yang paling aku suka adalah scene saat Bagus syuting, dan para aktor mempertanyakan karakter di dalam ceritanya. Momen ketika mata Bagus terbuka melihat dan mulai mengenali kesalahannya sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

7. KILLERS OF THE FLOWER MOON

Director: Martin Scorsese
Stars: Leonardo DiCaprio, Lily Gladstone, Robert De Niro, Jesse Plemons
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 7.8/10
“Can you find the wolves in this picture?”

 

Masuk pertengahan akhir 2023 aku was-was. Aku masih belum menemukan film yang pantas untuk dikasih skor 8.5. Martin Scorsese jadi hero buatku lewat film ini. Killers of the Flower Moon jadi film pertama di 2023 yang dapat skor 8.5, dan itu bukan karena aku desperate. Karena filmnya memang sebagus itu. Alih-alih ngambil arahan gampang menjadikan ini tipikal whodunit, Scorsese membuat cerita ini jadi lebih fungsional dan berlapis dengan menjadikannya sebuah drama karakter. Dia bahkan mendobrak formulanya sendiri, ini cerita pria bobrok, tapi prianya sama sekali tidak keren ataupun inspirasional. Yang inspirasional di sini ‘hanya’ penampilan aktingnya haha, Lily Gladstone seriously perlu diganjar Oscar.

Mengadaptasi cerita berdasarkan sejarah pendatang kulit putih di tanah Osage milik bangsa Indian, film ini tidak lancang dengan ngasih penyelesaian yang menuntaskan cerita. Cara Scorsese mempersembahkan cerita yang bukan miliknya ini begitu humble dan berkelas. Dia bikin film yang bikin kita malu kalo relate sama protagonisnya. Dan impactnya jadi luar biasa karena film ini hadir pas banget dengan horrible genocide event yang sedang berlangsung. Orang yang datang malah menjajah, ingin menguasai lebih dari hak mereka, sampai melakukan apapun termasuk kejahatan kriminal. Kekuatan film ini jadi terdisplay full, nunjukin gimana pun tetap ujungnya rasis. Mendahulukan kepentingan golongan. Dan ultimately, perut sendiri. 

My Favorite Scene:
Menelisik lewat romansa dua karakter sentral, yang tampak genuine, tapi dialog menjelang akhir saat si perempuan Indian menanyakan suntikan insulin yang diberikan oleh suami kulit putihnya, maaan buatku itu adegan dengan penampilan akting dan arahan yang menantang banget. Salah-salah kita malah jadi simpati ama si Leonardo DiCaprio.

 

 

 

 

 

6. KEMBANG API

Director: Herwin Novianto
Stars: Donny Damara, Ringgo Agus Rahman, Marsha Timothy, Hanggini
MPAA: 17+
IMDB Ratings: 7.0/10
“Urip iku urup”

 

Yup, inilah salah satu surprise I talked about. Surprised yang kurasakan ketika menyusun daftar ini. Ada dua film Indonesia yang masuk!! (Tadinya malah mau tiga, tapi nanti ada waktunya untuk dibahas). Tahun 2023 at least ada tiga film yang bicara tentang karakter yang mau bunuh diri. Kalo bukan karena film ini, tren tema tersebut bisa mengkhawatirkan. Karena orang-orang harus realized, bunuh diri itu enggak keren. Bukan penyelesaian dramatis, melainkan masalah satu lagi yang harus diselesaikan. Harus diapproach dengan hati-hati. Film ini berhasil melakukan kehati-hatian itu.

Anti-bunuh diri disampaikannya secara respek dengan vibe kekomedian (meskipun tidak sampai menjadikannya bahan olokan) Hati film ini kuat banget. Naturally ini karena cerita ini adaptasi dari film Jepang, di mana concern bunuh diri memang gede. Di sana malah dianggap sebagai tradisi kehormatan. Tapi yang bikin aku kagum sama adaptasi ini (biasanya aku antipati sama adaptasi film luar yang bisanya cuma nyontek), Kembang Api actually lebih mudah deliver pesannya kepada kita dibandingkan film aslinya. Proses adaptasi yang berhasil membawa kehati-hatian dan respek terhadap tema ke karakter dan permasalahan dan penyelesaian yang lebih relate ke sosial kita, itu yang bikin film ini keren dan penting.

Konsep time loopnya selain jadi perenyah bahasan, juga jadi pesona tersendiri yang menambah variasi buat tontonan kita. Menurutku film ini perlu dinobarkan di sekolah-sekolah sebagai counter dramatisasi bunuh diri yang mulai marak jadi konten di sosial media.

My Favorite Scene:
I don’t really have favorite scene here, karena kayaknya adegan-adegan light-heartednya itu punya underline tragis semua. But I do have favorite line, yaitu pas karakter si Ringgo Agus bilang “mau mati aja susah” (hei, aku baru sadar 2 film Indo yang masuk Top-8 ini ada Ringgo Agus Rahman!). Dan aku juga suka banget gimana film menuliskan karakter Hanggini.  Si Anggun benar-benar mewakili ‘simtom’ tak-terdeteksi dari orang yang mau bunuh diri. Dari orang yang depresi. Like, kita gak akan pernah tau orang itu depresi sampai dia akhirnya ditemukan mati bunuh diri, karena biasanya orang-orang itu justru tampak lebih ceria, lebih luwes, lebih open — ya kayak gimana Hanggini mainin si Anggun. Tampak smart dan cemerlang.

 

 

 

 

 

 

5. THE BOY AND THE HERON

Director: Hayao Miyazaki
Stars: Soma Santoki, Masaki Suda, Yoshino Kimura, Aimyon
MPAA: Rated PG 13
IMDB Ratings: 7.6/10
“Will you continue my work?”

 

Bicara soal mati, well, this is anime yang ngajarin kepada anak-anak bahwa mati adalah hal yang harus kita pahami untuk melanjutkan hidup. Karena mati adalah bagian dari hidup. Dan oh boy, ‘kematian’ yang dibicarakan film ini punya spektrum luas. Aku menduga film ini juga biografi pembuatnya yang berangkat dari gimana dia kesulitan menghadapi akhir dari karirnya – yang kita semua gak mau itu terjadi, but that day will eventually come.

Terdengar berat? Memang. Boleh dibilang ini salah satu film Studio Ghibli yang paling njelimet. Tapi itu bukan berarti film ini kehilangan kemagisan khas Ghibli itu. Justru sebaliknya. Film dengan dream logic ini menaikkan kemagisan itu ke another level. Batas fantasi/sihir dan realita dunia cerita kabur banget, ini bikin ngikutin cerita jadi seru dan menantang. Lapisan-lapisan fantasi dan personal yang saling tersulam satu sama lain. Ngasih kita karakter-karakter absurd yang ikonik. Petualangannya memang sekilas terasa kurang epik, tapi yang dilalui karakter utama di film ini hampir-hampir keluar garis semua haha… Aku kaget sendiri ketika tiba-tiba ada adegan dia mukul kepalanya sendiri pake batu sampai berdarah. Tapinya lagi, semuanya itu bekerja klop ke dalam karakter. Di dalam grand design yang terbangun begitu menakjubkan oleh film yang terasa begitu deep dan personal ini.

My Favorite Scene:
Mahito bertemu burung pelikan yang sekarat. Momen yang membuka mata Mahito tentang kematian, dan juga soal keadaan yang membuat orang ‘berperang’ dan harus mati. Momen yang berujung dengan Mahito menguburkan si burung yang ia kenali sebagai musuhnya. Film ini bergerak di lapisan yang dalam seperti itu.

 

 

 

 

 

 

4. THE WHALE

Director: Darren Aronofsky
Stars: Brendan Fraser, Sadie Sink, Ty Simpkins, Hong Chau
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 7.7/10
“Do you ever get the feeling that people are incapable of not caring?”

 

The Whale bukanlah cerita tentang orang yang gendut kemudian meratapi nasibnya. Justru sebaliknya, film ini adalah tentang orang yang sudah tahu dirinya tak tertolong, tapi dia mencoba menolong orang-orang terdekatnya untuk menemukan hati mereka, supaya gak salah langkah kayak dia dulu. Aku iri sama Charlie yang masih bisa begitu optimis kepada orang lain, meskipun dirinya telah menyerah kepada dirinya sendiri. Loh? Iya, di situlah kompleksnya cerita film ini. Aku ingin seperti Charlie yang percaya bahwa masih ada cinta dan kepedulian pada semua orang, bahwa people incapable of not caring. Mereka cuma harus jujur kepada diri sendiri. Dan kepercayaan Charlie tersebut benar. Man, aku hampir nangis di ending. 

Yea, ini film tentang orang yang low key sama aja dengan pengen bunuh diri, tapi gak ada yang diromantisasi di sini. Lihat betapa ‘brutalnya’ penampilan Charlie. Gak bakal ada yang mau kayak dia. Brendan Fraser juara banget di sini, kalo bukan karena persona dan pemahamannya terhadap Charlie, karakter dan film ini gak bakalan worked seindah – dan semenyedihkan – ini. Film bersikukuh untuk kita melihat Charlie tanpa belas kasihan. Ini adalah drama di satu tempat tertutup, with nothing but dialog dan raw emotions. Makin ditonton, makin powerful!

My Favorite Scene:
Everytime dia berusaha nunjukin cinta dan ngasih semangat kepada anak gadisnya. Nge-encourage untuk nulis dan sebagainya. Puncaknya, ya di ending itu. Kalo ada yang membuncah selain berat badan si Charlie, maka itu adalah emosiku nonton adegan-adegan mereka berdua.

 

 

 

 

 

 

3. DREAM SCENARIO

Director: Kristoffer Borgli
Stars: Nicolas Cage, Julianne Nicholson, Michael Cera, Dylan Gelula
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 7.1/10
“Trauma is a trend these days. It’s a joke. Everything is trauma. Arguing with a friend is trauma. Getting bad grades is drama. They need to grow up.”

 

Ini nih filmnya. Bukan hanya berhasil menggugurkan posisi Budi Pekerti di Top-8 ini, Dream Scenario berhasil membuatku merombak keseluruhan list. Aku nonton film ini di ‘detik-detik’ terakhir. Kureview sebagai batch terakhir mini review. Dan aku suka banget sama filmnya.

Kenapa dia bisa gugurin Budi Pekerti? Karena bahasannya sebenarnya serupa, tapi (meskipun skor mereka sama karena urusan teknis dsb) Dream Scenario membawa bahasan itu ke level yang lebih surealis. Which is also my soft spots for movies.  Alih-alih viral karena ngelakuin hal di sosmed, di film ini ceritanya karakter Nicolas Cage viral karena hal yang ia lakukan di mimpi orang lain. Bayangkan hahaha… dibenci satu dunia karena hal yang tidak kita lakukan. Dibenci untuk hal yang dimimpikan oleh orang lain. Inilah yang bikin satir film ini jadi lebih menohok. Menyamakan perlakuan kita mengidolakan orang di sosmed atau menjudge orang lewat interpretasi sosmed dengan kalo kita ngejudge orang lewat hal yang ia lakukan di mimpi. Lewat hal yang cuma mimpi kita. Kocaknya deep banget hahaha

Jenius sekali film ini ngasih lihat kita seringkali kegocek sama fantasi kita sendiri. Selain itu film juga nyindir persoalan yang sejalan dengan gimana bunuh diri menjadi tren dramatis di sosmed. Yaitu bahwa kita suka berfantasi dengan trauma, seolah mengalami hal traumatis itu tren dan kita ‘berharga’ ketika mengalamin itu.

My Favorite Scene:
Aku bukan penggemar Cage, tapi kupikir di sinilah aku paling bisa melihat bahwa dia punya range yang luas, dan dia tau timing yang precise untuk nempatin akting-aktingnya. Dia bisa jadi grounded, bisa over the top, dengan mulus di sini. Momen yang paling kusuka adalah ketika mahasiswanya dikumpulin di lapangan basket untuk terapi, lalu dia disuruh masuk oleh terapis. Niatnya supaya mahasiswa tidak lagi takut melihat dia sebagai sosok nyata. Cara dia masuk ke hall, dan cara dia berjalan mendekat, kupikir itu lawak sekali karena kayak biasa-biasa saja tapi ada so many emotions di situ hahaha

 

 

 

 

 

 

2. THE HOLDOVERS

Director: Alexander Payne
Stars: Paul Giamatti, Dominic Sessa, Da’Vine Joy Randolph
MPAA: Rated R
IMDB Ratings: 8.0/10
“Every generation thinks it invented debauchery or suffering or rebellion, but man’s every impulse and appetite from the disgusting to the sublime is on display right here all around you”

 

Baru tadi pagi saat mau mulai nyusun daftar ini, aku membaca di Twitter soal pelajaran sejarah banyak yang dihapuskan di sekolah-sekolah. Aku langsung bayangin Pak Paul Hunham ngamuk soal ini, langsung bergaung quotesnya soal pentingnya sejarah bagi anak muda. Ya, film karya Alexander Payne ini memang menekankan gimana pentingnya kita untuk memahami ‘sejarah’ seseorang, dan diri sendiri, supaya bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik. Kinda melengkapi si The Boy and the Heron yang justru tentang menerima ‘masa depan’ untuk menjalani hidup.

Bungkus luar film ini awalnya kupandang remeh. Kirain tentang hubungan murid nakal dan guru galak yang terjalin saat sama-sama menghabiskan nataru di sekolah yang kayak penjara kosong. Awalnya memang para karakter di sini tampak seperti karikatur dari tipe-tipe karakter komedi. Tapi film ini much much more than that. Penampilan akting mereka menembus karikatur itu lebih dulu sebelum pembelajaran karakter mereka bekerja. Slot nominasi award ku yakin bakal penuh oleh dua, eh tiga ding, karakter sentral di sini.

Funny, emotional, real. tentang anak muda, orangtua, dan orang yang beneran sudah tua sekaligus. Mereka menemukan cinta dan kasih sayang dengan berdamai dengan masa lalu. Dengan sejarah yang mereka kira bakal mendikte gimana mereka ke depannya. Film ini gak exactly inspirational, like, gak memotivasi kita untuk merasa spesial dan punya kekhususan seperti para karakter di dalam ceritanya. Justru sebaliknya. Karakternya broken enough untuk membuat kita peduli dan memetik pelajaran di balik gimana mereka akhirnya – melawan kemauan dan kesadaran sendiri – menjadi lebih erat bahkan dari keluarga sedarah. Film ini membuat apa yang sepertinya karikatur berubah menjadi truly menghangatkan dengan seefektif namun sesederhana itu.

My Favorite Scene:
Selain pilihan ending yang terus menantang karakter, aku paling suka saat Tully menodong gurunya dengan pertanyaan seputar ‘kesalahan’ yang si bapak lakukan di masa sekolah. Dialog mereka itu berlangsung sambil keduanya ngiterin rak etalase di toko. Buatku itu adegan dinamis yang bercerita lebih banyak dibanding yang ‘terdengar’ oleh kita. The way Tully terus mengejar, tak lagi menganggap gurunya boring. The way Paul berbelok menghindar. Momen kecil seperti itu yang bikin filmn sederhana tapi bisa sangat hidup.

 

 

 

 

Aku gak pernah ngerti kenapa sebelum mereveal ‘pemenang’ atau sesuatu di puncak, kita harus berhenti dulu. Katanya sih buat ‘ngebuild up’ antisipasi. Kalo di tv, bakal ada jeda iklan sebelum puncak award. Kalo di WWE bakal ada spot komedi atau promo video dulu sebelum pertandingan utama. Di blog sepertinya gak perlu karena kalian bisa tinggal scroll dan skip bagian ini. But I still made this paragraph anyway. Kalo dipikir-pikir lagi, sekarang aku membuat ini buat diriku sendiri. Karena aku butuh napas sebelum ngasih kejutan yang bahkan tak terpikir sebelumnya olehku untuk menjadikan ini sebagai kejutan. Bukan karena filmnya gak bagus loh. Justru karena bagus dan pantas banget makanya kayak, harusnya ini ada di daftar favorit banyak orang mau paling atas atau bukan. Harusnya dia jadi favorit udah bukan jadi kejutan.

So, inilah film nomor satuku di 2023. Film yang aku pikir paling underrated sepanjang tahun, karena dia film anak-anak, dan also somekind of film religi.

 

 

1. ARE YOU THERE GOD? IT’S ME, MARGARET.

Director: Kelly Fremon Craig
Stars: Abby Ryder Fortson, Rachel McAdams, Kathy Bates, Benny Safdie
MPAA: Rated PG-13
IMDB Ratings: 7.4/10
“What I learned about religion is that it makes people fight”

 

I did it. Dulu aku pernah kepikiran, mungkin gak sih kalo film religi bisa bercokol di posisi satu film yang kusuka. And here she is. Yang benar-benar aku suka dari film ini adalah cara mereka mengaitkan kisah coming-of-age seorang gadis cilik dengan bahasan yang hanya berani diangkat oleh sedikit sekali orang, apalagi di jaman sekarang. Soal pertanyaan terhadap agama. 

Film ini bernas. Berani, tapi juga tidak terjebak. Margaret merasa tidak menemukan jawaban atas pertanyaan hidupnya karena enggak tahu cara menghubungi Tuhan yang benar. Maka Margaret nyobain berbagai macam ibadah. Pada satu minggu dia ikut nenek ke kanisah. Minggu berikutnya dia ikut temannya ke gereja protestan. Kesempatan lainnya dia ngintilin temannya melakukan pengakuan dosa di gereja katolik. Margaret menyebut, dia suka dengar ceramah, nyanyi-nyanyi, dan sebagainya, tapi dia belum merasakan keberadaan Tuhan di tempat-tempat itu. Tapi film tidak pernah memaksa Margaret membuat keputusan. Dua nenek Margaret yang maksa hingga sempat saling bertengkar, masing-masing berusaha membujuk Margaret memeluk agama mereka. Sedangkan film tetap berada di pihak orangtua Margaret. Melindungi sang anak dari semua pengaruh itu. Bukan karena tidak setuju dengan salah satu, melainkan karena itu adalah hak Margaret untuk memutuskan di saat dirinya sudah siap nanti.

Ini yang bikin aku terenyuh karena tahu film ini punya hati di tempat yang benar. Tadinya aku nonton adaptasi novel anak populer ini karena pengen lihat Regina George jadi ibu. Aku gak expect film ini begitu indah dan menghangatkan hati. Film ini tahu topiknya bisa kontroversi tapi gak mau ke sana, bukan karena takut resiko. Tapi karena tahu mana yang lebih penting.  Singgungannya mungkin kena ke kita yang seringkali cenderung fanatik, tapi ini sesungguhnya lebih untuk berkait cantik dengan soal perkembangan anak. Biarkan anak-anak tumbuh, sebagai dirinya sendiri, dan pada waktu miliknya sendiri. Childhood semestinya adalah pertumbuhan yang mereka alami dengan natural, dengan pacenya sendiri. Penceritaan film ini tidak pernah terasa menggurui, namun terasa sangat jujur mengalir dari perspektif utamanya itu.

I don’t think film kita sekarang berada di level yang berani dan mampu untuk ngangkat kisah dengan apa adanya dan tanpa tendensi seperti ini. Makanya film ini jadi juaraku. Film-film lain juga sama punya nilai urgent yang berharga, tapi aku paling inilah yang paling aku mau tidak pernah lupa ia ada.

 

My Favorite Scene:
Exactly adegan yang jadi petikan kukutip di atas. Setelah seharian kita melihat Margaret dan teman-teman dengan polos dan lucunya insecure dalam bertumbuh. Tiba malam hari, dia galau dan mencoba ngobrol dengan Tuhan. Tapi dia menemui kendala dan suatu malam dia hampir menyerah mencari Tuhannya:

 

 

 

 

 

So, that’s all we have for now.

Itulah daftar Top Movies 2023 My Dirt Sheet. The magic word of the year is ‘URGENCY’. As in, film-film ini penting untuk kita tonton dan tidak kita lupakan, karena mereka important, dan takutnya mereka akan lost in the shuffle di tengah arus dan dominasi genre tertentu yang tampak semakin secure sehingga kualitasnya semakin tak terjaga.

Berikut lengkapnya 115 film yang sudah direview dan dinilai di sepanjang tahun:

Apa film favorit kalian di tahun 2023? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2024 ini?

Share with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We are the longest reigning PIALA MAYA’s BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 
 

 

MINI REVIEW VOLUME 13 (13 BOM DI JAKARTA, SALTBURN, MAY DECEMBER, PRISCILLA, THE FAMILY PLAN, DREAM SCENARIO, THANKSGIVING, THE HUNGER GAMES: THE BALLAD OF SONGBIRDS & SNAKES)

 

 

Batch terakhir sebelum ngisi rapor buat nyusun daftar Top-8 Movies of 2023, who’s excited? Dengan Volume ini, pr-ku rampung, dan semoga bisa liburan dengan tenang. Karena film-film di Volume ini bener-bener aku kejar tayang nonton! (eh, apa ‘kejar nonton’ aja kali istilahnya, ya?) Tapi sebagai penutup tahun, film-film ini ngasih experience yang ‘wah’ juga. So sebelum liburan dimulai, mari kita langsung saja ‘hajar’ dengan ulasan!!

 

 

13 BOM DI JAKARTA Review

Wow Volume 13, pembukanya film 13 Bom haha.. Anyway, tahun lalu sukses dengan action heist, Angga Dwimas Sasongko kini kembali dengan tawarkan action yang lebih gede. ‘Film action Indonesia terbesar tahun ini” begitu bunyi tagline di posternya. Kurang gede apa coba. Pasalnya, tahun lalu itu ‘kebetulan’ saja film Mencuri Raden Saleh disukai karena ngasih genre yang tergolong baru di film kita. Filmnya sendiri, seperti yang kuulas di sini, sebenarnya overrated lantaran naskahnya lemah. Pada 13 Bom di Jakarta terulang lagi kelemahan yang sama (kalo gak mau dibilang lebih parah). Actionnya sangat gede dan elaborate, tapi tanpa atau dengan sedikit sekali hal yang make sense soal kenapa action itu bisa sampai terjadi atau dipilih oleh karakter ceritanya.

Menarik sebenarnya, persoalan yang diangkat film ini. Soal terorisme, yang enggak terjebak di dalam lingkaran agama. Melainkan lebih ke celetukan sosial tentang gambaran keadaan ekonomi masyarakat. Jadi ceritanya sekelompok teroris tak dikenal mengancam Jakarta dengan 13 bom yang akan diledakkan satu per satu jika tuntutan mereka tak dipenuhi. Para teroris gak mau duit tunai, mereka meminta duit digital. Krypto. Bitcoin. Sehingga dua pemuda pemilik start-up bitcoin yang dipakai oleh teroris jadi terseret ke dalam kasus. Dicurigai, nyaris jadi korban. Kesalahan pertama naskah film ini adalah tidak dengan clear menunjuk siapa karakter utama. Apakah pemuda start-up. Apakah pimpinan teroris. Apakah agen perempuan di Badan Anti-Teroris yang somehow selalu ‘dilawan’ oleh partner cowoknya. Atau apakah pemimpin dari pasukan antiteroris itu sendiri. It would be much better jika film sedari awal mengarahkan ini sebagai cerita dari banyak perspektif.

Actionnya sendiri enggak jelek, tapi arahannya agak-agak cheesy. Film ini, aku bilang, kayak kalo Michael Bay trying to make film Nolan. Like, Bay mau bikin action explosive tapi dengan ‘kecerdasan’ ala Nolan. Hasilnya, film ini jadi snob yang berusaha kelihatan jago, berusaha terdengar pinter. Dengan ‘twist’ standar soal ada karakter yang sebenarnya jahat, dan scheme teroris yang sekilas tampak massive. Tapi kok ya dipikir-pikir sangat unnecessary. Like, kenapa musti 13 bom kalo ternyata si teroris sudah menyusupkan orang yang bisa dengan gampang langsung melancarkan ‘bom pamungkas’.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 13 BOM DI JAKARTA

 

 

DREAM SCENARIO Review

Karya Kristoffer Borgli ini bikin aku ngakak begitu menyadari bahwa komedi horor ini sebenarnya kayak dream counterpart dari yang dibahas oleh Budi Pekerti (2023). Film ini bahkan ada menggunakan istilah ‘pendagogy’ as opposed to Budi Pekerti yang judul internasionalnya adalah ‘andragogy’

Kenapa kusebut dream counterpart? Karena unlike di Budi Pekerti yang karakter gurunya jadi dimusuhin satu kota gara-gara videonya viral di sosial media, Dream Scenario bercerita tentang dosen yang diantagoniskan semua orang karena si dosen (yang diperankan dengan brilian oleh Nicholas Cage, yang tau betul timing dan pembawaan antara akting ‘nyata’ dengan ‘sureal’) for some reason, muncul dalam mimpi orang-orang. Jadi dosen ini dijauhi karena hal yang bahkan tidak ia lakukan hahaha… Dia yang tadinya menikmati perhatian semua orang karena dia jadi terkenal muncul di mimpi orang-orang sebagai bystander yang doing nothing, jadi stress saat mimpi orang-orang itu semakin aneh. Di mimpi mereka, si dosen jadi pembunuh!

Sebenarnya ini gambaran perilaku manusia yang jenius sekali sedang dilakukan oleh naskah. Tentang gimana kita, manusia pelaku media sekarang, suka kemakan khayalan sendiri. Kita mengelukan berlebihan orang yang tidak benar-benar kita kenal – karena tren tertentu, misalnya – dan lantas kita terganggu sendiri saat ‘image-image’ tentang orang tersebut, yang kita ciptakan sendiri secara kolektif, menjadi semakin liar. Kita menciptakan ‘dream scenario’ sendiri, dan menelannya bulat-bulat sebagai fakta. Kita kegocek ‘fakta impian’ kita sendiri. Buatku film ini berhasil menceritakan itu lewat kehidupan karakter yang bukan hanya terseret, tapi juga tetap ada pembelajaran dalam dirinya. Lapisan di balik karakterisasi dan situasi yang ia alami – aku gak bilang sampai demikian kompleks – tapi berhasil tersusun menjadi sebuah hiburan surealis. Bakal langka banget film kayak gini.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DREAM SCENARIO

 

 

 

MAY DECEMBER Review

Dari komedi berlapis satu ke komedi berlapis yang lain. May December karya Todd Haynes ranahnya bukan sureal, tapi lebih ke drama psikologis dengan undertone yang sebenarnya dark. Sekilas, kayak kisah inosen seorang aktris yang ingin mendalami peran. Peran yang sedang dirisetnya itulah letak darknya. Dia memerankan seorang perempuan yang menikah dengan ‘daun muda’, yang jauh banget rentang usianya. Mereka menikah karena melakukan hal yang basically, itungannya udah tindak kriminal. Tante-tante kepada seorang anak SMP. Jadi, si aktris ini, Elizabeth, selama beberapa waktu hidup di keseharian keluarga ‘bermasalah’ tersebut, Gracie dan suaminya yang kini sudah dewasa, dan mereka punya tiga anak yang sudah masuk usia kuliah. Demi method acting, si Elizabeth ingin mengenal kehidupan Gracie, supaya dia bisa memerankannya nanti dengan lebih baik, lebih mengerti tentang apa yang dilalui Gracie. Karena, katanya, dia ingin bikin film yang tidak menjudge kehidupan Gracie dan keluarga.

Nonton ini bikin kita sadar bahwa there’s no way kita bisa mengerti kehidupan orang. Urusan orang, seharusnya jadi urusan mereka sendiri. Walaupun memang di film ini kita melihat Elizabeth jadi katalis bagi orang-orang di sekitar Gracie – terutama suaminya – untuk bisa melihat apa yang sudah ia lewatkan di dalam hidup. Mungkin inilah yang paling keren dilakukan oleh film. Membuka luka, memaksa karakter melihat luka, tapi bukan untuk disalah-salahin. Film ini menceritakan imbang, semuanya dikembalikan kepada karakter masing-masing. Bagi yang kelewat batas, mereka akan jadi seperti Gracie dan Elizabeth.  Dua orang yang bukan cuma ‘dimiripin’ secara fisik, tapi sebenarnya punya ‘masalah’ yang sama. Sama-sama terlalu naif, dan menggunakan kenaifan itu sebagai defense. Film berakhir ketika masing-masing mereka dihadapkan kepada akibat dari kenaifan tersebut.

Natalie Portman dan Julianne Moore. Man. Di sini akting mereka beneran ada berlapis-lapis. Susah kita menunjuk garis mana ketika Natalie jadi Elizabeth sebagai Elizabeth, mana ketika jadi Elizabeth try to be Gracie. Mana batas aktingnya. Mana batas Gracie bohong dan mana yang dia beneran sudah nerimo.  Aku selalu punya soft spot buat film yang nunjukin adegan-adegan belakang layar bikin film, dan ending film ini buatku adalah one of the best yang nunjukin gimana seorang aktris berusaha berakting karena sudah merasa sudah ngerti karakternya, tapi kemudian dia ragu sendiri.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for MAY DECEMBER

 

 

 

PRISCILLA Review

Kadang aku takjub sendiri ama yang namanya kebetulan. Like, kompilasi ini kan urutannya berdasarkan abjad, tapi ternyata bisa nyambung. Tadi dari komedi berlapis, kini nyambung dari cerita relationship dengan minor satu ke yang lain. Film tentang Priscilla yang waktu masih sekolah, kebetulan, bertemu dengan orang yang kenal dengan Elvis Presley, dan mengajaknya ketemu Elvis. Sehingga Elvis jadi jatuh cinta kepada Priscilla. Sofia Coppola membuat ini sebagai biografi yang benar-benar menelisik romansa kompleks yang dirasakan seorang Priscilla ketika berhubungan dengan salah satu manusia paling tersohor di jagat dunia hiburan.

The respect is there. Kepada kedua sosok. Tapi yang paling bersinar tentu saja adalah karakter Priscilla. Yang benar-benar diselami. Ini particularly menarik, karena di awal tahun ini kita sudah melihat mereka dari sudut pandang cowok di biografi Elvis. Menarik kedua buatku adalah karena yang jadi Cilla adalah Cailee Spaeny, yang awal muncul di film yang lebih mainstream kayak Pacific Rim atau Bad Times at the El Royale. Di sini dia main bagus bangeett. Bukan mau bilang pasangan Elvis-Cilla bukan ‘mainstream’, loh. Cumak memang filmnya ini diarahkan bukan sebagai tontonan sensasional, melainkan lebih ke sebuah selaman terhadap tokoh figur itu sebagai sebuah karakter cerita. Film enggak main gampang, menuding Elvis sebagai predator atau manipulatif, misalnya. At least, di film ini dia diperlihatkan menegaskan Cilla untuk melanjutkan sekolah dulu. Perasaan Cilla sebagai seorang gadis biasa yang punya pacar superstar, yang berkecamuk oleh gairah, oleh insecurity. itu yang difokuskan oleh film.

Tapi juga sebagaimana film-film dari tokoh nyata, dari kehidupan mereka. ada aspek-aspek cerita yang enggak benar-benar klop untuk dimasukkan ke alur film. Ada beberapa hal yang mestinya bisa dibikin lebih dramatis atau gimana, tapi enggak bisa karena ‘bukan begitu kejadian aslinya’. Film ini buatku sering terkendala di hal-hal seperti begitu. Naik turun alurnya enggak bisa benar-benar diatur ke flow atau struktur film. Kadang konfliknya muncul, ilang lama, lalu muncul lagi. Gitu-gitu.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PRISCILLA

 




SALTBURN Review

Ingat tadi aku ngomongin soal kebetulan di urutan kompilasi ini? Well, yah, yang jadi Elvis di Priscilla adalah Jacob Elordi. Tahun ini dia main di tiga film lagi selain itu. Tebak satu judul film lainnya. Yup. Saltburn karya Emerald Fennell ini. But while Jacob Elordi di sini masih punya vibe superstar kayak Elvis, toh bintang sebenarnya di Saltburn adalah Barry Keoghan. Aktor satu ini, gila, dia tuh udah kayak spesialis karakter awkward gak ketebak tapi sekaligus juga tampak berbahaya. He was born for this role, for this story.

Saltburn juga actually sebuah dark comedy, yang benar-benar menekankan kepada kelamnya itu sendiri. Keoghan di sini jadi Olliver, maba (mahasiswa baru) yang cupu. Awalnya film ini tampak seperti kisah Olliver yang berusaha memberanikan diri untuk masuk ke circle karakternya si Elordi. Kita melihat cowok jangkung itu melalui gaze-nya Olliver, kita pikir ada cinta ‘terlarang’ di sana. Tapi perlahan gaze dan sikap Ollie tersebut menjadi semakin intens. Dari gairah menjadi semacam ingin memiliki. Ingin menguasai. Transformasi film lewat karakter utamanya itulah yang jadi kehebatan, sekaligus juga kelemahan pada film ini.

Secara penampilan akting, seperti yang disebut tadi, Keoghan terutama sangat fenomenal. Dia total banget. Adegan-adegan creepy dia hantam tanpa canggung. Film ini punya banyak ‘WTF’ momen. Nekat banget mereka bikin adegan kayak gitu. Kelemahan yang hadir dari cara bercerita ini adalah karakter si Ollie itu sendiri tidak punya growth. Dia tipe karakter ‘ternyata’. Kita tidak menyelam kepada siapa sebenarnya dirinya. Dia tidak punya development, melainkan sebuah revealing yang membuat kita melihat dia ternyata bukan seperti di awal. Perubahan dia bukan karena terdevelop tapi karena aslinya dia disimpan untuk ‘kejutan’ cerita. Jadi secara teknis, sebagai film, Saltburn is not really good, tapi sebagai tontonan, dia menghibur dan nawarin suatu kegelapan dengan perspektif tak biasa.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SALTBURN

 

 

 

THANKSGIVING Review

Origin film ini begitu menarik. Thanksgiving tadinya cuma fake trailer, segmen pendek dalam film horor Grindhouse tahun 2007. Cuma parodi dari skena horor gore yang dibuat oleh Eli Roth. Tapi fans tertarik melihat konsep pembunuh yang kayak jadi saingan Halloween tersebut. Permintaan fans akhirnya terkabul, Eli Roth benar-benar membuat film Thanksgiving. Dan aku agak kecewa sama hasilnya.

Mungkin karena bias dari pengaruh originalnya yang vibe-nya beneran low budget dan rough dan konyol tapi seru. Film actualnya ini terasa tidak memenuhi harapan. Sure, momen-momen yang ada di fake trailer, kayak pembantaian saat pawai, dimunculkan. Satir soal perilaku konsumtif orang Amerika terkait ‘tradisi’ Black Friday yang mengalahkan esensi sebenarnya dari Thanksgiving, juga ada. Gore-nya yang over the top dengan kematian-kematian sadis yang unik, juga berhasil menghiasi film menjadi nilai jual. Tapi overall, film ini terasa kosong. Karakter-karakternya cuma ada di sana untuk berusaha survive, menduga-duga siapa pelaku. Sementara naskahnya juga ke sana kemari ngasih red herring supaya pelakunya gak ketebak. Akhirnya film ini pun terasa jadi either terlalu Scream, terlalu I What You Did Last Summer. Terlalu gak really spesial karena toh sudah banyak thriller whodunit yang menjual hal serupa

Kalo dibilang membosankan sih, enggak. Cuma ya, biasa aja. Mendingan nonton Saltburn tadi sekalian. Kejutan dan momen WTF nya lebih membekas.

The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for THANKSGIVING

 

 

 

THE FAMILY PLAN Review

My ultimate guily pleasure of the year hahaha… Komedi keluarga karya Simon Cellan Jones ini enggak bagus-bagus amat, tapi aku terhibur menontonnya. Enggak ngerasa bosan meskipun formulaic, dan bahkan konsepnya yang gabungin liburan keluarga dengan aksi assassin enggak dikembangkan dengan maksimal. Aku terhibur karena lucu aja melihat Mark Wahlberg jadi ayah yang sekilas kayak suami rumahan banget ternyata punya masa lalu tak terduga. Dia mantan assassin yang punya banyak musuh. Dia berhenti dari kerjaannya, dan sekian tahun ‘menyamar’ jadi pria biasa-biasa saja, sampe kemudian identitasnya kelacak dan dia terpaksa kabur. Membawa keluarganya yang tak tahu apa-apa, dengan dalih mau ngajak roadtrip.

Menurutku film ini mungkin bisa lebih mudah diterima penonton kalo dibikin sebagai animasi, kayak Boss Baby. Karena memang film ini seperti berjalan di garis antara gak make sense dengan cerita yang grounded tentang hubungan keluarga. Para karakter sentral, Mark dan keluarganya bermain di porsi yang pas, tapi harus diakui melihat mereka sebagai manusia ‘beneran’ membuat penonton bisa kesulitan memaklumkan banyak hal. Misalnya, bayi yang tahu rahasia ayahnya. Film tidak bisa maksimal melandaskan konsep yang diniatkan. Ketika bagian action, tidak bisa terlalu ‘gila’. Ketika bagian yang grounded, terasa gak klop. Jadinya film ini terasa setengah-setengah. Makanya, mungkin kalo dibikin sebagai animasi, mereka bisa meningkatkan aksi mustahil dan hati grounded yang dimiliki oleh naskahnya.

The Palace of Wisdom gives 5.5 gold star out of 10 for THE FAMILY PLAN

 

 

 

THE HUNGER GAMES: THE BALLAD OF SONGBIRDS & SNAKES Review

Hunger Games sering dibandingkan dengan Harry Potter, dan kupikir, film prekuelnya ini sukses bikin malu franchise Harry Potter yang film prekuelnya begitu maksa sehingga tidak terasa ditulis dengan proper. The Ballad of Songbirds & Snakes actually memang diangkat dari novel prekuel (bukan buku spin-off non-cerita yang dikembangkan serabutan) dan penulisannya kelihatan memiliki bobot. Karena di adaptasi karya Francis Lawrence ini kita benar-benar dikasih lihat development dari seorang Coriolanus Snow sebelum ia menjadi presiden yang ruthless.

Sering heran kok di luar sana banyak contoh mahasiswa aktivis ketika jadi ‘orang gede’ ternyata korup juga? Nah, journey Snow di film ini basically seperti itu. Kita melihat Snow dari yang awalnya dia mahasiswa pintar, yang actually peduli sama tribute dalam permainan Hunger Games. Kita melihat background dia dari keluarga macam apa. Apa yang dia inginkan. Dan bagaimana pada akhirnya dia memutuskan pilihan, bagaimana dia menjadi sampai seperti yang kita kenal di cerita Hunger Games original.  Inner journeynya tersebut yang membuat film ini layak ditonton. Hubungannya dengan Lucy Gray jadi heart of the story. Tak lupa film juga menyiapkan referensi ke Hunger Games-nya Katniss di sana-sini, supaya penonton merasakan gejolak nostalgia dari something yang familiar. Dan memang film ini berhasil menghadirkan vibe yang selaras dengan film-film Hunger Games sebelumnya. Desain produksinya total menghadirkan dunia itu kembali. Prekuel ini memang terasa seperti fondasi dari kejadian di film yang sudah kita kenal.

Tapi dari novel juga membawa sedikit sandungan bagi film ini. Durasi yang amat panjang, karena film terasa seperti pengen sama dengan novel, at least secara urutan. Dan ini membuat dirinya sebagai film, terasa agak aneh. Karena film ini kayak dua film yang disatukan. Bagian hunger gamesnya, dan bagian aftermath dari hunger games tersebut. Bagian yang satu terasa lebih menarik dibanding bagian lainnya. Menurutku harusnya cerita bisa lebih digodok lagi, bangunan ceritanya bisa lebih dimainkan lagi, supaya kesan terbagi dua ini bisa lebih mengabur. Supaya film bisa berjalan lebih mulus, dan penonton tidak diberikan momen untuk terlepas dari cerita yang disajikan.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE HUNGER GAMES: THE BALLAD OF SONGBIRDS & SNAKES

 




 

 

That’s all we have for now

Dengan ini, resmilah, review tahun 2023 sudah tutup buku. Film-film 2023 yang tayang setelah post ini terbit akan kuanggap sebagai film tahun 2024 (jika direview), dan itu at least ada dua film yang kayaknya memang gak tayang di kita jadi terpaksa nunggu digitalnya tahun depan. Akhir tahun nantikan rapor film 2023 di twitterku @aryaapepe dan menyusul beberapa hari setelahnya, tentu saja, daftar Top Movies 2023 di blog ini. Sampai ketemu tahun depan!

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



THE HOLDOVERS Review

 

“Our history is not our destiny”

 

 

Bahkan sutradaranya sendiri gak nyangka filmnya yang tentang karakter terpaksa harus menghabiskan libur natal di sekolah asrama ini ternyata begitu menyentuh bagi banyak orang. Alexander Payne, dalam wawancara media, menyebutkan bahwa dia sampai agak dongkol juga ketika banyak yang menyebut film ini ‘menghangatkan’. Lucu sih, kayaknya baru kali ini ada sutradara yang ‘protes’ filmnya dibilang bagus. Tapi aku yakin itu bukannya dia gak suka sama sambutan penonton, bukan karena Payne gak berniat bikin film bagus, But, terakhir kali Payne bikin film itu adalah tahun 2017, dan antara tahun itu hingga sekarang, dia mungkin gak sadar betapa relatenya penonton sekarang dengan keadaan ‘terkurung di suatu tempat’. The Holdovers buatannya actually delivered salah satu perasaan tergenuine, termanis, ‘terhangat’ yang bisa hadir dari situasi tersebut. Karena film ini memang bukan drama komedi tentang guru dan anak murid bandel yang biasa. Karater-karakternya yang masing-masing punya ‘sejarah’ ditulis dengan demikian bernyawa.

Awalnya memang para karakter di sini tampak seperti karikatur dari tipe-tipe karakter komedi. Paul Giamatti jadi Paul Hunham, guru sejarah galak yang bukan saja killer di dalam kelas kepada murid-muridnya, dia juga nyebelin di luar kelas, bahkan kepada kolega-koleganya.  Pokoknya orangnya unpleasant-lah, baik itu ketika diajak ngobrol ataupun sekadar dipandang. Kelainan pada matanya bikin lawan bicara canggung harus melihat ke mana. Bahkan naskah menambahkan satu lagi, muridnya gak suka deket-deket karena si bapak ini punya kelainan bau badan! Menjelang natal di sekolah asrama Katolik khusus cowok itu, Paul disuruh tinggal di sekolah – sebagai bentuk hukuman. Paul disuruh jadi pengawas bagi murid-murid yang juga gak pulang ke rumah, karena berbagai alasan orangtua masing-masing tidak atau belum bisa menjemput mereka ke sekolah. Murid-murid Pak Paul juga gak kalah ‘parodi’nya. Mereka anak-anak orang kaya, yang dengan cepat dijudge oleh Paul sebagai anak-anak manja tapi sok begajulan (dengan nilai akademik pas-pasan, kalo ini fakta!) Dan memang mereka semenyebalkan itu. One of them adalah Angus Tully (diperankan oleh newcomer Dominic Sessa) Actually, Tully-lah yang jadi satu-satunya anak yang beneran tinggal di sekolah sampai liburan usai. Satu-satunya anak yang harus mendekam bersama Paul yang sudah bulat tekad untuk menjadikan liburan itu sebagai gak ubahnya sebuah jadwal semester pendek.

Bayangkan kalo Argus Filch – caretaker di Hogwarts – jadi guru, begitu kira-kira ‘menyenangkannya’ Pak Paul.

 

Kalian tahu-lah yang terjadi sesudahnya. Paul dan Tully yang bisa dibilang saling antipati, perlahan jadi semakin dekat. Proses mereka menjadi udah kayak ayah kepada anak yang tak pernah ia punya dan sebaliknya itulah yang wonderful sekali dilakukan oleh film ini. Karakter-karakter itu tidak lagi seperti karikatur atau parodi stereotipe begitu film perlahan membuka sisi humanis mereka. Selapis demi selapis. Karena ini cowok yang sedang dibicarakan. Cowok gak main duduk dan saling curhat bicarakan masalah emosional mereka. Cowok mengubur sisi vulnerable mereka ke balik tembok yang menurut mereka paling keras. Dari situlah datangnya sikap tak menyenangkan mereka. Sementara sisi vulnerable yang tersimpan tersebut didesain oleh film ke dalam tema yang mengait kepada identitas cerita dan karakternya. Yaitu sejarah. Paul yang guru sejarah, tentu paham bahwa apa yang terjadi di masa sekarang sebenarnya sudah pernah terjadi di masa lampau. Bahwa masa sekarang hanyalah cerminan dari masa lalu. Paham teori sejarah bukan lantas ngerti mengarungi kehidupan. Justru itu yang dibuat oleh film sebagai false-believe Paul. Karena dia percaya dia sekarang harus bertindak sesuai dengan yang dilakukan di masa sekolah dulu. Bahwa dia terperangkap di keadaannya yang sekarang karena tuduhan yang ia terima di masa lalu. Juga, pemahamannya tentang bagaimana sejarah bekerja membuat dia salah menilai para murid seperti Tully. Enggak semua anak orang kaya jadi menyebalkan di asrama karena mereka dimanjakan oleh kenyamanan di rumah. Justru sebaliknya. Tully punya masalah yang sangat gak enak untuk dialamin oleh seorang anak, kaya atau miskin. Enggak diinginkan di rumah! Berkenaan dengan sejarah/masa lalu, Tully juga dibuat oleh naskah punya false believe dia percaya dia akan tumbuh menjadi ‘rusak’ seperti ayah kandungnya.

Dalam perkembangannya, kedua karakter akan jadi saling belajar. Sebagaimana Tully belajar bahwa pelajaran sejarah sebenarnya tidak semembosankan yang diajarkan di kelas, dia juga jadi sadar bahwa dengan mengetahui cerita siapa gurunya di masa lalu, dia melihat sang guru jadi sosok yang bukan saja menarik untuk dikenal lebih dalam, melainkan juga relate dan ya, akrab. Paul bahkan belajar dari Tully bagaimana menjadi guru yang lebih baik, di dalam maupun luar kelas. Bagaimana menjadi pribadi yang lebih terbuka dan mau ‘membaca’ cerita masa lalu mereka tanpa judgment. Stake mereka gak muluk-muluk. Tapi seru, karena kontras. Meskipun mereka sebel harus habisin liburan di sekolah yang dingin dan televisinya cuma satu dan basically penjara, mereka pengen bertahan di sekolah itu. Paul merasa hanya sekolah itu yang mau mempekerjakan orang sepertinya. Tully gak mau dikirim ke sekolah militer. Jadi mereka harus menjaga sikap, sementara kebutuhan mereka untuk dealing with ‘sejarah’ masing-masing bakal membuat mereka mempertaruhkan itu semua.

Ada cerita di balik setiap orang. Her story, his-tory.  Apapun itu. Semua orang punya kisah yang menjadi alasan kenapa mereka menjadi seperti diri mereka yang sekarang. Kita tidak untuk menjudge mereka berdasarkan kisah masa lalu tersebut. Karena sejarah itu bukanlah takdir. Tully bukan lantas jadi bapaknya. Paul bukan lantas harus terus bersikap berdasarkan kesalahannya di masa lalu. Kita punya pilihan untuk tidak mengulangi sejarah. Kita punya pilihan untuk meneruskan kisah hidup kita sendiri.

 

Kekuatan arahan dan tentu saja akting dari kedua karakter sentral ini membuat perjalanan karakter mereka tersampaikan dengan sangat mengalir. Kita melihat mereka sebagai human being, alih-alih sebagai parodi ataupun karakter yang berkembang dengan formulaic. Penampilan akting mereka menembus karikatur itu lebih dulu sebelum pembelajaran karakter mereka bekerja. I think this is the best dari Paul Giamatti sejauh film-filmnya yang sudah kutonton dan kuamati. Selalu bukan hal gampang bikin protagonis orang yang tak disukai, serta tak muda, Giamatti berhasil memberikan hati kepada karakternya. Ketika dia berjuang membuka diri untuk sebuah potensi hubungan romantis, kita peduli, aku bahkan ikut was-was gimana nanti dia mengakali masalah bau badannya supaya semua lancar.  Dominic Sessa, dalam film panjang debutnya ini, sanggup toe-to-toe dengan aktor sekelas Giamatti. Penampilannya di sini bakal certainly put him on the Hollywood map!

Film dengan sengaja bikin mata-besar Paul gak konsisten kanan atau kiri supaya kita ikut merasakan kecanggungan saat menatapnya

 

Soal sejarah adalah cerminan ini juga terpampang nyata pada desain film. Salah satu yang paling sering jadi keluhanku buat film-film modern yang berniat memotret masa lampau entah itu 80an atau 90an adalah, feeling pada masa itu sering meleset. Film-filmnya sering belum berhasil mengemulate vibe periode yang ingin ditampilkan. Istilah singkatnya, film-filmnya masih terasa modern, tidak terasa seperti film yang dibuat pada tahun tersebut. Layarnya masih jernih. Suasananya masih kekinian. Cara karakternya bersosialisasi masih kayak orang yang berusaha tampil oldies. The Holdovers berhasil tersulap seperti beneran film yang dibuat tahun 70-80an. Cara karakternya membawa diri. Suara mereka. Musiknya. Suasana asrama dan kotanya. Bangunan-bangunannya. Semuanya terasa benar punya vibe klasik. Bahkan layarnya tampak grainy, dengan saturasi yang tepat, plus musim salju. Secara ‘luar’ film ini tampak dingin, distant. Tapi begitu kita memasuki ceritanya, karakternya, ada suatu kehangatan. Harus ada yang ngasih tahu Payne bahwa misi dia ngehasilin vibe dingin itu sebenarnya toh memang berhasil, tapi kehangatan dari journey karakternya bikin penonton ikut meleleh.

‘Kasih sayang’ memang berhasil digambarkan oleh film, terhampar lewat perasaan. Merayap tanpa sadar pada karakter-karakternya. As in, mereka tanpa sadar telah menjadi keluarga. Film ini actually punya hal yang membedakannya dari film-film sejenis. Like, kalo tentang guru dan murid saja, apa bedanya dia sama Dead Poets Society (1989), kan? Film ini punya ‘pihak ketiga’ yang bukan saja berfungsi sebagai penengah, tapi juga sebagai ‘mother figure’ yang menjembatani dua karakter sentral dengan cinta dan kasih sayang yang keduanya sama-sama kekurangan dalam hidup (Paul belum pernah menikah, Tully terabaikan oleh ibunya). Pihak ketiga itu adalah karakter Mary yang diperankan juga tak kalah luar biasanya oleh aktris kulit hitam Da’Vine Joy Randolph. Tukang masak di asrama. Ibu-ibu yang baru saja kehilangan putra, keluarga satu-satunya, di medan perang. See, lapisan dunia cerita semakin bertambah dengan kehadiran karakter ini. Kaki ketiga yang jadi fondasi kokoh dalam bangunan penceritaan film. Karena bahasan personal film jadi merambah ke tragedi masa lalu kolektif rakyat. Tragedi perang yang mengorbankan anak-anak muda. Film ini juga berusaha men-tackle persoalan ‘sejarah’ itu lewat karakter Mary. Karakter yang benar-benar telah kehilangan cinta yang pernah singgah kepadanya, tapi tidak sekalipun dibikin sebagai karakter putus asa.

 




Ini benar-benar di luar dugaan remehku. This is no raunchy coming of age comedy tentang anak muda dan guru galak kayak, The Inbetweeners, misalnya. This is not even a quirky inspirational drama kayak Dead Poets Society. Karya terbaru Payne ini somewhat seperti di tengah-tengahnya. Funny, emotional, real. tentang anak muda, orangtua, dan orang yang beneran sudah tua sekaligus. Mereka menemukan cinta dan kasih sayang dengan berdamai dengan masa lalu. Dengan sejarah yang mereka kira bakal mendikte gimana mereka ke depannya. Film ini gak exactly inspirational, like, gak memotivasi kita untuk merasa spesial dan punya kekhususan seperti para karakter di dalam ceritanya. Justru sebaliknya. Karakternya broken enough untuk membuat kita peduli dan memetik pelajaran di balik gimana mereka akhirnya – melawan kemauan dan kesadaran sendiri – menjadi lebih erat bahkan dari keluarga sedarah. Film ini membuat apa yang sepertinya karikatur berubah menjadi truly menghangatkan dengan seefektif namun sesederhana itu.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE HOLDOVERS

 




That’s all we have for now.

Cerita keluarga di sekolah asrama Katolik, di liburan natal. Basically film ini adalah film ‘religi’. Hanya saja pembahasannya tidak lewat ayat-ayat melainkan melalui sudut kemanusiaan. Kenapa film kita belum banyak yang seperti ini, like kita belum nemu film berlatar pesantren yang ‘ajaran agamanya’ ada di dalam permasalahan manusiawi aja, tanpa perlu ceramah ayat-ayat dan sebagainya?

Share pendapat kalian di comments yaa

Bagi kalian yang juga melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang, satu lagi film yang kukasih score 8.5 tahun ini, bisa ke Apple TV untuk menonton Killers of the Flower Moon. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



GAMPANG CUAN Review

 

“There’s no such thing as an overnight success or easy money”

 

 

Anak sulung punya tanggung jawab besar. Apalagi cowok. Merekalah yang pertama kali bakal step up menggantikan ayah sebagai kepala keluarga. Makanya anak sulung kudu bisa jadi pemimpin dan pelindung bagi adik-adiknya. Jadi suri tauladan. Jadi pedoman. Jadi acuan. Harus bisa cari cuan. Komedi Gampang Cuan dari Rahabi Mandra, buatku pertama dan utama sekali, adalah tribute buat perjuangan anak sulung terhadap keluarganya. Di balik kejenakaan dari usaha-usaha ‘ekstrim’ yang dilakukan protagonisnya – hingga menyerempet garis kriminal – ada kisah hangat tentang gimana seorang anak sulung berusaha mengemban tanggungjawab, walaupun dia gak begitu ahli atau bahkan gak tahu dengan apa yang akan ia lakukan. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, yang merantau, dan yang juga belum sukses-sukses menuhin janji itu, I do find film ini sebagai sajian relate yang bukan hanya menghibur (karena tak jarang memberikan momen-momen untuk ngetawain kebegoan/kemalesan sendiri) tapi juga jadi tontonan yang jadi semacam penyemangat, atau boleh juga dibilang cautionary tale, untuk tetap berusaha di jalan lurus sekalipun demi cuan.

In today’s economy – waduh udah kayak dunia dalam berita – mencari cara cepat untuk bisa kaya raya jadi usaha yang digemari orang ketimbang bekerja itu sendiri. Bekerja itu terlalu lambat, sedangkan kita butuh cuan dengan segera. Dengan ‘cuma-cuma’. Setidaknya ada empat cara populer yang ditempuh untuk orang nyari cuan di masa sekarang; jadi influencer, jadi calo tiket konser, minjem online, dan main saham. Main saham inilah yang jadi fokus cerita dalam Gampang Cuan. Sultan enggak bilang-bilang sama ibu dan adik-adiknya di Sukabumi kalo dia udah dipecat. Sultan ngakunya kerja di kantor gede, hanya gajinya belum cair sehingga dia belum bisa ngirim duit untuk kuliah adik bungsunya. Ataupun buat bayar utang, yang by the way dia juga gak bilang ke keluarga kalo lagi terlilit utang dengan jumlah bejibun. Ketika adiknya yang tengah, Bilqis, diam-diam nyusul ke Jakarta, barulah Sultan kocar-kacir. Sultan dan Bilqis memang akhirnya sekongkol buat nyari duit bareng. Tapi usaha yang mereka pilih karena kepepet butuh duit cepet, yakni trading saham, adalah usaha yang penuh resiko dan ketidakpastian. Kebohongan dan bahaya yang diserempet Sultan dan adiknya itu semakin membesar, utang semakin menggunung, sampai di satu titik mereka menemukan diri terlibat masalah kriminal.

Mereka harusnya jualan Netflix aja ga sih?

 

Komplotan abang beradik sobat miskin dalam cerita Rahabi Mandra ini enggak seperti dalam Parasite nya Bong Joon ho. Sultan dan Bilqis sama sekali tidak terorganisir, tidak punya keterampilan khusus, they don’t really have a plan atau strategi terarah. Mereka melakukan semuanya sambil jalan. Energi mereka chaotic banget. Mereka bahkan sering berantem satu sama lain. They could get really physical seperti saudara yang ribut beneran. Namun justru hal-hal itulah yang jadi pesona dua karakter sentral kita. Hal-hal itu membuat mereka relate, plus ngasih karakteristik buat hubungan persaudaraan mereka. Abang atau kakak beradik memang suka berantem, dan mereka membawa ‘berantem’ antar  siblings itu ke level yang lain. Vino G. Bastian jadi abang yang lebih kalem, berusaha meyakinkan semua orang kalo hal di bawah kendalinya. Dia juga beneran terlihat peduli dan berusaha menyanggupi permintaan adiknya. Ada momen-momen saat kita tahu dia udah gak sanggup, janjinya makin impossible untuk dia penuhi, tapi dia berkata mantap bahwa dia akan menyelesaikan semuanya. Anya Geraldine jadi si tengah yang lebih tegas, kelihatan cenderung galak. Dia juga lebih nekat, lebih blak-blakan, dan lebih pintar. Sama seperti Vino, Anya juga berhasil ngasih energi ke karakternya. Dinamika mereka terasa hidup, mereka saling mengisi, saling memarahi, kekurangan satu sama lain, just like kalo kita kerja sama ama adek nyelesaiin satu level sulit di video game, hanya saja bagi Sultan dan Bilqis permasalahan mereka adalah real life. Menurutku, inilah yang bikin kita gampang peduli sama mereka, lebih dari sekadar mereka kasian butuh duit.

Yang bikin cerita ini balance adalah karena mereka punya moral sendiri. Sultan dan Bilqis gak nipu orang kaya. Gak mau judi, gak mau curang. Mereka sebenarnya punya kesempatan dari seorang kaya belagu yang naksir berat sama Bilqis, tapi cerita tidak lantas memberikan kemudahan. Sultan gak mau ‘ngorbanin’ adiknya. Mereka gak mau gitu aja memanfaatkan, ataupun dimanfaatin oleh si kaya belagu. Sultan dan Bilqis ada di posisi mereka kepepet sampai mau ngelakuin apa saja, tapi dalam batasan-batasan tertentu. Like, they draw the line at bohongin ibu, karena mereka khawatir ibu kenapa-napa kalo tau mereka bukan orang kaya seperti yang mereka ucapkan di telefon. Mereka gak mau straight up mencuri, tapi jika kepepet mereka nekat mengambil informasi dengan menyamar, bahkan hingga nyekokin obat tidur ke dalam minuman orang. Kompas moral mereka jadi hambatan-hambatan tersendiri yang akhirnya bikin seru cerita. Bikin kita gemes menontonnya.

Apalagi karena naskah film  memang sama sekali tidak melupakan konsekuensi. Film menggambarkan realita lucu gambaran sikap manusia yang pengen ‘sedikit bekerja, banyak duitnya’ dalam sorot yang gak memihak. Walaupun judulnya pake kata ‘Gampang’. protagonis kita tidak digampangkan dalam mendapatkan apa yang mereka mau. Main saham memang sekilas terlihat seperti jawaban mudah, duit mereka dalam beberapa menit naik berkali lipat, tapi oleh naskah hal tersebut tidak lantas berarti kemenangan. Tidak lantas menyelesaikan permasalahan keluarga mereka. Ini yang aku suka. Ada lapisan lagi dalam journey Sultan. Ada hal yang harus dia sadari, hal yang lebih dia butuhkan. Sembari memperlihatkan konsekuensi dari flawnya selama ini, di akhir cerita film juga memperlihatkan pembelajaran karakter yang finally disadari oleh Sultan. Membuat cerita jadi full circle tentang keluarga – drama keluarga tanpa sosok ayah yang jadi fondasinya. Membuat komedi dari karakter-karakter nekat yang melakukan sesuatu yang baiknya tidak kita contoh karena tidak cukup bijak untuk dapetin duit, jadi punya hati.

Mau yang kaya ataupun yang miskin, di film ini semuanya sama. Sama-sama pengen dapet duit dengan gampang. Yang diingatkan lewat cerita ini adalah sesungguhnya tidak ada yang namanya ‘easy money’ di dunia ini. Tidak ada jalan pintas, melainkan butuh usaha. Kerja keras, do pay off. Meski pay off nya bukan exactly harus kontan. 

 

Baru di atas ‘angin’ dikit udah ngayal nanti duitnya mau dipakai buat apaan aja

 

Untuk bisa berhasil menyampaikan itu, toh naskah film ini sebenarnya meminta banyak pemakluman kepada penonton. Film ini dibuka dengan literally minta ijin kepada penonton bahwa konsep jual-beli saham yang ditampilkan di dalam cerita tidak benar-benar sesuai dengan kenyataan. Aku juga gak ngerti main saham begituan, tapi intinya tulisan di opening film ini ngasih tau kalo in real life pencairan uang atau semacamnya tidak bisa dilakukan dengan secepat yang terjadi pada cerita ini. Dari segi bahasa, juga aku mendengar banyak yang bilang kurang cocok. Sultan dan keluarganya berasal dari Sukabumi, maka bahasa ibu mereka adalah bahasa Sunda. Bagi aku yang bukan orang Sunda dan hanya tahu bahasa tersebut dalam lingkup pergaulan anak rantau sih tidak benar-benar menganggap ada masalah mendengar ‘gue’, ‘elu’, nyampur dengan dialeg dan bahasa Sunda. Tapi yah, temen-temen yang asli dan ngerti Sunda memang banyak juga yang menilai bahasanya agak mengganggu. Lebih lanjut, penggunaan bahasa yang dilenturkan supaya lebih chaos, konsep saham yang ditweak supaya cerita seru, menurutku memang masih bisa kita “isoke, isoke, ofkros”in. Apalagi karena seperti yang disebutkan di atas, menang saham di cerita ini tidak berarti masalah beres. Bagi Sultan, ini bukan semata soal menang saham untuk dapat duit.

Justru yang buat aku terasa mengganggu karena – ironically – menggampangkan cerita bisa berjalan, adalah soal jarak yang dianggap tidak ada oleh film. Bukan hanya satu, ada beberapa adegan yang ‘mengandalkan’ karakter pergi dari Sukabumi ke Jakarta atau sebaliknya, tapi oleh film jarak itu tidak terasa. Sukabumi dan Jakarta boleh jadi sekarang sudah bisa tembus dua jam, tapi paling enggak mestinya jarak dan waktu ini bisa digunakan lebih lanjut untuk efek dramatis. Bukan hanya untuk komedi. Alih-alih karakter bisa seperti teleport dan gak really matter mereka harus ke mana untuk mengejar apa, akan bisa lebih intens kalo mereka dibikin akan terlambat atau semacamnya. Timing-timing yang selalu pas dalam cerita film ini membuat hal terasa kayak kejadian yang sudah diatur aja, membuatnya terasa kurang natural.

 




Sama seperti kisah cinta, cerita tentang duit juga sejatinya adalah cerita yang bisa mudah kita mengerti. Ditambah dengan hubungan keluarga yang struggle tanpa sosok ayah, tentang perjuangan seorang anak sulung berusaha menghidupi keluarga, kisah yang dibungkus sebagai komedi ini semakin cair dan gampang beresonansi dan relate dengan penonton. Naskah cukup bijak untuk membuat komedinya ringan dan chaos penuh energi tapi tidak menghilangkan konsekuensi. Pembahasannya berimbang, antara kaya ataupun miskin semua orang pengen punya duit dengan instan. Case yang diangkat di sini adalah soal hidup itu perjuangan, tanpa jalan pintas. Meskipun begitu, film ini sendirinya bercerita dengan kemudahan-kemudahan. Yang kita diminta untuk memakluminya. Beberapa bisa kita kesampingkan, karena ceritanya memang ternyata semenyentuh dan tidak sereceh itu. Ada feeling genuine yang berusaha disampaikan. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for GAMPANG CUAN

 




That’s all we have for now.

Jadi, pernahkah kalian berada di posisi berbohong kepada orangtua seputar kondisi keuangan atau semacamnya?

Share cerita kalian di comments yaa

Setelah nonton ini,  kalian yang masih pengen tontonan seru tentang keluarga, bisa coba serial Monarch: Legacy of Monsters, dari universe Godzilla yang selain tentang monster juga tentang keluarga. Yang penasaran, langsung aja subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL