THE SNOWMAN Review

“A family ship will never sink until it is abandoned by its crew.”

 

 

 

Tidak ada alasan buat The Snowman untuk bergulir menjadi film yang, paling enggak menjadi film yang baik. Film ini diangkat dari novel best-seller. Eksekutif produsernya adalah the one and only Martin Scorsese. Disutradarai oleh Tomas Alfredson yang bikin salah satu film vampir paling beda, Let the Right One In (2008). Dibintangi oleh aktor-aktor kawakan yang di antaranya berjudul Michael Fassbender, Rebecca Ferguson, juga J.K. Simmons. Namun, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya bisa membayangkan, kalolah film ini manusia salju, maka ia adalah manusia salju yang pecah berantakan ketika masih berbentuk bola, dan pecahannya terhampar gitu saja di tanah. Menciptakan sebuah kekacauan yang tampak berkilau dan sejuk dipandang mata. INDAH. TAPI KACAU

 

Dan inilah persembahan musikal kami buat film ini.

“Do you want to build a snowman?”

/Martin,/ knock knock knock knock!

/Ayo bikin film Snowman.

Misteri pembunuhaaaan.

Pembunuhnya bunuhin cewek,

Mutilasi,

Jadiin bonekaa.

Bikin mirip Zodiak,

Tapi enggak,

Ceritanya musim dingiiinnn.

Ayo bikin film Snowmaaann.

Pastikan hasilnya keren./

Lu aja

/Oke, bye/

 

Keindahan sinematografi dan talenta-talenta luar biasa itu jadi membeku sia-sia oleh penceritaan yang sangat membingungkan. Tokoh utama kita adalah Michael Fassbender sebagai Harry Hole, seorang detektif pemabuk yang sedang memburu seorang pembunuh berantai yang meninggalkan jejak berupa orang-orangan salju yang actually dibangun dari anggota tubuh korbannya. Kesamaan antara para korban adalah mereka wanita, yang punya anak dan keluarga. Si pembunuh juga lantas mengirimkan pesan misterius kepada Harry dan rekannya. Jadi kita melihat mereka ngumpulin petunjuk, sekaligus bergulat dengan masalah pribadi. Harry, eventually, menemukan bahwa kasus ini sangat relatable bagi dirinya.

Tanda pertama film ini punya masalah adalah di boneka salju itu sendiri. Jika Goosebumps saja gagal membuat anak-anak ketakutan sama orang-orangan salju, maka kesempatan apa yang dipunya oleh film ini, yang boneka saljunya kelihatan literally seperti dua bola salju biasa dengan mata dan mulut dari biji kopi hitam. Setiap kali film ini ngezoom wajah seringai boneka salju sambil mainin musik dramatis, setiap kali itu pula aku gagal untuk merasa takut. Mereka enggak seram, itu aja. Kasih liat merah darah, mungkin mereka jadi sedikit menakutkan. Tapi enggak, mereka tampil biasa aja, padahal ada mayat di baliknya.

Tokoh utamanya juga ditampilkan biasa sekali. Harry Hole semestinya adalah tokoh detektif yang jenius, namun dia merusak dirinya sendiri dengan mabuk-mabukan, dengan tidur di jalanan. Dia meninggalkan keluarganya. Actually, porsi kenapa dia disebut cakap dalam pekerjaan tidak pernah benar-benar dibuktikan. Malahan, hingga film berakhir, kita tidak pernah benar-benar kenal sama tokoh ini. Michael Fassbender melakukan semampunya untuk menghidupkan emosi Harry. Dia berusaha menampilkan banyak hal meskipun karakternya digali dengan teramat minim. Kita enggak pernah mengerti isi kepala si Harry. Kenapa dia begitu candu, dia pemabuk berat, dia mengganti rokoknya. Film ini tidak menampilka alasan di balik semua kelakuan itu. Kita mengerti dia punya masalah in regards to his family. Dia menjauh dari mereka lantaran dia sadar akan membawa dampak buruk bagi keluarga, tapi film tidak menjelaskan kenapa Harry suka minum, kenapa dia melakukan semua kebiasaan jelek yang ia kerjakan.

Kenapa seorang ayah meninggalkan istri dan anaknya. Pertanyaan itulah yang menjadi konflik utama dari film The Snowman. Isu abandonment menguar kuat di sini. Beberapa memang adalah pertanda dari tindak ketidakbertanggungjawaban. Film ini mengangkat pertanyaan, bagaimana jika seorang ayah baru merasa bertanggungjawab ketika dia pergi dari keluarga. Kapankah ninggalin keluara jadi terhitung bertanggungjawab. Kenapa Ayah, dan bukan Ibu, yang dipersalahkan, bukankah rumah tangga itu dibentuk oleh dua orang. Apapun alasannya, toh film masih tetap berpegang kepada moralnya bahwa meninggalkan keluarga adalah hal yang paling dingin yang bisa dilakukan oleh kepala keluarga, apapun alasannya.

 

Keseluruhan film terasa seperti bagian set up. Aku terus menunggu, menunggu, dan menunggu cerita berjalan, mengenal karakternya. Aku dengan sepenuh hati menguatkan diri, nanti bakal ada jawaban, aku akan mengerti semua. Tapi tetap aja, segala pilihan random si tokoh, segala adegan dan subplot itu tetap berujung pada kenihilan. Film ini banyak membangun, untuk pada akhirnya tidak menjadi apa-apa. Aku tidak mengerti background story dari Harry, kalian pikir mungkin aku yang tertidur dan terbangun di kursi, namun enggak. Aku melek sepanjang film. Berusaha memahami. Berjuang menangkap simbolisme, kalau-kalau ada informasi tersirat yang kulewatkan. Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Malah terasa seperti ada bagian yang hilang pada film ini. Jika ini puzzle 500 keping, maka menonton film ini rasanya seperti kita berhasil menyusun 450 kepingnya, sedangkan keping sisanya lupa dimasukin penjual ke dalam kotak yang kita bawa pulang.

Misteri sebenarnya adalah dari sekian banyak nama belakang, kenapa namanya mesti Hole coba?

 

Tokoh-tokoh yang lain juga sama dibentuk dengan gak memuaskannya. Backstory Tokoh Rebecca Ferguson diceritakan lewat flashback, namun tetap saja masih kabur, karena tampak sekenanya. Hampir seperti adegan yang ditambahkan begitu saja. Tokohnya J.K. Simmons, dong, misteri banget. Meskipun kita mengerti perannya di dalam cerita, akan tetapi di luar kepentingan supaya film misteri detektif ini jadi punya banyak tersangka sehingga aspek whodunit lebih kerasa, kemunculan tokohnya – lengkap dengan apa yang ia lakukan di sana, tampak sangat random dan seperti tidak ada urusan untuk mejeng di film. Sekuens tokoh ini melingkupi adegan-adegan konferensi soal kota mereka yang diperjuangkan sebagai tuan rumah Piala Dunia, dan buatku ini totally aneh dan gak klop sama elemen cerita yang lain.

Tomas Alfredson adalah sutradara yang paham bagaimana menangkap pemandangan indah. Dia mengerti cara membuat film terlihat cantik. Namun dalam menggarap bagian aksi, tampaknya adalah persoalan yang sama sekali berbeda. Terbukti dari sekuens konfrontasi di menit-menit terakhir film. Editingnya parah sekali. Aku gak yakin apakah gerak kamera yang mereka lakukan disengaja supaya pemeran figurannya enggak keliatan banget atau memang sutradara enggak tahu bagaimana cara ngesyut adegan aksi. Mungkin juga sih, semua editing choppy itu dilakukan karena mereka enggak mau filmnya jadi terlalu sadis, tapinya lagi, ini adalah film pembunuhan dengan korban dimutilasi, pembunuhnya sendiri bersenjata kawat tipis, jadi kenapa mereka enggak embrace aja kesadisan adalah pertanyaan yang gak bisa kutemukan jawabannya untuk film ini.

Dan setelah semua itu, semua pilihan random, dan cerita convoluted itu, film ini masih punya nyali untuk masukin teaser seolah film ini bakal ada sekuelnya. Seolah film ini banyak yang suka. SEOLAH penonton begitu peduli dan minta nambah lagi. Ha!

 

 

Punya potensi untuk menjadi tontonan misteri yang menantang, sesungguhnya ini adalah film noir yang sudah seperti ditakdirkan untuk jadi bagus dengan segala talent gede di belakangnya. Tapi enggak. Film ini seperti es krim di tengah panas mentari, dengan cepat mencair menjadi tidak berbentuk. Tidak lagi sedap untuk dinikmati.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for THE SNOWMAN.

 

 

That’s all we have for now.
Kami mau ngucapin terima kasih buat kamu-kamu yang udah sudi mampir baca dan bahas film di sini sehingga My Dirt Sheet jadi kepilih sebagai nominasi Blog Terpilih Piala Maya 6.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.

STAR WARS: THE LAST JEDI Review

“The opposite of Love is not Hate, but Indifference”

 

 

Luke adalah Yoda. Dan Kylo Ren adalah Bezita. Itu teori yang kupatenkan setelah aku selesai nonton The Force Awakens tahun 2015 yang lalu. Yup, aku memang termasuk salah satu penonton yang suka berspekulasi dan nebak-nebak dan bikin kajian lengkap sendiri terhadap sebuah film. Jika kalian juga begitu, maka kita bisa jadi teman baik ngobrol berjam-jam membahas film. Aku tahu bukan aku sendiri yang punya penyakit begini. Di internet banyak kita jumpai artikel-artikel semacam “Fakta Mengejutkan Seputar Star Wars” yang membahas berbagai kemungkinan seperti Rey itu anak Luke, atau Rey itu saudara kembar Ren, atau yang paling gampang; bahwa Rey adalah Jedi Terakhir. Tidak satupun prediksi dan teori tersebut terbukti benar. Star Wars: The Last Jedi, di tangan sutradara Rian Johnson yang biasanya membuat film-film ngeart, MENGENYAHKAN SEMUA EKSPEKTASI DAN BERCERITA DENGAN SUARA KHASNYA SENDIRI.

Itulah yang membuat pengalaman nonton film ini terasa begitu menyenangkan. Ada begitu banyak kejutan yang diberikan. Seni dalam film ini adalah bagaimana mereka memainkan konflik moral, membuat kita terombang-ambing di dalam dilema para karakternya. Dalam lapisan terluar, The Last Jedi sukses menjelma menjadi film dalam franchise Star Wars yang punya sekuens aksi yang paling menarik dan sangat menghibur sejauh ini. Ada aksi tembak-tembakan Millenium Falcon yang sangat keren; visual efeknya makjaaaanggg! Tarung lightsabernya adalah yang terbaik dari pernah kulihat dari seri Star Wars. Dengan wide shot nampilin para tokoh dari kepala ampe ujung kaki, mereka pasang stance masing-masing, kemudian “zing..zingg…zinggg”, mereka udah kayak ngayunin samurai dengan koreografi dan pengaplikasian lightsaber yang begitu awesome

Plus para Porg itu imut bangeettt. Dan perlu dicatet mereka enggak annoying

 

The Force Awakens literally berakhir dengan cliffhanger, cerita dibiarkan ‘menggantung di tebing’. The Last Jedi melanjutkan ceritanya tepat di kejadian itu, dan itu sama sekali di luar apa yang kita kira. Contoh simpelnya adalah Luke Skywalker yang tampak begitu cool sampe jadi intimidating saat didekati oleh Rey yang mengulurkan lightsaber, ternyata malah membuang senjata paling keren sealam semesta tersebut dalam fesyen yang mengundang kikik penonton. The Last Jedi memang mengeset ulang franchise Star Wars hampir seperti gimana Thor: Ragnarok (2017) merevitalisasi karakter dan persona Thor.  Jadi, Rey harus berusaha minta diajarin menggunakan The Force kepada Luke yang memilih mengasingkan diri. Sementara Poe, Finn, dan pasukan Resistance yang lain di bawah pimpinan Leia (serius, agak tercekat haru nih ngeliat Carrie Fisher, ihiks) berjuang sebisa mungkin untuk bertahan, sukur-sukur bisa melakukan serangan balasan, dari serangan First Order yang semakin nafsu memburu mereka. Yang paralel dari perjalanan para tokoh adalah gimana mereka sama-sama membutuhkan ‘spark’ untuk membalikkan keadaan; sebuah percikan yang bisa membuat mereka di atas angin dan semakin kuat. Namun, percikan apa sih yang dimaksud? Itulah yang harus mereka cari tahu.

Hakikat dari berjuang dan menang sebenarnya bukanlah ‘berhasil mengalahkan yang kita benci’. Melainkan adalah melindungi orang-orang yang kita sayangi. Cinta dan benci memang adalah perasaan yang intens yang kita rasakan terhadap sesuatu hal, terhadap orang lain, jadi in a way, cinta dan benci adalah perasaan yang sama, yang diekspresikan berbeda. Ini yang tercermin dari Kylo Ren dan Rey. Mereka basically adalah pribadi yang sama; mereka punya kekuatan yang sama, tapi mereka tidak bisa ‘melukai’ satu sama lain. Setidaknya belum, karena sesungguhnya lawan dari cinta bukanlah kebencian. Melainkan ketidakpedulian, sesuatu yang hampir saja dilambangkan oleh Luke dalam cerita epik kebingungan moral ini.

 

“Pada dasarnya, aku sama sekali enggak setuju sama setiap pilihan yang kau tulis buat tokoh Luke”, begitu pengakuan Mark Hamill ketika dia pertama kali disodorin skrip film ini oleh si sutradara. Luke Sykwalker memang benar-benar dibuat ‘tak disangka-disangka’. The Last Jedi adalah film yang lucu. Banyak lelucon kocak di sana-sini. Namun hebatnya, lucu-lucuan tersebut tidak pernah digunakan dengan mengorbankan karakter ataupun cerita ataupun pakem mitologi yang sudah ada. Semuanya bekerja dalam konteks. Buktinya, Luke Skywalker tidak jatoh konyol. Malahan, dia adalah salah satu karakter paling keren dalam film ini. Salut itu pantas juga kita berikan buat Mark Hamill yang jelas bekerja profesional. Semua arahan yang diberi kepadanya berhasil dia eksekusi dengan meyakinkan. Ada eksplorasi mengapa karakter ini mengasingkan diri, Luke bergulat dengan sebuah tragedi masa lalu, semua itu ditampilkan dalam visi yang sangat sangat berbeda. Aku gak pernah tahu aku ingin melihat Luke yang seperti ini, dan hasilnya memang sangat keren.

Sebagai seri kedelapan dari seri film populer, akan sangat sia-sia jika mereka enggak bermain-main dengan referensi dari film-film sebelumnya. Justru adalah hal yang wajar jika mereka melanjutkan sistem yang sudah ditetapkan, merecognize aspek-aspek dunia dalam cerita mereka. The Last Jedi toh memang memasukkan adegan referensi, akan tetapi tidak semata sebagai penghibur buat penggemar Star Wars. Enggak terasa seperti mereka memasukkan hal begitu saja supaya kita bisa “hey lihat itu si anu”, kayak di Rogue One (2016) di mana kehadiran C-3PO tampak sekedar dimasukin aja. Alih-alih demikian, yang dilakukan oleh film ini adalah memasukkan hal-hal yang sudah terestablish, merecognize pakem dan kelemahannya, dan eventually mempertanyakan hal tersebut lewat karakter baru, yang masuk akal dong kalo si karakter ini enggak punya pengetahuan tentang itu. Misalnnya ketika film ini mengeksplorasi gimana Jedi yang udah seperti semacam aliran kepercayaan, dipertanyakan aturan-aturannya oleh Rey, dan sebagai jawabannya, film actually melandaskan pakem baru yang sangat mengejutkan.

Tokoh di film ini udah kayak Big Show, sering ‘turn’ antara baik dan jahat

 

Penampilan Daisy Ridley seolah berkata “Lihat gue, gak nyesel kan lo udah milih gue sebagai Rey!” Cewek ini dahsyat banget kalo udah urusan adegan-adegan dramatis dan bagian-bagian berantem. Tokoh Rey dibentuk dengan sangat baik sebagai protagonis utama, dia kuat, dia mau belajar, dan dri berbagai pilihan yang dia ambil jelas tokoh ini bergerak dalam moral kompasnya sendiri. Menurutku, secara karakterisasi, si Rey inilah yang paling dekat dengan Anakin. Kupikir film berikutnya akan mengeskplorasi gimana Rey adalah apa yang terjadi kepada Anakin jika dia tidak menyeberang ke Dark Side.

Tokoh favoritku di film ini, bagaimanapun juga, adalah Kylo Ren. Penampilan emosional yang sangat luar biasa dari Adam Driver. Kita sudah dapat melihat sedari Episode VII bahwa Ben Solo adalah karakter yang sangat conflicted. Dia bukan antagonis biasa, dia lebih dalem daripada itu. Dia adalah petarung yang belum matang, dia diliputi kemarahan, dia belum siap, dan di Episode VIII ini kita akan lebih mengerti kenapa. Kita jadi dapat melihat alasan dia begitu mengidolakan Darth Vader, meskipun aspek ini diberitahukan impisit oleh narasi. Kylo diberikan kesempatan untuk bersinar di sini. Aku suka koneksi yang tercipta antara Ren dengan Rey. Aku sungkan untuk ngebahas lebih banyak soal ini, karena menurutku ini adalah aspek terpenting cerita yang harus kalian alami sendiri.

Semua tokoh diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan. Bahkan Chewie dan BB-8 dikasih momen tersendiri. Arc si Poe juga cukup menarik. Aku suka gimana tadinya dia melanggar perintah Leia, dan kemudian di babak akhir, dia berada di posisi pemberi perintah dan guess what; dia mendapati perintahnya dilanggar. Masalahku hanya ada pada ceritanya si Finn. Secara berkala, narasi akan membuat kita mengikuti petualangan Finn bersama tokoh cewek baru, Rose. Mereka punya misi mencari seorang pemecah kode, jadi dua orang ini pergi ke sebuah planet. Aku enggak bisa menikmati bagian ini, karena setiap kali kita balik ke mereka, cerita menjadi melambat. Malahan, hampir terasa seperti menjadi sebuah cerita lain, sebuah film pendek petualangan ke planet yang bahkan gak terasa seperti planet dari galaksi far far away. Setting lokasi yang Finn dan Rose datangi adalah setting yang gak aneh bagi kita penduduk Bumi. Dan yang  mereka lakukan juga gak benar-benar menarik. Terasa seperti detour yang gak diperlukan. Tentu, apa yang mereka kerjakan tersebut memiliki dampak di akhir cerita, semuanya ada koneksi, hanya saja mestinya ada cara yang lebih baik dalam menceritakan ini.

 

 

Yang perlu aku tekankan adalah film ini membuatku terhibur, amat malah. Maksudku, Luke malah jadi kayak Goku di sini hahaha. Dan setelah nonton dua kali, teoriku soal ‘Luka Adalah Yoda’ masih belum tertutup gagal seratus persen, asal jangan diartikan secara harafiah tentunya; Anak kecil yang nonton juga pasti tahu Luke dan Yoda adalah dua makhluk yang berbeda. Namun, kesamaan arc mereka sangat mencengangkan, penggemar sejati pasti ngerti deh apa yang kumaksud. Secara struktur, however, ini adalah film yang bisa berdiri sendiri. Sebuah cerita pertengahan dari sebuah trilogy yang tidak terasa seperti bagian dari rangkaian produk. Film yang memiliki awal-tengah-akhir dari sudut karakter-karakter yang mampu membuat kita peduli. Pencapaian teknisnya juga luar biasa, sekuens aksi dengan wide shot tercantik yang bisa kita harapkan dari film fantasi seperti ini. Ada sekuens yang belum pernah kita saksikan dalam franchise Star Wars. Mitologi Jedi pun mendapat penggalian yang lebih dalam, ada pengetahuan baru yang bisa kita dapat mengenainya. Dan setelah menonton film ini, kita akan memohon semoga semua petualangan awesome itu tidak pernah berakhir.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for STAR WARS: THE LAST JEDI.

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kami mau ngucapin terima kasih buat kamu-kamu yang udah sudi mampir baca dan bahas film di sini sehingga My Dirt Sheet jadi kepilih sebagai nominasi Blog Terpilih Piala Maya 6.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

WONDER Review

“You don’t have to change a thing, the world could change its heart.”

 

 

Hidup adalah sihir dan keajaiban. A wonder. Tapi kita lebih sering lupa ketimbang sadar. Jiwa dan hati kita kerap tersilaukan. Film ini, dengan kapasitas emosi yang sungguh manusiawi, bertindak sebagai pengingat untuk itu.

Adalah Auggie, anak kecil yang terlahir ke dunia semburat cemas di wajah ayahnya dan teriakan pilu sang ibu. Dua-puluh-tujuh operasi harus didera oleh wajah Auggie supaya dia bisa bertahan hidup. Dan tumbuh menjadi anak normal. Auggie suka Star Wars. Hari favoritnya adalah Halloween. Dia suka olahraga – di video game. Dia main Maincraft.  Dia gemar pelajaran ilmu alam. Auggie pengen jadi astronot supaya dia bisa terbang ke bulan di mana dia bisa terus memakai helm antariksanya. Karena di sekolah yang sekarang sedang ditujunya bersama orangtua dan kakak, Auggie tahu dia tidak bisa pakai helm, seberapapun kepengennya. Auggie dan keluarganya tahu persis kesulitan apa yang bakal didapat ketika anak-anak yang lain melihat wajah Auggie. Ada anak kecil lain yang menangis ketakutan demi melihat wajah Auggie, bayangkan!

Anak-anak cenderung jujur, dan kadang kejujuran itu menyakitkan. Tak pelak, akan ada cibiran. Bisik-bisik. Perundungan. Pengucilan. Bumi tidak pernah menjadi sebuah tempat yang benar-benar sopan untuk anak-anak seperti Auggie. Film mengeksplorasi semua itu bukan hanya langsung dari mata Auggie, melainkan juga dari keluarganya, dari kakaknya, dari teman dekatnya. Dan hal inilah yang membuat Wonder tampil berbeda dari film-film yang punya cerita yang mirip. Sudut pandang menyeluruh tentang bagaimana orang-orang sekitar Auggie terpengaruh oleh keadaannya.

meski udah banyak nonton film, aku masih saja takjub mereka bisa membuat kamera enggak keliatan, like, di mana kameranya??

 

Cerita yang membahas sebuah tokoh yang mengalami kekurangan, fisik maupun mental, kerap terjatuh ke dalam lembah keterlalusentimentilan. You know, film tersebut jadi target mudah kritik lantaran menghadirkan aspek-aspek emosional yang terlalu manipulatif. Dibuat demi memeras sebanyak mungkin air mata kita-kita yang nonton. Kita melihat adegan anak dibully, kemudian dicuekin orangtuanya, dan kita bisa bilang ini adalah trik ‘sudah jatuh tertimpa tangga’ yang tentu saja dibangun untuk menumpuk drama. Tapi, aku menemukan kejadian yang kita saksikan pada film Wonder ini cukup akurat, dan gak kayak dibuat-buat. Anak-anak memang bisa begitu kejam kepada temannya yang berbeda, apalagi cacat. Aku pernah seharian nungguin adikku yang baru masuk SD, dan aku melihat beberapa anak dimarahin oleh guru karena melempari seorang anak yang tampak jelas berasal dari luar pulau, dan setelah itu ada satu dua anak yang menenangkan si anak korban bully yang menangis. Ada juga yang seperti adikku, hanya memandang dari jauh – dari belakangku. Balik ke Wonder, menurutku film ini sangat spesial karena dia berusaha menampilkan realita bahwa akan selalu ada perundung, but also akan selalu ada anak-anak yang memberanikan diri untuk memilih baik ketimbang jujur.

Sudut pandang cerita Wonder kerap berganti demi memperlihatkan sisi lain dari orang-orang sekitar Auggie yang terkena pengaruh darinya, namun fokus tetap pada tokoh Auggie. Bahkan para penampil sepertinya juga paham akan hal ini. Sutradara dan penulis Stephen Chbosky indeed berhasil memancing yang terbaik dari para aktornya. Sebagai orangtua Auggie ada Owen Wilson dan Julia Roberts, keduanya bermain sangat baik. Aku sendiri suka banget sama penampilan Owen Wilson sebagai ayah yang tidak ingin menutupi kenyataan kepada anaknya, dan dia berusaha seceria mungkin demi itu. Ketika mereka enggak duel lightsaber atau main video game, Ayah akan mengambil ini sebagai kesempatan untuk mengajak Auggie duduk bicara tentang bagaimana dunia dan he kinda have to deal with it. Namun baik Wilson maupun Roberts, mereka tidak berusaha mencuri spotlight dari Auggie. Karena film ini adalah tentang Auggie dan merupakan kesempatan buat Jacob Tremblay bersinar. Dan di film ini, melalui penampilan tegar dan bikin sedih, dengan seiap ekspresi kuat menguar dari balik riasan efek meyakinkan itu, Tremblay membuktikan bahwa dia adalah salah satu aktor terbaik di antara generasinya.

Auggie adalah karakter yang sangat likeable. Tapi sesungguhnya ada satu arc cerita lagi yang wajib kita perhatikan, karena menurutku, storyline ini, in a way, lebih kuat. Tentang Via, kakak Auggie. Tentang bagaimana dia merasa tersisihkan. Via adalah cewek yang mandiri, dia sayang banget sama adiknya. Namun dia juga sedang berada dalam masa hidup yang sulit sebagai remaja. Dia juga butuh perhatian kedua orangtua. Masalah Via paralel dengan masalah Auggie, mereka berdua mengalami kesulitan dengan teman. Film menggiring kedua sudut pandang ini, juga sudut pandang teman-teman yang lain, dan menyimpulnya menjadi kisah yang hangat dan sangat manis.

Auggie dan Via. Terkadang aku merasa aku seperti mereka berdua, rolled into one miserable, most pathetic entity in the world. Dan memang itulah yang diniatkan oleh film ini. Supaya kita merasa kita sama dengan mereka, dan anak-anak yang lain. Supaya kita sadar bahwa tidak ada yang sempurna. And yet, kita tetap memandang rumput orang lebih hijau. Kita iri, ada yang kita inginkan dari apa yang dimiliki oleh orang. We wonder how to be better, dan kita berubah. Beberapa orang menjadi tukang bully  karena ini. Beberapa menjadi penyendiri. Kena bully setiap hari. Intinya, syukuri apa yang kita punya, karena dunialah yang musti mengubah hatinya. Caranya? dengan mencoba untuk selalu berbuat baik.

 

Jika David Lynch menggunakan pendekatan horor sebagai topeng cerita emosional di The Elephant Man (1980), maka Chbosky lebih memilih penggunaan ragam perspektif. Sayangnya, ini juga sekaligus menjadi kelemahan sebab dalam penanganannya, Wonder tampak terburu-buru mengakhiri beberapa arc.  They kinda wrap things up really quick in just one scene. Misalnya adalah cerita dari sudut pandang teman baik Via. Diceritakan setelah musim panas, persahabatan mereka merenggang, mereka gak gaul bareng lagi, mereka tidak pernah ngobrol seperti dulu lagi, untuk kemudian arc ini dibungkus begitu saja, kesannya terburu-buru. Mereka baikan, dan Auggie secara tidak langsung berperan di sana. Film mestinya bisa menuntaskan dengan lebih baik, dan di luar aspek beberapa arc yang rushed tersebut, aku gak menemukan masalah lagi.

Jadi, Auggie punya teman. Via dapet pacar. Miranda sama aku aja siniiiiiyyy

 

 

 

Secara emosional, ini adalah film yang memuaskan. Bukan karena yang jahat dapat hukuman. Tapi, karena film adaptasi novel best-seller ini sukses menyampaikan pesan, bukan hanya soal menghargai orang seperti Auggie layaknya manusia yang berperasaan, sekaligus juga tentang bagaimana komen singkat, candaan sepele dapat berdampak gede kepada orang yang dibercandain. Harapannya adalah semoga dengan menonton film keluarga ini, anak-anak (bahkan orang dewasa!) jadi tergerak, jadi berani untuk mengambil tindakan yang benar dalam pergaulan mereka dengan teman sehari-hari.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for WONDER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge

 

CHRISYE Review

“Don’t feel guilty for doing what’s best for you”

 

 

Apakah Chrisye bisa hidup lagi? Begitu bunyi salah satu headline koran dalam kelebatan berita dan fakta singkat yang kita lihat di menit-menit awal film ini berlangsung. Jawabannya tidak secara harafiah Chrisye bangkit dari kubur, tentu saja. Dan menurutku, jawabannya juga ‘tidak’ jika pertanyaan tadi kita jawab dengan kiasan. Namun bukan karena sudah tidak ada lagi orang yang mengenalnya, yang mendendangkan lagunya. Justru sebaliknya, ‘tidak’ karena buatku, dan kuyakin juga buat penggemar, buat orang-orang yang pernah tersentuh dan terhibur oleh karyanya yang amat banyak, juga buat keluarga dan orang-orang terdekatnya, Chrisye tidak pernah mati. Dia akan terus hidup. Lilin-lilin kecil itu tidak akan pernah padam.

Menjalani masa pertumbuhan di era 90an, telingaku akrab sama lagu-lagu Chrisye. Dan memang, aku gak pernah tahu kisah hidupnya seperti apa. Orang bilang, kita bisa mengenal seseorang lewat karyanya, but still enggak banyak yang tahu cerita di balik lagu-lagu tersebut. Paling enggak, tidak tahu sedekat Damayanti Noor, istri Chrisye. Kenapa juga kita perlu tahu, kalian tanya. Well, karena akan selalu ada saja yang bisa kita petik dari kisah-kisah hidup orang seperti Chrisye. Orang yang berjuang dengan karyanya, meski dia tahu profesi yang ia tekuni tidak dihargai benar-benar layak. Orang yang mengikuti kata hati dan memilih jalan hidup atas nama cinta. Film Chrisye ini adalah cerita yang sangat personal karena diangkat dari sudut pandang sang istri, yang sudah menemani Chrisye, sudah ikut naik-turun gelombang kehidupan bersamanya.

Chris, eike, yey…. Chris-eike-yey….. Chris-eik-yey…. Chris-yey… Chrisye!

 

Sebagai sebuah drama biografi, film ini akan sedikit banyak berusaha menyentuh sisi emosional kita. Ada beberapa adegan di pertengahan akhir film yang benar-benar terasa buatku. Malahan, di bagian paruh terakhirlah film ini bekerja dengan baik. Kita bisa merasakan stake yang gede ketika satu hari sebelum manggung di konser tunggal akbarnya, suara Chrisye malah menghilang. Kita ikut gemetar ketika Chrisye tak sanggup untuk menyanyikan lagu tentang kebesaran Tuhan yang disadur dari terjemahan Surat Yasin ayat 65 Al-Qur’an. Karena setelah sekian banyak yang kita pelajari dari pribadi seorang Chrisye, kita jadi tau gimana dia ogah mendengar nyanyiannya sendiri, gimana dia nyari-nyari alesan untuk menunda melihat penampilannya di televisi, semua sisi emosional itu barulah benar-benar pecah saat film membahas kejadian di late on his career. Vino G Bastian yang sempat diragukan melangkah ke dalam sepatu seorang Chrisye, juga akhirnya mendeliver penampilan yang meyakinkan di porsi ini. Ketika dia diberikan kesempatan untuk menyanyikan lagu dengan suara sendiri,  Chrisye terbata sebelum akhirnya tak dapat menahan laju air mata, adegan tersebut sangat kuat menyentuh. Bahkan dari segi penampilan,  Vino jadi tampak mirip dengan Chrisye, apalagi di angle-angle dari depan ketika kepalanya sedikit merunduk.

Bayangkan jika satu-satunya hal yang bisa kau lakukan, ternyata tidak cukup untuk membahagiakan orang yang kau cintai. Chrisye malahan sampai merasa amat bersalah karena sudah memilih menjadi musikus – dia jadi meragukan potensinya, the only things he’s good at. Ini lebih dari sekadar depresi. Ini adalah perasaan gagal, tak berguna, ketakberdayaan, yang menggumpal menjadi satu. Menjadi penyakit yang merundung Chrisye.

 

Tapinya lagi, film tidak menyoroti Chrisye sebagai penyanyi sebanyak itu. We do get perjuangan Chrisye bertahan sebagai seorang musikus, tetapi fokus film sesungguhnya terletak kepada menyajikan Chrisye sebagai seorang pria, seorang ayah, seorang manusia. Salah satu aspek cerita yang mendapat build up yang cukup banyak dan menarik adalah soal beda agama. Kita melihat suara Adzan mempengaruhi pilihan Chrisye, dan later juga menambah banyak bobot buat elemen Chrisye dengan musiknya. Kalo boleh menekankan, aku akan bilang sekali lagi film ini bekerja terbaik begitu dia memperlihatkan tentang Chrisye dan perjuangannya dalam musik. Namun, alih-alih itu, film memperlihatkan aspek-aspek yang lain yang datang dan pergi begitu saja.

Hubungan yang terjalin antara Chrisye dengan Damayanti mengambil posisi utama pada paruh pertama. Yang gak sepenuhnya menarik dan ingin kita ketahui. Dan film ini sendiri pun sepertinya aware dengan hal tersebut. Buktinya, film banyak mengambil waktu untuk membuat kita melihat bagaimana mereka bertemu, kemudian pacaran, dan kemudian ketika menunjukkan bagian romantis, bagian kedekatan mereka, film menceritakan lewat montase, seolah ingin segera cepat sampai ke bagian yang lebih serius. Dialog di bagian awal-awal ini pun ala kadarnya. Ada begitu banyak kejadian, film terus melompat-lompat periode waktu, sehingga membuat kita susah untuk pegangan. Tidak ada yang bisa dicengkeram pada bagian-bagian awal ini. Tidak ada stake yang kerasa. Aku benar-benar susah untuk peduli sehingga sebagian besar waktu itu aku jadi lebih tertarik kepada penampilan-penampilan kejutan dari tokoh dunia musik lain yang hadir di cerita.

“Sejak lihat babak pertama, ku langsung ilang rasa
Walau ku tahu c’rita ada personalnya
Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani
Ku tak dapat ngerasain, gejolak cinta ini.

Maka, izinkanlah aku mengritisimu
Atau bolehkan aku sekedar jujur padamu~”

 

Film berkelit dari banyak potensi konflik. Itulah yang membuat bagian awal tampak mudah tanpa ada kejadian yang menarik. Halangan bermain musik dari ayahnya, tergugurkan oleh mimpi. Kita gak dikasih liat reperkusi dari pindahnya Chrisye menjadi penyanyi solo, bagaimana dengan bandnya, gimana dia keluar, film melompati ini di saat yang bersamaan dengan mereka melompati periode waktu. Ketika dia pindah agama juga mulus-mulus saja. Semua seperti terhampar begitu saja, dan di sinilah letak susahnya mengritik film dari kisah nyata. Karena mungkin memang di kenyataannya enggak ada masalah yang Chrisye hadapi sehubungan dengan poin-poin tadi. Toh film harus dibuat tetap menarik, jika memang harus sama, pertanyaannya adalah kenapa memasukkan bagian yang tidak menarik, yang tidak berkonflik? Padahal kan film menarik karena kit amelihat benturan antara manusia dengan konflik.

bayangkan betapa leganya Chrisye setelah dua kali setiap dia ngangkat telepon, ada yang mati.

 

Bagus mereka memasukkan detil kecil Chrisye suka merapikan selimut untuk orang yang sedang tertidur karena kebiasaan tersebut menambah suatu aspek terhadap karakternya. Tapi dalam film ini, repetisi lain pada beberapa adegan terasa annoying karena gak berujung apa-apa. Gak ada faedahnya. Kita mendengar “Amerika!” disebut-sebut dengan antusias berlebih berulang-ulang seolah film ini banyak bertempat di sana, namun enggak. Jadi, kenapa?  Kelemahan ini berasal dari penulisan dialog yang acap terdengar ala kadarnya. Bincang-bincang pasangan di diskotik hanya “turun, yuk” yang membuat adegan tersebut semakin tidak penting. Dan saking berulangnya adegan orang yang tertidur, aku yakin kalo aku menoleh ke samping, orang di sebelahku juga sudah ngorok kayak orang-orang di film ini yang begitu meleng sedikit, begitu mereka ngeliat temannya lagi, teman tersebut sudah pulas.

 

 

 

Bukannya aku mau menodai kenangan personal seorang istri terhadap almarhum suami, karena alur film ini adalah bagaimana kenangan Damayanti terhadap Chrisye, namun sesungguhnya tidak semua bagian kehidupan bisa ditranslasikan dengan menarik sebagai bahasa film. Ataupun tidak semuanya benar-benar perlu. Film ini sayangnya, bukan hanya memasukkan banyak, malah mereka ngeskip bagian yang potensial menarik dan lebih penting untuk ditampakkan. Dengan set piece yang detil, film ini adalah biografi yang membuktikan betapa Chrisye adalah sosok tak tergantikan, terutama di mata istrinya, dan ini terlihat dari suara nyanyian asli dari Chrisye yang dilip-sync. However, erita baru bekerja dengan benar-benar baik saat dia tiba di satu bagian tertentu. Selebihnya, benar ini seperti kenangan yang terpotong-potong. Tidak pernah mengalir dengan baik. Dan itu bukan bentuk yang menyenangkan dalam menikmati perjalanan film.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for CHRISYE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

STRONGER Review

“Trauma creates change you don’t choose.”

 

 

Tau gak kenapa acara Oprah itu terkenal banget, banyak orang-orang yang nonton padahal cerita yang dihadirkan oleh para narasumber di acara tersebut bukan cerita komedi, justru kisah yang menguras air mata? Karena sebagai manusia, kita suka mendengar cerita sedih nan pilu. Acara talkshow di tv lokal pun banyak yang kayak gitu, kita menonton orang menceritakan kembali trauma hidupnya, kita mendengar musik lembut di background, dan seketika kita menjadi terinspirasi. Menjadi semangat menjalani hidup dan segala ujiannya. Tapi pernahkah terpikir bahwa, untuk bisa duduk di sana, para narasumber sudah melewati suatu kerja keras yang sama sekali enggak inspiratif buat mereka sendiri. Narasumber itu adalah jiwa-jiwa yang berjuang dan menang mengalahkan trauma. Pelajarannya bukan terletak di trauma apa, kejadian besar apa yang berhasil mereka survive darinya. Kita harusnya melihat lebih jauh dari “Tuh, orang cacat aja giat bekerja”. Melainkan adalah bagaimana mereka berjuang untuk menjalin hubungan dengan orang-orang terdekat yang turut terguncang oleh peristiwa yang menimpa; bagaimana mereka berjuang untuk dapat hidup normal.

Jeff Bauman tidak mengerti di mana letak keren yang disebut oleh ibunya ketika dia mencoba berdiri dengan bantuan dua kaki mekanik. Lantaran dia sama sekali tidak merasa keren. Yang ada, dia malah kesakitan dan kelelahan. Jeff adalah korban peristiwa pengeboman acara marathon di Boston tahun 2013 lalu. Cowok dua-puluh-delapan tahun itu selamat, meski kedua kakinya harus diamputasi. Film ini memang diangkat dari kisah nyata Jeff yang hidupnya berubah setelah peristiwa tragis tersebut. Dia harus belajar menyesuaikan diri, begitu juga dengan manusia di sekitarnya; keluarga, teman, pacar, karena sekarang public menganggap Jeff sebagai pahlawan. Orang-orang akan datang sekadar berjabat tangan, atau meminta foto bareng, bahkan ada polisi yang urung menilang dirinya karena “hey, kau si Jeff Bauman yang itu rupanya!”. Dan perlakuan ini membuat Jeff gak nyaman. Yang dia lakukan hanya berdiri di sana, di tempat dan waktu yang salah sehingga kakinya buntung, dan mendadak orang-orang jadi mengelu-elukan dirinya. Jeff bingung, kenapa semua orang ‘mengasihani’ dirinya seperti begini? Apa sih makna “Boston Strong” yang dicamkan orang kepada dirinya?

cue lagu You Raise Me Up

 

Trauma enggak inspirational buat mereka yang mengalaminya. Malah lebih sebagai kerja keras yang memakan harapan sedikit demi sedikit, jika dihadapi sendiri. Perjuangan pasca trauma sangat bergantung kepada hubungan dengan kerabat dan orang tercinta di sekitar. Oleh karena itu, maka sesungguhnya ini adalah proses yang relasional. Kita harus belajar untuk saling berbagi. Dengar cerita inspirasional kehidupan orang lain, thank them as they say thanks to you. Jeff menemukan dirinya menjadi lebih kuat dari saling sharing. Kita tidak bisa berdiri dengan hanya satu atau tanpa kaki, toh.

 

Aku benar-benar gak nyangka aku tersentuh juga oleh aspek emosional film ini. Ceritanya sangat gut-wrenching. Sutradara David Gordon Green paham bahwa drama inspirasional bukan semata soal rintangan’luar’ yang harus dihadapi oleh tokohnya. Film ini juga membahas perjuangan internal yang membuat karakternya benar-benar bersinar. Oleh Green, bagaimana pun juga, kedua aspek ini berusaha ditangani dengan seimbang. Kekuatan arahannya terletak pada perspektif. Film ini membuat semua emosi sungguh-sungguh on point.

Ada banyak shot dan adegan yang membuat hatiku berasa ditarik-tarik. Kala pertama kali perban di kaki Jeff diganti oleh dokter misalnya, kita melihat gambar blur kedua paha Jeff di tengah layar, dibingkai oleh wajah Jeff dan wajah pacarnya – kita melihat seperti itu karena Jeff tidak berani melihat kakinya, dia lebih memilih untuk menatap mata si pacar. Atau juga pergerakan kamera yang berputar-putar mewakili perasaan Jeff di lokasi pengeboman beberapa menit setelah ledakan. Ekspresi para pemain tentu saja juga berperan besar. Di adegan Jeff disuruh jadi pembawa bendera di pertandingan football, kita bisa merasakan langsung kebingungan dan juga kemarahan perlahan merayap di wajah Jeff, buatku, ini adalah salah satu adegan yang paling gak-nyaman untuk dilihat sepanjang durasi. Dia gak tahan melihat orang-orang menatapnya seperti itu.

Saking mulusnya arahan, beberapa adegan film ini tampak kayak disyut secara spontan. Bergulir terjadi begitu saja. Bahkan para pemain ekstra pun, orang-orang yang minta foto sama Jeff, dokter dan para perawat rumah sakit, gak kelihatan kayak aktor yang dibayar. Reaksi mereka totally kayak regular people. Keluarga Jeff udah kayak interaksi sekumpulan orang-orang yang gede bareng, yang udah paham baik-buruk masing-masing. Alhasil, kita mantenginnya udah kayak  nontonin momen emosional beneran. Namun tentu saja, ujung tombak keberhasilan film ini adalah Jake Gyllenhaal yang bermain sebagai Jeff dan pacarnya, Erin, yang dimainkan dengan sama fantastisnya oleh Tatiana Maslany. Penampilan Jake di sini begitu luar biasa, dia terasa sangat nyata, orang ini enggak terasa kayak lagi berakting sebagai orang lain. Sosok Jeff benar-benar udah kayak mendarah daging pada dirinya. Setiap emosi yang dicurahkan, meski memang didesain untuk bikin sedih, tapi enggak lantas tampil over oleh Gyllenhaal.

Hubungan Jeff dengan Erin actually adalah salah satu aspek yang paling menyentuh yag dieksplorasi oleh cerita. Aku suka gimana kita bisa melihat dari dua sudut pandang sehingga bisa betul-betul paham internal drama mereka berdua. Sebelum tragedi bom tersebut, Jeff dan Erin sudah lama putus-nyambung. Jeff tidak pernah ada di sana setiap Erin butuhkan. Erin kesel ama sikap Jeff yang kayak anak-anak, dia curhat ke temennya bahwa mereka pacaran di rumah Jeff melulu. Ledakan bom sekalinya Jeff menepati omongannya untuk menunggu di garis finish, tak pelak menyatukan kedua manusia ini kembali. Bayangkan ada seseorang yang terluka hingga nyaris meninggal dalam usahanya membuktikan cinta kepadamu. Itulah yang dirasakan oleh Erin. Dia begitu concern sama Jeff, sehingga dia tidak lagi mempedulikan kans mereka pacaran di luar semakin kecil dengan kondisi Jeff yang sekarang. Hidup menjadi susah bagi Jeff, dia butuh banyak bantuan, dan setelah ‘asap bom’ tragedi itu menipis, mereka berdua kembali ribut. It’s just so powerful melihat kedua orang ini berusaha rekonek di tengah-tengah tragedi yang mengerikan.

kata orang sih, pertengkaran itu bumbu-bumbu cinta

 

Trauma membuat perubahan di dalam hidup yang tidak bisa kita pilih. Tetapi kita bisa memilih perubahan apa yang bakal kita lakukan sehubungan dengan langkah yang diambil untuk menyembuhkan trauma tersebut.

 

Selalu rada susah untuk mengulas film yang berdasarkan kepada kejadian dunia nyata, karena film-film seperti ini biasanya tidak completely ngikutin struktur naratif film sebagaimana mestinya. Mereka ingin menunjukkan peristiwa, dari awal hingga aftermathnya, dan cerita akan mengalir di luar aturan sekuens-sekuens film. Susah untuk enggak kedengaran terlalu kritikal soal ini, namun penuturan Stronger memang bisa terlihat sedikit berantakan. Kita sekonyong-konyong dapat adegan dia berenang, montage dia latihan menguatkan paha, dan sebagainya, yang gak really bermain dengan baik dengan format narasi tradisional.

 

 

Mengambil sudut pandang yang serius tentang trauma yang dialami seseorang dapat bertindak sebagai simbol harapan bagi orang lain. Ini adalah film inspirasional hebat yang menguar oleh emosi. Dan memang ada beberapa klise drama yang tak dihindari, penceritaan yang sedikit berantakan, namun penampilan akting yang fantastis dan arahan yang luar biasa membuat film ini benar-benar seperti kita melihat sekuens kehidupan nyata.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for STRONGER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

MATA BATIN Review

“Faith is believing without seeing.”

 

 

Menunggangi arus animo horor yang lagi tinggi-tingginya, Hitmaker Studios menyumbangkan satu film hantu lagi di tahun ini. Dan dengan Mata Batin, mereka tampaknya benar-benar sudah menemukan jalan sebagai pencetak horor-horor cult di era kekinian.

Mata Batin hadir dengan perwujudan cerita horor yang sangat main fisik di mana adegan slasher jadi nada tertinggi. Film menerapkan formula yang sama dengan yang mereka eksperimenkan di The Doll (2016) dan diestablish lagi di The Doll 2 (2017) Aku sangat surprise saat menonton The Doll 2, film itu seoah terbagi menjadi bagian psikologikal drama dan bagian bunuh-bunuhan, dan kedua bagian tersebut bekerja dengan baik. Pada Mata Batin ini, sutradara Rocky Soraya kembali menekankan kepada drama keluarga, tentu saja dengan twist demi twist yang membawa cerita berkelok ke arah yang berdarah. Nilai minus yang kuberikan kepada The Doll 2 datang dari penggunaan trope-trope horor yang actually menjadi beban dalam penceritaan, dan aku berharap mereka mengurangi trope-trope ini di film selanjutnya. Sayangnya, hal tersebut juga termasuk yang mereka pertahankan dalam film Mata Batin.

But actually, Mata Batin ini adalah salah satu film yang rada susye buatku untuk diulas.  Aku menemukan film ini sebagai tontonan yang sangat mixed dari segi penilaian. Aku menikmati filmnya, namun sekaligus aku juga kecewa. Ceritanya punya elemen horor yang bagus, mereka tahu apa yang harus digali, akan tetapi produk akhir yang kita saksikan ini, aku merasa berdosa kalo mengatakannya sebagai salah satu horor terbaik Indonesia tahun ini. Because it is not. Ada banyak poin lemah yang dipunya oleh film ini, tetapi mereka berusaha memainkannya sebagai nilai lebih, tapinya lagi usaha tersebut tidak benar-benar berhasil. Ini adalah jenis film yang bisa berdampak lebih besar jika mereka ngeubah arahannya sedikit atau jika mereka mengambil langkah yang sedikit lebih berbeda.

Indera Keenam semua memanggilku, Mata Ketiga itulah dirikuu

 

Babak satunya adalah yang paling lemah. Di luar sepuluh menit pertama yang digunakan untuk melandaskan pengertian bahwa film ini tak sungkan untuk menjadi sedikit sadis – kita melihat anak kecil dilukai, basically tidak ada kejadian menarik di babak ini. Mata Batin hanyalah cerita lain tentang seorang anak yang bisa melihat hantu, tetapi gak ada orang dewasa yang percaya sama dia. Kalo kalian tumbuh dengan baca Goosebumps dan banyak nonton film horor, trope begini jelas akan terasa sangat usang yang makin lama-makin gak masuk akal. I mean, c’mon, ada berapa anak kecil sih di dunia ini yang ngeliat hantu dan bukannya lari malah mandangin si hantu? Si anak kecil, Abel (Bianca Hello tidak diberikan banyak range emosi selain takut dan bingung), menjadi begitu ketakutan, dia menutup diri dengan memakai headphone dan sendirian di kamarnya. Setelah mereka dewasa, kakak Abel, si Alia (Nah Jessica Mila nih di sini yang dikasih kesempatan untuk main total) harus kembali ke Indonesia. Orangtua mereka meninggal dalam kecelakaan sehingga Alia lah yang mengurus Abel di rumah masa kecil mereka yang gede dan yang udah melukai Abel secara fisik dan mental.

Alih-alih mengeksplorasi tentang usaha Alia taking care Abel sehingga dia bisa hidup normal, film mengambil langkah tak terduga, menaikkan stake, menjadikan ini sebagai cerita tentang orang-orang bermata batin, yang bisa melihat hantu, yang berusaha hidup tenang di rumah mereka sendiri. Konflik utama lapisan terluar film ini adalah Abel dan Alia yang diganggu oleh hantu-hantu penasaran yang menempati rumah mereka. Mereka harus membantu hantu-hantu tersebut memecahkan misteri kematian, dan kemudian cerita berkembang menjadi seperti Insidious yang digabungkan dengan wahana rumah hantu.

Jika biasanya kita harus melihat dulu baru bisa percaya, maka Mata Batin dengan ceritanya akan memperlihatkan bahwa kita bisa yakin kepada sesuatu hal tanpa harus melihatnya. Malahan, film ini menegaskan bahwa kita harus percaya dulu, sebelum bisa melihat dan peduli kepada keyakinan orang lain. Karena terkadang ‘pandangan’ kita sempit oleh hal-hal yang tidak mau kita mengerti.

 

Serius deh, di bagian awal, film ini datar banget. Alia bisa jadi adalah salah satu tokoh utama film yang ditulis dengan paling plin-plan. Karakternya ditulis sebagai cewek yang berani, namun kita melihat dia pulang ke rumah aja ditemani oleh cowoknya. Davin (tokohnya Denny Sumargo di sini udah kayak kerikil) benar-benar dibuat tak banyak berguna. Padahal mestinya twist bukan alasan untuk bikin karakter menjadi antara ada dan tiada seperti ini. Dia cuma ngekor aja, hanya ada di sana. Karena nampaknya Alia memang selalu butuh support.

Di ‘jaman now’, setiap karya pada vokal bicara tentang pemberdayaan dan kemandirian. Eh, Mata Batin membuat tokoh ceweknya terlihat lemah, dan anak-anak dicuekin gitu aja. Ada anak yang terluka karena orang tak dikenal, dan mereka gak menjual rumah tersebut adalah tanda bahwa gak ada yang peduli sama Abel. Dan Abel ini bukannya completely nutup diri, dia sempat open up dengan bilang dia diikuti orang di sekolah, dan Alia gak melakukan apa-apa sehubungan dengan pernyataan tersebut.  Kakak paling cuek sedunia deh pokoknya. Bayangin nih, Alia dan Abel  kakak beradik yang sudah lama tak bertemu, orangtua mereka baru saja meninggal,  mereka berdua lalu pulang ke rumah yang tidak mereka tempati lagi sejak kecil, dan sesampainya di rumah itu, Alia malah berkeliling dengan Davin. Abel ditinggal sendirian, mengeksplorasi rumah yang dihuni hantu berkain dan bersuara musik yang keras.

Kalo lagi gak ada Davin, Alia akan menggenggam botol cola.

 

Babak kedua barulah ada kejadian menarik. Buatku, di sinilah film memilih sebuah langkah yang sangat unexpected. Kepada paranormal yang tahu-segala tapi dilarang oleh naskah untuk mengambil aksi, Alia meminta mata batinnya dibuka supaya dia bisa langsung melihat sendiri apa yang sudah membuat adiknya ketakutan. Ada banyak adegan seram yang menurutku punya undertone kocak yang datang dari reaksi Alia melihat makhluk-makhluk gaib itu. Dia actually berinteraksi dengan mereka. Aku ngakak ketika di satu adegan Alia menelpon Abel, dia curhat panjang lebar tentang kejadian aneh yang baru saja ia alami, ada hantu yang baru saja ngobrol dengannya, dan Abel menanggapinya dengan “Kakak belum liat yang lainnya.” Singkat. Padat. Di momen itu konteksnya terasa seolah jawaban tersebut adalah jari tengah gede yang disodorin Abel kepada Alia yang selama ini gak percaya sama dirinya. Ini seperti Abel bilang “I told you” dengan pelampiasan hati haha. Alia ketakutan di rumah sakit – notabene sarangnya hantu – dan I was like “WRONG MOVE, gurl!” melihat dia lari ke dalam elevator. Dan kemudian dia naik mobil dan nabrak hantu. Dan hantunya malah melotot. Ada banyak nuansa lucu, namun film tidak menggubris mereka. Film memandang dirinya sendiri terlalu serius. Sehingga berbagai ‘kebegoan’ yang muncul menjadi flaw, dan pada akhirnya membuat film ini tidak terasa begitu berbeda dari horor-horor yang lain.

“Mbak, tolong, eyke sudah mati kok ditabrak lagi”

 

Film tetap membuatku tertarik, karena mereka memasukkan banyak aspek-aspek yang bikin kocak. Alat pendeteksi hantu itu, misalnya. Aku acungin jempol deh. Anak-anak geologi aja belum ada yang kepikiran loh menjadikan kompas sebagai radar setan, biasanya kami hanya ngeplesetin alat itu jadi tempat bedak masker doang. Mata Batin memang berusaha melihat trope-trope horor dari sudut yang lain. Daripada bikin bandul yang lebih simpel, mereka menggunakan kompas. Daripada pake lagu Boneka Abdi, mereka sekarang pakai lagu Naik Kereta Api yang gak ada seram-seramnya sama sekali sebagai lagu hantu. Itu juga liriknya salah! Ahahaha aku gak tau kenapa si hantu nyanyinya “tut..tut..tuuutt… siapa hendak turun”. Mestinya lirik yang benar kan “turut” ya, I mean, apa gunanya bikin lagu tentang kereta api kalo liriknya malah nyuruh orang turun.

 

 

Dijamin ngakak deh, nonton film ini. Jika diarahkan sehingga bisa jadi modern cult classic, film ini sudah berada di jalan yang benar. Seharusnya mereka mengembrace adegan-adegan konyol yang hadir unintentionally tersebut supaya di masa depan akan ada banyak orang yang berkumpul untuk nonton ini dan tertawa-tawa having fun bersama. Karena jika dilihat dari tone yang serius, film ini terlalu banyak cela untuk bisa digolongkan sebagai film bagus. Walaupun memang dia punya cerita yang cukup menyentuh dan berani mengeksplorasi hubungan kakak dan adik bersaudari. Ada perbincangan tentang melepas orang yang kita cintai. Pun sebagai horor, film ini juga di level so-so. Masih bisa ditonton, tetapi tidak banyak berbeda dengan horor kebanyakan yang lantang dan ngagetin. Formula gore dan kesurupan yang mereka lakukan menarik, namun tanpa inovasi dengan cepat menjadi basi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MATA BATIN.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

COCO Review

“Always forgive, but never forget.”

 

 

Seandainya Pixar adalah mutant, maka kekuatan supernya pasti adalah kemampuan untuk membuat kita menangis. Menit-menit terakhir film Coco, aku serasa berada di rumah duka beneran. Studio penuh oleh suara sengau yang mengomentari cerita. Sekelilingku penuh oleh penonton yang bahunya naik turun, menahan isak tangis. Semua orang begitu terpengaruh oleh apa yang mereka saksikan, lantaran film ini benar-benar memanfaatkan waktu demi ngebangun  cerita tentang passion dan keluarga yang sungguh luar biasa. Coco adalah CERITA YANG AMAT SANGAT KAYA. Oleh tema, oleh budaya, oleh backstory para tokoh, sehingga begitu menontonnya kita seolah melangkah ke dalam suatu kehidupan yang sedang berlangsung. Dan hal tersebutlah, film ini seperti dunia yang bahkan sudah bekerja sebelum kita mengintipnya, yang merupakan salah satu aspek terhebat dalam film Coco.

Ceritanya tentang anak cowok bernama Miguel yang pengen banget menjadi musikus. Dia ingin mencipta lagu, dia ingin bernyanyi, dia ingin seperti tokoh idolanya, Ernesto de la Cruz yang sudah melegenda di Mexico. Miguel punya tempat persembunyian khusus yang ia dedikasikan untuk de la Cruz. Di tempat itu, Miguel diam-diam otodidak belajar main gitar dari menonton video-video lama Cruz. Miguel sembunyi-sembunyi begitu lantaran musik adalah hal yang dilarang dibicarakan di bawah atap keluarga. Semua sanak Miguel bekerja sebagai pembuat sepatu, dan Miguel diharapkan untuk mengikuti tradisi keluarga. Tidak boleh ada musik, jangan sampai Miguel berkelakuan serupa dengan kakek buyutnya yang meninggalkan nenek Coco demi karir. Keinginan Miguel makin tak terbendung di perayaan Hari Orang Mati, dia mencuri gitar di makam de la Cruz, yang kemudian membuatnya terdampar di dunia orang mati. Untuk bisa keluar, Miguel harus meminta restu dari keluarganya yang sudah mati, sembari mencari cara gimana supaya dia bisa tetap menekuni musik tanpa melukai hati saudara-saudara yang lain, terutama orangtua dan neneknya.

Nenek Coco kecilnya mirip Alessia Cara

 

Kekuatan spesial kedua kalo Pixar sebagai mutant adalah membuat  animasi senyata foto sebagai sesuatu hal yang klise untuk disebutin di dalam review. Detil-detil gambar pada Coco gila banget detilnya. Gerakan animasinya mulus. Shot-shot kota, jalanan, udah kayak foto beneran dan mereka seolah menyelipkan tokoh animasi ke dalamnya. Pemandangan dan festivenya dunia kematian dan perayaan di dalamnya sangat meriah sehingga walaupun bicara tentang dunia orang mati, tema ceritanya juga sebenarnya cukup kelam (kita akan bicarain ini di bawah), tapi film ini merekamnya dalam penampakan yang berwarna. Ini adalah film emosional menyentuh hari yang ceria. Dan aku belum ngomongin soal musiknya loh. Menakjubkan deh. Permainan gitar, nyanyiannya, semua terdengar begitu cantik.

Ada apa sih dengan Mexico dan Kematian? Dia de los Muertos adalah hari raya di Meksiko untuk mengenang orang yang sudah tiada. Pada hari itu dipercaya leluhur yang sudah meninggal akan mendatangi rumah kerabat yang masih hidup, selama mereka masih diingat. Hal tersebut dijadikan stake dalam film ini, salah satu tokoh membantu Miguel kembali ke dunia karena dia ingin Miguel segera memasang fotonya di rumah, supaya keluarganya ingat dan si tokoh tidak menghilang. Orang yang sudah mati tidak akan benar-benar pergi, sampai tidak ada lagi yang mengenang mereka. Kenangan kita atas merekalah yang membuat orang yang kita cintai bisa tetap hidup, walaupun umur mereka sudah lama habis.

 

Coco punya cerita yang kaya, punya tokoh yang bisa dengan mudah kita apresiasi. Aku bisa melihat film ini lebih disukai oleh orang dewasa, meski tidak tertutup kemungkinan ada anak kecil yang bisa melihat ke balik nyanyian dan tengkorak-tengkorak yang bertingkah lucu itu. Buatku, aku hanya sebatas menikmati, karena apa yang ditawarkan oleh cerita Coco sudah kelewat familiar bagiku. I do feel related to it, aku tahu persis gimana punya kerjaan yang gak disetujui orangtua. Namun cerita cantik dengan pesan yang amat menyentuh  film ini enggak terasa terlalu menyelimutiku karena ini hanya satu lagi cerita tentang anak muda yang ingin melakukan sesuatu di hidupnya tapi keluarga ingin dia melakukan hal lain sehingga dia kudu menemukan jalan tengah untuk menyenangkan keluarga sembari menjawab panggilan hatinya. Premis dasar tersebut, begitu juga dengan elemen anak sampai ke dunia lain dan belajar tentang hidup adalah hal-hal yang udah lumayan sering kita lihat dieksplorasi dalam film.

Belum lama ini, di tahun 2014  ada animasi berjudul The Book of Life yang bukan hanya punya tema cerita yang sama, settingnya juga mirip dengan film Coco. Akan tetapi, seperti halnya Antz buatan Dreamworks dengan A Bug’s Life nya Pixar yang keluar nyaris berbarengan di tahun 1998, kesamaan antara Coco dengan The Book of Life enggak semata kayak Pixar totally nyontek. Kedua film ini punya lapisan luar cerita yang sangat berbeda. The Book of Life yang bercerita tentang anak dari keluarga matador yang ingin main musik, namun dilarang, dan dia juga terdampar di Dunia Kematian mengambil aspek cinta segitiga untuk menekankan soal pencarian passion. Kalo seperti aku, kalian suka sama The Book of Life, maka kalian pasti akan teringat sama film ini ketika menonton Coco. Tapinya lagi, Coco bisa jadi adalah film yang kalian inginkan ketika kurang puas menonton The Book of Life. Karena pada film Coco, fokus tentang warisan keluarga, gimana usaha konek dengan keluarga itu, diceritakan dengan lebih terarah.

Dunia Kematian itu begitu semarak sehingga kita jadi gak sabar untuk mati. Eh?

 

Di balik limpahan musik dan budaya itu, kalo kita pikir-pikir, sesungguhnya ada implikasi kelam yang cukup mengerikan yang dapat kita petik dari Coco. Film ini antara lain bicara tentang mengabadikan diri lewat seni. Dengan karya, dengan kita menciptakan sesuatu, orang akan terus membicarakan kita. Ernesto de la Cruz hidup bak dewa  di dunia kematian karena lagunya begitu terkenal. Orang-orang terkenal berpesta pora di sana. Aspek kelam yang kumaksud adalah, tidak ada konsep baik-buruk di sini. Tidak peduli apa yang kita lakukan, entah karya seni ciptaan kita nyolong punya orang lain, entah kita pernah bersikap brengsek ke orang lain, dalam film ini kita masih akan hidup senang di tempat yang layaknya surga selama foto kita masih dipajang, nama kita masih disebut oleh kerabat atau orang yang masih hidup.

Dalam film ini, kita melihat ada tokoh yang baik, ia sebagai tengkorak benar-benar mati, sendirian di ranjang gantungnya, karena dia tidak punya apa-apa yang bisa membuatnya diingat orang.  Ini mencerminkan bahwa orang-orang biasa, yang hidup sebagai orang baik tapi gak nyiptain apa-apa, yang gak melakukan sesuatu yang membuat mereka tertulis di buku sejarah, hanya akan menunggu waktu mati itu datang lagi. Kebaikan enggak diingat orang. Hanya menjadi terkenal yang abadi. Tentu saja, di masa di mana satu video viral di youtube bisa bikin orang jadi sukses, implikasi pesan tersebut dapat menjadi bumerang sebab membuat terkenal, punya banyak fans, menjadi prioritas hidup nomor satu bagi anak kecil alih-alih ngelakuin hal baik lain. Makanya, kita yang mesti bisa ngingetin ke adik-adik saat nonton ini bahwa diingat dan direstui keluargalah yang paling penting.

 

 

 

 

 

Ada cerita indah nan menyentuh yang bisa diapresiasi oleh anak-anak pada film ini. Ada banyak hal positif yang bisa kita ambil mengenai keluarga, mengenai jalan hidup yang kita pilih. Film ini juga kaya oleh unsur budaya. Tapi tentu saja, seperti mata uang, ada sisi kelam di balik pesona dan keceriaannya. As the story standpoint goes, aku enggak bisa bilang aku benar-benar tersedot penuh ke dalam ceritanya, meskipun relatable buatku. Film ini terasa sangat familiar, hingga aku tidak merasakan keunikan yang dia miliki. This is just another story, yang diceritakan dengan sangat baik, pengisi suaranya mantep, musiknya catchy, arahannya sangat ketat.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for COCO.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

 

NAURA DAN GENK JUARA Review

“There are more important things in life than winning or losing.”

 

 

Bikin film anak-anak itu enggak gampang. Terutama, karena orang dewasa pembuat filmnya sudah lupa gimana caranya menjadi anak-anak. Nanti dulu bicara soal karena susah mengatur dan mengarahkan mereka, kita yang udah gede ini udah lumayan susye untuk tidak menyepelekan anak kecil. Kita bersikap terlalu manis kepada mereka, dengan alasan menjaga hati. Kita bicara dengan mengecilkan mereka, we’re sugarcoated everything for them, karena kita menganggap mereka tidak mengerti. Padahal kalo diingat-ingat lagi, sewaktu kecil kita justru paling keki kalo dianggap ‘anak ingusan’ sama orangtua.

Tidak ada penghargaan yang lebih besar buat anak kecil ketika mereka diperlakukan setara dengan orang dewasa, ketika mereka dipercaya untuk bertindak dan menyelesaikan masalah sendiri. Film Naura dan Genk Juara berusaha untuk memahami itu.

Para tokoh cilik film ini diberikan kesempatan untuk ‘menang’ di atas orang dewasa yang meremehkan mereka, bekerja sama memecahkan masalah sebelum orangtua menyadari, dan mereka melakukan semua itu dengan bersenang hati. Mereka nari dan bernyanyi!

 

Film ini ringan dan benar-benar menekankan kepada pentingnya persahabatan. Ceritanya dapat menginspirasi anak-anak. Naura berhasil menjadi ketua rombongan sekolah mereka di acara Kemah Kreatif. Ya, di film ini kita akan melihat anak-anak menggunakan teknologi untuk kegiatan yang kreatif dan positif. Karena pengalaman dan sifat memimpinnya, Naura kepilih walaupun proyek GPS pelacak binatang yang ia rancang masih kalah poin dari drone si Bimo . Peristiwa tersebut sempat menimbulkan tensi di antara mereka, membuat sekolah mereka agak tertinggal dari sekolah lain di perkemahan. Sebuah peristiwa penculikan hewan-hewan di penangkaran perkemahanlah yang membuat Naura dan Bimo dan Kipli dan teman-teman lain  bersatu. Mereka mengusut misteri sindikat penculikan, yang juga menyulik salah satu teman sekelas Naura, dan eventually anak-anak ini harus menggagalkan aksi pencuri sendirian, sebab para ranger pengawas sudah dikecoh oleh para penjahat.

“Jaket? Kaos kaki? Baju? Obat?” well Papa sih gak nanyain celana panjang, ketinggalan deh punya Naura

 

Sedikit lebih berwarna, akan sulit bagi kita untuk tidak membanding-bandingkan film ini dengan Petualangan Sherina yang tayang tahun 2000 waktu aku masih unyu-unyu. Keduanya sama-sama musikal. Keduanya berlokasi di hutan. Keduanya punya tokoh utama anak cewek. Sherina dalam film itu adalah seorang murid baru yang dikerjain oleh anak laki-laki badung, Sherina ini mandiri, kita ngeliat dia sengaja nempelin bandage luka di badannya biar kayak jagoan. Petualangan Sherina arahan Riri Riza terasa meyakinkan dan menarik karena hal-hal kecil seperti itu; Sesuatu yang tidak dimiliki oleh film Naura dan Genk Juara. Naura, sebagai tokoh utama, ditulis sebagai karakter yang…. actually, aku agak bengong kalo ditanya Naura ini anaknya bagaimana. Dia ingin sekolahnya juara. Dia bisa bernyanyi dengan baik, dia bisa ngedance dengan keren. Dia anak baik, and that’s it. Kita tidak tahu apa kebiasaannya, tidak ada yang memberi petunjuk tentang siapa tokoh ini lebih dalem lagi. Dia jarang membuat pilihan, dia tidak diberikan konflik internal. Semua yang ia capai diberikan begitu saja kepadanya. Naura bahkan enggak ‘berjuang’ demi alatnya sendiri, yang berantem membelanya malah temen yang lain. Di babak terakhir pun, Naura tidak secara langsung ikut ‘berperang’ bareng anak-anak yang lain. Plot karakter Bimo justru yang lebih menarik, malah menurutku kita bisa bikin cerita anak yang sedikit lebih kelam jika mengeksplorasi Bimo sebagai tokoh utama.

Petualangan Sherina membuat tokoh Sherina berbeda dari tokoh lain dengan memberinya karakter, hobi, motivasi yang kuat. Sedangkan film Naura dan genk Juara membuat Naura stands out dari anak-anak yang lain dengan memberinya hotpants. Pilihan pakaian tersebut merupakan bukti kelemahan penulisan film ini.

Tidak ada gunanya juara, jika kita tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna lantaran kita sibuk memikirkan diri sendiri. Apa gunanya kita menang sendiri, sementara kemenangan tersebut tidak dishare bersama teman-teman. Atau lebih parah, tidak punya teman untuk dishare. Persahabatan adalah piala yang lebih berharga daripada piagam manapun di dunia.

 

Nilai lebih yang diberikan oleh sutradara Eugene Panji pada film ini adalah dia tidak ragu menghadirkan tokoh penjahat yang lebih menacing. Penjahat di sini enggak dibikin bego-bego amat. Mereka masih terlihat sebagai ancaman, dan kita melihat anak-anak itu benar-benar dibentak. Menurutku, ini adalah pilihan yang bagus karena biasanya tokoh penjahat di film anak, sepenuhnya dijadikan bagian komedi, sehingga stake dan bahaya itu enggak benar-benar terasa. Sekali lagi, karena kita biasanya memandang rendah kemampuan anak-anak, dalam hal ini mentalnya. Makanya banyak film anak yang punya masalah di tone cerita. However, film ini dengan elemen penjahat pun, tone-nya tetap berhasil tampil seimbang.

Lirik dan irama lagu-lagu dalam film ini catchy, gampang banget deh buat disukai. Tetapi, beberapa adegan musikal terasa terpisah dari narasi. Ada tokoh yang keluar-dari-karakter ketika bernyanyi. Tidak ada kesinambungan feel antara adegan nyanyi dengan adegan sesudahnya. Malah terkadang mereka bernyanyi gitu aja tanpa ada alasan, karena film enggak mampu merangkai adegan tersebut dengan baik ke dalam cerita. Sampai-sampai kita ngerasa ‘ini si Naura kerjaannya nyanyi doang sementara teman-teman di sekitarnya sibuk ngerakit alat-alat untuk proyek science.’ Kamera jadi tampak kebingungan antara ngesyut adegan anak-anak merakit atau Naura ngedance. Dan jadinya memang terlihat frantic banget. Apalagi di adegan opening di sekolah, editing film cepet banget berpindah dari anak-anak bikin percobaan ke adegan menari. Padahal menurutku, perlu juga dong memperlihatkan proses actual pembuatan percobaan-percobaan itu supaya anak-anak bisa tertarik untuk mencobanya di rumah, jadi bukan hanya nyobain narinya.

Satu lagi yang aku kurang sreg dari musikalnya adalah pemilihan lokasi. Serius deh, mereka syuting di hutan wisata, tapi nyanyi-nyanyi disyut di tempat yang itu –itu melulu. Ini bukan salah di kreativitas sih, menurutku, film hanya ingin tampil efisien – supaya syutingnya gampang or whatever. Yang jelas, film jadi sedikit membosankan.   Dan melihat banyaknya adegan iklan sisipan, sepertinya film ini punya sokongan dana yang enggak sedikit. Adegan pembukanya malah memperkenalkan kita dengan para tokoh lewat animasi tiga-dimensi yang halus. Actually, di menjelang babak ketiga kita bakal ngeliat satu lagi adegan animasi, kali ini kayak kartun klasik Jepang, yang aku gak paham entah apa maksudnya film memasukkan dua animasi dengan style yang berbeda.

ajarin kakak bikin hantu-hantuan dari asap dooongg

 

Aku sebenarnya gak suka membicarakan hal-hal lain di luar film, kayak gosip pemain, kehidupan pribadi si pembuat film, ataupun kontroversi seputar film. Karena ketika ngulas film, mestinya kita membicarakan tentang film itu thok! Apa yang bekerja pada unsur-unsurnya, apa yang tidak, mana yang kusuka, mana yang enggak sreg. Tapi mengenai film Naura ini banyak banget yang menanyakan, kita semua pasti sudah mendengar ada beberapa penonton yang enggak suka dengan penggambaran salah satu tokoh pada film ini, penggambaran yang dianggap melecehkan. Well, aku, bahkan pembuat filmnya pun sebenarnya enggak bisa berbuat apa-apa selain mungkin mereka menjelaskan dan menenangkan yang tersinggung. Ketika membuatnya, adalah langkah yang keren untuk membuat film terasa nyata oleh tokoh-tokohnya, tapi reaksi penonton tidak bisa dikendalikan sebab film adalah pengalaman personal.

Dan secara pribadi, dengan menonton langsung, aku tidak melihat hal-hal yang menyinggung dalam film ini. Malahan, di luar perkiraanku, film ini berhasil ngehindarin berbagai jebakan stereotipe, meski memang karakter-karakter yang ada berdimensi satu, di luar fungsinya sebagai pemantik komedi. Untuk kalimat istighfar dan takbir yang dipermasalahkan, aku menangkapnya bukan sebagai lelucon komentar budaya. Akan tetapi hanya sebatas seperti si tokoh kaget hingga latah, dan dalam latahnya itu ia mengucapkan Astaghfirullah. But still, mestinya kita-kita bisa mengambil tindakan positif. Gak musti langsung melarang orang menonton. Buat yang bikin pun, sepatah kata maaf juga sepertinya cukup untuk menenangkan. Karena seperti yang disampaikan cerita Naura – aku harus keluar dari karakter blog sebentar – tidak ada yang menang atau kalah kan di sini.

 

 

Buat yang susah nyari tontonan yang aman buat anak atau adiknya, film ini sangat bisa jadi pilihan tontonan keluarga. Anak-anak akan suka, sukur-sukur jadi kepancing untuk jadi ilmuwan nyiptain sesuatu yang berguna. Mereka bakal ingin seperti Naura yang jago nyanyi, tapi sebagian besar mungkin akan pengen terkenal seperti tokoh Naura yang diperankan oleh Adyla Rafa Naura Ayu. Karena tokoh film yang mereka ikuti di sini tidak benar-benar memberikan impresi dari sikapnya/ Dari wataknya. Penonton butuh tokoh yang bisa mereka cintai, bukan yang mereka sukai. Cinta itu datang dari tokoh yang terasa dekat, yang bercela seperti mereka. Film hanya tampil standar despite dirinya sangat dibutuhkan dalam scene perfilman tanah air yang kering hiburan untuk anak-anak.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for NAURA DAN GENK JUARA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

MARROWBONE Review

“Shame is the feeling of being something wrong.”

 

 

Ibu membuat garis di lantai rumah tua yang berdebu. “Cerita kita dimulai dari sini” katanya. Dengan mantap ia membimbing keempat anaknya melangkahi garis tersebut sebagai simbol mereka memulai hidup yang baru. Dengan mengganti nama keluarga menjadi Marrowbone, mereka wujudkan keinginan mereka untuk hidup terasing. Jauh dari masa lalu. Malahan rumah gede yang mereka tempati sekarang jauh dari mana-mana. Tetangga terdekat mereka di bukit depan, satu jembatan jaraknya. Namun tak lama, Ibu meninggal dunia. Tragedi masa lalu pun sampai pula mengejar Jack dan tiga orang adiknya. Marrowbone sesungguhnya adalah cerita menyedihkan tentang kakak beradik yang berusaha untuk hidup tenang, tetapi terus diteror oleh ‘hantu’. Rumah tangga mereka terbangun atas dasar trauma dan rahasia, sehingga kita bisa saja membuang elemen hantu dalam narasi dan tetap saja film ini akan terasa sangat pilu.

ah, move on dari kenangan tidak pernah segampang melangkahi garis di lantai

 

Aku perlu menegaskan bahwa meskipun kerja paling baik dari Marrowbone adalah ketika film ini mengeksplorasi elemen supranatural, sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan horor sebenar-benarnya film hantu saat menonton ini. Menulis skenario drama seperti ini jelas bukan masalah besar bagi Sergio G. Sanchez yang sebelumnya turut ikutan menulis The Orphanage (2007) yang punya tone serupa dengan film ini. Tapi Marrowbone juga adalah debutnya duduk di kursi sutradara. Ketika bermain-main dengan build up, dengan mengarahkan para karakter, membuat rumah besar itu menjadi penuh misteri dengan segala bunyi-bunyi, cermin-cermin yang ditutupi, noda-noda tak terjelaskan di langit-langit, Marrowbone terlihat sangat efektif. Kita bisa ikut merasakan atmosfer dan suasananya. Ada sensasi terkungkung, ketakutan di layar sana yang menarik kita masuk.

Yang membuat kita betah mengikuti adalah penampilan akting dari para pemain yang masih pada muda-muda. Tokoh utama kita adalah Jack, si anak tertua. Sepeninggal Ibu, dia menjadi kepala keluarga. George Mackay butuh mengerahkan usaha yang esktra sebab perannya ini enggak hanya diwajibkan untuk tampil tertutup serba berahasia. Namun sekaligus juga bingung, ia ingin memenuhi wasiat ibunya, ingin melindungi adik-adiknya, tapi dia tidak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi – pada dirinya, pada sekitarnya. Dia juga punya saingan cinta yang membuat tokoh ini lebih berwarna lagi, dan bahkan range emosi  semakin meluas ketika cerita sampai ke titik pengungkapan. Adik-adik Jack, sebaliknya, tidak diberikan kesempatan melakukan banyak. Mereka bersembunyi dari ayah dan dilarang keluar rumah oleh Jack demi keselamatan mereka. Mia Goth dan alumni Stranger Things Charlie Heaton memang agak disayangkan kebagian porsi yang sedikit, tapi mereka deliver apa-apa yang diminta oleh naskah dengan baik.

Sama seperti yang ia lakukan dalam The Witch (2016), Split (2017), dan Morgan (2016), Anya Taylor-Joy mencuri sorotan dan menjadi elemen terbaik yang dipunya oleh film. Di pertengahan film, perannya agak berkurang. Anya bermain sebagai Allie, tetangga terdekat sekaligus pacar dari Jack. Dia keluar-masuk cerita, barulah di babak terakhir perannya kebagian tindakan gede, Secara konstan penampilan Anya di sini baik sekali. Emosional, tokohnya enggak bego, tokohnya memang satu-satunya yang enggak menyimpan rahasia, dan dia bermain sama jujurnya – amat meyakinkan. Akan tetapi, serealistisnya penampilan Anya, dia tetap tidak mampu membuat keseluruhan film tampak menarik dan meyakinkan. Misteri-misteri yang dimasukkan tidak pernah menjadi misteri, maksudku mereka membingungkan oleh alasan yang lain. Kita tahu apa yang terjadi. Kita hanya tidak tahu apakah memasukkan elemen itu adalah keputusan yang tepat untuk film ini.

Keluarga Jack mengasingkan diri sebagai reaksi dari perlakuan kejam sang ayah, dan ironisnya mereka juga berusaha melarikan diri dari social shame. Mereka kehilangan self respect. Mereka menjadi lunak. Tapi untuk hidup, mereka harus kuat. Ditekan oleh banyak hal seperti ini, malu, takut, keinginan untuk bertahan, bisa dengan gampang merusak seseorang, jika ia menjalani hidupnya sendirian. Inilah yang disadari oleh Jack dan Allie di akhir cerita, bahwa seberapapun parahnya keadaan, mereka harus mengusahakan untuk tidak merasa sendirian.

 

sembunyi di balik kain transparan, kayak twist film ini

 

 

Susah untuk menceritakan garis besar Marrowbone tanpa membeberkan terlalu banyak poin yang semestinya dirahasiakan. Film ini adalah film yang tulang punggungnya ada pada twist, dan film ini paham twist yang baik adalah twist yang merupakan satu-satunya terusan yang logis buat cerita, bukan sekedar belokan tajam untuk mengecoh.  Beberapa film ragu memberikan petunjuk karena mereka menyangka twist yang bagus itu adalah yang tak-tertebak. Jadi pada kebanyakan film kita tau-tau dikejutkan oleh pengungkapan seperti siapa yang ternyata siapa, yang jahat ternyata si yang paling pendiam, atau semacamnya yang tak pernah dibuild up. Film ini tidak mempermasalahkan twistnya yang mudah tertebak. Sejak peluru pertama ditembakkan dan kita lompat ke enam bulan kemudian di sepuluh menitan pertama, aku yakin banyak di antara kita yang sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di bawah atap rumah Marrowbone. Film tetap pada track dan dia terus membangun suspens supaya ketika jawaban itu sudah di depan mata, kita dapat merasakan sensasi emosi yang gempita.

Gakpapa untuk sebuah film punya twist yang gampang ditebak, namun toh rasa malu itu tetap ada. Sama seperti kita yang sadar betul narsis itu udah lumrah, tapi kita kadang tetap merasa malu ngepost foto narsis sehingga kita memakai caption nyontek quote-nya Tere Liye supaya kita bisa jadi ada alasan bagus buat ngepost foto narsis. Trope-trope film lain, serta berbagai supplot serabutan, adalah laksana quote Tere Liye di foto selfie narsis bagi Marrowbone. Film ini melemparkan elemen cinta segitiga, rumah hantu, misteri pembunuhan, anak kecil yang paling peka sama yang goib-goib, ada juga blackmail soal duit, untuk menutupi twist yang sudah disiapkan. Dan tidak satupun yang tercampur dengan baik. Narasi menjadi amat berbelit. Mereka tidak membuat kita lupa terhadap twist, sama sekali tidak mengaburkannya, yang ada hanyalah elemen-elemen tersebut membuat film menjadi sesak dan tidak mencapai potensi suspens drama yang semestinya bisa dicapai.

 

 




Sejatinya ini adalah drama keluarga yang amat melankolis dengan dibayangi oleh lapisan supernatural. Mengeksplorasi tentang rasa bersalah, rasa malu, dan ketakutan. Punya tema, desain produksi, dan penampilan akting yang bakal menarik minat penggemar horor arthouse. Dibangun berdasarkan twist, membuat film ini pun ikut dilirik oleh penonton mainstream. Para aktor muda berusaha semampu mereka, sama seperti film ini berusaha sekuat tenaga untuk menutupi twist yang mereka tahu gampang ditebak. Jadinya, ada banyak elemen yang kita jumpai, yang hanya membuat plotnya convoluted. And it just doesn’t work. Banyak adegan yang kehilangan bobot karena kita gak sepenuhnya yakin itu hantu beneran, atau imajinasi, atau apakah mereka semua beneran ada di sana.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for MARROWBONE.

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.



MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK Review

“We share the blame.”

 

 

Ada dua hal yang bisa kita lakukan saat rumah kita kemalingan; pasrah, atau melawan. Sebenarnya ada satu lagi yakni minta tolong. Tetapi jika rumah kita letaknya di tengah-tengah entah di bagian mana Sumba seperti rumah Marlina, teriak minta tolong jelas bukan pilihan yang cerdas.

Rumah Marlina selayaknya adalah sistem yang rusak, karena dia tidak lagi punya suami. Tanpa anak. Marlina adalah istri, seorang wanita yang tidak punya lagi pria sebagai sosok pelindung. Film dengan segera mencengkeram kevulnerablean Marlina melalui tujuh pria yang datang menyatroni rumahnya. Merampok ternak. Memakan sup ayam masakannya. Dan kalo masih ada waktu, bergiliran menidurinya.  Tapi Marlina beruntung, karena sistem di rumahnya akan terestorasi berkat tindakan para pria tak-diundang tersebut. Marlina masih akan berfungsi sebagai wanita; tunduk dalam bayang-bayang lelaki. Toh, ada dua hal yang bisa dilakukan dalam sebuah sistem yang rusak; diem-diem aja sejauh mana bisa bertahan, atau bergerak untuk mengubahnya. Marlina memilih mengayunkan parang. Empat babak cerita ini adalah tentang Marlina si pembunuh dari Sumba yang menunggang kuda, menenteng kepala pria, di sepanjang jalan berbukit nan tandus.

Dengan sebagian besar waktu menampilkan pemandangan alam, film ini tampak SEPERTI FILM KOBOi. Musiknya membuatku pengen bertualang lagi di wilderness  game Wild Arms. Tapi jagoan utama film ini bukanlah pria berpistol. Marlina tidak menunggang kudanya ke balik matahari tenggelam. Ini adalah western gaya timur, yang dengan berani mendobrak pakem-pakem yang ada. Film ini tidak seperti yang lain. Serius deh, aku sampai merasa kasihan sama penonton yang masih berbondong ngantri nonton superhero – bahkan sampai rela mendongak di barisan depan, sementara mereka sebenarnya bisa lega-legaan menonton Marlina yang tayang satu hari sesudahnya, dan menikmati kecantikan dan keindahan cerita yang jarang didapat.

Oh, betapa mereka tidak tahu apa yang mereka lewatkan..

 

Setiap pilihan yang diambil oleh sutradara Mouly Surya adalah beneran pilihan beresiko yang terbayar dengan amat memuaskan. Marlina boleh saja membawa kepala orang ke mana-mana, namun sebenarnya yang melakukan heavy-lifting di sini adalah Marsha Timothy. Dia membawa keseluruhan film ini dengan sangat meyakinkan, emosi perannya begitu menguar lewat penampilan yang penuh oleh ekspresi-ekspresi terkepal penampilan. In fact, arahan Mouly berhasil membuat semua tokoh film ini kuat oleh karakter, mereka terasa nyata.  Novi, teman Marlina yang sedang hamil tua, juga diberikan arc cerita yang berakar pada kenyamanan istri yang ‘ikut’ suami. Dea Panendra juga enggak tanggung-tanggung menampilkan emosi. Novi tadinya ingin pergi mencari suaminya yang kesel lantaran anak mereka belum lahir-lahir. Dari cara Novi bercerita, kita tahu dia masih ingin memegang hubungan yang erat dengan suami, meskipun suami sudah menyalahkannya – menuduhnya ada main dengan pria lain. Ini adalah ciri orang yang playing the victim banget. Mereka bertahan karena ada orang yang bisa mereka salahkan.

Tapi film ini cukup bijak menangani tema yang ingin disinggungnya. Kaum lelaki diberi kesempatan untuk triumph secara kemanusiaan. Film tidak terjebak dalam perangkap sebagai korban. Tidak semua pria digambarkan arogan seperti Markus dan teman-temannya.

Ya, terkadang orang-orang kampung Sumba itu tampak aneh, mengingatkan kita kepada tokoh-tokoh di serial Twin Peaks. Film ini memang sesekali menampilkan adegan yang brutal; pemenggalan kepala actually terpampang tanpa tedeng aling-aling, tetapi film bekerja dengan sangat efektif  ketika dia tampil sebagai KOMEDI YANG BENAR-BENAR DARK. Kebanyakan komedi datang dari reaksi penduduk saat mereka bertemu dengan Marlina. Sekali lagi komentar tentang status gender terucap saat kita melihat para lelaki akan ketakutan, sementara para wanita tampak tidak terlalu mencemaskan. Aku beneran ngakak dan harus menutup mulut demi mendengar salah satu penumpang truk  menanyakan dengan kepedulian “Tidak capek tanganmu, Nona?”, alih-alih berteriak ketakutan ngeliat Marlina menodong supir truk yang ia bajak dengan parang.

 

Dunia yang nestapa menjadikan kita cenderung nyaman berperan sebagai korban. Saat kita menyalahkan orang lain atas kejadian yang menimpa, sebenarnya kita meminta untuk dikasihani.  Bahwa kita enggak salah. Yang salah orang lain, yang jahat adalah orang lain. Kita menggunakan istilah blaming the victim  untuk menuntut keadilan, akan tetapi justru mengukuhkan bahwa kita adalah victim, korban.

 

Jika ditelanjangi dari tema status gendernya, pesan soal menjadi korban atau enggak tersebut masih dapat kita rasakan keluar dari film. Ini bukan lagi sebatas gender mana yang jadi korban, karena kita melihat di bagian akhir cerita, peran ‘korban’ tersebut digulir begitu saja dari cewek ke cowok. Sedari awal, Marlina menuju kantor polisi bukan untuk mengaku telah membunuh orang. Kepala itu dia bawa bukan untuk ditunjukkan sebagai bukti. Dia melakukan perjalanan ke kantor polisi untuk mengadukan pelecehan yang ia alami. Marlina juga menolak mengaku dosanya ke gereja. Karena dia percaya dia enggak bersalah. Butuh tiga babak bagi Marlina untuk menyadari bahwa dia masih memposisikan dirinya sebagai korban. Ya, memang, walaupun digadangkan senang membantu rakyat, instansi pemerintah seperti polisi tidak pernah keliatan menyenangkan ataupun benar-benar membantu dengan segala tetek bengek birokrasinya. Film ini pun mengomentari soal tersebut saat Marlina duduk menceritakan tragedi ke yang berwenang.  Tapi Marlina tidak mendapat reaksi yang diinginkan. Malahan polisi justru tampak menyalahkannya, “kok enggak ngelawan?” polisi basically bilang gitu. Barulah ketika Babak keempat yang diberi judul ‘Kelahiran’, Marlina menyadari dia bisa duduk sebagai pengemudi.

nonton ini enaknya sambil makan sop ayam.

 

Bicara visual, ini adalah film yang sangat menawan. Pencahayaannya, wuiihhh, sama dengan Leonardo DiCaprio’s The Revenant (2016), film ini juga menggunakan cahaya-cahaya alami. Matahari, lampu petromaks, api tungku, menghasilkan gambar-gambar yang bergaung kuat oleh emosi cerita. Momen Marlina berpikir di dapur, dengan api tungku menciptakan riak-riak bayangan adalah salah satu momen favoritku di film ini. Wide shot pemandangan bukit-bukit alam itu dimanfaatkan lebih dari sebuah latar belakang. Kamera menangkap hal-hal indah adalah kerjaan sinematografer, dan kerjaan sutradaralah yang mengomandoi penggunaan dan penggabungannya. Semuanya disunting dengan sempurna, semuanya tergelar tidak dengan sia-sia. Tidak ada satu shot pun yang terasa salah tempat.

 

 

Desain produksi kelas atas. Film ini boleh berbangga sudah menciptakan varian genre baru dalam dunia sinema, karena dia memang pantas untuk berbangga. Pilihan musiknya, pilihan cara bercerita, film ini sangat berani. Ia begitu berbeda dari film-film Indonesia kebanyakan. Robbery – Journey – Confession – Birth adalah babak yang juga menjadi mantra bangkitnya kesadaran internal yang dialami oleh Marlina, juga Novi. Film ini membuka mata bahwa kebanyakan wanita hidup di antara berusaha melawan dan ngikut sistem, mereka melihat sampai kapan mereka mampu. Akan tetapi, adalah hal yang memungkinkan untuk menjadi lebih daripada itu. Bahwa wanita, juga pria, bisa mengambil aksi tanpa harus menyalahkan siapa-siapa. Bahwa setiap kita bisa menjadi tokoh utama dalam kehidupan sendiri.

Tonton ini sesegera mungkin begitu ketertarikan itu tiba, karena kita gak punya hak buat nyalahin bioskop kalo-kalo filmnya keburu turun sebelum kita sempat menonton.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.