RESIDENT EVIL: WELCOME TO RACCOON CITY Review

“Love brings you home”

 

Untuk urusan film adaptasi video game, kita para nerds bisa lebih ganas daripada zombie. Kita akan bergerombol memadati bioskop, lalu pulang dengan jalan terseok. Menggerutu. Mengerang. “Argghh apaan gak seru! Jauh banget ama video gamenya!!” Seri Resident Evil dari Paul W.S. Anderson secara konstan terus bigger and bigger sebagai ganti dari mengusung cerita original yang berbeda dengan seri gamenya. We hated those movies. Lebih mirip mindless action flick ketimbang survival horor. Jadi demi menjawab erangan fans dan kecintaannya sendiri terhadap franchise ini, seperti Claire Redfield di dalam cerita yang pulang ke kota asalnya, sutradara Johannes Roberts memulangkan kembali film Resident Evil. Dia mereboot seri film ini dengan mengeset cerita balik ke akar video game originalnya. Mencuatkan elemen survival horor. Membangun atmosfer kelam. Membuat suasana yang persis dengan game. Menghadirkan nama-nama yang sudah dikenal baik. Roberts benar-benar membuat sesuatu yang kita minta. Tapi aku keluar dari teater dengan tetap mengerang. Dia membuat semuanya sama dengan game, kecuali karakternya.

“WUARRRGGHHH!!!”

reidentcreepy-new-nightmare-trailer-for-resident-evil-welcome-to-raccoon-city
Welcome to Cringe City

 

Sekarang aku jadi kangen ama Alice dan Resident Evil-nya Anderson. Yea mereka gak bagus, tapi setidaknya ada energi di baliknya. Resident Evil: Welcome to Raccoon City ini mirip game, ceritanya lebih horor, tapi ternyata malah bland. Bahkan ledakannya aja terasa hampa. Semuanya sama dengan game yang udah dimainkan ternyata punya kelemahan tersendiri, yakni menjadikan jalan cerita tak lagi punya hook. Sehingga film harus bergantung kepada karakter-karakter. Dan pada mereka itulah, film ini tersungkur paling keras.

Roberts menggabungkan elemen cerita pada dua game pertama (Resident Evil dan Resident Evil 2) ke dalam seratus menit. Penonton yang punya nostalgia sama game-game tersebut bakal kesengsem berkaca-kaca saat melihat lokasi dan skenario yang udah dikenal, terhidupkan ke dalam film ini. Claire Redfield yang kembali ke Raccoon City untuk bertemunya abangnya, Chris. Sementara Chris – beserta rekan-rekannya – dikirim menyelidiki mansion di hutan. Rumah gede tempat tim yang dikirim sebelum mereka tidak mengirimkan kabar apa-apa. Claire menemukan ada yang gak beres di kota mereka. Penduduknya berubah menjadi beringas, ingin memakannya. Jadi Claire pergi ke kantor polisi. Di sana dia akan team up dengan Leon si polisi anak baru. Sampai akhirnya mereka menelusuri jejak Umbrella Corporation yang merupakan dalang dari zombie outbreak di kota.

Kalian tahu dong meme Leonardo DiCaprio yang duduk nunjuk layar (dari adegan film Once Upon a Time in Hollywood)? Yea, that’s us for the majority of this Resident Evil movie. Banyak adegan, maupun dialog, yang mereferensikan hal-hal populer dari gamenya. Seperti adegan zombie botak yang lagi makan berbalik pelan menghadap kamera, atau ketika ada adegan mecahin puzzle di piano, atau ketika term “Jill’s sandwich” diucapkan. Dan bukan hanya dari dua game itu saja, Roberts meluaskan librari nostalgianya kepada versi remake dan versi alternatif yang hadir di konsol game lain. Sebagai pembungkus dari semua itu, Roberts menggunakan atmosfer horor yang dicomotnya dari horor-horor 80an. Suasana ala horor John Carpenter, ditambah aksi survival dari zombie yang bisa muncul menyerang dari mana saja, film ini tampak sudah punya model atau formula yang oke sebagai sebuah sajian horor yang menghibur. Aku bisa membayangkan kalo penonton yang gak pernah main gamenya akan bisa lebih menikmati suasana menyeramkan dan misteri kota Raccoon. Terutama penonton horor mainstream, karena film ini memang juga memasukkan elemen horor yang seperti hantu-hantuan sebagai pengeset mood alias sebagai pembuka. Sementara penonton nerd yang main gamenya bakal lebih menikmati lewat sajian nostalgia, karena kita tahu seberapa tipis cerita, apa yang bakal terjadi di balik semuanya.

Resident Evil bicara tentang kota yang menjadi korban dari perusahaan yang tidak bertanggungjawab. Sekali lagi rakyat jadi tumbal bagi perbuatan orang kaya. Elemen lebih gelapnya menyangkut anak-anak turut dijadikan bahan percobaan. Dari konteks itu, berkembanglah berbagai game, film, yang terus lebih besar. Sehingga franchise ini butuh reset. Sayangnya, bahkan setelah direset dengan penuh passion dan cinta terhadap seri ini pun, Resident Evil ini gagal melihat apa yang seharusnya digali lebih dalam untuk membuat ceritanya jadi horor survival kemanusiaan yang sebenarnya.

 

Dengan segera penonton baru dan penonton nerd ini akan jadi akur. Alias ama-sama kehabisan hal menarik yang bisa dinikmati di sini. Sama-sama gak punya pegangan untuk bertahan. Cerita tipis – yang bahkan tidak benar-benar memenuhi fungsi sebagai prekuel karena tidak membahas mendalam soal perusahaan korup yang menjadikan satu kota sebagai tempat buangan limbah eksperimen yang dilakukan dengan tidak bertanggungjawab – juga tidak dibackup dengan karakterisasi yang menarik. Claire si karakter utama tidak banyak beban emosional. Motivasinya kembali ke kota yang ia benci (dan in a way, ia takuti) adalah untuk bertemu dengan abangnya, dan itu terpenuhi dengan cepat. Enggak ada tantangannya, enggak ada dramanya. Setelah itu, Claire hanya ada di sana untuk bereaksi dengan kejadian-kejadian, sembari terflashback ke masa kecil. Dia juga dibikin jago banget, beberapa kali menyelamatkan Leon yang entah kenapa dibikin sebagai total joke di sini. Dua karakter utama game Resident Evil 2 dikasih dinamika yang sangat basic dan boring, bahkan pemainnya tampak bosan memainkan karakter mereka. Dan Chris serta yang lainnya, just generic. Gak ada motivasi personal sama sekali. Cringe malah, karena cuma mencoba melawak dan menyumpah serapah saat keadaan menjadi mengerikan.

Perubahan karakter memang jadi sumber utama blandnya film ini. Aku akan menyebut hal yang tidak berani disebut banyak orang, terutama kritikus karena permasalahannya memang sensitif; mereka mengganti sosok karakter-karakter yang sudah kita kenal menjadi sama sekali berbeda. Jill, diganti dari blonde white girl, menjadi perempuan berkulit gelap berambut ikal. Leon, diganti jadi keluar dari stereotipe jagoan amerika. Pergantian itu apalagi kalo bukan supaya karakter film ini beragam. Supaya gak kulit putih semua. Sebenarnya bukan masalah digantinya, melainkan karena naskah tidak memberi mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka adalah karakter tersebut. Film hanya memparadekan nama mereka setiap kali ada dialog. Menyebut-nyebut nama walaupun kita udah tahu mereka itu siapa, seolah cuma nama itulah identitas mereka.

reidentevillcome-to-raccoon-city-terbaru-rilis-layar-id
All I see is bunch of NPCs saking kosongnya karakter mereka

 

Ketika karakter yang sudah dikenal (dari game, dan/atau dari film sebelumnya) diubah, penonton perlu diintroduce ulang kepada mereka. Dan itu gak bisa hanya dengan nama saja. Apalagi mereka adalah karakter utama dalam video game. Karakter yang diperankan oleh pemain, menempuh banyak petualangan bersama. Sehingga pemain yang bakal jadi penonton mereka dalam film, mengenal mereka, mengidentifikasi diri sebagai bagian dari mereka. Mengganti karakter mereka begitu saja, merampok penonton dari identifikasi ini. Mereka jadi asing, gak konek lagi. Filmlah yang harus menyambung ini kembali. Jill, Leon, bahkan Chris dan Claire – empat yang kita mainkan sebagai diri kita di game, tidak dibuild up dengan proper oleh film ini. Mereka hanya ditampilkan. Menyebut nama. Ditambah dengan penampilan yang dibuat sama sekali berbeda. Gak heran kenapa kita gak konek sama mereka. Mereka basically adalah nobody, tanpa background story, tanpa karakterisasi untuk kita pegang.

Melihat mereka di film ini, aku jadi berpikir kalo Paul W.S. Anderson justru telah memilih cara yang tepat. Mengambil karakter lain di luar game sebagai karakter utama. Membentuknya sebagai protagonis dan perwakilan dari kita. Kemudian baru menampilkan karakter-karakter yang sudah kita kenal di game. Dengan begitu, berarti Anderson bisa dengan lebih bebas membangun cerita dan dunia sendiri, dengan tidak ‘mengganggu’ karakter-karakter original. Taktik yang sama digunakan oleh Mortal Kombat (2021), menghadirkan karakter baru sebagai fokus kita untuk mendekatkan diri, sementara bisa lebih bebas menampilkan karakter-karakter ikonik, tidak perlu mengubah atau membangun ulang mereka. Karena ya memang pasti susah membangun karakter seperti Jill, Leon, Claire, Chris yang empat-empatnya jagoan utama sekaligus dalam satu film. Suicide Squad 2016 sudah membuktikan itu adalah hal yang nyaris mustahil.

Waktu kecil, aku terblown away oleh klip live-action intro game Resident Evil pertama. Waktu itu rasanya nambah serem banget ke petualangan nanti, dan juga kayak bikin gamenya semakin… real? Haha, kalo ditonton sekarang sih klip itu kerasa banget cheesy-nya. Efeknya keliatan banget disamarin oleh warna hitam putih. Tadinya aku berharap film Welcome to Raccoon City ini paling enggak bisa ngasih feel yang sama, tentunya dengan scare dan efek praktikal yang lebih meyakinkan. Turns out, efek dalam film ini kadang oke, kadang lebih cheesy daripada klip tersebut. Akting karakternya pun begitu, malah lebih cringe mengingat mereka aktor yang lebih profesional. Yang paling bikin aku kecewa ya, ternyata nonton film ini gak terasa apa-apa. 

 

 

 

Baik versi sebelumnya maupun versi yang ini, semuanya punya kekurangan besar masing-masing. Versi yang ini meski punya atmosfer dan elemen horor seperti (gerak kamera dan penggunaan cahaya) yang lebih seram, yang lebih mendekati estetik gamenya, hadir dengan sangat datar. Karakter-karakternya tidak bisa kita kenali. Mereka direduce jadi pelontar one-liner dan template konyol. Tidak ada motivasi personal. Mereka cuma berlarian mencari jalan keluar, bereaksi pada kejadian. Tidak belajar darinya. Ceritanya memang tidak membahas mendalam. Penggabungan cerita dua gamenya tidak mulus. Dan banyak hal yang konyol. Kejadian yang ditempatkan sebagai inciting incident di sepuluh menit awal aja sebenarnya udah cukup untuk meruntuhkan film ini. Mana ada zombie yang melipir ilang gitu aja padahal ada dua mangsa potensial lagi berdiri di jalanan di dekatnya. But hey, kita zombie kalo udah soal film adaptasi game. Kita akan terus memenuhi bioskop sambil meneriakkan hal yang ingin kita santap tapi tidak kunjung diberikan oleh filmnya. “Braaaaiiiiinnn!!”
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for RESIDENT EVIL: WELCOME TO RACCOON CITY.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Ada gak sih sutradara yang pengen kalian lihat ngedirect Resident Evil? How you think he/she will make things different for the movie?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SILENT NIGHT Review

“It is dangerous to be right when the government is wrong”

 

Malam dalam Silent Night, film-panjang debut dari sutradara dan penulis naskah Camille Griffin, tidak selamanya malam yang sunyi. Ensemble cast yang memerankan berbagai tipe karakter keluarga membuat film ini seperti kisah liburan natal dengan warna komedi yang kental. Malam barulah menjadi senyap  tatkala bencana yang melatarbelakangi dunia mereka semakin mencuat seiring durasi bergulir. Keluarga dan para sahabat yang kita lihat itu akan mati selepas malam itu. Beserta semua orang lain di seluruh dunia. While tone komedi dan kesuraman nasib yang mereka jemput dengan consent sepenuh hati tersebut memang kerap bertabrakan, membuat film ini tidak berjalan seimbang yang diniatkan, namun jika kita melihat ke belakang lebih jauh lagi, kita akan menyadari bahwa Griffin tidak membuat film ini sebagai sajian untuk kita merenungi kematian. Dan bahkan tidak juga kekudusan malam natal. Melainkan, Silent Night dihadirkan sebagai cemo’ohan terhadap masyarakat yang penakut dan pemerintah mereka yang suka memberikan informasi yang salah.

Silent-Night-trailer-1
Coba deh sekali-kali pemerintah itu diunfollow semua, gitu.

 

Natal mungkin memanglah salah satu occasion yang paling luwes untuk dijadikan latar cerita film. Kita sudah menonton beragam genre bermunculan dari tema hari Natal. Film Silent Night ini membuktikan itu dengan actually menggabungkan komedi dengan genre bencana/kiamat. Musik-musik natal yang festive yang berputar di awal akan digantikan dengan alunan yang lebih dramatis. Drama keluarga, kemudian diakhiri dengan twist yang membuat cerita menjadi dark.  

Nell dan suaminya mengundang sahabat dan kerabat mereka untuk merayakan malam natal. Film ini dibuka dengan kesibukan di pagi hari. Yang digambarkan kocak comically. Kita melihat sang suami berlarian di halaman, mengejar ayam. Art si putra sulung yang lagi motongin wortel dan tak sengaja mengiris jarinya sendiri saat kaget mendengar kegaduhan ayahnya di luar. Sementara Nell, juga anak bungsu mereka yang kembar sibuk melakukan hal lain. Kita juga diperlihatkan para tamu yang sedang dalam perjalanan ke rumah Nell. Karakter-karakter yang tak kalah ‘ajaibnya’. Istri pesolek, yang clearly naksir sama sahabat mereka, sementara suaminya yang cupu gak nyadar. Mereka punya anak perempuan yang sikapnya ngeboss abis. Ada pasangan lesbi. Ada pasangan yang jarak umurnya cukup jauh, yang actually outsider dari kelompok mereka. Ketika nanti akhirnya mereka berkumpul, kita akan notice ada kejadian seru apa yang melatarbelakangi relationship mereka semua. Tapi yang paling penting diperhatikan adalah suasana. 

Camille Griffin membangun suasana yang awkward, yang sebenarnya berlaku dua lapis. Bukan saja canggung karena ‘rahasia’ hubungan para karakter yang diungkap – mengejutkan bahkan bagi mereka sendiri. Namun juga canggung karena kumpul-kumpul mereka yang seharusnya merayakan momen natal dan kebersamaan itu, tidak benar-benar terasa seperti sesuatu yang dirayakan. Melainkan sesuatu yang mereka paksakan diri untuk merayakan, karena ini adalah kesempatan terakhir mereka bersama. Griffin menyelimuti cerita komedi ini dengan perasaan dread dari pengungkapan bahwa dunia yang dihidupi karakter ini sedang dalam bahaya yang lebih berbahaya dari pandemi korona. Ada pusaran awan gas raksasa di luar sana, membunuh setiap makhluk hidup yang dilalui. Maka pemerintah menyuruh para ilmuwan membuat pil yang bisa membuat orang mati dalam keadaan seperti tidur. Tidak menyakitkan. Obat tersebut lantas dibagikan kepada masyarakat yang terdata (gelandangan dan imigran gelap gak kebagian), guna dikonsumsi sebagai alternatif dari mati menderita. Inilah nasib yang tentu saja juga dipilih oleh Nell dan keluarga dan sahabatnya. Karena pemerintah menyuruh seperti itu.

Konflik datang dari Art, putra sulung Nell, yang meragukan keputusan tersebut. Yang menyebut usaha mereka sama saja seperti bunuh diri sia-sia. Bahwa mestinya ada cara lain. Dan bahkan Art menantang keputusan tersebut dengan mengangkat bahwa pemerintah dan para ilmuwan bisa saja salah. Silent Night seharusnya lebih berkutat di konflik ini. Karena di bahasan inilah kita baru merasa benar-benar relate dan peduli sama para karakter. Pembangkangan Art menjadi menarik karena yang ia sebutkan memang sangat relevan. Mengapa percaya begitu saja. Mengapa menyerah dengan cepat. Pihak orangtua Art pun memberi argumen yang cukup menarik. Bahwa mereka enggak tega membiarkan Art dan sodaranya mati menderita kena gas. Jadi lebih baik mati bunuh diri, mati yang udah dijamin pemerintah enggak menyakitkan. Tidak pernah ada usaha untuk pembuktian, mereka menerima saja karena begitu takutnya. Ketika Art nantinya menghirup gas dan mulai kejang-kejang, ayah dan ibu dan saudara-saudaranya langsung menenggak pil mereka. Tanpa mengecek nadi Art atau apapun yang membuktikan Art benar-benar telah tewas.

Bahasan ini relevan karena seperti keluarga Art itulah masyarakat terasa. Terlalu takut, terlalu reaktif, sehingga mudah dikendalikan dan tertipu hoax serta berita palsu. Bahkan terlalu takut untuk berjalan di luar arus. Naasnya, menjadi seperti Art di tengah lingkungan begitu justru berbahaya.

 

Setelah Thomasin McKenzie di Old dan Last Night in Soho. Lalu Archie Yates di Home Sweet Home Alone , kini giliran Roman Griffin Davis yang kebagian film sendiri. Aku senang alumni Jojo Rabbit terus dapat kesempatan menggali kemampuan akting, dan memang si Roman Griffin yang jadi Art menonjol dibandingkan bahkan Keira Knightley yang jadi ibunya, yang dijual oleh film sebagai tokoh utama. Simply karena Art-lah satu-satunya karakter yang beneran menarik di film ini. Karakter-karakter lain hanya punya gimmick komedi, mereka tidak punya motivasi ataupun urgensi yang manusiawi membuat mereka terflesh out sebagai karakter. Suami yang boring. Istri yang ‘mentel’. Anak yang kasar. Kupas mereka dari semua itu, dan berakhirlah sudah. Tidak ada apa-apa di baliknya. Naskah bergantung kepada ‘siapa sih mereka sebenarnya kepada satu sama lain’, bagaimana hubungan mereka sebelum momen di cerita ini berlangsung. Kita diniatkan untuk tertarik untuk mendengar obrolan dan konflik mereka, yang berdasarkan kepada masa lalu mereka. Tapi semua itu terasa hampa. Permasalahan mereka gak pernah benar-benar baru, ataupun terasa menarik. 

Art sebenarnya juga sama. Gimmick komedinya yang dicuatkan. Dia juga suka berkata kasar, dan melawan orangtua. Komedi situasi yang sepertinya dipantik dari bagaimana seorang anak bertindak ketika dia tahu ini hari terakhirnya. But deep inside, Art adalah anak baik dan cerdas. Karakter di balik gimmick komedinya itulah yang akhirnya mengangkat derajat karakter ini dibanding yang lain. Dan actually mengangkat film ini. Yah, walaupun cuma sedikit sih.

 

silentroman-griffin-davis-silent-night-interview
Fun fact: Roman Griffin dan anak kembar di film ini kakak adik beneran, dan ibu mereka adalah sutradara film ini

 

 

Aku gak bilang Griffin berhasil menghantarkan mix tone. Menyeimbangkannya sehingga Silent Night jadi tontonan yang enak. Walaupun dia berhasil mencuatkan perasaan canggung, yang mencerminkan sensasi ‘impending doom’ yang menyelimuti karakter-karakternya, tapi keseluruhan film ini tidak bekerja dengan demikian efektif. Tidak pernah terasa seimbang. Tone-tone yang dirancang itu sebenarnya justru saling menabrak. Dan tidak dengan dampak yang bagus. Kita tidak bisa tertawa melihat karakternya – karena gak lucu – sementara juga tidak bisa benar-benar khawatir karena dua hal. Kita tidak mengkhawatirkan mereka yang sudah siap mati. Dan karena film masih terus menyelipkan reaksi-reaksi komedi bahkan ketika sudah waktunya untuk menjadi dramatis dan kelam. Kepada Art saja – yang jadi paling dekat sebagai tokoh utama sebenarnya yang dipunya oleh cerita ini – kita juga susah untuk benar-benar peduli. Karena struktur cerita. Ketika kita mulai in-line dengannya, film malah membuat Art sebagai korban gas yang pertama di antara mereka, saat Art yang katanya ingin cari keselamatan sendiri, lari dari rumah. 

Sangat aneh rasanya ketika kita harus ikut tertawa menyaksikan karakter dealt with their relationship, sementara kita berusaha memahami apa yang terjadi di latar dunia mereka. Sementara kita berusaha mengerti kenapa mereka bertingkah kayak cult bunuh diri. Seharusnya yang dilakukan film ini adalah mengestablish dunia mereka terlebih dahulu, baru kemudian kita bisa dikontraskan dengan sikap mereka yang berusaha rileks, dan berkomedi ria dengan perkara relationship itu.

 

 

 

Film ini sudah menghadapi tantangan cukup banyak dengan menghadirkan komedi, liburan-natal, dan horor. Menambahkan elemen twist, terbukti membuat film ini jadi too much untuk Griffin. Padahal film ini punya pesan yang tak-kalah penting. Punya konsep penyampaian yang cerdas. Dengan set up suasana yang membuat sesuatu yang seperti biasa menjadi unik. Mestinya film ini establish dunia dulu, baru fokus ke karakter. Menguatkan perspektif mana yang jadi karakter utama. Membuat mereka lebih sebagai pion-pion simbolisme, dengan pengembangan yang lebih clear, ketimbang sebagai suara-suara komedi saja. Karena reaksi-reaksi mereka atas ketakutan itulah yang menarik, bukan hubungan yang makin kayak ngada-ngada.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SILENT NIGHT

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian Silent Night ini cerita yang tragis, kenapa?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

LAST NIGHT IN SOHO Review

“We romanticize the past with an illusion that we’d know how we’d fit”

 

 

“Hati-hati, di London banyak orang jahat.” Peringatan yang jadi penutup nasihat Nenek sebelum Eloise/Ellie pindah untuk kuliah ternyata merupakan set up bagi bangunan narasi horor Last Night in Soho. Kalimat tersebut membuild-up antisipasi Ellie; cara pandang dirinya terhadap pengalaman yang ia temui dan rasakan sebagai gadis desa yang pindah ke kota besar. Dan tentu saja antisipasi kita juga, karena kita akan melihat dan merasakan semua pengalaman lewat Ellie. Itulah yang membuat karya terbaru Edgar Wright ini sebuah horor atau misteri psikologis yang luar biasa efektif. Tak ada yang lebih menyeramkan daripada seorang perempuan yang merasa dirinya ‘diserang’ oleh banyak pria (dan tak jarang juga oleh perempuan lain) dari berbagai arah. Yang merasa tempatnya hidup begitu enggak aman, sehingga dia harus mencari ke tempat lain. Bahkan, hingga ke waktu atau era yang lain.

Kok bisa? Karena Wright membuat filmnya ini sebagai semacam perjalanan waktu. Setiap kali Ellie tidur di kamar kosnya, dia seperti tertransport ke era 60an yang penuh kelap-kelip. Ellie melihat dunia itu lewat mata Sandie, gadis yang mengejar mimpi jadi penyanyi seperti Ellie yang punya keinginan untuk jadi seorang fashion designer. Tapi kehidupan Sandie si gadis berani yang tahu apa yang ia mau itu seketika jadi inspirasi bagi Ellie. Apalagi memang sejak awal Ellie sudah terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau tahun 60an. Ellie rela pergi tidur lebih cepat karena ia udah gak sabar untuk merasakan lagi keglamoran Sandie dan era tersebut.

sohoLast-Night-in-Soho-Thomasin-McKenzie-Anya-Taylor-Joy
Dengan kontras warna biru dan merah itu, tadinya kukira poster Survivor Series Smackdown lawan Raw

 

 

Untuk 30 sampai 40 menit pertama, cerita akan fokus kepada kontras antara Ellie dengan Sandie. Ketika kehidupan kampus dan sosial Ellie tampak penuh orang fake dan toxic – mulai dari pengemudi taksi yang matanya belanja ke kaki Ellie hingga ke teman sekamar di asrama yang manis di depan saja, sehingga kini Ellie tidak bisa memastikan seorang anak cowok yang mendekatinya itu beneran tulus pengen jadi teman atau cuma pengen meminum lebih dari kola miliknya saja – kehidupan malam Sandie tampak lebih aman dan menjanjikan. Menyaksikan dari balik cermin, Ellie melihat Sandie dibantu oleh seorang pria, diberikan kesempatan casting, janji mau diorbitkan, dibela dari mata keranjang; benar-benar disupportlah!

As far as the genre goes, babak pertama film ini memang membuat kita meraba-raba. Selain kemampuan Ellie melihat hantu ibunya di dalam cermin dan perihal Ellie masuk ke era 60an setiap kali tidur (bagaikan mimpi teramat nyata), kita enggak yakin di mana letak horor film ini. Yang terasa kuat adalah misteri kejadian tersebut kenapa bisa terjadi. Implikasi yang dihadirkan adalah hantu Sandie yang membawa Ellie masuk ke era tersebut, karena Ellie punya ‘kemampuan’, tapi itu juga belum membuat film terasa seram. Last Night in Soho memang mengambil waktu selama itu untuk mendaratkan ceritanya ke horor yang dijanjikan. Namun itu bukan berarti film ini tampil membosankan.

Set dan artistiknya stunning semua. Kerja kamera dan tempo editing cepat yang sudah jadi cap-dagang Wright membawa kita melewati set up panjang dan semua kontras itu dengan penuh gaya. Pertama Wright menekankan kontras itu lewat warna. Eloise dan lingkungannya hadir dengan warna-warna biru hingga abu-abu pucat, sementara Sandie melangkah mantap menembus dunia dominan merah di balik dress pink ataupun jaket putih mengkilap. Ellie pada awalnya tampil polos, tidak seperti Sandie yang bibirnya selalu merekah merah. Warna-warna tersebut tentu saja menguatkan karakter mereka. Thomasin McKenzie memainkan Eloise sebagai karakter yang berusaha mandiri, yang berusaha optimis. Dia memang sedikit polos, dan somewhat kurang pede dan kurang agresif (perhatikan rasa bangganya ketika menyebut mengenakan baju rancangan sendiri memudar dengan cepat begitu melihat reaksi dari teman-teman barunya), tapi McKenzie berhasil membuat kita melihat dia sebagai gadis yang gak mudah menyerah. Kita bersimpati pada gadis yang dicap norak dan aneh oleh cewek-cewek seusianya ini. Sebagai Sandie, Anya Taylor-Joy, ditugaskan untuk menjadi antitesis dari karakter Ellie. Dan dia berhasil memainkannya dengan fenomenal. Sandie benar-benar tampak sebagai enigma dimainkan oleh Anya.

Bukannya mau nyamain diri ama sutradara sekelas Edgar Wright, tapi aku punya bayangan yang mungkin sedikit lebih tegas mengenai effort yang harus Wright keluarkan untuk mewujudkan visi kreatifnya di sini. Bikin dua aktor seolah mereka satu orang karakter, yang bergerak selaras dalam pantulan cermin, jelas bukan hal yang gampang. Aku pernah bikin film pendek dengan konsep serupa, dua pemain harus bergerak layaknya seseorang dengan pantulannya, dan hasilnya susah untuk sempurna. Akhirnya aku mengurangi adegan, dari yang banyak gerak menjadi cuma senyum doang hahaha.. Yang dilakukan Wright dalam film Soho ini bahkan lebih kompleks dari adegan sekadar karakter bercermin. Yang dengan budget yang banyak, tentu bisa dilakukan pake efek komputer. Wright di sini betul-betul membuat Ellie dan Sandie terlihat sebagai satu orang, lewat adegan tanpa cermin yang gak-putus. Adegan menari yang Ellie dan Sandienya muncul bergantian, dilakukan Wright tanpa efek editing, melainkan dengan efek praktikal yang menuntut ketepatan dari semua kamera dan juga para aktor.

In some sense, film ini mengingatkanku sama Malignant (2021), horor action campy dari James Wan. Kedua film ini bekerja pada goal yang sama. Pembangunan narasi horor yang membuat kita bertanya-tanya ini sebenarnya film tentang apa – which is add much to the mystery itself. Penggarapan yang mengunggulkan kepada gaya entah itu teknis kamera atau editing. Dan bahkan sama-sama bermain seputar karakter yang ketika tidur tertransport ke tempat lain. Keduanya adalah film yang ingin kita bersenang-senang atas nama horor dan misteri. Kalo perbandingannya dilanjutkan, aku mau bilang, pada akhirnya aku lebih suka Last Night in Soho ketimbang Malignant. Karena walaupun sekilas horor Soho terlihat lebih lemah, sebenarnya Soho punya bangunan cerita dan lapisan psikologis karakter yang lebih berbobot. Yang eventually membuat misteri dan horornya menjadi lebih impactful karena jadi benar-benar beresonansi dengan kehidupan kita di luar cerita.

soholastsohothumb-1634585969073
Apa jadinya film Edgar Wright tanpa soundtrack yang benar-benar mewakili mood?

 

 

Thomasin McKenzie semakin dituntut untuk menyuguhkan permainan yang menakutkan secara emosional, seiring dengan Elliekarakternya yang sudah semakin terattach dan peduli sama Sandie mulai melihat ada yang gak beres sama arahan karir cewek di masa lalu tersebut. Di sinilah set up yang disebutin nenek di awal tadi kembali weighing in ke dalam narasi. Bukan hanya karir dan mimpinya, tapi nyawa Sandie actually jadi ikut terancam oleh orang-orang yang ternyata berniat jahat kepadanya. Terbangun dari tidur, Ellie kini berusaha mati-matian untuk mencarikan keadilan bagi nasib Sandie. Elemen horor terbangun juga dari tidur, merayap di balik usaha Ellie. Gadis itu sekarang melihat hantu-hantu dari orang yang jahat kepada Sandie, seperti jadi mengejar dirinya. Mereka ada di mana-mana!

Eloise yang jadi takut tidur, heck bahkan dia jadi terlalu stress untuk bisa tidur, kehidupan akademis dan sosialnya merosot drastis, ditambah dengan dia menjadi percaya bahwa dunia tidaklah pernah jadi tempat yang baik-baik saja (tidak sekarang, tidak dulu, dan mungkin tidak di masa mendatang) — inilah horor sebenarnya yang digambarkan oleh cerita Last Night in Soho. Ini jauh lebih seram ketimbang wajah-wajah burem ataupun darah-darah muncrat dari penampakan hantu. Wright menunjukkan kepekaannya terhadap perubahan tempo lewat bangunan misteri di dalam narasi seperti yang ia tunjukkan di film ini. Bahwa dia bisa menjalin horor, baik itu lewat komedi ataupun drama, karena dia mengerti bagaimana membangun dan mendeliver. Gaya-gaya tadi bukan cuma supaya gak bosan, melainkan juga merupakan pengalih perhatian yang cantik, makanya gak jarang kita menemukan diri kita caught up by surprise setiap kali menonton film Wright.

Salah satu tema tersembunyi dalam film ini adalah soal nostalgia. Bagaimana orang bisa obses sama nostalgia, meskipun dia enggak ngalamin langsung hal nostalgia tersebut. Seperti Eloise yang ngaku suka 60an, padahal dia hanya tahu itu dari film, musik, atau media lain. Film ini menerjemahkan itu sebagai pelarian. Kemudian film menantang itu dengan pertanyaan “Bagaimana jika tempat tersebut sama saja dengan penyebab kita lari di awal? Do we still love it?” Maka, tidaklah bijak sebenarnya terlalu meromantisasi sesuatu yang kita gak pernah tahu, yang kita hanya rasakan sebagian kecil dari kebaikannya saja.

 

Hantu-hantu itu menyimbolkan ‘penyakit’ di masa lalu akan terus menghantui masa depan. Malah tidak akan berakhir atau tidak akan mati kecuali benar-benar ditindak, seperti yang diketahui Ellie bahwa ada satu pelaku dalam tragedi Sandie yang masih hidup di masa sekarang. Lalu, di puncak konflik Ellie, Wright membalikkan narasinya. Begitu jungkir-balik sehingga pesan tadi menjadi sedikit kabur. Menurutku, pilihan twist yang melibatkan revealing identitas satu karakter yang membuat role (pelaku dan korban) jadi kebalik inilah yang membuat Last Night in Soho jadi terbagi dua penontonnya. Gagasan yang diusung lewat pembalikan itu, aku bisa lihat, tidak mudah diterima bagi penonton. Especially karena menyangkut gender sebagai subjeknya. Jadi gak heran juga banyak yang menolak memberi skor tinggi, urung merekomendasikan, atau bahkan mengkritik keras film ini. Mungkin itu juga sebabnya kenapa film ini cepat kandas di bioskop.

Padahal menurutku memang fenomena itulah yang sedang diperiksa oleh film. Sedari awal “banyak orang jahat” itu sudah dilandaskan. Yang berarti bahwa ya, orang jahat ya bisa ada di mana-mana. Bisa siapapun. Seorang yang jadi korban ketimpangan atau kekerasan, tidak berarti mereka tidak akan bisa menjadi orang jahat. Tidak berarti setiap tindakan mereka bisa terjustifikasi. Pembunuh massal tetaplah pembunuh massal, tidak peduli dia hidup di era 60an atau di era woke kekinian.

 

 

 

 

Kekurangan film ini bagiku cuma, ceritanya belum berhasil betul memperlihatkan korelasi antara kerjaan Ellie – keberhasilannya sebagai siswa perancang busana – dengan misteri yang ia alami. Kita tidak dikasih lihat secara detil bagaimana kenyataan yang ia sibak itu berdampak kepada rancangan Ellie. Selebihnya, film ini sendiri bagai seni kontemporer. Misteri yang dengan balutan visual yang cantik sekali. Hadir dengan tetap berbobot, dan semakin gorgeous berkat penampilan akting yang flawless. Aku mungkin sedikit bias karean Thomasin dan Anya cakep-cakep, but they do understand the assignment, dan aku gak melihat ada ‘nada sumbang’ dari penampilan mereka di sini. Sedangkan untuk Edgar Wright, aku gak setuju sama yang bilang sutradara ini belum fasih di horor. Wright cuma punya formula sendiri, dan dia menerapkan horor ini ke dalam formula tersebut. Memang, hasilnya tidak seperti horor yang biasa. Ini adalah horor unik dengan implikasi gagasan yang tak kalah seram.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for LAST NIGHT IN SOHO

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa kita suka meromantisasi nostalgia? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

LAMB Review

“They can face anything, except reality”

 
 

Sudah lumayan banyak keanehan dalam dunia film 2021, perihal bayi. Sebelum ini kita udah dapat bayi boneka kayu. Bayi setengah mesin. Dan kini, Lamb yang ceritanya terisnpirasi dari folklore atau cerita rakyat Islandia, melengkapi keanehan terebut dengan menghadirkan bayi domba setengah manusia. You would think cerita tentang pasangan yang mengadopsi bayi hibrid tersebut bakal punya beragam bahasan dan kejadian. Namun Lamb digarap oleh sutradaraValdimar Johannsson di bawah sayap studio A24. Dan film-film dari rumah produksi dan distributor tersebut tidak terkenal dengan film yang punya banyak kejadian dalam satu cerita. Buatku, film-film A24 justru dikenang sebagai yang wajib ditonton kala mau menaikkan berat badan. Karena, camilanku udah habis dua bungkus, adegan filmnya baru beres memperlihatkan karakter berjalan dari ujung layar ke layar satunya.

I don’t mean that entirely as a bad thing. Film A24, dan termasuk Lamb ini, meskipun flownya lambat, tapi sangat poetic. Visualnya dirancang untuk benar-benar nge-entranced kita. Sebab visualnya itulah yang menjadi pintu masuk kita terhadap perasaan yang digambarkan. Cerita Lamb bersetting di rumah peternakan di pegunungan. Pemandangan padang rumput luas, bukit-bukit yang senantiasa tertutup kabut, dan langit abu-abu membentang dicat ulang oleh film dengan ‘warna’ yang menimbulkan kesan tak-nyaman. Atmosfer lingkungan tersebut terasa mengekang. As far as bagaimana sebuah konsep memenuhi fungsi, film ini berhasil. Meskipun fungsi tersebut tidak enjoyable bagi kebanyakan penonton. Apalagi ketika dua karakter sentral mulai diperkenalkan kepada kita. Pasangan pemilik peternakan domba, Maria dan Ingvar. Semua mood yang digambarkan, yang nyampe kepada kita, bersumber dari dua karakter ini. Lamb meletakkan kita begitu saja di ruang dapur mereka. Tidak mengetahui mengapa mereka terasa begitu dingin. Begitu somber. Tidak bergairah.

 
Lamb-Banner
Kecuali adegan opening, yang tanpa kita sadari sebenarnya adalah adegan domba kimpoi di malam yang dingin
 
 
 

 

Ini jadi set up yang benar-benar susah untuk diikuti. Apalagi karena film ini sebenarnya ceritanya singkat banget. Jangan dulu ngomongin dialog, kejadian-kejadian yang menyusun narasi utuhnya aja enggak banyak. Lamb ini bisa saja jadi episode animasi horor Yamishibai yang pendek-pendek, yang menitnya itungan jari itu. Kita jadi ingin cepat-cepat masuk ke pusat konflik. Tapi film dengan teganya berlama-lama. Film ingin memastikan kita merasakan semua emosi yang diniatkan. Karena ini penting. Film tidak pernah menyebut sesuatu dengan gamblang. Ketika ngasih set up bahwa keluarga Maria punya kejadian masa lalu tak mengenakkan, film memberitahu kita lewat dialog ‘gajelas’. Maria dan Ingvar membicarakan seputar mesin-waktu. Aku sudah camilan bungkus ketiga sekarang, aku harus nambah terus karena kalo enggak, aku bakalan ngantuk. Namun sebelum aku sempat membuka camilan keempat, film membuatku melek dengan adegan yang sangat-teramat-real. Adegan Maria dan Ingvar membantu seekor domba melahirkan. Ingvar memegangi badan domba, Maria menarik kepala anak yang nongol di belakang mama domba. Aku bersyukur udah gak sedang makan. Dan honestly, setelah adegan itu aku gak perlu camilan lagi untuk stay awake.

Akhirnya cerita sampai ke menu utama. Kali berikutnya ada domba yang melahirkan, Maria dan Ingvar mendapati sesuatu yang membuat mata mereka membulat. Film cerdas gak langsung ngasih kita lihat. Kita kan jadi penasaran saat Maria membawa bayi domba ke dalam rumah, memandikannya di bak mandi, menidurkannya di ranjang bayi. Membungkusnya dengan selimut. Hangat. Kita merasakan juga, tapi tidak tanpa sensasi geli-geli aneh. Film ngambil waktu lagi. Ngebuild up si anak domba ini kenapa sih sebenarnya. Mengapa pasangan itu begitu sayang dan begitu protektif terhadap si anak domba. Mama domba mengembek di luar jendela, mereka usir. Ketika anak domba itu menghilang dari rumah, Maria dan Ingvar panik. Benar-benar cemas. Mereka mencari-cari ke luar rumah, tapi tidak pernah mencari ke kandang domba. Sebagai penonton, kita diharapkan film untuk mulai menambah satu-tambah-satu dari adegan-adegan tersebut. Dari perbincangan mesin waktu hingga ke kecemasan anak domba yang menghilang. Ya, pasangan ini pastilah punya kenangan buruk terhadap anak. Dan setelah si anak domba ketemu, barulah diperlihatkan dia adalah domba separuh manusia. Mereka beri nama Ada. Mereka rawat seperti anak sendiri. Realita-baru mereka tersebut lantas akan kembali ditantang ketika babak baru cerita dimulai, dengan kedatangan saudara laki-laki Ingvar, Petur, ke rumah kecil mereka.

Basically, aku baru saja menceritakan 90% isi film, hanya dari satu paragraf di atas. Hanya menyisakan yang penting-penting, yakni konfrontasi drama dan menit-menit terakhir berupa pengungkapan yang either bagi kalian terasa shocking dan seram, atau menggelikan. Tergantung dari bagaimana perasaan kalian setelah melewati nyaris dua jam yang ajaib tersebut. Segitu singkat dan, katakanlah, uneventfulnya, cerita film ini. Film baru benar-benar hidup dan menyala saat keempat karakater sudah ada di rumah itu. Padahal mestinya bisa lebih banyak dan lebih kompleks yang diceritakan. Ada yang mulai gede dan menyadari dirinya berbeda aja hanya dibahas sekilas, porsinya lebih kecil daripada durasi Maria dan Ingvar berkeliling di rumah mencarinya saat hilang tadi. Heck, keberadaan atau eksistensi Ada di dunia cerita ini saja tidak pernah dibahas mendalam. Melainkan cuma sebatas Petur bilang Ada itu tidak benar (binatang yang didandani dan dianggap anak manusia), yang tentu saja ditentang oleh Maria dan Ingvar yang tersenyum bangga memperkenalkan Ada kepadanya. Coba kalo ini sinetron, waah, Maria pasti curiga.. Jangan-jangan lakik gue selingkuh ama domba.. (Although, mungkin ini juga salah satu penyebab dia menembak mati sang mama domba).

 
lambmaxresdefault
“Ayah, kenapa aku… Ada”
 
 
 

Jadi, Baby Ada ini pastilah sebuah simbolisme, kan. Kan?

Si Ada dalam cerita ini bisa jadi serupa sosok minotaurus dalam legenda yunani, yang melambangkan kematian. Atau dia yang makhluk setengah manusia setengah hewan itu bisa juga seperti Dewa Ganesha di India, yang tampil seperti itu sebagai bentuk penyesalan orangtua yang telah memotong kepala manusianya. Atau dalam agama Kristen, Ada si domba itu ya bermakna sebagaimana domba dalam Alkitab. Makhluk suci yang melambangkan keajaiban Tuhan. Domba melambangkan purity dan keinnocent-an. Yang menarik adalah, si Ada malah bisa dimaknai sebagai ketiga simbol tersebut sekaligus.

Lamb pada hatinya adalah sebuah cerita tragis. Makanya dia dijual sebagai horor. Karena horor bukan sebatas kejadian mengerikan karena hantu-hantuan, jumpscare, atau pembunuh gila di malam hari. Horor juga adalah kejadian mengerikan yang berasal dalam kita sendiri. Dari perasaan tragis yang menghantui. Dendam, cemburu, rasa bersalah, duka. Lamb sesungguhnya bermain pada dua tema yang terakhir. Ingvar, dan khususnya Maria (tokoh utama cerita ini adalah seorang ibu) adalah pasangan yang telah melewati hari-hari penuh duka. Keberadaan Petur, dan hubungannya dengan mereka yang tersirat di dalam cerita, adalah saksi hidup dari seberapa dalam duka tersebut berdampak di kehidupan rumah tangga mereka. Untuk tidak mengatakan terlalu banyak, Ada si bayi domba, bagi mereka lebih dari kesempatan kedua. Bagi suami istri ini, Ada bisa dibilang adalah mesin-waktu, yang memungkinkan mereka untuk memperbaiki atau bahkan mencegah duka yang tadi terjadi.

Tragisnya adalah, bahwa manusia yang terluka, cenderung lebih suka untuk menghadapi apapun – termasuk sesuatu yang sama sekali ajaib, sesuatu yang setidakmasukakal menjadikan anak domba sebagai anak sendiri – kecuali kenyataan pahit itu sendiri.  Film ini gak segan-segan ngasih hukuman untuk orang seperti itu. Seperti yang kita lihat terjadi kepada Maria di akhir cerita. Lamb sesungguhnya adalah dongeng rakyat penuh moral tentang orang yang jadi kehilangan begitu banyak, karena mereka berkubang dan tidak membenahi diri setelah kehilangan yang pertama.

 
 
 
 
 

Puitis, tragis, humanis. Film ini bukan hanya punya bobot, tapi juga penuh oleh ruh-ruh seni. Dia bercerita lewat visual. Dosa film ini cuma, bercerita terlalu lama. Dan terlalu sedikit. Dia tidak berhasil meyakinkan kita bahwa cerita yang sajikan ini memang harus berdurasi sepanjang itu, karena dia tidak mengisi durasi dengan seimbang. Atau katakanlah, dengan efektif. Banyak plot-plot poin yang jadi ada, dan kemudian tidak ada, dengan begitu saja. Semuanya numpuk di pertengahan akhir. Sementara di awalnya, set up agak sedikit terlalu kosong. Melainkan jadi susah untuk diikuti. Saking susahnya, penonton bisa gak sabar, dan memutuskan untuk melihat film ini sebagaimana yang mereka mau. Tidak lagi sesuai tuntunan yang disediakan. Akhiran film yang mengejutkan itu, misalnya, aku gak kaget kalo ada yang menganggapnya lucu, alih-alih tragis. 
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LAMB.

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pandangan kalian terhadap pilihan-pilihan yang dilakukan oleh Maria? Apakah di mata kalian dia adalah seorang ibu yang baik?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

PARANORMAL ACTIVITY: NEXT OF KIN Review

“It’s okay to walk away”

 

Paranormal Activity telah sukses memberikan warna baru kepada genre horor found-footage di tahun 2007. Alih-alih menggunakan kamera bergoyang yang mengikuti ke mana karakter pergi, film indie tersebut menggunakan kamera steady yang merekam ruangan rumah. Yang seketika efektif mencuatkan trope-trope unggulan dari genre ini; suara misterius yang gak keliatan sumbernya di mana, wide shot tapi sudut pandang penonton amat terbatas, dibalut cerita keluarga yang membuat penonton rela memandangi ruang kosong sambil siap-siap menangkap jantung yang copot begitu kekuatan tak-berwujud menunjukkan aktivitasnya. Beberapa sekuel pertama dari film tersebut masih bertahan dan cukup berhasil menghantarkan pengalaman seram serupa. Namun, seperti halnya franchise horor lain, Paranormal Activity pun jadi gede dan melebar keluar rel, sebelum akhirnya kandas setelah sekuel yang dinilai paling buruk di tahun 2015 (PA: The Ghost Dimension) Aku actually bersorak hore saat film tersebut gagal dan officially mengakhiri franchise Paranormal Activity yang sudah jadi kayak parodi diri originalnya sendiri, karena kebanyakan sekuelnya hanya meniru trik tanpa pernah mikir dan memahami apa yang membuat trik tersebut berhasil. Namunnya lagi, seperti halnya franchise horor lain, franchise ini pun berusaha dihidupkan kembali. Paranormal Activity: Next of Kin adalah usaha tersebut.

Dijadikan literally next of kin – kerabat dekat – dari film-film sebelumnya, film terbaru ini oleh sutradara William Eubank diberikan arahan yang fresh. Seenggaknya, niatnya begitu. Biar fresh. Next of Kin tidak lagi melanjutkan mitologi sekte Toby dan Katie. Tidak lagi bersetting di dalam rumah, dengan kamera yang merekam ruangan kosong di malam hari. Eubank menggunakan konsep found footage yang baru bagi franchise ini, tapi enggak benar-benar baru dalam genre found footage itu sendiri. Itupun dilakukan dengan generik dan konsep yang tidak maksimal. 

paranor-2021-10-06-at-1.31.38-PM
Film ini jika diibaratkan sebagai kerabat keluarga, maka dia adalah kerabat yang kita ingin jauhi

 

Cerita baru yang diusung oleh film ini adalah tentang Margot, perempuan yang menemukan keberadaan keluarga aslinya. Dirinya ketika masih bayi ternyata ditinggalkan oleh ibunya begitu saja di depan pintu apartemen. Sang ibu, melarikan diri dari keluarga besar mereka di perkampungan Amish. Kinda like ibu-anak Laudya Cynthia Bella dan Lutesha di film Ambu (2019)hanya saja di sini, sosok Ibu Margot jadi misteri. Untuk itulah, Margot memutuskan untuk mengunjungi kampung tersebut. Dia mengajak pacarnya yang kameramen dan sahabat mereka yang tukang sound. Mereka juga dibantu oleh pemuda dari kampung Amish yang sedang berada di kota. Lebih dari silaturahmi, Margot ingin memfilmkan kehidupan keluarga besarnya di sana, dengan harapan dia bisa tahu apa yang terjadi dengan ibunya.

Do you guys see the problem with that story? Do you see that ‘red flag’?

Ya, alasan untuk menjadikan film ini sebuah cerita dengan konsep found-footage lemah sekali. Untuk apa Margot bikin film segala. Salah satu struggle (dan ultimately menjadi kejatuhan bagi banyak film horor bergenre found footage) adalah memasukakalkan karakter ceritanya menggunakan kamera sepanjang waktu. Konsep ‘menonton cerita dari tayangan video kamera’ dalam found footage hanya akan benar-benar menjadi sebuah storytelling yang unik, jika bangunan ceritanya sendiri benar-benar dirancang untuk hanya bisa bekerja dengan konsep tersebut. Franchise V/H/S/ misalnya, mereka membingkai konsep tersebut ke dalam cerita kasus cult video. Video-videonya itu yang kita tonton sebagai film horor antologi. Atau Paranormal Activity original; ceritanya dibuat sebagai kisah tentang pasangan yang mengalami gangguan aneh di malam hari sehingga mereka memutuskan untuk merekam isi rumah dengan kamera pengintai. Klip-klip dari rekaman kamera mereka itu yang kita tonton sebagai film. Narasi film tersebut serupa puzzle yang harus kita susun, klip-klip itu jadi kepingan puzzlenya. Jadi, make sense, saat keseluruhan film adalah tontonan dari klip video atau dari klip rekaman kamera.

Next of Kin enggak punya alasan yang kuat seperti demikian. Margot berkunjung ke kampungnya, sambil merekam video. Katanya dia pengen bikin dokumenter tentang orang Amish, tapi selain kunjungan ke kandang ternak (mereka berunyu-unyu dengan babi tampak sangat out-of-place), kita tidak pernah melihat mereka merekam aktivitas apa-apa. Margot bahkan terus merekam bahkan setelah semua orang Amish itu tidur. Karakter-karakter protagonis kita tidak punya alasan kuat harus terus menerus merekam. Mereka hanya merekam karena ini adalah film found footage. Makanya, konsep ini gak bekerja dengan baik. Karena seperti dipaksakan. Atau parahnya, cerita ini memang sebenarnya bukan untuk found footage. Hanya karena ingin dijual sebagai brand Paranormal Activity ajalah, maka diharuskan jadi pake pov kamera.

Bahkan pada beberapa adegan, kelihatan sekali film ini kesusahan untuk komit dengan konsep tersebut. Pada beberapa adegan, kita bahkan tidak tahu kamera cerita dipegang oleh siapa. Contohnya ada adegan menjelang ending yang there’s no way karakter protagonis yang ada di layar itu bisa memegang kamera. Tapi kegiatan mereka terus direkam. Terus ada juga set up yang aneh; di awal-awal, karakter memperlihatkan kamera canggih kepada anak-anak di kampung yang gak tau teknologi itu. Mereka bermain-main dengan mode slow-motion. Pake dijelasin segala berapa frame per second kamera itu merekam dalam keadaan slo-mo. Pay off dari itu, adalah, saat setan dalam cerita ini beneran muncul dan mengejar si karakter protagonis, ada momen ketika si setan kita lihat bergerak dalam slow-motion. Yang berarti, si perekam sempat-sempatnya memakai fitur itu di momen life or death seperti demikian. Kan maksa banget. Orang dikejar setan tapi lari matanya masih ngerekam lewat kamera aja udah aneh. Pake segala aktifin fitur slo-mo pula.  

Ketika mereka semua menginap di rumah kakek Margot yang jadi pemimpin (sosok patriarki) di keluarga Amish itu, kupikir malamnya akan ada bagian mereka mendengar suara-suara, lalu memutuskan untuk memasang kamera tersembunyi supaya kita bisa mendapatkan momen kamera ruangan khas Paranormal Activity. They do hearing voices. Ada satu adegan ketika Margot bangun dan menyelidiki suara tersebut hingga sampai ke atap dan kita kemudian mendapatkan bagian paling ngeri dan terbaik seantero durasi film ini (berkat permainan kamera dan timing jumpscare yang pelan-tapi-pasti!). Namun bagian mereka memasang kamera untuk mengintai itu tidak pernah datang. Next of Kin malah gagal untuk menjadi seperti Paranormal Activity. Heck, bahkan The Medium (2021) aja bisa menjadi Paranormal Activity yang lebih baik ketimbang Next of Kin ini!

Ngomong-ngomong, The Medium bisa dijadikan perbandingan yang bagus soal konsep found footage. Film dari Thailand itu sebenarnya menggunakan standar found footage kebanyakan; yakni membentuk ceritanya berupa ala-ala dokumenter supaya karakter dengan kamera bisa terus ada di sana. The Medium melakukannya dengan sangat kuat sehingga dia beneran tampak seperti mockumentary, padahal sebenarnya found footage. Saking kuatnya, at it worst, The Medium bisa kita bilang sebagai mockumentary yang berkembang menjadi found footage yang all over the place. Next of Kin sebenarnya juga punya kekuatan. Film ini bukan hanya mengeluarkan diri dari ending yang template buat found footage (semua mati!), tapi juga keluar dari tradisi ending franchisenya sendiri. Narasinya juga sebenarnya cukup punya bobot. Margot yang diperankan oleh Emily Bader, walaupun melakukan pilihan-pilihan bego, tapi tidak annoying. Dia likeable. Dia dirancang sebagai teman yang bisa relate sama semua penonton. Sayangnya, dia hidup di dunia-cerita yang dibangun dengan lemah. Film ini bahkan tidak bisa dibilang sebagai found footage yang all over the place. Melainkan cuma cerita yang bisa lebih baik penggaliannya jika tidak dikonsep sebagai found footage.

ParanorActivity-Next-of-Kin-trailer-image
Kau tahu kau gagal jadi sesuatu, kalo orang bilang kau bisa lebih baik jika enggak jadi sesuatu itu.

 

Bayangkan, jika tidak sibuk mikirin karakter dan kamera, film ini bisa menggali banyak hal yang hanya dimasukkan seuprit dalam cerita. Budaya orang Amish yang berbeda dengan anak teknologi macam Margot dan teman-temannya. Ini bisa jadi bahasan yang menarik. Apalagi film memang tampak menggali horor dari sini. Margot dan teman-temannya menjadi takut dan curiga kepada keluarga Amish itu karena mereka begitu aneh dan berbeda. Hidup tanpa listrik dan sebagainya. Belum lagi perkara mereka adalah keluarga darah daging Margot. Bahasannya bisa dalam. Tapi karena film ini lebih mementingkan gaya found footage, maka bahasan ke arah sana dangkal sekali. Hanya berupa ‘Amish berbeda sehingga mereka mengerikan’. Ini kan jadi kayak menghororkan stereotipe, yang bisa berujung terlihat sebagai narasi yang gak respek. Mungkin itu juga sebabnya film ini mengadakan sebuah revealing di menjelang akhir yang menjelaskan sesuatu ternyata tidak seperti yang kelihatannya.

Ada hal-hal tertentu yang membuat kita boleh meninggalkan keluarga. Harus meninggalkan, malah.Yang dialami oleh Margot dan ibunya sebelum dirinya, adalah contoh dari hal tersebut. Film ini memang menunjukkannya dalam lapisan horor. Tapi di balik itu, kita bisa mengambil nilai bahwa tidak semua yang dilakukan oleh keluarga kita, yang dipercaya oleh mereka sebagai kebenaran, adalah kebenaran.

 

Namun itu juga lantas menunjukkan betapa naskah film ini memang dibuat sekenanya aja. Kayu yang memalang pintu gereja bertulisan kalimat dalam bahasa Jerman. Margot dan kawan-kawan kelimpungan mencari tahu artinya, yang ternyata adalah peringatan. Namun saat mereka semua sudah masuk, di lantai gereja, terdapat gambar-gambar yang disertai tulisan–berbahasa inggris!! Sehingga Margot bisa membaca eksposisi-eksposisi dan cerita bisa kembali maju. Film ini enggak ragu-ragu untuk menjadi serba mudah bagi karakter, karena itu berarti mudah juga bagi mereka untuk membuat cerita. Malah ada adegan ketika karakter mampir ke toko, minjam internet dan ngegoogle nama setan, dan dalam waktu enggak lebih dari satu menit, seluruh misteri dan mitologi film ini terbeber semua kepada karakter. Film praktisnya usai di sini. Dan sisa durasinya adalah untuk gila-gilaan. Yang malah kerasa lebih mirip cut scene video game horor first-person. Film ini ngarep kita bakal puas dengan kegilaan di akhir dan melupakan betapa males dan ngasalnya mereka dalam membangun konsep dan menulis cerita.

 

 

Bagaimana membuat sesuatu yang tadinya unik tapi lantas menjadi membosankan, menjadi unik kembali? Jawaban film ini adalah dengan membuatnya menjadi hal basic yang dihindari oleh originalnya sedari awal. Film ini hanya sedikit sekali terasa seperti franchise Paranormal Activity, dan sama sekali tidak terasa seperti perbaikan. Okelah, secara teknis, film ini memang lebih baik daripada film terakhir dari Paranormal Activity sebelum ini. Namun secara overall, konsep yang dipakai sangat lemah. Dan enggak klop dengan potensi maksimal yang dimiliki oleh ceritanya. Hasilnya, tampak sebagai usaha yang teramat lemah dalam menghidupkan kembali franchise found footage yang pernah sangat populer ini.
The Palace of Wisdom gives 2.5 out of 10 gold stars for PARANORMAL ACTIVITY: NEXT OF KIN

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang genre horor found footage? Apakah menurut kalian masa horor genre tersebut sudah lewat? Konsep unik apa yang ingin kalian lihat dalam genre ini?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

TITANE Review

“Hard experiences may indeed make you tough.”

 

Titane adalah cerita tentang seorang perempuan yang cinta sama mobil. Itu adalah kalimat yang paling innocent dalam mendeskripsikan film karya sineas Perancis Julia Ducournau ini. Sebenarnya, Titane bukanlah cerita yang innocent. Ataupun bukanlah cerita yang normal. Cinta sama mobil yang kita kenal adalah, sikap orang yang merawat dengan seksama kendaraan yang punya nilai tertentu bagi dirinya. Orang yang membanggakan kendaraannya karena kendaraan tersebut entah itu irit, awet, atau mesinnya ‘bandel’. Ya, cinta yang normal-lah. Cinta sama mobil Titane berada dalam realm yang sama sekali berbeda. Perempuan tokoh utama film ini lebih suka mengekspresikan dirinya kepada mobil, ketimbang kepada manusia. Dia menari erotis di atas kap mobil. Hingga di satu titik, perempuan tersebut hamil. Oleh mobil.

Alih-alih air susu, dadanya mengeluarkan oli. Alih-alih ketuban, cairan hitam pekat-lah yang muncrat dari dalam tubuhnya. Di satu sisi, film ini memang cocok dimasukkan ke dalam kotak body-horror, berkat bertaburnya elemen-elemen edan ketakutan si karakter perempuan terhadap kondisi tubuhnya. Namun di sisi lain, di samping keanehan tersebut, sutradara Julia sesungguhnya kembali menghadirkan kepada kita kisah hubungan kekeluargaan yang hangat. Yang mengalun beriringan dengan tema-tema yang super relate dengan kemanusiaan. Seperti self-healing atas trauma, dinamika gender, dan kendali atas tubuh/hidup sendiri.

titane840_560
Kucumbu Mobil Indahku

 

Perempuan itu bernama Alexia. Waktu kecil, Alexia pernah kecelakaan mobil. Sehingga pelat baja harus ditanam di kepalanya. Tau tidak siapa yang pertama kali dipeluk dan dicium Alexia cilik begitu operasi perawatannya berhasil? Bukan, bukan ibu dan ayahnya. Mobilnya. Kecintaan tak-wajar Alexia sama mobil memang telah tumbuh sejak dini. Dan kerenggangannya dengan orangtua – terutama dengan ayahnya – besar kemungkinan adalah sumber dari segalanya. Setelah dewasa, Alexia bekerja sebagai penari stripper. Spesialis nari di mobil. Dirinya semakin berjarak dengan manusia-manusia lain. Malahan, saking canggungnya dengan manusia, Alexia punya kecenderungan untuk membunuh orang-orang di sekitarnya. Serius. Alexia jadi semacam serial killer! Di tengah pelariannya suatu ketika, Alexia menyamar menjadi putra dari seorang pemadam kebakaran. Putra yang hilang sejak kecil. Penyamaran Alexia membawanya bertemu dengan Vincent, sang pemadam kebakaran. Alexia tinggal bersama Vincent yang percaya dia adalah putranya. Film Titane lantas mulai berganti gigi. Masuk ke dalam cerita melodrama dua orang asing yang saling tidak menampilkan diri masing-masing, meski tak bisa dipungkiri, mereka saling membutuhkan.

Karena bicara tentang tubuh dan trauma itulah, maka film ini terasa seperti versi cewek dari Kucumbu Tubuh Indahku (2020) bagiku. Bagaimana tidak? Film ini juga menggunakan tubuh sebagai rekam jejak hidup yang dilalui oleh Alexia. Hidup yang penuh trauma. Lempeng baja di kepalanya itu merupakan bukti literal, catatan, atas trauma pertama yang menimpanya. Dan trauma itu membekas, seperti halnya lempeng baja yang terus bercokol di sana. Sebagai simbolisme, lempeng itu menunjukkan karakter dari Alexia. Perempuan yang tangguh. Atau mungkin lebih tepatnya, membuat dirinya tampak tangguh. Setiap pengalaman buruk, setiap trauma yang ia alami, membentuk dirinya semakin heartless. Semakin dingin. Semakin tak-perempuan. Di sinilah aspek gender mengambil peran dalam cerita. Memang masalah Alexia dan ayahnya tidak pernah disebutkan dengan gamblang, tapi aku tidak akan kaget kalo ternyata ayah lebih senang punya anak cowok ketimbang cewek. It would explain kenapa Alexia suka sama mobil. Teoriku, backstory cerita adalah, Alexia mencoba untuk memenuhi ekspektasi ayahnya tersebut, dan hasilnya adalah kekacauan hubungan ayah-anak yang kita lihat di film ini.

Jadi, seperti Juno dalam Kucumbu Tubuh Indahku, Alexia lantas menapaki hidup yang penuh trauma sembari tidak boleh menunjukkan kelemahan. Namun jika Juno berakhir harus menahan sisi feminimnya, Alexia yang kodratnya sudah cewek – harus menekan kemanusiaannya. Itulah sebabnya kenapa Alexia menjadi distant dengan manusia. Kenapa dia bisa jadi serial killer. Pelat baja adalah simbol sisi kemanusiaannya yang hilang. Dan kehamilannya oleh mobil, adalah simbol puncak hal tersebut. Dia hamil setelah melakukan pembunuhan yang, at least pertama kita lihat. Trauma atas peristiwa tersebut membuahkan kehamilan kepadanya. ‘Buah’ yang menunjukkan dia bukan lagi ‘manusia’. Sekaligus juga jadi tantangan terbesar, dia harus menghadapi kewanitaannya. Tebak ke mana cerita membawa Alexia berikutnya? Ya, Alexia yang tengah hamil (kecepatan hamilnya pun di luar kecepatan hamil normal) harus menekan perut buncitnya dengan suspender, karena dia harus menyamar sebagai laki-laki. See, semua simbolisme tadi itu comes together di paruh kedua cerita.

Secara teori, trauma yang kita rasakan, ‘diserap’ oleh tubuh. Semua yang kita alami, baik secara fisik maupun secara mental atau emosional, akan direkam dan disalurkan kepada tubuh. Maka ada benarnya juga perkataan yang mengatakan bahwa pengalaman keras dan trauma dapat membuat kita jadi lebih tangguh. Tubuh kita beradaptasi, membentuk pertahanan terhadap itu. Tapi sebagai manusia kita tidak hanya tubuh. Kita perlu penyaluran yang sehat terhadap trauma tersebut, penyaluran yang tidak membebani tubuh semata.

 

Jika kita memang menganggap film ini terdiri dari dua bagian cerita, maka bagian terbaik film ini adalah cerita di bagian keduanya. Ketika Alexia ‘terperangkap’ sebagai Adrien, putra yang telah lama hilang dari Vincent. Di sini adalah ketika semua yang dipercaya Alexia selama ini ditantang. Mau itu tentang bagaimana ayah kepada anaknya. Hingga ke tentang menjadi tangguh atau be a man itu sendiri. Selama ini, sebagai perempuan (dan penari stripper!), Alexia merasakan tatapan lapar para lelaki. Jadi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahan. Sebagai Adrien, Alexia merasakan ‘tatapan’ yang berbeda dari para lelaki. Dia experience something yang tak pernah ia rasakan, sekaligus juga sesuatu yang familiar. Dia belajar banyak tentang kendali tubuh dan ekspresi dari Vincent, karakter yang actually ditulis lebih beresonansi ketimbang dirinya sendiri. Vincent, kapten pemadam kebakaran yang dituntut untuk tampil macho, tapi punya sisi vulnerable sendiri. Yang di saat-saat pribadinya, kita tahu kapten itu tidak prima lagi. Secara teknis pun, film langsung jor-joran menghasilkan kontras dari berbagai aspek saat cerita mulai menapaki hubungan antara Alexia dengan Vincent. Warna-warna lembut di momen-momen maskulin, misalnya. Kontras-kontras itu menambah depth buat narasi yang sedang disampaikan. Ending saat keduanya mulai menerima diri mereka masing-masing adalah momen indah, sekaligus sedikit menyeramkan. Memang, relasi kedua karakter inilah yang jadi hati yang kita tunggu-tunggu sepanjang durasi.

titanedd
Cerita yang saking anehnya, aku jadi membaca judulnya pake logat anime “Ti-ta-neee~”

 

Bagian pertama film ini memang sukar untuk ditonton. Alexia benar-benar karakter yang sulit untuk disukai. Waktu kecil dia begitu annoying dengan menirukan suara mesin mobil (dia bertingkah annoying itu yang actually jadi penyebab dirinya kecelakaan) Dia tidak banyak bicara. Ekspresinya tak terbaca. Dia membunuh orang-orang, beberapa di antaranya adalah orang yang berusaha bersikap ramah kepadanya. Kita tak tahu apa yang ia pikirkan, dan apa motivasinya selain tidak ingin tertangkap polisi. Hal satu lagi yang kita tahu adalah bahwa Alexia gak pengen hamil. Apalagi adegan-adegan yang ditampilkan juga bukan buat konsumsi orang-banyak. Adegan pembunuhannya digambarkan cukup real sehingga bisa bikin perut bergejolak. Adegan body-horrornya juga cukup disturbing, dengan oli muncrat ke mana-mana. Bahkan adegan ketika dia ‘mendandani’ dirinya untuk menyamar sebagai cowok; jangan harap adegan itu seelegan adegan Mulan potong rambut sebelum berangkat ke training camp. Film ini penuh oleh gritty things yang hard to watch. Namun begitu, aku salut sama penampilan aktingnya. Yang meranin Alexia itu bukan aktor profesional. In fact, film ini adalah debut aktingnya. Agathe Rousselle ditemukan oleh tim Julia di sosial media, dan langsung digembleng akting. Turns out, permainan akting silent dan berekspresinya juara banget.

Julia basically menyandarkan bagian pertama kepada performance aktor baru ini. Rouselle diberi kesempatan, dan she kills it! Satu-satunya alasan kita enggak berdiri dan ninggalin film ini meskipun di pertengahan awal itu karakternya unlikeable dan situasinya weird as hell, adalah Rouselle menyuguhkan penampilan akting yang membuat kita relate kepada Alexia, karakternya. Kita merasakan yang Alexia rasakan, lewat tubuhnya. Ketika dia membunuhi seluruh penghuni rumah, kecuali satu orang yang berhasil, kita merasakan kelelahan yang ia rasakan. Kita merasakan tekanan dari kejadian tersebut.

 

 

 

Mesin film ini memang lama panasnya. Set upnya gak benar-benar melandaskan banyak, karena seperti ada penghalang kita dari si karakter utama. Ditambah pula dengan elemen horor dan adegan-adegan yang membuat film ini bukanlah sebuah tontonan yang bisa dengan mudah untuk diselesaikan. Tapi memang itulah yang jadi jualan utama. Sebuah pengalaman traumatis. Artistry, kreasi, dan semua kemampuan sinematik pembuatnya diarahkan untuk membuat pengalaman tersebut mencuat. Walaupun harus menjadi seaneh mungkin. Bahkan ketika hati cerita mulai kelihatan pun, film tidak menginjak pedal rem dalam membuat dirinya tampak sebagai sebuah mimpi buruk. Namun di lubuk hati, kita tahu masalah yang dihadapi karakter-karakternya adalah masalah kemanusiaan yang real. Kita tahu perasaan tersebut bisa jadi relatable. Film ini dapat standing ovation sembilan menit di Cannes. Jadi, dalam semangat film itu sendiri, sekarang aku minta kita semua untuk berdiri. Dan bilang “Brrrrmmm Breemm Brmmmm!!”
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for TITANE

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang film dengan elemen cerita yang aneh seperti film ini? Apakah bagi kalian keanehan tersebut jadi daya tarik atau malah jadi turn-off?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

HALLOWEEN KILLS Review

“… and that fear turns them into monsters.”

 

 

SURAT DARI MICHAEL MYERS

 

Dear Penduduk Haddonfield,

Sebagai putra daerah yang udah meneror kota kesayangan kita empat puluh tahun lamanya, saya akhirnya merasa senang. Harapan saya sih pengen bisa sedikit bangga juga sama kalian. Kalian tidak lagi cuma berdiam diri di rumah masing-masing, menunggu saya yang dalam perjalanan mencari Laurie Strode, untuk mampir dan membunuh kalian sekeluarga. Kini kalian berkumpul dan dengan berani menyusun rencana untuk balik memburu saya. Sebenarnya, dulu sudah ada juga sih yang nekat membentuk pasukan seperti itu. Tapi film Halloween 4 yang bercerita tentang itu, beserta sekuel-sekuel yang lain, udah dianggap enggak ada oleh trilogi terbaru buatan David Gordon Green. Tapi saya masih ingat kok. Dulu itu skalanya kecil. Sekarang, wuih, hampir semua dari kalian yang turun ke jalan. Saya kan jadi gak perlu repot-repot lagi!

Sebelum lanjut, saya mau mengucapkan terima kasih kepada tim pemadam kebakaran kota. Karena telah menyelamatkan saya dari dalam jebakan kobaran api di basement rumah Laurie. Coba kalo pemadam kebakaran tidak datang. Pastilah topeng William Shatner kesukaan saya hangus terbakar. Untung mereka datangnya cepet, topeng saya cuma rusak setengah, dan itu jadinya malah tampak lebih keren. Sebagai rasa terima kasih, saya sudah berikan para pemadam kebakaran itu tiket satu-arah ke alam barzah. 

halloween-kills-michael-myers-fire-survival
Sambutan hangat di kampung halaman

 

Yang jelas, Laurie Strode pasti tidak menyangka jebakan briliannya di film Halloween 2018 bakal berakhir sia-sia. Bukan saja dia gagal menghabisi saya, tapi dia juga kehilangan rumah. Padahal rumah itu sakral loh. Seperti yang akhirnya kalian duga, bagi saya rumah adalah segalanya. Saya akan selalu kembali ke sana. Tidak peduli rumah tersebut sudah dihuni orang lain. Ya tinggal bunuh saja. Pokoknya saya harus bisa menatap jendela di kamar kakak saya. Kalo kalian ingin menyakiti saya, harusnya kalian bakar saja rumah saya. Ah, tapi kalian mungkin tidak kepikiran ke sana. Padahal lihat saja Laurie, sekarang dia gak punya rumah. Dia jadi lemah. Dia malam itu tidur di rumah sakit. Enggak bisa ikut berburu saya, bareng kalian. Aksi Laurie di sini cuma menghajar seorang dokter. Random banget. Jujur saya kecewa juga sih. Soalnya meskipun sekarang kalian jadi jagoan semua, lawan saya jadi banyak, tapi enggak ada yang sekuat Laurie. Bahkan anak dan cucu Laurie saja pun, tetap tidak sekuat dirinya. Saya gak dapat lawan yang sepadan di sini. 

Saya pengen banget ngunjungin Laurie di rumah sakit. Biar persis kayak film Halloween jadul kita yang kedua. Tapi yang ke rumah sakit, justru orang lain. Saya bahkan gak kenal siapa. Kayaknya bukan orang kota kita, deh, guys. Yang bikin saya makin kesal adalah kok bisa-bisanya kalian semua menyangka orang asing itu saya. Ayolah. Orang asing bertubuh kecil, setengah botak, tua, penakut, dan gak bisa naik mobil itu? Sayaa?? Mirip dari Hong Kong!! Oke, mungkin kalian memang tidak tahu atau tidak ingat wajah saya yang sebenarnya seperti apa. Dan mungkin kalian sudah jadi sebegitu takut dan marahnya sampai-sampai gak berpikir jernih. Tindakan kalian malah lebih monster daripada saya loh. Saya mana pernah ngeroyok orang tak-bersalah. Saya membunuh orang tak-bersalah satu-lawan-satu. Nasib si orang itu jadi naas di tangan kalian. Serupa ama nasib orang yang juga dituduh sebagai saya di film Halloween 4.

Itu satu lagi yang bikin saya jengkel. Pak Sutradara pengen bikin cerita baru, dan menganggap kisah saya dan Laurie yang segitu banyak versinya itu tidak ada, tapi dia tetep masukin hal-hal yang membuat saya bernostalgia. Saya kan jadi bingung. Harus flashback atau tidak. Masa lalu saya beberapa dibuat ulang, pake efek yang mulus sekali seolah beneran cerita lama. Lalu masa lalu itu ditambah-tambah. Yang sudah ada diruntuhkan, serpihannya dipake untuk cerita baru. Tapi bagi saya, itu kan tetap cerita lama. Makanya bingung. Laurie kan dibuat jadi bukan adik saya. Lah terus kenapa saya kejar-kejar. Saya juga punya perasaan, tau Pak! Nanti deh, setelah kelar nulis surat ini, saya akan nyamperin beliau.

Sekarang saya mau menyapa teman-teman lama saya dulu. Perawat yang dulu ternyata tidak sampai terbunuh oleh saya. Dan tiga anak kecil, Tommy Doyle, Lindsey Wallace, Lonnie Elam. Dulu mana mau saya menyakiti anak kecil. Yang saya kejar itu ya babysitter-babysitter mereka yang kurang ajar. Yang sikapnya ngingetin saya sama kakak saya. Anak kecil dulu saya biarkan lari. Sekarang aja yang aneh, saya disuruh membunuh satu anak kecil oleh Pak Sutradara. Mungkin biar kalian makin marah kali, ya, sama saya. Tapi Tommy, Lindsey, dan Lonnie sekarang juga sudah bukan anak kecil. Mereka udah gede dan hebat-hebat semua. Mereka bertiga kan, pemimpin kalian? Mereka bertiga kan yang nyuruh kalian untuk bergabung, menyorakkan “Evil Dies Tonight”, memburu saya padahal juga ujung-ujungnya yang jadi tewas terpotong-potong ya kalian-kalian juga. Saya agak kasihan juga sama kalian, makanya mayat-mayat itu saya dandani pake topeng-topeng. 

Halloweenss
Biar gak keliatan sedih-sedih amat.

 

Tau gak, kenapa kalian walaupun ramean tapi tetap gagal? Banyak korban-korban saya yang seperti begini nih: Ketika ketakutan dan dalam bahaya, mereka bukannya kabur, tapi malah berjalan ke arah saya bersembunyi. Kan bego sekali ya. Coba kalo mereka pintar. Pastilah segera kabur dan mencari pertolongan. Kalo kalian pinter-pinter, kalian pasti gak bakal ngeroyok saya begitu saja. Kalian pasti tahulah kalo saya ini manusia berkekuatan supranatural yang gak segampang itu mati. Kalo kalian pinter, kalian pasti sudah membakar saya, menabrak saya, atau mungkin kalian akan mengikat anggota tubuh saya ke kendaraan berbeda dan menarik maju sampai tubuh saya putus-putus. Tapinya kalian semua masih begitu takut dan marah untuk bisa berpikir. Saya senang kalian akhirnya pasang aksi. Menjadikan cerita yang cukup baru. Tapi mbok ya, pinter-pinter dikit lah. Tau-tau malah ribut di antara kalian sendiri, ngejar orang yang jelas-jelas bukan saya, megang pistol aja gak bener! Atau mungkin memang kalian sebenarnya bukan apa-apa selain penambah jumlah korban. Enggak ada tuh satupun dari kalian yang punya motivasi di luar kejadian di malam itu. Kalian yang penyintas juga gak keliatan punya kehidupan lain. Masih mending saya. Paling tidak, motivasi saya jadi terjawab pas akhir cerita. Saya merasa kayak Thanos di film Avengers Infinity War. Sayalah jagoannya di sini.

Jadi, ya, saya kangeeen banget ama Laurie. Kalian jaga Laurie dan keluarganya yang tersisa baek-baek ya. Biarlah Laurie istirahat dan menyembuhkan luka-lukanya terlebih dahulu. Sementara kalian juga sambil belajar mempertahankan diri yang bener. Nanti di film terakhir trilogi ini, di kali berikutnya kita bertemu, saya mengharapkan perlawanan yang seru. Itung-itung buat pemanasan sebelum ketemu Laurie. Jangan kayak kali ini lagi. Kita gak mencapai apa-apa di cerita yang sekarang ini. Banyak dari kalian yang mati sia-sia loh. Palingan cuma buat adegan-adegan mati yang kreatif aja. Matinya kalian di sini itu cuma jadi hiburan loh. Kasian amat.

Saya kasih 3 dari 10 bintang emas deh, untuk perjuangan kalian di HALLOWEEN KILLS.

 

 

Sekian dulu, surat pesan dari saya. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Happy Halloween semuaa

 

 

 

Hormat saya, Michael Myers

 

V/H/S/94 Review

“It was a simpler time”

 

 

Kaset video atau VHS memang adalah dinosaurus, jika dibandingkan dengan beragam gadget berteknologi tinggi yang bisa mudah dimiliki dalam genggaman setiap orang.  Kualitas gambarnya yang bersemut-semut kalah jauh ama kejernihan HD. Suaranya yang berdesir (dan kadang terdengar bindeng) bukan apa-apa deh dibandingkan dengan kualitas audio di jaman sekarang. Tapi VHS punya keunggulan sendiri. Tidak ada menu yang rumit, tidak ada loading screen yang annoying, tidak ada software updates. Gak ada iklan! Saat kita ingin merekam, tinggal pasang kamera dan rekam. Saat mau nonton, tinggal masukin ke video dan tonton. VHS akan selalu dapat tempat di hati orang-orang yang pernah mengalami langsung masa keemasannya.

Kita bisa bilang itu karena sentimen nostalgia. Tapi sebenarnya yang dirindukan darinya adalah karena VHS terasa mewakili kehidupan di tahun 80-90an. Hidup yang lebih simpel dan bahagia.

 

Sekarang, semuanya udah overproduce. Terlalu banyak polesan. Bikin video youtube aja sekarang harus benar-benar seperti profesional. Enggak cukup dengan gambar dan suara berstandar tinggi. Harus dilengkapi pake efek dan edit-edit yang mentereng. Makek software editing yang ketinggalan satu versi update-an aja, kita bisa diketawain. Gak usah jauh-jauh, aku bahkan merindukan tahun 2000an ketika video-video yang ada di youtube masih berupa home video sederhana. Yang produksinya lebih mirip video VHS ketimbang buatan stasiun televisi. Kenapa? Karena video-video rumahan tersebut terasa lebih real. Lebih jujur. Karena itulah, kehadiran V/H/S/94 ini, yang franchisenya seperti sudah mati lantaran V/H/S: Viral (2014) yang flop, jadi angin segar buatku. Aku udah jenuh sama film-film yang terlalu sibuk berlomba untuk menjadi besar, baik dari segi visual, efek, cerita, hingga twist. Terutama film hororSebab sesungguhnya, ‘real dan jujur’ itulah yang jadi situasi penentu kualitas cerita horor. Situasi menakutkan yang dialami oleh karakter harus benar-benar beresonansi kepada kita. Ketika mereka diganggu hantu, misalnya, perasaan bersalah atau perasaan duka yang dilambangkan oleh peristiwa menakutkan itu harus sampai ke kita. Film harus mampu membuat kita mengerti perasaan tersebut, dan in turn bisa relate dan percaya kita bisa saja mengalami perasaan serupa; thus make us scare.

Banyak horor modern yang gagal menyampaikan ‘real dan jujur’ tersebut, karena mereka terlalu fokus ke membuat spectacle horor. Ke membuat wahana rumah hantu – alias wahana kaget-kagetan. Ke merangkai plot rumit dengan twist, yang justru sebenarnya mengalihkan kita dari esensi cerita. Ke membuat hantu tampak senyata mungkin, padahal justru menjauhkan kita dari ceritanya. Dua film V/H/S original yang tayang pada tahun 2012 dan 2013 – enam tahun setelah berakhirnya era VHS, dan di tengah maraknya genre found footage modern – mengerti hal tersebut. Paham bahwa culture horor berkembang justru saat VHS lagi hits-hitsnya. Maka film itu mengembalikan penonton kepada masa tersebut. Mengatakan, ‘ini loh habitat natural found footage itu’. Sehingga kedua film V/H/S pertama tersebut jadi sukses dan digemari, baik bagi yang rindu era VHS hingga bahkan oleh penonton yang gak really aware sama ‘kekuatan’ konsep videonya. 

vhs_195562848_7810f16b-65d9-4068-8375-2722a80af17c-superJumbo
VHS reborn!

 

 

Mengikuti (dan melanjutkan) konsep terdahulunya, V/H/S/94 hadir sebagai antologi horor pendek yang digarap oleh filmmaker-filmmaker yang udah dikenal sebagai ‘pemain lama’ pada genre horor brutal nan berdarah-darah. Simon Barrett, Chloe Okuno, Ryan Prows, Jennifer Reeder, and our own Timo Tjahjanto. Masing-masing horor pendek tersebut didesain berupa tontonan kaset video jadul. Estetik yang dipakai dan dipertahankan di sini adalah sudut pandang orang-pertama, dengan layar yang bersemut, suara yang berdesir, dan kamera goyang-goyang. Ada lima cerita lepas, yang salah satunya difungsikan sebagai perekat atau tubuh utama film ini. Yakni tentang sekumpulan pasukan S.W.A.T yang menyerbu markas sebuah cult. Di sana mereka menemukan banyak hal-hal mengerikan, termasuk empat video yang juga bakal kita tonton.

Cerita favoritku adalah Storm Drain karya Chloe Okuno. Seorang reporter dan kameramennya sedang meliput sebuah urban legend tentang makhluk setengah tikus setengah manusia yang hidup di gorong-gorong. Kita dibuat melihat aktivitas meliput mereka lewat kamera si kameramen. Konsep low-quality dan pov dimainkan dengan pintar di sini. Lingkungan gelap yang mereka lewati terasa semakin mencekam lewat pandangan mata kita yang terbatas. Horor itu akan benar-benar terasa ketika Okuno memperlihatkan sekelebatan makhluk di dalam sana. Untuk membuat kita tetap tertarik, Okuno membuat karakter-karakternya berbobot. Ada motivasi, dan nantinya ada hal yang menjadi ‘antagonis’ dari motivasi tersebut. Napas pendek segmen ini jadi terasa begitu berarti. Set up, pengungkapan, bahkan aftermath cerita tidak disampaikan terburu-buru. Sama sekali tidak ada niat dari segmen ini untuk membuat cerita menyusur tempat gelap yang semata untuk mengagetkan penonton. Kalian bisa melihat betapa respek dan fokus ke berceritanya si pembuat dari cara ia membuild up dan memberikan pay off kepada makhluk legenda yang dicari oleh karakternya. Segmen ini bahkan dilengkapi oleh klip-klip iklan ala 90an, yang menambah kesan real television footage.

Konsep sederhana dari video itu dijadikan lebih sederhana lagi oleh cerita The Silent Wake, garapan Simon Barrett. Di malam berbadai itu, acara pemakaman seorang pemuda misterius terpaksa ditangguhkan. Perempuan penyelenggara, terpaksa tetap menunggu di sana, kalo-kalo ada pelayat yang datang. Eksekusi konsep segmen ini pun dilakukan dengan luar biasa. Kita hanya melihat dari tiga kamera, dua statis yang terpasang di ruangan, dan satu kamera mobile yang dipegang oleh si perempuan. Perpindahan view dari ketiga itulah yang excellent. Tempo dan irama horor terbangun maksimal dari sana. Karena sebenarnya, cerita ini standar banget, bahkan elemen seramnya juga. Mati lampu, peti mati bergerak sendiri, ada suara-suara, wujud setan yang over-the-top bloody. Perpindahan sudut kamera dan cut-to-cutnya lah yang membuat cerita ‘jaga mayat’ ini bekerja efektif. Sebagai kontras dari cerita ini, ada Terror garapan Ryan Prows. Lebih banyak karakter. Ruang lebih luas. Dan bahkan ada ledakan. Sekelompok kulit putih rasis berkumpul, menyempurnakan rencana mereka yakni sebuah mengembangkan ‘senjata rahasia’ untuk memurnikan Amerika. Secara cerita, film Terror ini sebenarnya gak maksimal untuk cerita pendek. Ini terlihat dari ending yang terasa terburu-buru, tidak terasa berkembang dengan sempurna. Tapi paling tidak, segmen ini masih setia mengikuti konsep 90an dengan video low-quality dan bahkan adegan-adegan bego yang khas sekali seperti konten home video yang tidak profesional.

Ketiga film tersebut membangun konsep dan setia pada tema. Lalu datanglah The Subject karya anak bangsa. Aku gak tahu, but lol, Timo yang Safe Haven karyanya masihlah entry terbagus seantero franchise V/H/S/, seperti gak dapet memo di sini. Alih-alih bikin low-quality, dia malah bikin visual mentereng, kayak film digital biasa. Kayak film yang dibuat dengan kamera di masa sekarang, bukan 90an. Timo cuma nambah filter frame kamera dan catatan waktu 94 (dan kemudian editor film mati-matian menambah efek grain). Ceritanya yang mirip-mirip Hardcore Henry pun terasa futuristik.  Seorang ilmuwan gila menculik beberapa orang, dan mengubah mereka menjadi makhluk hibrid manusia-mesin. Kekacauan terjadi tatkala markas si ilmuwan digrebek polisi di bawah pimpinan Donny Alamsyah. Semua horor di tempat itupun lepas. Imajinasi dan ide cerita memang sungguhlah liar dan perfect untuk cerita horor, apalagi Timo di sini seperti mengajak kita berdialog soal semakin menyatu dengan teknologi tidak lantas membuat manusia kehilangan hati. Yang bagiku di sini, itu berarti film ini berargumen denganku soal film yang wah bisa juga punya hati kayak film-film yang sederhana. Masalahnya, film segmen ini tidak pernah menempatkan hati pada ceritanya. Melainkan sebuah spectacle yang luar biasa. Udah kayak aksi-aksi video game. Apalagi makhluk horor hibrid itu juga terlalu kinclong. Aku mengharapkan efek atau kostum yang grotesque, yang perpaduan manusia dan mesinnya itu bikin kita benar-benar mual ala makhluk Cronenberg. Tapi tidak. Timo membuat mereka terlalu ‘bersih’. Akting kaku dan  over-the-top sebenarnya juga dijumpai pada segmen atau cerita yang lain. Namun karena yang lain mempertahankan kesan video amatir nan jadul, akting tersebut jadi passable. Pada The Subject ini, sebaliknya, jadi malah mengganggu. Sebagai single story, aku bukannya tidak suka. Aku juga enjoy. Tapi sebagai bagian dari antologi dengan konsep tertentu, this entry just feels very out of place.

VHSTheSubject1-RT-1024x582-1 - Copy
Greatest shooter of all time, menembak lewat punggung kameramen

 

 

Entry terburuk, however, jatuh kepada segmen yang jadi tubuh utama film ini. Dan ini tidak mengherankan sih. Batu sandungan seri V/H/S selalu pada bagian segmen tubuh utama. Film ini pun kewalahan ketika harus mengikat segmen-segmen cerita yang saling tak berhubungan itu ke dalam satu film utuh. Cerita penyergapan oleh pasukan S.W.A.T itu berakhir gak jelas. Dan bahkan lebih ‘kempes’ ketimbang ending segmen Terror. Build up mayat-mayat mengenaskan (dengan bola mata tercungkil keluar) dan misteri berbagai boneka dan salib terbalik, tidak mendapat pay off sama sekali. Malah seperti diabaikan. Instead, kita malah mendapat penutup standar “oh ternyata si anu jahat”. Sambung-menyambung ceritanya pun terasa melompat-lompat. Inilah yang harus diperhatikan lagi oleh franchise ini untuk di kemudian hari. Mereka harus menemukan cara atau narasi yang lebih natural untuk menconvey konsep video-video yang sudah jadi ciri khas.

 

 

 

Untuk sebagian besar waktu aku menikmati menonton film ini. Tidak sejelek film ketiga franchise ini, walau juga bukan film yang benar-benar kuat. Aku benar-benar mengapresiasi konsep video low quality dan cerita sederhana tapi horor over-the-top dan berdarah-darah yang mereka usung. Menjadikannya kontras yang sangat menarik. Tapi memang, naturally, horor antologi seperti ini akan punya masalah balancing dan penyatuan, yang oleh film ini pun masih tetap tidak bisa tertuntaskan dengan maksimal.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for V/H/S/94

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian sekarang ini kita memang telah terlalu overproduce terhadap konten sehingga kehilangan elemen ‘real dan honest’ di dalamnya?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE MEDIUM Review

“All is amiss. Love is dying, faith’s defying, heart’s denying”

 

 

Sebagai satu rumpun Asia Tenggara, Thailand mirip-miriplah sama kita. Di sana pun kepercayaan terhadap kleniknya tinggi (maksudnya, orang sono juga lebih suka ke dukun ketimbang ke klinik! hihihi) Dalam catatan yang lebih serius, ada perbedaan fundamental antara kepercayaan klenik orang Thailand dengan orang kita. Di kita, mempercayakan kesembuhan kepada ilmu ghaib bisa disebut sebagai dosa. Sebagai praktek syirik, karena bertentangan dengan ajaran agama. Menduakan Tuhan. Sedangkan bagi mayoritas penduduk Thailand, klenik tersebut justru bagian dari kepercayaan religi mereka. Bangsa Thailand berdoa kepada Dewa-Dewa. Meminta kesejahteraan, kesehatan, peruntungan. Dukun adalah perantara rakyat dengan sesembahan mereka. Menolak menjadi dukun saja, berarti menolak percaya kepada Dewa-Dewa, dan itu adalah perbuatan salah yang bakal mendatangkan kemalangan. Seperti yang persisnya terjadi pada cerita film yang di-review kali ini. The Medium, kolaborasi antara penulis naskah Thailand dan Korea, akan membuka perjalanan horor My Dirt Sheet pada musim halloween tahun ini!

medium80hnp3NoCkV75bXWPLA88wEgFcK
Kalo kita bisa percaya penyakit sihir seperti cacar naga, maka kita juga bisa percaya sama sakit guna-guna

 

Poster filmnya bilang bahwa ini adalah cerita tentang perdukunan di Thailand. Maka kita dibawa melihat keseharian seorang dukun perempuan yang cukup populer bernama Nim. Cerita tampak cukup inosen di awal-awal. Kita melihat dia mengobati orang. Kita mendengar Nim menjelaskan tentang pekerjaannya tersebut, tentang darimana ia mendapat ilmu, dan bahkan soal ia memposisikan diri sebagai sanding dari ilmu kedokteran. Semua itu ternyata set up untuk kekacauan yang bakal terjadi. Bermula dari Nim yang menghadiri pemakaman suami kakaknya. Kita lantas diberitahu soal keluarga besar Nim, yang adalah bungsu dari tiga bersaudara. Keluarga besar Nim sepertinya dikutuk, lantaran sang kakak pernah menolak ilmu dukun dari Dewa. Nim langsung tahu bahwa ada yang tidak beres pada Mink, kini anak satu-satunya dari kakaknya. Mink, dengan mood swing yang mengkhawatirkan. Mink, yang bicara kepada orang yang tak kelihatan. Mink, yang pantulannya di cermin bisa senyum sendiri (jantungku copot lihat adegan ini!) Mink, yang sempat menghilang dan kembali – tidak lagi seperti orang normal. Nim bisa jadi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan keluarganya, namun bahkan serangan kekuatan gaib yang jahat itu too much untuk dihandle oleh Nim. 

Medium storytelling yang dipakai oleh sutradara Banjong Pisanthanakun (salah satu horor karyanya yang paling membekas buatku adalah Shutter di tahun 2004) dalam The Medium ini adalah gaya dokumenter. Kehidupan Nim direkam oleh beberapa kru kamera yang ingin meneliti profesi dukun sebagai tradisi lama yang ada di Thailand. Dalam perfilman, istilah untuk cerita fiksi yang dibingkai dengan gaya dokumenter disebut mockumentary. Dokementer ala-ala. Yang memang, seringkali, bukan gaya dokumenternya saja yang di-mockery. Melainkan juga ada film menggunakan gaya tersebut untuk menyentil topik yang diangkat. Seperti bagaimana Taika Waititi dalam What We Do in the Shadows (2014) memparodikan genre vampire. Atau bagaimana This Is Spinal Tap (1984) didesain untuk ngeledek kehidupan rock band. Akan tetapi, The Medium tidak terasa seperti komentar nyeleneh terhadap perdukunan. Sutradara Banjong justru terlihat punya respek yang dalam terhadap profesi tersebut. Lewat dialog yang dibentuk sebagai interview, dimuatnyalah berbagai insight.

Bahwa kerjaan dukun punya beban, tanggungjawab, dan segala kesusahan tersendiri. Kita melihat Nim yang tidak menikah, hidup sendiri alih-alih dua saudaranya yang tinggal serumah di bagian lain kota. Nim tidak dibuat sebagai karakter serbabisa, yang punya mantra-mantra ampuh, dengan tarian-tarian ritual memukau. Tidak ada jurus-jurus. Tidak ada merintah-merintah hantu berantem untuk berantem kayak Shaman King. Ketika Nim bekerja, yang kita rasakan justru ke-vulnerable-an. Dukun ternyata tidak segampang itu mengusir setan. Nim butuh waktu berhari-hari berdoa dalam lingkaran ritual yang rumit dan gak mentereng. Dia bahkan harus berhujan-hujan menanti petunjuk dari roh yang ia ajak komunikasi. Bumbu drama antara Nim dengan keluarga kakaknya, dengan abangnya, menambah lapisan pada gambaran seorang dukun yang diceritakan oleh film ini. Pekerjaan Nim benar telah jadi mockery, bahkan di kalangan rakyat Thailand itu sendiri. Dua saudara tertua Nim sendiri tidak terlampau respek sama kerjaan dukun. Sang kakak justru menolak ilmu tersebut jatuh kepadanya, dan memilih ‘kabur’ memeluk agama lain. Dalam satu adegan diperlihatkan Nim nangis dengan tragis saat patung Dewa yang sudah turun temurun jadi sembahan keluarganya ditemukan dalam keadaan patah. Kepala Dewa itu berguling di tanah.  Film tidak menegaskan bahwa itu adalah perbuatan roh jahat yang berusaha ia usir, atau ada orang tertentu yang sengaja menghancurkan patung. Yang jadi poin adalah kerjaan relijius Nim tidak lagi mendapat perlakuan atau diterima dengan sebagaimana mestinya.

Dari sekian banyak dosa yang bisa dilakukan umat manusia terhadap keyakinannya, menolak Tuhan adalah dosa paling besar. Film ini menunjukkan dosa tersebut tidak terampuni. Tuhan balik meninggalkan keluarga kakak Nim, dan di momen eksak itulah keluarga tersebut tidak bisa tertolong lagi.

 

Gaya dokumenter digunakan dengan maksimal. Karena dengan konsep ini yang kita lihat terbatas pada apa yang direkam oleh kamera dalam narasi saja, info yang kita dapat juga tidak bisa lebih banyak daripada kameramen – kita tidak melihat kejadian yang off-camera atau yang tidak direkam – sehingga ini menambah banyak bobot ke dalam aspek misteri yang dimiliki oleh film. Kayak patung tadi, kita tidak tahu pasti bagaimana bisa rusak, dan oleh siapa. Tapi misteri kejadian tersebut dengan efektif menaikkan tensi. Dan film juga jago dalam membangun tensi. Atmosfer mengerikan juga terjaga dengan baik. 

Salah satu tantangan dalam mockumentary adalah membuat alasan yang bisa dimaklumi kenapa ada kamera di sana. Film ini bijak sekali dalam menempatkan kamera tersebut. Ketika there’s no way kru bisa ada di satu tempat tertentu, maka film enggak ragu untuk memindahkan pandangan kita kepada rekaman cctv misalnya. Dan actually, memang pada permainan gimmick kamera inilah The Medium menyimpan kekuatan. Sekuen kamera tersembunyi pada menjelang babak ketiga adalah bagian yang paling seram buatku. Jumpscare yang dilakukan pun tidak annoying, melainkan memang efektif sebagai punchline adegan seram. Selanjutnya tentu saja adalah kru kamera itu sendiri. Film harus menemukan adegan atau alasan yang pas, yang memungkinkan kenapa mereka bisa terus merekam padahal ada hantu. Film juga memikirkan rancangan untuk ini. Yang juga dimainkan ke dalam pay off adegan horor nantinya. You know, dengan santainya nanti si hantu merebut kamera dari tangan kameramen, dan balik merekam mereka. Mengungkapkan horor yang selama itu tak-terlihat kepada kita semua.

Dalam lingkup horor, film ini memang enggak segan-segan menampilkan darah, adegan menjijikkan, adegan vulgar, hingga ke adegan sadis. Korbannya juga enggak pilih-pilih. Kuat-kuatin mental deh kalo mau nonton film ini. Jika kalian punya soft spot kepada hewan atau anak bayi, maka kalian akan butuh sebanyak mungkin comfort items yang bisa kalian dapatkan sebagai persiapan sebelum menonton.

medium808503_s_1624271312911
Bayangin, Dewa aja ditolak loh. Women, am I right?

 

Dengan perhatian tercurahkan kepada rancangan gaya dokumenter supaya efektif untuk capaian horor, film ini mau tidak mau jadi abai sama bangunan narasinya. The Medium akan terasa kepanjangan, ada masalah pacing yang cukup serius di pertengahan saat film mulai terasa menapaki poin yang berulang-ulang. Mink menghilang, ketemu, kesurupan, Nim berusaha mengusir roh jahat dengan ke tempat-tempat misterius, Nim seolah tahu sesuatu, tapi Nim tetap gagal. Ada beberapa kali siklus tersebut berulang, dalam berbagai variasi. Nim sebagai tokoh utama pun mulai menjengkelkan. Karena meskipun seharusnya ini adalah interview dia, tapi dia tidak pernah memberitahu kita apa-apa soal kasus Mink. Kamera, dan kita, hanya mengikutinya ke mana-mana. Mengikuti tindakan dan pencerahan yang ia dapatkan, tapi kita tidak pernah tahu dia sebenarnya lagi ngapain. Kita tidak tahu apa makna telur yang kuningnya berwarna hitam. Kita hanya melihat Nim bereaksi. Ada kesan seperti film sendiri juga sebenarnya tidak tahu, dan hanya melakukannya untuk mengulur-ulur misteri. Lalu Nim ‘hilang’ begitu saja. Posisinya digantikan oleh dukun pria, yang hadir so late in the game sehingga seperti karakter yang serbatahu. Seperti film butuh solusi instan. Dan on top of pergantian tokoh utama begitu saja (dari Nim sepertinya ke kakaknya), kasus misteri tetap tidak ada penjelasan.

Cerita film ini tidak berakhir dengan perasaan yang memuaskan. Yea aku tahu, ini bukan happy ending. Tapi bad ending yang disajikan juga tidak memuaskan, karena tidak benar-benar terasa seperti menuntaskan apa-apa. Babak ketiga film ini adalah ketika semua kerusuhan terjadi. Asik untuk horor-hororan, tapi film juga seketika menjadi all over the place. Ada orang yang kayak zombie, makanin orang. Ada orang kesurupan nabrakin kepala ke tembok ampe serpihan otaknya nempel. Kamera dengan infrared. Voodoo doll. Semua itu berlangsung gitu aja tanpa ada kepedulian sama konflik karakter yang seperti disudahi begitu saja. They are helpless, so, here’s hell for your entertainment. Film kayak bilang begitu kepada kita semua. Film yang tadinya meminta perhatian kita pada cerita, pada drama dan perasaan karakter, pada kerjaan dukun, mendadak menyuruh kita untuk senderan dan rileks menikmati horor yang mereka sajikan. Yang tampak buatku, ini merupakan sebuah ketidakkonsistenan, dan malah hampir seperti film memang tidak tahu cara mengakhiri cerita dengan tepat.

 

 

Sebagai wahana horor, aku suka. Aku merekomendasikan ini sebagai tontonan Halloween kalian semua. Nuansa horor yang kental, relate dengan kita. Karakter yang juga somehow terasa akrab. Gaya bercerita yang efektif sebagai landasan momen-momen seram yang bikin kita segen matiin lampu rumah di malam hari. Film ini punya semua itu. Yang tidak film ini punya, dan ini penting, adalah konsistensi bangunan cerita. Kita yang orang Indonesia bisa nonton ini tanpa subtitle, dan tidak akan ketinggalan banyak narasi penting, dan bisa tetap mengerti. Karena yang punya pay off pada film ini hanya gaya berceritanya. Ceritanya sendiri tidak. Jika kalian pengen nyimak cerita seputar dukun dan kepercayaan yang lebih padet dan matang, kalian akan lebih menemukannya pada The Wailing (2016), karya penulis naskah dari Korea yang ikut kolab ngerjain naskah film ini. Efektif hanya sebagai wahana horor, namun tidak demikian halnya sebagai film horor, film ini ternyata tepat sekali seperti judulnya. Medium. Sedang-sedang saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE MEDIUM.

 

 

 

That’s all we have for now

Ngomong-ngomong soal dukun, waktu kecil aku punya penyakit amandel. Yang cukup parah, gampang meradang. Aku pasti sakit demam dan tidak bisa menelan makanan, paling tidak satu kali dalam sebulan. Karena takut dioperasi, maka aku dibawa orangtua berobat ke dukun. Nah lucunya, sebelum ketemu sama dukun yang bener, aku sempat nyasar dulu ke dukun yang ngasal. Dari mana aku dan orangtuaku tahu bahwa dukun pertama itu ngaco? Well, karena, dia nyuruh kami untuk nyari obat berupa telur dari ayam hitam berbulu putih!

Apakah kalian punya pengalaman lucu (atau mungkin seram!) seputar berobat ke dukun?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

OLD Review

“The fear of old age disturb us, yet we are not certain of becoming old”

 

Pantai yang membuat orang-orang di dalamnya menua dengan cepat. Premis film terbaru M. Night Shyamalan ini memang menarik. Ia mengadaptasi cerita tersebut dari Sandcastle, graphic novel yang memorable karena menggali hal yang gak banyak dieksplor pada media tersebut; meditasi tentang kematian yang pasti akan datang. Ngomongin soal memorable, Shyamalan sendiri sangat diingat oleh penggemar film. Sebagai pembuat twist super-gak-ketebak. Twist ciptaan Shyamalan enggak cuma sekadar pengungkapan yang membelokkan film dengan drastis, melainkan bertindak sebagai membingkai ulang keseluruhan cerita. Film yang tadinya seperti cerita horor, ternyata cerita drama. Film yang tadinya seperti cerita survival, ternyata cerita superhero. Sedemikian dahsyatnya twist yang ia buat, enggak setiap saat film-filmnya disukai oleh semua orang. Kebanyakan cenderung membagi dua penonton. Suka. Dan benci.

Untukku, aku masih melihat Shyamalan sebagai salah satu inspirasi membangun atau mendesain cerita, meskipun gak semua filmnya aku suka. Beberapa filmnya memang malah konyol sekali. Dan Old kali ini, aku menemukan satu twist atau satu misteri yang aku yakin gak diniatkan oleh Shyamalan. Yaitu film ini harusnya adalah tentang orang-orang yang mendadak menjadi tua, tapi kenapa justru aku yang merasa telah kehilangan waktuku yang berharga saat menonton mereka.

old-2021-film-still-01
The twist is getting old fast.

 

Memasukkan twist ke dalam cerita pantai misterius, tak pelak adalah sebuah langkah yang overkill. Materi aslinya , si Sandcastle sendiri, sebenarnya memang tidak punya twist. Ceritanya berlangsung linear, senatural yang bisa dicapai pada cerita tentang orang yang bertambah tua setahun hanya dalam rentang setengah jam. Landasan cerita film Old pada awalnya memang cukup nurut pada cerita asli tersebut. Guy beserta istri dan sepasang anaknya yang masih kecil (6 dan 11 tahun) berlibur ke sebuah resort. Di sana mereka ditawari paket liburan privat ke pantai tersembunyi yang cantik dan bersih sekali. Besoknya, Keluarga Guy beserta beberapa keluarga atau pasangan turis lain berangkat ke sana (diantar oleh Syhamalan himself yang main jadi supir hihi)  Setelah beberapa saat bersenang-senang di pantai sepi kecuali oleh deburan ombak (yang membuatku semakin meratapi keadaan lockdown), Guy dan turis-turis lain mulai mendapati ada yang aneh. Mereka gak bisa keluar dari sana – setiap kali jalan lewat gua tempat masuk, mereka pasti terlempar dan pingsan di pinggir pantai. Mereka menemukan barang-barang bekas turis yang ditinggalkan begitu saja. Mereka juga menemukan mayat seorang wanita. Dan ketika Guy dan istrinya kembali untuk menenangkan anak-anak mereka, mereka mendapati anak-anak itu tidak lagi diperankan oleh Nolan River dan Alexa Swinton yang imut-imut, melainkan oleh Alex Wolff dan Thomasin McKenzie! Amit-amit? tentu tidak.. kalo perubahan jadi dewasa itu tidak terjadi hanya dalam rentang waktu beberapa menit!!

Di sinilah Old mulai menjauh dari Sandcastle. Tentu saja, dalam setiap film adaptasi, gagasan maupun gaya sutradara amat sangat diapresiasi kehadirannya untuk membuat film itu menjadi satu objek unik tersendiri. Tapi untuk kali ini, pilihan Shyamalan patut kita pertanyakan. Alih-alih membuat cerita yang fokus ke membahas persoalan menghadapi umur tua yang dipaksakan menjadi sangat cepat datangnya, membahas drama anak yang lantas tumbuh besar sementara orang tua mereka tumbuh.. tua, membahas ketakutkan manusia terhadap kematian yang memang bakal datang — you know, horor manusiawi seperti yang benar-benar menjadi sorotan pada materi aslinya, Shyamalan malah lebih banyak berkonsentrasi pada bagaimana menutup cerita dengan wah. Twist seperti apa yang bakal ia pakai untuk membuat cerita jadi logis, berdasarkan logika-dalam yang ia bangun. Sehingga ia mengarahkan penceritaan ke membuat kita ikut bertanya-tanya, tidak lagi untuk membuat kita berkontemplasi atau ikut merasakan situasi horor yang dialami oleh karakter-karakter. Penjelasan-penjelasan dan penyelesaian yang akhirnya disajikan oleh Shyamalan membuat pesan atau bahasan terkuat yang dimiliki oleh cerita ini jadi kehilangan power. 

Yang tentunya jadi counter-productive. Film ini harusnya lama berkutat di karakter-karakter. Anak 6 tahun yang tiba-tiba jadi remaja, penuh gelegak hormon. Orang dewasa yang tiba-tiba merabun. Ibu yang kehilangan anak. Cerita ini didesain untuk cerminan kita mengarungi peristiwa-peristiwa natural dalam kehidupan – kematian dan kehilangan. Penuaan. Sesuatu yang kita takuti. Film ini mengajukan keadaan ketika hal yang ditakuti tersebut semakin dipaksakan ke hadapan kita. Bagaimana kita menyingkapi kematian jika kita belum siap. Berapa lama yang kita butuhkan untuk siap. Semua yang thought-provoking itu lost in the shuffle saat film dengan kecepatan mantap membawa kita dari satu contoh peristiwa penuaan ke peristiwa lain. Menggiring kita dari satu contoh kasus ke kasus lain, begitu saja tanpa banyak waktu untuk membiarkan peristiwa tersebut tenggelam dan meresap.

Sebagai manusia, menjadi tua adalah hal yang menakutkan bagi kita. Tua identik dengan kematian, dengan kelemahan. Kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya menjadi tua adalah sebuah privilege. Yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Karena usia tidak ada yang tau. Bisa hidup sampai tua berarti kita diberikan anugerah untuk merasakan dan mengalami lebih banyak. Lebih lama. Makanya hal yang terjadi pada karakter di film Old ini sebenarnya adalah hal yang sangat mengerikan. Karena di pantai itu, mereka menjadi tua tanpa mendapat keuntungan atau privilige dari proses tua itu sendiri.

 

Secara visual pun begitu. Padahal ada begitu banyak hal-hal menarik yang terjadi. Ada karakter dengan tumor yang tumbuh dengan cepat. Ada karakter anak yang jadi remaja, kemudian dia hamil. Ada karakter satu lagi, yang punya kondisi kekurangan kalsium. Ada juga karakter yang diam-diam mengidap schizophrenia. Kondisi-kondisi itu mestinya digali, digunakan maksimal untuk menguatkan elemen horor pada film. Entah itu horor psikologis, maupun horor yang lebih eksplisit seperti body horror. Sekali lagi, modalnya ada. Rule di pantai itu adalah luka di tubuh akan cepat sembuh merapat kembali. Jadi kalo ada yang dioperasi, maka luka dia harus ditahan – dipegang oleh jari jemari orang-orang di sana. Kurang gross apa lagi coba. Tapi mungkin karena sensor rating atau apa, film ini gak mau jor-joran menjadi body horror ataupun nunjukin hal-hal  yang benar-benar bloody ataupun mengerikan. Hanya ada satu momen yang cukup ngeri, yaitu saat nampilin karakter yang tubuhnya ‘tergulung-gulung’. Selain itu ada juga beberapa yang memang diolah untuk advantage film, seperti memilih untuk tidak memperlihatkan mayat (diserahkan kepada imajinasi kita sehingga lebih seram), tapi pada sebagian besar hal, film seperti melewatkan kesempatan untuk berhoror ria. Ketika ada orang yang dibunuh karena ditusuk-tusuk oleh pisau kecil, misalnya. Seharusnya rule soal luka yang segera menutup itu dimainkan, karena pasti pembunuhannya bakal lebih sadis – karakter harus membunuh melawan kekuatan pulau yang menyembuhkan luka. 

Semuanya hanya menyentuh permukaan. Kejiwaan karakter memang tidak dibahas mendalam. Konflik atau drama pada keluarga Guy saja hanya diperlihatkan seadanya. Lewat momen-momen yang ditanam, tapi karena semua hal lainnya gak dalem, jadi terlihat sangat obvious. Dan parahnya juga terlihat kikuk. Aktual dialog karakter di film ini di antaranya ada yang semacam “Eh aku mau ngomong”, “Apa?”, “Nanti deh. Gajadi.” Dialog-dialog di sini banyak yang aneh kayak gitu. Karakter-karakernya seperti mengumumkan, ketimbang seperti ngobrol beneran. “Wah, sekarang aku merasa lebih baik”, coba ucapkan kalimat tersebut dengan nada antara senang tapi kondisimu memprihatinkan. Ya, gak natural. Begitulah dialog-dialog film ini terasa (dan kalimat contoh tadi juga beneran ada di film!). Tambahkan gerak kamera dan blocking yang sama anehnya; Shyamalan sering sekali menggunakan kamera memutar, memperlihatkan karakter-karakter yang berdiri kebingungan, posisi mereka seperti mengelilingi kamera. Kalo enggak memutar begitu, Shyamalan akan menyuruh kamera ‘berjalan’, sementara karakternya kayak berbaris ke samping, dengan posisi orang yang berikutnya selalu berada beberapa senti di belakang orang sebelumnya. It is just weird. Gerakan, posisi, dialog, semuanya kayak dibuat-buat. Mungkin pak sutradara bingung bagaimana merekam adegan di pantai kecil, jadi supaya gambarnya gak keliatan gitu-gitu melulu maka ia menggunakan blocking dan kamera movement yang aneh-aneh. 

Old-Movie
Bayangkan kalo si Trent nanya nama dan pekerjaan ke SJW. Hmm, bisa viral kau, Nak!!

 

Itu belum apa-apa dibandingkan penulisan karakternya sendiri. Dibuat simpel sekali. Karakter mereka adalah pekerjaan mereka. Istri Guy bekerja di museum, jadi nanti karakternya akan bicara soal skala waktu. Guy bekerja sebagai orang survei keamanan, jadi dia akan bicara soal statistik atau persentase keselamatan, like, nyuruh anak-anaknya berhenti berlarian dengan menyebut angka kecelakaan sebanyak sekian persen. Nice, orangtua memang gitu kok kalo bicara ama anaknya.. orangtua di dunia paralel haha! Geliat craft dan kreasi Shyamalan, bagaimanapun juga, masih keliatan. Karena dia menggunakan berbagai pekerjaan karakter tersebut sebagai cara para karakter bekerja sama, berusaha figuring out apa yang terjadi di pantai, dan bagaimana mereka bisa keluar dari sana. Dalam kata lain, pekerjaan mereka memang vital untuk diketahui. Hanya saja, cara mengetahuinya itu yang begitu simpel sehingga jadi eksposisi yang konyol. Jadi diceritakan, anak bungsu Guy yang bernama Trent punya hobi nanyain nama dan pekerjaan setiap orang dewasa yang ia jumpai, “Halo, siapa nama dan apa pekerjaan Anda?” Aku gak tau apakah itu dimaksudkan sebagai cute, atau memang ada anak di luar sana yang perangainya kayak gitu, tapi untukku, ya itu sungguhlah sebuah trait anak yang tak-lumrah. 

Shyamalan seperti berusaha keras memastikan narasinya logis. Jadi dia benar-benar menanamkan jawaban, menyimpan hal-hal penting, fenomena pantai tersebut pengen dia beri makna. Twist film benar-benar menjawab rapi semua itu. Kita akan tahu kenapa mereka dipilih ke pantai. Apa sebenarnya fungsi pantai itu. Siapa dalang di baliknya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang jadi concern terbesar film itu. Bukan lagi permasalahan karakter. Ada, tapi jadi nomor dua. Ketika film menemukan hal yang tak bisa mereka jawab, seperti kenapa rambut dan kuku tidak ikut tumbuh dengan cepat sedangkan seorang mayat bisa dengan cepat berubah menjadi tengkorak, atau bagaimana nanti jika ada bayi yang lahir di pantai, atau kenapa orang bisa pakai nama mobil sebagai nama-artis lol, maka film dengan cepat nge-gloss over. Hanya memperlihatkan dan tidak membahas lebih lanjut. Dengan sangat cepat, kayak takut penonton sadar dan mempertanyakan. Soal bayi itu aja, karena gak mau ribet, film membuat bayi itu mati gitu aja dengan alasan ‘kurang mendapat perhatian’. Udah kayak bayi tamagotchi!

See, concern film ini gak inline dengan concern kita, penonton mereka. Kita gak akan peduli sama pantai itu jika tidak diarahkan ke sana. Kita akan lebih peduli sama karakter-karakter. Sama apa yang terjadi kepada mereka. Sama perjuangan mereka untuk berusaha keluar, atau bertahan hidup di sana. Sama bagaimana mereka menyelesaikan masalah personal setelah belajar dari apa yang mereka alami selama di pantai. Akan lebih memuaskan untuk mengalami journey karakter, merasakan masalah mereka kemudian berefleksi, ketimbang mengetahui penjelasan apa sebenarnya yang terjadi di pantai itu. Dan kupikir juga toh lebih mudah menggali karakter yang manusiawi, ketimbang come up with story tentang pantai ternyata eksperimen tukang obat dan segala macem penjelasan-penjelasan yang dipaksakan.

 

 

 

Jadi ya, menurutku Shyamalan telah salah pilih sejak awal. Cerita film ini adalah cerita yang kuat pada permasalahan karakter. Yang harusnya diselami adalah persoalan anak yang semakin dewasa sementara orangtua semakin menua, ketakutan manusia akan kematian, soal hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ini seharusnya adalah soal manusia melawan waktu. Tapi, Shyamalan dengan keahliannya meracik twist, membuat film ini sebagai kejadian yang harus dijelaskan kenapanya semata. Untuk melakukan itu, dia mengorbankan banyak hal. Dialog dan karakter yang natural, tone yang imbang, serta adegan horor yang harusnya bisa maksimal, di antaranya. Dan bahkan setelah semua yang sengaja dikorbankan tersebut, film tetap tidak bisa menjawab semua, karena masih banyak juga kita jumpai hal-hal yang tak terjelaskan, yang membuat kejadian-kejadian di film jadi terasa konyol.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for OLD.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Mengapa manusia takut sama menjadi tua?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA