THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS Review

“It’s not what you say, it’s what people hear.”

 

 

Anggota keluarga, entah kenapa, suka bikin kita malu di depan umum. Hampir seperti misi mereka untuk berlomba-lomba melakukan hal di tempat yang banyak orang, yang pada akhirnya membuat kita pengen hilang ditelan bumi. Paman si Lewis menjemputnya, masuk ke dalam bis, dengan mengenakan kimono. Di lain kesempatan, Lewis dijemput oleh Paman ke sekolah dengan mobil butut. Merasa belum cukup mempermalukan Lewis di depan teman baru yang susah payah diperolehnya, Paman kemudian menawarkan diri untuk tancap gas – hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi kepada mobil tersebut jika distarter keras-keras.

Sesungguhnya, Paman Jonathan ingin memperlihatkan kepada Lewis bahwa menjadi aneh itu adalah sesuatu yang hebat. We have to embrace our quirkiness. Tapi Lewis adalah anak cowok yang sedang dalam masa perkembangan yang sulit. Orangtuanya baru saja meninggal. Membuat Lewis harus pindah ke kota lain untuk tinggal bersama pamannya. Dalam sebuah rumah dengan banyak jam, beraneka jenis, nemplok di setiap jengkal dindingnya. Lewis sendiri sebenarnya sudah cukup aneh, dia mengenakan kacamata pilot ke mana-mana. Buku favoritnya saja kamus tebel. Tapi bagi Lewis, Paman dan Wanita berbaju ungu sahabat pamannya tersebut luar biasa aneh. Tidak ada peraturan di bawah atap rumah mereka. Lewis boleh makan cookies kapan aja. Kenapa enggak jadiin cookies sebagai menu makan malam, ujar pamannya sambil tersenyum. Dan kenapa pula tidak boleh ada kacang di dalam cookies?

Itu semua belum apa-apa dibandingkan dengan keanehan yang terjadi di rumah tersebut pada malam hari. Lewis sempat takut, karena bukan hanya suara jam di dinding, melainkan rumah dan seisinya itu sepertinya punya nyawa sendiri. Salah satu tema cerita penting yang bisa kita lihat dari film ini datang dari gimana Lewis berusaha menyeimbangkan hidupnya. Dia pengen terlihat normal biar bisa punya temen di sekolah, dan ketika pulang ke rumah bersama Pamannya, dia harus berurusan dengan segala keanehan yang ada karena ternyata Pamannya adalah seorang Warlock. Tentu saja, Lewis pengen belajar semua ilmu sihir yang bisa ia dapatkan dari sang Paman. Apalagi karena dia ingin membantu Pamannya memecahkan misteri mencari alat pengembali waktu yang tersimpan di suatu tempat di dalam rumah tersebut.

Lewis yang perbendaharaan katanya begitu kompleks lantaran suka ‘makan’ kamus, tetap mengalami kesulitan dalam mempelajari ilmu sihir. Sihir bukan sekedar merapal kata-kata aneh. Ini bukan masalah seberapa fancy kata yang kita gunakan. Adalah cara menggunakannya yang menjadi poin penentu. Semua yang kita lakukan, cara tersendiri yang kita lakukan saat menanganinya lah yang menjadi hal terpenting. Karena itulah yang didengar oleh orang lain, yang membuat kita berbeda dan ternotice oleh mereka. Yang membuat kita unik, dari situlah datangnya kekuatan kepercayaan diri.

 

Aspek paling menarik yang dipunya oleh film ini adalah fakta bahwa dirinya dibuat oleh sutradara yang punya rekam jejak menangani film-film horor ngegore dan gak nyaman untuk dilihat semacam Hostel (2005) dan Grindhouse (2007). Kita akan benar-benar melihat ‘sihir’ gaya khas Eli Roth diimplementasikan ke dalam cerita fantasi adaptasi novel yang ditujukan untuk konsumsi anak kecil. Dan Roth berhasil. The House with a Clock in Its Walls menjelma menjadi film anak-anak yang dengan berani mendorong batas kekanakan itu sendiri. Imaji-imaji creepy masih dapat kita saksikan di sini. Salah satu yang membekas bahkan oleh kepala dewasaku adalah pemandangan bayi dengan wajah Jack Black. Boneka-boneka automaton yang mendadak hidup itu juga sukses bikin anak kecil di sebelahku menutup matanya dengan dus popcorn. Langka, di jaman sekarang, fantasi anak-anak dibuat dengan gaya seram sebagai poin vokal. Bahkan Goosebumps (2015) saja enggak berani untuk tampil seram, ia lebih menekankan sisi petualangan fantasinya, padahal kita tahu source film tersebut adalah buku horor untuk anak-anak. House with a Clock, enggak punya masalah dalam memperlihatkan gambar-gambar bernuansa seram. Menonton film fantasi ini mengingatkanku kepada serial horor Are You Afraid of the Dark? yang dulu sering kurental VCD-nya.

CLB – Crybaby Little Bastard

 

Set film luar biasa imajinatif. Rumah itu penuh tempat-tempat rahasia, dengan benda-benda sihir yang memanjakan khayalan kita. Semua elemen artistik digunakan efektif untuk menguatkan karakter para tokoh cerita, memberikan mereka bukan hanya misteri melainkan juga sedikit tambahan kedalaman. Untuk menyeimbangkan visualisasi yang menghoror buat fantasi anak kecil, Eli Roth menebar lelucon di sana sini. Lewat practical jokes, memang agak kelewat kekanakan. Kita melihat poop joke diulang-ulang. Tapi kita bisa paham kepentingannya adalah untuk membuat film tetap ringan bagi penonton cilik.

Lewat dialog, lelucon film dipercayakan kepada Paman Jonathan yang begitu eksentrik. Jack Black adalah pilihan yang tepat, malahan bisa dibilang sedikit di atas kualifikasi untuk perannya tersebut. I mean, aku suka komedi Jack Black. Tik-tok dialognya dengan Cate Blanchett – yang mana juga sangat hebat, dengan range emosi yang lebih luas – selalu sukses jadi sumber tawa buat film ini. Jika ada aktor yang harus kupercaya mainin tokoh yang begitu unik dan tidak peduli apa kata orang tentang dirinya, aku juga akan memilih Jack Black. Di film ini, entah karena begitu nyaman dengan perannya, ataupun karena diberikan arahan yang membebaskan, Black seringkali tampak terlalu dominan. Dia di atas tokoh yang lain. Pada adegan bersama dengan tokoh utama, kita bisa melihat jelas kejomplangan permainan aktingnya. Lewis yang diperankan Owen Vaccaro tidak pernah berhasil menjadi menarik setiap ada Paman satu adegan dengannya. In fact, Lewis malah tampak seperti bocah cengeng yang menangis begitu saja karena tiba-tiba ia teringat almarhum ibunya. Sedih memang ketika kita kehilangan orangtua, tetapi transisi tone cerita enggak mulus karena Jack Black mengeset rentang yang terlampau tinggi. Jarak antara fantasi dengan momen realita itu kemudian terasa terskip begitu saja karena pemain muda kita tidak mampu mengimbangi.

Untuk sebagian waktu, aku memang menikmati kejutan-kejutan kecil yang dipunya oleh film ini. Aku sama sekali enggak tahu Kyle MacLachlan turut ambil peran, dan ya seperti di terakhir kali aku melihat penampilannya di Twin Peaks season 3 (2017), aktor senior ini totally mantep mainin tokoh yang creepy, dia begitu ‘di luar dunia ini’. Toh ada beberapa kesempatan yang, buatku, film ini terlalu berusaha membuat kejutan alih-alih bercerita dengan asik. Seperti pada separuh bagian awal, ada tokoh-tokoh yang diset sebagai red herring; kita gak yakin mereka jahat atau beneran baik, yang keputusan untuk membuat mereka demikian terasa enggak konsisten dan membingungkan. Ada elemen reverse psychology yang dijadikan device, seperti sebuah hal yang penting. Misalnya ketika Paman mengajarkan ilmu sihir kepada Lewis dengan mengatakan bahwa anak itu gak mungkin bisa karena sihir begitu rumit untuk dipelajari, yang kita tangkap konteksnya adalah dia percaya Lewis mampu dan sengaja bilang begitu supaya Lewis semakin tertantang dan bersemangat. Namun di lain kesempatan, Paman menyuruh Lewis untuk tidak membuka kabinet yang terkunci. Yang membuat kita kebingungan, apakah konteks yang sama masih berlaku, atau itu benar-benar larangan. Apalagi kemudian kita melihat ada tokoh lain yang menyuruh Lewis untuk membuka kabinet. Sehingga penuturan cerita menjadi sedikit kusut, enggak benar-benar jelas apa yang harusnya kita rasakan bersama si Lewis.

mungkin kita bisa tanya kepada Magic 8-Ball kenapa film ini seperti versi kurang asik dari serial Gravity Falls

 

 

Banyak penyihir yang lebih dewasa dan lebih bijak dari Lewis sudah terbuai oleh kekuatan ressurection, film juga tidak berhasil dengan baik menyampaikan sisi menyentuh dari seorang anak yang ingin melihat orangtuanya satu kali lagi. Struktur, poin ke poin cerita, mestinya bisa dirapikan sedikit lagi dengan lebih memfokuskan kepada perkembangan emosi tokoh utama alih-alih rangkaian kejadian fantastis. Sekuen regroup film ini tidak bekerja sama sekali buatku. Mereka kehilangan rumah tidak kelihatan seperti mereka akhirnya belajar sesuatu, malah lebih terasa sebagai sebuah detour yang melepaskanku dari pegangan cerita. Konflik dari tokoh antagonis juga tidak benar-benar memposisikan Lewis, dan tentu saja kita, ke dalam sebuah dilema. Yang mana adalah kekuatan sebenarnya dari cerita. Alih-alih merasa, kita hanya mendapatkan penjelasan dari tokoh jahat, mengenai bagaimana kondisi mengerikan tersebut semestinya menjadi menarik buat Lewis.

 

 

 

Aku suka gimana film ini berani menggandeng tangan anak-anak untuk melewati dunia fantasi yang bukan sekedar seru melainkan juga mengerikan. Bahkan lebih creepy dari The Nun (2018), misterinya juga asikan ini. Beberapa adegannya memenuhi fungsi untuk memberikan mimpi buruk buat anak kecil. It also has a nice lesson too, mengenai gimana membawa diri dalam pergaulan – bahwa penting untuk menjadi diri sendiri, seberapapun anehnya. Mestinya Goosebumps dibuat dengan nuansa begini. Tontonan sempurna buat anak kecil yang ingin mempelajari gimana caranya untuk berani. Petualangannya juga asik untuk diikuti. Bagi orang dewasa, film ini bisa menjadi sedikit over; leluconnya, tokoh utama yang cengeng dan annoying, ceritanya juga bakal bikin kita pengen bergerak buat merapikannya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa keluarga kalian punya kebiasaan aneh yang kalian gak mau teman-teman pada tahu tentangnya? Kenapa, menurut kalian, kita merasa malu kalo ketahuan oleh orang lain?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE NUN Review

“Prayer without action is powerless”

 

 

 

Berdoa itu ada waktunya. Sudah kewajiban manusia untuk menyempatkan diri untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta. Tuhan tidak akan pernah bosan sering-sering kita panggil. Tuhan justru senang jika kita sering mengingat-Nya, meminta kepada-Nya. Namun, berdoa setiap waktu hingga lupa untuk berusaha, sama saja dengan ngobrol ama foto kecengan di wallpaper laptopmu, tapi gak pernah berusaha ngajak jalan. Kalo gak diusahakan, ya selamanya keinginan itu gak bakal terwujud. Seperti suster-suster di biara terkutuk di film The Nun; mereka lupa bahwasanya berdoa dan berusaha itu kudu seimbang. Ada waktunya untuk bertindak, melakukan perjuangan terhadap suatu hal yang diminta, alih-alih berlutut sampai pagi.

Nun jauh bahkan sebelum boneka Annabelle dibuat, terdapat sebuah biara di pedalaman Romania. Biara yang dijauhi penduduk bahkan oleh kuda-kuda mereka, itu terkutuk untuk alasan yang jelas; gerbang neraka terbuka di bawahnya. Iblis bernama Valak enjoy aja keluar masuk dari sana, berpakaian ala biarawati, mengambil satu-persatu Wanita Suci Kekasih Tuhan yang berdoa meminta perlindungan darinya. Tidak ada yang actually bergerak untuk menghentikan Valak. Sampai ketika seorang Pastor dari Vatikan diutus untuk menyelidiki apa yang terjadi di biara tersebut, barulah Valak mendapat perlawanan yang berarti. Si Pastor datang bersama biarawati muda yang bahkan belum mengucapkan sumpahnya. Tindakan merekalah yang menyebabkan misteri biara tersebut perlahan terkuak. Irene, sang biarawati, pun akhirnya menunjukkan tindak pengorbanan yang sesungguhnya, yang merupakan pukulan telak kepada Valak. Dibantu oleh seorang pria lokal penyuplai makanan yang dipanggil Frenchie, mereka berusaha menemukan senjata pamungkas demi menutup kembali Gerbang Neraka, menahan Valak kekal di dalam sana.

semoga yang di belakangku cuma bayangan pohon natal

 

Doa kita gak bakal dikabulin kalo gak dibarengi dengan usaha. Siapa sih yang mau ngasih sesuatu ke orang yang kerjaannya ngeluh dan beratap nestapa sepanjang waktu. Ther Nun akan mengajarkan kita untuk bangkit dan mengambil tindakan, untuk diri kita sendiri serta untuk orang lain. Karena dari perjalanan Irene, kita pun akan belajar satu-dua hal tentang pengorbanan yang dengan ikhlas kita lakukan atas nama perubahan ke arah yang lebih baik.

 

 

The Nun seperti menantang untuk berdiri tegak tatap sombong ketakutan kita terhadap setan. Yea, film ini exist berkat kepopuleran Valak, hantu suster dari universe The Conjuring yang debut di seri keduanya. Siapa yang bisa lupa kemunculan Valak yang berjalan dari dinding ke pigura lukisan untuk kemudian nongol di mimpi-mimpi buruk kita. Film The Nun ini, akan membawa kita untuk benar-benar berhadapan dengan hantu pawang ular yang tampangnya mirip Marilyn Manson pake kerudung tersebut. Setting cerita memang dibuat se-creepy mungkin. Hal-hal ganjil kita temukan di awal-awal cerita, darah di tangga yang kian hari bertambah alih-alih mengering, pemandangan pekarangan yang penuh kuburan bernisan salib gede, suara krincing-krincing lonceng dari setiap kuburan, semua itu ditujukan untuk membangun kengerian kita – supaya kita menantikan kemunculan Valak dengan mengkeret di tempat duduk masing-masing. Hanya saja, kita malah jadi penasaran. Alih-alih mengekspansi mitologi Valak – yang mana semestinya itu yang disajikan film ini sebagai alasan untuk mengetahui origin si iblis – film malah memfokuskan ke misteri biara itu sendiri. Penjelasan mengenai Valak hanya disebutkan dalam satu adegan tokoh Pastor membaca informasi di sebuah kitab. Selebihnya, film adalah pencarian Darah Kristus untuk menyegel Gerbang, dengan Valak dan hantu-hantu lain muncul entah itu untuk mengganggu ataupun memberi petunjuk.

Tempat gelap, pintu-pintu yang menutup dan mengunci sendiri, ’teka-teki’ dari hantu penghuninya. Menonton film ini seperti sedang menyaksikan orang bermain wahana Escape Room, kalian tahu, kesan yang ada malah seru. Seramnya jadi nomor dua. Dengan hantu yang bisa kalah dengan ditembak senjata api, film juga seperti lebih ke aksi ala film-film zombie. Tidak ada ‘peraturan’ yang jelas soal setan dalam film ini. Kenapa mereka bisa terluka oleh peluru biasa, apakah mereka setan yang berdarah daging, like, apakah mereka dibangkitkan oleh suatu kekuatan jahat ataukah mereka berupa jejak yang ditinggalkan jiwa di dunia (Ya, aku mengutip Snape). Pada satu sekuen kita diperlihatkan mayat yang sudah mengeriput seperti mumi, lalu mayat tersebut bangkit menyerang Irene dan kita melihat wujud si setan tidak lagi keriput, ia seperti sosok yang bicara kepada Irene di adegan sebelumnya. Dan kemudian si setan kalah dengan dibakar. Tidak benar-benar jelas dalam film ini apa yang sebenarnya mereka hadapi. Pertempuran terakhir dengan Valak pun malah jatohnya lucu. Memang sih, gak jatoh sekonyol Scooby Doo, tapi lebih dekat ke arah sana ketimbang horor dramatis yang menyentak urat ketakutan kita.

“they don’t want Nun, they don’t want Nun”

 

Film ini mengikat dengan baik ke permulaan film The Conjuring (2013), dan sayangnya itulah hal terbaik yang berhasil diraih oleh The Nun. This is like a throw-away movie, yang ada hanya untuk mengisi ruang yang sebenarnya pun tak ada pengaruhnya jika dibiarkan kosong. Melihatnya kembali, sekilas, memang bisa tampak mengesankan gimana film ini ternyata adalah cerita lengkap dari satu adegan di film sebelumnya. Tapi dari kacamata pembuat, ya semua aspek sebenarnya bisa dipanjang-panjangin. Enggak benar-benar susah mengarang cerita dari satu aspek minor dari sebuah film panjang, dan menarik satu cerita baru dari sana. Cerita The Nun sendiri pun sebenarnya bukan cerita yang kompleks, sangat sederhana, malah. Jadi, hal terbaik yang dilakukan oleh film ini juga sebenarnya enggak berarti banyak. Mereka hanya menarik background baru, tokoh-tokoh baru, dan bahkan yang baru-baru itu enggak berhasil dikembangkan dengan maksimal.

Taissa Farmiga didaulat untuk memerankan Suster Irene yang ditunjuk oleh Vatikan sebagai orang yang harus dibawa Pastor Burke menyelidiki Biara Terkutuk. Kita memang dikasih tahu Irene ini punya Penglihatan; dia bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus – sama seperti Burke. Tapi kita tidak pernah tahu kenapa Vatikan secara khusus memilih dia, yang bahkan belum mengucap sumpah. I mean, dari sekian banyak suster, masa iya cuma dia yang bisa Melihat? Seharusnya ada alsan khusus, namun alasan Irene menjadi tokoh film tersebut masih merupakan misteri hingga akhir cerita. Aku suka Taissa, menurutku dia hebat di American Horror Story, dia sudah jago bermain horor – in fact, Taissa menang Unyu op the Year berkat penampilannya di serial ini. Di The Nun, dia juga enggak bermain jelek. Sayangnya, tokoh yang ia perankan di sini setengah-matang.

Taissa adalah adik dari Vera Farmiga, pemeran Lorraine di semesta Conjuring, mereka secara natural obviously mirip – jadi pasti ada sesuatu yang diniatkan dari castingnya kan? Membuat kita berasumsi jangan-jangan tokoh mereka sebenarnya adalah orang yang sama. Tapi toh hal tersebut juga tidak masuk akal, there’s no way Irene dan Lorraine adalah orang yang sama. Yang satunya suster, pengorbanan adalah arc tokohnya, jadi mustahil jika nanti setelah dewasa dia menikah, terlebih mengganti nama. Irene akan membuang arc-nya jika dia menikah. Tidak ada indikasi tokoh majornya punya hubungan dengan tokoh utama semesta cerita, membuat Irene semakin terasa random lagi untuk berada di sana.

 

 

 

 

Kurangnya latar belakang tokoh – si Pastor punya penyesalan sehubungan dengan pekerjaannya di masa lalu, selain itu kita tidak banyak tahu, membuat kita sulit untuk peduli ketika mereka berada di dalam bahaya. Terlebih, setiap keputusan yang dibuat oleh para tokoh benar-benar klise dan bego; Mereka akan berpencar di setiap kesempatan. Film ini memang bukan jawaban jika kita berdoa “Oh Tuhan, tunjukkanlah hamba film yang bagus”.  Ada banyak kekurangan yang mestinya enggak diulang lagi, kita hanya harus ambil tindakan untuk mengenalinya. Satu-satunya cara untuk kita bisa menikmati film ini adalah dengan menganggapnya sebagai petualangan misteri. Karena film ini lebih kepada seru, dan konyol, ketimbang seram. Bahkan jumpscarenya enggak bikin kaget.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE NUN.

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian apa kita perlu untuk mengenal siapa Valak – apakah kita benar-benar butuh untuk menonton film ini? Apa kira-kira hubungan Irene dengan Lorraine? 

Kalo ketemu hantu, kira-kira kalian akan berdoa atau langsung ambil langkah seribu?

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SESAT Review

“You’re not yourself when you’re angry.”

 

 

 

Keluarga Amara pindah ke sebuah desa yang sejauh mata memandang semua penghuninya adalah orang lanjut usia. Kakek-kakek dan nenek-nenek. Nyai-nyai. Mbah-mbah. Jadi ya, film ini bermula dari setting yang sangat menarik. Amara (dalam debut protagonis layar lebar, Laura Theux berhasil menyampaikan emosi yang diembankan kepadanya)  menyaksikan para penduduk desa – termasuk Opanya – pada berperilaku aneh dengan sesajen dan ayam hitam begitu maghrib tiba. Eventually, Amara menemukan sebuah sumur di hutan, persis seperti yang tergambar oleh lukisan yang terpajang di dinding rumahnya. Ada misteri yang menyelimuti desa Beremanyan tersebut. Namun sayangnya, semua elemen unik itu ternyata tak-lebih dari device untuk mengarahkan cerita ke ranah yang lebih familiar.

Amara, dan adiknya; Kasih, dan ibu mereka (yang mana bakal hilarious sekali kalo bernama Cinta) sedang dirundung duka. Papa baru saja meninggal dunia. Kehilangan ini teramat telak terasa buat Amara, karena dia sangat dekat dengan ayahnya. Mereka latihan lari bareng, sharing kebiasaan konyol bersama. Selain di satu waktu tidak dapat menepati janji menjemput lantaran nyawanya keburu dicabut, Papa selalu ada buat Amara. Ketika mengetahui sumur serem di hutan tadi ternyata digunakan penduduk untuk meminta kemakmuran desa, Amara tergoda untuk melakukan ritual pemanggilan – dia ingin minta ayahnya kembali, dia ingin ngobrol satu kali lagi dengan orang yang paling ia sayangi tersebut. Tapi seperti yang sudah kita ketahui, meminta kepada setan itu ‘harga’nya beda dengan minta kepada orangtua. Amara kudu membayar semuanya, dengan darah, dengan lebih banyak kehilangan.

Papa doang yang abis lari mesti mandi, Amara nya enggak

 

Sesat actually menyesatkan karena ceritanya banyak berbelok. Kupikir ceritanya bakal begini, ternyata malah fokus di begitutonenya pun sering bergeser; dari drama, ada arahan ke komedi juga, lantas kita merasakan suasana surealis di shot-shot lukisan, kemudian menyerembet ke body horror, balik lagi ke drama, dan gak taunya berakhir dengan twist. Kadang belokan cerita Sesat dilakukan untuk alasan yang bagus – it’s a good thing film membuat kita merasa sedang melihat sesuatu yang belum pernah ditonton sebelumnya, namun sering juga cerita Sesat berkembang menjadi sesuatu yang bikin mata kita terangkat heran, like, masa iya cuma begitu, they could do better than this. Atau kalo mau gamblang, dengan setting dan backstory yang lebih kompleks, film ini semestinya bisa mencapai lebih dari sekadar menjadi versi yang sedikit lebih baik dari Slender Man (2018).

Amara di film ini juga diperkenalkan sebagai atlet lari, dan tidak seperti protagonis di Slender Man, Amara beneran diperlihatkan ‘jago’ berlari. Dia jogging keliling hutan. Dia menghabiskan waktu istirahat sekolah dengan lari di lapangan olahraga. Tapi tetep aja sih, kerjaannya berlari itu enggak benar-benar relevan dengan konteks cerita. Tema kedua film inipun mirip; di sini hantunya, alih-alih Slender Man, bernama Beremanyan dan datang karena dipanggil. Entitas serem yang tinggi dan tinggal di hutan ini akan membawa pergi apa-apa yang disayangi oleh si pemanggil. Bahkan penyelesaian kedua film ini basically dari peraturan yang sama. Hanya hasil akhirnya yang berbeda. Untungnya, Sesat fokus kepada satu tokoh, kepada motivasi dan perjalanan karakternya, sembari dengan lumayan seksama mengembangkan tokoh-tokoh pendukungnya. Simmaria Simanjuntak kentara punya mata yang lebih jeli untuk mengangkat nilai-nilai drama ketimbang sense horornya yang terasa seperti masih dalam sebatas melakukan sesuatu yang sudah pernah, dalam rangka memuaskan apa yang popular di pasaran horor. Ada satu adegan jumpscare paling biadab yang pernah aku temui di horor sepanjang tahun ini, aku sudah akan tepuk tangan untuk itu kalo bukan ternyata adegannya cuma adegan mimpi.

Interaksi para tokoh sangat menyenangkan. Film ini mengacknowldge perbedaan Amara dan keluarganya dengan sekitar. Sedikit perbedaan kata yang mereka gunakan ketika ngobrol, kayak ketika Amara dengan Kasih akan terdengar berbeda dengan ketika Amara berbincang dengan teman di sekolah barunya. Percakapan antara para tokoh tedengar meyakinkan, meski tak sempat mengeksplorasi dalam tingkatan Amara seperti fish-out-of-water di desa, meski tokoh-tokoh yang lain itu sebatas device. Tokoh-tokoh lain tak terflesh out dengan sebaik-baiknya, mereka hanya ditaruh di sana saat adegan membutuhkan. Horor dan dialog-dialog film ini kadnag terasa seperti pada film-film 90an, bahasanya, atau juga lonceng – aku suka sekali adegan seram dengan bunyi lonceng sekolah, lonceng beneran loh, di film modern manalagi kita melihat sekolah masih pakai lonceng. Suasana yang tercipta seolah desa tersebut masih stuck di periode lampau, dan ini menambah nuansa mistis dan misteri pada latar belakang yang sayangnya dimentahkan oleh kenyataan bahwa film ini bukan memasang ketakutan dari sana.

Dialognya terdengar menyenangkan, jika tidak terlalu sibuk dengan nyebutin apa sebenarnya tak perlu disebut. Kayak, akan lebih seram kalo kita yang eventually belajar sendiri bahwa ternyata hanya Amara dan Kasih anak muda yang ada di desa mereka. Film malah menyebut ini sedari awal mobil mereka masuk gerbang desa. Dialog yang sering ‘frontal’ begini bikin film jadi seperti ‘Nanya sendiri, Jawab sendiri’. Tapi kemudian, kita akan belajar alasannya kenapa dibuat seperti itu, kita akan ngerti kenapa baru babak satu aja semua misteri yang mestinya akan menarik jika dipelajari pelan-pelan oleh Amara sudah malah dibeberkan gitu aja oleh teman sekolahnya. Atmosfernya hilang, berganti menjadi horor memanggil kembali orang mati dengan teror dan trope yang standar.

Sumur itu tak ubahnya papan jailangkung

 

 

Amara dan Kasih. Ada alasannya kenapa nama tokohnya begitu. Karena Amara yang diliputi kesedihan sebenarnya sudah dikuasai oleh amarah. Dia berang kenapa yang pergi mesti seorang yang ia lihat paling baik dan perhatian kepadanya. Marah menumpulkan kemampuan manusia untuk bersikap rasional. Makanya, Amara meledak ngomong kasar kepada ibunya. Makanya, ia yang makhluk kota, millennial pula, mau percaya dan ngelakuin ritual kuno lengkap dengan mantra-mantra yang terdengar konyol. Horor datang dari Amara melihat apa yang terjadi kepada orang-orang yang ia ‘marahi’ – setan Beremanyan itu actually personifikasi dari hal tersebut. Untuk menyampaikan semua ini, howeverm film sedikit terlalu mendadak. Seharusnya mereka membangun karakter dengan lebih baik lagi, sehingga begitu Amara menyebut hal kasar kita juga dapat merasakan sakit dan penyesalan yang menyusulnya. Supaya berantem dengan ibunya enggak tampak terjadi begitu saja.

Ketika marah, sedapat mungkin jangan adu argument dengan orang lain. Sebab akan berakhir dengan kita meneriakkan hal yang tak kita maksudkan, dan hasilnya sungguh berantakan. Seperti Amara yang marah kepada ibunya. Seperti Kasih yang marah kepada Amara sehingga dia lupa kalo Amara sudah memperlihatkan perhatian kepada dirinya saat gak pede masuk sekolah yang baru. Setan Beremanyan bereaksi tatkala Amara merasakan amarah, dia membunuhi orang-orang, merupakan metafora bahwa saat marah kita kehilangan kendali terhadap diri sendiri – dan yang paling menakutkan, marah dapat menyebabkan kita kehilangan control terhadap apa yang kita percaya.

 

 

 

 

Apa yang ingin diceritakan oleh film ini sebenarnya simpel. Ini adalah soal orang yang begitu ingin dicintai merasa kehilangan saat sumber cintanya itu direnggut. Amara, dan kita semua, musti belajar untuk memberikan cinta terlebih dahulu sebelum menerima balasnya. Jika kita bisa menyintai banyak orang, kita tak akan pernah lagi merasa kehilangan. Sebenarnya bisa dibilang gak jelek-jelek amat sih, film Simmaria selalu punya gaya, aku masih tertarik nunggu karyanya yang berikut. Sayangnya film ini mengambil begitu banyak cabang dalam menceritakan topik utama tersebut. Beberapa elemennya kadang jadi tidak menyampur dengan baik. Sehingga pahamnya kita terhadap cerita lebih oleh long reach yang kita lakukan alih-alih karena aspek-aspek yang saling mendukung. Dialognya mestinya bisa ditulis dengan lebih tight lagi. Revealing atawa twist di akhir; sama sekali enggak perlu, membuat sikap tokoh utama kita jadi gak masuk akal. Buatku, kepentingan sekuen itu hanya untuk ngehighlight nama satu karakter sebagai shout out. Sekiranya untuk memberikan jawaban terhadap kenapa mereka harus pindah ke desa pun, malah tampak seperti feeble attempt film ini ingin menyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka punya semua jawaban.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SESAT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SLENDER MAN Review

“Cure for an obsession: get another one”

 

 

 

Dua orang anak cewek mengajak seorang teman mereka ke hutan. Bukan untuk bermain-main layaknya anak berumur dua-belas tahun yang biasa. Mereka mengajak si teman, untuk ditusuk berkali-kali, demi membuat Slender Man senang. Gilanya; cerita tersebut benar-benar terjadi di Winsconsin, Amerika, May 2014 yang lalu. Sayangnya; film Slender Man tidak banyak mengeksplorasi elemen ini, mereka membuat cerita baru yang semakin mengaburkan aspek utama yang bikin sosok Slender Man itu sendiri menarik; Obsesi.

Sejak kemunculannya di kontes photoshop online tahun 2009, Slender Man memang menarik perhatian orang-orang, khususnya fanatik horor. Cerita karangan fans tentang entitas ini, kejadian-kejadian penampakannya, peraturan untuk dapat melihatnya, tips buat selamat darinya, bermunculan di forum-forum internet. Slender Man jadi semacam urban legend era digital. Bahkan sampai dibuatin software gamenya sendiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa banyak orang yang sudah terobsesi sama makhluk reka ini. Mereka semua ingin percaya makhluk tersebut ada; hingga ke titik puncak; merekalah yang membuat Slender Man eksis di dunia.

Menakjubkan seberapa keras usaha manusia untuk mengejar sesuatu yang kita serahkan hati dan pikiran kepadanya. Obsesi bisa mendorong kita menjadi lebih kreatif, melakukan hal-hal yang tadinya tidak kita bisa. Dan memang menjadi menyeramkan tatkala kita hanya memikirkan satu hal terus menerus dengan berlebihan. Menyangka kita hanya bisa bahagia olehnya saja. Film Slender Man sesungguhnya menawarkan obat untuk obsesi seperti demikian; dengan membuang hal yang kita cinta. Dengan mencari sesuatu yang lain untuk dicintai.

 

 

Selain temanya, film ini punya beberapa ide menarik dan shot-shot gambar creepy untuk membuat kita bertahan menyaksikan. Pencahayaannya membangun suasana gak enak dengan ciamik.Video yang disaksikan para tokoh pada film ini digarap surreal kayak video terkutuk di horor Jepang, Ring (1998) atau The Ring (2002) – versi Amerikanya, jadi gambar-gambarnya yang random itu akan membuat bulu kuduk kita merinding, menghipnotis bukan hanya tokoh film namun jika kita, para penontonnya. Mengenai ide, Slender Man yang menyatroni rumah orang, memanggil mereka lewat video call dan actually menampakkan dirinya lagi melihat apa itu sebenarnya elemen yang serem, lagi seger. Aku akan suka sekali jika bagian tersebut dibahas lebih banyak. Juga ada sekuen horor di perpustakaan, yang memainkan perspektif kamera untuk menghasilkan efek-efek yang disturbing. Tokohnya yang berlarian panik antara rak demi rak, dan gak tau Slender Man bakal muncul di mana. Perasaan ngeri yang hadir saat memainkan gamenya benar-benar terasa di bagian ini.

karena perpustakaan dan buku-buku adalah momok yang nyata bagi remaja

 

Hanya saja Slender Man tidak tahu mau menjadi film seperti apa. Slender Man butuh untuk menjadi film yang senyap. Dalam gamenya, kita gak pernah tahu Slender Man itu munculnya di mana. Kengerian yang menjadi mitos dari sosok ini adalah kita tidak mendengar apa-apa selain suara tapak kaki dan napas kita sendiri. Tapi di film ini, kita tahu setiap kali Slender Man akan muncul. Terima kasih berkat musik gede yang ngasih kisi-kisi dan kesempatan kita untuk membangung antisipasi. Fun nya jadi enggak ada. Terlebih, kita tahu dia bakal muncul, dan yang kita lihat juga adalah sosok CGI. Seramnya musnah sudah.

Mereka bisa saja membuat film found footage atau sesuatu dengan first person point-of-view tentang remaja yang berburu Slender Man, ala Blair Witch, biar sama kayak gamenya. Mereka bisa saja memfokuskan kepada apa sih sebenarnya Slender Man itu, dari mana ia berasal.  It would make a much better movie. Tapi enggak. Alih-alih itu mereka membuat cerita tentang empat cewek remaja yang mempraktekkan apa yang ada pada video ‘bagaimana memanggil Slender Man’ di internet, Slender Man kemudian beneran datang. Mengambil geng cewek tersebut satu persatu, kecuali diberikan sesuatu yang paling dicinta sebagai pertukaran.

makanya yang diculik duluan adalah pemain yang aktingnya paling jago

 

 

Aku seneng juga ngeliat ada Annalise Basso main di sini, karena pemenang Unyu op the Year dua tahun yang lalu punya prestasi nongol di horor yang bagus kayak Oculus (2013) dan Ouija: Origin of Evil (2016). Tapi keberadaannya di Slender Man, meski memang dia yang main paling meyakinkan dan tokohnya yang paling kuat menyuarakan tema obsesi, sama sekali tidak mengangkat banyak buat film ini. Hal tersebut dikarenakan filmnya sendiri demen sekali memindah-mindahkan tokoh utamanya. Katie bisa jadi tokoh utama yang paling menarik dari empat pilihan yang ada, tapi aku juga paham film butuh suatu bukti bahwa stake yang dihadapi tokoh utama enggak main-main. Jadi, kita punya Hallie yang diperankan oleh Julia Goldani Telles yang aktingnya paling biasa aja, Aku gak mengerti kenapa mereka enggak memberikan peran Hallie buat Basso, ataupun kepada Joey King saja – mengingat dia yang paling terkenal di sini. Kenapa harus diserahkan kepada bintang lain, kalo toh hanya untuk membuat penonton melompat-lompat pindah antara Wren (tokoh yang diperankan oleh King) dengan Hallie. Bukannya Hallie gak punya motivasi di cerita, cewek ini punya. Dia atlet lari di sekolah yang gak benar-benar menyukai apa yang ia kerjakan, dia juga punya adik yang look up to her, dia naksir sama cowok di sekolah. Namun dengan menggonta-ganti sudut pandang, arc nya si Hallie ini jadi terasa mentah, kita jadi gak pernah bisa betah di belakang si tokoh. Eksplorasi tokohnya dangkal sekali.

Empat peran sentral ini gak banyak ngapa-ngapain. Mereka menghabiskan banyak waktu dengan adegan chat layar handphone. Bahan obrolan mereka tak jauh dari seputar cowok. Mereka menghabiskan waktu dengan menonton bokep di laptop bareng-bareng. Di babak ketiga, Hallie malah mangkir dari Slender Man dan pergi kencan ke rumah cowok. Bicara soal pindah obsesi, huh?

Film juga lanjut membuat mereka bego untuk alasan yang tak jelas. Seperti saat mereka menutup mata dengan kain supaya enggak melihat Slender Man, dan di detik pertama ada bunyi di hutan itu, ada satu tokoh yang langsung mengintip dari balik kain penutup matanya. Wren mencemooh Hallie yang enggak mengorbankan piala dan medali larinya kepada Slender Man, terasa datang entah dari mana. Karena meski diceritakan Hallie jago lari, kita tidak pernah benar-benar melihat dia cakap dalam berlari. Malah lucu sekali di adegan akhir; Hallie lari dan dia tertangkap. Lebih lucu lagi, Hallie saat itu sebenarnya lari dari sikap kepahlawanan; like, dia datang untuk menyerahkan diri demi menyelamatkan seseorang, dan ketika Slender Man muncul, tebak apa yang terjadi: Hallie ngibrit – lupa ama niat baik dan pelajaran yang sudah ia sadari. Ngibrit dan ketangkep. Sukses berat film ini bikin protagonisnya terlihat kayak pengecut tanpa nilai baik sama sekali.

 

 

 

Perasaan horor pun semakin merayapiku yang duduk si studio itu, menonton makhluk supranatural yang membuatku penasaran – karena aku tidak pernah bisa menamatkan gamenya. As I watched cerita yang tak benar-benar padu, tema obsesi yang berdenyut lemah di balik hingar-bingar jumpscare, gambar-gambar creepy yang menjadi mentah karena arahan yang tak berjiwa, tokoh-tokoh yang punya karakter sama banyaknya dengan pohon-pohon, sudut pandang cerita yang berganti-ganti, dan mendengar bapak di kursi sebelahku yang mendengkur keras – tertidur, aku sadar akan ketakutanku yang menjadi nyata; bahwa obsesiku soal horor sudah membuatku harus mengorbankan waktu dan duit yang berharga. Tapi kuakui, sebenarnya bisa saja film ini menjadi lebih buruk dari ini, lantaran tema dan ide menarik dan gambar-gambar creepy yang ia punya.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for SLENDER MAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT Review

“Pain changes people”

 

 

 

Mau dia pakai baju putih sekali pun, iblis tetaplah bukan malaikat. Kita tidak membuka pintu untuknya. Kita tidak mempersilakannya masuk. Kita tidak memanggil namanya. Sayangnya, Pak Lesmana lagi kepepet. Dia butuh duit yang banyak buat menghidupin keluarganya. Dalam adegan pembuka yang bertindak sebagai prolog, kita melihat bagaimana manusia bisa dengan gampang terbujuk, ikut menjadi penyembah setan, melebihi kekuatan sangkal dan iman mereka sendiri. Dari opening ini saja kita bisa segera tahu, kita berada dalam tangan penulis dan pembuat film yang cakap. Mereka menceritakan informasi-informasi dengan menghindari flashback, setiap informasi mereka sampaikan dengan menarik. Dalam wilayah horornya, kita juga langsung dikasih peringatan lewat imaji-imaji  dan pengambilan gambar yang creepy; bahwa kita sedang duduk dalam sebuah wahana horror yang benar-benar akan bikin lemes jiwa dan raga.

Sebelum Iblis Menjemput tahu bagaimana cara memperkenalkan diri. Film ini pun cukup bijak untuk tidak berlama-lama menghantarkan kita kepada apa yang mau kita lihat; hantu dan darah. Sebagaimana jumpscarenya, set up setiap tokoh dilakukan dengan sangat efektif. Setiap detil di babak awal adalah informasi yang sangat berharga. Bahkan kengerian sudah dihampar secara subtil (awalnyaaa!) di layar, meminta kita untuk memperhatikan. Supaya kita dapat memahami kondisi keluarga mereka. Di tengah kebangkrutan karena nyawa Lesmana sudah di ujung tanduk; keluarga nomor dua bapak ini mulai ribut mencari aset miliknya yang bisa dijual. Mereka lantas menghubungi Alfie, anak kandung Lesmana, yang punya kunci ke vila – tempat di mana Lesmana diduga menyimpan hartanya. Kita melihat Alfie yang kehidupannya kontras dengan Maya, padahal kita tahu mereka bersaudara. Meskipun hanya saudara tiri. Kita melihat Alfie hidup ‘keras’, dia tidak akrab sama saudara-saudara tirinya. Konflik antara Alfie dan Maya, relasinya dengan Ruben, si kecil Nara, dan ibu tirinya jadi hati drama cerita. Dan ketika mereka semua sepakat untuk kembali ke vila tersebut, pintu masalalu – both literally and figuratively – terbuka, melepaskan iblis yang seketika membuat semuanya menggila!

 

Tok tok!
Siapa?
Pevi..
Pevita yang artis ya? Waaahhh

PEVInilah jadinya kalo kalian nyari kekayaan mintanya ke Iblis!!

 

 

Ok, that was corny, yang mana jauh sekali dari apa yang film ini lakukan.  Mengangkat tema supranatural, dengan ada perwujudan iblis bertanduk, ada tokoh hantu yang super nyeremin, ada tokoh-tokoh yang kesurupan dan melakukan hal-hal sadis serta gila, film tidak pernah melanggar garis over-the-top alias garis lebay. Semuanyadiarahkan untuk ketegangan maksimal, sehingga sekalipun kita tertawa, maka itu adalah adalah tawa canggung untuk menutupi kegugupan dan ketakutan kita akan kengerian yang kita tahu bakal datang. Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) bisa saja menjadi semengerikan ini kalo dirinya tidak diarahkan untuk menjadi over-the-top (bandingkan konfrontasi final kedua film ini yang mirip tapi kesan yang dihasilkannya begitu berbeda), dengan alur yang sebenarnya tidak perlu ditutupi; tidak perlu ada twist. Horor sadis buatan Hitmaker kayak Sabrina (2017), dan seri The Doll seharusnya bisa jadi semengena ini jika saja tidak terlalu sibuk membangun sekuel-sekuel. Sebelum Iblis Menjemput ADALAH KONDISI TERBAIK YANG BISA DICAPAI OLEH HOROR INDONESIA sejauh ini. Punya plot karakter yang tertutup, punya awal-tengah-akhir (Tidak seperti kau, Pengabdi Setan), jadi enggak sekadar bermain di konsep body horror yang bikin gross out, melainkan juga seram, dengan drama yang lumayan berbobot.

Perubahan sikap Alfie, dan orang-orang yang kesurupan pada film ini menggambarkan bahwa derita dan rasa sakit sanggup membuat orang berubah. Tiada cinta tanpa derita, hidup kita gak akan jalan kalo enggak pernah merasain sakit. Luka adalah pintu bagi kit auntuk mendapat kekuatan, menjadi lebih bijak, bagaimana membuat kita menjadi semakin tangguh. Tidak ada yang keluar dari derita tanpa berubah menjadi pribadi yang berbeda dari diri sebelumnya.

 

 

Penampilan akting film ini benar-benar terasa seperti berasal dari dunia yang lain. Maksudku,setiap pemain diberikan tantangan, mereka semua didorong untuk melakukan hal-hal yang bukan saja fisikal, melainkan juga emosional – dalam taraf kegilaan yang just enough untuk bikin kita bergidik sampai tengah malam nanti. Tokoh-tokoh cewek di film ini, jangan harap mereka hanya jadi eye candy. Mereka semua dibikin bercacat, luka-luka, dekil-dekilan, mandi lumpur, bersimbah darah, tulangnya patah-patah. Semua deh. Aku gak pernah nyangka aku bakal gemeteran seperti tu saat melihat Pevita Pearce.  Aku gak mau bilang banyak soal tokoh yang ia mainkan di film ini, tapi aku benar-benar gak nyangka Pevita sanggup men-tackle peran seperti demikian. Dan bukan sembarangan, dia sukses berat. Sutradara Timo Tjahjanto directs the shit out of her. And everybody else. Dan tak seorangpun yang jatohnya lebay. Chelsea Islan sebagai Alfie mungkin gak banyak dapat sorotan dari rangorang. Buatku, ia adalah protagonis film horor terkuat yang pernah aku lihat sepanjang tahun ini. Alfie keras dan badass banget, dia ditekan oleh ketakutan dan kemarahannya bersamaan, dan at times emosinya tersebut enggak exactly mengarah ke si iblis. Ada monolog hebat yang Islan ucapkan di babak awal yang menunjukkan kematangannya dalam berakting. Pada gilirannya, kita turut rasakan rapuhnya ketika dia berusaha memproyeksikan kebencian itu terhadap dirinya sendiri.

there’s no way itu Karina Suwandhi kan? Kan!?

 

Penggemar horor bunuh-bunuhan sudah pasti akan sangat terpuaskan. Make up dan efeknya keren, ada bagian ketika leher seseorang ditarik oleh kekuatan tak terlihat sehingga memanjang sebelum akhirnya copot dari pundaknya, dan itu terlihat sangat meyakinkan. Yang pengen lihat hantu juga pasti tepuk tangan karena hantu di film ini gak konyol dan luar biasa seram. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh film ini. Semuanya dipush habis-habisan. Termasuk ngepush suspend of disbelief kita. Ada waktu ketika film ini meminta kita untuk memaafkan sedikit ketaklogisan, serta ketidakkonsistenan, yang terpaksa diambil oleh cerita – itu jika kita ingin tetap bersenang-senang menikmati film seperti bagaimana bisa adik kecilnya sanggup menarik Alfie keluar dari atas liang kubur. Ataupun ketika tangan dan kaki Alfie yang sudah patah, namun dia masih mampu berjalan dan mencangkul tanah. Dan pada shot akhir kita melihat Alfie kembali pincang dan jari-jarinya bengkok. Bisa sih, kita mengaitkannya dengan pesan orang dapat berubah karena derita yang ia rasakan yang terus dikoarkan oleh film. You know, mungkin Alfie dan Nara menarik kekuatan dari keadaan mereka yang sangat menderita, hanya saja agak terasa terlalu memaksa. Tokoh-tokoh film ini dalam paniknya juga sangat disayangkan harus selalu memilih untuk berpencar, meskipun logisnya adalah mereka keluar aja bareng-bareng mencari perlindungan ke desa. Enggak musti dibagi dua, satu tim keluar rumah nyari pertolongan untuk pendarahan di tangan, dan satu tim lagi tinggal di rumah.

Dalam sakit, kita masih cinta. Meski penuh waspada, karena kita takut akan terjerumus lagi ke dalam lembah derita yang sama. Kita memikirkan bahwa hal bisa menjadi sangat singkat. Kita cinta, tapi tidak pernah murni seperti sedia kala.

 

 

Banyak trope horor seperti demikian yang tak bisa dihindari, namun film berusaha membuatnya dengan berbeda. Seperti misalnya ketika seseorang ditarik ke bawah tempat tidur, dan tokoh-tokoh lain berlari dari luar menyelamatkannya; kebanyakan film akan membuat entah itu hantunya berhasil menculik, ataupun gagal, yang jelas biasanya si hantu sudah tak ada saat banyak orang datang menyelamatkan. Pada film ini, hantunya tetap ada. Malah balik menyerang. Ini adalah salah satu adegan yang membuatku tertawa nervous karena buatku seram sekali hantunya enggak malu-malu. Kita bisa lihat film ini seperti berkaca kepada horor klasik Sam Raimi, The Evil Dead (1981), di mana kekuatan supranatural memporakporandakan rumah di tengah-tengah entah di mana,  membuat tokoh-tokoh jadi gila, penuh kekerasan juga. Namun jika di horor itu, dan kebanyakan horor lain, tokohnya adalah remaja yang pergi liburan, Sebelum Iblis Menjemput punya tokoh-tokoh yang lebih berbobot; remaja yang diikat oleh tali keluarga, dengan sudut pandang mereka berusaha utuh sebagai keluarga.

 

 

 

Horror Indonesia at its best. Film ini menawarkan semua kegilaan yang bisa diinginkan oleh penggemar film horor secara umum, dan gore khususnya. Eksekusinya pun dilakukan dengan begitu kompeten. Penampilan aktingnya luar biasa. Pergerakan kamera, efek, make up, penulisan – arahan film ini benar-benar berada di tingkatan yang berbeda. Kita akan takut, kita akan nyengir sakit, kita akan memicingkan mata. Terkadang kita geleng kepala juga dibuatnya, karena ada beberapa elemen kecil dari cerita yang memohon untuk kita menahan ketidakpercayaan kita, ada adegan yang maksa untuk masuk ke logika cerita, ada yang gak konsisten, tapi tidak mengurangi banyak keasyikan menonton. Film ini sekiranya bisa membawa horor kembali ke arah yang benar, sebelum keasyikan horor kita musti dijemput lagi sama iblis bernama uang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SEBELUM IBLIS MENJEMPUT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE MEG Review

The number one rule is to not become a victim yourself

 

 

 

Laut, meski gak punya pohon-pohon, masih berlaku hukum rimba di sana. Ikan kecil dimangsa ikan yang besar. Ikan yang besar dimakan oleh ikan yang lebih gede. Ikan lebih gede tak ayal kena mamam sama ikan raksasa. Manusia sebagai bagian dari ekosistem, mau masuk hutan atau lari ke pantai pun tak bisa luput dari hukum tersebut. Kita butuh makhluk lain untuk melanjutkan kehidupan. Untuk bertahan hidup adalah tujuan kita di dunia. Tetapi, sebagai makhluk yang dianugrahi hati buat mikirin etika, tentu kita manusia enggak bisa sembarangan ‘memakan’ sesama manusia. Makanya Jason, seorang penyelam penyelamat, di film The Meg dipandang sebelah mata sama rekan-rekannya; lantaran Jason pernah mengorbankan seisi kapal selam untuk menyelamatkan diri beserta segelintir orang yang saat itu bersama dengannya.

Tak ada yang percaya alasannya, membuat Jason mengasingkan diri ke Thailand.  Dia menunggu ilmuwan-ilmuwan biologi laut di kilang lepas pantai Cina itu kembali minta tolong kepadanya karena Jason percaya pada apa yang ia lihat. Well, atau tepatnya yang tidak ia lihat. Ada sesuatu di dasar palung di sana yang menyerang mereka. Makhluk supergede yang menemukan jalan ke permukaan berkat ekspedisi yang dilakukan oleh para ilmuwan. Monster purbakala yang tahu persis dirinya masih meraja di puncak rantai makanan. Tidak seperti Jason, hewan ini gak akan berpikir dua kali, enggak bakal teragu oleh nurani, dalam memakan manusia demi kelangsungan hidupnya.

kebanyakan nonton Steve-O mancing hiu di Jackass nih hhihi

 

 

Survival adalah kebutuhan paling mendasar setiap manusia. Tapi mengapa kita merasa perlu untuk menolong orang, banyak pahlawan yang sudah gugur, dan ada juga yang selamat dan berhasil menolong orang. Sebagai makhluk sosial, sudah kodratnya bagi kita untuk merasa ingin membantu orang lain menyelamatkan diri. Kita memperkirakan resiko, kita menantang diri sendiri untuk bisa selamat bersama mereka. Apapun alasannya kita menolong orang karena keyakinan kita sanggup survive pada akhirnya. Maka dari itu, yang perlu diingat adalah dengan jangan sampai kita sendiri yang menjadi korban. Jangan keburu untuk dianggap pahlawan sehingga kita menyebabkan keselamatan lain justru semakin terancam.

 

Sayangnya The Meg enggak konsisten merenangi perairannya sendiri. Tema yang mereka angkat timbul tenggelam. Umm.. lebih tepatnya, bayangkan sebuah batu yang kalian lempar menyisir permukaan air. Batunya akan loncat-loncat, kan. Begitulah tema film ini terasa. Film enggak konsisten dalam mengeksplorasi konteks ceritanya. Jonas ngorbanin banyak orang supaya bisa menyelamatkan paling enggak beberapa, supaya mereka enggak binasa semua. Kita seharusnya mendukung sudut pandang ini, karena Jonas adalah tokoh utama cerita. Namun film juga secara berlebih berusaha membuat kita sedih. Seperti si pria Asia yang dengan sengaja mengorbankan dirinya; kenapa kita mesti sedih karena tindakannya tersebut, sementara kita tahu – Jonas tahu dan ia dipersalahkan karenanya – bahwa pengorbanan itu kadang diperlukan. Pada satu poin Jonas bilang enggak gampang menjadi orang yang selamat dari musibah. Jadi usaha-usaha film untuk mendramatisasi setiap kematian para tokoh lain enggak ngefek ke kita.

Di momen kita menyadari kebiasaan minum yang menjangkiti Jonas tidak menambah apa-apa ke dalam plot; malahan tidak pernah disinggung lagi selain buat introduksi yang kayak tempelan, kita tahu film ini tidak benar-benar niat untuk memanusiakan para tokoh yang lain. Mereka dibuat sebego-begonya orang yang nyalain lampu meski sudah belajar bahwa cahaya dapat menarik perhatian predator yang mengincar mereka. Ide pintar ilmuwan di film ini adalah menembakkan racun ke mulut hiu alih-alih memancing si hiu dengan daging yang sudah diracuni. Keputusan-keputusan yang mereka buat sama seperti dialog yang mereka ucapkan; it’s either awkwardly cheesy atau blo’on.

Penokohan mereka begitu tipis, gak bakal cukup untuk tersangkut jadi kotoran di gigi hiu yang mau memangsa mereka. Jonasnya Jason Statham adalah hero film aksi paling generik, walaupun dia punya dasar moral sendiri, tapi tak pernah menguar lebih dari titik dia nge-I told you so orang-orang. Rainn Wilson adalah orang kaya yang bersifat egois yang kita nanti-nantikan kematiannya. Page Kennedy menerima tugas sebagai orang hitam yang lucu karena mengeluh setiap saat. Ruby Rose adalah cewek hispster yang jago komputer. Bingbing Li jadi tokoh cewek pendamping utama yang tentu saja bertugas menjadi orang yang perlu diselamatkan oleh Jonas. Begitu banyak tokoh yang gak ngapa-ngapain, ataupun memberi sesuatu yang baru, sudut pandang yang bikin kita enjoy mengikuti dan peduli ama mereka. Ada satu tokoh anak kecil, yang bikin kita “aww lucunya” dan dia gak diberikan apa-apa selain yang sudah kita lihat pada trailer. Juga ada tokoh kepala ilmuwan yang merasa bimbang saat mengetahui ‘musuh’ mereka adalah hewan prasejarah, ia dijangkiti dilema apakah makhluk ini sebaiknya tidak harus dibunuh, melainkan bisa dilestarikan. Namun film sebodo amat, dan tokoh-tokoh lain seratus persen meng-ignore si tokoh dengan menjalankan misi mengebom si hiu.

kenapa lagu Hey Mickey versi Thailand jadi soundtrack benar-benar di luar kuasa logika ku

 

 

Bekerja sama dengan China, film ini berusaha tampak lebih menarik buat pasar di sana.  Yang ada malah, The Meg tampak seperti ‘Made in China’ dari film hiu yang lebih kompeten seperti Jaws (1975). Bagian paruh pertama film ini membosankan dengan banyak penjelasan dan bincang-bincang teknologi dan istilah-istilah semacamnya. Bagian kedua, setelah perahu mereka dibalikkan, memang lebih seru, hanya saja meminjam banyak dari elemen yang sudah pernah kita lihat. Mereka berusaha melakukan hal yang sama, dengan lebih besar, dengan teknologi yang lebih mumpuni. Bahkan dengan mindset itupun, senjata utama film ini adalah ‘monster’nya yang super gede, The Meg tidak pernah benar-benar terasa menyeramkan. Alih-alih menggunakan suasana dan atmosfer bawah laut yang mencekam, film menakut-nakuti kita dengan jumpscare kelebatan hiu. Melihat sirip raksasa itu mendekat menyusur air, tidak membuat kita takut. Malahan greget pengen lihat si hiu bakal ngapain, bagaimana cara si hiu membunuh orang-orang yang tak berkarakter itu. Aksi hiunya pun biasa sekali. Aku mengharapkan mereka berkreasi dengan hiu sebesar itu, namun selain shot CGI yang merupakan versi halus dari photoshop serangan hiu hoax di internet yang sering kita lihat, tidak banyak hal seru yang ditawarkan oleh si hiu. Bahkan gak banyak darah, lantaran film menolak untuk sadar diri dan ngepush untuk dapat rating yang ‘enggak-dewasa’.

Mindless-monster movie yang membosankan. Menonton film ini bagaikan ngobrol sama orang annoying yang sok asik. Mereka pikir mereka lucu, exciting, mereka pikir aksinya keren, tapi semuanya biasa aja. Bahkan nonton Sharknado akan lebih menghibur, karena pembuatnya tahu kekuatan konsep ‘murahan’ yang mereka gunakan, dan mereka paham gimana menargetkannya kepada penonton sasaran pasar mereka. The Meg tidak sanggup untuk seserius dan semenakutkan Jaws, dan merasa gengsi untuk tampil seperti Sharknado. Padahal justru kemindless-annya itu yang semestinya dijadikan kekuatan. Adegan final Jonas actually satu lawan satu melawan hiu itu adalah adegan terbaik; film harusnya embrace kegakmasukakalannya tersebut sedari awal, karena sesungguhnya film ini berenang di kolam yang sama dengan film-film Sharknado.

 

 

 

Palungnya boleh dalam, namun ceritanya dieksplorasi dengan dangkal. Hiu film ini boleh saja gede, tetapi filmnya sendiri bernilai kecil lantaran filmnya terlalu sibuk untuk menjadi ‘Made in China’ dari film-film hiu yang lain. Dia menganggap dirinya seriously keren. Tapi tidak mengolah karakternya dengan baik. Dia tidak mengembrace sisi konyol yang mereka punya. Padahal jika mereka melakukan secara konsisten apa yang mereka lakukan di paruh akhir cerita, it would be a total blast. Akan bekerja sangat baik kalo saja mereka benar-benar total, penuh darah, konyol, dan sebagainya. Tidak konsisten dengan konteks, juga tidak total memainkan konsep. Jadinya adalah film ini seram tidak, kocak dan menyenangkannya juga hilang timbul.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE MEG.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN Review

“Don’t shake hands with the devil”

 

 

 

Mengabdi setan boleh jadi memang banyak untungnya. Prospek apa saja bisa kita dapatkan, semua masalah bisa sekejap dilenyapkan, tak pelak begitu menggiurkan. Tinggal datang ke dukun. Film garapan Azhar Kinoi Lubis yang biasa bermain di ranah drama ini berusaha mendramatisasi horror yang datang dari perihal dukun berdukun tersebut. Di dalam Kafir kita akan melihat satu keluarga yang dihantui oleh kekuatan tak terlihat yang bermaksud menghabisi satu persatu nyawa mereka, sebagai bagian dari skema grande sebuah balas dendam.

Ibu (Putri Ayudya dengan penampilan terbaik yang bisa kita saksikan dalam genre horror lokal) tidak mau lagi mendengar lagu kesukaan Bapak diputar di rumah. Ibu tidak mau memasak ayam gulai lagi. Belum empat-puluh hari sejak Bapak memuntahkan beling di meja makan. Arwah Bapak masih di rumah. Begitu kata Ibu. Ingin meyakinkan dirinya sendiri, lebih kepada meyakinkan anak-anaknya, Andi dan Dina, yang tak tahu apa-apa. Ibu yang hobi pake daster putih malam-malam ini ingin kejadian aneh yang ia lihat di rumah pasca kematian Bapak benar-benar disebabkan oleh arwah gentayangan, karena ia menyadari ada kemungkinan satu ilmu jahat sedang mengintai mereka dari balik derasnya hujan yang senantiasa mengguyur.

Jangan sekali-kali ke dukun, nanti disuruh nyari ayam hitam berbulu putih, bingung ente!

 

Suasana gelap dan sambaran cahaya kilat dengan efektif dimanfaatkan oleh film ini dalam mengeksplorasi gambar-gambar yang memancing bulu kuduk kita untuk berdiri. Akan ada banyak shot ketika kita berusaha melihat satu objek dalam pencahayaan yang minim dan kemudian sepersekian detik ruangannya terang oleh sambaran kilat. Efektif sekali membuat imajinasi kita melayang ke sudut-sudut tergelap yang bisa terpikir oleh kita. Suara-suara diegetic (yang didengar oleh para tokoh) akan turut membuat kita merasa was-was. Film ini pun dengan bijak tidak semudah itu menyalurkan rasa takut kita. Mereka menghimpun dulu untuk beberapa adegan. Kita hampir tidak melihat wajah seram dalam film ini. Hantu-hantunya hanya berupa bayangan-bayangan ganjil. Nonton Kafir, mestinya kita senang, karena film ini percaya kita bakal memperhatikan. Kengerian datang dari saat kita melihat , dan memahami konteks cerita.

Kafir punya gambar-gambar yang begitu memukau. Entah itu pemandangan pepohonan dari sudut rendah, maupun close up dua tokoh yang lagi berbincang dengan tegang. Semua gambarnya mengundang kita untuk masuk ke dalam dunianya. It is unfortunate, tho, karakter film ini tidak dirancang sebagai sinematografinya. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Ibu, namun seolah ada tembok yang dibangun untuk mencegah kita menyelami pikirannya.  Disantet, tidak tahu dari siapa, seharusnya adalah pengalaman yang menyeramkan. Tapi kita hanya takut demi si Ibu Sri. Kita tidak takut bersamanya. Karena cerita membutuhkan sebuah pengungkapan, siapa Sri, bagaimana cara pikirnya, kita tidak diberikan kesempatan untuk mengetahui ini hingga akhir cerita. Mungkin jika ditonton dua kali, kita bisa lebih menikmati, karena kita jadi tahu bahwa Sri ini sebenarnya punya dugaan – dia enggak sehelpless yang terlihat. Sri punya rencana sendiri untuk melawan balik. Tapi sebagai tontonan pertama, kita akan merasa seperti tamu yang diundang masuk ke rumah, lalu diabaikan. Tidak ada yang bisa kita ikuti.

Bersekutu dengan setan itu gak mesti jauh-jauh pergi ke dukun dulu. Ungkapan tersebut sebenarnya berarti jika kita melakukan sesuatu yang jahat, kita akan menunai hasil yang tidak baik pula. Dengan berbuat jahat, praktisnya kita sama saja seperti setan – atau paling tidak, berteman dengannya. Apa yang terjadi pada tokoh film ini adalah buah dari perbuatannya di masa lampau. Karena kita tidak akan bisa lari dari konsekuensi setiap perbuatan yang kita kerjakan.

 

 

Tokoh Dina yang diperankan oleh Nadya Arina mestinya bisa dijadikan karakter utama. Kita lihat dia suka baca novel detektif. Dia tertarik sama misteri, ia tidak menutup diri pada klenik. Tidak seperti abangnya yang punya karakter begitu tak tertahankan; keras kepala gak jelas. Yang satu suka misteri, yang satu percaya pada dokter. Tapi tidak satupun dari mereka yang melakukan hal yang masuk akal. Kenapa tidak ada yang berpikir untuk membuang beling, misalnya. Dina dan Andi adalah contoh dari karakter yang terkungkung oleh narasi. Mereka punya sifat namun aksi dan keputusannya sengaja dihambat-hambat untuk kepentingan twist di akhir cerita. Like, kalo mereka benar-benar bertindak seperti sifat mereka, cerita pastilah sudah maju karena seseorang akan ketahuan lebih cepat. Kita actually akan melihat Dina menelusuri misteri masa lalu keluarga bak detektif, mengunjungi tempat-tempat yang ia dapat dari petunjuk-petunjuk. Hanya saja kita tidak mecahin misteri bersamanya. Kita bahkan tidak melihat semua  apa yang ia lihat, ada yang disimpan untuk bagian pengungkapan di akhir.

Twist film ini sebenarnya ditulis dengan bagus, ia ditanam sedari awal. Twist itu bukan semata karena gak bisa kita tebak, tapi twist adalah satu-satunya kelokan yang bisa diambil oleh cerita. Kafir paham bahwa twist perlu dibangun terlebih dahulu, enggak lantas belok saja di akhir. Masalahnya adalah untuk sampai ke pengungkapannya film terpaksa mengorbankan banyak.

Salah, Andi! Lebih tepatnya adalah “Jadi selama ini kamu…kakakku!!”

 

Ketika seseorang dipercaya kafir, warga yang lain pun akan menjauhi sampai-sampai mayatnya pun ditolak untuk dikuburkan bersama dengan pemakaman warga yang lain. Elemen ini sebenarnya menarik. Film bisa bicara toleransi, kesempatan untuk meninggalkan zona hitam-putih, tapi film dengan lantas berpaling. Elemen ini hanya menjadi afterthought, karena dijatuhkan kepada seorang dukun di desa tempat tinggal mereka. Tokoh yang benar-benar minor karena dianggap sebagai sosok ‘mentor’ buat tokoh utama pun, si dukun ini enggak nyampe penulisan tokohnya. Meski begitu Sudjiwo Tedjo memainkannya dengan sangat over-the-top. Ah, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan film ini. Over-the-top. Lebay. Tokoh antagonisnya pun nanti akan berubah bersikap over, mereka lebih kayak orang gila daripada orang yang mau balas dendam.

Sumbernya memang pada arahan. Film bermaksud subtil dalam menakuti. Kita dapatkan gamabr-gamabr kayak noda di atap yang paralel dengan memar di betis Sri. Namun kita juga masih mendapati fake jumpscare kayak orang dikagetin oleh tokoh lain yang bukan hantu. Kalo ada yang bilang film ini gak ada jumpscare, itu semata karena fake jumpscare pada film ini beneran enggak seram.  Kita dianugerahi gambar-gamabr keren yang menambah bobot cerita, namun masih ada juga shot yang dilakuan dengan sedikit di luar kebutuhan. Aku  gak tau apa memang ada maksud subtil tertentu, tapi adegan ngobrol di meja makan bersama pacar Andi di awal-awal itu membingungkan sekali untuk dilihat. Kamera ditaruh di dua titik tengah (antara satu tokoh dengan tokoh lain), kita melihat keempat orang ini kayak melihat dari titik tengah X yang diposisikan  horizontal. Kemudian kamera berpindah-pindah gitu aja di antara dua titik tengah tersebut, membuat mata kita bekerja ekstra terus mencari siapa sekarang sedang berbicara.

Gestur di opening begitu mengganjal buatku hingga aku mengetik ulasan ini. Mengganjal karena tampak ganjil. Yaitu ketika si Bapak berusaha mengeluarkan beling dari tenggorokannya. Coba ya, apa yang kita lakukan kalo lagi tersedak, mencoba mengeluarkan sesuatu dari mulut? Secara normal kita akan membungkuk, menjulurkan leher ke depan. Orang yang melihat mungkin akan datang menepuk punggung kita. Tapi Bapak dalam film ini justru menengadah kayak pesulap di sirkus yang sedang menarik pedang dari tenggorokan dalam sebuah atraksi nelan pedang. Bukannya kalo bendanya gak dipegang, benda tersebut akan tertelan ya, kalo dibawa menengadah? Ini penting buatku karena saat melihat adegan ini, aku otomatis menganggap si Bapak sedang melakukan sebuah trik. Like, dia sebenarnya gak sakit bahkan mungkin dia penjahatnya. Tapi kan enggak. Dampaknya ini membuat filmnya agak gak meyakinkan buatku.

Kalian tahu, film ini punya satu adegan lebay ultimate yang bisa dimasukin sebagai adegan klasik khas cult horror movie; Andi menendang tokoh jahat yang kembali hidup dengan tubuh penuh kobaran api. Laughable banget, tinggal tambah punchline kata-kata cheesy aja tuh! hihihi

 

 

 

Mengecewakan cerita filmnya tak digarap sebaik gambarnya yang bagus-bagus. Penampilan para pemain terbilang oke, hanya arahannya saja yang entah kenapa mengincar titik over-the-top. Aku ingin percaya film ini lebih baik daripada Pengabdi Setan (2017) yang dipuja-puja. I want this film to be good, ceritanya udah nutup dan segala macem. Tapi enggak. Jatuhnya malah menggelikan. Seramnya subtil, namun pada akhirnya hanya akan dikenang sebagai perang santet dengan dukun dan ilmu-ilmu yang lebay.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

AIB #CYBERBULLY Review

“You never look good trying to make someone else look bad”

 

 

 

 

Sharing bukan lagi disebut caring jika yang disebar itu adalah cela dari orang lain. Karena saat kita membeberkan keburukan orang, yang ada hanyalah betapa kita mempedulikan diri sendiri.

 

Hanya orang-orang paling insecure sedunialah yang merasa wajib untuk membuktikan diri mereka hebat, maka mereka akan melakukan segala cara. Kebetulan, cara paling gampang adalah menertawakan orang lain; mempermalukan orang di depan umum. Sayangnya, remaja termasuk ke dalam kategori ‘orang-orang paling insecure’ ini; remaja dapat dengan mudah dan tanpa beban mentertawai orang demi popularitas, tanpa mau peduli bahwa mereka baru saja merendahkan makhluk yang berperasaan. Jarang sekali ada remaja yang mau memikirkan bahwa melakukan hal tersebut bukan hanya tidak ngefek apa-apa terhadap kebaikan dirinya, melainkan juga membuka kesempatan bagi orang untuk menyerang balik dirinya, dan lingkaran setan itu akan terus berulang. Hingga seseorang literally terluka.

Sarah dan delapan sohibnya tidak lebih dalam berpikir selain tentu lucu jika seluruh sekolah mengetahui rahasia yang tak-boleh disebut teman mereka yang bernama Caca. Jelas sekali, mereka tidak merasa apa-apa. Kenyataan toh berkata lain. Caca bunuh diri loncat dari lantai dua sekolah, tepat saat Sarah cs bergrup-selfie ria. Kita kemudian akan ngeskip waktu satu tahun kemudian, di mana Caca masuk ke dalam grup video chat Sarah and the genk yang sekarang sudah mulai kuliah dan berkarir sendiri-sendiri; memaksa mereka untuk memainkan permainan maut yang kira-kira berjudul Buka Aib atau Mati dalam rangka merayakan anniversary kematiannya. Aku memang agak mixed soal banyak cerita jaman kekinian yang membuat tokoh hantu yang simpatik kayak gini; mereka dibully hingga meninggal bunuh diri alih-alih terbunuh, dan balik menuntut balas sebagai hantu. Menurutku elemen ini seolah berpesan bunuh diri dapat membuat keadaan menjadi lebih baik. Adalah tanggung jawab film atau ceritanya sendiri buat melandaskan dengan tegas bahwa ‘hantu’ di sini adalah perumpamaan simbolis bahwa pelaku bully sejatinya tidak akan pernah sepenuhnya merasa tenang, rasa bersalah itu akan terus menghantui hingga ke titik mereka menghancurkan diri mereka sendiri.

Music video This is America dengan tepat membuktikan kritikannya

 

Keuntungan dari menyontoh sesuatu adalah kita jadi punya kesempatan untuk menjadi lebih baik dari yang dicontoh. Misalnya di sekolah, sering kan ada murid yang dapet nilai lebih tinggi dari nilai orang yang ia contek. Lantaran saat menyontek, dia harus improvisasi biar gak ketauan ama guru. Nyontek matematika, dia tinggal nyatetin jawaban yang benar dengan rapi, kertas jawabannya gak mesti penuh coretan kayak si rangking satu yang sempet salah hitung dua kali sebelum menemukan rumus yang benar. Aib #Cyberbully paham betul tiap jengkal kekuatan sekaligus kekurangan yang dimiliki oleh Unfriended (2015). Film garapan Amar Mukhi ini mencoba keras untuk mengungguli thriller misteri yang konsepnya menampilkan perspektif layar laptop tersebut.

Unfriended adalah film yang secara mengejutkan menyenangkan buatku. Film itu bercerita dengan pinter dan sungguh orisinil. Aku terkesan sekali dengan Unfriended. Makanya, begitu tahu ada film Indonesia yang mendaur ulang konsep penceritaannya, aku toh jadi penasaran juga. Semua poin kelemahan film yang kutulis dalam review Unfriended, well, Aib #Cyberbully seolah berusaha untuk memperbaikinya. Delapan tokoh sentral yang nantinya bakal dibully sama hantu kali ini diperlihatkan keseharian mereka, kita actually akan melihat mereka lagi ngapain sebelum chatting, sebagai upaya untuk melandaskan karakter dan memberikan kesempatan untuk mengenal mereka lebih dalam. Untuk kepentingan itu pula, Aib menginkorporasikan berbagai variasi shot. Membuat jurang pemisah pada konteks dua film ini; Unfriended bermain di ranah kengerian anonimitas pada internet – makanya kita tidakdibawa masuk mengenal karakter-karakter dengan lebih dalam, sedangkan Aib lebih kepada setiap orang punya rahasia, dan mengeksploitasi rahasia mereka tidak akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.

Anonim benar-benar ditonjolkan dalam Unfriended, maka kita melihat sekuen ketika tokohnya mencoba mengontak sembarang orang. Berusaha mencari bantuan. Pada Aib, kita tidak pernah mendapat sense mereka mencari pertolongan, yet aspek ‘teman menjadi saling menghujat’ benar-benar dinaikkan volumenya hingga maksimal. Menit-menit terakhir akan penuh dengan sumpah serapah di mana para tokoh saling berteriak, menghakimi yang aibnya kebuka, mengutuk yang sudah membuka aibnya, to the point ada salah satu dari mereka tidak lagi menjadi sedih saat ada teman mereka yang mati. Bagian ini mungkin too much buat sebagian orang, but it was needed dan menjadi poin drama dan konflik terkuat yang dimiliki oleh film. Film tidak lagi begitu cheesy, para pemain pun tampak mendeliver emosi dengan tepat. Pada delapan tokoh tersebut dibebankan masing-masing tiga aib, yang merupakan adalah cara film ini menunjukkan kerelavanan dengan isu-isu perihal kehidupan sosial anak muda yang dapat dijumpai di sekitar kita.

Tema cyberbully sudah ada, paling enggak sejak tiga tahun yang lalu. Film ini mengangkatnya lagi. Dan masih terasa sangat relevan. Ini menunjukkan betapa sosial anak muda di dunia maya memang belum sembuh dan cukup mengkahawatirkan.

 

Ada waktunya ketika denyut per denyut film ini persis sama dengan Unfriended, dan ini otomatis menjadi momen-momen yang paling menjemukan buatku.Karena aku gak ngerti kenapa adegan di Unfriended juga mesti diadain pada film ini. Ada banyak elemen yang mestinya bisa diganti atau dihilangkan saja sama sekali. Mulai dari topik chat mereka – gimana kedelapan orang itu terlibat – hingga phrase “byeee (baaa-iiiii)” sama persis. Kompakan nunjukin tangan ke layar supaya jadi bukti chat dari hantu itu bukan ulah hack salah satu dari mereka, mestinya bisa diganti dengan, maybe, mereka dibuat kompakan untuk menjauh dari layar. Dan adegan saling menggoda buka baju di film ini, entah kenapa dibuat begitu panjang.Aku paham sedari Unfriended pun adegan ini dari perspektif penulisan karakter penting untuk menunjukkan bahwa tokoh utama kita memang punya habit untuk berahasia; bahwa dia melakukan sesuatu yang secara moral kurang bener. Bahwasanya setiap orang punya sisi personal yang enggak semua orang diijinkan melihat, bahkan sahabat sekalipun. Yang aku gak mengerti ialah kenapa Aib begitu mengekstensi adegan ini, padahal sebelumnya mereka sudah menunjukkan bahwa mereka punya sisi lain untuk digali. Maksudku, daripada sepuluh menit ekstra chat privat di kasur, bukankah akan lebih baik jika waktunya digunakan untuk set up hal yang lain; perpanjang sedikit bagian waktu mereka masih SMA, misalnya.

mereka juga harusnya mengganti sosmed, karena… SIAPA YANG MASIH PAKE FACEBOOK DAN SKYPE HAREGENEE!!?

 

Kemunculan hantu adalah poin vokal yang digunakan film ini sebagai pembeda utama. Kita benar-benar melihat wujud hantunya muncul di layar laptop Sarah, kita melihat bagaimana dia tepatnya membunuh satupersatu, membuat Sarah menyaksikan semuanya. Tentu, hantu adalah cara paling efektif untuk membuat film kita diterima oleh banyak penonton di sini. Hantu dapat sangat menyeramkan jika ditangani dengan benar. But mainly, hantu di film ini digunakan untuk jumpscare yang tidak menyisakan ruang banyak buat imajinasi penonton. Imbasnya adalah adegan kematian yang menyertai kemunculan si hantu jadi berkurang kengeriannya – juga tidak menolong gimana setiap kematian dioverlook dengan segera begitu saja oleh para tokoh lain. Malah ada kematian yang kelihatannya enggak sakit, I mean, badan dililit kabel headphone? Nanggung sekali – kenapa tidak dibikin talinya nyekek leher aja, impresi yang dihasilkannya bakal lebih gede.

Kebayang sih, bikin film yang bercerita lewat video chat ini butuh usaha ekstra. Editing dan kesinambungan harus benar-benar diperhatikan. Aib #Cyberbully pun tahu apa yang harus mereka lakukan buat mengimbangi konsep yang sudah ada, paling enggak audionya benar terasa sesuai arah. Namun polesannya terasa terlalu banyak. Jaringan internet Indonesia tampak begitu kuat dibandingkan internet anak-anak di film Unfriended.Kesan real jadi berkurang. Unfriended menggunakan interface platform chat yang dibuat sesuai aslinya, lengkap sampai ke glitch suara dan gambar yang hadir di momen-momen random. Kadang gambarnya patah dan suara merekakeluar padahal gambarnya gak gerak. Sesuatu yang kita alami saat berkomunikasi video di dunia maya. Pada Aib, glitch digunakan untuk menyensor kata dan gambar yang ‘dewasa’. Tampilannya yang lebih variatif adalah hasil kerja editing, yang kadang membuat kita suspend our belief soal konsepnya. Misalnya, jumlah aib yang ditampilkan di window chat seolah itu adalah hitungan nyawa mereka; kita tidak akan dapat itu kalo ngeskype. Unnecessary, gak emnyeramkan, selain untuk memaparkan kepada penonton.

Kalo mau ngenitpick di luar perbandingannya dengan Unfriended, kita bisa mulai mengomentari dari kenapa ada cowok seragam SMA yang rambutnya gondrong. Tadinya kupikir ini akan dikaitkan sebagai salah satu aib atau apa yang berhubungan dengan statusnya, tapi enggak. Jikalau pemainnya menolak pangkas pun, sebenarnya bisa dengan gampang ‘disembunyikan’ dengan membuatnya memakai topi. Kemudian ada juga bingkai foto yang berubah dari satu shot ke shot berikutnya yang terlihat jelas. ‘Glitch-glitch’ kecil kayak gini sebenarnya bisa dikurangi jika saja film tidak terlalu focus ke usahanya membuat sesuatu yang lebih baik dari konsep yang mereka tiru.

 

 

Menyadari pentingnya pesan yang berusaha ia sampaikan demi dunia remaja, film mengambil langkah yang enggak nanggung-nanggung. Dengan berani menyandingkan diri dan berusaha membuat lebih dari Unfriended. Bahkan film ini dengan berani memberikan gratis satu tiket untuk setiap pembelian satu tiket kepada siapa saja hingga empat hari setelah penayangan perdana. Film ini mengeluarkan usaha yang ekstra karena film seperti ini tidak gampang dibuat. Bagi penonton awam, anak-anak muda yang menjadi targetnya,film ini punya semua yang mereka cari ketika mau nonton film horror. Yang perlu diingat adalah film ini bisa menjadi sangat vulgar dan kasar untuk konsumsi mereka, it really doesn’t hold back. Aku malah lebih suka jika tanpa sensor. Namun bukan hantunya yang menjadi horror buat penonton yang sudah punya banyak referensi, melainkan kenyataan bahwa mereka harus melihat berbagai hal yang sudah pernah dilakukan dengan lebih meyakinkan sebelum sampai ke bobot drama yang jadi topik utama cerita.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for AIB #CYBERBULLY

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SABRINA Review

“Revenge may be wicked, but it’s natural.”

 

 

 

‘Rocky Horror Picture Show’ sepertinya akan mendapat tambahan arti. Jika lawas, kita mengenal kata itu sebagai judul film cult klasik bergenre musical horror. Maka bukan tidak mungkin di era kekinian, mendengar kata tersebut orang-orang jaman now pada langsung kepikiran Rocky Soraya dan rentetan horror sadis buatannya dalam seri The Doll yang dimulai sejak 2016. Sabrina, entry teranyar dari seri ini, hadir dengan cap dagang yang sama; boneka berisi setan dan tusuk-tusukkan hingga potongan anggota badan. Jualan yang ampuh. Seri ini sudah semakin mantap menyemen jalan menuju status cult klasik miliknya sendiri. Meski aku heran juga kenapa boneka ugly-not-creepy kayak Sabrina dibeli oleh banyak anak kecil dalam film ini.

ayo rolling-eyes bersama Sabrina

 

Setelah dua kali sukses, The Doll dan The Doll 2 (2017) mendapat sambutan hangat dari both kalangan penggemar body horror dan mainstream, Rocky dan timnya di rumah produksi Hitmaker Studios tampaknya menjadi semakin gede kep… gede hidung menangguk keberhasilan yang serupa. Tetap bercokol di lingkungan keluarga – yang membuat cerita film ini somewhat relatable – mereka mulai mengekspansi sudut pandang cerita. Sabrina tidak lagi sekedar membahas gimana boneka yang tampangnya kayak versi kartun Luna Maya bermata besar berambut keriting ini menjadi medium entitas jahat yang mengganggu satu keluarga. Ini juga adalah tentang pertempuran ilmu putih dan roh hitam. Malahan, begitu ambisiusnya cerita, status film ini menjadi agak ‘kabur’; pembuatnya bilang ini spin-off, meskipun secara jelas cerita merupakan kelangsungan dari kejadian di The Doll 2. Either way, sesuatu yang mengerikan bakal terjadi, dan tokoh ahli supranatural yang sudah kita kenal di dua film sebelumnya, harus segera menghentikan. Tak peduli meski nyawa mereka sendiri yang sekarang menjadi incaran.

Aku sendiri lebih suka menganggap ini sebagai sekuel karena memang ceritanya terasa lebih besar. Tapi tentu saja lebih besar bukan berarti lebih baik. Aku sempat bingung juga siapa sih tokoh utama di film ini. Seharusnya memang Laras, si paranormal. Hanya saja untuk sebagian besar pertengahan pertama – also the heart in the story – kita akan melihat Maira berusaha menata keluarga barunya. Dia menikah dengan anak pemilik pabrik mainan yang memproduksi boneka Sabrina yang baru. Pasangan ini mengangkat anak bernama Vanya, yang actually adalah keponakan dari Aiden, suami Maira. Kita juga bisa melihat cerita dari sudut pandang Vanya yang bersikap dingin kepada orangtua angkatnya, karena Vanya masih mengenang dan sulit melepaskan sosok ibu kandungnya yang telah tiada. Vanya dan Maira punya hubungan yang cukup menarik; mereka sama-sama kehilangan orang yang mereka cintai. Maira tadinya berpikir Vanya yang lebih suka main boneka dan ngobrol sendiri punya masalah yang sama dengan dirinya di film terdahulu; halu bahwa ibunya (anak dalam kasus Maira) masih hidup. Little did she know, Vanya mengontak dan memanggil roh ibunya lewat permainan anak-anak. Hantu ibu Vanya ini mulai menimbulkan masalah, karena dia sepertinya cemburu Maira mendekati anaknya. Or so we thought. Tapi hal menjadi lebih mengerikan lagi. Iblis yang dipanggil oleh Vanya ternyata punya masalah personal dengan Laras, paranormal kenalan Maira. Cerita kemudian berpindah ke si Iblis Baghiah dan Laras, dan bagaimana Laras harus mengalahkan makhluk halus yang haus tubuh manusia tersebut.

Ini adalah cerita tentang sosok-sosok yang dibesarkan oleh keinginan untuk balas dendam. Di film ini kita akan melihat seberapa jauh dan mengerikannya balas dendam bisa terwujud, jika kita memang berniat untuk melakukannya. Atau bagaimana kesumat itu bisa diredam dengan willing to let go

 

 

Cerita semakin tak terkendali menjelang babak ketiga. Udah susah untuk bisa kita pedulikan. Semua kejadian berbelok dan masuk sekena pembuatnya saja. Ada yang involving senjata mustika. Ada twist yang berhubungan dengan soal persaingan internal keluarga pebisnis mainan. Elemen-elemen cerita ini sebenarnya terikat dengan rapat. Plot pun menutup dan film ini bisa berdiri sendiri. Momen menarik buatku adalah ketika Laras sempat ragu apakah akan mengambil pisau atau kalung daun kelor untuk memusnahkan Baghiah; ini adalah momen ketika dia memilih apakah harus membalas dendam secara langsung atau tidak, karena iblis itu sudah menghancurkan keluarganya sejak film-film yang lalu. Mengenai twistnya, THE CLUE WAS ON THE NOSE, if you know what I’m speaking. Pada dasarnya, drama film ini akan terasa dangkal kurang terdevelop, karena memang porsi yang lebih menarik sudah mereka ceritakan di The Doll 2. Sekaligus juga terasa membingungkan karena jumlah cerita dan elemen-elemennya banyak dan semua ditulis setengah hati, dengan karakter yang lemah.

Ada adegan ketika Vanya mau masuk ruangan yang gelap, tapi dia takut. Dia mencoba menghidupkan lampu, sayangnya saklar terlalu tinggi. Jadi dia masuk saja gelap-gelap. Ini adalah contoh gimana malasnya ngembangin cerita sehingga mengorbankan karakter. Naskah butuh si anak masuk ke ruangan yang gelap; banyak hal yang bisa dilakukan untuk jadikan rintangan – kita perlu melihat usaha si anak karena dia adalah karakter yang seharusnya kita pedulikan. Tapi enggak, Vanya malah terlihat bego gak bisa ngidupin lampu; sebagai hasil dari adegan ini. Satu lagi; di bagian akhir ada pengungkapan yang memperlihatkan semua kejadian mengerikan itu terjadi karena ada satu tokoh yang membayar dukun untuk memanggil setan. Actually, setannya yang membeberkan hal ini. Kemudian kita lihat si tokoh ditangkap polisi, sebagai penyelesaian. Dan ini membuatku berpikir; atas dasar apa polisi menangkap orang yang secara fisik tidak pernah menyentuh, apalagi melukai, korban? Bisakah hukum menahan orang yang ke dukun atau bahkan dukunnya sendiri jika tidak ada bukti mereka melakukan kejadian, katakanlah, pembunuhan? Mungkin kita bisa berkilah ‘ini cuma film’ namun mengambil penyelesaian termudah itu sesungguhnya mendangkalkan cerita lantaran mereka bisa mengeksplorasi gimana nasib si tokoh dengan lebih baik – dan in turn, membuat tokohnya jadi lebih dalem dari sekadar twist device

Paruh terakhir toh bisa saja memuaskan untuk penggemar horror sadis yang tak peduli melihat hal yang sama berkali-kali. Sara Wiijayanto sukses tampil intens, seteru Laras dengan Baghiah, melibatkan banyak orang berdarah-darah tak pelak ada highlight dari film ini. Kalo kalian bertanya kenapa hantunya musti repot ngerasuki orang, membunuh pakai pisau, padahal sebenarnya dia tinggal membanting dengan kekuatan gaib, maka jawabnya adalah karena persoalan sudah begitu personal, hantunya ingin memberikan rasa sakit sebanyak mungkin. Dan juga karena ditusuk pisau aja masih bisa hidup, gimana mau dibanting.

Begitu juga dengan Luna Maya yang dengan berani menjajal semua. Dia jadi wanita yang berusaha memenangkan hati anak angkatnya. Dia kesurupan jadi setan pencabut nyawa. Dia dikubur hidup-hidup. Dia dilempar hingga punggungnya menabrak rak sehingga dahinya terluka. Make up dan efek darahnya hebat. But the filmmakers need to put a new spin into their product. Dan jelas ‘spin’ yang dimaksud di sini bukan spin dari game Pencil Charlie. Serius deh, adegan-adegan permainan memanggil arwah ini digarap dengan begitu malas sehingga dengan begonya kita menatap shot yang sama sampai lima kali. Masa iya mereka gak bisa memfilmkan pensil menuju kata ‘yes’ dengan arah atau sudut yang berbeda. Shoot yang ngezoom pintu setiap kali pindah adegan juga sama overusednya. Awalnya memang terlihat keren, tapi diulang begitu-begitu terus ya jadi bosen.  Ini menjadi bukti bahwa pembuat film ini memang suka mengulang memakai sesuatu yang menurut dia bagus dan cukup berhasil. Film ini kita mendapat banyak adegan yang mirip, beat-to-beat poin adegan nyaris kayak film sebelumnya. Dan betapa lucunya melihat begitu banyak yang kesurupan di film ini, dan semuanya jadi berhidung gede. Ini udah kayak Truth or Dare (2018) di mana yang kesurupan senyum aneh semua.

Kalo lagi main game fighting, pembuat film ini pastilah selalu memakai tokoh yang sama untuk menang, dengan mengeluarkan jurus yang itu melulu – tak lebih dari tendang bawah. I mean, penting untuk menemukan formula keberhasilan – jurus dalam video game adalah formula-formula tersebut, dan tak kalah pentingnya untuk menemukan cara-cara baru untuk mengeksekusi formula tersebut. Karena menggunakan jurus yang sama terus menerus akan membuat orang belajar menemukan kelemahan kita. Dan tentu saja; membosankan.

yang belum pernah kita lihat sebelumnya di film ini adalah Luna Maya berhidung gede

 

Dengan minimnya kemauan untuk mengembangkan cerita, dialog-dialog terdengar kaku karena sebagian besar berisi eksposisi. Sedari awal saja kita sudah dikasih kado-kado berupa penjelasan dan latar belakang cerita.  Film merasa perlu untuk menjelaskan setiap detil kecil. Cara dobrak pintu, misalnya. “Kalo saya bilang ‘dobrak’, kamu dobrak yang keras.” Enggak semua hal musti diucapkan. “Kalo tiga dari jawabannya ada yang salah, berarti hantunya palsu.” Enggak semua kesimpulan musti dijabarin. Malahan, dialog Luna Maya saat menemui Laras pada dasarnya sama aja ama ngerangkum plot yang sudah dilewati. Dan setelah semua ekposisi yang enggak perlu tadi, mereka malah ninggalin yang mestinya mereka jelasin. Tokoh yang diperankan Jeremy Thomas, kita tak tahu apa-apa tentang tokoh yang cukup signifikan ini. Backstorynya hanya dideliver dalam satu kalimat bahwa dia adalah rekan kerja Laras yang dulu, and that’s it. Gimana kita mau peduli, coba, yang ada malah curiga.

 

 

 

Maira, Aiden, Vanya.
Marah. Edan. Paniang.
Itulah yang kurasakan saat menonton ini. Marah karena mereka tidak melakukan apa-apa yang baru, semua yang kulihat di sini tak ubahnya adegan-adegan yang kulihat pada film kedua. Bahkan shot-shot yang digunakan pada film ini pun repetitif. Edan, lantaran kekuatan film ini terletak di kenekatannya tampil berdarah-darah, dan mereka terus mengepush kualitas ini. Dan paniang, pening oleh banyak hal ‘bego’ yang tak terjelaskan, juga oleh naskahnya yang begitu convolute – tiba-tiba ada yang berubah, tiba-tiba ada elemen yang dijejel masuk – mereka seharusnya menulis cerita dengan lebih tight; jika memang pengen memperkenalkan ini sebagai spin-off buat saja dari sudut pandang Laras, misalnya. Buat penonton yang baru menyaksikan ini, tanpa menonton film sebelumnya, kalian bisa saja menjadi fan baru yang kepincut dan penasaran pengen nonton prekuel-prekuelnya. Tapi buat penonton yang sudah ngikutin, jenuh pasti datang, karena kita pengen melihat aplikasi gimmick seri ini dalam sajian yang fresh.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SABRINA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

HEREDITARY Review

“Free will is an illusion.”

 

 

Mengarungi hidup yang penuh konsekuensi, kita seperti berjalan pada sebuah jalur yang begitu banyak percabangan. Setiap kelokan mengarah ke lebih banyak persimpangan. Jika menemui jalan buntu, kita balik dan mengulang kembali dari bagian mana kita salah mengambil jalan. Kita merasa bersalah, merasa berhasil, kecewa, terutama kita bangga kita punya pilihan. Kita bertanggung jawab terhadap arah yang kita pilih. Ini membuat kita percaya bahwa kita punya kehendak pribadi, bahwa kita mengendalikan sendiri jalan hidup kita – bahkan jika kita percaya pada konsep takdir.

Ada tujuan yang sudah dipilih untuk kita semua, terserah kita lah untuk bagaimana mencapainya. Tapi jika demikian, bukankah itu berarti kita tidak punya kehendak pribadi? Apakah masih bisa disebut kehendak jika sedari awal kita sudah diassign untuk suatu tujuan, untuk suatu rencana? Jalan-jalan bercabang itu, kita hanya menapaki – tidak membuatnya? Apakah free will benar-benar hanyalah ilusi – apakah kita ini tak lebih dari tikus-tikus yang berlarian di dalam labirin yang dibuat oleh seorang ilmuwan gila?

 

Keluarga Graham, dalam kasus film Hereditary, tak ubahnya boneka diorama dalam rumah mini yang dibuat oleh Annie Graham sebagai seorang perancang miniatur bangunan. Film tak bisa lebih tepat lagi dalam mengambil metafora pekerjaannya terhadap apa yang terjadi kepada keluarga. Lewat adegan pembuka yang benar-benar creepy – walaupun tak ada penampakan hantu yang kelihatan – kita diperlihatkan pemandangan ruang kerja yang penuh rumah boneka. Kamera ngezoom ke salah satu ruangan, like, kita dibawa masuk ke kamar, untuk kemudian kamarnya ternyata berisi orang beneran, dan kita bertemu dengan anak tertua dan suami Annie; Peter yang masih remaja dan Steve yang tampak penuh pikiran. Dengan segera kita kenalan sama sisa anggota keluarga yang lain, ada si bungsu Charlie; anak cewek ini tampak kayak orang tua dengan lingkaran mata yang mencekung. Dan tentu saja Annie sendiri. Mereka tengah bersiap mengurusi acara pemakaman nenek yang baru saja meninggal. Toh, Annie mengakui dia tidak betulan merasa sedih, karena ia tak pernah dekat dengan sosok sang ibu. Karena sang ibu punya sifat yang tak bisa ditebak dan semacam ‘pengaruh’ buruk. Garis keluarga Annie dipenuhi oleh penyakit-penyakit kejiwaan yang berujung pada kematian ganjil. Namun ‘warisan’ itu tetap tak bisa diputus, ia tetap diturunkan. Annie mulai merasakan penampakan yang tak biasa, anggota keluarga yang lain juga mulai kena imbasnya. Satu tragedi kembali terjadi, kita akan menyaksikan keluarga ini satu persatu terjatuh ke dalam jurang  kegilaan. Turunan darah memang tak bisa ditolak. Either that, atau memang keluarga ini adalah keluarga boneka yang tak punya kendali atas nasib sendiri, mereka hanya ada untuk dimainkan oleh seorang dalang dalam sebuah rencana mengerikan yang besar.

“D-O-L-L-H-O-U-S-E I see things that nobody else sees”

 

Dari adegan pembuka tadi, kita bisa segera tahu bahwa film ini ditangani oleh pembuat film yang benar-benar punya passion dan peduli sama cerita yang ia punya. Ari Aster baru  tiga-puluh-satu tahun, dan ini malahan ‘baru’ film pertamanya. Ini debutnya sebagai sutradara film panjang.Aku yakin tidak ada pecinta film yang tidak terinspirasi oleh fakta ini. I want to be just like him; berani bikin film yang berbobot dan penuh passion. Namanya juga sama-sama Ari. Ngomongin soal free will? Yea kupikir sutradara ini baru saja membuktikan setidaknya ia berjuang untuk mewujudkan kehendaknya.

Tidak ada horror mainstream yang diolah penuh jiwa seperti Hereditary. I mean, beginilah Pengabdi Setan (2017) semestinya dibuat. Kedua film ini punya tema yang sama, ada sangkut pautnya dengan cult alias sekte terlarang. Hereditary, bedanya, berani untuk mengambil akhir yang definitive. Ceritanya tersimpulkan dengan arc tokoh-tokoh dibuat melingkar menutup. Misteri dan mitos seputar sektenya pun benar-benar dibangun. Film ini membuat kita takut pada apa yang terjadi pada tokoh-tokohnya, bukan hanya sekedar takut kepada sosok hantunya. Hereditary menggarap dengan berani dan penuh jiwa seni, dengan tidak mengorbankan keutuhan. Semuanya bekerja sama membentuk sebuah tontonan yang aku gak nyesel membayar harga weekend. Malahan aku pengen nonton lagi meskipun nanti harganya naik lagi menjadi dua kali lipat.

Hereditary paham tidak mesti bergantung kepada penampakan dan hantu yang nyeremin. Tentu, film ini punya unsur supranatural yang kental. Penampakan di tempat gelap, suara-suara yang seolah berasal dari sebelah kita, imaji yang bikin bulu kuduk berdiri, hal-hal ganjil, juga darah dan potongan kepala yang menggelinding – bahkan nekat di-close up untuk nyaris satu menit. Tapi Ari Aster adalah orang yang mengerti gimana cara kerja imajinasi. Apa yang tidak kita lihat akan berkali lipat jauh lebih menyeramkan, karena film ini membiarkan kita untuk menyipitkan mata memandang latar yang diblur ataupun bayangan di pojok wide shot dan menerjemahkan sendiri di dalam kepala apa yang sedang kita lihat. Tak jarang pula kita melakukan hal tersebut dengan menahan napas, siap-siap dikagetkan dengan musik keras. Setiap adegan seramnya dirancang untuk membendung ketakutan dan jerit kita, tapi film tidak membiarkan kita segampang itu untuk melepaskannya. Film dengan kejam menahan ketakutan, kewaspadaan, antisipasi kita sampai akhir banget. Bahkan ketika film usai pun, kita akan masih terus terbawa cemas dan masih terguncang oleh ceritanya.

Aku tak pernah menyangka bunyi “Klok” bisa membuat permen karetku tertelan

 

Bicara horor, berarti kita membicarakan hal yang subjektif. Beberapa hal yang menakutkan bagi orang lain, bisa saja menggemaskan bagi kita, atau sebaliknya. Kecuali kecoak. Boleh saja kalau kalian termasuk orang yang lebih takut sama jumpscare, penampakan yang ngagetin, kalian lebih suka nonton horor yang actually setannya muncul gamblang di depan kamera disertai musik menggetarkan sukma gendang telinga (gendang telinga ada sukmanya gak sih, hahaha) jadi kalian bisa menebak dan teriak barengan teman-teman. Atau mungkin kalian lebih suka nonton horor yang seperti Hereditary, di mana kita akan jarang-jarang melihat hantu, kalian lebih suka merasakan nuansa mencekam yang ditimbulkan, seperti pada Hereditary ini kita akan merasakan kepowerlessan para tokohnya yang semakin retak hubungan dalam upaya berurusan dengan peristiwa mengerikan  yang menimpa mereka. Poinnya adalah, Hereditary bisa saja tidak terasa semenyeramkan itu buat sebagian orang. Apalagi film ini mempercayakan hatinya kepada drama dan tidak segampang itu menghamparkan misteri. Banyak misdirection di babak kedua yang membuat kita tak pasti film ini bergerak ke arah mana, hasil akhirnya tetap dibuat tersembunyi di dalam kabut. Kita dibuat tak tahu harus mengharapkan apa.

Meskipun jika ternyata buat kalian film ini kurang seram, aku yakin kita semua bisa terkonek dengan apa yang dialami oleh para tokoh. Karena pada drama tragedi keluargalah sebenarnya letak hati film ini. Pada kejadian yang benar-benar bisa terjadi pada kita di dunia nyata. Ada istri yang begitu terguncang dan takut akan masa lalu keluarganya, dia ingin lari dan membawa orang-orang tersayangnya jauh-jauh dari masa lalu itu, tapi pada akhirnya dia malah melukai orang-orang yang cintai. Ada bapak yang berusaha tetap tegar (dan waras) karena dia tahu dia adalah kepala keluarga dan keselamatan keluarga bergantung di pundaknya. Ada anak yang menyaksikan perbuatannya berujung pada suatu musibah sehingga ia tidak tahu harus menyalahkan siapa. Rasa bersalah dan tanggung jawab seperti yang mereka alami tentu saja juga kita rasakan. Menyadari kita tidak benar-benar punya kontrol atasnya sejujurnya adalah hal yang begitu menyeramkan buatku.

Tidak banyak dari kita yang mau begitu saja mengakui apa yang sudah kita lakukan. Mencari yang bisa dipersalahkan adalah langkah yang lebih mudah.

 

 

Dari awal sampai akhir film menyerang kita dengan gambar-gambar dan efek suara yang mengerikan. Penampilan akting yang luar biasalah yang bakal membimbing kita melewati semua itu. Alex Wolff menunjukkan determinasinya dengan membenturkan hidungnya ke meja dalam sebuah adegan yang buatku keren; Peter mengambil alih kendali dalam kelas yang sama ketika dia belajar tentang manusia arogan lantaran masih berusaha meski sudah melihat tanda-tanda yang sudah digariskan. Aktor cilik Milly Saphiro benar-benar sold her role sebagai Charlie, bocah yang disturbing. Dan dia melakukan itu dengan peran yang tak banyak berkata-kata. Permainan ekspresi dan gestur yang menakjubkan. Ultimately, aku berharap Oscar kembali berani untuk mengapresiasi film horor karena penampilan Toni Collette sebagai Annie sungguh akan sia-sia jika tidak diganjar penghargaan. Dia ditantang untuk melakukan banyak emosi dalam satu adegan, dan sesungguhnya jika ini dilakukan ngasal maka Annie akan jadi over-the-top. Toni berhasil menemukan titik seimbang dalam permainan perannya, dia melakukan perubahan dari normal menjadi ‘orang gila’ dengan sangat fenomenal. Dua babak terakhir benar-benar total ia mainkan sebagai ibu yang sudah melewati batas kesabaran, break down karakternya sangat mengagumkan.

Toni membuat karakternya menjadi begitu menarik sehingga ketika dia hanya bicara tentang eksposisi, kita dibuat enggak bosan. Paparan cerita, dialog yang menjelaskan backstory dan misteri, nyaris merupakan aspek yang tidak bisa dihindari dalam film horor. Dalam Hereditary, begitu Annie mulai cerita tentang apa yang terjadi kepada keluarga ibunya di masa lalu, aku tidak menguap, aku mendengarkan dengan tekun, sebab film sudah mengset karakter ini dengan amat baik. Aku peduli padanya, aku ingin tahu apa yang sudah terjadi kepadanya. Dan begitulah salah satu cara menceritakan elemen eksposisi yang benar; buat peduli dulu kepada tokoh yang menceritakannya, bikin ia layak untuk didengarkan.

 

 

 

 

Enggak gampang menemukan formula yang seimbang antara tontonan mainstream dan konsumsi festival. Salah satu horor terbaik tahun ini, ia adalah contoh langka yang berhasil melakukannya. Dia bermain di lingkungan trope-trope mainstream, ada penampakan dan sekte, dan aspek-aspek lain yang sudah pernah diangkat oleh film-film lain. Penanganannya yang penuh passion dan idealisme lah yang membuat film ini stand out. Treatment yang artsy, yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Tragedi keluarga yang diolah menjadi drama yang dapat direlasikan oleh banyak orang yang menjadi pusat film, membuatnya juga kokoh sebagai film art house. Karena horor yang kita dapat di dalamnya sungguh bisa balik terjadi kepada keluarga kita. Inilah yang membuatnya menjadi menyeramkan, karena begitu kejadian kita tahu kita tidak akan bisa lari darinya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for HEREDITARY.

 

 

That’s all we have for now.
Mengenai apa yang sebenarnya terjadi kepada keluarga Graham, tentu saja aku punya teori. Tapi aku tidak ingin merusak pengalaman kalian menemukan sendiri teori ataupun menghalangi kalian yang ingin memberanikan diri menontonnya. Jadi, aku tidak menuliskannya di review. Kalo kalian mau diskusi, kita bisa melakukannya di kolom komen.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017