JAILANGKUNG 2 Review

“The captain goes down with the ship.”

 

 

 

Jailangkung 2 dibuka dengan tak bisa lebih menarik lagi buatku yang sudah hopeless mengingat performa film pertamanya tahun lalu. Kita dibawa mundur ke Sumatera tahun 1948, ke sebuah anjungan kapal besar yang sedang rame orang-orang menaikkan muatan. Mengenyahkan pandangan menembus asap komputer – sebuah efek malas yang tidak diperlukan, jika mau harusnya mereka bikin asap beneran – maka kita akan melihat nama kapal yang bakal bikin para penggemar misteri dunia menggelinjang heboh. Kapal S.S. Ourang Medan. Kapal hantu ‘legendaris’ yang cerita tentangnya sudah barang tentu dikenal para pelaut di seluruh dunia. Diceritakan kapal ini ditemukan dengan seluruh awaknya mati dalam ekspresi ketakutan, sebelum akhirnya kapal tersebut terbakar dalam cara yang sama anehnya. Aku membaca tentang kapal ini beberapa tahun yang lalu dari blog Enigma, kalian bisa baca artikel lengkapnya di sini. Karena Jailangkung 2 menghadirkan misteri ini cukup mendetil, kecuali bagian lokasi yang disesuaikan meskipun gak begitu masuk akal. Tapi paling tidak film ini benar-benar menempel tentang kapal itu sesuai dengan mitos yang diberitakan, hingga ke pesan-pesan morsenya. So actually I was interested, sampai ke pertanyaan itu timbul; bagaimana cara mereka mengikat misteri kapal itu dengan mitos jailangkung yang menjadi tajuk utama cerita?

Jawabannya adalah, mereka tidak bisa.

Jailangkung 2 nyaris membahas tentang jailangkung itu sendiri. Film ini berusaha memasukkan begitu banyak misteri, tetapi mereka begitu tak mampu membangun cerita sehingga durasi yang hanya delapan-puluh-menit lebih sedikit saja terasa amat membosankan. Jailangkung 2 kembali mengambil Mati Anak sebagai entitas yang harus dikalahkan. Ceritanya langsung tancap gas menyambung film yang pertama. Dengan flashback yang menghighlight kejadian di film pertama, film berusaha membuat penonton yang nyasar ke bioskop menonton ini mengerti apa yang terjadi. Kita melihat Bella (Amanda Flawless… eh salah, Rawles) masih berkutat menjaga keutuhan keluarganya dengan mencemaskan sang ayah dan adik yang masih merindukan almarhumah ibu mereka. Kali ini rundung keluarga mereka ditambah oleh kakak Bella yang berperilaku aneh (aneh as in bisa memporakporandakan meja makan hanya dengan melotot) semenjak ia mengasuh anak-tanpa-ayah yang ia lahirkan di pekuburan pada episode cerita yang silam

Setelah melihat si bayi bertumbuh dengan cepat menjadi anak seusia adiknya, Bella lantas melakukan riset bersama pacar tersayang, Rama (Jefri Nichol kembali memerankan tokoh eksposisi yang tak punya tugas apa-apa selain membawa follower instagramnya yang bejibun untuk nonton) yang punya akses ke buku-buku klenik semacam ensiklopedia hantu. Si Mati Anak tentu saja tidak diterima di keluarga Bella. Stake datang dari adik Bella yang kesepian karena kakak-kakaknya sibuk sama hantu. Si adik yang ngikutin jejak sang ayah, terobses sama kernduan akan ibunya, main jailangkung dan kemudian hilang ke alam goib. To fix all of this occult problems, Bella dan Rama tetap membaca buku dan internet sampai menemukan informasi bahwa Mati Anak yang dituduh Bella jadi sumber semua ini bisa dikendalikan dengan sebuah mustika yang hilang. Masalah dari mustika yang hilang itu adalah, tidak ada yang tahu tempatnya di mana. Jadi, Bella menabrak seorang anak baru yang ternyata mengetahui di mana mereka bisa menemukan the same exact mustika yang mereka butuhkan tersebut. Yup, tak perlu jenius untuk bisa menebak, Bella dan Rama harus terjun ke dasar selat untuk mencari mustika yang jadi penyebab kapal S.S. Ourang Medan tenggelam.

saking berantakan, aku nonton nyaris jungkir balik kayak setannya

 

Sesungguhnya cerita Jailangkung 2 ini bisa saja menjadi menarik. Di tangan pembuat film yang lebih kompeten, Jailangkung 2 jelas akan berdurasi lebih panjang demi memfasilitasi elemen-elemen cerita yang ada dengan lebih baik, untuk mengembangkan tokoh-tokohnya, membuat mereka lebih dari sekedar di sana tanpa karakterisasi. Pembuat film yang peduli terhadap ceritanya tentu akan mengerti kakak Bella yang begitu terattach sama si anak setan akan bisa menjadi tokoh utama yang lebih layak. Pembuat film yang memegang teguh idealisme ceritanya sejatinya paham bahwa psikologis adik Bella yang pada satu adegan tampak creepy sekali main boneka sendirian sambil bertanya “Mana Ibumu? Mana ibumu?” akan memberikan sudut pandang dan penggalian cerita yang lebih menantang. Tapi tidak, film ini berpendapat lain. Mereka hanya peduli sama angka jumlah perolehan penonton, jadi tokoh dan fokus haruslah ke yang cakep, yang muda, yang lagi hits, dan punya jumlah penggemar aktif di sosial media yang banyak, meskipun tokoh-tokoh tersebut tidak diberikan bobot atau hal yang benar-benar make sense untuk dilakukan. Alih-alih menggali cerita dari drama yang berakar trauma, film mendudukkan kita di belakang Bella yang dikejar-kejar pasukan ghoul/demit kuburan. Beberapa adegannya aku akui serem, aku suka ama adegan di supermarket, namun semua kesereman tersebut terasa sia-sia, pointless, karena kejadian menyangkut tokoh-tokoh di rumahlah yang sebenarnya lebih berarti.

Seorang kapten tidak dibenarkan untuk duluan meninggalkan kapal yang tenggelam. Dia haruslah yang terakhir pergi, karena dia yang  bertanggungjawab atas tenggelamnya kapal. Kita bisa menarik perbandingan antara kapal dengan keluarga. Dalam kasus ini keluarga Bella sudah akan tenggelam karena masalah yang  bermula dari sang kapten, ayah mereka, bermain jailangkung. Mengetahui hal tersebut, Bella adalah penyelamat yang mampu bertindak di luar sang kapten; memastikan ‘kapal’ keluarga mereka tidak bermasalah sehingga bakal tenggelam lagi.

 

Isi film ini tak lain dan tak bukan adalah eksposisi dan kejadian seram yang pointless. Semua ‘petualangan’ mereka dibuat mudah. Tokoh paranormal, investigasi lewat internet, itu semua tak lebih dari device untuk maju cerita dengan begitu gampang. Permainan perannya begitu minimalis. Kemajuan dari film sebelumnya adalah Bella actually menjadi orang yang hit the last nail ke hantunya, tapi kejadiannya dibuat begitu gampang – tidak ada tantangan. Yang ada hanyalah twist yang semakin membuat kita teringat sama film Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati (2018) yang sama parahnya. Para pemain hanya perlu untuk pasang tampang cemas dan takut sepanjang waktu. Tapi aku mengerti. Kalo aku bermain di film seperti ini, aku pastinya juga akan merasa cemas terus menerus. Aku akan mencemaskan karirku, karena film ini sama sekali tidak membantu apa-apa untuk pemain-pemainnya.  Naskahnya tidak memberikan tantangan, tidak memberikan kesempatan. Ada alasannya pemain waras seperti Butet Kertaradjasa tidak muncul lagi di film ini. Tidak ada pengembangan karakter di sini. Hubungan Bella dan Rama hanya diperlihatkan sebatas mengikat gelang keberuntung sesaat sebelum mereka menyelam. Film berusaha menampilan sedikit tantangan cinta dari orang ketiga, tapi itupun terasa datar dan tampak film menyerah di tengah jalan.

doooo betapa romantis bakal satu masker berduaaa

 

Penulisannya begitu malas dan ngasal. Banyak sekali dialog yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Untuk menyelamatkan kalian semua dari menonton film ini, berikut aku salin beberapa kutipan yang keluar dari mulut tokohnya:

“Papa enggak mau kamu mikirin urusan soal itu” – Pemborosan kalimat , Papaaaaa

“Buku ini menarik, Bell” / “Tentang apa?” / “Membahas salah satunya tentang Mati Anak” / “Kalo itu aku sudah tahu!” –Nice try, Ram. Nice try.

“Ambil obor itu dan alihkan perhatiannya” / “Tapi di sini enggak ada obor, Bu” / “Obor itu ada di tanganmu, Verdi” –Lah Ibu, ngasih obor aja belibet amat, mau membuat saya tampak bego ya?!

 

 

 

 

Film ini bagaikan kapal yang tenggelam. Namun tidak seperti S.S. Ourang Medan, film tenggelam dengan sebab yang kita ketahui. Sebab kaptennya tidak kompeten, namun begitu salut karena si kapten tidak meninggalkan kapalnya begitu saja. Masih kelihatan sisa-sisa perlawanan dari sang kapten berupa adegan-adegan dengan visual yang creepy. Akan tetapi, tentu alangkah baiknya lain kali sang kapten berani dengan tegas menolak untuk membawa kapalnya menuju nasib naas yang kita semua sudah bisa lihat.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for JAILANGKUNG 2.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

KUNTILANAK Review

Stepparents can be awesome because their love is a choice.

 

 

Bersetting di rumah asuhan yang interiornya dihiasi pajangan-pajangan antik, Kuntilanak berhasil mengejutkanku  – atau kita semua yang belum pernah menyaksikan trailernya – lewat tokoh utama ceritanya yang tak disangka-sangka. Anak kecil loh, dalam film horor. Manalagi film Indonesia yang berani melakukan itu, coba.

Dinda (Sandrinna Michelle diberikan kesempatan untuk membuktikan aktor cilik mampu bermain lebih dari sekedar korban yang perlu diselamatkan), tertua dari lima bocah yang diangkat anak oleh Mama Donna sejak setahun yang lalu, masih mengalami kesulitan untuk mengamini mereka semua sebagai sebuah keluarga. Padahal dia pengen banget, dia pengen punya keluarga, dia ingin berterimakasih kepada Donna. Dalam isaknya Dinda meminta maaf karena ia tidak tahu kenapa ia tidak bisa memanggil “Mama” kepada wanita tersebut. Gadis cilik ini pun berjanji bakal menganggap yang lain sebagai saudara. Pembuktian janjinya lantas tertantang saat sebuah cermin kuno dipasang di dalam rumah sebagai kejutan untuk Donna yang harus pergi ke Amerika. Suara aneh terdengar memanggil Dinda dan anak-anak yatim piatu tersebut tatkala malam. Nyanyian Lengsir Wengi berkumandang mengisi kediaman mereka. Yah, tahulah hal-hal serem yang dating sebagai penghantar penampakan kuntilanak mengerikan yang bermaksud untuk membawa mereka semua satu per satu ke dalam cermin.

kuntilanak sikap wewe gombel

 

Kuntilanak bermain dengan jejeran tokoh anak kecil yang asik. Film ini memberi kesempatan kepada tokoh anak-anak tersebut untuk mengambil keputusan sendiri. Ada yang hobi banget baca buku klenik, sehingga sedikit banyak ia mengerti tentang ‘musuh’ yang bakal mereka hadapi. Tingkah polah mereka semua dibuat sangat menggemaskan. Tentu saja, anak yang paling kecil, dapat dengan mudah memancing gelak tawa penonton, lewat kata-katanya yang kelewat dewasa maupun reaksinya yang polos. Film  berusaha mengeksplorasi hantu dari sudut pandang anak-anak. Mereka, layaknya anak kecil biasa, pengen beli mainan tapi gak punya uang. Jadi, mereka ikut sayembara yang diselenggarakan oleh acara horror di tv; motoin penampakan kuntilanak! Mereka berlima beneran pergi menyusur hutan, menuju rumah angker tempat asal cermin jahat yang dipajang di rumah mereka, dalam misi mulia mengambil potret kuntilanak. Mereka melakukan investigasi sendiri, mereka berusaha memanggil si hantu, tingkah mereka yang begitu innocent tak pelak terasa menyegarkan sekaligus juga menimbulkan rasa peduli kita kepada mereka. Kita tidak ingin mereka bernasib naas. We fear for them. Namun seringnya, kekhawatiran dan kecemasan itu berubah menjadi gelak tawa karena mereka begitu polos. “Kalau ketemu Kuntilanak, langsung difoto ya!” Begitu ringannya perintah salah satu anak saat Dinda berpencar, seolah melihat Kuntilanak itu segampang melihat kancil di hutan saja.

Tapinya lagi, segala kepolosan yang jadi lucu jika kita melihatnya dalam sudut pandang anak-anak benar-benar berjalan dalam garis tipis batas kebegoan. Ada satu adegan ketika Ambar, anak yang paling kecil diculik, dan Dinda melawan sang hantu dengan basically bilang, kami keluarga, culik satu culik semua. Ketika tiba saatnya memperlihatkan tokoh dewasa, barulah segala unsur lucu itu hilang dan film berubah menjadi total bego. Cerita memperkenalkan kita pada dua tokoh dewasa selain Donna.

Yang pertama ada Aurelie Moeremans yang berperan sebagai Lydia, yang dimintai tolong oleh Donna untuk menjaga anak-anak selama ia pergi.  Dan Lydia ini adalah baby sitter paling tak kompeten, paling parah dalam perkerjaannya, di seluruh dunia. Sedari awal saja sudah diungkap dia pernah kepergok pacaran oleh anak-anak. Percakapan mereka membuat kita berasumsi Lydia sedang kedapatan berciuman atau sesuatu yang lebih parah. Kebiasaan dia berpacaran ini lantas berlanjut dengan kita melihat adegan Dinda dan anak-anak asuhan literally bikin rencana untuk menggagalkan Lydia pacaran ketika menjaga mereka. Dan ngomong-ngomong soal menjaga, tidak sekalipun kita melihat Lydia melaksanakan tugasnya itu. Dia selalu absen di adegan-adegan untuk pengembangan karakter. Kita hanya melihat anak-anak. Di momen penting, Lydia malah pamit untuk kuliah sampe sore, meninggalkan Dinda cs di rumah sendirian. Membuat semakin parah adalah Lydia tidak pernah tampak peduli sama anak-anak ini. Dia tidak percaya sama cerita mereka tentang penampakan kuntilanak. Suatu plot poin yang sudah usang di dalam genre horror; orang dewasa yang tidak percaya kepada anak-anak. Dan ini membuat tokoh Lydia menjadi salah satu tokoh paling tak berguna yang pernah kutonton.

Tokoh pacar Lydia juga tak kalah tiada bergunanya. Cowok ini bekerja sebagai host acara televisi yang menyelidiki tempat-tempat angker. Dalam suatu episode acaranya lah, dia melihat cermin kuno dan  ia mengetahui tempat itu santer sebagai sarang kuntilanak, namun dengan sengaja membawa benda tersebut ke rumah Donna. Melihat tindakannya itu, aku bahkan tidak yakin tokoh ini tahu satu ditambah satu jawabannya sama dengan dua.

cermin tarsah versi horror

 

Aku mencoba untuk melihat film ini dalam tingkatan yang lebih dalam. Clearly, film ini bicara tentang keluarga, khususnya orangtua. Meskipun mungkin bagi sebagian besar kita keberadaan ibu dan ayah tampak sepele, namun tidak semua orang punya ibu dan ayah. Tokoh-tokoh dalam film ini either yatim, atau piatu, atau bahkan keduanya. Kuntilanak menggambarkan dengan caranya sendiri bagaimana ketiadaan sosok ibu bisa begitu mengguncang keluarga. It’s hard, bagi sang ayah, apalagi buat sang anak.

Bocah-bocah malang korban kuntilanak itu, mereka cuma ingin bersama dengan ibu. Satu hal yang perlu diingat adalah ketika kita mencari pengganti ibu atau orangtua, bukan berarti kita benar-benar menukar posisi mereka. Tak perlu khawatir kita tidak bisa menumbuhkan cinta, karena if anything, cinta yang ada bisa saja tumbuh lebih besar, karena ini adalah cinta yang kita pilih.

 

Aku bukan ahli dunia perhantuan atau apa, aku tidak dalam kapasitas bisa mengatakan film ini kurang riset atau gimana, namun aku merasa sedikit ganjil terhadap mitos kuntilanak yang diceritakan. Kuntilanak adalah jenis hantu yang paling aku takuti, like, kalo lagi mimpi buruk pasti tak jauh dari aku diuber-uber sama kuntilanak yang ketawa ngikik bilang bacaan ayat-ayat kursiku enggak mempan. Serius deh, bahkan mengetik namanya saat nulis ulasan ini aja aku merinding disko sendiri. Jadi, mendengar nama si kunti disebut dengan bebas, berkali-kali oleh anak kecil di film rasanya sedikit lucu, membuatku berjengit sambil geli-geli sendiri. Dan aku tidak pernah tahu, kuntilanak suka menculik anak-anak, film ini pun tidak menjelaskan motivasi di balik si hantu. Kita tidak mendapat gambaran dari cerita latar atau asal-usul cermin dan penghuninya itu. Film tampak mengangkat mitos kuntilanak dari tanah Jawa, lengkap dengan pakaian adat dan lagu Lengisr Wengi, juga ada paku di puncak kepala. Tapi aku tidak merasa penggalian mitos dan motivasi karakter utama benar-benar menyatu dengan klop dan berjalan paralel.

Film tampak seperti membuat aturan main sendiri. Misalnya pada adegan ending, berkaitan dengan hal yang dilakukan oleh Dinda untuk mengalahkan kuntilanak. I was led to believe, tokoh Dinda akan berkembang menjadi anak yang kesulitan mengakui pengganti ibunya ke semacam membuat sosok ibu bagi dirinya sendiri. Yang jika dikaitkan dengan mitos kuntilanak dan pakunya, aku mengira Dinda akan mendapat ibu baru berupa kuntilanak yang sudah ia ‘jinakkan’. Film sayangnya tidak jelas dalam membahas hal ini. Kita melihat cerita ditutup dengan foto keluarga yang di-close up, tapi aku tidak menemukan keanehan pada mama yang ada pada foto tersebut. Pertanyaannya adalah apakah mama di situ adalah mama kuntilanak, atau mama Donna yang sudah kembali dari Amerika. Menurutku film butuh paling enggak satu adegan yang menunjukkan bagaimana nasib mama Donna, sebab setelah kepergiannya, tokoh ini tidak ada pembahasan lagi.

 

 

Ini adalah salah satu dari film horror Indonesia belakangan ini yang tampil lebih baik (walaupun itu bukan exactly sebuah prestasi), dia mengolah tokoh dan elemen dengan cukup detil dan menutup. Selera humor pembuatnya jelas tinggi, juga keberaniannya mengangkat tokoh utama anak kecil dalam sajian horor. I think kekurangan film ini mainly datang dari penceritaan yang sedikit terlalu melebar. Ada banyak bagian yang mestinya dihilangkan saja; seperti bagian mimpi dua kali, ataupun jumpscare yang melibatkan kucing hitam yang sama dua kali. Menurutku cerita ini bisa dibuat lebih ketat dan terarah, misalnya dengan memulainya dari perburuan foto kuntilanak oleh para anak kecil, terus kemudian berkembang menjadi kita mengenal siapa mereka, dan apa yang harus mereka lakukan. Tone ceritanya agak sedikit kurang bercampur, setelah kita melihat adegan berdarah di awal, cerita menjadi penuh efek suara-suara lucu untuk mengangkat nuansa kocak dan kekanakan. Desain hantunya pun tampak terlalu generik, padahal film ini tampak lumayan dari segi artistik. Mestinya mereka bisa menguarkan gaya sendiri, enggak harus bercermin – apalagi di cermin setan – dari gaya film yang sudah-sudah.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for KUNTILANAK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ALAS PATI: HUTAN MATI Review

“Good friends don’t let you do stupid things…alone”

 

 

Tentu kita akan melakukan hal-hal bego saat bersama teman-teman. Kita masih muda. Akan membosankan sekali jika kita gak mengambil resiko dan ga melanggar semua peraturan itu. Hampir seperti masing-masing kita berlomba untuk menjadi yang paling ngaco, kita bangga melakukan sesuatu yang tak banyak orang lain bisa. Masuk kelas tepat waktu layaknya murid normal? Well, kita akan buktiin bisa masuk telat, lewat jendela belakang, demi mendapat elu-eluan dari teman satu genk; Hebaaaat. Berani banget, ih. Kemudian teman-teman akan meniru, bola bergulir, dan menimbulkan efek yang semakin membesar. Dengan mencoba tampil beda, ingin mendapat pengakuan – dalam masa kekinian; mau dapat view dan follower banyak – tak sadar kita menjadi contoh yang buruk.

Kita tidak bisa menilai diri sendiri. Orang bilang, pergaulanlah yang membentuk kita. Tapi pada kenyataannya, kita tidak pernah selalu sepasif itu. Sedikit banyaknya, baik buruknya perbuatan, kita kerap memberikan pengaruh. Kedewasaan dan pengalamanlah yang bakal ngajarin kita untuk berpikir matang dahulu sebelum bertindak.

 

Dalam konteks tersebut, sebenarnya Alas Pati punya dasar cerita yang menarik untuk dikembangkan dari karakternya. Ini adalah tentang seseorang yang menyadari dia sudah memberikan pengaruh yang buruk dalam lingkaran pertemanannya, dan berhubung ini film horor, ia memplajari hal tersebut dari sebuah kejadian naas mengerikan yang literally terus menghantuinya.Nikita Willy dan teman gengnya sudah dikenal di kampus sebagai kelompok songong yang suka mengupload video-video viral berisi kenekatan ekspedisi mereka. Dimotivasi oleh dahaga akan ketenaran siber, juga uang yang didapat darinya, mereka pergi ke pedalaman Jawa Timur. Ke sebuah pekuburan adat tradisional di dalam hutan yang terkenal angker. Disebut tidak ada yang dapat kembali dari sana, tokoh utama kita semakin tertantang. Mereka menemukan tempat tersebut dan make fun of it. Tentu saja ada korban jatuh. Mereka kabur ke habitat asal mereka (yang kuasumsikan adalah Jakarta, karena di mana lagi kita banyak menemukan anak muda spoiled yang belagu, right?) . Tapi tidak tanpa makhluk-makhluk dan kejadian poltergeist menyeramkan yang ngikutin.

Respect. Satu hal yang tidak berani dipunya oleh anak muda

 

Pada awalnya, Alas Pati tampak bakal dibangun menjadi horor yang ‘berbudaya’’ dengan actually punya sesuatu yang ingin disampaikan. Set-nya udah kayak settingan sebuah game Fatal Frame yang baik; Mereka punya urban legend yang dikunjungi. Mencakup ritual di pemakaman di mana makam-makam didirikan di atas platform kayu di daerah terbuka di tengah hutan terpencil. Ada mayat-mayat yang seperti dimumifikasi dengan mata terjahit di sana. Bahkan tokoh kita menggunakan kamera dan teknologi lain untuk melihat hantunya. Aku sudah siap diterpa cerita trauma personal yang dikaitkan dengan pembahasan ritual Alas Pati itu sendiri. Tapi film Alas Pati tidak pernah membahas ritual tempat tersebut dengan lebih dalam, praktisnya hanya dijadikan alas cerita saja. Horor yang kita dapatkan, sebaliknya, adalah cerita horor biasa yang bisa saja terjadi kalo judul film ini diganti. Mereka bahkan enggak perlu ke hutan itu, trigger cerita ini bisa terjadi di mana saja. Satu-satunya pengikat tokoh-tokoh ini mesti kembali ke lokasi itu adalah karena Nikita Willy mengambil kalung dari salah satu mayat dan memakainya layaknya kalung sendiri. Dan kita enggak tahu kenapa dia melakukan hal tersebut, mengapa dia nekat mengambil kalung dari mayat.

Jika kalian suka film di mana tokohnya mempelajari suatu misteri, kemudian berjuang melawan misteri tersebut karena ternyata bersangkut paut dengan masa lalu kelamnya sebagai seorang manusia, maka sebaiknya kalian jangan mengharap banyak kepada film ini. Ya, memang, tokoh utama kita akan menyadari dan mencemaskan apa yang sudah ia lakukan membawa dampak buruk bagi teman-temannya, tapi kita tidak melihat ia memilih untuk bertanggung jawab sendiri. Dia tetap ‘kabur’dan ketika udah kepepet, dia mulai berpikir lurus demi batang lehernya sendiri. Tidak ada eksplorasi. Film melewatkan kesempatan besar, mereka bisa saja membangun mitos sendiri soal ritual Alas Pati, yang mana seratus persen akan membuat film ini menjadi horor yang solid. Bayangkan betapa berbobotnya film jika durasi diisi oleh tokoh-tokoh yang actually melakukan sesuatu. Take action alih-alih bereaksi terhadap kondisi diteror hantu melulu.

Babak kedua film ini hanya diisi oleh tokoh yang bergantian diteror hantu. Dan setiap sekuen tersebut berakhir mereka revert back ke denying apa yang terjadi dan kembali meyakinkan diri mereka untuk menutupi apa yang mereka lakukan. Makanya film terasa sangat membosankan ketika sudah di bagian tengah. Kita praktisnya sama saja melihat hal yang sama berulang-ulang kali. Film terlalu malas untuk menciptakan cerita yang berlapis. I mean, bukan saja elemen ritual yang dibiarkan dingin. Ada satu poin di mana ada seseorang yang mengupload video mengenai kejadian yang mereka semua tutupi dari orangtua dan publlik. Dengan panik mereka mencoba menurunkan video tersebut dari linimasa, menghapusnya dari internet, dan that’s it. Poin ini enggak ada reperkusinya. Entah bagaimana tidak ada orang yang melihat video tersebut. Tidak ada pembahasan kenapa video tersebut bisa terupload. Film just drop it, tidak berujung kemana-mana selain para tokoh jadi ribut saling tuduh.

Tapi paling enggak, peta yang mereka gunakan sudah jauh meyakinkan dari peta Ular Tangga (2017)

 

Film justru melompati hal-hal seru untuk diceritakan. Misalnya lagi saat perjalanan mereka menuju Alas Pati. Seluruh perjalanan ke tempat terpencil itu dibuat begitu mudah. Hanya ada satu kali mereka mencemaskan enggak bawa pengaman. Tapi kemudian kita dicut langsung menuju mereka sampai di lokasi. Membuat film ini tampak enggak kompeten, seolah cerita yang mau mereka usung jauuuuuhhh lebih gede dari kemampuan pembuat filmnya. Mereka tidak bisa membuat mitos seputar Alas Pati, mereka tidak bisa membuat misteri yang lebih eksploratif , mereka tidak bisa membuat perjalanan yang intens. Adegan di sepuluh menit pertama – yang ditutup dengan Nikita Willy melempar botol mineral tepat kena kepala temannya yang berlari menjauh, konyol! – sungguhlah berperan dengan super efektif sebagai tangisan minta tolong dari film untuk kita memperhatikan bahwa mereka gak bisa membuat cerita yang benar-benar terasa intens dan mencengkeram. Di menit tersebut kita melihat Nikita Willy ditantang main panjat tembok sama temennya; editingnya sungguh-sungguh begitu bland, kita tidak merasakan kompetisinya, yang dilakukan film ini hanyalah mereka merekam ekspresi meringis pemain dan kemudian memainkan musik rock sebagai penghantar emosi. There’s nothing pada kamera dan editnya yang menguar emosi.

Ketergantungan terhadap musik dan suara keras inilah yang bikin film ini sungguh tampak nyebelin. Usaha mereka cuma di bagian itu, dan mereka pikir itu sudah cukup. Bahkan saat menangani adegan inti yang pembuat film percaya bakal laku keras pun, film tampak begitu malas. Rambut yang dipakai hantu ‘beneran’ di sini clearly gak ada bedanya ama wig yang dipakai tokohnya si Stefhanie Zamora waktu ia nakut-nakutin temennya. Juga di bagian akhir film, ada adegan ngebut-ngebutan di mobil yang jelas malesin buat ditake ulang jadi mereka masukin ngasal aja potong-potongan adegan, alhasil itu plat mobil berubah-ubah dari B 459 PM menjadi B 9 PM dalam setiap shot.

 

 

 

 

Diibaratkan, film ini adalah teman kita di sekolah yang kerjaannya bolos, nyontek, sok ngartis, tapi punya penggemar banyak karena dia kece. Dia tidak melakukan apapun dengan potensi yang ia punya. Harapan kita tentu saja adalah semoga film ini gak lantas menjadi pengaruh buruk buat ranah perfilman horor tanah air.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for ALAS PATI: HUTAN MATI

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

GHOST STORIES Review

“The past can haunt you, but so can ghosts.”

 

 

Demi membuktikan poin yang mereka usung sebagai tagline, film ini sempet nekad mejeng pake poster dengan judul yang sengaja ditypo-in. Di negara aslinya, Ghost Stories awalnya dipromosikan sebagai ‘Ghost Storeis’. Karena memang demikianlah cara kerja manusia dalam memandang suatu hal. Kita hanya melihat apa yang kita ingin lihat. Masalahnya adalah, kita cenderung menciptakan sendiri apa yang ingin kita lihat, sebagai langkah yang lebih mudah alih-alih menghadapi apa yang kenyataan yang benar-benar ada. Aku, misalnya, menciptakan persona ‘manusia paling sial’ waktu kuliah dulu hanya karena aku gak mau mengakui bahwa aku nyatanya memang enggak secakap itu dalam berbagai hal. Jadi, secara tak-sadar aku menyalahkan kesialan.

Horor dari Inggris ini mengerti bahwasa hantu sesungguhnya adalah serpihan dari masa lalu yang kelam yang masih eksis di belakang kesadaran manusia. Arwah-arwah penasaran yang dilihat itu tak lain dan tak bukan ialah kesadaran terhadap trauma atau tragedi yang pernah dialami yang muncul ke permukaan, dan rasa bersalahlah yang membuat penampakannya menjadi mengerikan. Kita lebih suka memandangnya sebagai momok ketimbang mengakui kesalahan yang sudah kita lakukan.

 

Bagi tokoh utama film Ghost Stories ini, Profesor Phillip Goodman (merangkap sebagai sutradara, Andy Nyman, memainkan karakter ini dengan note dan penekanan yang tepat mengena), hal-hal supranatural hanyalah hoax berikutnya yang musti ia ungkap. Dia punya acara tivi khusus yang didedikasikan buat menelanjangi penipuan orang-orang yang mengaku bisa berkomunikasi dengan alam gaib. Goodman begitu bangga dengan keskeptisannya ini. Menurutnya, segala hal ‘mistis’ itu pasti ada penjelasan, sebab selalu ada cara untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut. Namun sepanjang berjalannya cerita, kita akan belajar bahwa sikap skeptis Goodman tersebut nyatanya adalah sistem pertahanan si profesor terhadap realitas kehidupannya sendiri. Ada kenyataan yang berusaha ia tutupi, dan selagi dia bisa mengekspos sebanyak mungkin kebenaran di balik fenomena ganjil yang dialami seseorang, atau yang diakui dialami oleh mereka, Goodman merasa lebih baik terhadap dirinya sendiri. Tapi tentu saja, keinginan dan kestabilan sistem Goodman dengan segera mendapat tantangan. Dia dihadapkan kepada tiga kasus paranormal yang bahkan dia sendiri tidak bisa memecahkannya sehingga kasus-kasus ini menjadi hantu yang meneror Goodman dan kebenaran yang (tidak) ingin dia lihat.

Goodman ini kayak-kayak tokoh Reza Rahadian di film Gerbang Neraka (2017)

 

 

Tiga kasus yang ditangani Goodman akan kita saksikan menjelma seperti cerita pendek dalam dalam sebuah film antologi. Ditambah dengan cerita tentang dirinya sendiri, menonton Ghost Stories ini seolah kita menonton empat film pendek yang serem. Setiap cerita benar-benar tersulam sempurna, di mana cerita yang satu akan turut ngebangun cerita yang lain. Penonton yang jeli akan dapat menangkap petunjuk-petunjuk subtil berupa objek-objek yang muncul sepanjang penceritaan kasus; warna benda, jumlah, bahkan penggalan kalimat dialog, yang diakhir cerita akan berperan besar dalam mengungkap kebenaran. Ghost Stories, selain seram, juga merupakan horor yang pintar.  Aku benar-benar menikmati pengalaman horor yang diberikan. Ditambah pula, aku menyaksikan film ini sendirian di studio bioskop.

Pada kasus pertamalah aku merasa sudah hampir melambaikan tangan menyerah dan keluar minta ditemenin nonton sama kakak penjual tiket yang senyumnya manis. Atmosfer kesendirian di dalam ruangan yang gelap dihadirkan oleh film dengan begitu kuat ketika mereka menceritakan tentang seorang penjaga yang menghabiskan waktu jaga malamnya di bangunan bekas asylum buat cewek-cewek berpenyakit mental. Bunyi sesuatu di sudut kelam yang ogah kita lirik, derap tapak seseorang di tempat yang kita tahu enggak ada orangnya; kita akan tenggelam dalam efek-efek suara yang creepy abis semacam itu.

Kasus kedua menawarkan sajian mencekam yang berbeda. Horor pada cerita ini enggak terasa sedekat kasus pertama kepada kita semua, tapi nuansa unsettling itu tetap di sana. Membuat kita merinding ria menyaksikan tokoh-tokoh yang tampak ‘tak-seperti kelihatannya’ yang dijumpai oleh Goodman.  Yang ia tangani di sini adalah seorang anak muda yang melapor melihat suatu makhluk di dalam hutan, dan Goodman bertamu ke rumah si pemuda. Melihat sekilas orangtuanya, sebelum akhirnya naik ke lantai atas ke kamar kliennya yang penuh dengan gambar-gambar perwujudan setan, hasil riset si pemuda di internet. Alex Lawther sungguh sukses memainkan pemuda yang ngobrol langsung dengannya aja bakal bikin aku kencing celana. Ada banyak facial work dalam aktik Lawther yang begitu efektif mengeluarkan kesan mengerikan, padahal di cerita ini dia yang diteror.

Film ini merupakan penerapan ungkapan yang tepat dari “antara yang benar dan yang baik, pilihlah yang baik”. Jangan semena-mena menyepelekan keyakinan orang lain. Jangan bully mereka dengan kebenaran yang belum bisa mereka terima. Karena terkadang kita yang harus menyadari ada batas antara skeptis dan tak-percaya dengan apa yang disebut dengan turn a blind eye. Whether or not kita bersedia untuk dealing dengan hal-hal ini ataukah kita lebih suka untuk membloknya dan berpura semuanya tak pernah terjadi

 

Penampilan Martin Freeman pada kasus dan cerita ketiga seperti menyambung estafet ke-creepy-an dari Lawther. Tokoh yang ia perankan mengadu menyaksikan sendiri aksi poltergeist yang berhubungan dengan proses istrinya melahirkan. Cerita bagian ini memang tidak terlalu seram, karena pada titik ini kita diniatkan untuk sudah berada dalam sepatu Goodman. Ini sudah lewat point-of-no-return, Goodman sudah menerima ada beberapa hal yang tak bisa ia jabarkan, jadi kengerian di bagian ini datang dari ketika Goodman menyadari semua cerita tersebut pada akhirnya  bermuara kepada dirinya sendiri. Tone cerita di sini seketika menjadi sangat surealis. Apa yang terjadi kepada Goodman sungguh-sungguh disturbing, cerita-cerita tersebut sudah mengganggunya dalam level yang dalem.

“Jangan lihat ke belakang” serasa punya arti yang lebih dalem jika nonton ini sendirian di bioskop

 

Tak berlebihan memang jika aku menyematkan pujian sebagai horor terseram yang kutonton setelah berbulan-bulan kemaren aku hanya menyaksikan film hantu ala kadar buatan lokal. Ghost Stories mengerti bahwa tugas film horor bukan hanya sekedar menampilkan darah, adegan sadis dan kekerasan. Bukan sekedar menampilkan hantu – yang mengaum pula. Aspek-aspek tersebut memang membuat film horor menjadi menyenangkan, malahan dalam film Ghost Stories inipun kita bakal menjumpai aspek serupa; ada jumpscare juga, ada elemen tradisional seperti mati lampu, dan monster, dan hantu yang wujudnya mengerikan. Malah ada satu yang tampaknya bakal aku lihat lagi dalam mimpi burukku nanti malam. Bagusnya, Ghost Stories tidak melupakan apa yang membuat horor itu bakal terasa sampai ke jiwa penontonnya. Horor yang sebenarnya adalah horor yang datang dari derita dan penyesalan yang terjadi kepada kita, atau keluarga di masa lalu; dari sesuatu yang benar-benar mungkin dialami oleh kita semua. Film ini menarik hal tersebut dari sudut terkelam pikiran kita, mengeksplorasinya dalam penceritaan yang tersusun cermat.

Tapi, adegan pengungkapannya sendiri, aku tak ayal merasa sedikit dikecewakan.  Aku mengharapkan konklusi cerita yang bakal bikin aku bersorak “oh ternyata begitu” dan udah siap tepuk-tepuk tangan. Tapi nyatanya, melihat beberapa menit terakhir film ini, aku tidak banyak beranjak dari posisi duduk dan hanya mengangguk kecil “ya, masuk akal sih endingnya”. Aku bukannya enggak-suka, hanya saja setelah sedari awal melihat arahan yang berbeda (film Inggris kebanyakan unggul di arahan yang terasa sangat unik), aku sama sekali enggak mengharapkan film ini berakhir dengan ‘sama-seperti-film-lain’. Jacob’s Ladder (1990), Stay nya Ryan Gosling tahun 2005, bahkan Pintu Terlarang buatan Joko Anwar (2009) adalah beberapa film yang sudah lebih dahulu menggunakan pengungkapan yang serupa. Pintar, memang. Namun setelah cukup banyak, tidak lagi terasa istimewa.

 

 

 

Dengan imaji horor yang begitu kaya ditambah filosofi yang tak kalah seramnya, film ini menjelma menjadi sebuah tontonan yang bukan saja menghibur, melainkan padat berisi. Ini adalah tipe film yang tidak akan membosankan jika ditonton berulang kali. Malah justru setiap kali menontonnya akan memberikan pengetahuan dan kesadaran yang baru. Semua itu tercapai berkat penceritaan dan elemen-elemen subtil yang disematkan di antara trope-trope familiar. Yang bosen ama horor yang itu-itu melulu, disaranin deh tonton ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for GHOST STORIES.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SAJEN Review

“Suicide is a permanent solution to a temporary problem.”

 

 

Sekalinya nekad nitip absen satu mata kuliah, pasti deh, yang dibolosin itu ngadain kuis mendadak. Atau enggak, kuliahnya mendadak asik kata teman-teman yang masuk. Dan besoknya, dibelain-belain masuk, mata kuliah tersebut kembali sukses bikin kita ketiduran di tempat duduk. Film horor Indonesia keadaannya persis begini. Begitu aku sengaja ngelewatin satu film, santer terdengar bahwa ternyata film itu bagus, menarik, dan sebagainya lah yang bikin aku nyesel gak nonton. Kemudian aku coba nonton horor Indonesia berikutnya; kembali aku mengutuk-ngutuk setengah mati.  Nonton film horor Indonesia di bioskop belakangan ini pretty much seperti kita penasaran takut ketinggalan sesuatu yang penting, sedangkan di saat bersamaan kita males menontonnya karena kita sudah tahu harus mengharapkan apa.

Singkatnya, kita butuh ‘sesajen’ supaya kita sudi untuk nonton film horor Indonesia.

 

Sejujurnya, satu-satunya alasan aku nonton ini adalah karena diajak oleh Forum Film Bandung. I have no interests whatsoever, aku gak tahu pemain-pemainnya yang berfollower banyak, buatku Sajen adalah ‘kelas’ yang dengan senang hati aku bolosin. Tapi ternyata, film ini memang beda. Film ini unik banget…….buat penonton yang belum pernah menyaksikan film Thailand Bad Genius (2017), yang belum pernah dengar serial di Netflix 13 Reasons Why (2017), yang gak tau siapa Sadako, yang belum pernah baca dan nonton Carrie nya Stephen King. Dengan kata lain, penonton yang selama ini tinggal di dalam goa – come on, semua itu adalah pop-culture populer! Kalolah ini kelas, aku bilang, aku gak akan tertidur, aku malah sangat terhibur karena yang aku saksikan di depan kelas itu adalah badut dengan lelucon plesetan yang amat teramat sangat konyol.

Sajen punya lingkungan cerita yang menarik. Sebuah sekolah menengah atas swasta yang mentereng, muridnya kece-kece, tajir pula, seisi sekolahan ini mengkilap, ruang komputernya lengkap, ada perpustakaan, wc nya kayak wc di bioskop, bangku siswanya kursi empuk di kantoran – bisa muter, menyediakan sudut pandang 360 derajat yang sempurna untuk nyontek. Namun di tengah-tengah itu semua, ditemukan sesajen-sesajen tradisional di beberapa tempat. Tidak ada yang boleh bertanya tentang sesajen tersebut, apalagi memindahkan. Karena ternyata sekolah ini punya rahasia. Banyak murid yang meninggal bunuh diri sehingga arwah mereka tidak tenang.  Demi menjaga nama baik sekolah, pihak guru dan authorities sekolah enggan menyelidiki bunuh diri tersebut. Sampai akhirnya ada satu siswi bernama Alanda yang merekam apa yang dilihatnya di sekolah, video yang berisi aktivitas murid-murid di sekolah ini yang sudah lama membuatnya geram. Jadi, beda dong, Alanda Baker menggunakan rekaman video, sementara Hannah Manopo pake kaset tape. Perundungan merajalela. Anak-anak populer ngegencet anak-anak lain. Bahkan Alanda sendiri menjadi korban. Dia dikasari, dia dicekoki minuman keras, direkam saat mabok dan videonya disebarin. Alanda juga diperkosa. Namun setelah semua tragedi itu, malah ia yang dipersalahkan. Alanda dituduh mencemarkan nama baik sekolah. Karena tidak tahan menghadapi semua rundungan tersebut, Alanda bunuh diri. Kemudian barulah dia kembali sebagai hantu, ia membully balik orang-orang tersebut, dan mencoba membuat sekolah mereka tempat yang lebih baik dari alam sana. And I’m not even kidding.

Aku gak tahu gimana kalian bisa membaca sinopsis tersebut tanpa tertawa, karena aku sendiri saat mengetiknya sempat berhenti tiga kali lantaran jari-jariku terlalu gak stabil saat aku mulai ngakak berat mengenang apa yang baru saja aku tonton.

satu hal yang bisa kusukuri dari film ini adalah Grace Salsabila yang mirip banget ama Britt Robertson

 

Film ini parah, tapi bukan berarti aku tak terhibur – kita bisa sangat terhibur dengan menonton ini. Dan lagi film ini parah bukan karena aku sedari awal sudah tak tertarik nonton, ataupun bukan karena aku kebanyakan referensi. I mean, jikapun kalian belum pernah nonton Thirteen Reasons Why dan segala yang kutulis di atas, film ini tetap gagal karena penggodokan elemen-elemen cerita yang begitu ngasal dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah penceritaan film yang baik dan benar. Oleh karena film ini begitu nafsu untuk ngikutin materi-materi lain; serius deh, film ini akan bekerja baik jika kita melihatnya sebagai parodi konyol dari film yang lebih sukses, maka aku pun akan nulis ulasannya dengan plesetan. Jadi, inilah, TIGA-BELAS ALASAN KENAPA SAJEN MEMBUNUH DIRINYA SENDIRI SEBAGAI SEBUAH FILM:

  1. Babak pengenalan yang tidak jelas. Karena niruin banyak, film ini punya banyak perspektif untuk digali. Namun malah bingung sendiri mengambil fokus yang mana. Maksudku, jika ternyata sebagian besar cerita nantinya akan mengisahkan dampak bunuh diri cewek yang dirundung terhadap orang-orang sekitarnya, maka kenapa cerita malah memulai dengan memperlihatkan si tukang bully yang bahkan gak sempat punya arc di penghujung hidupnya.

 

  1. Film ini memasukkan elemen persaingan dua murid paling pinter di angkatan seperti film Bad Genius, hanya saja Sajen gak punya follow up yang menarik yang datang dari persaingan ini, selain menambah deretan orang yang menyakiti hati Alanda. Juga, Sajen gak bisa punya fenomena paling menarik yang diangkat Bad Genius; bahwa orang pintar itu yang ngebully. Sedangkan Sajen terasa sangat tradisional dengan anak pintar dirundung oleh anak yang populer

 

  1. Elemen 13 Reasons Why nya juga begitu, film ini melewatkan bagian terpenting kenapa serial tersebut begitu menyentuh. Basically, Sajen merangkum tiga belas episode menjadi empat-puluh-lima menit kurang, sehingga tokoh-tokoh di sini tidak berhasil hadir dalam lapisan, mereka semuanya masih satu-dimensi. Ada twist di akhir yang totally membelokkan satu tokoh, tapi itupun build upnya nyaris gak ada dan hanya bertumpu pada elemen kejutan. Sajen juga berani menampilkan adegan bunuh diri dengan gamblang di layar, masalahnya adalah justru adegan bunuh dirilah yang membuat 13 Reasons Why kontroversial. Maka bayangkan, jika serial yang sudah mengupas begitu seksama soal kejiwaan dan sisi emosi aktual dari sisi pelaku rundung, orangtua korban, dan si korban itu sendiri masih dinilai terlalu mengglorify bunuh diri dan mengajak remaja target penontonnya ke tindakan yang salah; gimana jadinya cerita tiruan yang merupakan rangkuman dari cerita kompleks tadi dalam menampilkan adegan bunuh diri – tak lain tak bukan hanya untuk sedih-sedihan dengan makna sesungguhnya sama sekali tak tercapai. Berubah menjadi hal yang menggelikan, malah

 

  1. Serius deh, cita rasa lokal yang ditambahkan membuat semuanya menjadi dangkal. Elemen hantu selain bikin cerita jadi konyol, juga bikin penyelesaian jadi ngambang. It really takes us away dari problematika yang sebenarnya. Pelaku perundungan jadi gak belajar banyak, fokusnya menjadi mereka takut sama hantu alih-alih menyesali dan reflecting ke diri sendiri, menyadari apa yang mereka perbuat itu salah. Mereka tidak peduli sama Alanda ataupun mikirin supaya jangan terjadi korban lain, mereka hanya khawatir soal hantu. Di satu poin, ada tokoh yang mengusulkan jalan keluar dengan membangun musholla di sekolah, tapi itu bukan demi kebaikan para murid – biar mereka sadar dan sering ibadah – melainkan lebih ke biar para hantu takut untuk datang mengganggu

 

  1. Hantu yang tampil di sini pun sama sekali tidak seram. Film tidak mampu mengarahkan ke sebenarnya horor karena terlalu sibuk nyontek film lain. Akibatnya untuk nampilin horor, mereka pakai banyak sekali jumpscare, baik yang palsu (tepukan orang dari belakang punggung) hingga ke kemunculan hantu yang entah kenapa di sini hantunya seperti harimau ataupun T-Rex yang selalu mengaum sebelum beraksi

 

  1. Sepertinya fokus ngeriset nontonin film lain, Sajen lupa melakukan riset bahwa bully sudah ada padanan kata dalam bahasa Indonesia.

 

Kita tidak bisa dan tidak seharusnya membuat bunuh diri sebagai tindakan mencegah perundungan. Seharusnya yang diajarin adalah bagaimana supaya membuat orang-orang menjadi less-violent terhadap sesama. Dengan teman sekolah, kita dirundung. Sekolah juga kerap ngebully kita dengan tuntunan nilai. Dunia kerja juga ntar begitu. Malah ada juga orangtua yang merundung anaknya dengan segala kewajiban membuat mereka bahagia. Film ini juga menggambarkan hantu aja kena dibully sama bacaan doa. Seluruh dunia adalah tukang bully. Kita ini bagai pendulum yang berayun dari posisi pelaku ke korban dengan begitu gampang. Mestinya menyingkapi inilah yang dijadikan fokus. Adalah perbuatan yang salah melakukan perundungan dalam bentuk apapun. Namun juga bukanlah hal yang benar untuk bunuh diri dengan harapan orang-orang akan menyesal atas perbuatan mereka ke kita. Apalagi kalo niat bunuh dirinya biar bisa jadi hantu dan balas dendam. Yang perlu diingat adalah; berkebalikan dengan yang ditunjukan oleh film Sajen, bunuh diri bukanlah bentuk pengorbanan, bunuh diri bukanlah tindakan noble ataupun kesatria. Jangan gebah orang untuk melakukan hal itu. Encourage people to speak up.

dan film ini pun membully penontonnya dengan jumpscare-jumpscare bego.

 

  1. Tokoh Rachel Amanda yang mestinya bisa berperan banyak, bahkan bisa dijadiin tokoh utama, malah dibuat tidak melakukan apa-apa. Perannya adalah librarian yang diam-diam bikin artikel tentang perundungan yang terjadi di sekolah. Tapi actually waktu tampilnya sangat sedikit, artikelnya enggak berujung ke mana-mana. Dan satu-satunya hal yang ia lakukan malah bagi-bagi tisu ke tokoh yang nangis. Bahkan filmnya sendiri beneran menyebutkan hal ini, seolah mereka sadar mereka sudah membuat tokoh ini tampak begitu gak ada gunanya.

 

  1. Tokoh ibu si Alanda yang setengah gila juga dibuat bego banget. Dia memegang bukti kuat perihal perundungan dan kejadian yang menimpa putrinya. Tapi gak dikasih-kasih ke yang berwajib. Padahal enggak ada yang menghalangi dia untuk menggunakan bukti tersebut. Plus dari segi wajah dia lebih cocok sebagai ibu si cewek tukang bully. Plus keluarga si cewek tukang bully tidak pernah dibahas karena siapa yang peduli soal karakter antagonis, kan, film horor Indonesia?

 

  1. Lagu tradisional Sunda “Cing Ciripit” yang diputer berkali-kali, padahal selain adegan pertama kemunculannya, momen lagu ini tidak pernah terasa emosional

 

  1. Satu lagi karakter yang enggak jelas, dan sok dibikin misterius, adalah si janitor yang dandanannya lebih mirip dukun. Aku ngerti dia di sana dipekerjakan karena sepertinya cuma dia yang tahu cara bikin sesajen. Namun, alasan dirinya di menjelang akhir membuang sajen-sajen itu pada malam prom sungguh tidak terpikir buatku

 

  1. Adegan prom itu salah satu yang bikin aku ngakak sejadi-jadinya. Hantu Alanda mengurungkan niatnya memporakporandakan seisi aula lantaran dia melihat video kejadian sebenarnya yang diputar impromptu oleh seorang pelaku rundungnya yang mendadak bulat tekat untuk insaf, dan Alanda jadinya hanya mengejar satu orang. Dan yang lain hanya nonton manis ngelihat Alanda nyekek tuh pelaku utama

 

  1. Alanda tampak seperti anak baik dengan tujuan yang lurus. Dia ingin menyetop perundungan yang terjadi di sekolahnya, dengan merekam tindakan itu sebagai bukti. Untuk apa? untuk disebarkan? Tapi tidakkah itu membuatnya jadi bully juga? Ini sama heroiknya dengan kejadian orang-orang yang memvideokan penyimpangan padahal mereka ada di sana dan bisa menghentikan secara langsung. Namun, generasi sekarang lebih suka mempostingnya dan menghujat perbuatan itu ramai-ramai di social media. Alanda juga berkata kita harus bisa memanfaatkan kesempatan, yea, dia membuktikan kata-katanya dengan lebih memilih bunuh diri supaya bisa dapat kesempatan jadi hantu.

 

  1. Karena ini cerita hantu, jadi tidak ada konsekuensi nyata yang tersampaikan kepada kita buat pelaku perundungan itu sendiri. Dalam film ini mereka antara mati dibunuh hantu, ataupun menjadi gila. Bagaimana film ini bisa menyampaikan pesan biar orang berhenti ngebully di dunia nyata? Toh tidak ada hantu di dunia nyata yang bisa menghukum? …eh, atau ada?? Jengjeng!!

 

 

 

 

Film ini adalah film yang berani……mengadopsi serial dan film populer secara tak resmi dan menyesuaikannya dengan keadaan yang relevan dengan cita rasa lokal namun totally missing the point dari pesan yang mau disampaikan. Membahas perundungan, pencitraan, mental ngejudge, serta popularitas dan kompetisi, yang merupakan perjuangan yang harus dihadapi oleh remaja-remaja SMA di dunia di mana hantu bisa menegakkan kebenaran.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for SAJEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

TRUTH OR DARE Review

“When you help other people, you also help yourself.”

 

 

Jawab jujur, ada gak sih yang tahu pasti alasan kita takut sama hantu? Seperti, jika aku nantangin kalian keluar tengah malem dan berjalan di tempat sepi, kemudian kalian ngelihat satu sosok yang membelakangi kalian, kapan dan apa tepatnya yang membuat kalian lari terbirit-birit? Sebagian besar pasti terjadi saat  kalian mendekati si sosok, kemudian dia berbalik, menampakkan wajahnya yang berdarah-darah. Namun wajah seram enggak selalu menjadi patokan. Orang yang super pemberani dan mikir reasoning dan kelogisan (alias gak mikir macem-macem!), masih akan kepikiran bahwa yang dilihatnya di tepi jalan barusan adalah orang yang sedang membutuhkan pertolongan medis. Atau, bagaimana jika yang kalian lihat di tepi jalan itu sosok yang berjalan tanpa kepala – kalian otomatis tunggang langgang, enggak peduli tampangnya gimana, kan. Poinku adalah, kita takut kepada hantu, karena kita melihat mereka sebagai sesuatu yang enggak semestinya berada di sana – karena sebenarnya kita semua sudah ada ground realita, yang kita butuhkan adalah sedikit kondisi yang meruntuhkan realita tersebut – dan jadilah kita takut. Dalam film, ‘kondisi’ itu yang disebut dengan background story. Hantu-hantu tersebut juga mesti punya alesan keberadaan yang membuat kita bisa merasa takut kepada mereka. Jadi, bukan hanya sekedar wajah atau penampakan yang seram.

Apalagi kalo kita mengeksplorasi horor dari hal yang abstrak, seperti permainan ‘Truth or Dare’. Buat yang belum familiar, ‘Truth of Dare’ adalah permainan anak-anak remaja di Amerika sana kalo mereka lagi ngumpul-ngumpul bareng teman satu geng. Permainan yang simpel, karena peraturannya adalah setiap yang ikut akan mendapat giliran untuk ditantang harus memilih antara melakukan suatu hal atau mengungkapkan satu rahasia kepada teman-temannya. Nah, horor terbaru produksi Blumhouse mengadaptasi permainan tersebut, akan tetapi mereka sepertinya kesulitan (itu juga kalo gak mau dibilang enggak punya ide matang) mengeksplorasi hal apa yang sekiranya bisa membuat permainan tersebut menjadi seram. Tidak seperti Ouija atau Jelangkung – permainan anak-anak juga – yang memang berhubungan dengan dunia orang mati, ‘Truth or Dare’ hanya berdasarkan seru-seruan belaka. Jadi, film ini berusaha memasukkan satu entitas misterius yang mengutuk permainan tersebut; mengubahnya basically menjadi permainan Hidup atau Mati. Hanya saja film ini missing the point dari apa yang bikin hantu menyeramkan. Cerita yang mereka bangun seputar elemen horornya sangat gak make sense. Jika Final Destination punya kecelakaan-kecelakaan yang freaky, Saw punya trik dan alat pembunuhan yang pinter, Truth or Dare mengandalkan kepada hantu yang membuat tokoh-tokoh di film itu menyeringai aneh, sehingga membuat wajah mereka seperti yang dideskripsikan lewat dialog; “a messed up snapchat filter”.

Atau supaya gampang kebayang, tokoh-tokoh film ini seakan berlomba menirukan senyuman Willem Dafoe

 

Aku gak yakin  mereka sengaja membuat film ini menjadi lucu, karena hampir sepanjang film pundakku terguncang-guncang demi menahan ketawa. Rusukku sampe sakit karenanya. Actually, kalo film ini dibuat dengan arahan sengaja menjadi konyol, aku yakin hasilnya akan lebih baik dari apa yang kita saksikan di bioskop saat ini. Wajah seram itu benar-benar gak seram; menggelikan. Film juga berusaha menggali drama, membuat motivasi tokoh utama dan relasinya dengan tokoh lain cukup ribet dalam usahanya memancing simpati, tapi gagal, lantaran semuanya terasa konyol. For instance, yang kita lihat di sini adalah anak-anak kuliah yang main truth or dare – dan bahkan para aktornya enggak benar-benar tampak seperti anak kuliahan, mereka tampak terlalu tua, sepertinya mereka pada lulus terlambat. Dan cerita di babak awal membuat kita susah untuk peduli sama mereka.

Olivia (Lucy Hale enggak tampak berbeda dari sosok  pembohong kecil nan cantiknya yang biasa kita lihat ketika dia bermain sebagai Aria) diajakin ikut liburan ke Meksiko karena ini adalah spring break terakhir mereka sebagai mahasiswa. Setelah melihat montase hura-hura Olivia dan teman-temannya, ada salah satu tokoh pake topeng Rey Mysterio, kemudian mendengarkan dubstep dogol sembari melihat mereka have fun di bar, kita dibawa ngikut mereka pergi ke sebuah gereja tua terpencil. Kemudian pria asing yang mengajak mereka ke sana, mengajak mereka main truth or dare, dan sekali lagi mereka mau-mau aja. Jika saja mereka mau berpikir, maka mereka enggak bakal terjebak ke dalam lingkaran kematian di mana mereka harus bermain truth or dare maut di mana peraturan tersebut dibayar dengan nyawa. Pilih ‘Truth’ tapi enggak ngomong jujur, mereka mati. Pilih ‘Dare’ tapi kemudian ciut nyali ngelakuin tantangan, mereka mati. Si hantu senyum herp derp enggak menyisakan jalan keluar buat Olivia karena truth or dare mereka terkutuk mereka punya peraturan tersendiri; Olivia dan teman-teman tidak bisa terus-terusan memilih ‘Truth’; setiap dua kali consecutive ‘Truth’, pemain  berikutnya harus memilih ‘Dare’

Peraturan karangan ini digunakan untuk memfasilitasi perkembangan karakter Olivia. Film ini pengen bicara soal manusia dan pilihannya lewat sudut pandang Olivia. Ini satu-satunya aspek yang aku suka dari film ini. Mereka berani mengembangkan tokoh utama ke arah yang tak biasa. Meskipun memang motivasi Olivia ini enggak logis, tapi dia punya pijakan moral yang jelas. Olivia adalah cewek yang melindungi perasaan orang lain ketimbang perasaanya sendiri. Dia selalu mikirin “ntar kalo gue gitu, yang lain gimana”. Olivia suka sama pacar bestfriend-nya, tapi dia menelan perasaan tersebut dan memastikan mereka berdua tetap jadian. Olivia tidak mau memilih ‘truth’ lantaran dia khawatir, teman yang mendapat giliran sesudahnya tidak bisa menghindar dari ’dare’ yang berbahaya. Bahkan, di adegan-adegan awal ketika mereka bermain di gereja tua, Olivia menerangkan jikalau ada alien yang menyerang Meksiko, dia tidak ragu untuk mengorbankan dirinya beserta teman-teman di sana, demi menyelamatkan seluruh populasi negara tersebut. Makanya, perubahan karakter Olivia di akhir cerita terasa menarik. Pada dasarnya, Olivia mengorbankan seluruh penduduk Bumi, melibatkan semua orang ke dalam permainan terkutuk tersebut, lewat video Youtube. Serius, mereka bisa membuat film berdasarkan ‘pembunuhan massal’ ini aja, sepertinya bakal lebih menarik dari Truth or Dare. Olivia udah kayak Thanos dan Infinity War; merasa diri pahlawan, namun pada akhirnya memberikan jumlah banyak untuk menjadi korban si Hantu Senyum CGI

Tak selamanya kita harus mengalah demi orang lain. Terkadang kita perlu memprioritaskan apa yang kita inginkan. Kita selalu punya pilihan, sebagai cara untuk melakukan apa yang harus kita lakukan. Apa yang terjadi pada Olivia seperti di grup whatsapp aja – ketika ada yang menikah atau keluarganya meninggal, misalnya, bagaimana cara kita mengucapkan adalah pilihan yang kita ambil. Tulus mengucapkan demi kebahagiaan atau bersimpati terhadap orang, kita akan mengetikkan sendiri kalimat-kalimatnya. Sebaliknya, jika hanya mengopy paste ucapan orang, sebenarnya itu kita hanya mengucapkan demi membuat diri kita merasa baik. Bukankah, jika kita membantu orang lain hanya supaya kita bisa merasa lebih baik terhadap diri kita sendiri, itu namanya enggak benar-benar noble, kan?

‘dare’ paling susah; nonton ini sekali lagi tapi enggak boleh bereaksi.

 

Film ini sebenarnya punya materi, sayangnya penulisan dan penggarapannya seperti dikerjakan ngasal oleh anak remaja yang baru satu kali membuat film. Jumpscarenya selalu adegan dikagetin oleh orang dari belakang, ayo dong, ini enggak pernah menjadi hal yang menakutkan. Malahan, Wes Craven udah ngeledek teknik jumpscare begini sedari Scream di 1996 – filmmaker belajar enggak sih dari sini? Pengadeganan juga begitu basic. Ada satu tokoh yang setiap kali marah, selalu dibuat berjalan ke luar ruangan. Tiga kali adegan loh yang kayak gini, bayangkan. Ada banyak sekuen yang tidak berujung apa-apa. Justru, ada banyak yang mestinya bisa dihilangkan karena enggak benar-benar perlu selain membuatku merasa seperti alay yang ribut terkikik ngangguin penonton lain di bioskop. Para karakter ditulis begitu hampa emosi. Pacar teman mereka baru saja mati, dan beberapa menit kemudian mereka seolah melupakannya. Ada satu kematian teman mereka yang disebar videonya, mereka menonton video ini, kemudian bereaksi kaget dan takut dan ada juga yang menyangkal, dan enam detik kemudian  video tersebut ditonton kembali oleh si tokoh. Wow.

Skill yang ditunjukkan dimiliki oleh tokoh-tokoh dalam film ini adalah keahlian menggunakan google search. Beneran, tonton deh. Olivia berantem ama temannya dengan saling tunjuk kebolehan mencari orang dan informasi lewat google. Film ini begitu kekinian. Adegan awalnya aja udah tokoh yang lagi live video curhat ke follower. Masalah dari film yang sangat ngepush social media, facebook, snapchat, instagram, kayak gini adalah elemen-elemen tersebut akan dengan cepat kemakan jaman. Kenyataannya adalah segala referensi itu malah membuat ceritanya susah untuk menjadi timeless.

 

 

 

Tidak ada substance, tidak ada style. Film ini tampak seperti banyak ide yang digodok, namun pembuatnya tidak mampu mengeksekusi. Semuanya enggak logis; motivasi tokoh utama, cerita latar hantunya, cara ngalahin hantunya. Supaya bagus, mestinya mereka menjadikan ini film yang konyol dan komikal, karena rute beneran film yang menegangkan jeas-jelas tidak bekerja untuk horor yang diangkat dari permainan anak-anak yang enggak serem. Ngomong soal anak-anak, toh film ini memenuhi tujuannya sebagai produk peraup duit yang ditujukan buat anak-anak muda yang bisa tetap merasa relate karena penggunaan social media dan referensi pop-culture kekinian dalam cerita.
The Palace of Wisdom gives 1.5 out of 10 gold stars for TRUTH OR DARE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

WINCHESTER Review

Unresolved guilt is like having a snooze alarm in your head that won’t shut off

 

 

Tidur akan menjadi hal yang begitu susah untuk dilakukan jika nurani kita masih terganjal sama perbuatan salah yang pernah kita lakukan. Kalo kalian belum pernah kesulitan tidur gara-gara hal tersebut, wah salut deh. Aku pernah semalam suntuk melek mikirin mainan robot temenku yang tak sengaja kurusak dan malam itu, robot tersebut masih menelungkup di bawah sofa tempatnya kusembunyikan karena takut ketahuan. Sempat juga sih tertidur, tapi aku bermimpi robot itu datang menembak pantatku sambil teriak “perbaiki tanganku, perbaiki tanganku!” dan kemudian dia berubah menjadi kuntilanak.

Perasaan bersalah, perasaan yang menggantung, mengetahui kita sudah menyebabkan kesusahan bagi orang lain, sejatinya akan menghantui kita. Itulah yang ingin diceritakan oleh Spierig Bersaudara dalam film horor mereka yang diadaptasi dari tokoh dan lokasi nyata, Winchester.

 

Rumah gede Winchester itu dibangun oleh wanita eksentrik janda seorang pengusaha perusahaan yang memproduksi senapan dan senjata api lainnya. Hanya saja proyek pembangunan rumah itu dinilai begitu gila. Sarah Winchester mempekerjakan tukang bangunan dua-puluh-empat jam sehari, siang-malam rumah itu meriah oleh bunyi orang memaku dan memalu. Namun pekerjaan mereka tetap tak kunjung selesai. Kamar yang sudah jadi, kerap diminta si Nyonya Besar untuk direnovasi dan dibangun dengan model yang berbeda. Beberapa kamar malah dibangun hanya untuk dipaku rapat-rapat dengan tiga belas paku, tidak boleh lebih apalagi kurang. Oleh karena perilaku tak biasa itulah, tokoh utama kita, dokter Eric Price, dipanggil untuk menyelidiki kejiwaan Sarah Winchester. Dan tentu saja, dalam gaya horor yang biasa, begitu tiba di rumah yang udah kayak labirin fun-house tersebut, si Dokter malah merasa dirinya yang gila, sebab dia di malam-malamnya tinggal di rumah tersebut ia melihat banyak penampakan-penampakan, termasuk penampakan istrinya yang mati menembak diri sendiri beberapa tahun yang lalu.

Turns out, it was the guilt. Rumah Winchester dibangun sebagai perwujudan rasa bersalah yang dirasakan oleh Sarah Winchester yang mengemban beban perasaan mengetahui senjata-senjata buatan keluarga mereka digunakan sebagai senjata untuk membunuh banyak orang tak bersalah. Sarah enggak gila, dia hanya ingin membantu hantu-hantu tersebut mendapatkan kedamaian dengan membangun ruangan-ruangan yang dibuat persis sama dengan TKP kematian mereka masing-masing. Namun, meskipun memang Sarah masih waras, toh film ini tetap lebih mirip sebuah cerita ‘edan’ ketimbang nyeremin. Tentu, set rumah dengan segala pintu rahasia itu sangat menarik, film ini punya ‘panggung’ yang fresh dan enak dilihat, namun suasana seram itu terasa gelagapan dibangun. Menjadikan film ini malah seperti atraksi menyenangkan dalam sebuah rumah hantu. Pesan tersiratnya pun, yang relevan dengan keadaan Amerika saat ini; bahwasanya tidak ada hal baik yang dicapai jika menggunakan pistol sebagai senjata, hanya terasa sebagai parody dari pesan tersebut ketimbang actual pesannya sendiri.

Pistol bisa membunuhmu, dan mengubahmu menjadi hantu

 

Lantaran horor dalam film ini diolah dengan begitu basic.  Aku ingin menyukai film ini, aku suka film horor dan premise serta sejarah rumah itu sendiri sudah menjanjikan banyak hal yang mestinya sangat intriguing. Tapi tidak ada visi unik barang sedikitpun dari empunya film. Pada dasarnya, Winchester hanyalah sebuah horor kekinian yang klise dengan banyak mengandalkan jumpscare. Nyaris semua adegan seramnya mengandalkan suara-suara ngagetin atau sesuatu yang muncul mendadak di layar, atau keduanya sekaligus. Semua bagian sera mini sangat gampang ditebak. Misalnya ketika Price sedang becermin di kamarnya. Cermin tersebut kemudian akan bergoyang-goyang, meninggalkan kamera yang fokus ke tengah, dan setiap kali cermin bergerak kita diniatkan untuk menahan napas, “ada hantu enggak yaa?”, mengecewakan taktik kacangan semacam ini datang sekelas sutradara Spierig Bersaudara yang sudah memberikan keunikan tersendiri di Daybreakers (2014). Maksudku, ini adalah cerita tentang rumah yang dibangun dengan tak biasa, seharusnya taktik-taktik seramnya juga dibuat dengan sama inovatif dan kreatif, yang benar-benar integral dengan penceritaan – dengan tema besar cerita. Ada satu lagi adegan di mana jari keluar dari lubang alat komunikasi, adegan ini malah tampak lucu karena benar-benar tidak ada koneksinya sama sekali dengan segala hal yang diceritakan, and on top of that, scare di adegan ini hanya kita para penonton yang lihat, Pierce enggak tahu ada jari di sana. Jadi, gimana tuh coba? Sudut pandang film ini dari siapa, dari hantu? Sepertinya kita baru saja menyaksikan seorang hantu yang gagal menakuti manusia.

Di luar jumpscare dan klise horor yang melelahkan, sesungguhnya kita dapat penampilan akting yang lumayan ciamik dalam film ini. Khususnya, yang datang dari pemeran Sarah, Hellen Mirren. Aktor senior ini tak tampak sedikitpun menyepelekan perannya. Sarah Winchester pada awal-awal kemunculannya diniatkan sebagai karakter ‘red herring’, karakter yang dibuat seolah sesuatu namun tidak, dan dia dengan mulus menjalani transisi antara keduanya tanpa sekalipun tampil over-the-top. Kita digiring untuk percaya dia gila, atau malah dia hantunya, tapi ternyata dia punya motif yang… yah, bisa dianggap mulia. Mirren sama suksesnya tampil misterius dengan tampil begitu vulnerable ketika dia begitu overwhelmed oleh kekuatan-kekuatan tak terlihat yang berusaha ia selamatkan. Menyaksikan penampilannya di film ini benar-benar terasa seperti menemukan jarum emas dalam tumpukan jerami karena kemunculan tokohnya yang lumayan di tengah. Kita harus melewati banyak hal klise dan seram-seram yang medioker sebelum tokoh ini muncul layaknya colekan penghapus papan tulis pak guru ketika kita terkantuk-kantuk di dalam kelas.

Sarah Winchester punya karakter yang lebih menarik bahkan ketimbang tokoh utama. Beneran deh, Jason Clarke adalah aktor mumpuni, aku lancang kalo bilang aktingnya jelek. Hanya saja Eric Price yang ia perankan adalah seorang tokoh utama yang begitu hambar dan membosankan. Terutama sekali, sangat sukar untuk terkoneksi dengan karakter ini, walaupun dia memang diceritakan punya masa lalu yang traumatis, dan kita kerap dibawa melihat apa yang terjadi pada masa lalunya secara sekilas. Sesungguhnya ini adalah formula yang benar; tokoh utama dalam film horor haruslah punya sesuatu yang ia rahasiakan, yang paralel dengan horor yang temui, dan ultimately dia harus menghadapi – berkonfrontasi – dengan dua horor tersebut.  Akan tetapi, film menyimpan ‘rahasia’ Price begitu lama, malah lebih lama dari Sarah sehingga kita menjadi lebih peduli kepada Nyonya sinting ini daripada si tokoh utama. Sebenarnya, mengambil waktu yang panjang untuk menyibak tabir tokoh utama itu gak papa sih, malah ada banyak juga film-film lain yang makin nendang karena hal tersebut. Salahnya film Winchester ini adalah karena sedari awal, Price dibuat sebagai orang yang enggak mudah untuk diberikan empati. Tokoh ini diperkenalkan dalam sebuah adegan yang begitu unlikeable. Kita dengan segera melihatnya sebagai orang yang nyebelin dan sok jago dengan segala teori dan trik sulapnya itu.

sulapnya hebat, bisa menghilangkan simpati.

 

 

 

Kini, di kehidupan nyata, mansion Winchester itu dikenal sebagai salah satu destinasi tur horor yang paling banyak diminati. Jujur, membaca tentang tur-tur tersebut di internet, lebih menarik buatku ketimbang menyaksikan film ini sampai habis. Di luar penampilan akting dan desain produksi yang kece, aku suka sekali sama desain mansionnya, film ini tidak menawarkan apapun yang menggugah selera.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for WINCHESTER.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

A QUIET PLACE Review

“Sometimes being quiet is the best weapon you have.”

 

 

Komedian mulai mewabahi dunia penyutradaraan horor mainstream, tahun kemaren ada Jordan Peele yang sakses dengan Get Out (2017) – sekarang giliran John Krasinski, dan aku lebih daripada siap untuk terjangkiti demam horor buatan mereka-mereka!

Dalam A Quiet Place buatan Krasinski, yang jadi wabah dunia bukan penyakit, atau zombie, atau pembunuh psikopat, melainkan teror monster buta dengan pendengaran luar biasa tajam. Daerah tempat tinggal keluarga tokoh utama cerita, nyaris kosong akibat ulah monster-monster ini. Kita tidak tahu kenapa mereka ada di sana, makhluk apa itu sebenarnya, yang kita tahun hanyalah betapa suara sekecil apapun akan menarik perhatian mereka, dan memang itulah yang perlu kita tahu dari para monster. A Quiet Place adalah thriller yang bikin kita ikutan terdiam dengan tegang sedari awal. Kita ikutan merasa terjebak dan berusaha untuk tidak membuat suara. Karena tidak seperti thriller sejenis, di mana tokoh cerita tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa memprovokasi monster, film A Quiet Place sejak sepuluh menit pertama sudah menetapkan bahwa stake yang harus keluarga itu hadapi, konsekuensi yang ada jika mereka melanggar – membuat suara gak-alami, adalah kematian yang nyaris secara spontan. Tidak akan ada perlawanan; begitu kau menarik perhatian monster, kau sama saja dengan sudah mati.

tidak seperti Vampire Cina yang bisa dikibulin kalo kita kelepasan napas, monster di film ini tidak akan kenal ampun

 

Krasinski, meski jam terbang sutradaranya belum banyak, sudah punya pemahaman layaknya director horor kawakan. Dia memaksimalkan suspens dengan memilih fokus penceritaan. Ketika dia mengungkapkan hal kepada penonton akan terasa berbeda dengan saat dia mengungapkan sesuatu kepada tokoh cerita. Ia dengan sukses menciptakan ketegangan berlapis, kita peduli terhadap keluarga tersebut sekaligus kita dapat merasakan tegangnya dikuntit oleh makhluk ganas. Film dibuat benar-benar sunyi. Para tokoh menggunakan bahasa isyarat dan banyak bercerita lewat ekspresi wajah sehingga kita bisa mengerti apa yang terjadi. Tentu, akan ada subtitle yang menjelaskan apa yang mereka bicarakan lewat bahasa isyarat, namun film masih tetap terasa subtil dan enggak terkesan seperti film yang mengajak kita membaca alih-alih bercerita sendiri.

Ini merupakan tantangan tersendiri, dialog yang minimalis seperti pada film ini akan menggebah pembuat film untuk mencari cara kreatif dalam bercerita. Mereka harus tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan penonton tanpa banyak membual kata. Krasinski dan para aktornya unggul di aspek ini. Kelihatan banget bedanya jika sutradara dan para pemain paham dan punya pandangan yang sejalan seperti pada film ini. Krasinski juga turut bermain sebagai Ayah, sehingga dia benar-benar paham apa yang tokoh dan dia sendiri perlu lakukan untuk menambah ketegangan dan kekuatan film. Di sini dia bermain dengan istrinya beneran, Emily Blunt, sehingga tentu saja chesmistry antara dua tokoh ini sangat kental terasa. Sebagai Ibu yang kehilangan anak, dan siap untuk meredeem dirinya dengan menyambut kelahiran anak berikutnya, Emily Blunt juga bermain dengan menakjubkan. In fact, across the board, seluruh pemain memberikan sumbangan besar penampilan kepada film ini. Bahkan aktor anak-anak. Noah Jupe yang sebagai anak yang charming di Wonder (2017) deliver ekspresi yang tampak genuine di film ini. Terutama Millicent Simmonds yang bermain sebagai anak sulung yang tuli, dalam kenyataannya Millicent juga penyandang tuna yang sama, sehingga penampilannya di film ini tampak sangat otentik lantaran dia mengerti apa yang harus diberikan kepada tokoh yang ia perankan. Berkat penampilan dan penulisan cerita, meskipun kadang kita enggak mengerti banget masalah emosional yang mereka hadapi sebagai keluarga, kita akan tetap dibuat melekat kepada keluarga ini demi melihat apa yang mereka lakukan selanjutnya, bagaimana mereka berjuang untuk tetap ‘membisu’ dan melanjutkan hidup di tengah teror tak terucap monster-monster yang siap membunuh itu.

Yang namanya film horor, apalagi yang berelemen monster pembunuhnya, tentu saja akan ada jumpscare. Tentu saja akan ada tokoh yang mengambil pilihan yang bikin kita meneriakkan kata “Begok kau!” at the top of our lungs, toh memang dari situlah faktor fun menonton film horor macam begini. Meskipun memang ada rakun yang bikin kita terlonjak, jumpscare dalam film ini kebanyakan enggak terasa murahan. Beberapa keputusan karakter memang idiot, kayak misalnya si Ayah yang mencampakkan kapak setelah memanggil monster, tapi keputusan-keputusan yang dibuat bergerak dalam konteks cerita; dalam kasus si Ayah barusan, adegannya ingin memperkuat elemen kematian instan saat monster mendengar suaramu.

untuk pembelaan, menurutku anak ini ngidupin pesawatnya bukan karena ingin dengar bunyi, tapi karena dia dengan polosnya berpikir pesawat mainan itu bisa terbang beneran

 

Actually banyak elemen yang bisa kita nitpick, banyak elemen cerita yang membuat kita mempertanyakan kelogisan. Bagaimana bisa mereka punya listrik setelah begitu lama daerahnya ‘mati’, bagaimana bisa mereka mikirin untuk punya bayi, bagaimana bisa tokoh si Noah Jupe begitu takjub bisa ngobrol di deket sungai karena arus dan air terjun meredam suara mereka – apakah selama ini mereka gak pernah ngobrol begitu hujan turun? Tidak pernahkah hujan di sana? Dan lagi, kalo ayahnya tahu soal suara sungai, kenapa gak pindah aja ke dekat sana – kenapa orang-orang di sekitar situ enggak ada yang punya rumah di sekitar sungai, enggak kayak orang kampung di sini yang rumahnya ngikutin kali? Kita mungkin bakal punya teori sendiri bagaimana cara mengalahkan monster dan kenapa cara tersebut enggak terpikirkan sama para tokoh film ini. Kita bisa saja terus-terusan menganalisa kekurangan dunia film ini, namun kita juga akan semakin jauh dari point sesungguhnya yang ingin dibicarakan oleh film.

Karena sebenarnya ini bukan soal monster. Adegan dengan para monster jarang sekali beneran tentang monsternya, adegan-adegan tersebut adalah soal para tokoh. Psst, diam-diam aja ya, A Quiet Place bukanlah semata film monster, ia adalah film tentang manusia dengan monster yang berkeliaran di lapisan terluarnya.

Diam itu emas. Survive dengan tidak membuat suara, surprisingly adalah hal yang susah. Apalagi untuk keadaan sekarang, semua orang berpikir mereka perlu untuk mengeluarkan suara, mengemukakan pendapat, meski sebenarnya mereka cuma nyinyir – tidak memberi solusi. Mungkin saja aku di sini juga begitu, that I might doing that right now, but you get the point. Penting untuk kita berani mengeluarkan suara, tidak menahan-nahan apa yang kita pikirkan, berpendapat dengan jujur. Tapi tidak kalah pentingnya untuk tahu kapan harus bersuara, bagaimana menyuarakan yang tersirat di hati dan kepala supaya tidak menimbulkan keributan yang enggak perlu.

 

Ada alasannya kenapa film langsung melempar kita ke hari ke 89 dari musibah monster tersebut. Cerita akan menjadi sangat berbeda jika kita melihatnya dari pertama, kita mungkin akan melihat hysteria penduduk – menjadikan film ini purely teror serangan monster. Tapi enggak, film ingin memperlihatkan kita karakter. Keluarga Emily Blunt sudah punya sistem sendiri untuk bertahan hidup, mereka sudah mempelajari sesuatu tentang monster, dan mereka saling menjaga satu sama lain. Inilah yang membuat kita mengapresiasi film ini, tokoh-tokohnya –untuk sebagian besar waktu- tampak pintar. Kita dibuat hanya mengetahui yang diketahui oleh keluarga tersebut. Mereka melihat api unggun menyala di kejauhan, di atas bukit-bukit sekitar. Kita mengerti manusia belum punah, bahwa bukan hanya keluarga mereka yang sedang berjuang hidup. Dan ini menciptakan misteri dan ketertarikan. Cara mereka bertahan hidup, berkomunikasi sebagai keluarga, menjadi inti utama cerita. Buatku sangat menakjubkan sekelompok orang bisa membuat sistem yang bekerja efektif tanpa membuat keributan yang berlebihan; dalam film ini mereka literally bercakap tanpa suara.

 

 

 

Cukup pintar untuk tidak menjadi sesuatu yang lain dari yang diniatkan, thriller ini sangat terarah, dengan penuh ketegangan dan penampilan sungguh-sungguh dari pemain dan pembuatnya. Beberapa aspek memang memancing kita untuk mempertanyakan hal-hal yang membingungkan dan film tidak repot untuk menjawabnya. Karena kita bisa menitpick kekurangan yang dipunya, tapi film ini tidak peduli. Mereka punya sesuatu untuk dikatakan di balik apa yang tampak seperti thriller survival yang sederhana, they did say it, dan terserah kepada kita untuk terus larut dalam noise di sekitarnya atau enggak. Di luar semua itu, yang bikin aku ngeri saat nonton ini adalah menyadari betapa keberhasilan film ini bergantung kepada reaksi penonton saat menyaksikannya. Segala horor dan atmosfer itu tentu akan runtuh jika ada penonton yang sok melawak; mengeluarkan suara-suara lucu saat ada tokoh yang menyuruh diam. Tapi aku senang saat nonton tadi enggak ada orang yang begitu, bahwasanya penonton sini sudah belajar untuk menonton dengan benar dan menghormati bioskop layaknya sebagai tempat yang sunyi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A QUIET PLACE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DANUR 2: MADDAH Review

“You can’t hide the stench forever”

 

 

Kemampuan melihat makhluk halus mulai mendatangkan dampak buruk bagi kehidupan sosial Risa Saraswati (reprising her role, Prilly Latuconsina siap melakukan tantangan yang diberikan kepada perannya). Kebiasaannya ngobrol, hingga tak jarang histeris ketakutan sendiri di tempat umum, membuat adik kecilnya malu. Inilah yang membuat karakter Risa menarik. Di luar penglihatannya yang tak biasa, terutama sekali Risa adalah seorang kakak. Bagi adiknya, Riri. Bagi hantu anak-anak kecil yang jadi temannya. Risa harus figure out bagaimana menjadi sosok kakak sekaligus teman yang baik terhadap mereka, di saat yang bersamaan. Masalah Risa ditambah pelik oleh panggilan minta tolong dari keluarga tantenya yang baru pindah ke Bandung. Semenjak tinggal di sana, Paman Risa jadi bersikap aneh. Suka mengurung diri di pavilion. Suka nanemin kembang di depan pintu. Dugaannya tentu saja; Paman sedang selingkuh. Pertanyaan yang bikin merinding adalah; Sama makhluk mana? Sebab, di rumah mereka Risa menyium bau yang sudah familiar buatnya. Bau Danur.

Setan pelakor gak usah diajak main yeee~

 

Seharusnya seperti demikianlah cerita film sekuel Danur: I can See Ghosts (2017) ini. Narasi diniatkan untuk membahas tentang bagaimana kehidupan Risa setelah di film yang pertama dia menerima persahabatan dari hantu cilik. Gimana dampak kemampuan Risa terhadap orang di sekitarnya, Risa sekarang punya dua kehidupan sosial yang berbeda pada dua dunia, dan tentu saja soal ketakutan yang masih merayapinya.  Aku bisa melihat secercah dari plot yang mengeksplorasi Risa yang ingin  hidup normal, dia berusaha untuk mengabaikan kemampuannya, dia tidak ingin membuat malu sang adik, dan bagaimana film ingin memparalelkan sikap Risa terhadap kekuatannya kepada sikap Pamannya yang merahasiakan sesuatu. Sayangnya, elemen-elemen cerita ini tidak pernah terwujud dalam cara yang semestinya. Film malah berkembang menjadi horor generik, yang hanya berupa wahana jumpscare, dengan mengabaikan plot tersebut nyaris secara keseluruhan. Motivasi Risa hanya disebut dalam satu adegan, perkembangan karakter Risa juga hanya diperlihatkan dalam satu adegan, relationshipnya dengan Riri ataupun dengan Peter dan kawan-kawan tidak pernah diangkat dengan dalem. Danur 2: Maddah begitu ingin memperlihatkan hantu kepada kita, sehingga mereka membuat tokoh-tokoh manusianya tersuruk jauh di belakang. Kalo ada yang gaib dan tak-kelihatan dalam film ini, maka itu adalah karakterisasi tokoh-tokohnya.

Salah satu yang menjadi tantangan buat pembuat film ini, yang sudah ada sedari film pertama, adalah bagaimana mendeskripsikan danur (bau mayat) dalam bahasa sinematik. Dan sekali lagi, film ini juga gagal. Kesan apa itu Maddah, apa itu Danur, tidak pernah terasa kuat, selain hanya dialog eksposisi yang tak benar-benar meninggalkan kesan. Padahal film harusnya berpusat di sekitar sini. Bau sejatinya adalah aspek yang menjadi fokus pada cerita. Bukan hanya Risa harus mengenali bau ‘musuh baru’. Tapi ini juga tentang metafora dari sebuah hal yang disimpan lama-lama tetap akan tercium baunya.

 

Adegan pembuka yang adik Risa terbangun di pohon gede dari film pertama itu sebenarnya cukup serem. Actually ini adalah salah satu dari sedikit adegan menakutkan di film ini yang punya build up sebelum setannya muncul. Tapi ternyata adegan tersebut hanyalah adegan mimpi. Inilah kenapa kita tidak bisa punya film horor lokal yang bener-bener bagus. Mereka terbebani oleh arahan-arahan dan keputusan cerita yang bego seperti begini. Contohnya lagi, sekuen keluarga tante Risa menempati rumah baru mereka. Bagian ini sebenarnya ditangani dengan menarik, pakai long shot sehingga kesannya aktivitas yang sedang kita saksikan begitu hidup. Untuk berakhir mendadak dengan adegan standar film Indonesia; ngobrol di meja makan. Yang diobrolin pun enggak jelas faedahnya ke mana, disebut karakter development juga susah karena gak benar-benar memperlihatkan karakter.  Mau tahu kualitas penulisan dialog film ini seperti gimana?  Ada satu adegan Riri dan Tante yang dimainkan oleh Sophia Latjuba (praktisnya, mbak Sophia gak ngapa-ngapain di sini) lagi ngobrol berdua. Dalam penulisan film, inilah waktu yang tepat untuk mengembangkan karakter; dengan memberikan mereka dialog yang merepresentasikan karakter mereka, yang membahas hubungan mereka. Hanya saja, Riri dan Tante malah ngobrolin adegan yang persis sebelum ini kita saksikan, mereka hanya menceritakannya kembali – versi audio dari yang sudah kita saksikan. Dialog macam apa kayak gitu! Enggak menambah apa-apa buat karakter. Enggak menambah apa-apa buat majunya cerita.

Awi Suryadi adalah sutradara yang punya keistimewaan pada kerja kamera. Beberapa shot pada film ini diambil dengan sudut yang intriguing. Dia akan memiringkan kamera ketika tokoh beranjak mengecek bunyi-bunyian misterius yang efektif menambah kesan bingung dan mengerikan. Dia punya trik untuk menampilkan hantu di layar dengan sangat mengerikan, yang aku yakin bahwa film ini sebenarnya enggak butuh musik yang keras. Sayangnya banyak dari arahan Awi yang membuat kita mempertanyakan kepentingannya. Dalam bercerita, Awi masih setia menggunakan formula yang sudah diulang-ulangnya sejak Badoet (2015). Kita masih mendapati tokoh yang ‘kesurupan’, Paman Risa sedari awal sudah ‘dikendalikan’. Hantunya masih pakai musik khas. Terus ada pengungkapan jati diri hantu, yang sebelumnya tidak pernah ada build-upnya. Untuk kemudian penyelesaian datang dengan cara menghancurkan satu objek, tanpa benar-benar ada rintangan. Susunan formula tersebut dalam film ini boleh saja diganti, namun tetap saja aspek-aspek ini masih sama persis dengan Badoet dan film Danur yang pertama. Formula ini dikembangkan dengan begitu basic, stake dan rintangan tidak pernah terasa ada di sana

hantunya suka nyanyian dan musik, alam kubur tampaknya ceria juga deh..

 

Mereka menampilkan hantu di mana saja mereka bisa, menemani hantu itu dengan musik yang keras, dan berharap penonton ketakutan. Atau mungkin sekalian mereka berharap penonton jantungan sehingga mati di tempat dan gak bisa minta refund atas film yang dikerjakan dengan seadanya. Dan kalo hantunya belum selesai dimake-up, tokoh-tokoh film akan senang hati mengambil alih tugas mengagetkan penonton.  Fake jumpscare dan jumpscare dijadikan andalan oleh film ini. Di tengah-tengah kita malah akan disuguhi dua adegan ngagetin, yang sekali lagi, ternyata cuma mimpi. Kesel gak sih, kaget kita rasanya sia-sia gitu loh, jika yang ngagetin itu ternyata mimpi alias adegan yang tidak benar-benar terjadi. Tentu, mereka punya sosok hantu yang sangat seram. Ada dua hantu, actually. Yang satu namanya Ivanna – ini nih yang serem! Tinggi-tinggi gimana gitu, lehernya kayak panjang banget. Sedangkan yang satu lagi, si Elizabeth, mmm.. to bo honest, aku bisa lihat kenapa Paman Risa naksir sama hantu Belanda ini. Aneh gak sih, aku juga nganggap Elizabeth hantu yang cantik, meskipun di saat itu aku belum lihat seperti apa rupanya sewaktu masih hidup hhihi. Yaa, waktu pertama kali nongol gelayutan, Elizabeth gak sampai bikin aku melotot kayak di film kartun sih, tampilannya tetap seram, tapi untuk ukuran hantu, parasnya enggak jelek.

Anyway, film ini punya cara yang aneh dalam memperkenalkan hantunya. Saat pertama kali kita melihat Ivanna secara jelas, dia lagi gangguin Tante yang sedang dzikir abis sholat. Ini adalah adegan terseram yang dipunya film, karena beberapa detik kemudian Ivanna akan ngejumpscare kita – para penonton – secara langsung. Seram, tapi aneh, karena mestinya kan yang ditakuti adalah tokoh cerita. Kayak Valak yang diperkenalkan dengan menakuti Lorraine di ruang baca. Tapi pada film ini, hantunya semacam langsung berkenalan dengan kita. Such a strange way to introduce a ghost character. Adegan ini lebih cocok berfungsi sebagai trailer saja ketimbang dimasukkan sebagai bagian yang actual dari film.

 

 

 

Seharusnya ini membahas tentang gimana seorang yang berteman dengan hantu, bisa menjalin kehidupan sosial normal dengan kerabatnya. Seharusnya kita diperlihatkan lebih banyak dari Risa dan adiknya, dan teman-temannya. Tapi fokus film ini ada pada hantu dan keluarga baru, yang tidak diparalelkan dengan mulus kepada kebutuhan tokoh utama. Akibatnya, kita dapat film dengan motivasi dan plot yang perlu terawangan untuk bisa dilihat. Sebuah wahana jumpscare dengan sedikit hati pada cerita. Kosong sekali, penulisan film ini. Arahan yang tidak membawa apa-apa bagi penampilan tokoh, penceritaan, selain beberapa shot menarik dan aspek seram yang digali dengan terlalu standar. Film ini enggak berbeda banyak dengan film pertamanya, dan mengingat film pertamanya mengeset penilaian yang begitu rendah, kentara sekali film horor Indonesia akan jalan di tempat. Film ini adalah contoh nyatanya.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for DANUR 2: MADDAH.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

PYEWACKET Review

“We are our own worst enemy.”

 

 

Beberapa helai rambut Ibu yang nempel di sisir sudah dikumpulkan. Simbol kegelapan sudah dipasang di pohon-pohon. Tanah untuk menanam rambut sudah digali. Mantra juga telah dihapal. Menyayat tangan sendiri sebagai darah persembahan pun sudah siap sedia untuk dilakukan oleh Leah. Salahnya sendiri, siapa suruh ibu begitu rese membawa mereka berdua pindah ke rumah di pinggiran kota, Leah yang masih lima-belas tahun jadi tidak bisa lagi ikutan kumpul-kumpul sama temannya sepulang sekolah. Dan lagi, apa salahnya Leah bergaul dengan mereka, berdandan seperti mereka; kenapa pula ibu mengatai mereka bodoh karena tertarik pada ilmu hitam. Mestinya ibu ngerti dong, Leah hanya mencari pelarian sebagai usaha untuk dealing dengan kematian ayah. Tapi ibu malah menganggap ekspresi dari depresi Leah sebagai hal yang mestinya ada di tempat sampah. Jadi, terserah. Leah hidup sendiri saja, sama Janice dan teman-teman yang sehati dan mengerti dirinya. Biarin sana Ibu ditangkap sama Pyewacket!

Kita semua pasti pernah seperti Leah. Bukan, bukan literally manggil setan untuk bunuh orang, kalo soal itu aku gak tahu. Mungkin memang ada dukun hitam beneran di antara kalian? Who knows, kan. Yang kumaksud adalah kita pernah seperti Leah yang marah besar sama Ibunya. Kita juga mesti pernah begitu marah sama keluarga, sama orang yang kita cintai, sampe-sampe kita ingin melakukan hal yang mengerikan terhadap mereka. Waktu kecil, aku pernah berantem sama adikku, sehingga waktu dia main di luar, aku masuk ke kamarnya dan menendang rumah bonekanya sampai jebol. Dan sama seperti Leah, sesegera mungkin setelah aksi ‘serangan’ mengerikan terlaksana, rasa penyesalan itu datang dengan teramat kuat. Dalam Pyewacket, kita melihat Leah sungguh menyesali setiap keputusan yang sudah ia bikin. Kerja karakter dalam film ini sangat kuat; momen ketika ibunya membersihkan luka di lengan Leah – luka yang dengan sengaja dibuat Leah untuk menyelesaikan ritual ilmu hitam dengan niat mencelakai ibunya beberapa menit yang lalu – terasa sangat menyayat hati. Film juga dengan mulus mentranslasikan penyesalan Leah menjadi rasa ketakutan ketika entitas tak terlihat mulai datang meneror mereka.

tokoh cewek jaman now suka nyayat diri sendiri yaa

 

Ketika bicara horor indie, biasanya kita akan bicarain horor-horor yang ‘menjijikkan’, yang efek prostetiknya bikin mual, banyak darah, potongan tubuh. Dan yea, film-film seperti itu memang fun – sebuah daya tarik yang efektif. Dari segi pembuatan, ini adalah langkah yang menunjukkan kemampuan si pembuat. Gimana mereka bisa bekerja memanfaatkan sebaik-baiknya dari apa yang bisa diusahakan oleh kantong duit yang enggak tebel. Alih-alih memakai banjir darah dan pake adegan tokoh cewek dengan busana minim dikejar-kejar monster, sutradara yang tadinya aktor,  Adam MacDonald, memilih untuk menggantungkan kekuatan filmnya pada momen-momen karakter. Jelas sama sekali enggak mahal memperkuat elemen horor dari sisi emosi dan karakter para tokoh – lagipula bukankah horor sejati memang berasal dari dalam para tokoh sendiri, ya gak?

Apa yang kita sangka kita butuhkan dalam hidup, kemudian kita berjuang keras untuk menggapainya, terkadang bisa saja menjadi titik balik kehancuran kita sendiri. Karena sesungguhnya musuh utama kita, monster yang semestinya kita takuti, seringkali adalah diri kita sendiri. Tak jarang kita kurang masak berpikir sebelum mengambil tindakan. Manusia adalah makhluk impulsif yang mengambil tindakan berdasarkan satu momen kemarahan, keputusasaan. Dan menurut film Pyewacket, hal tersebut sungguh sebuah hal yang berbahaya.

 

MacDonald paham bagaimana membangun karakter dan situasi yang mengantarkan kepada tensi, yang sebenarnya pun enggak necessarily benar-benar makhluk horor. Dalam Pyewacket, kengerian datang seringkali dari keputusan-keputusan yang diambil oleh Leah. Jika aspek setan misterius dan hal-hal goibnya kita tinggalkan sebentar, kita akan mendapatkan drama tentang hubungan ibu dan anak yang sama-sama dealing dengan tragedi; kehilangan ayah – kehilangan suami. Ketegangan film ini berakar pada hubungan Leah dengan ibunya yang semakin hari semakin runtuh, meski mereka berusaha untuk terus menatanya. Tetapi selalu ada miskomunikasi, selalu ada hati yang tersinggung. Itulah salah satu alasan kenapa film bekerja dengan efektif, sebagai horor dan sebagai drama ibu-anak. Karakter para tokohnya sangat ter-flesh out. Tentu saja semua hal tersebut menjadi mentah kalo film salah mengcasting pemeran. Leah dan ibunya adalah pusat dari film, dan kedua pemerannya pun bermain dengan gemilang. Nicole Munoz sebagai Leah berhasil mendeliver perasaan frustasi, yang kemudian berubah menjadi ketakutan, dan kengerian luar biasa, dengan sangat meyakinkan. Permainannya ini diimbangi oleh Laurie Holden sebagai ibu yang terasa jauh oleh Leah, ada sense misteri yang berhasil dikuarkan oleh Holden pada perannya di sini. Pada bagian akhir, interaksi mereka mengingatkanku kepada Tara Basro dan Christine Hakim di film Hoax (2018). Tokoh Leah dan ibunya diset up dengan cara yang menarik yang membuat kita menjadi benar-benar peduli saat cerita mulai berbelok ke ranah horor.

hampir seperti Lady Bird dengan rasa setan

 

Film ini menggunakan efek minimal untuk membangun kengerian dari desain suara, juga dari keterbatasan kamera. Kesan low-budget benar-benar terasa, dan oleh film dimanfaatkan sebagai penunjang penceritaan. Film-film horor kebanyakan akan menggunakan musik untuk menambah efek ngeri saat kamera menangkap hal ganjil di layar. MacDonald membiarkan pemandangan ganjil terpampang gitu aja, tanpa petunjuk suara yang mendadak membesar. Misalnya, menjelang babak kedua film ini, kita akan diberikan wide shot Leah di tengah hutan. Setelah lumayan lama mengerjap, barulah aku menyadari ada bayangan hitam di salah satu pohon di belakang Leah, dan buatku itu adalah detik yang bikin merinding. You know, discover things like that. Begitulah film ini menangani penampakannya. Kamera melakukan wide shot seolah bilang “cari ya, ada yang seram loh di sini” dan memang elemen paling seram di shot tersebut biasanya akan kita temukan di latar belakang. Kita harus benar-benar melotot nontonin film ini. Saking seringnya kamera menyembunyikan ‘sesuatu’, kita enggak bakal melihatnya terus-terusan.

Selain wide shot, MacDonald juga sering beralih ke kamera handheld untuk memperkuat atmosfer seram. Taktik kamera begini biasanya akan membuat film terlihat murahan, sih, namun Pyewacket justru terbantu lantaran kita jadi semakin terasa seperti mengobservasi para tokoh melewati suatu kejadian mengerikan secara langsung, dari mata setannya! Kita melayang di atas orang yang lagi tidur – yang sukses membuatku berdoa si tokoh enggak bangun supaya aku gak melihat pantulan di bola matanya. Beneran, film begitu saja berpindah sudut pandang sehingga rasanya unsettling sekali seolah kitalah setannya.

Penting untuk film horor mengerti kapan harus berhenti; sama kayak manusia, berhentilah saat di puncak ketinggian karir, supaya orang mengingatmu dalam keadaan terbaik. Film horor yang baik juga biasanya menghentikan cerita di saat drama lagi tinggi-tingginya, ketakutan lagi memuncak, momen gede itu dicut gitu aja. Contohnya The Blair Witch Project (1999) yang legendaris, kita bahkan belum lihat penyihirnya dan filmnya tamat. Namun toh film tersebut membuat kita memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Pyewacket juga begini. Tentu, endingnya terasa sedikit diburu-buruin, menurutku kita paling enggak butuh beberapa menit lagi melihat para tokoh untuk mencerna apa yang terjadi. Namun sebenarnya, film ini meminta kita untuk berpikir sendiri, menyusun puzzle yang kepingannya sudah selesai mereka bagikan. Itulah tugas film ini; sebagai pemberi kepingan puzzle yang kita butuhkan. Begitu semua sudah terhampar, film akan berakhir, dan giliran kita untuk memproses ceritanya yang memang ternyata mengikat dengan sempurna.

 

 

 

 

Buatku, ini adalah horor yang sangat efektif. Menghantarkan sisi emosional dengan baik, juga kengerian yang mampu bikin merinding. Sedikit yang membuat terlepas dari cerita adalah kenyataan bahwa film ini berbudget rendah; ada beberapa adegan mengandalkan spesial efek yang jika duitnya lebih banyak, niscaya akan lebih baik. Namun film dengan bijaksana menampilkan spesial efek ini dengan wide shot dari jauh. Juga ada satu adegan di sekitar pertengahan film saat dua tokoh berjalan di hutan malam-malam, yang menurutku sia-sia dan enggak perlu. Adegan tersebut sebenarnya punya nuansa seram yang kuat, hanya saja ternyata berakhir sebagai sebuah lelucon dari satu tokoh ke tokoh yang lain, like, ada tokoh yang pura-pura kesurupan. Mencelos banget rasanya melihat adegan ini, enggak klop sama keseluruhan film. Selain hal tersebut, film ini terasa sangat mencekat, salah satu contoh terbaik dari horor jalur indie.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for PYEWACKET.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017