MY DAD IS A HEEL WRESTLER Review

Everyone’s work is equally important.
 

 
Disuruh menceritakan tentang ayah oleh ibu guru, Shota si bocah SD yang bertubuh kecil memberitahu seisi kelas bahwa ayahnya adalah orang yang sangat kuat. Namun ketika melanjutkan cerita soal pekerjaan, Shota diam. Dia tidak tahu apapun tentang pekerjaan ayahnya. Sedikit sekali yang ia tahu selain ayahnya berotot, suka minum protein, dan mengajaknya berpose garang yang sama ketika mereka di pemandian. Untuk membuktikan ayahnya bukan seorang mafia seperti yang diutarakan oleh salah seorang teman, Shota nekat menyelinap naik ke mobil untuk mengikuti sang ayah. Shota pun tiba di tempat yang penuh oleh orang-orang berbadan kekar. Ternyata Shota berada di gedung olahraga, di arena gulat. Ayah Shota adalah seorang pegulat. Tapi bukan seorang juara. Ayahnya bahkan bukan pegulat yang bertabiat baik. Shota malu kepada teman-teman sekelasnya. Alih-alih mengaku ayahnya adalah si Topeng Kecoa yang udah berbuat curang pun masih aja kalah, Shota malah bilang ke teman-teman bahwa ayahnya adalah Dragon George, pegulat muda berambut pirang; juara bertahan yang diidolakan banyak orang.
Jepang termasuk dalam negara yang menjadi kiblat gulat profesional – bersama Meksiko dan Amerika Serikat. Di sana gulat sudah lebih dari sekadar hiburan. Hampir seperti disakralkan. Para penggemar saling menjaga kayfabe – yakni fakta yang sebenarnya hanya nyata di skenario gulat. Kayak menjaga bahwa Sinterklas itu ada kepada anak-anak. My Dad is a Heel Wrestler garapan Kyohei Fujimura yang mendapat dukungan penuh dari organisasi gulat nomor satu di Jepang; New Japan Pro Wrestling, adalah film yang berusaha memanusiakan olahraga-hiburan yang sering dipandang sebelah mata oleh orang-orang tersebut. Meskipun sejatinya ini adalah film drama anak-anak, tapi ceritanya tidak seketika menjadi simpel. Film tidak lantas ‘menipu’ anak-anak dengan mengatakan gulat itu beneran, melainkan ia memperlihatkan dengan benar perihal status ajaib pro-wrestling terkait mana yang benar, mana yang rekayasa. Yang ingin diperlihatkan film ini justru adalah kenyataan seorang penggemar gulat – cara terbaik untuk kita menikmati, dan menyingkapi, lalu lantas menghormati bisnis olahraga-hiburan dan semua orang yang terlibat di dalamnya.

film ini sebenarnya bisa beres lebih cepat kalo ada yang bilang ke Shota “Nak, kerja ayahmu itu kayak aktor”

 
Film ini akan membuat kita merasakan bagaimana rasanya menjadi penonton – tepatnya, penggemar – gulat di masa kini. Ada tiga sudut pandang yang bekerja di dalam film ini. Shota yang belum pernah menonton gulat sebelumnya dan mengetahui ayahnya ternyata menjadi tokoh jahat di dalam ring. Ayah Shota (diperankan oleh pegulat NJPW asli bernama Hiroshi Tanahashi), dulunya dia pegulat top tapi karena usia dan cedera, masanya sudah lewat sehingga sekarang dia giliran berperan sebagai penjahat – tokoh untuk dipermalukan. Dan seorang reporter cewek bernama Michiko yang tahu seluk beluk gulat dan ingin menulis artikel tentang perjalanan karir gulat ayah Shota. My Dad is a Heel Wrestler memang bukan film yang hebat – bahkan di antara film-film yang ada gulatnya di tahun 2019, film ini masih kalah bagus dari Fighting with My Family ataupun The Peanut Butter Falcon – tetapi ini adalah cerita yang unik karena tiga sudut pandang tadi. Benar-benar menerjunkan kita ke dalam drama seorang penggemar karena ketiganya dimainkan dengan mulus dan saling menambah untuk tetap mempertahankan ‘magisnya’ sebuah pertunjukan gulat.
Kita akan melihat kehidupan asli pegulat. Kita akan dibawa ke belakang panggung, bertemu dengan para pegulat. Kita akan belajar melihat mereka sebagai seorang manusia. Tapi real ‘belakang panggung’ bisnis ini tidak pernah diperlihatkan. Limitasi tersebutlah yang membuat film ini menarik lantaran menempatkan penonton yang tidak mengerti atau tahu atau peduli sebelumnya akan gulat pada posisi yang abu-abu. Seperti Shota. Seperti Shota kita ingin melihat ayahnya menang, seperti Michiko si jurnalis kita tahu pentingnya kemenangan bagi ayah Shota,  seperti ayah Shota kita ingin dia menang. Tapi setiap kali dia kalah, kita tidak melihatnya kecewa. Ini adalah perasaan para penggemar gulat saat menonton pertandingan di dunia nyata. Kita ingin jagoan kita menang, kita mungkin akan kesal ketika mereka kalah, tapi tidak pernah kecewa karena kita paham ada kayfabe dan ‘storyline’ yang dijaga. Namun bagi non-fans, atau orang yang tidak pernah menonton dan mengerti gulat – seperti Shota – hal ini akan ‘membingungkan’. Jadi film akan secara instan terasa relate.
Bukan hanya Shota, tokoh anak-anak dalam film ini tampak tidak tahu olahraga yang mereka tonton cuma bohongan. Hanya orang dewasa yang menggunakan istilah-istilah gulat seperti ‘heel’ ataupun ‘babyface’ – mengisyarakatkan gulat sama saja dengan bermain peran – sedangkan Shota dan kawan-kawannya selalu menyebutnya sebagai orang jahat dan orang baik. Inilah yang menciptakan tensi drama anak dan ayah yang menjadi hati dari film ini. Shota ingin ayahnya berhenti saja karena memalukan baginya punya ayah orang jahat. Bagi ayah Shota ini menyedihkan karena dia bukanlah orang jahat. Menjadi pegulat jahat adalah pekerjaannya sekarang. Shota membuatnya galau, karena setiap orangtua pasti ingin menjadi yang bisa dibanggakan oleh anaknya. Film menerjemahkan perjuangan ayah Shota menjadi ‘pahlawan’ seperti dulu yang dibanggakan oleh anaknya lewat bahasa gulat – lewat pertandingan. Fans wrestling seperti Michiko tahu ‘derita terdalam’ ayah Shota; pegulat itu jadi jobber sekarang. Jadi pecundang. Tugasnya sekarang bukan lagi untuk menang dan jadi poster boy untuk perusahaan gulat, melainkan adalah untuk kalah dan membuat lawannya tampak hebat.

Dan film ini menunjukkan tidak ada yang salah dengan pekerjaan ayah Shota. Bukanlah hal memalukan menjadi tokoh jahat. Setiap pekerjaan punya kepentingan masing-masing, terlebih jika dipilih berdasarkan passion dan hati. Menjadi tokoh jahat dalam gulat, dalam film, sama pentingnya dengan menjadi tokoh baik. Karena semua punya sistem. Film menunjukkan semua itu lewat derita dan kesenangan kita menonton perjuangan seorang tokoh jahat, tokoh badut, yang selalu kalah. Supaya kita bisa menghormati mereka.

 
Yang beneran jahat dalam film ini – here’s the twist – justru adalah teman-teman Shota yang membully-nya karena tidak mengerti cara kerja gulat sebagai hiburan, atau bahkan yang tidak menonton gulat sama sekali. Karena merekalah yang merendahkan orang-orang seperti Shota, seperti ayahnya, seperti Michiko yang berjuang untuk mempertahankan pekerjaan dan ilusi yang ‘mungkin’ menyertainya. Si pegulat jahat bukanlah orang jahat di kehidupan nyata. Film juga menghindari jebakan drama dengan tidak membuat si pegulat idola ternyata adalah orang jahat di balik panggung. Semua yang mengenal olahraga ini, dibuat oleh film sebagai orang-orang baik. Mereka hanya bekerja, melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya, dan menghormati pekerjaan tersebut. Jahat  menurut film ini adalah bersikap judgemental terhadap pekerjaan orang lain yang tidak kita ketahui dan tidak punya keinginan untuk mengetahuinya.

kalo semuanya orang baik, maka enggak akan seru

 
Makanya film ini akan sangat menyenangkan bagi penonton yang memang menggemari gulat. Ada banyak cameo dari pegulat Jepang, ada banyak referensi dari dunia gulat seperti Trent Baretta bermain sebagai tokoh bernama Joel Hardy yang punya style ala Hardy Boyz beneran, ataupun ada penampakan Naito dengan catchphrase “tranquilo” andalannya – ini semua gak bakal make sense buat non-fan tapi kehadirannya tidak pernah terasa mengganggu dan disebar dengan jumlah yang cukup untuk membuat seorang fan gulat menggelinjang secara konsisten. Secara teknis dan desain produksi, film ini memang tidak terlalu menonjol. Begitupun dari segi penampilan. Yang paling menarik buatku adalah karakter Michiko yang dari luar tampak seperti parodi dari seorang hardcore fan, tapi dia justru jadi orang yang paling manusiawi untuk protagonis kita. Shota bermain cukup bagus untuk tidak tampak annoying. Sementara ayahnya dan para pegulat tampak lebih prima bermain di dalam ring – karena memang di situlah zona nyaman mereka. Ketika akting dramatis beneran, masih terasa sedikit kaku sehingga nyaris tampak seperti stereotipe.
 
Jika kalian bertanya apakah film ini berusaha meng-convert seseorang untuk jadi suka sama prowrestling – kaitannya dengan promosi gulat jepang? I ‘d say yes. Film ini seperti dibuat oleh seorang penggemar untuk mengajak temannya ikutan suka gulat. Sudut pandang baik tokoh maupun kamera benar-benar on point. Karena drama match seperti yang direkam pada babak ketiga itulah yang penggemar lihat setiap kali mereka nonton wreslitng. Ada personal story. Bukan sekadar kalah menang, siapa yang juara, siapa yang jahat dan baik. Film ini menangkap esensi drama  dan memperkuatnya ke dalam pertandingan yang dikoreografi – persis seperti match wrestling beneran. Kita harus sama terbukanya dengan Shota jika ingin menikmati film ini, dan jika bagi kalian itu adalah kerjaan ekstra, maka mungkin kalian tidak akan menyukai film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MY DAD IS A HEEL WRESTLER.

 

SIN Review

“Never play with the feelings of others”
 

 
Perasaan tidak bisa dipaksakan. Tapi bisa dipermainkan. That’s why it is so dangerous. Metta belajar secara langsung untuk tidak lagi memainkan perasaan teman-teman dan orang di sekitarnya ketika hidup mengambil giliran untuk gantian bercanda dengan perasaannya. —-Wow, kalimat barusan terdengar kayak narasi pembuka episode serial Twilight Zone ya. Kesannya serius, seram, unworldly. Adegan pembuka film Sin toh memang tampak bertempat di dunia yang lain. Kita melihat seorang cewek bergaun merah melayang di dalam air. Sayangnya, sisa film setelah bagian ini terasa lebih dekat ke sinetron atau ftv karena pendekatan simpel-namun-bejibun-twist yang dipakai.
Sin yang diadaptasi dari novel yang diangkat dari cerita platform Wattpad punya cerita luar yang cukup kontroversial. Baca saja tagline yang mejeng pada posternya. Tapi kontroversi mendatangkan rating, so yea.. Cerita film ini adalah tentang Metta, siswi SMA yang cantik – and she knows it. Metta (Mawar Eva de Jongh dalam peran utama yang mengharuskan dirinya menyimpan kesan ‘cewek baik-baik’ di dalam lemari) ini tinggal sebatang kara di apartemen mewah. Ibunya sudah meninggal dan dia tak pernah tahu siapa ayahnya. Metta hingga sekarang bahkan tidak pernah bertemu dengan orangtua asuh yang membiayai hidupnya. Punya harta, rupa, tapi belum mengenal cinta sejati, Metta menjadikan mainin cowok sebagai hobi. Kerjaannya dugem dan matahin hati anak-anak di sekolah. Bahkan teman satu geng pun agak risih dengan sikapnya. Metta kena batunya ketika dia beneran jatuh cinta kepada Raga yang pernah menyelamatkan Metta dari cowok yang tak terima dicampakkan olehnya. Untuk mendekati Raga yang petinju itu saja, Metta masih belum seutuhnya jadi gadis baek-baek, she practically blackmailed him to get a date. Namun toh mereka berdua sepertinya memang ditakdirkan untuk bersama. Kemudian sesuatu yang ‘tragis’ terjadi; Ketika lagi sayang-sayangnya, Raga (Bryan Domani lebih meyakinkan tampil sebagai kakak yang perhatian ketimbang sebagai petinju jalanan) menghindar dari hidup Metta. Menghilang. Metta belum tahu aja. Bahwa Raga sudah menemukan siapa ayah Metta — yang ternyata adalah ayah kandung dirinya sendiri.

bayangkan jika Darth Vader duduk ngomongin asal usulnya baek-baek ama Princess Leia

 
Lapisan luar cerita film ini memang sangat ftv; cewek usil ketemu cowok keren, kemudian saling jatuh cinta dan berubah menjadi lebih baik, hanya untuk twist demi twist menyerbu sehingga penonton semakin geregetan. I wish sutradara Herwin Novianto mengambil pendekatan yang lebih dewasa. Karena tema cerita ini memang cukup matang dan lebih cocok untuk dieksplorasi dengan lebih grounded. Babak set up Sin sangat bosenin. Film memfokuskan kepada pertemuan Metta dan Raga dan mereka saling jatuh cinta. Build up ini diperlukan untuk nanti; dua orang yang saling cinta ternyata adalah kakak-adik adalah tujuan dari cerita ini. Namun film melakukan set up dengan sangat sederhana. Coba tebak mereka ketemunya gimana? tabrakan saat lagi jalan di lorong sekolah! Siapa mereka tak benar-benar dibahas siapa diri karena backstory masing-masing tokoh itu disiapkan untuk babak akhir, untuk twist nanti. Dan ini membawa kita jauh dari semua yang bisa dipegang untuk peduli sama tokoh-tokoh tadi. Well, they all have pretty faces, jadi kupikir film menyangka itu saja sudah cukup untuk membuat kita peduli kepada mereka.
Film ini memang punya tampilan yang sangat cantik. Penggunaan lampu-lampu, cahaya yang terpantul pada objek-objek gelap – karena beberapa adegan terjadi di tempat-tempat shady tatkala Metta ikut Raga ke arena tinju underground. Sekalipun bosan, kita tidak akan pernah tertidur lantaran visual yang memancing seperti begini. Film mengontraskan kecantikan dengan kekerasan. Sin could get really ‘ugly’ ketika menghadirkan elemen-elemen violence, entah itu adegan bertinju atau, Metta sendiri menghajar cowok yang mengejarnya ataupun kehidupan jetset yang dihadirkan lewat tokoh-tokoh yang masih remaja berpesta dan mabuk-mabukan.  Tapi narasi film baru terasa bekerja ketika sudah lewat bagian tengah. Ketika kita mengerti siapa itu siapa. Dan persoalan mereka bertemu, menjalin kasih, yang dilakukan dengan standar cinta remaja – bahkan karakter cewek galak tapi manja dipasangkan bersama cowok pendiam tapi penuh kasih sayang itu bukanlah barang baru – tak pernah hadir benar-benar menarik. ‘Daging’ cerita sebenarnya adalah melihat apa yang mereka lakukan ketika bersama sebagai kakak adik, dengan saling memendam rasa. Yang membuat kita bergairah justru persoalan Metta dengan salah satu sahabatnya. In fact, sahabat Metta ini adalah satu-satunya kejutan yang aku suka, karena benar-benar tak disangka dan film membangun arc tokoh ini dengan baik.
Kembali ke adegan pembuka Metta yang menyelam; kita pun sebenarnya perlu untuk menyelami cerita Sin lebih dalam daripada sekadar apa yang terlihat di luar. Cinta kakak-adik itu hanya ‘jualan’ untuk menarik perhatian penonton, bahkan film ini sendiri tak begitu peduli sama elemen kakak-adik itu; terbukti dari twist puncak yang disuguhkan – we’ll talk about that later in the end portion of this review. Untuk sekarang, aku ingin membahas apa yang menurutku merupakan gagasan utama yang ingin disuarakan oleh film ini.
Simbol pertama yang hadir di depan mata kita adalah gaun merah yang dikenakan oleh Metta. Aku pinjam kata-kata Taylor Swift untuk menjelaskan ini; Warna merah adalah warna yang menarik untuk dikorelasikan dengan emosi atau perasaan. Karena warna ini punya dua spektrum. Pertama adalah cinta, gairah, kebahagiaan. Sementara spektrum satunya lagi adalah kemarahan, frustasi, dan obsesi.  Metta benar adalah tokoh yang berada di dua spektrum ini sekaligus. Dia yang hidup sendiri ingin merasakan cinta, tapi dia tidak bisa mendapatkannya, sehingga dia menjadi terobsesi. Juga ada neon pink yang menjadi warna utama film, yang bisa berarti cinta, sesuatu yang didambakan Metta. Dia melampiaskan hal tersebut kepada cowok-cowok di sekolah dengan menjadi playgirl. Membuat mereka menjadi terobsesi kepadanya. Makanya interaksi murid-murid di sekolah (diwakili oleh Metta, beberapa cowok, dan sahabat cewek Metta yang akan spoiler berat jika kusebutkan yang mana) tampak begitu ‘berbahaya’. Karena obsesi memang berbahaya. Dan menurutku memang soal obsesi dan bahayanya memainkan perasaan orang itulah yang menjadi bahasan utama film Sin.

Jangan bermain-main dengan perasaan orang lain. Karena dari perasaan yang dipermainkan itulah timbul obsesi. Kita terobsesi pada hal yang tidak bisa kita dapatkan.

 
Inilah yang menjadi trigger sahabat cewek Metta. Inilah yang menyebabkan Raga yang tadinya tidak tertarik kepada Metta menjadi semakin jatuh cinta; terjadi saat dia mengetahui Metta adalah adiknya. Cerita film ini bertindak sebagai hukuman buat Metta karena selama ini selalu nge-flirt tapi cuma buat nyampahin orang. Tapinya lagi, Metta sendiri adalah produk dari perasaan yang dimainkan. Dia diberikan secercah cinta tanpa benar-benar merasakan cinta – dia tidak pernah bertemu orangtua asuhnya. Film ini menggambarkan hukuman secara mental dan fisik. Makanya Raga yang suka bertinju menjadi pelengkap sempurna untuk Metta, karena tinju adalah total opposite dari bermain perasaan yang dilakukan oleh Metta.

siap-siap ditonjok oleh surprise status kalian

 
Makanya ending film ini terasa sangat tak bernyali. Gutless. So many twists and turns yang pada akhirnya menegasi gagasan dan elemen kakak-adik itu sendiri. Satu hal yang tampak menjadi jualan utama, yang menjadi point vocal cerita, ternyata dibuang oleh si film sendiri. Mungkin film ini menyasar ingin menjadi seperti ala M. Night Shyamalan; film buatannya selalu berujung ternyata bukan seperti film yang kira pada awalnya. It could’ve worked tho. Film ini bisa menjadi seperti demikian jika tidak dilakukan demi membuat senang penonton dengan merendahkan cerita dan penonton itu sendiri. Menonton Sin kita akan merasa dikhianati. Merasa sia-sia sudah tertarik untuk mengikuti kisah cinta kakak-adik mereka. Sekaligus juga merasa konyol dengan beberapa pengadeganan. Di babak akhir, adegan-adegan khas ftv itu muncul kembali. Berantem slow motion di tengah derasnya hujan. Dan hujan itu hanya berlangsung di tempat mereka berantem. Laughable. Dan pada adegan terakhir, film akan membuat kita mengerang.
 
 
 
Kalolah ini ftv, maka ini akan menjadi ftv yang hebat. Penampilan para pemainnya not half-bad. Aktor-aktor muda menunjukkan range emosi yang lumayan meyakinkan. Sinematografinya cantik sehingga kesannya mahal dan kinclong. Semua orang suka barang yang kinclong. Tapi ini adalah film bioskop. Yang seharusnya sinematik. Yang seharusnya tak ada adegan-adegan tabrakan, ketemu di supermarket, dikuntit, kenalan, jadian, oh my god poin-poin plot film ini sungguh sesederhana itu. Padahal gagasannya cukup dewasa, bahasannya cukup bermakna. Film ini akan jauh lebih baik jika dilakukan dengan pendekatan yang benar-benar seperti sinema – bukan seperti wahana roller coaster dengan banyak belokan twist; mengombang-ambingkan penonton dengan ‘ternyata’ alih-alih rasa. Harusnya Metta yang membuat film ini, she surely knows how to play with our feelings.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SIN.

 
 

BEBAS Review

“A dream you dream together is reality”
 

 
Bebas, garapan Riri Riza, merupakan versi Indonesia dari drama komedi persahabatan asal Korea; Sunny (2011). Jika ingin tahu seperti apa Bebas dibandingkan dengan Sunny, maka kalian tinggal membayangkan film-film live-action remake animasi buatan Disney. Narasi dan urutan cerita bahkan dialog-dialognya sama persis, dengan beberapa perubahan atau penambahan elemen bertindak sebagai hiasan karena perubahan atau penambahan tersebut tidak benar-benar berani dikembangkan.
Hits berat pada zamannya, actually jadi film terlaris kedua di Korea Selatan di tahun 2011, Sunny menuai banyak pujian dari penonton dan kritikus. Bebas pun langsung dapat dengan mudah disukai. Walau raihan penontonnya kurang mencengangkan, tapi di sana sini aku mendengar banyak pujian dialamatkan kepada film Bebas. Menyenangkan, nostalgic! Aku menonton Bebas sama seperti ketika aku menonton Cinta itu Buta (2019) yang juga adaptasi plek-plekan dari film luar; Aku nonton dua film ini tanpa pernah menonton film aslinya. Namun kesan menontonnya berbeda. Pada Bebas, aku merasa hampa. Aku enggak merasa benar-benar konek dengan cerita yang berselingan masa kini dengan masa lalu, dengan karakter yang belasan jumlahnya. Maka aku kemudian menonton film aslinya. Dan menemukan perbedaan mendasar yang menjawab kenapa Bebas yang dirancang sedemikian sama, tidak berhasil menguarkan rasa yang serupa dengan Sunny.
Yang dipakai pada naskah Bebas – yang mengikuti naskah Sunny – bukanlah struktur tiga babak seperti film kebanyakan. Diceritakan seorang ibu rumah tangga bernama Vina Panduwinata dengan kehidupan biasa-biasa saja bertemu kembali dengan salah satu sahabatnya di masa SMA. Sang sahabat itu dulunya adalah ketua geng mereka di sekolah. Dan merupakan permintaan terakhirnya sebelum tutup usia karena kanker kepada Vina untuk mencari dan mengumpulkan seluruh anggota geng mereka. That’s basically the whole set up of this movie. ‘Sisa’ durasi kita akan melihat Vina berusaha untuk menghubungi mereka yang ia tak tahu ada di mana, sementara Vina juga berjuang untuk lebih berperan dan akrab dalam hidup putri remajanya. Kita akan dibawa bolak-balik ke masa lalu Vina dan Geng Bebas masih remaja, sehingga sedikit demi sedikit ‘sejarah; mereka kita ketahui. Drama datang dari kita mengenali impian masa muda mereka dan melihat menjadi seperti apa masing-masing dari mereka sekarang. Sejauh mana pertemanan masa lalu akan berpengaruh kepada diri kita saat sudah dewasa terpapar oleh kenyataan hidup.

kemudian teman hanya sebatas ngucapin selamat ultah

 
Gagal jadi seniman, Vina merasa datar tapi kemudian perjalanan memori dan ‘reuni’ membuatnya sadar hidupnya lebih baik daripada teman-temannya. Vina selalu memandang pengen sejak kecil; pengen secantik Suci, pengen sekaya Gina, pengen sekeren Kris, pengen seluwes Jojo. Di saat dewasa she realizes dia yang paling ‘beruntung’ di anatara teman-temannya. Hidupnya yang paling ‘bener’. Vina tidak perlu dikasih rumah, dicariin kerja, ataupun dipinjamin uang. Dia punya keluarga sendiri, dan dia sadar dia harus mengendalikan hidup sebagai miliknya sendiri. Aku mengerti semua itu dari menonton Sunny, setelah menonton Bebas. Dan itu bukan karena nonton untuk kedua kali baru bisa mengerti, melainkan karena memang Bebas tidak berhasil menonjolkan apa yang sebenarnya ingin ia ceritakan. Pada Bebas, gagasan dan cerita utamanya kalah menonjol oleh deretan cameo pemain, isu-isu sampingan yang hanya jadi latar, dan musik-musik dan hura-hura.
Isi bisa disamakan, tapi penyampaiannya tidak akan segampang itu untuk diduplikasi. Di sinilah Bebas tertinggal dari Sunny. Cerita dengan dua versi tokoh (masa remaja dan masa dewasa) yang silih berganti membentuk narasi utuh sangat bergantung kepada flashback. Tentu saja teknik editing sangat krusial di situ. Sunny sangat seamless menjalin dua periode di dalam cerita. Film itu menggunakan pergerakan kamera yang tak pernah sekadar mengikuti pemain untuk dijadikan transisi yang antara masa lalu dengan masa kini. Time images yang ditangkap oleh kamera, diteruskan dengan menyenangkan ke dalam pikiran kita. Sedangkan pada Bebas, masalah editing-lah yang langsung menyeruak mengganggu. Kita hampir bisa melihat garis-garis pembatas pada setiap perpindahan periode dalam Bebas. Dari satu adegan ke adegan lain terasa abrupt. Banyak sekali cut-cut yang membuat kita semakin terlepas. Pergerakan kamera pun terasa standar. Coba deh bandingkan adegan berantem di antara tawuran dalam film Sunny dan Bebas. Banyak adegan dalam Bebas yang terasa putus emosinya. Kesan paralel antara flashback dengan kejadian yang mengikutinya menjadi hilang. Kita tidak merasa masuk dan keluar dengan benar dari flashback.
Flashback seharusnya dijadikan alat untuk mendukung dan memajukan kejadian di masa kini. Kita melihat dua Vina; Vina remaja yang anak polos pindahan dari kampung berubah menjadi ‘gaul’ bersama teman gengnya, dan Vina dewasa yang hidupnya tampak biasa saja berubah menjadi lebih menarik sejak dia bertemu kembali dengan teman-teman gengnya. Sebagai karakter, ada dua Vina bergerak dalam dua arc yang sama. Teknik penceritaan flashback dilakukan harusnya membuat dua Vina dan dua arc ini menyatu sehingga tampak sebagai satu Vina dalam satu perjalanan. Bebas berusaha mengemulate kerja Sunyi menampilkan ini. Bukan perkara yang mudah, terlebih karena cerita ini juga memuat banyak narasi sampingan seperti persoalan Vina dengan putrinya, Vina dengan kakak cowoknya, dengan masing-masing anggota geng, dengan suaminya, dengan cowok yang pernah ia taksir. Bebas seperti kesusahan menangkap esensi sehingga semua narasi itu disajikan begitu saja, dengan potongan-potongan abrupt. Kita akan bingung harus berpegangan pada yang mana. Semua hal di sekitar Vina tampak lebih dominan daripada dirinya.
Vina ditampilkan sebagai karakter yang sangat datar, terutama di awal-awal saat dia masih anak baru. Ketika adegan di dalam kelas, Vina remaja langsung kalah pamor – film lebih menyorot temannya yang obses sama bulu mata, sama temannya yang ketua geng, sama gurunya yang hamil. Perhatikan betapa besar porsi mereka dibanding Vina. Memang, adegan tersebut memposisikan Vina sebagai observer, ia melihat banyak hal baru yang belum pernah ia jumpai di tempat asalnya. Tapi Bebas memperlakukan Vina seperti tokoh utama pasif game RPG yang dialognya hanya berupa option yang kita pilih. Dalam Sunny, adegan di dalam kelas di awal itu tidak sampai membuat si tokoh utama tenggelam. Personalitynya tetap ditonjolkan. Saat dewasa pun Marsha Timothy mengambil pendekatan yang terlalu muram untuk karakter ini. Sehingga Vina akan jarang sekali tampak sebagai tokoh utama yang menarik. Resolusi film yang terlalu ideal malah membuat Vina tak melakukan banyak pada penyelesaian cerita, padahal di cerita aslinya kita bisa melihat perannya dengan jelas.

Waktu muda kita belum punya hidup, kita hanya punya impian. Sedangkan saat dewasa, kenyataan sudah sepenuhnya milik kita. Kenyataan yang membuat kita terpaksa melupakan mimpi. Salah satu adegan paling emosional dalam Bebas adalah ketika Vina remaja dan geng Bebas membuat video untuk mereka di masa depan; video yang menyerukan impian dan cita-cita masing-masing. Video itu ditonton sambil menangis oleh Vina di masa kini, karena ia sadar impian mereka tak ada yang tercapai karena mereka terpisah. Padahal impian bisa jadi kenyataan dengan diwujudkan bersama-sama.

 
Bahkan lagu soundtrack pun terdengar lebih dominan ketimbang Vina dan ceritanya. Film Bebas semakin terasa sok-asik karena lebih memilih untuk mengandalkan lagu ketimbang penceritaan. Hampir setiap adegan ada lagunya, supaya penonton terbawa asik. Ada satu sekuen geng Bebas menari sambil nyanyi lip-sync muterin musik hampir satu lagu Cukup Siti Nurbaya penuh. I mean, I love 90’s songs as much as you do, tapi dalam film aku lebih suka mendengar lagu yang actually menambah bobot kepada narasi. Lagu yang enggak random muncul hanya karena lagunya enak dan menghentak dan bikin kita teringat masa lalu.

musik 90an memang terbaik!

 
Toh Riri Riza tak tahan juga untuk membiarkan cerita sama persis tanpa perubahan. Seiring dengan pemilihan lagu, latar waktu juga ditarik menjadi di sekitar paruh akhir 90an. Memasuki era reformasi. Tapi di elemen ini pun Bebas hanya sekadar mencari paralel dari keadaan 80an Korea saja, tanpa benar-benar menyelami situasi dan keadaan sosial. Tawuran pelajar dengan polisi, demo pemerintahan, kekerasan pada lingkungan anak-anak sekolah, termasuk sistem pendidikan yang keras, dijadikan oleh Sunny sebagai panggung, untuk kemudian didekati dengan nada komedi. Bebas cuma sebatas mengikuti. Kerusuhan demo, geng pelajar, situasi Indonesia dimirip-miripkan. Para tokohnya terasa tak terlalu tersentuh oleh hal tersebut. Makanya ketika geng Bebas dibubarkan karena sebuah tragedi, kejadian itu terasa seperti sebuah perlakuan tidak adil. Kok malah mereka yang dihukum? Karena hanya mengambil konsep geng di Korea. Dalam Bebas, geng Vina tak lebih jauh dari sekadar kelompok bermain antarsahabat. Padahal secara konteks yang ia sadur, geng itu adalah sebuah clique, sebuah hirarki – terlebih mereka tercipta di lingkungan sekolah yang seluruh muridnya adalah perempuan.
Salah satu perubahan terbesar yang dilakukan oleh Bebas adalah mengubah ensemble menjadi hanya enam orang, dengan satu cowok. Mereka bersekolah di sekolah umum, bukan sekolah khusus wanita seperti pada Sunny. ‘Musuh’ Vina di sekolah juga diubah menjadi cowok berandal. Perubahan ini seharusnya diikuti oleh perubahan konteks cerita, sebab elemennya sudah jauh berganti. Ada narasi baru yang ditambah. Tapi film masih memperlakukannya serupa dengan Sunny. Cowok dalam geng Bebas dibuat kecewekan, sifatnya sama persis dengen cewek ringan-mulut versi Sunny. Sempat diangkat soal sifat si cowok di mata orangtuanya, tapi hanya sebatas dialog dan tak pernah lagi dieksplorasi kemudian. Membuat perubahan itu jadi sia-sia belaka. Niat Bebas mungkin untuk memperlihatkan persahabatan cowok dan cewek. ‘Musuh’ yang mereka hadapi mengaku ia pengen masuk ke geng mereka – ada hint film ingin menyentuh toxic masculinity, tapi sekali lagi tetap terasa half-assed karena si cowok dibuat sedang mabuk saat mengatakan itu sehingga semua yang ia lakukan tak-bisa dipercaya. In the end, Bebas malah tampak seperti berlaku tak adil kepada tokoh-tokoh pria dalam film ini.
 
 
Sunny versi Indonesia ini punya ensemble cast yang menarik, juga disertai banyak penampilan-penampilan ekstra yang menjadi kejutan menyenangkan, musiknya membawa kita bernostalgia. Tapi jika musiknya dilucuti, maka film ini akan terasa hampa karena penceritaan yang gagal untuk meniru yang berhasil dilakukan oleh Sunny. Editing membuat cerita terbata, film somehow luput menampilkan hal-hal detil untuk memaklumkan kenapa kejadian dalam film itu bisa terjadi sedemikian, membuat para tokoh jadi tidak maksimal chemistrynya. Latar film ini juga tidak berhasil dibuat hidup. Emosi yang kita rasakan hanyalah emosi yang timbul dari lagu-lagunya. Tetap masih bisa asik untuk ditonton. Tapi jika dibandingkan – and it’s hard not to compare these movies – film ini hanyalah versi jinak dan clueless dari film Sunny.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BEBAS.

 

CINTA ITU BUTA Review

“Ugliness is just a failure of seeing”
 

 
Kita tahu sedang jatuh cinta pada seseorang jika pembawaan kita lebih ceria, wajah kita berseri-seri, ketika bertemu dengan orang tersebut. Namun bagaimana jika kita tidak bisa melihat? Dari mana kita tahu cinta itu hadir? Gampang, rasakan dengan hati. Yang susah adalah, cara merasakannya. Kayak Diah di Cinta itu Buta. Cewek pemandu wisata ini harus kehilangan penglihatannya dulu sebelum dapat merasakan tulusnya cinta dari orang yang tak pernah dia ‘ngeh’ sebelumnya.
Oleh sutradara Rachmania Arunita, cerita Cinta itu Buta dibuat tidak banyak berbeda dengan film berjudul Kita Kita (2017). Menurut IMDB memang Cinta itu Buta dibuat berdasarkan rom-com asal Filipina yang digarap oleh Sigrid Andrea Bernardo, in fact Bernardo mendapat kredit penulis di sini sebagai original story. Film Cinta itu Buta tidak mengubah banyak pada naskah, selain latar yang disesuaikan.
Korea diambil sebagai panggung cerita. Alur ceritanya cukup sederhana. Strukturnya terbagi jelas. Pada babak set up kita akan melihat Diah hidup berbahagia di Korea, sampai dia dikhianati oleh tunangannya. Dia actually melihat dengan mata kepalanya sendiri sang tunangan ngedate manja ama wanita lain. Diah terpukul. Dan entah karena kebanyakan minum, atau karena shock dan stress berlebih, pandangannya mengabur dan ia pun buta untuk sementara (alias untuk waktu yang ditentukan oleh naskah). Saat tergelap dan terhopeless dalam hidupnya itulah, seorang pria tak dikenal muncul dalam hidupnya. Membawakannya makanan setiap pagi. Membangunkannya bagai alarm paling cempreng. Babak kedua kita melihat bibit cinta Diah mulai muncul kepada Nik yang tak kenal lelah hadir menghiburnya. Dan sesuai dengan gagasan yang diusung, film mengakhiri babak ini dengan pertanyaan apakah Diah masih tetap akan cinta setelah melihat seperti apa rupa – siapa – Nik sesungguhnya. Apakah hanya kecantikan Diah semata yang membuat Nik mendekatinya?

cinta itu batu

 
Daya tarik film ini terletak pada pasangan yang menjadi sentral cerita. Diah dan Nik. Cewek cantik dan cowok bertampang pas-pasan; kalau jelek dianggap terlalu merendahkan. Unlikely couple yang membuat kita hampir langsung menginginkan mereka bersatu. Film lalu membuat sang cewek tak bisa melihat sehingga cerita terasa semakin grounded. Karena mungkin memang hanya itulah satu-satunya keadaan yang memungkinkan cowok jelek bisa jalan bareng cewek cantik. Yang memungkinkan cowok bisa mendekat tanpa dicurigai tukang kuntit atau langsung diteriakin Pervert!” Elemen cerita ini sebenarnya unik bukan karena fresh ataupun berani. Charlie Chaplin sudah melakukannya di City Lights (1931) – di film tersebut Chaplin memainkan tokoh pria konyol pas-pasan yang jatuh cinta sama cewek yang buta; dia hanya berani mendekati sang cewek karena tau cewek itu tak bisa melihat siapa dirinya sebenarnya. Nik dalam Cinta itu Buta juga digambarkan insecure dengan rupa dirinya sehingga dia ‘takut’ mata Diah normal kembali. Cerita semacam ini unik, berbeda dari komedi romantis-perfect kebanyakan, karena terasa kuat menggambarkan kita semua. Baik Chaplin maupun Nik, mereka enggak ganteng. Tampang mereka lebih cocok sebagai wajah komedi dibandingkan wajah romansa. Tapi mereka itu mewakili kita manusia biasa. Kita yang selalu menganggap diri kita tak-sempurna. Mereka merepresentasikan perjuangan meraih impian, mendapatkan pasangan yang menghargai mereka bukan dari tampang atau kekayaan melainkan their true self.

Jika kita melihat sesuatu yang jelek, tutup mata, dan lihatlah lebih dalam. Film ini menunjukkan kepada kita terkadang kita perlu kehilangan sesuatu untuk dapat merasakan lebih baik. Dan juga sama pentingnya bagi kita untuk terus menebar kebaikan. Karena jeleknya paras hanya sebatas pandang. Paras dan pandang itulah limitasi yang harus kita perluas dengan hati.

 
Interaksi antara Diah dan Nik menjadi penopang utama keberhasilan cerita. Karena narasi akan dengan cepat menjadi membosankan, terutama di babak kedua. Kita tidak melihat banyak hal selain Nika yang datang, melucu, dan kemudian mereka berdua jalan-jalan. Cinta itu Buta memasangkan Shandy Aulia dan Dodit Mulyanto. Aku tidak bisa memastikan dialog di antara kedua tokoh adalah  dialog khusus yang ditulis film ini atau improvisasi dari kedua pemain. Namun yang jelas, Shandy dan Dodit tampak cukup bersenang-senang dengan peran mereka. Diah dan Nik tampak cukup menikmati keberadaan masing-masing. Gaya melucu Dodit pas dengan tuntutan karakter Nik, dia akan menggoda dan merayu Diah – seringkali membuat penonton tergelak geli melihat tingkahnya. Disambut oleh Shandy Aulia yang sudah terbiasa memainkan gestur cewek manja. Menghasilkan pasangan yang cute dan mengundang tawa.
Tentu saja tak berarti kerjaan sutradara lantas menjadi gampang; tinggal tarok kamera dan meniru film aslinya. Latar tempat harus dimanfaatkan dengan benar sehingga kita tidak lagi bertanya kenapa mesti Korea; digunakan untuk mengontraskan persepsi kekinian kiblat kinclongan universal dengan sesuatu yang lebih merakyat. Pengadeganan juga harus dipikirkan maksimal supaya film tidak terkesan malas dan sekadar meniru tanpa melakukan banyak kreasi. Tapi jikapun memang thok meniru, Cinta itu Buta setidaknya berhasil menyadur tanpa meninggalkan rasa. Pengungkapan di bagian akhir tidak jatuh sebagai kejutan yang ujug-ujug ataupun mengecoh. Melainkan tetap berjalan dalam konteks Diah tidak melihat Nik karena dia belum punya rasa. Seluruh film dilihat dari sudut pandang Diah, dan di sepanjang adegan sebelum pengungkapan kita benar-benar melihat ada Nik di sana tapi tidak tampak penting dan di-overlook. Film mengaburkan dimensi waktu untuk memuluskan penceritaan – menampilkan tanpa membuat kita menyadari apa yang ditampilkan – sehingga semuanya tampak make sense dan enggak maksa di akhir pengungkapan. Akan tetapi, pengaburan waktu tersebut seharusnya bisa dibuat dengan lebih baik lagi, dengan memasukkan lebih banyak penanda waktu  – bukan sekedar kemunculan figur penting – sehingga tidak menyisakan banyak ruang bagi penonton untuk kebingungan.
Keberhasilan cerita semacam itu bergantung kepada pemikiran penonton tentang jeleknya rupa seseorang. I mean, kita harus benar-benar melihat Nik sebagai orang jelek supaya pesannya dapet. Di sinilah salah satu letak trickynya; karena film tidak boleh sedangkal mengasumsikan semua penonton bakal menganggap Nik jelek. Karena ukuran ganteng itu juga bisa diperdebatkan. Bisa saja memang ada penonton cewek yang nonton film ini karena suka sama Dodit. Makanya film ini lantas mengambil langkah komedi yang sebagian besar disandarkan kepada ‘jijik’nya tingkah laku Nik, alih-alih menyoroti fisiknya. Nik juga dibuat mabuk di awal. Jadi tantangannya adalah membuat karakter yang lumayan repulsif untuk ditonton tanpa merendahkan si karakter tadi. Dia juga diberikan backstory yang humanis. Cinta itu Buta berhasil menyadur elemen yang membuat Kita Kita menjadi film terhits Filipina tahun 2017 yang lalu; keseimbangan antara humor, romansa, yang tidak terjebak sepenuhnya pada gambaran fisik.

cantik itu relatif, jelek itu universal.

 
Elemen buta digunakan bukan untuk semata ‘menghukum’ wanita sebagai pihak yang paling judgmental, melainkan justru untuk membuat set up cerita menjadi lebih mungkin-untuk-terjadi. Buta di sini dijadikan karakter, penilaian tokoh Diah ditanamkan di awal bergantung pada matanya. Konflik yang diusung adalah ‘jika dia bisa mencintai apa yang ia lihat, apakah itu berarti dia tidak bisa mencintai yang tidak ia lihat’. Jadi cerita ini bukan soal judgmental, melainkan lebih ke pemahaman untuk benar-benar mengenali perasaan.
Meski begitu, Kita Kita memang justru mendapat kritikan dari cara film itu memasukkan elemen kebutaan. Inilah yang seharusnya diperbaiki oleh Cinta itu Buta, karena film ini punya kesempatan untuk membuat cerita ini menjadi lebih baik. Tapi film ini tidak melakukan hal tersebut, dia cukup puas hanya sebatas meniru saja. Elemen buta sementara yang terjadi dan sembuh kapan saja sesuai kebutuhan naskah terasa sangat sinetron dan tidak benar-benar ada penjelasan alias sekenanya. Kita diharapkan untuk memaklumkan. Ini tak ubahnya trope usang amnesia di film-film; tokoh kepentok kepalanya dan mendadak hilang ingatan lalu butuh diketok lagi kepalanya supaya ingatannya kembali. Sekonyol itu. Cinta itu Buta seharusnya merancang kebutaan itu dengan lebih berbobot lagi. Menghasilkan cerita yang enggak beat-to-beat sama secara keseluruhan.  Penonton yang sudah nonton Kita Kita, akan merasa dua kali lebih bosan, terlebih jika mereka juga tidak begitu tertarik sama latar Korea. Film harusnya melakukan inovasi lebih banyak pada departemen cerita dan penceritaan.
 
 
 
Hangat, lucu, dan terasa segar meskipun sebenarnya bukan cerita yang benar-benar unik. Elemen spesial film ini sudah pernah dilakukan oleh banyak film sebelumnya. Maka film ini mengandalkan kepada interaksi pemain; yang dipasangkan dengan cukup nekat. Mereka berhasil tampak cute bersama, tapi ketika sendiri-sendiri terasa sedikit ketimpangan. Karena Dodit belum lagi bermain sebagai benar-benar aktor. Film ini nampak stay true dengan film originalnya. Akan mengajarkan kita cara untuk merasakan cinta lebih banyak di dunia. Sutradara seharusnya punya kata atau visi versi dirinya terhadap ini, memasukkannya ke dalam cerita, melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang ada pada sumber. Tapi sepertinya film ini turn a blind eye dan dibuat untuk meniru saja yang sudah ada.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for CINTA ITU BUTA.

 

THE PEANUT BUTTER FALCON Review

“No one has ever made himself great by showing how small someone else is” 
 
,
 
Pernahkah kalian mencurahkan keinginan kalian – membagi impian kalian – kepada orang, tapi lantas dipatahkan oleh mereka lewat saran yang jelas-jelas tidak mendukung atau malah menyepelekan? like, “Hei aku mau buka warung es kri-” “EMANGNYA JUALAN GAMPANG!?” Well, kisah dua orang ‘buronan’ yang saling bertemu dalam The Peanut Butter Falcon akan memberikan tiupan angin semangat yang manis kepada kalian yang pernah mendapat perlakuan seperti demikian. Atau mungkin kalian merasa bersalah karena pernah melepehin mimpi orang lain. Karena perjalanan dua ‘buron’ dalam film ini sarat oleh pesan untuk mengisi hidup sepenuhnya dengan mengejar mimpi.
Dua tokoh yang jadi representasi dalam cerita yang bertempat di desa kecil di pinggiran North Carolina ini adalah Tyler, seorang pemuda yang berubah menjadi pencuri kepiting tangkapan lantaran dia kehilangan pegangan sejak kematian sang abang. Tyler diburu oleh nelayan yang ia bakar peralatan pancingnya; Tyler benar-benar tak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya. Sampai dia bertemu dengan tokoh satu lagi, yakni Zak. Berusia 22 tahun, Zak menghabiskan sebagian besar hidupnya tinggal dalam lingkungan panti jompo – menonton video kaset gulat jadul, karena di tempat seperti itulah orang-orang berpengidap Down Syndrome yang tak berkeluarga dipelihara oleh negara. Zak kabur dari panti, ia pengen ke sekolah gulat buatan pegulat idolanya mengajar. Merasa sama-sama buron dan kesepian, Tyler setuju untuk bukan saja menjadi teman seperjalanan buat Zak, tapi juga membimbing Zak. Mengajarkannya berenang, menikmati hidup alih-alih mengurungnya. Mereka berlayar bersama, menempuh bahaya bersama. Mereka saling menjaga dan mendukung masing-masing.

satu lagi film bagus yang berhubungan dengan wrestling di tahun 2019

 
Persahabatan antara Tyler dan Zak yang bertumbuh inilah yang terangkum dengan indah. Karena film ini sangat hormat kepada karakter-karakternya. Ada sedikit komentar tentang ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ yang dibahas oleh film ini, regarding tokoh Tyler sehingga kita tidak serta merta memasukkan tokoh ini ke dalam kotak. Penghormatan terlihat paling jelas pada perlakuan film ini kepada Zak. Aku rada males nonton film-film dengan tokoh disabled karena biasanya tokoh-tokoh tersebut diperankan oleh aktor yang tak-bercacat dan mereka hanya memainkan tokoh itu untuk easy-simpati. Bukannya bermaksud bilang mereka tidak bermain dengan baik ataupun tulus; beberapa kadang menyabet penghargaan karena peran sebagai disabled person. Hanya saja ada sesuatu yang kurang, ada pertanyaan yang mengganjal kenapa film tidak meng-cast an actual disabled person. Menyaksikan perlakuan film ini kepada Zak; ia diperankan oleh pengidap Down Syndrome beneran, Zack Gottsagen, benar-benar membuatku merasa hangat. Zak tidak ditampakkan sebagai makhluk yang perlu dikasihani. Perannya terasa begitu nyata karena Zak bukanlah sebuah simbol atau metafora atau bahkan berpura-pura. Oh dia berakting kok, disabled person bermain sebagai disabled person tidak lantas berarti dia bermain menjadi dirinya sendiri. Ada karakter dalam tokoh Zak. Dan pendekatan terhadap tokoh ini, penulisan maupun penampilan, tidak sekalipun terasa mengecilkan ataupun dibuat-buat.
Film dengan berani memperlihatkan orang-orang seperti Zak masih diperlakukan kasar oleh sebagian besar orang. Mereka dipanggil idiot. Bahkan jika tidak, orang-orang tetap memperlakukan mereka selayaknya seorang idiot. Inilah yang dihadapi oleh Zak-Zak di luar sana. Namun film juga tidak mengeksploitasi ini. Melainkan memperlihatkan sudut lain. Masih banyak juga orang-orang seperti Tyler; yang tidak mempedulikan kekurangan Zak. Melainkan menganggapnya sama rata sebagai manusia seutuhnya. Zak tidak mendapat perlakuan yang berbeda. Film ini menolak untuk membuatnya terlihat lemah. Zak punya mimpi yang perlu didukung, yang sama berharganya dengan keinginan orang-orang yang ‘normal’.

Jangan sekalipun meremehkan orang lain, apalagi meremehkan keinginan dan impian mereka. Setiap orang pasti punya mimpi dan tujuan, dan mereka bekerja keras untuk menggapai hal tersebut. Penting bagi kita untuk menghormati ini, untuk memahami perjuangan orang-orang di sekitar hidup kita. Tidak akan ada pencapaian di dalam hidup jika kita semua saling menganggap remeh perjuangan masing-masing.

 
Hal menakjubkan yang timbul dari pendekatan realis yang dipilih film untuk menghidupkan tokoh-tokohnya adalah reaksi para tokoh seringkali tak-terduga. Jawaban Tyler ketika menanggapi curhatan Zak soal dia tidak bisa jadi pahlawan karena ia mengidap Down Syndrome akan mengejutkan sekaligus menghangatkan hati kita semua. Karena merupakan jawaban yang tidak receh untuk menghibur Zak, melainkan pernyataan yang menantang kita dengan kebenaran. Sutradara sekaligus penulis naskah Tyler Nilson dan Michael Schwartz juga menggunakan struktur yang tidak biasa yang membuat film ini menjadi semakin stand out. Dalam film buddy-trip seperti ini biasanya kita menjelang akhir kita akan mendapat sekuen dua sahabat itu berantem atau paling tidak berpisah untuk kemudian bertemu kembali dan saling menyadari kesalahan masing-masing. Kita tidak melihat sekuen semacam ini pada The Peanut Butter Falcon. Naskah membagi kekompleksan ceritanya kepada tiga orang tokoh, alih-alih dua, sehingga perjalanannya terasa lebih besar, dengan penemuan yang lebih dramatis daripada momen berantem yang mungkin bisa dipaksakan.
Selain Tyler dan Zak, juga ada tokoh salah satu pengasuh Zak di panti bernama Eleanor yang ditugaskan mencari dan membawa pulang Zak – yang juga punya arc di dalam cerita. Jadi kita dapat tiga tokoh mayor. Jika biasanya tokoh utama, protagonis, dan hero sebuah film adalah satu orang yang sama, maka The Peanut Butter Falcon tampak mengadopsi DRAMATICA THEORY. Tokoh utama, protagonis, dan hero dalam cerita ini dibagi menjadi tiga tokoh yang berbeda. Tokoh utama dalam film ini adalah Tyler, karena dia lebih aktif menggerakkan plot. Tyler punya perspektif dan backstory yang lebih dominan. Dia juga membawa elemen intens dalam cerita karena stake yang ia bawa – Tyler diburu oleh nelayan preman yang hendak menyakitinya – terasa lebih berdampak. Aku gak pernah benar-benar suka sama akting Shia LaBeouf, tapi sebagai Tyler di sini aku merasa melihat penampilan terbaik yang pernah ia berikan. Kita melihat Tyler membuka dirinya dan pada akhir film ia tidak lagi sesempit saat di awal. Protagonist cerita ini adalah Eleanor yang diperankan dengan sangat manis dan humanis oleh Dakota Johnson. Disebut protagonist karena Eleanor bukan semata mendukung, melainkan adalah yang paling berubah seiring dengan perjalanan tokoh utama. Tadinya ia tidak mendukung dan berbeda pandang dengan Tyler soal impian Zak, tapi di sepanjang perjalanan ia menyaksikan hubungan mereka, sehingga ia menyadari dan belajar banyak, lalu ia mengubah pandangannya. Sedangkan Zak; dia adalah tokoh sentral. Dia kuat, vulnerable, lucu, supel, dia punya tujuan yang paling jelas di antara ketiga tokoh, dan kita ingin dia sukses mencapai tujuan tersebut. Dia adalah Hero dalam cerita ini. Dan ini sesuai dengan keinginan Zak di dalam cerita; dia mau jadi pegulat pahlawan semua orang.
Interaksi antatokoh ini tergambar dengan manis lewat sinematografi yang luar biasa menawan. Adegan Zak menari dengan Eleanor di atas rakit, adegan Zak menghibur Tyler, adegan Tyler menggoda Eleanor saat pertama kali mereka berjumpa, ini adalah sedikit dari contoh adegan yang loveable karena begitu manusiawi yang sayang untuk dilewatkan. Karakter minor dalam film ini juga tak kalah menarik. Untuk penggemar pro-wrestling, kita akan mendapat surprise oleh penampilan dua Hall of Famers WWE. Aku gak akan bilang siapa, kalian harus nonton sendiri.
Oke, aku tidak bisa menahan diri. It was Mick Foley. Dan Jake Roberts. Tapi aku tetep gak akan bilang mereka jadi peran apa, tonton sendiri aja haha

nonton film ini jadi pengen lihat lagi penampilan pemainnya di film-film mereka yang terkenal, termasuk Dakota Johnson di film ehm…

 
Kadang cerita film ini terlampau manis sehingga beberapa aspek terasa cheesy. Beberapa adegan bahkan tampak seperti tak mungkin terjadi di dunia nyata. Misalnya pada bagian wrestling menuju ke ending, yang buatku terasa terlalu cepat dan tidak lagi tampak real. Walaupun memang sejak kapan wrestling itu real (ha!), tapi pada beberapa bagian film ini memang lebih tampak seperti dongeng yang berisi interaksi nyata dengan karakter yang begitu well-realized. Sepertinya film berusaha menyeimbangkan fantasi dan realis. Usaha yang tidak selalu berhasil mulus. Namun kuyakinkan itu semua merupakan kekurangan minor yang tidak berpengaruh banyak kepada keasyikan menikmati perjalanan cerita film ini.

Adegan Zak kabur dari terali kamar pantinya juga tampak sangat cheesy dan tak mungkin terjadi di dunia nyata. Tapi hal ini justru terasa menyedihkan karena adegan itu hanya tampak cheesy karena kita sulit membayangkan di dunia nyata ada orang yang begitu menghormati mimpi seseorang seperti Zak, percaya kepadanya, dan membiarkan dia mengejar mimpinya. Menyedihkan hal tersebut tampak seperti fantasi di dunia kita sekarang.

 
 
Sebagian besar yang terlibat film ini; sutradara Nelson dan Schwartz, juga aktor Zack Gottsagen, benar-benar menghidupi paham yang diangkat oleh tokoh cerita film ini. Yakni mengejar mimpi dan mengisi hidup dengan hal yang ingin dilakukan. Hasilnya bisa kita nikmati sendiri; sebuah tontonan yang menghangatkan jiwa, yang menghibur tanpa melupakan hati. Pesan yang diangkat tereksplorasi dengan baik tanpa menyinggung siapa-siapa.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE PEANUT BUTTER FALCON.

6,9 DETIK Review

“One day your life will flash before your eyes.”

 

 

Sementara Spider-Man sedang diperebutkan oleh Disney dan Sony, diam-diam ternyata Indonesia punya Spider-Woman loh! Julukan tersebut diberikan kepada Aries Susanti Rahayu yang sukses menjadi juara dunia dalam cabang panjat tebing pada Asian Games 2018 di Palembang. Dengan catatan waktu yang bukan main cepat. Prestasi yang sungguh luar biasa, mengingat asal dan perjalanan Ayu yang begitu penuh perjuangan. Kisah hidup salah satu atlet nasional kebanggaan Indonesia inilah yang diangkat oleh Lola Amaria dalam drama biopik 6,9 Detik. Biopik yang juga menyerempet dokumenter karena menggunakan penggalan adegan-adegan asli dari pertandingan panjat tebing Asian Games 2018 dan tokoh asli bermain  sebagai pemeran utama.

Seperti semua cerita perjuangan, cerita ini pun bermula dari rumah. Ayu yang tumbuh di desa di Grobogan, Purwodadi.  Dia dekat dengan sang ibu yang bisa menolerir ‘kebandelan’ Ayu yang suka bermain ala cowok. Kebersamaan mereka terpisah oleh ibu yang pergi bekerja ke luar negeri sebagai TKW. Meskipun tidak pernah sepi di rumah – Ayu tinggal bersama ayah, dua orang kakak, dan bu’ lik (bibi) – tapi Ayu selalu merindukan ibu. Olahraga menjadi pelampiasan buat Ayu. Dia yang pada dasarnya memang berani dan suka tantangan, menekuni panjat tebing yang diperkenalkan kepadanya oleh seorang guru di SMP. Ayu sebenarnya berbakat, hanya saja kehilangan sosok ibu membuatnya sempat menjauh dari jalan yang harus ia lalui. Semuanya terserah kepada Ayu untuk menyerah atau malah kembali ke siapa dirinya, menoreh prestasi, dan membuat bangga ibu pertiwi serta ibunya sendiri.

bakatnya sudah terlihat sejak dia suka bernyanyi ‘cicak-cicak di dinding’ waktu kecil

 

Kisah nyata kehidupan Ayu dibagi oleh film ke dalam tiga periode. Saat dia masih kecil di tahun 1999, saat dia ABG dan diperkenalkan dengan olahraga panjat tebing, dan hari-hari berlatih di tim nasional menjelang Asian Games. Bagian dia kecillah yang paling menyenangkan untuk ditonton. Di sini Lola Amaria benar-benar telaten merajut berbagai informasi dalam adegan demi adegan. Detil-detil kecil dipergunakan untuk menanamkan kepada kita pemahaman seperti apa si Ayu – apa yang ia inginkan, apa yang membuat dia menjadi seperti dirinya sekarang. Dengan kata lain, film sukses menetapkan motivasi perjuangan Ayu setelah dewasa nantinya. Film memperlihatkan ketidaksukaan Ayu terhadap kekalahan melalui dialog serta lewat adegan-adegan interaksi Ayu dengan sekitarnya. Juga ada narasi tentang penolakan Ayu terhadap kotak-kotak gender; dia yang suka bermain bersama anak-anak cowok, memainkan permainan ‘cowok’, menolak untuk disebut anak perempuan. Sayangnya, topik cerita yang satu ini tidak terasa berujung kepada apa-apa, karena film tampak ingin kembali berfokus kepada persoalan Ayu dengan ibunya. Namun bahkan persoalan itupun tidak benar-benar memuaskan pengeksplorasiannya.

Memasuki periode kedua cerita, film tidak lagi setelaten semula dalam bertutur. Dan ini menjadi masalah karena periode ini merupakan masa terendah dalam hidup Ayu, jadi kita harus dibuat benar-benar peduli pada dirinya. Seharusnya ini adalah bagian yang penting secara emosional. Ayu membuat pilihan-pilihan yang buruk selagi kesulitan menjalani latihan panjat tebing yang memang literally sulit dan menyita banyak tenaga. Jadi ini adalah bagian di mana Ayu ‘dihajar’ habis-habisan. Tapi film memilih untuk menceritakan kehidupan Ayu di periode ini dengan sangat cepat. Rentetan klip ala montase dengan narasi voice-over Ayu menulis surat kepada ibunya pada dasarnya mendiktekan kepada kita hal-hal yang dilalui oleh Ayu – pertama kali pacaran, masalah sama temannya, mencoba ke klub malam (ada sedikit adegan underage drinking di sini) Hubungan sebab-akibat tidak lagi diperlihatkan dengan sedetil bagian sebelumnya.

Cerita tak kunjung melambat, melainkan tancap gas ke periode terakhir. Ayu kini sudah dewasa, dia sekarang berjilbab. Walaupun mengetahui hal tersebut dari poster, aku tetap kebingungan mencari mana yang tokoh Ayu saat dewasa ini. Begitulah cepatnya cerita melompat-lompat. Pertanyaan utama yang diangkat dalam periode ini adalah mengenai sanggup atau tidak Ayu bertahan dalam lingkungan pelatihan yang keras. Dan somehow, masalah Ayu dengan ibunya di periode kedua tidak pernah dijelaskan dengan memuaskan. Mereka tau-tau sudah damai, dan sekarang ‘musuh’ Ayu adalah pelatih galak yang diperankan oleh Ariyo Wahab. Tadinya kupikir film ini mengaitkan ini dengan ketidaksukaan Ayu kalah, apalagi oleh anak laki-laki – kupikir hubungan mentorship Ayu dan Pelatih akan dieksplor sehingga lebih personal daripada sekadar murid dan guru; seperti hubungan mentorship antara Paige dengan pelatihnya di Fighting with My Family (2019) tapi ternyata tidak. Film seperti buru-buru ingin sampai di adegan Asian Games. Hanya sedikit ‘hati’ yang dimasukkan ketika membahas pelatih yang ekstra keras membimbing Ayu. Tokoh Pelatih tidak terasa sebagai manusia beneran, bahkan Ayu pun tak menyentuh kita secara personal.

Film ini kurang terasa dramatis sinemanya. Hanya seperti runtutan kejadian-kejadian yang silih berganti. Bahkan Fighting with My Family yang tentang olahraga bohongan, dengan tokoh atlet hiburan, saja terasa lebih manusiawi karena menggali sisi humanis bukan semata tokoh utama melainkan juga pendukung di sekitarnya. Sepertinya ini semua karena film tidak dimainkan oleh aktor beneran; Lola ingin menutupi kekurangan pemain yang ia punya – dalam hal ini si Ayu sendiri – maka ia tidak memberikan banyak kesempatan bagi pemain untuk menunjukkan sisi emosional

Lebih susah ngajarin atlet berakting ketimbang ngajarin aktor berolahraga

 

Namun, ada satu cara lain yang lebih menarik untuk melihat film ini. BAGAIMANA JIKA SEMUA KEJADIAN DI FILM ADALAH PANDANGAN FLASHBACK DARI AYU DEWASA – BUKAN FLASHBACK URUTAN CERITA? Begini, film ini dibuka dengan adegan Ayu dewasa yang tengah hendak bertanding di final Asian Games. Selagi menunggu aba-aba untuk mulai memanjat, dia menoleh ke barisan penonton dan melihat dua sosok anak yang merupakan dirinya sendiri saat masih kecil. Kemudian barulah film membawa kita ke masa lalu Ayu, yang dimulai dengan adegan mimpi si Ayu Kecil. Kejadian kemudian berjalan hingga kita kembali ke adegan pembuka, Ayu hendak bertanding. Jadi, periode-periode yang kita saksikan antara pembuka film dengan kelanjutan Ayu bertanding bisa diinterpretasikan sebagai flashback Ayu. Hanya ada di dalam kepala Ayu.

Makanya kejadiannya lompat-lompat. Seperti banyak terskip. Karena saat kita mengenang masa lampau, kita hanya akan mengingat momen-momen penting. Dan memang itulah momen-momen yang diperlihatkan oleh film. Ayu mengirim surat marah kepada ibunya. Ayu curhat pada ibunya. Baikan mereka tidak diperlihatkan karena yang Ayu ingat – yang paling penting bagi Ayu adalah momen ketika ibunya tak ada di saat dia butuh dan momen ketika ibunya hadir kembali saat dia butuh. Makanya lagi, banyak detil-detil yang aneh kita jumpai di sepanjang cerita. Seperti misalnya Agnes Monica yang ditonton Ayu kecil di televisi tahun 1999 tampak seperti Agnes Monica yang sudah lebih dewasa daripada tahun segitu (TV jelas menyebutkan Pernikahan Dini padahal tahun segitu Pernikahan Dini belum lagi tayang). Ataupun ketika saat dewasa kakak-kakak Ayu tampak lebih muda ketimbang dirinya. Itu karena Ayu sudah lama tak melihat kakak-kakaknya, mungkin begitulah tampang mereka saat terakhir kali Ayu melihat mereka. Ayu hanya mengingat dia mengidolakan Agnes Monica

Bagaimana jika Ayu mengalami semacam ‘Life Review Experience’ hanya saja dia tidak dalam keadaan nyaris meninggal, melainkan dalam kondisi emosi yang ekstrim lantaran sedang berada dalam momen terpenting seumur hidupnya?

 

Tapi jikapun benar begitu, pilihan ini mustinya tidak bisa dijadikan alasan. Ketika kita membuat film, kita kudu membuatnya dramatis secara sinematik. Toh sudah ada film yang seluruh ceritanya ternyata berupa flashback dari si tokoh yang masih mampu memberikan hubungan sebab-akibat yang runut, tak seperti terskip-skip, meskipun dengan urutan yang acak, seperti Stay (2005) atau Jacob’s Ladder(1990). Karena hubungan-hubungan antarkarakter mesti dijelaskan. Sesuatu yang diangkat harus dapat terlihat penuntasannya. Di situlah letak ‘drama’ yang penonton nikmati. Perjalanan yang turut dipelajari. Di situlah konfliknya, melihat karakter bertumbuh dengan pembelajaran. Kekurangan film 6,9 Detik yang paling kerasa adalah apa yang dialami Ayu tidak terasa earned. Kita tidak benar-benar merasa berjuang bersamanya. Lantaran kita juga tak benar-benar melihat dia berjuang menghadapi masalahnya. Bahkan kenapa mesti panjat tebing saja tidak pernah dijelaskan oleh film. Kita mengerti Ayu tidak suka kalah/gagal, tapi kita tidak diberikan penjelasan yang memuaskan kenapa dia mesti berjuang di panjat tebing – tidak di lomba lari, ataupun renang, atau apa kek.

Cara bercerita bisa dikreasikan, tapi film ini tidak banyak melakukan kreasi. Mungkin bisa berdalih karena budget yang kecil. Tapi tetap saja, film tidak mampu menghasilkan euforia kemenangan ataupun ketegangan. Menonton film ini seperti menyaksikan laporan profil seorang atlet nasional ketimbang sebuah cerita perjuangan dramatis. Kita tahu ujung film ini bahkan sebelum filmnya dimulai. Oleh karena itu seharusnya film ini berbuat sesuatu yang ‘seru’, seharusnya pengalaman menonton kita yang dijadikan sasaran utama dalam bercerita. Buat struktur cerita yang menantang, yang out of the box. Mainkan konsep yang unik. Cerita berupa flashback ini mungkin bisa lebih menarik kalo dibuat lebih vague dan dream-like lagi. Atau mungkin buat flashback Ayu itu terjadi saat dia beneran memanjat. Pada detik-detik perjuangannya itu , dia mengenang hidupnya. Like, cut-to-cut momen-momen hidup dengan slow motion Ayu memanjat, atau apa kek. Atau malah, bikin saja Ayu mecahin rekor 6,9 detik; walaupun tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya tapi setidaknya ada momen yang lebih pecah dan beneran live-it-up kepada judul filmnya.

 

 

 

Tadinya aku enggan mengulas film ini. Karena film ini punya maksud yang baik, sehingga aku merasa enggak enak harus bicara jujur tentangnya. Tapi setelah memikirkannya selama dua hari, aku menemukan cara untuk menikmati film ini. Membuatnya tidak separah penilaianku awalnya. Tapi tetap belum cukup. Film ini saat Ayu masih kecil, toh, memang tampil menyenangkan. Kejadiannya tergambar detil, karakter-karakternya hidup. Hanya saja semakin ke belakang, penceritaannya semakin lepas – terasa lompat-lompat. Adegan demi adegan berganti tanpa memberikan waktu untuk kita meresapi emosi. Itupun kalo memang ada emosi dalam cerita dan penampilan aktingnya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 6,9 DETIK.

DANUR 3: SUNYARURI Review

“Just because you don’t see something doesn’t mean it isn’t there”

 

 

Risa, dalam narasi voice-over menit-menit awal film, mendeskripsikan hantu-hantu yang pernah ia temui salah satunya dengan “… ada yang jadi sahabat dan tak pernah pergi”. Kalimat tersebut tentu saja mengacu kepada Peter dan empat hantu lain yang sudah berteman dengan Risa sedari kecil. Namun nada Risa mengucapkan kalimat tersebut sangat muram. Tidak kedengaran seperti orang yang senang, atau malah tidak seperti orang yang bangga berteman dengan hantu-hantu. Hampir seperti nada orang yang bosan. Yang sudah muak.

Trilogi Danur jika kita menjauh sedikit sehingga melihat gambaran besarnya, sesungguhnya punya tema-tema yang berkembang. Danur pertama (2017) adalah soal Risa belajar untuk menerima kekurangan orang lain, dalam kaitannya dengan pembelajar menjalin pertemanan. Danur 2: Maddah (2018) adalah giliran Risa belajar untuk membuka dirinya dan tidak minder dengan kekurangan diri; Film kedua ini membahas adik Risa yang malu dengan kemampuan kakaknya. Pada Danur terakhir sekarang – mari kita mendekat untuk fokus lagi – yang diangkat adalah soal Risa yang berada di titik terendah dirinya, meskipun hidup Risa udah di titik paling nyaman. Kerjaan nulisnya lancar. Adiknya akrab dengan dia. Risa bahkan sekarang punya pacar seorang penyiar radio. Risa pun kini punya teman-teman manusia. Namun kesulitan yang sempat ia alami dalam bersosialiasi dalam pengalaman-pengalaman terdahulu terus membayangi Risa. Dia takut pacar dan teman-temannya minggat begitu mereka tahu Risa juga berteman dengan hantu. Jadi Risa mulai cuek sama Peter, William, Janshen, Hans, dan Hendrick. Sampai ke titik Risa benar-benar enggak mau melihat mereka semua lagi. To her horror, walau dia sudah tak bisa melihat mereka lagi, dia masih bisa menyium bau danur di rumah yang entah kenapa diguyur hujan sepanjang waktu.

Hantu bagi Risa adalah simbol dari masalah. Jadi dia meminta penglihatannya untuk ditutup supaya tidak bisa melihat mereka lagi, supaya dia tidak lagi terkena masalah. Tapi sesuatu yang tidak kita lihat, bukan berarti tidak ada. Kita tidak bisa terhindar dari masalah hanya karena kita menolak untuk melihat ada masalah di sana. Pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita Risa dalam Danur 3 ini adalah masalah tidak akan lenyap hanya karena kita menolak mengakui keberadaannya.

 

Setelah nunggu tiga film – tiga tahun, barulah kali ini kita benar-benar mendapatkan eksplorasi persahabatan antara Risa dengan hantu. Kita melihat lebih banyak adegan yang melibatkan para hantu Belanda cilik. Karena dalam dua film sebelumnya, kisah Risa dengan Peter cs selalu tergeser ke belakang oleh kisah hantu antagonis yang butuh jangkauan lumayan panjang untuk bisa kita paralelkan dengan kisah inner Risa. Dalam Danur 3: Sunyaruri ini, masalah difokuskan kepada hubungan Risa dengan temannya. Risa banyak melakukan pilihan terkait teman-temannya, baik yang manusia maupun yang hantu.

pemeran hantu anak-anaknya dari film pertama masih sama gak sih? kok mereka gak tampak tumbuh gede ya. Apa jangan-jangan….

 

Bagian-bagian awal film ini cukup bisa dinikmati. Tidak ada jumpscare yang berlebihan – meskipun aku menduga ini karena kali ini aku menonton di bioskop yang terkenal punya sistem audio yang lebih ‘mendem’ daripada bioskop sebelah – Tidak ada kamera yang diputer-puter hanya supaya terlihat nyeni. Set dan desain artistik film ini toh berhasil membangun dunia yang seram. Adegan prolog di dalam gedung teater merupakan salah satu adegan terseram dalam film, walaupun ternyata gak nyambung-nyambung amat sama keseluruhan isi cerita – hantunya pun ternyata beda dengan yang jadi ‘bos’ di cerita film ini – sehingga adegan tersebut sebenarnya bisa saja dibuang. Tampak jelas, bukan hanya sutradara Awi Suryadi, aktor Prilly Latuconsina pun tampak sudah menemukan ‘kadar yang tepat’ dalam kerja mereka untuk semesta horor ini. Sebagai Risa yang mulai menolak kemampuannya, Prilly mendapat tantangan baru. Di sini dia nyaris memainkan protagonis dan antagonis sekaligus, sebab terkadang dia melakukan pilihan yang tak akur dengan kita. Karena kita tahu lebih baik bagi tokoh ini untuk tetap bersama dengan Peter dan hantu cilik lainnya.

Sebagai karakter, Risa di sini diserang bertubi-tubi. Bukan hanya mental – dia tidak tahu lagi yang terjadi, melainkan juga fisik. Sebagian besar adegan dalam film ini mengharuskan Prilly memakai riasan lebam lantaran sebelah mata Risa membengkak  secara ganjil. Riasan yang digunakan tampak cukup meyakinkan; bukan sebatas bengkak memerah, tapi juga berair seperti bengkak beneran. Aku salut juga melihat Prilly mampu berakting konsisten dengan kondisi sebelah mata dibuat seperti demikian, I mean how can she see? Ada banyak adegan horor menarik yang mestinya bisa diciptakan dari keterbatasan Risa sekarang. Namun film malah melakukan hal yang bego seperti membuat Risa yang matanya bengkak sebelah berjalan masuk ke dalam rumah kosong dan melihat lewat layar hape. Kurang logis seseorang yang pandangannya terbatas melihat sesuatu dari alat yang semakin membatasi jangkauan pandangnya.

Actually, hal bego yang dilakukan oleh film ini dimulai jauh sebelum adegan Risa masuk rumah kosong tersebut. Aku yang sudah tersedot masuk ke dalam cerita oleh bahasan yang grounded dan personal bagi tokohnya, dengan set piece yang meyakinkan, tiba-tiba terlontar lagi keluar oleh adegan-adegan yang seperti dipikirkan sekenanya. Kita akan melihat berbagai hal konyol seperti Risa yang memanggil kelima hantu temannya selalu dengan urutan yang sama persis; Peter, William, Janshen, Hans, Hendrick (yea abjad right?) ataupun hantu-hantu yang hilang seperti dijentik Thanos. Semua rangkaian bego itu dimulai dari ketika tokoh Umay Shahab merekam dirinya sesaat sebelum dirinya pengen pipis. Manusia real macam apa yang mengaktifkan kamera, mengetahui persis dirinya pengen ke kamar mandi. Sejak adegan di akhir babak pertama ini, aku mulai khawatir sama perlakuan film ini terhadap tokoh-tokoh baru yang dimiliki. Tokoh-tokoh anak muda teman pacar Risa yang bekerja di radio ini dimainkan oleh aktor-aktor muda yang cukup ternama, tapi pelit sekali dimunculkan. Mereka tidak punya karakter. Satu-satunya yang sedari awal tampak ada ‘cerita’ adalah tokoh yang diperankan Stefhani Zamora; produser radio ini seperti ada suka dengan pacar Risa yang diperankan Rizky Nazar – thus seperti membangun ke cinta segitiga dengan Risa. Namun selain membuat Risa jadi jealous dan makin napsu mempertahankan pacarnya sehingga semakin galak pula ia kepada Peter cs yang ia kurung di loteng rumah, perihal tiga tokoh ini tidak pernah berkembang lebih lanjut.

Sebuah hal yang sia-sia; film punya set baru – lingkungan radio lengkap dengan anak-anak muda yang bekerja di sana, tapi tak pernah membahas apapun dengan latar tersebut. Keren memang, film menggambarkan suasana rumah Risa yang banyak mainan anak cowok berserakan yang bisa saja menunjukkan para hantu sengaja untuk menarik perhatian Risa. Tapi kita sudah melihat set rumah sejak dari film pertama. Danur 3 punya kesempatan mengambil setting baru, tapi dia tidak mengambilnya. Aneh untuk konteks cerita Risa ingin mempertahankan pertemanan dengan manusia, kita malah tidak mendapat kesan Risa benar-benar berteman dengan mereka. Hanya ada satu adegan mereka ngobrol bersama. Masa iya mereka semua cuma cameo? Well, jawaban dari ini semua ternyata lumayan menyakitkan. Film ternyata sengaja menyimpan banyak tentang mereka karena film memaksudkannya untuk twist. Twist yang berjenis murahan dan malas dan seenak udel dan maksa. Twist yang menunjukkan ketidakmampuan sutradara dan penulis menyajikan cerita dan petunjuk yang subtil. Jadi kita dibiarkan enggak tahu dan tanpa informasi sebelum di menit-menit akhir mengungkap lewat flashback. Film yang jauh lebih baik, pembuat yang jauh lebih kompeten – yang kepeduliannya untuk bercerita lebih besar ketimbang kepeduliannya akan duit – akan membuat cerita yang runut. Yang membahas persahabatan mereka sedari awal, melandaskan informasi-informasi penting secara tersirat sehingga ketika twist datang penonton tak merasa terkecoh. Tapi aku yakin film ini merasa sudah memberikan petunjuk ‘cerdas’ dari nama tokoh, jadi mungkin kitalah yang bego karena enggak sadar nama tersebut.

Cara yang dilakukan oleh film ini membuat kita tak tahu apa-apa dan menonton sebagian besar film dengan sesedikit mungkin cerita. Kita hanya tahu ada hantu yang menjauhkan Risa dari Peter, tanpa pernah kita tahu motivasinya apa. Benar-benar enggak jelas tindakan yang dilakukan oleh hantu – yang desainnya jika dibandingkan dengan hantu Danur 2 akan terlihat sangat basic dan seadanya. Jadi si hantu ini membuat Risa tak bisa melihat Peter tapi lalu kemudian teriak-teriak nyuruh Risa memanggil Peter cs kepadanya. Dan aku belum nyebutin soal si hantu yang gemar nyanyiin lagu Boneka Abdi, yang bahkan udah gak terdengar seram lagi setelah dinyanyikan berkali-kali seperti yang film ini lakukan.

Kenapa Rain, kenapa kau acak urutan memanggil nama mereka?

 

Bahkan dengan geng Peter pun, film tidak memperlihatkan Risa bermain dengan mereka. Kita hanya mengandalkan pengetahuan mereka akrab sedari film pertama. Yang membuat efek Peter menghilang nantinya tidak pernah benar-benar kuat, apalagi buat penonton yang benar-benar blank tentang Risa dan Danur – sehingga film ini tidak bisa berdiri sendiri.

Namun begitu, masih ada hal-hal menarik lain yang bisa kita tarik dari film ini. Misalnya seperti betapa besar pengaruh dunia barat. Kita melihat di perayaan ulang tahun, Risa dan teman-teman memakan pizza dan pasta. Kita juga mendengar lagu pengusir hujan yang dinyanyikan Risa sebenarnya adalah lagu inggris anak-anak yang berjudul ‘Rain, Rain, Go Away’. Jika kalian cukup iseng mungkin kalian bisa menarik hubungan antara budaya Jawa Barat dengan budaya barat yang ditunjukkan oleh film ini.  Kalo aku, lebih tertarik melihat gambaran proses kreatif Risa menulis cerita oleh film ini. Karena susah sekali untuk memastikan apakah Risa yang asli menulis dari apa yang ia alami atau hanya dari pikirannya saja. Dalam film ini kita melihat tokoh Risa menulis Canting tapi tak beneran ia alami. Ia menulis duduk di hutan, padahal dia hanya membayangkan dirinya berdasarkan lukisan di dinding. Tapi dia juga menulis tentang Peter dan teman-teman. Mungkin alih-alih menjawab semua itu, tujuan film justru sebenarnya untuk mengangkat kemisteriusan sosok Risa dan cerita-cerita hantu yang ia jual sebagai kebenaran tersebut.

 

 

 

Pujian tertinggi yang bisa kita sematkan kepada film yang sepertinya adalah akhir dari trilogi Danur ini adalah ia merupakan film yang paling mendingan dibandingkan dengan dua film sebelumnya. Scare-nya dilakukan dengan lebih baik. Film ini membahas masalah yang lebih dekat dengan tokoh utamanya, punya gagasan yang lebih menantang. Tapi tak banyak perbedaan dari bangunan cerita yang masih ala kadar. Yang seperti tak begitu peduli menyampaikan cerita yang solid dan tak merendahkan penonton horor melalui misteri yang tak dibangun.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for DANUR 3: SUNYARURI.

MIDSOMMAR Review

“Empathy is the most essential quality of civilization”

 

 

Ini baru film horor panjang kedua Ari Aster, tapi Midsommar udah sukses menjadi film-yang-paling-banyak-dirikues-reviewnya sepanjang blog ini berdiri. Jangankan sebelum tayang di bioskop Indonesia, sewaktu naskahnya bocor di internet saja aku sudah ‘dirongrong’ untuk membaca dan memberikan penilaian. Well, of course aku sebenarnya juga menggelinjang nungguin film yang sempat hampir batal tayang di bioskop sini ini. Hereditary adalah film terbaik terfavoritku tahun 2018. Dalam film tersebut Aster menunjukkan kekuatannya menghimpun horor dari drama manusiawi. Mengetahui itu semua, aku tahu bisa mengharapkan apa kepada Midsommar, dan aku menantinya dengan sabar. Aku ingin sekali karya Ari Aster ini jadi film terbaik lagi.

Setelah aku selesai menonton Midsommar, aku merasa sangat resah. Oleh adegan-adegan. Oleh karakter. Oleh penceritaan. Oleh ceritanya. Drama kejiwaan manusia mengakar dengan kuat. Film benar-benar meluangkan waktu untuk itu. Judulnya mengacu kepada festival musim panas yang dikunjungi oleh tokoh film, akan tetapi cerita belum akan membawa kita ke sana; tidak hingga sampai babak kedua. Untuk seluruh babak pertama kita benar-benar dipahamkan dulu kepada situasi Dani si tokoh utama. Hubungan asmara cewek ini lagi di ujung tanduk. Karena Dani orangnya panikan, secara emosional dia butuh didukung setiap saat. Dan sikap Dani terkait hal tersebut mulai terasa mengganggu bagi cowoknya yang merasa keseret-seret dalam drama wanita. Jika bukan karena hal yang ditakutkan Dani menjadi kenyataan, pastilah mereka berdua sudah putus. Namun duka Dani membuat mereka tetap melanjutkan hubungan. Di sinilah film menggambarkan toxicnya hubungan Dani dan Christian. Akan lebih baik mereka putus saja. Tapi Dani butuh sandaran emosional, dan Christian enggak sampai hati mutusin cewek yang sedang berkabung (emangnya siapa yang tega?). Arti ‘Enggak sampai hati’ di sini menjadi mendua karena memang begitulah sikap Christian kepada Dani seterusnya; tidak sepenuh hati dia jadi sandaran. Christian dan teman-temannya enggak setulus hati menenangkan mental Dani. Mereka enggak sepenuhnya senang tatkala Dani memutuskan untuk ikut ke festival musim panas di alam pedesaan Swedia

I used to did that too

 

Midsommar menggunakan visual untuk menggambarkan sekaligus mengontraskan gejolak di dalam karakter Dani. Tampilan film ini sangat benderang dan meriah ketika sudah sampai di desa komunitas tempat kejadian perkara nantinya. Akan sulit menerkanya sebagai film horor hanya dengan melihat warna dan segala keindahan yang terpampang. If anything, kejadiannya seperti berada di dalam dunia mimpi berkat cahaya dan warna yang natural tapi tak terasa begitu-natural. Namun semua itu akan cepat berubah menjadi mimpi buruk karena justru pada saat di festival itulah kejadian-kejadian berdarah yang bisa bikin mual film ini terjadi. Ada sesuatu yang aneh pada tempat yang penuh suka ria dengan banyak obat-obatan untuk rekreasi tersebut. Sampai ke titik yang membuat tradisi dan upacara mereka tidak bisa lagi dianggap seenteng perbedaan budaya semata. Jika kalian menonton film ini untuk melihat kepiawaian teknik dan efek gore – yang jadi nilai jual lebih film – maka kalian akan kesal menontonnya di bioskop Indonesia yang banyak penyensoran.

Untungnya, bukan sebatas kesadisan dan kevulgaran yang dilakukan dengan hebat oleh film ini. Melainkan inti dan hati ceritanya. Tentang toxic relationship dan pentingnya untuk merasakan empati dalam menjalin hubungan tadilah yang dijadikan kemudi utama penggerak cerita. Naskah film ini tidak berkembang demi menjawab pertanyaan seputar membasmi ritual atau mengungkap misteri pemujaan dan sekte di balik festival. Bagian itu justru elemen terlemah pada film karena tidak memuat hal yang benar-benar baru. Banyak kejadian berkaitan dengan ritual atau sekte yang mengingatkan kita pada film lain. Horor klasik asal Inggris The Wicker Man (1973) akan menjadi hal pertama yang terlintas ketika menyaksikan film ini. Midsommar secara fokus membahas soal membuka diri terhadap hubungan baru yang lebih sehat yang disimbolkan dengan sangat ekstrim. Pertanyaan yang dijadikan plot poin naskah adalah apakah Dani bakal mempertahankan hubungan dengan Christian, dan ultimately apakah Dani akan menganggap pacarnya tersebut sebagai keluarga. Lihat saja cara gendeng film ini menyimbolkan tindak membakar barang-barang dari mantan.

Sebagai manusia, kita paling enggak mau merasa sendirian. Apalagi jika dalam kesedihan. Kita butuh orang untuk diajak berbagi. Ini di satu sisi menyebakan menjalin hubungan itu cukup tricky. Kita enggak bisa begitu saja membagi semua hal kepada orang lain tanpa membuat mereka merasa dituntut dan diseret ke dalam hal negatif. Kuncinya adalah pada pemahaman dan empati.

 

Tokoh Dani ditulis dengan sangat melingker sehingga kita paham apa yang ia inginkan dan apa yang ia butuhkan. Keluarga. Pihak untuk mendengarkan dan berbagi perasaan dengannya. Sepanjang film dia harus menyadari dan melihat mana yang pantas untuk ia anggap sebagai keluarga. Naskah menuliskan ini semua dengan jelas lewat dialog dan bukti-bukti visual. Christian yang memeluknya dalam diam di bagian awal dikontraskan dengan penduduk komunitas yang mengikuti irama tangisan Dani di menjelang akhir film. Tadinya tidak ada teman yang ikut berduka dengan dirinya. Dani sendirian, terpisah secara emosi dari kelompoknya. Salah satu hal paling mengganggu yang diangkat oleh film ini adalah betapa orang-orang desa yang udah kayak orang gila itu justru lebih punya empati ketimbang geng Christian yang terpelajar. Para penduduk desa ikutan mengerang kesakitan ketika ada tetua mereka yang sakaratul maut ketika ‘gagal’ bunuh diri dalam sebuah upacara adat.  Para wanita di komunitas ikut menangis bersama Dina. Merekalah yang sebenarnya dicari oleh Dani. Bagi Dina, bukan masalah lagi perkara mereka-mereka itu sinting atau bukan. Yang jelas sekarang dia sudah bisa berbagi bukan hanya kesedihan dan duka, melainkan juga kebahagiaan dan suka cita. Ia tak lagi merasa terkucilkan.

Dunia Terbalik

 

Film mencapai puncaknya ketika mengeksplorasi hubungan antara Dani dan Christian. Penampilan Florence Pugh sebagai Dani menjadi salah satu kunci utama keberhasilan ini. Tadinya aku sudah cukup respek sama aktor ini, karena dia kelihatan sangat total bermain sebagai pegulat di Fighting with My Family (2019). Namun di Midsommar, dia bermain jauh lebih total lagi. Secara emosional, tentu saja. Ari Aster berhasil lagi menarik yang terbaik dari pemainnya, seperti yang ia lakukan sebelumnya pada Toni Collette di Hereditary. Kedua penampilan ini pantas untuk diganjar Oscar, meskipun memang sepertinya peran horor sulit untuk diloloskan.

Ketika kita melongok ke luar dari masalah Dani, begitu kita ingin merasakan dunia cerita secara utuh, film mulai terasa melemah. Karakter-karakter yang lain terasa sempit dimensinya. Jika pun ada ruang, seperti karakter salah satu teman Dani yang bernama Pelle, maka itu digunakan sebagai twist alias ada sesuatu yang ditutupi. Cerita fish-out-of-water sekelompok remaja hidup dalam lingkungan dengan peraturan yang menurut mereka ajaib tak pernah tampak benar-benar menantang karena ada beberapa kali kita harus menahan ketidakpercayaan lantaran mereka seperti tak pernah curiga melihat gelagat yang enggak-enggak. Seperti, film bisa saja berakhir jika semua pendatang di komunitas itu sepakat untuk pergi. Tapi tidak, film membuat mereka ‘terpisah’ dan tidak bergerak seperti manusia sungguhan. Melainkan sebuah bidak pada naskah.

Soal tragedi pada keluarga Dani di awal hadir dengan terlalu kompleks untuk tujuan melandaskan betapa sendirinya Dani bersama pikiran dan perasaannya. Film seolah mengisyaratkan peristiwa tragedi itu bakal balik dan berhubungan ke akhir cerita, tapi ternyata tidak. Mungkin ada petunjuk visual yang kulewatkan, entahlah, tapi aku merasa peristiwa tersebut seperti ditinggalkan begitu tujuannya sudah tercapai. Yang membuat penggambaran kejadiannya jadi terasa eksesif. Meski memang sekalian digunakan untuk melandaskan genre – sejauh mana film menampilkan adegan kematian – tapi aku tetap merasa mestinya ada cara yang lebih bisa klop merangkai kejadian sehingga tidak terkesan terlalu eksploitatif (terhadap genrenya sendiri).

 

 

 

Jadi itulah sebabnya aku merasa resah setelah menonton ini. Dari teknis kamera, editing, penampilan, visual, efek – ini benar-benar film juara. Gagasannya pun bikin merinding. Tidak peduli seperti apa keluargamu, yang penting kita bisa merasa menjadi bagian – dilihat, didengar, dimengerti – mereka. Namun juga aku merasa film ini tidak se-wah Hereditary. Ada elemen pada cerita dan penceritaannya yang terlalu dibuat untuk memenuhi standar pada genrenya. Sehingga jadi gimmicky. Selain itu, beberapa bagian mestinya bisa dipercepat temponya, karena ada yang tidak terlalu signifikan untuk menambah bobot cerita seperti adegan mereka getting high together. Catatan penting untuk yang mau nonton adalah ini film yang berpotensi besar untuk mengganggu dan bikin gak nyaman, meskipun memang lebih berhumor ketimbang Hereditary.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MIDSOMMAR.

PRETTY BOYS Review

“The real heroes here are the ones that experience movies in reality.”

 

 

Melihat pria berpakaian dengan sangat flamboyan di televisi penonton akan terhibur. Orang akan tertawa-tawa menyaksikan tingkah polah selebriti yang bergaya lebih lebay daripada wanita tulen. Namun ketika melihat si selebiriti yang sama di belakang panggung, semua itu menjadi tidak lucu lagi. Bagaimana jika dia ‘bencong’ beneran? Dan ketakutan itu akan berkali lipat jika si selebriti adalah orang yang dikenal. Sanak keluarga sendiri, misalnya.

Itulah masalah pada televisi dan bisnis hiburan. Orang-orang yang menontonnya cenderung percaya yang mereka lihat di layar kaca itu adalah kebenaran. Penonton televisi seringkali lupa seleb juga manusia yang sesungguhnya hanya bekerja mencari sesuap nasi. Tak sedikit dari para seleb mengorbankan sesuatu demi pekerjaan yang tampak glamor tersebut. Film Pretty Boys datang dari orang-orang yang peduli dan tampak memahami betul seluk beluk – suka duka pekerjaan penghibur di dunia televisi. Dalam film yang sangat menyenangkan untuk ditonton ini kita akan melihat gambaran belakang panggung sebuah acara talkshow, kondisi mental para pelakunya, serta sejauh apa efek pekerjaan mereka terhadap kehidupan sosial dan pribadi di dunia nyata.

Anugerah dan Rahmat, sobatan sejak masih anak masjid, pergi dari kampung mereka ke Jakarta untuk mengejar mimpi menjadi host acara televisi. Setelah cukup lama bekerja di kafe (masak sambil ngelawak), nyobain kerja serabutan demi tambahan uang makan, kesempatan bagi mereka datang saat menjadi penonton bayaran untuk sebuah acara talkshow hits di televisi. Produser acara tersebut tertarik sama gaya Anugerah dan Rahmat sehingga mereka dikontrak untuk menjadi co-host. Namun acara televisi jaman sekarang beda ama acara jaman dulu. Alih-alih berdandan ‘laki’ seperti Sony Tulung dan Dede Yusuf yang foto acara kuisnya terpajang di dinding kontrakan, Anugerah dan Rahmat harus mengenakan wig dan pakaian wanita. Anugerah sempat ngeri juga. Toh lantaran bakat menghiburnya sudah kuat melekat, Anugerah dan juga Rahmat menyelam sempurna ke dalam persona televisi mereka. Penonton suka sama Nugie dan Matthew; nama panggung masing-masing. Acara Kembang Gula itupun semakin sukses.

Perasaan jumlah rotinya bertambah banyak di setiap shot

 

Seperti yang dilakukan Olivia Wilde – aktor yang banting stir menjadi sutradara – ketika menggarap Booksmart (2019), Tompi yang lebih dulu dikenal sebagai penyanyi juga memberikan sentuhan kenyataan kepada film debut penyutradaraannya ini. Insight yang didapat dari gabungan pandangan pemain dan penulis cerita film (Imam Darto; juga dalam debutnya di penulisan skenario) ia anyam ke dalam bahasa audio visual, lengkap dengan lelucon-lelucon meta (tokoh film akan bercanda soal karir dan kehidupan nyata orang-orang yang terlibat pembuatan film ini), menjadikan film ini sebagai komedi yang efektif. Yang juga bekerja sebagai satir lantaran film menunjukkan betapa ‘bego’nya penonton dan ‘sadis’nya bisnis televisi yang mengutamakan rating view. Ada sesuatu yang sepertinya ingin dikatakan oleh film ketika mereka memperlihatkan perbedaan host jaman dulu dengan host tv jaman sekarang; bahwa Anugerah dan Rahmat musti jadi ‘bencong’ dulu baru bisa terkenal. Menurutku film bisa mencapai lebih dalam jika membahas soal ‘mengapa’, tapi film memutuskan untuk menggambarkan saja.

Chemistry tak-terlawan duo Vincent Rompies dan Deddy Mahendra Desta benar-benar dijadikan tumpuan. Tek-tokan dan comedic timing mereka yang sudah amat precise dan mulut mampu membuat adegan-adegan lucu dalam film ini hampir semuanya seperti on-the-go. Mereka, dan juga para pemain lain, tampak natural menampilkan permainan akting. Karena tokoh-tokoh yang mereka mainkan memang merupakan semacam ‘perpanjangan’ dari gimmick televisi/show yang biasa mereka perankan. Guyonan khas Vincent dan Desta – misalnya Desta bertingkah sangat absurd seperti ujug-ujug menyalakan korek ketika berkacamata hitam karena menyangka sedang mati lampu – tidak pernah hadir sebagai lelucon yang maksa hanya untuk memancing tawa. Karena tingkah-tingkah antik seperti itu merupakan bagian dari karakter tokoh mereka yang benar-benar hobi menghibur orang sehingga mereka put on their comedic show dalam setiap waktu. Menjadikan meta seperti demikian memang bisa membuat film salah arah; kita sebagai penonton bisa dengan gampang menyangka ini adalah biografi terselubung Vincent dan Desta. Maka itulah film menggunakan satu momen yang fun untuk membuat kita tetap dalam trek yang benar; yakni ketika ketika Nugie dan Matthew bertemu dengan their real life counterparts. Taktik jitu ini turut membuat dunia cerita Pretty Boys menjadi semakin imersif.

Sebenarnya pada elemen drama-lah Tompi menunjukkan sinarnya sebagai seorang sutradara yang patut dinantikan lagi karya-karya berikutnya. Seperti pada momen Nugie ragu akan keputusannya tampil di acara yang mengharuskannya berlagak seperti wanita. Ataupun pada momen-momen flashback ke masa kecil yang berfungsi lebih jauh dari sekadar ekposisi karena digunakan untuk menghantarkan perasaan emosional dari akar persahabatan kedua tokoh sentral. Pretty Boys memang bukan film yang hanya dibuat untuk terpingkal-pingkal saja. Hati dari film ini sesungguhnya berdetak dengan penuh kemanusiaan. Sebab ia membahas tentang hubungan anak dengan ayahnya, dengan anak dengan sahabatnya, dengan anak manusia dengan pilihan hidupnya. Dengan kesempatan yang harus ia ambil atau ia tinggalkan.

“When a man does a queer thing, or two queer things, there may be a meaning to it”

 

Berita kesuksesan Anugerah sampai ke telinga Bapak di kampung. Mendengar anaknya bersalaman sama presiden, Bapak yang tentara dan berjuang demi negara menghidupkan televisi. Tebak apa yang beliau saksikan di televisi. Putra semata wayangnya, yang dulu kabur dari rumah, yang tak pernah ia setujui pilihan pekerjaannya, tampil melambai seperti putri kecantikan di depan penonton seluruh negeri. Tebak seperti apa reaksi Bapak. Well, aku pastikan tebakan kalian tidak akan mendekati emosinalnya film ini memperlihatkan adegan reaksi tersebut. Vincent diberikan tantangan untuk ‘adu unjuk emosi’ dengan aktor senior Roy Marten. Desta juga mendapat kesempatan untuk meluaskan range – keluar dari zona nyaman – permainan aktingnya. Dan mereka berhasil untuk tidak membuat kita merasa ingin tertawa pada momen-momen yang serius.

Salah satu gagasan menarik yang dilontarkan oleh film adalah soal pekerjaan tentara – pahlawan pembela negara – yang diparalelkan dengan pekerjaan sebagai penghibur yang menampilkan kebohongan untuk masyarakat.  Film menantang kita dengan pertanyaan “pantaskah selebriti dianggap sebagai pahlawan?” Baru-baru Quentin Tarantino juga membahas hal serupa dalam film Once Upon a Time in Hollywood (2019), seorang aktor yang diidolakan – dianggap pahlawan – meskipun dia tidak pernah melakukan apa-apa di dunia nyata. Gagasan Tarantino tersebut seperti didebat oleh Pretty Boys. Percakapan heart wrenching antara Anugerah dengan ayahnya menyebutkan meskipun tampak hina, tapi yang ia lakukan juga adalah pengorbanan. Ada yang dipertaruhkan.

Definisi pahlawan adalah seorang yang mempertaruhkan hidupnya demi negara. Seorang yang membahayakan dirinya sendiri demi keselamatan orang lain. Selebriti – bintang televisi – adalah seorang yang menghibur orang banyak, tidak pernah tugas mereka untuk menjadi panutan. Yang mereka lakukan di televisi, di media, sebagai bagian dari pekerjaan hiburan tidak seharusnya dijadikan suri teladan. Tapi bukan berarti tidak ada manusia di balik persona televisi mereka. Bukan berarti tidak ada perjuangan yang mereka lakukan untuk sampai di titik tersebut. Perjuangan mereka itulah yang bisa diidolakan, yang membuat mereka pantas untuk dijadikan pahlawan.

 

 

Pretty Boys bekerja dengan sempurna ketika membahas seputar Anugerah dengan ayahnya dan Anugerah dengan Rahmat. Karena dua orang inilah yang membentuk seperti apa Anugerah sekarang. Pertengkaran Anugerah dan Rahmat on live TV (yang ngerti naskah; yeah of course friends would fight in movies) adalah adegan terfavoritku di film ini. Naskah yang sudah tight sayangnya menjadi sedikit longgar ketika film memasukkan bagian cinta segitiga yang gak benar-benar menambah banyak untuk gagasan dan daging utama cerita. Tentu, soal cewek itu bisa dengan gampang menjadi katalis ke masalah Anugerah dengan Rahmat. Namun di situlah letak masalahnya. Terlalu gampang. Mereka seharusnya membuat permasalahan yang lebih dalem. Soal romance dibahas oleh film dengan sangat ringan sehingga jikapun tokoh Asti yang jadi love interest enggak ada, gagasan cerita masih bisa tercapai. Tokoh Asti hanya seperti dijejelin masuk untuk membuat riak di persahabatan Anugerah dan Rahmat. Tapi sesungguhnya dua boys ini enggak musti dibantu oleh cewek untuk menyelesaikan masalah mereka. Pak Ustadz dan Tora Sudiro dan Si Bapak sudah cukup memberikan pelajaran.

Dan bukan hanya Asti. Film cenderung mengambil langkah yang paling mudah untuk menyelesaikan masalah. Mereka membuat pihak TV benar-benar seperti pihak yang jahat, sebagai jalan keluar dari masalah Anugerah dan Rahmat. Memang, ini sejalan dengan konteks kedua tokoh hidup di dunia tak-mendukung; mereka hanya punya mereka berdua. Tapi juga berkonflik dengan pesan yang sempat disebutkan soal TV dan media online (youtube) saling mengisi – bahwa TV tidak akan tergantikan. Film seharusnya juga lebih mengeksplorasi soal TV ‘melawan’ Youtube, membuild up ke arah sini, karena – aku pengen membuat satu point jadi ya, WARNING ada SPOILER – di akhir out of nowhere Youtube dijadikan solusi. Buatku film juga memilih ending yang terlalu gampang. I mean, daripada bikin satu adegan doang Bapak nonton Youtube dan semuanya beres dari sana, mendingan gunakan soal keviralan dari yang mereka lakukan, circled back ke awal cerita, buat mereka mendapat pilihan ke TV kembali dan kemudian lebih memilih mandiri dengan Youtube. Resolusi dan ending yang dipilih oleh film simply terasa kurang nendang dan enggak setight bangunan cerita sebelum-sebelumnya.

 

 

 

Tompi berhasil membubuhkan jejak yang berarti dalam debut sutradara film panjangnya ini. Ia menyuguhkan tontonan komedi dan drama yang bekerja dengan sama efektifnya. Departemen akting yang dipunya sangat solid. Materi yang ditulis dengan seksama dan penuh perhatian dimainkan dengan penuh suka cita. Semua yang terlibat tampak sangat menghormati cerita, sekaligus bersenang-senang dengannya. Narasinya bergulir dengan mantap dan berbobot hingga menjelang penghabisan yang terasa lebih renggang sehingga berakhir kurang nendang. But still, ini adalah salah satu film paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Kalian yang suka terhadap bisnis hiburan, bakal lebih mengapresiasi film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PRETTY BOYS.

 

 

 

 

 

 

HAUNT Review

Being scared means you’re about to do something really, really brave.

 

 

Menjalin hubungan itu mengerikan. Kalian tau perasaan ketika kita merasa berbuat sesuatu yang bodoh di depan pasangan dan menyangka semua bakal kacau padahal kita mau sesuatu yang spesial dan tak ingin sendirian lagi? Perut seperti berjumpalitan jatuh, atau keringat dingin menerpa? Nah, perasaan seperti itu juga sama dirasakan saat mau masuk ke rumah hantu. Jika relationship normal saja bisa seseram itu, maka bayangkan rasa takut yang menjalar di dalam diri seorang Harper (cuma Katie Stevens yang beruntung dapat tokoh yang paling ‘berdaging’ di film ini). Yang terjebak dalam hubungan bersama pacar yang abusive. Enggak ada yang fun soal abuse. Harper sudah tidak asing dengan melarikan diri dari itu, lantaran si abuse ini memang cenderung mengejar, menghantui korban-korbannya. Malam Halloween sekarang, Harper memutuskan untuk ikut ‘ngacir’ bersama teman-temannya. Mereka mengunjungi sebuah wahana rumah hantu untuk bersenang-senang. Just like in relationship; kalian melangkah masuk ketakutan tapi begitu sudah di dalam, kalian akan bersenang-senang. Sayangnya, rumah hantu yang Harper dan teman-teman masuki persis kayak abusive relationship si Harper. Membuat mereka terjebak. Para kru rumah hantu tersebut menggunakan kekerasan yang teramat nyata.

Haunt yang digarap oleh Scott Beck dan Bryan Woods (baca: penulis A Quiet Place yang tayang tahun 2018) dimulai seperti horor remaja kebanyakan; dengan keputusan buruk yang dibuat oleh anak muda. Tapi cerita film ini punya fondasi yang kuat, yang membuatnya megah dibandingkan film bunuh-bunuhan serupa. Film ini tidak sekadar mengagetkan kita dengan petualangan di rumah hantu. Ada perkembangan tokoh di sini. Ada perjuangan seorang manusia dalam mengatasi ketakutan personalnya. Rumah hantu dijadikan simbol  dari sumber ketakutan yang harus diatasi oleh tokoh utama. Mirip seperti Crawl (2019) yang menjadikan buaya sebagai cambuk motivasi tokohnya. Haunt dan Crawl bisa dibilang adalah contoh horor efektif, yang sederhana, yang simpel dan tak berniat sok pintar dengan segala twist yang gak perlu.

satu-satunya yang ngetwist di sini adalah perut kita

 

Backstory Harper disulam dengan sangat rapih ke dalam petualangan survival di rumah hantu, sehingga tidak sedikitpun pace film ini tersendat. Masalah masalalu sang tokoh utama tidak lantas menjadikan film ini seperti berhenti, ataupun masalah tersebut tidak terasa seperti tambalan semata. Semua yang terjadi pada Harper paralel dengan masalah yang sedang ingin ia hindari. Yang untuk bercerita tentang itu saja, Harper tidak berani. Dengan fondasi backstory yang kuat ini, kita jadi peduli sama Harper. Kita berjinjit mendukungnya untuk bisa keluar hidup-hidup dari rumah hantu sinting tersebut. Film juga punya nyali untuk menuntaskan masalah yang jadi latar belakang Harper. Kita mendapat ending yang memuaskan. Tentu saja tak ketinggalan ‘kalimat pamungkas’ yang diucapkan oleh si tokoh sebagai penghabisan seperti pada horor-horor klasik. Sesuatu yang bisa kita cheer dengan penuh nada kemenangan.

Semua orang punya cerita seram. Karena setiap orang pernah mengalami suatu hal buruk yang ingin diitinggalkan. Tapi trauma akan selalu menemukan cara untuk menakutimu. Kita tidak bisa memakaikan topeng kepada trauma. Kita tidak bisa membuat sesuatu yang menakutkan menjadi menyenangkan, yang menyakitkan menjadi menyejukkan. Dalam Haunt, Harper belajar bahwa takut berarti kesempatan untuk menunjukkan keberanian. Dan memang itulah pelajaran berharga dari rumah hantu; mengajarkan untuk menjadi berani. 

 

Selain Harper, tidak ada lagi tokoh yang ditulis padet dan berisi. Tapi film sangat bijak untuk tidak membuat mereka annoying, ataupun membuat kita pengen mereka cepat-cepat mati. Teman-teman Harper misalnya, memang sih mereka ditulis sebagai trope horor saja – mereka seperti tidak punya motivasi sendiri. Kita tidak benar-benar merasa kasihan jika salah satu dari mereka mati. Jikapun kita ingin ada yang selamat, itu supaya mereka bisa terus membantu Harper. Tapi  mereka tidak bego. Mereka kerap membuat keputusan yang menunjukkan perlawanan terhadap rumah hantu. Mereka berpikir, cukup resourceful. Bahkan di paruh pertama, narasi maju bukan karena Harper seorang, melainkan karena keputusan yang mereka buat bersama. Aku suka cara film mengantarkan kita ke titik no return; yakni dengan memperlihatkan para tokoh beneran pengen balik melewati jalan yang sudah mereka lalui. Efek emosional ketika mengetahui mereka tidak bisa balik lagi benar-benar terasa kuat, intensitas langsung naik, seakan kita ikut berpartisipasi dalam ketakutan mereka. Hanya ada satu masalah yang cukup besar buatku mengenai majunya narasi terkait pilihan tokoh-tokoh ini. Ada satu keputusan bego (banget) yang dibuat oleh tokohnya – aku gak mau spoiler banget tapi ini cluenya: terkait urutan keluar dari lorong kecil. Aneh juga, dengan arahan yang tight seperti begini, masih ada juga adegan yang konyol. Mereka harusnya lebih berhati-hati menulis adegan tersebut.

Hanya satu itu yang menggangguku. Suwer. Selebihnya, film ini terasa sangat menghibur. Tegangnya dapet, karena film sangat cakap menguasi editing dan pemakaian suara. Perasaan terkurung di dalam lorong rumah hantu itu dapat kita rasakan berkat suara-suara yang tidak berlebihan dan timing yang pas. Film tahu kapan harus menggunakan suara latar yang sangat kecil seperti decitan kayu atau desau angin pada terpal dan kapan waktunya digunakan suara yang cukup keras. Kamera pun bijaksana merekam dan menge-cut adegan demi adegan dengan presisi sehingga kita tak pernah ketinggalan sekaligus tak tahu terlalu banyak. Dan ini menambah kesan misterius yang meningkatkan suspens cerita.

Cara yang sama juga film lakukan terhadap para kru rumah hantu. Kita cukup tahu mereka semua orang gila yang haus darah, yang membuat wahana supaya bisa menyiksa anak-anak muda yang hanya pengen merayakan halloween. Kita cukup tahu mereka semua memang lebih baik pakai topeng saja; film tampaknya bermain-main dengan candaan lama “lebih serem aslinya daripada topengnya”. Kita cukup tahu mereka semua semacam kelompok sesat. Dan bijaksananya film adalah kita hanya dicukupkan untuk tahu semua itu saja. Cerita tidak dibuat ribet dengan membahas kenapa lebih lanjut. Karena fokus narasi toh bukan pada mereka-mereka ini. Lagipula mengetahui dari mana mereka dapat duit membangun rumah hantu, misalnya, akan mengurangi kemisteriusan sehingga mungkin kita tak akan menjadi takut lagi kepada mereka.

seolah kita masih butuh diingatkan betapa seramnya seorang badut

 

Rumah hantu adalah wahana favoritku. Ada masa ketika aku rela pulang pergi Bandung-Jakarta hanya untuk nyobain rumah hantu. Sekarang sudah jarang, karena mulai tergantikan dengan ‘escape room’ semacam Pandora. Tema rumah hantu dan escape room menarik dan kreatif, hanya saja sering terlalu gelap sehingga membuatnya setnya enggak kelihatan. Nonton Haunt ini aku seakan mendapat moment “I told you so!” lantaran rumah hantu dalam film ini terang benderang. Dan tidak mengurangi keseramannya. Jadi, ya aku mau nyelipin kritik buat wahana rumah hantu dan semacamnya di Indonesia; cobalah sekali-kali jangan terlalu gelap. Tontonlah Haunt. Set film ini begitu menakjubkan, sehingga aku merasa pengen ikut masuk menjelajah rumah hantunya. Jenis-jenis trik yang diperlihatkan sangat beragam. Teka-teki sederhana yang dihadirkan dalam satu ruangan bisa membuat malu seantero film Escape Room yang tayang awal tahun 2019 ini. In fact, semua aspek film Haunt akan membuat malu film Escape Room. Haunt membuat semuanya tampak manusiawi, tampak plausible, tampak beralasan, sementara Escape Room terlihat sok kece dengan tokoh-tokoh standar yang nyebelin. Aku bahkan ilang selera untuk ngereview setelah nonton. Tidak seperti Haunt yang bikin semangat untuk menuliskannya.

 

 

Untuk sebuah horor tentang rumah hantu dengan tokoh-tokoh anak muda, film ini amat sangat menghibur, dengan fondasi cerita yang kuat. Jarang ada pembuat film yang seserius dan seniat ini, yang tidak menganggap remeh target penontonnya. Film ini tidak dibuat receh dan konyol. Melainkan punya isi. Membuatnya semakin bisa dinikmati. Menakutkan, menghibur. Setelah semua darah, kekerasan, senang sekali melihat sesuatu yang masih punya hati.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HAUNT.