SI MANIS JEMBATAN ANCOL Review

Objectification is above all exteriorization the alienation of spirit from itself”
 

 
Si Manis adalah sebutan untuk penunggu jembatan Ancol yang dipercaya masyarakat sebagai hantu dari wanita muda yang meninggal secara tragis – diperkosa oleh beberapa pria. Nama asli wanita itu simpang siur, sebagian menuliskan Maryam, Mariam, beberapa sumber mengatakan nama aslinya Siti Ariah. Yang pasti adalah kecantikan hantu ini begitu populer sehingga berbagai kisah penampakan beredar seolah orang-orang pada berlomba menceritakan kisah perjumpaan dengannya. Dan satu yang bisa kita simpulkan dari legenda Betawi tersebut adalah sungguh menyedihkan nasib Maryam, atau Ariah; sudah jadi hantupun dia masih tetap jadi korban objektifikasi seksual orang-orang.

Objektifikasi adalah peristiwa mengerikan ketika seseorang bukan lagi dilihat sebagai manusia, melainkan sebagai barang. Bahkan menurut filsuf Nikolai Berdyaev, bukan hanya memanggil orang seperti catcalling saja, melainkan memanggil orang atau kumpulan orang-orang dengan sebutan yang mungkin memang mengacu kepada mereka seperti Min, Mimin, Anak Twitter, Anak Instagram – atau Netizen, Negara +62, Gen Z, Milenial – mengecilkan sebuah kemanusiaan menjadi objek yang bisa dikelompokkan, digunakan, dimanfaatkan, dan dibuang.

 
Bukan sekali ini saja cerita hantu ini diangkat ke televisi maupun layar lebar. Penuturannya sebagian besar sama. Si Manis membalaskan dendam kepada pria-pria yang sudah mengakhiri hidupnya. Sebuah kisah balas dendam dari wanita yang hanya dipandang sebagai objek oleh pria. Sutradara Anggy Umbara dan co-sutradara Bounty Umbara juga memasukkan narasi objektifikasi perempuan dalam remake legenda ini. Namun mereka menyuntikkan satu elemen mengejutkan yang membuat film ini menjadi pengalaman berbeda dari satu kisah lama
Versi baru dari Si Manis Jembatan Ancol garapan Umbara Bersaudara ini bercerita tentang suami istri Maryam dan Roy yang kehidupan pernikahannya tidak bahagia. Satu adegan Maryam dibentak hanya karena berusaha menyelamatkan pergelangan tangan kemeja sang suami dari kuah sop dengan sukses menyampaikan kepada kita bahwa hanya Maryam seorang diri yang berusaha mempertahankan cinta di dalam rumah tangga mereka. Bagi Roy, Maryam tak lebih dari kerikil, yang ada atau tidak tak-ada bedanya. Roy hanya menganggap Maryam sebagai aset, barang kepunyaaan. Roy tidak perlu banyak pertimbangan untuk menjadikan Maryam sebagai jaminan hutang kepada rentenir preman yang menjadi sumber malapetaka nantinya. Film ini actually meletakkan Roy sebagai salah satu perspektif utama. Ya, kita akan melihat Maryam yang tak-bahagia bertemu pelukis muda bernama Yudha yang baru pindah ke lingkungan tempat tinggal mereka, kita melihat ada koneksi antara Maryam dan Yudha. Namun cerita bergerak sebagian besar dari perspektif dan akibat dari pilihan yang dibuat oleh Roy.

Kecemburuan Roy terhadap Yudha tak lebih dari karena dia menganggap Maryam adalah kepunyaannya

 
Tiga tokoh sentral film ini menempati posisi yang cocok didasarkan pada teori dalam buku Dramatica: Theory of Story. Maryam yang diperankan oleh Indah Permatasari (pada reinkarnasi cerita sebelum ini, Si Manis diperankan oleh Diah Permatasari) sebagai main character alias tokoh utama karena film ini adalah tentang dirinya. Yudha si pelukis muda yang diperankan Randy Pangalila (dalam balutan wig yang membuat rambutnya tampak tebal dengan abnormal) adalah hero atau pahlawan, yang langsung mewakili penonton – yang kita inginkan berhasil dan membawa kebaikan pada kemenangan. Posisi terakhir dalam Dramatica adalah protagonis; tokoh yang menggerakkan plot – dan posisi tersebut ditempati oleh Roy yang diperankan dengan satu dimensi oleh Arifin Putra.
Dalam genre aksi Balas-dendam tradisional (istilah tepatnya untuk film jenis ini adalah Rape and Revenge films) seperti The Last House of on the Left (1972), I Spit on Your Grave (1978), atau baru-baru ini Revenge (2017), formula yang digunakan adalah tokoh perempuan merupakan gabungan dari tokoh utama, protagonis, dan hero. Dengan struktur cerita berupa pada babak pertama sang tokoh dieksploitasi sebagai objek sebelum akhirnya diperkosa dan ditinggalkan begitu saja, pada babak kedua si tokoh bangkit, berjuang bertahan, yang kemudian akan mengubah dirinya secara total. Saat poin-pertengahan, tokoh-tokoh film tersebut berbalik menjadi subjek yang akan membawa kita ke babak penghabisan saat dia benar-benar menghabisi para pelaku yang sudah memperkosa dirinya. Si Manis Jembatan Ancol justru tidak pernah meletakkan Maryam sebagai subjek. Cerita Si Manis Jembatan Ancol terstruktur berdasarkan sudut Roy. Midpoint cerita adalah ketika Roy tak bisa mundur lagi dari perjanjiannya dengan Bang Ozi (Ozy Syahputra dengan gemilang memainkan peran di luar cap-dagang tokoh legendarisnya di sinetron Si Manis Jembatan Ancol tahun 90-an).
Menghadirkan protagonis berupa antagonis sebenarnya langkah yang cukup menarik. Hanya saja film tidak benar-benar menuliskan arc atau plot untuk tokoh Roy. Pada beberapa poin, dia diperlihatkan tampak menyesal, tapi semua perasaan tersebut cuma angin lalu, karena Roy tidak berubah secara karakter hingga cerita berakhir. Film melewatkan kesempatan berharga mengeksplorasi persoalan objektifikasi wanita melalui sudut pandang pria yang melakukannya. Film cuma sebatas memperlihatkan bentuk ‘hukuman’ bagi pria-pria yang mengobjektifikasi wanita tanpa memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Si hero Yudha bahkan tetap dihukum meskipun dia berusaha memperlakukan Maryam lebih daripada sekadar objek lukisan.

Si Manis dalam film ini adalah sebutan yang juga merujuk kepada identifikasi seksual Maryam. Yang menunjukkan cara warga memandang menghargai dan memperlakukan dirinya, Maryam cuma si wajah manis, dan ketika dia mati identifikasi inilah yang nyantol -yang disebut karena warga takut menyebut nama aslinya. Di dunia nyata, objektifikasi semacam ini akan membuat wanita mengobjektifikasi dirinya sendiri dan melukai dirinya secara emosional. Di film ini hasilnya lebih horor lagi; Maryam  menjadi sebuah presence, desas-desus.

 
Jika film bermaksud memperlihatkan kekuatan perempuan, maka ia melakukannya dengan cara yang aneh. Ketika Maryam sudah menjadi hantu, film tidak memberikan tokoh ini treatment seperti Suzzanna yang ‘belajar’ menjadi hantu dalam Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018). Kita tidak melihat dia lagi kecuali ketika dia muncul dan membunuhi satu persatu anak buah Bang Ozi. Membunuh itu ia lakukan dengan sangat ragawi – para preman itu dicakar, ditusuk, dipenggal. Horor film ini menguar dari lingkungan tempat tinggal tokoh yang mulai ramai oleh desas desus kemunculan hantu. Maryam ketika jadi hantu tetap sebagai objek, keberadaannya adalah rumor di kalangan warga, ia sekarang dikenal sebagai Si Manis karena warga terlalu takut menyebut namanya. Dan elemen horor ini seringkali hadir lebih seperti komedi; kita akan seringkali tertawa melihat reaksi, warga maupun preman, yang ketakutan melihat hantu Maryam. Horor yang benar-benar mengerikan tersaji sebagai lapisan psikologis – kita akan melihat banyak shot-shot keren seperti Maryam melayang di atas jembatan dengan kain-kain merah terbentang ke sana kemari – namun posisinya sungguh rendah karena hanya dipakai sebagai adegan mimpi. Dan bahkan dalam memperlihatkan adegan mimpi pun, film masih ‘bercanda’ sehingga justru membuat adegan mimpi tersebut jadi menjengkelkan. Ada dua tokoh yang punya adegan ditakut-takuti lewat mimpi yang berlapis-lapis. Kaget, terbangun, kaget, terbangun rupanya masih mimpi, kaget lagi!, masih mimpi lagi. Lame.
Ada satu-dua yang cukup menakutkan. Film ini tergolong sadis buat pecinta kucing. Namun sebagian besar horor film ini bentrok dengan tone komedi. Film seperti gak pede dengan horornya karena setiap kali adegan mengerikan selalu disertai guyonan. Beberapa yang tidak, memang terasa sekali horornya hambar. Seperti desas desus tentang rumah yang ditempati Yudha adalah rumah angker – jendela nutup sendiri – tapi tidak pernah subplot ini berujung pada apa-apa. Hanya obrolan warung. Padahal film udah ngebuild up memfokuskan kamera pada nomor rumah 9 yang terbalik sendiri jadi 6, seolah itu adalah hal paling mengerikan di seluruh Jakarta 1970an.

menurutku mereka melewatkan kesempatan membuat kucing kepala buntung sebagai sidekick Maryam yang baru, sebagai ganti Ozy yang jadi preman

 
Maryam di sini tampak seperti objek untuk sebuah twist yang disiapkan tanpa benar-benar memperhatikan detil logika. Perbuatan yang dilakukan Maryam sebagai simbol perlawanan atau kekuatan wanita butuh pemakluman yang cukup besar dari kita karena yang ia lakukan tampak mustahil dan ajaib untuk bisa berhasil dikerjakan – karena ada begitu banyak hal yang bisa salah yang bisa membuat kedok Maryam ketahuan. Aku sebenarnya enggak mau meng-spoiler banyak-banyak, tapi film ini seperti sok keren dengan twist itu – like, mereka bertaruh banyak di sini seolah dengan penjelasan pada twist film menjadi lebih baik. It’s actually not. Karena banyak hal gak masuk akal seperti dari mana Maryam bisa bergerak – misalnya masuk ke rumah preman – tanpa terlihat malah sempat-sempatnya masang jebakan ala Home Alone. Bagaimana dia bisa menghilang pas nampakin diri di depan warga. Dari mana dia dapat baju untuk kostum jadi hantu. Dari mana dia bisa tahu wajah preman padahal mereka pakai topeng semua – Yudha saksi hidup aja mandeg bikin laporan ke polisi karena dia gak tahu wajah para pelaku. Dan – ini nih yang bikin aku ngakak – sehebatnya ilmu survival dan militer, gimana bisa dia ngelempar ranting yang tembus menusuk badan orang. Usaha yang dilakukan film ini supaya twistnya itu bisa masuk akal terjadi adalah dengan memastikan warga kampung Roy bego semua. Selain Roy, Maryam, Yudha, Bang Ozi, tokoh-tokoh film horor tentang objektifikasi wanita ini semuanya kayak tokoh dalam komedi receh.
So yea, setelah twist itu jadi kelihatan jelas bahwa cara bertutur film ini bukan karena mereka ingin melakukan sesuatu terobosan terhadap genre ataupun gagasan, melainkan karena pembuat film ini sendiri gak tau cara menampilkan cara atau kejadian yang masuk akal dari seorang yang membunuh dengan pura-pura menjadi hantu. Maka sudut pandang Maryam mereka sembunyikan. Mereka jadikan twist. Meskipun cerita ini lebih cocok jika tidak dipersembahkan sebagai twist dan cerita dilangsungkan dalam formula Rape and Revenge tradisional saja.
 
 
Revenge story dari perspektif pelaku ini tidak dibarengi dengan penulisan yang matang. Tidak ada end game dari gagasan pembuat, sebab protagonis dan hero prianya – pihak yang melakukan objektifikasi pada perempuan – tidak ditulis mengalami perubahan. Mereka tidak punya plot. Dan sungguh susah mendukung Yudha karena dia diperkenalkan sebagai creep di awal dan bucin di akhir. Satu-satunya yang berubah adalah Maryam, itu pun dia tidak diperlihatkan sebagai subjek hingga menit-menit terakhir – ia dirahasiakan karena film butuh dia untuk jadi objek ketakutan warga dulu, objek twist, dan objek humor. Pada akhirnya memang objektifikasi perempuan yang diangkat oleh film ini sebagai tema/gagasan utama hanya dijadikan bahan becandaan semata.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for SI MANIS JEMBATAN ANCOL.

THE LIGHTHOUSE Review

“For a man who loves power, competition from the gods is annoying”
 

 
Enggak ada hal baik yang bisa terjadi ketika dua pria terjebak bersama di suatu tempat yang mengharuskan mereka berbagi peranan. I mean, bayangkan tumpah meruahnya testosteron di tempat itu. Sejak dari zaman purba, pria memang paling hobi bersaing. Namun Darwin sekalipun bakal bingung jika ia melihat evolusi kompetisi di dunia yang semakin kompleks. Pria bukan lagi bersaing demi hidup di esok hari, pria kini bahkan tidak puas hanya sekadar menang. Sekarang semua adalah soal menguasai seni kemenangan. Ada ego yang dipertaruhkan. Ketika menang dan harga-diri sudah dijadikan tujuan, seorang pria tidak bisa untuk tidak menang gemilang. Dan supaya menang gemilang, maka semua harus dipertaruhkan. Dan semua harus dipertaruhkan itu berarti kau mengerahkan apapun, kau kehilangan perspektif – kehilangan akal sehat.
Setidaknya mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh Roberts Eggers dakam horor terbarunya setelah The Witch (2016) yang fenomenal dan sangat aku suka itu. Bukan cuma aku, aku yakin, setelah The Witch banyak penggemar horor yang menantikan karya original berikutnya dari sutradara ini. The Lighthouse hadir dengan menjawab ekspektasi semua orang. Jika pada The Witch Eggers diam-diam membahas soal wanita dan feminism empowerment di balik horornya, maka kali ini dia membawakan horor ke dalam dunia maskulin pria.
The Lighthouse bercerita tentang dua orang pria yang bekerja mengurus mercusuar di tahun 1890. Jadi belum ada internet untuk mengusir sepi. Televisi pertama bahkan baru akan ditemukan empat-puluh tahun kemudian. Kedua orang ini benar-benar sendirian di pulau kecil terasing tersebut. Mereka hanya punya masing-masing untuk teman ngobrol. Masalahnya adalah, Ephraim Winslow tidak percaya sama seniornya yang lebih lama bekerja di mercusuar tersebut. Sikap Thomas Wake yang udah kayak kapten kapal bajak laut memang lumayan aneh kepada Winslow. Pembagian tugas diberikannya dengan sedikit timpang; Winslow mengurus kerjaan kasar di siang hari – mancing ikan untuk makan, ngangkut bahan bakar untuk listrik dan pemanas rumah, plus disuruh-suruh bersihin rumah. Sementara Wake sendiri bertugas mencatat laporan rahasia dan begadang di malam hari menjaga lampu suar di menara. Satu-satunya tempat yang tidak boleh didekati oleh Winslow. Pikiran negatif terhadap Wake mulai merasuki pikiran Winslow. Alkohol dan keadaan hidup yang sulit memang membuat mereka menjadi teman. Namun kondisi semakin intens ketika mereka terjebak di sana begitu badai menerjang. Winslow tak tahu lagi harus percaya kepada siapa; kepada Wake yang penuh omong kosong, tahayul, dan peraturan gak-adilnya – ataukah kepada pikirannya sendiri yang perlahan semakin menggila.

mercusuar bentuknya udah kayak penis, cocok sebagai panggung horor dua pria ini.

 
Bukan tipikal horor yang menakutkan, jika kalian mengharapkan ada penampakan yang mengagetkan, atau ritual perjanjian dengan iblis, maka film ini niscaya akan bikin kalian kecewa. Horor yang disuguhkan oleh The Lighthouse adalah tipikal horor yang mengganggu. Di dalamnya ada elemen thriller, ada elemen fantasi. Yang paling kuat terasa adalah elemen psikologis. Gambar-gambar mengerikan dalam terms film ini adalah gambar-gambar surealis serupa yang biasa ditemukan dalam karya David Lynch, you know, hal-hal ganjil yang awang-awang antara kenyataan atau hanya figmen alias imajinasi dari si tokoh. Mungkin kalian pernah mendengar anekdot ‘saat terperangkap di pulau bersama seseorang, hal apa yang akan engkau bawa’. Nah, film ini seperti mengingatkan kepada kita bahwa permasalahan yang sebenarnya adalah bukan pada apa yang dibawa, melainkan sama siapanya. Horor yang ditunjukkan oleh The Lighthouse berupa kengerian terjebak, hidup bersama, seseorang yang tidak kita tahan. Entah itu karena menjengkelkan, karena benci, karena enggak sejalan pikiran, atau karena enggak bisa dipercaya.
Dan oh boy, betapa kedua tokoh kita ini tidak bisa dipercaya. Sudut pandang mereka dengan sengaja dikaburkan oleh film. Padahal kita seharusnya memegang paling tidak salah satu dari mereka. Paranoia itu memang bukan saja disarangkan kepada para tokoh, kita yang nonton juga benar-benar diajak untuk merasakan hal yang sama.
Mari kita lihat dinamika kedua tokoh ini, mulai dari si Winslow sebagai tokoh utama. Robert Pattinson memberikan penampilan terbaik sepanjang kariernya sebagai Winslow. Range tokoh yang ia perankan ini luas sekali. Tokoh ini tadinya pendiam, dia seperti gak suka ngomong, dan later kita bakal mengerti kenapa dia lebih suka untuk menyimpan kata-kata untuk dirinya sendiri. Dia punya teori-teori sinting tentang tempatnya bekerja, tentang rekannya. Dia punya masa lalu yang masih diperdebatkan kebenarannya – namanya bahkan sebenarnya bisa jadi bukan Winslow dan ada kemungkinan si Winslow yang asli menghilang karena perbuatannya. Bibit konflik Winslow dengan Wake bermula dari Wake yang enggak pernah diam. Entah itu meneriakkan perintah kepada Winslow, ataupun ngobrol apa saja saat makan malam. Willem Dafoe dengan aksen raunchy memang tidak tampak sebagai orang jujur seratus persen. Dia malah seperti menyetir Winslow – yang hanya ingin bekerja dengan benar – melakukan hal-hal yang ia inginkan, kadang dengan alasan yang gak jelas. Teman bicara yang seperti menyimpan sesuatu, kerjaan yang sepertinya lebih berat dari seharusnya, tempat yang semakin mengisolasi, belum lagi dorongan alami sebagai seorang pria, kita akan menyaksikan langsung Winslow menjadi kehilangan kewarasan. Dan mungkin bukan dia saja yang sudah edan. Ada adegan Wake mengejar Winslow dengan kapak, dan beberapa menit kemudian dua tokoh ini berusaha berdamai, dan Wake malah menyebut dirinya takut karena baru saja dikejar oleh Winslow pake kapak. Juga ada obrolan ketika Winslow yakin mereka ketiduran karena mabok satu hari, sedangkan Wake berkata mereka sudah ketiduran berhari-hari. Bener-bener sulit mengetahui siapa yang bohong, seolah dua orang ini juga berlomba siapa yang paling jago mengelabui.
Bukan lagi dua orang ini saja yang di ambang kegilaan karena saling gak tahan dan karena keadaan terjebak. Film juga mendorong kita untuk merasa sinting bersama mereka. Lihat saja aspek teknis film. Editing yang bikin kita bingung mana yang nyata, mana yang rekayasa. Belum lagi bentrokan desain suara, satu detik kita mendengar deburan ombak yang menenangkan, detik berikutnya raungan mesin memekakkan telinga kita. Warna hitam putih dan ratio kamera yang membuat layar sekubus kecil bukan hanya digunakan supaya period piece film semakin kuat terasa. Melainkan juga untuk memberi kesan terbatas, sempit. Minim warna membuat kita tak yakin apa yang sedang kita lihat, dan layar yang persegi menghantarkan perasaan terjebak yang dialami para tokohnya.
Disclaimer: Tidak ada camar yang dilukai, dan tidak ada mermaid yang ternodai dalam pembuatan film ini

 
Keambiguan adalah menu spesial film ini. Tidak ada jawaban yang pasti. Jika kalian mengajak pacar buat nonton, niscaya di akhir film kalian bakal mendapat dua interpretasi berbeda tentangnya. Ending film yang bikin garuk-garuk telinga sambil mangap itu bisa dijadikan kunci untuk memulai sebuah interpretasi. Yang kita lihat adalah pemandangan yang cukup familiar; sebuah scene ikonik dari mitologi Yunani yakni Prometheus yang isi perutnya dimakan oleh burung-burung. Dosa Prometheus dalam mitologi adalah dia berusaha mencuri api dari Dewa. Ini exactly yang kita lihat dalam film. Winslow berusaha mengambil alih lampu menara suar, lampu yang dilarang baginya oleh Wake. Banyak petunjuk, baik lewat dialog maupun adegan fantasi, yang menunjukkan perbandingan langsung antara tokoh film dengan tokoh dalam mitologi Prometheus. Cerita Prometheus sendiri bermakna tentang persepsi kekuasaan (power) – Prometheus merasa dirinya pantas menjadi dewa bagi manusia sehingga ia mengambil tindakan yang ia lakukan – yang cocok disandingkan dengan cerita Winslow dan Wake.

Penting bagi pria untuk berada di posisi yang mencerminkan kuasa yang ia miliki. Winslow adalah pekerja keras, ia merasa kerjaannya lebih berat, jadi mengapa ia tidak bisa berada di atas suar. Bagaimana kita merasa harus diperlakukan sesuai power yang kita miliki adalah gagasan cerita yang terpikir olehku. Kadang ego pria seperti Winslow, juga Wake, begitu besar sehingga pria either mengambil jalan pintas untuk mengambil posisi yang ia merasa pantas, atau menjadi gila kekuasan karena menanggap hanya dirinya yang pantas.

 
So yea, film tidak peduli sama sekali bahwa dia tidak mengangkat cerita yang trendi, isu yang hangat, film ini tidak berusaha menjadi mainstream. Dia juga tidak merasa sok jago dan nge-art banget sehingga jadi pretentious. Film ini actually punya selera humor yang kocak terhadap hal tersebut. Sebab sepertinya sengaja menuliskan tokohnya sebagai tukang kentut. Seolah meledek kita yang sok bangga nonton film ‘berat’. Kentut di sini juga bekerja dalam konteks cerita. Semua orang punya batas kesabaran. Dan garis ambang toleransi Winslow kepada Wake terletak pada kentut tersebut.
 
 
 
Bukan horor konvensional, melainkan horor yang begitu intens mengenai pergolakan power antara dua pria. Meskipun kebanyakan isinya ngobrol dan ngajak kita berpikir (bahasa yang digunakan tokoh berdialog juga enggak langsung mudah dicerna), tapi cerita tak pernah membosankan. Keambiguan dan cara ngecraft cerita sehingga kita seakan turut menjadi gilalah yang menjadikan film ini spesial. Film adalah soal pengalaman menonton. Pengalaman horor yang ditawarkan oleh film ini adalah salah satu pengalaman terbaik yang bisa kita rasakan sepanjang tahun.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE LIGHTHOUSE

IMPERFECT: KARIER, CINTA & TIMBANGAN Review

“We are our own worst critic”
 

 
Adalah kecenderungan alami bagi kita untuk berusaha menjadi lebih baik, terlebih dalam urusan penampilan. Karena memang bagaimana kita terlihat oleh muka umum sangat berpengaruh pada setiap aspek dalam hidup. Orang pendek, misalnya, gak bakal langsung keterima jadi tim inti basket di kelurahan. Orang gendut, seperti Rara dalam drama komedi terbaru dari Ernest Prakasa ini, memiliki kesempatan yang lebih kecil – dan lebih susah untuk sukses – dalam dunia pekerjaan ketimbang orang yang lebih singset. Jadi bukan ‘mendadak’ setiap orang begitu insecure terhadap dirinya masing-masing. Kecemasan tubuh kurang langsing, kurang berisi, kurang putih, kurang tinggi, kurang seksi terjadi bukan sebatas pada wanita, bahkan juga pada pria. Media mengeset standar kecantikan dan kita suka pada apa yang mereka jual. Society mengamini standar tersebut. Dan kita menjadi begitu keras kepada diri sendiri supaya terhindar dari body-shaming, supaya sempurna menjadi sesuai standar penampilan yang menjadi ilusi dari ‘lebih baik’.
Secara konstan Rara (Jessica Mila actually put on a little more weight for her role here) hidup di bawah tekanan dan body-shaming dari sekitarnya. Terlahir mirip almarhum ayah (ungkapan halus untuk berkulit hitam) dan suka makan banyak – dengan batang coklat sebagai pelengkap 4 sehat 5 sempurnanya – Rara bahkan dapat tekanan di lingkungan rumah. Ibu Rara yang mantan model kerap menegur Rara untuk mengurangi porsi makan, memperhatikan berat badan, dan membanding-bandingkannya dengan sang adik yang punya potongan kayak gadis sampul majalah. Rara tadinya cuek, toh dia punya Dika, pacarnya yang menyintai Rara – yang melihat cahaya di dalam diri Rara. Tapi kemudian, tekanan pekerjaan mendera. Untuk bisa naik pangkat menjadi manager di perusahaan make-up, Rara enggak bisa hanya mengandalkan kepintaran. Sebab image dan penampilan adalah hal yang utama – you can’t be important if you’re not pretty enough. Rara bertekad mengubah penampilan, dia mendorong dirinya sampai-sampai Dika dan orang-orang terdekat tidak mengenali lagi siapa dirinya. Dan itu bukan hal yang bagus, sebab dia mungkin saja sudah kehilangan kecantikan dirinya yang sebenarnya.

brand-brand kecantikan nyuruh kita untuk menjadi diri sendiri sembari menawarkan produk untuk mengubah penampilan.

 
Aku sendiri bukan orang yang paling secure sedunia untuk urusan penampilan. Sejak kecil aku berurusan dengan ledekan fisik (diledekin karena pendek, dibecandain karena cadel) dan meski aku sudah ‘menaklukkan’ itu, kini muncul lagi hal yang bikin insecure. Rambutku yang sekarang hanyalah bayangan dari kemegahannya dahulu yang sukses bikin jealous cewek-cewek di kampus. Kupluk adalah relic ke-insecure-anku perihal rambut yang kupakai ke mana-mana. Aku juga pernah gendut dan mengurangi makan (nyaris) secara gila-gilaan, persis Rara. No shit. Makanya aku suka sama cerita kayak gini. Makanya aku kepikiran untuk bikin film pendek Gelap Jelita, yang terinspirasi dari lagu Scars to Your Beautiful dari Alessia Cara. Aku tau first hand bahwa insecure fisik adalah masalah yang serius bagi setiap individu. Aku pengen pesan menguatkan untuk melawan ke-insecure-an bisa terus berlanjut. Dan Imperfect yang diadaptasi oleh Ernest dari cerita buku karangan sang istri, Meira Anastasia, buatku menyempurnakan hidangan bergizi soal melawan ke-insecure-an.
Digarap oleh seorang komika/komedian, film ini punya dosis sehat guyonan yang bukan merecehkan malahan memberikan nada yang unik dalam menggambarkan permasalahan insecure fisik tersebut. Sepanjang durasi kita akan bertemu dengan banyak tokoh-tokoh yang merasa minder dengan ketidaksempurnaan dirinya, mereka diledek karenanya, dan mereka bukan hanya berani nge-call out yang ngata-ngatain, melainkan juga berani secara kasual membicarakan ketidaksempurnaan tersebut sebagai becandaan dengan teman. Just like ketika Ernest menertawakan kesipitannya pada film debut yang meloncatkan karirnya sebagai sutradara dan penulis – Ngenest (2015). Tokoh-tokoh Imperfect lowkey empowering. Kita melihat mereka dalam berbagai wujud ketidaksempurnaan seperti gendut, item, tonggos, tompelan. Dan kita seperti diajak untuk menertawakan para pelaku body shaming sebagai garda pertama pertahanan diri dari menghilangkan keinsecurean tersebut. In this way, film menjadi sangat relatable, karena dengan beragamnya ‘contoh kasus’ maka kita akan menemukan satu yang bisa dikaitkan dengan diri. Film menggebah kita untuk menatap kekurangan diri sendiri, dan menjadi bangga terhadapnya alih-alih memaksa diri untuk berubah. 
Dan Rara adalah sosok yang sempurna untuk dijadikan pusat dari ketidaksempurnaan itu semua. Naskah benar-benar menghormati tokoh ini. Rara bukan hanya pintar dan real good at her job di perusahaan make-up. Hal pertama yang kita pahami dari Rara adalah dia suka makan dan dia oke dengan itu. Ketika stake cerita naik, dan dia harus menurunkan berat badan, Rara tidak serta merta dibuat menyiksa dirinya dengan mengurangi makan. Rara selalu mencoba untuk menghormati dirinya sendiri terlebih dahulu dibanding apapun. Makanya, Rara kemudian menjadi ‘lawan’ dari Marsha (Clara Bernadeth memainkan Regina George versi kantoran). Lewat dinamika antara Rara dan Marsha film menjelaskan kenapa cewek cantik populer selalu memandang cewek yang tidak menonjol dan hanya punya satu sahabat yang sama dipandang ‘aneh’ sebagai ancaman. Semua kembali kepada insecure tadi. Cewek-cewek cantik ala trope ‘mean girl’ berjalan pada sistem yang dibentuk oleh media dan society. Sementara cewek seperti Rara – dan protagonis film-film yang ada trope ‘mean girl’nya, mereka ini kayak wild card, mereka punya kemampuan untuk berada di luar sistem dan conformity dalam society, mereka tidak mesti berada di dalam sana. Oleh karena itu dalam setiap cerita mean girl; Regina, Heather, dan sekarang Marsha, selalu membuat protagonis menjadi bagian dari geng mereka – memasukkan protagonis kembali ke sistem.
Imperfect, however, mengolah elemen ini dengan lebih dewasa sebab Rara bukan lagi di lingkungan sekolah seperti cerita trope mean girl pada umumnya. Masalah Rara bukan lagi sesepele pengen punya pacar atau jadi populer. Rara ingin naik jabatan, dia sendiri yang memilih untuk jadi kurus dan mendapat respek dari Marsha. Seperti Marsha. Karena hanya dengan menjadi Marsha-lah tujuannya bisa tercapai. Perubahan Rara terasa lebih powerful karena kita dapat merasakan bingung dan perjuangan Rara untuk bertahan menjadi diri sendiri sekaligus juga mengubah diri secara fisik. Akhirannya memang masih tertebak oleh kita. Aku bisa melihat film ini akan dikritik oleh banyak orang sebagai stereotip banal lebih baik gendut daripada modis. Apalagi karena pemeran Rara bukan orang gendut beneran dan tetap tergolong atraktif untuk standar masyarakat. Pada satu titik menjelang akhir, Rara dijadikan contoh untuk produk make-up terbaru di kantornya; dia yang pintar dan berusaha keras memperbaiki penampilan, ter-reduce menjadi stereotip. Cliche as it is, tapi sesungguhnya inilah cara film untuk menegaskan kepada kita bahwa hal itulah yang terjadi kepada siapapun yang lebih mementingkan penampilan luar; kita hanya akan menjadi sebuah stereotip.

Seribu pujian tetep gak akan berefek segede satu kritikan. Karena kita gak bakal tahu pasti seberapa tulus pujian tersebut dan seberapa objektifnya komentar ngritik tersebut. Sehingga kita ditinggal untuk bertanya kepada diri sendiri. Inilah mekanisme dasar mengimprove diri. Yang seringkali kita bersikap keras kepada diri sendiri sehingga kita berubah menjadi orang yang bukan siapa kita. Dan semua itu bermula dari satu komentar orang soal penampilan fisik kita.

 
Ernest Prakasa membangun satu dunia yang dengan tepat mencerminkan keseluruhan insecurity dan body-shaming bekerja di dunia nyata. Hubungan antara Rara dengan Dika, pacarnya yang fotografer berfungsi lebih dari sekadar menjalankan tugasnya sebagai bagian drama romance dari drama komedi romantis ini. Arc Dika (diperankan dengan hangat dan sangat simpatik oleh Reza Rahadian) mengajarkan kepada society, dan kita, cara memperlakukan orang dengan benar; yakni dengan tidak meletakkan pressure kepada mereka – untuk respek terhadap pilihan orang karena sebagian besar waktu mereka berusaha untuk menjadi diri sendiri, tapi dunianya punya tuntunan, dan kita sebaiknya tidak menambah mumet dan biarkan mereka membuat pilihan, dan respek kepada apapun pilihan mereka. Tidak perlu kita terlalu banyak mengatur, atau malah jadi menyalahkan dirinya – seperti mama Rara kepada Rara. Film ini juga menggambarkan soal victim-blaming yang bisa saja terjadi secara kasual, tanpa kita sadari, yang sebenarnya justru menambah pressure kepada orang.
Satu lagi tokoh yang berperan besar bagi perkembangan karakter Rara, tentu saja adalah adiknya; Lulu (dimainkan dengan manis oleh Yasmin Napper yang juga manis). Si anak ’emas’ sang mama. Rara dan Lulu akrab, tapi diam-diam ke-perfect-an Lulu juga menjadi sumber ke-insecure-an bagi Rara. Ada satu adegan emosional yang melibatkan kakak beradik ini, dan juga mama mereka, yang dihandle dengan begitu grounded dan menghangatkan oleh film. Rara begitu ‘jealous’ sama Lulu sehingga dia tidak melihat bahwa adiknya ini punya ke-insecure-an sendiri. Film menjadikan Lulu sebagai wakil untuk mengatakan orang-orang yang terlihat sempurna juga punya masalah insecure. Kita juga diperlihatkan bahwa di masa kini orang bisa jatoh bahkan lebih artifisial daripada stereotipe jika terlalu mengagungkan penampilan lewat tokoh pacarnya Lulu yang hanya peduli pada bagaimana dia terlihat oleh followernya di sosial media.
Semua tokoh dalam film ini diberikan peran dan kepentingan, bahkan tokoh-tokoh yang terlihat konyol. Ini adalah pencapaian yang paling pantas kita selebrasi pada Imperfect. Ernest berusaha menyempurnakan gaya komedinya; tokoh-tokoh minor yang biasanya cuma jadi guyonan sketsa yang ditempatkan hanya sebagai selingan atau transisi di antara adegan-adegan penting, kali ini mereka (sejawat komika Ernest dan obrol-candaan mereka) dibuat paralel dengan permasalahan tokoh utama. Tidak lagi adegan-adegan mereka bisa dibuang begitu saja, karena di film ini mereka menambah bobot bagi narasi. Konklusi film ini akan terasa sangat nendang oleh emosi, berkat cara film mengikat masalah-masalah insecure yang melanda para tokoh. It is really empowering, and beautiful. Kalo dipaksa nitpick, aku cuma mau bilang sedikit kekurangan film ini adalah masih ada beberapa tokoh yang tampak tak tersentuh oleh insecure padahal mestinya di akhir itu mereka merayakan ketidaksempurnaan bersama-sama.

mereka basically bikin video musik Scars to Your Beautiful

 
 
 
Padet, lucu, bikin jatuh cinta, tapi bukan Jessica Mila – apakah itu? Film ini jawabannya. Komedinya yang bikin terpingkal itu tidak pernah terasa sia-sia, malahan menambah banyak bobot untuk cerita. Hubungan keluarganya bikin hangat, begitu juga romansa – kita melihat dua orang yang berusaha saling menghargai no matter what, mereka berusaha melihat masing-masing di luar penampilan fisik. Dan yang paling penting film ini mengajak kita untuk lebih mencintai dan menghormati diri sendiri. Tidak serta merta menyalahkan dunia yang sudah mengeset standar kecantikan. Film ini juga berani untuk menjadi stereotipe alias klise demi menyampaikan gagasannya. Cerita ini penting untuk disaksikan bukan hanya wanita, tapi juga pria. Karena insecure bisa melanda semua orang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for IMPERFECT: KARIER, CINTA & TIMBANGAN.

THE IRISHMAN Review

“When you get to political machines that can control a state, then you’re really into organized crime – almost.”
 

 
Untuk mendukung pernyataan bahwa film semestinya adalah sebuah cerita yang ‘intim’ alih-alih heboh dengan franchise, Martin Scorsese mempersembahkan The Irishman; film yang mengintimidasi sejagad (sinematik) raya dengan durasinya yang tiga-jam-setengah dan diisi oleh karakter-karakter yang lebih banyak berdialog ketimbang meledakkan benda.
The Irishman boleh jadi merekonstruksi mitos sejarah seperti yang dilakukan oleh Quentin Tarantino dalam Once Upon A Time in Hollywood (2019) belum lama ini. Atau mungkin saja tidak, dan dia bicara fakta. Karena yang diangkat oleh Scorsese dalam film ini adalah kejadian dalam lembar sejarah politik garismiring crime Amerika yang masih simpang siur kebenarannya. Tentang menghilangnya Jimmy Hoffa, salah satu sosok pemimpin bisnis dalam percaturan politik Amerika, yang kemudian dilaporkan dibunuh. Dalam The Irishman, peristiwa tersebut diceritakan dari sudut pandang Frank Sheeran, pensiunan perang pengantar daging steak yang berkat keahliannya dipekerjakan sebagai tukang cat rumah. Hanya saja dia tidak menggunakan cat aaupun kuas. Pengecat rumah hanyalah bahasa kode untuk pembunuh bayaran geng mafia. Sheeran dengan cepat mendapat kepercayaan, dia berteman dengan orang-orang penting di dunia mafia. Termasuk dengan Hoffa. Dan ada kemungkinan dialah yang menghabisi Hoffa yang sudah kayak kakak penjaganya dalam sebuah tugas.

darah lebih pekat daripada cat

 
Narasi berlangsung dalam periode 60 tahun, atau mungkin lebih. Kisah mengalir dari masa kini membuka ke masa lalu, sesuai penuturan Frank Sheeran. Dari Sheeran yang tua renta ke Sheeran muda – sekilas juga diperlihatkan saat dia masih di medan perang – hingga ke versi dia yang lebih dewasa. Kita akan menyaksikan berbagai versi Robert De Niro, dari yang dimudakan pakai efek komputer sampai aktor senior ini — aku tidak tahu lagi mana penampilan wujud asli si aktor mana yang efek saking mulusnya visual film ini. Dalam rentang waktu yang begitu panjang tersebut, kita diperlihatkan keparalelan antara dunia politik dengan dunia gangster alias mafia. Apakah semua ini hanya rekayasa alias cuma terjadi di dunia film atau memang begitulah nyatanya di dunia nyata Amerika, atau mungkin malah seluruh dunia – termasuk Indonesia, membuat film semakin menarik untuk disimak. Terutama oleh penyuka konspirasi. Dalam film ini, kita melihat misi Sheeran bukan sekadar melenyapkan ‘rekan’ yang mengacau maupun yang sudah tak berguna. Melainkan juga menyelundupkan senjata api yang ternyata adalah untuk memadamkan Revolusi Cuba. Pembunuhan JFK turut diperlihatkan sebagai campur-tangan dari geng mafia. Hal yang paling bikin seru lagi adalah, periode panjang narasi ini mengimplikasikan peran mafia dalam politik ini masih berlangsung hingga sekarang.

Istilah mafia merujuk kepada kelompok teroganisir yang berketerkaitan dengan pihak berwenang, dengan aktivitas apapun – termasuk yang melawan hukum – demi kepentingan pribadi dan golongan. Benar-benar mirip dengan cara kerja dunia politik, bahkan pelakunya sama-sama berjas dan berdasi. Politik dan mafia bagaikan berasal dari satu geng yang sama. Geng kejahatan berencana.

 
Dunia sindikat penuh orang ditembak di tempat, oleh film ini tidak pernah diglamorisasi. Meskipun memang cara kerja mereka didramatisasi. Karena film ingin mempersembahkan kejahatan mafia itu dalam cahaya bisnis – yang berkaitan dengan mempertegas ‘kebutuhan’ para tokoh. Mereka-mereka yang bekerja dalam dunia tersebut bergerak demi kepentingan golongan yang menjadi penguasa. Konflik datang dari tokoh-tokoh yang punya kepentingan pribadi. Sheeran, dalam hal ini, punya keluarga. Secara spesifik, hubungan Sheeran dengan putrinya ditonjolkan. Film memilih untuk lebih fokus menggali perenungan karakter ketimbang aksi. Kita memang masih akan melihat beberapa adegan aksi dan kejahatan, tapi sebagian besar waktu didedikasikan oleh film untuk karakter duduk diam di antara dialog. Mereka diberikan ruang untuk berpikir, mempertimbangkan matang-matang opsi sebelum memilih tindakan. Sehingga meskipun tempo cerita memang lambat, kita akan menemukan banyak sekali momen-momen intens. Yang datang enggak muluk-muluk, sesimpel dari diamnya mereka menemukan cara mengungguli lawan bicara. Sampai ke kita emosinya bisa berlipat ganda karena kita akan otomatis mengantisipasi pergumulan senjata.
Mengenai hal tersebut, tak bisa dipungkiri juga durasi panjang film ini benar-benar terasa panjang. Karena terkadang diisi dengan kurang maksimal. Sheeran dengan putrinya seharusnya mendapat penggalian lebih dalam dan dampak relasi mereka kepada cerita sebaiknya dibuat lebih gede lagi. Arc putri Sheeran dibuat lebih jelas dan berarti lagi. Sejujurnya, asalkan dimanfaatkan maksimal, sebenarnya durasi panjang bukan masalah. Apalagi melihat orang-orang yang bekerja di depan maupun belakang layar film ini – menghabiskan waktu seharian pun aku yakin kita semua rela. Scorsese memastikan adegan-adegan kekerasan yang ia munculkan terasa elegan, dan tidak menjatuhkan keseluruhan film menjadi crime receh yang menjual darah ataupun ledakan semata. Tidak ada koreografi kamera yang ‘istimewa’, tidak ada penggunaan cut yang berlebihan. Semuanya terasa sangat tenang, dan diarahkan dengan efisien dan tepat-guna. Dengan kata lain, kekerasan tipikal dunia mafia tidak ia jadikan jualan utama.
Final battle atau konfrontasi besar versi film ini bukanlah aksi tembak-tembakan. Bukan pula satu dialog panjang nan dramatis seputar pengakuan atau apa. Klimaks The Irishman adalah berupa sekuen pembunuhan Hoffa sepanjang nyaris setengah jam. Tidak banyak sutradara yang mampu menggabungkan banyak adegan – banyak cut – ke dalam satu sekuen panjang dengan menjaga ritme serta build-up suspens sehingga punchline atau akhir sekuen tersebut terasa sangat nendang. Perhatikan Scorsese bahkan tidak menggunakan musik latar sepanjang sekuen tersebut; membuat ketegangan semakin memuncak. Ending film ini merupakan salah satu ending terbaik tahun ini, menurutku, sebab memunculkan banyak pertanyaan dan memantik diskusi mengenai makna dan keputusan tokoh mengambil tindakan yang serupa dengan yang ia lihat di bagian pertengahan film.

bayangkan jadi putri Frank Sheeran dan harus menceritakan pekerjaan ayahnya di depan kelas saat Show & Tell.

 
Seperti ilmu padi; semakin tua semakin jadi. Scorsese menunjukkan kematangan luar biasa lewat penggarapannya. Film-film Scorsese selalu berenergi. Namun tak seperti Goodfellas (1990) – sama-sama biografi tokoh dunia mafia – yang menggebu, The Irishman tersaji lebih subtil. Film barunya ini lebih tertarik untuk membedah karakter-karakter. Scorsese seolah ingin membaca pikiran dari setiap tokoh yang diambil dari orang-orang nyata tersebut. Melihat sang sutradara bekerja sama dengan tiga aktor legenda dalam mencapai tujuan itu sungguh kesempatan yang berharga.
Mari mulai dengan Al Pacino. Ini adalah kali pertama Scorsese kerja bareng dirinya. Dan maaan, Scorsese memberikan Al Pacino peran yang sempurna sebagai Jimmy Hoffa yang meledak-ledak. Jadi keseruan tersendiri melihat Al Pacino teriak nunjuk-nunjuk muka orang. Berkebalikan dengan Joe Pesci yang juga klop banget memerankan Russel Bufalino. Pesci yang literally ditarik Scorsese dari bangku pensiun memainkan ekspresi yang begitu dingin dari seorang petinggi mafia yang terhormat, bersahabat, tapi sekaligus penuh taktik dan pertimbangan. Menatap tokoh ini aku sampai gak berani berkedip karena aku jadi begitu concern dengan pertimbangannya. Last but not least, De Niro yang penuh pengendalian diri memerankan Frank Sheeran yang beraksi dinamis. Setiap kali dia muncul di layar, duduk semeja dengan para mafia, perhatian kita akan otomatis mengarah padanya, karena suksesnya film menulis karakter ini sehingga kita pengen tahu bagaimana keadaan atau dialog itu mempengaruhinya. Kalimat-kalimat yang ia ucapkan terdengar bukan hanya seperti improvisasi aktor, melainkan juga seperti improvisasi si Sheeran itu sendiri karena banyak yang ia pertaruhkan setiap kali bersama teman-temannya yang mafia. Personally, adegan Sheeran makan roti bareng Russel di akhir, yang circled back ke mereka semeja makan pertama kali, cukup mengharukan buatku.
 
 
 
Menyaksikan film yang berusaha membuat kita terinvest kepada karakter-karakternya terasa sangat menyegarkan, dan sungguh berharga. Karena begitu banyak film yang menuntut kita memperhatikan easter eggs, koneksi kepada film terdahulu, menahan diri untuk bertanya karena penjelasan akan hadir di film berikutnya. Yang dihadirkan oleh Martin Scorsese ini akan mengingatkan kepada kita seperti apa sih sinema itu sebenarnya. Film ini diarahkan dan diedit dengan luar biasa cakap, dimainkan dengan masterfully meyakinkan, sehingga durasi yang panjangnya bisa dipakai untuk melancong dari Bandung ke Jakarta naik kereta tidak terasa membosankan. Seperti tokoh-tokohnya, drama crime ini terasa matang dan dewasa.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE IRISHMAN.

LOVE FOR SALE 2 Review

“Happiness is when you realize your children have turned out to be good people”
 

 
Love Inc, yang diperkenalkan dalam Love for Sale (2018) sebagai perusahaan yang menyewakan jasa pacar bohongan untuk para jomblo sekalian, sudah seharusnya dipertahankan sebagai misteri. And so does Arini. Kemisteriusan Arini dan Love Inc membuat film garapan Andibachtiar Yusuf menarik. Diperbincangkan banyak penonton. Beberapa mengatakan Arini ‘jahat’, bahwa filmnya serupa film horor. Della Dartyan langsung melejit, dia bisa jadi poster girl untuk manic pixie yang membuat penasaran para cowok. Padahal kenyataannya bukan begitu; jatuh cinta pada karyawan yang menjajakan status pacar seperti Arini sama aja dengan jika kita baperan ketika disenyumin oleh mbak-mbak manis penjual karcis bioskop. But that’s okay, justru bagus, karena di situlah pesona yang berhasil dihadirkan oleh film tersebut – menjadikannya unik. Setahun kemudian, kita dapat sekuel dari cerita Arini dan Love Inc. Dan sukur Alhamdulillah Yusuf tidak gegabah membongkar tabir yang bakal menghilangkan keunikan tadi. Karena Love for Sale 2 enggak banyak berupa lanjutan kisah dari yang pertama, melainkan lebih banyak memperlihatkan ‘studi kasus’ yang baru terkait keberadaan Love Inc dan kiprah ‘karir’ Arini sendiri.
Love for Sale 2 menawarkan lingkungan yang lebih luas. Stake-nya juga menjadi lebih besar, karena bukan hanya satu orang yang bakal ‘jatuh cinta’ dibuat oleh Arini kali ini. Melainkan melibatkan satu keluarga. Tepatnya; keluarga asal Padang Ibu Rosmaida (Ratna Riantiarno yang asal Manado kewalahan disuruh berbahasa Minang) yang punya tiga anak lelaki. Salah satunya adalah Ican (beruntung tokohnya ini diceritakan besar di Jakarta sehingga Adipati Dolken tak perlu turut kewalahan berbahasa Minang), yang belum juga menikah dengan usia yang menginjak tiga-puluh-dua. Maka Ibu Ros terus merongrong Ican untuk segera mencari pasangan. Tapi bukan pasangan yang tak ia suka – seperti istri anak pertamanya, dan bukan pasangan yang karena zina – seperti istri anak ketiganya. Inilah yang membuat Love for Sale 2 menjadi cerita yang bahkan lebih unik daripada film pertamanya. Ini bukan lagi sekadar tentang orang yang kepengen punya pacar sehingga menyewa cewek idaman. Ican log in ke Love Inc dan memesan jasa Arini bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan – bertentangan dengan norma dan budaya daerah asalnya – demi sang ibu; supaya ibunya bisa bahagia melihat dirinya punya pasangan. Jadi bisa dibayangkan betapa terenyuhnya mereka nanti jika kontrak Arini selesai; itu pun jika Arini sanggup untuk meninggalkan segitu banyak orang yang merasakan cinta dan balik mencintainya.

film berkali-kali menyebut “Padang banget” seolah itu menunjukkan karakter yang enggak rasis

 
Film bekerja terbaik ketika cerita fokus kepada Ibu Ros. Ada sense of impending doom yang merayap di balik cerita seiring semakin akrab dan sayangnya Ros kepada Arini. Dan kupikir efeknya lebih kuat terasa karena kita sudah tahu cara kerja Love Inc. Jadi kita mengantisipasi, bersiap-siap dengan apa yang bisa dilakukan oleh Arini yakni pergi begitu saja saat kontrak habis. Pergi tanpa jejak sama sekali. Ini seperti perlakuan pada tokoh Ratih di Perempuan Tanah Jahanam (2019); supaya surprise karakter ini berhasil, maka film mengandalkan kepada keakraban kita dengan Asmara Abigail yang biasanya memerankan karakter jahat yang gila. Sedari materi-materi promo yang dikeluarkan dia sudah dibangun seolah karakter tersebut, untuk membangun antisipasi kita sehingga ‘twist’ tokoh ini menjadi lebih kerasa (no pun intended). Love for Sale 2 juga menggunakan cara serupa dengan pembangunan tokoh Arini. Ceritanya butuh kita untuk tahu Arini dan Love Inc sebagai pegangan, yang menuntun kita kepada Ibu Ros karena di film ini beliaulah yang mendapat pengaruh lebih banyak, dia yang bakalan berubah lebih signifikan di akhir cerita.
Tapi akan mudah sekali bagi kita untuk terdistract dari inti utama cerita, terutama jika kita belum menonton film pertamanya. Kita akan gampang terjebak menganggap ini sebagai cerita Ican mencari cinta, padahal bukan. Karena film sendiri yang justru mengaburkan kita dari inti tersebut. Dengan membuatnya sebagai sudut pandang Ican pada berbagai kesempatan. Film bergantung banyak kepada reputasi Arini sehingga film ini sendiri teralihkan dan merasa mereka masih perlu memasukkan romansa ke dalam cerita yang tadinya sudah mereka ubah menjadi ke persoalan keluarga; persoalan bentrokan keinginan orangtua dan keinginan anak-anaknya. Cinta di sini seharusnya lebih ke cinta manusia kepada orang-orang yang dianggap keluarga.

Orangtua harus belajar untuk memahami apa yang membuat anaknya bahagia. Alih-alih ‘memaksa’ untuk mengikuti kemauannya. Anak-anak tidak jahat ketika mereka berusaha bahagia demi diri mereka sendiri. Orangtua hanya akan menyandera anak-anaknya jika menggantungkan kebahagian mereka kepada anak-anak. Membuat anak-anak mereka menjadi bukan dirinya sendiri. Dan yang paling parah adalah, orangtua jadi tidak akan bisa melihat siapa anak mereka yang sebenarnya, seperti Ros dalam film ini yang awalnya menganggap anak-anaknya bukan orang yang baik – mereka selalu salah di matanya.

 
Seperti film pertama, kisah klien Arini berawal dari sebuah pesta pernikahan. Namun Love for Sale 2 ini banyak bereksperimen dengan kamera. Shot-shotnya tampak lebih dinamis ketimbang film pertama. Pada adegan pernikahan misalnya. Film merekam dengan continuous shot yang membuat kita merasa berada di tengah-tengah pesta, mengikuti Ican – ditempel oleh ibu – yang berkelit ke sana kemari dari kerabat yang menanyakan status relationshipnya. Ini merupakan bagian dari distraksi; film lebih banyak bermain ketika merekam Ican ketimbang merekam ibunya. Padahal jika melihat dari sudut pandang Ican, cerita memiliki banyak kelemahan. For instance; stake cerita jadi nyaris tidak ada. Karena seperti pada tokoh utama Pariban: Idola Tanah Jawa (alias film terburuk Andibachtiar Yusuf yang kutonton sejauh ini) Ican tidak ditulis punya alasan yang kuat, ia tidak tampak pengen punya pacar. Ataupun tidak tampak kesulitan mencari perempuan, saat dia mau. Ican hanya sedikit pemilih karena gaya hidup yang more-Barat dan less-Sumatra. Tidak seperti Richard pada film pertama yang benar-benar ditulis dengan banyak layer, yang dibangun karakternya; begitu penting bagi cerita perihal Richard yang tak pernah meninggalkan rumah. Ican tidak punya semua itu. Maka aneh jadinya ketika film ngotot untuk menonjolkan sudut pandang Ican, sementara cerita akan jauah lebih menarik jika menetapkan fokus kepada ibu. Ican menghubungi Love Inc seharusnya tidak dilihat sebagai plot poin pertama, melainkan sebagai inciting incident yang membuka kesempatan Ibu untuk berubah dengan kedatangan Arini.

coba ibu, apa bahasa minangnya “ditinggal lagi sayang-sayangnya?”

 
Sudut pandang bukan hanya melebar kepada Ican, melainkan juga kepada Arini. Cewek ini bukan antagonis. Dia profesional. Lihatlah dia seperti Mary Poppins untuk orang dewasa. Setelah meluruskan hidup orang dan membuat mereka bahagia, Arini pergi. Tapi kali ini film tidak sampai hati. Film sepertinya tidak mau lagi ada yang menganggap Arini ‘jahat’. Maka kini kita dibuat melihat Arini bimbang dan mulai baper sendiri sama keluarga Ibu Ros. Ia diberi waktu untuk menjelaskan sedikit tentang siapa dirinya. Ini seharusnya adalah cerita yang lain, untuk waktu yang lain. Arini pantas mendapat satu film tersendiri untuk itu semua. Tidak perlu dihadirkan nyelip di cerita orang. Menghadirkan ‘pembelaan’ untuk Arini di sini hanya mengganggu keutuhan cerita Ibu Ros yang tentang menemukan kebahagiaan dengan tidak memaksakan dirinya kepada anak-anak. It drags the story out. Membuat film menjadi semakin tidak fokus. Adegan pembuka dan penutup film ini seharusnya bisa dibuang sebab tidak menyumbang banyak selain sebagai teaser.
 
 
Adik Ican selalu memakai kaos band metal, tetapi lagu yang ia dendangkan dengan gitar malah lagu patah hati jadul dari D’Lloyd yang ngepop. Ini adalah salah satu selera humor film. Cerita memang menyenangkan berkat interaksi tokoh-tokoh yang kadang tampak ‘ajaib’ sebagai penyeimbang drama masalah dalam keluarga. Seringkali juga hadir lewat dialek yang memang dibuat beragam. Namun film yang lebih menitikberatkan pada visual ini membuatku kerap bingung juga dengan suara dialog yang gak sinkron dengan mulut tokoh yang terlihat sangat jelas dan sering terjadi itu apakah bagian dari selera humor pembuatnya atau bukan. Film ini toh memang senang membuat distraksi seperti demikian. Posternya aja seolah membuat Dolken sebagai tokoh utama, padahal bukan. Ini bahkan bukan total romansa seperti yang ‘dijual’ pada materi-materi promosinya. Padangnya juga gak benar-benar terasa, rendang aja absen kok di baralek. Soal cerita, film ini seharusnya bisa menjadi sekuel yang menempatkan cerita pada situasi yang baru. Dia tidak perlu kesusu untuk melanjutkan. Karena seperti yang sudah kita saksikan, film ini jadi tidak fokus karena seperti ingin menceritakan banyak sekaligus
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LOVE FOR SALE 2

THE NIGHTINGALE Review

“In tragedy, empathy still dependent of proximity”
 

 
Belum lama ini, peringatan kemerdekaan negara kita sempat tercoreng oleh peristiwa berwarna rasisme yang terjadi pada sekelompok mahasiswa asal Papua di Surabaya, yang berbuntut panjang. Aku bukannya bilang film The Nightingale menggambarkan peristiwa yang sama persis, tapi yang digambarkan oleh drama period piece yang berlokasi di Pulau Tasmania, Australia ini – yakni arogansi sosial yang berakar pada kolonisasi – kurang lebih mirip dengan yang kita temukan pada lingkungan modern. Jika pemuda Papua dihardik monyet oleh aparat, maka bangsa Aborigin dalam The Nightingale dipanggil “Boy!” Namun bukan dalam artian sebagai anak kecil, melainkan ‘boy’ yang berarti panggilan kepada binatang ternak/binatang peliharaan.
Clare, tokoh utama kita, berkulit putih – tapi ia tak bernasib lebih baik. Sedikit, karena dia adalah pendatang tawanan. Dan sebagian besar karena dia adalah wanita. Clare memang tidak dipanggil ‘Boy’, tapi bagi serdadu Inggris dia tak lebih dari sekadar burung penyanyi (nightingale adalah burung bulbul yang bersuara merdu). Clare adalah properti bagi Letnan Inggris yang membawanya ke Tasmania. Nasib Clare tak berbeda dari Billy, ‘orang hitam’ yang ia sewa untuk mencari jejak si Letnan Inggris yang menyisir hutan bersama orang-orangnya menuju ke kota, satu hari setelah menghancurkan keluarga Clare, dan membiarkan wanita itu mati.

oke sekarang aku pengen melihat Nightingale melawan Mockingjay

 
The Nightingale punya intensi seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) tapi dengan pengembangan seperti Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017). Bermula seperti sebuah cerita balas dendam perempuan, film ini lantas membuka dengan suara yang menarik. Nafsu membalas itu dapat kita rasakan perlahan sirna; segala kekerasan yang diwariskan di antara kelompok kulit putih penjajah, segala diskriminasi dan pelecehan, bahkan ketidakpedulian terhadap lingkungan, semua ‘kejahatan’ yang ingin dibetulkan oleh aksi Clare itu tampak tidak penting lagi. Bukan lantaran hal-hal tersebut perlahan membaik, ataupun karena Clare menjadi takut, melainkan sepanjang perjalanan yang ia lalui bersama Billy, ia menjadi punya sesuatu yang baru untuk dilihat – untuk dipertimbangkan. Gagasan yang ingin diangkat oleh sutradara Jennifer Kent tidak sesederhana kejahatan akan mendapat balasan. Tidak, karena kekerasan yang akan berbuntut pada kekerasan hanya akan membentuk lingkaran setan kehancuran manusia yang akan terus bergulir. Kent justru mengangkat pertanyaan ‘bagaimana jika cara lain di luar balas dendam’. Dan terutama, ‘masihkah kemanusiaan itu akan ada di dunia yang penuh dengan kekerasan’.

Sakit itu tentu masih terasa. Lukanya bahkan mungkin tidak akan pernah sembuh. Alih-alih saling membalas sehingga orang merasakan sakit yang kita derita, mungkin jawaban dari semua itu adalah mendekat untuk merasakan sakit yang orang derita. Saling berempati. Sehingga kita merasakan kesamaan dengan orang  di sekitar kita, tidak peduli warna kulit, dan agama mereka.

 
Meskipun cerita mengambil tempat pada tahun 1825, saat The Black War berkecamuk di Tasmania; menjadikan jalan-jalan di pedalaman Tasmania sangat berbahaya karena tensi yang begitu tinggi antara serdadu kolonial Inggris dengan penduduk lokal yang semakin tersingkir dan diperlakukan tidak manusiawi, The Nightingale terasa seperti berita yang kita temukan di internet tadi pagi. Segala yang kita rasakan saat menonton peristiwa naas demi peristiwa naas di film ini begitu relevan.  Menyaksikan setiap frame film ini seperti menyaksikan kejadian asli. The Nightingale baru film panjang kedua Jennifer Kent (sebelumnya adalah The Babadook yang super-seram tentang grief seorang ibu beranak satu itu), tapi sutradara yang satu ini sangat bernyali.
Film ini disajikan olehnya dengan begitu disturbing. Banyak adegan kekerasan, mulai dari pemerkosaan, pembunuhan, hingga sesuatu yang keji yang dilakukan kepada anak keci, yang ditampilkan tanpa tedeng aling-aling. Supaya kita semua tahu betapa mengerikannya perilaku penjajah. Namun aspek tersebut tidak pernah dialamatkan sebagai gimmick semata. Kekerasannya tidak sebagai pengalih perhatian kita dari cerita yang hampa – ya, aku menyindirmu, wahai Perempuan Tanah Jahanam (2019) – ini tak pelak adalah salah satu film paling kompleks, paling menyakitkan untuk ditonton beberapa tahun terakhir. Bukan kekerasannya yang menarik perhatian kita. Melainkan setiap keputusan-sulit yang harus diambil oleh karakter, yang memaksa skenario untuk maju, yang membuat film semakin menarik untuk kita ikuti. Ada simbol-simbol menyejukkan yang digunakan oleh film sebagai counter dari elemen disturbing ini. Yang akan membuat kita terdistract dan berusaha memahami makna burung yang jelas-jelas dijadikan metafora, nyanyian, bahkan landscape dari belantara itu sendiri.

untung gak ada yang suka burung gagak, jadi kita selamat dari mendengar ‘entah apa yang merasukimu’

 
Mengingat betapa kerasnya film ini, kita hanya bisa membayangkan berat dan konflik moral yang harus dilewati oleh para aktornya. Tidak mungkin mereka enggak mendapat bimbingan atau konseling dari psikolog setelah memainkan beberapa adegan yang sangat brutal tersebut. Karena mereka memainkan peran dengan begitu… nyata. Tidak sedetik pun aku merasa melihat seseorang yang pura-pura jadi orang jahat atau orang teraniaya. Baykali Ganambarr yang main sebagai Billy, this is just his first feature, tapi tampak begitu natural. Kita tidak pernah melihatnya sebagai kaku dan dingin walaupun tokohnya memang diniatkan canggung dan ‘berjarak’ pada awalnya dengan tokoh utama. Peran yang cukup tricky lagi adalah sebagai antagonis – letnan Inggris – yang jahat dan nyebelin. Peran ini ditangani oleh Sam Claflin, truly like a pro. Meskipun tokohnya ini nyaris satu-dimensi tapi kita tetap mendengarkan semua gagasannya, kita pelototin semua perbuatannya, dan kita sungguh-sungguh benci padanya, seperti, kita sudah melakukan suatu hal yang tepat dengan membencinya sehingga kita justru tidak ingin dia melakukan hal yang mengkhianati ‘kejahatannya’. Claflin tidak terjebak ke dalam karakter over-the-top. Dia juga tidak tampak seperti sedang berakting. Dia memainkan adegan-adegan yang sangat ‘mengganggu’ dengan keotentikan seseorang yang harus bertindak jahat  demi menunjukkan powernya. Claflin sangat sukses memainkan tokoh antagonis yang sebegitu jahatnya kita suka untuk membencinya.
Sedangkan tokoh utama kita, Clare, diperankan oleh Aisling Franciosi yang memberikan salah satu permainan peran paling menyayat hati tahun ini. Karakternya benar-benar menempuh perjalanan yang ekstrim, secara emosional. Bayangkan grafik yang bergelombang naik dan turun, nah pada setiap titik terendah menuju ke atas dan setiap titik tertinggi menukik ke bawah; di situlah saat akting Franciosi terasa sangat fenomenal. Sehingga emosi Clare tak mencuat dibuat-buat, melainkan benar-benar bersumber dari kesakitan yang teramat kita pahami. Pretty much, setelah semua yang ia lalui di awal cerita, Clare PTSD, dan sentuhan yang diberikan oleh Franciosi benar-benar hormat kepada PTSD itu sendiri; yang tak tereksploitasi secara berlebihan.
Sayangnya, ada beberapa kali kita terlepas dari tokoh Clare. Tepatnya pada saat adegan-adegan mimpi. Inilah yang menurutku merupakan sedikit kelemahan dari The Nightingale. Aku bisa mengerti durasi dan temponya yang cukup lambat. Aku bisa paham kenapa babak ketiga seperti mengulur-ngulur waktu menuju peristiwa yang sudah kita nantikan dengan geram. Tapi penggunaan adegan mimpi dalam film ini; sebenarnya bisa dimengerti juga kepentingan adegan-adegan tersebut. Film ingin menunjukkan progres batin Clare, dari dia takut sebagai korban berubah menjadi gentar karena nun jauh di balik hatinya dia balik merasa dirinya bersalah.  Adegan film ini juga jadi ruang untuk mengembalikan sang sutradara ke habitat semula; ke ranah horor. Dalam film pertamanya, The Babadook, yang notabene film horor juga banyak menampilkan adegan mimpi. Dalam The Nightningale juga sama. Peristiwa-peristiwa yang tergambar dalam adegan mimpi tersebut semuanya mengerikan.  Banyak, katakanlah hantu, yang kadang muncul dengan wajah seram. Hanya saja yang jadi masalah adalah repetitifnya adegan-adegan mimpi itu terasa. Strukturnya selalu sama. Semuanya berakhir dengan kemunculan sosok yang paling seram, Clare yang tadi berjalan (atau berlari) terbelalak, dan kemudian dibangunkan. Adegan mimpi yang jumlahnya lumayan banyak ini jadi tak-kejutan lagi, jadi tertebak, sehingga malah seperti lebih kuat berfungsi sebagai transisi – atau bahkan; jeda iklan – ketimbang pandangan mendalam dari psikologis Clare.
 
 
 
 
Jennifer Kent membingkai kebrutalan penjajahan, menghidangkan kekerasan terhadap wanita, anak-anak, dan minoritas, tapi berhasil mengakhiri cerita tersebut dengan mengambil cara yang spesial. Ia memancing kita untuk melihat ke dalam. Tidak menjawab langsung, melainkan memberi kita jarak untuk mempertimbangkan. Ada masa ketika kita tidak sejalan dengan tokoh utamanya, yang tidak sepenuhnya kesalahan pada film. Melainkan ‘kesalahan’ kita yang telat untuk berubah, seperti tokohnya berubah. Film ini keras, susah untuk disaksikan karena kontennya yang no holds barred, namun merupakan salah satu film terpenting bagi siapapun yang ingin merasakan kemanusiaan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE NIGHTINGALE

 
 

PEREMPUAN TANAH JAHANAM Review

“No man is free who is not master of himself.”

Tidak ada tandingan kepercayaan diri Joko Anwar jika sudah berbicara tentang film horor. Horor memang sudah zonanya dia, afterall. Anwar memang sangat peka terhadap unsur-unsur kengerian, dia paham membangun, memancing dan kemudian mengeluarkan horor itu dengan baik, sehingga film-filmnya tidak sekadar jumpscare ngagetin. Opening Perempuan Tanah Jahanam membuktikan itu.
Kita melihat dua orang wanita ngobrol dalam loket tol masing-masing lewat handphone. Keduanya adalah penjaga karcis tol. Satu di antara mereka, Maya (Tara Basro sudah jadi trademark dalam film Joko Anwar seperti elemen perempuan hamil), mengaku ketakutan lantaran ada mobil kuno yang sama terus bolak-balik masuk ke jalur loketnya. Di samping bekerja sebagai penghantar dan perkenalan karakter yang sangat efektif, sekuen pembuka ini juga bekerja seperti film pendek horor urban yang sangat menakutkan.  Build up pengadeganannya sangat tight. Tensi film seketika naik begitu pengemudi mobil kuno itu turun menghampiri Maya. Cahaya dan kamera kompak menghasilkan suasana malam di tol yang eery, sepi kecuali oleh ketakutan Maya yang menguar ke tempat duduk kita. Maya bicara dengan sang pria misterius, hanya dibatasi oleh jendela kaca. Pria itu berasal dari desa kelahiran Maya, mengenali Maya sebagai Rahayu. Dan Pria ini datang untuk membunuh Rahayu atas tindakan mengerikan yang dilakukan oleh orangtua Rahayu. Adegan yang menyusul akan membuat kita menjerit tertahan, sebab jika ini adalah Scream atau horor whodunit lainnya, Maya tokoh utama kita akan berada di posisi mati duluan
Maya boleh saja selamat dari peristiwa tersebut, tapi bulu kuduk kita akan terus dibuat berpush-up ria. Perempuan Tanah Jahanam masih punya banyak lagi setting dan punchline momen-momen seram. Salah satu favoritku adalah ketika Maya berjalan di pasar ruko yang sudah sepi. Dia sendirian mencari Dini, hanya ditemani sejumlah manekin yang membuat aku siap-siap memejamkan mata. Menonton Perempuan Tanah Jahanam ini; pendapatku tentang Joko Anwar masih sama. Bahwa dia lebih hebat sebagai sutradara ketimbang sebagai penulis skenario. Cerita Maya berlanjut menjadi semakin aneh. Suasana seram di desa dengan kondisi misterius yakni setiap bayi yang lahir selalu tak berkulit tidak pernah bisa sepenuhnya menutupi naskah yang lemah dan banyak menyisakan ruang untuk kita menertawai hal-hal konyol yang ditimbulkan. Maya jadi penasaran mencari tahu asal usulnya. Ternyata benar dulu dia bernama Rahayu, dan orangtuanya punya rumah yang sangat besar di desa. Maya dan Dini yang terang saja kapok kerja lagi di tol butuh duit untuk bisnis baju mereka. Properti besar di tanah yang penduduknya benci kepadanya dijadikan Maya sebagai jalan keluar. Maya nekat pergi ke sana dengan menyamar sebagai mahasiswa.

karena siapa sih yang mau membunuh mahasiswa… wohoo dalem.

See? pilihan Maya tampak reckless dan bego. Seseorang datang dari suatu tempat untuk membunuhmu, mengatakan seluruh desa mencarimu, kemudian kamu malah memutuskan untuk pergi ke desa orang tadi sendirian? Mungkin memang tergantung seberapa besar untung yang bisa didapatkan dengan pergi ke sana. Mungkin memang tergantung seberapa gede napsu kita untuk mendapatkan sesuatu sehingga mau pergi ke tempat berbahaya tanpa persiapan yang matang. Dan sepertinya itulah gagasan yang disampaikan oleh film ini. Soal menuruti napsu dan tak punya kendali. Makanya antagonisnya adalah dalang yang bermain wayang dari kulit manusia.
Ada tokoh yang against all logic mengaku bernama Rahayu kepada penduduk desa, hanya supaya cepat diberikan surat rumah oleh kepada desa. Bahkan petaka pertama yang memulai rentetan tragedi dan ritual di sejarah desa ini bermula dari Nyai yang kebelet napsu pengen punya anak. Satu bukti lucu yang membuatku menarik kesimpulan film ini bercerita tentang pentingnya mengendalikan diri adalah fakta bahwa setiap hari di desa itu lahir bayi. Pertanyaan yang langsung bikin aku penasaran saat menonton ini bukanlah kenapa bayi yang lahir selalu tak berkulit, melainkan kenapa selama dua puluh tahun dikutuk sedemikian rupa, masih ada juga penduduk yang hamil di desa terpencil nan kecil itu. Tidakkah penduduknya jera melihat bayi mereka direndam sampai tak bernyawa lima menit setelah lahir. Nafsu penduduk di sana sebegitu besarnya, bahkan memang ada satu adegan yang menunjukkan lelaki di desa ingin memperkosa tetangganya yang sudah tiga bulan ditinggal pergi suami.

Film menunjukkan betapa mengerikannya malapetaka yang bisa terjadi jika manusia hanya menuruti keinginan dan hawa nafsu, tanpa memiliki kendali diri. Pemimpin akan berbuat semena-mena. Pengikut tidak akan berpikir jernih. Kita tidak akan selamat jika tidak menjadi dalang bagi hidup sendiri. Sengsaralah jika kita tinggal di tempat seperti demikian. Tempat  manusia-manusia hanya jadi wayang itulah yang dinamakan tanah jahanam.

I mean, itulah yang bisa kutarik dari cerita horor yang hanya punya lapisan luar. Sila bandingkan ini dengan Midsommar (2019) yang juga horor sadis nan berdarah yang bukan konsumsi bawah tujuh-belas tahun. Di balik peristiwa Dani terjebak di komunitas kecil yang ternyata adalah sekte dengan ritual-ritual pencabut nyawa, Midsommar adalah cerita tentang hubungan-asmara yang buruk; tentang wanita yang butuh untuk dimengerti tapi sekitarnya tidak pernah benar-benar mendukung atau perhatian kepadanya. Perempuan Tanah Jahanam, terasa ompong di luar cerita tentang wanita yang kembali ke desa yang seluruh penduduk di sana menginginkan dia mati untuk menghapus kutukan yang dipasang oleh keluarganya kepada seluruh desa. Perempuan Tanah Jahanam punya dialog yang kadang menyentil agama, atau pemerintah, ataupun soal orangtua kepada anak. Namun malah terasa sebagai dialog tempelan semata karena tidak paralel dengan perjalanan Maya. Yang mana dikarenakan si Maya sendiri tidak berubah banyak di akhir cerita selain pengetahuannya soal masa lalu bertambah, dia tidak punya inner-plot. Ada pembicaraan soal perawan di awal film yang sempat disinggung lagi di tengah, tapi ternyata malah tidak berbuah apa-apa bagi narasi. Selain saat ada bayi normal yang lahir, pada latar berkumandang musik natal, yang menandakan bayi sebagai simbol keselamatan bagi perawan di tanah jahanam.

mungkin ada somekind of twisted orgy sehabis panen sehingga di sana setiap hari ada bayi yang lahir

Dosa paling jahanam yang dilakukan oleh film ini terletak pada perlakuannya menggarap flashback untuk mengungkap kebenaran dalam-cerita. Film dengan setting dan treatment dan craft semenawan ini tidak mengimbangi diri dengan penulisan yang rajin. Ada tokoh hantu di sini yang hanya berfungsi sebagai device flashback, yang dilakukan dengan sangat standar. Semua film horor level rendah melakukan ini; bikin tokoh utama tak sadar diri, kemudian si hantu akan memberikan kenyataan berupa kejadian flashback begitu saja. Ini aku belum akan cerita soal narasi bagian pengungkapan itu yang juga tidak masuk akal. Motivasi dalang utama cerita ini sungguh tak logis, dan dikerjakan dengan berbelit-belit. Supaya gak diteriakin “Spoiler, woy!” maka di sini aku cuma bilang: kalo dia bisa santet dan ritual segala macem, kenapa enggak langsung bunuh, kenapa mesti menempuh jalan yang lebih banyak korban.
Penulisan film ini sungguh parah sehingga kita akan sering tertawa geli menyaksikan adegan atau mendengar dialognya.
Ada adegan jumpscare temen Maya mencolek pundaknya, dari balik pintu terali – literally menjulurkan tangannya masuk ke terali. Orang macam apa yang memanggil teman dengan cara begitu, terlebih saat padahal dia punya kunci pintu terali tersebut. Ada tokoh dosen sastra Rusia yang begitu random – kenapa musti Rusia dan enggak langsung sastra Jawa saja jika toh fungsi tokoh ini hanya menafsirkan aksara jawa kuno.
Ada dialog seperti “Mau BH?” atau “Itu rumah siapa?” yang dijawab dengan “Itu rumah keluarga yang tinggal di sana saat saya masih kecil” – dialog semacam ini yang mestinya dihindari oleh setiap penulis naskah lantaran tidak memberikan informasi apa-apa, pun tak membentuk atau mencerminkan karakter.
Satu hal yang bisa kita pelajari soal karakter Maya adalah bahwa dia tidak bisa naik motor, karena ada adegan Maya mengalihkan perhatian penduduk kampung yang mencegatnya dengan motor. Maya melempar handphone ke arah yang berbeda sehingga kerumunan meninggalkan motor dengan keadaan menyala, dan Maya tidak menggunakan motor tersebut untuk melarikan diri dengan gampang.
Wow, jika mau me-nitpick, akan ada banyak sekali yang bisa dicecar.
Yang bikin aku tak habis pikir adalah jemuran Christine Hakim yang masih membulat padahal itu kulit manusia yang elastis bukan cetakan plastik.

It’s not a bad movie. Beneran. I do not hate it. Film ini dibuat dengan kompeten, ada passion dari pembuatnya. Aku hanya  tidak merasakan perkembangan sejak Pengabdi Setan (2017), kecuali kali ini Joko Anwar berusaha mengakhiri cerita dengan benar – menggunakan epilog ‘satu tahun kemudian’ sebagai hiasan – dan trademark Joko Anwar kali ini lebih terasa. Makanya film ini niscaya akan mendapat sambutan demikian hangat dari para penggemarnya. It’s an enjoyable thrilling ride. Hanya saja film ini cuma punya permukaan. Tidak banyak yang bisa kita dapatkan, selain dialog-dialog tempelan persepsi pembuatnya soal agama, pemerintahan, dan keadaan sosial yang relevan. Juga ada pembahasan soal dosa orangtua yang turun kepada anaknya. Penulisan film ini adalah sisi terlemah. Narasinya berbelit dan terlalu mengandalkan kepada unsur kejutan dan rangkaian kejadian alih-alih perkembangan tokoh sebagai seorang manusia. Aku enggan menggunakan istilah plot-hole, namun pada film ini banyak dijumpai hal-hal yang membuat film jatuh konyol dan tak masuk akal. Yang pria dari desa di awal film; tak pernah dijelasin darimana dia bisa tahu Rahayu kerja di tol atau bahkan wajah Rahayu sekarang.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PEREMPUAN TANAH JAHANAM.

 



THE PEANUT BUTTER FALCON Review

“No one has ever made himself great by showing how small someone else is” 
 
,
 
Pernahkah kalian mencurahkan keinginan kalian – membagi impian kalian – kepada orang, tapi lantas dipatahkan oleh mereka lewat saran yang jelas-jelas tidak mendukung atau malah menyepelekan? like, “Hei aku mau buka warung es kri-” “EMANGNYA JUALAN GAMPANG!?” Well, kisah dua orang ‘buronan’ yang saling bertemu dalam The Peanut Butter Falcon akan memberikan tiupan angin semangat yang manis kepada kalian yang pernah mendapat perlakuan seperti demikian. Atau mungkin kalian merasa bersalah karena pernah melepehin mimpi orang lain. Karena perjalanan dua ‘buron’ dalam film ini sarat oleh pesan untuk mengisi hidup sepenuhnya dengan mengejar mimpi.
Dua tokoh yang jadi representasi dalam cerita yang bertempat di desa kecil di pinggiran North Carolina ini adalah Tyler, seorang pemuda yang berubah menjadi pencuri kepiting tangkapan lantaran dia kehilangan pegangan sejak kematian sang abang. Tyler diburu oleh nelayan yang ia bakar peralatan pancingnya; Tyler benar-benar tak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya. Sampai dia bertemu dengan tokoh satu lagi, yakni Zak. Berusia 22 tahun, Zak menghabiskan sebagian besar hidupnya tinggal dalam lingkungan panti jompo – menonton video kaset gulat jadul, karena di tempat seperti itulah orang-orang berpengidap Down Syndrome yang tak berkeluarga dipelihara oleh negara. Zak kabur dari panti, ia pengen ke sekolah gulat buatan pegulat idolanya mengajar. Merasa sama-sama buron dan kesepian, Tyler setuju untuk bukan saja menjadi teman seperjalanan buat Zak, tapi juga membimbing Zak. Mengajarkannya berenang, menikmati hidup alih-alih mengurungnya. Mereka berlayar bersama, menempuh bahaya bersama. Mereka saling menjaga dan mendukung masing-masing.

satu lagi film bagus yang berhubungan dengan wrestling di tahun 2019

 
Persahabatan antara Tyler dan Zak yang bertumbuh inilah yang terangkum dengan indah. Karena film ini sangat hormat kepada karakter-karakternya. Ada sedikit komentar tentang ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ yang dibahas oleh film ini, regarding tokoh Tyler sehingga kita tidak serta merta memasukkan tokoh ini ke dalam kotak. Penghormatan terlihat paling jelas pada perlakuan film ini kepada Zak. Aku rada males nonton film-film dengan tokoh disabled karena biasanya tokoh-tokoh tersebut diperankan oleh aktor yang tak-bercacat dan mereka hanya memainkan tokoh itu untuk easy-simpati. Bukannya bermaksud bilang mereka tidak bermain dengan baik ataupun tulus; beberapa kadang menyabet penghargaan karena peran sebagai disabled person. Hanya saja ada sesuatu yang kurang, ada pertanyaan yang mengganjal kenapa film tidak meng-cast an actual disabled person. Menyaksikan perlakuan film ini kepada Zak; ia diperankan oleh pengidap Down Syndrome beneran, Zack Gottsagen, benar-benar membuatku merasa hangat. Zak tidak ditampakkan sebagai makhluk yang perlu dikasihani. Perannya terasa begitu nyata karena Zak bukanlah sebuah simbol atau metafora atau bahkan berpura-pura. Oh dia berakting kok, disabled person bermain sebagai disabled person tidak lantas berarti dia bermain menjadi dirinya sendiri. Ada karakter dalam tokoh Zak. Dan pendekatan terhadap tokoh ini, penulisan maupun penampilan, tidak sekalipun terasa mengecilkan ataupun dibuat-buat.
Film dengan berani memperlihatkan orang-orang seperti Zak masih diperlakukan kasar oleh sebagian besar orang. Mereka dipanggil idiot. Bahkan jika tidak, orang-orang tetap memperlakukan mereka selayaknya seorang idiot. Inilah yang dihadapi oleh Zak-Zak di luar sana. Namun film juga tidak mengeksploitasi ini. Melainkan memperlihatkan sudut lain. Masih banyak juga orang-orang seperti Tyler; yang tidak mempedulikan kekurangan Zak. Melainkan menganggapnya sama rata sebagai manusia seutuhnya. Zak tidak mendapat perlakuan yang berbeda. Film ini menolak untuk membuatnya terlihat lemah. Zak punya mimpi yang perlu didukung, yang sama berharganya dengan keinginan orang-orang yang ‘normal’.

Jangan sekalipun meremehkan orang lain, apalagi meremehkan keinginan dan impian mereka. Setiap orang pasti punya mimpi dan tujuan, dan mereka bekerja keras untuk menggapai hal tersebut. Penting bagi kita untuk menghormati ini, untuk memahami perjuangan orang-orang di sekitar hidup kita. Tidak akan ada pencapaian di dalam hidup jika kita semua saling menganggap remeh perjuangan masing-masing.

 
Hal menakjubkan yang timbul dari pendekatan realis yang dipilih film untuk menghidupkan tokoh-tokohnya adalah reaksi para tokoh seringkali tak-terduga. Jawaban Tyler ketika menanggapi curhatan Zak soal dia tidak bisa jadi pahlawan karena ia mengidap Down Syndrome akan mengejutkan sekaligus menghangatkan hati kita semua. Karena merupakan jawaban yang tidak receh untuk menghibur Zak, melainkan pernyataan yang menantang kita dengan kebenaran. Sutradara sekaligus penulis naskah Tyler Nilson dan Michael Schwartz juga menggunakan struktur yang tidak biasa yang membuat film ini menjadi semakin stand out. Dalam film buddy-trip seperti ini biasanya kita menjelang akhir kita akan mendapat sekuen dua sahabat itu berantem atau paling tidak berpisah untuk kemudian bertemu kembali dan saling menyadari kesalahan masing-masing. Kita tidak melihat sekuen semacam ini pada The Peanut Butter Falcon. Naskah membagi kekompleksan ceritanya kepada tiga orang tokoh, alih-alih dua, sehingga perjalanannya terasa lebih besar, dengan penemuan yang lebih dramatis daripada momen berantem yang mungkin bisa dipaksakan.
Selain Tyler dan Zak, juga ada tokoh salah satu pengasuh Zak di panti bernama Eleanor yang ditugaskan mencari dan membawa pulang Zak – yang juga punya arc di dalam cerita. Jadi kita dapat tiga tokoh mayor. Jika biasanya tokoh utama, protagonis, dan hero sebuah film adalah satu orang yang sama, maka The Peanut Butter Falcon tampak mengadopsi DRAMATICA THEORY. Tokoh utama, protagonis, dan hero dalam cerita ini dibagi menjadi tiga tokoh yang berbeda. Tokoh utama dalam film ini adalah Tyler, karena dia lebih aktif menggerakkan plot. Tyler punya perspektif dan backstory yang lebih dominan. Dia juga membawa elemen intens dalam cerita karena stake yang ia bawa – Tyler diburu oleh nelayan preman yang hendak menyakitinya – terasa lebih berdampak. Aku gak pernah benar-benar suka sama akting Shia LaBeouf, tapi sebagai Tyler di sini aku merasa melihat penampilan terbaik yang pernah ia berikan. Kita melihat Tyler membuka dirinya dan pada akhir film ia tidak lagi sesempit saat di awal. Protagonist cerita ini adalah Eleanor yang diperankan dengan sangat manis dan humanis oleh Dakota Johnson. Disebut protagonist karena Eleanor bukan semata mendukung, melainkan adalah yang paling berubah seiring dengan perjalanan tokoh utama. Tadinya ia tidak mendukung dan berbeda pandang dengan Tyler soal impian Zak, tapi di sepanjang perjalanan ia menyaksikan hubungan mereka, sehingga ia menyadari dan belajar banyak, lalu ia mengubah pandangannya. Sedangkan Zak; dia adalah tokoh sentral. Dia kuat, vulnerable, lucu, supel, dia punya tujuan yang paling jelas di antara ketiga tokoh, dan kita ingin dia sukses mencapai tujuan tersebut. Dia adalah Hero dalam cerita ini. Dan ini sesuai dengan keinginan Zak di dalam cerita; dia mau jadi pegulat pahlawan semua orang.
Interaksi antatokoh ini tergambar dengan manis lewat sinematografi yang luar biasa menawan. Adegan Zak menari dengan Eleanor di atas rakit, adegan Zak menghibur Tyler, adegan Tyler menggoda Eleanor saat pertama kali mereka berjumpa, ini adalah sedikit dari contoh adegan yang loveable karena begitu manusiawi yang sayang untuk dilewatkan. Karakter minor dalam film ini juga tak kalah menarik. Untuk penggemar pro-wrestling, kita akan mendapat surprise oleh penampilan dua Hall of Famers WWE. Aku gak akan bilang siapa, kalian harus nonton sendiri.
Oke, aku tidak bisa menahan diri. It was Mick Foley. Dan Jake Roberts. Tapi aku tetep gak akan bilang mereka jadi peran apa, tonton sendiri aja haha

nonton film ini jadi pengen lihat lagi penampilan pemainnya di film-film mereka yang terkenal, termasuk Dakota Johnson di film ehm…

 
Kadang cerita film ini terlampau manis sehingga beberapa aspek terasa cheesy. Beberapa adegan bahkan tampak seperti tak mungkin terjadi di dunia nyata. Misalnya pada bagian wrestling menuju ke ending, yang buatku terasa terlalu cepat dan tidak lagi tampak real. Walaupun memang sejak kapan wrestling itu real (ha!), tapi pada beberapa bagian film ini memang lebih tampak seperti dongeng yang berisi interaksi nyata dengan karakter yang begitu well-realized. Sepertinya film berusaha menyeimbangkan fantasi dan realis. Usaha yang tidak selalu berhasil mulus. Namun kuyakinkan itu semua merupakan kekurangan minor yang tidak berpengaruh banyak kepada keasyikan menikmati perjalanan cerita film ini.

Adegan Zak kabur dari terali kamar pantinya juga tampak sangat cheesy dan tak mungkin terjadi di dunia nyata. Tapi hal ini justru terasa menyedihkan karena adegan itu hanya tampak cheesy karena kita sulit membayangkan di dunia nyata ada orang yang begitu menghormati mimpi seseorang seperti Zak, percaya kepadanya, dan membiarkan dia mengejar mimpinya. Menyedihkan hal tersebut tampak seperti fantasi di dunia kita sekarang.

 
 
Sebagian besar yang terlibat film ini; sutradara Nelson dan Schwartz, juga aktor Zack Gottsagen, benar-benar menghidupi paham yang diangkat oleh tokoh cerita film ini. Yakni mengejar mimpi dan mengisi hidup dengan hal yang ingin dilakukan. Hasilnya bisa kita nikmati sendiri; sebuah tontonan yang menghangatkan jiwa, yang menghibur tanpa melupakan hati. Pesan yang diangkat tereksplorasi dengan baik tanpa menyinggung siapa-siapa.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE PEANUT BUTTER FALCON.

JOKER Review

“Smile even when it hurts”
 

 
Cerita origin Batman sudah kita dengar lebih sering dari yang kita pedulikan. Tapi cerita musuh abadinya, si Joker; well, beberapa orang – termasuk aku tadinya – lebih memilih untuk membiarkan asal-usul Joker tetap misterius. Sepertinya memang lebih ‘menantang’ jika latar tokoh yang kompleks ini dibiarkan terselubung kabut. Plus, rasanya lebih aman dibiarkan begitu ketimbang tokoh ini ‘dirusak’ oleh backstory maksa yang mengakibatkan dirinya menjadi overdramatis – atau malah membuat kita merasa pantas untuk membenarkan segala tindakannya. Karena Joker memang orang ‘gila’. Dia ‘sakit’. Dan beruntung sekali, Todd Phillips ternyata mengerti letak menariknya Joker. Dia membuat kita bersimpati kepada Joker, secukupnya saja, karen kita tahu Joker ‘masih’ jahat. Memang, Phillips justru menantang kita dengan berbagai pertanyaan lewat film yang diniatkan sebagai character-studi – Joker dibuatnya bukan lagi sekadar tokoh penjahat di buku komik. Joker dan Gotham tidak terasa begitu jauh; boleh jadi di dunia kita bakal muncul yang seperti Joker dalam waktu dekat.
Joker tadinya adalah seorang pria bernama Arthur Fleck; yang merasa dilecehkan oleh orang-orang karena dia miskin dan bekerja sebagai badut. Menghibur orang walaupun orang tak pernah peduli sama keadaan hatinya. Di rumah, dia menghibur dan merawat ibunya yang sakit keras – bahkan ibunya tersebut lebih perhatian sama surat-surat yang tak kunjung dibalas oleh calon walikota Gotham. Yang dilakukan Arthur di luar shift kerjanya gak jauh-jauh dari kerjaan badut, yakni memasang senyum palsu. Di dunia yang semakin keras dan beringas, Arthur berusaha untuk tidak melahirkan kekerasan dari kekerasan. Dia tetap tertawa, berusaha membuat orang tertawa, meskipun tidak lucu. Oh, Arthur yang menahan sisi gelap tidak pernah lucu. Ketika diundang jadi bintang tamu acara televisi, Arthur tahu penonton dan orang-orang kaya itu tidak tertawa bersamanya. Mereka menertawakan dirinya.

tikus super yang susah untuk dibunuh

 
Tokoh Joker sendiri memiliki banyak variasi. Semenjak kemunculan perdana di layar lebar, Joker muncul di berbagai film dan serial televisi Batman, dimainkan oleh aktor-aktor yang sebagian besarnya adalah aktor top Hollywood. Masing-masing mereka punya pendekatan yang berbeda dalam memerankan Joker. Sebegitu kompleksnya tokoh ini. Yang paling ramai dibicarakan tentu saja versi Heath Ledger yang berhasil menghantarkan sang aktor kepada Oscar. Hanya satu kesamaan di antara semuanya; Joker itu edan. Dan yang dilakukan oleh Joaquin Phoenix pada Joker kali ini; benar-benar pendekatan yang unik. Inilah yang paling aku suka dari film ini. Jokernya menyayat hati sekaligus mengerikan. Dalam film Joker ini, si Arthur punya kondisi medis yang membuatnya tertawa tak-terkontrol ketika sedang mengalami gejolak emosional. Arthur akan mendadak tertawa, misalnya saat mendapat penolakan dari orang, yang membuat orang semakin menganggap dirinya aneh.  Ini sejalan dengan gagasan utama yang diangkat film yakni orang yang tersenyum terlalu keras sehingga sakit. Meskipun sakit. Dan kita benar-benar melihat sesakit apa tawa itu bagi Arthur. Secara fisik maupun emosional. And it’s up to Phoenix memainkannya dengan begitu meyakinkan. Dia tertawa sambil memegang tenggorokan. Dia seperti tertawa dan batuk bersamaan. Namun tawa sedihnya itu masih tergolong normal. Coba deh dengerin ketika dia beneran tertawa karena hatinya girang. Dijamin bikin gak enak alias merinding. Setiap kali Arthur tersenyum, aku merasakan ada sesuatu yang berbahaya.
Jadi, iya, pujian-pujian yang kita baca di internet seputar penampilan Phoenix dalam film Joker; itu semuanya benar. Akan enggak lucu jika Phoenix enggak masuk nominasi Oscar – heck, dia mungkin bakal menangin Oscar. Jika itu terjadi, itu bakal jadi kali pertama peran adaptasi komik mendapat perhargaan sebagai tokoh utama.  Joker versi Phoenix seperti menari di garis simpati dan mengerikan. Ini sesungguhnya sangat susah untuk dilakukan. Karena jika kita lihat pada naskah, Arthur memang seperti sosok yang pantas untuk kita pedulikan. Untuk kita dukung. Arthur kehilangan semua yang ia cintai, dia ditertawakan, tidak dipedulikan, dia dilepehin oleh orang-orang yang ia bayangkan akan mendukung dan peduli padanya. Tapi kita enggak boleh ‘jatuh hati’ pada Joker. Penampilan Phoenix-lah yang menjaga kita dari itu. Ada kegelapan di balik tingkah badutnya. Setiap kali dia muncul di layar – dan untungnya ini sering sekali – seisi studio bioskop serasa dialiri energi negatif yang ganas. Misalnya pada saat dia dipanggil menjadi bintang tamu televisi, kita sudah tahu dia akan diledek habis-habisan di depan jutaan pemirsa, sekaligus kita juga merasa ngeri sesuatu yang sadis bakal terjadi di sana. Gestur, kata-kata, dan gerak gerik Phoenix menghidupkan Joker yang memberi tahu kita semua itu.

Joker tidak lagi menganggap hidupnya sebagai tragedi. Melainkan sebagai komedi. Tariannya bukan berarti dia berusaha melucu, melainkan sebagai simbol dia menerima kegilaan dan bercanda dengannya. Sebuah mekanisme pertahanan yang tanpa sadar kita ikuti ketika kita melihat ketidakadilan orang-atas di dunia nyata, dan kita berkata “alangkah lucunya negeri ini”

 
Tantangan terbesar film ini memang terletak di tokoh Joker itu sendiri. Bagaimana membuat dia tak justru tampak sebagai pahlawan. Karena aku bisa melihat film ini bakal dihajar gelombang kontroversi. I mean, It Chapter Two (2019) aja kemaren sempat diprotes oleh serikat badut beneran karena membuat imaji yang buruk terhadap profesi tersebut. Bayangkan apa yang bakal mereka katakan ketika melihat badut di sini dijadikan semacam simbol anarki. Arthur menjadi ‘juru selamat’ bagi kaum tertindas yang dianggap sampah oleh pejabat dan konglomerat di kota Gotham. Mereka memakai slogan “kita semua badut” dan mulai melakukan pengrusakan, penjarahan, pembakaran dan segala kriminalitas di akhir cerita. Aku bisa melihat orang-orang bakal memprotes ini, karena memang secara alami ini adalah seorang penjahat yang dijadikan tokoh utama. Namun menurutku film bekerja sangat baik dalam membuat semua hal tersebut tak tersampaikan sebagai sebuah glorifikasi. Joker ‘hanya menampilkan’ seseorang seperti Arthur bisa tercipta – dia hanya beringas ketiak pengobatan dihentikan; ini adalah metafora soal kepedulian sosial. Pemberontakan seperti pada film ini bisa beneran terjadi jika situasi dipertahankan berjalan ke arah sana.
Film seperti ingin menyentil; jika film ini terasa relatable, maka dunia memang sedang kacau. Jika kita nge-cheer Arthur dan persona Jokernya, maka dunia memang butuh sosok seorang pahlawan. Di sinilah letak mengerikannya film ini. Anarki dianggap sebagai jawaban. Sebagai keteraturan di dalam sebuah kekacauan. Tidak ada superhero yang datang dan mengatakan kepada kita bahwa Joker itu salah. Ini relevan sekali dengan keadaan Indonesia baru-baru ini. Bentrok antara pelajar dengan aparat kepolisian.

Apakah ada pahlawan di sana? You be the judge.

 
Ketimbang adaptasi, film ini lebih tepat disebut terinspirasi dari buku komik. Karena sama seperti Gundala (2019) bulan lalu, Joker terasa terlalu kelam untuk sebuah sajian tokoh di komik superhero. Film ini terasa lebih sejajar dengan film-film kriminal seperti The House that Jack Built (2018) ataupun Dragged Across Concrete (2019) yang membuat kita mendalami pemikiran seorang pembunuh ataupun kriminal. Yang diceritakan perlahan sehingga membuat kita mengerti alasan mereka memilih jalan kriminal. Sudah cukup sering kita melihat cerita seseorang yang menjadi lebih buruk daripada dirinya sebelumnya. Di titik ini, Joker tetap masih terasa mencuat berkat penampilan akting yang disuguhkan. Juga didukung oleh sinematografi yang terlihat detail dan cantik oleh pemilihan warna
Dalam pengadeganan, Joker mulai berkutat untuk tak tampak tampil seperti film yang belum-pernah-dilihat. Lalu kemudian berhenti sepenuhnya dalam melakukan hal tersebut. Joker lebih memilih untuk memasukkan banyak referensi  dan terinspirasi dari film Taxi Driver (1976). Aku bukannya mau bilang film ini nyontek, tapi memang terlihat jelas mereka tidak menyembunyikan kenyataan bahwa beberapa gerakan dan pilihan shot yang diambil membuat kita teringat pada Taxi Driver. Film itu juga diserang kotroversi, tokohnya juga tampak ‘edan’ seperti Joker. Seringnya shot-shot yang mirip itu muncul menjadikan referensi-referensi tersebut tidak ‘lucu’ lagi. Dan sebaiknya mereka tidak membuatnya terlalu gamblang seperti demikian.
 
Itulah yang menahanku dari memberikan bintang delapan kepada film ini. Meskipun begitu, ini tetaplah sebuah character studi yang menarik untuk ditonton. Karena menantang kita dengan banyak pertanyaan. Lagipula, yang belum nonton Taxi Driver enggak akan ngeh dan tidak akan mempermasalahkan kesamaan tersebut. Atau mungkin enggak akan sempat untuk membahas hal tersebut lantaran film terasa sangat ganas sedari awal. Dan tidak sekalpun kita merasa ingin menoleh dari layar. Menurutku, sejauh ini, film ini adalah pencapaian tertinggi yang bisa dicapai oleh drama-drama manusia yang terinspirasi dari kisah komik.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for JOKER.

 
 

MIDSOMMAR Review

“Empathy is the most essential quality of civilization”

 

 

Ini baru film horor panjang kedua Ari Aster, tapi Midsommar udah sukses menjadi film-yang-paling-banyak-dirikues-reviewnya sepanjang blog ini berdiri. Jangankan sebelum tayang di bioskop Indonesia, sewaktu naskahnya bocor di internet saja aku sudah ‘dirongrong’ untuk membaca dan memberikan penilaian. Well, of course aku sebenarnya juga menggelinjang nungguin film yang sempat hampir batal tayang di bioskop sini ini. Hereditary adalah film terbaik terfavoritku tahun 2018. Dalam film tersebut Aster menunjukkan kekuatannya menghimpun horor dari drama manusiawi. Mengetahui itu semua, aku tahu bisa mengharapkan apa kepada Midsommar, dan aku menantinya dengan sabar. Aku ingin sekali karya Ari Aster ini jadi film terbaik lagi.

Setelah aku selesai menonton Midsommar, aku merasa sangat resah. Oleh adegan-adegan. Oleh karakter. Oleh penceritaan. Oleh ceritanya. Drama kejiwaan manusia mengakar dengan kuat. Film benar-benar meluangkan waktu untuk itu. Judulnya mengacu kepada festival musim panas yang dikunjungi oleh tokoh film, akan tetapi cerita belum akan membawa kita ke sana; tidak hingga sampai babak kedua. Untuk seluruh babak pertama kita benar-benar dipahamkan dulu kepada situasi Dani si tokoh utama. Hubungan asmara cewek ini lagi di ujung tanduk. Karena Dani orangnya panikan, secara emosional dia butuh didukung setiap saat. Dan sikap Dani terkait hal tersebut mulai terasa mengganggu bagi cowoknya yang merasa keseret-seret dalam drama wanita. Jika bukan karena hal yang ditakutkan Dani menjadi kenyataan, pastilah mereka berdua sudah putus. Namun duka Dani membuat mereka tetap melanjutkan hubungan. Di sinilah film menggambarkan toxicnya hubungan Dani dan Christian. Akan lebih baik mereka putus saja. Tapi Dani butuh sandaran emosional, dan Christian enggak sampai hati mutusin cewek yang sedang berkabung (emangnya siapa yang tega?). Arti ‘Enggak sampai hati’ di sini menjadi mendua karena memang begitulah sikap Christian kepada Dani seterusnya; tidak sepenuh hati dia jadi sandaran. Christian dan teman-temannya enggak setulus hati menenangkan mental Dani. Mereka enggak sepenuhnya senang tatkala Dani memutuskan untuk ikut ke festival musim panas di alam pedesaan Swedia

I used to did that too

 

Midsommar menggunakan visual untuk menggambarkan sekaligus mengontraskan gejolak di dalam karakter Dani. Tampilan film ini sangat benderang dan meriah ketika sudah sampai di desa komunitas tempat kejadian perkara nantinya. Akan sulit menerkanya sebagai film horor hanya dengan melihat warna dan segala keindahan yang terpampang. If anything, kejadiannya seperti berada di dalam dunia mimpi berkat cahaya dan warna yang natural tapi tak terasa begitu-natural. Namun semua itu akan cepat berubah menjadi mimpi buruk karena justru pada saat di festival itulah kejadian-kejadian berdarah yang bisa bikin mual film ini terjadi. Ada sesuatu yang aneh pada tempat yang penuh suka ria dengan banyak obat-obatan untuk rekreasi tersebut. Sampai ke titik yang membuat tradisi dan upacara mereka tidak bisa lagi dianggap seenteng perbedaan budaya semata. Jika kalian menonton film ini untuk melihat kepiawaian teknik dan efek gore – yang jadi nilai jual lebih film – maka kalian akan kesal menontonnya di bioskop Indonesia yang banyak penyensoran.

Untungnya, bukan sebatas kesadisan dan kevulgaran yang dilakukan dengan hebat oleh film ini. Melainkan inti dan hati ceritanya. Tentang toxic relationship dan pentingnya untuk merasakan empati dalam menjalin hubungan tadilah yang dijadikan kemudi utama penggerak cerita. Naskah film ini tidak berkembang demi menjawab pertanyaan seputar membasmi ritual atau mengungkap misteri pemujaan dan sekte di balik festival. Bagian itu justru elemen terlemah pada film karena tidak memuat hal yang benar-benar baru. Banyak kejadian berkaitan dengan ritual atau sekte yang mengingatkan kita pada film lain. Horor klasik asal Inggris The Wicker Man (1973) akan menjadi hal pertama yang terlintas ketika menyaksikan film ini. Midsommar secara fokus membahas soal membuka diri terhadap hubungan baru yang lebih sehat yang disimbolkan dengan sangat ekstrim. Pertanyaan yang dijadikan plot poin naskah adalah apakah Dani bakal mempertahankan hubungan dengan Christian, dan ultimately apakah Dani akan menganggap pacarnya tersebut sebagai keluarga. Lihat saja cara gendeng film ini menyimbolkan tindak membakar barang-barang dari mantan.

Sebagai manusia, kita paling enggak mau merasa sendirian. Apalagi jika dalam kesedihan. Kita butuh orang untuk diajak berbagi. Ini di satu sisi menyebakan menjalin hubungan itu cukup tricky. Kita enggak bisa begitu saja membagi semua hal kepada orang lain tanpa membuat mereka merasa dituntut dan diseret ke dalam hal negatif. Kuncinya adalah pada pemahaman dan empati.

 

Tokoh Dani ditulis dengan sangat melingker sehingga kita paham apa yang ia inginkan dan apa yang ia butuhkan. Keluarga. Pihak untuk mendengarkan dan berbagi perasaan dengannya. Sepanjang film dia harus menyadari dan melihat mana yang pantas untuk ia anggap sebagai keluarga. Naskah menuliskan ini semua dengan jelas lewat dialog dan bukti-bukti visual. Christian yang memeluknya dalam diam di bagian awal dikontraskan dengan penduduk komunitas yang mengikuti irama tangisan Dani di menjelang akhir film. Tadinya tidak ada teman yang ikut berduka dengan dirinya. Dani sendirian, terpisah secara emosi dari kelompoknya. Salah satu hal paling mengganggu yang diangkat oleh film ini adalah betapa orang-orang desa yang udah kayak orang gila itu justru lebih punya empati ketimbang geng Christian yang terpelajar. Para penduduk desa ikutan mengerang kesakitan ketika ada tetua mereka yang sakaratul maut ketika ‘gagal’ bunuh diri dalam sebuah upacara adat.  Para wanita di komunitas ikut menangis bersama Dina. Merekalah yang sebenarnya dicari oleh Dani. Bagi Dina, bukan masalah lagi perkara mereka-mereka itu sinting atau bukan. Yang jelas sekarang dia sudah bisa berbagi bukan hanya kesedihan dan duka, melainkan juga kebahagiaan dan suka cita. Ia tak lagi merasa terkucilkan.

Dunia Terbalik

 

Film mencapai puncaknya ketika mengeksplorasi hubungan antara Dani dan Christian. Penampilan Florence Pugh sebagai Dani menjadi salah satu kunci utama keberhasilan ini. Tadinya aku sudah cukup respek sama aktor ini, karena dia kelihatan sangat total bermain sebagai pegulat di Fighting with My Family (2019). Namun di Midsommar, dia bermain jauh lebih total lagi. Secara emosional, tentu saja. Ari Aster berhasil lagi menarik yang terbaik dari pemainnya, seperti yang ia lakukan sebelumnya pada Toni Collette di Hereditary. Kedua penampilan ini pantas untuk diganjar Oscar, meskipun memang sepertinya peran horor sulit untuk diloloskan.

Ketika kita melongok ke luar dari masalah Dani, begitu kita ingin merasakan dunia cerita secara utuh, film mulai terasa melemah. Karakter-karakter yang lain terasa sempit dimensinya. Jika pun ada ruang, seperti karakter salah satu teman Dani yang bernama Pelle, maka itu digunakan sebagai twist alias ada sesuatu yang ditutupi. Cerita fish-out-of-water sekelompok remaja hidup dalam lingkungan dengan peraturan yang menurut mereka ajaib tak pernah tampak benar-benar menantang karena ada beberapa kali kita harus menahan ketidakpercayaan lantaran mereka seperti tak pernah curiga melihat gelagat yang enggak-enggak. Seperti, film bisa saja berakhir jika semua pendatang di komunitas itu sepakat untuk pergi. Tapi tidak, film membuat mereka ‘terpisah’ dan tidak bergerak seperti manusia sungguhan. Melainkan sebuah bidak pada naskah.

Soal tragedi pada keluarga Dani di awal hadir dengan terlalu kompleks untuk tujuan melandaskan betapa sendirinya Dani bersama pikiran dan perasaannya. Film seolah mengisyaratkan peristiwa tragedi itu bakal balik dan berhubungan ke akhir cerita, tapi ternyata tidak. Mungkin ada petunjuk visual yang kulewatkan, entahlah, tapi aku merasa peristiwa tersebut seperti ditinggalkan begitu tujuannya sudah tercapai. Yang membuat penggambaran kejadiannya jadi terasa eksesif. Meski memang sekalian digunakan untuk melandaskan genre – sejauh mana film menampilkan adegan kematian – tapi aku tetap merasa mestinya ada cara yang lebih bisa klop merangkai kejadian sehingga tidak terkesan terlalu eksploitatif (terhadap genrenya sendiri).

 

 

 

Jadi itulah sebabnya aku merasa resah setelah menonton ini. Dari teknis kamera, editing, penampilan, visual, efek – ini benar-benar film juara. Gagasannya pun bikin merinding. Tidak peduli seperti apa keluargamu, yang penting kita bisa merasa menjadi bagian – dilihat, didengar, dimengerti – mereka. Namun juga aku merasa film ini tidak se-wah Hereditary. Ada elemen pada cerita dan penceritaannya yang terlalu dibuat untuk memenuhi standar pada genrenya. Sehingga jadi gimmicky. Selain itu, beberapa bagian mestinya bisa dipercepat temponya, karena ada yang tidak terlalu signifikan untuk menambah bobot cerita seperti adegan mereka getting high together. Catatan penting untuk yang mau nonton adalah ini film yang berpotensi besar untuk mengganggu dan bikin gak nyaman, meskipun memang lebih berhumor ketimbang Hereditary.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MIDSOMMAR.