TOY STORY 4 Review

“It’s the broken toys that need the most love and attention”

 

 

Dalam semesta Toy Story, semua mainan bisa berbicara. Dapat bergerak sendiri, dan merasa sedih kalo tidak lagi diajak bermain oleh anak yang memiliki mereka. Karena itulah tujuan para mainan tersebut diciptakan. Dan mainan di sini ini bukan terbatas yang seperti Woody, Buzz Lightyear, Jesse, atau Rex, yang memang sebuah figur aksi, yang punya baterai, dan diprogram untuk dimainkan aja. Melainkan juga boneka porselen seperti Bo Peep yang sebenarnya hanya hiasan ruangan. Atau bahkan potongan-potongan bagian dari mainan pun bisa bergerak dan diam-diam pengen dimainkan oleh manusia.

Toy Story 4 memperkenalkan kita kepada ‘mainan’ baru. Bernama Forky, yang dibuat dari senpu (sendok-garpu) ditambah mata-mataan dan potongan ‘sampah’ lainnya. Woody menyaksikan sendiri gimana Bonnie, anak perempuan yang jadi ‘majikan’nya menciptakan Forky out of her insecurities di hari orientasi TK. Forky memang tercipta sebagai mainan hasil imajinasi anak-anak, tapi dia sendiri tidak tahu dirinya adalah mainan. Tapi bukan seperti Buzz pada film pertama yang gak sadar dirinya cuma mainan. Inilah yang membuat tokoh baru yang sebenarnya cukup annoying tersebut menarik. Karena Forky berbeda dari mainan-mainan yang sudah kita kenal. Untuk pertama kali, kita bertemu mainan yang tidak mengenali dirinya sebagai mainan. Alih-alih bermain bersama anak, insting natural Forky adalah kembali ke tempat sampah. Sikap Forky ini ‘mengganggu’ Woody. Penting bagi Woody – yang tadinya selalu berada dalam lemari karena tak-terpilih jadi teman bermain Bonnie yang lebih suka sheriff koboi cewek – untuk menjaga supaya Forky tetap berada di pelukan Bonnie. Karena ia tahu pentingnya mainan tersebut bagi Bonnie, dan juga inilah satu-satunya cara Woody bisa berguna bagi Bonnie. Jika Forky hilang kembali ke tempat sampah, itu berarti peran Woody selesai; yang berarti dia juga cepat atau lambat akan dibuang. Usaha Woody dalam mencegah semua itu terjadi membawa mereka ke sebuah petualangan yang tak-terduga. Pandangan Woody terbuka sebagaimana dia bertemu dengan berbagai mainan baru. Salah satunya adalah cengceman lamanya, si Bo Peep, yang justru tampak senang dan lebih oke sebagai mainan tanpa-pemilik.

sebelum jadi mainan aja eksistensinya udah membingungkan, sendok atau garpu

 

‘Mainan’ dalam Toy Story 4 mengandung makna yang luas. Mereka melambangkan semua hal yang dibutuhkan oleh anak-anak untuk mendapat ketentraman emosional, apapun bentuknya. Hubungan saling ketergantungan yang dapat terjadi antara mainan dan manusia digambarkan film ini seperti hubungan orangtua dan anak. Ada banyak adegan yang menekankan pada persamaan ini, seperti ketika Woody bertemu Bo Peep di taman dan secara serempak mereka melihat ke balik-balik semak-semak, saling bertanya “yang mana anakmu?”. Setiap orangtua menjadi teman bagi anak-anak mereka, hingga nanti si anak dewasa dan meninggalkan rumah. However, bagi Woody, sebenarnya perasaan tersebut berkembang menjadi lebih jauh. Woody si boneka mainan jadul dalam film ini beneran terlihat seperti kakek-kakek. Setelah pisah dengan anak-originalnya, Woody begitu ingin mengusahakan yang terbaik untuk Bonnie – yang bisa dibilang sebagai cucunya. Woody tampak seperti kakek yang begitu ikut campur, bukan hanya kepada Bonnie secara langsung, melainkan juga kepada hubungan Bonnie dengan Forky.

Bobot emosional datang terus menerus dari perjalanan Woody, bermula dari dirinya yang tak bisa ‘bersaing’ dengan mainan yang lebih baru. Status Woody sebagai mainan yang sudah tua ini paralel dengan tokoh penjahat yang dihadirkan oleh naskah. Sebuah boneka ‘susan’ di toko antik yang pengen banget punya teman anak cewek. Si boneka, Gabby Gabby, mencoba terlihat menarik bagi anak kecil. Jadi dia mengecat kembali freckles di wajahnya. Kotak suaranya yang rusak, berusaha ia ganti dengan kepunyaan Woody; usaha yang menjadi sumber ‘horor’ utama di dalam cerita. Jika dalam Toy Story 3 (2010) yang lalu kita mendapat tokoh yang sekilas baik namun ternyata jadi antagonis utama, maka film debut Josh Cooley sebagai sutradara film panjang ini kita mendapati Gabby Gabby yang tampak mengancam dengan pasukan boneka ventriloquistnya yang menyeramkan ternyata tidak seperti yang kita kira.

Seberapa jauh kita mencintai seseorang. Seberapa jauh kita melangkah untuk melindungi seseorang. Orang seperti Woody – kakek atau nenek – punya begitu banyak cinta dan kepedulian untuk dibagikan. Film meminta kepada mereka untuk melihat ke dalam hati nurani, untuk mengenali ‘mainan rusak’ sebenarnya yang harus diperbaiki. Dengan kata lain, film ingin meng-encourage kita untuk tahu kapan harus berhenti dan memusatkan perhatian kepada yang lebih membutuhkan.

 

Selain menilik lebih dalam hubungan antara Woody dengan pemiliknya – pengembangan karakter Bonnie hampir-hampir diperlakukan serupa dengan karakter Riley di Inside Out (2015) – , memparalelkan hubungan Woody dengan mainan tua lain yang sama-sama punya keinginan untuk ‘mengabdi’ kepada satu anak, film juga memberikan satu hubungan emosional lain yang menjadi roda gigi penggerak narasi. Yakni hubungan Woody dengan Bo Peep. Antara Woody dengan seseorang yang punya pandangan berbeda dengannya, yang actually menantang Woody dengan satu kemungkinan lain yang tak berani ia pikirkan selama ini. Bo Peep adalah karakter yang mendapat upgrade paling besar, dia lebih dari sekadar menjadi cewek jagoan yang mandiri – perfect heroine dalam standar Disney. Salah satu kalimat berdampak gede yang ia ucapkan kepada Woody adalah “siapa yang butuh kamar anak-anak ketika kita punya semua ini?” dengan merujuk kepada dunia luar yang luas. Dunia memang merupakan elemen kunci yang ditonjolkan oleh cerita. Sebab dengan berada di sanalah, Woody actually menyadari betapa kecilnya dia yang sebenarnya. Like, dengan melihat keluar barulah kita bisa memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan demi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar. Karena cerita dan para tokoh itu menantang kita untuk melihat dan mendengarkan hati nurani. Woody yang kadang menggunakan suara mainannya untuk mewakili kalimat yang ingin ia sebutkan, Buzz yang menekan tombol di dadanya untuk mendengarkan ‘nasehat’ apa yang harus ia lakukan, Gabby Gabby yang secara gamblang butuh ‘inner voice’ yang baru, semua elemen itu menggarisbawahi kepentingan elemen hati yang dibicarakan oleh film ini.

Dilihat dari tingkat keseramannya, Gabby Gabby lebih cocok bernama Annabelle

 

Begitu menakjubkan gimana dunia yang luas tersebut merangkul kita dengan begitu banyak emosi personal dari para tokohnya yang ditulis berlapis. Tentu saja semua itu tidak akan bekerja maksimal jika tidak ditunjang dengan pembangunan visual yang luar bisa menawan. Pixar sudah gak ada lawan dalam menyuguhkan gambar-gambar komputer yang tampak asli. Film ini tampak seperti foto asli, dengan gerakan-gerakan karakter yang mulus. Detil yang film ini tampilkan sangat mencengangkan. Lihat saja kilauan di kulit porselen Bo Peep, jahitan di kemeja Woody, bulu-bulu boneka dan kucing. Adegan pembuka menampilkan suasana hujan dengan air yang benar-benar tampak nyata.

Warna-warna segar juga turut datang dalam wujud tokoh-tokoh, baik itu yang baru maupun yang lama. Semua tokoh-tokoh itu punya peran yang dapat konek dengan berbagai tingkatan penonton. I mean, penonton cilik akan terhibur oleh keunikan desainnya. Humor film ini juga punya rentang yang cukup luas. Mungkin aku harus memberi peringatan bahwa humor film ini kadang cukup gelap. We do get some suicide attempts dari tokoh Forky yang pengen banget menetap di tempat sampah. Tapi digarap dengan halus dan innocent enough. Ini membuat Toy Story 4 jadi tontonan yang pas untuk semua anggota keluarga. Sementara memang lapisan emosionalnya mungkin bakal lebih terasa buat penonton dewasa yang sudah ngalamin pahitnya perpisahan. But that’s how good Pixar movies are. Mereka berani menjadi diri sendiri tanpa harus mematuhi kode-kode pasar dengan merecehkan atau terlalu mendramatisir cerita.

Banyaknya tokoh pada paruh awal cerita membuat kita merasa kurang pada beberapa penggalian seperti Woody dengan Buzz, ataupun dengan Jesse. Terkadang juga membuat cerita terasa seperti episode-episode yang sekedar bertualang bertemu orang-orang. Poin-poin adegan terasa agak ngawur, misalnya ketika Woody dan Forky sudah tinggal menyeberang jalan untuk ke trailer park tempat kendaraan keluarga Bonnie terparkir, tetapi Woody malah memilih masuk ke toko barang antik karena melihat lampu hias milik Bo Peep. Pada titik itu kita akan merasa bingung, apa pentingnya pilihan tersebut terhadap plot Woody secara keseluruhan. Bahkan hingga midpoint pun kita disuguhi backstory seorang tokoh baru yang baru kita lihat sehingga kita tidak yakin apa pengaruhnya. Tetapi semua itu, semua elemen cerita yang diperlihatkan oleh film ini, toh pada akhirnya terikat menjadi sesuatu yang memuaskan kita secara emosional. Episode-episode itu ternyata memang penting ketika kita sudah mengerti di paruh akhir ke mana arah cerita, walaupun tampak muncul random. Kalo mau bicara kekurangan, kupikir hanya soal tersebut yang bisa kupikirkan; Butuh waktu sedikit untuk mengikat semua elemennya. Selebihnya film ini seru dari awal hingga akhir.

 

 

 

Bagi yang sempat khawatir, entry keempat dari salah satu trilogi legendaris ini bisa kupastikan tidak mengecewakan. Film ini benar-benar masih punya sesuatu untuk diceritakan sebagai, katakanlah, ekstra dari film ketiga yang sungguh emosional. Ini bukan sekadar exist karena duit, ataupun karena filmnya sendiri tidak tahu kapan harus berhenti. Masih ada beberapa benang yang ingin diangkat, masih ada sudut pandang yang bisa dieksplorasi, dan film ini melakukannya dengan penuh penghormatan baik terhadap karakter-karakternya, maupun terhadap penonton yang sudah ikut tumbuh dan ‘bermain’ bersama ceritanya. Film ini sesungguhnya dapat saja berdiri sendiri, karena mereka melakukan kerja yang sangat efektif dalam melandaskan backstory terutama hubungan Woody dengan Bo Peep dan antara mainan dengan anak manusia di awal-awal cerita. Sehingga gak nonton triloginya pun bakal masih bisa menikmati dan terhanyut oleh cerita. Yang dapat menjadi dark dan lumayan emosional, tapi mungkin anak kecil tidak bakal terlalu memperhatikan ini karena visual yang menawan dan realistis (untuk standar dunia mainan).
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for TOY STORY 4

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian kenapa sebagian anak-anak susah move-on dari mainan masa kecil? Apakah itu akan mempengaruhi mereka saat sudah dewasa? Dan kenapa kakek-nenek kita begitu peduli, sehingga ada ungkapan yang bilang grandparent lebih sayang cucu ketimbang anak mereka sendiri?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

Stomping Grounds 2019 Review

 

Banyak dari kita yang sudah siap meninggalkan WWE, ketika AEW meneriakkan angin-angin surga akan produk tayangan gulat yang edgy. Tapi dengan payperview terbaru mereka; Stomping Grounds, WWE menunjukkan bahwa mereka belum berniat untuk menggantung sepatu. Terlebih untuk pesaing yang bahkan barely bisa dibilang apple to apple.   

Menjelang hari-H, acara ini dibangun dengan sedikit sekali kejutan menyenangkan. Stomping Grounds diisi oleh deretan pertandingan yang entah itu sudah acap kita lihat per minggu – to make it worse hampir setengah pertandingan acara ini diisi oleh orang yang itu-itu juga semenjak house show hari lebaran di Arab Saudi – ataupun oleh pertandingan yang pesertanya membuat kita bertanya-tanya, kenapa jadi mereka yang tanding? kenapa dia malah di match yang itu – kirain mau tag team? Penjualan tiket Stomping Grounds pun diberitakan lesu. Vince McMahon mungkin memang orang yang keras kepala – terus menerus ngepush karakter yang ngebosenin hanya karena dia suka – tapi Vince juga adalah seorang pebisnis yang handal. Dan bagi pebisnis, tak ada cambukan yang lebih keras dibandingkan jumlah penjualan. Makanya, WWE kali ini berpikir cukup jernih.

Tak lagi bikin sesuatu yang kacau beliau kayak Money in the Bank 2019, ataupun bermain terlalu aman kayak Super Showdown, WWE seolah menekan tombol reset dan kembali ke formula acara yang sudah membuat mereka sukses untuk waktu yang lama; Pertunjukan solid wrestling dengan bumbu storyline yang masuk akal dan benar-benar memanfaatkan kekuatan pengkarakteran tokoh-tokohnya.

 

Coba itu kameranya digeser sedikit lagi ke kiri, kursi-kursi kosongnya gak kerekam tuuh

 

 

Kekuatan dari pertunjukan WWE biasanya adalah penonton yang baru saat itu menyaksikan, bakal langsung bisa mengerti tokoh-tokohnya. Siapa yang jahat, siapa yang baik. Siapa temannya siapa, siapa musuhnya siapa. Mana yang pacaran. Mana yang diam-diam mendendam. Inilah yang membuatku pertama kali tertarik menonton WWE. Ketika para superstar seperti beneran punya kehidupan yang sesuai dengan gimmick mereka di luar ring. WWE berusaha kembali membuat seperti ini dengan konsep Kejuaraan 24/7 yang bisa kita temukan sisipan perebutan gelarnya di pertengahan acara. Kita melihat juara bertahan Dave Maverick harus kalah pada hari pernikahannya sendiri ketika R Truth muncul mengepinnya dari belakang. Meskipun lebih berfungsi sebagai lucu-lucuan, tapi para penonton senang dan terhibur menyaksikan skit yang fresh ini lantaran akhirnya mereka punya sesuatu yang kontinu untuk diikuti. Dalam basis acara mingguan, memang lebih sering daripada enggak WWE mengesampingkan kekontinuan. Dan hal tersebut berdampak buruk pada karakter-karakter yang dimainkan oleh superstar. Membuat mereka membosankan. Membuat ceritanya enggak masuk akal.

Stomping Grounds adalah acara langka yang dihasilkan oleh WWE, karena actually acara ini terasa sangat contained. Menutup. Konsisten luar biasa. Dengan segmen A punya kesinambungan dengan segmen C. Dengan si anu punya dampak dan peran terhadap cerita si itu. Dinamika cerita-cerita yang mengisi acara ini berhasil membuat Stomping Grounds menjadi satu episode yang solid. Yang kita beneran peduli dan penasaran terhadap setiap karakter yang muncul, apalagi yang terjadi – siapa lagi yang mereka lawan, bagaimana jadinya pertemanan mereka, apakah mereka masih juara bulan depan. 

Aku sangat menikmati cerita antara Bayley, Alexa Bliss, dan Nikki Cross. Ketiga superstar sangat terbantu oleh pertandingan ini. Bagi Bliss secara personal, ini juga adalah ajang pembuktian dia masih belum akan gantung sepatu. Karakter Bliss butuh comeback yang kuat setelah ‘dipermalukan’ oleh Ronda Rousey. Dan Bliss sendiri juga perlu memperlihatkan kembalinya dia menjadi lebih kuat sebagai seorang pegulat semenjak rentetan cedera. Untuk Bayley, ini adalah sebuah redemption. Karakter Bayley mengalami upgrade semenjak Money in the Bank 2019, dia bukan lagi semata ‘anak manis’. Bayley menunjukkan sisi fierce yang semakin menguat, dan kemenangannya di sini membuktikan dengan kekuatan baru itulah makanya dia pantas menjadi juara. Sementara Nikki Cross; ia sedang melakukan transformasi karakter dan pengembangannya sejauh ini semakin menarik dengan akhir pertandingan ini yang punya sedikit twist.

Dari ‘mean girl’ Alexa Bliss kita pindah ke ‘mean boy’ Samoa Joe. Semenjak hari-harinya di TNA, kita udah tahu Joe bersinergi luar biasa efektif ketika dihadapkan dengan lawan yang ‘bisa terbang’. Dan semenjak golden era kita tahu WWE paling jago menggarap cerita underdog. Tidak susah untuk menambahkan satu dan satu menjadi dua. Match Joe melawan Ricochet adalah contoh klasik pertarungan dua sisi yang berbeda ukuran, WWE mengapitalisasi trope ini dengan sangat berhasil. Perbedaan gaya tarung kedua superstar juga menambah bobot kespesialan pertandingan. Melihat Ricochet ‘dibully’ tapi terus bangun dan menghimpun serangan, kita tidak bisa tidak terinvest ke dalam match tersebut. Dan semuanya terbayar oleh hasil mengejutkan yang terasa sangat memuaskan.

Ketika mau pergi makan dan tau-tau kau teringat ada gulat di internet

 

Cowok dan cewek dalam perseteruan kesetaraan yang tak ada habisnya. Hanya di WWE kesamaan itu mungkin paling bisa dipertontonkan. Paling enggak di WWE, semua superstarnya seragam pake sepatu boots. Dan hanya di WWE lah ada cewek bergelar The Man. WWE sendiri sepertinya memang sedang fokus kepada eksplorasi cerita tentang kesetaraan gender. Mereka terus saja mendorong cerita seteru antara The Man dengan The Sassy Southern Belle meskipun Lacey Evans masih tergolong hijau sehingga selalu berhasil menemukan cara untuk ‘tersandung’ saat menapak bumi. Pertandingan-pertandingan Evans selalu kurang sempurna, her timing’s often off, dan kita bisa melihat dia nyaris kesandung saat berjalan menuju ring di akhir-akhir acara. Tapi karakternya sangat kuat. Maka tidak heran jika tap-out cepat yang ia lakukan bukanlah pertanda ini bakal terakhir kali kita melihat Lynch melawan dirinya. Tie in yang dilakukan oleh WWE bukan terbatas kepada misteri apakah Brock Lesnar akan cash-in kontrak MITB, melainkan juga keterlibatan cewek-cewek dalam kejuaran cowok. Evans, dan Baron Corbin adalah jembatan yang menghubungkan antara dua divisi. Relationship real-life antara Becky Lynch dengan Seth Rollins actually digunakan oleh WWE (tunggu, apa mungkin mereka disuruh pacaran supaya storyline ini bisa berlanjut?) untuk further enchance storyline dalam kaitannya dengan revolusi wanita.

Beberapa orang akan menganggap main event Stomping Grounds sebagai pertandingan yang sangat bego, dan buang-buang slot. Tetapi sesungguhnya that whole match adalah sebuah pengembangan di mana semua karakter yang terlibat mendapat penggalian yang menyuburkan gimmick mereka saat ini. Hasil akhirnya pun tidak benar-benar predictable. Penonton menge-boo para heel, menyiratkan cerita yang berhasil. Aku sendiri penasaran ke mana akhirnya WWE akan membawa semua ini. Karena menurutku, WWE di sini mengambil resiko yang cukup berani. Semacam pergantian role dalam trope ‘damsel in distress’ yang mereka lakukan di atas trope ‘wasit korup’ yang sudah sering kita lihat.

Yea, akhirnya. Akhirnya ada perubahan dan resiko yang diambil. Dua partai kejuaraan tag team yang kita lihat di acara ini menggunakan formula yang fresh, sekaligus tetap berhasil menyuguhkan aksi yang bikin kita menghentak-hentakkan kaki. Kita melihat ketika heel actually berhasil menjalan strategi mereka; jika biasanya kita melihat satu anggota tim baik ‘dikurung’ di atas ring, maka itu akan berujung pada hot tag di mana situasi berbalik. Untuk kali ini, kita melihat hasil yang berbeda dari strategi semacam itu. Sementara pada tag team yang menampilkan Daniel Bryan dan Rowan melawan Heavy Machinery (konsep gimmicknya aja udah menarik; jagoan planet melawan ‘mesin’ alat-alat berat!), WWE akhirnya menemukan cara untuk membuat heel yang disukai penonton tetap terlihat jahat sehingga berhasil memancing reaksi yang diinginkan. Kedua pertandingan tag team amat menghibur. Spotlight paling gede adalah buat Heavy Machinery yang di sini mencuat tampak kuat dan benar-benar konek dengan penonton

ada yang lihat awkward momen antara Ricochet dengan Charlotte?

 

Tapi Stomping Grounds bukan acara yang sempurna. Masih ada juga momen yang bikin kita menyepak tanah dengan kesal. Atau mengetuk-ngetuk kaki ke lantai dengan tak-sabar. Pertandingan Roman Reigns melawan Drew McIntyre yang ditemenin oleh Shane McMahon, misalnya. Sebenarnya di awal menyenangkan untuk ditonton, tapi ternyata match ini diarahkan berbeda dari kelihatan di awal. Merek diberikan waktu yang cukup panjang sehingga jurus-jurus powerhouse itu dengan cepat membosankan. ‘Hiburan’ bergantung kepada aksi Shane yang berusaha curang, namun itu mengorbankan karakter McIntyre yang hanya tampak keluar sebagai anak buah, ketimbang main event player seperti yang seharusnya.

Kofi Kingston dan Dolph Ziggler juga begitu. They go all the waaaaay back. Jadi, stipulasi steel cage diniatkan sebagai sesuatu yang bisa menghasilkan efek ‘puncak seteru’. WWE juga membangun kandang itu sebagai lingkungan yang berkebalikan dari ‘habitat’ Kingston; Ruang gerak dan jelajah tali ring yang sempit, submission kelemahan Kingston yang tidak punya batas break. Dan tau kan gimana Kingston terkenal sebagai escape artist dari eliminasi Royal Rumble karena kemampuannya gak nyentuhin kaki ke lantai? Nah, pada Steel Cage justru Kofi mendapat tantangan dalam upayanya untuk sesegera mungkin nyentuhin kaki ke lantai di luar kandang. Konsep yang menarik, tetapi eksekusi mereka sangat membosankan. ‘Race’ untuk keluar dari kandang yang Kingston dan Ziggler lakukan tidak pernah tampak gereget, khususnya ketika pilihan ending yang dilakukan benar-benar ngepoint out betapa begonya gimmick cage match sedari awal. Alias sebenarnya sangat gampang untuk keluar dari kandang tersebut.

 

 

 

Diisi oleh pertandingan demi pertandingan yang solid, yang bercerita dengan baik, yang punya aksi memikat dan gak sekedar unjuk high-spot. Nyesel deh kayaknya penonton sono yang gak jadi beli tiket. Stomping Grounds adalah salah satu acara paling konsisten yang pernah diproduksi oleh WWE. Hanya saja, main eventnya yang lebih fokus pada cerita ketimbang aksi, dapat membuat banyak orang kecewa. Terutama karena Corbin dan Evans sudah demikian sukses menjadi karakter heel sehingga penonton enggak mau banget mereka harus dilawan lagi nanti ke depannya. The Palace of Wisdom actually kebingungan memilih MATCH OF THE NIGHT, karena semuanya berbobot. Namun pilihan tetap harus dijatuhkan, dan kami memilih Samoa Joe melawan Ricochet karena tingkat kesulitan aksi yang mereka lakukan.

 

Full Results:
1. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Becky Lynch bertahan dari Lacey Evans
2. TAG TEAM Kevin Owens dan Sami Zayn mengalahkan The New Day
3. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Ricochet jadi juara baru ngalahin Samoa Joe
4. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The New Daniel Bryan dan Rowan tetap juara menang atas Heavy Machinery
5. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bayley mempertahankan sabuknya dari Alexa Bliss
6. SINGLE Roman Reigns menghajar Drew McIntyre
7. WWE CHAMPIONSHIP STEEL CAGE Kofi Kingston tetap juara setelah keluar kandang lebih dulu daripada Dolph Ziggler
8. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP, with lacey evans sebagai wasit, juara bertahan Seth Rollins mengalahkan Baron Corbin 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

RUMAH MERAH PUTIH Review

Patriotism is just loyalty to friends, people, families.

 

 

Merah putih tak bisa diganti. Setiap rumah di kampung Farel di desa NTT menyambut gembira hari kemerdekaan negara dengan mengecat warna rumah sesuai dengan warna bendera. Malangnya, cat yang dibagikan panitia lomba kemerdekaan buat Farel hilang. Farel kini punya cat coklat untuk dijual supaya dapat membeli cat merah putih yang baru – sebelum ayahnya sadar Farel sudah menghilangkan cat untuk rumah mereka. Tapi tidak ada yang mau beli warna coklat. Sebab, merah putih tidak bisa diganti. Farel dan sahabat setianya, Oscar, semakin jauh dari rumah demi mencari cat merah putih. Dan tentu saja, merah putih itu ternyata lebih dari sekedar warna cat untuk kayu.

Sutradara Ari Sihasale bersama Alenia Pictures kembali menghadirkan kisah kehidupan anak-anak dari Timur Indonesia, sekali lagi untuk mengingatkan kepada kita akan pentingnya memperindah rumah merah putih yang kita tinggali. Sama seperti rumah beneran yang meski belum rusak tapi tetap harus dibersihkan, negara juga perlu disapu sedikit ‘debu-debunya’. Negara kita pun perlu dimeriahkan oleh film-film seperti ini. Yang mampu numbuhin rasa cinta kepada bangsa dan negara. Rumah Merah Putih hadir dalam waktu yang bisa dikatakan cukup tepat. Negara kita sedang dalam masa pemulihan dari ‘pengotakan’ yang membayangi pemilihan presiden. Semua jadi geng-gengan. Mulai dari geng kubu politik, nyebar jadi geng agama, geng suku, geng daerah. Tak ada yang lebih tepat daripada anak-anak seperti Farel, Oscar, dan teman-teman untuk menegur kita untuk pulang. Sudahi perang-perangan antar gengnya. Pulang. Ke rumah yang sama.

Saya anak jaman now. Bapak saya perang. Ibu saya sosmed yang memfasilitasinya.

 

Suara anak-anak dalam film ini terdengar riang, mengisyaratkan kebahagian mereka sebagai satu kesatuan. Sekaligus tegas, menekankan kepada kebanggaan. Dengar saja betapa kompaknya mereka menyambung perkataan guru mengenai tanggungjawab kepada negara. Sudah seperti terkomando. Dengar juga betapa seringnya anak-anak itu mengumandangkan mantera khusus film ini dengan mantap, “Nama saya anu, Bapak saya (dari daerah apa), Ibu saya (dari daerah apa), saya Indonesia!” Semboyan yang bekerja seperti propaganda; yang bila diulang-ulang terus maka akan membuat kita mempercayainya. Jika Doremi & You (2019) – film anak-anak yang tayang di bioskop berbarengan, yang juga mengangkat soal bhinneka tunggal ika – menyarankan kita untuk mengenali perbedaan supaya bisa belajar saling mengerti dan berkompromi demi tercipta hidup bersama yang harmoni bagaikan musik, maka Rumah Merah Putih mencoba keras untuk menanamkan kepada kita bahwa negaralah yang harus dikedepankan. Itulah solusi yang ditawarkan oleh film ini dalam mencapai persatuan.

Nasionalisme, menurut jurnalis dan novelist George Orwell dalam salah satu tulisannya yang kontroversial, dapat merusak perdamaian. Jika nasionalisme tersebut tidak berakar pada semangat patriotis. Film Rumah Merah Putih dengan bijak menyetir tokoh-tokohnya yang tinggal di daerah yang jauh dari mana-mana menjauh dari semangat bela negara yang tak berdasar. Film ini memperlihatkan kesulitan hidup yang dialami oleh tokoh-tokoh, akan tetapi mereka justru semakin kuat rasa cinta tanah airnya.

Karena patriotisme bagi penduduk dalam film ini sebenarnya sangatlah sederhana. Negara adalah rumah. Dan di dalam rumah, kesetiaan mereka terletak pada orangtua, sahabat, dan masyarakat. Cinta tanah air mereka adalah cinta mereka kepada keluarga.

 

Menggandeng anak-anak asli Nusa Tenggara Timur yang sama sekali belum pernah bermain dalam film terbukti menjadi keuntungan untuk film ini. Anak-anak tersebut tedengar nyata dan nyaman bicara dalam bahasa asli mereka. Memberikan kesan kita ikut berada di sana bersama mereka. Interaksi antara Petrick Rumlaklak yang menjadi Farel dengan Amori de Purivicacao yang berperan sebagai Oscar, si ngasal yang sebenarnya pinter, menjadi hati dari film ini. Tidak akan berhasil jika anak-anak itu tampak canggung; which is no case in this movie. Setiap kali kita melihat anak-anak berinteraksi, kita tahu mata kita akan tetap terpaku pada layar. Kita berpegangan pada kata-kata mereka yang keluar dengan lancar sehingga kadang kita sedikit tertinggal karena tidak terbiasa dengan logat mereka.

Pesan pamungkas tentang persatuan datang dalam bentuk permainan panjat pinang yang berusaha dimenangkan oleh Farel. Karena di atas sana tergantung cat merah putih yang ia cari. Perdebatan Farel dengan teman-temannya saat mengatur strategi siapa yang di posisi paling atas akan membuat kita mudah terkonek dengan pesan yang ingin mereka sampaikan. Untuk menang mereka harus bekerja sama, dan untuk itu harus ada yang rela berada di bawah. Di posisi yang kerjanya paling berat. Kalian mungkin akan berpikir adegan panjat pinang ini akan cocok sekali sebagai adegan final; karena di saat inilah para tokoh cilik kita belajar dan menyadari apa yang sebenarnya mereka butuhkan. I do. Aku pikir film ini berakhir dengan semangat juang yang tinggi, tapi kemudian aku melirik layar hape, dan melihat bahwa adegan tersebut baru midpoint dari keseluruhan durasi!

Selagi Farel mundur ke belakang mengamati tragedi yang terjadi sebagai aftermath dari perjuangan mereka, cerita berkembang menjadi tak berarah. Kita tak lagi yakin kemana cerita ini, apa motivasi yang jadi pedoman, selain bersiap menunggu ejaan nasionalis berikutnya. Untuk tidak membocorkan banyak hal; di paruh kedua ini kita melihat tokoh yang diperankan Pevita Pearce berjuang untuk membawa anak yang ia asuh ke rumah sakit terdekat dengan keluarga asal mereka, yakni di Timor Leste. Tapi paspor mereka kurang, sedangkan rumah sakit lokal tak sanggup untuk menangani. Dibandingkan dengan paruh pertama yang penuh energi, paruh kedua cerita ini terasa sangat menye-menye. Gempuran musik soundtrack yang sedih-sedih mulai berkumandang. Tidak lagi cerita ini terasa natural. You know, di paruh awal kita melihat perjuangan Farel mencari cat. Dia berusaha dapat duit dulu. Ketika sudah dapat tapi ternyata warnanya salah. Tokonya tutup. Ditipu tukang ojek. Tokoh kita terus dipukul, akan tetapi semua hal tersebut terasa seperti rintangan yang lumrah dalam sebuah naskah. Dalam paruh kedua, Farel masih tetap tampil sebagai pahlawan dengan tindakan yang memajukan narasi, tapi tindakan tersebut berupa reaksi dari keadaan yang diorkestrasi sedramatis mungkin. Tiba-tiba desa mereka tampak sangat menyedihkan. Shot-shot bentang alam tersebut membuat cerita ini menjadi semakin menjauh dari kita. Mungkin memang masih banyak desa yang butuh perhatian di daerah-daerah yang jauh di sana, tapi dunia cerita film ini menjadi semakin jauh dari kenyataan.

dari dulu aku penasaran perhitungannya gimana ya kok bisa pas bendera naik berkibar dengan lagu selesai dinyanyikan

 

Ada satu adegan ketika lagi upacara bendera peringatan kemerdekaan, tali benderanya nyangkut di puncak tiang sehingga benderanya tak bisa dinaikkan. Namun para hadirin tetap hormat grak dan paduan suara tetap menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang kemudian tenggelam oleh musik latar yang diset sesedih mungkin. Punchline dari adegan ini adalah Farel maju ke depan, memanjat tiang bendera, dan semua orang jadi semakin terharu. Adegan ini fake sekali. Masa iya kelangsungan upacara bergantung kepada satu anak yang telat datang upacara – iya kalo Farel beneran datang, kalo dia lanjut tidur lagi gimana? Masa iya mereka masih nyanyi padahal jelas-jelas benderanya belum dinaikkan?

Aksi ini membuat Farel viral di internet. Yang mengisyaratkan kepada kita bahwa film menganggap menjadi viral adalah solusi dan merupakan suatu ukuran kebanggaan. Tentu, bukan ‘salah’ Farel dirinya viral. Toh dirinya sendiri tak pernah digambarkan pengen terkenal. Dia bahkan tidak tahu aksinya menjadi sensasi. Film cukup bijak untuk memperlihatkan apa yang Farel lakukan dengan ‘kemerdekaan’nyalah yang lebih penting. Tapi aku pikir ini tetap adalah kesalahan dari skenario. Paruh akhir menjadi menyebar menyambar banyak hal yang tak benar-benar beriringan dengan paruh pertama film yang soal cat. Cukup aneh film meletakkan pertanyaan plot poin di tengah durasi, alih-alih pada permulaan babak narasi. Ini antara babak satu film ini amat panjang atau babak keduanya yang kependekan. Ending film ini juga tak kalah dramatisnya. Seolah film ingin menunjukkan selama tiga bulan Farel duduk di atas bukit dengan resah dan gelisah menanti kedatangan sahabatnya. Dramatis sekali memang anak-anak ini!

 

 

 

Memperlihatkan kehidupan di Timur Indonesia yang tampak susah namun penduduknya tak pernah terpecah, film ini layaknya jadi pengingat kepada kita. Bahwasanya sifat patriotis lebih penting ketimbang nasionalis tak berdasar. Dengan sudut pandang anak-anak, cerita tidak terasa menyinggung ataupun berat. Malahan ringan dan menghibur, dengan tetap sarat. Meski begitu, paruh pertama terasa lebih real, lebih punya energi, lebih menyenangkan untuk ditonton daripada paruh keduanya yang overdramatis. Penceritaan pada paruh kedua tampak melebar. Farel masih tetap menjadi sudut pandang utama, dia masih tampil heroik, tapi film memilih untuk membuat keadaan di sekitarnya jadi seperti dibuat-buat untuk mencapai level emosi yang tinggi. Mereka harusnya berakhir di panjat pinang. Bagiku film ini sendiri terasa kaget bahwa ternyata dirinya punya lebih banyak agenda yang harus dimasukkan dari perencanaan awal.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for RUMAH MERAH PUTIH.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Cerita cinta tanah air seperti ini kebanyakan datang dari jauh. Sedikit sekali film anak kota yang membahas ini. Kenapa ya kira-kira? Menurut kalian siapa yang sebenarnya perlu diingatkan mereka adalah Indonesia?

Satu lagi, apa pendapat kalian tentang upacara bendera di sekolah?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

DOREMI & YOU Review

“The differences between friends cannot but reinforce their friendship”

 

 

“Hey sabar, jangan emosi!” bentak Putri kepada salah satu sohibnya – Imung – yang mulai merepet soal pelatih grup vokal mereka yang tak kunjung ditemukan. Waktu semakin mendesak, Putri dan Imung, beserta dua orang lagi – Anisa dan Markus – harus segera menemukan orang yang bisa melatih mereka supaya menang dalam kompetisi menyanyi Doremi & You. Mereka butuh duit hadiahnya untuk menggantikan uang kas kelas yang tak-sengaja hilang.

Persahabatan erat melekat di antara empat sahabat tersebut, surprisingly, tidak seceria adegan musikal yang menjadi pembuka film ini. They had a go at each other, rather easily. Mereka saling menyalahkan dengan sambil menyanyi. Akan ada banyak adegan perdebatan yang dilagukan. Aku sempat berpikir, anak-anak ini punya hubungan pertemanan yang sangat aneh. I mean, aku dan teman-teman dekatku juga kerap saling ‘serang’, tapi paling tidak, kami tidak melakukannya sambil bernyanyi dan menari haha. Putri, Imung, Markus, dan Anisa; Mereka juga tidak kelihatan terlalu kompak. Mereka tidak punya bahasa geng; mereka bicara dengan logat dan bahasa daerah masing-masing. Alih-alih bersepeda seragam, keempat pelajar SMP ini mengendarai sepeda yang bermacam-macam warnanya. Baju mereka pun begitu, bahkan seragam batik mereka aja warnanya beda-beda. Udah kayak Power Rangers deh. Masing-masing setia dengan warna mereka sendiri. Seperti atribut yang melekat dan tampak oleh kita, keempat tokoh ini dibuat colorful seperi demikian. Dan itulah yang pada akhirnya menjadi kekuatan mereka. Itulah, sodara-sodara sebangsa dan setanah air, statement yang sedang dibangun oleh film musikal ini.

Musik tersusun dari beragam jenis suara, sumber suara, irama, nada-nada baik yang tinggi maupun yang rendah, yang membentuk suatu kesatuan. Kita tidak bisa membuat musik hanya dari satu suara. Dibutuhkan perbedaan untuk membentuk suatu harmoni. Begitu pulalah hidup kita. Semua perbedaan yang ada, seharusnya diakui. Bukannya disembunyikan. Perbedaan mendorong kita untuk saling menngerti. Menggebah kita untuk saling berkompromi. Middle-groundnya lah yang disebut dengan persatuan.

bukan Laksamana Do Re Mi loh ya

 

Jadi, film ini mengandung gagasan yang sangat baik yang sangat relevan dengan statusnya sebagai film untuk keluarga. Anak-anak dan remaja yang menonton ini akan banyak mendapatkan pelajaran berharga seputar mengakui dan menghargai perbedaan. Karena mereka hidup dalam dunia yang semakin terbuka. Bahkan lebih beragam lagi dari dunia ketika zaman orangtua mereka. Tantangan untuk memelihara persatuan bakal semakin kuat, namun juga jika diusahakan maka hubungan persatuan yang terjalin bakal jadi lebih erat. Dalam keadaan paling kuatnya, sebutan ‘cina’ dan ‘arab’ bakal bukan lagi sebuah hinaan. Melainkan hanya nada berikutnya yang harus diharmonikan.

Doremi & You garapan B. W. Purba Negara mendorong kita untuk memandang perbedaan sebagai kekuatan, dari berbagai sudut. Untuk melakukan hal tersebut, naskah terus mengajukan pertanyaan seputar itu melalui masalah-masalah yang dijumpai oleh tokoh-tokohnya. Ketika satu pertanyaan terjawab, akan ada masalah baru yang membuat tokoh-tokoh film ini harus memikirkan dari sudut yang lain. Kenapa kita tidak mencoba merangkul yang beda itu? Bisakah kita bekerja sama? Bagaimana kita bisa menyatukan semua perbedaan menjadi suatu lagu yang enak didengar? Poin-poin itu yang menjadi penggerak narasi. Untuk menggambarkan hal tersebut, film akan bergantung kepada adegan nyanyi-nyanyi yang liriknya terdengar catchy, sekaligus sarat ama pesan dan ide yang ingin disampaikan. Perhatikan baik-baik setiap lirik pada bagian musikalnya, karena bagian itulah yang bakal bicara lebih efektif kepada kita.

Aku bilang begitu lantaran jika dilihat dari karakter-karakternya, maka film ini akan terasa sedikit aneh. Persoalannya bukan pada pemeranan, karena bintang-bintang film cilik ini menaklukan tantangan yang cukup berat. Mereka harus berakting, bernyanyi, sekaligus menari. Masing-masing diberikan porsi untuk unjuk sisi emosional, dan permainan akting para aktor di film ini seragam passable-nya. Fatih Unru yang paling menonjol dari segi drama, tapi tokohnya tidak diberikan banyak untuk dilakukan – kita tidak mendapat backstory tokoh Imung yang ia perankan. Dua teman Putri yang lain, diperankan oleh Toran Waibro dan Nashwa Zahira, diberikan masalah keluarga di rumah; yang satu punya paman yang tegas yang menentangnya berlatih musik di saat masa-masa menjelang ujian akhir – kegalakan tokoh ini seketika menjadi normal, yang satu lagi punya ayah yang bekerja sebagai badut sehingga dia tidak berani ketahuan ayahnya kalo ia sudah menghilangkan uang anak-anak di kelas. Dua tokoh ini yang menjadi penyuntik emosi. Masalah yang mereka hadapi ini yang kita pedulikan. Akan tetapi karena film butuh kita untuk lebih peduli kepada tokoh utama, maka masalah-masalah tersebut berakhir kempes gitu aja. Si Paman jadi ‘baik’ lagi saat udah beres ujian. Si ayah badut tak lagi dibahas. Padahal aku nyangkanya jalan keluar final cerita film ini adalah Putri dan kawan-kawan ngadain show bareng badut-badut untuk menggalang dana.

Anyway, tentu saja adalah hal yang benar untuk menjaga supaya tokoh utama kita tidak ter-outshine oleh tokoh lain. Adyla Rafa Naura Ayu (maaf kalo ada salah ketik, nama anak jaman sekarang susye-susye hehehe) punya kharisma yang cukup untuk membawa beban tokoh utama, dia tampak mudah terkonek dengan penonton-penonton seusianya. Hanya saja – yang aku tidak habis pikir adalah – tokoh Putri yang ia mainkan anaknya ngebos banget. Putri ini cerianya pas nyanyi doang. Di luar itu, sikapnya nyaris unbearable. Cara dan nada dia ngomong sama teman-temannya begitu menuntut. Nanya adeknya saja Putri harus sambil menggebrak meja. Susah untuk kita peduli kepada tokoh Putri, meskipun para penggemar Naura hanya akan melihat jauh ke balik tokoh ini – para penggemarnya bakal langsung melihat ke Naura jadi mereka gak bakal terganggu sama tokoh Putri. Tapi buatku, Putri seharusnya diberikan penokohan yang lebih baik lagi. Teman-temannya punya masalah di rumah, sedangkan Putri hanya berkutat dengan peraturan ‘enggak boleh main hp saat belajar’ dari ayahnya.

Ngomong-ngomong, aku gak ngerti maksud tebakan rubik dari si ayah

 

Putri gak peduli sama masalah teman-temannya. Ketika Anisa bilang udah dilarang ikutan sama paman, Putri masang wajah jutek tanpa empati. Dia bahkan enggak pernah diperlihatkan benar-benar peduli sama soal uang yang hilang. Journey tokoh ini memang semestinya berkembang dari dia yang cuek, yang menuntut untuk semuanya sesuai dengan yang ia mau menjadi dia lebih terbuka untuk merangkul, lebih berempati. Tapi tidak pernah ditampilkan seperti itu. Instead, Putri sampai akhir tetap orang yang hanya mau bertindak kalo sesuatu itu demi dirinya sendiri. Dan ketika dia menjadikan hal personal seperti demikian, maka hal tersebut akan menjadi terlalu personal.

Lapisan paling menarik dari tokoh Putri adalah tentang hubungan dia dengan Kak Reno yang diperankan oleh Devano Narendra. Kak Reno adalah murid SMA jutek yang Putri minta untuk melatih kelompoknya, meskipun sohib-sohib Putri menolak. Obviously, Putri has a crush on him. Seperti pada trope mentor senior-murid yang biasa kita lihat, lambat laun respek di antara mereka semakin gede, hubungan semakin akrab. Dan bahkan Reno pun diberikan motivasi dan backstory yang lebih daripada Putri; perbedaan selera musik Reno dengan ayahnya menjadi akar karakter ini. Reno actually menambah banyak kepada tema dan ide cerita, apa yang ia lakukan berperan gede untuk pertumbuhan tokoh Putri. Tapi Putri ini takes thing a little bit too personal sehingga somehow cerita di antara mereka berubah menjadi rivalry. Tapi tentu saja, kita harus ingat cerita ini dari sudut pandang Putri. Jadi persaingan yang diangkat bisa saja bukan persaingan sama sekali – bahwa kompetisi hanya ada pada Putri; teman-teman yang lain nyanyi di sana untuk tujuan yang berbeda. ‘Menariknya’ adalah kita tahu bahwa ketika mereka bersatu untuk menang, kita tahu antara Putri dan teman-temannya berjuang demi hal yang berbeda.

Film juga dengan bijaksana untuk membuatnya tampak seperti berada di antara Putri cemburu atau dia beneran marah karena merasa dibohongi secara profesional. Atau malah karena keduanya. Dan ini adalah interesting take yang diangkat pada sebuah cerita yang mainly ditujukan untuk penonton anak-anak dan remaja. Putri beneran fokus di sini, sampe-sampe dia seperti ‘memaksa’ teman-teman untuk tetap lanjut sehingga masalah uang yang hilang seperti nomor dua buatnya.

Jika kalian masih butuh bukti betapa egois dan ngebosnya Putri hingga akhir cerita, coba tebak apa nama grup vokal mereka? Yup, Putri and Friends.

 

 

 

Film ini mengajarkan soal menyingkapi perbedaan dengan cara yang unik. Seluruh warna-warni itu dijadikan kesempatan untuk arena bermain bagi departemen artistik. Lagipula, di mana lagi kita bisa mendapatkan analogi antara musik EDM dengan bubur ayam, kan. Genre musikal juga membuat ceritanya tidak gampang tampak membosankan. Menyenangkan melihat segitu banyak perbedaan dipersembahkan untuk mendukung satu gagasan. Meski begitu, toh, tokoh utamanya seharusnya bisa diperbaiki sedikit. Dia terlalu bossy dan personal di tempat yang salah. Cerita seharusnya bisa lebih diperketat lagi in favor of the characters, bukan hanya pada penyampaian pesan lewat nyanyi-nyanyian.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for DOREMI & YOU.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Kira-kira kalo kalian satu sekolah dengan Putri, kalian bakal mau gak jadi temennya dia?

Daan, pertanyaan paling penting yang pernah aku ajukan di sini:

Ada yang tau gak sih makna permainan rubik sang Ayah tadi? Gimana jawabannya bisa seperti yang ia sebut? Seems like random numbers to me. Serius, aku benar-benar gak ngerti.

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

DARK PHOENIX Review

“The kids who need the most love will ask for it in the most unloving of ways.”

 

 

Dengan segala kesemrawutan X-Men Cinematic Universe, paling tidak ada dua hal yang kita ketahui tetap kontinu. Pertama; Jean Grey tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Dan kedua; masalah tersebut dapat membuat cewek ini menjadi jahat.

Hidup selama lebih dari sembilan-belas tahun, sebelas film X-Men dibuat secara estafet dari pembuat satu ke pembuat lain. Sayangnya, film-film ini tampaknya hanya dibangun oleh harapan masing-masing pembuat tersebut untuk menghapus ‘jejak’ yang terdahulu. Karena, apparently, membuang sesuatu toh memang lebih gampang daripada mengikatnya ke sesuatu yang baru. Makanya, cerita X-Men kemudian begitu bernapsu untuk membahas ‘kembali ke masa lalu’; mereka ingin me-reboot secara halus. Hasilnya tentu saja kita yang bingung dengan segala ketidakkonsistenan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak-terjawab oleh logika. Dark Phoenix actually mengeksplorasi ulang cerita Jean Grey yang sudah pernah diceritakan pada X-Men: The Last Stand (2006). Jean Grey punya kekuatan begitu besar, namun dia sendiri begitu insecure dengan kemampuan dan statusnya sebagai mutant, sehingga kombinasi dua hal tersebut menjadi luar biasa berbahaya. Mengancam keutuhan dunia beneran. Serta keutuhan dunia impian Profesor X, di mana manusia dan mutant hidup saling bekerja sama. Visi sutradara Simon Kinberg dalam debut film panjangnya ini adalah menjadikan Dark Phoenix sebagai penutup franchise yang benar-benar intriguing dan kelam.

Sayangnya, perwujudan dari visi tersebut sungguh datar dan tidak benar-benar menarik karena Dark Phoenix ternyata enggak jauh lebih dalem dari Last Stand dalam mengeksplorasi cerita ini. Narasi yang diucapkan oleh Jean Grey tentang evolusi yang membungkus cerita ini terdengar out-of-place dan gak benar-benar nyambung sama tema dan apa yang menjadi journey dari Grey. Seharusnya film ini mengangkat pertanyaan lebih kompleks dari keadaan Jean Grey. Apakah dia bisa tetap bersama dengan orang-orang yang ia cintai dengan kekuatan yang ia miliki jika ia memilih untuk menerima kekuatan tersebut. Film seharusnya menekankan kepada keadaan jiwa Grey sendiri yang bertanya kepada dirinya apakah dia masih bisa menganggap rekan-rekan sebagai keluarga setelah semua kenyataan yang ia ketahui. Opening film ini tampak seperti sudah akan mengambil jalan yang benar. Film membahas soal baik dan jahat sebenarnya cuma masalah pilihan, bukan masalah kemampuan yang kau punya. Kita bisa saja hanya punya pulpen, dan tetap melakukan hal keji seperti membunuh orang dengan pulpen tersebut jika kita memilih begitu. Yang film ini tawarkan kepada kita adalah tokoh utama yang harus memilih untuk berbuat baik atau berbuat jahat dengan ‘hadiah’ yang ia terima – ini ultimate choice banget, pilihan yang harus dibuat oleh Jean Grey personal dan dalem sekali. Tapi film memilih untuk lebih mengedepankan serangan alien. Tidak benar-benar banyak melakukan sesuatu yang baru dan berbobot dari kondisi psikologi Grey. Kita hanya melihat dia menangis meringkuk berhujan-hujan, kemudian curhat ke berbagai orang, dan meledak marah, menyebabkan kemalangan secara tak-sengaja, dan membuat marah lebih banyak orang – same old basic stuff.

Menonton ini aku memutuskan untuk tidak memikirkan kontinuitas, karena sesungguhnya justru kontinuitas itu yang paling mengancam dunia film ini – ketimbang alien, ataupun kekuatan Jean Grey. Aku bermaksud menikmati film ini sebagai cerita solo. Dan bahkan melihatnya seperti demikian pun, film ini lemah karena dangkalnya pengeksplorasian tersebut.

franchise X-Men tidak peduli soal kesinambungan, and so should you.

 

Momen-momen bersinar datang dari sekuen-sekuen aksi. Favoritku adalah bagian di awal ketika para anggota X-Men menggunakan masing-masing kemampuan mereka untuk bekerja sama menolong pesawat ulang-alik di luar angkasa. Mungkin film menyadari bahwa appeal X-Men terletak pada kemampuan khusus yang berbeda-beda pada setiap mutant. Sehingga film tidak benar-benar menjadikan sisi drama psikologis sebagai fokus utama. Mereka ingin mengakhiri semua ini dengan ledakan dan pertempuran di sana sini. Adegan pertarungan terakhir di kereta api yang seru itu kelihatan banget ditambah/direshoot – Grey dan tokohnya Chastain melakukan interaksi yang merupakan pengulangan dari adegan sebelumnya – karena film merasa masih kurang seru.

Dilihat dari jajaran penampil akting, film ini solid. Aku gak bisa bilang metode yang dilakukan James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, dan banyak nama beken lain pendukung film ini, untuk menghidupkan peran mereka jelek. Hanya saja naskah tidak banyak memberikan ruang gerak. Dialog mereka terlalu gamblang. Jessica Chastain memberikan kemampuan terprofesionalnya menghidupkan karakter alien kayu yang ingin memanfaatkan kekuatan Jean Grey, tapi tokoh ini begitu standar sehingga kita tidak punya niat untuk peduli lebih jauh terhadap dirinya.

Sophie Turner sebagai Jean Grey juga sebenarnya enggak jelek. Dia menunjukkan kemampuan berpindah rentang emosi yang cukup jauh dengan begitu singkat. Film menuntutnya sering melakukan hal tersebut, dan Turner beneran terlihat menyeramkan dengan CGI yang membuat uratnya tampak seperti kabel-kabel merah yang siap meledak. Akan tetapi naskahlah membuatnya tampak lebih seperti robot korslet ketimbang manusia yang sedang berkecamuk ya pikiran, ya kekuatannya. Jean Grey yang menyeberang ke sisi jahat harusnya adalah soal emosi yang powerful, yang relatable, kegalauan paripurna tentang keberadaaan dan fungsi diri sendiri. Dark Phoenix berkelit dari membahas itu. Instead, kejadian yang kita lihat bentuknya selalu Jean Grey memilih tindakan dan orang yang berinteraksi dengannya mengambil reaksi terhadap aksinya. Film kemudian fokus pada reaksi orang tersebut. Kejadian dalam film ini kumpulan dari aksi-reaksi tersebut. Kita hanya melihat sedikit pembahasan dari Jean Grey dan fokus ke dampaknya terhadap tokoh lain. Kita tidak melihat Grey memikirkan kembali apa yang baru saja ia lakukan. Tokoh lainlah yang harus mengusahakan penyelesaian, yang memberikan jawaban kepada Grey.

dark twist dari kata-kata motivasi “kau dapat melakukan apapun yang kau pikirkan”

 

Mungkin Jean Grey tepatnya bukan seperti robot ataupun bom waktu. Melainkan lebih seperti anak kecil. Bocah insecure yang memancing perhatian dengan berbuat nakal. Dalam adegan pembuka di mobil bersama kedua orangtuanya, kita melihat ibu dan ayah Grey agak ‘pelit’ menunjukkan kasih sayang kepadanya. Setelah dewasa pun, kenyataan menghantam dan kita tahu apa yang menimpa Grey jelas bukan termasuk ke dalam kategori ‘cinta kasih orangtua’. Jean Grey tampak seperti seorang anak yang kebanyakan dilarang dan diberikan aturan. Jadi dia berteriak, merengek. Ngamuk. Dia pengen dimengerti tapi gak tau bagaimana mempersembahkan dirinya. Tergantung kepada orang tua atau orang dewasalah memikirkan cara yang terbaik untuk mengajak anak seperti ini berbicara; untuk membujuknya. Makanya film ini segimanapun serunya adegan berantem (cuma film ini yang bisa membuat menyeberang jalan sebagai panggung tawuran mutant), penyelesaian masalahnya selalu adalah mengajak Jean bicara baek-baek. Makanya arc yang paling digali secara emosional justru adalah milik Profesor X.

Karena di balik semua itu, film ini bisa kita anggap sebagai tutorial mendiamkan anak kecil yang mengamuk. Ketika kita menginginkan semua aman untuk anak kita – dalam kasus Prof. X; dia mau dunia jadi lebih baik untuk mutant generasi muda – kadang kita melupakan si anak itu sendiri. Ada banyak cara untuk gagal sebagai orangtua, dan orang-orang di sekitar Jean Grey melambangkan beberapa. Pelajaran pertamanya; jangan berbohong kepada mereka

 

Kita lebih konek secara emosi kepada Prof. X, Mystique, dan bahkan Magneto dibandingkan kepada Jean Grey. Kita mencoba untuk menolerir keputusan dan langkah-langkah yang mereka ambil. Sedangkan bagi si tokoh utama sendiri, kita tidak merasakan apa-apa – selain mungkin sedikit geram. Kita tidak mendukung aksinya. Kita tidak merasa kasihan kepadanya. Kita tidak peduli di akhir cerita itu dia berevolusi menjadi apa. Seperti halnya dengan rengekan anak kecil, kita hanya ingin masalah Grey cepat terselesaikan dengan mengharap para tokoh lain segera ‘menekan tombol yang benar’. Demikian hampanya pengembangan tokoh utama kita.

 

 

 

Tidak seemosional yang seharusnya bisa mereka capai. Tidak se-dark yang judulnya cantumkan. Tidak sebegitu banyak berbeda dengan cerita yang pernah mereka sampaikan sebelumnya. Film terakhir dari franchise yang sudah berjalan nyaris dua-puluh tahun ini membuat kita terbakar oleh api kekecewaan. Karena biasa aja, gak kerasa kayak final. Penghiburan berupa jajaran cast dan adegan-adegan aksi boleh jadi membuat kita menyukai film ini, namun secara penceritaan terasa hampa. Pesan dan narasinya terasa dipaksakan. Sungguh pilihan yang aneh yang diambil oleh Kinberg untuk menutup franchise ini. Atau mungkin semua ini adalah siasat, “Kill it with fire!”, supaya para penonton menjadi apatis dan secepatnya melupakan universe ini pernah ada sehingga reboot X-Men yang baru, dari Disney, bisa lantas dibuat.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for DARK PHOENIX.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa kalian setuju dengan ‘parenting’ ala Profesor X? Menurut kalian apa maksud X dari X-Men? Menurut kalian apakah X-Men perlu untuk dibuat ulang? Bagaimana kalian akan menyelamatkan X-Men kali ini?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

BOOKSMART Review

“You don’t learn those things in school.”

 

 

Malam menjelang acara kelulusan, dua siswi langganan nilai A merasa diri mereka paling bego sedunia akhirat. Bertahun-tahun Molly dan Amy belajar keras, gak pacaran, gak main-main, rela disebut ansos demi mempersiapkan diri di dunia perkuliahan, biar bisa masuk sekolah yang lebih baik. Well, coba tebak. Kerja keras dan ‘pengorbanan’ mereka seketika tampak sia-sia karena teman-teman sekelas mereka; yang pemalas, yang berandalan, yang selalu ngeles dari rapat OSIS, yang jarang bikin PR, ternyata juga diterima di kampus terbaik. Ada yang bakal langsung kerja di Google pula. Molly bagai mendengar petir di siang bolong! Ini seperti kau beribadah sepanjang waktu – sebisa mungkin menghindari maksiat, dan di akhirat nanti mendapati tetanggamu yang kriminal kelas kakap masuk surga juga lantaran sebelum mati dia menjadi orang gila. Perasaan missing out mendera Molly, yang lantas mengajak Amy untuk pergi berpesta gila-gilaan malam itu. Malam terakhir mereka menikmati masa-masa SMA yang indah.

Booksmart adalah PR paling berat yang harus kuselesaikan sejauh 2019 ini. Karena aku merasa kesulitan untuk menontonnya. Mungkin aku memang sudah kelewat ‘tua’, aku benci penggambaran anak remaja dalam film ini, sementara aku tahu film ini dipuji berkat gambaran remaja yang benar-benar kekinian. Aku gak suka penampilan mereka. Aku gak suka bahasa percakapan mereka. Aku gak suka musik EDM yang film ini gunakan. Buatku menonton film ini seperti menonton video dari youtuber kekinian – yang mana aku biasanya hanya menonton video mereka sampai mereka pertama kali membuka suara. Then I close it. Begitulah saat pertama kali aku berusaha nonton Booksmart. Gak sampai 20 detik, lalu kumatikan. Tapi aku pengen mereviewnya. Ini adalah bagian dari kerjaan sebagai reviewer; kau harus menonton film apapun suka atau tidak. Kita harus bisa memberikan penilaian yang objektif terhadap suatu film, terlepas dari bias selera. Jadi, besoknya aku setel lagi. I got past the crucial first-ten-minutes. I still hate it. Kumatikan. Besoknya nonton lagi dari awal. Begitu terus. Aku beneran butuh satu minggu untuk berhasil menonton film ini dari awal hingga akhir.

Dan aku bersyukur karena Booksmart adalah salah satu yang paling fresh tahun ini, serta salah satu yang paling impactful. Aku tahu Booksmart gak bakal dapet nilai subjektif .5 di belakang skor finalku nanti, tetapi secara objektif film ini memang enggak jelek. Aku bisa melihat kenapa film ini banyak disukai orang. Hubungan antartokoh-tokohnya memang gak terasa dibuat-buat, meskipun kadang lebay. Film ini punya arahan yang unik nan kuat, yang tahu betul bagaimana mengeksplorasi keliaran tanpa mengurangi hati. Booksmart benar-benar dibuat dengan sangat kompeten. Komedinya bekerja dengan cerdas. Banyak yang bilang film ini kayak versi cewek dari tokoh-tokoh film Superbad (2007). Dan ya, clearly Booksmart mendapat banyak pengaruh dari film tersebut, juga film-film remaja klasik lainnya. Olivia Wilde enggak main-main ngerjain ‘PR’nya. Aktor yang sekarang jadi sutradara ini benar-benar paham genre yang ia garap, mengerti dunia yang ia bangun, sehingga menghasilkan film yang menorehkan jejak dengan kuat pada generasi sekarang.

The power of ngerjain PR

 

Wilde memberikan cerita batasan waktu sehingga kita merasakan urgensi. Molly dan Amy hanya punya satu malam, dan kita seolah berada di sana bersama mereka berdua. Kemudian kejadian demi kejadian kocak terangkai, menjadi petualangan yang tidak pernah hadir membosankan. Entah itu berkat permainan kamera yang variatif, ataupun gaya adegan yang nekat. Pada satu titik film ini akan berubah menjadi animasi 3D dengan tokoh-tokoh kita ‘berubah’ menjadi barbie. Kejadian itu punya kepentingan dan benar-benar punya bobot ke dalam cerita. Semua yang dialami Molly dan Amy menambahkan banyak bobot ke cerita. Nilai hiburan pun terbendung dari sana. Selain hura-hura, Wilde juga bercerita dengan cukup subtil. Adegan nyebur ke air yang biasanya digunakan untuk momen kontemplasi, digebrak olehnya. Nyebur ke kolam saat pesta dalam film ini adalah perlambangan membebaskan diri dengan nyemplung ke dalam dunia sosial, dengan relevasi siapa kita dan siapa orang lain – untuk saling mengenal – dijadikan tujuan utama.

Yang diperlukan oleh Molly sebenarnya bukan kesempatan untuk gila-gilaan di pesta, merasakan gaya hidup anak SMA yang penuh hura-hura. Melainkan kesempatan untuk bersosialisasi dengan tulus, untuk menjadi teman yang sebenar-benarnya teman terhadap seluruh teman sekelasnya. Film ini punya suara  soal label sosial yang kita ciptakan sebagai pertahanan. Molly juga memandang teman-teman sekolahnya dengan dangkal, sebagaimana teman-teman Molly juga melihat dia dari persona yang ia ciptakan. Padahal mereka semua sebenarnya punya tujuan yang sama; mencoba survive dari kehidupan SMA yang menuntut. Hanya, strategi survival mereka berbeda. Harus kuakui, masalah tersebut sebenarnya sungguh relevan untuk lapisan generasi yang pernah merasakan kehidupan di lingkungan sekolah. Padahal sekolah bukan hutan. Untuk bisa survive, kita tidak musti menganggap yang lain sebagai saingan.

Sekolah bukan semata tempat untuk belajar ilmu pengetahuan dari buku. Melainkan juga untuk belajar kehidupan dari orang-orang di sekitar. Sekolah tidak akan mengajarkan cara mencintai seseorang, cara menghormati orang lain, cara jadi kaya, cara supaya enggak gagal, cara supaya bisa menghadapi kegagalan. Tetapi, sekolah memberikan kesempatan kita untuk belajar semua itu, di luar ruang kelasnya. Kita hanya perlu untuk peduli lebih banyak di luar nilai-nilai mata pelajaran.

 

Aku pun terkejut ketika mendapati aku peduli juga sama Molly dan Amy. Padahal tadinya kupikir mereka berdua ini annoying. Aku ingin mereka sukses dalam hidupnya, aku ingin mereka bahagia. Film menampilkan hubungan persahabatan kedua tokoh ini dengan sangat otentik sehingga kita merasa mereka memang sudah ada sebelum film ini dimulai, dan kehidupan mereka akan terus berlanjut di luar sana saat kredit penutp mulai bergulir. Beanie Feldstein dan Kaitlyn Dever (respectfully, memerankan Molly dan Amy) punya chemistry yang sangat natural. Dua aktor muda ini sudah cukup malang melintang di komedi – Feldstein actually adalah adik dari Jonah Hill yang main di Superbad – jadi mereka gak canggung untuk memainkan tek-tok dialog cukup panjang, dan pada sebagian besar percakapan kita bisa melihat mereka berdua melakukan improvisasi.

Penampilan mereka memberikan energi yang menghidupkan film ini. Dan Wilde cukup bijak untuk mengetahui hal tersebut dan memanfaatkan kecakapan talentnya ke dalam treatment adegan yang powerful. Adegan Molly dan Amy berantem sampe teriak-teriak itu adalah salah satu adegan terbaik dalam film ini. Wilde tahu kapan harus mematikan suara dan membiarkan ekspresi kedua pemainnya yang berteriak. Kembali kepada kesubtilan adegan yang tadi kutulis, dengan membuatnya seperti begini, Wilde berhasil mencapai adegan pertengkaran yang dramatis – yang kena ke urat emosional kita – karena kita pun mengerti di titik itu dua tokoh ini cuma meneriakkan sesuatu untuk menutupi kenyataan. Kita pun kalo udah berantem gede-gedean suara, hanya pengen teriak doang dan tak lagi (mau) peduli apa yang diucapkan oleh teman-berantem.

Hidup adalah kebalikan dari sekolah; kita di tes dulu baru kemudian dapat pelajaran yang berharga

 

Menurutku adegan berantem tersebut seharusnya dapat lebih kuat lagi jika musiknya dimatikan. Di atas, aku sudah bilang aku gak suka musik EDM dan musik kekinian lain yang dipake oleh film ini, tapi tentu aku gak bisa bilang Booksmart jelek karena aku gak suka ama genre musiknya. Itu subjektif namanya. However, penilaian objektifku soal musik Booksmart adalah film ini terlalu bergantung kepada musik. Hampir semua adegan harus ada musik latarnya. Dari penceritaan yang mereka tampilkan, sebenarnya tidak perlu lagi ada manipulasi emosi dari musik atau lagu latar. Di awal-awal, musik film ini mencapai level intrusif sebagai masuk ke editing adegan – ada adegan yang seperti diedit sedemikian rupa supaya mengikuti irama musiknya, bukan lagi musik yang mengiringi adegan.

Makanya, film ini terasa berada di tengah-tengah. Dengan pemakaian musik dan tokoh-tokoh beragam yang melakukan sesuatu yang ajaib (aku suka ‘kegilaan’ Billie Lourd, tapi karakter yang ia perankan terlalu fantastis), Booksmart tampak seperti komedi konyol yang sarat makna. Namun juga, dengan pesan yang relevan dan relatable dengan masa sekarang, kekonyolan yang ada membuat film seperti sebuah komedi keseharian yang terlalu konyol untuk jadi nyata. Status film ini seharusnya bisa diperjelas lagi. Seperti anak muda, film kayak agak kebingungan menampilkan dirinya yang sebenarnya.

 

 

 

Mulai dari sutradara hingga pemain, ada banyak bakat yang hadir di film remaja yang menyenangkan dan berpengaruh buat generasi pasanya ini. Mereka melakukan hal yang benar, menarik remaja dengan benar-benar menjadi seperti remaja. Bahkan untuk genre komedi tentang anak sekolah yang berusaha melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, film ini pun tampak unik. But as far as the storytelling goes, film ini terlalu bergantung kepada musik – sedikit terlalu berfokus kepada tampilan luar. Yang mana membuatnya tampak sedikit mengkhianati bakat-bakat yang ia punya. Tidak ada bully, penuh diversity, pemalas pun bisa dapat sekolah bagus, film ini kadang tampak bagai dongeng konyol sehingga dapat mengurangi kepentingan gagasannya.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for BOOKSMART.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Di kelas kalian termasuk geng anak belajar atau geng anak bandel yang suka main-main? Bagaimana kalian memandang ‘geng’ yang berbeda dengan kalian? Pernahkah kalian merasa marah ketika ada yang menurut kalian lebih bego ternyata lebih sukses?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

HIT & RUN Review

“… being human means we invite spectators to ponder what lies behind.”

 

 

Selayang pandang, komedi aksi Hit & Run yang disutradarai oleh Ody C. Harahap tampak seperti komentar lucu dari fenomena polisi yang semakin sering muncul (lebih tepatnya; memunculkan) diri di televisi dan sosial media. Kita sering tergelak melihat postingan video-video polisi yang berjoget di sela-sela tugasnya. Bahkan salah satu stasiun televisi ada yang nayangin reality show khusus untuk memperlihatkan seluk beluk kinerja polisi. Menontonnya tentu saja seru dan menghibur.

Trope ‘polisi narsis’ dimunculkan oleh Hit & Run di mana kita mendapat Tegar sebagai tokoh utama. Seorang polisi yang begitu cool dan jagoan, sehingga setiap kali dia beraksi – entah itu gerebek kelab malam atau melumpuhkan maling di toko swayalan – dua kamera in his command harus ada ‘menembak’ semua aksinya. Tegar (Joe Taslim mencoba bersenang-senang dalam peran utama layar lebarnya yang pertama) adalah polisi sekaligus selebriti. Judul film ini actually mengacu kepada judul reality show yang dimiliki oleh Tegar. Dua kerjaan profesional Tegar tersebut akan membawa kita ke banyak momen-momen komedi, momen-momen aksi, dan seringkali kedua momen-momen itu bercampur menjadi satu. Salah satu misi membawa Tegar bertemu dengan banyak orang, salah satunya adalah Meisa (Tatjana Saphira loh ya, bukan Tatjana Safari), seorang diva televisi yang punya ‘kehidupan in-camera’ yang sama dengan Tegar. Misi perburuan gembong narkoba yang kabur dari penjara itu semakin intens dan personal as orang-orang di sekitar Tegar yang tadinya hanya ia niatkan sebagai ‘penonton’ berangsur tertarik masuk menjadi ‘pemain’ yang membuat mereka semua dalam berada dalam jangkauan marabahaya.

Hidup adalah reality show yang sesungguhnya. Mengutip kata aktor John Cusack; bahwasanya kata ‘person’ itu berasal dari bahasa Latin yakni ‘persona’ yang artinya topeng. Kita berusaha mencari topeng yang disukai dan diapresiasi oleh publik sehingga kita nyaman berada di baliknya. Di saat yang bersamaan itu juga berarti kita sebagai manusia mengundang manusia lain untuk merenungkan apa yang ada di balik topeng-peran kita.

 

Light, Camera, Acti…Bak! Bik! Bugh! Wewwrgh!

 

Plot – yang menjadi inner persona – film ini sebenarnya enggak buruk. Tegar yang harus belajar menyadari bahwa dia boleh saja adalah bintang utama dalam reality shownya, namun reality show itu hanyalah bagian kecil dari hidupnya. Dan hidupnya sendiri juga secuil bagian dari banyak kehidupan lain yang ada di sekitarnya. Adegan pertarungan besar dengan preman narkoba yang paling jago berantem mencerminkan bahwa teman-teman Tegar bukan hanya penonton. Tegar memerlukan bantuan mereka. Tegar, setegar apapun namanya, harus mengakui kalo dia butuh orang yang mengerti dirinya di balik topeng polisi ngehits yang ia kenakan.

Inner persona film ini sayangnya, terkubur begitu dalam. Film menciptakan banyak ‘topeng-topeng’ berupa elemen-elemen penghias untuk menarik perhatian penonton. Susah memang menjual cerita original karena penonton biasanya lebih mudah tertarik dengan branding. Lebaran ini, Hit & Run bersaing dengan empat film lain yang tiga di antaranya adalah sekuel. Butuh banyak usaha, bukan saja untuk menjual cerita ini, melainkan juga untuk membuatnya terwujud menjadi film. Hit & Run tampil dengan begitu banyak hiasan yang all over the place sehingga gagasan aslinya nyaris tak kelihatan lagi. Apa yang seharusnya adalah lapisan, atau layer yang membungkus cerita, pada akhirnya hanya menjadi tempelan jika tidak berhasil dintegralkan dengan baik. Menyebabkan benturan tone cerita setiap kali film berusaha live it up to it’s unusual genre.

Hit & Run mainly tampil sebagai buddy cop komedi karena interaksi paling banyak datang dari Tegar dan ‘partner terpaksanya – seorang pemuda yang punya koneksi ke tempat-tempat yang berhubungan dengan jaringan bandar narkoba yang ia cari. Dinamika antara Tegar dengan Lio (delivery dan penampilan akting Chandra Liow adalah yang paling lemah di sini, dia annoying alih-alih kocak) tidak mampu bekerja dengan baik sebagai fondasi utama. Development tokoh Lio memang sangat kurang, kita tidak pernah percaya pada setengah hal yang diucap oleh mulutnya. Melihat Tegar memarahinya tidak menimbulkan simpati, apalagi menarik urat ketawa. Aku berbisik “bunuh, bunuh!” karena aku pengen karakter ini lenyap dan diganti oleh sidekick yang lebih menarik. Agak-agaknya film berusaha meniru chemistry antara Jackie Chan dengan Chris Tucker di Rush Hour (1998). Langkah-langkah investigasi mereka pun mirip. Bahkan ada adegan dengan musik di tape mobil yang mirip dengan adegan film tersebut. Ketinggian, memang. Jangankan Chan dan Tucker, kharisma Liow bahkan tidak mampu mengimbangi Taslim.

Tentu saja harus ada cinta-cintaan. Love interest udah jadi staple standar di film-film Indonesia yang mengincar ‘laku di pasar’. Dalam Hit & Run, however, elemen ini hadir setengah-setengah. Dengan cara yang aneh pula. Sekuen romance dalam film ini berupa Tegar main piano bernyanyi bersama Meisa. See the problem? ‘adegan’ nyanyi ditempatkan sebagai ‘sekuen’ – underdeveloped banget. Meisa harusnya diberikan lebih banyak peranan karena karakter ini yang paling mendukung inner-journey Tegar. Permainan akting Tatjana Saphira paling menonjol di sini lantaran dia harus beralternate antara berakting sebagai orang yang lagi akting sebagai penyanyi lebay yang jadi gimmicknya dengan berakting sebagai pribadi asli si penyanyi. Tatjana juga sedikit terlibat porsi aksi. Tapi film kelihatan seperti tak tahu harus melakukan apalagi buat dua tokoh ini. Seharusnya ini yang mengambil center stage.

lebih cocok jadi Hit & Miss

 

Jika kita dapat melihat ke balik topeng seseorang, maka kita akan mendapat cahaya soal siapa sebenarnya mereka. Dan jika cahaya tersebut cukup terang, pada saat itulah kita akan jatuh cinta. 

 

Ada satu, eh salah, DUA lagi hubungan penting Tegar yang ter-glossed over. Disebutkan di awal, menghilang di tengah, dan baru dibahas lagi di akhir. Yakni dengan adiknya, dan dengan si preman narkoba itu sendiri. Dua tokoh ini padahal orang yang penting dalam kehidupan Tegar. Mereka adalah alasan kenapa Tegar menjadi narsis sekaligus punya keinginan yang kuat untuk membasmi kejahatan. Drama kakak-adik yang dimiliki cerita juga sesungguhnya yang membuat film ini pantas berlaga di masa-masa lebaran; there’s a lot more tentang keluarga yang disinggung oleh film ini. Tapi semuanya disebut sekenanya saja. Pada saat preskon di Bandung, aku sempat bertanya kepada beberapa cast ‘apa sih yang mereka sukai dari karakter mereka di film ini’. Nadya Arina yang jadi adik Tegar dan Yayan Ruhian yang jadi bebuyutan Tegar tidak bisa menjawabnya karena nanti akan spoiler. That’s how bad the characterization in this film is.  Beberapa tokohnya cuma pion dalam cerita – kau penjahat, kau sandra – tidak benar-benar ada karakter.

Yang dengan antusias menjawab tentu saja adalah Joe Taslim karena tokoh Tegar menawarkan banyak hal baru untuk ia jalani.  Dia melakukan semuanya mulai dari komedi, bernarsis ria, hingga berantem yang udah jadi zona nyamannya. Satu lagi yang mengaku dan benar-benar terlihat have fun dalam film ini adalah Jefri Nichol. Aktor muda yang biasanya jadi pemain utama ini pada Hit & Run perannya gak gede-gede amat, tapi sangat berbeda. Sudah seperti satir dari peran-peran yang biasa ia mainkan. Penggemar Nichol akan melihat hal tersebut sebagai suatu appeal yang luar biasa. Karena faktor eksternal semacam demikian, film ini akan jadi dua kali lebih bekerja di mata penggemar-penggemar satuan elemennya.

Penggemar aksi tentunya akan sangat senang. Belum lama ini kita dibikin excited sama kemunculan dua ikon laga tanah air di John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019), dan Hit & Run bisa jadi encore yang kita minta. Sekuen aksinya sangat serius, walaupun kamera agak sedikit terlalu banyak bergoyang, kita bisa melihat porsi aksi ini digarap oleh orang-orang yang memang mengerti cara bercerita lewat adegan berantem. Aksi tak pelak adalah bagian terbaik yang dimiliki oleh film ini. Ada sense nostalgia juga; penggemar film laga pasti jejeritan menyadari ini adalah pertemuan pertama Taslim dengan Ruhian setelah The Raid delapan tahun yang lalu.

 

 

 

Pengen menghadirkan aksi serius yang bisa dinikmati oleh lebih banyak kalangan, film menampilkan komedi yang lebih banyak miss ketimbang hit dan adegan laga yang hits hard! Punya materi yang menarik, tapi eksekusinya menyerempet di bawah standar. Film berusaha menutupi dengan membuat ceritanya berlapis. Memasukkan terlalu banyak aspek dalam upaya untuk tampil menghibur, akan tetapi tidak pernah bercampur dengan baik. Sehingga jatohnya sebagai tempelan, dan menyebabkan tone cerita amburadul. Juga kelihatannya aneh komedi dengan tokoh yang dikelilingi kamera ke mana-mana, mungkin kalo dibuat bergaya mockumentary ala What We Do in the Shadows (2014) bisa lebih maksimal kocaknya. Buddy-cop namun tema besar ceritanya tersimbol pada hubungan tokoh utama dengan penyanyi; sudah bisa lihat dong gimana kacaunya film ini. Meskipun demikian, hardcore fans dari pemain ataupun dari genrenya akan menyukai film ini lantaran banyak persona-persona aneh yang diberikan, banyak tantangan tak-biasa yang dimainkan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for HIT & RUN.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian narsis itu penting gak sih? Seberapa jauh kalian menempuh usaha untuk pencitraan?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

SI DOEL THE MOVIE 2 Review

“Nothing is so exhausting as indecision…”

 

 

“Saya enggak berani ngakalin, bahaya”, jawaban Doel ketika diminta untuk memperbaiki mesin dengan alat seadanya benar-benar mencerminkan prioritas dirinya; dia tidak ingin ada yang celaka. Tidak ingin ada hati yang terluka. Jadi Doel tetap mengelak dari membuat keputusan. Zaenab atau Sarah. Kata-kata Mak Nyak pun mengonfirmasi perihal selain sembahyang dan mengaji, ada satu lagi ‘kerjaan’ anak sulungnya tersebut. Si Doel plin-plan. Si Doel the Movie 2 garapan Rano Karno bikin kita semua geregetan karena benar-benar memfokuskan kepada gimana sulitnya mengambil keputusan ketika kita mempertimbangkan kebahagian orang serta kebahagiaan kita. Tapi untukku, mainly aku geregetan kesel karena aku masuk ke bioskop dengan sudah begitu siap untuk melihat sudut pandang baru mekar dan berkembang selepas film pertamanya tahun lalu.

Nyatanya, film memutuskan untuk tetap berkubang di permasalahan klasik cinta Doel – Zaenab – Sarah kendati di film sebelumnya kita melihat Sarah dengan tegas meminta Doel untuk menceraikan dirinya. Film kali ini dimulai langsung setelah Doel kembali dari Belanda. Dia membawa oleh-oleh bakiak buat Atun dan kabar bahwa dia bertemu Sarah dan putra mereka yang udah beranjak remaja buat Zaenab. Hanya saja, Doel mengulur-ulur waktu untuk memberikan ‘oleh-oleh’ tersebut kepada Zaenab yang dengan cemas menunggu kepastian darinya. Berkas-berkas untuk mengurus perceraian yang diberikan oleh Sarah disimpan Doel jauh-jauh di dalam lemari. Doel menunggu waktu yang tepat. Namun keadaan mulai ribet karena Mandra yang ikut serta ke Belanda sempat menyebarkan foto Doel bersama anaknya lewat Whatsapp. Dan juga, si anak – Dul – nekat pengen liburan ke Jakarta.

I used to be indecisive, but now I’m not quite sure

 

Nostalgia sangat kuat menguar. Film ini bermain dengan sangat aman, meletakkan kita ke tempat yang sudah familiar. Like, literally. Panggung cerita sekarang benar-benar di rumah si Doel. Lengkap dengan warung di depan, bendera sangkar burung di sebelah, oplet biru yang terparkir di halaman, dan kelucuan dan keakraban karakter-karakter seperti Mandra, Atun, bahkan Mak Nyak. Bagi penonton baru, jangan khawatir merasa asing, karena karakter-karakter tersebut tanpa ragu merangkul kita semua. Oleh kesederhanaan; sikap maupun situasi. Lihat saja kocaknya Mandra yang menyombong mengaku kepanasan di Indonesia, padahal baru juga seminggu tinggal di Belanda. Mari kita apresiasi sebentar gimana Atun adalah teman sekaligus saudara yang paling baik sedunia; gimana dia selalu ada untuk Zaenab, gimana dia yang paling duluan khawatir dan mengendus sesuatu bisa menjadi masalah untuk hubungan abangnya dengan Zaenab.

Dan tentu saja, apresiasi paling besar mestinya kita sampaikan buat Mak Nyak Aminah Cendrakasih yang benar-benar berdedikasi pada profesinya. Aku gak bisa kebayang gimana beliau dengan kondisi sakit seperti itu bisa ikut syuting. Yang lebih unbelievable lagi adalah peran Mak Nyak ternyata sangat penting. Film menggunakan kondisi Mak Nyak sebagai sesuatu yang sangat integral di dalam cerita. Sebagai perbandingan; Vince McMahon dapat reputasi jelek dari fans yang ngatain dia tasteless mengeksploitasi cedera, penyakit, ataupun kematian di dunia nyata ketika dia being creative memasukkan kemalangan-kemalangan beneran tersebut sebagai bagian dari storyline di WWE. I mean, Bu Aminah pastilah berbesar hati sekali.

Akan tetapi elemen nostalgia seperti demikian akan dengan cepat menjadi menjenuhkan, terutama ketika ada elemen-elemen baru yang dihadirkan. Karena naturally kita ingin menyaksikan pertumbuhan. Film menggoda kita dengan hal-hal baru mulai dari yang receh seperti Mandra yang tertarik untuk kerja jadi ojek online, ataupun yang lebih signifikan seperti anak Doel yang seumuran dengan anak Atun – heck, situasi Doel dengan anaknya ini bisa saja jadi satu episode utuh, tapi film mengulur-ngulur. Alih-alih pengembangan baru, film akan mengajak kita flashback dengan adegan-adegan yang dicomot dari serial televisi jadul. Jika ada adegan yang benar-benar baru, maka itu hanya kilasan komedi yang bakal dilanjutkan di episode berikutnya. Ya, aku bilang episode karena begitulah film ini terasa. Less-cinematic. Gaya berceritanya sinetron sekali. Film bahkan basically memakai ‘sebelumnya dalam Si Doel’ sebagai prolog dan tulisan pengantar ke film berikutnya sebelum cerita usai, persis kayak episode televisi.

Di babak awal, film ini sebenarnya cukup menarik. Kita langsung dibawa ke permasalahan batin si Doel. Pertanyaan yang dilemparkan cerita kena tepat di wajah kita; akankah pada akhirnya Doel memberitahu kebenaran kepada Zaenab? Kejadian-kejadian seperti ngebangun rintangan buat si Doel memantapkan hati memilih keputusan. Naskahpun tidak menawarkan jawaban yang mudah, as poligami ditentang oleh Mak Nyak keras-keras. Setiap naskah film dikatakan bagus karena berhasil menuntun kita masuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling sambung menyambung; yang disebut dengan plot poin. Contohnya: Apakah Joy bisa membuat Riley tetap bahagia adalah pertanyaan pertama yang diangkat oleh Inside Out (2015), yang kemudian di awal babak kedua berubah menjadi apakah Joy bisa kembali kepada Riley, untuk kemudian di awal babak ketiga berubah lagi menjadi apakah Riley masih bisa bahagia. Pertanyaan atau plot-plot poin itu adalah garis besar misi yang harus dijalankan tokoh utama sebagai respon dari rintangan yang ia hadapi. Si Doel the Movie 2 mengangkat pertanyaan-pertanyaan seperti film beneran, hanya saja setiap pertanyaan tersebut dibebankan kepada tokoh-tokoh yang berbeda. Dalam kata lain, ada tiga tokoh berbeda yang menggerakkan cerita.

Puji syukur ada Sarah, kalo cuma Doel dan Zaenab bisa-bisa ceritanya jadi pasif dan annoying kayak Ebi di Single 2 (2019)

 

Babak satu adalah bagian untuk Doel. Babak kedua untuk Zaenab. Dan babak tiga, penyelesaian cerita ini, dikemudikan oleh Sarah. Masing-masing bagian Doel, Zaenab, dan Sarah untungnya punya keparalelan. Tentang mereka berjuang untuk mencapai keputusan masing-masing. Jika bagian Doel hampir-hampir menyebalkan, maka yang paling menyedihkan jelas bagian Zaenab. Karena wanita ini harus mendamaikan dirinya dengan dua orang. Film menangkap ketakutan Zaenab dengan dramatis. Akting Maudy Koesnaedi menyayat hati di sini. Kita mungkin gak bakal cepet lupa sama adegan antara Zaenab, parutan kelapa, dan jarinya. Aku gak mau bocorin terlalu banyak, yang jelas film ini banyak berisi momen-momen dramatis yang anchored ke nostalgia. On the bright side, kita dapat melihat sisi lain dari Zaenab di film ini.

Ketiga tokoh ini mengambil posisi titik-titik sudut sebuah segitiga ketakutan. Doel melambangkan ketidakpastian. Zaenab bergerak berdasarkan kekhawatiran. Sarah didorong oleh kecemasan bahwa dirinyalah penyebab semua ‘kekacauan’ di keluarga Doel. Indecision, fear, and doubt; jika kita menemukan yang satu, maka dua yang lain pasti ada di dekatnya. Pada kasus tokoh film ini, tergantung mereka sendiri mengecilkan jarak, mempersempit ruang segitiga yang mereka ciptakan. Jika tidak, kisah mereka yang melelahkan tidak akan pernah selesai.

 

Jangan kira cerita yang tampak sudah tuntas – masing-masing tokoh yang sudah dapat momen mengambil keputusan – ini undur diri baek-baek. Ada wild card yakni si Dul yang keputusannya mengaduk kembali keputusan yang sebelumnya sudah dibuat. Yang seperti menegasi semua yang sudah dilalui; yang membuat Doel dan Zaenab dan Sarah seperti kembali ke posisi awal. Makanya, menonton film ini rasanya tidak ada yang tercapai sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah terjawab, dibuka kembali. Lantaran pembuatnya ingin melanjutkan cerita tokoh-tokoh ini, tetapi di saat yang bersamaan tidak berani untuk mengambil langkah baru yang tidak semudah, tidak sefamiliar yang sekarang.

 

 

Aku akan suka sekali cerita ini jika menyaksikannya di televisi di mana aku tidak perlu mempedulikan struktur-struktur dan kaidah film. Toh tokoh-tokoh ceritanya mengundang simpati, lucu, akrab. Aku akan gak sabar untuk menonton kelanjutannya minggu depan di waktu dan channel yang sama. Tapi aku menyaksikan ini di bioskop. Di tempat kita menonton kreativitas, penceritaan yang inovatif, spektakel yang dibuat dengan menempuh resiko. Film ini berceritanya malah lebih cocok sebagai serial televisi, yang keliatan jelas diulur-ulur untuk jadi episode. Film juga seperti ragu; ia memberikan penyelesaian, namun kemudian merasa insecure sehingga malah berusaha mengangkat kembali yang harusnya sudah tuntas. Jadi tidak ada yang benar-benar berubah di akhir cerita. Kita tetap tidak tahu kenapa bukan Doel yang memberi tahu perihal berkas cerai. Menonton ini sebagai film, bukannya puas dan merasa mendapat sesuatu, malah terasa melelahkan.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for SI DOEL THE MOVIE 2.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Kalian lebih suka Doel sama Zaenab atau sama Sarah? Kenapa?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

KUNTILANAK 2 Review

“Out of my way, I’m going to see my mother.”

 

 

Dinda dan saudara-saudara angkatnya sesama anak yatim piatu harus saling menjaga, lantaran mereka masih berada dalam usia yang rentan diculik oleh kuntilanak. ‘Peraturan’ tersebut sudah ditetapkan sejak film pertama yang rilis lebaran tahun lalu. Bayangkan gaya magnet, hanya saja alih-alih kutub utara dan selatan, dinamika tarik menarik itu datang dari anak-anak yang rindu kasih sayang seorang ibu dengan setan yang mencari anak untuk ia besarkan. Dan meski Dinda dan saudara-saudaranya sudah dianggap anak sendiri oleh Ibu Donna, ancaman itu tetap ada. Buktinya, seorang wanita aneh muncul di pintu rumah. Mengaku sebagai ibu kandung Dinda. Inciting incident ini menciptakan riak konflik. Sesayang apapun sama keluarga baru, Dinda toh penasaran juga sama wanita tersebut. Masa depan tinggal bersama ibu kandung jelas adalah undangan yang tak mampu ditolak oleh anak kecil seperti Dinda. Maka, Dinda tak mengindahkan larangan Ibu Donna yang bermaksud mengonfirmasi dulu siapa sebenarnya wanita bernama Karmila tersebut. Dinda langsung minta pergi mengunjungi rumah Karmila. Saudara-saudara yang lain bersedia ikut mengantarkan. Tentu saja, rumah wanita berambut hitam panjang dan bergaun putih itu terletak di tengah-tengah hutan. Sementara kamera terus berpindah antara investigasi Donna dan Dinda yang berusaha menjalin hubungan dengan ibu yang baru pertama ia lihat, dramatic irony kita bertumbuh. Ada yang gak beres dengan Karmila. Dan anak-anak tersebut semuanya berada dalam bahaya.

this is what you get for hating on the trees!

 

Hal terbaik yang terjadi pada sekuel ini adalah Karina Suwandi. Cara ia memerankan Karmila akan membuat kita berhasil melek melewati cerita dan dialog film yang datar dan membosankan. Lucu sekali tokohnya yang ‘orang mati’ justru adalah yang memberikan nyawa kepada film ini. Setiap kali Karmila muncul di layar, nuansa misteri itu menguar. Dan begitu cerita sampai di titik pengungkapan dia yang sebenarnya, level kengerian dalam permainan akting Suwandi semakin bertambah. Satu-satunya masalahku buat tokoh kuntilanak ini adalah dia tampak lemah, tapi sekiranya itu adalah resiko ketika kita menghadirkan cerita horor dengan protagonis anak kecil. Dibutuhkan banyak suspend of disbelief ketika hantu harus kalah oleh anak-anak.

Selain Karina, tidak ada lagi penambahan yang berarti yang dilakukan oleh film ini. Tokoh yang diperankan oleh Susan Sameh dan Maxime Bouttier – berdua ini tugasnya sebagai semacam kakak yang menjaga anak-anak – beneran setidakberguna yang bisa kita bayangkan dalam tokoh cerita. Yang satu kerjaannya beryoga ria tanpa alasan yang jelas. Dan tokoh Susan Sameh; maaaaaan, Kuntilanak 2 ini mungkin adalah salah satu film horor yang paling cepat membuktikan diri bahwa dia ditulis dengan sangat ngasal yang tidak menghormati tokoh-tokohnya sedikit pun. Tidak butuh sepuluh menit, tiga-empat menit setelah prolog dan opening title kita langsung mendapat dialog Susan Sameh yang berkata dia butuh bantuan pacarnya untuk menjaga adik-adik angkatnya bermain di pasar malam. Wow. Ini sangat menggambarkan banget seberapa besar perhatian pembuat film ini dalam menciptakan tokoh-tokohnya (which is zero). Dua remaja tersebut – malahan, semua tokoh dewasa yang manusia dalam film ini – mengambil tindakan yang jauh lebih bego daripada tokoh anak-anak. Tapi bukan berarti tokoh anak-anaknya jauh lebih baik, loh.

Ketika sebuah film dibuat sekuelnya, biasanya itu karena film pertamanya sukses di pasaran. Penonton banyak yang suka, sehingga pembuat ingin menghadirkan lagi apa yang disukai oleh para penonton. And this film did just that. Tidak ada sesuatu yang baru, tidak ada breakthrough apapun, karena buat apa ngambil resiko kan? Dasar kapitalis. Cerita Kuntilanak 2 nyaris mirip dengan cerita film pertama. Tokoh anak-anak tidak diberikan pengembangan apapun. Mereka seperti dicopy paste dari film sebelumnya. Jika ada perubahan, maka itu adalah film ini terasa less-fun ketimbang film induknya. Tidak ada penggalian yang lebih jauh terhadap masing-masing tokoh. Elemen anak yang paling kecil merasa iri sama Dinda yang bakal punya ibu asli tak pernah berbuah menjadi sesuatu yang gede, hanya terasa seperti sisipan supaya si anak kebagian dialog. Interaksi anak-anak dalam film ini dikurangi sampai ke titik dialog antarmereka terasa kaku. Mereka tak lagi terasa seperti teman, apalagi keluarga yang bersatu karena suka-duka. Padahal justru hubungan mereka, kekocakan mereka menghadapi suasana mengerikan yang jauh di luar nalar mereka, yang menjadi daya tarik Kuntilanak yang pertama. Kuntilanak 2 meninggalkan keceriaan, dan fokus ke menjadi kelam sepanjang waktu. Film mengorbankan ‘warna’ dari tokoh anak-anak untuk lingkungan yang mendukung penggunaan CGI.

Bahkan Dinda yang tokoh utama pun; Cerita menjanjikan pandangan yang lebih dalam terhadap masa lalu tokoh ini, tapi seiring durasi berjalan konflik Dinda seperti terabaikan. Dinda malah berubah menjadi tokoh yang pasif. Dalam film ini, Dinda menjadi perlu untuk diselamatkan – sesuatu yang tidak terjadi kepadanya pada film pertama. Hanya ada satu momen film memperbolehkan Sandrinna Michelle bermain emosi yang genuine, yakni tatkala rombongan mereka bertemu Karmila dan Dinda tampak ragu – dia ingin ‘masuk’ tapi luapan emosi menahannya. Film harusnya lebih fokus kepada momen-momen emosional antara Dinda dengan apa yang ia sangka adalah ibu kandungnya. Supaya kita terinvest, sehingga ketika semua menjadi ‘gila’, perubahan emosi Dinda bisa terpancar kuat. Membuat film ini menjadi berkali lipat lebih enak untuk diikuti.

Namun, film malah menghabiskan waktu untuk memperlihatkan adegan-adegan scare yang gak nambah apa-apa buat cerita. Scare yang pointless. Apa gunanya kita diperlihatkan adegan main wayang yang ada bayangan kuntilanak. Apa faedahnya mereka beryoga di tengah kamar. Apa fungsinya Susan Sameh ditakut-takuti sampai pingsan. Film membuat hantu-hantu dalam film ini kelihatan seperti anak kecil yang iseng luar biasa. Dan sesungguhnya pada film horor, adegan yang menyeramkan tak berarah seperti ini lebih parah dari adegan scare yang merupakan mimpi.

Awaaas ada Hantu Ponta dan Ponti yang enggak ‘Penting’!

 

Dinda begitu terlena kepada ibu kandungnya. Melihatnya, aku teringat kepada Sephiroth dalam game Final Fantasy VII. Tapi bukan Sephiroth yang keren, melainkan Sephiroth yang dalam fase ‘gila’, yang membaca semua buku di perpustakaan bawah tanah untuk mencari tahu tentang siapa ibunya. Dinda dan Sephiroth sama-sama anak yang tumbuh tanpa pernah mengenal ibu kandung. Dan yea, sesungguhnya ada sesuatu yang menyeramkan di sana. Menyedihkan, memang, tapi sedih yang menyeramkan. Karena baik Dinda dan Sephiroth menjadi begitu desperate.

Kebutuhan mereka untuk mencari ibu begitu besar, sehingga mereka bahkan tak bisa melihat mereka mengejar sesuatu yang salah. Sephiroth mengejar sel alien, dan Dinda mengejar setan pemujaan. Aku tidak bisa membayangkan hal malang itu terjadi kepada diriku. Aku pikir, kita semua yang beruntung masih bisa melihat, menyentuh, ibu kandung kita, seharusnya lebih bersyukur.

 

 

Setelah semua hal tersebut dikatakan, aku hanya mau nambahkan:

Tidak mungkin aku sendiri dong yang melihat desain gerbang ‘markas’ Kuntilanak (itu tuh yang di poster) tampak seperti vulva?

 

Aku gak bisa mastiin apakah desain yang wujudnya begitu itu memang disengaja dan punya maksud. But if they do, film ini bisa jadi sebenarnya punya tidak kehilangan selera humor yang jadi kekuatan film pertamanya. Karena cerita film ini memang berpusat pada ibu dan anak. Perjalanan Dinda masuk ke sana di babak ketiga, final battle yang mengambil tempat di dalam sana, dapat menjadi lebih bermakna jika kita melihatnya sebagai simbol seorang anak yang mencari hingga ke dalam rahim ibunya.

Atau mungkin film ini ingin menyugestikan bahwa kata ‘kuntilanak’ sesungguhnya berasal dari kata ‘cunt‘?

 

 

 

Film ini mempertahankan appealnya dengan memasang anak kecil sebagai tokoh utama, yang punya kelompok berisi anak-anak yang adorable. Dan film benar-benar menyerahkan semua kerja kepada kehadiran anak-anak ini. Mereka diadu dengan penampilan Karina Suwandi yang pol nyeremin. Sementara elemen yang lainnya bisa nyantai. Cerita dibuat berjalan lambat dan penuh adegan-adegan anak kecil ketakutan yang bahkan scarenya enggak signifikan dengan cerita. Ada niat untuk berubah dari pembuat film; cerita yang dihadirkan sebenarnya mulai contained. Fokus mengumpul. Tidak lagi sekedar rentetan kejadian jalanjalan-ada yang diculik-cari mustika. Hanya saja, tidaj terjun ke pengembangan dalam. Sehingga masih seperti paparan informasi. Atmosfer yang dibangun tidak pernah bekerja dengan baik karena sebagian besar fungsinya memang cuma untuk memungkinkan CGI. Dialog dan interaksi kini semakin bland. Menyedihkan jika sekuel tidak sanggup mengungguli film pertama yang bahkan tidak begitu bagus. Tapi tentu saja pembuat filmnya tidak akan peduli selagi masih banyak penonton yang suka dan menelan mentah-mentah apa yang mereka berikan.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KUNTILANAK 2

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian seberapa deep maksud dari desain poster film ini?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

GHOST WRITER Review

“The man who kills himself kills all men.”

 

 

Datang dengan sebuah ide cemerlang kadang memang begitu melelahkan sampai-sampai kita tidak begitu saja ‘sanggup’ mengembangkannya menjadi suatu karya utuh. Sehingga kita membutuhkan penulis bayangan – ghostwriter – untuk menyelesaikannya buat kita. Dalam dunia seni dan literatur, praktek ghostwriting ini sudah lumrah. Banyak buku-buku dari pengarang terkenal yang diketahui ditulis dengan jasa penulis bayangan – yang menulis tanpa dicantumkan namanya. H.P. Lovecraft pake ghostwriter. R.L. Stine pake juga. Tom Clancy. Buku-buku autobiografi banyak yang menggunakan ghostwriter entah itu dalam penyuntingan ataupun nyaris secara keseluruhan untuk alasan yang jelas; tidak semua publik figur bisa menulis dengan literasi yang baik.

Dan sesungguhnya tidaklah memalukan untuk mengakui kita butuh pertolongan orang lain; tema penting inilah yang bekerja di balik horor komedi cerdas yang literally mereferensikan hantu beneran pada ghost dalam istilah ‘ghostwriter’.

 

Naya membawa adik cowoknya yang baru SMP tinggal di sebuah rumah tua yang harganya terlalu miring untuk ukuran rumah tersebut. It was a good deal bagi Naya yang mencari nafkah sebagai seorang penulis. Novelnya berhasil menjadi best-seller, tapi itu tiga tahun yang lalu. Dengan royalti yang semakin berkurang, Naya perlu untuk menulis cerita hits berikutnya. Ya, selain cewek pemberani, Naya juga mandiri, dan dia tidak mau untuk meminta bantuan orang lain – bahkan kepada pacarnya yang aktor sinetron kondang. Sifat enggan-minta-tolong tersebut yang menjadi fokus utama inner journey Naya dalam cerita Ghost Writer. Naya menemukan buku diari di rumah barunya yang mengerikan. Berisi kisah pilu seorang cowok yang bunuh diri karena merasa ditekan oleh orangtua yang menyalahkan dirinya karena suatu tragedi. Inilah cerita yang sekiranya dapat menyambung hidup Naya dan adiknya. But the catch is, untuk dapat menuliskannya Naya yang gak mau dibantu harus minta tolong kepada hantu pemilik buku yang ternyata masih bergentayangan di rumah itu.

aku menemukan dua referensi Scott Pilgrim gentayangan di film ini; di kaos si adek dan di poster kamarnya

 

Bagian terbaik dari film ini adalah interaksi antara Naya dengan hantu Galih. Tatjana Saphira dan Ge Pamungkas, sebelumnya juga pernah main bareng di Negeri Van Oranje (2015), terlihat sangat seru bercanda-canda berdua. Menarik sekali melihat Naya dan Galih berusaha bekerja sama menulis buku. Mereka saling kasih usul apa yang harus ditulis, apa yang tidak boleh. Juga ada peraturan dari gimana Naya bisa melihat Galih. Seperti peraturan Death Note; orang yang menyentuh diari Galih akan bisa melihat sosoknya. Peraturan ini dimainkan oleh film dengan kreatif dan menghasilkan banyak adegan kocak. Kita butuh lebih banyak interaksi antara mereka berdua. Proses menulis bukunya terasa lebih singkat dibanding porsi cerita yang lain, banyak yang digambarkan sebagai montase. Tapi memang sih, kupikir, hanya ada sedikit cara untuk memfilmkan dua orang menulis buku tanpa berlama-lama dan menjadi membosankan.

Mengusung perpaduan unholy antara horor dengan komedi, Ghost Writer benar-benar ciamik ketika dia mencoba untuk membuat kita tertawa. Ernest Prakasa yang ‘hanya’ tertulis sebagai produser di kredit agaknya jadi ghost writer juga lantaran candaan dan tektok dialog yang kita jumpai dalam cerita ini terasa gaya Ernest banget. Tentu saja dengan tidak bermaksud untuk mengecilkan peran sutradara, Bene Dion Rajagukguk. Komedi didorong olehnya bahkan lebih jauh lagi. Rasa-rasanya tidak banyak sutradara yang mampu menyisipkan teror hantu ke sekuen bathroom joke yang cukup panjang, dan membuat nyaris satu studio penonton terbahak-bahak. Benar-benar selera merakyat.

Ada sisipan candaan obrolan tokoh yang diperankan oleh Arie Kriting dan Muhadkly Acho yang berdebat soal hantu kala menonton video-video seram di kantor mereka. Peran dan adegan mereka memang terasa seperti tempelan, meskipun ada satu percakapan yang sebenarnya memerankan peranan yang penting daripada kelihatannya. Karena mereka membahas sesuatu yang integral dengan tema besar cerita. Mereka mendebatkan soal kenapa orang yang bunuh diri kembali ke dunia sebagai hantu yang penasaran. Masalah belum tuntas apa yang ingin mereka selesaikan. Bukankah bunuh diri adalah tindak yang direncanakan, dan bunuh diri berarti dia yang mematikan dirinya sendiri. Inilah yang ingin ditekankan oleh film. Orang yang bunuh diri mati bukan salah orang lain. Malahan, justru orang yang bunuh diri sebenarnya juga ikut ‘membunuh’ orang lain. Bunuh diri adalah perbuatan yang egois. Seolah menyalahkan, memberikan hukuman kepada orang yang ditinggal. Tentu, dunia mungkin memang kejam. Dunia mungkin membully. Dunia tidak adil dan tidak perhatian. Tapi itu bukan alasan untuk menjadikan bunuh diri sebagai statement menyadarkan orang lain yang memperlakukan kita salah, atau cuek sama kita. Bunuh diri adalah ultimate form dari mengasihani diri sendiri. Tindak dramatisasi sebuah sikap pasif agresif yang sangat berlebihan. Untuk tidak membocorkan terlalu banyak; Inilah yang disadari oleh Galih, yang kemudian menjadi pendukung untuk pembelajaran karakter Naya

Tokoh-tokoh sentral dalam film ini bertindak seolah mereka tidak butuh bantuan orang lain. Bahkan ada satu tokoh yang berkata marah “aku bisa hidup sendiri, tidak butuh bantuan” padahal dua menit sebelumnya dia baru saja diselamatkan dari jepitan lemari. They act tough as statement to others as they put themselves in danger. Film ini menyuarakan pesan anti-bunuhdiri. Jangan gengsi atau malu untuk minta tolong. Apalagi kemudian bunuh diri untuk menyalahkan orang-orang terdekat yang tidak mengerti bahasa minta tolong kita.

 

ketika kau sadar hantu adalah penulis lebih baik darimu yang hanya mampu memainkan kata ‘rawon’ dan ‘setan’.

 

Sebagai katalis untuk horor dan komedi, digunakan drama. Backstory para hantu, dan juga Naya, mampu mengubah air mata derai tawa kita menjadi air mata sedih dan haru. Pada elemen ini film menunjukkan taringnya sebagai tontonan keluarga selama libur Lebaran. Konflik antarkarakter juga cukup efektif. Kerumitan hubungan antara Naya dengan Galih berimbas kepada hubungan Naya dengan pacarnya, film juga mengeksplorasi hal tersebut tanpa pernah tersandung masalah tone. Dari tawa, sedih, ke takut, kemudian tertawa lagi, cerita bergulir cepat dan kita berpegang kepada karakter-karakter yang udah seperti bunglon. Mampu bekerja dengan baik dalam kondisi tone cerita yang berbeda. Tapi terkadang, pergerakan ini begitu cepat sehingga cerita seperti melayang. Editing film ini kurang ketat. Beberapa adegan ada yang terasa masuk begitu saja. Ada juga yang terasa berakhir seperti terburu.

Kadang naskah tampak lebih pintar dari filmnya – aku gak ngerti apakah itu mungkin. Tapi ada pilihan yang diambil oleh film yang membuatku merasa seperti demikian. Seperti istilah ghost writer sendiri. Seharusnya Naya yang menulis cerita si hantu; tapi kalo begitu gak cocok sebagai harafiah ghost writer. Naskah menyadari hal tersebut dan membuat Galih, yang walaupun sering typo, punya diksi lebih baik dari Naya dan kita melihat sebagian besar Galih yang menulis ceritanya. Pada akhirnya penulis hantu berubah menjadi hantu penulis. Tapi bukan ghostwriter lagi dong namanya kalo si hantu nulis ceritanya sendiri. Kita tidak benar-benar dapat sense Naya adalah penulis yang baik seperti yang disebutkan. Malahan, Naya si tokoh utama nyaris menjadi hantu dalam ceritanya sendiri. Stake ekonominya juga kurang terasa menekan.

 

 

Dengan premis dan perpaduan yang menarik, film ini bakal dengan mudah disukai oleh banyak penonton. Permainan aktingnya juga menyenangkan. Naskahnya cerdas men-tackle permasalahan yang penting. Namun berceritanya; banyak elemen-elemen penting yang diceritakan dengan lepas dari bagian utama. Ada bathroom joke yang cukup panjang yang bisa jadi turn off buat sebagian penonton. Meskipun gagasan yang terkandung masih bisa kita dapatkan pdengan cukup jelas, tetep saja kita melihatnya dan berpikir ‘adegan itu seharusnya bisa difungsikan dengan lebih baik lagi’.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GHOST WRITER

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah pendapat kalian soal ‘tren’ bunuh diri yang sempat tren di media sosial beberapa waktu yang lalu? Siapa menurut kalian yang salah dalam kasus remaja di malaysia yang melompat dari lantai atas apartemen karena 60% teman di instagramnya mengevote dia untuk bunuh diri?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.