AYAT-AYAT CINTA 2 Review

“Real people aren’t perfect.”

 

 

 

Tinggi-tinggi sekolah, ujungnya di dapur juga. Orang jaman dulu begitu tuh pandangannya, cewek gausah belajar pinter-pinter, tahan deh mimpi-mimpi itu, salurkan semuanya untuk jadi ibu rumah tangga yang baik. Istri yang berdedikasi. Tapi ya itu flashback bertahun-tahun yang lalu. Sekarang udah 2017. Pemikiran orang semakin dewasa. Banyak yang sudah berubah. Sembilan tahun yang lalu aja, waktu film Ayat-Ayat Cinta yang pertama keluar, aku masih belum peduli sama film. Apalagi film Indonesia.  Tapi ternyata aku tidak perlu khawatir saat menonton sekuelnya ini. Karena bagi Ayat-Ayat Cinta 2, waktu berjalan di tempat. Kita malah musti sedikit menyejajarkan diri ke belakang untuk dapat menikmati film ini.

Bukan berarti tidak ada yang berubah dalam kehidupan Fahri (ekspresi melotot Fedi Nuril kadang-kadang kocak juga). Sekarang pria ini adalah seorang dosen di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Menjadi muslim di sana berarti menjadi minoritas. Fahri harus berurusan dengan pandangan-pandangan menghakimi, kerendahhatiannya tak dipandang oleh orang-orang yang marah atas peristiwa terorisme yang di berbagai belahan dunia. Tetangga Fahri, misalnya, Keira (Chelsea Islan sepertinya dilahirkan dengan dandanan pemain biola, cocok banget) dan adiknya blak-blakan menuding Fahri teroris. Mereka ‘meneror’ mobil Fahri sebagai wujud kebencian. Namun hal ini tidak mengusik si sabar Fahri segede kepergian Aisha menghantuinya. Sang istri diduga menjadi korban pengeboman di Palestina dan sejak itu Fahri gundah dengan kekosongan di hatinya. Kharisma cowok ini membuatnya populer di kalangan cewek-cewek, apalagi mahasiswinya, tapi dia menolak mereka semua.

Di saat film-film kekinian berlomba menulis tokoh wanita yang independen dan punya ‘strength’, film ini membuat tokoh-tokoh wanitanya terlibat dalam semacam kompetisi demi mendapatkan hati Fahri. Bahkan Sabina (Dewi Sandra banyak berekspresi dengan matanya saja), muslimah berkerudung yang ditampung Fahri sebagai asisten rumah tangga, tampak sedikit banyak memendam sesuatu terhadap Fahri. Dan kemudian muncullah Hulya (cowok mana sih yang keberatan kalo Tatjana Saphira yang motong pembicaraan mereka?) yang punya ‘keunggulan’ sebagai sepupu Aisha. Dengan cepat mereka menjadi akrab. So I guess, kita semua kudu penasaran, siapa yang akan dipilih oleh Fahri.

Tatjana dan Chelsea satu film, rahmat mana lagi yang engkau dustakan?

 

Atmosfernya terasa sangat grande, tata musiknya, gambarnya, desain produksi film ini termasuk di level atas. Penampilan aktingnya juga tepat mengenai sasaran nada dan emosi yang ingin disampaikan – kecuali adik cowok si Keira. Duduk di studio, di lautan penonton berambut panjang dan sebagian besar lainnya berhijab (aku paling ganteng dong!), babak set up film ini cukup menarik buatku. Ada beberapa aspek seperti Fahri yang beribadah di dalam kelas sebelum mengajar – enggak di belakang kelas, dia harus banget melakukannya di depan mata semua murid yang berasal dari latar yang berbeda-beda – yang tampak intriguing. Aku juga suka gimana mereka memanfaatkan cadar ke dalam penceritaan.  Namun, lama kelamaan, frekuensi aku menguap dengan mata kering menjadi semakin sering. Sampai ke titik aku tidak tahan melihat Fahri, karena tokoh utama idaman wanita ini begitu membosankan. Dia terlalu jauh dari kita.

Tokoh-tokoh superhero seperti Wonder Woman, mati-matian ditulis sangat grounded agar mereka tampak seperti manusia biasa, diselipkan adegan-adegan kecil yang memanusiawikan mereka, tidak melulu mereka superpower. Thor yang dewa, dibikin jadi konyol dalam Thor: Ragnarok (2017) juga dengan alasan ini; supaya kita relate ke dia. Ayat-Ayat Cinta 2, sebaliknya, punya Fahri yang seorang manusia biasa namun dibuat setinggi mungkin, semulia mungkin, tokoh ini punya kebaikan dan kesabaran kayak Nabi Muhammad sekaligus diceritakan punya ketampanan yang membuat wanita tergila-gila kayak Nabi Yusuf, sempurna sekali. Dia lebih baik dari superhero manapun. Fahri’s thing is he does right things. Sedikit saja kekurangan, mungkin bikin dia miskin atau apa, bisa membuat cerita lebih menarik. Membuat perjalanannya lebih compelling. Satu-satunya cela karakter Fahri di film ini adalah dia nutupin perasaannya sendiri.

Terlalu sempurna adalah kecacatan. Dan hal itu tidak membuat film yang bagus.

 

Benar film ini mengeksplorasi komentar sosial perihal Islam di mata publik; film ini relevan karena menyinggung isu-isu seperti bagaimana kedudukan wanita di mata Islam, bagaimana pandangan Islam terhadap perang dan terorisme. Akan tetapi, seperti yang di-foreshadow oleh salah satu adegannya, film ini tidak mengeksplorasinya lebih dalam. Film tidak menjatuhkan ‘bola’ kesempatan itu. Dia menusuknya dan mengempeskan semua hal-hal menarik yang mestinya dapat dikandung oleh cerita. Rintangan-rintangan yang dialami Fahri selesai dengan gampang, dalam rentang waktu satu adegan sahaja. Fahri punya semua jawaban. Menurutku bagus juga kebaikan dan amal soleh yang dilakukan oleh Fahri yang actually bicara tentang siapa Fahri kepada orang-orang, namun ini membuat dia seperti missing-in-action. Seperti ketika ditanya mahasiswa sok-pinter di kelas, Hulya yang memotong dan menyelesaikan jawaban. Pada sekuen adegan debat ilmiah yang dengan cepat menjadi personal, Fahri sama sekali gak membela diri, seorang nenek yang eventually stand up for him, membuatku kepikiran mungkin sebaiknya film ini mengganti tokoh utamanya.

Ketika mengadaptasi novel menjadi film, keputusan kreatif sepenuhnya di tangan pembuat film. Akan selalu ada tuntutan untuk setia dan sesama mungkin dengan novel sumbernya, namun pada dasarnya film berbeda dengan novel. Ada aturan-aturan penulisan screenplay; ada kewajiban untuk menjadikan film sebagai perjalanan tokoh. Tokoh kita harus engage penonton. Perubahan-perubahan kreatif demi alasan tersebut, hukumnya wajib untuk dilakukan. Katakanlah karena terlalu sempurna – sedangkan tokoh utama yang menarik adalah yang sedikit ‘bengkok’, Fahri enggak mesti jadi tokoh utama. Cerita bisa ditranslasi ke dalam sudut pandang tokoh lain. Keira bisa menjadi tokoh utama yang menarik di cerita ini – jika mereka mau mengubah arcnya sedikit. Atau Sabina. Aku gak mau spoiler banyak, but I tell you this: perhatikan tokoh ini baik-baik.

Asal jangan Hulya sih. Maksudku, tokoh ini karakternya apa sih? Apa yang ia lakukan, apa motivasi terdalamnya? Hulya adalah wanita yang pintar. Dia cukup mandiri. Tapi dia cuma ngikutin ke mana Fahri pergi. That’s it. Itulah karakter Hulya. Dia muncul gitu aja, dan undur diri dalam sirkumstansi yang random banget. Mereka harusnya bisa mengonstruksi konfrontasi final dengan lebih baik, di set up dengan lebih perhatian, tapi enggak. Bagian itu terjadi di suatu rest area pom bensin. Kebetulan yang mencengangkan, mukjizat,  pemirsa!

Perbuatan baik dapat pahala, perbuatan jahat bakal dikasih Fahri piala

 

 

Film ini ‘malas’ seperti itu. Sungguh ironis lantaran film ini lewat salah satu dialognya yang bukan eksposisi menasehati kita dengan  “Niat baik tanpa effort, dapat merusak hasil.” Dan turns out, film ini adalah perwujudan dari kalimat tersebut. Naskah film pada ujungnya hanya mengerucut menjadi drama-drama romansa yang over–the-top. Emosinya begitu melodramatis. Contoh simpel film ini favoring ke dramatis yang sintesis adalah mereka membuat adegan seorang ustadz yang berjalan dengan slow motion di dalam mesjid. Dibuat mendekat perlahan supaya tampak intens. I mean, natural aja di mesjid kan memang jalannya pelan-pelan, dan untuk membuat si ustadz tampak marah, mereka malah memelankan lagi yang udah pelan itu.  It really takes away the moment, karena padahal kalo mau bikin adegan yang ngekonflik  ya sekalian bikin ustadznya setengah berlari geram menuju Fahri.

Aku gak bisa menyimpulkan arc tokoh Fahri. Apa yang ia pelajari dari kejadian-kejadian penuh twist yang terjadi padanya. Aku semula mengira ini adalah soal Fahri yang belajar bahwa terlalu sempurna itu enggak baik, dia harus jujur pada diri sendiri.  Bahwa  tidak ada orang-orang nyata yang sempurna. Tapi enggak. Di akhir hari, film ini bicara tentang betapa pentingnya penampilan fisik. Mestinya cinta itu karena hati – cantik jelek tidak jadi soal. Di sini, kita punya seorang wanita yang merasa sudha begitu rusak physically, dia bersembunyi dari suaminya, dan dia setuju untuk berubah – out of insecurity – dan demi menyenangkan orang lain. Buatku it  just feels so wrong.

Dan ya, aku setuju dengan kalian yang menyebut ending film ini menggelikan. Ini adalah momen penting pada film. Banyak tokoh yang hidupnya berubah karena proses setelah ending tersebut. Tapi ketika kita melihat ke belakang, film ini bertempat di Britania Raya alasannya bukan lagi karena di sana adalah tempat dengan kebudayaan yang beragam, dengan perbedaan yang meriah. Melainkan agar aspek operasi di akhir cerita jadi mungkin untuk terjadi. Dan ini benar-benar menurunkan nilai dan kepentingan film.

Melihat Fahri yang begitu tinggi menjunjung toleransi, takpelak mengundang buah pemikiran; benarkah kita harus menoleransi yang tidak toleran? Jika dipikir-pikir, toleransi adalah sebuah paradoks. Katakanlah jika di bulan puasa kita menghormati yang tidak berpuasa – warung bebas dibuka, orang-orang tetap makan minum di jalan, maka di mana jadinya letak toleransi terhadap yang lagu berpuasa? Karl Popper, seorang filosofis, bilang ketika kita extend toleransi shingga ornag-orang bisa openly intolerance, maka yang toleran akan hilang bersama dengan sikap toleransi itu. Kesimpulannya adalah kebablasan toleransi akan membunuh sikap itu sendiri, dan guna mempertahankan toleransi kita butuh untuk enggak toleran terhadap yang gak-toleran.

 

 

 

Fahri bilang kita kadang harus mundur sedikit untuk dapat melompat lebih lanjut. Tapi film ini mengambil kemunduran yang terlalu jauh, dan akhirnya jatuh. Ini adalah film yang bagus jika ditonton di jaman Siti Nurbaya masih disuruh kawin. Dibawa ke jaman kekinian, generasi now, tokoh-tokoh film ini sangat outdated. Isu kekiniannya ditinggalkan begitu saja demi drama dan romansa yang digali berlebih-lebihan. Bicara tentang putting women in pedestal, namun twist film ini mendorong jatuh para wanita itu dari pedestalnya dalam setiap kesempatan. Tapinya lagi, mungkin kita memang masih berada di jaman jahiliyah sehingga masih bisa terbuai oleh ayat-ayat drama seperti ini.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for AYAT-AYAT CINTA 2

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE Review

“Life isn’t hard, Megaman is.”

 

 

Dalam video game kita akan dikejar-kejar zombie kelaparan. Ditembaki robot-robot kalap. Melompat dari satu jurang ke jurang lain. Kalo gagal, kita mati, sure di jaman now ada save point,  tetapi dulu kita harus mengulang kembali dari awal setiap kali game over. Beberapa game bisa menjadi begitu bikin stress sampe joystick pada rusak. Nintendoku dulu kabel stiknya nyaris putus karena kugigit-gigit ngamuk mati melulu main Circus Charlie di level tali ayunan itu. Namun betapapun susahnya, kita tetap suka melarikan diri ke dalam dunia video game kalo lagi mentok di kehidupan nyata. Anehnya kita bisa refreshing setelah mati berulang kali di dalam video game.

Kayak Spencer dan teman-temannya. Mereka didetensi harus bersihin gudang sekolah bareng-bareng. Kata gurunya sih supaya mereka tahu siapa diri mereka. Di sela-sela kerjaan gak asyik itu, Spencer menemukan mesin video game jadul dengan kaset cartridge bertuliskan Jumanji. Spencer yang jago main video game seumur-umur belum pernah mendengar nama itu, ataupun belum pernah melihat konsol yang begitu antik. Jadi, dia dan Fridge dan Bethany dan Martha mencoba permainan tersebut. Dan seperti salah satu episode film Boboho jaman dulu, mereka berempat tersedot ke dalam layar. Spencer yang kini berwujud The Rock, dan teman-temannya yang juga berubah tampang menjadi karakter game yang sudah mereka pilih, harus bertualang menembus hutan. Mencari dan mengembalikan permata Jaguar yang hilang supaya bisa pulang. Masing-masing mereka cuma punya tiga nyawa, tiga kali kesempatan untuk gagal, sebuah angka yang minim sekali mengingat hutan arena bermain mereka dihuni oleh berbagai binatang buas, serta satu geng bandit yang pemimpinnya bisa mengendalikan hewan-hewan tersebut.

Video game terlihat gampang karena kita sudah tahu apa tujuan kita bermain. Mengalahkan monster. Mencari harta karun. Menyelamatkan putri raja. Kita jadi tertantang buat menyelesaikannya. Ketika tivi dimatikan, tombol power konsol ditekan dan lampunya mati, kita balik ke kehidupan nyata di mana kita tidak mengerti ngapain sih kita di dunia ini. Apa misi yang diberikan kepada kita di sini Hidup sangat kompleks, kita harus memahami diri sendiri, menciptakan sendiri tujuan hidup kita. Itulah kenapa kita menganggap hidup lebih susah. Tujuan itu sama sekali tidak terlay out seperti pada video game. Tapi begitu kita tahu siapa kita, mau jadi apa kita, hidup tidak lebih susah daripada menjatuhkan raja Koopa ke dalam lava. Hidup adalah rimba yang sebenarnya, hanya jika kita tersesat.

Breakfast Club, now in a fully rendered-8 bit

 

Tadinya kupikir film ini adalah remake dari Jumanji 1995 yang ada Robin Williamsnya. Ternyata enggak, ini lebih sebagai sebuah sekuel, dan sort of a reboot. Papan permainan Jumanji yang dimainkan oleh Kirstern Dunst ditampilkan kembali di film ini. Kita lihat gimana si papan merasa ketinggalan jaman dan mengubah diri menjadi kaset dan konsol video game. Dan dari sinilah film mengeksplorasi banyak hal-hal keren yang menyenangkan yang timbul dari gimana manusia masuk ke dalam video game. Oke aku nerd, bahkan sampe sekarang aku habisin waktu luang dengan main video game, jadi mungkin kalian menyangka aku bisa sedikit bias menilai film yang udah nyaris kayak adaptasi video game ini. Tapi enggak sebias itu juga sih, film ini memang TONTONAN MENGASYIKKAN DALAM KONTEKS VIDEO GAMENYA.

Para tokoh di sini dibuat bisa melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing, persis kayak status di video game, dan mereka bekerja sama dengan memanfaatkan aspek ini. Interaksi mereka dengan tokoh tiang garam juga kocak banget. Eh pada tahu ‘Tokoh Tiang Garam’ gak sih? itu loh, di game-game petualangan kan selalu ada tokoh-tokoh yang gak bisa kita mainin, dan diprogram untuk ada di game buat memberikan informasi. Di luar dialog-dialog yang sudah diprogramkan, mereka enggak bisa ngomong hal lain lagi. Jadi kalo kita ajak ngomong terus, ya ucapannya itu-itu melulu. Nah, dalam film, elemen ini jadi salah satu pemancing ketawa yang dibuat dengan sangat menyenangkan. Namun dari konteks-konteks video game yang seru tersebut juga muncul berbagai plothole pada universe yang menjadi kelemahan film.

Salah satu aspek paling seru dari Jumanji: Welcome to the Jungle adalah karakternya.  Jadi kan remaja-remaja itu tersedot ke dalam dunia game, dan mereka sekarang berwujud seperti avatar yang mereka pilih. Dan pada beberapa, tubu mereka sangat bentrok ama sifat asli. Dwayne Johnson hanya kekar di luar. Di dalam otot-ototnya, The Rock adalah Spencer – si kutu buku bertubuh kecil yang sangat penakut, bahkan tupai aja bisa bikin dia jejeritan histeris. Jack Black sangat kocak di film ini; dia adalah cewek paling populer di sekolah, yang kerjaannya main hape melulu, dan dia terperangkap di dalam tubuh tambun pembaca peta. Jadi bisa dibayangkan betapa ngakaknya melihat penampilan akting Jack Black di film ini. Tokoh yang diperankan Karen Gillan punya arc yang menarik; di dunia nyata ia adalah cewek yang benci olahraga, namun di game dia seorang petarung, jadi dia dibuat tertarik untuk menggerakkan tubuhnya dalam cara-cara yang bikin berkeringat.

Sebagian besar pemeran dalam film ini diberikan kesempatan untuk bermain-main dengan peran yang sangat unik, kecuali Kevin Hart. Komedian ini sendirinya kocak banget, kita bisa betah duduk berjam-jam nonton dia menghina dirinya sendiri, dan itulah salah satu kekuatan utama pesona kocaknya. Di film ini, Kevin Hart kembali memancing jokes dari sana, dan buatku malah jadinya biasa aja, dia tidak melakukan sesuatu yang baru di sini. Dia sama The Rock banteringnya persis kayak di Central Intelligence (2016), Hart mengejek tinggi badannya sendiri yang kalah jauh ama The Rock. Kevin Hart kocak namun dia pretty much bermain sebagai dirinya sendiri, dan ini kalah menarik dibandingkan aktor-aktor lain yang benar-benar membanting image mereka memainkan karakter yang di luar kebiasaan.

Keberanian enggak ada hubungannya ama ukuran tubuh

 

Kalo di Jumanji dulu kita ternganga ngeliat badak berlarian dari rumah ke jalanan, sekarang kita akan melihat berbagai sekuens aksi yang mengalir lancar berkat keunggulan teknologi. Orang-orang bertebangan ke sana kemari. Stun work di sini amat impresif, meskipun pada beberapa sekuens, film lebh mengutamakan efek CGI. Akan ada banyak adegan yang menampilkan efek yang obvious, yang menurutku adalah disengaja sebagai cara film untuk terlihat sebagai dunia video game. Aku sedikit menyayangkan film ini melewatkan kesempatan untuk tampil kayak di salah satu episode Rick and Morty di mana Rick terjebak dalam dunia simulator. Di serial kartun itu kita melihat Rick berjalan di dunia yang hanya sekitarnya saja yang terender kumplit, begitu dia melihat ke ujung jalan dia hanya melihat polygon, pemandangan sekitar Rick terender seiring dia berjalan karena begitulah lingkungan dalam simulator atau dunia game berjalan. Menurutku, jika perihal render dunia diimplementasikan ke dalam Jumanji ini, tentulah akan semakin banyak hal keren dan kekocakan yang bisa digali.

Bermain-main dengan struktur video game, seperti yang aku singgung di atas, film ini mengambil beberapa pilihan aneh yang bukan saja menjadikan ceritanya tampak tak-lagi seperti video game, melainkan juga jadi membuat ceritanya punya plothole. It’s cool ketika film ini menggunakan flashback dan mengatakannya sebagai adegan cutscene pada video game. Tokoh utama kita juga melihat cutscene ini. Namun, terdapat juga beberapa adegan cutscene yang memperlihatkan tokoh penjahat sedang mempersiapkan pasukan, dan tokoh utama kita sama sekali enggak tahu tentangnya. Ini bertentangan dengan konsep video game karena mestinya tidak ada pengembangan dunia lain di luar pengetahuan tokoh utama. Ini sebenarnya soal perspektif, kita seharusnya melihat hal dari sudut pandang Spencer yang jadi tokoh video game, bukannya sebagai pemain. Tapi film tidak pernah menjelaskan kenapa ada cutscene yang tidak diketahui oleh Spencer. Pun juga tidak menerangkan seperti apa persisnya dunia buatan Jumanji. Karena kalo dipikir-pikir, video game yang mereka mainkan mengembangkan programnya sendiri, game ini berevolusi sesuai dengan keadaan pemain yang termasuk ke dalamnya. Karena semua kejadian yang mereka alami seperti sudah diatur, mereka ketemu Missing Piece, mereka bisa menyelesaikan satu stage karena stage tersebut terlihat diprogram untuk diselesaikan empat orang. Bagaimana kalo ternyata ada, katakanlah dua orang, yang memainkan game sebelum mereka. Apakah hal akan berbeda buat Missing Piece? Apakah settingan skill mereka juga berganti. Mestinya film bisa melandaskan aturan mainnya dengan lebih kuat.

Soal arc cerita sebenarnya aku juga bingung, apa yang ingin dicapai oleh film ini. Karena jika menurutku poros utama film ini bicara tentang gimana anak-anak itu belajar memberanikan diri berjuang di dunia nyata, maka semestinya film membuat mereka tidak lagi menggunakan nama avatar saat film mencapai akhir. Seharusnya mereka dibuat berhasil atas nama diri mereka sendiri.

 

 

Film ini seperti video game, kita akan bersenang-senang dengannya. Perfectly enjoyable dengan penampilan peran yang sebagian besar unik. Aku sendiri cukup capek terbahak-bahak sepanjang durasi. Bagaimanapun juga, ketika dipikirkan baik-baik, ada beberapa hal yang mengganjal. Semua yang kelemahan yang kutulis di sini , in fact, baru kepikiran ketika aku mulai menulis. Kita bisa menutup kekurangan ini dengan memberikan alasan sendiri, tentunya, karena semuanya bisa terjadi di dunia video game. It’s just kupikir film bisa menggali dan melandaskan dunia ceritanya dengan lebih baik lagi. Siapa sih yang enggak mau lebih baik, ya gak?
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MURDER ON THE ORIENT EXPRESS Review

“…and we will never know balance without justice for all.”

 

 

Ada asap, mesti ada api. Ada yang dibunuh, maka detektif yang katanya sih dia mungkin detektif paling hebat di dunia itu akan langsung memutar otak mencari orang yang bertanggungjawab – mencari sang pembunuh untuk dihukum. Karena begitulah dunia seperti yang dilihat oleh Hercule Poirot; tempat yang harus seimbang. Ada benar, ada salah. Ada tinggi, ada rendah. Sebagaimana dia gerah melihat telur menu sarapannya enggak sama besar, Poirot juga kesel dan rela membatalkan liburannya ketika dia mendengar ada kasus. Dan tanpa ia sadari, perjalanan yang ditempuhnya di atas kereta Orient Express itu akan menghantarkan diri detektif nyentrik ini ke sebuah pelajaran berharga; sebuah kasus pembunuhan yang paling sulit diterima oleh otak cerdasnya.

 

Ada asap, ada kereta api

 

Kasus Pembunuhan di Orient Express ini adalah salah satu kasus Hercule Poirot dari novel karangan Agatha Christie yang paling sering didaptasi ke layar. Yang paling bagus tentu saja adalah versi keluaran tahun 1974  buatan Sidney Lumet; aku masih ingat aku benar-benar tercengang ketika setelah bermenit-menit mengikuti cerita ini untuk pertama kalinya – film tersebut memberi ruang untuk kita menebak, mengumpulkan analisis sendiri – dan menyaksikan kebenaran absolut yang tragis dan kelam. Setelah itu memang banyak reinkarnasi dari novel ini, sampe-sampe kebanyakan dari kita pasti sudah apal ama ceritanya. Seorang penumpang pria ditemukan dalam keadaan bersimbah darah di kabinnya, tubuhnya penuh luka tusuk. Hercule Poirot berusaha menyelidiki  kasus ini, namun dia dibuntukan oleh serabutannya bukti dan petunjuk yang ia dapatkan. Tersangkanya tentu saja adalah para penumpang dan seisi penghuni kereta, yang kini terdampar oleh longsoran salju. Tentu saja, Poirot mencari motif sebab tidak ada kasus tanpa motif. Dia menginterogasi para penumpang demi mencari tahu siapa yang paling diuntungkan dari kasus ini. Informasi yang didapat oleh Poirot tentu saja semakin membuatnya bingung.

Sebenarnya cukup lucu juga soal kenapa film ini wajib banget dibuat. Kan mestinya sesuatu diadaptasi lantaran belum ada yang berhasil bikin saduran yang bagus. Aku pribadi, aku gak akan ngeremake sesuatu cerita padahal sudah ada film yang mengadaptasi dengan sangat baik. Kecuali ada ide atau perspektif lain, ngapain? Mending aku nyari versi adaptasi yang buruk lalu naikin namaku dengan membuat versi film yang lebih baik. Tapi itu juga sebabnya kenapa aku ngetik di blog dan enggak kerja jadi pembuat film. Mereka pola pikirnya beda, apalagi Hollywood. Bagi mereka, kalo mau bikin remake atau adaptasi, ya bikinlah dari sumber yang  sudah populer dan dikenal banyak orang, supaya film yang kita bikin jaminan lakunya lebih gede.

Di tangan Kenneth Branagh, Murder on the Orient Express mengambil penjelmaan sebagai cerita misteri detektif yang lebih light-hearted. Desain produksinya cakep sekali. Semua kostumnya tampak fabulous. Gaya klasiknya menghibur sekali. Kalian tahu, sekarang sudah jarang kita melihat drama misteri yang menghibur dengan ringan seperti ini. Misteri kebanyakan digarap dengan gaya neo noir yang kelam dan serius. Film ini meriah, lihat saja babak awalnya. Sangat menghibur dengan benar-benar menetapkan kepintaran observasi dan karakter tokoh Poirot.

Kamera mengambil gambar-gambar dari sudut yang sama uniknya dengan tokoh utama kita, si Hercule Poirot, yang diperankan oleh sang sutradara sendiri. Film ini memang mengeksplorasi pembunuhan, namun jikalau ada kasus pencurian di sini, maka tersangka utamanya adalah Kenneth Branagh sebab dia sudah mencuri lampu sorot lewat interpretasinya memainkan Hercule Poirot. ‘Obsesi’nya tentang hal-hal seimbang kadang digambarkan dengan kocak. Dia kesel bukan karena nginjek kotoran bikin bau, tapi lebih kepada karena sekarang tinggi sepatunya jadi timpang – jadi dia nginjek dengan kaki sebelah lagi biar sama-sama bau. Poirot di sini dapat banyak momen ringan seperti itu, tetapi ketika dia mulai bekerja membaca dan mengurai petunjuk, kita seolah bisa melihat otaknya berputar dan dialog-dialog cerdas meledak keluar dari mulutnya, meninggalkan kita seolah kepintaran kita sedang berlomba lari dengan kereta api.

Kalo kalian masih butuh bukti bahwa Poirot begitu menghargai keseimbangan, lihat saja deh kumisnya hhihi

 

Yang diarahkan oleh Kenneth Branagh di film ini bukan aktor sembarang aktor. Nama-nama seperti Johnny Depp, Daisy Ridley, Josh Gad, Penelope Cruz, Michelle Pfeiffer, Judi Dench, Willem Dafoe, turut bermain di sini, gak kebayang deh gimana ‘repot’ mengurus tokoh mereka. Tapi each and every one of the casts berhasil memainkan peran dengan excellent. Mereka bermain kuat meski materi yang diberikan kepada mereka lumayan minim. Dan menurutku ini adalah kelemahan yang tidak terhindari oleh film. Banyak film akan kesulitan jika mereka berusaha bercerita dengan lokasi yang sempit, dengan tujuan untuk menyelubungi kenyataan. Ada kebutuhan memperlihatkan misteri. Dan pada film yang actually adalah cerita whodunit ini, karakter lain yang praktisnya adalah tersangka, begitu dijaga ketat sehingga mereka tidak memberikan terlalu banyak informasi mengenai siapa mereka, hal spesifik yang membuat mereka bisa ‘hidup’ sebagai karakter pendukung.  Akibatnya, memang selain Poirot, tokoh-tokoh film ini tampak sebatas sebagai karakter background. Karena misteri itu datang dari rahasia mereka, cerita butuh mereka untuk ‘tersembunyi’, mereka diflesh out seperlunya – aku mengerti integralnya dengan cerita – namun tetap saja, para tokoh ini terasa sia-sia. Mereka kayak pion yang digerakkan ke sana kemari oleh investigasi Poirot, sehingga terkadang deduksi Poirot tampak ajaib alih-alih  hasil analisa.

“Are you an innocent man?” tanya Poirot kepada Ratchett, yang menjawabnya dengan “I’m a businessman.” Dunia tidak pernah sesimpel bersalah  atau enggak. Dalam dosa, semua orang adalah tersangka. Poirot percaya bahwa semua hal di dunia harus seimbang; keadilan datang dari keseimbangan.  Namun, keadilan tidak melulu berarti semua orang mendapat kebenaran yang sama. Keadilan kadang berupa saat ketika orang diberikan kesempatan untuk mendapat sesuatu dengan setimpal.

 

Less an enssemble, Murder on the Orient Express adalah POIROT’S ONE-MAN SHOW. Film ini menganggap penonton sudah apal dengan misterinya, sehingga mereka lebih meniatkan film sebagai pembelajaran untuk karakter Poirot. Membuat detektif hebat yang sudah melegenda ini tampak manusiawi. Kita diberikan sedikit cerita latar tentang kehidupan cinta Poirot, yang sayangnya hanya memang sebatas latar. Sekuens jawaban misteri film juga tak pelak menjadi datar. For some reason, Poirot mendudukkan para tersangka dalam formasi kayak di lukisan The Last Supper, tetapi ‘pertunjukan analisisnya’ tersebut jauh dari kesan majestic. Karena film lebih fokus untuk membuat hal yang Poirot ungkap menjadi berat buat  dirinya sendiri. Film ingin menelaah reaksi Poirot, juga reaksi kita tentang main hakim sendiri, tentang apa sebenarnya yang adil di mata hukum dan kemanusiaan.

 

 

Mempersembahkan cerita yang secara natural adalah cerita berelemen kelam dalam bungkus yang menghibur, sesungguhnya film memang berjuang untuk menyeimbangkan tone cerita. Dibuat bukan secara komedi, melainkan sebagai drama dengan elemen ringan disulam di antaranya. Sayanganya, tone tersebut tidak pernah konsisten. Film ini punya jejeran pemain top yang sayang sekali hanya digunakan sebagai karakter latar, karena narasi benar-benar ingin menonjolkan Poirot. Yang mana adalah hal yang bagus untuk memperkuat tokoh utama, akan tetapi mestinya bisa dilakukan tanpa mengorbankan tokoh lain. Bagi penggemar misteri pada umumnya, dan penggemar Agatha Christie pada khususnya, film ini toh tetap bakal jadi sajian yang enjoyable untuk ditonton. Tapi kalo bioskopnya jauh, enggak perlu dikejar sampe naik kereta api segala sih.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for MURDER ON THE ORIENT EXPRESS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

COCO Review

“Always forgive, but never forget.”

 

 

Seandainya Pixar adalah mutant, maka kekuatan supernya pasti adalah kemampuan untuk membuat kita menangis. Menit-menit terakhir film Coco, aku serasa berada di rumah duka beneran. Studio penuh oleh suara sengau yang mengomentari cerita. Sekelilingku penuh oleh penonton yang bahunya naik turun, menahan isak tangis. Semua orang begitu terpengaruh oleh apa yang mereka saksikan, lantaran film ini benar-benar memanfaatkan waktu demi ngebangun  cerita tentang passion dan keluarga yang sungguh luar biasa. Coco adalah CERITA YANG AMAT SANGAT KAYA. Oleh tema, oleh budaya, oleh backstory para tokoh, sehingga begitu menontonnya kita seolah melangkah ke dalam suatu kehidupan yang sedang berlangsung. Dan hal tersebutlah, film ini seperti dunia yang bahkan sudah bekerja sebelum kita mengintipnya, yang merupakan salah satu aspek terhebat dalam film Coco.

Ceritanya tentang anak cowok bernama Miguel yang pengen banget menjadi musikus. Dia ingin mencipta lagu, dia ingin bernyanyi, dia ingin seperti tokoh idolanya, Ernesto de la Cruz yang sudah melegenda di Mexico. Miguel punya tempat persembunyian khusus yang ia dedikasikan untuk de la Cruz. Di tempat itu, Miguel diam-diam otodidak belajar main gitar dari menonton video-video lama Cruz. Miguel sembunyi-sembunyi begitu lantaran musik adalah hal yang dilarang dibicarakan di bawah atap keluarga. Semua sanak Miguel bekerja sebagai pembuat sepatu, dan Miguel diharapkan untuk mengikuti tradisi keluarga. Tidak boleh ada musik, jangan sampai Miguel berkelakuan serupa dengan kakek buyutnya yang meninggalkan nenek Coco demi karir. Keinginan Miguel makin tak terbendung di perayaan Hari Orang Mati, dia mencuri gitar di makam de la Cruz, yang kemudian membuatnya terdampar di dunia orang mati. Untuk bisa keluar, Miguel harus meminta restu dari keluarganya yang sudah mati, sembari mencari cara gimana supaya dia bisa tetap menekuni musik tanpa melukai hati saudara-saudara yang lain, terutama orangtua dan neneknya.

Nenek Coco kecilnya mirip Alessia Cara

 

Kekuatan spesial kedua kalo Pixar sebagai mutant adalah membuat  animasi senyata foto sebagai sesuatu hal yang klise untuk disebutin di dalam review. Detil-detil gambar pada Coco gila banget detilnya. Gerakan animasinya mulus. Shot-shot kota, jalanan, udah kayak foto beneran dan mereka seolah menyelipkan tokoh animasi ke dalamnya. Pemandangan dan festivenya dunia kematian dan perayaan di dalamnya sangat meriah sehingga walaupun bicara tentang dunia orang mati, tema ceritanya juga sebenarnya cukup kelam (kita akan bicarain ini di bawah), tapi film ini merekamnya dalam penampakan yang berwarna. Ini adalah film emosional menyentuh hari yang ceria. Dan aku belum ngomongin soal musiknya loh. Menakjubkan deh. Permainan gitar, nyanyiannya, semua terdengar begitu cantik.

Ada apa sih dengan Mexico dan Kematian? Dia de los Muertos adalah hari raya di Meksiko untuk mengenang orang yang sudah tiada. Pada hari itu dipercaya leluhur yang sudah meninggal akan mendatangi rumah kerabat yang masih hidup, selama mereka masih diingat. Hal tersebut dijadikan stake dalam film ini, salah satu tokoh membantu Miguel kembali ke dunia karena dia ingin Miguel segera memasang fotonya di rumah, supaya keluarganya ingat dan si tokoh tidak menghilang. Orang yang sudah mati tidak akan benar-benar pergi, sampai tidak ada lagi yang mengenang mereka. Kenangan kita atas merekalah yang membuat orang yang kita cintai bisa tetap hidup, walaupun umur mereka sudah lama habis.

 

Coco punya cerita yang kaya, punya tokoh yang bisa dengan mudah kita apresiasi. Aku bisa melihat film ini lebih disukai oleh orang dewasa, meski tidak tertutup kemungkinan ada anak kecil yang bisa melihat ke balik nyanyian dan tengkorak-tengkorak yang bertingkah lucu itu. Buatku, aku hanya sebatas menikmati, karena apa yang ditawarkan oleh cerita Coco sudah kelewat familiar bagiku. I do feel related to it, aku tahu persis gimana punya kerjaan yang gak disetujui orangtua. Namun cerita cantik dengan pesan yang amat menyentuh  film ini enggak terasa terlalu menyelimutiku karena ini hanya satu lagi cerita tentang anak muda yang ingin melakukan sesuatu di hidupnya tapi keluarga ingin dia melakukan hal lain sehingga dia kudu menemukan jalan tengah untuk menyenangkan keluarga sembari menjawab panggilan hatinya. Premis dasar tersebut, begitu juga dengan elemen anak sampai ke dunia lain dan belajar tentang hidup adalah hal-hal yang udah lumayan sering kita lihat dieksplorasi dalam film.

Belum lama ini, di tahun 2014  ada animasi berjudul The Book of Life yang bukan hanya punya tema cerita yang sama, settingnya juga mirip dengan film Coco. Akan tetapi, seperti halnya Antz buatan Dreamworks dengan A Bug’s Life nya Pixar yang keluar nyaris berbarengan di tahun 1998, kesamaan antara Coco dengan The Book of Life enggak semata kayak Pixar totally nyontek. Kedua film ini punya lapisan luar cerita yang sangat berbeda. The Book of Life yang bercerita tentang anak dari keluarga matador yang ingin main musik, namun dilarang, dan dia juga terdampar di Dunia Kematian mengambil aspek cinta segitiga untuk menekankan soal pencarian passion. Kalo seperti aku, kalian suka sama The Book of Life, maka kalian pasti akan teringat sama film ini ketika menonton Coco. Tapinya lagi, Coco bisa jadi adalah film yang kalian inginkan ketika kurang puas menonton The Book of Life. Karena pada film Coco, fokus tentang warisan keluarga, gimana usaha konek dengan keluarga itu, diceritakan dengan lebih terarah.

Dunia Kematian itu begitu semarak sehingga kita jadi gak sabar untuk mati. Eh?

 

Di balik limpahan musik dan budaya itu, kalo kita pikir-pikir, sesungguhnya ada implikasi kelam yang cukup mengerikan yang dapat kita petik dari Coco. Film ini antara lain bicara tentang mengabadikan diri lewat seni. Dengan karya, dengan kita menciptakan sesuatu, orang akan terus membicarakan kita. Ernesto de la Cruz hidup bak dewa  di dunia kematian karena lagunya begitu terkenal. Orang-orang terkenal berpesta pora di sana. Aspek kelam yang kumaksud adalah, tidak ada konsep baik-buruk di sini. Tidak peduli apa yang kita lakukan, entah karya seni ciptaan kita nyolong punya orang lain, entah kita pernah bersikap brengsek ke orang lain, dalam film ini kita masih akan hidup senang di tempat yang layaknya surga selama foto kita masih dipajang, nama kita masih disebut oleh kerabat atau orang yang masih hidup.

Dalam film ini, kita melihat ada tokoh yang baik, ia sebagai tengkorak benar-benar mati, sendirian di ranjang gantungnya, karena dia tidak punya apa-apa yang bisa membuatnya diingat orang.  Ini mencerminkan bahwa orang-orang biasa, yang hidup sebagai orang baik tapi gak nyiptain apa-apa, yang gak melakukan sesuatu yang membuat mereka tertulis di buku sejarah, hanya akan menunggu waktu mati itu datang lagi. Kebaikan enggak diingat orang. Hanya menjadi terkenal yang abadi. Tentu saja, di masa di mana satu video viral di youtube bisa bikin orang jadi sukses, implikasi pesan tersebut dapat menjadi bumerang sebab membuat terkenal, punya banyak fans, menjadi prioritas hidup nomor satu bagi anak kecil alih-alih ngelakuin hal baik lain. Makanya, kita yang mesti bisa ngingetin ke adik-adik saat nonton ini bahwa diingat dan direstui keluargalah yang paling penting.

 

 

 

 

 

Ada cerita indah nan menyentuh yang bisa diapresiasi oleh anak-anak pada film ini. Ada banyak hal positif yang bisa kita ambil mengenai keluarga, mengenai jalan hidup yang kita pilih. Film ini juga kaya oleh unsur budaya. Tapi tentu saja, seperti mata uang, ada sisi kelam di balik pesona dan keceriaannya. As the story standpoint goes, aku enggak bisa bilang aku benar-benar tersedot penuh ke dalam ceritanya, meskipun relatable buatku. Film ini terasa sangat familiar, hingga aku tidak merasakan keunikan yang dia miliki. This is just another story, yang diceritakan dengan sangat baik, pengisi suaranya mantep, musiknya catchy, arahannya sangat ketat.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for COCO.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

 

WAGE Review

“Music can change the world because it can change people”

 

 

Karya musik tidak bisa sepenuhnya kita hargai tanpa mengenal penciptanya. ‘Mengenal’ bukan sekedar tahu nama loh. Melainkan mengetahui dari mana dia ‘berasal’. Apa yang sudah ia laluli sehingga bisa dapat ilham mengarang lagu. Selama ini, kita mungkin hanya tahu siapa nama pencipta lagu Indonesia Raya, lagu Ibu Kita Kartini. Kalo ada sepuluh orang yang kita tanyai, mungkin sembilan orang bisa menjawab “WR Supratman” dengan benar. Jika pertanyaannya dilanjut menjadi apa kepanjangan dari WR itu, mungkin hanya setengah dari sepuluh tadi yang bisa menjawab. Jika ditambah lagi pertanyaannya menjadi siapa yang tahu perjuangan apa yang dilakukan WR Supratman dalam menciptakan kemudian mengumandangkan lagu tersebut? Kesepuluh orang tadi kemungkinan gede hanya bisa diem. Aku sendiri dulu sempat kesel kenapa Indonesia Raya enggak diciptain lebih pendek,  empat baris aja gitu, supaya gak perlu berlama panas-panasan setiap kali upacara bendera. Dan setelah nonton film Wage, serta merta aku merasa durhaka pernah berpikiran seperti demikian.

dan kalo pertanyaannya nyuruh nyanyi, aku mundur duluan

 

Dalam film Wage, kita akan melihat hidup komponis ini sedari kecil. Supratman cilik sudah suka dengan musik, dia tertarik pengen mainin alat musik. Akan diperlihatkan banyak sisi kehidupan tokoh kemerdekaan ini yang belum kita tahu; bahwa dia pernah gabung ama band jazz, bahwa dia pernah mengadu nasib jadi jurnalis, bikin cerita roman.  Oleh seorang Belanda, dia diberi nama Rudolf, dan diajarkan main biola – alat musik pamungkasnya. Dengan biola, Supratman berhasil menciptakan musik yang mempengaruhi banyak orang.  Sampai-sampai pemerintah Belanda merasa terancam. Musiknya menghimpun keberanian rakyat, Supratman dianggap penghasut. Sebagai orang yang berbahaya. Fokus cerita sebagian besar adalah soal ‘perang dingin personal’ antara Supratman dengan polisi utusan Belanda, seorang yang berdarah campuran Belanda-Indonesia, yang ditugaskan untuk menangkapnya.

Ketika aku mendengar bahwa Wage disebut sebagai film noir, seketika itu juga aku tertarik. Alasannya simpel; Kita tidak bisa membuat sebuah cerita tentang pahlawan ke dalam cerita yang hitam – ke dalam cerita antihero. I mean, how could you. Noir bukan semata tentang pri berjas, berstelan rapi, yang merokok. Ultimately, film noir bukan film yang berakhir bahagia. Noir adalah cerita yang penuh muslihat, tentang kemunduran seorang tokoh. Jika bicara tentang cinta, maka film noir akan menyebut cinta satu nafas bersama kematian. Aku tertarik karena kupikir Wage akan diarahkan sama sekali berbeda dengan biopik kepahlawanan Indonesia yang sudah ada. Kupikir pembuat filmnya punya satu sudut pandang unik yang dengan nekat dia jadiin film. Kupikir sutradara John De Rantau mampu mengubah kepahlawanan menjadi anti hero yang bakal bikin kita tercenung. I know, it’s a hard thing to achieve. Dan ternyata memang, Wage enggak bisa. Menyebut film ini sebuah noir sesungguhnya adalah mislead. Wage lebih sebagai sebuah DRAMA YANG TERINSPIRASI OLEH GAYA NOIR.

There’s just no way kita bisa melihat Supratman sebagai antihero dalam film ini. Sepuluh menit pertama kita dibuat bersimpati dengan melihatnya kena cambuk, melihatnya menangis ditinggal meninggal oleh sang ibunda. Ada beberapa sekuens di babak awal yang memperlihatkan Supratman sebagai pemuda pemusik yang pesta pora, dia literally bobok di atas uang, namun kemudian film dengan cepat menetapkan Supratman sebagai pihak putih. Dia dibuat sadar, dia beribadah, dan dia bertekad untuk membantu kemerdekaan Indonesia dengan caranya sendiri; lewat musik. Ini adalah perjalanan karakter yang progresif.

Musik yang hebat dapat mengubah dunia. Musik dapat menggerakkan massa, menjadi alat pemersatu bangsa seperti yang sudah dibuktikan oleh Wage dan Indonesia Raya. Karena musik adalah bentuk ekspresi seni yang punya keuntungan mudah dipahami dan diresapi. Ini adalah bahasa universal yang bisa menginspirasi banyak orang karena kita mendengarkan musik dengan cara yang sama.

 

Kita memang melihat perjuangan Supratman menciptakan lagu, tapi film menunjukkan aspek ini dengan sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Kita melihat Supratman terinspirasi oleh suara denting-denting penempa besi, kita lihat dia berulang kali merevisi nada di catatan partitur. It’s nice ngeliat detil dan usaha seperti demikian, namun yang sebenarnya pengen kita lihat adalah usaha dia sebagai komponis yang ingin memperdengarkan lagu. Kita ingin lihat dia menentang aturan, kita ingin lihat dia sembunyi-sembunyi bermain musik, kita ingin lihat his ups-and-downs, perjuangan mati-matian. Rendra Bagus Pamungkas sangat hebat menghidupkan tokoh ini, sehingga semakin disayangkan naskah tidak memberinya banyak hal untuk dilakukan. Sebagian besar waktu, Supratman kita temukan diberi saran oleh teman-temannya. Dia disemangati. Padahal tokoh ini punya api yang berkobar di hati, film menyia-nyiakan ini.

Lihat saja betapa menariknya Wage setiap kali dia mempertemukan Supratman dengan polisi Belanda yang terus mengikutinya, Fritz. Aku gak yakin banget, tapi sepertinya Fritz bukan tokoh sejarah asli dan murni diciptakan oleh film. Dan Teuku Rifnu Wikana benar-benar total menjual peran tersebut. Meskipun scoring film terkadang membawanya ke ranah ‘over-the-top’, namun Teuku Rifnu berhasil mengrounding tokoh ini. Fritz adalah tokoh yang paling menarik, dia setengah Belanda – setengah Indonesia, dia ditugaskan mengikuti Supratman, menangkapnya at once begitu kaki Supratman melanggar batas. Tetapi Fritz merasa lebih banyak dari yang diperlihatkannya. Dia tahu enggak segampang itu mememenjarakan Supratman, dia mengerti reperkusi tindakan tersebut. Fritz pintar, dinamikanya dengan Supratman yang juga cerdas dan berkemauan keras adalah penyelamat kebosananku saat nonton. Tindakan Fritz kadang menjadi jalan selamat buat Supratman. Dari sekian banyak yang ia lakukan (atau tidak ia lakukan), kita tidak pernah pasti Fritz sengaja melakukannya, ataupu apakah darahnya bergejolak jua diam-diam mendengarkan lagu-lagu Supratman.

Violin Hero!

 

Adegan antara Supratman dengan Fritz itu layaknya emas di tengah-tengah hamparan batu-batu yang bopong. Di waktu-waktu ketika bukan percakapan mereka yang jadi pusat, dialog-dialog film ini terasa sangat tak-bernyawa. Eksposisi selalu tak terhindar dalam film sejarah, hanya saja mestinya bisa dikemas dengan lebih menarik. Pada Wage, dialog-dialog sejarah itu terasa disadur flat out dari buku sejarah. Kita tidak merasakan apa yang mereka obrolkan, situasinya tidak tergambar, emosinya tersampaikan dengan datar. Mereka kayak ngobrolin teks-teks di buku sejarah, tanpa ada bobot emosi yang meyakinkan di dalamnya.

Film ini juga gemar membangun sesuatu tanpa berujung apa-apa. Ada adegan rapat Kongres Pemuda lagi ribut membahas bahasa persatuan, dan mereka memainkannya lebih seperti kepada untuk tujuan humor – you know, bahasa-bahasa daerah saling cekcok, kan lucu tuh kedengerannya – lantaran kita tidak diberikan penyelesaiannya. Gak dibahas lagi.  Pertemuan Supratman dengan tokoh Prisia Nasution malahan hanya dibuild sekali – Prisia ngeliat Supratman main biola – dan kali lain kita melihat mereka, mereka sudah seperti pasangan. Dan Prisia tidak muncul lagi dalam adegan manapun setelah itu. Banyak aspek yang dibangun hanya untuk jadi latar belakang saja. Contohnya lagi ketika Supratman ngasih harga tinggi buat nampil di kafe, dia keren sekali saat menolak itu, tapi kemudian kita malah melihat dia tau-tau jadi jurnalis berita maling ayam. Katanya dia mulai bosan main musik. Aspek-aspek cerita didorong ke background, dan itupun tidak rapi keiket.

Adegan yang paling bikin aku penasaran adalah gimana mereka bakal nampilin debut Supratman dengan Indonesia Raya di Kongres Pemuda II, kalian tahu, adegan yang sering jadi pertanyaan saat ujian sejarah di sekolah. Build up menuju ke sana padahal bagus banget. Kita lihat Supratman dilarang begitu nada pertama mulai digesek. Kita melihat mereka membicarakan, menego agar bisa ditampilkan, dan akhirnya Supratman benar-benar berdiri di depan semua orang memainkan Indonesia Raya untuk pertama kali. Syaratnya satu; tanpa lirik. Kita semua tahu gimana kejadiannya di buku sejarah. Film lantas ngeclose up dawai, menunjukkan tetesan air, hal-hal yang jadi inspirasi Supratman mencipta. Dan ketika lagu tersebut actually dimainkan, kita mendengar lagu yang ada liriknya. I mean why? Kenapa gak musik aja seperti di kejadian nyata. Kan bisa juga nanti setelah itu baru dimasukin lagu berlirik. Seolah malah film ini sendiri yang gak yakin sama kekuatan musik. Seolah film ini gak yakin sama kekuatan Indonesia Raya tanpa lirik. Seolah film gak yakin penonton enggak tahu kalo itu adalah lagu kebangsaan jika tampil tanpa lirik.

 

 

Orang-orang akan lebih banyak menonton film Indonesia lain yang tayang barengan film ini. Padahal mestinya ini adalah film sejarah yang benar-benar penting untuk diketahui. Relevan dan juga baru banget, belum pernah ada yang mengangat sudut pandang lagu kebangsaan. Namun sepertinya sudah tiba waktunya bagi pembuat film biopik tanah air untuk mengerti (dan berani!) bahwa biopik enggak mesti menceritakan dari kecil. Bahwa mereka bisa saja mengambil satu peristiwa penting dalam sejarah dan memfilmkannya. Mereka bisa bikin sesuatu yang lebih menarik dan fokus jika misalnya mereka mengeksplorasi dari Kongres Pemuda Dua saja; bikin contained ruang tertutup kayak 12 Angry Men (1957) di mana selisih di adegan rapat dan Supratman berusaha lagunya dimainkan demi persatuan. Atau kalo memang mau bikin film noir, sudut pandang Fritz sebagai tokoh utama akan bisa lebih pas – karena tokohnya dengan gampang ditulis sebagai antihero yang terpengaruh oleh lagu Supratman, believe in him, tapi tetap memihak kepada Belanda. Ada begitu banyak yang bisa mereka lakukan, namun film ini memilih untuk tetap di jalur yang tak membawa perubahan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 god stars for WAGE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

JIGSAW Review

“If you obey all the rules, you’ll miss all the fun.”

 

 

Kita kadang suka ngeyel kalo dilarang, kalo dikasih aturan-aturan. Di mana asiknya hidup kaku, apa-apa gak boleh. Peraturan kan dibuat untuk dilanggar. Well, coba deh pikir lagi. Prinsip tersebut tidak bakal banyak berguna dalam menyelamatkan nyawa, jika kalian tertangkap dan dipaksa bermain X-Factor maut oleh Jigsaw. Kunci selamat dari jebakan-jebakan maut John Kramer memang sesederhana itu; ikuti aturan – terkadang malah disebutkan harafiah olehnya, dan kalian akan bisa melihat mentari besok pagi. Masalahnya, ngikuti aturan tidak akan pernah sesimpel kedengarannya.

Pengalamanku mengenal film ya dimulai dari nonton film-film berdarah kayak gini. In fact, dulu aku hanya nonton slasher, thriller, horror, aku menikmati adrenalin rush dari ngeliat orang dikejar-kejar oleh monster berparang nan menyeramkan. Aku terhibur sekali melihat tokoh-tokoh bego menemui ajal secara menggenaskan karena ulah tolol mereka sendiri. Dan setelah nemu film Saw yang pertama (2004), aku jadi sadar bahwa film sadis enggak melulu musti bego. Bahwa ada metode di balik kegilaan para pembunuh berantai. ADA PERATURAN YANG MEREKA TAATI. Akar Saw adalah elemen psikologis yang membuat kita berpikir soal apa kesalahan para korban karena kita bisa melihat palu justifikasi yang disandang oleh pelaku. Kenapa mereka pantas berada di sana. Hukuman-hukuman Jigsaw dirancang untuk ‘menyembuhkan’ penyakit para korban – untuk membantu mereka menghapus dosa. Pada film pertama, elemen ini begitu kuat terfokus, dan itulah yang membuatku selalu menantikan sekuel-sekuelnya. Meskipun setelah film yang kedua, franchise Saw semakin melupakan akar psikologis dan malah berubah menjadi ‘torture porn’.

cap cip cup kembang kuncup

 

Seri Saw harusnya sudah berakhir di film ketujuh yang tayang di tahun 2010. I still remember it fondly, itu pertama kalinya aku nonton Saw di bioskop. Dan filmnya memang jelek, terburuk di antara franchise ini kalo boleh kutambahkan. John Kramer – dalang di balik jebakan Saw – sudah lama mati (sejak Saw III) dan setelah itu ceritanya jadi fokus antara persaingan anak-anak murid Kramer. Tujuh tahun setelah itu kita  mendapati lima orang diculik dan diperangkap dalam permainan penuh jebakan maut. Pesan suara dikirim kepada kepolisian, menantang mereka sekaligus ngasih tahu Jigsaw Killer sudah kembali. Siapa di baliknya? Sekedar peniru ataukah Kramer beneran hidup lagi? Aku excited banget duduk nonton film ini, terlebih karena Jigsaw ditangani oleh, tidak hanya satu melainkan dua orang sutradara – Michael dan Peter Spierig – yang sama sekali belum pernah terlibat dalam franchise Saw. Jadi, aku tahu kita bisa mengharapkan pembaruan besar-besaran.

Perubahan yang Spierig Bersaudara lakukan terletak pada gaya film. Jigsaw lebih terlihat LEBIH CINEMATIK  berkat pilihan aspek rasio layar yang mereka pilih. Kesannya lebih serius dibandingkan beberapa sekuel terakhir Saw yang lebih kelihatan seperti serial TV. Tidak lagi kita jumpai editing quick-cut antara jebakan dengan wajah korban. Efek suara aneh dan teriakan over-the-top pun juga dihilangkan di sini. Jebakan-jebakan pada Jigsaw tidak sesadis seri-seri terburuk Saw, makanya semua adegan film ini jadi bisa lolos dari gunting sensor badan perfilman tanah air.

 

“Hello, filmmakers.

I want you to play a game.

Ada penggemar yang suka Saw karena elemen psikologis dan mereka terganggu sama efek darah dan gore yang berlebihan.

Ada penggemar yang totally haus darah dan semakin sadis jebakan, semakin menggelinjang mereka.

Pilihlah dengan bijak”

Begitu kiranya kata boneka badut bersepeda kepada mereka, dan mereka melanjutkan dengan mengambil pilihan yang aman. Film ini enggak benar-benar liar dalam nampilin gore, banyak adegan berdarah namun tidak bikin kita bergidik dan pengen muntah ngeliatnya. Seperti pada film pertama, Jigsaw banyak mengcut dim omen-momen yang tepat dan membiarkan imajinasi kita membayangkan apa potongan paling besar yang tersisa dari tubuh korban. Di lain pihak, film juga tidak kontan kembali ke ranah psikologis. Jigsaw tampak ingin memuaskan kedua golongan penonton, film berusaha mempertahankan sekaligus menyeimbangkan aspek-aspek khas franchise Saw.

Akibatnya, Jigsaw tidak melakukan hal yang benar-benar baru. Film ini ngikutin formula dan ‘aturan’ yang sudah ditetapkan oleh pendahulunya. Kita dapat dua cerita kali ini. Sekelompok detektif yang berusaha mencari tahu siapa pelaku di balik kasus jigsaw yang baru. Dan tentu saja ada sekelompok orang berdosa yang sedang diuji nuraninya, terkurung di suatu tempat. Tokoh-tokoh ini pun generic sekali, kita udah pernah dapet yang serupa. Mereka selalu adalah Si Tenang dan Pintar, Si Clueless, Si Baik Hati, Si Egois, dan Si Paling Nyusahin Mati Aja Lo!

The Deadfast Club

 

Kedua cerita ini, however, akan bertemu di babak ketiga, di mana bakal ada big reveal – twist yang membuat kita “ooh begitu, njir keren banget gak kepikiran!” Inilah yang membuat aku kecewa. Sebab, aturan memang ada untuk dilanggar, ngikutin aturan hanya akan membuat kita melewatkan hal-hal yang menyenangkan. Dalam kasus ini, dengan begitu ngikutin formula, film Jigsaw melewatkan kesempatan melakukan pembaruan yang asyik. Tujuh tahun, dan tetep aja tidak ada alasan menarik atas kembalinya franchise ini, selain studio ingin memperkenalkan ulang Saw.

Aku berharap lebih dari sisi cerita. Aku tidak ngerasa peduli-peduli amat sama lima orang yang tertangkap, ataupun kepada lima polisi yang berusaha melacak Jigsaw. Mereka sebenarnya berjalan paralel, kejutan yang disiapkan oleh film lah yang tidak. Dan dari standpoint kejutan ini, Jigsaw buatku adalah salah satu sekuel yang punya twist jinak dan dapat ditebak. Maksudku, kita sudah dibekali dan belajar dari tujuh film sebelum ini, dan Jigsaw tidak melakukan hal yang baru. So yea, we saw that twist coming. Dan menurutku, twistnya ini hanya bekerja kepada kita para penonton. Jika kita memposisikan diri sebagai salah satu detektif, kita tidak akan melihat hebohnya pengungkapan di akhir. Kita tidak ngerasain apa yang dilakukan oleh si Jigsaw. Yang akan kita tahu hanyalah mayat-mayat ditemukan, dan dari mereka ada petunjuk yang membawa kita ke sarang Jigsaw yang baru. Kita tidak akan ngeliat efek pintar dari dua timeline yang diparalelkan. Jadi memang twistnya lebih terasa seperti menipu. Kita akan merasa “wah, ternyata dia! Bagaimana bisa?!!” lalu terungkap lagi kenyataan setelah false resolution yang bikin kita “oh ternyata enggak”

Mengakui kesalahan itu enggak gampang. Apalagi mengakui orang lain benar, dan kita salah. Perangkap Jigsaw adalah tentang mematuhi aturan, mematuhi mana yang benar. Jangan injak, jangan melarikan diri, jangan tembak – dan orang-orang tetap melakukannya. Jigsaw memperlihatkan kepada kita bahwa di saat nyawa di ujung tanduk pun, kebanyakan orang masih berusaha menentang perintah atau aturan yang diberikan, demikian beratlnya mengaku dosa.

 

 

Untuk sebuah kejutan setelah tujuh tahun, film tidak berubah banyak selain secara gaya penyajian. Aku memang sedikit kecewa, namun juga tidak menyangkal aku terhibur. Ini adalah sajian yang lebih baik daripada kebanyakan sekuel Saw. Tidak lagi dia menjadi fokus ke alat-alat penyiksaan, film ini tidak terlalu sadis, pun tidak terasa begitu psikologikal. Berada di level oke di mana para penggemar beratnya tidak akan keberatan menyukai walaupun filmnya tidak luput dari banyak kritikan, karena toh sejatinya banyak kekurangan dari standpoint cerita. Yang harus diingat cuma satu; tidak ada peraturan baku bahwa kita hanya boleh suka sama film-film bagus. It’s your choice.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for JIGSAW.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

GASING TENGKORAK Review

“Don’t let your struggle become your identity.”

 

 

Gasing Tengkorak merupakan cabang ilmu santet dari Sumatera Barat, yang begitu populer sampai-sampai mereka membuat lagu tentangnya. Beneran deh, aku bisa tahu ada ilmu hitam yang namanya Gasiang Tangkurak karena dulu setiap siang, stasiun radio yang dipantengin ibuku selalu muterin lagu ini. Ada aja pendengar yang ngerekues! Lagu itu mendendangkan dengan kocak mantra yang dirapalkan oleh dukun ketika menyantet korban. Basically, isi lagu tersebut mirip ama adegan pembuka film ini; memperkenalkan kepada kita bagaimana sih cara kerja dan peraturan santet Gasing Tengkorak. Dan kemudian, barulah kita melihat tokoh utama.

Nikita Willy di film ini memerankan seorang penyanyi papan atas bernama Veronica yang sedang tur konser ke beberapa tempat.  Karena letih, Vero sempat jatoh di atas panggung. Tapi Vero adalah pribadi yang kuat, dia menyemangati dirinya hingga bangkit. Dalam dunia hiburan, kita memang dituntut harus bisa menjaga diri sendiri. Dan Vero adalah orang yang benar- benar mandiri. Semuanya sendiri. Dia punya pesawat sendiri. Dia punya asisten sendiri yang bisa disuruh untuk mencari villa private di tempat terpencil. Di villa itulah, Vero memutuskan untuk rehat beberapa hari dari padatnya jadwal konser. Dia ingin menyendiri. Dia ingin jingkrak-jingkrakan nyanyi lagu rock Jamrud,  meneriakkan resah di hati. Di sela-sela kontemplasinya antara nulis lagu jujur atau lagu yang laku, Vero juga main catur. Tapi Vero tidak lagi sepenuhnya sendiri. Saat malam tiba, tidurnya enggak lelap oleh mimpi buruk. Dia mendengar suara-suara. Matanya menangkap sekelabatan sosok. Ada orang atau sesuatu di luar sana yang ingin berbuat jahat kepada Vero dengan menggunakan gasing yang konon dibuat dari tulang jidat mayat anak kecil!

hari gini masih main gasing? Fidget Spinner dooonggg

 

Film ini akan menjadi psikologikal horor yang sangat menakjubkan, jika saja para pembuatnya tahu apa yang sedang mereka lakukan. Gasing Tengkorak punya karakter berani dan rasional, dan mereka punya set up lokasi terpencil yang perfect banget. Kita bisa menyebut kualitas terbaik yang dimiliki film ini adalah kerja kamera dan sinematografi, namun itu sudah diharapkan karena sungguh gampang menghasilkan gambar yang bagus dengan pemandangan dan segala hal mewah itu. Redeeming quality yang dipunya oleh film ini justru terletak pada konsep ‘artis dan nama panggung’ yang belum pernah dijamah oleh horor ataupun film lain.

Ketika seorang nampil di panggung hiburan, dia akan diberikan nama alias, diberikan gaya, gimmick, supaya berbeda dan mencuat dari penampil yang lain. Karakter mereka di panggung, di televisi, akan berbeda dengan karakter sehari-hari. Persona panggung selebriti diberikan putaran psikologis yang menarik di sini. Veronica dijadikan sebagai tempat pelarian dari pribadi yang terluka oleh trauma masa lalu. Terkadang, kita begitu malu dan merasa bersalah atas  apa yang pernah kita lakukan, sehingga kita membentuk identitas baru. Kita mencoba menjadi seseorang yang berbeda. Veronica sudah nyaman dengan pelariannya, tapi persoalan menjadi ruwet, karena di sisi lain, dia mulai jenuh jadi artis. Bagi Veronica, ini berubah menjadi pilihan identitas mana yang harus dibunuh.

Namun film just drop the ball gitu aja. Dari seting lokasi tertutup yang terpencil ditambah karakter yang kerap bicara sendiri – jelas ada yang enggak beres di kepalanya – film hanya kepikiran untuk menarik horor dari jumpscare. Padahal, taring cerita ini justru pada elemen psikologis. Alih-alih itu, kita malah dapat adegan Vero bermain virtual reality PS4. Serius, aku ngakak, ini mereka ngiklanin produk apa gimana sih.  Tentu saja enggak, Arya kok bego sih, nampilin satu game aja pasti biayanya gede banget. Jadi tahu gak apa yang film ini lakukan? Mereka ngesyut adegan ‘video game’ sendiri. Saat device VR itu dipake oleh Vero, kita berpindah ke  adegan dengan sudut pandang kamera orang pertama, siap untuk menembaki zombie-zombie di gedung terbengkalai yang gelap. I mean, wow, sekuens main game ini benar-benar ditujukan untuk festival jumpscare. Ini adalah salah satu adegan terbego yang pernah aku lihat di film horor. Cara picik untuk memancing ketakutan, dan sama sekali enggak ada hubungannya dengan cerita film, selain buat buktiin Vero memang berani. Saking beraninya, dia main game zombie, sendirian, malam-malam, di tempat yang dicurigai ada hantunya.

Bayangkan sebuah gasing yang ada porosnya; twist adalah poros utama film ini. Maksudku, as I watch this, aku bisa melihat kalo ini adalah film yang berkembang dari twist yang sudah direncanakan. Semua elemen misteri, semua aspek cerita, semua pembahasan tekanan yang dialami oleh artis, dieksekusi dengan favor ke twist ini. Dan twist tersebut enggak benar-benar make sense, at all. Kenapa hantunya muncul untuk main gasing, padahal dia bisa dengan mudah mencekek sendiri leher Vero. Siapa yang kerap ditelfon Vero, yang tahu begitu banyak tentang ilmu Gasing Tengkorak. Kenapa setelah baru saja diserang, setelah jatuh dari kamar ke kolam renang, Vero balik lagi ke kamar dengan santai ngeringin rambutnya. Dan kenapa pipi hantunya gembung nahan napas saat masuk ke dalam air???

Hal-hal tersebut adalah apa yang membuat film lemah, those were some rather weak subtle clues, dan semakin goyah lagi setelah jawabannya tersaji lewat pengungkapan twist. Film ini menyangka dirinya akan otomatis menjadi pintar dengan twist, padahal enggak. Malahan, film ini tidak harus punya twist. Film ini tidak wajib untuk ada elemen hantu ngagetin untuk jadi seram. Mereka bisa saja membuat ini sebagai drama psikologikal thriller tentang artis yang struggle antara dua identitas, yang bakal lebih menarik dan menegangkan, but they just don’t see that. Film Split (2017) bukan sukses karena penonton enggak tahu tokoh James McAvoy mengidap kepribadian ganda, twist film itu adalah bahwa ternyata ia adalah film superhero. Dan walaupun belum semeyakinkan McAvoy, Nikita Willy sudah cukup lumayan memainkan range dan level pribadi yang berbeda, perannya juga lumayan fisikal di sini. Menurutku, Willy mampu tampil lebih jika naskah memberikan kesempatan.

setiap kali hantunya lari, aku gak bisa nahan diri untuk tertawa

 

Jika ini tentang keadaan psikologis Veronica, maka di manakah hubungannya dengan Gasing Tengkorak, kalian tanya?

Jawabannya adalah tidak ada. Paling enggak, tidak secara langsung.

Gasiang tangkurak hanyalah elemen tambahan, yang bahkan bisa saja dihilangkan sama sekali, dan enggak akan mempengaruhi cerita.

 

 

Dengan remake Flatliners (2017)-lah, film ini punya banyak kesamaan. Kita literally bisa menemukan ranjang medis scanner otak di kedua film. Mereka juga sama-sama clueless dan enggak nyadar sudah menyetir horor ke arah yang salah. Mereka gak paham gimana horor-di-dalam-kepala bekerja. I mean, semua teror yang terjadi di film adalah kreasi kepala Veronica, kan. Jadi kenapa ada jumpscare yang ngagetin penonton. Kenapa bisa ada penampakan hantu di belakang Vero – hantu yang tidak ia lihat. Apakah kepalanya bilang, yuk kita nyebayangin di belakang kita mendadak ada hantu supaya penonton pada menjerit kaget hihihi. ‘Unggul’nya sih, film ini masukin insert adegan rekaan video game yang enggak relevan sama perjalanan karakter. What a way to break a new ground, right. Ini bisa jadi menu pilihan lain kali aku mau bikin nonton bareng film-film horor yang so bad, it’s hilarious.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for GASING TENGKORAK.

 

 

That’s all we have for now.

Buat yang penasaran sama lagu Gasiang Tengkorak, nih, ada teksnya kalian bisa ikutan nyanyi loh xD

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.

FLATLINERS Review

“Sometimes a little near death experience helps put things into perspective”

 

 

Wajar kita penasaran sama kematian. Karena kenyataan keras yang mesti kita hadapi adalah bahwa tujuan akhir dari kehidupan adalah mati. Hidup dan mati selalu adalah misteri; apa yang terjadi begitu kita mati? Apakah kita hidup sebagai ruh – ataukah kita bobok panjang sampai kiamat tiba? Beberapa orang, untungnya bisa menggambarkan sedikit ‘jawaban’. Orang-orang yang pernah nyaris-mati, kita banyak mendengar cerita tentang orang yang mengalami mati suri. Gimana mereka melihat cahaya; bertemu dengan kerabat yang sudah duluan almarhum, cerita-cerita semacam ini selalu menarik. Aku sendiri dulu pernah nyobain teori sleep paralysis, itu loh tidur melepas ruh yang katanya kita bisa terbang dan melihat tubuh sendiri. Aku pernah sangat penasaran dan sesiangan menekuni teori yang katanya ilmiah itu – ceile ‘menekuni’, padahal niat mulianya sih lagi males dan pengen nyari alasan bolos kuliah hihi. Jadi, kita bisa bayangkan para murid kedokteran yang setiap hari berurusan langsung dengan orang sakit, orang mati, orang-orang yang tersadar dari koma. Ide atas apa yang sebenarnya terjadi setelah kematian tentu saja begitu menggoda bagi mereka.

Flatliners yang disutradarai oleh Niels Arden Oplev adalah reimagining dari psikologikal thriller Flatliners (1990), mengambil konsep menarik tentang afterlife tersebut. Ceritanya kurang lebih sama, dengan modernisasi di beberapa poin. Lima orang murid kedokteran melakukan eksperimen, mereka mencari cara untuk merekam kerja otak ketika seseorang dalam keadaan mati. Mereka ingin melihat sendiri apa yang terjadi ketika mati, membuktikan cerita-cerita mulut tentang ada kehidupan setelah mati. Usaha mereka berhasil, bergiliran Courtney, Jamie, Marlo, Sophia  nyobain sensasi mati, dan dihidupkan kembali setelah beberapa menit oleh Ray yang setia berjaga.  Awalnya memang tampak aman, mereka bahkan dapat semacam enlightment dari berflatline-ria tersebut. Namun kemudian, berbagai penampakan mengerikan dari masalalu mulai meneror mereka satu persatu

“rohku melayaaang, tak kembaliiiiii bila kau pun pergiiiiii~hii”

 

Film ini adalah contoh yang nyata bahwa tidak peduli betapa cakapnya seorang sutradara, betapa kerennya penampilan akting seorang aktor, pada akhirnya kekuatan naskah, dan produksi lah yang menentukan film apa yang sebenarnya ingin mereka bikin.  Enggak salah memang film ini diberi judul Flatliners, lantaran toh benar filmnya tidak berkembang menjadi apa-apa. Datar. Flatliners mengemban konsep dan ide cerita yang unik, dan mengubahnya menjadi PESTA PORA JUMPSCARE di antara banyak hal yang berusaha mereka capai.

To be honest, aku enggak yakin sedang menonton apa. Film ini dimulai dengan perlandasan drama seputar dunia sekolah kedokteran, kita ngeliat apa yang dilakukan dan backstory karakter-karakternya yang masih muda,  aku sempat teringat sama buku Cado-Cado yang aku suka namun tidak kutonton filmnya ( tayang tahun 2016) lantaran terlihat seperti cinta ala Korea. Drama pada Flatliners  berubah menjadi lebih gelap tentang rasa bersalah sehubungan dengan masa lalu para tokoh, dan ultimately film berubah menjadi thriller saat para tokoh menyadari bahwa eksperimen flatlining yang mereka lakukan ternyata memiliki konsekuensi jumpscare film horor. Dari sudut penulisan, film ini mengambil banyak keputusan aneh tak-terjabarkan. Dan yang kumaksud dengan tak-terjabarkan adalah kita enggak bisa melihat apa produk akhir dari yang mereka inginkan. Nonton film ini dan akan jelas sekali tidak ada cukup komunikasi yang terjalin antara sutradara, penulis, studio, aktor, sebab semua orang terlihat berada dalam film yang berbeda. Flatliners terasa seperi dirancang oleh banyak otak dengan ide berbeda. Dan inilah yang kita dapatkan; sebuah usaha bersama yang tidak berbuah manis.

Sebagai pembelaan, film originalnya sebenarnya juga enggak hebat-hebat amat. Tapi paling enggak, mereka lebih terarah. Tokoh-tokohnya mencari thrill dari sensasi kematian. Dan ketika sampai di aspek cerita yang mengerikan, film tersebut mengeksplorasi misteri dari apakah yang para tokoh alami adalah psikologikal atau memang sebuah fenomena supranatural. Pertanyaan yang diangkat apakah mereka memang melihat hantu atau otak mereka memang sudah rusak karena nge-flatline. Begonya Flatliners versi 2017 ini adalah mereka tidak mengindahkan (atau malah tidak mengerti) framework dari sourcenya sendiri. Heck, mereka bahkan tidak mengerti cara kerja halusinasi. Maksudku, penampakan-penampakan seram itu muncul dengan cara yang ngagetin penonton! Tokohnya malah enggak melihat mereka, penampakannya muncul sekelabat di belakang tokoh. Padahal kan penampakan itu terjadi di dalam kepala si tokoh.

Bagian ‘terbaik’ dari film ini adalah aspek setelah mencicipi pengalaman nyaris-mati, para tokoh mmendapat kemampuan istimewa. Courtney jadi bisa main piano dengan sempurna, dia bisa menjawab pertanyaan dari dosen – bahkan sebelum pertanyaannya selesai diucapkan. Jamie jadi tahan cuaca dingin, mereka literally bermain-main di hujan salju dengan pakaian dalam. Motivasi Sophia ngeflatline adalah demi jadi pinter, dan dia memang terbukti jadi bisa nyelesain kubus rubik dengan amat cepat. It is hilarious dalam cerita tentang orang-orang yang menghentikan jantung mereka, kemudian menghidupkannya lagi, reperkusi yang turut ditonjolkan oleh film ini adalah mereka jadi punya kelebihan. Aspek ini pun kemudian tidak berkembang jadi lebih berarti, they are just there supaya keren.

Obviously, Flatlining adalah metafora dari menggunakan narkoba. Kedua tindakan itu adalah sama-sama kerjaan yang bercanda dengan maut. Kita ‘terbang’ setelah makek drugs, beberapa orang ngerasa lebih kreatif dan produktif dengan obat-obatan. Lucunya Flatliners adalah, film ini juga gagal dalam memperlihatkan bahaya dari eksperimen mereka. Underlying message yang ada ialah beberapa orang harus melakukan hal ekstrim sebelum akhirnya sadar bahwa mereka pernah melakukan kesalahan. Dan kesalahan tersebut bisa dihapus dengan meminta maaf.

 

Dan sama seperti versi baru Pengabdi Setan (2017), Flatliners juga tidak berani menyinggung agama. Padahal dalam film yang dulu, konsep kehidupan-dan-kematiannya berdasarkan teologi Kristen. Dalam film yang sekarang ini, kita tidak pernah diberikan pandangan soal apa yang dipercaya oleh karakter, dan ini hanya menyebabkan karakter-karakternya semakin hampa.

Hubungan antarkelima tokoh sudah minimalis sedari awal. Mereka enggak berteman, mereka cuma seangkatan yang tadinya saling ‘berkompetisi’ sebagai calon dokter. Dengan hubungan yang enggak kuat, film ini sungguh punya nyali untuk mengganti sudut pandang, mengubah tokoh utama di tengah-tengah cerita. Saat cerita berpindah dari tentang Courtney ke tentang Marlo, kita tidak merasakan ada bobot emosional karena mereka tidak terestablish punya hubungan yang dekat. Ellen Page adalah satu-satunya alasan orang datang nonton ini ke bioskop, I know I do. She was so talented dan Courtney benar adalah tokoh yang paling menarik. Dan film ini menghilangkan tokoh yang ia perankan di pertengahan cerita, meninggalkan kita bersama karakter-karakter klise yang mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat mereka ‘mati’.

persetan dengan teknik medis, kalian gak bisa gitu aja nyentuh dada Nina Dobrev

 

Bahkan setelah kepergian Courtney, aku masih berusaha bertahan menyelesaikan nonton film ini, melewati semua adegan-adegan horor klise. Melewati efek-efek pasaran. Melewati suara rekaman tangis bayi yang sudah kita dengar sejak film horor tahun 90an. What really does it for me adalah ketika satu dialog bego terlontar dari salah satu tokoh saat mereka mulai bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Sophia, dalam kebijakannya yang tiada tara, menyebut dengan gusar “Maksudmu, kamu tahu ada dampak negatif dari flatlining?” HA!!! Ini bego banget, perfectly menyimpulkan keignorant semua aspek yang berusaha bekerja dalam film ini. I mean, itu sama saja dengan dia menanyakan apakah ada dampak negatif dari mencoba merasakan kematian. Well yea; negatifnya jelas adalah MATI beneran, duh!

 

 

 

Mereka tidak membuat ulang ini karena punya sesuatu yang baru. Mereka tidak menggarap ini karena ingin mengimprove sesuatu dari film yang lama. Mereka tidak punya sudut pandang personal sehubungan dengan materialnya. Mereka cuma ingin manufacturing suatu produk. Makanya kita dapat cerita yang terasa lebih seperti kumpulan ide-ide standar dari studio film. Aku tidak mau menjelekkan siapapun, aku tidak melarang kalian nonton ini, sah-sah aja kalo suka, tapi ini adalah contoh film di mana yang terlibat just dropped the ball. Salah satu film paling membosankan tahun ini, menonton ini adalah cara yang paling aman buat kita ngerasain gimana sih pengalaman nyaris-mati itu.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for FLATLINERS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

HUJAN BULAN JUNI Review

“Love is walking in the rain together”

 

 

 

Previously on My Dirt Sheet:

Writer: “Oke ehem.. jadi, ini adalah film tentang seorang pengemudi bus yang menulis puisi..”
Studio: (tanpa mengangkat kepala, pura-pura baca sinopsis padahal lagi ngeliatin foto ibu guru si Amel di hp) “Terus? Terus? Ntar bomnya di mana?”
Writer: “anu.. enggak ada bom.. dia cuma nulis puisi.”
Studio: “Enggak ada bom? Teroris ada? Kebut-kebutan di jalan harus ada sih ya, biar seru.” (sinopsisnya sekarang dijadiin kipas, maklum gerah mau ujan)
Writer: “umm..bisnya ntar sempat rusak sih sekali.. electrical problem gitu..”
Studio: “Bisnya enggak bisa jalan-jalan ke luar negeri dong? Cinta segitiganya mana? Vampirnya?”
Writer: “e..e..enggak ada”
Studio: (ngobrol di telepon)
Writer: “gimana he, Pak?… Pak?”

 

Di atas barusan adalah kutipan dialog yang kutulis Februari silam di halaman ulasan Paterson (2016), sebuah film puisi yang begitu mengena walaupun digarap dan bercerita dengan teramat sederhana, sehingga membuat aku takjub membayangkan usaha keras yang punya ide untuk menjadikannya sebuah film. Karena bikin film itu sudah susah sejak dari tahap meyakinkan yang punya dana bahwa cerita kita menjual. Studio, produser, atau PH  pengen jaminan duit kembali; yang biasanya berupa cerita yang sudah laris sebagai novel, apalagi kalo cerita dengan tema cinta yang bisa bikin baper. Hujan Bulan Juni berawal dari puisi, yang kemudian dipindah duniakan menjadi novel dan banyak lagi sebelum akhirnya, berdasarkan novelnya, mengambil wujud sebuah film yang sedang kita bicarakan sekarang.

Hujan Bulan Juni adalah kelanjutan dari apa yang terjadi kalo penulis Paterson mengalah kepada studio dan membiarkan ceritanya dirombak susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan aspek-aspek yang ditujukan demi menjadi ngepop.

 

Sepasang dosen UI yang sedang saling cinta. Pingkan yang dosen sastra Jepang dengan Sarwono yang asli Solo mengajar di Antropologi. Informasi ini dengan cepat melandaskan kepada penonton bahwa jarak akan dengan gampang menjadi musuh mereka. Pingkan hendak distudikan ke Jepang selama dua tahun, sedangkan Sarwono jelas harus bepergian di dalam ruang batas wilayah Indonesia. Menjelang waktu keberangkatan Pingkan, misalnya, Sarwono ditugaskan ke Manado. Pingkan yang berkampung halaman di Manado dibawa serta, “Aku butuh guide. Setiap saat aku butuh kamu.” Tampaknya bukan jarak saja yang menguji coba cinta mereka; kedekatan Pingkan dengan sepupu angkatnya, keakraban Pingkan dengan sejawat dari Jepang, perjodohan, beda kepercayaan, dan rasa percaya itu sendiri. Pingkan bukan tak menyadari. Cinta adalah usaha. Sebuah misi. Dan ini adalah tentang siapa yang berusaha di dalam cinta.

Sarwono, Katsuo, Solo, Manado, karena puisi ada rima maka nama Pingkan mestilah Pingkan Mambo!

 

Sosok penyair yang sudah menulis puisi dan novel Hujan Bulan Juni yang udah sukses bikin baper banyak orang dapat kita saksikan dalam film ini. Sapardi Djoko Damano kebagian peran singkat sebagai ayah dari Sarwono. Dan aku enggak tahu seberapa besar peran beliau di dalam pembuatan film ini, apakah hanya sebagai cameo atau punya andil yang lebih besar lagi. Karena to be honest, aku berulang kali mengucek mata saat menonton. Mengucek bukan karena ngantuk bosen, tetapi mengucek karena aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Dan kuharap dugaanku benar bahwa penulis puisinya tidak banyak campur tangan. Ada begitu banyak pilihan yang diambil oleh film, yang membuat keseluruhan presentasinya terasa disulam tambal oleh aspek-aspek yang enggak bekerja dengan baik dalam konteks memfilmkan puisi.

Bait-bait puisi kerap muncul di layar, disuarakan oleh para tokoh. Bayangkan seperti voice over narasi, namun yang ini berupa bacaan puisi. Bukanlah seberapa indah kata, melainkan seberapa besar kata tersebut menyampaikan rasa. Masalah film ini datang ketika ia memindahwacanakan bahasa kata-kata itu ke dalam bahasa gambar. Kutekankan sekali lagi, ini bukan masalah source materialnya. Puisi Sapardi bergaung lantang oleh kata-kata yang mencerminkan rasanya. Namun saat menjadi film, puisi dan segala keadaan diolah TERLALU CATERING KE BIKIN PENONTON BAPER – tanpa benar-benar memikirkan apakah sudah diset-up, apakah worked atau enggak. Misalnya kalimat “Apa angin sudah sampai ke situ, tadi aku titip salam buat kamu ke dia” yang dikirim Sarwono lewat pesan Whatsapp. Kalimat tersebut puitis dan bekerja baik jika dituliskan di buku, dikirimkan secara tidak langsung, dan si Pingkan baru membacanya ketika dia merasa sangat rindu. Namun ketika Sarwono ngeWA, bilang langsung, kontan itu adalah pesan paling gombal yang pernah dikirimkan oleh seseorang lewat hape. Kesan puitisnya berkurang drastis sebab, hey Whatsapp itu practically langsung bicara ke orang, kita bisa bilang rindu tanpa muter-muter bragging bilang nitip salam ke angin.

Dosen-dosen itu bicara bahasa puisi, tetapi most of the time ketika lagi dua-duaan, mereka terutama  Pingkan terdengar kayak remaja yang lagi pacaran. Mungkin memang benar cewek kalo lagi bareng orang yang dicinta akan bertingkah seperti anak kecil, dan film sering menampilkan seperti itu sehingga aku sering lupa sedang menonton orang dewasa. Velove Vexia memainkan peran yang cenderung gampang buat dirinya, she hits the notes just perfectly. Adipati Dolken sekali lagi bermain sebagai karakter yang bisa dikatakan cenderung posesif. Sarwono digambarkan sebagai tokoh yang kelewat insecure. Kerjaannya cemburu, malah ketika Pingkan lagi nari pesta sama keluarga, si Sarwono ngeliat cemburu sampe menimbulkan efek trippy di kamera hhihihi… Dolken di sini seharusnya jadi orang Jawa, but he’s not really good at it. Dan ketika membacakan dialog-dialog panjang yang subtil, ataupun dengar ketika dia berpuisi, dia melafalkannya dengan kayak orang lagi ngafal teks banget. Aku enggak bisa melihat Sarwono sebagai seorang penyair. Buatku, departemen akting diselamatkan oleh Baim Wong yang berperan sebagai sepupu angkat Pingkan. Wong sangat underrated di Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017), dan kali ini pun dia mencuri perhatian. Dia menghidupkan dinamika antara Sarwono dan Pingkan.

Sudah semestinya Sarwono cemburu, spotlightnya direbut oleh Benny

 

Puisi menggambarkan lewat kata-kata, sementara film menggambarkan lewat visual. Sinematografi bekerja dengan baik, shotnya cantik-cantik. Aku suka terutama di adegan-adegan surreal mimpi Pingkan. Malahan, menurutku film bisa menjadi lebih asyik dinikmati jika adegan-adegan surreal mendominasi film. Like,  just drop the whole road trip element, dan tampilkan saja perbincangan dengan suasana aneh. Alih-alih dari itu, kita dapatkan banyak pilihan gajelas dalam bercerita. Di awal mereka nyewa dua kamar hotel, kemudian di pertengahan mereka nyewa hotel satu kamar – ini adalah bentuk keinkonsistensian yang tak terjelaskan yang dapat kita temui. Wide shots kebanyakan difungsi sebagai papan iklan sponsor. Ada satu shot yang membuatku bingung, yaitu ketika di meja makan keluarga Pingkan, mereka makan sambil ngobrol serius tentang hubungan Pingkan, dan tau-tau kamera nyorot tempe. Ada banyak hal gapenting kayak gitu yang terekam, bukan sebatas  visual. Film juga mengajak kita mengikuti perbincangan tentang pembagian jurusan di kampus yang mereka datangi di Manado,  yang ternyata hanya dimainkan untuk komedi. Yeah, apa banget.

Sesungguhnya mengenai kenapa mesti Jepang, aku juga sempat bingung. Masa iya sih karena Japanesse dan Javanesse itu cuma beda satu huruf? Apa mungkin film ingin mempertemukan puisi dengan haiku? Di sepuluh menit pertama Jepang begitu dijejelin kepada kita, namun film berubah menjadi cerita perjalanan dengan tokoh yang cemburu dan cewek yang ramah dan ditaksir banyak orang. Barulah di akhir, Jepang kembali lagi. Actually, Jepang penting lantaran film banyak menggunakan analogi sakura dan samurai untuk menggambarkan perjalanan inner Pingkan dan Sarwono.

Ini bisa menjawab puisi Hujan Bulan Juni: Jika seseorang bisa membuat dirinya terperangkap, maka dia pasti bisa membebaskan diri sendiri. Kau yang memulai, dan benar, kaulah yang mengakhiri. Dan setelahnya usai, akan ada pelangi di sana. Hujan di bulan Juni biasanya tidak pernah ada, dan ini adalah metafora yang pas mengenai apa yang terjadi kepada Pingkan dan Sarwono.

 

Dalam denyut nadinya, film mengangkat tentang permasalahan beda agama yang membayangi relationship Pingkan dan Sarwono. Dan seperti Pingkan yang tidak menjawab pertanyaan Ben tentang anak mereka nanti ikut siapa, film ini juga tidak memberikan jawaban terhadap polemik yang diangkatnya. Film dalam kepentingannya membuat penonton baper memilih jawaban termudah yang pernah diambil oleh film-film. Aku gak akan bilang, tapi kalian pasti punya dugaan, dan setelah menonton sendiri, kalian juga pasti akan kecewa.

Actually, kita bisa bikin teori lengkap mengenai kapan tepatnya timeline kejadian di film ini berlangsung. Para tokoh berkomunikasi dengan whatsapp, mereka sudah kenal selfie, penyair puisi dilabeli jadul, semuanya mengisyaratkan kejadian berset di Juni somewhat recent. Tapi seberapa recent? Sarwono sempat mengatakan mereka duduk makan seperti di bulan Ramadhan, yang berarti Juni itu mereka belum puasa. Jadi kemungkinan enggak jauh-jauh amat di belakang tahun 2017. Namun yang bikin mindblown adalah tahun yang tertera di buku puisi Sarwono adalah 1991. Puisi tak lekang waktu, dan Sarwono mengatakan pusinya ada di dunia sendiri. Mungkin film ini memang bertempat di universe yang surreal dari sudut pandang ingatan Pingkan. Atau yang lebih likely; sekali lagi film menggunakan perkataan Sarwono tadi sebagai jawaban termudah.

 

 

 

Menonton ini diniatkan sebagai pengalaman membaca puisi dalam sebuah buku dengan gambar yang bergerak. Tetapi film terlalu mengorkestrasi keadaan. Menafsirkan puisi dengan lingkupan dan cara yang cheesy, dan beserta pretty much good things about this movie dibuat jadi latar belakang sebuah roman yang sudah acap kita lihat. Mengambil banyak pilihan untuk humor dan baper, sebagai langkah menjawab permintaan pasar. Aku bisa lihat film ini akan menemukan tak sedikit penggemar yang tidak akan mempedulikan sejumlah kekurangan pada penceritaannya. Dan lantaran ini dari puisi Sapardi, khalayak sastra akan bisa jadi bias melihat atau menyingkapinya. Apalagi ini adalah kali pertama sastra puisi nongol di ranah mainstream kekinian, which is a good thing buat perkembangan kesusastraan. Tapi puisi ya puisi, film ya film. Film ini bukan dibuat oleh Sapardi, dan filmnya jelek enggak seketika berarti sastranya juga jelek.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for HUJAN BULAN JUNI.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE GLASS CASTLE Review

“Family are the people who must make you feel ashamed when you are deserving of shame”

 

 

Lumrah adanya orangtua suka bohong kepada anak-anak. Dan pada gilirannya akan membuat anak-anak suka bohong kepada – dan terutama, tentang – orangtua mereka. Waktu kecil, beberapa dari kita ada yang enggak mau ngajak teman main ke rumah kalo ayah dan ibu lagi enggak kerja. Terkadang kalo lagi ngobrol bareng teman-teman, kita akan menceritakan yang keren-keren tentang keluarga kita. Keluarga, bagi kita jauh di dalam adalah salah satu kebanggaan terbesar, namun kita masih sering merasa malu karena mereka. Dan tak jarang, perasaan malu saat keluarga ini kebawa hingga dewasa. Memperkenalkan pasangan kepada orangtua jelas adalah momok buat sebagian besar orang. Karena setiap keluarga punya rahasia, tidak ada keluarga yang sempurna. “Let me do the lying about my family,” begitu kara Jeanette Walls kepada tunangannya, mengisyaratkan setelah selama bertahun-tahun diajarkan mandiri dengan cara sangat tak-konvensional, Jeannette masih respek sekaligus malu sama keluarganya.

Tahun 2016 kita dibuat kagum sama Captain Fantastic yang dengan cueknya menantang moral kita dengan gaya hidup dan parenting orangtua yang mengajarkan anak-anaknya dekat dengan alam dan melawan sistem. Aku pikir, wah kalo beneran ada keluarga kayak gitu gimana ya. Dan kemudian, di tahun 2017, keluarlah The Glass Castle; film yang membuktikan bahwa aku tidak tahu banyak. Karena film ini adalah kisah nyata. Jeannette Walls adalah pengarang dan jurnalis, terutama terkenal sebagai  columnist gossip yang nulis memoir tentang masa kecilnya. Jeannette adalah saksi hidup seorang anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan pemahaman begitu nyentrik; orangtua yang membiarkan anak dua-belas tahunnya masak sendiri, yang melempar anaknya begitu saja ke kolam, orangtua yang memberikan bintang di langit sebagai kado natal.

Aku dilarang keras berada di rumah kalo teman-teman cewek adekku dateng, mainly she was afraid norakku kumat.

 

 

Kita akan dibawa maju mundur, antara masa kini (1989) dan masa lalu, ketika Jeannette dewasa berkontemplasi tentang masa kecilnya. Kita bisa melihat jelas betapa sukarnya hidup Jeannette dan keluarga. Mereka berpindah-pindah tinggal dari satu bangunan kosong, ke rumah reyot lain. Dari Woody Harrelson sebagai ayah yang tak pernah menyelesaikan apa yang dia mulai ke Naomi Watts seorang ibu yang lebih mentingin ngelukis-tak-dibayar daripada masak, film ini dipersembahkan dalam lingkupan keluarga yang berakting sangat baik. Sebagai ujung tombak dari sekumpulan talenta, film punya Brie Larson  dan Ella Anderson yang menyuguhkan penampilan yang amat stricken sebagai sudut pandang utama. Jadi, ada alasannya kenapa saat menonton ini kita akan merasakan tone yang sangat berbenturan. Jeannette kecil dan saudara-saudaranya percaya bahwa apa yang dilakukan ayah mereka adalah hal yang benar. Bahwa mereka enggak miskin, bahwa yang mereka lakukan adalah melawan sistem demi kebaikan yang lebih besar.

Sesungguhnya, memang ada cara yang benar dan cara yang salah dalam hidup. Rumah tangga Wells terbangun dari cara-cara benar yang dilanggar. Istana mereka memang transparan, namun ada atap kaca patriarki yang tidak bisa dipecahkan oleh Jeanette. Akan tetapi pada akhirya, seperti kata Ibu, strugglelah yang membuat indah. Pengalaman kita bersama keluarga, baik atau buruk, akan membentuk integritas personal, keberanian, suatu jati diri. Jika kita tidak bisa menghargai keluarga satu persatu, palign tidak hargailah apa yang sudah keluarga sumbangkan dalam membentuk siapa kita.

 

Film mengeksplorasi aspek kelam dari kehidupan keluarga Jeanette. Narasinya panen drama dan emosi. Masalah alkohol sang ayah, juga ada situasi yang benar-benar disturbing dengan nenek mereka. Kita melihat banyak hal dan situasi terrible terjadi kepada keluarga Jeannette. Namun masalahnya adalah, film tidak paham akan kelamnya apa yang terjadi kepada mereka. Kita melihat basic skenario yang sama dimainkan berulang kali, sehingga lama-kelamaan jadinya bosenin. Kita kerap terflashback ke masa lalu, lalu kembali ke saat mereka dewasa, tapi ketertarikan itu malah semakin sirna. Sudut pandang Jeannette yang mixed banget digambarkan oleh film lewat benturan tone. Akibat dari ini adalah beberapa adegan really misses the mark lantaran malah terlihat dimainkan sebagai komedi.

Aku selalu punya masalah dengan film-film yang menggunakan musik yang terlalu menyuruh penonton untuk merasakan suatu emosi tertentu. Di film ini, aku mendapati musiknya sangat gak klop nan mengganggu penyampaian emosi. Film ini mencoba membuat kita merasakan apa yang dirasa oleh anak-anak itu ketika orangtua memanfaatkan mereka dengan harapan. Maksudku, sangat sering kita jumpai dalam film ini adegan-adegan yang sebenarnya tragis, sedih dengan dilatari oleh score musikal yang ‘memaksa’ kita untuk melihat bahwa ini adalah adegan yang bahagia. Pemandangan seorang ayah dan ibu yang basically membiarkan anak mereka enggak makan, ataupun mengambil duit tabungan anak mereka, atau membiarkan mereka berada dalam situasi yang berbahaya sesungguhnya adalah pemandangan yang sukar untuk dilihat – disturbing. Akan tetapi, musik yang dimainkan saat adegan kelam ini begitu uplifting seolah itu adalah momen keluarga yang hangat. Mungkin sebagian orang akan suka dengan cara bercerita seperti ini, namun buatku adegan-adegan tersebut menjadi kurang otentik, emosi yang disampaikan tidak tersampaikan dengan impactful.

keluarga kaca apa keluarga cemara

 

 

Kurang-kurangin deh berbohong kepada anak-anak. Berikan anak-anak kredit perspektif yang lebih sehingga mereka bisa melihat sebening melihat kaca. Buat mereka mengerti situasi dengan mempersembahkan konsekuensi, bahaya, ketakutan, kejelekan dengan transparan. Karena hanya dengan begitu, orangtua akan lebih dihormati oleh anak-anak yang tumbuh lebih kuat.

 

 

Dengan tema yang sama-sama mengangkat pertanyaan apakah membesarkan anak jauh dari sistem dan sosial adalah hal yang bertanggung jawab, film ini tetap terasa tumpul dan kurang greget. Absennya ambiguitas moral yang membuat film ini kalah menarik dan penting dibandingkan Captain Fantastic. Naskah meminta kita untuk merasakan suatu perasaan tertentu untuk karakter-karakter yang ada, namun apa yang kita lihat-kita dapatkan- kita rasakan tidak selaras dengan perasaan mengangkat yang diberikan dengan terlalu banyak. Rex Walls bisa saja memang jujur terhadap anak-anaknya mengenai teori sistem sosial yang ia percaya. Film ini, however, tidak transparan dalam menyampaikan emosi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE GLASS CASTLE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.