“Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.”
Bagi seorang ibu cuma sedikit hal di dunia yang horornya melebihi perasaan ketika melihat anak yang ingin di’selamatkan’ malah berakhir celaka. Apalagi jika si ibu tersebut punya profesi sebagai psikologis anak. Rasa bersalahnya dateng barengan ama rasa gagal, tuh. Sesek numpek di dada pasti ada, dan kita bisa melihat itu semua dari gimana Naomi Watts memainkan perannya sebagai Mary Portman dalam film Shut In.
Anak tiri Mary lumpuh setelah ngalamin kecelakaan mobil enam bulan yang lalu; Kejadian tragis yang juga merenggut nyawa suaminya. Mary sekarang ngerawat anak remajanya tersebut. Dia memandikan Stephen, mengurus keperluan sehari-hari, namun kebutuhan Mary sebagai seorang ibu – terlebih ibu yang merasa bersalah – tidak terlampiaskan karena kondisi anaknya tidak memungkinkan buat mereka untuk kembali bisa menjalin hubungan emosional yang aktif. Jadi Mary mencari koneksi ke pasiennya yang kebanyakan memang masih anak-anak. Mary mau bisa nolong semua anak-anak bermasalah itu. Terutama, dia ingin ‘menolong’ Tom (Jacob Tremblay memerankan bocah tunarungu yang suka berkelahi).
Suatu malam, Tom muncul gitu aja di rumah Mary dan Stephen, untuk kemudian ia hilang dengan sama mendadaknya. Di luar badai salju, dan di dalam rumah, pada malam hari, Mary mulai mendengar suara-suara aneh. Dia sort of ngeliat penampakan. Apparently, Mary enggak benar-benar yakin misteri apa yang sedang terjadi kepadanya.
Badai salju yang menderu dari luar rumah menjadi elemen yang mengurung karakter dalam film ini. Mereka tidak bisa keluar dari dalam rumah. Secara estetis, kita juga merasakan perasaan klaustrofobiknya. Kita seperti ikutan berada di dalam rumah mereka, untuk kemudian rumah tersebut terasa mengurung kita lewat beberapa momen sound designnya. I love that contained aspect of this movie. Aku lumayan excited waktu mau nonton. Apalagi psikologikal horor ini dimainkan oleh Naomi Watts yang kerap muncul di film-film horor yang lumayan bagus. In fact, Naomi Watts main di film terfavoritku sepanjang-waktu, Mulholland Drive(2001), so yea I naturally drawn in oleh setiap film yang ia perankan. Arahan yang didapatkan oleh film ini cukup lumayan, meski there’s nothing really much to it. Ada shot-shot yang perfectly capture momen yang bikin kita merasa in-the-moment. Satu adegan yang aku suka pengambilan gambarnya, yaitu aerial shot menjelang akhir di adegan yang involving bayangan dan tangga. That’s a great shot.
Kasian amat Jacob Tremblay terjebak di dalam ruangan lagi
Nyawa film terutama terletak pada screenplay. Kelihatan deh pokoknya sebuah film yang punya skenario buruk dan sutradara berusaha keras buat menjadikannya baik, namun tetep enggak bisa, karena apa sih yang bener-bener bisa dilakuin jika naskahnya sedari awal sudah begitu jelek dan keliatan banget ngarang. Kalo Mary bingung ke mana perginya Tom, maka kita sebagai penonton akan terbengong-bengong berkat BETAPA TERRIBLENYA FILM INI DITULIS. Banyak banget ketidakkonsistensian sehingga sebagian besar waktu film ini was just bad. Dua babak pertama dipenuhi oleh adegan-adegan mimpi, diselingi dengan jump-scares yang sok ngecoh. Dengan cepat film ini akan terasa menyebalkan. Dan bicara soal ngecoh, ini adalah jenis film yang bangga banget punya twist. Film yang tujuan utamanya memang ingin terlihat heboh dengan twist, mereka kayaknya nulis dari twistnya duluan kemudian baru ngembangin ceritanya, yang mana semua elemen dipaksa nyambung banget, sehingga twist yang dihasilkan malah jadi bego alih-alih bikin takjub. Semua yang terjadi di dua-puluh-menit terakhir membuat everything else yang sudah terjadi sebelumnya menjadi total gak masuk-akal.
Jika semua klise dan trope film horor bisa bermanifestasi menjadi manusia, mereka tumbuh tangan dan punya jari jemari, kemudian mereka mutusin buat ngetik, maka “voila!” Jadilah skenario film Shut In.
Semua taktik scare yang dilakukan oleh film ini adalah TAKTIK FALSE SCARE. Kita ngeliat penampakan, eh taunya Mary lagi mimpi. Kita ngeliat adegan berdarah, eh taunya Mari sedang ngigo. Kita denger suara-suara aneh, eh taunya ada rakun loncat dari balik kayu diiringi suara musik yang lantang yang bikin Mary dan seisi bioskop jantungan. Kita ngecek kegelapan malam, ngikutin Mary nyebrangi halaman bersalju, eh taunya cowok yang tadi pagi naksir ama Mary muncul dari balik pintu sambil menyapa “Hey, ini gue!!”. Keras-keras. Itulah ‘hal-hal mengerikan’ yang bakal kita hadapi dalam film ini. Efektif sekali, bukan? Yeah, efektif buat bikin kita TERTIDUR!!!!
Shut In enggak mau repot-repot bahas soal psikologis, atau perspektif, atau moral, atau apalah. Detil-detil backstory enggak penting bagi film ini. Kita enggak pernah yakin kenapa malam itu si Tom bisa nongol di rumah Mary. Kita enggak pernah dihint soal latar belakang Mary dan keluarganya. Film ini enggak peduli saat kita mengernyit berusah mengira-ngira kenapa Mary sering banget skype-an ama tokoh Dr. Wilson yang diperankan oleh Oliver Platt. Kita enggak sempat kenalan sama beliau, apakah dia temen lama Mary, atau dia psikologis Mary, or heck film ini enggak mau tau perihal gimana Mary terlihat so bad at her job, both as child psychologist and as a mom, dibuat oleh presentasi ceritanya.
Mari ngobrol sebentar soal adegan dengan skype. Biar kelihatan remaja dan relevan, film-film jaman sekarang memang hobi banget masukin adegan para karakter facetime-an via skype. Adegan skype actually bisa saja bekerja dengan baik, kita udah nyaksiin contohnya pada film The Visit (2015). Adegan ngobrol lewat skype bisa bagus jika (dan hanya jika!) obrolannya bagus. Dialoglah yang memegang kunci. Dalam film ini, sayangnya, penulisannya begitu minimalis.
Mary: “Etau enggak, akhir-akhir ini aku susah tidur, nih” Wilson: “Yaah, kamu masih trauma dan sering baper sih” Mary: “Eng-GAaaKK! Beneran, ih, kayaknya ada sesuatu yang lain di sini” Wilson: “What-the-kamsut?” Mary: “Kayaknya… di rumahku…. ada hantu!” Wilson: “Masa orang dewasa terpelajar kayak kita percaya hantu sih?” Mary: “Tapi aku sering denger-denger suara gitu, pernah ngeliat malah” Wilson: “Gurl! Please. You’re just being silly” Mary: “CK! Bye. Brb Sibuk.”
Ya kurang lebih begitulah obrolan mereka. Gitu terus lagi dan lagi, adegan percakapan skype mereka muter-muter di situ melulu. Mengerikan!
This is also jenis film yang setiap tindakan yang dipilih karakternya bikin kita jambak-jambak rambut dengan geram.
Yang terpenting buat film ini adalah gimana memancing rasa kaget kita, alih-alih takut. Fokus utama nya adalah gimana supaya so-called twist mereka enggak ketahuan.
Padahal despite ‘usaha’ mereka, kita sedari pertengahan udah bisa menebak hanya dengan mengacu kepada apa yang disebut kritikus terkenal Roger Ebert sebagai The Law of Economy of Characters. Atau Hukum Ekonomi Karakter; teori tentang kebiasaan film ini menjelaskan bahwa oleh sebab budget, film tidak akan pernah diisi oleh karakter yang tidak berguna, setidakpenting apapun kelihatannya peran mereka. Apalagi kalo diperankan oleh aktor yang cukup punya nama. Karakter-karakter tersebut sudah pasti akan direveal punya peran yang penting. Jadi, yaaa, kalo kita ngeliat cast yang familiar dengan peran yang minimal, maka niscaya mereka adalah twist yang dirahasiain oleh film.
Coba deh, tonton ini dan tebak apa yang sebenarnya. Wait, actually… Jangan tebak. Tepatnya maksudku, jangan bersusah payah luangkan waktu dan uang buat nonton. Aku beberin aja twistnya di sini:
Jadiii, anak tiri si Mary yang lumpuh ternyata enggak lumpuh. Stephen selama ini hanya pura-pura lumpuh. That’s the big twist. Film ini ngasih arti baru buat kalimat “Cinta ibu mampu membuat orang normal ngelakuin hal yang enggak masuk akal.” Stephen sangat ingin perhatian dan kasih sayang ibunya, sehingga ketika Tom datang dan perhatian Mary jadi bergeser ke ngurusin bocah malang tersebut, Stephen jadi iri. Dia bangkit dari kursi rodanya, menangkap Tom, dan menyekapnya di suatu tempat di dalam rumah. Suara-suara yang didengar Mary adalah suara Tom yang berusaha keluar. Penampakan, blurry vision, dan mimpi-mimpi yang dialami oleh Mary adalah ulah Stephen yang diem-diem masukin obat ke dalam minuman ibu tirinya tersebut. That’s it. Seriously, twistnya bikin revealing film The Boy (2016) jadi terlihat enggak parah-parah amat.
Apa coba persamaan antara Naomi Watts dengan kita-kita yang nonton film ini?
Sama-sama kejebak! That’s how I felt during this entire film. Penampilan dan arahan yang acceptable tidak akan berarti banyak jika sumber penyakit ada di skenarionya. Tidak ada bagian yang bagus; babak satu dan duanya plainly bad, dan babak ketiganya sukses menghantarkan ini sebagai salah satu dari film horor terburuk yang pernah aku tonton. Atau psikologikal thriller terburuk. Whatever. This movie is horrible, people! The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for SHUT IN.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
“To share your weakness is to make yourself vulnerable; to make yourself vulnerable is to show your strength.”
Penjahat yang hebat membentuk pahlawan yang hebat. Karena semakin berat tantangan, semakin great pula effort yang harus dilakukan untuk overcome it. Hubungan aneh antara superhero dan penjahat itulah yang sesungguhnya membuat setiap cerita komik, or even setiap cerita baik-melawan-jahat menjadi menarik. Rivalry mereka mendorong yang terbaik dari diri masing-masing, dan ‘pertarungan’ itu yang kita nikmati. Aksi Superman menyelamatkan manusia tidak akan bisa kita kagumi jika Lex Luthor tidak mengerahkan kemampuan terbaiknya at being doesn’t care about anyone. Goku enggak bakal pernah jadi orang terkuat jika Bezita berhenti menantangnya berkelahi. John Cena tidak akan pernah punya jurus baru jika CM Punk tidak terus-terusan showcasing a great match – membuktikan dirinya the best in the world. Dan kita tahu, satu-satunya yang bikin Batman segan membunuh adalah karena dia tidak mau menjadi sama seperti Joker.
Tidak akan ada Batman jika tidak ada Joker.
Namun, apa yang dilakukan oleh The LEGO Batman Movie terhadap hubungan antara Joker dengan Batman adalah sesuatu yang sangat brilian. Batman enggak mau admit bahwa dia butuh Joker untuk merasa complete. In fact, Batman di sini having a real hard time mengakui bahwa dia sebenarnya juga butuh orang lain. Film ini mengambil RUTE YANG BENAR-BENAR BERBEDA dalam membahas hubungan mereka. Tidak ada yang lebih diinginkan Joker selain supaya Batman mengakui hubungan spesial (cieee~) di antara mereka. Joker benci Batman, dan dia mau Batman juga bilang dia benci Joker, bahwa dia seneng banget menghajar Joker. But Batman can not say that. Dan kalian tahu, sangatlah kocak cara yang film ini lakukan dalam menggali ‘relationship’ antara dua tokoh komik paling populer tersebut. Ada dialog Batman yang tepatnya bilang begini, “I am fighting a few different people… I like to fight around.” Yup, it’s like persahabatan Kevin Owens dan Chris Jericho di Raw, rivalry antara Batman dan Joker di sini dibikin kayak orang… lagi… pacaran!
Menunjukkan bahwa kita butuh orang lain memang membuat kita vulnerable. Tetapi tidak seketika berarti menjadikan kita lemah. Kesediaan untuk mengakui ketidakmampuan diri sendiri, untuk saling bergantung kepada kekuatan satu dan yang lain demi menjadi kuat bersama-sama ultimately adalah kekuatan terbesar yang dipelajari oleh Batman dalam film ini. Di balik lelucon-lelucon yang datang silih berganti, The LEGO Batman Movie actually berhasil menyentuh penonton sedikit lebih dalem lewat perubahan karakter Batman yang belum pernah ditulis seperti ini sebelumnya.
Hey Jokes. Cash me ousside how bow dah?
Film The LEGO Movie yang keluar tahun 2014 bisa jadi adalah salah satu kejutan paling menyenangkan yang pernah didapat oleh dunia sinema. I love that movie, padahal tadinya aku menyangka film tersebut bakal jualan produk semata. Ternyata, itu adalah animasi dengan cerita yang cukup dalem dan amat-sangat-kocak. Jadi ketika sepertinya mereka mau mulai bikin franchise film LEGO dan eventually mengangkat kisah ksatria malam bertopeng favorit semua orang, aku sangat excited. I actually don’t mind kalo di masa akan datang kita dapet film LEGO versi Harry Potter atau versi Jurassic Park atau franchise film terkenal lain, karena mereka tahu persis gimana memanfaatkan lisensi yang mereka punya sebaik-baiknya. Ada banyak karakter, juga banyak cameo yang dipakai, yang bahkan enggak ada hubungan-langsung dengan universe Batman.
Animasi jaman sekarang sudah diharapkan bakal gemilang dalam segi teknis, terutama visual. Dengan skema warna orange cerah dipadukan dengan berbagai warna gelap, film ini berhasil menampilkan animasi yang fantastis. Membuat Kota Gotham dari brick LEGO tersebut menjadi spektakuler. The LEGO Batman memakai formula bercerita yang sama dengan film LEGO yang pertama. Sekali lagi dengan pinter MEMANFAATKAN GIMMICK MAINAN LEGO SEHINGGA MENGHASILKAN CERITA YANG EKSLUSIF, as in elemen ceritanya hanya bisa worked dengan keberadaan balok-balok susun tersebut. Film ini memang kelihatannya menggunakan tone yang sama. It does follows rangkaian event yang sama dengan film LEGO sebelumnya. And they did it all again, dengan juga sangat kocak. Aku girang banget mereka mempertahankan SELERA HUMOR YANG FANTASTIS. Di film ini juga ada adegan nyanyian, yang mana kita akan melihat Batman ngerap. Pantes ditonton banget gak sih hahaha!
Film ini layaknya tulisan personal literatur yang kocak yang ditulis oleh Batman sendiri.
Kita bisa bilang The LEGO Batman Movie adalah parodi yang sangat kreatif. Semua tokoh – disuarakan dengan sesuai dan beresonansi kuat terhadap karakter-karakternya – mendapatkan penyelesaian pada plot mereka, with the ganks of villains treated as one. Keren aja ngeliat gimana sebuah film paham mengenai apa-apa yang bisa dieksploitasi dari karakter, dan benar-benar mengeluarkan yang lucu-lucu dari mereka. Kalian tahu, Batman sudah menumpas kejahatan sejak lama banget, all the way back ke tahun 1960an, malahan sebelumnya ada juga serialnya yang masih hitam-putih. Saking jadulnya, kita tidak perlu ikut kelas sejarah supaya mengerti kehidupan masa lalu. Kita cuma perlu nonton semua Batman. Dan film ini PAHAM BETUL ON HOW TO POKE FUN AT BATMAN’S HISTORY. Ada banyak lelucon soal film-film Batman terdahulu, yang kadang ditampilkan dengan selayang, namun fans berat Batman pasti bakalan nangkep.
Will Arnett membuat suara serak-serak Batman menjadi elemen yang kocak, dia berhasil mengeluarkan kelucuan dari kontrasnya suara dengan karakter tokohnya. Dalam film ini, Batman adalah seorang yang confident sangat – malah udah sampai level arogan. Dia tahu dia kuat. Menjinakkan bom beberapa detik sambil melawan penjahat kelas kakap bukan masalah baginya. Tapi, di balik topengnya, di lubuk hati terdalem, Bruce Wayne sangat depressed soal fakta bahwa dia tidak punya keluarga. He’s having a hard time mengakui butuh keluarga, karena dia takut kehilangan lagi, meskipun Alfred, Robin, dan orang-orang di sekelilingnya constantly mencoba untuk menjadi bagian dari keluarga Batman. But he just like “Enggak, Batman kerja sendiri. Nonton sendiri. Aku nyanyi dan menghajar orang sendiri. Because I’m awesome!!.”
“sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri~”
The movie is really funny. Punya banyak bahan candaan sehingga rasanya setiap detik kita ditinju oleh punchline. Perihal jenis jokesnya; ini adalah film dengan humor yang SARCASTIC, YANG MENGGUNAKAN BANYAK REFERENSI POP-CULTURE DALAM NADA YANG IRONIS. Humornya dateng terus dan terus dan terus sampai-sampai kita kesusahan untuk mengikuti. Apalagi buat penonton yang bergantung kepada tulisan subtitle. Film ini gets a little frenetic dan oleh sebab banyaknya lelucon, kadang susah untuk kita mengambil fokus. Tak jarang saat kita belum selesai tertawa, lelucon lain sudah mulai dikoarkan oleh tokoh film. Ada beberapa kali aku merasa lelah tertawa dan cuma sanggup terkekeh pelan atau malah senyum doang. Kadang ada juga kita temukan jokes yang enggak selalu make sense together saking cepatnya jokes tersebut dateng. Kayak waktu Batman nyebut apakah mereka akhirnya dibantu oleh Suicide Squad dan gak sampai dua menit kemudian, dia malah bercanda nyindir soal betapa begonya ngumpulin tim berisi kriminal buat ngelawan tim kriminal yang lain.
Animasi yang dapat ditonton oleh semua anggota keluarga ini sungguh sebuah ledakan yang menyenangkan dari awal sampai akhir. Punya banyak sekuens aksi yang seru yang melibatkan sejumlah gede tokoh-tokoh Batman, DC Universe dan sekitarnya, sebanyak yang bisa dipakai oleh LEGO. This movie understands how to poke fun at their characters. Leluconnya adalah tipe-tipe sarkas, yang kalo kalian enggak punya masalah sama film yang acknowledging film lain di dalam cerita, maka candaan film ini akan terasa pas dan kocak sekali. But jokenya acap datang terlalu cepat dan terus menerus sampai-sampai kita capek sendiri dan it gets frenetic. Filmnya bisa jadi lebih baik lagi, sih, jika tone humornya lebih diselaraskan sama elemen drama yang sedikit lebih serius. But then again, kalo kelemahan film ini cuma terletak di humornya yang rada terlalu cepat dan rame, maka sesungguhnya ini adalah film yang kelewat menyenangkan. The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE LEGO BATMAN MOVIE.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
“Every father should remember that one day his son will follow his example instead of his advice.”
All bets are off ketika sebuah keluarga kehilangan salah satu kaki penyeimbang kasih sayangnya. Kita pernah ngalamin, dong, gimana rumah berubah jadi kacau jika Ibu pergi arisan beberapa jam aja. Semenjak sang istri meninggal, Pak Musa memang mendapati keluarganya bagai anak ayam kehilangan induk. Tak mampu menunjukkan rasa cinta as a mother does, Pak Musa (terlihat seperti diniatkan sebagai supporting role, nyatanya Tyo Pakusadewo overpowering semua cast muda) memimpin rumah tangga dengan hati baja dan tulang besi. Kehidupan di rumah mereka keras. Ada satu adegan di babak pertama di mana Pak Musa really lay down the law kepada anak-anaknya di rumah. Keempat anak Pak Musa tumbuh menjadi pemuda liar. Urakan. Suka streaking around gangguin ibu-ibu satu RT yang lagi senam. Keluar malam dan mabuk-mabukan. Mereka begitu bukan karena mereka tidak hormat kepada orangtua.
It is a failure in communication yang memegang peranan besar, it is about men’s tough love. Anak-anak ini juga gagal nunjukin rasa sayang kepada bapaknya. Ibra (delivery Adipati Dolken need more work karena sebagian besar waktu dia jauh dari terdengar tegas) diam-diam bekerja di sebuah pool bar. Elzan (tokoh Jefri Nichol ini sayangnya kurang diflesh out padahal dia actually yang paling jantan di antara mereka) kerja sebagai pelayan di hotel remang-remang. Amar (berkat image Aliando Syarief, tokoh ini providing some relief, yang terutama worked pada kalangan fansnya) demi ngejar the love of his life, kerja jadi supir anak sekolah. Sedangkan si bungsu Ical (Giulio Parengkuan terlihat confused namun it worked dengan karakter tokohnya) rela bolos karena enggak sampai hati minta uang sekolah. See, mereka selalu menempatkan Bapak di prioritas nomor satu mereka. Bapak yang sudah tua, yang tenaganya sudah tidak mendukung lagi bekerja sebagai satpam berpenghasilan pas-pasan di sebuah bank.
Gejolak muda sesungguhnya hanya perlu diarahkan. Untuk itu, mereka memerlukan contoh ketimbang nasihat-nasihat. The problem with Musa dan anak-anaknya adalah dengan hanya satu panutan, anak-anak tersebut tidak melihat cukup banyak dari Musa. Dia memberitahu mereka soal kemandirian, tetapi yang Musa perlihatkan di rumah adalah kekerasan dan ketidakterbukaan. Dan itulah yang ditangkap oleh empat anaknya.
Drama action ini punya satu elemen yang paling menarik perhatianku. Arena underground pertarungan cewek. Kita diliatin sekilas di mana dua cewek diadu berantem martial arts, sementara cowok-cowok penontonnya berteriak menyemangati dengan garang. Pertarungan tersebut dijadikan ajang taruhan. It is actually a refreshing element yang seharusnya bisa dieksplor lebih dalam lagi. Bisa ditanam pertanyaan moral di dalamnya. It would also make an interesting relationship story, karena salah satu dari petarung wanita tersebut actually adalah pacar Ibra yang bernama Jamila (Widika Sidmore keren banget cosplaying the Mia Wallace look). Dan mereka ngesyut adegan hand-to-hand combat ini dengan really well. Gerak kameranya cukup untuk membuat kita ngikutin aksi yang terjadi. Yang mana aksi tersebut sangat intens dan fisikal. I really like this part of the movie. Sebuah gimmick yang sesungguhnya punya potensial untuk dikembangkan menjadi lebih compelling.
oke siapa yang tadi di opening pake gaya croth chop nya DX?
Hubungan persaudaraan mereka tersurat jelas pada layar, kita bisa mengerti siapa lebih dekat kepada siapa. Interaksi antarmereka tergambar dengan meyakinkan. Adalah hal yang bagus film ini tidak berupaya untuk menyensor kata-kata kasar atau apapun, karena memang seperti yang kita lihat pada merekalah interaksi anak muda berlangsung. Calling names, toyor-toyoran, ada sedikit nuansa kompetisi di antara masing-masing. Benar MENCERMINKAN ANAK MUDA. Yang gagal mereka tampilkan secara compelling adalah gimana sikap anak muda yang tumbuh dalam lingkungan kasar. Aku enggak tahu apakah dari arahan atau apanya, keempat tokoh mudah ini lebih sering kelihatan seperti anak muda kaya yang manja dan mencari pelampiasan dibanding pemuda-pemuda tak-terurus with a really broken home life. Pertaruhan tampak kesulitan menunjukkan mereka pemuda yang tangguh, dan sesungguhnya itu adalah prestasi mencengangkan sebab antara tangguh dengan cengeng seharusnya ada jarak yang luas. Seluas gap generasi bapak dengan anak-anaknya, yang btw, disinggung sedikit dalam film ini.
Sungguh susah untuk bersimpati dan merasakan empati kepada keempat pemuda ini karena sedari babak pertama mereka disorot dalam cahaya anak-anak berandal yang menyebalkan alih-alih respectable, street-wise punks. Dan itu berlanjut sampe film ampir beres. Mereka tidak melakukan hal apapun yang membuat mereka berhak mendapat respek dari kita. Mereka selalu bertanya dulu sebelum beraksi. They never take action until late in the film. Dan saat aksi itu tiba, mereka melakukan pilihan yang bego. Ngerampok di kota di siang bolong, berbaris keren di pinggir jalan, dengan sambil nyarungin topeng. Pelan-pelan, seolah ingin mastiin orang-orang udah melihat wajah mereka satu persatu. Ada satu momen mereka berembuk “Kita harus melakukan apapun untuk bapak” dan scene berikutnya yang kita lihat adalah Ibra menggunakan ceweknya sebagai pengalih perhatian nyopet di bar. And later he actually let Jamila bertarung demi uang untuk bapaknya berobat.
Ibra is the worst character here. Saat Mila kalah dan babak belur (supposedly, tapi sepertinya film ngirit make up buat bikin efek luka tembak), aku kira Ibra bakal sadar dan minta maaf. But no! Dia malah sok ngecomfort pacarnya dengan bilang “Bukan salah kamu, cuma belum rejeki aja” Like, what??? Dia nyuruh adik-adiknya, dia bergantung kepada ceweknya untuk bertarung demi kepentingannya. Usaha di dalam kamus Ibra adalah meminta bantuan kepada orang. Ngemis ke bank. Minta dikasihani sama rumah sakit. Makanya tadi aku bilang, Elzan adalah yang paling jantan, karena hanya dia yang berani bertindak beneran. Meski tindakan itu adalah nyolong.
darah muda walau salah tak peduliiiihi..hi..hiii~
Konsistensi penulisan karakternya terlihat agak off. Mungkin saja sih disengaja biar nunjukin mereka labil. Ibra ngancem mau mukul seorang suster kalo saja si suster adalah laki-laki, kalimat ini terdengar agak aneh terucap dari mulut Ibra yang punya pacar seorang ass-kicker. Hubungan Ibra dengan Jamila juga dipertanyakan, it was really strange di satu adegan kita belajar keadaan Bapak dari Mila yang memberitahu Ibra, dan di adegan lain sesudahnya kita melihat Mila kebingungan kenapa Ibra terlihat sedih dan banyak pikiran. It’s like there’s no understanding between them. Dan film ini juga tidak membantu dengan tidak pernah ngasih hint gimana mereka berdua bisa ketemu dan jadian in the first place.
Ketidakkonsistensian juga melebar ke bagian action. Di mana adegan berantem di bar malah jadi bikin ngakak. Tidak ada lagi intensitas dalam koreografinya, padahal mereka berempat dan jelas-jelas outnumbered. Jurus berantemnya juga jadi monoton (hey, monoton is consistency!); lawan tinju kiri – tangkis pakek stance ngepal – bales tinju kanan. Perhatiin deh, berantemnya pasti ada gerak seperti itu. Kamera pun bergoyang sedemikian asik sehingga waktu lagi momen tenang sambil pelukan pun, gambar masih geser kanan-kiri naik-turun.
Apa yang berhasil dijaga oleh film ini dari awal sampai akhir adalah tone sedih. Serius deh, UNTUK SEBUAH FILM TENTANG LAKI-LAKI, INI ADALAH FILM YANG CENGENG. Semua poin cerita diarahkan buat kita mengasihani mereka. Rekan kerja yang nyinyir. Bos yang kejam. Rumah sakit yang menghina. Slow motion dengan musik menyayat hati di adegan-adegan maut. Minta dipuk-puk banget deh. Aku sebenarnya sempet seneng film ini berhasil enggak pake flashback, I was really expecting flashback adegan mereka masih kecil of some sort, ternyata enggak ada and I was like, “you pass the test!” Namun di akhir aku jadi kecele. Film ini masukin montase flashback yang highlight kejadian di awal, dengan slow motion pula! Apalagi kalo bukan demi memeras drama sebanyak yang mereka bisa.
Film ini berusaha untuk memancing perbincangan soal ambiguitas moral kayak yang dilakukan oleh Hell or High Water (2016). Namun enggak ada ground yang mensupport karakter-karakter Pertaruhan, selain mereka pantas dikasihani. Tokoh dalam Hell or High Water ngerampok against sistem perbankan yang actually bikin susah orang banyak. Ibra dan adik-adiknya, mereka merampok bank tempat tempat bapak dulu cari makan – tempat yang secara tak-langsung gedein mereka, hanya karena bank tersebut sudah bersikap kasar kepada mereka yang orang miskin. Dan lagi, they were so quick to resort ke merampok bank. Padahal mereka masih muda, sehat wal ‘afiat, jumlahnya ada empat! Mereka bisa cari kerjaan lain, but no, film ini butuh sesuatu yang gede untuk nutup cerita dengan dramatis.
Aku jadi kepikiran, kayaknya bakal lebih seru dan powerful kalo usaha perampokan mereka distop oleh bapak sendiri. Bayangkan bapak yang sakit-sakitan itu datang ke bank, karena dipanggil oleh Ical yang enggak mau kakak-kakaknya go on that path, kemudian bapak dan anak-anak itu (terutama Ibra) have a hearwrenching dialogue soal kasih sayang. Bapak berusaha menyadarkan anaknya, dan ultimately dia harus menembak Ibra. Kupikir dengan begitu ceritanya akan tetap sama, only dramanya make more sense, dan lebih emosional.
Seperti Pak Musa yang menyesal tidak bisa menunjukkan dengan baik cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya, film ini juga tidak bisa menunjukkan dengan baik sebuah cerita yang compelling. Di menit pertama, dia sudah mengeskpose kita dengan apa paparan yang dirasakan oleh Pak Musa, alih-alih memperlihatkan. Film tentang laki-laki dan kehidupan keras yang paling cengeng yang pernah aku tonton. Jika kalian mempertaruhkan waktu dengannya, niscaya kalian akan merasa kalah. The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for PERTARUHAN.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
Row row row your boat Gently down the stream ~ Merrily, merrily, merrily, merrily Life is but the dream ~
Lagu anak-anak klasik ini terdengar simpel dan sangat mudah dinyanyikan, tetapi ternyata memiliki makna yang dalam (jika mau kita renungkan). Ayo kita coba (sedikit) renungkan bait per bait nya.
Row row row your boat (dayung, dayung, dayung perahumu).
Diri kita dapat dianalogikan sebagai perahu, masuk akal jika kita menyadari bahwa 75% dari tubuh kita terdiri dari air. Maka diri kita adalah perahunya, jiwa kita yang menjadi nahkoda, kemana arah yang akan kita tuju. Menuju (melakukan) kebaikan ataukah menuju (melakukan) sebaliknya. You are a captain! Not a passenger. Take control of your life.
Gently down the stream (dengan lembut mengarungi arus).
Arus kehidupan memang deras, mampu menyeret kita hanyut kedalam arah yang tak tentu. Arus kehidupan perlu dijalani dengan ringan dan sabar tapi konsisten. Hidup yang penuh keterburu-buruan dan sikap mental yang perfeksionis bisa menyebabkan stress dan kelelahan mental yang berkepanjangan hingga akhirnya kehilangan kepekaan dan kemampuan untuk berpikir jernih dan jeli. Ikutilah arus kehidupan tanpa dihanyutkan olehnya. Janganlah bergerak ke atas melawan arus. Bisa dicoba bagaimana rasanya berenang melawan arus. Sudah bisa dipastikan tenaga yang harus dikeluarkan akan berlipat ganda dibanding dengan berenang yang mengikuti arus. Demikian juga dengan kehidupan.
Kehidupan perlu dijalani dengan ringan dan ceria. Janganlah terlalu serius hingga menimbulkan stress dan depresi. Stress salah satu penyebab utama kematian. Bagaimana kita menyikapi atau menafsirkan apa yang terjadi pada diri kita. William Shakespeare pernah berkata bahwa tragedi adalah sebuah komedi yang tidak kita mengerti. Ini semua adalah tentang bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Seorang peneliti dari Harvard, Shawn Acre pernah mengatakan bahwa 75% dari pekerjaan dan keberhasilan akademik dapat diprediksi dari tingkat optimistik.Optimis tidak hanya untuk kesehatan secara fisik, tetapi juga dapat memulihkan lebih cepat dari penyakit dan hidup lebih lama. So be Happy!
Life is but dream (kehidupan hanyalah sebuah mimpi).
Nikmatilah perjalanan hidup yang singkat ini. Apakah kita menganggap hidup ini penuh kepahitan atau penuh keindahan tetap kita harus menjalankannya. Bedanya bila kita menganggap hidup ini penuh dengan keindahan maka kita akan bergembira dan bersemangat dalam menjalaninya. Karena hidup ini terlalu sebentar, bagaikan mimpi, hingga akhirnya kita akan bertemu kembali dengan Sang Pencipta, Life after the death, in heaven.
Sudahlah jangan terlalu serius, lagu ini pernah diparodikan oleh Rowan Atkinson dan Peter MacNicol pada film Bean The Movie yang dirilis tahun 1997….
Row, row, row your boat, Gently down the stream. If you see a crocodile, Don’t forget to scream.
—“Cogito Ergo Sum, Uncogito Ergo Sumsum.” (Aku berpikir maka aku ada, aku tidak berpikir maka aku mengada-ngada)
“Mathematics is not about numbers, equations, computations, or algorithms; it’s about understanding.”
Quick questions!
Ayo sebutkan siapa manusia pertama yang terbang ke luar angkasa? “Yuri Gagarin!”
Siapa orang Amerika pertama yang mengelilingi orbit bumi? “John Glenn!!”
Orang pertama yang menjejakkan kaki di bulan adalah? “Neil Armstrong!!!”
Kita semua pasti tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kita semua pasti pernah baca mengenai tokoh-tokoh bersejarah itu. Everyone talks about them, pria-pria yang paling pertama menjelajah ruang angkasa. Mereka adalah bagian penting dalam sejarah umat manusia. Tapi tahukah kita siapa yang bekerja di belakang sana, ilmuwan-ilmuwan yang membuat segala perjalanan meninggalkan gravitasi itu menjadi mungkin? Fokus kita enggak pernah mengarah kepada scientists yang manjat-manjat tangga nulis di papan itu, padahal mereka juga tak kalah pentingnya, and yea some of them are women. Dan untuk bikin hal lebih mengejutkan lagi, terutama di tahun 1960an yang penuh diskriminasi, ‘komputer-komputer’ di meja NASA tersebut adalah wanita berkulit hitam.
I didn’t really know much aboutKatherin G. Johnson, Dorothy Vaughan, Mary Jackson, atau beberapa tokoh sejarah lain yang diceritakan dalam film ini. On the other hand, aku selalu tertarik sama astronomi dan luar angkasa, and I kind of like math, jadi space movie yang ada matemnya benar-benar memancing rasa ingin tahuku. Rasanya keren aja, melalui film ini kita bisa belajar lebih banyak tentang para ‘hidden-figure’ yang berjasa di balik peluncuran manusia ke luar angkasa. See, judul filmnya ada udah fun abis. Punya makna yang mendua. Ini adalah tentang angka-angka rumus yang berhasil ditemukan to make the said breakthrough. Dan dalam artian yang lebih dalam lagi, Hidden Figures juga adalah tentang wanita-wanita di balik suksesnya NASA, wanita-wanita yang tersembunyikan oleh status sosial mereka di masa yang masih kental oleh prejudice masalah warna kulit.
Aku kadang recognized apa yang ditulisnya… so yea.. NERD! *sorakin rame-rame*
Dalam film ini tergambarkan bagaimana ketiga wanita yang kerja di NASA tersebut meski termasuk pelopor dalam kerjaan mereka, mereka actually masih harus kerap dealing with prasangka-prasangka publik, yang mana adalah hal lumrah kala itu. Dalam bekerja mereka menemui banyak kesulitan; rekan-rekan kerja yang tidak mengizinkan mereka melakukan kerjaan yang harus mereka lakukan, mereka tidak dikasih izin buat mengakses file-file tertentu. Mereka juga tidak diperkenankan berada pada beberapa lokasi di kantor. Katherine, malahan, harus berlari menempuh jarak yang lumayan jauh cuma buat ke kamar kecil karena kulit hitam ditempatkan di restroom khusus yang terpisah dari pegawai kulit putih. Everything is difficult for them. Hidden Figures adalah tentang seputar karakter-karakter ini navigate lingkungan kerja NASA, memecahkan masalah prejudicenya sembari menemukan formula matematika yang bisa digunakan dalam ‘perlombaan tak-resmi’ antarnegara adi-daya soal pengiriman manusia terbang ke angkasa luar.
Hidup itu kayak matematika. Setelah menambah dan mengurangi, kita akan bisa mendapatkan hasil. Dan lebih penting lagi, hidup, sebagaimana menyelesaikan masalah matematika, membutuhkan pengertian dan pemahaman.
Setiap film yang membahas mengenai masalah rasisme selalu cenderung untuk menjadi serius. Kebanyakan akan digarap dengan arahan yang membuat filmnya hanya cocok untuk konsumsi penonton dewasa, you know, dengan kata-kata tak senonoh dan adegan yang overly intense. Padahal sangatlah penting bagi anak-anak muda untuk menonton film dengan pesan yang baik seperti ini. Hidden Figures, untungnya, berani tampil sebagai film yang bisa ditonton bahkan oleh anak kecil. Film ini memastikan pesannya mengenai kesetaraan manusia tanpa mengenal perbedaan ras dapat mencapai dan accessible kepada seluruh lapisan masyarakat. Film ini tidak takut dianggap terlalu jinak atau terlalu family-friendly sehingga jatoh di pasaran. And guess what? Film ini justru tampil really well di box office luar, actually termasuk yang dapat penjualan paling baik di antara nominasi Best Picture Oscar 2017 yang lain. Hidden Figures adalah FEEL GOOD-MOVIE YANG DILAKUKAN DENGAN CARA YANG TEPAT. What you see is what you get, pesannya terhampar jelas.
Terkadang memang film ini terasa sedikit teatrikal, elemen stick-it-to-the-man benar-benar ditonjolkan. Namun tidak pernah menjadi terlalu oversentimentil. Maksudnya, kita tidak dimanjakan, filmnya tidak sekonyong-konyong nyuruh kita puas dengan menyajikan adegan-adegan di mana orang ‘jahat’ mendapat balasan setimpal. This is a feel-good movie, akan tetapi film ini berhasil ngemanage sehingga dirinya doesn’t get too unrealistic. Ada beberapa adegan di mana kita bakal pengen melihat tokoh-tokoh tertentu eventually really get what’s coming to them, dalam batasan yang masih wajar dan enggak lebay. Ini adalah jenis film di mana kita akan melihat tokohnya mencoba menggapai tujuan mereka, dengan cara mereka menghadapi tantangan, tidak peduli rintangan or everything else around them, dan menggunakan kemampuan mereka — dalam hal ini kepintaran otak kiri dan kanan yang seimbang – semaksimal mungkin. Ada satu adegan hebat dan sangat emosional dalam film ini, di mana Katherine akhirnya ngerasa ‘sudah cukup’ dan dia menyuarakan semuanya harus disudahi. Adegan tersebut punya flow yang really well. Membuktikan bahwa semua teknis storytelling; arahan, akting, dan penulisan bekerja dengan sangat mulus.
“ABC is easy as 123” Well, it should be. Right..?
Cukup langka melihat karakter-karakter seperti yang dimiliki oleh Hidden Figures dalam tayangan yang berdasarkan kisah nyata. Performances mereka pun teramat fantastis secara merata. Taraji P. Henson is very good memainkan Katherine, mathematician yang berpikir rasional di tengah keadaannya, she wants to get the job done because she loves what she does, dan dia menambah berkali lipat emosi pada karakternya. Sebagai Dorothy Vaughan ada Octavia Spencer yang selalu bermain amazing, perannya di film ngingetin aku sama perannya dalam film The Help (2011). Aku suka sekali reaksinya saat anak-anaknya diusir dari perpustakaan. Peran Mary Jackson oleh Janelle Monae juga punya obstacle sendiri dalam usahanya menjadi black female engineer pertama. Kita merasakan koneksi kepada orang-orang ini. Kita ngerasain struggle mereka, bahwa mereka bukan tokoh pasif. Kita ngecheer aksi ‘perlawanan’ mereka. Kita mulai menjadi begitu peduli sama mereka, sehingga kita jadi ingin nonjok muka tokohnya Jim Parsons.
Angin segar adalah kenyataan bahwa film ini tidak diarahkan menjadi cerita serius dengan some political agenda. In the end, ini adalah tentang gimana menghilangkan prejudice, gimana untuk tidak menjadi rasis, karena yang terpenting adalah mewujudkan keinginan bersama.
Karakter yang dimainkan oleh Kevin Costner bilang “Everybody in NASA pees the same color.” Itu adalah momen yang sangat keren menyaksikan orang yang punya mindset spesifik tentang gimana mereka memandang orang lain. Baginya it’s all about finishing the job dan semuanya harus work around prasangka rasis. Malahan ada tokoh seperti astronot John Glenn yang dimainkan asik oleh Glenn Powell, yang just don’t even recognized ada perbedaan di antara barisan mereka. Dia justru mempercayakan keberangkatannya kepada wanita-wanita ini.
Being a story yang mau memperkenalkan ketiga wanita berjasa tersebut, cerita Hidden Figures sayangnya tidak hanya mengambil tempat di kantor NASA (yang terdepict compelling dengan segala kesibukannya). Kenapa aku bilang ‘sayangnya’ karena actually film akan membawa kita pulang ke rumah tokoh masing-masing untuk melihat kehidupan mereka bersama keluarga. Di sinilah elemen romance film ini pasang-sabuk-dan-meluncur, namun I didn’t feel that. Romansa film ini tidak terflesh out dengan baik, tak lebih hanya sebagai subplot supaya membuat kita semakin terhanyut ke dalam the feel-good momen. Diniatkan, romansanya sweet banget. Harapnya, sih, ada spark antara Katherine dengan Kolonel Johnson yang diperankan dengan sangat charming oleh Mahershala Ali, namun enggak pernah aku terattach ke dalam hubungan mereka. Elemen drama cinta ini tidak menambah banyak bobot kepada keseluruhan cerita. Film ini menyadari itu, makanya dengan bijak kita dibawa sesegera mungkin kembali ke lingkungan NASA. Sisi dramatis film ini sesungguhnya memang terletak di perjuangan Katherine dan teman-temannya dalam menemukan terobosan dalam aerospace engineering.
Yang suka film-film historical science bakalan jatuh cinta sama film ini. Setelah membaca tentang sejarah mereka lebih lanjut, sepertinya memang film ini secara sejarah lumayan akurat untuk sebagian besar waktu. Dalam usahanya menyampaikan pesan kesetaraan dan tidak membeda-bedakan demi kepentingan yang lebih utama, film ini mengambil langkah berani, take-off dengan menjadi family friendly alih-alih film yang menunjukkan keseriusan dengan serentetan kata vulgar dan adegan ‘keras’. Tentu, drawbacknya adalah film ini jadi menjurus ke teatrikal, namun it holds on the tension dan intensitas very well. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for HIDDEN FIGURES.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners And there are losers.
“Boundaries don’t keep other people out, they fence you in.”
Entah itu untuk menjaga agar pihak luar enggak bisa sembarangan masuk, atau supaya yang di dalem enggak bisa sekonyong-konyong ngelayap ke luar, orang membangun pagar dengan alasan keamanan.
Rose Maxson mengingatkan suaminya, Troy, untuk segera menyelesaikan pagar di halaman belakang rumah mereka. Rose wants to keep her family together. Troy, sebaliknya, lebih melihat kegunaan pagar sebagai poin yang pertama; to keep things out. Dan as much as dia fearless dan percaya kepada kebebasan, being a negro membuatnya terbatas dalam beberapa hal, Troy membuat pagar lebih kepada bentuk pembuktian that he’s capable of providing his family. He wants to keep people out jauh-jauh dari pahamnya sendiri. Dualitas simbolisasi pagar adalah garis batas yang mengelilingi cerita film yang diangkat dari drama teater ini. Troy dan Rose adalah pasangan suami istri yang hidup di daerah urban amerika 1950, and this film tells how they live their live dengan segala problematika dan strugglenya.
Cukup lucu banyak orang yang meragukan film ini disebabkan oleh filmnya sendiri hanya berupa serangkaian SEKUENS DIALOG-DIALOG PANJANG di lokasi yang di situ situ melulu. Terasa sekali seperti play yang disadur ke media film. Dalam film ini yang akan kita lihat adalah orang-orang beragumen atau saling bercanda, bernyanyi, ataupun lagi mendongeng. Padahal, banyaknya dialog tidak pernah jadi penghambat sebuah film yang ditulis dengan sangat hebat. I mean, lihat saja 12 Angry Men (1957) atau Carnage (2011)nya Roman Polanski atau sesama adaptasi teater August: Osage Country (2013), some of the best movies of all time menampilkan dialog demi dialog maha-panjang set in one or two locations. Fences tidak pernah keluar dari pagar environmentnya, dan itu pulalah yang bikin kita tersedot masuk terus ke dalam cerita.
Sekuens percakapan panjang dalam film ini were so well-crafted, emosi kita akan dibawa turun naik olehnya, kayak, percakapannya dimulai dengan ringan, kita tersenyum dan tertawa bersama para tokoh, sampai kemudian seseorang mengatakan sesuatu. Atau mungkin mereka cuma ngelakuin hal yang not necessarily gak-sopan, misalnya anak Troy yang menatap ayahnya dengan pandangan yang sedikit merendahkan, and snap! Semuanya berubah menjadi gak-enak dan Troy, oh boy, bapak yang satu ini akan berubah menjadi seorang yang lantas marah-marah; galak dan keras kepala.
Pagar ngehajar tanaman
Kunci film seperti ini selain di writing, juga terletak pada performancenya. Film ini punya beberapa penampilan terbaik yang bisa kita saksikan di 2016. Denzel Washington, menyutradai sekaligus memerankan Troy, bermain luar biasa brilian dengan range emosi yang fleksibel dan powerful. Tokoh Troy adalah pribadi yang sangat kompleks. Aku suka karakter yang satu ini terus bicara soal dia mengalahkan Kematian di pintu rumah, karena itu actually adalah momen yang nunjukin betapa vulnerablenya dia sebagai kepala keluarga. Babak pertama film mengestablish dia sebagai pria yang bertanggung jawab, pekerja keras, pria yang bercerita tentang gimana dia melaksanakan kewajiban dan menuntut haknya. Troy adalah good old fashioned man yang mencoba untuk provide to his family need, menyediakan atap bagi mereka, memastikan makanan tersaji di atas meja. Kita merelasikan diri kepadanya easily. Namun sepanjang film, kita akan mendapat informasi tersirat bahwa Troy punya banyak cela. That he’s not that great of a person. Dia terus saja menjatuhkan anak-anaknya (even sahabatnya sendiri) dengan batasan yang menegasi keputusan mereka. Kita perlahan belajar siapa diri Troy lewat backstory yang diceritakan dengan subtle; apa yang ia hadapi, how he was raised, dan kemudian masalah mulai menimpa keluarganya. Semua itu, semua pemahaman yang kita dapatkan terhadap karakter Troy akan terasa sangat menyayat hati.
Penampillan akting dalam film ini sungguh kuat, membuat pengalaman nonton kita menjadi berlipat lebih dahsyat, secara emosi. Aku suka gimana film ini, dengan kodratnya sebagai sebuah sandiwara teater, memberikan banyak ruang bagi setiap karakter untuk bertumbuh. Viola Davis sebagai Rose tentu saja pantes banget-banget untuk dinominasikan ke Oscar. In fact, Denzel Washington dan Viola Davis teramat loud dan explosive. Namun begitu, mereka tetap terasa genuine karena kalo kita bawa ke dunia nyata, memang seperti yang mereka portray jugalah reaksi pasangan yang dealing masalah mereka. That there’s gonna big dramatic moments. Tanpa bisa dielakkan. Ada banyak momen di dalam film ini di mana aku sempat lupa sedang menonton sebuah film. And that feeling is so rare dibandingkan film sekarang yang kebanyakan dramanya terasa orchestrated dengan really memancing rasa kasihan kita.
cue “Aaaauuuummmm” in one, two,…
Fences juga menyinggung tentang gimana lingkungan sekitar kita turut membentuk pribadi kita. Ini tercermin dari sikap Troy dan sikap anaknya, Cory. Kedua orang ini sama-sama tumbuh menjadi atlet baseball, only dalam jaman yang berbeda. Dan itu actually membuat perbedaan yang sangat besar. Sebagai manusia, naturally, kita mewariskan apa yang sudah membentuk kita. Inilah menjadi problem, karena orangtua will eventually ‘mewariskan’ apa yang sudah ia alami kepada anak-anak. Entah berusaha mendoktrin agar tidak seperti orangtuamereka, ataupun to pass the ‘legacy’. Begitu juga saat anak-anak tersebut dewasa, mereka pada akhirnya akan melanjutkan hal yang sama turun-menurun.
Turunan kesalahan menjadi tema berulang yang kerap muncul dalam elemen cerita. Kesalahan orangua seringkali menjadi sumber dari masalah, atau katakanlah derita, yang dialami oleh anak-anak. Ada satu kalimat dari Rose yang menyatakan di sisi mana film ini berdiri, “You can’t visit the sins of the father upon a child.” Film ini percaya bahwa dosa generasi yang satu tidak mesti dibawa turun ke generasi berikutnya. Bahwa sebuah generasi bisa tumbuh lebih baik dari sebelumnya, tidak perlu menjadi seperti mereka. In that way, Rose tidak ingin ada pagar, dan ini memberikan konflik dengan outer journey di mana dia yang ingin membangun pagar. It is also make an ever greater konflik, karena apapun yang Rose pilih, pagar atau tanpa pagar, selalu bertentangan dengan prinsip Troy.
Tidak banyak suara kita dengar membahas kiprah Denzel Washington sebagai seorang sutradara. Film ini, however, membuktikan bahwa Denzel adalah director yang lebih dari sekadar mumpuni. Dia baru punya tiga dalam gudang film panjang karyanya, dan Fences actually adalah film terbaik yang ia hasilkan sejauh ini. Arahan Denzel benar-benar berhasil memancarkan hati dan emosi dengan ledakan yang tak terasa over heboh. Fences adalah film tentang keluarga, setiap adegannya adalah adegan ngobrol sambil duduk-duduk di halaman belakang, di teras rumah, ataupun di meja makan. Tapi film ini managed tidak sekalipun kita melihat adegan mereka ngobrol over sarapan atau dinner atau lunch. I mean, bandingkan deh dengan film Indonesia di mana sepertinya adegan ngobrol dengan occasion duduk ngeliling sambil makan menjadi sebuah pakem film. Kalo enggak ada makan-makannya, gak rame!
Meski begitu, ada satu momen dalam film ini yang mengkhianati segala rasa compelling dan aura realitanya. Momen tesebut datang di adegan penutup. Kita lihat keluarga Maxson menengadah langit, diiringi terompet rusak, mereka memandang awan yang, ah lihat sendiri deh. Alih-alih mendatangkan rasa hangat di hati, malah membuat film menjadi cheesy dan jadi terkesan fake.
Selain masalah di ending tersebut, ini tidak lain dan tidak bukan adalah film yang excellent. Mengajarkan tanggungjawab dan sejauh mana batasan tanggungjawab itu sendiri sebaiknya kita apply. Film ini menyuguhkan penampilan luar biasa dari setiap aktornya. Apa yang paling aku suka adalah, sama seperti teater, ada banyak ruang luas tak-berpagar yang disediakan naskah untuk pengembangan dan penampilan para tokoh. Drama keluarga yang sangat memilukan dan indah karena tersaji dengan perasaan yang nyata. The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 for FENCES.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners And there are losers.
Hal terbaik dari film yaitu menontonnya merupakan personal experience. Film adalah seni, sifatnya sangat subjektif. Kita bebas menyukai film apapun, meski begitu kita harus recognized flaws yang ada di dalamnya. 2016 bukanlah tahun yang hebat jika kalian penggemar film-film blockbuster, tho. Banyak dari franchise berbudget gede tersebut yang gagal – secara kritikal maupun secara pasar. Dan aku masih belum habis pikir kenapa film tentang dua superhero ikonik bisa lebih jelek ketimbang film tentang cewek yang baca novel.
Secara diversity, kita dapet wide range of film-film yang unik, for better or worse. Ada lebih dari satu film tentang kucing, kita nyaksiin banyak drama tentang ibu dengan anaknya, especially the daughter, para superhero either seling berantem atau bikin grup, western genre mulai menggeliat berusaha bangun, animasi yang got real mature dari segi cerita – dan wah! dari segi visual. Dari panggung Indonesia, konten lokal mulai berani digali, however, nostalgia masih menggila
Aku menonton banyak film tahun 2016 yang menurutku dioverlook oleh banyak orang. Regarding to the filmmaking, aku sangat senang melihat banyak film yang berusaha bercerita di luar pakem genrenya. Kita melihat film emosional yang tampil tanpa banyak bicara, horor yang fokusin ke rasa takut dari dalam diri manusia, film alien tanpa tembak-tembakan, you know ada banyak film yang so different dan unconventional dan original dalam cara bertuturnya.
Mengerucutkan film kesukaan menjadi delapan menjadi hal yang semakin menantang. Sebelum mencapai mereka, simak dulu sederetan film hebat yang sebenarnya ingin sekali aku masukin ke daftar but didn’t quite make it.
HONORABLE MENTIONS:
– Swiss Army Man(komedi satir yang punya ide dan cerita yang sangat original)
– Zootopia(makin ke sini, animasi ini menjadi semakin penting berkat kerelevanan cerita yang diangkatnya)
– Popstar: Never Stop Never Stopping(mockumentary tentang penyanyi pop dan pretty much marodiin bisnis musik sekarang ini)
– Ouija: Origin of Evil(best horror sequel of the year! Directionnya berani keluar arus, dan really took times memperhatikan detil dalam filmmaking)
– Hush(whiteknuckled thriller tentang cewek tunarungu yang distalk oleh seorang pembunuh)
– The Invitation(psychological thriller yang really sneak up on you)
– 10 Cloverfield Lane(psikologikal thriller yang satu ini bagaikan anti dari Allegory of the Cave)
– Hunt for the Wilderpeople (penuh dengan interaksi dan gestur yang so funny!)
– Hell or High Water(film yang emosional dan felt real yang bicara tentang ambiguitas moral)
– Silence(film yang sangat kompleks dan emotionally gutting tentang gimana orang yang mengalami krisis keimanan, one of the Scorsese’s best!)
– Moonlight(a really mature, genuine, dan beautiful way menceritakan cerita tentang perjalanan hidup, about a self-healing)
– Manchester by the Sea(drama yang paling realistis yang pernah kutonton, diisi oleh performances yang incredibly brilliant!)
– Arrival(sci-fi yang sangat unik, membahas tentang bahasa, untuk bekerja sama, dan ultimately tentang menghadapi masa depan yang menakutkan)
– Captain America: Civil War(it wasn’t just about battle and action, ada konflik hebat yang compelling di dalamnya. Film box-office seharusnya seperti ini!)
– The Neon Demon(tentang obsesi pada beauty, film yang perlu ditonton oleh semua cewek)
– Captain Fantastic(punya banyak ide menarik seputar parenting, adegan musical menjelang akhir terasa sangat surreal dan menyentuh, nyaris bikin aku nangis!)
– Surat dari Praha(untuk sebagian besar 2016, ini adalah film Indonesia yang kuberi rating paling tinggi, 8/10 – it’s about rekonsiliasi dengan orang yang kita cinta)
– Istirahatlah Kata-Kata(film indonesia kedua di 2016 yang kuberikan 8/10, emosi filmnya benar-benar terasa lewat hamparan visual)
– Hacksaw Ridge (film perang denagn arahan yang gritty dan so terrific, juga punya pesan yang ngena dan relevan dengan keadaan sekarang)
– Nocturnal Animals(the ultimate ‘suck it up’ buat mantan, film ini punya storytelling yang sangat unconventional)
Dan special shout out diberikan buat Ada Apa Dengan Cinta 2 yang udah mecahin rekor jumlah view terbanyak review kami.
8. DEADPOOL
Director: Tim Miller Stars: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, T.J. Miller MPAA: R IMDB Ratings: 8.1/10 “You’re probably thinking, “My boyfriend said this was a superhero movie but that guy in the suit just turned that other guy into a fucking kabab!” Well, I may be super, but I’m no hero.”
Salah satu adaptasi terbaik dari komik yang menjelma ke layar besar. Menangkap dengan sempurna tone, the feels, dari karakternya. Sekali lagi, film blockbuster ya seharusnya seperti ini. Awalnya aku memang agak meragukan, tapi kemudian, baru nonton adegan openingnya saja I know this would be great superhero movie. Eh, super tapi bukan hero, ding!
Film Deadpool adalah Deadpool itu sendiri. Dia kurang ajar, kasar, suka ngatain orang, selera humornya seringkali keterlaluan, seksual innuendo nya kentara sekali, enggak baik buat anak-anak deh pokoknya. Deadpool bisa dibilang anti-hero dalam dunia Marvel, kita tahu dia aneh, mentalnya seperti agak terganggu, protagonis yang ngelakuin hal-hal tercela, tapi kita cinta. Thus, membuat filmnya menjadi kurang ajar juga. In fact, kurang ajar adalah seni pada film ini. The writing is so good. At the heart, dan percayalah sekasar dan sekurangajarnya Deadpool, film ini masih punya hati kok.
My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=DVMVWQIfT88
Opening yang efektif sekali menunjukkan siapa sih Deadpool itu? Nyeleneh, kocak, dan yea dia bukan hero.
And oh btw, review Deadpool kami menangin kontes review dari Cinemags!
*slow-clap*
7. KUBO AND THE TWO STRINGS
Director: Travis Knight Stars: Art Parkinson, Charlize Theron, Matthew McConaughey MPAA: PG IMDB Ratings: 7.9/10 “If you must blink, do it now.”
Kubo and the Two Strings bukan hanya peduli soal seperti apa rasanya jadi seorang anak, film ini juga punya hal penting yang ingin disampaikan seputar persoalan tersebut. It is an action packed, extremely fun adventure film. Beautiful to look at, yang engage it’s audience untuk berpikir. Kubo adalah animasi stop-motion yang sangat fantastis.
Lewat kekuatan Kubo yang involving seni melipat kertas dan tema ceritanya sendiri, film ini akan meminta anak kecil untuk menggunakan imajinasi mereka. So they can see beyond our physical world. Mengajak anak kecil untuk berkhayal sehingga mereka mengerti dan siap akan sesuatu hal nyata yang sangat penting; kematian orang yang kita cintai. Memang sih, anak-anak kecil mungkin saja belum nangkep aspek cerita yang lebih ‘serius’ ini until they get older, but at least mereka sudah ‘dipersiapkan’ sambil tetap terhibur. Karena film ini worked on multiple levels.
Petualangan Kubo bersama si Monyet, si Kumbang, dan si Prajurit Kertas mencari tiga senjata legendaris untuk mengalahkan kekuatan jahat dari masa lalu akan bikin penonton cilik betah. Kita juga bisa menonton film ini sambil mikirin deeper messagenya.
My Favorite Scene:
Aku paling ngakak di momen ketika Kubo dengan semangat swinging pedang ke sana kemari dan just dishoot down sama si Monyet yang selalu serius.
6. EVERYBODY WANTS SOME!!
Director: Richard Linklater Stars: Blake Jenner, Zoey Deutch, Glenn Powell MPAA: R IMDB Ratings: 7.0/10 “We came for a good time, not for a long time.”
Film ini kayak kita, sometimes it’s dumb. Kita selalu cenderung untuk menganggap segala hal sebagai sebuah lomba. Appeal tergede bisa jadi adalah buat penonton pria karena tentang persahabatan cowok, but take notes, girls! Everybody Wants Some!! bener-bener menangkap gimana cowok menyelesaikan masalah mereka; Enggak pake diem-dieman kayak cewek kalo lagi berantem. Dalam dunia cowok; kalo ada slek, langsung turning it into a fight. Dan voila! masalahnya beres dan move on mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan pertandingan lagi.
Hanya ada sedikit adegan yang nunjukin mereka bermain baseball karena ini memang bukan film olahraga. Majority adegan adalah mereka ke klub, minum-minum, ngasep, ngeceng, party, yah having fun khas anak muda sonolah. Dalam tiga hari saja mereka udah ngunjungin empat pesta loh haha! Yang bikin berbeda adalah pendekatan nearly-philosophical yang film ini lakukan. Dengerin deh, di balik bego-bego yang mereka lakukan, dialog yang terucap punya makna yang mengena
Arahannya membuat semua terasa natural. Selalu ada sesuatu yang terjadi di background setiap shotnya. Sangat lucu dengan komedi yang enggak lebay, romantizing yang tepat sasaran. Yang ingin film ini sampaikan adalah manusia memilih mengerjakan sesuatu hal karena hal tersebut membuat mereka jadi memiliki arti.
My Favorite Scene:
Sums the movie perfectly; precise and awesome!
5. THE NICE GUYS
Director: Shane Black Stars: Russel Crowe, Ryan Gosling, Angourie Rice MPAA: R IMDB Ratings: 7.4/10 “You’re the world’s worst detective.”
Film seger ini membuktikan kita tidak perlu ledakan untuk menikmati action. Dialognya kocak, aksinya seru, misterinya nyedot perhatian, ceritanya bagus, karakter-karakternya di-handle dengan baik. Penulisan dan arahan film ini was so on-point.
Ini adalah action klasik dua detektif yang berujung menjadi teman. Menariknya The Nice Guys adalah tidak banyak perbedaan antara kedua tokoh ‘hero’ kita. Mereka sama-sama pecandu alkohol. Mereka sama-sama punya masalalu yang tragis. Mereka mengerti seperti apa di Los Angeles. Mereka mengerti aturan mainnya. Karena itulah mereka playing off of each other so good. Segar dan tidak-biasa. And of course, their performances. Chemistry nya, makjaaangg, Ryan Gosling dan Russel Crowe work magic together.
The Nice Guys juga punya satu tokoh anak kecil yang bersikap jauh lebih mature dibandingkan umurnya. Holly, putri kecil si Holland, kerap membantu Holland dan Healy dalam berbagai misi mereka. In fact, peran Holly lumayan besar, like, misi mereka seringkali terancam gatot jika bukan karena Holly. Peran ini dimainkan dengan sangat amazing oleh Angourie Rice. She really sells her character well. Like, soo greaaatt. Tokoh ini terasa sangat real dan otentik. So perfect and so fun. The script is incredible. Sudah jarang sekali kita ngeliat cerita kayak gini.
My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=-LT8i_88A00
Saking gak kompetennya, Holland March mixed up kejadian di dalam mimpinya dengan kejadian di dunia nyata hahahaha
4. LA LA LAND
Director: Damien Chazelle Stars: Ryan Gosling, Emma Stone, J.K. Simmons MPAA: PG-13 IMDB Ratings: 8.6/10 “Here’s to the ones who dream / Foolish as they may seem. / Here’s to the hearts that ache. / Here’s to the mess we make.”
Jelas sekali Damien Chazelle terinspirasi oleh musik. Dan sebagai filmmaker yang masih terhitung muda, tampak benar dia mengerti gimana rasanya menginginkan mimpi, passion, terwujud. Dia mengerti godaan, struggle, dan ultimately pengorbanan yang harus dilakukan agar mimpi tersebut menjadi nyata. Dan film ini sukses berat menceritakan semua tersebut dengan balutan musikal yang hebat. Adegannya mengalun seamlessly. Semulus para pemain menghidupkan perannya. I mean, performances dalam film ini sungguh gemilang. Enggak salah kalo film ini diganjar, bukan hanya Best Director, namun juga Best dari penampilan kedua leadnya. Ryan Gosling is always so awesome, ditambah oleh sangat mesmerizing gimana dia memainkan piano itu. Dan Emma Stone memberikan performance terbaik dalam karirnya, sejauh ini.
Genre musikal bukanlah genre film yang paling aku sukai. Namun hal ini bukannya jadi penghalang bagiku untuk menyukai La La Land. Because this is a well-made film. Musical numbers dalam film ini tidak pernah terasa annoying. Dan oh, betapa cantiknya. Los Angeles, kota para bintang, sangat rupawan tergambar oleh film ini.
Namun demikian, apa yang paling aku suka, melebihi kualitas teknikal dan penampilannya yang luar biasa, adalah film ini mendorong penontonnya untuk mencapai impian mereka masing-masing. Ini adalah surat cinta kepada orang-orang yang penuh passion.
My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=RvWhKWhFWoc
Lagu Audition terasa personal sekali, namun adegan Sebastian dan Mia bernyanyi dan menari dengan latar belakang sunset L.A. sungguh sebuah pemandangan yang indah, penuh arti, dan sangat playful.
3. SING STREET
Director: John Carney Stars: Ferdia Walsh-Peelo, Lucy Boynton, Jack Reynor MPAA: PG-13 IMDB Ratings: 8.0/10 “Your problem is that you’re not happy being sad. But that’s what love is, Cosmo. Happy sad.”
Satu lagi musikal dalam list ini, aku juga surprised loh. Meski memang ‘aliran’ Sing Street ini berbeda dari La La Land, namun tetap senada.
Dengan cara tak biasa, mengolah premis sederhana – cowok yang ingin menarik perhatian cewek dengan main band, hanya saja dia tidak punya band. – menjadi drama remaja yang bittersweet namun kuat penuh heart and soul. Tidak ada nada sumbang dalam film ini. Tapi itu hanya satu dari sekian banyak cara kita menikmati film ini. It was so beautifully written. Penuh great humor, pula. Dengan lagu-lagu yang catchy, yang menyuarakan ambisi Connor, ketakutannya, romantic feelings, his growing pains, akan tetapi membuat film ini tidak terasa pretentious.
Kita juga bisa melihat film ini sebagai drama pembebasan diri dari sebuah sistem. Karena pemusik pada dasarnya adalah pemberontak. Dan eventually, film ini bisa dibaca sebagai drama persaudaraan kakak-beradik yang sangat emosional. Film yang terbaik adalah film dengan banyak elemen yang saling berlapis. Each of Sing Street’s stories berkumpul manis di akhir, pada lokasi yang disimbolkan oleh lautan lepas. Yang mana film ini berakhir dengan sangat rewarding sebagai sebuah suara harapan yang menginspirasi benak-benak muda untuk mengekspresikan mimpi.
My Favorite Scene:
Aku kena banget ama percakapan yang intens, hearwrenching, dan emosional antara Connor dengan abangnya menjelang babak akhir.
2. THE WITCH
Director: Robert Eggers Stars: Anya Taylor-Joy, Ralph Ineson, Harvey Scrimshaw MPAA: PG-13 IMDB Ratings: 6.7/10 “Wouldst thou like to live deliciously?”
Kita akhirnya sampai di era kebangkitan film-film horor yang dibuat secara artistik! Jump-scares pergi jauh-jauh!!
Bukan hanya tentang sosok nenek sihir mengerikan, tapi juga bagaimana kehadirannya mempengaruhi kehidupan. Kita akan melihat dampak yang disebabkan oleh keberadaan makhluk tersebut keluarga Thomasin. Kita akan menyaksikan keutuhan keluarga yang tercabik-cabik, mereka saling curiga, feeling insecure dan unsure atas apa yang terjadi. I love this movie, sungguh horor yang hebat, penuh suspens dari awal hingga akhir.
Lewat stylenya, film ini sungguh menangkap esensi menyeramkan dari situasi yang horrible. Nuansa klaustofobik yang kental. Film ini membuat kita merasakan environment New England 1630annya sebagai suatu tempat yang nyata. Seolah kita berdiri di tengah-tengah mereka. Musiknya really creep up on us. Long takes dengan shot-shot lambat yang bikin kita penasaran meski dalam hati makin takut dan enggak nyaman. Skema warnanya juga merefleksikan depresi yang dialami tokoh-tokohnya sehingga situasinya semakin terasa mengerikan.
Kalo di Indonesia, mungkin film ini bisa dikategorikan sebagai religi horor. Ketaatan beragama diperlihatkan sebagai desperate attempt yang dilakukan oleh keluarga Thomasin. And it tends to get disturbing. Sejatinya,The Witch adalah cerita tentang feminine empowerment yang seolah di-craft dengan sihir hitam.
My Favorite Scene:
Anya Taylor- Joy made a breakthrough lewat penampilannya dalam film ini. Namun ada satu scene yang dicuri oleh Harvey Scrimshaw yang jadi adek Thomasin. Adegan ini scared the crap outta me, a really jawdropping performance.
Oh betapa salahnya diriku yang berpikir animasi 2016 dipegang hanya oleh Zootopia dan Kubo and the Two Strings. Beneran, aku gak expecting anime yang satu ini sebagai tontonan yang luar biasa. Turns out, this movie really touched me.
Inilah film 2016 peringkat pertama kami:
1. YOUR NAME
Director: Makoto Shinkai Stars: Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Ryo Narita MPAA: – IMDB Ratings: 8.7/10 “Treasure the experience. Dreams fade away after you wake up.”
Punya keunikan penceritaan yang luar biasa, sampai-sampai aku tidak bisa menemukan apa yang aku tidak suka dari animasi yang cantik jelita ini. Aku enggak pernah melihat drama tukar-tubuh diceritakan dengan cara seperti yang dilakukan film yang judul aslinya Kimi no na wa. Humornya yang beda bekerja sukses, drama emosionalnya bekerja sukses, aspek misteri dan mekanisme dunianya bekerja sukses, everything works out great in this movie. Your Name punya cara yang hebat sehingga transisi antara bagian yang kocak dan fun dengan part of story yang lebih serius, emotionally powerful, dan ultimately penuh suspens menjadi mulus tak terasa.
Dengan cara unconventional tersebut, film ini examining today’s youth culture dan apa yang bisa membuat dua orang jatuh cinta meski jika mereka belum pernah bersua.
Yang berhasil dicapai oleh Makoto Shinkai pada filmnya ini adalah betapa accessiblenya film ini buat banyak lapisan penonton; ceritanya tidak terlalu abstrak. Film ini imbued with elemen mimpi. Juga ada banyak simbolisasi yang memparalelkan antara kejadian di alam semesta, mekanisme dunia film ini, dengan hubungan yang dimiliki oleh kedua tokoh leadnya. It never gets too confusing, malahan semakin menarik kita. Tidak membiarkan kita terlepas sedetik pun dari ceritanya. Namun, tidak seperti mimpi yang lebih sering terlupakan saat kita bangun, film ini akan terus terngiang di kepala. Bahkan saking kuatnya sehingga kamu-kamu bisa saja bermimpi tentangnya. Please, cari dan tonton film ini. Aku yakin kalian akan menemukan pengalaman menonton yang amat sangat menyenangkan.
My Favorite Scene:
Semua dari animasi yang digambar dengan cantik ini amat menyenangkan. Rangkaian montase yang sweet dan kocak sebelum babak kedua akan memberikan kita a whole new meaning dari phrase “try walk in my shoes”. Ini bukan soal si cewek ntar jadi tomboy, sedangkan yang cowok jadi feminin. It explores more. Kita akan menyaksikan apa yang tadinya kebingungan berubah menjadi kerja sama. Lovely!
Jika rajin ngikutin blog ini (TERIMA KASIH BANYAK! :D), kalian akan tahu bahwa hampir semua film tersebut sudah aku review, so yea, fell free to hit the search button. Aku yakin beberapa dari film dalam daftar delapan-besarku belum banyak yang kalian tonton. Karena memang film-film tersebut just fly off the radar, malah tidak semuanya sempat ditayangkan di bioskop sini. Apa yang mau kubilang adalah; masih banyak yang bikin film-film bagus. Mereka tidak ‘terlihat’ karena kalopun sempat masuk ke bioskop, they got tanked karena yang nonton cuma sedikit. In fact, banyak film bagus – luar maupun dalam negeri – yang suffer from keignorant kita. Jadi, berhentilah menonton film-film horor jump-scares atau komedi bego (jorok pula!) atau drama kacangan yang hanya jualan jalan-jalan. Dan ketahuilah, kita enggak akan pernah dapat film adaptasi video game yang bagus. Pilihan dan sambutan penontonlah yang menentukan apa yang bakal tayang. Aku pun feel bad nonton film bagus yang enggak tayang dengan ngedonlot because I really want to support them.
Semoga di tahun 2017 nanti, film-film bermutu mendapat tempatnya yang layak di layar bioskop!
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are…
“Tradition is not to preserve the ashes, but to pass on the flame.”
Tradisi enggak berarti banyak jika tidak ada lagi yang mengapresiasi, begini kiranya kemelut hati Kho Huan. Jadi buat apa disimpan?
Hari itu, tiga penghuni rumah-merangkap sanggar kesenian Kho Huan kedatangan tiga surat. Surat buat dirinya, ia biarkan begitu saja. Cuma undangan lomba barongsai, lagi. Kho Huan sudah lama jengah sama kesenian tradisional tersebut, beliau menyalahkan barongsai atas kepergian istrinya, dan tontonan musiman itu juga semakin hari semakin seret ngasilin duit, selain dengan dijual. Padahal Kho Huan – sekarang nekunin usaha bikin furnitur kayu – butuh banget duit, supaya putranya, Aguan, bisa menjawab surat dari Universitas di Singapura. Aguan lagi cengar-cengir melototin selembar jawaban mimpinya. Mereka berdua tidak ada yang peduli isi surat tunggakan spp dari sekolah untuk adek cewek Aguan yang masih SMA, karena Ai memang menyembunyikan suratnya.
The Last Barongsai adalah cerita tentang struggle satu keluarga keturunan Tionghoa hidup di Tangerang masa kini, yang mana terkadang cuma mimpi dan tradisi yang jadi harta berharga. Drama film ini mulai mengambil tempat sesegera mungkin setelah Aguan tahu dari adeknya – dalam sebuah adegan sparring kungfu ringan (atau tai chi?) yang so subdued namun somewhat intens – bahwa ayah mereka menolak undangan lomba barongsai dengan alasan kompetisi tersebut tidak bisa menerbangkan Aguan ke Singapura. Mengerti betapa besar arti barongsai bagi mereka, Aguan sets out ngumpulin kembali para pemain sanggar mereka buat ikutan lomba. Dan ini membuat Kho Huan marah. Ini adalah KONTES SENGIT ANTARA REALITA DAN TRADISI. Melihat keluarga ini worked out their problems lewat banyak teriak dan air mata bisa menjadi sangat menyentuh, terutama menjelang akhir. Drama keluarga ini sebenarnya capable to floored us berkat konfliknya yang grounded.
Jika kita ngestrip down kepada karakter-karakternya, The Last Barongsai adalah film berlapis dengan penokohan yang cukup kuat dan dihidupkan oleh performances para tokoh yang secara seragam bagus. Terutama Kho Huan yang cintanya dimakan barongsai dan Ai, the left-out daughter. Kita bisa lihat sebenarnya Kho Huan sangat menyayangi anaknya, kita bisa rasakan konflik perasaannya. He just can’t rely on barongsai anymore, dia benar-benar kerja keras bikin furniture kayu sambil sesekali ngesabotase latihan Aguan dan tim. Tyo Pakusadewo benar-benar mengangkat film ini dengan penampilannya yang berapi-api.I like how he just snap his heart out di meja makan. Di akhir cerita kita jadi ikutan tenang saat Kho menemukan cintanya yang hilang, berkat anak-anaknya. Ai diperankan oleh Vinessa Inez dengan sama berapinya, but she’s like more contained. Dia begitu ingin buktikan diri bisa ngelebihin kakaknya, but even the thought of that membuatnya semakin merasa neglected. Dia kayak ingin menjerit tapi tidak tahu ke siapa. Sedangkan karakter Aguan, pertama-tama aku enggak bisa nangkep arahnya ke mana. Dion Wiyoko terasa bermain lebih datar di sini. Baru di pertengahanlah aku realized dia adalah karakter yang salah-dimengerti. His frustration connects with us, loud and clear.
Dalam film ini kita juga melihat beberapa penampilan spesial. Beberapa mereka muncul tidak hanya sebagai cameo namun adalah kehadiran yang actually important. Mereka memberikan pelajaran buat karakter-karakter lead, dan tentu saja kepada kita yang nonton. Penampilan komedik yang hadir pun tidak pernah terasa mengambil alih. Film ini ngehandle tone emosional drama dan komedi dengan sangat mulus, tidak terasa episodic. Meskipun ada juga penampilan spesial yang enggak benar-benar add something kepada cerita, it was just like “hey, aku yang main di drama remaja terkenal itu loh, I’m relevant so I’m gonna make this movie relevant too with my presence”
itu oplet mandra?? Oh aku honestly seneng ngeliatnya masih bagus
Salah satu penampilan spesial tersebut adalah dari pemilik rumah produksi, Rano Karno. Bermain sebagai teman Kho Huan sesama battered-down seniman, Rano Karno adalah kontras dari tokohnya Tyo. Lewat tokohnya, film sedikit menyentil soal terkadang kita harus menyerah dan mulai mengerjakan apa yang orang-orang mau alih-alih keinginan kita, meskipun itu hal yang susah untuk dilakukan. Film ini juga mematrikan kepada kita bahwa kehidupan yang beragam penuh toleransi itu sangat mungkin untuk dilakukan, seperti hubungan antara Aguan dengan rekan barongsainya yang diperankan oleh Azis Gagap. Benar-benar sebuah hubungan akrab yang based-on mutual respect.
Isu yang relevan yang berusaha diangkat, bahwa tradisi – apapun itu – selalu adalah prioritas. Kita tidak menyimpan, kita justru harus terus mengobarkannya. Dan adalah diversity sebagai tradisi yang harus kita pertahankan, because that’s what make us strong in the first place.
Hanya saja, all-in-all aku kecewa sama The Last Barongsai. Menurutku film ini tidak mencapai kemampuan bercerita yang maksimal. Padahal kita bisa lihat, film ini ngerti dan tahu menyelaraskan tone. Cerita dari tokoh Rano Karno yang sekarang nyesal jadi montir sesungguhnya intriguing. Backstory tokoh Azis tentang kenapa dia awalnya menolak main barongsai lagi dibeberkan dengan build ups. Ketika pada akhirnya kita learned alasan tepatnya kenapa Kho Huan enggak mau ikutan lomba meski butuh uang, momen yang tercipta terasa powerful. Film ini punya kemampuan untuk bercerita dengan subtle. Tapii, untuk sebagian besar waktu kita mendengar dialog-dialog yang ‘CEREWET’ OLEH EKSPOSISI. Kualitas dialognya, tho, terlihat seperti fokus penulisannya antara ingin terdengar ‘gede’ oleh kata-kata emosional, dengan buat jelasin semua sedetil-detilnya. I mean, apakah perlu kita mendengar gimana Aguan bisa dapet balasan surat beasiswa?
Kupikir ini ada hubungannya dengan cara film memperkenalkan kita kepada tokoh-tokoh minor. Eventually itu tentu berhubungan dengan cara film ini ngenalin ke kita akar konfliknya. Kita ngikutin Aguan bertemu mereka, satu per satu. Dan semua orang just telling him something, memberikan piece of information kepada Aguan. Adeknya jelasin situasi sang ayah. Pacarnya jelasin backstory dan konflik yang terjadi antara Aguan dengan ayah. Hengky Solaiman jelasin apa yang sebenarnya dirasakan oleh sang ayah. Bahkan ibu Aguan datang di dalam mimpi, dan jelasin ke kita apa yang dirasakan oleh tokoh si Aguan! And btw, mimpi Aguan tentang ibunya adalah TERMASUK SALAH SATU ADEGAN-MIMPI PALING JELEK yang pernah aku lihat. Enggak terasa emosional, enggak terasa surreal, enggak terasa apa-apa. Tujuannya murni eksposisi. Padahal bisa aja film ini membuat lampu di atas mereka duduk menyala sebagai simbol penanda Aguan sudah mengerti, bisa menjawab pertanyaannya sendiri, tanpa si ibu harus ngucapinnya dalam kalimat.
ubah tiangnya jadi deathschyte yang diayunkan oleh ibu Aguan or something!
Film ini just doesn’t trust us bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Mereka memberitahu terlalu banyak, alih-alih menggambarkan apa yang terjadi. Ada satu adegan di mana Azis bilang ke Aguan bahwa tadi Koh Huan mendatangi dirinya; Kenapa kita tidak melihat adegan tersebut? Kenapa film ini memilih menyampaikan informasi itu lewat kata-kata tak langsung alih-alih menyuguhkan kita adegan yang prolly emosional antara Kho Huan dengan Azis? Juga adegan ketika Aguan duduk disemangati oleh ayahnya, beliau bilang bisa melihat Aguan melatih tim dengan hati. Why we never see that scene!? Adegan latihan di mana Aguan pouring his heart adalah adegan yang perlu kita lihat karena penting untuk showing us the character, namun film ini memutuskan cukup dengan kata-kata saja.
Elemen kompetisi dalam cerita memang mesti ngalah sama porsi drama, tapi tidak berarti juga harus kehilangan greget. Problem lain dari The Last Barongsai adalah dia terlalu meminta untuk kita terus merasa kasihan sama tokoh-tokoh. Or even the film takes itself too seriously, untung saja tidak menjadi terlalu depressing. Kita tidak lagi merasakan fun dan semangatnya mereka bermain barongsai. Montase saja tidak cukup. We need more hook. Kita perlu merasa terlibat sebagai bagian dari tim mereka. Tentu saja nggak jelek juga kalo Dion Wiyoko, Tyo Pakusadewo, dan Azis Gagap diliatin latihan gerakan barongsai yang susah beneran, daripada ngecut adegan dan cuma bilang “g-g-g-gerakannya susah, s-s-sih!”. Padahal film ini sempat nanamin sedikit obsctacle, seperti Azis yang mules sebelum final, namun ternyata poin tersebut tidak pernah dibahas lagi. Akibatnya memang elemen barongsai tersebut menjadi jadi gak greget dan mundur sebagai tak-lebih dari latar saja.
Editingnya kadang terasa off juga. I don’t know what happens sama warna di kamar Ai, sih, mungkin saja intentional. Akan tetapi, ada satu shot adegan yang aku suka banget; ketika Aguan dan pacarnya ngobrol di jembatan dan di bagian dengan pinggir atas layar, melintaslah pesawat. Momen yang sangat precise, klop dengan dialog yang mengudara saat itu.
Seharusnya bisa jadi selebrasi tradisi, akan tetapi film ini lebih memilih untuk gempita berkata-kata. Yang hanya menjadikannya eksposisi saja. Bukan berarti ini film yang jelek, it’s a watchable movie untuk ditonton bersama keluarga. Tidak tampil terlalu depressing, film ini adalah keseimbangan yang hangat antara drama emosional dengan komedi. It has the capability untuk bercerita dengan proper, yang kadang muncul malu-malu. Film ini enggak konsisten. Arahan sayangnya tidak membantu apa-apa bagi film ini supaya bisa tampil pe-de menjadi spesial. The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE LAST BARONGSAI.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
Kenangan itu kayak lautan, kita berlayar di atasnya. Terombang-ambing. Kadang membawa perahu pikiran kita maju, kadang kita harus berenang dan menjadi tangguh. Kadang kita tenggelam di dalamnya. Or worse, kita membiarkan diri tenggelam di dalam pusaran kenangan sedih menuju lubang penyesalan tanpa dasar.
Itulah yang dibicarakan oleh Manchester by the Sea. Kita bisa mengartikan adegan pertamanya – perahu berlayar penuh canda mengenai sebuah pilihan – sebagai simbol yang dengan efektif ngeset mood (atau kecurigaan) bahwa film ini tidak bisa dipastikan akan berakhir bahagia, sebagaimana air tidak akan selalu setenang itu.
Benar saja, dengan segera pemandangan kita dikontraskan oleh kehidupan Lee Chandler. Seorang tukang reparasi merangkap janitor apartemen yang kurang begitu ramah. Dia kelihatan sama tidak sukanya diajak ngobrol oleh orang lain saat bekerja ataupun saat dia minum di bar. Lirikan kecil mengundang tinju Lee mendarat di hidung orang asing. Kenapa Lee begitu antisosial, dia lebih suka dibiarkan sendiri, terus disembunyikan oleh film. Sampai ketika Lee mendapat kabar bahwa kakak laki-lakinya meninggal dunia akibat penyakit jantung. Mendadak saja, Lee harus balik ke Manchester dan menangani segala tetek bengek ‘peninggalan’ sang abang. Termasuk ditunjuk menjadi wali yang sah atas keponakannya. Tentu saja ini adalah skenario yang buruk bagi kehidupan-tertutup Lee. Dan as Lee berusaha menyabotase dirinya keluar dari arrangement yang digariskan oleh abangnya, kita akan mulai discover masa-lalu yang sangat heartwrenching tentang Lee. Gimana ternyata perilaku-perilaku buruk tersebut bukanlah bawaan dia sedari lahir.
Film ini did a very good job mencamkan image pria penyendiri yang kasar kepada sosok Lee Chandler. At first, he’s just so impossible untuk disukai. Juga misterius. Joe, almarhum abangnya, tidak pernah menjelaskan kenapa dia mempercayakan Lee sebagai wali anaknya, Patrick, meskipun memang Lee dan Patrick akrab sedari Patrick kecil. But this is clearly a very broken Lee now. Kita tahu Lee punya ‘reputasi’; orang-orang di hometownnya tersebut saling berbisik dan mendelik setiap kali melihat Lee lewat atau mampir nyari kerjaan di kantor mereka. Film ini sungguh berani mempercayakan kepada kita para penonton untuk terus ngikutin Lee, karena untuk waktu yang panjang kita akan bertanya-tanya sendiri kenapa kita harus peduli kepada karakter ini. Tiga-puluh-menit pertama aku bahkan tidak yakin arah film ini ke mana. Akan tetapi, begitu kita sudah belajar alasan kenapa Lee sungguh membenci hidupnya, keseluruhan film akan membuka sebagai suatu tontonan DRAMA YANG KUAT LAGI MANUSIAWI. Film ini menyapu emosiku, I was blown away oleh karakter-karakternya yang terasa nyata. Konflik mereka, apa yang mereka hadapi, terus saja terbangun dan akhirnya menumpuk, memberikan bobot pada hati. Dan tidak sekalipun drama dan tensi tersebut terasa dibuat-buat demi memancing rasa sedih dari kita.
Manchester tepi laut, siapa suka boleh ikut
Kehadiran formula karakter pada Lee dan Patrick bakal membuat kebanyakan film Hollywood bernafsu untuk membahas hubungan yang terjalin antara broken man dengan remaja-penuh-kehidupan, di mana mereka akan saling mengubah sikap satu sama lain. Namun dalam Manchester by Sea, sutradara sekaligus penulis skrip Kenneth Lonergan lebih tertarik mendalami pergulatan emosi dan derita yang dialami oleh seseorang seperti Lee. It doesn’t necessarily has a plot, even. Paman dan ponakan ini sama-sama berduka, mereka sebenarnya mengerti problematika masing-masing, dan itu tergambar jelas dari bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Dengan fokus demikian, film ini berhasil menghidupkan karakter-karakter sehidup-hidupnya. Seoverconfidentnya Patrick, Lucas Hedges tidak pernah menjelmakan perannya tersebut sebagai remaja yang annoying. Filmnya TOUGHT TO WATCH, tetapi karakter-karakter yang terus memberikan kita tumpangan emosi yang powerful membuat kita tidak pernah merasa cukup. Biasanya kita sudah bosan duluan melihat atau menyadari durasi film yang sampe dua jam. Buatku honestly, aku bisa menonton enam jam film dengan karakter so well-realized seperti ini.
Penampilan para aktor juga teramat heartwrenching. Bantering mereka, momen-momen emosional mereka, dan sometimes momen yang membuat kita tertawa kering, terdeliver dengan mulus dan very believable. Peran sebagai Lee Chandler definitely adalah kerja terbaik dari Casey Affleck. Tidak salah kenapa ia bisa masuk nominasi Aktor Terbaik, malah aku bisa lihat dia memenangkan penghargaan itu, berkat penampilannya yang begitu subdued. Emosinya tersirat dalam-dalam. Kata-katanya tidak mengatakan apapun soal apa yang ia rasakan, apalagi menyuruh kita untuk merasakan apa yang seharusnya disampaikan. Penampilannya lebih menekankan kepada apa yang tidak ia katakan. Kita justru membaca emosi dalam diamnya. Pergerakan kecil gestur, perubahan ekspresi wajah, hal tersebutlah yang justru meledak-ledak dari penampilan Affleck memainkan tokoh Lee.
Kesedihan yang amat mendalam membuat Lee menutup diri. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi. Adegan mimpinya di babak ketiga menunjukkan bahwa Lee doesn’t trust himself berada di sekitar orang lain. Bahwa dia adalah manusia yang lemah, he can’t beat it. Ada banyak scene yang mengindikasikan Lee seorang peminum berat, and he hated himself for being weak dan selalu resort ke kebiasaannya itu eventhough itulah penyebab utama tragedi masa lalunya. Itu juga sebabnya kenapa Lee despises ibu Patrick so much. Ini adalah cerita tentang seseorang yang memilih berkubang dalam kesedihan, karena terkadang selain our personal demon, hanya kesedihanlah yang kita punya.
Percakapan-percakapan dalam film ini ditulis dan dimainkan sedemikian rupa sehingga kita seolah sedang nguping pembicaraan orang yang sangat intens alih-alih melihat sebuah tontonan drama. Adegan menjelang akhir film di mana Lee tidak sengaja ‘reunian’ dengan Randi, mantan istrinya (Michelle Williams enggak muncul banyak, tapi she’s managed setiap penampakannya begitu berarti). Percakapan mereka perfectly menggambarkan gimana kedua orang yang berusaha move on dari hidup yang penuh luka, but deep inside they just can’t. Membuatnya semakin heartbreaking adalah tidak satupun dari mereka berdua mampu mengutarakan sesak di dada, Randi bursts apart penuh sesal sementara Lee menolak to connect with all emotions dengan nyaris berkata-kata. Ini adalah momen paling bikin terenyuh as kedua aktor bener-bener touched us lewat penyampaian mereka yang masterful.
“Kok tangannya diperban?” / “Luka.” / “Oh.”
Film adalah tentang kehidupan, namun tidak semua bagian kehidupan layak untuk difilmkan. You know, films tend to skip over the boring parts of the day di mana kita ngobrol basa-basi atau nanganin hal-hal biasa yang enggak signifikan. Manchester by the Sea, dalam rangka menyuguhkan drama bersubstansi semanusiawi dan senyata yang ia bisa, nekat menerobos garis pembeda antara film dengan kehidupan tersebut. Dan film ini adalah kasus langka di mana hal-hal basic itu worked dengan sangat hebat. Situasi drama dalam film ini dipancing oleh masalah sehari-hari; Lee lupa parkir mobil di mana, Lee ngurusin paperwork pemakaman, berdebat dengan Patrick yang enggak mau jasad ayahnya dimasukin ke freezer sementara menunggu salju mencair, nanganin masalah biaya kapal. Kita akan ‘dihibur’ oleh dialog-dialog sepele tapi jadi important berkat karakter dan timing mereka. Kita pun tidak lagi mempermasalahkannya karena kita begitu hooked untuk melihat apa yang terjadi kepada mereka berikutnya. Kamera menangkap remeh temeh semacam pintu mobil yang kelupaan dibuka kuncinya atau pemain yang kesusahan mengangkat roda stretcher, dan Kenneth Lonergan membiarkan hal tersebut included, menjadikan film ini lebih grounded evenmore. Semua elemen menyatu mulus, film ini bahkan tidak terasa seperti film dengan babak satu-dua-tiga yang biasa, semuanya ngalir kayak kejadian beneran gitu aja.
Yang juga menarik adalah gimana film ini menangani penceritaan backstorynya dengan cara yang tidak biasa. Kita tidak diberikan batasan jelas mana yang flashback mana yang present. Film ini tersusun atas adegan-adegan pendek dan panjnag dengan TIME SEPERTI MOSAIK RANDOM. Kadang setelah beberapa adegan, baru aku sadar sedang nonton potongan adegan yang cukup panjang dari kenangan Lee. Pembedanya cuma antara sifat Lee yang ceria dan rambut Lee yang lebih berantakan. In that way, film ini sekali lagi percaya bahwa penonton mampu memilah adegan tanpa harus dikasih tahu dengan gamblang. Penonton tidak diremehkan, kita dipercaya bisa menangkap petunjuk-petunjuk dan menyatukan elemen-elemen cerita yang terjadi. Kita dipercaya bisa memahami apa yang terjadi meskipun tidak bisa mendengar percakapan di ujung lapangan hoki, misalnya. Sehingga pada akhirnya efek emosi yang kita rasakan akan berlipat ganda.
Jika kalian tertarik dengan dunia akting, penampilan Casey Affleck, Michelle Williams, atau Lucas Hedges saja akan ngajarin banyak tentang performance yang sangat subdued lagi emosional. Walaupun pacingnya lumayan lambat dan tiga-puluh-menit pertama membuat kita cukup terombang-ambing, tapi ini sesungguhnya adalah film dengan penceritaan yang berani. Mempercayai kita untuk menyelam sendiri ke dalam ceritanya. Untuk kemudian dibenturkan gently oleh konflik-konflik yang timbul secara manusiawi soal grief dan vulnerablenya interaksi sosial dunia-nyata. Well directed, well-written, tragedi dan komedi adalah apa yang ditekankan oleh drama realita film ini. The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for MANCHESTER BY THE SEA.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners And there are losers.
“Only through recognizing and accepting our inner wounds can we find true healing.”
We are all have been there before, right? Dikucilkan, dibully, enggak ada yang mengerti kita, ngerasa kita begitu berbeda sama yang lain, kayak makhluk asing, you know, kayak lagu dari Simple Plan. Aku sendiri waktu SD sering pulang sekolah dikejar-kejar. At first, teman-teman memang lagi nyari pemeran yang cocok untuk jadi atlet main smekdon-smekdonan; untuk peran babak-belur, of course. But then they just enjoyed chasing me around, even aku sendiri pun jadi suka. Aku memang enggak cepat, tapi aku lihai sembunyi di mana saja. Lama-lama itu jadi permainan yang mengakrabkan kami. Poinnya adalah, growing up jadi hal yang sulit karena kita naturally ingin mengidentifikasikan diri. Dan proses itu semua bergantung erat sama lingkungan kita bertumbuh. Beberapa anak mengalami masa-masa yang lebih berat ketimbang anak-anak lain.
Film Moonlight, however, bukan sekadar film ‘find-who-you-are’ yang biasa. It’s not cerita angst ga-jelas either. Ini adalah cerita yang sangat humane, dengan drama yang dead-fokus kepada karakter. MEMISAHKAN CERITA MENJADI TIGA BAGIAN, MOONLIGHT ADALAH PERJALANAN HIDUP Chiron dari dia kecil, kemudian saat dia remaja di sekolah, hingga menjadi dewasa. Dalam detil yang begitu excruciating, kita akan melihat gimana sulitnya Chiron hidup dan tumbuh di dalam lingkungan yang very harsh, gimana dia eventually menjadi dewasa dengan belajar mengerti siapa dirinya sementara dunia sekeliling tidak paham dan tidak menerima dirinya.
In regards to identifying the story, you know, I’m very pleased to discover tentang apa film ini sebenarnya. Maksudku, perjalanan yang sangat emosional yang ditempuh oleh Chiron itu diceritakannya dengan menggugah. Kita akan dibuat terenyuh melihat Chiron menyadari apa-apa mengenai dirinya. Film ini dengan perfect menangkap lingkungan keras tempat Chiron tinggal, urban Miami actually terasa in-the-moment karena di luar sana memang banyak anak kecil yang tumbuh di dalam lingkungan seperti demikian. Dan film ini menangkap segala momen dan emosi dengan tanpa menjadikan ceritanya klise. Aku belum pernah menonton film dengan denyut storytelling sespesifik ini; cowok kulit hitam yang tumbuh di lingkungan yang keras, dia menyaksikan sekitarnya sangat, katakanlah enggak-normal, dia harus belajar how to live with that, dan sementara itu dia juga menyadari something about himself, dia harus belajar gimana mengapresiasi sisi tersebut, namun a lot of people just don’t accept who he is.
“No, you don’t know what is liiike. Welcome to my life!~”
Banyak yang membandingkan Moonlight dengan Boyhood (2014). Keduanya dengan menakjubkan sama-sama menelaah kehidupan, pertumbuhan seseorang dari kecil hingga dewasa. Namun bagiku, Boyhood terasa ada yang kurang, enggak tahu juga mungkin terlalu fokus ke gimmick apa gimana. Moonlight adalah apa yang sebenarnya aku harapkan ketika nonton Boyhood. Penceritaannya luar biasa. It is such an intimate movie yang mengeksplorasi dengan stunning gimana susahnya bagi seseorang tumbuh pada lingkungan yang tidak mengerti dirinya.
Tidak sepertiku, Chiron kecil dikejar-kejar bukan hanya karena dirinya bertubuh paling mini di sekolah. Dia noticeable paling happy di pelajaran nari. Temannya bilang dia negro yang ‘soft’. Ibunya sendiri menyindir cara Chiron berjalan. Little, begitu anak-anak di sekolah memanggilnya, mulai menyadari things about himself meskipun saat itu dia belum mengerti. Babak pertama cerita revolves around Little yang ‘diselamatkan’ oleh Juan (dimainkan singkat tapi sungguh berkesan oleh Mahershala Ali). Ini adalah babak penting dalam cerita karena kita melihat Chiron merasa lebih nyaman berbicara – dalam kapasitas anak pendiam – kepada Juan ketimbang kepada ibunya sendiri. Dalam hidupnya, Chiron tidak punya father figure dan dia enggak bisa benar-benar look up kepada ibunya yang seorang pecandu drugs. Chiron berusaha menemukan sosok orang di mana dia bisa merasa comfortable, tetapi semakin dia bertambah usia hal tersebut menjadi semakin susah baginya. Sebabnya ya lingkungan keras tadi itu; he just feels separated from everyone else around. Chiron learns semua orang ternyata ‘punya masalah’. Act kedua film menjadi babak yang paling psyhically intense, kita lihat Chiron muda resort ke kekerasan dalam upayanya merasa lebih baik or even to think violence as a way to fit in.
Sungguh susah bagi kita untuk melepaskan diri dari cerita Moonlight. It was filmed in such a raw way dengan kerja kamera yang amat fascinating. Tidak sekalipun adegan-adegannya terasa misplaced. Arahan tingkat dewa lah, pokoknya. Penampilan akting dalam film ini, oh boy, mereka semua almost too good to be true. Ketiga pemain yang jadi Chiron; Alex R. Hibbert, Ashton Sanders, Trevante Rhodes, mereka semuanya luar biasa excellent. Sebenarnya film dengan tiga bagian cerita seperti ini gampang untuk jadi terasa episodic. Bagi Moonlight, that was never the case. There is never a case! Setiap babak usia menambah layer kepada pribadi Chiron dengan sama realnya. Masing-masing pemeran berhasil memberikan perspektif yang sukses ngefek dalam membangun karakter Chiron. Apalagi di babak ketiga, ketika Chiron datang bertemu seorang teman lama, teman yang not expecting what Chiron turns out to be. Adegan di diner menjelang akhir film genuinely terasa kayak kejadian beneran yang unfolding di depan mata kita. It was STUNNING, MATURE, DAN SANGAT POWERFUL.
There’s nothing “sawft” about this movie
Sutradara Barry Jenkins sepertinya memang paham betul soal bahwa hubungan antarmanusialah yang ultimately membentuk siapa kita. Arahannya menyeimbangkan dialog-dialog penuh makna dengan visual yang lantang oleh emosi. Meskipun semua pemainnya black, ini bukan necessarily film dengan suara yang loud. Film ini tahu kapan saatnya ngomong dan kapan waktu yang tepat berekspresi dengan tanpa suara. Ada banyak adegan karakter saling tatap yang begitu deep-in-the-feel, seperti saat Little menangkap pandangan Juan yang baru saja memberitahunya soal kerjaan yang Juan lakukan, ataupun saat Chiron dan Kevin duduk di pasir pinggir pantai. Semua pemain beserta peran mereka bersinar di dalam cahaya film ini, bersinar biru so to speak.
Paralel nama Chiron tidak hanya pada nama centaurus yang berbeda dari kumpulannya di dalam mitologi. Dalam astrologi, Chiron adalah komet yang melambangkan luka terdalam; derita yang tak kunjung-pergi, dan usaha kita untuk menyembuhkan luka tersebut. Moonlight adalah cerita-tiga-bagian tentang Chiron yang tumbuh dengan penuh derita masa kecil, that he tries to explore that, yang meski membuatnya tampak ‘tangguh’ setelah dewasa; luka tersebut tidak pernah bisa sembuh sepenuhnya.
Kata orang, ngereview itu nyari-nyari kekurangan film. Well, benar demikian sih, reviewer kudu point out secara jujur flaws yang ditemukan. But keep in mind, movie adalah ide. Dalam gagasan tidak ada masalah benar atau salah – it’s about apa yang worked dan enggak worked di dalam penceritaannya. Supaya film, in general, bisa makin terus berkembang. Jadi itu jualah yang kulakukan saat nonton Moonlight. Aku terus membuka mata lebar-lebar untuk mencari hal yang menjatuhkan. Aku terus menunggu seseorang mengatakan hal yang bego. Aku terus melek mencari kemunculan subplot horrible atau elemen yang bosenin dari tiga bagian ceritanya. Dan aku tidak menemukan apa-apa. Biasanya kan kita sering, tuh, nonton film yang mestinya bisa bagus banget namun di tengah filmnya make a really stupid choice demi jadi mainstream atau apa. Tahun 2015 ada film Dope yang juga berpusat cowok kulit hitam yang not fit in dengan lingkungan yang keras, sayangnya film tersebut dengan cepat menjadi cerita kehidupan ‘hood’ yang biasa. Momen-momen jelek yang kutunggu tidak pernah muncul dalam Moonlight. Again, everything shines in this film.
So well-realized, visi ceritanya tergambar tanpa cela pada layar. Film ini benar-benar punya pesan tanpa terasa membombardir moral kita dengannya. Ini adalah penceritaan yang sangat dewasa. Easily, salah satu film terbaik di 2016. Menelaah dengan stunning gimana susahnya tumbuh dalam lingkungan yang tidak ada satupun yang mengerti diri kita. Tidak ada ada satu elemen pun yang terasa out-of-place dalam tiga bagian kisahnya. Penuh oleh penampilan yang genuinely feel so real. Arahan dan editing yang luar biasa dari mulai sampai habis. This is a masterwork! The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MOONLIGHT.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.