Clash of Champions 2017 Review

 

Juara di WWE, berarti kalian kudu siap mempertahankan sabuk emas melawan penantang macam apapun. Namun begitu, di acara Clash of Champions, ada hal lain yang lebih gede yang dipertaruhkan oleh WWE; kemampuan mereka untuk menciptakan drama dan kejutan. Dan ‘lawan’ mereka tentu saja adalah para penonton – penggemar setia jaman now – yang semakin hari semakin pinter.

 

Kejutan yang dihadirkan oleh Clash of Champions sebagai acara brand Smackdown di Boston malam itu adalah; tidak ada kejutan. Setiap hasil akhir pertandingan, siapa pemenangnya, kenapa mereka menang, sudah bisa ditebak oleh fans. WWE, sebagai sebuah bisnis olahraga-hiburan paham betul bahwa yang terpenting adalah bukan apa yang mereka ceritakan, melainkan bagaimana mereka menceritakan. Bagaimana mereka mengolah sesuatu narasi yang sudah ketebak menjadi sebuah pementasan yang intens dan membuat penonton terinvest ke dalamnya. Jadi, beberapa pertandingan di Clash of Champions dirancang penuh oleh drama. Toh, terkadang WWE memang nekat, bercerita dengan mengorbankan aksi adalah resiko yang tak ragu untuk mereka ambil. Pada akhirnya, semua bergantung kepada pilihan kita; ingin menyaksikan gulat profesional sebagai olahraga kompetisi atau bergulat dengan logika dan menikmati itu semua sebagai suguhan film aksi, atau malah, suguhan sinetron.

Natalya dan Genk Juara

 

Dulu masih gampang untuk kita, sebagai penonton, nonton WWE dan flat out tenggelam dalam dramanya. Dulu kita masih sabar untuk suspend our belief selama dua jam acara berlangsung. Aku masih ingat tahun 2000an awal dulu, satu episode Smackdown didedikasikan untuk membangun cerita gimana D-Generation X mengatur acara dengan seenak udel. Pertandingan di acara itu semuanya jelek-jelek, enggak ada yang bersih, dan kita dapat stipulasi norak semacam The Rock dan Mankind harus bertarung memperebutkan kontrak kerja yang digantung di atas pole. Back then, semua penonton menikmatinya. Orang dulu tidak peduli gimana aslinya Kurt Angle adalah atlet beneran, dan digunakan dengan cara yang memalukan – dibuat sebagai pengecut – di televisi. Tetapi tentu saja, sebagai penonton kita punya ekspektasi, dan makin ke sini, penonton semakin cerdas. Kita ingin bisa menikmati acara ini dalam level yang lebih tinggi. Sekarang, semua orang sudah jadi ‘smark’. Smart-Mark. Penonton yang tahu WWE itu udah ada skenario, tapi masih menuntut supaya WWE tampak senyata mungkin. Ketidakpuasan kita inilah yang jadi lawan berat WWE dalam upaya mereka mempertahankan apa yang terbaik yang bisa mereka lakukan; ngedeliver hiburan dalam kemasan aksi yang mendebarkan.

Faktanya adalah susah untuk mengejutkan – memberikan kejutan yang  menyenangkan bagi – fans kekinian. Arus informasi berputar pesat, di internet kita bisa dengan gampang menemukan situasi real maupun kayfabe terkini, rumor-rumor, tentang apa yang terjadi belakang layar WWE. Kita tahu Daniel Bryan akan terlibat dalam storyline Kevin Owens dengan Shane McMahon, bahkan sebelum pertandingan tag team mereka di Clash of Champions diresmikan. Dan saat ulasan ini ditulis, santer sudah kabar kalo this whole match didedikasikan buat kembalinya Bryan beraksi di dalam ring Wrestlemania April nanti. Attitude era penuh oleh match-match ‘terlalu skenario’ seperti yang kita lihat pada match Owens dan Zayn melawan Orton dan Nakamura di sini. Namun apa yang dulu kita bilang seru, sekarang kita bilang kurang ajar. Keempat pegulat yang bertanding sesungguhnya bukan fokus. Alih-alih itu, match ini adalah tentang Shane dengan Bryan, yang digariskan bakal cekcok di saat mereka berdua berperan sebagai wasit. Walaupun penceritaan match ini sangat baik, mereka ngebuild up konflik – bagian favoritku adalah ketika Shane menghentikan hitungannya atas pin yang dilakukan oleh Zayn, yang memnggiring kita ke akhiran yang keren, tapi aksinya tampak salah tempat. Sekuens para wasit itu mengganggu. Nakamura dan Orton gak kebagian spot, dan ini bukan match yang baik karenanya.

Kita lebih menghargai kejuaraan United States yang mempertemukan Baron Corbin sebagai juara bertahan melawan Bobby Roode dan Dolph Ziggler. Meskipun penambahan Ziggler ke dalam partai tersebut tidak berhasil diceritakan dengan menarik. Kita gembira dengan outcomenya, padahal kita sudah bisa menebak – Ziggler dikabarkan bakal hengkang jadi wajar WWE menjamin Ziggler untuk tetap tinggal dengan memberinya sabuk. Kita overlooked bukti-bukti bahwa Ziggler ini sudah lama sekali berada di zona gak-relevan, dan setiap title reignnya sebelum ini selalu berujung tumpul. Tentu saja kita menyukai match ini karena aksinya. Cepet, finishingnya enak dilihat. Sedikit melibatkan storyline artinya kita tahu dengan begini, para superstar tidak terlalu cedera imagenya.

Tapi tentu saja , WWE lebih ngeri jika superstarnya cedera beneran lantaran kebanyakan aksi yang berlebihan. Jadi WWE tentu saja hampir selalu mengambil keputusan sekalipun ada aksi, mereka akan membuatnya singkat. Makanya kita dapat squash match. Untuk menjaga hal tetap menarik, dalam acara ini kita melihat konsep pertandingan yang baru, yakni fatal 4-way tag team di mana kontestan dari keempat kubu masuk bersamaan dan mereka hanya boleh meng-tag partner sendiri. Banyak gerakan-gerakan dan taktik unik yang tercipta dari sini. Setiap superstar pada dasarnya diberi jangka waktu singkat untuk unjuk kebolehan, yang dimanfaatkan dengan sangat baik oleh  Big E dan Chad Gable. Aku suka banget liat Chaos Theory si Gable, I mean, di sini performa Gable membuktikan kalo WWE sudah salah langkah meninggalkan dirinya demi cerita Anak Kurt Angle di brand Raw. Rusev dan Aiden English juga membuktikan kepada WWE bahwa mereka masih bisa over, meskipun berangkat dari momentum yang serabutan. Fans bener-bener suka sama Rusev Day. Menurutku, pertandingan inilah yang paling dekat dengan sebuah kejutan yang mampu dihadirkan WWE pada Clash of Champions.

Ayo jadikan Rusev Day sebagai hari libur nasional

 

Aku enggak tahu kenapa mereka menyebutnya sebagai Lumberjack padahal karena semua pesertanya cewek maka yang lebih tepat adalah Lumberjill, namun yang jelas, partai yang juga adalah perebutan kejuaraan wanita tersebut adalah yang paling fail dari keseluruhan acara. Dramanya totally enggak bekerja. Penampilan Natalya terlalu dibuat-buat. Sebagai face, Charlotte tampak seperti sebuah miscast yang lebih parah daripada Sasha Banks. Konsep Lumberjacknya juga klise banget. Stipulasi ini dipilih supaya mereka bisa ngepush semua talent di divisi cewek sekaligus, hanya saja eksekusinya sangat serabutan.  Sampai ke poin aku melihat Liv Morgan memukul Ruby Riott yang notabene adalah rekannya sendiri.  Sedari bel berbunyi tidak pernah terasa kalo ini adalah pertandingan kejuaraan, kalo ini adalah cerita Natalya yang mengancam status juara Charlotte.

Yang paling layak kita apresiasi adalah Jinder Mahal dan AJ Styles yang berlaga di partai utama. Tadinya aku excited melihat Mahal jadi juara, kemudian dia tak mampu membuktikan keunikannya sebagai antagonis yang bermarwah, dan match-matchnya boring semua. Akan tetapi, di sini, dengan kerja sama dari AJ Styles, Mahal terlihat benar-benar berusaha. Match mereka memang tampak membosankan lantaran menjelang partai ini kita disuguhi oleh gimmick-gimmick dan segala tetek bengek drama. Kehadiran Styles membuat elemen aksi pertandingan ini enak untuk dilihat dan diikuti. Styles ngejual serangan orang dan mengeksekusi gerakan sendiri dengan sama fenomenalnya. Kontribusi Mahal buat pertandingan, tentu saja adalah menggerakkan roda drama dengan peran heelnya. Dan Mahal tidak melakukannya dengan berlebihan kali ini. Gangguan Singh Brothers enggak langsung mengakhiri match, kayak yang sudah-sudah. Terlihat sekali matangnya koordinasi antarkedua superstar.

 

 

 

Menurutku, Clash of Champions ini benar-benar bentrok. Aku suka apa yang orang tidak suka, aku eneg ngeliat apa yang orang lain cheer. Kupikir itu karena aku yang sudah terbiasa nonton film menganggap WWE lebih seperti tontonan dengan cerita dan karakter. Namun keseluruhan, terasa seperti WWE menggunakan rumus drama dan aksi yang berbeda pada setiap match supaya penonton tetap tertarik sebab mereka tahu tidak ada surprise yang bisa mereka datangkan di sini. Semua sesuai dengan yang kita harapkan. Semua memenuhi prediksi dan teori yang bergentayangan di internet. Paling tidak, masih lumayan masuk akal, dan WWE berhasil membuatnya cukup menyenangkan.
The Palace of Wisdom menobatkan AJ Styles melawan Jinder Mahal sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

Full Result:
1. TRIPLE THREAT WWE UNITED STATES CHAMPIONSHIP Dolph Ziggler jadi juara baru ngalahin Baron Corbin dan Bobby Roode
2. FATAL 4-WAY WWE SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Usos bertahan atas The New Day, Chad Gable dan Shelton Benjamin, serta Aiden English dan Rusev.
3. LUMBERJACK WWE SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte tetep juara mengalahkan Natalya
4. TAG TEAM The Bludgeon Brothers membunuh Fashion Police Breezango!!
5. TAG TEAM DENGAN SHANE MCMAHON DAN DANIEL BRYAN SEBAGAI WASIT Kevin Owens dan Sami Zayn dinobatkan menang dari Randy Orton dan Shinsuke Nakamura
6. WWE CHAMPIONSHIP Maharaja kita tap out kena Calf Crusher dari AJ Styles.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE KILLING OF A SACRED DEER Review

“Justice is doing for others what we would want done to ourselves.”

 

 

Rusa keramat itu bisa saja pernikahan, atau anak, atau pasangan hidup. Objek pada judul film ini jelas sebuah metafora. Namun kata kerjanya mengisyaratkan sebuah pesan yang jelas. Jangan membunuh. Membuat orang menjadi tidak bahagia karena kehilangan sesuatu adalah perbuatan yang tercela. Dosa. Nyawa itu milik Tuhan, Beliau yang mengatur. Dan itu berarti jika seseorang menghilangkan nyawa orang lain, maka orang tersebut sudah ikut campur kerja si Maha Pencipta. Betapa sombong dan takaburnya manusia yang meletakkan tangannya ke dalam urusan Tuhan, ke dalam urusan nyawa. Namun bagaimana jika pekerjaan ‘meniru’ Tuhan itu memang ada – bukan hanya ada, sekaligus juga dianggap mulia? Para dokter menyembuhkan orang-orang yang sakit, on the other hand, banyak juga tidak mampu mereka selamatkan. Apakah mereka, para dokter, musti bertanggungjawab atas kegagalan mereka?  Apakah mereka harus diberikan konsekuensi? Apakah yang mereka gagal lakukan, adalah sebuah tindak pembunuhan?

The Killing of a Sacred Deer mengeksplorasi tentang  konsekuensi dan keadilan, dan film ini menggalinya dari tempat yang tak terduga. Rumah sakit putih berkilat adalah panggung yang berdarah di film ini. Dan kita sebagai penonton, akan terperangkap di sana. Dibuatnya sedemikian rupa sehingga kita tidak tahu lagi mana jawaban yang memuaskan. Kadang frustasi juga menonton ini karena tokoh film ini begitu pandai mendem emosi, sangat subtil, walaupun ada kejadian menyeramkan yang menyelimuti mereka.

Sedari permulaan, film ini sudah aneh banget. Collin Farrel yang brewokan berperan sebagai dokter bedah yang diam-diam bertemu dengan cowok yang masih berusia enambelas tahun. Martin namanya. Dokter Steven mengajak Martin makan di luar, jalan-jalan, membelikan remaja itu jam tangan anti-air yang harganya selangit. Ketika ditanyai oleh kolega, Steven mengatakan bahwa Martin adalah teman sekelas putrinya. Padahal enggak. Kita tahu Martin belum pernah bertemu dengan keluarga Steven; istri yang juga dokter handal, putri yang baru nginjak usia remaja, dan putra yang rambutnya gondrong, mereka enggak tahu ayah mereka diam-diam pergi menemui Martin. Hmm ada apa ini? Aku tidak bisa menebak ini cerita tentang apa. Tapi semakin berjalan waktu, lapisan cerita itu semakin membuka, kita dibelokkan berkali-kali oleh pengungkapan yang semakin sinister, hingga sampailah kita melihat keluarga harmonis itu dirundung masalah yang tak mampu dijelaskan oleh otak-otak jenius Steven dan istrinya. Anak-anak mereka kejatuhan penyakit aneh!

dokter tangannya bagus, tulisan tangannya yang jelek

 

Dari yang tadinya perasaan iba berubah menjadi ketakutan. Dari yang tadinya sopan, kehadiran Martin yang tak diundang menjadi sebentuk ancaman. Sutradara Yorgos Lanthimos dengan sangat hati-hati ngecraft ritme dan tutur penceritaan, membuat kita tetap tertarik Desain musik dan suara yang dipakai sepanjang film sukses berat menghasilkan atmosfer yang creepy. Kamera yang menangkap pemandangan-pemandangan simetris-but-not-really, menciptakan sensasi ketimpangan yang secara tersirat memperkuat konflik pada tema keseimbangan, dan kita tahu keseimbangan adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh cerita.  Akan ada banyak orang yang enggak sanggup menyelesaikan menonton film ini lantaran beberapa adegan memang sangat menantang moral kita, enggak semua yang dihadirkan di sini politically correct. Tokoh-tokoh di sini akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang bakal bikin kita gak nyaman, lantas kita tertawa. Seperti ketika putri Dokter Steven berkata kepada adiknya yang enggak bisa berdiri “kalo kamu mati, musik player kamu buat aku ya, plisss”. Yang paling gebleg terang saja adalah adegan menjelang terakhir yang involving senapan, penutup wajah, dan duct tape.

If anything, film ini mau bilang bahwa karma itu ada. Senyata hukum aksi dan reaksi pelajaran fisika.  Jika kita berbuat kejahatan, maka kejahatan itu akan balik menimpa kita. Membenarkan perkataan Mahatma Gandhi “mata dibalas mata hanya akan membuat seluruh dunia buta”, film ini punya sistem penyeimbangan neraca sendiri. Jika seseorang membunuh, dia menghilangkan nyawa orang, maka pembalasn dari tindakannya bukanlah keluarga si pembunuh balas dibunuh oleh keluarga korban. Melainkan si pembunuh harus membunuh keluarganya sendiri. Dengan cara demikian, yang berdosa tetap satu orang sehingga keadilan tertinggi bisa tercapai tanpa harus membawa banyak orang ke lembah kejahatan.

 

 

Perjalanan tokoh Steven akan membuat kita balik mengantagoniskan dirinya, meski kita tahu kesusahan yang ia lewati. Kita kasihan tapi kita juga geram kepada dirinya yang tidak mengambil tindakan yang benar. Untungnya film ini diberkahi oleh beragam penampilan yang hebat, enggak sebatas berada di pundak Farrel dan Nicole Kidman saja. Aktor-aktor muda juga bermain dengan sangat meyakinkan. Setiap anggota ditulis dengan matang, ada build up yang diberikan terhadap mereka. Sehingga ketika hal menjadi ruwet di dalam lingkaran mereka, kita turut merasakan kecamuk yang bergelora di balik tenangnya mereka. It’s heartbreaking melihat Steven pada akhirnya harus memilih; Ketika dia menyadari kenapa putra bungsunya yang selama ini sedikit  gak-nurut mendadak mengubah cita-cita menjadi sesuai dengan kehendak dirinya; Pandangan matanya conflicted banget, dia gak yakin yang mereka lakukan benar, juga tersirat keraguan, sebab kalian tahu,

jika kita berkorban, maka korbankanlah yang terbaik yang kita punya.

 

 

Film ini adalah adaptasi bebas dari mitologi dewa-dewi Yunani, yang actually sempat disebukan di dalam narasi. Kisah tentang Raja Agamemnon yang sudah membunuh salah satu rusa kesayangan Artemis, sehingga Dewi Pemburu itu marah dan meminta Agammemnon untuk mengorbankan putrinya. Film ini memang tidak pernah serta merta bilang Steven adalah Agamemnon, ataupun bahwa Martin adalah Artemis, tapi jelas sekali film ini menyuarakan hal yang sama. Jangan lakukan kepada orang lain hal yang tidak mau kau lakukan kepada diri sendiri.

Akan tetapi, tidak seperti Mother! (2017) yang menceritakan kembali kisah di Kitab Suci dengan cerita sendiri dan actually punya tujuan, glaring with symbolisms sehingga kita tahu ceritanya sudah pasti tidak berada di dunia logika, The Killing of a Sacred Deer adalah film gagasan yang benar-benar vague. Ceritanya terlihat bertempat di dunia biasa, namun kita mendapat hal mengerikan – gaib kalo boleh dibilang – dan film ini tidak memberikan penjelasan, misalnya penjelasan penyakit apa yang menjangkiti keluarga Steven. Atau bagaimana Martin tampak bisa mengontrol penyakit tersebut. Dan menurutku ini menjadi kelemahan sebab mengurangi kesan real. Kita sudah sengaja dibuat sedikit terdeatch demi menyampaikan kengerian, dan ditambah dengan kejadian seputar penyakit, film ini semakin terasa jauh. Aku pikir, The Lobster tahun 2016 lalu yang juga digarap oleh Lanthimos masih lebih terasa relatable padahal ceritanya tentang masa depan di mana semua orang bisa berubah menjadi binatang.

 

 

 

Sesungguhnya semua orang pasti ada saja keanehannya. Kenormalan adalah hal yang amat langka bagi film ini, makanya jika kalian juga punya kelainan, yakni suka nonton film-film aneh dan berani, film ini tentu adalah pilihan yang rugi untuk dilewatkan. Karena penceritaannya yang begitu menantang. Mengerikan, menyedihkan, bikin geram, tak pelak film ini bakal bikin kita merenung setelah menontonnya. Membuat kita berpikir ulang mengenai apa itu keadilan yang sebenarnya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE KILLING OF A SACRED DEER.

 

 

 

That’s all we have for now.
Kami mau ngucapin terima kasih buat kamu-kamu yang udah sudi mampir baca dan bahas film di sini sehingga My Dirt Sheet jadi kepilih sebagai nominasi Blog Terpilih Piala Maya 6.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

MAU JADI APA? Review

“Carpe diem quam minimum credula postero”

 

 

 

 

Reaksi orangtua ketika kalian bilang pengen ngambil jurusan Arkeologi, “Pfffttt hadeh mau jadi apa~?”

Ketika hari Minggu dan kita guling-gulingan di kamar seharian, “Heh ini main melulu, mau jadi apa!??”

Dan ketika kita denger lagu Susan “Susan, susan, susan, kalo gede, mau jadi apa?”

Bahasa tulisan itu asik, satu kalimat aja bisa ditafsirkan dengan emosi yang berbeda. Kalolah film ini kita gambarkan berkaitan dengan kalimat titularnya, maka Mau Jadi Apa? terasa cocok dibaca dengan nada versi lagu Susan; film ini ringan, ceritanya enggak mencemo’oh, enggak memarahi, melainkan bakal menanyakan kepada kita tentang motivasi hidup dengan menghibur. Mahasiswa bakal suka, terutama anak-anak Maba yang masih baru melangkah malu-malu menyongsong masa depan yang belum kepikiran pasti. “Nanti kita mau jadi apa sih?” yang nanya sambil nyengir ngakuin mereka juga kuliah dengan modal semangat doang.

 

Tahun 1997, rambut Soleh Solihun masih gondrong. Dia belum lagi seorang stand up komedian. Dia masih baru mulai bermimpi tentang hidup. Dia masih muda, yaah tapi tetep gak unch-unch juga, sih. Meski dia dan teman-teman segenknya sudah kuliah beberapa semester di Fikom Unpad, Soleh masih merasa dia sama cluelessnya dengan dirinya waktu masih dihukum senior lantaran gak sengaja mimpi basah selagi acara  ospek. Dia juga masih jomblo.  Supaya hidupnya ngerjain sesuatu yang berguna, dia ngelakuin apa-apa ya demi bisa deket sama Ros, cewek Slanker yang ia taksir. Soleh jadi ngikut masuk redaksi majalah mahasiswa, Fakta Jatinangor, yang topiknya serius banget. Ide-ide tulisan musik Soleh ditolak. Jadi, Soleh dan teman-temannya bikin media tandingan. Akhirnya mereka menemukan sesuatu yang bisa membuat hari-hari kuliah mereka berguna; bikin majalah hiburan. Selanjutnya, film akan menceritakan permasalahan yang timbul dari berita-berita gosip yang ditulis Soleh, dan bagaimana dia bersama teman-temannya berjuang atas nama persahabatan dan karir yang saat itu masih belum kebayang.

dan lahirlah nenek moyang Lambe Turah

 

Secara personal, film ini relatable banget buatku. Aku dulu juga kuliah di Unpad, aku juga dulu sama begonya enggak tahu mau kerja apa. Aku juga bikin buletin ulasan-film sendiri, yang juga diperbanyak dengan foto kopi, kuberi nama Kertas Buram. Aku malah selalu ngeluh aku salah jurusan. Pemandangan yang disuguhkan film ini tampak tidak asing buatku, secara harafiah maupun secara simbolis. Ngeliat Jembatan Cincin itu aku jadi teringat dulu pernah tengah malam duduk di sana demi membuktikan desas-desus horor, dan akhirnya aku memang pulang pontang-panting. Tapi bukan karena hantu, melainkan karena ngeri banyak preman hhihi. Anyway, film Mau Jadi Apa? yang berseting di kampus Fikom benar-benar kerasa semangat mahasiswanya. Dan walaupun timeline film ini tahun 97, permasalahan dan tema yang diangkat oleh film ini masih terasa relevan dengan kondisi mahasiswa sekarang.

Ngomongin bahagia, orang akan mengasosiasikannya dengan masa depan. Orang akan bikin rencana, nanti mau bikin apa, mau jadi apa.  Kenapa mesti nanti? Kenapa tidak bahagia dari sekarang. Kita bisa bikin karya meski sedang kuliah. Walau masih muda, kita mestinya bisa langsung bergerak mengejar mimpi. Hidup demi saat ini, hargailah dengan melakukan yang terbaik yang kita bisa.  Bahagia, dan bertanggungjawablah dengannya sesegera mungkin.

 

Menyutradarai, sekaligus memainkan cerita kehidupan sendiri tentu adalah sebuah cita-cita emas setiap pembuat film manapun. Soleh Solihun benar-benar total dan terlihat sangat passionate di sini. Props, pop-culture, dan semuanya diarahkan senyata mungkin. Detil-detil akhir masa 90an tak luput darinya. Dijadikan olehnya sebagai pemantik lelucon, dibuat olehnya sebagai jokes yang ngeforeshadow kejadian di masa kini.  Misalnya ketika ada cameo dari Ernest Prakasa yang kalo gak salah memang pernah di Bandung. Pada film ini Ernest disebut sebagai “anak dari toko cina yang di sebelah” yang merupakan direct reference ke filmnya Ernest. Also, they were throwing a shade about cina jadi gubernur. Kita juga ngeliat ‘cikal bakal’ grup band The Changcuters, serta bagaimana Sophia Latjuba mungkin saja suka sama vokalis band. Ini adalah kerja dari pandangan wartawan Solihun. Dia menangkap apa-apa yang ngetren. Untuk kemudian dia padukan dengan kegemarannya akan musik serta keahliannya menyusun punchline komedi. Lelucon-lelucon di sini ampuh sebagai ajang nostalgia karena begitu banyak melibatkan referensi 90an. Kelakar dialognya dari lagu Trio Kwek-Kwek, dari lagu Jamrud, Ada Cintanya Bening. Ada beberapa jokes yang harus mereka jelaskan sih, supaya penonton kekinian bisa menangkap maksudnya – contohnya ketika mereka menyebut Ali Topan dan Pamela Anderson, film juga menyertakan gambar tokoh tersebut. Sesungguhnya di sini, film sedikit tidak mempercayai penonton. Tapi aku bisa mengerti, karena toh 90an itu udah tergolong kuno untuk jaman sekarang.

Film ini sangat self-aware. Narasinya banyak bersenang-senang dengan membuat tokoh Soleh kerap breaking the fourth wall. Soleh akan menghadap ke kamera, dan ngobrol langsung dengan kita para penonton. Kadang dia menceritakan alur. Kadang dia hanya ngobrol kocak gitu ada. Ada banyak komedi yang datang dari sini. Di antaranya adalah bagian di mana Soleh menjelaskan kenapa musti dia yang main jadi tokoh utama, dia menyebut Reza Rahadian, dan segala macem penjelasan mengenai pilihan-pilihannya dalam membuat film. Aspek ini membuat film jadi refreshing. Masalahnya adalah, akting Soleh tidak pernah benar-benar mendarat di note yang tepat. Dan aku heran kok bisa beberapa penyampaian leluconnya malah jatoh jayus. Padahal kamera kan  bukan hal yang asing bagi komika. Tapi yah, tampil sedih mungkin memang langka bagi komedian. Akting memang sulit – bahkan kalo kita berakting sebagai diri kita yang masih muda. Solihun kebagian banyak adegan yang merefleksikan emosi, dia berjalan sendirian – kadang melawan arus mahasiswa yang lain, dengan rambut panjang dan tampang sedih – dan kita susah untuk merasakan apa yang tokoh ini rasakan. Kesannya malah tetap lucu.

“Aku gak e’ek, it’s not true. Aku gak e’ek. I did not….oh hai Ros!”

 

Hal yang patut disyukuri sebagai manusia adalah selain kita sendiri yang mengatur kapan kita bahagia, kita juga punya kesempatan belajar tak terhingga – asal kitanya mau cari pembelajaran. Kendala terbesar film Mau Jadi Apa? di luar komedi dan observasi hubungan sosialnya yang mengena, adalah, film ini enggak berdiri atas struktur yang kuat. Solihun dan timnya perlu belajar lebih giat soal bagaimana menceritakan kejadian nyata menjadi sebuah skenario film. Sama kayak mahasiswa-mahasiswa tingkat atas yang luntang-lantung, motivasi film ini juga datang terlambat. Susah untuk mengetahui film ini diarahkan mau jadi apa? Konfliknya datang dan pergi. Tokoh-tokoh pendukung diberikan backstory, mereka punya masalah sendiri, tapi tidak dibangun dengan baik. Ditambah begitu saja ke dalam narasi. Aku tidak bilang tokoh-tokoh it satu dimensi, tapi terkadang antara tingkah komedik mereka yang over the topAnggika Bolsterli main anti jaim banget, tokohnya begitu bersemangat she just squats outofnowhere – dengan bagian yang emosional terasa benturan tone yang cukup keras.

Untuk sepuluh menit pertama cerita tampak membangun keinginan Soleh buat macarin Ros, dan kita berakhir dengan cerita Soleh disidang dan elemen romansa itu malah terdorong jadi background. Struktur cerita mestinya bisa diperkuat lagi, masalah majalah kampus mestinya langsung diperkenalkan. Film ini sebenarnya punya kesamaan dengan Coco (2017), berbicara mengenai meninggalkan jejak karya supaya dikenal dan diingat orang. Hanya saja, Mau Jadi Apa? terlihat begitu convoluted oleh struktur yang tidak rapi. Aku suka bagian terakhir di ruang sidang, solusinya yang menekankan pada persahabatan lumayan keren, di sini film mengambil resiko dengan menurunkan peran dan tindakan tokoh Soleh sampe nyaris tidak ada yang ia lakukan di sana. Akan tetapi, hal tersebut ditambah faktor kebetulan pada narasi membuat semuanya – walaupun di ending Solihun bilang tidak ada yang fiktif – terlihat terlalu diorkesterasi.

Nino is such a jerk, padahal sweaternya juga kayak halaman buku tulis

 

Dengarkanlah kata hati, sebelum benar-benar terlambat untuk berhenti dan memulai kembali. Jika kalian sedang kuliah, dan tidak yakin apakah yang kalian tekuni sekarang enggak sesuai dengan passion, segeralah hentikan. Pindah jurusan, ambil yang kalian suka. Jangan pernah ambil yang kalian tidak suka. Jangan sekadar mengikuti teman-teman. Atau hanya supaya bisa bareng pacar maka kalian berada di sana. Pilih karena kalian percaya. Pilih karena hal itulah yang hati kalian ingin lakukan.

 

 

 

Cerita yang personal tentang mahasiswa dan motivasinya ini dikemas dalam balutan inside jokes. Penuh oleh referensi-referensi akhir 90an, membuat film ini bisa kita sebut sebagai sebuah PERIOD-PIECE COMEDY. Hadir ringan, dengan tidak judgmental, film ini menghibur. Terlebih jika disaksikan bareng teman-teman seperjuangan. Secara teknis, bagaimana pun juga, sebuah film harus punya skenario yang terstruktur kuat supaya bisa menghasilkan perjalanan yang lebih terasa daripada sebuah hiburan. Film ini mau seperti itu, namun dari yang kita tonton barusan, perjalanannya masih panjang.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for MAU JADI APA?

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

COCO Review

“Always forgive, but never forget.”

 

 

Seandainya Pixar adalah mutant, maka kekuatan supernya pasti adalah kemampuan untuk membuat kita menangis. Menit-menit terakhir film Coco, aku serasa berada di rumah duka beneran. Studio penuh oleh suara sengau yang mengomentari cerita. Sekelilingku penuh oleh penonton yang bahunya naik turun, menahan isak tangis. Semua orang begitu terpengaruh oleh apa yang mereka saksikan, lantaran film ini benar-benar memanfaatkan waktu demi ngebangun  cerita tentang passion dan keluarga yang sungguh luar biasa. Coco adalah CERITA YANG AMAT SANGAT KAYA. Oleh tema, oleh budaya, oleh backstory para tokoh, sehingga begitu menontonnya kita seolah melangkah ke dalam suatu kehidupan yang sedang berlangsung. Dan hal tersebutlah, film ini seperti dunia yang bahkan sudah bekerja sebelum kita mengintipnya, yang merupakan salah satu aspek terhebat dalam film Coco.

Ceritanya tentang anak cowok bernama Miguel yang pengen banget menjadi musikus. Dia ingin mencipta lagu, dia ingin bernyanyi, dia ingin seperti tokoh idolanya, Ernesto de la Cruz yang sudah melegenda di Mexico. Miguel punya tempat persembunyian khusus yang ia dedikasikan untuk de la Cruz. Di tempat itu, Miguel diam-diam otodidak belajar main gitar dari menonton video-video lama Cruz. Miguel sembunyi-sembunyi begitu lantaran musik adalah hal yang dilarang dibicarakan di bawah atap keluarga. Semua sanak Miguel bekerja sebagai pembuat sepatu, dan Miguel diharapkan untuk mengikuti tradisi keluarga. Tidak boleh ada musik, jangan sampai Miguel berkelakuan serupa dengan kakek buyutnya yang meninggalkan nenek Coco demi karir. Keinginan Miguel makin tak terbendung di perayaan Hari Orang Mati, dia mencuri gitar di makam de la Cruz, yang kemudian membuatnya terdampar di dunia orang mati. Untuk bisa keluar, Miguel harus meminta restu dari keluarganya yang sudah mati, sembari mencari cara gimana supaya dia bisa tetap menekuni musik tanpa melukai hati saudara-saudara yang lain, terutama orangtua dan neneknya.

Nenek Coco kecilnya mirip Alessia Cara

 

Kekuatan spesial kedua kalo Pixar sebagai mutant adalah membuat  animasi senyata foto sebagai sesuatu hal yang klise untuk disebutin di dalam review. Detil-detil gambar pada Coco gila banget detilnya. Gerakan animasinya mulus. Shot-shot kota, jalanan, udah kayak foto beneran dan mereka seolah menyelipkan tokoh animasi ke dalamnya. Pemandangan dan festivenya dunia kematian dan perayaan di dalamnya sangat meriah sehingga walaupun bicara tentang dunia orang mati, tema ceritanya juga sebenarnya cukup kelam (kita akan bicarain ini di bawah), tapi film ini merekamnya dalam penampakan yang berwarna. Ini adalah film emosional menyentuh hari yang ceria. Dan aku belum ngomongin soal musiknya loh. Menakjubkan deh. Permainan gitar, nyanyiannya, semua terdengar begitu cantik.

Ada apa sih dengan Mexico dan Kematian? Dia de los Muertos adalah hari raya di Meksiko untuk mengenang orang yang sudah tiada. Pada hari itu dipercaya leluhur yang sudah meninggal akan mendatangi rumah kerabat yang masih hidup, selama mereka masih diingat. Hal tersebut dijadikan stake dalam film ini, salah satu tokoh membantu Miguel kembali ke dunia karena dia ingin Miguel segera memasang fotonya di rumah, supaya keluarganya ingat dan si tokoh tidak menghilang. Orang yang sudah mati tidak akan benar-benar pergi, sampai tidak ada lagi yang mengenang mereka. Kenangan kita atas merekalah yang membuat orang yang kita cintai bisa tetap hidup, walaupun umur mereka sudah lama habis.

 

Coco punya cerita yang kaya, punya tokoh yang bisa dengan mudah kita apresiasi. Aku bisa melihat film ini lebih disukai oleh orang dewasa, meski tidak tertutup kemungkinan ada anak kecil yang bisa melihat ke balik nyanyian dan tengkorak-tengkorak yang bertingkah lucu itu. Buatku, aku hanya sebatas menikmati, karena apa yang ditawarkan oleh cerita Coco sudah kelewat familiar bagiku. I do feel related to it, aku tahu persis gimana punya kerjaan yang gak disetujui orangtua. Namun cerita cantik dengan pesan yang amat menyentuh  film ini enggak terasa terlalu menyelimutiku karena ini hanya satu lagi cerita tentang anak muda yang ingin melakukan sesuatu di hidupnya tapi keluarga ingin dia melakukan hal lain sehingga dia kudu menemukan jalan tengah untuk menyenangkan keluarga sembari menjawab panggilan hatinya. Premis dasar tersebut, begitu juga dengan elemen anak sampai ke dunia lain dan belajar tentang hidup adalah hal-hal yang udah lumayan sering kita lihat dieksplorasi dalam film.

Belum lama ini, di tahun 2014  ada animasi berjudul The Book of Life yang bukan hanya punya tema cerita yang sama, settingnya juga mirip dengan film Coco. Akan tetapi, seperti halnya Antz buatan Dreamworks dengan A Bug’s Life nya Pixar yang keluar nyaris berbarengan di tahun 1998, kesamaan antara Coco dengan The Book of Life enggak semata kayak Pixar totally nyontek. Kedua film ini punya lapisan luar cerita yang sangat berbeda. The Book of Life yang bercerita tentang anak dari keluarga matador yang ingin main musik, namun dilarang, dan dia juga terdampar di Dunia Kematian mengambil aspek cinta segitiga untuk menekankan soal pencarian passion. Kalo seperti aku, kalian suka sama The Book of Life, maka kalian pasti akan teringat sama film ini ketika menonton Coco. Tapinya lagi, Coco bisa jadi adalah film yang kalian inginkan ketika kurang puas menonton The Book of Life. Karena pada film Coco, fokus tentang warisan keluarga, gimana usaha konek dengan keluarga itu, diceritakan dengan lebih terarah.

Dunia Kematian itu begitu semarak sehingga kita jadi gak sabar untuk mati. Eh?

 

Di balik limpahan musik dan budaya itu, kalo kita pikir-pikir, sesungguhnya ada implikasi kelam yang cukup mengerikan yang dapat kita petik dari Coco. Film ini antara lain bicara tentang mengabadikan diri lewat seni. Dengan karya, dengan kita menciptakan sesuatu, orang akan terus membicarakan kita. Ernesto de la Cruz hidup bak dewa  di dunia kematian karena lagunya begitu terkenal. Orang-orang terkenal berpesta pora di sana. Aspek kelam yang kumaksud adalah, tidak ada konsep baik-buruk di sini. Tidak peduli apa yang kita lakukan, entah karya seni ciptaan kita nyolong punya orang lain, entah kita pernah bersikap brengsek ke orang lain, dalam film ini kita masih akan hidup senang di tempat yang layaknya surga selama foto kita masih dipajang, nama kita masih disebut oleh kerabat atau orang yang masih hidup.

Dalam film ini, kita melihat ada tokoh yang baik, ia sebagai tengkorak benar-benar mati, sendirian di ranjang gantungnya, karena dia tidak punya apa-apa yang bisa membuatnya diingat orang.  Ini mencerminkan bahwa orang-orang biasa, yang hidup sebagai orang baik tapi gak nyiptain apa-apa, yang gak melakukan sesuatu yang membuat mereka tertulis di buku sejarah, hanya akan menunggu waktu mati itu datang lagi. Kebaikan enggak diingat orang. Hanya menjadi terkenal yang abadi. Tentu saja, di masa di mana satu video viral di youtube bisa bikin orang jadi sukses, implikasi pesan tersebut dapat menjadi bumerang sebab membuat terkenal, punya banyak fans, menjadi prioritas hidup nomor satu bagi anak kecil alih-alih ngelakuin hal baik lain. Makanya, kita yang mesti bisa ngingetin ke adik-adik saat nonton ini bahwa diingat dan direstui keluargalah yang paling penting.

 

 

 

 

 

Ada cerita indah nan menyentuh yang bisa diapresiasi oleh anak-anak pada film ini. Ada banyak hal positif yang bisa kita ambil mengenai keluarga, mengenai jalan hidup yang kita pilih. Film ini juga kaya oleh unsur budaya. Tapi tentu saja, seperti mata uang, ada sisi kelam di balik pesona dan keceriaannya. As the story standpoint goes, aku enggak bisa bilang aku benar-benar tersedot penuh ke dalam ceritanya, meskipun relatable buatku. Film ini terasa sangat familiar, hingga aku tidak merasakan keunikan yang dia miliki. This is just another story, yang diceritakan dengan sangat baik, pengisi suaranya mantep, musiknya catchy, arahannya sangat ketat.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for COCO.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

 

Survivor Series 2017 Review

 

Survivor Series, sejarahnya, adalah tradisi untuk memperingati hari Thanksgiving. Pesta panen. Dan yang namanya pesta, pasti melibatkan banyak orang. WWE menyimbolkan ini dengan memasangkan superstar-superstar, dengan karakter yang beragam, ke dalam tim dan mengadu tim-tim tersebut dalam sebuah match. Jadilah perang lima-lawan-lima. Dan showdown antara brand Raw dan Smackdown selalu merupakan pertunjukan yang menarik minat.

Masalahnya dengan tradisi yang coba dibangun ini adalah, lama kelamaan Survivor Series berubah menjadi literally berjuang untuk survive ketimbang perayaan menghidupkan tradisi.

Karena WWE sepertinya tidak memiliki rencana jangka panjang dalam membangun acara ini, yang mereka lakukan sekarang adalah mendaftar ulang apa-apa saja yang sekiranya diinginkan oleh penonton, apa yang terbaik yang mereka punya, dan menyuapkannya – melemparkan begitu saja dengan harapan mendapat hasil paling memuaskan.

“gobble up, wobbles!”

 

Aku bukannya bilang aku gak mau melihat New Day melawan the Shield, ataupun bilang lebih suka melihat Lesnar melawan Mahal ketimbang melawan Styles. Kurt Angle serta Triple H berlaga kembali? Tentu saja aku akan duduk menggelinjang di depan TV! Tapi ini adalah masalah gimana mereka menceritakannya. Survivor Series 2017 kelihatan seperti sebuah rencana yang banyak direvisi, dicorat-coret, dengan banyak bagian cerita yang ditulis ulang karena mereka merasa gak pede dengan apa yang sudah mereka punya pada awalnya. Ada banyak elemen yang bekerja membangun perseteruan Raw dengan Smackdown, yang ditinggalkan begitu saja – yang tidak menambah apa-apa pada ujungnya. Seolah ditinggalkan oleh penulis aslinya, dan ditangani oleh orang lain, persis kayak film Justice League (2017). Acara ini mempertemukan juara masing-masing brand, dan mereka tidak lagi mempedulikan konsep face melawan heel dalam acara ini.

Jinder Mahal menantang Brock Lesnar adalah percikan yang mengawali kemelut dua brand tahun ini. Tetapi, tembakan yang sebenarnya, diacknowledge oleh show datang dari Shane McMahon yang membawa pasukan Smackdown menginvasi acara Raw. Mereka membuat ini menjadi pertarungan dua manajer acara, tanpa memberikan stake buat masing-masing superstar untuk ikut membela timnya. Shane literally barking orders ke superstar Smackdown. Maksudku, itu mereka punya Mahal dengan motivasi personal (dari storyline standpoint) eh kemudian mereka mengganti Mahal dengan Styles, dengan alasan penonton lebih suka melihat Styles melawan Lesnar. Di sisi Raw, mereka punya storyline tentang Kurt Angle yang kredibilitasnya dipertanyakan karena dia punya anak yang gak benar-benar disukai dan jadi weak link buat tim, dan elemen ini pun dikesampingkan begitu saja.

Survivor Series 2017 pada akhirnya memang menjadi acara yang bergantung kepada starpower, lantaran WWE menyadari titik lemah dari konsep perang antar-brand ini. Yakni, mereka tidak berani mengambil resiko membuat salah satu brand tampak beneran lemah. Mereka tidak berani membuat skor yang jauh, seperti 5-2 atau malah 7-0. Kita akan selalu mendapat skor yang imbang, diceritakan dengan saling mengejar, dan ini membuat outcome beberapa match menjadi dapat dengan mudah ditebak. Jadi, WWE ingin membuat kita tetap tertarik dengan memberikan apa yang kita mau. Shield yang reuni melawan New Day yang sepanjang tahun ini udah konsisten menyuguhkan pertandingan bintang-empat, ditaruh sebagai match pembuka. Dan pertandingan ini sukses menjadi salah satu yang paling seru sebab kita melihat mereka saat skor masih nol-nol. Kepredictablean Roman Reigns bakal membawa timnya auto-win akan diabaikan sebab di titik ini kita hanya ingin melihat pertandingan yang seru. Dan mereka memang ngedeliver. Porsi awalnya agak lambat, namun di akhir banyak spot yang bikin kita menggelinjang.

Nyaingin partai tag tersebut,  AJ Styles melawan Brock Lesnar adalah penantang match terbaik di Survivor Series. Clearly, Lesnar lebih comfortable tanding dengan Styles, he looks like he have fun. Di luar beberapa botch karena antusiasme berlebihan, match dengan pace cepat ini kelihatan seperti pertarungan yang realistis. Offense-offense comeback dari Styles mengalir dengan natural dan meyakinkan. Sayangnya, match ini pun terbog down oleh kepredictablean skor. Saking gampang ditebaknya, bahkan salah satu peserta nonton bareng di Warung Darurat dapat menebak alur match dengan tepat, hingga ke bagian endingnya.

Pertemuan dua Wonder Woman WWE, Goddess melawan Queen, mainly diuntungkan karena berada persis di posisi skor dua sama. It was either Bliss or Lesnar yang akan menyetak angka buat Raw. Sehingga kita dapat dengan gampang terinvest ke dalam pertandingan ini. Actually, ini adalah satu-satunya partai yang mempertemukan antagonis melawan protagonis. Dan Charlotte tidak pernah benar-benar sukses sebagai seorang face. Penampilannya tidak konsisten dibandingkan Bliss yang tepat hingga ke gesture terkecil sebagai seorang yang jahat, jutek. At times, match ini tetap terasa seperti heel melawan heel. Bliss dan Charlotte actually saling mengisi, Bliss keliatan banget kalah dari segi teknikal, tapi kekuatan cerita tidak pernah putus darinya. Menonton match ini akan terasa seperti menonton cerita tentang seorang antagonis yang berusaha mengalahkan kelemahannya sendiri.

Serius Cole, jangan panggil Shin dong, emangnya Shinchan

 

Tradisi adalah soal generasi. Mempertanyakan kenapa John Cena 16 kali juara WWE sama dengan mempertanyakan kenapa Reza Rahadian melulu yang kebagian peran di film Indonesia. Pihak produser ataupun dalam kasus WWE, Vince McMahon, bukannya enggak percaya sama generasi, tapi mereka lebih aman memakai yang sudah terbukti menjual. Mereka lebih suka mempercayakan keranjang duit mereka dipegang oleh orang yang terpercaya, sembari mereka melatih tangan-tangan lain. Asuka, Roman Reigns, Braun Strowman adalah tangan-tangan yang mendapat push paling intens di antara superstar kekinian.

Selebihnya, Survivor Series masih bergantung kepada pegulat-pegulat lama. Main event acara ini melibatkan 10 orang yang sembilan di antaranya berusia di atas 35 tahun. Selain Braun Strowman, eliminasi yang terjadi dalam match ini adalah buah tangan Cena, Shane, Orton, Triple H, Kurt Angle. Ya, nama-nama yang sudah kita kenal sejak sepuluh tahun yang lalu. While awal match ini seru banget dengan menggoda kita dengan berbagai kemungkinan pertandingan impian (aku menggelinjang banget liat Balor ketemu Shinsuke Nakamura), setir masih dipegang oleh Triple H. This match is actually about him, dengan kepentingan ngepush Strowman sebagai face jadi agenda kedua. Sama seperti Traditional Survivor Series yang cewek, kita terinvest, namun pay off match ini tidak benar-benar berasa. Yang ada malah kita kebingungan sama ending match. I guess ekspresi Braun Strowman sangat tepat untuk mewakili wajah-wajah penonton Survivor Series. Saking bingungnya, crowd yang nonton live lebih heboh ngeliat Nia Jax lawan Tamina dibanding ngeliat The Bar lawan Uso loh, mantep.

 

 

Jika kita sudah sepakat Survivor Series adalah perayaan tradisi, maka sekarang coba kamu bayangkan balon-balon warna warni yang biasanya digantung dalam sebuah pesta perayaan. Ambil balon tersebut, kemudian kempeskan, niscaya balon tersebut tidak bisa terbang lagi. Survivor Series 2017 adalah balon yang terbaring kempes di lantai itu.
The Palace of Wisdom menobatkan Brock Lesnar melawan AJ Styles sebagai MATCH OF THE NIGHT

Full Result:
1. 6-MEN TAG TEAM The Shield ngalahin the New Day
2. WOMEN’S TRADITIONAL SURVIVOR SERIES TAG TEAM Asuka jadi sole survivor Team Raw mengalahkan Team Smackdown
3. INTERCONTINENTAL CHAMPION VS. UNITED STATES CHAMPION Baron Corbin mengalahkan The Miz
4. RAW TAG TEAM CHAMPIONS VS. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONS The Usos defeating Sheamus and Cesaro
5. RAW WOMEN’S CHAMPION VS. SMACKDOWN’S WOMEN’S CHAMPION Charlotte bikin Alexa Bliss tap out
6. UNIVERSAL CHAMPION VS. WWE CHAMPION Brock Lesnar mengalahkan AJ Styles
7. TRADITONAL SURVIVOR SERIES TAG TEAM MATCH Triple H dan Braun Strowman jadi survivor Team Raw mengalahkan Team Smackdown

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

JUSTICE LEAGUE Review

“One Nation, Under Fear”

 

 

Superman is Dead.

Bukan, itu maksudnya bukan mau nyebut nama grup band. Superman sudah mati adalah apa yang ingin dieksplorasi oleh sutradara Zack Snyder dalam kisah superhero gabungan dari dunia DC Comics ini. Superman sudah laksana harapan bagi semua orang, dan ketika dia tiada apakah itu otomatis berarti tidak ada harapan lagi?  Lantas, apa yang mesti kita lakukan sekarang, hidup tanpa harapan? Dalam beberapa adegan pertama kita melihat dampaknya; dunia sendu, kriminal naik. Ketakutan actually merundung kota sampai-sampai pasukan monster yang memakan rasa takut datang bertamu tanpa malu-malu. Untungnya, Batman masih ada di sana. Wonder Woman juga. Para pahlawan itu masih ada, namun bahkan mereka butuh harapan. Batman eventually harus mengumpulkan manusia-manusia super sebanyak yang dia bisa cari, demi mengalahkan kekuatan jahat yang lebih besar datang bersama monster-monster pelahap rasa takut itu.

asal Gal Gadot yang ngajak, aku sih selalu iyes

 

Dunia tanpa Superman adalah tempat yang menyeramkan. Ketakutan merajalela, dan orang-orang dikontrol olehnya. Pihak-pihak tinggi besar, seperti Steppenwolf, akan memanfaatkan keadaan, menggunakan ketakutan masyarakat sebagai alat untuk mewujudkan keinginan pribadinya yang serakah. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita masih bisa mengenali pahlawan kita. Siapa yang bakal menjadi Superman buat kita?

 

Film Justice League akhirnya menegakkan perdamaian di antara dua kalangan fans superhero. I mean, tau dong kalo selama ini baik fans Marvel ataupun fans DC selalu ngotot-ngototan mengenai film mana yang terbaik. DC terkenal dengan film yang kelam, sedangkan Marvel punya tone cerita yang lebih ringan, dan Justice League kali ini berusaha berada di dalam irisan dua zona itu.  Film ini SURPRISINGLY LIGHT-HEARTED. Ada banyak humor yang tercipta dari interaksi para manusia-manusia super itu, dan mendengar mereka bicara dan bertingkah seperti demikian sungguh sebuah pemandangan yang keren. Antara tone yang kocak dengan elemen yang lebih serius film ini memang tidak bersatu dengan mulus, tetapi mereka tetap bekerja dengan menyenangkan.  Hal ini tercapai karena Justice League bisa dibilang adalah plethora dari ngumpulin ‘superhero’. Zack Snyder sempat mundur dari produksi karena tragedi keluarga dan Joss Whedon – yang menulis dua film The Avengers – mengambil alih dan melakukan banyak reshots. Justice League mengalami kesulitan produksi dan tetap saja produk akhirnya berdiri gagah sebagai tayangan pahlawan super yang ringan, asyik untuk ditonton, yang berhasil bikin kedua kubu fans menyadari bahwa mereka ada di sini karena hal yang mutual; sama-sama suka aksi superhero.

Salah satu yang patut kita syukuri adalah DCEU bermurah hati memberi kita Wonder Woman dua kali di tahun ini. Gal Gadot sekali lagi memainkan perannya dengan sangat menawan, selalu memukau melihat Wonder Woman beraksi. Dia salah satu bagian terbaik yang dipunya oleh film ini. Batmannya Ben Affleck kuat di karakter, namun aku merasa sedikit kasihan sama Batman dalam hal kekuatan. Sama seperti ketika melihat Piccolo di saga terakhir Dragon Ball, Batman seperti teroverpower. Ada dialog dengan Alfred ketika mereka mengenang betapa mudahnya dulu ketika masalah yang mereka hadapi hanyalah bom pinguin. Bruce Wayne adalah yang paling merasa ketakutan, tapi dia tidak menunjukkannya, dan itulah sebabnya kenapa Batman adalah pemimpin yang hebat buat grup ini.

bertarung antara hidup dan mati, dan yang kita komenin adalah keteknya yang enggak lecet

 

Kita akhirnya dikasih liat seperti apa kemampuan The Flash, Aquaman, dan Cyborg. Ketiga orang ini keren banget. Aku definitely akan menonton Aquaman, Jason Momoa memainkan tokoh ini kayak sosok paman yang cool banget, dan menurutku kita hanya dikasih liat separuh dari kekuatan aslinya. Ezra Miller sebagai The Flash, dan tokoh ini kocak banget. Too bad kita enggak melihat backstorynya lebih banyak karena aku punya satu pertanyaan yang ingin aku konfirmasi; The Flash suka nonton Rick and Morty juga? Hihi… Cerita latar karakter yang diperankan Ray Fisher, si Cyborg, sebenarnya adalah yang paling menarik, yang paling paralel dengan tema ketakutan yang dijadikan inti film. Cyborg ‘dibuat’ oleh ayahnya sendiri lantaran si ayah enggak mau kehilangan anaknya yang terkena ledakan. Tapi Cyborg justru takut, dia enggak bisa mengendalikan, kerobotannya akan menimbulkan masalah.

Dua jam yang diberikan Warner Bros buat film ini nyata-nyata enggak cukup. Ada banyak tokoh yang harus dikenalin, yang harus diestablish. Film ini berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dengan referensi-referensi, tapi tetap saja masih terasa buru-buru. Film ini memang mengandalkan pengetahuan penonton terhadap latar para tokoh, dan ini dapat menjadi masalah buat penonton yang gak baca komik, karena akan ada banyak hal yang tak mereka mengerti. Also, keenam superhero kita  kurang terasa sebagai satu unit. Kita perlu melihat mereka berusaha mengesampingkan tujuan personal supaya kerja sama mereka ada bobotnya. Film tidak memberikan kita hal ini.

Taklukan ketakutan sendiri demi membebaskan diri dari batasan personal. Lakukan ini dan kita semua akan siap untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

 

Adegan-adegan aksinya sangat seru. Kita melihat setiap superstar dapat ‘tugas’ masing-masing. Film ini ngeset up Justice League untuk menghidupkan kembali Superman. And once they do, kita mendapat adegan yang paling aku suka seantero film. Malahan, Superman jadi tokoh yang keren banget di sini. Kalian harus lihat sendiri apa yang dilakukan oleh film terhadap Clark Kent sebagai superhero yang hidup lagi. My issue buat film ini adalah stake yang dihadirkan nyaris tidak terasa sama sekali. Kita tidak merasa dunia benar-benar berada dalam bahaya. Contohnya saja pas di pertempuran terakhir. Film memberi tahu ada lumayan banyak penduduk di sekitar tempat mereka bertempur. Akan tetapi, kita hanya dikasih liat keadaan satu keluarga saja. Sense of danger itu dengan cepat terminimalisir, lantaran tak terbuild up dengan sebagaimana mestinya.

Dengan tone yang sangat ringan saja, tema tentang ketakutan udah tergeser banget menjadi latar belakang. Ditambah lagi, musuh yang mereka hadapi tidak pernah benar-benar tampak menakutkan. Steppenwolf adalah monster yang kuat, film juga mengambil sedikit waktu untuk memperlihatkan backstorynya. Adegan pertempurannya dengan suku Amazon di pulau asal Wonder Woman merupakan salah satu aksi paling exciting yang dipunya film. Namun sebagai karakter, Steppenwolf sangat lemah. Dia tidak lebih dari monster CGI yang ingin menguasai dunia. Presencenya enggak kerasa. Kita enggak ngerasain urgen ataupun bahaya yang mengancam tim superhero. Mereka tidak pernah tampak benar-benar di ujung tanduk, bahkan sebelum Superman datang.

 

 

 

Film ini terasa less-Snyder, dan lebih ringan dari yang kita kira. Keren dan seru dan mengasyikkan melihat para superhero saling berinteraksi dengan komedi, enggak terkungkung bersikap serius. Film ini mudah untuk dinikmati. Tapi sometimes, menjadi terasa terlalu jinak. Kita tidak merasakan ketakutan, tidak ada sense of danger yang serius terasa. Dua jam memang tidak cukup untuk mengembangkan ceria dengan tokoh sebanyak ini. Pengembangannya terburu-buru, The Flash malah bergabung gitu aja karena dia gak punya teman. Cyborg mestinya dikasih kerjaan lebih banyak selain baca petunjuk dan menyatu dengan teknologi. Steppenwolf mestinya bisa dibuat lebih meyakinkan. Mestinya film bisa memberikan kedalaman yang lebih pada hubungan antartokoh, memberikan stake yang lebih mengena, memberikan ketakutan dan bahaya yang lebih kuat.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for JUSTICE LEAGUE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

A SILENT VOICE Review

“It’s the way you say it.”

 

 

A Silent Voice menampilkan tokoh tunarungu-wicara, namun tidak sulit bagi kita untuk dapat mendengar bahwa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh  anime ini adalah komunikasi merupakan hal yang harus kita pelajari, karena kita semua, kebanyakan, tidak bisa berkomunikasi dengan benar.

 

Aku jadi kepikiran buat mencanangkan November sebagai bulan apresiasi anime sebab sudah beberapa tahun belakangan ini, setiap sekitaran November, aku selalu mendapat suntikan harapan bahwa masih akan selalu ada pembuat-pembuat film anime di luar sana yang berani menembus batas dan mengeluarkan tayangan berkualitas semacam Your Name (2016) dan A Silent Voice ini.  I mean, yea, memang memprihatinkan melihat Studio Ghibli masih harus berjuang secara keuangan, namun ternyata ini bukan akhir dari anime. Aku senang, meskipun aku bukan penggemar anime garis keras. Aku hanya memberikan kredit kepada yang pantas. Dan anime adalah salah satu media yang paling sering dioverlook. Di sini, aku ingin membujuk kalian buat meluangkan waktu dan mencari anime-anime yang baik. A Silent Voice adalah satu yang kurekomendasikan. Aku melewatkan film ini saat tayang di bioskop, dan lumayan nyesel karena ternyata ini film yang bagus banget. Bahkan jika kalian bukan penggemar anime, aku yakin setiap yang menontonnya akan  bisa menemukan apa yang bisa diapresiasi dari film ini.

Pada lapisan yang paling luar, kita bisa melihat film ini sebagai kisah drama relationship antara seorang cowok dengan cewek yang tunarungu-wicara. Tapi cerita ini tidak digarap dengan klise. Ceritanya bicara lebih banyak daripada romansa semata. Film ini menghindari banyak melodrama dan elemen-elemen pemancing baper yang banyak anime bahkan film lain terjerumus ke dalamnya. Tentu, salah satu bagian paling manis film ini adalah bagian percakapan antara kedua tokoh dengan menggunakan bahasa isyarat. Akan ada banyak kesempatan ketika mereka bercakap-cakap, saling melempar bahasa isyarat – dalam diam, semua emosi itu kita baca lewat pandangan mata mereka. Semua itu dapat tersampaikan dengan amat baik lewat animasi yang benar-benar menawan. Ini adalah film yang cantik dan punya cerita yang sangat menyentuh.

‘Menyentuh’ sebenarnya cukup mengecilkan karena apa yang tepatnya dilakukan oleh film adalah; ia menggenggam hati kita, kemudian meremasnya erat-erat. Membuat kita merasa sesak. Nyaris sebagian besar film ini terisi oleh adegan-adegan yang tough untuk ditonton. Terutama jika kalian pernah menjadi korban bully, pernah dikucilkan oleh teman-teman di sekolah. DAMPAK PERUNDUNGAN MENJADI KONFLIK UTAMA yang menyelimuti narasi. Dan film ini tidak ragu untuk menjadi menyedihkan. Namun tidak pernah sekalipun tokohnya meminta kita untuk mengasihani mereka. Film ini melakukan hal dengan sangat berbeda.  Biasanya film-film akan menempatkan kita di sudut pandang tokoh yang paling gampang dikasihani, dalam kasus film ini; sudut pandang Nishimiya, si cewek tunarungu-wicara yang dibully. Kita sudah pasti akan menginginkan Nishimiya untuk hidup bahagia. Film ini paham membahas dari perspektif demikian hanya akan membuat cerita menjadi terlalu dramatis dan kurang menantang. Jadi, cerita menempatkan kita di belakang Shoya Ishida, cowok yang tadinya paling getol ngebully Nishimiya.

senjata makan tuan adalah ungkapan yang tepat

 

Saat masih duduk di kelas enam, kelas Ishida kedatangan murid pindahan. Seorang anak perempuan yang membawa buku catatan ke mana-mana karena ia begitu bersemangat untuk mengobrol dengan teman-teman baru. Nishimiya tidak dapat mendengar, ia tidak dapat berbicara dengan lancar, jadi dia menggunakan tulisan untuk berkomunikasi. Teman-temannya disodorkan buku sebagai cara untuk bicara kepadanya. Tak butuh waktu lama bagi teman-teman satu kelas untuk menganggap Nishimiya merepotkan. Apalagi ketika mereka disuruh belajar bahasa isyarat, wuih Ishida langsung menertawakan. Di saat teman-teman yang lain mulai menjauhi Nishimiya, Ishida menjadikan anak itu bahan candaan. Dia meledek cara Nishimiya berbicara. Dia membuang buku komunikasi Nishimiya ke kolam. Ishida bahkan nekat mencabut alat bantu pendengaran dari telinga Nishimiya dan melemparkannya ke mana-mana. Eventually, hal tersebut membuat Nishimiya pindah dari sekolah mereka. Ishida pun dikecam teman-teman yang lain sebagai tukang bully kelas kakap, sekarang gantian ia yang dijauhi. Dikucilkan. Dan dikerjai oleh anak-anak satu sekolah. Kemudian film akan membawa kita melompati beberapa tahun hingga Ishida SMA. Dan yang kita lihat tidak lagi anak laki-laki yang ceria, melainkan seorang cowok yang begitu sendirian, tak punya teman, traumatized oleh kelakukan masa kanak-kanaknya sendiri.

Normal bagi anak kecil untuk menggoda, mengganggu, teman yang mereka sukai. Karena begitulah cara mereka berkomunikasi. Kekanakan, kata orang. Namun, Ishida tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan mengerti itu. Sudah terlambat untuk dia mengerti apa yang ia lakukan sudah kelewat batas, segala yang ia lakukan berbalik kepadanya. Dia tumbuh menjadi cowok dengan trauma mendalam oleh derita yang ia berikan kepada orang lain. Begitu traumanya sehingga dia tidak mengerti apa itu teman, apa yang membuat seseorang bisa dianggap sebagai teman.

 

Biasanya dalam anime romantis kita dapat dua tokoh yang saling menyintai dan mereka terpisahkan oleh sirkumtansi dari luar, entah itu jarak ataupun hal lain. Dalam A Silent Voice, Ishida dan Nishimiya benar saling menyintai, tapi masing-masing mereka merasa bersalah – sudah melakukan hal mengerikan di masa lalu – sehingga mereka tidak tahu harus bagaimana untuk meruntuhkan tembok itu, bagaimana harus menjadi teman. Kita melihat usaha Ishida untuk mencari keberadaan Nishimiya saat mereka remaja. Ishida sungguh-sungguh belajar bahasa isyarat, karena dia menyangka karena tidak bisa saling bicara itulah masalah mereka. Tapi redemption itu tak kunjung datang kepadanya.

bahkan setelah gede pun kita masih paling sok kasar sama orang yang disukai

 

Komunikasi itu bukan masalah suara. Komunikasi bisa berbentuk apa saja. Akan tetapi, Ishida remaja bahkan menolak untuk kontak mata dengan orang lain. Dia tidak lagi tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang, dia takut salah, takut dipersalahkan. Film ini mengambil langkah kreatif yang sangat kuat dalam menggambarkan keengganan dan ketakutan Ishida terhadap suara-suara sosial. Wajah semua orang di sekitar Ishida akan ditempeli tanda silang gede. Ketika ada orang yang mengajaknya bicara, berusaha berhubungan dengan Ishida, barulah tanda silang ini terlepas jatuh ke lantai.

 

 

Lebih memfokuskan kepada struggle yang dihadapi oleh remaja seperti Ishida, juga Nishimiya, film ini adalah studi karakter yang sangat relevan, terutama lantaran banyak anak-anak di luar sana yang juga berurusan dengan masalah perundungan. Korban maupun pelaku, semua kena dampaknya. Film ini dengan berani membahas semua itu, dengan lingkupan sudut pandang yang berbeda. Namun dua jam lebih durasi itu bisa sangat memberatkan, apalagi film ini begitu menoreh hati kita, it’s hard to watch sometimes. Penting bagi film untuk memperlihatkan interaksi antara Ishida dengan tokoh selain Nishimiya, akan tetapi masih banyak kita jumpai adegan-adegan percakapan antara para tokoh sampingan ini yang enggak begitu mempengaruhi atau menyumbangkan bobot emosi kepada fokus cerita. Film mestinya bisa memangkas beberapa, membuat cerita lebih ketat. Di luar itu, ini adalah film penting, and I really like it. Serta menurutku, film ini masih memiliki lapisan lain yang bisa kita eksplorasi, karena ada beberapa bagian yang sangat tersirat seperti reinkarnasi ataupun kenapa kita tidak pernah diperlihatkan wajah kakak Ishida, yang belum sepenuhnya aku mengerti.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for A SILENT VOICE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

HUJAN BULAN JUNI Review

“Love is walking in the rain together”

 

 

 

Previously on My Dirt Sheet:

Writer: “Oke ehem.. jadi, ini adalah film tentang seorang pengemudi bus yang menulis puisi..”
Studio: (tanpa mengangkat kepala, pura-pura baca sinopsis padahal lagi ngeliatin foto ibu guru si Amel di hp) “Terus? Terus? Ntar bomnya di mana?”
Writer: “anu.. enggak ada bom.. dia cuma nulis puisi.”
Studio: “Enggak ada bom? Teroris ada? Kebut-kebutan di jalan harus ada sih ya, biar seru.” (sinopsisnya sekarang dijadiin kipas, maklum gerah mau ujan)
Writer: “umm..bisnya ntar sempat rusak sih sekali.. electrical problem gitu..”
Studio: “Bisnya enggak bisa jalan-jalan ke luar negeri dong? Cinta segitiganya mana? Vampirnya?”
Writer: “e..e..enggak ada”
Studio: (ngobrol di telepon)
Writer: “gimana he, Pak?… Pak?”

 

Di atas barusan adalah kutipan dialog yang kutulis Februari silam di halaman ulasan Paterson (2016), sebuah film puisi yang begitu mengena walaupun digarap dan bercerita dengan teramat sederhana, sehingga membuat aku takjub membayangkan usaha keras yang punya ide untuk menjadikannya sebuah film. Karena bikin film itu sudah susah sejak dari tahap meyakinkan yang punya dana bahwa cerita kita menjual. Studio, produser, atau PH  pengen jaminan duit kembali; yang biasanya berupa cerita yang sudah laris sebagai novel, apalagi kalo cerita dengan tema cinta yang bisa bikin baper. Hujan Bulan Juni berawal dari puisi, yang kemudian dipindah duniakan menjadi novel dan banyak lagi sebelum akhirnya, berdasarkan novelnya, mengambil wujud sebuah film yang sedang kita bicarakan sekarang.

Hujan Bulan Juni adalah kelanjutan dari apa yang terjadi kalo penulis Paterson mengalah kepada studio dan membiarkan ceritanya dirombak susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan aspek-aspek yang ditujukan demi menjadi ngepop.

 

Sepasang dosen UI yang sedang saling cinta. Pingkan yang dosen sastra Jepang dengan Sarwono yang asli Solo mengajar di Antropologi. Informasi ini dengan cepat melandaskan kepada penonton bahwa jarak akan dengan gampang menjadi musuh mereka. Pingkan hendak distudikan ke Jepang selama dua tahun, sedangkan Sarwono jelas harus bepergian di dalam ruang batas wilayah Indonesia. Menjelang waktu keberangkatan Pingkan, misalnya, Sarwono ditugaskan ke Manado. Pingkan yang berkampung halaman di Manado dibawa serta, “Aku butuh guide. Setiap saat aku butuh kamu.” Tampaknya bukan jarak saja yang menguji coba cinta mereka; kedekatan Pingkan dengan sepupu angkatnya, keakraban Pingkan dengan sejawat dari Jepang, perjodohan, beda kepercayaan, dan rasa percaya itu sendiri. Pingkan bukan tak menyadari. Cinta adalah usaha. Sebuah misi. Dan ini adalah tentang siapa yang berusaha di dalam cinta.

Sarwono, Katsuo, Solo, Manado, karena puisi ada rima maka nama Pingkan mestilah Pingkan Mambo!

 

Sosok penyair yang sudah menulis puisi dan novel Hujan Bulan Juni yang udah sukses bikin baper banyak orang dapat kita saksikan dalam film ini. Sapardi Djoko Damano kebagian peran singkat sebagai ayah dari Sarwono. Dan aku enggak tahu seberapa besar peran beliau di dalam pembuatan film ini, apakah hanya sebagai cameo atau punya andil yang lebih besar lagi. Karena to be honest, aku berulang kali mengucek mata saat menonton. Mengucek bukan karena ngantuk bosen, tetapi mengucek karena aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Dan kuharap dugaanku benar bahwa penulis puisinya tidak banyak campur tangan. Ada begitu banyak pilihan yang diambil oleh film, yang membuat keseluruhan presentasinya terasa disulam tambal oleh aspek-aspek yang enggak bekerja dengan baik dalam konteks memfilmkan puisi.

Bait-bait puisi kerap muncul di layar, disuarakan oleh para tokoh. Bayangkan seperti voice over narasi, namun yang ini berupa bacaan puisi. Bukanlah seberapa indah kata, melainkan seberapa besar kata tersebut menyampaikan rasa. Masalah film ini datang ketika ia memindahwacanakan bahasa kata-kata itu ke dalam bahasa gambar. Kutekankan sekali lagi, ini bukan masalah source materialnya. Puisi Sapardi bergaung lantang oleh kata-kata yang mencerminkan rasanya. Namun saat menjadi film, puisi dan segala keadaan diolah TERLALU CATERING KE BIKIN PENONTON BAPER – tanpa benar-benar memikirkan apakah sudah diset-up, apakah worked atau enggak. Misalnya kalimat “Apa angin sudah sampai ke situ, tadi aku titip salam buat kamu ke dia” yang dikirim Sarwono lewat pesan Whatsapp. Kalimat tersebut puitis dan bekerja baik jika dituliskan di buku, dikirimkan secara tidak langsung, dan si Pingkan baru membacanya ketika dia merasa sangat rindu. Namun ketika Sarwono ngeWA, bilang langsung, kontan itu adalah pesan paling gombal yang pernah dikirimkan oleh seseorang lewat hape. Kesan puitisnya berkurang drastis sebab, hey Whatsapp itu practically langsung bicara ke orang, kita bisa bilang rindu tanpa muter-muter bragging bilang nitip salam ke angin.

Dosen-dosen itu bicara bahasa puisi, tetapi most of the time ketika lagi dua-duaan, mereka terutama  Pingkan terdengar kayak remaja yang lagi pacaran. Mungkin memang benar cewek kalo lagi bareng orang yang dicinta akan bertingkah seperti anak kecil, dan film sering menampilkan seperti itu sehingga aku sering lupa sedang menonton orang dewasa. Velove Vexia memainkan peran yang cenderung gampang buat dirinya, she hits the notes just perfectly. Adipati Dolken sekali lagi bermain sebagai karakter yang bisa dikatakan cenderung posesif. Sarwono digambarkan sebagai tokoh yang kelewat insecure. Kerjaannya cemburu, malah ketika Pingkan lagi nari pesta sama keluarga, si Sarwono ngeliat cemburu sampe menimbulkan efek trippy di kamera hhihihi… Dolken di sini seharusnya jadi orang Jawa, but he’s not really good at it. Dan ketika membacakan dialog-dialog panjang yang subtil, ataupun dengar ketika dia berpuisi, dia melafalkannya dengan kayak orang lagi ngafal teks banget. Aku enggak bisa melihat Sarwono sebagai seorang penyair. Buatku, departemen akting diselamatkan oleh Baim Wong yang berperan sebagai sepupu angkat Pingkan. Wong sangat underrated di Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017), dan kali ini pun dia mencuri perhatian. Dia menghidupkan dinamika antara Sarwono dan Pingkan.

Sudah semestinya Sarwono cemburu, spotlightnya direbut oleh Benny

 

Puisi menggambarkan lewat kata-kata, sementara film menggambarkan lewat visual. Sinematografi bekerja dengan baik, shotnya cantik-cantik. Aku suka terutama di adegan-adegan surreal mimpi Pingkan. Malahan, menurutku film bisa menjadi lebih asyik dinikmati jika adegan-adegan surreal mendominasi film. Like,  just drop the whole road trip element, dan tampilkan saja perbincangan dengan suasana aneh. Alih-alih dari itu, kita dapatkan banyak pilihan gajelas dalam bercerita. Di awal mereka nyewa dua kamar hotel, kemudian di pertengahan mereka nyewa hotel satu kamar – ini adalah bentuk keinkonsistensian yang tak terjelaskan yang dapat kita temui. Wide shots kebanyakan difungsi sebagai papan iklan sponsor. Ada satu shot yang membuatku bingung, yaitu ketika di meja makan keluarga Pingkan, mereka makan sambil ngobrol serius tentang hubungan Pingkan, dan tau-tau kamera nyorot tempe. Ada banyak hal gapenting kayak gitu yang terekam, bukan sebatas  visual. Film juga mengajak kita mengikuti perbincangan tentang pembagian jurusan di kampus yang mereka datangi di Manado,  yang ternyata hanya dimainkan untuk komedi. Yeah, apa banget.

Sesungguhnya mengenai kenapa mesti Jepang, aku juga sempat bingung. Masa iya sih karena Japanesse dan Javanesse itu cuma beda satu huruf? Apa mungkin film ingin mempertemukan puisi dengan haiku? Di sepuluh menit pertama Jepang begitu dijejelin kepada kita, namun film berubah menjadi cerita perjalanan dengan tokoh yang cemburu dan cewek yang ramah dan ditaksir banyak orang. Barulah di akhir, Jepang kembali lagi. Actually, Jepang penting lantaran film banyak menggunakan analogi sakura dan samurai untuk menggambarkan perjalanan inner Pingkan dan Sarwono.

Ini bisa menjawab puisi Hujan Bulan Juni: Jika seseorang bisa membuat dirinya terperangkap, maka dia pasti bisa membebaskan diri sendiri. Kau yang memulai, dan benar, kaulah yang mengakhiri. Dan setelahnya usai, akan ada pelangi di sana. Hujan di bulan Juni biasanya tidak pernah ada, dan ini adalah metafora yang pas mengenai apa yang terjadi kepada Pingkan dan Sarwono.

 

Dalam denyut nadinya, film mengangkat tentang permasalahan beda agama yang membayangi relationship Pingkan dan Sarwono. Dan seperti Pingkan yang tidak menjawab pertanyaan Ben tentang anak mereka nanti ikut siapa, film ini juga tidak memberikan jawaban terhadap polemik yang diangkatnya. Film dalam kepentingannya membuat penonton baper memilih jawaban termudah yang pernah diambil oleh film-film. Aku gak akan bilang, tapi kalian pasti punya dugaan, dan setelah menonton sendiri, kalian juga pasti akan kecewa.

Actually, kita bisa bikin teori lengkap mengenai kapan tepatnya timeline kejadian di film ini berlangsung. Para tokoh berkomunikasi dengan whatsapp, mereka sudah kenal selfie, penyair puisi dilabeli jadul, semuanya mengisyaratkan kejadian berset di Juni somewhat recent. Tapi seberapa recent? Sarwono sempat mengatakan mereka duduk makan seperti di bulan Ramadhan, yang berarti Juni itu mereka belum puasa. Jadi kemungkinan enggak jauh-jauh amat di belakang tahun 2017. Namun yang bikin mindblown adalah tahun yang tertera di buku puisi Sarwono adalah 1991. Puisi tak lekang waktu, dan Sarwono mengatakan pusinya ada di dunia sendiri. Mungkin film ini memang bertempat di universe yang surreal dari sudut pandang ingatan Pingkan. Atau yang lebih likely; sekali lagi film menggunakan perkataan Sarwono tadi sebagai jawaban termudah.

 

 

 

Menonton ini diniatkan sebagai pengalaman membaca puisi dalam sebuah buku dengan gambar yang bergerak. Tetapi film terlalu mengorkestrasi keadaan. Menafsirkan puisi dengan lingkupan dan cara yang cheesy, dan beserta pretty much good things about this movie dibuat jadi latar belakang sebuah roman yang sudah acap kita lihat. Mengambil banyak pilihan untuk humor dan baper, sebagai langkah menjawab permintaan pasar. Aku bisa lihat film ini akan menemukan tak sedikit penggemar yang tidak akan mempedulikan sejumlah kekurangan pada penceritaannya. Dan lantaran ini dari puisi Sapardi, khalayak sastra akan bisa jadi bias melihat atau menyingkapinya. Apalagi ini adalah kali pertama sastra puisi nongol di ranah mainstream kekinian, which is a good thing buat perkembangan kesusastraan. Tapi puisi ya puisi, film ya film. Film ini bukan dibuat oleh Sapardi, dan filmnya jelek enggak seketika berarti sastranya juga jelek.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for HUJAN BULAN JUNI.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THOR: RAGNAROK Review

“We would have all been the same anywhere else”

 

 

Apa sih sebenarnya pekerjaan dewa-dewa? Maksudku, apa tepatnya yang mereka lakukan di atas sana, tugasnya ngapain aja; masa iya sepanjang waktu mereka cuma duduk di singgasana mengawasi rakyat sambil makan anggur.  Dalam dunia film, sutradara bisa dikatakan sebagai dewa, sutradaralah yang mengontrol semua – memastikan setiap elemen film bekerja membentuk kesatuan sesuai dengan visi yang ia inginkan. Dan tugas sebenarnya seorang sutradara ialah menciptakan tubuh naratif tersendiri dan menampilkan dengan keaslian. Taika Waititi dapat melihat bahwasanya cara terbaik menginterpretasi tokoh Thor adalah memandangnya sebagai tokoh komedi aksi. Sedari film-film awalnya, juga ketika muncul di Avengers, ada sense of humor yang terkandung di dalam tokoh dewa dari dunia lain ini. Ada dinamika menarik antara sikap hot-head dan jiwa pembela kebenarannya. Jadi, Waititi menggunakan keahlian terbaiknya ketika ditunjuk sebagai sutradara. Apa yang tepatnya ia lakukan? Basically, Waititi menghancurkan aspek serius dari dua film Thor sebelumnya, menyuntikkan berdosis-dosis komedi, sehingga baik dalam konteks cerita maupun penokohan, tokoh (sekaligus film) Thor benar-benar harus memulai dari awal.

Thor: Ragnarok adalah film superhero paling lucu yang pernah dikeluarkan oleh Marvel Studio. Definitely yang terbaik dari seri film solo Thor. Narasinya banyak bermain-main dengan gimmick dewa-dewi Asgard, bersenang-senang dengan trope karakter-karakter superhero Marvel. Yang perlu diingat adalah bermain-main bukan berarti enggak serius. Bersenang-senang bukan berarti melupakan nilai seni. PADA FILM INI SENI ADALAH KOMEDI, pada bagaimana dia bermain-main.

Komedi yang quirky menjadi pesona utama yang membuat film ini berdiri paling tinggi, bahkan di antara film-film superhero komik yang lain. Tidak hanya membuat tokoh dengan kekuataan super itu membumi layaknya manusia seperti kita-kita, yang mana begitulah formula superhero yang baik; setiap tokoh pahlawan harus bisa kita lihat sebagai orang biasa. Dalam film ini para tokoh dibikin ‘enggak keren’. Mereka begitu off-beat. Thor adalah seorang yang konyol, yang sering gak nangkep suatu poin, sekaligus sosok yang kharismatik dan tangguh. Loki, menyamar menjadi Odin, menciptakan teater sandiwara yang bercerita tentang epos kepahlawanan dirinya, hanya supaya rakyat lebih ngeworship dirinya yang dipercaya publik sudah meninggal.

Gestur-gestur kecil buah dari reaksi emosional manusiawi membuat film ini menyenangkan. Gini, jika kalian pernah membayangkan gimana kalo kita menjadi dewa atau punya kekuatan, maka dalam bayangan tersebut sosok kita pasti bakal keren banget. Sok cool gitu. Namun tidak seperti itu di dalam kenyataan, kecanggungan kita enggak hilang hanya karena kita seorang dewa. Memegang pedang keren bukan berarti kita otomatis berhenti nyengir di depan kamera. Tampil gagah dan tampak keren bukanlah job desk seorang pahlawan atau dalam film ini, dewa. Thor: Ragnarok enggak berpaling dari reaksi-reaksi manusiawi, ia malah mengambil sisi humor darinya. Kita akan melihat Hulk mengumpat kesal, Dewi Kematian ngibasin rambut panjangnya sebelum berantem, dan tak jarang seorang karakter meralat kata-kata bijak yang sedetik lalu ia ucapkan, karena keadaan berubah natural dengan cepat dan udah gak sesuai lagi ama konteks yang ia sampaikan.

Bisa-bisanya Kat Dennings malah absen saat film ini jadi komedi

 

Arahan Waititi berhasil mengeluarkan yang terbaik dari para aktor. Tidak banyak dari kita yang melihat potensi komedik dari Chris Hemsworth, dan di film ini kita akan dibuat sangat melek. Kerja komedi Hemsworth sangat marvelous, delivery – timing – ekspresi, renyah semua berhasil bikin ngakak. Pada adegan Thor hendak dicukur, aku benar-benar meledak ngakak, it really hits home for me. Seperti pada dua film komedi terakhirnya, What We Do in the Shadows (2015) dan Hunt for the Wilderpeople (2016), Waititi mengandalkan kepada hubungan antar karakter untuk menghantarkan kita melewati plot poin satu ke poin yang lain. Aku belum pernah melihat interaksi antara dua superhero paling fresh dan semenyenangkan antara Thor dengan Hulk di film ini. Aku gak mau beberin banyak soal Hulk, jadi, ya secara garis besar peran Mark Ruffalo ini terdevelop dengan cukup banyak, personalitynya nambah, dan aku pikir elemen-elemen baru dari Hulk akan memancing reaksi berbeda dari penonton. It’s kinda love it or hate it. Buatku pribadi, aku suka. Tokoh Hulk ini memang rada tricky untuk dikembangkan, dan selama ini ia hanya jadi powerhouse sebagai ekualiser kekuatan musuh. Dalam Ragnarok, dia ada kepentingan lebih dari  sekadar “friend from work” untuk berada di sana, meski dia sendiri enggak sadar. Thor menyebut kelompok kecil mereka sebagai Revengers – kumpulan orang-orang yang punya dendam kepada Hela, dan cuma Hulk yang bengong karena enggak merasa ada dendam apa-apa. Peran Hulk di sini adalah sebagai cermin buat Thor, karena jauh di dalam, kedua orang ini adalah pribadi yang punya banyak kesamaan.

Ramalan Ragnarok sudah hampir terwujud. Bayangkan ramalan suku maya 2012, hanya saja ramalan ini adalah kenyataan buat Thor. Demi mencegah itu terjadi, Thor langsung bertindak  Dia enggak mau Asgard hancur.  Mimpi buruk semakin nyata ketika Odin meninggal, dan kekuatan yang selama ini disegel oleh Bapak Thor itu terlepas. Thor dan Loki akhirnya berkenalan dengan kakak sulung mereka, Hela di Dewi Kematian. Namun tentu saja itu bukan jenis perkenalan yang mesra dan penuh peluk rindu. Ini adalah perkenalan yang literally menghancurkan Mjolnir, palu andalan Thor. Drama keluarga dewa tersebut beralaskan darah dan air mata. Hela menuntut tahta, dia menginginkan Asgard kembali seperti zaman kekuasaan ia dan Odin dahulu. Segera saja, Thor menemukan dirinya kehilangan semua. Kehilangan ayah, kehilangan saudara, kehilangan senjata, kehilangan tanah air. Thor sempat terdampar di planet berisi orang-orang terbuang, di sana dia dijadikan gladiator, dan di situlah dia bertemu kembali dengan Loki, Hulk, dan banyak teman baru. Jadi sekarang, setelah kekuatan dan pasukan terhimpun, Thor harus bergegas mencari jalan untuk kembali ke Asgard, untuk mengalahkan Hela demi mencegah Ragnarok terwujud.

Nasionalisme tak pernah adalah soal tempat. Selama ini kita terkotak-kotak oleh batas negara, oleh batas wilayah, sehingga tercipta ilusi persatuan terbentuk atas kesamaan tempat, kesamaan asal usul, kesamaan kampung halaman, that we have to protect the place. Tapi enggak, persatuan adalah soal rakyat. Tidak peduli di mana kita, tidak peduli pribumi atau nonpribumi, ketika kita hidup berkelompok – kita sejatinya menumbuhkan perasaan menyatu atas apa yang kita hadapi bersama. Dan ketika orang berperang atas nama nasionalisme, bukan tempatlah yang dipertahankan. Melainkan persatuan.

 

Selalu menarik melihat penjahat yang punya motivasi dan kebenaran pribadi, dan ia memegang teguh sudut pandangnya itu dengan intensitas yang tinggi. Cate Blanchett memerankan salah satu penjahat yang paling kuat dalam dunia superhero Marvel, Hela tampak berbahaya, dia actually mampu membunuh banyak prajurit. Penampilan akting Blanchett yang meyakinkan hanya membantu tokoh itu stand out lebih jauh lagi. Jika dibandingkan dengan Hela, tokoh Loki dalam film ini akan terlihat sangat lemah. Namun bukan berarti God of Mischief ini terkesampingkan. Tom Hiddleston justru tampil lebih mendua di sini, ekspresinya poker face banget, kita enggak tahu pasti kapan Loki beneran ikhlas membantu, kapan dia memainkan muslihat untuk kepentingan dirinya sendiri.

Ada paralel yang menarik antara ketiga anak Odin ini. Thor, Loki, dan bahkan Hela sebenarnya sama-sama pengen menyelamatkan Asgard, untuk kepentingan yang berbeda. Khusus untuk Hela, ini menjadi semacam history melawan herstory. You know, jika kalian kalah, nama kalian akan keluar dari sejarah. Akan tetapi, baik si kalah maupun si menang punya catatan sejarah sendiri. Loki, di awal film, jelas-jelas ingin membangun sejarahnya sendiri dengan theater sandiwara itu. Dalam film ini ada satu tokoh baru, pejuang cewek yang merupakan mantan Valkyrie – semacam militer Asgard, pasukan khusus cewek.  Dia adalah satu-satunya Valkyrie yang tersisa dan ia menyimpan tragedi  Valkyrie itu rapat-rapat, sebab pihak yang kalah tidak punya kendali atas sejarah.

 

Penceritaan Thor: Ragnarok tidak dibuat dengan terlalu rumit. Set up dan penyelesaiannya dirangkai sederhana, adegan pembuka film  masih nyambung dengan ending. Beberapa penonton mungkin bermasalah dengan tone ceritanya, narasi seperti terbagi menjadi dua; komedi dan eksposisi. Kita akan sering bolak-balik antara kedua bagian ini, dan sesekali menemukan aksi seru di antaranya. Sebagaimana layaknya komedi  ada punchline di setiap akhir poin cerita. Secara visual pun, film ini bermain-main. Banyak penggunaan angle yang tak-biasa dalam menangkap adegan. Efeknya bagus tapi itu sudah kita semua harapkan. Sekuens aksinya, however, terekam dengan sangat fun. Pacenya cepet dengan begitu banyak yang mata kita bisa nikmati per bingkainya. Lagu Immigrant Song tepat sekali menjadi musik tema, dan film ini tahu persis kapan dan di mana harus menggunakannya. Semua penilaian tersebut, semua aspek komedi sampai ke bagian terkecil bekerja dengan sangat baik, tentu saja mengacu kepada penyuntingan yang benar-benar jawara.

Yaaahh yoyo saktinya hancur

 

Salah satu yang sering menjadi hambatan buat film-film Marvel adalah kepentingan untuk merangkai dengan judul lain, bahwa terkadang film bisa menjadi seperti setup gede untuk film lain. Kita akan melihat banyak cameo yang enggak ada hubungannya ama cerita. Pada Thor: Ragnarok juga dijumpai aspek ini. Thor sempat berurusan dengan Doctor Strange, yang sebenarnya bisa dihilangkan atau diberikan peran yang lebih besar lagi. Narasi memainkan cameo sebagai bahan komedi, sehingga membuat kita bisa memaafkan bagian cerita yang kurang signifikan ini.

 

 

Superhero Marvel sedari awal memang diceritakan dengan light-hearted, dan Waititi enggak malu-malu untuk mengubah film ini menjadi komedi yang tentu saja ringan. Namun bukan berarti tidak serius. Para aktor kelihatan sangat menikmati permainan peran mereka, bahkan Waititi sendiri turut nampil sebagai Korg si alien batu yang memperkuat departemen komedi. Di sini para karakter dibuat self-aware, dibuat gak keren-keren amat, dan itu hanya akan membuat mereka menjadi lebih populer dan dekat kepada penonton. Kita mungkin bisa enggak peduli sama mekanisme dan mitologi Asgard yang jauh banget dari Bumi, akan tetapi apa yang mereka lakukan – apa yang mereka hadapi terasa dekat. Ini adalah sajian superhero paling lucu yang bahkan enggak perlu menjadi kasar untuk bisa mencapai kelucuan.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 for THOR: RAGNAROK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

TLC 2017 Review

 

Bayangkan suatu malam minggu, kalian sudah rapi jali, siap untuk pergi ngedate, tetapi kemudian hujan turun dengan tak-kalah semangatnya. Atau bayangkan kalian sudah siap berhibernasi sepanjang hari di rumah, berepisode serial TV sudah siap untuk ditonton marathon, video games pun sudah menunggu untuk dimainkan, kemudian PET! dengan tanpa berdosa, PLT memutuskan aliran listrik. Manusia punya rencana, namun Tuhan yang menentukan. Memang bukan baru sekali ini WWE mendapati talentnya pada ijin sakit, membuat para penulis kudu merombak ulang skenario. Namun virus tidak pernah menjangkiti ruangan loker lebih mendadak daripada sekarang ini. Hanya 48 jam yang dipunya WWE sebelum acara puncak untuk mengganti dua skenario utama yang tadinya sudah dibangun dalam kurun enam minggu. Tak pelak, susunan pertandingan TLC tahun ini akan membuat kita merasa aneh. Kita tahu pertandingan gulat itu hambar kalo cerita yang melandasi kedua kubu yang bertemu kurang kuat. Di lain pihak, kita toh menggelinjang juga karena ini adalah pertandingan pertama Kurt Angle di ring WWE sejak sebelas tahun yang lalu, dan AJ Styles melawan Finn Balor adalah dream match material.

Pola pikir yang berusaha dipatri oleh WWE di acara ini adalah ‘less is more’. Terasa mendadak, memang, makanya alih-alih membuatnya terlalu serius, WWE menggebah TLC sebagai kendaraan untuk fans bersenang-senang.

 

Dan aku terhibur. Aku suka sebagian besar kejadian. Aku bahkan menikmati ‘konser sayur’ Elias, lebih tepatnya aku menikmati ngeboo si jagoan bergitar itu. Menurutku Elias bekerja dengan baik memancing heat. But I do not like the match, Jordan melawan Elias biasa aja, dan itu adalah penilaian terbaik yang bisa kita berikan kepada mereka. I do enjoy Alexa Bliss vs. Mickie James. Itu adalah pertandingan terbaik Bliss sejauh karirnya di main roster. Dan enggak, aku yakinkan aku enggak bias.

Here’s me when I’m biased: Rambut Aleksya Blissnyaaww unyu banget di TLC, dia pantas menang dengan rambut selucu itu, dan Mickie James Ellsworth udah ketuaan.
Dan ini ketika aku melihat pertandingan mereka dengan objekif: Jurus-jurus Bliss memang enggak wow-wow amat, dia hanya brilian sebagai penampil antagonis, Bliss paham cara memancing emosi penonton. Cerita di pertandingan ini adalah soal seorang juara sombong yang meremehkan lawannya yang lebih matang dan berpengalaman. Mickie mengusahakan yang terbaik dari yang ia mampu, mencoba selalu selangkah dalam mengantisipasi Bliss. Gaung personal yang natural match ini disampaikan dengan baik oleh kedua superstar lewat serangan-serangan ofensif dengan intensitas yang jarang kita lihat di pertandingan cewek. Pada akhirnya, umur memang hanyalah angka, akan tetapi angka enggak bohong. Yang mereka suguhkan adalah sebuah tarung yang tangguh, dan juara bertahan kita berhasil unggul secara bersih.

 

 

Sayangnya, partai wanita lain yang turut dikonteskan dalam acara ini enggak berhasil menyampaikan pesan yang mereka maksudkan. Aku sangat mengapresiasi baik Emma maupun Asuka. Emma adalah pegulat yang cakap, tapi sama seperti Alexa Bliss, sebagai kompetitor  yang kebagian peran heel ada batasan yang harus dipatuhi. Aku percaya di lain cerita, di peran yang berbeda, Emma bisa berimbang dengan meyakinkan melawan Asuka. Tapi tidak di sini. Karena cerita pertemuan mereka ini adalah tentang showcasing Asuka. Untuk berminggu-minggu menuju ke acara ini, kita melihat dan mendengar desas-desus tentang kehebatan Asuka, dan sementara itu kita melihat Emma bergelimang di papan tengah roster cewek Raw. Gini, bayangkan pacar kalian yang belum pernah nonton WWE ngikutin  build up TLC di mana Asuka sangat dihype sebagai petarung yang garang. Ekspektasi yang ada tentulah Asuka akan mendominasi Emma, not necessarily squash match, namun mestinya Emma tidak mendapat terlalu banyak upper hand seperti yang kita lihat di match ini. Sederhana saja. Asuka mestiya dibuat mendominasi Emma yang kebagian jatah sebagai petarung papan tengah.  Kesempatan untuk membangun Emma sudah lewat, kalo mau dibuat kuat semestinya sejak dari episode Raw menuju ke sini. TLC adalah tentang Asuka, namun dari apa yang kita tonton di TLC, Emma lah yang justru terasa seperti ‘tokoh utama’.

Sebenarnya, ini adalah formula yang sama dengan yang mereka gunakan untuk ngebuild Nakamura di Smackdown. Pertandingan Asuka melawan Emma persis kayak Nakamura lawan Ziggler. WWE tampaknya merasa insecure soal membentuk karakter babyface yang hebat. Zona nyaman WWE adalah formula skenario ‘pahlawan bangkit di akhir’, seperti skenario pertandingan John Cena; si babyface dihajar duluan, kemudian dengan kekuatan dukungan dari penonton, sang hero bangkit dan menang. Akan tetapi, formula ini tidak bekerja kepada Nakamura, dan jelas tidak bekerja juga pada Asuka. WWE harus berani  mengeksplorasi karakter face dari sisi yang lain, menemukan cara baru memperkenalkan pahlawan; bahwa protagonis bisa kok dibuat mendominasi sekaligus terlihat vulnerable.

 

Pop Quiz!

<Soal pilihan ganda>
Apa faedah dari Kalisto menangin sabuk Cruiserweight dari Enzo hanya untuk kembali kalah kepada Enzo seminggu kemudian?
a. Untuk menyemangati penonton di hari ulang tahun Eddie Guerrero
b. Sebagai pengalihan isu
c. Biar ada alasan buat Kalisto balik pake musik lama
d. Membuat kesel si Neville

 

 

Sakit itu musibah, bukan bahan becandaan. Namun mundurnya Bray Wyatt dari match card karena diagnosis viral meningitis bisa jadi adalah sebuah blessing in disguise buat banyak fans, bahkan mungkin buat Wyatt dan Balor sendiri. Sejujurnya, tidak ada yang exciting nungguin match bergimmick halloween antara Demon King melawan Sister Abigail (aku masih belum bisa membayangkan seperti apa Bray berduel sebagai Sister Abigail). Alih-alih match tersebut, kita malah dapat AJ Styles melawan Finn Balor. Teaser Smackdown melawan Raw untuk payperview bulan depan. Sekilas, memang pertemuan mereka ini tidak ada build upnya, apalagi jika dibandingkan dengan cerita bertema kekuatan gaib yang terus disuapin ke kita.  Sesungguhnya, pertemuan Styles dan Balor sudah lama terbangun secara implisit. You know, mereka berdua ini punya sejarah bersama. Styles dan Balor adalah dua pendiri pertama stable Bullet Club dan menurut Pro Wrestling Database, keduanya belum pernah beradu di atas ring. Catatan duel mereka yang bisa kita temukan adalah pertandingan tag team di Jepang sembilan tahun yang lalu. Impian pertemuan mereka sudah lama menjangkiti para fans, namun tidak seperti virus, mereka tidak membuat kita sakit. Jadi, beneran, di TLC kita dapet pertandingan bersejarah, a long time anticipated dream match. Dan Balor dan Styles bener-bener ngedeliver di sini.  Ya, di partai ini mereka tidak ada cerita, mereka sama-sama face, they just go at each other, berkompetisi, and it was amazing. Tidak sedikit pun performa Styles tampak menurun walaupun dia baru saja diterbangkan dari belahan bumi yang lain. Balor juga bermain gemilang, untuk pertama kalinya sejak ke Raw, Balor menunjukkan kepiawaian yang sebanding dengan yang biasa ia tunjukkan di NXT dahulu.

Yeah, beneran “Too Sweet”

 

Pihak booking WWE pun sepertinya benar-benar melepaskan alur pertandingan ke tangan kedua superstar fenomenal ini. Pertandingannya terasa persis kayak gaya NJPW, di mana spot-spot gede dengan perlahan semakin ditunjukkan seiring berjalannya waktu. Pacenya dipercepat dengan konstan. Tek-tokan moves mereka dimainkan dengan make sense, jurus andalan masing-masing saling dikeluarkan. Pele Kick susul menyusul. They played it out nicely sehingga terasa banget kedua superstar ini berusaha untuk tampil unggul di atas lawannya.Mereka bisa melakukan dengan lebih baik sih, personally aku yakin jika diberikan cerita, kedua superstar ini bisa meruntuhkan atap stadion.

 

Kita tahu WWE benar-benar berjuang dalam menyuguhkan acara ini, apalagi soal budgetnya, saat kita melihat Kane muncul tanpa pyro. Maksudku, jika ada dua superstar yang mendapat perlakuan khusus oleh WWE maka itu adalah Undertaker dan Kane. Cuma dua orang ini yang diperbolehkan memakai gerakan piledriver dalam basis jurus sehari-hari, dan jika orang sespesial Kane enggak bisa mendapat entrancenya yang dulu, kita paham WWE benar-benar dalam posisi keuangan yang sulit.

tunggu saja di Wrestlemania, bahkan pyro superstar pun akan mendapat pyro sendiri

 

 

WWE perlu mempertahankan apa-apa yang menurut mereka bekerja dengan baik. Dan dalam kasus sekarang ini, Roman Reigns dan The Shield adalah aset jangka panjang yang paling berharga yang dipunya oleh WWE. Kredibilitas mereka harus dipertahankan. Kredibilitas itulah yang sebenarnya tergantung tak-terlihat di atas puncak tangga partai utama TLC. Bahkan lebih berharga daripada menggantung sabuk Intercontinental dan Tag Team berbarengan. Kita bisa bilang kalo TLC kali ini adalah akronim dari Sierra, Hotel India, Echo, Lima, dan Delta. It’s all about the Shield. Reuni, dioutnumber oleh lawan-lawan, plot kelompok The Shield diniatkan untuk berputar di sini. Namun kemudian Roman Reigns, pelakon utama dari yang utama, mundur dari medan perang karena penyakit.

Show must go on, makanya kita bisa mengerti keputusan kenapa mesti Kurt Angle yang turun menggantikan. Sebuah langkah yang beresiko lantaran Kurt Angle diperkirakan memang akan kembali bertanding, dengan waktu dan alasan yang lebih proper. Hanya saja waktu mendesak, dan benar-benar tidak ada orang lain – WWE tidak bisa menggunakan sembarang orang untuk mengganti Roman Reigns di sini. Bahkan tidak juga dengan membuat Ambrose dan Rollins menang hanya berdua, walaupun masih akan klop dalam konteks Shield bisa mengalahkan banyak orang asal mereka bersatu. Secara sederhana mindsetnya adalah; Shield harus menang, tanpa membuat Reigns tampak lemah. Mereka tidak bisa membuat Shield menang tanpa Reigns, karena itu berarti itu akan membuat pengaruh Reigns terlihat kecil. Jadi itulah sebabnya mereka memakai Kurt Angle, seorang Hall of Famer, dan kenapa mereka membuat Angle memakai attire Shield, aku yakin seandainya Reigns tidak sakit, pertandingan akan berjalan sama persis dengan yang kita saksikan. Angle literally subsitusi buat Reigns.

kita bisa memanggil Ambrose, Rollins, dan Angle dengan The Shi3ld sekarang

 

Jadi, reasoning di baliknya sudah terjelaskan. Kikikanku ngeliat tampang Kurt Angle yang terlalu ramah dan cengar-cengir pas entrance mereka pun sudah mereda. Sekarang kita bisa menikmati pertandingan mereka apa adanya. Banyak keputusan yang aneh but It was fun. Match ini tampak seperti ide-ide gila Vince dilempar dan bergabung menjadi satu. Aku senang peran Kane ternyata lebih besar dari yang kuduga, Kane adalah jagoanku sejak pertama kali aku nonton gulat. Aku juga senang melihat Kurt Angle beraksi kembali, Angle Slamnya hampir membunuh Cesaro! Ini adalah jenis pertandingan yang serunya bakal membuat kita melupakan kekurangan dan keanehan yang ada.

 

 

Gimmick pay-per-view ini sudah semakin menjauh dari yang seharusnya. Hanya ada satu pertandingan TLC, sementara banyak pertandingan lain yang mestinya bisa terimprove jika diberikan stipulasi yang sama, seperti Cruiserweight Championship yang bisa saja lebih baik jikalau menjadi Ladder Match. Secara keseluruhan, ini adalah acara yang susah untuk dinilai, it was ranged from good matches but not memorable, seperti tag team cruiserweight dan women’s championship, to fans favorites yang just have fun.
The Palace of Wisdom menobatkan Finn Balor melawan AJ Styles sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

 

Full Result:
1. SINGLE Asuka debut dan mengalahkan Emma
2. TAG TEAM Cedric Alexander dan Rich Swann ngalahin The Brian Kendrick and Gentleman Jack Gallagher
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Alexa Bliss retained over Mickie James
4. CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP Enzo Amore jadi juara lagi ngalahin Kalisto
5. SINGLE Demon King Finn Balor mengalahkan AJ Styles
6. SINGLE Jason Jordan defeating Elias
7. TLC The Shield dan Kurt Angle mengalahkan tim The Miz, Sheamus, Cesaro, Braun Strowman, Kane

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.