“Do I not destroy my enemies when I make them my friends?”
Hidup Rafa tampaknya sudah hendak berbuah manis. Perusahaannya menang tender. Istrinya, Farah, yang cantik parah, akhirnya hamil. Saking girangnya, pasangan suami istri ini memutuskan untuk pindah rumah. Di rumah baru nan gede itulah, keluarga Rafa mendapat gangguan. Didatengi mimpi-mimpi buruk. Disatroni nenek-nenek serem. Bayi mereka pun akhirnya lahir di bawah kondisi semencekam itu. Namun Rafa dan Farah sepertinya tidak akan pernah mengetahui apakah Rangga kecil mereka akan tumbuh gede dan bertemu dengan Cinta. Lantaran bayi imut tersebut kadang justru tampak amit-amit. Rafa bingung, kejadian-kejadian aneh itu entah bersumber dari bayinya yang bayi setankah, atau rumahnya yang angkerkah, atau malah berasal dari masa lalu dirinya sendiri.
Tadinya, aku takut film ini akan menyontek Rosemary’s Baby (1968).I mean, lihat aja poster filmnya. Mirip. Tapi tentu saja kita tidak bisa menilai kualitas film dari posternya. Ataupun dari judulnya yang sempet gonta ganti, dan akhirnya ditumplek semua menjadi satu kalimat yang panjang. Jadi, aku lantas menonton. Dan di tengah-tengah film, aku justru berharap film ini mirip sama horor klasik karya Roman Polanski tersebut. Karena aku yakin film yang total rip-offan niscaya bakal lebih menarik dari apa yang actually kita saksikan selama 90 menitan.
Kita dilempar-lempar dari Ashraf Sinclair yang pengen hidup move on dari masa lalu namun gak percaya santet lantaran orang jaman dulu enggak melawan penjajah pake ilmu hitam ke Rianti Cartwright yang insecure dengan keselamatan bayinya. Dan kemudian mereka bertengkar, sebab di tahun 2018 ini penulis naskah masih nekat memakai trope horor “Si A ngelihat hantu namun orang terdekat tempat ia mengadu, tidak percaya”. Lalu Rianti bertingkah kayak orang kesurupan. Susah sekali untuk kita berpegang kepada cerita yang enggak punya sudut pandang yang terarah seperti begini. Menonton ini terasa seperti kita adalah sebuah batu yang dilempar meloncat-loncat di permukaan air. Kita hanya menyentuh permukaan setiap plot poin. Film ini tidak punya kedalaman pada ceritanya. Setiap kali kita beranjak dari plot poin satu ke plot poin berikutnya, kita tidak merasakan flow yang natural terhadap perkembangan para karakter. Membuat kita susah untuk peduli kepada yang mana, apalagi buat kepada mereka berdua.
peduli sama duit di dompet mestinya adalah pilihan yang bijak
Bukannya film ini tidak mampu memberikan karakter kepada tokoh-tokohnya. Hanya saja, penulisan itu dengan segera terlupakan begitu film memutuskan untuk mengganti sudut pandang dengan sering. Di awal-awal cerita kita melihat Rafa ketakutan melihat kebiasaan Farah yang lagi ngidam. Aspek ini menurutku cukup menarik, aku pikir film akan mengambil sudut cerita tentang seorang calon ayah yang menghadapi ketakutannya terhadap proses kehamilan, yang seketika membuatku teringat sama satu-satunya film yang enggak berani aku tonton ulang; Eraserhead (1977) buatan Dayid Lynch. Sekali lagi, aku merasa aku akan berujung enggak keberatan kalolah Bayi Gaib meniru film itu lantaran akan menarik sekali melihat ketakutan psikologis itu ditranslasikan ke dalam budaya lokal. Namun kemudian film menggugurkan sudut pandang Rafa itu. Kita pindah ke Farah yang diganggu oleh penampakan dan janin yang bertingkah aneh-aneh menyeramkan. Pertanyaan mengenai apakah itu semua ada dalam kepala Farah atau enggak kembali diangkat, untuk kemudian dinegasi lagi oleh rentetan jumpscare dan musik ngagetin. Nyaris semua tokoh minor dalam cerita ini pun ikut-ikutan melihat setan. Bahkan sedari sepuluh menit pertama saja sebenarnya film sudah melandaskan dengan kuat bahwasanya kejadian miring pada film ini memang bekerja dalam kotak hal-hal mistis. Jadi, wajar jika kita enggak konek dan sulit peduli terhadap konflik yang berusaha dipancing – dan ditinggalkan begitu saja – oleh film terhadap dua tokoh pusatnya.
Berdamai selalu lebih baik daripada bermusuhan. Namun, berdamai dengan musuh bisa diputar balik sebagai cara untuk menjatuhkan musuh dalam cara yang tak ia duga. Kita dapat menghancurkan musuh dengan menjadikannya sebagai teman. But ultimately, pilihan terbesar kita adalah memaafkan atau tidak. Sebab bagaimana mungkin kita masih menganggap seseorang sebagai musuh jika dia sudah berubah menjadi begitu perhatian kepada kita.
Apa yang digugurkan oleh film ini sebenarnya adalah aspek psikologis. Padahal justru aspek inilah yang membuat film horor bisa mencapai puncak kengerian maksimal. Kita perlu untuk merasakan ketakutan, lebih daripada untuk melihat penampakan buruk rupa. Film tidak memberi kita kesempatan untuk merasakan takut yang dialami oleh para tokoh. Ketika Farah ingin menusuk bayi seram di dalam kereta dorong itu dengan pisau, padahal itu adalah bayinya sendiri – perfectly human, kita tidak merasakan tegang. Film gagal membuat kita berteriak “jangan itu anakmu!!!”, malahan film gagal untuk memancing reaksi apapun karena efek psikologis itu tidak dibangun, dan itu disebabkan oleh film tidak pernah merasa benar-benar perlu untuk membangun psikologis.
Yang bisa saja berarti film ini tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan
Film horor tidak bisa bekerja dengan baik jika hanya mengandalkan kepada hantu seram dan twist saja. Bayi Gaib adalah satu lagi film horor yang gagal karena hanya mementingkan twist. Film ini tidak membangun apapun, melainkan hanya membendung ‘kejutan’ untuk twist di babak akhir cerita. Mereka cermat sekali di aspek ini. Memang sih, buat penonton yang jam terbang nontonnya udah gede, twist film ini dapat dengan gampang tertebak, but at least, Bayi Gaib benar-benar mematangkan kejutan yang ia punya sebagai satu-satunya resolusi yang mungkin dari cerita. The problem is, twist itu membuat motivasi salah satu tokoh, membuat semua effort yang ia lakukan menjadi percuma. Dalam sekuen pengungkapan, ‘dalang’ di balik semua keganjilan pada keluarga Rafa menampakkan diri, practically mengakui semua perbuatannya. Sebuah tindakan yang tentu saja mendapat sambutan berupa lemparan popcorn dan pertanyaan kenapa. Maksudku, kalo memang end goalnya adalah membunuh seluruh keluarga Rafa dengan santet, kenapa saat hampir berhasil dia malah buka rahasia? Kenapa malah nyamperin Farah, bukannya Rafa?
Timeline waktu nyantet dan perihal bayinya juga seketika menjadi gak make sense. Jika santet itu butuh ari-ari bayi, kenapa Farah sudah diganggu hantu sejak si bayi masih di kandungan? Menjelang akhir babak pertama ada adegan Rafa mimpi, yang ditanggepi oleh Farah yang kesurupan sebagai pertanda ada orang terdekat Rafa yang meninggal. Film tidak pernah memperjelas puncak dan tujuan adegan ini, kita hanya bisa menebak apakah yang mati adalah si bayi, dan yang lahir memang bayi setan. Kalo benar begitu, berarti masalah Rafa dan Farah belum selesai sebab mereka tidak mengetahui bayi yang mereka lindungi sudah bukan manusia.
To sum it up, we could say that this movie is a total waste of time. Hantunya enggak seram karena film tidak pernah membuild up keseraman. Dia hanya memperlihatkan rangkaian adegan-adegan berbalut trope horor dengan harapan kita-kita menikmati dikagetin sebagai pengalaman menonton. Bikin film itu sepertinya sama dengan bikin anak; prosesnya menyenangkan, namun juga harus bertanggungjawab. Produk yang dihasilkan haruslah dinurture dengan cermat. Karenanya, orang-orang di belakang film ini adalah ‘orangtua’ yang buruk; anak mereka – film ini – tidak mereka besarkan dengan benar. The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for BAY GAIB: BAYI TUMBAL BAYI MATI
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
We? We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017
“Kita tahu hidup penuh dengan misteri ketika kita melihat Nicholas Saputra berubah menjadi burung. Well, yea aku pikir dunia tidak bisa lebih aneh lagi sampai aku melihat senyuman bibir atas Superman. Begitulah hidup, kadang kita enggak mengerti. Hampir sering semua berjalan begitu berlawanan dengan yang kita rencana kita. Dengan yang kita harapkan. Satu tahun lagi, yang tidak akan bisa kita ambil kembali, memang telah berlalu. Akan tetapi, for what it’s worth, kita telah mengisinya dengan sebaik yang kita bisa. Kata film The Shape of Water sih, kita mesti bisa ‘berganti wujud’ sesuai dengan wadah, kayak air. Kalo ditaro di gelas, bentuknya kayak gelas. Kalo ditaro di mangkuk, bentuknya setengah bundar. Asal mangkok dan gelasnya jangan ditarok di tiang listrik. Nanti ditabrak.
Kita kudu fleksibel. Kemampuan yang kita punya, anggaplah sebagai kepingan-kepingan puzzle yang bakal kita gunakan untuk mengisi gambar besar, yang mana adalah kehidupan. Tugas kitalah untuk memasangkan kepingan-kepingan itu, menyusunnya, menjadi bentuk yang kita butuhkan saat sekarang. Dan ketika hidup mengganti pertanyaannya, puzzle tersebut kita rombak dan susun lagi. Ketika tahun berganti, kita bersiap-siap berusaha kembali.”
“My Dirt Sheet pun kembali memberikan penghargaan buat yang udah ter-gerrr sepanjang tahun. I love doing this, dan semoga kamu-kamu gak bosan membaca artikel awards ngasal ini setiap tahun.”
“Maka, sambutlah Rick dan Morty dari serial animasi paling hits se2017, Rick and Morty, untuk membacakan beberapa kategori pertama! Plok..plok..plok…”
<Lingkaran hijau kayak gel terbentuk di panggung>
<Rick dan Morty melangkah keluar dari dalamnya>
Rick: Wubba lubba dub dub, everybody!! Morty: Aw geeez, Rick, aku gak tahu bakal serame ini. A-a-apa rambutku oke? Bajuku? Oh no, aku pakai celana kan ya? Rick: Shut up, Morty. Kau memper..(burp)…malukan, kau mempermalukan dirimu sendiri. Selamat malam, Semuanya. Aku merasa terhormat telah… sial, aku belum terlalu sober untuk melakukan ini (burp!) Anyway, inilah nominasi untuk
TRENDING OF THE YEAR 1. Despacito Morty: Aku tahu ini! Mereka memutarnya di mana-mana, di sekolah, di-di mall Rick: Well, aku gak punya waktu untuk dengerin musik, Morty. Aku bekerja keluar-masuk universe untuk kepentingan yang jauh lebih baik. Morty: A-a-a-ku cuma bilang, Rick Rick: Ya? Jika sekali saja aku mendengar ini diputar di rumah, Morty. Sekali saja… Morty: Geezz…. 2. Fidget Spinner Rick: Anak-anak pada main ini, tapi tahu gak, Morty, aku menciptakan yang seperti ini 10 tahun lalu (burp) dan yang kuciptakan itu bisa berputar sendiri Morty: Tapi, tapi poin mainan ini memang kita putar untuk melepaskan stress, Rick Rick: Orang dewasa punya pelepas stress yang lebih baik, ya kan, guys? Ahahahak 3. ‘Love’ Finger Sign Rick: Kau ngarep bisa foto bareng Jessica dengan berpose kayak gini kan, Morty Morty: Enggak sih, aku gak gitu ngikutin gaya Kore.. Rick: Lanjut nomor 4, 4. Marsha Bengek Rick: Kau tahu nasehat “kau bisa jadi apapun yang kau mau asalkan terus berusaha” kan, Morty? Well, I’ll shoot you dead dan menggantimu dengan Morty yang baru kalo kau mulai ngikutin bikin video kayak gini Morty: ….. Rick: Kau tahu aku masih punya voucher Morty gratis kan, (burp), just – just don’t give me the reason to use it. 5. Salt Bae Morty: Semua orang bisa terkenal dengan hal-hal kecil yang unik Rick: Enggak, kau harus punya skill. Yang mana kau enggak punya, Morty. Tapi jangan khawatir, kakek hebatmu ini akan membantumu 6. Trash Dove Rick: Awas Morty, itu monster ungu dari Planet Teror! Morty: Hahaha, bukan Rick. Ini makhluk annoying dari planet facebook 7. Weird Eyebrows Rick: Awas Morty, itu makhluk Planet Freakazoid!!! Morty: A-a-a-ku pikir bukan, Rick. Makhluk Freakazoid jauh lebih normal dari alis-alis ngetren ini
Rick: Cuma segini? Morty: Yea, Rick. Mereka membuat nominasinya cuma tujuh biar sesuai sama nomer acara ini. Rick: (burp) bulshit, Morty. Mereka melewatkan satu hal yang jadi hits seantero multiverse. Benda itu harusnya menang. Morty: Apa yang kau maksud, Rick? Rick: Szeuchan Sauce, Morty! Sekarang mari kita lihat siapa yang mengalahkan ketenaran saus lezat tersebut <membuka amplop> Rick-Morty: Dan pemenangnya adalah….
Rick: I just don’t get it with this world, Morty. I just can’t. Morty: Mari move on ke kategori berikutnya, Rick.
GAME OF THE YEAR
Morty: Video games are so cool! Rick: Semua keren buatmu, Morty! A..a..aku gak percaya kau masih (burp) menggelinjang aja lihat teknologi terbelakang setelah semua petualangan yang kita lalui, Morty. Morty: A-a-a-aku suka petualangan, Rick. Aku suka sensasi adrenalin dan kejutan-kejutan seru. Denganmu, petualangan kita nyata. Tapi aku tetap lebih suka main video game aja, Rick. Karena kau tahu, di video game, kalo-kalo aku mati, aku masih bisa hidup lagi. Aku mati tidak dalam kesakitan, Rick, itu yang penting. Rick: Kau benar-benar anak ayahmu, Morty 1. Cuphead Morty: Ini udah kayak gabungan Contra dengan kartun Disney klasik jaman Miki Mos but not really. Game ini so hard it’s fun, Rick. Rick: …Kau bicara seperti loading yang kepanjangan, Morty…. 2. Getting Over It with Bennett Foddy Rick: Kelihatannya aneh banget.. Morty: Kalo yang ini game susah yang bikin stress, Rick. Kau certainly gak bakal bisa namatin ini, karena kau orang yang pemarah dan gak sabaran Rick: Kau benar, Morty. Mendengarmu saja aku sudah gak (burp) sabaran 3. Resident Evil 7: Biohazard Rick: Pembuatnya kebanyakan nonton Texas Chainsaw Massacre nih Morty: Tapi ini game horror yang psikologis, serem, dan semua-semuanya terasa sangat real, Rick. A—aku, aku gak berani main ini, pakek Virtual Reality. Salah satu yang terbaik dari seri Residen Evil 4. Sonic Mania Morty: Classic is the best, Rick. Old school is cool!! Rick: Aku ingat ketika namatin game orisinalnya ketika berumur 5 tahun, Morty. Apa yang sudah kau lakukan di umur segitu? Apa yang sudah kau lakukan di umur sekarang? Morty: … 5. Super Mario Odyssey Morty: Favoritku satu lagiiii!!! Konsep baru Mario di konsol terbaru Nintendo melahirkan pengalaman gaming yang super seru Rick: Ah, si tukang ledeng yang suka makan jamur. Partially, I can relate to that. If you know what I mean.. wubba-lubba-dup-dup!!! 6. The Legend of Zelda: Breath of the Wild Rick: Biar kutebak: satu lagi klasik yang digarap dengan penuh kejutan dengan teknologi terbaru yang kalian kira paling canggih, kan Morty: Ini masterpiece, Rick. Masterpiece! 7. Undertale Rick: Setelah semua gambar keren itu, kita balik ke 8-bit?? Morty: Ini salah satu game dengan konsep paling unik, Rick. Punya replay value yang gede karena ada banyak skenario. Kita bisa milih antara membunuh monster atau memaafkan mereka, cinta damai, Rick. Rick: Bukankah membunuh monster satu-satunya alasan kita main video game?
Rick: Kau sadar aku bisa bikin video game yang lebih baik, dengan teknologi yang lebih canggih kan? Morty: Ya. Rick: (burp) Kau sadar, ada video game tentang kita yang enggak masuk nominasi ini kan? Morty: Ya. Tapi aku gak keberatan. Oh aku gak sabar lihat siapa pemenangnya…
Morty: You should try playing this one, Rick. Seriously. Dan mungkin, mungkin, kau akan melihat bahwa kekerasan bukan satu-satunya jal…
<Morty belum selesai ngomong, Rick sudah membuka portal dan menghilang ke dalamnya. Morty lantas menyusul, sambil pasang tampang nyengir-gaenak>
“Untuk mempersembahkan BEST MUSICAL PERFORMANCE, sambutlah…” Elias: Who wants to walk, with Elias!! Elias: ….. Elias: Mohon simpan tepuk tangan kalian, hingga aku selesai bernyanyi
<loud boos>
Aiden English: Hem hem… Tahu kah kamuuuu~ hari apa sekarang, Elias? Elias: Apapun itu, sekarang bukan Rusev Day! Aiden English: You know what? You’re right. Sekarang adalah hari di mana… Penampilan musik terbaik dianugerahi!!
<tepuk tangan penonton>
Elias: Lalu kenapa kita, dua penyanyi dan pegulat hebat, tidak termasuk di dalamnya? Aiden English: Karena oh karena, temanku, orang-orang di sini tidak bisa menghargai talenta!!
<Boo keras lagi>
Aiden English: Lihat saja nominasi-nominasi ini 1. Baby Driver “Was He Slow?”
Elias: elektronik dan mash-up itu sampah dibanding melodi dan riff gitarku Aiden English: exactly! 2. Barden Bellas “Toxic”
Elias: Bagaimana pendapatmu soal grup akapela ini, teman? Aiden English: Payah. Mereka kekurangan sesuatu yang penting; suara bass klasik seorang pria seperti Aiden English!! 3. Ibu “Kelam Malam”
Elias: Oke, yang tadi itu… serem, sumpah. Tapi bisa lebih baik kalo aku yang bawakan. Dan kugubah menjadi lagu country. 4. Kurt Angle “Sexy Kurt”
Aiden English: Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, lihatlah contoh penyanyi dan pegulat yang buruk! 5. Lego Batman “Who’s the (Bat)Man?”
http://www.youtube.com/watch?v=oz-UwNJ2gh0
Aiden English: hahahahahahahha…. Elias: <menyipitkan mata, memandang marah> Aiden English: …ahaha. Eh. Lucu sih, tapi bego. Sangat bego. Rap itu lagu kaum rendahan. 6. Lisa and Homer “Pokemon”
Aiden English: Kau tahu siapa yang bernyanyi lebih baik? Elias: Siapa? Aiden English: Jigglypuff 7. Phillip and Anne “Rewrite the Stars”
http://www.youtube.com/watch?v=90MG479FffU
Aiden: I wish ada Jigglypuff di sini. Elias: Karena suaranya lebih bagus? Aiden: Supaya aku bisa tertidur dan gak dengerin para nominasi ini!
Elias: Setuju. Wait till after you’ve heard pemenangnya.
<merobek amplop>
Elias: Sepertinya lagi musim duet.. Aiden English: Yaa… dan aku masih… well, umm, since Rusev gak bisa nyanyi… jadi.. bisa dibilang, aku masih solo Elias: Kamu mau….. walk with Elias? Aiden English: …. I do.
<tepuk tangan penonton ngecie-ciein, Elias dan English pergi sambil gandengan tangan>
“Membacakan nominasi UNYU OP THE YEAR, inilah…. Poppy!” “Yea, That Poppy!!!”
Poppy: <berdiri diam di podium> Poppy: …… Poppy: …… Poppy: Kecantikan. Poppy: Kecantikan bukanlah segalanya. Poppy: Namun segala hal di dunia adalah cantik. Poppy: Apa kalian cantik? Poppy: Apa ‘kecantikan’ itu artinya ‘terlalu cantik’? 1. Alessia Cara Poppy: Her voice is powerfully beautiful. 2. Alexa Bliss Poppy: Her in-ring persona is fiercely beautiful. 3. Anya Taylor-Joy Poppy: Her acting and her look are equally as unique and beautiful. 4. Elle Fanning Poppy: Her aura is innocently beautiful. 5. Katherine Langford Poppy: Her pain on the Thirteen Reasons Why was so breathtakingly beautiful. 6. Kristen Stewart Poppy: Her expression is hauntingly beautiful. 7. Lily James Poppy: her presence is magically beautiful.
Poppy: Semua cewek cantik dengan cara mereka sendiri Poppy: Tapi kecantikan tidak bisa diukur. Kecuali oleh waktu. Poppy: Kalian semua cantik. Seperti aku. Seperti lampu itu. Seperti amplop ini. Poppy: <melihat amplop pemenang, tanpa membukanya>
Poppy: Find your wild thing, the scar to your beautiful. Poppy: <tersenyum lamaaaaaaa sekali>
DUAR!!!!
<Kilat menyambar, dan turunlah Thor Odinson tepat di sebelah Poppy>
Thor: Hai, aku, ehm, Thor. Kau tahu, Dewa Petir yang perkasa. Aku diutus untuk menemanimu membacakan nominasi COUPLE OF THE YEAR. Bukannya aku berharap kita bisa jadi pasangan juga sih… what? Poppy: Hai, aku Poppy. Thor: Yea, aku sudah dengar. Kau, ehm, kau suka rambut baruku? Poppy: Rambut adalah mahkota yang merupakan perpanjangan dari kecantikan kita. Thor: ….. Kau bercanda? Kok ngomongnya aneh banget sih, dari realm mana dirimu? Apa kau Dewa atau semacamnya? Poppy: Aku dari youtube. Matamu indah, besar kali. Bolong pula. Thor: …..umm, ah yeah, I’m not sure this is working, mari baca saja nominasinya
1. Belle dan The Beast Thor: Dongeng dari Bumi yang indah, aku pernah dibacain ini sama J.. Jane Poppy: Berat nyebut nama mantan 2. Elise dan Amphibian Man Poppy: Indahnya cinta adalah, kita dan pasangan saling memenuhi satu sama lain sebagai makhluk hidup Thor: …aku masih gak mengerti maksudmu apa 3. Jeff dan Erin Baumann Poppy: Stronger Couple. Cinta itu menerima apa adanya. Thor: ….bahkan dengan sebelah mata dan rambut cepak? Poppy: Bahkan dengan sebelah mata dan rambut cepak. 4. John Cena dan Nikki Bella Thor: Nah, ini baru aku mengerti. Pasangan yang sangat kuat. Katanya mereka lamaran di tengah ring, manis sekali. Poppy: Semua hal yang manis adalah hal yang kuat. 5. Kumail dan Emily Thor: Umm…aku jadi penasaran orangtuamu siapa. Aku anak Odin. Poppy: Aku terlahir dengan cinta. Orangtuaku adalah cinta dan kasih. Thor: Oke. Kau aneh. 6. Lala dan Yudhis Thor: Bahkan buat pandanganku, dan aku dari dunia yang lain, hubungan Lala dan Yudhis ini benar-benar gak sehat. Poppy: …. Thor: Kamu gak mau mengomentariku dengan kalimat aneh lagi? 7. Raisa dan Hamish Thor: Aku dengar katanya pasangan ini udah matahin hati banyak penggemar Poppy: Hatinya patah seperti Palumu? Thor: …..
Poppy: Jangan sedih, Thor teman baruku, cinta harus diselebrasi Thor: Kamu benar. Dan pemenangnya adalah
Poppy: The shape of love is beautiful.
Thor: Oke, karena rekanku omongannya aneh tingkat dewa, kita langsung saja bacakan nominasi buat kategori selanjutnya,
THE MOST ANNOYING QUOTE Poppy: Hai, aku Poppy. Thor: Please… Poppy: Hi, I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Hi I’m Poppy. Thor: ….. dan nominasinya ADALAAAAAHHHH
1. “Baby Shark doo doo doo, Baby Shark doo doo doo”- Baby Shark Song Poppy: HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY 2. “Cash me ousside how bow dah”- Cash Me Outside Girl Poppy: Hi I’m poppy. Hi I’M POPPY. HI I’m PoPPy. hi I’m poppy. 3. “Delete! Delete! Delete!”- Woken Matt Hardy Poppy: HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. HI I’M POPPY. 4. “Eta terangkanlah”- lirik lagu Poppy: Hi I’m. Poppy. Hi. I’m Poppy. Hi. I’m. Poppy. 5. “Kids jaman now”- various netizen Poppy: Hi saya Poppy. Hai I’m Poppy. Hi aku Poppy. Hai gue Poppy. Hai ogut Poppy. 6. “Nikahi aku, Fahri”- Keira Ayat-Ayat Cinta 2 Poppy: Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Hi, I’m Poppy. Thor: Bunuhi aku, Poppy 7. “Wubba lubba dub dub!”- Rick Poppy: Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy! Hi, I’m Poppy!!!!!
Thor: Woooaarghhhhh, cukup aku nyerah. Aku gak bisa lanjutin lagi bareng cewek ini Poppy: Hahahahahaha Poppy: Oh Brother, I got you so good. Poppy: Ini aku (menarik lepas sesuatu dari lehernya, ternyata wajah Poppy adalah topeng, dan di balik topeng itu ternyata Poppy adalah….) Thor: LOKI!!!! Loki: ahahahahaha kena, deh Thor: Grrrr, rasakan petirku! Loki: Eh tunggu-tunggu, ini pemenangnya belum diumumiinnnn Thor: Bodo, I’m so mad right now Loki: Oh oke pemirsa, pemenangnya adalah
DUAR!!
(Thor dan Loki menghilang setelah petir besar menyambar panggung)
“Untuk membacakan BEST CHILD CHARACTER, sambutlah bocah-bocah yang gak kalah ajaib ini; Annabelle, Chucky, dan Sabrina!” Annabelle: Ah, lihatlah ada begitu banyak jiwa yang bisa diajak main-main Sabrina: Seandainya kita masih anak-anak beneran yaa hiks Chucky: Eh tunggu, aku bukan anak-anak! Aku perampok yang masuk ke badan boneka. Aku ini jahat. Pembunuh. Orang dewas tulen! Annabelle: sudah-sudah, gak jadi soal toh. Kita cuma jiwa-jiwa sekarang. Chucky: tapi kita bisa bunuh yang baca kan, please Sabrina: nanti ya kak Chucky, kita baca nominasi dulu yaaa, ini tokoh anak-anak yang paling berkesan se2017 1. Auggie – Wonder Chucky: wow dia kayak model live-action dari badanku Annabelle: iya dia live, kamu mati Sabrina: hihihi 2. Baby Groot – Guardians of the Galaxy 2 Sabrina, Annabelle, Chucky: CUTE! 3. Ian – Pengabdi Setan Sabrina: dia salah satu dari kita, guys Chucky: oh yea, apa senjatanya? Upil? 4. Janice – Annabelle: Creation Sabrina: lihat, Bee, itu anak yang kamu rasuki Chucky: yea dan dia hantu yang lebih hebat daripada mu Annabelle: kamu nantang ya? 5. Laura – Logan Chucky: senjatanya kereeeenn, dia boleh jadi anak buahku Annabelle: pisaumu tampak seperti agar-agar dibandingkan kukunya hihihi 6. Mary Adler – Gifted Sabrina: anak idaman orang tua, nih Annabelle: baik, cantik, pinter, dan hidup gak kayak kita 7. Miguel – Coco Chucky: anak ini pergi ke dunia orang mati dan keluar hidup-hidup? Hantu Mexico payah semua!! Sabrina: dia penyanyi yang berbakat sih Annabelle: dia immortal!
Chucky: kita bunuh saja yuk yang menang, pialanya kita ambil Sabrina: setujuuu <ngeluarin gunting taman dan perkakas lain> Annabelle: oke, siap, inilah pemenangnyaa
Sabrina:…. Oh aku gak tega ih Annablle: Auggie udah kayak wakil dari kita, bahwa tidak ada yang cacat – semuanya ajaib Chucky: Well, yea, aku pun gak semangat membunuh anak yang terlalu baik Sabrina: jadi kita nyanyi Cita-Cita aja nih? Annabelle, Chucky: NOOOOO!!!!! <lari ngeloyor ke belakang panggung>
Kai: Kematian adalah hal yang menyedihkan. Untuk setiap jiwa yang gugur, ada paling tidak satu jiwa yang merasa kehilangan. Jupe, Oon Project Pop, Pak Bondan, Eko DJ, Nenek Laila Sari, Dusty Rhodes, Jimmy Snucka, Superman.. kerasanya udah devastating. Itu baru satu orang. Bagaimana dengan korban perang, dengan Bom Manchester di konser Ariana Grande, dengan pengeboman London Bridge, dengan penembakan di Las Vegas. Kematian untuk dikenang. MOMENT OF SILENCE yang kita lakukan perlu, namun jangan sampai kita lupa untuk hidup. Jangan sampai kita takut. Karena, hanya dengan takut, kita lemah. Mengheningkan Cipta, mulai!
“Ladies and Gentlemen, bintang dari American Horror Story: Cult, dialah: Kai Anderson”
Kai: Dunia sudah dikendalikan oleh ketakutan, bahkan sampai hantu pun takut keluar. Babadook malu karena diejek sebagai ikon LGBT. Kita harusnya bebas memakai apa yang kita mau. Tidak perlu takut dilecehkan. Kalian adalah diri kalian berpakaian. Lihat aku, rambut aku biru. Dan aku bersumpah dengan pinky promise aku tidak akan mengubah gayaku berpakaian. Betapa terhormatnya bagiku untuk membacakan FASHION OF THE YEAR, karena fashion itu sama seperti politik; Demokrasi, namun harus ada yang mengarahkan!
1. Gaun Cetar Mimi Peri 2. Kaos nWo Red Wolfpac Kendall Jenner 3. Kumis ala Poirot 4. Male Romper 5. Pennywise Costume 6. Sarung Tangan Alexa Bliss 7. Thrasher Clothes
Kai: Oke aku akan memburu yang tadi cekikikan melihat nominasinya. Kai: Pemenangnya adalah
Kai: Ah, sarung tangan ini pas banget ku pakai bersama topeng di serial ku. Kalian semua, hati-hati pulang ke rumah. Kejahatan lagi meningkat. Pastikan kalian aman terkunci di rumah masing-masing setelah jam sepuluh malam.
Kai: Kategori berikutnya, ah WONDER WOMAN OF THE YEAR, kalo kalian nonton serial American Horror Story tahun 2017, kalian pasti tahu aku kalah sama cewek. Feminisme sudah berada di titik terkuat sekarang. Mereka bukan lagi mau sejajar sama pria, mereka sudah sejajar. Tapi bisakah mereka mengambil alih? Well, tujuh nominasi ini adalah wanita-wanita kuat seperti musuhku. Dan kuakui, I fear them.
1. Billy Jean King Kai: Legenda tenis yang memperjuangkan petenis wanita dapat bayaran yang sama, dan actually mengalahkan petenis pria. 2. Diana Prince Kai: Award ini dijuduli pakai namanya. Pahlawan perang dulu, kini, dan nanti 3. Lorraine Broughton Kai: Ahli menyamar dan martial arts, kau enggak akan mau Atomic Blonde ini jadi lawanmu. 4. Marlina Kai: Berkuda membawa kepala orang yang mencoba memerkosanya. Aku suka cewek ini, dia membawa ketakutan! 5. Mbah Sri Kai: Kau tidak pernah terlalu tua untuk mengejar kebenaran 6. Mildred Kai: Beranilah mempertanyakan sistem. Gunakan media untuk menyibak kebenaran, paksa dengan kebencian, kalo perlu. 7. Mother Kai: Selalu memberi sampai tidak ada lagi yang bisa ia beri. Luar biasa.
Kai: Tujuh wanita yang menakjubkan, bukan. Dan pemenangnya adalah Kai: Aku bersyukur tidak perlu berhadapan dengan orang ini, atau bahkan dengan wanita manapun. I’ll go back to my hole now, dan akan kembali saat kalian tidak mengharapkannya. Selamat malam.
<Penonton pada ragu mau tepuk tangan atau enggak, hening awkward mengiringi kembalinya Kai ke belakang panggung>
“Pemirsa alias Pembaca, sambutlah satu kelompok anak-anak dari tahun 1980an yang akan membacakan nominasi kategori FEUD OF THE YEAR My Dir…. Eh, apaan tuh ribut-ribut?”
<beberapa sosok bersepeda tampak kebut-kebutan menuju panggung>
Genk It: Yes, kami duluan Genk Stranger Things: Heh, siapa sih kalian, yang dipanggil kan kami Genk It: Yeee, itu katanya anak-anak dari tahun 1980, ya kamilah tim anak-anak yang paling legendaris. Kalian cuma peniru Genk Stranger Things: Losers Club diem aja ya di sana, kami Winner Club Genk It: eeeee ngajak berantem, ayo Beverly, ketapel merekaaa Genk Stranger Things: El, toloooongggg!!
1. Billy Jean King vs. Bobby Riggs 2. Bumi Bulat vs. Bumi Datar 3. Dian Sastro vs. Tangan di Bahu 4. Pickle Rick vs. Jaguar 5. Setya Novanto vs. Tiang Listrik 6. Tere Liye vs. Foto Selfie 7. Thor vs. Hulk
<Eleven dan Beverly datang sambil makan wafel pake ketapel> Eleven: udah, udah, ngapain berantem sih? Beverly: tau nih, Pennywise ama Demogorgon aja pada akur kok Eleven: biarin nominasi ini aja yang berantem. Nih kita baca bareng-bareng yaa
<Mereka semua pun ambil ancang-ancang. Namun sebelum sempat bernyanyi, geng anak-anak kecil itu diusir keluar sama satpam>
“Untuk kategori BEGO OF THE YEAR dan BEST MOVIE/SERIAL SCENE, sambutlah superhero yang merupakan simbol dari harapan umat manusia di dunia, ehmm lebih tepatnya, sambutlah bagian dari superhero harapan manusia, dibangkitan oleh kecanggi han teknologi, inilah… Kumis Brewok Superman!”
Supermis: ehem, ehem… oke mungkin aku terlihat memalukan kayak plankton pakai wig, tapi sekarang aku sudah lebih terkenal dari Superman sendiri. Kalian boleh memanggilku Supermis. Super Kumis. Aku pernah dicall buat jadi ambassador Wak Doyok, tapi aku tolak. Baru ini loh kemunculan publik pertamaku, beruntunglah kalian. Supermis: oke ehem.. karena tampang Superman yang bego itulah aku kebagian baca nominasi BEGO OF THE YEAR, dan inilah mereka:
1. Fitsa Hats Supermis: Pintar-pintarlah dalam berbahasa, jangan taunya makan micin doang 2. Ikan (Tong)-kol Supermis: Oke aku berani bertaruh badanku ubanan semua; anak itu sengaja ahahha! 3. Kue khas kota ala selebriti Supermis: Inilah ketika batas antara tradisional dengan kekinian itu udah gak ada lagi hihi 4. Oscar salah ngomong Supermis: Ini juga kayaknya sengaja dah biar jadi bahan omongan xD 5. Patung Harimau Supermis: Ini kayaknya model patungnya si Tigger yang di Winnie the Pooh deh ahahaa 6. Peta Film Ular Tangga Supermis: Pantes aja nyasar, naik gunung kok petanya kayak peta kawinan 7. Skip Challenge Supermis: adek-adek, don’t try this at anywhere
Supermis: dan paling bego di antara semua adalaaaah Supermis: makanya kalo bikin film itu, lakukanlah riset yang bener. Jangan sampai hasilnya jadi malu-maluin. Eh tapi, mereka jadi menang award, berarti gak malu-maluin banget dong ya?
Supermis: Berikut ini nih contoh film-film yang digarap dengan serius, dengan niat. Jadinya mereka punya adegan-adegan yang dahsyat, meyakinkan, seru. Mari kita lihat siapa aja nominasi untuk BEST MOVIE/SERIAL SCENE 1. Baby Driver’s Opening Getaway
Supermis: Ini udah paling keren, kayak beneran bisa dilakukan di jalan raya. Ntar kucobain aahh 2. It’s Pennywise Introduction
Supermis: sampe banyak dijadiin meme nih adegan, serem ! 3. Justice League’s Superman Kicking Ass
Supermis: coba deh nonton ini sambil puasa, dijamin sukses menahan lapar 5. Star Wars: The Last Jedi’s Ren and Kylo Team Up
http://www.youtube.com/watch?v=tzQB8Qfq8Us
Supermis: salah satu battle terkeren di Star Wars nih, ngetease tag team banget 6. Thirteen Reasons Why’s Hannah Baker Suicide
http://www.youtube.com/watch?v=OxBnNOxOKPk
Supermis: adegan paling bikin lemes, gak ada lawan! 7. Wonder Woman’s Amazon Battle
http://www.youtube.com/watch?v=bIfPq3biW_o
Supermis: kamera dan aksinya sama-sama keren!!
Supermis: Gini-gini aku banyak nonton film loh. Paling benci film pembunuhan di kereta api karena ada kumis yang sok keren. Oke, pemenangnya adalah Supermis: beneran deh, tulangku menggigil nonton adegan ini, dan aku bahkan gak punya tulang!
“Hahaha, oke terima kasih buat Supermis dan para pembaca nominasi yang sudah sudi hadir di sini. 2017 kemaren memang keren, quirky but in an awesome way. Aku sendiri gak pernah nyangka aku akan membuka kafe eskrim. Sampai-sampai kadang kalo jalan pulang dari bioskop panas-panas, aku mikir “duh enak makan eskrim nih” dan ternyata baru aku sadar “Hei, I own one!” Hidup kadang impulsive seperti itu. Bukannya enggak ada masalah pas aku mau nyambut kontrak bangunannya dari temenku. Aku literally galau, berminggu-minggu duduk di atap sampai pagi.. Dan lima hari sebelum pindahan ke kafe aku ‘kabur’ ke Solo. Crashing lokasi syuting film mentorku, Mas Ichwan Persada. Untung di sana pada welcome, aku tinggal bareng ngikutin para kru. Aku dibolehin nanya-nanya pembuatan film kayak orang bego. Jadi, selain dapat tempat curhat soal pilihan hidup ekstrim menjadi buka eskrim, aku juga dapat kesempatan belajar, dan teman-teman baru dari kru dan pemain. Dan aku semakin gak nyangka, aku menutup tahun 2017 dengan ngobrol gugup di depan sejumlah insane perfilman tanah air. I guess that was MY MOMENT OF THE YEAR. Blog ini ternyata ada yang baca, dan dinilai worth untuk sebuah piala. Terima kasih, buat kalian yang udah suka mampir dan diskusi film di blog ini, semoga ke depannya bisa lebih baik lagii”
“Untuk penutupan, seperti biasa kita serahkan award final SHOCKER OF THE YEAR, hal-hal yang udah bikin kita surprise, dan sebelum melihat pemenangnya, inilah para runner-ups:” 1. Mickey Mouse Club Returns! 2. Serangan virus Ransomware Wannacry!! 3. Taylor Swift trying to be mean!? 4. Undertaker pensiun!!! 5. Yugioh ganti format!?! 6. Nama depan Schmidt terungkap! 7. Amerika menganggap Yerusalem sebagai ibukota Israel!!! 8. Sasha Banks dan Alexa Bliss mecahin rekor pertandingan gulat wanita pertama di Arab!! 9. Kasus pelecehan di Hollywood terungkap! 10. Chester Linkin Park bunuh diri!!
“Daaaan the most shocking thing adalaaaahh” “Selama ini kupikir cewek loh, well yea, sepertinya memang kita jangan jump into conclusion gitu aja mengenai banyak hal. Pastikan dulu. Cari tahu sendiri.”
“Semoga tahun 2018 menjadi tahun di mana Bumi menjadi tempat hidup yang lebih baik. Atau kalo enggak, semoga mungkin kita sudah bisa pindah ke Mars.”
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are…
Don’t be a Loser
We are the winner of Piala Maya Best Movie Critic of 2017 Be Jealous.
“The second time you make it, it’s not mistake, it’s a choice.”
Planet sudah nyaris kehabisan sumber daya energi. Penguasa-penguasa minyak di dunia mulai insecure, mereka pun rebutan tetes-tetes terakhis emas hitam tersebut. Dunia sedang perang, Bumi sedang kritis. Teknologi berusaha menjawab masalah ini dengan mengirim beberapa orang ahli ke satelit luar angkasa, guna mengoperasikan accelerator partikel bertenaga tinggi. Entah bagaimana dengan menembak ruang angkasa dengan partikel tersebut bisa memberdayakan dan memperbarui kembali sumber energi di planet Bumi, kita enggak pernah tahu lantaran ada masalah yang lebih gede ketika hal keren itu dilakukan. Kali ini para astronotlah yang enggak menghiraukan, mereka sudah bekerja dua tahun untuk menyempurnakan accelerator. Waktu sudah semakin menipis dan boom!!! Mereka berhasil….. melenyapkan bumi entah kemana. Satu planet gede raib begitu saja, bayangkan. Ternyata benar saja, dimensi lain itu terbuka oleh gaya yang dihasilkan oleh energy accelerator. Mengirim mereka terbang menembus dunia yang satu lagi, sementara monster-monster entah dari mana bermunculan di Bumi tempat dua film Cloverfield sebelumnya terjadi.
kayak Rick dan Morty, hanya saja film ini lucunya enggak lucu.
Aku pikir semua orang pada kaget ujug-ujug film ini keluar nyaris barengan ama trailernya yang nongol di Superbowl. Tayangnya di Netflix pula, bukan lagi di bioskop. Aku enggak yakin apakah ini langkah desperate atau memang mereka mau ngasih kejutan, yang jelas ini adalah taktik marketing yang cerdas. Ini membuat banyak orang membicarakannya, membuat orang penasaran. Terlebih karena Cloverfield pertama (tayang tahun 2008) dengan sekuelnya; 10 Cloverfield Lane (2016) adalah seri yang begitu jauh berbeda. Saking uniknya udah kayak film yang enggak ada hubungannya. Film pertama adalah thriller tentang kota yang udah dikuasai monster, aku suka banget filmnya dengan efektif memakai footage sebagai gimmick untuk menambah keunknownan kita terhadap monster dan apa yang sebenarnya terjadi. Film kedua, aku eventually lebih suka ini kecuali bagian akhirnya, lebih sebagai confined-psikologikal thriller tentang cewek yang gak yakin apakah dia sedang diculik atau memang sedang diselamatkan. Baru saat babak terakhir, dan kemudian dipastikan saat endinglah, kita melihat keduanya bisa jadi adalah cerita yang berhubungan.
Film ketiga ini, seharusnya menjembatani dua film tersebut, atau paling tidak menjelaskan misteri apa yang sebenarnya terjadi kepada Bumi. Dari mana monster-monster itu. The Cloverfield Paradox bisa saja melanjutkan ‘tradisi’ cerita yang berbeda setiap sekuelnya, sebab yang kita dapat di sini adalah sebuah thriller tertutup di luar angkasa, namun sayangnya film ini justru membuat kita lebih bingung lagi dalam menyambungkan, dalam memahami, apa yang terjadi di semesta Cloverfield.
Meski begitu, film ini memang melaksanakan tugasnya. Kita berhasil dibuat memikirkan ulang kembali mengenai franchise ini setelah menontonnya. In some ways, film ini memberikan kemungkinan-kemungkinan baru terhadap pengembangan universenya. Namun di pihak lain, film juga melakukan hal-hal yang tampak ‘menghancurkan’ apa yang sudah dibangun. Paling tidak, untuk saat ini kelihatannya begitu. Now, jika kalian menonton film ini dengan enggak peduli atau malah mungkin enggak tahu bahwa ini adalah bagian dari suatu franchise, kalian akan mendapati The Cloverfield Paradox sebagai thriller sederhana yang simpel tentang kru astronot yang satu persatu tewas. Ini bagus, film ini mampu berdiri sendiri sebagai sajian yang enjoyable. Enggak masuk akal, namun tak pelak menghibur. Akan tetapi, jika kita mencoba melihat gambar besar yang utuh, film ini benar-benar adalah sebuah paradoks.
Aspek dunia multidimensinya lah yang membuat hal menjadi unnecessarily ribet. Kita bisa kepikiran teori yang membangun film ini ataupun teori kenapa film ini jelek dengan sama banyaknya. Dan menurutku di situlah letak kekurangan film ini; ENGGAK JELAS. Padahal film ini sepertinya lumayan mengerti pijakan horor atau thriller yang bagus. Bahwasa ceritanya harus bisa menghantui tokohnya secara personal dengan ketakutan universal seperti rasa bersalah, kesepian, ketidaktahuan. Tokoh utama kita punya masa lalu yang tragis. Dia merasa bersalah atas kematian anak-anaknya, dia melakukan sesuatu (suatu hal yang bego) yang menyebabkan rumahnya terbakar. Pada inti setiap cerita horor yang baik selalu ada konflik bermakna yang dikaitkan dengan kejadian seram yang terjadi, yang menjelaskan kenapa hal tersebut menimpa si tokoh. Film ini, sepertinya dibuat oleh orang-orang yang gak tahu pasti mau bercerita apa. Masalah ketakutan personal tokoh utama tidak pernah benar-benar didukung oleh hal-hal ‘ekstraterestial’ yang mereka masukin ke dalam narasi. Sama sekali tidak ada penjelasan kenapa kita menyaksikan tokoh yang kehilangan lengan karena kesedot dinding, tapi dia gak merasa sakit – malah bercanda setelahnya. Tidak ada pemahaman kenapa kompas keren para kru hilang dan muncul di dalam dada teman mereka yang meninggal setelah tubuhnya mengeluarkan banyak cacing.
Setiap dari kita pasti enggak akan menolak jika dikasih kesempatan untuk balik memperbaiki kesalahan. Tapi, di dunia nyata, kita unlikely bakal dapat kesempatan kedua. Pelajaran yang bisa dikutip dari film ini adalah bukan dengan hidup tanpa membuat kesalahan sama sekali, melainkan kita harus belajar dari kesalahan tersebut sehingga kesalahan yang sama tidak terjadi dua kali.
Penjelasan yang ada sama enggak masuk akalnya
Alih-alih mengerikan, kejadian film ini jatohnya jadi konyol. Kita tidak pernah benar-benar peduli sama para tokoh, yang memang enggak mendapat karakterisasi yang memadai. Setiap kematian tidak terasa seperti kehilangan, apalagi kesedihan. Di antara semua hal-hal tak masuk akal yang mestinya ada kepentingan itu, film justru sempet-sempetnya masukin adegan eksposisi yang paling enggak dibutuhin; video seorang pengarang buku yang mengembangkan teori dimensi dunia mengungkapkan gelisahnya mengenai kemungkinan dua dimensi berbenturan. Tak pelak adegan ini menerangkan filmny sendiri dengan sangat gamblang. See, film ini bahkan tidak mengerti kapan ambigu itu harus diterapkan.
Ending film ini secara praktis membuat aku bingung dengan keseluruhan timeline franchise Cloverfield. Kita melihat monster yang sama dengan di ending film pertama, tetapi ukurannya jauh lebih besar. Adegan monster itu menembus awan sebenarnya cukup impresif jika konteks ceritanya kuat. Jadi apakah film ketiga ini merupakan awal dari film yang pertama? Apakah mereka bahkan ada di dunia yang sama? Di akhir film pertama, kita melihat runtuhan satelit jatuh sebagai awal dari kedatangan monster. Di film ketiga ini, however, satelit yang jatuh terjadi di Bumi yang Lain. Jadi tokoh film ketiga enggak hidup di tempat yang sama, dan kita bisa simpulkan monster di Bumi yang Lain berukuran lebih kecil – atau belum berkembang. Akhir film 10 Cloverfield Lane menunjukkan dunia sudah semacam diinvasi oleh Alien, jadi kemungkinan timeline film ini paling belakangan. Kesimpulanku adalah film ketiga terjadi duluan, diikuti oleh film pertama, dan kedua. Dengan film ketiga berada di dunia yang berbeda dengan film pertama, sedangkan film kedua masih abu-abu terjadi di mana. Masalahnya adalah, kita kerap dibawa balik ke tokoh suami protagonist yang tinggal di bumi, dan dia berkomunikasi dengan hape kekinian. Timeline ini begitu membingungkan buatku; film sepertinya sengaja mengaburkan penunjuk waktu sehingga kita enggak benar-benar tahu apa terjadi kapan kepada siapa, dan ini disengaja biar film masih bisa terus menelurkan cerita lain. Dan dengan dunia multi dimensi ini kemungkinannya akan nyaris tak terhingga.
Film ini masih bisa menyenangkan untuk ditonton, sensasi thrill dan terkurung di tempat tertutupnya cukup menguar meskipun karakternya tidak kita pedulikan. Ini juga adalah sebuah cerita yang cepet, kelihatan ingin menyumpelkan universe rumitnya ke dalam durasi yang mestinya bisa diperpanjang lagi demi narasi yang lebih kohesif. Namun pada akhirnya yang paling mengganggu adalah betapa malasnya aspek penceritaan dengan eksposisi yang salah tempat dan banyak hal konyol yang enggak masuk akal, malahan tampak dipaksakan. Paradoks yang ada ialah hal terbaik pada film ini bukanlah filmnya sendiri, melainkan promo marketingnya, dan sesungguhnya kita semua pasti akan lebih menikmati film yang ceritanya pinter dibandingkan film yang marketingnya keren. The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE CLOVERFIELD PARADOX.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
We? We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017
“Compartmentalization is the enemy of being human.”
Rumah dan Musim Hujan sebetulnya sudah lebih dulu tayang di festival-festival film pada tahun 2012. Ketika muncul beneran di bioskop tahun 2018 ini, ia berganti nama menjadi Hoax. Aku enggak tahu apa mereka melakukan reshoot atau diedit ulang atau semacamnya, ataukah film ini hanya berganti nama saja, namun buatku keputusan ini cukup aneh. Judul yang lama terdengar lebih misterius dibandingkan dengan Hoax yang terdengar begitu in-the-face, memaksa, sehingga appealingnya menjadi berkurang.
Naturally, kita biasanya akan menghindari berita-berita hoax. Semenarik apapun judulnya terbaca, berita tersebut tetaplah palsu. Akan tetapi, ketika aku bilang Hoax yang satu ini perlu dialami untuk penonton-penonton yang suka keanehan, maka kalian semua HARUS PERCAYA.
“Udah tau Hoax, kenapa masih ditonton?”
Adegan pembuka dengan efektif melandaskan mood cerita beserta hubungan antartokohnya. Di luar hujan deras. Kita melihat empat orang anak muda bernyanyi riang di meja makan, Bapak (Lando Simatupang jadi kepala keluarga yang entah sudah pelupa atau memang sengaja)lah yang memimpin permainan kecil-kecilan mereka. Jamuan buka puasa malam itu tampak spesial; karena si sulung Raga (kebagian jatah komedi, Tora Sudiro secara excellent menjadi enggak lucu) datang memperkenalkan pacar barunya. Semua tampak menyambut. Semua tampak ramah. Sedikit tensi yang kita lihat ada di antara Ragil (Vino G. Bastian tampak punya sesuatu yang dipendam) yang mencegah dengan pandangannya Ade (tampak paling insecure di sini adalah tokoh Tara Basro) yang pengen ngerokok di meja makan. Ini adalah pemandangan hangat yang diidamkan setiap keluarga. Sukma (tokoh Aulia Sarah memang diniatkan sedikit annoying) terang saja seketika merasa diterima, sampai-sampai dia enggak sadar nyanyian falesnya sudah membubarkan formasi mereka.
Kalian tahu, Ibuku paling males ngejadiin rumah sebagai tempat kumpul keluarga karena beliau enggak mau kami merasa kesepian saat tamu-tamu pada pulang nanti. Meskipun toh bakal ketemu lagi, tapi tetep aja perasaan ditinggalkan, actually merasakan dering keheningan setelah rumah yang lima menit lalu masih ramai, adalah sebuah perasaan yang bisa bikin depresi. Film Hoax tidak akan membiarkan kita ditinggalkan oleh para tokohnya. Kita tidak akan seperti meja makan dan furnitur sepi pada gambar-gambar diam itu. Sutradara Ifa Isfansyah akan membawa kita mengikuti tiga bersaudara yang ‘berpencar’ setelah makan. Menguntiti mereka menerobos hujan menuju ke rumah masing-masing. Saat membeli tiket bioskop, kita berniat menonton satu film. Akan tetapi, dengan menonton Hoax, kita akan mendapatkan dua cerita ekstra, karena film ini juga BERLAGAK SEPERTI OMNIBUS; BERISI CERITA-CERITA DENGAN GENRE BERBEDA, yang disusun saling berseling membentuk gambar besar. Tentu saja, masih terikat dalam satu benang merah. Di mana editing film bekerja dengan sangat tepat membuat setiap cerita bergerak naik dengan paralel.
Yang dengan baik tergambarkan, terfasilitasi, oleh penceritaan dengan pengotakan tokoh seperti ini adalah bagaimana kita mengira keluarga yang mandiri terbentuk oleh terpisahnya setiap anggota secara emosional, tanpa perlu mencampuri urusan yang lainnya. Tiga tokoh sentral pada film ini, masing-masing mereka dihadapkan kepada konflik yang bervariasi – antara bahaya dan amat personal, tapi mereka tidak pernah meminta bantuan. Malahan ketika kita melihat mereka berkumpul kembali di meja makan itu, mereka berbohong, seolah tidak ada kejadian apa-apa. Jadi, untuk menjawab pertanyaan yang diajukan film di momen penutup itu; ya kita semua yang berbohong, karena kita ingin menunjukkan kekuatan. Namun sebenarnya itu justru tanda kelemahan sebagai manusia..
Setiap kali ada orang yang meminta kita untuk percaya kepadanya, maka orang tersebut patut kita curigai. Karena pemandangan demikianlah yang kita lihat terhampar pada film ini. Setelah menontonnya aku bisa memahami kenapa mereka kepikiran untuk memakai Hoax sebagai judul; karena cerita benar-benar menekankan kepada para tokoh yang ingin dipercaya oleh tokoh lain. Para tokoh film ini memohon untuk dipercaya. Elemen itu aja sudah cukup menarik bagiku, apalagi ditambah dengan kadang kita mendapat adegan yang aneh datang dari tokoh ingin dipercaya itu. Seperti misalnya ketika Raga menyuruh Sukma menyetir mobil dengan menutup mata, Sukma diminta menyetir dengan mendengarkan arahan sebagai bukti cewek itu percaya kepada Raga.
Eh pada belum ‘mandi’ kok udah sahur lagi aja?
Well, bukannya mau niruin MTV Rumah Gue, namun film memang akan membawa kita melihat rumah masing-masing tokoh berseling-selingan. Rumah yang pertama dan terutama sekali adalah rumah tempat adegan meja makan tadi; rumah masa kecil mereka bersama Bapak yang kini ditinggali bersama Ragil. Di dalam rumah ini kita akan melihat dua generasi yang berbeda, yang kontras. Ragil ngechat di komputer, sedangkan si Bapak nontonin kaset video lama. Ragil mengaji di ruang tamu, si Bapak main wayang di ruangan sebelahnya. Sekilas rumah ini tampak damai dengan satu-satunya masalah adalah genteng yang bocor. Namun actually, bobot drama datang paling kuat dari cerita ini. Interaksi realistis antara Bapak dengan Ragil, entah itu ketika Bapak meminta Ragil membuatkan catatan tentang bagaimana melakukan sesuatu seperti menyalakan komputer dan mematikan air atau ketika Bapak menunjukkan keberpihakannya kepada pacar lama Raga atau ketika Bapak menanyakan siapa pacar Ragil, menambah banyak kepada bobot cerita. Dan eventually akan berbuntut kepada kejutan yang menyibak ‘the true identity’ dari Ragil.
Bagian Ragil dengan Bapak ini tak pelak menjadi standar tone, karena it was done so well. Dan makanya, membuat dua rumah lain kadang tidak benar-benar tercampur sempurna dalam konteks tone. Rumah Raga berisikan komedi romansa antara Raga dan Sukma yang melibatkan hal yang tidak mereka inginkan. Raga menyuruh Sukma melakukan hal-hal konyol yang terlalu jauh untuk bisa dianggap serius. Aku suka beberapa aspek pada cerita bagian mereka, malah aku merasa terwakili oleh Raga yang suka baca majalah wanita – aku pembaca setia Gadis. Menurutku, bagian ini memang diniatkan sebagai aspek yang paling light-hearted karena bagian Raga ini juga adalah yang paling sering berfungsi sebagai pemberi eksposisi. Landasan universe cerita film ini terjelaskan lewat obrolan Raga dengan Sukma, jadi mereka memang perlu dibuat semenyenangkan mungkin biar gak bosen dan obvious banget ngasih petunjuk. Namun ketika muncul satu tokoh dari masalalu Raga, cerita menjadi sedikit terlalu far-fetched.
Rumah yang menjadi favorit banyak orang pastilah rumahnya si Ade. Alih-alih rumah penuh kesederhanaan, ataupun rumah mentereng, kita dapat rumah yang gak jelas kecil atau gedenya karena lagi mati lampu. Ade tinggal dengan mama kandung mereka. Tone pada bagian ini, however, juga berentang terlalu luas, tapi aku yakin itu enggak menghentikan kita untuk merasuki setiap kengerian dan kepiluan yang dirasakan oleh Ade. Satu kejadian tragis dialami Ade dalam perjalanan pulang, dan ini seketika mengguncang psikologisnya. Minimnya cahaya dijadikan film sebagai penunjang untuk menceritakan psikologikal horor yang menjadi warna bagian ini. Aku gak mau bilang banyak, untuk bayangan saja, kejadian Ade bersama si mama mirip-mirip ama cerita horor di creepy pasta (Jajang C. Noer piawai juga mainkan peran yang mendua). Dengan bijak cerita mengaburkan apa yang sebenarnya terjadi, kita tidak pernah tahu pasti apakah yang dialami Ade di rumah itu benar-benar seperti kepercayaan si Bapak (film mengangkat mitos manusia punya saudara gaib dari kandungan sebagai lapisan horor), atau hanya karena kondisi jiwa Ade yang terganggu. Bahkan film enggak sepenuhnya terang mengenai apakah si Ibu benar-benar masih hidup sedari awal – bukan khayalan Ade. Satu lagi, mungkin aku salah, tapi ngeliat dari posisi kamar mandinya, rumah Raga dan rumah Ade kayaknya adalah satu rumah yang sama.
Adalah sebuah gaya bercerita yang unik yang dilakukan oleh Ifansyah untuk menyampaikan apapun pesan yang ingin ia sampaikan tentang keluarga dan kejujuran. Bagaimana setiap anggota punya pandangan dan tantangan berbeda. Film juga menggunakan agama sebagai lapisan untuk menambah bobot ke poin yang ingin disampaikan. Tapi kalo diibaratkan pendulum, film ini terlalu sering dan terlalu cepat berayun dari realita ke bagian surealis, membuat film tidak pernah bertahan terlalu lama di ranah terkuatnya. Kadang kita ingin cerita cepat berganti karena ada kelanjutan dari cerita rumah lain yang pengen kita lihat. Pengalaman aneh yang menyenangkan, actually, menonton ini. Jika ada satu hal yang kita percaya dari film ini, maka itu adalah kita harus membuktikan sendiri dahulu segala hal yang kita temui, karena everything seringkali tidak seperti kelihatannya. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for HOAX.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
We? We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017
“We just have to find the ones that unlock the right doors.”
Berapa sering kita melihat film horor belakangan ini? Banyak. Terang saja horor akan terus ngehits selama manusia masih suka ditakuti-takuti. Selalu ada alasan untuk nonton film horor.Entah itu sendirian, ataupun mau seru-seruan bareng temen. Maka hantu-hantu itu tak akan pernah ‘mati’, franchise-franchisenya akan senantiasa direborn (lucu gak sih, ‘hantu reborn’ itu berarti kan dia udah gak jadi hantu lagi ya? Hihi) supaya enggak kemakan jaman dan dapat memuaskan penonton kekinian.
Namun, seberapa sering kita melihat film horor, bahkan sebuah franchise horor, yang BERPUSAT PADA TOKOH YANG SUDAH NENEK-NENEK? Belum pernah terjadi kukira. Sekarang sudah 2018, ini sudah film keempatnya, dan Insidious masih tetap kekeuh berpegang kepada akar cerita. Walaupun memang yang nonton kebanyakan adalah kelompok dedek-dedek jaman-now, franchise Insidious enggak necessarily ditujukan buat remaja. Tokoh utamanya selalu adalah orang dewasa, yang punya masalah-masalah dewasa, mereka berurusan dengan hal-hal kelam. Insidious selalu adalah soal trauma keluarga, masa lalu yang penuh kekerasan rumah tangga, dan film keempatnya ini pun melanjutkan tradisi tersebut.
Berdiri di tengah franchise ini adalah Elise, seorang parapsikologis, yang membantu orang-orang yang rumahnya dihuni oleh roh jahat. Insidious: The Last Key actually adalah prekuel dari film yang pertama, (dua episode ini nyaris berjalan beruntun) karena sebagaimana yang kita tahu Elise sendiri sudah jadi hantu di film yang kedua. Jadi, di film ini kita akan melihat kisah origin dari tokoh Elise. Kita akan melihat ia di masa kecilnya. Rumah Elise dulu di dalam kompleks penitentiary di New Mexico. Gimana kemampuannya melihat hal-hal goib menjadi penyebab utama Elise kecil dipukuli oleh bokapnya yang mendapat nafkah dari menghukum kriminal-kriminal. Masa kecil yang enggak bahagia, fisiknya menderita, mentalpun ikut didera oleh banyaknya makhluk halus yang ia lihat. Salah satunya terbebas dari pintu yang dibuka Elise, melepas teror yang berujung kepada Elise remaja kabur dari rumah. Masa lalu mencerminkan hidupmu yang sekarang, tahun 2010 Elise mendapat telepon dari seorang klien. “Alamat Anda di mana?” dan DEG! Permintaan mengusir hantu itu ternyata datang dari rumah masa kanak-kanaknya yang penuh dengan literally hantu-hantu masa lalu!!
“Who you gonna call? Spooky Buster!”
Bicara soal franchise horor, sebenarnya kita seperti mengulas tentang perosotan. Kalian tahu, seberapa curam filmnya menurun. Apalagi kalo udah sampe seri keempat; liat aja tuh entry ke empat Paranormal Activity. Atau Saw. Biasanya kualitas tersebut turun antara karena filmnya enggak mendapat inovasi apa-apa, ataupun karena sudah berkembang begitu jauh – jadi over-the-top, dari dasarnya. Film ini, untungnya, enggak jadi parah-parah amat. Film yang pertama dan kedua masih paling kuat, namun The Last Key tidak berada jauh di belakang film ketiga. Kekuatan film ini terutama terletak pada performa Lin Shaye yang diberikan kesempatan bersinar sebagai Elise yang akhirnya menjadi fokus utama narasi. Aku suka dengan tokoh ini lantaran dia terlihat begitu vulnerable. Di sini kita mendapat paranormal yang enggak sok-sok misterius. Elise tampak manusiawi, dia punya selera humor, dia punya banyak kelemahan, dan dia begitu self aware dengan kemampuan psikisnya. Membuat tokoh ini tampak keren.
Antara Elise yang kabur dengan ayahnya yang ringan tangan setiap kali Elise ‘mengadu’ ada hantu, sebenarnya mereka berdua memiliki persoalan yang paralel. Realisasi terhadap hal tersebutlah yang menjadi ujung perjalanan Elise sepanjang film. Bahwa dia, sama seperti ayahnya, sederhananya mengambil jalan yang termudah. Kita membenci hal-hal yang tidak kita mengerti. Meninggalkan rumah yang bermasalah, menghukum anak yang punya kemampuan aneh, adalah tindakan yang lebih gampang – yang menurut mereka lebih plausible, ketimbang mencoba untuk memahami masalah itu. Tetapi tentu saja kita tidak bisa benar-benar lari dari masalah, makanya Elise kemudian memutuskan untuk menerima rekues klien mengusir hantu dari rumah masa kecilnya.
Dari segi horor, film ini juga tergolong kompeten. Memang kita akan banyak terlonjak oleh suara-suara keras, film masih mengandalkan jump scare seperti halnya film-film Insidious sebelum ini. Namun, paling enggak, film ini cukup cerdas untuk memilih kapan harus menggunakan teknik tersebut. Film ini cukup bijak tidak membuat kita terkejut oleh binatang ataupun sapaan teman ataupun hal-hal biasa lain yang mengecoh. Ketika cerita membutuhkan tokohnya untuk melintasi lorong gelap dan melihat bayangan dan menyenternya, hanya untuk tahu bayangan tersebut adalah baju yang digantung, maka adegan tersebut dilakukan tanpa suara. Musik keras dan mengejutkan hanya kita jumpai ketika yang menyebabkannya beneran adalah hantu. Hal yang menyeramkan kerap muncul bikin jantung kita copot, tapi seenggaknya jika kita beneran mati saat itu kita tidak menjadi hantu penasaran lantaran yang membunuh kita beneran kemunculan hantu seram. Ada satu sekuen serem yang aku suka, yakni saat Elise masuk ke dalam pipa dan menemukan banyak koper-koper. Sutradara Adam Robitel cukup mumpuni mengarahkan adegan tersebut sehingga meski kita tahu bakal ada sesuatu yang ngagetin, scare yang terjadi masih mampu untuk bekerja di luar ekspektasi.
Babak pertama film bekerja dengan efektif sekali. Terutama di bagian masa kecil Elise, ini niscaya adalah bagian terkuat seantero film ini. Kita belajar mengenai keluarga Elise, yang tentu saja setiap anggotanya menjadi penting nantinya. Namun, as the story goes, film ini tidak terasa seperti dibangun atas fondasi naskah yang biasa. Menjelang ke transisi babak ketiga, penceritaan film ini menjadi semakin goyah. Ada beberapa aspek di babak ketiga yang enggak klop, karena sebelumnya ada pengenalan karakter baru yang dimaksudkan sebagai pengungkapan besar-besaran, di mana kita diharapkan untuk berpikir “wow aku sama sekali enggak nyangka” akan tetapi jatuhnya malah hampa. Akan ada semacam pergantian peran, juga ada karakter yang berubah dari baik ke jahat, dari jahat ke baik, hanya saja narasi yang menghantarkan ini tidak bekerja dengan benar. Dari sebuah drama berbalut misteri supranatural, cerita menjadi misteri kriminal, dan berakhir menjadi petualangan di dunia gaib, struktur pembabakan cerita tidak berhasil mengemban tugas membungkus ini dengan lancar.
Imogen adalah salah satu nama cewek paling keren yang pernah kudengar
Bicara soal revealing, bahkan tokoh hantu utamanya juga tidak tampak lagi begitu spesial. Untuk sekali ini aku tidak merasa penampilan Javier Botet benar-benar mengerikan. Maksudku, jika dibandingkan dengan The Crooked Man, dengan hantu Mama, presence Hantu Kunci di film ini terasa lemah. Letak masalahnya bukan di make up, sosok hantu yang dimainkan Botet pada film ini masih mampu bikin kita kencing di celana, melainkan di apa yang ia lakukan. Si Hantu punya jemari yang berbentuk anak kunci, dia menggunakan di antaranya untuk mengunci dada korban, apa sebenarnya makna dari apa yang ia lakukan? Segala kunci dan pintu-pintu itu semestinya membangun kepada sesuatu perumpamaan, tapi dalam film ini tampak sebagai bahan menakut-nakuti belaka.
The best that I can come up with adalah melihat Elise bergentayangan berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci di tempat gelap itu mengingatkanku ke salah satu pelajaran menulis. Seorang penulis sejatinya kudu mampu membuka pintu-pintu di dalam diri dengan menggunakan kunci-kunci yang tepat. Kunci itu adalah pertanyaan yang kita ajukan kepada diri sendiri. Proses menulis adalah proses menyelami diri sendiri, mengeksplorasi apa yang kita rasakan, dan ini paralel dengan yang dilakukan Elise di dunia sana; Dia harus membuka pintu-pintu demi ‘mengenali’ dirinya sendiri sebagai cara untuk berkonfrontasi dengan masa lalu yang ia tinggal kabur.
Selalu bermasalah di bagian humor, tak terkecuali pada film ini. Elise ditemani oleh dua pria yang membantunya dalam urusan teknologi. Mereka ini semacam Ghostbuster dengan gadget-gadget unik yang kadang gak jelas kegunaannya, dan kedua cowok yang nemenin Elise bertugas mengoperasikan alat-alat tersebut. Itu tugas mereka dalam narasi. Dalam penceritaan, however, dua orang ini punya fungsi sebagai pencetus komedi. Tingkah mereka yang komikal, celetukan mereka yang nerd abis, lebih sering daripada tidak jatohnya awkward alih-alih lucu. Akan ada banyak lelucon yang bikin kita nyengir kuda karena candaannya garing. Eventually mereka berdua terlibat adegan flirt sama cewek, dan adegan-adegan konyol mereka membuatku merasa malu menontonnya.
Buat yang belum pernah menonton film dari franchise Insidious, film ini tidak akan membuat kalian menjadi fans, sebab ceritanya yang memang agak kurang rapi ini tidak benar-benar mengandung sesuatu yang baru. Horornya juga tergolong biasa. Namun, buat penonton yang udah setia ngikutin, film ini tidak tampil mengecewakan, dibuat dengan kompeten, dimainkan dengan meyakinkan, dan tetap memegang teguh akar yang membuat film-film pendahulunya disenangi. The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for INSIDIOUS: THE LAST KEY
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
We? We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017
Joko Anwar mengajak para follower twitternya untuk menonton yang film berkualitas saja. Gimana cara tahu kualitasnya tanpa menonton? Yaitu dengan mengambil referensi dari tulisan-tulisan kritikus atau reviewer. Tapi kita bukan robot. Kita bisa berpikir sendiri, kita bisa merasa sendiri. Kata-kata reviewer hendaknya dijadikan acuan sebagai pembanding pendapat pribadi, anggap seperti moderator dalam sebuah forum diskusi. Jangan seketika dijadikan pedoman layaknya walkthrough video game. Lagian, di mana serunya jika setiap orang punya pendapat yang sama. Maka aku bilang, tontonlah film apapun, tetapi jangan matikan pikiran kita saat menyaksikannya. Pertanyakan semua. Berekspektasilah. Jadi pembuat film tandingan.
Lihat betapa indahnya pemandangan dunia sinema di tahun 2017. Begitu banyak film-film yang membagi penontonnya menjadi dua kubu likers dan haters. Ada yang bilang film itu karya masterpiece, sedangkan ada juga yang bilang film yang sama tersebut sebagai sebuah omong kosong, sampah. Dan tentu saja ini menciptakan ruang untuk diskusi yang sehat. Penonton akan memikirkan ulang filmnya. Mereka berpendapat, menyalakan otak, mengeluarkan suara tentang bagaimana film itu seharusnya. Hal seperti inilah yang eventually menggerakkan roda perfilman itu ke depan. Inilah yang membuat sebuah film yang bagus. Dan tahun 2017 dipenuhi oleh film-film hebat yang menggerakkan seperti demikian.
Jadi, jangan heran ketika kalian membaca daftar ini dan menemukan film yang mungkin kalian benci setengah mati nangkring di dalamnya. Sebab itulah poin yang dibentuk oleh 2017; sebuah tahun yang sangat polarizing terhadap film. Jangan pula ditahan-tahan jika kalian punya komentar ataupun ingin sharing film terfavorit kalian, kita punya kolom komen di bawah 😀
HONORABLE MENTIONS
A Ghost Story (drama sedih yang akan terus menghantui penontonnya)
A Silent Voice (anime yang penting untuk ditonton karena kebanyakan kita belum mampu berkomunikasi dengan benar)
Brad’s Status (film yang life changer banget, nyadarin kita untuk berhenti ragu-ragu kebanyakan mikirin masalah yang sebenarnya hanya ada di kepala)
Call Me by Your Name (perjalanan menemukan sesuatu yang tidak lagi bisa kita abaikan)
Dunkirk (terobosan baru Christopher Nolan buat film perang sehingga terasa begitu nyata)
Get Out (satir mengenai rasisme dan masalah sosial lain yang dibungkus dalam kemasan horor)
Good Time (thriller yang benar-benar lancang yang ngingetin bahwa hidup memang susah, bukan berarti berhenti berusaha)
Personal Shopper (bukan horor seperti yang diharapkan, ini adalah film orisinil yang benar-benar seperti lukisan abstrak)
Raw (cerita yang shocking dan sangat disturbing tentang manusia yang terlalu lama menahan nafsu)
Split (M. Night Shyamalan kembali dengan psikologikal thriller yang percaya kepada penonton dan gelora oleh penampilan-penampilan akting luar biasa)
Star Wars: The Last Jedi (mengenyahkan semua prediksi, aku senang sekali kita melihat petualangan dan aspek-aspek yang sama sekali baru di franchise Star Wars)
Stronger (film yang sangat inspirasional tentang trauma yang sama sekali enggak inspirasional buat mereka yang mengalaminya. Nah lo?)
The Devil’s Candy (layaknya karya seni yang berasal dari neraka personal seorang ayah yang struggling dengan pekerjaannya)
The Disaster Artist (dark comedy tentang menggapai mimpi, meskipun ekspektasi seringkali tak sesuai dengan realita. Film ini punya hati paling besar se2017!)
Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (penampilan akting yang melegenda, berani membahas isu yang dihindari orang. Salah satu tontonan terbaik, dan paling punya nyali)
To the Bone (sangat kuat mengeksplorasi psikologis orang-orang yang punya pandangan menarik tentang kebutuhan makan)
War for the Planet of the Apes (cerita brutal tentang perang dan survival dan apa yang membuat pemimpin menjadi seorang pemimpin, sangat emosional!)
Wind River (seberapa cepat dinginnya perlakuan dapat membuat orang melakukan hal-hal yang di bawah derajat moral)
Wonder (dapat membuat anak-anak jadi berani untuk mengambil tindakan yang benar dalam pergaulan mereka dengan teman sehari-hari)
Wonder Woman (akhirnya ada juga film superhero DC yang benar-benar bisa menendang bokong!)
Tak lupa pula, special shout out aku berikan buat Pengabdi Setan yang ulasan filmnya udah mecahin rekor jumlah view terbanyak di My Dirt Sheet.
Director: Edgar Wright Stars: Ansel Elgort, Lily James, Kevin Spacey, Jamie Foxx MPAA: R for violence and language IMDB Ratings: 7.7/10 “‘Retarded’ means slow. Was he slow?”
Musik asik yang lantang, mobil keren yang ngebut, itulah film ini. Lantang dan ngebut. Sama dengan superseru. Ini adalah salah satu film dengan pace paling cepat sepanjang tahun. Ciri khas sutradara Edgar Wright kelihatan jelas di sini.
Sekalipun sangat kuat dalam gaya, namun Edgar Wright tidak pernah melupakan substanti pada setiap ceritanya. Penulisan Baby Driver sangatlah on-point. Strukturnya berhasil memberikan banyak kepada Baby meskipun tokoh utama kita ini hanyalah semacam orang suruhan yang tidak mau berada di sana. I mean, Baby kebanyakan bereaksi ketimbang beraksi – sesuatu yang kebalikan dari rumus tokoh utama – tetapi film masih mampu mengolahnya sehingga senantiasa menarik. Baby adalah tokoh yang punya kebiasaan yang unik, dan akan sangat mengasyikkan melihat perkembangan tokoh ini, apa yang ia lakukan, dan apa yang pada akhirnya harus dia pilih.
Diperkuat oleh pemain dan humor yang kocak, film ini akan jarang sekali mengerem. Dan ketika film memang benar-benar melambat membangun kisah cinta antara Baby dengan Deborah, kita akan masih betah duduk di sana.
My Favorite Scene:
Kurang dahsyat apa lagi coba adegan ngebut-ngebut di opening ini? Hebatnya adegan ini – beserta setiap stun action lain yang ada di Baby Driver – tampak bener-bener bisa dilakukan di dunia nyata.
Director: Darren Aronofsky Stars: Jennifer Lawrence, Javier Bardem, Ed Harris, Michelle Pfeiffer MPAA: R for disturbing violent content, nudity, some sexuality, and language IMDB Ratings: 6.8/10 “You never loved me. You just loved how much I loved you. I GAVE YOU EVERYTHING. You gave it all away.”
Film yang aneh. Menyinggung, dan mengganggu. Ada banyak adegan kekerasan, ataupun adegan yang mengerikan, yang tak terjelaskan. Aku bisa melihat alasan sebagian orang dapat menjadi begitu enggak suka sama film ini. Aku bisa mengerti kalo Indonesia menolak memutar film ini di bioskop. Bahkan, penampilan akting Jennifer Lawrence yang begitu luar biasa memilukan di film ini, besar kemungkinan akan dilewatkan begitu saja oleh penghargaan-penghargaan film. Karena penceritaan film ini amat sangat ganjil.
Namun buat yang mau bertahan menonton, Mother! adalah sebuah film kiasan yang digarap dengan tingkatan dewa. Semua yang terjadi di film ini mempunyai makna, membentuk lapisan cerita yang menantang kita untuk memahami apa maksudnya. Mother! adalah film yang susah untuk dicerna. Aku mencoba untuk menafsirnya dalam ulasan, dan bisa jadi semua yang kutulis salah. Film ini benar-benar bekerja sesuai dengan interpretasi penontonnya masing-masing.
Menurutku, di balik lapisan tentang pasangan suami istri yang rumahnya mendadak disatroni banyak orang, film ini bicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Di mana kita adalah tamu di dalam rumah Tuhan. Dan ini membawa kita ke pemahaman bahwa si Ibu adalah orang yang paling disibukkan kalo ada tamu, dia yang paling ‘dirugikan’, dan orang ini adalah personifikasi dari alam. Bumi. Simbol-simbol gila seputar tentang itu banyak bertebaran di aspek-aspek narasi. Film sinting seperti ini mungkin tidak akan segera bisa kita jumpai lagi.
My Favorite Scene:
Oke, aku gak bisa nemuin video sehingga membuatku ngeri juga masukin foto mengenai adegan yang menurutku merupakan bagian terbaik di film ini. Dan adegan tersebut adalah ketika Mother dihajar hingga babak belur oleh massa. Adegan brutal ini sangat heartbreaking, menontonnya bikin kita sakit juga, suara-suara tulang yang patah ketendang itu benar-benar bikin adegan ini berat untuk ditonton, namun juga begitu penting, karena inilah yang actually sedang kita lakukan terhadap bumi tercinta.
Director: Guillermo del Toro Stars: Sally Hawkins, Octavia Spencer, Michael Shannon, Richard Jenkins MPAA: R for sexual content, nudity, violence, and language IMDB Ratings: 8.2/10 “Oh God! It’s not even human.” / “If we do nothing, neither are we.”
Seorang wanita tuna wicara polos yang jatuh cinta kepada makhluk amfibi mengerikan. Ini adalah kisah cinta tak biasa, yang mungkin bisa disturbing buat beberapa orang, namun bukan itu satu-satunya yang disampaikan oleh Guillermo del Toro, seorang master dalam membuat kisah fantasi kelam yang sangat menyentuh, Film ini adalah dongeng tentang hidup yang belum terpenuhi. Pesan di balik film ini sesungguhnya akan terasa akrab oleh kita yang pernah merasa hidup kita belum sempurna.
Ada sesuatu di balik monster tersebut yang bisa kita relasikan. Ada sesuatu di balik mimpi-mimpi tokohnya yang membuat kita peduli tanpa harus mengasihani mereka. Mengisi hidup adalah perjuangan. Film ini menarik perbandingan bahwa semestinya kita bertindak seperti air demi mengisi kekosongan dalam hidup. Kita harus bisa beradaptasi sesuai dengan environment tempat kita berada.
The Shape of Water diarahkan untuk menjadi pengalaman visual nan personal yang sangat menggugah. Efek-efek praktikal dan sinematografi film ini benar-benar mencuat membentuk adegan-adegan yang begitu kuat. Penceritaan The Shape of Water mengalir dengan menawan. Dia bekerja baik dalam banyak tingkatan. Kita bisa menikmati romansanya, ataupun dibuat tegang oleh suspens dan dunia politik Perang Dingin, ataupun menyimak pesan yang diselipkan di balik setiap simbol dan elemen ajaib yang film ini miliki.
My Favorite Scene:
Di luar apakah adegan ini penting atau kagak, sekuens musikal film ini tampak begitu indah. Aku punya soft side buat adegan musik yang aneh yang diselipin di dalam cerita.
Director: Mouly Surya Stars: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egy Fedly, Certificate: 21+ IMDB Ratings: 7.4/10 “Saya tidak merasa berdosa”
Akhirnya, akhirnyaaaa, setelah sudah lima tahun bikin list film terbaik, akhirnya ada film Indonesia yang masuk Delapan Besar. Dan Marlina sangat pantas untuk mendapatkan apresiasi segede ini.
Empat babak cerita ini merangkum kisah Marlina, seorang yang baru saja jadi janda, yang rumahnya disatroni tujuh pria dengan niat gak baik. Marlina membunuh sebagian besar mereka, memenggal kepala pemimpinnya, untuk kemudian pergi menyebrangi padang gersang pulau Sumba menuju kantor polisi.
Film ini bergulir tidak seperti film-film Indonesia lain yang keluar di tahun 2017. Orang luar bahkan menyebut film ini sebagai satay western. Marlina menggunakan musik yang seperti musik country dilebur dengan irama lokal Sumba. Marlina memperlihatkan pemandangan padang berbukit, kita melihat Marlina naik kuda. Betapa uniknya film ini. Dia membahas isu-isu sosial, berkelakar dengan melontar komentar tentang gender. Ceritanya mempertanyakan peran masing-masing gender, untuk kemudian membaliknya begitu saja. Antara wanita dan pria, sesungguhnya tidak ada yang jadi korban. Tidak ada yang total mendominasi di atas yang lain.
Film ini pun sesungguhnya turut bersumbangsih dalam kebangkitan sutradara-sutradara wanita, dengan menampilkan tokoh wanita yang kuat, dalam scene perfilman dunia.
My Favorite Scene:
Marlina dihuni oleh karakter-karakter yang juga unik. Satu adegan yang membuatku ngakak adalah ketika Marlina membajak angkutan umum, sepanjang perjalanan dia menodong si supir dengan parang yang diacungkan beberapa senti dari leher, dan kemudian salah satu penumpang angkutan – yang sudah ibu-ibu – malah nyeletuk dengan santai “Tidak capek tanganmu, Nona?”
Director: Mike Flanagan Stars: Carla Gugino, Bruce Greenwood, Chiara Aurelia, Carel Struycken Certificate: TV-MA IMDB Ratings: 6.7/10 “Everybody’s got a little corner in there somewhere; a button they won’t admit they want pressed.”
Gerald’s Game adalah salah satu film adaptasi Stephen King terbaik dan ini benar-benar mengejutkanku lantaran source materialnya bisa jadi merupakan materi yang paling susah untuk disadur ke bahasa film. Kebanyakan adegan cerita ini adalah tokoh Jess bicara dengan dirinya sendiri. Ini adalah cerita psikologikal thriller tentang seorang wanita yang terborgol di tempat tidur dan dia harus melepaskan diri karena selain anjing kelaparan yang terus saja menyantap mayat suaminya di lantai, tidak ada orang lain yang tahu kondisi Jess karena pasangan suami istri ini memang lagi liburan di vila terpencil.
Kita akan melihat Jess ngobrol dengan dirinya sendiri, ada personifikasi dirinya, suaminya, kita dibawa flashback ke kejadian masa kecil Jess yang membuatnya trauma. Dan pada puncaknya, Jess harus berhadapan dengan Moonlight Man; sosok tinggi besar misterius, bermata merah, yang kerap datang ketika malam tiba.
Ini adalah cerita yang hebat yang penuh dengan metafora dan simbolisme. Perjuangan manusia untuk membebaskan diri dari trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi yang sekarang. Seluruh penceritaan film ini akan sangat menantang kita. Ceritanya creepy. Sinematografinya pun membuat merinding. Juga amat disturbing. Ada satu adegan yang bikin ngilu dan bakal membuat kita mengelus-elus pergelangan tangan. Penampilan akting para pemain pun luar biasa, karena mereka memainkan dua versi dari tokoh mereka.
Salah satu horor psikologis terbaik yang pernah aku saksikan.
My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=nyJT36-t25A
Orang bilang ending adalah bagian terbaik dari sebuah film. Aku tidak bisa menyangkalnya buat film Gerald’s Game. Stephen King adalah master dalam menulis cerita balas dendam. Dan sekuens akhir film ini sungguh-sungguh membuktikan hal tersebut. Amat memuaskan melihat konfrontasi final antara Jess dengan Moonlight Man
Director: Denis Villenueve Stars: Ryan Gosling, Harrison Ford, Ana de Armas, Jared Leto MPAA: R for violence, some sexuality, nudity, and language IMDB Ratings: 8.3/10 “Dying for the right cause. It’s the most human thing we can do.”
Aku bilang film ini adalah masterpiece dalam filmmaking. Temen-temenku yang mendengar rekomendasi ini, pergi ke bioskop untuk menontonnya.
Dan mereka tertidur.
Seriously guys, aku tahu aku nulis film 2017 itu hebat-hebat lantaran bisa membagi pendapat penonton, tapi aku bener-bener garuk kepala ketika ada yang bilang Blade Runner 2049 adalah film yang membosankan. Ya, filmnya memang panjang banget. Tapi ada begitu banyak kemenakjuban yang bisa kita lihat, yang bisa kita nikmati, yang bisa kita serap dari penceritaan ini. Sekali lagi, oke, mungkin ceritanya agak berat. Mekanisme dunia penuh Replicant dan sebagainya; film ini bisa berdiri sendiri karena naskahnya benar tertutup, namun kalo kita sudah nonton film yang pertama, cerita memang jadi sedikit lebih mudah dicerna. Makanya, aku menyarankan kepada yang tertidur karena gak paham ama ceritanya, coba deh nonton dengan suara di-mute. Karena pemandangan visual dan sinematografi dalam film ini, begitu grande sehingga membuat calon filmmaker bakal ciut “bisa gak gue bikin yang lebih bagus?”
Naskah film ini begitu kuat. K, tokohnya si Gosling, punya plot yang paling WTF di tahun 2017. Aku gak bisa membayangkan kalo aku yang bernasib seperti dia. Kalian tahu Tommy Wiseau yang bikin film The Room? Yang kisahnya diceritain dalam The Disaster Artist? Apa yang dialami Wiseau; dia menyangka film buatannya bakal jadi yang terhebat, namun ternyata film itu ngehits karena hal yang memalukan, bukan apa-apa dibandingkan dengan kenyataan yang dihadapi oleh K.
My Favorite Scene:
The face you make when you think you were the chosen one, but you aren’t.
Director: Greta Gerwig Stars: Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Lucas Hedges, Timothee Chalamet MPAA: R for language, sexual content, brief graphic nudity and teen partying IMDB Ratings: 8.1/10 “People go by the names their parents give them, but they don’t believe in God.”
Satu-satunya film yang sukses menangguk score 9 dari My Dirt Sheet di tahun 2017.
Lady Bird yang merupakan debut terbang solo Great Gerwig sebagai sutradara adalah film yang sungguh personal bagi dirinya. Makanya film ini terasa sangat real.
Ini bukan sekadar coming-of-age story di mana tokoh utamanya berhasil keluar dari rutinitas hidup yang mengekang dan mencoba pengalaman dan hal-hal baru. Bukan sekadar tentang tokoh utama yang dapat pacar cowok keren. Lady Bird adalah romansa anak cewek dengan ibunya. Dan ya, kita akan melihat Lady Bird udah gak sabar untuk lulus dari sekolah Katoliknya, namun environment Lady Bird tidak pernah ditampilkan mengekangnya dalam cahaya yang ‘jahat’.
Menonton ini akan terasa seperti kita melihat adegan percakapan sungguhan, karena kita dilempar begitu saja ke tengah-tengahnya. Ini memberikan kesempatan untuk mengobservasi mereka, dan terbukti sangat efektif sebab ada banyak saat ketika aku mendapati diriku ikutan mengobrol dengan mereka. Aku ingin ikut nimbrung, aku jadi begitu peduli sama karakter-karakternya. Saoirse Ronan luar biasa natural memainkan Lady Bird. Rasanya sedikit sedih ketika film berakhir, seperti berpisah dengan orang yang sudah deket. Begitulah bukti betapa menakjubkannya Gerwig menyetir narasi, cara berceritanya benar-benar membawa kita hanyut.
My Favorite Scene:
Paling ngakak melihat Lady Bird ‘diskusi’ milih-milih gaun sama ibunya. Adegan ini menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua dengan sangat efektif.
Peringkat pertama tahun 2017 My Dirt Sheet ini akan menyimpulkan betapa pentingnya peran sutradara dalam sebuah film. Sutradara yang baik harus bisa meninggalkan jejak, harus berani melakukan perubahan, harus punya visi uniknya sendiri yang membuat film menjadi semakin urgen dan berdiri mencuat di antara yang lainnya. Lihatlah ke belakang, semua yang masuk daftar ini adalah buah tangan dari sutradara yang berani mengambil resiko. Filmnya tidak diniatkan untuk memuaskan semua orang, melainkan hanya sebagai sebuah sajian yang benar-benar mewakili diri mereka.
Director: Taika Waititi Stars: Chris Hemsworth, Tom Hiddleston, Cate Blanchett, Mark Ruffalo MPAA: PG-13 for intense sequences of sci-fi violence and action, suggestive material IMDB Ratings: 8.1/10 “What were you the god of, again?”
Menurutku bagaimana kita melihat film Thor ketiga ini bergantung kepada bagaimana pandangan kita terhadap superhero.
Jika kita punya mimpi pengen diselamatkan oleh superhero, kita enggak akan suka sama Thor dalam film ini yang diberikan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lelucon dan kekonyolan.
Jika kita punya mimpi untuk menjadi superhero, kita akan menjerit kesenangan sampai terjatuh dari kursi demi melihat Thor yang dewa dan superhero ternyata quirky dan ‘bego’ seperti kita.
Kalimat Hela kepada Thor “Kau dewa apaan sih?” adalah kunci yang menjelaskan seperti apa Taika Waititi memvisikan Thor.
Apa yang dilakukan oleh Dewa? Apakah kita bisa menjadi Dewa? Thor dalam film ini dijatuhkan menjadi level rakyat biasa supaya kita bisa merelasikan diri kepadanya. Waititi tidak ingin membuat Thor superserius dan menjadi makhluk sempurna. Dia melihat potensi komedi yang ada dari materi Thor sebelumnya, dan embrace it. Thor kehilangan palu, bahkan rambutnya. Adalah sebuah make over total yang dilakukan sang sutradara demi meniupkan hidup baru yang lebih akrab terhadap tokoh superhero yang kita kenal.
Thor: Ragnarok adalah film superhero paling lucu yang pernah dikeluarkan oleh Marvel Studio. Definitely yang terbaik dari seri film solo Thor. Narasinya banyak bermain-main dengan gimmick dewa-dewi Asgard, bersenang-senang dengan trope karakter-karakter superhero Marvel. Yang perlu diingat adalah bermain-main bukan berarti enggak serius. Bersenang-senang bukan berarti melupakan nilai seni. Pada film ini, seni adalah komedi, pada bagaimana dia bermain-main. Sinematografinya keren parah. Adegan aksinya benar-benar dahsyat. Aku bisa nonton film ini berkali-kali dan enggak akan pernah bosan.
My Favorite Scene:
https://www.youtube.com/watch?v=3N0T3pqGrr4
Sebenarnya susye sih memilih satu adegan yang paling favorit. Karena film ini hilarious dan keren parah. Aku suka semua adegan aksinya, apalagi semakin mantep diiringi oleh Immigrant Song yang awesome!!
Sedikit kekurangan di departemen film animasi, kita tidak banyak menjumpai animasi yang menantang dan benar-benar baru tahun 2017 ini. Ada sih satu yang indah, tapi tidak terasa benar-benar spesial buatku. Tapi secara keseluruhan, 2017 adalah film yang asyik banget buat penggemar film seperti kita-kita. Tahun 80an menyeruak lewat sekuel-sekuel dan homage. Kita dapat banyak film adaptasi Stephen King, yang practically awesome, di Indonesia sendiri film horor lagi naik daun. Aku harap tahun 2018 semakin banyak bermunculan film yang berhasil memancing perbedaan pendapat, semakin banyak penonton yang kritis.
Aku juga ingin menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih sama kamu-kamu yang udah sering bolak-balik ke blog ini. Aku benar-benar gak menyangka My Dirt Sheet bisa memenangkan Piala Maya sebagai Blog Kritik Film Terpilih 2017, dan itu masuk nominasi karena rekomendasi pembaca sekalian. So, thank you so much.
Dan ketahuilah, kami sangat mengharapkan komen dari kalian, baik itu diskusi film, komen pendapat, bahkan mengritik blog ini sekalipun. Jadilah penonton yang jahat, karena penonton yang baik adalah penonton yang tidak berpikir.
Apa film favorit kalian 2017?
Apakah perlu dibuat list film-film paling mengecewakan di tahun 2017?
Beritahu kami di komen.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are…
Karya terbaru Darren Aronofsky, Mother!, akan terus jadi perbincangan penggemar film untuk bertahun lamanya karena film yang satu ini bikin frustasi ngebingungin kita. Ada kali, satu juta cara yang berbeda menginterpretasi film ini karena ceritanya dipenuhi oleh metafora, denyut-denyut psikologi yang bikin gak nyaman, ditambah dengan imaji visual yang benar-benar mengundang tebakan. Malahan bakal banyak orang yang akan jatuh membencinya, mengatai film ini pretentious, atau flat out tersinggung sama apa yang disampaikan. Darren Aronofsky juga terkenal karena filmnya yang suka niruin film lain, dan kita bisa menyerang Mother! karena dia cukup ngingetin sama Rosemary’s Baby (1968). I could totally see film ini bakal mendapat reaksi beragam, aku paham kenapa sulit tayang – bahkan gak bakal – di bioskop Indonesia, dan sepertinya ‘perpecahan’ pendapat inilah yang benar-benar dicari oleh Aronofksy. Dia sukses berat untuk itu – tak ada sangkal.
Jika kalian ditanya oleh teman Mother! ini film tentang apa, maka kalian bisa dengan simpel menjawabnya sebagai film yang bercerita tentang suami istri Jennifer Lawrence dan Javier Bardem yang rumah tenang nan damai mereka mendadak kedatangan banyak tamu tak-diundang. Orang-orang asing tersebut awalnya datang sebagai fan yang bersilaturahmi sebentar, tokoh Bardem adalah seorang pujangga terkenal, jadi wajar dia punya banyak pengagum. Awalnya nerimo dengan tangan terbuka, namun kelamaan Jennifer Lawrence gondok juga. Rumah mereka yang masih dalam tahap renovasi jadi berantakan. Tamu-tamu itu gak punya respek terhadap privasi ataupun sense kepemilikan. Kerja keras Jennifer ngerawat rumah tidak dipedulikan.
Ibu yang mestinya kita perhatikan, selain ibu kandung sendiri
Memperbaiki sesuatu yang rusak sebenarnya justru lebih susah untuk dilakukan ketimbang menciptakan seusatu dari awal. Makanya, tindak merawat, menjaga sesuatu, adalah sebuah tindakan yang harusnya mendapat perhatian lebih. Karena ia membutuhkan dedikasi; memberikan cinta, lagi dan lagi.
Akan tetapi, saat kalian menjelaskan, buatlah mimik wajah yang paling misterius sekaligus paling nyebelin di seluruh semesta. Karena memang seperti itulah film ini. Dari dokter seorang, besoknya datang istrinya, hari berikutnya anak-anaknya, terus saja semakin banyak random people yang datang, dan Jennifer menemukan lantai rumah mereka berlubang dan mengeluarkan darah, dan ternyata di balik tembok-tembok kayu yang dirawat mati-matian olehnya, rumah mereka punya jantung!
Film ini mengeksplorasi tentang banyak hal. Setiap percakapan dengan tamu mengandung makna yang berbeda untuk kita tangkap. Ada juga menyinggung isu lingkungan. Membahas tentang gimana ketenaran bisa mempengaruhi kita dan orang sekitar. Menilik dinamika hubungan rumah tangga. Namun, yang paling kuat menguar dari narasi film ini, tentu saja adalah tema teologinya. Ya, menonton film ini sama SEPERTI BELAJAR HUBUNGAN MANUSIA DALAM PELAJARAN AGAMA. Membahas hubungan sosial dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan.
Sebelum lanjut, aku mau ngasih tau sebentar kalo aku sengaja milih lay out blog yang menempatkan tags di awal, di atas isi ulasan, supaya bagi kalian yang membaca, kalian akan menemukan label spoiler di sana. Jadi, pertimbangkan juga ini sebagai peringatan karena aku akan jarang sekali minta izin untuk membeberkan apa yang kuperlukan dalam mengulas suatu film. With that being said, Javier dan Jennifer dalam film ini memainkan tokoh yang merupakan personifikasi dari Tuhan dan, ya, alam. Tokoh mereka enggak diberikan nama, Javier simply disebut sebagai dia; Him dengan huruf H besar. Dan Jennifer adalah Mother. Ibu. As in Ibu alam.
What if God was one of us? Dia suka dipuja. Hanya pria, seorang kepala keluarga yang ingin rumahnya penuh oleh kehidupan. Jadi dia mengundang kita masuk ke rumahnya. Mempersilakan kepada kita semua fasilitas. Menyuruh istrinya untuk menyiapkan segala yang kita perlukan. Tapi sampai sejauh apa kita overstaying her welcome? Sampai kapan kita terus menyangkal kerusakan yang kita lakukan sementara sang istri terus beri dan memberi hingga tidak ada lagi yang bisa diberi? Tuhan menciptakan, alam menyediakan, dan manusia menghabiskan. SIklus eksistensi dunia. Kita mengambil seenaknya, use everything as we pleased. Dan reperkusinya hanyalah alam yang menderita.
Ada banyak referensi kejadian di kitab suci. Luka di rusuk yang dilihat Jennifer pada si dokter, mengisyaratkan bahwa tamu yang diundang oleh suaminya itu adalah Adam. Adegan di pagi berikutnya membuktikan referensi ini; kita melihat istri si dokter muncul gitu aja di pintu depan Jennifer. Larangan suami Jennifer dilanggar oleh dokter dan istri. Dan kemudian kita melihat anak mereka berkelahi, yang satu membunuh yang lain sebagai referensi dari kisah Habil dan Qabil. Sikap ignorant para tamu yang tetep duduk di wastafel, menyebabkan wastafelnya rubuh dan pipa air bocor, Jennifer ngamuk dan mengusir semua tamu keluar adalah penggambaran gimana manusia suka mengabaikan peringatan alam. You know, kita sering kebanjiran karena ulah kita sendiri.
Bagian favoritku adalah setengah bagian akhir. Kegilaan total terjadi di sini. Ada sekuen yang ofensif sekaligus disturbing. Rumah mereka dipadati orang sepadat-padatnya, pokoknya tempat itu udah gak berbentuk. Mereka membuat setiap ruang sebagai tempat pemujaan kaum masing-masing, lengkap dengan ritual dan segala macem hal disturbing. Menunjukkan bahwa kita terkotak-kotak padahal memuja satu yang sama. Kita melakukan hal yang gak rasional, supaya apa? atas nama Tuhan biar makin disayang terus dikasih tambahan rezeki? Dalam film ini memang Tuhan digambarkan sangat baik. Tokoh Javier Bardem gapeduli barang-barangnya rusak karena toh barang bisa dibuat lagi. Dia memberi izin. Sekalipun marah, dia meredam, dia biarkan dirinya dan istri menanggung luka
Disuruh nyapu rumah sama ibu ini artinya disuruh nyapu seluruh dunia
Cerita yang dicraft dengan sangat baik. Godly, kalau aku lagi mood bikin pun, tapi aku masih terguncang oleh film ini. Aku masih kepikiran, aku masih kebanyak bentuk, malahan warna rumah itu. Gimana setiap sudutnya mengeluarkan suara. Aku merasa masih ada layer yang belum kuungkap. Masih banyak simbolisme yang tidak aku mengerti. Dan mungkin aku tidak bakal pernah mengerti lantaran aku bukan orang yang seratus persen relijius. Karena bahkan tata kamera, sinematografi film ini diarahkan untuk punya arti. Setiap kali ada Jennifer Lawrence, dan aktor ini hanya absen di adegan pembuka dan penutup film, kamera terus menempel wajahnya. Selalu close-up shots, entah itu kita melihat rautnya yang bingung ataupun kita melihat rambutnya tergantung. Sampai-sampai kita jadi pengen berdoa, meminta wide shots, karena kita pengen melihat lebih jelas hal aneh menakutkan apa yang dilihat oleh tokoh ini.
Dengan sebagian besar waktu kamera ngikutin wajahnya, Jennifer Lawrence tidak bisa untuk tidak bermain total. Dia tampak innocent. Dia sangat vulnerable. Dia acak-acakan di sini. Kalo Oscar enggak ragu sama peran film aneh seperti begini, menurutku penampilan JenLaw sebagai Ibu pantas untuk diganjar piala emas tersebut. Javier Bardem turut menampilkan performa yang menarik. He looks full of himself, tapi tidak pernah dalam kesan yang antagonis. Satu hal yang menarik lagi adalah, demi bikin atmosfer randomnya orang-orang yang namu ke rumah, Aronofsky juga memasang aktor yang random. Aku gak tau apa-apa soal film ini, aku gak nonton trailer, gak baca sinopsis, sebelum nonton aku jahiliyah film ini tentang apa, apalagi mengenai pemainnya – I have no idea siapa aja, dan buatku, begitu aku melihat aktor-aktor yang pop out rasanya memang random banget. Membuat film ini semakin kuat mengakar.
Tapinya lagi, Aronofsky juga mengambil resiko agar filmnya ini bermain dalam lingkup konteks. Alur narasi ini juga bisa kita lihat sebagai semacam ramalan, dan dunia kita berada di babak ketiga film. Tinggal nunggu waktu kiamat haha. Dan actually, ini menjadikan pace film agak bermasalah. Kita melihat hal-hal simbolik yang gila, pengalaman sosial yang canggung dan unsettled, untuk kemudian tensi film menurun; kembali ke keadaan sehari-hari, dan berlanjut dengan gila kembali. Hal ini bisa bikin kita gak sabar, beberapa adegan juga dibuat sangat dragging, ditambah pula dengan banyaknya topik yang dijejalkan. So yeah, gak semua orang bakal suka. Bahkan aku bisa lihat bakal banyak yang benci. Filmnya aneh, menyinggung, mengganggu. Namun tak pelak, film ini bakal dibicarain banyak orang. Aku sendiri enjoy menontonnya, and it certainly can affect us all. The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for MOTHER!
That’s all we have for now.
Remember, in life there winners. And there are losers.
Menunggangi arus animo horor yang lagi tinggi-tingginya, Hitmaker Studios menyumbangkan satu film hantu lagi di tahun ini. Dan dengan Mata Batin, mereka tampaknya benar-benar sudah menemukan jalan sebagai pencetak horor-horor cult di era kekinian.
Mata Batin hadir dengan perwujudan cerita horor yang sangat main fisik di mana adegan slasher jadi nada tertinggi. Film menerapkan formula yang sama dengan yang mereka eksperimenkan di The Doll (2016) dan diestablish lagi di The Doll 2 (2017) Aku sangat surprise saat menonton The Doll 2, film itu seoah terbagi menjadi bagian psikologikal drama dan bagian bunuh-bunuhan, dan kedua bagian tersebut bekerja dengan baik. Pada Mata Batin ini, sutradara Rocky Soraya kembali menekankan kepada drama keluarga, tentu saja dengan twist demi twist yang membawa cerita berkelok ke arah yang berdarah. Nilai minus yang kuberikan kepada The Doll 2 datang dari penggunaan trope-trope horor yang actually menjadi beban dalam penceritaan, dan aku berharap mereka mengurangi trope-trope ini di film selanjutnya. Sayangnya, hal tersebut juga termasuk yang mereka pertahankan dalam film Mata Batin.
But actually, Mata Batin ini adalah salah satu film yang rada susye buatku untuk diulas. Aku menemukan film ini sebagai tontonan yang sangat mixed dari segi penilaian. Aku menikmati filmnya, namun sekaligus aku juga kecewa. Ceritanya punya elemen horor yang bagus, mereka tahu apa yang harus digali, akan tetapi produk akhir yang kita saksikan ini, aku merasa berdosa kalo mengatakannya sebagai salah satu horor terbaik Indonesia tahun ini. Because it is not. Ada banyak poin lemah yang dipunya oleh film ini, tetapi mereka berusaha memainkannya sebagai nilai lebih, tapinya lagi usaha tersebut tidak benar-benar berhasil. Ini adalah jenis film yang bisa berdampak lebih besar jika mereka ngeubah arahannya sedikit atau jika mereka mengambil langkah yang sedikit lebih berbeda.
Indera Keenam semua memanggilku, Mata Ketiga itulah dirikuu
Babak satunya adalah yang paling lemah. Di luar sepuluh menit pertama yang digunakan untuk melandaskan pengertian bahwa film ini tak sungkan untuk menjadi sedikit sadis – kita melihat anak kecil dilukai, basically tidak ada kejadian menarik di babak ini. Mata Batin hanyalah cerita lain tentang seorang anak yang bisa melihat hantu, tetapi gak ada orang dewasa yang percaya sama dia. Kalo kalian tumbuh dengan baca Goosebumps dan banyak nonton film horor, trope begini jelas akan terasa sangat usang yang makin lama-makin gak masuk akal. I mean, c’mon, ada berapa anak kecil sih di dunia ini yang ngeliat hantu dan bukannya lari malah mandangin si hantu? Si anak kecil, Abel (Bianca Hello tidak diberikan banyak range emosi selain takut dan bingung), menjadi begitu ketakutan, dia menutup diri dengan memakai headphone dan sendirian di kamarnya. Setelah mereka dewasa, kakak Abel, si Alia (Nah Jessica Mila nih di sini yang dikasih kesempatan untuk main total) harus kembali ke Indonesia. Orangtua mereka meninggal dalam kecelakaan sehingga Alia lah yang mengurus Abel di rumah masa kecil mereka yang gede dan yang udah melukai Abel secara fisik dan mental.
Alih-alih mengeksplorasi tentang usaha Alia taking care Abel sehingga dia bisa hidup normal, film mengambil langkah tak terduga, menaikkan stake, menjadikan ini sebagai cerita tentang orang-orang bermata batin, yang bisa melihat hantu, yang berusaha hidup tenang di rumah mereka sendiri. Konflik utama lapisan terluar film ini adalah Abel dan Alia yang diganggu oleh hantu-hantu penasaran yang menempati rumah mereka. Mereka harus membantu hantu-hantu tersebut memecahkan misteri kematian, dan kemudian cerita berkembang menjadi seperti Insidious yang digabungkan dengan wahana rumah hantu.
Jika biasanya kita harus melihat dulu baru bisa percaya, maka Mata Batin dengan ceritanya akan memperlihatkan bahwa kita bisa yakin kepada sesuatu hal tanpa harus melihatnya. Malahan, film ini menegaskan bahwa kita harus percaya dulu, sebelum bisa melihat dan peduli kepada keyakinan orang lain. Karena terkadang ‘pandangan’ kita sempit oleh hal-hal yang tidak mau kita mengerti.
Serius deh, di bagian awal, film ini datar banget. Alia bisa jadi adalah salah satu tokoh utama film yang ditulis dengan paling plin-plan. Karakternya ditulis sebagai cewek yang berani, namun kita melihat dia pulang ke rumah aja ditemani oleh cowoknya. Davin (tokohnya Denny Sumargo di sini udah kayak kerikil) benar-benar dibuat tak banyak berguna. Padahal mestinya twist bukan alasan untuk bikin karakter menjadi antara ada dan tiada seperti ini. Dia cuma ngekor aja, hanya ada di sana. Karena nampaknya Alia memang selalu butuh support.
Di ‘jaman now’, setiap karya pada vokal bicara tentang pemberdayaan dan kemandirian. Eh, Mata Batin membuat tokoh ceweknya terlihat lemah, dan anak-anak dicuekin gitu aja. Ada anak yang terluka karena orang tak dikenal, dan mereka gak menjual rumah tersebut adalah tanda bahwa gak ada yang peduli sama Abel. Dan Abel ini bukannya completely nutup diri, dia sempat open up dengan bilang dia diikuti orang di sekolah, dan Alia gak melakukan apa-apa sehubungan dengan pernyataan tersebut. Kakak paling cuek sedunia deh pokoknya. Bayangin nih, Alia dan Abel kakak beradik yang sudah lama tak bertemu, orangtua mereka baru saja meninggal, mereka berdua lalu pulang ke rumah yang tidak mereka tempati lagi sejak kecil, dan sesampainya di rumah itu, Alia malah berkeliling dengan Davin. Abel ditinggal sendirian, mengeksplorasi rumah yang dihuni hantu berkain dan bersuara musik yang keras.
Kalo lagi gak ada Davin, Alia akan menggenggam botol cola.
Babak kedua barulah ada kejadian menarik. Buatku, di sinilah film memilih sebuah langkah yang sangat unexpected. Kepada paranormal yang tahu-segala tapi dilarang oleh naskah untuk mengambil aksi, Alia meminta mata batinnya dibuka supaya dia bisa langsung melihat sendiri apa yang sudah membuat adiknya ketakutan. Ada banyak adegan seram yang menurutku punya undertone kocak yang datang dari reaksi Alia melihat makhluk-makhluk gaib itu. Dia actually berinteraksi dengan mereka. Aku ngakak ketika di satu adegan Alia menelpon Abel, dia curhat panjang lebar tentang kejadian aneh yang baru saja ia alami, ada hantu yang baru saja ngobrol dengannya, dan Abel menanggapinya dengan “Kakak belum liat yang lainnya.” Singkat. Padat. Di momen itu konteksnya terasa seolah jawaban tersebut adalah jari tengah gede yang disodorin Abel kepada Alia yang selama ini gak percaya sama dirinya. Ini seperti Abel bilang “I told you” dengan pelampiasan hati haha. Alia ketakutan di rumah sakit – notabene sarangnya hantu – dan I was like “WRONG MOVE, gurl!” melihat dia lari ke dalam elevator. Dan kemudian dia naik mobil dan nabrak hantu. Dan hantunya malah melotot. Ada banyak nuansa lucu, namun film tidak menggubris mereka. Film memandang dirinya sendiri terlalu serius. Sehingga berbagai ‘kebegoan’ yang muncul menjadi flaw, dan pada akhirnya membuat film ini tidak terasa begitu berbeda dari horor-horor yang lain.
“Mbak, tolong, eyke sudah mati kok ditabrak lagi”
Film tetap membuatku tertarik, karena mereka memasukkan banyak aspek-aspek yang bikin kocak. Alat pendeteksi hantu itu, misalnya. Aku acungin jempol deh. Anak-anak geologi aja belum ada yang kepikiran loh menjadikan kompas sebagai radar setan, biasanya kami hanya ngeplesetin alat itu jadi tempat bedak masker doang. Mata Batin memang berusaha melihat trope-trope horor dari sudut yang lain. Daripada bikin bandul yang lebih simpel, mereka menggunakan kompas. Daripada pake lagu Boneka Abdi, mereka sekarang pakai lagu Naik Kereta Api yang gak ada seram-seramnya sama sekali sebagai lagu hantu. Itu juga liriknya salah! Ahahaha aku gak tau kenapa si hantu nyanyinya “tut..tut..tuuutt… siapa hendak turun”. Mestinya lirik yang benar kan “turut” ya, I mean, apa gunanya bikin lagu tentang kereta api kalo liriknya malah nyuruh orang turun.
Dijamin ngakak deh, nonton film ini. Jika diarahkan sehingga bisa jadi modern cult classic, film ini sudah berada di jalan yang benar. Seharusnya mereka mengembrace adegan-adegan konyol yang hadir unintentionally tersebut supaya di masa depan akan ada banyak orang yang berkumpul untuk nonton ini dan tertawa-tawa having fun bersama. Karena jika dilihat dari tone yang serius, film ini terlalu banyak cela untuk bisa digolongkan sebagai film bagus. Walaupun memang dia punya cerita yang cukup menyentuh dan berani mengeksplorasi hubungan kakak dan adik bersaudari. Ada perbincangan tentang melepas orang yang kita cintai. Pun sebagai horor, film ini juga di level so-so. Masih bisa ditonton, tetapi tidak banyak berbeda dengan horor kebanyakan yang lantang dan ngagetin. Formula gore dan kesurupan yang mereka lakukan menarik, namun tanpa inovasi dengan cepat menjadi basi. The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MATA BATIN.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
Ibu membuat garis di lantai rumah tua yang berdebu. “Cerita kita dimulai dari sini” katanya. Dengan mantap ia membimbing keempat anaknya melangkahi garis tersebut sebagai simbol mereka memulai hidup yang baru. Dengan mengganti nama keluarga menjadi Marrowbone, mereka wujudkan keinginan mereka untuk hidup terasing. Jauh dari masa lalu. Malahan rumah gede yang mereka tempati sekarang jauh dari mana-mana. Tetangga terdekat mereka di bukit depan, satu jembatan jaraknya. Namun tak lama, Ibu meninggal dunia. Tragedi masa lalu pun sampai pula mengejar Jack dan tiga orang adiknya. Marrowbone sesungguhnya adalah cerita menyedihkan tentang kakak beradik yang berusaha untuk hidup tenang, tetapi terus diteror oleh ‘hantu’. Rumah tangga mereka terbangun atas dasar trauma dan rahasia, sehingga kita bisa saja membuang elemen hantu dalam narasi dan tetap saja film ini akan terasa sangat pilu.
ah, move on dari kenangan tidak pernah segampang melangkahi garis di lantai
Aku perlu menegaskan bahwa meskipun kerja paling baik dari Marrowbone adalah ketika film ini mengeksplorasi elemen supranatural, sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan horor sebenar-benarnya film hantu saat menonton ini. Menulis skenario drama seperti ini jelas bukan masalah besar bagi Sergio G. Sanchez yang sebelumnya turut ikutan menulis The Orphanage (2007) yang punya tone serupa dengan film ini. Tapi Marrowbone juga adalah debutnya duduk di kursi sutradara. Ketika bermain-main dengan build up, dengan mengarahkan para karakter, membuat rumah besar itu menjadi penuh misteri dengan segala bunyi-bunyi, cermin-cermin yang ditutupi, noda-noda tak terjelaskan di langit-langit, Marrowbone terlihat sangat efektif. Kita bisa ikut merasakan atmosfer dan suasananya. Ada sensasi terkungkung, ketakutan di layar sana yang menarik kita masuk.
Yang membuat kita betah mengikuti adalah penampilan akting dari para pemain yang masih pada muda-muda. Tokoh utama kita adalah Jack, si anak tertua. Sepeninggal Ibu, dia menjadi kepala keluarga. George Mackay butuh mengerahkan usaha yang esktra sebab perannya ini enggak hanya diwajibkan untuk tampil tertutup serba berahasia. Namun sekaligus juga bingung, ia ingin memenuhi wasiat ibunya, ingin melindungi adik-adiknya, tapi dia tidak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi – pada dirinya, pada sekitarnya. Dia juga punya saingan cinta yang membuat tokoh ini lebih berwarna lagi, dan bahkan range emosi semakin meluas ketika cerita sampai ke titik pengungkapan. Adik-adik Jack, sebaliknya, tidak diberikan kesempatan melakukan banyak. Mereka bersembunyi dari ayah dan dilarang keluar rumah oleh Jack demi keselamatan mereka. Mia Goth dan alumni Stranger Things Charlie Heaton memang agak disayangkan kebagian porsi yang sedikit, tapi mereka deliver apa-apa yang diminta oleh naskah dengan baik.
Sama seperti yang ia lakukan dalam The Witch (2016), Split (2017), dan Morgan (2016), Anya Taylor-Joy mencuri sorotan dan menjadi elemen terbaik yang dipunya oleh film. Di pertengahan film, perannya agak berkurang. Anya bermain sebagai Allie, tetangga terdekat sekaligus pacar dari Jack. Dia keluar-masuk cerita, barulah di babak terakhir perannya kebagian tindakan gede, Secara konstan penampilan Anya di sini baik sekali. Emosional, tokohnya enggak bego, tokohnya memang satu-satunya yang enggak menyimpan rahasia, dan dia bermain sama jujurnya – amat meyakinkan. Akan tetapi, serealistisnya penampilan Anya, dia tetap tidak mampu membuat keseluruhan film tampak menarik dan meyakinkan. Misteri-misteri yang dimasukkan tidak pernah menjadi misteri, maksudku mereka membingungkan oleh alasan yang lain. Kita tahu apa yang terjadi. Kita hanya tidak tahu apakah memasukkan elemen itu adalah keputusan yang tepat untuk film ini.
Keluarga Jack mengasingkan diri sebagai reaksi dari perlakuan kejam sang ayah, dan ironisnya mereka juga berusaha melarikan diri dari social shame. Mereka kehilangan self respect. Mereka menjadi lunak. Tapi untuk hidup, mereka harus kuat. Ditekan oleh banyak hal seperti ini, malu, takut, keinginan untuk bertahan, bisa dengan gampang merusak seseorang, jika ia menjalani hidupnya sendirian. Inilah yang disadari oleh Jack dan Allie di akhir cerita, bahwa seberapapun parahnya keadaan, mereka harus mengusahakan untuk tidak merasa sendirian.
sembunyi di balik kain transparan, kayak twist film ini
Susah untuk menceritakan garis besar Marrowbone tanpa membeberkan terlalu banyak poin yang semestinya dirahasiakan. Film ini adalah film yang tulang punggungnya ada pada twist, dan film ini paham twist yang baik adalah twist yang merupakan satu-satunya terusan yang logis buat cerita, bukan sekedar belokan tajam untuk mengecoh. Beberapa film ragu memberikan petunjuk karena mereka menyangka twist yang bagus itu adalah yang tak-tertebak. Jadi pada kebanyakan film kita tau-tau dikejutkan oleh pengungkapan seperti siapa yang ternyata siapa, yang jahat ternyata si yang paling pendiam, atau semacamnya yang tak pernah dibuild up. Film ini tidak mempermasalahkan twistnya yang mudah tertebak. Sejak peluru pertama ditembakkan dan kita lompat ke enam bulan kemudian di sepuluh menitan pertama, aku yakin banyak di antara kita yang sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di bawah atap rumah Marrowbone. Film tetap pada track dan dia terus membangun suspens supaya ketika jawaban itu sudah di depan mata, kita dapat merasakan sensasi emosi yang gempita.
Gakpapa untuk sebuah film punya twist yang gampang ditebak, namun toh rasa malu itu tetap ada. Sama seperti kita yang sadar betul narsis itu udah lumrah, tapi kita kadang tetap merasa malu ngepost foto narsis sehingga kita memakai caption nyontek quote-nya Tere Liye supaya kita bisa jadi ada alasan bagus buat ngepost foto narsis. Trope-trope film lain, serta berbagai supplot serabutan, adalah laksana quote Tere Liye di foto selfie narsis bagi Marrowbone. Film ini melemparkan elemen cinta segitiga, rumah hantu, misteri pembunuhan, anak kecil yang paling peka sama yang goib-goib, ada juga blackmail soal duit, untuk menutupi twist yang sudah disiapkan. Dan tidak satupun yang tercampur dengan baik. Narasi menjadi amat berbelit. Mereka tidak membuat kita lupa terhadap twist, sama sekali tidak mengaburkannya, yang ada hanyalah elemen-elemen tersebut membuat film menjadi sesak dan tidak mencapai potensi suspens drama yang semestinya bisa dicapai.
Sejatinya ini adalah drama keluarga yang amat melankolis dengan dibayangi oleh lapisan supernatural. Mengeksplorasi tentang rasa bersalah, rasa malu, dan ketakutan. Punya tema, desain produksi, dan penampilan akting yang bakal menarik minat penggemar horor arthouse. Dibangun berdasarkan twist, membuat film ini pun ikut dilirik oleh penonton mainstream. Para aktor muda berusaha semampu mereka, sama seperti film ini berusaha sekuat tenaga untuk menutupi twist yang mereka tahu gampang ditebak. Jadinya, ada banyak elemen yang kita jumpai, yang hanya membuat plotnya convoluted. And it just doesn’t work. Banyak adegan yang kehilangan bobot karena kita gak sepenuhnya yakin itu hantu beneran, atau imajinasi, atau apakah mereka semua beneran ada di sana. The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for MARROWBONE.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.
“If you obey all the rules, you’ll miss all the fun.”
Kita kadang suka ngeyel kalo dilarang, kalo dikasih aturan-aturan. Di mana asiknya hidup kaku, apa-apa gak boleh. Peraturan kan dibuat untuk dilanggar. Well, coba deh pikir lagi. Prinsip tersebut tidak bakal banyak berguna dalam menyelamatkan nyawa, jika kalian tertangkap dan dipaksa bermain X-Factor maut oleh Jigsaw. Kunci selamat dari jebakan-jebakan maut John Kramer memang sesederhana itu; ikuti aturan – terkadang malah disebutkan harafiah olehnya, dan kalian akan bisa melihat mentari besok pagi. Masalahnya, ngikuti aturan tidak akan pernah sesimpel kedengarannya.
Pengalamanku mengenal film ya dimulai dari nonton film-film berdarah kayak gini. In fact, dulu aku hanya nonton slasher, thriller, horror, aku menikmati adrenalin rush dari ngeliat orang dikejar-kejar oleh monster berparang nan menyeramkan. Aku terhibur sekali melihat tokoh-tokoh bego menemui ajal secara menggenaskan karena ulah tolol mereka sendiri. Dan setelah nemu film Saw yang pertama (2004), aku jadi sadar bahwa film sadis enggak melulu musti bego. Bahwa ada metode di balik kegilaan para pembunuh berantai. ADA PERATURAN YANG MEREKA TAATI. Akar Saw adalah elemen psikologis yang membuat kita berpikir soal apa kesalahan para korban karena kita bisa melihat palu justifikasi yang disandang oleh pelaku. Kenapa mereka pantas berada di sana. Hukuman-hukuman Jigsaw dirancang untuk ‘menyembuhkan’ penyakit para korban – untuk membantu mereka menghapus dosa. Pada film pertama, elemen ini begitu kuat terfokus, dan itulah yang membuatku selalu menantikan sekuel-sekuelnya. Meskipun setelah film yang kedua, franchise Saw semakin melupakan akar psikologis dan malah berubah menjadi ‘torture porn’.
cap cip cup kembang kuncup
Seri Saw harusnya sudah berakhir di film ketujuh yang tayang di tahun 2010. I still remember it fondly, itu pertama kalinya aku nonton Saw di bioskop. Dan filmnya memang jelek, terburuk di antara franchise ini kalo boleh kutambahkan. John Kramer – dalang di balik jebakan Saw – sudah lama mati (sejak Saw III) dan setelah itu ceritanya jadi fokus antara persaingan anak-anak murid Kramer. Tujuh tahun setelah itu kita mendapati lima orang diculik dan diperangkap dalam permainan penuh jebakan maut. Pesan suara dikirim kepada kepolisian, menantang mereka sekaligus ngasih tahu Jigsaw Killer sudah kembali. Siapa di baliknya? Sekedar peniru ataukah Kramer beneran hidup lagi? Aku excited banget duduk nonton film ini, terlebih karena Jigsaw ditangani oleh, tidak hanya satu melainkan dua orang sutradara – Michael dan Peter Spierig – yang sama sekali belum pernah terlibat dalam franchise Saw. Jadi, aku tahu kita bisa mengharapkan pembaruan besar-besaran.
Perubahan yang Spierig Bersaudara lakukan terletak pada gaya film. Jigsaw lebih terlihat LEBIH CINEMATIK berkat pilihan aspek rasio layar yang mereka pilih. Kesannya lebih serius dibandingkan beberapa sekuel terakhir Saw yang lebih kelihatan seperti serial TV. Tidak lagi kita jumpai editing quick-cut antara jebakan dengan wajah korban. Efek suara aneh dan teriakan over-the-top pun juga dihilangkan di sini. Jebakan-jebakan pada Jigsaw tidak sesadis seri-seri terburuk Saw, makanya semua adegan film ini jadi bisa lolos dari gunting sensor badan perfilman tanah air.
“Hello, filmmakers.
I want you to play a game.
Ada penggemar yang suka Saw karena elemen psikologis dan mereka terganggu sama efek darah dan gore yang berlebihan.
Ada penggemar yang totally haus darah dan semakin sadis jebakan, semakin menggelinjang mereka.
Pilihlah dengan bijak”
Begitu kiranya kata boneka badut bersepeda kepada mereka, dan mereka melanjutkan dengan mengambil pilihan yang aman. Film ini enggak benar-benar liar dalam nampilin gore, banyak adegan berdarah namun tidak bikin kita bergidik dan pengen muntah ngeliatnya. Seperti pada film pertama, Jigsaw banyak mengcut dim omen-momen yang tepat dan membiarkan imajinasi kita membayangkan apa potongan paling besar yang tersisa dari tubuh korban. Di lain pihak, film juga tidak kontan kembali ke ranah psikologis. Jigsaw tampak ingin memuaskan kedua golongan penonton, film berusaha mempertahankan sekaligus menyeimbangkan aspek-aspek khas franchise Saw.
Akibatnya, Jigsaw tidak melakukan hal yang benar-benar baru. Film ini ngikutin formula dan ‘aturan’ yang sudah ditetapkan oleh pendahulunya. Kita dapat dua cerita kali ini. Sekelompok detektif yang berusaha mencari tahu siapa pelaku di balik kasus jigsaw yang baru. Dan tentu saja ada sekelompok orang berdosa yang sedang diuji nuraninya, terkurung di suatu tempat. Tokoh-tokoh ini pun generic sekali, kita udah pernah dapet yang serupa. Mereka selalu adalah Si Tenang dan Pintar, Si Clueless, Si Baik Hati, Si Egois, dan Si Paling Nyusahin Mati Aja Lo!
The Deadfast Club
Kedua cerita ini, however, akan bertemu di babak ketiga, di mana bakal ada big reveal – twist yang membuat kita “ooh begitu, njir keren banget gak kepikiran!” Inilah yang membuat aku kecewa. Sebab, aturan memang ada untuk dilanggar, ngikutin aturan hanya akan membuat kita melewatkan hal-hal yang menyenangkan. Dalam kasus ini, dengan begitu ngikutin formula, film Jigsaw melewatkan kesempatan melakukan pembaruan yang asyik. Tujuh tahun, dan tetep aja tidak ada alasan menarik atas kembalinya franchise ini, selain studio ingin memperkenalkan ulang Saw.
Aku berharap lebih dari sisi cerita. Aku tidak ngerasa peduli-peduli amat sama lima orang yang tertangkap, ataupun kepada lima polisi yang berusaha melacak Jigsaw. Mereka sebenarnya berjalan paralel, kejutan yang disiapkan oleh film lah yang tidak. Dan dari standpoint kejutan ini, Jigsaw buatku adalah salah satu sekuel yang punya twist jinak dan dapat ditebak. Maksudku, kita sudah dibekali dan belajar dari tujuh film sebelum ini, dan Jigsaw tidak melakukan hal yang baru. So yea, we saw that twist coming. Dan menurutku, twistnya ini hanya bekerja kepada kita para penonton. Jika kita memposisikan diri sebagai salah satu detektif, kita tidak akan melihat hebohnya pengungkapan di akhir. Kita tidak ngerasain apa yang dilakukan oleh si Jigsaw. Yang akan kita tahu hanyalah mayat-mayat ditemukan, dan dari mereka ada petunjuk yang membawa kita ke sarang Jigsaw yang baru. Kita tidak akan ngeliat efek pintar dari dua timeline yang diparalelkan. Jadi memang twistnya lebih terasa seperti menipu. Kita akan merasa “wah, ternyata dia! Bagaimana bisa?!!” lalu terungkap lagi kenyataan setelah false resolution yang bikin kita “oh ternyata enggak”
Mengakui kesalahan itu enggak gampang. Apalagi mengakui orang lain benar, dan kita salah. Perangkap Jigsaw adalah tentang mematuhi aturan, mematuhi mana yang benar. Jangan injak, jangan melarikan diri, jangan tembak – dan orang-orang tetap melakukannya. Jigsaw memperlihatkan kepada kita bahwa di saat nyawa di ujung tanduk pun, kebanyakan orang masih berusaha menentang perintah atau aturan yang diberikan, demikian beratlnya mengaku dosa.
Untuk sebuah kejutan setelah tujuh tahun, film tidak berubah banyak selain secara gaya penyajian. Aku memang sedikit kecewa, namun juga tidak menyangkal aku terhibur. Ini adalah sajian yang lebih baik daripada kebanyakan sekuel Saw. Tidak lagi dia menjadi fokus ke alat-alat penyiksaan, film ini tidak terlalu sadis, pun tidak terasa begitu psikologikal. Berada di level oke di mana para penggemar beratnya tidak akan keberatan menyukai walaupun filmnya tidak luput dari banyak kritikan, karena toh sejatinya banyak kekurangan dari standpoint cerita. Yang harus diingat cuma satu; tidak ada peraturan baku bahwa kita hanya boleh suka sama film-film bagus. It’s your choice. The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for JIGSAW.
That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners. And there are losers.