PRIMBON Review

 

“A belief which leaves no place for doubt is not a belief, it is a superstition”

 

 

Memahami keluarga memang repot, apalagi kamu bukan orang Jawa. Begitu kira-kira bisik salah satu kakak ipar kepada Dini. Loh memangnya kenapa dengan keluarga Jawa? Primbon garapan Rudy Soejarwo ternyata berusaha mengelevasi sajian horor dengan drama keluarga yang dipantik dari akar kepercayaan stereotipikal yang membentuk identitas karakternya. Keluarga Jawa di sini berarti keluarga yang percaya tahayul. Keluarga yang kehidupan sehari-harinya berpedoman pada apa yang diatur oleh primbon. Jadi paling enggak Primbon tidak sekadar tentang hantu yang namanya nyomot dari istilah lokal, tapi juga punya situasi dan drama cerita yang bisa kita mengerti, yang bisa kita rasakan. Let’s face it, urusan sama keluarga sendiri memang sudah cukup susah dari ‘kolot’nya soal pola pikir sosial, dan kita yang orang Indonesia seringkali masih ditambah susah oleh ‘kekolotan’ soal kepercayaan tradisional yang memang beragam tumbuh di daerah kita masing-masing.

Identitas memang penting untuk dipunya oleh sebuah film. Karena identitas itu yang bakal jadi hal yang membedakan jika cerita film kita, misalnya, sama atau sudah pernah diceritakan juga oleh film atau karya yang lain. Identitas yang kuat, bahasan yang khusus datang dari identitas itu, mampu membuat cerita kodian bisa terlihat baru. Film Primbon ini misalnya. Aku kaget karena premis film ini ternyata mirip dengan legenda yang ada di dalam game Forbidden Siren 2 (2006).  Gadis perempuan yang hilang, dicari berhari-hari tak ketemu, akhirnya keluarga besar mengadakan pemakaman. Malam hari, gadis itu muncul di depan pintu rumah, dengan ekspresi wajah yang kosong. Kedua orangtuanya datang memeluk, karena lega anak mereka pulang, sementara ibu tua yang ada di sana ketakutan karena tahu yang datang itu bukanlah si gadis. See, ‘kata kuncinya’ persis! Makanya identitas diperlukan, supaya pembahasannya jadi beda. Jika Forbidden Siren 2 memuatnya ke dalam desa nelayan kecil yang kental budaya dan kepercayaan Jepang, maka Primbon memuat premis itu ke dalam budaya orang Jawa. Yang jadi karakternya adalah keluarga besar yang percaya pada primbon Jawa. Dibenturkan dengan karakter utama berupa seorang ibu, seorang outsider yang gak tumbuh dengan kepercayaan-kepercayaan tersebut. Jadilah sebuah set up yang sempurna untuk drama horor ketika si ibu itu, Dini. tak terima melihat keluarga besarnya malah ketakutan melihat putrinya, Rana, yang pulang. Huh bukannya bersyukur masih hidup!

Siapa yang abis nonton ini langsung penasaran pengen cek kapan hari sialnya menurut primbon?

 

Dengan set up seperti itu, kita akan mikir film ini akan berkembang dengan menarik. Saat menghilang, Rana bersama temannya, Janu, ke hutan demi mencari kado ultah untuk ibunya, jadi relasi Dini dengan putrinya sudah terestablish sebagai hati dari cerita. Selain dengan ibu, Rana juga diperlihatkan cukup akrab dengan ayahnya. Rana juga punya adik perempuan yang sekamar dengannya, mereka dekat bagai sahabat. Ibu-ibu tua yang percaya primbon itu adalah bude-bude Rana, kakak-kakak dari ayahnya. Bude yang paling tua disebutkan sempat melarang Rana ke hutan karena hari itu juga bertepatan dengan hari sial Rana menurut penanggalan. Dari jajaran cast pun sebenarnya film sudah cukup memadai untuk berjalan di ranah drama horor. Happy Salma sebagai ibu yang mati-matian percaya anaknya masih hidup, the odd one out di antara keluarga, sulitnya ‘posisi’ Dini itu terpancar juga oleh penampilan Happy Salma. Baginya ini lebih dari personal. Nugie sebagai ayah, dan Jajang C. Noer sebagai si bude tertua juga sukes ngasih penampilan yang cukup emosional. Ayah yang berusaha jadi penengah, sementara si bude walau tertampil sebagai antagonis, tapi kita paham dia melandaskan aksinya sebagai pelindung keluarga. Pemain-pemain yang lain bermain di garis yang gimmicky yang sering terasa off, baik itu dari timing maupun dari bangunan karakter mereka, tapi ini masih bisa kita maklumi karena masih bekerja dalam vibe ganjil yang dikuarkan oleh atmosfer cerita.

Sebagaimana harapan Dini anaknya beneran masih hidup terbentur oleh kenyataan pahit, ekspektasi kita akan drama horor yang menggigit akan segera dihantam oleh realita bahwa durasi hanya 88 menit enggak cukup untuk mengembangkan drama. Aku gak tahu apakah durasi memang dikasih cuma segitu dari sononya atau penulis Lele Laila tidak mampu untuk menggali lebih lanjut sehingga filmnya tidak terasa mendalam. Film memang tidak mengangkat pertanyaan apakah Rana masih hidup atau bukan, jawaban atas itu sudah langsung kita ketahui, bahkan sedari poster hahaha… Ini kan sebenarnya diniatkan sebagai dramatic irony, kita bakal terharu melihat Dini mati-matian membela anaknya padahal anaknya beneran telah mati dan Rana yang di rumah itu hantu. Hanya saja yang kita tonton ini tidak terasa dramatis ataupun ironis yang maksimal. Karena journey Dini tidak pernah dikembangkan sebagai fokus. Kita hanya melihat Dini menantang kepercayaan keluarga besar, menolak percaya anaknya sudah mati, tapi kepercayaannya itu tidak pernah ‘diserang’ oleh naskah. Momen ketika Dini ‘berhadapan’ dengan warga di pasar; ibu-ibu yang juga percaya primbon dan menyuruh Dini mengecek Rana di rumah beneran manusia atau bukan; momen-momen kayak gini yang mestinya diperbanyak dan dikejar oleh film. Journey horor film ini justru bersumber dari gimana Dini memproses kejadian kepulangan Rana yang misterius. Tidak ada momen saat Dini merasa ‘jangan-jangan mereka yang bener, gue yang salah’. Tidak ada momen Dini melihat sedikit keanehan pada Rana. Momen menuju realisasi yang harusnya bisa seram karena personal tentang ibu dan kematian anaknya itu seperti sengaja enggak ditangkap oleh film.

Alih-alih itu, film lebih sering berkutat kepada horor standar yang dipantik dari orang-orang melihat sendiri bahwa Rana adalah hantu. Lebih banyak soal bude-bude yang curiga, masuk diam-diam ke rumah Dini, menaruh sesajen di bawah ranjang Rana. Lalu kepergok Rana, dan ditakut-takuti mereka oleh Rana. Cuma itu yang dipunya film ini. Momen horornya itu sebenarnya enggak jelek. Cukup seram, malah, ada sekuen horor pas upacara ruwat itu penampakan hantu-hantu tetua dan teriakan-teriakan orang kesurupannya bikin bulu kuduk meremang juga. Hanya saja kita tahu daging sebenarnya cerita ini ada di drama ibu yang gak nerima anaknya mati, di sisi lain dia juga adalah perempuan rasional yang menentang kepercayaan tradisional. Tapi naskah seolah mangkir dari bibit-bibit drama dan psikologis horor dan lebih memilih untuk mendangkalkan cerita dengan adegan-adegan horor yang di film lain pun horornya bakal begini-begini juga.

Yang membedakan tahayul dengan agama sepertinya adalah rasa takut. Orang-orang yang percaya tahayul akan tampak berlebihan dan gak mau dengar alasan, karena mereka takut akan hal aneh yang tak bisa mereka mengerti. Primbon memperlihatkan orang-orang seperti itu dapat menjadi ‘barbar’ memaksakan kepercayaan mereka. Ini yang lantas membuatku bertanya-tanya, gimana dengan orang yang memeluk agama tapi bertindak irasional seperti orang yang percaya tahayul?

 

Cerita sebenarnya bisa cepat beres karena Rana hilang di hutan ada saksinya, yaitu si Janu yang diperankan oleh Chicco Kurniawan. Makanya naskah sengaja menyimpan bahasan karakter ini sampai di pertengahan. Persoalan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka di hutan pun tidak dibuild up sebagai misteri, melainkan hanya nanti diungkap begitu saja sebagai informasi oleh Janu yang udah gak tahan diganggu hantu Rana. Si Rana sendiri pun tidak diflesh out sebagai karakter, padahal posisi dia ini sebenarnya bisa seperti Suzzanna di Bernapas dalam Kubur (2018), yaitu hantu yang berusaha bertindak seperti manusia karena dia sayang sama keluarga. Tapi Flavio Zaviera sebagian besar waktu hanya ditugaskan film untuk menyunggingkan senyum misterius. Tidak hingga di akhir banget, karakternya baru tampak sadar ‘dunianya’ adalah drama horor yang dia sendiri ketakutan menerima bahwa dia sebenarnya sudah mati. Backstory keluarga besar mereka munculnya juga abrupt, setelah film jenuh terus-terusan berkutat di saling tuding ‘anak saya bukan setan – anak kamu setan’. Yang lucu adalah tau-tau film bicara soal keretakan di keluarga bude-bude itu, tau-tau bahas soal karakter bernama Bagas yang sepertinya meninggal karena kesalahan manusia. Sepertinya ini diniatkan untuk jadi akar kenapa mereka lebih memilih percaya primbon ketimbang ilmu dan logika, namun karena bahasan minim sekali dan ujug-ujug nongol, jadinya aneh dan konyol. I was like, “kenapa jadi Bagas??!!?!???”

Kirain bagus, ternyata bagas

 

Perkara ruang, aku masih bisa paham. Rudy Soedjarwo ingin menekankan drama dengan lapisan horor sehingga dia banyak menempatkan kamera di depan wajah karakter, supaya kita melihat gimana kecemasan secara aktual berubah menjadi ketakutan. Agar kesan kita melihat dunia itu jadi sesempit pikiran mereka.  Soal waktunya yang aku tak mengerti. Saking simpelnya penulisan, timeline film ini tuh gak terasa. Rana muncul setelah tujuh hari menghilang, tapi kita seperti merasakan hanya semalam. Begitu juga dengan berapa lama Rana tinggal di rumah sebelum akhirnya diruwat, enggak jelas. Karena build up yang tidak ada. Dari kembang-kembang sajen itu ditaruh di bawah ranjang hingga diambil dan nyatanya beneran busuk, kita tidak pasti berapa lama itu berlalu. Padahal kan mestinya dibangun ke kita supaya seram, entah itu baru tadi ditaruh tapi sudah layu, atau kalo mau ngangkat pertanyaan bisa dibikin sudah agak lama baru dilihat kembali dan telah layu (jadi bisa diperdebatkan ritualnya gak ngefek). Perpindahan ke karakter lain juga seringkali membuat karakter yang barusan kita lihat tidak terasa kontinu dengan saat kita pada mereka lagi nantinya. Flow penceritaannya terasa kacau. Aku lebih prefer film bercerita secara linear di awal, karena aku ingin melihat dulu gimana dinamika keluarga besar ini, gimana Rana semasa hidup dengan karakter-karakter lain (terutama dengan bude-budenya), supaya bisa lebih peduli. Mungkin bisa dibikin kembali Rana dari hutan secara misterius itu sebagai akhir babak pertama. Kupikir sebagai drama horor yang menekankan konflik antara sikap dan kepercayaan karakter, memang sebaiknya film ini lebih fokus menggali itu ketimbang berkutat di horor gangguan hantu semata.

 

 




Suasananya sebenarnya sudah meyakinkan. Kampung yang bisik-bisik meragukan si gadis yang kembali setelah tujuh hari. Bahasan primbon-nya sendiri juga masih terasa punya gigitan menarik, beberapa berhasil terlontar sebagai percakapan sehari-hari.  Bibit konflik drama juga ada, begitupun dengan perspektif utama tragis. Film ini kurangnya dari segi journey, build up, dan bahasan. Aspek yang penting dalam medium penceritaan. Memilih mangkir dari drama yang sebenarnya sangat naas dan pengalaman yang sangat horrifying jika digali dengan baik. Harapan yang kandas dari seorang perempuan yang berusaha jadi ibu yang baik bagi anak, di tengah keluarga besar yang ‘sulit’ kompromi, kan sebenarnya. Kemampuan film ini sayangnya cuma sebatas membuat cerita itu menjadi debat sederhana ‘dia hantu, dia bukan hantu’ dan adegan-adegan horor yang tidak benar-benar spesial. Identitas ceritanya jadi seperti sia-sia, karena hasilnya tetap generik.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PRIMBON

 

 




That’s all we have for now.

Soal primbon atau superstition sejenisnya sih sepertinya kita percaya gak percaya aja ya. Tapi apakah kalian punya tips gimana cara halus bilang gak percaya tahayul kepada orang atau keluarga yang justru pedomannya kuat banget ke hal tersebut?

Share pendapat kalian di comments yaa

Hijack, serial thriller bagus tentang pembajakan di pesawat yang dibintangi oleh Idris Elba di Apple TV+ sudah sampai ke episode finale. Yang pengen ngerasain ketegangannya bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



SUZZANNA: MALAM JUMAT KLIWON Review

 

“How truly hard it was, really, to see someone you love change right before your very eyes” 

 

 

Cinta sejati itu kayak hantu. Banyak yang ngomongin, tapi cuma sedikit yang beneran melihatnya.  Merasakannya. Telah membuktikannya sendiri. Saking susahnya memperjuangkan cinta. Selalu ada saja halangannya. Makanya greatest love story seringkali justru merupakan sebuah kisah yang tragis. Gimana perasaan kita gak teraduk melihat karakter berusaha memperjuangkan perasaan yang tak semua orang bisa melihatnya ada tersebut. Guntur Soerharjanto berusaha mengaduk perasaan kita lewat film kedua Luna Maya sebagai Suzzanna. Adaptasi atau remake bebas dari horor klasik si Ratu Horor ini coba dikuatkan oleh Guntur perihal kisah cinta kedua karakternya. Membuat cinta dan hantu literally jadi satu frame. Di balik horor balas dendam, at heart film ini adalah kisah cinta yang terhalang oleh kematian. Sebagaimana halnya pada film  pertamanya tahun 2018 yang lalu. Bedanya, film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur itu berhasil mengaduk perasaan kita, cerita dan arahannya berhasil menggali sudut pandang perempuan yang berkonflik personal; Suzzanna yang telah jadi hantu ingin membalas dendam atas kematiannya, tapi dia gak mau harus berpisah dengan suami, sehingga dia berpura-pura masih manusia. Film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon bahkan gak punya sudut pandang kuat untuk menyampaikan konflik cinta tragis di antara kedua karakternya.

Dalam usaha untuk lebih memperkaya suasana dan dunia cerita, Malam Jumat Kliwon jadi lebih banyak mengambil sudut galian. Di satu sisi memang ini bikin cerita di Jawa tahun 1986 itu terasa lebih imersif. Babak pertama film terasa solid oleh build up dan terjaga dengan tempo yang cukup cepat. Kita melihat Suzzanna, kali ini seorang gadis desa yang dipinang oleh Raden Aryo yang ingin punya keturunan. Kita melihat Surya, kekasih Suzzanna, yang mencari tambahan nafkah dengan menjadi petarung. Kita juga melihat istri tua Raden Aryo punya peran di dalam cerita, karena kecemburuannya. So many motivasi yang saling beradu. Di babak ini cerita lebih bertapak pada Suzzanna, yang setelah hamil mulai merasa dirinya gak aman di rumah Raden. Dia disantet, dan hal menjadi total nightmare bagi Suzzanna saat proses melahirkan. Suzzanna meninggal dengan cara mengerikan, cerita masuk babak kedua, dan naskah hingga arahan mulai keteteran. Cerita ‘berpindah’ jadi tentang Surya yang ingin melihat Suzzanna untuk terakhir kalinya, only ended up mengadakan perjanjian dengan iblis untuk menghidupkan Suzzanna. Perempuan itu memang terbangun, tapi sebagai Sundel Bolong yang ingin menuntut balas dan mencari bayinya.

Dan pengen mamam seratus mangkok bakso

 

Narasi menjadi terlalu besar untuk dihandle. Aku merasa film ini seperti orang yang sudah tahu tujuan mau ke mana, tapi di tengah jalan jatuh terpuruk karena gak sanggup untuk actually mencapai tujuan tersebut. Cerita seperti Suzzanna: Malam Jumat Kliwon memang harus sebesar itu. Empat karakter sentral perlu dibahas supaya penonton dapat melihat dinamika gender di tahun segitu (dan maybe masih diteruskan hingga sekarang). Gimana Suzzanna bisa berada di posisi sulit karena lelaki yang suka seenak jidatnya, mentang-mentang berkuasa. Bahkan yang simpatik seperti Surya pun sama saja begitu dengan aksinya yang tidak membiarkan Suzzanna istirahat dengan tenang. Sebuah aksi yang bisa dibilang egois karena dia mengambil keputusan atas hidup perempuan. Film ini mengatakan semua horor itu ya simply disetir oleh kehendak lelaki., tapi juga masih memperlihatkan ada kalanya perempuan ‘berontak’ atau somehow memegang kendali aksi. Paralel Suzzanna – si istri tua – bahkan rela ke dukun, membayar ‘harga’ apapun supaya dia kembali jadi ‘yang disayang’ oleh suami. Suzzanna sendiri gak pernah digambarkan hanya pasrah, tapi disebutkan bahwa dia rela dinikahi demi keluarga. Dia di beberapa kesempatan juga beraksi dengan mempertimbangkan keselamatan nyawa Surya. Bahkan saat jadi Sundel Bolong, ada kala Suzzanna tidak mengikuti ‘perintah’ Surya untuk tidak membunuh.

Karena subteks pada karakter itulah, aspek body horor yang ditampilkan film ini jadi mencuat. Adegan menyeramkan saat persalinan itu menyimbolkan kengerian ketika tubuh penuh jejak yang tak diundang, yang tak diinginkan, yang dipaksakan kepada perempuan. Kita tahu secara narasi itu adalah efek santet, tapi kejadiannya seolah tubuh Suzzanna menolak buah dari paksaan. Harusnya sih adegan ini bisa ikonik. Bayi Suzzanna pindah ke punggung, lalu meledak membunuhnya seketika. The horror inducing nightmare includes: suara teriakan minta tolong Suzzanna kepada bidan dan pelayannya dan shot ada bayi yang bergerak-gerak di dalam lubang punggungnya. Aku gak tahu apakah film Malam Jumat Kliwon yang asli adegannya persis seperti ini, tapi memang adegan persalinan horor tersebut seperti dicomot dari era 80an. Over-the-top, gross, dan fun! Kita harus melihat ke belakang dan realized, bahwa vibe horor 80an itulah yang ingin direcreate juga oleh film ini. 80an adalah era horor praktikal yang cerita dan kejadiannya over-the-top hingga konyol, tapi jadi hiburan tersendiri. Elm Street, Friday the 13th, Evil Dead, sadis tapi menghibur. Film horor Suzzanna sendiri juga seperti itu, malah seringkali ditambah oleh reaksi-reaksi kocak dari karakter pendukung. Film karya Guntur ini punya vibe itu. Ada banyak juga adegan menakut-nakuti yang lucu, banyak reaksi dan dialog karakter yang konyol. Sally Marcelina yang jadi istri tua adalah yang paling ‘semangat’ ngasih vibe over-the-top ini.

Bicara tentang horor Suzzanna, tentu kita gak bisa lepas dari sosok Suzzanna itu sendiri. Kayaknya, industri sekarang ini gak ada yang membangun citra aktornya seperti Suzzanna lagi. Yang aura dan kemisteriusannya dipush terus hingga di balik layar. The fact that reboot-an film-filmnya ini bukan biopik tapi sangat mengutamakan perubahan wajah Luna Maya menjadi semirip mungkin dengan Suzzanna benar-benar menunjukkan bahwa legacy Suzzanna sebagai sosok dan aktor itulah yang dilestarikan. Film mengambil banyak resiko untuk menyulap Luna Maya menjadi Suzzanna. Saat jadi Sundel Bolong, ilusi tersebut lebih mudah untuk dipertahankan. Gestur berkacak pinggang lalu berbalik memamerkan lubang di punggung, serta suara cekikikan seram Luna Maya sanggup memberikan sensasi merinding, Hanya saat karakternya masih manusia, dan banyak bermain di nada drama, plus pencahayaan yang ‘normal’ usaha film memiripkan wajah itu seringkali tampak artifisial, hingga agak ‘mengganggu’ karena wajahnya seperti tempelan. Unnatural.

Sekilas jadi kayak gaya animasi wajah karakter di game Forbidden Siren

 

Suasana desa setelah kebangkitan Suzzanna sebagai Sundel Bolong juga memang harus diperlihatkan. Interaksi Suzzanna dengan warga bakal jadi hiburan horor tersendiri. Istilahnya, ngeri-ngeri sedap hahaha… mungkin Bene Dion terinspirasi judul film drama komedinya ini dari saat ikut menulis naskah Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. I wish kualitas naskah film kali ini masih sama dengan film pertamanya tahun 2018 itu. Naskah kali ini ditangani Sunil Soraya dan Ferry Lesmana bersama Tumpal Tampubolon. Fun dan horornya masih ada, tapi dramanya lepas. Malahan, banyak elemen-elemen drama yang sempat disebut namun tidak pernah dibahas lanjut. Ada satu dialog menarik yang paling aku kecewa karena gak ada follow upnya, yakni ketika Raden ditanyai oleh istrinya apakah dia telah jadi jatuh cinta kepada Suzzanna. Kupikir developmentnya bakal menarik ketika pihak yang toxic ternyata jadi beneran cinta sama korbannya. Tapi film gak bahas lagi dan dialog itu semacam punchline angin lalu. Pokoknya, begitu masuk babak kedua, cerita benar-benar keteteran. Dialog dan kejadian jadi konyol tak terkendali. Begitu banyak hal yang bikin kita mengernyitkan kening, mulai dari kenapa kuburan Suzzanna yang mestinya dirahasiakan dari banyak orang malah dikasih nisan bertuliskan nama, hingga ke Surya yang saking rindunya tidur dengan meluk mayat? C’mon! Surya sebagai sudut pandang utama saat Suzzanna sudah tiada, tidak pernah didevelop dengan layak.

Melihat orang yang kita cintai berubah menjadi seseorang yang berbeda. Tema ini yang sebenarnya disimbolkan jadi horor dalam film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon.  Dalam kasus Surya, dia menyaksikan kekasihnya melakukan pembunuhan-pembunuhan mengerikan karena balas dendam. Goal cerita sebenarnya adalah membuat kisah cinta begitu tragis sehingga menjadi sebuah horor, kisah cinta ketika seseorang harus melepaskan kekasih yang sudah bukan lagi manusia, ketika seseorang harus mencintai kekasihnya dengan cara yang melukai mereka.

 

Tapi penceritaan film enggak mampu mencapai goal tersebut. Tidak mampu mendramatisasi keadaan di luar menjadikannya humor sajaFilm terdistraksi oleh banyaknya elemen yang harusnya ia arahkan ke goal tersebut. Film bahkan gak mampu untuk sepenuhnya membangun rule atau mitologi Sundel Bolongnya. Karena sekarang, dia bukan lagi hantu, melainkan iblis. Padahal Suzzanna yang jadi hantu tidak bisa langsung menyakiti manusia sehingga serangan yang ia lancarkan untuk balas dendam adalah serangan psikologis yang membuat korbannnya mati karena ulah sendiri, adalah aspek yang membuat film pertamanya sangat menarik. Film kali ini sepertinya tidak mau repot dengan konsep semacam itu, dan membuat Suzzanna bisa menyakiti secara fisik karena dia adalah iblis. Dia tidak lagi unik. Aksinya dengan cepat jadi membosankan karena kita basically ngelihat hal yang sama terkait aksi dia terhadap korbannya. Di akhir film coba ngasih tantangan, yaitu ada beberapa senjata dukun yang bisa melukai Suzzanna. Ini yang mestinya dibanyakin oleh film. Buat Suzzanna vulnerable. Bikin stake ada. Bikin jadi ironi ketika Surya tak ingin Suzzanna kalah dan lenyap, tapi morally dia gak mau Suzzanna membunuh lagi. Tapi yang lebih banyak kita dapatkan malah humor dari dua hansip. Mereka kocak, bisa actually nangkep Sundel Bolong, tapi ya gak perlu sampai mau dikasih arc mereka pengen jadi pahlawan segala kalo memang ini bukan cerita mereka.

 




Buatku kerasa sih, nelangsanya ketika yang kita suka berubah menjadi something different. Aku suka film pertama Suzzanna. Dramanya bisa dalem, dan horornya tetap fun. Sedangkan film kedua ini, cuma punya fun. Dramanya banyak yang lepas, yang tidak digarap dengan manusiawi. Padahal muatan drama yang dimiliki itupun sesungguhnya tidak banyak berbeda dari film pertama. Lebih kepada, beda sudut pandang utama saja. Film kali ini sebenarnya lebih tentang Surya, laki-laki yang ditinggalkan Suzzanna, yang menghidupkannya kembali, yang ingin bersamanya sampai akhir hayat, namun perlahan menyadari apa yang sebenarnya ia butuhkan. Film enggak mampu mencapai goal dramatis ini karena sudut pandang yang tidak tegas dan naskah yang tidak bisa menghandle narasi yang besar. Bahkan untuk jadi romance horor saja masih kurang terasa. Kalo nanti ada film Suzzanna berikutnya, aku harap mereka kembali menapakkan dramanya, dan mungkin bisa dicoba untuk tone down mirip-miripan aktornya dengan Suzzanna supaya akting dan ekspresinya bisa maksimal.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SUZZANNA: MALAM JUMAT KLIWON

 

Tulisan ini diterbitkan juga dalam Zine BREAK FROM CINEMA 
Volume 01/Agustus 2023

 




That’s all we have for now.

Kalo dibalik, menurut kalian apakah kita sebaiknya harus mau berubah demi pasangan kita?

Share pendapat kalian di comments yaa

Hijack, serial thriller bagus tentang pembajakan di pesawat yang dibintangi oleh Idris Elba di Apple TV+ sudah sampai ke episode finale. Yang pengen ngerasain ketegangannya bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



INSIDIOUS: THE RED DOOR Review

 

“Painting is good for the soul”

 

 

Insidious original membuka pintu baru dalam sinema horor ala wahana rumah hantu. Perjalanan masuk ke dalam dunia lain. Wuih, pokoknya sejak Insidious booming, gak terhitung deh ada berapa film horor Indonesia yang terinspirasi konsep menjelajah ke other side lewat proyeksi astral seperti yang dipunya oleh film yang ditelurkan oleh James Wan, back at 2010 itu. Dunia gaib dan rulenya memang berbeda-beda, tapi dari gaya dan vibenya kita dengan segera bisa langsung pinpoint yang sedang ‘ditiru’ itu adalah konsep The Further yang ada pada Insidious. Jika sudah seinfluential begitu, maka sudah hampir bisa dipastikan juga Insidious bakal diperah menjadi franchise. And it did. Right now, kita sedang mantengin halaman review untuk seri kelima dari franchise Insidious. Sama seperti kebanyakan franchise horor, laku bukan berarti jaminan mutu. Antara ditinggal James Wan setelah seri kedua dengan konsep yang sudah sebegitu banyak yang meniru, Insidious mulai terasa jadi biasa-biasa saja, Maka dari itulah, menggarap seri kelima ini jadi tantangan yang nyata bagi Patrick Wilson; yang dari pemain filmnya, dia debut jadi sutradara.

Patrick mengembalikan Insidious: The Red Door kepada cerita keluarga Josh Lambert.  Terakhir kali kita melihat mereka di Insidious Chapter 2(2013), keluarga itu memutuskan untuk melakukan terapi hipnotis untuk melupakan teror di masa lalu, supaya tak lagi dihantui. Supaya anak-anaknya gak trauma dulu ayah mereka pernah berusaha membunuh mereka karena dirasuki setan. Ingatan itu dikubur dalam-dalam supaya keluarga ini bisa move on dan hidup normal serta bahagia. Well, fast forward sepuluh tahun kemudian, kita melihat hidup mereka memang cukup normal, tapi mereka gak exactly terlihat seperti keluarga bahagia. Malahan, mereka sudah bukan keluarga utuh. Josh sudah cerai dengan istrinya. Dan, hubungan Josh dengan anak-anaknya – terutama dengan si sulung Dalton yang sudah hendak kuliah – tidak baik-baik saja. Renggang. Baik Josh maupun Dalton seperti disibukkan dengan pikiran sendiri, bahwa ada masa-masa yang tidak bisa mereka ingat, dan ini mengganggu mereka.  Sementara Josh berusaha mencari kesembuhan yang lebih ilmiah, Dalton di asrama mulai dihantui kejadian misterius, saat di kelas tiba-tiba dia melukis sebuah pintu merah.

Pintu itu melarangmu masuk, atau melarangmu keluar, tanya dosen yang melihat lukisannya.

 

Ah, pintu yang harus ditutup alias tak boleh dibuka. Saat menonton, aku memang lantas teringat sama anime fantasy Suzume (2023) yang bicara hal serupa. Yang juga menyimbolkan ingatan traumatis dengan pintu yang tertutup. Sesuai genrenya, Insidious membicarakan persoalan itu dalam nada yang lebih kelam. Jika Suzume harus menutup pintu untuk mengalahkan cacing raksasa, dengan vibe petualangan dan bumbu romansa. Insidious mengharuskan karakternya berkonfrontasi dengan setan mengerikan, tanpa ada rule ataupun senjata yang jelas untuk mengalahkan sang momok. Pintu itu harus dibuka. Dan ‘perjalanan personal’ kedua karakter – Josh dan putranya, Dalton – untuk menemukan cara menemukan kembali ingatan mereka, dalam artian membuka pintu itu, adalah perjalanan masing-masing. Secara sendiri-sendiri (this is a broken father-son relationship, after all). Penuh oleh kejadian mengerikan yang tersampaikan kepada kita dalam bentuk jumpscare selantang-lantangnya.

Walau karakter utamanya tetap Josh Lambert, tapi film membagi dua perspektif ceritanya. Kita akan secara bergantian ngikutin Josh dan Dalton. Akibat yang paling jelas dari cara bercerita seperti ini adalah tempo yang jadi benar-benar kerasa gak balance. Sering berpindah-pindah karakter menghasilkan kesan film ini lebih panjang daripada durasi sebenarnya. Kesan ini timbul karena film otomatis punya lebih banyak kejadian. Kejadian dari sisi Josh, Dan kejadian dari sisi Dalton. Dua kejadian ini tentu saja akan ‘bersaing’ satu sama lain; kita akan merasa ada satu yang lebih seru ketimbang yang lain. Jadi kita bakal menunggu kejadian yang seru itu saja. Dalam kasus film ini, kejadian yang dialami Dalton di lingkungan kampus seni memang lebih menarik daripada yang dilewati ayahnya yang cuma di rumah. Untuk menyeimbangkan keduanya, film butuh arahan yang solid serta penulisan yang cerdik. Film ini toh tampak benar-benar berjuang untuk mencapai itu. Patrick Wilson memasukkan banyak experience baru ke dalam bagian Josh. Kayak, horor di dalam mesin scan otak, ataupun permainan memori yang dibikin sendiri oleh Josh di rumah demi melatih ingatannya. Tapi tetap saja bagian Josh ini terasa lebih generik, apalagi bandingannya adalah karakter Dalton yang berada dalam situasi baru, less drama, dan terbantu oleh karakter pendukung yang gampang disukai oleh penonton.

Dalton dipasangkan dengan Chris (cewek, bukan cowok) yang sifatnya dibikin bertolak belakang dengan Dalton. Sehingga interaksi mereka jadi seger banget, persahabatan mereka jadi kayak natural. Ty Sympkins mainin karakter pendiam dan banyak masalah, sementara Sinclair Daniel jadi orang yang cablak, nekat, dan punya selera humor. Relasi ini jelas dianggap lebih menghibur, ketimbang persoalan Josh yang lebih banyak ‘drama’ soal takut pikun dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan clue-clue dari misteri masa lalu yang gak benar-benar bisa kita ikuti. Persoalan misteri untuk bagian Dalton lebih engaging dan lebih mudah konek kepada penonton karena banyak menyangkut ke adegan-adegan film Insidious saat dia masih kecil. Aku sendiri, lebih tertarik oleh gimana film membuat melukis sebagai cara Dalton teringat kembali kepada hal yang seharusnya sudah dikubur dalam-dalam oleh terapinya dulu. Jadi sebagai mahasiswa seni lukis, Dalton diajarkan untuk menggambar berdasarkan apa yang ia rasakan. Dalton diajar untuk membuka pintu di dalam dirinya. Ajaran itu accidentally membuat Dalton bersentuhan dengan ingatan terkuburnya. Membuat Dalton jadi kembali bisa nyebrang ke The Further (istilah film ini untuk dunia lain), meskipun di titik itu dia belum lagi ingat atau mengerti apa yang sebenarnya dia lakukan. Dan tebak ngapain dia dengan pengalaman mistis ‘barunya’ tersebut? Sama seperti anak muda pada umumnya, dia gunakan The Further untuk menggoda temannya. Menggoda si Chris hahaha

Ada yang ngitung berapa banyak objek warna merah yang muncul sepanjang film?

 

Konsep melukis dengan membuka pintu dalam diri ini mengingatkanku sama dulu waktu belajar nulis. Aku juga diajarkan untuk membuka pintu-pintu di dalam diri terlebih dahulu – diajarkan untuk mengenali diri sendiri terlebih dahulu supaya tulisan bisa punya rasa dan ada jiwanya. Melukis ternyata juga seperti itu. Enggak bisa asal mirip dengan ‘foto’ maka disebut bagus. Melainkan harus ada rasa dan jiwa pembuatnya. Makanya lukisan A.I. mau sebagus apapun juga masih kalah sama buatan seniman manusia. Di film ini bahkan diperlihatkan bahwa lukisan yang prosesnya dibuat dengan jiwa, juga berfungsi sebaliknya, yakni dapat menyembuhkan jiwa itu sendiri.

 

Sebagai yang bermula sebagai aktor komersil, Patrick Wilson sekiranya sudah belajar satu-dua hal cara ngebuild up momen horor yang menjual banget. Momen-momen seperti bayangan yang mengendap-ngendap dari balik kaca belakang mobil ataupun saat Josh merasa dirinya tak lagi sendirian di dalam mesin scan merupakan momen-momen yang pantas jadi highlight karena sukses bikin penonton satu studioku menghela napas dan menjerit-jerit. Momen ketika Dalton harus ‘balapan’ dengan entitas yang mau mengacau dunia nyata saat dia di dalam The Further juga ngasih reaksi super pada penonton. Patrick Wilson hanya perlu belajar lebih banyak untuk menjadikan momen-momen itu sebagai kesatuan cerita yang koheren. Karena babak ketiga film ini, babak ketika cerita Josh dan cerita Dalton mulai melebur jadi satu kesatuan konfrontasi horor atas nama perjuangan keluarga mereka, di situlah film ini terasa lemah. Kejadian just sort of happen. Rule soal The Further jika dimasuki makin jauh, makin berbahaya, sama sekali tak terasa ngefek karena Josh actually jalan di dalam sana dari rumah istrinya ke kampus Dalton – jarak yang jauh apalagi ditempuh hanya dengan kaki. Soal rule, ngomong-ngomong, memang tak pernah dijabarkan film dengan legit. Jika Dalton butuh lukisan dan teknik melukis yang ia pelajari sebagai jalan masuk, maka film tidak benar-benar memasukakalkan kenapa Josh yang ‘penyakit lupa’nya lebih parah juga jadi bisa ingat.

Yang benar-benar terlepas dari penulisan film ini akibat cara bercerita dua perspektif adalah tidak bisa fokus ke persoalan koneksi ayah dan anak yang renggang. Karakter ini terbatas pada perjalanan masing-masing meng-confront horor dengan cara yang berbeda. Sementara usaha ayah koneksi ke anak, drama mereka, tidak dilakukan maksimal. Pendekatan antara mereka berdua hanya dilakukan lewat percakapan whatsapp yang juga tampak generik lewat tampilan chat di layar dan sebagainya. Interaksi yang minim, effort yang kayak terpisah, tapi di akhir film mendadak mereka berjuang bersama. Feeling yang dihasilkan jadi tak terasa kuat, film ini hanya kejadian-kejadian yang tau-tau comes together di akhir. Momen ayah akhirnya pelukan dengan anak cowoknya harusnya jadi momen manusiawi yang grounded, yang powerful, yang mungkin relate bagi banyak penonton. Akan tetapi sepanjang perjalanannya, film tidak membuild up koneksi ini dengan benar, sehingga ya hanya jadi adegan saja.

 




Setelah sempat pindah fokus karakter pada dua film terakhirnya, aku sebenarnya seneng film ini kembali kepada keluarga Josh Lambert. Senang karena muatan drama bisa mengalir lebih genuine jika horor digali dalam lingkungan keluarga yang punya arc alias episode cerita. Film ini berusaha menggali kelanjutan cerita, sambil tetap menapak pada kejadian sebelumnya; berusaha memberikan development yang natural untuk karakter-karakter, namun sayangnya film ini not really good at doing it. Keputusan bercerita membagi dua perspektif adalah keputusan beresiko untuk ditempuh, apalagi saat film tidak dikawangi oleh sutradara yang sudah lebih mahir. Patrick Wilson cukup lumayan menghasilkan adegan-adegan horor, dia cuma butuh bercerita dengan lebih koheren. Yang lebih enak dalam penggabungan dua perspektifnya. Film ini pada jantungnya bicara tentang hubungan ayah dan anak, failednya komunikasi yang terjadi secara turun temurun, tapi proses pembelajaran karakter ke sana tidak terjabarkan dengan baik, melainkan hanya muncul sebagai solusi, tanpa ada proses yang benar-benar dramatis. Aku ragu ini bakal jadi film terakhir, tapi di samping kelemahan-kelemahan penceritaan tadi, aku rasa aku bisa nerima kalo film ini dijadikan penutup dari cerita keluarga yang sudah kita ikuti lebih dari sepuluh tahun yang lalu
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for INSIDIOUS: THE RED DOOR

 




 

That’s all we have for now.

Di film ini banyak lukisan-lukisan seram. Ngomong-ngomong, kenapa ya ada lukisan yang bisa tampak seram banget? Apakah kalian punya cerita tentang takut sama suatu lukisan atau semacamnya?

Share cerita kalian di comments yaa

Sebelum ditutup, aku mau ngajak kalian pindah dari mobil jip ke pesawat. Alias di Apple TV+ ada serial bagus tentang pembajakan di pesawat! Dibintangi oleh Idris Elba, serial thriller ini bakal ngajak kita ke sebuah trip angkasa yang tak terlupakan. Yang pengen nonton bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



BEAU IS AFRAID Review

 

“The mother-child relationship is paradoxical and, in a sense, tragic.”

 

 

Lagu Kasih Ibu kalo dinyanyiin oleh Beau dari film horor terbaru Ari Aster ini, pasti jadi agak laen. Karena memang di film ini, Ari Aster menyorot gimana hubungan ibu dan anak yang mestinya sweet dan menghangatkan bagai sang surya menyinari dunia ternyata bisa jadi seperti perjalanan berlayar yang menakutkan. Di cerita ini, air yang Ari lambangkan sebagai kasih ibu. Air, yang jadi sumber kehidupan, yang jadi ketergantungan bagi Beau, dan yang juga nanti jadi tempat kembalinya. Dan perjalanan Beau mengarungi semua itu, juga bukan sebuah perjalanan yang mudah dan menyenangkan bagi kita yang menonton. Karena memang Pak Sutradara ingin mencemplungkan kita ke dalam perasaan yang dialami oleh karakternya. Malahan, film ini merupakan salah satu film yang paling bikin bingung dari semua film yang pernah kita tonton dan bahas di sini. Beau takut. Dan hal penting yang ingin ditegaskan oleh film ini adalah, bahwa takut itu bukan semata kepada ibunya. Melainkan juga, gara-gara sang ibu.

Dunia aneh si anak mami

 

Yang bikin film ini ekstra njelimet untuk dimengerti adalah treatment Ari Aster terhadap dunia ceritanya. Jika biasanya film-film memisahkan dengan jelas mana porsi realisme dengan sureal/fantasi pada cerita, maka Beau is Afraid enggak takut untuk mengaburkan batas tersebut.  Inner dan outer journey yang dilewati oleh Beau sama-sama perumpamaan. Metafora.  Cerita ditembak dari sudut pandang Beau, tapi masalahnya personal state, pikiran si Beau itu sendiri tidak dipastikan dengan jelas oleh film. Oleh film, justru ketidakpastian state of mind si Beau tersebut yang dijadikan pengalaman horor. Kita tahu film meniatkan demikian dari adegan pembuka yang begitu sureal, kamera diposisikan sebagai mata Beau yang masih bayi, ditarik keluar oleh dokter dari dalam perut ibunya. Tidak ada seorang pun yang ingat gimana pengalaman dilahirkan, tapi di sini Beau tahu. Di adegan tersebut Beau tidak terdengar menangis, dan lalu dia mendengar sedari dia lahir ibunya sudah demanding supaya bayi Beau menangis. Karena begitulah seharusnya bayi bertindak.

Pada adegan berikutnya kita melihat Beau sudah dewasa – like di umur 40an atau sekitarnya – dan dia sedang bersama seorang therapist. Untuk masalah apa dia di sana, dengan cepat disiratkan oleh ponsel yang bergetar. Ibu menelepon. Beau menatap ponsel tersebut. Tidak menjawab. Menahan napas. Kupikir, satu-satunya adegan yang bisa kupastikan ‘nyata’ di sini, adalah adegan di ruangan therapist ini. Saat Beau menyebut dia disuruh pulang oleh Ibu, untuk mengenang hari kematian Ayah. Dan si therapist  yang menanyakan perasaan Beau atas kepulangan ini. Pria yang duduk berseberangan dengannya itu jelas punya mommie issue. Pria dewasa yang merasa tercekat hanya oleh panggilan dari ibunya. Kita tahu Beau sebenarnya lebih memilih untuk tidak kembali. Aku percaya kejadian aneh yang menyebabkan Beau bangun telat dan nanti akhirnya malah jadi tidak bisa ke bandara sebenarnya memang tak terjadi. Aku setuju dengan ibunya yang bilang semua itu hanya akal-akalan Beau yang enggan pulang (tapi Beau gak berani bilang). Makanya film nanti menaikkan stake dan urgensi dengan membuat sang ibu tahu-tahu ditemukan meninggal dunia. Beau jadi harus pulang mengurus pemakaman. Perjalanan Beau pulang nanti akan jadi tontonan yang benar-benar aneh untuk kita saksikan. Terlebih ketika nanti dia akhirnya sampai di rumah. Film benar-benar meleburkan batas mana yang nyata dan yang tidak. Kejadian yang membingungkan, ditambah karakter yang psikologisnya enggak benar-benar jelas, membuat Beau is Afraid jadi disturbing dan hard to watch.

Tapi di situlah tantangannya, kan? Di situlah letak menariknya film ini. Karena ada begitu banyak lapisan dan tragedi yang bisa kita ungkap. Ya, aku menyebut tragedi karena hubungan antara ibu dan anak memang dapat menjadi sebuah paradoks yang tragis, Seorang ibu harus mencintai dan menyayangi anaknya dengan begitu intens dan tanpa sarat, supaya si anak bisa tumbuh dewasa sebagai anak yang mandiri. Tragis, karena gak semua ibu menyadari itu. Beberapa dari mereka jadi seperti ibu Beau. Anaknya sudah segede itu tapi gak pernah benar-benar menjalani kehidupannya sendiri.

 

Efek dari pola pengajaran ibu yang salah dan terlalu over-lah yang menyebabkan Beau melewati ‘petualangan’ absurd mengerikan. Orang-orang aneh yang ada di sekitar apartemen Beau – si bertato yang mengejarnya, pria flamboyan yang menari-menari di jalan, kakek tak berbusana yang menusuki orang dengan pisau – menurutku orang-orang itu tidak nyata. Atau setidaknya tidak benar-benar bertindak seperti itu. Mereka seperti itu di mata Beau karena begitulah Beau memandang dunia tanpa ibunya. Dunia yang aku percaya digebah ibu kepada Beau saat dia bilang mau tinggal sendirian. Tempat yang berbahaya. Kita waktu kecil mungkin ada yang sering ditakuti-takuti oleh ibu supaya gak main keluar sendiri, kayak, dibilangin bahwa ada orang gila di ujung jalan, atau ada penculik anak di mobil jeep (most of my classmates dulu percaya mobil gede seperti itu adalah mobil penculik, karena ibu mereka yang terpengaruh acara tv bilang demikian). Begitulah menurutku yang terjadi pada Beau di awal film. Meski memang gak ada adegan atau dialog yang menyebut ibunya menakuti Beau dengan cerita seperti itu, tapi toh ada bukti bahwa ibu memang melakukan trik semacam itu kepada Beau. Ada sekuen yang menggambarkan Beau merasa takut berhubungan badan karena dari flashback, ada momen ketika ibunya menceritakan kepada Beau bahwa ayah meninggal saat proses ‘membuat’ dirinya. Bahwa kematian seperti itu sudah turun temurun di keluarga Beau yang laki-laki.

Momen-momen yang sepertinya real (setidaknya berakar dari kejadian real) film ini datang sekelebat dari flashback-flashback setiap kali Beau pingsan, entah itu karena kepentok dahan saat berlari atau saat gelang di kakinya meledak. Adegan film ini memang seabsurd itu. Petunjuk-petunjuk kecil dari kilasan adegan itulah yang jadi puzzle untuk kita susun demi mengetahui gimana hubungan Beau dengan ibu yang sepertinya seorang wanita karir mendiri dan punya isu tersendiri dengan pria. Beberapa adegan menunjukkan Beau dianggap melawan tatkala pria itu menunjukkan otonomi atau kehendaknya sendiri. Ada adegan membingungkan saat Beau masih kecil, yang direkam dengan seolah Beau ada dua orang. Beau yang berani, dan Beau yang penurut. Beau yang pemberani – ngotot menanyakan perihal ayah – disuruh ibu ke loteng dan dikurung di atas sana untuk selamanya. Adegan ini menyimbolkan kerasnya ibu terhadap sikap kritis Beau. Atap jadi tempat pengasingan – karena di atas sana jugalah Beau nanti akan bertemu dengan sosok yang ibu bilang adalah ayahnya. Dan sosok tersebut akan benar-benar sinting, sehingga terkesan konyol. Mengerikan, tapi konyol.

Yang mengingatkanku pada satu cerpen Kompas berjudul ‘Menggambar Ayah’ yang dari dulu pengen sekali kujadiin film pendek

 

Efek visual dan artistik yang dilakukan oleh film ini memang punya range yang cukup luas. Kadang sekilas terasa kurang konsisten, tapi itu hanya karena efek tersebut menghasilkan tone yang membuat kita lupa sama feeling yang berusaha disampaikan. It’s bound to happen pada film yang memang punya banyak kejadian absurd seperti film ini. Setelah pengalaman mengerikan semacam home invasion, Beau juga ngalamin sensasi diculik, lalu dia menonton teater yang dia rasa mirip sama hidupnya sendiri (yang tergambar kepada kita lewat visual dengan animasi), dikejar-kejar oleh maniak medan perang (yang bikin film kayak survival thriller), dan tentu saja momen ketemu makhluk di atap tadi, yang udah kayak horor creature.

Sesungguhnya semua kejadian outer tersebut punya maksud sebagai simbol tersendiri. Ari Aster menegaskan pengaruh pengasuhan seperti yang dilakukan oleh ibu kepada Beau ini bukan hanya dari gimana Beau memandang peristiwa, tapi juga dari gimana kejadian-kejadian itu membentuk pengalaman yang mencerminkan tahap pertumbuhan yang mestinya dilalui Beau sedari kecil. Tapi mungkin tidak pernah kejadian, karena Beau waktu kecil sangat penurut sehingga jadi lemah. Dan sekarang, Beau harus mengalami semua urutan pertumbuhan tersebut. Bagian di apartemen tadi, misalnya. Ini state seperti anak kecil yang gak berani keluar sendirian. Setelah akhirnya (terpaksa) berani ninggalin rumahnya, Beau, tinggal di rumah pasangan yang menyelamatkannya, tapi pasangan itu mulai mencurigakan, melarang Beau pergi, dan mereka punya anak remaja yang gave them hard times. Ini basically menggambarkan state saat remaja, Beau harus berani memberontak dari aturan-aturan. Ketika kemudian Beau sampai di perkumpulan teater hutan, ini adalah bagian dia di tahap pertumbuhan dewasa. Beau menonton show yang membuat dia membayangkan punya keluarga. Punya anak-anak yang mirip dengannya. Dan ini jadi plot poin berikutnya bagi Beau, karena di balik dia sadar desirenya sebagai manusia untuk punya pasangan dan settled, dia juga tersadar dia mungkin mirip ayah – or worse, ibunya. Ketakutan Beau telah banyak terhimpun, dan siap meledak saat dia sampai di rumah. Ini fase tua yang harus dialami Beau. Film menggambarkan ini dengan paranoia, karena diungkap ternyata ibu mengendalikan semua hidup Beau. Bahwa semua produk-produk yang dipakai Beau selama ini adalah produk dari bisnis ibunya. Konfrontasi terakhir Beau dengan ibu di pengadilan tengah laut itu jadi puncak pembelajaran Beau, yang merasa dirinya telah berani stand up for himself. But the mental damage has been done, kita pun melihat ending yang circled back ke kejadian yang dilihat Beau di jalanan pada awal cerita. Kapal terbalik milik anak yang berani gak nurut kepada ibunya.

 

 




Masih banyak lagi sebenarnya momen-momen ganjil yang ditampilkan oleh film ini, yang pastinya menarik untuk kita tonton dan kaji ulang. Meskipun memang aku sendiri ragu, aku bakal berani untuk mengulangi lagi perjalanan Beau dalam waktu dekat. Mungkin harus nunggu beberapa minggu dulu hahaha… Karena memang film ini seaneh dan se’hard to watch’ itu. Penampilan aktingnya sih sangat oke, Joaquin Phoenix sebagai Beau tampak paham betul apa yang dilalui karakternya. Aktingnya gak sebatas ekspresi, tapi juga fisik, karena di sini Beau bakal luka-luka yang cukup parah, dan Joaquin komit, dia tahu persis cidera karakternya itu bermakna sesuatu terhadap perjalanan dan state sang karakter itu sendiri. Film ini menargetkan kita untuk merasakan yang dialami oleh karakternya yang bisa dibilang loser dan penakut dan lemah, dan dengan jadi seperti begini, film ini sukses mengenai target itu. Petualangan Beau bukan pengalaman yang menyenangkan untuk ditonton. Sepertinya tidak ada yang nyata, melainkan gambaran gimana si karakter mencerna dan menyadari momok personalnya. Ini adalah perjalanan konyol tapi mengerikan yang seharusnya tidak pernah dialami oleh orang-orang nyata. Karena kita mestinya berani. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BEAU IS AFRAID.

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian anak seperti Beau memang pantas untuk mengantagoniskan ibu mereka? Apakah kalian punya teori atau penjelasan lain tentang film ini?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



THE BOOGEYMAN Review

 

“Now you will know why you are afraid of the dark…”

 

 

Monster di dalam lemari. Meskipun bentuknya berbeda-beda tergantung kepercayaan dan lingkungan masing-masing, toh ternyata anak-anak di seluruh belahan dunia punya ketakutan yang sama. Kita semua takut sama sesuatu yang mengintai dari balik kegelapan. Yang membuat kita lebih suka tidur dengan lampu menyala, dan will never ever  in million years mengintip kolong tempat tidur. Kita percaya ada sesuatu di dalam hitam pekat itu, ada apapun momok yang kita takuti. Menurut kepercayaan rakyat kita, ada yang namanya wewe gombel, misalnya. Hantu perempuan yang suka menculik anak kecil yang ‘nyasar’ ke tempat gelap. Jangankan anak biasa seperti kita, anak-anak penyihir aja takut Boogeyman, kok. Buktinya di Harry Potter, J.K. Rowling menulis yang namanya Boggart; makhluk yang suka ngumpet di dalam benda-benda seperti lemari dan menjelma menjadi hal yang paling ditakuti oleh orang yang melihatnya. Lain lagi menurut penulis horor nomor satu, Stephen King, Di dalam benaknya, Boogeyman atau momok punya akar yang lebih personal. Ketakutan turun-temurun terhadap kegelapan dimainkannya di ranah psikologis saat dia menulis cerita The Boogeyman. Kisah seorang ayah yang ke terapi, mengaku tiga anaknya dibunuh oleh ‘monster dari dalam lemari’. Penulisan King yang begitu detil, tapi juga begitu misterius, mengangkat kesan mendua –  bahwa mungkin si ayah itulah pelaku sebenarnya. Bahwasanya Boogeyman bisa jadi hanyalah produk dari kepala yang penuh stress dan jiwa yang tertekan. Kisah tersebut kita dapatkan muncul dalam adegan film The Boogeyman yang diadaptasi oleh sutradara Rob Savage. Tapi alih-alih fokus menggali itu, Rob mencari lubang galian yang baru. Lubang tempat dia bisa menonjolkan momok itu lebih sebagai makhluk fisik di atas cerita psikologis tentang kehilangan.

Dengan kata lain, The Boogeyman yang kita saksikan merupakan adaptasi yang bisa dibilang sangat lepas. Rob membuat karakter baru, menciptakan persona baru dari karakter yang sudah ada. Salah-salah, yang dia buat ini bisa jatoh sebagai fan-fiction, alih-alih adaptasi. But hey, aku gak bilang film ini jadi jelek hanya karena gak memfilmkan actual story dari Stephen King. Afterall, dari keberadaan Boogeyman itu sendiri kita tahu bahwa kita semua punya ketakutan yang sama, hanya bentuk atau perwujudannya saja yang berbeda. Jadi yah, kalo mungkin menurut pembuat film ini, bentuk yang lebih beresonansi buat penonton kekinian adalah yang lebih genjar-genjer dan physically seperti ini, ya mari kita nilai film ini sesuai bentuk itu sendiri.

Momok monster di dalam lemari juga bisa jadi cerita lucu, misalnya yang dibuat oleh Pixar

 

Dosa film ini sebenarnya ‘cuma’ jadi generik. Secara cerita, The Boogeyman gak benar-benar groundbreaking. Kayak udah banyak cerita kehilangan yang seperti ini. Jadi, therapist yang ada di cerita pendek aslinya, di sini dikembangkan punya keluarga. Dua orang anak perempuan, yang satu masih kecil, yang satu lagi sudah SMA. Keluarga ini kehilangan sosok ibu yang tewas kecelakaan. Kehilangan tersebut lantas membekas pada anak-anaknya, terutama pada tokoh utama cerita, si cewek remaja, Sadie. Yang di adegan pembuka kita lihat nekat ke sekolah pakai baju milik sang ibu. Perfectly ngeset gimana dia menolak untuk melupakan sosok tersayangnya itu. Namun itulah yang justru jadi jalan masuk bagi Boogeyman ke rumah mereka. Dibawa oleh Lester Billings dalam adegan yang diangkat dari cerita aslinya, si Boogeyman yang merasakan grief yang besar di rumah Sadie, jadi kerasan. Tiap malam Boogeyman datang dari sudut-sudut gelap, mengganggu Sadie dan adiknya. Menggunakan rasa kehilangan mereka untuk meneror. Udah kayak kucing aja, si Boogeyman ini senang bermain-main dengan mangsa sebelum melahap mereka.

Teror yang dihadirkan dari si momok ini sebenarnya cukup seru. Apalagi di awal-awal, saat film belum serta merta menunjukkan sosoknya. Melainkan hanya lewat suara. Si Boogeyman bisa meniru suara orang, dan sebagian besar adegan seram didatangkan dari gimana satu karakter ‘dikecoh’ oleh suara yang ia sangka suara keluarganya. Si Sadie dengan suara ibunya, misalnya. Film The Boogeyman masih seram, saat bermain dengan konsep begini. Ketika hanya suara, dan sosok monsternya masih tak jelas terlihat oleh kita. Yang paling sering dapat adegan seram sih sebenarnya adik si Sadie, si Sawyer (diperankan oleh aktor cilik Vivien Lyra Blair dengan – intentional or not – cukup kocak). Ada sekuen dia harus keluar dari kamar dengan penerangan hanya dari lampu bulan kesayangannya. Atau ketika adegan dia harus terapi untuk menghilangkan ketakutannya akan gelap. Saat adegan-adegan tersebut, kita hanya diperlihatkan sekelebat dari si monster, sehingga ruang kita berimajinasi masih ada. Misterinya jadi kerasa mengerikan. Sayangnya, film ini bertujuan bikin si Boogeyman literally jadi monster yang harus dikalahkan kayak di film-film horor creature. Sehingga film butuh untuk mereveal wujudnya, dan hilanglah sudah semua kemisteriusan yang jadi sumber keseraman itu. Desain si Boogeyman agak kurang menyeramkan bagi kita, yang lebih takut ke hantu-hantuan. Tapinya lagi, aku bisa membayangkan makhluk hitam berkaki banyak seperti itu sangatlah mengerikan bagi anak-anak barat yang memang di sana, ketakutan pada laba-laba jadi ketakutan yang umum.

Saking sering lucu, aku malah ngira si adek nangis karena kakaknya salah cabut gigi yang sakit

 

Padahal monster Boogeyman di dalam film ini sebenarnya masih mengandung makna penyimbolan. ‘Dosa’ film sebagai sajian generik monster mengerikan sebenarnya gak harus jadi ‘big deal’ jika film mampu menguatkan penyimbolan tersebut. Atau seenggaknya gak membuat perhatian kita melulu tertuju pada makhluk yang gak lagi universally mengerikan. Keadaan si Sadie, ‘drama’ dia harusnya tetap jadi poin vokal. Keberadaan si monster sebenarnya berkaitan erat dengan yang dirasakan oleh Sadie.  Kita bisa lihat Sophie Thatcher memainkan karakter itu sebagai orang yang penuh duka. Dia sampai berusaha memanggil arwah ibunya. Maka, monster itu sebenarnya adalah duka yang tak tersalurkan dengan baik. Dia tidak bisa membicarakan masalahnya dengan ayah – yang memilih untuk tampak tegar karena sebagai therapist dia tidak boleh terlihat rapuh oleh orang lain. Secara metafora, Sadie lebih memilih berada dalam kegelapan duka, daripada melupakan sang ibu. Keluarga Sadie memilih untuk menyimpan masalah itu di dalam ‘lemari hati’ masing-masing. Pembelajaran Sadie adalah untuk meluapkan dan melupakan, supaya bisa move on. Yang diparalelkan oleh film dengan cahaya atau api sebagai cara mengalahkan Boogeyman. Sadie harus membakar si monster, yang berujung dia juga membakar habis benda-benda yang mengingatkannya kepada ibu.

Jadi itulah kenapa kita takut gelap. Gelap merepresentasikan hal-hal yang tidak kita ketahui, ataupun sesuatu yang berusaha kita sembunyikan, dan kita terlalu takut untuk melangkah ke dalamnya, meskipun jika melangkah itu dilakukan untuk menyalakan lampu. Film ini suggests cara untuk berani dengan kegelapan bukanlah dengan melatih diri di dalam kegelapan itu, melainkan berani untuk menyalakan api. Melawannya.

 

Harusnya film ini lebih banyak bermain di ranah horor yang lebih grounded tersebut. Mengangkat hal-hal seram dari gimana Sadie yang memilih untuk berkubang dalam kenangan kepada ibu, menjalani harinya. Adegan-adegan dia di sekolah, membuat keputusan yang salah saat berinteraksi dengan temannya – sadar atau tidak; harusnya adegan itu yang jadi pilar karena di situlah dampak dari sikapnya terwujud. Bahwa Boogeyman bagi Sadie bisa muncul di mana saja sudut-sudut gelap dia berada, karena figuratively, Sadie membawa kegelapan itu bersamanya. Di hatinya. Serta gimana hal tersebut berdampak bagi orang sekitarnya. Pada adik dan ayahnya misalnya. Horor yang seperti itu akan lebih gampang relate kepada kita daripada horor yang berubah jadi semacam mencari tahu cara mengalahkan monster laba-laba. Beberapa adegan di babak akhir film ini memang jadi lebih mirip action dalam film monster ketimbang horor. Jauh dari ruh materi aslinya. Sejujurnya, satu-satunya yang membuat film ini masih terasa kayak cerita Stephen King adalah film cukup bijak untuk membuat beberapa adegan dari reference cerita asli. Selebihnya, ya film ini terasa kayak usaha orang yang mencoba mengekspansi cerita King, tapi dengan kemampuan ala kadar. Like, there’s no way Stephen King bikin cerita dengan teman-teman sekolah tapi hanya digunakan untuk drama pembullyan tanpa bahasan hubungan yang lebih padat. Film ini mestinya lebih memperdalam lagi bahasan yang ia tambahkan, dan gak cepat settle ke masalah mengalahkan monster.

 




Sebagai adaptasi, film ini bergerak dengan bebas dan eventually menceritakan kisah di luar materi aslinya. Menambahkan karakter dan memindahkan pusat eksplorasi cerita. Walau melakukan itu dengan tetap respek dan banyak callback ke cerita asli, tapi film ini memang jauh dari ruh aslinya. Horornya dibuat jadi semacam mengalahkan monster; sebenarnya masih oke karena tetap didesain sebagai simbol grief dari yang dirasakan karakter. Akan tetapi bahasannya kurang mendalam karena film sengaja mengambil bentuk yang lebih generik. Kepentingannya berubah menjadi ‘apa makhluk ini sebenarnya’. Jawabannya memang punya layer simbolik, tapi film sekali lagi berusaha mengalihkan kita dari itu ke ya literal monsternya. Yang bahkan gak tampak seseram itu. Karena sebenarnya yang seram kan justru di makna keberadaannya. Film kurang dalam menggali ini.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE BOOGEYMAN

Kalo mau bias dan tetap kecewa karena gak sesuai cerita aslinya sih, aku menganggap film ini adaptasi yang cukup lucu. Karena film ini gak mau ‘sedalam’ aslinya, maka ceritanya diringankan. Tapi juga gak mau terlalu ringan, maka dielevated dikit. Kenapa ribet muter-muter seperti itu hahaha

 




That’s all we have for now.

Baru SMP, aku berani tidur di kamar sendirian dengan lampu dimatikan. Aku jadi sangat penakut saat itu terutama karena film The Sixth Sense. Boogeyman ku adalah kalo-kalo ada hantu muntah di balik selimut hahaha… Bagaimana dengan kalian? Apakah dulu kalian juga takut gelap? What is your Boogeyman back then?

Share  di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



MINI REVIEW VOLUME 9 (SISU, RENFIELD, DEAR DAVID, GUY RITCHIE’S THE COVENANT, AIR, A MAN CALLED OTTO, KNOCK AT THE CABIN, CREED III)

 

 

Masa liburan memang biasanya blog ini kosong. Apalagi pas mau-mau lebaran. Wuih, jangankan nulis di depan komputer, menonton film aja aku jarang. Pengennya main video game sepanjang waktu hehehe… Alhasil seringkali aku balik ke realita, dengan pe-er seabrek. Kayak sekarang ini. Begitu banyak film yang dianggurin. Sebagian belum ditulis, sebagian belum kelar ditonton. Jadilah sepanjang bulan Mei ini aku kayak anak sekolah yang ngebut belajar sampai larut malam. Delapan film inilah yang akhirnya terpilih untuk ku kompilasi jadi mini-review volume ke-sembilan!

 

 

 

AIR Review

Sebagai anak nongkrong 90an, kata ‘Air Jordan’ memang cukup familiar buatku, walau aku bukan penggemar sepatu ataupun olahraga basket. Karena waktu itu, Air Jordan memang terkenal banget. Sepatu paling keren di dunia. Sehingga dijadikan guyon. Kalo anak-anak kampung seperti kami beli sepatu baru, pasti tuh sepatu langsung diinjak di tempat sama teman-teman yang lain sambil mereka bersorak “Wuih, sepatunya Air Jordan!!”

Baru di umur seginilah, berkat film Air karya Ben Affleck, aku paham ‘kekerenan’ Air Jordan. Bahwa itu adalah sepatu yang khusus dibuat Nike untuk Michael Jordan. Sepatu yang benar-benar diperjuangan supaya bisa dikenakan oleh calon mega atlet basket itu. Film ini dirancang memang bukan untuk membahas gimana Michael Jordan menciptakan kerjaan endorse, tapi lebih kepada cerita tentang Nike yang mengambil resiko besar. Gambling dengan stake yang begitu besar. Matt Damon’s Sonny, tokoh utama cerita, bahkan mempertaruhkan rumahnya, keluarganya. Stake, itulah yang benar-benar jadi kunci pada film ini. Kita melihat para karakter terus mengorbankan something yang terus membesar, karena mereka percaya pada si Michael Jordan. Film yang arahannya tidak cakap, akan ngelantur kemana-mana, tapi Air tetap pada jalur. Film ini sendirinya mengambil resiko dengan tidak ngecast Michael Jordan. Dalam film, karakternya cuma disorot dari belakang – tanpa dialog berarti dan tidak pernah jadi fokus kamera. Supaya ceritanya tetap pada perjuangan Sonny, pada gambling yang ia lakukan demi perusahaan.

Kekuatan Air berikutnya ada pada akting. Monolog si Sonny saat membujuk Jordan, jelas jadi highlight. Viola Davis juga jadi presence yang dominan meski screen timenya gak banyak. Dan aku juga terhibur sama Chris Tucker, ni orang kocak tapi jarang banget main film! Air dengan mudah jadi cerita dengan drama yang menghibur dan satisfying. Meskipun, dari segi penulisan, aku pengennya film ini lebih menggali Sonny sebagai person lagi. Plot karakternya yang sering ditegor kurang olahraga lebih dipertegas. Karena menurutku film ini kadang agak ‘rancu’ sudut utama di sini adalah Sonny, atau perusahaan Nike secara keseluruhan.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for AIR

.

 

 

A MAN CALLED OTTO Review

A Man Called Otto karya Marc Forster ini semacam kebalikan dari Air. Karena film justru berangkat dari gak ada stake. Otto ceritanya udah mau mengakhiri hidup. Tanpa teman dan kerabat, dia yang baru saja pensiun merasa urusannya di dunia udah rampung semua. Menyusul istrinya yang udah duluan ‘pulang’. Tapi kemudian tetangga barunya menggedor pintu. Kerap minta bantuan, menginterupsi  Otto yang hendak bunuh diri dengan segala macam urusan sepele.

Perlahan, dramatic irony dan emotional feeling itu terbendung. Kita yang tadinya ngerasa cerita ini gak ada stake, akan terattach dengan Otto sehingga kini kita gak pengen dia bunuh diri. Kita bisa melihat bahwa Otto yang kesepian itu ternyata sangat berarti bagi tetangga-tetangganya (dan juga seekor kucing gelandangan). Bahwa masih ada alasan untuknya hidup di dunia. Journey emosional film ini terletak pada kita ingin Otto melihat alasan itu juga, Kita ingin pria tua penggerutu ini melihat bahwa dia sebenarnya gak kesepian. Film gak berhenti sampai di situ karena babak ketiga film ini bahkan bakal lebih kerasa lagi. Feeling serene, peaceful tapi tak pelak sedih, berhasil tercapai, membungkus film jadi perjalanan manis. Tom Hanks juara banget jadi Otto. Clearly, kisah adaptasi ini lebih tepat untuknya karena akhirnya kita yang muda-muda ini bisa lihat bukti betapa legendnya akting drama Tom Hanks. Sesekali film akan membawa kita ke masa muda Otto – untuk memperdalam bahasan cinta – dan karena aktornya beda, kadang akting di bagian flashback ini kerasa jomplang. Membuat kita pengen cepat-cepat balik lagi ke masa Otto yang sekarang.

However, yang paling menarik dari film ini tentu saja adalah gambaran kehidupan bertetangganya. Dan kupikir film ini bakal punya dampak esktra buat penonton modern yang gak ngalamin lingkungan tempat tinggal seperti ini.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A MAN CALLED OTTO

 

 

 

CREED III Review

Ketika Michael B. Jordan bilang dalam menggarap aksi film ini dia terinspirasi banyak anime, dia enggak bohong. Dan dia melakukan itu bukan hanya untuk gaya-gayaan, tapi karena dia tahu bahwa Creed III butuh pengadeganan yang khusus untuk mendeliver pukulan-pukulan emosional yang didera oleh karakternya.

Mana lagi coba film tinju yang bikin adegan saat bertinju, dua karakternya tau-tau ada di tengah ring dalam arena kosong melainkan oleh kabut-kabut psikologis. Dan suara yang kita dengar cuma suara mereka bertinju. Sungguh adegan antara dua orang yang sangat personal dan ngasih banyaklayer ketimbang bikin mereka bertinju seperti biasa. Creed III memang gak main-main soal film ini mau memfokuskan kepada karakter Adonis. Masa lalunya memang benar-benar dikonfront lewat banyak hal, yang puncaknya ya menjelma sebagai sahabat yang dulu pernah ia tinggalkan. Dengan kata lain, dalam Creed III terada ada banyak pertarungan, saking berlapisnya cerita.

Yang jadi permasalahan banyak orang dari film ini, termasuk bagiku adalah, mereka sama sekali tidak menampilkan Rocky. Padahal cerita Adonis berkaitan erat dengan Rocky. Heck, perjuangan Damian basically sama dengan perjuangan Rocky, bedanya Damian ini dipenuhi rasa cemburu. Bisa dibilang, Damian adalah Dark Rocky. Aku mengerti kenapa film memutuskan untuk gak menampilkan karakter Rocky dalam kisah yang pure tentang background Adonis. Alasannya sama dengan ketika Air memutuskan untuk gak full nampilin Michael Jordan. Supaya fokusnya tetap pada Adonis. But come on, bahkan Air saja bisa nemuin cara ‘cantik’ dalam menampilkan Michael Jordan. Rocky mestinya bisa tetap tampil dalam kapasitas dan treatment seperti demikian. Menge-cut dirinya secara keseluruhan justru bikin aneh cerita, karena hampir tidak terasa seperti kelanjutan normal franchise ini

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for CREED III

 

 

 

DEAR DAVID Review

Dulu pernah ada serial TV berjudul Aliens in America, yang salah satu episodenya tentang si karakter yang ketahuan suka menggambar vulgar tokoh-tokoh di dalam novel tugas sekolah. Sekolah jadi gempar, sampai buku-buku bacaan siswa diperiksa. Si karakter merasa bersalah, merasa ada yang gak beres dengan dirinya yang selalu mikir jorok, sehingga ayahnya akhirnya memberi penjelasan bahwa semua itu normal dan itu bukan salahnya. Penyelesaian dan pembahasan serial konyol dua-puluh-dua menit itu bahkan terasa lebih grounded dan manusiawi ketimbang Dear David karya Lucky Kuswandi.

Kenapa aku sampai tega bilang begitu? Karena Laras yang ketahuan mengarang cerita vulgar tentang teman sekelasnya, dalam Dear David, tidak pernah dibikin berkonfrontasi dengan gairahnya tersebut. Laras tau-tau di akhir film langsung mantap menyebut itu bukan salah dia, karena sebagai remaja dia punya gejolak. Sedangkan bagian tengah film, dihabiskan dengan ngalor-ngidul membahas hal-hal yang gak benar-benar paralel dengan tema tersebut. Tidak ada interaksi yang mengajarkan Laras atas masalahnya. Saking kemana-mananya, banyak penonton yang merasa tersinggung dan menganggap film ini tidak peka. Dengan malah membuat karakter korban jadi bucin pengen pacaran, misalnya. Padahal jika dilihat konklusi di akhir, film ini sebenarnya menunjuk antagonis pada sekolah. Yang tidak pernah mengayomi korban, tidak pernah melindungi murid, tidak benar-benar menganggap serius yang terjadi pada muridnya, melainkan hanya peduli pada citra sekolah. Tapi itu pun tidak pernah dibangun dengan mulus, cerita tidak langsung fokus kepada masalah itu.

Mungkin film ingin seperti slice of life. Menceritakan keseharian anak-anak di sekolah itu, dan bagaimana mereka bertindak saat ada kasus Laras. Antagonis sekolah bisa mencuat dari sana. Tapi kupikir, untuk mencapai ini, film harus meringankan tone-nya sedikit. Dear David took itself very seriously, sehingga sikap-sikap khas remaja karakternya tadi jadi tampak sebagai kekurangpekaan film.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for DEAR DAVID

 




GUY RITCHIE’S THE COVENANT Review

Utang budi dibawa mati. Drama perang yang diangkat Guy Ritchie dari kisah-kisah tentara selama Perang Afganistan mencoba menggali bagaimana persahabatan yang begitu kuat bisa tumbuh antara tentara dengan seorang penerjemah lokal. Jake Gyllenhaal jadi sersan John Killey yang nyawanya diselamatkan oleh Dar Salim’s Ahmed, penerjemah yang tadinya kurang ia percaya. Jake dan Salim punya chemistry yang kuat, interaksi karakter mereka selalu menarik untuk disimak. Masalah pada film yang banyak shot survival tembak-tembakan keren dan efek psikologisnya kena ini buatku adalah porsi John ‘berhutang’ actually lebih exciting ketimbang porsi dia mencoba membayar kebaikan Ahmed – yang mana harusnya ini yang dijadikan sorotan utama.

Jadi film ini seperti terbagi atas dua cerita. Pertama saat pasukan John dibantai oleh pasukan Taliban, sehingga tinggal John dan Ahmed saja yang berusaha survive. Sampai akhirnya John tertembak, dan Ahmed menggotongnya, berjalan berhari-hari ke markas Amerika terdekat, tanpa ketahuan Taliban. Bagian kedua adalah tentang John – kini sehat wal afiat di rumahnya di Amerika – berusaha mencari keberadaan Ahmed yang jadi buronan Taliban sejak menyelamatkan dirinya. Bagian kedua ini tidak bisa se-wah bagian pertama, meski nanti John memang kembali ke afganistan, dan mereka jadi buron berdua. Bagian pertama, aksi dan interaksi saat elaborate. Intensnya terasa. Sedangkan pada bagian kedua yang lebih emosional, film tidak pernah yakin untuk fokus ke sana, sehingga bagian ini terasa setengah-setengah.

Bahasan film ini relevan dan penting. Menurutku cuma konsep penceritaannya saja yang mestinya bisa lebih dimainkan lagi karena, untuk kasus film ini, menceritakan dengan linear terasa kurang maksimal.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for GUY RITCHIE’S THE COVENANT

 

 

 

KNOCK AT THE CABIN Review

Kita selalu kepikiran M. Night Shyamalan setiap kali dengar kata ‘plot-twist’. Kita selalu expect film-filmnya bakal punya somekind of surprise di akhir. Jadi, inilah kejutan yang ditawarkan Shyamalan pada Knock at the Cabin; tidak ada twist! Film ini ‘serius’ berbincang tentang cinta dan pengorbanan, lewat keadaan yang diset untuk terus membuat kita menebak-nebak.

Empat orang tak dikenal menyatroni kabin di tengah hutan, tempat seorang anak kecil dan dua ayahnya berlibur. Empat orang yang dipimpin oleh Batista itu memang berusaha tampak ramah, tapi mereka punya maksud kedatangan yang mengerikan. Mereka menyandera keluarga tersebut. Mereka bilang dunia sedang kiamat, dan cara menyetopnya adalah salah seorang dari keluarga bahagia di kabin itu harus mengorbankan diri. Bayangkan harus memilih antara bahagia tapi orang lain sengsara, atau berkorban – kehilangan satu orang yang kita cintai – supaya semua orang bahagia. Film ini akan memenuhi pikiran kita dengan pertanyaan-pertanyaan. Kesanku nonton ini persis kayak waktu dibentak dan ditanya-tanya senior pas ospek kuliah dulu. Stakenya tinggi, kita merasa tahu ke mana arah semuanya, tapi tetap kita terdiam dalam keraguan. Such power yang dimiliki oleh penceritaan film ini.

Batista sekali lagi nunjukin dia bukan sekadar mantan pegulat yang cari nafkah lain. Karena highlight film ini salah satunya ada pada aktingnya. Di sini dia bakal bawain monolog-monolog, serta juga ada aksi-aksi, dengan permainan emosi yang harus ditahan. Secara akting dan isi, film ini keren. Namun menurutku cerita seperti ini kurang mampu bertahan lama sebagai film panjang yang contained, karena hal bisa terasa repetitif di akhir. Poin-poin yang ditekankan dapat menjadi cringe setelah semua yang disangka oleh penonton ternyata tidak terbukti. Apalagi karena memang film kurang menggali protagonis ataupun karakternya – since mereka semua sebenarnya  ‘cuma’ sebagai konsep, sebagai ‘contoh kasus’ saja.

The Palace of Wisdom gives 6  gold stars out of 10 for KNOCK AT THE CABIN

 

 

 

RENFIELD Review

Relasi antara bos dan karyawan memang bisa jadi begitu toxic. Bos akan terus menjanjikan naik pangkat atau semacamnya, tapi gak pernah delivered. Karyawan yang sudah jadi bergantung, mau nuntut juga susah. Malah digaslight. Mau keluar apalagi. Chris McKay menyimbolkan relasi toxic itu ke dalam hubungan antara Familiar dengan masternya, Drakula. Ini jadi kocak, karena memang di cerita vampir-vampiran, jokes biasanya selalu datang dari Familiar – manusia pengabdi selalu dijanjikan bakal dijadiin vampir, tapi mana ada bos yang mau karyawannya jadi bos juga hahaha

Duet dua Nicolas jadi kunci film ini. Nicolas Cage, sekali lagi nunjukin betapa dia begitu komit dalam peran apapun. Di sini, dia ngasih performance yang sungguh menghibur sebagai Drakula. Seram dan jahat, iya. Tapi dia juga paham assignment, bahwa si Drakula ini adalah bos dari karyawan yang berusaha nuntut hak. Satunya lagi, Nicholas Hoult juga tampak simpatik, sebagai Familiar dia terasa familiar. Akrab. Alias gampang relate. Kecerdasan naskah ini ngasih perlambangan, ngarang pengadeganan, membuat film menjadi kocak menghibur. Bahkan ketika adegan aksi yang penuh gore over-the-top datang. Tetap seru.

Sayangnya film ini kebanyakan main-main. Persoalan polisi dan kelompok mafia pada akhirnya terasa jadi pengganggu dalam cerita Drakula dan abdinya. Membuat sudut pandang jadi ke mana-mana, tanpa ada ujung yang benar-benar ngefek ke cerita utama. Karakter polisi si Awkwafina buatku malah jatohnya jadi annoying, film jadi kayak mencoba too hard untuk membuat si polisi dan si Renfield jadi pasangan yang kocak dan sweet.

The Palace of Wisdom gives 5.5 gold star out of 10 for RENFIELD

 

 

 

SISU Review

Salah satu aspek menarik dari John Wick original adalah ketika dia dianggap Baba Yaga. Ketika semua orang-orang dunia hitam itu gemetar membicarakan nama dan reputasinya. Sisu karya Jalmari Helander membawa aspek ini ke level berikutnya.

Sisu bisa dibilang istilah Finlandia untuk momok semacam Baba Yaga. Sisu berarti keberanian, determinasi, tak kenal menyerah, tak bisa mati. Karakter utama kita, seorang bapak-bapak, mantan tentara yang kini hidup sebagai penambang emas. Ketika satu-satunya sumber nafkah itu direbut oleh Nazi yang bertemunya di jalan pulang, bisa dipastikan balas dendam gila akan terus terjadi. Bahkan tentara Nazi gemetar ketika tahu siapa sebenarnya bapak, yang bahkan gak pernah bicara, yang terus mengejar mereka itu. Jalmari Helander memang juga sekalian membawa ‘balas dendam gila’ ke level berikutnya.

Luar biasa memuaskan, melihat aksi-aksi gore brutal yang disajikan film. Inilah yang sepertinya diincar; supaya penonton melihat Nazi kocar-kacir secara mengenaskan. Aksi-aksi tak-masuk akal menghiasi adegan-adegan Sisu yang temponya dijaga cepat. Dan memang menghibur. Tapi ketika hal-hal tak masuk akal diletakkan kepada cara-cara si bapak bisa terus hidup walau sudah digantung atau semacamnya, film tak lagi menyenangkan. Malah jadinya lebay yang merampas kita dari stake cerita. Konsep Sisu yang tak-bisa mati membuat film bebas ngadain banyak cara supaya si bapak bisa tetap hidup, akhirnya membuat keseluruhan film jadi mati konyol bagiku. Tone dramatis yang dibangun film jadi seperti terlupakan. Aku malah perlahan jadi lebih tertarik sama karakter pemimpin Nazi, yang motivasi dan tantangan dan stakenya benar-benar ada – tak dilindungi oleh plot nonsense yang bikin karakternya tak lagi manusiawi.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SISU

 

 




That’s all we have for now

Kita sudah mulai masuk caturwulan kedua 2023, tapi ternyata aku belum menemukan film yang pantas mendapat nilai di atas 8. Gimana dengan kalian? Apakah kalian punya rekomendasi film 2023 yang mungkin terlewat olehku, dan kalian merasa film itu pantas dapat skor 8? Silakan share di komen.

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



KAJIMAN: IBLIS TERKEJAM PENAGIH JANJI Review

 

“Come back. Even as a shadow. Even as a dream”

 

 

Kualitas horor kita demikian rendahnya sehingga setiap kali ada yang bilang ada horor baru yang bagus lagi tayang, ekspektasiku langsung meroket. Dan lantas seringkali dengan dramatis terhempas ketika aku selesai menonton filmnya. Kajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji adalah salah satu dari film horor yang seperti begitu. Padahal nama di balik film ini harusnya dapat jadi jaminan mutu yang cukup. Tapi enggak. Adriyanto Dewo, sebelumnya dikenal lewat drama yang grounded semacam Tabula Rasa (2014) dan Mudik (2019),  tampak mentah banget menggarap horor santet-santetan ini. Kajiman mungkin memang dibuat untuk tidak dikaji mendalam, tapi ceritanya yang menyimpan banyak sisi si protagonis dari kita membuat film jadi setengah menghibur pun tidak. Dan celakanya malah seperti mengorbankan kepada setan drama personal yang dimiliki oleh sang protagonis.

Kalian yang ngikutin blog ini pasti paham aku sengaja enggak mengulas begitu banyak horor baru yang tayang di bioskop beberapa bulan belakangan. Karena simply aku jenuh dan gak mau blog  ini jadi kayak kaset rusak yang mengulang-ulang pembahasan yang sama. Karena begitulah state horor kita semenjak horor viral yang satu itu tembus sepuluh juta. Horor yang tayang gitu-gitu melulu, dengan permasalahan seragam, pakai sedikit bumbu kekerasan, dan walaupun mengangkat berbagai nilai lokal tetapi isinya tetap kosong.  Ujungnya gak jauh-jauh dari kesurupan, ritual ilmu hitam, dan pelaku sebenarnya ternyata orang ‘tak-terduga’. Saat dimulai, Kajiman toh terasa berbeda. Cerita film ini mengambil perspektif seorang perawat bernama Asha yang terkenang momen bersama ibunda. Untuk alasan inilah aku menuliskan ulasan Kajiman. Film ini punya something di situ. Pada karakter yang begitu sayang, merindukan, dan merasa bersalah sekaligus kepada ibu yang telah meninggal. Efek kematian ibu begitu terasa bagi Asha, digambarkan oleh film lewat ‘flashback’ yang seamless – menyatu banget. Kita pertama kali melihat Asha saat perempuan itu berbaring di tempat tidur bersama ibunya yang sakit – adegan tersebut ternyata hanyalah kenangan, namun dibuat menyatu dengan masa present Asha sekarang. Dan kita tahu itu dari gimana perfectnya film menampilkan tanda-tanda visual yang kontras.

Satu lagi yang aku suka dari cara film menggambarkan rasa kehilangan Asha adalah lewat suara-suara ibunya. Bergaung saat Asha lagi mandi, atau lagi baru bangun, misalnya. Membuat Asha terkesiap. Didera rindu dan takut secara bersamaan. Suara-suara, yang dengan bijak diperdengarkan oleh film dengan ambigu. Apakah itu memang suara hantu, atau suara dari kenangan Asha. Elemen mendengar suara dari our deceased parents, atau orang yang kita cintai, atau yang familiar bagi kita, menambah lapisan realisme yang bikin film ini jadi relate. Aku waktu kematian kucingku, si Max, aja juga sering ngerasa seperti masih mendengar suara mengeongnya di luar. Minta masuk untuk makan, seperti biasanya. Film Kajiman punya sesuatu yang spesial untuk diangkat dari personal Asha. Karakter tersebut juga mestinya bisa jadi lapangan bermain baru bagi Aghniny Haque yang biasanya cuma dipasang buat jadi cewek jagoan yang literally jago berantem. Yakni karakter yang dihantui perasaan personal yang kuat. Journey psikologis mengikhlaskan yang pasti menarik sekali.  Hanya saja, semua yang menarik dari karakter dan film ini buyar begitu lewat sepuluh menit, kredit judul nampang, dan cerita mulai khusyuk dengan tren horor masa kini: teror saat menjaga orang sakit, pesugihan, dan perang ilmu hitam.

Gak akan percaya lagi sama horor yang judulnya panjang banget kayak mau muat semua SEO tren horor viral

 

Tidak akan pernah kita dibikin in-line sama apa yang dirasakan Asha. Sama apa yang sebenarnya sedang ia lakukan dan ia inginkan. Film hanya membuat kita bengong aja menyaksikan Asha nanti ngambil kerjaan sebagai suster pribadi. Merawat Tyo Pakusadewo yang sakit di rumah gede milik pasangan suami-istri yang misterius. Melihat Asha diganggu penampakan, dan minta tolong sama paranormal yang ia percaya. Paranormal yang ia temui di tengah jalan. Terdengar mencurigakan? Memang. Tapi film cuek bebek, dan gak pernah membahas hal-hal aneh yang harusnya dibahas. Karena hal-hal itu akan dibahas di akhir sebagai ‘plot twist’. Inilah yang aku gak suka dari kebanyakan horor Indonesia. Menghindar dari membahas permasalahan karakter dengan malah menjadikannya sebagai kejutan di akhir. Hanya demi ‘cerita yang tak-tertebak’.

Padahal horor bukan semata soal jumpscare. Bukan perkara kejutan siapa sebenarnya yang jahat. Bukan persoalan karakternya selamat atau tidak. Horor itu ya kita harus dibuat mengerti dulu ketakutan yang dirasakan si karakter dari dalam. Kita harus paham karakter selamat dari apa, maknanya apa bagi trauma dia. Dan itu gak bisa hanya dengan membuat kita nontonin gimana kejadian demi kejadian terungkap. Like, kita gak akan peduli sama karakter Rama. Perawat cowok teman si Asha di rumah sakit, yang tau-tau oleh film ini dibuat jadi laksana jagoan. Di pertengahan, tau-tau kita ngikutin Rama berusaha memecahkan apa yang sebenarnya terjadi, sementara si Asha terbaring tidak berdaya sehabis kesurupan dan melawan dukun. Kita gak tahu siapa karakter Rama ini, set up nya cuma dia ini orangnya care banget sama teman-teman, dan bahwa dia lahir selasa kliwon! Kita gak peduli saat dia jadi hero, kita juga gak peduli saat nanti nyawanya terancam bahaya. Kita hanya bingung saja nonton ini. Ngeliat kejadian demi kejadian terungkap tanpa ritme dan gak ngikutin struktur naskah yang benar. Film ini gak sampai seratus menit, rapi aku gelisah setengah mati menontonnya. Karena tanpa struktur yang jelas, film ini kayak ngalor-ngidul berjalan tanpa arah. Dan tau-tau stop saat tiba waktunya twist itu diungkap.

Karena gak tau konteks karakternya seperti begini, Asha akan terlihat seperti protagonis cewek paling ketinggalan jaman karena dia seperti harus diselamatkan oleh Rama. Sebagai perawat, dia pun tercuat kayak perawat paling gak sabaran yang pernah ada karena sifat mandiri dan kuat yang dipunya oleh karakter ini hanya muncul saat dia menegur pasien yang ia rawat. Film memang berusaha nunjukin kerjaan dia sebagai perawat, tapi susah untuk melihat karakter ini sebagai pengurus orang lain karena ibunya sendiri saja gagal dia rawat. In fact, karakter Asha sedari awal sudah tampak kurang bisa dipercaya. Kita kayak gak tahu karakter dia sebenarnya gimana. Karena di awal itu kita dengar dia bilang kepada ibunya bahwa dia gak mau pacaran, mau di rumah aja ngurus ibu. Namun persis kalimat berikutnya dia bilang dia harus kerja dan ninggalin ibunya. Dan adegan berikutnya kita lihat dia menjalin hubungan khusus dengan Rama; mereka lagi jalan berdua adalah alasan kenapa pada malam meninggalnya ibu, Asha telat pulang. Susah untuk berada di belakang protagonis, kalo sedari awal saja omongan sama tindakannya gak akurat dan film gak membuka celah untuk kita mengenali Asha secara mendalam. Bukan hanya Asha, karakter lain pun kita gak tau mereka ini sebenarnya ‘ngapain’ di situ. Paranormal kenalan Asha sebagian besar waktu cuma kayak jadi exposition device, tukang kasih info gitu aja. Suami istri misterius tadi, cuma orang-orang dengan akting cringe yang bikin kita malah pengen mereka cepat-cepat jadi korban saja.

Kehilangan orang yang kita cintai memang demikian berat. Kita akan terus terngiang-ngiang keberadaan mereka. Parahnya, kita akan merasa itu adalah salah kita. Sehingga demi apapun kita akan merasa rela melakukan apa saja untuk membuat mereka kembali kepada kita. Supaya kita bisa menebus dosa. 

 

Kirain si Asha bakal tarung silat saat kesurupan melawan dukun

 

Efek nampilin sosok bayangan hantu ibu ataupun si Kajiman sebenarnya cukup mulus dan terukur (as in, film benar-benar mastiin warnanya gelap untuk mengenhance efek mereka), tapi presentasi keseluruhan film terasa mentah. Kayak film yang dibuat oleh orang yang baru belajar bikin film, yang masih ragu-ragu meletakkan kamera di mana. Ragu-ragu memposisikan tangkapan framenya. Ada beberapa kali aku ketawa saat melihat adegan film ini. Bukan exactly karena adegannya lucu, melainkan karena posisi objek-objek yang ada dalam satu frame tersebut. Misalnya, karakter-karakter yang duduk menghadap dinding saat bertamu. Padahal biasanya kan  tamu dan tuan rumah yang ngobrol itu dibuat duduk berhadapan tapi film ini seperti sangat spesifik membuat mereka duduk bersisian, menghasilkan ruang kosong di hadapan mereka yang terasa ganjil sekali secara estetika. Sekitar dua atau tiga kali adegan bertamu ke rumah itu, dan semuanya posisi duduknya seperti demikian. Terus satu contoh lagi adalah saat dua karakter dengan dramatis membaca mantra dari kertas kecil, di dalam ruangan yang pencahayaannya minim. Yang bikin ngakak dari adegan ini adalah dua karakter itu membaca dengan posisi membelakangi lampu meja – satu-satunya penerangan di ruangan itu! Hahaha mana kelihatan tuh tulisan. Logisnya kan mereka akan merapatkan badan, mendekatkan kertas ke sumber cahaya. Kamera harusnya bermanuver biar adegan itu tertangkap dengan dramatis. Jangan kamera yang diem, dan karakter yang menyesuaikan dan jadinya gak logis.

Kalo Asha terngiang-ngiang suara ibu yang seolah memanggilnya. Kalo aku, nonton film ini pada beberapa adegan akan terngiang-ngiang suara seruan ‘action’ dari sutradara saking begitu mentahnya penyambungan adegan. Beberapa adegan tu kelihatan banget kagok baru mulai actionnya. Kayak pas Rama berjalan ke rumah si paranormal, tidak terasa natural seperti dia berjalan dari jauh. Melainkan lebih terasa kayak dia dari posisi diam, terus saat ‘action!” dia mulai melangkah. Banyaknya adegan yang ‘masuknya’ seperti dikomandoi itu membuat film terasa punya vibe yang canggung. Semuanya tidak terasa natural. Hingga ke dialog. Film Kajiman juga enggak cemerlang di penulisan dialog, dan itu diperparah sama akting medioker yang deliverynya gak pernah meyakinkan. Ada satu kalimat yang buatku janggalnya bukan main. Yaitu ketika di rumah sakit, ada perawat yang mengeluhkan rumah sakit mereka malam itu sepi kayak kuburan. I get it, niatnya buat membangun mood seram – sesuatu yang mengerikan bakal terjadi di sana. Akan tetapi karena delivery dan karakter yang gak meyakinkan sebagai perawat, kalimat tersebut semakin aneh dan kayak main-main lagi. Karena biasanya setauku, perawat justru agak lega kalo pasien sepi, apalagi saat sudah larut, karena perawat itu pengen istirahat karena rumah sakit umumnya adalah tempat yang sibuk oleh pasien yang bisa datang tiba-tiba.

 




Satu lagi horor yang tidak mendeliver potensi yang dimiliki oleh materi ceritanya. Kisah personal seorang anak yang menyesal dan merindukan ibu yang telah tiada berubah jadi cerita standar teror ilmu hitam. Hanya karena pengen ceritanya ‘menghibur’ dengan plot twist. Akibat paling parah dari cerita yang membuang dagingnya sendiri itu adalah filmnya sendiri secara keseluruhan terasa mentah. Terasa gak mampu menggali yang lebih dalam. Dibuatnya pun terasa setengah-setengah. Beberapa treatment dan pengadeganan mampu tampil elegan. Tapi gak kalah banyak pula adegan-adegan dan perlakukan yang tampak canggung. Boring dan uninspiring. Bahkan anak-anak remaja yang nonton berkelompok di row tak jauh dariku saja hanya bereaksi sama jumpscare saja. Aku sangat menyayangkan film ini memilih untuk melepaskan kita dari karakter utamanya. Padahal kalo motivasi atau perjanjiannya itu tidak dijadikan twist, dramatic irony dari dark journey yang ia ambil akan bisa bikin film lebih emosional dan dramatis lagi.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KAJIMAN: IBLIS TERKEJAM PENAGIH JANJI

 

 




That’s all we have for now.

Pernahkah kalian mengalami terngiang-ngiang atau terkenang terus setelah kehilangan seseorang? How did you deal with that feelings?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



EVIL DEAD RISE Review

 

“Being a mother is dealing with fears you didn’t know existed”

 

 

Evil Dead klasik buatan Sam Raimi sepatutnya dijadikan cermin bagi berbagai horor kesurupan, patah-patah, berdarah-darah, muntah-muntah — jika mereka ingin hadir sebagai hiburan. Karena dalam film-film Sam Raimi itu, kekerasan tidak pernah dihadirkan hanya for the sake of violence. Melainkan, dengan humor. Karena Evil Dead ingin bersenang-senang dengan horor itu sendiri. Jadilah horor sadis tapi kocak sebagai pamungkas bagi horor Sam Raimi. Memang, gak segampang itu menyamainya. Banyak horor campy yang terinspirasi, tapi gak semuanya yang bisa mulus menghadirkan sadis-dan-lucu sekaligus. Bahkan remake Evil Dead tahun 2013 yang sukses dan gory dan fun itu saja masih dianggap banyak kritikus masih belum sama nada kocaknya dengan buatan Sam. Evil Dead Rise garapan Lee Cronin kali ini pun menghadapi tantangan yang serupa dengan remake tersebut. Tantangan yang juga dihadapi oleh horor kekinian yang ingin tampil menghibur, atau mempertahankan tone fun pendahulunya (rekuel franchise Scream juga termasuk). Simply, waktu sudah berubah. Era sudah berbeda. Dalam genre horor, yang receh-receh semakin dianggap remeh karena sekarang horor harus punya makna sesuatu. Kita sekarang berada di era Elevated Horror’. Horor yang dianggap bervalue bagus kini tidak lagi semata bunuh sana-sini, sadis absurd muncrat-muncratan, tapi lebih kepada penceritaan yang dark, memuat tema atau komentar sosial, serta visual yang nyeni. Bagaimana membuat horor yang menghibur – meneruskan pesona dan jati diri induk franchisenya – di tengah audiens yang meminta sesuatu yang lebih bermakna. Evil Dead Rise berusaha untuk literally rise above all that.

Begini mestinya, Saudara-Saudara. Beginilah mestinya horor hiburan dibuat.

 

Bebas dari kebutuhan untuk melanjutkan cerita atau dunia sebelumnya – Evil Dead Rise hanya ‘mengharuskan’ untuk menampilkan The Book of the Dead dan Deadite (dan beberapa item nostalgia) sebagai koneksi dan identitas – Cronin membawa horor itu ke panggung yang sama sekali berbeda dari yang sudah-sudah. Alih-alih di kabin di tengah hutan, panggung horor kini di sebuah apartemen di kota. Karakter-karakter pengisi ceritanya pun tidak lagi geng remaja, melainkan satu keluarga. Keluarga bukan sembarang keluarga. Di adegan pengenalan mereka, kita melihat: ibu yang tatoan sedang menyolder sesuatu, abang yang ditindik sedang mengolah musik dari piringan hitam, kakak yang rambutnya cepak sedang bikin poster untuk demo lingkungan, dan adik yang masih kecil sedang… menggunting kepala boneka! Ini keluarga yang badass. Mereka gak punya sosok ayah. Yang mereka punya adalah bibi yang bekerja sebagai teknisi gitar sebuah band. Bibi, yang jadi tokoh utama cerita. Bibi yang actually muncul di depan pintu apartemen mereka malam itu, untuk mengabarkan kepada ibu – kakaknya yang sudah lama tidak ia hubungi – bahwa dia akan menggugurkan anak yang tengah ia kandung. ‘Reuni’ kecil-kecilan mereka sayangnya tidak bisa berlangsung lama. Karena segera setelah rekaman mantra Book of the Dead yang ditemukan di bawah apartemen diputar, hunian yang dingin dan sepi itu bakal berubah merah dan penuh teriakan. Sang Ibu kesurupan dan menjadi Deadite. Menyerang anak-anaknya sendiri. Beth harus mengeluarkan ponakan-ponakannya dari sana.

Apartemen dan ibu yang jadi setan memang seketika mengingatkan kita sama Pengabdi Setan 2: Communion (2022). Tapi untungnya, meski sama-sama dibuat sebagai seru-seruan horor, Evil Dead Rise yang memang aware untuk jadi elevated horor masih punya statement di baliknya. Enggak hanya sekadar nyuruh penonton menebak-nebak kode dari fantasi liar pembuatnya. Naskah Evil Dead Rise masih memuat closed story tentang journey karakter utama. Inilah yang bikin film ini jadi hiburan horor yang bergizi. Journey Beth adalah tentang ketakutan menjadi ibu. Bagi Beth, melihat kakaknya kesurupan dan melukai anaknya sendiri, bagai melihat momok dari perwujudan ketakutannya bahwa ia akan jadi ibu yang seperti itu. Beth gak yakin dia akan bisa jadi ibu yang baik. Nyatanya, perjuangannya berusaha menyelamatkan para ponakan, serta jabang bayinya sendiri di dalam perut, jadi menyadarkan dirinya bahwa dia bisa jadi ibu yang kuat. Percakapan soal menjadi ibu disebar oleh naskah di sela-sela adegan-adegan sadis, membuat film jadi punya momen-momen kecil penuh jiwa. Membuat kita semakin peduli kepada karakter. Momen grounded yang aku suka adalah ketika Kassie, ponakan yang paling kecil, berkata bahwa Beth kelak akan menjadi ibu yang baik karena Beth mampu membuat anak kecil seperti dirinya percaya sama kebohongan (at that chaos time, Beth berusaha menenangkan Kassie yang ketakutan dengan bilang semua akan baik saja)

Menjadi ibu adalah ketika kita belajar kekuatan yang kita tidak tahu kita punya, dan ketika kita menghadapi ketakutan yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya

 

Dengan terkliknya gagasan tersebut kepada kita, nonton Evil Dead Rise jadi semakin menyenangkan. Kita jadi punya alasan lebih untuk peduli dan kemudian seru-seruan melihat rentetan adegan-adegan mengerikan. Sutradara Lee Cronin definitely menggunakan semua trik Sam Raimi. Semua gerak kamera, semua permainan desain suara, ia gunakan maksimal untuk ngasih suasana eerie. Build up adegan-adegan seram terasa sangat efektif, keciri dari tidak terganggunya tempo relatif cepat yang dipakai oleh film ini dalam bercerita. Kesurupan mungkin udah sering dilakukan dalam film horor, tapi bagaimana semua kejadiannya dimainkan dan tervisualkan adalah tergantung pada kreasi sutradara. Adegan hujan darah di film sebelumnya, disaingi oleh Cronin lewat adegan terjebak di dalam lift yang perlahan penuh oleh darah. Selain itu, di film ini ada banyak banget adegan-adegan memorable terkait yang dilakukan oleh si ibu kesurupan dan cara kamera menampilkannya. Adegan ngintip di lubang pintu apartemen, misalnya. Kalian tahu dalam horor, kadang suatu momen sebaiknya dibiarkan untuk kita bayangkan (alias dilakukan off-cam)? Nah, sekuen Beth ngintip ke luar apartemen, ke lorong tempat Ellie menghabisi penghuni apartemen yang berusaha membantu itu benar-benar memanfaatkan kengerian on-cam dan off-cam dengan berimbang dan efektif. Satu lagi yang juga kenak ngerinya buatku adalah soal rekaman suara. Setelah kemaren Sewu Dino (2023) pakai suara rekaman kaset, Evil Dead Rise juga menggunakan suara rekaman piringan hitam. Dan personally, aku suka trope ‘dengerin suara rekaman’ ini. Aku suka ini di game Fatal Frame. Aku juga suka saat trope ini muncul di film horor. Buatku, rekaman yang terputus-putus dengan suara orang yang kita gak tahu siapa itu ngasih layer keseraman tambahan. Membuat eksposisi yang dibacakan jadi punya kesan seram ekstra. Setidaknya, ini jadi pembawa eksposisi yang lebih horor ketimbang adegan karakter ngegooling informasi di internet.

By the time ulasan ini publish, prolog Evil Dead Rise telah menjadi begitu fenomenal berkat sekuen credit titlenya. Keseluruhan pembuka itu efektif sekali ngeset apapun yang membuat kita menyambungkan di benak masing-masing bahwa inilah Evil Dead klasik itu di dunia modern. Membawa kita ke ke tengah hutan sebentar untuk ngingetin, ini film Evil Dead loh. Struktur film ini memang tak-biasa, dengan prolog dan epilog yang sebenarnya gak nyambung directly dengan cerita utama Beth dan keluarga kakaknya, tapi berhasil menjaga kesan kisah yang tertutup – sekaligus juga tetap membuka kemungkinan untuk kelanjutan Deadite dan Book of the Dead berikutnya.

Selain chainsaw, aku akan senang sekali kalo Staffanie juga terus dimunculkan sebagai alternate weapon hihihi

 

Tentu tak lupa salut juga buat aktornya, terutama Alyssa Sutherland yang jadi Ellie si ibu kesurupan. Alyssa dapet banget menacing-nya mimik seringai setan ketika berusaha mengelabui anak dan adiknya sendiri. Di lain waktu dia juga dapet banget terlukanya ketika si setan seperti sudah mengembalikan Ellie seperti sedia kala. Lily Sullivan yang jadi Beth, diporsir fisik dan emosinya. Sama seperti Terrifier 2 (2022), Evil Dead Rise paham untuk gak nanggung-nanggung ‘menyiksa’ para karakter, terutama karakter utama.  Aktor-aktor yang jadi anak Ellie juga bermain dengan total. Semuanya dihajar, termasuk anak yang paling kecil. Karena, secara penulisan, keluarga yang jadi saling melukai ini adalah konteks yang penting. Inilah bobot drama yang diincar film lewat gagasan dan alasannya mengganti karakter dari yang biasanya cuma teman-teman satu geng menjadi keluarga. Supaya lebih naas. Bayangkan terpaksa menyakiti orang yang benar-benar dekat seperti kakak atau ibu kita. Gimana coba efek melakukan itu dirasakan oleh anak sekecil Kassie.

Karena itulah aku sempat kesel sama sensor di bioskop saat menonton ini. Ada adegan Kassie terpaksa menusuk kakaknya yang sudah jadi Deadite, tepat di mulut nembus ke belakang kepala, dan adegan itu disensor. Penonton sestudioku sontak mendesah kecewa saat tiba-tiba adegannya lompat, dan kita gak benar-benar melihat reaksi atau ekspresi pada Kassie. Menurutku bagian ini gak perlu disensor. Pertama karena kekerasannya gak lagi disarangkan kepada manusia (si kakak basically sudah jadi zombie yang menyeramkan), dan kedua karena adik terpaksa menusuk kakaknya itu adalah poin dari konteks ceritanya. Yang horor dan dark di situ bukan hanya pada momen penusukannya, melainkan juga pada yang dirasakan oleh si adik saat dan setelahnya. Memotong adegannya tidak akan membuat horor itu hilang, karena horornya diteruskan pada aftermath penusukan. Nah, dengan dipotong, kita yang nonton gak mendapat full efek itu, konteks filmnya hanya separuh yang tersampaikan kepada kita. Jadilah sensor di bagian itu mengganggu komunikasi antara kita dengan film. Toh film ini memang isinya kekerasan semua. Ditusuk, digigit, dicekek, disembelih. Diparut, pake parutan keju, I’m just saying ada banyak adegan kekerasan lain yang lebih ‘kosong’ yang bisa dipilih untuk disensor, tapi sayangnya yang ke-cut justru yang punya konteks. Ah, kenapa aku malah jadi kritik sensornya ya, bukan filmnya hihihi

 




Oke, buat filmnya, ini sungguh-sungguh horor sadis yang menghibur. Sebagai bagian dari Evil Dead, film ini punya ruh yang tepat. Meskipun tone-nya masih belum sekocak versi original. Hal itu bisa dimaklumi karena horor jaman sekarang mengejar value yang sedikit berbeda. Yang jelas, film ini berhasil menyeimbangkan value horor modern tersebut dengan identitas asli franchisenya. Elemen horornya brutal, berdarah. Sebenarnya kalo dibandingkan dengan film-film sebelumnya, tingkat edan film ini masih agak kurang. Tapi karena kali ini karakternya adalah satu keluarga, dramatisnya jadi lebih ngena, adegannya jadi tetap berasa. Meski bukan exactly bikin meringis, tapi bikin terenyuh. Aku harap film ini bisa jadi inspirasi buat horor lokal kita dalam gimana membuat horor receh tapi gak remeh.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for EVIL DEAD RISE




That’s all we have for now.

Bagi yang merasa masih kurang puas sama horor, kalian bisa langganan Apple TV+ karena di sana ada serial Servant yang finale season 4 nya bener-bener defining yang namanya psikologikal horor. Serta, ada berbagai pilihan film, salah satunya Renfield, tentang suka duka seorang pelayan drakula. Gory and fun!  https://apple.co/40MNvdM

Get it on Apple TV

 

Menurut kalian, apa sih yang membuat horor sadis dan komedi bisa menjadi kombo yang efektif?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SCREAM VI Review

 

“A franchise is a family”

 

 

Rule number uno dari franchise adalah membuat setiap rilisannya terus membesar. Tapi aturan seperti itu juga ada pada bola salju yang melongsor. Membesar dan terus membesar sampai hancur berkeping-keping. Maka supaya franchise tidak sekadar jadi seperti bola salju, filmmaker dan studio perlu  ngisi film-film itu dengan sesuatu yang ‘lebih’. Scream, by now, telah menjadi franchise horor thriller yang dinanti bukan saja karena elemen whodunit yang exciting, tapi juga karena selalu punya komentar terhadap trope ataupun perkembangan genrenya sendiri. Warisan Wes Craven ini memang tampak ‘aman’ di tangan duo Matt Bettinelli-Olpin – Tyler Gillett yang tahun lalu membuktikan mereka sanggup menyenggol requel, horor modern yang ‘nyeni’, serta toxic fandom sekaligus di balik episode baru teror Ghostface di Woodsboro. Scream lima, despite judulnya yang membingungkan karena gak pake angka, terasa seperti kelanjutan yang ‘benar’ – yang respek, sembari terasa berani mengguncang fondasi pendahulunya. Memberikan franchise ini arahan baru yang pantas kita tunggu, Ketika mereka kembali dengan Scream VI, mereka memang memantapkan arahan tersebut. Membuat Scream menjadi semakin besar sebagai franchise, sekaligus berusaha menyentil franchise modern itu sendiri.

Jadi juga Scream waving ke Samara Weaving

 

Beberapa bulan setelah kejadian Scream lima, Sam dan adiknya, Tara, pindah ke New York, Tara udah kuliah, dan Sam ada di sana untuk menjaga adiknya. Like, menjaga yang bener-bener jaga kayak helikopter parent, gitu. Pergaulan mereka dikontrol ketat. In fact, sahabat mereka, si kembar Mindy dan Chad yang juga survivor serangan Ghostface di film sebelumnya itu, juga ikut pindah ke sana. Diminta Sam bantu menjaga Tara. Keempat orang yang menamai diri Core Four ini memang saling menjaga apapun di antara mereka. Berhati-hati dengan teman baru, dan sebagainya. Hal ini actually membuat Tara gerah. Menimbulkan sedikit friksi antara dia dengan kakaknya. Sementara itu ada Ghostface baru di luar sana yang mengincar mereka. Ghostface kali ini sangat berbeda. Lebih brutal, lebih nekat, Ghostface yang mereka hadapi sekarang gak akan malu-malu menyerang di tempat terbuka. Melukai siapapun. Worst of all, Ghostface yang satu ini bahkan bukan penggemar film ataupun horor. Sehingga tidak ada ‘rule’ yang bisa dipegang oleh Sam, Tara, dan teman-teman yang lain untuk memprediksi serangannya!

Jerat-jerat pemikat telah disebar Scream VI semenjak opening sequence. And I’m not just talking about Samara Weaving haha.. Yang mau kubilang adalah soal Scream VI yang tau-tau ngasih lihat wajah di balik topeng Ghostface di adegan pembuka! Wah, pas nonton aku langsung melongo. Belum pernah loh, Scream melakukan hal kayak gini sebelumnya. Aku sempat mikir wah ini keren juga kalo kita udah tau duluan siapa pelakunya. Elemen Whodunit mungkin jadi melemah, tapi bayangkan dramatic irony yang kita rasakan kalo kita melihat Sam atau Tara terjebak mempercayai pelaku. Tapi ternyata, ada Ghostface satu lagi yang di momen pembuka itu membunuhi geng Ghostface yang pertama, Ah, kepalaku memang ternyata langsung melangkah jauh saking ‘baru’nya langkah yang diambil Scream VI, namun aku tak merasa kecewa. Development bahwa ternyata ada Ghostface lain yang membunuhi Ghostface satunya, masih tetap merupakan langkah baru yang dilakukan pada franchise Scream, dan opening itu sukses membuatku bertanya-tanya apa lagi yang bakal dilakukan oleh sutradara untuk membuat film ini mengejutkan. Sepanjang durasi, seorang fans Scream sepertiku, niscaya bakal jerit-jerit demi ngeliat apa-apa yang dimunculkan, dan dibawa kembali oleh film ini. Kirby’s return, Gale mendapat telefon dari Ghostface untuk pertama kalinya sejak film pertama, Stu Macher ditease mungkin masih hidup (!) dan banyak lagi easter eggs lain apalagi karena investigasi Ghostface kali ini melibatkan banyak topeng dan memorabilia dari film-film Scream (alias Stab dalam dunia cerita mereka) sebelumnya. Nostalgia makin tak tertahankan karena film ini mencerminkan dirinya pada Scream 2.

Seperti sekuel original tersebut, Scream VI membawa action keluar dari Woodsboro. Hanya saja Scream VI mengambil langkah esktra. As in, pembunuhan sekarang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang-orang di mini market yang bahkan gak ada sangkut pautnya sama Sam dan Tara. Ini menciptakan stake yang semakin besar. Belum lagi, narasi juga mengestablish soal rule franchise yakni semua karakter expendable. Artinya, semua karakter bisa mati. Semua karakter mungkin untuk jadi pelaku. Bahkan karakter original seperti Gale. Semua karakter dalam franchise jadi ‘kalah penting’ dari IP yang dibangun. Dengan itu, Scream VI cuek saja bikin lokasi dan adegan pembunuhan di tempat-tempat terbuka yang rame oleh orang-orang. Seolah kota New York itu sama jahatnya dengan Ghostface. Kita dan geng protagonis gak tahu siapa atau di mana yang aman. Arahan duo sutradara kita yang memang energik dalam bermain kucing-kucingan yang brutal, bikin film Scream kali ini makin terasa ekstrim. Untuk mendaratkan cerita, film memberi lumayan banyak fokus pada persoalan kakak-adik Sam dan Tara. Dua karakter ini jadi hati cerita. Karena ini bukan saja tentang kakak yang mencemaskan adiknya, ini juga adalah tentang dua survivor yang memiliki cara berbeda dealing with trauma. Permasalahan Sam yang masih dirundung bayangan ayahnya yang serial killer, juga terus dieksplorasi naskah. Scream VI menjadikan itu sebagai corong untuk berkomentar soal gimana di dunia sosial kita sekarang, seorang korban bisa balik diantagoniskan.

Malah di kita, korban yang udah tewas aja bisa dijadikan pelaku

 

Victim-blaming, sindiran buat franchise, kisah trauma shared by sisters, elemen-elemen cerita pada film ini sayangnya tidak benar-benar terikat dengan memuaskan. Franchise modern Scream di luar Wes Craven mulai kick-off, tapi langsung tersandung karena Matt dan Tyler seperti masih berkutat untuk keluar dari trope-trope franchise yang mestinya mereka examine. Melissa Barrera dan Jenna Ortega seharusnya sudah bisa lepas mewujudkan karakter mereka – and they did, mereka punya lebih banyak ruang kali ini karena ini pure cerita dari perspektif mereka – tapi dalam naskah, Tara dan Sam masih belum sepenuhnya ‘bebas’. Matt dan Tyler yang pada Scream lima membunuh Dewey, karakter original, kali ini seperti ragu-ragu dalam memperlakukan Gale, Kirby, dan yang lain. The elephant in the room adalah Sidney. Protagonis utama lima Scream sebelumnya, the face of Scream, tidak lagi muncul di film. Backstage, karena Neve Campbell tidak setuju dengan bayaran yang ditawarkan. Kita gak akan bahas gosip di luar film itu di sini, namun naskah Scream VI mau tidak mau harus nge-write off karakternya. Sidney memang ditulis ‘keluar’ dengan penuh hormat, disebut oleh karakter lain mengejar happy endingnya sendiri. Namun momen itu hanya terasa seperti throw-away, cari aman, di saat Mindy dalam monolog flm-nerdnya menyebut contoh-contoh karakter utama (di antaranya ada Luke Skywalker,  Laurie Strode di sekuel-sekuel original, Ripley di Aliens, dll) yang dibunuh demi jadi pijakan buat franchise bisa berkembang. Scream VI menyindir pembunuhan karakter tersebut dengan melakukan ‘pembunuhan karakter’ lewat aksi-aksi yang kurang konklusif, yang kurang impactful. Aku lebih suka gimana mereka nekat membunuh Dewey sebagai hook drama, ketimbang membuat para karakter legacy itu muncul untuk beraksi ala kadarnya. Kayak kalo di WWE, ada pegulat legend dibook cuma buat nongol di ring, dan menang atas superstar baru. Akan lebih impactful kalo legend itu dibuat kalah, karena dia bakal ngeboost status superstar muda yang mengalahkannya.

Tau gak kenapa film whodunit biasanya castnya bertabur bintang? Itu sebenarnya buat nutupin hal yang disebut dengan ‘hukum ekonomi karakter’. Karakter atau tokoh yang penting dalam sebuah film, pasti akan dimainkan oleh aktor yang lebih ‘bernama’. Jadi sebenarnya dari cast aja kita bisa tahu siapa yang jadi pelaku. Untuk menyamarkan itulah maka film-film whodunit sekalian aja makai cast yang ternama semua. Scream pushed this even further dengan membuat opening sequence sebagai kebiasaan naruh cameo-cameo bintang terkenal. Supaya surprise dan impact itu bisa tetap sekalian terjaga. Scream VI, dengan segala returning cast, anak baru, dan geng Core Four seperti tidak benar-benar berusaha. Bukan soal gampang ketebak atau apa, Scream lima masih Ghostface yang paling gampang tertebak buatku, tapi ini adalah soal gak ada impactnya. Pelaku di sini, meskipun masih punya kejutan, tapi basic banget. Motif pelaku yang kali ini tidak lagi peduli sama film-film, melainkan karena pure balas dendam juga membuat Scream VI nyaris balik ke thriller generik.

Dalam urusan sindiran meta, Scream VI unfortunately terasa tidak seimpactful pendahulunya. Bahasan ‘franchise’ memang dibreakdown rule-rulenya, tema ‘franchise adalah urusan keluarga’ juga memang mendarah daging sebagai konflik yang paralel antara protagonis kakak-beradik dengan antagonis, namun tidak terasa klik jadi statement yang wah dan memorable. Buatku, sindiran paling telak yang dipunya film ini lewat Ghostface yang sekarang tidak lagi peduli pada film dan rule-rule horor, adalah bahwa franchise modern juga seperti itu; not really care ama filmnya sendiri. Menurutku, film ini harusnya lebih mempertajam sindiran tersebut.

 

 




Aksi-aksi pembunuhannya memang lebih beringas. Ghostfacenya memang lebih nekat. Film kali ini definitely lebih ‘besar’. Tapi secara efek, terasa lebih jinak. Komentar meta yang jadi ciri khas film-film sebelumnya, terasa kurang nendang. Kurang dikejar oleh naskah. Cerita yang mau grounded dan mengarah ke bentukan elevated horror (horor modern yang mulai berisi seperti yang disinggung film pendahulunya) pun kurang nyampe karena film ini sendiri masih berkutat dengan nostalgia. Dalam proses itu, film ini jadi kehilangan taringnya. Statement soal franchise yang dimiliki film terasa kurang kuat karena film hanya seperti menghindar, tapi tanpa ngasih bentukan baru. Aku bisa suka dan menerima arahan baru yang ditawarkan, tapi dengan kecepatan dan bentuk seperti ini, bisa-bisa franchise thriller horor whodunit kesukaanku ini jadi bola salju beneran, Warnanya saja yang ntar berubah jadi merah darah. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SCREAM VI

 




That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang perkembangan franchise film di negara kita?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SEWU DINO Review

 

“Scratch my back and I’ll scratch yours”

 

 

Cerita horor sebenarnya memang simple, gak perlu diperibet. Tarok karakter dalam ruangan bersama mayat, jadi cerita horor. Mayatnya mungkin hidup, si karakter mungkin berhalusinasi. Tarok karakter berdua saja di dalam ruangan, bisa juga jadi cerita horor. Mereka bisa saling bunuh hingga yang satu jadi hantu. Mereka bisa saling curiga dan parno sendiri. Heck, tarok karakter seorang diri saja dalam ruangan kosong, dia bisa jatoh dalam kegilaaan, dan jadilah juga cerita horor. Kejadian horornya bisa sederhana, tapi penggaliannya harus mendalam. Ketakutan yang dirasakan itu harus dieksplor hingga ke akarnya. Jika ketakutan itu tidak digali ke personal karakternya, tidak direlatekan kepada kita, horor hanya akan jadi rangkaian kejadian tak-masuk akal yang menjengkelkan. Hantunya hanya akan jadi monster yang harus dikalahkan seperti pada cerita superhero. Karakternya hanya akan jadi si bego yang kita teriakin karena dia tidak melakukan hal yang dilakukan orang beneran. Tapi kebanyakan horor kita sekarang kebalikan dari itu. Banyak cerita yang berumit-rumit ria dengan lore dunia, intrik kubu-kubu, simbolisme, twist and turns, dan sebagainya, tapi pada pembahasannya malah menyederhanakan cerita sebagai wahana jumpscare dan kesurupan kayang-kayang. Jarang yang menyentuh ‘kegelapan’ di dalam sana.

Sewu Dino, untungnya digarap oleh Kimo Stamboel yang memang penggemar horor tulen. Cerita yang sebenarnya ribet karena menyangkut perang santet antara dua kubu, dia fokuskan kepada karakter yang harus mandiin orang yang sudah kesurupan selama hampir seribu hari. Dan aku yang awalnya kurang antusias, ternyata jadi menikmati ini. Kupikir film ini bakal sama seperti KKN di Desa Penari tahun lalu. Cerita dari thread Twitter yang turns out hanya mega marketing gimmick; enggak pernah menggali ceritanya yang actually relate – mahasiswa kota kkn ke desa – dan malah asyik bergumul dengan kejadian-kejadian mistis konyol. Karakter journey-nya dibiarkan dangkal. Sewu Dino ternyata dikembangkan berbeda dari threadnya oleh Kimo. Kudengar banyak pembaca thread yang kurang suka sama film ini, but screw them. Karena, memang Sewu Dino bukan film horor terbaik. Tapi cerita ini adalah versi yang  punya decent horror story di tengah-tengah kemelut santetnya.

Menghitung hari, dino demi dino

 

Ceritanya tentang Sri, gadis yang mencari nafkah untuk pengobatan ayahnya. Dia mencoba melamar jadi pembantu di tempat Mbah Karsa, yang dikenal warga sebagai orang sukses yang punya banyak tempat usaha sehingga selalu butuh banyak tangan tambahan. Nyatanya, Mbah Karsa butuh ‘stok’ perempuan dengan set kemampuan khusus untuk melaksanakan ritual menyelamatkan cucunya yang kena santet. Sri diterima karena gadis ini punya sesuatu yang ia sendiri tak tahu gunanya apa. Sri lahir di jumat kliwon, dan itu adalah syarat kunci untuk membebaskan cucu Mbah Karsa. Jadi, Sri bersama dua perempuan lain ditempatkan di pondok tengah hutan. Mereka harus memandikan Dela yang kesurupan setiap senja. Pekerjaan yang jelas berbahaya, karena setan yang telah bersemayam nyaris seribu hari itu selalu berusaha untuk lepas dan menyerang para pemandinya.

Di bagian pondok inilah Sewu Dino benar-benar fun. Film actually meluangkan banyak waktu untuk set up dan build up kerjaan horor yang harus dilakukan para gadis tukang mandiin itu. Salah satu set up penting yang dilandaskan film adalah kenapa Sri mau-maunya mandiin Dela. Kayaknya lebih aman mandiin harimau sirkus deh, ketimbang mandiin orang kesurupan yang suka menggigit dan mencekek manusia. Motivasi Sri bukan hanya karena duit, tapi kita dikasih info soal Sri yang berusaha tidak mengulangi kejadian yang membuat adiknya sendiri tiada. Sri tidak ada di sana, makanya sekarang dia ingin membantu gadis muda ini. Meskipun gak gampang baginya. Kita melihat Sri yang justru jadi orang pertama yang pengen kabur saat melihat ‘job desk’ dan resiko yang menantinya. Tapi itulah yang nanti jadi konflik. Yang fun lagi buatku adalah gimana film ngebuild up ‘ritual memandikan’ tersebut. Cara-caranya, batas waktunya, dan sebagainya. Banyak aturan yang harus Sri dan dua temannya ikuti. Salah satunya mereka harus mandiin Dela sambil dengar kaset rekaman suara Mbah Karsa yang bacain langkah-langkahnya. Tentu saja ini nanti bakal berkaitan dengan momen-momen scare yang dipunya oleh film. Like, mereka harus ngiket dulu tangan dan kaki si Dela sebelum membuka keranda bambu. There’s no way hal akan baik-baik saja saat mereka melakukannya hahaha…

Kimo gas pol di sini. Gak ada sensasi ‘adegan datar’ di film ini. Horor yang ia suguhkan benar-benar main fisik. Beberapa kali film ini hampir jadi body horor saking banyaknya ‘abuse’ yang diberikan on-cam kepada tubuh para karakter. Aku sampai heran masa iya film ini ‘cuma’ dikasih rating 13+ sama lembaga sensor. In my opinion, this should be higher. Apalagi tayangnya di masa lebaran. Jadi tontonan keluarga deh, pasti. Anyway, sensasi horor di sini terasa lebih well-crafted ketimbang pada KKN. Momen-momen kecil seperti suara rekaman yang tiba-tiba mati sukses bikin kita semakin mengantisipasi kengerian, untuk kemudian dipecahkan oleh ‘punchline’ seperti jumpscare atau serangan setan. Kimo sendiri pernah publicly bilang dia menggemari dan terinspirasi sama Sam Raimi (Evil Dead, Drag Me to Hell). Dan di Sewu Dino ini pun pengaruh Sam Raimi pun kelihatan. Lucunya, selain itu, aku juga menangkap ada pengaruh game survival horor Jepang pada film ini. Khususnya seri game Fatal Frame. Serius. Begitu banyak momen yang bikin aku teringat sama game itu, I’ll just go ahead and say it: Sewu Dino buatku kayak adaptasi tak-resmi dari Fatal Frame. Ritual yang gagal (kurang elemen disaster doang). Desain antagonis yang pake tali menggelantung di anggota badan, ngingetin sama Rope Maiden. Setiap kali tidur, Sri menjelajahi dunia lain dan melihat gubuk di sana – ini kayak main plot di Fatal Frame 3 yang karakter kita akan bertualang di Manor of Sleep setiap tidur dan nanti hantu-hantu di ‘mimpinya’ itu akan berdampak physically di dunia nyata. Rekaman dan suara-suara mengerikan bicara ke karakter? Udah staple di game dan film horor Jepang kayaknya. Sri harus ke hutan mengecek payung-payung pagar gaib, easily bisa jadi misi dalam game. Dan, berapa kali coba dalam game-game Fatal Frame kita dapat sekuen escape lari-lari dramatis bareng orang yang kita selamatkan? Sekuen escape di film ini, juga punya treatment yang dramatis seperti itu. Yang bikin beda ya Sri di film ini benar-benar melawan dengan fisik, bukan dengan kamera haha

Kayaknya aku kebanyakan main game puasa-puasa….

 

Bahkan Sri pun mirip sama karakter utama game, dalam hal, dia gak banyak bicara. Agak kurang aktif, unless ‘tombolnya’ dipencet. Kalo yang ini sih, sebenarnya kekurangan film ini menurutku. Namun bukan exactly kekurangan dari karakter ataupun dari Mikha Tambayong memerankannya. Mikha melakukan cukup banyak; sebagai protagonis horor dia didera cukup banyak di babak akhir. Sekali lagi, Kimo tahu gimana harus ngetreat cerita horor.  Hanya saja, di momen Sri mulai ‘gerak’ film udah habis. Di awal-awal, aku mengerti Sri diarahkan untuk jadi karakter yang rasional. Dia kabur duluan. Dia gak ‘seringan tangan’ itu mau melakukan kerjaan mengerikan. Tapi ini juga membuatnya jadi kurang dominan. Apalagi karena film ternyata malah menyiapkan ‘twist’ di tengah, regarding ada di antara mereka ada yang ingin menyabotase ritual mandi. Di tengah itu, alih-alih fokus mengembangkan karakter Sri, film malah sibuk bercocok tanam clue. Ngebuild up momen ‘siapa yang jahat’. Kita terputus dari Sri di bagian tengah. Dan ini membuat kita butuh agak lama untuk bisa konek lagi dengan motivasi dan journey karakternya. Makanya momen-momen ketika Sri terpukul telah membunuh satu karakter enggak benar-benar kena. Padahal secara teorinya dia telah ngelakuin something opposite dari tujuannya pengen membantu.  Momen ketika dia menolak duit pun jadi tidak benar-benar nendang. Padahal itu momen puncak yang juga mengusung gagasan cerita. Yang mengaitkan Sri dengan bigger things dalam universe cerita ini.

Menolak duit yang harusnya adalah upah dirinya adalah pembelajaran Sri soal bagaimana ‘cara kerja’ Mbah Karsa. Bahwa semua itu merupakan lingkaran setan. Lingkaran setan di sini bukan hanya soal kau menyerangku, maka aku menyerangmu – seperti Mbah Karsa dengan musuhnya. Tapi juga soal aku membantumu, maka kau harus membantuku. Yang dilakukan Sri sebenarnya adalah menolak untuk terus terikat dengan Mbah Karsa. Dia ingin lepas dari lingkaran itu, karena baginya goal sudah tercapai. Dia sudah meredeem diri dengan membantu Dela.

 

Film ini sempat dipermasalahkan soal bahasanya. Yang campur-campur Jawa Indonesia. Buatku, aku gak terlalu ngeh ke bahasa saat menonton. Mungkin karena terbiasa nonton film asing, yang bahasanya ku gak tau. Jadi for me, yang ‘terdengar’ itu ya cuma subtitle dan emotions yang mau diceritakan. Tapi memang, kalo mau pake bahasa tertentu, film harus komit dan benar-benar menjadikan bahasa itu sebagai identitas. Bukan sebagai gimmick. Pada Sewu Dino, memang Jawanya masih kayak gimmick, belum terlalu jadi identitas atau karakter. Tapi buatku gak nganggu. Menurutku yang tidak benar-benar perlu itu ya, ada ‘twist’ di tengah. Cerita terasa lebih ‘natural’ dan  fun ketika ketiga karakter di pondok itu merasa dipermainkan oleh setan di dalam tubuh Dela. Akan lebih menarik melihat gimana setan itu membuat mereka malah jadi saling serang di hari terakhir tugas mereka, misalnya, ketimbang masukin alur seseorang dengan sengaja sabotase dan si setan membiarkannya. Aku senang aja sama situasi horor tertutup mereka setiap hari harus masuk ke sana mandiin orang kesurupan. Malah aku pengennya jangan tiga hari doang, tapi full seribu hari aja sekalian. Repetitif, repetitif, deh!

Namun lore soal ada dua kubu di luar mereka semua itu memang akhirnya membayangi cerita yang sudah berusaha dibuat simpel oleh Kimo. Di momen akhir saat Sri mulai menguat sebagai karakter, Sewu Dino mulai tercampur aduk. Akan ada karakter yang tau-tau muncul. Akan ada lebih banyak misteri untuk dipecahkan. Ini membuat film jadi tidak berakhir memuaskan, walaupun journey karakter utama kita selesai dengan gemilang. Sewu Dino tetap terasa jadi sesuatu yang belum selesai, dan ini bukan cara yang benar-benar tepat untuk mengirim penonton pulang. Tidak cukup membuat penasaran, melainkan hanya ya gak puas saja. Terakhir kali aku ngerasa puas nonton horor yang ada cult-cultnya itu ya pas nonton akhir dari season 4 serial Servant di Apple TV+ Momen psikologikal horor dan turn around karakternya terasa banget. Kalian bisa langsung klik link berikut ini untuk langganan Apple TV+ dan catch up banyak lagi tontonan original lainnya https://apple.co/40MNvdM

Get it on Apple TV

 




Journey karakternya memang gak sampai terlalu dalam, film ini masih sebagian besar berfokus kepada kejadian horor yang terjadi, alih-alih menelisiknya. Tapi seenggaknya film ini menolak jadi terlampau ribet dengan lore dan segala macam perang santet yang membayangi alur karakter utamanya. Melihat dari si protagonis saja, film ini actually adalah cerita horor yang decent, dan digarap ke arah yang fun. Ingin mencuatkan pada situasi horor yang ngeri-ngeri sedap untuk ditonton. Tapi dijamin bikin ngompol kalo kita yang ngalamin. Enggak jelek, meski gak great juga karena masih berusaha catering buat jadi wahana bagi penonton. Ada twist yang gak perlu dijadiin seperti itu, misalnya. Yang jelas secara keseluruhan, film ini lebih baik dari KKN di Desa Penari. While it’s not saying much – karena standar KKN rendah banget – nilai plus film kali ini buatku adalah banyak elemen-elemen dari sini yang membuatnya jadi kayak something dari universe game Fatal Frame 
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SEWU DINO

 




That’s all we have for now.

Kalo menurut kalian kenapa Sri gak mau nerima uang bayarannya?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA