PENYALIN CAHAYA Review

“If he cannot silence her absolutely, he tries to make sure no one listens”

 

 

As of right now, people are just projecting their hate onto this movie. Kebencian yang memang layak sekali untuk dikoarkan karena bersumber dari dugaan kekerasan seksual yang ditutupi, yang ironisnya jadi tema dalam cerita. Sehingga orang-orang sekarang either mengasihani korban, atau mengutuk pelaku yang malah dapat penghargaan dengan menuliskan cerita ini. Like, hampir semua orang yang kulihat di timeline Twitter, yang memilih untuk menonton film ini, menyaksikannya supaya bisa membuktikan dosa itu benar tercermin ke dalam cerita. Menontonnya supaya bisa mengutuknya. Menonton tanpa apresiasi – apalagi memuji dan menikmati – sebagai bentuk solidaritas dan pembelaan kepada penyintas-penyintas yang didramakan. Mengutuk kekerasan seksual dan mengutuk pelakunya jelas adalah perbuatan yang benar. Tidak akan ada yang meragukan di sisi mana kita berpihak when it comes to case like this. Everyone should condemn it. Namun, film tentu bukan persoalan satu orang. Hanya untuk menilai salah-benar adalah alasan yang ‘kurang tepat’ untuk menonton film. Karena menonton harusnya pertama-tama untuk personal.

Aku gak meminta kalian untuk berhenti menyuarakan kebenaran dan berhenti membenci kasusnya. Aku hanya meminta untuk sejenak kita memisahkan film ini dari pelakunya. Toh film hanya ‘mesin fotokopi,’ bukan satu orang yang menyalinkan sesuatu di atasnya. Aku ingin meminta waktu sebentar untuk kita memikirkan apa yang diomongkan Penyalin Cahaya kepada kita, masing-masing. Seperti apa kira-kira dialog kita dengan film ini. Jika kita bukan korban, jika kita bukan pelaku, maka siapa kita, kata film, di cerita ini. Di mana posisi kita. Apa yang kita lakukan di cerita ini. 

penyalinmedia
Kenapa di akhir itu cuma dua cewek yang mendorong mesin fotokopi ke atas gedung? Karena yang cowok Tariq

 

Penyalin Cahaya bercerita tentang mahasiswi berprestasi bernama Suryani. Perempuan yang aktif di kegiatan teater kampus, sekaligus sibuk membantu usaha warung makanan milik orangtuanya. Selain sedikit masalah dengan ayahnya yang keras, things seem going well untuk Sur. Permohonan beasiswanya hampir tembus. Pertunjukan teater mereka sukses berat. Namun semua itu sirna ketika Sur menemukan dirinya terbangun kesiangan esok hari. Beredar foto-foto dia lagi mabok dan berpesta pora di acara sukuran klub teater tadi malam. Permohonan beasiswanya lantas ditolak. Sur diusir dari rumah. Sur yang sama sekali tidak ingat apa-apa kini berusaha membersihkan namanya. Mencari tahu siapa yang telah mengambil foto dan menguploadnya, hanya untuk menemukan perbuatan mengerikan lain yang malam itu terjadi kepadanya. Dan mungkin kepada banyak lagi teman lainnya.

Jadi, di mana aku dalam cerita Sur Menuntut Kebenaran dan Keadilan ini? Aku ngikutin perjuangan Sur menyibak misteri. Aku melihat ketika Sur malah balik dipersalahkan. Dia bicara dan mempertahankan diri tapi, aku menyaksikannya, jadi malah berbalik dituduh melempar fitnah dan meminta maaf walaupun di sini dialah yang paling dirugikan. Hidupnya hancur. Dan apa yang kulakukan? Aku hanya bisa merasa malu. Sedih dan marah juga sih, tapi yang paling nyesek kurasakan adalah malu. Karena film ini memperlihatkan kepadaku kesusahan yang harus dilalui Sur saat speak up sebagai korban. Diperlihatkan dengan emosi yang sangat mendetil, dalam teknis visual yang terlihat begitu luwes bermain close up dan warna-warna, sehingga kadang seperti realm fantasi tapi terasa menampar saking realnya semua terasa. Film ini dihadirkan ringan, tapi karena itulah justru terasa semakin menohok. Karena aku yang sama sekali gak tahu sesusah apa bagi korban seperti Suryani, yang merasa semua bisa selesai dengan enteng, jadi benar-benar merasa tersadarkan dengan tamparan. Malu karena ternyata sesusah itu bagi Suryani, dan Suryani-Suryani lain di luar sana. Malu karena kita gak doing enough to help them

Film ini paham bahwa awareness terhadap itu harus ditingkatkan. Jadi mereka membuat Sur menempuh semua yang kita jatuhkan kepada korban pelapor setiap kali ada kasus seperti ini. Sur akan dicurigai berbohong. Sur dipersalahkan karena ceroboh. Sur dianggap mencemarkan nama baik. Semua itu ditampilkan film dalam gambaran yang begitu naas, bukan semata demi dramatisasi ataupun glorifikasi penderitaan korban. Melainkan untuk ngeshame kita yang entah kenapa selalu takut untuk mempercayai korban. Kita malah lebih suka mempertanyakan mereka. Akhirnya membuat mereka senewen sendiri, merasa diri merekalah yang salah. This is the worst feeling. Film dengan berani mengangkat itu. Konflik personal Sur dieksplorasi. Dia merasa bersalah melanggar aturan ayahnya. Dia merasa bersalah nuduh temannya. Telah ngebajak hape mereka. Adegan Sur dan teman-teman nonton rekaman CCTV dan kemudian tuduhannya berbalik menjadi Sur malah disalahin teman-teman, duduk terdiam di sana, dengan pikiran berkecamuk antara apa ia dia salah dengan masih ada satu hal yang gak kejawab baginya, merupakan salah satu yang paling menohok. Menciptakan intensitas, dan karakter building yang kuat. Sur tidak digambarkan tak-bercela, dia tidak selalu benar, dan ini jadi menambah lapisan konflik. Ke kita, yang selalu failed mengenali urgensi korban. Bahwa sekalipun korban tampak bersalah, itu tidak mengurangi kenyataan bahwa dia adalah korban kasus kekerasan. It still happened to her. Help her.

Dengan begitu, ironi yang digambarkan film ini jadi semakin kuat. Sur, untuk speak up, terpaksa harus bertindak sendiri. Tanpa dukungan. Dia harus melanggar hukum untuk membuktikan dirinya tak bersalah dan adalah korban dari ini semua. Arahan untuk perjalanan karakter ini terasa begitu kuat. Mantap mengarah kepada efek yang diniatkan. Thriller bergaya misteri whodunnit dipilih untuk semakin mengontraskan. Kenapa? karena whodunnit biasanya simpel. Everybody is suspect tapi ujungnya selalu siapa yang salah, siapa yang benar. Sur pikir dia tinggal menemukan siapa yang upload. Siapa yang membiusnya. Sayangnya, urusan kasus kekerasan seksual di kita belum bisa jadi sesederhana itu. Tidak dengan relasi kuasa dan ketimpangan gender masih merajalela. Padahal seharusnya ya sederhana, orang yang berbuat salah, ya harus dihukum. Tapi kenapa Sur yang jadi semakin susah dan sendirian. Di pilihan bercerita inilah gagasan film sesungguhnya juga berada.

Bahkan penampilan akting Shenina Cinnamon sebagai Suryani tampak dikawal sangat ketat. Seperti misalnya ada beberapa dialog yang diucapkan dengan sedikit belibet olehnya, tapi oleh cara film ini mempersembahkan, belibet itu jadi tampak sesuai dengan konteks. Bahwa karakter ini memang sedang mengalami kejadian yang emosionalnya harus ia pendam sendiri. Sehingga ia ‘bergetar’ menahan semua itu.

Yang ditunjukkan dengan begitu emosional oleh film ini adalah bahwa pilihan satu-satunya bagi korban kekerasan  adalah untuk diam. Bukan karena mereka mau diam. Melainkan karena diam berarti pilihan yang paling aman. Karena keignorance kita-lah mereka memilih itu. Angkat bicara menjadi sulit. Bukan saja membuka trauma, tapi juga sebab kita masih lebih cenderung tidak mempercayai korban. Sementara pelaku dengan gampangnya memainkan kuasa untuk mendiamkan, bahkan balik menuding mereka. 

 

Mitologi medusa jadi alegori yang tepat. Dalam adegan revealing yang dibuat sangat teatrikal, mendadak realm fantasi tadi mendobrak kesan realism yang dibangun, kita diperlihatkan pelaku yang sebenarnya beraksi kayak wayang orang di tengah asap, berdialog soal medusa dan perseus. Di depan korban-korban yang dibekep. Adegan ini memang terlihat aneh dan over the top. Tapi masih berfungsi efektif dalam memuat gagasan. Karena beginilah gambaran korban-korban kekerasan seksual di dunia nyata. Mereka dibungkam. Mereka jadi terdiam. Membatu, kayak korban Medusa. Pelaku di cerita ini bilang dirinya Perseus, but really, pelaku sebenarnya lebih cocok dikatain medusa. Karena udah bikin korban membatu. Pelaku bebas bergerak. Terus beraksi ke sana kemari, menepis tudingan sana-sini, dan balik menyalahkan korban. Memastikan tidak ada yang mendengarkan mereka. Dan kita simply tidak melihat itu.

penyalininopsis-Film-Penyalin-Cahaya-Angkat-Cerita-Tentang-Kekerasan-Seksual
But now we know, dan kita kasih cermin ke Medusa. Mereka kini yang diam membatu.

 

Menjadi whodunnit ternyata punya lubang jebakan sendiri. Dan penulisan film ini enggak seanggun arahannya, sehingga film kecemplung juga beberapa kali. Dalam pengembangan misteri misalnya. Untuk membuat penonton tetap engage ke misteri, film paham harus mengungkap perlahan. Hanya saja, misteri ini terlalu dielaborate. Dari siapa pelaku upload, hingga ke pelaku pelecehan yang lebih besar, film terlalu sibuk mengembangkan seolah ini adalah kejahatan cerdas. Terselubung, terencana dengan matang. The crime keeps getting bigger. Hingga jadi kayak mustahil. Ya mustahil terjadi, mustahil gak ketahuan, mustahil ada yang bantuin. Kasusnya sendiri, jadi kayak ngada-ngada. Di sini aku bisa lihat penonton yang udah tahu kasusnya bakal ilfeel lagi saat menonton. Karena film tampak seperti mau ngepush kehebatan pelaku. Yang berlawanan dengan gagasan dan sasaran dialog film. Kita. Penyalin Cahaya harusnya ngepush narasi dari perspektif Sur untuk menegur kita yang gak melakukan apa-apa melainkan mempersulit korban. Bukan untuk memperlihatkan soal rencana sinting dan rapi si pelaku. 

Sehingga film terasa jadi lebih panjang daripada seharusnya, untuk urusan kasus yang tidak perlu terlampau digayain. Seharusnya waktu dipakai untuk ngeresolve beberapa hal. Terutama dari sudut pandang korban seperti Sur dan yang lain. Turn around mereka perlu dieksplorasi lagi karena berkenaan dengan kesukaran membuka suara. Aku sendiri sebenarnya pengen banget konflik Sur dan ayahnya diresolve, seperti Sur dengan ibu. Terutama karena ayahnya yang paling keras tidak mau mempercayai Sur, sementara dia juga ada benarnya – kalo ayah gak nyuruh Sur pake baju dalam, Sur gak akan pernah menyadari satu kejanggalan kunci yang membuatnya yakin dirinya ‘dikerjai’. Yang paling kurang greget sebenarnya adalah karakter Amin (Chicco Kurniawan di sini mirip John Cho ya haha) sahabat Sur yang tukang fotokopi dan menampung/memfasilitasi usaha Sur. Kalo kita balik ke kasus, menurutku ke dalam karakter inilah co-writer menuangkan dirinya. Pelaku in the past, dan kini berusaha meredeem diri dengan membantu Sur. Tapi yang dilakukan Amin tidak cukup. Hanya sebatas memberi mesin fotokopi. Sikapnya tidak pernah diselesaikan. Pengkhianatannya dirasakan oleh Sur, sebesar ‘pengkhianatan’ yang penonton rasakan sehingga banyak yang akhirnya memilih untuk tidak lagi mendukung film penting ini.

 

 

With all of that being said, pendapatku terhadap film ini – dan kasusnya –  ada dua. Pertama untuk filmnya sendiri. Aku masih menganggap film ini layak menang Terbaik FFI. Karena pesan dan relevansinya. Karena arahan dan teknis dan permainan aktingnya. Tapi tidak untuk sebagian lagi, terutama untuk penulisan. Yang memang terlalu bombastis, seringkali tidak sesuai dengan niat filmnya sendiri. Kedua, mengenai tujuan film dan kasus itu sendiri. I feel like, keberadaan film ini penting karena menyadarkan kita bahwa korban-korban itu susah mendapat keadilan, maka permudahlah. Bantu mereka sebarkan suara, karena itulah justice yang paling mungkin bisa mereka dapatkan. Akan tetapi, kalo dengan keberadaan film ini malah membuat korban semakin merasa tak diperlakukan adil, membuat mereka makin susah mendapat justice, maka menurutku hate it if we must. Sebaiknya film ini bertindak tegas dan merestore itu. Jangan sampai film ini hadir tapi jadi bertentangan dengan makna keberadaannya sendiri. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PENYALIN CAHAYA

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa kebanyakan orang masih begitu sulit mempercayai korban?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SCREAM Review

“Fandom can’t have nice things”

 

 

Franchise Scream bisa segede ini karena misteri whodunnit-nya selalu dibarengi oleh humor meta dan sindiran untuk film dan trennya saat itu. Scream original adalah satir untuk genrenya sendiri. Scream 2 menyindir horor sekuel. Scream 3 berisi celetukan gimana Hollywood membuat franchise dari tragedi nyata. Scream 4 menyentil soal reboot atau remake. Bahkan Scream versi serial juga memuat komentar soal adaptasi ke serial tv. Maka sebagai penggemar berat, aku excited sekali nungguin tentang apa Scream kelima ini. Terutama setelah mereka mutusin untuk mencopot angka-lima dan hadir dengan judul Scream saja- ngikutin horor-horor klasik yang dimodernisasi dengan sekuel yang gak ada angka, confusing everyone. Apakah Scream lima sengaja menyindir ini?

Yang jelas, sekuel terbarunya ini memang kayak berusaha memancing reaksi fans banget. Apalagi pas ditonton. Wuih. Mulai dari mengejek horor kekinian yang lebih drama, sampe ke misteri dalam ceritanya sendiri yang buatku tampak so easy. Scream 5 ini actually adalah Scream pertama yang bisa aku tebak dengan benar siapa pelakunya, siapa yang bakal mati. In fact, aku sudah menerka sejak adegan para karakter bertemu di rumah sakit di awal cer.. See, inilah yang hendak dilakukan oleh Scream 5. Film ini ingin bicara langsung kepada para penggemar setianya. Film menggebah kita entah itu untuk protes, atau untuk menyombongkan diri. Aku hampir saja jatuh ke lubang jebakannya itu. Karena Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillet memang merancang film ini sebagai sindiran untuk fandom dengan segala ke-toxic-annya.

screamGFhXkEyXkFqcGdeQXVyMTkxNjUyNQ@@._V1_
Satu-satunya yang kusayangkan adalah Samara Weaving gak jadi dicast, padahal dia bisa fun banget mainin putri Billy Loomis

 

 

Sebagai Scream pertama yang tidak didirect oleh kreatornya langsung (RIP Wes Craven!) Scream 5 memang memikul beban yang berat. Tudingan dan ancaman dari penggemarnya pasti langsung menghujam. Awas kalo gak menghormati ruh franchisenya! Awas kalo jadi cash-grab doang! Dan memang bukan Scream saja yang mengalami itu – both peremajaan franchise dan reaksi-reaksi fans. Hal tersebut udah jadi kayak tren baru di Hollywood.  Franchise-franchise gede seperti Halloween, punya banyak sekuel sehingga udah melenceng ke mana-mana. Kini banyak dari mereka yang dihidupkan kembali. Dibuat ulang sebagai sekuel langsung dari original, mematikan sekuel-sekuel terdahulu. Itu adalah trik yang dilakukan supaya gampang laku dan terutama tidak mengkhianati para fans originalnya. That’s the keyword. Scream, on the other hand, adalah satu-satunya dari franchise-franchise gede seperti itu yang memang hadir selalu sebagai sindiran meta. Sutradara Matt dan Tyler jeli melihat itu. Mereka paham ada sesuatu di balik apa yang mereka sebut (lewat karakter ceritanya) sebagai ‘rekuel’. Sesuatu yang pantas untuk dibahas, dikomentari, dan mereka mengolah itu ke dalam mitologi dunia Scream yang mereka ekspansi. Mereka menatap balik para fans. And they give all of us the wink that we deserved.

Tidak ada opening dalam franchise Scream yang bertindak sepenting opening Scream kelima. Bukan sekadar untuk horor pembunuhan pertama yang ngeset mood dengan bintang muda berakting jauh dari elemen nyaman mereka, ataupun sekadar untuk nostalgia ke original, melainkan opening kali ini sudah berbobot oleh informasi yang memuat gagasan sekaligus hook ke cerita utama nantinya. Ini juga kali pertama korban di adegan opening selamat dari maut. Gadis yang ditelpon lalu diserang Ghostface itu adalah Tara (Jenna Ortega kupikir lebih punya kharisma kuat sebagai tokoh utama). Kini dia di rumah sakit dijenguk oleh geng–oops 90an banget, sekarang istilahnya adalah sirkel! Di antara sirkel Tara itu ada sobat karibnya Amber (langsung kujatuh cinta sama penampilan Mikey Madison), Wes (Dylan Minnette jadi karakter untuk tribute ke Wes Craven), si kembar Mindy dan Chad, serta Liv. Kakak Tara yang sudah lama meninggalkan kota Woodsboro pun hadir demi memastikan keselamatan adiknya. Semua orang yang ada di ruangan itu in some way punya hubungan dengan karakter-karakter dari Scream original. Yang membuat mereka semua menjadi target dari si Ghostface yang baru – dan also, semuanya adalah tersangka utama. Semua, termasuk Sam kakak Tara yang datang bersama pacarnya. Sam (Melissa Barrera looks though enough) merasa sepertinya semuanya berhubungan dengan rahasia yang ia simpan. Rahasia bahwa sebenarnya dia adalah putri dari Billy Loomis, sang original killer. 

Tugas mengisi dunia dengan karakter baru sudah terestablish dengan baik. Ini benar-benar seperti cerita baru, tapi dengan tie-in kuat terhadap cerita original. Film menggali drama dari karakter utama baru dan karakter-karakter lama. Dan drama-drama tersebut tidak tumpang tindih. Mainly karena film tidak malu untuk mengakui bahwa sudah saatnya untuk move on. Trio Sidney – Gale – Dewey dihadirkan, tidak merebut spotlight, tapi tetap dengan momen-momen heartfelt. Aku suka film ini menggali relationship Dewey dan Gale dengan lebih grounded dan make sense ketimbang pada sekuel sebelumnya. Momen kecil seperti Dewey yang berkata akan menelepon Gale tapi kemudian hanya meng-sms saja membuat karakter-karakter semakin bersinar. Sedangkan pada karakter utamanya, Sam, dikembangkan urusan yang lebih psikologikal. Drama personal seorang keturunan serial-killer. Sam, di saat-saat sendirian, akan sering melihat ayahnya. Bicara dengan sosok ayahnya. Ini menambah percikan dan bobot di dalam misteri yang dipunya oleh cerita. Karena ultimately inilah yang dijadikan motif utama. Ghostface di film ini ingin menulis fan-fiction tentang anak dari Billy Loomis dan Sidney. Fan-fiction yang menurutnya bakal bisa jadi film yang lebih hebat daripada sekuel-sekuel Stab yang semakin ngaco.

Screamcreen-Shot-2021-10-12-at-9.04.11-AM
Sementara di sini fans masih ribut soal beda fanfic dengan AU

 

 

Di sinilah letak keluwesan Scream sehingga bisa terus bicara sebagai sindiran meta. Selain aturan-aturan film horor, Scream juga punya film-dalam-film. Sejak Scream kedua diceritakan tragedi Sidney Prescott menjadi begitu viral sehingga diberitakan, dibukukan, dan difilmkan. Film kayfabe ini berjudul Stab dan merupakan cerminan ekstrim dari film Scream itu sendiri. By now, Stab udah 8 sekuel, dan sekuel terakhirnya benar-benar flop. Mirip seperti Scream 4 yang juga gak sukses, bedanya di film kelima ini diceritakan Stab 8 sudah seperti cerminan dari horor modern kita. Di jaman kita sekarang, horor ‘fun tapi cerdas’ bukan lagi yang seringan Scream. Melainkan yang berat-berat, yang lebih dramatis, seperti The Witch, Hereditary, The Babadook, It Follows. Film yang bagus banget, tapi kurang laku karena ya enggak sefun Scream. Scream 5 berusaha menjadi balance. 

Supaya film ini menarik untuk ditonton oleh penonton kekinian, mereka membuat drama yang cukup berbobot, sementara tetap mempertahankan pesona 90an yang jadi ruh franchise Scream, yang jadi pemancing nostalgia. Akan tetapi, seperti yang mereka prediksikan terjadi kepada Stab 8, film ini tahu fans original bakal ada aja yang protes karena menganggap terlalu berbeda. Jadi film ini menyindir mereka duluan. Fans-lah yang dijadikan pembunuh dalam cerita ini. Fans tersebut mengira tahu apa yang mereka mau, dan berusaha mengambil kendali. Fans ingin membuat cerita sendiri, dan menjadi pembunuh berantai demi itu. Di satu adegan ada Dewey merasa terluka oleh kata-kata seorang karakter; that’s how toxic fans in our life kill menurut film ini. Sebenarnya, film sedang meneriakkan bahwa fans sendirilah yang merusak apa yang mereka suka, bagi diri mereka sendiri dan bagi semua orang.

Itulah sebabnya kenapa fandom gak akan pernah bisa mendapatkan nice things. Karena mereka gak pernah puas, selalu ada aja yang diprotes. Dan itu gak sebatas film, kita akui saja, fandom di mana pun – wrestling, buku, musik, sepakbola, bahkan agama, memang cenderung jadi seganas ini. Terutama kalo ada ‘anak baru’ maka makin beringas lah mereka menunjukkan kefanatikannya dengan segala “harus begini, harus begitu”.

 

 

Bukan hanya pada narasinya saja. Celetukan ini juga menguar dari penceritaan film. Misalnya pada elemen horornya. Fans suka banget sama jumpscare. Film horor baru seperti Hereditary dan kawan-kawan tadi bagi mereka gak seram, karena gak ada jumpscare yang seru. Maka film ini bermain-main dengan itu. Ada sekuens karakter seorang diri di dalam rumah. Dia membuka segitu banyak pintu dan lemari. Dan setiap kali pintu-pintu itu dibuka, film akan menaikkan intensitas musik, seolah ada sesuatu yang bakal mengejutkan muncul begitu pintu itu diayunkan tertutup kembali. Jumpscare yang udah diantipasi itu tidak pernah datang. Barulah kemudian di saat yang paling tidak diduga, film memunculkan kejutan. Yang terasa jadi lebih efektif. Jadi film ini cerdas sekali, memanfaatkan sindiran menjadi efek seram yang lebih kuat.

Film menelisik toxic fandom ini lebih lanjut. Kedalaman komentarnya itulah yang membuatku suka sekali sama film ini. Ke-toxic-an itu dikaitkan film kepada kegemaran kita terhadap menyebarkan hal-hal negatif yang berlawanan dari yang kita sukai. Ada yang janggal sedikit, digoreng ramai-ramai. Ada yang berbeda sedikit, dibahas berhari-hari. Itu juga sebabnya kenapa komentar sarkas dan ulasan menghina lebih banyak dibaca. Kita menikmati hal-hal negatif, karena itu juga membuat hal yang kita sukai semakin tervalidasi. Dan pada akhirnya kita jadi lebih suka melaporkan kenegatifan. Period. Maka dari itulah, film ini bagiku seperti berakhir dengan poetic justice. Karena Gale Weathers-lah yang menyadari duluan. Semua horor di dunia mereka itu berasal dari dia yang jurnalis, lebih memilih melaporkan tragedi, memberitakan kejadian berdarah, menceritakan serial killer kepada publik. Cerita Sidney, Stab, jadi punya banyak penggemar for the wrong reasons. “I’m not gonna write about this” kata Gale di ujung durasi Scream 5. Gale benar. Jangan kasih minyak ke negativity. Jangan kasih viral perbuatan jahat, bego, kasar, dan sebagainya.

 

 

 

Ternyata film ini misterinya lebih gampang ditebak bukan karena bangunannya kurang kuat. Kita-lah yang sudah terlampau cinta sama franchisenya, kitalah yang sudah demikian mengerti dengan konteksnya. Kita adalah penggemarnya, dan film ini bicara tentang penggemarnya harusnya menikmati apa yang kita cintai. Boleh kritik, tapi jangan jadi toxic. So here goes mine. Dengan segala antisipasi itu, film ini masih mampu tampil menghibur. Membawa ruh franchisenya, respek sama franchisenya. Menghadirkan cerita dan karakter baru yang terikat kuat pada karakter original. Bercerita dengan drama yang balance; dengan drama itu sendiri serta dengan aspek horor. Film dengan muatan sebanyak ini berpotensi jadi boring atau sukar dimengerti, tapi muatan sindiran dan komentar serta aksi misteri whodunnit-nya membuat film tetap menarik dari awal sampai habis. Film ini berikan perkenalan yang cukup, serta proper send off untuk certain character. Dan kita menyambut semua itu dengan suka ria. Plus, I love Amber. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SCREAM

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya tips menjadi fan yang baik dan enggak jadi toxic?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TEKA-TEKI TIKA Review

“You are a piece of the puzzle of someone else’s life”

 

Tidak mudah keluar dari zona nyaman. Butuh kemauan dan keberanian yang sama besarnya. Inilah yang dilakukan Ernest Prakasa. Sudah mendapat tempat yang kerasan di blantika film komedi, tapi Ernest malah menantang dirinya sendiri dengan membuat thriller Teka-Teki Tika. Cobaan pertama langsung menerpa. Film ini sempat dirujak netizen, dikatain nyontek Knives Out (2019). Nah, itulah kenapa kita tidak boleh main hakim hanya dari melihat trailer saja. Teka-Teki Tika sama sekali tidak mirip film whodunit tersebut. Melainkan, lebih sebagai thriller dalam lingkup keluarga, tentang apa yang telah dilakukan oleh karakter sehingga kini ia takut rahasianya itu dibongkar oleh orang. Revealing yang mencengangkan, yang jawabannya kita tunggu-tunggu, memang tetap ada. Dan boleh jadi lebih surprise daripada yang kita harapkan sebelumnya. Karena ternyata film ini adalah thriller bergaya ujar jenaka khas Ernest, dengan tambahan twist ala Shyamalan!

teka202112040754-main
Padahal bahkan si Shyamalan sendiri enggak selalu bisa bikin ‘twist ala Shyamalan’ yang berhasil

 

Sebagian besar durasi, cerita akan bertempat di sebuah rumah mewah. Milik Budiman, seorang konglomerat yang akan segera mendapat proyek besar dari pemerintah. Maka Budiman dan istrinya, mengundang dua anak mereka untuk menghabiskan akhir pekan di rumah. Arnold dan Andre, dua ‘putra mahkota’ yang siap mewarisi segala milik ayah mereka. Tapi keduanya kurang akur, punya gaya hidup berbeda, dan pandangan yang juga tak sama mengenai ‘how to do business‘. Si sulung Arnold yang datang bersama istri yang tengah hamil tua, katakanlah lebih bertanggungjawab. Namun juga lebih boring ketimbang adiknya, Andre, yang suka gonta-ganti pacar (kali ini dia membawa pacar baru yang jauh lebih muda) dan lebih mementingkan nge-club dengan alasan networking. Ada konflik yang berusaha ditarik cerita di antara mereka, sekaligus juga mengeluarkan celetukan-celetukan komedi dari enam karakter keluarga ini.

Menarik? Kurang? Well, karena itulah dihadirkan Tika. To stir things up. Malam itu Tika muncul di pintu depan rumah Budiman. Dengan gaya slengekan – yang begitu kontras dengan lingkungannya, bahkan dengan Andre sekalipun – cewek berambut seleher itu memperkenalkan diri sebagai anak kandung Budiman yang ditelantarkan. Tika gak bakal pergi sebelum mendapat yang ia mau. Dan tak segampang itu bagi Budiman dan keluarga mengusirnya, sebab Tika ternyata tahu banyak tentang rahasia semua orang di sana. 

Bukan hanya bagi Budiman, bagi kita pertanyaan-pertanyaan yang sama pun seketika bermunculan. Siapa Tika? Kenapa dia tahu begitu banyak tentang keluarga Budiman? Apakah dia berkata jujur? Apa yang sebenarnya dia mau? Misteri inilah yang jadi pondasi naskah Teka-Teki Tika. Untuk itu, kita harus peduli dulu sama para karakter lain. Karena hidup mereka seolah jadi bergantung sama Tika yang bisa saja membocorkan rahasia dan bikin keluarga kaya itu hancur berantakan. Bagaimana membuat penonton peduli sama karakter-karakternya itulah yang jadi teka-teki yang harus dipecahkan oleh Ernest selaku pembuat film. Jika ini adalah komedi, Ernest would’ve cracked the code easily. Karakter akan dibuat seunik mungkin, dengan dialog lucu dan motivasi yang mungkin kontras sedih supaya memantik drama. Tapi kali ini ranah yang dijamahnya adalah thriller. Dengan desain berupa motivasi karakter yang disembunyikan. Rahasia mereka itulah yang jadi drama. Dengan begitu, sutradara berpaling kepada hal yang ia tahu. Dialog lucu. Inilah awal kenapa tone film ini membuat cerita yang kita saksikan kurang terasa intensitasnya. Film ini masih terasa bersandar kepada komedi, padahal mestinya ia adalah cerita thriller yang membuat kita mengkhawatirkan para karakter. Sehingga membuat kita justru susah bersimpati kepada stake yang merundung karakternya.

Porsi komedi di sini memang jauh lebih sedikit dibandingkan film-film Ernest sebelumnya. Tapi, komedi itulah yang satu-satunya dipunya karakter-karakter film ini sebagai usaha untuk membuat mereka terlihat menarik. Ketika para karakter berdebat di meja makan soal mengurus bisnis, kita gak masuk ke dalam mereka. Ketika Tika ngancem mau buka rahasia pun, kita tidak merasakan apa-apa. Barulah ketika karakter pacar si Andre yang ‘lugu’ nyeletukin hal yang gak nyambung, kita tertawa. Masalahnya, celetukan dan komedi-komedi itu gak ada sangkut pautnya sama konflik atau misteri pada cerita. Obrolan intens jadi runtuh begitu saja ketika lelucon disuntikkan di sela-sela obrolan. Sindiran soal penguasa yang relevan dengan keadaan sekarang kita pun jadi sepintas lalu saja, tidak benar-benar punya weight padahal bisa dibilang merupaka tema yang konsisten dibahas dalam narasi. Para pemain pun tampak lebih rileks memainkan komedi daripada bermain serius. There’s a reason kenapa Morgan Oey, Tansri Kemala, dan Sheila Dara tampak menonjol dibandingkan yang lain. Tidak banyak yang bisa digali oleh para aktor ketika mereka disuruh untuk serius dan bermisterius.

Ungkapan kita adalah kepingan puzzle dalam hidup orang lain, biasanya bernada romantis. Film ini seperti sisi gelap dari ungkapan tersebut. Karena ceritanya menunjukkan ketidakhadiran kita dapat membuat hidup orang lain menjadi tak-lengkap dalam artian susah. Sometime, kita perlu jujur dan mengakui perbuatan supaya tidak menjadi lubang menganga dalam hidup orang di sekitar kita.

 

Sebenarnya nuansa thriller itu masih bisa digapai lewat teknis. Cut, zoom in, panning perlahan, biasanya hal-hal semacam itu dilakukan oleh kamera dalam film-film thriller untuk memperkuat intensitas suatu adegan. Namun sebagaimana thriller adalah hal baru baginya, cerita dengan ensemble karakter sebagai pusat juga merupakan hal baru bagi Ernest. Jadi concern-nya terbagi. Kita bisa melihat film ini berusaha keras untuk menampilkan variasi dari bagaimana kesemua karakter tampil dalam satu frame. Bagaimana menampilkan gambar yang memaksimalkan lokasi dan visual yang menarik (salah satunya adalah shot yang salah dinilai banyak orang sebagai niru Knives Out). Sehingga menampilkan intensitas thrillernya, terlupakan. Kamera Teka-Teki Tika paling hanya muterin ruangan, dan selebihnya kebanyakan hanya menyorot dari depan dalam diam. Beberapa ada yang dilakukan dengan sudah tepat, seperti keputusan untuk benar-benar fokus ke wajah Tika hanya datang setelah dia memberi tahu siapa dirinya. Yang berarti kita sudah ‘diijinkan’ untuk masuk mengenal karakter ini lebih dalam.

Namun ketika karakter ngobrol dengan mengancam, tidak ada gerakan yang memperkuat intensitas atau semacamnya. Pada adegan Tika digiring keluar rumah, kemudian di tengah jalan dia mengancam membuka satu rahasia, sehingga pengusirannya distop oleh Budiman, misalnya. Ada banyak yang mestinya bisa dilakukan oleh kamera dan editing dalam menampilkan ini, mestinya bisa dipecah jadi beberapa shot biar efeknya nyampe. Namun film hanya melakukannya dengan merekam dari depan, dan kamera mundur seiring semua karakter berjalan ke depan. Semua orang ada di dalam frame, tapi kita tidak merasakan emosinya ketika ada yang bicara, mengancam, atau sebagainya. Alur emosi yang ada pada adegan itu jadi datar karena direkam dengan datar.

Also, maaan, film modern memanglah aneh. ‘Film modern’ yang kumaksud adalah film yang memuat elemen gadget dan teknologi kita seperti smartphone dan sebagainya. Karena biasanya kan yang kita tahu kamera yang ngesyut orang dengan sudut rendah sehingga orang itu tampak menjulang biasanya digunakan untuk menguatkan karakter si orang itu sebagai penguasa atau yang dominan. Film ini openingnya adegan Budiman video call dengan ‘atasan’, ada bagian ketika kamera mengambil perspektif si lawan bicara, yang membuat Budiman dan istrinya tampak menjulang, memandang kita ke bawah, karena gadget mereka ditaruh di atas meja. Ini menghasilkan kesan yang aneh kayak kebalik. Kenapa malah si ‘bos’ yang kecil. Atau mungkin memang adegan itu untuk melandaskan Budiman adalah orang gede, tapi dia juga punya atasan. Dan kayaknya inilah yang membuat kita susah konek dengan dia sebagai karakter utama. Konglomerat biasanya memang sudah sus sedari awal, dan film gak pernah benar-benar membuat karakter ini simpatik hingga akhir nanti.

tekateka-teki-tika_54df5178-1b29-4a59-962b-fcd3809fb8bc
Treatment kamera juga membuat revealing siapa Tika dan rahasia-rahasia lainnya tak pernah terasa ‘wah’

 

Adegan-adegan dari kedatangan Tika sepertinya dirasa memang kurang menarik, sehingga film membuat si Tika ini jadi serbabisa. Dia dibuat tahu medis. Dia malah dibuat bisa berantem ternyata. Jagoan. Tapi malangnya, kepandaian Tika berantem ini juga mengharuskan film untuk memuat adegan aksi. Sesuatu yang berada di garis spektrum lain dari thriller rahasia, drama keluarga, dan bahkan komedi karakter. Nah bayangkan ketika urusan thriller dan drama dan elemen rahasia saja masih keteteran, lalu malah ditambah harus ngurusin orang berantem. It’s too much. Ernest menantang dirinya terlampau banyak. Seperti kata Arnold kepada Andre “Semua jadi tidak terkontrol”. Plus, ini membuat Tika yang tetap dipertahankan misterius menjadi ‘mary sue’; istilah untuk karakter serbabisa. Yang justru membuat kita menarik diri darinya. Seketika Tika menjadi membosankan. Kayak, bener-bener fixed gak perlu lagi kita mempedulikan dirinya karena toh naskah akan membuat dia bisa melakukan apapun begitu saja.

Sehingga, begitu cerita abis dan semua rahasia terungkap, dan semua masalah sirna (kecuali soal rumah mereka yang dengan entengnya dianggap Ibu sebagai “Udah, gak usah dipikirkan”) film masih belum terasa istimewa dan menarik.

Lalu datanglah twist itu. Ending film ternyata baru di ‘false resolution’. Ada misteri yang sebenarnya belum usai. Kupikir ini disengaja untuk hook kalo-kalo mau ada sekuel. Tapi enggak. Kocaknya, justru langsung dibahas lewat cerita ekstra yang muncul begitu kredit bergulir. Cerita yang membuat genre Teka-Teki Tika ini berubah total. Persis kayak twist M. Night Shyamalan yang mengubah genre (dari thriller ke superhero pada Unbreakable, atau dari horor ke sci-fi pada Old). Thriller komedi drama keluarga Teka-Teki Tika berubah menjadi sebuah action-spy! Bahkan setelah itu, visual di kredit title pun berubah jadi menunjukkan Tika sama sekali berbeda dengan yang kita lihat di sepanjang film tadi. Kurang menarik apa lagi coba!!

 

 

 

Kadang kita menyuap terlalu banyak dari yang mampu kita kunyah. I’m afraid inilah yang terjadi di film ini. Nyebrang dari komedi ke thriller sebenarnya sudah tantangan yang cukup tanpa harus ditambah sehingga membuat film jadi terbang ke mana-mana. Padahal belum ada dari tantangan itu yang bisa dijawab dengan memuaskan. Ibarat ngerjain puzzle, tapi belum beres malah mau nambah kepingan lagi. Film ini tampak jadi sebuah karya ambisius, meski banyak yang perlu dibenahi lagi. Terutama soal karakternya yang bisa digali dan diberikan development, ketimbang revealing demi revealing saja. Lalu soal intensitas dan bobot misteri yang belum terasa.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for TEKA-TEKI TIKA.

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian tertarik jika Tika diberikan universe sendiri – katakanlah, jika dibikin jadi ‘saingan’ Arini di Love for Sale, hanya saja si Tika ini khusus di action?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

LAST NIGHT IN SOHO Review

“We romanticize the past with an illusion that we’d know how we’d fit”

 

 

“Hati-hati, di London banyak orang jahat.” Peringatan yang jadi penutup nasihat Nenek sebelum Eloise/Ellie pindah untuk kuliah ternyata merupakan set up bagi bangunan narasi horor Last Night in Soho. Kalimat tersebut membuild-up antisipasi Ellie; cara pandang dirinya terhadap pengalaman yang ia temui dan rasakan sebagai gadis desa yang pindah ke kota besar. Dan tentu saja antisipasi kita juga, karena kita akan melihat dan merasakan semua pengalaman lewat Ellie. Itulah yang membuat karya terbaru Edgar Wright ini sebuah horor atau misteri psikologis yang luar biasa efektif. Tak ada yang lebih menyeramkan daripada seorang perempuan yang merasa dirinya ‘diserang’ oleh banyak pria (dan tak jarang juga oleh perempuan lain) dari berbagai arah. Yang merasa tempatnya hidup begitu enggak aman, sehingga dia harus mencari ke tempat lain. Bahkan, hingga ke waktu atau era yang lain.

Kok bisa? Karena Wright membuat filmnya ini sebagai semacam perjalanan waktu. Setiap kali Ellie tidur di kamar kosnya, dia seperti tertransport ke era 60an yang penuh kelap-kelip. Ellie melihat dunia itu lewat mata Sandie, gadis yang mengejar mimpi jadi penyanyi seperti Ellie yang punya keinginan untuk jadi seorang fashion designer. Tapi kehidupan Sandie si gadis berani yang tahu apa yang ia mau itu seketika jadi inspirasi bagi Ellie. Apalagi memang sejak awal Ellie sudah terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau tahun 60an. Ellie rela pergi tidur lebih cepat karena ia udah gak sabar untuk merasakan lagi keglamoran Sandie dan era tersebut.

sohoLast-Night-in-Soho-Thomasin-McKenzie-Anya-Taylor-Joy
Dengan kontras warna biru dan merah itu, tadinya kukira poster Survivor Series Smackdown lawan Raw

 

 

Untuk 30 sampai 40 menit pertama, cerita akan fokus kepada kontras antara Ellie dengan Sandie. Ketika kehidupan kampus dan sosial Ellie tampak penuh orang fake dan toxic – mulai dari pengemudi taksi yang matanya belanja ke kaki Ellie hingga ke teman sekamar di asrama yang manis di depan saja, sehingga kini Ellie tidak bisa memastikan seorang anak cowok yang mendekatinya itu beneran tulus pengen jadi teman atau cuma pengen meminum lebih dari kola miliknya saja – kehidupan malam Sandie tampak lebih aman dan menjanjikan. Menyaksikan dari balik cermin, Ellie melihat Sandie dibantu oleh seorang pria, diberikan kesempatan casting, janji mau diorbitkan, dibela dari mata keranjang; benar-benar disupportlah!

As far as the genre goes, babak pertama film ini memang membuat kita meraba-raba. Selain kemampuan Ellie melihat hantu ibunya di dalam cermin dan perihal Ellie masuk ke era 60an setiap kali tidur (bagaikan mimpi teramat nyata), kita enggak yakin di mana letak horor film ini. Yang terasa kuat adalah misteri kejadian tersebut kenapa bisa terjadi. Implikasi yang dihadirkan adalah hantu Sandie yang membawa Ellie masuk ke era tersebut, karena Ellie punya ‘kemampuan’, tapi itu juga belum membuat film terasa seram. Last Night in Soho memang mengambil waktu selama itu untuk mendaratkan ceritanya ke horor yang dijanjikan. Namun itu bukan berarti film ini tampil membosankan.

Set dan artistiknya stunning semua. Kerja kamera dan tempo editing cepat yang sudah jadi cap-dagang Wright membawa kita melewati set up panjang dan semua kontras itu dengan penuh gaya. Pertama Wright menekankan kontras itu lewat warna. Eloise dan lingkungannya hadir dengan warna-warna biru hingga abu-abu pucat, sementara Sandie melangkah mantap menembus dunia dominan merah di balik dress pink ataupun jaket putih mengkilap. Ellie pada awalnya tampil polos, tidak seperti Sandie yang bibirnya selalu merekah merah. Warna-warna tersebut tentu saja menguatkan karakter mereka. Thomasin McKenzie memainkan Eloise sebagai karakter yang berusaha mandiri, yang berusaha optimis. Dia memang sedikit polos, dan somewhat kurang pede dan kurang agresif (perhatikan rasa bangganya ketika menyebut mengenakan baju rancangan sendiri memudar dengan cepat begitu melihat reaksi dari teman-teman barunya), tapi McKenzie berhasil membuat kita melihat dia sebagai gadis yang gak mudah menyerah. Kita bersimpati pada gadis yang dicap norak dan aneh oleh cewek-cewek seusianya ini. Sebagai Sandie, Anya Taylor-Joy, ditugaskan untuk menjadi antitesis dari karakter Ellie. Dan dia berhasil memainkannya dengan fenomenal. Sandie benar-benar tampak sebagai enigma dimainkan oleh Anya.

Bukannya mau nyamain diri ama sutradara sekelas Edgar Wright, tapi aku punya bayangan yang mungkin sedikit lebih tegas mengenai effort yang harus Wright keluarkan untuk mewujudkan visi kreatifnya di sini. Bikin dua aktor seolah mereka satu orang karakter, yang bergerak selaras dalam pantulan cermin, jelas bukan hal yang gampang. Aku pernah bikin film pendek dengan konsep serupa, dua pemain harus bergerak layaknya seseorang dengan pantulannya, dan hasilnya susah untuk sempurna. Akhirnya aku mengurangi adegan, dari yang banyak gerak menjadi cuma senyum doang hahaha.. Yang dilakukan Wright dalam film Soho ini bahkan lebih kompleks dari adegan sekadar karakter bercermin. Yang dengan budget yang banyak, tentu bisa dilakukan pake efek komputer. Wright di sini betul-betul membuat Ellie dan Sandie terlihat sebagai satu orang, lewat adegan tanpa cermin yang gak-putus. Adegan menari yang Ellie dan Sandienya muncul bergantian, dilakukan Wright tanpa efek editing, melainkan dengan efek praktikal yang menuntut ketepatan dari semua kamera dan juga para aktor.

In some sense, film ini mengingatkanku sama Malignant (2021), horor action campy dari James Wan. Kedua film ini bekerja pada goal yang sama. Pembangunan narasi horor yang membuat kita bertanya-tanya ini sebenarnya film tentang apa – which is add much to the mystery itself. Penggarapan yang mengunggulkan kepada gaya entah itu teknis kamera atau editing. Dan bahkan sama-sama bermain seputar karakter yang ketika tidur tertransport ke tempat lain. Keduanya adalah film yang ingin kita bersenang-senang atas nama horor dan misteri. Kalo perbandingannya dilanjutkan, aku mau bilang, pada akhirnya aku lebih suka Last Night in Soho ketimbang Malignant. Karena walaupun sekilas horor Soho terlihat lebih lemah, sebenarnya Soho punya bangunan cerita dan lapisan psikologis karakter yang lebih berbobot. Yang eventually membuat misteri dan horornya menjadi lebih impactful karena jadi benar-benar beresonansi dengan kehidupan kita di luar cerita.

soholastsohothumb-1634585969073
Apa jadinya film Edgar Wright tanpa soundtrack yang benar-benar mewakili mood?

 

 

Thomasin McKenzie semakin dituntut untuk menyuguhkan permainan yang menakutkan secara emosional, seiring dengan Elliekarakternya yang sudah semakin terattach dan peduli sama Sandie mulai melihat ada yang gak beres sama arahan karir cewek di masa lalu tersebut. Di sinilah set up yang disebutin nenek di awal tadi kembali weighing in ke dalam narasi. Bukan hanya karir dan mimpinya, tapi nyawa Sandie actually jadi ikut terancam oleh orang-orang yang ternyata berniat jahat kepadanya. Terbangun dari tidur, Ellie kini berusaha mati-matian untuk mencarikan keadilan bagi nasib Sandie. Elemen horor terbangun juga dari tidur, merayap di balik usaha Ellie. Gadis itu sekarang melihat hantu-hantu dari orang yang jahat kepada Sandie, seperti jadi mengejar dirinya. Mereka ada di mana-mana!

Eloise yang jadi takut tidur, heck bahkan dia jadi terlalu stress untuk bisa tidur, kehidupan akademis dan sosialnya merosot drastis, ditambah dengan dia menjadi percaya bahwa dunia tidaklah pernah jadi tempat yang baik-baik saja (tidak sekarang, tidak dulu, dan mungkin tidak di masa mendatang) — inilah horor sebenarnya yang digambarkan oleh cerita Last Night in Soho. Ini jauh lebih seram ketimbang wajah-wajah burem ataupun darah-darah muncrat dari penampakan hantu. Wright menunjukkan kepekaannya terhadap perubahan tempo lewat bangunan misteri di dalam narasi seperti yang ia tunjukkan di film ini. Bahwa dia bisa menjalin horor, baik itu lewat komedi ataupun drama, karena dia mengerti bagaimana membangun dan mendeliver. Gaya-gaya tadi bukan cuma supaya gak bosan, melainkan juga merupakan pengalih perhatian yang cantik, makanya gak jarang kita menemukan diri kita caught up by surprise setiap kali menonton film Wright.

Salah satu tema tersembunyi dalam film ini adalah soal nostalgia. Bagaimana orang bisa obses sama nostalgia, meskipun dia enggak ngalamin langsung hal nostalgia tersebut. Seperti Eloise yang ngaku suka 60an, padahal dia hanya tahu itu dari film, musik, atau media lain. Film ini menerjemahkan itu sebagai pelarian. Kemudian film menantang itu dengan pertanyaan “Bagaimana jika tempat tersebut sama saja dengan penyebab kita lari di awal? Do we still love it?” Maka, tidaklah bijak sebenarnya terlalu meromantisasi sesuatu yang kita gak pernah tahu, yang kita hanya rasakan sebagian kecil dari kebaikannya saja.

 

Hantu-hantu itu menyimbolkan ‘penyakit’ di masa lalu akan terus menghantui masa depan. Malah tidak akan berakhir atau tidak akan mati kecuali benar-benar ditindak, seperti yang diketahui Ellie bahwa ada satu pelaku dalam tragedi Sandie yang masih hidup di masa sekarang. Lalu, di puncak konflik Ellie, Wright membalikkan narasinya. Begitu jungkir-balik sehingga pesan tadi menjadi sedikit kabur. Menurutku, pilihan twist yang melibatkan revealing identitas satu karakter yang membuat role (pelaku dan korban) jadi kebalik inilah yang membuat Last Night in Soho jadi terbagi dua penontonnya. Gagasan yang diusung lewat pembalikan itu, aku bisa lihat, tidak mudah diterima bagi penonton. Especially karena menyangkut gender sebagai subjeknya. Jadi gak heran juga banyak yang menolak memberi skor tinggi, urung merekomendasikan, atau bahkan mengkritik keras film ini. Mungkin itu juga sebabnya kenapa film ini cepat kandas di bioskop.

Padahal menurutku memang fenomena itulah yang sedang diperiksa oleh film. Sedari awal “banyak orang jahat” itu sudah dilandaskan. Yang berarti bahwa ya, orang jahat ya bisa ada di mana-mana. Bisa siapapun. Seorang yang jadi korban ketimpangan atau kekerasan, tidak berarti mereka tidak akan bisa menjadi orang jahat. Tidak berarti setiap tindakan mereka bisa terjustifikasi. Pembunuh massal tetaplah pembunuh massal, tidak peduli dia hidup di era 60an atau di era woke kekinian.

 

 

 

 

Kekurangan film ini bagiku cuma, ceritanya belum berhasil betul memperlihatkan korelasi antara kerjaan Ellie – keberhasilannya sebagai siswa perancang busana – dengan misteri yang ia alami. Kita tidak dikasih lihat secara detil bagaimana kenyataan yang ia sibak itu berdampak kepada rancangan Ellie. Selebihnya, film ini sendiri bagai seni kontemporer. Misteri yang dengan balutan visual yang cantik sekali. Hadir dengan tetap berbobot, dan semakin gorgeous berkat penampilan akting yang flawless. Aku mungkin sedikit bias karean Thomasin dan Anya cakep-cakep, but they do understand the assignment, dan aku gak melihat ada ‘nada sumbang’ dari penampilan mereka di sini. Sedangkan untuk Edgar Wright, aku gak setuju sama yang bilang sutradara ini belum fasih di horor. Wright cuma punya formula sendiri, dan dia menerapkan horor ini ke dalam formula tersebut. Memang, hasilnya tidak seperti horor yang biasa. Ini adalah horor unik dengan implikasi gagasan yang tak kalah seram.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for LAST NIGHT IN SOHO

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa kita suka meromantisasi nostalgia? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

LAMB Review

“They can face anything, except reality”

 
 

Sudah lumayan banyak keanehan dalam dunia film 2021, perihal bayi. Sebelum ini kita udah dapat bayi boneka kayu. Bayi setengah mesin. Dan kini, Lamb yang ceritanya terisnpirasi dari folklore atau cerita rakyat Islandia, melengkapi keanehan terebut dengan menghadirkan bayi domba setengah manusia. You would think cerita tentang pasangan yang mengadopsi bayi hibrid tersebut bakal punya beragam bahasan dan kejadian. Namun Lamb digarap oleh sutradaraValdimar Johannsson di bawah sayap studio A24. Dan film-film dari rumah produksi dan distributor tersebut tidak terkenal dengan film yang punya banyak kejadian dalam satu cerita. Buatku, film-film A24 justru dikenang sebagai yang wajib ditonton kala mau menaikkan berat badan. Karena, camilanku udah habis dua bungkus, adegan filmnya baru beres memperlihatkan karakter berjalan dari ujung layar ke layar satunya.

I don’t mean that entirely as a bad thing. Film A24, dan termasuk Lamb ini, meskipun flownya lambat, tapi sangat poetic. Visualnya dirancang untuk benar-benar nge-entranced kita. Sebab visualnya itulah yang menjadi pintu masuk kita terhadap perasaan yang digambarkan. Cerita Lamb bersetting di rumah peternakan di pegunungan. Pemandangan padang rumput luas, bukit-bukit yang senantiasa tertutup kabut, dan langit abu-abu membentang dicat ulang oleh film dengan ‘warna’ yang menimbulkan kesan tak-nyaman. Atmosfer lingkungan tersebut terasa mengekang. As far as bagaimana sebuah konsep memenuhi fungsi, film ini berhasil. Meskipun fungsi tersebut tidak enjoyable bagi kebanyakan penonton. Apalagi ketika dua karakter sentral mulai diperkenalkan kepada kita. Pasangan pemilik peternakan domba, Maria dan Ingvar. Semua mood yang digambarkan, yang nyampe kepada kita, bersumber dari dua karakter ini. Lamb meletakkan kita begitu saja di ruang dapur mereka. Tidak mengetahui mengapa mereka terasa begitu dingin. Begitu somber. Tidak bergairah.

 
Lamb-Banner
Kecuali adegan opening, yang tanpa kita sadari sebenarnya adalah adegan domba kimpoi di malam yang dingin
 
 
 

 

Ini jadi set up yang benar-benar susah untuk diikuti. Apalagi karena film ini sebenarnya ceritanya singkat banget. Jangan dulu ngomongin dialog, kejadian-kejadian yang menyusun narasi utuhnya aja enggak banyak. Lamb ini bisa saja jadi episode animasi horor Yamishibai yang pendek-pendek, yang menitnya itungan jari itu. Kita jadi ingin cepat-cepat masuk ke pusat konflik. Tapi film dengan teganya berlama-lama. Film ingin memastikan kita merasakan semua emosi yang diniatkan. Karena ini penting. Film tidak pernah menyebut sesuatu dengan gamblang. Ketika ngasih set up bahwa keluarga Maria punya kejadian masa lalu tak mengenakkan, film memberitahu kita lewat dialog ‘gajelas’. Maria dan Ingvar membicarakan seputar mesin-waktu. Aku sudah camilan bungkus ketiga sekarang, aku harus nambah terus karena kalo enggak, aku bakalan ngantuk. Namun sebelum aku sempat membuka camilan keempat, film membuatku melek dengan adegan yang sangat-teramat-real. Adegan Maria dan Ingvar membantu seekor domba melahirkan. Ingvar memegangi badan domba, Maria menarik kepala anak yang nongol di belakang mama domba. Aku bersyukur udah gak sedang makan. Dan honestly, setelah adegan itu aku gak perlu camilan lagi untuk stay awake.

Akhirnya cerita sampai ke menu utama. Kali berikutnya ada domba yang melahirkan, Maria dan Ingvar mendapati sesuatu yang membuat mata mereka membulat. Film cerdas gak langsung ngasih kita lihat. Kita kan jadi penasaran saat Maria membawa bayi domba ke dalam rumah, memandikannya di bak mandi, menidurkannya di ranjang bayi. Membungkusnya dengan selimut. Hangat. Kita merasakan juga, tapi tidak tanpa sensasi geli-geli aneh. Film ngambil waktu lagi. Ngebuild up si anak domba ini kenapa sih sebenarnya. Mengapa pasangan itu begitu sayang dan begitu protektif terhadap si anak domba. Mama domba mengembek di luar jendela, mereka usir. Ketika anak domba itu menghilang dari rumah, Maria dan Ingvar panik. Benar-benar cemas. Mereka mencari-cari ke luar rumah, tapi tidak pernah mencari ke kandang domba. Sebagai penonton, kita diharapkan film untuk mulai menambah satu-tambah-satu dari adegan-adegan tersebut. Dari perbincangan mesin waktu hingga ke kecemasan anak domba yang menghilang. Ya, pasangan ini pastilah punya kenangan buruk terhadap anak. Dan setelah si anak domba ketemu, barulah diperlihatkan dia adalah domba separuh manusia. Mereka beri nama Ada. Mereka rawat seperti anak sendiri. Realita-baru mereka tersebut lantas akan kembali ditantang ketika babak baru cerita dimulai, dengan kedatangan saudara laki-laki Ingvar, Petur, ke rumah kecil mereka.

Basically, aku baru saja menceritakan 90% isi film, hanya dari satu paragraf di atas. Hanya menyisakan yang penting-penting, yakni konfrontasi drama dan menit-menit terakhir berupa pengungkapan yang either bagi kalian terasa shocking dan seram, atau menggelikan. Tergantung dari bagaimana perasaan kalian setelah melewati nyaris dua jam yang ajaib tersebut. Segitu singkat dan, katakanlah, uneventfulnya, cerita film ini. Film baru benar-benar hidup dan menyala saat keempat karakater sudah ada di rumah itu. Padahal mestinya bisa lebih banyak dan lebih kompleks yang diceritakan. Ada yang mulai gede dan menyadari dirinya berbeda aja hanya dibahas sekilas, porsinya lebih kecil daripada durasi Maria dan Ingvar berkeliling di rumah mencarinya saat hilang tadi. Heck, keberadaan atau eksistensi Ada di dunia cerita ini saja tidak pernah dibahas mendalam. Melainkan cuma sebatas Petur bilang Ada itu tidak benar (binatang yang didandani dan dianggap anak manusia), yang tentu saja ditentang oleh Maria dan Ingvar yang tersenyum bangga memperkenalkan Ada kepadanya. Coba kalo ini sinetron, waah, Maria pasti curiga.. Jangan-jangan lakik gue selingkuh ama domba.. (Although, mungkin ini juga salah satu penyebab dia menembak mati sang mama domba).

 
lambmaxresdefault
“Ayah, kenapa aku… Ada”
 
 
 

Jadi, Baby Ada ini pastilah sebuah simbolisme, kan. Kan?

Si Ada dalam cerita ini bisa jadi serupa sosok minotaurus dalam legenda yunani, yang melambangkan kematian. Atau dia yang makhluk setengah manusia setengah hewan itu bisa juga seperti Dewa Ganesha di India, yang tampil seperti itu sebagai bentuk penyesalan orangtua yang telah memotong kepala manusianya. Atau dalam agama Kristen, Ada si domba itu ya bermakna sebagaimana domba dalam Alkitab. Makhluk suci yang melambangkan keajaiban Tuhan. Domba melambangkan purity dan keinnocent-an. Yang menarik adalah, si Ada malah bisa dimaknai sebagai ketiga simbol tersebut sekaligus.

Lamb pada hatinya adalah sebuah cerita tragis. Makanya dia dijual sebagai horor. Karena horor bukan sebatas kejadian mengerikan karena hantu-hantuan, jumpscare, atau pembunuh gila di malam hari. Horor juga adalah kejadian mengerikan yang berasal dalam kita sendiri. Dari perasaan tragis yang menghantui. Dendam, cemburu, rasa bersalah, duka. Lamb sesungguhnya bermain pada dua tema yang terakhir. Ingvar, dan khususnya Maria (tokoh utama cerita ini adalah seorang ibu) adalah pasangan yang telah melewati hari-hari penuh duka. Keberadaan Petur, dan hubungannya dengan mereka yang tersirat di dalam cerita, adalah saksi hidup dari seberapa dalam duka tersebut berdampak di kehidupan rumah tangga mereka. Untuk tidak mengatakan terlalu banyak, Ada si bayi domba, bagi mereka lebih dari kesempatan kedua. Bagi suami istri ini, Ada bisa dibilang adalah mesin-waktu, yang memungkinkan mereka untuk memperbaiki atau bahkan mencegah duka yang tadi terjadi.

Tragisnya adalah, bahwa manusia yang terluka, cenderung lebih suka untuk menghadapi apapun – termasuk sesuatu yang sama sekali ajaib, sesuatu yang setidakmasukakal menjadikan anak domba sebagai anak sendiri – kecuali kenyataan pahit itu sendiri.  Film ini gak segan-segan ngasih hukuman untuk orang seperti itu. Seperti yang kita lihat terjadi kepada Maria di akhir cerita. Lamb sesungguhnya adalah dongeng rakyat penuh moral tentang orang yang jadi kehilangan begitu banyak, karena mereka berkubang dan tidak membenahi diri setelah kehilangan yang pertama.

 
 
 
 
 

Puitis, tragis, humanis. Film ini bukan hanya punya bobot, tapi juga penuh oleh ruh-ruh seni. Dia bercerita lewat visual. Dosa film ini cuma, bercerita terlalu lama. Dan terlalu sedikit. Dia tidak berhasil meyakinkan kita bahwa cerita yang sajikan ini memang harus berdurasi sepanjang itu, karena dia tidak mengisi durasi dengan seimbang. Atau katakanlah, dengan efektif. Banyak plot-plot poin yang jadi ada, dan kemudian tidak ada, dengan begitu saja. Semuanya numpuk di pertengahan akhir. Sementara di awalnya, set up agak sedikit terlalu kosong. Melainkan jadi susah untuk diikuti. Saking susahnya, penonton bisa gak sabar, dan memutuskan untuk melihat film ini sebagaimana yang mereka mau. Tidak lagi sesuai tuntunan yang disediakan. Akhiran film yang mengejutkan itu, misalnya, aku gak kaget kalo ada yang menganggapnya lucu, alih-alih tragis. 
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LAMB.

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pandangan kalian terhadap pilihan-pilihan yang dilakukan oleh Maria? Apakah di mata kalian dia adalah seorang ibu yang baik?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

PARANORMAL ACTIVITY: NEXT OF KIN Review

“It’s okay to walk away”

 

Paranormal Activity telah sukses memberikan warna baru kepada genre horor found-footage di tahun 2007. Alih-alih menggunakan kamera bergoyang yang mengikuti ke mana karakter pergi, film indie tersebut menggunakan kamera steady yang merekam ruangan rumah. Yang seketika efektif mencuatkan trope-trope unggulan dari genre ini; suara misterius yang gak keliatan sumbernya di mana, wide shot tapi sudut pandang penonton amat terbatas, dibalut cerita keluarga yang membuat penonton rela memandangi ruang kosong sambil siap-siap menangkap jantung yang copot begitu kekuatan tak-berwujud menunjukkan aktivitasnya. Beberapa sekuel pertama dari film tersebut masih bertahan dan cukup berhasil menghantarkan pengalaman seram serupa. Namun, seperti halnya franchise horor lain, Paranormal Activity pun jadi gede dan melebar keluar rel, sebelum akhirnya kandas setelah sekuel yang dinilai paling buruk di tahun 2015 (PA: The Ghost Dimension) Aku actually bersorak hore saat film tersebut gagal dan officially mengakhiri franchise Paranormal Activity yang sudah jadi kayak parodi diri originalnya sendiri, karena kebanyakan sekuelnya hanya meniru trik tanpa pernah mikir dan memahami apa yang membuat trik tersebut berhasil. Namunnya lagi, seperti halnya franchise horor lain, franchise ini pun berusaha dihidupkan kembali. Paranormal Activity: Next of Kin adalah usaha tersebut.

Dijadikan literally next of kin – kerabat dekat – dari film-film sebelumnya, film terbaru ini oleh sutradara William Eubank diberikan arahan yang fresh. Seenggaknya, niatnya begitu. Biar fresh. Next of Kin tidak lagi melanjutkan mitologi sekte Toby dan Katie. Tidak lagi bersetting di dalam rumah, dengan kamera yang merekam ruangan kosong di malam hari. Eubank menggunakan konsep found footage yang baru bagi franchise ini, tapi enggak benar-benar baru dalam genre found footage itu sendiri. Itupun dilakukan dengan generik dan konsep yang tidak maksimal. 

paranor-2021-10-06-at-1.31.38-PM
Film ini jika diibaratkan sebagai kerabat keluarga, maka dia adalah kerabat yang kita ingin jauhi

 

Cerita baru yang diusung oleh film ini adalah tentang Margot, perempuan yang menemukan keberadaan keluarga aslinya. Dirinya ketika masih bayi ternyata ditinggalkan oleh ibunya begitu saja di depan pintu apartemen. Sang ibu, melarikan diri dari keluarga besar mereka di perkampungan Amish. Kinda like ibu-anak Laudya Cynthia Bella dan Lutesha di film Ambu (2019)hanya saja di sini, sosok Ibu Margot jadi misteri. Untuk itulah, Margot memutuskan untuk mengunjungi kampung tersebut. Dia mengajak pacarnya yang kameramen dan sahabat mereka yang tukang sound. Mereka juga dibantu oleh pemuda dari kampung Amish yang sedang berada di kota. Lebih dari silaturahmi, Margot ingin memfilmkan kehidupan keluarga besarnya di sana, dengan harapan dia bisa tahu apa yang terjadi dengan ibunya.

Do you guys see the problem with that story? Do you see that ‘red flag’?

Ya, alasan untuk menjadikan film ini sebuah cerita dengan konsep found-footage lemah sekali. Untuk apa Margot bikin film segala. Salah satu struggle (dan ultimately menjadi kejatuhan bagi banyak film horor bergenre found footage) adalah memasukakalkan karakter ceritanya menggunakan kamera sepanjang waktu. Konsep ‘menonton cerita dari tayangan video kamera’ dalam found footage hanya akan benar-benar menjadi sebuah storytelling yang unik, jika bangunan ceritanya sendiri benar-benar dirancang untuk hanya bisa bekerja dengan konsep tersebut. Franchise V/H/S/ misalnya, mereka membingkai konsep tersebut ke dalam cerita kasus cult video. Video-videonya itu yang kita tonton sebagai film horor antologi. Atau Paranormal Activity original; ceritanya dibuat sebagai kisah tentang pasangan yang mengalami gangguan aneh di malam hari sehingga mereka memutuskan untuk merekam isi rumah dengan kamera pengintai. Klip-klip dari rekaman kamera mereka itu yang kita tonton sebagai film. Narasi film tersebut serupa puzzle yang harus kita susun, klip-klip itu jadi kepingan puzzlenya. Jadi, make sense, saat keseluruhan film adalah tontonan dari klip video atau dari klip rekaman kamera.

Next of Kin enggak punya alasan yang kuat seperti demikian. Margot berkunjung ke kampungnya, sambil merekam video. Katanya dia pengen bikin dokumenter tentang orang Amish, tapi selain kunjungan ke kandang ternak (mereka berunyu-unyu dengan babi tampak sangat out-of-place), kita tidak pernah melihat mereka merekam aktivitas apa-apa. Margot bahkan terus merekam bahkan setelah semua orang Amish itu tidur. Karakter-karakter protagonis kita tidak punya alasan kuat harus terus menerus merekam. Mereka hanya merekam karena ini adalah film found footage. Makanya, konsep ini gak bekerja dengan baik. Karena seperti dipaksakan. Atau parahnya, cerita ini memang sebenarnya bukan untuk found footage. Hanya karena ingin dijual sebagai brand Paranormal Activity ajalah, maka diharuskan jadi pake pov kamera.

Bahkan pada beberapa adegan, kelihatan sekali film ini kesusahan untuk komit dengan konsep tersebut. Pada beberapa adegan, kita bahkan tidak tahu kamera cerita dipegang oleh siapa. Contohnya ada adegan menjelang ending yang there’s no way karakter protagonis yang ada di layar itu bisa memegang kamera. Tapi kegiatan mereka terus direkam. Terus ada juga set up yang aneh; di awal-awal, karakter memperlihatkan kamera canggih kepada anak-anak di kampung yang gak tau teknologi itu. Mereka bermain-main dengan mode slow-motion. Pake dijelasin segala berapa frame per second kamera itu merekam dalam keadaan slo-mo. Pay off dari itu, adalah, saat setan dalam cerita ini beneran muncul dan mengejar si karakter protagonis, ada momen ketika si setan kita lihat bergerak dalam slow-motion. Yang berarti, si perekam sempat-sempatnya memakai fitur itu di momen life or death seperti demikian. Kan maksa banget. Orang dikejar setan tapi lari matanya masih ngerekam lewat kamera aja udah aneh. Pake segala aktifin fitur slo-mo pula.  

Ketika mereka semua menginap di rumah kakek Margot yang jadi pemimpin (sosok patriarki) di keluarga Amish itu, kupikir malamnya akan ada bagian mereka mendengar suara-suara, lalu memutuskan untuk memasang kamera tersembunyi supaya kita bisa mendapatkan momen kamera ruangan khas Paranormal Activity. They do hearing voices. Ada satu adegan ketika Margot bangun dan menyelidiki suara tersebut hingga sampai ke atap dan kita kemudian mendapatkan bagian paling ngeri dan terbaik seantero durasi film ini (berkat permainan kamera dan timing jumpscare yang pelan-tapi-pasti!). Namun bagian mereka memasang kamera untuk mengintai itu tidak pernah datang. Next of Kin malah gagal untuk menjadi seperti Paranormal Activity. Heck, bahkan The Medium (2021) aja bisa menjadi Paranormal Activity yang lebih baik ketimbang Next of Kin ini!

Ngomong-ngomong, The Medium bisa dijadikan perbandingan yang bagus soal konsep found footage. Film dari Thailand itu sebenarnya menggunakan standar found footage kebanyakan; yakni membentuk ceritanya berupa ala-ala dokumenter supaya karakter dengan kamera bisa terus ada di sana. The Medium melakukannya dengan sangat kuat sehingga dia beneran tampak seperti mockumentary, padahal sebenarnya found footage. Saking kuatnya, at it worst, The Medium bisa kita bilang sebagai mockumentary yang berkembang menjadi found footage yang all over the place. Next of Kin sebenarnya juga punya kekuatan. Film ini bukan hanya mengeluarkan diri dari ending yang template buat found footage (semua mati!), tapi juga keluar dari tradisi ending franchisenya sendiri. Narasinya juga sebenarnya cukup punya bobot. Margot yang diperankan oleh Emily Bader, walaupun melakukan pilihan-pilihan bego, tapi tidak annoying. Dia likeable. Dia dirancang sebagai teman yang bisa relate sama semua penonton. Sayangnya, dia hidup di dunia-cerita yang dibangun dengan lemah. Film ini bahkan tidak bisa dibilang sebagai found footage yang all over the place. Melainkan cuma cerita yang bisa lebih baik penggaliannya jika tidak dikonsep sebagai found footage.

ParanorActivity-Next-of-Kin-trailer-image
Kau tahu kau gagal jadi sesuatu, kalo orang bilang kau bisa lebih baik jika enggak jadi sesuatu itu.

 

Bayangkan, jika tidak sibuk mikirin karakter dan kamera, film ini bisa menggali banyak hal yang hanya dimasukkan seuprit dalam cerita. Budaya orang Amish yang berbeda dengan anak teknologi macam Margot dan teman-temannya. Ini bisa jadi bahasan yang menarik. Apalagi film memang tampak menggali horor dari sini. Margot dan teman-temannya menjadi takut dan curiga kepada keluarga Amish itu karena mereka begitu aneh dan berbeda. Hidup tanpa listrik dan sebagainya. Belum lagi perkara mereka adalah keluarga darah daging Margot. Bahasannya bisa dalam. Tapi karena film ini lebih mementingkan gaya found footage, maka bahasan ke arah sana dangkal sekali. Hanya berupa ‘Amish berbeda sehingga mereka mengerikan’. Ini kan jadi kayak menghororkan stereotipe, yang bisa berujung terlihat sebagai narasi yang gak respek. Mungkin itu juga sebabnya film ini mengadakan sebuah revealing di menjelang akhir yang menjelaskan sesuatu ternyata tidak seperti yang kelihatannya.

Ada hal-hal tertentu yang membuat kita boleh meninggalkan keluarga. Harus meninggalkan, malah.Yang dialami oleh Margot dan ibunya sebelum dirinya, adalah contoh dari hal tersebut. Film ini memang menunjukkannya dalam lapisan horor. Tapi di balik itu, kita bisa mengambil nilai bahwa tidak semua yang dilakukan oleh keluarga kita, yang dipercaya oleh mereka sebagai kebenaran, adalah kebenaran.

 

Namun itu juga lantas menunjukkan betapa naskah film ini memang dibuat sekenanya aja. Kayu yang memalang pintu gereja bertulisan kalimat dalam bahasa Jerman. Margot dan kawan-kawan kelimpungan mencari tahu artinya, yang ternyata adalah peringatan. Namun saat mereka semua sudah masuk, di lantai gereja, terdapat gambar-gambar yang disertai tulisan–berbahasa inggris!! Sehingga Margot bisa membaca eksposisi-eksposisi dan cerita bisa kembali maju. Film ini enggak ragu-ragu untuk menjadi serba mudah bagi karakter, karena itu berarti mudah juga bagi mereka untuk membuat cerita. Malah ada adegan ketika karakter mampir ke toko, minjam internet dan ngegoogle nama setan, dan dalam waktu enggak lebih dari satu menit, seluruh misteri dan mitologi film ini terbeber semua kepada karakter. Film praktisnya usai di sini. Dan sisa durasinya adalah untuk gila-gilaan. Yang malah kerasa lebih mirip cut scene video game horor first-person. Film ini ngarep kita bakal puas dengan kegilaan di akhir dan melupakan betapa males dan ngasalnya mereka dalam membangun konsep dan menulis cerita.

 

 

Bagaimana membuat sesuatu yang tadinya unik tapi lantas menjadi membosankan, menjadi unik kembali? Jawaban film ini adalah dengan membuatnya menjadi hal basic yang dihindari oleh originalnya sedari awal. Film ini hanya sedikit sekali terasa seperti franchise Paranormal Activity, dan sama sekali tidak terasa seperti perbaikan. Okelah, secara teknis, film ini memang lebih baik daripada film terakhir dari Paranormal Activity sebelum ini. Namun secara overall, konsep yang dipakai sangat lemah. Dan enggak klop dengan potensi maksimal yang dimiliki oleh ceritanya. Hasilnya, tampak sebagai usaha yang teramat lemah dalam menghidupkan kembali franchise found footage yang pernah sangat populer ini.
The Palace of Wisdom gives 2.5 out of 10 gold stars for PARANORMAL ACTIVITY: NEXT OF KIN

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang genre horor found footage? Apakah menurut kalian masa horor genre tersebut sudah lewat? Konsep unik apa yang ingin kalian lihat dalam genre ini?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

V/H/S/94 Review

“It was a simpler time”

 

 

Kaset video atau VHS memang adalah dinosaurus, jika dibandingkan dengan beragam gadget berteknologi tinggi yang bisa mudah dimiliki dalam genggaman setiap orang.  Kualitas gambarnya yang bersemut-semut kalah jauh ama kejernihan HD. Suaranya yang berdesir (dan kadang terdengar bindeng) bukan apa-apa deh dibandingkan dengan kualitas audio di jaman sekarang. Tapi VHS punya keunggulan sendiri. Tidak ada menu yang rumit, tidak ada loading screen yang annoying, tidak ada software updates. Gak ada iklan! Saat kita ingin merekam, tinggal pasang kamera dan rekam. Saat mau nonton, tinggal masukin ke video dan tonton. VHS akan selalu dapat tempat di hati orang-orang yang pernah mengalami langsung masa keemasannya.

Kita bisa bilang itu karena sentimen nostalgia. Tapi sebenarnya yang dirindukan darinya adalah karena VHS terasa mewakili kehidupan di tahun 80-90an. Hidup yang lebih simpel dan bahagia.

 

Sekarang, semuanya udah overproduce. Terlalu banyak polesan. Bikin video youtube aja sekarang harus benar-benar seperti profesional. Enggak cukup dengan gambar dan suara berstandar tinggi. Harus dilengkapi pake efek dan edit-edit yang mentereng. Makek software editing yang ketinggalan satu versi update-an aja, kita bisa diketawain. Gak usah jauh-jauh, aku bahkan merindukan tahun 2000an ketika video-video yang ada di youtube masih berupa home video sederhana. Yang produksinya lebih mirip video VHS ketimbang buatan stasiun televisi. Kenapa? Karena video-video rumahan tersebut terasa lebih real. Lebih jujur. Karena itulah, kehadiran V/H/S/94 ini, yang franchisenya seperti sudah mati lantaran V/H/S: Viral (2014) yang flop, jadi angin segar buatku. Aku udah jenuh sama film-film yang terlalu sibuk berlomba untuk menjadi besar, baik dari segi visual, efek, cerita, hingga twist. Terutama film hororSebab sesungguhnya, ‘real dan jujur’ itulah yang jadi situasi penentu kualitas cerita horor. Situasi menakutkan yang dialami oleh karakter harus benar-benar beresonansi kepada kita. Ketika mereka diganggu hantu, misalnya, perasaan bersalah atau perasaan duka yang dilambangkan oleh peristiwa menakutkan itu harus sampai ke kita. Film harus mampu membuat kita mengerti perasaan tersebut, dan in turn bisa relate dan percaya kita bisa saja mengalami perasaan serupa; thus make us scare.

Banyak horor modern yang gagal menyampaikan ‘real dan jujur’ tersebut, karena mereka terlalu fokus ke membuat spectacle horor. Ke membuat wahana rumah hantu – alias wahana kaget-kagetan. Ke merangkai plot rumit dengan twist, yang justru sebenarnya mengalihkan kita dari esensi cerita. Ke membuat hantu tampak senyata mungkin, padahal justru menjauhkan kita dari ceritanya. Dua film V/H/S original yang tayang pada tahun 2012 dan 2013 – enam tahun setelah berakhirnya era VHS, dan di tengah maraknya genre found footage modern – mengerti hal tersebut. Paham bahwa culture horor berkembang justru saat VHS lagi hits-hitsnya. Maka film itu mengembalikan penonton kepada masa tersebut. Mengatakan, ‘ini loh habitat natural found footage itu’. Sehingga kedua film V/H/S pertama tersebut jadi sukses dan digemari, baik bagi yang rindu era VHS hingga bahkan oleh penonton yang gak really aware sama ‘kekuatan’ konsep videonya. 

vhs_195562848_7810f16b-65d9-4068-8375-2722a80af17c-superJumbo
VHS reborn!

 

 

Mengikuti (dan melanjutkan) konsep terdahulunya, V/H/S/94 hadir sebagai antologi horor pendek yang digarap oleh filmmaker-filmmaker yang udah dikenal sebagai ‘pemain lama’ pada genre horor brutal nan berdarah-darah. Simon Barrett, Chloe Okuno, Ryan Prows, Jennifer Reeder, and our own Timo Tjahjanto. Masing-masing horor pendek tersebut didesain berupa tontonan kaset video jadul. Estetik yang dipakai dan dipertahankan di sini adalah sudut pandang orang-pertama, dengan layar yang bersemut, suara yang berdesir, dan kamera goyang-goyang. Ada lima cerita lepas, yang salah satunya difungsikan sebagai perekat atau tubuh utama film ini. Yakni tentang sekumpulan pasukan S.W.A.T yang menyerbu markas sebuah cult. Di sana mereka menemukan banyak hal-hal mengerikan, termasuk empat video yang juga bakal kita tonton.

Cerita favoritku adalah Storm Drain karya Chloe Okuno. Seorang reporter dan kameramennya sedang meliput sebuah urban legend tentang makhluk setengah tikus setengah manusia yang hidup di gorong-gorong. Kita dibuat melihat aktivitas meliput mereka lewat kamera si kameramen. Konsep low-quality dan pov dimainkan dengan pintar di sini. Lingkungan gelap yang mereka lewati terasa semakin mencekam lewat pandangan mata kita yang terbatas. Horor itu akan benar-benar terasa ketika Okuno memperlihatkan sekelebatan makhluk di dalam sana. Untuk membuat kita tetap tertarik, Okuno membuat karakter-karakternya berbobot. Ada motivasi, dan nantinya ada hal yang menjadi ‘antagonis’ dari motivasi tersebut. Napas pendek segmen ini jadi terasa begitu berarti. Set up, pengungkapan, bahkan aftermath cerita tidak disampaikan terburu-buru. Sama sekali tidak ada niat dari segmen ini untuk membuat cerita menyusur tempat gelap yang semata untuk mengagetkan penonton. Kalian bisa melihat betapa respek dan fokus ke berceritanya si pembuat dari cara ia membuild up dan memberikan pay off kepada makhluk legenda yang dicari oleh karakternya. Segmen ini bahkan dilengkapi oleh klip-klip iklan ala 90an, yang menambah kesan real television footage.

Konsep sederhana dari video itu dijadikan lebih sederhana lagi oleh cerita The Silent Wake, garapan Simon Barrett. Di malam berbadai itu, acara pemakaman seorang pemuda misterius terpaksa ditangguhkan. Perempuan penyelenggara, terpaksa tetap menunggu di sana, kalo-kalo ada pelayat yang datang. Eksekusi konsep segmen ini pun dilakukan dengan luar biasa. Kita hanya melihat dari tiga kamera, dua statis yang terpasang di ruangan, dan satu kamera mobile yang dipegang oleh si perempuan. Perpindahan view dari ketiga itulah yang excellent. Tempo dan irama horor terbangun maksimal dari sana. Karena sebenarnya, cerita ini standar banget, bahkan elemen seramnya juga. Mati lampu, peti mati bergerak sendiri, ada suara-suara, wujud setan yang over-the-top bloody. Perpindahan sudut kamera dan cut-to-cutnya lah yang membuat cerita ‘jaga mayat’ ini bekerja efektif. Sebagai kontras dari cerita ini, ada Terror garapan Ryan Prows. Lebih banyak karakter. Ruang lebih luas. Dan bahkan ada ledakan. Sekelompok kulit putih rasis berkumpul, menyempurnakan rencana mereka yakni sebuah mengembangkan ‘senjata rahasia’ untuk memurnikan Amerika. Secara cerita, film Terror ini sebenarnya gak maksimal untuk cerita pendek. Ini terlihat dari ending yang terasa terburu-buru, tidak terasa berkembang dengan sempurna. Tapi paling tidak, segmen ini masih setia mengikuti konsep 90an dengan video low-quality dan bahkan adegan-adegan bego yang khas sekali seperti konten home video yang tidak profesional.

Ketiga film tersebut membangun konsep dan setia pada tema. Lalu datanglah The Subject karya anak bangsa. Aku gak tahu, but lol, Timo yang Safe Haven karyanya masihlah entry terbagus seantero franchise V/H/S/, seperti gak dapet memo di sini. Alih-alih bikin low-quality, dia malah bikin visual mentereng, kayak film digital biasa. Kayak film yang dibuat dengan kamera di masa sekarang, bukan 90an. Timo cuma nambah filter frame kamera dan catatan waktu 94 (dan kemudian editor film mati-matian menambah efek grain). Ceritanya yang mirip-mirip Hardcore Henry pun terasa futuristik.  Seorang ilmuwan gila menculik beberapa orang, dan mengubah mereka menjadi makhluk hibrid manusia-mesin. Kekacauan terjadi tatkala markas si ilmuwan digrebek polisi di bawah pimpinan Donny Alamsyah. Semua horor di tempat itupun lepas. Imajinasi dan ide cerita memang sungguhlah liar dan perfect untuk cerita horor, apalagi Timo di sini seperti mengajak kita berdialog soal semakin menyatu dengan teknologi tidak lantas membuat manusia kehilangan hati. Yang bagiku di sini, itu berarti film ini berargumen denganku soal film yang wah bisa juga punya hati kayak film-film yang sederhana. Masalahnya, film segmen ini tidak pernah menempatkan hati pada ceritanya. Melainkan sebuah spectacle yang luar biasa. Udah kayak aksi-aksi video game. Apalagi makhluk horor hibrid itu juga terlalu kinclong. Aku mengharapkan efek atau kostum yang grotesque, yang perpaduan manusia dan mesinnya itu bikin kita benar-benar mual ala makhluk Cronenberg. Tapi tidak. Timo membuat mereka terlalu ‘bersih’. Akting kaku dan  over-the-top sebenarnya juga dijumpai pada segmen atau cerita yang lain. Namun karena yang lain mempertahankan kesan video amatir nan jadul, akting tersebut jadi passable. Pada The Subject ini, sebaliknya, jadi malah mengganggu. Sebagai single story, aku bukannya tidak suka. Aku juga enjoy. Tapi sebagai bagian dari antologi dengan konsep tertentu, this entry just feels very out of place.

VHSTheSubject1-RT-1024x582-1 - Copy
Greatest shooter of all time, menembak lewat punggung kameramen

 

 

Entry terburuk, however, jatuh kepada segmen yang jadi tubuh utama film ini. Dan ini tidak mengherankan sih. Batu sandungan seri V/H/S selalu pada bagian segmen tubuh utama. Film ini pun kewalahan ketika harus mengikat segmen-segmen cerita yang saling tak berhubungan itu ke dalam satu film utuh. Cerita penyergapan oleh pasukan S.W.A.T itu berakhir gak jelas. Dan bahkan lebih ‘kempes’ ketimbang ending segmen Terror. Build up mayat-mayat mengenaskan (dengan bola mata tercungkil keluar) dan misteri berbagai boneka dan salib terbalik, tidak mendapat pay off sama sekali. Malah seperti diabaikan. Instead, kita malah mendapat penutup standar “oh ternyata si anu jahat”. Sambung-menyambung ceritanya pun terasa melompat-lompat. Inilah yang harus diperhatikan lagi oleh franchise ini untuk di kemudian hari. Mereka harus menemukan cara atau narasi yang lebih natural untuk menconvey konsep video-video yang sudah jadi ciri khas.

 

 

 

Untuk sebagian besar waktu aku menikmati menonton film ini. Tidak sejelek film ketiga franchise ini, walau juga bukan film yang benar-benar kuat. Aku benar-benar mengapresiasi konsep video low quality dan cerita sederhana tapi horor over-the-top dan berdarah-darah yang mereka usung. Menjadikannya kontras yang sangat menarik. Tapi memang, naturally, horor antologi seperti ini akan punya masalah balancing dan penyatuan, yang oleh film ini pun masih tetap tidak bisa tertuntaskan dengan maksimal.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for V/H/S/94

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian sekarang ini kita memang telah terlalu overproduce terhadap konten sehingga kehilangan elemen ‘real dan honest’ di dalamnya?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE MEDIUM Review

“All is amiss. Love is dying, faith’s defying, heart’s denying”

 

 

Sebagai satu rumpun Asia Tenggara, Thailand mirip-miriplah sama kita. Di sana pun kepercayaan terhadap kleniknya tinggi (maksudnya, orang sono juga lebih suka ke dukun ketimbang ke klinik! hihihi) Dalam catatan yang lebih serius, ada perbedaan fundamental antara kepercayaan klenik orang Thailand dengan orang kita. Di kita, mempercayakan kesembuhan kepada ilmu ghaib bisa disebut sebagai dosa. Sebagai praktek syirik, karena bertentangan dengan ajaran agama. Menduakan Tuhan. Sedangkan bagi mayoritas penduduk Thailand, klenik tersebut justru bagian dari kepercayaan religi mereka. Bangsa Thailand berdoa kepada Dewa-Dewa. Meminta kesejahteraan, kesehatan, peruntungan. Dukun adalah perantara rakyat dengan sesembahan mereka. Menolak menjadi dukun saja, berarti menolak percaya kepada Dewa-Dewa, dan itu adalah perbuatan salah yang bakal mendatangkan kemalangan. Seperti yang persisnya terjadi pada cerita film yang di-review kali ini. The Medium, kolaborasi antara penulis naskah Thailand dan Korea, akan membuka perjalanan horor My Dirt Sheet pada musim halloween tahun ini!

medium80hnp3NoCkV75bXWPLA88wEgFcK
Kalo kita bisa percaya penyakit sihir seperti cacar naga, maka kita juga bisa percaya sama sakit guna-guna

 

Poster filmnya bilang bahwa ini adalah cerita tentang perdukunan di Thailand. Maka kita dibawa melihat keseharian seorang dukun perempuan yang cukup populer bernama Nim. Cerita tampak cukup inosen di awal-awal. Kita melihat dia mengobati orang. Kita mendengar Nim menjelaskan tentang pekerjaannya tersebut, tentang darimana ia mendapat ilmu, dan bahkan soal ia memposisikan diri sebagai sanding dari ilmu kedokteran. Semua itu ternyata set up untuk kekacauan yang bakal terjadi. Bermula dari Nim yang menghadiri pemakaman suami kakaknya. Kita lantas diberitahu soal keluarga besar Nim, yang adalah bungsu dari tiga bersaudara. Keluarga besar Nim sepertinya dikutuk, lantaran sang kakak pernah menolak ilmu dukun dari Dewa. Nim langsung tahu bahwa ada yang tidak beres pada Mink, kini anak satu-satunya dari kakaknya. Mink, dengan mood swing yang mengkhawatirkan. Mink, yang bicara kepada orang yang tak kelihatan. Mink, yang pantulannya di cermin bisa senyum sendiri (jantungku copot lihat adegan ini!) Mink, yang sempat menghilang dan kembali – tidak lagi seperti orang normal. Nim bisa jadi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan keluarganya, namun bahkan serangan kekuatan gaib yang jahat itu too much untuk dihandle oleh Nim. 

Medium storytelling yang dipakai oleh sutradara Banjong Pisanthanakun (salah satu horor karyanya yang paling membekas buatku adalah Shutter di tahun 2004) dalam The Medium ini adalah gaya dokumenter. Kehidupan Nim direkam oleh beberapa kru kamera yang ingin meneliti profesi dukun sebagai tradisi lama yang ada di Thailand. Dalam perfilman, istilah untuk cerita fiksi yang dibingkai dengan gaya dokumenter disebut mockumentary. Dokementer ala-ala. Yang memang, seringkali, bukan gaya dokumenternya saja yang di-mockery. Melainkan juga ada film menggunakan gaya tersebut untuk menyentil topik yang diangkat. Seperti bagaimana Taika Waititi dalam What We Do in the Shadows (2014) memparodikan genre vampire. Atau bagaimana This Is Spinal Tap (1984) didesain untuk ngeledek kehidupan rock band. Akan tetapi, The Medium tidak terasa seperti komentar nyeleneh terhadap perdukunan. Sutradara Banjong justru terlihat punya respek yang dalam terhadap profesi tersebut. Lewat dialog yang dibentuk sebagai interview, dimuatnyalah berbagai insight.

Bahwa kerjaan dukun punya beban, tanggungjawab, dan segala kesusahan tersendiri. Kita melihat Nim yang tidak menikah, hidup sendiri alih-alih dua saudaranya yang tinggal serumah di bagian lain kota. Nim tidak dibuat sebagai karakter serbabisa, yang punya mantra-mantra ampuh, dengan tarian-tarian ritual memukau. Tidak ada jurus-jurus. Tidak ada merintah-merintah hantu berantem untuk berantem kayak Shaman King. Ketika Nim bekerja, yang kita rasakan justru ke-vulnerable-an. Dukun ternyata tidak segampang itu mengusir setan. Nim butuh waktu berhari-hari berdoa dalam lingkaran ritual yang rumit dan gak mentereng. Dia bahkan harus berhujan-hujan menanti petunjuk dari roh yang ia ajak komunikasi. Bumbu drama antara Nim dengan keluarga kakaknya, dengan abangnya, menambah lapisan pada gambaran seorang dukun yang diceritakan oleh film ini. Pekerjaan Nim benar telah jadi mockery, bahkan di kalangan rakyat Thailand itu sendiri. Dua saudara tertua Nim sendiri tidak terlampau respek sama kerjaan dukun. Sang kakak justru menolak ilmu tersebut jatuh kepadanya, dan memilih ‘kabur’ memeluk agama lain. Dalam satu adegan diperlihatkan Nim nangis dengan tragis saat patung Dewa yang sudah turun temurun jadi sembahan keluarganya ditemukan dalam keadaan patah. Kepala Dewa itu berguling di tanah.  Film tidak menegaskan bahwa itu adalah perbuatan roh jahat yang berusaha ia usir, atau ada orang tertentu yang sengaja menghancurkan patung. Yang jadi poin adalah kerjaan relijius Nim tidak lagi mendapat perlakuan atau diterima dengan sebagaimana mestinya.

Dari sekian banyak dosa yang bisa dilakukan umat manusia terhadap keyakinannya, menolak Tuhan adalah dosa paling besar. Film ini menunjukkan dosa tersebut tidak terampuni. Tuhan balik meninggalkan keluarga kakak Nim, dan di momen eksak itulah keluarga tersebut tidak bisa tertolong lagi.

 

Gaya dokumenter digunakan dengan maksimal. Karena dengan konsep ini yang kita lihat terbatas pada apa yang direkam oleh kamera dalam narasi saja, info yang kita dapat juga tidak bisa lebih banyak daripada kameramen – kita tidak melihat kejadian yang off-camera atau yang tidak direkam – sehingga ini menambah banyak bobot ke dalam aspek misteri yang dimiliki oleh film. Kayak patung tadi, kita tidak tahu pasti bagaimana bisa rusak, dan oleh siapa. Tapi misteri kejadian tersebut dengan efektif menaikkan tensi. Dan film juga jago dalam membangun tensi. Atmosfer mengerikan juga terjaga dengan baik. 

Salah satu tantangan dalam mockumentary adalah membuat alasan yang bisa dimaklumi kenapa ada kamera di sana. Film ini bijak sekali dalam menempatkan kamera tersebut. Ketika there’s no way kru bisa ada di satu tempat tertentu, maka film enggak ragu untuk memindahkan pandangan kita kepada rekaman cctv misalnya. Dan actually, memang pada permainan gimmick kamera inilah The Medium menyimpan kekuatan. Sekuen kamera tersembunyi pada menjelang babak ketiga adalah bagian yang paling seram buatku. Jumpscare yang dilakukan pun tidak annoying, melainkan memang efektif sebagai punchline adegan seram. Selanjutnya tentu saja adalah kru kamera itu sendiri. Film harus menemukan adegan atau alasan yang pas, yang memungkinkan kenapa mereka bisa terus merekam padahal ada hantu. Film juga memikirkan rancangan untuk ini. Yang juga dimainkan ke dalam pay off adegan horor nantinya. You know, dengan santainya nanti si hantu merebut kamera dari tangan kameramen, dan balik merekam mereka. Mengungkapkan horor yang selama itu tak-terlihat kepada kita semua.

Dalam lingkup horor, film ini memang enggak segan-segan menampilkan darah, adegan menjijikkan, adegan vulgar, hingga ke adegan sadis. Korbannya juga enggak pilih-pilih. Kuat-kuatin mental deh kalo mau nonton film ini. Jika kalian punya soft spot kepada hewan atau anak bayi, maka kalian akan butuh sebanyak mungkin comfort items yang bisa kalian dapatkan sebagai persiapan sebelum menonton.

medium808503_s_1624271312911
Bayangin, Dewa aja ditolak loh. Women, am I right?

 

Dengan perhatian tercurahkan kepada rancangan gaya dokumenter supaya efektif untuk capaian horor, film ini mau tidak mau jadi abai sama bangunan narasinya. The Medium akan terasa kepanjangan, ada masalah pacing yang cukup serius di pertengahan saat film mulai terasa menapaki poin yang berulang-ulang. Mink menghilang, ketemu, kesurupan, Nim berusaha mengusir roh jahat dengan ke tempat-tempat misterius, Nim seolah tahu sesuatu, tapi Nim tetap gagal. Ada beberapa kali siklus tersebut berulang, dalam berbagai variasi. Nim sebagai tokoh utama pun mulai menjengkelkan. Karena meskipun seharusnya ini adalah interview dia, tapi dia tidak pernah memberitahu kita apa-apa soal kasus Mink. Kamera, dan kita, hanya mengikutinya ke mana-mana. Mengikuti tindakan dan pencerahan yang ia dapatkan, tapi kita tidak pernah tahu dia sebenarnya lagi ngapain. Kita tidak tahu apa makna telur yang kuningnya berwarna hitam. Kita hanya melihat Nim bereaksi. Ada kesan seperti film sendiri juga sebenarnya tidak tahu, dan hanya melakukannya untuk mengulur-ulur misteri. Lalu Nim ‘hilang’ begitu saja. Posisinya digantikan oleh dukun pria, yang hadir so late in the game sehingga seperti karakter yang serbatahu. Seperti film butuh solusi instan. Dan on top of pergantian tokoh utama begitu saja (dari Nim sepertinya ke kakaknya), kasus misteri tetap tidak ada penjelasan.

Cerita film ini tidak berakhir dengan perasaan yang memuaskan. Yea aku tahu, ini bukan happy ending. Tapi bad ending yang disajikan juga tidak memuaskan, karena tidak benar-benar terasa seperti menuntaskan apa-apa. Babak ketiga film ini adalah ketika semua kerusuhan terjadi. Asik untuk horor-hororan, tapi film juga seketika menjadi all over the place. Ada orang yang kayak zombie, makanin orang. Ada orang kesurupan nabrakin kepala ke tembok ampe serpihan otaknya nempel. Kamera dengan infrared. Voodoo doll. Semua itu berlangsung gitu aja tanpa ada kepedulian sama konflik karakter yang seperti disudahi begitu saja. They are helpless, so, here’s hell for your entertainment. Film kayak bilang begitu kepada kita semua. Film yang tadinya meminta perhatian kita pada cerita, pada drama dan perasaan karakter, pada kerjaan dukun, mendadak menyuruh kita untuk senderan dan rileks menikmati horor yang mereka sajikan. Yang tampak buatku, ini merupakan sebuah ketidakkonsistenan, dan malah hampir seperti film memang tidak tahu cara mengakhiri cerita dengan tepat.

 

 

Sebagai wahana horor, aku suka. Aku merekomendasikan ini sebagai tontonan Halloween kalian semua. Nuansa horor yang kental, relate dengan kita. Karakter yang juga somehow terasa akrab. Gaya bercerita yang efektif sebagai landasan momen-momen seram yang bikin kita segen matiin lampu rumah di malam hari. Film ini punya semua itu. Yang tidak film ini punya, dan ini penting, adalah konsistensi bangunan cerita. Kita yang orang Indonesia bisa nonton ini tanpa subtitle, dan tidak akan ketinggalan banyak narasi penting, dan bisa tetap mengerti. Karena yang punya pay off pada film ini hanya gaya berceritanya. Ceritanya sendiri tidak. Jika kalian pengen nyimak cerita seputar dukun dan kepercayaan yang lebih padet dan matang, kalian akan lebih menemukannya pada The Wailing (2016), karya penulis naskah dari Korea yang ikut kolab ngerjain naskah film ini. Efektif hanya sebagai wahana horor, namun tidak demikian halnya sebagai film horor, film ini ternyata tepat sekali seperti judulnya. Medium. Sedang-sedang saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE MEDIUM.

 

 

 

That’s all we have for now

Ngomong-ngomong soal dukun, waktu kecil aku punya penyakit amandel. Yang cukup parah, gampang meradang. Aku pasti sakit demam dan tidak bisa menelan makanan, paling tidak satu kali dalam sebulan. Karena takut dioperasi, maka aku dibawa orangtua berobat ke dukun. Nah lucunya, sebelum ketemu sama dukun yang bener, aku sempat nyasar dulu ke dukun yang ngasal. Dari mana aku dan orangtuaku tahu bahwa dukun pertama itu ngaco? Well, karena, dia nyuruh kami untuk nyari obat berupa telur dari ayam hitam berbulu putih!

Apakah kalian punya pengalaman lucu (atau mungkin seram!) seputar berobat ke dukun?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

OLD Review

“The fear of old age disturb us, yet we are not certain of becoming old”

 

Pantai yang membuat orang-orang di dalamnya menua dengan cepat. Premis film terbaru M. Night Shyamalan ini memang menarik. Ia mengadaptasi cerita tersebut dari Sandcastle, graphic novel yang memorable karena menggali hal yang gak banyak dieksplor pada media tersebut; meditasi tentang kematian yang pasti akan datang. Ngomongin soal memorable, Shyamalan sendiri sangat diingat oleh penggemar film. Sebagai pembuat twist super-gak-ketebak. Twist ciptaan Shyamalan enggak cuma sekadar pengungkapan yang membelokkan film dengan drastis, melainkan bertindak sebagai membingkai ulang keseluruhan cerita. Film yang tadinya seperti cerita horor, ternyata cerita drama. Film yang tadinya seperti cerita survival, ternyata cerita superhero. Sedemikian dahsyatnya twist yang ia buat, enggak setiap saat film-filmnya disukai oleh semua orang. Kebanyakan cenderung membagi dua penonton. Suka. Dan benci.

Untukku, aku masih melihat Shyamalan sebagai salah satu inspirasi membangun atau mendesain cerita, meskipun gak semua filmnya aku suka. Beberapa filmnya memang malah konyol sekali. Dan Old kali ini, aku menemukan satu twist atau satu misteri yang aku yakin gak diniatkan oleh Shyamalan. Yaitu film ini harusnya adalah tentang orang-orang yang mendadak menjadi tua, tapi kenapa justru aku yang merasa telah kehilangan waktuku yang berharga saat menonton mereka.

old-2021-film-still-01
The twist is getting old fast.

 

Memasukkan twist ke dalam cerita pantai misterius, tak pelak adalah sebuah langkah yang overkill. Materi aslinya , si Sandcastle sendiri, sebenarnya memang tidak punya twist. Ceritanya berlangsung linear, senatural yang bisa dicapai pada cerita tentang orang yang bertambah tua setahun hanya dalam rentang setengah jam. Landasan cerita film Old pada awalnya memang cukup nurut pada cerita asli tersebut. Guy beserta istri dan sepasang anaknya yang masih kecil (6 dan 11 tahun) berlibur ke sebuah resort. Di sana mereka ditawari paket liburan privat ke pantai tersembunyi yang cantik dan bersih sekali. Besoknya, Keluarga Guy beserta beberapa keluarga atau pasangan turis lain berangkat ke sana (diantar oleh Syhamalan himself yang main jadi supir hihi)  Setelah beberapa saat bersenang-senang di pantai sepi kecuali oleh deburan ombak (yang membuatku semakin meratapi keadaan lockdown), Guy dan turis-turis lain mulai mendapati ada yang aneh. Mereka gak bisa keluar dari sana – setiap kali jalan lewat gua tempat masuk, mereka pasti terlempar dan pingsan di pinggir pantai. Mereka menemukan barang-barang bekas turis yang ditinggalkan begitu saja. Mereka juga menemukan mayat seorang wanita. Dan ketika Guy dan istrinya kembali untuk menenangkan anak-anak mereka, mereka mendapati anak-anak itu tidak lagi diperankan oleh Nolan River dan Alexa Swinton yang imut-imut, melainkan oleh Alex Wolff dan Thomasin McKenzie! Amit-amit? tentu tidak.. kalo perubahan jadi dewasa itu tidak terjadi hanya dalam rentang waktu beberapa menit!!

Di sinilah Old mulai menjauh dari Sandcastle. Tentu saja, dalam setiap film adaptasi, gagasan maupun gaya sutradara amat sangat diapresiasi kehadirannya untuk membuat film itu menjadi satu objek unik tersendiri. Tapi untuk kali ini, pilihan Shyamalan patut kita pertanyakan. Alih-alih membuat cerita yang fokus ke membahas persoalan menghadapi umur tua yang dipaksakan menjadi sangat cepat datangnya, membahas drama anak yang lantas tumbuh besar sementara orang tua mereka tumbuh.. tua, membahas ketakutkan manusia terhadap kematian yang memang bakal datang — you know, horor manusiawi seperti yang benar-benar menjadi sorotan pada materi aslinya, Shyamalan malah lebih banyak berkonsentrasi pada bagaimana menutup cerita dengan wah. Twist seperti apa yang bakal ia pakai untuk membuat cerita jadi logis, berdasarkan logika-dalam yang ia bangun. Sehingga ia mengarahkan penceritaan ke membuat kita ikut bertanya-tanya, tidak lagi untuk membuat kita berkontemplasi atau ikut merasakan situasi horor yang dialami oleh karakter-karakter. Penjelasan-penjelasan dan penyelesaian yang akhirnya disajikan oleh Shyamalan membuat pesan atau bahasan terkuat yang dimiliki oleh cerita ini jadi kehilangan power. 

Yang tentunya jadi counter-productive. Film ini harusnya lama berkutat di karakter-karakter. Anak 6 tahun yang tiba-tiba jadi remaja, penuh gelegak hormon. Orang dewasa yang tiba-tiba merabun. Ibu yang kehilangan anak. Cerita ini didesain untuk cerminan kita mengarungi peristiwa-peristiwa natural dalam kehidupan – kematian dan kehilangan. Penuaan. Sesuatu yang kita takuti. Film ini mengajukan keadaan ketika hal yang ditakuti tersebut semakin dipaksakan ke hadapan kita. Bagaimana kita menyingkapi kematian jika kita belum siap. Berapa lama yang kita butuhkan untuk siap. Semua yang thought-provoking itu lost in the shuffle saat film dengan kecepatan mantap membawa kita dari satu contoh peristiwa penuaan ke peristiwa lain. Menggiring kita dari satu contoh kasus ke kasus lain, begitu saja tanpa banyak waktu untuk membiarkan peristiwa tersebut tenggelam dan meresap.

Sebagai manusia, menjadi tua adalah hal yang menakutkan bagi kita. Tua identik dengan kematian, dengan kelemahan. Kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya menjadi tua adalah sebuah privilege. Yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Karena usia tidak ada yang tau. Bisa hidup sampai tua berarti kita diberikan anugerah untuk merasakan dan mengalami lebih banyak. Lebih lama. Makanya hal yang terjadi pada karakter di film Old ini sebenarnya adalah hal yang sangat mengerikan. Karena di pantai itu, mereka menjadi tua tanpa mendapat keuntungan atau privilige dari proses tua itu sendiri.

 

Secara visual pun begitu. Padahal ada begitu banyak hal-hal menarik yang terjadi. Ada karakter dengan tumor yang tumbuh dengan cepat. Ada karakter anak yang jadi remaja, kemudian dia hamil. Ada karakter satu lagi, yang punya kondisi kekurangan kalsium. Ada juga karakter yang diam-diam mengidap schizophrenia. Kondisi-kondisi itu mestinya digali, digunakan maksimal untuk menguatkan elemen horor pada film. Entah itu horor psikologis, maupun horor yang lebih eksplisit seperti body horror. Sekali lagi, modalnya ada. Rule di pantai itu adalah luka di tubuh akan cepat sembuh merapat kembali. Jadi kalo ada yang dioperasi, maka luka dia harus ditahan – dipegang oleh jari jemari orang-orang di sana. Kurang gross apa lagi coba. Tapi mungkin karena sensor rating atau apa, film ini gak mau jor-joran menjadi body horror ataupun nunjukin hal-hal  yang benar-benar bloody ataupun mengerikan. Hanya ada satu momen yang cukup ngeri, yaitu saat nampilin karakter yang tubuhnya ‘tergulung-gulung’. Selain itu ada juga beberapa yang memang diolah untuk advantage film, seperti memilih untuk tidak memperlihatkan mayat (diserahkan kepada imajinasi kita sehingga lebih seram), tapi pada sebagian besar hal, film seperti melewatkan kesempatan untuk berhoror ria. Ketika ada orang yang dibunuh karena ditusuk-tusuk oleh pisau kecil, misalnya. Seharusnya rule soal luka yang segera menutup itu dimainkan, karena pasti pembunuhannya bakal lebih sadis – karakter harus membunuh melawan kekuatan pulau yang menyembuhkan luka. 

Semuanya hanya menyentuh permukaan. Kejiwaan karakter memang tidak dibahas mendalam. Konflik atau drama pada keluarga Guy saja hanya diperlihatkan seadanya. Lewat momen-momen yang ditanam, tapi karena semua hal lainnya gak dalem, jadi terlihat sangat obvious. Dan parahnya juga terlihat kikuk. Aktual dialog karakter di film ini di antaranya ada yang semacam “Eh aku mau ngomong”, “Apa?”, “Nanti deh. Gajadi.” Dialog-dialog di sini banyak yang aneh kayak gitu. Karakter-karakernya seperti mengumumkan, ketimbang seperti ngobrol beneran. “Wah, sekarang aku merasa lebih baik”, coba ucapkan kalimat tersebut dengan nada antara senang tapi kondisimu memprihatinkan. Ya, gak natural. Begitulah dialog-dialog film ini terasa (dan kalimat contoh tadi juga beneran ada di film!). Tambahkan gerak kamera dan blocking yang sama anehnya; Shyamalan sering sekali menggunakan kamera memutar, memperlihatkan karakter-karakter yang berdiri kebingungan, posisi mereka seperti mengelilingi kamera. Kalo enggak memutar begitu, Shyamalan akan menyuruh kamera ‘berjalan’, sementara karakternya kayak berbaris ke samping, dengan posisi orang yang berikutnya selalu berada beberapa senti di belakang orang sebelumnya. It is just weird. Gerakan, posisi, dialog, semuanya kayak dibuat-buat. Mungkin pak sutradara bingung bagaimana merekam adegan di pantai kecil, jadi supaya gambarnya gak keliatan gitu-gitu melulu maka ia menggunakan blocking dan kamera movement yang aneh-aneh. 

Old-Movie
Bayangkan kalo si Trent nanya nama dan pekerjaan ke SJW. Hmm, bisa viral kau, Nak!!

 

Itu belum apa-apa dibandingkan penulisan karakternya sendiri. Dibuat simpel sekali. Karakter mereka adalah pekerjaan mereka. Istri Guy bekerja di museum, jadi nanti karakternya akan bicara soal skala waktu. Guy bekerja sebagai orang survei keamanan, jadi dia akan bicara soal statistik atau persentase keselamatan, like, nyuruh anak-anaknya berhenti berlarian dengan menyebut angka kecelakaan sebanyak sekian persen. Nice, orangtua memang gitu kok kalo bicara ama anaknya.. orangtua di dunia paralel haha! Geliat craft dan kreasi Shyamalan, bagaimanapun juga, masih keliatan. Karena dia menggunakan berbagai pekerjaan karakter tersebut sebagai cara para karakter bekerja sama, berusaha figuring out apa yang terjadi di pantai, dan bagaimana mereka bisa keluar dari sana. Dalam kata lain, pekerjaan mereka memang vital untuk diketahui. Hanya saja, cara mengetahuinya itu yang begitu simpel sehingga jadi eksposisi yang konyol. Jadi diceritakan, anak bungsu Guy yang bernama Trent punya hobi nanyain nama dan pekerjaan setiap orang dewasa yang ia jumpai, “Halo, siapa nama dan apa pekerjaan Anda?” Aku gak tau apakah itu dimaksudkan sebagai cute, atau memang ada anak di luar sana yang perangainya kayak gitu, tapi untukku, ya itu sungguhlah sebuah trait anak yang tak-lumrah. 

Shyamalan seperti berusaha keras memastikan narasinya logis. Jadi dia benar-benar menanamkan jawaban, menyimpan hal-hal penting, fenomena pantai tersebut pengen dia beri makna. Twist film benar-benar menjawab rapi semua itu. Kita akan tahu kenapa mereka dipilih ke pantai. Apa sebenarnya fungsi pantai itu. Siapa dalang di baliknya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang jadi concern terbesar film itu. Bukan lagi permasalahan karakter. Ada, tapi jadi nomor dua. Ketika film menemukan hal yang tak bisa mereka jawab, seperti kenapa rambut dan kuku tidak ikut tumbuh dengan cepat sedangkan seorang mayat bisa dengan cepat berubah menjadi tengkorak, atau bagaimana nanti jika ada bayi yang lahir di pantai, atau kenapa orang bisa pakai nama mobil sebagai nama-artis lol, maka film dengan cepat nge-gloss over. Hanya memperlihatkan dan tidak membahas lebih lanjut. Dengan sangat cepat, kayak takut penonton sadar dan mempertanyakan. Soal bayi itu aja, karena gak mau ribet, film membuat bayi itu mati gitu aja dengan alasan ‘kurang mendapat perhatian’. Udah kayak bayi tamagotchi!

See, concern film ini gak inline dengan concern kita, penonton mereka. Kita gak akan peduli sama pantai itu jika tidak diarahkan ke sana. Kita akan lebih peduli sama karakter-karakter. Sama apa yang terjadi kepada mereka. Sama perjuangan mereka untuk berusaha keluar, atau bertahan hidup di sana. Sama bagaimana mereka menyelesaikan masalah personal setelah belajar dari apa yang mereka alami selama di pantai. Akan lebih memuaskan untuk mengalami journey karakter, merasakan masalah mereka kemudian berefleksi, ketimbang mengetahui penjelasan apa sebenarnya yang terjadi di pantai itu. Dan kupikir juga toh lebih mudah menggali karakter yang manusiawi, ketimbang come up with story tentang pantai ternyata eksperimen tukang obat dan segala macem penjelasan-penjelasan yang dipaksakan.

 

 

 

Jadi ya, menurutku Shyamalan telah salah pilih sejak awal. Cerita film ini adalah cerita yang kuat pada permasalahan karakter. Yang harusnya diselami adalah persoalan anak yang semakin dewasa sementara orangtua semakin menua, ketakutan manusia akan kematian, soal hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ini seharusnya adalah soal manusia melawan waktu. Tapi, Shyamalan dengan keahliannya meracik twist, membuat film ini sebagai kejadian yang harus dijelaskan kenapanya semata. Untuk melakukan itu, dia mengorbankan banyak hal. Dialog dan karakter yang natural, tone yang imbang, serta adegan horor yang harusnya bisa maksimal, di antaranya. Dan bahkan setelah semua yang sengaja dikorbankan tersebut, film tetap tidak bisa menjawab semua, karena masih banyak juga kita jumpai hal-hal yang tak terjelaskan, yang membuat kejadian-kejadian di film jadi terasa konyol.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for OLD.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Mengapa manusia takut sama menjadi tua?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

FEAR STREET PART 3: 1666 Review

“Intelligence is the biggest blessing that a human being has, but right now it has become a curse upon humanity”

 

Fear Street Part Three: 1666 seharusnya bisa jadi yang entry yang paling fresh karena sudah keluar dari bayang-bayang slasher 90an dan 70an yang menghantui dua bagian sebelumnya. Mustinya di film ini, sutradara Leigh Janiak bisa lebih leluasa mengepakkan sayap, mengembangkan period-horor supernatural, sebab cerita kali ini akan membawa kita mundur jauh ke belakang. Di mana tak banyak yang bisa mempengaruhi, kecuali mungkin horor-horor seperti The Witch (2016).  Yang juga mengusung tema penyihir, yang dikaitkan dengan posisi perempuan dipandang oleh pria. Film ini bekerja terbaik saat berusaha menggali soal tersebut. Akan tetapi, fungsinya sebagai pengikat dan penutup trilogi, membuat film tak bisa berlama-lama di sana. Dan justru membuat film ini jadi entry yang paling tak bisa berdiri sendiri.

Dan untuk membuat hal semakin parah, di bagian terakhirnya ini, film masih berkutat untuk membuat protagonisnya tampak relevan dengan mitologi dan semua masalah pada cerita.

So, here we go again!

Konsep yang dipakai film ini dalam membentuk ‘episode-episode’ triloginya mengangkat peristiwa masa lalu lebih dari sekadar flashback. Mereka adalah cerita tersendiri. Untuk mengikat itu semua, film menggunakan mitologi penyihir, yang harus dipecahkan misterinya oleh satu karakter yang merupakan perwakilan penonton dalam mempelajari apa yang sesungguhnya terjadi. Satu karakter itu adalah Deena. Dalam film ketiga ini, Deena memang akhirnya mendapat banyak porsi untuk beraksi dan menentukan pilihan, dialah yang tau dan mengungkap rahasia.

Setelah mengembalikan tangan yang hilang ke mayat Sarah Fier, Deena tertransport back ke tahun 1666. Tepat pada saat perburuan penyihir akan dimulai. Deena akan mengalami kejadian yang sama dengan yang dialami oleh Sarah Fier. Sayangnya bukan kejadian menyenangkan. Sebab penyihir yang diburu komunitas petani Union itu (sebelum mereka terpisah menjadi dua kota) memang adalah si Sarah Fier. Pada dua bagian sebelumnya, kita telah mendengar begitu banyak tentang urban legend penyihir bernama Sarah Fier. Mitologinya, kutukannya, dan akhir hidupnya sampai-sampai dijadikan lagu anak-anak di kemudian hari. Sekarang, kita akan dikasih lihat bagaimana Sarah Fier saat masih hidup di tahun 1666, di masyarakat Puritan yang masih bersatu, tapi masih sangat terbelakang. Selagi Sarah nantinya akan bertemu dengan nasib yang tragis, Deena belajar tentang kenyataan di balik kutukan yang membuat kota tempat tinggalnya, Shadyside, menjadi kota penuh pembunuhan. Tidak seperti Sunnyvale yang makmur. Kenyataan itulah yang nanti digunakan Deena untuk menghancurkan musuh sebenarnya dan membebaskan seantero kota dari kutukan.

fearstreet3
Apa mungkin harus ganti pemimpin?

 

Namun tugas krusial film bukan sebatas menetapkan apa yang harus dilakukan oleh Deena, tapi tentu salah satunya juga adalah untuk dapat menjelaskan kepentingan Deena di dalam semua cerita in the first place. Bagaimana dia bisa terkonek dengan semua. Kenapa mesti Deena, kenapa bukan karakter lain seperti Ziggy. Dan di titik inilah, di fondasi awalnya inilah, Fear Street Part Three – kalo gak mau dibilang keselurahan trilogi ini – falls apart.

Deena, yang menghabiskan seantero film bagian pertama dengan running around mencari kerelevanan dirinya dengan mitologi, tentu saja by the law of screenwriting akan secara ajaib diungkap related dengan penyihir Sarah Fier. Sebagaimana yang akan kita lihat pada bagian ketiga – dan terakhir – trilogi ini. Deena menjadi Sarah Fier. Yang pada era terbelakang itu dituduh sebagai penyihir, karena dia perempuan yang mandiri, capable, pintar. Dan ya, karena dia adalah perempuan yang suka sama perempuan. Inilah satu-satunya koneksi antara Deena dengan Sarah. Mereka sama-sama lesbian. I was right saat mengatakan di review film bagian pertama, bahwa sexual preference Deena begitu ditonjolkan karena itulah satu-satunya karakterisasi yang dia miliki. Tapi tentu saja aku enggak bilang kalo lesbian itu adalah karakterisasi yang buruk untuk protagonis perempuan. Hanya saja, punya karakterisasi yang sama dengan Sarah Fier tersebut tetap bukanlah alasan yang kuat untuk menjawab pertanyaan ‘kenapa mesti Deena’ itu tadi. I mean, masa iya cuma Deena lesbian yang lahir di Shadyside dalam rentang tiga ratus tahun itu. Relasi ini terlalu lemah. Deena harusnya punya relasi yang lebih kuat lagi kepada Sarah Fier.

Dan padahal film ini punya banyak kesempatan untuk membuat relasi tersebut lebih kuat. Kenapa mereka tidak membuat Sarah Fier sebagai leluhur Deena saja. Akan bisa lebih tragis. Karena kisah cinta Deena dengan Sam akan naik status menjadi sebuah takdir, karena Sarah juga jatuh cinta sama karakter yang sepertinya adalah leluhur Sam. It also would make more sense, karena memang pada bagian cerita di tahun 1666 itu kita melihat karakter-karakter yang telah muncul pada dua film sebelumnya, ada sebagai karakter lain yang merupakan leluhur mereka. Ada Berman, ada Goode, ada teman-teman Deena tahun 1994 – mereka semua diperankan oleh aktor yang sama dengan yang memerankan karakter mereka sebelumnya. Tapi Deena dan Sarah Fier diperankan oleh dua aktor yang berbeda; Kiana Madeira dan Elizabeth Scopel. Kita tidak melihat ada Deena yang lagi jadi Sarah Fier, bertemu dengan Deena versi 1666 di dunia itu. Padahal adik Deena dan adik Sarah Fier di situ diperankan oleh aktor yang sama (I find it even funnier because I’m not sure if the ‘real’ Sarah Fier a black person or not). Kalopun memang Sarah Fier bukan leluhur Deena, kenapa saat cerita bagian ini yang kita lihat itu tidak tetep Sarah Fier yang asli aja? Jadi keberadaan Deena yang ‘didempetkan’ dengan Sarah Fier benar-benar messed up. Benar-benar terasa seperti film try too hard untuk meyakinkan kita bahwa Deena punya tempat di cerita ini.

Aku lebih prefer kalo protagonis utama cerita ini adalah Britta.. eh, Ziggy. Karena dialah yang telah benar-benar kehilangan. Benar-benar kena dampak kutukan. Ziggy punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh Deena. Koneksi personal ke ‘pelaku yang sebenarnya’, yang demikin terestablish dari film sebelumnya. Atau, bikin saja Sarah Fier asli yang jadi tokoh utama kali ini. I mean, dari posternya aja udah make sense. Udah keliatan kalo sebenarnya lebih cocok Sarah Fier beneran, bukan Deena. Bagian pertama tentang Deena, bagian kedua tentang Ziggy, dan bagian ketiga? Randomly leluhur Sam yang mejeng, padahal dia bukan karakter utama. Padahal sudah jelas cerita kali ini akan membahas kehidupan Sarah Fier.

fear1a182f032558b368568ecd4a02ad3019
Satu lagi dosa film ini adalah tidak nongolin kembali Maya Hawke, kasih jadi siapa kek gitu di tahun 1666

 

Secara arc pun, Sarah Fier lebih kuat daripada Deena. Dalam cerita Sarah Fier, film men-tackle soal perempuan yang dituduh penyihir. Soal pria yang seperti tidak bisa menerima perempuan ternyata bisa lebih pintar dan capable daripada mereka. Soal hubungan asmara yang juga berarti bahwa perempuan ternyata bisa untuk ‘tidak butuh’ laki-laki. Sekalian juga memotret tentang betapa ketakutan bisa menyebarkan tuduhan bermacam-macam, dan kelompok orang yang ketakutan ternyata sangat mudah untuk diperdaya. Sarah Fier yang dianggap membawa kutukan dan memiliki sihir hitam, akhirnya mengembrace anggapan tersebut dengan memutuskan untuk benar-benar membawa celaka bagi para penuduh dirinya. Ini development yang tragis dan sangat personal. Aku benar-benar pengen cerita Sarah Fier ini dijadiin satu film beneran aja.

Dalam sebuah masyarakat terbelakang, kecerdasan bisa menjadi kutukan. Ini bukan soal perempuan bisa secakap atau malah lebih jago saja. Kita sendiri sekarang berada pada masa terbelakang versi modern. Karena sering kita lihat sekarang perkataan para ahli sering dibenturkan dengan perkataan ngasal, dan orang-orang lebih memilih percaya kepada yang ngasal. Karena kenyataan yang diberitahukan oleh yang ahli lebih mengerikan.

 

Coba bandingkan dengan cerita Deena – yang terus dipush oleh film ini. Kisah Deena itu gak ada apa-apanya. Sudah tiga film, tapi perkembangan karakternya nyaris nihil. Plot Deena bukan tentang dia berubah menjadi baik. Melainkan hanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dia bisa selamat. Perkara dia Shadysider yang muak sama kota juga diresolve dengan bukan sebagai pembelajaran bagi dirinya. Konflik Shadyside yang ternyata selama ini jadi ‘tumbal’ untuk kemakmuran Sunnyvale berakhir bukan dengan para penduduk akhirnya menghormati Shadyside (ingat, Sarah Fier harusnya adalah paralel bagi kota Shadyside), melainkan Sunnyvale akhirnya ada kecelakaan juga. Ini kayak, kita merasa lebih baik sekarang karena kau ternyata enggak seperfect itu.

Usaha film meng-immerse Deena sehingga seolah ini sepenuhnya adalah cerita miliknya pada akhirnya tetap sia-sia karena film harus tetap mengacknowledge bagian ketiga ini terdiri dari dua bagian. 1666 dan 1994 (lagi!) Ini menciptakan problema baru. Pada film kedua, bagian Deena untuk mengikat ke trilogi sangat sedikit sehingga bisa kita acuhkan, 1978 itu diceritakan full dalam tiga babak. Pada bagian ketiga ini, tidak seperti itu. Tidak benar-benar ada struktur tiga-babak di sini. Porsi Sarah Fier 1666 jatohnya tetap terasa seperti flashback yang sangat panjang, lalu cerita ini hanya punya satu jam lagi untuk mulai-dan-penghabisan.

Di saat-saat kayak ginilah, kekurangtajaman Janiak menghidupkan dunia terpampang nyata. Bagian 1666 dengan bagian 1994 tidak terasa banyak berbeda. Hanya setting dan visualnya saja. Tahun 1666 kayak orang modern yang lagi cosplay jadi orang jadul, karena pengarahan akting yang seadanya. Karakter-karakter remaja itu goyah sekali pada aksen dan mannerism, dan segala macam. Sedangkan pada bagian 1994, Janiak yang masih berniat untuk tampil trendi dengan neon dan segala macam, hanya punya walkman dan Konami Code sebagai pengingat kita akan periode yang sedang disaksikan. Karakter-karakter yang tersisa pun tak ada yang bisa kita pedulikan, kecuali Ziggy, yang berusaha dimentahkan oleh film demi Deena.

 

 

Untuk aspek horor bunuh-bunuhannya, aku gak akan bilang banyak. Karena itulah yang satu-satunya dipunya oleh film sebagai hiburan yang membuatnya mengasyikkan. Aku akan membiarkan mereka untuk kalian nikmati sendiri. Aku cuma akan bilang, porsinya gak banyak, tapi masih setara-lah kesadisannya dengan dua film sebelumnya. Ada juga aksi yang melibatkan strategi keren melawan bala tentara pembunuh psikopat, yang buatku mixed feeling karena aku masih melihat rule yang ditetapkan film ini gak konsisten. Tapi secara keseluruhan film berhasil menutup trilogi ceritanya dengan sebuah penyelesaian. Secara cerita, satu jam pertama film ini lebih bisa dinikmati ketimbang film pertama. Meskipun posisinya sebagai film itu sendiri adalah yang paling goyah di antara yang lainnya. It is less than a movie. Seharusnya ada cara yang lebih baik lagi untuk membuat konsepnya immersive dengan cerita. Tapi, ini udah gak tertolong, karena sudah dikutuk, eh salah, desain seperti itu.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for FEAR STREET PART 3: 1666

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian setuju bahwa pada kondisi pandemi yang makin parah sekarang, para nakes dan para ahli sudah sama nasibnya seperti pada orang-orang yang dicurigai penyihir alias dianggap berbahaya, dibandingkan omong kosong para influencer atau pihak yang menganggap semua baik-baik saja?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA