THE ADAM PROJECT Review

“Cherish every moment with those you love at every stage of your journey”

 

Hidup memang penuh penyesalan. Kalo tidak, kalimat pertanyaan “Apa yang bakal kalian ucapkan buat kalian di masa lalu?” tidak akan pernah terpikirkan. Kita semua pengen ketemu sama kita waktu masih muda, supaya bisa ngasih nasihat. Supaya mereka gak memilih jalan yang sama, bikin kesalahan yang sama. Hidup memang penuh penyesalan, kalo tidak, time travel tidak akan pernah kita impikan. Karena memperbaiki hidup seperti demikianlah yang jadi poin utama dari angan-angan bisa pergi ke masa lalu. Karya terbaru Shawn Levy literally mengambil konsep time travel dan pertanyaan tersebut sebagai tema cerita, dan Levy menggodoknya menjadi sajian laga sci-fi yang bukan saja seru, tapi juga grounded dan terasa manusiawi. Tuk memastikan dirinya gak bakal pengen balik ke masa lalu memperbaiki film ini, Levy memaksimalkan kadar hiburan film ini. Ia menyuntikkan dosis komedi dalam jumlah ‘mematikan’, dengan meng-cast Ryan Reynolds sebagai karakter utama. Membuat The Adam Project jadi semacam Reynolds show yang sudah amat familiar bagi kita. To the point jadi amat terlalu familiar, it could become stale.

adam-Sci-Fi-Dibintangi-Ryan-Reynolds
tbh, I fell like, aku yang masih kecil akan membunuhku dengan brutal begitu melihat jadi apa dirinya nanti.

 

Tentu saja, pergi ke masa lalu akan membawa masalah tersendiri. Cerita-cerita tentang time travel akan berkutat dengan hal-hal trivial yang menuntut kelogisan semisal bagaimana bisa terjadi, lalu soal efek kupu-kupu dari mengubah masa lalu, ataupun soal berapa versi diri kita yang ada – which leads to a multiverse. Makanay cerita-cerita time travel cenderung jadi ribet sendiri. The Adam Project gak mau pusing-pusing sama hal tersebut. Dengan singkat dan padat film ini menyebut time-travel exist sembari menepis kemungkinan multiverse (semua orang nantinya akan jadi amnesia atau semacamnya). Soal teknologi kefiksiilmiahannya memang tetap ada, kita masih bisa geek out dengan alat-alat flashy dan aksi heboh. Tapi kita tidak diminta untuk memikirkannya lebih lanjut. Film ingin kita langsung fokus ke permasalahan yang membayangi para karakter. Fokus ke gagasan yang dibawa. Karena itulah, on the plus side, The Adam Project gampang terasa grounded.

Peran Reynolds di sini bernama Adam Reed. Di tahun 2050, dia seorang pilot pesawat tempur yang oleh bosnya dikirim untuk misi time travel. Tapi Adam menemukan ada kejanggalan. Jadi dia bermaksud bergerak sendiri, tapi ketahuan dan diserang. Adam yang terluka terdampar di tahun 2022. Di situlah dia bertemu dengan dirinya yang masih dua-belas tahun. Kedua Adam, dengan segala kemiripan dan perbedaan mereka, bekerja sama menyelamatkan masa depan. Untuk itu, mereka harus ke masa lalu, meminta bantuan kepada bapak yang selama ini jadi sumber amarah Adam.

See, di balik hingar bingar dan mumbo jumbo sci-fi, film ini bicara tentang hubungan ayah dan anak lewat pergulatan personal yang digambarkan oleh interaksi antara Adam Gede dengan Adam Kecil. Keduanya kehilangan ayah, dan sedang dalam fase berbeda. Adam Kecil, di tahun 2022, masih sedih atas kematian bapaknya. Tapi Adam Gede, yang udah sekitar 40 tahun umurnya, tentu sudah outgrow that phase. Kesedihan Adam telah berubah menjadi kemarahan dan ketidaksukaan. Dia resent ayahnya gak pernah ada. Ayah yang bahkan setelah pergi pun, meninggalkan pe-er pelik untuknya. Adam Project, yakni proyek time travel yang jadi konflik-luar film ini, memang diciptakan oleh sang ayah. Interaksi Adam Gede dengan Adam Kecil boleh jadi lucu dengan banyak saling ejek dan remarks kocak, tapi sesungguhnya itu adalah momen-momen Adam membuka perspektif baru. Dua karakter ini saling belajar satu sama lain, yang tentu saja berarti Adam belajar lebih banyak melalui konfrontasi dengan dirinya sendiri, yang selama ini telah ia kubur oleh kemarahan. Film bicara soal kemarahan sebagai reaksi dari grief dan kesedihan itu lebih lanjut lagi dengan juga menilik sisi Adam Kecil, yang justru marahnya kepada sang ibu sebagai bentuk dari pelampiasan kesedihan.

Tema cinta dan kehilangan memang bergulir kuat, gak sekadar tempelan. Realisasi perlahan yang disadari Adam mengenai kemarahan dan mengantagoniskan orang sebenarnya adalah bentuk dari menutupi perasaan sedih atas kehilangan (marah memanglah emosi yang sekompleks itu), turut membawa dirinya kepada pembelajaran satu lagi. Yakni soal menghargai waktu yang ada. Menghargai orang-orang yang bersama dan mencintai kita di dalam setiap tahapan waktu yang kita lalui. Karena yah, kita tidak pernah tahu seberapa cepat waktu berjalan.

 

Warna ringan film ini sebagian besar datang dari penampilan akting. Reynolds seperti biasa memainkan seorang bermulut tajam; ini udah jadi trademarknya sekarang. Hiburan film memang datang dari dialog-dialog Reynolds dengan karakter lain. Terutama dengan Mark Ruffalo yang jadi ayahnya – Ruffalo sendiri sudah terbiasa dan jago juga dalam timing komedi gaya celetukan yang juga dilakukan oleh film-film Marvel. Komedi semacam ini diseimbangkan oleh akting Jennifer Garner sebagai ibu. Weakest karakter adalah perannya Zoe Saldana yang baru akan benar-benar ngefek di akhi. Serta pemeran antagonis Catherine Keener, yang karakterisasinya memang standar sekali. Tidak ada layer dalam motivasi penjahat-ala-kartun-minggu-pagi miliknya.

The elephant in the room adalah aktor cilik Walker Scobell yang luar biasa mirip Reynolds, memainkan Adam Kecil. Reaksinya ketemu dengan diri yang sudah dewasa, berotot, punya alat-alat canggih, juga kocak sekali. Persis kayak yang diharapkan kalo ada anak kecil yang melihat dirinya udah gede, rasa penarasan dan excitement-nya dapet. Tapinya lagi, Scobell memang hanya perlu menirukan Reynolds karena di sini si Reynolds sendiri memang tidak memainkan karakter. Reynolds yang seperti memainkan dirinya sendiri mempermudah Scobell. Gak perlu kayak Helena Bonham-Carter yang berakting jadi Emma Watson berakting jadi Hermione yang akting jadi Bellatrix di Harry Potter. Inilah kenapa aku gak benar-benar terkesan sama Adam Kecil. Aku gak bilang mudah dan semua orang bisa niruin Reynolds, tapi hanya gak ada lapisan aja. Dia niruinnya sama persis, ya mannerismnya, ya mimiknya, ya pace nyamber obrolannya. Mestinya Reynolds di sini bisa memberikan karakter yang ia perankan lebih sebagai karakter lagi, bukan sebagai dirinya.

ADAMb784gzy_lGR2CY_ZJOQdrvGjyvn-obZGA
Bayangkan jadi penonton live Hulk dan Deadpool adu mulut.

 

Jadi setidaknya ada dua kemudahan yang diambil film ini. Soal karakter Adam yang basically cuma Ryan Reynolds. Dan soal time travelnya tadi. Gak ribet dalam melandaskan teori dan logika-film. But wait, there’s more conveniences alias kemudahan. Adegan-adegan aksinya – yang btw melibatkan orang-orang yang bisa tak kelihatan – tidak pernah terasa menggebu. Heboh sih iya, tapi gak ada intensitas. Penjahatnya tetap mudah dikalahkan. Sekuen berantemnya pun gak wow banget, banyak elemen yang udah pernah kita lihat (termasuk senjata yang mirip Lightsaber, eventho film berusaha menyetir ini sebagai komedi dalam cerita). Selain itu, film memang banyak memasukkan referensi kisah time travel dan sci-fi lain. Sehingga semua itu jadi datar aja, plus juga karena kita gak benar-benar melihat stake. Tahun 2050 diserahkan kepada imajinasi kita, which is good, hanya saja keadaan di tahun itu juga dijadikan informasi pembanding. Adam ingin mencegah 2050 hancur, dan katanya tahun itu ‘bad’. Dengan demikian, dunia tahun 2050 itu sekarang jadi stake, dan kita jadi perlu melihat seperti apa dunia di masa depan itu supaya kita bisa peduli dunia yang sekarang gak jadi seperti itu. Film ngambil kemudahan dengan gak memperlihatkan, yang berakhir gak gampang bagi kita untuk peduli sama petualangan mereka. Kemudahan tersebut lantas jadi kelemahan.

Dan bicara soal kelemahan, ada satu logika yang aneh sekali dalam sains cerita. Okelah, mereka ngeset dan bikin logis time travel dengan cara simpel mereka sendiri. Yang kubicarakan ini adalah sains soal kenapa Adam Gede butuh Adam Kecil untuk bertualang. Diceritakan di sini adalah karena Adam Gede tertembak, dia terluka, sehingga pesawat mutakhirnya gak lagi mengenali DNA tubuhnya. Maka dia butuh Adam Kecil yang gak terluka. Dia butuh DNA yang ‘sehat’. Question is, bagaimana luka tembak dapat mengubah DNA seseorang? Aku bukan ahli DNA tapi kalo ada yang kupelajari tentangnya maka itu adalah DNA makhluk akan sama; Luka atau bahkan cacat (yang bukan dari lahir) enggak akan mengubah DNA. Kayak, kalo Animorphs menyadap DNA hewan yang luka, maka saat mereka berubah menjadi hewan tersebut, mereka akan jadi hewan yang sehat, bukan yang luka. DNA itu genetik, dan luka fisik tidak terimprint di sana. The Adam Project tidak berhasil menjelaskan kenapa pesawat tidak lagi mengenali DNA Adam Gede dengan logis. Sehingga poin sepenting Adam Kecil harus ikut jadi sangat lemah. The whole movie ternyata bergantung kepada logika selemah itu. Aku gak nyebut plot hole atau apa, tapi kalo kita peduli sama letak perban di kepala orang sakit dalam film-film, maka hal sepenting DNA ini juga harusnya jadi concern kita, sebab benar-benar berkaitan dengan cerita ini bisa berjalan atau tidak.

Tadinya aku pikir mungkin di akhir akan diungkap kalo soal DNA itu cuma bualan Adam semata, bahwa dia sebenarnya pengen Adam Kecil ikut, atau gimana kek. Atau kupikir bakal ada penjelasan lanjutan. Tapi gak ada. Ini hanyalah cara mudah berikutnya dari film untuk menjelaskan kenapa Adam Kecil harus ikut bertualang. Padahalnya lagi, soal DNA ini bisa dijelaskan dengan menyebut senjata masa depan memang dapat mengubah DNA, makanya kalo mati ditembak ini orang jadi hancur. Tapi, film gak nyebut apa-apa soal senjata tembak. Orang lenyap hanya disebut sebagai akibat dari mati di luar timeline/universe hidupnya yang asli. Lagi-lagi, kemudahan bercerita. Eh, tapi lama-lama kemudahan itu jadi tampak seperti kemalasan ya!

 

 

Kalo aku guru IPA atau sains, maka aku akan ngasih nilai merah untuk film ini. Karena penjelasannya terlampau sederhana hingga cenderung malas. Film hanya menjelaskan time travel, tapi tidak menjelaskan soal DNA yang mereka angkat. Tapi untungnya aku bukan guru. Aku hanya penonton yang menulis ulasan film. Maka aku menilai dari filmnya saja. Yang bercerita dengan menghibur, memastikan kita tidak beruwet-ruwet dalam konsep time travel, dan makin mendaratkan cerita dengan tema keluarga yang grounded. Tapi uh-oh, film ini masih juga terasa malas, karena sebagai aksi sci-fi, dia masih generik, lebih banyak masukin referensi daripada adegan original, dengan stake yang gak terasa. Bahkan kematian dalam cerita, gak pernah terasa sedih-sedih amat.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE ADAM PROJECT.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Kalo berkesempatan ke masa lalu, tahun mana yang kalian tuju dan apa yang akan kalian katakan kepada diri kalian di tahun itu?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MARLEY Review

“A dog doesn’t care if you are rich or poor, educated or illiterate, clever or dull. Give him your heart and he will give you his.”

 

 

Walau mengaku bujangan kep… eh salah, itu lagu Yuni. Walau mengaku penyayang binatang, tapi honestly dulu aku peduli memelihara hewan cuma kalo ‘peliharaan’ tersebut bisa diajarin nyerang orang, atau bisa membawaku terbang, atau punya berbagai alat ajaib di dalam kantongnya. Waktu kecil dulu aku belum kebayang hubungan dengan hewan peliharaan itu bisa menjadi sangat emosional. Dulu aku cuma melihara tamagotchi, dan memang aku bisa ’emosional’ kalo udah capek-capek dirawat, dia mati. Alias emosi dalam artian ngamuk, karena meliharanya masih dalam tahap menganggap sebagai game. Padahal melihara yang sebenarnya itu bisa membawa kedekatan. Pets bisa seperti sahabat, bahkan lebih dekat daripada keluarga. Waktu baru melihara kucing beneran lah (itupun awalnya karena loteng kafeku banyak tikus), aku mengerti. Tadinya aku pengen bicara tentang hal tersebut lebih lanjut, lewat film Marley garapan M. Ainun Ridho. Aku excited pengen nonton ini, karena merasa sekarang aku bisa semakin relate dengan cerita persahabatan manusia dengan hewan peliharaan. Ternyata Marley bicara lebih banyak di balik persahabatan tersebut. Namun sayangnya, film ini fell flat, tidak mampu menceritakan semuanya dengan baik. Mengatakan hanya membahas di permukaan pun, film ini belum berhasil.

Ini kali kedua dalam waktu dekat aku nonton film Indonesia yang mengangkat hewan peliharaan sebagai topik (atau mungkin bahkan pemain) utama. Sebelumnya ada June & Kopi (2021). Sehingga mau gak mau, aku akan membandingkan. Marley punya bahasan yang lebih banyak. Ceritanya tentang seekor seekor pitbull yang lagi ngumpet dari kejaran preman bayaran tukang daging, bertemu dengan Doni (Tengku Tezi jadi guru yang asik), pemuda yang memberinya makan. Si pitbull lantas ngikutin Doni si baik hati pulang. Doni jadi memeliharanya, memberinya nama Marley – sesuai musisi favoritnya. Masalah dimulai ketika Doni yang seorang guru matematika, gak bisa gitu aja ninggalin Marley di rumah selama mengajar. Doni harus membawa Marley ke sekolah, yang berujung membuatnya dipecat. Hidup menjadi semakin berat. Tapi sebaliknya, karena Marley-lah, guru kita itu belajar yang namanya cinta. Yang bakal mengubah hidupnya.  

124847791_1740492739436816_8121578112268320359_n
Daripada sok nyelametin satwa-liar langka, noh di jalanan banyak anjing dan kucing yang siap untuk diberi kasih sayang.

 

 

Ada bahasan asmara – Doni naksir-naksiran sama seorang bu guru bernama Vina (Tyas Mirasih, another alumni gadsam main di another film about human and dog) tapi dia gak kunjung melakukan gebrakan karena Vina ternyata sudah punya anak, sehingga most of time, relasi mereka tampak awkward. Lalu ada bahasan soal pendidikan; Doni ini guru yang punya pandangan maju tentang bagaimana cara yang fun dan efektif ngajarin matematika kepada anak SD. Supaya mereka gak stress menghapal dan sebagainya. Doni justru pengen membuat anak-anak merasa happy dan bermain-main dengan angka-angka. Soal pendidikan ini jadi concern utama film, cerita akan benar-benar membandingkan cara ngajar tradisional yang dianut sekolah di negara kita hingga saat ini dengan cara yang lebih, katakanlah, modern. Film akan memperlihatkan mana yang lebih baik,Jika serta menunjukkan walau cara tersebut lebih baik, tidak segampang itu untuk diterapkan karena guru-guru yang lebih ‘tradisional’ – guru-guru yang masih gak mau segampang itu menerima ide Doni masih banyak. Lalu ada juga pembahasan hingga ke soal perdagangan daging anjing yang semakin meliar. Persahabatan Doni dan Marley membentang melingkup semua itu. Kehadiran Marley menjadi warna, dan sedikit mempermudah Doni menelan masalah-masalahnya. Karena at least now, dia punya seseorang untuk diajak ngobrol. Punya tempat untuk mencurahkan hati. Enggak lagi bicara kepada foto-foto di rumahnya.

Hewan peliharaan adalah companion yang setia. Terutama seekor anjing. Anjing gak akan peduli siapa dirimu. Miskin atau kaya. Pintar atau bodoh. Begitu mereka merasakan hati tulusmu, maka kau telah mendapat teman seumur hidup.

 

Jika dikembangkan dengan baik, Marley akan bisa jadi lebih padat dan kompleks dibandingkan June & Kopi. Inilah kenapa film itu bukan semata soal ide cerita, gagasan, atau moralnya saja. Yang nomor satu dari sebuah film adalah penceritaannya. Marley ternyata bercerita dengan lebih simpel, dalam artian yang not-good. Penceritaan Marley hanya pada batasan ‘tell’, tidak melibatkan ‘show’. Sekalinya ‘show’, yang diperlihatkan malah sesuatu yang either diceritakan terlalu cepat, atau kurang relevan (misalnya porsi-porsi komedinya). 

Persahabatan antara Marley dan Doni misalnya. Hanya di awal-awal saja yang beneran terasa. Doni memandikan, ngasih makanan, lalu ada juga dia marah karena Marley ngacak-ngacak rumah. Makin ke akhir, Marley jadi hanya kayak berada di sana aja. Doni yang dipecat, berusaha membangun tempat mengajar sendiri. Dia melalui banyak kesulitan, dan malah jadi kayak berantem ama Tuhan. Marley agak terpinggirkan. Momen film kelihatan benar-benar berusaha langka sekali. Paling cuma pas ngasih nama. Entah itu nama tempat ngajarnya, ataupun nama Marley. Diperlihatkan proses berpikir mendapatkan nama tersebut, dan semua itu melibatkan Marley. Aku suka momen-momen seperti itu. Walaupun aku kurang sreg nama yang diberikan adalah Marley. It is too easy. Sudah ada film ikonik tentang persahabatan manusia dan anjing yang berjudul Marley & Me (2008) yang tebak siapa nama karakter anjingnya. Ada banyak nama lain; kalo mau nama musisi pun, banyak nama yang lain. Tapi film memilih nama yang membuat orang teringat sama film lain. Film yang bercerita dan dibuat dengan jauh lebih baik. Oh, aku yakin dari nama/judulnya saja, calon penonton akan membanding-bandingkan film ini, dan hasilnya ‘matematika’ perbandingan tersebut gak akan baik untuk film ini.

Film lebih banyak bercerita lewat montase. Doni membangun tempat ngajar; lewat montase ngumpulin murid-murid; lewat montase. Doni ngajarin murid-murid; lewat montase. Padahal ini momen-momen yang tepat untuk menumbuhkan atau menunjukkin development, tapi film lebih memilih untuk memperlihatkan sekelebat permukaan itu saja. Film ini menyebut Doni punya metode unik dalam mengajar. Kita sama sekali gak pernah melihat keunikan itu seperti apa. Doni cuma tampak seperti guru yang akrab dan pandai membawa dirinya di hadapan anak-anak (or di hadapan siapapun lawan bicaranya for that matter) Film yang rajin, film yang tahu apa yang sedang ia bikin, tentu akan menciptakan metode Doni dan menampilkannya kepada kita. Jangankan bikin kreasi, film ini kameranya saja enggak cepat tanggap. Ada adegan ketika Marley diberikan makanan gratis oleh orang dan Doni bilang “ayo ucapin terima kasih”. Adegan tersebut dari awal hingga akhir direkam dengan kamera wide dari depan doang. Mereka enggak memperlihatkan reaksi Marley. Mereka gak memberi kita informasi apapun dari karakter yang namanya jadi judul film ini. Sedikit sekali Marley tertampilkan. Film lebih suka memperlihatkan kamera seolah dari pov Marley. Padahal cara seperti itu gak bercerita banyak. Kita tetap gak tau apa yang dirasa oleh Marley. Lebih efektif merekam wajah Marley saat dia melihat orang. Tapi tentu saja itu mengharuskan sutradara benar-benar bisa ngedirect Marley.

marley5fe543db90c691ca5361aa8488f52236
Spoiler penting banget: Plot twist! Marley ternyata cewek!!

 

 

Contoh lain film ini cuma ngemeng tanpa ngasih bukti adalah ketika Doni bilang salah satu muridnya berbakat jadi pelawak gede. Kita gak pernah tuh melihat murid melawak. Sebagai orang yang lucu. Cuma ada satu dialog yang dia ngelucu, tapi penulisannya kayak orang yang berusaha ngelucu sehingga dibawakan pun gak lucu. Yang diberikan waktu lebih banyak justru momen pedekate Doni kepada Vina. Yang hampir semuanya tampak awkward. Tampang Vina entah kenapa selalu kayak lagi tertekan atau lagi melakukan sesuatu yang salah. Dan dialognya pun luar biasa basa-basi. Pernah gak baca komen di Instagram “Ih kamu cantik banget” “Enggak kok, kamu yang cantik” “Cantikan kamu, ih” “Yang ngelike juga semuanya cantik”. Dialog-dialog film ini, terutama pada bagian Doni dan Vina terasa se’forkal’ itu. Tau gak forkal apaan. Formal tapi dangkal. 

Dengan kualitas dialog seperti itu, hanya ada ruang sempit untuk aktor-aktor kita memaksimalkan akting mereka. Doni yang paling mending. Tetangganya juga cukup oke, meski karakternya satu dimensi. Dan memang karakter lain cuma satu dimensi. Untuk ngelucu, ngelucu aja. Untuk galak, galak aja. Khusus penjahat boleh ngelucu sambil galak. Tapi harus bego. Karakter-karakter anak-anak jangan ditanya. Mereka cuma kayak template karakter pendukung anak di film Indonesia. Dijauhkan dari segala emosi manusiawi. Cuma sebatas melafalkan dialog dengan suara yang seanak-anak mungkin. Kualitas penulisan cerita anak film Indonesia kebanyakan masih sebatas ini. Belum banyak yang berani mengembangkan lebih daripada ini. Cuma memang anehnya film ini, tadinya aku mau bilang kalo film ini sugarcoat aja – mengelak dari ngasih yang terlalu dalam untuk anak-anak. Eh, tapi kemudian datanglah ending yang katakanlah tragis. Berani juga film ini mengirim anak-anak pulang dengan cerita kematian. Tapi yang sesungguhnya mati di sini adalah plot, karena dengan ending seperti itu tidak ada lagi karakter yang benar-benar punya perkembangan di sini.

Jadi aku gak ngerti kenapa film memilih ending seperti itu. Akhiran yang merenggut semua orang dari kesempatan melingkarkan arc mereka. Satu-satunya alasan yang terpikirkan olehku adalah film ini ingin beda dari Marley & Me. Film ini pikir mereka akan ngeswerve kita dengan ending yang, katakanlah, kebalikan dari Marley & Me. Ending yang kalo mereka ditanya apakah film ini niruin Marley & Me, maka mereka bisa menjawab dengan sumringah “Enggak dong, endingnya aja beda, tonton aja”.

 

 

 

Untuk nyimpulin perbandingan yang kuangkat di awal; June & Kopi masih pilihan tontonan lebih baik dari film ini (perbandingan ke Marley & Me jangan ditanya!). Film ini sebenarnya manis, persahabatan Doni dan Marley cukup hangat. I want to see more of them doing things together. Aku cukup senang bisa nonton mereka dalam rangka menjelang satu tahun kematian kucingku, Max. Tapi film ini punya bahasan lebih banyak, dan gak mau benar-benar menggalinya. Film cenderung memilih bercerita dengan sangat aman – kalo gak mau dibilang amat malas. Sehingga, jangankan menggigit, film ini bahkan enggak menyalak. 
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for MARLEY.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian punya cerita seru/lucu/haru bersama hewan peliharaan kesayangan?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

TURNING RED Review

“No band-aids for the growing pains”

 

 

Pertumbuhan adalah proses yang mengerikan. Secara fisik, tubuh kita akan mengalami perubahan. Hal itu saja sudah mampu untuk menjungkirbalikkan mental, yang akhirnya bisa mengubah seseorang secara total. Ingat anak perempuan periang teman kelompokmu di TK? Well, jangan heran kalo dia gak bakal pernah bicara lagi kepadamu (atau mungkin kepada semua orang) saat remaja nanti. Atau anak cowok yang supersopan dulu, bisa berubah jadi berandal nyaris tak dikenali lagi saat udah di bangku SMP. Insecure dalam bertumbuh remaja adalah pelaku dari semua perubahan itu. Melihat tubuh kita berganti; kok di situ mendadak tumbuh bulu, kok suaraku jadi aneh, kok aku bertambah tinggi (or not, while your friends all towering up) Siapa yang bisa membantu kita melewati semua ini? Teman-teman yang bakal ngeledek? Orangtua yang gak bakal ngerti masalahnya, dan malah bikin tambah memalukan? Setiap orang akan melewati fase bertumbuh yang mengerikan itu, dan itulah sebabnya kenapa film animasi Turning Red debut film-panjang sutradara Domee Shi jadi salah satu tontonan coming-of-age yang benar-benar tepat sasaran.

Bagi penonton cilik yang baru akan mengalami, film ini akan jadi pembimbing. Buat penonton dewasa, film ini bakal jadi nostalgia – serta bisa dijadikan panutan terhadap gaya parenting orangtua. Turning Red ceritanya tentang anak 13 tahun alias anak mulai gede, dengan penekanan pada hubungan antara si anak dengan teman-teman, dan juga dengan ibunya. Jadi anak ini, si Meilin, adalah tipikal anak cerdas yang jago mata pelajaran apapun di sekolah. Tapi dia bukan tipe anak pendiam (salah satu keunikan penulisan film ini), Meilin orangnya rame banget. Bayangkan campuran antara Bart dan Lisa Simpson (film ini actually ngasih nod ke The Simpsons lewat penamaan dua patung rakun di rumah Meilin). Meilin gak populer amat, tapi at least dia punya teman segeng, dan mereka ngelakuin apapun bersama. Termasuk ngestan grup boyband terkenal. Jadi inilah rahasia Meilin. Dia sebenarnya gak hobi banget jadi nomor satu, dia hobinya hang out dan geek out bareng genk. Prestasi Meilin cuma bentuk responsibilitynya kepada ibu. Di luar rumah, Meilin berusaha menjadi dirinya sendiri. Tapi hal tersebut jadi semakin susah, karena Meilin tau-tau berubah wujud menjadi panda merah, setiap kali dirinya excited. Termasuk saat mikirin boyband dan anak-anak cowok! Dan tampaknya hanya ibu yang tahu cara melepaskan Meilin dari ‘kutukan’ tersebut.

Dari tampilan saja film ini langsung terasa keunikannya. Shi menggunakan estetik anime sebagai ruh animasi 3D. Karakter-karakternya digambar dengan gaya anime. Mata yang besar dan (kelewat) ekspresif. Warna-warna yang cheerful. Gaya berceritanya pun mirip style anime. Dengan cut to cut yang cepat sehingga spiritnya kerasa kayak kartun 90an yang biasa kita tonton di tv. Elemen transformasi ajaib Meilin menjadi Panda Merah juga berasa anime banget. Shi bahkan ngerender kota Toronto asli sebagai panggung cerita film ini, kayak yang biasa dilakukan oleh anime yang pakai lokasi beneran. Dari segi cerita dan bahasan, nonton Turning Red ini emang aku ngerasa vibe ala film-film Studio Ghibli. Film ini juga menyelam lebih dalam ke makna di balik perubahan jadi panda merah. Eksposisi dilakukan dengan fantastis, sembari tetap berusaha kental merepresentasikan budaya Asia, khususnya Cina.

redTurning-Red-screencap-Mei-and-friends-r
Salah satu rejected idea untuk judul film ini adalah My Neighbor Toronto

 

 

Itulah kenapa jadi banyak juga orang yang gak suka ama style film ini. Gaya anime memang gak semua orang suka. Apalagi kalangan penonton barat. Mereka punya gaya sendiri untuk kartun atau animasi over-the-top. Dan bagi mereka, kartun-kartun tersebut bukan Pixar. Salah satu penyebab Pixar di atas, karena gaya yang berbeda dari kartun-kartun tersebut. Makanya, begitu ada film Pixar yang tampil dengan style yang berada dalam spektrum over-the-top, banyak yang gak bisa langsung nerima. Dan disalahkanlah karakter-karakter cerita yang menghidupi gaya/style itu.

Karakter-karakter 13 tahun itu – Meilin dan teman-temannya – memang seringkali annoying. They loud, obnoxious, lebay, goal mereka cuma pengen nonton konser boyband. Aku juga jengkel sih. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa relate dengan kita. Relate kan gak harus in sense sama-sama ngefans boyband (walaupun film ini toh memang juga menyasar nostalgia demam boyband seperti Backstreet Boys, NSYNC, atau Westlife di awal 2000an). Yang jadi ‘boyband’ku dulu adalah pemain smekdon, gadis sampul, power rangers, dan bahkan hal sesimpel komik dan video game. Itu hal-hal yang aku suka, tapi dilarang banget. Jadi aku main game, baca komik, atau nonton smekdon selalu diam-diam. Aku saat itu bahkan masih ‘closeted’ ngefans gadsam. Melihat Meilin mengejar apa yang ia suka, apa yang menurutnya paling penting saat itu, di belakang ibunya yang melarang, bukan saja membawaku ke masa-masa dulu, tapi sekaligus membuatku jadi peduli kepadanya. Ini ngajarin anak mengenali dan mengejar hobi atau passion atau kegemaran mereka. Ini ngajak anak yang nonton untuk merayakan diri. Soal annoying, kalo dipikir-pikir lebih menjengkelkan sebenarnya anak yang gak punya kesukaan ketimbang yang seperti Meilin ini. Sehingga yang jelas, Meilin ini beresonansi sekali dengan masa-masa umur segitu. Terutama buat kita yang sesama orang asia. Karena, tahulah, ‘lawan’ kita dengan Meilin sama. Asian parent.

Udah hampir jadi meme sekarang, persoalan ‘asian parent’. Orangtua dengan standar tinggi. Orangtua yang menuntut anaknya untuk selalu nomor satu. Ya itu nilai bagus, ataupun disiplin. Orangtua yang seperti alergi melihat anaknya bersenang-senang. Orangtua yang terlalu protektif sehingga gak sadar telah bikin malu anaknya di depan umum. This movie gets that right dengan ibu Meilin. Si ibu ini lebih suka nyalahin orang lain ketimbang benar-benar melihat Meilin sebagai person. Film lebih lanjut menelisik parenting semacam ini dengan tidak membuat masalah terbatas pada Meilin dan ibunya. Melainkan hingga ke neneknya. Turun-temurun perempuan dalam silsilah keluarga Meilin punya masalah dengan kutukan panda merah, yang di sini jadi melambangkan bagaimana parenting seperti itu telah mengakar. Di cerita ini, Meilin kini dihadapkan pada pilihan menyingkirkan panda merah dan meneruskan siklus ibu-anak yang tumbuh nelangsa, atau katakanlah berontak dan embrace ‘my panda, my choice’. Jadi film ini pada kadar tertentu pasti akan relate. Namun aku apresiasi sekali film ini, karena selain relate, juga nunjukin side yang aku gak tahu. Yang boys gak akan pernah takutkan. Yaitu ‘turning red’ itu sendiri.

Pubertas, yang khusus perspektif cewek. PMS-lah yang disimbolkan ke dalam berubah jadi panda merah. Film dengan gamblang menyebut ini saat adegan pertama kali Meilin berubah wujud. Kehebohan growing up yang gak bakal dialami laki-laki (walau sunat bisa jadi counterpart yang imbang). Tapi yang jelas, dengan memasukkan soal itu (again, film ini jadi seperti anime yang memang lebih berani ngetackle persoalan ‘pribadi’ dibanding animasi lain), berarti film ini memang benar-benar kuat di sudut pandang cewek tersebut. Film ini juga jadi ngingetin aku sama Yuni (2021). Meilin di Turning Red ini rasanya kayak versi yang lebih imut-imut dari Yuni, like, Meilin pun hanya punya teman-teman gengnya. Dalam circle gengnya itulah Meilin bisa bebas berekspresi. Bernyanyi bersama adalah cara mereka untuk saling konek. Malahan, Meilin bisa mengendalikan transformasinya bukan karena mengingat ibu, tapi justru karena mengingat persahabatan teman-temannya.  Seingatku, film ini gak ngeresolve hal tersebut. Ibu kayaknya gak pernah tahu Meilin berbohong soal mengingat dirinya. Dan ini mungkin cara film menekankan poin bahwa bagi perempuan memang selalu teman-temanlah yang jadi penawar dari pains of growing.

Seperti kata lagu Alessia Cara, gak ada perban untuk growing pains. Melainkan suka duka bertumbuh dewasa itu ya dijalani saja. Kita akan menjalani itu bareng teman-teman ‘sependeritaan’. Bukan dengan orangtua. Karena bagaimana pun juga, anak dengan orangtua akan berpisah jalan. Anak bisa – dan kemungkinan besar akan – tumbuh berbeda dari yang diinginkan dengan orangtua.

 

redfirst-trailer-for-pixars-turning-red-which-was-clearly-inspired-by-teen-wolf
Satu lagi rejected idea untuk judul film: PMS (Panda Mayhem Syndrome)

 

Bicara soal menjadi diri sendiri – bicara soal identitas, kalo dipikir-pikir, kenapa ya cerita seperti ini selalu gak benar-benar ada di ‘habitat’ aslinya. Identitas Meilin adalah seorang Cina yang terlahir dan besar di Kanada. Film Crazy Rich Asians, The Farewell, hingga Shang-Chi; karakternya selalu putra/i etnis yang lebih kritis dibandingkan dengan generasi older yang lebih tradisional. Apakah memang pandangan itu baru bisa terbentuk dengan adanya benturan dua culture dalam satu individu? Like, karena ada pandangan barat yang lebih memajukan individual, pandangan timur terguncang, dan baratlah yang cenderung ‘jawaban terbaik’. Aku gak tau juga, apakah kalian punya pendapat soal ini? Let all of us know di Komen yaaa

Yang jelas, kalo soal identitas, yang menurutku goyah di film ini adalah soal latar tahunnya. Kita tahu cerita ini bertempat di tahun 2002. Kita lihat ada tamagotchi, ada lagu-lagu yang beneran kayak lagu tahun segitu, Namun overall tingkah anak-anak muda penghuninya, bahasa percakapan mereka, sering kali terdengar kayak kekinian. Phrases yang mereka gunakan tidak benar-benar terdengar nostalgic, dan lebih sering mereka kayak anak jaman sekarang. Mungkin di situlah film menarik garis kerelevanan. Tapinya lagi aku jadi kepikiran kenapa cerita ini harus di tahun 2002, kenapa gak dibikin di masa kini saja. Kuharap alasannya gak hanya sekadar untuk personal nostalgia saja. 

 

 

Orang bisa berubah jadi panda ternyata mampu jadi kemasan cerita coming-of-age yang unik dan menarik. Animasinya looks good, dan banyak elemen yang ngingetin sama anime 90an. Meskipun penyimbolan panda merah yang mengandung banyak arti agak sedikit jadi terlalu sederhana oleh final act, tapi secara keseluruhan film ini berhasil memuat gagasan yang magical dengan cukup baik ke dalamnya. Kadang aku bingung juga, tadinya Panda Merah itu untuk melindungi keluarga dari kejahatan, tapi kemudian berubah jadi soal pubertas, dan lalu jadi kayak superpower yang bisa dibangkitkan kapan saja, tapi konsep yang sedikit kurang kuat tersebut tidak berdampak terlalu banyak ke dalam gagasan yang diangkat. Film ini tetaplah sebuah pengalaman relate yang hangat. Dan ngajarin banyak, terutama soal ibu dengan anak perempuannya yang beranjak dewasa.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for TURNING RED.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

WEST SIDE STORY Review

“Hate cannot drive out hate; only love can do that”

 

 

Belakangan ini kita memang diberkahi banyak banget film musikal yang keren-keren. Annette (2021) yang menekankan kepada sisi absurd seninya. Tick, Tick…Boom! (2021) yang melekat berkat relate personal ceritanya. Ada begitu banyak pilihan musikal yang bagus, yang mampu membuat aku yang gak fans musik jadi jatuh cinta. Tapi dari semua, West Side Story garapan Steven Spielberg-lah yang paling pas untuk mengenakan mahkota. Karena film ini benar-benar goes for the big! Baik itu performance, musical numbers atau adegan musikalnya, produksi, hingga ke pesan, semuanya spektakuler. Spielberg ngedirect film ini dengan kemegahan yang cuma dia yang bisa. Dan itu berarti luar biasa karena film ini sendirinya sebenarnya adalah sebuah remake dari musikal yang enggak ‘kecil’. Spielberg membuat cerita ini lebih besar dan lebih relevan lagi!

Materi aslinya terinspirasi dari kisah Romeo dan Juliet. Namun alih-alih perseteruan keluarga, kisah cinta Tony dan Maria di West Side Story berada di tengah-tengah seteru dua kelompok etnis pemuda yang berbeda. Manhattan 1957 itu tempat tinggal yang jadi rebutan oleh penduduk imigran yang sudah turun temurun tinggal di sana. Di satu sisi ada kelompok Inggris, dengan geng Jet. Dan di sisi lain ada warga Puerto Rico dengan kelompok Shark. Dua kelompok ini terus saja berantem, cari ribut. Persaingan memenuhi kebutuhan hidup yang layak membuat kedua kelompok saling benci. Tapi tidak Tony dan Maria. Bertemu di pesta dansa (sementara geng masing-masing lagi rebutan lantai dansa), Tony yang mantan anggota Jet dan Maria yang adik dari ketua Shark jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka bermaksud hidup bersama, pergi dari kota dan start fresh. Tentu saja, kedekatan mereka berdua dijadikan alasan baru bagi Jet dan Shark untuk ribut. Dan kali ini benar-benar bakal ada nyawa yang jadi korban.

westsideDF_12072_R12_COMP
Rumbling, rumbling~~

 

Namanya juga musikal, semua permasalahan film ini diceritakan lewat lagu. Set drama di kota dilandaskan lewat adegan musikal di opening. Alasan Jet nyari ribut, juga lewat musikal. Bahkan pas sekuen berantem pun juga ada gerakan-gerakan seperti balet (sebelum akhirnya film ini nunjukin berantem yang cukup violent). Dari nonton West Side Story inilah aku jadi mikir, bahwa keberhasilan sebuah film memang gak pernah sesederhana ‘horor yang penting harus bisa bikin takut’, ‘komedi yang penting harus lucu,’ ataupun ‘romansa yang penting harus bisa bikin baper’. Karena dengan begitu berarti ‘musikal berarti harus bisa bikin ikut nyanyi’. Nah dengan logika itu, sampai kapanpun aku gak akan pernah nemuin musikal yang bagus karena aku yang gak suka musik gak akan pernah nyanyi menonton musikal. Dan kalo aku – kalo kita – menilai film dengan subjektivitas sesederhana fungsi tersebut, ya kitalah yang rugi. Kita gak akan tahu film bagus bahkan kalo film itu tayang di depan hidung kita. Dari musikal segrande West Side Story inilah kita bisa sadar bahwa meskipun kita gak konek dengan liriknya, atau dengan musiknya, atau bahkan dengan bahasanya, sebuah film masih akan tetap bagus dan itu dinilai dari objektivitas teknik film itu dibuat, cerita film itu ditulis, seperti apa gagasannya disampaikan. Bagaimana craft film dalam memuat isi kemudian menampilkannya ke dalam genre masing-masing, di situlah sebenarnya penilaian film bagus atau tidak. 

Dan West Side Story benar-benar dibuat dengan epik. Setiap adegannya, mau itu musikal ataupun pas ngobrol biasa, berwarna oleh detil, penempatan kamera, dan bahkan bloking orang-orangnya saja seperti bermakna. Adegannya tu gak pernah sekadar nari-nari rame-rame di tengah jalan. Saking banyaknya adegan bagus yang benar-benar nonjolin craft dan visi dari si filmmaker, aku bisa bikin listicle khusus di dalam tubuh ulasan ini. ‘Dua-puluh Adegan Terepik dalam West Side Story, Nomor Lima Bakal Bikin Kamu Ikutan Joget!’ Ya, bukan lima, bukan delapan. Dua puluh itu aja kayaknya belum semua deh yang keitung. Kamera dan perhatian Spielberg lewat bercerita visual mengangkat setiap adegan musikal menjadi momen-momen ajaib yang kita rugi kalo sampai ngedip and miss it. Adegan nyanyi di gang gelap, lalu Tony loncat ke kubangan, kamera lantas menyorot dari atas; memperlihatkan pantulan berpuluh-puluh lampu dari jendela lewat riak-riak kubangan tersebut, maaan siapa sih yang bisa kepikiran membuat adegan seperti itu. Shot-shot film ini memang sangat imajinatif, gak ada yang standar. Dua geng saling bertemu di dalam gudang yang gelap; Spielberg mempesona kita dengan menggambar dari bayangan kedua kubu. Lalu ada juga sekuen panjang saat adegan masuk ke ruang dansa. Kameranya kayak melayang gitu aja, nempel di tubuh lalat kali hahaha. Buatku, film seperti beginilah yang menantang – sekaligus menginspirasi. Film, yang saat menontonnya kita langsung penasaran mereka ngerekamnya seperti gimana, kameranya gimana. Kok bisa? 

Akhirnya ya kita yang nonton jadi merasa dapat lebih banyak daripada sekadar lirik atau irama yang catchy. Kita ujung-ujungnya jadi mengapreasiasi musikal itu secara keseluruhan. Aku paling suka adegan nyanyi Amerika, dan adegan nyanyi di dalam ruangan kantor polisi. Selain itu, dengan pengadeganan dan penampilan menawan seperti itu, perhatian kita juga jadi terpusat pada cerita. Hampir seperti kita gak butuh lagi sama dialog. Mungkin ini jugalah yang dimengerti oleh film, sehingga Spielberg tidak menampilkan subtitle untuk dialog-dialog dalam bahasa Spanyol. Spielberg melalukan ini demi respek terhadap karakter dan bahasa itu sendiri, tapi dia toh juga tidak mempersulit atau meminta terlalu banyak kepada penonton. Perhatikan saja adegan-adegan berbahasa Spanyol itu. Selalu hanya keluar dalam adegan yang konteksnya sudah terlandaskan dengan baik. Selalu punya weight ke dalam karakterisasi dan plot itu sendiri. Ketiadaan subtitle ini justru jadi penanda utama bahwa film ini telah demikian baik bercerita lewat visual dan penampilan atau juga musiknya.

Colorfulnya pengadeganan didesain kontras dengan kelamnya cerita. Aku nonton film ini duluan daripada film aslinya, aku gak tau sebelumnya ini ceritanya bakal seperti apa. Dan aku surprise juga saat menyaksikan ujung cerita film ini. Aku gak expect kalo film yang udah dibuat untuk penonton modern ini berani membuat sekelam itu. Mungkin inilah kenapa West Side Story kurang laku (selain karena musikal memang kurang perform untuk penonton kita). Modern audience kan gak bisa dikasih ending yang conflicted. Pengennya yang jelas. Happy, atau sedih. Kalo bisa sih yang happy aja. Gak boleh di antara keduanya. West Side Story berakhir tragis dengan cinta yang terpisah oleh kematian, tapi punya undertone yang optimis ke arah kehidupan yang lebih baik untuk semua orang di kota. This ending will hit alot.  Dan aku senang karena film ini mengambil resiko dengan ending seperti itu. Film ini telah melakukan cukup banyak penyesuaian – ada hal-hal yang dibikin berbeda dengan versi aslinya – tapi untungnya tidak diubah sesuai kesukaan penonton modern. Malah kalo dipikir-pikir, ending versi ini memang lebih menohok.

westside-side-story-trailer-
Si Maria mirip-mirip Susan Sameh gak sih?

 

Seperti pesaingnya di Best Picture Oscar, Coda (2021), film West Side Story juga melakukan remake yang melakukan perubahan positif dalam hal representasi. Spielberg tak lagi menggunakan aktor kulit putih yang dimake-up coklat, melainkan benar-benar menggunakan aktor latin untuk karakter-karakter Puerto Rico. Feels film ini jadi semakin otentik, selain juga respek sama ras yang diangkat. Soal casting ini memang benar-benar dimanfaatkan sebagai isi karakter. Ariana DeBose yang berkulit lebih gelap misalnya, diset untuk memerankan Anita yang nanti terlibat dialog soal kulit itu dengan sesama Puerto Rico, terkait konteks bagaimana prioritas Amerika kepada warganya. Terus, ada karakter yang benar-benar merepresentasikan trans-people, sementara film aslinya tahun 60an belum berani banget menampilkan. Lalu ada juga aktor yang gak sekadar jadi cameo dari film original, tapi diberikan peran yang dramatis terkait dia memerankan peran terdahulu dengan peran sekarang. Tapi yang paling penting soal cast ini adalah, Spielberg benar-benar ngedirect mereka untuk menghasilkan performa yang sama luar biasanya.

Masalah rasis yang jadi akar konflik film ini digambarkan dengan kompleks, dan jadi masalah yang terstruktur karena begitulah pondasi tempat tinggal daerah mereka. Tapi kalo mau disederhanakan, sebenarnya ini adalah masalah hate. Kebencian. Makanya hubungan cinta antara Tony dengan Maria jadi simbol penyelamat mereka semua. Mereka cuma harus bisa melihatnya. Walau kadang cara untuk sadar itu bisa demikian tragis.

Honestly, pas pertama kali nonton aku mikir film ini – terutama karena endingnya – agak problematis. Like, kenapa kulit putih mati jadi seperti savior. Bukankah, aku sempat mikir, lebih cocok dengan penonton modern kalo dibikin yang jadi ‘penyelamat’ itu adalah karakter cewek. Setelah dipikir-pikir, dikaitkan dengan arc Tony dan Maria, the whole ending ternyata memang harus terjadi seperti yang film ini lakukan. Tidak ada jalan lain yang lebih powerful.

 

Tony yang diperankan oleh Ansel Esgort di versi ini diberikan journey yang lebih dramatis. Backstorynya – mengapa dia keluar dari Jet, kenapa dia bisa punya hubungan baik dengan pemilik toko yang orang latin – benar-benar melandaskan arc penebusan diri. Benar-benar memperlihatkan Tony mencoba menjadi pribadi yang lebih baik, tapi tidak segampang itu berkat kuatnya pengaruh seteru dan hate tadi di kota. Arc si Tony baru akan melingkar sempurna dengan ending film ini, karena itulah penebusan dirinya yang sebenarnya. Bukan dengan pergi menumbuhkan cinta di tempat lain. Kota ini juga harus diresolve masalahnya. See, di sinilah letak kekuatan naskah West Side Story. Kota mereka juga jadi karakter tersendiri. Yang bakal ngalamin pembelajaran, melalui nasib dua karakter sentral. Maria, diperankan oleh Rachel Zegler dengan memukau meski ini adalah film pertamanya, punya arc tentang innocence lost. Maria adalah simbol atau perwujudan dari value positif; polos, penuh mimpi, optimis. Karakter Maria ini jadi makin penting saat ending itu, karena lewat dialah karakter-karakter di kota melihat apa yang telah mereka lakukan terhadap kota yang harusnya adalah tempat penuh harapan dan mimpi.

 

 

 

Ah, film yang indah. Baik itu pesannya, experience menontonnya, serta penampilan akting dan musikalnya (yang btw, bener-bener dinyanyikan oleh pemainnya). Dunianya terasa hidup, setiap adegan pantas banget untuk kita pelototin. Setiap scene terasa epik dan spektakuler. Everything about this movie feels grande. Aku harus menahan diri nulisnya, karena kalo gak, bakal panjang banget. Karena semuanya bisa dibahas mendalam. Semuanya punya makna. I’m okay film ini yang dipilih Oscar untuk mewakili genre musikal dibandingkan film yang lain. Bukan hanya karena nama Steven Spielberg. Pak sutradara berhasil membuktikan nama besanya bukan sekadar legenda. Tapi juga karena film ini terasa urgen meskipun dia adalah remake. Aku senang karena actually di line up Best Picture Oscar tahun ini, ada dua film remake yang tampil demikian kuat melebihi film original mereka.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for WEST SIDE STORY.

 

 

 

That’s all we have for now

Sayang sekali film ini flop di bioskop kita. Menurut kalian kenapa film musikal enggak perform dengan baik bagi penonton Indonesia?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

FRESH Review

“(Online) dating is nothing more than a meat market”

 

 

Online dating (kencan online) dapat jadi sangat manis dengan segala emotional connection yang terjalin, bahkan sebelum bertemu langsung dengan si pacar. Bayangkan bisa merasa demikian dekat lewat kesamaan interest, hobi, selera. Tapi online dating juga tak jarang berakhir sebagai kekecewaan yang membawa bencana – begitu ketemu beneran dengan pasangan yang katanya sekian persen cocok tersebut. Karena namanya juga online. Orang bisa beda banget antara di dunia nyata dengan yang ia tampilkan di dunia maya. Bisa jadi orangnya ternyata jorok, toxic, ‘cakep di foto doang’, atau minta split bill melulu alias pelit. Horor komedi debutan sutradara Mimi Cave mengangkat fenomena susahnya dapat jodoh lewat online sampai-sampai membuat orang jadi desperate, dan akhirnya jatuh ke dalam sesuatu yang lebih berbahaya daripada kiriman gambar nude tak diinginkan. Jebakan stranger danger.

Sebenarnya memang sudah cukup lama aplikasi dating online seperti Tinder, Grindr, dan lain sebagainya disebut orang seperti pasar daging. Perilaku memilih pasangan dengan swipe kanan, swipe kiri seperti sedang belanja produk. It make us feels like a product. Film Fresh kemudian menarik kesamaan tersebut dengan literally masukin soal perdagangan daging manusia sebagai lapisan kisah perempuan yang mencari asmara.

 

Noa (Daisy Edgar-Jones jadi protagonis yang cukup unik di dalam genrenya) udah capek cari cowok di aplikasi. Udah susah payah nyari di antara sekian banyak mata keranjang, eh yang dia dapatkan modelnya gak jauh-jauh dari cowok ignorant yang super self-centered nan egois. Jadi, Noa udah no-ah lah main online-onlinean. Dan memang akhirnya Noa merasakan magicnya jatuh cinta lewat cara yang ‘tradisional’. Dia ditegur sama cowok yang simpatik di swayalan, Noa tertarik. Dan yah, Noa merasa cocok sama Steve (Sebastian Stan dalam full-charming mode). Jadianlah mereka. Hanya sahabat Noa yang ngerasa ada red flag pada Steve yang cukup misterius – karena mana ada sih orang yang gak punya sosmed hari gini. Kecurigaan si sahabat terbukti saat Noa pergi liburan bersama Steve ke suatu tempat. Dan sejak saat itu, kabar Noa tak terdengar lagi.

fresh-trailer-e1644943774263
Steve memang gak mau split bill, dia maunya split your body apart!!

 

Soal cari-pacar memang sudah sering jadi latar untuk cerita horor, terutama serem-serem di ranah penculikan dan penyiksaan. Like, serial killer sudah lama menjebak perempuan-perempuan, bahkan di dunia kita. Film Fresh ini berusaha ngasih sesuatu yang segar untuk latar tersebut. Satu hal yang berhasil dilakukan film ini untuk tampil berbeda itu adalah cara membangun narasinya. Dalam film ini ada dialog kagumnya Noa sama Steve yang memang gentle, berbeda dari cowok lain yang ia kenal sebelumnya. Saat mereka ciuman, justru Steve yang merasa gak enak karena mereka belum saling kenal betul. “We do this too fast”, kata Steve, yang lantas bikin Noa heran – belum pernah ia mendengar cowok yang bilang hubungan berjalan terlalu cepat sebelumnya. Nah, aku kagum seperti itu juga saat menonton Fresh ini. Jarang-jarang aku melihat film horor bunuh-bunuhan yang gak mau berjalan terlalu cepat sebelumnya. Biasanya cerita bunuh-bunuhan pengen dengan segera memperlihatkan adegan berdarah, mempertontonkan karakter psikopat. Gak mau berlama-lama menceritakan karakter karena takut penonton bakal bosan.

Film ini took time to fleshed out (lol no pun intended) relasi Noa dengan Steve. Gak langsung bunuh-bunuhan. Kita dibuat mengerti dulu kenapa Noa bisa mau-mau aja ama Steve, kenapa Noa gak melihat ‘red flag’ seperti kata sahabatnya. Alasan kenapa selama ini dia yang cakep itu terus menjomblo juga dipaparkan. Chemistry antara Daisy dan Sebastian turut mempermudah kita percaya bahwa Noa telah bertemu orang yang tepat. Bisa dibilang, kita ikut tertipu oleh Steve. Atau setidaknya, dengan melimpahkan waktu untuk karakter tersebut, kita jadi bisa melihat seolah deep inside ada perasaan juga di dalam Steve kepada Noa. Perasaan yang nanti bakal dimainkan ke dalam sekuen-sekuen Noa berusaha keluar dari kurungan Steve. Horornya film ini baru keluar tiga-puluh menit into the movie, barengan ama kredit judul, yang turut membuat film ini unik meskipun cuma dalam hal gaya.

Ingat ketika film ini berangkat dari buruknya arah modern dating online berkembang yang membuat film ini unik? Well, permasalahan ‘modern’ itu dengan cepat jadi non-existent karena hubungan Noa dan Steve justru terjalin secara tradisional. Bertemu di dunia nyata, menjalin hubungan yang sangat ragawi alih-alih menonjolkan koneksi emosional. Bukannya Noa dan Steve gak punya hubungan emosional, tapi karena nanti diungkap Steve adalah kanibal yang kerjaannya ngejual daging perempuan yang ia culik, potong, dan olah sendiri, soal dia aslinya beneran cinta atau enggak jadi gak relevan lagi karena perkembangan karakter Steve sampai di pengungkapan tersebut. Steve beneran stop jadi karakter. Dia cuma jadi obstacle, sekaligus bercelah supaya progatonis perempuan bisa ada kesempatan kabur. Jadi film ini gak berhasil mempertahankan keunikan jualannya, yakni soal modern dating apps. Padahal bisa saja mereka membuat Noa sebenarnya sudah diincar oleh Steve lewat akun-akun palsu di apps itu sedari awal. Dengan begitu kan tema dating onlinenya masih bisa ikut kebawa, dan yang paling penting Noa dan Steve jadi gak ketemu lewat kebetulan kayak cerita ftv remaja.

Yang dipertahankan oleh Fresh, sayangnya, adalah ‘penyakit’ tidak menggali apa yang diangkat. Film ini sebenarnya punya banyak bahasan loh. Selain modern dating dan karakter Steve tadi, juga ada elemen yang mengarah ke Stockholm Syndrome; ada bahasan keluarga si Steve. Ada jaringan pembeli daging manusia – you know, pria-pria kaya yang sinting. Semua itu ada jadi sebagai bahan ‘masakan’ cerita, sebagai pembentuk dunia cerita, tapi gak diolah. Gak dibahas. Bahkan tema utama soal feminism-nya pun dibiarkan tak tergali. Karakter film ini gak punya perkembangan. Cewek-cewek yang juga jadi korban Steve, mereka hanya ada di sana kayak gak ada kehidupan, yang punya kehidupan cuma Noa. Bahkan sahabat Noa dibiarkan eksis di sana gitu aja. Semuanya tentang Noa si karakter utama, yang gak dikasih konflik apa-apa selain cuma ngerasa telah tertipu. Development dia ya cuma ditipu cowok. Gak ada hint soal setelah semuanya dia punya pandangan gimana terhadap pacaran, terhadap cowok. Atau apa kek. Semua yang ada di dunia Fresh ini ya just out to get women like her. Cowok kalo gak psikopat, ya kanibal, atau pengecut, atau egois. Bahkan cewek lain bisa juga jahat sama dia. Film ini gak punya pandangan atau pendapat sendiri selain template agenda cewek feminis.

Nonton film ini terasa seperti nonton film modern agenda-ish kebanyakan. Yang seolah tersusun oleh tema atau agenda yang ingin disampaikan duluan, lalu baru bikin cerita yang menyambungkan agenda-agenda tersebut. Oh, kita harus masukin cewek harus mandiri, atau all men are trash, atau ustadz bisa kalah melawan setan, atau semacamnya. Setelah itu baru kita apain nih adegannya biar menggambarkan itu. Tidak lagi seperti film yang semestinya; yakni film yang adegan-adegannya benar-benar berkembang dari perspektif karakter yang dibuat menghidupi ruh cerita. Makanya film ini gak ada perkembangan karakter. Karena mereka cuma dibuat untuk melakoni tema. Tidak seperti manusia yang beneran hidup dan mengambil keputusan dan belajar lewat kesalahan. Berbeda dengan film yang beneran bercerita, film-film model Fresh ini karakter utamanya akan dibuat selalu benar. Enggak boleh ada cela. Notice gak, Noa bisa keluar dengan selamat relatif tanpa luka selain luka hasil berantem di final battle dengan Steve – yang dipotong Steve darinya selama dikurung cuma bagian pantat yang basically kita gak lihat boroknya. Karena begitulah karakter film agenda didesain. Gak boleh ada borok. 

fresh-daisy-edgar-jones-Cropped
Mau paha atau dada?

 

Padahal horor justru biasanya bakal membuat karakter utama babak belur habis-habisan sebagai simbol perjuangan. Berdarah-darah, luka-luka. Beberapa merangkak saking beratnya perjuangan. Semua itu sebagai simbol transformasi menjadi pribadi yang lebih baik deep inside. Nah inilah yang jadi last nail in the coffin untuk film ini bagiku. Sebagai horor dia juga gagal.

Enggak ada tensi. Ini film dengan adegan kanibal. Melibatkan banyak adegan (on maupun off screen) perempuan yang dipotong anggota tubuhnya. Tapi gak sekalipun terasa disturbing. Semuanya bersih dan gaya. Sok disturbing doang. Adegan makan daging manusia yang disajikan dengan mewah cuma tinggal eat-and-spit it out later. Enggak ada rintangan, gak ada build up suspens. Padahal itu konteksnya si Noa berpura-pura ‘setuju’ dengan kerjaan Steve. Dialog ironi menanyakan “Ini bukan daging gue, kan?” hanya dimainkan untuk ironi yang ngarah ke komedi. Arahan ke horornya kurang kuat. Banyak adegan meja makan yang lebih powerful, banyak adegan makan yang lebih disturbing muncul dalam film-film yang bahkan bukan horor kanibal. Like, adegan nyiapin makanan di serial Servant aja bisa lebih ngasih uneasy feelings ketimbang adegan masak daging-manusia di film ini. Fresh ini cuma punya visual cakep. Potongan anggota tubuh berbungkus plastik di freezer. Daging yang dimasak. Shot orang ngunyah. Tapi feelingnya gak berhasil dikeluarkan oleh sutradara. Aku lebih merinding nonton ibu-ibu makan di Swallow (2020) atau adegan di Raw (2017)

 

 

 

 

Sudah begitu lama kita terpapar horor-horor mainstream yang cuma punya jumpscare, sehingga begitu ada yang beda, kita langsung bilang fresh. Kita jadi kurang kritis. Ini persis kayak kelakuan saat main dating apps. Ngeliat ada cakep dikit, kita berhenti swipe, dan just try our luck. Kelakuan seperti itulah yang bikin dating online udah jadi kayak pasar daging. Aku sih harapnya jangan sampai film horor juga jadi kayak begitu. Mentang-mentang ada yang beda dikit, langsung kita bilang bagus. Film ini sendiri, memang punya tema positif, looksnya beda, tapi penceritaannya datar, horornya datar, komedinya datar, naskahnya datar, main aman dengan temanya. Keunikannya langsung jadi hilang karena bermain sebagai template agenda. This isn’t fresh. Dengan begitu banyak pemanis agenda, film ini cuma kayak makanan kalengan buatku.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for FRESH.

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya pengalaman seram seputar dating online?

Share in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 
 

THE BATMAN Review

“Vengeance is not the point; change is.”

 

Perdebatan ‘superhero dark atau harus colorful’ antarkubu fans bakal makin sengit dengan tayangnya film Batman terbaru ini. Pasalnya, si Batman itu sendiri memang sudah punya begitu banyak versi, mulai dari yang ringan, yang extremely comical, yang aneh, hingga yang ‘so serious‘. Jadi Batman benar-benar cocok mewakili perdebatan tersebut. Salah satu penyebab kenapa Batman jadi salah satu tokoh pahlawan super paling populer dan ikonik sehingga terus dibuatkan cerita ini adalah karena dia easily salah satu yang paling grounded. Dia gak punya kekuatan super. ‘Cuma’ punya jubah hitam dan alat-alat mahal. Makanya Batman ini fleksibel, bisa dibuat either way. Dan bagus atau enggaknya memang tergantung dari bagaimana pembuat meracik itu semua. Nah, The Batman garapan Matt Reeves ternyata berhasil nyetak begitu banyak skor dengan hadir sebagai kisah yang superkelam, dengan tetap memegang kuat ruh sebagai epik kesuperheroan. Film ini udah kayak cerita detektif dengan misteri kasus yang rumit, dengan penekanan yang kuat kepada sisi personal sang karakter, tapi di saat bersamaan juga menunjukkan perjuangan dalam menyelamatkan kota dan banyak orang. Jadi dengan kata lain, The Batman ini sukses hadir dengan memberikan warnanya tersendiri.

Jika dalam menjadi superhero itu kita anggap sama seperti pertumbuhan orang menjadi dewasa, maka film ini bisa dibilang adalah cerita coming-of-age Bruce Wayne sebagai seorang pahlawan. Diceritakan, dia baru dua tahun jadi Batman. Dia masih dalam proses ‘mencari jati diri’, pahlawan seperti apa dia untuk Gotham. Opening film ini bahkan dimulai dari Bruce yang menarasikan diarinya. Bruce percaya dia adalah pahlawan vengeance. Setiap malam, begitu sinyal lampu menyala, dia keluar. Menakuti para kriminal di jalanan dengan auranya. Dan menjatuhkan pukulan-pukulan balas dendam itu kepada mereka semua. Bagi Bruce, setiap kriminal di kota adalah orang yang telah membunuh orangtuanya. Bruce jadi pahlawan atas dasar ini; balas dendam demi meneruskan legacy kebaikan orangtuanya. Batman memang jadi ditakuti, oleh kriminal dan juga oleh orang-orang yang ia tolong. Polisi-polisi pun gak respek sama dia. Kecuali Gordon, yang membawanya ikut memecahkan kasus dan jadi kayak partner bagi Batman. Ketika mereka berhadapan dengan rangkaian kasus pembunuhan orang-orang penting di Gotham, eksistensi superhero Batman ditantang. Puzzle demi puzzle dari Riddler yang ia pecahkan membawanya pada rahasia kelam menyangkut kota, hingga warisan sebenarnya dari orangtuanya.

batman1d9b29573ce687ddd08151eb85c91af2ce5c563-16x9-x0y250w7684h4322
Teka-Teki Tikus

 

Kita gak bisa misahin Batman dari Gotham, karena kota tersebut akan selalu jadi bagian dari karakter Batman. Pak sutradara benar-benar mengerti akan hal ini. Maka kota Gotham tersebut juga ia hidupkan sebagai karakter. Bukan hanya lewat tampilan dan sudut-sudut pengambilan kamera – yang mana dilakukan dengan menakjubkan, seram rasanya berada di malam hari di tengah kota Gotham modern yang kelam dan sering hujan, tapi juga jadi bagian penting di dalam narasi. Rangkaian kasus yang ditangain Batman dirancang untuk membawa karakter ini menyelam ke dalam jaring-jaring politik gelap yang praktisnya menggerakkan kota Gotham. Dari mafia seperti Penguin (aku masih gak percaya kalo itu adalah Colin Farrel!!) hingga ke wali kota, dari klub rahasia hingga ke kantor polisi, korupsi itu udah kayak turun temurun di Gotham. Inilah yang bikin The Batman terasa begitu immersive. Dunianya benar-benar hidup. Kita merasakan setiap karakter yang tampil punya kepentingan berada di sana. Bukan sekadar seperti kepingan puzzle. Batman gak akan ngumpulin mereka di ruangan, dan memaparkan jawaban teka-teki dan menunjuk ke satu orang ‘kaulah pelakunya!’ Penjahat film ini bicara tentang membuka kedok kota, dan misteri pembunuhan dalam film ini sendirinya adalah ‘kedok’ untuk banyak lagi lapisan yang menyusun narasi film ini.

Enggak sekalipun aku merasa film ini kayak produk-yang-lain dari suatu jagat universe. The Batman terasa seperti cerita sendiri, bukan hanya di franchise Batman, tapi juga di cinematic universe keseluruhan. Inilah kekuatan sutradara yang gak kutemukan dalam film-film superhero modern yang kebanyakan kayak template. Tentu ada sejumlah callbacks ke film-film Batman terdahulu yang bisa ditemukan oleh superfans, tapi di film ini setiap aksi, setiap shot, terasa spesial dan ekslusif untuk cerita ini. Reeves benar-benar mengarahkan semuanya dengan visi. Dengan teramat sangat dramatis, pula. Dia bisa menguatkan kesan kelam dan brutal walaupun harus bergulat dengan rating 13+, yang berarti dia berhasil menggunakan ‘restriksi’ tersebut untuk keuntungan penceritaannya. Selalu ada cara efektif yang ia temukan untuk menyamarkan aksi-aksi sadis. Fokus blur, permainan kamera, atau bahkan membiarkannya terjadi off-screen (hampir semua adegan pembunuhan sadis oleh Riddler dilakukan di luar kamera), film menyerahkannya kepada imajinasi penonton. Dan memang lebih efektif dilakukan seperti begitu.

Off-screen bukan berarti film ini takut dan luput merekam emosi. Misalnya saat Batman kalap nonjokin wajah penjahat. Hasil gebukannya memang gak diliatin, tapi ‘prosesnya’ direkam dengan steady. Kamera diam aja memperlihatkan emosinya si Batman. Beberapa aksi berantem yang lebih fluid pun juga dilakukan tanpa goyang berlebihan. Batman dengan Catwoman (Zoe Kravitz level coolnessnya tinggi yaw), misalnya, aku justru lebih ngerasain ‘tensi’ di antara mereka saat lagi berantem ketimbang ngobrol. Adegan aksi paling dahsyat yang dipunya film ini adalah saat kejar-kejaran mobil bersama Penguin. Reeves juga sukses bikin Batmobile jadi kayak karakter sendiri – seperti makhluk buas yang mengintai dari balik kegelapan dan menerkam. Dan di akhir balap maut itu ada shot yang sangat keren dan memorable dari sudut pandang si Penguin. Ngomong-ngomong soal itu, film ini memang beberapa kali menggunakan pov shot dari berbagai karakter. Yang semuanya selalu berhasil menguatkan perspektif, karena didukung dengan visual maupun suara. Napas berdegup si Riddler, reaksi paniknya Penguin, ataupun hanya bunyi-bunyi derap kaki Batman dari dalam kegelapan pekat yang dilihat oleh kriminal yang ketakutan. Momen-momen itu menghiasi film sehingga mustahil ngantuk dan bosen menyaksikannya walau durasi memang panjang dan melelahkan.

Perspektif merupakan kata kunci di sini. Pandangan Batman mengenai memberantas kejahatan dibenturkan dengan pandangan maniak si Riddler terhadap keadilan jadi pusat yang menggerakkan cerita. Dan yah, tibalah saatnya menilai penampilan Robert Pattinson sebagai Batman dan Bruce Wayne. Kayaknya cuma dia yang meranin Batman dan Bruce sebagai orang yang sama – I mean, gak kayak Batman-Batman lain yang selalu ada beda sedikit dengan versi Bruce mereka. Maksudku di sini bukan Rob bermain jelek, kesamaan tersebut memang jadi konteks karakter Batman/Bruce yang ia perankan. Karena di titik ini Bruce gak pedulikan soal menyamarkan diri. Bruce di film ini justru pengen dirinya itu Batman ‘selamanya’. Dia lebih nyaman menjadi Bruce yang mengenakan topeng, dia merasa kuat dan lebih pegang kendali. Di film ini memang porsi Robert lebih banyak bermain sebagai Batman. Sedikit sekali saat dia jadi Bruce, dan di momen-momen sebagai Bruce, karakternya lebih banyak diam. Hanya menatap orang-orang. Malah ada satu adegan yang memperlihatkan Bruce dengan riasan mata yang luntur abis pake topeng, sehingga dia kayak sedih dan kuyu banget. Ekspresi Rob lebih kuat saat Bruce menjadi Batman. Segala mannerism – cara dia berjalan, dia memandang, hingga pandangan matanya berkata lebih banyak tentang Bruce sebagai Batman itu kepada kita.

batmandownload
Batman Rob punya sparkle… not in literal way

 

Revenge is an act of passion. Makanya aksi balas dendam bukanlah inti dari perjuangan kita menuntut keadilan. Harusnya inti dari perjuangan tersebut adalah perubahan apa yang kita timbulkan. Balas dendam gak akan mengubah banyak hal. Inilah yang harus dipelajari oleh Batman, yang masih terus galau dan dihantui keinginan membalaskan dendam orangtuanya kepada kriminal-kriminal di kota.

 

Aku benar-benar suka ama grounded film ini membuat ceritanya jadi semacam kasus misteri. Batman udah jadi kayak detektif, like he should be in the first place. Dia menggunakan kecerdasan, dan juga teamwork. Entah itu dengan Alfred, dengan Catwoman, ataupun dengan Gordon. Riddler yang over-the-topnya udah kuat merekat berkat penampilan Jim Carrey, di film ini juga jadi sangat grounded diperankan oleh Paul Dano. Riddler di sini jadi seperti serial killer yang mungkin bisa terjadi di dunia nyata kita. Seru aja ngeliat adegan-adegan memecahkan petunjuk dan teka-teki, meski Batman yang pintar itu agak jarang ngajak-ngajak. Dia sekali lihat bisa langsung tahu jawabannya. Tapi at least, dia ngeshare jawaban dan alasan kenapa itu jawabannya kepada kita. Dan mostly, teka-teki si Riddler adalah permainan kata yang lucu. Seperti soal ‘thumbnail drive’ ataupun ketika dia nanya ‘kalo seorang pembohong meninggal, dia ngapain?’ Jawabannya bikin aku ketawa, karena ‘He lie still’ berarti dua; dia tetap berbohong atau dia diam tak-bergerak. Lucu-lucu kecil seperti demikian jadi sangat diapresiasi karena The Batman ini memang gak pake dialog-dialog one-liner konyol. Satu lagi yang bikin cekikik ringan adalah Penguin yang karena tangan dan kakinya diikat, jadi berjalan kayak burung penguin beneran hihihi

Untuk mengembalikan fitrah film ini sebagai superhero (dan bukan film detektif) – juga karena pada titik itu karakter Batman yang semakin galau belum mendapat pembelajaran – maka setelah sekuen false resolution, Reeves menuliskan konflik menyelamatkan kota dari bencana besar ke dalam naskahnya. Batman harus menyelamatkan banyak penduduk, menyetop final wave of bad guy, untuk membuktikan dia bukan pribadi yang sama dengan dia di awal cerita. Bahwa pandangannya sudah sedikit berubah, dan bagaimana pengaruh perubahan tersebut kepada masyarakat; kepada kota. The Batman sah saja dikeluhkan kepanjangan, namun film ini masih tetap memperhatikan penulisan. Pembabakan dilakukan dengan clear di akhir. Dan perlu aku tekankan, sedikit lebih clear dibandingkan saat awal-awal babak kedua. Masalah yang tersisa adalah soal si Riddler yang rencananya semakin tidak grounded dan terlihat enggak lagi sesuai dengan bagaimana dia memperlakukan rencananya di awal.

 

 

Superhero detektif yang personal, sekaligus penuh aksi-aksi seru, dengan banyak karakter dan penampilan akting yang asik di baliknya. Kegelapan di sini bukan lagi soal cara bercerita, melainkan jadi karakter tersendiri. Kekuatan film ini memang pada karakter tersebut. Mampu menghidupkan lewat perspektif maupun visual. Bahkan suara. Aku gak memperhatikan musik, tapi desain suara film ini yang memang gak banyak dialog melainkan lebih detail menghidupkan suasana lewat suara, sungguhlah bikin kita terbawa suasana. Teka-tekinya fun. Jembatan antara cerita detektif dengan cerita superheronya memang kurang mulus, tapi banyaknya pencapaian storytelling dan teknis lain yang bisa dinikmati could easily outweighed kekurangan kecil itu. Aku yakin the only way film ini flop adalah kalo orang-orang pengen banget ngeliat Robert Pattinson memenuhi janjinya dan main film xxx.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE BATMAN.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana film superhero yang ideal menurutmu?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

BELFAST Review

“To leave home is to break your own heart.”

 

Pembahasan Best Picture kita berikutnya adalah film Belfast. Ditulis dan disutradarai oleh Kenneth Branagh, sebagai sebuah semi-otobiografi. Branagh di sini bercerita dari pengalaman masa kecilnya sendiri di kampung halaman, Belfast di Utara Irlandia, tercinta. Melihat sembilan nominasi yang lain, Belfast memang yang paling ‘berbeda’. Satu-satunya yang hitam-putih, satu-satunya yang karakter utama anak kecil, dan satu-satunya yang bercerita di bawah seratus menit. Tapi ini bukan berarti lantas Belfast jadi anak-bawang. Malah bisa jadi ini justru kuda hitam(-putih). Sebab menonton Belfast rasanya sarat sekali. Sudut pandang anak-anak tersebut ternyata mampu membuat ceritanya kaya dan penuh oleh perasaan, tanpa jadi overly-ribet.

Basically ini adalah cerita tentang anak kecil yang gak mau pindah dari kota kelahirannya.Buddy (newcomer Jude Hill menghidupkan karakter refleksi masa kecil pak sutradara), dalam opening film, sedang bermain-main di daerah dekat rumah. Sungguh kawasan yang akrab. Semua orang di sana saling kenal, saling menyapa. Buddy main ksatria-ksatriaan, melawan naga dengan pedang kayu dan penangkis dari tutup tempat-sampah. Tapi mendadak daerah tersebut rusuh. Imajinasi berantem-beranteman Buddy seketika berganti jadi kericuhan yang nyata. Buddy ada di tengah-tengah kawanan pemuda Protestan menghancurleburkan properti, menyasar komunitas Katolik yang di tinggal di situ. Penangkis mainan Buddy kini benar-benar jadi pelindung dari lemparan batu-batu besar. Buddy yang masih kecil, gak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Tidak benar-benar paham hubungan kejadian tersebut dengan tempat tinggalnya, dengan orangtuanya.  Buddy cuma tahu satu. Dia gak mau pindah dari sana, karena di Belfast itulah ada kakek neneknya, ada teman-temannya, ada anak-perempuan yang ia sukai. Di Belfast itulah hidup dan hatinya.

belfast063-4184-BW-D012-00132
Aku bukan anak bawang!

 

Kenapa harus pindah itulah yang sebenarnya pelik. Film ini memotret cekcok dalam sejarah. Konflik antarpemuda dua agama, yang juga berkaitan dengan politik, yang actually berlangsung tigapuluh tahun lamanya. Dari film ini kita jadi tahu soal The Troubles itu, dan juga bahwa ternyata detektif Hercule Poirot era kita berasal dari Belfast dan menjadi salah satu dari sekian banyak penduduk sana yang terkena dampak harus bermigrasi mencari keselamatan. Jadi meskipun cerita ini sebenarnya sangat personal bagi Branagh, tapi Belfast punya muatan yang membuatnya tak sekadar sebuah memori masa kecil dan surat cinta untuk kota kelahiran. Tidak seperti Licorice Pizza (2022) yang just trip to memory lane, film ini punya konflik di dalamnya yang ternyata masih beresonansi kuat, masih relevan, dengan keadaan sekarang. Saat konflik-konflik keagamaan, konflik kependudukan masih terjadi. Kita mungkin sampai saat ini masih beruntung belum ngerti rasanya harus ninggalin rumah yang nyaman karena sekarang rumah tersebut berada dalam lingkaran target huru-hara, atau malah perang seperti Rusia-Ukraina. Kita bisa bersimpati pada rasa takut dan kesedihan dari naasnya, tapi tidak heartbreak yang lebih personal. Dan Belfast hadir dalam level yang lebih personal tersebut. Karena memang Branagh tidak membuat Belfast fantastis, ataupun overdramatis dengan gambaran tragedi. Melainkan tetap dalam ‘pandangan’ mata anak kecil yang belum bisa mencerna semuanya dengan benar. Branagh menekankan kepada komunitas atau kehidupan daerah tersebut

Daerah yang penduduknya constantly ribut memang sedikit ngingetin sama West Side Story (2022), tapi sebenarnya buatku, nonton film ini ada kesan yang mirip ama nonton Jojo Rabbit (2020). Karena elemen konflik dilihat dari sudut pandang anak tersebut. Di Belfast, si protagonis anak malah lebih ‘inosen’ lagi. Bagi Buddy masalah itu adalah bagaimana supaya nilai matematika bagus sehingga dia dipindah duduk ke barisan depan, sebelahan sama anak cewek berkepang dua yang manis itu. Bagaimana supaya kakeknya bisa sehat. Dan bagaimana supaya dia bisa ikut nenek nonton film di teater. Buddy aware ada kericuhan, ada orang yang terus nanyain ayahnya yang kerja di Inggris. Jika ayah pulang, Buddy sering juga menguping ayah bertengkar dengan ibu soal tinggal di tempat lain. Tapi semua masalah itu hanyalah ‘warna’ lain dalam kehidupan Buddy. Film fokus memperlihatkan komunitas yang akrab, mulai dari kebiasaan hidup orang-orangnya, hingga tentu saja ke bagaimana Buddy mengarungi hidupnya. Jadi nonton ini, rasanya seperti kita jadi turut jatuh cinta sama tempat tersebut, yang ultimately berarti kita peduli sama Buddy. Ada dramatic irony juga yang kita rasakan karena kita tahu ke mana cerita ini berujung. Dan kita benar-benar concern tentang bagaimana Buddy menangani akhir cerita nanti. Kita hanya bisa berharap cinta yang terus tumbuh seiring berjalannya hari itu gak berakhir menjadi patah-hati yang demikian besar.

Kehidupan sehar-hari jadi fokus, sehingga film ini berjalan agak seperti ngalor-ngidul. Seperti ‘kelemahan’ yang biasa terasa dalam cerita-cerita slice of life. Sudut pandang tersebut dibuat Branagh semakin menarik lagi dengan menggunakan charm komedi ala british sebagai warna lain dalam narasi. Again, membuatku semakin mendekatkan film ini sama Jojo Rabbit. Namun dalam komedi pun, Belfast tidak pernah menjadi sebombastis itu. Tone tetap dijaga sederhana oleh Branagh. Kesannya film ini jadi serius tapi santai. Kejenakaan sebagian besar datang dari tindakan Buddy, seperti misalnya ketika dia ikut menjarah toko, tapi yang diambilnya cuma ‘satu benda itu’. Naskah pun lantas meluncurkan nasihat-nasihat, petuah-petuah lewat karakter yang menyingkapi tindakan Buddy. Salah satu relationship paling hangat dan menghidupkan cerita adalah antara Buddy dengan kakeknya. Dialognya dapat terdengar agak wordy, tapi seperti Buddy kita ikut duduk di sana mendengarkan dan membayangkan setiap kata yang terucap.

Pindah memang bukan hal sepele. Entah itu untuk mencari kesempatan yang lebih baik, atau untuk mendapatkan keamanan, pindah berarti akan ada yang berubah di dalam hidup. Akan ada yang ditinggalkan. Akan ada hal baru yang harus diterima dan disesuaikan. Orang dewasa saja banyak yang gak siap dengan kepindahan. Apalagi anak kecil seperti Buddy. Film ini menelisik efek kepindahan tersebut, mampu mengubah jalan hidup banyak orang, despite kepindahan tersebut diperlukan atau tidak.

 

Dengan banyak ‘warna’ dalam penceritaan, maka penggunaan warna hitam putih untuk tampilan film jadi kontras yang membuat kita ‘hmmm, berarti ada maknanya..’ Hitam putih di sini jadi gak pretentious kayak film C’mon C’mon (yang juga ada karakter anak kecilnya) yang sampai sekarang aku belum review karena aku masih berkutat mikirin alasan yang bagus kenapa film tersebut dibuat dengan hitam putih. Dalam Belfast ini, penggunaan hitam putih itu sendiri aja punya banyak lapisan alasan. Pertama, kita bisa memaknainya sebagai kontras tadi; kontras antara saratnya bahasan dan elemen bercerita yang semuanya ditampilkan lewat sudut pandang kepolosan anak-anak. Kedua, hitam putih ini adalah penanda waktu 1969 yang jadi panggung utama cerita. Film actually menggunakan gambar berwarna ketika memperlihatkan Belfast modern di awal dan akhir durasi. Jadi perbandingan Belfast di dua periode itu nyata ke kita. Sekaligus menguatkan cerita ini adalah flashback memori. Alasan ketiga adalah yang paling menarik. Karena sebenarnya film juga menggunakan adegan berwarna saat nunjukin film-film atau pertunjukan yang ditonton oleh Buddy dan keluarganya.

Dan aku harus bilang, Buddy yang suka nonton ini membuat cerita terasa jadi lebih relate lagi. Di rumah, Buddy nonton serial Star Trek. Di bioskop, Buddy dan keluarga nonton film-film koboi dan film musikal kayak Chitty Chitty Bang Bang. Tontonan yang membuat keluarga mereka ceria, Buddy benar-benar menikmati waktunya saat menonton. Keluarga Buddy sepertinya sama ama kita, menonton sebagai eskapis. Dengan memberi gambar berwarna kepada tontonan-tontonan tersebut, maka film seperti menyimbolkan harapan buat hidup/kenangan hitam-putih Buddy (atau kita bisa bilang Branagh). You know, seolah Branagh ingin bilang bahwa di masa itu film sudah menjadi harapan baginya.

Belfast-e1630871382558
Jadi film ini juga jadi surat cinta Branagh kepada perfilman

 

Secara pesan, film ini sebenarnya sudah terangkum lewat tiga kalimat yang muncul di akhir cerita. Tapi Branagh menawarkan lebih banyak lagi. Kekurangan Belfast cuma tensi. Slice of life ini gak bisa mempertahankan atau membangun tensi, karena sudut pandang anak yang melihat semuanya sebagai ‘just another thing happening’. Di satu momen mungkin kita ikut merasa ngeri saat kamera menghantarkan kita menuju Buddy yang menguping orangtuanya berdebat dari balik jendela, namun momen berikutnya permasalahan itu menguap dari Buddy yang kali ini melihat orangtuanya menarik bak aktor dalam film yang ia tonton. Tapi jika dipikir lagi, ‘kekurangan’ bukanlah sebuah kesalahan, karena memang seperti demikianlah Branagh maunya. Bahwa dia merancang ceritanya untuk berjalan seperti demikian. Karena mungkin itulah yang ia rasakan saat kecil dulu. Enggak benar-benar mengerti masalah ‘orang dewasa’, semuanya just goes by, hingga akhirnya baru kerasa saat dia harus meninggalkan semua.

 

 

Sebagai projek yang sepertinya paling personal yang pernah ia tangani, film ini berhasil dibuat oleh Branagh melebihi target. Enggak sekadar untuk memori. Enggak cuma berbagi pengalaman masa lalu. Personalnya film ini begitu kuat, mengakar menjadi identitas yang bakal mencuatkan film ini di antara yang lain. Branagh membawakan kepada kita kisah kehidupan yang manis-manis pahit, yang senang-senang susah. Pengalaman hidup yang begitu kaya. Dan teramat beresonansi dengan keadaan hidup sekarang. Film ini termasuk yang paling ringan dan yang paling singkat di antara nominasi Best Picture Oscar 2022, tapi merupakan pesaing yang kuat soal urusan urgensi dan kepentingan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BELFAST.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Sedikit OOT, sistem nilai di sekolah Buddy yang mendudukkan murid di kursi sesuai dengan nilai mereka cukup unik atau cukup militan, tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Bagaimana pendapat kalian tentang sistem tersebut? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

LICORICE PIZZA Review

“Aren’t grown up people just little children at heart?”

 

 

Selama enggak masalah sama adegan perempuan dewasa memperlihatkan dadanya kepada cowok remaja, atau sama candaan berbau rasis, Licorice Pizza memanglah sebuah tontonan kisah cinta sepasang darah muda yang manis. Dan untuk sebagian besar waktu, film ini tidak membesarkan dirinya lebih daripada tentang itu. Buatku, romance komedi bersetting di sebuah kota dalam bayang-bayang 70an ini adalah yang paling less-urgent di antara sepuluh nominasi Best Picture Oscar 2022. Karena pesonanya yang terletak pada cinta dalam bingkai personal, bukan pada menelisik kejadian-sekarang dan agenda-agenda yang relevan. Film ini lebih terasa seperti fantasi, atau ingatan ke masa muda, like, menontonnya seperti mendengar seorang teman yang menceritakan pengalaman cinta pertama yang sampai sekarang terus membara. Licorice Pizza dibuat seperti rayuan manja yang mengajak kita memanggil kembali jiwa muda yang masih ada di dalam sana, yang gak akan pernah pergi meskipun kita semua merasa sudah waktunya untuk bertumbuh. 

Paul Thomas Anderson selaku penulis naskah dan sutradara memang menyusun narasi Licorice Pizza ke dalam bentuk yang terasa seperti per episode, seolah sedang merekoleksi memori. Gary bertemu dengan Alana di sekolah, tapi mereka bukan teman sekelah. Mereka bahkan enggak seumuran. Alana saat itu lagi kerja, jadi asisten tukang foto untuk sekolahannya Gary. Seperti layaknya cowok remaja yang curious sama kakak-kakak cantik, Gary langsung naksir Alana. Dia bahkan malam itu bilang ke adiknya bahwa dia telah menemukan perempuan yang bakal jadi istrinya. Jadi, Gary terus mengejar Alana. Alana yang nyadar gap-umur, berusaha untuk gak nunjukin perasaan, tapi toh Alana selalu ada bersama Gary. Mulai dari jadi ‘babysitter’nya hingga jadi rekan bisnis kasur-air yang dibangun Gary. Di sinilah kesan ‘episodik’nya itu dimulai. Mereka berdua akan bertemu berbagai macam orang, yang bakal bikin hubungan mereka naik-turun, karena tentu saja akan ada cemburu-cemburuan juga di sana.

pizzaimage-w1280
Dan bakal banyak sekali lari-larian

 

Feeling yang dihasilkan memang begitu otentik. Dunia 70an itu ditangkap lewat lensa dan pencahayaan yang mainly consist of semburat keemasan, sehingga benar-benar terasa mewakili era lampau yang dikenang dengan nuansa fantasi. Setting waktu tersebut juga sangat mewarnai narasi. Suasana politik, kebiasaan masyarakat, keadaan ekonomi, hingga tren kasur air itu sendiri semakin menghidupkan dunia tempat para karakter berinteraksi. Tentu saja gak cukup hanya di panggungnya saja. Para karakter itu sendiri juga dihidupkan dengan maksimal. Dua karakter sentral, Gary dan Alana, haruslah natural dan punya chemistry semempesona dunia mereka. Anderson mempercayakan leads-nya ini kepada dua aktor yang sama sekali belum pernah berakting di film-panjang. Dan baik itu si Alana Haim (penyanyi pop yang memboyong keluarganya untuk memerankan Alana dan keluarga di dalam cerita) maupun Cooper Hoffman (putra dari mendiang aktor Philip Seymour Hoffman) benar-benar membuktikan bahwa Anderson bukanlah sedang gambling; melainkan membuat sebuah investasi tajam nan teruji. Akting mereka berdua sungguh meyakinkan, hampir seperti merekalah karakter tersebut. 

Gary orangnya supel, temannya banyak, ‘pengagumnya’ juga. Gary dikenal bukan saja oleh sepantarannya, tapi juga oleh orang-orang yang lebih dewasa. Pembawaannya memang lebih dewasa dibanding umurnya. Beda ama Alana yang lebih tertutup, ketus, belum pernah pacaran, penuh keinsecurean, di umur yang sepuluh tahun lebih tua itu galau dan cemburunya bisa melebihi anak remaja seusia Gary. Dinamika mereka memang bersumber dari jarak umur tersebut. Tapi naskah tidak membuat kita mempertanyakan mereka akhirnya jadian atau enggak. Itu sudah diestablish sejak menit-menit pembuka. Tidak ada pertanyaaan; mereka berdua saling suka. Naskah film ini adalah soal drama yang mereka ‘pilih’ untuk lalui walaupun mereka saling suka. Bahwa mereka kidding with their feelings, atas nama bertindak dewasa. Akting dan karakterisasi mereka, aku apresiasi. Namun I just can’t love them seperti seharusnya seorang penonton film kepada karakter cerita. Karena fokus narasinya tersebut. Ceritanya yang dreamy dan fantasi, tapi bukan tentang bagaimana mewujudkannya menjadi nyata – bisakah hubungan tersebut jadi nyata. Melainkan udah fixed, gak ada ruang pertanyaan lagi di cerita ini. Persoalan hubungan yang mestinya ‘bermasalah’ tersebut dianggap gak ada gitu aja.

Iya, mungkin aku sedikit iri sama Gary dan Alana. Jika gender-rolenya dibalik, they were me. Di dunia nyata jika dibalik, hubungan seperti Gary dan Alana tidak akan dianggap sweet dan keren. Yang ada malah akan dituduh mau ‘grooming’, pedo, dimarahin ortunya, ataupun hal-hal lain yang bisa diantagoniskan sebagai konten Tiktok. Gary dan Alana sama sekali gak genuine buatku karena gak bakal begitu di dunia nyata. Tapi mungkin juga di situlah poinnya. Semua akan berbeda, tergantung gender yang melakukan. Tergantung sudut pandangnya. Nah di sinilah masalah film ini buatku. Sudut pandang atau perspektif dari Gary maupun Alana tidak pernah digali dengan luas. Mereka tidak kita kenal di luar romance atau perasaan cinta mereka. Gary praktisnya tidak punya development. Karakternya sama dari awal hingga akhir, dia tidak perlu membuktikan diri dia bisa dewasa, karena dia sudah seperti itu sejak cerita dimulai. Dia tidak pernah menganggap jarak umur mereka sebagai masalah. Dengan begitu, karakter ini jadi tidak ada mengalami pembelajaran.

pizza5902
It’s my dream, (Tho) Mas. Not her!

 

Jadi, tinggal si Alana. Perlu diingat, ini bukan kayak cerita drama cinta yang si jutek akhirnya luluh dan jatuh cinta kepada yang terus memberikan perhatian kepadanya. Alana sedari awal sudah tertarik, cuma dia enggak menganggap Gary dengan serius karena dia menganggap Gary masih bocah. Ada beberapa kali adegan Alana menyipitkan mata, melihat Gary yang bahkan belum bisa nyetir itu gak ngerti politik ataupun situasi ekonomi. Plot dan pembelajaran Alana adalah dia akhirnya menyadari bahwa umur itu cuma angka. Kedewasaan sikap dan kematangan mental gak tercermin di umur. Dia harus ngakui bahwa dia bisa lebih ‘bocah’ ketimbang Gary. Untuk mencapai pembelajaran tersebut, film tidak ngasih jalan lewat eksplorasi dalam-diri si Alana, melainkan dari luar. Dari karakter-karakter pria dewasa yang ia temui – yang ternyata jauh lebih parah ketimbang Gary. Dan itu bukannya Alana gak aware sama sikap para cowok. Alana ini pinter. Tapi somehow dia kayak desperate. Dia cuek aja sama male gaze ataupun sikap merendahkan lain. Dia slow aja bikinian sendiri di tengah pesta yang semua orang berpakaian lengkap. Flirtation alias tarik ulurnya kepada Gary membuat karakter ini jadi gak konsisten. Ditambah dengan Alana gak pernah berinteraksi dengan orang untuk dirinya sendiri (di luar berkaitan dengan Gary), karakter Alana ini jadi dangkal dan annoying buatku.

Tapi dari Alana ini kita bisa menyimpulkan bahwa film memang ingin memperlihatkan bahwa umur tidak pernah jadi soal. Hanya angka. Semua orang punya sisi kekanakan dalam dirinya. Betapapun jauhnya kita bertumbuh, menjadi diri yang ‘baru’ dengan tempaan pengalaman dan sebagainya, bisa kembali ke sisi ‘anak’ di dalam diri merupakan kenyamanan tak terhingga. Inilah kenapa Alana akhirnya lari kembali kepada Gary, dan sepenuhnya menerimanya. Dan ngomong-ngomong soal lari, film ini memang menyimbolkan perasaan bebas khas anak-muda tersebut dengan adegan-adegan berlari.

 

Permasalahan drama cinta selalu sama. Film tidak berhasil ngasih alasan kenapa sepasang karakter sentral itu harus berakhir jadian. Licorice Pizza ngeskip ini gitu aja, walaupun dalam cerita seperti ini pembelajaran barulah akan ada dan terasa kuat bagi dua karakter jika mereka enggak berakhir bersama. Enggak lagi menarik menonton tarik ulur anak remaja dengan orang dewasa. Maka keputusan film bercerita dengan episodik jadi tepat, untuk konteks pengembangkan minimalis seperti ini. Makanya cameo-cameo dalam film ini selalu jadi scene-stealer. Bukan semata karena mereka diperankan aktor gede seperti Sean Penn, Bradley Cooper, atau Maya Rudolph. Tapi karena Gary dan Alana tidak ada atau minim sekali perkembangan. Peran-peran kecil para aktor gede tersebut jadi suntikan fresh, yang bikin kita ‘melek’ lagi setiap kali Gary dan Alana mulai terasa repetitif. Penonton mengapresiasi mereka di atar peran yang seksis ataupun candaan yang problematis. 

Orang-orang banyak menghujat Don’t Look Up (2021) karena komedi receh yang diperankan aktor ternama yang main di situ. Walaupun komedinya tepat menyinggung keadaan di era pandemi, orang-orang tetap menganggapnya trying too hard. Dan memilih untuk gak mengakui kepintaran penulisannya. In short, people just hate it meskipun recehnya itu gak menyinggung kecuali tepat konteks dan sasaran. Aku menganggap sikap orang-orang itu aneh, karena di film Licorice Pizza ini tak kalah banyaknya karakter-karakter receh yang dimainkan aktor gede, dengan joke yang actually benar-benar menyinggung seperti soal rasis untuk orang Jepang dan sebagainya. Kenapa Licorice Pizza ini gak dapat ‘hujatan’ yang sama? Menurutku malah harus lebih lagi, karena sekalipun karakter itu juga memainkan sindiran terhadap dunia 70an, tapi jika dipertahankan untuk ditonton dan jadi lelucon di tahun sekarang, ya itu baru namanya too hard buat jadi lucu. Film ini mengadakannya hanya karena hal tersebut ada sesuai ingatan pembuat, dan inilah yang mengurung naskah dan karakter, membuatnya jadi tak bisa berkembang. 

 

 

 

Jadi sebenarnya film ini bukan tentang kisah menjadi dewasa, melainkan kisah terus menjadi remaja. Ceritanya sendiri benar-benar seperti rekoleksi ingatan manis tentang cinta di masa muda. Film ini keren dan hidup sekali dalam menggambarkan perasaan. Baik itu perasaan tentang dunianya, maupun perasaan cinta yang dirasakan karakternya. Hanya saja, cuma perasaan cinta itu saja yang dipunya dan terus digali. Karakternya seperti gak punya concern lain di luar flirt dan bikin cemburu-cemburuan. Makanya buatku film ini gak sekelas sama nominasi Best Picture yang lain. Film ini kelasnya tuh di cinta-cintaan remaja film kita yang biasa, dan film ini ada di bagian puncak kelas tersebut berkat pencapaian teknis dan juga aktingnya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LICORICE PIZZA.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa cowok muda menyukai perempuan yang jauh lebih dewasa dipandang lebih keren dan manis dibandingkan kalo cowok dewasa suka perempuan yang jauh lebih muda? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TEXAS CHAINSAW MASSACRE Review

“To live is to be haunted”

 

Rekuel, istilah untuk sekuel-reboot seperti yang sudah disebutkan oleh Scream (2022), sepertinya beneran sudah jadi go-to plan oleh studio yang ingin menghidupkan kembali franchise atau judul ikonik miliknya. Rekuel ini menjadi hits terutama dalam genre horor. Bikin sekuel dari cerita original puluhan tahun yang lalu dengan judul yang sama dengan original dan meniadakan sekuel-sekuel lain mereka sebelumnya, telah dilakukan oleh Halloween, Candyman, Wrong Turn, Child’s Play, hingga ke Scream itu sendiri. Dan sekarang, giliran Texas Chain Saw Massacre turut serta. Nyaris lima-puluh tahun sejak film originalnya. Tentu saja ini adalah taktik untuk nyari duit yang lebih gampang; alih-alih bikin cerita atau tokoh horor original yang belum tentu disukai orang, kenapa tidak bikin kembali dari yang sudah ada. Scream, being meta dan suka ngejek genrenya sendiri, sudah ngasih tahu ke kita bahwasanya rekuel ada yang bagus dan gak sedikit juga yang cuma cash-grab murahan. Rekuel yang bagus adalah yang menghadirkan stake, gak sekadar munculin karakter lama lalu lantas either mendewakan atau membunuh mereka gitu aja. Dan Texas Chainsaw Massacre, sayangnya, termasuk ke dalam bagian rekuel yang disebut Amber dalam Scream sebagai “bullshit, cash-in, run of the mill sequel.”

texasthe_texas_chainsaw_massacre_netflix
To be fair, film ini berontak dari aturan rekuel karena judulnya ama film original beda di ‘The’ dan spasi doang

 

 

The original The Texas Chain Saw Massacre (1974) jadi kesayangan kritikus dan penggemar horor karena film tersebut tidak pernah cuma sekadar tontonan ‘pembantaian dengan gergaji mesin di Texas’. Film tersebut dipertimbangkan banyak orang sebagai horor seni sebab di balik kekosongan plot dan beberapa breakthrough yang dilakukan pada jaman itu, sutradara Tobe Hooper memang bercerita dengan implisit.  Film itu kita kenang sebagai film yang sadis bukan karena menonjolkan darah dan bunuh-bunuhan secara terang-terangan. Coba deh kalian tonton lagi. Sebenarnya adegan pembantaiannya dilakukan dengan cut dan editing yang sangat precise, horor itu sesungguhnya ada di imajinasi kita, film ini ‘hanya’ menceritakan dan ngebuild upnya dengan sempurna. Tidak hanya itu, ada anyak lapisan yang bisa kita kupas saat menelurusi narasi dan elemen-elemen horor tadi. Bahkan pernah dilaporkan sutradara horor fantasi asal Spanyol Guillermo del Toro sampai sempat berhenti makan daging untuk beberapa waktu setelah menonton film ini. Bukan karena jijik, tapi karena pembicaraan para karakter seputar perilaku manusia dalam konsumsi daging benar-benar telah merayap menghantui dirinya.

David Blue Garcia, selaku sutradara untuk Texas Chainsaw Massacre baru ini bukannya tidak mencoba untuk memberikan lapisan. Film ini berusaha mencuatkan keadaan masa kini supaya filmnya relevan, seperti film original yang memotret kawula muda pada jamannya. Bahasan hidup bebas, dinamika keluarga, dan sedikit komentar soal rasis/kependudukan yang marak di tahun 1970an kini berganti dengan bahasan yang secara esensi tidak banyak berubah, tapi ya terasa dekat dengan permasalahan dunia modern. Kelompok anak muda yang ada di sentral narasi adalah influencer, yang punya visi untuk mengubah kota mati Harlow di pinggiran Texas menjadi tempat hidup untuk komunitas anak-anak muda. Istilah yang tepat sepertinya adalah gentrifikasi (bahasan yang juga ada di film Candyman terbaru). Jadi, mereka datang ke tempat asing, dan mau mengubah tempat itu jadi galeri seni dan segala macam. Cekcok dengan warga lokal tentu tak dapat dihindarkan (meskipun bisa diatasi dengan terbuka). Real problem datang ketika salah satu bangunan panti asuhan yang ada di kota itu ternyata masih dihuni sama nenek tua yang menolak untuk dipindahkan. Malang bagi para anak muda, sosok besar yang telah melupakan naluri pembunuhnya ternyata tinggal dan nurut sama si nenek. Dan ketika si nenek akhirnya tiada karena ribut-ribut, si sosok itu mengenakan kulit wajah si nenek sebagai topeng, mengambil senjata pusakanya yang disimpan di balik tembok rumah, dan mulai membunuhi orang-orang muda yang mengusik kota tempat tinggalnya.

Nonton ini aku jadi seperti mengerti kenapa film-film horor tu selalu bikin karakter-karakter mereka bego. Karena film mau kita menikmati pembantaian para karakter. Menurutku, asal bukan karakter utama yang bego sih, oke-oke aja. Keasikan film ini datang dari menyaksikan Leatherface menghabisi anak muda yang kita gak tahu siapa mereka. You know, semacam keasikan yang kosong. Film justru makin napsu dengan memasukkan ‘penanda jaman’ semakin lanjut. Adegan ketika para turis kejebak di dalam bus bersama Leatherface jadi adegan paling menghibur karena begitu dungu. Kita tidak bersimpati, malahan di momen itu kita justru seperti berada di pihak Leatherface. 

Lapisan dramatis dan emosional film ini juga diniatkan datang dari karakter Lila (Kasian banget Elsie Fisher jadi kayak turun kelas main di film ini) yang diceritakan sebagai seorang penyintas dari peristiwa penembakan massal di sekolahnya. Karakter inilah yang diparalelkan ke karakter legend, Sally Hardesty (diperankan oleh Olwen Fouere karena Sally yang ‘asli’ telah berpulang ke Rahmatullah), protagonis di film original yang jadi satu-satunya survivor rumah jagal Leatherface. Sayangnya niat tersebut tidak benar-benar berbuah karena kedua karakter ini justru kurang matang dikembangkan oleh film. Selain sering melirikkan kamera ke bekas luka tembak Lila, film gak pernah benar-benar mengeksplorasi trauma karakter Lila. Hubungannya yang renggang dengan karakter kakaknya pun jarang dicuatkan. Film yang durasinya cuma 80 menit ini lebih banyak berkutat di adegan kucing-kucingan dengan Leatherface. Sudut pandang dipindah-pindah antara Lila, dan kakaknya, Melody (Sarah Yarkin berakting standar karakter horor) sehingga film ini gak punya karakter utama yang jelas. Sally pun tak tampak sebanding dengan Laurie Strode di rekuel Halloween ataupun dengan Sidney Prescott di rekuel Scream. Kemunculannya hanya supaya ada karakter legend, arc-nya kayak dipaksain ada, dan penyelesaiannya pun lemah. Film mau bikin rivalry antara Sally dengan Leatherface, tapi gak mampu untuk menulisnya. Jadi kayak berantem biasa aja, interaksi spesial itu tidak bisa film ini ciptakan. Ending film original malah jadi biasa aja saat kita tahu ternyata dia selamat hanya untuk jadi yang ia lakukan di film ini.

texas67562-1643705072
Sinopsis singkat, cek! Muji ala kadar, cek! Time for the caci maki!!!

 

Sesuatu yang gak membunuhmu, akan membuatku kuat. Tapi itu kalo kita tidak tenggelam dalam rasa trauma. Hidup akan terus dihantui oleh sesuatu yang mengerikan di masa lalu. Bagi Lila itu adalah penembakan, dan bagi Sally itu adalah si Leatherface. Lila perlu belajar untuk seperti Sally, yang kini sudah jauh lebih capable ketimbang dirinya berpuluh tahun yang lalu.

 

Gore dan bunuh-bunuhan yang sangat eksplisit jadi satu-satunya elemen yang membuat film ini watchable. Namun tentu saja itu gak bakal bikin film ini memorable. Gak akan bisa menjejak sekuat film originalnya. Apalagi film rekuel ini hadir di platform; sekarang jaman platform, kita bisa tinggal skip ke bagian bunuh-bunuhan aja. Aku bisa nonton bagian pembunuhan di menjelang akhir yang gokil itu beratus kali tanpa nonton film utuhnya. Penonton bisa gak peduli pada cerita dan actual things yang disampaikan film ini secara setengah-setengah. This is not good, bukan hanya untuk film ini, tapi juga untuk genre slasher horor keseluruhannya ke depan nanti. Jangan sampai penonton hanya ingin mencincang film dan skip ke bunuh-bunuhannya aja. Maka cerita dan karakter itu haruslah ditulis dengan kuat. Texas Chainsaw Massacre perlu lebih fokus dan menguatkan kengerian dari narasi, dari suspens, dari lingkungan dan konflik. Kota mati di film ini enggak menarik, mereka hanya nampilin kota yang kosong. Yang suasananya bahkan enggak seram. Atmosfer ini yang harusnya dibangun oleh film. Enggak semata mengeksploitasi Leatherface dan sadisnya saja.

Karena memang yang paling insulting untuk fans adalah si Leatherface itu. Dalam film original, karakter yang terinspirasi dari serial killer beneran ini diberikan lapisan psikologis. Dia kayak orang dewasa yang mentalnya masih anak-anak, yang besar di keluarga ‘tradisional’. Sedikit simpati yang kita rasakan untuk karakter penjahat utama ini datang dengan natural, dari momen-momen kecil yang menampilkan kevulnerableannya sebagai anggota keluarga tersebut. Dan Leatherface di original itu enggak superhuman. Bisa sakit, bisa dikalahkan. Tidak tertinggal di belakang, dan bisa mendadak muncul di tempat lain dengan cepat. Sedangkan di film terbaru ini, Leatherface udah kayak orang yang berbeda. Hanya kayak penyendiri. Dia sekarang kayak gabungan antara Michael Myers dengan Norman Bates. Mulanya film seperti pengen menarik simpati dari dia yang kehilangan pengasuh yang ia sayangi, dari dia yang terusir dari rumah, tapi kelamaan dia jadi semakin inhuman, dan film harus membuat karakter-karakter lain ignorant nan bego supaya kita ‘ada rasa’ ke Leatherface. Film bahkan membuatnya menari dengan chainsaw, meniru ending film original, tapi melihatnya itu ada feeling yang beda. Jika di original rasanya kompleks, hubungan korban yang kabur dengan mangsa itu menghantam kita dengan perasaan bercampur. Maka di film ini, rasanya yang datar aja, kita bahkan mungkin sudah full mendukung si Leatherface karena dia kuat, dia berhasil membantai orang-orang yang mengusik.

 

 

 

Bar-bar aja gak cukup. Yea, ketakutan penonton mungkin bisa terceklis dengan menghadirkan adegan pembunuhan yang openly brutal, bisa bikin nahan napas dengan adegan sembunyi-sembunyian, tapi film juga harus punya suspens dan tensi yang natural, yang berasal dari dinamika karakter. Itulah yang tidak dipunya oleh rekuel yang digarap dengan sangat basic ini. Naskah pengen memuat banyak lapisan, tapi tidak ada yang berhasil dikembangkan dengan drive yang alami. Film ini hanya seperti menempelkan gagasan, dan meng-overdid the characters. Kita tidak lagi takut dan peduli karena karakternya membunuh karena merasa terusik. Film meninggalkan semua itu dan memilih untuk mengubah semua elemen ceritanya menjadi inhuman dan datar. Se-uninspired setnya. Hampir seperti film ini sendiri dipasangi topeng yang membuatnya amat sangat jelek. Just ugly. 
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for TEXAS CHAINSAW MASSACRE

 

 

 

That’s all we have for now

Adegan pembunuhan mana yang jadi favoritmu di film ini? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

UNCHARTED Review

“Trust is always earned, never given”

 

 

Tiga-puluh menit ke dalam film, Tom Holland sudah terlempar terjun bebas dari ketinggian sebanyak tiga kali. Dan kali ini dia gak pakai topeng superhero laba-laba untuk membantunya mengatasi suasana. Holland di sini adalah remaja cowok biasa – dengan tangan sedikit lebih lihai untuk mencopet barang-barang orang, dunianyalah yang kali ini agak sedikit tak biasa. Dunia berisi teka-teki harta karun untuk dipecahkan, petualangan yang seringkali mengacuhkan hukum fisika. Plus berisi begitu banyak twists and turns karena membahas soal rasa percaya di antara para karakter cerita. Sutradara Ruben Fleischer memang seperti memastikan kepada kita bahwa Holland beraksi di dunia yang superseru, bahwa Uncharted memang bakal semengasyikkan video game sumber adaptasinya. Hanya saja, tantangan film ini berat. Mengingat track-recordnya, film-film adaptasi video game itu sendiri susah untuk kita kasih kepercayaan.

Uncharted merupakan film pertama dari PlayStation Productions, studio dari Sony yang bakal bikin film-adaptasi dari konten-konten video game PS populer. Ini sepertinya bisa naikin sedikit rasa percaya kita. Sebab ya, game-game modern memang sudah jauh lebih sinematik ketimbang game di era 90an. Video game sudah benar-benar dikembangkan mitologi dan cerita dunianya sendiri. Ditambah dengan studio yang kini meniatkan konten game tersebut bisa dijadikan film, maka mungkin ke depan adaptasi ke layar lebar ini bukan hanya bisa lebih ‘mirip’ tapi juga game dan filmnya bisa saling melengkapi sebagai satu franchise judul. Seperti film Uncharted ini, ceritanya diset sebagai prekuel dari game pertamanya yang keluar tahun 2007. Nathan Drake (dipanggil Nate) belum lagi seorang pemburu hartakarun, dia masih ‘bocah’ yang masih dalam tahap baru masuk alias baru belajar dunia yang ternyata penuh tipu daya tersebut.

Tadinya Nate bekerja di bar, memesona para pembeli dengan atraksi menuang minum dan attitude yang cute lalu mencopet mereka. Sampai ketika Victor Sullivan datang. Mengekspos aksi nyopet Nate, lalu mengajak cowok ini bergabung mencari kapal harta karun. Seperti yang dulu dilakukan abang Nate yang kini udah gak ada. Sully yang mengenal abang Nate pun jadi semacam mentor bagi Nate. Interaksi dua karakter ini jadi sentral, yang kerap bicara soal mempercayai ataupun soal ngasih kepercayaan sama orang lain. Dalam pencarian, mereka bertemu karakter-karakter lain, dan cepat saja garis antara lawan dan kawan semakin mengabur.

Also, featuring Antonio Banderas yang karakternya deserves more good writing

 

Penampilan akting para pemain mendaratkan film aksi petualangan ini. Duo Tom Holland dan Mark Wahlberg sebagai front center yang cukup memainkan emosi. Dalam cerita yang lain, Nate akan mudah saja untuk menganggap Sully sebagai pengganti kakaknya, dan team up mereka akan berjalan mulus. Tapi Uncharted mengusung tema trust, dan itu membuat relationship kedua karakter ini jadi semakin dramatis. Film gak memberikan kepada kita sebuah tim yang solid dengan cuma-cuma. Nate bakal ngelewatin banyak kejadian yang membuat dia tidak segampang itu menaruh kepercayaan, walaupun sebenarnya ia pengen bekerja sama. Konflik mereka berdua digali dari tujuan yang berbeda. Nate pengen nemuin harta itu demi kakaknya, sedangkan Sully ya cuma pengen emasnya saja. Timing komedi Wahlberg membantu film ini mencapai nada ringan yang diinginkan, jadi umpan yang bagus untuk character-work si Holland. Karakter Sully yang sengaja dibikin sering ‘berjarak’ juga membantu mendorong tema tersebut semakin mencuat di dalam narasi. Karakter pendukung yang lain, seperti Chloe yang diperankan Sophia Ali, juga diberikan inkonsistensi yang sama seperti Sully. Mereka membantu, tapi terlihat setengah-setengah. Momen bekerja sama selalu elemen yang membuat seorang karakter punya peran yang lebih kecil. Semua itu dilakukan supaya kita mempertanyakan apakah mereka bisa dipercaya atau tidak.

Tapi begitu kita menoleh kepada Nate, tokoh utama yang harusnya juga merasakan keraguan, si Nate ini juga dimainkan dengan inkonsistensi. Sure, Holland memainkannya dengan simpatik, very likeable, tapi dia gak clear. Like, ngeliat Tom Holland memainkan karakternya ini, enggak jelas perasaan dia terhadap satu karakter seperti apa. Setelah jelas-jelas dikhianati satu karakter, Nate di adegan berikutnya masih tampak kalem aja. Atau bahkan ketika Sully menyebut Nate suka sama Chloe, Holland gak benar-benar nunjukin gimana sih sukanya Nate ama si Chloe itu. Jadi film ini mengatakan kepada kita sesuatu, tapi gak diikuti oleh ‘pembuktiannya’. Sehingga ngikutin plot si Nate ini jadi membingungkan. Apa yang ia pelajari di sini? Apakah ini tentang dirinya belajar untuk tidak mempercayai orang, atau dirinya belajar supaya bisa jadi dipercaya orang. Film seperti ingin menunjukkan bahwa Nate akhirnya belajar ‘aturan dan cara main’ di dunia para pemburu harta, dia seperti akhirnya bisa nipu juga. Tapi bukankah sedari awal Nate ini sudah tukang tipu kecil-kecilan juga? Maka Plot si Sully malah lebih jelas. Karakter Sully malah lebih kelihatan ada perkembangan dibandingkan Nate. Film gak berhasil membuat Nate sebagai karakter yang urgen di sini, dia masih di bawah bayang-bayang abangnya, dia gak punya perkembangan yang jelas.

Seperti halnya respek, trust juga gak diberikan cuma-cuma. Untuk bisa percaya ama orang, dan juga sebaliknya untuk bisa dipercaya orang, kita butuh mendapatkan rasa itu terlebih dahulu. Itulah sebabnya kenapa trust lebih berharga daripada harta karun manapun di dunia.

 

Kenapa sih film-film aksi petualangan belakangan ini banyak yang pake banyak twist dan turn? Yang aku tonton setahun ini ada Jungle Cruise, Red Notice, dan sekarang Uncharted – yang benar-benar menggunakan trust sebagai tema supaya jadi punya alasan untuk memainkan banyak twist mengejutkan serta character turn dari baik ke jahat ke baik lagi (emangnya si Big Show di WWE!). Seolah itulah yang bikin film ini jadi menarik. Padahal twistsnya juga don’t even make sense!! Like, hellooo.. action adventure mestinya sajian utamanya ya di aksi atau laga petualangannya. Apalagi Uncharted ini dari video game. Ditargetkan untuk pemain game yang pengen menonton versi filmnya. Serunya sebuah game itu datang dari memainkannya. Player seperti beraksi langsung, mereka adalah karakter itu. Maka versi filmnya harusnya menguatkan sense penonton ikut beraksi seperti saat mereka memainkan game. Aspek player dan aksi inilah yang susah tersadur ketika sebuah game dijadikan film. Susah bukan berarti seimpossible itu. They just have to make action sequences yang lebih menarik penonton masuk. Menyandarkan kepada twist dan turn hanya membuat penonton ‘menonton’. Filmlah yang jadi bermain-main dengan penonton. Ini udah jadi sedemikian berbeda dengan game, yang pemainlah yang memainkan cerita.

Ada yang mau ikut naik kapal pinisi sasongong?

 

Padahal film ini punya set action pieces yang gak tanggung-tanggung. Aksi babak final yang melibatkan ‘kapal terbang’ juga gak kalah uniknya. Tetapi sekuennya sendiri dilakukan dengan generik. Bagaimana aksinya dimainkan, masih terasa kayak sesuatu yang sudah sering kita lihat dalam film action sebelumnya. Mereka tidak melakukan banyak hal segar selain bergantung kepada CGI. Again, kita hanya menonton. Makanya aksi paling asik di film ini buatku adalah di tengah-tengah. Yakni saat Nate dan kelompoknya memecahkan teka-teki kunci salib menyusur bawah tanah kota. Nah di aksi seperti inilah, penonton yang gamer yang jadi target utama film ini bisa benar-benar terlibat. At least, bisa ikut berusaha memecahkan sandi atau petunjuk, bisa terinvest secara emosional setiap kali jebakan/perangkap tak sengaja teraktifkan. Seharusnya ada lebih banyak adegan seperti ini. Seharusnya adegan teka-teki yang actually dilakukan film ini dilakukan dengan lebih elaborate lagi, gak hanya cuma bingung sebentar lalu tinggal masukkan ke lubang kunci.

Kurang eksplorasi. Inilah sumber kejatuhan utama film ini. Punya konflik karakter yang sebenarnya bisa dramatis, tapi dilakukan dengan generik. Begitu pula dengan sekuen aksi-aksinya. Bahkan bangunan narasinya pun dilakukan dengan menjemukan. Standar dimulai dari adegan aksi yang wah, kemudian flashback ke beberapa waktu sebelumnya. Cerita berjalan dari flahsback waktu tersebut sampai nanti akhirnya kita ketemu kembali dengan adegan opening tadi. Sesungguhnya ini adalah upaya supaya film jadi tontonan yang menarik. Mereka kayak aware kalo materi ceritanya masih datar. Jadi mereka berusaha mengimprove penceritaan dengan susunan cerita dan sebagainya. Sama juga seperti ketika film memasukkan banyak twist dan character turn. Mereka menyangka itulah yang bikin filmnya seru. Mereka nyangka cukup masukin soal pemantik api yang susah menyala untuk meningkatkan ketegangan. Mereka lupa, film ini dari video game. Mereka harusnya ngajak penonton ikut bermain-bermain juga di sini, yang berarti aksi-aksilah yang seharusnya dibikin lebih menarik. Petualangannya. Teka-tekinya. Karakterlah yang juga harusnya dibikin lebih clear agar konek dengan penonton sebagai ganti gamer memainkan karakternya.

 

 

Buatku film ini bakal jadi total boring jika bukan karena penampilan akting, khususnya dua aktor sentralnya. Kayak karakter ceritanya yang masih setengah-setengah dalam mempercayai orang, film ini pun masih tampil setengah-setengah. Mau serius ke karakter, takut gak laku. Mau full over-the-top, juga kayaknya takut. Bahkan mau jadi full seperti gamenya, seperti ragu-ragu. Masih banyak poin dari apa yang membuat game itu seru yang miss dilakukan oleh film. Yang mereka ikuti hanya simpelnya plot poin game. Yang tentu saja tidak tertranslasikan bagus ke dalam sinema. Cerita film ini maju dengan simpel. Oh karakter dipukul dari belakang, pingsan, lalu dia bangun dan ada karakter lain siap menjelaskan hal-hal untuk ‘misi’ selanjutnya. Udah kayak poin-poin objektif game, enggak seperti eksplorasi untuk memajukan narasi. Sehingga film ini masih belum mendapat kepercayaan kita sepenuhnya soal game bisa diadaptasi menjadi film yang bagus.  
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for UNCHARTED

 

 

 

That’s all we have for now

What’s your favorite Uncharted game? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA