THE LOST DAUGHTER Review

“There’s no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one.”

 

Yang namanya ibu tidak akan meninggalkan anak yang telah susah-susah mereka lahirin ke dunia. Natural bagi seorang ibu untuk selalu berusaha menjaga dan merawat anaknya. Ketika kau menjadi seorang ibu, kau akan rela mendahulukan kepentingan anakmu di atas segalanya, termasuk sesuatu untuk dirimu sendiri. Maka dari itulah, sesekali akan ada masanya bagi seorang ibu merindukan waktu-waktu mereka bisa melakukan hal untuk diri sendiri, merindukan kebebasan dan kesempatan untuk mengejar – dan hanya mengejar – keinginan sendiri. Me-time akan sangat berharga bagi ibu; momen ketika mereka enggak harus mikirin tanggungjawab kepada anak. Ibu harusnya gak boleh merasa malu atau merasa bukan ibu yang baik dengan menginginkan waktu me-time tersebut. 

Paragraf tersebut, bukanlah kata-kataku. Aku cowok, aku gak akan pernah bisa benar-benar tahu apa yang dialami. yang dirasakan, atau yang diinginkan oleh seorang ibu. Ulasan ini bukanlah tulisan yang berisi pendapatku – seorang cowok – yang ngajarin bagaimana harusnya cewek menjadi seorang ibu. Melainkan pendapatku soal apa yang sedang berusaha dikatakan oleh Maggie Gyllenhaal ketika dia mengadaptasi novel karya Elena Ferrante menjadi debut penyutradaraan film-panjang pertamanya. Karena film The Lost Daughter memang diceritakannya dengan cara yang membuat penonton geleng-geleng sambil garuk-garuk kepala. Kinda susah dipahami arahnya ke mana, susah merasa simpati kepada karakter utamanya. Namun kita juga akan gampang merasakan ada kesedihan mendalam di balik cerita. And no doubt, film ini bakal bikin kita menemukan rasa hormat yang lebih gede kepada seorang ibu. Hampir seperti perasaan takut, malah. Takut mereka memilih menjadi seperti Leda, sang karakter utama cerita.

Leda bilang dia punya dua orang anak. Bianca dan Martha. Usia anak-anaknya itu kini sudah 25 dan 23 tahun. Tapi begitu ditanya lebih lanjut tentang mereka, Leda gak bakal menjawab. Dia malah bakalan seperti break-down, dan lantas pergi meninggalkan penanya kebingungan di tempat. Sekilas, profesor literatur itu memang seperti orang yang gak ingin diganggu. Tidak nyaman beramah tamah dengan orang lain. Leda liburan ke pantai Yunani, bermaksud menyelesaikan tulisannya sambil rileks. Tapi pantai itu ternyata ramai, oleh acara dari keluarga besar yang sepertinya berpengaruh di sana. Konsentrasi Leda lantas hinggap kepada seorang ibu muda bersama anak perempuan kecilnya. Leda terus menatap mereka, matanya menerawang, dan kita akan terflashback ke masa muda Leda merawat dua orang anak yang juga sama bocahnya. Leda pun menemukan dirinya semakin terinvolved kepada ibu muda dan anak itu, ketika boneka si anak hilang. Dan ternyata ada di dalam tas Leda.

daughtere1640644060913
Apakah boneka tersebut ada spiritnya?

 

Kasarnya, this is one complicated bitch. Karena Leda ini adalah yang pribadi yang, bukan exactly tertutup – karena di momen pribadinya kita akan digambarkan perihal yang ia rasa lewat adegan-adegan masa lalu, melainkan lebih tepatnya ya yang ribet untuk alasan yang gak jelas. Kita gak tahu kenapa Leda melakukan apa yang ia lakukan. Namun itu bukan karena dianya yang enjoy at being difficult dan kasar dan gak sensitif sama orang. Bahkan dirinya sendiri enggak tahu kenapa dia melakukan hal yang ia lakukan. Mencuri boneka anak kecil itu misalnya. Leda tidak dapat menjelaskan kenapa dia melakukan itu. Arahan Maggie membuat hampir seperti Leda meminta tolong kita untuk menjelaskan apa yang salah kepadanya. Karena memang ada sebagian diri Leda yang, katakanlah, begitu egois. In that sense, kita bisa bilang Leda ini adalah protagonis sekaligus antagonis dalam ceritanya sendiri. Inilah yang membuat kita akhirnya betah duduk mengawali journey-karakternya selama dua jam. Tabah menahan karakternya yang penuh cela, bahkan sebagai narator saja dia agak susah dipercaya. Sebab deep inside, kita konek kepadanya sebagai manusia yang tak sempurna. 

Ini juga jadi bukti betapa luar biasanya akting Olivia Colman yang jadi Leda di kurun sekarang, Leda yang sudah 48 tahun dan memikul segitu banyak beban, dan penyesalan, meskipun dia percaya dia berhak melakukan pilihan yang ia lakukan di masa muda. Menyambung karakter yang awalnya dihidupkan dengan tak kalah meyakinkan dan penuh konflik oleh Jessie Buckley, yang jadi Leda muda. Yang ultimately tentu saja merupakan bukti betapa Bu Sutradara punya mata yang personal menggambarkan kecamuk perasaan dan emosi seorang perempuan yang menempuh motherhood. Maggie tidak pernah bercerita dengan statement. Dia tidak pernah menggambarkan perasaan itu dengan utuh. Tidak pernah memberikan jawaban atas ‘misteri’ karakter. Karena itu akan membuat ceritanya menjadi ngejudge perihal perbuatan Leda. Film ini bukan hadir untuk ngejudge. Maggie ‘hanya’ memperlihatkan kepada kita betapa mengukung dan bikin capeknya tanggung jawab menjadi seorang ibu. 

Kalian tahu potret ibu dalam keluarga utuh yang sempurna? Ibu bagai matahari, cintanya tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali? The Lost Daughter bilang itu adalah kondisi yang terlalu ideal, mustahil tercapai. Karena ibu juga manusia. Jadi, film ini hadir sebagai antitesis dari ibu sempurna tersebut. Antitesis yang menyebut bahwa meskipun ibu tidak mungkin sempurna, seorang ibu punya banyak pilihan untuk menjadi ibu yang baik. Dan Leda, kita akan lihat akhirnya memilih menjadi ibu-tak sempurna, ibu yang benar-benar manusiawi, yang seperti apa.

 

Jujur, selama ini aku memang kesal sama cerita yang tokoh ibunya merasa pantas diri mereka mendapat me-time. Atau bahkan lebih dari itu, kayak, ibu yang merasa berhak untuk ninggalin anak karena sebagai manusia mereka juga punya mimpi yang harus dikejar. Kehadiran anak yang biasanya diceritakan produk dari ‘kecelakaan’ atau tidak suka sama suka, dianggap sebagai penghambat. Cerita kayak Dara di Dua Garis Biru (2019) atau ibunya si Ali di Ali & Ratu Ratu Queens (2021), aku ujungnya hanya melihat mereka sebagai orang yang selfish. Karena memang film-filmnya pun tidak mengeksplorasi lebih dari sekadar bahwa sosok ibu adalah manusia first, yang punya keinginan, dan yang mau dimanusiakaan. The Lost Daughter ini beda. Maggie menggali lebih lanjut. Dia tahu satu-satunya cara untuk menggali ke dalam itu adalah dengan menaikkan volume seekstrim mungkin. Makanya film ini akan terasa sangat tanpa ampun. Meninggalkan kesan yang juga jauh lebih dalam.

daughterl-intro-1634594864
Lebih dalam dari sekadar nonton Olivia Colman berakting jadi ibu-ibu nyebelin

 

Alih-alih statement gamblang, Maggie menghidupkan adegan-adegannya dengan simbol, situasi yang kontras oleh kiasan. Yang membuat film ini jadi semakin dalam dan penuh makna. Pada awalnya, Leda memang tampak seperti turis yang menikmati liburannya di pantai. Tapi buah-buahan yang disediakan di kamarnya yang luas itu, busuk. Malam hari, jangkrik masuk. Lampu mercusuar bikin Leda harus menutupi mukanya dengan bantal. Pantai yang sepi ternyata ramai. Bioskop, ternyata penontonnya berisik. Tempat itu seperti menyerang Leda. Lagi jalan aja dia bisa terluka kejatuhan buah pinus. Belum lagi pandangan dari keluarga besar yang sepertinya keluarga mafia, keluarga yang sempat ribut dengan Leda, keluarga yang boneka anaknya dicuri oleh Leda. Keadaan Leda yang sekarang seperti menunjukkan bahwa tidak ada yang sempurna. Bahwa mimpi kita akan keadaan senyaman liburan pun pada akhirnya akan dibenturkan dengan kenyataan yang seringkali pahit. Dan kita ya harus dealt with it

Semua itu tidak terlihat oleh Leda. Karena dia begitu fokus mengejar passion, mengisi hidupnya dengan hal-hal yang telah terenggut setelah punya anak. Leda muda memperlihatkan bagaimana dia akhirnya sampai kepada keputusan, dia mulai merasa bebas, dan keadaan Leda yang sekarang adalah kontras yang memeriksa dia yang sudah mendapat yang ia mau, tapi kenapa dia tidak tampak begitu bahagia. Leda merindukan anak-anaknya. Leda sendirian. Leda gak enjoy di situ. Notice judul film ini tunggal (daughter alih-alih daughters) padahal anak Leda dua orang, dan bahwa anak kecil yang sempat ilang juga gak lama kemudian ketemu? Judul sebenarnya merujuk kepada Leda. Dialah anak hilang yang dimaksud oleh cerita. Hilang karena tidak bisa memastikan di mana tempatnya berada. Leda adalah ibu, dia mau jadi ibu, tapi tak mau memikul tanggungjawab sebagai ibu.

Makanya dia mencuri boneka itu. Dari sudut pandangnya, kita paham bahwa Leda menganggap boneka sebagai ganti anak. Dia ingin merawat dan membersihkan boneka yang udah dicorat-coret dan penuh air itu. Dia ingin merasakan kembali jadi ibu dengan merawat anak. Dan boneka adalah anak yang tepat untuk Leda karena merawat boneka tidak perlu tanggungjawab yang besar. Leda bisa menyayangi boneka kapan dia bisa saja, saat senggang aja, saat dia gak capek dan gak banyak kerjaan. Sementara dari yang kita lihat, sebagai inner-needs dari Leda yang tak kunjung ia sadari, boneka itu adalah kesempatan kedua baginya. Dia butuh untuk menyelamatkan boneka itu karena si ibu muda dan anaknya telah membuat Leda teringat kepada dirinya dengan anaknya waktu masih kecil; anaknya yang telah mencorat-coret boneka yang ia berikan, boneka yang harusnya dirawat karena boneka adalah mainan yang mengajarkan tanggung jawab menjadi seorang ibu sejak dini kepada anak perempuan. Leda muda membuang boneka yang telah dirusak yang mengawali gerahnya dia ngurus anak; Leda tidak ingin ibu dan anak kecil yang ia lihat di pantai mengalami masa depan yang sama dengan dirinya, dulu dan sekarang. Bahwa merawat boneka dan kemudian merusak atau meninggalkannya itu adalah hal yang ia lakukan dan diam-diam ia sesali.

Demikianlah kompleksnya karakter Leda. Dia paham pentingnya dan indahnya menjadi seorang ibu, tapi sekaligus juga dia tidak tahan dengan tanggungjawabnya. Ending film ini poetic sekali dalam menggambarkan hal tersebut. Leda yang terluka, terhuyung keluar dari mobil, pergi ke pantai. Terbaring di antara pasir dan pantai. Menunjukkan dia telah belajar, tapi tetap tidak mampu memilih. Matikah dia di akhir itu? Film membuat sangat ambigu. Tapi, at that point, aku udah kasihan sama Leda. Aku berharap dia meninggal saja, karena dengan begitu dia bisa lepas dengan benar-benar bahagia. 

 

Hiruk pikuk emosi paling manusiawi dari seorang ibu digambarkan dengan lantang oleh film ini. Bahasannya mengonfrontasi pemikiran, tapi tidak pernah diniatkan sebagai sesuatu yang judgmental. Sehingga pada akhirnya film ini akan membekas lama. Tragis dan ‘ngerinya’ walaupun benar-benar dibahas dari sudut pandang yang sangat personal, akan menguar kepada kita semua. Dan yea, film ini bakal membuat kita lebih menghargai pilihan perempuan menjadi seorang ibu. Perempuan menjadi sempurna dengan memiliki anak, tapi tidak ada yang namanya ibu yang sempurna. Film menunjukkan itu semua kepada kita, lewat perjalanan karakter yang juga dimainkan dengan luar biasa.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE LOST DAUGHTER.

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian semua ibu punya perasaan yang sama dengan Leda? For boys: kira-kira apa yang bisa kita lakukan supaya ibu atau istri tidak sampai jadi seekstrim gambaran Leda?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

RESIDENT EVIL: WELCOME TO RACCOON CITY Review

“Love brings you home”

 

Untuk urusan film adaptasi video game, kita para nerds bisa lebih ganas daripada zombie. Kita akan bergerombol memadati bioskop, lalu pulang dengan jalan terseok. Menggerutu. Mengerang. “Argghh apaan gak seru! Jauh banget ama video gamenya!!” Seri Resident Evil dari Paul W.S. Anderson secara konstan terus bigger and bigger sebagai ganti dari mengusung cerita original yang berbeda dengan seri gamenya. We hated those movies. Lebih mirip mindless action flick ketimbang survival horor. Jadi demi menjawab erangan fans dan kecintaannya sendiri terhadap franchise ini, seperti Claire Redfield di dalam cerita yang pulang ke kota asalnya, sutradara Johannes Roberts memulangkan kembali film Resident Evil. Dia mereboot seri film ini dengan mengeset cerita balik ke akar video game originalnya. Mencuatkan elemen survival horor. Membangun atmosfer kelam. Membuat suasana yang persis dengan game. Menghadirkan nama-nama yang sudah dikenal baik. Roberts benar-benar membuat sesuatu yang kita minta. Tapi aku keluar dari teater dengan tetap mengerang. Dia membuat semuanya sama dengan game, kecuali karakternya.

“WUARRRGGHHH!!!”

reidentcreepy-new-nightmare-trailer-for-resident-evil-welcome-to-raccoon-city
Welcome to Cringe City

 

Sekarang aku jadi kangen ama Alice dan Resident Evil-nya Anderson. Yea mereka gak bagus, tapi setidaknya ada energi di baliknya. Resident Evil: Welcome to Raccoon City ini mirip game, ceritanya lebih horor, tapi ternyata malah bland. Bahkan ledakannya aja terasa hampa. Semuanya sama dengan game yang udah dimainkan ternyata punya kelemahan tersendiri, yakni menjadikan jalan cerita tak lagi punya hook. Sehingga film harus bergantung kepada karakter-karakter. Dan pada mereka itulah, film ini tersungkur paling keras.

Roberts menggabungkan elemen cerita pada dua game pertama (Resident Evil dan Resident Evil 2) ke dalam seratus menit. Penonton yang punya nostalgia sama game-game tersebut bakal kesengsem berkaca-kaca saat melihat lokasi dan skenario yang udah dikenal, terhidupkan ke dalam film ini. Claire Redfield yang kembali ke Raccoon City untuk bertemunya abangnya, Chris. Sementara Chris – beserta rekan-rekannya – dikirim menyelidiki mansion di hutan. Rumah gede tempat tim yang dikirim sebelum mereka tidak mengirimkan kabar apa-apa. Claire menemukan ada yang gak beres di kota mereka. Penduduknya berubah menjadi beringas, ingin memakannya. Jadi Claire pergi ke kantor polisi. Di sana dia akan team up dengan Leon si polisi anak baru. Sampai akhirnya mereka menelusuri jejak Umbrella Corporation yang merupakan dalang dari zombie outbreak di kota.

Kalian tahu dong meme Leonardo DiCaprio yang duduk nunjuk layar (dari adegan film Once Upon a Time in Hollywood)? Yea, that’s us for the majority of this Resident Evil movie. Banyak adegan, maupun dialog, yang mereferensikan hal-hal populer dari gamenya. Seperti adegan zombie botak yang lagi makan berbalik pelan menghadap kamera, atau ketika ada adegan mecahin puzzle di piano, atau ketika term “Jill’s sandwich” diucapkan. Dan bukan hanya dari dua game itu saja, Roberts meluaskan librari nostalgianya kepada versi remake dan versi alternatif yang hadir di konsol game lain. Sebagai pembungkus dari semua itu, Roberts menggunakan atmosfer horor yang dicomotnya dari horor-horor 80an. Suasana ala horor John Carpenter, ditambah aksi survival dari zombie yang bisa muncul menyerang dari mana saja, film ini tampak sudah punya model atau formula yang oke sebagai sebuah sajian horor yang menghibur. Aku bisa membayangkan kalo penonton yang gak pernah main gamenya akan bisa lebih menikmati suasana menyeramkan dan misteri kota Raccoon. Terutama penonton horor mainstream, karena film ini memang juga memasukkan elemen horor yang seperti hantu-hantuan sebagai pengeset mood alias sebagai pembuka. Sementara penonton nerd yang main gamenya bakal lebih menikmati lewat sajian nostalgia, karena kita tahu seberapa tipis cerita, apa yang bakal terjadi di balik semuanya.

Resident Evil bicara tentang kota yang menjadi korban dari perusahaan yang tidak bertanggungjawab. Sekali lagi rakyat jadi tumbal bagi perbuatan orang kaya. Elemen lebih gelapnya menyangkut anak-anak turut dijadikan bahan percobaan. Dari konteks itu, berkembanglah berbagai game, film, yang terus lebih besar. Sehingga franchise ini butuh reset. Sayangnya, bahkan setelah direset dengan penuh passion dan cinta terhadap seri ini pun, Resident Evil ini gagal melihat apa yang seharusnya digali lebih dalam untuk membuat ceritanya jadi horor survival kemanusiaan yang sebenarnya.

 

Dengan segera penonton baru dan penonton nerd ini akan jadi akur. Alias ama-sama kehabisan hal menarik yang bisa dinikmati di sini. Sama-sama gak punya pegangan untuk bertahan. Cerita tipis – yang bahkan tidak benar-benar memenuhi fungsi sebagai prekuel karena tidak membahas mendalam soal perusahaan korup yang menjadikan satu kota sebagai tempat buangan limbah eksperimen yang dilakukan dengan tidak bertanggungjawab – juga tidak dibackup dengan karakterisasi yang menarik. Claire si karakter utama tidak banyak beban emosional. Motivasinya kembali ke kota yang ia benci (dan in a way, ia takuti) adalah untuk bertemu dengan abangnya, dan itu terpenuhi dengan cepat. Enggak ada tantangannya, enggak ada dramanya. Setelah itu, Claire hanya ada di sana untuk bereaksi dengan kejadian-kejadian, sembari terflashback ke masa kecil. Dia juga dibikin jago banget, beberapa kali menyelamatkan Leon yang entah kenapa dibikin sebagai total joke di sini. Dua karakter utama game Resident Evil 2 dikasih dinamika yang sangat basic dan boring, bahkan pemainnya tampak bosan memainkan karakter mereka. Dan Chris serta yang lainnya, just generic. Gak ada motivasi personal sama sekali. Cringe malah, karena cuma mencoba melawak dan menyumpah serapah saat keadaan menjadi mengerikan.

Perubahan karakter memang jadi sumber utama blandnya film ini. Aku akan menyebut hal yang tidak berani disebut banyak orang, terutama kritikus karena permasalahannya memang sensitif; mereka mengganti sosok karakter-karakter yang sudah kita kenal menjadi sama sekali berbeda. Jill, diganti dari blonde white girl, menjadi perempuan berkulit gelap berambut ikal. Leon, diganti jadi keluar dari stereotipe jagoan amerika. Pergantian itu apalagi kalo bukan supaya karakter film ini beragam. Supaya gak kulit putih semua. Sebenarnya bukan masalah digantinya, melainkan karena naskah tidak memberi mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka adalah karakter tersebut. Film hanya memparadekan nama mereka setiap kali ada dialog. Menyebut-nyebut nama walaupun kita udah tahu mereka itu siapa, seolah cuma nama itulah identitas mereka.

reidentevillcome-to-raccoon-city-terbaru-rilis-layar-id
All I see is bunch of NPCs saking kosongnya karakter mereka

 

Ketika karakter yang sudah dikenal (dari game, dan/atau dari film sebelumnya) diubah, penonton perlu diintroduce ulang kepada mereka. Dan itu gak bisa hanya dengan nama saja. Apalagi mereka adalah karakter utama dalam video game. Karakter yang diperankan oleh pemain, menempuh banyak petualangan bersama. Sehingga pemain yang bakal jadi penonton mereka dalam film, mengenal mereka, mengidentifikasi diri sebagai bagian dari mereka. Mengganti karakter mereka begitu saja, merampok penonton dari identifikasi ini. Mereka jadi asing, gak konek lagi. Filmlah yang harus menyambung ini kembali. Jill, Leon, bahkan Chris dan Claire – empat yang kita mainkan sebagai diri kita di game, tidak dibuild up dengan proper oleh film ini. Mereka hanya ditampilkan. Menyebut nama. Ditambah dengan penampilan yang dibuat sama sekali berbeda. Gak heran kenapa kita gak konek sama mereka. Mereka basically adalah nobody, tanpa background story, tanpa karakterisasi untuk kita pegang.

Melihat mereka di film ini, aku jadi berpikir kalo Paul W.S. Anderson justru telah memilih cara yang tepat. Mengambil karakter lain di luar game sebagai karakter utama. Membentuknya sebagai protagonis dan perwakilan dari kita. Kemudian baru menampilkan karakter-karakter yang sudah kita kenal di game. Dengan begitu, berarti Anderson bisa dengan lebih bebas membangun cerita dan dunia sendiri, dengan tidak ‘mengganggu’ karakter-karakter original. Taktik yang sama digunakan oleh Mortal Kombat (2021), menghadirkan karakter baru sebagai fokus kita untuk mendekatkan diri, sementara bisa lebih bebas menampilkan karakter-karakter ikonik, tidak perlu mengubah atau membangun ulang mereka. Karena ya memang pasti susah membangun karakter seperti Jill, Leon, Claire, Chris yang empat-empatnya jagoan utama sekaligus dalam satu film. Suicide Squad 2016 sudah membuktikan itu adalah hal yang nyaris mustahil.

Waktu kecil, aku terblown away oleh klip live-action intro game Resident Evil pertama. Waktu itu rasanya nambah serem banget ke petualangan nanti, dan juga kayak bikin gamenya semakin… real? Haha, kalo ditonton sekarang sih klip itu kerasa banget cheesy-nya. Efeknya keliatan banget disamarin oleh warna hitam putih. Tadinya aku berharap film Welcome to Raccoon City ini paling enggak bisa ngasih feel yang sama, tentunya dengan scare dan efek praktikal yang lebih meyakinkan. Turns out, efek dalam film ini kadang oke, kadang lebih cheesy daripada klip tersebut. Akting karakternya pun begitu, malah lebih cringe mengingat mereka aktor yang lebih profesional. Yang paling bikin aku kecewa ya, ternyata nonton film ini gak terasa apa-apa. 

 

 

 

Baik versi sebelumnya maupun versi yang ini, semuanya punya kekurangan besar masing-masing. Versi yang ini meski punya atmosfer dan elemen horor seperti (gerak kamera dan penggunaan cahaya) yang lebih seram, yang lebih mendekati estetik gamenya, hadir dengan sangat datar. Karakter-karakternya tidak bisa kita kenali. Mereka direduce jadi pelontar one-liner dan template konyol. Tidak ada motivasi personal. Mereka cuma berlarian mencari jalan keluar, bereaksi pada kejadian. Tidak belajar darinya. Ceritanya memang tidak membahas mendalam. Penggabungan cerita dua gamenya tidak mulus. Dan banyak hal yang konyol. Kejadian yang ditempatkan sebagai inciting incident di sepuluh menit awal aja sebenarnya udah cukup untuk meruntuhkan film ini. Mana ada zombie yang melipir ilang gitu aja padahal ada dua mangsa potensial lagi berdiri di jalanan di dekatnya. But hey, kita zombie kalo udah soal film adaptasi game. Kita akan terus memenuhi bioskop sambil meneriakkan hal yang ingin kita santap tapi tidak kunjung diberikan oleh filmnya. “Braaaaiiiiinnn!!”
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for RESIDENT EVIL: WELCOME TO RACCOON CITY.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Ada gak sih sutradara yang pengen kalian lihat ngedirect Resident Evil? How you think he/she will make things different for the movie?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS Review

“Violence is any day preferable to impotence”

 

Seperti judulnya, Seperti Dendam (cukup disingkat begini saja ya nyebutinnya), memanglah sebuah cerita balas-dendam sebanyak film ini sebagai sebuah kisah cinta. Ini adalah film yang ada kelahi-kelahinya, ada romansa-romansanya, dan sering juga keduanya – berkelahi dan romansa itu – berlangsung sekaligus. Untuk membuat dirinya semakin unik, film ini hidup berlatar dunia 80an. Tampil layaknya film laga yang berlangsung dan seperti benar-benar dibuat oleh industri tahun segitu. Berpeganganlah yang erat, karena karya Edwin yang diadaptasi dari novel Eka Kurniawan ini only gets weirder. Nada yang sedari awal diarahkan berbunyi seperti komedi lantas menjadi surealis ketika elemen mistis mulai diperkenalkan. Bersiaplah karena di sini gambar-gambar di belakang truk akan bisa berbicara. Dan jika kalian mengharapkan ada sesuatu setelah semua debu-debu truk itu lenyap, setelah semua pukulan-pukulan teknis itu mendarat menghujam, Seperti Dendam bakal melayangkan serangan terakhirnya dengan ending yang begitu tiba-tiba.

dendam202112021753-main.cropped_1638442415
Film tentang impotensi tapi elemennya dibikin nyembur ke mana-mana

 

Masih ingat ayah Shang-Chi di film kung-fu MCU (Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings)? Gembong penjahat yang bertemu perempuan penjaga desa. Lalu mereka berantem dengan begitu elegan sehingga kayak sedang menari, yang menghantarkan mereka menjadi saling cinta? Well, itu semua jadi gak seberapa romantis jika dibandingkan dengan Ajo Kawir dan Iteung di film Seperti Dendam. Tadinya Ajo Kawir kepengen membunuh seorang juragan. Maka dia harus berurusan dahulu dengan bodyguardnya. Gadis yang tak kalah jagoan bernama Iteung. Dan oh boy, berantemnya Ajo Kawir lawan Iteung di lokasi truk ngangkut-ngangkut pasir itu sungguh intens. Beneran kayak film-film silat low budget tempo dulu. Edwin tidak membumbui itu dengan adegan yang elegan seperti pada Shang-Chi. Melainkan dia menampilkannya se-rough mungkin. Jikapun ada ‘polesan’, maka itu difungsikan untuk menahan tone alias nada supaya tetap berada di kotak over-the-top kelucuan.

Memang, adegan berantem awal pertemuan mereka itu membuatku tercengang. Kamera gak banyak cut, langsung aja nampilin. Aku mungkin salah, tapi mereka gak keliatan pakai stuntmen. Ada tuh saat Iteung di-powerbomb ke tanah berpasir. Maaaan… Sebagai orang yang nonton WWE religiously, aku tahu ada cara yang aman untuk ngelakuin jurus-jurus atau adegan tersebut. Berantem sekasar itu bisa dikoreografikan dengan safely. Tapi tetep saja aku kagum sekali Marthino Lio dan Ladya Cheryl berani dan sanggup ngelakuin adegan itu dengan baik.

Pertarungan nyaris hidup-mati itu jadi koneksi yang sangat personal bagi Ajo Kawir dan Iteung. Pemuda yang haus berkelahi sebagai pelampiasan frustasi dan semacam pembuktian diri, bertemu dan dibikin humble oleh perempuan tangguh yang seperti memahami lelaki seperti itu. Koneksi mereka is on another level of love. Tapi ternyata itu hanyalah salah satu bentuk unik purest love yang digambarkan oleh film ini. Untuk satunya lagi, mari kita letakkan konteks ke dalam cerita. Alasan Ajo Kawir napsu cari ribut adalah karena dia percaya itulah satu-satunya cara dia menunjukkan kejantanan. Bahwa dia masih cowok, kok, meskipun burungnya gak bisa berdiri. Kita hanya bisa membayangkan; berantemnya aja seintens itu, gimana pergumulan mereka di kasur ya. Tapi Ajo Kawir enggak bisa begitu. Ajo Kawir awalnya malah sempat minder dan menghindar. Tapi, Iteung tetep mau dan mengawini dirinya. Relationship Ajo Kawir dan Iteung lantas menjadi pondasi besar untuk bangunan cerita Seperti Dendam. Chemistry Lio dan Cheryl hanya tersendat oleh dialog jadul yang kerap sedikit janggal terdengar saat momen-momen mereka. Seperti saat berantem tadi, keduanya tampak lebih klik dalam bahasa gerak dan ekspresi. Sebenarnya itu saja sudah cukup untuk memikul narasi film ini. Karena memang Seperti Dendam lebih excellent ketika menampilkan, entah itu aksi, their whole world, atau hal sesimpel joget dangdut di kawinan.

Aku menikmati ketika narasi masih berpusat di Ajo Kawir berusaha menjadi better man setelah menikah dengan Iteung. Dia berusaha meninggalkan kebiasaan lama. Bahkan berjanji untuk tidak membunuh si Macan, seorang lagi gembong penjahat dengan kepala berharga tinggi. Harga yang mestinya bisa memberikan kehidupan yang layak bagi rumah tangga Ajo. Namun konflik sebenarnya baru datang setelah ini. For Ajo dan Iteung sama-sama punya hantu di masa lalu. Impotensi Ajo berasal dari trauma masa kecil perlahan tapi pasti menjadi pemicu, sementara teman lama Iteung datang menawarkan solusi sekaligus ancaman bagi Ajo. Jika ini adalah cerita biasa, film ini akan berakhir saat turning point. Saat yang berusaha dibangung Ajo bersama Iteung hancur, membuat mereka terpisah. Seperti Dendam sekarang barulah jelas intensinya. Film ini ingin mengeksplorasi impotensi – dalam hal ini bisa dilihat sebagai pria yang merasa dirinya lemah. Kenapa seorang pria bisa merasa begitu. Bagaimana menyembuhkan impotensi berarti adalah bagaimana cara yang benar bagi seorang pria merasa dirinya jantan. Apakah merasa macho memang sepenting itu. Pamungkas film ini sebenarnya terletak saat eksplorasi itu. Saat menunjukkan Ajo Kawir berusaha ‘menemukan jalan pulang’ kepada Iteung. Namunnya lagi, justru di paruh akhir yang difungsikan untuk itulah, film ini terasa mulai gak koheren. 

Bahkan Mahatma Gandhi yang pacifist tulen aja bilang lebih baik menjadi violent jika itu satu-satunya cara untuk mengklaim power. Ajo Kawir jadi impoten setelah peristiwa traumatis yang menimpa dirinya. Impoten di sini adalah lack of power. Menjadi violent bagi Kawir bukan hanya pelampiasan frustasi, ia semestinya belajar menyadari bahwa itulah perjuangannya untuk berani mendapatkan kembali hal yang hilang dari dirinya karena trauma.

 

Begitu masuk ke paruh akhir, Seperti Dendam seperti berjuang mencari arah untuk finish. Tidak lagi berjalan untuk bercerita. Melainkan jadi seperti masuk ke mode mengakhiri cerita dengan tetap bergaya. Masalahnya, di titik itu masih banyak elemen yang harus diceritakan. Ketika menggali lebih dalam ke asal muasal penyakit Ajo Kawir, ataupun ketika memaparkan kejadian horrible apa yang menimpa Iteung saat masih masuk usia remaja, film mulai menapaki arah yang surealis. Katakanlah, ada karakter ‘hantu’ yang dimunculkan. Lalu juga ada perihal perilaku semena-mena aparat yang dirahasiakan, yang juga mengait ke persoalan petrus dan presiden di periode waktu itu.  Untuk menambah kuat karakter periode dan dunianya, film juga sekalian memberikan peristiwa gerhana sebagai latar. 

dendamSeperti-Dendam-Rindu-735x400
Ratu Felisha mainin salah satu karakter terseram seantero 2021

 

Karakter-karakter baru pun lantas muncul. Mereka sebenarnya terasa punya kepentingan yang signifikan di dalam cerita ini, tapi karena Seperti Dendam sudah menjadi medium film, penempatan mereka tidak terasa benar-benar menjustifikasi keberadaan mereka itu sendiri. Dengan kata lain, aku merasa mereka jadi dimunculkan ujug-ujug saja. Tidak ada bedanya dengan si karakter ‘hantu’ yang tau-tau ada begitu sesajen dibakar. Film seperti Dendam pada akhirnya terkekang juga oleh hakikatnya sebagai cerita adaptasi novel. Yang juga kentara terpengaruh oleh mendadak banyak elemen ini adalah tone cerita. Sedari awal, Seperti Dendam memang tidak pernah saklek. Apakah ini satir. Apakah kita memang diniatkan untuk tertawa melihat Ajo Kawir berjuang membangunkan burungnya. Apa yang harus kita rasakan melihat Ajo Kawir kesenengan dihajar orang-orang yang diajaknya berkelahi? Tapi begitu paruh akhir dan segala elemen baru masuk, tone semakin tak menentu lagi. Di bagian yang seperti dirancang untuk membuat kita takut, kita juga merasakan harapan bertumbuh. The only constant adalah pada adegan berantem yang selalu menarik, dan jadi penawar bingung dan sumpeknya semua terasa.

Novelnya sendiri memang aku belum baca. Jadi gak bisa mastiin juga seberapa ‘sama’ film ini dibuat dengan bukunya. Biasanya buku memang lebih leluasa sih, lebih banyak ruang juga. Film adaptasinya ini seharusnya bisa lebih luwes. Mengingat banyaknya muatan, dan style yang mencakup surealis dan menonjolkan seni bercerita, sepertinya bisa lebih asik kalo sekalian aja film ini tampil acak kayak Pulp Fiction (1994). Gak usah runut atau linear. Bagi semacam segmen per karakter, kreasi di urutannya saja, bolak balik saja tak mengapa. Sekalian juga per segmen itu tone-nya bisa beda. Dengan membuatnya begitu, semua yang diniatkan untuk ada masih bisa tertampung semua. Juga, film jadi gak perlu mikirin dan rush menuju ending seperti yang kita saksikan sekarang ini.

 

 

 

Dari tiga-besar film Indonesia tahun ini, film inilah yang memang terasa terhambat oleh adaptasi. Dua film lainnya itu luwes dan bisa mencapai ending yang membayar tuntas semua. Film yang satu ini tidak begitu. Paruh pertama terasa lebih enak karena masih mengalir sebagai cerita, yang fokus ke karakter. Ketika sudah mendekati penghabisan, muatan yang seambreg mulai terasa pengaruhnya. Film jadi berusaha untuk mengakhiri aja. Elemen kritik ke politik, komedi, horor, atau bahasan lainnya pun jadi tempelan at best. Padahal aslinya kan tidak seperti itu. Mereka harusnya jadi esensi. Film ini perlu untuk jadi bold, aneh, kasar, lucu, miris, dan sweet sekaligus. Untuk pembangunan itu semua – dan pembangunan dunianya – kerja film ini sangat excellent. Dia berhasil. Saat menempatkannya sebagai satu film koherenlah, film ini kurang mulus. Maka, mungkin sebaiknya jadi total aneh saja sekalian. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

 

 

 

 

That’s all we have for now

Menurut kalian siapakah Jelita? Apakah dia hantu Rona Merah, atau ada hubungannya dengan Iteung? Apa makna karakter ini bagi kedua tokoh sentral di dalam cerita?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DUNE Review

“There is no greater jihad than to help the helpless”

 

Beberapa menyebut film ini sebagai Star Wars versi lebih serius. Ada juga yang menyebutnya sebagai Star Wars versi islami. Cerita tentang Imam Mahdi. Bagi pembaca novelnya, Dune adalah fiksi ilmiah yang paling ditunggu, karena mereka penasaran bagaimana cerita sepadat itu divisualkan ke dalam tayangan. Bagi David Lynch, Dune adalah pengingat kegagalan, sehingga ia bahkan tak tertarik nonton film baru ini. Bagi ‘film-twitter’, Dune adalah bahan ribut bulan ini. Dan akhirnya, tiba juga bagiku untuk menyumbang suara mengatakan Dune versi Denis Villeneuve ini adalah apa.

Waktu itu memang aku terlalu sibuk untuk ikutan keramean seputar artikel yang bilang orang yang ngantuk nonton Dune punya wawasan pas-pasan. Padahal semua itu gak ada hubungannya sama wawasan. Kubilang sekarang, mereka yang bosen, bahkan sampai ketiduran nontonin Dune versi baru ini, pastilah cuma orang-orang yang belum pernah nonton Dune yang versi David Lynch. Serius. Senada dengan Lynch sendiri, alasan aku juga enggak antusias menyambut Dune terbaru adalah karena aku punya mimpi buruk berkenaan dengan Dune 1984. Aku berusaha nonton lima kali, dan ketiduran enam kali!! Bukan karena film itu jelek – aku gak punya kapasitas bilang film itu jelek, karena selalu gagal menontonnya sampai habis – tapi karena film itu terbeban banget oleh eksposisi. Sepuluh menit pertamanya aja full-narasi eksposisi! Makanya, begitu akhirnya menonton Dune versi Denis, aku lega sekali karena film ini terasa jauuuuuuuuhhhhh lebih ringan. Denis meminimalisir semua eksposisi dan mitologi. Jika Dune memanglah awalnya dibuat untuk menjadi ‘saingan’ Star Wars, maka Dune versi 2021 ini adalah yang paling dekat untuk memenuhi fungsi tersebut. Film ini jauh lebih mudah untuk dinikmati ketimbang yang kalian dengar dikatakan oleh orang-orang.

DUNE4267631098
Film ini jadi bukti bahwa bisa kok sebuah adventure grande dibuat tanpa bumbu-bumbu humor one-liner yang cheesy

 

Aku ngerasa bisa relate sama usaha film ini dalam mengurangi eksposisi, karena di sini aku pun gak mau kalo review yang aku tulis akan terbaca sebagai gibberish – sebagai fafifuwasweswos omong kosong – oleh pembaca yang enggak ngerti sama istilah-istilah dalam semesta cerita Dune. Di sini, aku pun harus berusaha membuat supaya ulasan ini bisa semudah mungkin untuk diakses oleh general audience. Dan itu beneran susah! Diadaptasi dari novel karya Frank Herbert sepanjang 412 halaman, Dune punya dunia yang lore dan mitologinya penuh oleh istilah-istilah (dengan referensi kuat ke budaya dan peradaban Islam, sehingga wajar banyak yang nyebut ini sebagai Star Wars untuk sobat gurun), dan punya cerita penuh oleh intrik politik kerajaan-kerajaan atau kelompok-kelompok masyarakat, sementara juga tetap mempertahankan message mengenai lingkungan, sosial, dan kepercayaan sebagai tema yang membayangi gambaran besarnya. Ibarat minuman, Dune begitu kental. Susah untuk mengekstraknya menjadi konsumsi yang lebih ringan tanpa mengurangi esensi yang dikandungnya. Berikut usahaku menceritakan sinopsis dengan singkat, tanpa menyelam terlalu dalam ke istilah dan mitologinya:

Di dunia tahun 10191, planet gurun Arrakis jadi lahan tambang karena kandungan sumber dayanya. Penduduk asli planet tersebut, bangsa Fremen yang bermata biru, terjajah bertahun-tahun lamanya oleh bangsa penambang House Harkonnen. Demi mengatasi keadaan tersebut, Emperor mengutus House Atreides dari Planet Caladan. Tokoh utama cerita ini adalah putra mahkota House Atreides, Paul. Di bawah bimbingan ayahnya, Paul dididik secara militer dan dibimbing untuk jadi pemimpin yang baik, sebagai penerus kelak. Tapi Paul ternyata punya takdir satu lagi. Paul memiliki kekuatan ‘penglihatan’ dan ‘the voice’ (ala Jedi Mind Trick). Dia mungkin adalah messiah yang bisa menghentikan perang, menyatukan semuanya. Di saat Paul masih berkutat dengan tanggungjawab besar dan mimpi-mimpi yang menawarkan versi masa depan yang menyita perhatiannya, pengkhianatan besar terjadi!

See, basic banget! Menulisnya simpel begitu jadi terasa kayak cerita ‘The Chosen One’ yang biasaKurang lebih tantangan seperti itulah yang harus dijabanin oleh Denis di proyek ini. Denis gak mau filmnya berat, maka dia menceritakannya dengan sesimpel yang ia bisa. Dengan minim dialog. Dengan informasi-informasi dan penjelasan dibeberkan seperlunya. UIntungnya Denis punya senjata andalan, yang tentu saja tidak aku punya (siapalah saya…), yang penulis novel aslinya gak punya, dan yang bahkan gak bisa dimaksimalkan oleh David Lynch. Visual Storytelling.

Ketika harus memberitahu bahwa karakter yang diperankan Zendaya adalah orang Fremen yang cantik nan misterius, Denis menceritakannya lewat visual yang begitu striking. Mengontraskan warna mata, warna kulit, warna lingkungan. Memanfaatkan dukungan musik dan permainan kamera. Begitu kuat kesan dreamlike pada adegan yang memang berupa pandangan di dalam mimpi tersebut. Bandingkan saja dengan Dune versi lama, yang lebih memilih mengatakan semua itu kepada kita langsung lewat narasi voice-over, narasi suara hati yang bergema. Dune versi baru ini lebih elegan. Bicara banyak tanpa banyak bersuara. Denis tidak mau kita fokus membincangkan mitologi dan sebagainya. Denis mau kita menikmati spektakel visual yang ia hadirkan dengan maksimal. Dia ingin kita mengalami semua visual di planet fantasi ilmiah tersebut. Shot-shot wide yang kerap ia lakukan, ditujukan untuk menekankan sensasi epicness kepada kita. Entah itu ketika ada pesawat (yang sayapnya seperti sayap capung!) mendarat di tengah-tengah kerumunan, ketika serangan cacing tanah raksasa diperlihatkan dari atas lewat sudut pandang dua orang di atas pesawat, atau ketika ada badai pasir di latar belakang. Semuanya mengedepankan skala. Kita melihat manusia begitu kecil, cacing begitu besar, dan sebagaimana. Sense indera inilah yang membuat pengalaman menonton Dune jadi begitu memikat. Kita dimaksudkan untuk menyantap itu semua sebagai hidangan utama.

dune_worm_main
Visualnya edune!!

 

Film versi Lynch bahkan minim aksi. Tidak ada pertempuran berantem atau satu-lawan-satu di sana. Sementara, film baru ini seru lewat lebih banyak aksi, baik itu kejar-kejaran maupun berantem. Martial Art yang ditampilkan pun tampak plausible, dimainkan dengan menghibur ke dalam ‘gimmick’ alias lore yang dipunya oleh dunia cerita. Dune David Lynch, yang mementingkan narasi dan eksposisi semesta, tidak punya ruang yang lega untuk mengembangkan karakter. Paul di film itu tidak punya banyak fase-fase development. Malah karena begitu sempit, karakternya tampak seperti menerima status ‘imam mahdi’ itu begitu saja. Dia lantas jadi kayak dewa. Denis dalam film versinya ini punya ruang lebih banyak untuk membebaskan karakternya. Paul dikembangkan dengan lebih natural. Timothee Chalamet punya banyak waktu untuk menunjukkan jangkauan aktingnya. Ada lebih banyak momen humanis untuk karakternya membangun relasi dengan ibu yang jadi mentor ‘ilmu jedi’nya. Begitu juga momen-momen dengan karakter sahabatnya, yang tidak ada pada film versi Lynch yang strict ke Paul dan sang ayah saja. Arc-nya adalah tentang menerima tanggungjawab, dan Paul punya dua yang harus ia terima. Film menyulam ini dengan seksama, inilah yang dipastikan ada closingnya, sehingga nanti saat film memang harus bersambung ke part berikutnya, masih ada elemen yang menutup pada cerita.

Antara jadi pemimpin atau penyelamat. Antara sebagai penjajah atau penolong. Paul sesungguhnya telah memilih, tapi dia struggle dengan posisi dirinya untuk menempati pilihan tersebut. Perjuangan inner-nya yang menggambarkan makna jihad. Sebab jihad bukan semata berarti turun berperang. Melainkan berjuang, membawa diri sendiri, untuk menolong yang tak berdaya.

 

Ini sih sebenarnya yang jadi masalah. Dune 2021 terasa incomplete. Karena memang filmnya ternyata dibagi dua. Dan, marketingnya.. well, aku tau kurang bijak menilai film dari cara mereka memasarkan diri, tapi there’s something about it yang membuatku jadi mengaitkannya dengan pembuatan dan storytelling film ini sendiri. Dune tidak segera memasarkan diri sebagai Part One (they soft sell this instead), dan bagian keduanya disebutkan akan lanjut atau tidak bergantung kepada kesuksesan Dune yang sekarang ini. Jadi, film ini keadaannya semacam kayak game Final Fantasy. Ini adalah kesempatan ‘terakhir’ mereka membuktikan diri dengan ngasih yang jor-joran, karena ada kemungkinan ujung ceritanya gak bakal bisa lanjut ditampilkan. Tapi Dune tidak benar-benar rapi menutup episode ini. Arc paul memang  menutup, tapi development lain tidak digenjot. Istilah gampangnya, Dune ini tidak terlihat seperti didesain untuk bisa berdiri sendiri. Walaupun pembuatnya yakin mereka hanya punya kesempatan kecil untuk melanjutkan cerita, tidak terasa mereka put everything on the line. Jadi, effort meracik cerita di sini agak kurang maksimal.

Mereka literally cuma bergantung pada keberhasilan spektakel visual. Di luar itu, dan di samping usaha menutup arc Paul for now, tidak lagi ada substansi. Keputusan film untuk meminimkan informasi berbalik jadi bumerang. Kita jadi tidak masuk secara immersive ke dalam mitologi dunia. Film ini menjadi terlalu sederhana for its own good. Narasinya jadi kurang berbobot karena tidak membahas mendalam. Dari konteks bahasa, misalnya. Saat menonton Dune ini kita akan notice banyak istilah Islam, tapi dengan mengabaikan banyak lore, film ini sendiri jadi seperti mengesampingkan kepentingan kenapa istilah-istilah tersebut dipakai pada awalnya oleh novel. Tentu saja pertanyaan ‘kenapa’ yang baru jadi terangkat. Memang, kondisi politik dunia kita pun memang sudah berbeda, antara masa pembuatan novel Dune dengan masa filmnya dibuat ulang. Dan ini jadi menarik, apakah memang ada hubungannya dengan itu? Apakah menyebut Islam dan jihad sebagai asosiasi dari protagonis kulit putih tidak lagi ‘klik’ dengan situasi saat ini? Ini kan bisa jadi bahan tulisan lain yang menarik untuk diangkat. But for now, untuk kepentingan penilaian karya film, aku mencukupkan dengan mengatakan film ini agak terlalu kopong perihal substansi, dan memang hanya dibuat untuk spektakel saja.

 

 

 

Memang conflicted sih, aku jadinya. Aku percaya film adalah sulap kreasi. Film ini menawarkan teknik dan kreasi yang tidak kurang dari sebuah masterpiece. Namun aku juga percaya film harus punya bobot. Film ini, sekarang aku tidak begitu yakin. Apakah dia sengaja untuk hiburan visual saja, dan menyimpan semua bobot di bagian kedua. Atau apakah memang sengaja dibikin ringan dan sama sekali tak membahas yang lebih dalam. Apakah film justru mengandalkan kita untuk baca novelnya (atau baca thread di twitter, kalo kalian kebelet pengen cepet ‘smart’ tanpa baca bukunya) supaya mereka tak perlu banyak-banyak menjelaskan lagi – which is still bad, karena film haruslah bisa bercerita tanpa suplemen lain. Kalopun ada kesimpulan, maka itu adalah bahwa film ini membuktikan novel karya Herbert memanglah tidak-bisa-difilmkan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for DUNE

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian perjuangan Paul adalah perjuangan Jihad?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

OLD Review

“The fear of old age disturb us, yet we are not certain of becoming old”

 

Pantai yang membuat orang-orang di dalamnya menua dengan cepat. Premis film terbaru M. Night Shyamalan ini memang menarik. Ia mengadaptasi cerita tersebut dari Sandcastle, graphic novel yang memorable karena menggali hal yang gak banyak dieksplor pada media tersebut; meditasi tentang kematian yang pasti akan datang. Ngomongin soal memorable, Shyamalan sendiri sangat diingat oleh penggemar film. Sebagai pembuat twist super-gak-ketebak. Twist ciptaan Shyamalan enggak cuma sekadar pengungkapan yang membelokkan film dengan drastis, melainkan bertindak sebagai membingkai ulang keseluruhan cerita. Film yang tadinya seperti cerita horor, ternyata cerita drama. Film yang tadinya seperti cerita survival, ternyata cerita superhero. Sedemikian dahsyatnya twist yang ia buat, enggak setiap saat film-filmnya disukai oleh semua orang. Kebanyakan cenderung membagi dua penonton. Suka. Dan benci.

Untukku, aku masih melihat Shyamalan sebagai salah satu inspirasi membangun atau mendesain cerita, meskipun gak semua filmnya aku suka. Beberapa filmnya memang malah konyol sekali. Dan Old kali ini, aku menemukan satu twist atau satu misteri yang aku yakin gak diniatkan oleh Shyamalan. Yaitu film ini harusnya adalah tentang orang-orang yang mendadak menjadi tua, tapi kenapa justru aku yang merasa telah kehilangan waktuku yang berharga saat menonton mereka.

old-2021-film-still-01
The twist is getting old fast.

 

Memasukkan twist ke dalam cerita pantai misterius, tak pelak adalah sebuah langkah yang overkill. Materi aslinya , si Sandcastle sendiri, sebenarnya memang tidak punya twist. Ceritanya berlangsung linear, senatural yang bisa dicapai pada cerita tentang orang yang bertambah tua setahun hanya dalam rentang setengah jam. Landasan cerita film Old pada awalnya memang cukup nurut pada cerita asli tersebut. Guy beserta istri dan sepasang anaknya yang masih kecil (6 dan 11 tahun) berlibur ke sebuah resort. Di sana mereka ditawari paket liburan privat ke pantai tersembunyi yang cantik dan bersih sekali. Besoknya, Keluarga Guy beserta beberapa keluarga atau pasangan turis lain berangkat ke sana (diantar oleh Syhamalan himself yang main jadi supir hihi)  Setelah beberapa saat bersenang-senang di pantai sepi kecuali oleh deburan ombak (yang membuatku semakin meratapi keadaan lockdown), Guy dan turis-turis lain mulai mendapati ada yang aneh. Mereka gak bisa keluar dari sana – setiap kali jalan lewat gua tempat masuk, mereka pasti terlempar dan pingsan di pinggir pantai. Mereka menemukan barang-barang bekas turis yang ditinggalkan begitu saja. Mereka juga menemukan mayat seorang wanita. Dan ketika Guy dan istrinya kembali untuk menenangkan anak-anak mereka, mereka mendapati anak-anak itu tidak lagi diperankan oleh Nolan River dan Alexa Swinton yang imut-imut, melainkan oleh Alex Wolff dan Thomasin McKenzie! Amit-amit? tentu tidak.. kalo perubahan jadi dewasa itu tidak terjadi hanya dalam rentang waktu beberapa menit!!

Di sinilah Old mulai menjauh dari Sandcastle. Tentu saja, dalam setiap film adaptasi, gagasan maupun gaya sutradara amat sangat diapresiasi kehadirannya untuk membuat film itu menjadi satu objek unik tersendiri. Tapi untuk kali ini, pilihan Shyamalan patut kita pertanyakan. Alih-alih membuat cerita yang fokus ke membahas persoalan menghadapi umur tua yang dipaksakan menjadi sangat cepat datangnya, membahas drama anak yang lantas tumbuh besar sementara orang tua mereka tumbuh.. tua, membahas ketakutkan manusia terhadap kematian yang memang bakal datang — you know, horor manusiawi seperti yang benar-benar menjadi sorotan pada materi aslinya, Shyamalan malah lebih banyak berkonsentrasi pada bagaimana menutup cerita dengan wah. Twist seperti apa yang bakal ia pakai untuk membuat cerita jadi logis, berdasarkan logika-dalam yang ia bangun. Sehingga ia mengarahkan penceritaan ke membuat kita ikut bertanya-tanya, tidak lagi untuk membuat kita berkontemplasi atau ikut merasakan situasi horor yang dialami oleh karakter-karakter. Penjelasan-penjelasan dan penyelesaian yang akhirnya disajikan oleh Shyamalan membuat pesan atau bahasan terkuat yang dimiliki oleh cerita ini jadi kehilangan power. 

Yang tentunya jadi counter-productive. Film ini harusnya lama berkutat di karakter-karakter. Anak 6 tahun yang tiba-tiba jadi remaja, penuh gelegak hormon. Orang dewasa yang tiba-tiba merabun. Ibu yang kehilangan anak. Cerita ini didesain untuk cerminan kita mengarungi peristiwa-peristiwa natural dalam kehidupan – kematian dan kehilangan. Penuaan. Sesuatu yang kita takuti. Film ini mengajukan keadaan ketika hal yang ditakuti tersebut semakin dipaksakan ke hadapan kita. Bagaimana kita menyingkapi kematian jika kita belum siap. Berapa lama yang kita butuhkan untuk siap. Semua yang thought-provoking itu lost in the shuffle saat film dengan kecepatan mantap membawa kita dari satu contoh peristiwa penuaan ke peristiwa lain. Menggiring kita dari satu contoh kasus ke kasus lain, begitu saja tanpa banyak waktu untuk membiarkan peristiwa tersebut tenggelam dan meresap.

Sebagai manusia, menjadi tua adalah hal yang menakutkan bagi kita. Tua identik dengan kematian, dengan kelemahan. Kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya menjadi tua adalah sebuah privilege. Yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Karena usia tidak ada yang tau. Bisa hidup sampai tua berarti kita diberikan anugerah untuk merasakan dan mengalami lebih banyak. Lebih lama. Makanya hal yang terjadi pada karakter di film Old ini sebenarnya adalah hal yang sangat mengerikan. Karena di pantai itu, mereka menjadi tua tanpa mendapat keuntungan atau privilige dari proses tua itu sendiri.

 

Secara visual pun begitu. Padahal ada begitu banyak hal-hal menarik yang terjadi. Ada karakter dengan tumor yang tumbuh dengan cepat. Ada karakter anak yang jadi remaja, kemudian dia hamil. Ada karakter satu lagi, yang punya kondisi kekurangan kalsium. Ada juga karakter yang diam-diam mengidap schizophrenia. Kondisi-kondisi itu mestinya digali, digunakan maksimal untuk menguatkan elemen horor pada film. Entah itu horor psikologis, maupun horor yang lebih eksplisit seperti body horror. Sekali lagi, modalnya ada. Rule di pantai itu adalah luka di tubuh akan cepat sembuh merapat kembali. Jadi kalo ada yang dioperasi, maka luka dia harus ditahan – dipegang oleh jari jemari orang-orang di sana. Kurang gross apa lagi coba. Tapi mungkin karena sensor rating atau apa, film ini gak mau jor-joran menjadi body horror ataupun nunjukin hal-hal  yang benar-benar bloody ataupun mengerikan. Hanya ada satu momen yang cukup ngeri, yaitu saat nampilin karakter yang tubuhnya ‘tergulung-gulung’. Selain itu ada juga beberapa yang memang diolah untuk advantage film, seperti memilih untuk tidak memperlihatkan mayat (diserahkan kepada imajinasi kita sehingga lebih seram), tapi pada sebagian besar hal, film seperti melewatkan kesempatan untuk berhoror ria. Ketika ada orang yang dibunuh karena ditusuk-tusuk oleh pisau kecil, misalnya. Seharusnya rule soal luka yang segera menutup itu dimainkan, karena pasti pembunuhannya bakal lebih sadis – karakter harus membunuh melawan kekuatan pulau yang menyembuhkan luka. 

Semuanya hanya menyentuh permukaan. Kejiwaan karakter memang tidak dibahas mendalam. Konflik atau drama pada keluarga Guy saja hanya diperlihatkan seadanya. Lewat momen-momen yang ditanam, tapi karena semua hal lainnya gak dalem, jadi terlihat sangat obvious. Dan parahnya juga terlihat kikuk. Aktual dialog karakter di film ini di antaranya ada yang semacam “Eh aku mau ngomong”, “Apa?”, “Nanti deh. Gajadi.” Dialog-dialog di sini banyak yang aneh kayak gitu. Karakter-karakernya seperti mengumumkan, ketimbang seperti ngobrol beneran. “Wah, sekarang aku merasa lebih baik”, coba ucapkan kalimat tersebut dengan nada antara senang tapi kondisimu memprihatinkan. Ya, gak natural. Begitulah dialog-dialog film ini terasa (dan kalimat contoh tadi juga beneran ada di film!). Tambahkan gerak kamera dan blocking yang sama anehnya; Shyamalan sering sekali menggunakan kamera memutar, memperlihatkan karakter-karakter yang berdiri kebingungan, posisi mereka seperti mengelilingi kamera. Kalo enggak memutar begitu, Shyamalan akan menyuruh kamera ‘berjalan’, sementara karakternya kayak berbaris ke samping, dengan posisi orang yang berikutnya selalu berada beberapa senti di belakang orang sebelumnya. It is just weird. Gerakan, posisi, dialog, semuanya kayak dibuat-buat. Mungkin pak sutradara bingung bagaimana merekam adegan di pantai kecil, jadi supaya gambarnya gak keliatan gitu-gitu melulu maka ia menggunakan blocking dan kamera movement yang aneh-aneh. 

Old-Movie
Bayangkan kalo si Trent nanya nama dan pekerjaan ke SJW. Hmm, bisa viral kau, Nak!!

 

Itu belum apa-apa dibandingkan penulisan karakternya sendiri. Dibuat simpel sekali. Karakter mereka adalah pekerjaan mereka. Istri Guy bekerja di museum, jadi nanti karakternya akan bicara soal skala waktu. Guy bekerja sebagai orang survei keamanan, jadi dia akan bicara soal statistik atau persentase keselamatan, like, nyuruh anak-anaknya berhenti berlarian dengan menyebut angka kecelakaan sebanyak sekian persen. Nice, orangtua memang gitu kok kalo bicara ama anaknya.. orangtua di dunia paralel haha! Geliat craft dan kreasi Shyamalan, bagaimanapun juga, masih keliatan. Karena dia menggunakan berbagai pekerjaan karakter tersebut sebagai cara para karakter bekerja sama, berusaha figuring out apa yang terjadi di pantai, dan bagaimana mereka bisa keluar dari sana. Dalam kata lain, pekerjaan mereka memang vital untuk diketahui. Hanya saja, cara mengetahuinya itu yang begitu simpel sehingga jadi eksposisi yang konyol. Jadi diceritakan, anak bungsu Guy yang bernama Trent punya hobi nanyain nama dan pekerjaan setiap orang dewasa yang ia jumpai, “Halo, siapa nama dan apa pekerjaan Anda?” Aku gak tau apakah itu dimaksudkan sebagai cute, atau memang ada anak di luar sana yang perangainya kayak gitu, tapi untukku, ya itu sungguhlah sebuah trait anak yang tak-lumrah. 

Shyamalan seperti berusaha keras memastikan narasinya logis. Jadi dia benar-benar menanamkan jawaban, menyimpan hal-hal penting, fenomena pantai tersebut pengen dia beri makna. Twist film benar-benar menjawab rapi semua itu. Kita akan tahu kenapa mereka dipilih ke pantai. Apa sebenarnya fungsi pantai itu. Siapa dalang di baliknya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang jadi concern terbesar film itu. Bukan lagi permasalahan karakter. Ada, tapi jadi nomor dua. Ketika film menemukan hal yang tak bisa mereka jawab, seperti kenapa rambut dan kuku tidak ikut tumbuh dengan cepat sedangkan seorang mayat bisa dengan cepat berubah menjadi tengkorak, atau bagaimana nanti jika ada bayi yang lahir di pantai, atau kenapa orang bisa pakai nama mobil sebagai nama-artis lol, maka film dengan cepat nge-gloss over. Hanya memperlihatkan dan tidak membahas lebih lanjut. Dengan sangat cepat, kayak takut penonton sadar dan mempertanyakan. Soal bayi itu aja, karena gak mau ribet, film membuat bayi itu mati gitu aja dengan alasan ‘kurang mendapat perhatian’. Udah kayak bayi tamagotchi!

See, concern film ini gak inline dengan concern kita, penonton mereka. Kita gak akan peduli sama pantai itu jika tidak diarahkan ke sana. Kita akan lebih peduli sama karakter-karakter. Sama apa yang terjadi kepada mereka. Sama perjuangan mereka untuk berusaha keluar, atau bertahan hidup di sana. Sama bagaimana mereka menyelesaikan masalah personal setelah belajar dari apa yang mereka alami selama di pantai. Akan lebih memuaskan untuk mengalami journey karakter, merasakan masalah mereka kemudian berefleksi, ketimbang mengetahui penjelasan apa sebenarnya yang terjadi di pantai itu. Dan kupikir juga toh lebih mudah menggali karakter yang manusiawi, ketimbang come up with story tentang pantai ternyata eksperimen tukang obat dan segala macem penjelasan-penjelasan yang dipaksakan.

 

 

 

Jadi ya, menurutku Shyamalan telah salah pilih sejak awal. Cerita film ini adalah cerita yang kuat pada permasalahan karakter. Yang harusnya diselami adalah persoalan anak yang semakin dewasa sementara orangtua semakin menua, ketakutan manusia akan kematian, soal hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ini seharusnya adalah soal manusia melawan waktu. Tapi, Shyamalan dengan keahliannya meracik twist, membuat film ini sebagai kejadian yang harus dijelaskan kenapanya semata. Untuk melakukan itu, dia mengorbankan banyak hal. Dialog dan karakter yang natural, tone yang imbang, serta adegan horor yang harusnya bisa maksimal, di antaranya. Dan bahkan setelah semua yang sengaja dikorbankan tersebut, film tetap tidak bisa menjawab semua, karena masih banyak juga kita jumpai hal-hal yang tak terjelaskan, yang membuat kejadian-kejadian di film jadi terasa konyol.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for OLD.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Mengapa manusia takut sama menjadi tua?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

FEAR STREET PART 3: 1666 Review

“Intelligence is the biggest blessing that a human being has, but right now it has become a curse upon humanity”

 

Fear Street Part Three: 1666 seharusnya bisa jadi yang entry yang paling fresh karena sudah keluar dari bayang-bayang slasher 90an dan 70an yang menghantui dua bagian sebelumnya. Mustinya di film ini, sutradara Leigh Janiak bisa lebih leluasa mengepakkan sayap, mengembangkan period-horor supernatural, sebab cerita kali ini akan membawa kita mundur jauh ke belakang. Di mana tak banyak yang bisa mempengaruhi, kecuali mungkin horor-horor seperti The Witch (2016).  Yang juga mengusung tema penyihir, yang dikaitkan dengan posisi perempuan dipandang oleh pria. Film ini bekerja terbaik saat berusaha menggali soal tersebut. Akan tetapi, fungsinya sebagai pengikat dan penutup trilogi, membuat film tak bisa berlama-lama di sana. Dan justru membuat film ini jadi entry yang paling tak bisa berdiri sendiri.

Dan untuk membuat hal semakin parah, di bagian terakhirnya ini, film masih berkutat untuk membuat protagonisnya tampak relevan dengan mitologi dan semua masalah pada cerita.

So, here we go again!

Konsep yang dipakai film ini dalam membentuk ‘episode-episode’ triloginya mengangkat peristiwa masa lalu lebih dari sekadar flashback. Mereka adalah cerita tersendiri. Untuk mengikat itu semua, film menggunakan mitologi penyihir, yang harus dipecahkan misterinya oleh satu karakter yang merupakan perwakilan penonton dalam mempelajari apa yang sesungguhnya terjadi. Satu karakter itu adalah Deena. Dalam film ketiga ini, Deena memang akhirnya mendapat banyak porsi untuk beraksi dan menentukan pilihan, dialah yang tau dan mengungkap rahasia.

Setelah mengembalikan tangan yang hilang ke mayat Sarah Fier, Deena tertransport back ke tahun 1666. Tepat pada saat perburuan penyihir akan dimulai. Deena akan mengalami kejadian yang sama dengan yang dialami oleh Sarah Fier. Sayangnya bukan kejadian menyenangkan. Sebab penyihir yang diburu komunitas petani Union itu (sebelum mereka terpisah menjadi dua kota) memang adalah si Sarah Fier. Pada dua bagian sebelumnya, kita telah mendengar begitu banyak tentang urban legend penyihir bernama Sarah Fier. Mitologinya, kutukannya, dan akhir hidupnya sampai-sampai dijadikan lagu anak-anak di kemudian hari. Sekarang, kita akan dikasih lihat bagaimana Sarah Fier saat masih hidup di tahun 1666, di masyarakat Puritan yang masih bersatu, tapi masih sangat terbelakang. Selagi Sarah nantinya akan bertemu dengan nasib yang tragis, Deena belajar tentang kenyataan di balik kutukan yang membuat kota tempat tinggalnya, Shadyside, menjadi kota penuh pembunuhan. Tidak seperti Sunnyvale yang makmur. Kenyataan itulah yang nanti digunakan Deena untuk menghancurkan musuh sebenarnya dan membebaskan seantero kota dari kutukan.

fearstreet3
Apa mungkin harus ganti pemimpin?

 

Namun tugas krusial film bukan sebatas menetapkan apa yang harus dilakukan oleh Deena, tapi tentu salah satunya juga adalah untuk dapat menjelaskan kepentingan Deena di dalam semua cerita in the first place. Bagaimana dia bisa terkonek dengan semua. Kenapa mesti Deena, kenapa bukan karakter lain seperti Ziggy. Dan di titik inilah, di fondasi awalnya inilah, Fear Street Part Three – kalo gak mau dibilang keselurahan trilogi ini – falls apart.

Deena, yang menghabiskan seantero film bagian pertama dengan running around mencari kerelevanan dirinya dengan mitologi, tentu saja by the law of screenwriting akan secara ajaib diungkap related dengan penyihir Sarah Fier. Sebagaimana yang akan kita lihat pada bagian ketiga – dan terakhir – trilogi ini. Deena menjadi Sarah Fier. Yang pada era terbelakang itu dituduh sebagai penyihir, karena dia perempuan yang mandiri, capable, pintar. Dan ya, karena dia adalah perempuan yang suka sama perempuan. Inilah satu-satunya koneksi antara Deena dengan Sarah. Mereka sama-sama lesbian. I was right saat mengatakan di review film bagian pertama, bahwa sexual preference Deena begitu ditonjolkan karena itulah satu-satunya karakterisasi yang dia miliki. Tapi tentu saja aku enggak bilang kalo lesbian itu adalah karakterisasi yang buruk untuk protagonis perempuan. Hanya saja, punya karakterisasi yang sama dengan Sarah Fier tersebut tetap bukanlah alasan yang kuat untuk menjawab pertanyaan ‘kenapa mesti Deena’ itu tadi. I mean, masa iya cuma Deena lesbian yang lahir di Shadyside dalam rentang tiga ratus tahun itu. Relasi ini terlalu lemah. Deena harusnya punya relasi yang lebih kuat lagi kepada Sarah Fier.

Dan padahal film ini punya banyak kesempatan untuk membuat relasi tersebut lebih kuat. Kenapa mereka tidak membuat Sarah Fier sebagai leluhur Deena saja. Akan bisa lebih tragis. Karena kisah cinta Deena dengan Sam akan naik status menjadi sebuah takdir, karena Sarah juga jatuh cinta sama karakter yang sepertinya adalah leluhur Sam. It also would make more sense, karena memang pada bagian cerita di tahun 1666 itu kita melihat karakter-karakter yang telah muncul pada dua film sebelumnya, ada sebagai karakter lain yang merupakan leluhur mereka. Ada Berman, ada Goode, ada teman-teman Deena tahun 1994 – mereka semua diperankan oleh aktor yang sama dengan yang memerankan karakter mereka sebelumnya. Tapi Deena dan Sarah Fier diperankan oleh dua aktor yang berbeda; Kiana Madeira dan Elizabeth Scopel. Kita tidak melihat ada Deena yang lagi jadi Sarah Fier, bertemu dengan Deena versi 1666 di dunia itu. Padahal adik Deena dan adik Sarah Fier di situ diperankan oleh aktor yang sama (I find it even funnier because I’m not sure if the ‘real’ Sarah Fier a black person or not). Kalopun memang Sarah Fier bukan leluhur Deena, kenapa saat cerita bagian ini yang kita lihat itu tidak tetep Sarah Fier yang asli aja? Jadi keberadaan Deena yang ‘didempetkan’ dengan Sarah Fier benar-benar messed up. Benar-benar terasa seperti film try too hard untuk meyakinkan kita bahwa Deena punya tempat di cerita ini.

Aku lebih prefer kalo protagonis utama cerita ini adalah Britta.. eh, Ziggy. Karena dialah yang telah benar-benar kehilangan. Benar-benar kena dampak kutukan. Ziggy punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh Deena. Koneksi personal ke ‘pelaku yang sebenarnya’, yang demikin terestablish dari film sebelumnya. Atau, bikin saja Sarah Fier asli yang jadi tokoh utama kali ini. I mean, dari posternya aja udah make sense. Udah keliatan kalo sebenarnya lebih cocok Sarah Fier beneran, bukan Deena. Bagian pertama tentang Deena, bagian kedua tentang Ziggy, dan bagian ketiga? Randomly leluhur Sam yang mejeng, padahal dia bukan karakter utama. Padahal sudah jelas cerita kali ini akan membahas kehidupan Sarah Fier.

fear1a182f032558b368568ecd4a02ad3019
Satu lagi dosa film ini adalah tidak nongolin kembali Maya Hawke, kasih jadi siapa kek gitu di tahun 1666

 

Secara arc pun, Sarah Fier lebih kuat daripada Deena. Dalam cerita Sarah Fier, film men-tackle soal perempuan yang dituduh penyihir. Soal pria yang seperti tidak bisa menerima perempuan ternyata bisa lebih pintar dan capable daripada mereka. Soal hubungan asmara yang juga berarti bahwa perempuan ternyata bisa untuk ‘tidak butuh’ laki-laki. Sekalian juga memotret tentang betapa ketakutan bisa menyebarkan tuduhan bermacam-macam, dan kelompok orang yang ketakutan ternyata sangat mudah untuk diperdaya. Sarah Fier yang dianggap membawa kutukan dan memiliki sihir hitam, akhirnya mengembrace anggapan tersebut dengan memutuskan untuk benar-benar membawa celaka bagi para penuduh dirinya. Ini development yang tragis dan sangat personal. Aku benar-benar pengen cerita Sarah Fier ini dijadiin satu film beneran aja.

Dalam sebuah masyarakat terbelakang, kecerdasan bisa menjadi kutukan. Ini bukan soal perempuan bisa secakap atau malah lebih jago saja. Kita sendiri sekarang berada pada masa terbelakang versi modern. Karena sering kita lihat sekarang perkataan para ahli sering dibenturkan dengan perkataan ngasal, dan orang-orang lebih memilih percaya kepada yang ngasal. Karena kenyataan yang diberitahukan oleh yang ahli lebih mengerikan.

 

Coba bandingkan dengan cerita Deena – yang terus dipush oleh film ini. Kisah Deena itu gak ada apa-apanya. Sudah tiga film, tapi perkembangan karakternya nyaris nihil. Plot Deena bukan tentang dia berubah menjadi baik. Melainkan hanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dia bisa selamat. Perkara dia Shadysider yang muak sama kota juga diresolve dengan bukan sebagai pembelajaran bagi dirinya. Konflik Shadyside yang ternyata selama ini jadi ‘tumbal’ untuk kemakmuran Sunnyvale berakhir bukan dengan para penduduk akhirnya menghormati Shadyside (ingat, Sarah Fier harusnya adalah paralel bagi kota Shadyside), melainkan Sunnyvale akhirnya ada kecelakaan juga. Ini kayak, kita merasa lebih baik sekarang karena kau ternyata enggak seperfect itu.

Usaha film meng-immerse Deena sehingga seolah ini sepenuhnya adalah cerita miliknya pada akhirnya tetap sia-sia karena film harus tetap mengacknowledge bagian ketiga ini terdiri dari dua bagian. 1666 dan 1994 (lagi!) Ini menciptakan problema baru. Pada film kedua, bagian Deena untuk mengikat ke trilogi sangat sedikit sehingga bisa kita acuhkan, 1978 itu diceritakan full dalam tiga babak. Pada bagian ketiga ini, tidak seperti itu. Tidak benar-benar ada struktur tiga-babak di sini. Porsi Sarah Fier 1666 jatohnya tetap terasa seperti flashback yang sangat panjang, lalu cerita ini hanya punya satu jam lagi untuk mulai-dan-penghabisan.

Di saat-saat kayak ginilah, kekurangtajaman Janiak menghidupkan dunia terpampang nyata. Bagian 1666 dengan bagian 1994 tidak terasa banyak berbeda. Hanya setting dan visualnya saja. Tahun 1666 kayak orang modern yang lagi cosplay jadi orang jadul, karena pengarahan akting yang seadanya. Karakter-karakter remaja itu goyah sekali pada aksen dan mannerism, dan segala macam. Sedangkan pada bagian 1994, Janiak yang masih berniat untuk tampil trendi dengan neon dan segala macam, hanya punya walkman dan Konami Code sebagai pengingat kita akan periode yang sedang disaksikan. Karakter-karakter yang tersisa pun tak ada yang bisa kita pedulikan, kecuali Ziggy, yang berusaha dimentahkan oleh film demi Deena.

 

 

Untuk aspek horor bunuh-bunuhannya, aku gak akan bilang banyak. Karena itulah yang satu-satunya dipunya oleh film sebagai hiburan yang membuatnya mengasyikkan. Aku akan membiarkan mereka untuk kalian nikmati sendiri. Aku cuma akan bilang, porsinya gak banyak, tapi masih setara-lah kesadisannya dengan dua film sebelumnya. Ada juga aksi yang melibatkan strategi keren melawan bala tentara pembunuh psikopat, yang buatku mixed feeling karena aku masih melihat rule yang ditetapkan film ini gak konsisten. Tapi secara keseluruhan film berhasil menutup trilogi ceritanya dengan sebuah penyelesaian. Secara cerita, satu jam pertama film ini lebih bisa dinikmati ketimbang film pertama. Meskipun posisinya sebagai film itu sendiri adalah yang paling goyah di antara yang lainnya. It is less than a movie. Seharusnya ada cara yang lebih baik lagi untuk membuat konsepnya immersive dengan cerita. Tapi, ini udah gak tertolong, karena sudah dikutuk, eh salah, desain seperti itu.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for FEAR STREET PART 3: 1666

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian setuju bahwa pada kondisi pandemi yang makin parah sekarang, para nakes dan para ahli sudah sama nasibnya seperti pada orang-orang yang dicurigai penyihir alias dianggap berbahaya, dibandingkan omong kosong para influencer atau pihak yang menganggap semua baik-baik saja?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

[Reader’s Neatpick] – THE WHITE TIGER (2021) Review

“Yang jelas setelah nonton film ini aku jadi ngerasa lebih bersyukur aja tinggal di Indonesia 😆” – Farrah Caprina, yang boleh disapa di akun instagramnya; @farrahcaprina

Sutradara: Ramin Bahrani
Penulis Naskah: Ramin Bahrani
Durasi: 2jam 5menit

 

Bukan, ini bukan film tentang bangsa kucing di dunia satwa. The White Tiger ini adalah film India. Tapi bukan pula film India yang banyak tari-tariannya.  Sama seperti pada novel karangan Aravind Adiga yang jadi sumber adaptasinya, The White Tiger adalah sebuah komedi gelap tentang pemuda bernama Balram. Yang sukses jadi enterpreneur, meskipun berasal dari kasta terendah. “Kasta orang-orang berperut kecil”, ungkap Balram muram dalam salah satu dialog narasi. Balram sedari kecil memang cukup pintar, tetapi seperti abang, ayah, dan anggota keluarganya yang lain, pendidikan bukan untuk Balram. Tempatnya justru di pinggiran. Bekerja kasar. Kesempatan besar pertama untuk mencicipi sedikit gaya hidup orang-orang berperut besar bagi Balram, adalah dengan menjadi supir bagi mereka yang berprivilese tersebut. Dengan gigih Balram mengusahakan keinginan tersebut; dia belajar mengemudi, dia memohon dan berjanji kepada neneknya untuk dimodali. Dan ya, Balram berhasil dipercaya menjadi supir untuk Ashok, anak orang-gede pemimpin (pemalak) desa mereka. Dari Ashok, Balram memperoleh banyak. (Mind you, Balram mengambil. Bukan diberi). Pengalaman, pengetahuan, dan bahkan sesuatu yang jauh lebih gelap – yang ultimately jadi kunci kesuksesan Balram. Pemuda yang pada akhirnya memenuhi ‘takdirnya’ sebagai Harimau Putih; spesies langka yang menerobos keluar dari kandang ayam!

 

“Cerita film ini menarik banget, banyak hal tentang India yang baru aku tau lewat film ini. Tapi, sejujurnya nonton film ini tuh, aku draining banget. Makanya waktu mau ikutan ngulas film ini sama mas Arya, aku kan akhirnya nonton lagi. Dan pas nonton untuk kedua kalinya, ya makin draining karena aku makin mendalami karakter Balram jadinya. Kalau dilihat dari impactnya ceritanya ke aku, film ini mirip kayak Dementor-nya Harry Potter 😆

“Hahaha udah bukan jadi harimau putih lagi ya, tapi jadi dementor. Memang sih, kelamnya cerita film ini memang datang dari keironisan kesuksesan si Balram. Pemuda yang berjuang mendobrak kasta yang udah mendarah daging, yang udah dibeat-downkan kepadanya, dengan cara yang – katakanlah – tidak terpuji. Kita ingin dia berhasil, namun satu-satunya cara keluar baginya itu justru cara yang mengerikan. Film ini really speaks soal kebobrokan semua sistem; kasta, kapitalisme, status sosial yang ada di India. Keironisan ini mungkin yang bikin film ini tu kayak nyedot semua bahagia kita”

“Aku melihat film ini gabungan antara Joker dengan Parasite, ya. Permasalahan ekonominya lebih seperti Parasite, tapi perspektif penceritaannya seperti Joker.”

“Kalo Joker, nontonnya aku gak se-wow ini, sih. Soalnya kan, sedari awal aja kita udah Joker itu jahat. Oh ini film tentang musuh Batman yang sinting. Jadi saat nonton, rasanya ya cuma ‘oh dulunya dia baik’. Beda efeknya dengan pas nonton The White Tiger ini. Balram tidak diubah oleh society, justru dia yang pengen mengubah. Tapi jalan satu-satunya untuk mencapai ‘India Baru’ yang ia percaya, jalan satu-satunya dia untuk bisa sukses, ternyata dengan melakukan hal terburuk.  Buatku ada permainan simpati yang lebih menohok dilakukan oleh film ini.”

“Aku melihat karakter Balram cukup arogan sebenernya. Dari cara dia bercerita kepada PM Cina, awalnya aku iba sekaligus prihatin, dan sangat berpihak kepada Balram. Mulai di pertengahan film, aku melihat sosoknya berubah jadi licik. Simpatiku ke Balram hanya sampai dia berusaha mengejar impiannya menjadi supir pribadi Ashok aja. Setelah dia mulai menyingkirkan supir pertama, menurutku dia udah dikuasai sama ambisinya. Jelas semua tindakan liciknya tidak pantas diberikan pembenaran, karena menurutku kehidupan Balram nggak 100% sedih & underpressure terus. Dia masih banyak mendapatkan kebaikan dari lingkungannya (seperti nenek yang mengizinkan dia mengejar impian menjadi supir tuan tanah, atau majikan yang memperlakukan dia selayaknya manusia), dan aku yakin dia masih bisa kok mendapatkan those ‘lightness’ dengan cara yang benar. “

“See, Balram ini lebih kompleks. Dia membunuh. Dia bahkan ngorbanin keluarga besarnya. Dan film membuat itu semua seperti terjustifikasi, dengan menempatkannya sebagai sudut pandang Balram. Penceritaan film ini dibangun dengan konsep Balram menceritakan ulang kisah hidupnya (lewat surat) kepada Perdana Menteri Cina yang bakal berkunjung ke India. Memperlihatkan ini sebagai narasi tubuh cerita, di awal itu langsung terlandaskan motivasi si Balram bercerita itu sebagai ambisinya, dan dari cara dia mengungkapkan kita merasakan ada kemarahan terhadap segalanya”

“Menurutku motivasi Balram menulis surat ke PM China, ya hanya memenuhi egonya aja. Penceritaan film dengan cara seperti ini menurutku cukup efektif, tetapi memang ada beberapa adegan yang menurutku blurry. Karena aku enggak melihat sudut pandang orang lain, selain Balram himself. Tidak ada momen khusus yang membuatku kesulitan untuk membedakan ini kejadian beneran atau nggak, tapi menurutku lebih ke sikap beberapa karakter yang diceritakan Balram aja. Apakah memang benar-benar setega itu. Atau memang hanya di fikirannya aja.”

“Nah, bener, menurutku di sinilah sedikit kelemahan dari konsep penceritaan film ini. Mereka mempersembahkan masalah yang ingin disinggung – yang mungkin benar terjadi, ketimpangan, ketidakmanusiawian orang kaya atau majikan, dan sebagainya itu, tapi memuatnya ke dalam perspektif karakter yang juga dibuild up nekat melakukan apapun untuk membebaskan dirinya dari ‘kandang ayam’. Ke perspektif karakter yang sedang menarik perhatian ‘orang kaya berikutnya’ lewat surat. Jadi buatku ada sedikit masalah narator yang unreliable di film ini. Sehingga apa yang dilakukannya pun, jadi dipertanyakan”

“Entah. Menurutku tidak ada yang dapat dibenarkan dalam membunuh seseorang, nggak peduli seburuk apa perlakuan orang tersebut. Walaupun aku nggak membenarkan juga sikap majikan-majikan di India yang memperlakukan pelayannya dengan tidak manusiawi. Menurutku hubungan antara pembantu dengan majikan baiknya ya saling menghormati satu sama lain, dan nggak membedakan, tapi tetap ada batasan yg dijelaskan di awal. Jadi hak dan kewajibannya jelas. Karena sesungguhnya pembantu dan majikan ini menurutku sama aja kayak karyawan dan atasan dalam perkantoran, hanya beda penempatan aja, satu dalam gedung, satu dalam rumah.”

“Lucu sih bagaimana film menilik Balram lewat hubungannya dengan majikan-majikannya. Ada yang kasar, tapi ada juga yang simpatik. Kayak Ashok dan Pinky, yang berjiwa Amerika. Awal-awal pas ngeliat Ashok pertama kali kan, film ini ngasih treatment yang kayak seseorang melihat orang yang didamba banget. Balram ngeliat Ashok itu pakek slow-motion segala. Hubungan mereka juga up-and-down kayak sahabat akrab, kan.”

“Pinky FTW!!!! Aku bisa ngerasain banget keinginan dia buat memperbaiki sistem kasta di India. Padahal menurutku di sini yang salah bukan sistem kastanya, tapi memang individualnya, dan segala permasalahan ekonomi yang sudah menahun. Seperti Balram, dia sudah diberikan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke Delhi, despite kastanya adalah kasta rendah, tetapi, karena faktor ekonomi, Balram dipaksa untuk berhenti bersekolah dan bekerja. Makanya adegan saat Pinky menyuruh Balram untuk berhenti bekerja dan mengejar pendidikan terlebih dahulu, dan juga menyuruh Balram untuk berkeluarga (in a good way of course, bedakan tentang neneknya Balram yg menjodohkan dia dengan paksa). Aku jadi makin cinta sama karakter Pinky ini setelah itu. Yang mana juga adegan favorite ku, karena kayak flashback aja waktu awal cerita pas Balram kecil masih rajin belajar, paling pinter satu kelas, & dijanjikan beasiswa ke Delhi. Di adegan ini, Balram pun sudah berada di Delhi, tapi sebagai pelayan. Cuma saat disuruh kejar pendidikan oleh Pinky, dia malah menolak. Berbeda banget, padahal masih orang yg sama🥲”

“Pinky dan Ashok memang sepertinya diniatkan oleh film ini sebagai usaha yang futile. Karena yang rusak itu memang sistemnya. Sudah tidak tertolong, tanpa hal ekstrim. Apalagi oleh orang luar semacam Pinky dan Ashok. Mereka ini tu kayak keluarga kaya di film Parasite. Mereka enggak jahat, tapi mereka juga gak tau keadaan sebenarnya semacam apa di bawah, atau terms film ini; di darkness sana. Mereka ‘hanya’ orang berprivileged yang lebih sopan. Dan lebih terbuka. They do have to realized that they can’t really help.”

“Iya, aku sempet berharap banyak sama Pinky, tapi sayang dia pun gak kuat menghadapi segala problematika di India. Walau terkesan agak SJW, tapi gak bisa dipungkirin Pinky ini karakter yang paling manusiawi disini (bahkan lebih manusiawi daripada nenek kandung Balram sendiri menurutku) Dan Pinky sedikit banyak menularkan ‘hal baik’ ini ke Ashok. Menurutku keberadaan Pinky dan Ashok difilm ini menganalogikan bahwa tidak mudah mengubah sesuatu yang sudah berlangsung sekian lama, bahkan di akhir cerita saat Pinky memutuskan menyerah dan meninggalkan India, sifat Ashok malah berubah menjadi seperti majikan India yg lain.”

“Kalo si Pinky tau apa yang terjadi pada Balram dan Ashok. Kira-kira gimana ya reaksinya? Si Balram kan sudah ngikutin nasihatnya untuk berani mengejar kehidupan sendiri. Tapi Balram melakukan itu dengan… ahahaha pait!”

“Pertama kali, pasti Pinky nangis, dan memaki Balram. Tapi setelah Balram menjelaskan apa yg dilakukan Ashok & Keluarga ke dia, menurutku Pinky open minded enough untuk memaklumi apa yang Balram lakukan. Ditambah sekarang Balram udah sukses dan memperlakukan karyawannya dengan baik (tidak seperti Ashok & keluarga). Cuma mungkin ke depannya Pinky gak akan menjaga silaturahmi ke Balram, dan gamau berurusan sama dia lagi.”

“Akhirnya, si Balram jadi majikan untuk banyak sopir-sopir India kelas bawah yang ia pekerjakan di bisnis travel. Ending ini sekilas kayak bermuatan optimis. Balram berhasil membuat hidup lebih baik, berhasil memajukan India menurut dirinya. Tapi, dengan segala yang ia lakukan, dengan reaksi PM Cina yang juga biasa aja padanya, buatku cukup susah untuk menempatkan Balram ke kata berhasil. Lagipula, shot akhir ini agak ngeri juga sih, pakek liatin para supir menatap kamera. Seolah ngingetin kita bahwa mereka itu hanyalah ‘Balram-Balram’ lain yang menunggu untuk terjadi. For better and worse.”

“Semakin ngeri :’) Aku melihat pesan Balram di akhir cerita terlalu brutal, kayak, its ok to kill your masters & not feeling guilty after all. Wow.”

“Dan bagaimana dengan Indonesia? Dalam bisnis dan dunia global, Balram percaya masa depan adalah milik India dan Cina, sementara Amerika hanya akan sibuk dengan sosial media. Indonesia kok gak dianggep sih? Gimana nih si Balram, kayak gak tau aja kita bersaing ketat ama India dalam penanganan Corona Terburuk hahaha”

“Indonesia mungkin masih akan sibuk dengan perbedaan pendapatnya😆 Tetapi on the other hand, at least mindset orang-orang Indonesia lebih sedikit terbuka daripada orang India, dan kesempatan untuk menjadi sukses di Indonesia ini banyak banget, karena masyarakat Indonesia setidaknya sudah lebih akrab dengan internet dibanding masyarakat India.”

“Di sini kita juga ada sistem kasta loh. Pejabat dulu. Baru Influencer. Baru orang edan, lalu ilmuwan, dan setelah bertingkat-tingkat, baru deh rakyat jelata hahahaha… Anyway, Mbak Farrah ngasih nilai berapa nih untuk film The White Tiger ini?”

“Mungkin 6. Karena pertama kali aku nonton film ini, kayak terlalu banyak narasi, baru bener-bener seru hanya di 30 menit terakhir film, dan entah kenapa endingnya kurang bagus menurutku.”

“Cukup setuju sih. I do think film ini kelamaan di ngeliatin ‘penderitaan’ Balram dan back-and-forth hubungannya dengan Ashok. Banyak adegan-adegan yang feelnya ngena banget – favoritku pas si Balram dipermainkan emosinya sebagai manusia supaya mau tandatangan untuk sesuatu yang tidak ia lakukan, tapi banyak juga adegan yang bikin ‘ini beneran terjadi atau cuma Balram lagi ngasih tau kita’. Dan kesuksesan Balram dibuat juga terlalu cepat. Kayak, terlalu literal dia sukses dengan membunuh. Gitu. Jadi aku ngasih 7 dari 10 bintang emas untuk The WHITE TIGER!”

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat mbak Farrah Caprina udah berpartisipasi untuk mengulas film ini. Udah rela meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan seabreg. Dan tentunya terima kasih yang telah ‘memaksa’ aku untuk akhirnya mau menonton film ini.

 

Buat para Pembaca yang punya film yang ingin dibicarakan, yang ingin direview bareng – entah itu film terfavoritnya atau malah film yang paling tak disenangi – silahkan sampaikan saja di komen. Usulan film yang masuk nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

FEAR STREET PART 2: 1978 Review

“Beware of that monster called ‘self-loathing'”

 

Bagian kedua dari trilogi Fear Street garapan Leigh Janiak mengambil tempat pada sebuah perkemahan musim-panas tahun 1978. Kemah musim-panas sendiri memang tahun 80an sudah menjadi staple dalam cerita-cerita horor Amerika, termasuk dalam film dan dalam cerita-cerita karangan R.L. Stine sendiri. Dalam seri Goosebumps originalnya aja ada tujuh cerita yang berset di kemah musim-panas. Sehingga tentu saja makes perfect sense jika Fear Street melangkahkan kaki ke sana. Membuat cerita perkemahan anak sekolah itu menjadi lebih sadis dan lebih berdarah-darah. Sesuai dengan ‘fitrahnya’ dalam jagat film horor. Kita tentunya tahu persis nama-nama kemah Crystal Lake, kamp Arawak, kamp Stonewater, Hurrah, beserta nama-nama pembunuh psikopat yang mengganas di masing-masingnya.

Kemah musim-panas adalah panggung bermain ideal untuk horor slasher, dan untungnya bagi Leigh Janiak, film-film tersebut tidak mengeset standar yang tinggi – paling enggak, tidak setinggi standar Scream yang berusaha dicapai (dengan gagal gemilang) oleh Janiak di Bagian Pertama Trilogi ini. Subgenre dari slasher 80an ini enggak harus cerdas. Enggak harus trendi. Untungnya bagi kita, Janiak kali ini paham mengenai advantage-nya tersebut. Dia menyuntikkan segenap hati pada cerita bunuh-bunuhan dan misteri supernatural. Membuat Fear Street Part Two sedikit lebih berbobot dan lebih gampang dinikmati daripada bagian sebelumnya.

fearstreethttps___netflixlife.com_files_image-exchange_2021_07_ie_70794-850x560
Kalo di kita, summer camp ini mungkin padanannya adalah pesantren kilat (?)

 

Pencarian kebenaran mitologi penyihir bernama Sarah Fier yang mengutuk kota Shadyside dengan serial-killer psikopat tak berkesudahan, membawa Deena (protagonis film bagian pertama) dan kita ke Camp Nightwing tahun 78 silam. Tepat beberapa saat sebelum kutukan penyihir itu menghantam, mewarnai kabin-kabin di tengah hutan itu dengan warna darah. Di masa lalu itulah kita bertemu dengan protagonis film bagian kedua ini. Dua kakak beradik Berman. Ada Ziggy, yang dibully oleh teman-teman dari Sunnyvale. Dan Cindy, yang bekerja sebagai pengawas perkemahan. Hubungan antara dua saudari inilah yang jadi hati dalam cerita. Karena hubungan mereka sebagai kakak-adik actually sangat tidak akur karena situasi keluarga, tapi mainly karena keduanya punya reaksi yang sangat bertolak belakang perihal dipandang kecil sebagai warga Shadyside. Ketika malam tiba, dan pacar Cindy disihir oleh kutukan sehingga menjadi Pembunuh Berkapak, Ziggy dan Cindy yang terpisah harus berusaha menyelamatkan diri sembari mencari cara untuk menghentikan kutukan tersebut. Berdua, atau tidak sama sekali.

Instantly, cerita yang jadi tubuh film bagian kedua ini terasa lebih kuat dan menarik dibandingkan film bagian pertama. Di sini kita dapat protagonis kakak-beradik yang berkonflik langsung dengan semuanya. Cerita ini sepenuhnya milik mereka. Ini bukan sekadar cerita survival dari pembunuh (yang kenal mereka secara personal), melainkan ada konflik sisterhood yang bisa kita pedulikan. Penulisan film kali ini bekerja dengan efektif mengaitkan karakter dengan bangunan mitologi, more importantly dengan kota yang menjadi bagian dari mitologi tersebut.

Soal kota tersebut actually adalah poin lemah pada bangunan film 1994. Film itu terlalu sibuk live it up ke slasher 90an sekaligus kepayahan untuk membuat protagonisnya tampak penting. Sehingga lupa untuk menghidupkan mitologi secara natural. Kebanyakan hanya lewat eksposisi, sedangkan kota Shadyside yang harusnya jadi karakter tempat mitologi tersebut bisa bersemayam dilewatkan begitu saja. Film 1978 kali ini, meskipun memang masih terdapat banyak eksposisi (kali ini tampak lebih natural karena hanya lewat buku catatan), tapi menyebut lebih banyak tentang bagaimana rasanya menjadi penduduk sebuah kota yang terkenal ‘sial’ karena banyak terjadi pembunuhan sadis. Film dengan bijak menggunakan setting kemah musim panas untuk melakukan hal tersebut. Kemah tersebut dihuni oleh anak-anak dari Shadyside dan Sunnyvale. Lewat interaksi para karakternya lah, kota-kota ini (terutama Shadyside) mulai terasa hidup sebagai karakter tersendiri. Kita melihat perbedaan status (dan bahkan nyaris perbedaan fisik) yang ditimbulkan oleh tinggal di kota tersebut. Setiap kali nama Shadyside disebut dalam perbincangan, kepercayaan kita akan kutukan dan ‘jelek’nya kota tersebut bertambah. Kita jadi seperti merasakan langsung pengaruh buruk kota tersebut kepada karakter-karakter penghuninya. Karena baik Ziggy, Cindy, maupun karakter pendukung seperti Alice dibuat punya kebencian dan ‘mekanisme bertahan’ sendiri terhadap status mereka sebagai warga.

Sadie Sink lebih beruntung dibandingkan alumni Stranger Things yang muncul di film 1994, karena dia mendapat peran yang lebih demanding secara emosi, dan literally lebih penting, pada film 1978 ini. Sebagai Ziggy, Sink harus memainkan angst remaja ke dalam note-note emosi yang intens. Ada kemarahan dan keputusasaan yang nyaris konstan harus dia keluarkan. Ziggy membenci fakta bahwa dia adalah warga Shadyside, dan tak ada yang bisa dia lakukan dengan hal itu. Dia hanya bisa menjadi diri sendiri, yang itu berarti dia harus dibully sepanjang waktu oleh anak-anak Sunnyvale. Dan ini membuatnya menjadi benci ama diri sendiri. Lalu datanglah kakaknya. Cindy (Emily Rudd diberikan karakter yang seperti ‘bermain’ dengan trope heroine slasher 80an), remaja baek-baek dengan kemeja polo putih sebagai lambang kemurnian atau kepolosan, atau apalah. Masalah Ziggy kepada Cindy adalah, kakaknya itu fake. Mencoba untuk menjadi seperti anak-anak Sunnyvale yang mentereng. Tapi tentu saja, sebenarnya ada alasan yang mengundang simpati juga kenapa Cindy memilih bertingkah ekstra-suci, tidak seperti sahabatnya, Alice, yang benar-benar embracing sisi gelap dari perkataan Sunnyvale seputar warga Shadyside.

Film bagian kedua ini memainkan konteks kota sebagai kutukan dengan lebih baik, karena semua ditempatkan ke dalam karakter. Manusia-manusia remaja dalam film ini semuanya membenci kota mereka. Bagi mereka melawan Sarah Fier adalah berjuang mengalahkan reputasi kota.  Ini membuat mereka lantas membenci diri mereka sendiri. Dan nantinya mereka harus menyadari, bahwa self-loathing itulah justru sebenarnya monster yang lebih berbahaya. Mereka akan menghancurkan diri sendiri jika terus berkubang di dalamnya. 

 

Untuk aspek horornya sendiri, film ini really embrace satu-serial-killer, dan juga tampak lebih fokus. Karena kesuperanaturalan cerita enggak jauh beda dengan monster-monster slasher seperti Jason Vorhees. Sama-sama inhuman. Dibandingkan film pertama yang tampil lebih blak-blakan dan kreatif, film kedua ini secara aksi tampil lebih tradisional. Penggal kepala dan beberapa yang seperti body-horror kayak tulang patah ataupun digerayangi lintah (dan berkecimpuk dalam kotoran) jadi sajian horor di sini. Tapi film ini justru membuktikan minimalis seperti demikian, bukan berarti tidak seram. Secara konteks justru sebenarnya lebih mengerikan, karena di sini yang dibunuhi dengan kejam pake kapak itu adalah anak-anak. Bahkan slasher 80an tidak banyak yang berani melakukannya, kebanyakan hanya menyerang remaja. Karena melibatkan anak-anak itulah, maka pembunuhan dalam 1978 ini banyak yang dilakukan di luar kamera. Tapi film memainkan semuanya dengan baik. Memperlihatkan potongan-potongan kecil anggota tubuh, membuat kita jadi membayangkan sendiri kejadiannya, and in a way, cara tersebut terasa lebih seram. Dan lebih membekas. 

fear-street-2
Adegan terakhir Ziggy dan Cindy aja udah no mercy banget

 

Apa lagi ya yang bisa kita bandingkan antara film ini dengan film pertama… oiya, keotentikan suasana. Buatku film 1994 itu gagal karena semua kemudahan dalam ceritanya malah membuat film terasa seperti sangat modern. Sementara itu, film 1978 ini punya keuntungan dari panggung kemah musim-panas tersebut. Secara kehororan, it is easier to replicate. Secara gimmick, juga enggak perlu banyak repot-repot. Film ini cukup memperlihatkan tape dan kaset berisi lagu-lagu 70an populer. Aku suka lagu-lagu rock semacam Cherry Bomb atau Carry On My Wayward Son, I mean who doesn’t. Tapi toh memang film ini terasa trying too hard untuk menghidupkan suasana, dengan memainkan lagu-lagu tersebut secara over. Yang gak benar-benar berhasil mereka perlihatkan alasan kenapa adegannya harus pakai lagu.

Fear Street 1978 adalah tontonan slasher ala 70-80an yang perfect, jika ceritanya dibuat berdiri sendiri. Sayangnya, ini adalah bagian dari trilogi. Dan konsep trilogi yang dipakai oleh Janiak membawa banyak, katakanlah, pengurangan nilai bagi performa film. Jadi, semua kejadian di perkemahan itu diceritakan kepada Deena dan adiknya, oleh C. Berman dewasa. Problema itu datang dari sini. Pertama, film ini bisa terlihat sebagai kelanjutan cerita Deena, yang Deenanya benar-benar total gak ngapa-ngapain selain duduk dengerin flashback. Ini akan membuat film bagian dua ini seperti cuma jembatan. Kedua, soal posisinya sebagai flashback itu sendiri. Ini adalah kisah dua bersaudara yang diceritakan oleh satu orang. Film akan membawa kita antara melihat sudut pandang Ziggy, dan sudut pandang Cindy. Kan jadi gak masuk akal, dari mana si satu orang yang bercerita ini tahu sudut pandang dari saudaranya – apa yang dialami oleh saudaranya. Padahal kita lihat adegannya lengkap, dan waktunya mepet sekali untuk ada tenggat si saudara telah menceritakan petualangannya. Jadi, film ini bermasalah pada perspektifnya. Dan ketiga, ini nitpick sih, tapi menurutku aneh sekali bagaimana film ini membuat siapa C. Berman itu sebagai twist, padahal siapa dia sebenarnya pasti sudah bisa langsung ditebak (karena memang gak perlu dirahasiakan). Mending mereka mengungkap kenapa C. Berman itu banyak banget ngoleksi jam di rumahnya.

Tentu, ini baru bagian kedua dari tiga cerita. Pertanyaan-pertanyaan belum terjawab pasti ada. Bisa dimaklumi film ingin ngebuild up dengan menyinggung atau memberi clue sedikit. Seperti soal mitologi penyihir, soal kekuatannya. Kita diperlihatkan ada benda berdenyut mengerikan di bawah tanah yang bikin penasaran banget. Mungkin itu hati si Sarah Feir, aku gatau. Kita mulai paham bahwa kekuatan Fier ditujukan untuk para warga Shadyside. Di film ini yang dibunuhnya cuma anak-anak berbaju biru. Tapi ketika darah menetes tulang atau kuburannya, Feir akan melepas semua pasukan psikopatnya untuk mengejar si empunya darah. Melihatnya sekarang, rule dari kekuatan penyihir ini masih membingungkan. Apalagi jika membandingkannya dengan film pertama, saat tentara si penyihir membunuh tiga orang Sunnyvale di rumah sakit, dalam rangka mengejar si Sam yang darahnya mengenai kuburan. Kinda breaking the rules? Kenapa yang dikapak paling parah di akhir film kedua ini justru bukan orang yang darah mimisannya netes (bukan orang yang harusnya jadi target pengejaran)? Dan bagaimana soal mimisan – kenapa ada beberapa orang yang mimisan, apa artinya mimisan itu?

 

 

 

Film ini bekerja terbaik saat dilihat sebagai cerita yang berdiri sendiri. Dia berhasil membangun mitologi dengan cara yang lebih efektif. Eksposisinya dimainkan dengan seimbang dengan penggalian karakter. Bahkan kota Shadyside berhasil dicuatkan. Karena ceritanya enggak melulu tentang orang panik dikejar-kejar. Ada momen-momen manusiawi yang bisa kita resapi di antara bunuh-bunuhan sadis ala slasher 80an. Sayangnya saat harus mengikatkan diri kepada film pertama, sebagai bagian dari trilogi, film ini justru jadi banyak minusnya. Perspekifnya jadi gak kuat, kepentingannya jadi berkurang. Eksistensi keseluruhannya jadi lemah. Tapi, sekali lagi, sebagai film sendiri, ini lebih baik daripada film bagian pertama. Lebih bisa dinikmati.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for FEAR STREET PART 2: 1978.

 

 

 

That’s all we have for now.

Sebelum mencapai penutup trilogi, sudahkah kalian punya teori-teori sendiri mengenai Sarah Fier?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

PETER RABBIT 2: THE RUNAWAY Review

“Beautiful trees still rise from ugly seeds”

 

Peter Rabbit is a bad seed. Di antara kelinci-kelinci peliharaan Bea, Peter yang paling bandel. Dalam film pertamanya saja (rilis tahun 2018) Peter ngebully Thomas McGregor, manusia yang jadi musuh bebuyutannya, yang punya alergi buah blackberry dengan melempar blackberry tersebut hingga tepat masuk ke mulut. Prank yang begitu kelewatan, sampai-sampai Sony Pictures harus meminta maaf kepada publik perihal adegan tersebut. 

Agaknya, insiden itulah yang jadi inspirasi bagi sutradara dan penulis naskah Will Gluck untuk cerita sekuel dari karakter kelinci yang awal fenomenanya berasal dari buku kanak-kanak di Inggris ini. Gluck mengedepankan tema Peter sekarang aware bahwa dia dicap bandel oleh orang lain. Gluck ingin membuat pesan yang menyuarakan tentang mengenali self-worth, kepada penonton. Karena bandel tentu saja tidak berarti jahat. Like, bandel pada kendaraan justru berarti hal yang bagus. Sehingga untuk benar-benar menghidupi tema tersebut, Gluck pun mengonsep film kedua ini sebagai film yang bandel. Enggak cukup hanya dengan menjadi meta, Peter Rabbit 2 kini melompat melewati batas aturan dunianya sendiri.

PETER-RABBIT-2-TRAILER-e1619535931978-1280x720
Kenapa ya kelinci sering digambarkan sebagai karakter bandel dalam fabel-fabel?

 

Semenjak gencatan senjata, yakni peristiwa sakral Bea menikah dengan Thomas, kelinci berjaket biru tokoh utama kita ini memang berusaha bersikap manis. Tidak lagi dia mengganggu kebun sayur milik Thomas. Peter bahkan menjaga kebun tersebut dari hewan-hewan lain. Sayangnya, belum semua orang dapat melihat perubahan sikap Peter. Image nakal dan bandel tetap melekat kepadanya. Buktinya, saat Bea dan Thomas bertemu dengan produser yang tertarik untuk membesarkan buku karangan Bea tentang Peter dan kawan-kawan menjadi sebuah franchise raksasa, Peter mendapati karakternya di dalam cerita itu akan tetap dibuat sebagai karakter yang bandel. Peter lantas jadi pundung dengan semua orang. Peter minggat, dan di jalanan kota London itulah Peter bertemu dengan seorang kelinci tua. Kelinci yang percaya kepadanya. Kelinci yang bertindak selayaknya ayah baginya. Kelinci, yang mengajaknya untuk bergabung ke dalam misi mulia merampok makanan di Farmer’s Market.

So yea, ada lebih banyak yang terjadi pada film kedua ini. Peter Rabbit 2: The Runaway memang mengadopsi istilah sequel is bigger. Yang kita ikuti bukan saja petualangan Peter menjalankan misi, tapi juga persiapan seperti pada film heist beneran. Mengumpulkan teman-teman, bikin rencana, dan lain sebagainya. Sesekali kita juga akan dibawa berpindah mengikuti Bea yang harus mengarang buku cerita sesuai dengan pesanan. Paralel di sini adalah Peter dengan Bea. Keduanya sama-sama bertemu dengan orang yang mereka kira nurturing, peduli, dan mengembangkan diri mereka yang sebenarnya. Padahal sebenarnya Bea dan Peter sedang dimanfaatkan. Film sudah menyiapkan banyak sekali lelucon slaptick – bahkan lebih banyak daripada film pertama – supaya tone cerita tidak menjadi terlalu sentimentil. Seperti misalnya ketika Peter yang berjalan sendirian bersedih hati, film menggunakan banyak treatment komedi seperti Peter terjatuh ke semen basah dan sebagainya. Komedinya naik bertahap menjadi lebih kreatif saat menggunakan musik latar sebagai candaan. Aku ngakak di adegan tupai nyanyiin lagu Green Day, dan bagaimana si tupai penyanyi itu jadi running joke yang muncul bikin Peter heran setiap kali dia menggalau. “Kok elu bisa tahu isi hati gue?” kurang lebih begitu pertanyaan si Peter kepada Tupai hahaha

Sebagai cerita yang memang berasal dari materi untuk anak-anak, film ini perlu untuk menjadi total menghibur. Ini lompatan nekat pertama yang dilakukan oleh film. Peter Rabbit dan teman-teman yang di buku aslinya adalah dongeng sederhana untuk dibacakan sebagai cerita pengantar tidur, kini dibuat total konyol, enggak banyak beda ama film kartun ala Looney Tunes. Dan supaya stay true dengan tema aware kepada true self, film memperlakukan komedi tersebut dengan cara meta. Yang artinya, para karakter dalam film ini dibuat mengenali perbuatan mereka yang disejajarkan dengan mengenali hal di dunia nyata kita, para penonton mereka. Semacam breaking the fourth wall cara-halus. Peter di film ini menyebut tindakan mereka sudah semakin mirip adegan kartun, misalnya. Atau ketika ada karakter yang menyebut betapa menjengkelkannya suara Peter terdengar. This rings so true karena suara James Corden yang mengisinya memang benar-benar annoying. Film membuat karakternya sendiri mengacknowledge ini dengan beberapa kali mempraktekkan dan mempertanyakan suaranya.

Kemetaan tersebut tidak hanya dilakukan sebagai selingan komedi. Namun juga actually dijadikan bagian dari plot. Ini kita lihat pada porsi Bea. Dia disuruh menulis cerita yang lebih fantastis. Kelinci-kelinci pada ceritanya disuruh supaya enggak hanya berkutat di perkebunan di rumah saja. Melainkan harus bertualang di kota, di pantai, bahkan kalo perlu hingga ke angkasa. Kelinci-kelinci tersebut disuruh melakukan berbagai aksi, seperti kebut-kebutan ataupun berkeliling dunia menyelamatkan teman-teman mereka. Film sudah menyiapkan punchline untuk plot poin tersebut dengan membuat ‘Peter dan kawan-kawan yang sebenarnya’ benar-benar melakukan hal yang jadi materi untuk buku karangan Bea. Peter akan benar-benar ngebut-ngebutan untuk menyelamatkan teman-temannya yang tersebar ke berbagai penjuru

peter00278774
Untung aja gak beneran sampai ke angkasa raya

 

Untuk mendaratkan cerita (dan semuanya) supaya enggak benar-benar sampai ke luar angkasa, film mengikat permasalahan Peter berakar pada masalah keluarga. Dalam hal ini, permasalahan seputar relationship seorang anak kepada ayah. Dan juga sebaliknya; permasalahan bagaimana menjadi ayah kepada seseorang yang dianggap sebagai anak. Peter yang tampak bandel bagi Thomas, dan masalah Peter yang langsung marah dikatain bandel despite usahanya untuk jadi lebih baik — ini adalah masalah ayah dan anak, written all over it! Mereka berdua hanya harus menyadari itu, sehingga Peter sebenarnya tidak perlu lagi mencari father figure ke tempat lain. Dan inilah sebabnya kenapa karakter Thomas McGregor – yang di film pertama merupakan semacam antagonis utama – kali ini lebih mencuri perhatian ketimbang Bea, atau Peter sekalipun.  Thomas memang masih kebagian porsi konyol juga (dia lari ngejar mobil itu ‘kartun’ banget dan favoritku adalah pas adegan menangisi rusa – comedic timing Domhnall Gleeson dapet banget!) tapi fungsi karakternya kali ini terutama adalah sebagai sarana penyadaran untuk Bea dan Peter. Dia menunjukkan cinta yang kuat. Meskipun masih sering bertengkar dengan Peter, tapi semua itu ada alasannya. Adegan Thomas ngobrol dengan Peter di menjelang babak tiga akan jadi hati untuk film ini.

Masalah Peter memang berakar dari absennya seorang ayah di dalam hidup. Peter jadi percaya dirinya berbeda, seorang ‘bad seed’. Tapi meskipun memang benar, Peter bandel, dan ayahnya seorang pencuri seperti yang diceritakan si Kelinci Tua, tidak berarti Peter harus tumbuh menjadi bener-bener bad. Karena kualitas seseorang tidak ditentukan dari bibitnya.

 

Wait, Thomas ngobrol dengan Peter??

Ya, sayangnya ini adalah hal yang aku merasa perlu untuk disebutkan sebagai spoiler, karena ini adalah satu lagi lompatan maut yang dilakukan oleh film. Untuk menjadi sebandel Peter, film merasa perlu untuk melanggar aturan buku Peter Rabbit, yakni hewan-hewan lucu itu tidak bicara kepada manusia. Film pertama menghandle aturan ini dengan lebih baik, mereka mencari celah supaya komunikasi bisa tetap terjadi. Namun, film kedua ini, mereka langsung saja seperti sebuah cara gampang untuk mengomunikasikan feeling antara Peter dan Thomas. Ya, secara konsep memang masuk, tapi tidak berarti tampak bagus dari kacamata penulisan skenario. Atau bahkan dari kacamata para fans hardcore, yang bisa aku bayangkan pada surprised. Karena kekhasan Peter Rabbit sendiri jadi ilang. Yang jelas, dari penulisan, aku memang berharap momen ‘wejangan’ seperti ini tidak digampangkan atau tidak dibikin ada begitu saja. There should be more clever and sweet ways untuk membuat hewan dan manusia membicarakan perasaan mereka dan memecahkan masalah bersama.

Film memang lantas jadi full over-the-top. Benar-benar melanggar bukunya, dengan adegan yang dipersembahkan sebagai meta itu tadi. Dengan pesan yang gak jelas lagi apa sasarannya. Peter Rabbit memang menjadi franchise sukses di dunia nyata, sementara di film ini kita melihat karakter Bea (yang merupakan nama asli penulis Peter Rabbit) enggak suka Peter Rabbit menyimpang dan jadi semata produk jualan. Tapi film di akhir memperlihatkan Peter Rabbit dan Bea benar-benar bertualang, melakukan hal menyimpang yang ia tolak sebagai buku berikutnya. Sehingga becandaan metanya ini jadi kabur, apa tujuannya. Kenapa film malah melakukan hal yang semestinya adalah ‘salah’ menurut kompas ceritanya. Dan ini membuat film jadi pretentious.

 

 

 

Orang Jawa bilang lihatlah sesuatu dari bibit, bobot, dan bebetnya. Well, untuk bobot, film ini punya muatan yang berharga sebagai tontonan keluarga. Yang membuatnya bisa konek dengan anak-anak, maupun orang tua. Untuk kriteria bebet, film ini punya konsep yang lebih unik dibandingkan film pertamanya. Tampil lebih berani, melompati banyak resiko untuk menjadi berbeda; menjadi lebih besar daripada bibitnya. Hal ini dapat jadi hal yang positif, jika menjadi berbeda dan lebih besar itu mengarah kepada kepastian menjadi better. Sayangnya film ini malah terlihat seperti menertawai bibitnya sendiri. Mencoba jadi beda tapi tidak berhasil memperjelas poin utama dari konsep yang mereka lakukan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PETER RABBIT 2: THE RUNAWAY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Ngomong-ngomong soal bibit-bobot-bebet, apakah menurut kalian menilai seseorang dari tiga kriteria tersebut masih relevan di masa sekarang ini?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

FEAR STREET PART 1: 1994 Review

“This City is what it is because our citizens are what they are”

 

Enggak salah kalo dibilang, Fear Street adalah kakak dari Goosebumps. Lahir dari penulis yang sama; R.L. Stine, seri buku Fear Street juga bercerita tentang misteri, horor, supranatural, bersama jumpscare dan twist ending. Tapi dari sudut pandang anak remaja. Aku belum pernah baca Fear Street karena ketika dua seri buku ini booming, aku masih seusia anak-anak di cerita Goosebumps. Bukannya aku tidak tertarik. Goosebumps sukses berat memperkenalkan horor sejak usia dini kepada pembacanya, dan buatku, maaaan, aku menulis cerita horor versi sendiri dari judul-judul Goosebumps yang selesai aku baca! Segitunya pengaruh Goosebumps kepada kesukaanku terhadap menulis dan horor. Aku masih ingat dulu itu aku berusaha keras supaya bisa meminjam Fear Street di taman bacaan atau perpus. Tapi susyeee… yang jaga tempatnya galak, dan lagi, harga sewa bukunya lebih mahal dari jatah jajan anak SD dulu. Sempat curi-curi baca di tempat sih, satu buku Fear Street, tapi gak sampai tamat. Jadi yang kutahu tentang Fear Street hanyalah bahwa cerita horor di buku-buku itu lebih seram, lebih sadis, dan sedikit lebih dewasa juga (“kamu belum boleh ya, ini banyak pacar-pacarannya” kata yang jaga perpus dulu kepadaku). 

Dan persisnya tiga hal itulah yang dijanjikan oleh film Fear Street yang oleh sutradara Leigh Janiak digarap sebagai loosely adaptation dari buku-bukunya.

Janiak membuat Fear Street menjadi sebuah trilogi, yang kesemua filmnya bakal dirilis dalam rentang per minggu dimulai dari film pertamanya ini. Dengan mitologi penyihir di kota fiksi Shadyside (mitologi yang dikembangkan dari bukunya) sebagai perekat kejadian di tiga filmnya nanti. Bayangkan serial horor kayak American Horror Story yang setiap seasonnya punya setting cerita berbeda, nah Janiak membuat trilogi ini seperti demikian. Setiap film akan mengambil periode waktu berbeda, demi mengupas mitologi penyihir hingga ke akar-akarnya. Konsep yang seperti begini memastikan setiap film bisa punya cerita standalone; cerita tersendiri khusus untuk ‘episode’nya. Yang artinya, meskipun di akhir setiap film akan ada cliffhanger ‘to be continued’, tapi film-film tersebut bakal tetap bisa punya plot personal yang menutup pada masing-masingnya. Pada Bagian Pertama ini, cerita mengambil setting tahun 1994, dan mengisahkan tentang remaja bernama Deena yang masih sakit hati dan belum move on semenjak ditinggal pindah kekasihnya, sementara pembunuhan berantai kembali aktif (ya Bun!) di kota tempat tinggal mereka.

Fear_Street_Part_1__1994_A096C003_190405_R2QE_1.153.1_R_rgb-1
Horornya putus cinta melebihi segalanya

 

Sesuai dengan semangat bukunya (Fear Street, sebagaimana Goosebumps, juga cukup terkenal dengan twist ceritanya), Janiak sudah menyiapkan beberapa spin dan kelokan di sepanjang cerita. Salah satu yang tidak sabar untuk dia lakukan adalah soal (mantan) kekasih Deena yang ternyata bukan seorang dumb jock ala-ala cerita remaja kebanyakan. Kamera, editing, dan bahkan penulisan nama di babak set up terasa kompak untuk membangun persepsi kita ke arah lumrah ini, dan kemudian dengan jumawa film memperlihatkan bahwa Sam yang udah matahin hati Deena itu adalah seorang cewek blonde. Boom, kita dapat kejutan yang progresif. Protagonis lesbian jelas adalah kebanggaan sekaligus soft spot bagi audiens kekinian. Kebanggaan, karena hubungan Deena dan Sam yang selalu difokuskan oleh cerita – melebihi segalanya. Soft spot, karena sampai detik ulasan ini ditulis aku tidak mengerti kenapa situs-situs film memberikan penilaian tinggi untuk Fear Street 1994 padahal nyatanya film ini enggak sebagus itu. Terutama karena terlalu sibuk di Deena dan Sam itu tadi.

Kota Shadyside tempat Deena dan teman-teman tinggal punya reputasi yang buruk. Julukan kota itu adalah Killer Kapital USA, karena selama bertahun-tahun kota tersebut menyumbang catatan pembunuhan berantai terbanyak. Keadaan ini menciptakan tensi antara penduduk Shadyside dengan kota tetangga, Sunnyvale, karena reputasi kota tentu saja menurun ke penduduknya (atau obviously tercipta karena penduduknya). Film ini punya sesuatu di elemen ini. Menarik, saat film memperlihatkan dua SMA dari masing-masing kota, berantem saat acara berkabung untuk pelajar korban pembunuhan. Ataupun ketika ternyata ada dua pandangan dari penduduk Shadyside sendiri soal pembunuhan berantai di kota mereka; ada sebagian yang berpendapat semua kriminal itu berhubungan dengan legenda kota, dan ada juga yang menganggap kota mereka memang bukan tempat yang bagus. Deena sendiri punya pandangan terhadap kotanya, yang sebagian besar terpengaruh oleh hubungan asmaranya yang kandas bersama Sam yang pindah ke kota. Yang mau kukatakan adalah, Shadyside semestinya bisa dijadikan ‘karakter tersendiri’. Sayangnya permasalahan antarkota tersebut tak pernah dibahas lagi karena film memilih memusatkan Deena dan Sam, yang hubungan keduanya bahkan belum terestablish juga dengan baik, sebagai drive utama cerita.

Benar kata Plato, kota memang seperti manusia. Punya personality dengan kekhasan penduduknya. Bisa terasa hangat berkat kenangan di dalamnya. Bahkan bisa juga terasa mengurung, sebab sentimen orang-orangnya. 

 

Sebagai film pembuka trilogi, semua hal yang ada di film ini terasa begitu diburu-buru. Film ini tidak berhasil menjadi landasan yang solid. Bahkan untuk melandaskan mitosnya pun, terasa terlalu cepat. Hanya sekadar ucapan-ucapan eksposisi. Deena punya adik, yang tahu banyak tentang mitos penyihir. Hanya begitu. Aku yakin saat menulis legenda Fear Street, R.L. Stine menjadikan It-nya Stephen King sebagai referensi. You know, kota Derry yang punya mitologi badut alien yang suka membunuh anak-anak. Maka film yang kita saksikan ini pun sedikit banyaknya ada kemiripan dengan It. Dari investigasi mereka terhadap mitologi, dari situasi mencekam kota, dan sebagainya. Namun ada satu hal lagi yang hilang; Penyihir tersebut tidak langsung bersinggungan personal dengan Deena ataupun adiknya. Penyihir itu tidak khusus menyerang remaja. Penyihir tersebut bertindak random. Dan kali ini, kebetulan Sam ngerusak kuburannya, maka Penyihir ngamuk dan mengejar… Sam. Bukan Deena sang tokoh utama.

Jadi film ini sedari karakterisasi aja udah bolong. Janiak literally hanya punya ‘pasangan lesbian’ sebagai eksistensi Deena. Dan itulah yang berusaha Janiak kepada mitologi. Hasilnya, ya film slasher kejar-kejaran yang susah untuk kita pedulikan. Deena semakin annoying karena dia seperti membuat segala sesuatu about her. Teman sekolahnya baru saja dibunuh, dan dia hanya sibuk mikirin how to get back to Sam. Film berusaha memberikan Deena aksi, like, kalo bukan karena Deena, Sam gak akan nyentuh kuburan Penyihir in the first place. Tapi itu tidak lantas memberikan peran besar kepada Deena. Film berusaha membuat film ini punya cast yang out-of-the box. Tampilan geng Deena benar-benar di luar stereotipe geng remaja pada film-film kebanyakan. Hanya saja mereka pun sebenarnya tidak breaking apa-apa. Adik Deena hanya mesin eksposisi, dua teman Deena yang jualan ‘obat’ hanya tiruan Randy di Scream dan tipikal  mean cheerleader (cuma enggak pirang). Deena dengan rambut hitam keriting, yang seharusnya tokoh utama, gak ada ikatan apa-apa sama konflik. Karena yang dikejar-kejar tetaplah Sam si blonde girl. Jajaran cast mereka sebenarnya fresh, aku percaya remaja-remaja itu memainkan sebaik yang mereka bisa. Tapi karena karakter mereka gak menarik, sepanjang film kita akan menyayangkan kenapa mereka yang kita dapat setelah ‘mengorbankan’ Maya Hawke dengan segala bakat dan attitude karakternya.

fearstreetpart11994officialtrailerblogroll-1624912571682
Aku suka film ini ketika dia mirip Scream. Dan itu literally cuma 7 menit saja.

 

Adegan pembuka yang menampilkan Maya Hawke jelas adalah homage untuk Scream (1996). Janiak yang sebelum ini pernah ngedirect episode serial TV Scream buatan MTV, paham menyatukan gaya Scream tradisional dengan slasher modern yang lebih haus darah. Dan itu tercermin di film ini. Fear Street 1994 lebih terang-terangan di adegan sadis. Masalahnya, adegan sadis tidak membuat film otomatis bagus. Scream original enggak perlu terang-terangan banget ngeliatin penusukan, tapi setiap killingnya berhasil membekas tak lekang waktu. Selain rasa nostalgia, tidak terasa lagi rasa apa-apa yang dikuarkan oleh adegan-adegan Fear Street 1994. Tidak ada ritme dalam pengadeganannya, melainkan hanya rentetan kejadian. Ada pembunuh, lari, dibunuh, sembunyi. Film ini tidak punya statement cerdas, atau celetukan meta, atau apapun seperti Scream. Semuanya tidak lebih didesain untuk homage ke horor-horor lain. Scream, It, Stranger Things, Friday 13th, The Shining, beberapa referensi film malah disebutkan gamblang seperti Jaws, House of the Dead. Jalan keluar yang dipikirkan geng Deena bahkan mirip sama film Netflix baru-baru ini, Awake (2021). Dan bicara soal kemiripan tersebut, di akhir film suara aku serak abis neriakin layar. Geng remaja tersebut berusaha menghidupkan seseorang, tapi kesusahan gak ada alat yang bener, padahal sepanjang cerita ini mereka berkendara ke sana kemari naik mobil ambulans!!!

Itu bisa terhitung nitpick sih, mungkin remaja-remaja itu gak tau defibrillator, mungkin ambulansnya kere atau apa, tapi tetep aja terkesan konyol. Dan hal-hal ‘logika lemah’ yang gampang kita nitpick ini ada banyak sekali bertebaran selama durasi. Seperti, pembunuh yang katanya cuma ngincar Sam (pake dibuktiin segala pembunuhnya lewat di samping adik Deena tanpa membunuh) tapi, kenapa beberapa orang di rumah sakit tetep mereka bunuh. Sebagai pembelaan, mereka bisa berkilah karena misteri kekuatan Penyihir belum diungkap seluruhnya. Tapi tetap saja, melihatnya sekarang, film ini did a poor job dalam melandaskan mitologi berupa aturan-aturan kekuatan si Penyihir. And there is a thing about internet dalam film bersetting tahun 1994 ini yang mengganjal buatku. Like, kok bisa Deena menggunakan sambungan telepon saat adeknya lagi chatting di Internet. Mungkin alatnya memang udah ada di Amerika, tapi bukankah lebih umum untuk relate bahwa di tahun 90an koneksi Internet masih tersambung ama telepon?

See, ini uneg-uneg terakhirku. Film ini punya banyak referensi untuk nostalgia 90an. Seting ceritanya pun di periode 90an. Tapi film ini terasa modern, enggak benar-benar terasa kayak berada di tahun 94. Begitu lumrahnya si adek chatting dan dapat info dari Internet – kayak di zaman sekarang aja. Cara ngomong dan elasi karakternya yang udah maju. Bahkan visualnya. Sinematografi dengan cahaya-cahaya neon film ini malah membuatnya terasa kontemporer alih-alih jadul dan low-budget ala horor 90an. Dan please, mana quote badass yang cheesy abis yang udah jadi cap-dagang horor 90an?

 

 

Ini bukan awal yang menjanjikan untuk sebuah proyek trilogi. Tapi yang namanya horor, suka gak suka aku pasti akan nonton. Dengan harapan besar, film keduanya nanti akan jauh lebih baik. Punya karakter yang ditulis jauh lebih dalam dan kompleks. Punya dialog yang lebih fun sekaligus berbobot. Punya pengadeganan yang lebih fun sekaligus berbobot. Yea I said that twice. Berusaha tampil sebagai standalone sekaligus cerita bersambung, film ini sebenarnya punya kans yang lebih baik jika dipersembahkan sebagai serial, tapi mereka memilih menjual ini sebagai ‘film panjang’, so yea…
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for FEAR STREET PART 1: 1994.

 

 

That’s all we have for now.

Pernahkah kalian merasa marah atau malu atau malah bangga sama kota tempat tinggal kalian? Kenapa?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA