FEAR STREET PART 1: 1994 Review

“This City is what it is because our citizens are what they are”

 

Enggak salah kalo dibilang, Fear Street adalah kakak dari Goosebumps. Lahir dari penulis yang sama; R.L. Stine, seri buku Fear Street juga bercerita tentang misteri, horor, supranatural, bersama jumpscare dan twist ending. Tapi dari sudut pandang anak remaja. Aku belum pernah baca Fear Street karena ketika dua seri buku ini booming, aku masih seusia anak-anak di cerita Goosebumps. Bukannya aku tidak tertarik. Goosebumps sukses berat memperkenalkan horor sejak usia dini kepada pembacanya, dan buatku, maaaan, aku menulis cerita horor versi sendiri dari judul-judul Goosebumps yang selesai aku baca! Segitunya pengaruh Goosebumps kepada kesukaanku terhadap menulis dan horor. Aku masih ingat dulu itu aku berusaha keras supaya bisa meminjam Fear Street di taman bacaan atau perpus. Tapi susyeee… yang jaga tempatnya galak, dan lagi, harga sewa bukunya lebih mahal dari jatah jajan anak SD dulu. Sempat curi-curi baca di tempat sih, satu buku Fear Street, tapi gak sampai tamat. Jadi yang kutahu tentang Fear Street hanyalah bahwa cerita horor di buku-buku itu lebih seram, lebih sadis, dan sedikit lebih dewasa juga (“kamu belum boleh ya, ini banyak pacar-pacarannya” kata yang jaga perpus dulu kepadaku). 

Dan persisnya tiga hal itulah yang dijanjikan oleh film Fear Street yang oleh sutradara Leigh Janiak digarap sebagai loosely adaptation dari buku-bukunya.

Janiak membuat Fear Street menjadi sebuah trilogi, yang kesemua filmnya bakal dirilis dalam rentang per minggu dimulai dari film pertamanya ini. Dengan mitologi penyihir di kota fiksi Shadyside (mitologi yang dikembangkan dari bukunya) sebagai perekat kejadian di tiga filmnya nanti. Bayangkan serial horor kayak American Horror Story yang setiap seasonnya punya setting cerita berbeda, nah Janiak membuat trilogi ini seperti demikian. Setiap film akan mengambil periode waktu berbeda, demi mengupas mitologi penyihir hingga ke akar-akarnya. Konsep yang seperti begini memastikan setiap film bisa punya cerita standalone; cerita tersendiri khusus untuk ‘episode’nya. Yang artinya, meskipun di akhir setiap film akan ada cliffhanger ‘to be continued’, tapi film-film tersebut bakal tetap bisa punya plot personal yang menutup pada masing-masingnya. Pada Bagian Pertama ini, cerita mengambil setting tahun 1994, dan mengisahkan tentang remaja bernama Deena yang masih sakit hati dan belum move on semenjak ditinggal pindah kekasihnya, sementara pembunuhan berantai kembali aktif (ya Bun!) di kota tempat tinggal mereka.

Fear_Street_Part_1__1994_A096C003_190405_R2QE_1.153.1_R_rgb-1
Horornya putus cinta melebihi segalanya

 

Sesuai dengan semangat bukunya (Fear Street, sebagaimana Goosebumps, juga cukup terkenal dengan twist ceritanya), Janiak sudah menyiapkan beberapa spin dan kelokan di sepanjang cerita. Salah satu yang tidak sabar untuk dia lakukan adalah soal (mantan) kekasih Deena yang ternyata bukan seorang dumb jock ala-ala cerita remaja kebanyakan. Kamera, editing, dan bahkan penulisan nama di babak set up terasa kompak untuk membangun persepsi kita ke arah lumrah ini, dan kemudian dengan jumawa film memperlihatkan bahwa Sam yang udah matahin hati Deena itu adalah seorang cewek blonde. Boom, kita dapat kejutan yang progresif. Protagonis lesbian jelas adalah kebanggaan sekaligus soft spot bagi audiens kekinian. Kebanggaan, karena hubungan Deena dan Sam yang selalu difokuskan oleh cerita – melebihi segalanya. Soft spot, karena sampai detik ulasan ini ditulis aku tidak mengerti kenapa situs-situs film memberikan penilaian tinggi untuk Fear Street 1994 padahal nyatanya film ini enggak sebagus itu. Terutama karena terlalu sibuk di Deena dan Sam itu tadi.

Kota Shadyside tempat Deena dan teman-teman tinggal punya reputasi yang buruk. Julukan kota itu adalah Killer Kapital USA, karena selama bertahun-tahun kota tersebut menyumbang catatan pembunuhan berantai terbanyak. Keadaan ini menciptakan tensi antara penduduk Shadyside dengan kota tetangga, Sunnyvale, karena reputasi kota tentu saja menurun ke penduduknya (atau obviously tercipta karena penduduknya). Film ini punya sesuatu di elemen ini. Menarik, saat film memperlihatkan dua SMA dari masing-masing kota, berantem saat acara berkabung untuk pelajar korban pembunuhan. Ataupun ketika ternyata ada dua pandangan dari penduduk Shadyside sendiri soal pembunuhan berantai di kota mereka; ada sebagian yang berpendapat semua kriminal itu berhubungan dengan legenda kota, dan ada juga yang menganggap kota mereka memang bukan tempat yang bagus. Deena sendiri punya pandangan terhadap kotanya, yang sebagian besar terpengaruh oleh hubungan asmaranya yang kandas bersama Sam yang pindah ke kota. Yang mau kukatakan adalah, Shadyside semestinya bisa dijadikan ‘karakter tersendiri’. Sayangnya permasalahan antarkota tersebut tak pernah dibahas lagi karena film memilih memusatkan Deena dan Sam, yang hubungan keduanya bahkan belum terestablish juga dengan baik, sebagai drive utama cerita.

Benar kata Plato, kota memang seperti manusia. Punya personality dengan kekhasan penduduknya. Bisa terasa hangat berkat kenangan di dalamnya. Bahkan bisa juga terasa mengurung, sebab sentimen orang-orangnya. 

 

Sebagai film pembuka trilogi, semua hal yang ada di film ini terasa begitu diburu-buru. Film ini tidak berhasil menjadi landasan yang solid. Bahkan untuk melandaskan mitosnya pun, terasa terlalu cepat. Hanya sekadar ucapan-ucapan eksposisi. Deena punya adik, yang tahu banyak tentang mitos penyihir. Hanya begitu. Aku yakin saat menulis legenda Fear Street, R.L. Stine menjadikan It-nya Stephen King sebagai referensi. You know, kota Derry yang punya mitologi badut alien yang suka membunuh anak-anak. Maka film yang kita saksikan ini pun sedikit banyaknya ada kemiripan dengan It. Dari investigasi mereka terhadap mitologi, dari situasi mencekam kota, dan sebagainya. Namun ada satu hal lagi yang hilang; Penyihir tersebut tidak langsung bersinggungan personal dengan Deena ataupun adiknya. Penyihir itu tidak khusus menyerang remaja. Penyihir tersebut bertindak random. Dan kali ini, kebetulan Sam ngerusak kuburannya, maka Penyihir ngamuk dan mengejar… Sam. Bukan Deena sang tokoh utama.

Jadi film ini sedari karakterisasi aja udah bolong. Janiak literally hanya punya ‘pasangan lesbian’ sebagai eksistensi Deena. Dan itulah yang berusaha Janiak kepada mitologi. Hasilnya, ya film slasher kejar-kejaran yang susah untuk kita pedulikan. Deena semakin annoying karena dia seperti membuat segala sesuatu about her. Teman sekolahnya baru saja dibunuh, dan dia hanya sibuk mikirin how to get back to Sam. Film berusaha memberikan Deena aksi, like, kalo bukan karena Deena, Sam gak akan nyentuh kuburan Penyihir in the first place. Tapi itu tidak lantas memberikan peran besar kepada Deena. Film berusaha membuat film ini punya cast yang out-of-the box. Tampilan geng Deena benar-benar di luar stereotipe geng remaja pada film-film kebanyakan. Hanya saja mereka pun sebenarnya tidak breaking apa-apa. Adik Deena hanya mesin eksposisi, dua teman Deena yang jualan ‘obat’ hanya tiruan Randy di Scream dan tipikal  mean cheerleader (cuma enggak pirang). Deena dengan rambut hitam keriting, yang seharusnya tokoh utama, gak ada ikatan apa-apa sama konflik. Karena yang dikejar-kejar tetaplah Sam si blonde girl. Jajaran cast mereka sebenarnya fresh, aku percaya remaja-remaja itu memainkan sebaik yang mereka bisa. Tapi karena karakter mereka gak menarik, sepanjang film kita akan menyayangkan kenapa mereka yang kita dapat setelah ‘mengorbankan’ Maya Hawke dengan segala bakat dan attitude karakternya.

fearstreetpart11994officialtrailerblogroll-1624912571682
Aku suka film ini ketika dia mirip Scream. Dan itu literally cuma 7 menit saja.

 

Adegan pembuka yang menampilkan Maya Hawke jelas adalah homage untuk Scream (1996). Janiak yang sebelum ini pernah ngedirect episode serial TV Scream buatan MTV, paham menyatukan gaya Scream tradisional dengan slasher modern yang lebih haus darah. Dan itu tercermin di film ini. Fear Street 1994 lebih terang-terangan di adegan sadis. Masalahnya, adegan sadis tidak membuat film otomatis bagus. Scream original enggak perlu terang-terangan banget ngeliatin penusukan, tapi setiap killingnya berhasil membekas tak lekang waktu. Selain rasa nostalgia, tidak terasa lagi rasa apa-apa yang dikuarkan oleh adegan-adegan Fear Street 1994. Tidak ada ritme dalam pengadeganannya, melainkan hanya rentetan kejadian. Ada pembunuh, lari, dibunuh, sembunyi. Film ini tidak punya statement cerdas, atau celetukan meta, atau apapun seperti Scream. Semuanya tidak lebih didesain untuk homage ke horor-horor lain. Scream, It, Stranger Things, Friday 13th, The Shining, beberapa referensi film malah disebutkan gamblang seperti Jaws, House of the Dead. Jalan keluar yang dipikirkan geng Deena bahkan mirip sama film Netflix baru-baru ini, Awake (2021). Dan bicara soal kemiripan tersebut, di akhir film suara aku serak abis neriakin layar. Geng remaja tersebut berusaha menghidupkan seseorang, tapi kesusahan gak ada alat yang bener, padahal sepanjang cerita ini mereka berkendara ke sana kemari naik mobil ambulans!!!

Itu bisa terhitung nitpick sih, mungkin remaja-remaja itu gak tau defibrillator, mungkin ambulansnya kere atau apa, tapi tetep aja terkesan konyol. Dan hal-hal ‘logika lemah’ yang gampang kita nitpick ini ada banyak sekali bertebaran selama durasi. Seperti, pembunuh yang katanya cuma ngincar Sam (pake dibuktiin segala pembunuhnya lewat di samping adik Deena tanpa membunuh) tapi, kenapa beberapa orang di rumah sakit tetep mereka bunuh. Sebagai pembelaan, mereka bisa berkilah karena misteri kekuatan Penyihir belum diungkap seluruhnya. Tapi tetap saja, melihatnya sekarang, film ini did a poor job dalam melandaskan mitologi berupa aturan-aturan kekuatan si Penyihir. And there is a thing about internet dalam film bersetting tahun 1994 ini yang mengganjal buatku. Like, kok bisa Deena menggunakan sambungan telepon saat adeknya lagi chatting di Internet. Mungkin alatnya memang udah ada di Amerika, tapi bukankah lebih umum untuk relate bahwa di tahun 90an koneksi Internet masih tersambung ama telepon?

See, ini uneg-uneg terakhirku. Film ini punya banyak referensi untuk nostalgia 90an. Seting ceritanya pun di periode 90an. Tapi film ini terasa modern, enggak benar-benar terasa kayak berada di tahun 94. Begitu lumrahnya si adek chatting dan dapat info dari Internet – kayak di zaman sekarang aja. Cara ngomong dan elasi karakternya yang udah maju. Bahkan visualnya. Sinematografi dengan cahaya-cahaya neon film ini malah membuatnya terasa kontemporer alih-alih jadul dan low-budget ala horor 90an. Dan please, mana quote badass yang cheesy abis yang udah jadi cap-dagang horor 90an?

 

 

Ini bukan awal yang menjanjikan untuk sebuah proyek trilogi. Tapi yang namanya horor, suka gak suka aku pasti akan nonton. Dengan harapan besar, film keduanya nanti akan jauh lebih baik. Punya karakter yang ditulis jauh lebih dalam dan kompleks. Punya dialog yang lebih fun sekaligus berbobot. Punya pengadeganan yang lebih fun sekaligus berbobot. Yea I said that twice. Berusaha tampil sebagai standalone sekaligus cerita bersambung, film ini sebenarnya punya kans yang lebih baik jika dipersembahkan sebagai serial, tapi mereka memilih menjual ini sebagai ‘film panjang’, so yea…
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for FEAR STREET PART 1: 1994.

 

 

That’s all we have for now.

Pernahkah kalian merasa marah atau malu atau malah bangga sama kota tempat tinggal kalian? Kenapa?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

CENSOR Review

“Art should disturb the comfortable”

 

Saat angka kekerasan meningkat, orang-orang akan mulai mencoba mencari kambing hitam. Bukan, bukan kambing hitam untuk pemujaan setan. Melainkan ‘kambing hitam’ sebagai yang dipersalahkan. Di Inggris tahun 80an, kepala orang-orang menoleh ke media. Ke film. Tepatnya, ke film yang beredar secara bebas dalam bentuk kaset video. Bebas dalama artian belum dinaungi oleh regulasi hukum penyiaran saat itu. Film-film atau video-video yang jadi kambing hitam itu adalah video-video genre eksploitasi. Kekerasan segala rupa memang jadi jualannya. Maka video-video tersebut dikenal dengan istilah ‘Video Nasty’. Adegan-adegan kekerasan dalam tayangan itu disinyalir sebagai pemicu nafsu buas pada diri penonton; membuat mereka meniru dan melakukan tindakan kriminal. Di saat seperti itulah, sensor seperti benar-benar dibutuhkan. Tukang-tukang gunting bertangan dingin seperti Enid Baines dalam film Censor, menyangka kerjaan mereka sebagai pahlawan penyelamat moral. 

Enid memang memandang tinggi pekerjaannya tersebut. Enid betah duduk sendirian di ruangan, menonton detik demi detik adegan sadis (dan menjijikkan), dan membuat catatan terhadap mereka. Dia juga strict banget dalam potong-memotong adegan. Sehingga Enid ini terkenal kaku, bahkan oleh sejawatnya sendiri. Makanya ketika dilaporkan ada kasus pembunuhan sadis yang tampaknya seperti meniru adegan dalam film yang seharusnya sudah disensor oleh dirinya, Enid jadi terguncang. Untuk menebus kesalahan, Enid mulai memburu lebih banyak film. Inilah ketika Enid menemukan sebuah film horor yang adegan pembukanya mirip sekali dengan ‘adegan’ traumatis di masa lalu dirinya. Selagi berusaha menguak misteri antara film tersebut dengan masa lalunya, Enid mulai kehilangan pegangan. Tak jelas lagi baginya apakah dia sedang menyensor sebuah karya atau mengedit kenyataan sesuai dengan kehendaknya

censormaxresdefault
Mungkin saking ketatnya, namanya sebaiknya diubah jadi Edith hahaha

 

This film is really great, sebagai sebuah horor psikologis. Karena keadaan jiwa Enid terus menerus disorot, dan actually jadi ladang horornya. Sebagai karakter, Enid akan ‘berubah’ dari seseorang yang sepertinya stabil (divisualkan lewat dandanan ala bu guru galak, lengkap dengan kacamata dan rambut yang disanggul) turun dalam spiral kewarasan menjadi seseorang yang sinting dan lepas kendali (rambut terurai berantakan, plus baju compang-camping bernoda darah). Niamh Algar membuat arahan-arahan sutradara Prano Bailey-Bond sebagai panggung personal karakternya, ngetackle setiap adegan dan setiap deteriorasi tokohnya dengan benar-benar menjiwai.

Setidaknya ada tiga spektrum dari karakter Enid ini; seorang karyawan yang mengenali ‘musuhnya’ (gaze dan kreativitas bablas pembuat film), seorang anak yang merasa bersalah kepada orangtuanya, dan seorang kakak yang berniat menyelamatkan adik pada akhirnya. Bahkan ada poin ketika Enid ini jadi kayak detektif yang menginvestigasi kasus, sebagai bridge pada inner journeynya. Basically sutradara menyuruh Niamh untuk terjun bebas ke dalam psikologis karakter Enid, dan dia melakukannya dengan sangat sukses sehingga kita yang menonton tahu si Enid ini sedang dalam proses menjadi sinting, tapi kita tetap bertahan mendukungnya. Tantangan terberat bagi cerita-cerita yang menampilkan kemunduran jiwa tokoh utamanya; yakni bagaimana membuat karakter yang pilihannya semakin gak rasional tanpa membuat si karakter tersebut tampak bego. Misalnya kayak di Saint Maud (2021), horor terbaik pada caturwulan pertama tahun ini; Kita paham bahwa karakter di film tersebut hanya halu – bahwa dia mendengar bisikan setan alih-alih wahyu Tuhan, namun kita berempati padanya. Kita paham dukanya, kita mau memahami kenapa dia halu seperti itu. Censor berhasil menjajaki tantangan serupa demikian. Karena di sini, Enid mulai percaya adiknya masih hidup, mulai percaya ada filmmaker yang telah menculik dan menyembunyikan identitas si adik, tapi kita tidak sekalipun percaya itu semua. Kita duduk menonton karena kita begitu termesmerize oleh journey Enid. Ya, kita bersimpati.

Atau mungkin, film telah berhasil ikut membuat kita terhipnotis. Kita telah dibuatnya ikut blur di antara garis halusinasi dan realita. If this is the case, ini hanya menunjukkan betapa kuatnya arahan sang sutradara dalam debut film panjangnya. Bailey-Bond berhasil membangun tensi, berhasil membuat kemunduran state of mind Enid sebagai suatu perjalanan yang menghantui, kita tidak bisa terlepas darinya. Treatment unik, craft spesial, dilakukan oleh Bailey-Bond untuk membuat pengalaman psikologis Enid terasa nyata. Kabut-kabut dikerahkan untuk menghasilkan estetik surealis perihal ketidakpastian, sebagai kontras dari ruangan kantor yang serbategas. Dengan seamless, misalnya lagi, Bailey-Bond memainkan rasio layar. Lebar normal jika adegan memang nyata, dan semakin menyempit untuk mengindikasikan semua itu hanya di layar kaca yang ditonton oleh Enid. Dan layar bahkan lebih sempit lagi ketika menampilkan keadaan sedang dalam proses suting, yang sejalan dengan sempit (dan kalutnya) perasaan yang menggelayuti Enid. Puncak dari craft film ini ada pada menjelang akhir; kontras visual, dengan efek glitch, berhasil dimainkan ke dalam efek yang benar-benar bikin kita uneasy karena menyadari sesuatu yang tidak disadari (atau mungkin sesuai konteksnya; dicut keluar) oleh Enid.

Aspek menghibur dari sebuah film horor dicapai film ini lewat persembahan kepada ‘genre’ Video Nasty itu sendiri. Yea, those were real. Sebagian besar judul film yang disebut dalam cerita adalah judul-judul film yang memang beneran ada. Ketika harus menciptakan video nasty versi sendiri, film ini enggak ragu untuk membuat layarnya menjadi grainy supaya mirip betul dengan video-video horor tahun 80an yang berbudget rendah. Pun direkam dengan gaya yang persis sama dengan style horor jadul tersebut. Bukan hanya itu, film yang bercerita tentang karakter yang percaya pentingnya sensor film ini bahkan menampilkan juga adegan-adegan kekerasan/sadis yang membuat video nasty begitu digemari (dan dikambinghitamkan sekaligus).

Jadi kalo begitu, bagaimana dengan permasalahan ‘kekerasan dalam media’ itu sendiri? Apakah penyensoran memang dibutuhkan? Di mana film ini berpijak sehubungan dengan itu?

censorsasa
Pengertian dasar dari sensor mandiri

 

Sehubungan dengan sensor, film Censor sendiri memang menilik dari banyak sudut. Peredaran kaset video film-film nasty yang menyuguhkan adegan full-tanpa sensor itu juga sempat disorot. Film ini dengan membuatnya ‘terbuka’, apakah video-video itu disebar oleh pembajak – dan siapa yang membajak, apakah orang dalam lembaga sensor, atau malah justru filmmakernya sendiri yang menyebarkan sebagai bentuk protes dari tindak penyensoran.

Tapi memang sebenarnya ada sikap kuat yang dideklarasi oleh film ini. Censor mengakui bahwa tindakan penyensoran sebenarnya memang ‘akal-akalan’ pemerintah untuk mengatur kreativitas, dan tidak benar-benar punya pengaruh langsung dengan tindak kriminal di dunia nyata. Sikap ini ditunjukkan oleh film ini lewat revealing yang menyebut bahwa pelaku kasus pembunuhan sadis yang disebut-sebut meniru film yang harusnya udah disensor oleh Enid, ternyata sama sekali tidak pernah menonton film tersebut. Namunnya lagi, bagaimana dengan Enid? Tidakkah Enid berubah menjadi sinting dan bertindak ekstrim karena pengaruh film-film sadis yang sudah dia tonton secara khusyuk selama bertahun-tahun sebagai kerjaannya untuk menyambung hidup?

Tentu kita bisa berargumen Enid telah terpengaruh kekerasan, tapi itu tidak serta merta berarti dia membunuh karena menonton film atau sebagai penyaluran dari film, bukan? See, di sinilah menurutku kekuatan dari film ini. Meskipun dialog-dialognya sendiri banyak yang terlalu gamblang, tapi film ini tetap didesain untuk bekerja sebagai sesuatu yang membuka terhadap argumen-argumen. Memantik diskusi soal sensor. Kesubtilan film ini ditujukan khusus kepada menunjukkan sikap atau pendapat pembuatnya. Ada begitu banyak lapisan pada backstory karakter Enid, sehingga kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa karakter ini terpengaruh langsung oleh film. Dan begitu jugalah semestinya pada dunia nyata. 

Censor meletakkan tanda tanya di belakang kalimat “Life imitates art”. Dan ini adalah perwujudan sikap yang paralel dan benar-benar kuat sehubungan dengan tindak sensor itu sendiri. Sebab seni, kan, adalah sesuatu yang mengguncang kenyamanan. Censor adalah art karena mengguncang kalimat tadi. Film-film eksploitasi adalah art, karena kestabilan hidup Enid terguncang begitu dia melihat film yang serupa dengan pengalaman traumatisnya. Tapi tindak sensor tidak akan pernah menjadi art, karena art bukan soal kenyamanan.

 

 

Sebut ini sebagai surat cinta terhadap Video Nasty dan film-film sadis lainnya. Sebut ini sebagai cerita psikologis seorang manusia yang harus berkonfrontasi dengan rasa bersalah yang dipendam bertahun-tahun. Sebut ini sebagai sikap untuk sebuah tindak penyensoran. This film is certainly will go by those names. Didesain dengan craft yang benar-benar beralasan. Bagiku, film ini utama dan terutama sekali adalah sebagai sebuah horor psikologis yang benar-benar unsettling. Lengkap dengan visual yang bikin gak bisa tidur. Aku suka gimana sutradara mengarahkannya, sehingga bahkan bagian yang paling artifisialnya pun masih bisa kita pedulikan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for CENSOR.

 

 

 

That’s all we have for now.

So which is it menurut kalian? Apakah film atau media memang berpengaruh sama tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang? Perlukah diadakan yang namanya sensor-menyensor? Tindakan apa yang mestinya dilakukan oleh sebuah lembaga sensor?

Bagaimana pendapat kalian tentang sensor film di Indonesia?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

PERSEPSI Review

“Change the way you look at things”

 

Di usiamu yang sekarang, mungkin kalian pernah sesekali ngerenungin soal hal sia-sia yang pernah kalian lakukan sepanjang hidup. Let’s do a quick recap about that! Mungkin… kalian ngerasa sia-sia udah milih jurusan A tapi lantas kerja di bidang B? Atau kalian udah begadang ngerjain tugas dan kemudian lupa ngesave? Nyuci mobil lalu saat berangkat hujan turun? Udah deketin bokap-nyokapnya, tapi sebulan kemudian putus? Well, semua hal tersebut sebenarnya gak sia-sia banget. Semua itu hanyalah persepsi kita. Jika kita melihatnya sebagai hal negatif, yang kita rasakan akan negatif pula. Padahal tentu saja ada hikmahnya kalolah kita memaknai peristiwa dalam hidup lewat sorotan cahaya yang positif. Tapinya lagi, ternyata dalam hidup ini memang ada hal yang totally sia-sia. Yang mau jungkir balik pun persepsi kita, hal tersebut tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang worthy of something. Apakah hal tersebut?

Nonton film Persepsi karya Renaldo Samsara.

Penggemar Arifin Putra siap-siap kecewa karena nongolnya sedikit dan itupun sebagian besar di belakang kamera

 

Cerita Persepsi ini adalah tentang seorang ilusionis bintang televisi terkenal bernama Rufus Black  – yang clearly film favoritnya adalah The Lion King karena catchphrasenya dicomot dari Mufasa’s “Semua yang disentuh cahaya adalah…” – yang menantang empat orang untuk tinggal selama lima hari di rumah mewahnya. Lingga, Michael, Risma, dan Laila (diperankan oleh Irwansyah dan kawan-kawan selebnya) tentu saja mau karena siapa yang sanggup bertahan hingga akhir akan memenangkan rumah tersebut beserta uang satu juta dolar. The catch is, rumah tersebut ternyata bekas TKP pembunuhan sadis yang melibatkan satu keluarga. Belum satu hari, dan kita melihat keempat peserta tersebut mulai diganggu oleh hal-hal ganjil dan kejadian-kejadian flashback berbahasa inggris.

Jadi ini ceritanya semacam acara Penghuni Terakhir, dengan horor ‘beneran’. Dan untuk membuatnya unik, Persepsi ini dijual sebagai horor-thriller pertama di Indonesia yang bercerita pake first-person point-of-view. Untuk sebuah horor-thriller, tentu saja ini adalah konsep yang cocok. Kita dibuat melihat dan merasakan pengalaman seram secara langsung, seolah kita sendirilah yang berada di sana. Makanya kan banyak video game horor yang pake konsep first-person. Nonton film ini memang jadi kayak main Resident Evil Village yang terbaru itu. Tentunya konsep pov ini jadi tambang emas buat jumpscare. Dan tampaknya memang pada konsep beginilah jumpscare paling bisa dimaklumi untuk dilakukan. Tahun 2015 lalu, ada film action-gory berjudul Hardcore Henry yang menggunakan pov orang-pertama seperti ini. Dan film itu pol-polan ngegas bermain di konsep sadis-sadisan tersebut sehingga kita benar-benar seperti sedang bertarung berdarah-darah. Persepsi, sebaliknya, adalah film yang lebih tenang. Tidak banyak aksi, melainkan lebih ke melalui cerita dan gerakan sehari-hari, yang dimainkannya untuk mencapai jumpscare maksimal.

I’m not gonna lie, there are some effective scares here. Karena tidak banyak ruang untuk build up, maka adegan-adegan seram di film ini bisa caught you off guard. Persepsi bermain dengan persepsi karakter untuk menghasilkan kejutan horor, mereka melihat hal yang mungkin tidak benar-benar terjadi, tapi bahaya yang menanti mereka tetap asli. Seperti adegan yang melibatkan makanan di dalam oven; film cukup mulus membuat ‘sulap’ kerja-kamera dan edit pada adegan-adegan yang dihasilkan dari persepsi tersebut.  

Konsep first-person ini memang juga diselaraskan dengan tajuk film, yakni tentang persepsi. Tentang bagaimana seorang individu memaknai yang ia pandang. Tapi, film ini push that even further, dengan tidak menempatkan kita pada satu karakter saja. Gak ada karakter utama yang bisa kita dukung pada cerita ini. Film akan sibuk berpindah-pindah dari satu karakter ke karakter lain. Dan ini membingungkan, karena tidak ada ritme atau pola yang jelas dalam berpindahan. Dalam satu hari pada cerita aja, kadang kita berpindah antara dua karakter. Perbedaan persepsi mereka juga gak jelas. Kita tidak pernah bisa langsung tahu melalui siapa kita melihat kejadian sekarang. Butuh untuk melihat siapa yang ada di sekitarnya dulu sebelum bisa ngeh “oh ini dari sudut si anu.” Dan ini ditambah pula dengan keseringan film membawa kita ber-flashback, yang juga first-person, dengan tidak banyak perbedaan treatment visual dengan keadaan di masa kini; Persepsi menjadi cerita yang malesin banget untuk diikuti.

Padahal dialog film ini not that bad. Setidaknya, tidak melulu pada teriak-teriak nyari orang ilang, teriak-teriak ketakutan, atau komedi garing. Dialognya masih berusaha untuk menguarkan drama. Seperti ada cerita yang diparalelkan antara kejadian masa lalu dan masa kini di rumah itu. Karakternya diberikan masalah yang mirip, mereka seorang ayah. They have to think things through about problems in their family. Yang permasalahannya mengarah ke mengubah persepsi memandang supaya tidak jadi negatif. Supaya tidak stress dan berubah menjadi ayah seperti pada The Shining.

Positif dan negatif, semuanya tergantung dari bagaimana kita memaknainya. Dan kita harus bertindak. Karena meski kadang terlihat seperti ilusi, persepsi adalah hal nyata yang kita ‘pilih’ untuk percaya.

 

But wait, konsep first-person langsung dari mata karakter (bukan found-footage atau kamera) yang dipakai ini tak pelak terasa janggal. Karena cerita mereka ini semestinya adalah acara untuk televisi; programnya si Rufus Black. Tapi kenapa tidak ada kamera di rumah itu. Tidakkah Rufus Black merekam semua itu untuk keperluan acaranya? Siapa pula yang sebenarnya melihat flashback-flashback itu? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut, mungkin terlintas dalam benak kalian saat menonton, dan ini harusnya bisa jadi red flag. 

Durasi film ini aja sebenarnya udah red flag abis. Lima-puluh-dua menit. Bahkan lebih pendek daripada Host yang tayang tahun lalu. Kenapa red flag? Karena film-panjang itu biasanya dibangun dalam struktur tiga-babak, yang setiap babaknya adalah ruang untuk mengembangkan journey dari karakter. Banyak film melakukan itu dengan pembagian sekitar 30 menit untuk babak Satu dan Tiga, kemudian 60 menit babak Dua. Nah bayangkan cerita yang hanya punya 50 menit – yang kurang dari babak Dua cerita film-panjang pada umumnya. Bagaimana mereka memuat set up, pengembangan, dan konflik ke dalam ruang yang sesempit itu. Tapi aku ngasih film ini kesempatan. Irwansyah yang jadi produser juga kabarnya sangat memperjuangkan cerita ini untuk difilmkan. Budget film ini juga tampak gak banyak-banyak amat terlihat dari desain produksinya, tapi mereka tampak mencoba untuk memaksimalkan itu dengan konsep bercerita dan segala macam. There are efforts. Jadi kupikir, mereka memang punya sesuatu untuk diceritakan. Tapi ternyata tidak. This movie is all about gimmick. Film tidak ingin bercerita kepada kita, melainkan mereka ingin bilang “Kena, deh!” ke ujung hidung kita semua. Twist. Revealing tak-terduga. Dan inilah satu dari dua persepsi yang harus diubah oleh artis atau siapapun yang ingin membuat film

Habis nonton ini otak kita jadi setengah kosong, bukan setengah penuh

 

Film itu adalah journey. Kejadian-kejadian yang mengisi durasinya, dialog-dialog yang diucapkan oleh karakternya; semuanya penting dan berfungsi untuk menunjukkan jalannya journey tersebut. Everything should matters. Twist dalam cerita merupakan kelokan, yang membuat kita memikirkan ulang apa yang terjadi pada karakter dan journey mereka. Katakanlah, mengubah persepsi kita. Tapi bagi film ini, twist-nya itu adalah kecohan. Semua kejadian sebelum twist tersebut ternyata, storywise, tidak benar-benar terjadi. Melainkan hanya karangan tidak penting, dilakukan hanya untuk ngeswerve penonton. Sehingga, semua pujianku soal dialog yang cukup berbobot, jumpscare yang cukup efektif, juga jadi ternegasi. Karena basically tidak ada cerita. Ayah yang khawatir anaknya sakit tadi? Peristiwa oven maut tadi? Persepsi harusnya bukan ilusi. Tapi nyatanya tidak terjadi apa-apa dalam film ini, selain yang kita lihat di menit-menit terakhir. Film bukan soal seberapa hebat twistnya mengecoh penonton; malah bukan twits namanya kalo malah menihilkan semua kejadian sebelumnya. Malahan, film bukan soal twist, period. Film yang bagus bukanlah film yang ada twistnya. Just tell your story. Berikan penonton journey-karakter yang menarik untuk diikuti.

Kedua, ada sangkut paut dengan durasi tadi. Belum lama ini, Tarian Lengger Maut (2021) juga ternyata sengaja dipotong dari 90 menitan ke 70 menit. Aku gak tahu kenapa jadi seperti tren. Semoga saja bukan karena pengen supaya bisa rilis Director’s Cut di kemudian hari. Karena yang begitu itu jelas adalah persepsi yang salah. Sengaja memotong supaya bisa rilis ulang versi fullnya untuk genjot duit lagi, tidak lebih seperti scam. Director’s Cut atau versi extended atau apalah seharusnya dilakukan karena tidak puas dengan hasil yang pertama, seperti pada kasus Zack Snyder dan Justice League. Bukan untuk dijadikan sebagai siasat jualan yang sudah direncanakan. Lagian siapa yang tertarik minta nambah kalo filmnya jelek. Ada yang sengaja mempersingkat film dan menjadikannya jelek supaya orang makin penasaran, jelas aneh.

 

 

 

Dengan durasinya yang cuma lima puluhan menit, film ini barely sebuah film-panjang. Dengan naskah yang ternyata gak mentingin apa-apa selain cara mengakhiri film dengan wow, film ini barely bisa disebut sebagai sebuah film. Twistnya membuat keseluruhan film jadi pointless. Enggak ada pointnya kita ngikutin kejadian karakter, kalo ternyata karakter itu gak pernah ada sama sekali. Seperti memang, persepsi orang bikin karya film harus diubah. Film itu bukan gaya-gayaan, bukan seru-seruan aja. Kalo memang mau reuni sama teman-teman lama, mending bikin video Youtube aja. Viewernya bisa banyak. Kenapa mesti menodai perfilman Indonesia yang sedang tertatih-tatih berusaha bangkit?
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for PERSEPSI.

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian apa sih yang mempengaruhi persepsi kita terhadap suatu hal?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SPIRAL: FROM THE BOOK OF SAW Review

“The police must obey the law while enforcing the law”

 

Franchise atau serial film Saw, dulu setia mengisi Oktober kita dengan horor penyiksaan yang sadis, tapi sering juga bisa membukakan mata. Karena setiap film Saw terkenal oleh dua hal. Jebakan-jebakan mautnya. Dan John Kramer; dalang – mastermind yang melakukan semua permainan mematikan tersebut dengan alasan moral yang kuat di baliknya. Walau Kramer telah mati sejak di film ketiga, tapi pengikut-pengikutnya (bahkan peniru dirinya) tetap selalu bermunculan dengan jebakan penuntut keadilan versi mereka. Legacy karakter tersebut seperti jadi perangkap atau jebakan sendiri bagi para pendukungnya, seperti halnya legacy franchise ini menjadi perangkap bagi pecinta filmnya.

Walau seri utamanya sudah usai bertahun-tahun yang lalu, ternyata masih banyak orang yang penasaran dan merasa perlu untuk membuat kembali film lanjutannya. Tahun 2017 yang lalu kita dapat, katakanlah, sekuel terbaru dari Saw. Film Jigsaw tersebut hadir dengan cerita karakter baru dan tampilan yang lebih ‘mahal’, namun masih terkesan sekadar ‘meniru’.  Kali ini, adalah aktor komedi Chris Rock yang bermaksud melanjutkan permainan maut tersebut. Rock yang jadi salah satu eksekutif produser di sini, menggaet Darren Lynn Bousman (sutradara Saw II, III, dan IV), untuk mewujudkan visinya menceritakan kisah Saw ke dalam dunia kepolisian yang sedang berpilin menurun seperti yang kita rasakan sekarang.

Dan tentu saja, sekali lagi aku dengan suka rela melangkah masuk ke ‘perangkap’ alias film terbaru dari dunia Saw ini!

Spiralcreen-Shot-2021-03-30-at-9.30.34-PM
Jadi ini adalah cerita tentang pembunuhan berencana, bukan tentang keluarga berencana

 

Dan, ya, sekali lagi aku merasakan penderitaan seperti sedang disiksa saat nonton film ini.

Saw adalah salah satu seri thriller favoritku. Film-film Saw malah salah satu yang membuat aku jadi tertarik sama yang namanya nonton film. Perjalanan nonton filmku dimulai dari genre horor dan thriller, dan Saw ada di sana mengawal experienceku. It is actually very painful untuk melihat sesuatu yang kita suka, yang kita pedulikan, yang kita merasa harus berterima kasih kepadanya, terus ada tapi tidak akan pernah bisa sebagus dirinya yang dulu.

Ide Chris Rock sebenarnya menjanjikan. Karena yang dia usulkan di sini adalah cerita yang relate dengan permasalahan yang masih hangat. Chris Rock menempatkan dirinya sebagai seorang detektif polisi. Ezekiel “Zeke” Banks. Anak dari mantan kepala polisi yang dihormati rekan-rekannya. Tapi Zeke sendiri, well, di bawah tekanan mental untuk menjadi sehebat ayahnya, Zeke malah semacam dijauhi oleh rekan-rekan polisi. Atau mungkin lebih tepatnya, dia yang menjauhi. Begini, Zeke orangnya intens banget. Dulu dia pernah memenjarakan rekan polisinya sendiri yang ia ketahui melanggar garis hukum. Sejak itulah, Zeke selalu beroperasi sendiri. Sampai kasus Spiral terjadi. Zeke dipasangkan dengan detektif muda, untuk mengusut pembunuhan berantai yang korban-korbannya actually adalah rekan-rekan polisi di precint Zeke, yang satu persatu menghilang saat melaksanakan tugas. Zeke pun lantas menemukan dirinya sebagai pusat dari permainan maut ala jigsaw.

See, cerita Chris Rock ini seperti mengambil halaman dari buku Saw dan meletakkan ke panggung yang lebih luas. Misteri kejadian apa di masa lalu, apa hubungannya dengan kasus sekarang; Ini jadi full-blown investigation story ketimbang cerita sekelompok orang terjebak seperti biasa. Film ini bahkan fokusnya bukan bener-bener pada perangkap atau jebakan mematikan lagi. Tentu, dalam selang tertentu kita akan melihat polisi yang tertangkap kemudian dipaksa untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari perangkap maut (potong lidah/potong jari-jarimu untuk bisa selamat!) Perangkapnya masih sanggup bikin ngilu yang nonton, dan bahkan direkam lengkap dengan ke-cheesy-an khas sekuel-sekuel Saw; cut-to-cut cepat dengan gerakan yang juga dipercepat, untuk menghasilkan kesan panik si orang yang kena perangkap. Tapi perangkap-perangkap di film ini tidak mencuat. Kalo ada yang bikin list ’10 Perangkap Termaut Dalam Film-Film Saw’, perangkap-perangkap dalam film ini pasti gak akan ada yang masuk. Karena memang dibikin biasa aja. Karena memang, film ini memfokuskan kepada siapanya. Siapa yang dijebak ituSpiral is more about characters study. At least, niatnya sih sepertinya begitu.

Yang kita lihat disiksa di sini bukanlah penjahat, melainkan polisi yang seharusnya menangkap penjahat. Dan itu karena polisi-polisi ini justru telah atau pernah berbuat jahat. Maka, film ini bicara kepada kita tentang kebobrokan polisi. Nerima suap, korupsi, ringan tangan (alias nembak/mukul dulu baru nanya) adalah ‘penyakit-penyakit oknum’ yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan menegakkan hukum. Apalagi melindungi rakyat. Melainkan justru memperkaya kriminalitas yang ada.

 

Seharusnya film membiarkan kita meresapi apa yang terjadi pada polisi-polisi tersebut. Apa yang telah mereka lakukan. Apakah mereka pantas mendapatkan ganjaran. Apakah sebenarnya justice itu. Seharusnya film memberikan waktu kepada Zeke untuk berefleksi, untuk berpikir. Jika film ini memang meniatkan untuk menjadi lebih seperti studi karakter ketimbang torture porn, maka film seharusnya memberikan ruang untuk eksplorasi karakter dan reaksi dan perkembangan mereka. Tapi nyatanya, Spiral sama sekali tidak memberikan itu. Tempo dan iramanya digenjot untuk intens terus. Hampir di semua adegan isinya orang-orang berteriak. Mau itu marah, panik, atau malah saat ngelontarin jokes aja karakter dalam film ini nadanya tinggi. Film yang baik itu seperti roller coaster, kita dibawa naik turun seiring karakter yang juga merasakan naik turun. Spiral ini, sedari perangkap di opening selalu menurun tajam. Yang kita dengar itu jadi seperti hanya suara-suara keras yang bising. 

spiral013360_966x543_637554024029131057
Tidak membantu pula Chris Rock yang suaranya khas banget sebagai suara komedi

 

Bintang komedi yang mencoba untuk keluar dari zona nyaman dengan bermain di peran yang lebih dramatis, atau lebih serius, atau sekadar lebih jauh berbeda dari perannya yang biasa. Tentu ini adalah hal yang bagus, yang harusnya berani dilakukan oleh lebih banyak penampil (atau studio). Baru-baru ini, misalnya, kita melihat Adam Sandler jadi gambling addict, Kevin James jadi bos kriminal, Bob Odenkirk jadi bintang laga! Dan sekarang, gilirannya Chris Rock. Spiral ini mestinya bisa jadi kendaraan yang mengukuhkan posisinya sebagai aktor luwes film panjang. Namun dari tone film ini yang didesain intens terus menerus, sepertinya mereka sendiri gak yakin Chris Rock bisa menangani peran yang lebih serius. Intensnya Zeke di sini itu translasinya pada layar adalah, Zeke teriak-teriak terus. Melotot-melotot. Tak ketinggalan, bibirnya dimonyong-monyongin. Seolah film try too hard untuk membuat Zeke tampil intens. Kamu ngomongnya harus keras biar kelihatan emosional. Padahal untuk menunjukkan emosi karakter, untuk membantu Chris Rock menemukan ‘suara’ dramatisnya, yang perlu dilakukan film ini cuma satu; Menggali hubungan karakter Zeke dengan ayahnya. Put it out front-and-center.

Padahal Samuel L. Jackson loh yang jadi ayah Zeke itu. Bayangin, Chris Rock dan Samuel Jackson jadi ayah-anak polisi, interaksi mereka seharusnya bisa endless. We could watch that all day! Tapi film ini justru membatasi interaksi mereka. Adegan mereka interaksi di film ini tuh gak lebih dari lima kali, kayaknya. Hubungan Zeke dengan ayahnya, yang clearly punya pengaruh besar dalam hidup dan karirnya, hanya diperlihatkan lewat flashback.

Flashback yang, by the way, dilakukan dengan enggak bener pula. Aneh perspektifnya. Karena, editing yang dilakukan film ini seperti membuat bahwa flashback yang kita lihat itu adalah memori atau pengalaman yang sedang diingat ulang oleh Zeke. Misalnya, kita melihat Zeke terduduk, dan kita masuk ke flashback – seolah masuk ke ingatannya. Nah, dengan begitu, seharusnya kita hanya melihat yang diingat oleh Zeke saja, karena itu adalah perspektif dirinya. Tetapi, adegan flashback itu terus berjalan, terus kita lihat, padahal Zeke udah gak ada pada adegan flashback tersebut. Bagaimana Zeke bisa mengingat kejadian yang tidak dia saksikan in the first place. Dengan perspektif gak jelas seperti itu, jelaslah sudah bahwa film ini  menggunakan flashback sebagai cara mudah untuk mengeksposisi kejadian. Film tidak concern sama development karakter sama sekali.

 

 

Pada tau iklan obat nyamuk Hit gak? Nah film ini persis kayak slogan iklan tersebut. Yang lebih mahal banyak. Karena memang film ini hanya menang lebih mahalnya saja dibanding film Saw yang pertama. Lebih mentereng dan terasa lebih luwes. Secara kualitas cerita dan penceritaan, film ini adalah penurunan. Tidak bisa memanfaatkan ide – dan aktor – yang bagus dengan maksimal. Perangkap-perangkapnya biasa aja, karena mau fokus di karakter. Tapi karakternya itu pun tidak berhasil digali. Film lebih memilih ngegas terus untuk menjadi intens, tapi kejadiannya tidak diberikan waktu untuk benar-benar berdampak pada cerita. namun pada akhirnya hanya berakhir sebagai kebisingan yang enggak terasa apa-apa.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for SPIRAL: FROM THE BOOK OF SAW

 

 

That’s all we have for now.

Amerika menggunakan kata ‘pigs’ sebagai konotasi negatif untuk polisi. Bagaimana pendapat kalian tentang polisi-polisi di Indonesia? 

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THE CONJURING: THE DEVIL MADE ME DO IT Review

“Till death do us part”

 

Sekuel kedua dari The Conjuring (dan kedelapan dari Conjuring Universe) jelas tidak dibuat karena disuruh oleh setan. It is more like, the ‘duit’ made them do it. Begitulah adanya industri. Suka atau tidak, kita tidak bisa menutup mata bahwa membuat franchise atau movie universe segede itu jelas enggak bisa dibilang gampang. Paling enggak, ada dua cara melakukannya. Pertama, just give audiences whatever they want; kasih ‘wahana’ yang itu-itu terus dan duduk santai mengeruk cuan sambil menyaksikan kualitas kreasi yang semakin lama semakin menurun. Atau, mencoba untuk mengemulasikan sesuatu yang baru; mengambil resiko untuk dianggap sedikit berbeda, tapi sekaligus juga berjuang menjaga ‘hati’ kreasi tersebut tetap pada tempatnya.

The Conjuring Tiga (nyebutnya gini aja biar singkat) ini, berjalan di garis batas dua cara tersebut. Film memberi kita panggung baru dan cara main baru pada kisah relasi dan aksi Ed dan Lorraine yang sudah kita semua cintai sejak film pertama, tapinya juga film ini berpegang erat pada elemen-elemen ‘wahana horor’ yang sudah membuat universe ini begitu laku dan dijadikan patokan horor mainstream kekinian (alias jadi banyak yang niru). And that leaves me with a really mixed feeling about this whole movie.

Cerita film ini dibuka layaknya Conjuring ‘normal’. Ed dan Lorraine sedang membantu sebuah keluarga yang anak bungsunya kerasukan. Namun kejadian lantas ngegas menjadi bahkan lebih menakutkan lagi ketika iblis yang merasuki si anak, pindah ke abang-abang pacar kakaknya si anak. Mendadak, keadaan menjadi tenang. Aftermath dari kejadian tersebutlah yang ternyata jadi fokus konflik cerita. Ini bukan lagi cerita tentang keluarga dan rumah baru berhantu mereka seperti yang sudah-sudah. Sepulangnya dari TKP, si abang-abang yang bernama Arne Johnson itu merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Dia juga merasa diserang oleh setan. Padahal aslinya, dia just killed a man, put a bulle.. eh salah itu lirik lagu Queen…. Aslinya, Arne telah membunuh seseorang. Arne ditangkap polisi dan hendak dihukum mati. Sehingga Ed dan Lorraine berusaha membantunya. Cuma mereka yang percaya bahwa yang membunuh itu bukan keinginan Arne. Ed dan Lorraine harus mengungkap kasus kesurupan tersebut secepatnya. Kasus yang ternyata lebih gede daripada sekadar ‘kesurupan’. Dan semua itu dilakukan sambil berurusan dengan penyakit jantung yang diderita Ed. 

conjuringng-the-devil-made-me-do-it-100-748x499
Kali ini, pasangan demon buster kita mungkin akan terpisah selamanya…

 

Pada bagian awal itu – dan pada beberapa bagian nantinya – Michael Chaves yang menggantikan posisikan James Wan sebagai sutradara berhasil memvisualkan adegan-adegan horor yang sehati dan sejiwa dengan film-film pendahulunya. Chaves juga berhasil memenuhi ekspektasi studio dalam membuat adegan horor tersebut jadi komersil. Alias sesuai selera mainstream. Kita akan lihat adegan kesurupan yang bombastis. Kita juga nanti bakal melihat adegan-adegan yang scarenya dibuild up banget, misalnya adegan Ed dan Lorraine di kamar mayat. Adegan tersebut membuatku berhasil ketawa nervous, which is my defense mechanism kalo lagi takut banget. Building up tampaknya memang jadi kekuatan film ini. Chaves berhasil menjaga tempo, dengan presisi mengatur kamera, dan bahkan penempatan tulisan yang ngasih tahu kasus nyata Ed dan Lorraine mana yang kini dijadikan inspirasi cerita dilakukan pada momentum yang tepat. Sehingga saat nonton ini di awal itu rasanya langsung ke-hook banget. 

Aku suka gimana film ini berusaha memberikan kondisi yang berbeda kepada Ed dan Lorraine. Sedari opening tadi itu kita sudah diperlihatkan Ed sekarang punya kelemahan. Karena si iblis, Ed jadi punya kondisi yang membuat jantungnya lemah. Untuk berlari saja dia kepayahan. Salah-salah bisa masuk rumah sakit lagi. Ini menciptakan stake yang sangat berarti bagi mereka berdua. Mengganggu dinamika yang sudah terbangun sejak dua film sebelumnya. Lorraine harus beraksi sendiri. Sementara Ed, mencoba untuk sebisa mungkin berada di sana bersama Lorraine. Feeling saling terkoneksi dan harus bersama itu dijadikan kontras oleh ‘penjahat’ film ini yang melakukan koneksi tapi untuk memisahkan. Vera Farmiga dan Patrick Wilson menunjukkan chemistry yang semakin kuat, on top of permainan akting yang emosional. Mereka membuat gampang bagi kita untuk bersimpati kepada mereka.

Kisah Ed dan Lorraine ini benar-benar seperti menemukan oase di padang pasir. Di tengah-tengah cerita horor, kisah cinta mereka berdiri untuk kita jadikan panutan. Karena bahkan godaan dan tipuan iblis pun tak mampu untuk memisahkan mereka berdua.

 

Yang di ujung tanduk di sini bukan hanya soal keselamatan nyawa Ed, tapi juga keselamatan ‘relationship’ mereka. Karena film juga mengestablish cara-kerja kesurupan; kita diperlihatkan pov mereka-mereka yang kesurupan, kita melihat mereka gak tahu mana yang nyata, mana yang bukan. Yang mereka lihat adalah orang terkasih mereka diserang iblis, sedangkan pada realitanya iblis itu justru sang kekasih. Relasi Ed dan Lorraine sebagai pasangan sudah demikian kuat mengakar, kita sudah melihat mereka menempuh banyak rintangan bersama. Nah di film inilah, kebersamaan itu terasa benar-benar terancam. Sehingga jadi ketegangan sendiri bagi kita yang sudah peduli. Film juga memperlihatkan sedikit soal kejadian bagaimana kedua orang ini bertemu, dan adegan kecil nan-singkat itu menambah bobot yang lumayan untuk memperkuat simpati kita terhadap hubungan keduanya.

Pembangunan film ini bekerja dengan baik, tapi tidak untuk waktu yang lama. Belum sampai pertengahan durasi, aku merasakan ketertarikanku berkurang. Dan itu tepatnya adalah saat cerita yang sudah seperti membangun ke arah yang totally berbeda dari Conjuring terdahulu, tapi ternyata hanya menjadi ‘gak beda-beda amat’. Cerita film ini berdasarkan kasus peradilan pertama di Amerika, dalam hal ini pertama kalinya terdakwa menggunakan ‘setan yang nyuruh gue’ sebagai pembelaan resminya. Film seperti akan mengarah ke membahas hal yang menjadi judul tersebut. Hal yang jadi sensasi banget back then at 80s’s America. Ada adegan ketika Ed dan Lorraine berusaha meyakinkan pengacara untuk mau membantu Arnie mencari keringanan hukum, karena you know, the devil did tell him to do it. Ini kan sebenarnya juga bisa jadi konflik yang menarik. Bagaimana investigator alam goib seperti mereka harus ‘beradu’ dengan polisi dan pengadilan. Bagaimana fakta-fakta kasus bertemu dengan spiritual. Aku pikir, wow film berani banget banting stir kalo bahas ke arah ini. Tapi ternyata memang tidak berani. Build up untuk meyakinkan pengacara tadi ternyata penyelesaiannya sangat gampang – dan malah dibuat komedi sepintas oleh film ini. Mainlah ke rumah, nanti kami kenalin kamu sama Annabelle.

Setelahnya, Ed dan Lorraine tidak pernah dapat kesulitan lagi perihal meyakinkan polisi kalo yang mereka omongkan soal kasus itu adalah kebenaran. Orang-orang hukum itu percaya aja. Bahkan ada adegan ketika polisi beneran minta kerja sama menyelidiki TKP. Film ini tidak berniat mengeksplorasi ‘kejadian nyata’, melainkan tetap berada di penggalian investigasi fantasi yang bahkan gak benar-benar ngasih hal baru. Atau malah ngasih hal yang mengerikan. Ed dan Lorraine jadi semacam detektif menyelidiki kasus, hanya saja penyelidikan mereka gak actually meneliti petunjuk. Melainkan memegang benda dan melihat vision tentang kebenaran. Come on! Vision si Lorraine ini basically cuma ekposisi yang dilakukan dengan cara yang paling gampang. Ini gak ada bedanya ama flashback berisi eksposisi kejadian sebenarnya yang dilakukan oleh Perempuan Tanah Jahanam (2020). Malah di Conjuring ini lebih parah, karena bukan cuma dilakukan satu kali.

conjuring_210423112659-962
Polisi dan pengacaranya jadi percaya seperti kita yang kadang-kadang percaya banget ama ramalan zodiak

 

Enggan menjadi pembahasan kasus dan psikologis pria yang membunuh karena mengaku kesurupan, karena bakal menyimpang jauh dari franchisenya, film ini toh memang berubah juga. Dari horor rumah hantu ke penyelidikan whodunit dengan unsur cult atau ilmu sihir.  Musuh utama mereka kali ini mungkin saja adalah manusia. Untuk stay true dengan jati diri franchise/universenya, film ini mempertahankan apalagi kalo bukan jumpscarenya. Masalahnya adalah keabsenan James Wan memang tak bisa untuk tidak ternotice. Untuk beberapa kali memang Chaves berjuang keras untuk katakanlah meniru gaya Wan, membuat ‘good’ jumpscare dari build up tensi. Tapi tidak jarang juga dia seperti kembali ke jumpscare-jumpscare basic. Chaves akan sering mematikan lampu. Membuat apa yang ada di layar itu jadi susah untuk dilihat. Ini gak sama dengan bermain lewat bayangan. Karena yang dilakukan Chaves di sini adalah betul-betul menutupi pandangan kita, membuat kita susah untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kalo kita sedang sial, kita akan menyipitkan mata berusaha mempertajam penglihatan. Dan datanglah jumpscare itu!

Film ini enggak seram. Dan pilihan film untuk membumbui beberapa adegan dengan komedi certainly enggak membantu film dalam kasus ini. Malah membuat kita jadi tertawa juga di adegan-adegan yang mestinya memang didesain untuk seram. Ada waktu saat nonton film ini ketika aku tidak lagi tertawa nervous, melainkan tertawa ya karena yang kulihat itu menurutku lucu. Dan aku gak yakin film ini sengaja melucu atau tidak. Misalnya seperti ketika botol sekecil itu tapi air di dalamnya ternyata bisa dipakai untuk menggambar lingkaran yang cukup besar untuk orang dewasa duduk bersila di dalamnya. Atau ketika melihat tampang smug si pastor penjara begitu kesurupan bombastis itu berhenti. Maan, si pastor pasti ngira dialah yang berhasil menghentikan itu padahal semuanya karena musuh mereka telah berhasil dikalahkan nun jauh di tempat lain. Dan ngomong-ngomong soal musuh, film benar-benar menuliskan karakter ini dengan sangat awkward. Motivasinya gak jelas. Kenapa orang-orang itu yang ia target juga gak jelas, dan kenapa ngalahin dia gampang banget. Kenapa dia begitu ‘kebetulannya’ gak ada di altar padahal bukankah dia sedang melakukan ritual untuk bikin Arne kesurupan?

Mari kembali lagi ke awal ulasan karena aku jadi gak yakin sekarang. Who made you wrote — WHO MADE THIS?!!

 

 

 

Clearly, terburuk di antara tiga film The Conjuring. Film Conjuring yang kedua berhasil mencapai nilai 8 bintang emas, sementara Conjuring yang pertama sukses nangkring di posisi ke-8 di Top Movies of 2013ku. Sedangkan film ketiga ini kayaknya bakal masuk daftar Kekecewaan Bioskopku di akhir tahun nanti. Aku sudah seneng dengan kasusnya. Aku juga suka banget sama Ed dan Lorraine, serta situasi yang harus mereka hadapi dalam cerita kali ini. Hanya saja, film ini mengambil perubahan, tapi tidak benar-benar berani. Sehingga bahasannya jadi dangkal. Dan gak klop. Film berusaha membuat whodunit jadi seram, tapi gagal. Film-film santet Indonesia bisa lebih seram daripada ini.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE CONJURING: THE DEVIL MADE ME DO IT.

 

 

That’s all we have for now.

Setelah menyaksikan film ini, apa yang bisa kalian simpulkan dari perbedaan witchraft di Amerika dengan santet atau perdukunan di Indonesia? Apakah di Indonesia pernah ada kasus santet yang dibawa ke peradilan? Bagaimana hukum santet di mata hukum di Indonesia?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

A QUIET PLACE PART II Review

“A person’s most useful assets are a heart full of love, an ear ready to listen, and a hand willing to help others. “

 

Monster yang memburu manusia lewat sekecil apapun suara yang mereka dengar, sehingga untuk bisa survive, manusia haruslah bergerak dalam diam. Konsep yang jenius sekali untuk sebuah cerita horor. Perjuangan untuk tidak bersuara sama sekali itu mampu menciptakan ketegangan yang genuine, yang easily menular kepada kita para penontonnya. Membuka banyak sekali ruang untuk pembangunan thriller yang seru. Bagi para aktor, konsep ini juga jadi tantangan yang menarik; karena mereka dituntut untuk berakting dengan hening, untuk berdialog lewat ekspresi dan bahasa tubuh atau malah bahasa isyarat sekalian. Visual storytelling haruslah sangat kuat di sini. Dan sutradara John Krasinski sukses berat mengeksekusi semua itu dengan baik. Semua pencapaian itu sudah diraih oleh Krasinski sejak film A Quiet Place pertama tahun 2018. Di film kedua ini, Krasinski memang berhasil mempertahankan prestasinya tersebut dengan gemilang. For once again, kita dibawanya pacu jantung di dunia senyap yang penuh monster.

Namun, supaya review ini juga gak berulang – biar gak sama dengan film pertamanya itu – pertanyaannya adalah, apa dong hal berbeda yang ditawarkan oleh Krasinski dalam film kedua kali ini?

quiteA-QUIET-PLACE-2-Trailer-2020-2-17-screenshot-1024x576
Kalo produsernya alay, film ini akan berjudul ‘2 Quiet Place’

 

Krasinski membuat film kedua ini lebih besar, lebih cepat, lebih chaos, dan tentu saja lebih keras!

Beberapa yang sudah baca mungkin masih ingat di review film A Quiet Place pertama aku menulis soal alasan film tersebut tidak dimulai dari saat musibah monster pertama kali muncul, melainkan dari hari ke-89, saat keluarga Abbott sudah mulai menerapkan sistem bertahan sendiri. Karena film pertama tersebut fokusnya pada karakter, pada keluarga yang harus menyelesaikan masalah mereka bersama-sama. Tidak perlu untuk memperlihatkan hiruk pikuk massa, karena film membatasi diri pada satu keluarga itu saja. Nah, di film kedua ini barulah Krasinski menggunakan opening kejadian Day 1 musibah monster bisa terjadi. Kita melihat adegan Keluarga Abbott bersama seisi penghuni kota yang tadinya aman-aman saja berubah seketika panik ketika ada sesuatu yang seperti meteor jatuh melintasi langit mereka. Adegan opening yang dieksekusi dengan menakjubkan tersebut, ternyata juga efektif sekali. Karena sesungguhnya punya beberapa fungsi. Salah satunya ya sebagai penanda bahwa cerita kali ini adalah kelanjutan dari Keluarga Abbott, tapi dengan skala yang lebih besar.

Bahwa kali ini juga adalah tentang dunia yang mereka tempati. Tentang kemanusiaan yang keluarga tersebut merupakan bagian darinya. Film kedua ini langsung melanjutkan cerita pada film pertama. Emily Blunt beserta anak-anaknya; Millicent Simmonds, Noah Jupe, dan seorang bayi, pergi dari rumah mereka yang sudah tak lagi aman. Mereka menyusur hutan dalam usaha mencari orang atau pertolongan, karena mereka telah melihat api unggun dari kejauhan. Berbekal alat survival dan senjata pamungkas untuk mengeksploitasi kelemahan monster yang mereka ‘temukan’ di film pertama, Keluarga Abbott ini akan segera mengetahui keadaan dunia mereka sesungguhnya. Bahwa mungkin masih ada kelompok-kelompok manusia yang bertahan. Dan ngerinya, beberapa dari kelompok itu bisa saja lebih berbahaya daripada monster-monster itu.

Jadi fokus cerita kali ini bukan semata pada keluarga Abbott, melainkan juga pada manusia secara keseluruhan. Ada perbincangan soal manusia yang tersisa di dunia mereka, sudah tidak tertolong. Atau lebih tepatnya, sudah tidak pantas lagi untuk ditolong. The audience will soon to see why, tapi film kemudian mengangkat pertanyaan yang menarik dari pilihan yang diambil oleh karakternya. Anak sulung keluarga Abbott yang diperankan dengan – I mean, like a pro! – oleh Millicent Simmonds telah memutuskan untuk mengambil resiko pergi ke pulau. Bukan hanya untuk mencari keselamatan, melainkan karena terutama dia yakin akan bisa mengalahkan monster-monster dan menyelamatkan semua orang. Walaupun itu berarti dia harus mengambil resiko mengorbankan alat bantu pendengarannya. Film ini secara keseluruhan memang terasa tampil lebih ringan (lebih mirip blockbuster biasa daripada film pertamanya) tapi elemen cerita yang diangkatnya tersebut membuatku cukup terharu. Aku tahu film ini sebenarnya direncanakan untuk tayang tahun lalu, sebelum pandemi. Tapi menontonnya sekarang, apa yang terjadi di cerita itu ternyata mirip dengan situasi yang kita hadapi.

Situasi covid yang terus bertahan hingga saat ini. Seperti monster-monster di film ini yang menuntut semua orang harus diam tak-bersuara supaya mau selamat, pandemi coronavirus juga merupakan situasi yang membuat kita harus tergantung sama orang untuk ikut patuh menjaga protokol kesehatan. Tapi kan semakin hari, orang-orang semakin acuh. Semakin banyak yang malas pakai masker. Semakin banyak yang gak-percaya. Ini menciptakan gap pada masyarakat. Yang satu mencela pihak lainnya. Film ini bisa berfungsi sebagai pengingat bahwa semua orang pantas untuk diselamatkan, bahkan orang yang paling covidiot sekalipun. Bahwa kita tidak akan bisa selamat dari wabah ini, jika kita tidak saling menyelamatkan. 

Diam itu emas. Tapi benar juga kata tagline poster film ini. Diam itu enggak cukup. Kita tidak bisa menyelamatkan siapapun hanya dengan berdiam. . Jika film pertamanya dulu membahas tentang pengorbanan demi menyelamatkan keluarga, maka film kedua ini adalah tentang menyelamatkan atau membantu orang lain, walau sekilas mereka seperti tak pantas untuk diselamatkan. Padahal bagaimanapun juga kemanusiaan itu masih perlu untuk diselamatkan. Dan itu ditunjukkannya dari karakter yang rela mengorbankan miliknya demi keselamatan orang lain.

 

Adegan opening film ini juga difungsikan untuk memperkenalkan karakter baru yang diperankan oleh Cillian Murphy. Karakternya sebagai teman dari keluarga Abbott saat dunia masih damai itu punya peran yang besar. Dialog dan relasinya dengan putri sulung Abbott jadi kunci dan actually adalah yang membawa narasi soal ‘manusia perlu/tidak perlu diselamatkan’ tadi. Karakter ini juga sepertinya dibangun sebagai pengganti sosok ayah bagi keluarga Abbott nantinya. Ada beberapa adegan yang mengarah ke sini, seperti saat karakter Emily Blunt meninggalkan cincinnya di kuburan suami, yang bisa ditafsirkan sebagai pertanda move-on. Ataupun ketika pertengahan film hingga akhir, karakter sentral film ini terpisah menjadi dua kelompok. Noah Jupe dan bayi dengan Emily, Simmonds dengan Murphy. Ini seperti mirroring adegan pembuka ketika keluarga tersebut sempat terpencar jadi dua kelompok yang sama, only, of course, Simmonds bersama ayahnya instead of Murphy.

quietmaxresdefault
Sayang, musuh bebuyutan keluarga ini, si paku biadab, enggak tampil lagi

 

‘Pemisahan kelompok’ tersebut bukan saja memastikan semua karakter mendapat porsi horor masing-masing (termasuk sang bayi!), tapi juga memang pada akhirnya membawa efek yang sangat amat positif bagi keseruan aksi kejar-kejaran melawan monster – seperti yang juga sudah ‘terinfokan’ oleh adegan pembuka. Film akan sering memparalelkan, ngematch cut kan, aksi dari kedua grup yang terpisah. Misalnya seperti ketika satu grup dikejar-kejar monster di stasiun radio, sementara grup satunya sedang terjebak di dalam brankas keselamatan, dengan monster menunggu sambil mencakar-cakar di pintu. Aksi-aksi terpisah ini didesain dengan kesamaan-kesamaan khusus, sehingga saat berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, terasa semakin seru dan tidak ada beat aksi yang terlepas dari kita. Suspens dan ketegangan itu jadi bisa tetap terjaga. Sehingga tak heran jika nanti ada karakter yang menjerit, kita akan ikutan menjerit padahal di bioskop sama-sama gak boleh berisik hihihi

Jika ada satu lagi fungsi adegan opening film ini, maka mungkin itu adalah sebagai bridge yang menyamarkan pertumbuhan aktor. Film ini kan alurnya langsung menyambung film pertama, sedangkan jarak kedua film ini cukup jauh untuk membuat aktor-aktor cilik bertambah gede dengan cukup signifikan. Menampilkan adegan opening yang dishot dalam keadaan sekarang, membuat kita tidak membandingkan dua aktor cilik pada kedua film. Sehingga lebih mudah mempertahankan ‘ilusi’ bahwa film ini langsung dimulai beberapa waktu setelah film pertama berakhir.

Ngomong-ngomong soal berakhir, kayaknya memang hanya di adegan akhir alias ending saja aku merasa gak sreg sama film A Quiet Place Part II. Treatment akhirannya sebenarnya mirip juga ama film pertama; didesain kinda abrupt sehingga lowkey jadi cliffhanger untuk (siapa tau) sekuel. Tapi film pertama terasa lebih emosional, lebih terasa seperti penyelesaian. Mereka sudah menyelesaikan masalah di rumah, dengan kehilangan ayah, dan sekarang sudah saatnya babak baru. Film kedua ini, endingnya kurang mewakili perasaan seperti begitu. Hanya terasa seperti mereka kini sudah tahu pasti cara mengalahkan monster, sudah tahu ‘posisi’ mereka dalam perang melawan monster ini, dan dua pejuang sudah ter-establish. Journey mereka kurang terasa emosional. Malahan yang benar-benar punya inner journey di sini adalah karakter Cillian Murphy, yang mengubah cara pandangnya.

Sebagian besar keluarga Abbott di sini justru malah lebih dangkal. Mereka di sini ‘hanya’ dikejar, kaget, terluka, atau melakukan beberapa hal bego (yang untungnya tidak pernah bener-bener dieksploitasi melainkan sebatas kegugupan karakter). Tidak benar-benar ada eksplorasi, terutama pada karakter Emily Blunt dan Noah Jupe. The latter malah nyerempet annoying karena banyak ngelakuin wrong things. Kita juga tidak melihat hal baru dari para monster. Hanya ada sekilas perihal origin mereka. Tapi monster yang kita lihat di sini tidak banyak perbedaan penggalian dengan yang di film pertama. Film masih bermain aman dengan menempatkan mereka di tengah-tengah. Tidak sebagai karakter, dan tidak pula hanya sebagai sebuah spectacle. Mungkin karena mengincar sekuel lagilah maka film kali ini memutuskan untuk bungkam mengenai monster-monster tersebut.

 

 

 

Memang, bintang sebenarnya film ini adalah sutradaranya. John Krasinski berhasil menceritakan soal manusia yang harus tak-bersuara dikejar monster ini sebagai cerita yang simpel dan stay true sebagai dirinya sendiri, namun berskala luas. Konsep unik tersebut sekali lagi berhasil dia eksekusi menjadi horor yang efektif, yang terus-terusan membuat kita takut menarik napas. Adegan openingnya menjadi adegan paling penting, dan tak pelak merupakan salah satu opening horor terbaik sepanjang tahun ini. Film ini keren, tapi jika dibandingkan dengan film pertama, aku tidak berpikir ini jatohnya lebih baik. Buatku, lebih seperti, film pertama itu Krasinski bermain di horor yang lebih senyap dan lebih emosional, dan dia sukses. Dan kini, dia mencoba bermain di volume yang lebih keras dan lebih ke seru-seruan. Dan dia sama suksesnya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A QUIET PLACE PART II

 

 

That’s all we have for now.

Apakah bagi kalian ada orang-orang tertentu di dunia ini yang tak pantas diselamatkan, atau mendapat pertolongan? Orang-orang seperti apa itu kira-kira?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

ARMY OF THE DEAD Review

“What happens in Vegas, stays in Vegas”

 

Gak heran kalo Las Vegas disebut sebagai Sin City (Kota Dosa). Di tempat itu dari nyaris dari pintu ke pintu adalah kasino. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru mengunjungi tempat hiburan khusus dewasa tersebut, berpesta foya-foya dengan berjudi dan segala turunannya yang sah, mulai dari ngobat sampai prostitusi. Las Vegas dalam dunia sinema Zack Snyder ini, kedatangan satu ‘dosa’ lagi. Satu abomination, yang lantas merebak menjadi ribuan lainnya. Wabah zombie menggerayangi seisi kota! Beruntung Las Vegas punya slogan “Apa yang terjadi di Vegas, tetap tinggal di Vegas”. Zombie-zombie dikarantina di dalam kota yang ditutup rapat-rapat. Terputus dari dunia luar.

Ketika Scott Ward dan kelompoknya mendapat misi untuk mengambil dua ratus juta dolar uang yang tersimpan di dalam brankas salah satu kasino, mau tak mau mereka harus melintasi kota undead tersebut. Dan saat itulah geng orang-orang jalanan ini mengetahui bahwa musuh yang mereka hadapi di sana bukanlah sesepele mayat hidup tak-berotak. Yang tinggal di dalam sana ternyata bukanlah kawanan zombie biasa. Melainkan kelompok zombie-zombie pintar, yang dipimpin oleh raja dan ratu zombie yang bisa berpikir sendiri. Mereka menduduki kota. Las Vegas telah berubah menjadi kerajaan zombie!

Di Las Vegas semuanya kasino. Gak ada yang dono ataupun indro.

 

Para zombie itu memang jadi hal paling menarik yang ditawarkan oleh film. Basically ada tiga jenis zombie yang dimunculkan di sini. Ada zombie pelan dan dungu, seperti yang sudah umum kita lihat. Lalu ada zombie alpha; zombie yang gerakannya sangat cepat dan cukup cerdas untuk mengelak dari peluru. Dan terakhir, zombie pemimpin mereka, The Original, tak-kurang seperti makhluk berkecerdasan dan kekuatan super. Dia mengendalikan zombie-zombie yang lain seperti bos memerintah anak buah. Hierarki zombie ini menciptakan lapisan intensitas pada cerita. Karena selain difungsikan sebagai tantangan untuk para karakter manusia, zombie-zombie ini juga jadi sarana bagi sutradara Zack Snyder mencuatkan kreativitas khasnya. Tidak setiap hari kita melihat zombie berjubah dan berhelm menunggangi kuda zombie – niruin dewa Zeus, kan. Dan ya, zombie harimau membuat film ini berada dalam level kekerenan yang baru!

Snyder bener-bener pol-polan mengarahkan cerita untuk mengajak kita bersenang-senang dengan tembak-menembak zombie. Setiap headshot ke kepala berotak busuk tersebut dipastikannya terekam dengan penuh gaya. Kita bisa duduk santai menikmati setiap adegan laga yang disuguhkan. Pertemuan geng manusia dengan kawanan zombie dibuat berbeda setiap kalinya. Ada yang berupa mereka harus berjalan pelan-pelan supaya tidak membangunkan zombie yang sedang hibernasi. Di lain waktu, mereka benar-benar harus tunggang langgang sambil berlari menembaki zombie. Bahkan ada adegan ketika para manusia memanipulasi zombie untuk berjalan menyusuri jebakan tersembunyi. I love those kind of interactions. Rasanya nonton ini seperti kembali nonton film-film zombie jaman dulu yang pure seru-seruan, gak ada agenda. 

Jikapun kerajaan zombie itu dimaksudkan sebagai cerminan society masa kini, Snyder tidak pernah mencuatkan hal tersebut. Karena cerita film ini dibuat sangat sederhana sekali. Ceritanya malah cukup mirip dengan Peninsula (sekuel Train to Busan yang tayang 2020 lalu). Alih-alih tentang outbreak, film ini melompat dan mengambil masa ketika Las Vegas sudah jadi kota mati, dan sekelompok orang ditugaskan untuk mengambil ‘harta karun’ di dalam kota tersebut. This is lowkey a heist movie, with zombies. Zombie pintar di film ini adalah pengganti kelompok ala Mad Max di Peninsula. Protagonisnya juga mirip. Peninsula punya protagonis yang merasa bersalah telah membiarkan kerabatnya dimakan zombie, maka Army of the Dead ini punya protagonis yang dihantui oleh tindakannya yang terpaksa membunuh istri sendiri sebelum ibu dari putrinya tersebut berubah menjadi mayat haus darah.

What happens in Vegas stays in Vegas. What happens in the past stays in the past. Karena pada akhirnya, apapun yang telah terjadi, apapun yang telah dilakukan – entah itu keberhasilan atau kegagalan – tidak akan ada orang yang akan benar-benar mengerti kecuali diri sendiri. Kita sendirilah yang harus deal with it. Seberapa jauhpun kita lari, bagian diri kita yang ada di situ akan tetap di situ, sampai kita menyelesaikannya.

 

Personally, aku lebih suka cerita outbreak zombie ketimbang action heist yang zombienya seringkali hanya diposisikan sebagai obstacle. Film Army of the Dead ini menceritakan kejadian awal Las Vegas terkena wabah zombie lewat montase sebagai opening credit. And it was a blast! Montase tersebut melimpah ruah oleh gaya Snyder – aksi dan musik dan kamera work yang lain dari yang lain – dan benar-benar sukses memperlihatkan zombie outbreak mengerikan. Bahkan ada cerita-mini tentang ibu yang harus berjuang menyelamatkan anaknya tapi gagal dan mereka berdua mati bersama zombie-zombie di sela-sela memperkenalkan tiga tokoh sentral sebenarnya dari cerita film ini. Opening kreditnya itu bisa banget dijadiin satu episode film-panjang sendiri. And I must say, aku merasa jauh lebih peduli dan tertarik sama cerita ibu pejuang di situ dibandingkan dengan karakter-karakter yang ada pada kelompok Scott sebagai main story film ini.

Bukannya apa-apa, tapi karakter manusia di film ini tipis sekali. Yang paling mendingan memang si Scott. Dia bilang dia mau nerima misi karena duit, tapi sebenarnya dia juga pengen banget ketemu lagi sama putrinya yang jadi relawan di sekitar perbatasan kota Las Vegas. Dave Bautista menggunakan perannya di sini sebagai pintu kesempatan untuk memperluas range aktingnya. Kita bisa lihat dia berusaha untuk hit adegan-adegan percakapan yang emosional. Tapi dengan stake yang diberikan kepada karakternya ini, kita tidak benar-benar bisa merasa peduli kepadanya. Yang grounded dan emosional terletak pada hubungannya dengan putrinya, yang sayangnya Kate, putri semata wayangnya itu ditulis sebagai karakter annoying karena begitu keras kepala. Selebihnya, kelompok mereka terdiri dari orang-orang yang hanya mau duit juga. Ada youtuber yang diajak ikut karena video dirinya menembak jitu zombie-zombie viral. Ada pembuka brankas yang cupu, tapi dibikin sok melawak oleh naskah sehingga malah jadi creepy. Ada juga beberapa relationship yang tau-tau muncul, dan disetop begitu saja. Film sepertinya hanya menggali mereka sesaat sebelum mereka dibuat mati, as a cheap shot untuk memancing perasaan sedih kita. Padahal sebenarnya ya memang orang-orang ini ada di sana untuk jadi makanan zombie. The more the merrier.

Walaupun di tengah-tengah, film berusaha menaikkan suspens dengan mengeset batas waktu yang semakin ngepress bagi para karakter – jika mereka telat, mereka mati, hancur bersama Las Vegas – tetapi tetap saja susah bagi kita untuk merasakan simpati. Kita tentunya sukar untuk benar-benar ingin mereka sukses jika kegagalan mereka hanya berarti mereka gak dapat duit jutaan yang sebenarnya tidak mereka perlukan (they already have a job). Satu-satunya yang punya stake yang bisa kita pedulikan adalah seorang perempuan beranak dua yang disandera zombie. Namun, karakter teman putri Scott ini ya hanya sebagai sandera, kepentingan dirinya dan keluarganya tidak benar-benar dibangun.

Ditembak termometer jadi elemen horor yang relevan

 

Tentu, film zombie boleh saja hanya have fun dengan karakter yang tipis. Mereka bisa berbicara lewat aksi saja jika memang budget atau waktu yang dimiliki terbatas. Inilah yang disayangkan. Army of the Dead terlihat jelas punya dana yang enggak pas-pasan. Durasinya pun lebih panjang dari yang sebenarnya dibutuhkan oleh cerita. See, there lies the problem. Ketika Snyder merilis Justice League versi dirinya, kita bisa maklum durasi film tersebut mencapai empat jam. Karena kita paham ceritanya butuh ruang yang banyak supaya masing-masing karakter superhero dapat termuat dengan memadai. Kita malah sudah melihat bagaimana cerita tersebut tidak bisa bekerja jika hanya sekitar dua jam. Di film Army of the Dead ini kasusnya beda. Durasi nyaris dua setengah jam itu tidak terasa benar-benar diperlukan. Snyder toh tidak berniat mengembangkan karakter-karakter yang dimiliki. Begitupun soal aksi, yang ternyata tidak selalu terjadi di layar. Snyder di sini tampak memakai durasi bercerita yang panjang, bukan karena dia butuh, tapi hanya karena dia bisa.

Padahal kita bisa rasakan sendiri saat menonton, betapa tidak efektifnya tempo dan ritme adegan per adegan yang kita saksikan. Banyak bagian yang tampak tidak penting-penting, yang jika dibuang pun tidak mengganggu cerita. Misalnya soal teman salah satu anggota kelompok yang diajak tapi kemudian pulang lagi karena takut sama zombie. Apa pentingnya adegan tersebut sampai harus masuk, kan. Karakter yang pulang tadi itu bahkan tidak benar-benar dijumpai lagi hingga akhir cerita. Actually, sepanjang durasi film akan banyak melakukan hal seperti demikian. Seolah ngebuild up sesuatu dari interaksi karakter, tapi ternyata tidak ada pay off sama sekali. Semua berjalan sesuai dengan blueprint mengenai tipikal karakter manusia film zombie yang sudah kita hapal di luar kepala.

Hal terakhir yang juga menggangguku adalah soal treatment gambar yang dilakukan oleh kamera Snyder. Ini lebih ke soal selera sih kayaknya, karena mungkin diniatkan untuk estetik. Snyder merekam gambar yang dengan sengaja digeser dari fokusnya. I mean, hampir seluruh frame itu gambarnya hanya fokus di sekitar tengah layar, sementara sekitarannya buram. Menonton film ini aku sambil mengerjap-ngerjap. Kupikir minus mataku sudah nambah dan kacamataku sudah gak cocok lagi. Karena mirip seperti gambar film inilah penglihatanku kalo gak pake kacamata. I would squint my eyes so hard sehingga nanti bagian tengah yang sedang kupandang jadi jelas. Beberapa penonton enggak akan masalah sama ini, karena hey, it’s Snyder. Gaya-gaya seperti itu cocok dengan konteks siapa dirinya dan bagaimana ciri khas karya-karyanya. Lagipula mungkin memang benar kata Hideo Kojima bahwa Snyder sedang mengubah kepala kita menjadi zombie, dan itu dimulai Snyder dari penglihatan kita.

 

 

Enggak setiap hari kita dapat film zombie yang sangat stylish. Penuh aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakan yang seru. Walaupun dari segi cerita film ini enggak menawarkan apa-apa (yang baru), tapi dari segi konsep dan world-building, film ini sukses bikin kita tertarik dengan experience baru yakni zombie yang superkuat dan bisa berpikir seperti manusia. Malahan memang film ini tampak sekalian ngebangun sekuel dan ngetease kita dengan dunia dan lore yang lebih luas lagi untuk ke depannya. Aku enjoy sekali nonton ini, terutama di kredit pembukanya. Dan aku tetap enjoy sampai akhir padahal ada banyak elemen yang dimiliki film yang membuatku enggak sreg. Semua yang terlalu standar di sini membuat kita teralihkan dari thrill yang ditawarkan film ini. Film ini sendirinya persis seperti kota Las Vegas. Penuh dosa, tapi aku enggak akan mikir dua kali untuk mengunjunginya kembali.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ARMY OF THE DEAD.

 

 

That’s all we have for now.

Kalian yang sudah sering nonton zombie pasti kenal sama tipe-tipe karakter yang sering muncul. Menurut kalian kenapa film-film zombie selalu berisi karakter-karakter tipikal semacam itu? Jika kalian ada di dunia film zombie, kira-kira kalian masuk tipe karakter yang mana?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THE VIGIL Review

“Guilt can hold you back from growing”

 

Dalam agama Yahudi ada suatu praktek atau ritual kematian yang disebut dengan Shemira. Ketika seseorang meninggal dunia, mayatnya harus dijaga pada malam hari oleh keluarga ataupun orang terkasih si mendiang, hingga dimakamkan pada esok pagi. Jika tidak ada keluarga atau sanak terdekat, maka bisa digantikan oleh orang lain yang (berani!) disewa untuk duduk bersama mayat tersebut. Sang penjaga wajib untuk terus membaca kitab selama berjaga. Poin dari ritual ini adalah untuk membimbing arwah sang mayat ke jalan yang benar, sekaligus melindunginya dari roh dan setan-setan jahat. Nah, kali lain kalian mengutuk pekerjaan kalian yang melelahkan, berat, atau bayarannya kecil, ingatlah akan apa yang harus dilalui Yakov dalam The Vigil ini demi mendapatkan uang saku.

Yakov menerima tawaran jadi shomer untuk jenazah seorang pria tua. Kondisi istri pria tersebut sudah tidak memungkinkan untuk berjaga. Si ibu menderita dementia dan sering berceloteh soal hal-hal mengerikan seputar suaminya. Awalnya Yakov tak begitu ambil pusing, toh bukan pertama kali ini dia menjaga mayat. Namun ternyata memang ada sesuatu yang mengerikan pada kematian pria tersebut. Malam itu, Yakov mulai dihantui; mendengar suara, melihat hal-hal ganjil, hingga dia mengalami kembali peristiwa naas di masa lalunya. Semua itu adalah perbuatan dari setan bernama Mazzik, yang berpindah ke Yakov dari sang mendiang. Yakov pun harus berusaha membebaskan diri, meski itu berarti dia harus berkonfrontasi dengan duka dan sesal yang selama ini menghimpit jiwanya.

So yea, film garapan Keith Thomas ini mungkin terdengar sedikit mirip ama Jaga Pocong (2018), tapi ini jelas-jelas adalah cerita versi jewish yang lebih kental kultur dan yang dibuat dengan jauh lebih berbobot pula!

“Kalo udah gak kuat, saya harus melambaikan tangan ke arah mana?”

 

Tantangan menggarap horor dalam lingkungan sempit – cerita ini basically berlangsung di satu tempat, dalam satu kurun waktu yang juga sempit dan tertutup – adalah bagaimana mengembangkan kejadiannya dengan tampak natural. Enggak kayak dipanjang-panjangin, ataupun seperti episodik. Harus juga bisa tampil tidak monoton. Singkatnya, tantangannya adalah harus bisa mengembangkan suspens. Biasanya, film-film horor yang mengincar pasar mainstream akan main aman dengan mengisi cerita tersebut dengan berbagai jumpscare dan permainan kamera yang terus menerus membuat kita penontonnya berada dalam situasi kaget-bersiap-kaget.

Bagi The Vigil yang merupakan horor indie, tanpa backingan studio gede di belakangnya, restriksi bukan hanya terletak pada cerita. Bukan hanya terletak pada set lokasi dan waktu. Melainkan juga pada biaya. Budget film ini gak gede. Namun, Keith Thomas gak lantas menyerah dan ikut-ikutan mengandalkan kepada jumpscare. Thomas berusaha mengarahkan film ini bukan ke horor ala wahana rumah hantu, melainkan lebih ke horor yang benar-benar situasi dan psikologi. Untuk membuat situasi yang mencekam, Thomas menyuruh sinematografernya bermain-main dengan cahaya. Film ini mengandalkan bayangan untuk membuat kita merasakan merinding yang dialami oleh Yakov protagonisnya. Ada sesuatu di belakang sana, di dalam kegelapan, dan film tidak keburu napsu untuk membuat kita kaget dan melepaskan suspens dan tensi. Eksplorasi ruang-ruang rumah juga dilakukan dengan perlahan. Thomas memberikan ruang supaya terasa seperti progres yang natural. Di dalam setiap ruangan yang Yakov datangi, akan ada pelajaran atau development baru yang kita turut pelajari. Film memainkannya dengan cerdas sehingga tidak terasa seperti maksa. Penggunaan teknologi seperti percakapan telepon ataupun facetime internet merupakan bentuk geliat film ini untuk terus menggali elemen-elemen seram sekaligus karakter dan ceritanya. Film ini berhasil memperlihatkan ‘keharusan’ Yakov berada di rumah tersebut. Jadi saat nonton ini kita pun tidak sibuk emosi nyuruh karakternya kabur. Kita ikut merasakan setiap gerakan dan pilihan bersama karakternya.

Ketika harus menampilkan sosok Mazzik yang seram itu pun, film berkelit dengan trik penempatan dan distorsi-distorsi lensa. Sehingga kesan sureal berupa semua kejadian itu nyata-atau-di-dalam-kepala yang diincar oleh naskah dapat dengan konsisten hadir. Karena, ya, tidak seperti Jaga Pocong yang benar-benar literal dukun dan manusia yang menjaga mayat yang jadi hantu, film The Vigil ini menggali lapisan psikologis di balik elemen supranaturalnya. Ada sesuatu yang lebih dalam pada karakter Yakov yang harus menjaga mayat. Ada makna dan simbol pada makhluk demit bernama Mazzik itu.

Duka, sesal, dan rasa bersalah dapat melakukan dua hal kepada kita. Entah itu, membuat kita tidak bisa maju dan bertumbuh karena selalu melihat ke belakang, atau dapat menunjukkan kepada kita apa yang dibutuhkan untuk menjadi lebih baik. Yakov penuh akan tiga hal itu, makanya dia jadi sasaran Mazzik. Yang merupakan duka, sesal, dan rasa bersalah yang bercampur menjadi hantu, menempel kepada orang, dan greatly menghambat hidup mereka. Perjuangan Yakov dealing with Mazzik sesungguhnya adalah perjuangan personalnya dalam menerima dan merespon negatif di dalam hatinya. 

 

Penulisan Yakov menjadikannya karakter yang sangat menarik, terutama untuk cerita horor. Pertama, naskah mencipta konflik dari pekerjaannya sebagai shomer dengan keyakinan Yakov terhadap agamanya. Yakov, saat pertama kita jumpa dirinya, berada pada titik dia mulai meninggalkan agamanya. Dia Yahudi, tapi tak lagi berpenampilan seperti Yahudi ortodoks seperti kerabatnya. Jadi, instantly, karakter ini menarik minat kita. Membuat kita bertanya, kenapa dia seperti itu. Alasan kenapa dia mulai tak percaya agamanya itulah yang perlahan dibuka oleh film, menciptakan lapisan-lapisan baru karakter tersebut. Mungkin ada tema soal iman di sini. Mungkin Yakov diganggu karena dia mengerjakan tuntunan agama selagi dia mulai meninggalkan agama tersebut.

Kemunculan Mazzik meningkatkan volume keseraman film ini. Bukan hanya karena tampangnya nyeremin ataupun karena film ini sukses berat membangun adegan-adegan gelap yang seram, tapi juga karena Mazzik menjadi kunci apa yang dirasakan oleh Yakov. Semua itu berhubungan dengan jawaban atas pertanyaan kenapa Yakov meninggalkan agamanya tadi. Peristiwa naas yang menjadi sumber derita itulah yang mengerikan, bagaimana peristiwa tersebut membentuk Yakov. Mempersulit hidupnya. Film bijak sekali memperlihatkan bagaimana Yakov berusaha bergaul. Ada diperlihatkan Yakov ditaksir cewek, dan dia enggak bisa bertingkah layaknya cowok gugup yang normal. Ada sesuatu yang off dari dirinya. Sebagai Yakov, cerita ini sesungguhnya adalah one-man show untuk Dave Davis, dan dia berhasil nailed every range of Yakov’s emotions.

Kita tidak bisa tak-peduli sama orang yang krisis iman dan krisis kepercayaan diri sekaligus

 

Lawan main Davis memang tidak banyak diberikan ruang dalam durasi satu-setengah jam ini. Karakter-karakter pendukung itu ada yang cuma muncul di awal ama di akhir saja, atau hanya muncul di layar video atau lewat sambungan telepon. Padahal ada Lynn Cohen juga bermain di sini, sebagai istri dari mendiang yang dijaga Yakov. Perannya terbatas pada tampil creepy (kayak orang-orang tua pada film horor kebanyakan) sambil sesekali ngelempar eksposisi untuk membantu kita menyusun misteri. Tapinya lagi, kalo aktor senior seperti Cohen yang nyebutin, eksposisi itu tak pernah jadi flat out membosankan, begitupun juga dengan ke-creepy-an yang gak lantas jadi over-the-top. Dari segi penampilan, film ini masih enjoyable buat semua kalangan. Meskipun memang, secara horornya sendiri, film ini bisa jadi agak segmented.

Penonton yang mengharapkan ini bakal kayak horor mainstream, bakal menganggap film ini biasa aja atau malah cenderung membosankan. Karena itu tadi, minim jumpscare dan pengembangan yang lambat. Endingnya pun gak ada kelok-kelokan, tidak ada gantung-menggantung. Ini adalah jenis film yang ketika habis ya benar-benar habis. Hanya dengan sedikit pemancing pembicaraan kita di akhir. Karena kalo dilihat dari permukaan luar saja, film ini memang akan menghasilkan reaksi “cuma itu?”. Padahal film ini sesungguhnya mengajak kita menyelam ke apa yang dirasakan oleh karakternya, Bukan hanya menyelam lewat visual, tapi juga ke perasaan horor tersebut. Hanya ketika rasa itu konek ke kita, maka film ini baru bekerja. Baru bisa terasa amat menyeramkan.

 

 

Punya tawaran lebih banyak dan lebih dalam daripada sekadar horor tentang orang yang menjaga mayat. Dari identitas saja film ini sudah punya keunikan, karena membahas dari sudut pandang yang jarang dieksplorasi. Lalu, muatan ceritanya pun mengemas soal iman/agama, soal perilaku kebencian terhadap golongan tertentu, soal tanggungjawab kepada keluarga dalam sajian horor yang limited. Maksudnya, terbatas lokasi, waktu, dan budget. Keterbatasan tersebut menghasilkan geliat-geliat kreasi dan penceritaan yang pada akhirnya menjadi kekuatan utama horor ini. Permainan cahaya, build-up suspens, jalin cerita – punya sedikit resources tapi bisa menghasilkan sewah ini. Maka, gak heran kalo film ini bakal jadi salah satu inspirasi bagi filmmaker muda ke depannya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE VIGIL.

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah di ending itu Yakov sudah benar-benar terbebas dari Mazzik?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

THINGS HEARD & SEEN Review

“Ghost can be very real and very dangerous, within a marriage”

 

Rumah baru Amanda Seyfried, di film Things Heard & Seen, berhantu. Bau gas kerap tercium memenuhi kamarnya setiap malam tiba. Lampu dan perabotan listrik pun ikutan bertingkah. Malam demi malam Catherine – nama karakter yang ia perankan – biasanya berakhir dengan putri ciliknya yang berlari masuk ke kamar. Ketakutan karena melihat sesosok perempuan. Tentu saja tak lama bagi Catherine untuk menyaksikan sendiri penampakan tersebut. Semakin sering malah. Bukan hanya kelebatan cahaya, tapi benda-benda kuno seperti cincin juga mulai ‘menampakkan’ diri kepadanya. Tapi yang paling bikin Catherine takut tinggal di sana ternyata bukanlah penampakan-penampakan yang ia lihat tersebut. Catherine bahkan punya perasaan bahwa hantu-hantu itu bermaksud membantu atau sekadar memperingatinya akan sesuatu. Tidak. Yang bikin Catherine takut bukan yang ia lihat, melainkan justru adalah hal-hal yang ia dengar dari teman-teman dan penduduk sekitar. Hal-hal tentang kehidupan George. Suaminya.

Seperti yang dilakukan oleh Elizabeth Brundage dalam menulis novel All Things Cease to Appear – novel yang menjadi materi asli film adaptasi ini – duo sutradara dan penulis Shari Springer Berman dan Robert Pulcini juga mengawinkan drama pernikahan yang grounded dengan elemen horor supranatural sebagai fondasi atau konteks cerita. Ada hantu beneran di rumah Catherine – di cerita ini – beserta berbagai macam keanehan gaib lain, yang nantinya bahkan berfungsi lebih signifikan lagi sebagai penyelesaian dalam cerita. Secara tematik memang film ini kaya sekali. Selain soal supranatural, film ini juga nyerempet masalah seni. Kedua karakter inti – Catherine dan George suaminya – berkecimpung dalam dunia seni, sebagai bahasan-profesional mereka. Supranatural dan seni inilah yang jadi bumbu utama racikan Berman dan Pulcini dalam memotret masalah rumah tangga yang diwakilkan oleh pasangan muda tersebut. Masalah yang sebenarnya juga berakar pada dominasi pria terhadap perempuan.

thingsTHAS_20191021_00945r-838f6c7
Rumah baru tapi lama

 

Jadi secara tone, film ini gak dalam kotak ‘seram’ horor-horor biasa. Alias gak total ke hantu-hantuan. Gak ada hantu-hantu bertampang seram. Meskipun beberapa kemunculan bisa ngagetin karena editing yang menggunakan gaya horor mainstream. Ceritanya lebih pas disebut sebagai drama pernikahan yang ada hantunya. Kengerian datang dari aksi dan reaksi karakter seiring development masalah yang perlahan membuka. Dan membukanya itu cukup perlahan, karena dengan durasi yang mencapai dua jam, film benar-benar memberi ruang bagi konflik antarkarakter berkembang. Gaya film ini kurang lebih mirip serial Haunting di Netflix, terutama yang season 2 The Haunting of Bly Manor. Drama-nya yang bikin kita bergidik. Bergidik bukan exactly karena seram, melainkan yang lebih ke menyayat dan pilu. Elemen seni yang dikandung sepertinya dilakukan demi mengincar film ini bisa terasa lebih poetic lagi seramnya.

Dan sepertinya memang, film ini seharusnya dibikin jadi serial aja. Like, buatku pribadi, ini udah cocok kok jadi season ketiga serial Haunting. Ada rumah besar yang berhantu sebagai pusat cerita. Drama keluarga dan cintanya kuat. Banyaknya elemen yang dikandung oleh cerita tidak tertampung dengan baik semua oleh struktur film-panjang seperti ini. Berman dan Pulcini aku yakin sudah mencoba, tapi mereka tidak bisa merangkum semuanya ke dalam cetakan film-panjang. Things Heard & Seen ini masih terlalu besar, dan masih mirip kayak struktur penceritaan sebuah novel.

Yang pertama kerasa itu adalah sudut pandangnya. Film ini berusaha tampil sinematik dengan konsep ‘menyuplik adegan di tengah sebagai pembuka’. Namun ini malah membuat tokoh utama cerita semakin tidak jelas. Film ini dibuka dengan adegan George pulang ke rumah dan menyadari ada sesuatu yang aneh. Kemudian kita dipindah, dibawa mundur ke beberapa bulan sebelumnya. Dan kita ngikutin perspektif si Catherine sekarang – dan sebagian besar durasi. Kita discover things bareng Catherine. Dan hanya itu. Catherine juga gak benar-benar punya pengembangan selain dia berubah jadi mengetahui sesuatu yang sebenarnya. Lalu ketika sudah sampai ke sekuen yang harusnya adalah action untuk penyelesaian, kita dipindah ke ngikutin karakter lain. Di sinilah film menjadi paling lemah, serta tak memuaskan bagi penonton kebanyakan. Di bagian akhir itu, ada adegan supranatural yang seram, tapi yang ditakut-takuti itu adalah karakter jahat. Sehingga kita tidak ikut merasa seram. We don’t feel for him. Kita ingin dia diganggu, malah. Namun ketika justice itu beneran ditegakkan, film melakukannya secara puitis. Di film hantu lain biasanya si jahat mati dibunuh oleh hantu si teraniaya, di film ini tidak ada ‘pemuas’ seperti demikian. Dilakukannya dalam konteks nyeni. Bukannya harus berdarah atau gimana sih, maksudku adalah kita tidak diperlihatkan dengan jelas dampak kejadian terakhir tersebut bagi dua karakter ini.

Film ini memparalelkan antara hantu dari masa lalu dengan baggage yang dibawa oleh pasangan ke dalam rumah tangga. Keduanya memang sama-sama bisa menghantui. Catherine benar-benar jadi terganggu oleh kenyataan yang ia dengar tentang yang mungkin telah dilakukan oleh suaminya di masa lalu. Dan ini merupakan bentuk dari kekerasan atau abuse dalam rumah tangga. Dikibulin, di-gaslight. Diserang mentalnya. Hal paling mengerikan yang diperlihatkan film ini adalah bahwa abuse seperti demikian susah terdeteksi. Bahkan ditunjukkan abuse semacam itu jadi siklus turun temurun. Perempuan jadi korban dan menderita. Mereka saling bantu pun, tidak bisa menyelamatkan. Hanya bantu membawa pria pelakunya ke keadilan. Tapi keadilan apa? Ketika pria menemukan kematian, mereka jadi lukisan.

 

thingsamanda-seyfried-1-1-1140x600
Mungkin itukah yang namanya ‘poetic justice’?

 

 

Karakter Catherine dan George diberikan lapisan. Film berusaha menggali kedalaman pada karakter intinya. Supaya kita bisa lebih peduli sama drama cerita. Namun, lapisan-lapisan tersebut tidak berhasil dikembangkan sebagai sesuatu yang benar-benar berarti. Catherine, misalnya, dia diceritakan punya eating disorder. Dia gak mau makan banyak. Sekalipun termaksa harus makan, dia akan menggigit sesedikit mungkin yang ia bisa, dan kemudian diam-diam kabur ke wc untuk memuntahkan makanan tadi. Awalnya memang film seperti menggunakan perilaku anoreksianya; membuat kita bertanya-tanya apakah hantu yang dilihatnya bener hantu atau karena dia keleyengan kurang makan saja. Tapi itu dengan cepat terjawab. Dan anoreksia tadi seperti disingkirkan gitu aja. Tidak menjadi penghalang memecahkan misteri atau apa kek yang bikin cerita benar-benar jadi punya kedalaman. Hanya di akhir saja dimunculkan kembali dengan ala kadarnya.

Atau juga soal si George. Yang seorang dosen jurusan seni diceritakan senang jadi pusat perhatian murid-muridnya, khususnya yang cewek. George pun selingkuh dengan perempuan muda yang sepantaran usia dengan muridnya. Di lain pihak, Catherine pun mulai tampak jatuh hati sama pemuda yang bekerja di rumah mereka. Pemuda yang ternyata adalah pacar dari selingkuhan George. Permasalahan selingkuh yang melibatkan pemain sentral ini juga enggak kemana-mana. Tidak ada interaksi, tidak ada konfrontasi. Hanya disisir permukaannya. Ditampilkan saja.

Ini sejalan dengan permasalahan pada karakter-karakter yang lain. Panggung film ini sebenarnya luas sekali. Bukan hanya rumah tua dengan sejarah kelamnya, tapi seluruh kota benar-benar dihidupkan. Selain Amanda Syeifried dan James Norton, film meng-casting pemain-pemain yang bukan abal-abal kualitas aktingnya. Karena memang karakter mereka juga sebenarnya punya alasan kuat untuk berada di sana mengisi cerita. Beberapa karakter itu di antaranya ada dua pemuda kakak-beradik anak dari pemilik rumah Catherine sebelumnya – dua pemuda yang merupakan penyintas dari kejadian berdarah yang menimpa keluarga mereka. Dua pemuda yang akhirnya bekerja untuk keluarga Catherine, yang salah satunya adalah pemuda yang tadi ditaksir oleh Catherine. Mereka cuma ada di sana, dengan identitas demikian. Tanpa pernah diberikan bobot kepada cerita itu sendiri. Lalu ada pria tua sejawat George di kampus, yang juga merupakan anggota kelompok yang percaya supranatural sebagai bagian dari seni. Karakter penting yang ternyata hanya jadi another victim. Ada juga dosen perempuan sahabat George, yang akhirnya menjadi kunci kasus. Menjelang akhir itu ada momen film berkembang dengan aneh seolah mau mengubah si dosen ini jadi tokoh utama. Tapi kemudian, clearly enggak, karena perannya langsung mengurucut sebelum pernah benar-benar besar. 

Bagaimana dengan hantu dan anak Catherine? Tentu saja mereka pun cuma ‘pajangan’. Anak Catherine sendiri persis tipikal horor-horor sederhana di bioskop kita. Hanya untuk jadi objek yang ditakut-takuti. Orangtuanya perang pun dia absen dari sana.

 

 

 

Walaupun belum pernah baca novelnya, tapi kayaknya kita semua bisa membayangkan bahwasanya di novel tentulah karakter-karakter tadi punya lebih banyak fungsi. Film ini terlihat seperti hanya mengambil beberapa bagian penting dari masing-masing mereka, dan memasukkannnya ke dalam cerita. Film ini punya waktu cukup banyak, tapi tidak benar-benar mampu untuk mengolah sumber aslinya itu ke dalam bangunan film-panjang. Dua jam itu terbang begitu saja tanpa terasa spesial. Padahal secara isi cerita, sebenarnya menarik, dan punya gaya yang puitis pula. Secara garapan teknis, kualitas film ini bisa diacungkan jempol. Kekuatan terbesar ada pada kamera dan akting. Pondasi ceritanya pun sebenarnya cukup kuat. At least, sudah mengerti bahwa horor yang bagus adalah horor yang mengawinkan drama relatable dengan elemen seperti supranatural. Hanya saja, struktur bercerita dan penulisannya lah yang butuh banyak perbaikan. Gak cukup hanya dengan memantapkan sudut pandang saja. Butuh perombakan dan penggalian yang lebih dalam.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THINGS HEARD & SEEN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang hantu dalam film ini yang menyelamatkan tapi actually dengan membiarkan Catherine menjadi korban berikutnya? Benarkah itu satu-satunya cara untuk keluar dari abuse? 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

 

 

 

 

 

JAKOB’S WIFE Review

“It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages”

 

 

Menurut kalian horor yang bagus itu yang gimana sih? Jawaban yang kerap aku dengar setiap kali ngajuin pertanyaan itu adalah yang hantunya serem, atau yang pembunuhnya jahat, lagi sadis. Tentu saja, yang pasti, horor yang bagus itu adalah yang bisa bikin kita ngeri.  Persoalannya justru terletak pada bagaimana membuat kita merasa ngeri tersebut. Tidak bisa dengan hanya menampilkan hantu atau zombie atau psycho-killer. Mereka sebenarnya cuma bikin kaget. Ngeri itu datang dari kedekatan drama yang menjadi situasi pada cerita. Ya, drama. Horor yang bagus seringkali adalah horor yang berhasil membumbui drama yang relate terhadap banyak penonton dengan elemen horor semacam hantu, monster, dan kawan-kawannya.

Sutradara Travis Stevens mencoba untuk membuat Jakob’s Wife sebagai horor yang bagus. Di sini, dia meletakkan elemen vampir penghisap darah  ke dalam permasalahan suami-istri yang telah menikah demikian lama tanpa pernah merasakan compassion dalam berumah tangga.

Jadi menurut kalian pernikahan yang bagus itu yang gimana sih? Yang langgeng? Yang suami-istrinya gak pernah berantem? Pasalnya, Anne sudah tiga-puluh tahun menikah dengan Jakob, seorang pendeta terkemuka di kota mereka. Mereka gak pernah ribut, tapi tetap saja Anne merasa hidupnya menyedihkan. Hampa. Dia hanya duduk di sana, setia mendampingi suaminya. ‘Istri Jakob’, itulah identitasnya selama ini. Sampai akhirnya peristiwa mengerikan itu menimpanya. Anne digigit vampir. Perempuan itu merasa ada sesuatu yang bangkit di dalam dirinya. Dia merasa lebih hidup seiring perubahan yang terjadi di dirinya dan korban-korban berjatuhan di sekililingnya. Dan sekarang, pernikahannya yang menjemukan mungkin bisa berubah menjadi lebih sehat.

Jakobs-Wife-Trailer
Sekarang dia bisa dikenal sebagai si Vampir Tikus

 

Jakob’s Wife ini baru proyek film panjang kedua bagi Stevens. Film pertamanya tayang tahun lalu, dan juga telah kureview, berjudul Girl on the Third Floor (2020). Horor juga, dan aku suka meskipun film tersebut agak ‘segmented’. Alias agak susah dicerna oleh selera pasar. Sedari film tersebut, Stevens sudah mulai ngebuild up kelincahannya bergelut dengan budget yang gak banyak-banyak amat. Girl on the Third Floor berisi banyak praktikal efek untuk menghidupkan rumah yang seperti tubuh-hidup sendiri, mengeluarkan banyak cairan dan hal-hal bikin gak enak lainnya. Majukan satu tahun ke depan, Stevens ternyata masih cakap dalam bermain efek-efek seperti demikian. Jakob’s Wife juga meriah oleh efek-efek (kali ini lebih ke arah gory ketimbang nasty) yang membuat horor ala kelas B ini menjadi semakin grounded seramnya. Kita akan melihat vampir dengan mata merah berdarah-darah, kita akan melihat vampir yang meminum darah langsung dari leher korban yang kepalanya terbelah. Kita akan melihat luka-luka seperti gigitan di leher yang masih berdenyut, mulut yang menghitam terbakar sinar ultraviolet. Penonton yang punya perut sedikit lebih tebal, akan mengapresiasi film ini dengan nilai lebih. Untuk penonton yang perutnya ‘normal’, film ini masih punya hal lain yang bisa diapresiasi. Khususnya di bagian kedalaman dan bobot cerita.

Dua dari dua film horor Travis Stevens ini sebenarnya punya agenda kekinian. Filmnya yang pertama tadi membahas masalah toxic masculinity dari sudut pandang seorang pria. Sementara, filmnya yang kedua ini menilik soal perempuan yang identitasnya ditentukan oleh pria yang menjadi pasangannya. Sebagai manusia, Anne hanyalah istri seorang Jakob. Sedangkan saat sudah jadi vampir pun, dirinya menjawab kepada Master yang mengendalikan. Tidak sekalipun pada kedua film tersebut, Stevens bersikap terlalu mengagungkan agenda-agenda tersebut. Dalam film Jakob’s Wife ini, ya Anne si perempuan terkukung dalam relasi yang gak sehat. Zona nyaman yang dituntutkan baginya adalah sebagai pendamping pasif sang suami. Suami yang bahkan enggak pernah mendengarkan opini dirinya sampai selesai. Anne selalu disela dan dikecilkan. Suami yang kata Anne bahkan tidak pernah berjuang untuk dirinya. Namun film ini menggali dengan seimbang. Kita juga diperlihatkan seperti apa bagi suami yang pendeta tersebut.

Jika biasanya cerita seperti ini akan berakhir dengan pihak yang ‘bersalah’ akan kalah dan dihilangkan. Diberi ganjaran. Solusi tergampangnya tentu saja adalah dengan menunjukkan perempuan tidak perlu lelaki. Maka tidak ada jalan gampang yang diberikan oleh film ini. Baik Anne maupun Jakob, mereka tampak mau berjuang demi pernikahan mereka. Kita dapat melihat bahwa mereka sebenarnya memang saling cinta. Dan mereka memang berusaha untuk memperbaiki apa yang salah. Pada hubungan Anne dan Jakob inilah film mencapai kedalaman yang membuat ceritanya worthy untuk kita saksikan dan kita pedulikan.

Kebebasan seorang perempuan diperlihatkan cukup dengan perubahan sikapnya terhadap transformasi yang terjadi. Melihat Anne mengubah penampilan (bukan untuk gaya-gayaan melainkan untuk menutupi luka gigitan dan sebagainya), memindahkan sofa dan perabotan berat di ruang tamu rumahnya sesuka hati, berusaha berkompromi dengan nafsu laparnya terhadap darah; Melihat Anne menyukai dirinya yang sekarang, lebih terasa ketimbang harus melihat dia menaklukan orang-orang yang selama ini mengecilkannya. Anne tidak pernah bersikap seperti korban. Dan sikapnya ini mendorong Jakob untuk ‘bertransformasi’ juga. Pria itu kini harus belajar untuk mempercayai perempuan, untuk menganggap sosoknya sebagai seorang yang sejajar. Tipe kompromi ini jelas lebih kuat daripada kompromi protagonis dengan antagonis di I Care a Lot (2021) yang terasa dipaksakan, karena tidak ada dasar kemanusiaan yang relate di sana. Anne dan Jakob punya cinta, sehingga kita bisa paham darimana konflik dan aksi mereka berasal.

Rumah tangga Anne dan Jakob adalah salah satu bentuk dari rumah tangga yang abusif. Meskipun tidak dengan kekerasan, tapi nyatanya it sucked the life outta them, terutama Anne. Sesungguhnya ini adalah komentar untuk rumah tangga serupa di luar sana. Film ini ingin mengingatkan bahwa penyebabnya bukan karena tidak ada cinta. Melainkan masing-masing perlu untuk merasakan kembali sebagai teman, bahkan mungkin bisa juga sebagai lawan.

 

Untuk menghidupkan relasi utama yang menjadi poros film ini, Stevens mempercayakan Anne dan Jakob kepada dua aktor ikon horor 80-90an; Larry Fessenden dan Barbara Crampton (Barbara juga merupakan salah satu produser film ini). Dua aktor yang sudah berpengalaman di genre ini, dikawinkan naskah yang subtil dan karakter yang tidak satu-dimensi; now that is the perfect marriage untuk sebuah sinema! Mereka beneran terlihat sebagai pasangan tua yang udah mulai gerah hingga ke ubun-ubun, dan mencoba hidup rutin sebiasa mungkin. Tapi efeknya terasa ketika kita melihat mereka dalam ruang pribadi masing-masing. Barbara menghapus lipstik yang baru saja dikenakan oleh Anne karakternya. Larry yang ngasih ceramah soal menyayangi istri tapi tidak sekalipun melirik ke istrinya di barisan depan. Dan ketika mereka actually berinteraksi, dalam ‘setting’ yang udah berbeda, maaan interaksi dan chemistry Barbara dan Larry ini adalah kunci. They played off each other so good.  Mereka bisa tampak vulnerable, bisa tampak intens (ngomongin masalah rumah tangga dan vampir tentu tak bisa tanpa melibatkan hubungan badan yang hot), dan malah juga bisa lucu.

jakobcm-punk-wwe-1000x600
CM Punk muncul sebagai surprise entra.. eh salah, surprise cast

 

Naskah film memang bermain di garis komedi selain di garis dramatis. Selera komedi film ini boleh dibilang cukup lucu juga. Demi membuild up nafsu, sekaligus transformasi Anne, misalnya. Film menggunakan banyak shot gigi. Entah itu karakter yang lagi gosok gigi, ataupun saat mengunyah makanan. Dialog-dialog lucu juga digunakan, seringnya untuk mengomentari persoalan perempuan  yang didominasi atau di bawah power laki-laki. Aku ngakak ketika mendengar Anne kesel telah dipersalahkan oleh Jakob. Anne jadi korban diubah jadi vampir, namun tetap dia juga yang dipersalahkan karena itu. Komentar-komentar dalam film ini menyerang seperti demikian. Tidak terasa annoying, melainkan sangat cerdas.

Meskipun memang, komedi-komedi itu membuat film menjadi kurang imbang, secara tone. Ada adegan yang kesannya seram sekali, yang kesannya sangat serius, namun kemudian momentum itu terasa seperti sirna dengan adegan yang ‘nyeletuk’ seperti komedi tadi. Konsekuensi yang datang menyusul beberapa tindakan karakter juga seperti lenyap begitu saja ketika film menjadikan penyambungnya berupa komedi. Film ini belum sepenuhnya berhasil membangun jembatan yang pas untuk menyatukan dua tone yang berbeda jauh tersebut. Horor dengan komedi sesungguhnya memang dua elemen yang sukar untuk dimainkan. Banyak horor yang lebih bijak sebelum ini yang tergagap juga ketika berpindah dari drama ke komedi. Film ini mencoba, dan memang masih belum mulus. Mungkin hasil akhirnya bisa lebih baik jika film ini langsung fokus jadi komedi aja, atau jadi drama aja sedari awal. Sehingga style-nya lebih mencuat dan kentara. But that’s okay, ini baru karya kedua. Masih punya banyak ruang untuk menjadi semakin bagus.

 

 

 

 

Horor yang digarap Travis Stevens kali ini lebih terjangkau untuk penonton, tidak lagi ‘segmented’ seperti film pertama. Karena yang dibahas di sini di balik elemen vampirnya adalah soal rumah tangga yang enggak sehat. Juga menyinggung soal peran perempuan bagi lelaki. Semua itu dimainkan dengan dramatis yang menyerempet komedi. Menghasilkan tontonan yang menghibur, walau terkadang terasa kurang balance. Film ini didukung pertama oleh permainan akting yang hebat dari dua ikon horor pada masanya. They hit a lot of range together. Aspek genre horornya sendiri, tak ketinggalan, juga dibuat dengan sama menghiburnya. Ada makhluk menjijikkan, ada misteri, ada darah dan potongan tubuh. Penggemar horor sejati jelas tidak akan melewatkan film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for JAKOB’S WIFE.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi setelah menonton ini, apakah kalian sudah punya gagasan perihal pernikahan yang bagus itu yang seperti gimana?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA