THE DOLL 3 Review

 

“It is never acceptable for us to be the cause of any child to feel unloved or worthless”

 

 

Perasaanku buat franchise The Doll garapan Rocky Soraya cukup mixed. Film keduanya mengejutkanku. Dari franchise ini, The Doll 2 (2017) yang kutonton pertama, and it was not bad. Dramanya bekerja cukup baik, tapi yang paling menghibur adalah babak ketiga yang seru penuh darah. Beberapa waktu setelah itu, baru aku coba tonton film The Doll original (2016), Dari situ baru aku tahu kalo film ini ngincer gimmick boneka-hantu, tema cerita keluarga, dengan tone bunuh-bunuhan yang maksimal – plus twist (yang sekarang udah jadi kayak becandaan; karakter ayah/cowok selalu jahat atau punya kesalahan yang ditutupi). Meskipun akting di film pertama buatku annoying, dan aku gak suka sama spin-off Sabrina (2018), yang jadi sekuel terpisah dari The Doll 2, franchise ini punya konsep yang keren. sense horor franchise ini juga bagus. Yea, obviously they kinda rip-off Hollywood; boneka Sabrina itu Annabelle, Laras dan karakter si Jeremy Thomas (lupa namanya) basically Lorraine dan Ed Warren, dan di film ketiga ini ada boneka baru bermerk Bobby yang tentu saja adalah ‘kw-an’ dari Chucky si boneka Buddi. Tapi ini bisa dioverlooked-lah, selama The Doll masih terus punya cerita dan gaya sendiri untuk menghidupi kemiripan tersebut,

Film ketiga ini menyoroti keluarga Tara yang baru ditimpa kemalangan besar. Kecelakaan mobil menewaskan ayah dan ibu, serta meninggalkan luka membekas (fisik dan mental!) kepada adik laki-lakinya, Gian, yang berhasil selamat dari kejadian tersebut. Tara yang manajer di toko mainan kini tinggal berdua saja dengan Gian. Tapi kemudian datanglah Aryan, pacar Tara, melamar. Gian gak suka ada yang deketin kakaknya, karena menurutnya itu bakal berarti cinta sang kakak tidak akan lagi utuh dicurahkan untuknya. Disogok boneka Bobby (boneka canggih yang diprogram bisa bicara dan bergerak) pun gak mempan. Gian masih cemburu, marah, merasa ditinggalkan, sampai akhirnya bunuh diri. Hancur hati Tara sungguh tiada tara! Nestapa dan gak tenang adiknya pergi dalam perasaan tak-dicintai, Tara nekat pake dukun untuk memasukkan arwah Gian ke dalam tubuh boneka Bobby. Tara ingin mengucapkan proper goodbye. Saat itulah masalah dimulai. Gian yang masuk ke dalam boneka diam-diam melakukan hal yang membahayakan nyawa orang-orang yang menurutnya telah merebut kakak darinya.

Kenapa sih selera boneka orang-orang dalam film horor jelek semua?

 

Topik yang diangkat sangat matang dan kelam sekali. The Doll 3 bicara tentang hubungan kakak adik, yang basically gak punya keluarga lain, dan adiknya jadi cemburu melihat kakaknya ‘diambil’ oleh orang lain. Ini angle yang film-film horor Indonesia yang gak jamah. Not even original Chucky punya ini. ‘Cerita’ semacam itulah yang jarang dipunya oleh horor lokal, yang kebanyakan cuma melempar adegan-adegan seram di sana-sini sepanjang durasi.  Tapi The Doll 3 punya. Horornya bukan sekadar bersumber dari boneka yang bisa membunuh karena kemasukan roh jahat, tapi juga bersumber dari personal karakternya. Kakak yang merasa bersalah kurang menunjukkan cinta kepada adiknya. Adik yang dalam keadaan begitu vulnerable merasa terpinggirkan. Ini adalah subjek yang bisa jadi fondasi drama yang serius. Perkara elemen horornya, The Doll 3 perfectly mengcover itu dengan gaya berdarah-darah yang dipertahankan franchise ini.

Hal baru yang jadi ‘mainan’ oleh teknis franchise ini tentu saja adalah Bobby si boneka yang supposedly ‘beneran’ bisa bergerak alih-alih melotot diam sambil kemudian ngucurin darah kayak di film-film sebelumnya. Tadinya aku sempat meragukan bagaimana film akan melakukan hal tersebut. Bagaimana teknologi kita bisa membuat yang seperti Chucky, you know, apa bakal kelihatan banget orang pakai kostum? Ternyata enggak, film memang menggunakan boneka animatronic yang gak kalah luwes ama film barat. Aku gak tahu mereka pakai berapa boneka di film ini, tapi seenggaknya ekspresi si Bobby tampak cukup beragam. Khususnya pada ekspresi marah, yang lumayan meyakinkan. Jumpscare dalam kamus film ini berarti tusukan pisau Bobby yang datang tiba-tiba. Pisau itu mengarah ke tempat-tempat yang bikin ngilu, batang leher-lah, pergelangan kaki-lah. Adegan pembunuhan dalam film ini sadis, dan seringkali tidak tampak fun kayak di film Chucky. Pure mengenaskan, like, mereka melakukannya karena butuh untuk ada yang mati karena roh si anak ini sudah jadi begitu jahat. Rating ‘Dewasa’ memungkinkan The Doll 3 mengangkat materi yang lebih kelam, dengan cara yang lebih gelap juga tentunya. Pengadeganan horornya pun gak lepas dari kait emosional yang dramatis. Kita akan lihat momen ketika Tara hadap-hadapan sama mayat adiknya yang sudah membiru dan mulai membusuk ketika dia harus menggali kuburan sang adik. Aku sebelumnya tertawa melihat adegan dengan mayat seperti ini dalam kartun Rick and Morty, tapi dalam film The Doll 3, feelingnya pure naas. Satu lagi momen dahsyat film ini adalah pada saat gambarin adegan kematian Gian. So dramatic yet so haunting. Detik-detik kakak lari mencari-cari adiknya yang mau terjun dari suatu tempat dipadupadankan dengan keriuhan orang-orang lagi menanti momen tahun baru. Lalu ketika semuanya terjadi, si kakak menangisi dengan latar kembang api. Bukan lagi soal efek atau apa, melainkan perasaan yang dihadirkan benar-benar pas untuk menghantarkan kita terbenam ke dalam tragedi yang bakal jadi horor keluarga ini.

Horor memang selalu jadi tempat/medium puitis untuk menggambarkan tragedi, termasuk juga yang menimpa anak kecil. Film-film seperti It, The Babadook, bahkan The Shining, dan banyak lagi sangat hati-hati dalam memvisualkan horor tersebut. Anak kecil bisa terabuse mental atau fisik, tugas film untuk memperlihatkannya ke dalam bentuk seperti ditakut-takuti, atau malah jadi menjahati dengan penuh pertimbangan sehingga ketika membahasnya tidak malah tampak seperti sedang mengeksploitasi. Film The Doll 3 memperlihatkan anak yang memilih untuk bunuh diri. Ini bukan persoalan main-main, bunuh diri pada anak harus dapat perhatian yang serius karena di dunia nyata itu memang masalah serius. Jangan sampai ketika jadi film, malah kayak meromantisasi tindakan tersebut. It is a heavy subject, dan The Doll 3 kayak menghindari ini. Kupikir persoalan matinya Gian akan mendapat pembahasan yang serius, tapi ternyata hanya disapu singkat. Film menempatkan ke dalam value moral ‘orang yang mati seperti Gian tempatnya berbeda dengan  orang yang mati seperti ayah dan ibunya’ tapi enggak pernah spesifik kembali ke persoalan bunuh dirinya. Gian di dalam Bobby sudah jadi jahat, dan dia gak ragu membunuh orang termasuk anak-anak seperti dirinya. Di film ini, anak kecil adalah subjek sekaligus objek kekerasan. Penggambaran gak tanggung-tanggung, anak kecil terjun bunuh diri, anak kecil ditusuk, disabet pisau, didorong dari atas, diinjak. Aku sudah banyak nonton horor, dari yang paling sadis hingga paling cupu, dan penggambaran kekerasan seperti film ini seperti jarang ditemukan. Anak-anak ditakut-takuti, diserang, tapi biasanya dilakukan dengan layer. I dunno, mungkin karena pengaruh berita penembakan SD di Amerika yang kubaca sebelum nonton film ini, tapi kupikir harusnya film seperti The Doll 3 harus berhati-hati, bermain lebih cantik lagi, dalam menampilkan anak-dalam-skena-horor supaya gak jadi kayak eksploitasi aja. Gak jadi sebagai pemuas adegan darah saja.

Bicara tentang anak yang merasa tak-dicintai, tapi hampir seperti film ini sendiri kurang ‘mencintai’ karakter anaknya. Yang seharusnya bisa sebagai subjek, malah tidak dibahas lanjut. Film ini kayak mau nampilin boneka yang membunuh saja, tanpa benar-benar peduli kalo di dalam situ adalah anak yang bunuh diri, dan ada anak lain yang terus dijadikan target serangan. Untuk menyeimbangkannya mestinya harus ada bahasan yang benar-benar mewakili perspektif sebagai karakter manusia.

 

Apalagi memang film yang secara nature adalah cerita yang sangat mature ini terasa hanya di permukaan. Dia kayak gak benar-benar mau tampil sebagai cerita yang dewasa. Pengen tetep appeal buat seluruh lapisan umur. Bayangkan kalo anak-anak (yang somehow oleh bioskop diloloskan masuk) nonton ini, dan hanya melihat bunuh diri dan penyerangan-penyerangan itu sebagai seru-seruan horor semata. Bakal horor beneran kalo mereka main bunuh-bunuhan di taman kompleks ntar sore! Konteks dark dan trauma harusnya tetap kuat. This is not a movie for children. Maka film harusnya memperdalam dialog-dialognya. Karena yang kita dengar sepanjang nyaris dua jam itu adalah dialog standar “Kakak gak cinta sama aku!” “Kakak sayang sama kamu!” Dengan kualitas dialog seperti itu, kayak, mereka bukannya masukin persoalan anak karena pengen membahas dan ngobrol mendalam secara dewasa, melainkan supaya anak-anak bisa ikut nonton sadis-sadis yang dibikin. Kan aneh. Dialognya terlalu receh untuk tema sedalam ini. Alhasil karakternya juga gak pernah jadi benar-benar terfleshout.

Dari segi akting jadi gak ada yang menonjol. Jessica Mila, Winky Wiryawan, Montserrat Gizelle, mereka gak dapat tantangan apa-apa dari film ini. Selain teriak ketakutan dan kesakitan. Bahkan peran Gian yang unik pun diarahkan untuk jadi datar. Kurang personality, apalagi jika dibandingkan dengan Chucky. Yang bikin Chucky seru kan campuran dari perangainya yang arogan, kasar, suka nyumpah serapah dan suara kekeh khas dari Brad Dourif – yang semuanya jadi kontras menyenangkan dengan tubuh kecil bonekanya. Chucky jahat, tapi dia jadi karakter jahat yang fun. Gian alias Bobby kayak robot. Datar. Bahasanya kayak anak kecil yang bahkan lebih kecil dari usianya kelihatannya. Aktor cilik Muhammad Zidane yang menyuarakannya bisa apa untuk menghidupkan karakter ini tanpa arahan yang baik. Karakter ini perlu lebih banyak menunjukkan personality. Lihat ketika di final battle dia mulai ngelucu dengan ‘pusing’ atau mulai menjadikan tawa datarnya sebagai signature ejekan, penonton baru bereaksi dan have fun bersamanya. Sebelumnya, Gian hanya tampak seperti anak cemburuan yang annoying, dia butuh lebih banyak momen membahas karakternya.

Gimana caranya si Bobby bisa pindah-pindah tempat secepat itu???

 

Sebenarnya naskah film ini memang tersusun lebih proper (setidaknya dari horor lokal kebanyakan) Babak set up beneran tersusun, plot Tara sebagai protagonis juga, secara teori, bisa dibilang benar. Ada perubahan pemikiran. Hanya saja, perubahan atau pembelajarannya itu tidak earn dari dalam dirinya. Dialog konfrontasinya dengan Gian hanya seperti dia ngeguilt trip anak itu. Oke, membunuh orang memang perbuatan salah, tapi selain Gian diberitahu dia salah, Tara juga perlu mengenali apa sebenarnya awal dari ini semua. Tara harus mengenali kesalahan yang ia buat sebagai sumber masalah sehingga aksi dia membenahi diri – secara perspektifnya – akan jadi penyelesaian kisah ini. Tapi momen pembelajaran seperti itu gak ada. Sepanjang film, Tara hanya menyaksikan adiknya mencelakai orang, Tara sendiri tidak pernah benar-benar dalam bahaya. Harusnya ini bisa jadi akar inner journey Tara. Kenapa orang sekitar yang mencintainya semua terluka. Ortunya yang kecelakaan saat mau menjemput dirinya, adiknya, pacarnya, adik pacarnya. Kenapa adiknya bisa sampai cemburu. Dan ngomong-ngomong soal adik pacarnya, mestinya si Mikha itu bisa jadi redemption buat Tara. Bentuk maaf Tara gak mesti harus kata-kata yang ia ucapkan ke depan Gian, apapun bentuk si Gian saat itu. Bisa dengan benar-benar menunjukkan kepedulian sama yang mencintai dia atau semacamnya. Namun sekali lagi, karakter Tara juga gak dibahas mendalam karena film terus menerus ke soal Gian cemburu saja.

Pembelajaran Tara datang lewat twist berupa revealing yang tahu-tahu menambah motivasi dirinya di menit-menit akhir. Ada penjelasan panjang mengenai kejadian yang awalnya kayak cuma prolog saja. Protagonis kita berubah jadi better person karena pengungkapan ini. Karena ternyata ada karakter yang ternyata menyimpan rahasia kejadian sehingga dia gak perlu lagi merasakan hal yang ia rasakan kepada si karakter. Sehingga dia kini bisa menghormati pilihan hidup (atau mati) adiknya. Ini cara yang aneh dilakukan film untuk berkelit dari bahasan rumit kakak-adik. Mereka cukup memaparkan kejadian dari luar dalam bentuk ‘twist mencengangkan’. Supaya audiens suka. Tapi nyatanya, yang kulihat di studio, penonton malah mulai kasak-kusuk sendiri begitu momen twist yang gak perlu ini muncul sebelum penghabisan. Karena memang di bagian ini bagi penonton casual (yang hanya menonton adegan-adegan), film kayak ngestretch waktu aja. Ceritanya sebenarnya sudah abis.

 

 

 

Bagus sebenarnya di skena horor Indonesia ada yang berbeda seperti franchise ini. Yang menawarkan materi yang lebih dewasa, gaya yang lebih sadis, sebagai alternatif. Cuma sayangnya, filmnya sendiri gak komit betul dengan tawarannya. Film ini masih dibuat seperti supaya semua lapisan umur menonton. Padahal tema dan ceritanya sangat dewasa. Adegan-adegan horornya juga berdarah dan lebih kelam. Tapi dialog dan karakternya masih ditulis sederhana. Kurang personality. Tidak mendalam. Plot karakternya juga disesuaikan dengan twist yang somehow masih dianggap perlu. Padahal harusnya karakter berubah dari dalam. Cerita padahal akan baik-baik saja jika mendalami perihal kakak dan adiknya yang cemburu. Kalo ada yang bunuh diri di sini, maka film ini pun membunuh dirinya sendiri dengan terjun bebas lewat pengungkapan mengejutkan yang tak perlu.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE DOLL 3

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana menurut kalian cara yang tepat untuk menangani adik atau anak yang cemburu karena merasa kurang disayangi?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS Review

 

“To be content doesn’t mean you don’t desire more, it means you’re thankful for what you have and patient for what’s to come”

 

 

Bukankah sudah kubilang bahwa cerita seorang ibu paling baik diapproach sebagai horor? I mean, toh memang di antara horor-horor bagus yang beredar, cukup banyak mengangkat tema bagaimana sih psikologis atau perasaan perempuan sebagai ibu. Bahkan mungkin setengah dari horor yang kita bahas di blog ini adalah horor tentang ibu. Marvel Studio pun tampaknya sependapat. Begitu sudah jelas sekuel Doctor Strange (2016) akan melingkupi saga Wanda Maximoff yang merasa kehilangan keluarga/anaknya, Marvel lantas mendapuk Sam Raimi untuk duduk di kursi sutradara.

Raimi terkenal lewat trilogi The Evil Dead (1981-1992). Gaya horornya yang seram-dan-menghibur-secara-bersamaan (gak percaya? coba tonton salah satu horor modernnya; Drag Me to Hell) cukup banyak jadi panutan oleh filmmaker. Namun begitu, ini bukan kali pertama Raimi menangani proyek superhero. Film Spider-Man Sony tahun 2002 yang punya dua sekuel itu kan, Raimi yang garap. Dia telah sukses mengimplementasikan gaya horornya ke dalam format superhero, sesuai kebutuhan. Tapi proyek tersebut terhenti setelah Raimi merasa gak puas oleh campurtangan studio di film ketiga. Makanya sekuel Strange kali ini jadi big deal. Marvel pastilah ngasih kebebasan yang luas bagi Raimi untuk mengkreasikan gayanya, sehingga sutradara ini mau aja untuk kembali ke ranah superhero. Setelah kutonton (akhirnya! yang nyebelin dari masa liburan ialah kupasti telat nonton sebab bioskop penuh), benar saja. Kita udah dapet film superhero dengan rating Dewasa yang penuh adegan sadis, tapi Doctor Strange in the Multiverse of Madness ini menawarkan sesuatu yang lain. Benar-benar ngepush PG-13 dengan cerita ibu yang jadi jahat hanya demi bersama anaknya, lengkap pake zombie, orang terpotong dua, dan kepala meledak!

Multiverse of Madness literally jadi MOM (ibu) kalo disingkat!

 

 

“Was there any other way?” adalah kalimat yang jadi kunci tema pada narasi. Apa ada cara lain, tanya Wanda kepada dirinya sendiri yang terus memimpikan dua putra ciliknya, cara lain untuk bisa bersama mereka. Multiverse yang jadi judul film inilah cara tersebut. Jadi cerita film ini intinya adalah tentang Wanda yang berusaha mendapatkan kekuatan untuk pindah-semesta. Wanda memburu satu-satunya makhluk di seluruh alam semesta yang bisa menyebrang semesta sesuka hati. Makhluk berupa perempuan remaja bernama America Chavez. Nyawa remaja tersebut ada dalam bahaya karena Wanda yang semakin gak sabar menjadi semakin terbenam dalam kejahatan.  Di dalam tidur melihat Chavez dikejar monster bersama dirinya yang tampak agak lain, Strange awalnya mengira itu cuma mimpi buruk. Tapi kemudian Chavez beneran muncul. Strange kini harus melindungi Chavez, yang tentu saja membuat Wanda jadi menganggapnya musuh. Wanda ngamuk, Kamar-Taj diporakporanda, orang-orang jadi korban, Strange dan Chavez terpaksa kabur ke semesta lain guna mencari kitab yang bisa mengimbangi kekuatan Wanda yang udah total jadi Scarlet Witch dengan buku sihir jahat DarkHold!

Dari sinopsis singkat tadi itu aja udah kelihatan. Berlawanan dengan kalimat kunci tadi, there is no other way, cerita seperti ini didirect bukan oleh Raimi. Dia adalah orang yang tepat untuk menghidupkan dunia penuh sihir, karakter berkekuatan aneh, dan segala universe yang ajaib. Aku suka gimana Raimi tampak gak tertarik sama cameo-cameoan. Mungkin fans akan berpikir liar melihat ada kata Multiverse, you know, kebanyakan mungkin akan berpikir bahwa ini bakal jadi kesempatan emas untuk memunculkan banyak surprise character. Sialnya bagi mereka, Multiverse menurut Raimi adalah sebuah lapangan bermain yang luas. Tempat dia bisa memasukkan gaya bercerita horor ringan-tapi-seramnya. Raimi memilih fokus kepada memvisualkan hal yang grounded dari cerita fantastis yang dipercayakan kepadanya. Dan dia gak tanggung-tanggung dalam visualisasinya. When it moves, semua bergerak cepat tapi kita bisa merasakan sensasi horor di sana sini. Gak ragu dia memasukkan elemen jumpscare; eksistensi jumpscare di superhero ada sudah cukup ngagetin! Adegan aksinya walau gak frontal pakai darah, tapi tetap bikin ngilu karena brutal datang secara subtil. Kamera akan ngezoom ke wajah untuk nunjukin intensitas karakter. Elizabeth Olsen yang jadi Wanda dapat banyak momen untuk menunjukkan permainan akting dan dialog ekspresifnya, dan semuanya dimanfaatkan maksimal. Dari Avenger terkuat yang bikin kita merasa aman dia berubah jadi bikin kita merasakan teror. Adegan Wanda nyerang Kamar-Taj intens banget. Asap yang datang menyelimuti pasukan good guys, ngasih kekelaman yang langsung kerasa sunyi-sunyi berbahaya kepada kita. Voldemort harusnya konsultasi ke Wanda dulu sebelum dia menyerang Hogwarts. Olsen could go dari bikin kita simpati, ke ‘njir gila lo ye?’, ke bikin kita pengen ikutan kabur (bayangin dikejar penyihir ngamuk yang lari terseok berdarah-darah dengan rambut terurai!) ke bikin kita merasa kasihan lagi dengan amat sangat mulus.

Arahan Sam Raimi membuat film ini lebih dari sekadar watchable, berkat sensasi superhero-tapi-horornya itu. Arahannya justru mengangkat film dengan naskah yang sebenarnya agak minimalis ini. Multiverse of Madness paling kompleks dalam membahas Wanda alias Scarlet Witch. Sementara tokoh utamanya, si Doctor Strange itu sendiri, pembahasannya sama minimalisnya seperti protagonis dalam The Northman (2022) yang baru kureview sebelum ini. Untungnya memang Strange enggak segabut Newt Scamander di film kedua Fantastic Beasts (2018). Keberadaan Strange di dalam cerita masih tampak penting. Dia gak cuma buat nolong si Chavez. Melainkan ada keparalelan yang coba ditarik antara dirinya dengan Wanda. Mereka sama-sama orang yang punya kehilangan di semesta mereka. Jika Wanda pengen hidup bersama anaknya lagi, maka Strange ini, well untuk gambaran; kita melihat dia datang ke nikahan mantan. See, orang yang udah move on pasti gak bakal ke nikahan mantan (padahal karena gak diundang hihihi) kan? eh atau karena udah move on makanya datang?..  Stephen Strange datang. Inilah yang sepertinya mau dijadikan konflik dirinya sepanjang cerita. Sepertinya ingin ditunjukkan bahwa Strange berlagak nyante dan udah move on padahal belum. Keberadaan Multiverse yang bisa dikunjungi dengan cara tertentu jadi nawarkan kemungkinan baru bagi hidupnya. Dia bisa saja seperti Wanda, pindah hidup ke universe yang lebih bahagia. Ke universe yang ia lihat di mimpi-mimpi indahnya, maybe. Nah minimalisnya naskah adalah konflik Strange yang diniatkan itu tidak pernah tercuatkan maksimal. Tentu, konfrontasi dia dengan mantan di universe lain ada, tapi resolusi dirinya tidak tampak memuaskan. Bilang “aku cinta kamu di semua semesta” gak benar-benar ngasih perkembangan yang berarti kepada karakternya. Apalagi jika dibandingkan dengan development Wanda di akhir cerita; saat dia menyadari yang ia lakukan kepada anak-anaknya di semesta lain sebenarnya.

Konsep bahwa mimpi sebenarnya adalah jendela ke kehidupan kita di semesta yang lain, memang menggiurkan. Honestly, aku langsung merasa relate dan sempat mendukung Wanda demi mengenang mimpi-mimpi indah. Kalo bisa, akupun mau pindah hidup ke semesta where ‘you’ still talk to me, atau ke semesta aku punya teman gaib, atau ke semesta Max masih hidup dan kucing-kucingku semua bisa ngomong. I don’t blame Wanda for wanting that life. Tapi kemudian di akhir, film ini hits me hard. Film ini bicara tentang bagaimana merasa content walau kita merasa ada yang kurang dari hidup. Bahwa cukup itu bukan berarti puas dengan yang kita punya. Bukan pula harus berjuang mengejar untuk mendapatkan apa yang gak kita punya. Melainkan, merasa cukup berarti juga berdamai dengan kesalahan yang kita lakukan dan lantas optimis untuk perbaikan.

 

Plot Wanda tetap terasa lebih kuat menghidupi cerita sementara plot yang lain struggle untuk relevan kepada tema. Yang paling disayangkan jelas plot si anak baru, America Chavez. Diperankan dengan energik dan pesona tersendiri oleh Xochitl Gomez, karakter ini jarang dieksplor. Backstorynya hanya dipaparkan di satu momen, lalu persoalan dia gak bisa mengendalikan kekuatan pindah-universenya beres dengan nasihat/semangat singkat dari Strange. Sayang banget. Apalagi jika kita menoleh ke Wanda, kayak, semuanya udah ada di sana padahal. Anak yang nyari ibunya – ibu yang mau anaknya; seharusnya ada sesuatu yang bisa dipantik dari Chavez dan Wanda. Tapi interaksi manusiawi antarmereka aja nyaris gak ada, let alone ada percakapan personal. Mereka sebagian besar tergambar sebagai pemburu dan buruan. Hanya di penyelesaian saja seperti ada pengertian antara kedua karakter ini.

Stephen Universe lol “Scarlet, America, and Wong, and Stephen!~”

 

 

Maka kayaknya bener juga sih kalo ada yang bilang cocoknya ini jadi WandaVision 2 aja. Multiverse of Madness selain berat ke Wanda, juga kurang stabil untuk bisa berdiri sendiri. Penonton yang gak nonton serial WandaVision mungkin bisa mengerti keinginan seorang ibu untuk bersama anaknya, tapi keseluruhan konteks Wanda-jadi-jahatnya gak bakal utuh didapat. Soal konsep Multiverse, juga sama. Aku sendiri gak nonton serial What If dan Loki. Alih-alih itu, modalku mengerti multiverse di sini adalah nonton serial kartun Rick & Morty yang juga punya bahasan multiverse yang sama kompleks. Bahwa berbagai versi diri kita ada, exist di dunia. Ada kita yang jahat, ada yang baik, ada yang mirip, ada yang mukanya beda, ada yang versi makhluk lain. Kemungkinan versi masing-masing orang tak terbatas. Di satu sisi memang jadi tontonan yang menarik, bikin penasaran melihat versi-versi itu. Namun di sisi lain, konsep multiverse juga bisa jadi bumerang. Salah satunya adalah soal kematian.

Kematian satu karakter gak akan jadi persoalan lagi jika ada multiverse. Satu karakter yang mati, tapi dia itu masih hidup (dan banyak versi) di semesta-semesta lain. Di episode Rick & Morty malah kedua karakter utamanya membunuh versi diri mereka gitu aja, karena mereka udah messed up di semesta sendiri jadi mereka pindah hidup ke semesta yang paling mendekati kenormalan versi mereka. Pada akhirnya, stake film jadi gak ada lagi. Kita bakal casual aja melihat karakter mati karena toh nanti ada versi lain yang muncul di film/serial lain. Para karakter bisa diperankan oleh aktor yang sama, bisa juga tidak, di setiap semesta. Ini bukan teori atau gimana ke depan, loh. Melainkan langsung terasa buktinya di film Multiverse of Madness ini.

Dalam satu rangkaian adegan (yang aku yakin ini adalah permintaan studio, karena tone di sini benar-benar berbeda dari keseluruhan film) diperlihatkan Doctor Strange bertemu sama tim Illuminati. Ada Captain Marvel universe lain, Captain Carter, Mordo, Richards Fantastic Four, Black Bolt, dan Prof. X! (satu-satunya waktu saat penonton yang menanti cameo bersorak hihihi) Karakter-karakter yang sebenarnya berperan besar dalam universe atau cerita masing-masing, di film ini kayak muncul seadanya saja. Nantinya, mereka akan bertarung dengan Scarlet Witch. And they just dead. Matinya seru sih, cuma ya itu. Mati. Gak banyak pikiran di baliknya. Mereka mati gitu aja karena sudah dalam multiverse plot armor. Setiap karakter kini mati pun tak apa. Mereka bisa ‘direvive’ kapan saja sesuai kemauan studio. Kita yang nonton melihat kematian mereka pun jadi datar aja, demi menyadari itu semua. Nonton keseluruhan film jadi gak ada greget. Strange mati pun kupikir gak bakal ngaruh banyak karena toh ada infinite number of him yang bisa dimunculkan oleh studio. Satu-satunya yang bikin kita bisa peduli adalah si Chavez (dia cuma satu-satunya di semesta) dan melihat development si Wanda (itupun bagi penonton yang ngikutin serialnya).

 

 

 

Visi dan gaya unik sutradara adalah hal yang benar-benar dibutuhkan oleh sinematik universe yang sudah berjalan begitu lama seperti MCU. Kita bisa membuktikan itu pada film ini. Terasa benar bagaimana arahan Sam Raimi yang bermain kreasi horor di ranah superhero, mengangkat film ini jadi pengalaman seru yang berbeda. Aku benar-benar suka pada apa yang ia lakukan dalam menghidupkan naskah yang kurang balance dan cukup minimalis ini ke layar lebar. Ya, weakest part dari film ini sebenarnya bukan arahan Raimi yang di luar kebiasaan Marvel. Melainkan pada naskahnya. Karakter utamanya kalah solid penulisannya dibandingkan dengan karakter antagonis. Karakter baru yang dihadirkan juga tidak didalami. Dan juga, naskah film ini ngasih kita pe-er yang banyak kalo mau mengerti dan lebih enjoy menonton. Beruntung arahannya tadi sangat keren. This is truly ketika yang horor-horor jadi pahlawan!
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang multiverse? Apakah konsep multiverse bikin satu film lebih menarik, atau malah membingungkan? Apakah kalian gak keberatan sama untuk mengerti satu film kita harus nonton sejumlah serial dan film lain dulu?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

KKN DI DESA PENARI Review

 

“We need to remember across generations that there is as much to learn as there is to teach.”

 

 

 

Semua hal yang populer, perlu untuk dibuatkan menjadi film. Kalimat itu benar mutlak, kalo kalian punya pemikiran seperti studio/PH gede. Maka dari itulah film-film yang kita dapati sekarang, semakin banyak yang dibuat dari cerita yang entah itu remake dari film lain, adaptasi dari novel atau sastra, adaptasi komik – atau game – atau lagu – atau bahkan ‘adaptasi’ dari apapun.  It is just easier (dan less riskier) menjual sesuatu yang udah ketahuan ada pembelinya. Cerita original bukannya gak ada peminat ataupun gak ada yang mau bikin. Hanya memang munculnya agak jarang karena ‘perjuangannya’ lebih panjang untuk bisa lolos difilmkan. Harus dipopulerkan dahulu. Caranya? Ya beragam; bisa digimmick-kan, bisa dengan ambil aktor atau pembuat yang lagi hits, atau yang lucunya – ‘terpaksa’ dijadiin buku dulu. Sehingga jadi gak dianggap original lagi.

Di detik ini, udah susah untuk  mastiin apakah cerita KKN di Desa Penari adalah cerita original yang didesain untuk viral dulu sebelum digarap jadi film, atau memang karena viral maka difilmkan. Wallahualam. Yang jelas, thread Twitter yang muncul di 2019 itu memang sensasional. Semua orang yang kukenal, bilang sudah membacanya. Kalo sudah serame itu, kehadiran filmnya memang tinggal menunggu waktu (dan damn Covid memastikan kita menunggu untuk waktu yang bertambah-tambah). Hanya saja, here’s the thing about adaptation. Ekspektasi bakalan tinggi. Menyadur alih-medium itu gak gampang. Tantangan sutradara Awi Suryadi di proyek KKN ini berat. Karena jika ternyata film ini kalah seram ama threadnya yang berhasil viral itu, maka ya berarti storytelling-nya kalah telak dan juga berarti studio filmnya gak mampu ngehandle cerita seram yang bagus.

Seenggaknya buatku nonton film ini terasa original, karena aku gak baca thread-nya sebelum ini

 

Genre Horor, sejak meledak oleh Hollywood di 70-90an, suka mengangkat kisah remaja yang terdampar di hutan atau tempat asing, dengan pembunuh atau makhluk menyeramkan mengincar. Sekelompok remaja yang modern dan bebas akan dikontraskan hal-hal yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Biasanya awal masalah dimulai ketika ada satu orang yang melanggar ‘aturan’ di tempat tersebut. Horor itu sendiri adalah simbol dari nilai-nilai yang diantagoniskan oleh sosok remaja. Aturan, orang tua, tanggung jawab, dan sebagainya. Cerita KKN di Desa Penari fits that mold perfectly. Enam orang mahasiswa harus KKN supaya bisa lulus, tapi sialnya desa yang mereka pilih adalah desa yang sungguh misterius. Lokasinya jauh di dalam hutan, penghuninya orang tua semua, banyak sesajen di mana-mana, dan sesekali terdengar suara gamelan entah dari mana. Tadinya kupikir bakal keren sekali, film horor lokal yang gak sekadar niru formula horor barat melainkan punya identitas lokal. Para mahasiswa bener-bener ada alasan kuat untuk berada di TKP. Bukan alasan sepele kayak liburan, ngevlog, atau semacamnya. Dan sebagai yang pernah ngerasain KKN, ya cerita ini relate. Anak KKN mana sih yang gak punya pengalaman horor sepulang dari desa yang ditugaskan.

Pengalaman horor tersebut erat kaitannya dengan cueknya remaja dengan aturan desa yang aneh dan gak logis, atau juga dengan kebiasaan di sana yang berbeda sekali dengan di tempat asal. Singkatnya, only natural bagi cerita seperti ini untuk memakai formula fish-out-of-water. Dalam KKN di Desa Penari, ‘fish’nya adalah Nur dan lima orang teman. Mereka gak boleh sompral. Gak dianjurkan pake pakaian terbuka. Terutama gak boleh masuk ke wilayah hutan yang disebut penduduk desa Tapak Tilas. Tentu saja aturan-aturan tersebut tetap terlanggar juga oleh teman-teman Nur. Keberadaan mereka jadi ternotice oleh lelembut penguasa di situ, Badarawuhi, yang langsung menempel ke teman yang cewek, merayu teman yang cowok, dan bikin perjanjian sama teman yang satu lagi. Sebelum mereka semua diambil, Nur yang punya ‘pelindung’ berusaha mengarahkan teman-temannya kembali ke ‘jalan yang benar’.

“Sebagai yang waktu kuliah dulu sering harus tinggal di daerah pelosok (bukan hanya saat KKN), aku memang sependapat sama film ini. Bahwa semuanya adalah soal respect. Betapapun gak logisnya aturan dan tahayul di hutan, ikutin aja. Bukan soal percaya atau gak percaya. Melainkan soal menghormati yang punya tempat, alias penduduk lokal. Dialog di ending saat orang desa merasa bersalah atas tragedi yang menimpa Nur dkk, sementara Nur juga merasa bersalah karena lalai menjaga kepercayaan benar-benar menunjukkan bahwa di mana pun, kapan pun, siapapun, sebenarnya sama-sama ingin saling menjaga.”

 

Cukup banyak sebenarnya poin-poin kejadian menarik yang dikandung oleh film ini. Aku suka bagian ketika para mahasiswa dihidangkan kopi hitam oleh tetua desa. Adegan tersebut digunakan sebagai set up untuk menghantarkan ke bagaimana para karakter nanti tahu siapa di antara mereka yang sedang ketempelan makhluk halus. Soal makhluk halus, film ini punya cukup banyak (emangnya film superhero doang yang bisa punya villain lebih dari satu!) Yang paling berkesan memang si Badarawuhi yang tampil magis dan merinding sekali dibawakan oleh Aulia Sarah berbusana penari tradisional. Setidaknya film ini got it right dengan membuat karakter-karakter hantunya terasa berada di level yang berbeda dengan karakter manusia. Sekuen di ‘hajatan’ juga aku suka, meskipun agak klise, tapi kejadian seperti itu paling relate buat cerita-cerita nyasar di hutan. Dan adegan di sana digambarkan dalam ‘nada’ yang paling berbeda dibandingkan dengan rest of the movie, sehingga jadi terasa sangat fresh.

Nada atau tone sebagian besar durasi itulah masalah yang pertama kali kurasakan saat masuk ke film ini. Terasa begitu monoton. Film tidak menampilkan banyak emosi atau suasana lain selain mood yang seram nan angker melulu. Para karakter mahasiswa tampak cemas, bingung, takut sepanjang waktu. Mereka udah kayak kurcaci di cerita Snow White, karakterisasinya hanya terdefinisikan oleh satu emosi. Si Jutek, Si Alim, Si Misterius, Si Pelawak. Nur, misalnya, dia kayak gak boleh bersuka ria atau bercanda oleh naskah. Kerjaannya cuma mencemaskan yang lain, dan ngingetin ibadah. Kita pengen melihat lebih banyak interaksi mereka, entah itu sesama mahasiswa ataupun dengan penduduk – you know, sekadar untuk ngingetin kalo mereka itu ada di desa untuk KKN. Ada tugas, ada goal. Poin-poin menarik yang kusebut di atas tadi mestinya bisa disebar dengan natural, bikin cerita benar-benar ada flow. Toh KKN beneran kan gak serem-sereman sepanjang waktu. Kita butuh untuk melihat para karakter sebagai manusia normal, mereka harusnya  ngalamin banyak hal di tempat itu. Cerita ini punya banyak elemen dan lingkungan yang bisa digali, tapi sutradara Awi Suryadi terpaku pada keadaan film yang sekarang sudah jadi sebuah adaptasi thread viral.

Keviralan tersebut malah jadi beban, ketimbang sesuatu yang membebaskan kreativitas. Alih-allih menjawab tantangan dia bisa bercerita lebih hebat daripada thread Twitter bercerita, Pak Sutradara lebih memilih untuk ngikutin apa yang sudah tertulis. Dan dia tidak melakukan hal selain itu. Makanya film ini nadanya jadi monoton. Karena ‘adaptasi’ dalam konteks KKN di Desa Penari ini bagi pembuatnya adalah tentang mewujudkan semua bagian-bagian mengerikan yang bikin ceritanya viral. Bukan adaptasi yang menafsirkan ke dalam bahasa film. Film ini hanya berisi scare demi scare. Struktur naskahnya tidak dipedulikan lagi. Di paruh akhir, baru para karakternya mengerti konflik dan apa yang harus mereka lakukan (mencari bangle Badarawuhi) Menit-menit awal aja aku udah ngakak karena film ini actually punya dua adegan opening, dan dua kredit pembuka. Dua kali kita ngeliat adegan baru-tiba-di-desa, naik motor masuk ke hutan – pembukaan pertama ceritanya masih survei desa, yang kedua baru beneran datang KKN dengan formasi lengkap. Dan di dua adegan pembuka yang mirip itu gak ada informasi yang berbeda. Benar-benar gak perlu – dan bisa saja dibikin jadi satu. Gak usah ngikut cerita di Twitter. Ketika jadi film, mestinya cerita bisa ditambah, misalnya, adegan mereka di kampus  ditunjuk KKN bareng. Dikasih tahu kalo ini kesempatan terakhir mereka untuk lulus sebelum di DO, misalnya. Menurutku adegan seperti itu harusnya ada supaya siapa para mahasiswa dan situasi mereka bisa benar-benar terbuild up dan kita jadi peduli.

Gabut amat KKN tapi kerjaannya kesurupan melulu

 

Ketawaku malah jadi lebih gede lagi ketika sampai di menjelang akhir. Tau-tau film ini membuat seolah Nur dan yang lain adalah tokoh asli, dengan ada adegan yang membuat film jadi kayak sebuah mockumentary. Gimmick ‘kejadian dari kisah nyata’ yang dipakai oleh thread Twitter-nya turut diadaptasi mentah-mentah oleh film ini, menghasilkan konsep tontonan yang benar-benar gak konsisten. Jika memang mau membuat ini jadi semacam mockumentary, menjual ini sebagai seolah kisah nyata, kenapa bangunan bercerita filmnya tidak dibentuk seperti itu sedari awal. Bisa dibilang, tidak ada tindak adaptasi yang dilakukan di sini, karena hanya tumplek plek kayak memvisualkan setiap kejadian seram. Tanpa dikomandoi ritme dan alunan alur cerita. Pun dalam memvisualkan juga gak bisa dibilang istimewa.  Kalo para bocil yang baca thread KKN dikasih kamera dan disuruh mengadegankan yang mereka baca, aku yakin hasilnya gak akan jauh dari adegan yang kita saksikan di film ini.  Sebegitu standarnya yang dilakukan pembuat film untuk menghidupkan ceritanya. Gak ada yang spesial. Pan kanan – pan kiri. Jumpscare. Kamera miring dikit. Drone. Menari. Jika MCU punya machination alias template pada arahan actionnya, maka film ini nujukin film horor kita punya template khusus adegan horor, dan  KKN ini ngikutin semuanya.

Konfrontasi terakhir dengan si ratu jin ular penari? Beuh, jangan ditanya! Konklusi Nur dengan ‘pelindung’nya? Jangan disebut! Karena memang film gak ngasih development apa-apa untuk protagonis utama kita. Tissa Biani pastilah ngerasa gabut banget meranin Nur. Dia cuma meringis karena bahunya berat. Gak ada aksi, gak ada pilihan, nyawaya pun tak pernah terancam bahaya. Cara dia menemukan bangle Badarawuhi pun cuma ‘kebetulan’ sekali. Nemunya gak susah. Nur cuma karakter moral, yang kadang tampak segala tahu. Siapa dia, backstorynya gak pernah digali. Di babak akhir dia cuma nangis merasa bersalah. Yang save the day justru karakter lain, yang namanya bahkan bisa tidak kusebutkan di sini tanpa banyak pengaruh apa-apa.

Dengan sering mundur tayang, film ini padahal punya banyak waktu untuk revisi. Jika gak bisa suting ulang, paling enggak editingnyalah diberdayakan. Tapi sekali lagi mereka membuktikan bahwa mereka tak peduli sama film ini selain untuk jualan. Karena yang actually mereka lakukan cuma merilis dua versi; reguler dan uncut. Aku tahu sex sells, tapi maan mereka membuatnya sangat obvious cuma mau menjual filmnya dengan adegan dewasa. Di bulan puasa! Padahal bisa aja rilis bersamaan dengan dua ending; taktik ini padahal di luar juga cukup langka. Yang benar-benar melakukannya pada rilis teater bersamaan (bukan di platform lain setelah filmnya turun) paling bisa diitung jari, misalnya Clue (1985) dan Unfriended: Dark Web (2018) Atau si KKN ini, since kayak pengen banget ngikutin threadnya, kenapa gak rilis dua sudut pandang yang berbeda (bersi Nur dan versi Widya)? Samar-samar terdengar tembang berisi jawaban: ya karena butuh kerja keras, bego!

 

 

 

Yea, this is bad. Namun bukan jelek dari materinya. Kita masih bisa merasakan potensi dan hal-hal menarik terkait horor remaja di desa di dalam sana. Afterall, threadnya bisa sukses tentu salah satunya berkat cerita yang bisa relate sekaligus bikin penasaran. Film ini terasa bad karena yang sekarang ini terasa kayak produk  jualan komplementer, pelengkap dari keviralannya. Pembuatnya enggak melakukan banyak untuk menghidupkan dan mengangkatnya ke dalam film. Karakter gak ada plot. Pengadeganan super standar. Bercerita dengan nada monoton, cuma wahana scare. Aku harap beberapa tahun ke depan, cerita ini diadaptasi oleh pembuat yang benar-benar peduli.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KKN DI DESA PENARI.

 

 

That’s all we have for now.

My Dirt Sheet dan CineCrib sempat ngobrolin soal pengalaman seram selama KKN, di Episode Talks Youtube

Apakah kalian punya atau pernah mendengar pengalaman horor saat sedang KKN?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

MINI REVIEW VOLUME 3 (KIMI, AMBULANCE, NO EXIT, JACKASS FOREVER, JAKARTA VS. EVERYBODY, THE BUBBLE, RED ROCKET, UMMA Review)

Sebelum dihebohkan oleh film-film lebaran, di bulan April blog kesayangan kalian (eh masa iya sih kesayangan?) ini memang lagi sepi dulu.  Karena selain karena bulan puasa mager ke bioskop, My Dirt Sheet juga lagi dalam proses pindah-rumah. Jadi memang banyak fase-fase bengongnya.

Untuk itulah maka, Mini Review dihadirkan kembali. Isinya? Ulasan singkat beberapa film yang belum sempat ditulis secara panjang lebar kayak persegi panjang.

 

 

AMBULANCE REVIEW

Ada tiga jenis sutradara di dunia. Pertama, yang sangat berciri khas sampai-sampai bisa jadi begitu idealis. Kedua, yang cuma bikin film untuk jualan dan gak peduli kerja kayak menuhin pesenan produk. Dan yang terakhir, ada Michael Bay.

Ya dia udah terkenal sebagai pembuat film meme-able yang bombastis penuh ledakan, namun  begitu-begitu toh dia tetap stay dengan visi dan punya gayanya sendiri. Ledakan segala kebombastisan itu dijadikannya signature yang membekas. Dan mau gak mau kita harus respek sama ini. Seperti juga yang akhirnya kulakukan kepada film Ambulance. Kisah dua brother (bonded not by blood tapi persaudaraan mereka sangat kuat) yang merampok bank, kemudian menjadikan mobil ambulans – lengkap dengan petugas medisnya – sebagai kedok untuk kabur dari buronan polisi. So yea, wall-to-wall action is to be expected. Mulai dari sekuen perampokan hingga kejar-kejaran mobil hingga ke akhir film, Bay tancap gas. Semua gaya lebay, ledakan – humor – dan tentu saja kamera, dikerahkan Bay atas nama entertainment dan ketegangan untuk kita. Kamera literally beterbangan dari puncak gedung dan sudut-sudut tak terduga, menghasilkan perspektif heboh kepada kita.

Di momen-momen aksi, gaya Bay ini memang work out rather nicely. Ambulance jadi sajian seru yang bisa kita tonton tanpa harus takut nilai IQ berkurang.  Tapi Bay memang kelewatan juga. Dia kayak pengen semuanya di filmnya ini seru. Sehingga kamera juga hiperaktif di momen-momen selow. Kayak, orang jalan masuk garase – tanpa ada konteks suspens – pun direkam Bay dengan cepat-cepat dan frantic. Buatku ini berlebihan. Ini seperti nonton gulat, yang superstarnya selalu pake move-move dahsyat.  Jadinya malah gak spesial lagi.  Film juga seperti itu, butuh momen-momen selow supaya keseruan yang ada semakin berarti. Supaya penceritaannya punya ritme. Ambulance butuh lebih banyak momen-momen karakter. Bukan hanya karena aktornya – terutama Jake Gyllenhaal yang ngangkat banget film ini lewat aktingnya – tapi juga karena di balik kehebohan itu ada cerita kemanusiaan. Arc si petugas medis cewek yang terpaksa ikut mereka sesungguhnya cukup menghangatkan untuk disimak.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for AMBULANCE.

.

 

 

JACKASS FOREVER Review

Jackass sebenarnya lebih cocok dianggap sebagai kumpulan video-video konyol daripada disebut sebuah film. Jackass hanya punya premis; sekumpulan orang-orang ngelakuin hal edan. Berbahaya. Menjijikkan. Tapi super fun. Untuk anak-anak generasi MTV, nonton Jackass itu adalah level kekerenan tersendiri. Apalagi kalo sampai berani niruinnya hahaha.

With that being said,  review film keempat Jackass ini sebenarnya pun lebih tepat disebut sebagai komenan aku saja. Terhadap hal-hal baru yang disuguhkan. Misalnya pada cast-nya. Johnny Knoxville dan kru original Jackass udah pada tua-tua. They need some young blood. Inilah yang awalnya bikin aku sanksi. Gimana mereka ngehandle orang-orang baru. Apakah anak-anak muda yang sekarang bisa segila dan senekat original. Turns out, gak ada masalah. Cast yang baru gak canggung dan gak kalah begonya. Level stunt yang dilakukan pun jadi bisa lebih beragam. Kru Jackass bisa mewujudkan ide yang lebih gila. Misalnya dengan double bungee jumping, karena kini ada dua pria tambun yang bisa digunakan. Paling yang kerasa kurang lucu adalah cast yang cewek. Untuk pertama kali ada perempuan dalam kru Jackass, dan dia gak seheboh yang lain. Mainly karena sepertinya Knoxville dan sutradara Jeff Tremaine masih meraba-raba sejauh apa peran cast perempuan bisa digunakan dalam stunt ini. Segimana batasan propernya. Tau sendirilah, sekarang jaman yang agak-agak sensitif.

Overall, Jackass terbaru ini agak sedikit lebih safe, tapi tetep chaos. Cast yang lama sudah terbatas, kita kehilangan dua original kru yang kocak, maka kini semuanya dibebankan kepada Ehren. Yang kasian banget lihat ‘penyiksaan’ yang harus ia dapat di sini (hahaha rasain!) Yang jelas, dengan ini Jackass semakin gak bakal bisa masuk Indonesia.

The Palace of Wisdom decide to not give score for JACKASS FOREVER 

 

 

 

JAKARTA VS. EVERYBODY Review

Yea, yea hidup di Ibukota itu keras. Tapi tentunya bakal banyak perspektif yang bisa diangkat sehubungan dengan perjuangan hidup di Jakarta, kan? Well, sayangnya ‘Everybody’ dalam karya Robby Ertanto hanya segelintir orang yang bersinggungan dengan Dom, pemuda asal Minang yang gagal jadi aktor dan malah jadi orang kepercayaan geng pengedar narkoba.

Naskah film ini ternyata tidak menggali seluas dan sedalam yang harusnya bisa dicapainya. Dom yang diperankan oleh Jefri Nichol sebenarnya karakter yang menarik. Latar belakangnya, motivasinya, bahkan plot untuk developmentnya juga bagus. Passionnya terhadap film juga kerap mencuat keluar. Hanya saja film tidak banyak menggali, melainkan lebih banyak menampilkan Dom berjuang sebagai pengedar – where he good at it – dalam balutan kejadian yang dengan cepat jadi repetitif. Peralihan kerjaannya juga tidak digambarkan dengan mendalam. It is just happen. Dom merasa diperlakukan kasar, dan dilecehkan saat nyari kerjaan akting, dan kemudian saat diajak ‘ikut’ geng karakternya si Wulan Guritno, Dom langsung mau aja.  Walaupun pekerjaan tersebut lebih beresiko, dan gak ada jaminan dia enggak dapat perlakuan yang serupa dengan pengalamannya sebagai pemeran figuran. Jika Dom diniatkan untuk ‘terpaksa’ jadi pengedar, film ini tidak berhasil menampilan kesan ‘terpaksa’ tersebut.

Pertemuannya dengan karakter lain pun tidak banyak menambah narasi. Padahal kita semua juga tahu, design cerita seperti ini adalah Dom bakal belajar banyak dari karakter yang ia jumpai. Tapi lebih seringnya, karakter-karakter pendukung tersebut terlalu banal. Mereka lebih kayak ada buat penyampai dialog ‘bijak’ ketimbang terasa kayak manusia yang beneran punya hidup di luar frame kamera. Sehingga pada akhirnya, film ini terasa kayak menghajar kita dengan curhatan yang sama. Yea, yea, hidup di Ibukota itu keras.

The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for JAKARTA VS. EVERYBODY.

 

 

 

KIMI Review

Whoa tadinya kupikir Zoe Kravitz main jadi Sasha Banks haha. . Ternyata karakternya yang berambut biru adalah perempuan yang bekerja di depan komputer, menanggapi keluhan-keluhan konsumen. Kimi lantas menjadi thriller saat karakter Kravitz mendengar sesuatu yang seperti percobaan pembunuhan dari salah satu file kerjaannya. Jadi sekarang dia harus pergi menggagalkan yang ia dengar, meski itu berarti dia harus keluar rumah. Di era pandemi. Jeng-jeng!!

Kimi adalah satu lagi film yang naskahnya terlalu simpel untuk karakter yang kompleks. Unsur thrillernya sendiri memang kuat mengakar. Sutradara Steven Soderbergh bukan orang awam soal thriller dengan elemen teknologi. Tapi begitu mengingat protagonis kita adalah pengidap agoraphobia – yang membuatnya gampang cemas dan gak percayaan – aku pengennya film lebih bermain-main sebagai thriller psikologis. Benar-benar menggali kecemasan dari perspektif protagonisnya. Tapi yang kita dapatkan di sini adalah cerita yang seperti thriller generik. Apa yang harusnya gabungan dari Rear Window dan gimmick kekinian ternyata hanya menjelma jadi thriller kejadian. Yang aku justru merasa diskonek dengan karakternya.

Bagian terbaik dari film ini adalah babak ketiga. Saat film mulai mengembrace sisi fun dari thriller ini. Aku jauh lebih suka bagian akhir ini ketimbang set up yang boring dan agak sedikit terlalu serius.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for KIMI.

 

 

 

NO EXIT Review

Aku lebih suka thriller garapan Damien Power ini dibandingkan Kimi. Meskipun bangunannya sama-sama generik (No Exit bermain sebagai thriller ruang-tertutup dengan sedikit misteri who the bad guy) tapi film ini lebih mengundang. Lebih gampang konek kepada kita.

Pertama karena karakternya. Tentu saja thriller harus mampu merancang situasi sehingga kita bukan saja mendukung protagonis untuk selamat dari misteri, tapi juga mendukungnya untuk menyelesaikan masalah personal. No Exit konsisten menggali keduanya, bersamaan. Tidak seperti Kimi yang di awal-awal kita hanya ‘memandang’ karakternya, No Exit langsung mengundang  kita masuk ke dalam permasalahan protagonisnya.  Darby, yang lagi rehab, tapi mendengar ibunya sakit. Untuk sekali ini, Darby pengen cabut dari tempat rehab bukan karena ingin kabur dan relapse. Ini perjuangan yang lebih gampang kita rasakan. Ketika elemen thrillernya datang – Darby menemukan sesuatu yang membuatnya menyimpulkan ada orang jahat yang berbahaya di antara mereka semua yang sedang terkurung di kabin oleh cuaca buruk – film semakin menarik kita masuk. Kita disuruh ikutan menebak. Karakter-karakternya dibuat compelling semua.

Film ini tidak menunggu sampai babak akhir untuk semuanya jadi seru dan fun.  Seiring durasi bakal banyak yang direveal, membuat kita tetap engage dan menambah intensitas. Hanya memang, hal yang diungkap terasa semakin mengada-ada. Just for sake of surprise. Flashback dipilih sebagai cara pengungkapan, yang membuat pace film ini agak terbata.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for NO EXIT.

 

 

 

RED ROCKET Review

Lo itu problematik. Pengen sebenarnya bilang itu kepada film Red Rocket, tapi setelah dipikir-pikir justru problematik itu yang dijadikan konteks utama oleh sutradara Sean Baker. Lewat protagonis yang mantan bintang porno, Baker di film ini mengisahkan dark-comedy tentang seseorang bisa begitu gak tahu malu, dia terus bermimpi dan membawa/memanipulasi orang jatuh bersama dirinya.

Red Rocket dihadirkan sangat ringan dan penuh pesona. Kayak cerita kehidupan sehari-hari. Di awal ini seperti kisah penebusan diri seseorang terhadap masa lalunya. Mikey kembali ke Texas, dalam keadaan gak punya apa-apa selain yang ia kenakan. Mikey membujuk istri yang telah ia tinggalkan untuk mau menampungnya tinggal. Mikey berjanji cari kerja dan ngasih kehidupan yang lebih baik. Istrinya percaya, mertuanya percaya, dan bahkan kita juga. Kita percaya ini kisah orang yang mau memperbaiki hidup. Kita akan bersimpati melihat Mikey ditolak beberapa tempat hanya karena dia pernah bekerja sebagai pornstar. Karakter karismatik, bermulut manis, dan keringanan tone sebenarnya adalah film memberi waktu kepada kita untuk mengenali ‘ular’ di depan mata. Film mau kita sendiri yang menyadari problematis karakternya. Seiring berjalannya durasi, pengungkapan yang disebar semakin banyak, kita bahkan melihat Mikey mulai ngegrooming cewek remaja, untuk kepentingan dirinya sendiri – kembali jaya di bisnis adult film.

Di sinilah film dan Mikey mulai berbeda. Film memang didesign untuk problematis karena dia ingin kita tahu seperti apa problematik di dunia sekarang – kita cenderung percaya pada kata-kata dan janji-janji palsu. Sementara Mikey, gak nyadar dia itu problematis. Mikey seperti terlalu optimistis, dari awal sampai akhir dia gak berubah. Pada film biasanya kita pengen karakter berubah, entah itu jadi lebih baik atau buruk, pokoknya karakter harus ada development. Belajar hal. Film ini tidak begitu. Untuk dapat bekerja sesuai tujuannya, Red Rocket harus membuat Mikey gak berubah.  Film ini sejatinya adalah karakter-studi, yang kita penontonnya diharap untuk merasakan tragisnya si karakter, tapi tidak lagi bersimpati kepadanya.

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for RED ROCKET.

 

 

 

THE BUBBLE Review

Setuju gak sih kalo kubilang The Bubble ini adalah film terburuk pada caturwulan pertama tahun 2022? I feel like segala hinaan buat film Don’t Look Up (2021)trying too hard to be funny, gak cerdas, karakter annoying, gak jelas – lebih cocok dialamatkan untuk komedi satir garapan Judd Apatow ini.

Cerita dengan setting belakang panggung film adalah soft-spot buatku. Aku selalu suka film-film tentang orang bikin film. Tapi tidak untuk film yang satu ini. Aku tidak menemukan yang bisa aku suka, lantaran bagian bikin-filmnya ternyata digarap sebagai satir konyol yang begitu dipaksakan sehingga gak lagi lucu. The Bubble adalah tentang produksi film yang terpaksa berhenti karena pandemi, tapi kru dan artis-artisnya tetap tinggal di hotel yang jadi tempat syuting mereka. Dan di sana, dengan pandemi yang terus merajalela gak tau sampe kapan, semua orang termasuk para pemain film jadi stres. Dan demi menjaga produksi mereka tetap jadi, pihak studio film mulai ngasih kebijakan-kebijakan absurd supaya gak ada yang bisa keluar dari sana. Sounds fun? Yea. Tapi eksekusiknya sama sekali tak bernyawa.

Film ini hanya peduli pada satir apa yang pengen disampaikan, mereka tidak membuat karakter-karakternya kayak ‘manusia’. Mereka kayak melempar semua hal ke dinding, dan melihat apa yang nempel – itulah bentuk film ini. Dari adegan suting, tau-tau karakternya marah, dan lalu berikutnya mereka joget sama-sama. Kayak alurnya gak ada poin selain parade satir. Stakenya ngambang antara benar-benar bahaya atau cuma lucu-lucuan. Dan penampilan aktingnya, maan. Pembawaan komedi di sini membuat bintang-bintang komika yang main film di kita jadi kayak orang-orang paling lucu sedunia akhirat. Mereka di film ini cuma gak-jelas. Lucunya ketinggalan entah di mana.

The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for THE BUBBLE.

 

 

 

UMMA Review

Di perfilman kita yang didominasi horor ada saying yang menyebut “Semua akan main horor (jelek) pada waktunya” Dan, ladies and gentlemen, ini adalah waktunya buat Sandra Oh. Waktu dan tempat kami persilakan!

Banyak yang ngeluh film debut sutradara Iris K. Shim ini jelek karena gak serem. Karena lebih kayak drama ibu-anak yang ada unsur gaibnya. Well, bukan karena itu tepatnya. Horor justru bisa jadi sangat baik muatan drama keluarga. Horor-horor terbaik justru adalah cerita tentang trauma yang menjadikan hantu-hantuan sebagai lapisan yang menyimbolkan trauma tersebut.  Ini berusaha dilakukan Shim di film Umma. Membahas trauma yang turun termurun berkat relationship ‘khas’ ibu dan anak perempuan dalam tradisi Korea. Umma adalah Turning Red (2022) yang diceritakan tanpa panda merah melainkan dengan lapisan horor. Umma sebenarnya bisa sangat haunting dan membekas, penuh dengan local-wisdom dari pembuatnya pula. Namun perkara menyeimbangkan bahasan dan horornya itulah yang belum fasih dilakukan, sehingga Umma terasa seperti eksperiens nonton yang kurang ngena.

Shim kayak gak klik sama Oh, Yang satu kayak try to make impression, yang satunya lagi stay di tempat cerita seharusnya. Sandra Oh berusaha mengeluarkan horor yang lebih natural lewat yang dirasakan dan yang dipilih oleh karakternya, dan film bekerja paling efektif saat fokus ke karakter ini. Tapi di sisi lain, Shim masih banyak berusaha menarik horor dari trik-trik horor yang generik. Sehingga tensi film gak benar-benar klik. Seperti pembuatnya sendiri  yang takut. Takut kalo penonton gak takut jika disuguhkan psikologikal horor yang total.

Jadi, sebenarnya film ini gak sejelek itu, cuma memang tidak maksimal saja.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for UMMA.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now

Dengan Mini Review Vol.3 ini maka caturwulan pertama film 2022 My Dirt Sheet telah rampung. Untuk rapor film cawu ini bisa disimak di Twitter @aryaapepe.

Selamat libur lebaran semuayaa. Mohon maaf lahir dan batin.

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

 

X Review

 

“The old often envy the young”

 

 

 

Horor mirip ama bokep. Keduanya adalah genre yang ditonton orang-orang bukan untuk plot. Penonton memilih film horor supaya bisa melihat karakter-karakter mati mengenaskan. Nilai plus bagi penonton kalo si karakter itu sempat telanjang dulu sebelum dibunuh ajal (which is why paduan horor-bokep easily jadi yang paling laris). Sementara bokep sendiri, jelas,  penonton cuma mau melihat orang gak pakai baju, dalam apapun situasi fantasi mereka. Keduanya adalah eksploitasi,  dan yang terburuk dari mereka adalah bahwa keduanya penuh oleh male-gaze. Tentu saja gak semuanya begitu, ada juga pembuat-pembuat yang mencoba membuat horor, maupun porn, sebagai sebuah seni. Dalam horor, lahir istilah elevated-horor. Horor yang artsy banget, sampai-sampai susah untuk dimengerti. Dalam bokep, I don’t know honestly, tapi dalam film X yang merupakan comeback horor sutradara Ti West ada karakter filmmaker bokep yang berusaha membuat tontonan yang benar-benar nyeni dan cinematik. Memang, fenomena horor dan porn yang saling bersilangan ini jadi circle back together di bawah X (come to think of it, aku jadi gak yakin judul film ini dibacanya memang “ex”, atau “cross”) yang merupakan produksi studio A24. Studio yang khusus bikin apa yang disuka oleh orang banyak dengan gaya yang super duper nyeni.

Yang Ti West bikin kali ini memang film yang ada unsur horor dan bokepnya. Tapi bukan dalam sense ‘horor-bokep’ seperti yang dulu sempat hits banget di negara kita. West membuat sebuah sajian horor yang seperti ditarik langsung dari jaman puncak kebangkitan mainstream genre ini (akhir 70-an) dengan cerita tentang sekelompok kecil pembuat film dewasa.  Mereka menyewa kabin di daerah pedesaan Texas, tapi enggak bilang kepada pasangan tua yang punya kabin tersebut kalo bangunan dan lokasi sekitarnya itu akan dijadikan lokasi suting film bokep. Siang harinya memang suting mereka berjalan lancar (yang berarti peringatan kepada kalian untuk tidak menonton film ini saat sedang berpuasa). Pas malam tiba, baru semua rusuh. Nenek tua yang sedari siang ngintipin mereka mulai kumat dan membunuh semua tamunya satu persatu.

Jenna Ortega sekali lagi bermain di film yang bicara tentang elevated horror.

 

 

Biasanya film-film A24 memang cukup angker bagi penonton mainstream. Karena memang biasanya nyeni dalam kamus mereka berarti film yang bercerita dengan pace lambat, minim dialog, dan secara general sukar untuk langsung dimengerti. Film X ini tidak dibuat dengan seperti itu. X ini benar-benar dibuat mainstream. Dibuat untuk bikin penonton merasakan sensasi sama dengan saat menyaksikan horor, atau bokep. Seperti yang kubilang, jangan nonton ini pas puasa karena adegan-adegan filmmaking mereka meskipun dibuat dengan sinematik tapi tetap straightforward. Kalian bahkan perlu buat ngecilin suara untuk beberapa adegan tertentu. Elemen horornya pun dibuat sedekat mungkin dengan horor ‘fun’ yang biasa kita cari kalo lagi kepengen nonton sambil santai. Lokasi terpencil. Orangtua aneh dan menyeramkan. Pembunuhan sadis berdarah-darah. Ke-overthetop-an kejadian sebagai kontras efek low budget yang jadi pesona khas horor jadul juga ada. Bahkan hewan buas juga jadi aspek horor di sini. Era 79 yang dijadikan latar waktu cerita memang terasa sangat hidup. Kamera, audio, desain produksi. Semuanya membuat film ini kayak beneran dibikin di tahun segitu. Dengar saja dialognya yang kayak percakapan jadul. Kurang lebih pencapaiannya mirip ama Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) yang berhasil melukiskan era action 80-an. Film X ini vibenya mirip banget sama The Texas Chain Saw Massacre original (1974). Bahkan set up cerita yang mereka semua datang dengan mobil van, terus lokasi dan rumahnya yang bakal jadi TKP-nya pun pasti bakal ngingetin fans horor kepada film si Leather Face. Yang selalu paling kuapresiasi tentu saja adalah gak ada jumpscare suara-suara pencopot jantung sama sekali. Adegan yang mengagetkan buat karakter dalam cerita sih ada, tapi tidak pernah disertai dengan treatment yang memaksa kita untuk melompat dari kursi.

Di situlah letak seninya. West benar-benar menguatkan pada kreasi. Dia memilih setting dan estetik 70-80an bukan tanpa alasan. Bukan sekadar throwback nostalgia. Tema yang disilangkannya di sini adalah soal tua dan muda. Secara visual dan penampakan luar, film ini membawa kita ke horor jadul, tapi dia menambahkan unsur-unsur kebaruan – unsur yang mendobrak – merayap di balik itu semua. Pertama kamera, West menggunakan kamera melayang di atas pada beberapa adegan yang bikin kita menahan napas, seperti pada adegan di danau (dengan buaya gede!) dan adegan di ranjang (protagonis kita ngumpet di bawah kolong). Kamera itu ngeshot dari atas langsung ke bawah, kayak lagi tengkurap di langit. Menghasilkan pandangan wide yang kerasa benar-benar horor dan mencekat yang ada di bawah. Penggunaan kamera demikian seperti benar-benar menempatkan film di batas antara film lama dengan film baru. Terasa modern dengan semacam drone, tapi juga closed dan feel traditional dengan scare yang dihasilkan. Ada satu lagi teknik aneh yang dipakai oleh West, yaitu editing transisi pada beberapa adegan. Meski gak berhubungan dengan old-and-new, tapi editing ini in-theme dengan gambaran atau simbol X yang diangkat. Karena West memang menyambungkan dua adegan berbeda seperti saling silang. Agak sulit digambarkan dengan kata-kata, tapi kalo dari urutan editing tersebut bekerja begini: Adegan B akan masuk gitu aja saat Adegan A masih berlangsung, selama beberapa detik lalu balik lagi ke Adegan A, lalu baru benar-benar tiba di Adegan B. Tadinya kupikir ini kesalahan editing, karena tau-tau ada adegan sapi saat mereka ngobrol di dalam mobil. Tapi ternyata editing masuk bersilangan itu muncul sekitar dua-tiga kali lagi sepanjang durasi.

Secara kronologi adegan juga film ini bergaya. Cerita actually dimulai dengan polisi menyelidiki rumah dan menemukan banyak korban. Lalu kita dibawa mundur dan melihat kejadian apa yang terjadi di sana sebelumnya; kejadian itulah yang jadi menu utama film. Sekilas memang ini struktur kronologi yang sudah lumrah digunakan oleh film-film. Tapi sesungguhnya di film ini, struktur tersebut punya fungsi yang lebih signifikan ke dalam tema besar narasi. Dengan menjadikannya berjalan seperti demikian, West membuat cerita film ini menjadi melingkar. Namun dengan karakter reveal yang jadi saling bersilang. Penting bagi kita untuk mendengar ‘pengajian’ gereja di televisi itu duluan karena itu bagian dari development karakter utama, yang nanti bakal ngecircled back berkat struktur melingkar, menandakan pembelajaran karakter yang jika dilakukan dengan linear maka hanya akan terasa ambigu.

Pelototkan mata untuk berbagai adegan yang ‘meramalkan’ kematian karakter-karakter

 

 

Bagian terbaik yang dilakukan film ini terkait tema old-new tersebut adalah karakterisasi tokoh-tokohnya. Seperti halnya horor jadul, karakter yang hadir di X pun sering melakukan pilihan bego. Keputusan mereka sering bikin kita ketawa. Kayak karakter si Jenna Ortega yang setelah diselamatkan, tau-tau malah marah dan pergi gitu aja. Hebatnya, mereka gak hanya tampil bego untuk mati. Mereka gak otomatis annoying, karena film sesungguhnya mendekonstruksi stereotipikal karakter mereka. Dalam horor jadul, yang mati duluan adalah karakter yang ‘nakal’, yang biasanya adalah cewek pirang yang isi otaknya cuma berduaan sama pacarnya, si atlet yang pikirannya ngeres. Final Girl (protagonis/heroine) film jadul selalu adalah cewek baek-baek, yang erat ditandai oleh si karakter masih perawan. Film X merombak ulang semuanya. Yang mati duluan di sini adalah karakter yang tidak have sex, at least tidak di depan kamera. Cewek pirang di sini otaknya berisi pemikiran progresif tentang peran wanita dan kemandirian. Protagonis alias Final Girl cerita adalah Maxine (diperankan oleh Mia Goth yang setengah wajahnya dikasih freckles), salah satu bintang film bokep yang mereka bikin. Arc Maxine benar-benar kebalikan dari sosok Final Girl tradisional.

Konstruksi karakter tersebut membuat film dengan vibe 70an ini jadi relevan. Dengan Final Girl yang bukan lagi ‘orang suci’, film X ingin mengangkat diskusi soal pandangan lama yang sepertinya sudah kadaluarsa di masa modern. Pandangan soal otonomi perempuan dalam hidup atau karirnya. Pembicaraan karakter film ini seputar menjadi seorang bintang bokep (atau soal membuat film porno sebagai sebuah pekerjaan, yang juga bagian dari seni) mirip dengan persoalan di dunia kita mengenai pelacur yang statusnya dinilai lebih terhormat. Tentunya ‘antagonis’ yang tepat untuk perspektif ini adalah agama. Old couple yang jadi pembunuh dalam cerita berasal dari keluarga yang taat beragama, mereka mendengarkan dakwah degradasi moral anak muda. Di tangan yang salah, bidak-bidak ini akan berkembang menjadi cerita yang bakal ofensif dan one-sided. Memojokkan agama. X di tangan West tidak pernah menjadi seperti itu. Bahasan agama ia handle dengan hati-hati. Dikembalikan kepada karakter itu sendiri. Perhatikan perbedaan intonasi dan pilihan kata Maxine saat menyebut dirinya adalah simbol seks di depan cermin pada beberapa adegan. Those would reveal banyak hal, mulai dari development karakter (realisasi dianggap objek hingga menjadi subjek) hingga sedikit backstory karakter itu.  See, dalam menganani bahasannya, film ini jadi sangat ber-layered, akan mudah melihat film menjadi ambigu jika kita ketinggalan satu lapisan. Yang ultimately membuat X jadi punya rewatch value tersendiri.

Tema old-new tadi digunakan untuk memperhalus lagi bahasan sensitif  tersebut. Film tidak sekasar itu menyebut pasangan tua itu jadi sadis karena maniak agama. Film membawa bahasannya ke arah mereka sudah tua, sudah terlalu lama menahan diri. Terlalu lama mengejar bahagia di hari nanti. Kenapa tidak bahagia di masa muda? Konflik film ini sebenarnya bisa disederhanakan sebagai sebuah rasa penyesalan di usia tua. Maka dari itulah West ngasih Mia Goth dua peran. West membuat si Nenek Tua diperankan juga oleh Mia sehingga adegan-adegan antara Maxine dengan si Nenek punya bobot yang lebih besar – kita jadi mengerti si Nenek bisa melihat Maxine sebagai dirinya di masa muda, sebagaimana juga kita melihat Maxine gak mau menjadi seperti Nenek nanti saat tua. Again, karakter mereka juga jadi simbol seperti X yang saling bersilangan.

Alasan Nenek Tua membunuh semua orang (bukan hanya geng Maxine saja, tapi sepertinya beliau sudah sering melakukan ini sebelumnya) bukan semata karena sange. Si Nenekiri dengan anak muda yang masih bisa mengejar segalanya, Iri sama anak muda yang berani memilih untuk bahagia atas kemauan dan sebagai dirinya sendiri. Orang tua memang selalu cemburu kepada anak muda. Karena anak muda punya kekuatan untuk memilih.

 

 

 

Ini boleh jadi adalah horor favoritku tahun ini (belum bisa mutusin, karena baru bulan Apriilll!!). But for sure, film ini beneran keren dan dibuat dengan penuh kreasi dan pemikiran. Film ini membuktikan kalo sajian horor artsy gak harus selalu berat. Sekaligus membuktikan horor mainstream yang fun dan ‘genre’ abis, serta bahkan yang tampak eksploitatif sekalipun, bisa sarat oleh muatan dan memantik diskusi. Horor yang fun gak musti total bego di atas sadis dan seram. Setiap film, apapun genrenya, dapat menjadi tontonan yang menarik dengan naskah cemerlang, gaya yang asik, dan sutradara yang benar-benar peduli sama craft dan punya visi. Film ini punya semua itu. Ada banyak lapisan untuk dibincangkan. Tak lupa sebagai horor, dia mengerikan – punya antagonis creepy, pembunuhan sadis, setting terkurung, dengan stake hidup atau mati. Paduan atau persilangan yang benar-benar seimbang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for X.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah menjadi bintang bokep lebih mulia daripada maniak agama?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MORBIUS Review

“Health is a human right, not a privilege”

 

 

Makhluk menyeramkan dijadikan simbol pahlawan memang agak-agak mengherankan, tapi plausible untuk dilakukan. Buktinya? Batman yang berlambang kelelawar dengan modus operandi mengincar rasa takut di malam hari sukses juga jadi salah satu superhero paling ikonik di seluruh dunia. Counter Marvel untuk karakter DC Comic tersebut adalah Morbius. Gak tanggung-tanggung, kekuatan Morbius berhubungan bukan dengan kelelawar biasa, melainkan kelelawar penghisap darah, yang literally membuatnya menjadi vampir. While the origin story dari Morbius sebenarnya lebih cocok sebagai cerita penjahat, sutradara Daniel Espinosa justru diembankan untuk membuat film ini jadi cerita pahlawan. Orang yang menghisap darah manusia demi kemampuan untuk berbuat kebaikan jelas jadi konsep yang menarik, genrenya filmnya otomatis akan menyerempet ke horor. Nyatanya, film Morbius ini memang menghisap, tapi lebih seperti Dementor ketimbang vampir. Film ini menghisap excitement kita saking boringnya. 

Espinosa kesusahan untuk mengimbangi tuntutan naskah membuat Morbius menjadi pahlawan. Set up karakternya tampak sebagai bagian paling mudah yang berhasil Espinosa lakukan. Morbius adalah seorang dokter yang mendedikasikan dirinya untuk mencari kesembuhan dari penyakit-penyakit, karena dirinya sendiri mengidap penyakit darah yang langka. Penyakit yang mengharuskan dirinya pakai tongkat untuk berjalan. Penyakit yang membuat dirinya – dan sahabatnya, Milo – sedari kecil dibully. Penyakit yang gak ada obatnya. See, Michael Morbius bisa banget dapat simpati. Dia dokter pintar yang ramah – ada adegan dia dekat dengan pasien anak-anak, yang mau cari perfect cure untuk mengobati bukan saja dirinya dan sahabat, tapi juga seluruh umat manusia. Namun ketika elemen yang lebih gelap dari cerita ini tiba, Espinosa kehilangan segala keseimbangan. Michael menemukan cara menyatukan DNA manusia dengan kelelawar, dia mencoba serum ciptaannya kepada dirinya sendiri. Sekarang dia berubah menjadi vampir superkuat yang dahaganya akan darah manusia nyaris tak-terkendali. Di titik yang mulai seru tersebut (bayangkan konflik luar-dalam, konflik moral, konflik dengan sahabat yang menerpa Michael), film ini justru gagap dalam eksplorasi. Ini cerita orang yang mau jadi hero tapi harus relakan dirinya sebagai anti-hero, yang tidak tampil seunik itu.

morbiusl-intro-1646070476
This film do sucks!

 

Plot point naskah Morbius memang terasa seperti cerita villain, atau setidaknya cerita anti-hero. Memang sih, ada usaha membuat Morbius jadi pahlawan, cerita tidak melulu membahas konflik personal. Ada bagian dia menumpas kejahatan publik, seperti persoalan sindikat uang palsu. Atau lihat ketika film membuat korban-korban pertama yang dimangsa oleh Morbius adalah security yang bukan orang baek-baek. Tapi in terms of development, cerita Morbius mengambil poin-poin cerita orang yang berdegradasi. I mean, blueprintnya mirip cerita The Fly, malah. Ilmuwan yang mencoba eksperimen untuk kebaikan yang lebih besar, tapi malah mengubah hidupnya menjadi less and less human. Saga seseorang yang menyadari ambisi pribadi pada akhirnya mendatangkan petaka, bahwa dia harus meluruskan niatnya. Kalo gak mau jauh-jauh, kita bisa bandingkan Morbius yang asalnya ada karakter dari dunia cerita Spider-Man ini mirip ama Lizardman. Itu loh, musuh Spider-Man yang tadinya dokter yang bereksperimen dengan cicak demi mengobati lengannya, lalu malah berubah menjadi manusia kadal. Karakter yang telah muncul di film The Amazing Spider-Man (2012), film Spider-Man yang dibuat oleh Sony, seperti Morbius ini.

So yea, ultimately aku merasa film Morbius terjebak dalam jaring-jaring cinematic universe buatan Sony. Kreatifnya terhambat karena apparently Sony hanya tahu satu cara membuat cerita tentang orang yang menjadi monster, dan hanya tahu satu cara untuk membuat cerita tentang monster yang jadi protagonis atau anti-hero utama. Sehingga jadilah Michael Morbius sebagai karakter template. Originnya standar cerita villain. Lalu untuk membuatnya sebagai superhero, film simply mempaste-kan elemen-elemen Venom (also a Sony universe). Ya, pergulatan inner Michael dengan kekuatan vampir yang membuatnya jadi monster pemangsa manusia dilakukan dengan dangkal dan sederhana, sehingga nyaris gak banyak berbeda dengan Eddie Brock yang bergulat dengan Venom yang sesekali sosoknya muncul ke ‘permukaan’ tubuh Brock. Dalam film Morbius, wajah Michael akan kerap menjadi seram ala vampir lengkap dengan mata merah dan taring-taring tajam untuk menandakan dia kesusahan menahan dahaga atau kekuatan vampirnya. Film bahkan ngakuin persamaan tersebut dengan membuat Michael menyebut “Aku Venom” kepada seorang penjahat yang ketakutan. Studio mungkin menyangka sengaja ngakuin kemiripan dengan menjadikannya candaan itu bakal membuat film ini terdengar pintar. It is not. Malah jadi kayak kreasi yang malas.

Bedanya dengan Venom cuma di Morbius gak ada banter dialog yang lucu (yang bikin Venom menghibur memang cuma interaksi antara Eddie dan simbiote di dalam tubuhnya) – Michael gak berdialog dengan darah vampirnya – dan di Morbius efek CGI lebih parah. Sosok wajah versi vampir para karakter terlihat murahan. Malah lebih kayak vampir low budget, yang lebih works out sebagai film komedi yang sengaja bikin CGI kasar. Aku gak ngerti kenapa film ini enggak menggunakan efek prostetik saja untuk menghidupkan sosok vampir. Padahal mengingat film ini berbau horor, efek prostetik yang praktikal jelas jadi pilihan yang lebih tepat dalam menghidupkan creature-nya. Lihat The Fly (terutama yang versi Cronenberg). Lihat Malignant yang berhasil jadi horor campy dengan paduan efek praktikal dan digital. Morbius adalah cerita seorang manusia bertransformasi menjadi vampir buas, tapi semua transformasi crucial bagi karakter terjadi off-screen. Film ini melewatkan banyak momen-momen body horror yang harusnya menguatkan karakter yang menghidupi cerita mereka.

Adegan aksi tentu saja jadi ikut kena getahnya. Pertarungan-pertarungan di Morbius sama sekali tidak bisa untuk diikuti lantaran film bergantung terlalu banyak kepada CGI. Kita gak bisa melihat apa yang terjadi dengan jelas, semua cepat – karakter melayang ke sana ke mari, mencakar-cakar liar dengan efek bayangan afterimage atau aura di sekeliling mereka. Pada momen-momen ‘krusial’ sebelum serangan mendarat, film menggunakan slow motion. Yang tetap gak ngefek apa-apa selain membuat dua vampir yang bertarung tampak cheesy dan konyol not in a good way.

morbius-2-1024x576
At least Twilight punya adegan main baseball dengan lagu Muse, Morbius punya apa?

 

Jared Leto gak banyak ngapa-ngapain di sini selain pasang tampang kayak orang sakit, dan menggeram-geram saat jadi vampir. Momen yang mengharuskan dia untuk menggali ke dalam karakternya gak pernah bertahan lama. Film terus saja kembali entah itu ke eksposisi mumbo jumbo sains, atau ke elemen-elemen template, atau ke porsi laga yang completely unwatchable. Leto memainkan Morbius yang berawal dari dokter yang pede bakal bisa menemukan obat/solusi ke dilema moral dari penemuannya. Dan stop sampai di sana. Gak kuat lagi terasa perubahan atau perkembangan karakternya. Bagian ketika dia nanti jadi menerima kenyataan dan mencoba menggunakan kutukannya menjadi kekuatan jadi samar dan lemah karena tertutupi oleh film yang malah mencuatkan motivasinya untuk menyetop sahabatnya saja. Setelah midpoint karakter yang diperankan Leto jadi kalah mencuat. Motivasi penjahat film ini justru lebih kuat dan lebih clear.

Gagasan cerita sebenarnya cukup menarik. Dan sebenarnya cukup relevan ditonton di masa-masa kehidupan kita masih dibayangi oleh Covid. Karena lewat konflik dua karakter sentralnya, film ini mengangat diskusi soal kesehatan apakah sebuah hak atau sebuah privilege sebagian orang saja. Jawaban yang disuguhkan film ini dari akhiran perjuangan Morbius cukup dark, dan it could be true reflecting our society. 

 

Relasi yang jadi inti cerita adalah antara Michael dengan sahabat masa kecil senasib sepenanggungannya di panti, Milo (Matt Smith pun berusaha memanfaatkan setiap screen timenya untuk menghasilkan karakter yang menarik). Mereka harus terpisah karena Michael dikirim ke sekolah khusus untuk mengembangkan bakat dan kepintarannya, sementara Milo yang terus menunggu janji Michael untuk kembali (dan membawa obat kesembuhan mereka) perlahan menjadi bitter dengan dunia yang meremehkan mereka. Saat Michael ketakutan dengan efek obatnya dan berusaha menghilangkan itu, Milo justru melihat ini sebagai kesembuhan yang luar biasa. Keduanya jadi berantem karena beda pandangan. Hubungan inilah yang mestinya terus digali, dengan seksama dengan detil. Rajut persahabatan dan konflik mereka sehingga benar-benar berarti dan jadi stake bagi karakter, sehingga kita bisa mempedulikan mereka lebih dari sekadar “Oh si Milo lebih kuat karena mau menyantap darah asli, bukan sintesis kayak Morbius”. Ya, film ini hanya memperlihatkan ala kadarnya. Melompat periode waktu seenaknya. Persahabatan dan konflik mereka gak ada ritmenya. Pertemuan pertama Leto dan Smith yang kita lihat ternyata udah bukan dalam konteks mereka akhirnya bertemu setelah sekian lama. Sense mereka itu sahabat dekat gak kerasa karena film memperlakukan persahabatan mereka sama kayak Michael ketemu karakter-karakter lain.

Film malah membagi fokusnya dengan soal romance si Michael dengan karakter dokter perempuan. Yang juga sama-sama kurang tergalinya. Bedanya, soal ini dibiarkan di permukaan karena film ingin menjadikannya hook buat sekuel. Ya, kembali ke permasalahan utama. Film Morbius terjebak di jaring-jaring cinematic universe. Alih-alih bikin cerita yang benar-benar mendarat dan selesai – apa yang terjadi dengan pacarnya, bagaimana status buron Michael setelah final battle, apa arti semuanya bagi Michael – studio lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan punchline berupa teaser untuk film berikutnya. Kita juga melihat karakter dari Disney-Marvel muncul dalam sebuah situasi yang membingungkan. Pada akhirnya, itulah yang tampak lebih penting bagi film ini. Bagaimana membangun universe superhero versi sendiri. Karakter, relasi, dan dilema moral mereka tak lebih seperti sekelabat kepak kelelawat saja.

 

 

 

Makanya film ini terasa lifeless. Padahal kalo digali, dia bisa jadi pahlawan baru yang benar-benar menarik dengan genre horor, aksi supernatural, dan dilema karakter yang grounded. Nyatanya film mengabaikan semua kreasi untuk craft experience yang biasa-biasa aja. Malah cenderung membosankan. Terlalu bergantung ke CGI yang dibuat ala kadar, karakter yang template antihero sederhana (hanya karena mereka bingung membuat superhero ke dalam cerita villain), dan plot origin yang basi. Jika ini adalah jawaban terbaik yang bisa disuguhkan Marvel untuk DC dengan Batmannya, well, Marvel perlu memikirkan ulang lagi rencana dan cara mereka menghandle karakter-karakter supernya. 
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MORBIUS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kesehatan itu hak atau privilege?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 
 

 

FRESH Review

“(Online) dating is nothing more than a meat market”

 

 

Online dating (kencan online) dapat jadi sangat manis dengan segala emotional connection yang terjalin, bahkan sebelum bertemu langsung dengan si pacar. Bayangkan bisa merasa demikian dekat lewat kesamaan interest, hobi, selera. Tapi online dating juga tak jarang berakhir sebagai kekecewaan yang membawa bencana – begitu ketemu beneran dengan pasangan yang katanya sekian persen cocok tersebut. Karena namanya juga online. Orang bisa beda banget antara di dunia nyata dengan yang ia tampilkan di dunia maya. Bisa jadi orangnya ternyata jorok, toxic, ‘cakep di foto doang’, atau minta split bill melulu alias pelit. Horor komedi debutan sutradara Mimi Cave mengangkat fenomena susahnya dapat jodoh lewat online sampai-sampai membuat orang jadi desperate, dan akhirnya jatuh ke dalam sesuatu yang lebih berbahaya daripada kiriman gambar nude tak diinginkan. Jebakan stranger danger.

Sebenarnya memang sudah cukup lama aplikasi dating online seperti Tinder, Grindr, dan lain sebagainya disebut orang seperti pasar daging. Perilaku memilih pasangan dengan swipe kanan, swipe kiri seperti sedang belanja produk. It make us feels like a product. Film Fresh kemudian menarik kesamaan tersebut dengan literally masukin soal perdagangan daging manusia sebagai lapisan kisah perempuan yang mencari asmara.

 

Noa (Daisy Edgar-Jones jadi protagonis yang cukup unik di dalam genrenya) udah capek cari cowok di aplikasi. Udah susah payah nyari di antara sekian banyak mata keranjang, eh yang dia dapatkan modelnya gak jauh-jauh dari cowok ignorant yang super self-centered nan egois. Jadi, Noa udah no-ah lah main online-onlinean. Dan memang akhirnya Noa merasakan magicnya jatuh cinta lewat cara yang ‘tradisional’. Dia ditegur sama cowok yang simpatik di swayalan, Noa tertarik. Dan yah, Noa merasa cocok sama Steve (Sebastian Stan dalam full-charming mode). Jadianlah mereka. Hanya sahabat Noa yang ngerasa ada red flag pada Steve yang cukup misterius – karena mana ada sih orang yang gak punya sosmed hari gini. Kecurigaan si sahabat terbukti saat Noa pergi liburan bersama Steve ke suatu tempat. Dan sejak saat itu, kabar Noa tak terdengar lagi.

fresh-trailer-e1644943774263
Steve memang gak mau split bill, dia maunya split your body apart!!

 

Soal cari-pacar memang sudah sering jadi latar untuk cerita horor, terutama serem-serem di ranah penculikan dan penyiksaan. Like, serial killer sudah lama menjebak perempuan-perempuan, bahkan di dunia kita. Film Fresh ini berusaha ngasih sesuatu yang segar untuk latar tersebut. Satu hal yang berhasil dilakukan film ini untuk tampil berbeda itu adalah cara membangun narasinya. Dalam film ini ada dialog kagumnya Noa sama Steve yang memang gentle, berbeda dari cowok lain yang ia kenal sebelumnya. Saat mereka ciuman, justru Steve yang merasa gak enak karena mereka belum saling kenal betul. “We do this too fast”, kata Steve, yang lantas bikin Noa heran – belum pernah ia mendengar cowok yang bilang hubungan berjalan terlalu cepat sebelumnya. Nah, aku kagum seperti itu juga saat menonton Fresh ini. Jarang-jarang aku melihat film horor bunuh-bunuhan yang gak mau berjalan terlalu cepat sebelumnya. Biasanya cerita bunuh-bunuhan pengen dengan segera memperlihatkan adegan berdarah, mempertontonkan karakter psikopat. Gak mau berlama-lama menceritakan karakter karena takut penonton bakal bosan.

Film ini took time to fleshed out (lol no pun intended) relasi Noa dengan Steve. Gak langsung bunuh-bunuhan. Kita dibuat mengerti dulu kenapa Noa bisa mau-mau aja ama Steve, kenapa Noa gak melihat ‘red flag’ seperti kata sahabatnya. Alasan kenapa selama ini dia yang cakep itu terus menjomblo juga dipaparkan. Chemistry antara Daisy dan Sebastian turut mempermudah kita percaya bahwa Noa telah bertemu orang yang tepat. Bisa dibilang, kita ikut tertipu oleh Steve. Atau setidaknya, dengan melimpahkan waktu untuk karakter tersebut, kita jadi bisa melihat seolah deep inside ada perasaan juga di dalam Steve kepada Noa. Perasaan yang nanti bakal dimainkan ke dalam sekuen-sekuen Noa berusaha keluar dari kurungan Steve. Horornya film ini baru keluar tiga-puluh menit into the movie, barengan ama kredit judul, yang turut membuat film ini unik meskipun cuma dalam hal gaya.

Ingat ketika film ini berangkat dari buruknya arah modern dating online berkembang yang membuat film ini unik? Well, permasalahan ‘modern’ itu dengan cepat jadi non-existent karena hubungan Noa dan Steve justru terjalin secara tradisional. Bertemu di dunia nyata, menjalin hubungan yang sangat ragawi alih-alih menonjolkan koneksi emosional. Bukannya Noa dan Steve gak punya hubungan emosional, tapi karena nanti diungkap Steve adalah kanibal yang kerjaannya ngejual daging perempuan yang ia culik, potong, dan olah sendiri, soal dia aslinya beneran cinta atau enggak jadi gak relevan lagi karena perkembangan karakter Steve sampai di pengungkapan tersebut. Steve beneran stop jadi karakter. Dia cuma jadi obstacle, sekaligus bercelah supaya progatonis perempuan bisa ada kesempatan kabur. Jadi film ini gak berhasil mempertahankan keunikan jualannya, yakni soal modern dating apps. Padahal bisa saja mereka membuat Noa sebenarnya sudah diincar oleh Steve lewat akun-akun palsu di apps itu sedari awal. Dengan begitu kan tema dating onlinenya masih bisa ikut kebawa, dan yang paling penting Noa dan Steve jadi gak ketemu lewat kebetulan kayak cerita ftv remaja.

Yang dipertahankan oleh Fresh, sayangnya, adalah ‘penyakit’ tidak menggali apa yang diangkat. Film ini sebenarnya punya banyak bahasan loh. Selain modern dating dan karakter Steve tadi, juga ada elemen yang mengarah ke Stockholm Syndrome; ada bahasan keluarga si Steve. Ada jaringan pembeli daging manusia – you know, pria-pria kaya yang sinting. Semua itu ada jadi sebagai bahan ‘masakan’ cerita, sebagai pembentuk dunia cerita, tapi gak diolah. Gak dibahas. Bahkan tema utama soal feminism-nya pun dibiarkan tak tergali. Karakter film ini gak punya perkembangan. Cewek-cewek yang juga jadi korban Steve, mereka hanya ada di sana kayak gak ada kehidupan, yang punya kehidupan cuma Noa. Bahkan sahabat Noa dibiarkan eksis di sana gitu aja. Semuanya tentang Noa si karakter utama, yang gak dikasih konflik apa-apa selain cuma ngerasa telah tertipu. Development dia ya cuma ditipu cowok. Gak ada hint soal setelah semuanya dia punya pandangan gimana terhadap pacaran, terhadap cowok. Atau apa kek. Semua yang ada di dunia Fresh ini ya just out to get women like her. Cowok kalo gak psikopat, ya kanibal, atau pengecut, atau egois. Bahkan cewek lain bisa juga jahat sama dia. Film ini gak punya pandangan atau pendapat sendiri selain template agenda cewek feminis.

Nonton film ini terasa seperti nonton film modern agenda-ish kebanyakan. Yang seolah tersusun oleh tema atau agenda yang ingin disampaikan duluan, lalu baru bikin cerita yang menyambungkan agenda-agenda tersebut. Oh, kita harus masukin cewek harus mandiri, atau all men are trash, atau ustadz bisa kalah melawan setan, atau semacamnya. Setelah itu baru kita apain nih adegannya biar menggambarkan itu. Tidak lagi seperti film yang semestinya; yakni film yang adegan-adegannya benar-benar berkembang dari perspektif karakter yang dibuat menghidupi ruh cerita. Makanya film ini gak ada perkembangan karakter. Karena mereka cuma dibuat untuk melakoni tema. Tidak seperti manusia yang beneran hidup dan mengambil keputusan dan belajar lewat kesalahan. Berbeda dengan film yang beneran bercerita, film-film model Fresh ini karakter utamanya akan dibuat selalu benar. Enggak boleh ada cela. Notice gak, Noa bisa keluar dengan selamat relatif tanpa luka selain luka hasil berantem di final battle dengan Steve – yang dipotong Steve darinya selama dikurung cuma bagian pantat yang basically kita gak lihat boroknya. Karena begitulah karakter film agenda didesain. Gak boleh ada borok. 

fresh-daisy-edgar-jones-Cropped
Mau paha atau dada?

 

Padahal horor justru biasanya bakal membuat karakter utama babak belur habis-habisan sebagai simbol perjuangan. Berdarah-darah, luka-luka. Beberapa merangkak saking beratnya perjuangan. Semua itu sebagai simbol transformasi menjadi pribadi yang lebih baik deep inside. Nah inilah yang jadi last nail in the coffin untuk film ini bagiku. Sebagai horor dia juga gagal.

Enggak ada tensi. Ini film dengan adegan kanibal. Melibatkan banyak adegan (on maupun off screen) perempuan yang dipotong anggota tubuhnya. Tapi gak sekalipun terasa disturbing. Semuanya bersih dan gaya. Sok disturbing doang. Adegan makan daging manusia yang disajikan dengan mewah cuma tinggal eat-and-spit it out later. Enggak ada rintangan, gak ada build up suspens. Padahal itu konteksnya si Noa berpura-pura ‘setuju’ dengan kerjaan Steve. Dialog ironi menanyakan “Ini bukan daging gue, kan?” hanya dimainkan untuk ironi yang ngarah ke komedi. Arahan ke horornya kurang kuat. Banyak adegan meja makan yang lebih powerful, banyak adegan makan yang lebih disturbing muncul dalam film-film yang bahkan bukan horor kanibal. Like, adegan nyiapin makanan di serial Servant aja bisa lebih ngasih uneasy feelings ketimbang adegan masak daging-manusia di film ini. Fresh ini cuma punya visual cakep. Potongan anggota tubuh berbungkus plastik di freezer. Daging yang dimasak. Shot orang ngunyah. Tapi feelingnya gak berhasil dikeluarkan oleh sutradara. Aku lebih merinding nonton ibu-ibu makan di Swallow (2020) atau adegan di Raw (2017)

 

 

 

 

Sudah begitu lama kita terpapar horor-horor mainstream yang cuma punya jumpscare, sehingga begitu ada yang beda, kita langsung bilang fresh. Kita jadi kurang kritis. Ini persis kayak kelakuan saat main dating apps. Ngeliat ada cakep dikit, kita berhenti swipe, dan just try our luck. Kelakuan seperti itulah yang bikin dating online udah jadi kayak pasar daging. Aku sih harapnya jangan sampai film horor juga jadi kayak begitu. Mentang-mentang ada yang beda dikit, langsung kita bilang bagus. Film ini sendiri, memang punya tema positif, looksnya beda, tapi penceritaannya datar, horornya datar, komedinya datar, naskahnya datar, main aman dengan temanya. Keunikannya langsung jadi hilang karena bermain sebagai template agenda. This isn’t fresh. Dengan begitu banyak pemanis agenda, film ini cuma kayak makanan kalengan buatku.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for FRESH.

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya pengalaman seram seputar dating online?

Share in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 
 

TEXAS CHAINSAW MASSACRE Review

“To live is to be haunted”

 

Rekuel, istilah untuk sekuel-reboot seperti yang sudah disebutkan oleh Scream (2022), sepertinya beneran sudah jadi go-to plan oleh studio yang ingin menghidupkan kembali franchise atau judul ikonik miliknya. Rekuel ini menjadi hits terutama dalam genre horor. Bikin sekuel dari cerita original puluhan tahun yang lalu dengan judul yang sama dengan original dan meniadakan sekuel-sekuel lain mereka sebelumnya, telah dilakukan oleh Halloween, Candyman, Wrong Turn, Child’s Play, hingga ke Scream itu sendiri. Dan sekarang, giliran Texas Chain Saw Massacre turut serta. Nyaris lima-puluh tahun sejak film originalnya. Tentu saja ini adalah taktik untuk nyari duit yang lebih gampang; alih-alih bikin cerita atau tokoh horor original yang belum tentu disukai orang, kenapa tidak bikin kembali dari yang sudah ada. Scream, being meta dan suka ngejek genrenya sendiri, sudah ngasih tahu ke kita bahwasanya rekuel ada yang bagus dan gak sedikit juga yang cuma cash-grab murahan. Rekuel yang bagus adalah yang menghadirkan stake, gak sekadar munculin karakter lama lalu lantas either mendewakan atau membunuh mereka gitu aja. Dan Texas Chainsaw Massacre, sayangnya, termasuk ke dalam bagian rekuel yang disebut Amber dalam Scream sebagai “bullshit, cash-in, run of the mill sequel.”

texasthe_texas_chainsaw_massacre_netflix
To be fair, film ini berontak dari aturan rekuel karena judulnya ama film original beda di ‘The’ dan spasi doang

 

 

The original The Texas Chain Saw Massacre (1974) jadi kesayangan kritikus dan penggemar horor karena film tersebut tidak pernah cuma sekadar tontonan ‘pembantaian dengan gergaji mesin di Texas’. Film tersebut dipertimbangkan banyak orang sebagai horor seni sebab di balik kekosongan plot dan beberapa breakthrough yang dilakukan pada jaman itu, sutradara Tobe Hooper memang bercerita dengan implisit.  Film itu kita kenang sebagai film yang sadis bukan karena menonjolkan darah dan bunuh-bunuhan secara terang-terangan. Coba deh kalian tonton lagi. Sebenarnya adegan pembantaiannya dilakukan dengan cut dan editing yang sangat precise, horor itu sesungguhnya ada di imajinasi kita, film ini ‘hanya’ menceritakan dan ngebuild upnya dengan sempurna. Tidak hanya itu, ada anyak lapisan yang bisa kita kupas saat menelurusi narasi dan elemen-elemen horor tadi. Bahkan pernah dilaporkan sutradara horor fantasi asal Spanyol Guillermo del Toro sampai sempat berhenti makan daging untuk beberapa waktu setelah menonton film ini. Bukan karena jijik, tapi karena pembicaraan para karakter seputar perilaku manusia dalam konsumsi daging benar-benar telah merayap menghantui dirinya.

David Blue Garcia, selaku sutradara untuk Texas Chainsaw Massacre baru ini bukannya tidak mencoba untuk memberikan lapisan. Film ini berusaha mencuatkan keadaan masa kini supaya filmnya relevan, seperti film original yang memotret kawula muda pada jamannya. Bahasan hidup bebas, dinamika keluarga, dan sedikit komentar soal rasis/kependudukan yang marak di tahun 1970an kini berganti dengan bahasan yang secara esensi tidak banyak berubah, tapi ya terasa dekat dengan permasalahan dunia modern. Kelompok anak muda yang ada di sentral narasi adalah influencer, yang punya visi untuk mengubah kota mati Harlow di pinggiran Texas menjadi tempat hidup untuk komunitas anak-anak muda. Istilah yang tepat sepertinya adalah gentrifikasi (bahasan yang juga ada di film Candyman terbaru). Jadi, mereka datang ke tempat asing, dan mau mengubah tempat itu jadi galeri seni dan segala macam. Cekcok dengan warga lokal tentu tak dapat dihindarkan (meskipun bisa diatasi dengan terbuka). Real problem datang ketika salah satu bangunan panti asuhan yang ada di kota itu ternyata masih dihuni sama nenek tua yang menolak untuk dipindahkan. Malang bagi para anak muda, sosok besar yang telah melupakan naluri pembunuhnya ternyata tinggal dan nurut sama si nenek. Dan ketika si nenek akhirnya tiada karena ribut-ribut, si sosok itu mengenakan kulit wajah si nenek sebagai topeng, mengambil senjata pusakanya yang disimpan di balik tembok rumah, dan mulai membunuhi orang-orang muda yang mengusik kota tempat tinggalnya.

Nonton ini aku jadi seperti mengerti kenapa film-film horor tu selalu bikin karakter-karakter mereka bego. Karena film mau kita menikmati pembantaian para karakter. Menurutku, asal bukan karakter utama yang bego sih, oke-oke aja. Keasikan film ini datang dari menyaksikan Leatherface menghabisi anak muda yang kita gak tahu siapa mereka. You know, semacam keasikan yang kosong. Film justru makin napsu dengan memasukkan ‘penanda jaman’ semakin lanjut. Adegan ketika para turis kejebak di dalam bus bersama Leatherface jadi adegan paling menghibur karena begitu dungu. Kita tidak bersimpati, malahan di momen itu kita justru seperti berada di pihak Leatherface. 

Lapisan dramatis dan emosional film ini juga diniatkan datang dari karakter Lila (Kasian banget Elsie Fisher jadi kayak turun kelas main di film ini) yang diceritakan sebagai seorang penyintas dari peristiwa penembakan massal di sekolahnya. Karakter inilah yang diparalelkan ke karakter legend, Sally Hardesty (diperankan oleh Olwen Fouere karena Sally yang ‘asli’ telah berpulang ke Rahmatullah), protagonis di film original yang jadi satu-satunya survivor rumah jagal Leatherface. Sayangnya niat tersebut tidak benar-benar berbuah karena kedua karakter ini justru kurang matang dikembangkan oleh film. Selain sering melirikkan kamera ke bekas luka tembak Lila, film gak pernah benar-benar mengeksplorasi trauma karakter Lila. Hubungannya yang renggang dengan karakter kakaknya pun jarang dicuatkan. Film yang durasinya cuma 80 menit ini lebih banyak berkutat di adegan kucing-kucingan dengan Leatherface. Sudut pandang dipindah-pindah antara Lila, dan kakaknya, Melody (Sarah Yarkin berakting standar karakter horor) sehingga film ini gak punya karakter utama yang jelas. Sally pun tak tampak sebanding dengan Laurie Strode di rekuel Halloween ataupun dengan Sidney Prescott di rekuel Scream. Kemunculannya hanya supaya ada karakter legend, arc-nya kayak dipaksain ada, dan penyelesaiannya pun lemah. Film mau bikin rivalry antara Sally dengan Leatherface, tapi gak mampu untuk menulisnya. Jadi kayak berantem biasa aja, interaksi spesial itu tidak bisa film ini ciptakan. Ending film original malah jadi biasa aja saat kita tahu ternyata dia selamat hanya untuk jadi yang ia lakukan di film ini.

texas67562-1643705072
Sinopsis singkat, cek! Muji ala kadar, cek! Time for the caci maki!!!

 

Sesuatu yang gak membunuhmu, akan membuatku kuat. Tapi itu kalo kita tidak tenggelam dalam rasa trauma. Hidup akan terus dihantui oleh sesuatu yang mengerikan di masa lalu. Bagi Lila itu adalah penembakan, dan bagi Sally itu adalah si Leatherface. Lila perlu belajar untuk seperti Sally, yang kini sudah jauh lebih capable ketimbang dirinya berpuluh tahun yang lalu.

 

Gore dan bunuh-bunuhan yang sangat eksplisit jadi satu-satunya elemen yang membuat film ini watchable. Namun tentu saja itu gak bakal bikin film ini memorable. Gak akan bisa menjejak sekuat film originalnya. Apalagi film rekuel ini hadir di platform; sekarang jaman platform, kita bisa tinggal skip ke bagian bunuh-bunuhan aja. Aku bisa nonton bagian pembunuhan di menjelang akhir yang gokil itu beratus kali tanpa nonton film utuhnya. Penonton bisa gak peduli pada cerita dan actual things yang disampaikan film ini secara setengah-setengah. This is not good, bukan hanya untuk film ini, tapi juga untuk genre slasher horor keseluruhannya ke depan nanti. Jangan sampai penonton hanya ingin mencincang film dan skip ke bunuh-bunuhannya aja. Maka cerita dan karakter itu haruslah ditulis dengan kuat. Texas Chainsaw Massacre perlu lebih fokus dan menguatkan kengerian dari narasi, dari suspens, dari lingkungan dan konflik. Kota mati di film ini enggak menarik, mereka hanya nampilin kota yang kosong. Yang suasananya bahkan enggak seram. Atmosfer ini yang harusnya dibangun oleh film. Enggak semata mengeksploitasi Leatherface dan sadisnya saja.

Karena memang yang paling insulting untuk fans adalah si Leatherface itu. Dalam film original, karakter yang terinspirasi dari serial killer beneran ini diberikan lapisan psikologis. Dia kayak orang dewasa yang mentalnya masih anak-anak, yang besar di keluarga ‘tradisional’. Sedikit simpati yang kita rasakan untuk karakter penjahat utama ini datang dengan natural, dari momen-momen kecil yang menampilkan kevulnerableannya sebagai anggota keluarga tersebut. Dan Leatherface di original itu enggak superhuman. Bisa sakit, bisa dikalahkan. Tidak tertinggal di belakang, dan bisa mendadak muncul di tempat lain dengan cepat. Sedangkan di film terbaru ini, Leatherface udah kayak orang yang berbeda. Hanya kayak penyendiri. Dia sekarang kayak gabungan antara Michael Myers dengan Norman Bates. Mulanya film seperti pengen menarik simpati dari dia yang kehilangan pengasuh yang ia sayangi, dari dia yang terusir dari rumah, tapi kelamaan dia jadi semakin inhuman, dan film harus membuat karakter-karakter lain ignorant nan bego supaya kita ‘ada rasa’ ke Leatherface. Film bahkan membuatnya menari dengan chainsaw, meniru ending film original, tapi melihatnya itu ada feeling yang beda. Jika di original rasanya kompleks, hubungan korban yang kabur dengan mangsa itu menghantam kita dengan perasaan bercampur. Maka di film ini, rasanya yang datar aja, kita bahkan mungkin sudah full mendukung si Leatherface karena dia kuat, dia berhasil membantai orang-orang yang mengusik.

 

 

 

Bar-bar aja gak cukup. Yea, ketakutan penonton mungkin bisa terceklis dengan menghadirkan adegan pembunuhan yang openly brutal, bisa bikin nahan napas dengan adegan sembunyi-sembunyian, tapi film juga harus punya suspens dan tensi yang natural, yang berasal dari dinamika karakter. Itulah yang tidak dipunya oleh rekuel yang digarap dengan sangat basic ini. Naskah pengen memuat banyak lapisan, tapi tidak ada yang berhasil dikembangkan dengan drive yang alami. Film ini hanya seperti menempelkan gagasan, dan meng-overdid the characters. Kita tidak lagi takut dan peduli karena karakternya membunuh karena merasa terusik. Film meninggalkan semua itu dan memilih untuk mengubah semua elemen ceritanya menjadi inhuman dan datar. Se-uninspired setnya. Hampir seperti film ini sendiri dipasangi topeng yang membuatnya amat sangat jelek. Just ugly. 
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for TEXAS CHAINSAW MASSACRE

 

 

 

That’s all we have for now

Adegan pembunuhan mana yang jadi favoritmu di film ini? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SCREAM Review

“Fandom can’t have nice things”

 

 

Franchise Scream bisa segede ini karena misteri whodunnit-nya selalu dibarengi oleh humor meta dan sindiran untuk film dan trennya saat itu. Scream original adalah satir untuk genrenya sendiri. Scream 2 menyindir horor sekuel. Scream 3 berisi celetukan gimana Hollywood membuat franchise dari tragedi nyata. Scream 4 menyentil soal reboot atau remake. Bahkan Scream versi serial juga memuat komentar soal adaptasi ke serial tv. Maka sebagai penggemar berat, aku excited sekali nungguin tentang apa Scream kelima ini. Terutama setelah mereka mutusin untuk mencopot angka-lima dan hadir dengan judul Scream saja- ngikutin horor-horor klasik yang dimodernisasi dengan sekuel yang gak ada angka, confusing everyone. Apakah Scream lima sengaja menyindir ini?

Yang jelas, sekuel terbarunya ini memang kayak berusaha memancing reaksi fans banget. Apalagi pas ditonton. Wuih. Mulai dari mengejek horor kekinian yang lebih drama, sampe ke misteri dalam ceritanya sendiri yang buatku tampak so easy. Scream 5 ini actually adalah Scream pertama yang bisa aku tebak dengan benar siapa pelakunya, siapa yang bakal mati. In fact, aku sudah menerka sejak adegan para karakter bertemu di rumah sakit di awal cer.. See, inilah yang hendak dilakukan oleh Scream 5. Film ini ingin bicara langsung kepada para penggemar setianya. Film menggebah kita entah itu untuk protes, atau untuk menyombongkan diri. Aku hampir saja jatuh ke lubang jebakannya itu. Karena Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillet memang merancang film ini sebagai sindiran untuk fandom dengan segala ke-toxic-annya.

screamGFhXkEyXkFqcGdeQXVyMTkxNjUyNQ@@._V1_
Satu-satunya yang kusayangkan adalah Samara Weaving gak jadi dicast, padahal dia bisa fun banget mainin putri Billy Loomis

 

 

Sebagai Scream pertama yang tidak didirect oleh kreatornya langsung (RIP Wes Craven!) Scream 5 memang memikul beban yang berat. Tudingan dan ancaman dari penggemarnya pasti langsung menghujam. Awas kalo gak menghormati ruh franchisenya! Awas kalo jadi cash-grab doang! Dan memang bukan Scream saja yang mengalami itu – both peremajaan franchise dan reaksi-reaksi fans. Hal tersebut udah jadi kayak tren baru di Hollywood.  Franchise-franchise gede seperti Halloween, punya banyak sekuel sehingga udah melenceng ke mana-mana. Kini banyak dari mereka yang dihidupkan kembali. Dibuat ulang sebagai sekuel langsung dari original, mematikan sekuel-sekuel terdahulu. Itu adalah trik yang dilakukan supaya gampang laku dan terutama tidak mengkhianati para fans originalnya. That’s the keyword. Scream, on the other hand, adalah satu-satunya dari franchise-franchise gede seperti itu yang memang hadir selalu sebagai sindiran meta. Sutradara Matt dan Tyler jeli melihat itu. Mereka paham ada sesuatu di balik apa yang mereka sebut (lewat karakter ceritanya) sebagai ‘rekuel’. Sesuatu yang pantas untuk dibahas, dikomentari, dan mereka mengolah itu ke dalam mitologi dunia Scream yang mereka ekspansi. Mereka menatap balik para fans. And they give all of us the wink that we deserved.

Tidak ada opening dalam franchise Scream yang bertindak sepenting opening Scream kelima. Bukan sekadar untuk horor pembunuhan pertama yang ngeset mood dengan bintang muda berakting jauh dari elemen nyaman mereka, ataupun sekadar untuk nostalgia ke original, melainkan opening kali ini sudah berbobot oleh informasi yang memuat gagasan sekaligus hook ke cerita utama nantinya. Ini juga kali pertama korban di adegan opening selamat dari maut. Gadis yang ditelpon lalu diserang Ghostface itu adalah Tara (Jenna Ortega kupikir lebih punya kharisma kuat sebagai tokoh utama). Kini dia di rumah sakit dijenguk oleh geng–oops 90an banget, sekarang istilahnya adalah sirkel! Di antara sirkel Tara itu ada sobat karibnya Amber (langsung kujatuh cinta sama penampilan Mikey Madison), Wes (Dylan Minnette jadi karakter untuk tribute ke Wes Craven), si kembar Mindy dan Chad, serta Liv. Kakak Tara yang sudah lama meninggalkan kota Woodsboro pun hadir demi memastikan keselamatan adiknya. Semua orang yang ada di ruangan itu in some way punya hubungan dengan karakter-karakter dari Scream original. Yang membuat mereka semua menjadi target dari si Ghostface yang baru – dan also, semuanya adalah tersangka utama. Semua, termasuk Sam kakak Tara yang datang bersama pacarnya. Sam (Melissa Barrera looks though enough) merasa sepertinya semuanya berhubungan dengan rahasia yang ia simpan. Rahasia bahwa sebenarnya dia adalah putri dari Billy Loomis, sang original killer. 

Tugas mengisi dunia dengan karakter baru sudah terestablish dengan baik. Ini benar-benar seperti cerita baru, tapi dengan tie-in kuat terhadap cerita original. Film menggali drama dari karakter utama baru dan karakter-karakter lama. Dan drama-drama tersebut tidak tumpang tindih. Mainly karena film tidak malu untuk mengakui bahwa sudah saatnya untuk move on. Trio Sidney – Gale – Dewey dihadirkan, tidak merebut spotlight, tapi tetap dengan momen-momen heartfelt. Aku suka film ini menggali relationship Dewey dan Gale dengan lebih grounded dan make sense ketimbang pada sekuel sebelumnya. Momen kecil seperti Dewey yang berkata akan menelepon Gale tapi kemudian hanya meng-sms saja membuat karakter-karakter semakin bersinar. Sedangkan pada karakter utamanya, Sam, dikembangkan urusan yang lebih psikologikal. Drama personal seorang keturunan serial-killer. Sam, di saat-saat sendirian, akan sering melihat ayahnya. Bicara dengan sosok ayahnya. Ini menambah percikan dan bobot di dalam misteri yang dipunya oleh cerita. Karena ultimately inilah yang dijadikan motif utama. Ghostface di film ini ingin menulis fan-fiction tentang anak dari Billy Loomis dan Sidney. Fan-fiction yang menurutnya bakal bisa jadi film yang lebih hebat daripada sekuel-sekuel Stab yang semakin ngaco.

Screamcreen-Shot-2021-10-12-at-9.04.11-AM
Sementara di sini fans masih ribut soal beda fanfic dengan AU

 

 

Di sinilah letak keluwesan Scream sehingga bisa terus bicara sebagai sindiran meta. Selain aturan-aturan film horor, Scream juga punya film-dalam-film. Sejak Scream kedua diceritakan tragedi Sidney Prescott menjadi begitu viral sehingga diberitakan, dibukukan, dan difilmkan. Film kayfabe ini berjudul Stab dan merupakan cerminan ekstrim dari film Scream itu sendiri. By now, Stab udah 8 sekuel, dan sekuel terakhirnya benar-benar flop. Mirip seperti Scream 4 yang juga gak sukses, bedanya di film kelima ini diceritakan Stab 8 sudah seperti cerminan dari horor modern kita. Di jaman kita sekarang, horor ‘fun tapi cerdas’ bukan lagi yang seringan Scream. Melainkan yang berat-berat, yang lebih dramatis, seperti The Witch, Hereditary, The Babadook, It Follows. Film yang bagus banget, tapi kurang laku karena ya enggak sefun Scream. Scream 5 berusaha menjadi balance. 

Supaya film ini menarik untuk ditonton oleh penonton kekinian, mereka membuat drama yang cukup berbobot, sementara tetap mempertahankan pesona 90an yang jadi ruh franchise Scream, yang jadi pemancing nostalgia. Akan tetapi, seperti yang mereka prediksikan terjadi kepada Stab 8, film ini tahu fans original bakal ada aja yang protes karena menganggap terlalu berbeda. Jadi film ini menyindir mereka duluan. Fans-lah yang dijadikan pembunuh dalam cerita ini. Fans tersebut mengira tahu apa yang mereka mau, dan berusaha mengambil kendali. Fans ingin membuat cerita sendiri, dan menjadi pembunuh berantai demi itu. Di satu adegan ada Dewey merasa terluka oleh kata-kata seorang karakter; that’s how toxic fans in our life kill menurut film ini. Sebenarnya, film sedang meneriakkan bahwa fans sendirilah yang merusak apa yang mereka suka, bagi diri mereka sendiri dan bagi semua orang.

Itulah sebabnya kenapa fandom gak akan pernah bisa mendapatkan nice things. Karena mereka gak pernah puas, selalu ada aja yang diprotes. Dan itu gak sebatas film, kita akui saja, fandom di mana pun – wrestling, buku, musik, sepakbola, bahkan agama, memang cenderung jadi seganas ini. Terutama kalo ada ‘anak baru’ maka makin beringas lah mereka menunjukkan kefanatikannya dengan segala “harus begini, harus begitu”.

 

 

Bukan hanya pada narasinya saja. Celetukan ini juga menguar dari penceritaan film. Misalnya pada elemen horornya. Fans suka banget sama jumpscare. Film horor baru seperti Hereditary dan kawan-kawan tadi bagi mereka gak seram, karena gak ada jumpscare yang seru. Maka film ini bermain-main dengan itu. Ada sekuens karakter seorang diri di dalam rumah. Dia membuka segitu banyak pintu dan lemari. Dan setiap kali pintu-pintu itu dibuka, film akan menaikkan intensitas musik, seolah ada sesuatu yang bakal mengejutkan muncul begitu pintu itu diayunkan tertutup kembali. Jumpscare yang udah diantipasi itu tidak pernah datang. Barulah kemudian di saat yang paling tidak diduga, film memunculkan kejutan. Yang terasa jadi lebih efektif. Jadi film ini cerdas sekali, memanfaatkan sindiran menjadi efek seram yang lebih kuat.

Film menelisik toxic fandom ini lebih lanjut. Kedalaman komentarnya itulah yang membuatku suka sekali sama film ini. Ke-toxic-an itu dikaitkan film kepada kegemaran kita terhadap menyebarkan hal-hal negatif yang berlawanan dari yang kita sukai. Ada yang janggal sedikit, digoreng ramai-ramai. Ada yang berbeda sedikit, dibahas berhari-hari. Itu juga sebabnya kenapa komentar sarkas dan ulasan menghina lebih banyak dibaca. Kita menikmati hal-hal negatif, karena itu juga membuat hal yang kita sukai semakin tervalidasi. Dan pada akhirnya kita jadi lebih suka melaporkan kenegatifan. Period. Maka dari itulah, film ini bagiku seperti berakhir dengan poetic justice. Karena Gale Weathers-lah yang menyadari duluan. Semua horor di dunia mereka itu berasal dari dia yang jurnalis, lebih memilih melaporkan tragedi, memberitakan kejadian berdarah, menceritakan serial killer kepada publik. Cerita Sidney, Stab, jadi punya banyak penggemar for the wrong reasons. “I’m not gonna write about this” kata Gale di ujung durasi Scream 5. Gale benar. Jangan kasih minyak ke negativity. Jangan kasih viral perbuatan jahat, bego, kasar, dan sebagainya.

 

 

 

Ternyata film ini misterinya lebih gampang ditebak bukan karena bangunannya kurang kuat. Kita-lah yang sudah terlampau cinta sama franchisenya, kitalah yang sudah demikian mengerti dengan konteksnya. Kita adalah penggemarnya, dan film ini bicara tentang penggemarnya harusnya menikmati apa yang kita cintai. Boleh kritik, tapi jangan jadi toxic. So here goes mine. Dengan segala antisipasi itu, film ini masih mampu tampil menghibur. Membawa ruh franchisenya, respek sama franchisenya. Menghadirkan cerita dan karakter baru yang terikat kuat pada karakter original. Bercerita dengan drama yang balance; dengan drama itu sendiri serta dengan aspek horor. Film dengan muatan sebanyak ini berpotensi jadi boring atau sukar dimengerti, tapi muatan sindiran dan komentar serta aksi misteri whodunnit-nya membuat film tetap menarik dari awal sampai habis. Film ini berikan perkenalan yang cukup, serta proper send off untuk certain character. Dan kita menyambut semua itu dengan suka ria. Plus, I love Amber. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SCREAM

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya tips menjadi fan yang baik dan enggak jadi toxic?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2021

 

Pertama-tama (biarin deh kayak orang pidato) aku mau ucapin maaf dulu karena tahun 2021 aku cuma sedikit sekali ngereview film. Total hanya 110 film yang terulas, padahal banyak yang rekues review beberapa film, ampe beberapa kali. Tapi aku selalu nontonnya telat, dan kemudian ketinggalan lantaran mulai banyak film yang keluar.  Sementara bioskop, di tengah tahun sempat buka, lalu tutup, dan rame lagi di akhir. Dan aku honestly gak bisa langsung ikut kembali ke bioskop karena paling males harus install-install aplikasi. Jadi, ya maaf kalo kalian yang bolak-balik ngecek ke blog ini untuk bahas soal film terbaru, dan kecewa ngeliat gak ada reviewan.

But also, aku mau terima kasih sama kalian-kalian yang masih mau-maunya ngecek ke blog ini. Meskipun reviewnya tidak hadir secepat biasanya, tidak sebanyak biasanya. Terutama sih, terima kasih karena masih peduli sama film. Masih tertarik untuk membahas dan ngomongin film, for the sake of the movies themselves. Bukan sekadar untuk asik-asikan atau keren-kerenan diri sendiri. Masih hobi berbondong-bondong meramaikan bioskop. Ataupun begadang demi nonton special screening di komputer.

Jadi, untuk tidak memperpanjang mukadimah (tuh kan jadi beneran kayak pidato Pak RT!), langsung saja disimak list delapan film teratas pilihan My Dirt Sheet. Walaupun sedikit, kompetisi kali ini tidak kalah ketat. Honorable Mentions kukurangi lagi dari 15 kini menjadi hanya 12 untuk membuat daftar ini tetap menarik. Dan perlu diingat, teratas di sini maksudnya memang terbaik, tapi bukan ‘terbaik’ terbaik. Melainkan ‘terbaik’ according to me, baik itu sebagai tontonan hiburan, tontonan bergizi, ter-relate ke diri sendiri, dan bahkan sebagai komposisi list yang menarik. Yea, singkatnya, subjektif. Film kesukaan kalian gak kesebut? Well, kalo ternyata aku sudah nonton, ya tinggal kita obrolin di komen. Kalo aku belum nonton? you can convince me untuk menyaksikannya segera. (Kecuali favorit kalian itu adalah Eternals atau Penyalin Cahaya; alias yang ada rilis di Januari. Mereka kubikin bersaing di 2022 saja).

 

 

HONORABLE MENTIONS

  • Censor (psikologikal horor yang dibikin sebagai tribute untuk film-film horor jadul yang gore dan nasty abis. Disturbingnya lipat dua!!)
  • Last Night in Soho (horor penuh gaya, dengan duo pemain yang cakep. Aku merasa relate banget karena pernah bikin film pendek dengan konsep cermin yang serupa)
  • Minari (drama keluarga yang ingin sukses di rantau ini sangat menyentuh, dan somehow menginspirasi)
  • Saint Maud (begini nih kalo halu sama iman dan kepercayaan!!)
  • Spider-Man: No Way Home (experience nonton paling gila yang bisa kita rasakan!)
  • Stillwater (meski diwarnai kontroversi, tapi ini adalah drama dengan konteks karakter dan politik sangat kuat. Plus ada relationship figur ayah dan anak yang sangat heartwarming)
  • The French Dispatch (film tapi sebenarnya adalah majalah! bingung kan?)
  • The Green Knight (dongeng ksatria pengecut yang diceritakan lewat visual yang magis dan breathtaking)
  • This Is Not a Love Story/Bukan Cerita Cinta (hidden gem di perfilman Indonesia. Dimainkan dengan sangat natural)
  • tick, tick…BOOM! (penampilan akting keren Andrew Garfield di musikal paling relate; siapa sih yang gak galau sama umur?)
  • Till Death (ku sangat surprise sama Megan Fox dan film ini)
  • Titane (Kucumbu Tubuh Indahku versi cewek, dan versi lebih brutal)

Serta, Special Mention marilah kita panjatkan ke hadirat The Medium, yang pada 2021, ulasannya paling banyak dibaca di My Dirt Sheet. Dan kepada The East yang mecahin rekor view video ulasan terbanyak di Youtube My Dirt Sheet.

 

Dan, inilah TOP-EIGHT MOVIES 2021!!

 

 

 

8. THE SUICIDE SQUAD

the-suicide-squad-2021-banner-art-8k-du-1366x768

Director: James Gunn
Stars: Idris Elba, John Cena, Margot Robbie
MPAA: Rated R for strong violence and gore, language throughout, some sexual references, drug use and brief graphic nudity
IMDB Ratings: 7.3/10
“Rats are the lowliest and most despised of all creatures, my love. But if they have purpose, so do we all.”

James Gunn actually did the impossible: Ngasih perspektif dan development kepada segitu banyak karakter! Dan dia melakukan itu tetap dengan penuh gaya.

Gak ada karakter yang gak berguna, sekalipun mereka mati, film memberikan sesuatu kepada mereka sehingga kita mengingatnya. Gunn actually memulai dengan swerve, tapi itu sama sekali tidak menghambat ataupun terasa seperti kecohan yang ngebecandain kita. Melainkan dilakukan dengan bersenang-senang dan efektif sebagai pengeset mood pada naskah. 

The Suicide Squad jadi salah satu film paling rame seantero 2021. Aksi-aksinya brutal (karena Gunn enggak shy away dari kenyataan bahwa protagonis ceritanya adalah orang-jahat semua), karakternya unik (grup protagonisnya menarik semua, tidak ada satupun yang satu dimensi, tidak ada satupun yang cuma ‘receh’), dialog-dialog kocak, dan visual yang benar-benar tepat mengenai estetik komik.

My Favorite Scene:
Dari Rat Girl yang steal the show hingga ke Polka Dot Man yang melihat ibunya di mana-mana, film ini berjalan cepat dengan nampilin begitu banyak adegan memorable. Favoritku adalah adegan ketika the squad menyerbu Jotunheim. Berantem dengan latar hujan itu sungguh ngasih intensitas dan jadi panggung yang menarik. Kreativitas Gunn kayaknya keluar semua di situ!

the-suicide-squad-rain

 

 

 

 

 

 

7. BLOOD RED SKY

AAAABdZVhCiwnfZ0fJKLgSYtsGUgJ2KE9OoYPQW7QzR1PdpiHsMbSJFPleDByWj7fCWs-8cdvUFE5ns2OoIkWcHBg8dl8LJREa4gFLKwIsZhvK028a3g0K8EbyTqrSa5fg

Director: Peter Thorwarth
Stars: Peri Baumeister, Carl Anton Koch, Alexander Scheer
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 6.1/10
“Did you drink blood?”

Criminally. Underrated.

Blood Red Sky adalah campuran dari thriller pembajakan pesawat, teror di ruang tertutup, drama seorang ibu, dan juga cerita tentang vampir. Dan walaupun si ibu itu adalah vampir yang berusaha menolong anaknya dari teroris, cerita tidak pernah membuat semuanya mudah. Intensitas selalu naik pada setiap adegan, karena film terus saja memberikan rintangan-demi rintangan. Semua itu berkumpul menjadi sajian mendebarkan, horor yang paling aku ingat sepanjang tahun, sementara juga menyentuh lewat perjuangan ibu terhadap anaknya.

Dewasa ini, horor udah jarang yang berimbang kayak gini. It’s either terlalu artsy, atau terlalu campy dengan jumpscare dan segala macam kekonyolan. Blood Red Sky tampil seperti horor dari era yang lalu. Yang bisa bikin kita duduk tegang, meringis oleh kekerasannya sangat eksplisit, jengkel setengah mati oleh villain yang over-the-top, sambil memikirkan psikologi di baliknya. Dan akhirnya terenyuh oleh hatinya. Coba deh ajak ibumu nonton bareng ini di Hari Ibu

My Favorite Scene:
Hubungan ibu dan anak jadi denyut emosi film ini. Momen paling sedih buatku saat Elias berusaha ngasih comfort dengan sesantai mungkin ke ibunya, menjaga dari matahari, ibunya yang sudah hampir kalah dalam perjuangan melawan naluri zombie, fully knowing bahwa berkat perjuangan berat ibunya itulah mereka masih hidup pagi itu

1ca4bf_f45e2b496622447b8da679b6db4aa851_mv2

 

 

 

 

 

6. THE FATHER

The-Father

Director: Florian Zeller
Stars: Anthony Hopkins, Olivia Colman, Imogen Poots
MPAA: Rated PG-13 for some strong language, and thematic material
IMDB Ratings: 8.3/10
“There’s something doesn’t make sense about this. Doesn’t make sense.”

Dari ibu dan anak laki-lakinya, kita beralih ke cerita tentang ayah yang bikin bingung anak perempuannya. Karena si ayah ini mengidap alzheimer, yang perlahan semakin parah. Membuatnya lupa bukan hanya letak jam tangannya, melainkan siapa dirinya, di mana dan kapan dia berada sekarang.

Tahun lalu ada film Relic, yang juga masuk Delapan-Besarku, yang juga bercerita tentang penyakit mengerikan ini. Tapi dengan elemen horor. The Father bercerita lewat drama dan dialog, tapi tetep terasa sama seramnya. Dan bahkan lebih menyayat hati. 

Film ini unggul bukan saja berkat penampilan akting Anthony Hopkins – living legend – yang luar biasa. Tapi juga berkat penceritaan yang benar-benar membuat kita berada di dalam sepatu karakter Anthony. Yang bisa lupa semua hal begitu saja sedari dia bangun tidur. Film akan menampilkan ruangan yang berbeda (furnitur dan letaknya), memperlihatkan karakter anak yang diperankan oleh artis yang berbeda-beda setiap adegan, sehingga kebingungan itu benar-benar kita rasakan. Maka kita menjadi semakin peduli dan semakin termasuk ke dalam cerita, dan juga kepada meluluhlantakkannya akibat dari penyakit ini.

My Favorite Scene:

Lihat betapa drastisnya perubahan si ayah seiring percakapan seringan kenalan ama pengasuh baru, dan bagaimana sang ayah tampak asing bagi anaknya.

 

 

 

 

 

 

5. YUNI (versi festival)

3350885204Director: Kamila Andini
Stars: Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 8.0/10
“Mending makan cilok!”

Yuni suka warna ungu, nyanyi, makan cilok, silat. Yang tidak Yuni suka adalah dilamar. Karena Yuni masih sekolah, dia ingin ke perguruan tinggi. Yuni adalah cerita yang efektif sekali menggambarkan perempuan muda yang merasa terkurung pribadinya oleh pandangan sekitarnya terhadap perempuan beserta segudang pamali. Membahas perkawinan anak lewat sudut pandang remaja perempuan dengan cara yang sangat tenang tapi menyanyat hati.

Ada dua versi film Yuni. Tapi menurutku, hanya versi untuk tayang di festival saja yang benar-benar pantas disebut sebagai film Indonesia terbaik di tahun 2021. Versi festival benar-benar terstruktur untuk kita menyelami perasaan Yuni yang semakin merasa sendirian. Kuatnya, tidak seperti Lady Di di film Spencer, Yuni tidak pernah mengantagoniskan. Dia berusaha memahami pamali. Konflik seringkali hadir dari tindakan ‘perlawanannya’ tersusul oleh rasa cemas kalo dia telah melanggar ‘aturan-tak-tertulis’ tersebut.

Meskipun gagal di Oscar, dan meskipun versi bioskopnya lebih disukai karena ada nyanyi-nyanyi dan berakhir dengan soften the blow, aku rasa kita semua sepakat Yuni telah menyentuh hati kita. Seperti puisi.

My Favorite Scene:
Penolakan pertama yang dilakukan Yuni udah kayak adegan karakter yang harus membunuh untuk pertama kalinya untuk bisa survive dalam film-film thriller/horor. Perhatikan gimana sedari awal Yuni berjalan, terus mengkonfrontasi si cowok, dan bagaimana Yuni mengulangi kalimat menolak lamaran itu. Great acting, great writing, great directing!

maxresdefault (1)

 

 

 

 

 

 

4. THE MITCHELLS VS. THE MACHINES

AAAABSYF6Rln4hC-Aj5mdZIvmyGIOv4_E3Zoitx0VpDN7kan5rqvyhVIzXnjE-q0mQ8s9GpZee9FOm-3-3HPo_P40AcAfUD-YK-6OQmIlD-wruf-viRwOdSN9io9co4n5g

Director: Michael Rianda, Jeff Rowe
Stars: Abbi Jacobson, Danny McBride, Maya Rudolph
MPAA: Rated PG for action and some language
IMDB Ratings: 7.7/10
“My parents haven’t figured me out yet. To be fair, it took a while to figure myself out.”

Katie Mitchell adalah kita, hobi banget ama yang namanya film. Sampai-sampai dia giat membuat film pendek lucu-lucuan dari berbagai kreasi sendiri. Dan ya, Katie Mitchell adalah kita, yang hobinya tidak disetujui orangtua. In that way, film ini adalah cerita yang langsung gampang kita pedulikan. Hebatnya, film ini menomorsatukan kreasi penceritaan, kehebohan visual. Dan dapatlah kita animasi petualangan super konyol yang bakal terus menghibur dan menyentuh, sedari awal hingga akhir.

Visualnya dibikin sebagai karakter tersendiri. Film ini menggunakan estetik internet dan dunia sosmed, yang tidak hanya sebagai gimmick. Melainkan benar-benar menyatu ke dalam cerita. Kadang film ini terasa terlalu cepat, sehingga kita merasa perlu untuk mempause dan mengulangnya kembali. Bahkan jika kita benar-benar melakukan itu, film tidak akan menjadi bosan. Berkat humor dan dialog yang cerdas di atas karakter-karakter eksentrik yang menyerempet over-the-top itu.

Elemen petualangan bareng keluarga menambah keseruan film ini ampe pol! Tema yang diangkat adalah seputar teknologi, yang actually responsible dalam memperlebar jarak antara anak dengan orangtua. Membuat mereka semakin susah berkomunikasi. Dan walaupun musuh mereka memang robot-robot, film berimbang, tidak benar-benar menjadikan teknologi itu sebagai mutlak antagonis. Ada momen-momen menyentuh ketika orangtua berusaha memahami hobi anaknya dengan nekat mencoba masuk ke dunia teknologi. Bahkan ada adegan ketika ayah Katie harus bisa komputer dulu demi menyelamatkan anaknya

 

My Favorite Scene:
Begitu banyak komedi-komedi dan momen konyol di film ini. Film pun sempat-sempatnya masukin komentar kocak soal perilaku manusia yang telah jadi tergantung sama internet.

 

 

 

 

 

 

3. ANNETTE

c4f5dbff4b44f77ebde5790a94bf515acb4f34fc1df4cf953213db300f706e04-rimg-w523-h296-gmir

Director: Leos Carax
Stars: Adam Driver, Marion Cotillard, Devyn McDowell 
MPAA: Rated R for sexual content including some nudity, and for language
IMDB Ratings: 6.4/10
“Now you have nothing to love.”

Keanehan The French Dispatch hanya bisa disaingi oleh karya Leos Carax ini. Urusan cinta memang rumit dan aneh. Annette menceritakan cinta ‘palsu’ antara dua selebriti panggung yang menghasilkan anak berupa boneka kayu, dengan gaya teater musikal. And I love, every second of this movie.

Dialog-dialog yang dinyanyikan, dengan pengadeganan yang sureal dan hampir semua hal di layar itu tampak artifisial. Awalnya tampak seperti kisah romansa yang manis, tapi kemudian berubah menjadi rencana pembunuhan yang elaborate, ke eksploitasi anak. Karakter pun makin membuat dirinya tak disukai. Dan memang itulah yang diniatkan. Yang dirancang. Memang, akibatnya film ini tidak gampang untuk disukai banyak orang. Tapi dengan begitu, dia sukses menyampaikan gagasan yang dikandungnya. Bahwa manusia adalah makhluk yang tragis ketika kita menganggap hidup adalah panggung. Mungkin paling tepat jika kita menyebut Annette sebagai sebuah opera horor.

Dengan konsep dan konteks seperti demikian, film menjelma menjadi sebuah sajian yang cantik. Aneh iya, tapi cantik. Carax terus ngepush quirk filmnya tersebut. Penampilan para aktor pun jadi ikut terdorong. Akting-akting di sini begitu intens, dan kadang memang membuatku sedikit ngeri juga. Melihat Adam Driver semakin berpusar turun as a human, seiring dengan rash di wajahnya membesar, kadang membuatku takut, tapi kemudian kasian. Benarlah film superaneh, sukar dimengerti kalo terlalu fokus cerna nyanyiannya, ini mampu bikin kita turun naik.

 

My Favorite Scene: Banyak orang akan mengingat adegan ML sambil nyanyi, ataupun adegan baby annette melayang sambil nyanyi. Tapi buatku, yang paling ngena adalah adegan terakhir di penjara. Annette yang udah jadi manusia, dialog sama bapaknya. Feels so unreal. Sampai sekarang pun kalian masih akan mendengarku menyenandungkan lirik dan irama nyanyian mereka.

 

 

 

 

 

 

2. CODA

CODA-1

Director: Sian Heder
Stars: Emilia Jones, Troy Kotsur, Marlee Matlin
MPAA: Rated PG-13 for strong sexual content and language, and drug use
IMDB Ratings: 8.1/10
“You know why God made farts smell? So deaf people could enjoy them too.”

Coda pada dasarnya punya cerita yang sama seperti The Mitchells vs. The Machines. Bakat Ruby gak bisa didengar oleh orangtuanya. Tapi itu karena keluarga Ruby literally gak normal. Ibu, ayah, dan abang Ruby tuli. Dan setting keluarga tersebut eventually membuat Coda menjadi drama keluarga, cerita remaja, yang sama sekali berbeda.

Film ini mengembangkan karakter-karakter tulinya dengan hormat. Dan itu bukan dalam artian karakternya dijaga dan gak dikasih apapun yang negatif. Tidak. Melainkan hormat karena mereka dibuat tidak meminta simpati. Tidak malu dengan kekurangan mereka dalam hal apapun. Drama film ini datang dari Ruby yang gak lagi bisa terus menjadi telinga bagi keluarganya, karena dia sekarang harus mulai membangun hidupnya sendiri. Problematika yang dipersembahkan film ini lewat Ruby, terasa real dan relate. Makin real dan hormat karena film ini melakukan hal yang benar dalam merepresentasikan karakternya.

Perspektif juga dijaga sekali oleh film ini. Tahu kapan harus menarik semua suara dan membuat kita merasakan sepenuhnya yang dirasakan oleh karakter. Selain permasalahan keluarga yang menyentuh hati, film ini juga punya adegan-adegan musik yang indah, adegan khas remaja yang sweet, there are just so many lovable and enjoyable things di film ini.

My Favorite Scene:
Adegan Ruby duduk bersama ayahnya, kemudian dia bernyanyi kepada ayahnya, dan ayahnya mengerti. Truly momen ayah-anak paling kuat seantero film 2021. 

 

 

 

 

Cerminan ideologi, refleksi kasih sayang ibu, gambaran suram penyakit, potret opresi perempuan, perwakilan tunarungu, simbolisme kehidupan keluarga modern, keluarga public figur. Jika representasi adalah hal yang penting untuk dilakukan oleh film, maka aku pun mulai berpikir film apa yang kira-kira cocok untuk melambangkan perjuangan kita semua di era pandemi. Memang dua tahun belakangan ini, ada banyak film yang mencoba untuk menceritakan kehidupan kita tersebut.

Film yang kunobatkan sebagai terbaik tahun ini adalah film yang mencuat karena telah menjadi sindiran yang sangat telak kepada kita semua. Film terbaikku tahun ini adalah sebagai penanda jaman, yang kuharap sepuluh tahun lagi kita bisa menontonnya. Dan barulah saat itu kita semua benar-benar tertawa dibuatnya. Karena kita telah berhasil survive dari yang ia gambarkan.

 

 

1. DON’T LOOK UP

dont-look-up

Director: Adam McKay
Stars: Leonardo DiCaprio, Jennifer Lawrence, Meryl Streep
MPAA: Rated R for language throughout, some sexual content, graphic nudity and drug content.
IMDB Ratings: 7.3/10
“You guys, the truth is way more depressing. They are not even smart enough to be as evil as you’re giving them credit for.”

Lucunya, film ini sama sekali tidak bicara tentang pandemi virus.

Dan itulah yang jadi bukti bahwa satir dan sindiran film ini bekerja dengan sangat efektif. Dua astronom yang menemukan komet hendak menabrak bumi, malah disepelekan, dijadikan alat politik, Presiden lebih mendengar kata bisnisman dan berusaha mengambil keuntungan dari bencana yang sedang otw ketimbang mengambil tindakan pencegahan yang aktual. Ada begitu banyak kemiripan untuk dianggap sebagai kebetulan. Film ini pastilah meniatkan. Film ini pastilah sedang mengutarakan sikap dan pandangan. 

Sindiran itu bukan hanya untuk pemerintah. Untuk kita juga. Karena dari dua astronom itu, yang satu dijadikan bintang televisi sementara yang satu dianggap gila. Kita masih tertarik pada hal-hal yang gak perlu. Pada kecantikan/kegantengan, pada gosip, pada konser-konser dan selebrasi lainnya. Kita mudah kemakan media, yang memang lebih peduli sama rating. Kegocek pengalihan isu dari pemerintah. Tapi bukan hanya sindiran saja, sebenarnya film memperlihatkan kekuatan dan kelemahan kemanusiaan dengan imbang. Hanya manusianya saja yang lebih cenderung memilih yang bego.

Semua itu dilakukan McKay lewat penulisan yang sangat cerdas. Bukan hanya menyindir kita, dia juga mampu membuat cerita dua astronom ini legit dengan struktur skenario yang solid. Gerak kamera dan editing juga efektif dalam menampilkan tone. Tidak sekalipun film tergagap menangkap dan menghidupkan banyak karakter, yang dimainkan oleh ensemble cast yang luar biasa. Bintang-bintang itu bukan di atas sana, tapi di layar kita.

My Favorite Scene:
Buatku inilah film penanda jaman yang tepat. Era pandemi dan era idiocracy digambarkan dengan telak. Ada satu scene yang membuatku ngakak banget, yaitu ketika presiden Meryl Streep ngingetin Leonardo bahwa dia sekarang di lingkaran penguasa di atas. Presiden ngewhip out rokoknya, dan di latar kita melihat mereka berada di ruangan inflamable. Sungguh komentar yang ngena terhadap pemerintah.

kogprogdfd - Copy

 

 

 

 

 

So, that’s all we have for now.

Demikian daftar Top Movies 2021 ini kami tulis. Apabila ada salah-salah kata, lebih dan kurangnya kami ucapkan maaf dan terima kasih.

Apa film favorit kalian di tahun 2021? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2022?

Share with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are…


Tambahkan judul - Copy

We are the longest reigning PIALA MAYA’s BLOG KRITIK FILM TERPILIH.