THE LITTLE MERMAID Review

 

“We realize the importance of our voices only when we are silenced”

 

 

Banyak kelakuan dari Princess Disney yang simply not fly buat cewek jaman sekarang. Banting tulang ngurusin rumah, sampai ada cowok yang ngelamar? Kuno.  Ngefriendzone-in cowok sampai dia ngasih satu perpustakaan penuh buku-buku? Matre. Rela ninggalin rumah dan orangtua cuma demi cowok yang disuka? Huh, apalagi ini, kelihatannya kok clingy banget. Lemah. Untuk mengupdate value-value itulah, remake diperlukan (selain urusan cuan, tentunya). Setelah sekian lama Ariel dikatain princess yang paling ngeyel “gak punya masalah tapi lantas dicari sendiri”, kini Rob Marshall berusaha menghadirkan ulang cerita sang Putri Duyung dengan beberapa perubahan, terutama untuk menekankan kepada journey Ariel bukan sekadar perjalanan mengejar pangeran. Melainkan cerita seorang perempuan yang suaranya ingin didengar. Suara yang mendamba dunia yang lebih besar.

Remake live-action Disney sendiri, biasanya ada dua jenis. Yang mengangkat sudut pandang baru. Dan yang dibikin beat-per-beat persis sama dengan animasi originalnya, dan ditambah dengan beberapa perubahan. Rob Marshall membuat The Little Mermaid sebagai jenis yang kedua. The Little Mermaid versi baru ini alur, pengadeganan, dan dialog-dialog dasarnya sama persis dengan film animasinya tahun 1989 dulu. Ariel adalah putri duyung yang tertarik sama dunia manusia. Dia suka ngumpulin barang-barang manusia, meskipun dilarang oleh ayah yang menyuruhnya untuk gak usah dekat-dekat manusia. Karena berbahaya. Tatkala sedang melihat kapal yang lewat, yang actually hancur diserang badai, Ariel yang baik hati menyelamatkan seorang pria. Pangeran bernama Eric. Ariel jatuh cinta kepada Eric, membuat ayahnya – sang raja laut – murka. Ariel yang lagi down, jadi sasaran empuk muslihat Ursula. Penyihir laut yang menjanjikan putri duyung itu kehidupan sebagai seorang manusia. Dengan suara merdu Ariel sebagai bayarannya.

Tadinya mau minta jiwa si Flounder, but look at those fish eyes! By God, there’s no soul in there!!

 

Penambahan dilakukan di sana-sini guna menguatkan dan memperdalam konteks cerita. Ursula yang diperankan dengan legit fun oleh Melissa McCarthy, misalnya. Backstorynya diubah supaya Ariel bisa lebih terkoneksi sehingga lebih mudah bagi kita untuk percaya duyung remaja itu mau saja melakukan perjanjian dengan dirinya. Di cerita ini, dia adalah bibi Ariel yang diasingkan oleh King Triton. Ursula dibikin lebih ‘dekat’ dan ‘relate’ kepada Ariel. Tapi Ursula adalah contoh kecil penambahan backstory di sini ternyata benar menambah kedalaman bobot cerita. Contoh besarnya adalah backstory Eric. Di film aslinya, Eric ini generik sekali. Dia cuma cowok yang jatuh cinta sama perempuan bersuara merdu yang menyelamatkan nyawanya. Relasi Ariel dan Eric pun aslinya memang hanya sebatas ketertarikan secara fisik. Namun di film ini, ikatan keduanya jauh lebih grounded dan beralasan. Eric dituliskan sebagai anak angkat Ratu, yang suka melaut tapi juga mulai dilarang-larang karena berbahaya. Eric juga punya koleksi barang-barang laut karena dia penasaran sama dunia di bawah sana, paralel dari Ariel yang punya satu gua penuh koleksi barang-barang manusia yang ia pungut dari kapal-kapal yang karam. Kesamaan dengan Eric tersebutlah yang jadi ‘alasan’ Ariel jatuh cinta kepadanya. Kesamaan ide, pandangan, bahkan tantangan.

Menurutku penjabaran backstory itulah yang terbaik yang ditawarkan oleh film, karena dengan ini romance mereka terasa lebih berarti. Mereka bukan lagi sekadar orang-orang cakep yang jatuh cinta. Karakter-karakter tersebut jadi punya lebih banyak bobot untuk kita pedulikan. I mean, bahkan adegan di dunia manusia terasa lebih menyentuh dan genuine ketimbang Ariel di laut, saking groundednya interaksi Ariel dan Eric, sebagai dua manusia yang share interest terhadap dunia masing-masing. Momen-momen itu yang gak dipunya oleh film aslinya, yang memang karena diset untuk tontonan anak-anak, membuat romansa mereka simpel dan gak dalam.

Untuk mencapai itu, yang diubah oleh Marshall sebenarnya adalah tema ‘Voice’. Suara. Bandingkan opening film asli dengan film live-action ini. Para pelaut di dua film ini membicarakan duyung dalam ‘nada’ yang berbeda. Yang animasi, ngeset up para duyung sebagai makhluk majestic bersuara indah. Bahkan Sebastian si kepiting literally adalah pemimpin konser, dan putri-putri Triton (termasuk Ariel) adalah penyanyinya. Suara, di film animasi, merupakan lambang inner-beauty. Ketika Ariel khawatir dia tidak bisa mengucapkan cinta kepada Eric karena suaranya diambil, Ursula mengusulkan untuk menggoda dengan kecantikan fisik. Di film live-action ini, suara duyung pada adegan awal diset sebagai sesuatu yang mengerikan. Suara godaan yang menggiring pelaut menuju karam. Suara ini leads ke persoalan prejudice antara manusia ke duyung, yang berakibat duyung juga menganggap manusia berbahaya. Film Rob Marshall punya konteks dua kubu yang saling membenci, dan Eric dan Ariel jadi penengah karena mereka membuka diri untuk melihat dunia yang lain. Suara jadi power bagi Ariel, yang naasnya harus ia buang jika dirinya mau diterima. Dia harus patuh kalo mau diterima Ayah. Dia harus tak-bersuara jika mau diterima manusia.

Kata-kata Triton kepada Ariel di akhir menyimpulkan segalanya. Bahwa suara kita adalah hal penting. Satu-satunya cara supaya apa yang ada di dalam kita, didengar. Jangan bungkam hanya supaya kita diterima. Kita gak bisa hanya diam kalo menginginkan perubahan.

 

Aku yakin itulah yang jadi alasan kenapa mereka nge-race swap Ariel. Meskipun bilangnya bukan perkara ras, tapi konteks film ini butuh Ariel sebagai seseorang yang menyuarakan hal yang tak bisa ia miliki. Lagu pamungkasnya menyebut “part of that world” untuk menekankan bahwa ini juga tentang orang-orang yang mendambakan kesempatan yang lebih besar, minoritas yang ingin setara.  Jadi secara konteks tersebut, Ariel akan lebih believable jika dibikin sebagai a color person. Like, bayangkan saja jika yang mengeluhkan suaranya yang tak didengar, yang pengen masuk ke ‘dunia orang’ itu, seorang putri raja berkulit putih. Gak akan believable, dia malah akan terdengar manja – just like Ariel di animasi yang setelah sekian lama banyak orang yang menganggapnya cuma mendambakan cowok manusia. Apalagi di iklim sekarang, memasang Ariel yang seperti itu hanya akan terdengar tone-deaf. Jadi ya, aku pikir Disney harus mengganti sosok Ariel dengan sosok yang pantas menyandang permasalahan tersebut. Dan dapatlah kita Halle Bailey, yang secara gestur dan suara benar-benar menakjubkan sebagai Ariel. Ngecast aktor yang bisa nyanyi menambah efek magis pada film ini. Yang bahkan, arahannya saja seringkali tidak bisa mengikuti.

Ku cuma penasaran, itu lehernya apa gak terkilir, rambutnya apa tidak berat di-whip saat basah-basah begitu?

 

Begini-begini, lagu Disney kesukaanku (of all time!) adalah Part of Your World.  Saking sukanya aku bahkan nyimpen slot save khusus di game Kingdom Hearts 2 di part mini game Part of Your World supaya aku bisa mainin lagu itu terus-terusan. Anyway, I think versi Halle seperti menggambarkan perasaan yang lebih mendobrak. Momen tangan Ariel menggapai lewat lubang juga dibuat begitu intens (kalo di horor, udah kayak tangan mayat yang menerobos keluar dari kuburannya) Hanya saja, karena film ini sama persis beat-to-beat dengan versi original, secara kronologi dan bangunan intensitas, keseluruhan adegan nyanyi Part of Your World itu jadi kerasa aneh. Karena di film aslinya, lagu itu adalah suara hati Ariel sehabis di ultimatum Ayah. Di titik itu dia belum kepikiran mau ke dunia manusia. Tekadnya itu baru muncul saat setelah menyelamatkan Erik. Jadi momen itu, Ariel lagi nelangsa. Jodie Benson tepat menyanyikannya dengan sense of longing yang sedih yang nanti berubah naik saat di batu karang. Flownya enak. Part of Your World versi Halle didesain untuk lebih kuat, sehingga gak cocok lagi ditempatkan di ‘posisi’ yang sama. Film ini harusnya mengubah susunan adegan. Yang kita lihat di sini, emosi Arielnya jadi gak mulus naik. Dia udah jor-joran di lagu itu, tapi puncaknya (di batu karang) seperti tertunda adegan penyelamatan.

Memang paling baik jika adaptasi atau remake berani mengubah. Film ini sepertinya tahu itu tapi gak berani mengubah total. Buktinya mereka berani mengganti Scuttle dari burung camar menjadi burung Gannet yang bisa menahan napas cukup lama di dalam air. Demi membangun aspek Ariel yang dilarang ke permukaan (aspek ini tidak ada di film originalnya). Supaya momen pertama Ariel ke permukaan tidak terganggu, kan gak lucu kalo dia ke permukaan hanya karena pengen ngobrol sama si Scuttle. Pengennya sih, film ini lebih banyak komit ke penambahan/perubahan, seperti begitu. Karena banyak perubahan yang jadi kurang berefek karena film terlalu ngotot sama ngikutin originalnya. Kayak lagu Part of Your World tadi. Contoh lainnya adalah pasal perjanjian Ariel dengan Ursula. Film ini menambahkan klausul Ariel disihir supaya dia lupa akan batas waktunya, dia dibikin lupa harus berhasil mencium Eric(with true love dan full consent!) dalam waktu tiga hari. Hal itu ditambahkan supaya Ariel dan Eric bisa menumbuhkan cinta genuine – which is great. Tapi film juga gak mikirin gimana Ariel bisa ingat, sehingga jadilah kita mendapat banyak adegan Sebastian dan Scuttle berusaha membuat Eric mencium Ariel. Yang akhirnya hanya membuat Ariel tidak banyak beraksi selayaknya tokoh utama. Sampai-sampai for some reason, kita malah mendapat Awkwafina nge-rap dengan suaranya yang cempreng itu. Disney, why do you hate us?

Film lantas sadar mereka butuh mengembalikan Ariel kepada action. Jadilah di final battle dengan Ursula, film mengubah… well, film tidak mengubah full sesuai dengan kebutuhan untuk memperlihatkan aksi Ariel sebagai tokoh utama yang akhirnya bisa mengalahkan Ursula. Melainkan, film hanya mengubah satu detil dari adegan di versi asli. Yaitu alih-alih membuat Eric yang melayarkan kapal supaya tiangnya menusuk si Ursula raksasa (dan dalam prosesnya membuat Eric- dan manusia secara umum – worthy di mata ayah Ariel), film ini malah membuat di momen itu Ariel si putri duyung yang menggunakan garpu untuk menyisir rambutnya tiba-tiba paham gimana kapal bekerja, dan dia-lah yang mengarahkan kapal untuk menusuk Ursula. Dan kita semua diharapkan untuk tepuk tangan dan bersorak “Hore, hidup perempuan berdaya!” Well, aku suka kalo perempuan dibuat berdaya, tapi tidak seperti ini cara mainnya. Adegan battle itu harusnya disesuaikan dengan yang ingin diangkat. Film yang sudah dirancang dengan konteks baru harusnya lebih banyak melakukan pengadaptasian, tidak cukup hanya dengan ngikutin beat-to-beat film aslinya.

Tapi aku yakin anak-anak pasti suka ngelihat duyung-duyung di sini. Kalo kalian punya adik atau keluarga yang masih kecil dan suka tontonan hewan dan manusia, di Apple TV+ ada loh tontonan yang pas dan seru berjudul Jane, tentang anak kecil yang menyelamatkan hewan-hewan langka, pake kekuatan imajinasinya! Tinggal klik ke link ini yaa untuk subscribe https://apple.co/3OL4MkQ

Get it on Apple TV

 

 

 




Perubahan film harus lebih total. Padahal mereka udah berani ganti sosok protagonis dan karakter lain. Mereka nekat pakai hewan laut yang realistis, misalnya, tapi mereka gak berani untuk mengubah atau melakukan adegan dengan berbeda. Adegan yang lebih cocok untuk konteks yang mereka pasang. Like, lagu Under the Sea saja ujung-ujungnya tetap menampilkan hewan laut yang bertingkah ‘ajaib’. Film tetap diarahkan beat-to-beat sama, supaya bisa meniru momen-momen ikonik. Film gak pede dengan perubahan atau penambahan yang mereka lakukan. Padahal secara konteks, film ini lebih kuat loh. Berhasil memperdalam bahasan dan karakter. Ariel saja  berani ke permukaan, masa film ini gak berani sih mengarahkan adegan-adegan ke ‘uncharted water’.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE LITTLE MERMAID

 




That’s all we have for now.

Kasian ya si Halle Bailey, dia masih banyak dihujat perihal dicast jadi Ariel. Menurut kalian kenapa sih kita susah menerima sesuatu yang tidak familiar bagi kita? Menurut kalian penolakan public kepada Halle sebagai Ariel sebenarnya terdorong oleh apa?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



HATI SUHITA Review

 

“True love is about growing as a couple”

 

 

Barangkali inilah pentingnya cinta. Jika rumah tangga adalah kebun bunga, maka cinta adalah airnya. Tanpa ada air, bunga-bunga itu akan layu. Kasihannya, masih sering didapati rumah tangga yang dimulai bukan atas saling cinta. Melainkan sebuah perjanjian. Atau biar terdengar agak romantis, istilahnya disebut perjodohan. Rumah tangga Alina dalam Hati Suhita yang diadaptasi Archie Hekagery dari novel, contohnya. Hati Suhita diarahkan oleh Archie untuk memperlihatkan perjuangan Alina menyirami rumah tangganya yang kering kerontang. Supaya ibu-ibu yang nonton bisa bergemes-gemes ria, memilih ship favorit mereka dari segi tiga yang terlibat di dalam cerita. Tapi di sisi lain, Archie sendiri jadi tidak sempat menyiram pokok permasalahan sebenarnya. Soal perjanjian yang berakar dari perjodohan, yang berkaitan erat dengan hal yang membuat kisah ini jadi novel yang spesial; identitas karakternya.

Alina Suhita adalah anak pesantren. Sejak kecil dia sudah dijodohkan sama anak pemilik pesantren besar tempatnya menimba ilmu. Alina dan Gus Birru, sudah dipupuk untuk menjadi pasangan penerus Pondok Pesantren Al-Anwar tersebut. Keduanya memang lantas tumbuh jadi orang-orang hebat. Cerdas, karismatik, taat beragama. Amanah untuk jadi pemimpin pesantren sepertinya gampang saja mereka emban. Tapi tidak demikian dengan amanah yang satunya; jadi pasangan. Alina dan Gus Birru toh memang kemudian dinikahkan. Tapi walaupun Alina tampak berusaha menjadi istri yang baik, Gus Birru tidak mau membuka hatinya karena cowok ini cinta sama cewek terpelajar lain. Rengganis. Sehingga Alina dan Gus Birru akhirnya membuat perjanjian untuk berpura-pura jadi suami istri yang harmonis, padahal aslinya tidur seranjang pun Gus Birru ogah.

Wife without benefits

 

Hati Hati Suhita ada pada tempat yang tepat. Film ini menggali dari sisi manusia para karakternya. Menggali hubungan mereka. Bukan hanya Alina yang permasalahannya dieksplorasi oleh film, meski memang film ini paham betul betapa pedihnya keadaan tersebut bagi Alina, sehingga menggali di sini, Dan terutama berusaha nge-cash in dari sini, Memancing emosi penonton dari pengembangan yang detil (tapi gak lebay) dari gimana sih ketika seorang perempuan yang ingin jadi istri soleha bagi keluarga besar dan suami, tapi tujuannya tersebut ternyata sekaligus jadi antagonis baginya. Mulai dari mencoba merayu, ngebaik-ngebaikin, ngerawat saat sakit, hingga balas cuek, semua aksi Alina  sukses membuat berbagai kelompok ibu-ibu yang nonton satu studio denganku bereaksi, bersorak-sorai riuh rendah. Malah ada yang sempat menghunus hapenya, siap untuk merekam layar bioskop (sebelum akhirnya dilarang oleh temannya sendiri).

Opening kredit film ini bekerja efektif dalam mempersiapkan kita kepada konflik setiap karakter sentral, serta dilakukan dengan ekstra dramatis. Baru ini kayaknya film yang menggunakan shot drone dengan begitu menyeluruh. Kemegahan pesantrennya tertangkap.  Konflik dua, eh tiga! karakter sentralnya  juga sekaligus berhasil terlandaskan dengan kuat. See, keadaan mereka sangat kompleks. Yang terluka bukan hanya Alina. Gus Birru yang selama ini aktivis yang memperjuangkan kebebasan juga merasa terkekang karena perjodohan. Rengganis, pacar Gus Birru juga manusia yang punya perasaan – yang juga hancur karena cintanya tiba-tiba kandas begitu saja. Film mencoba menggali mereka dengan adil, tidak ada yang dibikin totally jahat banget, ataupun dibikin pasrah-pasrah aja. Di balik Gus Birru yang dingin kepada Alina (karakter ini harus dibikin supercuek dulu supaya nanti bisa dilihat developmentnya), kita juga dikasih lihat gimana dekatnya dia dengan Rengganis. Bahwa keduanya itu share mutual interest, dan connected oleh ide. Aku bisa mengerti gimana dua orang ini bisa saling cinta. Kepada Alina, film juga memperlihatkan di balik sikap dinginnya yang menyangka Alina mau dijodohkan demi posisi di Pesantren, Gus Birru toh kecantol juga melihat kepintaran Alina dan terutama saat mendengar suara merdu Alina membaca Al-Qur’an. Hal tersebut didesain memang supaya penonton makin penasaran ke mana akhirnya cinta itu berlabuh. Banyak momen didedikasikan film ini untuk bikin penonton geregetan, misalnya kayak membuat ketiga karakter seolah akan bersirobok di sebuah kafe buku. Ditambah pula dengan kehadiran karakter pendukung, seperti ‘comebacknya’ Desy Ratnasari yang jadi mertua Alina, yang terus mendorong Alina supaya makin mesra pada Gus Birru, film semakin memanjakan rasa gemes-gemes penasaran penonton.

Namun bahkan di gurung pasir pun bisa tumbuh bunga. Yang berarti, cinta masih tetap hadir di tempat kering sekalipun. Persoalan kehadiran cinta dan mengenalinya untuk bisa tumbuh bersama itulah yang sebenarnya dibahas oleh cerita Hati Suhita. Berbagai karakter itu punya cinta dan cara tersendiri, ini adalah soal saling mengenali dan memahami sehingga akhirnya bisa tumbuh bersama. Itulah cinta sejati.

 

Film ini ngebuild ‘nikah-tapi-gak-dijamah’ sebagai sesuatu yang menyakitkan, membangun usaha Alina untuk menunjukkan cintanya kepada Gus Birru sebagai sesuatu yang pedih karena tak-berbalas, dan juga menampilkan relasi karakter lain untuk menambah serunya masalah hati mereka. Di menjelang akhir malah ada sekuen yang clearly mengajak bermain-main ekspektasi penonton terhadap siapa jadian dengan siapa. Itu semua memang bikin penonton menggelinjang, tapi film ini seperti meninggalkan banyak konteks yang menyertai karakter-karakternya tersebut. Yang kubicarakan di sini adalah konteks pesantrennya. Latar yang membentuk siapa mereka-mereka ini tidak benar-benar dibahas, melainkan ya sebagai ‘kostum’ saja. Film Hati Suhita kebanyakan hanya berkutat di efek perjodohan terhadap tiga karakter sentral, tapi tidak pernah benar-benar mengembalikan bahasan kepada perjodohan tersebut. Padahal ini penting, kenapa? Karena ini berkaitan dengan konteks ‘dari mana mereka berasal’, yang berarti karakter mereka baru bisa kita selami sepenuhnya ketika konteks ini dihadirkan. Tanpa konteks pesantren, film ini tak ubahnya seperti cerita perjodohan random. Like, diganti jadi bertempat di perusahaan besar pun bisa. Mari kita buktikan dengan mengganti istilah pesantren dengan ‘perusahaan’ pada sinopsis di atas:

‘Alina Suhita adalah karyawan perusahaan. Sejak kecil dia sudah dijodohkan sama anak pemilik perusahaan besar tempatnya bekerja. Alina dan Gus Birru, sudah dipupuk untuk menjadi pasangan penerus Perusahaan Al-Anwar tersebut. Keduanya memang lantas tumbuh jadi orang-orang hebat. Cerdas, karismatik, taat beragama. Amanah untuk jadi pemimpin perusahaan sepertinya gampang saja mereka emban. Tapi tidak demikian dengan amanah yang satunya; jadi pasangan. Alina dan Gus Birru toh memang kemudian dinikahkan. Tapi walaupun Alina tampak berusaha menjadi istri yang baik, Gus Birru tidak mau membuka hatinya karena cowok ini cinta sama cewek terpelajar lain. Rengganis. Sehingga Alina dan Gus Birru akhirnya membuat perjanjian untuk berpura-pura jadi suami istri yang harmonis, padahal aslinya tidur seranjang pun Gus Birru ogah.’

Kan, ceritanya jadi generik karena konteks pesantren sama sekali tidak dibawa. Konteks yang kumaksud adalah dasar pemikiran karakternya.  Bahwa perjodohan adalah perintah orangtua, yang mereka anggap sebagai amanah. Bagaimana di mata Alina menjadi istri yang baik adalah istri yang taat suami. Sementara di mata Gus Birru yang taat agama menghormati perempuan adalah dengan tidak menodainya. Yang kumaksud adalah cerita Hati Suhita yang bersetting di pesantren itu harusnya bisa lebih kompleks lagi ketimbang yang actually kita tonton (tentang berusaha bikin orang yang gak cinta, menjadi cinta). Jika konteks agama atau pesantren itu digali lebih dalam, masalah Alina bakal lebih rumit bukan lagi sekadar belum pernah disentuh, tetapi bagaimana dia merasakan mengikuti perintah agamanya (dengan ngurus keluarga dan nurutin kata suami) ternyata belum cukup baginya. Masalah Gus Birru terhadap perjodohan bakal lebih berlapis karena ini juga menyangkut perintah orang tua dan bagaimana dia selama ini gak cocok dengan ayahnya, dan bagaimana dia yang menolak menggauli istri yang bukan pilihannya itu bisa jadi bukan karena dia tidak cinta melainkan perlawanan terhadap ayah. Dan si Rengganis, maaan, mestinya dia yang paling pedih karena bentuk cinta yang ia harus jalani adalah mengikhlaskan. Perjalanannya sebenarnya lebih dramatis jika konteks identitas mereka diperkuat. Lingkungan pesantren itu sendiri juga harusnya bisa jadi ‘gudang contoh kasus’ tempat mereka belajar penyadaran masing-masing, bukan lagi sekadar tempat karakternya berkarya dan nunjukin kehidupan profesional.

Paling males kalo ibu udah pake jurus “Semalam ibu mimpi…”

 

Aku pikir itulah  juga kenapa delivery para karakter sentral tidak terasa sekonsisten karakter pendukung. Nadya Arina, Omar Daniel, dan juga Anggika Bolsterli memainkan karakter mereka dengan emosi ataupun intonasi yang sering kurang terasa kontinu. Atau mungkin, tidak kena pada sasaran, seolah mereka sendiri juga ragu dengan apa yang dirasakan karakter. Misalnya ketika dialog di kafe soal menghamili supaya ‘sandiwara’ mereka tetap terjaga dan permintaan Abah dan Ummi terpenuhi, dari nadanya aku pikir Alina setuju (walau dengan sarkas) tapi ternyata pada adegan berikutnya, dia menolak mentah-mentah. Atau ketika Alina dan Rengganis ngobrol di dapur; ku gak yakin mereka memang saling ngasih semangat atau nebar kode buat saingan. Bahkan hingga cerita berakhir, aku masih meragukan Alina dan Gus Birru sudah beneran saling cinta, bukan masih karena amanah dan mikirin Ummi dan Abah.

Konteks yang disisakan film salah satunya hanyalah soal karakter yang suka berkunjung ke makam Sunan/Wali untuk menenangkan diri. Which is great, budaya masyarakat mengalir kuat dari sini. Menambah sesuatu yang baru, yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Tapi efeknya juga akhirnya tidak besar. Aku lebih memilih mereka benar-benar memperlihatkan Gus Birru mengaku kepada orangtuanya, misalnya. Di film ini, adegan itu diperlihatkan cuma sebatas adegan tanpa dialog, slow-motion diiringi lagu. Padahal itu momen penting bagi Gus Birru yang telah menyadari kesalahannya. Itu juga momen akhirnya dia berkonfrontasi dengan ayahnya. Film ini lebih butuh momen-momen besar seperti itu ketimbang momen ngeswerve kita soal siapa ternyata mencintai siapa. It gets really draggy sekitar dua-puluh menit terakhir karena film berusaha bikin kita naik turun dengan ngasih red herring soal siapa yang dipilih si karakter untuk jadi pasangannya. Yang menurutku sebenarnya gak perlu, lebih baik waktunya dipakai untuk adegan pembelajaran yang personal seperti Gus Birru dengan ayahnya. Pacing film juga jadi aneh karena ini. Film yang di awal-awal sering terasa kayak terlalu cepat exit adegan, pas di belakang tau-tau jadi melambat. Dan akhirnya jadi kayak kehilangan momentum karakternya balikan, karena terlalu lama pada sekuen swerve. Lucunya memang film ini tuh kayak puncak dramatisnya tu ada di adegan pembuka tadi. Epik sekali. Sementara ke belakangnya enggak ada lagi adegan seperti demikian. Selebihnya film tidak pernah lagi ‘ekstra’ seperti itu. Padahal mestinya adegan opening itu cuma semacam ‘teaser’ untuk apa yang akan ada di akhir.

Sebenarnya, ada sih satu momen yang buatku cukup surprise. Kayak out of left field, gitu. Unexpected. Yaitu ketika Gus Birru menyadari dia sesuatu dari menonton film dokumenter buatan salah satu karakter. Ini ngingetin aku sama The Fabelmans (2022), yang memang film itu ingin memperlihatkan kekuatan dari filmmaking.  Adegan di Hati Suhita ngingetin, tapi tak sekuat itu karena di adegan itu Gus Birru sadar lewat dialog yang ia dengar, bukan dari gimana adegan film yang ia tonton bercerita.

 

 




Untuk mengincar cerita yang bisa digemes-gemesin oleh penonton, film ini berhasil mendaratkan tujuannya. Arahan film memang sepertinya total untuk ke sana dan dilakukan dengan elegan pula. Permasalahan perjodohan, orang ketiga, suami yang tak-cinta diceritakan dengan enggak lebay dan menarik. Bahasan karakternya juga berimbang, sehingga jadi cukup dramatis. Tapi sepertinya ada konteks yang hilang. Film dengan latar yang kuat itu harusnya tidak jadi segenerik seperti yang kita tonton ini. Pilihan dan journey karakter yang kita lihat seperti kurang konsisten, karena ada konteks dari mereka yang mungkin sengaja tidak dibahas mendalam. Jadinya seperti bermain di kulit luar saja. Film jadi seperti terlalu jinak dan menghindari banyak potensi bahasan yang menantang. Karena bagaimana pun juga ini kan adalah cerita perjodohan pada karakter dalam ruang agama. Ketika persoalan amanah dan hati diadu.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for HATI SUHITA

 




That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang sikap Gus Birru dalam film ini? Apakah menurut kalian dia cinta kepada Alina?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



KAJIMAN: IBLIS TERKEJAM PENAGIH JANJI Review

 

“Come back. Even as a shadow. Even as a dream”

 

 

Kualitas horor kita demikian rendahnya sehingga setiap kali ada yang bilang ada horor baru yang bagus lagi tayang, ekspektasiku langsung meroket. Dan lantas seringkali dengan dramatis terhempas ketika aku selesai menonton filmnya. Kajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji adalah salah satu dari film horor yang seperti begitu. Padahal nama di balik film ini harusnya dapat jadi jaminan mutu yang cukup. Tapi enggak. Adriyanto Dewo, sebelumnya dikenal lewat drama yang grounded semacam Tabula Rasa (2014) dan Mudik (2019),  tampak mentah banget menggarap horor santet-santetan ini. Kajiman mungkin memang dibuat untuk tidak dikaji mendalam, tapi ceritanya yang menyimpan banyak sisi si protagonis dari kita membuat film jadi setengah menghibur pun tidak. Dan celakanya malah seperti mengorbankan kepada setan drama personal yang dimiliki oleh sang protagonis.

Kalian yang ngikutin blog ini pasti paham aku sengaja enggak mengulas begitu banyak horor baru yang tayang di bioskop beberapa bulan belakangan. Karena simply aku jenuh dan gak mau blog  ini jadi kayak kaset rusak yang mengulang-ulang pembahasan yang sama. Karena begitulah state horor kita semenjak horor viral yang satu itu tembus sepuluh juta. Horor yang tayang gitu-gitu melulu, dengan permasalahan seragam, pakai sedikit bumbu kekerasan, dan walaupun mengangkat berbagai nilai lokal tetapi isinya tetap kosong.  Ujungnya gak jauh-jauh dari kesurupan, ritual ilmu hitam, dan pelaku sebenarnya ternyata orang ‘tak-terduga’. Saat dimulai, Kajiman toh terasa berbeda. Cerita film ini mengambil perspektif seorang perawat bernama Asha yang terkenang momen bersama ibunda. Untuk alasan inilah aku menuliskan ulasan Kajiman. Film ini punya something di situ. Pada karakter yang begitu sayang, merindukan, dan merasa bersalah sekaligus kepada ibu yang telah meninggal. Efek kematian ibu begitu terasa bagi Asha, digambarkan oleh film lewat ‘flashback’ yang seamless – menyatu banget. Kita pertama kali melihat Asha saat perempuan itu berbaring di tempat tidur bersama ibunya yang sakit – adegan tersebut ternyata hanyalah kenangan, namun dibuat menyatu dengan masa present Asha sekarang. Dan kita tahu itu dari gimana perfectnya film menampilkan tanda-tanda visual yang kontras.

Satu lagi yang aku suka dari cara film menggambarkan rasa kehilangan Asha adalah lewat suara-suara ibunya. Bergaung saat Asha lagi mandi, atau lagi baru bangun, misalnya. Membuat Asha terkesiap. Didera rindu dan takut secara bersamaan. Suara-suara, yang dengan bijak diperdengarkan oleh film dengan ambigu. Apakah itu memang suara hantu, atau suara dari kenangan Asha. Elemen mendengar suara dari our deceased parents, atau orang yang kita cintai, atau yang familiar bagi kita, menambah lapisan realisme yang bikin film ini jadi relate. Aku waktu kematian kucingku, si Max, aja juga sering ngerasa seperti masih mendengar suara mengeongnya di luar. Minta masuk untuk makan, seperti biasanya. Film Kajiman punya sesuatu yang spesial untuk diangkat dari personal Asha. Karakter tersebut juga mestinya bisa jadi lapangan bermain baru bagi Aghniny Haque yang biasanya cuma dipasang buat jadi cewek jagoan yang literally jago berantem. Yakni karakter yang dihantui perasaan personal yang kuat. Journey psikologis mengikhlaskan yang pasti menarik sekali.  Hanya saja, semua yang menarik dari karakter dan film ini buyar begitu lewat sepuluh menit, kredit judul nampang, dan cerita mulai khusyuk dengan tren horor masa kini: teror saat menjaga orang sakit, pesugihan, dan perang ilmu hitam.

Gak akan percaya lagi sama horor yang judulnya panjang banget kayak mau muat semua SEO tren horor viral

 

Tidak akan pernah kita dibikin in-line sama apa yang dirasakan Asha. Sama apa yang sebenarnya sedang ia lakukan dan ia inginkan. Film hanya membuat kita bengong aja menyaksikan Asha nanti ngambil kerjaan sebagai suster pribadi. Merawat Tyo Pakusadewo yang sakit di rumah gede milik pasangan suami-istri yang misterius. Melihat Asha diganggu penampakan, dan minta tolong sama paranormal yang ia percaya. Paranormal yang ia temui di tengah jalan. Terdengar mencurigakan? Memang. Tapi film cuek bebek, dan gak pernah membahas hal-hal aneh yang harusnya dibahas. Karena hal-hal itu akan dibahas di akhir sebagai ‘plot twist’. Inilah yang aku gak suka dari kebanyakan horor Indonesia. Menghindar dari membahas permasalahan karakter dengan malah menjadikannya sebagai kejutan di akhir. Hanya demi ‘cerita yang tak-tertebak’.

Padahal horor bukan semata soal jumpscare. Bukan perkara kejutan siapa sebenarnya yang jahat. Bukan persoalan karakternya selamat atau tidak. Horor itu ya kita harus dibuat mengerti dulu ketakutan yang dirasakan si karakter dari dalam. Kita harus paham karakter selamat dari apa, maknanya apa bagi trauma dia. Dan itu gak bisa hanya dengan membuat kita nontonin gimana kejadian demi kejadian terungkap. Like, kita gak akan peduli sama karakter Rama. Perawat cowok teman si Asha di rumah sakit, yang tau-tau oleh film ini dibuat jadi laksana jagoan. Di pertengahan, tau-tau kita ngikutin Rama berusaha memecahkan apa yang sebenarnya terjadi, sementara si Asha terbaring tidak berdaya sehabis kesurupan dan melawan dukun. Kita gak tahu siapa karakter Rama ini, set up nya cuma dia ini orangnya care banget sama teman-teman, dan bahwa dia lahir selasa kliwon! Kita gak peduli saat dia jadi hero, kita juga gak peduli saat nanti nyawanya terancam bahaya. Kita hanya bingung saja nonton ini. Ngeliat kejadian demi kejadian terungkap tanpa ritme dan gak ngikutin struktur naskah yang benar. Film ini gak sampai seratus menit, rapi aku gelisah setengah mati menontonnya. Karena tanpa struktur yang jelas, film ini kayak ngalor-ngidul berjalan tanpa arah. Dan tau-tau stop saat tiba waktunya twist itu diungkap.

Karena gak tau konteks karakternya seperti begini, Asha akan terlihat seperti protagonis cewek paling ketinggalan jaman karena dia seperti harus diselamatkan oleh Rama. Sebagai perawat, dia pun tercuat kayak perawat paling gak sabaran yang pernah ada karena sifat mandiri dan kuat yang dipunya oleh karakter ini hanya muncul saat dia menegur pasien yang ia rawat. Film memang berusaha nunjukin kerjaan dia sebagai perawat, tapi susah untuk melihat karakter ini sebagai pengurus orang lain karena ibunya sendiri saja gagal dia rawat. In fact, karakter Asha sedari awal sudah tampak kurang bisa dipercaya. Kita kayak gak tahu karakter dia sebenarnya gimana. Karena di awal itu kita dengar dia bilang kepada ibunya bahwa dia gak mau pacaran, mau di rumah aja ngurus ibu. Namun persis kalimat berikutnya dia bilang dia harus kerja dan ninggalin ibunya. Dan adegan berikutnya kita lihat dia menjalin hubungan khusus dengan Rama; mereka lagi jalan berdua adalah alasan kenapa pada malam meninggalnya ibu, Asha telat pulang. Susah untuk berada di belakang protagonis, kalo sedari awal saja omongan sama tindakannya gak akurat dan film gak membuka celah untuk kita mengenali Asha secara mendalam. Bukan hanya Asha, karakter lain pun kita gak tau mereka ini sebenarnya ‘ngapain’ di situ. Paranormal kenalan Asha sebagian besar waktu cuma kayak jadi exposition device, tukang kasih info gitu aja. Suami istri misterius tadi, cuma orang-orang dengan akting cringe yang bikin kita malah pengen mereka cepat-cepat jadi korban saja.

Kehilangan orang yang kita cintai memang demikian berat. Kita akan terus terngiang-ngiang keberadaan mereka. Parahnya, kita akan merasa itu adalah salah kita. Sehingga demi apapun kita akan merasa rela melakukan apa saja untuk membuat mereka kembali kepada kita. Supaya kita bisa menebus dosa. 

 

Kirain si Asha bakal tarung silat saat kesurupan melawan dukun

 

Efek nampilin sosok bayangan hantu ibu ataupun si Kajiman sebenarnya cukup mulus dan terukur (as in, film benar-benar mastiin warnanya gelap untuk mengenhance efek mereka), tapi presentasi keseluruhan film terasa mentah. Kayak film yang dibuat oleh orang yang baru belajar bikin film, yang masih ragu-ragu meletakkan kamera di mana. Ragu-ragu memposisikan tangkapan framenya. Ada beberapa kali aku ketawa saat melihat adegan film ini. Bukan exactly karena adegannya lucu, melainkan karena posisi objek-objek yang ada dalam satu frame tersebut. Misalnya, karakter-karakter yang duduk menghadap dinding saat bertamu. Padahal biasanya kan  tamu dan tuan rumah yang ngobrol itu dibuat duduk berhadapan tapi film ini seperti sangat spesifik membuat mereka duduk bersisian, menghasilkan ruang kosong di hadapan mereka yang terasa ganjil sekali secara estetika. Sekitar dua atau tiga kali adegan bertamu ke rumah itu, dan semuanya posisi duduknya seperti demikian. Terus satu contoh lagi adalah saat dua karakter dengan dramatis membaca mantra dari kertas kecil, di dalam ruangan yang pencahayaannya minim. Yang bikin ngakak dari adegan ini adalah dua karakter itu membaca dengan posisi membelakangi lampu meja – satu-satunya penerangan di ruangan itu! Hahaha mana kelihatan tuh tulisan. Logisnya kan mereka akan merapatkan badan, mendekatkan kertas ke sumber cahaya. Kamera harusnya bermanuver biar adegan itu tertangkap dengan dramatis. Jangan kamera yang diem, dan karakter yang menyesuaikan dan jadinya gak logis.

Kalo Asha terngiang-ngiang suara ibu yang seolah memanggilnya. Kalo aku, nonton film ini pada beberapa adegan akan terngiang-ngiang suara seruan ‘action’ dari sutradara saking begitu mentahnya penyambungan adegan. Beberapa adegan tu kelihatan banget kagok baru mulai actionnya. Kayak pas Rama berjalan ke rumah si paranormal, tidak terasa natural seperti dia berjalan dari jauh. Melainkan lebih terasa kayak dia dari posisi diam, terus saat ‘action!” dia mulai melangkah. Banyaknya adegan yang ‘masuknya’ seperti dikomandoi itu membuat film terasa punya vibe yang canggung. Semuanya tidak terasa natural. Hingga ke dialog. Film Kajiman juga enggak cemerlang di penulisan dialog, dan itu diperparah sama akting medioker yang deliverynya gak pernah meyakinkan. Ada satu kalimat yang buatku janggalnya bukan main. Yaitu ketika di rumah sakit, ada perawat yang mengeluhkan rumah sakit mereka malam itu sepi kayak kuburan. I get it, niatnya buat membangun mood seram – sesuatu yang mengerikan bakal terjadi di sana. Akan tetapi karena delivery dan karakter yang gak meyakinkan sebagai perawat, kalimat tersebut semakin aneh dan kayak main-main lagi. Karena biasanya setauku, perawat justru agak lega kalo pasien sepi, apalagi saat sudah larut, karena perawat itu pengen istirahat karena rumah sakit umumnya adalah tempat yang sibuk oleh pasien yang bisa datang tiba-tiba.

 




Satu lagi horor yang tidak mendeliver potensi yang dimiliki oleh materi ceritanya. Kisah personal seorang anak yang menyesal dan merindukan ibu yang telah tiada berubah jadi cerita standar teror ilmu hitam. Hanya karena pengen ceritanya ‘menghibur’ dengan plot twist. Akibat paling parah dari cerita yang membuang dagingnya sendiri itu adalah filmnya sendiri secara keseluruhan terasa mentah. Terasa gak mampu menggali yang lebih dalam. Dibuatnya pun terasa setengah-setengah. Beberapa treatment dan pengadeganan mampu tampil elegan. Tapi gak kalah banyak pula adegan-adegan dan perlakukan yang tampak canggung. Boring dan uninspiring. Bahkan anak-anak remaja yang nonton berkelompok di row tak jauh dariku saja hanya bereaksi sama jumpscare saja. Aku sangat menyayangkan film ini memilih untuk melepaskan kita dari karakter utamanya. Padahal kalo motivasi atau perjanjiannya itu tidak dijadikan twist, dramatic irony dari dark journey yang ia ambil akan bisa bikin film lebih emosional dan dramatis lagi.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for KAJIMAN: IBLIS TERKEJAM PENAGIH JANJI

 

 




That’s all we have for now.

Pernahkah kalian mengalami terngiang-ngiang atau terkenang terus setelah kehilangan seseorang? How did you deal with that feelings?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



GUARDIANS OF THE GALAXY VOL.3 Review

 

“All of us are imperfect human beings living in an imperfect world”

 

 

Sekali lagi kelompok misfit penjaga galaksi ini dikapteni oleh James Gunn. Tapi kali ini adalah terakhir kalinya Star-Lord, Nebula, Drax, Mantis, Rocket, Groot, Gamora, dan kawan-kawan bertualang bersama. Ini juga terakhir kalinya bagi pak sutradara berkiprah di jagat sinematik Marvel. Maka pantas saja beliau memastikan semuanya terasa spesial. Guardians of the Galaxy Volume Tiga ini ia bentuk sebagai salam perpisahan yang epik. Yang bukan para karakternya saja yang mendapat akhir perjalanan yang melingker dan benar-benar pengembangan keren dari awal mula mereka. Kita yang nonton pun merasa mendapatkan konklusi memuaskan dari petualangan panjang yang seru, penuh musik dan penuh warna. Film superhero Marvel yang satu ini buatku benar-benar terasa seperti akhir dari sebuah era!

Jalan cerita film ini juga sama seperti beberapa film Marvel belakangan ini. Contained di dunia sendiri, not really meddling around dengan multiverse yang membingungkan, dan terasa seperti episode kartun minggu pagi. Akibat serangan mendadak Adam Warlock ke  Knowhere – kota tempat para Guardians tinggal – Rocket terluka parah. Ini menyadarkan Peter Quill yang masih depresi kehilangan begitu banyak orang yang ia cintai. Gak mau kehilangan Rocket yang ia anggap sebagai bestie, Peter mengajak para Guardians yang lain untuk menginfiltrasi lab tempat Rocket ‘diciptakan’. Tapi aksi penyelamatan oleh Star-Lord dan kawan-kawan itu ternyata adalah jebakan. Karena dalang di balik penyerangan kota mereka adalah si High Evolutionary, orang yang merasa dirinya Tuhan, orang yang ingin menciptakan spesies dan dunia yang sempurna. Orang kejam yang bereksperimen dengan berbagai macam hewan, dan tanpa kasihan membunuhi ciptaannya yang gagal. Rocket actually adalah ciptaannya yang sukses, dan sekarang dia bermaksud untuk mengambil kembali otak cerdas si rakun!

Ketika Guardians of the Galaxy jadi pahlawan super PETA!

 

Cerita petualangan superhero bermuatan seperti yang dipunya film ini seolah ditakdirkan untuk sukses. Gampang disukai. Gimana tidak. Guardians of the Galaxy punya karakter yang begitu colorful sifatnya. Karakter yang sudah matang dimasak dari at least dua film sebelumnya. Interaksi mereka di sini jadi semakin natural. Ketika mereka bertengkar, saling menggoda, mereka terasa seperti keluarga beneran. Relate seperti interaksi antara orang-orang yang sudah sangat akrab. Duo Drax dan Mantis paling banyak mencuri tawa; Batista semakin jago ngelock-on timing komedinya, sementara Pom Klementieff pun semakin ahli membawakan karakternya yang bermata besar jadi adorable kayak cewek anime. Tapi tone ringan dan interaksi segar gak terbatas milik mereka. Volume Tiga actually punya banyak karakter, dan Gunn gak ragu untuk menggali sisi humanis mereka semua. Karen Gillan juga akan membuka sisi-baru karakternya karena di film ini journey Nebula jadi salah satu yang circled-backnya berakhir paling manis. Nebula akan berinteraksi dengan lebih banyak orang. Dan bicara tentang ‘orang’, Volume Tiga ini melakukan yang dilakukan oleh Taika Waititi kepada karakter utama dua film Thor terakhir, tapi juga kepada karakter anak buah musuh dan ‘NPC’. Menjadikan mereka bertingkah kayak orang normal di keseharian kita. Mereka semua kayak punya cerita dan kehidupan di luar momen mereka nampil di layar. Bahkan Adam Warlocknya si  Will Poulter yang mestinya jadi sub-boss dengan kekuatan mengancam aja, ternyata sayang binatang. Hal ini membuat vibe film ini terasa lebih dekat dan semakin kocak lagi.

Tentunya yang terpenting untuk film ketiga adalah fresh. Keunikan. Atau paling enggak kebaruan yang dimunculkan dari elemen yang familiar. Aspek ini terwujud lewat interaksi antara Gamora dengan para Guardians, khususnya dengan Peter Quill. Gamora yang bareng-bareng mereka, yang pacar si Peter itu, telah tewas, dan Gamora yang diperankan oleh Zoe Saldana di sini merupakan Gamora dari masa lalu yang belum kenal mereka. Gamora yang esentially pribadi yang berbeda. Sehingga dinamika karakter mereka pun jadi berbeda. Peter yang masih belum move on, berusaha terus mendekati Gamora, while cewek-hijau yang kini anggota Ravager itu terus menolak. Chris Pratt on mission kentara lebih menyenangkan untuk disaksikan ketimbang Pratt yang mabuk-mabukan di awal cerita. Development kecil yang dimiliki oleh Gamora dan Peter terkait relasi mereka di sini, jadi salah satu hati yang dipunya oleh cerita. Yang aku suka adalah film ini berani menegaskan diri sebagai ‘salam perpisahan’ yang membuat relasi dua orang ini terasa semakin dewasa. Karena ini basically cerita tentang dua lover yang jadi orang asing – some of us mungkin bisa relate dengan kisah cinta mereka. Film ini bisa membantu mencapai closure yang matang dari gimana Gamora dan Peter berakhir nantinya.

Arahan Gunn pun terasa kian matang. Volume Tiga terasa semakin enerjik lewat aksi cepat, di dunia yang imajinatif. Desain estetik lab biologisnya unik. Pun punya kontras yang chilling ketika film mulai menyentuh elemen cerita yang lebih dark. Yang paling kentara enerjiknya itu adalah gimana lagu-lagu rock populer yang sudah jadi ciri khas Guardians of the Galaxy dimasukkan sebagai suara-suara diegetik (suara yang beneran didengar oleh karakter di dalam cerita). Musik-musik itu selain bikin kita semakin seru menonton aksi yang dihadirkan, juga menambah layer adegan karena keberadaannya berhubungan langsung dengan pilihan karakter. Misalnya, di opening, Rocket berjalan keliling kota sambil muterin lagu Creep. Lagu yang cocok mewakili mood si Rocket yang lagi mengenang masa-masa dia pertama kali punya kesadaran (setelah jadi percobaan di lab High Evolutionary), yang turns out setelah kita sampai di bagian akhir film dan telah menangkap bahwa film ini adalah tentang orang-orang tak sempurna yang membuat dunia jadi terasa sempurna ternyata lagu itu juga mewakili tema dan plot keseluruhan film.

Bertahun-tahun High Evolutionary berusaha menciptakan spesies sempurna. Membangun, dan menghancurkan. Begitu terus. Dia tidak pernah mendapat kesempurnaan itu. Karena memang tidak ada yang sempurna. Hidup penuh oleh hal-hal yang tidak sempurna, oleh orang-orang yang tak sempurna. Justru dari situlah datangnya harmoni yang menjadikan hidup berharga. Guardians of the Galaxy pada akhirnya merayakan ketidaksempurnaan mereka, ketidaksempurnaan keluarga mereka. Salam perpisahan Peter Quill sejatinya adalah salamnya kembali pulang ke rumah, ke keluarganya yang tidak sempurna.

 

Ada banyak Shiragiku!!!

 

Selain sebagai salam perpisahan, film ini tepatnya bertindak sebagai transisi. Era James Gunn dengan Guardians Galaxy-nya memang telah berakhir, tapi seperti yang ditampilkan pada mid-credit scene, akan ada Guardians Galaxy generasi baru. Film Volume Tiga ini dengan baik mengeset perpindahan itu dengan membuat kita lebih dekat mengenal sosok yang berpengaruh nantinya, yakni si Rocket. Masa lalu Rocket sebagai makhluk ciptaan (dari rakun beneran) dieksplor habis-habisan di sini. Cerita akan bolak-balik antara misi penyelamatan oleh Star-Lord dkk dengan flashback masa lalu Rocket. Bagian flashback yang disebar di sana-sini tersebut memang penting dan tak bisa dipisahkan dari film, tapi ada kalanya flashback ini jadi problem bagi keseluruhan penceritaan. Yang jelas, tone jadi aneh. Volume Tiga really juggling dari ekstrim ke ekstrim. Dari ekstrim fun, ke esktrim dark. Gunn toh berusaha menjaga ritme dengan editing dan timing yang precise membangun feeling. Hanya saja sama seperti lirik lagu; gak semua yang ritmenya sama itu make sense. Kayak soal Rocket yang berkata dia gak akan membunuh High Evolutionary karena dia adalah Guardians of the Galaxy, perkataan yang cool kalo saja pada beberapa adegan sebelumnya kita enggak melihat Star-Lord literally membunuh si Mateo Superstore saat mereka terjun bebas kabur dari pesawat. Flashback-flashback itu seperti jadi mengganggu bangunan film.  Kadang flashback itu muncul dengan menyalahi aturan yang sudah disetup oleh film sendiri. Flashback yang merupakan kenangan dari Rocket itu tertangkap basah muncul tanpa ada Rocket – jadi setelah adegan dari karakter lain, tau-tau kita dibawa ke ingatan Rocket. Menurutku film ini mestinya bisa ngerem sedikit, untuk merapikan hal-hal yang seperti ini.

Bagian flashback itu yang bikin penonton banyak terharu. Ngelihat Rocket ternyata dulu punya teman-teman sesama makhluk buatan, dan tentu saja kita tahu ke arah mana nasib teman-teman Rocket itu. Bagus sebenarnya gimana dengan ini berarti ada film superhero yang gak melulu bicara tentang menyelamatkan manusia. Bahwa hewan juga adalah makhluk hidup, dan mereka juga sama pantasnya untuk diselamatkan dengan manusia. Masalahnya buatku adalah penjahat yang hanya cartoonish. High Evolutionary hanya seperti penjahat kartun yang kejam dan jahat. Gampang memancing simpati dan heat penonton dengan nunjukin orang yang bertindak kejam (and really loud) kepada hewan atau makhluk lemah. Menurutku High Evolutionary mestinya bisa diperdalam sedikit. Karena bahkan motivasinya yang pengen nyiptain spesies sempurna untuk dunia sempurnanya itu mirip-mirip sama motivasi Thanos – yang sudah terbukti bisa punya penggalian dan dimensi lebih banyak. Chukwudi Iwuji’s High Evolutionary cuma kejam, melotot, dan berteriak-teriak – masih mending kalo masih terasa kayak penjahat kartun, teriak ngamuk sekali lagi bisa-bisa ngeliat dia jadi berasa sama aja kayak ngeliat mertua galak di sinetron istri tersiksa hahaha

 




Nice send off buat era superhero misfit yang dibesarkan oleh James Gunn. Semua karakter utama mendapat development dan akhir journey yang memuaskan. Sekaligus bikin penasaran untuk film selanjutnya. Energi film ini benar-benar tumpah ruah, membuatnya jadi tontonan super yang menghibur, seru, dan tertawa-tawa. Film-film Guardians Galaxy selalu punya nilai lebih bagi penggemar rock, dan begitu juga dengan film ini. Tapi sama seperti yang dibicarakan naskah, bagiku juga tidak ada film yang sempurna. Penceritaan yang melibatkan bolak-balik antara petualangan dengan eksposisi backstory mestinya bisa dilakukan dengan lebih baik lagi. Seenggaknya, bisa dilakukan dengan lebih konsisten pada rulenya sendiri. Secara objektif, flashbacknya masih kurang rapi. Tapi di samping itu, I have a blast watching this. Kayaknya aku bakal lanjut nonton film action barunya si kapten Amerika bareng Ana de Armas di Apple TV+ buat cooling down. Kalian bisa juga dengan subscribe di link ini yaa https://apple.co/3W0emlN

Get it on Apple TV

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 3

 

 

 




That’s all we have for now.

Orang berbuat kejam/kasar kepada hewan juga kerap terjadi di sekitar. Menurut kalian kenapa sih orang-orang bisa setega itu?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



EVIL DEAD RISE Review

 

“Being a mother is dealing with fears you didn’t know existed”

 

 

Evil Dead klasik buatan Sam Raimi sepatutnya dijadikan cermin bagi berbagai horor kesurupan, patah-patah, berdarah-darah, muntah-muntah — jika mereka ingin hadir sebagai hiburan. Karena dalam film-film Sam Raimi itu, kekerasan tidak pernah dihadirkan hanya for the sake of violence. Melainkan, dengan humor. Karena Evil Dead ingin bersenang-senang dengan horor itu sendiri. Jadilah horor sadis tapi kocak sebagai pamungkas bagi horor Sam Raimi. Memang, gak segampang itu menyamainya. Banyak horor campy yang terinspirasi, tapi gak semuanya yang bisa mulus menghadirkan sadis-dan-lucu sekaligus. Bahkan remake Evil Dead tahun 2013 yang sukses dan gory dan fun itu saja masih dianggap banyak kritikus masih belum sama nada kocaknya dengan buatan Sam. Evil Dead Rise garapan Lee Cronin kali ini pun menghadapi tantangan yang serupa dengan remake tersebut. Tantangan yang juga dihadapi oleh horor kekinian yang ingin tampil menghibur, atau mempertahankan tone fun pendahulunya (rekuel franchise Scream juga termasuk). Simply, waktu sudah berubah. Era sudah berbeda. Dalam genre horor, yang receh-receh semakin dianggap remeh karena sekarang horor harus punya makna sesuatu. Kita sekarang berada di era Elevated Horror’. Horor yang dianggap bervalue bagus kini tidak lagi semata bunuh sana-sini, sadis absurd muncrat-muncratan, tapi lebih kepada penceritaan yang dark, memuat tema atau komentar sosial, serta visual yang nyeni. Bagaimana membuat horor yang menghibur – meneruskan pesona dan jati diri induk franchisenya – di tengah audiens yang meminta sesuatu yang lebih bermakna. Evil Dead Rise berusaha untuk literally rise above all that.

Begini mestinya, Saudara-Saudara. Beginilah mestinya horor hiburan dibuat.

 

Bebas dari kebutuhan untuk melanjutkan cerita atau dunia sebelumnya – Evil Dead Rise hanya ‘mengharuskan’ untuk menampilkan The Book of the Dead dan Deadite (dan beberapa item nostalgia) sebagai koneksi dan identitas – Cronin membawa horor itu ke panggung yang sama sekali berbeda dari yang sudah-sudah. Alih-alih di kabin di tengah hutan, panggung horor kini di sebuah apartemen di kota. Karakter-karakter pengisi ceritanya pun tidak lagi geng remaja, melainkan satu keluarga. Keluarga bukan sembarang keluarga. Di adegan pengenalan mereka, kita melihat: ibu yang tatoan sedang menyolder sesuatu, abang yang ditindik sedang mengolah musik dari piringan hitam, kakak yang rambutnya cepak sedang bikin poster untuk demo lingkungan, dan adik yang masih kecil sedang… menggunting kepala boneka! Ini keluarga yang badass. Mereka gak punya sosok ayah. Yang mereka punya adalah bibi yang bekerja sebagai teknisi gitar sebuah band. Bibi, yang jadi tokoh utama cerita. Bibi yang actually muncul di depan pintu apartemen mereka malam itu, untuk mengabarkan kepada ibu – kakaknya yang sudah lama tidak ia hubungi – bahwa dia akan menggugurkan anak yang tengah ia kandung. ‘Reuni’ kecil-kecilan mereka sayangnya tidak bisa berlangsung lama. Karena segera setelah rekaman mantra Book of the Dead yang ditemukan di bawah apartemen diputar, hunian yang dingin dan sepi itu bakal berubah merah dan penuh teriakan. Sang Ibu kesurupan dan menjadi Deadite. Menyerang anak-anaknya sendiri. Beth harus mengeluarkan ponakan-ponakannya dari sana.

Apartemen dan ibu yang jadi setan memang seketika mengingatkan kita sama Pengabdi Setan 2: Communion (2022). Tapi untungnya, meski sama-sama dibuat sebagai seru-seruan horor, Evil Dead Rise yang memang aware untuk jadi elevated horor masih punya statement di baliknya. Enggak hanya sekadar nyuruh penonton menebak-nebak kode dari fantasi liar pembuatnya. Naskah Evil Dead Rise masih memuat closed story tentang journey karakter utama. Inilah yang bikin film ini jadi hiburan horor yang bergizi. Journey Beth adalah tentang ketakutan menjadi ibu. Bagi Beth, melihat kakaknya kesurupan dan melukai anaknya sendiri, bagai melihat momok dari perwujudan ketakutannya bahwa ia akan jadi ibu yang seperti itu. Beth gak yakin dia akan bisa jadi ibu yang baik. Nyatanya, perjuangannya berusaha menyelamatkan para ponakan, serta jabang bayinya sendiri di dalam perut, jadi menyadarkan dirinya bahwa dia bisa jadi ibu yang kuat. Percakapan soal menjadi ibu disebar oleh naskah di sela-sela adegan-adegan sadis, membuat film jadi punya momen-momen kecil penuh jiwa. Membuat kita semakin peduli kepada karakter. Momen grounded yang aku suka adalah ketika Kassie, ponakan yang paling kecil, berkata bahwa Beth kelak akan menjadi ibu yang baik karena Beth mampu membuat anak kecil seperti dirinya percaya sama kebohongan (at that chaos time, Beth berusaha menenangkan Kassie yang ketakutan dengan bilang semua akan baik saja)

Menjadi ibu adalah ketika kita belajar kekuatan yang kita tidak tahu kita punya, dan ketika kita menghadapi ketakutan yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya

 

Dengan terkliknya gagasan tersebut kepada kita, nonton Evil Dead Rise jadi semakin menyenangkan. Kita jadi punya alasan lebih untuk peduli dan kemudian seru-seruan melihat rentetan adegan-adegan mengerikan. Sutradara Lee Cronin definitely menggunakan semua trik Sam Raimi. Semua gerak kamera, semua permainan desain suara, ia gunakan maksimal untuk ngasih suasana eerie. Build up adegan-adegan seram terasa sangat efektif, keciri dari tidak terganggunya tempo relatif cepat yang dipakai oleh film ini dalam bercerita. Kesurupan mungkin udah sering dilakukan dalam film horor, tapi bagaimana semua kejadiannya dimainkan dan tervisualkan adalah tergantung pada kreasi sutradara. Adegan hujan darah di film sebelumnya, disaingi oleh Cronin lewat adegan terjebak di dalam lift yang perlahan penuh oleh darah. Selain itu, di film ini ada banyak banget adegan-adegan memorable terkait yang dilakukan oleh si ibu kesurupan dan cara kamera menampilkannya. Adegan ngintip di lubang pintu apartemen, misalnya. Kalian tahu dalam horor, kadang suatu momen sebaiknya dibiarkan untuk kita bayangkan (alias dilakukan off-cam)? Nah, sekuen Beth ngintip ke luar apartemen, ke lorong tempat Ellie menghabisi penghuni apartemen yang berusaha membantu itu benar-benar memanfaatkan kengerian on-cam dan off-cam dengan berimbang dan efektif. Satu lagi yang juga kenak ngerinya buatku adalah soal rekaman suara. Setelah kemaren Sewu Dino (2023) pakai suara rekaman kaset, Evil Dead Rise juga menggunakan suara rekaman piringan hitam. Dan personally, aku suka trope ‘dengerin suara rekaman’ ini. Aku suka ini di game Fatal Frame. Aku juga suka saat trope ini muncul di film horor. Buatku, rekaman yang terputus-putus dengan suara orang yang kita gak tahu siapa itu ngasih layer keseraman tambahan. Membuat eksposisi yang dibacakan jadi punya kesan seram ekstra. Setidaknya, ini jadi pembawa eksposisi yang lebih horor ketimbang adegan karakter ngegooling informasi di internet.

By the time ulasan ini publish, prolog Evil Dead Rise telah menjadi begitu fenomenal berkat sekuen credit titlenya. Keseluruhan pembuka itu efektif sekali ngeset apapun yang membuat kita menyambungkan di benak masing-masing bahwa inilah Evil Dead klasik itu di dunia modern. Membawa kita ke ke tengah hutan sebentar untuk ngingetin, ini film Evil Dead loh. Struktur film ini memang tak-biasa, dengan prolog dan epilog yang sebenarnya gak nyambung directly dengan cerita utama Beth dan keluarga kakaknya, tapi berhasil menjaga kesan kisah yang tertutup – sekaligus juga tetap membuka kemungkinan untuk kelanjutan Deadite dan Book of the Dead berikutnya.

Selain chainsaw, aku akan senang sekali kalo Staffanie juga terus dimunculkan sebagai alternate weapon hihihi

 

Tentu tak lupa salut juga buat aktornya, terutama Alyssa Sutherland yang jadi Ellie si ibu kesurupan. Alyssa dapet banget menacing-nya mimik seringai setan ketika berusaha mengelabui anak dan adiknya sendiri. Di lain waktu dia juga dapet banget terlukanya ketika si setan seperti sudah mengembalikan Ellie seperti sedia kala. Lily Sullivan yang jadi Beth, diporsir fisik dan emosinya. Sama seperti Terrifier 2 (2022), Evil Dead Rise paham untuk gak nanggung-nanggung ‘menyiksa’ para karakter, terutama karakter utama.  Aktor-aktor yang jadi anak Ellie juga bermain dengan total. Semuanya dihajar, termasuk anak yang paling kecil. Karena, secara penulisan, keluarga yang jadi saling melukai ini adalah konteks yang penting. Inilah bobot drama yang diincar film lewat gagasan dan alasannya mengganti karakter dari yang biasanya cuma teman-teman satu geng menjadi keluarga. Supaya lebih naas. Bayangkan terpaksa menyakiti orang yang benar-benar dekat seperti kakak atau ibu kita. Gimana coba efek melakukan itu dirasakan oleh anak sekecil Kassie.

Karena itulah aku sempat kesel sama sensor di bioskop saat menonton ini. Ada adegan Kassie terpaksa menusuk kakaknya yang sudah jadi Deadite, tepat di mulut nembus ke belakang kepala, dan adegan itu disensor. Penonton sestudioku sontak mendesah kecewa saat tiba-tiba adegannya lompat, dan kita gak benar-benar melihat reaksi atau ekspresi pada Kassie. Menurutku bagian ini gak perlu disensor. Pertama karena kekerasannya gak lagi disarangkan kepada manusia (si kakak basically sudah jadi zombie yang menyeramkan), dan kedua karena adik terpaksa menusuk kakaknya itu adalah poin dari konteks ceritanya. Yang horor dan dark di situ bukan hanya pada momen penusukannya, melainkan juga pada yang dirasakan oleh si adik saat dan setelahnya. Memotong adegannya tidak akan membuat horor itu hilang, karena horornya diteruskan pada aftermath penusukan. Nah, dengan dipotong, kita yang nonton gak mendapat full efek itu, konteks filmnya hanya separuh yang tersampaikan kepada kita. Jadilah sensor di bagian itu mengganggu komunikasi antara kita dengan film. Toh film ini memang isinya kekerasan semua. Ditusuk, digigit, dicekek, disembelih. Diparut, pake parutan keju, I’m just saying ada banyak adegan kekerasan lain yang lebih ‘kosong’ yang bisa dipilih untuk disensor, tapi sayangnya yang ke-cut justru yang punya konteks. Ah, kenapa aku malah jadi kritik sensornya ya, bukan filmnya hihihi

 




Oke, buat filmnya, ini sungguh-sungguh horor sadis yang menghibur. Sebagai bagian dari Evil Dead, film ini punya ruh yang tepat. Meskipun tone-nya masih belum sekocak versi original. Hal itu bisa dimaklumi karena horor jaman sekarang mengejar value yang sedikit berbeda. Yang jelas, film ini berhasil menyeimbangkan value horor modern tersebut dengan identitas asli franchisenya. Elemen horornya brutal, berdarah. Sebenarnya kalo dibandingkan dengan film-film sebelumnya, tingkat edan film ini masih agak kurang. Tapi karena kali ini karakternya adalah satu keluarga, dramatisnya jadi lebih ngena, adegannya jadi tetap berasa. Meski bukan exactly bikin meringis, tapi bikin terenyuh. Aku harap film ini bisa jadi inspirasi buat horor lokal kita dalam gimana membuat horor receh tapi gak remeh.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for EVIL DEAD RISE




That’s all we have for now.

Bagi yang merasa masih kurang puas sama horor, kalian bisa langganan Apple TV+ karena di sana ada serial Servant yang finale season 4 nya bener-bener defining yang namanya psikologikal horor. Serta, ada berbagai pilihan film, salah satunya Renfield, tentang suka duka seorang pelayan drakula. Gory and fun!  https://apple.co/40MNvdM

Get it on Apple TV

 

Menurut kalian, apa sih yang membuat horor sadis dan komedi bisa menjadi kombo yang efektif?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SCREAM VI Review

 

“A franchise is a family”

 

 

Rule number uno dari franchise adalah membuat setiap rilisannya terus membesar. Tapi aturan seperti itu juga ada pada bola salju yang melongsor. Membesar dan terus membesar sampai hancur berkeping-keping. Maka supaya franchise tidak sekadar jadi seperti bola salju, filmmaker dan studio perlu  ngisi film-film itu dengan sesuatu yang ‘lebih’. Scream, by now, telah menjadi franchise horor thriller yang dinanti bukan saja karena elemen whodunit yang exciting, tapi juga karena selalu punya komentar terhadap trope ataupun perkembangan genrenya sendiri. Warisan Wes Craven ini memang tampak ‘aman’ di tangan duo Matt Bettinelli-Olpin – Tyler Gillett yang tahun lalu membuktikan mereka sanggup menyenggol requel, horor modern yang ‘nyeni’, serta toxic fandom sekaligus di balik episode baru teror Ghostface di Woodsboro. Scream lima, despite judulnya yang membingungkan karena gak pake angka, terasa seperti kelanjutan yang ‘benar’ – yang respek, sembari terasa berani mengguncang fondasi pendahulunya. Memberikan franchise ini arahan baru yang pantas kita tunggu, Ketika mereka kembali dengan Scream VI, mereka memang memantapkan arahan tersebut. Membuat Scream menjadi semakin besar sebagai franchise, sekaligus berusaha menyentil franchise modern itu sendiri.

Jadi juga Scream waving ke Samara Weaving

 

Beberapa bulan setelah kejadian Scream lima, Sam dan adiknya, Tara, pindah ke New York, Tara udah kuliah, dan Sam ada di sana untuk menjaga adiknya. Like, menjaga yang bener-bener jaga kayak helikopter parent, gitu. Pergaulan mereka dikontrol ketat. In fact, sahabat mereka, si kembar Mindy dan Chad yang juga survivor serangan Ghostface di film sebelumnya itu, juga ikut pindah ke sana. Diminta Sam bantu menjaga Tara. Keempat orang yang menamai diri Core Four ini memang saling menjaga apapun di antara mereka. Berhati-hati dengan teman baru, dan sebagainya. Hal ini actually membuat Tara gerah. Menimbulkan sedikit friksi antara dia dengan kakaknya. Sementara itu ada Ghostface baru di luar sana yang mengincar mereka. Ghostface kali ini sangat berbeda. Lebih brutal, lebih nekat, Ghostface yang mereka hadapi sekarang gak akan malu-malu menyerang di tempat terbuka. Melukai siapapun. Worst of all, Ghostface yang satu ini bahkan bukan penggemar film ataupun horor. Sehingga tidak ada ‘rule’ yang bisa dipegang oleh Sam, Tara, dan teman-teman yang lain untuk memprediksi serangannya!

Jerat-jerat pemikat telah disebar Scream VI semenjak opening sequence. And I’m not just talking about Samara Weaving haha.. Yang mau kubilang adalah soal Scream VI yang tau-tau ngasih lihat wajah di balik topeng Ghostface di adegan pembuka! Wah, pas nonton aku langsung melongo. Belum pernah loh, Scream melakukan hal kayak gini sebelumnya. Aku sempat mikir wah ini keren juga kalo kita udah tau duluan siapa pelakunya. Elemen Whodunit mungkin jadi melemah, tapi bayangkan dramatic irony yang kita rasakan kalo kita melihat Sam atau Tara terjebak mempercayai pelaku. Tapi ternyata, ada Ghostface satu lagi yang di momen pembuka itu membunuhi geng Ghostface yang pertama, Ah, kepalaku memang ternyata langsung melangkah jauh saking ‘baru’nya langkah yang diambil Scream VI, namun aku tak merasa kecewa. Development bahwa ternyata ada Ghostface lain yang membunuhi Ghostface satunya, masih tetap merupakan langkah baru yang dilakukan pada franchise Scream, dan opening itu sukses membuatku bertanya-tanya apa lagi yang bakal dilakukan oleh sutradara untuk membuat film ini mengejutkan. Sepanjang durasi, seorang fans Scream sepertiku, niscaya bakal jerit-jerit demi ngeliat apa-apa yang dimunculkan, dan dibawa kembali oleh film ini. Kirby’s return, Gale mendapat telefon dari Ghostface untuk pertama kalinya sejak film pertama, Stu Macher ditease mungkin masih hidup (!) dan banyak lagi easter eggs lain apalagi karena investigasi Ghostface kali ini melibatkan banyak topeng dan memorabilia dari film-film Scream (alias Stab dalam dunia cerita mereka) sebelumnya. Nostalgia makin tak tertahankan karena film ini mencerminkan dirinya pada Scream 2.

Seperti sekuel original tersebut, Scream VI membawa action keluar dari Woodsboro. Hanya saja Scream VI mengambil langkah esktra. As in, pembunuhan sekarang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang-orang di mini market yang bahkan gak ada sangkut pautnya sama Sam dan Tara. Ini menciptakan stake yang semakin besar. Belum lagi, narasi juga mengestablish soal rule franchise yakni semua karakter expendable. Artinya, semua karakter bisa mati. Semua karakter mungkin untuk jadi pelaku. Bahkan karakter original seperti Gale. Semua karakter dalam franchise jadi ‘kalah penting’ dari IP yang dibangun. Dengan itu, Scream VI cuek saja bikin lokasi dan adegan pembunuhan di tempat-tempat terbuka yang rame oleh orang-orang. Seolah kota New York itu sama jahatnya dengan Ghostface. Kita dan geng protagonis gak tahu siapa atau di mana yang aman. Arahan duo sutradara kita yang memang energik dalam bermain kucing-kucingan yang brutal, bikin film Scream kali ini makin terasa ekstrim. Untuk mendaratkan cerita, film memberi lumayan banyak fokus pada persoalan kakak-adik Sam dan Tara. Dua karakter ini jadi hati cerita. Karena ini bukan saja tentang kakak yang mencemaskan adiknya, ini juga adalah tentang dua survivor yang memiliki cara berbeda dealing with trauma. Permasalahan Sam yang masih dirundung bayangan ayahnya yang serial killer, juga terus dieksplorasi naskah. Scream VI menjadikan itu sebagai corong untuk berkomentar soal gimana di dunia sosial kita sekarang, seorang korban bisa balik diantagoniskan.

Malah di kita, korban yang udah tewas aja bisa dijadikan pelaku

 

Victim-blaming, sindiran buat franchise, kisah trauma shared by sisters, elemen-elemen cerita pada film ini sayangnya tidak benar-benar terikat dengan memuaskan. Franchise modern Scream di luar Wes Craven mulai kick-off, tapi langsung tersandung karena Matt dan Tyler seperti masih berkutat untuk keluar dari trope-trope franchise yang mestinya mereka examine. Melissa Barrera dan Jenna Ortega seharusnya sudah bisa lepas mewujudkan karakter mereka – and they did, mereka punya lebih banyak ruang kali ini karena ini pure cerita dari perspektif mereka – tapi dalam naskah, Tara dan Sam masih belum sepenuhnya ‘bebas’. Matt dan Tyler yang pada Scream lima membunuh Dewey, karakter original, kali ini seperti ragu-ragu dalam memperlakukan Gale, Kirby, dan yang lain. The elephant in the room adalah Sidney. Protagonis utama lima Scream sebelumnya, the face of Scream, tidak lagi muncul di film. Backstage, karena Neve Campbell tidak setuju dengan bayaran yang ditawarkan. Kita gak akan bahas gosip di luar film itu di sini, namun naskah Scream VI mau tidak mau harus nge-write off karakternya. Sidney memang ditulis ‘keluar’ dengan penuh hormat, disebut oleh karakter lain mengejar happy endingnya sendiri. Namun momen itu hanya terasa seperti throw-away, cari aman, di saat Mindy dalam monolog flm-nerdnya menyebut contoh-contoh karakter utama (di antaranya ada Luke Skywalker,  Laurie Strode di sekuel-sekuel original, Ripley di Aliens, dll) yang dibunuh demi jadi pijakan buat franchise bisa berkembang. Scream VI menyindir pembunuhan karakter tersebut dengan melakukan ‘pembunuhan karakter’ lewat aksi-aksi yang kurang konklusif, yang kurang impactful. Aku lebih suka gimana mereka nekat membunuh Dewey sebagai hook drama, ketimbang membuat para karakter legacy itu muncul untuk beraksi ala kadarnya. Kayak kalo di WWE, ada pegulat legend dibook cuma buat nongol di ring, dan menang atas superstar baru. Akan lebih impactful kalo legend itu dibuat kalah, karena dia bakal ngeboost status superstar muda yang mengalahkannya.

Tau gak kenapa film whodunit biasanya castnya bertabur bintang? Itu sebenarnya buat nutupin hal yang disebut dengan ‘hukum ekonomi karakter’. Karakter atau tokoh yang penting dalam sebuah film, pasti akan dimainkan oleh aktor yang lebih ‘bernama’. Jadi sebenarnya dari cast aja kita bisa tahu siapa yang jadi pelaku. Untuk menyamarkan itulah maka film-film whodunit sekalian aja makai cast yang ternama semua. Scream pushed this even further dengan membuat opening sequence sebagai kebiasaan naruh cameo-cameo bintang terkenal. Supaya surprise dan impact itu bisa tetap sekalian terjaga. Scream VI, dengan segala returning cast, anak baru, dan geng Core Four seperti tidak benar-benar berusaha. Bukan soal gampang ketebak atau apa, Scream lima masih Ghostface yang paling gampang tertebak buatku, tapi ini adalah soal gak ada impactnya. Pelaku di sini, meskipun masih punya kejutan, tapi basic banget. Motif pelaku yang kali ini tidak lagi peduli sama film-film, melainkan karena pure balas dendam juga membuat Scream VI nyaris balik ke thriller generik.

Dalam urusan sindiran meta, Scream VI unfortunately terasa tidak seimpactful pendahulunya. Bahasan ‘franchise’ memang dibreakdown rule-rulenya, tema ‘franchise adalah urusan keluarga’ juga memang mendarah daging sebagai konflik yang paralel antara protagonis kakak-beradik dengan antagonis, namun tidak terasa klik jadi statement yang wah dan memorable. Buatku, sindiran paling telak yang dipunya film ini lewat Ghostface yang sekarang tidak lagi peduli pada film dan rule-rule horor, adalah bahwa franchise modern juga seperti itu; not really care ama filmnya sendiri. Menurutku, film ini harusnya lebih mempertajam sindiran tersebut.

 

 




Aksi-aksi pembunuhannya memang lebih beringas. Ghostfacenya memang lebih nekat. Film kali ini definitely lebih ‘besar’. Tapi secara efek, terasa lebih jinak. Komentar meta yang jadi ciri khas film-film sebelumnya, terasa kurang nendang. Kurang dikejar oleh naskah. Cerita yang mau grounded dan mengarah ke bentukan elevated horror (horor modern yang mulai berisi seperti yang disinggung film pendahulunya) pun kurang nyampe karena film ini sendiri masih berkutat dengan nostalgia. Dalam proses itu, film ini jadi kehilangan taringnya. Statement soal franchise yang dimiliki film terasa kurang kuat karena film hanya seperti menghindar, tapi tanpa ngasih bentukan baru. Aku bisa suka dan menerima arahan baru yang ditawarkan, tapi dengan kecepatan dan bentuk seperti ini, bisa-bisa franchise thriller horor whodunit kesukaanku ini jadi bola salju beneran, Warnanya saja yang ntar berubah jadi merah darah. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SCREAM VI

 




That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang perkembangan franchise film di negara kita?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



BERBALAS KEJAM Review

 

“A man that studieth revenge, keeps his own wounds green, which otherwise would heal”

 

 

Amat sangat wajar kita menginginkan yang terburuk buat orang yang pernah nyakitin kita. Jangankan itu, ngeliat ada orang kasar/semena-mena di internet saja, kita semua akan lantas turun ‘merujak’ orang itu, menjemput paksa keadilan itu kepadanya. Kita semua pengen ikut mencicipi manisnya buah pembalasan. Gak heran makanya genre atau kisah revenge populer dalam perfilman.  Mulai dari Kill Bill hingga John Wick, perasaan puas lihat karakter kita mendapat keadilan, berhasil menuntut balas udah jadi kayak semacam candu. Kita dapat pelepasan emosi dari nonton film-film kayak gini. Tapi ada juga kisah balas-dendam yang menggali di balik kepuasan sesaat itu. Ya, karena balas dendam ‘mata untuk mata’ yang diterjemahkan sebagai pukul dan balas pukul sesungguhnya hanya akan membuat keadaan semakin terluka. Kalo kata Gandhi, ‘eye for an eye akan membuat dunia jadi buta’. Ada film-film yang membuat kita merasa gak-enak setelah merasa puas balas dendam. Film-film kayak Oldboy, misalnya. Teddy Soeriaatmadja yang dua tahun lalu nyobain riaknya genre thriller lewat Affliction (2021), kembali hadir dengan film yang cukup kelam tentang balas-dendam. Teddy ingin kita turut merasakan gimana balas-dendam memang memuaskan, tapi itu bukan jalan healing. Melainkan hanya akan membuat kita berada di posisi yang bahkan lebih buruk dari pelaku yang melakukan kejahatan itu in the first place.

Dua tahun lalu di hari ulang tahunnya, Adam dapat jam tangan baru. Namun ‘bayarannya’ berat. Adam harus kehilangan istri dan anak semata wayangnya. Tiga orang rampok masuk paksa ke dalam rumah. Menyikat harta, dan melukai keluarga Adam. Istri dan anaknya tewas. Jam tangan barunya tadi juga diembat. Kita gak sepenuhnya dikasih lihat gimana perampokan itu berakhir, asumsiku pihak rampok mundur teratur karena salah satu mereka juga terluka, dan ditangkap polisi. Yang jelas, Adam kini hidup segan, mati gak bisa. Oh dia berusaha bunuh diri. Gak sanggup. Kerjaan arsitek Adam jadi terbengkalai. Pikirannya cuma ke malam naas itu.  Mengulangi detik-detik terakhir keluarganya. Momen healing bagi Adam datang sebagian kecilnya dari sesi bersama psikiater muda bernama Amanda (yang membantu meringankan, meskipun Adam enggan mengakui), dan sebagian besarnya datang dari kesempatan untuk balas dendam langsung kepada ketiga rampok yang kini sudah hidup biasa seperti tanpa dosa.

Black… no, Dark Adam!

 

Biasanya plot cerita revenge melibatkan strategi nekat dari karakter. Gimana dendam itu ‘direncanakan’, protagonis kita akan bersiap dahulu untuk mengakali si penjahat. Dia akan tahu persis kapan dan di mana harus menyerang. Adam dalam Berbalas Kejam dimulai dengan langsung nekat, strateginya diskip. Ini yang bikin tindakan Adam lebih mencekat. Reza Rahadian paham kemelut karakternya pas Adam sadar supir ojek mobil onlinenya adalah salah satu dari pelaku perampokan/pembunuhan di rumahnya dulu. Reza mengerti bahwa momen itu adalah momen ‘split-second’ Adam musti ngambil tindakan di atas ketakutan dan traumanya. Sooo, he gives us some very convincing emotions dari seorang pria yang akhirnya mutusin buat membunuh itu. Dalam cerita revenge, momen first-kill protagonis merupakan momen penting, titik-balik dari protagonis entah itu dia orang yang pertama kali harus melakukan kekerasan/membunuh ataupun dia orang yang harus kembali ke kebiasaan lama yang ia tinggalkan. Setiap nonton revenge story, aku selalu memfokuskan pada momen ini. Buatku keberhasilan cerita balas-dendam bukan dari seberapa sadis atau puasnya, tapi dari seberapa monumental tindakan balas dendam itu bagi si karakter ini. Bagaimana itu mengubah dirinya. Reza sukses mendeliver momen titik-balik Adam. Untuk selanjutnya, dia juga memantapkan sikap Adam yang merasa sudah menyembuhkan depresinya. Dia sudah bisa nyusun rencana untuk menghabisi target. Untuk kemudian menjadi semakin kalut karena sekarang dia jadi buronan polisi.

Walaupun rasanya puas telah impas menyakiti orang yang nyakitin kita, balas dendam seperti itu tidak pernah benar-benar menyembuhkan derita. Karena dengan kita terus nyusun rencana untuk balas dendam beneran ataupun sekadar membayangkan skenario nyakitin balik, kita sama saja dengan mengingat derita yang mestinya kita move on tersebut. Tindak mendendam justru membuat kita terus membiarkan luka lama terbuka. Menjauhkan diri dari closure yang sebenarnya. Dan kita akan berakhir menyakiti diri sendiri. Seperti yang terjadi pada Adam.

 

But that’s on Reza. Gimana dia peka dalam mengikuti skrip, menciptakan karakternya dari sana. Berbalas Kejam, malahan bisa dibilang, terangkat oleh penampilan akting. Selain Reza, ada Laura Basuki, Yoga Pratama, Baim Wong yang berusaha ngasih something dari karakter mereka. Baim, seperti juga Reza, mengerti bahwa aspek penting dari karakter mereka adalah ‘transformasi’. Adam menjadi worse man karena tenggelam dalam balas dendam dan jadi pembunuh, sementara para perampok kini jadi manusia jujur – meninggalkan kerjaan kotor mereka. Or so they say. Baim membawakan karakternya dengan ‘mendua’ – antara beneran insaf, atau tetep jahat. Dan kita percaya pada keduanya sekaligus. Bagi Adam, karakter Baim memang jadi tantangan terakhir. Kedua aktor mengerti yang dilalui karakternya, dan kita dapatlah momen seperti Baim Wong nyukur rambutnya sampai botak. Sampai dirinya seperti ketika melakukan kejahatan di rumah Adam dulu itu. Transformasi mereka ini harusnya bisa lebih terasa jika film benar-benar menekankan ke sana. Bukan sekadar rambut panjang, brewok berantakan, atau sebagainya. Jejak derita pada tubuh seharusnya diperkuat. Baim got it easier karena karakternya memang jadi cacat sebelah mata. Karakternya yang supposedly sudah tobat, jadi malah semakin mengerikan. Reza, however, dibiarkan oleh film apa adanya. Hidupnya yang depresi dan harusnya makin sulit tidak tergambar dari fisiknya yang senantiasa segar bugar. Perubahan Adam secara mental yang dilakukan oleh akting Reza – orang ini berdiri mengancam sambil berlinang air mata! – tidak diimbangi oleh film yang membuatnya tetap prima dan kuat.

Aku merasa tidak banyak perbaikan atau peningkatan yang dilakukan Teddy dalam menggarap genre thriller ini sejak Affliction. Kelemahannya masih sama. Teddy tampak paham formula-formula cerita yang hendak ia sajikan, dan dia ngikut formula itu seaman-amannya. Kayak anak yang baru belajar masak mie, hanya ngikutin ‘cara membuat’ di bungkus bagian belakang.  Gak dikasih bumbu apa-apa. Gak dimasukin telur karena di situ tak tertulis tambahkan telur. Hasilnya Berbalas Kejam terasa fit in the mold, tapi generik sekali. Dia tahu first-kill itu penting dan emosional bagi karakter Adam, tapi kameranya merekam dengan datar. Tidak meng-convey perasaan itu. Dia tahu great revenge story punya aksi yang menyimbolkan ‘mata dibalas mata’, maka kita dapat bentuk pembunuhan unik saat Adam menggunakan knalpot dan bikin struktur pipa sebagai balasan anaknya yang mati tercekik. Namun adegan kematiannya tidak direkam intens. Ketegangan malah pada adegan berantem sebelum Adam bisa menaklukkan perampok. Adegan berantem yang generik dan stake/rintangannya kecil buat Adam. Aku merasa adegan-adegan Adam membunuh itu diniatkan untuk kita merasa dua sekaligus, puas melihat Adam berhasil, sekaligus ngeri karena dia telah jadi sama atau malah lebih kejam. Dan yang kita lihat, sama sekali tidak mengesankan itu.

Also aneh buatku mata kirinya buta tapi menoleh ke kiri

 

Film ini berangkat dari banyak ide bagus. Kayak, gimana kalo supir ojek online kita ternyata adalah orang yang dulu pernah jahatin kita. Atau gimana kalo orang yang udah bikin hidup kita hancur, ternyata jadi calon keluarga kita yang baru. Eksekusi ide-ide itu saja yang kurang eksplorasi sehingga hasil film ini tetap terasa masih generik. Sepanjang nonton, yang disuguhkan film ini terasa kayak udah pernah kita tahu sebelumnya. Arahan film pun tidak terasa aktif dalam menghadirkan thriller yang distinctive. Aku mengira mungkin karena Teddy memang lebih nyaman di drama. Pada hubungan antarkarakter. Maka aku akhirnya menoleh ke sana. Ke hubungan Adam dengan karakter lain. Nothing. Berbalas Kejam memang banyak karakter pendukung, orang-orang di kehidupan Adam, tapi gak ada hubungan yang genuinely terbangun. Selain dengan antagonis yang hanya di momen akhir, hubungan Adam dengan rekan kerja, dengan polisi yang nyelediki, tidak terasa urgen sama sekali. Mungkin film memang ingin nunjukin betapa terputusnya Adam karena depresi, trauma, dan mendendam. Tapi bahkan dengan love interest barunya, hubungan Adam terasa sekenanya. Malahan, ketika film masuk membahas romansa Adam dengan karakter Laura Basuki, tone film jadi seperti cringe. Kayak cinta cengengesan doang. Terlalu jauh gap antara elemen thriller dengan romance mereka. Romance yang terasa dipaksakan. Mereka harus jadi couple karena berkaitan dengan punchline plot. Dan cuma itu yang dipedulikan oleh film ini. Punchline kita pasti shocker banget! 

Baru-baru ini Quentin Tarantino ngedumel soal adegan bercinta sebenarnya gak penting-penting amat ada di berbagai film. Berbalas Kejam bisa dijadikan contoh teranyar dari pendapat Tarantino tersebut. Supaya kita bisa instantly percaya Adam dan Amanda jatuh cinta, mereka pasangan, maka film kasih adegan ranjang. Padahal gak ngaruh juga. Hubungan mereka tetap terasa hambar, Harusnya ya film invest banyak buat build up hubungan karakter. Bukan invest ke adegan-adegan bunuh, yang gak benar-benar keren. Jika dalam cerita Adam gak punya hidup sejak istri dan anaknya tewas, maka karakter-karakter lain di film ini juga terkesan never really lived. Naskah bener-bener batasi penggalian dan fokus ke kejadian saja. Si Polisi yang keliatan pintar, misalnya. Tetap aksinya lamban dan doing weird thing demi Amanda bisa terlihat lebih berperan. Like, polisi ini udah tahu tiga sekawan perampok dibunuhi satu persatu, sudah dua yang mati, tapi langkah mereka berikutnya adalah nanya ke Amanda. Ke psikiater yang mereka sama-sama tau punya kode etik. Kenapa gak langsung nyari keberadaan perampok ketiga. I mean, bayangkan kalo film berbelok jadi memuat polisi berusaha melindungi mantan kriminal yang kini sedang diincar oleh seorang sipil yang diduga beraksi nekat karena dendam. Bukan hanya it would make some interesting confrontations, tapi juga benar-benar membuat para karakter melakukan aksi yang ‘logis’ sebagaimana real people bertindak. Tidak membuat mereka ada di sana seadanya aja.

Servant Season 4 yang di Apple TV+ juga punya cerita yang berpusat pada karakter yang bertransformasi karena ingin balas dendam selama ini dikejar-kejar. Menghasilkan penutup yang seru dan kuat sekali elemen psikologikal thrillernya. Bagi kalian yang ingin nonton, bisa langsung langganan Apple TV+ lewat link ini yaa https://apple.co/40MNvdM

Get it on Apple TV

 

 




Cerita tentang revenge seseorang yang kehilangan begitu banyak melimpah di luar sana. Setiap dari mereka punya keunikan, misalnya adegan yang sadis, style yang oke, karakter yang bikin meringis, Film terbaru Teddy Soeriaatmadja aims so low padahal punya beberapa ide yang bisa menarik dikembangkan. Padahal punya penampil-penampil terluwes di kancah perfilman kita. Sangat disayangkan film ini jatohnya amat sangat generik. Selain itu, tone ceritanya juga berpindah dengan weird. Dari dark dan depressing, film ini bisa jadi sangat cheesy begitu menyentuh ranah romance. Aku gak mau tampak kejam, tapi apa boleh buat
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for BERBALAS KEJAM




 

That’s all we have for now.

Menurut kalian ada gak sih cara balas dendam yang ‘sehat’?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



INSIDE Review

 

“The art challenges the technology, and the technology inspires the art”

 

 

Tentu saja kita akan menyelamatkan seni.  Like, para sinefil di Twitter bilang mereka menjaga kemurnian sinema. Para kritikus mengulas film supaya orang-orang bisa melihat film dari nilai seninya, bukan hiburan semata. Nemo di film Inside ini bilang dia bakal menyelamatkan sketchbooknya dibanding kucing, koleksi CD, atau bahkan orangtuanya, kalo rumahnya kebakaran. Dengan alasan yang bisa kumengerti mengingat akupun biasanya mengangkut buku sketsa ketimbang pakaian kalo hendak bepergian. Takut ketinggalan. Kita begitu menjaga seni karena we all are decent and sophisticated human being, after all. Kita merasa seni itu berharga. Kita tahu seni itu berharga. Jikapun tidak, at least kita bisa menghitung seni laku dijual dengan harga tinggi. Tapi, apakah sebaliknya, seni dapat menyelamatkan kita? Jika seperti Nemo, kita terperangkap di rumah orang kaya yang penuh barang seni, bisakah kita bertahan hidup dengan mengandalkan barang-barang bervalue tinggi tersebut? Begitulah premis thriller ruang tertutup karya Vasilis Katsoupis ini. Bukan hanya soal terperangkap dan bertahan hidup, melainkan menekankan pada telaah seberapa besar sebenarnya value interaksi sosial, teknologi, dan juga seni pada hidup kita.

Nemo yang kusebut tadi adalah protagonis cerita. Lantaran sejak kecil sudah menghargai seni, Nemo kini tumbuh menjadi pencuri, spesialis barang-barang seni. Penthouse mewah jadi sasarannya kali ini. Nemo menyusup lewat balkon dan berhasil menggasak beberapa lukisan, sebelum langkahnya terhenti oleh sistem keamanan. Nemo terperangkap, semua akses terkunci, dia gak bisa kabur. Tapi nasib Nemo bakal lebih buruk daripada tertangkap polisi. Penthouse itu ditinggal untuk waktu yang lama sehingga hanya ada sedikit sekali makanan di sana. Gas dan air tidak menyala sama sekali. Opsi yang terbatas banget itu diperparah oleh sistem suhu yang secara random bikin cuaca di dalam sana berubah dari panas ke dingin ekstrem. Nemo harus menggunakan akalnya untuk menciptakan sendiri jalan keluar, sembari mikirin cara buat bertahan hidup. Sebab semakin lama di sana, fisik dan mentalnya jelas semakin berkurang.

Relate banget nonton siang-siang pas bulan puasa; kebayang rasanya haus sampai pengen jilat bunga es di kulkas

 

Desain produksi film ini really did a great job untuk menunjang ide menarik yang disajikan. Penthouse yang berisi barang-barang mewah itu di satu sisi berhasil dihadirkan begitu classy dan memikat kayak isi dalam sebuah spaceship mutakhir, tapi di sisi lain juga terasa benar-benar cuek, dingin, persis kayak anak tajir komplek yang sombong abis. Kita akan ikut bersama Nemo ‘mempelajari’ apa-apa saja yang bisa dilakukan oleh tempat itu. Sebagian dari mereka ada pajangan seni, yang gak dicolong Nemo akan tergantung di dinding melengkapi dinginnya tembok. Sebagian lagi adalah benda-benda yang akan diutak-atik oleh Nemo, dijadikan alat untuk survive. Mulai dari akuarium hingga bak mandi super besar sehingga kayak kolam kecil sendiri, semua benda yang kita lihat akan digunakan dalam cerita. Akan ada ‘fungsinya’ masing-masing bagi Nemo. Jadi, menariknya film ini memang datang dari gimana Nemo berusaha survive dengan alat seadanya. Yang ironisnya adalah, alat-alat itu sebenarnya jauh dari ‘seadanya’, karena mereka alat-alat canggih, namun tetap saja alat-alat itu gak bisa membantu Nemo yang terperangkap, kecuali Nemo berhasil memikirkan cara untuk membuat mereka menjadi something else. Di paruh akhir, film juga menawarkan sedikit ‘misteri’. Lukisan self-portrait yang jadi alasan utama Nemo mencuri ke sini, ternyata tidak tergantung pada tempatnya, melainkan ada di suatu ruangan yang lain. Sebuah ruangan rahasia. Film lantas masuk ke ranah vibe yang lebih dreamy dan sureal, dan ini selaras state of mind Nemo yang juga mulai – katakanlah – sinting.

Penthouse itu memang lantas menjelma jadi simbol-simbol yang memfasilitasi gagasan cerita, soal seni dan teknologi bagi manusia. Buat Nemo, dua value ini seperti bertentangan. Menurutnya orang kaya hanya melihat seni sebagai uang, dan mereka gak pantas untuk uang tersebut karena gak tau value yang sebenarnya. So he steals them. Tapi langkah Nemo terhenti oleh teknologi canggih yang didapat dari uang. Terjebak dalam penthouse itu sesungguhnya jadi pengalaman yang nyaris seperti spiritual bagi Nemo, karena dia jadi dapat melihat value seni dan teknologi sebenarnya bergantung pada manusianya.

Jika teknologi adalah Tuhan, dan seni adalah Dewa, maka Nemo menolak menjadi boneka. Nemo adalah pendosa yang menghancurkan semua dan membuat sesuatu yang baru dari mereka. Sesuatu yang akan membuatnya mencapai surga.

 

Dengan durasi nyaris seratus menit, film ini memang berjalan agak lambat. Tapi film tidak hadir dengan total nada filosofis, tidak berat, justru tampak beberapa kali berusaha menjadikan tonenya ringan. Tentu, bisa dibilang dirinya sendiri adalah film seni, tapi kupikir, penonton casual masih akan bisa menikmati film ini. Shot-shotnya yang intens akan diimbangi oleh usaha-usaha dan kegiatan Nemo di dalam sana. Akan ‘dilunakkan’ oleh elemen-elemen yang dipilih oleh film untuk menyimbolkan gagasan. Misalnya, lagu Macarena. Kan receh tuh, lagunya hahaha… Jadi kulkas di rumah ini akan memainkan lagu Macarena setiap kali pintunya terbuka lebih dari beberapa detik, sebagai semacam alarm untuk menutup pintu kulkas. Like, biasanya kan kita masang musik yang paling annoying sebagai alarm, supaya bisa cepat terbangun (buat matiin musik tersebut). Jadi sebenarnya masang Macarena buat ngingetin kulkas – tempat menyimpan makanan dan minuman biar selalu dingin dan segar – itu adalah statement dari si orang kaya pemilik penthouse bahwa itu lagu lowclass. Kami tidak mendengar lagu itu di rumah ini. Kocaknya, si Nemo yang selera seninya tinggi itu awalnya juga terganggu sama lagu Macarena. Tapi lama-kelamaan dia malah suka lagunya. Semacam kayak adegan kocak Emma Stone di Easy A (2010) yang jadi suka sama lagu “pocket full of sunshine” dari kartu yang dikirim neneknya. Kulkas akhirnya dibiarin terbuka oleh Nemo. Dia ikut berdendang sembari merasakan aura dingin kulkas bikin adem ruangan. Nah, adegan Nemo dan Macarena itu seems to indicate bahwa kita tu ya kadang terlalu berpura-pura. Setinggi apapun kita value art, tapi kalo asalnya selera kita receh, ya receh aja. Kita boleh kok suka receh, sambil tetap bisa ngehargain mana yang bagus.

Gagasan-gagasan, komentar-komentar yang dikandung tersebut sebenarnya enggak berjalan semulus itu ketika digabungkan sutradara ke dalam satu narasi. Inside tidak tertampil semenarik hal yang ia bicarakan. Tempo yang lambat itu jadi lebih condong ke membosankan lantaran momen-momen Nemo mencoba survive terasa dipanjang-panjangkan reaksinya. Nemo meringkuk setelah gagal, misalnya, feelingnya kena mendalam, tapi kita gak perlu sering-sering melihat ini. Simbol-simbol itu jadi menghalangi kita dari Nemo sebagai person. Membuat film jadi dingin. Film harusnya lebih menekankan kepada si manusia, yang berusaha bikin art dalam keadaan terdesak, only to realize art itu gak actually bisa langsung membantunya. Momen-momen seperti Nemo ngarang cerita/nama dari orang-orang di apartemen bawah yang ia tonton di CCTV – gimana dia jadi ngerasa punya koneksi dengan si cleaning lady, momen Nemo pretending dia sedang suting acara masak, mestinya momen-momen itu yang dibanyakin. Supaya kita tetap diikatnya ke personal karakter, karena bagaimana pun juga ini kan cerita tentang manusia yang terperangkap. Hati cerita bisa lebih kena kalo fokusnya di Nemo sebagai manusia.

Tagline film ini bisa diartikan jadi ‘Sebuah pagelaran sepi”

 

Lagian, udah dapat aktor sekelas Willem Dafoe, ya gak maksimal dong kalo enggak banyak dikasih momen-momen yang ‘edan’. Dafoe di sini, monolognya aja keren banget. Aku nunggu-nunggu Nemo mau ‘ngayal’ apa lagi, karena pengen lihat delivery Dafoe. Gimana dia ngetackle perasaan sepi dan hopeless yang makin besar menggerogoti karakternya ini. Moralnya terus ditantang. Lihat aja pas akhirnya dia harus makan ikan hias di akuarium. Selain itu, Dafoe juga harus akting fisik. Nemo yang cakap dengan perkakas gradually makin lemah, dia terluka. Intensitas fisik setiap tantangan yang Nemo lalui berhasil terdeliver oleh Dafoe. Inside ini memang jadi show dirinya sendiri. Dafoe bisa dibilang perfect buat mainin Nemo, tapi film ini seperti terlalu bergantung kepada itu. Dan malah jadi sedikit kekurangan. Kenapa? Karena ini cerita tentang orang terperangkap, yang tentunya makin hari kegilaan semakin naik. Orang yang makin embrace sisi barbar dirinya. Itu transformasi Nemo secara garis besar. Dan transformasi itu kurang nendang pada Willem Dafoe yang udah sering imagenya ke karakter semacam somekind of a psycho. Kurang nendang karena kita sudah expected itu sedari awal melihat dirinya.  Fisiknya juga udah ‘renta’ sedari awal. Willem Dafoe meranin dengan sangat baik, tapi jadi tidak ada ‘surprise’, sehingga aku ngerasa mungkin bisa lebih nendang kalo saat dijadikan Nemo ini, si Dafoe imagenya atau at least penampilan karakternya dibikin lebih sophisticated dulu, supaya efek karakter yang menjadi ‘gila’nya lebih kerasa.

 

Inside berakhir dengan open-ended. Namun untuk spoiler; teoriku soal ending adalah Nemo akhirnya mati terjun dari rooftop. Karena aku ngerasa journey Nemo bukan hanya soal dia keluar dari penthouse tapi juga soal dia membebaskan diri dari pandangannya. Pengalamannya di dalam sana menyadarkan dia bahwa dia memandang seni sama seperti si orang kaya memandang teknologi. Nemo gak mau jadi boneka. Jadi dia menghancurkan semua dan membuat karya seni terakhir sebagai alat untuk membebaskan jiwa. Nemo damai setelah berhasil melakukan semuanya.

Dengan ini, berarti dua kali dalam sehari ini aku nonton cerita yang tempat/rumahnya benar-benar dijadikan karakter dan juga melibatkan karakter yang bunuh diri di lantai atas. Film Inside ini, dan season terakhir serial Servant. Gila serial itu ternyata punya konklusi yang benar-benar kuat elemen psychological thrillernya. Kalian bisa nonton serial itu, full di Apple TV+. Buat yang mau langganan, bisa klik dari sini sajaaa https://apple.co/40MNvdM 

Get it on Apple TV

 

 




Rasanya udah cukup lama juga gak sih, ada film yang kayak gini? Padahal sebenarnya aku lebih suka film tertutup dan simbolis kayak gini ketimbang film-film universe yang gede-gede banget. Karena biasanya film kayak gini karakternya lebih mudah terkoneksi pada kita, lewat cerita perjuangan yang lebih personal. Film ini punya itu semua, ditambah pula dengan aktor yang sepertinya perfect buat role ini. Kita hanya butuh film ini melakukan hal-hal itu dengan lebih banyak lagi, lebih difokuskan lagi. Soalnya film ini agak terlalu menekankan kepada apa yang harus dilakukan karakternya, ketimbang si karakter itu sendiri. Dengan fokus pada kejadian, sedangkan temponya lambat dan lebih tepat pada cerita yang berfokus pada karakter, nonton film ini jadi terasa agak membosankan, agak repetitif. Seakan kita pengen memotong dan mempersingkatnya sendiri. Salah satu bukti film ini mengalihkan kita dari karakter karena terlalu ke kejadian adalah transformasi si karakter itu tidak terasa benar-benar nendang.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for INSIDE

 




That’s all we have for now.

Apakah teknologi bisa disebut sebagai sebuah seni?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



TETRIS Review

 

“Under capitalism, man exploits man. Under communism, it’s just the opposite”

 

 

Video game seringkali sama seperti film, dalam hal, yang simpel yang justru meledak dan digandrungi orang. Game-game kayak Flappy Bird, Pac-Man, Among Us, gak punya grafis hyper-realistis, gak pakai mekanik dan konsep gameplay yang ribet. Tombol inputnya sederhana. Tapi begitu addictive sehingga jadilah merakyat. Kalo mau menarik ke belakang, kita akan menemukan Tetris. Yang sudah booming sejak penciptaannya, tahun 1984. Tetris menjadi game paling banyak terjual kedua setelah Mario, padahal game itu isinya cuma balok-balok yang bisa kita puter-puter untuk disusun. Kita mendapat skor kalo berhasil menyusun balok dalam satu garis; membuatnya balok-balok itu menghilang – menyisakan tempat untuk jatuhan balok berikutnya yang harus kita susun. Aku masih ingat waktu kecil, ngerasa heran kok tumben orangtuaku mau membelikan Nintendo (padahal biasanya beliin mainin robot-robotan aja pelit). Dan itu ternyata bukan karena mereka mau memanjakanku dengan Mario, tapi karena mereka pengen main Tetris!! Ya, bahkan di kota kecilku saja, Tetris populer, walau datang agak telat rupanya di tahun 90an. Tua muda mainin Tetris, gimbotnya yang bisa bersuara ngebego-begoin pemain pun laku di toko-toko. Baru setelah nonton Tetris karya Jon S. Baird di Apple TV+ ini aku kepikiran, gimbot-gimbot tetris itu kemungkinan palsu semua. Karena memang, ternyata masalah lisensi Tetris amat sangat pelik. Tetris memang bukan kayak Mario Bros; bukan game petualangan yang punya cerita. Jadi make sense kalo film tentang game ini, bakal bercerita tentang kejadian seputar pembuatannya instead. Tentang perebutan hak jual dan lisensi pembuatan. Sayangnya Baird, lupa bahwa seringkali hal yang simpel yang justru meledak. Dalam usahanya bikin game tetris jadi bahasan film yang menarik, Baird bablas membesar-besarkan banyak hal. Dia berusaha menjual peliknya masalah lisensi dengan terlalu berlebihan, unnecessarily, sehingga hal-hal grounded dari ceritanya tertutupi.

Drama dan konflik itu sebenarnya sudah ada di sana. Game Tetris diciptakan oleh seorang karyawan di Rusia, basically sebagai distraksi dari kejenuhan di kantor. Tapi game tersebut jadi popular, kalo zaman sekarang mungkin udah viral. Alexey, si pembuat, itu gak bisa claim tetris sebagai miliknya, karena sistem komunis yang dianut Rusia menyatakan setiap properti rakyat adalah milik negara. Sehingga kopian tetris menyebar liar. Salah satunya sampai ke Las Vegas. Tempat pertama kali tokoh utama kita, Henk Rogers seorang desainer video game, memainkannya. Dan langsung jatuh cinta. Blok-bloknya kebayang terus, kata Henk. Jadi mulailah Henk mencari lisensi untuk menjual game ini ke Nintendo. Dalam proses tersebut ada banyak ‘pemain’ yang terlibat, developer dan pengusaha-pengusaha yang jelas bukan orang suci. Henk eventually memang harus ke Rusia, dan berurusan dengan aturan ketat – dan also orang-orang berbahaya – di sana demi mendapatkan lisensi. Udah kayak ‘perang’ antarnegara saja nanti di sana, Amerika, Jepang, Rusia saling berebut hak menjual dan memproduksi Tetris across multiple platforms seperti komputer, arcade, dan handheld. Jika gagal, Henk dan keluarga akan kehilangan rumah karena Henk telah mempertaruhkan semua yang ia punya untuk game yang sangat ia percaya bakal bisa sukses tersebut.

Siapa sangka game tetris ternyata berhubungan sama Cold War

 

Aspek karakter yang membuat cerita ini membumi adalah persoalan Henk Rogers yang mempertaruhkan semua untuk hal yang ia percaya. Yang menyangkut persoalan keluarganya juga, Henk dibikin sebagai tipe ayah yang terlalu sibuk ngurusin pekerjaan sehingga bukan saja melupakan kebutuhan anaknya, dia juga membuat mereka bisa terserempet bahaya. Ini sebenarnya klise, tapi toh memang dibutuhkan supaya karakter Henk bisa berimbang, supaya kita gak melulu melihatnya sebagai salesman yang ngincar cuan. Ini membuat karakter Henk juga dilihat dalam cahaya seorang ayah. Taron Egerton ngasih pesona ‘nice man’ khusus buat karakter ini. Kadang dia bisa tampak sebagai bisnisman yang berani ambil resiko, kadang dia terlihat sebagai fan garis keras. Terutama ketika nanti Henk bertemu dengan Alexey. Actually, persahabatan yang perlahan terjalin antara Henk dengan Alexey juga bakal jadi hati yang mendaratkan cerita. Dua pria dari negara dan dibesarkan oleh prinsip berbeda, tapi mutual berkat kesamaan respek terhadap ide dan karya. Nikita Efremov sebagai Alexey buatku kayak sama aja jadi tokoh utama karena karakter ini juga mempertaruhkan banyak. Dia punya kehidupan rahasia, yang kalo ketahuan sama negaranya, bakal membuat dia game over. Mestinya film berkutat di relasi kedua orang ini saja. Like, cerita bisa sederhana dari sini saja. Pandangan komunis dan kapitalis bisa diwakilkan oleh interaksi mereka.

Tapi film lebih tertarik menjadikan cerita mereka sebagai landasan dari thriller negara/politik. Maksudnya sih ya, biar seru. Speaking in a tetris’ term; film terus membolak-balik ‘blok-blok’, berusaha memasukkannya menjadi bangunan semacam spy action, dengan literally karakter-karakter yang berubah dari ‘baik ‘ke ‘jahat’ for the sake of bikin mirip kayak thriller serius, dan bahkan di babak ketiga ada kejar-kejaran mobil hingga ke bandara segala. Film memperlakukan setiap chapter ceritanya sebagai literally ‘level’ dalam video game. Yakni setiap level harus menyajikan tantangan yang semakin susah untuk karakter. Konsep yang secara esensi memang benar, karena film memang harus menaikkan rintangan dan stake. Hanya saja dalam Tetris, konsep itu membuat film berubah tidak lagi tentang karakter dan pilihan mereka, melainkan jadi ke kejadian-kejadian yang terus diperbesar. Cerita yang diangkat dari sejarah memang tidak mesti harus sama dengan kejadian nyata; boleh saja diberikan exaggeration.  Tetris, however, menjadikan kisah perebutan game tetris menjadi lebih sensasional, menjadi terlalu bergaya Hollywood, dan dalam prosesnya menjadikan karakternya jadi seperti satu-dimensi. Perebutan lisensi tersebut jadi terlalu ribet untuk diikuti, kita jadi tidak meresapi apa efek ini semua kepada karakter. Apakah mereka pilihan mereka benar atau salah. Momen-momen dramatis tidak terasa, tertutupi oleh momen-momen sensasional antara kapitalis versus komunis.

Baik prinsip kapitalis maupun komunis, sebenarnya sama saja. Yang satu memperbolehkan satu pihak memakan yang lain dalam persaingan, yang satunya menggembleng pihak-pihak untuk rela dimakan demi pihak penguasa, Film Tetris meski memang punya resolusi ke arah anti komunis, tapi dalam penceritaannya menyentuh ground yang cukup seimbang. Mutual respek yang terjalin antara Henk dan Alexey adalah bentuk dari ground seimbang tersebut. Jawaban dari film tentang mana prinsip yang lebih baik

 

Sekuel Tetris haruslah tentang Henk yang keturunan Belanda dan Indonesia mudik dan mendapati banyak gimbot tetris ilegal yang bisa meledek pemainnya

 

Film melakukan itu semua untuk cerita yang kita semua sudah tahu endingnya gimana. Tetris toh memang bakal jadi properti Nintendo dan meledak. Action dan sensasi thriller itu jadi pointless, kecuali film mau mengubah juga endingnya. Tapi kan, tidak. Aku sih lebih prefer cerita yang sederhana dan fokus ke karakter, ke development karakter. Karena memang segrounded itulah film ini dipersembahkan pada saat set up. Action di akhir itu tidak pernah ditanem vibenya di sepuluh menit awal. Film ini saja yang tau-tau berubah menjadi action supaya babak finalnya seru. Menit-menit awal sebenarnya penuh narasi eksposisi. Yang supaya menarik, dilakukan oleh film dengan animasi pixel 8-bit ala video game jadul. Mereka menerangkan jalur distribusi game, para karakter, dan segala macem hingga transisi ‘level’ lewat animasi ini. Visual yang keren, sebenarnya. Apalagi aku memang suka banget sama game-game pixel. Jadi menonton semua itu terasa menghibur, meskipun memang animasi yang mereka lakukan itu tidak ada hubungan langsung dengan game tetris selain dari era yang sama. Film juga menggunakan banyak istilah game jadul – dilakukan lewat Henk berusaha pitching idenya ke orang Nintendo di Jepang – yang bikin kita tambah kesengsem terjerat nostalgia. Momen-momen itu terasa menghibur, gak bikin eksposisi menjadi bosenin, dan yang terpenting tidak mengganggu karakter. Melainkan muncul sejalan dengan mereka. Tidak seperti bagian perebutan lisensi yang completely chaos dan kita hanya menyaksikan kejadian-kejadian betapa susah dan berbahaya berurusan dengan komunis/Rusia.

Film ini ekslusif tayang di Apple TV+, kalo kalian tertarik atau pengen nostalgia sambil pengen tahu cerita di balik game tetris yang populer itu, bisa langsung klik ke  https://apple.co/3nhEOdf untuk langganan platformnya (ada jatah free untuk tujuh hari!)

Get it on Apple TV

 

 




Kalo dibilang kecewa, sih ya aku cukup kecewa. Karena aku udah seneng film ini tidak mengadaptasi game tetris dengan memaksanya menjadi ‘cerita petualangan di dunia tetris’. Melainkan mengambil aspek menarik dari kisah/sejarah keberadaan game ini dan membuat cerita drama berdasarkan kisah nyata tersebut. Tapi ujung-ujungnya film ini tetap jadi ‘petualangan’ ala kartun, dengan elemen yang dibikin overly sensational. Memang, cukup beralasan membuatnya begini. At least, cerita jadi seru dan gampang disukai ketimbang jadi drama karakter yang berat. Hanya saja film melakukan itu membuat cerita jadi kehilangan karakter dan stake dramatis mereka. Serta tidak disetup properly, cerita bergulir terlalu lama sebelum masuk ke inti seperti apa film ingin dirinya tertampilkan. Dengan kata lain, penceritaannya saja yang kurang tepat. Kayak kalo main tetris, ada space untuk blok kotak, tapi kita malah masukin blok yang panjang. “Begok, lu!” kata tetrisku kemudian..
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for TETRIS

 




That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang capitalism versus communism, siapa yang lebih baik?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA


DUNGEONS & DRAGONS: HONOR AMONG THIEVES Review

 

“The only person that was ever holding you back was yourself”

 

 

Dalam budaya ‘nerd’, Dungeons & Dragons – ngetrennya disingkat jadi D&D – adalah legend. Banyak yang menyebutnya sebagai cikal bakal role-play dalam dunia permainan. Menginspirasi begitu banyak game fantasi dengan konsep-konsep seperti job-class, magic, experience point, dan istilah-istilah petualangan lainnya. Padahal aslinya D&D permainan sederhana. Dimainkan oleh sekelompok orang, yang istilahnya mengkhayal menjadi karakter tertentu. Membangun cerita dan kehidupan karakter itu. Lantas melakukan aksi apapun yang ia mau, sesuai kocokan dadu. Petualangan pun dilakukan dengan dipandu oleh Dungeon Master yang menceritakan dunia khayal mereka dengan lengkap. Itulah pesona dari permainan ini; kebebasan storytelling. Petualangan ajaib, powered by our shared fantasies.  Telah banyak yang mengadaptasi D&D dalam berbagai rupa. Diekspand menjadi seri video game khusus, diadaptasi jadi kartu, film seri, konsepnya juga telah berkali-kali muncul dalam pop culture, seperti yang kita saksikan di Stranger Things atau Community, permainan ini jadi hobi atau dimainkan oleh karakter. Karya John Francis Daley dan Jonathan Goldstein kali ini actually adalah kali keempat D&D jadi film layar lebar. Dan ini adalah kesempatan mereka untuk membuat yang unik, yang beda dari yang sudah-sudah. Membuatnya jadi kayak orang main D&D beneran – saat satu karakter tertampil jadi karakter dalam permainan – tampaknya akan jadi mirip dengan konsep di film Jumanji versi The Rock. Jadi, John dan Jonathan harus mikirin cara lain. Guess what? Mereka membuat D&D ini sebagai cerita heist di dunia fantasi, ala Marvel!

Aku suka setting fantasinya, sih. Karakter-karakternya masih sesuai dengan job-class masing-masing. Ada yang penyihir, ada yang warrior, ada druid yang bisa berubah jadi hewan. Protagonis utama kita actually seorang bard, pemusik.  Di sini disebutnya Harper. Tapi perannya dalam kelompok sebagai strategist. Dan kelompok mereka, adalah kelompok pencuri. Dari sinilah tertanam kuat arahan buat jadi cerita heist itu. Jadi setelah kematian istrinya di tangan Penyihir Merah Thay, Edgin si Harper nyari nafkah untuk anak perempuannya lewat nyolong dari orang-orang kaya yang culas. Dia beraksi bersama kelompoknya. Bagaimana mereka bertemu, kita tak tahu karena masalah ini actually disajikan lewat montase eksposisi. Cerita justru mulai berjalan dua tahun setelah Ed, dan rekannya, Holga si wanita perkasa tertangkap dan dipenjara. Ed dan Holga kabur dari penjara, bermaksud menemui kembali putrinya yang dititipkan kepada Forge si Con-man. Tapi yah, namanya juga penipu, Forge sekarang telah menjadi orang kaya culas – telah menjadi musuh. Putri Ed dimanipulasi untuk membenci ayahnya. Maka, Ed dan Holga kini harus ‘mencuri’ dari si Forge, dan it’s not gonna be easy karena Forge punya pasukan dan penyihir.  Ed dan Holga harus mengumpulkan kembali anggota guna menyusup ke kota Forge. Persis kayak cerita film-film heist, kan? Yeah. Ugh.

Bukan role-play yang itu loh yaa

 

Look, I know, ketidaktertarikanku sama genre heist beserta trope-trope usangnya tidak lantas menjadikan film ini auto-jele. Untuk urusan fantasi, kedua sutradara toh memang punya arahan yang seru. Adegan-adegan aksinya tampak berbeda, keunikan karakter dimainkan dengan kuat semua. Mulai dari Holga menghajar orang-orang hingga party protagonis kita bahu-membahu melawan naga overweight, semuanya terhampar penuh energi dan fresh. It also looks very good, efek serta editing gak terlihat choppy. Mulus-mulus aja. Buktinya, adegan panjang ketika Doric si Druid yang lagi nguping penyihir jahat dalam wujud lalat terus ketahuan itu, tampak benar-benar seru dan intens. Dia akan dikejar oleh pasukan dan si penyihir, dan kita melihat dia berusaha kabur dengan berubah menjadi berbagai macam hewan, dan kamera dengan dinamis tetap mempertahankan perspektif kita lekat dengannya, sehingga jadi seolah kita turut kabur bersama. Desain karakter dan makhluk-makhluk pun tampak sama kerennya. Film ini bekerja efektif dalam membangun dunia panggung cerita.

Development karakter dalam ceritanya pun berasa. Seperti tiang penyangga pada sebuah bangunan berdesain unik yang heboh, kokoh membuatnya semuanya tetap berdiri. In a true game D&D fashion, masing-masing karakter di sini dirancang sebagai orang dengan spesifik skill, dan cuma itu yang mereka punya. Cuma skill itu yang mendefine mereka. Rancangan yang sesungguhnya merupakan ground yang risky, karena bisa membuat karakter jadi satu dimensi. Film ini justru mengembrace itu. Keterbatasan kemampuan, membuat karakter jadi harus bergerak dalam kelompok. Tempat di mana masing-masing mereka jadi bersinar karena saling melengkapi. Keterbatasan itu juga dijadikan hook dramatis. Bahwa mereka ini jadi bercela karenanya, beberapa dari mereka merasa worthless karena mereka bahkan belum benar-benar jago dalam melakukan satu hal yang define them. Penyihir yang gak ahli magic. Tukang bikin siasat yang bikin rencana muter-muter. Gagasan film soal seringkali kita terhambat justru oleh diri kita sendiri, masuk dari sini. Ed dan karakter lain akan belajar untuk mengakui kekurangan sendiri, dan bagaimana untuk tidak menjadikannya sebagai kelemahan, justru sebagai kekuatan. Apa yang dilakukan Ed pada benda pusaka, demi putrinya, di akhir cerita benar-benar menutup plot karakternya dengan manis.

Kita menyebutnya overthinking. Kita memilih untuk tidak mengejar sesuatu karena banyak mikir seperti bukan untuk kita, banyak yang lebih jago, waktunya gak tepat, dan sebagainya. Sering kita kalah sebelum bertanding seperti ini karena berpikir kita not good enough. Padahal, seperti yang ditunjukkan karakter film ini, justru pikiran kita itu yang jadi satu-satunya hambatan. Ternyata kita boleh jadi cuma selangkah dari sukses. Kita bisa melakukan apapun, jika percaya kita bisa melakukannya.

 

Gagasan kita bisa melakukan apapun, if we put our mind into it, sepertinya ditelan mentah-mentah bahkan oleh film ini sendiri. Kisah petualangan fantasi seperti ini memang paling cocok diceritakan ringan dan penuh hiburan. Dan film tepat berpikir mereka harus jadi se-ringan superhero Marvel. Yang salahnya adalah, mereka justru menjadi superhero Marvel. Mereka bahkan basically recreated adegan Hulk dan Loki di Avengers. D&D Honor Among Thieves mengakui kelemahan desainnya sendiri, karakter yang satu dimensi; di satu sisi mereka berhasil bikin itu jadi daya tarik karakter, tapi di sisi lain, untuk menjaga supaya film ini menghibur, para karakter tersebut dituliskan mengucap dialog yang seperti diketik oleh mesin-mesin peniru Marvel. Ed, Holga, dan yang lain akan constantly bicara lewat remark-remark one liner yang konyol. Yang completely di luar situasi, hanya untuk humor. Aku ngarepnya sih mereka ditulis lebih baik lagi, lebih original lagi. Apalagi di balik mereka; aktor-aktor di antaranya seperti Chris Pine, Hugh Grant, Michelle Rodriguez, Sophia Lilis, punya kapasitas menghidupkan karakter dengan cara sendiri. Tapi karakter mereka yang kita lihat di sini tuh kayak versi tiruan – bicara, mannerismnya, kayak standar karakter-karakter superhero kocak. Jadi kayak karakter generik petualangan yang fun.

Ketika game role-play, role-playing jadi cerita heist

 

Dan lagi, memang trope-trope heist itu menghambat kreativitas film ini. Batu yang cuma ‘pengganti’ walkie-talkie, atau intercom, ngumpulin kru dan bekerja terbalik dalam memperkenalkan mereka alih-alih menjalin genuine dari awal, turn ternyata karakter ini adalah siapa. Dengan ini keseluruhan film fantasi ini terasa jadi generik. Like, bukankah trope heist sudah jemu. Kenapa cerita petualangan fantasi ini akhirnya harus masuk ke dalam kotak genre yang formulaik dan gak magic-magic amat. Plus, terlalu banyak eksposisi. Game D&D memang bakal banyak eskposisi cerita dari Dungeon Master, tapi ketika sudah jadi film, kebanyakan tell dibanding show, jelas bukan bentuk yang bagus. Untuk memvariasikan eksposisi, film juga menggunakan komedi. Yang buatku juga gak benar-benar bekerja dengan konsisten. Karena beberapa adegan jadinya malah kayak pointless. Misalnya ketika Ed menceritakan masa lalunya untuk pertimbangan dia dibebaskan. Backstory dia, keluarganya, dan kelompok pencurinya diceritakan dramatis di sini, dia bahkan sudah dinyatakan bebas. Dan kemudian film berusaha ngasih punchline komedi dengan membuat Ed kabur needlessly. Momen-momen kayak gitu bukan malah membuat film jadi original, tapi jadi semakin terasa terlalu pengen absurd kayak film superhero itu.

 




Film dari game berkonsep role-play, namun sendirinya role-playing jadi sesuatu yang lain. Taste original yang mestinya masih bisa sedikit dipertahankan jadi sama sekali hilang. Itu sih yang aku sayangkan. Terutama karena di sepanjang durasinya itu kita melihat sendiri film ini bisa hadir genuine fun dan seru lewat aksi-aksi petualangan dan laga yang benar-benar memanfaatkan elemen fantasi sebagai karakter. Bukan sebagai properti, kayak waktu film ini membuat batu sihir jadi alat komunikasi jarak jauh kayak walkie-talkie atau intercom di heist dunia modern. Karakter-karakternya loveable, dan aku percaya mereka bisa melakukan lebih baik daripada jadi tukang nyeletuk lucu doang. Sebagai adaptasi dari board game, however, film ini berhasil masuk ke kotak ‘the better ones’. Mungkin gak akan membuat orang tertarik pengen main D&D beneran, tapi paling enggak bagi yang tahu, film ini cukup berhasil memasukkan elemen-elemen itu ke dalam bangunan yang berbeda. Bangunannya itu saja yang kuharap bisa lebih original lagi ke depan. I mean, masa sih untuk jadi ringan caranya cuma harus ngikutin template Marvel. Dieksplor lagi aja.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for DUNGEONS & DRAGONS: HONOR AMONG THIEVES

 




Penyihir di film ini buatku teringat kaloseason terbaru serial original Apple TV+, Servant yang penuh vibe mistis dan sihir di balik urusan keluarga kehilangan bayinya, udah tayang! https://apple.co/40MNvdM Kusuka banget misterinya, dan penasaran akhir ceritanya gimana. Beneran sihir atau bukan. Kalian yang belum subscribe platformnya, bisa langsung klik di sini biar gak ketinggalan serial dan konten film original lainnya yaaa
Get it on Apple TV

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian, apa sih appeal dari permainan D&D dan komunitasnya?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA