THE FLASH Review

 

“We are products of our past, but we don’t have to be prisoners of it.”

 

 

Flash akhirnya punya film-panjang setelah sekian lama ikut ‘bantu-bantu’ di Justice League, dan padahal punya serial sendiri. Dan keberadaannya ini bukan tanpa diwarnai masalah. Superhero dengan kekuatan supercepat ini hadir saat DC mau merombak ulang keseluruhan sinematik universe mereka, yang entah bagaimana sepertinya selalu kurang memuaskan. Aktor yang meranin si Flash, Ezra Miller, pun sedang dalam belitan kasus. Mungkin karena filmnya berada di posisi demikianlah, maka sutradara Andy Muschietti menggodok cerita yang membahas tentang menyikapi kesalahan di masa lalu. Ironisnya, bahasan ‘harus move on’ tersebut harus ia bicarakan di balik konsep multiverse penuh nostalgia yang sepertinya sudah jadi senjata utama produser film superhero untuk menggaet penonton. Sehingga, dengan konteks demikian, di balik petualangan lintas-waktunya The Flash memang lantas jadi punya inner journey yang tuntas dan kuat. Tapi film ini serta merta memberikanku sesuatu untuk dipikirkan ulang.  Karena selama ini, aku selalu berpikir bahwa yang terpenting dari sebuah film adalah inner journey karakternya. Dan sepertinya itu membuatku jadi punya kesalahan di masalalu; kesalahan dalam menilai film. Sebab film The Flash, dengan kelemahan-kelemahan outer journeynya, justru membuktikan bahwa kulit luar cerita ternyata juga sama pentingnya.

Si Supercepat yang suka telat

 

Jangan menoleh ke belakang. Jangan pertanyakan kenapa hal bisa salah. Jangan menyesali kesalahan lalu lantas terus-terusan meratapi sampai lupa untuk meneruskan hidup. Karena tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain belajar dari kesalahan tersebut. Menerima bagaimana kesalahan itu membentuk kita dan jadikan itu pengalaman berharga. Sebenarnya, ini adalah tema yang cocok sekali sebagai konflik untuk seorang superhero yang bisa berlari begitu cepat sampai-sampai bisa menembus waktu. Karena kita selalu bilang, andai kita bisa balik ke masa lalu, maka kita akan memperbaiki kesalahan. Well, guess what, Flash bisa ke masa lalu, dan di film ini dia akan belajar bahwa walaupun kita bisa ke balik, kita tetap tidak bisa memperbaiki kesalahan itu.

 

Ada banyak sekali yang ingin diperbaiki oleh Barry Allen di dalam hidupnya. Dia ingin ayahnya melihat ke kamera cctv supermarket supaya bisa jadi bukti ayahnya tak-bersalah atas kematian ibunya. Dia ingin ibunya tidak lupa membeli sup tomat yang jadi sumber masalah itu. Dia ingin bisa melindungi keluarganya. Sekarang, seusai another mission ngeberesin kerjaan Batman, kita melihat Flash menemukan fungsi baru dari kecepatan supernya. Yakni dia bisa travel back in time. Barry merasa inilah kesempatan baginya memperbaiki hidupnya. Tapi dia salah. Kedatangannya ke masa lalu memang menyelamatkan ibunya dari maut, namun efek dari perbuatan itu ternyata jauh lebih parah. Tindakan Barry Allen jadi membuat timeline dunia yang baru. Dunia tanpa Justice League. Dunia yang Batman dan Superman nya sangat berbeda dari yang ia kenal. Ketika General Zod datang ke Bumi, Barry Allen harus membentuk tim superhero di dunia tersebut, dan salah satunya dia harus melatih versi remaja dari dirinya di dunia itu untuk menjadi Flash yang baik dan benar.

Film ini ngasih sudut yang unik dari cerita origin superhero. Berbeda dari kebanyakan origin yang mengawali bahasan dari bagaimana si karakter punya kekuatan superhero, kita telah mengenal dan tahu kekuatan Flash saat cerita film ini dimulai. Yang belum kita kenal betul adalah siapa sosok Flash di balik topeng; sosok Barry Allen yang sebenarnya. Dukanya apa. Konflik personalnya apa. Sehingga walaupun sebagai Flash dia sudah kuat, tapi pembelajaran karakter ini terus bergulir. Lapisan inner journey inilah yang buatku cukup berhasil dipersembahkan oleh film. Bersama dirinya kita ditarik mundur melihat backstory Barry Allen sebagai seorang anak muda, serta juga origin dari kekuatannya ternyata seperti apa. Penceritaan dengan time travel ke masa muda karakter utama membuat kita melihat sang superhero dari sisi yang lebih berlayer. Dengan kelemahan personalnya sebagai human being yang jadi fokus utama dan terus digali. Ini mendaratkan karakternya. Hubungan Barry dengan ibunya, bagaimana perasaannya terhadap sang ibu, di situlah lajur film ini menyentuh hati para penonton.

Musuh yang harus dihadapi Barry sebenarnya memang bukan General Zod, melainkan dirinya sendiri. Film memang menyimbolkan ini dengan menghadirkan surprise villain yaitu si Dark Flash. Makhluk paradoks produk dari pilihan Flash untuk pergi ke masa lalu in the first place. Secara konteks, masuk akal kalo Flash harus mengalahkan Dark Flash karena menyimbolkan dia yang sekarang sadar untuk move on dan belajar dari kesalahan, harus mengalahkan dirinya yang masih ingin memperbaiki masa lalu. Namun anehnya, film tidak benar-benar membuat Barry Allen ‘kita’ menghadapi Barry Allen dunia lain itu. Film malah membuat Barry muda-lah yang ‘mengalahkannya’. Menurutku, film sebenarnya gak perlu membuat sampai ada tiga Barry Allen. Dua saja cukup. Supaya ‘pertarungan’ inner Barry itu terasa benar terefleksi pada pertarungan outernya. As in, biarkan Flash mendapat momen mengalahkan ‘antagonisnya’.  Film ini anehnya gak punya momen yang penting tersebut. Keseluruhan babak dua adalah tentang Barry Allen berusaha membentuk tim superhero (sekaligus mendapatkan kembali kekuatan supernya), konsep multiverse kicks in, kita melihat Batman-nya Michael Keaton, Superm..ehm, Supergirl-nya Sasha Calle, Kita melihat interaksi Barry berusaha menjalin persahabatan dengan mereka. Kita juga of course melihat interaksi Barry dengan dirinya versi lebih muda, yang sangat kocak. But there’s nothing beyond those characters dan keseruan melihat merkea, karena bisa diibaratkan kejadian di dunia mereka itu adalah kejadian Alice di Wonderland – kejadian untuk membuat Barry Allen ‘kita’ mempelajari kesalahannya. Hanya saja di film The Flash ini, Barry Allen sadar di tengah-tengah, dan tidak lagi bertarung mengalahkan siapa-siapa. I mean, bahkan Alice saja harus mengalahkan Queen of Hearts, Dorothy harus mengalahkan The Wicked Witch. Di film ini, final battle si Flash ada pada ketika Barry berdialog dengan ibunya. Yang sebenarnya memang menyentuh dan bagus, tapi meninggalkan kesan datar bagi penonton tatkala pertarungan dengan Zod dan Dark Flash sudah dibuild. Momen ‘kemenangan’ itu tidak terasa bagi penonton. 

Kayaknya ini film superhero pertama yang ada adegan hujan bayi ya?

 

Jadi aku sadar di situlah pentingnya outer journey. Inner dan outer harus dikembangkan berimbang karena jika hanya outernya saja, film akan jadi hiburan kosong. Dan sebaliknya, jika hanya innernya saja, maka seperti yang kita rasakan saat beres nonton film ini, kesannya jadi datar. Semua petualangan itu kesannya jadi buang-buang waktu. Setelah semua interaksi lucu Barry dengan dirinya versi muda, tanpa ada tensi yang dicuatkan, kita hanya melihat karakter itu sebagai tontonan si Barry. Koneksinya dengan Batman Keaton dan Supergirl juga kayak throw-away moment saja. Momen outer yang dikembangkan balance dengan inner journey cuma ada pada penutup, saat kemunculan satu karakter membuat Barry menyadari bahwa dia masih belum berada di dunia yang benar. Menurutku ini ending yang tepat sekali sebagai cara film ini mengomunikasikan bahwa semesta DC memang sudah sekacau itu. Bahwa there’s no going back. Melainkan mereka hanya bisa move on bikin ulang yang baru.

Dan ngomong-ngomong soal outer, ada satu yang paling terluar yang tak-bisa tak kita perhatikan dan mempengaruhi pertimbangan kita suka film ini atau tidak. Visual. CGI yang digunakan. Banyak dari adegan aksi di film ini, tampak kasar dan konyol. Raut wajah karakternya. Jurus-jurus berantemnya. Bayi-bayi itu! See, aku sebenarnya gak peduli sama efek realistis atau enggak. I mean, kita yang nonton film Indonesia biasanya udah maklum soal efek visual. Asalkan menghibur dan konsisten, tak jadi soal. Tapi jangan bilang kalo bad CGI itu adalah pilihan kreatif, semacam visual style ala Spider-Verse misalnya. Dan itulah yang menurutku terjadi di film ini. Mereka sebenarnya ingin membuat efek yang konyol untuk adegan-adegan kekuatan Flash saat sekitarnya jadi seperti melambat. Bad CGI itu pada akhirnya hanya alasan karena film gak mampu untuk bikin efek yang diniatkan dengan meyakinkan. Like, kalo memang mau cartoonish, maka tone film secara keseluruhan harus dibikin lebih selaras lagi untuk membangun efek tersebut. Pada film ini, konsep dan eksekusinya terasa belum klop. Sebagian besar film terasa seperti serius, maka pada adegan-adegan yang visualnya mestinya ‘bermain’ jatohnya tetap tampak sebagai CGI yang jelek.

 

Dinamika Flash dan Batman ngingetin ama Spider-Man dan Iron Man. Flash yang masih muda dan kocak memang sering dianggap padanan Spidey dari Marvel. Personally, Tom Holland menurutku lebih lucu sih daripada Ezra. Buat penggemar Tom Holland, di Apple TV+ ada serial baru yang ia bintangi loh. Judulnya The Crowded Room. Thriller psikologis, gitu. Yang pengen nonton bisa subscribe langsung dari link ini  https://apple.co/3NgkhiF

Get it on Apple TV

 

 




Di balik visualnya yang bisa bikin orang males nonton, sebenarnya film ini cukup unik, ngasih origin story dalam bentuk berbeda, dan punya muatan drama keluarga yang manis dan menyentuh – mengalir kuat di balik cerita multiversenya. Dari bingkisan luarnya, film ini memang parade nostalgia dan reference dan petualangan yang didesain untuk menghibur. Tapi kulit luarnya ini punya kelemahan pada bagian penyelesaian, yaitu tidak dibikin seimbang dengan isi di dalamnya. Sehingga kesannya jadi datar, dan seperti menghabis-habiskan waktu karena solusinya sebenarnya tidak perlu pakai petualangan sepanjang itu jika petualangan dan musuhnya yang sudah dibuild tidak lagi jadi penting di akhir. Tapinya lagi, jika film ini benar adalah terakhir dari DC sebelum dirombak ulang, kupikir film ini berhasil menyampaikan itu lewat ending yang cukup bergaya. Terlihat gak tuntas, tapi sebenarnya sudah menutup rapat-rapat.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE FLASH

 




That’s all we have for now.

Jika kita dibentuk oleh masa lalu dan kita berkembang dengan belajar darinya, apakah itu berarti kita yang sekarang pasti hanya akan dianggap jadi ‘kesalahan’ bagi kita di masa depan?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



THE LITTLE MERMAID Review

 

“We realize the importance of our voices only when we are silenced”

 

 

Banyak kelakuan dari Princess Disney yang simply not fly buat cewek jaman sekarang. Banting tulang ngurusin rumah, sampai ada cowok yang ngelamar? Kuno.  Ngefriendzone-in cowok sampai dia ngasih satu perpustakaan penuh buku-buku? Matre. Rela ninggalin rumah dan orangtua cuma demi cowok yang disuka? Huh, apalagi ini, kelihatannya kok clingy banget. Lemah. Untuk mengupdate value-value itulah, remake diperlukan (selain urusan cuan, tentunya). Setelah sekian lama Ariel dikatain princess yang paling ngeyel “gak punya masalah tapi lantas dicari sendiri”, kini Rob Marshall berusaha menghadirkan ulang cerita sang Putri Duyung dengan beberapa perubahan, terutama untuk menekankan kepada journey Ariel bukan sekadar perjalanan mengejar pangeran. Melainkan cerita seorang perempuan yang suaranya ingin didengar. Suara yang mendamba dunia yang lebih besar.

Remake live-action Disney sendiri, biasanya ada dua jenis. Yang mengangkat sudut pandang baru. Dan yang dibikin beat-per-beat persis sama dengan animasi originalnya, dan ditambah dengan beberapa perubahan. Rob Marshall membuat The Little Mermaid sebagai jenis yang kedua. The Little Mermaid versi baru ini alur, pengadeganan, dan dialog-dialog dasarnya sama persis dengan film animasinya tahun 1989 dulu. Ariel adalah putri duyung yang tertarik sama dunia manusia. Dia suka ngumpulin barang-barang manusia, meskipun dilarang oleh ayah yang menyuruhnya untuk gak usah dekat-dekat manusia. Karena berbahaya. Tatkala sedang melihat kapal yang lewat, yang actually hancur diserang badai, Ariel yang baik hati menyelamatkan seorang pria. Pangeran bernama Eric. Ariel jatuh cinta kepada Eric, membuat ayahnya – sang raja laut – murka. Ariel yang lagi down, jadi sasaran empuk muslihat Ursula. Penyihir laut yang menjanjikan putri duyung itu kehidupan sebagai seorang manusia. Dengan suara merdu Ariel sebagai bayarannya.

Tadinya mau minta jiwa si Flounder, but look at those fish eyes! By God, there’s no soul in there!!

 

Penambahan dilakukan di sana-sini guna menguatkan dan memperdalam konteks cerita. Ursula yang diperankan dengan legit fun oleh Melissa McCarthy, misalnya. Backstorynya diubah supaya Ariel bisa lebih terkoneksi sehingga lebih mudah bagi kita untuk percaya duyung remaja itu mau saja melakukan perjanjian dengan dirinya. Di cerita ini, dia adalah bibi Ariel yang diasingkan oleh King Triton. Ursula dibikin lebih ‘dekat’ dan ‘relate’ kepada Ariel. Tapi Ursula adalah contoh kecil penambahan backstory di sini ternyata benar menambah kedalaman bobot cerita. Contoh besarnya adalah backstory Eric. Di film aslinya, Eric ini generik sekali. Dia cuma cowok yang jatuh cinta sama perempuan bersuara merdu yang menyelamatkan nyawanya. Relasi Ariel dan Eric pun aslinya memang hanya sebatas ketertarikan secara fisik. Namun di film ini, ikatan keduanya jauh lebih grounded dan beralasan. Eric dituliskan sebagai anak angkat Ratu, yang suka melaut tapi juga mulai dilarang-larang karena berbahaya. Eric juga punya koleksi barang-barang laut karena dia penasaran sama dunia di bawah sana, paralel dari Ariel yang punya satu gua penuh koleksi barang-barang manusia yang ia pungut dari kapal-kapal yang karam. Kesamaan dengan Eric tersebutlah yang jadi ‘alasan’ Ariel jatuh cinta kepadanya. Kesamaan ide, pandangan, bahkan tantangan.

Menurutku penjabaran backstory itulah yang terbaik yang ditawarkan oleh film, karena dengan ini romance mereka terasa lebih berarti. Mereka bukan lagi sekadar orang-orang cakep yang jatuh cinta. Karakter-karakter tersebut jadi punya lebih banyak bobot untuk kita pedulikan. I mean, bahkan adegan di dunia manusia terasa lebih menyentuh dan genuine ketimbang Ariel di laut, saking groundednya interaksi Ariel dan Eric, sebagai dua manusia yang share interest terhadap dunia masing-masing. Momen-momen itu yang gak dipunya oleh film aslinya, yang memang karena diset untuk tontonan anak-anak, membuat romansa mereka simpel dan gak dalam.

Untuk mencapai itu, yang diubah oleh Marshall sebenarnya adalah tema ‘Voice’. Suara. Bandingkan opening film asli dengan film live-action ini. Para pelaut di dua film ini membicarakan duyung dalam ‘nada’ yang berbeda. Yang animasi, ngeset up para duyung sebagai makhluk majestic bersuara indah. Bahkan Sebastian si kepiting literally adalah pemimpin konser, dan putri-putri Triton (termasuk Ariel) adalah penyanyinya. Suara, di film animasi, merupakan lambang inner-beauty. Ketika Ariel khawatir dia tidak bisa mengucapkan cinta kepada Eric karena suaranya diambil, Ursula mengusulkan untuk menggoda dengan kecantikan fisik. Di film live-action ini, suara duyung pada adegan awal diset sebagai sesuatu yang mengerikan. Suara godaan yang menggiring pelaut menuju karam. Suara ini leads ke persoalan prejudice antara manusia ke duyung, yang berakibat duyung juga menganggap manusia berbahaya. Film Rob Marshall punya konteks dua kubu yang saling membenci, dan Eric dan Ariel jadi penengah karena mereka membuka diri untuk melihat dunia yang lain. Suara jadi power bagi Ariel, yang naasnya harus ia buang jika dirinya mau diterima. Dia harus patuh kalo mau diterima Ayah. Dia harus tak-bersuara jika mau diterima manusia.

Kata-kata Triton kepada Ariel di akhir menyimpulkan segalanya. Bahwa suara kita adalah hal penting. Satu-satunya cara supaya apa yang ada di dalam kita, didengar. Jangan bungkam hanya supaya kita diterima. Kita gak bisa hanya diam kalo menginginkan perubahan.

 

Aku yakin itulah yang jadi alasan kenapa mereka nge-race swap Ariel. Meskipun bilangnya bukan perkara ras, tapi konteks film ini butuh Ariel sebagai seseorang yang menyuarakan hal yang tak bisa ia miliki. Lagu pamungkasnya menyebut “part of that world” untuk menekankan bahwa ini juga tentang orang-orang yang mendambakan kesempatan yang lebih besar, minoritas yang ingin setara.  Jadi secara konteks tersebut, Ariel akan lebih believable jika dibikin sebagai a color person. Like, bayangkan saja jika yang mengeluhkan suaranya yang tak didengar, yang pengen masuk ke ‘dunia orang’ itu, seorang putri raja berkulit putih. Gak akan believable, dia malah akan terdengar manja – just like Ariel di animasi yang setelah sekian lama banyak orang yang menganggapnya cuma mendambakan cowok manusia. Apalagi di iklim sekarang, memasang Ariel yang seperti itu hanya akan terdengar tone-deaf. Jadi ya, aku pikir Disney harus mengganti sosok Ariel dengan sosok yang pantas menyandang permasalahan tersebut. Dan dapatlah kita Halle Bailey, yang secara gestur dan suara benar-benar menakjubkan sebagai Ariel. Ngecast aktor yang bisa nyanyi menambah efek magis pada film ini. Yang bahkan, arahannya saja seringkali tidak bisa mengikuti.

Ku cuma penasaran, itu lehernya apa gak terkilir, rambutnya apa tidak berat di-whip saat basah-basah begitu?

 

Begini-begini, lagu Disney kesukaanku (of all time!) adalah Part of Your World.  Saking sukanya aku bahkan nyimpen slot save khusus di game Kingdom Hearts 2 di part mini game Part of Your World supaya aku bisa mainin lagu itu terus-terusan. Anyway, I think versi Halle seperti menggambarkan perasaan yang lebih mendobrak. Momen tangan Ariel menggapai lewat lubang juga dibuat begitu intens (kalo di horor, udah kayak tangan mayat yang menerobos keluar dari kuburannya) Hanya saja, karena film ini sama persis beat-to-beat dengan versi original, secara kronologi dan bangunan intensitas, keseluruhan adegan nyanyi Part of Your World itu jadi kerasa aneh. Karena di film aslinya, lagu itu adalah suara hati Ariel sehabis di ultimatum Ayah. Di titik itu dia belum kepikiran mau ke dunia manusia. Tekadnya itu baru muncul saat setelah menyelamatkan Erik. Jadi momen itu, Ariel lagi nelangsa. Jodie Benson tepat menyanyikannya dengan sense of longing yang sedih yang nanti berubah naik saat di batu karang. Flownya enak. Part of Your World versi Halle didesain untuk lebih kuat, sehingga gak cocok lagi ditempatkan di ‘posisi’ yang sama. Film ini harusnya mengubah susunan adegan. Yang kita lihat di sini, emosi Arielnya jadi gak mulus naik. Dia udah jor-joran di lagu itu, tapi puncaknya (di batu karang) seperti tertunda adegan penyelamatan.

Memang paling baik jika adaptasi atau remake berani mengubah. Film ini sepertinya tahu itu tapi gak berani mengubah total. Buktinya mereka berani mengganti Scuttle dari burung camar menjadi burung Gannet yang bisa menahan napas cukup lama di dalam air. Demi membangun aspek Ariel yang dilarang ke permukaan (aspek ini tidak ada di film originalnya). Supaya momen pertama Ariel ke permukaan tidak terganggu, kan gak lucu kalo dia ke permukaan hanya karena pengen ngobrol sama si Scuttle. Pengennya sih, film ini lebih banyak komit ke penambahan/perubahan, seperti begitu. Karena banyak perubahan yang jadi kurang berefek karena film terlalu ngotot sama ngikutin originalnya. Kayak lagu Part of Your World tadi. Contoh lainnya adalah pasal perjanjian Ariel dengan Ursula. Film ini menambahkan klausul Ariel disihir supaya dia lupa akan batas waktunya, dia dibikin lupa harus berhasil mencium Eric(with true love dan full consent!) dalam waktu tiga hari. Hal itu ditambahkan supaya Ariel dan Eric bisa menumbuhkan cinta genuine – which is great. Tapi film juga gak mikirin gimana Ariel bisa ingat, sehingga jadilah kita mendapat banyak adegan Sebastian dan Scuttle berusaha membuat Eric mencium Ariel. Yang akhirnya hanya membuat Ariel tidak banyak beraksi selayaknya tokoh utama. Sampai-sampai for some reason, kita malah mendapat Awkwafina nge-rap dengan suaranya yang cempreng itu. Disney, why do you hate us?

Film lantas sadar mereka butuh mengembalikan Ariel kepada action. Jadilah di final battle dengan Ursula, film mengubah… well, film tidak mengubah full sesuai dengan kebutuhan untuk memperlihatkan aksi Ariel sebagai tokoh utama yang akhirnya bisa mengalahkan Ursula. Melainkan, film hanya mengubah satu detil dari adegan di versi asli. Yaitu alih-alih membuat Eric yang melayarkan kapal supaya tiangnya menusuk si Ursula raksasa (dan dalam prosesnya membuat Eric- dan manusia secara umum – worthy di mata ayah Ariel), film ini malah membuat di momen itu Ariel si putri duyung yang menggunakan garpu untuk menyisir rambutnya tiba-tiba paham gimana kapal bekerja, dan dia-lah yang mengarahkan kapal untuk menusuk Ursula. Dan kita semua diharapkan untuk tepuk tangan dan bersorak “Hore, hidup perempuan berdaya!” Well, aku suka kalo perempuan dibuat berdaya, tapi tidak seperti ini cara mainnya. Adegan battle itu harusnya disesuaikan dengan yang ingin diangkat. Film yang sudah dirancang dengan konteks baru harusnya lebih banyak melakukan pengadaptasian, tidak cukup hanya dengan ngikutin beat-to-beat film aslinya.

Tapi aku yakin anak-anak pasti suka ngelihat duyung-duyung di sini. Kalo kalian punya adik atau keluarga yang masih kecil dan suka tontonan hewan dan manusia, di Apple TV+ ada loh tontonan yang pas dan seru berjudul Jane, tentang anak kecil yang menyelamatkan hewan-hewan langka, pake kekuatan imajinasinya! Tinggal klik ke link ini yaa untuk subscribe https://apple.co/3OL4MkQ

Get it on Apple TV

 

 

 




Perubahan film harus lebih total. Padahal mereka udah berani ganti sosok protagonis dan karakter lain. Mereka nekat pakai hewan laut yang realistis, misalnya, tapi mereka gak berani untuk mengubah atau melakukan adegan dengan berbeda. Adegan yang lebih cocok untuk konteks yang mereka pasang. Like, lagu Under the Sea saja ujung-ujungnya tetap menampilkan hewan laut yang bertingkah ‘ajaib’. Film tetap diarahkan beat-to-beat sama, supaya bisa meniru momen-momen ikonik. Film gak pede dengan perubahan atau penambahan yang mereka lakukan. Padahal secara konteks, film ini lebih kuat loh. Berhasil memperdalam bahasan dan karakter. Ariel saja  berani ke permukaan, masa film ini gak berani sih mengarahkan adegan-adegan ke ‘uncharted water’.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE LITTLE MERMAID

 




That’s all we have for now.

Kasian ya si Halle Bailey, dia masih banyak dihujat perihal dicast jadi Ariel. Menurut kalian kenapa sih kita susah menerima sesuatu yang tidak familiar bagi kita? Menurut kalian penolakan public kepada Halle sebagai Ariel sebenarnya terdorong oleh apa?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SEWU DINO Review

 

“Scratch my back and I’ll scratch yours”

 

 

Cerita horor sebenarnya memang simple, gak perlu diperibet. Tarok karakter dalam ruangan bersama mayat, jadi cerita horor. Mayatnya mungkin hidup, si karakter mungkin berhalusinasi. Tarok karakter berdua saja di dalam ruangan, bisa juga jadi cerita horor. Mereka bisa saling bunuh hingga yang satu jadi hantu. Mereka bisa saling curiga dan parno sendiri. Heck, tarok karakter seorang diri saja dalam ruangan kosong, dia bisa jatoh dalam kegilaaan, dan jadilah juga cerita horor. Kejadian horornya bisa sederhana, tapi penggaliannya harus mendalam. Ketakutan yang dirasakan itu harus dieksplor hingga ke akarnya. Jika ketakutan itu tidak digali ke personal karakternya, tidak direlatekan kepada kita, horor hanya akan jadi rangkaian kejadian tak-masuk akal yang menjengkelkan. Hantunya hanya akan jadi monster yang harus dikalahkan seperti pada cerita superhero. Karakternya hanya akan jadi si bego yang kita teriakin karena dia tidak melakukan hal yang dilakukan orang beneran. Tapi kebanyakan horor kita sekarang kebalikan dari itu. Banyak cerita yang berumit-rumit ria dengan lore dunia, intrik kubu-kubu, simbolisme, twist and turns, dan sebagainya, tapi pada pembahasannya malah menyederhanakan cerita sebagai wahana jumpscare dan kesurupan kayang-kayang. Jarang yang menyentuh ‘kegelapan’ di dalam sana.

Sewu Dino, untungnya digarap oleh Kimo Stamboel yang memang penggemar horor tulen. Cerita yang sebenarnya ribet karena menyangkut perang santet antara dua kubu, dia fokuskan kepada karakter yang harus mandiin orang yang sudah kesurupan selama hampir seribu hari. Dan aku yang awalnya kurang antusias, ternyata jadi menikmati ini. Kupikir film ini bakal sama seperti KKN di Desa Penari tahun lalu. Cerita dari thread Twitter yang turns out hanya mega marketing gimmick; enggak pernah menggali ceritanya yang actually relate – mahasiswa kota kkn ke desa – dan malah asyik bergumul dengan kejadian-kejadian mistis konyol. Karakter journey-nya dibiarkan dangkal. Sewu Dino ternyata dikembangkan berbeda dari threadnya oleh Kimo. Kudengar banyak pembaca thread yang kurang suka sama film ini, but screw them. Karena, memang Sewu Dino bukan film horor terbaik. Tapi cerita ini adalah versi yang  punya decent horror story di tengah-tengah kemelut santetnya.

Menghitung hari, dino demi dino

 

Ceritanya tentang Sri, gadis yang mencari nafkah untuk pengobatan ayahnya. Dia mencoba melamar jadi pembantu di tempat Mbah Karsa, yang dikenal warga sebagai orang sukses yang punya banyak tempat usaha sehingga selalu butuh banyak tangan tambahan. Nyatanya, Mbah Karsa butuh ‘stok’ perempuan dengan set kemampuan khusus untuk melaksanakan ritual menyelamatkan cucunya yang kena santet. Sri diterima karena gadis ini punya sesuatu yang ia sendiri tak tahu gunanya apa. Sri lahir di jumat kliwon, dan itu adalah syarat kunci untuk membebaskan cucu Mbah Karsa. Jadi, Sri bersama dua perempuan lain ditempatkan di pondok tengah hutan. Mereka harus memandikan Dela yang kesurupan setiap senja. Pekerjaan yang jelas berbahaya, karena setan yang telah bersemayam nyaris seribu hari itu selalu berusaha untuk lepas dan menyerang para pemandinya.

Di bagian pondok inilah Sewu Dino benar-benar fun. Film actually meluangkan banyak waktu untuk set up dan build up kerjaan horor yang harus dilakukan para gadis tukang mandiin itu. Salah satu set up penting yang dilandaskan film adalah kenapa Sri mau-maunya mandiin Dela. Kayaknya lebih aman mandiin harimau sirkus deh, ketimbang mandiin orang kesurupan yang suka menggigit dan mencekek manusia. Motivasi Sri bukan hanya karena duit, tapi kita dikasih info soal Sri yang berusaha tidak mengulangi kejadian yang membuat adiknya sendiri tiada. Sri tidak ada di sana, makanya sekarang dia ingin membantu gadis muda ini. Meskipun gak gampang baginya. Kita melihat Sri yang justru jadi orang pertama yang pengen kabur saat melihat ‘job desk’ dan resiko yang menantinya. Tapi itulah yang nanti jadi konflik. Yang fun lagi buatku adalah gimana film ngebuild up ‘ritual memandikan’ tersebut. Cara-caranya, batas waktunya, dan sebagainya. Banyak aturan yang harus Sri dan dua temannya ikuti. Salah satunya mereka harus mandiin Dela sambil dengar kaset rekaman suara Mbah Karsa yang bacain langkah-langkahnya. Tentu saja ini nanti bakal berkaitan dengan momen-momen scare yang dipunya oleh film. Like, mereka harus ngiket dulu tangan dan kaki si Dela sebelum membuka keranda bambu. There’s no way hal akan baik-baik saja saat mereka melakukannya hahaha…

Kimo gas pol di sini. Gak ada sensasi ‘adegan datar’ di film ini. Horor yang ia suguhkan benar-benar main fisik. Beberapa kali film ini hampir jadi body horor saking banyaknya ‘abuse’ yang diberikan on-cam kepada tubuh para karakter. Aku sampai heran masa iya film ini ‘cuma’ dikasih rating 13+ sama lembaga sensor. In my opinion, this should be higher. Apalagi tayangnya di masa lebaran. Jadi tontonan keluarga deh, pasti. Anyway, sensasi horor di sini terasa lebih well-crafted ketimbang pada KKN. Momen-momen kecil seperti suara rekaman yang tiba-tiba mati sukses bikin kita semakin mengantisipasi kengerian, untuk kemudian dipecahkan oleh ‘punchline’ seperti jumpscare atau serangan setan. Kimo sendiri pernah publicly bilang dia menggemari dan terinspirasi sama Sam Raimi (Evil Dead, Drag Me to Hell). Dan di Sewu Dino ini pun pengaruh Sam Raimi pun kelihatan. Lucunya, selain itu, aku juga menangkap ada pengaruh game survival horor Jepang pada film ini. Khususnya seri game Fatal Frame. Serius. Begitu banyak momen yang bikin aku teringat sama game itu, I’ll just go ahead and say it: Sewu Dino buatku kayak adaptasi tak-resmi dari Fatal Frame. Ritual yang gagal (kurang elemen disaster doang). Desain antagonis yang pake tali menggelantung di anggota badan, ngingetin sama Rope Maiden. Setiap kali tidur, Sri menjelajahi dunia lain dan melihat gubuk di sana – ini kayak main plot di Fatal Frame 3 yang karakter kita akan bertualang di Manor of Sleep setiap tidur dan nanti hantu-hantu di ‘mimpinya’ itu akan berdampak physically di dunia nyata. Rekaman dan suara-suara mengerikan bicara ke karakter? Udah staple di game dan film horor Jepang kayaknya. Sri harus ke hutan mengecek payung-payung pagar gaib, easily bisa jadi misi dalam game. Dan, berapa kali coba dalam game-game Fatal Frame kita dapat sekuen escape lari-lari dramatis bareng orang yang kita selamatkan? Sekuen escape di film ini, juga punya treatment yang dramatis seperti itu. Yang bikin beda ya Sri di film ini benar-benar melawan dengan fisik, bukan dengan kamera haha

Kayaknya aku kebanyakan main game puasa-puasa….

 

Bahkan Sri pun mirip sama karakter utama game, dalam hal, dia gak banyak bicara. Agak kurang aktif, unless ‘tombolnya’ dipencet. Kalo yang ini sih, sebenarnya kekurangan film ini menurutku. Namun bukan exactly kekurangan dari karakter ataupun dari Mikha Tambayong memerankannya. Mikha melakukan cukup banyak; sebagai protagonis horor dia didera cukup banyak di babak akhir. Sekali lagi, Kimo tahu gimana harus ngetreat cerita horor.  Hanya saja, di momen Sri mulai ‘gerak’ film udah habis. Di awal-awal, aku mengerti Sri diarahkan untuk jadi karakter yang rasional. Dia kabur duluan. Dia gak ‘seringan tangan’ itu mau melakukan kerjaan mengerikan. Tapi ini juga membuatnya jadi kurang dominan. Apalagi karena film ternyata malah menyiapkan ‘twist’ di tengah, regarding ada di antara mereka ada yang ingin menyabotase ritual mandi. Di tengah itu, alih-alih fokus mengembangkan karakter Sri, film malah sibuk bercocok tanam clue. Ngebuild up momen ‘siapa yang jahat’. Kita terputus dari Sri di bagian tengah. Dan ini membuat kita butuh agak lama untuk bisa konek lagi dengan motivasi dan journey karakternya. Makanya momen-momen ketika Sri terpukul telah membunuh satu karakter enggak benar-benar kena. Padahal secara teorinya dia telah ngelakuin something opposite dari tujuannya pengen membantu.  Momen ketika dia menolak duit pun jadi tidak benar-benar nendang. Padahal itu momen puncak yang juga mengusung gagasan cerita. Yang mengaitkan Sri dengan bigger things dalam universe cerita ini.

Menolak duit yang harusnya adalah upah dirinya adalah pembelajaran Sri soal bagaimana ‘cara kerja’ Mbah Karsa. Bahwa semua itu merupakan lingkaran setan. Lingkaran setan di sini bukan hanya soal kau menyerangku, maka aku menyerangmu – seperti Mbah Karsa dengan musuhnya. Tapi juga soal aku membantumu, maka kau harus membantuku. Yang dilakukan Sri sebenarnya adalah menolak untuk terus terikat dengan Mbah Karsa. Dia ingin lepas dari lingkaran itu, karena baginya goal sudah tercapai. Dia sudah meredeem diri dengan membantu Dela.

 

Film ini sempat dipermasalahkan soal bahasanya. Yang campur-campur Jawa Indonesia. Buatku, aku gak terlalu ngeh ke bahasa saat menonton. Mungkin karena terbiasa nonton film asing, yang bahasanya ku gak tau. Jadi for me, yang ‘terdengar’ itu ya cuma subtitle dan emotions yang mau diceritakan. Tapi memang, kalo mau pake bahasa tertentu, film harus komit dan benar-benar menjadikan bahasa itu sebagai identitas. Bukan sebagai gimmick. Pada Sewu Dino, memang Jawanya masih kayak gimmick, belum terlalu jadi identitas atau karakter. Tapi buatku gak nganggu. Menurutku yang tidak benar-benar perlu itu ya, ada ‘twist’ di tengah. Cerita terasa lebih ‘natural’ dan  fun ketika ketiga karakter di pondok itu merasa dipermainkan oleh setan di dalam tubuh Dela. Akan lebih menarik melihat gimana setan itu membuat mereka malah jadi saling serang di hari terakhir tugas mereka, misalnya, ketimbang masukin alur seseorang dengan sengaja sabotase dan si setan membiarkannya. Aku senang aja sama situasi horor tertutup mereka setiap hari harus masuk ke sana mandiin orang kesurupan. Malah aku pengennya jangan tiga hari doang, tapi full seribu hari aja sekalian. Repetitif, repetitif, deh!

Namun lore soal ada dua kubu di luar mereka semua itu memang akhirnya membayangi cerita yang sudah berusaha dibuat simpel oleh Kimo. Di momen akhir saat Sri mulai menguat sebagai karakter, Sewu Dino mulai tercampur aduk. Akan ada karakter yang tau-tau muncul. Akan ada lebih banyak misteri untuk dipecahkan. Ini membuat film jadi tidak berakhir memuaskan, walaupun journey karakter utama kita selesai dengan gemilang. Sewu Dino tetap terasa jadi sesuatu yang belum selesai, dan ini bukan cara yang benar-benar tepat untuk mengirim penonton pulang. Tidak cukup membuat penasaran, melainkan hanya ya gak puas saja. Terakhir kali aku ngerasa puas nonton horor yang ada cult-cultnya itu ya pas nonton akhir dari season 4 serial Servant di Apple TV+ Momen psikologikal horor dan turn around karakternya terasa banget. Kalian bisa langsung klik link berikut ini untuk langganan Apple TV+ dan catch up banyak lagi tontonan original lainnya https://apple.co/40MNvdM

Get it on Apple TV

 




Journey karakternya memang gak sampai terlalu dalam, film ini masih sebagian besar berfokus kepada kejadian horor yang terjadi, alih-alih menelisiknya. Tapi seenggaknya film ini menolak jadi terlampau ribet dengan lore dan segala macam perang santet yang membayangi alur karakter utamanya. Melihat dari si protagonis saja, film ini actually adalah cerita horor yang decent, dan digarap ke arah yang fun. Ingin mencuatkan pada situasi horor yang ngeri-ngeri sedap untuk ditonton. Tapi dijamin bikin ngompol kalo kita yang ngalamin. Enggak jelek, meski gak great juga karena masih berusaha catering buat jadi wahana bagi penonton. Ada twist yang gak perlu dijadiin seperti itu, misalnya. Yang jelas secara keseluruhan, film ini lebih baik dari KKN di Desa Penari. While it’s not saying much – karena standar KKN rendah banget – nilai plus film kali ini buatku adalah banyak elemen-elemen dari sini yang membuatnya jadi kayak something dari universe game Fatal Frame 
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SEWU DINO

 




That’s all we have for now.

Kalo menurut kalian kenapa Sri gak mau nerima uang bayarannya?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



THE SUPER MARIO BROS. MOVIE Review

 

“Physical bravery attracts most attention. But courage takes many forms”

 

 

Sega punya Sonic, Nintendo punya Mario. Sebagai anak 90an, itu perang-base pertama yang aku ikuti. Perang konsol video game rumahan, dengan maskot game masing-masing. I’m more of a Nintendo boy, tho. Aku lebih suka main Mario – yang menurutku lebih simpel dan lucu ketimbang Sonic. Gamenya juga kulebih menikmati buatan Nintendo (seenggaknya, sampai Sony PlayStation dengan Crash Bandicoot datang haha) Di ranah game-yang-jadi-film, however, kesuksesan Sega mengadaptasi Sonic sehingga dibikin sekuelnya, tampak bikin Nintendo gak mau kalah dan akhirnya mengeluarkan kembali IP game kesayangan mereka ini ke layar lebar!  Yup,  Mario Bros, memang dilindungi banget oleh Nintendo. Setelah live-action yang really cringe tahun 90an dulu itu, Mario hening. Gamenya aja yang terus keluar dengan berbagai variasi, tapi itu pun ekslusif untuk konsol Nintendo. Mulai dari side-scrolling, RPG, 3D Adventure, Balap, Berantem-berantem, bahkan random Sports. Aaron Horvath dan Michael Jelenic punya kesempatan emas dan lapangan bermain yang luas buat bikin film full CGI tukang ledeng bersaudara yang benar-benar compelling, melihat dari ragam dan gedenya IP ini. Jangan mau kalah dong ama Sonic. Tapi nyatanya, duo sutradara kita memang menebar banyak referensi dan merangkai cerita dari sana. Membuat film Mario Bros ini fun bagi kita yang mengenalnya, tapi hati film ini ada di ‘kastil’ yang lain.

Belajar dari kesalahan film live-actionnya dulu – serta kesalahan adaptasi game ataupun animasi yang suka tau-tau masukin karakter manusia yang gak ada di materi aslinya – film Mario Bros. sebenarnya memulai dengan langkah yang lebih mantap. Setidaknya, film tahu sisi unggul Mario Bros. Karakter manusia di tengah Mushroom Kingdom. Dan mereka membuatnya ya animasi semua. Didesain semirip mungkin dengan gamenya. Secara cerita, kubilang, film ini merangkai set up yang cukup bisa mendaratkan karakter. Mario dan Luigi hidup di ‘dunia nyata’, mereka bekerja sebagai tukang ledeng, dan mereka ini diledek oleh keluarga karenanya. Mario dan Luigi di film ini diceritakan sebagai dua orang dewasa yang diremehkan karena mereka kecil, dan kerjaan mereka juga dianggap sepele. Relasi antara Mario dan Luigi juga dibangun. Mario lebih berani dan jago, sementara Luigi orangnya agak penakut dan khawatiran. Sebagai animasi yang persis game, meski karakter mereka manusiawi, toh kita tetap melihat mereka melakukan kerjaan tukang ledeng dengan cara yang cartoonish, sehingga film tetap berjalan lucu dan menghibur. Saat ingin membantu beresin masalah banjir di kota Brooklyn, dua bersaudara ini tersedot pipa aneh yang membuat mereka terpisah. Mario sampai di Mushroom Kingdom, Luigi mendarat di wilayah Koopa yang dipimpin oleh Bowser, yang lagi dalam misi memperluas kekuasaan. Mario nanti akan bekerja sama dengan Princess Peach untuk mengalahkan Bowser, dan menyelamatkan Luigi

Ini bukan tentang Mario mukulin Bowser sampai pingsan, terus direkam, karena disuruh sama Peach loh ya

 

Yup, film ini memang punya kreasi tersendiri sebagai bentuk adaptasi yang mereka lakukan. Karakter Peach disesuaikan dengan masa sekarang, saat cewek gak lagi melulu diselamatkan. Peach di sini, digali sebagai Princess yang punya sisi petualang, yang lincah dan jagoan. Karakter-karakter lain seperti Donkey Kong, dan bahkan si Bowser sendiri juga diperlihatkan dari sisi yang berbeda, tapi kita masih tetap mengenali mereka sebagai karakter yang sudah kita kenal. Soal sedikit perbedaan ini, Mario sendiri juga disorot bahkan sebelum film ini tayang. Yakni soal aksen dan suara Mario yang terdengar berbeda dari versi video game. Chris Pratt yang nyuarain Mario sempat dirujak netijen karena suaranya beda, tapi ternyata film ini punya alasan untuk membuat Mario terdengar seperti ‘normal’. Karena ternyata aksen italia Mario dan Luigi itu, diceritakan sebagai gimmick mereka untuk iklan doang. Aksen itu cuma untuk menarik perhatian. Sehingga, sekarang kita bisa mewajarkan kenapa Mario suaranya seperti Chris Pratt bicara normal – karena Mario supposed to be orang biasa juga, yang masuk ke dunia ajaib di ujung pipa.

Bicara soal pengisi suara, menurutku Pratt menghidupkan Mario dengan baik, suaranya terdengar antusias, bingung, atau lainnya pada momen-momen yang tepat. Terkadang Mario akan bersorak ala game, dan Pratt tidak terdengar maksa ngucapinnya. Voice akting yang menonjol adalah si Jack Black sebagai Bowser. Aku hampir-hampir tidak menangkap itu suara Jack Black saat mendengar suara serak menggemuruh Bowser. Baru saat dia ada adegan menyanyi-lah, ciri khas Jack Black terdengar. Dan itu momen yang tepat, karena kita melihat Bowser dari sisi lain – sisi yang less barbaric. Salut buat Jack Black. Enggak kayak Seth Rogen yang suaranya gitu-gitu melulu. Begitu Donkey Kong ngomong, kita pasti langsung tau pengisi suaranya siapa haha. Seth mainin karakter ini standar. Anya Taylor-Joy juga di sini terdengar kurang nendang sebagai suara Peach. Tidak sememorable Bowser, atau juga Luigi. Charlie Day di sini memang juga cukup surprised buatku; Kupikir bakal annoying tapi Luiginya ternyata terdengar genuine, suaranya cocok sama dinamika karakter Luigi.

Karakter dalam Mario Bros. memakai berbagai item yang dikenal sebagai power ups untuk menjadi kuat. Ada bunga yang membuat mereka bisa menembakkan bola api. Ada kostum kucing yang membuat mereka jadi punya ‘jurus’ kucing. Dan ada jamur yang literally membuat mereka bertambah besar. Mario di sini gak suka jamur, tapi dia lebih gak suka lagi dikatain kecil. Jadi power ups benar-benar membantu. Tapi bukan power ups yang bikin Mario berani. Mario berani, karena dia gak ragu mengakui kelemahan dan memakai power ups. Mario berani, karena dia gak menyerah dan mencoba menyelesaikan tantangan platform terus menerus sampai berhasil.

 

Kreasi seperti pada set up karakter sayangnya tidak dilakukan utuh untuk menggarap cerita. Begitu sampai di Mushroom Kingdom, dan Mario, Peach, dan – di tempat terpisah – Luigi, harus bertualang, film mengganti kreasinya menjadi kreasi memunculkan referensi saja. Alur dan development, journey inner karakter, dijadikan minimal. Film cuma jadi serentetan adegan-adegan yang merujuk pada video game. Belum pernah aku merasa pengen balik buat main game, saat sedang nonton di bioskop, Mario Bros. memang senostalgia itu! Begitu banyak karakter (hampir semua musuh di game Mario hadir!), tempat, platform, dan bahkan musik yang bikin aku teringat sama sensasi main video gamenya. Tapi ini sudah bukan lagi jadi pujian. Karena di balik itu semua, petualangan Mario di Mushroom Kingdom, melawan Bowser, terasa kosong. Efek Mario pisah dengan Luigi sama sekali tidak digali. Pas battle terakhir mereka ketemu, dan penyadaran Mario datang begitu saja. Mario cuma ngikut ke mana karakter-karakter lain membawanya, ke mana naskah mengarahkannya, dia tidak benar-benar ‘memainkan’ petualangan itu. Like, masalah banjir di kota saja terlupakan karena Mario masuk ke Mushroom Kingdom. Dan kesempatan Mario balik ke kota dan menyelamatkan kota datang dari pertarungan dia dengan Bowser. Di tengah-tengah itu, Mario never reflect tentang kegagalan dia di awal atau semacamnya. Dia jadi hero dan diaccept keluarga dengan otomatis, petualangannya tidak terasa earned. Melainkan cuma kayak rentetan kejadian seru seperti pada video game. Film ini cuma punya hal-hal yang pernah kita lihat, dan kita lakukan di dalam video game. Tanpa ada konteks yang kuat – or rather, dengan konteks yang dibangun tapi dilupakan – menyaksikan itu semua ya jadinya kayak ngeliat iklan video game terbaru Mario saja ketimbang melihat film yang menceritakan soal Mario dan teman-teman.

Game- eh film Mario baru, with better graphics!

 

Seolah puluhan referensi game Mario belum cukup, film lantas masukin nostalgia 80an secara umum. Membuat film menjadi semakin tampak seperti cuma bergantung kepada nostalgia. Yang paling mengganggu buatku adalah lagu-lagu populer 80annya. Like, why. Aku sumringah setiap kali nada-nada dari game terdengar, mewarnai adegan sebagai background. Sebaliknya, aku mengernyit kenapa lagu Take On Me yang dimainkan saat mereka masuk ke wilayah Donkey Kong, bukannya muterin lagu theme game Donkey Kong. Apa hubungannya lagu-lagu populer itu dengan film dari game, toh gamenya tidak pakai lagu-lagu tersebut. Dari situ saja kita bisa menyimpulkan bahwa film ini ya benar-benar menyasar gelombang nostalgia semata. Enggak benar-benar punya cerita untuk disajikan. Bekerja terbalik alih-alih membangun cerita dan menghiasnya dengan referensi dan nostalgia, film ini justru ngumpulin referensi dan lantas menghubungkan semua itu dengan apa yang akhirnya mereka sebut sebagai cerita. Gak heran film ini jadi terasa tipis, bahkan kosong seperti tak-berhati.

Sebelum ini, aku nonton satu lagi film yang diangkat dari game populer di Nintendo, yang tokohnya juga pria berkumis (tapi bukan tukang ledeng). Tetris. Cerita pembuatan game itu ternyata udah kayak film aksi mata-mata! Kalian bisa baca reviewnya di sini. Dan yang pengen menontonnya, Tetris tersedia di Apple TV+, kalian bisa mulai berlangganan di https://apple.co/3nhEOdf
Get it on Apple TV

 




Urusan game, aku memang lebih suka Nintendo dengan game-game seperti Mario, Donkey Kong, Metroid, Kirby, dan lain-lain. Tapi untuk urusan game yang diadaptasi jadi film, Sega – saingan Nintendo sejak lama – ternyata masih unggul. Sonic satu. Mario nol. Film ini void, terasa kayak gak ada cerita. Padahal berangkat dari set up yang lumayan bikin film kerasa punya kreasi sendiri sebagai adaptasi. Tapi begitu petualangannya masuk, film ini tancap gas dan hanya berubah menjadi suguhan adegan-adegan seperti game. Dan lagu-lagu populer era lawas. Kalo dibilang menghibur dan menyenangkan, ya memang menghibur dan menyenangkan. Tapi bukan lantas berarti sinema, seperti kata Luigi. Iklan sirup aja bisa menghibur kok. Dan memang baru seperti itulah level film ini. Baru seperti iklan.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for THE SUPER MARIO BROS. MOVIE

 




That’s all we have for now.

Pernah dong main game Mario? Power up favorit kalian dalam seantero game Mario apa sih?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MOANA Review – [2016 RePOST]

 

“There’s (should be) more than meets the eyes.”

 

moana-poster

 

Kluk, kluk.

Hei hei, kenalin, namaku Heihei. Kalian tentu sudah menyaksikan petualanganku mengembara samudera dengan Putri Moana, bukan? Wah kalo belum, sayang sekali, kalian tidak melihat betapa keren dan cerdasnya aku di situ.

Wow, aku bisa mendengar sorakan kalian dari sini. Terima kasih, terima kasih. Tadinya kupikir cuma Moana yang bisa melihat kelebihanku. Aku tahu dia suka padaku. Sewaktu remaja dia pernah melarang seseorang untuk menjadikanku ayam goreng. Moana juga sering curhat – bicara padaku. Dan sebagaimana layaknya pendengar yang baik, aku akan mendengar keluh kesahnya tanpa berkedip sampai Moana selesai bicara. Yang biasanya ia lakukan abruptly, yang mana kutahu dia merasa amat terbantu oleh kehadiranku. Dan aku tahu kalian juga suka padaku. Setiap kali aku beraksi di layar, kalian pasti berseri dan tertawa-tawa.

Padahal sebenarnya aku seekor ayam biasa di desa. Well, oke, aku sedikit lebih tampan sih dibandingkan ayam-ayam lain. Mataku indah, sebesar bola pim… tenis! Kerjaanku sehari-hari di pulau ya cari makan, sama kayak penduduk desa yang lain. Aku suka matukin batu, selera makanku cukup gede. Kalian tentu sudah melihat betapa festivenya penduduk desa kami. Kehidupan suku kami memang menyenangkan seperti itu; bikin kerajinan tangan, memanen hasil-hasil alam sambil bernyanyi. Pemandangannya indah. Semuanya pada betah, tidak seorangpun mau repot penasaran terhadap apa yang ada di seberang lautan selepas batu karang sana. Yang kami tahu hanya ada ombak besar. Berbahaya. Lagipula ada legenda yang mengatakan penduduk harus tinggal di pulau.

Ladies and Gentlemen, sambutlaaaahhh: The Rock!!!

Ladies and Gentlemen, sambutlaaaahhh: The Rock!!!

 

Tidak seorangpun yang bermimpi untuk berlayar, kecuali Moana. Anaknya pemberani sekali. Moana adalah putri dari kepala suku kami, jadi tinggal tunggu waktu sebelum Moana diangkat menjadi pemimpin baru. Masalahnya adalah, Moana suka sekali sama air. Beneran. Dia pernah nekat berlayar bareng Pua si babi, dan sampan kayu mereka hancur dengan sukses diterjang ombak. Aku bersumpah untuk tidak akan jadi sebego Pua. Aku akan menjauh sejauh-jauh mungkin dari pantai.
Kemudian seantero desa terkena masalah, kelapa pada menghitam, panen-panen busuk. Legenda mengatakan ini adalah kutukan dari Te Fiti. Satu-satunya cara mencegah ‘wabah’ ini menyebar adalah dengan mengembalikan hati Te Fiti yang dibawa kabur oleh Maui, seorang Setengah-Dewa yang menghilang setelah kalah berantem sama sesosok makhluk kuno.

Langkah kaki mantap membawaku ke naungan sebuah gua yang besar dan tersembunyi. Sepertinya tidak ada penduduk desa lain yang tahu tempat ini. Kupikir jika tinggal di dalam gua leluhur suku Moana dengan banyak perahu-perahu yang ditinggalkan ini, maka aku bisa selamat meski seluruh pulau mati. Bukankah aku sudah bilang bahwa sebenarnya aku ini pinter? Hah! Aku ngendem di dalam salah satu kapal yang berisi banyak benda yang bisa kupatuki. Rencanaku sudah sempurna. Jadi jangan ketawakan aku yang teriak sekenceng-kencengnya begitu kali berikut aku diangkat oleh tangan lembut nan tegap Moana, aku mendapati kami berdua berada di tengah-tengah lautan biru!

Kukuuuuuuuukkkk!!!!

Kalian terkagum oleh ANIMASI LAUT YANG BEGITU REALISTIS sehingga kalian merasa kebawa seger dan ingin menyentuh air kepulauan tropis yang hangat nan indah. Well, aku bisa kasih tau; Airnya Dingin! Setidaknya bagi bulu ayamku. Aku sebenarnya mencoba kabur, namun Moana yang kini sobatan sama lautan berkat kekuatan dari jimat hati Te Fiti, malah mengurungku di dalam perahu. Misi kami adalah menemukan Maui. Moana memang nekat, despite her father’s wishes, dia tetep aja bertualang di lautan to set things straight.

Situasi yang memburuk bukan berarti adalah kesalahan dari orang yang kebetulan lagi memimpin. Akan tetapi, pemimpin kudu berani untuk mengambil resiko, to take on action untuk segera menyelesaikan masalah yang ada demi kebaikan yang lebih besar bagi semua orang.

 

Tapi senekat dan seberaninya Moana, sebenarnya ada satu masalah: cewek itu enggak tahu caranya mengemudikan perahu layar. Petualangan seru kami semakin menjadi kocak setelah Maui beneran bergabung. Mulanya aku agak bete lantaran makhluk sok-jago itu menyebutku sebagai kudapan. Namun ternyata hatinya cukup baik, dia peduli pada kesehatanku di laut, Maui kerap memberi biji-bijian untuk aku makan. Psst, Maui secretly ngefans loh sama aku, terbukti dari ketika ia kelepasan berubah wujud nyamain diriku yang tamvan pakek v. Sebaliknya, yang paling aku suka dari Maui adalah tatonya. Sekujur tubuh Maui ada tato yang bisa bergerak dan punya pikiran sendiri. Tato Maui bisa protes dan bereaksi terhadap tindakan Maui. Dia bicara kepada tato-tatonya, malahan ia sering dibikin jengkel lantaran tato tersebut kerap menyuruh Maui ngelakuin the right things to do; membantu Moana.

Aku terhibur sekali sepanjang perjalanan. Aku pikir kalian juga. Menyenangkan sekali melihat hubungan ombang-ambing antara Moana dan Maui, mereka bertengkar padahal mereka harus belajar bekerja sama. Dwayne Johnson menunjukkan kepawaian skillnya dalam dissing people dan ngomong tinggi terhadap dirinya sendiri. Sebagai tulang punggung cerita, reaksi dan timing dan ekspresi Auli’I Cravalho enggak menunjukkan kalo ini adalah debut voice-actingnya. Petualangan kami hidup oleh interaksi mereka. Aksi-aksi yang kami lewati pun sangat seru. Jangan salah, peranku vital loh! Kemampuanku menelan benda-benda keras jauh lebih bermanfaat dibanding keimutan si Pua. I eventually got hurt dalam pertarungan besar kami di akhir cerita. Meski begitu, aku bersyukur enggak terlibat sekuens di bawah laut saat Moana dan Maui berhadapan dengan seekor karakter ala-ala bajak laut yang sangat original. Soalnya aku masih menggigil akibat sebelumnya nyaris game over di tangan monster-monster Kakamora yang kayak buah kelapa yang mengejar perahu kami.

Mad Max Polynesian Road!

Mad Max Polynesian Road!

 

Semua tropes Disney klasik favorit pemirsa sekalian, hadir dalam kisah kami. Narasinya rada-rada klise; Dua tokoh lead yang saling enggak akur, hero yang beranjak dewasa yang belajar banyak tentang kehidupan – yang ternyata lebih luas dan lebih besar daripada dirinya sendiri. Pesona kisah kami terletak di setting budaya Kepulauan Polynesia yang baru pertama kali diangkat dan dijadikan fokus oleh Disney. Berbalut MITOS YANG FASCINATING. Aku beruntung bisa jadi bagian dari kehidupan sosial di sana. Aku beruntung bisa berada di tengah-tengah kejadian. Aku beruntung bisa kenal Moana. Dan kupikir, just get to watch her blossoms into something beautiful membuat kalian sama beruntungnya sepertiku.

Moana dan Maui juga pandai bernyanyi. Ada lebih dari satu lagu yang bikin buluku berdiri. Adegan musikal yang ada terdengar dan terlihat megah sekali. How Far I’ll Go could be the next Let It Go, catchy dan fun to listen to. Kalo ayam bisa nyanyi pastilah aku juga sudah ikut bernyanyi. Harapanku semoga lagu tersebut tidak jadi annoying, sih, kayak Let It Go yang mentang-mentang bagus, diputerin terus. Untungnya kami tidak punya radio atau internet di pulau. Kalo didenger-denger lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan memiliki arti dan turut berkembang bersama perjalanan mereka.

Memang, petualangan kami bertiga tidak sepadet kisah rekan-rekanku di film Zootopia (2016) yang pake baju dan bisa berbicara. Perjalanan kami lebih mudah diikuti oleh anak-anak karena tidak banyak yang tersembunyi di bawah permukaan. Zootopia yang bertema lebih mature akan membuat penonton tenggelam dalam pikiran demi pikiran yang menantang. Pesan dalam Moana lebih tembak-langsung dan dibumbui oleh banyak humor ringan dan sekuens aksi yang seru. Nilai entertainment petualangan kami jauh lebih tinggi. Kalian bisa bernyanyi, tertawa, dan terkagum oleh animasi tanpa perlu banyak berpikir. Kalian enggak perlu pinter banget dulu untuk ngakak melihat kelakukan dan tampang blo’onku.

Berkat Moana suku kami sukses mengarungi hidup yang lebih baik. Kemandiriannya mengajarkan banyak hal, terutama buat anak cewek. You don’t need to wait to be saved, that you can take the matters to your own hands and save all things you loved yourself. Bahkan mengajarkan hal tersebut kepada pria sekuat Maui yang berhasrat dielukan sebagai pahlawan; kita perlu bergerak untuk mewujudkan yang kita inginkan. Atau malah kepada seekor ayam, a village-idiot, sepertiku. Moana percaya ada sesuatu yang lebih deep, deep inside of me, dan itu membuatku sendiri percaya bahwa mungkin aku memang lebih pintar daripada kelihatannya. There’s more than meets the eyes. There should be. Kukukruyuuk!! #thechickenlives

 




Animasi luar biasa – dari tahun ke tahun Disney terus nunjukin peningkatan yang signifikan dalam urusan visual, voice acting yang benar-benar hidup, musical numbers yang megah, moral yang baik, pesan yang berharga, semua yang bisa kita minta sama animasi klasik Disney ada di sini. Ceritanya sangat exciting dan menyenangkan. At the same time, film ini enggak really punya banyak di dalam benaknya. But that’s not necessarily a flaw. Karena dirinya adalah film yang sangat menghibur, anak-anak akan menyukainya sementara orang yang lebih dewasa akan bisa terpuaskan melihat sorotan budaya yang disuguhkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for MOANA.

 




That’s all we have for now.

Special thanks to Heihei the bantam rooster for typing his pieces.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.



DUNGEONS & DRAGONS: HONOR AMONG THIEVES Review

 

“The only person that was ever holding you back was yourself”

 

 

Dalam budaya ‘nerd’, Dungeons & Dragons – ngetrennya disingkat jadi D&D – adalah legend. Banyak yang menyebutnya sebagai cikal bakal role-play dalam dunia permainan. Menginspirasi begitu banyak game fantasi dengan konsep-konsep seperti job-class, magic, experience point, dan istilah-istilah petualangan lainnya. Padahal aslinya D&D permainan sederhana. Dimainkan oleh sekelompok orang, yang istilahnya mengkhayal menjadi karakter tertentu. Membangun cerita dan kehidupan karakter itu. Lantas melakukan aksi apapun yang ia mau, sesuai kocokan dadu. Petualangan pun dilakukan dengan dipandu oleh Dungeon Master yang menceritakan dunia khayal mereka dengan lengkap. Itulah pesona dari permainan ini; kebebasan storytelling. Petualangan ajaib, powered by our shared fantasies.  Telah banyak yang mengadaptasi D&D dalam berbagai rupa. Diekspand menjadi seri video game khusus, diadaptasi jadi kartu, film seri, konsepnya juga telah berkali-kali muncul dalam pop culture, seperti yang kita saksikan di Stranger Things atau Community, permainan ini jadi hobi atau dimainkan oleh karakter. Karya John Francis Daley dan Jonathan Goldstein kali ini actually adalah kali keempat D&D jadi film layar lebar. Dan ini adalah kesempatan mereka untuk membuat yang unik, yang beda dari yang sudah-sudah. Membuatnya jadi kayak orang main D&D beneran – saat satu karakter tertampil jadi karakter dalam permainan – tampaknya akan jadi mirip dengan konsep di film Jumanji versi The Rock. Jadi, John dan Jonathan harus mikirin cara lain. Guess what? Mereka membuat D&D ini sebagai cerita heist di dunia fantasi, ala Marvel!

Aku suka setting fantasinya, sih. Karakter-karakternya masih sesuai dengan job-class masing-masing. Ada yang penyihir, ada yang warrior, ada druid yang bisa berubah jadi hewan. Protagonis utama kita actually seorang bard, pemusik.  Di sini disebutnya Harper. Tapi perannya dalam kelompok sebagai strategist. Dan kelompok mereka, adalah kelompok pencuri. Dari sinilah tertanam kuat arahan buat jadi cerita heist itu. Jadi setelah kematian istrinya di tangan Penyihir Merah Thay, Edgin si Harper nyari nafkah untuk anak perempuannya lewat nyolong dari orang-orang kaya yang culas. Dia beraksi bersama kelompoknya. Bagaimana mereka bertemu, kita tak tahu karena masalah ini actually disajikan lewat montase eksposisi. Cerita justru mulai berjalan dua tahun setelah Ed, dan rekannya, Holga si wanita perkasa tertangkap dan dipenjara. Ed dan Holga kabur dari penjara, bermaksud menemui kembali putrinya yang dititipkan kepada Forge si Con-man. Tapi yah, namanya juga penipu, Forge sekarang telah menjadi orang kaya culas – telah menjadi musuh. Putri Ed dimanipulasi untuk membenci ayahnya. Maka, Ed dan Holga kini harus ‘mencuri’ dari si Forge, dan it’s not gonna be easy karena Forge punya pasukan dan penyihir.  Ed dan Holga harus mengumpulkan kembali anggota guna menyusup ke kota Forge. Persis kayak cerita film-film heist, kan? Yeah. Ugh.

Bukan role-play yang itu loh yaa

 

Look, I know, ketidaktertarikanku sama genre heist beserta trope-trope usangnya tidak lantas menjadikan film ini auto-jele. Untuk urusan fantasi, kedua sutradara toh memang punya arahan yang seru. Adegan-adegan aksinya tampak berbeda, keunikan karakter dimainkan dengan kuat semua. Mulai dari Holga menghajar orang-orang hingga party protagonis kita bahu-membahu melawan naga overweight, semuanya terhampar penuh energi dan fresh. It also looks very good, efek serta editing gak terlihat choppy. Mulus-mulus aja. Buktinya, adegan panjang ketika Doric si Druid yang lagi nguping penyihir jahat dalam wujud lalat terus ketahuan itu, tampak benar-benar seru dan intens. Dia akan dikejar oleh pasukan dan si penyihir, dan kita melihat dia berusaha kabur dengan berubah menjadi berbagai macam hewan, dan kamera dengan dinamis tetap mempertahankan perspektif kita lekat dengannya, sehingga jadi seolah kita turut kabur bersama. Desain karakter dan makhluk-makhluk pun tampak sama kerennya. Film ini bekerja efektif dalam membangun dunia panggung cerita.

Development karakter dalam ceritanya pun berasa. Seperti tiang penyangga pada sebuah bangunan berdesain unik yang heboh, kokoh membuatnya semuanya tetap berdiri. In a true game D&D fashion, masing-masing karakter di sini dirancang sebagai orang dengan spesifik skill, dan cuma itu yang mereka punya. Cuma skill itu yang mendefine mereka. Rancangan yang sesungguhnya merupakan ground yang risky, karena bisa membuat karakter jadi satu dimensi. Film ini justru mengembrace itu. Keterbatasan kemampuan, membuat karakter jadi harus bergerak dalam kelompok. Tempat di mana masing-masing mereka jadi bersinar karena saling melengkapi. Keterbatasan itu juga dijadikan hook dramatis. Bahwa mereka ini jadi bercela karenanya, beberapa dari mereka merasa worthless karena mereka bahkan belum benar-benar jago dalam melakukan satu hal yang define them. Penyihir yang gak ahli magic. Tukang bikin siasat yang bikin rencana muter-muter. Gagasan film soal seringkali kita terhambat justru oleh diri kita sendiri, masuk dari sini. Ed dan karakter lain akan belajar untuk mengakui kekurangan sendiri, dan bagaimana untuk tidak menjadikannya sebagai kelemahan, justru sebagai kekuatan. Apa yang dilakukan Ed pada benda pusaka, demi putrinya, di akhir cerita benar-benar menutup plot karakternya dengan manis.

Kita menyebutnya overthinking. Kita memilih untuk tidak mengejar sesuatu karena banyak mikir seperti bukan untuk kita, banyak yang lebih jago, waktunya gak tepat, dan sebagainya. Sering kita kalah sebelum bertanding seperti ini karena berpikir kita not good enough. Padahal, seperti yang ditunjukkan karakter film ini, justru pikiran kita itu yang jadi satu-satunya hambatan. Ternyata kita boleh jadi cuma selangkah dari sukses. Kita bisa melakukan apapun, jika percaya kita bisa melakukannya.

 

Gagasan kita bisa melakukan apapun, if we put our mind into it, sepertinya ditelan mentah-mentah bahkan oleh film ini sendiri. Kisah petualangan fantasi seperti ini memang paling cocok diceritakan ringan dan penuh hiburan. Dan film tepat berpikir mereka harus jadi se-ringan superhero Marvel. Yang salahnya adalah, mereka justru menjadi superhero Marvel. Mereka bahkan basically recreated adegan Hulk dan Loki di Avengers. D&D Honor Among Thieves mengakui kelemahan desainnya sendiri, karakter yang satu dimensi; di satu sisi mereka berhasil bikin itu jadi daya tarik karakter, tapi di sisi lain, untuk menjaga supaya film ini menghibur, para karakter tersebut dituliskan mengucap dialog yang seperti diketik oleh mesin-mesin peniru Marvel. Ed, Holga, dan yang lain akan constantly bicara lewat remark-remark one liner yang konyol. Yang completely di luar situasi, hanya untuk humor. Aku ngarepnya sih mereka ditulis lebih baik lagi, lebih original lagi. Apalagi di balik mereka; aktor-aktor di antaranya seperti Chris Pine, Hugh Grant, Michelle Rodriguez, Sophia Lilis, punya kapasitas menghidupkan karakter dengan cara sendiri. Tapi karakter mereka yang kita lihat di sini tuh kayak versi tiruan – bicara, mannerismnya, kayak standar karakter-karakter superhero kocak. Jadi kayak karakter generik petualangan yang fun.

Ketika game role-play, role-playing jadi cerita heist

 

Dan lagi, memang trope-trope heist itu menghambat kreativitas film ini. Batu yang cuma ‘pengganti’ walkie-talkie, atau intercom, ngumpulin kru dan bekerja terbalik dalam memperkenalkan mereka alih-alih menjalin genuine dari awal, turn ternyata karakter ini adalah siapa. Dengan ini keseluruhan film fantasi ini terasa jadi generik. Like, bukankah trope heist sudah jemu. Kenapa cerita petualangan fantasi ini akhirnya harus masuk ke dalam kotak genre yang formulaik dan gak magic-magic amat. Plus, terlalu banyak eksposisi. Game D&D memang bakal banyak eskposisi cerita dari Dungeon Master, tapi ketika sudah jadi film, kebanyakan tell dibanding show, jelas bukan bentuk yang bagus. Untuk memvariasikan eksposisi, film juga menggunakan komedi. Yang buatku juga gak benar-benar bekerja dengan konsisten. Karena beberapa adegan jadinya malah kayak pointless. Misalnya ketika Ed menceritakan masa lalunya untuk pertimbangan dia dibebaskan. Backstory dia, keluarganya, dan kelompok pencurinya diceritakan dramatis di sini, dia bahkan sudah dinyatakan bebas. Dan kemudian film berusaha ngasih punchline komedi dengan membuat Ed kabur needlessly. Momen-momen kayak gitu bukan malah membuat film jadi original, tapi jadi semakin terasa terlalu pengen absurd kayak film superhero itu.

 




Film dari game berkonsep role-play, namun sendirinya role-playing jadi sesuatu yang lain. Taste original yang mestinya masih bisa sedikit dipertahankan jadi sama sekali hilang. Itu sih yang aku sayangkan. Terutama karena di sepanjang durasinya itu kita melihat sendiri film ini bisa hadir genuine fun dan seru lewat aksi-aksi petualangan dan laga yang benar-benar memanfaatkan elemen fantasi sebagai karakter. Bukan sebagai properti, kayak waktu film ini membuat batu sihir jadi alat komunikasi jarak jauh kayak walkie-talkie atau intercom di heist dunia modern. Karakter-karakternya loveable, dan aku percaya mereka bisa melakukan lebih baik daripada jadi tukang nyeletuk lucu doang. Sebagai adaptasi dari board game, however, film ini berhasil masuk ke kotak ‘the better ones’. Mungkin gak akan membuat orang tertarik pengen main D&D beneran, tapi paling enggak bagi yang tahu, film ini cukup berhasil memasukkan elemen-elemen itu ke dalam bangunan yang berbeda. Bangunannya itu saja yang kuharap bisa lebih original lagi ke depan. I mean, masa sih untuk jadi ringan caranya cuma harus ngikutin template Marvel. Dieksplor lagi aja.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for DUNGEONS & DRAGONS: HONOR AMONG THIEVES

 




Penyihir di film ini buatku teringat kaloseason terbaru serial original Apple TV+, Servant yang penuh vibe mistis dan sihir di balik urusan keluarga kehilangan bayinya, udah tayang! https://apple.co/40MNvdM Kusuka banget misterinya, dan penasaran akhir ceritanya gimana. Beneran sihir atau bukan. Kalian yang belum subscribe platformnya, bisa langsung klik di sini biar gak ketinggalan serial dan konten film original lainnya yaaa
Get it on Apple TV

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian, apa sih appeal dari permainan D&D dan komunitasnya?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SHAZAM! FURY OF THE GODS Review

 

“… the champions are never afraid of losing”

 

 

Salah satu alasan kenapa ada batasan umur yang mengatur hal seperti anak-anak belum boleh punya SIM, belum boleh ikut Pemilu, belum boleh beli rumah, belum legal untuk memberikan consent, adalah karena anak-anak yang itungannya belum dewasa itu masih dalam perkembangan fisik dan mental sehingga dianggap belum bisa bertanggungjawab sepenuhnya. Nah sekarang coba bayangkan ketika anak remaja yang bahkan belum bisa beli bir sendiri, memikul tanggung jawab melindungi bumi dari kriminal biasa hingga marabahaya seperti serangan monster, alien, atau bahkan amukan dewa. Virgo and the Sparklings (2023) sekilas sudah menyinggung soal remaja menjadikan kerjaan superhero sebagai hak mereka, Spider-Man versi Tom Holland telah membahas sudut pandang dramatis dari beban menjadi superhero remaja. Shazam! (2019) garapan David F. Sandberg lah yang pushed soal gimana jadinya jika remaja yang masih immature bertindak sebagai penyelamat kota lebih grounded dan berfokus dalam nada yang lebih kocak. Pesona Shazam! itulah yang membuat film ini jadi entry superhero DC yang jauh lebih ringan dan loveable, easily dianggap bisa head to head dengan colorfulnya superhero sebelah. Sekuel Shazam! kali ini pun dibuat dengan hati yang sama. Menjamin dua-jam durasi itu jadi pengalaman yang seru, lucu, dan juga nostalgic mengingat kita semua waktu kecil pasti pernah bermimpi jadi superhero yang menyelamatkan dunia sekenanya, just to impress teman-teman yang lain.

Semenjak membagikan kekuatan Shazam! kepada saudara-saudari keluarga angkatnya, Billy Batson bertindak sebagai leader dari kelompok superhero mereka. Tapi karena abandonment issue yang dia punya – seperti yang dibahas pada film pertama, Billy berpindah-pindah keluarga – Billy jadi pemimpin yang agak terlalu strict dan clingy. Dia agak ngerasa gimana gitu, saat Freddy, Mary, dan saudara yang lain punya agenda masing-masing dan not really do things his way. Sementara itu, masalah yang lebih besar muncul dalam bentuk keluarga yang lain. Keluarga dewa, tepatnya. Putri-Putri Atlas yang telah terbebas mencuri tongkat Shazam, dan mereka bermaksud untuk membalas dendam kepada Wizard dan para Champion. Kota Philadelphia lantas jadi bagai pelanduk di tengah-tengah seteru keluarga. Keluarga superhero immature yang malah lebih sering rusakin kota, dan keluarga dewa yang juga gak begitu akur satu sama lain.

Me, pitching supaya Wonder (kepala) Wizard jadi karakter secret di semua game DC

 

Alih-alih dielukan sebagai pahlawan lokal, Billy dan saudara-saudarinya sebenarnya justru dianggap warga malu-maluin dan nyusahin. Grup mereka disebut sebagai Philadelphia Fiasco. Pecundang Philadelphia. Karena Billy dan saudara-saudarinya memang sembrono. Wujudnya saja yang dewasa, kekar, dan tangguh. Di balik itu sesungguhnya mereka masih amat muda. Itulah aspek yang paling charming dari film ini. Enggak pernah lupa kalo karakter-karakternya masih belum berpengalaman, masih immature. Masih bergulat dengan ego masing-masing. Sifat ‘kekanakan’ mereka diperlihatkan terus, mulai dari bagaimana mereka berinteraksi hingga ke gimana mereka beraksi. Sekuen mereka bantuin jembatan kota runtuh benar-benar memperlihatkan gimana para superhero ingusan kita memilih aksi dan prioritas. Adegan runtuhnya jembatan itu sebenarnya gak kalah seram dengan yang di Final Destination 5, tapi karena aksi ngasal para Shazam! semua jadi kocak. Ngeliat sikap kekanakan begitu muncul lewat sosok dewasa, menghasilkan kontras yang jadi sumber kelucuan adegan-adegan film ini. Adegan mereka nego dengan para dewa, really killed me. Waktu nulis suratnya juga. Film ini did a great job dalam nulisin humor dari identitas karakter,

Arahan David F. Sandberg juga terasa kuat. Di balik hingar bingar lelucon dan aksi (dan oh boy, betapa Sandberg dikasih begitu banyak hal untuk dimainkan), kita bisa merasakan arahan yang grounded. Yang menarik kita lewat perspektif. Action di Shazam! Dua ini terasa significantly lebih besar dibanding film pertama, dan setiap momen-momen aksi itu terasa berbeda. Dan yang aku suka adalah, nuansa horor yang kental terasa di balik aksi-aksinya. Tahu dong, kalo si Sandberg ini memang karya horornya lah yang put him on the map in the first place. Dia ngegarap film pendek Lights Out, yang lantas dijadikan film panjang yang ngehits. Sutradara Swedia ini juga lantas menyumbang entry paling bagus dari franchise Annabelle, lewat Annabelle: Creation (2017)  Nah, vibe horornya itu seringkali keliatan di adegan-adegan Shazam! Dua ini. Adegan jembatan yang kubilang tadi, misalnya. Terus juga desain karakter-karakter monster yang nanti bakal muncul. Momen bareng naga di dalam kegelapan. Dan tentu saja adegan di museum, saat salah satu dewa membuat ruangan tertutup debu lalu semua orang membatu. Chilling banget! Semua itu kerasa horor salah satunya akibat dari kuatnya build up lewat perspektif. Ada beberapa kali Sandberg menempatkan kita pada perspektif korban saat kejadian bencana itu. Kita dibuat ngelihat monster muncul dari dalam kayu, kita ngerasain berada di dalam mobil yang mau jatuh dari jembatan, like, kita benar-benar dibuat merasakan perspektif orang di jalanan yang ngalamin peristiwa itu.

Shazam! Dua berhasil menyelipkan momen-momen itu ke dalam tone film yang ringan dan kocak. Nonton ini memang sepenuhnya jadi seru. Meski belum sukses penuh untuk membuat kita tidak merasakan kekurangan di balik narasi. That gaping hole yang terasa olehku adalah kesan dramatis dari cerita. Dari journey Billy Batson. Kita ambil saja Peter Parkernya Tom Holland sebagai perbandingan. Peter dan Billy sama-sama superhero remaja, yang belum benar-benar matang dan dewasa pemikirannya. Maka gol dari journey kedua karakter ini basically sama. Mereka akan jadi semakin matang, they will get there through some hardships. Peter diberikan banyak momen dramatis; mentornya tewas, bibinya tewas karena kesembronoan aksinya, pacarnya pun jadi dalam bahaya. Semua itu membentuknya untuk jadi sadar, pun berubahnya tidak langsung saja, melainkan dia melewati fase broken down dulu. Dia perlu mendapatkan keberanian dan confidentnya lagi. Billy Batson dalam film ini tidak melewati sesuatu yang mirip seperti itu. Saudara-saudarinya kehilangan kekuatan adalah hal mengerikan yang terjadi padanya. Dan itupun efeknya tidak permanen, mereka bisa dikasih kekuatan lagi dengan tongkat yang ada di tangan penjahat. Momen broken downnya datang begitu saja, dan selesai bukan exactly dari pembelajarannya sendiri, melainkan didorong oleh pembelajaran yang dialami Wizard. Yang mengakui dia salah meragukan pilihannya memilih Billy sebagai juara, dan bahwa Billy punya something yang gak dipunya orang. Billy bangkit setelah mendengar ini. Buatku ini terasa sebagai resolusi journey yang lemah karena tempaan ke Billy kurang kuat.

Juara tidak ditempa oleh kekuatan fisik semata. Melainkan ditempa oleh hati yang tegar. Itulah kenapa perbedaan mendasar antara juara yang sebenarnya dengan orang biasa adalah para juara sejati tidak takut untuk kalah. Mereka tidak takut kehilangan, karena mereka percaya mereka bisa merebutnya kembali. Bagi Billy, ini berarti banyak. Karena dia juga melihatnya sebagai berani melepaskan keluarga. Itulah yang akhirnya membuat Billy jadi benar-benar jawara Wizard yang asli

 

Permasalahan Billy juga sebenarnya berakar dari hubungan dengan orangtua angkatnya, terutama si Ibu. Hanya saja naskah menggali ini bahkan lebih sedikit lagi ketimbang Suzume (2023) membahas Suzume dengan Bibinya. Interaksi antara Billy dengan si Ibu palingan bisa diitung dengan jari. Membuat momen mereka akhirnya resolve drama mereka, jadi tidak terasa kuat. Padahal mestinya permasalahan Billy ini bisa dibuat paralel dengan masalah Billy dengan ketiga Putri Atlas – yang semuanya adalah older lady; mereka bisa banget jadi cerminan sosok yang ‘membantu’ Billy melihat something dari masalah dia dengan ibu asuhnya. Naskah malah membuat Freddy yang punya hubungan khusus dengan grup antagonis. Ngomong-ngomong soal itu, peran Freddy di film kedua ini memang terasa lebih besar daripada Billy. Bestie Billy yang pake tongkat itu ngelaluin hardship yang lebih banyak ketimbang Billy, punya relasi yang lebih banyak dan lebih terflesh out, dan bahkan punya romance yang gak sekadar lucu-lucuan. Aku malah nyangkanya film bakal mengganti Billy dengan Freddy, saking menonjolnya Freddy di cerita ini.

Intonasi dan pembawaan si Jack Dylan Grazer sebagai Freddy kayaknya cocok juga jadi live-action Morty hihihi

 

Intrik di dalam keluarga Atlas sendiri sebenarnya juga menarik. Tiga orang putri berbeda usia, berbeda kekuatan, dan diam-diam juga berbeda motivasi. Cerita tiga bersaudari ini sayangnya juga kurang tereksplorasi. Melainkan cuma dibikin sebagai lembaran turn demi turn. Dan karena hubungan mereka dengan si Billy Batson juga kurang tergali, jadinya perkembangan karakter mereka juga tak terasa dramatis.  Padahal ketiganya adalah karakter original, loh. Karakter yang enggak ada di komik. Jadi, kemungkinannya ada dua. Either film ini enggak mampu menuliskan karakter original dengan matang. Atau ya karena gak ada di komiklah, makanya mereka gak diberikan eksplorasi yang lebih dalam.

Ngomong-ngomong soal Sisters, kemaren aku nonton serial thriller komedi di Apple TV+ tentang lima bersaudari yang jadi tersangka setelah suami salah satu dari mereka ditemukan tewas. Kalo pada pengen nonton juga silakan klik https://apple.co/3JLLAAz dan subscribe mumpung masih ada free trial!

Get it on Apple TV

 




Zachary Levi tampak sudah semakin settle mainin superhero komedi versi dirinya sendiri; superhero yang kayak kena ‘penyakit’ man-child akut. Tapi memang di situlah pesona karakternya. Film ini toh dihuni oleh banyak karakter likeable, yang juga diperankan dengan sama-sama menyenangkannya. Interaksi mereka yang seringkali kocak, tingkah yang absurd, serta aksi seru yang tak kalah lucu – sekaligus ada tone horor merayap di baliknya – bikin keseluruhan film jadi pengalaman super fun. Ceritanya juga dengan klop masuk sebagai sambungan film pertama. Surprise di momen akhir sukses bikin satu studio tepuk tangan sambil ngakak. Hanya saja naskah kali ini belum sukses terasa solid.  Narasinya seperti kelupaan elemen dramatis, sebelum seluruh kota diserang dan ada yang harus mengorbankan dirinya. Journey karakternya juga begitu, tidak benar-benar dieksplor, sebelum akhirnya dimunculkan saat cerita sudah di titik hendak berakhir. Menurutku, harusnya ini bisa dilakukan dengan lebih baik lagi sehingga Billy Batson dan journey karakternya bisa lebih mencuat dan jadi lurus sebagai pondasi utama.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SHAZAM! FURY OF THE GODS

 




That’s all we have for now.

Kalo anak/remaja disepakati belum matang sehingga belum bisa dipercaya memikul tanggungjawab, kenapa tiap daerah/negara punya batasan umur-dewasa yang berbeda? Apa yang menyebabkan anak di satu daerah bisa dinilai lebih cepat dewasa ketimbang daerah lain?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SUZUME Review

 

“Closed but not forgotten”

 

 

Hidup di daerah rawan bencana kiranya telah membuat orang Jepang jadi begitu kreatif. Man, they are really gives a new meaning to our saying ‘mengubah musibah menjadi berkah’. Mulai dari legenda Godzilla hingga seri game Fatal Frame, memang ada begitu banyak cerita dari Jepang yang terinspirasi dari bencana alam. Mereka membuat cerita-cerita itu sebagai peringatan, dan juga sebagai bentuk penghormatan. Baik kepada alam, maupun kepada korban dan perjuangan itu sendiri. Makoto Shinkai, sutradara anime yang terkenal dengan genre fantasi romance, juga menjadikan bencana sebagai device penting ceritanya, at least dalam tiga film terakhirnya. Film Suzume ini ia hadirkan sebagai tribute buat korban-korban bencana gempa Tohoku yang terjadi 11 Maret 2011 dahulu. Dan film ini memang bakal terasa menggugah hati dari bagaimana Makoto menuliskan perjuangan karakternya bukan hanya untuk menyetop gempa, tapi juga berdamai dengan rasa kehilangan yang terus merundung semenjak tragedi naas tersebut.

Suzume, sang karakter utama, masih kecil ketika bencana itu melanda. Di adegan pembuka kita melihat sosok kecilnya mencari-cari ibu, di suatu tempat yang dingin. Pengalaman itu pasti traumatis banget bagi Suzume hingga sampai dimimpiin begitu. Suzume sendiri, sekarang 17 tahun, adalah gadis SMA yang cukup ceria. Kita lihat dia pamitan sama tantenya. Kita lihat dia berangkat sekolah naik sepeda. Dan kita lihat dia terbengong-bengong ngeliat pemuda berambut panjang di jalanan. Pemuda itu bernama Sota, dan nanya arah kepada Suzume. Arah ke reruntuhan kota di gunung. Suzume yang penasaran, malah bolos dan tiba duluan di reruntuhan tujuan Sota. Suzume melihat pintu yang dicari oleh Sota. Dan momen Suzume membuka pintu itu jadi momen petualangan fantasi cerita ini dimulai. Satu lagi ciri khas Makoto Shinkai adalah, alih-alih membawa kita dan karakter ke dunia fantasi, dia membawa fantasi itu kepada kita. Membawa fantasi itu ke dunia cerita yang selalu ia bikin grounded dan berdasarkan langsung dari dunia nyata. Film Suzume juga lantas kontan jadi intens karena ini. Dari pintu yang dibuka Suzume muncul cacing merah raksasa. Makhluk yang cuma bisa dilihat oleh Sota dan Suzume itu melayang di atas kota, dan bakal menghempaskan diri – Cacing raksasa itulah yang menyebabkan bencana gempa. Suzume dan Sota harus berkeliling Jepang, menutup pintu-pintu tempat Cacing itu keluar supaya tidak terjadi gempa mengerikan.

Wow, kita di Indonesia menyaksikan film ini tepat 12 tahun dari bencana aslinya

 

Cacing dari dunia-lain jadi penyebab gempa… ya, kreasi film ini memang seliar itu. Dan itu yang membuatnya fun dan terasa ajaib. Salah satu cara ngembangin ide kan dengan ngelantur. Like, kita lempar beberapa kata secara acak, dan baru pilih beberapa yang relevan untuk digabungkan sebagai cerita. Suzume sama sekali gak kekurangan imajinasi untuk jadi out-of-the-box dengan kehidupan sehari-hari. Selain cacing tadi, film ini punya batukunci yang bisa berubah jadi kucing. Pintu-pintu keluar cacing yang actually berbeda-beda; ada yang selembar pintu biasa, ada pintu geser, pintu ke permainan bianglala. Belum lagi ritual dan rule buat menutup pintu yang harus dilakukan Sota. Dan oh, Sota sendiri eventually dikutuk jadi kursi anak TK. Yang satu kakinya hilang pula! Jadi bayangkan gimana dia melakukan itu semua, kalo tanpa bantuan Suzume. Penonton sestudio ketawa-ketawa ngeliat para karakter. Lihat kucing-dewa yang imut tapi nyebelin. Lihat  Suzume yang harus keliling Jepang sambil bawa-bawa kursi. Lihat Sota sebagai kursi berusaha mengejar si kucing dengan gerakan kocak. Film acknowledge kekocakan ini. Semua disengaja biar film terasa renyah dan menghibur. Dunia kontemporer Suzume yang juga takjub ngeliat kursi bisa ngejar kucing (Sota dan si kucing actually jadi viral, jadi sensasi di internet mereka) bikin film ini jadi makin akrab buat kita.

Seolah keringanan, kefamiliaran, dan keunikan karakter belum cukup, film menampilkan dirinya lewat animasi hand-drawn yang luar biasa. Makoto suka menggambar tempat-tempat asli sebagai lokasi cerita, dan di sini lokasi-lokasi yang jadi background itu meledak oleh warna-warna. Bahkan tempat yang paling suram sekalipun. Animasi film ini sepertinya dienhanced oleh efek yang membuat visual semakin berkilau. Lihat saja ketika Cacing-cacing itu berubah menjadi hujan saat Suzume dan Sota berhasil menutup pintu. Wuih, ciamik! Semua itu ditampilkan lewat sudut ‘kamera’ yang benar-benar luwes. Shot-shot perspektifnya dimainkan dengan leluasa. Jantungku berdebar-debar setiap kali kedua karakter kita berhadapan dengan Cacing, atau malah setiap kali mereka berlari menuju tempat pintu berada.

Suzume adalah film perjalanan. Petualangannya lebih ke action, agak sedikit berbeda dengan dua film Makoto Shinkai sebelum ini. Ketiga film ini ceritanya memang tak berkesambungan, tapi punya elemen khas yang mirip. Kalo kalian belum nonton, atau kepengen nonton lagi Your Name (2016) dan Weathering with You (2019),  sekalian aku tarok aja deh link dan badge keduanya di sini, biar pada tinggal klik! https://apple.co/3ZP9GQa dan https://apple.co/3FcWpZY

Get it on Apple TV

Get it on Apple TV

Perjalanan Suzume bersama makhluk dan hewan yang bisa bicara juga ngingetin aku sama animasi pendek yang kutonton tempo hari. Tentang anak yang ‘diantar’ pulang oleh hewan-hewan seperti kuda, rubah, dan tikus tanah. Dialog di film itu juga sama seperti Suzume, ngasih something untuk kita pikirkan. Kalian bisa nonton itu dengan subscribe di link https://apple.co/3ZAMup1

Get it on Apple TV

 

 

Bersama Sota, Suzume menyusur Jepang, ngikuti jejak si kucing yang dicurigai sengaja membuka pintu Cacing di berbagai reruntuhan kota supaya terjadi gempa. Suasana yang terus baru membuat misi mereka yang sebenarnya cukup repetitif jadi tak membosankan. Malahan jadi makin seru karena Suzume dan Sota juga bertemu banyak orang baru di setiap daerah yang mereka lewati. Film dengan efektif menampilkan interaksi Suzume dengan orang-orang ini, yang walau singkat tapi terasa banget mereka jadi sahabat. Namun begitu, aku cukup terhenyak di paruh awal ini, tatkala menyadari reruntuhan yang sebenarnya adalah tempat-tempat bekas korban gempa itu merupakan tempat asli. Aku gak yakin apakah tempat itu aslinya memang pernah kena gempa, atau tidak, tapi tetap saja kebayang gimana orang Jepang nonton ini – realizing gempa could happen there. Mengingatkan bahwa mungkin bisa saja ada survivor seperti Suzume yang nonton, dan mereka harus kembali melihat puing-puing. Di situlah aku sadar bahwa film Makoto kali ini lebih personal bahkan daripada Weathering with You  dan Your Name. Bahwa cerita yang diusung kali ini lebih daripada kisah romansa dua anak muda. Tentu elemen itu ada, tapi bukan inti – bukan yang terbaik – dari keseluruhan penceritaan Suzume. Karena film ini adalah tentang survivor gempa. Tentang orang-orang seperti Suzume, penyintas Tohoku yang masih mencari ibunya. Mencari orang tercinta yang jadi korban bencana.

Yang dilakukan Suzume di sini mungkin merupakan hal tersusah yang harus dilakukan penyintas. Menutup pintu. Melihat hal di balik pintu itu, mengenang peristiwa sebelum bencana, hanya untuk menutup dan menguncinya rapat-rapat. But mind you, film ini tidak mengagas itu sebagai perbuatan tersebut dilakukan Suzume untuk melupakan tragedi atau traumanya. Untuk melupakan ibunya. Tidak. Menutup pintu yang disebutkan film ini justru adalah tindakan respek, yang juga menguatkan survivor untuk meneruskan hidup ke depan. Film ini justru ingin Suzume mengingat masa itu, supaya cewek ini sadar. Untuk melihat pengorbanan dan cinta di balik itu semua. Satu elemen kunci lagi pada film ini adalah hubungan antara Suzume dengan tante yang selama ini membesarkan dia. Tante yang sampai sekarang belum menikah. Tante, yang pada satu momen meledak, bilang, dia telah mengorbankan masa mudanya demi Suzume. Suzume sendiri memang belum memandang tantenya sebagai sosok ibu yang ia hormati pada saat itu. She can’t, karena deep inside masih mencari ibu aslinya. Pengorbanan Sota sebagai kursi anak TK. Pengorbanan si kucing untuk kembali jadi kunci. Petualangannya menutup pintu, sembari bertemu orang-orang yang menampungnya, membuatnya ingat dan sadar akan hal penting yang teroverlook selama ini.

Some people gone but not forgotten, tapi tragisnya beberapa orang rela memilih bertahan dan menggantikan yang hilang, tapi terlupakan. Mengenang itu penting, tapi menyadari bahwa yang tinggal juga mengorbankan sesuatu juga tak kalah pentingnya. Film ini ngasih tahu bahwa setiap ada bencana, semua orang jadi korban, dan akan ada cinta yang mereka korbankan. Ingatlah cinta itu.

 

Kalo lihat pintu selembar gitu, ku malah ngakak jangan-jangan ada Faarooq dan Bradshaw main poker di sebaliknya haha

 

Di luar pesan simbolisnya tersebut, Suzume sebenarnya lebih ringan dan lebih straightforwad dibandingkan dua film sebelumnya. Film tidak banyak menggali soal ritual dan pintu-pintu itu. Tidak ada penggalian mendalam fantasi atau role dunia seperti pada Your Name.  Nature petualangan ala road tripnya pun membuat cerita berjalan cepat dan sistematis. Ceritanya tidak mengalami transformasi seperti pada Your Name; Suzume tetap petualangan mencari pintu, hanya dengan intensitas yang semakin dramatis. Kisah cintanya juga bahkan tidak sedalam itu. Weathering with You malah lebih terasa romantis. Romance di Suzume cuma terasa kayak ‘formalitas’ aja, biar terus ada ciri khas Makoto. Pertemuan si Suzume dan Sota itungannya termasuk kebetulan. Mereka juga tidak terasa bonding se-real itu mengingat sebagian besar waktu Sota berada dalam wujud kursi. Kita aja, aku yakin, lebih draw toward Sota sebagai kursi ketimbang Sota manusia, hanya karena dia lebih banyak sebagai kursi. Asmara mereka berdua ketutupan banyak hal yang sebenarnya lebih esensial. Dari kursi itu saja sebenarnya agak ‘meragukan’, karena kursi itu sebenarnya kursi kenang-kenangan ibu untuk Suzume. Jadi attachment si Suzume kepada Sota agak bias, karena bisa jadi dia cuma ‘sayang’ sama nilai kursi itu. Dan soal itu gak benar-benar dibahas oleh film. Pokoknya Suzume cinta aja sama Sota sehingga mau berjuang ‘menyelamatkan’ Sota di paruh akhir. Si Sotanya juga dibikin tau-tau juga sudah suka Suzume sedari pandangan pertama.

Romansa yang harus ada ini pada akhirnya jadi ngaruh ke yang lain. Yang membuat film jadi kurang maksimal. Relasi antara Suzume dan Tante atau bibinya tadi, salah satunya. Menurutku film harusnya jadiin relasi ini sebagai fokus. Karena bahasan mereka pada yang sekarang ini sedikit banget. Bahwa ternyata Suzume seneng-seneng aja dianggap anak yang kabur dari rumah, kita gak pernah merasakan itu dengan total. Padahal Suzume memang merasa lebih bebas di luar rumah. Begitu juga Tantenya. Alih-alih ngebuild up drama kehidupannya, film hanya memperlihatkan sekelebat dan membuat karakter ini ‘meledak’ gitu aja, dalam adegan awkward yang kayak dipaksakan buat sekalian ngenalin sosok batukunci yang satu lagi. Suzume berdurasi dua jam lebih dikit, memuat banyak, tapi belum terasa imbang. Enggak terasa padat kayak dua film sebelumnya, karena bahasan yang lebih penting kurang maksimal.

 




Perlu satu hari bagiku untuk ‘mendiamkan’ film ini. Supaya terlepas dari kehebohannya. Karena memang film ini lebih seru, dan gambarnya juga cantik banget. Lovable sekali! Penonton sestudioku ketawa dan hepi sepanjang durasi. Aku gak nyangka film anime bisa sepenuh itu. Karena ya memang film kali ini lebih straightforward. Dan ya itu, karena utamain crowd pleaser, dan romansa yang harus ada alih-alih penting untuk ada – menjadikan film ini formulaic,  maka aku harus mutusin satu pilihan penting. Apakah film ini bakal jadi angka delapan pertama tahun ini, atau dia sebenarnya cuma another Avatar 2. Aku sudah akan menutup pintu keputusan, dan jawaban itu muncul. Film ini punya hal yang tidak ada pada Avatar 2 yang complete fantasy. Identitas budaya real di balik ceritanya. Faktor yang membuat anime ini lebih urgen, bahkan dari dua karya Makoto sebelumnya yang lebih superior. Ya, keputusan itu akhirnya bisa dikunci.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SUZUME

 




That’s all we have for now.

Kira-kira kalian punya teori gak, kenapa Suzume bisa jadi secinta itu sama Sota?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



YOUR NAME Review – [2016 RePOST]

 

“It’s always an out of body experience with you.”

 

yourname-poster

 

Jepang, yea that land of weird things, memberikan kepada kita sebuah cerita cinta remaja dengan premis konyol paling tak-biasa; TENTANG COWOK DAN CEWEK YANG BERTUKAR TUBUH. Tapi yang lebih aneh daripada itu, adalah fakta tak-terbantahkan bahwa that story is wonderfully worked. Sangat kuat secara emosional, dituturkan dengan cara paling unik, dan somewhat suspenseful. Menjadikan anime ini berada di atas sana sebagai salah satu drama romansa terbaik yang kita lihat di tahun 2016.

Mitsuha, cewek pedesaan yang ingin tinggal di kota, terbangun dari tidur dalam keadaan bingung. Dia lalu kedapatan sedang meraba tubuhnya sendiri. Sementara itu, seorang cowok bernama Taki, terjatuh dari ranjangnya di suatu apartemen di Tokyo. Dengan malu-malu, dia melihat ke tubuh bagian bawahnya. “Oh Tuhan, kenapa gue jadi punya ‘ini’?” pikiran itu tergaung oleh both Mitsuha dan Taki karena mereka baru saja sadar; mereka terbangun di dalam tubuh orang lain. Awalnya, Mitsuha dan Taki mengira mereka cuma sedang mimpi. But the phenomenon keeps happening, day after day. Dari reaksi kerabat sekitarlah, they learned bahwa secara random, tanpa tedeng aling-aling, mereka bertukar tubuh saat bangun tidur. Kenapa bisa? Kenapa mesti mereka? Padahal mereka tidak saling kenal. Padahal mereka tinggal berkilo-kilo meter jauhnya!

Cerita film ini adalah tentang gimana Mitsuha dan Taki yang harus mencari tahu kenapa hal ini terjadi kepada mereka while also harus figure out gimana menjalani hari sebagai orang lain. Ini bukan soal si cewek ntar jadi tomboy, sedangkan yang cowok jadi feminin. It explores more. You know, it really gives “try walking on my shoes” a whole new meaning, as kita ngeliat kedua karakter ini literally experiencing pepatah lama tersebut. Melalui rangkaian montage yang sweet dan kocak, kita akan menyaksikan apa yang tadinya kebingungan berubah menjadi kerja sama. Mitsuha dan Taki menemukan cara untuk berkomunikasi. Mereka saling larang, kebayang dong malunya gimana ketika orang lain tahu privasi kita. Or something like, “you can’t do that in my bod – I don’t do that!” Namun somehow, saat bertukar tubuh, mereka berdua tidak tahan untuk ‘ikut campur’ dan mencoba untuk mengimprove kehidupan rekan tukeran-tubuhnya. Eventually, mereka menumbuhkan rasa kagum dan appreciate one another as they learn about each other’s lives.

 kalo di Indonesia bisa jadi sinetron; Tubuh yang Tertukar..

Kalo di Indonesia bisa jadi sinetron; ‘Tubuh yang Tertukar’

 

But that just one element of the whole story. It was just merely a set-up, untuk membuat kita mengerti sedalem apa hubungan yang terjalin di antara mereka berdua. Film ini actually berkembang menjadi much more deeper, serious and adventurous, dengan dibalut misteri, as they prove cinta sejati will stand out against the test of space and time.

Apa yang bisa membuat dua orang yang tidak pernah bertemu, yang tidak saling kenal, bisa jatuh cinta? Your Name sesungguhnya mengeksplorasi kebudayaan remaja yang sangat relevan, bukan hanya di Jepang, melainkan juga di belahan lain dunia. Sering kita stumble on story of how dua pasangan bertemu dari kenalan lewat online. Kita bisa belajar banyak tentang seseorang dari pengalaman yang ia tulis, ia ceritakan, dari curhat-curhat mereka. We get too see dan fall in love with their personality. Dan film ini examined tema tersebut dengan cara yang sangat cantik. Mitsuha dan Taki belajar tentang kehidupan each other dengan mengalami. Dengan benar-benar menjadi orang tersebut. Jadi mereka bisa tahu lebih banyak tentang pribadi masing-masing dibandingkan dengan hanya mendengar. It was such a personal bonding. Itulah sebabnya film ini sangat unik, sebuah romansa yang diceritakan dengan sangat keren.

 

Aku bukan penggemar drama cinta, aku bahkan bukan penggemar besar film anime. Di luar kartun-kartun masa kecil, paling aku hanya ngikutin Studio Ghibli saja. Dan Your Name adalah pelipur ketakutan kita, ngingetin bahwa ternyata masih banyak director di luar sana yang masih berjuang membuat film-film animasi yang hebat, penuh imajinasi nan cantik. Cara berceritanya lain dari yang lain dalam mengangkat tema yang udah jadi lapangan bermain khas Makoto Shinkaitentang pasangan yang terpisahkan oleh sesuatu. And I love this movie so much. Film ini tidak terasa cengeng ataupun lebay buatku. Meski ada juga sih adegan-adegan ‘tragis’ kayak lari-lari terus jatuh kesandung, tapi film ini bukan cinta-cintaan remaja supermelodramatis seperti di sinetron atau ftv. Your Name adalah tontonan yang lebih daripada itu.

Sungguh refreshing, cerita yang sangat berbeda, aku belum pernah melihat drama dituturkan dengan cara yang amat SANGAT UNCONVENTIONAL. Karakter-karakternya ditulis dengan begitu menyenangkan. Mereka semua sangat likeable. Voice-over yang sangat ekspresif dan sukses berat menghidupkan para tokoh. Mone Kamishiraishi lively sangat sebagai Mitsuha, dan Ryunosuke Kamiki sanggup ngeluarin charm dari kedua tubuh yang ia perankan.
Juga ada banyak simbolisasi yang memparalelkan antara kejadian di alam semesta, mekanisme dunia film ini, dengan hubungan yang dimiliki oleh kedua tokoh leadnya. It never gets too confusing, malahan semakin menarik kita. Tidak membiarkan kita terlepas sedetik pun dari ceritanya.

Arahannya pun luar biasa menakjubkan. Film ini sesungguhnya punya dua tone cerita yang kontras, Your Name adalah film yang sangat emosional yang bukan saja very funny melakinkan juga punya cara sendiri menyentuh kita tanpa jadi terasa lebay. Tidak pernah kedua tone tersebut berbenturan keras kayak komet yang menghantam bumi. Kebanyakan film kesulitan menjembatani dua sisi cerita yang berbeda, you know, kita sering lihat film yang awalnya kocak dan as the story progress, menjadi lebih serius sehingga terasa kayak dua film yang berbeda. Your Name punya cara yang hebat sehingga transisi antara bagian yang kocak dan fun dengan part of story yang lebih serius, EMOTIONALLY POWERFUL, dan ultimately penuh suspens menjadi mulus tak terasa.

Ketika modern world terpana oleh pesona dan misteri dongeng

Ketika modern world terpana oleh pesona dan misteri dongeng

 

Film ini akan meminta kita untuk menghormati kebudayaan Jepang. Sama sekali tidak berusaha untuk terlihat seperti Hollywood. Konten lokalnya kuat. Kita akan melihat ritual bencana dan perayaan fenomena alam. Ada banyak referensi tentang adat Jepang yang bakal kita apresiasi lebih jika sedikit-banyak tahu tentangnya, atau paling enggak jika kita sering nonton anime sejenis. Humornya pun bakal terasa baru, that we’ve never heard before. Makanya film ini begitu fresh. Ditambah lagi, film ini tetap memakai animasi traditional yang digambar dengan tangan. You know, style anime dipush menjadi semakin gorgeous oleh film ini. It was as mesmerizing as the storytelling. Gerakannya begitu fluid, everything – dari penampakan dalam ruangan hingga pemandangan angkasa, perbukitan hijau – tergambar dengan sangat cantik. Aku seneng aja Jepang punya kebanggaan untuk tetap menggunakan animasi khas mereka di saat Amerika, bahkan Indonesia, nyaris benar-benar meninggalkan cel animation dan beralih ke CG. Sebenarnya enggak masalah sih, CG keren dan menyenangkan. Hanya saja gambar-tangan kesannya lebih majestic, lebih imajinatif, dan khusus kasus film ini, terbukti lebih beautiful.

Nenek Mitsuha menyuruhnya untuk “treasure the experience”, as in segala keindahan di sekitar kita setiap hari, sesungguhnya adalah sementara. Tapi kita lebih sering take so many little things for granted. Koneksi dengan orang-orang, contohnya. Cherish dan appreciate hubungan genuine yang kita punya dengan sekitar.

 

 

 




Punya keunikan penceritaan yang luar biasa, sampai-sampai aku tidak bisa menemukan apa yang aku tidak suka dari animasi yang cantik jelita ini. Humornya yang beda bekerja sukses, drama emosionalnya bekerja sukses, aspek misteri dan mekanisme dunianya bekerja sukses, everything works out great in this movie. Dengan cara unconventionalnya examining today’s youth culture dan apa yang bisa membuat dua orang jatuh cinta meski jika mereka belum pernah bersua. Yang berhasil dicapai oleh Makoto Shinkai pada filmnya ini adalah betapa accessiblenya film ini buat banyak lapisan penonton, as ceritanya tidak come off  terlalu abstrak. Film ini imbued with elemen mimpi. Namun tidak seperti mimpi yang lebih sering terlupakan saat kita bangun, film ini akan terus terngiang di kepala. Bahkan saking kuatnya sehingga kamu-kamu bisa saja bermimpi tentangnya.
The Palace of Wisdom gives 9 out of 10 gold stars for YOUR NAME (KIMI NO NA WA).

 

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

We? We be the judge.

 



VIRGO AND THE SPARKLINGS Review

 

“Inside every angry child is an emotion they haven’t been able to comprehend”

 

 

Menyelamatkan dunia bukan hanya hak orang dewasa. Tagline Virgo and the Sparklings tersebut kontan menggelitik. Menyelamatkan dunia kan sebenarnya adalah sesuatu yang diemban sebagai tugas, sebuah kewajiban. Tanggungjawab. Bukan sesuatu yang didapatkan dengan jumawa, untuk gaya-gayaan. Kentara sekali kalimat tersebut punya nada penuh kebanggaan, namun sedikit polos tapi juga angkuh terhadap orang dewasa, semacam ingin nunjukin mereka juga bisa dan melakukan dengan lebih baik. Mereka siapa? Siapa lagi yang bisa bersikap angkuh padahal aslinya perlu belajar lebih banyak kalo bukan anak muda. Remaja. So, sedari taglinenya saja, karya Ody C. Harahap ini sudah menguarkan identitas yang kuat. Bahwa superhero kali ini beda dari kakak-kakak hero Bumi Langit sebelumnya. Jagoan super kali ini adalah anak muda, dan kita akan ngikutin cerita dari dunia dan perspektif mereka. Percikan api gelora anak muda, dan permasalahan mereka dengan orangtua, jadi hati pada cerita. Bahkan mungkin bisa dibilang, ini adalah cerita remaja dengan kedok superhero.

Berkedok superhero. Aku bilang begitu karena memang Virgo and the Sparklings works best saat memperlihatkan interaksi antarkarakter remaja dan segudang permasalahan mereka. Riani nama karakter utama di sini. Gadis SMA yang agak pemalu itu jadi semakin gak suka nonjolin diri lagi lantaran dia punya ‘kebiasaan’ aneh. Bola api suka tau-tau berkobar muncul dari dua tangannya. Padahal Riani ini punya bakat nyanyi. Suaranya bagus banget. Waktu Riani nyanyi sendirian di dalam kelas kosong itulah, beberapa teman mendengar kebolehannya. Riani akhirnya diajak gabung ngeband bareng Ussy, Monica, dan manajer mereka; Sasmi. Band mereka dinamai Virgo (karena semua personel ternyata berzodiak Virgo, cute!) dan mereka ikutan semacam kontes battle of the band. Di kontes itu mereka bertemu dan akhirnya saingan sama girl rock band idola mereka, Scorpion Sisters. Bagian Riani membuka diri untuk bergaul dan bikin band bareng teman-teman itulah yang menyenangkan sekali untuk disimak. Karena situasinya benar-benar dibuat grounded. Khas pergaulan anak remaja sehari-hari. Dari situ juga masuklah bahasan tema utama cerita, karena teman-teman Riani sebenarnya gak ada yang boleh ngeband oleh orangtua masing-masing. Tapi mereka tetap nekat, sampai bikin topeng dan kostum biar identitas mereka gak ketahuan nanti pas nampil di panggung. Jadi kostum dan kekuatan api Riani – yang obviously bakal jadi karakter superheronya – di awal itu dihadirkan natural. Para karakter ini ‘hanya’ menjadikan itu sebagai gimmick mereka buat manggung. Buat dapat view. Momen-momen Riani dibantu oleh teman-teman mengendalikan kekuatan api juga terasa sangat lugu. Dia disuruh manasin air, dan juga masak mie. Tapi momen-momen sederhana itu jadi semakin serius, karena di balik keceriaan mereka, di background kita kerap mendengar berita tentang anak muda yang kesurupan dan mengamuk kepada orangtua mereka. Inilah yang jadi konflik, jadi sesuatu yang harus dibereskan oleh Riani terkait journeynya menjadi seorang patriot super.

Kekuatannya api, lagunya angin, zodiaknya tanah

 

Action-fantasi atau superhero yang grounded memang terbukti lebih menyenangkan. Apalagi yang settingnya kehidupan anak muda kayak gini. Yang ceria walau juga penuh drama. Tapi yang jelas, jauh dari ba-bi-bu intrik plot twist politik. Film Virgo juga cukup bijak nahan diri – tidak hingga momen credit kita melihat tie in universe Riani dengan superhero BCU lainnya. Cerita yang contained di dunia sendiri, membuat film jadi lebih fokus, dunianya itu terasa lebih hidup (walaupun memang tidak sepenuhnya dieksplorasi). At least, Virgo terasa punya identitas dan keunikan. Scott Pilgrim vs. The World masih jadi nomor teratas dalam daftar film favoritku setelah sepuluh tahun lebih untuk alasan tersebut. Film itu berlaga di dunianya sendiri, dan berhasil. Dan dunianya itu adalah dunia absurd, tapi sebenarnya adalah cerita khas anak muda. Seorang cowok yang ingin pacaran sama si cewek baru, tapi dia harus ‘ijin’ dulu sama tujuh mantan si cewek. Premis itu diwujudkan dalam aksi seperti pada komik dan video game, karakternya yang di awal kayak remaja sehari-hari ternyata pada punya kekuatan unik. Dan mereka juga tanding ngeband! See, no wonder aku bandingin Scott Pilgrim dengan Virgo ini.

Walau ternyata memang enggak seabsurd itu, Virgo hadir dengan energi remaja khasnya sendiri. Geng-gengan. Naksir-naksiran. Saing-saingan. Idol-idolan. Pertemanan yang akrab banget, tapi sesekali juga bisa berantem. Api kekuatan Riani yang tak terkendali itu bisa kita sambungkan sebagai simbol passion remaja yang sedang dalam masa pencarian tempatnya di dunia. Tapi yang paling penting di antara itu semua, film ini mengangkat value yang relate banget dengan setiap remaja manapun. Tentang komunikasi antara anak dengan orangtua, dengan orang dewasa. Dalam cerita ini, Riani akan menyelediki kenapa anak-anak yang menonton satu video misterius di YouTube pada mendadak kesurupan dan mengamuk. Nice play dari fenomena masa kini yang anak-anak cenderung dinilai lebih emosian kalo terekspos gadget terlalu lama. Memang di jaman sekarang, anak-anak lebih suka menghabiskan waktu di internet ketimbang dengan orangtua. Di salah satu adegan, teman sekelas Riani mengamuk dan ada yang minta untuk manggil guru. Namun Riani menjawab, guru bisa apa. Sekali lagi film ini nunjukin betapa anak muda seperti mereka tidak lagi memilih orangtua atau orang dewasa sebagai opsi yang terpercaya. Film lebih jauh mengeksplorasi masalah ini dengan memperlihatkan Riani dan kawan-kawan berusaha membereskan masalah mereka sendiri. Orangtua hanya berarti masalah.

Kebanyakan cerita dengan tokoh remaja memang biasanya ‘mengantagoniskan’ orangtua. Atau kalo perlu, kehadiran orangtua dihilangkan gitu aja, tidak disebut di dalam cerita. Yang membuat Virgo berbeda dari film-film atau cerita remaja serupa itu adalah, film ini actually mengungkap sudut pandang lain. Bahwa kemarahan anak, ketidakpercayaan anak yang disasar ke orangtua, hanyalah luapan emosi berapi-api yang mereka rasakan di umur segitu. Anak takut membuat marah orangtua, suka ngerasa akan makin susah, sehingga komunikasi itu gak ketemu. Padahal bisa jadi kalo masalah itu diomongin langsung malah jadi ‘plong’ Seperti yang ditunjukkan oleh film ini. Kids, your parents are not that bad.

 

So much fun ngelihat Adhisty Zara, Satine Zaneta, Ashira Zamita, Rebecca Klopper, dan aktor-aktor muda itu ‘dilepas’ di lingkungan yang akrab dan relate dengan keseharian mereka. Membuat film makin terasa genuine. Problem, however, mulai bermunculan ketika film mengangkat yang agak serius dan kehilangan pegangan kepada dunia remaja saat genre superhero itu harus ditegakkan. Virgo and the Sparklings memang terasa enggak balance, pada beberapa momen dapat berubah drastis dari menyenangkan menjadi cringe. Mungkin arahannya kurang bisa mengena ke pemain? Coba bandingkan dialog ’emangnya guru bisa apa’ tadi dengan dialog ‘polisi gak bisa ngapa-ngapain’ yang diucapkan Zara sebagai Riani di menjelang babak akhir nanti.  Celetukan yang lebih serius soal polisi itu terdengar agak cringe diucapkan. Enggak senatural murid yang gak percaya guru. Dan juga feel forced, karena di titik itu kita sudah tahu kekuatan Riani dan sebenarnya naturally dia tinggal bilang cuma dia yang bisa lihat ‘asap hitam’ penyebab semuanya.

Final battlenya juga terasa cringe, tidak tampak seperti ujung yang natural dari build up dan hubungan karakter yang telah dijalin. Situasi menjelangnya padahal masih terasa ceria dan lucu di balik keseriusan masalah. Geng Riani udah full jadi tim hero, tapi kehalang satu pintu terkunci aja mereka kocar-kacir. Lalu mereka yang pakai alat untuk menghalang kekuatan si penjahat jadi punya interaksi kocak karena alat itu membuat mereka tidak bisa mendengar satu sama lain. Tapi saat Riani sudah face-to-face dengan penjahatnya, dalang dari semua, semua terasa lop-sided.  Aksi pada Riani seperti terbatas pada lempar bola api (yang not destructive, tapi menyembuhkan korban dari pengaruh jahat) sehingga battlenya dengan cepat jadi monoton meski film berusaha membuatnya dramatis dengan kekuatan Riani sendiri mulai takes toll on her body. Yang buatku paling mengganjal di final battle itu adalah Riani kayak gak punya plight, perdebatan dengan si jahat. Dia enggak benar-benar menanggapi omongan si jahat, padahal si jahat ini adalah idolanya, padahal si jahat ini sudah menyebut mereka sebenarnya sama dan mengajak Riani bergabung dengannya. Riani cuma ngomong sekadarnya saat mereka bertemu untuk pertama kali sebelumnya, tapi di momen final, benar-benar gak banyak bantering antara mereka berdua. Buatku ini sedikit kekurangan pada naskah, serta missing opportunity. Naskah tidak benar-benar bisa memparalelkan antara Riani dengan si jahat, sehingga resolve konflik mereka kurang nendang. Missed opportunity, karena ini harusnya jadi momen kita melihat Zara dan Mawar Eva adu akting, tapi film gak benar-benar ngasih mereka sesuatu melainkan hanya gimmick cringe sebagai momen ‘berantem’.

Bulan baru, film Mawar baru!

 

Kalo mau jujur sih, adegan-adegan perform musik film ini menurutku sebenarnya juga masih tergolong missed opportunity. Kenapa? Karena di sini mereka punya assemble cast yang sebagian besar beneran bisa nyanyi dan bisa main alat musik tapi coba lihat sendiri deh gimana film ini ngesyut adegan-adegan perform tersebut. Bland dan seragam semua cara nampilinnya. Boring. Sekali lagi aku membandingkannya dengan Scott Pilgrim yang punya banyak adegan ngeband, dan masing-masing adegan tersebut berbeda treatment dan ada keunikannya satu sama lain. Ody Harahap memang bukan Edgar Wright yang ahli bercerita dengan gaya editing dan timing komedi yang khas, Ody punya cara tersendiri menampilkan komedi atau aksi, ataupun keduanya, tapi untuk nampilin perform musik yang energik, arahannya masih terlalu standar.  Adegan musik yang ceritanya direkam dengan hape Sasmi yang kakinya sakit, akan tertampil sama dengan adegan musik di panggung pertunjukan.  Kita selalu melihatnya dari kamera yang seperti kamera pada acara TV sehingga nyanyian tersebut tidak pernah dikesankan seperti dinyanyikan langsung. Mawar ataupun Zara harusnya bisa banget punya momen perform seperti Brie Larson nyanyi Black Sheep di Scott Pilgrim, tapi Virgo tidak pernah meng-utilized pemainnya seperti demikian. Performance mereka artifisial semua, enggak ada aksi panggung sehingga gak berhasil ngasih kesan ‘live’ kayak Brie.

 

 




Film ini buatku punya vibe yang sama dengan film dan video game favoritku, Scott Pilgrim dan seri River City Girls. Aku enjoy nonton bagian karakternya saling interaksi, latihan band, latihan menggunakan kekuatan superhero. Value yang dikandung ceritanya juga relate banget, terutama buat anak muda. Film ini bisa jadi hiburan sekaligus something untuk dipikirkan bagi penonton muda. Walaupun memang pada akhirnya naskah dan arahan cukup keteteran, aksinya berakhir cringe, kekuatan Riani  jatohnya underwhelming banget – apinya gak sakit, sinesthesianya cuma plot device untuk misteri kekuatan penjahatnya – adegan perfom musiknya enggak benar-benar nendang (walau lagunya enak-enak), dan banyak karakter yang bikin penasaran simply karena cerita tidak benar-benar bisa memanfaatkan waktu untuk mengeksplor mereka. But hey,  I’d take cheerful and grounded superhero movies any day ketimbang superhero yang sok-sok gelap dengan fantasi politikal yang melebar ke mana-mana. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for VIRGO AND THE SPARKLINGS

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian kenapa sih anak-anak muda gak percayaan sama orang dewasa?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA