MARLEY Review

“A dog doesn’t care if you are rich or poor, educated or illiterate, clever or dull. Give him your heart and he will give you his.”

 

 

Walau mengaku bujangan kep… eh salah, itu lagu Yuni. Walau mengaku penyayang binatang, tapi honestly dulu aku peduli memelihara hewan cuma kalo ‘peliharaan’ tersebut bisa diajarin nyerang orang, atau bisa membawaku terbang, atau punya berbagai alat ajaib di dalam kantongnya. Waktu kecil dulu aku belum kebayang hubungan dengan hewan peliharaan itu bisa menjadi sangat emosional. Dulu aku cuma melihara tamagotchi, dan memang aku bisa ’emosional’ kalo udah capek-capek dirawat, dia mati. Alias emosi dalam artian ngamuk, karena meliharanya masih dalam tahap menganggap sebagai game. Padahal melihara yang sebenarnya itu bisa membawa kedekatan. Pets bisa seperti sahabat, bahkan lebih dekat daripada keluarga. Waktu baru melihara kucing beneran lah (itupun awalnya karena loteng kafeku banyak tikus), aku mengerti. Tadinya aku pengen bicara tentang hal tersebut lebih lanjut, lewat film Marley garapan M. Ainun Ridho. Aku excited pengen nonton ini, karena merasa sekarang aku bisa semakin relate dengan cerita persahabatan manusia dengan hewan peliharaan. Ternyata Marley bicara lebih banyak di balik persahabatan tersebut. Namun sayangnya, film ini fell flat, tidak mampu menceritakan semuanya dengan baik. Mengatakan hanya membahas di permukaan pun, film ini belum berhasil.

Ini kali kedua dalam waktu dekat aku nonton film Indonesia yang mengangkat hewan peliharaan sebagai topik (atau mungkin bahkan pemain) utama. Sebelumnya ada June & Kopi (2021). Sehingga mau gak mau, aku akan membandingkan. Marley punya bahasan yang lebih banyak. Ceritanya tentang seekor seekor pitbull yang lagi ngumpet dari kejaran preman bayaran tukang daging, bertemu dengan Doni (Tengku Tezi jadi guru yang asik), pemuda yang memberinya makan. Si pitbull lantas ngikutin Doni si baik hati pulang. Doni jadi memeliharanya, memberinya nama Marley – sesuai musisi favoritnya. Masalah dimulai ketika Doni yang seorang guru matematika, gak bisa gitu aja ninggalin Marley di rumah selama mengajar. Doni harus membawa Marley ke sekolah, yang berujung membuatnya dipecat. Hidup menjadi semakin berat. Tapi sebaliknya, karena Marley-lah, guru kita itu belajar yang namanya cinta. Yang bakal mengubah hidupnya.  

124847791_1740492739436816_8121578112268320359_n
Daripada sok nyelametin satwa-liar langka, noh di jalanan banyak anjing dan kucing yang siap untuk diberi kasih sayang.

 

 

Ada bahasan asmara – Doni naksir-naksiran sama seorang bu guru bernama Vina (Tyas Mirasih, another alumni gadsam main di another film about human and dog) tapi dia gak kunjung melakukan gebrakan karena Vina ternyata sudah punya anak, sehingga most of time, relasi mereka tampak awkward. Lalu ada bahasan soal pendidikan; Doni ini guru yang punya pandangan maju tentang bagaimana cara yang fun dan efektif ngajarin matematika kepada anak SD. Supaya mereka gak stress menghapal dan sebagainya. Doni justru pengen membuat anak-anak merasa happy dan bermain-main dengan angka-angka. Soal pendidikan ini jadi concern utama film, cerita akan benar-benar membandingkan cara ngajar tradisional yang dianut sekolah di negara kita hingga saat ini dengan cara yang lebih, katakanlah, modern. Film akan memperlihatkan mana yang lebih baik,Jika serta menunjukkan walau cara tersebut lebih baik, tidak segampang itu untuk diterapkan karena guru-guru yang lebih ‘tradisional’ – guru-guru yang masih gak mau segampang itu menerima ide Doni masih banyak. Lalu ada juga pembahasan hingga ke soal perdagangan daging anjing yang semakin meliar. Persahabatan Doni dan Marley membentang melingkup semua itu. Kehadiran Marley menjadi warna, dan sedikit mempermudah Doni menelan masalah-masalahnya. Karena at least now, dia punya seseorang untuk diajak ngobrol. Punya tempat untuk mencurahkan hati. Enggak lagi bicara kepada foto-foto di rumahnya.

Hewan peliharaan adalah companion yang setia. Terutama seekor anjing. Anjing gak akan peduli siapa dirimu. Miskin atau kaya. Pintar atau bodoh. Begitu mereka merasakan hati tulusmu, maka kau telah mendapat teman seumur hidup.

 

Jika dikembangkan dengan baik, Marley akan bisa jadi lebih padat dan kompleks dibandingkan June & Kopi. Inilah kenapa film itu bukan semata soal ide cerita, gagasan, atau moralnya saja. Yang nomor satu dari sebuah film adalah penceritaannya. Marley ternyata bercerita dengan lebih simpel, dalam artian yang not-good. Penceritaan Marley hanya pada batasan ‘tell’, tidak melibatkan ‘show’. Sekalinya ‘show’, yang diperlihatkan malah sesuatu yang either diceritakan terlalu cepat, atau kurang relevan (misalnya porsi-porsi komedinya). 

Persahabatan antara Marley dan Doni misalnya. Hanya di awal-awal saja yang beneran terasa. Doni memandikan, ngasih makanan, lalu ada juga dia marah karena Marley ngacak-ngacak rumah. Makin ke akhir, Marley jadi hanya kayak berada di sana aja. Doni yang dipecat, berusaha membangun tempat mengajar sendiri. Dia melalui banyak kesulitan, dan malah jadi kayak berantem ama Tuhan. Marley agak terpinggirkan. Momen film kelihatan benar-benar berusaha langka sekali. Paling cuma pas ngasih nama. Entah itu nama tempat ngajarnya, ataupun nama Marley. Diperlihatkan proses berpikir mendapatkan nama tersebut, dan semua itu melibatkan Marley. Aku suka momen-momen seperti itu. Walaupun aku kurang sreg nama yang diberikan adalah Marley. It is too easy. Sudah ada film ikonik tentang persahabatan manusia dan anjing yang berjudul Marley & Me (2008) yang tebak siapa nama karakter anjingnya. Ada banyak nama lain; kalo mau nama musisi pun, banyak nama yang lain. Tapi film memilih nama yang membuat orang teringat sama film lain. Film yang bercerita dan dibuat dengan jauh lebih baik. Oh, aku yakin dari nama/judulnya saja, calon penonton akan membanding-bandingkan film ini, dan hasilnya ‘matematika’ perbandingan tersebut gak akan baik untuk film ini.

Film lebih banyak bercerita lewat montase. Doni membangun tempat ngajar; lewat montase ngumpulin murid-murid; lewat montase. Doni ngajarin murid-murid; lewat montase. Padahal ini momen-momen yang tepat untuk menumbuhkan atau menunjukkin development, tapi film lebih memilih untuk memperlihatkan sekelebat permukaan itu saja. Film ini menyebut Doni punya metode unik dalam mengajar. Kita sama sekali gak pernah melihat keunikan itu seperti apa. Doni cuma tampak seperti guru yang akrab dan pandai membawa dirinya di hadapan anak-anak (or di hadapan siapapun lawan bicaranya for that matter) Film yang rajin, film yang tahu apa yang sedang ia bikin, tentu akan menciptakan metode Doni dan menampilkannya kepada kita. Jangankan bikin kreasi, film ini kameranya saja enggak cepat tanggap. Ada adegan ketika Marley diberikan makanan gratis oleh orang dan Doni bilang “ayo ucapin terima kasih”. Adegan tersebut dari awal hingga akhir direkam dengan kamera wide dari depan doang. Mereka enggak memperlihatkan reaksi Marley. Mereka gak memberi kita informasi apapun dari karakter yang namanya jadi judul film ini. Sedikit sekali Marley tertampilkan. Film lebih suka memperlihatkan kamera seolah dari pov Marley. Padahal cara seperti itu gak bercerita banyak. Kita tetap gak tau apa yang dirasa oleh Marley. Lebih efektif merekam wajah Marley saat dia melihat orang. Tapi tentu saja itu mengharuskan sutradara benar-benar bisa ngedirect Marley.

marley5fe543db90c691ca5361aa8488f52236
Spoiler penting banget: Plot twist! Marley ternyata cewek!!

 

 

Contoh lain film ini cuma ngemeng tanpa ngasih bukti adalah ketika Doni bilang salah satu muridnya berbakat jadi pelawak gede. Kita gak pernah tuh melihat murid melawak. Sebagai orang yang lucu. Cuma ada satu dialog yang dia ngelucu, tapi penulisannya kayak orang yang berusaha ngelucu sehingga dibawakan pun gak lucu. Yang diberikan waktu lebih banyak justru momen pedekate Doni kepada Vina. Yang hampir semuanya tampak awkward. Tampang Vina entah kenapa selalu kayak lagi tertekan atau lagi melakukan sesuatu yang salah. Dan dialognya pun luar biasa basa-basi. Pernah gak baca komen di Instagram “Ih kamu cantik banget” “Enggak kok, kamu yang cantik” “Cantikan kamu, ih” “Yang ngelike juga semuanya cantik”. Dialog-dialog film ini, terutama pada bagian Doni dan Vina terasa se’forkal’ itu. Tau gak forkal apaan. Formal tapi dangkal. 

Dengan kualitas dialog seperti itu, hanya ada ruang sempit untuk aktor-aktor kita memaksimalkan akting mereka. Doni yang paling mending. Tetangganya juga cukup oke, meski karakternya satu dimensi. Dan memang karakter lain cuma satu dimensi. Untuk ngelucu, ngelucu aja. Untuk galak, galak aja. Khusus penjahat boleh ngelucu sambil galak. Tapi harus bego. Karakter-karakter anak-anak jangan ditanya. Mereka cuma kayak template karakter pendukung anak di film Indonesia. Dijauhkan dari segala emosi manusiawi. Cuma sebatas melafalkan dialog dengan suara yang seanak-anak mungkin. Kualitas penulisan cerita anak film Indonesia kebanyakan masih sebatas ini. Belum banyak yang berani mengembangkan lebih daripada ini. Cuma memang anehnya film ini, tadinya aku mau bilang kalo film ini sugarcoat aja – mengelak dari ngasih yang terlalu dalam untuk anak-anak. Eh, tapi kemudian datanglah ending yang katakanlah tragis. Berani juga film ini mengirim anak-anak pulang dengan cerita kematian. Tapi yang sesungguhnya mati di sini adalah plot, karena dengan ending seperti itu tidak ada lagi karakter yang benar-benar punya perkembangan di sini.

Jadi aku gak ngerti kenapa film memilih ending seperti itu. Akhiran yang merenggut semua orang dari kesempatan melingkarkan arc mereka. Satu-satunya alasan yang terpikirkan olehku adalah film ini ingin beda dari Marley & Me. Film ini pikir mereka akan ngeswerve kita dengan ending yang, katakanlah, kebalikan dari Marley & Me. Ending yang kalo mereka ditanya apakah film ini niruin Marley & Me, maka mereka bisa menjawab dengan sumringah “Enggak dong, endingnya aja beda, tonton aja”.

 

 

 

Untuk nyimpulin perbandingan yang kuangkat di awal; June & Kopi masih pilihan tontonan lebih baik dari film ini (perbandingan ke Marley & Me jangan ditanya!). Film ini sebenarnya manis, persahabatan Doni dan Marley cukup hangat. I want to see more of them doing things together. Aku cukup senang bisa nonton mereka dalam rangka menjelang satu tahun kematian kucingku, Max. Tapi film ini punya bahasan lebih banyak, dan gak mau benar-benar menggalinya. Film cenderung memilih bercerita dengan sangat aman – kalo gak mau dibilang amat malas. Sehingga, jangankan menggigit, film ini bahkan enggak menyalak. 
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for MARLEY.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian punya cerita seru/lucu/haru bersama hewan peliharaan kesayangan?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

BELFAST Review

“To leave home is to break your own heart.”

 

Pembahasan Best Picture kita berikutnya adalah film Belfast. Ditulis dan disutradarai oleh Kenneth Branagh, sebagai sebuah semi-otobiografi. Branagh di sini bercerita dari pengalaman masa kecilnya sendiri di kampung halaman, Belfast di Utara Irlandia, tercinta. Melihat sembilan nominasi yang lain, Belfast memang yang paling ‘berbeda’. Satu-satunya yang hitam-putih, satu-satunya yang karakter utama anak kecil, dan satu-satunya yang bercerita di bawah seratus menit. Tapi ini bukan berarti lantas Belfast jadi anak-bawang. Malah bisa jadi ini justru kuda hitam(-putih). Sebab menonton Belfast rasanya sarat sekali. Sudut pandang anak-anak tersebut ternyata mampu membuat ceritanya kaya dan penuh oleh perasaan, tanpa jadi overly-ribet.

Basically ini adalah cerita tentang anak kecil yang gak mau pindah dari kota kelahirannya.Buddy (newcomer Jude Hill menghidupkan karakter refleksi masa kecil pak sutradara), dalam opening film, sedang bermain-main di daerah dekat rumah. Sungguh kawasan yang akrab. Semua orang di sana saling kenal, saling menyapa. Buddy main ksatria-ksatriaan, melawan naga dengan pedang kayu dan penangkis dari tutup tempat-sampah. Tapi mendadak daerah tersebut rusuh. Imajinasi berantem-beranteman Buddy seketika berganti jadi kericuhan yang nyata. Buddy ada di tengah-tengah kawanan pemuda Protestan menghancurleburkan properti, menyasar komunitas Katolik yang di tinggal di situ. Penangkis mainan Buddy kini benar-benar jadi pelindung dari lemparan batu-batu besar. Buddy yang masih kecil, gak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Tidak benar-benar paham hubungan kejadian tersebut dengan tempat tinggalnya, dengan orangtuanya.  Buddy cuma tahu satu. Dia gak mau pindah dari sana, karena di Belfast itulah ada kakek neneknya, ada teman-temannya, ada anak-perempuan yang ia sukai. Di Belfast itulah hidup dan hatinya.

belfast063-4184-BW-D012-00132
Aku bukan anak bawang!

 

Kenapa harus pindah itulah yang sebenarnya pelik. Film ini memotret cekcok dalam sejarah. Konflik antarpemuda dua agama, yang juga berkaitan dengan politik, yang actually berlangsung tigapuluh tahun lamanya. Dari film ini kita jadi tahu soal The Troubles itu, dan juga bahwa ternyata detektif Hercule Poirot era kita berasal dari Belfast dan menjadi salah satu dari sekian banyak penduduk sana yang terkena dampak harus bermigrasi mencari keselamatan. Jadi meskipun cerita ini sebenarnya sangat personal bagi Branagh, tapi Belfast punya muatan yang membuatnya tak sekadar sebuah memori masa kecil dan surat cinta untuk kota kelahiran. Tidak seperti Licorice Pizza (2022) yang just trip to memory lane, film ini punya konflik di dalamnya yang ternyata masih beresonansi kuat, masih relevan, dengan keadaan sekarang. Saat konflik-konflik keagamaan, konflik kependudukan masih terjadi. Kita mungkin sampai saat ini masih beruntung belum ngerti rasanya harus ninggalin rumah yang nyaman karena sekarang rumah tersebut berada dalam lingkaran target huru-hara, atau malah perang seperti Rusia-Ukraina. Kita bisa bersimpati pada rasa takut dan kesedihan dari naasnya, tapi tidak heartbreak yang lebih personal. Dan Belfast hadir dalam level yang lebih personal tersebut. Karena memang Branagh tidak membuat Belfast fantastis, ataupun overdramatis dengan gambaran tragedi. Melainkan tetap dalam ‘pandangan’ mata anak kecil yang belum bisa mencerna semuanya dengan benar. Branagh menekankan kepada komunitas atau kehidupan daerah tersebut

Daerah yang penduduknya constantly ribut memang sedikit ngingetin sama West Side Story (2022), tapi sebenarnya buatku, nonton film ini ada kesan yang mirip ama nonton Jojo Rabbit (2020). Karena elemen konflik dilihat dari sudut pandang anak tersebut. Di Belfast, si protagonis anak malah lebih ‘inosen’ lagi. Bagi Buddy masalah itu adalah bagaimana supaya nilai matematika bagus sehingga dia dipindah duduk ke barisan depan, sebelahan sama anak cewek berkepang dua yang manis itu. Bagaimana supaya kakeknya bisa sehat. Dan bagaimana supaya dia bisa ikut nenek nonton film di teater. Buddy aware ada kericuhan, ada orang yang terus nanyain ayahnya yang kerja di Inggris. Jika ayah pulang, Buddy sering juga menguping ayah bertengkar dengan ibu soal tinggal di tempat lain. Tapi semua masalah itu hanyalah ‘warna’ lain dalam kehidupan Buddy. Film fokus memperlihatkan komunitas yang akrab, mulai dari kebiasaan hidup orang-orangnya, hingga tentu saja ke bagaimana Buddy mengarungi hidupnya. Jadi nonton ini, rasanya seperti kita jadi turut jatuh cinta sama tempat tersebut, yang ultimately berarti kita peduli sama Buddy. Ada dramatic irony juga yang kita rasakan karena kita tahu ke mana cerita ini berujung. Dan kita benar-benar concern tentang bagaimana Buddy menangani akhir cerita nanti. Kita hanya bisa berharap cinta yang terus tumbuh seiring berjalannya hari itu gak berakhir menjadi patah-hati yang demikian besar.

Kehidupan sehar-hari jadi fokus, sehingga film ini berjalan agak seperti ngalor-ngidul. Seperti ‘kelemahan’ yang biasa terasa dalam cerita-cerita slice of life. Sudut pandang tersebut dibuat Branagh semakin menarik lagi dengan menggunakan charm komedi ala british sebagai warna lain dalam narasi. Again, membuatku semakin mendekatkan film ini sama Jojo Rabbit. Namun dalam komedi pun, Belfast tidak pernah menjadi sebombastis itu. Tone tetap dijaga sederhana oleh Branagh. Kesannya film ini jadi serius tapi santai. Kejenakaan sebagian besar datang dari tindakan Buddy, seperti misalnya ketika dia ikut menjarah toko, tapi yang diambilnya cuma ‘satu benda itu’. Naskah pun lantas meluncurkan nasihat-nasihat, petuah-petuah lewat karakter yang menyingkapi tindakan Buddy. Salah satu relationship paling hangat dan menghidupkan cerita adalah antara Buddy dengan kakeknya. Dialognya dapat terdengar agak wordy, tapi seperti Buddy kita ikut duduk di sana mendengarkan dan membayangkan setiap kata yang terucap.

Pindah memang bukan hal sepele. Entah itu untuk mencari kesempatan yang lebih baik, atau untuk mendapatkan keamanan, pindah berarti akan ada yang berubah di dalam hidup. Akan ada yang ditinggalkan. Akan ada hal baru yang harus diterima dan disesuaikan. Orang dewasa saja banyak yang gak siap dengan kepindahan. Apalagi anak kecil seperti Buddy. Film ini menelisik efek kepindahan tersebut, mampu mengubah jalan hidup banyak orang, despite kepindahan tersebut diperlukan atau tidak.

 

Dengan banyak ‘warna’ dalam penceritaan, maka penggunaan warna hitam putih untuk tampilan film jadi kontras yang membuat kita ‘hmmm, berarti ada maknanya..’ Hitam putih di sini jadi gak pretentious kayak film C’mon C’mon (yang juga ada karakter anak kecilnya) yang sampai sekarang aku belum review karena aku masih berkutat mikirin alasan yang bagus kenapa film tersebut dibuat dengan hitam putih. Dalam Belfast ini, penggunaan hitam putih itu sendiri aja punya banyak lapisan alasan. Pertama, kita bisa memaknainya sebagai kontras tadi; kontras antara saratnya bahasan dan elemen bercerita yang semuanya ditampilkan lewat sudut pandang kepolosan anak-anak. Kedua, hitam putih ini adalah penanda waktu 1969 yang jadi panggung utama cerita. Film actually menggunakan gambar berwarna ketika memperlihatkan Belfast modern di awal dan akhir durasi. Jadi perbandingan Belfast di dua periode itu nyata ke kita. Sekaligus menguatkan cerita ini adalah flashback memori. Alasan ketiga adalah yang paling menarik. Karena sebenarnya film juga menggunakan adegan berwarna saat nunjukin film-film atau pertunjukan yang ditonton oleh Buddy dan keluarganya.

Dan aku harus bilang, Buddy yang suka nonton ini membuat cerita terasa jadi lebih relate lagi. Di rumah, Buddy nonton serial Star Trek. Di bioskop, Buddy dan keluarga nonton film-film koboi dan film musikal kayak Chitty Chitty Bang Bang. Tontonan yang membuat keluarga mereka ceria, Buddy benar-benar menikmati waktunya saat menonton. Keluarga Buddy sepertinya sama ama kita, menonton sebagai eskapis. Dengan memberi gambar berwarna kepada tontonan-tontonan tersebut, maka film seperti menyimbolkan harapan buat hidup/kenangan hitam-putih Buddy (atau kita bisa bilang Branagh). You know, seolah Branagh ingin bilang bahwa di masa itu film sudah menjadi harapan baginya.

Belfast-e1630871382558
Jadi film ini juga jadi surat cinta Branagh kepada perfilman

 

Secara pesan, film ini sebenarnya sudah terangkum lewat tiga kalimat yang muncul di akhir cerita. Tapi Branagh menawarkan lebih banyak lagi. Kekurangan Belfast cuma tensi. Slice of life ini gak bisa mempertahankan atau membangun tensi, karena sudut pandang anak yang melihat semuanya sebagai ‘just another thing happening’. Di satu momen mungkin kita ikut merasa ngeri saat kamera menghantarkan kita menuju Buddy yang menguping orangtuanya berdebat dari balik jendela, namun momen berikutnya permasalahan itu menguap dari Buddy yang kali ini melihat orangtuanya menarik bak aktor dalam film yang ia tonton. Tapi jika dipikir lagi, ‘kekurangan’ bukanlah sebuah kesalahan, karena memang seperti demikianlah Branagh maunya. Bahwa dia merancang ceritanya untuk berjalan seperti demikian. Karena mungkin itulah yang ia rasakan saat kecil dulu. Enggak benar-benar mengerti masalah ‘orang dewasa’, semuanya just goes by, hingga akhirnya baru kerasa saat dia harus meninggalkan semua.

 

 

Sebagai projek yang sepertinya paling personal yang pernah ia tangani, film ini berhasil dibuat oleh Branagh melebihi target. Enggak sekadar untuk memori. Enggak cuma berbagi pengalaman masa lalu. Personalnya film ini begitu kuat, mengakar menjadi identitas yang bakal mencuatkan film ini di antara yang lain. Branagh membawakan kepada kita kisah kehidupan yang manis-manis pahit, yang senang-senang susah. Pengalaman hidup yang begitu kaya. Dan teramat beresonansi dengan keadaan hidup sekarang. Film ini termasuk yang paling ringan dan yang paling singkat di antara nominasi Best Picture Oscar 2022, tapi merupakan pesaing yang kuat soal urusan urgensi dan kepentingan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BELFAST.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Sedikit OOT, sistem nilai di sekolah Buddy yang mendudukkan murid di kursi sesuai dengan nilai mereka cukup unik atau cukup militan, tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Bagaimana pendapat kalian tentang sistem tersebut? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

LICORICE PIZZA Review

“Aren’t grown up people just little children at heart?”

 

 

Selama enggak masalah sama adegan perempuan dewasa memperlihatkan dadanya kepada cowok remaja, atau sama candaan berbau rasis, Licorice Pizza memanglah sebuah tontonan kisah cinta sepasang darah muda yang manis. Dan untuk sebagian besar waktu, film ini tidak membesarkan dirinya lebih daripada tentang itu. Buatku, romance komedi bersetting di sebuah kota dalam bayang-bayang 70an ini adalah yang paling less-urgent di antara sepuluh nominasi Best Picture Oscar 2022. Karena pesonanya yang terletak pada cinta dalam bingkai personal, bukan pada menelisik kejadian-sekarang dan agenda-agenda yang relevan. Film ini lebih terasa seperti fantasi, atau ingatan ke masa muda, like, menontonnya seperti mendengar seorang teman yang menceritakan pengalaman cinta pertama yang sampai sekarang terus membara. Licorice Pizza dibuat seperti rayuan manja yang mengajak kita memanggil kembali jiwa muda yang masih ada di dalam sana, yang gak akan pernah pergi meskipun kita semua merasa sudah waktunya untuk bertumbuh. 

Paul Thomas Anderson selaku penulis naskah dan sutradara memang menyusun narasi Licorice Pizza ke dalam bentuk yang terasa seperti per episode, seolah sedang merekoleksi memori. Gary bertemu dengan Alana di sekolah, tapi mereka bukan teman sekelah. Mereka bahkan enggak seumuran. Alana saat itu lagi kerja, jadi asisten tukang foto untuk sekolahannya Gary. Seperti layaknya cowok remaja yang curious sama kakak-kakak cantik, Gary langsung naksir Alana. Dia bahkan malam itu bilang ke adiknya bahwa dia telah menemukan perempuan yang bakal jadi istrinya. Jadi, Gary terus mengejar Alana. Alana yang nyadar gap-umur, berusaha untuk gak nunjukin perasaan, tapi toh Alana selalu ada bersama Gary. Mulai dari jadi ‘babysitter’nya hingga jadi rekan bisnis kasur-air yang dibangun Gary. Di sinilah kesan ‘episodik’nya itu dimulai. Mereka berdua akan bertemu berbagai macam orang, yang bakal bikin hubungan mereka naik-turun, karena tentu saja akan ada cemburu-cemburuan juga di sana.

pizzaimage-w1280
Dan bakal banyak sekali lari-larian

 

Feeling yang dihasilkan memang begitu otentik. Dunia 70an itu ditangkap lewat lensa dan pencahayaan yang mainly consist of semburat keemasan, sehingga benar-benar terasa mewakili era lampau yang dikenang dengan nuansa fantasi. Setting waktu tersebut juga sangat mewarnai narasi. Suasana politik, kebiasaan masyarakat, keadaan ekonomi, hingga tren kasur air itu sendiri semakin menghidupkan dunia tempat para karakter berinteraksi. Tentu saja gak cukup hanya di panggungnya saja. Para karakter itu sendiri juga dihidupkan dengan maksimal. Dua karakter sentral, Gary dan Alana, haruslah natural dan punya chemistry semempesona dunia mereka. Anderson mempercayakan leads-nya ini kepada dua aktor yang sama sekali belum pernah berakting di film-panjang. Dan baik itu si Alana Haim (penyanyi pop yang memboyong keluarganya untuk memerankan Alana dan keluarga di dalam cerita) maupun Cooper Hoffman (putra dari mendiang aktor Philip Seymour Hoffman) benar-benar membuktikan bahwa Anderson bukanlah sedang gambling; melainkan membuat sebuah investasi tajam nan teruji. Akting mereka berdua sungguh meyakinkan, hampir seperti merekalah karakter tersebut. 

Gary orangnya supel, temannya banyak, ‘pengagumnya’ juga. Gary dikenal bukan saja oleh sepantarannya, tapi juga oleh orang-orang yang lebih dewasa. Pembawaannya memang lebih dewasa dibanding umurnya. Beda ama Alana yang lebih tertutup, ketus, belum pernah pacaran, penuh keinsecurean, di umur yang sepuluh tahun lebih tua itu galau dan cemburunya bisa melebihi anak remaja seusia Gary. Dinamika mereka memang bersumber dari jarak umur tersebut. Tapi naskah tidak membuat kita mempertanyakan mereka akhirnya jadian atau enggak. Itu sudah diestablish sejak menit-menit pembuka. Tidak ada pertanyaaan; mereka berdua saling suka. Naskah film ini adalah soal drama yang mereka ‘pilih’ untuk lalui walaupun mereka saling suka. Bahwa mereka kidding with their feelings, atas nama bertindak dewasa. Akting dan karakterisasi mereka, aku apresiasi. Namun I just can’t love them seperti seharusnya seorang penonton film kepada karakter cerita. Karena fokus narasinya tersebut. Ceritanya yang dreamy dan fantasi, tapi bukan tentang bagaimana mewujudkannya menjadi nyata – bisakah hubungan tersebut jadi nyata. Melainkan udah fixed, gak ada ruang pertanyaan lagi di cerita ini. Persoalan hubungan yang mestinya ‘bermasalah’ tersebut dianggap gak ada gitu aja.

Iya, mungkin aku sedikit iri sama Gary dan Alana. Jika gender-rolenya dibalik, they were me. Di dunia nyata jika dibalik, hubungan seperti Gary dan Alana tidak akan dianggap sweet dan keren. Yang ada malah akan dituduh mau ‘grooming’, pedo, dimarahin ortunya, ataupun hal-hal lain yang bisa diantagoniskan sebagai konten Tiktok. Gary dan Alana sama sekali gak genuine buatku karena gak bakal begitu di dunia nyata. Tapi mungkin juga di situlah poinnya. Semua akan berbeda, tergantung gender yang melakukan. Tergantung sudut pandangnya. Nah di sinilah masalah film ini buatku. Sudut pandang atau perspektif dari Gary maupun Alana tidak pernah digali dengan luas. Mereka tidak kita kenal di luar romance atau perasaan cinta mereka. Gary praktisnya tidak punya development. Karakternya sama dari awal hingga akhir, dia tidak perlu membuktikan diri dia bisa dewasa, karena dia sudah seperti itu sejak cerita dimulai. Dia tidak pernah menganggap jarak umur mereka sebagai masalah. Dengan begitu, karakter ini jadi tidak ada mengalami pembelajaran.

pizza5902
It’s my dream, (Tho) Mas. Not her!

 

Jadi, tinggal si Alana. Perlu diingat, ini bukan kayak cerita drama cinta yang si jutek akhirnya luluh dan jatuh cinta kepada yang terus memberikan perhatian kepadanya. Alana sedari awal sudah tertarik, cuma dia enggak menganggap Gary dengan serius karena dia menganggap Gary masih bocah. Ada beberapa kali adegan Alana menyipitkan mata, melihat Gary yang bahkan belum bisa nyetir itu gak ngerti politik ataupun situasi ekonomi. Plot dan pembelajaran Alana adalah dia akhirnya menyadari bahwa umur itu cuma angka. Kedewasaan sikap dan kematangan mental gak tercermin di umur. Dia harus ngakui bahwa dia bisa lebih ‘bocah’ ketimbang Gary. Untuk mencapai pembelajaran tersebut, film tidak ngasih jalan lewat eksplorasi dalam-diri si Alana, melainkan dari luar. Dari karakter-karakter pria dewasa yang ia temui – yang ternyata jauh lebih parah ketimbang Gary. Dan itu bukannya Alana gak aware sama sikap para cowok. Alana ini pinter. Tapi somehow dia kayak desperate. Dia cuek aja sama male gaze ataupun sikap merendahkan lain. Dia slow aja bikinian sendiri di tengah pesta yang semua orang berpakaian lengkap. Flirtation alias tarik ulurnya kepada Gary membuat karakter ini jadi gak konsisten. Ditambah dengan Alana gak pernah berinteraksi dengan orang untuk dirinya sendiri (di luar berkaitan dengan Gary), karakter Alana ini jadi dangkal dan annoying buatku.

Tapi dari Alana ini kita bisa menyimpulkan bahwa film memang ingin memperlihatkan bahwa umur tidak pernah jadi soal. Hanya angka. Semua orang punya sisi kekanakan dalam dirinya. Betapapun jauhnya kita bertumbuh, menjadi diri yang ‘baru’ dengan tempaan pengalaman dan sebagainya, bisa kembali ke sisi ‘anak’ di dalam diri merupakan kenyamanan tak terhingga. Inilah kenapa Alana akhirnya lari kembali kepada Gary, dan sepenuhnya menerimanya. Dan ngomong-ngomong soal lari, film ini memang menyimbolkan perasaan bebas khas anak-muda tersebut dengan adegan-adegan berlari.

 

Permasalahan drama cinta selalu sama. Film tidak berhasil ngasih alasan kenapa sepasang karakter sentral itu harus berakhir jadian. Licorice Pizza ngeskip ini gitu aja, walaupun dalam cerita seperti ini pembelajaran barulah akan ada dan terasa kuat bagi dua karakter jika mereka enggak berakhir bersama. Enggak lagi menarik menonton tarik ulur anak remaja dengan orang dewasa. Maka keputusan film bercerita dengan episodik jadi tepat, untuk konteks pengembangkan minimalis seperti ini. Makanya cameo-cameo dalam film ini selalu jadi scene-stealer. Bukan semata karena mereka diperankan aktor gede seperti Sean Penn, Bradley Cooper, atau Maya Rudolph. Tapi karena Gary dan Alana tidak ada atau minim sekali perkembangan. Peran-peran kecil para aktor gede tersebut jadi suntikan fresh, yang bikin kita ‘melek’ lagi setiap kali Gary dan Alana mulai terasa repetitif. Penonton mengapresiasi mereka di atar peran yang seksis ataupun candaan yang problematis. 

Orang-orang banyak menghujat Don’t Look Up (2021) karena komedi receh yang diperankan aktor ternama yang main di situ. Walaupun komedinya tepat menyinggung keadaan di era pandemi, orang-orang tetap menganggapnya trying too hard. Dan memilih untuk gak mengakui kepintaran penulisannya. In short, people just hate it meskipun recehnya itu gak menyinggung kecuali tepat konteks dan sasaran. Aku menganggap sikap orang-orang itu aneh, karena di film Licorice Pizza ini tak kalah banyaknya karakter-karakter receh yang dimainkan aktor gede, dengan joke yang actually benar-benar menyinggung seperti soal rasis untuk orang Jepang dan sebagainya. Kenapa Licorice Pizza ini gak dapat ‘hujatan’ yang sama? Menurutku malah harus lebih lagi, karena sekalipun karakter itu juga memainkan sindiran terhadap dunia 70an, tapi jika dipertahankan untuk ditonton dan jadi lelucon di tahun sekarang, ya itu baru namanya too hard buat jadi lucu. Film ini mengadakannya hanya karena hal tersebut ada sesuai ingatan pembuat, dan inilah yang mengurung naskah dan karakter, membuatnya jadi tak bisa berkembang. 

 

 

 

Jadi sebenarnya film ini bukan tentang kisah menjadi dewasa, melainkan kisah terus menjadi remaja. Ceritanya sendiri benar-benar seperti rekoleksi ingatan manis tentang cinta di masa muda. Film ini keren dan hidup sekali dalam menggambarkan perasaan. Baik itu perasaan tentang dunianya, maupun perasaan cinta yang dirasakan karakternya. Hanya saja, cuma perasaan cinta itu saja yang dipunya dan terus digali. Karakternya seperti gak punya concern lain di luar flirt dan bikin cemburu-cemburuan. Makanya buatku film ini gak sekelas sama nominasi Best Picture yang lain. Film ini kelasnya tuh di cinta-cintaan remaja film kita yang biasa, dan film ini ada di bagian puncak kelas tersebut berkat pencapaian teknis dan juga aktingnya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LICORICE PIZZA.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa cowok muda menyukai perempuan yang jauh lebih dewasa dipandang lebih keren dan manis dibandingkan kalo cowok dewasa suka perempuan yang jauh lebih muda? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

KING RICHARD Review

“The odds will always favor the man with a plan”

 

 

 

Nominasi Oscar untuk tahun 2022 baru saja diumumkan. Dan seperti biasanya, ada aja yang diributin sama khalayak. Kenapa film anu yang masuk, kenapa film yang itu enggak masuk. Selalu ada kekecewaan. Tapi itu bagus, karena selama masih ada yang kecewa berarti subjektivitas menonton film itu masih ada. Kita belum menjadi robot yang seleranya samaaa semua. Subjektivitas itulah yang bikin film beragam, dan actually menciptakan persaingan yang memajukan perfilman. Dan soal subjektif; meskipun kalo ngereview film yang udah ditonton aku berusaha seobjektif mungkin, dalam hal memilih tontonan aku bisa jadi salah satu penonton paling bias sedunia. Banyak film yang gak mau kutonton hanya karena soal sepele seperti tweet sutradaranya, attitude aktornya, atau malah karena tingkah buzzernya. Nah, buatku, yang jadi permasalahan dari sepuluh film yang ada dalam daftar nominasi Best Picture adalah film King Richard. Kenapa? Karena aku simply gak suka ama Will Smith. Jadi aku males, aku gak mau nonton film-filmnya. Kecuali terpaksa. Dan dengan masuknya film ini di daftar nominasi, aku jadi terpaksa harus nonton. Harus ngereview. Dan, sebagai penilai yang harus seobjektif mungkin, kini aku terpaksa harus mengakui bahwa film ini memang layak masuk nominasi. Film biografi ini adalah drama yang menghibur, dan ya, penampilan akting Will Smith membuat karakter menjadi menarik dan asik untuk disimak, walau sedikit problematis.

Kira-kira seperti itulah yang juga kurasakan kepada Richard Williams. Aku gak suka karakter ini. Pria ini keras kepala, dia menuntut semua orang harus melakukan hal yang sesuai pertimbangan dan rencananya, tanpa mau menjelaskan atau berbagi pandangan soal rencana tersebut. Richard sudah punya rencana terhadap dua (dari lima) putrinya semenjak mereka masih kecil. Venus dan Serena ingin dia jadikan atlet tenis perempuan nomor satu di dunia. Menyadari tenis itu olahraga kulit putih, Richard tahu jalan bakal berliku bagi kedua putrinya. Tapi Richard ini sudah punya visi ke depan. Dia pun melatih, mendidik, hingga mengorbitkan putri-putrinya dengan caranya sendiri. Cara yang kadang tampak ekstrim. Hingga tak jarang Richard bentrok dengan pelatih yang sudah bersedia ngajarin mereka bermain secara profesional (tau-tau Richard bilang anak-anaknya gak bakal ikut turnamen kejuaraan!) dan bahkan bentrok dengan istrinya sendiri. 

Udah kayak orang India yang anaknya baru lahir udah ditetapkan harus jadi dokter

 

So yea, from certain point of view, Richard memang problematis. Film ini mengambil sudut pandang seorang patriarki, yang diperlihatkan bahwa berkat jasa-jasanya (termasuk kerasnya didikan dan keras kepala serta pilihan-pilihan anehnya) dunia dipertemukan sama dua atlet tenis perempuan paling hebat yang pernah ada. Like, kenapa bukan Venus atau Serena Williams aja yang diangkat. Kenapa bukan cerita perjuangan kedua atlet yang sudah dididik keras ini saja yang dijadikan sudut pandang utama. Karakter Richard Williams ini jika dimainkan oleh orang yang salah, jika ceritanya dikisahkan dengan cara yang salah, pastilah karakter dan film ini bakal dihujat. Namun dari menonton awalnya saja kita bisa tahu bahwa cerita ini berada dalam tangan-tangan yang tepat. Memang, belum lagi sebuah penceritaan yang sempurna. Tapi setidaknya King Richard mengangkat dengan respek, dan berhasil mencuri perhatian kita selama durasi dua jam setengah yang film ini minta.

Karakter yang gak aku suka, dimainkan oleh aktor yang gak aku suka, tapi nyatanya aku mulai merasakan sedikit simpati kepada perjuangan karakternya seiring cerita berjalan. Aku jadi ngerasa relate juga sama sikap Richard yang suka melakukan hal sesuai rencana. Kita pun mengerti pleadnya, mengerti kenapa dia sekeras dan sengotot itu mengarahkan hidup kedua putrinya yang masih kecil. King Richard memang bukan cerita kemenangan olahraga. Ini lebih kepada sebuah cerita tentang ‘kemenangan’ parenting dari orangtua, itupun jika parenting memang ada unsur kalah-menangnya. Richard, at least, berpikir begitu. Dia kalah jika anak-anaknya tidak mendapat hidup yang lebih baik. Karakter ini selain sebagai orang tua, diberikan layer personal. Richard sendiri adalah seorang, katakanlah, loser. “Ayah dihajar orang lagi!” seru anaknya kepada ibu, mengindikasikan ini bukan kali pertama ayah mereka babak belur. Naskah mengaitkan personal tersebut dengan akar, atau dari mana mereka berasal. Daerah tempat tinggal yang ‘keras’ dan penuh prasangka. Jadi film ini juga bicara tentang kesenjangan hidup terkait warna kulit atau ras.

Lapangan tenis yang bagus adalah yang keras supaya bola-bola hijau itu punya pantulan yang mantap. Begitulah analogi yang cocok untuk set up, latar, yang membentuk karakter-karakter yang menghidupi naskah film ini. Cerita berjalan terbaik ketika mengeksplorasi pribadi Richard. Ketika kita melihatnya sebagai orangtua yang mau melindungi anaknya. Sikapnya yang menarik putri-putrinya dari turnamen dan mau fokus ke pendidikan jadi bisa kita mengerti. Ketika jadi orangtua ini, Richard kelihatan punya flaw. Dia seringkali tampak susah melepaskan egonya, semacam dia mau jadi orangtua yang baik itu bukan seutuhnya demi anaknya, tapi demi dirinya sendiri. Yang bahkan dalam hal olahraga pun dia sebenarnya loser. Will Smith melakukan kerja maksimal dalam menghidupkan karakter ini. Menggunakan kepiawaiannya bermain di antara garis drama dan komedi, Smith membuat Richard tidak sampai menjadi annoying. Dia tetap tampak simpatik. Dan yang terutama, ya menghibur.

Manusia yang berencana, Tuhan yang menentukan. Pepatah itu tentu saja bukan nyuruh kita pasrah. Melainkan harus terus berusaha dengan hati ikhlas. Ikhlas bukan berarti pasrah. Karena ikhlas berarti tetap mengupayakan yang terbaik, meskipun pada akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Richard Williams pantas dijadikan panutan untuk hal ini. Dia memegang teguh apa yang ia percaya. Dia berjuang sekeras ia bisa. Dia memimpin keluarganya dengan mantap, tidak menunjukkan keraguan walau apapun kata orang.

 

Baru ketika membahas urusan olahraga tenis itulah, Richard terlihat menjengkelkan. Pilihan-pilihan konyolnya, atas nama stick to the plan, itu membuatnya jadi tampak selalu benar. Film tidak benar-benar membuat kita masuk kepada karakter ini soal rencana tersebut. Malah ada yang dia tampak ambigu, entah itu membual atau tidak. Seperti misalnya ketika seorang pelatih yang melihat video latihan Venus dan Serena hanya mau melatih Venus seorang. Richard tampak keberatan mendengar ini, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Kemudian Serena yang merasa left out, berlatih sendiri. Dan di bagian akhir film kita melihat ada adegan dialog antara Richard yang menenangkan Serena dengan menyebut dia memang merencanakan Serena untuk kehebatan yang lebih besar. Dan kita semua tahu seperti apa besarnya nama Serena Williams sekarang. Berkenaan dengan karir olahraga tersebut, Richard benar-benar seperti yang paling tahu. Semua orang seharusnya tidak meragukan dirinya. Dan ini jadi terlalu berlebihan. Membuat karakternya enggak lagi punya sisi dramatis yang membuat kita peduli seperti di bahasan keluarga tadi. I mean, bahkan ayah dalam Captain Fantastic (2016) saja tidak selalu dibuat ngambil keputusan yang benar perihal pendidikan anak-anaknya. Karakter ayah dalam film fiksi tersebut jadi terasa lebih real dibandingkan ayah di drama biografi ini.

Richard malah kayak lebih pinter daripada pelatih tenis beneran

 

Arahan film semakin gak konsisten. Antara drama orangtua atau ke kompetisi olahraga. King Richard ditutup seperti cerita olahraga; dengan satu big match. Mendadak cerita jadi tentang Venus melawan pesaing yang seperti pakai taktik curang. Venus yang udah bertahun-tahun absen dari pertandingan karena disuruh latihan dulu terus dan menikmati masa muda oleh ayahnya, harus membuktikan kemampuannya. Oleh karena sebagian besar waktu dihabiskan film untuk membuat keputusan ayah terhadap pelatihan anaknya itu benar, maka drama olahraga ini jadi gak kena. Kita gak merasakan intensitas dari Venus. Ataupun juga dari match itu sendiri (karena sutradara Reinaldo Marcus Green memang tidak benar-benar mempersiapkan diri dengan adegan olahraga tenis). Kamera lebih sering pindah ke reaksi Richard dan keluarga Venus yang menonton. Bahkan di saat dia seperti udah pasti mau menjadikan film ini berakhir dengan olahraga, Green tahu dia tidak bisa lepas dari karakter utamanya. Maka hasilnya tidak maksimal. Terasa datar. Bahkan dalam kekalahan, Richard tidak merasa kalah. Bola drama ada pada anaknya, tapi anaknya tidak pernah benar-benar digali sedari awal.

Momen-momen Richard dengan anaknya itulah yang kurang. Venus dan Serena Williams jadi totally pendukung, walaupun kondisi yang sebenarnya di dinamika mereka kan ayahnya yang mendukung anak. Film ini cukup lihai. Mereka memberikan momen kepada Venus untuk memutuskan sendiri hidupnya, sehingga tidak lagi kayak diatur terus. Tapi tetap saja pilihan tersebut sejalan dengan Richard. Tetep ayahnya ini benar. Karakter Richard Williams jadi benar-benar kayak ‘dilindungi’. Cerita ini bakal lebih hidup jika lebih banyak momen seperti istri Richard mengonfrontasinya, membuat Richard bergulat dengan dirinya sendiri di dalam hati. Interaksi emosional anaknya yang mulai punya hidup sendiri dengan Richard dan ‘rencana-rencananya’ perlu ditampilkan lebih banyak. Dan konfrontasi itu enggak mesti harus fisik. Ini satu lagi kekurangan dalam penceritaan. Film ini perlu lebih banyak menggambarkan hal-hal emosional yang tak-terucap, ketimbangkan mewujudkannya atau mengucapkan dengan langsung. Literally, film lebih memilih untuk membuat Richard kentut sebagai tanda enggak setuju sama tawaran investor.

 

 

Kalo dibalikin lagi ke perumpaan tenis, film ini ya benar-benar kayak high profile match. Punya hype dan orang excited dan no matter what bakal terhibur. Padahal sebenarnya penguasaan bolanya masih kurang. Film ini masih kurang yakin mau menceritakan ayahnya saja, atau juga mengangkat dua pemain tenis dunia. And it is really weird pada cerita keberhasilan dua atlet cewek yang merepresentasikan ras mereka, mereka tidak diberi banyak sorotan. Melainkan membuat parenting yang ortodoks dan patriarki sudut pandang utama, yang menjadi sumber keberhasilan, dan punya keputusan-keputusan yang ternyata selalu benar. Film ini menghibur, tapi aku bisa paham juga kalo nanti ada yang bilang film ini cuma jadi serve untuk membuat Will Smith bisa jadi smash hit di Oscar.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for KING RICHARD

 

 

 

That’s all we have for now

Menurut kalian seberapa besar jasa Richard untuk karir anak-anaknya? Bagaimana membedakan antara mendukung dengan mengatur di dalam parenting?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DEATH ON THE NILE Review

“Loving someone means you will do anything for them”

 

Istri raja-raja Fir’aun di Mesir Kuno dikubur hidup-hidup di dalam piramid bersama jasad suami mereka. Pastilah mereka berteriak ketakutan di dalam sana. Namun hal paling seram dari itu adalah beberapa dari istri tersebut ada yang rela melakukan hal tersebut. Demi cintanya kepada suami. Salah satu karakter dalam sekuel film detektif dari buku Agatha Christie, Death on the Nile, menceritakan legenda sejarah tersebut Hercule Poirot. Detektif yang mendengarkan dengan alis mengernyit di atas kumis spektakuler miliknya. Kasus yang ia tangani di atas kapal mewah di sungai Nil ternyata membawa tantangan tersendiri, karena kasus tersebut paralel dengan istri-istri Fir’aun. Kasus yang berhubungan dengan hal yang tidak dimengerti oleh Poirot. Cinta.

Sosok detektif ini memang dikenal sebagai pribadi yang dingin, tajam-logika, suka menyombongkan kepintaran dan kemampuan analisisnya. “Aku gak pernah salah” katanya mantap dalam salah satu adegan. Kita semua sudah melihat sisi unggul detektif tersebut di film pertamanya, Murder on the Orient Express (2017). Pada film kedua ini, Kenneth Branagh, yang jadi sutradara sekaligus pemeran Hercule Poirot, berusaha menggali sisi yang lebih manusiawi dari karakter. Poirot sekarang jadi punya layer. Perasaan kesepiannya dieksplorasi. Masa lalunya digali. Adegan opening film ini bukan hanya berfungsi untuk ‘lucu-lucuan’ soal origin kumisnya yang ikonik. Melainkan juga ngeset kenapa Poirot menjadi seperti sekarang. Poirot diceritakan punya relationship yang kandas, sehingga dia tidak bisa mengerti ketika menjumpai perbuatan yang seperti rela melakukan apapun demi cinta. Perbuatan yang menjadi kunci kasus pembunuhan yang harus ia pecahkan.

Mengenai kasus pembunuhan itupun, kini dilakukan oleh film dengan lebih banyak pembangunan. Durasi dua jam film ini enggak habis di misteri pemecahan kasus saja. Film mengambil waktu untuk mendevelop setting dan latar di belakang kasus tersebut. Diceritakan saat Poirot menikmati liburan di Mesir, dia bertemu sahabatnya dari film pertama, Bouc. Bouc yang diundang ke pesta perayaan pernikahan temannya yang ‘horang kayah’ mengajak Poirot serta. Ternyata Poirot pernah bertemu dengan dua mempelai beberapa minggu sebelumnya. Dan dalam pertemuan itu Poirot tahu bahwa Simon, si pengantin cowok seharusnya bertunangan dengan perempuan lain. Di situlah letak awal masalahnya. Mantan pacar Simon ternyata beneran ngekor mereka. Menyebabkan istri Simon, Linnet, terusik sehingga meminta sang detektif untuk ikut ke acara mereka di kapal yang berlayar di sungai Nil. Linnet merasa gak aman, karena selain mantan pacar suaminya, Linnet merasa semua tamu pesta yang adalah kerabat dan sahabatnya itu mengincar harta dirinya. Pembunuhan itu baru terjadi di midpoint cerita, sekitar satu jam setelah opening. Poirot harus memeriksa satu persatu hubungan para karakter, harus menganalisa hal yang bertentangan dengan pengalaman cintanya sendiri yang minim. Intensitas makin tinggi ketika jumlah korban terus bertambah. Death on the Nile bukan saja soal kasus, tapi juga soal pembelajaran bagi detektif jagoan ini.

nilegal-gadot-starrer-death-on-the-nile-banned-in-kuwait-001-1068x561
Ooo dari film ini ternyata muasal meme ‘fill the nile with champagne’ si Gal Gadot

 

Buatku, Death on the Nile jadi lebih fun. Poirot yang sekarang ini tidak lagi kubandingkan dengan Poirot versi film jadul, karena dengan tambahan layer alias galian, Branagh seperti sudah ‘sah’ menciptakan Poirot versi dirinya sendiri. Poirot Branagh punya sisi dramatis yang menyenangkan untuk disimak, entah itu keangkuhannya sebagai detektif paling hebat atau kevulnerable-an sebagai manusia yang paling kurang pengalaman dalam hal relationship. Poirot di film ini selain penuh ego, juga kadang terlihat canggung. Dia bahkan enggak senyaman itu berada di atas kapal. Panggung tertutup kali ini menjadi salah satu ‘kelemahan’ bagi Poirot yang menyebut kapal bukan salah satu cara bepergian favoritnya. Dan itu semua membuat karakternya manusiawi. Film tidak lagi seperti mendewakan Poirot. Dua belas karakter suspect pun tak lagi seperti karakter latar yang ada hanya untuk ngasih atau sebagai petunjuk misteri. Mereka kini punya backstory dan relationship, yang semuanya harus ditelusuri oleh Poirot. Bahkan sebelum kasus pembunuhan terjadi. 

Sebanyak itu karakter, eksposisi memang tak terhindarkan. Sekuen pengenalan karakter tetap penuh dialog, kita dilihatin satu orang, yang apa-apa tentangnya dijelaskan lewat dialog yang ngasih tahu siapa mereka ke Poirot. Kalikan itu hingga dua belas. Film ini bisa sangat terbebani jika hanya bergantung kepada eksposisi tersebut. Untungnya, film ini sedikit lebih luwes. Melihat para karakter dari mata elang Poirot, berarti kita juga melihat mereka lewat sesuatu yang tersirat. Yang hanya ditunjukkan oleh kamera. Kebiasaan mereka, apa yang mereka bawa, inilah cara film membuat kita ikut curiga dan berpikir bersama Poirot. Sehingga ngikutin cerita yang cukup padat ini jadi selalu menyenangkan. Adegan interogasi, misalnya, di film ini diperlihatkan Poirot menginterogasi masing-masing tersangka pembunuhan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang langsung dikonfrontasi, ada yang diajak duduk makan kue, ada yang ditanyai kayak interogasi resmi polisi. Dari adegan interogasi saja, film sudah membangun karakter Poirot dan karakter yang sedang ditanya sekaligus. Menunjukkan kepahaman Poirot dalam dealing with karakter mereka, serta membuka sedikit lebih banyak lagi tentang karakter yang lain.

Karena lebih berlayer itu, maka penampilan akting para pemain turut serta jadi lebih asyik untuk diikuti. Film ngasih role yang tepat kepada aktor, dan mereka bermain untuk efek yang maksimal. Gal Gadot bermain sebagai karakter penuh kharisma seperti Cleopatra, tapi dia di sini gak dibikin sesempurna Wonder Woman. Dia gak cuma melakukan hal yang biasa Gal Gadot lakukan. Film ini literally ngambil waktu satu jam untuk bikin kita naik-turun mengamati para karakter itu sikap mereka seperti apa. Menanamkan relationship yang harus disibak oleh Poirot. Untuk melakukan itu, setiap aktor harus bermain sama berlayernya. Favoritku di antara semua adalah karakter Jacqueline yang diperankan oleh Emma Mackey (aku gak akan bohong – aku sempat ngira dia adalah Margot Robbie lol) Mantan tunangan Simon yang terus muncul gangguin orang pesta. Banyak banget percikan emosi datang dari karakter ini. Poirot aja bahkan bisa dibilang banyak belajar dari dia.

Mantan mau-maunya datang karena diundang. Mantan terus datang tanpa diundang. Siapa pun yang pernah jatuh cinta pasti setuju manusia bisa jadi senekat dan segakmikirin diri sendiri itu kalo udah menyangkut perasaan cinta sama seseorang. Tentunya itu seperti yang ditunjukkan oleh film ini, dapat menjadi hal yang positif maupun negatif. Poirot pengen kekasihnya mau stay demi dirinya apa adanya, tapi di sisi lain dia juga melihat ada orang yang ngotot stay dan itu tidak berujung kepada hal yang baik. Cinta memang pengorbanan dan kompromi, tapi seharusnya ada batas untuk itu semua.

nileFilmReview-DeathontheNile-WBOX-021122-01
Aku cinta makanan, but small food scares me

 

Tapi bagai pedang bermata dua, padatnya cerita dan kasus yang gak langsung muncul itu dapat juga dianggap oleh penonton sebagai cerita film yang lambat. The worst casenya film ini dianggap membosankan di paruh awal karena penonton pengen langsung ke kasus, dan mereka gak benar-benar peduli sama drama karakter. Afterall, motif cinta memang sudah terlalu sering digunakan. Untuk kritikan soal ini, aku setuju pada beberapa bagian. Cerita latar atau cerita personal karakter memang perlu dikembangkan tapi mungkin tidak sepanjang itu. Mestinya bisa lebih diperketat lagi. Supaya enggak kemana-mana. Kayak, opening yang nunjukin Poirot muda di medan perang. Aku tidak merasa harus banget cerita awal itu di medan perang. Tema konsekuensi tak-terduga, tema kekasih yang pergi karena tidak menerima diri apa adanya, bisa saja diceritakan dengan setting yang lain. Bukan apa-apa, setting perang di awal malah seolah misleading, karena film ini nantinya kan gak bakal balik ke persoalan perang. Jadi enggak harus sedetil itu di awal. Cukup ngeliatin sesuatu terjadi pada fisik Poirot tanpa menimbulkan dua seting/tone yang berbeda di dalam cerita. 

Dan ngomong-ngomong soal tone, aku suka sekuel ini mempertahankan tone ringan, quirky, dengan sprinkle-sprinkle komedi. Visualnya juga dibuat tetap megah. Film kedua ini menampilkan pemandangan Mesir yang menakjubkan, kebanyakan digunakan sebagai transisi adegan. Lingkungan cerita menjadi hidup. Kita gak pernah lupa ini cerita ada di mana. Kepentingan kenapa harus Mesir itu juga diestablish lewat keparalelan yang kusebut di awal review. Cuma, ada beberapa kali film ini bablas. Menampilkan hal yang tidak perlu terkait, katakanlah, ‘stereotipe’ Mesir. Yang tidak benar-benar ngaruh ke cerita. Kayak misalnya, adegan Gal Gadot kena jumpscare sama ular. Easily adegan tersebut bisa dipotong. Atau paling tidak, waktunya digunakan untuk melihat lebih banyak ke dalam Poirot. Karena di film ini masih ada beberapa hal yang dilakukan oleh Poirot yang kita gak tahu. Yang berarti film masih melepas-pasang kita kepada si tokoh utama.

 

 

 

Dibandingkan film pertamanya, aku lebih suka sekuel ini. Menurutku ini lebih fun, lebih banyak bermain dengan karakter. Tidak hanya menganggap mereka sebagai kepingan puzzle dalam misteri whodunit. Malahan, film ini memang baru menjadi whodunit di pertengahan akhir. Awalnya padat oleh backstory dan drama karakter. Yang diniatkan untuk menarik kita semakin masuk. Aku suka perkembangan karakter Poirot, dan kurasa Branagh sudah sah mengembangkan karakter ini sebagai visinya, sebagai versinya. Aku certainly gak sabar pengen lihat petualangan Poirot berikutnya. Namun aku sadar yang biasanya aku sebut fun itu boring untuk sebagian penonton. Karena fun di sini adalah banyak obrolan karakter. Maka film ini masih terasa bisa diperbaiki sedikit lagi. Masih banyak yang bisa ‘ditrim’ untuk menjadi lebih efektif. Setidaknya untuk membuat ceritanya lebih cepat menjelma kepada yang menjadi alasan penonton membeli tiketnya sedari awal.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for DEATH ON THE NILE

 

 

 

That’s all we have for now

Seberapa jauh kalian rela bertindak demi sesuatu yang dicinta? Di mana kalian meletakkan garis antara cinta dengan obsesi tak-sehat?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

[Reader’s Neatpick] – LOVE LETTER (1995) Review

“Selalu ada alasan di balik cinta pada pandangan pertama. Alasan itu bisa saja hal yang tidak kita inginkan, tapi itulah kenyataan.” – Khafidlotun Muslikhah, yang suka merajut baju bekas menjadi barang yang lebih berguna di instagram @kelayu.rajut

Sutradara: Shunji Iwai
Penulis Naskah: Shunji Iwai
Durasi: 1jam 57menit

 

Perempuan bernama Hiroko mengirim surat ke alamat tunangannya yang telah tiada. Hiroko tidak mengharapkan jawaban, tentu. Dia cuma ingin menyapa tunangannya di surga. Tapi ternyata surat tersebut dibalas. Nama yang tertera di surat; Itsuki. Nama yang sama ama si tunangan. Deg! Hiroko, disemangati oleh teman cowoknya, lantas menguatkan diri pergi ke kota kelahiran tunangannya demi mencari jawaban atas kenapa bisa suratnya berbalas. Itsuki yang membalas surat ternyata adalah seorang perempuan, dan ia adalah sahabat lama dari tunangan Hiroko. Di kota itu, Hiroko lantas menemukan satu kesamaan lagi; wajah dirinya dan Itsuki-perempuan yang membalas surat-suratnya ternyata mirip. Mereka berdua memang tidak pernah bertemu, namun Hiroko dan Itsuki-perempuan tetap lanjut surat menyurat bagai sahabat. Bertukar cerita tentang Itsuki-cowok. Dua perempuan itu lantas membuka banyak untaian rumit sehubungan perasaan cinta mereka masing-masing.

 

“Waktu Hiroko dan Itsuki menanyakan kabar Itsuki-cowok. “Ogenki desuka?? atashi wa ogenki deess..” Waduh itu bikin nangis sejadi-jadinya. Saya baru merasakan kalo bertanya kabar dan memberi tahu kalau kita baik-baik aja ternyata bisa seberarti itu dan jadi ungkapan kasih sayang yang sederhana dan humble”

“Urusan perasaan memang pelik. Mungkin itulah sebabnya manusia menulis surat cinta. Mau selembar halaman penuh kata-kata canggung, atau sebait puisi romantis, atau hanya sebaris sapaan, yang terpenting sebenarnya adalah mengirim si surat itu sendiri. ‘Hey, aku peduli padamu maka aku menulis kepadamu.’ Yang sempat ngerasain masa kirim-kirim surat; sengaja minjam buku catatan gebetan, terus pas balikin diselipin surat, atau just randomly tarok surat di laci kelas supaya dibaca ama cewek anak siang yang duduk di meja itu, taulah deg-degannya gimana. Tindakan simpel untuk ngasih tau perasaan yang berkecamuk. Buatku itu romantis sekali. Menonton Love Letter karya Shunji Iwai ini, kata ‘romantis’ itu ternyata menjadi semakin indah lagi.”

“Belum pernah surat-menyurat, karena jamanku sudah ada sms. Tapi romansa jaman dulu rasanya, alasan jatuh cintanya kadang sangat sederhana. Dan karena alat komunikasi belum secanggih sekarang, cara untuk munculkan kepercayaan ya cuma dari kata hati. Kalau sekarang, karena sudah ada alat komunikasi yang mumpuni, kebanyakan orang membangun kepercayaan dengan rutin berkomunikasi. Atau kepoin akun media sosialnya. Romance jaman mana aja sebenarnya bisa lebih romantis. Kalo fokusnya emotional intimacy, bukan fisik. Dan ini jarang ditemukan di romance Hollywood.”

“Kayaknya aku termasuk yang beruntung, hidup di dua jaman. Pernah ngerasain surat-suratan dan juga chat-chatan. Dan memang inti dari keduanya sebenarnya sama, emotional intimacy tersebut. Dan benar juga, Hollywood jarang membahas cinta dari segi ini. Kebanyakan yang lebih ditonjolkan adalah aksi fisik, kan. Sebelum tau Love Letter ini, emotional intimacy yang kuat kurasakan tu di anime Your Name (2016). Pernah gak nonton?” Yang karakternya itu saling bertukar tubuh, lintas periode waktu. Si cowok sempat hidup di masa si cewek, dan sebaliknya. Mereka berkomunikasi lewat pesan-pesan, dan akhirnya jatuh cinta karena mereka jadi deket banget secara emosional. Nah, film Love Letter ini, bukan hanya kedekatan dua orang yang saling surat-menyurat kan, tapi tiga orang yang terhubung oleh surat, dan malah 2 pasang orang yang actually jadi semakin dekat secara emosional karenanya. Lebih kompleks. Dan di ujung cerita nanti akan diungkap the true love letter yang selama ini tersembunyi.” 

“Yang dimaksud dengan ‘Letter’ di film ini ada satu surat tanpa kata-kata yang diletakkan di ending, dan penonton bisa langsung mengerti maksudnya apa. Romansa dengan emotional yang kuat di film ini meninggalkan kesan mendalam buat saya. Romansanya juga digambarkan dengan unik. Pertama, mengenang kekasih yg sudah meninggal dan mengetahui masa lalunya. Kedua, film ini sekaligus mengingatkan ketika kita menggali masa lalu pasangan lebih dalam, kita harus siap dengan risiko menemukan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Ketiga, cerita berkembang menjadi mengenang masa remajanya duo Itsuki karena Hiroko yang meminta. Cerita masa remajanya cukup unik karena karakter Itsuki-cowok yang pendiam, misterius dan membingungkan. Setiap tindakanya tidak bisa dimaknai secara literal, ada maksud yang terkandung di dalamnya seperti misalnya waktu meminjam banyak buku di perpus, dan mengerjai Itsuki-cewek dengan menutupkan tas kertas waktu bersepeda. Secara kasat mata, tindakan itu menyebalkan, tapi ternyata ada maksud tersembunyi di dalamnya. Scene-scene seperti itu sangat ikonik dan juga berkesan. Keempat, plot twist di akhir tadi. Kesannya manis dan romantis yang tidak biasa. Hal itu cukup menyedihkan karena baru diketahui, tetapi sekaligus membahagiakan karena ternyata ada cinta yang diam-diam berbalas.”

“Kuat banget memang endingnya. Kayaknya tindakan Itsuki-cowok itu yang paling memorable buatku. Relate juga sih, karena memang cowok tu kalo suka ama cewek di sekolah dan malu atau susah ngungkapinnya, maka tindakan yang dilakukan cuma dua. Pertama ngejailin tuh cewek. Atau kedua, ngelakuin hal absurd. Film Love Letter ini bener-bener tau persis ekspresi cinta sesuai umur. Bagian yang nunjukin Itsuki di jaman sekolah itu dapet banget. Naksir itu ya memang bisa dimulai dari diledekin teman satu kelas, kan. Konten lokal film ini juga kuat, karena kulihat ya cuma di Jepang banyak, katakanlah, ‘mitos siswa’. Kayak misalnya kalo horor, maka sekolahan di Jepang selalu punya ‘7 keanehan sekolah’, atau kalo cinta-cintaan ya murid-murid cewek biasanya punya ‘kepercayaan’ kalo naroh foto orang yang disuka di dalam locker bisa bikin orang itu naksir kita, dan sebagainya. Film Love Letter ini memainkan budaya tersebut ke dalam romansa mereka, seperti yang kita lihat soal kartu perpus yang seperti kerjaan iseng Itsuki-cowok di masa lalu (padahal sebenarnya surat cinta tersembunyinya) ternyata menjadi ‘mitos’ kartu perpus romantis oleh siswi-siswi sekolah itu beberapa tahun kemudian.”

“Dulu ketika ada yang suka, biasanya si cewek akan dijahilin sebagai aksi cari perhatian si cowok. Ada kesamaan tingkah laku anak cowok jaman sekolah yang suka sama temen ceweknya. Ini tidak berlaku buat semua, tapi beberapa kejadian seperti itu. Di film ini juga kan, waktu Itsuki-cewek mau mengenalkan temannya ke Itsuki cowok, lalu Itsuki-cowok kesal dan menghadang Itsuki-cewek waktu naik sepeda dan menutupkan tas belanjaan kertas ke kepala Itsuki cewek. Itu sangat menyebalkan, tapi juga gemas lucu karena sebenarnya Itsuki-cowok ingin menyampaikan bahwa dia tidak suka dikenalkan dengan cewek lain. Ini adegan paling memorable buat saya. Satunya lagi, yang memorable, adalah waktu Itsuki cowok datang ke rumah Itsuki cewek. Saya suka sekali situasi awkwardnya, apalagi ketika Itsuki cowok ingin mengucapkan belasungkawa. Gestur, dan juga gerak gerik mata Itsuki cowok benar-benar menandakan ke-awkward-an dan rasa malu untuk menatap Itsuki cewek. Lalu ditutup dengan senyuman Itsuki cewek yang menertawakan tingkah Itsuki-cowok. I think it’s pure and romantic.”

“Kayaknya karakter favoritmu si Itsuki-cowok ya hahaha”

“Tentu Itsuki cowok hahaha. Karakter cowok tsundere booming di tahun 90-an dan awal 2000-an, dan itu awal-awal saya nonton drama asia waktu masih SD. Karena sejak kecil sudah kenal dengan karakter itu, jadi karakter tersebut sangat memorable. Setiap ada karakter itu di film/serial yang saya tonton, saya akan dengan mudah bersimpati. Karakter misterius seperti itu juga biasanya punya banyak layer. Tindakan yang dilakukan tidak bisa dimaknai secara literal, seperti misalnya cuek dan dingin, bukan berarti mereka ingin menghindar atau marah, tapi ada sesuatu yang ingin disampaikan lewat tindakan dan ada yang sedang dipikirkan”

“Aku jadi teringat serial zombie korea All of Us Are Dead, deh. Dinamika pasangan protagonis utama di situ mirip sama Itsuki-cowok dan cewek di film ini. Cowoknya pendiem, belagak sok misterius, sok cuek, gitu. Sebagai cowok yang juga pendiam di sekolah, aku sedikit relate, makanya aku jadi lebih suka ama karakter lain, terutama yang lebih bisa mengekspresikan hati. Favoritku di film ini adalah karakter teman cowok yang naksir Hiroko. Dia suka Hiroko dan mau melakukan apapun untuk katakanlah nyelamatkan cewek ini dari perasaannya duka dan gak move-on dari Itsuki. Satu lagi favoritku itu temen sekolahnya Itsuki-cewek, si cewek edan itu loh. Kocak dia. I wish aku bisa seopen pacar Hiroko atau si cewek sma itu. Dan kurasa Itsuki-cowok kayaknya juga sama. Ada dialog yang nyebut Itsuki-cowok ngelamar Hiroko dengan berdiam diri gitu aja kan, sehabis ngasih cincin hahaha. Kayaknya dia sendiri gak enak bilang cinta ama Hiroko karena Hiroko mirip orang yang ia suka.”

“Ini sangat membingungkan. Itsuki cowok adalah tipe pendiam, yang waktu melamar saja hanya memberi cincin dan diam selama dua jam. Hirokolah yang mengajaknya menikah. Tapi jika dia masih suka dengan Itsuki cewek, dia bisa saja pergi ke Otaru lagi dan bertemu Itsuki. Namun mungkin alasan dia tidak ke Otaru bisa jadi karena dia ragu apakah Itsuki cewek punya perasaan yang sama. Saya merasa dia masih galau dengan perasaannya. Tapi jika disuruh memilih, saya ingin Itsuki jadian dengan Itsuki saja hahaha”

“Ngomong-ngomong soal membingungkan, waktu pas nonton memang gak bingung sih. Cuma pas ngetik reviewnya mulai kerasa repot dengan kesamaan nama hahaha… Tapi inilah uniknya film ini. Banyak kesamaan, mulai dari nama hingga wajah Hiroko dan Itsuki-cewek pun mirip. Tantangan bagi film ini adalah bagaimana membuat kesamaan-kesamaan tersebut tidak tampak seperti kebetulan belaka, jadi film ini benar-benar menguatkan penceritaan supaya kita melihat melampaui kesamaan itu, tapi juga menyadari pentingnya kesamaan-kesamaan tersebut bagi alur cerita”

“Untuk nama yang sama, saya tidak bingung karena sebelum noton saya membaca review yang intinya ada Itsuki-cewek dan Itsuki-cowok. Untuk karakter yang wajahnya digambarkan sangat mirip (Hiroko dan Itsuki-cewek), awalnya saya bingung, tapi lama-lama bisa membedakan mana yang Hiroko mana yang Itsuki-cewek. Perbedaannya terletak di cara berbicara dan gestur tubuh. Hiroko cara berbicaranya lemah lembut, dan gestur tubuhnya sangat lembut. Sedangkan Itsuki-cewek cara berbicaranya ceria dan gestur tubuhnya aktif. Intonasi berbicaranya juga beda. Keren banget aktrisnya”

“Salut buat Miho Nakayama bisa memainkan dua karakter yang begitu serupa tapi tak sama, range-nya luar biasa. Dia pasti dapat arahan untuk benar-benar mengontraskan dua karakter miripnya ini. Film melakukan itu supaya kita mudah untuk mengikuti cerita. Yang satu dibikin flu, yang satu enggak. Yang satu dibikin di daerah bersalju, yang satu di suasana biasa. Dan perbedaan itu juga dimainkan ke dalam penceritaan, bukan sekadar untuk pembeda, melainkan menambah depth narasi. Kita melihat flu itu berujung kepada pembelajaran penting untuk karakter Itsuki-cewek, karena suatu peristiwa di kehidupan personalnya. Salju juga ternyata digunakan untuk menguatkan tone sureal, kemagisan jalan hidup mereka, bahkan kepolosan cinta remaja itu sendiri”

“Kesamaan nama mengawali cerita remaja itu sih, jika saja namanya tidak sama mungkin tidak ada momen di perpustakaan, lembar jawaban yang tertukar dan lain sebagainya. Saya rasa kesamaan nama menjadi alasan yang sangat wajar untuk diledek atau dicie-cie di masa remaja. Karena awal puber, dikit-dikit biasanya ada yg ngecie-cie in. Kadang secara ga sengaja duduk bareng waktu tes juga diledekin. Kesamaan wajah, awalnya juga membuat saya bingung kenapa harus sama. Tetapi setelah Hiroko secara tidak sengaja berpapasan dengan Itsuki cewek, saya jadi tau kenapa mereka harus diperankan oleh orang yang sama. Dan hal itu tentu berperan penting dalam ceritanya dan jadi salah satu alasan kenapa Hiroko ingin mengetahui masa lalu tunangannya. Selain mengenang, saya rasa dia juga ingin memverifikasi alasan itsuki cowok jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia. Kalau diperankan oleh orang yang berbeda, meski mirip, penonton akan butuh penjelasan berupa kata-kata tentang alasan Itsuki cowok itu. Kalau diperankan oleh artis yang sama, penonton bisa paham tanpa harus diceritakan. Mungkin pembuatnya pakai prinsip ‘show don’t tell'”

“Ya, itulah kenapa film ini bisa ngena dan indah banget. Emosi dan feelings itu berhasil terceritakan sempurna lewat ‘show’ yang dilakukan begitu detil oleh film ini. Satu lagi yang aku suka itu adalah ada momen-momen seperti dibuild up pertemuan Hiroko dengan Itsuki-cewek. Ada momen ketika aku merasa pengen melihat dua orang ini bertemu. Tapi film ini tidak kunjung memberikan. Penceritaannya kayak nge-tease penonton, tapi kemudian seiring kita menyelami cerita, seiring pemahaman kita terhimpun, kita tahu ini tidaklah pernah sebagai soal siapa akhirnya ketemu siapa. Melainkan soal mengikhlaskan perasaan itu, kan.”

“Komunikasi Hiroko dan Itsuki-cewek memang paling pas lewat surat atau apapun tanpa bertemu langsung. Kalau ngobrol langsung mungkin akan awkward, bukan karena wajahnya mirip, tetapi keduanya memiliki kenangan tersendiri terhadap Itsuki cowok. Dan saya justru kasihan sama Hiroko jika dia harus mengingat alasan sebenarnya Itsuki cowok jatuh cinta dengannya”

“Tapi Hiroko dan Itsuki-cewek menjadi seperti teman dekat kan. Padahal tak pernah ketemu. Setidaknya mereka nyaman gitu saling berbagi cerita dan perasaan kepada orang yang bagi mereka asing. Atau mungkin bisa dibilang sebagai orang yang saingan cinta”

“Menurut saya faktor kenyamanan antara Hiroko dan Itsuki cewek awalnya berbeda. Hiroko nyaman karena dia tidak asing dengan nama Itsuki, dan dengan polosnya berharap itu surat dari surga. Dia ingin berkomunikasi dengan tunangannya, makanya dia meneruskan berkirim surat. Itsuki di awal merasa bingung, Hiroko itu siapa. Dia tetap membalas karena takutnya dia lupa pernah punya teman bernama Hiroko. Setelah keduanya mengetahui kenyataan bahwa mereka mengenal orang yang sama, mereka nyaman bercerita karena alasan yang sama, yaitu mengenal orang yang sama. Apalagi Hiroko bela-belain datang ke Otaru untuk bertemu Itsuki cewek, Itsuki jadi berpikir ‘niat banget ni orang’. Karena itu, Itsuki jadi nyaman dan percaya untuk bercerita. Pengalaman saya pribadi, saya pernah baru kenalan dengan orang di suatu acara, lalu ternyata dia mengenal dekat teman saya. Nah dari sana, obrolan mengalir, diawali dengan membicarakan seorang mutual friend (in a good way). Lalu kebetulan nyambung, akan merembet ngobrol ke cerita lain dan masa lalu. Tapi karena salah satu motif Hiroko adalah menggali tentang masa lalu pasangannya, jadi mungkin di hati Hiroko ada sedikit rasa cemburu ketika mendengar cerita itu. Hiroko bahkan mengingatkan kalau nama Fujii Itsuki yang ditulis di kartu perpus itu adalah nama Fujii Itsuki cewek. Dia menyadari tanda sehalus itu, berarti dia benar-benar memikirkan hubungan Itsuki x Itsuki, dan memahami maksud dibalik tindakan Itsuki cowok. Hubungan mereka di akhir terasa canggung setelah Hiroko mengembalikan semua surat Itsuki cewek, sepertinya dia tidak ingin berurusan lagi dengan masa muda Itsuki cowok karena kenangannya dimiliki orang lain”

“Ada sedikit bitter feeling juga berarti pada Hiroko ya. Tapi itulah. Film ini menekankan how to deal with perasaan yang mungkin harus kita ikhlaskan, perasaan yang kita bawa pergi ke kehidupan berikutnya. Itsuki-cewek perlu menjawab surat-surat itu supaya dia bisa mengenali perasaan yang selama ini ada di ‘belakang’nya tanpa dia sadari. Sedangkan si Hiroko perlu menguatkan diri mengonfrontasi surat-surat itu sebagai bagian dari grief-nya. Dia harus move on, tapi dia belum siap. Karena jangankan melepas Itsuki, dia ternyata bahkan belum benar-benar mengenal siapa tunangannya tersebut. Jadi dia butuh ini semua supaya bisa mengikhlaskan”

“Saya agak mixed feeling dengan “move on dan mengikhlaskan” ini. Di satu sisi, mengetahui fakta dan kisah masa muda itu membantu Hiroko memahami tunangannya, dan membantunya berdamai dengan kehilangan. Di sisi lain, mungkin dia jadi sedikit kesal dengan tunangannya dan bisa jadi kekesalan itu membantunya lebih menerima Akiba (pacarnya yang sekarang). Tapi tetap saja menurut saya dia tidak akan move on, karena rasa kesal dan cinta terhadap tunangannya saya rasa tidak akan hilang, dia hanya bisa berdamai dan menerima kenyataan.”

“Adegan Hiroko teriak-teriak ke gunung, sebagai bentuk dia bicara kepada Itsuki-cowok, sebenarnya udah nunjukin dia udah plong. Dengan kata lain, dia udah move on. Bukan dari cintanya kepada Itsuki, tapi dari grief-nya itu sendiri. Karena kali ini dia udah benar-benar kenal Itsuki, dan itu tadi, mungkin dia jadi udah tahu secinta apa Itsuki kepadanya. Jadi mungkin lebih baik kali ya, untuk kita mengetahui kebenaran dari seseorang yang kita sayang supaya kenangan kita terhadap mereka gak stuck. Karena kadang kenangan itu, kadang yang kita ingat bukan kenangannya itu sendiri tapi apa yang ingin kita kenang darinya.”

“Berat sekali ya hahaha. Bagi saya dua-duanya penting. Bertahan dengan kenangan atas seseorang itu menurut saya hal yang bikin kita merasa worth it sebagai manusia, karena pernah disayangi meski akhirnya berhenti. Memori yang baik menurut saya perlu dipertahankan, meski cuma kenangan. Jadi ketika kita sedang korslet, kita bisa mengingat kenangan itu untuk menjadi waras kembali. Dan kalau ada kesempatan untuk mengetahui kebenaran di luar kenangan, kenapa tidak. Karena bagi saya tau masa lalu atas seseorang itu (tentu dengan ijin orang terkait) bisa jadi cara memahami seseorang dengan utuh, meskipun mungkin ada kenyataan pahit yang mau tidak mau harus diterima.”

“Wah gila, seru sekali obrolan kita untuk film Love Letter ini ya. Menyentuh sekali soalnya bicara tentang feelings sih. Sebagai penutup, Afid kasih skor berapa nih untuk Love Letter?”

“10”

“Kalo aku berapa ya… hmm.. dari strukturnya sih ini udah masuk ke kriteria 9, karena film ini ada ‘evolusi’ mulai dari misteri kenapa suratnya dibalas, lanjut ke jadi cerita pencarian jawaban, ke cerita nostalgia, lalu ke ‘hidup baru’ karakter. Kesamaannya gak bikin bingung, cuma perspektif utamanya yang agak bingung. Tapinya lagi, setelah dipikir-pikir film ini memang two-in-one. Dan keduanya resolved dengan manis, sebagai satu narasi paralel. Maka yah, film Love Letter memang pantas untuk aku kasih 9 dari 10 bintang emas!!!” 

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat mbak Afid udah merekomendasi dan berpartisipasi untuk mengulas film di sini. Udah rela meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan seabreg. Kalo gak direkomendasiin, aku yang kurang jauh main ke film-film jadul dan film-film Asia gak bakal tahu ada film seindah ini.

 

Buat para Pembaca yang punya film yang ingin dibicarakan, yang ingin direview bareng – entah itu film terfavoritnya atau malah film yang paling tak disenangi – silahkan sampaikan saja di komen. Usulan film yang masuk nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

HOUSE OF GUCCI Review

“Marriage is never meant to be a power struggle”

 

Lewat House of Gucci, Ridley Scott mengajak kita mengunjungi kembali peristiwa kriminal yang pernah menggemparkan dunia fashion di tahun 1995. Pembunuhan Maurizio Gucci – yang saat itu adalah kepala dari rumah fashion Gucci – oleh istrinya sendiri. Technically, aku baru saja ngasih spoiler ending film, tapi sebagaimana Scott yang membuat film berdasarkan kasus yang hasil akhirnya sudah diketahui semua orang, kita harusnya gak peduli. House of Gucci bukanlah cerita yang ditonton untuk mengetahui akhirnya apa. Scott membuat ini untuk kita menyaksikan drama power struggle dalam sebuah pernikahan, dan dalam sebuah keluarga besar. Menyaksikan relationship dan konflik yang menyebabkan peristiwa kriminal tersebut bisa sampai terjadi. House of Gucci harusnya adalah drama ketamakan manusia yang sensasional. Namun antara keglamoran dunia fashion, intrik keluarga italia, dan karakter penghuni cerita yang ambisius dan eksentrik, film ini tampil kurang efektif dalam menyuguhkan cerita tersebut.

guccimerlin_198002253_589f1b9f-9b6b-4be7-963f-21eb8264c413-superJumbo
Harta, tahta, wanita, dan fashionista

 

Bisnis bareng keluarga itu susah. Jangankan bisnis. Barang dipinjam ama keluarga aja, kita segan memintanya kembali. Disetel untuk menjadi cerita sepanjang dua jam setengah, Ridley Scott memang meluangkan waktu untuk mengembangkan drama dan relationship para karakter di balik bisnis keluarga Gucci. Bisnis fashion item dengan drama keluarga. Scott memperlihatkan awal semuanya. Memperlihatkan bagaimana Maurizio Gucci bertemu pertama kali dengan perempuan yang soon-to-be-his wife, Patrizia. Cinta yang mekar tersebut tidak direstui oleh ayah Maurizio. Yang membuat Maruizio rela meninggalkan semua privilege dan kekayaannya, demi Patrizia. Tapi begitu mereka menikah, perempuan dari ‘rakyat jelata’ yang ia nikahi tersebut sadar betapa besar nama belakang yang kini melekat juga sebagai namanya. By then, Gucci yang dibangun sebagai bisnis keluarga sudah jadi brand fashion ternama. Patrizia lantas ‘menyemangati’ Maurizio untuk ikut berkecimpung kembali ke bisnis itu. Cerita kemudian mulai jadi ‘seram’ karena begitu karakter-karakter tersebut mencicipi hasil usaha, mereka pengen nambah lagi dan lagi. Maurizio dan Patrizia bahkan pengen mengangkangi bisnis tersebut sendiri saja, mendepak keluarga yang lain – yang telah membantu mereka. Dan ya, ini tidak berakhir baik bagi mereka berdua beserta seluruh keluarga.

Yang paling kita nikmati pada film ini adalah alurnya. Konflik yang bertumbuh semakin pelik, karena perlahan kita mulai melihat sisi kelam karakter, dan mereka memilih untuk terjun ke dalamnya. House of Gucci seperti terbagi dalam episode cerita yang jelas. Berawal dari romansa, ke perjuangan memajukan bisnis, kemudian berkembang lagi menjadi intrik dan konsekuensi yang lebih kelam. Taring penyutradaraan Scott kelihatan di sini. Dari intensitas cerita yang perlahan semakin membesar. Semakin serius. Kita tahu apa yang bakal terjadi, dan Scott memanfaatkan pengetahuan kita tersebut – katakanlah, spoiler ending tadi – untuk menghasilkan dramatic irony yang kuat. Film ini dimulai dengan kisah roman, supaya kita bisa tumbuh peduli sama karakter Maurizio dan Patrizia. Lalu tantangan bagi film ini adalah membuat dua karakter tersebut punya sisi kelam, mereka melakukan pilihan yang bakal bertentangan dengan moral kita, tapi dilakukan tanpa membuat kita otomatis meninggalkan mereka. Tantangan tersebut berhasil dijawab dengan cukup sukses oleh film.

Maurizio dan Patrizia legit kayak pasangan beneran, dan saat waktunya tiba mereka completely kelihatan sebagai orang egois. Film berhasil menunjukkan kepada kita pengaruh power kepada manusia. Kuasa bahkan bisa menjatuhkan cinta dari singgasana. Supaya elemen ini tidak membuat film serta merta menjadi melodramatis saking kelamnya, Scott berusaha menghidupkan sisi glamor dari bisnis fashion Gucci itu sendiri. Perkara tetek bengek bisnisnya, film sebenarnya cukup berhasil. Cerita tidak jadi membosankan ketika yang kita lihat di layar adalah meeting dan negosiasi. Kita juga gak perlu ngerti fashion atau akrab ama produk Gucci untuk bisa paham. Film menyediakan latar belakang yang cukup lewat hubungan keluarga Maurizio, lewat karakter-karakter unik itu semua. Scott memang melakukan sedikit penyederhanaan. Keluarga besar Gucci tidak semuanya disorot, malah hanya ayah, paman, dan sepupu Maurizio saja yang diadakan di dalam narasi. Scott ingin memastikan ceritanya fokus. Namun masalah yang dipunya film ini bukan dari penyederhanaan tersebut, melainkan dari penyeimbangan yang dilakukan oleh film setelah usaha-usaha memadatkan narasi.

Seperti misalnya pada karakter. Adam Driver memainkan Maurizio dengan tone drama yang simpatik dan serius. Dia inilah karakter yang bakal paling ekstrim menunjukkan perubahan, tapi juga dia yang bakal dapat konsekuensi paling naas. Maka dia jugalah karakter yang harus dibentuk sebagai loveable karakter; kita harus benar-benar peduli padanya. Jika film ini bekerja pada rancangan yang sama dengan rancangan untuk karakter Maurizio seorang, maka film ini bakal jadi drama yang serius. Yang enggak benar-benar sesuai dengan dunia glamor atau keeksentrikan lapangan bermainnya. Dunia desainer dan bisnis. Karakter keluarga Gucci yang lainnya semuanya udah kayak over-the-top. Ayah Maurizio diperankan oleh Jeremy Irons merupakan mantan aktor film yang kini tegas dan idealis. Pamannya, Aldo diperankan dengan looks so easy oleh Al Pacino, karakternya lebih nyantai. Sepupunya, Paolo, udah kayak komedi dibawakan oleh Jared Leto dengan aksen dan sikap yang benar-benar tak biasa. Mereka semua itu udah kayak karikatur jika dibandingkan dengan karakter Maurizio.

guccithequint_2021-07_734e0c34-124a-4cce-8b2d-0698d21dbcff_hh
Aku mengucek mataku berulang kali karena aku gak bisa lihat Jared Leto di adegan ini!

 

Karakter Maurizio butuh jembatan untuk ke mereka, butuh penghubung tone dramatis dengan yang lebih nyentrik. Karakter Patrizia-lah jembatan tersebut. Lady Gaga memainkan karakter yang dibikin romantis tapi juga penuh ambisi. Dan karenanya, Gaga seperti yang paling kena getahnya. Gaga memainkan Patrizia dengan cemerlang, jangan salah. Tapi cemerlang dalam konteks dan fungsi sebagai jembatan di sini berarti Gaga memainkan karakter yang paling gak konsisten pada tone. Pada pembawaan. Dia ada di antara over-the-top dengan drama yang serius. Beberapa momen karakternya (misalnya saat bersama ‘penasihat’nya yang seorang peramal) tampak lucu dan mengundang tawa, walaupun mereka sedang berkomplot untuk suatu tindak kejahatan. Film ini hebat menampilkan fashion dan kostum-kostum. Tapi begitu di Gaga, kelihatannya setengah-setengah. Aku melihat Gaga jauh lebih over-the-top dengan kostum-kostum pada serial American Horror Story: Hotel ketimbang pada film ini.

Padahal Patrizia yang paling kompleks. Dia tokoh utama cerita. Kita bisa melihatnya sebagai banyak. Perempuan yang masuk ke dalam keluarga bisnis patriarki. Jelata yang masuk ke dalam sebuah ‘dinasti’. Orang biasa yang masuk ke dalam lingkaran para pedagang dan seniman. Hampir setiap kesempatan Patrizia diingatkan bahwa dia bukan siapa-siapa. Patrizia ingin benar-benar mengenakan nama Gucci itu sebagai lencana. Bukan sebatas itu, perempuan ini pengen buktiin dia lebih berharga untuk nama dan bisnis tersebut. Namun naskah tidak seketat itu mengikutinya. Pada pertengahan kita sering dilepaskan darinya. Kita juga jarang sekali benar-benar dibuat memasuki pikirannya; ketakutannya, ambisinya, cintanya. Kita baru masuk mendalam lagi ke Patrizia menjelang akhir, dan itu jatohnya malah datar. Kita telah melewati perpindahan perspektif. Ditambah pula dengan tone karakter ini yang di tengah-tengah, susah untuk dengan segera konek kembali kepadanya.

Alasan sebenarnya Patrizia membunuh Maurizio adalah karena dia merasa dikucilkan dari power atau kekuasaan Gucci yang berusaha dia rebut demi suami in the first place. Walau Patrizia memang cinta sama Maurizio, tapi kecemburuannya bukan semata sama suaminya yang dekat ama cewek lain. It is a power struggle. Pada akhirnya kedua karakter ini gagal karena mereka tidak lagi melihat pernikahan sebagai penyatuan kekuatan. 

 

Bagian paling penting yang tidak diperlihatkan detil oleh film adalah momen-momen penangkapan Patrizia. Mungkin karena sudah kepanjangan atau karena bagian tersebut udah tercover oleh berita tentang kasusnya di dunia nyata. Tapi, sebagai karakter utama, sikapnya yang menolak dipanggil dengan nama-belakang asli; hingga detik terakhir Patrizia bersikekeuh untuk dipanggil sebagai Nyonya Gucci, adalah sikap yang penting untuk narasi. Film sebenarnya perlu menekankan adegan tersebut, memberikan lebih banyak konteks, ketimbang memperlihatkan sekilas sehingga malah terkesan kayak gaya-gayaan. Ending film ini mestinya powerful sekali, tapi efek yang dihasilkan tidak maksimal karena naskah yang tak seketat itu ada pada Patrizia. Ujungnya, ya keputusan menjadikan karakter utama sebagai ‘jembatan’ jadi terlihat seperti keputusan yang aneh. Tidak efektif untuk penceritaan.

 

 

 

Cerita yang menyuguhkan begitu banyak ini, baik itu konflik maupun karakter, jadinya kayak sajian prasmanan yang gak semuanya bisa kita nikmati karena tidak benar-benar sejalan atau melengkapi antara satu dengan yang lain. Pada film ini yang tidak sejalan itu adalah tone antara dramatis, kelam, dan kemunculan elemen over-the-top sebagai panggung dunia cerita. Karakter-karakter yang dibawakan seperti parodi aksen berbenturan dengan elemen dramatis, dan sebagai penghubung keduanya adalah karakter utama. Si karakter jadi seperti tak konsisten. Ditambah pula dengan kita tidak selalu berada bersama perspektifnya. Kembali ke sajian; film ini adalah sajian yang mahal, exciting, excuisite, tapi menunya perlu diseimbangkan ulang.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for HOUSE OF GUCCI

 

 

 

That’s all we have for now

Film ini bicara tentang bisnis keluarga yang gagal, dalam artian tidak menyatukan keluarga. Justru Gucci kini berhasil tanpa drama keluarga Gucci di baliknya. Bagaimana pendapat kalian tentang seteru keluarga dalam bisnis ini? Mengapa kayaknya susah sekali berbisnis dengan keluarga?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

JUST MOM Review

“Being a mom can be incredibly lonely”

 

Orang yang kesepian biasanya nyari kesibukan. Dengan mengadopsi hewan, misalnya. Lihat kucing lucu di jalan, dibawa pulang dan dipelihara bagai anak majikan sendiri. Tapi seorang ibu bukanlah ‘orang’ sembarangan. Dengan begitu banyak stok cinta, kasih sayang, dan perhatian untuk dibagikan, kesepian yang dirasakan seorang ibu yang telah ditinggal oleh anak-anak yang telah dewasa juga bukan kesepian sembarangan. Ibu dalam film-panjang kedua Jeihan Angga ini, misalnya. Melihat perempuan di jalanan yang sedang hamil dan tampak kelaparan, dikerubuti oleh massa yang terusik oleh kehadirannya, Ibu Siti datang menolong. Memberinya makan, memberinya perhatian seperti kepada anak sendiri. Ibu Siti bahkan membawa perempuan yang bernama Murni itu ke rumah untuk dirawat, tanpa mempedulikan bahwa perempuan itu adalah orang gila.

Premis itulah yang jadi fondasi drama keluarga ini. Jeihan Angga menempatkan Ibu Siti di kursi karakter utama, supaya kita bisa merasakan langsung perasaan kesepian di balik rasa sayangnya yang begitu besar. Bukan saja kepada anak-anak darah dagingnya, melainkan juga kepada Murni dan banyak lagi karakter di sekitarnya yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Just Mom akan gampang sekali konek dengan kita, gampang sekali menarik-narik air mata, karena dengan melihat Ibu Siti kita finally bisa melihat ibu kita masing-masing. Ibu yang tiap minggu minta ditelepon, ibu yang suka ngirim-ngirim pesan WA random, ibu yang suka cerewet nanyain jodoh. Itu cinta. Dan film ini bilang, di balik cinta tersebut ada kesepian.

momstill-photo-2_843dfeb5-a6e1-44e4-a0e8-6d09ceea874e
Jadi film ini bekerja selayaknya truk yang menghantam bagi penonton yang merasa anak dari ibu mereka

 

Kita bisa merasakan film ini turut terasa sangat personal bagi pembuat dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Karena film ini tahu dan respek betul dengan penanganan atau treatment bercerita. Paham bagaimana menggambarkan sosok seorang ibu yang ditinggikan oleh anak-anaknya (apalagi dalam cerita ini, suami Bu Siti telah tiada, sehingga hanya benar-benar tinggal Bu Siti seorang), paham bagaimana melukiskan konflik dan perasaan. Kamera, misalnya. Sedari awal kamera akan sering menampilkan Bu Siti lewat mengclose-up wajahnya yang penuh concern tersebut. Seketika kita langsung di-embrace oleh perasaan hangat, oleh cinta yang seperti menguar dari raut dan pancaran mata Bu Siti. Untuk akting atau pemeranan, aku bukannya suka terdengar klise, tapi memang Christine Hakim ‘sudah tak-diragukan lagi’ Bu Christine tahu apa yang diminta oleh perannya, dan beliau memberikan itu dengan begitu menjiwai. Dengan begitu mendetail. Adegan yang buatku paling mencekat adalah ketika Bu Siti baru saja mendapat laporan kesehatannya dari rumah sakit. Dia ditelpon oleh anaknya yang menunggu dengan cemas. Bu Siti bilang dirinya baik-baik saja. Namun dari situasi, dari ekspresi kita tahu bahwa kesehatannya memburuk, dan Christine Hakim harus berdialog menenangkan anaknya, menelan kesedihan dan air matanya. Getar di dalam suara yang berusaha tenang, dan mata yang memerah, I mean maaaann, gak banyak pemain film yang bisa handle akting dengan begitu banyak emosi tertahan kayak gini

Film juga sempat meng-closeup percakapan grup Whatsapp Bu Siti dengan anak-anaknya. Membuat kita memperhatikan dinamika keluarga ini. Satu-satunya alasan menampilkan layar chat sebagai adegan film adalah untuk membangun karakter/konflik, dan film ini melakukan dengan efektif sekali. Memperlihatkan isi hati Bu Siti yang mengetikkan kalimat rindu buat anak-anaknya, tapi kemudian menghapus pesan tersebut dan simply mengirimkan kalimat lain.

Jadi sebelum film ini kita udah melihat bagaimana seorang ibu merasa kesepian karena telah dengan sengaja meninggalkan anak-anaknya demi karir dan dirinya sebagai seorang manusia. Ibu dalam Film The Lost Daughter (2022) itu kinda make sense merasa sebatang kara, karena sebagai akibat dari pilihannya. Kemudian datanglah Just Mom, membawa perspektif baru. Seorang ibu yang begitu menjiwai perannya, yang begitu mencintai anak-anaknya, yang juga adalah seorang perawat sehingga insting nurturing people semakin tebal melapisinya. Jika kita membandingkannya dengan Ibu dalam The Lost Daughter, Bu Siti ini udah kayak kebalikannya. Beliau tidak meninggalkan keluarga, dia malah selalu berusaha ada bagi mereka. Menomorduakan dirinya. Dengan cinta sebanyak itu, mestinya dia adalah orang paling bahagia di seluruh dunia. Namun, Bu Siti ternyata juga merasa kesepian. Inilah kenapa film Just Mom menarik sekali buatku. Kenapa seorang ibu mau neglect anak, mau berusaha selalu ada untuk anak, either way ujung-ujungnya tetap kesepian. Ada dua jalur sebenarnya cerita Bu Siti ini bisa dikembangkan. Pertama, menjadikannya pasif dengan ‘menyalahkan’ kepada anak-anak yang udah jarang mengunjungi Ibu. Kedua, dengan tetap menggali perspektif Bu Siti, membuatnya aktif melakukan pilihan dan belajar memaknai kesepian. Sayangnya, hanya dengan durasi satu setengah jam kurang, film ini lebih memilih untuk berjalan ke arah yang pertama saja.

Ibu selalu mikirin orang lain. Ibu baru bahagia kalo anak-anaknya bahagia, tapi kebahagian yang beliau rasakan tidak mutlak kebahagiaan dirinya. Mungkin karena inilah Ibu adalah ‘pekerjaan’ paling mulia. Karena berat dan sepinya inilah Ibu harus diutamakan berkali lipat. 

 

Bukannya jelek, film justru tetap membuktikan betapa kompeten dirinya dibuat. Film tetap tahu kapan harus memantik drama lewat sentuhan musik ataupun kamera. Film sigap menjauhkan kita ketika cerita mulai menampilkan konflik di antara anak-anak Bu Siti. Dramatis dan haru film ini terus dikuatkan. Hanya, dengan membuatnya ke arah ini karakter si Bu Siti jadi tidak bisa punya banyak perkembangan. Hanya seperti dia benar, dan anak-anaknya yang salah alias kurang perhatian. Tidak banyak lagi penggalian konflik selain anak-anak Bu Siti saling tuduh gak bisa jaga Ibu. Cerita tidak lagi konsisten berada pada sudut pandang Ibu. Sehingga jadinya aneh, kenapa memakai Ibu sebagai karakter utama sedari awal, kalo yang mengalami pembelajaran cuma anak-anaknya. Kenapa tidak salah satu anaknya saja yang jadi karakter utama, seperti pada Cinta Pertama, Kedua & Ketiga (2022) atau Coda (2021) yang lebih efektif bercerita tentang anak yang harus mengurus orangtua (berbalik menomorduakan hidupnya)

Durasi juga terlalu singkat untuk memekarkan banyak relationship dan konflik itu. Bu Siti memutuskan untuk merawat Murni meski ditentang anak-anaknya (bahkan oleh asisten rumah tangganya). Ini bisa dilihat sebagaimana tindakan karakter Olivia Colman dalam The Lost Daughter mengambil boneka tak-terawat milik seorang anak. Murni yang perilakunya terbatas, antara clueless dan teriak-teriak trauma, singkat kata kayak anak kecil paling manja, adalah channel bagi kasih sayang dan cinta Bu Siti. Karena beliau tidak lagi bisa berbagi cinta dengan anak-anaknya sendiri yang sudah punya keluarga dan kehidupan masing-masing. Di balik kasih sayangnya untuk menolong sesama, Bu Siti butuh Murni untuk menemukan kembali fungsinya sebagai ibu. Tapi tentu saja, orang gila enggak sama dengan boneka. Murni juga manusia, hubungannya dengan Bu Siti tentu akan bertumbuh. Film memang mewujudkan banyak momen emosional dari hubungan ini, tapi tidak banyak pengembangan yang bisa diperlihatkan. Begitu juga dengan anak-anak Bu Siti. Tiwi, Damar, dan Jalu (dari tiga ini cuma Jalu yang lebih pro ke sang ibu) hubungan mereka cuma sebatas setuju-tak setuju, khawatir, saling tuduh. Mereka datang dan pergi sekena naskah. Dengan ibunya jarang-jarang. Dengan sesama mereka hanya ada satu momen di akhir. Bahkan gak ada waktu untuk menampilkan relationship mereka dengan Murni.

Kekompleksan pada masing-masing karakter ada diperlihatkan oleh film. Tapi tidak banyak waktu yang bisa diluangkan untuk menggali complexity tersebut. Akhirnya hanya lintasan komedi saja yang mencuat. Komedi yang gak benar-benar nambah apa-apa untuk konflik atau tema. Harusnya ada lebih banyak adegan Siti terkenang anak-anaknya waktu masih kecil, sebagai tempat untuk menggali relationship beliau dengan mereka. Murni bisa digunakan untuk pemantik ini, bikin adegan bersama Murni yang paralel dengan momen Siti dengan anak-anaknya dulu. Seperti flashback masa muda yang sering dilakukan oleh The Lost Daughter. Film ini, karena singkat, hanya seperti poin-poin saja. Yang setiapnya ditampilkan dramatis, tapi tanpa pengembangan. Seperti insiden gunting, Bu Siti gak pernah benar-benar resolve dengan cucunya. Ternyata pada akhirnya elemen anak pungut, orang gila, hingga ke ibu yang kesepian itu sendiri hanya digunakan untuk penguat adegan dramatis.

mom169-07a18c45f3480c01b008862e4fe5145d_600x400
Ibu self-healing dengan ngurusin orang lain

 

Melepaskan Murni ke rumah sakit jiwa seharusnya adalah ekivalen dari pembelajaran Siti merelakan anak-anaknya pergi (tumbuh dewasa). Karena itu berarti Siti sudah mengerti bahwa itulah sesungguhnya dia mengenali apa yang terbaik untuk mereka, dan Siti memetik suatu perasaan bahagia di balik kesepian yang ia rasakan. Tapi karena film tidak tertarik untuk berkubang di personal si Bu Siti, maka konflik hanya dari anak-anaknya yang salah karena melupakan ibu mereka. Babak ketiga film ini berubah menjadi drama orang sakit. Anak-anak Siti menyadari kesalahan mereka, sementara ibu sakit parah, total dramatisasi-lah di sini. And oh, penonton bakalan nangis. Karena ya sedih melihat ibu kita di ujung maut, dan kita mau minta maaf dan bertekad lebih sayang tapi terancam gak bisa.

Tapi resolve ceritanya itu gak ada. Siti boleh jadi bakal meninggal tanpa pernah menemukan real happiness, karena dia tidak ada resolusi real dengan anak-anaknya. Nasibnya hanya jadi ‘hukuman’ buat anak-anaknya. Sementara anak-anaknya sendiri, walaupun menyadari, tapi mereka tidak perlu belajar menjadi berarti buat ibu mereka. Mereka punya hidup baru, dan Ibu tetap berakhir di posisinya semula. Tetap hanya demi anak, tidak berpikir untuk dirinya sendiri.

 

 

 

Mungkin memang begitu selflessnya ibu. Namun film seharusnya tidak membuat karakter utama yang berjalan di tempat. Hanya ada satu momen Ibu menyadari pilihannya mungkin salah, dan film tidak lanjut mengeksplorasi ini. Bayangkan, bahkan The Father (2021) yang karakter utamanya orangtua yang mulai lupa siapa dirinya dan yang lain – karakter yang juga sama pantasnya dikasihani – tidak dibuat serta merta benar. Tetap diberikan pembelajaran mengikhlaskan situasi dirinya. Film ini tampil terlalu singkat untuk dapat jadi cerita penggalian seorang ibu yang kompleks. Yang dimaksimalkan adalah penampilan akting dan momen-momen dramatis. Dan somehow sedikit komedi. Film ini tampil kompeten dalam menjadi seringkas judulnya. Just cry. Untuk tangis-tangisan saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for JUST MOM

 

 

 

That’s all we have for now

Di samping untuk ending dramatisnya, apakah ada alasan lain yang bisa kalian temukan soal kenapa film ini membuat yang dirawat Siti adalah orang gila yang lagi hamil?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

 

 

NIGHTMARE ALLEY Review

“Man is not what he thinks he is, he is what he hides.”

 

Dongeng. Film-film Guillermo del Toro, mau itu horor, romans, ataupun sci-fi, selalu terasa seperti fantasi ajaib yang penuh makna. Bukan karena filmnya sukses menghantarkan tidur. Film del Toro terasa seperti lantunan dongeng karena begitu crafty-nya dia bercerita. Dari cara dia menampilkan visual, membangun atmosfer, hingga ke desain dan karakterisasi yang seperti ditarik dari ruang imajinasi terdalam benak manusia. Film Guillermo del Toro adalah dongeng yang justru rugi jika kita sampai tertidur menontonnya. Nightmare Alley yang ia adaptasi dari novel 1947an pun hadir seperti demikian. Dengan setting di dunia sirkus dan karnival yang penuh muslihat, del Toro berkisah tentang pria yang terbuai oleh tipudaya sendiri. Di balik thriller-noir yang mencekam dan bikin penasaran, ini sesungguhnya adalah dongeng tragis manusia yang mendambakan seluruh isi dunia, tapi malang, ia menemukan dirinya terperosok ke dalam gang suram tanpa jalan keluar.

Pertama kali berjumpa dengannya, kita tidak diberitahu apa-apa tentang pria ini sama sekali. Film tidak memberikannya dialog. Kita tidak mendengar orang memanggil atau mengucapkan namanya. Kita hanya melihat dirinya menyeret mayat ke dalam lubang di sebuah rumah, lalu membakar rumah tersebut. Pria itu lantas pergi meninggalkan semuanya. Tidak banyak film yang bisa ‘lolos’ dengan menampilkan sedikit sekali identitas sang protagonis cerita. Biasanya, film dituntut harus segera mengestablish hal-hal penting berkenaan dengan protagonis; siapa dia, keinginannya, namanya – supaya penonton bisa langsung menempelkan diri untuk mengikuti cerita/journey si karakter. Di sinilah letak bukti bahwa Guillermo del Toro adalah pendongeng sejati. Menit-menit krusial miliknya, diisi oleh karakter ‘misterius’, tapi lewat penceritaan visual yang mengalun tegas dalam balutan gambar-gambar malam di pinggiran yang menakjubkan, bibit-bibit tentang karakter ini telah disemai. Dan dengan melihat itu semuanya, kita ternyata bisa mengerti. This poor man has done something terrible, bahwa dia desperate meninggalkan masa lalunya, dan dia butuh duit. Sekarang, kita telah dibuat mau mengikutinya, karena kita ingin mendengar dari si karakter sendiri; siapa dirinya dan apa yang telah ia lakukan.

See, bukan saja film ini berhasil melandaskan karakter utama tanpa banyak berkata-kata. Film ini juga berhasil melandaskan konteks gagasannya. Bagaimana seseorang mengatakan siapa dirinya. Bagaimana seseorang mempersembahkan dirinya kepada orang lain. Bagaimana seseorang berpikir siapa sih dirinya. Setelah itu terlandaskan, barulah film menyebut siapa nama si Pria. Stan. But honestly, nama tidak akan jadi soal. Karena hanya nama baik yang akan diingat, dan Stan bukanlah pria yang benar-benar baik.

Perjalanannya membuat Stan sampai di tenda-tenda karnaval. Gagah dan masih muda, Stan mendapat pekerjaan di sana. Dunia belakang panggung karnaval tersebut jadi panggung cerita yang menarik. Khususnya bagi Stan. Karena karnaval bukanlah tempat paling jujur di dunia. Segala macam bentuk tipuan, mulai dari trik alat, trik merayu pengunjung, trik membualkan cerita, hingga trik sulap berkumpul di sana. Secara khusus, Stan tertarik sama pertunjukan mentalis. Maka belajarlah dia. Setelah merasa cukup menimba ilmu, Stan bersama perempuan yang dicintainya, pergi meninggalkan karnaval. Membuka pertunjukan mentalis sendiri, di tempat-tempat yang jauh lebih bonafid. Sampai akhirnya trik Stan ditantang oleh seorang psikiater wanita. Dan Stan, yang terus bertekad untuk menunjukkan siapa dirinya, mulai melanggar aturan yang bahkan ditaati oleh penipu-penipu di bisnis karnaval. Aturan untuk tidak bikin pertunjukan yang melibatkan hantu-hantuan.

alleynightmare-alley-guillermo-del-toro-trailer
Bukan horor, tapi bisa lebih seram daripada American Horror Story Freak Show

 

Magic sesungguhnya justru adalah penceritaan film ini. Del Toro berhasil mengangkat keajaiban dari sudut-sudut karnaval yang gelap dan kumuh. Kameranya berhasil membuat orang bongkar tenda aja tampak jadi sebuah pengalaman sinematik yang legit. Beberapa kali sutradara yang paling populer lewat kiprah horornya ini seperti menggoda kita dengan hal-hal berbau horor. Ada adegan pencarian seseorang ‘freak’ yang kabur masuk ke dalam wahana rumah hantu. Ada penampakan makhluk bayi yang diawetkan, yang katakanlah, kayak Dajjal dengan mata besar di dahi. Del Toro memainkan tone seram ke dalam simbol-simbol cerita yang lebih humanis, hanya untuk membuat kita menyadari bahwa tidak ada yang lebih horor daripada manusia yang terjerumus ke dalam downward spiral, seperti yang sudah kita antisipasi bakal terjadi kepada Stan.

Does Stan think he’s better than the place, than anyone else? He sure thinks so. Interaksi Stan dengan komunitas karnaval memang tampak berjarak. Film membuatnya kontras dengan interaksi dalam komunitas itu sendiri. Para pelakunya menghormati pekerjaan mereka, menganggap keluarga satu sama lain. Tak ragu berbagi ilmu. Jika kalian belum puas melihat akting Willem Dafoe di Spider-Man kemaren, well, di Nightmare Alley dia menyuguhkan permainan karakter yang enggak kurang dari luar biasa. In fact, film ini penuh oleh banyak lagi penampilan akting level Oscar yang semuanya tampil prima. Membawakan cerita yang telah diarahkan, dengan sangat baik. Jika simpati kita buat Stan sukar tumbuh, karakter-karakter pendukung inilah yang akan memastikan kita merasakan sesuatu. Ada cukup banyak drama di sini. Kita melihat mereka dari sudut pandang Stan. Selalu dari sudut pandang Stan. Dia memandang mereka seperti murid yang haus ilmu. Paling banter, seperti anak memandang ayah. Relationship yang tampaknya jadi sumber konflik – sumber masalah dalam kehidupan Stan.

Banyak sebenarnya yang bisa dibicarakan mengenai drama dan karakter-karakter di porsi karnaval. Aku certainly lebih suka ketika cerita masih bertempat di sini. Nada tragis memang konstan terasa sepanjang durasi film, tapi di bagian awal ini – dengan begitu banyak karakter menarik, setting yang juga unik – film terasa lebih hidup. Dan untuk sesaat kita pun jadi lupa sama masalah yang merayap di balik karakter Stan. Kita akan ikut tertarik melihat dia bertumbuh jadi lebih akrab, lebih jago trik, dan ultimately katakanlah menyelamatkan karnaval dari razia. Porsi kedua cerita adalah tentang Stan yang sudah mandiri sebagai mentalist di hotel mewah dengan seteru – lalu kerja samanya – dengan karakter psikiater yang diperankan begitu intimidating oleh Cate Blanchett. Fun sebenarnya melihat Stan menebak orang-orang, udah kayak detektif. Tapi Stan juga mulai kelihatan belang yang sesungguhnya. Cerita pun menjadi lebih gelap. Miris semakin tak terbendung melihat klien-klien Stan termakan oleh ‘trik mentalist hantu’, bahwa mereka ditipu pakai harapan mereka sendiri untuk berkomunikasi dengan terkasih yang sudah tiada. Pokoknya ada deh satu adegan pasangan tua yang bakal bikin hati kita hancur saking kasiannya.

alleyNightmare-Alley-Traile
Kacaunya, orang jaman sekarang tetap masih ada aja yang percaya padahal sejak jaman baheula komunikasi sama arwah itu telah terbukti cuma scam nyari cuan

 

Permasalahan sebenarnya tetap sama-sama menarik. Namun pada paruh kedua film ini (at least sampai sebelum babak ketiganya muncul) pace lambat dan durasi panjang film ini makin kentara terasa adalah karena ada romansa juga yang sepertinya mau diceritakan. Ini yang mengalihkan perhatian kita. Stan dan Molly (diperankan dengan manis oleh Rooney Mara) hampir seperti mendadak jatuh cinta, dan ketika kita peduli sama hubungan mereka, relationship mereka itu tidak benar-benar dicuatkan seutuhnya. Molly tidak pernah digali. Bagaimana perasaannya yang dijanjikan seisi dunia padahal nyatanya cuma jadi asisten sulap mentalist, bagaimana Stan mulai bikin show yang dia tahu itu ‘salah’. Karakter Molly dalam cerita praktisnya memang cuma jadi ‘asisten’ bagi karakter Stan, yang tidak pernah benar-benar melihat cinta sebagai tujuan utama. Di garapan romansa inilah, kita dan Stan – yang memang gak pernah diniatkan untuk benar-benar segarispandang – menjadi total berjarak. Sehingga kita terlepas dari cerita. Di titik ini, kita hanya ikut cerita, karena kita lebih peduli pada Molly, sementara film tetap pada perspektif Stan. Film melakukan ini bukan tanpa alasan. Film ingin kita untuk benar-benar melihat bagaimana tragisnya ‘faustian bargain’ itu bisa terjadi kepada manusia. Karena Stan sesungguhnya adalah contoh klasik seseorang yang menukarkan value kemanusiaannya demi glory, uang, kuasa – yang selama ini tidak pernah ia dapatkan, karena ia merasa selalu menjadi subordinat dari ayah yang ia benci.

Sebagai orang yang merasa dirinya lebih baik dari semua penipu. Yang merasa dia lebih baik daripada ayahnya. Yang merasa dirinya berhak mendapat seisi dunia sehingga dia tidak masalah untuk menjadi orang jahat demi hak tersebut. Yang telah terbutakan oleh tipuannya sendiri, Bradley Cooper telah memberikan penampilan akting terbaik dalam karirnya sejauh ini kepada kita. Stan ini menurutku adalah salah satu karakter yang memang harus didukung oleh fisik pemainnya. Cooper punya fisik dan kharisma yang benar-benar kontras dengan sekecil apa Stan deep inside, dan Cooper sadar ini. Dia tahu bagaimana psikologis karakternya, dengan trauma-trauma dan masa lalu kelam itu, bekerja. Dan dia membuat karakter ini benar-benar seperti ekslusif untuk dia mainkan. Dedikasi dan kepahaman Cooper memainkan Stan dapat kita lihat di adegan terakhir film ini. Ending Nightmare Alley adalah salah satu ending terkuat, yang benar-benar poetic – circle back ke kejadian di awal (bukan hanya ke certain dialog tentang cara mencari orang untuk pertunjukan tertentu, tapi bahkan hingga ke pertama kali karakter ini membuka suara) Dan di situ akting Cooper benar-benar juara. Begitu banyak emosi ditampilkannya.

Salah satu dialog kunci film ini mengatakan bahwa manusia itu begitu desperate untuk dilihat orang. Itulah yang jadi tema dongeng tragis ini. Jadi, manusia berusaha menjadi yang terbaik. Tapi sering juga kita merasa diri kita lebih baik dari yang sebenarnya. Kita bablas. Alih-alih berjuang, kita menutupi kekurangan. Kita menipu diri sendiri. Film ini adalah dongeng tragis apa yang terjadi ketika manusia terhanyut dalam menipu dirinya sendiri.

 

 

Aku akan mendukung kalo film ini berlaga di Oscar. Karena film ini begitu tragis, endingnya adalah salah satu yang terbaik, dan aku ingin melihat dia berkompetisi dengan The Lost Daughter (2022), yang juga punya ending poetic nan tragis – and it’s like versi anak cewek dari cerita tentang anak cowok ini. Dan tentu saja Bradley Cooper juga harusnya dilirik berkat penampilan yang gak kalah tragisnya dengan Olivia Colman. Tentu, ini bukan terbaik dari Guillermo, design ceritanya agak sedikit jadi bumerang di pertengahan, tapi for sure design produksi film ini adalah kelas juara. Ada begitu banyak yang bisa dinikmati sepanjang durasi. Mulai dari karakter, simbol-simbol, belakang panggung bisnis karnaval, mentalist lawan ilmu psikiater, serta visual dan hasil tangkapan kameranya itu sendiri. Penceritaannya juga terasa khas.  Sehingga aku kasihan sama orang yang tertidur dan walk out pas nonton ini. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for NIGHTMARE ALLEY

 

 

 

That’s all we have for now

Salah satu simbol yang berulang kali muncul di film ini adalah mata/gambar mata. Apa menurut kalian makna dari mata di dalam gagasan cerita ini?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ETERNALS Review

“Love is the capacity to take care, to protect, to nourish.”

 

Bayangkan awal tahun bikin film yang menang Oscar, lalu di penghujung tahun yang sama bikin superhero yang paling membosankan se-cosmic raya, lol that’s some range. Eternals adalah jawaban kenapa Taika Waititi bisa demikian sukses saat menggarap superhero dewa dalam balutan full-komedi receh. Karena cerita tentang ultimate being yang mendalami makna menjadi manusia memang harus mendaratkan karakter-karakternya menjadi pada level yang sama dengan penonton. Membuat mereka berlaku komedi adalah salah satu caranya. Dengan begitu kita akan lebih mudah melihat mereka sebagai bagian dari kita. Sehingga kita jadi peduli menyelami kompleksnya konflik dan karakter mereka. Eternals yang menunjuk Chloe Zhao sebagai sutradaranya, however, pengen tampil sebagai cerita pahlawan dengan muatan filosofis. Eksistensi dan kemanusiaan. Dengan bahasan yang ‘berat’ dan karakter yang ditampilkan sebagai dewa di atas kita, Zhao berusaha mendaratkan Eternals dengan tema cinta. Tapinya lagi menonjolkan cinta-cinta sementara pada sepuluh karakter kompleks itu ada bahasan menarik yang dibahas harus sekilas karena bakal ‘ketinggian’, hanya berujung membuat film ini jatuh sebagai drama bucin antara karakter-karakter kaku yang ingin mencegah kiamat terjadi di dunia.

Jadi jauh sebelum Avengers terbentuk, jauuuh sebelum peradaban manusia terbentuk, bumi kedatangan sepuluh makhluk abadi buatan Celestial. Makhluk-makhluk ini dikirim untuk melindungi bumi dari makhluk monster bernama Deviant yang memangsa manusia. Sersi adalah salah satu dari makhluk pelindung bumi itu, dan dialah karakter utama kita. Sersi instantly jatuh cinta sama planet dan kehidupan di dalamnya. Dan setelah sekian lama hidup di bumi, Sersi dan teman-teman memang ngajarin manusia dan punya pengaruh besar dalam peradaban (sebagian mereka kayfabe-nya jadi origin kisah dewa-dewi), meskipun mereka punya aturan enggak boleh mencampuri urusan ‘pribadi’ makhluk bumi. Mereka hidup bersama di antara manusia, sehingga jadi tumbuh rasa peduli. Kepedulian ini lantas jadi konflik personal, berbenturan dengan purpose yang dirancangkan buat mereka. Maka perpecahan pun terjadi. Sersi dan teman-teman berpisah dan hidup masing-masing. Namun sekarang, Deviant yang lebih kuat dan mampu menyerap kemampuan Eternals. Membunuh pemimpin Sersi. Para Eternals harus berkumpul kembali untuk melenyapkan ancaman ini, hanya untuk mengetahui bahwa ancaman sebenarnya justru adalah diri mereka sendiri. Karena kenyataan pahit terkuak untuk Sersi; Eternals sebenarnya dikirim ke Bumi untuk memastikan kehancuran planet tersebut sesuai pada waktunya.

eternals1593996-9-fakta-tentang-sosok-sersi-di-eternals
Sersi sampai di kita jadinya Dewi Padi

 

Yea, sepuluh karakter diperkenalkan sekaligus dalam satu movie memang udah red flag. Sudah begitu banyak contoh cerita ‘team’ yang gugur dan berakhir sebagai nilai merah karena gagal mengeksplorasi karakter tersebut dengan berimbang. Baru-baru ini ada satu yang berhasil, James Gunn, tapi itupun lagi-lagi karena penggunaan komedi untuk mendaratkan. But hey, Eternals hadir dengan durasi yang jauh lebih panjang dari cerita ‘team’ sebelum ini. Dua jam setengah durasi seharusnya bisa menghimpun perspektif, development, dan range masing-masing karakter. Seharusnya…

Buatku yang menarik adalah karakter Kingo, Phastos, dan Druig. Kingo ‘menyamar’ hidup sebagai legenda Bollywood, dia punya kecintaan sama film, dan for some reason Kingo sepertinya adalah superhero pertama yang menolak muncul dalam final battle. Kumail Nanjiani udah jadi berotot gitu tapi karakternya malah gak mau bertarung di akhir, it is really weird. Phastos really conflicted saat manusia mulai berperang antarsesama, karena dia merasa bertanggungjawab; dialah yang membantu manusia menciptakan alat-alat sederhana. Sementara Druig, benar-benar benci melihat manusia berperang. Druig yang bisa mengendalikan pikiran straight up melanggar aturan, membentuk komunitas masyarakat sendiri sesuai kehendaknya. Tiga karakter menarik ini nyatanya dipinggirkan karena tokoh utama kita adalah Sersi. Yang konflik utamanya adalah cinta. Sersi jatuh cinta sama manusia. Sersi dicintai sama Ikarus, Eternal yang bisa terbang. Sementara Ikarus dicintai sama Sprite, Eternal yang gak bisa gede. Mereka juga punya teman Eternal yang sering menggila, dan Eternal yang bersedia selalu melindunginya karena cinta. Film Eternals menonjolkan segala drama kebucinan ini, sebagai usaha untuk membuat para karakternya ‘manusia’

Chloe Zhao ingin mengeksplorasi gagasan soal melindungi hal yang kita cinta. To protect; itulah yang membuat manusia, manusia. Para karakter Eternal menyadari mereka ingin melindungi karena mereka punya rasa cinta, dan itu membuat mereka menjadi manusia yang sama dengan yang mereka lindungi. Itu memberikan tujuan yang sebenarnya bagi eksistensi mereka yang menyedihkan. Furthermore, Chloe memastikan para karakter benar-benar diverse. Sehingga aksi saling melindungi, saling cinta itu semakin bermakna karena melalui berbagai perbedaan dan menyatukannya.

 

Dengan pesan kemanusiaan di balik narasi klise kehancuran bumi, Eternals sesungguhnya cerita yang punya bobot dan penting untuk kita tonton. Bukan sekadar aksi-aksi flashy superhero. Hanya saja Zhao tidak benar-benar memanfaatkan karakternya selain sebagai boneka penyambung pesan. Dia tidak berhasil membuat karakter tersebut hidup. Harusnya Zhao menonton serial kartun Steven Universe. Serius. Eternals ini sama persis plotnya dengan kartun anak-anak tersebut. Baru tahun kemaren aku melahap kelima season Steven Universe, aku juga bikin playthrough lengkap video gamenya di channel Youtube. Sehingga plotnya masih segar teringat, dan saat nonton Eternals, aku merasakan deja vu. Para Eternal adalah Crystal Gem di kartun Steven. Pasukan yang dikirim ke bumi untuk mengalahkan monster, tapi kemudian merasa betah dan tertarik hidup bersama manusia bumi. Celestial adalah Diamond, higher entity yang mengirim mereka. Bahkan senjata/kekuatan mereka pun mirip sama Crystal Gem. Long story short, Crystal Gem ini juga akhirnya mengetahui rencana penghancuran bumi, dan seperti Eternal mereka juga harus melawan sesuatu yang bakal bangkit dari dalam inti bumi. Druig adalah Steven, yang punya kemampuan pikiran untuk melakukan sesuatu terhadap makhluk yang bakal bangkit tersebut. Tema di balik plot itupun sama. Tentang cinta yang dirasakan. Eksplorasi eksistensi diri, melindungi yang dicintai, kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Steven Universe bahkan memuat tema LGBT dengan lebih mendalam daripada Eternal yang hanya sekadar menyebut dan nunjukin ciuman. Kartun tersebut menyimbolkannya sebagai kekuatan (fusion).

Inilah yang kumaksud ketika Zhao harusnya nonton serial ini terlebih dahulu. Karakterisasi dan penyampaian tema dilakukan oleh serial tersebut lebih mendetil dan dalam dan menyentuh ketimbang yang ia lakukan pada Eternal. Karakter-karakter seharusnya tidak didefinisikan oleh aksi bucin mereka saja. Mereka harus hidup. Sersi menjadi boring karena teman-temannya yang lain memasak, main film, jadi orangtua. Sersi sibuk tenggelam sendiri. Film fokusnya malah ke karakter-karakter seperti Sersi ini. Namun bahkan karakter yang menarik pun kalo udah ngumpul bareng mereka cuma berbaris, menatap sok keren ke satu titik. Dalam cerita soal merayakan emosi dan vulnerability manusia, para karakternya gak pernah sepenuhnya tergambar seperti manusia.

eternals-richard-madden-gemma-chan-2
To be fair, Steven Universe punya lima season untuk ngembangin karakter. Maka film Eternals ini cocoknya jadi serial juga.

 

Walau durasi sudah ekstrapanjangpun, film ini tetap terasa sesak dan penuh berjejelan oleh informasi dan eksposisi. Timeline dalam narasi actually melintang sepanjang sejak awal waktu. Kejadian mereka tersebar dalam periode-periode peradaban manusia. Film ini menggunakan alur bolak-balik antara kejadian di masa sekarang untuk memajukan plot, dengan kejadian di masa lalu untuk mendalami backstory kejadian (mereka pisahnya gimana, mereka ada masalah apa, dsb) Dengan cara memuat seperti begitu, praktisnya tidak ada lagi tempat untuk benar-benar mengembangkan kehidupan karakter. Akibatnya lagi, karakter ‘setua’ itu kayak sama aja mau itu kita melihat mereka di periode tahun berapapun. Yang paling gak bertumbuh itu adalah karakter Makari. Ini sayang sekali. Superhero deaf pertama MCU, berkekuatan bisa lari secepat kilat, tidak diberikan apa-apa oleh film. Dia hanya nunggu di ‘pesawat’. Hanya dimunculkan di menjelang akhir. Dia di masa lalu ama yang sekarang benar-benar gak ada bedanya. Kalo anak sekarang bilangnya ‘nolep banget’

Film ini tenggelam dalam filosofis dan pembicaraannya sendiri sehingga gagal melihat hal-hal menarik yang bisa diangkat dari karakter. Mereka punya Angelina Jolie sebagai Goddess of War – Angelina-frickin’-Jolie!! Dan hal menarik bagi film ini buat karakternya cuma namanya Thena, bukan Athena. Nama itu terus diulang-ulang. Film tidak tertarik menggali personal karakter ini – fungsi dia sebagai wakil karakter mental illness sudah dipenuhi dengan just exist there. Film tidak tertarik ngasih adegan aksi yang memfokuskan Jolie kembali beraksi. Film tidak tertarik ngasih adegan aksi. Period. Kenapa aku bilang begitu? Karena adegan-adegan berantem film ini basic banget. Gak ada yang wah. Sepuluh kekuatan special itu gak pernah jadi terasa seperti experience berantem yang out-of-the-world, yang seru. Zhao kayak sebodo amat ama template aksi superhero yang udah disiapkan studio. Hanya ada satu kayaknya, satu adegan berantem yang memperlihatkan kerja sama efektif, like, combo kekuatan super karakter mengalahkan lawan. Padahal mereka ini digambarkan gak benar-benar kuat on their own. Mereka harus bekerja sama. Ini seharusnya kesempatan ngerancang kombo-kombo spektakuler. Tapi film ini cuma kayak ‘hmm meh..!”

Satu-satunya hal menarik di film ini adalah bagaimana sepertinya Marvel telah membuka ‘pintu terlarang’. Seperti WWE yang tau-tau ngajak superstar dari perusahaan gulat sebelah (Impact) untuk tanding di acara mereka, Eternals tau-tau menyebut Batman dan Superman – dua karakter superhero dari studio sebelah – di dalam narasi. Nyebut nama-nama Avengers kan udah biasa tuh, film-film Marvel selalu ‘ngiklanin’ mereka, terutama kalo si film ini gak langsung bersangkut paut banget dengan kejadian Avengers. Nah menariknya kali ini, Batman dan Superman juga disebut dengan gamblang. Marvel mengacknowledge keberadaan superhero lain di dunia mereka. Apakah ini mengisyaratkan Marvel sudah open untuk crossover yang lebih menggemparkan? Bagaimana menurut kalian? Share pendapat kalian di komen yaa

 

 

Seharusnya dengan adanya sepuluh karakter superhero dewa berarti ada sepuluh kali kesempatan lebih banyak bagi film ini untuk menghasilkan sajian yang sepuluh kali lebih dahsyat daripada biasanya. Tapi nyatanya, film ini jadi kayak sepuluh kali lebih membosankan. Karakter-karakternya cuma baris berpose sok keren. Karakter utamanya bucin, maka melodrama cinta-cintaan itulah yang jadi fokus utama.Total bleergh buatku adalah adegan Ikarus dibikin memenuhi takdir namanya, dengan konteks dia malu udah berbuat jahat dan gak dicintai lagi sama kekasihnya. Hal-hal semacam ini yang mengesampingkan hal-hal menarik yang actually dipunya oleh beberapa karakter lain. Udah dikasih durasi panjang, tapi tetap saja film ini tidak terisi dengan efektif. Film bahkan lupa punya monster antagonis yang bisa meniru kemampuan dan berkembang jadi lebih kuat dan manusiawi. Karakter itu lenyapnya dengan gampang aja. Dikembangkan dengan tidak imbang. Ini superhero yang gak tertarik sama aksi, melainkan lebih kepada filosofi eksistensi. Mending nonton kartun Steven Universe aja deh. 
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for ETERNALS

 

 

 

 

That’s all we have for now

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA