PENYALIN CAHAYA Review

“If he cannot silence her absolutely, he tries to make sure no one listens”

 

 

As of right now, people are just projecting their hate onto this movie. Kebencian yang memang layak sekali untuk dikoarkan karena bersumber dari dugaan kekerasan seksual yang ditutupi, yang ironisnya jadi tema dalam cerita. Sehingga orang-orang sekarang either mengasihani korban, atau mengutuk pelaku yang malah dapat penghargaan dengan menuliskan cerita ini. Like, hampir semua orang yang kulihat di timeline Twitter, yang memilih untuk menonton film ini, menyaksikannya supaya bisa membuktikan dosa itu benar tercermin ke dalam cerita. Menontonnya supaya bisa mengutuknya. Menonton tanpa apresiasi – apalagi memuji dan menikmati – sebagai bentuk solidaritas dan pembelaan kepada penyintas-penyintas yang didramakan. Mengutuk kekerasan seksual dan mengutuk pelakunya jelas adalah perbuatan yang benar. Tidak akan ada yang meragukan di sisi mana kita berpihak when it comes to case like this. Everyone should condemn it. Namun, film tentu bukan persoalan satu orang. Hanya untuk menilai salah-benar adalah alasan yang ‘kurang tepat’ untuk menonton film. Karena menonton harusnya pertama-tama untuk personal.

Aku gak meminta kalian untuk berhenti menyuarakan kebenaran dan berhenti membenci kasusnya. Aku hanya meminta untuk sejenak kita memisahkan film ini dari pelakunya. Toh film hanya ‘mesin fotokopi,’ bukan satu orang yang menyalinkan sesuatu di atasnya. Aku ingin meminta waktu sebentar untuk kita memikirkan apa yang diomongkan Penyalin Cahaya kepada kita, masing-masing. Seperti apa kira-kira dialog kita dengan film ini. Jika kita bukan korban, jika kita bukan pelaku, maka siapa kita, kata film, di cerita ini. Di mana posisi kita. Apa yang kita lakukan di cerita ini. 

penyalinmedia
Kenapa di akhir itu cuma dua cewek yang mendorong mesin fotokopi ke atas gedung? Karena yang cowok Tariq

 

Penyalin Cahaya bercerita tentang mahasiswi berprestasi bernama Suryani. Perempuan yang aktif di kegiatan teater kampus, sekaligus sibuk membantu usaha warung makanan milik orangtuanya. Selain sedikit masalah dengan ayahnya yang keras, things seem going well untuk Sur. Permohonan beasiswanya hampir tembus. Pertunjukan teater mereka sukses berat. Namun semua itu sirna ketika Sur menemukan dirinya terbangun kesiangan esok hari. Beredar foto-foto dia lagi mabok dan berpesta pora di acara sukuran klub teater tadi malam. Permohonan beasiswanya lantas ditolak. Sur diusir dari rumah. Sur yang sama sekali tidak ingat apa-apa kini berusaha membersihkan namanya. Mencari tahu siapa yang telah mengambil foto dan menguploadnya, hanya untuk menemukan perbuatan mengerikan lain yang malam itu terjadi kepadanya. Dan mungkin kepada banyak lagi teman lainnya.

Jadi, di mana aku dalam cerita Sur Menuntut Kebenaran dan Keadilan ini? Aku ngikutin perjuangan Sur menyibak misteri. Aku melihat ketika Sur malah balik dipersalahkan. Dia bicara dan mempertahankan diri tapi, aku menyaksikannya, jadi malah berbalik dituduh melempar fitnah dan meminta maaf walaupun di sini dialah yang paling dirugikan. Hidupnya hancur. Dan apa yang kulakukan? Aku hanya bisa merasa malu. Sedih dan marah juga sih, tapi yang paling nyesek kurasakan adalah malu. Karena film ini memperlihatkan kepadaku kesusahan yang harus dilalui Sur saat speak up sebagai korban. Diperlihatkan dengan emosi yang sangat mendetil, dalam teknis visual yang terlihat begitu luwes bermain close up dan warna-warna, sehingga kadang seperti realm fantasi tapi terasa menampar saking realnya semua terasa. Film ini dihadirkan ringan, tapi karena itulah justru terasa semakin menohok. Karena aku yang sama sekali gak tahu sesusah apa bagi korban seperti Suryani, yang merasa semua bisa selesai dengan enteng, jadi benar-benar merasa tersadarkan dengan tamparan. Malu karena ternyata sesusah itu bagi Suryani, dan Suryani-Suryani lain di luar sana. Malu karena kita gak doing enough to help them

Film ini paham bahwa awareness terhadap itu harus ditingkatkan. Jadi mereka membuat Sur menempuh semua yang kita jatuhkan kepada korban pelapor setiap kali ada kasus seperti ini. Sur akan dicurigai berbohong. Sur dipersalahkan karena ceroboh. Sur dianggap mencemarkan nama baik. Semua itu ditampilkan film dalam gambaran yang begitu naas, bukan semata demi dramatisasi ataupun glorifikasi penderitaan korban. Melainkan untuk ngeshame kita yang entah kenapa selalu takut untuk mempercayai korban. Kita malah lebih suka mempertanyakan mereka. Akhirnya membuat mereka senewen sendiri, merasa diri merekalah yang salah. This is the worst feeling. Film dengan berani mengangkat itu. Konflik personal Sur dieksplorasi. Dia merasa bersalah melanggar aturan ayahnya. Dia merasa bersalah nuduh temannya. Telah ngebajak hape mereka. Adegan Sur dan teman-teman nonton rekaman CCTV dan kemudian tuduhannya berbalik menjadi Sur malah disalahin teman-teman, duduk terdiam di sana, dengan pikiran berkecamuk antara apa ia dia salah dengan masih ada satu hal yang gak kejawab baginya, merupakan salah satu yang paling menohok. Menciptakan intensitas, dan karakter building yang kuat. Sur tidak digambarkan tak-bercela, dia tidak selalu benar, dan ini jadi menambah lapisan konflik. Ke kita, yang selalu failed mengenali urgensi korban. Bahwa sekalipun korban tampak bersalah, itu tidak mengurangi kenyataan bahwa dia adalah korban kasus kekerasan. It still happened to her. Help her.

Dengan begitu, ironi yang digambarkan film ini jadi semakin kuat. Sur, untuk speak up, terpaksa harus bertindak sendiri. Tanpa dukungan. Dia harus melanggar hukum untuk membuktikan dirinya tak bersalah dan adalah korban dari ini semua. Arahan untuk perjalanan karakter ini terasa begitu kuat. Mantap mengarah kepada efek yang diniatkan. Thriller bergaya misteri whodunnit dipilih untuk semakin mengontraskan. Kenapa? karena whodunnit biasanya simpel. Everybody is suspect tapi ujungnya selalu siapa yang salah, siapa yang benar. Sur pikir dia tinggal menemukan siapa yang upload. Siapa yang membiusnya. Sayangnya, urusan kasus kekerasan seksual di kita belum bisa jadi sesederhana itu. Tidak dengan relasi kuasa dan ketimpangan gender masih merajalela. Padahal seharusnya ya sederhana, orang yang berbuat salah, ya harus dihukum. Tapi kenapa Sur yang jadi semakin susah dan sendirian. Di pilihan bercerita inilah gagasan film sesungguhnya juga berada.

Bahkan penampilan akting Shenina Cinnamon sebagai Suryani tampak dikawal sangat ketat. Seperti misalnya ada beberapa dialog yang diucapkan dengan sedikit belibet olehnya, tapi oleh cara film ini mempersembahkan, belibet itu jadi tampak sesuai dengan konteks. Bahwa karakter ini memang sedang mengalami kejadian yang emosionalnya harus ia pendam sendiri. Sehingga ia ‘bergetar’ menahan semua itu.

Yang ditunjukkan dengan begitu emosional oleh film ini adalah bahwa pilihan satu-satunya bagi korban kekerasan  adalah untuk diam. Bukan karena mereka mau diam. Melainkan karena diam berarti pilihan yang paling aman. Karena keignorance kita-lah mereka memilih itu. Angkat bicara menjadi sulit. Bukan saja membuka trauma, tapi juga sebab kita masih lebih cenderung tidak mempercayai korban. Sementara pelaku dengan gampangnya memainkan kuasa untuk mendiamkan, bahkan balik menuding mereka. 

 

Mitologi medusa jadi alegori yang tepat. Dalam adegan revealing yang dibuat sangat teatrikal, mendadak realm fantasi tadi mendobrak kesan realism yang dibangun, kita diperlihatkan pelaku yang sebenarnya beraksi kayak wayang orang di tengah asap, berdialog soal medusa dan perseus. Di depan korban-korban yang dibekep. Adegan ini memang terlihat aneh dan over the top. Tapi masih berfungsi efektif dalam memuat gagasan. Karena beginilah gambaran korban-korban kekerasan seksual di dunia nyata. Mereka dibungkam. Mereka jadi terdiam. Membatu, kayak korban Medusa. Pelaku di cerita ini bilang dirinya Perseus, but really, pelaku sebenarnya lebih cocok dikatain medusa. Karena udah bikin korban membatu. Pelaku bebas bergerak. Terus beraksi ke sana kemari, menepis tudingan sana-sini, dan balik menyalahkan korban. Memastikan tidak ada yang mendengarkan mereka. Dan kita simply tidak melihat itu.

penyalininopsis-Film-Penyalin-Cahaya-Angkat-Cerita-Tentang-Kekerasan-Seksual
But now we know, dan kita kasih cermin ke Medusa. Mereka kini yang diam membatu.

 

Menjadi whodunnit ternyata punya lubang jebakan sendiri. Dan penulisan film ini enggak seanggun arahannya, sehingga film kecemplung juga beberapa kali. Dalam pengembangan misteri misalnya. Untuk membuat penonton tetap engage ke misteri, film paham harus mengungkap perlahan. Hanya saja, misteri ini terlalu dielaborate. Dari siapa pelaku upload, hingga ke pelaku pelecehan yang lebih besar, film terlalu sibuk mengembangkan seolah ini adalah kejahatan cerdas. Terselubung, terencana dengan matang. The crime keeps getting bigger. Hingga jadi kayak mustahil. Ya mustahil terjadi, mustahil gak ketahuan, mustahil ada yang bantuin. Kasusnya sendiri, jadi kayak ngada-ngada. Di sini aku bisa lihat penonton yang udah tahu kasusnya bakal ilfeel lagi saat menonton. Karena film tampak seperti mau ngepush kehebatan pelaku. Yang berlawanan dengan gagasan dan sasaran dialog film. Kita. Penyalin Cahaya harusnya ngepush narasi dari perspektif Sur untuk menegur kita yang gak melakukan apa-apa melainkan mempersulit korban. Bukan untuk memperlihatkan soal rencana sinting dan rapi si pelaku. 

Sehingga film terasa jadi lebih panjang daripada seharusnya, untuk urusan kasus yang tidak perlu terlampau digayain. Seharusnya waktu dipakai untuk ngeresolve beberapa hal. Terutama dari sudut pandang korban seperti Sur dan yang lain. Turn around mereka perlu dieksplorasi lagi karena berkenaan dengan kesukaran membuka suara. Aku sendiri sebenarnya pengen banget konflik Sur dan ayahnya diresolve, seperti Sur dengan ibu. Terutama karena ayahnya yang paling keras tidak mau mempercayai Sur, sementara dia juga ada benarnya – kalo ayah gak nyuruh Sur pake baju dalam, Sur gak akan pernah menyadari satu kejanggalan kunci yang membuatnya yakin dirinya ‘dikerjai’. Yang paling kurang greget sebenarnya adalah karakter Amin (Chicco Kurniawan di sini mirip John Cho ya haha) sahabat Sur yang tukang fotokopi dan menampung/memfasilitasi usaha Sur. Kalo kita balik ke kasus, menurutku ke dalam karakter inilah co-writer menuangkan dirinya. Pelaku in the past, dan kini berusaha meredeem diri dengan membantu Sur. Tapi yang dilakukan Amin tidak cukup. Hanya sebatas memberi mesin fotokopi. Sikapnya tidak pernah diselesaikan. Pengkhianatannya dirasakan oleh Sur, sebesar ‘pengkhianatan’ yang penonton rasakan sehingga banyak yang akhirnya memilih untuk tidak lagi mendukung film penting ini.

 

 

With all of that being said, pendapatku terhadap film ini – dan kasusnya –  ada dua. Pertama untuk filmnya sendiri. Aku masih menganggap film ini layak menang Terbaik FFI. Karena pesan dan relevansinya. Karena arahan dan teknis dan permainan aktingnya. Tapi tidak untuk sebagian lagi, terutama untuk penulisan. Yang memang terlalu bombastis, seringkali tidak sesuai dengan niat filmnya sendiri. Kedua, mengenai tujuan film dan kasus itu sendiri. I feel like, keberadaan film ini penting karena menyadarkan kita bahwa korban-korban itu susah mendapat keadilan, maka permudahlah. Bantu mereka sebarkan suara, karena itulah justice yang paling mungkin bisa mereka dapatkan. Akan tetapi, kalo dengan keberadaan film ini malah membuat korban semakin merasa tak diperlakukan adil, membuat mereka makin susah mendapat justice, maka menurutku hate it if we must. Sebaiknya film ini bertindak tegas dan merestore itu. Jangan sampai film ini hadir tapi jadi bertentangan dengan makna keberadaannya sendiri. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PENYALIN CAHAYA

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa kebanyakan orang masih begitu sulit mempercayai korban?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SING 2 Review

“Go big or go home”

 

 

Koala Buster Moon telah menyelamatkan teater di kota kecilnya. Dia melakukannya dengan menyelamatkan bakat-bakat di sana lewat kompetisi bernyanyi. Johnny si gorila, Rosita si ibu babi, Ash si landak rocker, Gunter si babi energetik, Meena si gajah pemalu; Buster Moon membantu mereka semua menemukan suara masing-masing. Sekarang, bertahun-tahun menikmati kesuksesan kecil mereka, Mr. Moon siap untuk mengejar kesuksesan yang lebih besar. Dia pengen mereka manggung di kota, di panggung yang lebih ternama. Dan semenjak seorang (err… tepatnya seekor) kritikus ngelepehin pertunjukan teater mereka, Moon jadi makin napsu untuk membuktikan diri. Nekat saja, dia memboyong para talent andalannya ke kota. Masuk gitu aja ke audisi di depan produser gede Jimmy Crystal si serigala putih yang ruthless, dengan persiapan yang minim. Bakatnya sendiri; sepik-sepik, memang berhasil membuat mereka dilirik. Dikasih slot mempersembahkan pertunjukan sendiri. Tapi pertaruhannya berat. Apalagi Buster Moon sama sekali belum nulis apa-apa tentang show musikal sci-fi yang ia janjikan, ataupun sama sekali tidak mengenal dan bisa menjamin singa rocker legendaris yang telah lama mengasingkan diri bisa hadir dan manggung bersama mereka semua!

Sutradara dan penulis naskah Garth Jennings paham ke mana harus melihat ketika ingin mengangkat cerita tentang dunia pertunjukan. Cerita tentang bakat dan menggapai mimpi digunakannya sebagai pondasi dalam film Sing yang pertama (2016) Di film sekuelnya ini, Jennings membangun cerita dari perjuangan ‘menjual’ bakat, bagaimana mengapitalisasi kesempatan. Sing 2 punya celetukan-celetukan kecil soal bisnis pertunjukan. Dan sebagai orang yang gak in-touch sama lagu-lagu populer (apalagi lagu kekinian), tema bisnis pertunjukan itulah yang lebih mudah untuk kunikmati saat menonton animasi hewan-hewan anthropomorphic ini. 

singsing-2
P.T. Barnum dunia satwa

 

Sebagai kreator, sebagai produser, Buster Moon selalu punya jiwa oportunis yang bisa membuat dia kadang tampak sebagai orang jenius, dan kadang juga tampak sebagai produser nekat yang gak-bener. Moon berjalan di antara garis ini, dan somehow suara Matthew McConaughey terasa cocok untuk menghidupkan karakter yang ada di posisi kayak gini. Cukup berwibawa dan terdengar genuinely care untuk jadi leader, dengan sedikit ‘nada’ ngambang yang membuatnya terdengar ‘berbahaya’, in sense that he is talk first. Moon jadi protagonis yang dapat kita pedulikan pada akhirnya karena dia adalah karakter yang terus ngepush kesempatan untuk dirinya sendiri, dan juga demi orang lain. Dia ada di situ untuk memastikan bakat-bakat terdengar dan menampilkan pertunjukan hebat. Kita bisa relate karena tentu kita juga pengen didengar. Di film ini, Moon juga mewakili kita yang memang sering harus berkompromi jika ingin ‘nampil’. Di samping permasalahan Moon harus live it up janji-janji palsunya (janji yang terpaksa ia ucapkan hanya supaya mereka bisa nampil), Sing 2 juga menyeletuk soal titipan studio. Seperti misalnya, Moon harus ngecast anak produser ke dalam pertunjukan teaternya walaupun si anak itu gak bisa akting.

Karena sekarang udah kayak, bakat itu gak penting lagi. Yang penting adalah marketable. Pihak studio akan menilai talent dari apakah ada dari mereka yang bisa diuangkan. Membuatku jadi teringat sama permasalahan kontes-kontes nyanyi/bakat. Peserta akan bela-belain audisi walaupun antrinya panjang sekali. Hanya supaya kemampuan mereka dinilai oleh segelintir juri sebagai bagian dari acara tivi. Acara yang sudah jadi rahasia umum ada storyline dan segala macamnya. Those shows are never just about talent searching. Mereka sebenarnya hanya mau menjual cerita lucu, cerita sedih, atau cerita keberhasilan dari peserta untuk show televisi. Ratings. Bakat dibisnisin. Mereka seharusnya bernyanyi saja, rekam sendiri saja, sepuas hati. Bikin band sendiri. Terus main dan asah kemampuan. Enjoy talent sembari mempertajamnya. Inilah yang berusaha dilakukan oleh Moon. Dia ingin ngasih tempat untuk talent-talent, tapi harus berhadapan dengan studio yang mengecilkan mereka.

Tentu memang benar, to make it big, we cannot sell ourselves short. Kita harus ngepush, menantang diri sendiri. Nampil di panggung yang lebih besar, so to speak, harusnya dijadikan tantangan untuk menjadi lebih baik. 

 

Padahal mengusung tema itu, tapi film ini kasiannya tampil ironis. Studionya clearly enggak mau ‘memberatkan’ film dengan penggalian itu. Studionya clearly hanya melihat Sing pertama sukses berkat cover lagu-lagu populer. Maka, Sing 2 hadir juga lebih fokus ke lagu. Karakter-karakternya jadi sekadar diadakan saja. Mereka diberikan plot tipis, dengan journey ke arah pembelajaran yang sama singkatnya.

Johnny, misalnya, dia harus belajar menari, di bawah ajaran koreografi profesional yang strict. In the end, semuanya ya salah si pengajarnya. Rosita, merasa tersingkirkan ketika dia digeser dari peran utama, karena dia yang takut ketinggian tidak sanggup melakukan adegan terjun bebas dan terbang di luar angkasa. Konflik pribadi/psikologisnya ini tidak dibereskan lewat pengembangan yang bertahap. Melainkan beres gitu aja dalam satu adegan. Meena punya masalah beradegan romantis, karena dia belum pernah pacaran. Belum kenal cinta. Solusi naskah untuk ini ya gampang aja. Tau-tau di luar ada gajah simpatik, jatuh cintalah Meena. Gunter, dan Moon, mereka nulis cerita on the way, dengan Gunter dengan kocak selalu mengubah-ubah situasi pada narasinya setiap saat. Mereka tidak punya momen kompromi atau apapun yang mengisyaratkan pembelajaran team work atau semacamnya. Permasalahan Moon menggarap show dari ide spontan dibuat terlalu gampang, they just made it. Sehingga pokok tema yang diangkat di awal jadi gak kena. Permasalahan studio ‘jahat’, sehingga kini mereka mengorbitkan diri sendiri, menjadi terlalu sederhana. Dengan sedikit, bahkan nyaris tidak ada pembelajaran yang dialami. Setidaknya, tidak ada yang mengajak penonton terinvolved.

singintro-import
Yang namanya Gina bukan si gajah, tapi Suki si kritikus lol

 

Cukup banyak diberikan porsi adalah tentang Ash yang berusaha membujuk Calloway – si singa legendaris – untuk kembali manggung. Relationship mereka ini bakal jadi hati film, jika memang dibahas lebih mendalam. Ash sudah seperti berkonfrontasi dengan dirinya dari film sebelumnya, dan Calloway juga punya konflik yang mudah menyentuh emosi kita semua. Namun bagian yang harusnya bisa jadi plot utama kedua film ditampilkan terlalu telat. Dan walaupun cukup banyak, tapi melihat dari bagaimana bagian mereka diposisikan – seringkali seperti selipan di antara adegan-adegan persiapan show – sepertinya studio memang menolak untuk menonjolkan ini. Sama seperti persoalan plot masing-masing karakter tadi, studio seperti gak mau penonton lebih fokus ke meresapi drama-drama itu. Studio maunya penonton nyanyi-nyanyi aja.

Bukannya mau nuduh, hanya saja, memang jadi terasa seperti studio gak percaya kalo penonton anak-anak akan bisa menyelami perasaan karakter. Dan bukan hanya film ini, banyak film lain yang seperti merasa mereka perlu ‘melindungi’ penonton (dan bukan hanya anak-anak!) dari real emotion. Film Backstage baru-baru ini contohnya. Seolah real emotion itu momok yang bikin film jadi berat. Seolah real emotion itu bahaya untuk hiburan penonton. Padahal kalo dipikir-pikir, ngasih cerita yang soulless kayak gini, yang hanya berisi lagu-lagu supaya happy, justru lebih mengkhawatirkan. Menumbuhkan penonton yang gak mau memikirkan perasaan for the sake of hiburan.

Salah satu kritikanku untuk film pertama Sing adalah kurang banyak lagu original. Film ini ‘menjawab’ itu dengan melipatgandakan jumlah lagu-lagu populer. Sebenarnya enggak masalah jika lagu-lagu itu adalah penampilan para karakter di panggung show mereka. It’s okay kalo gimmick franchise ini memang pertunjukan musikal dari karakter hewan yang mengcover lagu asli dari dunia kita. Aku suka kok, final show film ini. Terutama pas Halsey nyanyiin lagu Could Have Been Me. Dibikinnya lagu rock itu jadi kayak pop, yang buatku masih keren dan worked (walau greget dari lirik “Wrrraapped in your regret” dari vokalis The Struts tetap tak-bisa tergantikan). Akan tetapi, film kali ini juga lebih banyak menggunakan lagu cover untuk adegan-adegan yang gak perlu ada lagunya. Nyaris setiap ada adegan baru, film akan memutar lagu populer. Mereka juga bermaksud lucu-lucuan dengan penempatan lagu-lagu itu. Tapi ya jadinya annoying sekali. Film udah jadi kayak klip musik ketimbang cerita.

 

 

Lagu-lagu selingan itu jadinya mendistraksi. Karena memang untuk distraksi itulah film memasukkan banyak sekali mereka. Film gak mau penontonnya merasa berat atau bosan oleh cerita. Apalagi ini film anak dengan tema bisnis atau panggung hiburan. Jadi film merasa perlu untuk masukin musik populer sepanjang waktu. Lagipula bukankah lagu-lagu pop itu yang bikin film pertamanya laku? See, ironis film ini sendiri lebih mikirin jualan. Menjadikan bakat menyanyi dan desain karakternya yang lucu tidak sekalian sebagai penghantar cerita dengan real emotion. Film ini bisa menjadi keduanya secara berimbang, tapi memilih untuk jadi dangkal. Jadi nyanyi-nyanyian nostalgia semata. Cerita dan pembelajaran karakternya dibiarkan sederhana saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SING 2.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana menurut kalian tentang ajang-ajang pencarian bakat di televisi?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE LOST DAUGHTER Review

“There’s no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one.”

 

Yang namanya ibu tidak akan meninggalkan anak yang telah susah-susah mereka lahirin ke dunia. Natural bagi seorang ibu untuk selalu berusaha menjaga dan merawat anaknya. Ketika kau menjadi seorang ibu, kau akan rela mendahulukan kepentingan anakmu di atas segalanya, termasuk sesuatu untuk dirimu sendiri. Maka dari itulah, sesekali akan ada masanya bagi seorang ibu merindukan waktu-waktu mereka bisa melakukan hal untuk diri sendiri, merindukan kebebasan dan kesempatan untuk mengejar – dan hanya mengejar – keinginan sendiri. Me-time akan sangat berharga bagi ibu; momen ketika mereka enggak harus mikirin tanggungjawab kepada anak. Ibu harusnya gak boleh merasa malu atau merasa bukan ibu yang baik dengan menginginkan waktu me-time tersebut. 

Paragraf tersebut, bukanlah kata-kataku. Aku cowok, aku gak akan pernah bisa benar-benar tahu apa yang dialami. yang dirasakan, atau yang diinginkan oleh seorang ibu. Ulasan ini bukanlah tulisan yang berisi pendapatku – seorang cowok – yang ngajarin bagaimana harusnya cewek menjadi seorang ibu. Melainkan pendapatku soal apa yang sedang berusaha dikatakan oleh Maggie Gyllenhaal ketika dia mengadaptasi novel karya Elena Ferrante menjadi debut penyutradaraan film-panjang pertamanya. Karena film The Lost Daughter memang diceritakannya dengan cara yang membuat penonton geleng-geleng sambil garuk-garuk kepala. Kinda susah dipahami arahnya ke mana, susah merasa simpati kepada karakter utamanya. Namun kita juga akan gampang merasakan ada kesedihan mendalam di balik cerita. And no doubt, film ini bakal bikin kita menemukan rasa hormat yang lebih gede kepada seorang ibu. Hampir seperti perasaan takut, malah. Takut mereka memilih menjadi seperti Leda, sang karakter utama cerita.

Leda bilang dia punya dua orang anak. Bianca dan Martha. Usia anak-anaknya itu kini sudah 25 dan 23 tahun. Tapi begitu ditanya lebih lanjut tentang mereka, Leda gak bakal menjawab. Dia malah bakalan seperti break-down, dan lantas pergi meninggalkan penanya kebingungan di tempat. Sekilas, profesor literatur itu memang seperti orang yang gak ingin diganggu. Tidak nyaman beramah tamah dengan orang lain. Leda liburan ke pantai Yunani, bermaksud menyelesaikan tulisannya sambil rileks. Tapi pantai itu ternyata ramai, oleh acara dari keluarga besar yang sepertinya berpengaruh di sana. Konsentrasi Leda lantas hinggap kepada seorang ibu muda bersama anak perempuan kecilnya. Leda terus menatap mereka, matanya menerawang, dan kita akan terflashback ke masa muda Leda merawat dua orang anak yang juga sama bocahnya. Leda pun menemukan dirinya semakin terinvolved kepada ibu muda dan anak itu, ketika boneka si anak hilang. Dan ternyata ada di dalam tas Leda.

daughtere1640644060913
Apakah boneka tersebut ada spiritnya?

 

Kasarnya, this is one complicated bitch. Karena Leda ini adalah yang pribadi yang, bukan exactly tertutup – karena di momen pribadinya kita akan digambarkan perihal yang ia rasa lewat adegan-adegan masa lalu, melainkan lebih tepatnya ya yang ribet untuk alasan yang gak jelas. Kita gak tahu kenapa Leda melakukan apa yang ia lakukan. Namun itu bukan karena dianya yang enjoy at being difficult dan kasar dan gak sensitif sama orang. Bahkan dirinya sendiri enggak tahu kenapa dia melakukan hal yang ia lakukan. Mencuri boneka anak kecil itu misalnya. Leda tidak dapat menjelaskan kenapa dia melakukan itu. Arahan Maggie membuat hampir seperti Leda meminta tolong kita untuk menjelaskan apa yang salah kepadanya. Karena memang ada sebagian diri Leda yang, katakanlah, begitu egois. In that sense, kita bisa bilang Leda ini adalah protagonis sekaligus antagonis dalam ceritanya sendiri. Inilah yang membuat kita akhirnya betah duduk mengawali journey-karakternya selama dua jam. Tabah menahan karakternya yang penuh cela, bahkan sebagai narator saja dia agak susah dipercaya. Sebab deep inside, kita konek kepadanya sebagai manusia yang tak sempurna. 

Ini juga jadi bukti betapa luar biasanya akting Olivia Colman yang jadi Leda di kurun sekarang, Leda yang sudah 48 tahun dan memikul segitu banyak beban, dan penyesalan, meskipun dia percaya dia berhak melakukan pilihan yang ia lakukan di masa muda. Menyambung karakter yang awalnya dihidupkan dengan tak kalah meyakinkan dan penuh konflik oleh Jessie Buckley, yang jadi Leda muda. Yang ultimately tentu saja merupakan bukti betapa Bu Sutradara punya mata yang personal menggambarkan kecamuk perasaan dan emosi seorang perempuan yang menempuh motherhood. Maggie tidak pernah bercerita dengan statement. Dia tidak pernah menggambarkan perasaan itu dengan utuh. Tidak pernah memberikan jawaban atas ‘misteri’ karakter. Karena itu akan membuat ceritanya menjadi ngejudge perihal perbuatan Leda. Film ini bukan hadir untuk ngejudge. Maggie ‘hanya’ memperlihatkan kepada kita betapa mengukung dan bikin capeknya tanggung jawab menjadi seorang ibu. 

Kalian tahu potret ibu dalam keluarga utuh yang sempurna? Ibu bagai matahari, cintanya tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali? The Lost Daughter bilang itu adalah kondisi yang terlalu ideal, mustahil tercapai. Karena ibu juga manusia. Jadi, film ini hadir sebagai antitesis dari ibu sempurna tersebut. Antitesis yang menyebut bahwa meskipun ibu tidak mungkin sempurna, seorang ibu punya banyak pilihan untuk menjadi ibu yang baik. Dan Leda, kita akan lihat akhirnya memilih menjadi ibu-tak sempurna, ibu yang benar-benar manusiawi, yang seperti apa.

 

Jujur, selama ini aku memang kesal sama cerita yang tokoh ibunya merasa pantas diri mereka mendapat me-time. Atau bahkan lebih dari itu, kayak, ibu yang merasa berhak untuk ninggalin anak karena sebagai manusia mereka juga punya mimpi yang harus dikejar. Kehadiran anak yang biasanya diceritakan produk dari ‘kecelakaan’ atau tidak suka sama suka, dianggap sebagai penghambat. Cerita kayak Dara di Dua Garis Biru (2019) atau ibunya si Ali di Ali & Ratu Ratu Queens (2021), aku ujungnya hanya melihat mereka sebagai orang yang selfish. Karena memang film-filmnya pun tidak mengeksplorasi lebih dari sekadar bahwa sosok ibu adalah manusia first, yang punya keinginan, dan yang mau dimanusiakaan. The Lost Daughter ini beda. Maggie menggali lebih lanjut. Dia tahu satu-satunya cara untuk menggali ke dalam itu adalah dengan menaikkan volume seekstrim mungkin. Makanya film ini akan terasa sangat tanpa ampun. Meninggalkan kesan yang juga jauh lebih dalam.

daughterl-intro-1634594864
Lebih dalam dari sekadar nonton Olivia Colman berakting jadi ibu-ibu nyebelin

 

Alih-alih statement gamblang, Maggie menghidupkan adegan-adegannya dengan simbol, situasi yang kontras oleh kiasan. Yang membuat film ini jadi semakin dalam dan penuh makna. Pada awalnya, Leda memang tampak seperti turis yang menikmati liburannya di pantai. Tapi buah-buahan yang disediakan di kamarnya yang luas itu, busuk. Malam hari, jangkrik masuk. Lampu mercusuar bikin Leda harus menutupi mukanya dengan bantal. Pantai yang sepi ternyata ramai. Bioskop, ternyata penontonnya berisik. Tempat itu seperti menyerang Leda. Lagi jalan aja dia bisa terluka kejatuhan buah pinus. Belum lagi pandangan dari keluarga besar yang sepertinya keluarga mafia, keluarga yang sempat ribut dengan Leda, keluarga yang boneka anaknya dicuri oleh Leda. Keadaan Leda yang sekarang seperti menunjukkan bahwa tidak ada yang sempurna. Bahwa mimpi kita akan keadaan senyaman liburan pun pada akhirnya akan dibenturkan dengan kenyataan yang seringkali pahit. Dan kita ya harus dealt with it

Semua itu tidak terlihat oleh Leda. Karena dia begitu fokus mengejar passion, mengisi hidupnya dengan hal-hal yang telah terenggut setelah punya anak. Leda muda memperlihatkan bagaimana dia akhirnya sampai kepada keputusan, dia mulai merasa bebas, dan keadaan Leda yang sekarang adalah kontras yang memeriksa dia yang sudah mendapat yang ia mau, tapi kenapa dia tidak tampak begitu bahagia. Leda merindukan anak-anaknya. Leda sendirian. Leda gak enjoy di situ. Notice judul film ini tunggal (daughter alih-alih daughters) padahal anak Leda dua orang, dan bahwa anak kecil yang sempat ilang juga gak lama kemudian ketemu? Judul sebenarnya merujuk kepada Leda. Dialah anak hilang yang dimaksud oleh cerita. Hilang karena tidak bisa memastikan di mana tempatnya berada. Leda adalah ibu, dia mau jadi ibu, tapi tak mau memikul tanggungjawab sebagai ibu.

Makanya dia mencuri boneka itu. Dari sudut pandangnya, kita paham bahwa Leda menganggap boneka sebagai ganti anak. Dia ingin merawat dan membersihkan boneka yang udah dicorat-coret dan penuh air itu. Dia ingin merasakan kembali jadi ibu dengan merawat anak. Dan boneka adalah anak yang tepat untuk Leda karena merawat boneka tidak perlu tanggungjawab yang besar. Leda bisa menyayangi boneka kapan dia bisa saja, saat senggang aja, saat dia gak capek dan gak banyak kerjaan. Sementara dari yang kita lihat, sebagai inner-needs dari Leda yang tak kunjung ia sadari, boneka itu adalah kesempatan kedua baginya. Dia butuh untuk menyelamatkan boneka itu karena si ibu muda dan anaknya telah membuat Leda teringat kepada dirinya dengan anaknya waktu masih kecil; anaknya yang telah mencorat-coret boneka yang ia berikan, boneka yang harusnya dirawat karena boneka adalah mainan yang mengajarkan tanggung jawab menjadi seorang ibu sejak dini kepada anak perempuan. Leda muda membuang boneka yang telah dirusak yang mengawali gerahnya dia ngurus anak; Leda tidak ingin ibu dan anak kecil yang ia lihat di pantai mengalami masa depan yang sama dengan dirinya, dulu dan sekarang. Bahwa merawat boneka dan kemudian merusak atau meninggalkannya itu adalah hal yang ia lakukan dan diam-diam ia sesali.

Demikianlah kompleksnya karakter Leda. Dia paham pentingnya dan indahnya menjadi seorang ibu, tapi sekaligus juga dia tidak tahan dengan tanggungjawabnya. Ending film ini poetic sekali dalam menggambarkan hal tersebut. Leda yang terluka, terhuyung keluar dari mobil, pergi ke pantai. Terbaring di antara pasir dan pantai. Menunjukkan dia telah belajar, tapi tetap tidak mampu memilih. Matikah dia di akhir itu? Film membuat sangat ambigu. Tapi, at that point, aku udah kasihan sama Leda. Aku berharap dia meninggal saja, karena dengan begitu dia bisa lepas dengan benar-benar bahagia. 

 

Hiruk pikuk emosi paling manusiawi dari seorang ibu digambarkan dengan lantang oleh film ini. Bahasannya mengonfrontasi pemikiran, tapi tidak pernah diniatkan sebagai sesuatu yang judgmental. Sehingga pada akhirnya film ini akan membekas lama. Tragis dan ‘ngerinya’ walaupun benar-benar dibahas dari sudut pandang yang sangat personal, akan menguar kepada kita semua. Dan yea, film ini bakal membuat kita lebih menghargai pilihan perempuan menjadi seorang ibu. Perempuan menjadi sempurna dengan memiliki anak, tapi tidak ada yang namanya ibu yang sempurna. Film menunjukkan itu semua kepada kita, lewat perjalanan karakter yang juga dimainkan dengan luar biasa.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE LOST DAUGHTER.

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian semua ibu punya perasaan yang sama dengan Leda? For boys: kira-kira apa yang bisa kita lakukan supaya ibu atau istri tidak sampai jadi seekstrim gambaran Leda?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

BACKSTAGE Review

“A sister is both your mirror —and your opposite.”

 

 

Dunia panggung hiburan yang gemerlap ternyata juga ada hantunya. Tapi hantu di sini bukan hantu yang mati penasaran itu, melainkan yang penasaran pengen merasakan jadi bintang yang dipuja banyak orang tapi gak bisa karena fisik yang gak menjual. Fenomena ‘ghost singer’ – penyanyi yang suaranya dipakai sebagai suara orang lain – memang tak selangka yang kita kira. It happens every so often. Bahkan di Hollywood jaman old aja udah dinormalize aktor-aktor ngelip sync adegan musikal dengan menggunakan suara orang lain. Seperti yang kemudian dieksplorasi dalam cerita film Singing’ in the Rain (1952). Bahasan ghost singer dalam film-film memang biasanya seputar industri dan tentang tubuh (yang suaranya bagus biasanya yang kurang atraktif dibandingkan yang mau diorbitin sama produser). Backstage garapan sutradara Guntur Soeharjanto juga bercerita dengan panggung ghost singer. Tapi drama musikal ini punya lapisan yang lebih membumi, lebih personal. Karena film ini actually lebih banyak bicara soal persoalan kakak beradik perempuan. Bagaimana yang satu selalu ada bagi yang lain, meskipun perlahan itu memakan dirinya dari dalam.

Ngecast kakak-adik beneran jadi shortcut yang sangat kita apresiasi. Chemistry Sissy Priscillia dan Vanesha Prescilla menguar, drip out of screen, setiap kali mereka beradegan berdua. Benar-benar menambah banyak untuk realisme film. Sissy di sini jadi Sandra. Kakak yang sayang banget sama adiknya, sekaligus jadi tumpuan keluarga mereka. Vanesha jadi Elsa, adik yang lebih naif dan punya mimpi jadi aktris terkenal. Saat kafe tempat mereka bekerja bangkrut, mereka berdua bikin video Elsa bernyanyi lip sync pake suara Sandra, untuk audisi film. Tembus dong! Produser yang juga lagi kepepet, memilih untuk mengorbitkan Elsa sebagai penyanyi. Dengan memakai suara dan lagu Sandra. Awalnya Sandra ragu, karena itu membohongi publik dan resikonya besar. Tapi demi sang adik, dia bersedia. Video mereka diupload. Dan viral. Elsa terkenal. Mereka sudah on the way luncurin album. Tapi Sandra nelangsa. Kontrak menyebut dia tidak lagi boleh kelihatan bersama adiknya. Tidak mendapat kredit, namanya bahkan tidak muncul dalam pemberitaan soal keluarga Elsa. Things dengan cepat menjadi out of sync bagi hubungan persaudaraan mereka.

backstage1099676036
Elsa <knock knock knock> do you want to build a trouble?

 

Sudut pandang cerita ditampilkan berimbang. Elsa juga disorot. Bahwa itu semua juga tidak mudah baginya. Kita akan melihat ‘perasaannya’ ketika mau nampil. Film juga membawa kita masuk ke dalam Elsa, bahkan lebih sering ketimbang kepada Sandra. Walaupun dia bisa akting, tapi pura-pura bernyanyi – actually tampil live di depan orang-orang -tetaplah tidak gampang. Sebab Elsa tidak hanya ngerekam suara atau syut music video. Dia juga harus konser di atas panggung. Kita diperlihatkan bahwa dia juga, katakanlah stress menjaga rahasianya , dan semakin gamang juga dengan apa yang ia lakukan. Teruskan atau tidak. Terlebih karena ini adalah passionnya. Itu semua menguatkan karakternya yang memang tidak bisa jauh dan sebenarnya sangat membutuhkan sang kakak. 

Tentu, adegan musikalnya bakal bikin kita “bernyanyi-nyanyi” kayak lagi karaokean lagu-lagu pop populer. Lagu original film ini pun nendang dan indah banget, but I don’t wanna talk too much about them. Harus tonton, dengar dan rasakan sendiri! Pembawaan dan penempatan sekuens lagu-lagu itu juga tampak diperhatikan. Film menyesuaikannya dengan rancangan mood. Sehingga walaupun sering juga ditampilkan dengan sedikit terlalu banyak cut, membuat agak susah melihat koreografi seperti susah melihat adegan aksi dalam film action yang banyak cut-to-cutnya, kita tidak terlepas dari emosi. Dan karena enjoy, somehow kita memaklumi. Misalnya ketika adegan opening, banyak cut tapi kayak it’s okay karena ternyata adegannya semacam ‘dream sequence’. Atau ketika nyanyi di panggung, kamera juga udah kayak ngerekam konser beneran, dan kita menontonnya dari layar operator yang banyak sekali monitor dari berbagai sudut panggung. Dan tentunya juga, drama backstage industri entertainment di cerita ini – betapa fakenya semua, betapa mereka hanya melihat bakat dan bahkan kecantikan sebagai produk untuk dijual – bakal bikin kita geregetan.

Tapi sebenarnya hubungan kakak-adiklah yang jadi inti dan hati cerita. Strip film ini dari setting ghost singer dan musikalnya, maka sebenarnya Backstage adalah cerita tentang persaudarian yang ternyata bisa lebih kompleks dan lebih emosional dibandingkan dengan saudara cowok dengan cewek atau cowok dengan cowok. Ini bukan sekadar soal menjaga adik, atau soal saling berkompetisi. It is kinda both. Sandra ingin membantu adiknya mencapai cita-cita, tapi tentu saja dia juga punya cita-cita sendiri. Dan sekarang si adik ini justru mengambil cita-citanya. Si adik yang selama ini mengikuti dirinya, kini berada di depan. Casting a shadow untuk dirinya di dunia yang, katakanlah, tadinya miliknya, sehingga kini justru dirinya sendiri harus menghilangkan diri dari sana. Perihnya, Sandra gak bisa apa-apa karena dia sendiri yang mengizinkan itu terjadi sedari awal. Inilah yang bikin semuanya perih. 

Penyair Amerika Lousie Gluck bilang dari dua sisters, akan selalu yang satu jadi penonton sementara yang satunya menari. Yang menonton akan meniru yang menari, lalu kemudian dinamika tersebut akan berbalik. Inilah yang juga terjadi pada Sandra dan Elsa. Inilah yang harus mereka pecahkan bersama. Masing-masing harus menyadari bahwa mereka bukanlah bayangan satu sama lain, melainkan pantulan. Mereka bisa menari – atau dalam kasus film ini – menyanyi bersama.

 

Meski memang aspek emosional itu terasa juga pada akhirnya, walaupun kita mengerti konflik di antara kedua karakternya di balik potret ghost singer, tapi sebenarnya film ini tidak mulus dalam penceritaannya. Naskah tidak benar-benar fokus pada karakter dan perspektif mereka berdua. Like, soal stake saja misalnya. Menurutku justru lucu sekali yang punya stake duluan di cerita ini adalah karakter produser. Kita dibuat mengenali masalah dia, bahwa ini adalah proyek terakhirnya, sehingga dia gak boleh gagal mengorbitkan bintang. Film berjalan dengan hal tersebut sebagai taruhan. Sementara bagi Sandra dan Elsa, mereka butuh duit, dan enggak sampai satu jam, kita udah lihat keberhasilan mereka. Dari rumah sederhana ke rumah mewah seiring suksesnya Elsa. Di titik itu, sekalipun mereka gagal, yang paling ‘mati’ adalah si produser. Stake Sandra dan Elsa – beserta perspektif mereka – seharusnya dikuatkan lagi. Salah satu di antara merekalah (tergantung mana yang mau dijadikan karakter utama) yang harusnya push ide penyanyi bayangan itu karena butuh duit. Itu akan memberikan lapisan personal kepada karakter, sehingga tekanan lebih besar dan ceritanya jadi fokus kepada kedua sentral ini aja.

Karena memang ini adalah cerita yang menggali personal karakter. Tapi pengembangan yang dilakukan film, malah dari luar. Si produser, terus ada karakter seleb cowok yang tau rahasia mereka tapi lantas jadi seperti jatuh cinta sama Elsa, dan banyak lagi elemen romansa yang benar-benar diniatkan. Ini membuat permasalahan yang jadi topik utama kayak poin-poin saja. Sandra ragu untuk setuju. Lalu Sandra senang videonya viral. Lalu Sandra ngerasa dikucilkan. Sandra marah. Di antara poin-poin itu diisi oleh kejadian dari luar sebagai penggerak plot. Dan kejadian itu gak semuanya kokoh, like, ada yang konyol kayak Sandra ketauan nyanyi di Panti, membuat mereka dimarahi karena melanggar kontrak. Anehnya kontraknya kan soal gak boleh tampil berdua saja, sementara Sandra nyanyi sendirian. Gak ada Elsa di situ.  Turns out, peristiwa tersebut ternyata bukan masalah genuine. Naskah gak perlu sebenarnya pake yang ribet kayak gini. Karena inti kakak-adik itu sudah cukup jika benar-benar dari situ saja menggalinya.  

backstage-4--600x330
Not on this picture: Vanesha kebanting ama Sissy

 

Sejak suara Sissy nongol jadi suara Milea dalam Dilan 1990 (2018) aku udah penasaran pengen melihat dua kakak beradik ini adu akting bareng. Apalagi mereka berdua ini mirip bangeeettt… aku surprise pas menjelang Gadis Sampul 2014 ada finalis yang mirip ama Sissy, dan ternyata memang adiknya. Cuma waktu itu aku belum tahu kalo Vanesha juga bisa akting, taunya cuma bisa nyanyi. Jadi film ini benar-benar menjawab rasa penarasanku. I’m happy for them, pastilah seru akting bersama saudara sendiri, di film musikal pula. Dan ternyata mereka berdua memang klop. Meskipun jika ditengok lebih dalam, akting Sissy lebih kuat. Range karakter diterabasnya dengan mantap. Vanesha belum konsisten. Kadang bagus, kadang terdengar kurang masuk dengan karakternya, khususnya pada adegan-adegan yang menuntutnya bermain lebih emosional. Dan ada tantangan dalam karakternya yang aku bingung antara dia berhasil atau tidak. Yakni soal Elsa yang tidak bisa bernyanyi. Tapi ada nanti adegan Elsa nyanyi, dan buatku suaranya fine kok. Penonton yang ada film pun tidak menunjukkan reaksi. Enggak sejelek butuh untuk didubbing oleh suara orang. Aku jadi gak yakin apakah Vanesha sulit akting bernyanyi jelek, atau memang film meniatkan bahwa sebenarnya Elsa bisa bernyanyi tapi dia gak sadar/gak pede, atau gimana.

 

 

Dengan menonjol relationship antara dua kakak-beradik, film ini mampu menjadi cerita tentang ghost-singer dalam industri hiburan menjadi lebih emosional. Ini gak sekadar soal bakat atau mimpi yang kandas karena standar kecantikan atau sekadar soal enterainment itu jahat. Tapi inti sebenarnya adalah soal seorang kakak dan pengorbanan yang dilakukan dan bagaimana menghargai itu semua. Film ini dimulai dengan ‘lucu’ dan berjalan dengan cukup ngembang ke mana-mana, namun pada akhirnya cukup berhasil mendaratkan pesan itu. Semua tersampaikan berkat akting dan chemistry natural kedua pemain sentral. Desain produksi yang gemerlap serta musik-musik yang enak didengar serta menyentuh turut membuatnya lebih gampang untuk disukai. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for BACKSTAGE.

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya cerita suka dan duka bersama abang/adik/kakak? Bagaimana pendapat kalian tentang persaingan di dalam keluarga?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DON’T LOOK UP Review

“It’s funny because it’s true”

 

Film-film tentang bencana selalu dimulai dari presiden yang tidak mendengarkan ilmuwan. Kalimat yang jadi meme di internet tersebut lucu, karena memang begitulah biasanya cerita-cerita bencana dalam film terjadi. Tapi kalimat tersebut mulai tidak lagi demikian lucu, ketika orang-orang menyadari kejadian itu sedang terjadi juga di dunia nyata kita. Bahwa film – karya seni – memanglah meniru kehidupan. Jadi orang-orang mulai ngebash Don’t Look Up. Komedi satir terbaru dari Adam McKay yang tega-teganya menyinggung soal reaksi pemerintah – reaksi manusia – terhadap pandemi Covid-19, di balik kedok cerita yang berdasarkan laporan jurnalis perihal perubahan iklim atau global warming. But hey to be fair, mungkin sebelum menggodok naskahnya McKay tidak meniatkan, bahkan belum tahu bakal ada pandemi. Tapi catatan dunia menangani pandemi baik itu di Amerika, hingga Indonesia, seperti menuliskan diri sendiri ke dalam naskah McKay. Sehingga dia membuat film ini seperti sebuah cerita pandemi yang tidak bicara tentang pandemi!

Jadi, kita-kita sendirilah – reaksi kita menghadapi pandemi, reaksi kita terhadap film ini – yang actually memberikan power kepada Don’t Look Up. The joke is on us. Untungnya Don’t Look Up lebih bijak daripada sekadar cerita yang menuding kebegoan umat manusia. Karena di balik komedi-gelapnya, McKay telah menggariskan bukan jawaban, melainkan lebih seperti gagasan soal lebih menghargai hidup dan kalo bisa kita semua kurang-kurangilah ego hidup di dunia fana.

lookmXkEyXkFqcGdeQWRvb2xpbmhk._V1_
Kalo kata Max Black di Twitter “Kirain drama, ternyata film comety”

 

Di mataku, McKay punya reputasi sebagai sutradara yang mampu menjelaskan banyak hal rumit dengan sederhana dan malah lucu. Seperti, ketika di The Big Short (2016) dia berhasil menjelaskan peristiwa krisis finansial 2007-2008 lengkap beserta istilah-istilah ekonomi dan perbankan dengan nada komedi yang solid sehingga aku yang sama sekali buta akan hal tersebut tidak terbengong-bengong, malahan sangat menikmati dramanya. Sehingga sekarang, bagiku menarik sekali melihat pendekatan yang ia lakukan dalam mempersembahkan masalah perubahan iklim ke dalam kiasan sci-fi tentang komet yang jatuh menimpa bumi. Yang dilakukan McKay di sini adalah membuat permasalahan iklim ataupun komet yang sering disepelekan banyak orang karena jauh alias masih lama itu menjadi terasa amat, sangat, superduper dekat. 

Bagi astronomer, nemuin komet merupakan prestasi. Bisa menamai komet dengan namamu adalah salah satunya. Tapi perayaan komet yang dilihat Dr. Mindy dan muridnya, Kate Dibiasky terpaksa harus berakhir prematur. Karena menurut hitungan, komet besar tersebut ternyata melaju menuju bumi. Tepatnya, akan membuat bumi kiamat dalam waktu sekitar enam bulan lagi. Jadi Dr. Mindy dan Kate harus segera melaporkan temuan mereka ke presiden, dengan harapan tindakan pencegahan bisa segera dilakukan. Namun, reaksi Bu Presiden, orang-orang yang berkepentingan, dan bahkan sebagian masyarakat pun ternyata tidak seperti yang diharapkan oleh Dr. Mindy dan Kate.  

Presiden yang hanya peduli sama citra. Yang cuma mau bergerak jika itu berarti keuntungan perolehan suara baginya, maka selalulah diadakan selebrasi. Media yang suka menutupi kejadian dan lebih milih mendahulukan rating. Masyarakat dan netijen yang failed untuk melihat kepentingan suatu hal, melainkan lebih tertarik pada gosip dan pada betapa gantengnya orang yang muncul di televisi. Pada gambaran-gambaran sosial seperti inilah satir dan sindiran Don’t Look Up menunjukkan performa sangar yang jadi hiburan utamanya. Bencana yang mestinya bisa cepat diatasi, jadi lama dan berlarut-larut karena bukan saja menyepelekan dan tidak percaya, pemerintah lebih suka untuk mengurusi dulu isi kantongnya. Dan orang-orang terombang-ambing sehingga akhirnya turut mengambil keputusan salah dan bego karenanya. Di sinilah kita dengan gampang menarik garis kepada penanganan pandemi yang parah dari pemerintah. Running gag soal snack gratis yang dijual oleh komandan tinggi negara itu? Yup kita gak salah jika mengaitkannya denagn keputusan pemerintah menjual kepada rakyat hal-hal yang semestinya gratis dan seesensial makanan. Film ini dibuat oleh orang Amerika yang resah sama pemerintah mereka yang pinter-pinter blo’on. Dan sebagaimana yang terbaca, lucunya, film ini juga terasa sama dekatnya bagi kita yang orang Indonesia.

Beneran, cuma perlu sedikit perubahan kok untuk membuat film ini benar-benar relate total sama Indonesia. Perubahan kayak, dituker; si Jonah Hill yang jadi presiden dan Meryl Streep jadi sosok di belakangnya yang dibecandain orang sebagai ibunya. Atau karakter bilyuner gadget yang diperankan Mark Rylance dibuat mengharuskan semua orang ngeinstall app buatannya untuk perlindungan dari komet.  I’m sorry jika terdengar terlalu political. But yea, everything is about politics. Film ini jelas dibuat berdasarkan ketidaksukaan terhadap itu. Karena padahal tidak semuanya mesti harus politik. McKay actually nulis dialog soal kenyataan sesungguhnya bahkan lebih parah, karena mereka-mereka (pemerintah) itu tidak sepintar itu untuk menjadi sejahat yang kita kira. Karena memang padahal ada hal yang lebih penting. Kesehatan, keselamatan hidup orang banyak. Keselamatan planet. Film menuliskan concernnya dengan sangat cerdas. Menyindir dengan, turns out, sangat tepat. Makanya terasa sangat lucu. 

lookvlcsnap-2021-12-25-11h42m56s324
The writing is funnier than most comedies I’ve watched this year.

 

Di balik satirnya itu, film sesungguhnya ingin memperlihatkan yang terburuk dan yang terbaik dari umat manusia. Bukan salah film kalo yang ia gambarkan jadi betul-betul relevan sehingga kayak menunjuk-nunjuk muka kemanusiaan. Karena yang ditampilkan sebenarnya berimbang. Penggalian mendalam dari sosial penanda jaman yang kita rasakan. Betapa mudahnya orang yang dijadikan meme walaupun sesungguhnya dia yang benar, itu juga digunakan untuk menunjukkan betapa lihainya kita terhadap teknologi. Menggelar konser kemanusiaan, sekilas tidak berarti langsung kepada masalah, tapi itu juga jadi bukti kuatnya persatuan jika kita semua sudah sadar. Don’t Look Up bukannya tidak ada plot. Ilmuwan Dr. Mindy dan Kate bukanlah ada di sana untuk memperingatkan semua orang dan mereka selalu benar. Masing-masing juga punya kesalahan.

Ada pilihan yang mereka ambil, yang berujung pada pembelajaran. Pada Dr. Mindy yang diperankan penuh range emosi oleh Leonardo DiCaprio, kita melihat development dari seorang profesor yang belum publish jurnal, nervous jadi pusat perhatian tapi dia pengen membuktikan diri, dan akhirnya terlena juga ketika mendapat sedikit attention dan posisi. Dan bahkan karakter yang difungsikan sebagai kompas moral seperti Kate, juga punya drama. Jennifer Lawrence jadi korban bully udah seberpengalaman DiCaprio jadi korban bencana alam; di sini Kate yang ia mainkan adalah karakter yang paling amburadul oleh kejadian. Dia yang nemuin, tapi dia yang paling diledek, diacuhkan, dikucilkan. Mencapai emosional seperti itu dengan tetap menjaga tone yang humorous jelas bukan prestasi mudah. Kate-lah yang menghantarkan kita kepada elemen agama yang dimuat oleh film ini. Elemen yang sekilas kayak di permukaan, tapi sesungguhnya punya statement yang tak kalah kuatnya. Elemen itu datang dari ‘tempat’ yang tak terduga, dan actually adalah yang paling dekat dengan jawaban yang dipunya oleh manusia di film ini. Karena lowkey film ini bicara tentang kesombongan manusia yang merasa punya power di dunialah yang membuat kiamat itu tampak berlipat kali lebih buruk.

Masih banyak lagi aktor-aktor gede yang ikut bermain di sini, dan mereka semua on-board banget dengan yang ingin disampaikan oleh film. Mereka total menghidupkan karakter-karakter mereka yang tampak konyol. See, mereka di sini tidak berusaha keras untuk tampil konyol, karakter-karakter mereka yang begitu relate dengan kejadian yang terjadi di dunia nyatalah yang membuat mereka lucu. Lucu yang ironis, yang membuat kita balik mempertanyakan diri “Mau sampai kapan kita hidup sekonyol ini?” Jadi, ya di balik komedi memang ada kesuraman yang merayap. Ada suatu ketakutan bahwa dunia kita bisa saja berakhir seperti yang diperlihatkan film. Ini membuat kita jadi sejajar dengan karakter film yang takut dunia mereka dihantam komet. 

Banyak karakter, banyak sindiran komedi, banyak dark yang melatarbelakangi, film ini tidak sekalipun tersandung dalam menampilkan semuanya. Kamera film tidak terjebak (dan tidak merasa perlu) untuk menyorot ensemble cast sekaligus dalam satu frame. Melainkan fokus kepada menghasilkan berbagai rasa yang diniatkan. Cut-to-cut film memang terkadang tampil too much pada bagian eksposisi dan pada bagian membandingkan dua kejadian sekaligus, tapi saat menguarkan komedi ataupun yang bikin kita geram, film dengan bijak fokus memperlihatkan reaksi dan ekspresi. Sehingga walaupun pace film terasa cepat, kita tidak merasa kebingungan ngikuti cerita ataupun perasaan yang diniatkan, tidak merasa ketinggalan. Semuanya tampil dengan keseimbangan luar biasa.

 

 

 

Baru inilah film yang benar-benar menjadi penanda era pandemi. Era idiocracy. Dan film ini bahkan sama sekali tidak bicara tentang virus tersebut. Tidak ada masker-maskeran, tidak ada lockdown-lockdownan. It was supposed to be kiasan global warming. Tapi kita jualah yang membuatnya bahkan terasa lebih relevan lagi.  Berisi sarkas yang dikemas ringan dan sangat menghibur, komedi dari awal hingga akhir tanpa pernah kehilangan bobot dari komentar-komentar dan sindiran yang dilayangkan. McKay menunjukkan kualitas penulisan yang cerdas. Dia paham mengolah cerita tanpa keluar dari fokus. Begitu banyak yang bisa salah dalam film ini, berkat beragamnya elemen yang dimuat, elemen yang bekerja. Dia dengan berani menghantam semua. Aku tidak akan meminta film ini untuk melambat, atau menyuruhnya berhenti mengejek kita. Seperti komet itu. Ya, seperti komet. Film ini datang sebagai cerminan atau kiasan dari yang terjadi di dunia nyata. The only time kita menunduk seharusnya adalah untuk merenungkannya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for DON’T LOOK UP.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah keadaan di Indonesia sekarang pantas untuk dibuatkan film komedi sendiri? Genre apa yang kalian buat berdasarkan Indonesia?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE POWER OF THE DOG Review

“One of the greatest tragedies in life is to lose your own sense of self…”

 

Cerita Benedict Cumberbatch yang ‘terguncang’ oleh kedatangan pemuda bernama Peter ke dalam rumahnya, ke dalam dunianya, kali ini bukanlah tentang kekuatan laba-laba. Melainkan, tentang power dari seekor – atau katakanlah seorang – the dog. Dog yang seperti apa? Karya Jane Campion terbaru ini memang sangat berlapis sehingga bisa dilihat sebagai cerita tentang seorang alpha-dog yang menunjukkan dominasi, ataupun sebagai perlawanan seorang under-dog . Namun tak peduli dari sisi manapun kita melihatnya, film ini tetaplah merupakan sebuah tragedi karakter. Film, dengan karakter dan narasi yang kompleks terkait maskulinitas, yang akan membuat kita terpaku di depan layar. Merasakan setiap gigitan yang hadir pada adegan terakhir yang memang berjalan jauh sekali dari yang biasa kita dapatkan dari cerita yang berpusat pada hubungan dua orang seperti ini.

Setting jaman koboi (Campion menyulap New Zealand menjadi Montana tahun 1920an) hanya menambah lapisan yang jadi bobot pada narasi bertema maskulinitas. Kita semua tahu koboi kerjaannya macho banget. Berpanas-panas di luar, mengembala sapi-sapi. Harus punya ketangguhan, punya ketangkasan melebihi kuda yang ditunggangi, serta jago dengan pisau dan tali laso. Karakter yang dimainkan Cumberbatch dengan begitu menakjubkan dia udah beda banget ama yang sudah terbiasa kita lihat; Phil, adalah koboi yang paling koboi di antara para koboi. Dia jadi semacam mentor bagi para koboi lain yang bekerja di peternakan yang ia kelola bersama adiknya, George (Jesse Plemons jadi penyeimbang buat karakter saudaranya). Sikap Phil yang cenderung kasar dan haus untuk membuktikan dominasi dirinya hampir setiap waktu itu pada awalnya tampak seperti karena ia pengen menyejajarkan diri dengan sosok seorang yang telah melatih dan mengajari mereka dahulu. Seiring durasi kita akan mulai melihat ada sesuatu yang lebih personal di balik motivasi Phil tersebut. Bahwa ada alasan yang sangat pribadi di balik sikap keras yang ia tonjolkan.

dog253af6f9-e444-437a-b85f-05148ee9a662
Ngebiri sapi aja dia ogah pakai sarung tangan, saking mau nunjukin “gue cowok banget!”

 

Sepuluh menit pertama film ini efektif sekali dalam melandaskan karakter Phil, serta karakter-karakter kunci lainnya. Menunjukkan pergolakan batin yang sedang tembak-tembakan di dalam dirinya. Phil memimpin George dan beberapa orang koboi lain masuk ke tempat makan. Di meja dia melihat kerajinan bunga dari kertas. Hanya Phil yang bereaksi terhadap bunga itu. Kita bisa melihat dia tertarik, tapi si koboi jagoan ini menutupi ketertarikan tersebut dengan low-key meledek bunga itu. “Cewek mana ini yang bikin?” Begitu kira-kira celetuknya. Tatkala mengetahui bahwa bunga itu dibuat oleh anak pemilik tempat makan tersebut; seorang pemuda kurus tinggi bernama Peter (Kodi Smit-McPhee menghidup karakter ini luar-dalam), makin menjadi-jadilah ledekan Phil. Peter ampe kabur dari sana (sepertinya nangis), meninggalkan ibunya (Rose, diperankan oleh Kirsten Dunst dengan tak kalah kompleksnya) bekerja sendirian malam itu.

Bagi kita, hampir clear sebenarnya saat itu Phil malu kalo yang lain sampai nyadar dirinya tertarik sama bunga buatan cowok. Dia meledek, supaya gak ketahuan perasaan yang sebenarnya. Film lantas mendorong kita untuk bertanya lebih lanjut, sejauh apa sebenarnya ketertarikan Phil. Kekompleks-an karakter Phil datang dari sini. Dari bagaimana yang ia tampilkan di luar bukanlah siapa dirinya yang sebenarnya. Maka kehadiran Peter – yang sebenarnya membuatnya tertarik – jadi ancaman untuk siapa Phil di luar tersebut. Jadi ketika George ternyata memutuskan untuk menikahi Rose yang janda, yang effectively membawa serta Peter ke dalam lingkarannya, Phil jadi marah. Kepada Peter, kepada George yang menurutnya berkhianat, dan tentunya juga kepada Rose. Film ini tak berhenti sampai kepada perspektif Phil seorang. Karena Peter juga digali. Film malah dibuka dengan monolog suara Peter berbisik tentang melindungi ibu merupakan tugasnya sebagai seorang pria. Dua kebutuhan untuk membuktikan diri sebagai cowok, yang termanifestasi ke dalam dua wujud berbeda inilah yang menghantarkan kita kepada hubungan yang tragis, yang baru benar-benar digali pada paruh kedua cerita.

The Power of the Dog memang memerlukan waktu lama untuk bisa kita benar-benar mengerti berjalan ke arah mana. Itu bukan semata karena set upnya yang banyak, melainkan juga karena konteks karakternya itu sendiri. Phil gak mau semua orang tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Terlebih dia hidup di masa pandangan soal preferensi seksual masih terbatas, dan di tempat yang menuntutnya untuk benar-benar macho. Dan ‘semua orang’ di situ, adalah termasuk kita. Penontonnya. Kita tahu Phil menutupi perasaan aslinya terhadap bunga – dan mungkin terhadap Peter, kita tahu dia look up kepada sosok mentornya yang sudah tiada, tapi kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang diinginkan Phil sebagai seorang manusia. Tidak hingga pertengahan itulah kita baru mengerti bahwa Phil merindukan koneksi dengan orang lain, sebagaimana koneksi yang ia rasakan dengan sang mentor. Koneksi, yang berupa relationship. Naskah benar-benar mewujudkan tembok itu dengan actually menghalangi kita lebih lanjut melihat Phil. Kita malah sering berpindah ke Peter, yang juga diberikan tembok sama tebalnya. Yang juga tidak bisa kita lihat apa sebenarnya yang dirasakan oleh karakter yang pengen jadi dokter bedah ini, selain motivasi vague soal melindungi ibu.

Insecurity yang mengakar menjadi toxic masculinity adalah tema dalam The Power of the Dog. Pada pengembangannya, tema ini mengambil wujud cerita yang sangat tragis. Keengganan Phil menunjukkan dirinya yang sebenarnya, Phil yang memilih untuk menyembunyikan dirinya atas nama martabat dan kejantanan, akan membawanya menuju akhir yang pahit. Tidak ada yang tahu siapa dirinya yang di dalam sana, semua sia-sia hanya karena tuntutan untuk tampak macho. Dan racun itu juga menjangkiti orang lain seperti yang kita lihat pada tindakan yang diambil Peter.

 

Maafkan kalo terasa sedikit terlalu banyak spoiler. Karena walaupun memang fokus kepada karakterisasi, tapi film ini dibangun dengan konteks karakter yang menutupi siapa dirinya dari orang lain termasuk kita, sehingga untuk membicarakan mereka kita perlu membeberkan aksi yang mereka lakukan. Dan itu berarti terpaksa sebagian besar kejadian filmnya harus disebutkan. Seperti soal Peter tadi. Awalnya sekilas dia memang seperti karakter underdog, yang dikatain lemah, tapi ternyata punya ‘kekuatan’ sendiri. Yang punya cara sendiri dalam membawa diri. Di antara cowok-cowok toxic lain, yang meledek kefeminimannya, gampang melihat karakter ini sebagai “oh mestinya Phil lebih jujur seperti Peter ini”. Tidak ada yang disembunyikan oleh Peter, dia terang-terangan mempersembahkan siapa dirinya apa adanya. Dia main hulahop tanpa masalah, dia bikin bunga, dan sebagainya. Namun melalui aksi final yang ia lakukan kepada Phil, atas nama ‘cowok harus melindungi ibu’ yang ia sebut pada pembukaan film, kita lantas melihat karakter ini juga ngalamin maskulinitas yang enggak sehat. Bahwa ternyata dia juga ada menyimpan rahasia, dia abai sama perasaan asli yang mulai ditunjukkan Phil kepada dirinya. Keberaniannya melakukan hal di akhir tersebut, malah membuat kita mempertanyakan kembali motivasinya. Apakah dia benar-benar murni melindungi ibu, atau ini jadi soal balas dendam dirinya yang pernah disakiti.

dogBenedict-Cumberbatch-The-Power-of-the-Dog-film-netflix
Gak heran kalo koboi sering dijadiin model iklan rokok, supaya cowok pada beli

 

Itulah mengapa The Power of the Dog kusebut sebagai salah satu film paling kompleks yang bisa kita tonton tahun ini. Dan juga salah satu yang paling tragis. Kedua karakter sentral itu sama-sama jatoh menyedihkan. Karena sama-sama salah menakar apa itu kejantanan atau maskulinitas. Cuma memang cerita film ini pada paruh pertama agak menuntut kesabaran untuk diikuti. Kita diperlihatkan dua perspektif, yang sama-sama tidak bisa kita tembus. Kita hanya mantengin para karakter, mengarungi berbagai kejadian, dengan pace yang cukup lambat. Film ini actually dibagi menjadi lima bagian; Transisi yang menunjukkan visual angka romawi 1 sampai 5 berlatar hitam muncul setiap kali film loncat ke periode cerita yang lain. Bagian ini di paruh awal bertindak hampir seperti episode, karena membahas kejadian yang berbeda. Dan ini membuat film semakin melebar karena isinya juga membahas tentang George dan istrinya, Rose yang merasa canggung harus tinggal di dekat-dekat Phil yang sangat kasar kepadanya. Dengan kata lain, paruh awal ini memang membahas banyak sudut. Banyak dialog yang memaparkan backstory. Itu semua karena film tidak mau kita lekat kepada Phil.

Yang juga membuat semakin susah dari konteks karakternya itu adalah film jadi tidak bisa menyerahkan karakter utama yang jelas. Kita tidak tahu harus peduli kepada siapa. The easy guess tentu saja adalah Peter, apalagi suara dialah yang membuka cerita, tapi begitu Phil sudah ‘melunak’ garis itu kembali menjadi kabur. Setelah midpoint, cerita mulai lebih enak untuk diikuti. Elemen romansa mulai mencuat. Sementara di belakang mereka, kita mendengar komposisi musik yang dominan biola juga terasa semakin intens. Film ini mendekati klimaks dengan menguarkan perasaan uneasy dari kontras musik dengan adegan yang kita lihat. Untuk kemudian benar-benar menjadi tragis di ending.

 

 

 

 

Aku sama sekali gak menyangka itu semua. Aku pikir ini semacam drama koboi ala western flick yang setidaknya lebih berat daripada yang biasa. Turns out, film ini punya kekuatan penceritaan sendiri yang membuatnya berbeda, dengan bahasan yang berdaya pula. Dalam kisah lain, konteks yang membuat karakter utama berjarak dengan penonton, tidak akan berhasil menjadi tontonan yang efektif. Namun pada kisah ini, konteks tersebut walaupun menyulitkan penonton, tapi benar-benar sesuai dan actually menambah bobot pada karakter dan ceritanya itu sendiri. Paruh pertama memang agak lambat dan berpotensi bikin bosan. Namun semua itu hanyalah set up untuk paruh berikutnya yang benar-benar tragis. Dan membuat gagasan film jadi menggaung lama.  
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE POWER OF THE DOG.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now

Sebelum ini kita udah menyaksikan pria yang hobi ngajakin orang berantem demi membuktikan kejantanannya dalam film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Menurut kalian apakah persamaan dan perbedaan soal toxic masculinity yang diperlihatkan film tersebut dan pada film The Power of the Dog ini?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SILENT NIGHT Review

“It is dangerous to be right when the government is wrong”

 

Malam dalam Silent Night, film-panjang debut dari sutradara dan penulis naskah Camille Griffin, tidak selamanya malam yang sunyi. Ensemble cast yang memerankan berbagai tipe karakter keluarga membuat film ini seperti kisah liburan natal dengan warna komedi yang kental. Malam barulah menjadi senyap  tatkala bencana yang melatarbelakangi dunia mereka semakin mencuat seiring durasi bergulir. Keluarga dan para sahabat yang kita lihat itu akan mati selepas malam itu. Beserta semua orang lain di seluruh dunia. While tone komedi dan kesuraman nasib yang mereka jemput dengan consent sepenuh hati tersebut memang kerap bertabrakan, membuat film ini tidak berjalan seimbang yang diniatkan, namun jika kita melihat ke belakang lebih jauh lagi, kita akan menyadari bahwa Griffin tidak membuat film ini sebagai sajian untuk kita merenungi kematian. Dan bahkan tidak juga kekudusan malam natal. Melainkan, Silent Night dihadirkan sebagai cemo’ohan terhadap masyarakat yang penakut dan pemerintah mereka yang suka memberikan informasi yang salah.

Silent-Night-trailer-1
Coba deh sekali-kali pemerintah itu diunfollow semua, gitu.

 

Natal mungkin memanglah salah satu occasion yang paling luwes untuk dijadikan latar cerita film. Kita sudah menonton beragam genre bermunculan dari tema hari Natal. Film Silent Night ini membuktikan itu dengan actually menggabungkan komedi dengan genre bencana/kiamat. Musik-musik natal yang festive yang berputar di awal akan digantikan dengan alunan yang lebih dramatis. Drama keluarga, kemudian diakhiri dengan twist yang membuat cerita menjadi dark.  

Nell dan suaminya mengundang sahabat dan kerabat mereka untuk merayakan malam natal. Film ini dibuka dengan kesibukan di pagi hari. Yang digambarkan kocak comically. Kita melihat sang suami berlarian di halaman, mengejar ayam. Art si putra sulung yang lagi motongin wortel dan tak sengaja mengiris jarinya sendiri saat kaget mendengar kegaduhan ayahnya di luar. Sementara Nell, juga anak bungsu mereka yang kembar sibuk melakukan hal lain. Kita juga diperlihatkan para tamu yang sedang dalam perjalanan ke rumah Nell. Karakter-karakter yang tak kalah ‘ajaibnya’. Istri pesolek, yang clearly naksir sama sahabat mereka, sementara suaminya yang cupu gak nyadar. Mereka punya anak perempuan yang sikapnya ngeboss abis. Ada pasangan lesbi. Ada pasangan yang jarak umurnya cukup jauh, yang actually outsider dari kelompok mereka. Ketika nanti akhirnya mereka berkumpul, kita akan notice ada kejadian seru apa yang melatarbelakangi relationship mereka semua. Tapi yang paling penting diperhatikan adalah suasana. 

Camille Griffin membangun suasana yang awkward, yang sebenarnya berlaku dua lapis. Bukan saja canggung karena ‘rahasia’ hubungan para karakter yang diungkap – mengejutkan bahkan bagi mereka sendiri. Namun juga canggung karena kumpul-kumpul mereka yang seharusnya merayakan momen natal dan kebersamaan itu, tidak benar-benar terasa seperti sesuatu yang dirayakan. Melainkan sesuatu yang mereka paksakan diri untuk merayakan, karena ini adalah kesempatan terakhir mereka bersama. Griffin menyelimuti cerita komedi ini dengan perasaan dread dari pengungkapan bahwa dunia yang dihidupi karakter ini sedang dalam bahaya yang lebih berbahaya dari pandemi korona. Ada pusaran awan gas raksasa di luar sana, membunuh setiap makhluk hidup yang dilalui. Maka pemerintah menyuruh para ilmuwan membuat pil yang bisa membuat orang mati dalam keadaan seperti tidur. Tidak menyakitkan. Obat tersebut lantas dibagikan kepada masyarakat yang terdata (gelandangan dan imigran gelap gak kebagian), guna dikonsumsi sebagai alternatif dari mati menderita. Inilah nasib yang tentu saja juga dipilih oleh Nell dan keluarga dan sahabatnya. Karena pemerintah menyuruh seperti itu.

Konflik datang dari Art, putra sulung Nell, yang meragukan keputusan tersebut. Yang menyebut usaha mereka sama saja seperti bunuh diri sia-sia. Bahwa mestinya ada cara lain. Dan bahkan Art menantang keputusan tersebut dengan mengangkat bahwa pemerintah dan para ilmuwan bisa saja salah. Silent Night seharusnya lebih berkutat di konflik ini. Karena di bahasan inilah kita baru merasa benar-benar relate dan peduli sama para karakter. Pembangkangan Art menjadi menarik karena yang ia sebutkan memang sangat relevan. Mengapa percaya begitu saja. Mengapa menyerah dengan cepat. Pihak orangtua Art pun memberi argumen yang cukup menarik. Bahwa mereka enggak tega membiarkan Art dan sodaranya mati menderita kena gas. Jadi lebih baik mati bunuh diri, mati yang udah dijamin pemerintah enggak menyakitkan. Tidak pernah ada usaha untuk pembuktian, mereka menerima saja karena begitu takutnya. Ketika Art nantinya menghirup gas dan mulai kejang-kejang, ayah dan ibu dan saudara-saudaranya langsung menenggak pil mereka. Tanpa mengecek nadi Art atau apapun yang membuktikan Art benar-benar telah tewas.

Bahasan ini relevan karena seperti keluarga Art itulah masyarakat terasa. Terlalu takut, terlalu reaktif, sehingga mudah dikendalikan dan tertipu hoax serta berita palsu. Bahkan terlalu takut untuk berjalan di luar arus. Naasnya, menjadi seperti Art di tengah lingkungan begitu justru berbahaya.

 

Setelah Thomasin McKenzie di Old dan Last Night in Soho. Lalu Archie Yates di Home Sweet Home Alone , kini giliran Roman Griffin Davis yang kebagian film sendiri. Aku senang alumni Jojo Rabbit terus dapat kesempatan menggali kemampuan akting, dan memang si Roman Griffin yang jadi Art menonjol dibandingkan bahkan Keira Knightley yang jadi ibunya, yang dijual oleh film sebagai tokoh utama. Simply karena Art-lah satu-satunya karakter yang beneran menarik di film ini. Karakter-karakter lain hanya punya gimmick komedi, mereka tidak punya motivasi ataupun urgensi yang manusiawi membuat mereka terflesh out sebagai karakter. Suami yang boring. Istri yang ‘mentel’. Anak yang kasar. Kupas mereka dari semua itu, dan berakhirlah sudah. Tidak ada apa-apa di baliknya. Naskah bergantung kepada ‘siapa sih mereka sebenarnya kepada satu sama lain’, bagaimana hubungan mereka sebelum momen di cerita ini berlangsung. Kita diniatkan untuk tertarik untuk mendengar obrolan dan konflik mereka, yang berdasarkan kepada masa lalu mereka. Tapi semua itu terasa hampa. Permasalahan mereka gak pernah benar-benar baru, ataupun terasa menarik. 

Art sebenarnya juga sama. Gimmick komedinya yang dicuatkan. Dia juga suka berkata kasar, dan melawan orangtua. Komedi situasi yang sepertinya dipantik dari bagaimana seorang anak bertindak ketika dia tahu ini hari terakhirnya. But deep inside, Art adalah anak baik dan cerdas. Karakter di balik gimmick komedinya itulah yang akhirnya mengangkat derajat karakter ini dibanding yang lain. Dan actually mengangkat film ini. Yah, walaupun cuma sedikit sih.

 

silentroman-griffin-davis-silent-night-interview
Fun fact: Roman Griffin dan anak kembar di film ini kakak adik beneran, dan ibu mereka adalah sutradara film ini

 

 

Aku gak bilang Griffin berhasil menghantarkan mix tone. Menyeimbangkannya sehingga Silent Night jadi tontonan yang enak. Walaupun dia berhasil mencuatkan perasaan canggung, yang mencerminkan sensasi ‘impending doom’ yang menyelimuti karakter-karakternya, tapi keseluruhan film ini tidak bekerja dengan demikian efektif. Tidak pernah terasa seimbang. Tone-tone yang dirancang itu sebenarnya justru saling menabrak. Dan tidak dengan dampak yang bagus. Kita tidak bisa tertawa melihat karakternya – karena gak lucu – sementara juga tidak bisa benar-benar khawatir karena dua hal. Kita tidak mengkhawatirkan mereka yang sudah siap mati. Dan karena film masih terus menyelipkan reaksi-reaksi komedi bahkan ketika sudah waktunya untuk menjadi dramatis dan kelam. Kepada Art saja – yang jadi paling dekat sebagai tokoh utama sebenarnya yang dipunya oleh cerita ini – kita juga susah untuk benar-benar peduli. Karena struktur cerita. Ketika kita mulai in-line dengannya, film malah membuat Art sebagai korban gas yang pertama di antara mereka, saat Art yang katanya ingin cari keselamatan sendiri, lari dari rumah. 

Sangat aneh rasanya ketika kita harus ikut tertawa menyaksikan karakter dealt with their relationship, sementara kita berusaha memahami apa yang terjadi di latar dunia mereka. Sementara kita berusaha mengerti kenapa mereka bertingkah kayak cult bunuh diri. Seharusnya yang dilakukan film ini adalah mengestablish dunia mereka terlebih dahulu, baru kemudian kita bisa dikontraskan dengan sikap mereka yang berusaha rileks, dan berkomedi ria dengan perkara relationship itu.

 

 

 

Film ini sudah menghadapi tantangan cukup banyak dengan menghadirkan komedi, liburan-natal, dan horor. Menambahkan elemen twist, terbukti membuat film ini jadi too much untuk Griffin. Padahal film ini punya pesan yang tak-kalah penting. Punya konsep penyampaian yang cerdas. Dengan set up suasana yang membuat sesuatu yang seperti biasa menjadi unik. Mestinya film ini establish dunia dulu, baru fokus ke karakter. Menguatkan perspektif mana yang jadi karakter utama. Membuat mereka lebih sebagai pion-pion simbolisme, dengan pengembangan yang lebih clear, ketimbang sebagai suara-suara komedi saja. Karena reaksi-reaksi mereka atas ketakutan itulah yang menarik, bukan hubungan yang makin kayak ngada-ngada.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SILENT NIGHT

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian Silent Night ini cerita yang tragis, kenapa?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

YUNI Review

“Withered before bloom”

 

 

“Kamu mau jadi apa?” adalah pertanyaan tersulit yang bisa ditanyakan atau pernah hinggap ke benak remaja enam-belas tahun. Lulus sekolah saja belum, tapi dianggap sudah harus bisa menentukan jalan hidup sendiri. Di umur segitu aku bahkan bingung mau masuk IPA atau IPS. Kuliah di mana nanti pun aku gak ada bayangan sama sekali. Di situlah aku relate dengan yang dialami Yuni. Dan aku sadar, permasalahan yang kualami dulu sebagai cowok remaja itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Yuni di film ini. Pertanyaan “Kamu mau jadi apa?” tersebut beribu kali lebih mendesak ditodongkan ke pikiran Yuni. Bagi cewek-cewek remaja seperti dirinya, yang tinggal di kampung/pinggiran, dengan sosial yang masih erat tradisi patriarki, ditanyain pertanyaan tadi itu saja sebenarnya sudah luar biasa. Sebab pertanyaan itu sebenarnya cuma basa-basi. Semua orang di sana tahu: cewek itu ya urusannya di sumur, dapur, ama kasur. Ngapain sekolah tinggi-tinggi. Kalo udah dilamar, ya tunggu apalagi. Pamali menolak rejeki.

Pamali.

Satu kata itu bakal menghantui Yuni sepanjang durasi. Setiap pilihan Yuni akan selalu dikaitkan dengan pamali. Oh aku inginnya begini, tapi nanti pamali. Semua orang di sekitar Yuni percaya pada pamali. Haruskah Yuni percaya juga. Atau haruskah Yuni memperjuangkan pilihannya sendiri, dengan konsekuensi dia benar-benar sendiri. Jika Lady Di dalam Spencer (2021) dipenjara dalam sangkar emas; istana dengan segala tata dan aturannya, maka Yuni dalam film yang terinspirasi dari puisi Hujan Bulan Juni ini terkekang dalam norma masyarakat patriarki atas nama ekonomi, yang semua orang tahu itu tidak indah, tapi mereka bertindak seolah tidak ada pilihan. 

Padahal Yuni (kenalin, Arawinda Kirana bintang masa depan!) di tahun terakhir SMA-nya itu, mau fokus untuk masuk ke perguruan tinggi. Dia mengincar sebuah program beasiswa. Syaratnya; pertama nilai harus bagus. Itu gampang, dia tinggal nyelesaikan tugas ulasan puisi dari guru idolanya, Pak Damar (Dimas Aditya jadi pengajar yang cerdas dan simpatik). Kedua, tidak menikah. Syarat keduanya inilah yang susah-susah gampang. Yuni sendiri sebenarnya kepikiran pacaran aja enggak. Ada sih yang naksir, Yoga (pesona Kevin Ardilova keluar sebagai cowok pemalu), tapi Yuni lebih milih makan cilok. Yuni memang masih seperti anak remaja umumnya. Suka ngumpul-ngumpul bercanda sama teman segeng. Ngoleksi benda-benda berwarna ungu. Tapi kemudian seorang pria yang barely ia kenal, datang melamar. Yuni lantas jadi perbincangan di desa karena menolak lamaran itu. Membuat Yuni meragukan keputusannya. Apalagi kemudian lamaran-lamaran lain – dengan calon yang semakin gak ideal secara umur – terus berdatangan. Salah satunya terang-terangan membeli keperawanan Yuni.

yunifilm-yuni-1_169
Seolah membuktikan kebenaran si pamali

 

Sutradara Kamila Andini menyiapkan film Yuni dalam dua versi berbeda. Versi untuk tayang di festival dan versi untuk tayang di bioskop. Secara esensi kedua versi ini masih sama. Tadi aku sempat menyebut Spencer, dan ya, sebagai cerita yang sama-sama tentang perempuan yang terkukung, dua versi Yuni punya esensi yang lebih baik ketimbang Spencer. Yuni yang memang anak remaja tidak pernah ditampilkan cengeng, atau merengek, atau sebatas pengen melakukan yang ia mau. Penggalian Yuni terhadap kungkungannya dilakukan dengan pendekatan yang lebih dewasa. Pamali dan patriariki itu mengurung tidak pernah diantagoniskan. Bahkan para lelaki yang jadi personifikasi patriarki tidak mutlak digambarkan sebagai lawan, atau sebagai pelaku. Yang tampak jahat saja, ternyata sendirinya adalah korban dari ekspresi feminis yang ditekan. Yuni terlihat mencoba memahami pamali dan patriarki, mencoba menelisik apa yang terjadi kalo dia ‘menentangnya’, sementara dia juga terus melihat sekitar; ke orang-orang yang lebih dulu terjerat. Sehingga cerita Yuni jadi lebih tragis dan membekas. 

Untuk menambah layer karakter Yuni yang diceritakan mandiri, pintar, dan lebih berani dari teman-temannya, film memberinya hobi. Yang kerap kelewat aneh. Yaitu suka dengan segala hal berwarna ungu. Semua yang ungu dikoleksi sama dia. Aneh, karena Yuni gak segan nyolong benda ungu milik orang lain (dan lantas berkelahi kalo ketahuan) Detil kecil seperti inilah yang membuat film menjadi semakin hidup. Bukan exactly soal warna ungunya, tapi hobi Yuni mengoleksi benda ungu itu seperti mencerminkan keinginan besar Yuni untuk stay true ke identitasnya, ke dirinya sendiri. Bahwa dia tak ragu untuk melakukan apapun untuk membuat dirinya komplit. Kita melihat ini terwujud ketika Yuni datang ke klub, ataupun datang sendiri ke rumah bapak yang melamarnya, dan menolak lamaran tersebut, setelah sebelumnya melakukan sesuatu yang membuat dirinya punya alasan untuk menolak. Barulah nanti ketika diledek warna janda, Yuni ngamuk. Karena itu seperti mengonfirmasi ketakutannya telah menolak lamaran.

Sepertinya memang remaja dituntut terlalu banyak. Mereka yang sedang dalam masa perkembangan, diharapkan untuk tumbuh, tapi seringkali tidak diberikan ruang tumbuh atau, katakanlah pupuk, yang sesuai. Yuni dan teman-teman misalnya, mereka diharapkan untuk kawin setelah sekolah. Itu saja sudah aneh, tapi bahkan lebih aneh lagi saat mereka itu enggak dikasih tahu apa yang dihadapi saat menikah nanti. Mereka tidak diberikan pendidikan seks, tidak diberikan arahan berumah tangga. Melainkan hanya disuruh patuh sama suami karena yang diajarkan kepada mereka selalu soal perempuan tidak bisa sendirian tanpa laki-laki. Makanya remaja-remaja seperti Yuni tragis seperti layu duluan sebelum berkembang.

 

Dari sekolah yang mau ngadain tes keperawanan hingga ke nenek yang menasehati dengan “pernikahan itu rezeki”, film ini bercerita dengan sederhana. Nuansa kesehariannya terasa. Yuni luar biasa di sini. Aku malah pernah dengar saat menang di TIFF 2021 lalu, orang luar bengong melihat fenomena anak muslim yang hanya pakai jilbab di sekolah saja; padahal itu sesuatu yang normal tampak di keseharian kita. Jadi itu menunjukkan betapa film ini kuat di karakter. Otentik dengan tampil sederhana.

Tidak melulu karakter-karakter menceritakan dengan nada depresif, melainkan lebih seperti bercerita sehari-hari. Seperti misalnya karakter yang diperankan Asmara Abigail. Dia jadi perias di salon, karakter yang wild, cheerful, “preedom abis” tapi punya masa lalu nikah muda dan dicampakkan suami juga. Ketika bercerita pengalaman traumanya itu, film tidak membuatnya jadi kisah overdramatis. Untuk menguatkan karakter, dan menekankan bahwa kasus seperti ini ‘terpaksa’ terus teroverlook karena dianggap normal, si karakter itu ya bicara dengan nada senormal dirinya bicara. Yuni dan kitalah yang dibiarkan untuk meresapi kejadian tersebut. Di versi festival, adegan berceritanya itu malah lebih dikontraskan lagi, berupa kita hanya mendengar suara si karakter bercerita, tapi gambarnya adalah adegan Yuni dan dirinya lagi foto-foto ceria.

Versi bioskop memang memuat lebih banyak eksplorasi karakter pendukung, sehingga naturally sedikit lebih ‘berwarna’ ketimbang versi festival yang lebih memfokuskan kepada Yuni itu sendiri. Karakter-karakter dalam Yuni serta permasalahan mereka yang masing-masing mewakilkan contoh kasus ‘perempuan terikat patriarki’ akan sangat bisa kita pedulikan, akan sangat mudah beresonansi dengan kita, sehingga wajar versi bioskop akan lebih digemari oleh penonton. 

Tapi, kalo memang mau dibandingkan……

Bagiku film Yuni versi festival tampil lebih baik dibandingkan dengan Yuni versi bioskop.

 

Perbedaannya yang kerasa itu bukan exactly pada ending atau tone yang lebih ringan atau durasi yang lebih panjang. Melainkan bersumber pada strukturnya. Kedua versi film Yuni ini actually sudah banyak perbedaan dari cara suatu adegan ditampilkan (baik dari kamera ataupun editingnya) dan dari urutan adegan-adegannya sendiri. Versi bioskop memperlihatkan Yuni dapat tugas puisi duluan, sebelum dilamar untuk pertama kali. Sementara versi festival Yuni dilamar duluan. Kenapa urutan ini penting, karena membentuk bangunan cerita. Dengan menempatkannya duluan dalam sepuluh menit pertama, versi festival langsung jelas memperlihatkan itu sebagai inciting inciden. Bahwa ini adalah cerita gadis remaja yang pengen kuliah, tapi tiba-tiba dia dilamar. Struktur versi festival lebih fit secara universal sebagai cerita film. Ke belakangnya strukturnya jadi tetap jelas. Lamaran versi bioskop, sebaliknya, ada sebagai plot poin pertama. Setelah sekitar tigapuluh menit. Set upnya yang panjang, yang membahas banyak – hingga adegan Yuni nyanyi segala – membuat versi ini berjalan seperti, katakanlah aimlessly. Yuni yang diberi tugas puisi untuk naikin nilainya enggak benar-benar ngasih hook yang koheren dengan kungkungan yang disetup pada lingkungannya.

Versi bioskop benar-benar menjelaskan runut adegan. Padahal gak semuanya juga signifikan. Yuni kenalan dengan si pelamar pertama aja sebenarnya justru terasa mereduksi adegan lamaran itu sendiri. Karena yang versi festival terasa lebih kuat saat Yuni dilamar seseorang yang kita gak tahu. Menguatkan bagaimana perempuan bisa benar-benar dihadapkan pada hal yang tak bisa mereka kendalikan. Lagipula karakter si pelamar itu toh gak bakal dimunculin lagi, jadi ya buat apa juga dielaborate keberadaannya. Misalnya lagi soal teman sekelas Yuni yang udah punya anak, udah nikah, tapi semacam ditinggal oleh suami yang tak pernah lagi pulang ke rumah. Di versi bioskop di-elaborate hingga ada adegan Yuni dan teman-teman datang ke rumah melihat bayinya. Lalu Yuni melihat ternyata kakak-kakak perempuan si teman juga mengalami nasib serupa. Informasi yang redundan, terlebih karena nanti juga ada adegan Yuni ngobrol dengan si teman itu perihal hal yang bersangkutan. Versi festival hanya punya adegan ngobrol itu, dan dengan bijak meninggalkan adegan ke rumah. Sehingga penceritaan versi festival terasa lebih efisien dan efektif.

yunizs0is9iu9qmpd3cbvmb1
Buat apa nambah durasi kalo diisinya sama adegan “aduh, ngagetin aja”

 

Semua kisah perempuan yang dimuat dalam versi bioskop itu penting. Menambah layer. Tapi tidak bisa hanya ditambahkan seperti demikian. Percakapan soal suara haram yang terselip, tanpa ada flow yang bener-bener natural, ya hanya jadi memolorkan strukturnya saja. Versi yang diniatkan untuk merunutkan ini akhirnya malah terasa lebih lompat-lompat dibandingkan dengan versi festival yang karakter-karakternya sering ditampilkan tanpa introduksi yang proper. Percakapan soal LGBT juga. Adegannya padahal bagus banget, tapi karena sedari awal Yuni gak pernah ada concern ke situ, jadi ya kayak tambalan aja. Di festival, musik dan LGBT hanya disinggung sekilas, tapi toh tidak mengurangi esensi yg dirasakan oleh Yuni. Yang pentingnya poinnya dapet, ada karakter LGBT, dan ada banyak kungkungan kepada perempuan.

Memang, yang versi festival bisa tampil sedikit lebih berat. Lebih nyuruh fokus dan mikir. Dan bisa juga terlalu depressing untuk penonton mainstream. Maka versi bioskop memang dirancang untuk soften the blow. Endingnya yang heartbreaking itu, gak boleh sedih-sedih amat, sehingga dibikinlah adegan ending yang sama sekali berbeda. Ending yang ada harapan dan kesan saling menguatkan. Tapi ya secara konteks cerita, aneh sih. Karena di versi bioskop yang banyak memperlihatkan kasus-kasus patriarki, Yuni ini mengerti perempuan-perempuan di sana struggle di hidup mereka masing-masing. Mereka berjuang hingga sekarang. Yuni malah memilih aksi, well, yang ia pilih. Kesannya di akhir itu kenapa dia malah seperti ‘menyerah’ di saat perempuan lain dia tahu masih berjuang. Apalagi setelah ada adegan perbincangan dengan ayahnya. Kalo yang versi festival kan, Yuni tahu bukan hanya dirinya yang terkukung, tapi dia gak tau tepatnya seperti apa. Maka keputusan Yuni dianggap sebagai pembebasan diri. 

 

 

Maka, untuk pertama kalinya aku akan memberikan dua skor untuk satu film (eventho dengan dua versi editing ini mestinya film ini sudah dianggap dua film berbeda). Secara esensi, film ini memanglah termasuk salah satu yang paling penting yang udah diproduce oleh filmmaker tanah air. Digarap dengan berani, mengangkat bahasan yang mungkin bisa jadi kontroversi, tapi kupikir tidak akan karena film ini kekuatannya adalah di karakter. It won’t offend too much. Terasa sangat otentik sekaligus sangat nyeni. Respek juga sama karakter dan inspirasinya. Tapi kalo aku nonton yang versi bioskop duluan, versi yang lebih ramai dan menggapai lebih banyak lagi, aku akan bilang versi itu cukup overkill, agak redundan, dan perlu untuk ditrim sehingga bisa lebih fokus ke Yuni. Karena pilihan Yunilah atas keadaannyalah yang lebih tragis ketimbang dia mendengarkan cerita tentang karakter lain. Dan actually itulah yang kurasakan pada versi festival. More intimate, more focus, more effective sebagai bangunan film.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for YUNI theatrical version, and 8.5 out of 10 gold stars for YUNI festival version

 

 

 

That’s all we have for now

Sudahkah kalian menonton dua versi Yuni? Versi mana yang lebih kalian suka, kenapa?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS Review

“Violence is any day preferable to impotence”

 

Seperti judulnya, Seperti Dendam (cukup disingkat begini saja ya nyebutinnya), memanglah sebuah cerita balas-dendam sebanyak film ini sebagai sebuah kisah cinta. Ini adalah film yang ada kelahi-kelahinya, ada romansa-romansanya, dan sering juga keduanya – berkelahi dan romansa itu – berlangsung sekaligus. Untuk membuat dirinya semakin unik, film ini hidup berlatar dunia 80an. Tampil layaknya film laga yang berlangsung dan seperti benar-benar dibuat oleh industri tahun segitu. Berpeganganlah yang erat, karena karya Edwin yang diadaptasi dari novel Eka Kurniawan ini only gets weirder. Nada yang sedari awal diarahkan berbunyi seperti komedi lantas menjadi surealis ketika elemen mistis mulai diperkenalkan. Bersiaplah karena di sini gambar-gambar di belakang truk akan bisa berbicara. Dan jika kalian mengharapkan ada sesuatu setelah semua debu-debu truk itu lenyap, setelah semua pukulan-pukulan teknis itu mendarat menghujam, Seperti Dendam bakal melayangkan serangan terakhirnya dengan ending yang begitu tiba-tiba.

dendam202112021753-main.cropped_1638442415
Film tentang impotensi tapi elemennya dibikin nyembur ke mana-mana

 

Masih ingat ayah Shang-Chi di film kung-fu MCU (Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings)? Gembong penjahat yang bertemu perempuan penjaga desa. Lalu mereka berantem dengan begitu elegan sehingga kayak sedang menari, yang menghantarkan mereka menjadi saling cinta? Well, itu semua jadi gak seberapa romantis jika dibandingkan dengan Ajo Kawir dan Iteung di film Seperti Dendam. Tadinya Ajo Kawir kepengen membunuh seorang juragan. Maka dia harus berurusan dahulu dengan bodyguardnya. Gadis yang tak kalah jagoan bernama Iteung. Dan oh boy, berantemnya Ajo Kawir lawan Iteung di lokasi truk ngangkut-ngangkut pasir itu sungguh intens. Beneran kayak film-film silat low budget tempo dulu. Edwin tidak membumbui itu dengan adegan yang elegan seperti pada Shang-Chi. Melainkan dia menampilkannya se-rough mungkin. Jikapun ada ‘polesan’, maka itu difungsikan untuk menahan tone alias nada supaya tetap berada di kotak over-the-top kelucuan.

Memang, adegan berantem awal pertemuan mereka itu membuatku tercengang. Kamera gak banyak cut, langsung aja nampilin. Aku mungkin salah, tapi mereka gak keliatan pakai stuntmen. Ada tuh saat Iteung di-powerbomb ke tanah berpasir. Maaaan… Sebagai orang yang nonton WWE religiously, aku tahu ada cara yang aman untuk ngelakuin jurus-jurus atau adegan tersebut. Berantem sekasar itu bisa dikoreografikan dengan safely. Tapi tetep saja aku kagum sekali Marthino Lio dan Ladya Cheryl berani dan sanggup ngelakuin adegan itu dengan baik.

Pertarungan nyaris hidup-mati itu jadi koneksi yang sangat personal bagi Ajo Kawir dan Iteung. Pemuda yang haus berkelahi sebagai pelampiasan frustasi dan semacam pembuktian diri, bertemu dan dibikin humble oleh perempuan tangguh yang seperti memahami lelaki seperti itu. Koneksi mereka is on another level of love. Tapi ternyata itu hanyalah salah satu bentuk unik purest love yang digambarkan oleh film ini. Untuk satunya lagi, mari kita letakkan konteks ke dalam cerita. Alasan Ajo Kawir napsu cari ribut adalah karena dia percaya itulah satu-satunya cara dia menunjukkan kejantanan. Bahwa dia masih cowok, kok, meskipun burungnya gak bisa berdiri. Kita hanya bisa membayangkan; berantemnya aja seintens itu, gimana pergumulan mereka di kasur ya. Tapi Ajo Kawir enggak bisa begitu. Ajo Kawir awalnya malah sempat minder dan menghindar. Tapi, Iteung tetep mau dan mengawini dirinya. Relationship Ajo Kawir dan Iteung lantas menjadi pondasi besar untuk bangunan cerita Seperti Dendam. Chemistry Lio dan Cheryl hanya tersendat oleh dialog jadul yang kerap sedikit janggal terdengar saat momen-momen mereka. Seperti saat berantem tadi, keduanya tampak lebih klik dalam bahasa gerak dan ekspresi. Sebenarnya itu saja sudah cukup untuk memikul narasi film ini. Karena memang Seperti Dendam lebih excellent ketika menampilkan, entah itu aksi, their whole world, atau hal sesimpel joget dangdut di kawinan.

Aku menikmati ketika narasi masih berpusat di Ajo Kawir berusaha menjadi better man setelah menikah dengan Iteung. Dia berusaha meninggalkan kebiasaan lama. Bahkan berjanji untuk tidak membunuh si Macan, seorang lagi gembong penjahat dengan kepala berharga tinggi. Harga yang mestinya bisa memberikan kehidupan yang layak bagi rumah tangga Ajo. Namun konflik sebenarnya baru datang setelah ini. For Ajo dan Iteung sama-sama punya hantu di masa lalu. Impotensi Ajo berasal dari trauma masa kecil perlahan tapi pasti menjadi pemicu, sementara teman lama Iteung datang menawarkan solusi sekaligus ancaman bagi Ajo. Jika ini adalah cerita biasa, film ini akan berakhir saat turning point. Saat yang berusaha dibangung Ajo bersama Iteung hancur, membuat mereka terpisah. Seperti Dendam sekarang barulah jelas intensinya. Film ini ingin mengeksplorasi impotensi – dalam hal ini bisa dilihat sebagai pria yang merasa dirinya lemah. Kenapa seorang pria bisa merasa begitu. Bagaimana menyembuhkan impotensi berarti adalah bagaimana cara yang benar bagi seorang pria merasa dirinya jantan. Apakah merasa macho memang sepenting itu. Pamungkas film ini sebenarnya terletak saat eksplorasi itu. Saat menunjukkan Ajo Kawir berusaha ‘menemukan jalan pulang’ kepada Iteung. Namunnya lagi, justru di paruh akhir yang difungsikan untuk itulah, film ini terasa mulai gak koheren. 

Bahkan Mahatma Gandhi yang pacifist tulen aja bilang lebih baik menjadi violent jika itu satu-satunya cara untuk mengklaim power. Ajo Kawir jadi impoten setelah peristiwa traumatis yang menimpa dirinya. Impoten di sini adalah lack of power. Menjadi violent bagi Kawir bukan hanya pelampiasan frustasi, ia semestinya belajar menyadari bahwa itulah perjuangannya untuk berani mendapatkan kembali hal yang hilang dari dirinya karena trauma.

 

Begitu masuk ke paruh akhir, Seperti Dendam seperti berjuang mencari arah untuk finish. Tidak lagi berjalan untuk bercerita. Melainkan jadi seperti masuk ke mode mengakhiri cerita dengan tetap bergaya. Masalahnya, di titik itu masih banyak elemen yang harus diceritakan. Ketika menggali lebih dalam ke asal muasal penyakit Ajo Kawir, ataupun ketika memaparkan kejadian horrible apa yang menimpa Iteung saat masih masuk usia remaja, film mulai menapaki arah yang surealis. Katakanlah, ada karakter ‘hantu’ yang dimunculkan. Lalu juga ada perihal perilaku semena-mena aparat yang dirahasiakan, yang juga mengait ke persoalan petrus dan presiden di periode waktu itu.  Untuk menambah kuat karakter periode dan dunianya, film juga sekalian memberikan peristiwa gerhana sebagai latar. 

dendamSeperti-Dendam-Rindu-735x400
Ratu Felisha mainin salah satu karakter terseram seantero 2021

 

Karakter-karakter baru pun lantas muncul. Mereka sebenarnya terasa punya kepentingan yang signifikan di dalam cerita ini, tapi karena Seperti Dendam sudah menjadi medium film, penempatan mereka tidak terasa benar-benar menjustifikasi keberadaan mereka itu sendiri. Dengan kata lain, aku merasa mereka jadi dimunculkan ujug-ujug saja. Tidak ada bedanya dengan si karakter ‘hantu’ yang tau-tau ada begitu sesajen dibakar. Film seperti Dendam pada akhirnya terkekang juga oleh hakikatnya sebagai cerita adaptasi novel. Yang juga kentara terpengaruh oleh mendadak banyak elemen ini adalah tone cerita. Sedari awal, Seperti Dendam memang tidak pernah saklek. Apakah ini satir. Apakah kita memang diniatkan untuk tertawa melihat Ajo Kawir berjuang membangunkan burungnya. Apa yang harus kita rasakan melihat Ajo Kawir kesenengan dihajar orang-orang yang diajaknya berkelahi? Tapi begitu paruh akhir dan segala elemen baru masuk, tone semakin tak menentu lagi. Di bagian yang seperti dirancang untuk membuat kita takut, kita juga merasakan harapan bertumbuh. The only constant adalah pada adegan berantem yang selalu menarik, dan jadi penawar bingung dan sumpeknya semua terasa.

Novelnya sendiri memang aku belum baca. Jadi gak bisa mastiin juga seberapa ‘sama’ film ini dibuat dengan bukunya. Biasanya buku memang lebih leluasa sih, lebih banyak ruang juga. Film adaptasinya ini seharusnya bisa lebih luwes. Mengingat banyaknya muatan, dan style yang mencakup surealis dan menonjolkan seni bercerita, sepertinya bisa lebih asik kalo sekalian aja film ini tampil acak kayak Pulp Fiction (1994). Gak usah runut atau linear. Bagi semacam segmen per karakter, kreasi di urutannya saja, bolak balik saja tak mengapa. Sekalian juga per segmen itu tone-nya bisa beda. Dengan membuatnya begitu, semua yang diniatkan untuk ada masih bisa tertampung semua. Juga, film jadi gak perlu mikirin dan rush menuju ending seperti yang kita saksikan sekarang ini.

 

 

 

Dari tiga-besar film Indonesia tahun ini, film inilah yang memang terasa terhambat oleh adaptasi. Dua film lainnya itu luwes dan bisa mencapai ending yang membayar tuntas semua. Film yang satu ini tidak begitu. Paruh pertama terasa lebih enak karena masih mengalir sebagai cerita, yang fokus ke karakter. Ketika sudah mendekati penghabisan, muatan yang seambreg mulai terasa pengaruhnya. Film jadi berusaha untuk mengakhiri aja. Elemen kritik ke politik, komedi, horor, atau bahasan lainnya pun jadi tempelan at best. Padahal aslinya kan tidak seperti itu. Mereka harusnya jadi esensi. Film ini perlu untuk jadi bold, aneh, kasar, lucu, miris, dan sweet sekaligus. Untuk pembangunan itu semua – dan pembangunan dunianya – kerja film ini sangat excellent. Dia berhasil. Saat menempatkannya sebagai satu film koherenlah, film ini kurang mulus. Maka, mungkin sebaiknya jadi total aneh saja sekalian. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

 

 

 

 

That’s all we have for now

Menurut kalian siapakah Jelita? Apakah dia hantu Rona Merah, atau ada hubungannya dengan Iteung? Apa makna karakter ini bagi kedua tokoh sentral di dalam cerita?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SPENCER Review

“A bird in a cage is not happy, even if you bought him a golden cage.”

 

 

 

Lady Diana dikenal sebagai sosok yang tragis. Peristiwa dan aftermath kematiannya yang naas jadi sensasi perbincangan berita di tahun 1997. Maka, sutradara Pablo Larrain yang sebelum ini menggarap biopik figur First Lady Jacqueline Kennedy yang tak kalah ‘sedihnya’ (Jackie), merasa tepat untuk membuat kisah hidup Diana sebagai sebuah cerita tragis pula. Larrain mengarahkan film Spencer sebagai cerita tentang perempuan yang bagai burung terkurung dalam sangkar emas. Bukannya mau nyamain cewek ama burung – apalagi perempuan yang begitu berpengaruh seperti Lady Diana si Princess of Wales, tapi memang Larrain menjadikan Spencer bukan sebagai biopik sejarah yang utuh. Melainkan sebagai sebuah fabel yang berdasarkan kepada tragedi nyata. Dongeng yang benar-benar terus mengedepankan ketaknyamanan hidup perempuan di dalam istana yang seperti penjara. Seolah terpenjara itulah yang membuat Diana bisa relate kepada kita.

Malanglah juga, buat penonton yang mungkin enggak tahu atau mungkin dulu masih terlalu muda untuk mengerti apa yang menimpa Lady Diana. Karena Larrain tidak tertarik untuk berlama-lama menjelaskan tragedi apa yang terjadi di kehidupan Diana Spencer, yang jadi anggota kerajaan Inggris. Informasi latar belakang seperti soal rumah tangga Diana dengan Pangeran Charles sedang genting karena ada rumor affair, atau keadaan di istana Sandringham, atau perihal eating disorder yang diderita Diana, akan langsung ditampilkan saja di dalam narasi yang ia susun berpusat pada minggu Natal di tahun 1991.

Plot Spencer berpusat kepada eksplorasi perasaan Diana terhadap keluarga dan aturan dan gaya hidup kerajaan yang harus ia jalani sebagai istri dari putra mahkota. Diana datang terlambat ke Sandringham. Meski sepertinya dia memang beneran nyasar, tapi kita bisa melihat Diana menikmati keterlambatannya itu. Menikmati momen-momen saat dia ada di luar sana. Alih-alih di dalam istana, yang jadwal buka kado hingga pakaian yang ia kenakan saja diatur. Dia gak bisa milih dress proper dan asesoris yang wajib ia kenakan setiap kali jamuan makan. Bahkan jamuan makan itu sendiri bisa jadi siksaan emosional untuk Diana. Bulimia yang ia derita bentrok dengan kewajiban makan dan berat badan yang harus ia patuhi. Tidak ada di ruangan itu yang tampak peduli kesehatannya. Diana justru tampang dipandang sebagai pelanggar aturan oleh keluarga kerajaan. Gak mau patuh. Kalung mutiara yang ia kenakan pun lantas menjadi simbol kekangan bagi dirinya.

spencer-kristen-stewart-as-princess-diana-lede
POW di bajunya itu singkatan Princess of Wales atau malah Prisoner of War?

 

Film ini disebut banyak orang sebagai sebuah masterpiece. Dan itu benar. Spencer adalah masterpiece dalam menggambarkan ketaknyamanan yang kerap mendera Lady Diana. Ambil adegan makan malam sebagai contoh. Kita melihat Diana masuk terlambat (sekali lagi) ke ruang makan. Mengenakan gaun hijau dan kalung mutiara yang sebenarnya enggan ia pakai. Kemudian prosesi makan malam mereka berlangsung dengan sangat kaku. Lengkap dengan pelayan-pelayan yang udah terlatih kayak militer. Mereka makan dalam diam, badan tegap, siku gak boleh nyentuh meja dan segala macam. Tapi, kita diperlihatkan ekspresi Diana, yang masih belum menyentuh sup hijaunya. Cara kamera merekam, editing yang dilakukan, plus permainan akting Kristen Stewart membuat kita merasakan sensasi tak nyaman. Kita seperti merasakan sejumlah pasang mata memelototi Diana. Konteks lain di sini adalah Diana punya ‘kebiasaan’ muntahin kembali makanannya, jadi dia justru diharapkan dengan tegas untuk tak melakukan itu lagi – meski dia tidak punya kendali atas penyakitnya itu. Kecemasan Diana ditangkap oleh film, dan kemudian digambarkan lewat adegan sureal berupa Diana merenggut lepas kalung mutiara yang ia kenakan. Mutiara-mutiara itu berjatuhan ke dalam mangkuk supnya, dan Diana memakan sup itu, lengkap dengan toping mutiara-mutiara yang keras. Adegan yang beberapa menit kemudian diungkap sebagai bayangan dari Diana tersebut benar-benar efektif dalam menunjukkan seberapa besar tekanan di situ bagi dirinya.

Ironis, Diana justru merasa lebih terkekang di rumah yang melindunginya seratus persen lewat aturan dan berbagai tata krama dibandingkan di luar, di tempat paparazi diketahui akan mengintai kemana pun dia pergi. Kungkungan ternyata jauh lebih bikin stress.

 

Gambar-gambar Spencer yang gorgeous sekali memang dimanfaatkan dengan seefektif itu. Sandringham bahkan udah kayak karakter tersendiri. Dengan build-up yang cermat terhadap bagaimana tempat mewah itu malah jadi seperti penjara. Kamera akan melayang memperlihatkan bentuknya yang tertutup. Lalu juga ada adegan demi adegan yang memperlihatkan betapa strict-nya di sana; bahkan urusan dapur saja benar-benar diawasi oleh pasukan khusus. Dan Diana ada di sana, sebagai presence yang mempertegas bukan hanya ‘kecantikan’ melainkan juga kontras keinginan untuk bebas dan kungkungan itu. Semua aspek penceritaan lewat visual tadi itu dimainkan sehingga saat adegan perasaan pembebasan diri di menjelang akhir, kita semua jadi ikut merasakan seberapa gemetarnya tangan Diana untuk merenggut kalung (kali ini beneran) dan betapa plongnya nanti emosinya terasa.

Ketika film-film tentang Lady Diana sebelum ini masih berusaha untuk tampil berimbang, Spencer tidak ragu untuk memihak. Tidak ragu untuk menunjuk antagonis. Diana ke dapur tengah malam aja, ditegor. Dia gak nutup gorden jendela aja lantas dimarahi, karena ternyata ada paparazi yang mengintai setiap saat bahkan saat dia berganti pakaian. Diana heran kenapa harus dia yang ‘kena’, seperti kalo di kita ada perempuan yang dilecehin maka yang disalahkan pasti si perempuan, bukan para cowok yang harusnya dilarang. Diana gerah harus mengikuti protokol dan gak bisa kemana-mana, gak bisa ngapa-ngapain sendirian. Memang, sebaliknya, bisa terdengar Diana-lah yang egois. Supaya gak keliatan seperti itu, maka naskah mencuatkan posisi Diana. Bahwa semuanya bermuara kepada concern Diana kepada anak-anaknya. Kekhawatiran Diana atas kesehatan mereka (Istana yang dingin, dan menolak gedein pemanas) serta perhatian saat ayah memaksa mereka ikut berburu burung. Ini jadi memperlihatkan Diana sebagai ibu yang baik di atas segalanya. 

spencer03042ce3-ede2-4c4e-ac72-18cad07ae5d0-SPENCER_by_Pablo_Larrain_courtesyNEON
Waktu kecil, aku punya teman yang ‘diledek’ ibunya mirip Lady Di

 

Aku gak tau aslinya Lady Diana seperti apa, tapi banyak yang bilang penampilan Kristen Stewart di sini mirip banget – bahwa Stewart menghilang ke dalam sosok Diana Spencer. Aku gak bisa konfirm soal itu, but I do have some opinions. Stewart memang berhasil nampilin sosok yang terkekang lahir dan batin. Dia ngomong aja suaranya kayak bisik-bisik, bahkan saat sedang adu argumen dengan koki atau pegawai di istana itu. Cara ngomong yang semakin memperkuat kesan bahwa perempuan ini saking merasa gak bebasnya, sampai bicara pun gak bisa lepas. Namun di sisi lain, lama kelamaan kok ya agak monoton juga. Somehow jadi terasa susah juga bagi kita untuk masuk ke dalam karakter ini, karena kita literally dan figuratively kurang bisa ‘mendengar’ yang berusaha ia keluarkan. Padahal kalo dia lepas aja, kayak waktu dia ngobrol di pantai bareng sahabat yang jadi pelayannya, karakter ini lebih mudah untuk kita ‘dekati’.

Ini jugalah yang jadi sedikit ganjelan buatku. Spencer terlalu lama menghabiskan waktu untuk menunjukkan Diana adalah korban sangkar emas. Diana nangis, Diana muntah, atau melakukan keduanya bersamaan – sambil pakai dress menakjubkan, Diana melukai diri sendiri. Intensitas yang terus naik untuk menunjukkan perasaan terkekang yang semakin besar. Film kekeuh banget nunjukin ketatnya si pihak antagonis sehingga Diana jadi hancur lebur. Tanpa pernah menonjolkan keberimbangan. Padahal tak sedikit juga pelayan atau pihak istana yang ngasih Diana nasihat dan nunjukin support kepadanya. Tapi she just cry dan segera balik ke mode ‘gue korban’. Aku bukannya gak berada di sisi Diana atau gimana, tapi aku melihat ada kecenderungan begini: dalam narasi yang ada elemen pelaku dan korban, kalo narasi itu pembahasannya fokus ke pelaku tanpa atau sedikit sekali menggali perspektif korban, pasti bakal dikecam. Namun sebaliknya, tidaklah mengapa kalo yang dibahas adalah perspektif korban doang. Pelaku tidak dikembangkan, melainkan justru kalo bisa harus terus diantagoniskan. Buatku ini kecenderungan yang mengkhawatirkan sih. Membuat film jadi kentara banget fokus nomor satu kepada agenda. Alias memihak tapi untuk kepentingan menggaet ‘marketing’ tertentu.

Dan Spencer ini aku hampir ngerasanya kayak begitu. Film ini membuat seolah Diana itu berada di tempat yang tidak ia mau. Seolah dia jadi tawanan di sana. Penonton yang sama sekali gak tahu siapa Diana boleh jadi akan menganggap Diana dipaksa menikah, atau mungkin malah ‘dijual’ kepada keluarga kerajaan. Padahal kan tidak. Diperlihatkan Diana bukan putri paman petani (bukan Diana yang di lagu Koes Plus!) Diana putri bangsawan Eropa. Rumahnya juga gede. Walaupun dia diperlihatkan memang hidup lebih bebas di masa kecil, tapi tentunya Diana tahu seperti apa lingkungan istana – apa yang ia masuki ketika menikah. Inilah yang harusnya diberikan konteks oleh film. Boleh mengantagoniskan satu pihak, tapi juga tetap gak elok jika protagonisnya selalu dipush entah itu selalu benar atau selalu dibuat menderita tanpa menggali kenapa dia bisa merasa begitu pada awalnya. Development karakter Diana terlalu sedikit karena film terlalu sibuk mengantagoniskan pihak satunya dan  terlalu sibuk membuat protagonisnya ini menderita.

 

 

 

Tampaknya memang perspektif itu yang diincar. Film ini sepertinya memang tidak berniat untuk menggali lebih dalam melainkan hanya berpusat kepada kecamuk emosional yang sekiranya terjadi di dalam diri seorang Lady Diana selama ia hidup sebagai istri Pangeran Charles dan anggota kerajaan. Ingat, sekali lagi film ini adalah fiksi yang berdasarkan tragedi nyata. Jadi tentunya build up tragedinya itu yang diimajinasikan di sini. Dan untuk menghasilkan perasaan tak-nyaman, terkukung, dan stress karakternya tersebut, film ini melakukannya dengan luar biasa. Hanya, buatku, film yang dua jam isinya ‘memamerkan’ seseorang di posisi korban, bukanlah tontonan yang, katakanlah menghibur, atau yang benar-benar terasa penting. They just so undeniably great at being that one-sided, rather self-absorbed story.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SPENCER

 

 

 

That’s all we have for now

Diana di kisah ini sering melihat vision dari cerita yang ia baca tentang Anne Boleyn yang dipenggal Raja Henry yang menolak menceraikannya. Menurut kalian apa makna cerita tersebut sampai begitu penting bagi Diana?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA