My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2021

 

Pertama-tama (biarin deh kayak orang pidato) aku mau ucapin maaf dulu karena tahun 2021 aku cuma sedikit sekali ngereview film. Total hanya 110 film yang terulas, padahal banyak yang rekues review beberapa film, ampe beberapa kali. Tapi aku selalu nontonnya telat, dan kemudian ketinggalan lantaran mulai banyak film yang keluar.  Sementara bioskop, di tengah tahun sempat buka, lalu tutup, dan rame lagi di akhir. Dan aku honestly gak bisa langsung ikut kembali ke bioskop karena paling males harus install-install aplikasi. Jadi, ya maaf kalo kalian yang bolak-balik ngecek ke blog ini untuk bahas soal film terbaru, dan kecewa ngeliat gak ada reviewan.

But also, aku mau terima kasih sama kalian-kalian yang masih mau-maunya ngecek ke blog ini. Meskipun reviewnya tidak hadir secepat biasanya, tidak sebanyak biasanya. Terutama sih, terima kasih karena masih peduli sama film. Masih tertarik untuk membahas dan ngomongin film, for the sake of the movies themselves. Bukan sekadar untuk asik-asikan atau keren-kerenan diri sendiri. Masih hobi berbondong-bondong meramaikan bioskop. Ataupun begadang demi nonton special screening di komputer.

Jadi, untuk tidak memperpanjang mukadimah (tuh kan jadi beneran kayak pidato Pak RT!), langsung saja disimak list delapan film teratas pilihan My Dirt Sheet. Walaupun sedikit, kompetisi kali ini tidak kalah ketat. Honorable Mentions kukurangi lagi dari 15 kini menjadi hanya 12 untuk membuat daftar ini tetap menarik. Dan perlu diingat, teratas di sini maksudnya memang terbaik, tapi bukan ‘terbaik’ terbaik. Melainkan ‘terbaik’ according to me, baik itu sebagai tontonan hiburan, tontonan bergizi, ter-relate ke diri sendiri, dan bahkan sebagai komposisi list yang menarik. Yea, singkatnya, subjektif. Film kesukaan kalian gak kesebut? Well, kalo ternyata aku sudah nonton, ya tinggal kita obrolin di komen. Kalo aku belum nonton? you can convince me untuk menyaksikannya segera. (Kecuali favorit kalian itu adalah Eternals atau Penyalin Cahaya; alias yang ada rilis di Januari. Mereka kubikin bersaing di 2022 saja).

 

 

HONORABLE MENTIONS

  • Censor (psikologikal horor yang dibikin sebagai tribute untuk film-film horor jadul yang gore dan nasty abis. Disturbingnya lipat dua!!)
  • Last Night in Soho (horor penuh gaya, dengan duo pemain yang cakep. Aku merasa relate banget karena pernah bikin film pendek dengan konsep cermin yang serupa)
  • Minari (drama keluarga yang ingin sukses di rantau ini sangat menyentuh, dan somehow menginspirasi)
  • Saint Maud (begini nih kalo halu sama iman dan kepercayaan!!)
  • Spider-Man: No Way Home (experience nonton paling gila yang bisa kita rasakan!)
  • Stillwater (meski diwarnai kontroversi, tapi ini adalah drama dengan konteks karakter dan politik sangat kuat. Plus ada relationship figur ayah dan anak yang sangat heartwarming)
  • The French Dispatch (film tapi sebenarnya adalah majalah! bingung kan?)
  • The Green Knight (dongeng ksatria pengecut yang diceritakan lewat visual yang magis dan breathtaking)
  • This Is Not a Love Story/Bukan Cerita Cinta (hidden gem di perfilman Indonesia. Dimainkan dengan sangat natural)
  • tick, tick…BOOM! (penampilan akting keren Andrew Garfield di musikal paling relate; siapa sih yang gak galau sama umur?)
  • Till Death (ku sangat surprise sama Megan Fox dan film ini)
  • Titane (Kucumbu Tubuh Indahku versi cewek, dan versi lebih brutal)

Serta, Special Mention marilah kita panjatkan ke hadirat The Medium, yang pada 2021, ulasannya paling banyak dibaca di My Dirt Sheet. Dan kepada The East yang mecahin rekor view video ulasan terbanyak di Youtube My Dirt Sheet.

 

Dan, inilah TOP-EIGHT MOVIES 2021!!

 

 

 

8. THE SUICIDE SQUAD

the-suicide-squad-2021-banner-art-8k-du-1366x768

Director: James Gunn
Stars: Idris Elba, John Cena, Margot Robbie
MPAA: Rated R for strong violence and gore, language throughout, some sexual references, drug use and brief graphic nudity
IMDB Ratings: 7.3/10
“Rats are the lowliest and most despised of all creatures, my love. But if they have purpose, so do we all.”

James Gunn actually did the impossible: Ngasih perspektif dan development kepada segitu banyak karakter! Dan dia melakukan itu tetap dengan penuh gaya.

Gak ada karakter yang gak berguna, sekalipun mereka mati, film memberikan sesuatu kepada mereka sehingga kita mengingatnya. Gunn actually memulai dengan swerve, tapi itu sama sekali tidak menghambat ataupun terasa seperti kecohan yang ngebecandain kita. Melainkan dilakukan dengan bersenang-senang dan efektif sebagai pengeset mood pada naskah. 

The Suicide Squad jadi salah satu film paling rame seantero 2021. Aksi-aksinya brutal (karena Gunn enggak shy away dari kenyataan bahwa protagonis ceritanya adalah orang-jahat semua), karakternya unik (grup protagonisnya menarik semua, tidak ada satupun yang satu dimensi, tidak ada satupun yang cuma ‘receh’), dialog-dialog kocak, dan visual yang benar-benar tepat mengenai estetik komik.

My Favorite Scene:
Dari Rat Girl yang steal the show hingga ke Polka Dot Man yang melihat ibunya di mana-mana, film ini berjalan cepat dengan nampilin begitu banyak adegan memorable. Favoritku adalah adegan ketika the squad menyerbu Jotunheim. Berantem dengan latar hujan itu sungguh ngasih intensitas dan jadi panggung yang menarik. Kreativitas Gunn kayaknya keluar semua di situ!

the-suicide-squad-rain

 

 

 

 

 

 

7. BLOOD RED SKY

AAAABdZVhCiwnfZ0fJKLgSYtsGUgJ2KE9OoYPQW7QzR1PdpiHsMbSJFPleDByWj7fCWs-8cdvUFE5ns2OoIkWcHBg8dl8LJREa4gFLKwIsZhvK028a3g0K8EbyTqrSa5fg

Director: Peter Thorwarth
Stars: Peri Baumeister, Carl Anton Koch, Alexander Scheer
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 6.1/10
“Did you drink blood?”

Criminally. Underrated.

Blood Red Sky adalah campuran dari thriller pembajakan pesawat, teror di ruang tertutup, drama seorang ibu, dan juga cerita tentang vampir. Dan walaupun si ibu itu adalah vampir yang berusaha menolong anaknya dari teroris, cerita tidak pernah membuat semuanya mudah. Intensitas selalu naik pada setiap adegan, karena film terus saja memberikan rintangan-demi rintangan. Semua itu berkumpul menjadi sajian mendebarkan, horor yang paling aku ingat sepanjang tahun, sementara juga menyentuh lewat perjuangan ibu terhadap anaknya.

Dewasa ini, horor udah jarang yang berimbang kayak gini. It’s either terlalu artsy, atau terlalu campy dengan jumpscare dan segala macam kekonyolan. Blood Red Sky tampil seperti horor dari era yang lalu. Yang bisa bikin kita duduk tegang, meringis oleh kekerasannya sangat eksplisit, jengkel setengah mati oleh villain yang over-the-top, sambil memikirkan psikologi di baliknya. Dan akhirnya terenyuh oleh hatinya. Coba deh ajak ibumu nonton bareng ini di Hari Ibu

My Favorite Scene:
Hubungan ibu dan anak jadi denyut emosi film ini. Momen paling sedih buatku saat Elias berusaha ngasih comfort dengan sesantai mungkin ke ibunya, menjaga dari matahari, ibunya yang sudah hampir kalah dalam perjuangan melawan naluri zombie, fully knowing bahwa berkat perjuangan berat ibunya itulah mereka masih hidup pagi itu

1ca4bf_f45e2b496622447b8da679b6db4aa851_mv2

 

 

 

 

 

6. THE FATHER

The-Father

Director: Florian Zeller
Stars: Anthony Hopkins, Olivia Colman, Imogen Poots
MPAA: Rated PG-13 for some strong language, and thematic material
IMDB Ratings: 8.3/10
“There’s something doesn’t make sense about this. Doesn’t make sense.”

Dari ibu dan anak laki-lakinya, kita beralih ke cerita tentang ayah yang bikin bingung anak perempuannya. Karena si ayah ini mengidap alzheimer, yang perlahan semakin parah. Membuatnya lupa bukan hanya letak jam tangannya, melainkan siapa dirinya, di mana dan kapan dia berada sekarang.

Tahun lalu ada film Relic, yang juga masuk Delapan-Besarku, yang juga bercerita tentang penyakit mengerikan ini. Tapi dengan elemen horor. The Father bercerita lewat drama dan dialog, tapi tetep terasa sama seramnya. Dan bahkan lebih menyayat hati. 

Film ini unggul bukan saja berkat penampilan akting Anthony Hopkins – living legend – yang luar biasa. Tapi juga berkat penceritaan yang benar-benar membuat kita berada di dalam sepatu karakter Anthony. Yang bisa lupa semua hal begitu saja sedari dia bangun tidur. Film akan menampilkan ruangan yang berbeda (furnitur dan letaknya), memperlihatkan karakter anak yang diperankan oleh artis yang berbeda-beda setiap adegan, sehingga kebingungan itu benar-benar kita rasakan. Maka kita menjadi semakin peduli dan semakin termasuk ke dalam cerita, dan juga kepada meluluhlantakkannya akibat dari penyakit ini.

My Favorite Scene:

Lihat betapa drastisnya perubahan si ayah seiring percakapan seringan kenalan ama pengasuh baru, dan bagaimana sang ayah tampak asing bagi anaknya.

 

 

 

 

 

 

5. YUNI (versi festival)

3350885204Director: Kamila Andini
Stars: Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 8.0/10
“Mending makan cilok!”

Yuni suka warna ungu, nyanyi, makan cilok, silat. Yang tidak Yuni suka adalah dilamar. Karena Yuni masih sekolah, dia ingin ke perguruan tinggi. Yuni adalah cerita yang efektif sekali menggambarkan perempuan muda yang merasa terkurung pribadinya oleh pandangan sekitarnya terhadap perempuan beserta segudang pamali. Membahas perkawinan anak lewat sudut pandang remaja perempuan dengan cara yang sangat tenang tapi menyanyat hati.

Ada dua versi film Yuni. Tapi menurutku, hanya versi untuk tayang di festival saja yang benar-benar pantas disebut sebagai film Indonesia terbaik di tahun 2021. Versi festival benar-benar terstruktur untuk kita menyelami perasaan Yuni yang semakin merasa sendirian. Kuatnya, tidak seperti Lady Di di film Spencer, Yuni tidak pernah mengantagoniskan. Dia berusaha memahami pamali. Konflik seringkali hadir dari tindakan ‘perlawanannya’ tersusul oleh rasa cemas kalo dia telah melanggar ‘aturan-tak-tertulis’ tersebut.

Meskipun gagal di Oscar, dan meskipun versi bioskopnya lebih disukai karena ada nyanyi-nyanyi dan berakhir dengan soften the blow, aku rasa kita semua sepakat Yuni telah menyentuh hati kita. Seperti puisi.

My Favorite Scene:
Penolakan pertama yang dilakukan Yuni udah kayak adegan karakter yang harus membunuh untuk pertama kalinya untuk bisa survive dalam film-film thriller/horor. Perhatikan gimana sedari awal Yuni berjalan, terus mengkonfrontasi si cowok, dan bagaimana Yuni mengulangi kalimat menolak lamaran itu. Great acting, great writing, great directing!

maxresdefault (1)

 

 

 

 

 

 

4. THE MITCHELLS VS. THE MACHINES

AAAABSYF6Rln4hC-Aj5mdZIvmyGIOv4_E3Zoitx0VpDN7kan5rqvyhVIzXnjE-q0mQ8s9GpZee9FOm-3-3HPo_P40AcAfUD-YK-6OQmIlD-wruf-viRwOdSN9io9co4n5g

Director: Michael Rianda, Jeff Rowe
Stars: Abbi Jacobson, Danny McBride, Maya Rudolph
MPAA: Rated PG for action and some language
IMDB Ratings: 7.7/10
“My parents haven’t figured me out yet. To be fair, it took a while to figure myself out.”

Katie Mitchell adalah kita, hobi banget ama yang namanya film. Sampai-sampai dia giat membuat film pendek lucu-lucuan dari berbagai kreasi sendiri. Dan ya, Katie Mitchell adalah kita, yang hobinya tidak disetujui orangtua. In that way, film ini adalah cerita yang langsung gampang kita pedulikan. Hebatnya, film ini menomorsatukan kreasi penceritaan, kehebohan visual. Dan dapatlah kita animasi petualangan super konyol yang bakal terus menghibur dan menyentuh, sedari awal hingga akhir.

Visualnya dibikin sebagai karakter tersendiri. Film ini menggunakan estetik internet dan dunia sosmed, yang tidak hanya sebagai gimmick. Melainkan benar-benar menyatu ke dalam cerita. Kadang film ini terasa terlalu cepat, sehingga kita merasa perlu untuk mempause dan mengulangnya kembali. Bahkan jika kita benar-benar melakukan itu, film tidak akan menjadi bosan. Berkat humor dan dialog yang cerdas di atas karakter-karakter eksentrik yang menyerempet over-the-top itu.

Elemen petualangan bareng keluarga menambah keseruan film ini ampe pol! Tema yang diangkat adalah seputar teknologi, yang actually responsible dalam memperlebar jarak antara anak dengan orangtua. Membuat mereka semakin susah berkomunikasi. Dan walaupun musuh mereka memang robot-robot, film berimbang, tidak benar-benar menjadikan teknologi itu sebagai mutlak antagonis. Ada momen-momen menyentuh ketika orangtua berusaha memahami hobi anaknya dengan nekat mencoba masuk ke dunia teknologi. Bahkan ada adegan ketika ayah Katie harus bisa komputer dulu demi menyelamatkan anaknya

 

My Favorite Scene:
Begitu banyak komedi-komedi dan momen konyol di film ini. Film pun sempat-sempatnya masukin komentar kocak soal perilaku manusia yang telah jadi tergantung sama internet.

 

 

 

 

 

 

3. ANNETTE

c4f5dbff4b44f77ebde5790a94bf515acb4f34fc1df4cf953213db300f706e04-rimg-w523-h296-gmir

Director: Leos Carax
Stars: Adam Driver, Marion Cotillard, Devyn McDowell 
MPAA: Rated R for sexual content including some nudity, and for language
IMDB Ratings: 6.4/10
“Now you have nothing to love.”

Keanehan The French Dispatch hanya bisa disaingi oleh karya Leos Carax ini. Urusan cinta memang rumit dan aneh. Annette menceritakan cinta ‘palsu’ antara dua selebriti panggung yang menghasilkan anak berupa boneka kayu, dengan gaya teater musikal. And I love, every second of this movie.

Dialog-dialog yang dinyanyikan, dengan pengadeganan yang sureal dan hampir semua hal di layar itu tampak artifisial. Awalnya tampak seperti kisah romansa yang manis, tapi kemudian berubah menjadi rencana pembunuhan yang elaborate, ke eksploitasi anak. Karakter pun makin membuat dirinya tak disukai. Dan memang itulah yang diniatkan. Yang dirancang. Memang, akibatnya film ini tidak gampang untuk disukai banyak orang. Tapi dengan begitu, dia sukses menyampaikan gagasan yang dikandungnya. Bahwa manusia adalah makhluk yang tragis ketika kita menganggap hidup adalah panggung. Mungkin paling tepat jika kita menyebut Annette sebagai sebuah opera horor.

Dengan konsep dan konteks seperti demikian, film menjelma menjadi sebuah sajian yang cantik. Aneh iya, tapi cantik. Carax terus ngepush quirk filmnya tersebut. Penampilan para aktor pun jadi ikut terdorong. Akting-akting di sini begitu intens, dan kadang memang membuatku sedikit ngeri juga. Melihat Adam Driver semakin berpusar turun as a human, seiring dengan rash di wajahnya membesar, kadang membuatku takut, tapi kemudian kasian. Benarlah film superaneh, sukar dimengerti kalo terlalu fokus cerna nyanyiannya, ini mampu bikin kita turun naik.

 

My Favorite Scene: Banyak orang akan mengingat adegan ML sambil nyanyi, ataupun adegan baby annette melayang sambil nyanyi. Tapi buatku, yang paling ngena adalah adegan terakhir di penjara. Annette yang udah jadi manusia, dialog sama bapaknya. Feels so unreal. Sampai sekarang pun kalian masih akan mendengarku menyenandungkan lirik dan irama nyanyian mereka.

 

 

 

 

 

 

2. CODA

CODA-1

Director: Sian Heder
Stars: Emilia Jones, Troy Kotsur, Marlee Matlin
MPAA: Rated PG-13 for strong sexual content and language, and drug use
IMDB Ratings: 8.1/10
“You know why God made farts smell? So deaf people could enjoy them too.”

Coda pada dasarnya punya cerita yang sama seperti The Mitchells vs. The Machines. Bakat Ruby gak bisa didengar oleh orangtuanya. Tapi itu karena keluarga Ruby literally gak normal. Ibu, ayah, dan abang Ruby tuli. Dan setting keluarga tersebut eventually membuat Coda menjadi drama keluarga, cerita remaja, yang sama sekali berbeda.

Film ini mengembangkan karakter-karakter tulinya dengan hormat. Dan itu bukan dalam artian karakternya dijaga dan gak dikasih apapun yang negatif. Tidak. Melainkan hormat karena mereka dibuat tidak meminta simpati. Tidak malu dengan kekurangan mereka dalam hal apapun. Drama film ini datang dari Ruby yang gak lagi bisa terus menjadi telinga bagi keluarganya, karena dia sekarang harus mulai membangun hidupnya sendiri. Problematika yang dipersembahkan film ini lewat Ruby, terasa real dan relate. Makin real dan hormat karena film ini melakukan hal yang benar dalam merepresentasikan karakternya.

Perspektif juga dijaga sekali oleh film ini. Tahu kapan harus menarik semua suara dan membuat kita merasakan sepenuhnya yang dirasakan oleh karakter. Selain permasalahan keluarga yang menyentuh hati, film ini juga punya adegan-adegan musik yang indah, adegan khas remaja yang sweet, there are just so many lovable and enjoyable things di film ini.

My Favorite Scene:
Adegan Ruby duduk bersama ayahnya, kemudian dia bernyanyi kepada ayahnya, dan ayahnya mengerti. Truly momen ayah-anak paling kuat seantero film 2021. 

 

 

 

 

Cerminan ideologi, refleksi kasih sayang ibu, gambaran suram penyakit, potret opresi perempuan, perwakilan tunarungu, simbolisme kehidupan keluarga modern, keluarga public figur. Jika representasi adalah hal yang penting untuk dilakukan oleh film, maka aku pun mulai berpikir film apa yang kira-kira cocok untuk melambangkan perjuangan kita semua di era pandemi. Memang dua tahun belakangan ini, ada banyak film yang mencoba untuk menceritakan kehidupan kita tersebut.

Film yang kunobatkan sebagai terbaik tahun ini adalah film yang mencuat karena telah menjadi sindiran yang sangat telak kepada kita semua. Film terbaikku tahun ini adalah sebagai penanda jaman, yang kuharap sepuluh tahun lagi kita bisa menontonnya. Dan barulah saat itu kita semua benar-benar tertawa dibuatnya. Karena kita telah berhasil survive dari yang ia gambarkan.

 

 

1. DON’T LOOK UP

dont-look-up

Director: Adam McKay
Stars: Leonardo DiCaprio, Jennifer Lawrence, Meryl Streep
MPAA: Rated R for language throughout, some sexual content, graphic nudity and drug content.
IMDB Ratings: 7.3/10
“You guys, the truth is way more depressing. They are not even smart enough to be as evil as you’re giving them credit for.”

Lucunya, film ini sama sekali tidak bicara tentang pandemi virus.

Dan itulah yang jadi bukti bahwa satir dan sindiran film ini bekerja dengan sangat efektif. Dua astronom yang menemukan komet hendak menabrak bumi, malah disepelekan, dijadikan alat politik, Presiden lebih mendengar kata bisnisman dan berusaha mengambil keuntungan dari bencana yang sedang otw ketimbang mengambil tindakan pencegahan yang aktual. Ada begitu banyak kemiripan untuk dianggap sebagai kebetulan. Film ini pastilah meniatkan. Film ini pastilah sedang mengutarakan sikap dan pandangan. 

Sindiran itu bukan hanya untuk pemerintah. Untuk kita juga. Karena dari dua astronom itu, yang satu dijadikan bintang televisi sementara yang satu dianggap gila. Kita masih tertarik pada hal-hal yang gak perlu. Pada kecantikan/kegantengan, pada gosip, pada konser-konser dan selebrasi lainnya. Kita mudah kemakan media, yang memang lebih peduli sama rating. Kegocek pengalihan isu dari pemerintah. Tapi bukan hanya sindiran saja, sebenarnya film memperlihatkan kekuatan dan kelemahan kemanusiaan dengan imbang. Hanya manusianya saja yang lebih cenderung memilih yang bego.

Semua itu dilakukan McKay lewat penulisan yang sangat cerdas. Bukan hanya menyindir kita, dia juga mampu membuat cerita dua astronom ini legit dengan struktur skenario yang solid. Gerak kamera dan editing juga efektif dalam menampilkan tone. Tidak sekalipun film tergagap menangkap dan menghidupkan banyak karakter, yang dimainkan oleh ensemble cast yang luar biasa. Bintang-bintang itu bukan di atas sana, tapi di layar kita.

My Favorite Scene:
Buatku inilah film penanda jaman yang tepat. Era pandemi dan era idiocracy digambarkan dengan telak. Ada satu scene yang membuatku ngakak banget, yaitu ketika presiden Meryl Streep ngingetin Leonardo bahwa dia sekarang di lingkaran penguasa di atas. Presiden ngewhip out rokoknya, dan di latar kita melihat mereka berada di ruangan inflamable. Sungguh komentar yang ngena terhadap pemerintah.

kogprogdfd - Copy

 

 

 

 

 

So, that’s all we have for now.

Demikian daftar Top Movies 2021 ini kami tulis. Apabila ada salah-salah kata, lebih dan kurangnya kami ucapkan maaf dan terima kasih.

Apa film favorit kalian di tahun 2021? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2022?

Share with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are…


Tambahkan judul - Copy

We are the longest reigning PIALA MAYA’s BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 
 

SPIDER-MAN: NO WAY HOME, ENCANTO, RED NOTICE, PASSING, VENOM: LET THERE BE CARNAGE, THE KING’S MAN, ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS, dan BUKAN CERITA CINTA (THIS IS NOT A LOVE STORY) Mini Reviews

Resurgence bioskop di paruh akhir 2021 memang melegakan, tapi juga membuatku kewalahan. Antara rilisan bioskop, platform, screening khusus film festival, dengan kerjaan edit video dan nulis lainnya, semuanya jadi “too many things but so little time” buatku. Maka kupikir sudah saatnya untuk mengembalikan salah satu segmen blog ini yang pernah kulakukan di 2014-2015 (yea blog ini sudah setua itu haha), yaitu segmen Kompilasi Mini Review!

Jadi, inilah ulasan film-film baru yang kalian rekues di komen itu, yang udah kutonton tapi selalu tertunda nulis ulasannya, berkumpul di satu artikel. Sekaligus sebagai penutup; last entries untuk penilaian periode 2021 di My Dirt Sheet.

ENCANTO Review

Sampai sekarang aku masih susah percaya kalo Maribel Madrigal di Encanto ini adalah ‘orang yang sama’ dengan Detective Rosa Diaz yang ketus di serial komedi Brooklyn Nine-Nine. But hey, inilah testament dari kualitas voice-acting seorang Stephanie Beatrice. Sebagai Maribel, dia jadi gadis ceria, suka bernyanyi, yang tampak optimis. Nun jauh di dalam, Maribel merasa sangat perlu untuk selalu membuktikan dirinya sebagai bagian dari keluarga Madrigal yang penuh keajaiban. Karena cuma dialah, dari seluruh keturunan neneknya, yang tidak lahir dengan kekuatan spesial.

Di balik visual yang juga sama ajaibnya – menghibur setiap mata yang menonton – Encanto bicara tentang makna menjadi spesial itu sendiri. Pembahasan yang tentu saja penting untuk penonton anak-anak. Dan orang dewasa tentunya. Karena orang dewasa inilah yang biasanya suka nuntut yang macem-macem untuk anak mereka. Cerita Encanto difokuskan kepada keluarga ini saja, tidak ada penjahat atau makhluk yang harus dikalahkan, dan bahkan tidak ada petualangan keluar. Tapi bukan di situlah kekurangan Encanto. Karena departemen adventure tersebut sudah dihandle oleh elemen magic. Rumah keluarga mereka juga ajaib, bisa memuat dunia/tempat lain.

Yang membuat Encanto yang cakep ini terasa kurang greget adalah tidak pernah mencapai note-tinggi. Dengan kata lain, semuanya agak berakhir terlalu kentang. Magicnya tidak pernah terlalu besar. Adegan-adegan musikalnya juga tidak pernah tampak terlalu memorable atau benar-benar refleksi cerita. Melainkan lebih sering sebagai eksposisi. Kekuatan para karakter juga gak unik-unik amat. Bahkan elemen Protagonis yang gakpunya superpower juga sudah cukup banyak kita temui, apalagi di anime. Filmnya enak dipandang, imajinatif, meriah, kuat identitas, punya pesan bagus, hanya sendirinya terasa normal-normal saja.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for ENCANTO.

ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS Review

Escape Room yang ceritanya bland banget dan aktingnya pun standar orang baca naskah itu, bisa ada sekuelnya karena menawarkan dunia yang terlihat bakal bigger, dan konsep death trap berupa game yang lebih fun, less berdarah-darah, sehingga lebih mudah diakses oleh lebih banyak lapisan penonton. Dan sutradara Adam Robitel tampaknya memang sudah merancang semuanya untuk menjadi seperti itu. Film kedua ini malah didesainnya menjadi semacam teka-teki sendiri.

To be honest, aku gak suka (dan gak peduli untuk sampai mau mereview) film pertamanya, tapi toh aku tertarik juga nonton yang kedua. Karena film ini actually dibuat dalam dua versi. Yang tayang di bioskop ama yang tayang di platfom streaming punya perbedaan signifikan pada opening dan ending. Yang membuat franchise ini kayak jadi punya dua jalan yang berbeda. Jadi aku menonton keduanya. Dan memang, kedua versi itu menawarkan thrill yang berbeda, dari konklusi yang berbeda. Namun menurutku, tetap tidak berpengaruh apa-apa terhadap kualitas film ini secara keseluruhan.

Karakternya tetap generic, aktingnya ada peningkatan sedikit, tapi masih seringkali annoying untuk ditonton. Film kayak meniru konsep pertandingan para juara di Hunger Games, tapi tidak berhasil ngasih konteks kenapa harus para juara. Film  jarang sekali balik ke kenyataan bahwa peserta kali ini pernah menang; mereka masih seringkali bego gak jelas. Malah ada satu karakter yang dibikin gak bisa ngerasain sakit, untuk alasan dan kegunaan pada cerita yang sepele. Game-gamenyalah yang jadi penawar utama kebosanan. Set piecenya masih dibangun dengan sangat niat. Aku paling suka bagian pas di ruangan yang diset kayak isi dalam sebuah bank. And that’s all about it.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS.

THE KING’S MAN Review

Produser, penulis, dan sutradara – si Matthew Vaughn – bermaksud ingin lebih bebas berkreasi dalam proyek prekuel ini. Dia cuma perlu mengestablish awal keberadaan agency beserta muasal karakter-karakter yang sudah kita kenal baik. Dan selebihnya, dia ingin mencoba sesuatu yang lebih dari spy-action komedi. Hasilnya, The King’s Man jadi banyak film sekaligus. Ada drama perang. Ada trik-intrik politik. Film ini jadi agak penuh sesak, sukar dilihat arahnya ke mana. Kebanyakan penonton hanya kecewa karena enggak terasa seperti franchise yang sama. Barulah saat elemen spy-action komedi yang familiar bagi kita datang, film ini kembali terasa menghibur.

Keseimbangan adalah kunci. Dan di situlah persisnya film ini kesandung. Bagian awal fokus kepada hal-hal yang ternyata gak perlu. Pada karakter yang ternyata bakal “hilang”. Karena film memutuskan sudah saatnya menjadi komedi seperti sedia kala. Sehingga momen-momen dramatis itu jadi tidak mendarat. Film mungkin bermaksud untuk membuild up. Tapi tidak pernah melakukannya dengan proper. Seperti ada satu sekuen komedi seputar menipu Rasputin dengan menggodanya. Build upnya ternyata hanya membuahkan adegan yang aku bisa mengerti akan dipandang menyinggung oleh sekelompok orang.

Ya, di sini ada Rasputin. Ada karakter-karakter sejarah beneran yang lain juga. Setting sebelum Perang Dunia I cerita ini memang ditarik dari kejadian sejarah kita. Film lantas membentuknya menjadi versi mereka sendiri, yang actually diadaptasi dari komik. Jadi, The King’s Man sebenarnya sedang bermain-main dengan sejarah fiktif dan sejarah nyata. Seharusnya konsep ini yang fokus dikembangkan sedari awal. Seharusnya inilah sumber fun sesungguhnya. Tapi nyatanya, selain action yang fluid dan paham ngasih punchline, yang membuat kita terhibur di sini cuma Rasputin. Dan – sialnya – saat ada karakter di seruduk kambing. 

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE KING’S MAN.

PASSING Review

Tadinya kupikir film ini bakal pretentious. Pakai warna hitam-putih for no reason selain pengen terlihat kayak estetik film jadul. Tapi kemudian debut Rebecca Hall sebagai sutradara ini floored me. Passing ternyata berarti dua. Pertama soal perempuan kulit-hitam yang ‘menyamar’ hidup sebagai kulit putih. Dan kedua, passing yang berarti seperti pada ending menyedihkannya nanti.

Menyamar di sini bukan dalam artian pake make up atau bedak, atau menipu dengan sengaja. Melainkan karena karakternya punya warna kulit yang lebih terang sehingga dianggap putih. Terms ini juga menguatkan tema film yakni di balik warna kulitnya semua orang adalah sama. Mereka bisa passing ya karena – selain warna kulit – tidak ada perbedaan antara sesama manusia, tidak ada yang unggul di atas yang lainnya. Tema tersebut diolah ke dalam drama persahabatan dua orang perempuan, dan di sinilah letak kecemerlangan sutradara.

Hall mau menyelami karakter. Film akan mengambil waktu, memperlihatkan reaksi setenang dan sekecil mungkin. Setiap percakapan dalam film ini, dialognya menguarkan karakter. Hall mau menggali sudut pandang sehingga semuanya ya jadi hitam-putih alias abu-abu. Tidak ada sugarcoating, tidak ada agenda. Kita melihat kejadian dari karakter utama Irene, yang mulai gerah sama kelakuan sahabatnya yang udah lolos jadi kulit putih tapi masih suka ikut keluyuran ke gathering kulit hitam, stealing all the spotlights. Dan film bicara blak-blakan lewat ekspresi dan sorot mata karakternya itu. Sebagai perbandingan, baru-baru ini aku nonton Backstage (2021), di situ ada karakter yang juga nanti jadi kayak iri sama karakter lain, tapi film seolah menghindari dari membahas. Melainkan hanya menampilkan saja. Hampir seperti filmnya gak mau kita merasakan negatif feeling dari si karakter utama. Film Passing gak peduli sama ‘memuliakan’ karakter seperti itu. Hall tahu dia sedang menceritakan manusia, jadi dia benar-benar mengulik perasaan manusia. Maka dari itu, film ini jadi drama yang sangat beresonansi.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PASSING.

 

RED NOTICE Review

Satu kata yang paling cocok menilai film ini. Mubazir.

Kalian punya tiga aktor versatile – drama bisa, komedi bisa, action bisa – tiga aktor yang lagi hit-hitnya. Tapi kalian hanya menggunakan aktor-aktor itu untuk namanya saja. Tidak benar-benar memberikan mereka sesuatu yang baru, atau bahkan tidak memberikan mereka karakter dan actual cerita. Film ini mecahin rekor Netflix, karena ya dimainkan oleh The Rock, Gal Gadot, dan Ryan Reynolds. Film ini ditonton, tapi aku yakin seratus persen gak ada satupun dari kita yang merasa dapat apa-apa darinya. Hanya hiburan kosong. Ibarat snack, film ini snack yang isinya angin doang.

Porsi aksinya? Red Notice hanya melakukan ulang aksi-aksi yang sudah pernah ada dalam film action sebelumnya. Pun, film ini tidak melakukan hal yang lebih baik dari film-film itu. Tidak menambah perspektif ataupun sensasi baru. Melainkan melakukannya dengan, kayak malas-malasan. Adegan di scaffold bangunan di awal itu misalnya. Aku bisa menyebut setidaknya dua film action lain yang sudah lebih dahulu melakukan itu dengan jauh lebih baik (Rush Hour 2 dan Shang-Chi). Red Notice, udahlah actionnya gak baru, film pun tidak memberikan karakter untuk dimainkan oleh para aktor gede itu. Film hanya menyuruh mereka jadi ‘diri sendiri’, atau at least jadi diri mereka yang paling menjual kepada penonton. Tidak satu kalipun saat menyaksikan film ini aku merasa peduli ataupun mengkhawatirkan mereka. Karena yang mereka lakukan di sini ya cuma menjalankan aksi-aksi aja dengan lucu-lucuan. Gak ada stake, gak ada rintangan. Seolah film takut gak laku kalo karakternya tampak susah dalam melakukan aksi.

Huh, judul film ini harusnya Red Flag aja. Biar siap-siap untuk yang terburuk saat hendak menontonnya.

The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for RED NOTICE.

SPIDER-MAN: NO WAY HOME Review

Bicara tentang film yang mau bikin senang penonton… Penutup trilogi ‘Home’ Spider-Man ini adalah juaranya! Konsep multiverse akhirnya fully dijalankan, dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesenangan penonton. Tiga Peter Parker bahu-membahu melawan musuh-musuh terkuat dalam film-film mereka selama ini. Interaksinya, nostalgianya. Film juga paham, punya selera komedi yang bagus, sebab kita akan tergelak melihat beberapa kali mereka saling becandain universe masing-masing. Aku sama sekali belum pernah merasakan pengalaman nonton film serame ini. Udah kayak lagi nobar Smackdown! Penonton ngecheer, tepuk tangan, tertawa bersama. Experience yang luar biasa.

Hebatnya, konsep multiverse itu bukan cuma dipasang sebagai cheap way untuk bikin penonton senang saja. Drama film ini actually datang dari pemanfaatan cerita tentang multiverse itu. Di sinilah untuk pertama kalinya Peter Parker Tom Holland harus mengambil keputusan dan bertanggungjawab sendiri. Di sinilah dia baru menyadari penuh resiko dan apa artinya menjadi seorang superhero bagi kehidupan dirinya. Dia pengen nyembuhin para penjahat, memang tampak kayak keputusan bego. Tapi Peter memang masih naif, dia harus benar-benar paham bahwa menjadi superhero itu bahaya, dan betapa pilihan seseorang benar-benar membentuk siapa mereka. Bagaimana dengan Peter-Peter lain dan karakter dari dunia lain? Mereka semua dihadirkan kembali dengan arc masing-masing. Semua bakal dapat pembelajaran, dapat second chance. Semakin menambah bobot drama muatan film ini.

Kekurangan film ini buatku hanyalah beberapa pengadeganan masih terasa seperti template. Kreasi atau katakanlah arahan sutradara belum tampak ciri khasnya, padahal sudah tiga film. Ada beberapa adegan yang awkward, kayak para penjahat berdiri diam gitu aja (kayak nunggu giliran) sementara karakter lain sedang ngobrol. Adegan aksinya juga heavy CGI, dan tidak sering diperlihatkan seperti karakter yang mengalami pembelajaran saat berkelahi itu. Hanya berupa aksi-aksi keren semata.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SPIDER-MAN: NO WAY HOME

THIS IS NOT A LOVE STORY (BUKAN CERITA CINTA) Review

Hidden gem di perfilman Indonesia. Tidak banyak yang bicarain soal film ini, padahal dia dapat award di Jakarta Independen Film Festival 2021 dan masuk short list FFI tahun itu. Aku juga tadinya gak aware. Cuma setelah bete dan kecewa berat nonton Aum! (2021), kami nyetel film ini, dan aku bilang aku jauh lebih suka ama film yang ini!

Ceritanya tentang seorang pemulung yang menemukan perempuan di truk sampah. Perempuan berkursi roda itu ternyata masih hidup, cuma tidak bisa bicara dan tidak mau bergerak. Sepertinya trauma. Maka, si pemulung membawa perempuan itu ke rumah. Tadinya ngarep ada yang nyariin dan dia bakal dapat duit imbalan. Tapi lewat berhari-hari gak ada yang nyariin. Si pemulung akhirnya tetap merawat dan mereka jadi akrab dengan cara mereka sendiri. Man, penampilan akting dan arahannya semua terlihat natural. Gak ada yang dibuat-buat. Gak ada drama yang dipancing-pancing dengan over. Sesuai judulnya, ini bukan cerita si cowok pemulung nanti jadi jatuh cinta. It was more than that. Ini bentuk cinta yang lain. Nonton ini kayak nonton kehidupan asli, dan kita jadi ikut peduli dengan kehidupan mereka. Sidi Saleh juga menambahkan lapisan berupa keinginan pemulung untuk jadi aktor, yang memperdalam bahasan dan karakter cerita.

Dijadikan 3 jam pun kita akan tetap betah menontonnya. Namun film mulai goyah saat keperluan untuk mengungkap misteri siapa perempuan itu datang. Gaktau sih, menurutku sebenarnya gak usah dijawab juga gak apa-apa. Ketika dijawab, justru akan jadi datar. Film juga kayaknya sadar, maka mereka memilih jawaban yang vague. Yang malah bikin akhiran film menjadi lebih tidak memuaskan lagi. Di samping akhiran dan elemen misterinya tersebut, This Is Not A Love Story adalah drama kehidupan yang solid, menarik, dan sederhana. Pure bercerita.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THIS IS NOT A LOVE STORY

VENOM: LET THERE BE CARNAGE Review

Venom dan Carnage adalah karakter yang dimaksudkan sebagai counter dari Spider-Man. Mereka adalah sisi jahat dan keliaran dan chaos. Dan fun. Tapi semenjak film pertamanya, Venom enggak pernah benar-benar fun. Ada sisi menghiburnya, tapi gak seberapa. Gak seperti yang dibayangkan. Maka di sekuel ini, Andy Serkis ingin melipatgandakan semua. Dan hasilnya adalah kebisingan yang nyaris bisa aku nikmati.

Fun dalam film ini adalah ribut-ribut bertengkar bahas makan ayam atau makan manusia. Berantem ngambek-ngambekan. Udah kayak ditulis oleh anak-anak untuk anak-anak. Sony kayak ingin berusaha keras biar bisa kayak Marvel, tapi pada akhirnya hanya ‘menyakiti’ karakter-karakternya. Carnage direduce dari serial killer menjadi… serial killer yang gak ngelakuin hal yang unik. Sia-sia aja pakai Woody Harrelson, yang udah pengalaman jadi pembunuh dalam film. Tom Hardy di sini juga kayak berusaha keras untuk tampak vulnerable, dia pengen jauh-jauh dari kehidupan Venom, namun pada akhirnya jadi bucin juga. Karena film actually juga membahas tentang hubungan cinta. Sampai-sampai ada juga yang menghubungkan Venom dan Eddie Brock sebagai relationship queer. LOL. Itulah yang terjadi kalo film yang benar-benar ngasih pegangan; Penonton bakal menggapai, meraih apapun dengan liar untuk jadi pegangan.

Film ini mau bicara banyak tapi bangunan ceritanya sendiri begitu sederhana. Dan pada akhirnya mereka tetap bertumpu pada aksi. Yang memang lebih menghibur daripada film pertamanya. Kali ini pencahayaannya gak gelap-gelap amat. Mereka berusaha sebisanya ngasih adegan berantem dua monster pemakan manusia menjadi tetap seru dengan rating sensor PG-13. Adegan paling penting film ini saja sebenarnya hanya adegan extra saat kredit penutup, yang sekarang terbukti cuma bait kosong saja.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for VENOM: LET THERE BE CARNAGE

 

That’s all we have for now

Dengan ini, berakhirlah sudah penilaian untuk 2021. Jangan lupa cek Youtube My Dirt Sheet untuk Rapor Film Caturwulan III, yang bakal ngasih insight soal penilaian dan periode akhir. Dan setelah itu, tungguin juga daftar TOP-8 MOVIES 2021 yang bakal publish segera di blog ini.

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DON’T LOOK UP Review

“It’s funny because it’s true”

 

Film-film tentang bencana selalu dimulai dari presiden yang tidak mendengarkan ilmuwan. Kalimat yang jadi meme di internet tersebut lucu, karena memang begitulah biasanya cerita-cerita bencana dalam film terjadi. Tapi kalimat tersebut mulai tidak lagi demikian lucu, ketika orang-orang menyadari kejadian itu sedang terjadi juga di dunia nyata kita. Bahwa film – karya seni – memanglah meniru kehidupan. Jadi orang-orang mulai ngebash Don’t Look Up. Komedi satir terbaru dari Adam McKay yang tega-teganya menyinggung soal reaksi pemerintah – reaksi manusia – terhadap pandemi Covid-19, di balik kedok cerita yang berdasarkan laporan jurnalis perihal perubahan iklim atau global warming. But hey to be fair, mungkin sebelum menggodok naskahnya McKay tidak meniatkan, bahkan belum tahu bakal ada pandemi. Tapi catatan dunia menangani pandemi baik itu di Amerika, hingga Indonesia, seperti menuliskan diri sendiri ke dalam naskah McKay. Sehingga dia membuat film ini seperti sebuah cerita pandemi yang tidak bicara tentang pandemi!

Jadi, kita-kita sendirilah – reaksi kita menghadapi pandemi, reaksi kita terhadap film ini – yang actually memberikan power kepada Don’t Look Up. The joke is on us. Untungnya Don’t Look Up lebih bijak daripada sekadar cerita yang menuding kebegoan umat manusia. Karena di balik komedi-gelapnya, McKay telah menggariskan bukan jawaban, melainkan lebih seperti gagasan soal lebih menghargai hidup dan kalo bisa kita semua kurang-kurangilah ego hidup di dunia fana.

lookmXkEyXkFqcGdeQWRvb2xpbmhk._V1_
Kalo kata Max Black di Twitter “Kirain drama, ternyata film comety”

 

Di mataku, McKay punya reputasi sebagai sutradara yang mampu menjelaskan banyak hal rumit dengan sederhana dan malah lucu. Seperti, ketika di The Big Short (2016) dia berhasil menjelaskan peristiwa krisis finansial 2007-2008 lengkap beserta istilah-istilah ekonomi dan perbankan dengan nada komedi yang solid sehingga aku yang sama sekali buta akan hal tersebut tidak terbengong-bengong, malahan sangat menikmati dramanya. Sehingga sekarang, bagiku menarik sekali melihat pendekatan yang ia lakukan dalam mempersembahkan masalah perubahan iklim ke dalam kiasan sci-fi tentang komet yang jatuh menimpa bumi. Yang dilakukan McKay di sini adalah membuat permasalahan iklim ataupun komet yang sering disepelekan banyak orang karena jauh alias masih lama itu menjadi terasa amat, sangat, superduper dekat. 

Bagi astronomer, nemuin komet merupakan prestasi. Bisa menamai komet dengan namamu adalah salah satunya. Tapi perayaan komet yang dilihat Dr. Mindy dan muridnya, Kate Dibiasky terpaksa harus berakhir prematur. Karena menurut hitungan, komet besar tersebut ternyata melaju menuju bumi. Tepatnya, akan membuat bumi kiamat dalam waktu sekitar enam bulan lagi. Jadi Dr. Mindy dan Kate harus segera melaporkan temuan mereka ke presiden, dengan harapan tindakan pencegahan bisa segera dilakukan. Namun, reaksi Bu Presiden, orang-orang yang berkepentingan, dan bahkan sebagian masyarakat pun ternyata tidak seperti yang diharapkan oleh Dr. Mindy dan Kate.  

Presiden yang hanya peduli sama citra. Yang cuma mau bergerak jika itu berarti keuntungan perolehan suara baginya, maka selalulah diadakan selebrasi. Media yang suka menutupi kejadian dan lebih milih mendahulukan rating. Masyarakat dan netijen yang failed untuk melihat kepentingan suatu hal, melainkan lebih tertarik pada gosip dan pada betapa gantengnya orang yang muncul di televisi. Pada gambaran-gambaran sosial seperti inilah satir dan sindiran Don’t Look Up menunjukkan performa sangar yang jadi hiburan utamanya. Bencana yang mestinya bisa cepat diatasi, jadi lama dan berlarut-larut karena bukan saja menyepelekan dan tidak percaya, pemerintah lebih suka untuk mengurusi dulu isi kantongnya. Dan orang-orang terombang-ambing sehingga akhirnya turut mengambil keputusan salah dan bego karenanya. Di sinilah kita dengan gampang menarik garis kepada penanganan pandemi yang parah dari pemerintah. Running gag soal snack gratis yang dijual oleh komandan tinggi negara itu? Yup kita gak salah jika mengaitkannya denagn keputusan pemerintah menjual kepada rakyat hal-hal yang semestinya gratis dan seesensial makanan. Film ini dibuat oleh orang Amerika yang resah sama pemerintah mereka yang pinter-pinter blo’on. Dan sebagaimana yang terbaca, lucunya, film ini juga terasa sama dekatnya bagi kita yang orang Indonesia.

Beneran, cuma perlu sedikit perubahan kok untuk membuat film ini benar-benar relate total sama Indonesia. Perubahan kayak, dituker; si Jonah Hill yang jadi presiden dan Meryl Streep jadi sosok di belakangnya yang dibecandain orang sebagai ibunya. Atau karakter bilyuner gadget yang diperankan Mark Rylance dibuat mengharuskan semua orang ngeinstall app buatannya untuk perlindungan dari komet.  I’m sorry jika terdengar terlalu political. But yea, everything is about politics. Film ini jelas dibuat berdasarkan ketidaksukaan terhadap itu. Karena padahal tidak semuanya mesti harus politik. McKay actually nulis dialog soal kenyataan sesungguhnya bahkan lebih parah, karena mereka-mereka (pemerintah) itu tidak sepintar itu untuk menjadi sejahat yang kita kira. Karena memang padahal ada hal yang lebih penting. Kesehatan, keselamatan hidup orang banyak. Keselamatan planet. Film menuliskan concernnya dengan sangat cerdas. Menyindir dengan, turns out, sangat tepat. Makanya terasa sangat lucu. 

lookvlcsnap-2021-12-25-11h42m56s324
The writing is funnier than most comedies I’ve watched this year.

 

Di balik satirnya itu, film sesungguhnya ingin memperlihatkan yang terburuk dan yang terbaik dari umat manusia. Bukan salah film kalo yang ia gambarkan jadi betul-betul relevan sehingga kayak menunjuk-nunjuk muka kemanusiaan. Karena yang ditampilkan sebenarnya berimbang. Penggalian mendalam dari sosial penanda jaman yang kita rasakan. Betapa mudahnya orang yang dijadikan meme walaupun sesungguhnya dia yang benar, itu juga digunakan untuk menunjukkan betapa lihainya kita terhadap teknologi. Menggelar konser kemanusiaan, sekilas tidak berarti langsung kepada masalah, tapi itu juga jadi bukti kuatnya persatuan jika kita semua sudah sadar. Don’t Look Up bukannya tidak ada plot. Ilmuwan Dr. Mindy dan Kate bukanlah ada di sana untuk memperingatkan semua orang dan mereka selalu benar. Masing-masing juga punya kesalahan.

Ada pilihan yang mereka ambil, yang berujung pada pembelajaran. Pada Dr. Mindy yang diperankan penuh range emosi oleh Leonardo DiCaprio, kita melihat development dari seorang profesor yang belum publish jurnal, nervous jadi pusat perhatian tapi dia pengen membuktikan diri, dan akhirnya terlena juga ketika mendapat sedikit attention dan posisi. Dan bahkan karakter yang difungsikan sebagai kompas moral seperti Kate, juga punya drama. Jennifer Lawrence jadi korban bully udah seberpengalaman DiCaprio jadi korban bencana alam; di sini Kate yang ia mainkan adalah karakter yang paling amburadul oleh kejadian. Dia yang nemuin, tapi dia yang paling diledek, diacuhkan, dikucilkan. Mencapai emosional seperti itu dengan tetap menjaga tone yang humorous jelas bukan prestasi mudah. Kate-lah yang menghantarkan kita kepada elemen agama yang dimuat oleh film ini. Elemen yang sekilas kayak di permukaan, tapi sesungguhnya punya statement yang tak kalah kuatnya. Elemen itu datang dari ‘tempat’ yang tak terduga, dan actually adalah yang paling dekat dengan jawaban yang dipunya oleh manusia di film ini. Karena lowkey film ini bicara tentang kesombongan manusia yang merasa punya power di dunialah yang membuat kiamat itu tampak berlipat kali lebih buruk.

Masih banyak lagi aktor-aktor gede yang ikut bermain di sini, dan mereka semua on-board banget dengan yang ingin disampaikan oleh film. Mereka total menghidupkan karakter-karakter mereka yang tampak konyol. See, mereka di sini tidak berusaha keras untuk tampil konyol, karakter-karakter mereka yang begitu relate dengan kejadian yang terjadi di dunia nyatalah yang membuat mereka lucu. Lucu yang ironis, yang membuat kita balik mempertanyakan diri “Mau sampai kapan kita hidup sekonyol ini?” Jadi, ya di balik komedi memang ada kesuraman yang merayap. Ada suatu ketakutan bahwa dunia kita bisa saja berakhir seperti yang diperlihatkan film. Ini membuat kita jadi sejajar dengan karakter film yang takut dunia mereka dihantam komet. 

Banyak karakter, banyak sindiran komedi, banyak dark yang melatarbelakangi, film ini tidak sekalipun tersandung dalam menampilkan semuanya. Kamera film tidak terjebak (dan tidak merasa perlu) untuk menyorot ensemble cast sekaligus dalam satu frame. Melainkan fokus kepada menghasilkan berbagai rasa yang diniatkan. Cut-to-cut film memang terkadang tampil too much pada bagian eksposisi dan pada bagian membandingkan dua kejadian sekaligus, tapi saat menguarkan komedi ataupun yang bikin kita geram, film dengan bijak fokus memperlihatkan reaksi dan ekspresi. Sehingga walaupun pace film terasa cepat, kita tidak merasa kebingungan ngikuti cerita ataupun perasaan yang diniatkan, tidak merasa ketinggalan. Semuanya tampil dengan keseimbangan luar biasa.

 

 

 

Baru inilah film yang benar-benar menjadi penanda era pandemi. Era idiocracy. Dan film ini bahkan sama sekali tidak bicara tentang virus tersebut. Tidak ada masker-maskeran, tidak ada lockdown-lockdownan. It was supposed to be kiasan global warming. Tapi kita jualah yang membuatnya bahkan terasa lebih relevan lagi.  Berisi sarkas yang dikemas ringan dan sangat menghibur, komedi dari awal hingga akhir tanpa pernah kehilangan bobot dari komentar-komentar dan sindiran yang dilayangkan. McKay menunjukkan kualitas penulisan yang cerdas. Dia paham mengolah cerita tanpa keluar dari fokus. Begitu banyak yang bisa salah dalam film ini, berkat beragamnya elemen yang dimuat, elemen yang bekerja. Dia dengan berani menghantam semua. Aku tidak akan meminta film ini untuk melambat, atau menyuruhnya berhenti mengejek kita. Seperti komet itu. Ya, seperti komet. Film ini datang sebagai cerminan atau kiasan dari yang terjadi di dunia nyata. The only time kita menunduk seharusnya adalah untuk merenungkannya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for DON’T LOOK UP.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah keadaan di Indonesia sekarang pantas untuk dibuatkan film komedi sendiri? Genre apa yang kalian buat berdasarkan Indonesia?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE POWER OF THE DOG Review

“One of the greatest tragedies in life is to lose your own sense of self…”

 

Cerita Benedict Cumberbatch yang ‘terguncang’ oleh kedatangan pemuda bernama Peter ke dalam rumahnya, ke dalam dunianya, kali ini bukanlah tentang kekuatan laba-laba. Melainkan, tentang power dari seekor – atau katakanlah seorang – the dog. Dog yang seperti apa? Karya Jane Campion terbaru ini memang sangat berlapis sehingga bisa dilihat sebagai cerita tentang seorang alpha-dog yang menunjukkan dominasi, ataupun sebagai perlawanan seorang under-dog . Namun tak peduli dari sisi manapun kita melihatnya, film ini tetaplah merupakan sebuah tragedi karakter. Film, dengan karakter dan narasi yang kompleks terkait maskulinitas, yang akan membuat kita terpaku di depan layar. Merasakan setiap gigitan yang hadir pada adegan terakhir yang memang berjalan jauh sekali dari yang biasa kita dapatkan dari cerita yang berpusat pada hubungan dua orang seperti ini.

Setting jaman koboi (Campion menyulap New Zealand menjadi Montana tahun 1920an) hanya menambah lapisan yang jadi bobot pada narasi bertema maskulinitas. Kita semua tahu koboi kerjaannya macho banget. Berpanas-panas di luar, mengembala sapi-sapi. Harus punya ketangguhan, punya ketangkasan melebihi kuda yang ditunggangi, serta jago dengan pisau dan tali laso. Karakter yang dimainkan Cumberbatch dengan begitu menakjubkan dia udah beda banget ama yang sudah terbiasa kita lihat; Phil, adalah koboi yang paling koboi di antara para koboi. Dia jadi semacam mentor bagi para koboi lain yang bekerja di peternakan yang ia kelola bersama adiknya, George (Jesse Plemons jadi penyeimbang buat karakter saudaranya). Sikap Phil yang cenderung kasar dan haus untuk membuktikan dominasi dirinya hampir setiap waktu itu pada awalnya tampak seperti karena ia pengen menyejajarkan diri dengan sosok seorang yang telah melatih dan mengajari mereka dahulu. Seiring durasi kita akan mulai melihat ada sesuatu yang lebih personal di balik motivasi Phil tersebut. Bahwa ada alasan yang sangat pribadi di balik sikap keras yang ia tonjolkan.

dog253af6f9-e444-437a-b85f-05148ee9a662
Ngebiri sapi aja dia ogah pakai sarung tangan, saking mau nunjukin “gue cowok banget!”

 

Sepuluh menit pertama film ini efektif sekali dalam melandaskan karakter Phil, serta karakter-karakter kunci lainnya. Menunjukkan pergolakan batin yang sedang tembak-tembakan di dalam dirinya. Phil memimpin George dan beberapa orang koboi lain masuk ke tempat makan. Di meja dia melihat kerajinan bunga dari kertas. Hanya Phil yang bereaksi terhadap bunga itu. Kita bisa melihat dia tertarik, tapi si koboi jagoan ini menutupi ketertarikan tersebut dengan low-key meledek bunga itu. “Cewek mana ini yang bikin?” Begitu kira-kira celetuknya. Tatkala mengetahui bahwa bunga itu dibuat oleh anak pemilik tempat makan tersebut; seorang pemuda kurus tinggi bernama Peter (Kodi Smit-McPhee menghidup karakter ini luar-dalam), makin menjadi-jadilah ledekan Phil. Peter ampe kabur dari sana (sepertinya nangis), meninggalkan ibunya (Rose, diperankan oleh Kirsten Dunst dengan tak kalah kompleksnya) bekerja sendirian malam itu.

Bagi kita, hampir clear sebenarnya saat itu Phil malu kalo yang lain sampai nyadar dirinya tertarik sama bunga buatan cowok. Dia meledek, supaya gak ketahuan perasaan yang sebenarnya. Film lantas mendorong kita untuk bertanya lebih lanjut, sejauh apa sebenarnya ketertarikan Phil. Kekompleks-an karakter Phil datang dari sini. Dari bagaimana yang ia tampilkan di luar bukanlah siapa dirinya yang sebenarnya. Maka kehadiran Peter – yang sebenarnya membuatnya tertarik – jadi ancaman untuk siapa Phil di luar tersebut. Jadi ketika George ternyata memutuskan untuk menikahi Rose yang janda, yang effectively membawa serta Peter ke dalam lingkarannya, Phil jadi marah. Kepada Peter, kepada George yang menurutnya berkhianat, dan tentunya juga kepada Rose. Film ini tak berhenti sampai kepada perspektif Phil seorang. Karena Peter juga digali. Film malah dibuka dengan monolog suara Peter berbisik tentang melindungi ibu merupakan tugasnya sebagai seorang pria. Dua kebutuhan untuk membuktikan diri sebagai cowok, yang termanifestasi ke dalam dua wujud berbeda inilah yang menghantarkan kita kepada hubungan yang tragis, yang baru benar-benar digali pada paruh kedua cerita.

The Power of the Dog memang memerlukan waktu lama untuk bisa kita benar-benar mengerti berjalan ke arah mana. Itu bukan semata karena set upnya yang banyak, melainkan juga karena konteks karakternya itu sendiri. Phil gak mau semua orang tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Terlebih dia hidup di masa pandangan soal preferensi seksual masih terbatas, dan di tempat yang menuntutnya untuk benar-benar macho. Dan ‘semua orang’ di situ, adalah termasuk kita. Penontonnya. Kita tahu Phil menutupi perasaan aslinya terhadap bunga – dan mungkin terhadap Peter, kita tahu dia look up kepada sosok mentornya yang sudah tiada, tapi kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang diinginkan Phil sebagai seorang manusia. Tidak hingga pertengahan itulah kita baru mengerti bahwa Phil merindukan koneksi dengan orang lain, sebagaimana koneksi yang ia rasakan dengan sang mentor. Koneksi, yang berupa relationship. Naskah benar-benar mewujudkan tembok itu dengan actually menghalangi kita lebih lanjut melihat Phil. Kita malah sering berpindah ke Peter, yang juga diberikan tembok sama tebalnya. Yang juga tidak bisa kita lihat apa sebenarnya yang dirasakan oleh karakter yang pengen jadi dokter bedah ini, selain motivasi vague soal melindungi ibu.

Insecurity yang mengakar menjadi toxic masculinity adalah tema dalam The Power of the Dog. Pada pengembangannya, tema ini mengambil wujud cerita yang sangat tragis. Keengganan Phil menunjukkan dirinya yang sebenarnya, Phil yang memilih untuk menyembunyikan dirinya atas nama martabat dan kejantanan, akan membawanya menuju akhir yang pahit. Tidak ada yang tahu siapa dirinya yang di dalam sana, semua sia-sia hanya karena tuntutan untuk tampak macho. Dan racun itu juga menjangkiti orang lain seperti yang kita lihat pada tindakan yang diambil Peter.

 

Maafkan kalo terasa sedikit terlalu banyak spoiler. Karena walaupun memang fokus kepada karakterisasi, tapi film ini dibangun dengan konteks karakter yang menutupi siapa dirinya dari orang lain termasuk kita, sehingga untuk membicarakan mereka kita perlu membeberkan aksi yang mereka lakukan. Dan itu berarti terpaksa sebagian besar kejadian filmnya harus disebutkan. Seperti soal Peter tadi. Awalnya sekilas dia memang seperti karakter underdog, yang dikatain lemah, tapi ternyata punya ‘kekuatan’ sendiri. Yang punya cara sendiri dalam membawa diri. Di antara cowok-cowok toxic lain, yang meledek kefeminimannya, gampang melihat karakter ini sebagai “oh mestinya Phil lebih jujur seperti Peter ini”. Tidak ada yang disembunyikan oleh Peter, dia terang-terangan mempersembahkan siapa dirinya apa adanya. Dia main hulahop tanpa masalah, dia bikin bunga, dan sebagainya. Namun melalui aksi final yang ia lakukan kepada Phil, atas nama ‘cowok harus melindungi ibu’ yang ia sebut pada pembukaan film, kita lantas melihat karakter ini juga ngalamin maskulinitas yang enggak sehat. Bahwa ternyata dia juga ada menyimpan rahasia, dia abai sama perasaan asli yang mulai ditunjukkan Phil kepada dirinya. Keberaniannya melakukan hal di akhir tersebut, malah membuat kita mempertanyakan kembali motivasinya. Apakah dia benar-benar murni melindungi ibu, atau ini jadi soal balas dendam dirinya yang pernah disakiti.

dogBenedict-Cumberbatch-The-Power-of-the-Dog-film-netflix
Gak heran kalo koboi sering dijadiin model iklan rokok, supaya cowok pada beli

 

Itulah mengapa The Power of the Dog kusebut sebagai salah satu film paling kompleks yang bisa kita tonton tahun ini. Dan juga salah satu yang paling tragis. Kedua karakter sentral itu sama-sama jatoh menyedihkan. Karena sama-sama salah menakar apa itu kejantanan atau maskulinitas. Cuma memang cerita film ini pada paruh pertama agak menuntut kesabaran untuk diikuti. Kita diperlihatkan dua perspektif, yang sama-sama tidak bisa kita tembus. Kita hanya mantengin para karakter, mengarungi berbagai kejadian, dengan pace yang cukup lambat. Film ini actually dibagi menjadi lima bagian; Transisi yang menunjukkan visual angka romawi 1 sampai 5 berlatar hitam muncul setiap kali film loncat ke periode cerita yang lain. Bagian ini di paruh awal bertindak hampir seperti episode, karena membahas kejadian yang berbeda. Dan ini membuat film semakin melebar karena isinya juga membahas tentang George dan istrinya, Rose yang merasa canggung harus tinggal di dekat-dekat Phil yang sangat kasar kepadanya. Dengan kata lain, paruh awal ini memang membahas banyak sudut. Banyak dialog yang memaparkan backstory. Itu semua karena film tidak mau kita lekat kepada Phil.

Yang juga membuat semakin susah dari konteks karakternya itu adalah film jadi tidak bisa menyerahkan karakter utama yang jelas. Kita tidak tahu harus peduli kepada siapa. The easy guess tentu saja adalah Peter, apalagi suara dialah yang membuka cerita, tapi begitu Phil sudah ‘melunak’ garis itu kembali menjadi kabur. Setelah midpoint, cerita mulai lebih enak untuk diikuti. Elemen romansa mulai mencuat. Sementara di belakang mereka, kita mendengar komposisi musik yang dominan biola juga terasa semakin intens. Film ini mendekati klimaks dengan menguarkan perasaan uneasy dari kontras musik dengan adegan yang kita lihat. Untuk kemudian benar-benar menjadi tragis di ending.

 

 

 

 

Aku sama sekali gak menyangka itu semua. Aku pikir ini semacam drama koboi ala western flick yang setidaknya lebih berat daripada yang biasa. Turns out, film ini punya kekuatan penceritaan sendiri yang membuatnya berbeda, dengan bahasan yang berdaya pula. Dalam kisah lain, konteks yang membuat karakter utama berjarak dengan penonton, tidak akan berhasil menjadi tontonan yang efektif. Namun pada kisah ini, konteks tersebut walaupun menyulitkan penonton, tapi benar-benar sesuai dan actually menambah bobot pada karakter dan ceritanya itu sendiri. Paruh pertama memang agak lambat dan berpotensi bikin bosan. Namun semua itu hanyalah set up untuk paruh berikutnya yang benar-benar tragis. Dan membuat gagasan film jadi menggaung lama.  
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE POWER OF THE DOG.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now

Sebelum ini kita udah menyaksikan pria yang hobi ngajakin orang berantem demi membuktikan kejantanannya dalam film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Menurut kalian apakah persamaan dan perbedaan soal toxic masculinity yang diperlihatkan film tersebut dan pada film The Power of the Dog ini?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TICK, TICK…BOOM! Review

Time is what we want most, but what we use worst”

 

 

Hidup itu berharga karena ada batasnya. Tanyai saja setiap vampir yang kalian tahu. Mereka pasti akan berkata hidup abadi itu membosankan. Karena tidak ada deadline, kau punya kesempatan sebanyak yang dimau. Tidak ada lagi urgensi di dalam hidup jika kita punya waktu yang tak terbatas di dunia. Heck, kita terpikir untuk pengen hidup seribu tahun lagi hanya karena kita tahu hidup ada masa kadaluarsanya. Jika kalian tidak punya kenalan vampir untuk memberitahu pentingnya waktu, maka kalian cukup menonton kisah hidup Jonathan Larson dalam biografi musikal Tick, Tick…Boom! yang merupakan debut penyutradaraan dari aktor, penyanyi, dan komposer Lin-Manuel Miranda.

Batas atau umur itulah yang sebenarnya memberikan excitement dalam hidup. Kita melakukan passion kita, mengejar impian kita, karena kita tahu kita mungkin tidak bakal dapat mencapai semua itu karena waktu kita bakal habis. Makanya kita semua pengen dapat tambahan waktu, padahal yang penting dari waktu tersebut bukanlah seberapa banyak yang kita punya. Melainkan apa yang kita lakukan untuk mengisinya.

 

Memang tepat bila disebut Miranda membuat film ini sebagai surat-cinta untuk pencipta teater musikal – yang disebut oleh karakter ceritanya sebagai “spesies yang terancam punah”. Cara bercerita yang digunakan Miranda ‘terdengar’ oleh kita sebagai sebuah ekspresi penuh rasa syukur dan cinta yang dipersembahkan kepada seni tersebut, dan kepada tokoh pembuat-pembuatnya. Khususnya kepada Jonathan Larson. Seorang sutradara teater musikal yang menelurkan karya fenomenal, tanpa pernah melihat karyanya tersebut dimainkan. Larson meninggal dunia pada malam sebelum show Rent ditampilkan. Agak tragis, tapi tak pelak sungguh menginspirasi. Tick, Tick…Boom! however, dihadirkan tidak berfokus kepada Rent karya Larson yang fenomenal itu, melainkan kepada sosok si Larson sendiri. Perjalanan yang ia tempuh sebelum ia bahkan punya, katakanlah, nyali untuk membuat Rent.

Menjelang ulangtahunnya yang ketigapuluh, Larson (peran musikal pertama bagi Andrew Garfield!) mulai galau. Krisis eksistensi menerpa dirinya. Larson merasa belum mencapai apa-apa. Dia yang kerja di diner, belum jadi orang. Mimpi-mimpinya di masa muda sama sekali belum kesampaian. Karya musikal yang ia ciptakan terus saja ditolak. Atau lebih parah, dicuekin. Bertekad untuk membuat sesuatu atas namanya, Larson kini memusatkan diri untuk proyek musikal rock, sci-fi, yang ia beri judul Superbia. Masalahnya, di proyek yang ia tahu bakal mengubah dunia itu, Larson justru merasa kesulitan. Dia gak mampu menulis babak kedua – babak paling penting – dalam musikal ciptaannya itu. Dalam kondisi ekonomi yang mulai menghimpit, sosial yang makin tercerai berai (bertengkar dengan pacar, dan ditinggal mati oleh teman-teman yang satu persatu direnggut HIV), dan umurnya sendiri yang ia pikir semakin kehabisan waktu, Larson berjuang menyelesaikan karyanya.

boomimage
Tik tik bum, bunyi bom waktu di dalam hati~

 

 

Untuk film pertamanya ini, Miranda mengadaptasi musical performance one-man show Larson sebagai pondasi dari drama musikalnya ini. Clearly, sang sutradara masih berpegang pada hal yang lebih dekat dengannya, yakni gaya teatrikal. And that’s okay, karena Miranda memang cukup berhasil bercerita dengan memadukan gaya teatrikal tersebut dengan gaya bercerita film. Kita melihat Larson tampil live di depan audiens, kemudian dia bercerita tentang lagu yang ia ciptakan dari kehidupannya itu. Cerita Larson tersebut lantas menjadi adegan drama yang kita tonton sebagai flashback. Dalam adegan-adegan drama itu pun nantinya Larson dan karakter-karakter lain akan sering burst out menyanyikan lagu, lengkap dengan koreografi dan set yang dibikin seolah sebuah live teater. Semua bingkai tersebut ditampilkan mulus. Lagu-lagunya catchy dan tampak dibawakan dengan natural. Lirik yang menggambarkan perasaan Larson saat itu pun mampu menghantarkan perasaan dengan lebih tepat, walaupun kesannya jadi fun. Misalnya musical number saat Larson terperangkap dalam kesibukan diner tempat dia bekerja di hari minggu. Atau adegan nyanyi saat dia ‘merayakan’ apartemen baru milik sahabatnya yang memilih kerja kantoran dengan melepaskan kerjaaan sebagai seorang aktor.

Tapi buatku, film ini paling the best saat berbingkai teater. Bagian musikal favoritku adalah ketika Larson dan penyanyi yang diperankan oleh Vanessa Hudgens melagukan momen-momen saat Larson dan pacarnya ribut soal kerjaan dan masa depan. Koreografinya unik sekali. Mereka duduk di atas kursi di depan panggung menghadap audiens. Sambil tersenyum mereka mendendangkan curhat. Semakin intens curhatnya, senyum mereka makin lebar, dan gerakan koreo mereka semakin cepat-cepat. It’s wild! Kalo sutradara tidak memilih untuk menyelang-nyelingi adegan musikal di teater itu dengan adegan drama Larson dan pacarnya berantem di rumah, kalo musikal itu disyut dengan benar-benar seperti adegan teater – without cut dan sebagainya – aku sudah pasti akan meloncat-loncat kayak anak kecil dihadiahi PS 5 oleh bapaknya yang galak. Namun tetap saja, tidak bisa dipungkiri bahwa yang disuguhkan oleh para aktor di film ini bukanlah akting sembarang akting.

Can we please stop dulu bicarain Spider-Man, dan fokus ke betapa luar biasanya Andrew Garfield dalam peran musikal pertamanya ini? Garfield adalah salah satu dari sedikit aktor yang kayaknya selalu ngasih aku surprise dari apa yang bisa ia lakukan terhadap perannya. I mean, waktu di Hacksaw Ridge (2016) aku surprise sama penampilan drama emosional yang ia tampilkan. Begitupun waktu di Silence (2017), dia kembali memberikan note yang distinctive dalam perannya. Sekarang di Tick, Tick…Boom! ini juga begitu. Dia berhasil menghidupkan sosok seniman larger-than-life. Dia menghajar setiap adegan musikal dengan penuh gelora. Bukan sebatas nyanyi dan tampil sedikit nyentrik, Garfield di sini juga harus mengenai nada-nada dramatis. Larson yang tenggelam dalam cipta karya sehingga bertengkar dengan orang-orang terdekatnya, akan dengan gampang terlihat sebagai pribadi egois. Tapi Garfield membuat kita bersimpati dengan karakternya ini. Membuat kita paham apa yang ‘tick‘ di dalam perasaannya. Penampilan akting Garfield membuat karakter ini semakin mudah untuk kita relasikan dengan kehidupan kita.

Siapa sih yang gak risau saat menemukan dirinya berkepala tiga tapi belum mencapai apa-apa. Aku rasa semua penonton butuh menyaksikan film ini, paling enggak sebagai guide memasuki usia tiga-puluh. Karena memang gak gampang, untuk menyadari bahwa hidup kita bukan semata terbatas, tapi sebanyak apapun waktu yang kita punya, segimana pun orang punya waktunya masing-masing, waktu itu gak akan berbuah apa-apa jika kita tidak mengisinya dengan hal yang kita cinta. Kisah hidup Jonathan Larson dalam film ini, kurang lebih, mengatakan tentang hal tersebut.

boomTherapy-in-Tick-Tick-Boom
Aku malah sempat kecewa saat masih hidup setelah usia 27, aku merasa gak cukup berbakat untuk sebanding sama the 27 Club artists.

 

 

Ada banyak hal yang bisa disukai dalam Tick, Tick…BOOM! kecuali pacarnya Larson. Urgh. Annoying banget. Dia sengaja banget nagih jawaban saat Larson lagi sibuk-sibuknya. Dia gak dateng saat show. Eh, pas shownya rame, dia baru muncul. Pacar apaan tuh. Tapi mungkin itulah mark keberhasilan dari karakter yang memang jadi inspirasi Larson ini. Kisah cinta mereka inilah yang harus dijadikan stake utama, karena narasi yang berangkat dari kisah nyata ini kan semua orang sudah tahu endingnya. Larson yang merasa dirinya diburu waktu, sendirinya, tidak akan lagi jadi cerita yang menarik jika film tidak menyelam ke dalam karakter-karakter yang punya peran dan menghidupi hidup Larson. Karakter-karakter itu, seperti pacar Larson dan juga sahabat masa kecilnya, memang ada dan disorot cukup banyak oleh cerita. Tapi permasalahan mereka tidak pernah dibahas lebih dalam dari sebuah adegan musikal berikutnya. Permasalahan dengan mereka berdampak kepada Larson, tapi film hanya memperlihatkan sebatas soal ‘terwujud sebagai lagu baru’

Bukan Larson saja yang terburu waktu. Demi menguatkan kesan deadline yang menghimpit, film ini sendiri akhirnya bercerita dengan nada yang seperti terburu-buru. Tidak pernah benar-benar diam sejenak untuk merenungi emosi ataupun berkontemplasi dengan karakternya. Seharusnya ada lebih banyak adegan seperti Larson berenang dan literally menyelam ke dalam pikirannya. Film ini, memperkenalkan kita dengan menarik kepada karakter-karakter dan masalah mereka, tapi tidak lantas mau keluar dari memperlihatkan para karakter sebagai manusia di luar yang kita lihat. Oh, ada teman yang terbaring kena HIV, Larson sedih, tapi setelah dijadikan satu lagu, masalah tersebut pindah juga ke masalah lain. Ke masalah untuk dinyanyikan berikutnya. Bisa jadi ini karena pondasi cerita adalah pertunjukan seni sehingga yang kita lihat juga masalah yang terkesan lompat-lompat seperti itu, tapi sebenarnya itu gak jadi soal jika film mau untuk melambat sedikit. Narasi tidak harus berjalan seperti diburu-buru. Kesan itu bisa dilayangkan lewat kerja kamera atau lewat editing saja.

 

 

 

Seneng sekali setidaknya ada tiga drama musikal bagus tahun 2021 ini. Meskipun aku gak suka musik, tapi aku selalu menyambut gempita film musikal karena biasanya emosinya memang menohok lebih dalam. Film ini misalnya. Fusion keren dari teater musikal dengan drama musikal. Penampilan akting yang mempesona dari Andrew Garfield turut mempermanis surat-cinta untuk seni teater dan salah satu seniman yang bekerja membuatnya, si Jonathan Larson itu sendiri. Ceritanya sungguh menginspirasi, super relatable, dan bakal bikin kita ikutan nyanyi dari hati. Pengennya sih film ini bisa sedikit lebih ‘tenang’ dan lebih berlama lagi menyoroti karakternya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for TICK, TICK…BOOM!

 

 

 

 

That’s all we have for now

Jonathan Larson berjuang hingga akhir hayat atas nama seni. Menurut kalian apakah seni itu memang sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ARMY OF THIEVES Review

“Do it for the sake of love”

 

 

I blame Marvel. Karena telah membuat jagat-sinematik tampak sebagai taktik jitu supaya laku, dan juga membuatnya tampak mudah. Aku menyalahkan Marvel, karena telah menginisiasi cinematic universe, yang membuat banyak pedagang film lain meniru. Walaupun mereka sebenarnya gak benar-benar punya brand atau produk untuk dibuatin universenya. Marvel tidak berangkat dari nol, melainkan dari komik yang telah bertahun-tahun jadi ikonik. Orang-orang tahu dan kenal tokoh-tokoh ceritanya. Namun lihatlah para peniru, banyak sekarang bermunculan film-film yang dipaksakan ada sebagai sebuah universe. Bahkan film drama aja ada – drama yang gak berasal dari apapun sebelumnya (kecuali mungkin satu buku nostalgia tanpa narasi); satu film berkembang jadi satu film baru yang mengangkat karakter minor, dan kemudian film baru muncul lagi dari karakter yang tak-kalah nobody nya di film tersebut.

Oh, kalian mau contoh yang disebutin judulnya? Army of Thieves. Ya, film yang hendak kita ulas kali ini, merupakan bagian berikutnya dari rancangan universe zombie karya Zack Snyder. Except, film ini bukanlah film tentang zombie. Melainkan film tentang heist atau perampokan bank. Dan yang jadi pengikat antara film ini dengan Army of the Dead (2021) – film pertamanya – adalah seorang karakter yang aku sejujurnya kaget sekali dan tak-percaya bahwa dia begitu difavoritin sehingga banyak yang minta film solonya.

Thieves-Army-of-Thieves
Emang ada yang kecuri hatinya sama si Ludwig?

 

Mengambil setting enam tahun sebelum peristiwa film Army of the Dead. Dari tayangan televisi dalam cerita kali ini, kita melihat zombie outbreak barulah mulai di Las Vegas. Di Eropa, tempat cerita ini bermula, ada masalah yang lebih urgen harus dihadapi oleh kepolisian. Masalah tersebut yaitu rangkaian perampokan bank. Ketika agen interpol masih menyusun teori (dan pemimpin mereka punya tebakan bagus, dan eventually bakal jadi semacam antagonis bagi geng karakter utama), kita sudah dibawa mengenal lima orang di balik perampokan tersebut. Tepatnya empat orang perampok internasional, dan Sebastian, cowok kikuk penggemar brankas. Sebastian diajak oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh cewek keren bernama Gwendoline, berkat kemampuan dan pengetahuannya mengenai legenda empat brankas yang terkenal paling rumit dan susah untuk dipecahkan kuncinya. Itulah yang coba dibobol oleh mereka. Bagi Sebastian, yang selama ini hidup datar dan membosankan, tentu saja tawaran itu tak bisa ditolak. Kapan lagi dia bisa mengasah kemampuan dan berinteraksi langsung dengan legenda. (Plus si Gwendoline itu kece banget Sebastian jadi naksir)

Jadi, mari beralih dulu ke kru perampok dan aksi heist itu sendiri.

Genre heist sendiri sebenarnya sudah mulai jenuh. Serial animasi Rick and Morty bahkan sudah menelanjangi genre ini hingga ke trope dan klise-klisenya di episode 3 season 4 akhir tahun 2019 lalu. Army of Thieves, untungnya, tahu untuk tidak terjebak ke dalam klise-klise tersebut. Film ini gak mau jadi parodi dari genre ini. Maka mereka berusaha merancang formula heist yang berbeda, atau paling enggak bermain-main dengan trope yang telah ada. Misalnya, film ini gak pake sekuen ngumpulin anggota geng yang tersebar dan meminta mereka kembali ikut beraksi (lucunya, sekuen ini justru adanya di Army of the Dead – yang ternyata adalah film heist dan zombie sekaligus). Sekuen itu biasanya difungsikan untuk menyoroti masing-masing karakter anggota/kru, memberikan mereka spotlight untuk menceritakan backstory dan motivasi. Alih-alih pake sekuen itu, Army of Thieves mencapai tujuan menceritakan backstory dan memperkenalkan karakter lewat actual flashback – flashback origin para karakter.

Film ini juga gak pake twist demi twist yang menunjukkan pengkhianatan demi pengkhianatan seperti yang biasa ada dalam genre heist. Cekcok antaranggota memang tetap ada, tapi diceritakan lebih frontal. Dimasukkan ke dalam elemen cinta segitiga antara Sebastian, Gwendoline, dan Brad Cage. Lalu, biasanya film heist juga punya sekuen montase saat karakter menjabarkan rencana perampokan kepada kru. Dalam Army of Thieves, sekuen seperti itu ada, akan tetapi dilakukan dalam bentuk komedi yang seperti ngebecandain trope itu sendiri. Nah pasti kebayang, bahwa film ini memanfaatkan beragam teknik editing untuk mendukung penceritaan. Dan berhasil. Karenanya, porsi heist dan aksi film ini memang lebih menarik. Ada angin segar-lah, seenggaknya.

Editing cut-to-cut yang cepat juga digunakan film ini untuk menyamarkan masalah pacing yang timbul dari setup karakter yang datar, terlebih karena memang film ini punya karakter-karakter yang enggak baru. Gwendoline, Brad Cage, Rolph, dan Korina memang keren, tapi mereka sendiri sebenarnya masuk ke dalam trope karakterisasi yang lumrah, atau sudah ada sebelumnya. Pemimpin yang cinta mati ama film action dan Amerika. Cewek hacker yang glamor. Pengemudi yang hobi makan. Kriminal yang menganggap geng mereka keluarga. Bahkan aksi membuka brankas juga bukanlah aksi yang benar-benar fresh. Film ini justru banyak mencuri dari film lain, dan sudah sepatutnya mereka melakukan sesuatu supaya kita tetap excited menontonnya. Melihat dari usaha-usaha yang disebut di atas, sebenarnya film ini masih punya kesempatan. Kalo saja dirinya ini bukan hadir demi eksistensi satu orang.

thievesarmy-of-thieves-trailer
Kalo Korina sih, silakan deh mencuri hatiku

 

Serius. Aku gak dapet di mana appeal atau daya tarik karakter Sebastian. Bagiku dia mirip seperti Newt Scamander (lakon dalam Fantastic Beast – another karakter yang dipaksain jadi jagat-sinematik), tapi versi kikuk yang annoying. Di Army of the Dead, Sebastian hadir sebagai pembuka brankas (yang actually adalah brankas legendaris terakhir), dia dijadikan comedic-relief dengan tingkahnya yang suka teriak-teriak, dan jadi penyeimbang buat karakter-karakter maskulin. Kali ini, di film yang bertindak sebagai prekuel cerita tersebut, Sebastian juga ngelakuin hal yang sama. Teriak-teriak saat keadaan memanas, nge-geek out dan fanboying hard sebelum membuka kunci brankas, dan socially awkward di tengah-tengah kelompok yang macho. Jadi, ya, gak ada perkembangan yang dialami karakter ini dari cerita dimulai hingga ke Army of the Dead berakhir. Bayangkan dua film, tapi karaktermu itu-itu melulu! Yang berubah pada karakter ini cuma nama. Di film pertama, actually, kita mengenalnya sebagai Ludwig Dieter. Di film ini, kita akan melihat dari mana nama tersebut berasal. Seolah itu merupakan hal yang penting.

Karakter utama memang harus dibikin penting. Namun tugas itu dapat menjadi demikian susah jika materi karakternya memang tidak banyak sedari awal. Matthias Schweighofer lantas didapuk sebagai sutradara dengan harapan dia sudah mengerti karakter Sebastian/Ludwig yang ia perankan itu luar dalam. Dan memang, Matthias paham apa yang klik di balik benak sang karakter. Dia mengerti bahwa bagi Sebastian, brankas-brankas itu bukan semata benda yang harus dibobol dan diambil uangnya, melainkan benda yang melambangkan pencapaian. Kekaguman seperti seorang anak bertemu idolanya, dan mendapat pengakuan dari idola tersebut karena si anak telah berhasil melampaui prestasinya. Begitulah Sebastian melihat kunci-kunci besi itu. Dan kita bisa merasakannya, kekaguman terpancar dari karakter ini. Tapi itu saja belum cukup untuk menghidupkan film ini secara keseluruhan.

Yang beresonansi dari Sebastian kepada kita adalah kecintaannya terhadap yang ia lakukan. Sebastian tidak melakukan perampokan demi uang. Dia melakukannya supaya bisa bertemu dengan hal yang paling berarti baginya di dunia ini. Brankas dengan sistem kunci yang legendaris. Dan tentu saja, Gwendoline yang ia katakan kepada kita telah mengubah hidupnya. Ditunjukkannya bahwa hidup lebih dari sekadar cari duit. Pengalaman mendebarkan, dan cinta, jauh lebih berharga.

 

Di luar ketertarikan dan ke-nerdy-annya sama brankas, Sebastian enggak banyak ngelakuin hal lain. Film memberikannya sekuen aksi – naik sepeda keliling kota dikejar polisi – yang cukup kocak dan sangat kita apreasiasi di tengah kering kerontang dan membosankannya karakter ini. Sebelum diajak jadi geng rampok, secara inner, Sebastian enggak punya masalah di dalam hidupnya. Backstory kenapa dia hobi ngulik brankas dan kenapa dia gak gaul hanya disebutkan sepintas. Sepanjang durasi (yang memang panjang amat!) karakter ini kebanyakan hanya bereaksi. Terbawa-bawa. Seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, Sebastian tidak punya development. Lantaran memang tidak ada yang bisa digali. Untuk mengisi kekosongan, naskah memusatkannya kepada romansa. Sebastian naksir Gwendoline, yang sudah punya cowok yakni si paling macho dalam kelompok mereka. Elemen itu juga gak dibahas mendalam. Enggak pernah lebih dari sebatas cowok cupu yang jatuh cinta sama gadis pertama yang mengajaknya bicara. Basic sekali.

Sedari awal itu dia sudah jago buka brankas. Dia bahkan enggak peduli sama kejaran waktu. Oh, mereka cuma punya waktu sempit sebelum penjaga dan sekuriti bank sadar, dan memanggil polisi untuk menghentikan aksi perampokan? Sebastian gak peduli sama itu. Dia sempat-sempatnya cerita panjang lebar tentang mitologi di balik masing-masing brankas. Mitologi yang sebenarnya menarik, karena mencerminkan keadaan cinta segitiganya dengan Gwendoline. Hanya tak terasa sebagai waktu yang tepat. Film menjadikan ‘bad timing‘ ini sebagai quirk dari karakter Sebastian, dengan harapan dapat membuatnya semakin tampak sebagai karakter yang menarik. Dan juga disetup bahwa Sebastian begitu pintar dan ahli jadi dia bisa membuka kunci-kunci rumit itu dalam waktu singkat. Akan tetapi karena situasinya adalah perampokan, ketika karakter utama gak peduli sama desakan waktu, dia gak merasa dirinya diburu-buruin, kita yang nonton jadi gak ngerasain lagi stake perampokan tersebut. Kita jadi bodo amat. Dia jago, kok.

Apalagi karena kita gak bisa berpartisipasi kepada tindakan yang Sebastian lakukan. Gimana coba membuat orang memutar-mutar kenop di brankas jadi aksi menarik yang breathtaking? Gak ada. Film ini menggunakan visual CGI yang menggambarkan mekanisme kunci yang sedang berusaha dipecahkan oleh Sebastian. Semua itu gak ngehasilin perasaan apa-apa. Ketika dia berhasil membuka kunci, kita gak ikut bersorak bersamanya. Karena kita gak diajak ikut mikir, kayak kalo misalnya ada kode atau teka-teki yang harus dipecahin dalam jangka waktu terbatas.

Oiya, ada ding, satu lagi yang dilakukan Sebastian, sebagai bagian dari karakternya. Mimpi tentang zombie-zombie! Lame. Upaya yang sangat payah dari film ini untuk mengikat dan ngingetin kita sama universe zombie film ini. Seringnya adegan mimpi diserang zombie itu justru merusak tone cerita, dan nambah-nambah hal gak perlu bagi karakternya. So what, Sebastian is a psychic too? Who cares!

 

 

 

Ini baru film kedua dari proyek zombie universe Snyder loh. Dia masih punya cerita-cerita lain yang siap ditayangkan. Honestly, aku berharap dia menerapkan apa yang diajarkan Sebastian kepada kita di film ini. Untuk tidak melakukannya semata demi cuan. Aku merasa film yang kali ini, tidak benar-benar penting eksistensinya. Masih bisa dinikmati, berkat garapan aksi dan permainan editing yang masuk ke dalam humor. Tapi gak menambah banyak untuk karakter yang sepertinya bakal terus muncul di universe ini nanti (karena kalo dia gak muncul lagi nanti, makin tak-ada gunanya lah kita nonton film ini) Mending bikin film heist generik aja yang benar-benar bercerita tentang kejadian dan trik-trik perampokan. Untuk mitologi dunianya juga, gak banyak berarti. Ini adalah film yang bisa ditonton, dan setelahnya ya beres gitu aja. Film ini membuktikan kalo sedari awal udah angin, ya gak bakal bisa jadi emas.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for ARMY OF THIEVES.

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pandangan kalian terhadap genre heist? Is it dead? Bagaimana cara membuatnya kembali menarik?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

BECKETT Review

“There is not a thing as the wrong place, or the wrong time.”

 

Aku tidak tahu Beckett garapan sutradara asal Italia, Ferdinando Cito Filomarino, bakal nyeritain tentang apa. Seperti biasa, aku gak nyari info filmnya, gak nontonin trailer. Aku suka ‘datang’ ke sebuah film dengan sesedikit mungkin tahu tentangnya. Langsung nonton aja, apapun film yang keluar. Beckett, at first, terlihat seperti cerita sepasang manusia yang dimabuk cinta. Tapi kemanisan yang mereka tunjukkan di sepuluh menit pertama itu membuatku waspada.  Apakah ini memang kisah cinta dua pasangan yang berurusan dengan perbedaan-perbedaan kecil mereka? Seems convenient mengingat John David Washington yang jadi lead di sini pernah juga memainkan drama pasangan dalam Malcolm & Marie (2021).  Tapi hey, Washington juga bermain di Tenet (2020), jadi mungkin saja ini berubah jadi thriller laga. Atau malah siapa tau ini beneran dari kisah nyata, seperti BlacKkKlansman yang dibintangi Washington di tahun 2018. 

Jangankan yang nonton, bahkan si Beckett sendiri enggak tahu dia sedang dalam cerita apa. Beckett akan terus berlari dan berlari dan berlari di sepanjang narasi yang memuat bahasan seperti kasus penculikan, konspirasi politik, dan kebobrokan polisi. 

beckettx1080
Jika kisah cintamu terasa seperti too good to be true, siap-siaplah lari!

 

Turns out, Beckett adalah cerita tentang seseorang yang berada di tempat yang salah, di waktu yang salah. Beckett dan pacarnya lagi liburan di pelosok Yunani. Malang menimpa malam itu. Mereka kecelakaan. Beckett yang mengantuk membuat mobil mereka melayang keluar dari jalan. Nyungsep ke dalam sebuah rumah. Pacar Beckett tewas. Beckett? Dia melihat sesuatu yang harusnya tidak boleh ia lihat di sana. Beckett yang selamat dari kecelakaan, menjadi ‘ancaman’ bagi kelompok orang yang gak mau rahasia mereka terbongkar. Alhasil, Beckett pun jadi buruan. Dikejar-kejar oleh wanita misterius, dan polisi berjanggut yang gak segan membunuhi orang-orang. Pelarian Beckett menuju keselamatan di Kedutaan menjadi sebuah aksi menyelamatkan diri yang nyaris mustahil. Karena apparently, di tengah memanasnya situasi politik di Yunani, Beckett gak tahu harus percaya kepada siapa.

Udah kayak gabungan ketiga film Washington terdahulu, cuma gak kisah nyata aja. Dan tentunya gak ada elemen time-travel (oh boy, padahal si Beckett pastilah pengen banget bisa time travel). Film ini mengambil pendekatan yang lebih grounded. Beckett adalah manusia biasa, cowok yang biasa-biasa saja. Dia sama-sama kurang bertanggung jawab dengan kita semua yang males nelfon hotel untuk konfirmasi kedatangan. Beckett yang berlibur ke Yunani bahkan gak mau repot untuk belajar bahasa sono barang sedikit. Naskah film actually cukup berhasil mengolah suspens dari karakteristik Beckett tersebut. Film tidak sekadar mencuatkan warna kulit Beckett, membuatnya kentara dan jadi penguat tantangan bahwa tidak ada tempat bersembunyi baginya. Film juga membuat perbedaan bahasa jadi pemantik ketegangan. Dengan sengaja bahasa lokal Yunani tidak diberikan subtitle, sehingga kita jadi sejajar dengan Beckett. Kita jadi sama gak tahunya, yang tentu saja lantas membuat kita jadi turut peduli dan pengen ikut menguak apa yang terjadi.

Washington memerankan orang biasa yang terjebak dalam situasi tak biasa, dengan cukup meyakinkan. Dia tampak distant dan canggung di antara orang-orang lokal. Dengan tangan cedera itu berlari menyusur hutan sambil terpincang dan terbungkuk-bungkuk dalam usaha menyembunyikan diri. Kebingungan Beckett juga terpancar dari wajahnya. Dia enggak tahu apa yang terjadi, apa yang harus ia lakukan. Stakenya di sini adalah hidup atau mati. Film membuat rintangan terus naik baginya. Dia ketemu orang-orang, beberapa membantu, beberapa jadi korban karena membantu, dan tentu saja beberapa ikut memburunya. Dalam usaha untuk membuat hal-hal tetap naik, supaya suspens tetep kenceng, perlahan film mulai meninggalkan bumi. Alias tidak lagi berada di jalur yang grounded. Setelah turning-point saat Beckett tidak bisa mundur lagi, dan dia mulai bertekad untuk menyelamatkan kasus penculikan, aksi-aksi film jadi semakin konyol. Beckett terus tertembak dan terluka, tapi dia terus berlari. Kita mengerti perubahan dirinya yang kini enggak lagi berlari untuk menyelamatkan diri, melainkan berlari untuk, katakanlah, jadi pahlawan. Yang tidak kita mengerti adalah kenapa aksi-aksi yang ia lakukan itu tidak lantas membunuhnya. Serius deh, nyawa Beckett tidak pernah lebih terancam lagi di akhir itu. Dia justru tampak lebih mungkin untuk mati karena ulahnya sendiri ketimbang karena ditembak oleh polisi jahat. Bagaimana orang biasa seperti Beckett bisa terjun dari parkir lantai atas, dengan selamat menimpa atap mobil yang melaju keluar, yang bahkan tidak bisa ia lihat datangnya. Ini timing dewa yang SpiderMan aja butuh latihan mencobanya hahaha

BECKETT (2021) John David Washington as Beckett. Cr: Yannis Drakoulidis/NETFLIX
Si Beckett berbakat jadi superhero

 

Selagi Beckett berlari-lari, mari kita menyelami kejadian yang membangun narasi film ini. Apa yang sebenarnya ingin film ini katakan dengan masalah politik, dan bahkan dengan memperlihatkan hubungan Beckett dan pacarnya dengan sangat elaborate.

Not. Much.

Beckett dan pacarnya (diperankan dengan semakin manis oleh Alicia Vikander) mengambil porsi waktu yang terlalu lama di pembuka. Inilah yang actually membuat kita kebingungan film ini sebenarnya cerita tentang apa. Di sepuluh menit pertama itu, yang terlandaskan sempurna adalah hubungan Beckett dan tanggungjawabnya terhadap sang pacar. Sedangkan permasalahan kecamuk politik dan kasus peculikan hanya diperlihatkan sekilas lewat tayangan televisi yang menyala di kafe. Padahal film ini justru ternyata sebaliknya. Lebih soal lari-larian Beckett yang tak-sengaja terlibat di dalam situasi politik tersebut, dan gak banyak tentang pacarnya. Dari set up dan sepuluh menit pertama yang dilakukan, film mestinya membuat Beckett kerap teringat dengan pacarnya. Seharusnya meaning relationship tersebut bagi Beckett diperlihatkan punya peranan besar terhadap perjuangan survivalnya. Ceritanya seharusnya sering circled-back ke relationship tersebut. Tapi yang ada, dalam babak perjuangannya itu, hanya satu kali Beckett ‘kembali’ ke persoalan pacarnya. Konflik dari dia basically telah bikin pacarnya yang berspirit manic-pixie itu celaka seperti absen di sebagian besar cerita lari-larian, dan kemudian dimunculkan lagi begitu saja saat film memutuskan sudah saatnya membuat Beckett menyadari pembelajaran.

Ya, kita ngerti satu-satunya circled-back yang dilakukan oleh film memang adalah yang paling penting. Itu adalah momen ketika Beckett yang menyesali dirinya membawa sang pacar ke tempat yang salah, ternyata melihat makna dari mereka berada di sana; di rumah itu, bersimbah darah, and all. Dia di sana untuk menyelamatkan seseorang. Namun penulisan film dalam menggarap itu tidak benar-benar rapi menyulamnya. Penyadarannya terasa mendadak, karena sebagian besar waktu film heboh di adegan lari-larian dan membahas konspirasi politik yang terjadi.

Enggak ada yang namanya berada di tempat yang salah, di waktu yang salah. Karena di manapun kita berada, kita seharusnya bisa membuat sesuatu yang positif. Tugas kitalah untuk membuat setiap detik hidup menjadi bermakna. Kemungkinannya justru sebaliknya. Kita bisa jadi selalu ditempatkan where we meant to be.

 

Di lain pihak, soal politik, dan soal polisi bobrok segala macam yang dijadikan fokus cerita itupun tidak pernah diselami lebih dalam. Melainkan hanya kulit luar. Hanya situasi yang perlahan dikuak dan diketahui oleh Beckett. Kecamuk politik yang jadi latar Beckett lari-lari itu, yang memang cuma dijadikan latar. Tak lebih sebagai tempat film memuat revealing-revealing. Oh ternyata ini yang jahat. Ternyata yang itu yang baik. Kan, sudah kuduga ada di sana. Jadi cara supaya film tetap bisa punya sesuatu untuk memancing keseruan aja. Inilah yang membuat Beckett jadi sajian yang hampa. Tidak menantang kita. Hanya membuat kita ikut ngos-ngosan capek melihat Beckett dikejar ke sana kemari. melihat Beckett bertingkah kaku dan ketakutan dan kebingungan di antara orang-orang lain. Sutradara seperti cuma menyuruh para aktornya untuk lari dan mengucapkan dialog, tanpa banyak muatan visi yang dia kembangkan dari naskah – yang juga ditulis dengan kurang dalam dan tidak rapi.

 

 

 

Ini adalah jenis film yang dibuat dengan mementingkan bagaimana supaya penonton tetap merasa surprise. Openingnya dibuat seolah tentang kisah pasangan. Kita tidak akan tahu ini cerita tentang apa dengan melihat menit-menit pembukanya. Situasi atau konspirasi politik dipakai supaya cerita bisa punya banyak pengungkapan. Sebenarnya ini bisa bekerja dengan efektif, jika dibarengi dengan penulisan dan arahan yang jitu. Film ini tidak punya dua hal tersebut. Penulisannya tipis. Arahannya, malah ikut berlari-lari. Dari yang cukup grounded, ke menjadi aksi-aksi yang konyol. Dari yang tadinya aktingnya kaku karena disengaja, jadi malah seperti kayak gak diarahin. Nonton film ini toh memang terasa seru. Tapi seru yang bikin capek. Kayak abis lari-larian keliling pot kembang tanpa alasan.
The Palace of Wisdom gives 3.5 out of 10 gold stars for BECKETT.

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa menurut kalian kita merasa berada di tempat dan waktu yang salah? Apakah itu sebuah wujud denial?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE SWARM Review

“It’s a fine line between need and greed”

 

Horor kali ini datang, lagi-lagi dari manusia yang melangkah menembus batas tipis antara kebutuhan dengan ketamakan. Di dunia nyata, kita masih merasakan apa yang diperdebatkan sebagai dampak dari selera menjadikan kelelawar sebagai bahan makanan, seolah tidak ada lagi makanan lain. Di peternakan Perancis yang jadi panggung cerita garapan Just Philippot ini, kita akan menyelami bagaimana naluri bertahan hidup seorang ibu demi melindungi dan ngasih makanan untuk anak-anaknya, berubah menjadi ambisi mengerikan yang membuatnya seperti kesetanan.

Horor kali ini datang, dari drama ketakutan terdalam manusia dalam bertahan hidup. Itulah sebabnya film ini bakal jadi kudapan yang cukup bergizi. Tapi bagaimana dengan rasanya? Well, mari katakan saja, jika kalian punya taste tertentu untuk belalang yang kriuk-kriuk gurih, film ini bakal lezat sekali.

swarmfd1e1145676641c353d8ca5363d5535d
Kasih ibu tak terhingga sebanyak kawanan belalang haus darah!

 

Sebagai makanan, belalang memang enggak seaneh kelelawar. Di kita aja cukup lumrah memakan belalang goreng yang memang berprotein tinggi. Siapa yang tau belalang diolah jadi santapan seperti apa di Perancis yang punya banyak kuliner elegan sana. Yang jelas, belalang digandrungi sehingga banyak pembeli yang khusus membeli dalam jumlah besar. Khusus dalam artian, harus dalam jumlah besar. Itulah yang jadi masalah pada peternakan belalang milik Virginie. Belalang-belalang yang ia kembangbiakkan di satu rumah plastik bersolar panel itu kurang. Kesulitan berkembang biak. Kecil-kecil pula. Dijual untuk pakan bebek pun, masih belum memadai. Virginie semakin terlilit kesulitan finansial. Dalam frustasinya, Virginie menemukan jawaban. Belalang-belalang itu subur, besar-besar, saat dikasih makan darah segar. Bisnis pun lancar. Rumah plastik Virginie semakin bertambah seiring berlipat gandanya belalang besar yang ia biakkan. Tapi Virginie mulai dicurigai orang-orang, yang mulai berbisik ngomongin bisnisnya. Bisikan yang nyaingin suara dengung belalang yang keras. Virginie juga mulai ditakuti oleh anaknya sendiri. Tak pelak, harga yang harus dibayar Virginie memang sudah terlampau tinggi.

Melihat belalang-belalang yang semakin haus darah itu, kita akan berpikir kita tau ke mana film ini akan mengarah. Kamera yang dengan detil menclose up perilaku belalang sebagai transisi antaradegan, seperti ngebuild up – turut memberi makan antisipasi kita akan horor hewan yang kita kira bakal datang. Jika ini adalah film Hollywood, besar kemungkinan memang itulah yang bakal terjadi. Kawanan belalang lepas, menyerang manusia-manusia dan Virginie berusaha menyelamatkan putra-putrinya. The Swarm bukanlah film seperti itu. Philippot mengamalkan yang dijadikan pesan oleh film ini. Dia tahu batas, film ini butuh untuk menjadi seperti apa. Philippot tidak kebablasan menjadikannya lebih dari itu.

Film ini tetap berpegang erat kepada drama yang menjadi hatinya. Kepada drama yang menjadi akar horornya. Karena, walaupun memang ada adegan berupa belalang menyerang manusia dan sebagainya, horor dalam film ini tetap dikembangkan dengan subtil dan lebih berupa berasal dari pemahaman kita terhadap pilihan dan perubahan yang (harus) dilakukan oleh karakter. Dan ini ternyata lebih efektif, dan membuat cerita jadi lebih fresh juga. Horor melihat hubungan ibu dan anak yang merenggang – horor melihat anak menjadi takut kepada ibu mereka – ternyata lebih mengerikan ketimbang horor kawanan belalang yang mengamuk. Itulah yang dibuktikan oleh film ini.

Virginie adalah single mother dengan dua orang anak. Laura yang udah remaja, dan Gaston yang masih belum cukup dewasa untuk memahami problematika ekonomi rumahnya. Keputusan Virginie mengubah peternakan kambing peninggalan suami menjadi peternakan belalang berdampak kuat kepada kehidupan sosial Laura. Cewek itu dibully di sekolah, diejek. Konflik antara Virginie dan Laura berasal dari sini. Kedua saling salah mengerti. Untuk paruh pertama film kita akan melihat Laura sebagai anak sok nge-angst yang cemberut melulu, dan kita lebih bersimpati kepada Virginie karena kita melihat usahanya banting tulang untuk menghidupi keluarga. Dalam mengembangkan konflik itulah film ini excellent sekali.

Kita akan berjuang melakukan apapun untuk memenuhi yang kita butuhkan. Namun ada satu titik dari perjuangan tersebut yang tidak boleh dilanggar. Titik yang ditarik dari tujuan kebutuhan tersebut pada awalnya. Virginie melanggar ini. Dia melupakan untuk apa dia berjuang. Berjuang memenuhi kebutuhan membuat kita memperoleh yang kita butuhkan. Berjuang memenuhi keinginan untuk menjadi lebih dari yang dibutuhkan hanya akan membawa petaka. Dan malah bisa membuat kita kehilangan.

 

Suasana dreadful dipertahankan. Seiring kita mendengar dengungan belalang yang ngasih kontras ngeri berupa ada ‘monster’ yang semakin besar menunggu untuk keluar, kita semakin takut melihat ada orang yang masuk ke rumah-rumah plastik tempat Virginie sekarang menyimpan rahasia, simpati dan dukungan kita pun pada akhirnya kita rasakan mulai beralih. Peralihan itupun tidak sekadar “waah, aku jadi suka si ini sekarang”, melainkan karena dibangun dengan kuat di rasa dan di hati, peralihan tersebut membawa rasa ngeri kepada kita. Sehingga sekarang kita tidak hanya takut akan belalang-belalang itu, tapi kita juga mengkhawatirkan keutuhan keluarga Virginie. Film ini mengubah Virginie dari yang tadinya mendapat simpati penuh kita; dia tampak mengorbankan diri demi keluarga – dari yang tadinya seperti perjuangan tulus seorang ibu, menjadi sesuatu yang lebih menjurus ke sinister. Ke kegilaan. Terutama sebab perjuangan yang ia lakukan sudah jauh dari tujuan semula. Transformasi tersebut dilakukan film dengan mulus, tidak ada satu emosi yang tercecer.

swarmThe-Swarm
Ini telah meninggalkan realm ‘orangtua rela menderita demi anak’

 

Layer-layer pada motivasi dan pilihan karakter itu membuat film jadi punya kedalaman. Sembari kita melihat Virginie menjadi personifikasi dari gambar-gambar meme penderitaan orangtua demi anak, kita juga menyadari yang dilakukan Virginie terhadap belalang-belalang tersebut telah melampaui batas. Suliane Brahim menyokong arahan ini dengan menghidupkan karakternya lewat pendekatan psikologis yang pas. Perjuangan, keputusasaan, dan ‘kegilaan’ karakter tersebut dia mainkan sama kuatnya lewat kata-kata maupun lewat permainan ekspresi. Pilihan film untuk lebih memusatkan kepada karakter ketimbang mengubah ke haluan yang lebih diantisipasi orang, yakni menjadikannya horor creature, membuat film lebih bergizi. Namun tentunya juga bukan tanpa resiko. Arah ini berarti punya cerita yang berjalan lebih lambat. Penonton yang udah menunggu-nunggu adegan survival heboh, adegan makhluk yang heboh, ataupun hanya sekadar menunggu menjadi seperti The Bird Alfred Hitchcock, kemungkinan besar bakal kecewa. Adegan belalang lepas, menyerang orang, memang ada. Finale akan chaos dan berdarah-darah juga, tapi tidak lebih besar dari apa yang dibutuhkan oleh film ini.

Di lain pihak, penonton yang memang suka film yang lebih ke psikologis karakter, yang gak masalah mantengin film lambat dan horor-horor yang cenderung ke visual yang artsy saja, juga tidak lantas akan langsung terpuaskan. Karena actually, babak ketiga yang memuat Finale cerita ini hadir dengan tanggung. Herannya, tampil dengan lebih banyak kemudahan dari yang kukira. Film ini memilih vibe cenderung ke good ending ketimbang cerita kegagalan yang biasa, tapi tidak banyak tahap pembelajaran yang diberikan kepada Virginie. Karakter itu di akhir cerita, lebih banyak bereaksi ketimbang beraksi. SImpelnya, bukan dia yang mengakhiri semua itu. Melainkan karakter lain. Dan di ujung, barulah dia sadar dan kembali kepada tujuan semula; demi anak-anaknya. Sehingga penyelesaian film ini tidak terasa berkesan. Tidak terasa rewarding buat pertumbuhan karakter. Dan bahkan tidak ada konsekuensi. Virginie telah melakukan banyak hal-hal yang katakanlah – jahat – selama fase-fase dia gelap mata dan lebih mikirin belalang dan egonya sebagai ibu yang berjuang. Tapi ketika semua berakhir, buntut dari tindakannya juga berakhir gitu aja.

Harusnya ada ending yang lebih kuat daripada ini. Ending yang benar-benar melibatkan semua karakter cerita. Karena, yang kita lihat sebagai penutup film ini, saking abruptnya benar-benar terasa seperti berakhir begitu saja. Anak cowok Virginie yang juga jadi korban akibat ulah ibunya malah gak ada di situ. Seolah dia gak ada yang harus diresolve dengan ibunya. Seperti, film berhenti begitu saja mendalami yang sudah mereka gali. Ini aneh buatku, They were doing so good di awal, kemudian di akhir itu, they just stop buzzing.

 

 

 

Horor itu gak harus ada hantunya. Film ini membuktikan hal tersebut. Dia mendatangkan horor dari sikap manusia. Mengembangkan drama keluarga – konflik ibu dan anak yang berjuang untuk hidup – sebagai inti dari kisah fantasi berupa kawanan belalang yang mengganas karena dikasih makan darah. For the most part, film ini berhasil menyuguhkan perjalanan manusia yang benar-benar mengundang simpati. Yang benar-benar membuat kita mengkhawatirkan mereka. Membuat kita takut akan keutuhan mereka. Film melakukan ini sambil menghasilkan gambar-gambar seram. Film ini tahu apa yang ia butuhkan, tapi tidak benar-benar tahu cara yang tepat untuk membungkus ceritanya. Karena penyelesaian film tidak terasa memuaskan, dan terasa terlalu abrupt. Film yang berakhir kuat akan meninggalkan kita dengan bertanya-tanya “Lalu apa?”. Film ini hanya berhenti dengan membuat kita bertanya “Lah itu yang tadi gimana?”
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE SWARM.

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian film ini memang berakhir bahagia atau malah sebaliknya?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

BLOOD RED SKY Review

“Stop hate spread”

 

 

Baru saja kita mengira genre vampir sudah mati, datanglah hemoglobin fresh yang dipompakan oleh film ini ke aliran darah genre tersebut. Blood Red Sky memang bukan baru yang baru banget. Melainkan terasa unik karena hadir seperti gabungan dari Snakes on the Plane, thriller pembajakan pesawat, dan Train to Busan! Film ini juga nyatanya adalah thriller di ruang tertutup yang terjalin sempurna dengan horor vampir dengan muatan komentar keadaan sosial kita. Oh betapa sutradara dan penulis naskah Peter Thorwarth paham betul mencerminkan keadaan di dunia nyata ke dalam cerita genre yang ia buat, seperti yang sudah dibuktikannya saat menulis skenario untuk The Wave/Die Welle (2008); film yang bercerita tentang guru yang menjadikan kelasnya sebagai negara fasis sebagai eksperimen untuk murid-murid. 

Dalam pesawat Translantic di Blood Red Sky ini, Thorwarth mempertemukan mitologi vampir dengan kapitalis dan juga agama. Secara simpel dia mempertanyakan siapa yang sebenarnya teroris di sini, si vampir ataukah si Islam, atau malah ada jawaban yang lain. Blood Red Sky dari Jerman ini ditampilkan sarat dan serius (bayangkan membuat vampir sebagai sesuatu yang senyata teroris penyebar kebencian) tapi tidak pernah terasa berat karena film ini masih bernapas thriller yang brutally fun

bloodSQKmHr5zTG-4ATTegl4WzDHLO1DrjxPX9y
Antara jadi kangen dan tidak kangen naik pesawat

 

Seperti yang sudah direveal oleh posternya, film ini tidak membuang waktu dan energi untuk menjadikan kondisi protagonisnya sebagai sebuah twist yang gak perlu. Film ingin supaya kita bisa langsung merasakan beban dramatis dan kesulitan yang bercokol pada ibu-anak Nadja dan Elias. Mereka menumpangi pesawat malam ke Amerika, untuk mencari pengobatan terhadap kondisi Nadja. Sementara orang-orang di sekitar, seperti Farid, menyangka Nadja mengidap Leukimia, kita penonton sudah merasa gamang melihat Nadja sebagai orang yang lagi ‘nahan selera’ masuk ke toilet untuk menginjeksikan obat yang tampak menyakitkan baginya. Hal tidak menjadi semakin mudah bagi Nadja, sebab pesawat yang mereka tumpangi ternyata berisi kelompok teroris yang ingin menabrakkan/menjatuhkan pesawat, dengan menjadikan penumpang muslim seperti Farid sebagai kambing hitam. Serius deh, kita belum pernah melihat pesawat yang membawa segitu banyak combustible elements, literally and metaphorically, sebelumnya. Dan ‘ledakan’ pertama akhirnya beneran terjadi; Nadja yang terdesak oleh keselamatan Elias akhirnya mau tak mau untuk menunjukkan taringnya.

Jangan kira dengan adanya vampir baik-sayang-anak di atas pesawat, masalah akan bisa cepat beres. Terorisnya tinggal dibunuh satu persatu kan? Nope! Naskah Thorwarth tidak pernah menetapkan ‘Vampir lawan Teroris’ di sini sebagai sesuatu yang sederhana. Di atas pesawat yang mengudara yang basically ruang-tertutup itu tidak membuat naskah ikut-ikutan sempit. This is the most amazing part of the movie. Thorwarth berhasil untuk terus menggali masalah, tidak pernah sekalipun ada kemudahan. Suspens cerita terus naik dengan konsisten sepanjang dua jam durasi. Nadja tidak bisa begitu saja membunuh para teroris yang cukup pintar dan gak blo’on tersebut. Karena dia harus memastikan bad blood-nya tidak nurun ke mereka; dia harus memastikan tidak ada yang jadi vampir karena ulahnya. Dan itu baru ‘langkah/tantangan termudah’ dalam skenario. Rintangan terus memuncak, terutama karena vampir bukanlah pahlawan. People won’t just cheer for them. Cerita mencapai point-of-no return saat teroris yang paling psikopat punya ide liar untuk mengubah dirinya sendiri menjadi vampir.

Semua itu berlangsung dengan hubungan antara Nadja-Elias sebagai inti emosional cerita. Jika ada yang kita belum yakin di awal cerita, maka itu adalah soal apakah Elias tahu tentang keadaan ibunya. Sementara kelihatannya akan tragis kalo Elias baru tahu di atas pesawat ini dan jadi takut kepada Nadja, tapi ternyata untungnya film ini tahu lebih baik. Mereka terbukti mampu menggali lebih banyak momen dramatis dengan membuat bukan saja Nadja yang ingin melindungi Elias dengan merelakan dirinya semakin menuruti naluri vampir, tapi juga sebaliknya. Momen-momen Elias mengkhawatirkan keselamatan sang ibu yang semakin inhuman dan berbahaya bagi orang sekitar – membuat nyawa Nadja sendiri semakin terancam juga berperan besar untuk menyampaikan feelings. Kita jadi benar-benar merasakan stake yang berlaku dua arah. Kita bukan hanya jadi peduli dan ingin mereka selamat, tapi more importantly kita ingin mereka bisa bersama-sama. Peri Baumeister sebagai Nadja hebat banget di sini mainin ekspresi menembus make up yang harus dia kenakan sebagai ibu vampir. Dan kemudian the dramatic irony hits. Kita sadar kita tahu apa yang bakal terjadi. Emosi yang melanda turut kita rasakan sangat besar saat adegan Nadja dan Elias di dekat pintu pesawat yang terbuka, pada menjelang akhir.

Nonton film orang naik pesawat ini akan membuat kita justru seperti sedang naik roller coaster. Kita takut, kemudian kita ikut senang, kemudian takut lagi. Karena film selalu menemukan tantangan dan kesusahan untuk dilalui oleh protagonis yang vulnerable. Pada beberapa waktu film yang make up dan violencenya sudah seram ini menjadi terlalu dark, seperti Nadja yang harus memakan anjing yang tak bersalah. Terkadang film juga menjadi terlalu komikal dengan menampilkan teroris psikopat bernama Eightball yang penampilan aktingnya memang over-the-top. Hebatnya film enggak pernah struggle untuk mengembalikan tone menjadi ke titik imbang. Blood Red Sky ini juga mengemban tugas untuk membuat vampir dan agama hadir bersama tanpa jadi lawan bagi yang lain. Vampir di sini tidak digambarkan sebagai makhluk fantasi, melainkan lebih seperti produk berdosa dari sebuah dark-sains. Rule vampir dikembangkan dengan hati-hati sehingga berhasil tetap make sense bagi kita ketika ada vampir yang masih bisa punya kesadaran dengan yang total haus darah dan lebih bertindak kayak zombie. Film nge-treat vampir dan agama dengan sama respeknya. Dan semuanya dimainkan untuk menambah konteks dalam narasi. Ke dalam komentar yang dilakukan oleh film. Kayak, gimana seorang muslim kesusahan menerangkan dirinya bukan teroris sementara kita tahu konsekuensinya jika dia tidak dipercaya maka vampir-vampir itu akan membahayakan dunia luar.

Sebenarnya yang paling diparalelkan di sini, adalah kutukan vampir dan kebencian. Protagonis cerita ingin memastikan kutukannya tidak tersebar, Nadja tidak ingin menciptakan vampir baru, dia percaya vampir harus disembuhkan. Sementara para pembajak pesawat, mereka ingin menyebarkan virus kebencian mereka terhadap satu agama, dengan framing ‘teroris’ yang mereka lakukan kepada sekelompok bangsa. Film dengan mantap memilih posisinya berpijak.

 

Hal sepele yang dilakukan oleh film ini, yang menurutku tak kalah amazing adalah film ini berani untuk benar-benar menuntaskan ceritanya. Enggak nyimpan benih-benih sekuel kalo-kalo ntar filmnya laku. Semuanya selesai. Mereka merapikan chaos di akhir cerita. Jarang kayaknya zaman sekarang ada film horor, yang dibuat untuk pasar mainstream yang tidak berakhir dengan twist, atau cliffhanger yang memohon untuk kita menginginkan dibikin sekuelnya. Dan ini memang sesuai dengan konteks yang diusung oleh pesan atau value yang dipercaya oleh film. Kutukan itu harus dihentikan. Kebencian itu harus distop. Diberangus. 

Blood-Red-Sky-1
Vampir di sini wujudnya ngereference Nosferatu, yang merupakan film vampir pertama yang pernah dibuat (1922)

 

Meskipun punya aksi menegangkan yang superseru dan statement yang kuat, sebagai result dari penulisan yang matang, sayangnya film ini belum dibarengi dengan arahan bercerita yang solid. Untuk membuat ceritanya tampil lebih engaging, Thorwarth menggodok naskahnya ke dalam bangunan cerita yang banyak flashback. Blood Red Sky dimulai dari salah satu adegan klimaks, kemudian mundur kembali ke awal, you know kayak standar thriller-thriller Hollywood. Sayangnya ini justru membuat perspektif cerita tumpang tindih. Jadi aneh ketika cerita ini ditampilkan seolah kisah yang dituturkan oleh Elias yang sedang ditanyai oleh perawat, tapi nanti kita juga melihat flashback berupa asal muasal Nadja menjadi vampir saat Elias bayi. Dan lagi, keseluruhan cerita kejadian di atas pesawat itu lebih terasa seperti sudut pandang Nadja, tidak pernah terasa seperti perspektif dari Elias. Jadi bangunan berceritanya terasa bahkan lebih kacau daripada saat nanti vampir-vampir zombie mulai beringas di dalam pesawat.

Padahal sebenarnya bisa saja mereka melakukan dengan linear. Mulai dari origin Nadja, ke kejadian di pesawat, terus penyelesaian. Perpindahan perspektif dari Nadja dan Elias akan bisa terlihat lebih natural dengan diceritakan secara linear begitu. Akan lebih menguatkan degradasi kemanusiaan Nadja jika perspektifnya tidak lagi bisa lanjut dan cerita harus pindah ke Elias. Atau, kalau memang maunya pake flashback dan cerita yang bermaju-mundur ria, kenapa tidak semuanya saja dibikin sebagai flashback memory dari Nadja, sesaat sebelum dia benar-benar udah total jadi vampir buas. Dengan dibuat kayak gitu, tidak akan ada pergantian atau malah tumpang tindih perspektif seperti yang kita lihat di film ini. Karena memang sebenarnya gak perlu ada pergantian. Toh karakter yang benar-benar ada pengembangan memang hanya si Nadja seorang kok.

 

 

 

Menilai film ini buatku rasanya kayak jantungku ditusuk ama pasak kayu. Aku benar-benar suka film ini. Aku enjoy nonton sepanjang durasinya. Ini adalah perfect horor thriller ruang-tertutup dengan suspens yang berhasil terus ditingkatkan tanpa terasa ngada-ngada atau dipanjang-panjangin. Interaksi dan reaksi para karakter di sini terasa genuine. Seimbang antara serius dengan seru/menghibur. Dan juga, film ini tidak terasa kayak korporat punya. It is so freeing menonton cerita utuh, yang semuanya kerasa tuntas tas tas! tanpa ada meninggalkan beberapa hal ‘lewat’ untuk sekuelnya nanti. Karena itulah maka rasanya perih sekali melihat film ini punya kelemahan yang cukup fundamental. Yakni struktur penceritaan. Perspektifnya di sini tumpang tindih. Berupa kisah yang diceritakan tapi juga ada flashback dari yang bukan si pencerita. Pergantian sudut pandang utama juga tidak mulus dikarenakan bentukan penceritaannya ini. Film ini benar-benar seperti vampir si Nadja. Bermaksud baik, tapi kasar dan ‘deadly’ dalam penyampaiannya
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for BLOOD RED SKY

 

 

 

That’s all we have for now

Film ini punya poin menarik bahwa teroris yang sebenarnya ternyata hanyalah orang-orang rakus yang hendak mengatur ekonomi dan politik, dan tak ragu untuk ngeframe orang-orang demi melakukannya. Bagaimana pendapat kalian tentang ini? Mengapa bisa-bisanya orang menyebar kebencian seperti demikian?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

FEAR STREET PART 3: 1666 Review

“Intelligence is the biggest blessing that a human being has, but right now it has become a curse upon humanity”

 

Fear Street Part Three: 1666 seharusnya bisa jadi yang entry yang paling fresh karena sudah keluar dari bayang-bayang slasher 90an dan 70an yang menghantui dua bagian sebelumnya. Mustinya di film ini, sutradara Leigh Janiak bisa lebih leluasa mengepakkan sayap, mengembangkan period-horor supernatural, sebab cerita kali ini akan membawa kita mundur jauh ke belakang. Di mana tak banyak yang bisa mempengaruhi, kecuali mungkin horor-horor seperti The Witch (2016).  Yang juga mengusung tema penyihir, yang dikaitkan dengan posisi perempuan dipandang oleh pria. Film ini bekerja terbaik saat berusaha menggali soal tersebut. Akan tetapi, fungsinya sebagai pengikat dan penutup trilogi, membuat film tak bisa berlama-lama di sana. Dan justru membuat film ini jadi entry yang paling tak bisa berdiri sendiri.

Dan untuk membuat hal semakin parah, di bagian terakhirnya ini, film masih berkutat untuk membuat protagonisnya tampak relevan dengan mitologi dan semua masalah pada cerita.

So, here we go again!

Konsep yang dipakai film ini dalam membentuk ‘episode-episode’ triloginya mengangkat peristiwa masa lalu lebih dari sekadar flashback. Mereka adalah cerita tersendiri. Untuk mengikat itu semua, film menggunakan mitologi penyihir, yang harus dipecahkan misterinya oleh satu karakter yang merupakan perwakilan penonton dalam mempelajari apa yang sesungguhnya terjadi. Satu karakter itu adalah Deena. Dalam film ketiga ini, Deena memang akhirnya mendapat banyak porsi untuk beraksi dan menentukan pilihan, dialah yang tau dan mengungkap rahasia.

Setelah mengembalikan tangan yang hilang ke mayat Sarah Fier, Deena tertransport back ke tahun 1666. Tepat pada saat perburuan penyihir akan dimulai. Deena akan mengalami kejadian yang sama dengan yang dialami oleh Sarah Fier. Sayangnya bukan kejadian menyenangkan. Sebab penyihir yang diburu komunitas petani Union itu (sebelum mereka terpisah menjadi dua kota) memang adalah si Sarah Fier. Pada dua bagian sebelumnya, kita telah mendengar begitu banyak tentang urban legend penyihir bernama Sarah Fier. Mitologinya, kutukannya, dan akhir hidupnya sampai-sampai dijadikan lagu anak-anak di kemudian hari. Sekarang, kita akan dikasih lihat bagaimana Sarah Fier saat masih hidup di tahun 1666, di masyarakat Puritan yang masih bersatu, tapi masih sangat terbelakang. Selagi Sarah nantinya akan bertemu dengan nasib yang tragis, Deena belajar tentang kenyataan di balik kutukan yang membuat kota tempat tinggalnya, Shadyside, menjadi kota penuh pembunuhan. Tidak seperti Sunnyvale yang makmur. Kenyataan itulah yang nanti digunakan Deena untuk menghancurkan musuh sebenarnya dan membebaskan seantero kota dari kutukan.

fearstreet3
Apa mungkin harus ganti pemimpin?

 

Namun tugas krusial film bukan sebatas menetapkan apa yang harus dilakukan oleh Deena, tapi tentu salah satunya juga adalah untuk dapat menjelaskan kepentingan Deena di dalam semua cerita in the first place. Bagaimana dia bisa terkonek dengan semua. Kenapa mesti Deena, kenapa bukan karakter lain seperti Ziggy. Dan di titik inilah, di fondasi awalnya inilah, Fear Street Part Three – kalo gak mau dibilang keselurahan trilogi ini – falls apart.

Deena, yang menghabiskan seantero film bagian pertama dengan running around mencari kerelevanan dirinya dengan mitologi, tentu saja by the law of screenwriting akan secara ajaib diungkap related dengan penyihir Sarah Fier. Sebagaimana yang akan kita lihat pada bagian ketiga – dan terakhir – trilogi ini. Deena menjadi Sarah Fier. Yang pada era terbelakang itu dituduh sebagai penyihir, karena dia perempuan yang mandiri, capable, pintar. Dan ya, karena dia adalah perempuan yang suka sama perempuan. Inilah satu-satunya koneksi antara Deena dengan Sarah. Mereka sama-sama lesbian. I was right saat mengatakan di review film bagian pertama, bahwa sexual preference Deena begitu ditonjolkan karena itulah satu-satunya karakterisasi yang dia miliki. Tapi tentu saja aku enggak bilang kalo lesbian itu adalah karakterisasi yang buruk untuk protagonis perempuan. Hanya saja, punya karakterisasi yang sama dengan Sarah Fier tersebut tetap bukanlah alasan yang kuat untuk menjawab pertanyaan ‘kenapa mesti Deena’ itu tadi. I mean, masa iya cuma Deena lesbian yang lahir di Shadyside dalam rentang tiga ratus tahun itu. Relasi ini terlalu lemah. Deena harusnya punya relasi yang lebih kuat lagi kepada Sarah Fier.

Dan padahal film ini punya banyak kesempatan untuk membuat relasi tersebut lebih kuat. Kenapa mereka tidak membuat Sarah Fier sebagai leluhur Deena saja. Akan bisa lebih tragis. Karena kisah cinta Deena dengan Sam akan naik status menjadi sebuah takdir, karena Sarah juga jatuh cinta sama karakter yang sepertinya adalah leluhur Sam. It also would make more sense, karena memang pada bagian cerita di tahun 1666 itu kita melihat karakter-karakter yang telah muncul pada dua film sebelumnya, ada sebagai karakter lain yang merupakan leluhur mereka. Ada Berman, ada Goode, ada teman-teman Deena tahun 1994 – mereka semua diperankan oleh aktor yang sama dengan yang memerankan karakter mereka sebelumnya. Tapi Deena dan Sarah Fier diperankan oleh dua aktor yang berbeda; Kiana Madeira dan Elizabeth Scopel. Kita tidak melihat ada Deena yang lagi jadi Sarah Fier, bertemu dengan Deena versi 1666 di dunia itu. Padahal adik Deena dan adik Sarah Fier di situ diperankan oleh aktor yang sama (I find it even funnier because I’m not sure if the ‘real’ Sarah Fier a black person or not). Kalopun memang Sarah Fier bukan leluhur Deena, kenapa saat cerita bagian ini yang kita lihat itu tidak tetep Sarah Fier yang asli aja? Jadi keberadaan Deena yang ‘didempetkan’ dengan Sarah Fier benar-benar messed up. Benar-benar terasa seperti film try too hard untuk meyakinkan kita bahwa Deena punya tempat di cerita ini.

Aku lebih prefer kalo protagonis utama cerita ini adalah Britta.. eh, Ziggy. Karena dialah yang telah benar-benar kehilangan. Benar-benar kena dampak kutukan. Ziggy punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh Deena. Koneksi personal ke ‘pelaku yang sebenarnya’, yang demikin terestablish dari film sebelumnya. Atau, bikin saja Sarah Fier asli yang jadi tokoh utama kali ini. I mean, dari posternya aja udah make sense. Udah keliatan kalo sebenarnya lebih cocok Sarah Fier beneran, bukan Deena. Bagian pertama tentang Deena, bagian kedua tentang Ziggy, dan bagian ketiga? Randomly leluhur Sam yang mejeng, padahal dia bukan karakter utama. Padahal sudah jelas cerita kali ini akan membahas kehidupan Sarah Fier.

fear1a182f032558b368568ecd4a02ad3019
Satu lagi dosa film ini adalah tidak nongolin kembali Maya Hawke, kasih jadi siapa kek gitu di tahun 1666

 

Secara arc pun, Sarah Fier lebih kuat daripada Deena. Dalam cerita Sarah Fier, film men-tackle soal perempuan yang dituduh penyihir. Soal pria yang seperti tidak bisa menerima perempuan ternyata bisa lebih pintar dan capable daripada mereka. Soal hubungan asmara yang juga berarti bahwa perempuan ternyata bisa untuk ‘tidak butuh’ laki-laki. Sekalian juga memotret tentang betapa ketakutan bisa menyebarkan tuduhan bermacam-macam, dan kelompok orang yang ketakutan ternyata sangat mudah untuk diperdaya. Sarah Fier yang dianggap membawa kutukan dan memiliki sihir hitam, akhirnya mengembrace anggapan tersebut dengan memutuskan untuk benar-benar membawa celaka bagi para penuduh dirinya. Ini development yang tragis dan sangat personal. Aku benar-benar pengen cerita Sarah Fier ini dijadiin satu film beneran aja.

Dalam sebuah masyarakat terbelakang, kecerdasan bisa menjadi kutukan. Ini bukan soal perempuan bisa secakap atau malah lebih jago saja. Kita sendiri sekarang berada pada masa terbelakang versi modern. Karena sering kita lihat sekarang perkataan para ahli sering dibenturkan dengan perkataan ngasal, dan orang-orang lebih memilih percaya kepada yang ngasal. Karena kenyataan yang diberitahukan oleh yang ahli lebih mengerikan.

 

Coba bandingkan dengan cerita Deena – yang terus dipush oleh film ini. Kisah Deena itu gak ada apa-apanya. Sudah tiga film, tapi perkembangan karakternya nyaris nihil. Plot Deena bukan tentang dia berubah menjadi baik. Melainkan hanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dia bisa selamat. Perkara dia Shadysider yang muak sama kota juga diresolve dengan bukan sebagai pembelajaran bagi dirinya. Konflik Shadyside yang ternyata selama ini jadi ‘tumbal’ untuk kemakmuran Sunnyvale berakhir bukan dengan para penduduk akhirnya menghormati Shadyside (ingat, Sarah Fier harusnya adalah paralel bagi kota Shadyside), melainkan Sunnyvale akhirnya ada kecelakaan juga. Ini kayak, kita merasa lebih baik sekarang karena kau ternyata enggak seperfect itu.

Usaha film meng-immerse Deena sehingga seolah ini sepenuhnya adalah cerita miliknya pada akhirnya tetap sia-sia karena film harus tetap mengacknowledge bagian ketiga ini terdiri dari dua bagian. 1666 dan 1994 (lagi!) Ini menciptakan problema baru. Pada film kedua, bagian Deena untuk mengikat ke trilogi sangat sedikit sehingga bisa kita acuhkan, 1978 itu diceritakan full dalam tiga babak. Pada bagian ketiga ini, tidak seperti itu. Tidak benar-benar ada struktur tiga-babak di sini. Porsi Sarah Fier 1666 jatohnya tetap terasa seperti flashback yang sangat panjang, lalu cerita ini hanya punya satu jam lagi untuk mulai-dan-penghabisan.

Di saat-saat kayak ginilah, kekurangtajaman Janiak menghidupkan dunia terpampang nyata. Bagian 1666 dengan bagian 1994 tidak terasa banyak berbeda. Hanya setting dan visualnya saja. Tahun 1666 kayak orang modern yang lagi cosplay jadi orang jadul, karena pengarahan akting yang seadanya. Karakter-karakter remaja itu goyah sekali pada aksen dan mannerism, dan segala macam. Sedangkan pada bagian 1994, Janiak yang masih berniat untuk tampil trendi dengan neon dan segala macam, hanya punya walkman dan Konami Code sebagai pengingat kita akan periode yang sedang disaksikan. Karakter-karakter yang tersisa pun tak ada yang bisa kita pedulikan, kecuali Ziggy, yang berusaha dimentahkan oleh film demi Deena.

 

 

Untuk aspek horor bunuh-bunuhannya, aku gak akan bilang banyak. Karena itulah yang satu-satunya dipunya oleh film sebagai hiburan yang membuatnya mengasyikkan. Aku akan membiarkan mereka untuk kalian nikmati sendiri. Aku cuma akan bilang, porsinya gak banyak, tapi masih setara-lah kesadisannya dengan dua film sebelumnya. Ada juga aksi yang melibatkan strategi keren melawan bala tentara pembunuh psikopat, yang buatku mixed feeling karena aku masih melihat rule yang ditetapkan film ini gak konsisten. Tapi secara keseluruhan film berhasil menutup trilogi ceritanya dengan sebuah penyelesaian. Secara cerita, satu jam pertama film ini lebih bisa dinikmati ketimbang film pertama. Meskipun posisinya sebagai film itu sendiri adalah yang paling goyah di antara yang lainnya. It is less than a movie. Seharusnya ada cara yang lebih baik lagi untuk membuat konsepnya immersive dengan cerita. Tapi, ini udah gak tertolong, karena sudah dikutuk, eh salah, desain seperti itu.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for FEAR STREET PART 3: 1666

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian setuju bahwa pada kondisi pandemi yang makin parah sekarang, para nakes dan para ahli sudah sama nasibnya seperti pada orang-orang yang dicurigai penyihir alias dianggap berbahaya, dibandingkan omong kosong para influencer atau pihak yang menganggap semua baik-baik saja?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA